BAB VI. ANALISIS JEJAK ATAU SIDIK LINTAS (PATH ANALYSIS)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB VI. ANALISIS JEJAK ATAU SIDIK LINTAS (PATH ANALYSIS)"

Transkripsi

1 BAB VI. ANALII JEJAK ATAU IDIK LINTA (PATH ANALYI) 6.1 Pendahuluan Telaah statistika mengatakan bahwa dalam analisis hubungan yang bertujuan untuk peramalan atau pendugaan nilai Y atas dasar nilai-nilai X 1, X,, X p terhadap nilai Y maka pola hubungan yang sesuai adalah pola hubungan yang mengikuti model regresi, sedangkan untuk tujuan hubungan sebab akibat yang pola yang tepat adalah model struktural atau analisis jejak atau analisis lintas (path analisis). Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, pola hubungan yang bagaimana yang ingin diungkapkan, apakah hubungan yang bisa digunakan untuk peramalan atau menduga nilai sebuah variabel- respon Y atas dasar nilai tertentu beberapa variabel prediktor X 1, X,, X p. Atau, pola hubungan yang mengisyaratkan besarnya pengaruh variabel penyebab X 1, X,, X p terhadap variabel akibat Y, baik pengaruh langsung secara sendiri-sendiri maupun secara bersamaan. Pada dasarnya metode analisis lintas (path analysis) merupakan bentuk analisis regresi linier terstruktur berkenaan dengan variabel-variabel baku (standardized variables) dalam suatu sistem tertutup (closed system) yang secara formal bersifat lengkap. Dengan demikian, analisis lintas dapat dipandang sebagai sustu analisis struktural yang membahas hubungan kausal di antara variabel-variabel dalam sistem tertutup. Apabila suatu model hubungan kausal antara variabel tak bebas Y dan variabelvariabel bebas X i, untuk i = 1,,, p; telah disfesifikasikan secara tepat berdasarkan teori yang ada, maka dapat diselidiki hubungan kausal atau sebab-akibat dengan menggunakan analisis lintas. Pada dasarnya koefisien lintas (path coefficient) juga merupakan koefisien beta (β) atau koefisien regresi baku, di mana berdasarkan analisis lintas dapat diketahui pengaruh langsung (direct effect) dari setiap variabel bebas yang dibakukan (Z Y ), serta pengaruh tidak langsung (indirect effect) dari variabel bebas baku Z Xi melalui variabel bebas baku Z Xj (di mana i j) di dalam model hubungan kausal tersebut. Metode analisis lintas dikembangkan pertama kali oleh seorang ahli genetika ewall Wright, di mana pada tahun 191 melalui artikelnya yang berjudul: "Correlation and Causation". Wright menjelaskan hubungan kausal dalam genetika populasi mengunakan analisis lintas. Hingga saat ini, paper yang ditulis Wright pada tahun 191 masih dipergunakan sebagai dasar permulaan mempelajari analisis lintas, karena pada dasarnya untuk memahami analisis lintas hanya membutuhkan pemahaman terhadap analisis regresi dan korelasi sebagai dasar analisis. 6. Model Regresi dan Modal truktural Menurut batasan bahwa penelitian adalah suatu usaha untuk mengungkapkan hubungan antar fenoma alami. Jika kemudian, lebih jauh, dapat diterjemahkan ke dalam bahasa statistika, maka pengertian penelitian adalah usaha untuk mengungkapkan hubungan antar variabel. Dari analisis regresi linier dengan berbagai persamaannya, jelas dapat dipakai untuk maksud peramalan dan penaksiran yaitu menentukan nilai peubah tak bebas Y, apabila nilai-nilai peubah bebas X ditetapkan atau ditentukan. 139

2 Dari uraian di atas dapat ditarik suatu kesimpulan, terutama untuk regresi, bahwa di dalam mempelajari hubungan antar-peubah tidak dipermasalahkan kenapa hubungan tersebut ada (atau tidak ada). Juga tidak dipermasalahkan apakah hubungan yang ada diantara peubah tak bebas Y dan peubah penentu atau penjelas atau peubah takbebas X dikarenakan oleh peubah bebas X-nya itu sendiri atau merupakan faktorfaktor lain yang mempengaruhi atau yang erat hubungannya dengan X lainnya sehingga peubah bebas X tersebut berkaitan erat dengan peubah tak bebas Y. Apabila dikaitkan dengan ilmunya itu sendiri yaitu hubunagn antara faktor X dengan Y. Mungkin hubungan yang nyata antara X dan Y tersebut tidak dapat dijelaskan menurut ilmunya sendiri. Adanya hubungan tersebut justru disebabkan oleh faktorfaktor lain yang mempengaruhi peubah tak bebas X. ebagai contoh, suatu penelitian dilakukan untuk mempelajari tingkat penerimaan ibuibu rumah tangga terhadap alat-alat kontrasepsi dalam mempopulerkan program keluarga berencana di Taiwan (Li, 1977). Dari berbagai macam peubah yang dipelajari dan diduga berpengaruh terhadap tingkat penerimaan tersebut ternyata bahwa banyaknya alat-alat listrik (kipas, alat untuk memasak, kulkas, TV, dan lain sebagainya) berhubungan atau berkorelasi sangat erat dengan tingkat penerimaan tersebut. Masalahnya, apakah hal yang sedemikian itu dapat dijelaskan atau wajar berkorelasi, terutama menurut ilmunya itu sendiri?. etelah dipelajari lebih lanjut, ternyata banyaknya alat-alat listrik yang dimiliki per keluarga berhubungan erat dengan tingkat pendapatan, pendidikan, dan status keluarga. Apabila analisis regresi yang telah dibicarakan dalam bab-bab sebelumnya ternyata belum dapat memberikan penjelasan tentang apa dan kenapanya; maka analisis hubungan sebab dan akibat (causal relation) atau path analysis merupakan jawabannya. Path analysis adalah untuk melihat atau menguraikan apakah sesuatu hubungan yang ada disebabkan oleh pengaruh langsung peubah bebas itu sendiri ataukah tidak langsung melalui peubah-peubah bebas lainnya. Untuk memudahkan dalam menggambarkan pola hubungan tersebut umumnya digunakan suatu diagram, dan karena diagram tersebut menunjukkan lintasan atau jejak atau jalur atau arah pengaruh dari peubah atau faktor yang satu ke faktor atau peubah yang lainnya. Maka dengan demikian, analisis ini disebut dengan diagram lintas atau diagram jejak atau analisis litas atau analisis jejak atau diagram jalur (path analysis). Telaah statistika mengatakan bahwa untuk tujuan peramalan/ pendugaan nilai Y atas dasar nilai-nilai X 1,X, X k. pola hubungan yang sesuai adalah pola hubungan yang mengikuti Model Regresi, sedangkan untuk tujuan hubungan sebab akibat pola yang tepat adalah Model truktural. 6.3 Diagram Jalur (Path Diagram) Di dalam melakukan analisis lintas, tidak terlepas dari usaha untuk membangun diagram lintas (path diagram) agar lebih memperjelas uraian yang dikemukakan. Dengan mengkombinasikan diagram-diagram geometrik dan persamaan-persamaan aljabar, maka analisis statistika dalam mempelajari hubungan kausal-efek di antara variabel-variabel menjadi lebih berbobot dalam arti hasilnya menjadi lebih mudah untuk dipahami. 140

3 Terdapat berbagai kombinasi hubungan kausal di antara variabel-variabel dalam sistem, di mana hal ini tergantung kepada sifat dari sistem tersebut. ebagai misal untuk lima buah variabel, maka terdapat berbagai kemungkinan hubungan di antara variabel-variabel tersebut, tergantung kepada sifat hubungan kausal dalam sistem yang dipelajari seperti pada Gambar 6.1. Tentu saja, di dalam membangun model analisis lintas terlebih dahulu harus mempostulatkan hubungan kausal yang akan dipelajari, dan sifat hubungan kausal itu sendiri harus berlandaskan pada teori dan konsep yang ada. Ingin ditunjukkan di sini bahwa terdapat berbagai pertimbagan dan sangat tergantung pada fenomena yang dipelajari dalam mempostulatkan hubungan kausal di antara variabel-variabel yang dipelajari dan dengan demikian bagaimana pembangunan diagram lintas yang akan dipelajari seperti pada Gambar 6.1. Untuk menggambarkan diagram jalur dari lima buah variabel yang dipelajari, maka terdapat berbagai kemungkinan untuk menggambarkan hubungan kausal diantara kelima variabel tersebut deperti yang terlihat pada uraian berikut ini. Beberapa kemungkinan itu adalah: 1. (1,1,1,1,1) 6. (,1,) 11. (,3). (1,1,3) 6. (1,1,,1) 1. (1,4) 3. (1,,) 8. (3,1,1) 13. (,1,1,1) 4. (1,1,1,) 9. (,,1) 14. (3,) 6. (1,3,1) 10. (1,,1,1) 16. (4,1) Berbagai pola hubungan kausal yang mungkin; ditunjukkan dalam gambar berikut. Catatan: Arah hubungan dalam gambar (diagram lintas) ditunjukkan oleh arah anak panah. Gambar 6.1. Berbagai Pola Analisis Lintas 141

