Konsolidasi Moralitas Hukum dan Kekuasaan di Panggung Negara Demokrasi Konstitusional; Apa, Mengapa dan Bagaimana Mewujudkannya

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Konsolidasi Moralitas Hukum dan Kekuasaan di Panggung Negara Demokrasi Konstitusional; Apa, Mengapa dan Bagaimana Mewujudkannya"

Transkripsi

1 Konsolidasi Moralitas Hukum dan Kekuasaan di Panggung Negara Demokrasi Konstitusional; Apa, Mengapa dan Bagaimana Mewujudkannya Margarito Kamis 1 Pendahuluan Sepuluh tahun yang lalu, atau dua tahun setelah pemerintahan Soeharto berakhir, tatanan hukum, di dalamnya termasuk moralitas hukum seolah berada dalam masa kegelapan. Kala itu, boleh dikatakan dunia hukum Indonesia mengalami kemunduran sekian puluh abad yang lalu. Betapa tidak. Pencuri jemuran dihakimi beramai-ramai sampai mati. Pencuri sandal juga dihakimi beramai-ramai sampai mati. Tak jarang korban dibakar hidup-hidup. Padahal tatanan normatif formal sedang eksis. Peristiwa demi peristiwa itu, tentu memukul bangsa ini. Padahal bangsa ini dikenal luas di Asia Tenggara, bahkan dunia, sebagai bangsa santun bangsa yang begitu mengeta- 1 Doktor Hukum Tata Negara. Staf Pengajar pada Fakultas Hukum Universitas Khairun Ternate. 32

2 hui adab bermasyarakat. Kala itu, bangsa ini berhasil dibanggakan, sekurang-kurangnya di lingkungan negara-negara Asean, sebagai bangsa yang memiliki tertib sosial, ekonomi, dan hukum yang begitu mengagumkan. Tetapi peristiwa demi peristiwa sosial, hukum, dan ekonomi di penghujung tahun 1997 hingga tahun 2000, sekali lagi, menunjukkan kenyataan kontras. Pondasi sosial, ekonomi, dan hukum yang dibangga-banggakan itu ternyata rapuh. Semangat gotong-royong dan integralistik dalam bernegara ternyata tidak sekokoh yang dibayangkan. Penegakan hukum tidak seadil sebagaimana seharusnya. Distribusi sumbersumber daya ekonomi, juga sama, tak cukup proporsional. Semuanya tatanan di Romawi dan Yunan kuno. Itu sebabnya dibutuhkan perbaikan segera. Diambil sejumlah kebijakan makro politik pembaruan hukum pada tahun 1998 itu juga. Pemerintahan B.J. Habibie mencabut undangundang subversif, mencabut regulasi tentang SIU yang membenarkan Departemen Penerangan mencabut izin penerbitan pers. Begitu juga dengan pembebasan terhadap sejumlah narapidana politik karena menantang pemerintah. Semuanya merupakan kebijakan pembaruan kala itu. MPR yang sepanjang sejarah Orde Baru menjadi lembaga tukang stempel kemauan pemerintah malah bergerak lebih jauh dan berani. Dalam sidang istimewa mereka sidang istimewa kedua mereka membatasi masa jabatan Presiden. Gagasan ini kemudian diadopsi ke dalam UUD 1945 oleh MPR hasil pemilu 1999 ketika mengubah UUD Ketika mengubah UUD 1945 pada tahun 1999, MPR menggeser kekuasaan pembentukan undang-undang dari Presiden ke DPR, melembagakan sejumlah hak DPR dengan tujuan untuk menguatkan kedudukannya sebagai pengawas kebijakan makro pemerintah. Mereka juga melembagakan prinsip independensi pada lembaga pengawas keuangan negara. Dilembagakan sejumlah lembaga baru. DPD, Komisi Pemilihan Umum, KY, dan Mahkamah Konstitusi. Mahkamah ini dimimpikan untuk memastikan terjaminnya hak warga negara dari kalangan minoritas secara kultural, politik, atau ekonomi. 33

3 Mengagumkan, mereka melembagakan hak asasi manusia, bahkan untuk memastikan keadilan spasial, mereka melembagakan juga ide mengormati hak-hak masyarakat adat. Di atas semuanya, perubahan UUD 1945 menghasilkan postur hubungan antarkekuasaan negara yang begitu tumpang-tindih. Postur hubungan seperti ini memang merupakan cara yang dikenalkan pada akhir abad ke 18 dalam mengekang absolutisme. Secara terbalik, pola hubungan ini merupakan cara para pembaharu menyingkirkan kesewenang-wenangan. Moralitas Hukum dan Kekuasaan Klasik Moralitas hukum dan kekuasaan sepanjang pemerintahan Orde Baru, sejujurnya begitu rapuh. Personalisasi negara pada Presiden merupakan kekeliruan terbesar pada saat itu, betapapun harus diakui bahwa negara demokratis konstitusional sekalipun membutuhkan kepemimpinan politik dan hukum yang kuat. Kemauannya yang keras untuk menyejahterakan rakyat yang dipimpinnya, yang sesungguhnya bagus pada dirinya, tidak terartikulasi secara tepat berdasarkan ukuran-ukuran rasionalitas kemanusiaan sejati. Moralitas kekuasaan seperti itu mengakibatkan hukum tidak tajam ke atas atau kesamping. Hukum hanya tajam ke bawah, ke rakyat tak berdaya, ke lawan-lawan politik Presiden. Moralitas kekuasaan seperti itu segaris dengan moralitas hukum Romawi dan Yunani kuno. Hukum berkarakter Romawi dan Yunani kuno merupakan hasil dari moralitas penguasanya. Tatanan sosial, hukum, dan ekonomi kala itu, sering disebut tatanan feodal, disebabkan ia dibangun dan dialiri serta dinafasi oleh kemauan raja-raja korup. Bagaimana mungkin manusia dikonstruksi sebagai properti barang yang dimiliki dan diperjualbelikan oleh manusia lain? Moralitas seperti ini juga dapat ditemui di Inggris sebelum Revolusi Gemilangnya pada tahun 1688 atau Perancis di bawah kepemimpinan Louise ke-xvi atau sebelum Revolusi Pembebasannya pada tahun Di Inggris, misalnya dikenal dengan tree estate, yang menurut tatanan 34

4 sosial, hukum, dan ekonomi kala itu 1688 adalah para tuan tanah, para pengurus agama, dan pengurus pemerintahan wilayah. Hanya mereka inilah yang dimungkinkan ikut berpartisipasi dalam penyelenggaraan kerajaan. Bentuknya adalah mereka dimasukkan ke dalam House of Common dan House of Lord. Orang kebanyakan tidak dapat memiliki tanah dan tidak dapat berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan kerajaan. Raja, sebagaimana dibentangkan dalam sejarah hukum tata negara dan administrasi negara, memerintah dengan mengandalkan decree keputusan raja setara dengan Keputusan Presiden setelah berkembangnya demokrasi konstitusional. Raja mengatur apa saja yang dikehendakinya. Raja tidak pernah salah, apalagi harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Du tate et s moi negara adalah saya demikian kata Louise ke-xiv di Perancis yang terkenal itu, atau ana alhaq, kata Fir aun di Mesir, adalah cerminan moralitas hukum dan kekuasaan kala itu. Raja adalah hukum merupakan makna lain dari raja adalah negara atau negara adalah raja itu sendiri. Dalam arti itu, raja tidak tunduk dan tidak terikat pada hukum. Hukum yang dibuat tidak untuk dirinya melainkan hanya untuk rakyatnya. Hukum menjadi alat pukul terampuh yang dikenakan kepada siapa saja yang bertindak di luar hukum. Senatum di Romawi atau House of Common di Inggris bukan perkakas rakyat. Pada zamannya, badan ini merupakan perkakas raja. Di tempat inilah para estate berkumpul atau dikumpulkan oleh raja untuk membicarakan kebutuhan keuangan kerajaan terutama kebutuhan membiayai perang. Padahal perang, oleh beberapa penulis kritis, dinilai sebagai siasat raja, bukan untuk memperluas wilayah kerajaannya, melainkan untuk mendapat uang, melipatgandakan kekayaannya. Moralitas hukum dan kekuasaan klasik menempatkan manusia merdeka terpisah dari orang kebanyakan yang berstatus budak. Orang merdeka, sebagaimana pernah dijelaskan oleh Soetandyo Wignjosoebroto, sosiolog kenamaan ini, yang menjadikan hukum, khususnya sejarahnya sebagai 35

5 obyek kajian, adalah mereka yang bertempat tinggal terpisah dari rakyat kebanyakan. Mereka bertempat tinggal di dalam tembok, yang memiliki batas jelas. Inilah yang disebut kota state. Dalam moralitas ini, orang merdeka dan budak merupakan dua entitas moralitas yang berbeda. Postur moralitas hukum dan sosial seperti di atas mirip dengan apa yang eksis atau dialami oleh orang pribumi di masa Hindia Belanda dahulu. Apa yang disebut Kota di Batavia yang sekarang dikenal dengan Kota, yang dibangun segera setelah VOC menginjakkan kakinya di Batavia, tidak lain adalah gambaran tentang orang merdeka pada zaman itu. Moralitas hukum dan kekuasaan yang berpostur seperti itu menandakan keadilan pada zaman itu adalah keadilan yang bersumber dari mereka yang berkuasa dan berpunya secara ekonomis. Keadilan bukan sesuatu yang universal sesuai dengan mimpi semua orang. Adil dan tidak adil, adalah apa yang dipersepsikan oleh, sekali mereka yang berkuasa dan berpunya. Mempromosikan Kemanusiaan Tatanan moralitas seperti di atas itulah yang ditolak. Di Inggris, restorasi digemakan bersamaan dan segera setelah revolusi gemilangnya. Tetapi, entah bagaimana logikanya, atau mungkin begitulah logika restorasi, sampai dengan awal ke-18, tidak semua orang dapat berpartisipasi dalam penyelenggaraan negara. Dalam arti belum semua orang diberi atau diakui hak individunya, termasuk hak yang pada saat ini disebut hak politik. Padahal hingga abad itu, pengakuan terhadap individu mulai membuahkan hasil. Revolusi industri sesungguhnya berasal-usul atau merupakan sumbangan terbesar atas pengakuan hak-hak individu di bidang ekonomi, khususnya hak individu untuk memiliki barang hak milik. Sayangnya, sampai dengan abad tersebut tatanan hukum dan politik belum mengakui eksistensi setiap individu untuk ikut serta dalam penyelenggaraan negara. Hanya mereka yang berpeng- 36

