MANAJEMEN PEMELIHARAAN BURUNG KICAU PADA KOMUNITAS KICAU MANIA MANOKWARI. Chirping Birds Maintenance at Community Chirping Mania Manokwari

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MANAJEMEN PEMELIHARAAN BURUNG KICAU PADA KOMUNITAS KICAU MANIA MANOKWARI. Chirping Birds Maintenance at Community Chirping Mania Manokwari"

Transkripsi

1 MANAJEMEN PEMELIHARAAN BURUNG KICAU PADA KOMUNITAS KICAU MANIA MANOKWARI Chirping Birds Maintenance at Community Chirping Mania Manokwari Marice Nella Vegi Molle 1, Ursula Paulawati Maker 1*, Agustinus Kilmaskossu 1 1 Jurusan Biologi,Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,UNIPA,Manokwari,98314,Indonesia. ABSTRACT The Kicau Mania Community Manokwari or KMM is a gathering community for chirping bird lovers in the Manokwari Regency. This community maintains various species of chirping birds to be contested on various occasions. The purpose of writing this research article is to provide information about some aspects of chirping birds maintenance carried out by the KMM community. This study was done in June 2019 and uses descriptive methods with exploration, observation, and interview techniques. Twenty of 150 chirping bird keepers were chosen purposively as respondents. The results of research on several aspects of maintenance management show that (1) cages used to maintain chirping birds consist of 83% individual cages, 8% colony cages and 9% spaced cages with various shapes and sizes, (2) cage cleaning and cage sanitation is carried out every day or at most every two days, (3) diseases suffered by chirping birds namely snot, crusty feet / fungus, mosquito bites, intestinal worms, shortness of breath, (4) as many as 40% of respondents are breeders and 60 do as a hobbyist. Efforts to breed chirping birds produce F1 offspring of 44% Kenari (Island canary), 23% Murai Batu (White-rumped shama), 17% Kacer (Magpie robin), and 16% Love Bird, and (5) in producing race birds then before the birds singing contest the birds are trained by mastering, sprinkling, bathing, drying, brewing, as well as regular extra feeding. While in the management of handling dead birds as much as 95% of respondents said the dead birds were immediately buried and 5% said they were wrapped in shrouds. Keywords: Kicau Mania Community; Management of Chirping Bird; Manokwari; Singing Contest. ABSTRAK Komunitas Kicau Mania Manokwari atau KMM merupakan wadah perkumpulan para pencinta burung kicau di Kabupaten Manokwari. Komunitas ini memelihara berbagai jenis burung kicau untuk dilombakan pada berbagai kesempatan. Tujuan dari penulisan essay ini adalah memberi informasi tentang aspek-aspek dalam manajemen pemeliharaannya pada komunitas Kicau Mania Manokwari (KMM). Penelitian ini telah berakhir pada Juni 2019 dan menggunakan metode deskriptif dengan teknik eksplorasi, observasi, dan wawancara. Dua puluh dari 150 pencinta burung berkicau dipilih secara purposive sebagai responden. Hasil penelitian terhadap beberapa aspek manajemen pemeliharaan menunjukkan bahwa (1) perkandangan/sangkar yang digunakan untuk 53

2 memelihara burung kicau terdiri atas sangkar individu sebanyak 83%, kandang koloni 8% dan kandang umbaran 9% dengan berbagai variasi bentuk dan ukuran, (2) pembersihan kandang dan sanitasi kandang dilakukan setiap hari atau paling lama dua hari sekali, (3) penyakit yang diderita burung kicau yaitu snot, kaki berkerak/jamuran, gigitan nyamuk, cacingan, sesak nafas, (4) sebanyak 40% rersponden merupakan pembudidaya burung kicau dan dan 60 sebagai penghobi, Upaya perkembangbiakan burung kicau menghasilkan keturunan F1 dari jenis Kenari 44%, Murai Batu 23%, Kacer 17%, dan Love Bird 16%, dan (5) dalam menghasilkan burung lomba maka sebelum kontes burung kicau dilatih dengan cara mastering, umbaran, mandi, penjemuran, pengerodongan, serta pemberian extrafooding secara rutin. Sedangkan, dalam manajemen penanganan burung mati sebanyak 95% responden menyatakan burung yang mati langsung dikubur dan 5% menyatakan dibungkus dengan kafan. Kata Kunci: Komunitas Kicau Mania; Manajemen Pemeliharaan Burung Kicau; Manokwari; Kontes Kicau. PENDAHULUAN Burung kicau diminati oleh banyak orang baik untuk hobi maupun untuk dipelihara serta peluang usaha komersial bagi masyarakat. Hal ini dikarenakan burung kicau memiliki keindahan bulu, memiliki suara yang merdu dan sangat beragam di alam, selain dapat dijadikan sebagai hobi, memelihara burung kicau juga berpotensi memberikan peluang usaha yang ringan, mudah, murah dan menghasilkan keuntungan yang cukup besar. Burung kicau menjadi sebuah hobi bagi pemiliknya, dan dari sinilah penghobi burung kicau mulai mencari wadah atau tempat untuk menyalurkan hobinya kemudian membentuk kelompok-kelompok pecinta burung kicau atau yang lebih akrab dikenal dengan komunitas pencinta burung kicau. Komunitas Kicau Mania Manokwari merupakan suatu wadah perkumpulan para pencinta burung di daerah ini. Komunitas Kicau Mania Manokwari atau KMM berdiri atas dasar kebersamaan dalam visi dan misi yang kemudian menjadi resmi sebagai organisasi masyarakat dengan dikeluarkannya surat keterangan organisasi terdaftar oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Manokwari dengan nomor /0017/III/2018 disertai akta pendirian organisasi dari Notaris nomor AHU AH Tahun Burung kicau terdapat di berbagai wilayah Indonesia, salah satunya adalah Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat. Namun, masih sedikit pengetahuan yang 54

3 dimiliki oleh masyarakat lainnya tentang aspek-aspek dalam manajemen pemeliharaan burung kicau di Manokwari. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan aspek-aspek dalam manajemen pemeliharaan burung kicau pada komunitas Kicau Mania Manokwari (KMM). METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain alat tulis menulis, kamera HP Xiomi, panduan wawancara/kuisioner, termohigrometer, dan meteren. Metode dan Analisis Data Saat ini jumlah pemelihara burung kicau di Manokwari ada sebanyak 150 anggota personil Komunitas Kicau Mania Manokwari (KMM). Menurut Gay (1976), untuk penelitian deskriptif besar pengambilan sampel 10% dari populasi. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 13% pemelihara (20 responden) burung kicau pada Komunitas Kicau Mania Manokwari (KMM), dengan menggunakan teknik pengambilan sampel secara teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik eksplorasi, observasi dan wawancara yang berpedoman pada panduan wawancara (kuisioner) yang telah disiapkan. Prosedur kerja yang dilakukan yaitu pengamatan secara langsung dan wawancara terkait aspek-aspek dalam manajemen pemeliharaan. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dianalisis secara deskriptif dengan tabulasi sederhana menggunakan Ms. Excel. HASIL DAN PEMBAHASAN Aspek Perkandangan dan Sanitasi Perkandangan Berdasarkan data terhadap 20 responden pada Komunitas Kicau Mania Manokwari terdapat tiga (3) jenis atau tipe kandang yang memiliki variasi bentuk dan ukuran. Jumlah sangkar individu 83% yaitu 252 buah. Jumlah kandang koloni 8% yaitu 24 buah. Jumlah kandang umbaran 9% yaitu 26 buah (Gambar 1). 55