4 6.4 Model Analisis Jalur Pembangkit analisis lintas dari model regresi, yang pada dasarnya di mana total keragaman (varians total) dari variabel tak bebas Y dalam model regresi berganda dapat didekomposisikan atau diuraikan menjadi sebagai berikut: Total keragaman dari Y = A + B + C Di mana: A = proporsi keragaman yang diberikan atau dijelaskan secara langsung oleh koefisien lintas, B = proporsi keragaman yang diakibatkan karena adanya korelasi di antara variabel bebas X, dan C = proporsi keragaman yang diakibatkan adanya galat (error). Untuk menjelaskan lebih konkret tentang koefisien lintas, maka bayangkan bahwa kita merumuskan model regresi linier berganda yang terdiri atas p buah variabel bebas, sebagai berikut: [6.1] Y = β 0 + β 1 X 1 + β X + β 3 X β p X p + ε Di mana: Y = variabel tak bebas atau variabel respons X i = variabel bebas ke-i, untuk i = 1,,..,p β i = koefisien regresi parsial tak baku, i = 1,,..,p β 0 = intersep (konstanta) ε = galat atau error Dengan mengansumsikan bahwa E(ε) = 0 serta asumsi klasik lainnya dalam analisis regresi linier berganda, maka dibolehkan menduga persamaan regresi [6.1] berdasarkan persamaan regresi tersebut seperti: [6.] Ŷ = b 0 + b 1 X 1 + b X + b 3 X 3 + b p X p elanjutnya apabila didefinisikan Y sebagai simpangan baku contoh dari variabel tak bebas Y, dan X1, X,..., Xp sebagai simpangan baku contoh dari X i variabelvariabel bebas X 1, X,..., X p, maka dari persamaan [6.] dapat dihitung koefisien regresi baku yang sering disebut juga sebagai koefisien beta (β), sebagi berikut: Xi [6.3] βi = bi. Di mana: i = 1,,..., p Y Telah ditunjukkan secara teoritis dalam buku-buku teks bahwa koefisien lintas atau koefisien jejak (path coeffisient) pada dasarnya adalah serupa dengan koefisien beta (koefisien regresi dari variabel yang dibakukan). Dengan demikian, apabila mendefinisikan C i sebagai koefisien lintas atau koefisien beta dari variabel baku Z yaitu variabel bebas X dan variabel tak bebas Y yang dibakukan; sehingga berdistribusi normal dengan nilai rata-rata = nol dan nilai ragam = satu). Pada dasarnya koefisien lintas C i dapat dihitung berdasarkan rumus [6.3], jadi dalam hal ini berlaku bahwa β i = C i. Pada sisi lain, koefisien lintas dapat juga ditentukan berdasarkan penyeleaian terhadap gugus persamaan simultan dari variabel korelasi antar-variabel bebas. Gugus persamaan simultan yang dimaksud adalah seperti yang dinyatakan dengan pola matriks dari koefisien korelasi antar-peubah bebas X i dan dengan peybah tak bebas Y seperti pada matriks berikut. 14

5 Gugus persamaan simultan yang dimaksud adalah C 1 r 11 + C r C p r 1p = r 1Y C 1 r 1 + C r C p r p = r Y [6.4] C 1 r p1 + C r p C p r pp = r py Di mana: r ii = r Xi Xi = 1, serta r ij = r Xi Xj = r ji = r Xj Xi i,j = 1,,..., p istem persamaan simultan [6.4] dapat ditulis dalam bentuk matriks, sebagai berikut. r 11 r 1... r 1p C 1 r 1Y r 1 r... r p C r Y [6.5] r p1 r p... r pp C p r py Di mana: R X C R Y R X = matrik korelasi antar variabel bebas dalam model regresi berganda yang memiliki p buah variabel bebas, jadi merupakan matriks dengan elemen r XiXj (i,j = 1,,..., p), C = vektor koefisien lintas yang menunjukkan pengaruh langsung dari setiap variabel bebas yang telah dibakukan, Z i, terhadap variabel tak bebas (nilai koefisienn regresi baku), dan R Y = vektor koefisien korelasi antara variabel bebas X i di mana i = 1,,..., p; dan variabel tak bebas Y. Dari persamaan matriks [6.5] secara mudah dapat ditentukan vektor koefisien lintas C, sebagai berikut: [6.6] C = 1 R X R Y Di mana: 1 R X adalah invers matriks R X R Y adalah vektor koefisien korelasi antara variabel bebas X dengan variabel tak bebas Y. Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas diketahui bahwa terdapat dua untuk menghitung koefisien lintas C i yaitu berdasarkan rumus [6.3] atau berdasarkan rumus [6.6]. Jika persamaan regresi berganda [6.] telah diperoleh maka dapat dinghitung koefisien C berdasarkan rumus [6.3], di mana dalam hal ini koefisien lintas C i sama dengan koefisien regresi baku Beta (β i ). Alternatif lain adalah membangun gugus persamaan simultan [6.4] dan menyelesaikan sistem persamaan itu berdasarkan rumus [6.6]. 143

6 Apabila koefisien lintas C i telah diperoleh, maka beberapa informasi penting akan diperoleh berdasarkan metode analisis lintas antara lain seperti. 1). Pengaruh langsung variabel bebas yang dibakukan, terhadap variabel tak bebas Y, diukur oleh koefisien lintas C i. ). Pengaruh tidak langsung variabel bebas Z i terhadap variabel tak bebas Y, melalui variabel bebas Z j (melalui kehadiran variabel bebas Z j dalam model) diukur dengan besaran C j. r ij. 3). Pengaruh galat atau error atau sisaan atau residual yang tak dapat dijelaskan oleh model analisis lintas. Pengaruh-pengaruh yang tidak dapat dijelaskan oleh suatu model dimasukkan sebagai pengaruh galat atau sisaan yang diukur nilainya dengan rumus: C p = 1 C r. Di mana: i= 1 i ij C = C Besaran C dalam analisis lintas adalah serupa dengan besaran nilai 1 - R dalam analisis regresi linier berganda, di mana keduanya memiliki nilai yang sama besar yang merupakan galat atau error atau sisaan (residual). 6.6 Aplikasi Analisis Lintas Berikut ini dikemukakan penerapan analisis lintas dalam kasus percobaan pembuatan batu bata merah untu ukiran pola orang Bali. Bayangkan bahwa seorang akhli teknik bangunan ingin membangun model hubungan kausal-efek yang menerangkan empat variabel dalam pembuatan batu bata terhadap respons kekerasan yang didapatkan dalam proses pembuatannya. Respons kekerasan diukur dalam satuan banyaknya patahan atau cuil waktu melakukan perubahan bentuk. Variabel-variabel yang dikaji dalam percobaan semen itu adalah : Y = respons yang timbul dalam proses melakukan peubahan bentuk X 1 = banyaknya campuran abu yang digunakan, X = lamanya pemerosesan tanah waktu pelumpuran, X 3 = lamanya pemerosesan penjemuran, dan X 4 = lamanya waktu pembakaran. Di mana: X 1, X, X 3, dan X 4 diukur dalam persen dari dari estándar harian dalam proses; sedangkan Y diukur dalam kalori per gram semen. Peneliti merumuskan model hubungan kausal, sebagai berikut: [6.7] Y = β 0 + β 1 X 1 + β X + β 3 X β p X p + ε Untuk menduga model regresi berganda [6.7] di atas maka dikumpulkan data sebagaimana tampak dalam Tabel 6.1 berikut ini. Dalam melakukan pendugaan model [6.7] dipergunakan bantuan komputer dengan memanfaatkan program aplikasi Microstat atau dapat mengunakan oft-ware Komputer Compatible lainnya seperti P atau dapat mengunakan oft-ware Minitab14.01, atau dapat mengunakan oft-ware tatistica 7.0, dan atau dapat mengunakan oft-ware- oft-ware yang lain. 144

7 Tabel 6.1 Data Percobaan Batu bata No. X1 X X3 X4 Y , , , , , , , , , , , , ,4 Ratarata 7, , ,769 30, ,431 imp. baku 5,884 15,5609 6, ,738 15,0437 Ragam ( ) 34,606 4, ,053 08,1673 6,319 Adapun hasil analisis yang diperoleh dengan menggunakan oft-ware Microstat dikemukakan seperti hasil sebagai berikut ini. Regression Analysis Analisis Regresi Pembuatan batu bata merah bahan ukiran Jumlah pengerajin batu bata yang diteliti: 13 Banyaknya vriabel X dan Y: 5 Tabel 6. Analisis Regresi Model Penuh Y = f(x 1, X, X 3, X 4 ) No. Variabel tandar Rata-rata bebas Deviasi 1 X 1 7,4615 5,84 X 48, , X 3 11,769 6, X 4 30, ,738 Variabel terikat Y 95,431 15,0437 Tabel 6.3 Hasil Analisis Regresi Variabel Koefisien regresi tandar error b i t-stat. (DB = 10) Peluang. t R Parsial X 1 1,5511 0,7448,083 0,0708 0,3516 X 0,510 0,738 0,705 0, ,0585 X 3 0,1019 0,7547 0,135 0,8959 0,003 X 4-0,1441 0,7091-0,03 0, ,0051 Konstata 6,4054 td. error Y. =,4460 Koef. Deterninasi (R = ) = 0,984 R terkoreksi = 0,9736 Mutiple R = 0,

