Konsolidasi Moralitas Hukum dan Kekuasaan di Panggung Negara Demokrasi Konstitusional; Apa, Mengapa dan Bagaimana Mewujudkannya

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Konsolidasi Moralitas Hukum dan Kekuasaan di Panggung Negara Demokrasi Konstitusional; Apa, Mengapa dan Bagaimana Mewujudkannya"

Transkripsi

1 Konsolidasi Moralitas Hukum dan Kekuasaan di Panggung Negara Demokrasi Konstitusional; Apa, Mengapa dan Bagaimana Mewujudkannya Margarito Kamis 1 Pendahuluan Sepuluh tahun yang lalu, atau dua tahun setelah pemerintahan Soeharto berakhir, tatanan hukum, di dalamnya termasuk moralitas hukum seolah berada dalam masa kegelapan. Kala itu, boleh dikatakan dunia hukum Indonesia mengalami kemunduran sekian puluh abad yang lalu. Betapa tidak. Pencuri jemuran dihakimi beramai-ramai sampai mati. Pencuri sandal juga dihakimi beramai-ramai sampai mati. Tak jarang korban dibakar hidup-hidup. Padahal tatanan normatif formal sedang eksis. Peristiwa demi peristiwa itu, tentu memukul bangsa ini. Padahal bangsa ini dikenal luas di Asia Tenggara, bahkan dunia, sebagai bangsa santun bangsa yang begitu mengeta- 1 Doktor Hukum Tata Negara. Staf Pengajar pada Fakultas Hukum Universitas Khairun Ternate. 32

2 hui adab bermasyarakat. Kala itu, bangsa ini berhasil dibanggakan, sekurang-kurangnya di lingkungan negara-negara Asean, sebagai bangsa yang memiliki tertib sosial, ekonomi, dan hukum yang begitu mengagumkan. Tetapi peristiwa demi peristiwa sosial, hukum, dan ekonomi di penghujung tahun 1997 hingga tahun 2000, sekali lagi, menunjukkan kenyataan kontras. Pondasi sosial, ekonomi, dan hukum yang dibangga-banggakan itu ternyata rapuh. Semangat gotong-royong dan integralistik dalam bernegara ternyata tidak sekokoh yang dibayangkan. Penegakan hukum tidak seadil sebagaimana seharusnya. Distribusi sumbersumber daya ekonomi, juga sama, tak cukup proporsional. Semuanya tatanan di Romawi dan Yunan kuno. Itu sebabnya dibutuhkan perbaikan segera. Diambil sejumlah kebijakan makro politik pembaruan hukum pada tahun 1998 itu juga. Pemerintahan B.J. Habibie mencabut undangundang subversif, mencabut regulasi tentang SIU yang membenarkan Departemen Penerangan mencabut izin penerbitan pers. Begitu juga dengan pembebasan terhadap sejumlah narapidana politik karena menantang pemerintah. Semuanya merupakan kebijakan pembaruan kala itu. MPR yang sepanjang sejarah Orde Baru menjadi lembaga tukang stempel kemauan pemerintah malah bergerak lebih jauh dan berani. Dalam sidang istimewa mereka sidang istimewa kedua mereka membatasi masa jabatan Presiden. Gagasan ini kemudian diadopsi ke dalam UUD 1945 oleh MPR hasil pemilu 1999 ketika mengubah UUD Ketika mengubah UUD 1945 pada tahun 1999, MPR menggeser kekuasaan pembentukan undang-undang dari Presiden ke DPR, melembagakan sejumlah hak DPR dengan tujuan untuk menguatkan kedudukannya sebagai pengawas kebijakan makro pemerintah. Mereka juga melembagakan prinsip independensi pada lembaga pengawas keuangan negara. Dilembagakan sejumlah lembaga baru. DPD, Komisi Pemilihan Umum, KY, dan Mahkamah Konstitusi. Mahkamah ini dimimpikan untuk memastikan terjaminnya hak warga negara dari kalangan minoritas secara kultural, politik, atau ekonomi. 33

3 Mengagumkan, mereka melembagakan hak asasi manusia, bahkan untuk memastikan keadilan spasial, mereka melembagakan juga ide mengormati hak-hak masyarakat adat. Di atas semuanya, perubahan UUD 1945 menghasilkan postur hubungan antarkekuasaan negara yang begitu tumpang-tindih. Postur hubungan seperti ini memang merupakan cara yang dikenalkan pada akhir abad ke 18 dalam mengekang absolutisme. Secara terbalik, pola hubungan ini merupakan cara para pembaharu menyingkirkan kesewenang-wenangan. Moralitas Hukum dan Kekuasaan Klasik Moralitas hukum dan kekuasaan sepanjang pemerintahan Orde Baru, sejujurnya begitu rapuh. Personalisasi negara pada Presiden merupakan kekeliruan terbesar pada saat itu, betapapun harus diakui bahwa negara demokratis konstitusional sekalipun membutuhkan kepemimpinan politik dan hukum yang kuat. Kemauannya yang keras untuk menyejahterakan rakyat yang dipimpinnya, yang sesungguhnya bagus pada dirinya, tidak terartikulasi secara tepat berdasarkan ukuran-ukuran rasionalitas kemanusiaan sejati. Moralitas kekuasaan seperti itu mengakibatkan hukum tidak tajam ke atas atau kesamping. Hukum hanya tajam ke bawah, ke rakyat tak berdaya, ke lawan-lawan politik Presiden. Moralitas kekuasaan seperti itu segaris dengan moralitas hukum Romawi dan Yunani kuno. Hukum berkarakter Romawi dan Yunani kuno merupakan hasil dari moralitas penguasanya. Tatanan sosial, hukum, dan ekonomi kala itu, sering disebut tatanan feodal, disebabkan ia dibangun dan dialiri serta dinafasi oleh kemauan raja-raja korup. Bagaimana mungkin manusia dikonstruksi sebagai properti barang yang dimiliki dan diperjualbelikan oleh manusia lain? Moralitas seperti ini juga dapat ditemui di Inggris sebelum Revolusi Gemilangnya pada tahun 1688 atau Perancis di bawah kepemimpinan Louise ke-xvi atau sebelum Revolusi Pembebasannya pada tahun Di Inggris, misalnya dikenal dengan tree estate, yang menurut tatanan 34

4 sosial, hukum, dan ekonomi kala itu 1688 adalah para tuan tanah, para pengurus agama, dan pengurus pemerintahan wilayah. Hanya mereka inilah yang dimungkinkan ikut berpartisipasi dalam penyelenggaraan kerajaan. Bentuknya adalah mereka dimasukkan ke dalam House of Common dan House of Lord. Orang kebanyakan tidak dapat memiliki tanah dan tidak dapat berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan kerajaan. Raja, sebagaimana dibentangkan dalam sejarah hukum tata negara dan administrasi negara, memerintah dengan mengandalkan decree keputusan raja setara dengan Keputusan Presiden setelah berkembangnya demokrasi konstitusional. Raja mengatur apa saja yang dikehendakinya. Raja tidak pernah salah, apalagi harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Du tate et s moi negara adalah saya demikian kata Louise ke-xiv di Perancis yang terkenal itu, atau ana alhaq, kata Fir aun di Mesir, adalah cerminan moralitas hukum dan kekuasaan kala itu. Raja adalah hukum merupakan makna lain dari raja adalah negara atau negara adalah raja itu sendiri. Dalam arti itu, raja tidak tunduk dan tidak terikat pada hukum. Hukum yang dibuat tidak untuk dirinya melainkan hanya untuk rakyatnya. Hukum menjadi alat pukul terampuh yang dikenakan kepada siapa saja yang bertindak di luar hukum. Senatum di Romawi atau House of Common di Inggris bukan perkakas rakyat. Pada zamannya, badan ini merupakan perkakas raja. Di tempat inilah para estate berkumpul atau dikumpulkan oleh raja untuk membicarakan kebutuhan keuangan kerajaan terutama kebutuhan membiayai perang. Padahal perang, oleh beberapa penulis kritis, dinilai sebagai siasat raja, bukan untuk memperluas wilayah kerajaannya, melainkan untuk mendapat uang, melipatgandakan kekayaannya. Moralitas hukum dan kekuasaan klasik menempatkan manusia merdeka terpisah dari orang kebanyakan yang berstatus budak. Orang merdeka, sebagaimana pernah dijelaskan oleh Soetandyo Wignjosoebroto, sosiolog kenamaan ini, yang menjadikan hukum, khususnya sejarahnya sebagai 35