4 Jumlah Sangkar Individu Jumlah Kandang Umbaran Jumlah Kandang Koloni Gambar 1. Presentase Jumlah Sangkar dan Kandang di KMM. Jenis sangkar individu berfungsi sebagai tempat tinggal setiap individu burung yang memuat hanya satu jenis atau individu didalam sangkar. Berdasarkan hasil penelitian jenis sangkar individu jumlahnya lebih banyak dibandingkan jenis lain, hal ini dikarenakan setiap individu burung dipisahkan ke dalam masing-masing sangkar, agar mengurangi tingkat stress didalam sangkar yang kecil dengan jumlah individu maksimal satu untuk setiap sangkar, faktor lainnya yaitu mengurangi resiko pertengkaran merebutkan daerah teritorialnya. Menurut Sumiarsih dan Indiani (2000), banyak orang yang memelihara burung dalam sangkar karena menggangap sangkar lebih memiliki kelebihan yang mudah dipindahkan. Ukuran sangkar harus disesuaikan dengan besar kecilnya jenis burung dan ukurannya. Jenis kandang koloni berfungsi sebagai tempat hidup jenis burung minimal dua individu burung yaitu jantan dan betina, kandang ini juga berfungsi sebagai tempat berepoduksi atau berkembangbiak hingga menghasilkan individu baru. Gambar 2 (b) salah satu contoh jenis sangkar koloni. Menurut Windudasa (2015), kandang reproduksi berfungsi sebagai tempat perkawinan indukan dan reproduksi. Jenis kandang umbaran berfungsi sebagai tempat olahraga dan melatih stamina burung, menghindari kegemukan pada burung, mengatur pernafasan burung sebelum kontes/lomba burung kicau serta membuat burung merasa berada di alam bebas atau habitatnya. Variasi bentuk kandang umbaran yaitu persegi panjang ataupun bulat dengan ukuran berbeda. Hal ini didukung oleh Windudasa (2015), menyatakan bahwa guna kandang umbaran yaitu memperkuat otot dada burung, apabila otot dada burung yang kuat mendukung stamina dan kicauan. Burung di dalam kandang umbaran, ia bebas terbang sejauh panjang kandang. 56

5 Gambar 2. Contoh dari ketiga Jenis sangkar dan Kandang pada KMM (a) Sangkar individu, (b) kandang koloni, (c) kandang umbaran. Sanitasi Kandang/Sangkar Perawatan dan sanitasi sangkar/kandang dilakukan oleh semua anggota KMM setiap hari sekali dan paling lambat adalah dua hari sekali apabila terlalu sibuk dengan pekerjaan. Pembersihan perlengkapan di dalam sangkar meliputi alasan/karpet, tempat pakan, tempat minum, dan bertengger. Aspek Kesehatan Jenis Penyakit a b c Secara umum jenis penyakit yang diderita oleh burung kicau yang dipelihara anggota KMM terdiri atas lima (5) yaitu Kaki berkerak atau Jamuran, Snot atau mata berair, Gigitan nyamuk, Cacingan, dan sesak nafas. Data kondisi kesehatan terhadap 20 responden meliputi pernah mengalami sakit sebanyak 70 % (14 responden) dan tidak pernah sakit sebanyak 30 % (6 responden). Tabel 1. Data Jenis Penyakit Terhadap Burung Kicau Jenis Penyakit Jumlah Responden Kaki Berkerak/Jamuran 5 Gigitan Nyamuk 5 Snot 10 Cacingan 2 Sesak Nafas 2 Tidak Pernah Sakit 6 Berdasarkan Tabel 1 diatas jenis penyakit yang paling banyak diderita oleh burung kicau yaitu snot. Jenis penyakit ini diderita oleh jenis burung Love Bird. Jenis penyakit yang sedikit diderita oleh burung kicau yaitu cacingan dan sesak nafas. Menurut Sumiarsih dan Indiani (2000), mengingat tugas burung ocehan adalah mengalunkan suaranya yang merdu, 57

6 maka hendaknya selalu diperhatikan kebutuhan mereka. Menjaga dan mengobati dari segala macam penyakit serta serangan hewan lain merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh pemelihara. Faktor kebersihan sangat penting dalam kesehatan, baik sangkar maupun tubuh burung sendiri harus dijaga kebersihannya agar serangan segala penyakit dapat dihindarkan. Menurut Sumiarsih dan Indiani (2000), Kebanyakan penyakit burung berasal dari pakan atau pengaruh cuaca buruk. Pakan burung yang basi atau berjamur mengandung penyakit yang menyerang alat pencernaan, serta perubahan cuaca yang tidak menentu. Aspek Pakan Jenis Pakan Berdasarkan hasil penelitian terhadap 20 responden pada KMM pakan yang diberikan dibedakan menjadi dua (2) yaitu pakan pokok dan pakan tambahan atau EF (extrafooding). Pakan diberikan berdasarkan pengelompokkan burung sesuai makanannya. Data pakan dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Data Pakan Berdasarkan Pengelompokkan Makanan Pada Burung Jenis Pakan P. Buah/Biji-Bijian P. Serangga P. Nektar P. Pokok Millet, kenari seed, nigger seed. Voer/Pellet Nektar (Susu atau ramuan P. Tambahan (EF) Buah dan sayur (pisang sepatu, apel, jagung, ketimun, sawi, kangkung, gambas, petsai), telur puyuh. 58 Kroto, jangkrik, ulat hongkong, ulat kandang, belalang. sendiri) Kroto Pakan merupakan salah satu komponen kesejahteraan satwa yang harus diperhatikan (Lestari, 2014). Menurut Peraturan Ditjen PHKA No P.9/VI-SET/2011 satwa yang berada di luar habitat alaminya wajib dipenuhi mutu pakan dan minum dengan memperhatikan jenis, jumlah, serta frekuensi pemberian pakan dan minum, menu pakan, serta cara penyajian pakan bagi pemenuhan kebutuhan dasar satwa. Hasil penelitian Haryoko (2008), menjelaskan bahwa kuantitas dan kualitas nutrisi yang cukup pada pakan diperlukan oleh tubuh burung untuk memenuhi kebutuhan hidup dan perkembangbiakannya. Jenis makanan pokok burung berkicau/ocehan di alam bebas adalah serangga, ulat, kupu-kupu, lalat, belalang, dan sebagainya, di samping itu, cacing, madu, buah-buahan (pepaya, pisang, kersen, jambu dan lainnya), dan biji-bijian merupakan pakan yang biasa melimpah pada musim hujan, untuk burung yang dibudidayakan diberikan pellet atau voer

7 merupakan makanan pokok burung berkicau. Pakan pokok burung kicau berupa voer atau pellet merupakan pakan bentuk jadi, dan dikemas dalam berbagai kemasan seperti kantung plastic, kaleng dan lain sebagainya (Sumiarsih dan Indiani 2000). Setiap jenis pakan harus disesuaikan dengan kesukaan burung ataupun kebiasaan pemilik yang memberikannya. Pakan dalam bentuk kemasan dengan kandungan setiap produk yang berbeda-beda dan harga yang berbeda. Aspek Reproduksi - Usaha Perkawinan Berdasarkan hasil penelitian terhadap 20 responden di KMM, diperoleh data penghobi sebanyak 60 % (12 responden) dan usaha melakukan perkawinan burung kicau sebanyak 40 % (8 responden) (Gambar 4). Responden yang telah melakukan usaha perkawinan jenis burung kicau sebanyak 40 %, Dari 40 % tersebut responden yang telah menghasilkan F1 sebanyak 37 % (3 reponden), sedangkan 63 % (5 responden) baru tahap penjodohan. Jenis burung kicau yang dalam usaha perkawinan maupun yang telah menghasilkan hasil F1 yaitu Kenari, Love Bird, Murai Batu, dan Kacer. Berdasarkan hasil penelitian pada responden yang sudah menghasilkan F1 burung kicau, kendala dalam proses perkawinan yaitu suhu udara Manokwari yang tidak menentu, terlalu panas maupun terlalu dingin sehingga mempengaruhi pada saat bertelur, telur tidak akan menetas, maupun infertile. Rata-rata suhu di Manokwari pada penelitian ini adalah 30,98 ºC dan kelembaban 83,4 %. Menurut penelitian Marifa (2014), di MBOF Bogor suhu dan kelembaban Murai Batu bereproduksi adalah 27,8 ºC dan 90,7 %. Menurut Masy ud (2005), menyatakan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap daya tetas telur adalah umur induk, suhu dan kelembaban. a Hobby Usaha Perkawinan Hasil F1 Penjodohan Gambar 4. Usaha Perkawinan. A) Presentase Hobbi dan Usaha Reproduksi, b) Presentase responden yang melakukan upaya perkawinan. 59 b

