Laporan Akhir. Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane-Angke-Ciliwung

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Laporan Akhir. Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane-Angke-Ciliwung"

Transkripsi

1 Laporan Akhir Analisis Kawasan DAS Cisadane-Angke-Ciliwung Asisten Deputi Urusan Data dan Informasi Deputi Bidang Pembinaan Sarana Teknis dan Peningkatan Kapasitas Kementerian Negara Lingkungan Hidup Desember 2007

2 Laporan Akhir Analisis Kawasan DAS Cisadane-Angke-Ciliwung Penanggung Jawab Ir. Isa Karmisa Ardiputra Dra. Siti Aini Hanum, M.A. Ir. Hari Wibowo Penyusun Harimurti, S.P., M.A. Solichin, S.Hut., M.Sc. Adi Fajar Ramly, S.Pi., M.M. Heru Subroto Asisten Deputi Bidang Data dan Informasi Deputi Bidang Pembinaan Sarana Teknis dan Peningkatan Kapasitas Kementerian Negara Lingkungan Hidup Desember 2007

3 Ringkasan Eksekutif Laporan ini merupakan laporan akhir hasil kegiatan analisis kawasan lindung di daerah aliran sungai Cisadane, Ciliwung dan Angke. Kegiatan analisis ini meliputi kajian aspek hukum terkait dengan penataan ruang dan penetapan kawasan lindung. Selanjutnya berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan dilakukan upaya pemetaan secara spasial untuk kawasan-kawasan lindung tersebut. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah melakukan kajian luasan dan kondisi kawasan lindung serta menyediakan pedoman bagi pemerintah daerah agar dapat menerapkan kegiatan ini terkait dengan perencanaan tata ruang dan pembangunan wilayah yang berkelanjutan. Pengelolaan kawasan lindung secara khusus diatur oleh Keputusan Presiden nomor 32 tahun Kebijakan tersebut disusun sebagai pedoman pengelolaan kawasan lindung di dalam pengembangan pola tata ruang wilayah. Undang-undang No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang juga menyebutkan keharusan penetapan kawasan lindung selain kawasan budidaya. Selain itu juga terdapat peraturan-peraturan terkait lainnya yang digunakan sebagai dasar analisis. Berdasarkan kajian peraturan, kawasan lindung dibagi menjadi 7 kelompok yaitu: 1. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya yang meliputi hutan lindung, daerah resapan air dan lahan gambut. 2. Kawasan perlindungan setempat meliputi sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar danau/waduk, kawasan sekitar mata air dan ruang terbuka hijau. 3. Kawasan suaka alam yang meliputi cagar alam dan suaka margasatwa. 4. Kawasan pelestarian alam yang meliputi taman nasional, taman wisata alam dan taman hutan raya. 5. Kawasan cagar budaya meliputi situs budaya dan geologi. 6. Kawasan rawan bencana alam meliputi bencana gunung berapi, bencana longsor, bencana banjir, gelombang pasang dan gempa bumi. Kementrian Negara Lingkungan Hidup i

4 7. Kawasan lindung lainnya meliputi taman buru, cagar biosfer, kawasan pelestarian plasma nutfah, daerah pengungsian satwa, kawasan berhutan bakau dan terumbu karang. Berdasarkan analisis yang dilakukan, luas kawasan lindung di DAS Cisadane hampir mencapai 59 ribu hektar atau 36,6% dari luas total DAS. Sedangkan kawasan lindung di DAS Ciliwung dan Angke hanya seluas 23 ribu hektar atau hanya sekitar 23% dari luas DASnya. Luas hutan di DAS Ciliwung-Angke sangat jauh dari syarat minimal luas kawasan hutan dalam suatu DAS, yaitu hanya 4,5 persen. Dalam Pasal 17 ayat 5 Undang-Undang No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dijelaskan bahwa luas minimal kawasan hutan dalam suatu DAS adalah 30%. Walaupun di dalam UU Kehutanan No 41/1999, luas minimal juga dapat didasari atas luas total pulau. Luas kawasan hutan di DAS Cisadane juga masih dibawah proporsi yang ditetapkan dalam undang-undang yaitu sebesar 17,1 persen. Sebagian besar daerah DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke didominasi oleh tipe penutupan lahan kebun campur. Lebih dari 45% DAS Cisadane berupa kebun campur, sementara jenis penutupan hutan kurang dari 23% dan pemukiman lebih dari 15%. Sebagian besar areal berhutan berada di kawasan Taman Nasional Gunung Salak Halimun. Kondisi DAS Ciliwung dan Angke tidak lebih baik dari DAS Cisadane. Penutupan hutan pada DAS ini hanya dibawah 10% yang sebagian besar berada di kawasan puncak. Sedangkan luas pemukiman mencapai 44% dari luas total DAS Cisadane dan Angke, mengingat kedua sungai ini melintasi provinsi DKI yang merupakan kota metropolitan. Lebih dari 37% kawasan lindung DAS Ciliwung Angke berada di Kota DKI Jakarta. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa masalah banjir di DKI Jakarta sangat sulit diatasi. Pemukiman di kawasan lindung DAS Ciliwung Angke menutupi 33% atau hampir mencapai 8 ribu hektar dari luas DAS. Berbeda dengan kawasan Kementrian Negara Lingkungan Hidup ii

5 lindung DAS Cisadane yang hanya ditutupi pemukiman sebanyak 9 persen dari luas total DAS. Selain itu keberadaan mangrove di kedua DAS tersebut sangatlah terbatas dalam jumlah yang sangat kecil. Lebih dari 65% kawasan hutan di DAS Cisadane dan DAS Ciliwung-Angke masih ditutupi oleh areal berhutan. Sebagian besar kawasan ini berada di dua taman nasional yaitu TN Gede Pangrango dan TN Salak Halimun yang merupakan ekosistem gunung yang berada di bagian selatan kedua DAS. Banyak data spasial yang diperlukan untuk penentuan kawasan lindung berdasarkan peraturan, masih belum tersedia. Antara lain, data penyebaran sungai bertanggul, penyebaran mata air, data pasang surut di sepanjang hutan bakau, penyebaran laha gambut dengan kedalaman lebih dari 3 m, kawasan pelestarian plasma nutfah, kawasan pengungsian satwa, batas cagar biosfer. Selain itu tidak adanya pedoman teknis pelaksanaan pemetaan beberapa kawasan lindung, antara lain kawasan rawan bencana alam dan daerah resapan air, juga menyebabkan kesulitan bagi pihak pemerintah daerah di dalam upaya pemetaannya. Beberapa peraturan bahkan tumpang tindih di dalam menetapkan kriteria kawasan lindung. Salah satu contoh adalah, kriteria luas minimal ruang terbuka hijau menurut Kepmendagri No. 1/2007 adalah sebesar 20 persen, sedangkan berdasarkan UU 26/2007 sebesar 30 persen. Banyak kasus dimana kawasan lindung masih belum dimasukkan ke dalam peta tata ruang wilayah. Padahal undang-undang tentang penataan ruang, baik UU No 24/1992 maupun UU No 47/1997, secara tegas telah menetapkan bahwa pemanfaatan ruang wilayah dibagi atas dua fungsi utama yaitu kawasan budidaya dan kawasan lindung. Banyaknya peraturan yang tumpang tindih yang dikeluarkan oleh berbagai sektor menyebabkan ambiguitas di dalam penerapan penetapapan kawasan lindung. Untuk itu diperlukan upaya untuk mendorong instansi terkait untuk duduk bersama membahas peraturan yang saling tumpang tindih atau peraturan pelaksana yang mengatur lebih lanjut hal-hal terkait dengan kawasan lindung.. Koordinasi antar sektor, karenanya sangat lah penting untuk menghindari penyalahgunaan pola Kementrian Negara Lingkungan Hidup iii

6 pemanfaatan ruang yang dapat merusak lingkungan. Di atas semuanya, diperlukan komitmen yang tinggi dari semua pihak. Kementrian Negara Lingkungan Hidup iv

7 Kata Pengantar Pengelolaan kawasan lindung merupakan salah satu prasyarat utama di dalam pembangunan daerah yang berkelanjutan. Kurangnya komitmen pemerintah di dalam perlindungan kawasan lindung salah satunya disebabkan karena kurang pahamnya pengambil keputusan mengenai fungsi dan manfaat kawasan lindung. Yang pada akhirnya hanya menjadikan pembangunan secara berkelanjutan sebagai jargon. Selain itu, kurangnya sosialisasi dan pemahaman tentang kawasan lindung juga menjadikan pemerintah daerah kurang terpicu dalam mengintegrasikan kawasan lindung secara komprehensif ke dalam peta tata ruang wilayahnya masing-masing. Laporan ini merupakan laporan kegiatan analisis spasial kawasan lindung. Penetapan dilakukan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan berdasarkan peraturan-peraturan yang berlaku, khususnya terkait dengan kawasan lindung dan penataan ruang. Sebuah pedoman teknis menggunakan aplikasi GIS juga disusun sebagai salah satu keluaran dari kegiatan ini. Pedoman tersebut dapat digunakan oleh pemerintah daerah untuk memetakan kawasan lindung di wilayahnya masing-masing. Jakarta, Desember 2007 Kementrian Negara Lingkungan Hidup v

8 Daftar Isi Ringkasan Eksekutif... i Kata Pengantar...v Daftar Isi... vi Daftar Tabel...vii Daftar Gambar...viii Daftar Lampiran...iix Pendahuluan Latar Belakang Tujuan Maksud Ruang Lingkup... 3 Penetapan Kawasan Kajian Hukum Pengelompokkan Kawasan Kriteria Kawasan Penetapan Kawasan secara Spasial Penerapan Kriteria menjadi Data Spasial Data yang Digunakan Software yang Digunakan Hasil Analisis Penentuan Daerah Aliran Sungai Model Elevasi Dijital Batas DAS Cisadane-Angke-Ciliwung Pemetaan Kawasan Analisis Tutupan Lahan melalui Interpretasi Citra Satelit Analisa Tutupan Lahan di Kawasan Analisa Tutupan Lahan di Kawasan Hutan Pembahasan Ketersediaan Data Pedoman Teknis Peraturan dan Implementasi Fungsi dan Kondisi Kawasan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Kesimpulan dan Rekomendasi Literatur Lampiran Kementrian Negara Lingkungan Hidup vi

9 Daftar Tabel Tabel 1. Nilai Skor Faktor Kelerengan Lapangan... 7 Tabel 2. Nilai Skor Faktor Jenis Tanah Menurut Kepekaannya Terhadap Erosi... 7 Tabel 3. Klasifikasi dan Nilai Skor Faktor Intensitas Hujan Harian Rata Rata... 7 Tabel 4. Matriks penyusunan data spasial kawasan lindung berdasarkan kriteria yang berlaku Tabel 5. Perbedaan luas DAS hasil analisis batas menggunakan data topografi dan DEM Tabel 6. Luas kawasan lindung dan non lindung Tabel 7. Luas dan persentase kawasan hutan dan non kawasan hutan Tabel 8. Tutuan lahan hasil klasifikasi citra Landsat 5 tahun Tabel 9. Penyebaran kawasan lindung DAS Ciasadane dan Ciliwung berdasarkan batas administratif Tabel 10. Tutupan lahan di kawasan lindung tahun Tabel 11. Tutupan lahan di kawasan hutan tahun Tabel 12. Fungsi dan Kondisi Ideal Kawasan Kementrian Negara Lingkungan Hidup vii

10 Daftar Gambar Gambar 1. Diagram alir pemetaan kawasan lindung menggunakan data yang telah tersedia Gambar 2. Diagram alir penentuan batas DAS menggunakan data topografi RBI Gambar 3. Perbandingan batas DAS hasil dijitasi visual dan analisis dijital DEM Gambar 4. Cagar Biosfer di Indonesia yang termasuk dalam UNESCO s Biosphere Reserves (www.unesco.org) Gambar 5. Kondisi Sungai Ciapus yang merupakan bagian hulu DAS Cisadane Kementrian Negara Lingkungan Hidup viii

11 Daftar Lampiran Lampiran 1. Policy Memo Kajian Pemetaan Kawasan sesuai Peraturan Lampiran 2. Policy Memo Pemantauan Tata Ruang Wilayah Lampiran 3. Notulen Diskusi Lampiran 4. Notulen Diskusi Lampiran 5. Matriks Analisis Kawasan (Full) Kementrian Negara Lingkungan Hidup ix

12 Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Manusia dan lingkungan memiliki hubungan yang tidak dapat terpisahkan. Manusia sangat bergantung kepada lingkungan yang memberikan sumberdaya alam untuk tetap bertahan hidup. Mengingat adanya keterbatasan daya dukung (carrying capacity) lingkungan, manusia harus memperhatikan kelestarian lingkungan agar fungsi-fungsi lingkungan masih dapat berjalan sehingga tetap memberikan keuntungan bagi manusia. Eksploitasi sumberdaya alam ataupun perusakkan lingkungan atas nama pembangunan yang berlebihan karenanya akan berdampak buruk bagi kualitas lingkungan dalam menjalankan fungsinya yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas hidup dan bahkan keberlangsungan hidup manusia. Pemanfaatan sumberdaya alam serta pelestarian lingkungan perlu diatur untuk menghindari kerusakkan lingkungan atau bencana lingkungan sehingga pembangunan dan kelestarian lingkungan dapat secara sinergis berjalan bersamaan. Banyak produk hukum dibuat oleh pemerintah terkait dengan pengelolaan sumberdaya alam maupun pelestarian lingkungan, namun exploitasi sumberdaya alam masih terjadi secara besar-besaran tanpa memperhatikan kemampuan alam untuk memperbaiki diri. Salah satu contoh nyata adalah pemanfaatan hasil hutan alam di luar pulau Jawa. Deforestasi dan degradasi hutan terjadi akibat pembalakan berlebihan dan pembalakan liar (illegal logging), sebagian besar hutan alam tidak berada dalam kondisi suksesi klimaks yang berfungsi melindungi kelestarian lingkungan. Kondisi demikian menyebabkan hutan yang terdegradasi dan rusak menjadi rentan terhadap kebakaran. Kebakaran hutan dan lahan menjadi bencana yang mulai sering terjadi dan berdampak sangat buruk terhadap kesehatan dan kualitas hidup manusia. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya bersifat lokal dan temporer. Asap lintas batas (transboundary Pendahuluan_ 1