5 obyek kajian, adalah mereka yang bertempat tinggal terpisah dari rakyat kebanyakan. Mereka bertempat tinggal di dalam tembok, yang memiliki batas jelas. Inilah yang disebut kota state. Dalam moralitas ini, orang merdeka dan budak merupakan dua entitas moralitas yang berbeda. Postur moralitas hukum dan sosial seperti di atas mirip dengan apa yang eksis atau dialami oleh orang pribumi di masa Hindia Belanda dahulu. Apa yang disebut Kota di Batavia yang sekarang dikenal dengan Kota, yang dibangun segera setelah VOC menginjakkan kakinya di Batavia, tidak lain adalah gambaran tentang orang merdeka pada zaman itu. Moralitas hukum dan kekuasaan yang berpostur seperti itu menandakan keadilan pada zaman itu adalah keadilan yang bersumber dari mereka yang berkuasa dan berpunya secara ekonomis. Keadilan bukan sesuatu yang universal sesuai dengan mimpi semua orang. Adil dan tidak adil, adalah apa yang dipersepsikan oleh, sekali mereka yang berkuasa dan berpunya. Mempromosikan Kemanusiaan Tatanan moralitas seperti di atas itulah yang ditolak. Di Inggris, restorasi digemakan bersamaan dan segera setelah revolusi gemilangnya. Tetapi, entah bagaimana logikanya, atau mungkin begitulah logika restorasi, sampai dengan awal ke-18, tidak semua orang dapat berpartisipasi dalam penyelenggaraan negara. Dalam arti belum semua orang diberi atau diakui hak individunya, termasuk hak yang pada saat ini disebut hak politik. Padahal hingga abad itu, pengakuan terhadap individu mulai membuahkan hasil. Revolusi industri sesungguhnya berasal-usul atau merupakan sumbangan terbesar atas pengakuan hak-hak individu di bidang ekonomi, khususnya hak individu untuk memiliki barang hak milik. Sayangnya, sampai dengan abad tersebut tatanan hukum dan politik belum mengakui eksistensi setiap individu untuk ikut serta dalam penyelenggaraan negara. Hanya mereka yang berpeng- 36

6 hasilan tertentu yang dapat ikut serta dalam pemilihan umum. Itu sebabnya hanya mereka yang tinggal di perkotaan, dan laki-laki yang bekerja, dan berpenghasilan tertentulah yang dapat ikut serta dalam pemilu. Di luar itu tidak. Di Amerika Serikat, malah hal itu masih dapat dijumpai hingga memasuki pertengahan abad ke-20. Orang kulit hitam, perempuan, dan mereka yang tidak memiliki pendapatan dalam batas tertentu, belum diakui hak pilihnya hingga tahun itu. Hal-ihwal pendapatan tertentu sebagai dasar dalam memilih ini kemudian tertafsir menjadi pajak sebagai unsure penentukan hak seseorang untuk ikut serta dalam pemilihan umum. Pajak berdimensi perwakilan. Sesungguhnya usaha untuk mempromosikan kemanusiaan mengakui eksistensi setiap individu sebagai manusia merdeka manusia yang memiliki hak yang terberkati secara kodrati karena ia adalah manusia ciptaan Tuhan, telah diusahakan secara sistimatis sejak tahun 970, begitu kata Harold J. Berman, dalam bukunya yang terkenal Law and Revolution. Perjuangan ini berlangsung selama berabad-abad dan ramai di sebagian daratan Eropa. Tidak banyak yang dicapai, tetapi yang sedikit itu ternyata berhasil mengubah tatanan sosial dan politik mereka. Clarendom Constitution di awal abad ke 12 di Inggris, kemudian Magna Charta 1215, juga di Inggris dan Hunggarian Golden Bull pada pertengahan abad 14, tepatnya 1364, adalah buah dari perjuangan panjang untuk mengubah tatanan feodal. Betul, sampai saat itu, perjuangan tersebut belum berhasil melahirkan satu polity. Civics, civilis, state atau estate, masih begitu terbatas. Tetapi, seperti Clarendom Constitution, perjuangan ini telah berhasil meletakkan tatanan otoritas ecclesia dengan tatanan sekuler. Kedua otoritas diberi garis batas wilayah yang jelas. Dalam salah satu pasal Magna Charta 1215, yang dikenal luas sebagai satu pilar penting dalam perjuangan hak asasi manusia, telah dicantumkan dua mimpi besar. Pertama, mimpi tentang pengakuan terhadap hak milik para petani dan pertenak terhadap hasil pertanian dan ternaknya. 37

7 Pengakuan itu berintikan bahwa hasil pertanian para petani tidak akan diambil tanpa memberi bayaran tertentu kepada pemiliknya atau tanpa izin pemiliknya. Begitu juga dengan peternakan. Magna Charta memberi garis jelas. Barangbarang itu tidak bisa diambil begitu saja tanpa izin dari pemiliknya atau tanpa bayaran kepadanya. Sejarah ini memang panjang dan ruang yang tersedia tidak memungkinkan untuk mengungkapkan semuanya. Yang ingin dijelaskan di ruang yang terbatas ini adalah saripati perjuangan itu. Kalau digunakan logika dialektis, maka kehadiran moralitas hukum modern sekaligus yang berlanggam demokratis konstitusional adalah antithesis dari moralitas hukum kuno hukum yang menurut ukuran kemanusiaan tidak manusiawi. Hukum modern begitu juga kekuasaan modern pada dirinya adalah hukum dan kekuasaan yang dibangun di atas mimpi-mimpi indah tentang hakikat kemanusiaan. Hukum dan kekuasaan modern dibuat berdasarkan ambisi untuk memanusiakan manusia mengakui manusia sebagai ciptaan Tuhan tertinggi dan termulia dan tidak bermaksud sedikitpun untuk mendegradasinya. Hukum dan kekuasaan modern memang menjadi sangat teknikal. Tetapi sekompleks apapun hukum dan kekuasaan modern, semuanya tak dapat mengingkari hakikatnya sendiri sebagai hukum dan kekuasaan yang dimimpikan untuk mempromosikan kemanusiaan. Sebagai sarana kebudayaan yang dipilih oleh manusia untuk berkehidupan secara beradab dan bermartabat, hukum dan kekuasaan modern tetap merupakan sarana budaya yang paling diandalkan untuk sekali lagi menjamin terus terpromosinya kemanusiaan. Dalam arti itu, hukum dan kekuasaan modern tidak lain adalah hukum dan kekuasaan yang membebaskan. Membebaskan bukan berarti membiarkan manusia bertindak sesuai isi perutnya, sesuai maunya. Tetapi, hukum dan kekuasaan modern meletakkan kemauan seseorang dalam bingkai kemauan yang ternalar, kemauan yang teruji menurut prinsip-prinsip kemaslahatan umum. Bebas, dalam arti apa- 38

8 pun, tidak pernah bermakna bertindak tanpa kaidah. Dalam arti apapun, kaidah memang bersisi dua membatasi dan membebaskan. Hukum memperoleh sifatnya sebagai hukum karena cara membuat, isi, dan tingkatan wadahnya, juga karena sifat-sifat itu dapat diperiksa secara terbuka oleh siapapun, dalam keadaan apapun. Isi hukum, begitu dalam alam demos kratein adalah ungkapan-ungkapan agung demos, yang diformulasi oleh para wakilnya di Senatum atau House of Common House of Representative atau DPR. Menariknya, demokrasi juga memiliki langgamnya. Inggris, karena pengalamannya, menolak untuk memberi hak kepada pengadilan untuk menguji, apa yang di negeri kita menyebut-nya dengan konstitusionalitas undang-undang. Inggris menolak itu, sekali lagi, karena masa lalu mereka. Tabiat raja-raja yang telah menyengsarakan para demos berabad-abad lamanya membuat mereka berketetapan untuk tidak memberikan hak, sekalipun cuma sedikit, kepada pengadilan untuk menguji konstitusionalitas undang-undang. Demos adalah segala-galanya, begitulah tesis agung sang Groundrechten, John Locke, sekaligus bapak constitutional government. Para hakim, selain karena jumlahnya yang sedikit, juga karena berabad-abad lamanya, pengadilan menjadi raja, dicurigai akan berbuat menurut tabiat lamanya, kalau diberi hak menguji undang-undang. Memberi mereka hak menguji undang-undang, sama dengan memungkinkan mereka mereduksi undang-undang, atau menggunakan kepentingan lain untuk menggagalkan undang-undang itu. Sementara undangundang terlanjur keterlanjuran yang beralasan disifatkan sebagai suara dan kemauan suci rakyat the voice and the sacre will of demos. Memberikan hakim hak untuk menguji undang-undang sama dengan mereduksi keagungan rakyat. Dalam langgam teknikal, sebagaimana diperikan oleh A.V. Dicey, seorang konstitusionalis yang begitu membanggakan negara hukum Inggris, dan sedikit merendahkan negara hukum Perancis, memiliki pikiran menarik mengenai soal di atas. Katanya dalam buku An Introduction of The Rule of Law 39