6 hasilan tertentu yang dapat ikut serta dalam pemilihan umum. Itu sebabnya hanya mereka yang tinggal di perkotaan, dan laki-laki yang bekerja, dan berpenghasilan tertentulah yang dapat ikut serta dalam pemilu. Di luar itu tidak. Di Amerika Serikat, malah hal itu masih dapat dijumpai hingga memasuki pertengahan abad ke-20. Orang kulit hitam, perempuan, dan mereka yang tidak memiliki pendapatan dalam batas tertentu, belum diakui hak pilihnya hingga tahun itu. Hal-ihwal pendapatan tertentu sebagai dasar dalam memilih ini kemudian tertafsir menjadi pajak sebagai unsure penentukan hak seseorang untuk ikut serta dalam pemilihan umum. Pajak berdimensi perwakilan. Sesungguhnya usaha untuk mempromosikan kemanusiaan mengakui eksistensi setiap individu sebagai manusia merdeka manusia yang memiliki hak yang terberkati secara kodrati karena ia adalah manusia ciptaan Tuhan, telah diusahakan secara sistimatis sejak tahun 970, begitu kata Harold J. Berman, dalam bukunya yang terkenal Law and Revolution. Perjuangan ini berlangsung selama berabad-abad dan ramai di sebagian daratan Eropa. Tidak banyak yang dicapai, tetapi yang sedikit itu ternyata berhasil mengubah tatanan sosial dan politik mereka. Clarendom Constitution di awal abad ke 12 di Inggris, kemudian Magna Charta 1215, juga di Inggris dan Hunggarian Golden Bull pada pertengahan abad 14, tepatnya 1364, adalah buah dari perjuangan panjang untuk mengubah tatanan feodal. Betul, sampai saat itu, perjuangan tersebut belum berhasil melahirkan satu polity. Civics, civilis, state atau estate, masih begitu terbatas. Tetapi, seperti Clarendom Constitution, perjuangan ini telah berhasil meletakkan tatanan otoritas ecclesia dengan tatanan sekuler. Kedua otoritas diberi garis batas wilayah yang jelas. Dalam salah satu pasal Magna Charta 1215, yang dikenal luas sebagai satu pilar penting dalam perjuangan hak asasi manusia, telah dicantumkan dua mimpi besar. Pertama, mimpi tentang pengakuan terhadap hak milik para petani dan pertenak terhadap hasil pertanian dan ternaknya. 37

7 Pengakuan itu berintikan bahwa hasil pertanian para petani tidak akan diambil tanpa memberi bayaran tertentu kepada pemiliknya atau tanpa izin pemiliknya. Begitu juga dengan peternakan. Magna Charta memberi garis jelas. Barangbarang itu tidak bisa diambil begitu saja tanpa izin dari pemiliknya atau tanpa bayaran kepadanya. Sejarah ini memang panjang dan ruang yang tersedia tidak memungkinkan untuk mengungkapkan semuanya. Yang ingin dijelaskan di ruang yang terbatas ini adalah saripati perjuangan itu. Kalau digunakan logika dialektis, maka kehadiran moralitas hukum modern sekaligus yang berlanggam demokratis konstitusional adalah antithesis dari moralitas hukum kuno hukum yang menurut ukuran kemanusiaan tidak manusiawi. Hukum modern begitu juga kekuasaan modern pada dirinya adalah hukum dan kekuasaan yang dibangun di atas mimpi-mimpi indah tentang hakikat kemanusiaan. Hukum dan kekuasaan modern dibuat berdasarkan ambisi untuk memanusiakan manusia mengakui manusia sebagai ciptaan Tuhan tertinggi dan termulia dan tidak bermaksud sedikitpun untuk mendegradasinya. Hukum dan kekuasaan modern memang menjadi sangat teknikal. Tetapi sekompleks apapun hukum dan kekuasaan modern, semuanya tak dapat mengingkari hakikatnya sendiri sebagai hukum dan kekuasaan yang dimimpikan untuk mempromosikan kemanusiaan. Sebagai sarana kebudayaan yang dipilih oleh manusia untuk berkehidupan secara beradab dan bermartabat, hukum dan kekuasaan modern tetap merupakan sarana budaya yang paling diandalkan untuk sekali lagi menjamin terus terpromosinya kemanusiaan. Dalam arti itu, hukum dan kekuasaan modern tidak lain adalah hukum dan kekuasaan yang membebaskan. Membebaskan bukan berarti membiarkan manusia bertindak sesuai isi perutnya, sesuai maunya. Tetapi, hukum dan kekuasaan modern meletakkan kemauan seseorang dalam bingkai kemauan yang ternalar, kemauan yang teruji menurut prinsip-prinsip kemaslahatan umum. Bebas, dalam arti apa- 38

8 pun, tidak pernah bermakna bertindak tanpa kaidah. Dalam arti apapun, kaidah memang bersisi dua membatasi dan membebaskan. Hukum memperoleh sifatnya sebagai hukum karena cara membuat, isi, dan tingkatan wadahnya, juga karena sifat-sifat itu dapat diperiksa secara terbuka oleh siapapun, dalam keadaan apapun. Isi hukum, begitu dalam alam demos kratein adalah ungkapan-ungkapan agung demos, yang diformulasi oleh para wakilnya di Senatum atau House of Common House of Representative atau DPR. Menariknya, demokrasi juga memiliki langgamnya. Inggris, karena pengalamannya, menolak untuk memberi hak kepada pengadilan untuk menguji, apa yang di negeri kita menyebut-nya dengan konstitusionalitas undang-undang. Inggris menolak itu, sekali lagi, karena masa lalu mereka. Tabiat raja-raja yang telah menyengsarakan para demos berabad-abad lamanya membuat mereka berketetapan untuk tidak memberikan hak, sekalipun cuma sedikit, kepada pengadilan untuk menguji konstitusionalitas undang-undang. Demos adalah segala-galanya, begitulah tesis agung sang Groundrechten, John Locke, sekaligus bapak constitutional government. Para hakim, selain karena jumlahnya yang sedikit, juga karena berabad-abad lamanya, pengadilan menjadi raja, dicurigai akan berbuat menurut tabiat lamanya, kalau diberi hak menguji undang-undang. Memberi mereka hak menguji undang-undang, sama dengan memungkinkan mereka mereduksi undang-undang, atau menggunakan kepentingan lain untuk menggagalkan undang-undang itu. Sementara undangundang terlanjur keterlanjuran yang beralasan disifatkan sebagai suara dan kemauan suci rakyat the voice and the sacre will of demos. Memberikan hakim hak untuk menguji undang-undang sama dengan mereduksi keagungan rakyat. Dalam langgam teknikal, sebagaimana diperikan oleh A.V. Dicey, seorang konstitusionalis yang begitu membanggakan negara hukum Inggris, dan sedikit merendahkan negara hukum Perancis, memiliki pikiran menarik mengenai soal di atas. Katanya dalam buku An Introduction of The Rule of Law 39

9 yang tersohor itu, tak diberikannya hak menguji kepada para hakim di Inggris disebabkan satu hal. Para hakim itu tak dipilih rakyat. Sementara anggota House of Common dipilih dan mewakili rakyat. Tidak mungkin rakyat terbanyak salah dalam mengartikulasi mimpi-mimpinya, dibandingkan hakim yang jumlahnya cuma sedikit itu. Itulah intisari mengapa pengadilan di Inggris tak diberi hak menguji undang-undang. Demi kemuliaan kemanusiaan itu pulalah tetapi di sini memperlihatkan sesuatu yang berbeda Perancis tidak memberikan hak kepada pengadilan untuk mengadili para pejabat pemerintah di pengadilan umum. Berbeda dengan Inggris, kata Napoleon, sang arsitek Kode Penal, dan Kode Decomerce Perancis, kalau pengadilan diberi mengadili para pejabat di pengadilan umum, maka pengadilan telah ikut campur dan merusak pemerintah. L sprit d corps akan rusak karenanya. Itu sebabnya, Perancis melembagakan peradilan, yang salam istilah kita Pengadilan Tata Usaha Negara, untuk mengadili kelakuan para pejabat. Inilah sebabnya mengapa Dicey menyepelekan postur negara hukum Perancis. Kata Dicey, Perancis tidak memiliki semangat memperlakukan semua manusia dalam derajat yang sama. Singkatnya, tidak ada kesamaan derajat di Perancis, begitu katanya. Betapa tidak. Di Inggris, satu pengadilan untuk semua orang, pejabat atau rakyat biasa. Semuanya disidangkan di pengadilan yang sama, bukan seperti Perancis, yang menyidangkan para pejabat di pengadilan yang lain. Begitulah kisi-kisi peradaban politik dan hukum pada dua belahan dunia ini. Tetapi faktanya kedua negara tersebut tumbuh menjadi dua negara hukum terkemuka yang mempraktikkan demokrasi konstitusional. Kemanusiaan, yang di dalamnya harga diri dan martabat seseorang memperoleh tempat untuk bersinar terang nan indah, di belahan politik manapun, selalu menjadi pondasi bernegara. Itulah yang ditampilkan di Jerman, betapapun Hegel mengartikulasinya secara berbeda dengan Emmanuel Kant, seorang pesohor di bidang filsafat tentang hak-hak individu sebagai dasar bernegara, sekaligus dasar penentu batas masuk negara dalam urusan individu. Hegel 40

10 tidak memberi tempat kepada eksistensi individu karena baginya eksistensi individu terserap ke dalam kolektivitas, tetapi Emmanuel Kant yang jauh lebih senior, justru sebaliknya. Kant, seperti diketahui dari berbagai kajian, adalah seseorang filosof Jerman yang begitu mengagungkan eksistensi individu. Sedemikian agungnya individu bagi Kant sehingga ia berpendapat negara cukup berperan dalam menjaga ketertiban masyarakat. Peran itu dimaksudkan untuk memungkinkan mereka para individu beraktivitas. Negara jaga malam, begitu ahli-ahli kita mensifatkan tesis dasar Kant itu. Kant menempatkan individual will pada jantung teorinya, sementara Hegel menempatkan collective will pada jantung teorinya. Tetapi perbedaan keduanya hanya berarti sampai pada titik itu. Sebab, keduanya sama dalam satu hal; ingin memanusiakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka, seperti para penganjur negara hukum demokrasi dan negara kesejahteraan, menempatkan kemanusiaan sebagai inti bernegara. Kemanusiaanlah hakikat gagasan demokrasi konstitusional. Kekuasaan yang Bertanggung Jawab Untuk mencapai itu semua, maka kekuasaan diorganisasikan kembali. Apa yang dikenal pada saat ini dengan kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif, tidak lain merupakan antithesis atau perwujudan dari pengorganisasian kekuasaan yang dipraktikkan oleh raja-raja absolut. Pengorganisasian itu memiliki dua wujud berbeda, tetapi berhakikat sama. Kedua wujud tersebut adalah membagi dan memisahkan. Pola pertama, saya lebih suka menyebut pola John Locke, sedang pola kedua saya lebih suka menyebut pola Montesqieu. Pola pertama lebih dahulu dipraktikkan, segera setelah Glorius Revolution, dan pola kedua dipraktikkan di Amerika Serikat setelah mereka berhasil membentuk konstitusi Federalisnya pada tahun Sekali lagi, seperti disebutkan 41