13 haze) menjadi masalah yang membatasi keharmonisan dengan negara tetangga, selain itu pelepasan karbon akibat kebakaran mencapai nilai yang hampir setara dengan emisi yang dikeluarkan oleh negara industri. Perubahan iklim akibat pemanasan global memberikan dampak merugikan secara jangka panjang, khususnya bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Pengaturan pelestarian lingkungan juga perlu diperhatikan di dalam pengaturan tata ruang. Berbagai kebijakan pemerintah cukup jelas dan tegas mengatur tata ruang pengembangan wilayah baik dari tingkat nasional, provinsi dan kabupaten atau kota dengan memperhatikan aspek lingkungan ke dalam penataan ruang wilayah yang harus dilindungi untuk kepentingan kelestarian fungsi lingkungan. Kawasan lindung dan kawasan budidaya ditetapkan untuk menjaga keharmonisan antara pembangunan daerah dengan kelestarian fungsi lingkungan. Pengelolaan kawasan lindung secara khusus diatur oleh Keputusan Presiden nomor 32 tahun Kebijakan tersebut disusun sebagai pedoman pengelolaan kawasan lindung di dalam pengembangan pola tata ruang wilayah. Undang-undang No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang juga menyebutkan keharusan penetapan kawasan lindung selain kawasan budidaya. Kelemahan di dalam upaya pengendalian penerapan rencana tata ruang menjadi kendala utama di dalam menjamin kelestarian fungsi kawasan lindung yang telah ditetapkan sebelumnya. Tanpa adanya informasi yang aktual dan valid terkait dengan kondisi kawasan lindung juga akan menyulitkan upaya pengendalian tata ruang. Karenanya sistem pemantauan secara reguler perlu dikembangkan untuk mengetahui apakah rencana tata ruang yang dibuat sesuai dengan kondisi di lapangan, bagaimana kondisinya serta perubahan apa yang terjadi di dalam kawasan lindung tersebut. Informasi yang diperoleh selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan perbaikan kebijakan terkait dengan pengelolaan kawasan lindung sehingga dapat memaksimalkan fungsinya untuk melindungi dan mencegah terjadinya bencana lingkungan. Pendahuluan_ 2

14 1.2. Tujuan - Melakukan identifikasi dan analisa spasial di dalam penetapan kawasan lindung sesuai aturan perundang-undangan. - Melakukan analisa perbandingan antara kawasan lindung dengan RTRWP dan penutupan lahan aktual. - Melakukan analisa kondisi kawasan lindung serta analisis proporsi areal terbangun. - Penyusunan pedoman analisa spasial kawasan lindung Maksud Untuk mengetahui perbedaan pola penetapan dan pengelolaan kawasan lindung sehingga diperoleh hasil analisa yang dapat digunakan sebagai acuan perbaikan kebijakan terkait dengan penataan ruang wilayah yang mengintegrasikan kawasan lindung serta upaya pengelolaannya. Selain itu, juga diperlukan adanya pedoman teknis yang dapat diterapkan oleh pemerintah daerah di dalam penentuan dan pemantauan kondisi kawasan lindung Ruang Lingkup Ruang lingkup kegiatan ini meliputi kajian hukum terkait dengan pengelolaan kawasan lindung, analisa spasial penetapan kawasan lindung sesuai peraturan serta pemantauan kondisi kawasan lindung di DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke. Pendahuluan_ 3

15 Penetapan Kawasan 2.1. Kajian Hukum Beberapa produk hukum telah dikeluarkan untuk mengatur upaya penataan ruang yang memperhatikan aspek lingkungan. Analisis penetapan kawasan lindung dilakukan dengan mengacu pada peraturan yang berlaku. Peraturan perundangundangan yang digunakan sebagai dasar analisis antara lain: 1. Undang-Undang No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. 2. Undang-Undang No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. 3. Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 4. Peraturan Pemerintah No 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (hingga laporan ini ditulis, Peraturan Pemerintah tentang RTRWN yang baru masih berupa rancangan). 5. Peraturan Pemerintah No 35 Tahun1991 tentang Sungai. 6. Peraturan Pemerintah No 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Pelestarian Alam. 7. Peraturan Pemerintah No 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota. 8. Keputusan Presiden No 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan. 9. Peraturan Menteri Dalam Negeri No 1 Tahun 2007 tentang Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan. 10. Peraturan Menteri Kehutanan No: P.56/Menhut-II/2006 tentang Zonasi Taman Nasional. 11. Surat Keputusan Menteri Pertanian No 837/Kpts/Um/11 /1980 tentang Kriteria Penetapan Hutan. 12. Surat Keputusan Menteri Pertanian No 681/Kpts/Um/8/1981 tentang Kriteria Penetapan Kawasan Suaka Alam dan Pelestarian Alam. Penetapan Kawasan _ 4

16 Pengelompokkan Kawasan Penetapan kawasan lindung sebagai daerah yang perlu di jaga kelestariannya telah diatur di dalam beberapa peraturan dan undang-undang. Keputusan Presiden No 32 tahun 1990 secara khusus mengatur tentang pengelolaan kawasan lindung. Kawasan lindung didefinisikan sebagai kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan. Kawasan lindung berdasarkan Keputusan Presiden No 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan dikelompokkan ke dalam 4 kelompok, yaitu: 1. Kawasan yang Memberikan Perlindungan Kawasan Bawahannya. 2. Kawasan Perlindungan Setempat. 3. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya 4. Kawasan Rawan bencana Alam. Sedangkan Undang-Undang No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang mengelompokkan kawasan lindung ke dalam 5 kelompok, yaitu: 1. Kawasan yang memberikan pelindungan kawasan bawahannya, antara lain, kawasan hutan lindung, kawasan bergambut, dan kawasan resapan air; 2. Kawasan perlindungan setempat, antara lain, sempadan pantai, sempadan sungai, kawasan sekitar danau/waduk, dan kawasan sekitar mata air; 3. Kawasan suaka alam dan cagar budaya, antara lain, kawasan suaka alam, kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya, kawasan pantai berhutan bakau, taman nasional, taman hutan raya, taman wisata alam, cagar alam, suaka margasatwa, serta kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan; 4. Kawasan rawan bencana alam, antara lain, kawasan rawan letusan gunung berapi, kawasan rawan gempa bumi, kawasan rawan tanah longsor, kawasan rawan gelombang pasang, dan kawasan rawan banjir; dan 5. Kawasan lindung lainnya, misalnya taman buru, cagar biosfer, kawasan perlindungan plasma nutfah dan kawasan pengungsian satwa. Selain itu, Undang-Undang 26/2007 menambahkan kawasan terumbu karang sebagai salah satu kawasan lindung. Penetapan Kawasan _ 5

17 Sedangkan berdasarkan Peraturan Pemerintah No 47 tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional mengelompokkan kawasan lindung ke dalam 7 kelompok, yaitu: 1. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya; 2. Kawasan perlindungan setempat; 3. Kawasan suaka alam; 4. Kawasan pelestarian alam; 5. Kawasan cagar budaya; 6. Kawasan rawan bencana alam; 7. Kawasan lindung lainnya. Pengelompokkan kawasan lindung di dalam PP No 47/1997 cenderung lebih lengkap dibandingkan peraturan lainnya. Ruang terbuka hijau dan hutan kota dijelaskan dan dikelompokkan ke dalam Kawasan perlindungan setempat. Sementara di KepPres 32/1990 kedua kawasan tersebut tidak dijelaskan dan tidak dikelompokkan ke dalam kelompok kawasan lindung. Sementara UU No 26/2007 tidak mengelompokkan RTH ke dalam kelompok kawasan lindung, tetapi RTH dijelaskan di dalam paragraf tata ruang wilayah kota. Hutan Kota tidak dijelaskan sama sekali di dalam Undang-undang tersebut Kriteria Kawasan A. Kawasan Perlindungan Kawasan di Bawahnya Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahnya memiliki tujuan untuk melindungi areal yang berada di bawah kawasan lindung yang meliputi: hutan lindung, kawasan bergambut dan kawasan resapan air. Hutan lindung adalah kawasan hutan yang memiliki sifat khas yang mampu memberikan perlindungan kepada kawasan sekitar maupun bawahnya sebagai pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi serta memelihara kesuburan tanah, baik dalam kawasan hutan yang bersangkutan maupun kawasan yang dipengaruhi di sekitarnya. Kriteria penetapan hutan lindung dijelaskan secara lengkap di Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2837/Kpts/Um/11 /1980. Jika di dalam penggabungan atau tumpang susun antar faktor Penetapan Kawasan _ 6

18 kelerengan, jenis tanah dan curah hujan memiliki nilai lebih dari 175 maka ditetapkan sebagai hutan lindung (Tabel 1-3). Tabel 1. Nilai Skor Faktor Kelerengan Lapangan Kelas Kelerengan (%) Klasifikasi Nilai Skor I 0-8 Datar 20 II 8-15 Landai 40 III Agak Curam 60 IV Curam 80 V > 40 Sangat Curam 100 Sumber: SK Mentan No 2837/Kpts/Um/11 /1980 Tabel 2. Nilai Skor Faktor Jenis Tanah Menurut Kepekaannya Terhadap Erosi Kelas Jenis tanah Klasifikasi Nilai Skor I Aluvial,Glei, Planosol,Hidromorf kelabu, Tidak peka 15 Laterit air tanah II Latosol Kurang peka 30 III Brown forest soil, non calcic brown, Agak peka 45 mediteran. IV Andosol, Laterit, Grumusol, Podsol, Peka 60 Podsolic V Regosol, Litosol, Organosol, Rensina. Sangat peka 75 Sumber: SK Mentan No 2837/Kpts/Um/11 /1980 Tabel 3. Klasifikasi dan Nilai Skor Faktor Intensitas Hujan Harian Rata Rata Kelas Intensitas Hujan Klasifikasi Nilai Skor (mm/hari) I 0 13,6 Sangat rendah 10 II 13,6 20,7 Rendah 20 III 20,7 27,7 Sedang 30 IV 27,7 34,8 Tinggi 40 V > 34,8 Sangat Tinggi 50 Sumber: SK Mentan No 2837/Kpts/Um/11 /1980 Selain itu, kawasan hutan yang mempunyai lereng lapangan 40 % atau lebih, serta kawasan hutan yang berada pada ketinggian 2000 meter atau lebih di atas permukaan laut juga ditetapkan sebagai hutan lindung. Penilaian tersebut dilakukan oleh Departemen Kehutanan sebagai dasar penetapan kawasan hutan lindung yang selanjutnya diintegrasikan ke dalam peta kawasan hutan atau rencana tata ruang wilayah. Penyusunan peta kawasan hutan yang meliputi hutan produksi, hutan lindung dan hutan konservesi (suaka alam dan Penetapan Kawasan _ 7

19 pelestarian alam) merupakan wewenang Pusat Pengukuhan dan Penatagunaan Kawasan Hutan, Badan Planologi Departemen Kehutanan. Kawasan bergambut merupakan kawasan yang unsur pembentuk tanahnya sebagian besar berupa sisa-sisa bahan organik yang tertimbun dalam waktu yang lama dengan kedalaman lebih atau sama dengan 3 meter. Kawasan ini berfungsi untuk menjaga hidrologi, menyimpan cadangan air, mencegah banjir serta melindungi ekosistem yang khas di wilayah yang bersangkutan. Lahan gambut juga berfungsi sebegai penyerap dan penyimpan karbon jika berada dalam kondisi alami dan tidak terdegradasi. Namun sebaliknya, lahan gambut yang rusak akan menyebabkan pelepasan karbon ke atmosfir baik melalui kebakaran maupun proses oksidasi akibat drainase atau pengeringan. Kawasan resapan air merupakan daerah yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (aquifer) yang berguna sebagai sumber air. Kriteria penetapan kawasan resapan air adalah curah hujan yang tinggi, struktur tanah yang mudah meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan secara besar-besaran. Namun kriteria dan batasan yang jelas rinci tidak dijelaskan lebih lanjut. B. Kawasan Perlindungan Setempat Kawasan perlindungan setempat meliputi: sempadan sungai, sempadan pantai, kawasan sekitar waduk atau danau serta kawasan ruang terbuka hijau termasuk di dalamnya hutan kota. Sempadan sungai merupakan kawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai buatan/kanal/ saluran irigasi primer, yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Berdasarkan Keppres 32/1990 lebar minimal 100 meter untuk sungai besar dan 50 meter untuk sungai kecil. Di sekitar pemukiman, lebar kawasan sempadan sekitar meter. Sedangkan pada PP 47/1997, kriteria sempadan sungai yang bertanggul minimal 5 meter dari batas luar tanggul, sedangkan yang tidak bertanggul ditentukan oleh pejabat berwenang berdasarkan pertimbangan teknis dan Penetapan Kawasan _ 8

20 sosial. Di dalam sektor kehutanan, melalui Undang-Undang Kehutanan No 41/1999, kriteria sempadan sungai sesuai dengan kriteria berdasarkan KepPres 32/1990. Perlindungan terhadap sempadan pantai dilakukan untuk melindungi wilayah pantai dari kegiatan yang menganggu kelestarian fungsi pantai. Kriteria sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Untuk itu diperlukan data pasang surut untuk menentukan titik pasang tertinggi. Perlindungan terhadap kawasan sekitar danau/waduk dilakukan untuk melindungi danau/waduk dari kegiatan budidaya yang dapat menganggu kelestarian fungsinya. Kawasan perlindungan tersebut merupakan daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik danau/waduk antara meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Di kawasan hutan, kawasan perlindungan sekitar danau/waduk berada di tepian selebar 500 meter (UU 41/1999). Perlindungan terhadap kawasan sekitar mata air dilakukan untuk melindungi mata air dari kegiatan budidaya yang dapat merusak kualitas air dan kondisi fisik kawasan sekitarnya. Kawasan tersebut merupakan daerah dengan lebar sekurang-kurangnya 200 meter di sekitar mata air. Ruang terbuka hijau dan hutan kota dijelaskan di dalam Undang-Undang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional No 47/97 dan Undang Undang Kehutanan No 41/1999. Ruang terbuka hijau (RTH) adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah yang dikelola oleh Pemda Kota. Kawasan terbuka hijau dapat berupa pohonpohonan maupun tanaman hias atau herba. Terdapat ruang terbuka hijau publik dan privat. Kawasan yang dimaksud berada di kawasan pemukiman, industri ataupun tepi sungai, pantai dan jalan yang berada di kawasan perkotaan. Penetapan Kawasan _ 9