9 yang tersohor itu, tak diberikannya hak menguji kepada para hakim di Inggris disebabkan satu hal. Para hakim itu tak dipilih rakyat. Sementara anggota House of Common dipilih dan mewakili rakyat. Tidak mungkin rakyat terbanyak salah dalam mengartikulasi mimpi-mimpinya, dibandingkan hakim yang jumlahnya cuma sedikit itu. Itulah intisari mengapa pengadilan di Inggris tak diberi hak menguji undang-undang. Demi kemuliaan kemanusiaan itu pulalah tetapi di sini memperlihatkan sesuatu yang berbeda Perancis tidak memberikan hak kepada pengadilan untuk mengadili para pejabat pemerintah di pengadilan umum. Berbeda dengan Inggris, kata Napoleon, sang arsitek Kode Penal, dan Kode Decomerce Perancis, kalau pengadilan diberi mengadili para pejabat di pengadilan umum, maka pengadilan telah ikut campur dan merusak pemerintah. L sprit d corps akan rusak karenanya. Itu sebabnya, Perancis melembagakan peradilan, yang salam istilah kita Pengadilan Tata Usaha Negara, untuk mengadili kelakuan para pejabat. Inilah sebabnya mengapa Dicey menyepelekan postur negara hukum Perancis. Kata Dicey, Perancis tidak memiliki semangat memperlakukan semua manusia dalam derajat yang sama. Singkatnya, tidak ada kesamaan derajat di Perancis, begitu katanya. Betapa tidak. Di Inggris, satu pengadilan untuk semua orang, pejabat atau rakyat biasa. Semuanya disidangkan di pengadilan yang sama, bukan seperti Perancis, yang menyidangkan para pejabat di pengadilan yang lain. Begitulah kisi-kisi peradaban politik dan hukum pada dua belahan dunia ini. Tetapi faktanya kedua negara tersebut tumbuh menjadi dua negara hukum terkemuka yang mempraktikkan demokrasi konstitusional. Kemanusiaan, yang di dalamnya harga diri dan martabat seseorang memperoleh tempat untuk bersinar terang nan indah, di belahan politik manapun, selalu menjadi pondasi bernegara. Itulah yang ditampilkan di Jerman, betapapun Hegel mengartikulasinya secara berbeda dengan Emmanuel Kant, seorang pesohor di bidang filsafat tentang hak-hak individu sebagai dasar bernegara, sekaligus dasar penentu batas masuk negara dalam urusan individu. Hegel 40

10 tidak memberi tempat kepada eksistensi individu karena baginya eksistensi individu terserap ke dalam kolektivitas, tetapi Emmanuel Kant yang jauh lebih senior, justru sebaliknya. Kant, seperti diketahui dari berbagai kajian, adalah seseorang filosof Jerman yang begitu mengagungkan eksistensi individu. Sedemikian agungnya individu bagi Kant sehingga ia berpendapat negara cukup berperan dalam menjaga ketertiban masyarakat. Peran itu dimaksudkan untuk memungkinkan mereka para individu beraktivitas. Negara jaga malam, begitu ahli-ahli kita mensifatkan tesis dasar Kant itu. Kant menempatkan individual will pada jantung teorinya, sementara Hegel menempatkan collective will pada jantung teorinya. Tetapi perbedaan keduanya hanya berarti sampai pada titik itu. Sebab, keduanya sama dalam satu hal; ingin memanusiakan kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka, seperti para penganjur negara hukum demokrasi dan negara kesejahteraan, menempatkan kemanusiaan sebagai inti bernegara. Kemanusiaanlah hakikat gagasan demokrasi konstitusional. Kekuasaan yang Bertanggung Jawab Untuk mencapai itu semua, maka kekuasaan diorganisasikan kembali. Apa yang dikenal pada saat ini dengan kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif, tidak lain merupakan antithesis atau perwujudan dari pengorganisasian kekuasaan yang dipraktikkan oleh raja-raja absolut. Pengorganisasian itu memiliki dua wujud berbeda, tetapi berhakikat sama. Kedua wujud tersebut adalah membagi dan memisahkan. Pola pertama, saya lebih suka menyebut pola John Locke, sedang pola kedua saya lebih suka menyebut pola Montesqieu. Pola pertama lebih dahulu dipraktikkan, segera setelah Glorius Revolution, dan pola kedua dipraktikkan di Amerika Serikat setelah mereka berhasil membentuk konstitusi Federalisnya pada tahun Sekali lagi, seperti disebutkan 41

11 di atas, kedua pola ini sesungguhnya berhakikat sama, mempromosikan kemanusiaan atau secara terbalik memba-tasi kekuasaan. Logikanya sederhana kekuasaan yang telah dibatasi akan akrab dengan soal-soal kemanusiaan. Pada dirinya, kedua cara ini memang dimaksudkan untuk mengisolasi abolutisme. Tujuannya adalah agar kemanusiaan dapat dipromosikan. Harus diakui secara jujur, rasa curiga yang menyelimuti semangat kaum Whig yang mengarsiteksi pengorganisasian kekuasaan di Inggris sesudah revolusi pada tahun Kecurigaan terhadap penguasa itu pulalah yang menjadi napas perencana konstitusi Amerika Serikat ketika membentuk konstitusi mereka pada tahun Semangat itu yang melahirkan postur kekuasaan seperti saat ini. Kecurigaan terhadap absolutisme itulah yang membedakan bapakbapak pendiri bangsa kita dengan pembentuk konstitusi Amerika Serikat. Desain organ dan mekanisme hubungan antarorgan dilakukan dengan penuh curiga. Intinya, mereka selalu curiga kepada penguasa. Penguasa, begitu yang mereka yakini selalu cenderung korup dan menjadi tiran. Sementara para perencana atau pembentuk negara kita tidak menaruh curiga kepada kekuasaan. Memang ada sedikit nuansa itu, terutama oleh Bung Hatta, tetapi kecurigaan bukan sesuatu yang menjadi atmosfir utama kala itu. Tetapi semangat ini tanpa sadar dianut oleh anggota MPR ketika mengubah UUD Sekali lagi berbeda dengan pengorganisasi kekuasaan di Inggris dan Amerika Serikat. Para penyusun kekuasaan pada kedua negara bersemangat bahwa kekuasaan harus dikontrol, harus diberi batas yang jelas dan tegas, harus dibuat mekanisme yang jelas dan tegas. Kemauan para penguasa yang menyala-nyala harus dibuat agar tunduk atau ditundukkan ke dalam mimpi-mimpi indah kemanusiaan yang prinsip-prinsipnya digariskan dalam konstitusi. Hukum harus dikonsolidasikan untuk mempromosikan mimpi-mimpi ini. Penguasa tidak boleh dibiarkan membuat keputusan tanpa alasan yang dapat diuji rasionalitasnya dan motivasi yang tak dapat diraba. Alam, sebagai diakui oleh tatanan 42