11 di atas, kedua pola ini sesungguhnya berhakikat sama, mempromosikan kemanusiaan atau secara terbalik memba-tasi kekuasaan. Logikanya sederhana kekuasaan yang telah dibatasi akan akrab dengan soal-soal kemanusiaan. Pada dirinya, kedua cara ini memang dimaksudkan untuk mengisolasi abolutisme. Tujuannya adalah agar kemanusiaan dapat dipromosikan. Harus diakui secara jujur, rasa curiga yang menyelimuti semangat kaum Whig yang mengarsiteksi pengorganisasian kekuasaan di Inggris sesudah revolusi pada tahun Kecurigaan terhadap penguasa itu pulalah yang menjadi napas perencana konstitusi Amerika Serikat ketika membentuk konstitusi mereka pada tahun Semangat itu yang melahirkan postur kekuasaan seperti saat ini. Kecurigaan terhadap absolutisme itulah yang membedakan bapakbapak pendiri bangsa kita dengan pembentuk konstitusi Amerika Serikat. Desain organ dan mekanisme hubungan antarorgan dilakukan dengan penuh curiga. Intinya, mereka selalu curiga kepada penguasa. Penguasa, begitu yang mereka yakini selalu cenderung korup dan menjadi tiran. Sementara para perencana atau pembentuk negara kita tidak menaruh curiga kepada kekuasaan. Memang ada sedikit nuansa itu, terutama oleh Bung Hatta, tetapi kecurigaan bukan sesuatu yang menjadi atmosfir utama kala itu. Tetapi semangat ini tanpa sadar dianut oleh anggota MPR ketika mengubah UUD Sekali lagi berbeda dengan pengorganisasi kekuasaan di Inggris dan Amerika Serikat. Para penyusun kekuasaan pada kedua negara bersemangat bahwa kekuasaan harus dikontrol, harus diberi batas yang jelas dan tegas, harus dibuat mekanisme yang jelas dan tegas. Kemauan para penguasa yang menyala-nyala harus dibuat agar tunduk atau ditundukkan ke dalam mimpi-mimpi indah kemanusiaan yang prinsip-prinsipnya digariskan dalam konstitusi. Hukum harus dikonsolidasikan untuk mempromosikan mimpi-mimpi ini. Penguasa tidak boleh dibiarkan membuat keputusan tanpa alasan yang dapat diuji rasionalitasnya dan motivasi yang tak dapat diraba. Alam, sebagai diakui oleh tatanan 42

12 hukum Inggris maupun Amerika, memiliki keadilan yang khas. Inggris menyebutnya dengan natural justices, keadilan alamiah keadilan yang tak pernah lapuk dimakan zaman, dan selalu bisa dikenali oleh siapapun. Seperti diketahui, Inggris mengharuskan bukan hanya pengadilan mendemonstrasikannya dalam setiap keputusan mereka, melainkan mewajibkan setiap pembuat kebijakan umum untuk tidak saja memperhatikan melainkan lebih dari itu. Tata hukum mereka mengharuskan para pembuat keputusan untuk mendengar kedua belah pihak sebelum keputusan dibuat. Itu sebabnya prinsip audi et alteram partem hear the other side betapapun tumbuh dalam alam hukum Yunani kuno karena keagungan esensinya, dianut pula dalam alam hukum administrasi dan tata negara Inggris. Prinsip Ultra Vires, sebuah prinsip yang oleh berbagai penulis hukum tata negara dan administrasi Inggris mengenalinya sebagai keagungan prinsip hukum alam, juga diadopsi dalam hukum positif mereka dan diberlakukan hukum tata negara dan administrasi mereka. Bukan hanya hakim, para pejabat pun diharuskan untuk tunduk dan taat terhadap prinsip itu. Prinsip itu, begitulah para ahli konstitusi dan hukum administrasi Inggris memberikannya, adalah sebuah prinsip yang menggariskan bahwa seseorang hanya dapat bertindak kalau ia memiliki hak. Sekali lagi dalam konteks kekuasaan, prinsip itu berwujud pejabat hanya dapat bertindak berdasarkan kewenangan yang dimilikinya. Tidak boleh seorang pejabat bertindak kalau ia tidak memiliki kewenangan untuk itu. Prinsip itu juga menjadi pondasi untuk mengecek penggunaan kewenangan itu. Apa yang mesti dicek? Yang dicek adalah apakah tindakan tersebut segaris atau senafas dengan due procedure atau due process of law atau tidak. Hal-hal yang dapat dicek juga dapat diperluas. Misalnya, apakah tindakan tersebut memiliki strong ground, baik legalnya maupun alasan sosial politiknya atau tidak? Soal alasan sosial politiknya, justru bisa dicek lebih jauh lagi. Misalnya, dapat dicek apakah tindakan hukum tersebut memberikan kemanfaatan bagi kemaslahatan umum 43

13 atau tidak? Pada titik ini akan terlihat motif penggunaan kewenangan itu. Hukum administrasi negara Inggris, begitu juga Amerika dan kita, mengharuskan setiap pejabat yang hendak membuat sebuah perbuatan tata usaha negara membentangkan secara terang-benderang motif di balik perbuatan tersebut. Ini adalah cara mengekang pejabat tersebut agar tidak menggunakan jabatan tersebut untuk kepentingan pribadi atau kelompok sekaligus menghindarkan rakyat dari perbuatan sewenang-wenang. Motif yang keliru buruk bad motive sama halnya dengan pejabat tersebut menempatkan dirinya di bibir detournamen de povoir dan atau deteournamen deprocedure. Semua tata hukum mengisolasi penggunaan retroactive, dan ini juga diberlakukan dalam hukum administrasi negara. Mengapa? Prinsip retroactive adalah sebuah prinsip yang menggambarkan tindakan sewenang-wenang. Hukum yang berlaku surut adalah hukumnya raja-raja absolut yang memerintah sesuka hati mereka, hukum yang sewenang-wenang. Kecurigaan dan ketakutan terhadap kemungkinan terlembagakannya kembali kesewenang-wenangan itulah, maka semua tata hukum menolak melembagakan prinsip retroactive. Bahkan karena kecurigaan yang sama pula, semua tata hukum membentengi rakyatnya dengan melembagakan prinsip legalitas. Hukum karena sifatnya sebagainya perwujudan mimpimimpi manusia maka dinamis menjadi sifat dasarnya. Setiap saat bisa berubah atau berkembang. Patah tumbuh hilang berganti mungkin dapat juga disifatkan padanya. Semakin luas mimpi rakyat, semakin luas jangkauan hukum. Semakin terspesialisasi suatu masyarakat, semakin sering hukum dibutuhkan untuk mewadahinya. Tujuannya agar tercita ketertiban dan atau lalu lintas kehidupan dapat berlangsung dengan baik. Tetapi dalam banyak kasus, sekurang-kurangnya yang diidentifikasi oleh sebagian kalangan kritis dalam yang tergabung dalam group Frankfurt, ambil misalnya Habermas, tidak percaya pada tesis di atas. Tesis mereka, tentu setelah 44

14 mengamati perkembangan pembentukan hukum di berbagai negara, hukum modern justru tidak semodern seperti dibayangkan orang. Hukum modern tidak pernah memberi keuntungan yang setara bagi semua orang. Hukum modern tak selalu responsif. Tak sedikit hukum di dunia modern berwatak konservatif, bahkan ortodoks. Kekonservatifannya ditandai dengan keberpihakannya pada kalangan kapitalis dan kompradorkompradornya. Koneksi kaum kapitalis dengan politikus di dalam maupun di luar Dewan Perwakilan Rakyat, tidak pernah bisa dicek oleh rakyat secara serta-merta. Penentuan distribusi kue ekonomi dalam langgam hukum dan politik modern, menurut mereka, tidak pernah proporsional. Penguasa, sekali lagi, dalam langgam ini, justru bertindak sebagai fasilitator kaum kapitalis. Tetapi demokrasi konstitusional memiliki cara untuk mencegahnya. Demokrasi konstitusional memperkenalkan berbagai cara untuk menangkal undang-undang yang tidak masuk akal. Sebagian negara menggunakan Mahkamah Konstitusi kita masuk dalam kelompok ini, dan sebagian lagi menggunakan Mahkamah Agungnya Amerika dan sebagian lagi Perancis memilih pengujian sejak awal sebelum RUU berubah menjadi undang-undang. Lembaga mereka disebut Constitutional Council dan merupakan lembaga politik. Memandang Ke Depan Sulit untuk tidak mengatakan betapa hukum dan kekuasaan modern yang dipraktikkan pada saat ini merupakan hasil dari kemampuan orang-orang hebat, ambil misalnya John Locke, melihat jauh ke belakang. Keberhasilannya melihat jauh ke belakang itulah yang memungkinkan dirinya melihat jauh depan. Ia seolah mengajarkan kepada kita betapa melihat dan mengenal apa yang telah terjadi jauh sebelumnya, merupakan pijakan terbaik untuk melihat jauh ke depan. 45

15 Entah karena telah terlatih dengan feodalisme di belahan Eropa, para penjajah di negeri kita juga mempraktikkan hal yang sama di Hindia Belanda. Mereka mengangkangi hak pemilikan tanah. Apalagi kala itu hukum adat memang tidak mengenal lembaga pemilikan pribadi. Dalam kerangka mengooptasi pemilikan sumber-sumber daya ekonomi inilah, harus dimengerti mengapa hukum di masa penjajahan menempatkan orang Indonesia pribumi pada strata terbawah di bawah golongan timur asing. Berciri khas sebagai hukum ortodoks pada masanya karena mengonsolidasi kepentingan penguasa, ekonomi dan politik, dan tak memberi, dalam arti mengakui hak-hak politik orang pribumi, pemerintah jajahan memang sempat gemilang. Tetapi seperti biasanya, kegemilangan itu berujung juga. Tahun 1945, kegemilangan mereka berhenti. Memang masih dicoba untuk kembali tetapi pengalaman orang-orang pribumi terlalu berharga untuk dilupakan. Belanda pun tak dapat kembali lagi. Moralitas hukum dan kekuasaan berkarakter ortodoks seperti itu tidak dapat digunakan untuk membuat suatu masyarakat politik menjadi gemilang. Sekuat apapun energi politik sebuah bangsa digerakkan untuk memastikan eksistensi hukum ortodoks, tidak mungkin berhasil. Tatanan seperti itu akan gulung tikar pada saatnya juga. Imperium Romawi dan Britania Raya semuanya runtuh. Praktis, kekuasaan ortodoks dengan hukum yang ortodoks hukum yang tak berpihak dan mempromosikan kemanusiaan semuanya gulung tikar. Pesan dari semua sejarah itu satu; hukum yang dihasilkan oleh kekuasaan korup, feodal atau sebangsanya tidak memiliki daya tahan. Hukum yang tak manusiawi adalah pangkal kebangkrutan suatu bangsa. Semakin jelas dan terbukanya hukum ortodoks, bukan hanya semakin menunjukkan bahwa hukum tak lagi akrab dengan kemanusiaan, tetapi lebih dari itu. Hukum seperti itu menandai betapa bangsa tersebut sedang berlayar menuju ke titik karam. Semakin sering pengadilan mendemonstrasikan hukum yang di luar nalar keadilan umum, semakin cepat bangsa 46