21 Adapun kriteria RTH meliputi: 1. lokasi sasaran kawasan terbuka hijau kota termasuk di dalamnya hutan kota antara lain di kawasan permukiman, industri, tepi sungai/pantai/ jalan yang berada di kawasan perkotaan; 2. jenis tanaman hias untuk kawasan terbuka hijau kota adalah berupa pohon-pohonan dan tanaman hias atau herba, dari berbagai jenis baik jenis asing atau eksotik maupun asli atau domestik; 3. proporsi ruang terbuka hijau minimal 30% dari total luas wilayah dengan minimal 20% RTH publik; 4. yang termasuk ruang terbuka hijau publik, antara lain, adalah taman kota, taman pemakaman umum, dan jalur hijau sepanjang jalan, sungai, dan pantai; 5. yang termasuk ruang terbuka hijau privat, antara lain, adalah kebun atau halaman rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan. Hutan Kota berupa suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak, yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang berwenang. Hutan kota berfungsi untuk mengatur iklim mikro, estetika serta resapan air yang berupa hamparan pohon-pohonan baik jenis domestik maupun eksotik. Kriteria hutan kota meliputi: 1. hutan yang terbentuk dari komunitas tumbuhan yang berbentuk kompak pada satu hamparan, berbentuk jalur atau merupakan kombinasi dari bentuk kompak dan bentuk jalur; 2. jenis tanaman untuk hutan kota adalah tanaman tahunan berupa pohon-pohonan, bukan tanaman hias atau herba, dari berbagai jenis baik jenis asing atau eksotik maupun jenis asli atau domestik; 3. hutan yang terletak didalam wilayah perkotaan atau sekitar kota dengan luas hutan minimal 0,25 hektar; 4. Paling sedikit 10% dari luas wilayah perkotaan. C. Kawasan Suaka Alam Kawasan suaka alam selain diatur di Keppres 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan juga dijelaskan di dalam Undang Undang Kehutanan No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Kawasan hutan yang Penetapan Kawasan _ 10

22 menjadi wewenang Departemen Kehutanan, selain memiliki fungsi pokok hutan produksi, juga memiliki fungsi hutan konservasi dan hutan lindung. Hutan konservasi yang dimaksud meliputi kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam dan taman buru. Kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya serta sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan yang terdiri dari cagar alam dan suaka margasatwa. Kawasan cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaannya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya secara alami. Kriteria keberadaan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwaliar merupakan faktor penting di dalam penentapan suatau wilayah menjadi sebuah cagar alam, sehingga bermanfaat untuk keperluan konservasi dan ilmu pengetahuan. Kriteria cagar alam meliputi: 1. memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa serta type ekosistemnya; 2. memiliki formasi biota tertentu dan/atau unit-unit penyusun; 3. mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan tidak/belum diganggu manusia; 4. mempunyai luas dan bentuk tertentu agar menunjang pengelola yang efektif dengan daerah-daerah penyangga yang cukup luas; 5. mempunyai ciri khas dan dapat merupakan satusatunya contoh di suatu daerah serta keberadaannya memerlukan konservasi. Sedangkan kawasan suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan diluar habitatnya. Kriteria penetapan kawasan pelestarian alam dijelaskan di dalam SK Menteri Pertanian No 681/Kpts/Um/8/1981 tentang Kriteria dan Tata Cara Penetapan Hutan Suaka Alam dan Hutan Wisata. Penetapan Kawasan _ 11

23 Kriteria penetapan kawasan suaka margasatwa meliputi: 1. tempat hidup dan berkembangbiaknya suatu jenis satwa yang perlu dikonservasi; 2. memiliki keanekaragaman dan populasi yang tinggi; 3. merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu; 4. mempunyai luasan yang cukup sebagai habitat jenis satwa yang bersangkutan. D. Kawasan Pelestarian Alam Kawasan pelestarian alam adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Kawasan pelestarian alam terdiri dari taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam yang ditujukan untuk pelestarian ekosistem, pendidikan serta rekreasi. Kawasan taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk keperluan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi. Zonasi di dalam taman nasional meliputi: a. Zona inti b. Zona rimba dan Zona perlindungan bahari untuk wilayah perairan c. Zona pemanfaatan d. Zona lain (zona tradisional, zona rehabilitasi, zona religi, budaya dan sejarah serta zona khusus) Kriteria penetapan zonasi di dalam taman nasional dijelaskan di dalam Peraturan Menteri Kehutanan No: P.56/Menhut-II/2006 Tentang Pedoman Zonasi Taman Nasional. Kriteria penetapan taman nasional meliputi: 1. wilayah yang ditetapkan mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologis secara alami; 2. memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa jenis tumbuhan maupun jenis satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang Penetapan Kawasan _ 12

24 masih utuh dan alami; 3. satu atau beberapa ekosistem yang terdapat di dalamnya secara materi atau secara fisik tidak dapat diubah oleh eksploitasi maupun pendudukan oleh manusia; 4. memiliki keadaan alam yang asli dan alami untuk dikembangkan sebagai pariwisata alam; 5. merupakan kawasan yang dapat dibagi ke dalam zona inti, zona pemanfaatan dan zona lain yang dapat mendukung upaya pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Kawasan taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau bukan alami, jenis asli dan atau bukan asli yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi. Kriteria penetapan taman hutan raya meliputi: 1. merupakan wilayah dengan ciri khas baik asli maupun buatan, baik pada kawasan yang ekosistemnya masih utuh ataupun kawasan yang sudah berubah; 2. memiliki keindahan alam, tumbuhan, satwa, dan gejala alam; 3. mudah dijangkau dan dekat dengan pusart-pusat pemukiman penduduk; 4. mempunyai luas wilayah yang memungkinkan untuk pembangunan. Kawasan taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam dengan tujuan utama untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata alam dan rekreasi alam. Kriteria penetapan hutan wisata diatur dalam Keputusan Menteri Pertanian No 681/Kpts/Um/8/1981 tentang Kriteria dan Tata Cara Penetapan Hutan Suaka Alam dan Hutan Wisata. Kriteria penetapan taman hutan raya meliputi: 1. memiliki keadaan yang menarik dan indah baik secara alami maupun buatan; 2. memenuhi kebutuhan manusia dan rekreasi dan olah raga serta terletak dekat pusat-pusat pemukiman penduduk. Penetapan Kawasan _ 13

25 E. Kawasan Cagar Budaya Kawasan cagar budaya adalah Ruang disekitar bangunan bernilai budaya tinggi, situs purbakala dan kawasan dengan bentukan geologi tertentu bermanfaat tinggi untuk ilmu pengetahuan. Kawasan ini memiliki fungsi melindungi nilai-nilai budaya, seperti situs kerajaan, candi, prasasti ataupun struktur geologi tertentu. Karena itu, kawasan ini dilindungi bukan untuk tujuan pelestarian alam atau mempertahankan fungsi lingkungan. F. Kawasan Bencana Alam Berdasarkan Undang-Undang No 26 tahun 2007 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, bencana alam yang dimaksud meliputi longsor, gempa bumi, banjir, gunung meletus dan gelombang air pasang. Kawasan yang dimaksud merupakan daerah yang sering dan berpotensi tinggi terjadi bencana. Penetapan kawasan bencana alam dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dari bencana sehingga terhindar dari kerugian yang sangat besar. G. Kawasan Lainnya Berdasarkan Undang-Undang No 26 tahun 2007 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, kawasan lindung lainnya meliputi taman buru, cagar biosfer, kawasan pelestarian plasma nutfah, kawasan pengungsian satwa, kawasan pantai berhutan bakau serta terumbu karang. Taman Buru adalah kawasan hutan yang ditetapkan sebagai tempat diselenggarakan perburuan satwa buru secara teratur. Taman buru ditetapkan oleh Departemen Kehutanan. (cari PP 13/1994!!.). Kriteria penetapannya meliputi: 1. areal yang ditunjuk mempunyai luas yang cukup dan lapangannya tidak membahayakan; 2. terdapat satwa buru yang dapat dikembangbiakkan sehingga memungkinkan perburuan secara teratur dengan mengutamakan segi rekreasi, olah raga dan kelestarian satwa. Penetapan sebuah cagar biosfer bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan penelitian serta secara bersamaan mengembangkan pengelolaan pemanfaatan untuk tujuan ekonomi, sosial dan budaya. Upaya Penetapan Kawasan _ 14

26 penetapan cagar biosfer memiliki keterkaitan yang erat dengan UNESCO melalui program Biosphere Reserve yang secara internasional juga ditetapkan sebagai daerah perlindungan. Namun cagar biosfer ditetapkan oleh pemerintah sebuah negara. Cagar biosfer memiliki kriteria antara lain: 1. keterwakilan ekosistem yang masih alami/modifikasi/binaan, komunitas alam unik langkah dan indah, bentang alam cukup luas; 2. kawasan yang mempunyai komunitas alam yang unik, langka, dan indah; 3. merupakan bentang alam yang cukup luas yang mencerminkan interaksi antara komunitas alami dengan manusia beserta kegiatannya secara harmonis; 4. tempat bagi penyelenggaraan pemantauan perubahan-perubahan ekologi melalui kegiatan penelitian dan pendidikan. Kawasan pelestarian plasma nutfah dan pengungsian satwa merupakan kawasan konservasi yang berada di luar kawasan hutan konservasi (kawasan pelestarian alam dan kawasan suaka alam). Karena berada di kawasan hutan produksi, penetapannya dilakukan bersama-sama antara pihak pengelola hutan dan Departemen Kehutanan. Kawasan pelestarian plasma nutfah merupakan kawasan hutan yang karena keadaan dan sifat fisiknya perlu dibina dan dipertahankan dengan maksud untuk menjaga keanekaragaman jenis plasma nutfah. Kawasan hutan yang karena keadaan dan sifat fisiknya perlu dibina dan dipertahankan dengan maksud sebagai tempat hidup dan kehidupan satwa tertentu. Kriteria penetapan kawasan plasma nutfah dan pengungsian satwa diatur di dalam Keputusan Menteri Pertanian No 681/Kpts/Um/8/1981 tentang Kriteria dan Tata Cara Penetapan Hutan Suaka Alam dan Hutan Wisata. Kriteria penetapan kawasan pelestarian plasma nutfah antara lain: 1. memiliki plasma nutfah tertentu yang belum terdapat di dalam kawasan konservasi yang telah ditetapkan; 2. memiliki jenis plasma nutfah tertentu yang belum terdapat di kawasan konservasi yang telah ditetapkan. Penetapan Kawasan _ 15

27 Kawasan pengungsian satwa merupakan kawasan hutan yang karena keadaan dan sifat fisiknya perlu dibina dan dipertahankan dengan maksud sebagai tempat hidup dan kehidupan satwa tertentu. Kriteria penetapannya meliputi: 1. merupakan wilayah kehidupan satwa yang sejak semula menghuni areal tersebut; 2. mempunyai luas tertentu yang memungkinkan berlangsungnya proses hidup dan kehidupan baru bagi satwa tersebut; 3. merupakan areal tempat pemindahan satwa yang merupakan tempat kehidupan baru bagi satwa tersebut. Kawasan pesisir berhutan bakau merupakan kawasan pesisir laut yang merupakan habitat alami hutan bakau bakau (mangrove) yang berfungsi memberi perlindungan kepada perikehidupan pantai dan lautan. Kawasan dimaksud memiliki lebar 130 x nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah kearah darat. Eksploitasi hutan bakau di pesisir Lampung untuk kegiatan pertambakkan menyebabkan penyusutan hutan bakau hingga mencapai 90%. Hal ini menyebabkan terjadinya abrasi pantai sekitar meter per tahunnya (SLHI 2006). Kejadian tsunami yang terjadi pada tahun 2004 di Aceh membuktikan bahwa kawasan hutan bakau selain menjaga pantai dari proses abrasi dan intrusi air laut, juga menghambat arus gelombang tsunami sehingga mengurangi dampak kerusakan dan korban jiwa yang ditimbulkan. Terumbu karang merupakan areal di pantai dangkal yang menjadi tempat hidup, berkembang biak, pertumbuhan, berlindung dari serangan pemangsa serta mencari makan berbagai ikan dan makhluk laut lainnya. Terumbu karang baru mulai dikategorikan sebagai kawasan lindung sejak dikeluarkannya UU 26/2007 tentang Penataan Ruang. Penetapan Kawasan _ 16

28 2.2. Penetapan Kawasan secara Spasial Penerapan Kriteria menjadi Data Spasial Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan di dalam beberapa peraturan, penetapan kawasan lindung dapat dilakukan menggunakan pendekatan analisa spasial. Penetapan kawasan lindung secara spasial dilakukan terlepas dari apakah kriteria tersebut sesuai atau tidak dengan fungsinya. Beberapa kawasan lindung perlu disusun dengan menggunakan data tambahan, sehingga memerlukan proses sederhana sebelumnya. Misalnya untuk menentukan daerah sempadan sungai, danau atau garis pantai, maka diperlukan data sungai, danau dan garis pantai untuk mendapatkan daerah buffer sesuai dengan kriteria. Selain itu, kawasan lindung yang merupakan kawasan hutan seperti: hutan lindung, kawasan suaka alam dan pelestarian alam harus diperoleh dari Departemen Kehutanan atau Dinas Kehutanan setempat. Peta penunjukkan kawasan hutan yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan cenderung memiliki resolusi yang rendah yaitu skala 1: , sehingga hanya relevan untuk diterapkan pada skala provinsi. Sebagian kawasan lindung bahkan belum atau sulit diterapkan, mengingat ketidaktersediaan data dan metodologi serta kritreriayang kurang jelas. Contohnya kawasan rawan bencana alam yang meliputi rawan banjir, longsor, gempa bumi, gelombang air pasang dan gunung berapi. Banyak konsep yang telah dikembangkan oleh berbagai pihak di dalam pemetaan daerah rawan, namun belum ada pihak berwenang yang mengkoordinasikan kelayakan metode yang telah disusun tersebut. Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan persepsi di dalam penentuan kawasan lindung. Demikian halnya dengan daerah resapan air, yang memperhatikan kondisi geomorfologi serta jenis tanah yang mampu menyerap air secara besarbesaran. Selain kriteria yang kurang aplikatif, konsep penetapan daerah resapan juga kurang dapat diterima oleh beberapa ahli. Konsep lain di dalam Penetapan Kawasan _ 17