8 Tabel 6.4 Hasil Analisis Varians K JK DB KT F Hit pf Regresi 667, , ,479 0,000 Residu 47, ,9830 Total 716, Dari hasil analisis Tabel 6.3 dapat dibangun persamaan regresi linier berganda sebagai pendugaan bagi model [6.7] sebagai berikut. [6.8] Ŷ = 6, ,5511 X 1 + 0,510 X + 0,1019 X 3-0,1441 X 4 Dari hasil analisis terlihat bahwa meskipun besaran R sangat tinggi, dan juga uji terhadap persamaan regresi dalam analisis ragam bersifat sangat nyata (p 0,01) secara statistika, namun tidak ada satu pun koefisien regresi parsial yang bersifat nyata pada taraf nyata α = 0,05. Apakah dengan demikian, boleh disimpulkan bahwa variabel-variabel bebas tidak berpengaruh terhadap variabel respons Y?. Tentu saja tidak. Kasus penelitian ini menarik untuk ditunjukkan secara statistika bahwa telah terjadi multikolinieritas di antara variabel-variabel bebas X, sehingga mengakibatkan masalah yang serius dalam pendugaan parameter model regresi dan interprestasinya. Menghadapi kasus semacam ini, maka jelas model persamaan regresi [6.8] tersebut diatas tidak dapat diandalkan untuk menerangkan hubungan kausal-efek yang terjadi sesungguhnya, dalam sistem pembuatan batubata tersebut. Nilai R yang tinggi dan uji F atau uji simultan atau uji varians persamaan regresi berganda yang sangat nyata (p 0,01) secara statistika, namun uji koefisien regresi b i secara parsial menunjukkan tidak ada satupun koefisien regresi yang bersifat nyata (p>0,05) secara statistika, merupakan indikasi yang sangat kuat bahwa telah terjadi kasus multikoliniearitas dalam data pembuatan batu bata merah tersebut. Bagaimana mengatasinya masalah tersebut di atas, sehingga didapatkan kesimpulan yang dapat diandalkan baik secara riil maupun secara statistika?. Banyak cara untuk mengatasi kasus semacam ini, namun dalam kesempatan ini hanya dibahas peranan analisis jejak atau analiis lintas atau path analysis dalam mengungkapkan pengaruh yang sesungguhnya dalam model hubungan kausal tersebut di atas; sebagaimana disfesifikasikan dalam model persamaan [6.7]. Oleh karena persamaan regresi sebagai penduga bagi model hubungan kausal pada persamaan [6.7] telah diperoleh sebagaimana ditunjukkan dalam model persamaan [6.8], maka koefisien lintas C i dapat ditentukan berdasarkan rumus [6.3] sebagai berikut: C i = b i Xi Y ; di mana i = 1,, 3, dan 4. C 1 = b 1 C = b C 3 = b 3 C 4 = b 4 X 1 = (1,5511) (5,884/15,0437) = 0,6065 Y X = (0,510) (15,5609/15,0437) = 0,577 Y X 3 = (0,1019) (6,4051/15,0437) = 0,0434 Y X 4 = (0,1441) (16,738/15,0437) = - 0,1603 Y 146

9 Pada sisi lain, dapat pula ditentukan koefisien lintas terhadap model hubungan kausal persamaan [6.7] dengan jalan membangun gugus persamaan simultan dalam variabel korelasi antar variabel bebas. Untuk kasus empat buah variabel bebas yang mempengaruhi variabel respons persamaan [6.7], maka gugus persamaan simultan dapat dibangun sebagai berikut (lihat persamaan 6.4). Pada sisi lain dapat pula ditentukan koefisien lintas terhadap model hubungan kausal pada persamaan [6.7] dengan jalan membangun gugus persamaan simultan dalam variabel koefisien korelasi antar-variabel bebas X yang berada dalam model. Untuk kasus empat buah variabel yang mempengaruhi respon pada persamaan [6.7], maka gugus persamaan simultan dapat dibangun sebagai berikut. C 1 r 11 + C r 1 + C 3 r 13 + C 4 r 14 = r 1Y [6.9] C 1 r 1 + C r + C 3 r 3 + C 4 r 4 = r Y C 1 r 31 + C r 3 + C 3 r 33 + C 4 r 34 = r 3Y C 1 r 41 + C r 4 + C 3 r 43 + C 4 r 44 = r 4Y Dengan jalan mengerjakan analisis korelasi sederhana terhadap data dalam Tabel 6.1 di atas; dengan menggunakan persamaan umum untuk analisis koefisien korelasi linier sederhana seperti: [6.10] r XY = [{ n X ( X ) }{ n Y ( Y ) }] i n X iyi X i i Yi Dari perhitungan koefisien korelasi dapat diperoleh hasil seperti berikut yang dapat dibuat dengan susunan matriksnya. r ij = r X1X1 = 1,00 r 1 = r X1X = r 1 = r XX1 = 0,86 r 13 = r X1X3 = r 31 = r X3X1 = - 0,84 r 14 = r X1X4 = r 41 = r X4X1 = - 0,454 r = r XX = 1,00 r 3 = r XX3 = r 3 = r X3X = - 0,139 r 4 = r XX4 = r 4 = r X4X = - 0,930 r 33 = r X3X3 = 1,00 r 34 = r X3X4 = r 43 = r X4X3 = 0,095 r 44 = r X4X4 = 1,00 r 1Y = r X1Y = 0,7307 r Y = r XY = 0,8163 r 3Y = r X3Y = - 0,5347 r 4Y = r X4Y = 0,813 Dengan mensubstitusikan nilai-nilai koefisien korelasi yang diperoleh ke dalam sistem persamaan [6.9], maka diperoleh sistem persamaan simultan sebagai berikut 1,0000 C 1 + 0,86 C - 0,841 C 3-0,454 C 4 = 0,7307 0,86 C 1 + 1,0000 C - 0,139 C 3-0,9730 C 4 = 0,8163-0,841 C 1-0,139 C + 1,0000 C 3 + 0,095 C 4 = -0,5347-0,454 C 1-0,9730 C + 0,095 C 3 + 1,0000 C 4 = -0,813 i i 147

10 istem persamaan di atas dapat pula ditulis dalam bentuk matrik sebagai berikut: 1, ,86-0,841-0,454 C 1 = 0,7307 0,86 + 1,0000-0,139-0,9730 C = 0,8163 [6.11] - 0,841-0, , ,095 C 3 = -0,5347-0,454-0, , ,0000 C 4 = -0,813 R X C R Y Dengan sistem matriks kebalikan dari persamaan (6.11) dapat pula ditulis dalam bentuk matriks sebagai berikut: C 1 38, ,795 4, ,4907 0,7307 0,6051 C 94,795 56, ,863 69,6741 0,8163 = 0,548 = C 3 4, ,863 47, ,958-0,5347 0,0418 C 4 100, , ,958 84,7507-0,813-0,1634 Catatan: Terdapat sedikit perbedaan hasil koefisien lintas yang ditentukan berdasarkan persamaan [6.3] dan persamaan [6.6] hanya semata-mata karena adanya proses pembulatan dalam perhitungan. Untuk pembahasan lebih lanjut akan dipergunakan hasil yang diperoleh berdasarkan persamaan [6.3]. Berdasarkan koefisien lintasn yang diperoleh maka dapat ditentukan pengaruh langsung dan tidak langsung dari variabel-variabel bebas X terhadap variabel respons Y, sebagai berikut di bawah ini. 1. Penentuan Pengaruh Variabel Z 1 (X 1 dibakukan) terhadap Variabel Respons Y. 1). Pengaruh langsung Z 1 terhadap Y = C 1 = 0,6066. ). Pengaruh tidak langsung Z 1 melalui Z = C r 1 = 0,106. 3). Pengaruh tidak langsung Z 1 melalui Z 3 = C 3 r 1 = - 0, ). Pengaruh tidak langsung Z 1 melalui Z 4 = C 4 r 14 = 0,0394. Pengaruh total = r 1Y = r X1Y = r Z1Y = 0, Penentuan Pengaruh Variabel Z (X dibakukan) terhadap Variabel Respons Y. 1). Pengaruh langsung Z terhadap Y = C = 0,576. ). Pengaruh tidak langsung Z melalui Z 1 = C 1 r 1 = 0, ). Pengaruh tidak langsung Z melalui Z 3 = C 3 r 3 = - 0, ). Pengaruh tidak langsung Z melalui Z 4 = C 4 r 4 = 0,1560. Pengaruh total = r Y = r XY = r ZY = 0, Penentuan Pengaruh Variabel Z 3 (X 3 dibakukan) terhadap Variabel Respons Y. 1). Pengaruh langsung Z 3 terhadap Y = C 3 = 0,0434. ). Pengaruh tidak langsung Z 3 melalui Z 1 = C 1 r 31 = - 0, ). Pengaruh tidak langsung Z 3 melalui Z = C r 3 = - 0, ). Pengaruh tidak langsung Z 3 melalui Z 4 = C 4 r 34 = - 0,0048. Pengaruh total = r 3Y = r X3Y = r Z3Y = - 0,

11 4. Penentuan Pengaruh Variabel Z 4 (X 4 dibakukan) terhadap Variabel Respons Y. 1). Pengaruh langsung Z 4 terhadap Y = C 4 = - 0,1603. ). Pengaruh tidak langsung Z 4 melalui Z 1 = C 1 r 41 = - 0, ). Pengaruh tidak langsung Z 4 melalui Z = C r 4 = - 0, ). Pengaruh tidak langsung Z 4 melalui Z 3 = C 4 r 43 = - 0,0013. Pengaruh total = r 3Y = r X3Y = r Z3Y = - 0, Penentuan Pengaruh isa (Residual) terhadap Variabel Respons Y. C = 1 C r 4 i= 1 i iy = 1 - {(0,6065)(0,7306) + (0,577)(0,8163) + (0,0434)(- 0,5347) + (- 0,1603)(- 0,813) = 0,0176 C = 0,0176 = 0,137 Berdasarkan analisis lintas tampak bahwa dua variabel bebas yang memiliki pengaruh langsung terbesar yaitu variabel X 1 dan X. Pengaruh variabel langsung X 1 terhadap Y adalah sebesar 0,6065 dapat diinterpretasikan bahwa setiap kenaikan satu simpangan baku dalam nilai X 1 secara rata-rata akan meningkatkan nilai Y sebesar 0,6065 simpanan baku. Demikian pula interpretasi tentang pengaruh langsung dari variabel X, X 3, dan X 4 terhadap variabel respons Y. Besaran C = 0,0176 dapat diinterpretasikan babwa analisis lintas tidak menjelaskan keragaman total dari variabel Y sebesar 0,0176 atau 1,76%. Dengan demikian analisis lintas berhasil menjelaskan keragaman total dari Y sebesar 1 C = 1-0,0176 = 0,984 atau 98,4%, yang ternyata sama dengan besaran R dari persamaan regresi berganda [6.8]. Berdasarkan kenyataan ini, maka dapat dikemukakan bahwa sifat hubungan antara R dan sebagai berikut yaitu di bawah ini. C Koefisien determinasi = R = 1 - C Koefisien non determinasi = 1 R =, sehingga Pengaruh langsung, pengaruh tidak langsung, dan pengaruh total dari keempat variabel bebas yang dibakukan terhadap variabel respons Y dapat ditunjukkan secara lebih jelas dalam Tabel Tabel 6.5 beikut ini. C 149