16 itu mencapai titik karam. Semakin sering polisi dan jaksa, bahkan aparatur birokrasi sombong dalam berhukum, semakin terbuka jalan bagi bangsa tersebut menuju ke titik karam. Semakin terbuka masyarakat menontong ketidakadilan dalam berpolitik, ekonomi, dan berhukum, maka undangan untuk menata kembali tatanan itu semakin dekat ke jantung bangsa itu. Apa yang terjadi di tahun 1997 di negeri tercinta ini adalah sekelumit bukti itu. Seperti sejak tahun 1959 hingga 1966, kekuasaan yang berproses sejak tahun 1967 menjelma menjadi sesuatu yang begitu mewah dan personal. Malah kekuasaan menjadi begitu sakral, bukan saja karena tak bisa dipertanyakan, melainkan bermimpi untuk mempertanyakan pun tak boleh. Betul bangsa ini tidak bubar, tetapi faktanya hukum dan kekuasaan yang berlanggam ortodoks kala itu telah menggerogoti dirinya sendiri. Bangsa ini, ternyata tidak sekuat yang dibayangkan. Hukum, politik dan ekonomi, semuanya keropos. Hukum bisa dibeli dan tentu aparatur hukum bisa dibeli. Birokrasi yang sesuai sifatnya harus muncul sebagai pelayan suci justru menakutkan, sekurangkurangnya muncul menjadi sesosok mahluk politik yang menjengkelkan. Negara hukum seolah tak memiliki arti apapun bagi kemanusiaan pada masa itu. Negara hukum hanya sekedar penanda politik, betapa negara ini dibangun dan diselenggarakan menurut aturan hukum. Seperti apakah substansinya menjadi urusan nomor sekian. Hukum di bidang politik diorientasikan untuk mengonsolidasikan kekuasaan. Di bidang ekonomi dikonsolidasi dan diorientasikan hukum memperlebar jarak antara orang miskin dan orang kaya. Negara hukum, bukan hanya berubah menjadi negara undangundang, melainkan digerakkan dengan sejumlah decree, persis seperti cara bernegara di Eropa abad sampai abad ke 17. Indonesia memang bukan satu-satunya negara berlanggam itu. Ada Pilipina, Polandia, Spanyol, Yunani, Yugoslavia dan sejumlah negara lainnya di belahan Eropa. Faktanya, 47

17 negara-negara berlanggam ini semuanya hampir gulung tikar. Rakyat memilih untuk tak lagi berkompromi dengan semua bualan politikus kerdil. Ferdinan Marcos di Pilipina, Chuechesco di Polandia, Juan Peron di Argentina, semuanya harus minggir. Negara-negara ini pun bergerak maju. Tatanan masa lampau yang melahirkan absolutisme yang mengakibatkan negara tersebut menjadi lembek diubah. Perubahan Konstitusi menjadi awalnya. Di dalamnya dilembagakan ara pengisian jabatan politik dan penyelenggara hukum. Termasuk di dalamnya perubahan hubungan antarorgan kekuasaan negara. Hak-hak indvidu pun dikonsolidasi kembali. Di dalamnya termasuk perluasan jangkauannya. Indonesia pun menempuh jalan dan melakukan hal yang relatif sama sebagai salah satu cara mengamankan masa depannya. Itulah yang dilakukan oleh MPR dengan mengubah UUD Penutup: Menggapai Kesejahteraan Moralitas hukum dan kekuasaan modern lahir untuk mengonsolidasi masa depan kita. Sejarah bangsa-bangsa Eropa bahkan bangsa kita sendiri menyimpan elan itu. Tetapi hukum macam apa? Dibutuhkan hukum yang responsif dengan penegak hukum yang responsif, jujur, dan punya hati. Hukum yang responsif tidak lain dari hukum yang menempatkan hak setiap individu di jantungnya. Hukum responsif tak memberikan kesempatan sedikitpun kepada para pembentuknya untuk berkomplot dengan sekelompok manusia yang mementingkan dirinya sendiri atau kelompoknya. Hukum responsif menciptakan ruang bagi setiap individu untuk mengejar kebaikan-kebaikan hidupnya. Semangat kompetisi yang dilembagakan dalam hukum model ini adalah semangat saling hormat-menghormati, semangat saling mendukung. Hukum harus tegak, setegak-tegaknya, dalam keadaan apapun, ke bawah dan ke atas. Sedetik saja hukum bengkok maka merajalelalah ketidakadilan. Sedetik saja orang berduit atau orang yang memiliki kuasa tak tersentuh hukum maka 48

18 akan datanglah segerombolan orang yang sama meminta agar mereka tak disentuh hukum. Sekali mereka berhasil maka akan ada hasil berikut. Jika terus terjadi maka bangsa ini menjadi bangsa kerdil, kembali lagi ke masa Yunani kuno. Moralitas hukum dan kekuasaan kita di masa depan harus dibangun di atas landasan moralitas kemanusiaan sebagaimana telah ditasbihkan dalam Pancasila. Hukum dan kekuasaan di masa depan harus dikerangkakan, sekali lagi, pada mimpi untuk memanusiakan manusia. Hukum dan kekuasaan niscaya akan memiliki ketahanan, bila sekali lagi, diabdikan sepenuhnya pada kemanusiaan. Berhukum dan berkekuasaan dalam model ini tidak lain adalah berhukum dan berkekuasaan menurut nilai-nilai kemanusiaan. Tugas setiap politikus adalah membuat hukum yang memungkinkan rakyatnya mengenali secara cermat semua kisi-kisi teknis penyelenggaraan birokrasi, terutama dalam memberi pelayanan kepada mereka. Pelayanan harus dibuat terbuka, cepat, dan tak berbiaya. Kong-kalikong tumbuh dalam dunia serba gelap, begitulah hikmah dari sejarah hukum dan kekuasaan klasik. Sebaliknya, hanya transparansi, begitu kata orang-orang hebat, yang dapat diandalkan sebagai benteng terkuat bagi siapa saja yang merindukan kekuasaan berwajah manusiawi. Transparansi, akuntabilitas, dan keagungan hukum yang pasti merupakan moralitas sejati demokrasi konstitusional. Moralitas ini memungkinkan setiap orang memiliki mimpi untuk memperoleh penyelenggaraan negara yang bernafaskan kemanusiaan. Inilah senjata utama bangsa-bangsa yang mempraktikkan demokrasi konstitusional mengusahakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Negara kuat adalah negara yang rakyatnya sejahtera yang diusahakan secara demokratis. Keterbukaan yang mulai tumbuh pada saat ini harus dipastikan agar tetap menemukan dunianya. Sedetik saja keterbukaan terhenti, maka semua mimpi kita untuk duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dalam segala aspek kehidupan bernegara akan sirna. Gagal dalam memastikan kelangsungan transpransi akan mengakibatkan negara ini kerdil. Tidak mudah memang mengusahakannya. Tetapi 49

19 bangsa ini tidak memiliki pilihan lain, kecuali harus bergerak terus mengongkritkannya. Politikus besar memikul tanggung jawab ini. Sebagaimana ditunjukkan oleh, misalnya Woodrow Wilson, Franklin Delano Roosevelt, dan Winston Churchill, demokrasi konstitusional membutuhkan politikus besar. Politikus besar membesarkan dirinya dengan memanggungkan hukum yang adil dalam mewujudkan kesejahteraan rakyatnya. Pemimpin besar tahu bahwa tak ada kesejateraan tanpa birokrasi yang kuat yang berlandaskan pada hukum yang lurus dan berkeadilan. Kesejahteraan yang berkeadilan dan bermartabat adalah kesejahteraan rakyat yang diusahakan secara demokratis dengan moralitas hukum dan kekuasaan yang berlandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan. Pemimpin besar tahu bahwa jangkar moralitas hukum dan kekuasaan adalah kearifan dan kejujuran dirinya. Politikus besar tahu bahwa kebesaran kearifan dan kejujurannya adalah jangkar dan kompas bagi semua usaha untuk berkehidupan yang adil dan beradab di atas panggung negara demokrasi konstitusional. Kesejahteraan rakyat yang merupakan pondasi politik konstitusional semua bangsa hanya bisa dijamin sejauh moralitas hukum dan kekuasaan tunduk pada nilai kemanuisaan. Apalagi kalau para pemimpi politik dan hukum menjadikan kearifan dan kejujurannya untuk tujuan itu.[] 50

BAB I PENDAHULUAN. The Constitution is made for men, and not men for the Constitution. (Soekarno, dalam pidato tanggal 17 Agustus 1959)

BAB I PENDAHULUAN. The Constitution is made for men, and not men for the Constitution. (Soekarno, dalam pidato tanggal 17 Agustus 1959) BAB I PENDAHULUAN The Constitution is made for men, and not men for the Constitution. (Soekarno, dalam pidato tanggal 17 Agustus 1959) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 selanjutnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 selanjutnya

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 selanjutnya BAB I PENDAHULUAN Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 selanjutnya disingkat UUD 1945 1 telah mengalami perubahan sebanyak empat kali, yakni Perubahan Pertama pada tahun 1999, Perubahan

Lebih terperinci

DEMOKRASI. Demokrasi berasal dari kata Yunani demos dan kratos. Demos artinya rakyat, Kratos berarti pemerintahan.