29 penetapan daerah resapan, cenderung tidak memperhatikan kondisi geomorfologi, namun lebih memperhatikan aliran air tanah. Namun mengingat keterbatasan data dan sulitnya metode penetapan, maka kawasan ini tidak diterapkan dalam analisis ini. Adanya perbedaan kritera yang dijelaskan dalam beberapa peraturan juga agak menyulitkan di dalam melakukan interpretasi penetapan kawasan. Misalnya di dalam penetapan sempadan sungai, beberapa peraturan menjelaskan beberapa kriteria yang berbeda-beda. (untuk lebih rinci silahkan melihat matriks dan diagram alir penentuan kawasan lindung secara spasial pada Tabel 4). Penetapan Kawasan _ 18

30 Tabel 4. Matriks penyusunan data spasial kawasan lindung berdasarkan kriteria yang berlaku Jenis Kawasan a. Kawasan Hutan b. Kawasan bergambut Kriteria Penetapan Skor 175 (Kelas Lereng, Jenis Tanah & Intensitas hujan), Lereng lapangan 40 %, ketinggian 2000 m dpl. Ketebalan tanah gambut 3 m di hulu sungai dan rawa Ketetapan Tambahan SK penunjukkan kawasan hutan oleh Menhut - Sumber Data - Kontur, Sungai, Titik Tinggi (untuk penyusunan elevasi dan kelerengan) - Peta Tanah (land system) - Curah hujan - Peta tanah atau Landsystem, Skala 1: Permasalahan dan Keterangan Penetapan hutan lindung dilakukan oleh Departemen Kehutanan melalui penunjukkan kawasan hutan, yang termasuk di dalamnya Hutan, Hutan Produksi dan Hutan Konservasi. - Data tidak tersedia dalam kualitas/skala yang memadai, klasifikasi kedalaman gambut tidak sesuai dengan kriteria dimaksud. Solusi atau Pendekatan Spasial Kriteria yang diatur tidak perlu digunakan, cukup menggunakan Peta TGHK Paduserasi yang telah ditetapkan oleh Departemen Kehutanan atau Dinas Kehutanan setempat. Pengeboran di lahan gambut perlu dilakukan di beberapa lokasi dgn kedalaman lebih dari 2,5 meter. c. a. Kawasan Resapan Air Sempadan Pantai Curah Hujan tinggi, struktur tanah meresapkan air dan bentuk geomorfologi mampu meresepkan air hujan secara besar-besaran Daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk - Peta lahan gambut Wetland International dan Puslitanak - Tersedia untuk Pulau Kalimantan dan Sumatra - - Data curah hujan Kriteria tidak spesifik, sehingga menyulitkan di - Geomorfologi dalam penentuan secara spasial. Diperlukan pedoman teknis penyusunan peta resapan air yang dapat mengadopsi kriteria lokal. - - Garis pantai (RBI), Penentuan titik pasang tertinggi sulit diaplikasikan Untuk wilayah luar pulau Jawa dapat menggunakan data penyebaran lahan gambut dari Wetlands International Perlu didiskusikan lebih lanjut dengan para ahli iklim dan tanah yang memahami karakteristik lokasi terkait. Dalam pedoman ini, penentuan kawasan resapan air tidak diterapkan. Sebaiknya cukup menggunakan data garis Penetapan Kawasan _ 19

31 b. Jenis Kawasan Sempadan Sungai Kriteria Penetapan dan kondisi fisik. Lebar minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat - Minimal 100 meter kiri kanan sungai besar, 50 meter sungai kecil di luar pemukiman meter kiri kanan sungai di dalam pemukiman Ketetapan Tambahan Sumber Data Permasalahan dan Keterangan Solusi atau Pendekatan Spasial - Data pasang surut secara spasial. pantai dari peta dasar RBI - Sungai (RBI) masih perlu dirapihkan, banyak danau-danau kecil perlu dipisahkan, data pemukiman (LULC) Dengan adanya PP 47/1997 seharusnya parameter sungai lebar dan kecil tidak berlaku lagi Untuk tingkat provinsi dan kabupaten, kriteria ini cenderung lebih relevan. Kriteria ini digunakan dalam aplikasi dalam pedoman ini. Bertanggul: minimal 5 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul, - Data sungai bertanggul dan tidak bertanggul tidak tersedia - Secara spasial sulit mendijitasi sungai-sungai bertanggul, tidak ada data pendukung. Perlu dilakukan survey lapangan atau kompilasi datapembangunan tanggul oleh Dinas PU. c. Kawasan Sekitar Danau/ Waduk Tidak bertanggul ditetapkan berdasarkan pertimbangan teknis dan sosial oleh pejabat berwenang. Sungai di kawasan hutan produksi: kiri kanan lebar 100 m Anak Sungai di kawasan hutan produksi: kiri kanan lebar 50 m Lebar meter dari titik pasang tertinggi kearah darat Di kawasan hutan produksi selebar 500 m - - Danau RBI - Dapat ditambahkan dari data landcover -Penetapan sempadan Sungai tidak bertanggul hanya dilakukan oleh pihak berwenang, tanpa ada kriteria dan arahan yang tegas (tidak dijelaskan siapa). Kriteria ini sama dengan kriteria dalam KepPres 32/1990 Data dasar yang tersedia tidak merinci apakah deliniasi danau dilakukan pada saat pasang tertinggi atau tidak. cukup jelas Dalam aplikasi ini menggunakan data dari peta RBI. Penetapan Kawasan _ 20

32 Jenis Kawasan d. Kawasan Sekitar Mata Air Kriteria Penetapan Ketetapan Tambahan Sumber Data Permasalahan dan Keterangan Jari-jari 200 meter di sekitar mata air - Data tidak tersedia Data lokasi mata air tidak tersedia secara spasial. Solusi atau Pendekatan Spasial Perlu dilakukan survey lokasi mata air. Dalam aplikasi ini tidak diterapkan mengingat ketidaktersediaan datadan keterbatasan waktu. e. Kawasan RTH Kota 1. lokasi sasaran kawasan terbuka hijau kota termasuk di dalamnya hutan kota antara lain di kawasan permukiman, industri, tepi sungai/pantai/ jalan yang berada di kawasan perkotaan; Perda RTRW Kota - RTRW Kota, Interpretasi - Citra High Resolution, Ground check Ditetapkan oleh Pemerintah Kota dan dimasukkan ke dalam RTRW Menggunakan data hasil penetapan pemkot 2. jenis tanaman hias untuk kawasan terbuka hijau kota adalah berupa pohon-pohonan dan tanaman hias atau herba, dari berbagai jenis baik jenis asing atau eksotik maupun asli atau domestik. 3. Proporsi ruang terbuka hijau minimal 30% dari total luas wilayah dengan minimal 20% RTH publik. 4. Yang termasuk ruang terbuka hijau publik, antara lain, adalah taman kota, taman pemakaman umum, dan jalur hijau sepanjang jalan, sungai, dan pantai. 5. Yang termasuk ruang terbuka hijau privat, antara lain, adalah kebun atau halaman rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan. Penetapan Kawasan _ 21

33 Jenis Kawasan f. Hutan Kota Kriteria Penetapan 1. hutan yang terbentuk dari komunitas tumbuhan yang berbentuk kompak pada satu hamparan, berbentuk jalur atau merupakan kombinasi dari bentuk kompak dan bentuk jalur; Ketetapan Tambahan Penunjukkan kawasan hutan kota oleh Dephut dan Pemkot Sumber Data Permasalahan dan Keterangan Ditetapkan oleh Dephut dan Pemkot, dimasukkan ke dalam RTRW Solusi atau Pendekatan Spasial Menggunakan data hasil penetapan pemkot 2. jenis tanaman untuk hutan kota adalah tanaman tahunan berupa pohon-pohonan, bukan tanaman hias atau herba, dari berbagai jenis baik jenis asing atau eksotik maupun jenis asli atau domestik; a. Cagar Alam 3. hutan yang terletak didalam wilayah perkotaan atau sekitar kota dengan luas hutan minimal 0,25 hektar; 4. Paling sedikit 10% dari luas wilayah perkotaan 1. Memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa serta type ekosistemnya 2. Memiliki formasi biota tertentu dan/atau unit-unit penyusun 3. Mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan tidak/belum diganggu manusia 4. Mempunyai luas dan bentuk tertentu agar menunjang pengelola yang efektif dengan daerah-daerah penyangga yang cukup luas SK penunjukkan kawasan hutan oleh Menhut Peta Kawasan Hutan (RTRWP/K) Ditetapkan oleh Dephut dalam peta penunjukkan kawasan hutan Kriteria yang diatur tidak perlu digunakan, cukup menggunakan Peta TGHK Paduserasi yang telah ditetapkan oleh Departemen Kehutanan atau Dinas Kehutanan setempat. Penetapan Kawasan _ 22

34 Jenis Kawasan Kriteria Penetapan 5. Mempunyai ciri khas dan dapat merupakan satusatunya contoh di suatu daerah serta keberadaannya memerlukan konservasi Ketetapan Tambahan Sumber Data Permasalahan dan Keterangan Solusi atau Pendekatan Spasial b. a. Suaka Margasatwa Taman Nasional 1. Tempat hidup dan berkembangbiaknya suatu jenis satwa yang perlu dikonservasi 2. Memiliki keanekaragaman dan populasi yang tinggi 3. Merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu 4. Mempunyai luasan yang cukup sebagai habitat jenis satwa yang bersangkutan 1. Wilayah yang ditetapkan mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologis secara alami; 2. Memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa jenis tumbuhan maupun jenis satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih utuh dan alami; 3. Satu atau beberapa ekosistem yang terdapat di dalamnya secara materi atau secara fisik tidak dapat diubah oleh eksploitasi maupun pendudukan oleh manusia; 4. Memiliki keadaan alam yang asli dan alami untuk dikembnagkan sebagai pariwisata alam; 5. Merupakan kawasan yang dapat SK penunjukkan kawasan hutan oleh Menhut SK penunjukkan kawasan hutan oleh Menhut Peta Kawasan Hutan (RTRWP/K) Peta Kawasan Hutan (RTRWP/K) Ditetapkan oleh Dephut dalam peta penunjukkan kawasan hutan Ditetapkan oleh Dephut dalam peta penunjukkan kawasan hutan Kriteria yang diatur tidak perlu digunakan, cukup menggunakan Peta TGHK Paduserasi yang telah ditetapkan oleh Departemen Kehutanan atau Dinas Kehutanan setempat. Kriteria yang diatur tidak perlu digunakan, cukup menggunakan Peta TGHK Paduserasi yang telah ditetapkan oleh Departemen Kehutanan atau Dinas Kehutanan setempat. Penetapan Kawasan _ 23

35 Jenis Kawasan b. Taman Hutan Raya Kriteria Penetapan dibagi ke dalam zona inti, zona pemanfaatan dan zona lain yang dapat mendukung upaya pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. 1. Merupakan wilayah dengan ciri khas baik asli maupun buatan, baik pada kawasan yang ekosistemnya masih utuh ataupun kawasan yang sudah berubah; 2. Memiliki keindahan alam, tumbuhan, satwa, dan gejala alam; 3. Mudah dijangkau dan dekat dengan pusart-pusat pemukiman penduduk; 4. Mempunyai luas wilayah yang memungkinkan untuk pembangunan Ketetapan Tambahan SK penunjukkan kawasan hutan oleh Menhut Sumber Data Peta Kawasan Hutan (RTRWP/K) Permasalahan dan Keterangan Ditetapkan oleh Dephut dalam peta penunjukkan kawasan hutan Solusi atau Pendekatan Spasial Kriteria yang diatur tidak perlu digunakan, cukup menggunakan Peta TGHK Paduserasi yang telah ditetapkan oleh Departemen Kehutanan atau Dinas Kehutanan setempat. c. Taman Wisata Alam 1. Memiliki keadaan yang menarik dan indah baik secara alami maupun buatan 2. Memenuhi kebutuhan manusia dan rekreasi dan olah raga serta terletak dekat pusat-pusat pemukiman penduduk SK penunjukkan kawasan hutan oleh Menhut Peta Kawasan Hutan (RTRWP/K) Ditetapkan oleh Dephut dalam peta penunjukkan kawasan hutan Kriteria yang diatur tidak perlu digunakan, cukup menggunakan Peta TGHK Paduserasi yang telah ditetapkan oleh Departemen Kehutanan atau Dinas Kehutanan setempat. a. Kawasan Cagar Budaya Ruang disekitar bangunan bernilai budaya tinggi, situs purbakala dan kawasan dengan bentukan geologi tertentu bermanfaat tinggi untuk ilmu pengetahuan Ditetapkan dalam RTRW RTRWK Ditetapkan oleh Pemda melalui RTRW Tidak diterapkan dalam aplikasi ini Penetapan Kawasan _ 24

36 Jenis Kawasan a. Kawasan Rawan Bencana Alam Kriteria Penetapan Sering/berpotensi tinggi mengalami bencana alam seperti letusan gunung berapi, gempa bumi dan tanah longsor, gelombang pasang dan banjir a. Taman Buru 1. Areal yang ditunjuk mempunyai luas yang cukup dan lapangannya tidak membahayakan Ketetapan Tambahan - SK penunjukkan kawasan h t l h Sumber Data - Peta rawan banjir - Peta rawan longsor - Peta rawan gunung berapi - Peta rawan gelombang pasang - Peta gempa bumi Peta Kawasan Hutan (RTRWP/K) Permasalahan dan Keterangan - Dalam peraturan tata ruang dan kawasan lindung tidak dijelaskan siapa pihak berwenang yang menetapkan daerah rawan bencana. Beberapa instansi sektoral memiliki Tupoksi terkait, misalnya PU Pengairan terkait dengan banjir, Direktorat Vulkanologi terkait dengan gunung berapi. di Beberapa daerah, instansi lingkungan juga berperan aktif di dalam menyediakan peta rawan bencana. Undang-undnag no 24/2007 tentang Bencana Alam mengamanatkan bahwa penyusunan peta rawan bencana merupakan tugas badan penanggulanganbencana daerah. - Selain itu belum ada pedoman teknis metodologi penyusunan peta rawan serta kriteria dan tingkat rawan apa yang perlu menjadi kawasan lindung. Ditetapkan oleh Dephut dalam peta penunjukkan kawasan hutan Solusi atau Pendekatan Spasial Tidak diterapkan dalam aplikasi ini Kriteria yang diatur tidak perlu digunakan, cukup menggunakan data k h t t l h Penetapan Kawasan _ 25