12 Tabel 6.5 Pengaruh Langsung, Tidak Langsung, dan Pengaruh Total Variabel bebas dibakukan Pengaruh langsung Pengaruh tidak langsung melalui variabel Z 1 Z Z 3 Z 4 Pengaruh total Z 1 0,6065-0,106-0,0358 0,0394 0,7306 Z 0,577 0, ,0060 0,1560 0,8163 Z 3 0,0434 0,4998-0, ,0048-0,5347 Z 4-0,1603 0,1488-0,5135 0, ,813 Keterangan: 1. Koefisien lintas adalah serupa dengan koefisien beta atau koefisien regresi variable baku, sehingga pengaruh langsung yang ditunjukkan dalam analisis lintas dapat langsung dibandingkan untuk mengetahui peranan dari setiap variabel bebas X i dalam mempengaruhi variabel tak bebas (respons) Y.. Berdasarkan sifat di atas maka variabel bebas Y yang belum dibakukan akan dibakukan dalam analisis lintas sehingga koefisien lintas C i yang diperoleh dapat diperbandingkan. ecara geometrik dapat dibangun diagram lintas untuk hubungan kausal dari model regresi [6.7] seperti tampak dalam gambar di bawah ini. Y Z 1 C 1 = 10,6065 r 1 = 0,80 Z C = 0,577 r 13 = - 0,841 r 3 = - 0,139 r 14 = 0,80 C 3 = 0,0434 C s = 0,137 Z 3 r 4 = - 0,9730 (E) = isa C 4 = - 0,1603 r 34 = 0,095 Z 4 Diagram Lintas untuk Model Regresi dengan Empat Variabel Bebas Berdasarkan analisis lintas diketahui bahwa variabel bebas yang memiliki pengaruh langsung terbesar terhadap variabel respons Y adalah variabel Z 1 dan Z dengan masing-masing memiliki koefisien lintas terbesar C 1 = 10,6065 dan C = 0,577; sedangkan variabel bebas Z 3 dan Z 4 memiliki pengaruh langsung yang sangat kecil yaitu sebesar C 3 = 0,0434 dan C 4 = - 0,1603. elanjutnya, dari pernyataan tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa seandainya diperkenankan untuk memodifikasi model hubungan kausal efek di atas melalui seleksi variabel berdasarkan pertimbangan statistika dengan teori trimming yaitu membuah variabel yang tidak signifikan dan apabila hal ini diperkenankan juga oleh teori dan konsep dalam arti bahwa seleksi variabel tidak menyalahi teori dan konsep yang ada, maka dapat dirumuskan persamaan regresi "terbaik" dengan membuang atau mengeliminir atau mengeluarkan variabel X 3 dan X 4, dan berdasarkan alasan tersebut di atas mempunyai pengaruh yang sangat kecil terhadap variabel bebas Y. 150

13 Dengan demikian berlandaskan pada informasi dari analisis lintas di atas dapat dirumuskan model hubungan kausal efek berdasarkan fungsi yang baru yaitu: Y = f (X 1, X ), karena memang diketahui bahwa variabel bebas X 1 dan X yang memiliki pengaruh langsung terbesar terhadap variabel respons Y. Apabila dilanjutkan membangun model regresi "terbaik" yang hanya melibatkan dua buah variabel yang memiliki pengaruh langsung terbesar terhadap variabel respons Y. Model hubungan kausal itu adalah sebagai berikut. [6.1] Y = β 0 + β 1 X 1 + β X + ε Analisis selanjutnya, dengan menggunakan bantuan komputer terhadap model regresi [6.1] menghasilkan output berikut. Hasil Analisis Regresi Judul: Analisis Path Banyaknya sampel: 13 Jumlah variabels: 5 Tabel 6.6 Analisis Deskriptif Fungsi Y = f(x 1 ; X ) Indeks Nama Rata-rata td. deviasi 1 X 1 7,4615 5,84 X 48, ,5609 Var Terikat Y 95,431 15,0437 Tabel 6.7 Analisis Regresi Variabel Koefisien regresi tandar error t-stat. (DB = 10) Peluang t R parsial X 1 1,4683 0,113 1,105 0,0000 0,9361 X 0,663 0, ,44 0,0000 0,9543 Konstanta 5,8773 td. error Y. =,4063 Koef. Deterninasi (R = ) = 0,9787 R terkoreksi = 0,9744 Mutiple R = 0,9893. Dari hasil analisis komputer Tabel 6.7 di atas tampak bahwa model regresi [6.1] memberikan hasil yang sangat memuaskan, di mana model tersebut memiliki besaran R yang tinggi, uji persamaan regresi bersifat sangat nyata secara statistika, serta yang terpenting lagi adalah kedua variabel bebas X 1 dan X masing-masing telah bersifat sangat nyata secara statistika berdasarkan uji koefisien regresi secara parsial. Keadaan ini mengindikasikan bahwa benar telah terjadi multikolinieritas dalam model regresi dengan empat variabel bebas X 1, X, X 3, dan X 4 pada model regresi [6.7], karena dengan mengeluarkan variabel-variabel X 3 dan X 4 yang tadinya bersifat tidak nyata secara statistika ketika diuji secara parsial telah menjadi nyata secara statistika. Berdasarkan kenyataan ini, maka model hubungan kausal yang tepat untuk menerangkan kasus percobaan semen portland adalah persamaan regresi "terbaik" berikut: [6.13] 5, ,4683 X 1 + 0,663 X dengan R = 0,

14 elanjutnya, analisis lintas dapat dilakukan terhadap model regresi [6.11]. Oleh karena persamaan regresi untuk model hubungan kausal yang dirumuskan telah diperoleh, maka koefisien lintas dapat dihitung serupa dengan koefisien beta (β) atau koefisien regresi baku menggunakan persamaan [6.3]. Dengan menggunakan rumus [6.3] maka dapat dihitung koefisien lintas untuk model hubungan kausal [6.11], sebagai berikut. C i = b i Xi Y X 1 ; di mana i = 1,. C 1 = b 1 Y = (1,4683) (5,884/15,0437) = 0,5741 C = b X Y = (0,663) (15,5609/15,0437) = 0,6851 elanjutnya, dapat dibuat perhitungan tentang pengaruh langsung dan tidak langsung dari setiap variabel bebas yang dibakukan (Z i ) terhadap variabel respons Y, sebagai berikut di bawah ini. 1. Penentuan Pengaruh Variabel Z 1 (X 1 dibakukan) terhadap Variabel Respons Y. 1). Pengaruh langsung Z 1 terhadap Y = C 1 = 0,5741. ). Pengaruh tidak langsung Z 1 melalui Z = C r 1 = 0,1566. Pengaruh total = r 1Y = r X1Y = r Z1Y = 0, Penentuan Pengaruh Variabel Z (X dibakukan) terhadap Variabel Respons Y. 1). Pengaruh langsung Z terhadap Y = C = 0,6851. ). Pengaruh tidak langsung Z melalui Z 1 = C 1 r 1 = 0,131. Pengaruh total = r Y = r XY = r ZY = 0, Penentuan Pengaruh isa (Residual) terhadap Variabel Respons Y. C = 1 = i 1 C r i iy = 1 - {(0,5741)(0,7306) + (0,6851)(0,8163) = 0,01 C = 0,013 = 0,1459. Besaran koefisien lintas C i sebesar 0,5741 dapat diinterpretasikan apabila variabel bebas X meningkat nilainya sebesar satu simpanan baku, maka nilai dari variabel respons Y akan meningkat secara rata-rata sebesar 0,5741 simpanan baku. Demikian pula, koefisien lintas C nilainya sebesar 0,6851 dapat diintepretasikan apabila variabel X 1 dibuat konstan, maka setiap peningkatan nilai X sebesar satu simpangan baku akan meningkatkan nilai Y secara rata-rata sebasar 0,6851 simpangan baku. 15

15 Besaran C sebesar 0,013 dapat diinterpretasikan sebagai model analisis lintas tidak mampu menjelaskan pengaruh-pengaruh lain diluar pengaruh variabel bebas yang dibakukan Z 1 dan Z sebesar 0,013 atau sebesar,13%. Dengan kata lain, pengaruh sisa yang tidak dapat dijelaskan oleh model adalah sebesar 0,013 atau,13%. Hal ini berarti model analisis lintas mampu menjelaskan total keragaman dalam Y sebesar 1 - C = 1 0,013 = 0,9787 atau 97,87%. Bandingkan hasil ini dengan R = 0,9787 dalam persamaan regresi [6.1] yang ternyata adalah sama. Pengaruh langsung dan tidak langsung dari setiap variabel bebas dalam model ditunjukkan dalam Tabel 6.8 di bawah ini. Tabel 6.8 Hasil Analisis Lintas dari Model Dua Peubah Bebas Variabel bebas Pengaruh Pengaruh Pengaruh yang dibakukan langsung tidak langsung total Z 1 0,5741 0,1565 0,7306 Z 0,6851 0,1386 0,8163 Diagram lintas untuk model hubungan kausal untuk persamaan [6.11] ditunjukkan dalam gambar di bawah ini. Z 1 C 1 = 0,5741 Y r 14 = 0,86 C = 0,1459 C = - 0,6851 (E) = isa Z Diagram Lintas untuk Model Regresi dengan Dua Variabel Bebas Dari uraian tersebut di atas, tentang analisis lintas yang didapatkan tampak bahwa informasi yang diperoleh berdasarkan analisis lintas lebih komprehensif, di mana selain mampu menjelaskan pengaruh langsung dan tidak langsung dari suatu variabel bebas X i terhadap variabel respons Y, juga dapat dipergunakan sebagai landasan pemilihan model regresi "terbaik" dalam pengertian bahwa variabel-variabel bebas X yang tidak berperanan penting dalam model dapat dikeluarkan dari model. Dengan demikian akan diperoleh persamaan regresi "terbaik" yang hanya terdiri dari variabelvariabel bebas X penting yang dapat menjelaskan variabel bebas Y. Tampak dari uraian di atas, bahwa persamaan regresi yang dibangun berdasarkan informasi dari analisis lintas, di mana persamaan regresi yang diterangkan dari dua variabel hasil eliminasi, ternyata memiliki keandalan yang lebih tinggi dan secara teoritik jauh lebih baik daripada persamaan regresi yang terdiri dari empat variabel bebas asal. 153