8 Manajemen Pemeliharaan dan Pasca Reproduktif - Manajemen Pemeliharaan Manajemen pemeliharan untuk kontes meliputi belajar mengoceh atau berkicau (mastering), penjemuran, umbaran, mandi serta pemberian tambahan extrafooding. Belajar mengoceh atau berkicau disebut mastering, bukan dilakukan pada saat mau kontes saja tetapi dilakukan terus agar isian lagu pada burung bagus, dimana jenis burung yang sebagai pemaster atau pemberi isian lagu kepada burung lain disebut sebagai guru vokal (Gambar 5.(a). Penjemuran dilakukan oleh anggota KMM pada pagi hari kurang lebih satu (1) jam antara jam 7.00 sampai 8.00 WIT, penjemuran ini berfungsi sebagai multivitamin dari matahari agar burung tampak sehat dan kuat setelah penjemuran dilakukan angin-angin dan dimasukkan ke dalam ruangan atau di teras halaman rumah (Gambar 5.(b). Menurut Windudasa (2015), menyatakan bahwa lama penjumuran cukup satu sampai dua jam tergantung kebiasaan. Umbaran dilakukan untuk menjadikan burung sehat dan melatih otot dada, selain itu juga agar burung merasakan hidup seperti di alam dengan panjang kandang antara 2-3 m. (Gambar 5.(c). Menurut Windudasa (2015), kandang umbaran diberi tenggeran dan tempat air minum sebagai tempat istirahat dan minum agar burung bisa memulihkan kondisi setelah berolahraga. Umbaran dilakukan seminggu dua sampai tiga kali, selain dari itu penambahan pakan tambahan juga harus agar burung dalam keadaan fit, serta diiringi perodongan, mastering MP3 paling lambat 3 hari sebelum kontes dilakukan rutin. a b c Gambar 5. Manajemen Pemeliharaan untuk kontes a) Mastering, b) Penjemuran c) Umbaran. 60

9 - Pasca Non Produktif Manajemen pasca non produktif meliputi penangganan burung tidak berkicau dan penangganan burung non produktif reproduksi, serta penangganan saat burung mati. Penangganan terhadap burung yang tidak mau berkicau atau burung mogok berkicau. Cara terapi burung macet dilakukan dengan cara pemberian vitamin Super N dan Metabolisme, pengerodongan, pemberian pakan tambahan secara rutin, penjemuran, pengembunan, lakukan cara tersebut sampai burung mau berkicau lagi. Burung yang tidak mau berkicau atau bernyanyi biasanya pada saat molting atau disebut ganti bulu. Penangganan terhadap burung yang non produktif reproduksi, dilakukan dengan cara memisahkan betina, pemberian pakan tambahan, serta menghentikan masa perkawinan dan bertelur dimana merupakan masa penjedah agar betina fit, dan tidak dipaksakan bertelur terus. Penangganan terhadap burung yang mati dilakukan dengan dua cara yaitu membalut dengan kain kafan dan dikuburkan, serta menguburkan secara langsung. Anggota KMM tidak membuang burung yang mati ke sembarangan tempat, tetapi menguburkan burung yang mati. Berdasarkan hasil penelitian terhadap responden burung yang mati bukan karena sakit tetapi memakan serangga kecil yang tidak seharusnya burung makan seperti laron dan kupu-kupu berwarna putih akibat malam hari tidak dikerodong, perkelahian antara jantan dan betina pada saat betina overbirahi tetapi jantan tidak mau mengawini maka betina akan memukul, mematok-matok kepala jantan hingga mati. Jenis burung yang pernah mati yaitu Kacer, Love Bird, Kenari, dan Murai Batu. KESIMPULAN Aspek-aspek dalam manajemen pemeliharaan burung kicau meliputi (1) Aspek perkandangan terdiri atas tiga tipe yaitu sangkar individu (83%), kandang koloni (8%) dan kandang umbaran (9%) dengan variasi bentuk dan ukuran. Pembersihan kandang dan sanitasi kandang dilakukan setiap hari atau dua hari sekali, (2) Aspek kesehatan terdapat lima penyakit yang diderita burung kicau yaitu snot, kaki berkerak/jamuran, gigitan nyamuk, cacingan, sesak nafas, dengan penyakit yang terbanyak adalah snot, (3) Aspek reproduksi diperoleh pembudidaya 40% dan penghobi 60%. Hasil perkawinan diperoleh F1 jenis Kenari 44% (45 individu), Murai Batu 23% (23 individu), Kacer 17% (17 individu), dan Love Bird 16% (16 individu), (4) Aspek manajemen pemeliharaan dan pasca produktif 61

10 meliputi latihan sebelum kontes dengan cara mastering, umbaran, mandi, penjemuran, pengerodongan, serta pemberian extrafooding secara rutin. Manajemen penanganan burung mati 95% dikubur langsung dan 5% dibungkus kafan. DAFTAR PUSTAKA Gay, L.R Educational Research. Colombus, Ohio: Charles E.Merrill Publishing Company. Lestari, D.A Teknik Penangkaran dan Kualitas Suara Cucak Rawa (Pcynonotus Zeylanicus Gmelin 1789) di Mega Bird and Orchid Farm, Bogor. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Ditjen PHKA. Direktorat Jenderal Pelestarian Hutan dan Konservasi Alam Peraturan Direktur Jenderal Pelestarian Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) No. P.9/IV- SET/2011 tentang Pedoman Etika dan Kesejahteraan Satwa di Lembaga Konservasi. Jakarta. Marifa, I.E Teknik Pengelolaan Dan Penilaian Kesejahteraan Murai Batu (Copsychus Malabaricus Scopoli, 1788) di Mega Bird And Orchid Farm, Bogor. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Masy'ud, B Studi Perbandingan Performans Reproduksi, Karakteristik Genetik, dan Pola Suara antara Tetua dan Turunannya pada Penyilangan Burung Tekukur (Streptopelia chinensis) dan Puter (Streptopelia risoria). Disertasi. Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Sumiarsih, E., Indriani, H.Y Melatih, Memelihara dan Menangkar Burung Ocehan. Cetakan Ke-7. Penebar Swadaya. Jakarta. Windudasa, R Panduan Praktis Pakan Burung Ocehan. Penebar Swadaya. Jakarta Timur. 62

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 18 III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Mega Bird and Orchid farm, Bogor, Jawa Barat pada bulan Juni hingga Juli 2011. 3.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada

Lebih terperinci

KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS TERNAK JALAK SUREN

KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS TERNAK JALAK SUREN KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS TERNAK JALAK SUREN Oleh : Taufik Rizky Afrizal 11.12.6036 S1.SI.10 STMIK AMIKOM Yogyakarta ABSTRAK Di era sekarang, dimana ekonomi negara dalam kondisi tidak terlalu baik dan

Lebih terperinci

BURUNG KENARI (CANARY)

BURUNG KENARI (CANARY) Cara Budidaya Burung Kenari 1 BURUNG KENARI (CANARY) Burung Kenari Karakter dan sifat burung Kenari, cara memilih burung Kenari, cara merawat burung Kenari, cara memaster burung Kenari, tips seputar burung

Lebih terperinci

TEKNIK PENGELOLAAN DAN PENILAIAN KESEJAHTERAAN MURAI BATU (Copsychus malabaricus Scopoli, 1788) DI MEGA BIRD AND ORCHID FARM, BOGOR, JAWA BARAT

TEKNIK PENGELOLAAN DAN PENILAIAN KESEJAHTERAAN MURAI BATU (Copsychus malabaricus Scopoli, 1788) DI MEGA BIRD AND ORCHID FARM, BOGOR, JAWA BARAT TEKNIK PENGELOLAAN DAN PENILAIAN KESEJAHTERAAN MURAI BATU (Copsychus malabaricus Scopoli, 1788) DI MEGA BIRD AND ORCHID FARM, BOGOR, JAWA BARAT ISNIA ESTU MARIFA DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Teknik Penangkaran Secara umum terdapat beberapa aspek teknik manajemen penangkaran satwa yang diketahui dapat menentukan keberhasilan penangkaran suatu jenis satwa. Aspek

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taksonomi Burung jalak bali oleh masyarakat Bali disebut dinamakan dengan curik putih atau curik bali, sedangkan dalam istilah asing disebut dengan white starling, white mynah,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Penangkaran UD Anugrah Kediri, Jawa Timur. Penelitian dilaksanakan selama 2 bulan yaitu pada bulan Juni-Juli 2012.