37 b. Jenis Kawasan Cagar Biosfir Kriteria Penetapan 2. Mengandung satwa buru yang dapat dikembangbiakkan sehingga memungkinkan perburuan secara teratur dengan mengutamakan segi rekreasi, olah raga dan kelestarian satwa. 1. kawasan yang mempunyai keperwakilan ekosistem yang masih alami dan kawasan yang sudah mengalami degradasi, modifikasi, dan/atau binaan; 2. kawasan yang mempunyai komunitas alam yang unik, langka, dan indah; 3. merupakan bentang alam yang cukup luas yang mencerminkan interaksi antara komunitas alami dengan manusia beserta kegiatannya secara harmonis; Ketetapan Tambahan hutan oleh Menhut SK penunjukkan kawasan hutan oleh Menhut Sumber Data Peta Kawasan Hutan Permasalahan dan Keterangan Ditetapkan oleh Pemerintah (Dephut) dalam peta penunjukkan kawasan cagar biosfer. Indonesia hanya memiliki 6 cagar biosfer yang sebagian besar merupakan Taman Nasional, yaitu (Komodo, Lore Lindu, Siberut, Cibodas, Leuser dan Tanjung Putting) Solusi atau Pendekatan Spasial kawasan hutan yang telah ditetapkan oleh Departemen Kehutanan atau Dinas Kehutanan setempat. Tidak diterapkan dalam aplikasi ini, mengingat zona inti dalam cagar biosfer merupakan kawasan taman nasional. Sedangkan zona penyangga dan zona transisi diperuntukkan untuk tujuan pemanfaatan dan pembangunan. 4. tempat bagi penyelenggaraan pemantauan perubahan-perubahan ekologi melalui kegiatan penelitian dan pendidikan. c. Kawasan Perlindungan Plasma Nutfah 1. Memiliki plasma nutfah tertentu yang belum terdapat di dalam kawasan konservasi yang telah ditetapkan 2. Memiliki jenis plasma nutfah tertentu yang belum terdapat di kawasan konservasi yang telah ditetapkan Diusulkan oleh konsesi hutan dan ditetapkan oleh Dephut - Peta Rencana Kerja HPH/HTI Data tersebut umumnya dapat diakses melalui Rencana Kerja konsesi kehutanan (HPH/HTI) atau melalui Departemen Kehutanan Tidak diterapkan dalam aplikasi ini Penetapan Kawasan _ 26

38 Jenis Kawasan Kriteria Penetapan 3. Merupakan areal tempat pemindahan satwa yang merupakan tempat kehidupan baru bagi satwa tersebut Ketetapan Tambahan Sumber Data Permasalahan dan Keterangan Solusi atau Pendekatan Spasial d. Kawasan Pengungsian Satwa 1. Merupakan wilayah kehidupan satwa yang sejak semula menghuni areal tersebut Diusulkan oleh konsesi hutan dan ditetapkan oleh Dephut - Peta Rencana Kerja HPH/HTI Data tersebut umumnya dapat diakses melalui Rencana Kerja konsesi kehutanan (HPH/HTI) atau melalui Departemen Kehutanan Tidak diterapkan dalam aplikasi ini 2. Mempunyai luas tertentu yang memungkinkan berlangsungnya proses hidup dan kehidupan baru bagi satwa tersebut. e. Kawasan Pantai Berhutan Bakau 3. Merupakan areal tempat pemindahan satwa yang merupakan tempat kehidupan baru bagi satwa tersebut Lebar 130 x nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah kearah darat. - - Penutupan lahan - Pasang surut Stasiun pemantau pasang surut tidak tersebar di seluruh wilayah pantai Indonesia. Pemerintah daerah perlu melakukan pemantauan beda pasang tertinggi dan terendah jika memiliki hutan bakau. Dalam aplikasi ini hanya menggunakan data penyebaran hutan bakau terbaru. Selain itu untuk penetapan wilayah mana saja yang berhutan bakau, juga relatif tidak jelas. Apakah menggunakan data Penetapan Kawasan _ 27

39 Jenis Kawasan Kriteria Penetapan Ketetapan Tambahan Sumber Data Permasalahan dan Keterangan Solusi atau Pendekatan Spasial historis atau data aktual. Mengingat penutupan hutan bakau cenderung berkurang. f. Terumbu Karang Penyebaran terumbu karang Data tersedia di DKP skala nasional Data BRNP tersedia di KLH Belum terapkan dalam aplikasi ini. Penetapan Kawasan _ 28

40 Data yang Digunakan A. Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) Peta dasar yang dikeluarkan oleh Bakosurtanal ini memiliki skala 1: untuk wilayah pulau Jawa. Data spasial yang digunakan meliputi: 1. Sungai besar: harus memiliki format POLYGON. 2. Sungai kecil: harus memiliki format LINE. 3. Danau: harus memiliki format POLYGON. 4. Garis pantai: harus memiliki format LINE. 5. Garis kontur: harus memiliki format LINE dan memiliki atribut data ketinggian. 6. Titik tinggi: harus memiliki format POINT dan memiliki atribut data ketinggian. Dua data terakhir disebut digunakan untuk membuat DEM dan batas DAS. Ke enam data tersebut harus dipisahkan dalam data layer yang berbeda, mengingat kriteria yang diterapkan dari masing-masing data berbeda satu sama lain. B. Peta Kawasan Hutan Peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan yang dikoordinasikan dengan berbagai instansi sektor lainnya. Sedangkan peta TGHK Paduserasi telah disesuaikan dengan kepentingan daerah atau disesuaikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah. Dari peta kawasan hutan kita dapat mengekstrak beberapa kawasan lindung yang mencakup: 1. Hutan, 2. Taman Nasional, 3. Taman Wisata Alam, 4. Taman Hutan Rakyat, 5. Cagar Alam dan 6. Suaka Margasatwa. Penetapan Kawasan _ 29

41 Keenam data tersebut harus memiliki format data POLYGON. C. Penutupan lahan Penutupan lahan diperoleh dari hasil interpretasi citra satelit. Dari citra penutupan lahan diperoleh batas hutan bakau yang merupakan kawasan lindung. Selain itu, data penutupan lahan digunakan untuk proses evaluasi kondisi kawasan lindung. Data yang digunakan dalam analisis ini adalah hasil interpretasi citra Landsat 5 tahun D. Peta Tanah Peta jenis tanah diperoleh dari peta sistem satuan lahan yang dikeluarkan oleh Puslitanak Bogor. Selain itu, Wetlands International juga melakukan kajian penyebaran lahan gambut di wilayah Sumatra, Kalimantan, Papua dan sebagian Sulawesi. Lahan gambut yang merupakan kawasan lindung adalah yang memiliki kedalaman gambut > 300 cm. E. Peta RTRW Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bogor diperoleh dari Bappeda Kota Bogor. Gambar 1. Diagram alir pemetaan kawasan lindung menggunakan data yang telah tersedia. Penetapan Kawasan _ 30

42 Software yang Digunakan Aplikasi ini menggunakan dua pendekatan yang merupakan pilihan yang perlu disesuaikan dengan kapasitas pengguna. Yaitu menggunakan pendekatan berbasis raster dan vektor. Analisis overlay berbasis raster cenderung lebih cepat dibandingkan berbasis raster. Penentuan penggunaan pendekatan berbasis raster sebenarnya lebih mempertimbangkan ketersediaan perangkat lunak opensource yang pengembangannya relatif maju. Dalam hal ini digunakan aplikasi ILWIS 3.4. yang dikembangkan oleh the International Institute for Geo-Information Science and Earth Observation (ITC) Belanda (http://www.ilwis.org). Pendekatan berbasis vektor merupakan pendekatan spasial yang umum digunakan di dalam aplikasi SIG. Vektor memiliki beberapa kelebihan, antara lain penyimpanan data yang relatif lebih kecil. Aplikasi berbasis vektor yang digunakan dalam pedoman ini adalah perangkat lunak yang dikeluarkan oleh Environmental System Research Institute (ESRI) yaitu ArcGIS/ArcInfo 9.2 dan ArcGIS Spatial Analyst (http://www.esri.com). Untuk mengetahui persyaratan minimum komputer yang diperlukan silahkan merujuk ke spesifikasi masingmasing software: (http://www.esri.com/software/arcgis/arcinfo/about/systemrequirements.html). Penetapan Kawasan _ 31

43 Hasil Analisis 3.1. Penentuan Daerah Aliran Sungai Batas daerah aliran sungai (DAS) ditentukan berdasarkan topografi wilayah. DAS digunakan sebagai batas analisis penentuan kawasan lindung, mengingat areal dalam wilayah DAS yang sama memiliki kesamaan aliran air permukaan. Pengendalian lingkungan karenanya perlu mengacu kepada batas alami. DAS Ciliwung, Angke dan Ciliwung sebagian besar masuk ke dalam wilayah administrasi Jabodetabek yang ditetapkan sebagai Kawasan Khusus (PP 47/1997) Model Elevasi Dijital Model elevasi dijital atau digital elevation model (DEM) dibuat sebagai data dasar penentuan batas DAS. Diperlukan data kontur serta titik tinggi untuk menyusun DEM. Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) menyediakan data topografi hingga skala 1: untuk wilayah pulau Jawa, yang dapat digunakan untuk menyusun DEM wilayah Cisadane-Angke-Ciliwung. Gambar 2. Diagram alir penentuan batas DAS menggunakan data topografi RBI. Untuk melakukan analisis batas DAS dengan cakupan yang luas seperti pulau Jawa atau pulau Sumatra, data DEM SRTM (Shuttle Radar Topography Mission) dengan resolusi 92 meter juga dapat digunakan. Hasil Analisis_ 32

44 Batas DAS Cisadane-Angke-Ciliwung Dengan menggunakan data DEM yang diperoleh dari peta Rupa Bumi Indonesia, batas DAS disusun untuk daerah Cisadane, Angke dan Ciliwung. DAS Cisadane memiliki luas 16 ribu hektar, Angke seluas 58 ribu hektar dan Ciliwung 41 ribu hektar. Tabel 5. Perbedaan luas DAS hasil analisis batas menggunakan data topografi dan DEM DAS Luas DAS (Ha) KLH DEM RBI DEM SRTM Angke Ciliwung Cisadane Dibandingkan dengan batas DAS yang digunakan oleh KLH (Dijitasi secara manual), batas DAS yang diperoleh dari analisa DEM relatif lebih akurat. Hal ini dikarenakan penentuannya dilakukan secara otomatis berdasarkan topografi serta arah aliran air. A B Angke angke Cisadane cisadane Ciliwung ciliwung C Keterangan: Cisadane Angke A: Batas DAS yang digunakan oleh KLH yang didijitasi secara visual. B: Batas DAS yang diperoleh dari analisis DEM Topografi peta RBI Ciliwung C: Batas DAS yang diperoleh dari analisis DEM SRTM Hasil Analisis_ 33

45 Gambar 3. Perbandingan batas DAS hasil dijitasi visual dan analisis dijital DEM. Penurunan kualitas batas DAS terjadi di wilayah yang memiliki topografi sangat datar seperti di bagian utara Jakarta. Khususnya data DAS yang berasal dari kontur peta RBI (Gambar 2 bagian B). Untuk itu diperlukan tambahan dijitasi secara manual dengan melihat aliran sungai di sekitar wilayah tersebut. Namun hal tersebut sulit dilakukan, mengingat sudah banyaknya aliran sungai yang sudah tidak alami atau dibuatnya saluran irigasi di wilayah utara Jakarta Pemetaan Kawasan Pemetaan kawasan lindung dilakukan berdasarkan analisis peraturan terkait dengan penataan ruang dan pengelolaan kawasan lindung. Tidak semua jenis kawasan lindung dapat dipetakan mengingat keterbatasan data penunjang. Sebagian besar kawasan lindung merupakan kawasan hutan suaka alam, kawasan pelestarian alam, hutan lindung, hutan bakau serta sempadan sungai, danau dan garis pantai. Tabel 6. Luas kawasan lindung dan non lindung Kawasan Cisadane Ciliwung-Angke Luas (ha) Persen Luas(ha) Persen Non Total Berdasarkan analisis yang dilakukan, luas kawasan lindung di DAS Cisadane hampir mencapai 59 ribu hektar atau 36,6% dari luas total DAS. Sedangkan kawasan lindung di DAS Ciliwung dan Angke hanya seluas 23 ribu hektar atau hanya sekitar 23% dari luas DASnya. Hal ini disebabkan luas kawasan hutan yang masuk ke dalam kawasan lindung di DAS Ciliwung Angke, masih sangat kecil atau hanya seluas 4 ribu hektar atau kurang dari 5% dari luas total DASnya (lihat Tabel 7). Tabel 7. Luas dan persentase kawasan hutan dan non kawasan hutan Cisadane Ciliwung-Angke Kawasan Hutan Luas (ha) Persen Luas (ha) Persen Areal Penggunaan Lain Hasil Analisis_ 34

46 Kawasan Hutan Cisadane Ciliwung-Angke Luas (ha) Persen Luas (ha) Persen Hutan Produksi Hutan dan Konservasi Total Luas hutan di DAS Ciliwung-Angke sangat jauh dari syarat minimal luas kawasan hutan dalam suatu DAS, yaitu hanya 4,5 persen. Dalam Pasal 17 ayat 5 Undang- Undang No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dijelaskan bahwa luas minimal kawasan hutan dalam suatu DAS adalah 30%. Walaupun di dalam UU Kehutanan No 41/1999, luas minimal juga dapat didasari atas luas total pulau. Luas kawasan hutan di DAS Cisadane juga masih dibawah proporsi yang ditetapkan dalam undang-undang yaitu sebesar 17,1 persen Analisis Tutupan Lahan melalui Interpretasi Citra Satelit Interpretasi citra satelit dilakukan untuk mendapatkan data penutupan lahan aktual. Dua scene citra satelit Landsat 5 tahun 2007 diinterpretasi dengan menggunakan metode object-oriented classification, atau klasifikasi yang tidak berbasis pixel. Tabel 8. Tutuan lahan hasil klasifikasi citra Landsat 5 tahun 2007 Ciliwung Tutupan Lahan Cisadane Angke DAS Luas (Ha) % Luas (Ha) % Air Awan Bayangan Hutan jarang Hutan rapat Mangrove Rawa Kebun Campur Kebun Karet Kebun teh Pertanian Campur Sawah Rumput Tanah terbuka Pemukiman TOTAL Hasil Analisis_ 35