12 hukum Inggris maupun Amerika, memiliki keadilan yang khas. Inggris menyebutnya dengan natural justices, keadilan alamiah keadilan yang tak pernah lapuk dimakan zaman, dan selalu bisa dikenali oleh siapapun. Seperti diketahui, Inggris mengharuskan bukan hanya pengadilan mendemonstrasikannya dalam setiap keputusan mereka, melainkan mewajibkan setiap pembuat kebijakan umum untuk tidak saja memperhatikan melainkan lebih dari itu. Tata hukum mereka mengharuskan para pembuat keputusan untuk mendengar kedua belah pihak sebelum keputusan dibuat. Itu sebabnya prinsip audi et alteram partem hear the other side betapapun tumbuh dalam alam hukum Yunani kuno karena keagungan esensinya, dianut pula dalam alam hukum administrasi dan tata negara Inggris. Prinsip Ultra Vires, sebuah prinsip yang oleh berbagai penulis hukum tata negara dan administrasi Inggris mengenalinya sebagai keagungan prinsip hukum alam, juga diadopsi dalam hukum positif mereka dan diberlakukan hukum tata negara dan administrasi mereka. Bukan hanya hakim, para pejabat pun diharuskan untuk tunduk dan taat terhadap prinsip itu. Prinsip itu, begitulah para ahli konstitusi dan hukum administrasi Inggris memberikannya, adalah sebuah prinsip yang menggariskan bahwa seseorang hanya dapat bertindak kalau ia memiliki hak. Sekali lagi dalam konteks kekuasaan, prinsip itu berwujud pejabat hanya dapat bertindak berdasarkan kewenangan yang dimilikinya. Tidak boleh seorang pejabat bertindak kalau ia tidak memiliki kewenangan untuk itu. Prinsip itu juga menjadi pondasi untuk mengecek penggunaan kewenangan itu. Apa yang mesti dicek? Yang dicek adalah apakah tindakan tersebut segaris atau senafas dengan due procedure atau due process of law atau tidak. Hal-hal yang dapat dicek juga dapat diperluas. Misalnya, apakah tindakan tersebut memiliki strong ground, baik legalnya maupun alasan sosial politiknya atau tidak? Soal alasan sosial politiknya, justru bisa dicek lebih jauh lagi. Misalnya, dapat dicek apakah tindakan hukum tersebut memberikan kemanfaatan bagi kemaslahatan umum 43

13 atau tidak? Pada titik ini akan terlihat motif penggunaan kewenangan itu. Hukum administrasi negara Inggris, begitu juga Amerika dan kita, mengharuskan setiap pejabat yang hendak membuat sebuah perbuatan tata usaha negara membentangkan secara terang-benderang motif di balik perbuatan tersebut. Ini adalah cara mengekang pejabat tersebut agar tidak menggunakan jabatan tersebut untuk kepentingan pribadi atau kelompok sekaligus menghindarkan rakyat dari perbuatan sewenang-wenang. Motif yang keliru buruk bad motive sama halnya dengan pejabat tersebut menempatkan dirinya di bibir detournamen de povoir dan atau deteournamen deprocedure. Semua tata hukum mengisolasi penggunaan retroactive, dan ini juga diberlakukan dalam hukum administrasi negara. Mengapa? Prinsip retroactive adalah sebuah prinsip yang menggambarkan tindakan sewenang-wenang. Hukum yang berlaku surut adalah hukumnya raja-raja absolut yang memerintah sesuka hati mereka, hukum yang sewenang-wenang. Kecurigaan dan ketakutan terhadap kemungkinan terlembagakannya kembali kesewenang-wenangan itulah, maka semua tata hukum menolak melembagakan prinsip retroactive. Bahkan karena kecurigaan yang sama pula, semua tata hukum membentengi rakyatnya dengan melembagakan prinsip legalitas. Hukum karena sifatnya sebagainya perwujudan mimpimimpi manusia maka dinamis menjadi sifat dasarnya. Setiap saat bisa berubah atau berkembang. Patah tumbuh hilang berganti mungkin dapat juga disifatkan padanya. Semakin luas mimpi rakyat, semakin luas jangkauan hukum. Semakin terspesialisasi suatu masyarakat, semakin sering hukum dibutuhkan untuk mewadahinya. Tujuannya agar tercita ketertiban dan atau lalu lintas kehidupan dapat berlangsung dengan baik. Tetapi dalam banyak kasus, sekurang-kurangnya yang diidentifikasi oleh sebagian kalangan kritis dalam yang tergabung dalam group Frankfurt, ambil misalnya Habermas, tidak percaya pada tesis di atas. Tesis mereka, tentu setelah 44

14 mengamati perkembangan pembentukan hukum di berbagai negara, hukum modern justru tidak semodern seperti dibayangkan orang. Hukum modern tidak pernah memberi keuntungan yang setara bagi semua orang. Hukum modern tak selalu responsif. Tak sedikit hukum di dunia modern berwatak konservatif, bahkan ortodoks. Kekonservatifannya ditandai dengan keberpihakannya pada kalangan kapitalis dan kompradorkompradornya. Koneksi kaum kapitalis dengan politikus di dalam maupun di luar Dewan Perwakilan Rakyat, tidak pernah bisa dicek oleh rakyat secara serta-merta. Penentuan distribusi kue ekonomi dalam langgam hukum dan politik modern, menurut mereka, tidak pernah proporsional. Penguasa, sekali lagi, dalam langgam ini, justru bertindak sebagai fasilitator kaum kapitalis. Tetapi demokrasi konstitusional memiliki cara untuk mencegahnya. Demokrasi konstitusional memperkenalkan berbagai cara untuk menangkal undang-undang yang tidak masuk akal. Sebagian negara menggunakan Mahkamah Konstitusi kita masuk dalam kelompok ini, dan sebagian lagi menggunakan Mahkamah Agungnya Amerika dan sebagian lagi Perancis memilih pengujian sejak awal sebelum RUU berubah menjadi undang-undang. Lembaga mereka disebut Constitutional Council dan merupakan lembaga politik. Memandang Ke Depan Sulit untuk tidak mengatakan betapa hukum dan kekuasaan modern yang dipraktikkan pada saat ini merupakan hasil dari kemampuan orang-orang hebat, ambil misalnya John Locke, melihat jauh ke belakang. Keberhasilannya melihat jauh ke belakang itulah yang memungkinkan dirinya melihat jauh depan. Ia seolah mengajarkan kepada kita betapa melihat dan mengenal apa yang telah terjadi jauh sebelumnya, merupakan pijakan terbaik untuk melihat jauh ke depan. 45

15 Entah karena telah terlatih dengan feodalisme di belahan Eropa, para penjajah di negeri kita juga mempraktikkan hal yang sama di Hindia Belanda. Mereka mengangkangi hak pemilikan tanah. Apalagi kala itu hukum adat memang tidak mengenal lembaga pemilikan pribadi. Dalam kerangka mengooptasi pemilikan sumber-sumber daya ekonomi inilah, harus dimengerti mengapa hukum di masa penjajahan menempatkan orang Indonesia pribumi pada strata terbawah di bawah golongan timur asing. Berciri khas sebagai hukum ortodoks pada masanya karena mengonsolidasi kepentingan penguasa, ekonomi dan politik, dan tak memberi, dalam arti mengakui hak-hak politik orang pribumi, pemerintah jajahan memang sempat gemilang. Tetapi seperti biasanya, kegemilangan itu berujung juga. Tahun 1945, kegemilangan mereka berhenti. Memang masih dicoba untuk kembali tetapi pengalaman orang-orang pribumi terlalu berharga untuk dilupakan. Belanda pun tak dapat kembali lagi. Moralitas hukum dan kekuasaan berkarakter ortodoks seperti itu tidak dapat digunakan untuk membuat suatu masyarakat politik menjadi gemilang. Sekuat apapun energi politik sebuah bangsa digerakkan untuk memastikan eksistensi hukum ortodoks, tidak mungkin berhasil. Tatanan seperti itu akan gulung tikar pada saatnya juga. Imperium Romawi dan Britania Raya semuanya runtuh. Praktis, kekuasaan ortodoks dengan hukum yang ortodoks hukum yang tak berpihak dan mempromosikan kemanusiaan semuanya gulung tikar. Pesan dari semua sejarah itu satu; hukum yang dihasilkan oleh kekuasaan korup, feodal atau sebangsanya tidak memiliki daya tahan. Hukum yang tak manusiawi adalah pangkal kebangkrutan suatu bangsa. Semakin jelas dan terbukanya hukum ortodoks, bukan hanya semakin menunjukkan bahwa hukum tak lagi akrab dengan kemanusiaan, tetapi lebih dari itu. Hukum seperti itu menandai betapa bangsa tersebut sedang berlayar menuju ke titik karam. Semakin sering pengadilan mendemonstrasikan hukum yang di luar nalar keadilan umum, semakin cepat bangsa 46