16 Ingat bahwa dalam persamaan regresi dengan empat variabel bebas X, tidak ada satupun koefisien regresi yang nyata secara statistika, sedangkan dalam persamaan regresi yang terdiri dari dua variabel bebas X yang telah dieliminasi memiliki koefisien regresi yang nyata secara statistika. Dalam hal ini, dapat ditunjukkan bahwa seleksi variabel untuk menghasilkan persamaan regresi terbaik berdasarkan informasi dari analisis lintas ternyata memiliki tingkat ketepatan yang sama dengan analisis regresi bertatar (stepwise regression) dalam memirlih persamaan regresi terbaik. Berdasarkan analisis regrasi bertatar (stepwise regression) juga diperoleh bahwa persamaan regresi terbaik adalah persamaan regresi yang terdiri dari dua variabel X 1 dan X. Analisis regresi bertatar dengan menggunakan bantuan komputer memberikan hasil seperti yang ditunjukkan berikut ini. Hasil Analisis Regresi Judul: Analisis Path Banyaknya sampel: 13 Jumlah variabels: 5 Tabel 6.9 Pemilihan Persamaan Terbaik Berdasarkan Regresi Bertatar Indeks Variabel Rata-rata td. deviasi 1 X 1 7,4615 5,84 X 48, , X 3 11,769 6, X 4 30, ,738 Variabel terikat Y 95,431 15,0437 F to enter = 3; F to remove = 3; dan Tolerance = 0,001 tep 1. Variabel X 4 dalam persamaan Tabel 6.10 Hasil Analisis Regresi Koefisien tandar t-stat Variabel Peluang regresi error (DB = 10) X 4-0,738 0,1546,799 0,00058 Const. 117,5679 td. error Y. = 8,9639 Koef. Deterninasi (R = ) = 0,6745 R terkoreksi = 0,67 Mutiple R = 0,9893. Tabel 6.11 Analisis Ragam Regresi K JK DB KT F-Hit pf Regression 1831, ,896,799 5,76 E -04 Residual 883, ,3515 Total 715,

17 Tabel 6.1 Variabel yang Tidak Ada dalam Persamaan Name R parsial Tolerance F to enter Peluang F X 1 0,9154 0, ,4 1,105 E -06 X 0,0170 0,0534 0,17 0,6867 X 3 0,811 0, ,95 8,375 E -05 tep. Variabel X 1 dimasukan setelah X 4 Tabel 6.13 Hasil Analisis Regresi Koefisien tandar t-stat R Variabel Peluang regresi error (DB = 1) parsial X 1 1,4400 0, ,4 0,000 0,9154 X 4-0,6140 0, ,95 0,0000 0,9409 Const. 103,0974 td. error Y. =,7343 Koef. Deterninasi (R = ) = 0,975 R terkoreksi = 0,965 Mutiple R = 0,8986. Tabel 6.14 Analisis Keragaman Regresi K JK DB KT F-Hit pf Regression 641, , ,67 1,581 E-08 Residual 74, ,476 Total 715, Tabel 6.15 Variabel yang Tidak Ada dalam Persamaan Name R parsial Tolerance F to enter Prob X 0,3583 0,053 5,06 0,0517 X 3 0,300 0,891 4,36 0,0697 tep 3 Variabel X yang dimasukan setelah X 4 dan X 1 Tabel 6.16 Hasil Analisis Regresi Variabel Koefisien tandar t-stat R Peluang regresi error (DB = 1,9) parsial X 1 1,4519 0, ,008 0,0000 0,9448 X 0,4161 0,1856 5,06 0,5169 0,3583 X 4-0,365 0,1733 1,863 0,0540 0,1715 Const. 71,64834 td. error Y. =,3087 Koef. Deterninasi (R = ) = 0,983 R terkoreksi = 0,9764 Mutiple R = 0,

18 Tabel 6.17 Hasil Analisis Varians K JK DB KT F-Hit pf Regression 667, , ,83 3,33 E-08 Residual 47, ,3303 Total 715, Tabel 6.18 Variabel yang Tidak Ada dalam Persamaan Name Parsial r Tolerance F to enter Prob X 3 0,003 0,013 0,018 0,8959 tep 4 Variabel X dikeluarkan Tabel 6.19 Variabel Hasil Analisis Regresi Koefisien regresi tandar error F Hitung (DB = 1,9) Peluang R parsial X 1 1,4683 0, ,53 0,0000 0,9361 X 0,663 0, ,58 0,0000 0,9543 Const. 5,5773 td. error Y. =,4063 Koef. Deterninasi (R = ) = 0,9787 R terkoreksi = 0,9744 Mutiple R = 0,9893. Tabel 6.0 Hasil Analisis Varians ource un of squares D.F Mean of squares F ratio Prob Regression 657, ,993 9,504 4,407 E-09 Residual 57, ,7904 Total 715, Tabel 6.1 Variabel yang Tidak Ada dalam Persamaan Name Parsial r Tolerance F to enter Prob X 3 0,1691 0,3183 1,83 0,089 X 4 0,1715 0,058 1,863 0,

BAB. IX ANALISIS REGRESI FAKTOR (REGRESSION FACTOR ANALYSIS)

BAB. IX ANALISIS REGRESI FAKTOR (REGRESSION FACTOR ANALYSIS) BAB. IX ANALII REGREI FAKTOR (REGREION FACTOR ANALYI) 9. PENDAHULUAN Analisis regresi faktor pada dasarnya merupakan teknik analisis yang mengkombinasikan analisis faktor dengan analisis regresi linier

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Statistika merupakan cara cara tertentu yang digunakan dalam

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Statistika merupakan cara cara tertentu yang digunakan dalam BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dasar Statistika Statistika merupakan cara cara tertentu yang digunakan dalam mengumpulkan, menyusun atau mengatur, menyajikan, menganalisa, dan memberi informasi serta

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. berarti ramalan atau taksiran pertama kali diperkenalkan Sir Francis Galton pada

BAB 2 LANDASAN TEORI. berarti ramalan atau taksiran pertama kali diperkenalkan Sir Francis Galton pada BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Regresi Analisis regresi merupakan suatu model matematis yang dapat digunakan untuk mengetahui pola hubungan antara dua atau lebih variabel. Istilah regresi yang berarti

Lebih terperinci

JURNAL MATEMATIKA DAN KOMPUTER Vol. 4. No. 2, 71-81, Agustus 2001, ISSN :

JURNAL MATEMATIKA DAN KOMPUTER Vol. 4. No. 2, 71-81, Agustus 2001, ISSN : PENANGANAN MULTIKOLINEARITAS (KEKOLINEARAN GANDA) DENGAN ANALISIS REGRESI KOMPONEN UTAMA Tatik Widiharih Jurusan Matematika FMIPA UNDIP Abstrak Multikolinearitas yang tinggi diantara peubah-peubah bebas,

Lebih terperinci

BAB III METODE TRIMMING PADA ANALISIS JALUR

BAB III METODE TRIMMING PADA ANALISIS JALUR 36 BAB III METODE TRIMMING PADA ANALISIS JALUR 3.1 Analisis Jalur Analisis jalur yang dikenal sebagai path analysis dikembangkan pertama tahun 1920-an oleh seorang ahli genetika yaitu Sewall Wright (Riduwan

Lebih terperinci

Analisis Regresi 2. Pokok Bahasan : Memilih Persamaan Regresi Terbaik

Analisis Regresi 2. Pokok Bahasan : Memilih Persamaan Regresi Terbaik Analisis Regresi 2 Pokok Bahasan : Memilih Persamaan Regresi Terbaik TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS : Mahasiswa dapat memilih persamaan regresi terbaik dengan mencobakan berbagai prosedur. Analisis Regresi

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Bank adalah lembaga keuangan yang merupakan penggerak utama dalam pertumbuhan perekonomian masyarakat Indonesia. Sebagai lembaga Intermediasi, bank memiliki

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 21 Konsep Dasar Statistika Statistika merupakan cara-cara tertentu yang digunakan dalam mengumpulkan, menyusun atau mengatur, menyajikan, menganalisis dan memberi interpretasi terhadap

Lebih terperinci

Regresi linier berganda Pada regresi linier sederhana variabel bebas (X) dan variabel tak bebas (Y) Regresi linier berganda : atau lebih variabel beba

Regresi linier berganda Pada regresi linier sederhana variabel bebas (X) dan variabel tak bebas (Y) Regresi linier berganda : atau lebih variabel beba Kuswanto-0 Regresi linier berganda Pada regresi linier sederhana variabel bebas (X) dan variabel tak bebas (Y) Regresi linier berganda : atau lebih variabel bebas (X, X,,Xn) variabel tak bebas (Y) Apabila

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. penjelasan tentang pola hubungan (model) antara dua variabel atau lebih.. Dalam

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. penjelasan tentang pola hubungan (model) antara dua variabel atau lebih.. Dalam BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 21 Pengertian Regresi Linier Pengertian regresi secara umum adalah sebuah alat statistik yang memberikan penjelasan tentang pola hubungan (model) antara dua variabel atau lebih

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. satu peubah prediktor dengan satu peubah respon disebut analisis regresi linier

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. satu peubah prediktor dengan satu peubah respon disebut analisis regresi linier BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analisis Regresi Linier Berganda Analisis regresi pertama kali dikembangkan oleh Sir Francis Galton pada abad ke-19. Analisis regresi dengan satu peubah prediktor dan satu peubah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. level, model regresi tiga level, penduga koefisien korelasi intraclass, pendugaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. level, model regresi tiga level, penduga koefisien korelasi intraclass, pendugaan 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pada Bab II akan dibahas konsep-konsep yang menjadi dasar dalam penelitian ini yaitu analisis regresi, analisis regresi multilevel, model regresi dua level, model regresi tiga