47 Sebagian besar daerah DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke didominasi oleh tipe penutupan lahan kebun campur. Lebih dari 45% DAS Cisadane berupa kebun campur, sementara jenis penutupan hutan kurang dari 23% dan pemukiman lebih dari 15%. Sebagian besar areal berhutan berada di kawasan Taman Nasional Gunung Salak Halimun. Tabel 9. Penyebaran kawasan lindung DAS Ciasadane dan Ciliwung berdasarkan batas administratif. Kota/Kabupaten Cisadane Ciliwung Angke Ha % Ha % BOGOR CIANJUR KOTA BOGOR KOTA DEPOK KOTA DKI JAKARTA KOTA TANGERANG SUKABUMI TANGERANG Kondisi DAS Ciliwung dan Angke tidak lebih baik dari DAS Cisadane. Penutupan hutan pada DAS ini hanya dibawah 10% yang sebagian besar berada di kawasan puncak. Sedangkan luas pemukiman mencapai 44% dari luas total DAS Cisadane dan Angke, mengingat kedua sungai ini melintasi provinsi DKI yang merupakan kota metropolitan. Lebih dari 37% kawasan lindung DAS Ciliwung Angke berada di Kota DKI Jakarta. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa masalah banjir di DKI Jakarta sangat sulit diatasi Analisa Tutupan Lahan di Kawasan Pemantauan kondisi kawasan lindung perlu dilakukan untuk mengetahui keadaan kawasan lindung secara aktual. Kawasan lindung yang diperoleh dari hasil analisis spasial dioverlaykan dengan data tutupan lahan hasil klasifikasi citra satelit. Tabel 10. Tutupan lahan di kawasan lindung tahun 2007 Tutupan Lahan Cisadane Ciliwung Angke Kawasan Luas (ha) % Luas (ha) % Air Awan Bayangan Hasil Analisis_ 36

48 Hutan jarang Hutan rapat Mangrove Rawa Kebun campur Kebun karet Kebun teh Sawah Pertanian Rumput Tanah terbuka Pemukiman TOTAL Kondisi kawasan lindung DAS Cisadane relatif lebih baik dibandingkan kawasan lindung DAS Ciliwung Angke. Dari total DAS Cisadane seluas 59 ribu hektar, lebih dari 36% merupakan areal berhutan. Sementara kawasan lindung DAS Ciliwung Angke hanya ditutupi sekitar 16% areal berhutan atau sekitar 3 ribu hektar dari 23 ribu hektar. Kebun campur mendominasi kawasan lindung di kedua wilayah tersebut atau sekitar 37% dari luas masing-masing DAS. Pemukiman di kawasan lindung DAS Ciliwung Angke menutupi 33% atau hampir mencapai 8 ribu hektar dari luas DAS. Berbeda dengan kawasan lindung DAS Cisadane yang hanya ditutupi pemukiman sebanyak 9 persen dari luas total DAS. Selain itu keberadaan mangrove di kedua DAS tersebut sangatlah terbatas dalam jumlah yang sangat kecil Analisa Tutupan Lahan di Kawasan Hutan Selain itu, pemantauan kondisi kawasan hutan juga dapat dilakukan dengan metode yang sama, yaitu dengan mengoverlay data kawasan hutan dengan tutupan lahan aktual. Kawasan hutan adalah kawasan yang ditetapkan oleh Departemen Kehutanan sebagai kawasan hutan. Selain fungsi konservasi dan lindung, kawasan hutan juga memiliki fungsi produksi untuk menghasilkan kayu. Karena itu kawasan hutan tidak selalu ditutupi oleh areal berhutan, baik akibat pemanfaatan hutan produksi, illegal logging ataupun perambahan hutan. Hasil Analisis_ 37

49 Tabel 11. Tutupan lahan di kawasan hutan tahun 2007 Cisadane Ciliwung-Angke Penutupan Lahan Kawasan Hutan Luas (ha) Persen Luas (ha) Persen Air Awan Bayangan Hutan jarang Hutan rapat Kebun Campur Kebun Karet kebun teh Mangrove Pertanian Rawa/Tambak Rumput Sawah Tanah terbuka Urban (blank) Total Lebih dari 65% kawasan hutan di DAS Cisadane dan DAS Ciliwung-Angke masih ditutupi oleh areal berhutan. Sebagian besar kawasan ini berada di dua taman nasional yaitu TN Gede Pangrango dan TN Salak Halimun yang merupakan ekosistem gunung yang berada di bagian selatan kedua DAS. Dibandingkan dengan kawasan lindung, kondisi kawasan hutan cenderung masih relatif baik khususnya jika dilihat dari persentase pemukiman yang berada di dalam kedua kawasan tersbut. Pemukiman di kawasan hutan masih di bawah 1%, sedangkan di kawasan lindung bahkan mencapai 33% pada DAS Ciliwung Angke. Kegiatan pemantauan dan pengendalian kawasan hutan umumnya dilakukan secara khusus oleh Balai Taman Nasional Departemen Kehutanan. Sementara penetapan dan pengawasan kawasan lindung yang merupakan wewenang pemerintah daerah masih belum diimplementasikan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Hasil Analisis_ 38

50 Pembahasan 4.1. Ketersediaan Data Ketersediaan data spasial merupakan permasalahan klasik yang kita sering jumpai di dalam pengolahan dan analisis spasial di Indonesia. Kalaupun ada kualitas datanya perlu dipertanyakan. Beruntung untuk peta dasar, Bakosurtanal sudah menyediakan Peta Rupa Bumi Indonesia untuk seluruh wilayah Indonesia, walaupun dengan skala yang berbeda-beda. Selain itu, dijumpai adanya perubahan baik sungai, garis pantai maupun pemukiman yang belum disesuaikan ke dalam peta RBI. Banyak data spasial yang diperlukan untuk penentuan kawasan lindung belum tersedia. Untuk menentukan sempadan sungai berdasarkan PP 47/1999 diperlukan data sungai bertanggul yang baik karena belum adanya survey yang dilakukan secara menyeluruh. Kemungkinan besar Departemen Pekerjaan Umum (PU) melalui dinas-dinas PU di daerah memiliki data lokasi tanggul-tanggul sungai yang telah dibuat, namun bagaimanapun tetap perlu dilakukan kompilasi dan penyesuaian format sehingga dapat diaplikasikan ke dalam sistem GIS. Sehingga untuk lebih memudahkan, banyak pihak yang menggunakan kriteria dari peraturan sebelumnya yaitu KepPres 32/1990 karena relatif lebih mudah diterapkan. Untuk menentukan batas pasang tertinggi di pantai dan rata-rata nilai pasang tertinggi di pantai berhutan bakau, maka diperlukan stasiun-stasiun pemantauan pasang surut di sepanjang garis pantai. Hal ini perlu dilakukan oleh pihak pemerintah daerah yang memiliki garis pantai khususnya yang berhutan bakau. Data spasial penyebaran mata air juga belum tersedia hingga skala 1: Hal ini menyulitkan di dalam penetapan daerah sempadan mata air selebar 200 meter. Dalam hal ini, PU Pengairan dan pemerintah daerah masing-masing perlu melakukan survey dan identifikasi sumber-sumber mata air yang perlu dilindungi. Pembahasan_ 39

51 Selain yang Hutan, KSA dan KPA, Departemen Kehutanan juga memiliki wewenang di dalam penetapan kawasan plasma nutfah serta daerah pengungsian satwa. Kawasan ini merupakan kawasan yang memiliki fungsi konservasi, namun berada di luar kawasan hutan konservasi. Biasanya berada di kawasan hutan produksi yang dikelola oleh konsesi-konsesi HPH atau HTI. Di setiap rencana kerja tahunan yang disusun, diwajibkan untuk menetapkan kawasan-kawasan tersebut. Rencana kerja tahunan tersebut (bersama lampiran peta kerja) selanjutnya di ajukan ke dinas kehutanan kabupaten dan provinsi (atau sebelum desentralisasi diajukan ke kanwil kehutanan tiap provinsi). Sayangnya peta-peta ini belum sepenuhnya didijitasi, mengingat keterbatasan kapasitas dinas-dinas kehutanan. Sehingga database lokasi kawasan lindung tersebut cenderung belum dikompilasi dan sulit dilacak. Ditambah lagi banyaknya perubahan pihak pengelola, atau berhentinya operasi pengelolaan hutan di banyak kawasan hutan produksi, menyebabkan status kawasan plasma nutfah dan pengungsian satwa semakin tidak jelas. Kawasan lindung lain yang juga merupakan domain Departemen Kehutanan adalah Cagar Biosfer. Cagar Biosfer dijelaskan di dalam UU No 5 Tahun 1990 tentang Konvensi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya. Cagar Biosfer ditetapkan dalam rangka kerja sama internasional di bidang konservasi. Di Indonesia terdapat 6 Cagar Biosfer yang ditetapkan yaitu: Siberut, Leuser, Cibodas, Lore Lindu, Komodo dan Tanjung Putting, yang zona intinya merupakan kawasan Taman Nasional. Namun peta batas cagar biosfer tidak dijumpai di dalam peta kawasan hutan yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan. Pembahasan_ 40

52 Gambar 4. Cagar Biosfer di Indonesia yang termasuk dalam UNESCO s Biosphere Reserves (www.unesco.org). Berbeda dengan kawasan lindung lahan gambut, peraturan menetapkan bahwa kriteria lahan gambut yang dilindungi adalah yang memiliki kedalaman lebih dari 300 cm. Sedangkan data penyebaran lahan gambut yang dikeluarkan oleh Departemen Pertanian (Puslitanak) hanya memiliki data kedalaman 40 cm, 60 cm, 90 cm dan 250 cm. Untungnya, Wetlands International sebuah lembaga swadaya masyarakat internasional mengeluarkan data penyebaran lahan gambut yang merupakan perbaikan dari data sebelumnya. Sayangnya, data penyebaran lahan gambut yang dikeluarkan Wetlands International hanya terbatas pada pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Sehingga bagaimanapun, peran penyediaan data spasial dasar tetap merupakan domain pemerintah dengan memanfaatkan data yang telah ada. Selain ketersediaan data, kemudahan akses untuk mendapatkan data juga menjadi persoalan tersendiri. Infrastruktur Data Spasial Nasional/Daerah (IDSN/D) seharusnya dapat menjawab tantangan tersebut. Ditambah lagi perlunya sektor lingkungan atau tematik kawasan lindung untuk dimasukkan ke dalam salah satu simpul jaringan dalam IDSN/D. Mengingat sektor ini belum masuk di dalam simpul IDSN seperti yang ditetapkan dalam PP No 85/2007 tentang Jaringan Data Spasial Nasional. Faktor ketidaktersediaan data menyebabkan pemerintah daerah memiliki kecenderungan untuk mengesampingkan penetapan kawasan lindung yang tidak ada datanya. Untuk itu, pemerintah perlu mengatur lebih spesifik penyediaan datadata awal untuk penetapan kawasan lindung Pedoman Teknis Beberapa kawasan lindung perlu disusun sebelumnya dengan menggunakan datadata penunjang lainnya, seperti daerah rawan bencana alam atau kawasan resapan air. Namun sayangnya pedoman yang menjelaskan secara rinci metode pembuatan daerah rawan bencana belum tersedia. Walaupun cukup banyak metodologi pemetaan daerah rawan yang telah dikembangkan oleh berbagai instansi dan Pembahasan_ 41

53 organisasi yang bergerak di dalam pengendalian bencana alam (disaster management). Salah satu dokumen kompilasi metodologi pemetaan daerah rawan bencana alam disusun oleh BRR bekerja sama dengan GTZ Jerman (Darmawan dan Theml, 2005). Dokumen ini dapat digunakan sebagai rujukan di dalam penyusunan pedoman oleh instansi sektor terkait, sehingga memudahkan pemerintah daerah di dalam menerapkan pemetaan daerah rawan tersebut. Namun demikian, prosedur yanga ada bukanlah prosedur baku sehingga perlu disesuaikan dengan karakteristik wilayah. Terdapat beberapa konsep atau metodologi pemetaan daerah resapan air. Konsep yang paling umum dibuat adalah konsep yang memperhatikan kondisi geomorfologi, seperti yang dijelaskan dalam peraturan yang ada. Namun demikian pedoman teknis untuk metode ini juga belum dibakukan ke dalam peraturan pendukung. BPLHD Jawa Barat telah menyusun peta daerah resapan air berdasarkan metode tersebut. Metode pemetaan daerah resapan lain yang tidak menggunakan konsep geomorfologi melainkan menggunakan konsep aliran tanah juga banyak didiskusikan ( Lubis, 2006; Azan, et al, 2006) Peraturan dan Implementasi Peraturan yang ada terkait dengan pengelolaan kawasan lindung dan penataan ruang sudah cukup banyak dan cukup untuk dapat diterapkan agar keberlangsungan fungsi lindung dan kelestarian sumber daya alam dapat dinikmati dan bermanfaat bagi masyarakat terkait dengan pembangungan daerah secara berkelanjutan. Namun beberapa peraturan cenderung tumpang tindih di dalam menetapkan kriteria kawasan lindung. Salah satu contoh adalah, kriteria luas minimal ruang terbuka hijau menurut Kepmendagri No. 1/2007 adalah sebesar 20%, sedangkan berdasarkan UU 26/2007 sebesar 30%. Hal ini membingungkan sehingga menyebabkan ketidakjelasan dan kesulitan di dalam upaya penetapan dan pemantauannya. Pembahasan_ 42