16 itu mencapai titik karam. Semakin sering polisi dan jaksa, bahkan aparatur birokrasi sombong dalam berhukum, semakin terbuka jalan bagi bangsa tersebut menuju ke titik karam. Semakin terbuka masyarakat menontong ketidakadilan dalam berpolitik, ekonomi, dan berhukum, maka undangan untuk menata kembali tatanan itu semakin dekat ke jantung bangsa itu. Apa yang terjadi di tahun 1997 di negeri tercinta ini adalah sekelumit bukti itu. Seperti sejak tahun 1959 hingga 1966, kekuasaan yang berproses sejak tahun 1967 menjelma menjadi sesuatu yang begitu mewah dan personal. Malah kekuasaan menjadi begitu sakral, bukan saja karena tak bisa dipertanyakan, melainkan bermimpi untuk mempertanyakan pun tak boleh. Betul bangsa ini tidak bubar, tetapi faktanya hukum dan kekuasaan yang berlanggam ortodoks kala itu telah menggerogoti dirinya sendiri. Bangsa ini, ternyata tidak sekuat yang dibayangkan. Hukum, politik dan ekonomi, semuanya keropos. Hukum bisa dibeli dan tentu aparatur hukum bisa dibeli. Birokrasi yang sesuai sifatnya harus muncul sebagai pelayan suci justru menakutkan, sekurangkurangnya muncul menjadi sesosok mahluk politik yang menjengkelkan. Negara hukum seolah tak memiliki arti apapun bagi kemanusiaan pada masa itu. Negara hukum hanya sekedar penanda politik, betapa negara ini dibangun dan diselenggarakan menurut aturan hukum. Seperti apakah substansinya menjadi urusan nomor sekian. Hukum di bidang politik diorientasikan untuk mengonsolidasikan kekuasaan. Di bidang ekonomi dikonsolidasi dan diorientasikan hukum memperlebar jarak antara orang miskin dan orang kaya. Negara hukum, bukan hanya berubah menjadi negara undangundang, melainkan digerakkan dengan sejumlah decree, persis seperti cara bernegara di Eropa abad sampai abad ke 17. Indonesia memang bukan satu-satunya negara berlanggam itu. Ada Pilipina, Polandia, Spanyol, Yunani, Yugoslavia dan sejumlah negara lainnya di belahan Eropa. Faktanya, 47

Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1

Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1 Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1 Hamdan Zoelva 2 Pendahuluan Negara adalah organisasi, yaitu suatu perikatan fungsifungsi, yang secara singkat oleh Logeman, disebutkan

Lebih terperinci

MATERI KULIAH ILMU NEGARA MATCH DAY 6 ASAL MULA DAN LENYAPNYA NEGARA

MATERI KULIAH ILMU NEGARA MATCH DAY 6 ASAL MULA DAN LENYAPNYA NEGARA MATERI KULIAH ILMU NEGARA MATCH DAY 6 ASAL MULA DAN LENYAPNYA NEGARA A. TEORI ASAL MULA NEGARA Perihal asal mula negara secara substansial sesungguhnya membahas teori-teori mengenai bagaimana timbulnya

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945. PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e )

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945. PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e ) UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e ) Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL COVENANT ON ECONOMIC, SOCIAL AND CULTURAL RIGHTS (KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA)

Lebih terperinci

kinerja DPR-GR mengalami perubahan, manakala ada keberanian dari lembaga legislatif untuk kritis terhadap kinerja eksekutif. Pada masa Orde Baru,

kinerja DPR-GR mengalami perubahan, manakala ada keberanian dari lembaga legislatif untuk kritis terhadap kinerja eksekutif. Pada masa Orde Baru, i K Tinjauan Mata Kuliah onsep perwakilan di Indonesia telah terejawantahkan dalam berbagai model lembaga perwakilan yang ada. Indonesia pernah mengalami masa dalam pemerintahan parlementer meski dinyatakan

Lebih terperinci

DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA

DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA Diterima dan diumumkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948 melalui resolusi 217 A (III) Mukadimah Menimbang, bahwa pengakuan atas martabat alamiah

Lebih terperinci

MEMBANGUN KUALITAS PRODUK LEGISLASI NASIONAL DAN DAERAH * ) Oleh : Prof. Dr. H. Dahlan Thaib, S.H, M.Si**)

MEMBANGUN KUALITAS PRODUK LEGISLASI NASIONAL DAN DAERAH * ) Oleh : Prof. Dr. H. Dahlan Thaib, S.H, M.Si**) MEMBANGUN KUALITAS PRODUK LEGISLASI NASIONAL DAN DAERAH * ) Oleh : Prof. Dr. H. Dahlan Thaib, S.H, M.Si**) I Pembahasan tentang dan sekitar membangun kualitas produk legislasi perlu terlebih dahulu dipahami

Lebih terperinci

Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia

Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Mukadimah Menimbang bahwa pengakuan atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan mutlak dari semua anggota keluarga manusia adalah dasar kemerdekaan, keadilan

Lebih terperinci

PERADABAN AMERIKA MODERN DOSEN : AGUS SUBAGYO, S.IP., M.SI

PERADABAN AMERIKA MODERN DOSEN : AGUS SUBAGYO, S.IP., M.SI FISIP HI UNJANI CIMAHI 2011 PERADABAN MODERN DOSEN : AGUS SUBAGYO, S.IP., M.SI Revolusi Amerika 1776 Perang Sipil di Amerika 1861-1845 Perkembangan Amerika Serikat dan Amerika Latin Amerika Serikat Sebagai

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA IKHTISAR PUTUSAN PERKARA NOMOR 100/PUU-XI/2013 TENTANG KEDUDUKAN PANCASILA SEBAGAI PILAR BERBANGSA DAN BERNEGARA Pemohon Jenis Perkara Pokok Perkara Amar Putusan

Lebih terperinci

KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI)

KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) tertanggal 16 Desember 1966, dan terbuka untuk penandatangan, ratifikasi, dan aksesi MUKADIMAH

Lebih terperinci

ISLAM DI ANTARA DUA MODEL DEMOKRASI

ISLAM DI ANTARA DUA MODEL DEMOKRASI l ISLAM DI ANTARA DUA MODEL DEMOKRASI P r o j e c t i t a i g D k a a n Arskal Salim Kolom Edisi 002, Agustus 2011 1 Islam di Antara Dua Model Demokrasi Perubahan setting politik pasca Orde Baru tanpa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN. (Preambule)

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN. (Preambule) UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN (Preambule) Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 SALINAN UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN (Preambule) Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara menjamin hak konstitusional setiap orang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1994: 136 ) mengatakan tujuan dari welfere state ( negara kesejahteraan ) pada hakikatnya

BAB I PENDAHULUAN. 1994: 136 ) mengatakan tujuan dari welfere state ( negara kesejahteraan ) pada hakikatnya BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Sebagai negara berkembang, indonesia sedang giat- giatnya melakukan pembangunan baik dikota maupun di pedesaan. Pembangunan yang dilakukan merupakan rangkaian gerakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 200 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 200 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 200 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan kepribadian ditujukan untuk mengembangkan

Lebih terperinci

PERANAN MAHASISWA DALAM MEMERANGI KORUPSI

PERANAN MAHASISWA DALAM MEMERANGI KORUPSI PERANAN MAHASISWA DALAM MEMERANGI KORUPSI Disarikan dari Modul Sosialisasi Anti Korupsi BPKP tahun 2005 oleh Mohamad Risbiyantoro, Ak., CFE (PFA pada Deputi Bidang Investigasi BPKP). Mahasiswa dan sejarah

Lebih terperinci

PERSPEKTIF PEMERINTAH ATAS HAK DAN KEWAJIBAN MASYARAKAT HUKUM ADAT

PERSPEKTIF PEMERINTAH ATAS HAK DAN KEWAJIBAN MASYARAKAT HUKUM ADAT PERSPEKTIF PEMERINTAH ATAS HAK DAN KEWAJIBAN MASYARAKAT HUKUM ADAT DR. Wahiduddin Adams, SH., MA ** Pembentukkan Negara Kesatuan Republik Indonesia berawal dari bersatunya komunitas adat yang ada di seluruh