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Teknik Penangkaran Secara umum beberapa aspek teknik manajemen penangkaran satwa sangat menentukan keberhasilan suatu jenis satwa. Aspek teknik penangkaran tersebut diantaranya

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian mengenai teknik penangkaran dan analisis koefisien inbreeding jalak bali dilakukan di penangkaran Mega Bird and Orchid Farm (MBOF),

Lebih terperinci

BAB III PELAKSANAAN PERLOMBAAN BURUNG BERKICAU BERHADIAH DI GANTANGAN NEW PERMATA BC TANGGULANGIN SIDOARJO

BAB III PELAKSANAAN PERLOMBAAN BURUNG BERKICAU BERHADIAH DI GANTANGAN NEW PERMATA BC TANGGULANGIN SIDOARJO BAB III PELAKSANAAN PERLOMBAAN BURUNG BERKICAU BERHADIAH DI GANTANGAN NEW PERMATA BC TANGGULANGIN SIDOARJO A. Profil Gantangan New Permata BC Tanggulangin Sidoarjo 1. Sejarah singkat Gantangan New Permata

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENANGKARAN BURUNG PARKIT (Melopsittacus undulatus)

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENANGKARAN BURUNG PARKIT (Melopsittacus undulatus) ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENANGKARAN BURUNG PARKIT (Melopsittacus undulatus) Oleh: Rizki Kurnia Tohir Rizki Amalia Adinda Putri Priyatna Windya Giri E34120028 E34120047 E34120074 DEPARTEMEN KONSERVASI

Lebih terperinci

PENGARUH JUMLAH TELUR TERHADAP BOBOT TELUR, LAMA MENGERAM, FERTILITAS SERTA DAYA TETAS TELUR BURUNG KENARI

PENGARUH JUMLAH TELUR TERHADAP BOBOT TELUR, LAMA MENGERAM, FERTILITAS SERTA DAYA TETAS TELUR BURUNG KENARI PENGARUH JUMLAH TELUR TERHADAP BOBOT TELUR, LAMA MENGERAM, FERTILITAS SERTA DAYA TETAS TELUR BURUNG KENARI A.A.Hamiyanti, Achmanu, Muharlien, A.P. Putra Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas

Lebih terperinci

Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(3): , Agustus PERILAKU BURUNG MURAI BATU (Copsychus malabaricus) SIAP PRODUKSI

Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(3): , Agustus PERILAKU BURUNG MURAI BATU (Copsychus malabaricus) SIAP PRODUKSI Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 4(3): 188-194, Agustus 2016 Agung Dwi Saputro et. al. PERILAKU BURUNG MURAI BATU (Copsychus malabaricus) SIAP PRODUKSI The Behaviours Of White Rumped Shama (Copsychus

Lebih terperinci

PENINGKATAN PENDAPATAN PETERNAK RAKYAT MELALUI BUDIDAYA ANEKA TERNAK LOVEBIRD DAN ULAT HONGKONG DI MALANG DAN BLITAR

PENINGKATAN PENDAPATAN PETERNAK RAKYAT MELALUI BUDIDAYA ANEKA TERNAK LOVEBIRD DAN ULAT HONGKONG DI MALANG DAN BLITAR PENINGKATAN PENDAPATAN PETERNAK RAKYAT MELALUI BUDIDAYA ANEKA TERNAK LOVEBIRD DAN ULAT HONGKONG DI MALANG DAN BLITAR Eka Fitasari, Erik Priyo Santoso, Ahmad Iskandar Universitas Tribhuwana Tunggadewi eka_fitasari83@yahoo.co.id,

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Teknik Penangkaran 5.1.1 Perkandangan Kandang merupakan salah satu syarat yang diperlukan di dalam penangkaran mambruk. Untuk membuat kandang mambruk sebaiknya tidak terlalu

Lebih terperinci

Cara Ternak Jangkrik

Cara Ternak Jangkrik Cara Ternak Jangkrik Oleh : M Huda romdon BP3K Udanawu. cara ternak jangkrik Jangkrik merupakan hewan serangga herbivora yang bernafas menggunakan trakea. Jangkrik juga disebut Cengkrik dalam bahasa Indonesia,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Burung tekukur merupakan burung yang banyak ditemukan di kawasan yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Burung tekukur merupakan burung yang banyak ditemukan di kawasan yang 8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Burung Tekukur Burung tekukur merupakan burung yang banyak ditemukan di kawasan yang terbentang dari India dan Sri Lanka di Asia Selatan Tropika hingga ke China Selatan dan Asia

Lebih terperinci

Enceng Sobari. Trik Jitu menangkarkan Lovebird. Sang Burung Primadona

Enceng Sobari. Trik Jitu menangkarkan Lovebird. Sang Burung Primadona Enceng Sobari Trik Jitu menangkarkan Lovebird Sang Burung Primadona i DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI... iv DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR TABEL... xii BAB I PENDAHULUAN. 1 BAB II BURUNG LOVEBIRD.

Lebih terperinci

PELUANG USAHA PENGEMBANGBIAKAN BURUNG LOVE BIRD

PELUANG USAHA PENGEMBANGBIAKAN BURUNG LOVE BIRD PELUANG USAHA PENGEMBANGBIAKAN BURUNG LOVE BIRD Nama : Angga Rio Pratama Kelas : S1 TI 2C NIM : 10.11.3699 Lingkungan Bisnis STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2010/2011 Peluang Usaha Pengembangbiakan Love Bird (

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Organisasi merupakan suatu gabungan dari orang-orang yang bekerja sama

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Organisasi merupakan suatu gabungan dari orang-orang yang bekerja sama 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Organisasi Organisasi merupakan suatu gabungan dari orang-orang yang bekerja sama dalam suatu pembagian kerja untuk mencapai tujuan bersama (Moekijat, 1990). Fungsi struktur

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Penangkaran Rusa Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi (PPPKR) yang terletak di Hutan Penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. permintaan sangat tinggi. Banyaknya para pencari kroto di alam yang tidak

BAB I PENDAHULUAN. permintaan sangat tinggi. Banyaknya para pencari kroto di alam yang tidak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dunia perunggasan saat ini sangat berkembang pesat. Tidak hanya jenis unggas konsumsi, tetapi juga unggas hias. Salah satu unggas hias yang paling diminati para pecinta

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan di bidang peternakan yang semakin luas,

I. PENDAHULUAN. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan di bidang peternakan yang semakin luas, 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Seiring perkembangan ilmu pengetahuan di bidang peternakan yang semakin luas, jenis ternak yang dipelihara oleh masyarakat pun semakin beragam. Beternak

Lebih terperinci

Jawaban. 1 Metamorfosis Sempurna (Holometabola)

Jawaban. 1 Metamorfosis Sempurna (Holometabola) Soal metamorfosis 1. Apa yang dimaksud metamorfosis sempurna? 2. Gambarkan kejadian metamomorfosis sempurna! 3. Apa yang dimaksud dengan metamorfosis tidak sempurna? 4. Gambarkan kejadian metamorfosis

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Merpati Karakteristik Merpati )