DEMOKRASI. Demokrasi berasal dari kata Yunani demos dan kratos. Demos artinya rakyat, Kratos berarti pemerintahan. PERTEMUAN KE 4 DEMOKRASI Demokrasi berasal dari kata Yunani demos dan kratos. Demos artinya rakyat, Kratos berarti pemerintahan. Jadi, demokrasi, artinya pemerintahan rakyat, yaitu pemerintahan yang rakyatnya

Lebih terperinci

Demokrasi di Indonesia

Demokrasi di Indonesia Demokrasi Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PENERAPAN PANCASILA DALAM PENDIDIKAN. Tahajudin S, Drs. : Novia Ningsih NIM : Kelompok : D Jurusan : Teknik Informatika

TUGAS AKHIR PENERAPAN PANCASILA DALAM PENDIDIKAN. Tahajudin S, Drs. : Novia Ningsih NIM : Kelompok : D Jurusan : Teknik Informatika TUGAS AKHIR PENERAPAN PANCASILA DALAM PENDIDIKAN Tahajudin S, Drs DI SUSUN OLEH : Nama : Novia Ningsih NIM : 11.11.4958 Kelompok : D Jurusan : Teknik Informatika STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2011-2012 1 ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membuat UU. Sehubungan dengan judicial review, Maruarar Siahaan (2011:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membuat UU. Sehubungan dengan judicial review, Maruarar Siahaan (2011: 34 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Judicial Review Kewenangan Judicial review diberikan kepada lembaga yudikatif sebagai kontrol bagi kekuasaan legislatif dan eksekutif yang berfungsi membuat UU. Sehubungan

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MATERI AUDIENSI DAN DIALOG DENGAN FINALIS CERDAS CERMAT PANCASILA, UUD NEGARA RI TAHUN 1945, NKRI, BHINNEKA TUNGGAL IKA, DAN KETETAPAN MPR Dr. H. Marzuki Alie

Lebih terperinci

SEJARAH HAK AZASI MANUSIA

SEJARAH HAK AZASI MANUSIA SEJARAH HAK AZASI MANUSIA Materi Perkuliahan Hukum dan HAM ke-2 FH Unsri URGENSI SEJARAH HAM Kepentingan paling mendasar dari setiap warga negara adalah perlindungan terhadap hak-haknya sebagai manusia.

Lebih terperinci

BAB II PERKEMBANGAN DEMOKRASI DI INDONESIA YANG DITUANGKAN DALAM UNJUK RASA (DEMONSTRASI) SEBAGAI HAK DALAM MENGEMUKAKAN PENDAPAT

BAB II PERKEMBANGAN DEMOKRASI DI INDONESIA YANG DITUANGKAN DALAM UNJUK RASA (DEMONSTRASI) SEBAGAI HAK DALAM MENGEMUKAKAN PENDAPAT 37 BAB II PERKEMBANGAN DEMOKRASI DI INDONESIA YANG DITUANGKAN DALAM UNJUK RASA (DEMONSTRASI) SEBAGAI HAK DALAM MENGEMUKAKAN PENDAPAT A. Sejarah Perkembangan Demokrasi di Indonesia Demokrasi adalah bentuk

Lebih terperinci

Diadopsi oleh resolusi Majelis Umum 53/144 pada 9 Desember 1998 MUKADIMAH

Diadopsi oleh resolusi Majelis Umum 53/144 pada 9 Desember 1998 MUKADIMAH Deklarasi Hak dan Kewajiban Individu, Kelompok dan Badan-badan Masyarakat untuk Pemajuan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Dasar yang Diakui secara Universal Diadopsi oleh resolusi Majelis

Lebih terperinci

Tugas dan Fungsi MPR Serta Hubungan Antar Lembaga Negara Dalam Sistem Ketatanegaraan

Tugas dan Fungsi MPR Serta Hubungan Antar Lembaga Negara Dalam Sistem Ketatanegaraan Tugas dan Fungsi MPR Serta Hubungan Antar Lembaga Negara Dalam Sistem Ketatanegaraan Oleh: Dr. (HC) AM. Fatwa Wakil Ketua MPR RI Kekuasaan Penyelenggaraan Negara Dalam rangka pembahasan tentang organisisasi

Lebih terperinci

PANCASILA DAN EMPAT PILAR KEHIDUPAN BERBANGSA. Oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH 1.

PANCASILA DAN EMPAT PILAR KEHIDUPAN BERBANGSA. Oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH 1. PANCASILA DAN EMPAT PILAR KEHIDUPAN BERBANGSA Oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH 1. A. PANCASILA DALAM PROSES PENEGAKAN HUKUM 1. Penegakan Hukum Penegakan hukum mengandung makna formil sebagai prosedur

Lebih terperinci

KEWARGANEGARAAN NEGARA HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Nurohma, S.IP, M.Si. Modul ke: Fakultas FASILKOM. Program Studi Teknik Informatika

KEWARGANEGARAAN NEGARA HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Nurohma, S.IP, M.Si. Modul ke: Fakultas FASILKOM. Program Studi Teknik Informatika KEWARGANEGARAAN Modul ke: NEGARA HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA Fakultas FASILKOM Nurohma, S.IP, M.Si Program Studi Teknik Informatika www.mercubuana.ac.id Pendahuluan Abstract : Menjelaskan Pengertian dan

Lebih terperinci

AMANDEMEN II UUD 1945 (Perubahan tahap Kedua/pada Tahun 2000)

AMANDEMEN II UUD 1945 (Perubahan tahap Kedua/pada Tahun 2000) AMANDEMEN II UUD 1945 (Perubahan tahap Kedua/pada Tahun 2000) Perubahan kedua terhadap pasal-pasal UUD 1945 ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 2000. Perubahan tahap kedua ini ini dilakukan terhadap beberapa

Lebih terperinci

CONTOH SOAL DAN JAWABAN UKG PKN SMP Berikut ini contoh soal beserta jawaban Uji Kompetensi Guru PKn SMP

CONTOH SOAL DAN JAWABAN UKG PKN SMP Berikut ini contoh soal beserta jawaban Uji Kompetensi Guru PKn SMP CONTOH SOAL DAN JAWABAN UKG PKN SMP 2013 Berikut ini contoh soal beserta jawaban Uji Kompetensi Guru PKn SMP Perhatian : Jawaban tertera pada kalimat yang ditulis tebal. 1. Di bawah ini merupakan harapan-harapan

Lebih terperinci

HAK ASASI MANUSIA dalam UUD Negara RI tahun Dr.Hj. Hesti

HAK ASASI MANUSIA dalam UUD Negara RI tahun Dr.Hj. Hesti HAK ASASI MANUSIA dalam UUD Negara RI tahun 1945 Dr.Hj. Hesti HAK ASASI MANUSIA NASIONAL INTERNASIONAL LOKAL / DAERAH INTERNASIONAL dalam konteks pergaulan antar bangsa (Internasional) Penghargaan dan

Lebih terperinci

KONSTITUSI DAN DEMOKRASI KONSTITUSIONAL

KONSTITUSI DAN DEMOKRASI KONSTITUSIONAL KONSTITUSI DAN DEMOKRASI KONSTITUSIONAL SAMSURI FISE UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA Semester Gasal 2010/2011 TOPIK MATERI PEKAN INI KONSEP KONSTITUSI dan DEMOKRASI KONSTITUSIONAL PERAN WARGA NEGARA MENURUT

Lebih terperinci

MATA KULIAH CIRI UNIVERSITAS (MKCU)

MATA KULIAH CIRI UNIVERSITAS (MKCU) MATA KULIAH CIRI UNIVERSITAS (MKCU) MATA KULIAH ETIKA BERWARGA NEGARA BAGIAN 4 DEMOKRASI: ANTARA TEORI DAN PELAKSANAANNYA DI INDONESIA Oleh: DADAN ANUGRAH, M.Si. UNIVERSITAS MERCU BUANA JAKARTA 2008 1

Lebih terperinci

Demokrasi Sebagai Kerangka Kerja Hak Asasi Manusia

Demokrasi Sebagai Kerangka Kerja Hak Asasi Manusia Demokrasi Sebagai Kerangka Kerja Hak Asasi Manusia Antonio Pradjasto Tanpa hak asasi berbagai lembaga demokrasi kehilangan substansi. Demokrasi menjadi sekedar prosedural. Jika kita melihat dengan sudut

Lebih terperinci

MENGGAPAI KEDAULATAN RAKYAT YANG MENYEJAHTERAKAN RAKYAT 1

MENGGAPAI KEDAULATAN RAKYAT YANG MENYEJAHTERAKAN RAKYAT 1 MENGGAPAI KEDAULATAN RAKYAT YANG MENYEJAHTERAKAN RAKYAT 1 Oleh: Siti Awaliyah, S.Pd, S.H, M.Hum Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Malang A. Pengantar Kedaulatan merupakan salahsatu

Lebih terperinci

Dua unsur utama, yaitu: 1. Pembukaan (Preamble) ; pada dasarnya memuat latar belakang pembentukan negara merdeka, tujuan negara, dan dasar negara..

Dua unsur utama, yaitu: 1. Pembukaan (Preamble) ; pada dasarnya memuat latar belakang pembentukan negara merdeka, tujuan negara, dan dasar negara.. & Apakah KONSTITUSI? 1. Akte Kelahiran suatu Negara-Bangsa (the birth certificate of a nation state); 2. Hukum Dasar atau hukum yang bersifat fundamental sehingga menjadi sumber segala peraturan perundang-undangan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. kendatipun disebut sebagai karya agung yang tidak dapat terhindar dari

PENDAHULUAN. kendatipun disebut sebagai karya agung yang tidak dapat terhindar dari BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tanggal 18 Agustus 1945 para pemimpin bangsa, negarawan pendiri NKRI dengan segala kekurangan dan kelebihannya telah berhasil merumuskan konstitusi Indonesia

Lebih terperinci

POLITIK DAN STRATEGI (SISTEM KONSTITUSI)

POLITIK DAN STRATEGI (SISTEM KONSTITUSI) A. Pengertian Politik POLITIK DAN STRATEGI (SISTEM KONSTITUSI) Dalam bahasa Indonesia, politik dalam arti politics mempunyai makna kepentingan umum warga negara suatu bangsa. Politik merupakan rangkaian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sejak diumumkannya Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia Universal Declaration of

I. PENDAHULUAN. Sejak diumumkannya Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia Universal Declaration of I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Sejak diumumkannya Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia Universal Declaration of Human Rights pada tahun 1948 telah terjadi perubahan arus global di dunia internasional

Lebih terperinci

IMPLIKASI AMANDEMEN UUD 1945 TERHADAP SISTEM HUKUM NASIONAL

IMPLIKASI AMANDEMEN UUD 1945 TERHADAP SISTEM HUKUM NASIONAL IMPLIKASI AMANDEMEN UUD 1945 TERHADAP SISTEM HUKUM NASIONAL Oleh : PROF.DR. ISMAIL SUNY, S.H., M.CL. IMPLIKASI AMANDEMEN UUD 1945 TERHADAP SISTEM HUKUM NASIONAL * PROF.DR. ISMAIL SUNY, S.H., M.CL. ** LATAR

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR KULIAH PENDIDIKAN PANCASILA

TUGAS AKHIR KULIAH PENDIDIKAN PANCASILA TUGAS AKHIR KULIAH PENDIDIKAN PANCASILA HAK ASASI MANUSIA DALAM PANCASILA DOSEN PENGAMPU : HARI SUDIBYO S.KOM UNTUK MEMENUHI SALAH SATU SYARAT MATA KULIAH PENDIDIKAN PANCASILA NAMA: HERI SANTOSO NIM: 11.11.5151

Lebih terperinci

INTELIJEN NEGARA DALAM NEGARA HUKUM YANG DEMOKRATIS 1. Oleh: Muchamad Ali Safa at 2

INTELIJEN NEGARA DALAM NEGARA HUKUM YANG DEMOKRATIS 1. Oleh: Muchamad Ali Safa at 2 INTELIJEN NEGARA DALAM NEGARA HUKUM YANG DEMOKRATIS 1 Oleh: Muchamad Ali Safa at 2 Intelijen negara diperlukan sebagai perangkat deteksi dini adanya ancaman terhadap keamanan nasional, tidak saja ancaman

Lebih terperinci

DEKLARASI PEMBELA HAK ASASI MANUSIA

DEKLARASI PEMBELA HAK ASASI MANUSIA DEKLARASI PEMBELA HAK ASASI MANUSIA Disahkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa tanggal 9 Desember 1998 M U K A D I M A H MAJELIS Umum, Menegaskan kembalimakna penting dari ketaatan terhadap

Lebih terperinci

PENGUATAN SISTEM DEMOKRASI PANCASILA MELALUI INSTITUSIONALISASI PARTAI POLITIK Oleh: Muchamad Ali Safa at (Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya)

PENGUATAN SISTEM DEMOKRASI PANCASILA MELALUI INSTITUSIONALISASI PARTAI POLITIK Oleh: Muchamad Ali Safa at (Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya) PENGUATAN SISTEM DEMOKRASI PANCASILA MELALUI INSTITUSIONALISASI PARTAI POLITIK Oleh: Muchamad Ali Safa at (Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya) Apakah Sistem Demokrasi Pancasila Itu? Tatkala konsep

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 50 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Peran Legislasi Dewan Perwakilan Daerah Definisi tentang peran bisa diperoleh dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:1051) yang mengartikannya sebagai perangkat tingkah

Lebih terperinci

Prof.DR.H.GUNARTO,SH.SE.Akt.M.Hum.