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia

Lebih terperinci

Trio Hukum dan Lembaga Peradilan

Trio Hukum dan Lembaga Peradilan Trio Hukum dan Lembaga Peradilan Oleh : Drs. M. Amin, SH., MH Telah diterbitkan di Waspada tgl 20 Desember 2010 Dengan terpilihnya Trio Penegak Hukum Indonesia, yakni Bustro Muqaddas (58), sebagai Ketua

Lebih terperinci

SEKILAS UNI EROPA SWEDIA FINLANDIA ESTONIA LATVIA LITHUANIA DENMARK INGGRIS BELANDA IRLANDIA POLANDIA JERMAN BELGIA REPUBLIK CEKO SLOWAKIA HONGARIA

SEKILAS UNI EROPA SWEDIA FINLANDIA ESTONIA LATVIA LITHUANIA DENMARK INGGRIS BELANDA IRLANDIA POLANDIA JERMAN BELGIA REPUBLIK CEKO SLOWAKIA HONGARIA SEKILAS UNI EROPA SWEDIA FINLANDIA PORTUGAL IRLANDIA LUKSEMBURG INGGRIS BELGIA SPANYOL BELANDA PERANCIS DENMARK JERMAN SLOVENIA AUSTRIA ITALIA POLANDIA KROASIA RUMANIA BULGARIA YUNANI ESTONIA LATVIA LITHUANIA

Lebih terperinci

Definisi tersebut dapat di perluas di tingkat nasional dan atau regional.

Definisi tersebut dapat di perluas di tingkat nasional dan atau regional. Definisi Global Profesi Pekerjaan Sosial Pekerjaan sosial adalah sebuah profesi yang berdasar pada praktik dan disiplin akademik yang memfasilitasi perubahan dan pembangunan sosial, kohesi sosial dan pemberdayaan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945. PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e)

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945. PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e) UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e) Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat

Lebih terperinci

KETERGANTUNGAN DAN KETERBELAKANGAN. Slamet Widodo

KETERGANTUNGAN DAN KETERBELAKANGAN. Slamet Widodo KETERGANTUNGAN DAN KETERBELAKANGAN Slamet Widodo Teori modernisasi ternyata mempunyai banyak kelemahan sehingga timbul sebuah alternatif teori yang merupakan antitesis dari teori modernisasi. Kegagalan

Lebih terperinci

Bahan Diskusi Sessi Kedua Implementasi Konvensi Hak Sipil Politik dalam Hukum Nasional

Bahan Diskusi Sessi Kedua Implementasi Konvensi Hak Sipil Politik dalam Hukum Nasional Bahan Diskusi Sessi Kedua Implementasi Konvensi Hak Sipil Politik dalam Hukum Nasional Oleh Agung Putri Seminar Sehari Perlindungan HAM Melalui Hukum Pidana Hotel Nikko Jakarta, 5 Desember 2007 Implementasi

Lebih terperinci

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA 1 K 29 - Kerja Paksa atau Wajib Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki

Lebih terperinci

Berpikir Benar, Berpikir Positif Oleh Elsa Sakina http://inspirasi-motivasi.blogspot.com

Berpikir Benar, Berpikir Positif Oleh Elsa Sakina http://inspirasi-motivasi.blogspot.com Berpikir Benar, Berpikir Positif Oleh Elsa Sakina http://inspirasi-motivasi.blogspot.com Hak Cipta 2008 oleh Elsa Sakina Produk ini boleh Anda sebar-luaskan secara cuma-cuma alias gratis. Dilarang keras

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 (yang dipadukan dengan Perubahan I, II, III & IV) PEMBUKAAN (Preambule) Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEAMANAN NASIONAL

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEAMANAN NASIONAL RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KEAMANAN NASIONAL Jakarta, 16 Oktober 2012 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KEAMANAN NASIONAL DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai badan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender 1 Tujuan belajar 1. Memahami arti stereotip dan stereotip gender 2. Mengidentifikasi karakter utama stereotip gender 3. Mengakui stereotip gender dalam media

Lebih terperinci

Bab 1. Hak-hak Pasal 1 Setiap orang berhak atas penghidupan, kemerdekaan dan keselamatan pribadinya.

Bab 1. Hak-hak Pasal 1 Setiap orang berhak atas penghidupan, kemerdekaan dan keselamatan pribadinya. 1 Region Amerika Deklarasi Amerika tentang Hak dan Tanggung jawab Manusia (1948) Deklarasi Amerika tentang Hak dan Tanggung jawab Manusia Diadopsi oleh Konferensi Internasional Negara-negara Amerika Ke-9

Lebih terperinci

GAGASAN NEGARA HUKUM INDONESIA

GAGASAN NEGARA HUKUM INDONESIA GAGASAN NEGARA HUKUM INDONESIA Oleh: Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH 1. Pengantar Dalam rangka perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, maka dalam Perubahan Keempat pada tahun

Lebih terperinci

K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA

K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA 1 K-88 Lembaga Pelayanan Penempatan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi

Lebih terperinci

Anggaran Dasar Anggaran Rumah Tangga Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi

Anggaran Dasar Anggaran Rumah Tangga Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi Anggaran Dasar Anggaran Rumah Tangga Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi 2011 PEMBUKAAN Organisasi Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi didirikan pada 18 Mei 1998

Lebih terperinci

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA NOMOR 7 TAHUN 2012

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA NOMOR 7 TAHUN 2012 1 PENJELASAN PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA NOMOR 7 TAHUN 2012 TENTANG BANTUAN KEUANGAN KEPADA PARTAI POLITIK I. UMUM Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjamin kemerdekaan berserikat,

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 DALAM SATU NASKAH

UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 DALAM SATU NASKAH MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT SEKRETARIAT JENDERAL UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 DALAM SATU NASKAH MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT SEKRETARIAT JENDERAL UNDANG UNDANG DASAR NEGARA

Lebih terperinci

K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA

K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA 1 K 100 - Upah yang Setara bagi Pekerja Laki-laki dan Perempuan untuk Pekerjaan yang Sama Nilainya 2 Pengantar

Lebih terperinci

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM KERJA AMAN PERIODE 2012 2017

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM KERJA AMAN PERIODE 2012 2017 GARIS-GARIS BESAR PROGRAM KERJA AMAN PERIODE 2012 2017 Laporan Sekjen AMAN Periode 2007-2012, Hasil Pertemuan-pertemuan Komite Pengarah dan Hasil Sarasehan Masyarakat Adat yang dilaksanakan pada tanggal

Lebih terperinci

B A B I P E N D A H U L U A N. membutuhkan materi atau uang seperti halnya pemerintahan-pemerintahan

B A B I P E N D A H U L U A N. membutuhkan materi atau uang seperti halnya pemerintahan-pemerintahan B A B I P E N D A H U L U A N A. Latar Belakang Masalah Untuk menjalankan roda pemerintahan, Pemerintah Indonesia tentu membutuhkan materi atau uang seperti halnya pemerintahan-pemerintahan lain yang ada

Lebih terperinci

Nota Kesepahaman. antara. Pemerintah Republik Indonesia. dan. Gerakan Aceh Merdeka

Nota Kesepahaman. antara. Pemerintah Republik Indonesia. dan. Gerakan Aceh Merdeka Nota Kesepahaman antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menegaskan komitmen mereka untuk penyelesaian konflik Aceh secara

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN HAK MASYARAKAT HUKUM ADAT

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN HAK MASYARAKAT HUKUM ADAT RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN. TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN HAK MASYARAKAT HUKUM ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PUTUSAN Nomor 108/PUU-XI/2013 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

PUTUSAN Nomor 108/PUU-XI/2013 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PUTUSAN Nomor 108/PUU-XI/2013 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA [1.1] Yang mengadili perkara konstitusi pada tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan

Lebih terperinci

UU 28 Tahun 1999 : Pelembagaan Peran Serta Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan bebas KKN

UU 28 Tahun 1999 : Pelembagaan Peran Serta Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan bebas KKN UU 28 Tahun 1999 : Pelembagaan Peran Serta Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan bebas KKN Oleh : Slamet Luwihono U ERGULIRNYA arus reformasi di Indonesia telah menghadirkan harapan

Lebih terperinci

K122 Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja

K122 Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja K122 Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja 1 K 122 - Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan

Lebih terperinci

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang I. PEMOHON Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dalam hal ini diwakili oleh Irman Gurman,

Lebih terperinci

MUKADIMAH. Untuk mewujudkan keluhuran profesi dosen maka diperlukan suatu pedoman yang berupa Kode Etik Dosen seperti dirumuskan berikut ini.