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 10 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Analisa Regresi Regresi pertama kali dipergunakan sebagai konsep statistik pada tahun 1877 oleh Sir Francis Galton. Galton melakukan studi tentang kecenderungan tinggi badan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. 1. Analisis Korelasi adalah metode statstika yang digunakan untuk menentukan

BAB 2 LANDASAN TEORI. 1. Analisis Korelasi adalah metode statstika yang digunakan untuk menentukan BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Defenisi Analisis Regresi dan Korelasi 1. Analisis Korelasi adalah metode statstika yang digunakan untuk menentukan kuatnya atau derajat hubungan linier antara dua variabel atau

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder deret waktu

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder deret waktu III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder deret waktu (time-series data) bulanan dari periode 2004:01 2011:12 yang diperoleh dari PT.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Untuk menguji apakah alat ukur (instrument) yang digunakan memenuhi

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Untuk menguji apakah alat ukur (instrument) yang digunakan memenuhi BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil uji itas dan Reliabilitas Untuk menguji apakah alat ukur (instrument) yang digunakan memenuhi syarat-syarat alat ukur yang baik, sehingga mengahasilkan

Lebih terperinci

ANALISA METODE BACKWARD DAN METODE FORWARD UNTUK MENENTUKAN PERSAMAAN REGRESI LINIER BERGANDA

ANALISA METODE BACKWARD DAN METODE FORWARD UNTUK MENENTUKAN PERSAMAAN REGRESI LINIER BERGANDA Saintia Matematika ISSN: 2337-9197 Vol 2, No 4 (2014), pp 345 360 ANALISA METODE BACKWARD DAN METODE FORWARD UNTUK MENENTUKAN PERSAMAAN REGRESI LINIER BERGANDA (Studi Kasus: Jumlah Kecelakaan Lalu Lintas

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Statistik Menurut Sofyan (2013) pengertian statistik berasal dari bahasa Latin, yaitu status yang berarti negara dan digunakan untuk urusan negara. Pada mulanya, statistik

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 47 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Unit Analisis Data 1. Data Hasil Penelitian Pada bagian ini akan dibahas mengenai proses pengolahan data untuk menguji hipotesis yang telah dibuat

Lebih terperinci

Penggunaan Metode Trimming pada Analisis Jalur dalam Menentukan Model Kausal Dana Alokasi Umum Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan

Penggunaan Metode Trimming pada Analisis Jalur dalam Menentukan Model Kausal Dana Alokasi Umum Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan Jurnal Penelitian Sains Edisi Khusus Desember 2009 (A) 09:12-01 Penggunaan Metode Trimming pada Analisis Jalur dalam Menentukan Model Kausal Dana Alokasi Umum Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB LANDASAN TEORI.1. Pengertian Peramalan Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sedangkan ramalan adalah suatu situasi atau kondisi yang diperkirakan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Regresi pertama kali dipergunakan sebagai konsep statistik pada tahun 1877 oleh Sir francis

BAB 2 LANDASAN TEORI. Regresi pertama kali dipergunakan sebagai konsep statistik pada tahun 1877 oleh Sir francis BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Analisis Regresi Regresi pertama kali dipergunakan sebagai konsep statistik pada tahun 1877 oleh Sir francis Galton. Galton melakukan studi tentang kecenderungan tinggi badan anak.

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 22 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Penelitian Bank merupakan lembaga keuangan yang memiliki fungsi sebagai penghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Konsep dan Definisi Pendapatan Regional adalah tingkat (besarnya) pendapatan masyarakat pada wilayah analisis. Tingkat pendapatan dapat diukur dari total pendapatan wilayah maupun

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Analisis jalur yang dikenal dengan path analysis dikembangkan pertama pada tahun

BAB 2 LANDASAN TEORI. Analisis jalur yang dikenal dengan path analysis dikembangkan pertama pada tahun BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Sejarah Analisis jalur Analisis jalur yang dikenal dengan path analysis dikembangkan pertama pada tahun 1920-an oleh seorang ahli genetika yaitu Sewall Wright (Joreskog dan Sorbom,

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. sembako. Adapun pertanyaan yang termuat dalam kuesioner terdiri dari

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. sembako. Adapun pertanyaan yang termuat dalam kuesioner terdiri dari BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. ANALISIS DATA 1. Deskripsi Responden Penelitian Responden dari penelitian ini adalah pedagang pasar tradisional Balamoa Kecamatan Pangkah Kabupaten Tegal khususnya

Lebih terperinci

Bab 2 LANDASAN TEORI

Bab 2 LANDASAN TEORI 17 Bab 2 LANDASAN TEORI 2.1 Aljabar Matriks 2.1.1 Definisi Matriks Matriks adalah suatu kumpulan angka-angka yang juga sering disebut elemen-elemen yang disusun secara teratur menurut baris dan kolom sehingga

Lebih terperinci

STK511 Analisis Statistika. Pertemuan 10 Analisis Korelasi & Regresi (1)

STK511 Analisis Statistika. Pertemuan 10 Analisis Korelasi & Regresi (1) STK511 Analisis Statistika Pertemuan 10 Analisis Korelasi & Regresi (1) Analisis Hubungan Jenis/tipe hubungan Ukuran Keterkaitan Skala pengukuran peubah Pemodelan Keterkaitan anang kurnia (anangk@apps.ipb.ac.id)

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan dijelaskan mengenai proses dan hasil serta pembahasan dari pengolahan data yang telah dilakukan. Sebagai alat bantu analisis digunakan software SPSS versi

Lebih terperinci

APLIKASI REGRESI SEDERHANA DENGAN SPSS. HENDRY admin teorionline.net Phone : 021-834 14694 / email : klik.statistik@gmail.com

APLIKASI REGRESI SEDERHANA DENGAN SPSS. HENDRY admin teorionline.net Phone : 021-834 14694 / email : klik.statistik@gmail.com APLIKASI REGRESI SEDERHANA DENGAN SPSS HENDRY admin teorionline.net Phone : 02-834 4694 / email : klik.statistik@gmail.com Tentang Regresi Sederhana Analisis regresi merupakan salah satu teknik analisis

Lebih terperinci

Hipotesis adalah suatu pernyataan tentang parameter suatu populasi.

Hipotesis adalah suatu pernyataan tentang parameter suatu populasi. PERTEMUAN 9-10 PENGUJIAN HIPOTESIS Hipotesis adalah suatu pernyataan tentang parameter suatu populasi. Apa itu parameter? Parameter adalah ukuran-ukuran. Rata-rata penghasilan karyawan di kota binjai adalah

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini, analisis data yang dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu dengan menggunakan analisis regresi sederhana, dan perhitungannya menggunakan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. digunakan sebagai konsep statistik pada tahun 1877 oleh Sir Francis Galton. Dia

BAB 2 LANDASAN TEORI. digunakan sebagai konsep statistik pada tahun 1877 oleh Sir Francis Galton. Dia 10 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Regresi Dalam ilmu statistika teknik yang umum digunakan untuk menganalisa hubungan antara dua variabel atau lebih adalah analisa regresi linier. Regresi pertama

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Matriks adalah suatu susunan bilangan berbentuk segi empat. Bilangan-bilangan

TINJAUAN PUSTAKA. Matriks adalah suatu susunan bilangan berbentuk segi empat. Bilangan-bilangan 4 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dasar Matriks 2.1.1 Matriks Matriks adalah suatu susunan bilangan berbentuk segi empat. Bilangan-bilangan dalam susunan itu disebut anggota dalam matriks tersebut. Suatu

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS JALUR DAN PENERAPANNYA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH DI BIDANG LALU LINTAS

BAB III ANALISIS JALUR DAN PENERAPANNYA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH DI BIDANG LALU LINTAS BAB III ANALISIS JALUR DAN PENERAPANNYA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH DI BIDANG LALU LINTAS 3.1 MODEL ANALISIS JALUR Menurut Bohrnstedt (dalam Kusnendi,2005 dan Somantri & Mohidin,2006), Analisis Jalur (path

Lebih terperinci

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek penelitian merupakan sesuatu yang menjadi perhatian dalam suatu penelitian, objek penelitian ini menjadi sasaran dalam penelitian untuk mendapatkan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. belajar kimia SMA Negeri 1 Jogonalan Kabupaten Klaten.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. belajar kimia SMA Negeri 1 Jogonalan Kabupaten Klaten. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Diskripsi Data Diskripsi hasil penelitian ini didasarkan pada skor dari kuesioner yang digunakan untuk mengetahui pengaruh motivasi dan iklim

Lebih terperinci

Gambar 2.1 Klasifikasi Metode Dependensi dan Interdependensi Analisis Multivariat

Gambar 2.1 Klasifikasi Metode Dependensi dan Interdependensi Analisis Multivariat Bab Landasan Teori.1 Analisis Multivariat Analisis statistik multivariat merupakan metode dalam melakukan penelitian terhadap lebih dari dua variable secara bersamaan. Dengan menggunakan teknik analisis

Lebih terperinci

OLEH : WIJAYA. FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2009

OLEH : WIJAYA.   FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2009 PERANCANGAN PERCOBAAN OLEH : WIJAYA email : zeamays_hibrida@yahoo.com FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2009 I. ANALISIS REGRESI 1. 2. Regresi Linear : Regresi Linear Sederhana

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. yang digunakan dalam penelitian ini adalah DPR, Net Profit Margin

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. yang digunakan dalam penelitian ini adalah DPR, Net Profit Margin 45 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Statistik Deskriptif Pada bagian ini akan disajikan statistik deskriptif dari semua variabelvariabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah DPR,

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Statistik Deskriptif Statistik deskriptif menggambarkan tentang ringkasan data-data penelitian seperti nilai minimum, maksimum, mean, dan standar deviasi

Lebih terperinci

Analisis Regresi: Regresi Linear Berganda

Analisis Regresi: Regresi Linear Berganda Analisis Regresi: Regresi Linear Berganda Pengantar Pada sesi sebelumnya kita hanya menggunakan satu buah X, dengan model Y = b 0 + b 1 X 0 1 Dalam banyak hal, yang mempengaruhi X bisa lebih dari satu.