TINJAUAN PUSTAKA Merpati Karakteristik Merpati ) TINJAUAN PUSTAKA Merpati Menurut Yonathan (2003), penyebaran merpati hampir merata di seluruh bagian bumi kecuali di daerah kutub. Merpati lokal di Indonesia merupakan burung merpati yang asal penyebarannya

Lebih terperinci

Seminar Nasional Kewirausahaan & Inovasi Bisnis VI

Seminar Nasional Kewirausahaan & Inovasi Bisnis VI ANALISIS STUDI KELAYAKAN BISNIS PENANGKARAN BURUNG MURAI BATU SUMATRA (Survei Terhadap Penangkar Burung Murai Batu Sumatra di Kota Bandung) Fadhlan Ridhwana Sujana Universitas Widyatama, Bandung, Jawa

Lebih terperinci

Panduan Ikan Louhan. anekaikanhias.com. 2. Ikan Louhan Kamfa

Panduan Ikan Louhan. anekaikanhias.com. 2. Ikan Louhan Kamfa Panduan Ikan Louhan A. Jenis-jenis ikan louhan yang pernah populer di Indonesia. Mungkin, dari beberapa jenis ikan ini, ada jenis ikan louhan yang pernah kamu pelihara : 1. Ikan Louhan Cencu Ikan louhan

Lebih terperinci

PEMBAHASAN Penggunaan Kamera IR-CCTV

PEMBAHASAN Penggunaan Kamera IR-CCTV PEMBAHASAN Penggunaan Kamera IR-CCTV Kendala utama penelitian walet rumahan yaitu: (1) rumah walet memiliki intensitas cahaya rendah, (2) pemilik tidak memberi ijin penelitian menggunakan metode pengamatan

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di ruang penangkaran lovebird Jl. Pulau Senopati Desa

III. MATERI DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di ruang penangkaran lovebird Jl. Pulau Senopati Desa 22 III. MATERI DAN METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di ruang penangkaran lovebird Jl. Pulau Senopati Desa Jatimulyo, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan

Lebih terperinci

JENIS DAN KARAKTER JANGKRIK Jangkrik di Indonesia tercatat ada 123 jenis yang tersebar di pelosok daerah. Namun hanya dua jenis saja yang umum dibudid

JENIS DAN KARAKTER JANGKRIK Jangkrik di Indonesia tercatat ada 123 jenis yang tersebar di pelosok daerah. Namun hanya dua jenis saja yang umum dibudid RUANG LINGKUP BUDIDAYA PEMELIHARAAN JANGKRIK KALUNG KUNING A. UDJIANTO Balai Penelitian Ternak, Po Box 221, Ciawi Bogor RINGKASAN Komoditas jangkrik ini dapat memberikan tambahan penghasilan disamping

Lebih terperinci

Perkembangbiakan Tanaman

Perkembangbiakan Tanaman SERI LEMBARAN FAKTA TENTANG Penyimpanan Benih & Perkembangbiakan Tanaman Dikembangkan oleh Yayasan IDEP Dengan dukungan dari the Seed Savers Network Apakah Anda ingin menanam tanaman yang lebih sehat sambil

Lebih terperinci

PERILAKU BURUNG MURAI BATU (Copsychus malabaricus) SIAP PRODUKSI. (Skripsi) Oleh : AGUNG DWI SAPUTRO

PERILAKU BURUNG MURAI BATU (Copsychus malabaricus) SIAP PRODUKSI. (Skripsi) Oleh : AGUNG DWI SAPUTRO PERILAKU BURUNG MURAI BATU (Copsychus malabaricus) SIAP PRODUKSI (Skripsi) Oleh : AGUNG DWI SAPUTRO FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2016 ABSTRAK PERILAKU MURAI BATU (Copsychus malabaricus)

Lebih terperinci

Performa Produksi Puyuh Petelur (Coturnix-coturnix Japonica) Hasil Persilangan..Wulan Azhar

Performa Produksi Puyuh Petelur (Coturnix-coturnix Japonica) Hasil Persilangan..Wulan Azhar PERFORMA PRODUKSI PUYUH PETELUR (Coturnix-coturnix Japonica) HASIL PERSILANGAN WARNA BULU HITAM DAN COKLAT THE PRODUCTION PERFORMANCE OF LAYING QUAIL (Coturnix-coturnix Japonica) COME FROM BLACK AND BROWN

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENANGKARAN BURUNG JALAK BALI (Leucopsar rotschildi)

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENANGKARAN BURUNG JALAK BALI (Leucopsar rotschildi) IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENANGKARAN BURUNG JALAK BALI (Leucopsar rotschildi) Oleh: Sri Harteti 1 dan Kusumoantono 2 1 Widyaiswara Pusat Diklat SDM LHK 2 Widyaiswara Balai Diklat LHK Bogor Abstract Indonesia

Lebih terperinci

BAB IV PROFIL KOMUNITAS KICAU MANIA SALATIGA

BAB IV PROFIL KOMUNITAS KICAU MANIA SALATIGA BAB IV PROFIL KOMUNITAS KICAU MANIA SALATIGA 4.1. Sejarah Komunitas Kicau Mania Salatiga Kicau Mania adalah komunitas para pecinta burung berkicau indonesia yang memiliki hobby memelihara dan mengembang

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. lokal adalah salah satu unggas air yang telah lama di domestikasi, dan

I PENDAHULUAN. lokal adalah salah satu unggas air yang telah lama di domestikasi, dan I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ternak unggas penghasil telur, daging dan sebagai binatang kesayangan dibedakan menjadi unggas darat dan unggas air. Dari berbagai macam jenis unggas air yang ada di Indonesia,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Burung merupakan satwa yang mempunyai arti penting bagi suatu ekosistem

II. TINJAUAN PUSTAKA. Burung merupakan satwa yang mempunyai arti penting bagi suatu ekosistem 6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Burung Burung merupakan satwa yang mempunyai arti penting bagi suatu ekosistem maupun bagi kepentingan kehidupan manusia dan membantu penyebaran Tumbuhan yang ada disuatu kawasan

Lebih terperinci

Peta Konsep. Hal yang harus kamu tahu mengenai Pertumbuhan Makhluk Hidup ini antara lain. Perubahan yang terjadi pada makhluk hidup

Peta Konsep. Hal yang harus kamu tahu mengenai Pertumbuhan Makhluk Hidup ini antara lain. Perubahan yang terjadi pada makhluk hidup Standar Kompetensi: Memahami ciri-ciri dan kebutuhan makhluk hidup serta hal-hal yang mempengaruhi perubahan pada makhluk hidup. Kompetensi Dasar: Mendeskripsikan perubahan yang terjadi pada makhluk hidup

Lebih terperinci

TERNAK KELINCI. Jenis kelinci budidaya

TERNAK KELINCI. Jenis kelinci budidaya TERNAK KELINCI Peluang usaha ternak kelinci cukup menjanjikan karena kelinci termasuk hewan yang gampang dijinakkan, mudah beradaptasi dan cepat berkembangbiak. Secara umum terdapat dua kelompok kelinci,

Lebih terperinci

Kebun Binatang Mini ala Fakultas Kedokteran Hewan

Kebun Binatang Mini ala Fakultas Kedokteran Hewan Kebun Binatang Mini ala Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR NEWS Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga tak hanya memiliki fasilitas akademik yang menunjang kegiatan belajar mahasiswa, tetapi juga

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. tidak dapat terbang tinggi, ukuran relatif kecil berkaki pendek.