MUKADIMAH. Untuk mewujudkan keluhuran profesi dosen maka diperlukan suatu pedoman yang berupa Kode Etik Dosen seperti dirumuskan berikut ini. MUKADIMAH STMIK AMIKOM YOGYAKARTA didirikan untuk ikut berperan dalam pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dibidang manajemen, teknologi, dan kewirausahaan, yang akhirnya bertujuan untuk memperoleh

Lebih terperinci

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 52/PUU-XIII/2015 Pengumuman Terhadap Hak Cipta Yang Diselenggarakan Pemerintah

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 52/PUU-XIII/2015 Pengumuman Terhadap Hak Cipta Yang Diselenggarakan Pemerintah RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 52/PUU-XIII/2015 Pengumuman Terhadap Hak Cipta Yang Diselenggarakan Pemerintah I. PEMOHON Bernard Samuel Sumarauw. II. OBJEK PERMOHONAN Pengujian materiil Undang-Undang

Lebih terperinci

K19 PERLAKUKAN YANG SAMA BAGI PEKERJA NASIONAL DAN ASING DALAM HAL TUNJANGAN KECELAKAAN KERJA

K19 PERLAKUKAN YANG SAMA BAGI PEKERJA NASIONAL DAN ASING DALAM HAL TUNJANGAN KECELAKAAN KERJA K19 PERLAKUKAN YANG SAMA BAGI PEKERJA NASIONAL DAN ASING DALAM HAL TUNJANGAN KECELAKAAN KERJA 1 K-19 Perlakukan Yang Sama Bagi Pekerja Nasional dan Asing dalam Hal Tunjangan Kecelakaan Kerja 2 Pengantar

Lebih terperinci

SUMBER HUKUM A. Pendahuluan

SUMBER HUKUM A. Pendahuluan SUMBER HUKUM A. Pendahuluan Apakah yang dimaksud dengan sumber hukum? Dalam bahasa Inggris, sumber hukum itu disebut source of law. Perkataan sumber hukum itu sebenarnya berbeda dari perkataan dasar hukum,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Orde Baru lahir dari tekad untuk melakukan koreksi total atas kekurangan sistem politik yang

I. PENDAHULUAN. Orde Baru lahir dari tekad untuk melakukan koreksi total atas kekurangan sistem politik yang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Orde Baru lahir dari tekad untuk melakukan koreksi total atas kekurangan sistem politik yang telah dijalankan sebelumnya. Dengan kebulatan tekad atau komitmen

Lebih terperinci

Mengakui, bahwa hak-hak ini berasal dari harkat dan martabat yang melekat pada setiap manusia.

Mengakui, bahwa hak-hak ini berasal dari harkat dan martabat yang melekat pada setiap manusia. 1 KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK SIPIL DAN POLITIK Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) Tertanggal 16 Desember 1966, Terbuka untuk penandatangan, Ratifikasi dan Aksesi MUKADIMAH Negara-negara

Lebih terperinci

IKLIM ORGANISASI. Rangkaian Kolom Kluster I, 2012

IKLIM ORGANISASI. Rangkaian Kolom Kluster I, 2012 IKLIM ORGANISASI Sebuah mesin memiliki batas kapasitas yang tidak dapat dilampaui berapapun besaran jumlah energi yang diberikan pada alat itu. Mesin hanya dapat menghasilkan produk dalam batas yang telah

Lebih terperinci

Memaknai Kembali Arti Kesejahteraan Guru. Oleh : Fahriza Marta Tanjung, S.Pd. 1

Memaknai Kembali Arti Kesejahteraan Guru. Oleh : Fahriza Marta Tanjung, S.Pd. 1 Memaknai Kembali Arti Kesejahteraan Guru Oleh : Fahriza Marta Tanjung, S.Pd. 1 Perspektif Kesejahteraan Guru Kini Dalam setiap Peringatan Hari Guru, persoalan kesejahteraan guru selalu menjadi topik yang

Lebih terperinci

PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER

PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER Kami meyakini bahwa bisnis hanya dapat berkembang dalam masyarakat yang melindungi dan menghormati hak asasi manusia. Kami sadar bahwa bisnis memiliki tanggung

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Bangsa Barat datang ke Indonesia khususnya di Bengkulu sesungguhnya adalah

I. PENDAHULUAN. Bangsa Barat datang ke Indonesia khususnya di Bengkulu sesungguhnya adalah I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangsa Barat datang ke Indonesia khususnya di Bengkulu sesungguhnya adalah usaha untuk memperluas, menjamin lalu lintas perdagangan rempah-rempah hasil hutan yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai

Lebih terperinci

Menghormati Proses Hukum Century

Menghormati Proses Hukum Century KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM RI BADAN PEMBINAAN HUKUM NASIONAL Pusat Dokumentasi dan Jaringan lnformasi Hukum Nasional Jl.May.Jen. Sutoyo -Cililitan- Jakarta Timur Sumber : N~DlA ll\ltt:ji\j~a- \ Hariff~l

Lebih terperinci

Mengapa kaum Muslimin mundur dan kenapa kaum selain mereka maju? yang dalam

Mengapa kaum Muslimin mundur dan kenapa kaum selain mereka maju? yang dalam MENGAPA KAUM MUSLIMIN MUNDUR? Oleh: Imam Nasruddin 1 Pendahuluan Tulisan ini sebenarnya merupakan pengadopsian dari buku karya Al-Amier Syakieb Arsalan yang terkenal itu. Buku yang sudah terlalu tua dari

Lebih terperinci

dicita-citakan, maka struktur organisasi desa harus diberi ruang gerak untuk hidup, tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya sendiri.

dicita-citakan, maka struktur organisasi desa harus diberi ruang gerak untuk hidup, tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya sendiri. PROLOGUE Gagasan yang ditawarkan oleh buku ini sangat jelas, yaitu memperkenalkan pemikiran baru perihal konstitusi sosial sebagai suatu konsep tentang sistem rujukan normatif tertinggi dalam peri kehidupan

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS

SAMBUTAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL SAMBUTAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/KEPALA BAPPENAS Pada Acara Temu Muka dan

Lebih terperinci

SELAMAT DATANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

SELAMAT DATANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN SELAMAT DATANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN (Oleh: Jamason Sinaga, Ak.*) 1. Pendahuluan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tanggal 13

Lebih terperinci

K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL

K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL 1 K-144 Konsultasi Tripartit untuk Meningkatkan Pelaksanaan Standar-Standar Ketenagakerjaan Internasional

Lebih terperinci

Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit

Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit esaunggul.ac.id http://www.esaunggul.ac.id/article/merancang-strategi-komunikasi-memenangkan-pemilih-dan-kelompok/ Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit Dr. Erman Anom,

Lebih terperinci

"Itu Kejahatan": Perampasan kemerdekaan secara tidak sah

Itu Kejahatan: Perampasan kemerdekaan secara tidak sah Siapapun dia, termasuk Hakim, Jaksa dan Polisi, tak sah merampas kemerdekaan tanpa dasar yang sah. Perampasan kemerdekaan, apakah itu penangkapan, penahanan, atau pemenjaraan wajib dengan perintah yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Republik Indonesia, sebagai negara hukum

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara Republik Indonesia, sebagai negara hukum berdasarkan

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG ORGANISASI MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG ORGANISASI MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG ORGANISASI MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kebebasan berserikat, berkumpul,

Lebih terperinci

Pedoman Penerapan Pengecualian Informasi

Pedoman Penerapan Pengecualian Informasi Pedoman Penerapan Pengecualian Informasi 1. Prinsip- prinsip Kerangka Kerja Hukum dan Gambaran Umum Hak akan informasi dikenal sebagai hak asasi manusia yang mendasar, baik di dalam hukum internasional

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PUTUSAN MK DAN PELUANG PENGUJIAN KEMBALI TERHADAP PASAL PENCEMARAN NAMA BAIK. Oleh: Muchamad Ali Safa at

PUTUSAN MK DAN PELUANG PENGUJIAN KEMBALI TERHADAP PASAL PENCEMARAN NAMA BAIK. Oleh: Muchamad Ali Safa at PUTUSAN MK DAN PELUANG PENGUJIAN KEMBALI TERHADAP PASAL PENCEMARAN NAMA BAIK Oleh: Muchamad Ali Safa at 1. Salah satu ancaman yang dihadapi oleh aktivis adalah jeratan hukum yang diterapkan dengan menggunakan

Lebih terperinci

HAK AZASI MANUSIA DAN PENEGAKAN SUPREMASI HUKUM

HAK AZASI MANUSIA DAN PENEGAKAN SUPREMASI HUKUM HAK AZASI MANUSIA DAN PENEGAKAN SUPREMASI HUKUM Oleh : ANI PURWANTI, SH.M.Hum. FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008 PENGERTIAN HAM HAM adalah hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat

Lebih terperinci

Sambutan Kepala SMA Negeri 1 Kesamben pada Acara Perpisahan dengan siswa 2 Februari 2009.