Lebih terperinci

Metode Statistika Pertemuan XII. Analisis Korelasi dan Regresi

Metode Statistika Pertemuan XII. Analisis Korelasi dan Regresi Metode Statistika Pertemuan XII Analisis Korelasi dan Regresi Analisis Hubungan Jenis/tipe hubungan Ukuran Keterkaitan Skala pengukuran variabel Pemodelan Keterkaitan Relationship vs Causal Relationship

Lebih terperinci

OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2010

OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2010 ANALISIS KORELASI OLEH : WIJAYA FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI CIREBON 2010 ANALISIS KORELASI II. ANALISIS KORELASI 1. Koefisien Korelasi Pearson Koefisien Korelasi Moment Product Korelasi

Lebih terperinci

Program Magister Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor 2014

Program Magister Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor 2014 TUGAS Metode Kuantitatif Manajemen Analisis Regresi pada Data Penjualan Tahunan Lezat Fried Chicken (LFC) Disusun sebagai Tugas Akhir Triwulan I Mata Kuliah Metode Kuantitatif Manajemen Disusun Oleh :

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN Data diperoleh dari BPS RI, BPS Provinsi Papua dan Bank Indonesia

BAB III METODE PENELITIAN Data diperoleh dari BPS RI, BPS Provinsi Papua dan Bank Indonesia BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan data time series triwulanan dengan periode data 2000 2010. Data diperoleh dari BPS RI, BPS Provinsi Papua dan Bank Indonesia

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Objek dari penelitian ini adalah kemiskinan di Jawa Barat tahun ,

BAB III METODE PENELITIAN. Objek dari penelitian ini adalah kemiskinan di Jawa Barat tahun , BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek dari penelitian ini adalah kemiskinan di Jawa Barat tahun 2003-2009, dengan variabel yang mempengaruhinya yaitu pertumbuhan ekonomi, Dana Alokasi Khusus

Lebih terperinci

oleh seperangkat variabel X, maka persamaan di atas dinamakan persamaan struktural, dan modelnya disebut model struktural.

oleh seperangkat variabel X, maka persamaan di atas dinamakan persamaan struktural, dan modelnya disebut model struktural. ANALISIS JALUR A. PENGERTIAN ANALISIS JALUR Telaah statistika menyatakan bahwa untuk tujuan eramalan/ endugaan nilai Y atas dasar nilai-nilai X 1, X,., X i, ola hubungan yang sesuai adalah ola hubungan

Lebih terperinci

Multiple Regression (Regresi. Majemuk)

Multiple Regression (Regresi. Majemuk) Multiple Regression (Regresi Majemuk) /liche/statistik S2 Profesi F.Psi.UI/2009 1 Regresi Majemuk Diperkenalkan oleh Pearson pada 1908 Digunakan untuk mengetahui besarnya proporsi dari suatu variabel yang

Lebih terperinci

REGRESI LINEAR SEDERHANA

REGRESI LINEAR SEDERHANA REGRESI LINEAR SEDERHANA DAN KORELASI 1. Model Regresi Linear 2. Penaksir Kuadrat Terkecil 3. Prediksi Nilai Respons 4. Inferensi Untuk Parameter-parameter Regresi 5. Kecocokan Model Regresi 6. Korelasi

Lebih terperinci

Analisis Korelasi dan Regresi. Dr. Kusman Sadik, M.Si Dept. Statistika IPB

Analisis Korelasi dan Regresi. Dr. Kusman Sadik, M.Si Dept. Statistika IPB Analisis Korelasi dan Regresi Dr. Kusman Sadik, M.Si Dept. Statistika IPB - 015 1 Hubungan Dua Peubah atau Lebih PEUBAH KASUS PENGUMPULAN DATA JENIS HUBUNGANNYA 1.Dosis pupuk.banyaknya padi yg dihasilkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Jenis Penelitian dan Gambaran dari Populasi (Objek) Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Jenis Penelitian dan Gambaran dari Populasi (Objek) Penelitian BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian dan Gambaran dari Populasi (Objek) Penelitian Penelitian ini bersifat korelasional (correlational research), yaitu tipe penelitian dengan karakteristik masalah

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. deposito berjangka terhadap suku bunga LIBOR, suku bunga SBI, dan inflasi

METODE PENELITIAN. deposito berjangka terhadap suku bunga LIBOR, suku bunga SBI, dan inflasi III. METODE PENELITIAN Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah tingkat suku bunga deposito berjangka terhadap suku bunga LIBOR, suku bunga SBI, dan inflasi pada bank umum di Indonesia.

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengumpulan Data Pada penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner kepada para responden yang merupakan karyawan pada PT. BKR yang berada

Lebih terperinci

Statistik merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang paling banyak

Statistik merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang paling banyak BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Analisis Regresi Statistik merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang paling banyak mendapatkan perhatian dan dipelajari oleh ilmuan dari hampir semua ilmu bidang

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Analisis Statistik Deskriptif Untuk memberikan gambaran dan informasi mengenai data variabel dalam penelitian ini maka digunakanlah tabel statistik deskriptif. Tabel

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Bank Umum Syariah yang terdaftar di Bank Indonesia (www.bi.go.id).

BAB III METODE PENELITIAN. Bank Umum Syariah yang terdaftar di Bank Indonesia (www.bi.go.id). BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada 1 Maret 2014 s.d selesai yang dilakukan pada Bank Umum Syariah yang terdaftar di Bank Indonesia

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS TENTANG PENGARUH MENGIKUTI PENGAJIAN. Dalam bab ini diuraikan tentang data-data Pengaruh Mengikuti

BAB V ANALISIS TENTANG PENGARUH MENGIKUTI PENGAJIAN. Dalam bab ini diuraikan tentang data-data Pengaruh Mengikuti 66 66 BAB V ANALISIS TENTANG PENGARUH MENGIKUTI PENGAJIAN THARĪQAT TERHADAP PENGALAMAN SPIRITUAL PADA LANSIA Dalam bab ini diuraikan tentang data-data Pengaruh Mengikuti Pengajian Tharīqat, dan juga data-data

Lebih terperinci

Hasil perhitungan Kolmogorov-Smirnov menunjukkan bahwa ketiga sampel atau variabel tersebut adalah distribusi normal.

Hasil perhitungan Kolmogorov-Smirnov menunjukkan bahwa ketiga sampel atau variabel tersebut adalah distribusi normal. NORMALITAS DATA One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test N Normal Parameters a,b Most Extreme Differences Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Uji Instrumen Data Validitas menunjukkan sejauh mana alat pengukur yang dipergunakan untuk mengukur apa yang diukur. Adapun caranya adalah dengan mengkorelasikan antara

Lebih terperinci

ANALISA DATA. Mayang Adelia Puspita

ANALISA DATA. Mayang Adelia Puspita ANALISA DATA Mayang Adelia Puspita www.caknun.com PENDEKATAN EKONOMETRIK DALAM ANALISIS DATA Konsep dasar Ekonometrik Ekonometrika merupakan suatu ilmu tersendiri yang merupakan penggabungan dari teori

Lebih terperinci

BAB X. CONTOH APLIKASI ANALISIS REGRESI

BAB X. CONTOH APLIKASI ANALISIS REGRESI 0. Pendahuluan BAB X. CONTOH APLIKASI ANALISIS REGRESI Data dari suatu kelompok peternak pemelihara sapi ingin mengetahui keberhasilan pemeliharaan ternak sapinya yang didasarkan pada berat bibit awal

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan hasilnya. merupakan data tahunan dan hanya pada sektor industri.

BAB III METODE PENELITIAN. penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan hasilnya. merupakan data tahunan dan hanya pada sektor industri. BAB III METODE PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Ditinjau dari jenis datanya pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Yang dimaksud dengan penelitian

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Matriks 2.1.1 Definisi Matriks Matriks adalah suatu kumpulan angka-angka yang juga sering disebut elemenelemen yang disusun secara teratur menurut baris dan kolom berbentuk

Lebih terperinci

MODUL REGRESI LINIER SEDERHANA

MODUL REGRESI LINIER SEDERHANA MODUL REGRESI LINIER SEDERHANA Tujuan Praktikum: Membantu mahasiswa memahami materi Pegambilan keputusan dari suatu kasus dengan menggunakan kaidah dan persamaan I. Pendahuluan Di dalam analisa ekonomi

Lebih terperinci

1. Diagram Jalur dan Persamaan Struktural

1. Diagram Jalur dan Persamaan Struktural ANALISIS JALUR (AT ANALYSIS) I. Analisis Jalur Analisis Jalur (ath Analysis) dikembangkan oleh Sewall Wright (93) dengan tujuan menerangkan akibat langsung dan tidak langsung seperangkat variabel, sebagai

Lebih terperinci

Magister Manajemen Univ. Muhammadiyah Yogyakarta

Magister Manajemen Univ. Muhammadiyah Yogyakarta Analisis Regresi Linier Wihandaru Sotya Pamungkas Uji Statistik 15 Uji Statistik A. Koefisien Determinasi (R 2 ) Koefisien determinasi (coefficient of determination atau R 2 ) digunakan untuk mengukur

Lebih terperinci

ANALISIS REGRESI ANALISIS REGRESI

ANALISIS REGRESI ANALISIS REGRESI ANALISIS REGRESI Wahyu Widhiarso Fakultas Psikologi UGM ANALISIS REGRESI PENGERTIAN Jenis uji statistika yang dipakai untuk melihat daya prediksi variabel independen (prediktor) terhadap variabel dependen

Lebih terperinci

BAB II. REGRESI LINIER SEDERHANA

BAB II. REGRESI LINIER SEDERHANA .1 Pendahuluan BAB II. REGRESI LINIER SEDERHANA Gejala-gejala alam dan akibat atau faktor yang ditimbulkannya dapat diukur atau dinyatakan dengan dua kategori yaitu fakta atau data yang bersifat kuantitatif