I PENDAHULUAN. tidak dapat terbang tinggi, ukuran relatif kecil berkaki pendek. I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Burung puyuh (Coturnix coturnix japonica) merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang tinggi, ukuran relatif kecil berkaki pendek. Burung ini merupakan burung liar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. populasi kambing di Provinsi Lampung pada tahun 2009 baru mencapai

I. PENDAHULUAN. populasi kambing di Provinsi Lampung pada tahun 2009 baru mencapai I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Potensi pengembangan usaha peternakan kambing masih terbuka lebar karena populasi kambing di Provinsi Lampung pada tahun 2009 baru mencapai 1.012.705 ekor. Menurut data

Lebih terperinci

Karya Ilmiah Peluang Bisnis

Karya Ilmiah Peluang Bisnis Karya Ilmiah Peluang Bisnis STMIK AMIKOM YOGYAKARTA Kampus terpadu : Jl. Ring Road Utara, Condong Catur, Depok, Sleman, Yogyakarta DI SUSUN OLEH : Nama : M.Ghufron.Wiliantoro NIM : 10.12.4963 Jurusan :

Lebih terperinci

Libatkan Mahasiswa, FKH UNAIR Ternakkan Iguana Hingga Belasan Ekor

Libatkan Mahasiswa, FKH UNAIR Ternakkan Iguana Hingga Belasan Ekor Libatkan Mahasiswa, FKH UNAIR Ternakkan Iguana Hingga Belasan Ekor UNAIR NEWS Iguana adalah salah satu kelompok hewan reptil yang berasal dari negara kawasan Amerika Latin. Meski demikian, karena kecocokan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. peternakan pun meningkat. Produk peternakan yang dimanfaatkan

I. PENDAHULUAN. peternakan pun meningkat. Produk peternakan yang dimanfaatkan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Sejalan dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya protein hewani untuk memenuhi kebutuhan gizi, permintaan masyarakat akan produkproduk peternakan

Lebih terperinci

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil 5.1.1 Penangkaran Merak Hijau Jawa di Taman Burung Taman Mini Indonesia Indah 5.1.1.1 Kandang sebagai habitat buatan Kandang merupakan tempat hidup habitat buatan satwa

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Jalak Bali Jalak bali tergolong dalam jenis burung berkicau. Dalam bahasa Bali diberi nama Curik putih atau Curik bali sedangkan dalam bahasa asing

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN AYAM KUB pada Visitor Plot Aneka Ternak BPTP NTB. Totok B Julianto dan Sasongko W R

PERKEMBANGAN AYAM KUB pada Visitor Plot Aneka Ternak BPTP NTB. Totok B Julianto dan Sasongko W R PERKEMBANGAN AYAM KUB pada Visitor Plot Aneka Ternak BPTP NTB Totok B Julianto dan Sasongko W R Ayam KUB Ayam kampung atau ayam buras (bukan ras), masih digemari oleh masyarakat baik di pedesaan maupun

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Perilaku Kawin

HASIL DAN PEMBAHASAN Perilaku Kawin HASIL DAN PEMBAHASAN Perilaku Kawin Pengamatan perilaku kawin nyamuk diamati dari tiga kandang, kandang pertama berisi seekor nyamuk betina Aedes aegypti dengan seekor nyamuk jantan Aedes aegypti, kandang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Satwa liar merupakan salah satu sumber daya alam hayati yang mendukung

I. PENDAHULUAN. Satwa liar merupakan salah satu sumber daya alam hayati yang mendukung 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Satwa liar merupakan salah satu sumber daya alam hayati yang mendukung proses-proses ekologis di dalam ekosistem. Kerusakan hutan dan aktivitas manusia yang semakin meningkat

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Prosedur

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Prosedur MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan di Desa Cibeureum Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor pada Bulan Maret sampai Agustus. Pemilihan daerah Desa Cibeureum sebagai tempat penelitian

Lebih terperinci

PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA BISNIS PEMBESARAN MURAI BATU SEBAGAI SARANA MENUJU MAHASISWA MANDIRI BIDANG KEGIATAN: PKM-K.

PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA BISNIS PEMBESARAN MURAI BATU SEBAGAI SARANA MENUJU MAHASISWA MANDIRI BIDANG KEGIATAN: PKM-K. PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA BISNIS PEMBESARAN MURAI BATU SEBAGAI SARANA MENUJU MAHASISWA MANDIRI BIDANG KEGIATAN: PKM-K Diusulkan oleh: Ayas Abidun Bachtiar C0212011 2012 (Ketua Kelompok) Amirulloh

Lebih terperinci

BAB. Daur Hidup Makhluk Hidup

BAB. Daur Hidup Makhluk Hidup BAB 4 Daur Hidup Makhluk Hidup Suatu sore, Nina dan Siti sedang berjalan-jalan di taman sambil melihat-lihat bunga yang berwarna-warni. Tiba-tiba Siti tertarik pada satu dahan tanaman. Siti pun memanggil

Lebih terperinci

HOBY KENARI BISA JADI USAHA RINGAN, MURAH DAN MENGUNTUNGKAN

HOBY KENARI BISA JADI USAHA RINGAN, MURAH DAN MENGUNTUNGKAN Abdur Ribatur Rizal 10.12.4462/S1-SI-2B HOBY KENARI BISA JADI USAHA RINGAN, MURAH DAN MENGUNTUNGKAN Burung kenari banyak digandrungi orang karena sangat mempesona. Bukan karena poster tubuhnya lencir bak

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

V. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN V. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 5.1 Gambaran Umum Perusahaan Perusahaan ini berdiri pada tahun 2001 dengan pengusahaan pada berbagai komoditi pertanian seperti budidaya ikan, budidaya manggis, budidaya pepaya,

Lebih terperinci

Metamorfosis Kecoa. 1. Stadium Telur. 2. Stadium Nimfa

Metamorfosis Kecoa. 1. Stadium Telur. 2. Stadium Nimfa Metamorfosis Kecoa 1. Stadium Telur Proses metamorfosis kecoa diawali dengan stadium telur. Telur kecoa diperoleh dari hasil pembuahan sel telur betina oleh sel spermatozoa kecoa jantan. Induk betina kecoa

Lebih terperinci

TEKNIK PEMELIHARAAN DAN PERILAKU HARIAN NURI BAYAN (Eclectus roratus Muller 1777) DI MBOF DAN ASTI, BOGOR AJRINI SHABRINA

TEKNIK PEMELIHARAAN DAN PERILAKU HARIAN NURI BAYAN (Eclectus roratus Muller 1777) DI MBOF DAN ASTI, BOGOR AJRINI SHABRINA i TEKNIK PEMELIHARAAN DAN PERILAKU HARIAN NURI BAYAN (Eclectus roratus Muller 1777) DI MBOF DAN ASTI, BOGOR AJRINI SHABRINA DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Materi

MATERI DAN METODE. Materi MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di peternakan merpati di area Komplek Alam Sinar Sari, Desa Sinarsari, Dramaga, Bogor, Jawa Barat. Penelitian ini berlangsung selama bulan

Lebih terperinci

STUDI PERBANDINGAN PERFORMANS REPRODUKSI, KARAKTERISTIK GENETIK DAN POLA SUARA ANTARA TETUA DAN TURUNANNYA PADA PENYILANGAN BURUNG TEKUKUR

STUDI PERBANDINGAN PERFORMANS REPRODUKSI, KARAKTERISTIK GENETIK DAN POLA SUARA ANTARA TETUA DAN TURUNANNYA PADA PENYILANGAN BURUNG TEKUKUR STUDI PERBANDINGAN PERFORMANS REPRODUKSI, KARAKTERISTIK GENETIK DAN POLA SUARA ANTARA TETUA DAN TURUNANNYA PADA PENYILANGAN BURUNG TEKUKUR (Streptopelia chinensis) DAN PUTER (Streptopelia risoria) BURHANUDDIN

Lebih terperinci

Daur Hidup Hewan Di Lingkungan Sekitar. 4. Memahami daur hidup berbagai jenis mahluk hidup

Daur Hidup Hewan Di Lingkungan Sekitar. 4. Memahami daur hidup berbagai jenis mahluk hidup Ayam betina dewasa dapat bertelur. Jika di erami, telur akan menetas dan menghasilkan anak ayam. Anak ayam akan tumbuh menjadi ayam dewasa. Kemuadian, ayam betina dewasa akan bertelur dan menghasilkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Burung merupakan salah satu jenis hewan yang banyak disukai oleh manusia, hal ini di karenakan burung memiliki beberapa nilai penting, seperti nilai estetika, ekologi