Prof.DR.H.GUNARTO,SH.SE.Akt.M.Hum. POLITIK HUKUM BAB I TENTANG PERSPEKTIF POLITIK HUKUM OLEH: Prof.DR.H.GUNARTO,SH.SE.Akt.M.Hum. Politik Hukum Secara filosofis, berbicara hukum, berarti berbicara tentang pengaturan keadilan, serta memastikan

Lebih terperinci

29. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunadaksa (SDLB-D)

29. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunadaksa (SDLB-D) 29. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar Luar Biasa Tunadaksa (SDLB-D) A. Latar Belakang Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara

Lebih terperinci

RINGKASAN PUTUSAN. 2. Materi pasal yang diuji: a. Nomor 51/PUU-VI/2008: Pasal 9

RINGKASAN PUTUSAN. 2. Materi pasal yang diuji: a. Nomor 51/PUU-VI/2008: Pasal 9 RINGKASAN PUTUSAN Sehubungan dengan sidang pembacaan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 51,52,59/PUU-VI/2009 tanggal 18 Februari 2009 atas Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, dengan hormat dilaporkan

Lebih terperinci

B A B N E G A R A. A. Pengertian Negara

B A B N E G A R A. A. Pengertian Negara B A B V N E G A R A A. Pengertian Negara Negara = Staat (Bld-Jerman) = State (Inggris) = Etat (Perancis) Negara adalah suatu organisasi yang hidup yang harus mengalami segala peristiwa yang menjadi pengalamannya

Lebih terperinci

MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR XVII /MPR/1998

MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR XVII /MPR/1998 MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA -------------- KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR XVII /MPR/1998 TENTANG HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

Analisis Kewenangan Mahkamah Konstitusi Dalam Mengeluarkan Putusan Yang Bersifat Ultra Petita Berdasarkan Undang-Undangnomor 24 Tahun 2003

Analisis Kewenangan Mahkamah Konstitusi Dalam Mengeluarkan Putusan Yang Bersifat Ultra Petita Berdasarkan Undang-Undangnomor 24 Tahun 2003 M a j a l a h H u k u m F o r u m A k a d e m i k a 45 Analisis Kewenangan Mahkamah Konstitusi Dalam Mengeluarkan Putusan Yang Bersifat Ultra Petita Berdasarkan Undang-Undangnomor 24 Tahun 2003 Oleh: Ayu

Lebih terperinci

KEWARGANEGARAAN KONSTITUSI, KONSTITUSIONALISME DAN RULE OF LAW. Modul ke: 05Fakultas FASILKOM. Program Studi Teknik Informatika

KEWARGANEGARAAN KONSTITUSI, KONSTITUSIONALISME DAN RULE OF LAW. Modul ke: 05Fakultas FASILKOM. Program Studi Teknik Informatika KEWARGANEGARAAN Modul ke: 05Fakultas Nurohma, FASILKOM KONSTITUSI, KONSTITUSIONALISME DAN RULE OF LAW S.IP, M.Si Program Studi Teknik Informatika Abstraksi dan Kompetensi ABSTRAKSI = Memahami pengertian

Lebih terperinci

KONSTITUSIONALITAS PENGALIHAN KEWENANGAN PENGELOLAAN PENDIDIKAN MENENGAH DARI KABUPATEN/KOTA KE PROVINSI 1. Oleh: Muchamad Ali Safa at 2

KONSTITUSIONALITAS PENGALIHAN KEWENANGAN PENGELOLAAN PENDIDIKAN MENENGAH DARI KABUPATEN/KOTA KE PROVINSI 1. Oleh: Muchamad Ali Safa at 2 KONSTITUSIONALITAS PENGALIHAN KEWENANGAN PENGELOLAAN PENDIDIKAN MENENGAH DARI KABUPATEN/KOTA KE PROVINSI 1 Oleh: Muchamad Ali Safa at 2 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (UU

Lebih terperinci

26. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI)

26. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) 26. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) A. Latar Belakang Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara

Lebih terperinci

DEMOKRASI. Drs. H.M. Umar Djani Martasuta, M.Pd

DEMOKRASI. Drs. H.M. Umar Djani Martasuta, M.Pd DEMOKRASI Drs. H.M. Umar Djani Martasuta, M.Pd Demokrasi Secara etimologi demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata demos dan kratos/kratein. Demos berarti rakyat, dan kratein berarti kekuasaan/berkuasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perubahan ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanahkan pembentukan sebuah lembaga negara dibidang yudikatif selain Mahkamah Agung yakninya

Lebih terperinci

26. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI)

26. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) 26. Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) A. Latar Belakang Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara

Lebih terperinci

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN GURU KELAS SD

SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN GURU KELAS SD SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2016 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN GURU KELAS SD BAB II KONSEP DAN PRINSIP KEPRIBADIAN NASIONAL, DEMOKRASI KOSTITUSIONAL INDONESIA, SEMANGAT KEBANGSAAN,CINTA TANAH AIR SERTA

Lebih terperinci

POLITIK HUKUM BAB IV NEGARA DAN POLITIK HUKUM. OLEH: PROF.DR.GUNARTO,SH.SE.A,kt.MH

POLITIK HUKUM BAB IV NEGARA DAN POLITIK HUKUM. OLEH: PROF.DR.GUNARTO,SH.SE.A,kt.MH POLITIK HUKUM BAB IV NEGARA DAN POLITIK HUKUM. OLEH: PROF.DR.GUNARTO,SH.SE.A,kt.MH BAGI POLITIK HUKUM. Negara perlu disatu sisi karena Negara merupakan institusi pelembagaan kepentingan umum dan di lain

Lebih terperinci

RINGKASAN PUTUSAN.

RINGKASAN PUTUSAN. RINGKASAN PUTUSAN Sehubungan dengan sidang pembacaan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 40/PUU-VIII/2010 tanggal 19 Juli 2010 atas Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-

Lebih terperinci

C. Konsep HAM dalam UU. No. 39 tahun 1999

C. Konsep HAM dalam UU. No. 39 tahun 1999 6. Hak asasi sosial budaya / Social Culture Right Hak menentukan, memilih dan mendapatkan pendidikan Hak mendapatkan pengajaran Hak untuk mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat dan minat C. Konsep

Lebih terperinci

Aji Wicaksono S.H., M.Hum. Modul ke: Fakultas DESAIN SENI KREATIF. Program Studi DESAIN PRODUK

Aji Wicaksono S.H., M.Hum. Modul ke: Fakultas DESAIN SENI KREATIF. Program Studi DESAIN PRODUK Modul ke: Konstitusi dan Rule of Law Pada Modul ini kita akan membahas tentang pengertian, definisi dan fungsi konstitusi dan Rule of Law mekanisme pembuatan konstitusi dan undang-undang serta fungsi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintahan Daerah yang baik (good local governace) merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintahan Daerah yang baik (good local governace) merupakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemerintahan Daerah yang baik (good local governace) merupakan wacana yang paling mengemuka dalam pengelolaan administrasi publik dewasa ini. Tuntutan gagasan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA (Kuliah ke 13) suranto@uny.ac.id 1 A. UUD adalah Hukum Dasar Tertulis Hukum dasar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (a) Hukum dasar tertulis yaitu UUD, dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di zaman modern sekarang ini, hampir semua negara mengklaim menjadi

BAB I PENDAHULUAN. Di zaman modern sekarang ini, hampir semua negara mengklaim menjadi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di zaman modern sekarang ini, hampir semua negara mengklaim menjadi penganut paham demokrasi. Seperti dapat diketahui dari penelitian Amos J. Peaslee pada tahun 1950,

Lebih terperinci

INSTRUMEN NASIONAL HAK ASASI MANUSIA (HAM)

INSTRUMEN NASIONAL HAK ASASI MANUSIA (HAM) Jamuan Ilmiah tentang Hukum Hak Asasi Manusia bagi Tenaga Pendidik Akademi Kepolisian Semarang Jogjakarta Plaza Hotel, 16 18 Mei 2017 MAKALAH INSTRUMEN NASIONAL HAK ASASI MANUSIA (HAM) Oleh: Despan Heryansyah,

Lebih terperinci

Mata Pelajaran : PPKn Kelas / Sem : VIII / 1

Mata Pelajaran : PPKn Kelas / Sem : VIII / 1 LEMBAR KERJA Mata Pelajaran : PPKn Kelas / Sem : VIII / 1 Kompetensi Dasar : Menghargai semangat kebangsaan dan kebernegaraan seperti yang ditunjukkan oleh para pendiri negara dalam menetapkan UUD 1945

Lebih terperinci

PENEGAKAN HUKUM DAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK 1

PENEGAKAN HUKUM DAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK 1 --------- MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PENEGAKAN HUKUM DAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK 1 Oleh: Moh. Mahfud MD 2 Hukum dan Pemerintahan dalam Kehidupan Bernegara Di era modern, negara sebagai

Lebih terperinci

MAZHAB FILSAFAT PENDIDIKAN. Imam Gunawan

MAZHAB FILSAFAT PENDIDIKAN. Imam Gunawan MAZHAB FILSAFAT PENDIDIKAN Imam Gunawan PERENIALISME Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad 20. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang

Lebih terperinci

PEDOMAN POKOK NILAI-NILAI PERJUANGAN YAYASAN LBH INDONESIA DAN KODE ETIK PENGABDI BANTUAN HUKUM INDONESIA

PEDOMAN POKOK NILAI-NILAI PERJUANGAN YAYASAN LBH INDONESIA DAN KODE ETIK PENGABDI BANTUAN HUKUM INDONESIA PEDOMAN POKOK NILAI-NILAI PERJUANGAN YAYASAN LBH INDONESIA DAN KODE ETIK PENGABDI BANTUAN HUKUM INDONESIA Diterbitkan oleh Yayasan LBH Indonesia Jakarta, 1986 KETETAPAN No. : TAP 01/V/1985/YLBHI T e n

Lebih terperinci

PENGGUNAAN HAK RECALL ANGGOTA DPR MENURUT PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG MPR, DPR, DPD, DAN DPRD (MD3) FITRI LAMEO JOHAN JASIN

PENGGUNAAN HAK RECALL ANGGOTA DPR MENURUT PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG MPR, DPR, DPD, DAN DPRD (MD3) FITRI LAMEO JOHAN JASIN 1 PENGGUNAAN HAK RECALL ANGGOTA DPR MENURUT PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG MPR, DPR, DPD, DAN DPRD (MD3) FITRI LAMEO JOHAN JASIN NUR MOH. KASIM JURUSAN ILMU HUKUM ABSTRAK Fitri Lameo.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. negara hukum. Negara hukum merupakan dasar Negara dan pandangan. semua tertib hukum yang berlaku di Negara Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. negara hukum. Negara hukum merupakan dasar Negara dan pandangan. semua tertib hukum yang berlaku di Negara Indonesia. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia dikenal sebagai Negara Hukum. Hal ini ditegaskan pula dalam UUD 1945 Pasal 1 ayat (3) yaitu Negara Indonesia adalah negara hukum. Negara hukum

Lebih terperinci

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Konstitusi dan Rule of Law

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Konstitusi dan Rule of Law Modul ke: 07 PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Konstitusi dan Rule of Law Fakultas PSIKOLOGI Program Studi PSIKOLOGI Rizky Dwi Pradana, M.Si Sub Bahasan 1. Pengertian dan Definisi Konstitusi 2. Hakikat dan Fungsi

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1999 TENTANG PENGESAHAN ILO CONVENTION NO. 111 CONCERNING DISCRIMINATION IN RESPECT OF EMPLOYMENT AND OCCUPATION (KONVENSI ILO MENGENAI DISKRIMINASI DALAM

Lebih terperinci

NEGARA HUKUM DAN DEMOKRASI

NEGARA HUKUM DAN DEMOKRASI NEGARA HUKUM DAN DEMOKRASI A. PENGANTAR Istilah Negara Hukum baru dikenal pada Abad XIX tetapi konsep Negara Hukum telah lama ada dan berkembang sesuai dengan tuntutan keadaan. Dimulai dari jaman Plato

Lebih terperinci

TUGAS KEWARGANEGARAAN LATIHAN 4

TUGAS KEWARGANEGARAAN LATIHAN 4 1 TUGAS KEWARGANEGARAAN LATIHAN 4 DISUSUN OLEH: NAMA NIM PRODI : IIN SATYA NASTITI : E1M013017 : PENDIDIKAN KIMIA (III-A) S-1 PENDIDIKAN KIMIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MATARAM

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS TENTANG KONSEP SYURA DALAM ISLAM ATAS PELAKSANAAN DEMOKRASI KONSTITUSIONAL DI INDONESIA MENURUT MAHFUD MD

BAB IV ANALISIS TENTANG KONSEP SYURA DALAM ISLAM ATAS PELAKSANAAN DEMOKRASI KONSTITUSIONAL DI INDONESIA MENURUT MAHFUD MD 68 BAB IV ANALISIS TENTANG KONSEP SYURA DALAM ISLAM ATAS PELAKSANAAN DEMOKRASI KONSTITUSIONAL DI INDONESIA MENURUT MAHFUD MD A. Analisis tentang Konsep Syura dalam Islam atas Pelaksanaan Demokrasi Konstitusional

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. praktik ketatanegaraan Indonesia. Setiap gagasan akan perubahan tersebut

I. PENDAHULUAN. praktik ketatanegaraan Indonesia. Setiap gagasan akan perubahan tersebut I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Bergulirnya reformasi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998 membawa dampak banyak perubahan di negeri ini, tidak terkecuali terhadap sistem dan praktik ketatanegaraan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1999 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1999 TENTANG Menimbang : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1999 TENTANG PENGESAHAN ILO CONVENTION NO. 111 CONCERNING DISCRIMINATION IN RESPECT OF EMPLOYMENT AND OCCUPATION (KONVENSI ILO MENGENAI DISKRIMINASI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berasal dari dua kata Yunani kuno yaitu demos dan cratein yang masingmasing

BAB I PENDAHULUAN. berasal dari dua kata Yunani kuno yaitu demos dan cratein yang masingmasing BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Demokrasi merupakan suatu bentuk tentang cara- cara penyelenggaraan kekuasaan pemerintah berdasarkan asas kedaulatan rakyat. Istilah demokrasi berasal dari dua

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Citra Antika, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Citra Antika, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada masa ini, demokrasi merupakan salah satu pandangan dan landasan kehidupan dalam berbangsa yang memiliki banyak negara pengikutnya. Demokrasi merupakan paham

Lebih terperinci

HAKIKAT DEMOKRASI CONDRA ANTONI

HAKIKAT DEMOKRASI CONDRA ANTONI HAKIKAT DEMOKRASI CONDRA ANTONI Makna dan Hakikat Demokrasi Macam-macam pengertian demokrasi: 1. Secara etimologis, demokrasi terdiri dari dua kata yang berasal dari Yunani yaitu demos yang berarti rakyat

Lebih terperinci

TINJAUAN ATAS PENGADILAN PAJAK SEBAGAI LEMBAGA PERADILAN DI INDONESIA

TINJAUAN ATAS PENGADILAN PAJAK SEBAGAI LEMBAGA PERADILAN DI INDONESIA TINJAUAN ATAS PENGADILAN PAJAK SEBAGAI LEMBAGA PERADILAN DI INDONESIA oleh Susi Zulvina email Susi_Sadeq @yahoo.com Widyaiswara STAN editor Ali Tafriji Biswan email al_tafz@stan.ac.id A b s t r a k Pemikiran/konsepsi

Lebih terperinci

Keterangan Pers Presiden RI tentang Penegakan Hukum dan Pemberantasan Korupsi, Jumat, 26 Juni 2009

Keterangan Pers Presiden RI tentang Penegakan Hukum dan Pemberantasan Korupsi, Jumat, 26 Juni 2009 Keterangan Pers Presiden RI tentang Penegakan Hukum dan Pemberantasan Korupsi, 26-6-09 Jumat, 26 Juni 2009 Â KETERANGAN PERS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENEGAKAN HUKUM DAN PEMBERANTASAN KORUPSI,

Lebih terperinci

AMANDEMEN (amendment) artinya perubahan atau mengubah. to change the constitution Contitutional amendment To revise the constitution Constitutional

AMANDEMEN (amendment) artinya perubahan atau mengubah. to change the constitution Contitutional amendment To revise the constitution Constitutional Dewi Triwahyuni AMANDEMEN (amendment) artinya perubahan atau mengubah. to change the constitution Contitutional amendment To revise the constitution Constitutional revision To alter the constitution Constitutional

Lebih terperinci

KEWARGANEGARAAN DEMOKRASI : ANTARA TEORI DAN PELAKSANAANNYA DI INDONESIA. Nurohma, S.IP, M.Si. Modul ke: Fakultas FASILKOM

KEWARGANEGARAAN DEMOKRASI : ANTARA TEORI DAN PELAKSANAANNYA DI INDONESIA. Nurohma, S.IP, M.Si. Modul ke: Fakultas FASILKOM KEWARGANEGARAAN Modul ke: DEMOKRASI : ANTARA TEORI DAN PELAKSANAANNYA DI INDONESIA Fakultas FASILKOM Nurohma, S.IP, M.Si Program Studi Teknik Informatika www.mercubuana.ac.id Pendahuluan Abstract : Menjelaskan

Lebih terperinci

Negara Demokrasi Modern dan Negara Autokrasi Modern

Negara Demokrasi Modern dan Negara Autokrasi Modern 1 Negara Demokrasi Modern dan Negara Autokrasi Modern Disusun oleh: Pamungkas Satya Putra Pamungkas Satya Putra Fakultas Hukum Universitas Singaperbangsa Karawang Karawang 2014 2 Perkuliahan Tema Pamungkas

Lebih terperinci

KEDUDUKAN WARGA NEGARA & PERWAGA- NEGARAAN DI INDONESIA

KEDUDUKAN WARGA NEGARA & PERWAGA- NEGARAAN DI INDONESIA EDITOR Rakyat Dalam Suatu Negara Penduduk Bukan Penduduk Warga Negara Bukan WN KEDUDUKAN WARGA NEGARA & PERWAGA- NEGARAAN DI INDONESIA Asas Kewarganegaraan Penduduk dan Warga Negara Indonesia Undang-Undang

Lebih terperinci

SMP. 1. Jaminan terhadap hak-hak asasi manusia dan warga negara 2. Susunan ketatanegaraan suatu negara 3. Pembagian & pembatasan tugas ketatanegaraan

SMP. 1. Jaminan terhadap hak-hak asasi manusia dan warga negara 2. Susunan ketatanegaraan suatu negara 3. Pembagian & pembatasan tugas ketatanegaraan JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN SMP VIII (DELAPAN) PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKN) KONSTITUSI YANG PERNAH BERLAKU A. Konstitusi yang pernah berlaku di Indonesia Konstitusi (Constitution) diartikan

Lebih terperinci

Lembaga Kepresidenan dalam Sistem Presidensial

Lembaga Kepresidenan dalam Sistem Presidensial Lembaga Kepresidenan dalam Sistem Presidensial R. Herlambang Perdana Wiratraman Departemen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya, 11 Juni 2008 Sub Pokok Bahasan Wewenang Presiden

Lebih terperinci

KETUA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN HADIRI PERTEMUAN PIMPINAN LEMBAGA NEGARA

KETUA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN HADIRI PERTEMUAN PIMPINAN LEMBAGA NEGARA KETUA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN HADIRI PERTEMUAN PIMPINAN LEMBAGA NEGARA bpk.go.id Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melakukan pertemuan dengan pimpinan lembaga negara di Majelis Permusyawaratan Rakyat

Lebih terperinci

REKONSTRUKSI KEDUDUKAN DAN HUBUNGAN ANTARA MAHKAMAH AGUNG, MAHKAMAH KONSTITUSI DAN KOMISI YUDISIAL DI INDONESIA. Oleh: Antikowati, S.H.,M.H.