Sambutan Kepala SMA Negeri 1 Kesamben pada Acara Perpisahan dengan siswa 2 Februari 2009. Sambutan Kepala SMA Negeri 1 Kesamben pada Acara Perpisahan dengan siswa 2 Februari 2009. Bismillahir rahmaanir rahiim Assalamu alaiukum warahmatullohi wabarakaatuh Innal hamdal lillah nahmaduhu wanasta

Lebih terperinci

-3- MEMUTUSKAN: Pasal I

-3- MEMUTUSKAN: Pasal I -2-3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran (L embaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4252); 4. Undang-Undang Nomor 2 Tahun

Lebih terperinci

KEDUDUKAN LEMBAGA NEGARA BANTU DALAM SISTEM KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA

KEDUDUKAN LEMBAGA NEGARA BANTU DALAM SISTEM KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA KEDUDUKAN LEMBAGA NEGARA BANTU DALAM SISTEM KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA ( Analisis Kedudukan Komisi Pemberantasan Korupsi Sebagai Lembaga Negara Bantu) SKRIPSI Oleh : NAJIULLOH Nomor Mahasiswa :

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa salah satu alat

Lebih terperinci

KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PADA ACARA PERINGATAN ISRA MI RAJ NABI MUHAMMAD SAW 1435 H / 2014 H TANGGAL 20 JUNI 2014

KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PADA ACARA PERINGATAN ISRA MI RAJ NABI MUHAMMAD SAW 1435 H / 2014 H TANGGAL 20 JUNI 2014 KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PADA ACARA PERINGATAN ISRA MI RAJ NABI MUHAMMAD SAW 1435 H / 2014 H TANGGAL 20 JUNI 2014 Assalamu alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera bagi kita semua. Yang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN PEMIKIRAN

BAB II LANDASAN PEMIKIRAN BAB II LANDASAN PEMIKIRAN 1. Landasan Filosofis Filosofi ilmu kedokteran Ilmu kedokteran secara bertahap berkembang di berbagai tempat terpisah. Pada umumnya masyarakat mempunyai keyakinan bahwa seorang

Lebih terperinci

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK DIREKTORAT PENYULUHAN PELAYANAN DAN HUBUNGAN MASYARAKAT KATA PENGANTAR DAFTAR ISI Assalamualaikum

Lebih terperinci

EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN

EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN l Edisi 001, Agustus 2011 EMPAT AGENDA ISLAM YANG MEMBEBASKAN P r o j e c t i t a i g k a a n D Luthfi Assyaukanie Edisi 001, Agustus 2011 1 Edisi 001, Agustus 2011 Empat Agenda Islam yang Membebaskan

Lebih terperinci

RUANG LINGKUP HUKUM ISLAM. Ngurah Suwarnatha, S.H., LL.M. Suwarnatha.pusku.com Suwarnatha.hol.es

RUANG LINGKUP HUKUM ISLAM. Ngurah Suwarnatha, S.H., LL.M. Suwarnatha.pusku.com Suwarnatha.hol.es RUANG LINGKUP HUKUM ISLAM Ngurah Suwarnatha, S.H., LL.M. Suwarnatha.pusku.com Suwarnatha.hol.es Pendapat orientalis terhadap kedudukan dan peranan Hukum Islam Menurut Rene David Universitas Paris, menyatakan

Lebih terperinci

Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1

Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1 S T U D I K A S U S Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1 F R A N C I S I A S S E S E D A TIDAK ADA RINTANGAN HUKUM FORMAL YANG MENGHALANGI PEREMPUAN untuk ambil bagian dalam

Lebih terperinci

RechtsVinding Online. Sistem Merit Sebagai Konsep Manajemen ASN

RechtsVinding Online. Sistem Merit Sebagai Konsep Manajemen ASN PENERAPAN SISTEM MERIT DALAM MANAJEMEN ASN DAN NETRALITAS ASN DARI UNSUR POLITIK DALAM UNDANG-UNDANG APARATUR SIPIL NEGARA Oleh: Akhmad Aulawi, SH., MH. * Akhir tahun 2013, menjadi momentum yang penting

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG LAMBANG DAERAH KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG LAMBANG DAERAH KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG LAMBANG DAERAH KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, Menimbang : a. bahwa Pemerintah Kabupaten Jembrana

Lebih terperinci

PARADIGMA BARU PENDIDIKAN NASIONAL DALAM UNDANG UNDANG SISDIKNAS NOMOR 20 TAHUN 2003

PARADIGMA BARU PENDIDIKAN NASIONAL DALAM UNDANG UNDANG SISDIKNAS NOMOR 20 TAHUN 2003 PARADIGMA BARU PENDIDIKAN NASIONAL DALAM UNDANG UNDANG SISDIKNAS NOMOR 20 TAHUN 2003 Dalam upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia, mengejar ketertinggalan di segala aspek kehidupan dan menyesuaikan

Lebih terperinci

Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi

Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi Prototipe Media Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi Prakata SALAM SEHAT TANPA KORUPSI, Korupsi merupakan perbuatan mengambil sesuatu yang sebenarnya bukan haknya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyelesaian perkara pidana, keterangan yang diberikan oleh seorang saksi. pidana atau tidak yang dilakukan terdakwa.

BAB I PENDAHULUAN. penyelesaian perkara pidana, keterangan yang diberikan oleh seorang saksi. pidana atau tidak yang dilakukan terdakwa. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Alat bukti berupa keterangan saksi sangatlah lazim digunakan dalam penyelesaian perkara pidana, keterangan yang diberikan oleh seorang saksi dimaksudkan untuk

Lebih terperinci

Kode Etik. .1 "Yang Harus Dilakukan"

Kode Etik. .1 Yang Harus Dilakukan Kode Etik Kode Etik Dokumen ini berisi "Kode Etik" yang harus dipatuhi oleh para Direktur, Auditor, Manajer, karyawan Pirelli Group, serta secara umum siapa saja yang bekerja di Italia dan di luar negeri

Lebih terperinci

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT SA Seksi 312 RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT Sumber: PSA No. 25 PENDAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan bagi auditor dalam mempertimbangkan risiko dan materialitas pada saat perencanaan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

Hambatan terhadap Partisipasi Politik Perempuan di Indonesia

Hambatan terhadap Partisipasi Politik Perempuan di Indonesia S T U D I K A S U S INDONESIA - HAMBATAN Hambatan terhadap Partisipasi Politik KHOFIFAH INDAR PARAWANSA SEJARAH TENTANG REPRESENTASI PEREMPUAN DI PARLEMEN INDONESIA merupakan sebuah proses panjang, tentang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Empat Syarat Sifat Ilmiah Pancasila Yuridis Kenegaraan

BAB I PENDAHULUAN A. Empat Syarat Sifat Ilmiah Pancasila Yuridis Kenegaraan BAB I PENDAHULUAN A. Empat Syarat Sifat Ilmiah Pancasila Yuridis Kenegaraan Terdapat empat tiang penyangga dalam mempelajari ilmu Pancasila yuridis kenegaraan yang dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Objeknya

Lebih terperinci