Lebih terperinci

I. JUDUL Prospek Budidaya Burung Puyuh

I. JUDUL Prospek Budidaya Burung Puyuh I. JUDUL Prospek Budidaya Burung Puyuh II. ABSTRAKS Persaingan dunia bisnis semakin merajalela, mulai dari sektor peternakan, material, bahkan hingga teknologi. Indonesia adalah salah satu negara yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Protein hewani memegang peran penting bagi pemenuhan gizi masyarakat. Untuk

I. PENDAHULUAN. Protein hewani memegang peran penting bagi pemenuhan gizi masyarakat. Untuk I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Protein hewani memegang peran penting bagi pemenuhan gizi masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan gizi tersebut, masyarakat akan cenderung mengonsumsi daging unggas

Lebih terperinci

ANALISIS PENGGUNAAN TENAGA KERJA RUMAH TANGGA PADA PEMELIHARAAN DOMBA DI KECAMATAN BUAHDUA KABUPATEN SUMEDANG

ANALISIS PENGGUNAAN TENAGA KERJA RUMAH TANGGA PADA PEMELIHARAAN DOMBA DI KECAMATAN BUAHDUA KABUPATEN SUMEDANG ANALISIS PENGGUNAAN TENAGA KERJA RUMAH TANGGA PADA PEMELIHARAAN DOMBA DI KECAMATAN BUAHDUA KABUPATEN SUMEDANG ANALYSIS OF USE FAMILY LABOR CULTIVATION OF SHEEP LIVESTOCK IN THE SUBDISTRICT BUAHDUA DISTRICT

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rusa timor (Rusa timorensis Blainville 1822) merupakan salah satu jenis satwa liar yang hidup tersebar pada beberapa wilayah di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa sampai

Lebih terperinci

TEKNIK PENANGKARAN DAN AKTIVITAS HARIAN MAMBRUK VICTORIA (Goura Victoria Fraser, 1844) DI MEGA BIRD AND ORCHID FARM BOGOR, JAWA BARAT

TEKNIK PENANGKARAN DAN AKTIVITAS HARIAN MAMBRUK VICTORIA (Goura Victoria Fraser, 1844) DI MEGA BIRD AND ORCHID FARM BOGOR, JAWA BARAT TEKNIK PENANGKARAN DAN AKTIVITAS HARIAN MAMBRUK VICTORIA (Goura Victoria Fraser, 1844) DI MEGA BIRD AND ORCHID FARM BOGOR, JAWA BARAT Captivity Technique and Daily Activities of Victoria Crowned Pigeon

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. tahun seiring meningkatnya pendapatan dan kesadaran masyarakat akan

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. tahun seiring meningkatnya pendapatan dan kesadaran masyarakat akan BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Kebutuhan protein hewani mengalami peningkatan dari tahun ke tahun seiring meningkatnya pendapatan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi bagi kesehatan. Salah satu

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum Lokasi Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum Lokasi Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi Penelitian Faktor manajemen lingkungan juga berpengaruh terhadap pertumbuhan ternak. Suhu dan kelembaban yang sesuai dengan kondisi fisiologis ternak akan membuat

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. dari hasil domestikasi ayam hutan merah atau red jungle fowls (Gallus gallus) dan

TINJAUAN PUSTAKA. dari hasil domestikasi ayam hutan merah atau red jungle fowls (Gallus gallus) dan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Kampung Ayam kampung merupakan turunan panjang dari proses sejarah perkembangan genetik perunggasan di tanah air. Ayam kampung diindikasikan dari hasil domestikasi ayam hutan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia memiliki Indeks Keanekaragaman Hayati(Biodiversity Index) tertinggi dengan 17% spesies burung dari total burung di dunia (Paine 1997). Sekitar 1598 spesies burung ada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Perkiraan Jumlah Burung yang dipelihara (dalam ribuan ekor) Sumber: Burung Berkicau (2010)

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Perkiraan Jumlah Burung yang dipelihara (dalam ribuan ekor) Sumber: Burung Berkicau (2010) 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini burung telah menjadi hewan kesayangan baik di desa-desa maupun di kota-kota. Keberadaan burung sebagai hewan piaraan juga membuka banyak peluang usaha

Lebih terperinci

Sutrisno Hadi Purnomo*, Zaini Rohmad**

Sutrisno Hadi Purnomo*, Zaini Rohmad** IbM AYAM KAMPUNG DENGAN PENERAPAN TEKNOLOGI BERBASIS PERKANDANGAN SEMI INTENSIF DAN PAKAN KONSENTRAT BERBAHAN BAKU LOKAL DI DESA PANDEYAN, KECAMATAN TASIKMADU, KABUPATEN KARANGANYAR Sutrisno Hadi Purnomo*,

Lebih terperinci

4. ADAPTASI DAN TINGKAH LAKU TIKUS EKOR PUTIH

4. ADAPTASI DAN TINGKAH LAKU TIKUS EKOR PUTIH 4. ADAPTASI DAN TINGKAH LAKU TIKUS EKOR PUTIH Pendahuluan Adaptasi adalah kemampuan bertahan hidup dari suatu individu dalam suatu habitat tertentu. Individu-individu yang dinyatakan bisa beradaptasi bila

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Apis cerana Sebagai Serangga Sosial

TINJAUAN PUSTAKA Apis cerana Sebagai Serangga Sosial TINJAUAN PUSTAKA Apis cerana Sebagai Serangga Sosial Apis cerana merupakan serangga sosial yang termasuk dalam Ordo Hymenoptera, Famili Apidae hidup berkelompok membentuk koloni. Setiap koloni terdiri

Lebih terperinci

SILABUS MATA KULIAH MAYOR TEKNOLOGI PRODUKSI TERNAK

SILABUS MATA KULIAH MAYOR TEKNOLOGI PRODUKSI TERNAK SILABUS MATA KULIAH MAYOR TEKNOLOGI PRODUKSI TERNAK PTP101 Dasar Produksi Ternak 3(2-3) Mata kuliah ini memberikan pengetahuan kepada mahasiswa untuk dapat menjelaskan, memahami tentang arti, fungsi jenis

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bioekologi Merak hijau 2.1.1 Taksonomi Grzimek (1972) menyatakan bahwa klasifikasi merak hijau jawa (Pavo muticus muticus) sebagai berikut : Kingdom Phyllum : Animalia : Chordata

Lebih terperinci

Tugas Karya Ilmiah Peluang Bisnis BETERNAK LANDAK MINI. Disusun oleh : Aji Saputro S1TI 6A

Tugas Karya Ilmiah Peluang Bisnis BETERNAK LANDAK MINI. Disusun oleh : Aji Saputro S1TI 6A Tugas Karya Ilmiah Peluang Bisnis BETERNAK LANDAK MINI Disusun oleh : Aji Saputro 08.11.1883 S1TI 6A SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMASI DAN KOMPUTER JENJANG STRATA JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA STMIK AMIKOM

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yang terletak pada posisi BT dan LS. Purbalingga

I. PENDAHULUAN. yang terletak pada posisi BT dan LS. Purbalingga I. PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara tropis yang memiliki kekayaan alam melimpah berupa flora dan fauna. Indonesia juga memiliki potensi besar dalam pengembangan usaha peternakan lebah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kerusakan lingkungan pemanasan global dan penggunaan mesin-mesin, yang tidak ramah

BAB I PENDAHULUAN. Kerusakan lingkungan pemanasan global dan penggunaan mesin-mesin, yang tidak ramah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kerusakan lingkungan pemanasan global dan penggunaan mesin-mesin, yang tidak ramah lingkungan berakibatkan manusia banyak mengidap penyakit, disadari ataupun

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Tapir asia dapat ditemukan dalam habitat alaminya di bagian selatan Burma, Peninsula Melayu, Asia Tenggara dan Sumatra. Berdasarkan Tapir International Studbook, saat ini keberadaan