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Desa Tugu Utara dan Kelurahan Cisarua,

IV. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Desa Tugu Utara dan Kelurahan Cisarua, IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Desa Tugu Utara dan Kelurahan Cisarua, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan

Lebih terperinci

Aplikasi Analisis Jalur (Path Analisis) dengan menggunakan SPSS versi 12. Oleh. Abdul Razak Munir, SE, M.Si 1

Aplikasi Analisis Jalur (Path Analisis) dengan menggunakan SPSS versi 12. Oleh. Abdul Razak Munir, SE, M.Si 1 Aplikasi Analisis Jalur (Path Analisis) dengan menggunakan SPSS versi 2 Oleh Abdul Razak Munir, SE, M.Si Kasus. Seorang ahli psikologi merasa tertarik untuk mengungkapkan hubungan antara Authoritarianism,

Lebih terperinci

PENGENDALIAN VARIABEL PENGGANGGU / CONFOUNDING DENGAN ANALISIS KOVARIANS Oleh : Atik Mawarni

PENGENDALIAN VARIABEL PENGGANGGU / CONFOUNDING DENGAN ANALISIS KOVARIANS Oleh : Atik Mawarni PENGENDALIAN VARIABEL PENGGANGGU / CONFOUNDING DENGAN ANALISIS KOVARIANS Oleh : Atik Mawarni Pendahuluan Dalam seluruh langkah penelitian, seorang peneliti perlu menjaga sebaik-baiknya agar hubungan yang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dan pembangun ekonomi. Sesuai dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dan pembangun ekonomi. Sesuai dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Perusahaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) atau dikenal juga dengan sebutan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu pendorong terdepan dan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampoerna, Tbk dengan data laporan keuangan selama 5 tahun terhitung

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampoerna, Tbk dengan data laporan keuangan selama 5 tahun terhitung BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat Dan Waktu Penelitian 3.1.1 Tempat Penelitian Peneliti memilih tempat penelitian di PT. Hanjaya Mandala Sampoerna, Tbk dengan data laporan keuangan selama 5 tahun

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 19 BAB LANDASAN TEORI.1 Analisis Regresi Analisis regresi dalam statistika adalah salah satu metode untuk menentukan hubungan sebab-akibat antara satu variabel dengan variabel yang lain. Variabel penjelas,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 50 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Sampel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah kabupaten/ kota di Jawa Barat tahun 2011-2014. Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel

Lebih terperinci

ANALISIS REGRESI. Dimana : ý = subyek dalam variabel dependen yang diprediksikan a = harga Y bila X = 0 (harga konstan)

ANALISIS REGRESI. Dimana : ý = subyek dalam variabel dependen yang diprediksikan a = harga Y bila X = 0 (harga konstan) ANALISIS REGRESI Korelasi dan regresi keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Setiap regresi pasti ada korelasinya, tetapi korelasi belum tentu dilanjutkan dengan regresi. Korelasi yang tidak dilanjutkan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Data Hasil Penelitian Sebagaimana telah dikemukakan pada bab-bab sebelumnya bahwa penelitian ini terdiri dari dua perangkat data, yakni 1) Data Pola

Lebih terperinci

Korelasi Linier Berganda

Korelasi Linier Berganda Korelasi Linier Berganda Analisa Korelasi Untuk mengukur "seberapa kuat" atau "derajat kedekatan yang terjadi antar variabel. Ingin mengetahui derajat kekuatan tersebut yang dinyatakan dalam koefisien

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Regresi pertama kali digunakan sebagi konsep statistika pada tahun 1877 oleh sir Francis Galton.

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Regresi pertama kali digunakan sebagi konsep statistika pada tahun 1877 oleh sir Francis Galton. BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Pengertian Regresi Regresi pertama kali digunakan sebagi konsep statistika pada tahun 1877 oleh sir Francis Galton. Beliau memperkenalkan model peramalan, penaksiran, atau pendugaan,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Persamaan Regresi Menurut Sir Francis Galton (1822-1911) persamaan regresi adalah persamaan matematik yang memungkinkan kita meramalkan nilai-nilai atau variabel-variabel

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Analisis Regresi adalah analisis statistik yang mempelajari bagaimana memodelkan sebuah model fungsional dari data untuk dapat menjelaskan ataupun meramalkan suatu

Lebih terperinci

APLIKASI REGRESI GANDA DENGAN SPSS. HENDRY admin teorionline.net Phone : /

APLIKASI REGRESI GANDA DENGAN SPSS. HENDRY admin teorionline.net Phone : / APLIKASI REGRESI GANDA DENGAN SPSS HENDRY admin teorionline.net Phone : 0-834 4694 / email : klik.statistik@gmail.com Tentang Regresi Ganda Analisis regresi merupakan salah satu teknik analisis yang paling

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN. Tabel 4.1 Prosedur penarikan sampel

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN. Tabel 4.1 Prosedur penarikan sampel BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Variabel Penelitian No. Pada bab ini akan dibahas tahap-tahap dan pengolahan data yang kemudian akan dianalisis tentang pengaruh profitabilitas, ukuran perusahaan,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Objek dalam penelitian ini adalah menganalisis tentang faktor-faktor yang

BAB III METODE PENELITIAN. Objek dalam penelitian ini adalah menganalisis tentang faktor-faktor yang BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah menganalisis tentang faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan pariwisata WISMAN asal Singapura di Indonesia yang terjadi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. (X1), Kepemilikan Institusional (X2). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah : Nilai Perusahaan (Y).

BAB III METODE PENELITIAN. (X1), Kepemilikan Institusional (X2). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah : Nilai Perusahaan (Y). BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Variabel Penelitian a. Variabel Independen Variabel independen adalah variabel yang menjadi sebab atau berubahnya suatu variabel lain (variabel dependen). Variabel independen

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam bab ini dibahas tentang matriks, metode pengganda Lagrange, regresi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam bab ini dibahas tentang matriks, metode pengganda Lagrange, regresi BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini dibahas tentang matriks, metode pengganda Lagrange, regresi linear, metode kuadrat terkecil, restriksi linear, multikolinearitas, regresi ridge, uang primer, dan koefisien

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di pemukiman penduduk di dekat jalur KRL di

IV. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di pemukiman penduduk di dekat jalur KRL di IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di pemukiman penduduk di dekat jalur KRL di Kelurahan Kebon Baru, Jakarta Selatan. Pemilihan dilakukan secara sengaja (purposive)

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PENELITIAN

BAB 4 HASIL PENELITIAN 81 BAB 4 HASIL PENELITIAN 4.1 Penyajian Data Untuk memperoleh data dari responden yang ada, maka digunakan kuesioner yang telah dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas butir pertanyaan yang diajukan.

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegitan yang memperkirakan apa yang akan

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegitan yang memperkirakan apa yang akan BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Peramalan Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegitan yang memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang dengan waktu yang relatif lama. Kegunaan peramalan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Energi sangat berperan penting bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Energi sangat berperan penting bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Energi sangat berperan penting bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan sangat berperan dalam proses pembangunan. Oleh sebab itu peningkatan serta

Lebih terperinci

Analisis Korelasi & Regresi

Analisis Korelasi & Regresi Analisis Korelasi & Regresi Oleh: Ki Hariyadi,, S.Si., M.PH Nuryadi, S.Pd.Si UIN JOGJAKARTA 1 Pokok Bahasan Analisis Korelasi Uji Kemaknaan terhadap ρ (rho) Analisis Regresi Linier Analisis Kemaknaan terhadap

Lebih terperinci

Pengolahan Data dengan Regresi Linier Berganda (dengan SPSS )

Pengolahan Data dengan Regresi Linier Berganda (dengan SPSS ) Pengolahan Data dengan Regresi Linier Berganda (dengan SPSS ) Muhammad Iqbal, S.Si., M.Si. Regresi Linier Berganda yang akan disimulasikan pada bagian ini menggunakan pendekatan Ordinary Least Squares

Lebih terperinci

REGRESI LINEAR SEDERHANA

REGRESI LINEAR SEDERHANA REGRESI LINEAR SEDERHANA Latar Belakang Terdapat kejadian kejadian, kegiatankegiatan, atau masalah- masalah yang saling berhubungan satu sama lain Dibutuhkan analisis hubungan antara kejadian tersebut

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN. meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan, lama bekerja. Tabel 4.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

BAB IV HASIL PENELITIAN. meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan, lama bekerja. Tabel 4.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Karakteristik Responden Sebelum hasil penelitian disajikan, terlebih dahulu dengan sederhana dijelaskan karakteristik responden. Karakteristik responden meliputi jenis kelamin,

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. 3.1 Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan menggunakan data panel (pool data).

BAB 3 METODE PENELITIAN. 3.1 Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan menggunakan data panel (pool data). 31 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan menggunakan data panel (pool data). 3.2 Metode Analisis Data 3.2.1 Analisis Weighted

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Objek dan Metode Penelitian Yang Digunakan. suku bunga sebagai variabel independen dan simpanan deposito mudharabah

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Objek dan Metode Penelitian Yang Digunakan. suku bunga sebagai variabel independen dan simpanan deposito mudharabah BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek dan Metode Penelitian Yang Digunakan 3.1.1 Objek Penelitian Yang Digunakan Objek penelitian merupakan sasaran untuk mendapatkan suatu data. Suharismi Arikunto (2001:5)

Lebih terperinci

REGRESI DAN KORELASI BERGANDA

REGRESI DAN KORELASI BERGANDA REGRESI DAN KORELASI BERGANDA 1. Regresi Berganda Regresi berganda mempunyai lebih dari satu variabel bebas, maka digunakan regresi linier ganda dengan bentuk persamaan ( digunakan dua variabel bebas sebagai

Lebih terperinci

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kausal komparatif yang merupakan penelitian dengan karakteristik masalah berupa

Lebih terperinci