54 Peraturan yang baik belum menjamin implementasi yang baik. Karena itu, peran pemerintah baik di pusat dan daerah sangat menentukan sehingga masyarakat cenderung menaati peraturan yang telah ditetapkan. Pemanfaatan kawasan lindung yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan lindung khususnya di daerah yang sering dilanda bencana alam seharusnya sudah tidak dapat ditolerir lagi. Hal ini sangat penting untuk menghindari terjadinya kerusakan lingkungan yang menyebabkan terjadinya bencana yang lebih parah. Koordinasi antar instansi dalam sebuah batas administrasi seringkali menjadi permasalahan klasik. Antara pembuat rencana dan pemberi izin lokasi seringkali tidak saling berhubungan dan bahkan cenderung eksklusif. Akibatnya banyak lahan yang seharusnya dijadikan kawasan lindung menjadi kawasan budidaya atau industri. Badan Koordinasi Tata Ruang (BKTR) di daerah seharusnya dapat menjadi wadah untuk mengkoordinasikan permasalahan-permasalahan. Namun masalah tata ruang kawasan lindung tidak hanya berhenti di koordinasi, implementasi sangat membutuhkan kesepahaman dan komitmen yang jelas dari semua pihak. Kejadian bencana alam yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia baru-baru ini menjelaskan langsung dampak yang diterima jika kita mengabaikan upaya pelestarian dan perlindungan terhadap alam. Hal ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk memulai upaya perbaikan kawasan lindung di DAS yang rusak serta mengatur dan mengendalikan upaya pemanfaatan kawasan lindung pada DAS yang relatif masih bagus. Banyak kasus dimana kawasan lindung masih belum dimasukkan ke dalam peta tata ruang wilayah. Padahal undang-undang tentang penataan ruang, baik UU No 24/1992 maupun UU No 47/1997, secara tegas telah menetapkan bahwa pemanfaatan ruang wilayah dibagi atas dua fungsi utama yaitu kawasan budidaya dan kawasan lindung. Namun banyak RTRW provinsi, kabupaten atau kota yang belum menetapkan kawasan lindung di dalamnya. Padahal kawasan lindung tidak hanya kawasan hutan lindung dan hutan konservasi saja. Pembahasan_ 43

55 4.4. Fungsi dan Kondisi Kawasan Kawasan lindung sudah mulai diperhatikan sejak dikeluarkannya KepPres 32 tahun Namun dalam implementasinya tidak berjalan secara baik. Hal ini terkait erat dengan keterbatasan pemahaman tentang fungsi kawasan lindung. Kawasan lindung memiliki banyak fungsi antara lain: 1. Fungsi hidro-orologis yang dapat mencegah erosi, banjir dan longsor. 2. Perlindungan terhadap mata air dan air tanah. 3. Perlindungan pantai dari abrasi dan intrusi air laut. 4. Melindungi ekosistem dan habitat tertentu (seperti ekosistem lahan gambut yang rapuh, ekosistem yang memiliki keanekaragaman tinggi, atau ekosistem yang merupakan habitat jenis satwa dan tumbuhan tertentu). 5. Perlindungan keanekaragaman hayati flora dan fauna. 6. Penyerap karbon. 7. Pengatur iklim baik makro dan mikro. 8. Fungsi penelitian dan rekreasi. 9. Fungsi estetika. 10. Perlindungan kerugian dari bahaya bencana alam. 11. Perlindungan budaya dan struktur geologi tertentu geologi. Fungsi-fungsi tersebut bersifat intangible atau cenderung tidak kongkrit dengan sedikit manfaat ekonomi dari kacamata masyarakat pada umumnya. Karena itu banyak kondisi kawasan lindung yang tidak berada dalam keadaan yang baik. Adanya konflik kepentingan antara pengembangan ekonomi secara cepat dengan kelestarian sumber daya alam dan lingkungan menyebabkan fungsi-fungsi kawasan lindung tersebut menjadi dipandang sebelah mata atau bahkan dianggap menghambat pertumbuhan wilayah. Pemerintah yang baik cenderung masih dinilai dari kinerja peningkatan perekonomian. Walaupun dalam banyak kasus, pemerintah daerah sering mengorbankan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Banyaknya kejadian bencana longsor dan banjir di beberapa kabupaten di Indonesia akhir-akhir ini, sebenarnya dapat dijadikan momentum untuk mengajak pemerintah daerah dan masyarakat umum untuk memahami fungsi kawasan lindung tersebut. Dengan Pembahasan_ 44

56 dimasukkannya kerugian akibat bencana serta biaya penanggulangan dan rehabilitasi yang tinggi ke dalam analisis ekonomi fungsi kawasan lindung, maka diharapkan perubahan persepsi akan pentingnya kawasan ini dapat terjadi. Gambar 5. Kondisi Sungai Ciapus yang merupakan bagian hulu DAS Cisadane. Dibandingkan DAS Ciliwung, DAS Cisadane relatif lebih baik. Daerah terbangun pada kawasan lindung DAS Cisadane hanya sebesar 9%. Sedangkan daerah terbangun di kawasan lindung DAS Ciliwung-Angke mencapai 33% (Tabel 10). Hal ini disebabkan karena lebih dari 37% kaeasan lindung DAS Ciliwung-Angke berada di Kota DKI Jakarta. Sedangkan Kawasan lindung DAS Cisadane sebagian besar (sebanyak 80%) berada di Kabupaten Bogor yang relatif jarang penduduknya. Di bagian hulu DAS Cisadane sebagian besar merupakan kawasan hutan (TN Salak Halimun) yang kondisinya masih relatif baik. Namun berdasarkan survey lapangan, di sempadan sungai Ciapus sudah mulai dilakukan penambangan batu oleh masyarakat. Kegiatan ini cenderung memicu terjadinya erosi, karena penambangan yang dilakukan tidak memperhatikan kondisi lereng dan merusak tanah (Gambar 5). Selain itu pemasangan stasiun pemancar telekomunikasi juga mulai banyak dan berada di lokasi yang tingkat kelerengannya cukup curam. Pemberian izin lokasi untuk kawasan lindung seharusnya perlu mempertimbangkan fungsi kawasan lindung serta pola pemanfaatan yang ideal. Tanpa memahami fungsi kawasan lindung, pengambilan keputusan di dalam pola pemanfaatan ruang kawasan Pembahasan_ 45

Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung

Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 32 TAHUN 1990 (32/1990) Tanggal : 25 JULI 1990 (JAKARTA) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang selain merupakan sumber alam yang penting artinya bagi

Lebih terperinci

19 Oktober Ema Umilia

19 Oktober Ema Umilia 19 Oktober 2011 Oleh Ema Umilia Ketentuan teknis dalam perencanaan kawasan lindung dalam perencanaan wilayah Keputusan Presiden No. 32 Th Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung Kawasan Lindung

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa ruang wilayah negara kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA)

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Menimbang : PP 47/1997, RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 47 TAHUN 1997 (47/1997) Tanggal: 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber:

Lebih terperinci

MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL.

MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL. PP 47/1997, RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL... Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 47 TAHUN 1997 (47/1997) Tanggal: 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber: LN 1997/96;

Lebih terperinci

SURAT KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN Nomor : 837/Kpts/Um/11/1980 TENTANG KRITERIA DAN TATA CARA PENETAPAN HUTAN LINDUNG

SURAT KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN Nomor : 837/Kpts/Um/11/1980 TENTANG KRITERIA DAN TATA CARA PENETAPAN HUTAN LINDUNG SURAT KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN Nomor : 837/Kpts/Um/11/1980 TENTANG KRITERIA DAN TATA CARA PENETAPAN HUTAN LINDUNG MENTERI PERTANIAN, Menimbang : a. bahwa untuk lebih mantap dan tertibnya tata cara penetapan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 14 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN KAWASAN LINDUNG DI KABUPATEN PASURUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 14 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN KAWASAN LINDUNG DI KABUPATEN PASURUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 14 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN KAWASAN LINDUNG DI KABUPATEN PASURUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN, Menimbang Mengingat : a. bahwa ruang selain

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa ruang wilayah negara kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN NGAWI

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN NGAWI Rencana Pola ruang adalah rencana distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya. Bentukan kawasan yang

Lebih terperinci

SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 03 TAHUN 2004 TENTANG PENETAPAN DAN PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 03 TAHUN 2004 TENTANG PENETAPAN DAN PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 30 APRIL 2004 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK 01 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 03 TAHUN 2004 TENTANG PENETAPAN DAN PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa ruang wilayah negara kesatuan Republik Indonesia dengan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 47 TAHUN 1997 (47/1997) TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 47 TAHUN 1997 (47/1997) TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 47 TAHUN 1997 (47/1997) TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah negara kesatuan Republik

Lebih terperinci

Ekologi Hidupan Liar HUTAN. Mengapa Mempelajari Hidupan Liar? PENGERTIAN 3/25/2014. Hidupan liar?

Ekologi Hidupan Liar HUTAN. Mengapa Mempelajari Hidupan Liar? PENGERTIAN 3/25/2014. Hidupan liar? Mengapa Mempelajari Hidupan Liar? Ekologi Hidupan Liar http://staff.unila.ac.id/janter/ 1 2 Hidupan liar? Mencakup satwa dan tumbuhan Pengelolaan hidupan liar PENGERTIAN perlindungan populasi satwa untuk

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa ruang wilayah negara kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA TENGAH

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA TENGAH PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA TENGAH SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 19 TAHUN 2007 TENTANG KAWASAN LINDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA TENGAH, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 1997 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa ruang wilayah negara kesatuan Republik Indonesiadengan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Ruang dan Penataan Ruang

TINJAUAN PUSTAKA Ruang dan Penataan Ruang 4 TINJAUAN PUSTAKA Ruang dan Penataan Ruang Ruang (space) dalam ilmu geografi didefinisikan sebagai seluruh permukaan bumi yang merupakan lapisan biosfer, tempat hidup tumbuhan, hewan dan manusia (Jayadinata

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Kerangka Pendekatan

METODE PENELITIAN Kerangka Pendekatan 27 METODE PENELITIAN Kerangka Pendekatan Pertumbuhan penduduk dan peningkatan aktivitas ekonomi yang terjadi pada tiap waktu membutuhkan peningkatan kebutuhan akan ruang. Di sisi lain luas ruang sifatnya

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.17/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2/2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN NOMOR P.12/MENLHK-II/2015

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.378, 2010 KEMENTERIAN KEHUTANAN. Kawasan Hutan. Fungsi. Perubahan.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.378, 2010 KEMENTERIAN KEHUTANAN. Kawasan Hutan. Fungsi. Perubahan. BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.378, 2010 KEMENTERIAN KEHUTANAN. Kawasan Hutan. Fungsi. Perubahan. PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P. 34/Menhut -II/2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2004 TENTANG PERENCANAAN KEHUTANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2004 TENTANG PERENCANAAN KEHUTANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2004 TENTANG PERENCANAAN KEHUTANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan lebih lanjut ketentuan Bab IV Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

AMDAL. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan By Salmani, ST, MS, MT.

AMDAL. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan By Salmani, ST, MS, MT. AMDAL Analisis Mengenai Dampak Lingkungan By Salmani, ST, MS, MT. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN UULH = Undang-Undang Lingkungan Hidup no 23 Tahun 1997, yang paling baru adalah UU no 3 tahun 2009 tentang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P. 34/Menhut-II/2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P. 34/Menhut-II/2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P. 34/Menhut-II/2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI

PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI Oleh Pengampu : Ja Posman Napitu : Prof. Dr.Djoko Marsono,M.Sc Program Studi : Konservasi Sumberdaya Alam Dan Lingkungan Sekolah Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada Jogjakarta,

Lebih terperinci

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian

Penataan Ruang. Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian Penataan Ruang Kawasan Budidaya, Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya Pertanian Kawasan peruntukan hutan produksi kawasan yang diperuntukan untuk kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat (2) Undang-undang Nomor 24

Lebih terperinci

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang No. 5, Agustus 2002 Warta Kebijakan C I F O R - C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan

Lebih terperinci

Skoring Wilayah Rawan Bencana dan Daerah Perlindungan Bencana. Adipandang Y 11

Skoring Wilayah Rawan Bencana dan Daerah Perlindungan Bencana. Adipandang Y 11 Skoring Wilayah Rawan Bencana dan Daerah Perlindungan Bencana Adipandang Y 11 Multiple Criteria Evaluation (MCE) According to Smith (1980), multiple criteria evaluation (MCE) is defined as: "The weighting

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI. dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya;

KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI. dengan fasilitas dan infrastruktur perkotaan yang sesuai dengan kegiatan ekonomi yang dilayaninya; Lampiran III : Peraturan Daerah Kabupaten Bulukumba Nomor : 21 Tahun 2012 Tanggal : 20 Desember 2012 Tentang : RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BULUKUMBA TAHUN 2012 2032 KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI

Lebih terperinci

Tema : Ketidaksesuaian Penggunaan Lahan

Tema : Ketidaksesuaian Penggunaan Lahan Tema : Ketidaksesuaian Penggunaan Lahan 3 Nilai Tanah : a. Ricardian Rent (mencakup sifat kualitas dr tanah) b. Locational Rent (mencakup lokasi relatif dr tanah) c. Environmental Rent (mencakup sifat

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.14/Menhut-II/2007 TENTANG TATACARA EVALUASI FUNGSI KAWASAN SUAKA ALAM, KAWASAN PELESTARIAN ALAM DAN TAMAN BURU

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.14/Menhut-II/2007 TENTANG TATACARA EVALUASI FUNGSI KAWASAN SUAKA ALAM, KAWASAN PELESTARIAN ALAM DAN TAMAN BURU MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.14/Menhut-II/2007 TENTANG TATACARA EVALUASI FUNGSI KAWASAN SUAKA ALAM, KAWASAN PELESTARIAN ALAM DAN TAMAN BURU MENTERI KEHUTANAN,

Lebih terperinci

Dasar Legalitas : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG

Dasar Legalitas : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG Dasar Legalitas : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG Menggantikan UU No. 24 Tahun 1992 Tentang Penataan Ruang Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.14/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2/2017 TENTANG TATA CARA INVENTARISASI DAN PENETAPAN FUNGSI EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SINJAI KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI KABUPATEN SINJAI

PEMERINTAH KABUPATEN SINJAI KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI KABUPATEN SINJAI -157- LAMPIRAN XXII PERATURAN DAERAH KABUPATEN SINJAI NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SINJAI TAHUN 2012-2032 KETENTUAN UMUM PERATURAN ZONASI KABUPATEN SINJAI A. KAWASAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat Undang-undang Nomor 24 Tahun

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH Nomor 68 Tahun 1998, Tentang KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH Nomor 68 Tahun 1998, Tentang KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH Nomor 68 Tahun 1998, Tentang KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam merupakan

Lebih terperinci

BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN

BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN 2.1 Tujuan Penataan Ruang Dengan mengacu kepada Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, khususnya Pasal 3,

Lebih terperinci

NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM

NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM Menimbang: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1998 TENTANG KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Perencanaan Hutan Kota Arti kata perencanaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Fak. Ilmu Komputer UI 2008) adalah proses, perbuatan, cara merencanakan (merancangkan).