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Ukuran Stadium Larva Telur nyamuk Ae. aegyti menetas akan menjadi larva. Stadium larva nyamuk mengalami empat kali moulting menjadi instar 1, 2, 3 dan 4, selanjutnya menjadi

Lebih terperinci

PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN PEMBIBITAN BABI TAHUN 2012 DIREKTORAT PERBIBITAN TERNAK

PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN PEMBIBITAN BABI TAHUN 2012 DIREKTORAT PERBIBITAN TERNAK PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN PEMBIBITAN BABI TAHUN 2012 DIREKTORAT PERBIBITAN TERNAK DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2012 KATA PENGANTAR Pengembangan pembibitan

Lebih terperinci

TERNAK KAMBING 1. PENDAHULUAN 2. BIBIT

TERNAK KAMBING 1. PENDAHULUAN 2. BIBIT TERNAK KAMBING 1. PENDAHULUAN Ternak kambing sudah lama diusahakan oleh petani atau masyarakat sebagai usaha sampingan atau tabungan karena pemeliharaan dan pemasaran hasil produksi (baik daging, susu,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. salah satunya pemenuhan gizi yang berasal dari protein hewani. Terlepas dari

PENDAHULUAN. salah satunya pemenuhan gizi yang berasal dari protein hewani. Terlepas dari 1 I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk, kebutuhan pangan semakin meningkat pula. Pangan yang dibutuhkan oleh masyarakat jenisnya beragam, salah satunya pemenuhan

Lebih terperinci

TUGAS KARYA ILMIAH TENTANG PELUANG BISNIS DAN BUDIDAYA IKAN PATIN

TUGAS KARYA ILMIAH TENTANG PELUANG BISNIS DAN BUDIDAYA IKAN PATIN TUGAS KARYA ILMIAH TENTANG PELUANG BISNIS DAN BUDIDAYA IKAN PATIN Disusun Oleh : Nama : Galih Manunggal Putra NIM : 11.12.5794 Kelas : 11-S1SI-06 Kelompok : H ABSTRAK Bisnis budidaya ikan konsumsi memang

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi, Divisi Persuteraan Alam, Ciomas, Bogor. Waktu penelitian dimulai

Lebih terperinci

Performans Reproduksi Burung Cucak Rawa (Pycnonotus Zeylanicus) Pada Penangkaran Secara Ex-Situ

Performans Reproduksi Burung Cucak Rawa (Pycnonotus Zeylanicus) Pada Penangkaran Secara Ex-Situ Performans Reproduksi Burung Cucak Rawa (Pycnonotus Zeylanicus) Pada Penangkaran Secara Ex-Situ REPRODUCTIVE PERFORMANCE OF STRAW-HEADED BULBUL (PYCNONOTUS ZEYLANICUS) IN EX-SITU SANCTUARY David Zulkarnain

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. sudah melekat dengan masyarakat, ayam kampung juga dikenal dengan sebutan

PENDAHULUAN. Latar Belakang. sudah melekat dengan masyarakat, ayam kampung juga dikenal dengan sebutan PENDAHULUAN Latar Belakang Ayam kampung merupakan ayam lokal di Indonesia yang kehidupannya sudah melekat dengan masyarakat, ayam kampung juga dikenal dengan sebutan ayam buras (bukan ras) atau ayam sayur.

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. tingkatan kasta di dalam koloninya. Lebah pekerja yang merupakan lebah betina

II. TINJAUAN PUSTAKA. tingkatan kasta di dalam koloninya. Lebah pekerja yang merupakan lebah betina 5 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Biologi dan Klasifikasi Lebah Madu Lebah madu merupakan serangga sosial yang hidup berkoloni dan memiliki tiga tingkatan kasta di dalam koloninya. Lebah pekerja yang merupakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Secara umum, ternak dikenal sebagai penghasil bahan pangan sumber protein

I. PENDAHULUAN. Secara umum, ternak dikenal sebagai penghasil bahan pangan sumber protein 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Secara umum, ternak dikenal sebagai penghasil bahan pangan sumber protein hewani yang dibutuhkan bagi hidup, tumbuh dan kembang manusia. Daging, telur, dan

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN

KUESIONER PENELITIAN Lampiran 5 KUESIONER PENELITIAN PENGARUH LINGKUNGAN TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH, PERSONAL HYGIENE DAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) TERHADAP KELUHAN KESEHATAN PADA PEMULUNG DI KELURAHAN TERJUN KECAMATAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. adanya wabah flu burung pada unggas, tidak mustahil untuk memenuhi kebutuhan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. adanya wabah flu burung pada unggas, tidak mustahil untuk memenuhi kebutuhan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Potensi Ternak Kelinci Konsumsi daging kelinci di Indonesia dimasa mendatang diprediksikan akan meningkat. Hal tersebut disebabkan meningkatnya jumlah penduduk dan berkurangnya

Lebih terperinci

Tips Sehat Saat Musim Hujan. Ditulis oleh

Tips Sehat Saat Musim Hujan. Ditulis oleh Setelah kita dilanda terik berkepanjangan, kehadiran musim hujan memang menyegarkan. Tetapi hati-hati, ada banyak penyakit yang mengintai di musim ini. Misalnya, keracunan makanan, kolera, flu, batuk,

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV HASIL DAN PEMBAHASAN 20 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Tempat Penelitian Sumber :Nusantara-Polo.com Ilustrasi 1. Nusantara Polo Club Nusantara Polo Club adalah sebuah club olahraga kuda polo satu satunya berada di

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada 28 Januari 27 Februari 2015 bekerja sama

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada 28 Januari 27 Februari 2015 bekerja sama 13 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada 28 Januari 27 Februari 2015 bekerja sama dan di bawah program PT. Taman Safari Indonesia didampingi oleh Bapak Keni Sultan,

Lebih terperinci

RESISTENSI AYAM LOKAL JAWA BARAT: AYAM SENTUL

RESISTENSI AYAM LOKAL JAWA BARAT: AYAM SENTUL RESISTENSI AYAM LOKAL JAWA BARAT: AYAM SENTUL H. IDIH PURNAMA ALAM Dinas Peternakan Pemerintah Propinsi Jawa Barat Balai Pengembangan Perbibitan Ternak Unggas Jatiwangi Jl. Raya Loji Km. 35 Jatiwangi 45454,Telp.

Lebih terperinci

BUDIDAYA IKAN BELUT ( Synbranchus )

BUDIDAYA IKAN BELUT ( Synbranchus ) BUDIDAYA IKAN BELUT ( Synbranchus ) 1. SEJARAH SINGKAT Belut merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh bulat memanjang yang hanya memiliki sirip punggung dan tubuhnya licin. Belut suka

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA POUCOWPANTS TEMAN SETIA PENELITI ILMU NUTRISI DALAM PENGUMPULAN FESES BIDANG KEGIATAN : PKM-KARSA CIPTA

LAPORAN AKHIR PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA POUCOWPANTS TEMAN SETIA PENELITI ILMU NUTRISI DALAM PENGUMPULAN FESES BIDANG KEGIATAN : PKM-KARSA CIPTA LAPORAN AKHIR PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA POUCOWPANTS TEMAN SETIA PENELITI ILMU NUTRISI DALAM PENGUMPULAN FESES BIDANG KEGIATAN : PKM-KARSA CIPTA Diusulkan oleh: Lukman Maulana D24110082 2011 Chressya

Lebih terperinci

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH ATAS

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH ATAS KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH ATAS Test Seleksi alon Peserta International Biology Olympiad (IBO) 2014 2 8 September

Lebih terperinci

Pengaruh Perbedaan Kandungan Protein Dalam Ransum Terhadap Pertumbuhan Anak Merpati

Pengaruh Perbedaan Kandungan Protein Dalam Ransum Terhadap Pertumbuhan Anak Merpati Pengaruh Perbedaan Kandungan Protein Dalam Ransum Terhadap Pertumbuhan Anak Merpati Erna Winarti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta Jln. Stadion Maguwoharjo No. 22 Sleman, Yogyakarta E-mail:

Lebih terperinci