REKONSTRUKSI KEDUDUKAN DAN HUBUNGAN ANTARA MAHKAMAH AGUNG, MAHKAMAH KONSTITUSI DAN KOMISI YUDISIAL DI INDONESIA. Oleh: Antikowati, S.H.,M.H. 1 REKONSTRUKSI KEDUDUKAN DAN HUBUNGAN ANTARA MAHKAMAH AGUNG, MAHKAMAH KONSTITUSI DAN KOMISI YUDISIAL DI INDONESIA Oleh: Antikowati, S.H.,M.H. 1 ABSTRAK Undang-Undang Dasar 1945 (pasca amandemen) tidak

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN ), antara lain menggariskan beberapa ciri khas dari negara hukum, yakni :

I. PENDAHULUAN ), antara lain menggariskan beberapa ciri khas dari negara hukum, yakni : I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Dasar negara Republik Indonesia tahun 1945 (selanjutnya disingkat UUD 1945) menentukan secara tegas, bahwa Negara Indonesia adalah Negara Hukum (Pasal 1 ayat

Lebih terperinci

5. Materi sejarah berguna untuk menanamkan dan mengembangkan sikap bertanggung jawab dalam memelihara keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup.

5. Materi sejarah berguna untuk menanamkan dan mengembangkan sikap bertanggung jawab dalam memelihara keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup. 13. Mata Pelajaran Sejarah Untuk Paket C Program IPS A. Latar Belakang Sejarah merupakan cabang ilmu pengetahuan yang menelaah tentang asal-usul dan perkembangan serta peranan masyarakat di masa lampau

Lebih terperinci

NEGARA DAN SISTEM PEMERINTAHAN

NEGARA DAN SISTEM PEMERINTAHAN KEWARGANERAAN Modul ke: Fakultas 02FEB NEGARA DAN SISTEM PEMERINTAHAN SYAMSUNASIR, S.SOS., M. M. Program Studi Management LATAR BELAKANG PERLUNYA NEGARA Menurut ahli tata negara Sokrates, Aristoteles dan

Lebih terperinci

Tugas Akhir. STMIK AMIKOM Yogyakarta Taufik Rizky Afrizal. Kelompok I. S1 Sistem Informasi. Drs. Muhammad Idris P, MM

Tugas Akhir. STMIK AMIKOM Yogyakarta Taufik Rizky Afrizal. Kelompok I. S1 Sistem Informasi. Drs. Muhammad Idris P, MM Tugas Akhir STMIK AMIKOM Yogyakarta 2011 11.12.6036 Taufik Rizky Afrizal Kelompok I S1 Sistem Informasi Drs. Muhammad Idris P, MM HAK ASASI MANUSIA DALAM PANCASILA ABSTRAK Dalam makalah yang membahas abstrak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menggambarkan aliran utama pemikiran Abad ke-18 di Eropa dan Amerika. Pada

BAB I PENDAHULUAN. menggambarkan aliran utama pemikiran Abad ke-18 di Eropa dan Amerika. Pada BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Masa pencerahan (Aufklärung) merupakan istilah yang digunakaan untuk menggambarkan aliran utama pemikiran Abad ke-18 di Eropa dan Amerika. Pada masa pencerahan,

Lebih terperinci

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di KETERANGAN PENGUSUL ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 39 TAHUN 1999 TENTANG HAK ASASI MANUSIA PASAL 1

UNDANG-UNDANG NOMOR 39 TAHUN 1999 TENTANG HAK ASASI MANUSIA PASAL 1 PENGERTIAN HAM Hak adalah kekuasaan atau wewenang yang dimiliki seseorang atas sesuatu (Suria Kusuma, 1986). Istilah Hak asasi menunjukkan bahwa kekuasaan atau wewenang yang dimiliki seseorang tersebut

Lebih terperinci

Modul ke: Fakultas DESAIN SENI KREATIF. Program Studi DESAIN PRODUK

Modul ke: Fakultas DESAIN SENI KREATIF. Program Studi DESAIN PRODUK Modul ke: Fakultas DESAIN SENI KREATIF Demokrasi: Antara Teori dan Pelaksanaannya Di Indonesia Modul ini akan mempelajari pengertian, manfaat dan jenis-jenis demokrasi. selanjutnya diharapkan diperoleh

Lebih terperinci

Etika Sosial. Dosen : Rudy Wawolumaja Disiapkan: Ferly David, M.Si

Etika Sosial. Dosen : Rudy Wawolumaja Disiapkan: Ferly David, M.Si Etika Sosial Dosen : Rudy Wawolumaja Disiapkan: Ferly David, M.Si Bagian I PANDANGAN TENTANG INDIVIDU DAN MASYARAKAT 1. INDIVIDUALISME Nilai tertinggi manusia adalah perkembangan dan kebahagiaan individu.

Lebih terperinci

Faridah T, S.Pd., M.Pd. NIP Widyaiswara LPMP Sulawesi Selatan

Faridah T, S.Pd., M.Pd. NIP Widyaiswara LPMP Sulawesi Selatan TRIAS POLITICA DI INDONESIA, ANTARA SEPARATION OF POWER DENGAN DISTRIBUTION OF POWER, MENURUT UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945. Faridah T, S.Pd., M.Pd. NIP.19651216 198903

Lebih terperinci

Sambutan Presiden RI pada Peringatan Hari Konstitusi dan HUT MPR RI Ke-66, Jakarta, 18 Agustus 2011 Kamis, 18 Agustus 2011

Sambutan Presiden RI pada Peringatan Hari Konstitusi dan HUT MPR RI Ke-66, Jakarta, 18 Agustus 2011 Kamis, 18 Agustus 2011 Sambutan Presiden RI pada Peringatan Hari Konstitusi dan HUT MPR RI Ke-66, Jakarta, 18 Agustus 2011 Kamis, 18 Agustus 2011 SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DALAM PERINGATAN HARI KONSTITUSI DAN HUT

Lebih terperinci

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Modul ke: DEMOKRASI ANTARA TEORI DAN PELAKSANAANNYA Fakultas TEKNIK Martolis, MT Program Studi Teknik Mesin TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS 1. MENYEBUTKAN PENGERTIAN, MAKNA DAN MANFAAT

Lebih terperinci

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 109/PUU-XIV/2016 Jabatan Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah (DPD)

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 109/PUU-XIV/2016 Jabatan Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 109/PUU-XIV/2016 Jabatan Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) I. PEMOHON 1. Gusti Kanjeng Ratu Hemas; 2. Djasarmen Purba, S.H.; 3. Ir. Anang Prihantoro; 4. Marhany

Lebih terperinci

HAK MANTAN NARAPIDANA SEBAGAI PEJABAT PUBLIK DALAM PERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA

HAK MANTAN NARAPIDANA SEBAGAI PEJABAT PUBLIK DALAM PERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA HAK MANTAN NARAPIDANA SEBAGAI PEJABAT PUBLIK DALAM PERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA Oleh: Yeni Handayani * Naskah diterima : 29 September 2014; disetujui : 13 Oktober 2014 Indonesia adalah negara yang berdasar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 menjelaskan dengan tegas bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (rechstaat) dan bukan berdasarkan atas kekuasaan (machstaat).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bebas dan merdeka merupakan isu yang penting sejak ditemukannya konsep

BAB I PENDAHULUAN. bebas dan merdeka merupakan isu yang penting sejak ditemukannya konsep 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemandirian Kekuasaan Kehakiman atau juga kekuasaan kehakiman yang bebas dan merdeka merupakan isu yang penting sejak ditemukannya konsep pembagian kekuasaan. Baron

Lebih terperinci

PROBLEM OTONOMI KHUSUS PAPUA Oleh: Muchamad Ali Safa at

PROBLEM OTONOMI KHUSUS PAPUA Oleh: Muchamad Ali Safa at PROBLEM OTONOMI KHUSUS PAPUA Oleh: Muchamad Ali Safa at Latar Belakang dan Tujuan Otonomi Khusus Otonomi khusus baru dikenal dalam sistem pemerintahan Negara Indonesia di era reformasi. Sebelumnya, hanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di dunia berkembang pesat melalui tahap-tahap pengalaman yang beragam disetiap

BAB I PENDAHULUAN. di dunia berkembang pesat melalui tahap-tahap pengalaman yang beragam disetiap 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejarah institusi yang berperan melakukan kegiatan pengujian konstitusional di dunia berkembang pesat melalui tahap-tahap pengalaman yang beragam disetiap

Lebih terperinci

Prinsip Dasar Peran Pengacara

Prinsip Dasar Peran Pengacara Prinsip Dasar Peran Pengacara Telah disahkan oleh Kongres ke Delapan Perserikatan Bangsa-Bangsa ( PBB ) mengenai Pencegahan Kriminal dan Perlakuan Pelaku Pelanggaran, Havana, Kuba, 27 Agustus sampai 7

Lebih terperinci

PPKn UAN-BIS Salah satu ukuran yang digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan berdasarkan mufakat/konsensus

PPKn UAN-BIS Salah satu ukuran yang digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan berdasarkan mufakat/konsensus PPKn 2004 UAN-BIS-04-0 Pengertian adil menurut Notonegoro, yaitu keadilan yang bersifat... A. distributif B. konvensional C. komunikatif D. kodrat alam E. legalitas UAN-BIS-04-02 Salah satu ukuran yang

Lebih terperinci

HAK AZASI MANUSIA. Materi Perkuliahan Ilmu Politik FH Unsri. Vegitya Ramadhani Putri, MA, LLM

HAK AZASI MANUSIA. Materi Perkuliahan Ilmu Politik FH Unsri. Vegitya Ramadhani Putri, MA, LLM HAK AZASI MANUSIA Materi Perkuliahan Ilmu Politik FH Unsri Latar Historis dan Filosofis (1) Kepentingan paling mendasar dari setiap warga negara adalah perlindungan terhadap hak-haknya sebagai manusia.

Lebih terperinci

MENJADI MUSLIM DI NEGARA SEKULER

MENJADI MUSLIM DI NEGARA SEKULER l Edisi 001, Oktober 2011 Edisi 001, Oktober 2011 P r o j e c t i t a i g D k a a n MENJADI MUSLIM DI NEGARA SEKULER Ihsan Ali Fauzi 1 Edisi 001, Oktober 2011 Informasi Buku: Abdullahi Ahmed An- Na`im,

Lebih terperinci

A. Kronologi pengajuan uji materi (judicial review) Untuk mendukung data dalam pembahasan yangtelah dikemukakan,

A. Kronologi pengajuan uji materi (judicial review) Untuk mendukung data dalam pembahasan yangtelah dikemukakan, 49 BAB III WEWENANG MAHKAMAH KOSTITUSI (MK) DAN PROSES UJIMATERI SERTA DASAR PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MEMPERBOLEHKAN PENINJAUAN KEMBALI DILAKUKAN LEBIH DARI SATU KALI. A. Kronologi pengajuan uji materi

Lebih terperinci