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat (2) Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA U M U M Bangsa Indonesia dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa kekayaan berupa

Lebih terperinci

NOMOR 03 TAHUN 2OO4 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI NGANJUK,

NOMOR 03 TAHUN 2OO4 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI NGANJUK, 7---- PEMERINTAH KABUPATEN NGANJUK SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 03 TAHUN 2OO4 TENTANG PENETAPAN DAN PENGELOI AAN KAWASAN LINDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI NGANJUK, Menimbang

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG -1- PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TAMIANG QANUN KABUPATEN ACEH TAMIANG NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG DALAM WILAYAH KABUPATEN ACEH TAMIANG BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 20 ayat (6) Undang-Undang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 9 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 410 Desember 2011 (Lampiran 2), bertempat di wilayah Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a.

Lebih terperinci

LAMPIRAN I CONTOH PETA RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH KABUPATEN L - 1

LAMPIRAN I CONTOH PETA RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH KABUPATEN L - 1 LAMPIRAN I CONTOH PETA RENCANA STRUKTUR RUANG WILAYAH KABUPATEN L - 1 LAMPIRAN II CONTOH PETA RENCANA POLA RUANG WILAYAH KABUPATEN L - 2 LAMPIRAN III CONTOH PETA PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS KABUPATEN L

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE 11 BAB BAHAN DAN METODE 3.1 Lokasi dan Waktu Studi Studi mengenai perencanaan lanskap pasca bencana ini dilakukan di kawasan Situ Gintung dengan luas areal 305,7 ha, yang terletak di Kecamatan Ciputat

Lebih terperinci

Konservasi Lingkungan. Lely Riawati

Konservasi Lingkungan. Lely Riawati 1 Konservasi Lingkungan Lely Riawati 2 Dasar Hukum Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber

Lebih terperinci

this file is downloaded from

this file is downloaded from th file PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2004 TENTANG PERENCANAAN KEHUTANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan lebih lanjut

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 39 Tahun 1996 Tentang : Jenis Usaha Atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang

Lebih terperinci

Oleh: Tarsoen Waryono **)

Oleh: Tarsoen Waryono **) 1 PENYERASIAN DAN IMPLEMENTASI PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG*) Oleh: Tarsoen Waryono **) Pendahuluan 1. Latar Belakang Tumbuh berkembangnya wilayah perkotaan, pada hakekatnya disebabkan oleh lajunya tingkat

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB 5 RTRW KABUPATEN

BAB 5 RTRW KABUPATEN BAB 5 RTRW KABUPATEN Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten terdiri dari: 1. Rencana Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang; 2. Rencana Pengelolaan Kawasan Lindung dan Budidaya; 3. Rencana Pengelolaan

Lebih terperinci

NOMOR 27 TAHUN 1999 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN

NOMOR 27 TAHUN 1999 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 1999 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN Menimbang: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA a. bahwa dalam rangka melaksanakan pembangunan berwawasan

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR : 2 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BINTAN TAHUN

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR : 2 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BINTAN TAHUN PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BINTAN NOMOR : 2 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BINTAN TAHUN 2011-2031 I. UMUM Sesuai dengan amanat Pasal 20 Undang-Undang Nomor 26 Tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove yang cukup besar. Dari sekitar 15.900 juta ha hutan mangrove yang terdapat di dunia, sekitar

Lebih terperinci

STUDI EVALUASI PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (TNBT) KABUPATEN INDRAGIRI HULU - RIAU TUGAS AKHIR

STUDI EVALUASI PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (TNBT) KABUPATEN INDRAGIRI HULU - RIAU TUGAS AKHIR STUDI EVALUASI PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH (TNBT) KABUPATEN INDRAGIRI HULU - RIAU TUGAS AKHIR Oleh: HERIASMAN L2D300363 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK

Lebih terperinci

BAB 7 Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Utara

BAB 7 Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Utara BAB 7 Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Utara Arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Provinsi Sumatera Utara digunakan sebagai merupakan acuan dalam pelaksanaan pengendalian

Lebih terperinci

PEDOMAN TEKNIS PENGGUNAAN DAN PEMANFAATAN TANAH

PEDOMAN TEKNIS PENGGUNAAN DAN PEMANFAATAN TANAH Lampiran I Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor : 2 TAHUN 2011 Tanggal : 4 Pebruari 2011 Tentang : Pedoman Pertimbangan Teknis Pertanahan dalam Penerbitan Izin Lokasi, Penetapan

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA NOMOR 8 TAHUN 2005

SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA NOMOR 8 TAHUN 2005 SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA NOMOR 8 TAHUN 2005 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG DAN KOMPENSASI PEMANFAATAN KAWASAN LINDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA, Menimbang :

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian survei. Survei adalah

III. METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian survei. Survei adalah 25 III. METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian survei. Survei adalah suatu metode penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan sejumlah besar data

Lebih terperinci

Penyelamatan Ekosistem Sumatera Dalam RTR Pulau Sumatera

Penyelamatan Ekosistem Sumatera Dalam RTR Pulau Sumatera Penyelamatan Ekosistem Sumatera Dalam RTR Pulau Sumatera 1 2 3 Pendahuluan (Sistem Perencanaan Tata Ruang - Kebijakan Nasional Penyelamatan Ekosistem Pulau Sumatera) Penyelamatan Ekosistem Sumatera dengan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Assalamu alaikum wr.wb.

KATA PENGANTAR. Assalamu alaikum wr.wb. KATA PENGANTAR Assalamu alaikum wr.wb. Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas karunia-nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan buku Penghitungan Deforestasi Indonesia Periode Tahun 2009-2011

Lebih terperinci

Keputusan Kepala Bapedal No. 56 Tahun 1994 Tentang : Pedoman Mengenai Dampak Penting

Keputusan Kepala Bapedal No. 56 Tahun 1994 Tentang : Pedoman Mengenai Dampak Penting Keputusan Kepala Bapedal No. 56 Tahun 1994 Tentang : Pedoman Mengenai Dampak Penting Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan

TINJAUAN PUSTAKA. penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan TINJAUAN PUSTAKA Taman Nasional Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan,

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2008 TENTANG PENATAAN RUANG KAWASAN JAKARTA, BOGOR, DEPOK, TANGERANG, BEKASI, PUNCAK, CIANJUR

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2008 TENTANG PENATAAN RUANG KAWASAN JAKARTA, BOGOR, DEPOK, TANGERANG, BEKASI, PUNCAK, CIANJUR PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2008 TENTANG PENATAAN RUANG KAWASAN JAKARTA, BOGOR, DEPOK, TANGERANG, BEKASI, PUNCAK, CIANJUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.49/Menhut-II/2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.49/Menhut-II/2014 TENTANG PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.49/Menhut-II/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN EVALUASI KESESUAIAN FUNGSI KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Sumberdaya perikanan laut di berbagai bagian dunia sudah menunjukan

PENDAHULUAN. Sumberdaya perikanan laut di berbagai bagian dunia sudah menunjukan PENDAHULUAN Latar Belakang Sumberdaya perikanan laut di berbagai bagian dunia sudah menunjukan adanya kecenderungan menipis (data FAO, 2000) terutama produksi perikanan tangkap dunia diperkirakan hanya

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat (2) Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan paduserasi TGHK RTRWP, luas hutan Indonesia saat ini

II. TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan paduserasi TGHK RTRWP, luas hutan Indonesia saat ini 57 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kondisi Hutan Indonesia Berdasarkan paduserasi TGHK RTRWP, luas hutan Indonesia saat ini mencapai angka 120,35 juta ha atau sekitar 61 % dari luas wilayah daratan Indonesia.

Lebih terperinci

INDIKASI LOKASI REHABILITASI HUTAN & LAHAN BAB I PENDAHULUAN

INDIKASI LOKASI REHABILITASI HUTAN & LAHAN BAB I PENDAHULUAN INDIKASI LOKASI REHABILITASI HUTAN & LAHAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki nilai ekonomi, ekologi dan sosial yang tinggi. Hutan alam tropika

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso

KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso KATA PENGANTAR Sebagai upaya mewujudkan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang yang efektif, efisien dan sistematis guna menunjang pembangunan daerah dan mendorong perkembangan wilayah

Lebih terperinci

REKALKUKASI SUMBER DAYA HUTAN INDONESIA TAHUN 2003

REKALKUKASI SUMBER DAYA HUTAN INDONESIA TAHUN 2003 REKALKUKASI SUMBER DAYA HUTAN INDONESIA TAHUN 2003 KATA PENGANTAR Assalaamu alaikum Wr. Wb. Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas karunia-nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan Buku

Lebih terperinci

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA CIMAHI TAHUN

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA CIMAHI TAHUN PENJELASAN PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA CIMAHI TAHUN 2012-2032 I. UMUM Ruang dilihat sebagai wadah dimana keseluruhan interaksi sistem sosial

Lebih terperinci

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN NGAWI

RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KABUPATEN NGAWI 2. Pembuatan tanggul pada kawasan Daerah Aliran Sungai dengan prioritas pada kawasan dataran dan rawan banjir; 3. Mengoptimalkan fungsi kawasan lindung dan kawasan resapan air; serta 4. Melakukan koordinasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan Negara kepulauan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang termasuk rawan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2008 TENTANG PENATAAN RUANG KAWASAN JAKARTA, BOGOR, DEPOK, TANGERANG, BEKASI, PUNCAK, CIANJUR

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2008 TENTANG PENATAAN RUANG KAWASAN JAKARTA, BOGOR, DEPOK, TANGERANG, BEKASI, PUNCAK, CIANJUR PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2008 TENTANG PENATAAN RUANG KAWASAN JAKARTA, BOGOR, DEPOK, TANGERANG, BEKASI, PUNCAK, CIANJUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

12. Tarigan, Robinson Perencanaan Pembangunan Wilayah. Bumi Aksara : Jakarta. 13. Virtriana, Riantini. 2007, Analisis Korelasi Jumlah Penduduk

12. Tarigan, Robinson Perencanaan Pembangunan Wilayah. Bumi Aksara : Jakarta. 13. Virtriana, Riantini. 2007, Analisis Korelasi Jumlah Penduduk DAFTAR PUSTAKA 1. Andries, Benjamin. 2007. Pengembangan Metode Penilaina Tanah dengan Mempertimbangkan Aspek Ekonomi, Sosial dan Lingkungan untuk Dasar Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan sebagai Fungsi

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2008 TENTANG PENATAAN RUANG KAWASAN JAKARTA, BOGOR, DEPOK, TANGERANG, BEKASI, PUNCAK, CIANJUR

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2008 TENTANG PENATAAN RUANG KAWASAN JAKARTA, BOGOR, DEPOK, TANGERANG, BEKASI, PUNCAK, CIANJUR PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 54 TAHUN 2008 TENTANG PENATAAN RUANG KAWASAN JAKARTA, BOGOR, DEPOK, TANGERANG, BEKASI, PUNCAK, CIANJUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2004 TENTANG PERENCANAAN KEHUTANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2004 TENTANG PERENCANAAN KEHUTANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2004 TENTANG PERENCANAAN KEHUTANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan lebih lanjut ketentuan Bab IV Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

jtä ~Éàt gtá ~ÅtÄtçt cüéä Çá ]tãt UtÜtà

jtä ~Éàt gtá ~ÅtÄtçt cüéä Çá ]tãt UtÜtà - 1 - jtä ~Éàt gtá ~ÅtÄtçt cüéä Çá ]tãt UtÜtà PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG HUTAN KOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA, Menimbang Mengingat : a. bahwa

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI PERKEMBANGAN KAWASAN PERKEBUNAN TERHADAP KEBERADAAN KAWASAN LINDUNG TAMAN NASIONAL TESSO NILO DI KABUPATEN PELALAWAN, PROVINSI RIAU

IDENTIFIKASI PERKEMBANGAN KAWASAN PERKEBUNAN TERHADAP KEBERADAAN KAWASAN LINDUNG TAMAN NASIONAL TESSO NILO DI KABUPATEN PELALAWAN, PROVINSI RIAU IDENTIFIKASI PERKEMBANGAN KAWASAN PERKEBUNAN TERHADAP KEBERADAAN KAWASAN LINDUNG TAMAN NASIONAL TESSO NILO DI KABUPATEN PELALAWAN, PROVINSI RIAU Regi pernandes, Indarti Komala Dewi *), Woro Indriyati Rachmani

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA SEMARANG PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG

LEMBARAN DAERAH KOTA SEMARANG PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG LEMBARAN DAERAH KOTA SEMARANG TAHUN 2010 NOMOR 4 PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PENATAAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SEMARANG, Menimbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pendahuluan 1. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pendahuluan 1. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hutan sebagai sebuah ekosistem mempunyai berbagai fungsi penting dan strategis bagi kehidupan manusia. Beberapa fungsi utama dalam ekosistem sumber daya hutan adalah

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.113, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PEMERINTAHAN. WILAYAH. NASIONAL. Pantai. Batas Sempadan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG BATAS SEMPADAN PANTAI DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

KEPPRES 114/1999, PENATAAN RUANG KAWASAN BOGOR PUNCAK CIANJUR *49072 KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA (KEPPRES) NOMOR 114 TAHUN 1999 (114/1999)

KEPPRES 114/1999, PENATAAN RUANG KAWASAN BOGOR PUNCAK CIANJUR *49072 KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA (KEPPRES) NOMOR 114 TAHUN 1999 (114/1999) Copyright (C) 2000 BPHN KEPPRES 114/1999, PENATAAN RUANG KAWASAN BOGOR PUNCAK CIANJUR *49072 KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA (KEPPRES) NOMOR 114 TAHUN 1999 (114/1999) TENTANG PENATAAN RUANG KAWASAN

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG BATAS SEMPADAN PANTAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG BATAS SEMPADAN PANTAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG BATAS SEMPADAN PANTAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci