Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 3 No. 1 (Januari, 2020) E-ISSN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 3 No. 1 (Januari, 2020) E-ISSN"

Transkripsi

1

2

3 Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 2

4 Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 3 No. 1 (Januari, 2020) : E-ISSN Terakreditasi Nasional Peringkat 3 No. 36/E/KPT/2019 ARTIKEL RISET URL artikel: Uji Efektivitas Ekstrak Jintan Hitam (Nigella Sativa) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus Aureus Pada Medium MHA (Mueller Hinton Agar) K Armanto Makmun 1, Zulfiyah Surdam 2, Andi Mufida Gunawan 3 1,3 Departemen Program Studi Sarjana Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Muslim Indonesia 2 Departemen Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas Muslim Indonesia Penulis Korespondensi ( K ): 1, 2, ( ) ABSTRAK Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang menghadapi penyakit infeksi. Staphylococcus aureus merupakan patogen utama pada manusia dan hampir setiap orang pernah mengalami infeksi Staphylococcus aureus yang bervariasi dalam beratnya, mulai dari keracunan makanan hingga infeksi kulit ringan sampai berat yang mengancam jiwa. Namun mengingat tingginya angka resistensi antibiotik maka penggunaan tanaman obat sebagai alternatif terapi merupakan pilihan yang lebih aman. Penelitian ini bertujuan mengetahui khasiat ekstrak jintan hitam dalam menghambat pertumbuhan bakteri staphylococcus aureus. Penelitian ini adalah penelitian experimental post test dengan menggunakan metode disc diffusion untuk melihat bagaimana efektivitas Ekstrak Jintan Hitam (nigella sativa) sebagai antimikroba terhadap staphylococcus aureus secara in vitro. Pada ekstrak jintan hitam didapatkan zona hambat yang paling tinggi pada konsentrasi 100% dengan rerata zona hambat sebesar 24 mm, sedangkan zona hambat yang paling rendah yaitu pada konsentrasi 25% dengan rerata zona hambat sebesar 10 mm. Pada kontrol positif menggunakan antibiotik kloramfenikol didapatkan rerata zona hambat sebesar 30 mm yakni sensitif menghambat pertumbuhan bakteri, sedangkan pada kontrol negatif menggunakan akuades tidak terbentuk zona hambat. Terbentuk daya hambat terhadap bakteri staphylococcus aureus dengan pemberian ekstrak jintan hitam pada semua konsentrasi. Perlu dilakukan uji aktivitas biji jintan hitam (nigella sativa) terhadap bakteri gram negatif lainnya. Sebaiknya dalam proses pembuatan ekstrak jintan hitam, digunakan bantuan alat spektromtri dengan metode cromatografy untuk menghindari kesalahan dalam pembuatan ekstrak. Kata kunci: Jintan hitam; staphylococcus aureus; mueller hinton agar Article history : PUBLISHED BY : Received 11 September 2019 Public Health Faculty Universitas Muslim Indonesia Received in revised form 18 Desember 2019 Accepted 18 Desember 2019 Address : Available online 25 Januari 2020 Jl. Urip Sumoharjo Km. 5 (Kampus II UMI) licensed by Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. Makassar, Sulawesi Selatan. Phone : ABSTRACT Penerbit : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 1

5 Indonesia is a developing country facing infectious diseases. Staphylococcus aureus is a major pathogen in humans and almost every person who has been infected with staphylococcus aureus varies in weight, ranging from snacks to weight that can help people. However, given the antibiotic resistance rates, the use of alternative medicinal plants is a safer choice. This study tries to understand the efficacy of black cumin extract in inhibiting the growth of staphylococcus aureus bacteria. This research is an experimental post-test study using the disc diffusion method to see how to use Black Cumin Extract (nigella sativa) as an antimicrobial against staphylococcus aureus in vitro. Black cumin extract obtained the highest inhibition zone at 100% concentration with a mean inhibition zone of 24 mm, while the lowest inhibition zone at a concentration of 25% with an average inhibition zone of 10 mm. Positive control using chloramphenicol antibiotics used a mean inhibition zone of 30 mm that is sensitive to bacterial growth, whereas in negative controls using distilled zone no inhibition is formed. Compared with Staphylococcus aureus bacteria by giving black cumin extract at all concentrations. It is necessary to test the activity of black cumin seeds (nigella sativa) against other gram-negative bacteria. We recommend that in the process of making black cumin extract, use of spectrometry tools with the cromatografy method to avoid errors in making extracts. Keywords: Black cumin; staphylococcus aureus; mueller hinton agar PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang menghadapi penyakit infeksi. Penyakit ini akan menimbulkan kerugian fisik dan finansial selain produktifitas secara nasional. Penyebaran penyakit infeksi ini dapat melalui berbagai perantara atau agen, seperti udara, binatang, benda-benda, dan juga manusia sendiri. Tanpa kita sadari tempat kerja, sekolah, dan rumah sakit merupakan tempat yang berisiko tinggi terhadap sumber penularan. 1 Staphylococcus adalah penyebab utama infeksi bernanah pada manusia yang terdapat di rongga hidung dan kulit sebagian besar populasi manusia. Jalur masuknya staphylococcus ke tubuh melalui folikel rambut, tusukan jarum atau melalui saluran pernafasan. Prototipe lesi staphylococcus adalah furunkel atau abses lokal lainnya yang dapat menyebabkan nekrosis jaringan (faktor dermatonekrotik), menghasilkan enzim koagulase yang mengkoagulasi fibrin di sekitar lesi dan di dalam saluran getah bening, mengakibatkan pembentukan dinding yang membatasi proses dan diperkuat oleh penumpukan sel radang dan kemudian jaringan fibrosis. 2 Staphylococcus aureus adalah bakteri aerob yang bersifat gram- positif dan merupakan salah satu flora normal manusia pada kulit dan selaput mukosa. Staphylococcus aureus merupakan patogen utama pada manusia dan hampir setiap orang pernah mengalami infeksi staphylococcus aureus yang bervariasi dalam beratnya, mulai dari keracunan makanan hingga infeksi kulit ringan sampai berat yang mengancam jiwa. Jika staphylococcus aureus menyebar dan terjadi bakterimia, maka kemungkinan bisa terjadi endocarditis, osteomyelitis hematogenus akut, meningitis, dan infeksi paru-paru. 3 Beberapa tahun terakhir ini, banyak dilaporkan adanya resistensi obat terhadap bakteri patogen pada manusia, termasuk staphylococcus aureus yang telah resisten terhadap antibiotik yang biasa digunakan, misalnya penisilin, ampisilin, tobramisin, siprofloksasin, vankomisin, oflokasin, azitromisin, Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 2

6 levoflaksin dan amikasin. 3 Pengobatan yang tepat dari penyakit infeksi adalah pemberian antibiotik. Namun mengingat tingginya angka resistensi antibiotik maka penggunaan tanaman obat sebagai alternatif terapi merupakan pilihan yang lebih aman. Banyak penelitian telah membuktikan tanaman memiliki efek terapi yang menguntungkan, termasuk anti-oksidan, anti-inflamasi, antikanker, anti- mikroba, dan efek imunomodulator. Diantara tanaman yang menjanjikan, nigella sativa adalah sebuah dicotyledon dari keluarga renunculaceae. 4 Berdasarkan penelitian, jintan hitam (nigella sativa) bermanfaat sebagai antioksidan, antikanker, antikolesterol, antihistamin, analgesik, antibiotik, imunomodulator, dan sebagainya. Salah satu kandungan jintan hitam adalah minyak volatil. Komponen utama minyak volatil adalah thymokuinon, thymohidrokuinon, ditimokuinon, timol, dan tannin terbukti mampu menghambat pertumbuhan bakteri dan fungi, meskipun mekanisme aksi antimikroba dari senyawa-senyawa ini belum jelas. 5 Minyak jintan hitam terbukti paling efektif melawan bakteri. Pada tahun 2009, Asniyah meneliti efek antimikroba jintan hitam terhadap pertumbuhan eschericia coli secara in vitro. Hasil dari penelitian ini menunjukkan pada konsentrasi 50%, 75%, dan 100% terbentuk zona hambat yang bermakna secara statistik. Pada tahun 2010, Grandiosa dari Universitas Padjadjaran membuktikan bahwa ekstrak jintan hitam efektif menghambat pertumbuhan aeromonas hydrophila. 6 Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek yang dapat diperoleh dari jintan hitam (nigella sativa) sebagai alternatif yang dapat dijadikan sebagai obat antibakteri dalam mencegah penyakit infeksi yang disebabkan staphylococcus aureus. 6 METODE Penelitian ini adalah penelitian experimental post test dengan menggunakan metode disc diffusio untuk melihat bagaimana efektivitas ekstrak jintan hitam (nigella sativa) sebagai antimikroba terhadap staphylococcus aureus secara in vitro. Sampel penelitian ini menggunakan ekstraksi jintan hitam konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100%. Untuk menentukan besar sampel pada penelitian ini digunakan rumus Federer : (n-1)(k-1)>15 (n-1)(10-1)>15 Keterangan : (n-1)9>15 n = banyaknya sampel (pengulangan) (9n-9)>15 k= banyaknya perlakuan n>2,67 Berdasarkan rumus diatas maka besar sampel yang digunakan adalah Untuk menghindari terjadinya kesalahan, maka dibulatkan keatas menjadi 3 sampel yang digunakan sebagai acuan dilakukannya pengulangan pada penelitian ini adalah 3 kali pengulangan. Bakteri staphylococcus aureus biakan murni didapatkan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran, Universitas Muslim Indonesia yang beralamat di Jalan Urip Sumohardjo KM 5. Pengujian dilakukan secara in vitro dengan metode difusi agar yang menggunakan paper disk berkuran 15 mm. Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 3

7 Medium MHA (Mueller Hinton Agar) steril dipanaskan pada suhu 40 0 C-45 0 C. Tuangkan suspensi bakteri uji secara aseptis ke dalam cawan petri sebanyak 1 ml, selanjutnya dituangkan medium MHA (Mueller Hinton Agar) sebanyak ml di atasnya, dihomogenkan dan dibiarkan memadat. Sediakan 4 buah vial, masukkan jintan hitam yang telah diencerkan tadi yaitu konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100%. Masukkan larutan DMSO (Dimetil Sulfoksida) sebanyak 0.1 ml kedalam masing-masing vial yang berisi dengan jintan hitam yang telah diencerkan. Tunggu hingga jintan hitam terlarut bersama dengan larutan DMSO (Dimetil Sulfoksida) sekitar menit. Masukkan paper disk sebanyak 2 buah kedalam masing-masing vial kemudian tunggu hingga 15 menit sampai paper disc blank larut ke dalam jintan hitam yang telah diencerkan. Sediakan pinset dan cawan petri yang telah diberi suspensi bakteri. Tulis keterangan pada masing-masing cawan petri untuk konsentrasi jintan hitam 25%, 50%, 75% dan 100%. Ambil masing-masing paper disk yang telah direndam dari vial dengan konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100%. Masukkan paper disk ke dalam cawan petri (konsentrasi yang sama dengan konsentrasi yang tertera dalam cawan petri dengan paper disc yang diambil dari konsentrasi jintan hitam yang telah diencerkan), paper disc berada di tengah. Lakukan hal yang sama pada uji kontrol positif dengan antibiotik kloramfenikol. Bungkus ke-5 cawan petri dengan kertas kemudian masukkan kedalam inkubator dengan suhu kamar atau 370C dan diamkan selama 1x24 jam. Ukur daerah hambatan dengan menggunakan jangka sorong satuan millimeter (mm). Bandingkan zona hambat yang dihasilkan oleh ekstrak jintan hitam dengan zona hambat yang dihasilkan oleh antibiotik kloramfenikol. Lihat efektivitas dari jintan hitam terhadap bakteri staphylococcus aureus. Data hasil penelitian ekstrak jintan hitam pada staphylococcus aureus dianalisis secara deskriptif dengan menyimpulkan berdasarkan pengamatan langsung hasil identifikasi, dengan melihat medium yang telah dimasukkan bakteri staphylococcus aureus dan pemberian ekstrak jintan hitam dengan variasi dosis. HASIL Biji jintan hitam sebanyak 500 gram didapatkan di Toko Metro Mall Ratu Indah di Makassar, kemudian dihaluskan dengan blender dan dilarutkan dalam pelarut etanol 96%. Ekstrak jintan hitam di rendam dan di diamkan selama 3 hari, setelah dilakukan perendaman selanjutnya dilakukan penyaringan menggunakan kertas saring sehingga tidak ada lagi ampas jintan hitam yang tersisa. Setelah proses penyaringan ekstrak selanjutnya dilakukan pengeringan menggunakan bantuan hairdryer sehingga mengental. Setelah terbentuk ekstrak yang kental, selanjutnya dilakukan penimbangan untuk tiap-tiap konsentrasi yang dilarutkan dengan 10 ml DMSO (Dimetil Sulfoksida). Lalu diaduk hingga seluruh ekstrak larut dengan DMSO (Dimetil Sulfoksida). Rerata zona hambat yang terbentuk pada berbagai konsentrasi ekstrak jintan hitam, kontrol positif, dan kontrol negatif dapat dilihat pada tabel 1.1 Tabel 1. Zona Hambat Yang Terbentuk Pada Berbagai Konsentrasi Ekstrak dan Minyak Jintan Hitam Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 4

8 Bahan Penelitian Konsentrasi Zona Hambat Pada Staphylococcus Aureus (mm) R1 R2 Rerata (mm) Interpretasi Respon Hambatan Pertumbuhan 25% 10 mm 10 mm 10 mm Resisten Ekstrak Biji Jintan Hitam 50% 75% 12 mm 13 mm 12 mm 13 mm 12 mm 13 cm Resisten Resisten 100% 24 mm 24 mm 24 mm Sensitif Kontrol(+) Kloramfenikol 30 mm 30 mm Sensitif Kontrol (-) Akuades 0 mm 0 mm Resisten Berdasarkan tabel 1, dapat dilihat bahwa pada ekstrak jintan hitam didapatkan zona hambat yang paling tinggi pada konsentrasi 100% dengan rerata zona hambat sebesar 24 mm, sedangkan zona hambat yang paling rendah yaitu pada konsentrasi 25% dengan rerata zona hambat sebesar 10 mm. Pada kontrol positif menggunakan antibiotik kloramfenikol didapatkan rerata zona hambat sebesar 30 mm yakni sensitif menghambat pertumbuhan bakteri, sedangkan pada kontrol negatif menggunakan akuades tidak terbentuk zona hambat. Berdasarkan klasifikasi zona hambat bakteri pada buku Jawetz, diameter zona hambat >23 mm dikatakan sensitif, zona hambat mm dikatakan intermediet, dan zona hambat <14 mm dikatakan resisten. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ekstrak jintan hitam pada penelitian kali ini efektif menghambat pertumbuhan bakteri staphylococcus aureus pada konsentrasi 100% dengan daya hambat bakteri sensitif. PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan untuk menguji efektifitas dari ekstrak jintan hitam terhadap pertumbuhan bakteri staphylococcus aureus. Penelitian ini menggunakan metode disc diffusion. Sebelum dilakukan penelitian, bakteri terlebih dahulu diremajakan selama 24 jam untuk mendapatkan bakteri yang aktif karena sebelumnya bakteri yang dari dalam lemari pendingin masih dalam bentuk inaktif. Pembuatan medium ekstrak dan minyak jintan hitam masing-masing memiliki 4 cawan petri beserta 1 cawan petri berisi cakram kontrol positif kloramfenikol dan 1 cawan petri berisi cakram kontrol negatif akuades. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengusapkan bakteri staphylococcus aureus ke cawan petri yang sudah berisi medium agar, kemudian letakkan cakram yang sudah direndamkan ekstrak jintan hitam masing-masing 2 cakram, sebagai replika 1 dan replika 2. Setelah semua cawan petri telah diusapkan bakteri, dilakukan inkubasi selama 24 jam sebelum hasil dibaca. Pada ekstrak jintan hitam didapatkan zona hambat 10 mm pada konsentrasi 25%, zona hambat 12 mm pada konsentrasi 50%, zona hambat 13 mm pada konsentrasi 75%, dan zona hambat 24 mm pada konsentrasi 100%. Sedangkan zona hambat yang didapatkan pada kontrol positif yakni kloramfenikol 30 mm, dan pada kontrol negatif yakni aquades tidak ditemukan zona hambat. Pada penelitian yang dilakukan oleh Seher tahun 2017 yang menganalisis efek minyak dan ekstrak biji jintan hitam terhadap pertumbuhan enam varian salmonella dan didapatkan semua strain salmonella rentan terhadap ekstrak biji jintan hitam, sedangkan pada minyak biji jintan hitam didapatkan respon Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 5

9 zona hambat yang kuat terhadap bakteri salmonella typhii yaitu dengan diameter 30 mm. Semakin besar konsentrasi ekstrak dan minyak biji jintan hitam yang digunakan maka zona hambat yang terbentuk juga semakin besar. 7 Menurut penelitian yang dilakukan Mudzalifah tahun 2016 yang menguji minyak jintan hitam terhadap pertumbuhan bakteri salmonella typhii juga didapatkan hasil zona hambat yang kecil dan hanya terbentuk pada konsentrasi 80% dan 100%. Hal ini dapat terjadi karena zat aktif pada jintan hitam yang berkhasiat sebagai antibakteri dapat memberikan daya hambat terhadap bakteri salmonella typhii apabila dalam bentuk ekstrak sedangkan dalam bentuk minyak zat aktif kurang bekerja secara optimal. Selain itu, struktur antigen dari salmonella typhii memiliki antigen Vi atau antigen kapsul yang terbuat dari polimer polisakarida terdapat di bagian paling luar badan bakteri sehingga melindungi bakteri dari pengaruh luar. Hal tersebut mengakibatkan zat antibakteri pada minyak jintan hitam tidak dapat mencapai tempat kerjanya dalam tubuh bakteri sehingga tidak dapat menghambat ataupun membunuh bakteri salmonella typhii. 8 Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Nevi tahun 2018 menggunakan bakteri uji staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif yang juga digunakan pada penelitian ini. Pada penelitian sebelumnya didapatkan hasil bahwa minyak biji jintan hitam memiliki daya hambat bakteri yang tinggi pada konsentrasi 50%, 40%, dan 30% terhadap bakteri staphylococcus aureus. 9 Adapun perbedaan lain pada penelitian ini yakni proses cara memperoleh ekstrak jintan hitam. Pada penelitian sebelumnya proses pembuatan ekstrak jintan hitam menggunakan metode Cromatografy Mass Spectrometry (GCMS) yaitu pemisahan senyawa organik menggunakan 2 metode, kromatofgrafi gas untuk menganalisis jumlah senyawa secara kuantitatif dan spirometri massa untuk menganalisis struktur molekul. 9 Sedangkan pada penelitian kali ini, digunakan metode manual dalam proses pembuatan ekstrak jintan hitam, sehingga memungkinkan menjadi salah satu faktor tidak terdapatnya zona hambat bakteri yang bermakna pada beberapa konsentrasi ekstrak jintan hitam. Penelitian yang dilakukan Arif tahun 2014 didapatkan bahwa ekstrak biji jintan hitam dapat menghambat pertumbuhan bakteri streptococcus pyogenes pada konsentrasi 15 mg/ml dengan zona hambat yang kecil yaitu 6.3 mm dan terus meningkat sampai konsentrasi 120 mg/ml dengan zona hambat yang besar, yaitu 21.6 mm. Penelitian lain oleh Lintang tahun 2014 dengan bakteri Pseudomonas aeroginosa didapatkan zona hambat ekstrak dengan konsentrasi 50% berdiameter mm dan konsentrasi 100% berdiameter 19 mm. Hal ini berarti bahwa ekstrak jintan hitam dapat menghambat pertumbuhan bakteri. 10 Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada bakteri uji, juga konsentrasi dari masing-masing ekstrak jintan hitam. Hasil yang didapatkan juga berbeda-beda disetiap penelitian. Sedangkan metode yang digunakan adalah sama, yaitu dengan metode disc diffusion. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Fatima tahun 2018, efek penghambatan ekstrak biji jintan hitam lebih tinggi terhadap strain bakteri gram positif daripada strain bakteri gram negatif. Hasil temuannya menunjukkan bahwa senyawa fenolik meningkatkan aktivitas terhadap strain bakteri gram Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 6

10 positif dibandingkan dengan strain bakteri gram negatif, karena adanya membran luar di dinding sel yang bertindak sebagai penghalang permeabilitas dan mengurangi penyerapan polifenol. 11 Dalam penelitian Zuridah tahun 2008, menyatakan bahwa ekstrak biji jintan hitam dalam menghambat pertumbuhan bakteri escherichia coli, klebsielle pneumoniae, dan pseudomonas aeroginosa menunjukkan respon penghambatan yang lemah. Sedangkan ekstrak biji jintan hitam dalam menghambat pertumbuhan bakteri staphylococcus aureus dan bacillus cereus menunjukkan respon penghambatan yang kuat. Hal ini disebabkan karena faktor jenis pelarut yang digunakan saat ekstraksi yaitu metanol serta sifat bakteri gram negatif dan gram positif dari bakteri yang diuji. 12 Mekanisme kerja flavonoid sebagai antibakteri adalah membentuk senyawa kompleks dengan protein ekstraseluler dan terlarut sehingga dapat merusak membrane sel bakteri dan diikuti dengan keluarnya senyawa intraseluler. Penelitian lain menyatakan mekanisme flavonoid menghambat fungsi membran sel dengan cara mengganggu permeabilitas membran sel dan menghambat ikatan enzim seperti ATPase dan phospholipase. 12 Penggunaan antibiotik kloramfenikol sebagai kontrol positif karena kloramfenikol merupakan penghambat sintesis protein mikroba yang poten. Senyawa ini berikatan secara reversibel pada sub unit 50S ribosom bakteri dan menghambat tahapan peptidil transferase dalam sintesis protein. klkoramfenikol adalah antibiotik bakteriostatis berspektrum luas yang aktif terhadap bakteri gram negatif dan gram positif. 12 Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil zona hambat dari penelitian ini, faktor ini dapat berasal dari medium, bakteri uji, serta pada saat proses perlakuan. Faktor yang berasal dari medium yaitu kedalaman dari medium agar, ph, dan suhu penyimpanan dari medium tersebut. Faktor yang berasal dari bakteri ialah jenis bakteri, respon bakteri terhadap sampel yang diujicobakan, serta asal dari bakteri tersebut, apakah merupakan bakteri biakan atau dari spesimen. Faktor pada saat proses perlakuan, seperti perbedaan waktu antara inokulasi dan pengaplikasian cakram, kondisi saat inokulasi dan inkubasi, serta adanya kontaminasi bakteri yang dapat berasal dari ventilasi udara atau pada saat pengujian. 13 KESIMPULAN DAN SARAN Terbentuk daya hambat terhadap bakteri staphylococcus aureus dengan pemberian ekstrak jintan hitam pada semua konsentrasi. Tidak terbentuk daya hambat terhadap bakteri staphylococcus aureus dengan pemberian akuades (kontrol negatif). Terbentuk daya hambat terhadap bakteri staphylococcus aureus dengan pemberian antibiotik kloramfenikol (kontrol positif). Ekstrak jintan hitam pada konsentrasi 25%, 50%, dan 75% memiliki daya hambat tidak bermakna (resisten) dalam menghambat pertumbuhan bakteri staphylococcus aureus. Ekstrak jintan hitam pada konsentrasi 100% memiliki daya hambat bermakna (sensitif) dalam menghambat pertumbuhan bakteri staphylococcus aureus. Perlu dilakukan uji aktivitas biji jintan hitam (nigella sativa) terhadap bakteri gram negatif lainnya. Sebaiknya Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 7

11 dalam proses pembuatan ekstrak jintan hitam, digunakan bantuan alat spektrometri dengan metode cromatografy untuk menghindari kesalahan dalam pembuatan ekstrak. UCAPAN TERIMA KASIH Keberhasilan penyusunan Karya Tulis ini adalah berkat bimbingan, kerjasama, serta bantuan moril dan materil dari berbagai pihak sehingga segala rintangan yang dihadapi selama penelitian dan penyusunan karya tulis ilmiah ini dapat terselesaikan dengan baik. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya secara tulus dan ikhlas kepada yang terhormat Prof. Dr. Syarifuddin Wahid, Ph.D, Sp.Pa(K), Sp.F, Dfm selaku dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia beserta seluruh jajarannya. dr. Rachmat Faisal Syamsu, M. Kes selaku koordinator karya tulis ilmiah yang telah ikhlas memberikan petunjuk dan saran serta nasehat selama penyusunan karya tulis ilmiah ini. DAFTAR PUSTAKA 1. Jawetz, Melnick, Adelberg. Mikrobiologi Kedokteran Jawetz, Melnick, & Adelberg Istiantora, Y., H. G. Penicillin, Cephalosporin dan Antibiotika β-lactam lainnya. In: Farmakologi dan Terapi. Fak Kedokteran UI. 2005; v (Edisi ke-4. Jakarta: FKUI): Syed, R., Prasad, G., Deeba, F., Rani, D., Jamil K. Antibiotic Drug Resistance Of Hospital Acquired Staphylococcus Aureus in Andra Pradesh. Afrikan J Microbiol Res. 2011;6(5): Salem ML. Immunomodulatory and Therapeutic Properties of The Nigella Sativa L. Seed. Vol. 5, International Immunopharmacology. 2005; Asniyah. Efek Antimikroba Minyak Jintan Hitam (Nigella Sativa) terhadap Pertumbuhan Escherichia Coli In Vitro. J Biomedika. 2009;1(1): Freicillya R.C. Ekstrak Jintan Hitam Hitam. Fakultas Kedokteran Universitas Jember. 2012; Bakal SN, Bereswill S, Heimesaat MM. Finding Novel Antibiotic Substances from Medicinal Plants-Antimicrobial Properties of Nigella sativa Directed Against Multidrug Resistant Bacteria. Eur J Microbiol Immunol. 2017; Mudzalifah. Efektifitas Efek Anti Mikroba Ekstrak Jintan Hitam terhadap Pertumbuhan Bakteri Salmonella Thypi. Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. 2016; Sulvita, N., Hermiaty, N., & Hadi S. Efektivitas Minyak Habbatussauda (Nigella Sativa) terhadap Pertumbuhan Staphylococcus Aureus. Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia; Rahman MA. Uji Efektivitas Ekstrak Jintan Hitam (Nigella Sativa) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus Pyogenes. Laporan penelitian Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran Saleh FA, El-Darra N, Raafat K, El Ghazzawi I. Phytochemical Analysis of Nigella Sativa L. Utilizing GC-MS Exploring Its Antimicrobial Effects Against Multidrug-Resistant Bacteria. Pharmacogn J. 2018;10(1): Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 8

12 12. Wahyuni L. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kubis Terhadap Bakteri Escherichia Coli. Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2014; Anggita D, Yusriani Y, Abdi DA, Desiani V. Effectiveness of Chinese Leaf Extract and Leaf Plants (Jatropha Multifida L.) As Antibacterial to Bacterial Growth Staphylococcus Aureus In Vitro. Window of Health. 2018;1(1): Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 3 No. 1 (Januari, 2020) : E-ISSN Terakreditasi Nasional Peringkat 3 No. 36/E/KPT/2019 Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 9

13 ARTIKEL RISET URL artikel: Hubungan Faktor Pendukung Customer Relationship Management Dengan Loyalitas Pasien Poli Interna Nurfardiansyah Bur 1, K Sartika Suyuti 2 1,2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muslim Indonesia Penulis Korespondensi ( K ): 1, 2 ( ) ABSTRAK Klinik bertanggung jawab menjalankan program customer relationship management untuk proses adaptasi klinik dengan pelanggannya. Setiap devisi, klinik dan petugas pelayanan harus mengetahui tentang program tersebut, tujuan-tujuannya, dan yang paling penting apa peranan dan bagaimana mereka dapat memberikan kontribusi menjalankan program itu. Penelitian bertujuan mengidentifikasi hubungan faktor pendukung customer relationship management dengan loyalitas pasien di poli interna klinik Ratulangi Medical Centre Kota Makassar. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan survey analitik dengan rancangan cross sectional study. Populasi penelitian adalah pasien yang berkunjung di poli interna tahun 2017, yaitu 1296 pasien dengan jumlah sampel 117 pasien yang dipilih dengan cara random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari uji statistik diperoleh nilai petugas pelayanan p=0.559, proses pelayanan p=0.740, dan teknologi pelayanan p= Semua variabel faktor customer relationship management tidak berhubungan dengan loyalitas pasien. Hal ini dilihat dengan keputusan tingkat loyalitas pasien, sebagian besar melihat aspek petugas pelayanan yang dimiliki klinik Ratulangi Medical Centre. Petugas pelayanan, sebagian besar pasien setuju bahwa petugas mampu memberikan kemampuan, keterampilan, dan keramahan kepada pasien. Proses pelayanan, sebagian besar pasien setuju bahwa proses pelayanan mudah dilakukan, membantu petugas mengenali dan menjalin hubungan dekat dengan pasien. Dimensi proses terbentuk karena identifikasi profil, komunikasi dengan pelanggan, dan penanganan keluhan pasien. Teknologi pelayanan, beberapa pasien setuju bahwa teknologi pelayanan mempermudah informasi, mempercepat dan mengoptimalkan faktor manusia dan proses bisnis dalam aktivitas pengelolaan hubungan dengan pasien. Sehingga disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan faktor pendukung customer relationship management dengan loyalitas pasien. Disarankan kepada pihak rumah sakit agar lebih meningkatkan strategi pemasaran. Kata kunci: Customer; relationship; management; loyalitas Article history : PUBLISHED BY : Public Health Faculty Received 04 November 2019 Universitas Muslim Indonesia Received in revised form 19 Desember 2019 Accepted 20 Desember 2019 Address : Jl. Urip Sumoharjo Km. 5 (Kampus II UMI) Available online 25 Januari 2020 licensed by Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. Makassar, Sulawesi Selatan. Phone : ABSTRACT Penerbit : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 10 The clinic is responsible for running the customer relationship management program for the clinic's adaptation process with its customers. Each division, clinic and service officer must know about the program, its objectives, and most importantly what role and how they can contribute to running the program. The aim of this research is to identify the relationship between supporting factors of customer relationship management with patient loyalty at the Ratulangi Medical Center clinic in Makassar City. This research is a quantitative study using analytic survey with cross sectional study design. The study population was patients who visited the internal polyclinic in 2017, namely 1296 patients with a total sample of 117 patients selected by random sampling. The results showed that Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 10

14 the statistical test obtained the value of service officers p = 0.559, service process p = 0.740, and service technology p = All customer relationship management factor variables are not related to patient loyalty. This can be seen from the decision on the level of patient loyalty, most of them see aspects of service officers owned by the Ratulangi Medical Center clinic. Service officers, most patients agree that officers are able to provide the ability, skills, and friendliness to patients. Service process, most patients agree that the service process is easy to do, helping officers recognize and establish close relationships with patients. Process dimensions are formed due to the identification of profiles, communication with customers, and handling patient complaints. Service technology, some patients agree that service technology facilitates information, accelerates and optimizes human factors and business processes in managing patient relationships. So it was concluded that there was no relationship between supporting factors customer relationship management with patient loyalty. It is recommended to the hospital to further improve marketing strategies. Keywords: Customer; relationship; management; loyalty PENDAHULUAN Klinik adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan dan menyediakan pelayanan medis dasar dan atau spesialistik, diselenggarakan oleh lebih dari satu jenis tenaga kesehatan dan dipimpin oleh seorang tenaga medis tugas klinik adalah melaksanakan upaya kesehatan berdaya guna dan berhasil guna, serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan. Fungsi klinik itu sendiri adalah tempat menyelenggarakan pelayanan medik, pelayanan penunjang dan pencegahan penyakit. 1,2 Customer Relationship Management (CRM) adalah sistem manajemen yang secara khusus menangani antara klinik dengan pelanggannya dengan tujuan meningkatkan nilai klinik di mata para pelanggannya. Secara teoritis, bila para pelanggan merasa puas, mereka lebih memilih menggunakan pelayanan di klinik tersebut. Dibalik semua ini terdapat anggapan bahwa kepuasan pelanggan akan meningkatkan pendapatan, khususnya dari pemakaian ulang pelayanan yang merupakan bentuk loyalitas. 3,4 Keuntungan loyalitas bersifat jangka panjang dan kumulatif, yaitu meningkatnya kuantitas pasien yang menyebabkan sumber pendapatan atau keuntungan lebih meningkat, retensi pegawai yang lebih tinggi, dan basis keuangan yang lebih stabil. Selain itu keuntungan lain dari loyalitas yaitu menurunkan biaya pemasaran, mempersingkat waktu dan biaya transaksi, menurunkan biaya turn over, dan word of 4,5,6,7 much yang positif. Eva Ayu Nila Faradila, dkk melakukan penelitian mengenai hubungan antara faktor pendukung Customer Relationship Management (CRM) dengan loyalitas pasien di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Paru Jember dapat diambil kesimpulan: 1) Ada hubungan antara data informasi dengan loyalitas pasien di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Paru Jember dengan nilai sig (2-tailed) 0,027; 2) Ada hubungan antara teknologi informasi dengan loyalitas pasien di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Paru Jember dengan nilai sig (2-tailed) 0,004; 3) Ada hubungan antara SDM dengan loyalitas pasien di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Paru Jember degan nilai sig (2-tailed) 0,000; 4) Ada hubungan antara proses dengan loyalitas pasien di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Paru Jember degan nilai sig (2- Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 11

15 tailed) 0,000; 5) Loyalitas pasien di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Paru Jember sudah baik karena 92 responden (96%) sudah loyal. 8 Banyaknya jumlah klinik yang ada di Makassar, membuat konsumen semakin beragam. Sejak berdiri pada tahun 2003 Ratulangi Medical Centre telah memberikan kontribusi yang nyata dalam pelayanan kesehatan dan mampu memposisikan diri sebagai klinik yang mempunyai komitmen untuk memberikan pelayanan dan perawatan kesehatan prima yang terpercaya dan bermutu. Berdasarkan pengambilan data awal dari Klinik Ratulangi Medical Centre Kota Makassar, Jumlah kunjungan pada Tahun 2016 mengalami penurunan kunjungan. Pada Triwulan I mengalami peningkatan sebanyak 1235 kunjungan tetapi hanya 600 kunjungan yang merupakan kunjungan ulangan. Pada Triwulan II mengalami penurunan sebanyak 1000 kunjungan tetapi 557 diantaranya adalah pasien yang datang berulang. Pada Triwulan III mengalami kenaikan sebanyak 1434 kunjungan dengan kunjungan berulang sebanyak 834 pasien. Kemudian pada Triwulan IV mengalami penurunan sebanyak 1296 dengan 554 pasien berulang. 9 Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan faktor pendukung Customer Relationship Management dengan loyalitas pasien di poli interna klinik Ratulangi Medical Centre (RMC) Kota Makassar. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan survey analitik dengan rancangan cross sectional study yaitu suatu rancangan penelitian yang mempelajari hubungan antara variabel independen (Petugas pelayanan, Proses pelayanan, dan Teknologi pelayanan) dengan variabel dependen (Loyalitas Pasien). Populasi penelitian ini adalah kunjungan pasien di poli interna Klinik Ratulangi Medical Centre (RMC) Kota Makassar yang menggunakan pelayanan kesehatan tahun 2017, yaitu sebanyak 1296 pasien dengan jumlah sampel 117 pasien. Metode pengumpulan sampel dilakukan dengan cara random sampling. Karakteristik responden HASIL Tabel 1 menunjukkan bahwa mayoritas pasien di RMC Kota Makassar memiliki umur tahun (23.10%), mayoritas memiliki tingkat pendidikan SMA/Sederajat (53.80%), mayoritas bekerja sebagai wiraswasta (23.10%), dan penghasilan keluarga mayoritas > (82.90%). Adapun sebagian kecil pasien memiliki umur tahun (7.70%), minoritas memiliki tingkat pendidikan SD/SMP/Sederajat (0.90%), minoritas bekerja yang lainnya (7.70%), dan penghasilan keluarga < (17.10%) Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Pada Pasien di Poli Interna Klinik RMC Kota Makassar Tahun 2018 Umur N=117 %=100 Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 12

16 < >45 Pendidikan Terakhir SD/sederajat SMP/sederajat SMA/sederajat Diploma S1 S2 Pekerjaan Pelajar/Mahasiswa IRT Pegawai Swasta Pegawai Negeri Wiraswasta Lainnya Penghasilan keluarga perbulan < > Analisis Bivariat Faktor Pendukung Customer Relationship Management (CRM) dengan Loyalitas Pasien Tabel 2. Distribusi Pasien Berdasarkan Hubungan Petugas Pelayanan Dengan Loyalitas Pasien Di Poli Interna Klinik Ratulangi Medical Center Kota Makassar Tahun 2018 Loyalitas Pasien Petugas Pelayanan Loyal Tidak loyal Total n % N % N % Baik Kurang Baik Total p value Tabel 3. Distribusi Pasien Berdasarkan Hubungan Proses Pelayanan Dengan Loyalitas Pasien di Poli Interna Ratulangi Medical Center Kota Makassar Tahun 2018 Loyalitas Pasien Proses Pelayanan Loyal Tidak loyal Total n % N % n % Mudah Tidak Mudah Total p value Tabel 4. Distribusi Pasien Berdasarkan Hubungan Teknologi Pelayanan Dengan Loyalitas Pasien di Poli Interna Ratulangi Medical Centre Kota Makassar Tahun 2018 Teknologi Pelayanan Loyalitas Pasien Total p value Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 13

17 Loyal Tidak loyal n % N % n % Mudah Tidak Mudah Total PEMBAHASAN Petugas pelayanan Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan chi-square diperoleh nilai p= karena nilai p > 0.05 maka Ho diterima yang berarti tidak ada hubungan antara petugas pelayanan dengan loyalitas pasien di Poli Interna Klinik Ratulangi Medical Centre Kota Makassar Tahun Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan petugas pelayanan dengan loyalitas pasien terdapat faktor lain yang membuat petugas pelayanan tidak berhubungan denga loyalitas pasien, petugas kurang ramah dalam memberikan pelayanan, sehingga pasien merasa tidak dilayani dengan baik, serta membuat pasien tidak nyaman untuk berobat di Klinik Ratulangi Medical Centre. Pasien juga butuh pelayanan yang baik walaupun hanya dengan keramahan petugas, namun dapat meningkatkan nilai loyal pasien terhadap klinik. Dengan keramahan petugas, pasien akan merasa di layani dengan baik, sehingga pasien dapat merekomendasi keluarga dan teman-teman untuk melakukan pelayanan dan merasakan kualitas dari pelayanan yang didapatkan. Pasien akan tetap menggunakan kembali, serta melakukan pemeriksaan atau pengobatan di Klinik Ratulangi Medical Centre Kota Makassar. Menurut Eva Ayu Nila Faradila, dkk. (2014) dari hasil penelitian sebelumnya mengenai hubungan antara faktor pendukung Customer Relationship Management (CRM) dengan loyalitas pasien di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Paru Jember, ada hubungan antara SDM dengan loyalitas pasien di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Paru Jember dengan nilai sig (2-tailed) Proses pelayanan Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan chi-square diperoleh nilai p= karena nilai p > 0.05 maka Ho diterima yang berarti tidak ada hubungan antara proses pelayanan dengan loyalitas pasien di Poli Interna Klinik Ratulangi Medical Centre Kota Makassar Tahun Berdasarkan analisa peneliti terhadap pasien yang menjadi subjek dalam penelitian, pasien akan tetap melakukan pelayanan kesehatan di Ratulangi Medical Centre dan rela membayar lebih mahal untuk mendapatkan pelayanan di klinik Ratulangi Medical Centre, pasien mengaku merasa sudah nyaman dengan pelayanan yang diterimanya, karena proses transaksi serta ketersediaan pelayanan membuat penanganan keluhan dilakukan dengan tepat dan cepat oleh klinik. Sebagian besar pasien merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan dan melakukan hubungan yang berkelanjutan yang baik dengan klinik. Pasien merasa kecepatan pelayanan di Klinik kurang baik. Berdasarkan analisa peneliti selama di lapangan bahwa pasien yang akan terus memanfaatkan pelayanan di Poli Interna Klinik Ratulangi Medical Centre karena merupakan salah satu klinik paling dekat dari tempat tinggalnya. Ada pula pasien Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 14

18 yang akan terus memanfaatkan pelayanan karena merasa puas dan nyaman dengan pelayanan yang diberikan di Poli Interna Klinik Ratulangi Medical Centre Kota Makassar. Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Eva Ayu Nila Faradila, dkk. (2014) mengenai hubungan antara faktor pendukung Customer Relationship Management (CRM) dengan loyalitas pasien di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Paru Jember, hasil analisis hubungan proses dengan uji spearmen rank correlation menunjukkan bahwa ada hubungan antara proses dengan loyalitas pasien di IRJ RS Paru Jember dengan (p value= < p = 0.05), hasil ini dapat diperjelas dengan hasil tabulasi silang yaitu dimana mayoritas pasien menilai bahwa proses sudah cukup dengan kategori loyalitas tersembunyi sebanyak 53%, hasil ini meperlihatkan kesamaan dengan nilai dari variabel Sumber Daya Manusia (SDM). 8 Teknologi pelayanan Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan chi-square diperoleh nilai p = karena nilai p > 0.05 maka Ho diterima yang berarti tidak ada hubungan antara teknologi pelayanan dengan loyalitas pasien di Poli Interna Klinik Ratulangi Medical Centre Kota Makassar Tahun Beberapa faktor yang menyebabkan teknologi pelayanan tidak berhubungan dengan loyalitas pasien yaitu pasien menilai kurang menggunakan teknologi untuk melihat informasi tentang Klinik, pasien kurang mengetahui informasi klinik di media elektronik sehingga pasien yang ingin berobat tidak mengetahui syarat atau proses dari Klinik Ratulangi Medical Centre. Namun pasien mengakui pelayanan kesehatan di Poli Interna Klinik Ratulangi Medical Centre memuaskan, karena pelayanan yang diinginkan oleh pasien sudah terpenuhi, dan pasien sudah percaya terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan Klinik Ratulangi Medical Centre. Hasil penelitian tidak sejalan dengan penelitian Estiningsih (2011) yang mengungkapkan bahwa teknologi berpengaruh terhadap loyalitas ibu hamil, dan di dalam jurnal tersebut juga menunjukkan bahwa media komunikasi maupun media informasi yang difasilitasi dengan baik maka akan semakin meningkatkan loyalitas pelanggan, Hidayat dalam Estiningsih (2011) juga mengungkapkan bahwa tersedianya media komunikasi Customer Relationship Management (CRM) akan memberikan keuntungan kepada rumah sakit karena akan memperoleh pelanggan baru dan mempertahankan pasien. 10,11 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan penelitian ini bahwa tidak terdapat hubungan faktor pendukung Customer Relationship Management (CRM) yaitu petugas pelayanan, proses pelayanan, dan teknologi pelayanan dengan loyalitas pasien di poli interna klinik Ratulangi Medical Centre Kota Makassar tahun Melalui penelitian maka disarankan kepada pihak rumah sakit agar lebih meningkatkan strategi pemasaran. Kepada peneliti-peneliti yang tertarik meneliti tetang bauran pemasaran untuk melakukan penelitian yang lebih lanjut, spesifik dengan metode dan desain penelitian yang berbeda. UCAPAN TERIMA KASIH Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 15

19 Penulis mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya secara tulus dan ikhlas kepada yang terhormat Bapak Prof. Dr. H. Basri Moddding, S.E. M. Si. selaku Rektor UMI beserta para staf dan karyawannya. Bapak Dr. R. Sudirman, M.Si. selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia. LP2S Universitas Muslim Indonesia yang telah mendanai penelitian ini, beserta segenap unsur dan elemen yang telah memberikan bantuan mulai awal penelitian sampai dengan penelitian ini dapat terselesaikan. Kepala Rumah Sakit, Staff, dan pasien Klinik Ratulangi Medical Center. DAFTAR PUSTAKA 1. Agnes Widayu Estiningsih, T. H. Pengaruh Customer Relationship Management Terhadap Loyalitas Ibu Hamil Pada Persalinan (Studi Di Rs Hermina Tangkubanperahu Malang). J. Apl. Manaj Eva Ayu Nila Faradila, Arya Sidemen, E. W. Hubungan Antara Faktor Pendukung Customer Relationship Management Dengan Loyalitas Pasien Di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Paru Jember. Artikel Ilmiah Penelitian Mahasiswa Anton, G. Pengaruh Customer Relationship Management Terhadap Loyalitas Ibu Hamil Pada Persalinan (Studi Di RS Hermina Tangkubanperahu Malang). J. Apl. Manaj. 11, Tjiptono. Hubungan Kualitas Pelayanan Kesehatan Tehadap Loyalitas Pasien Di Rawat Inap Rumah Sakit Ibu Dan Anak Sitti Khadijah Makassar Tahun (Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar) Brink, B. Hubungan Antara Faktor Pendukung Customer Relationship Management Dengan Loyalitas Pasien Di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Paru Jember. Artikel Ilmiah Penelitian Mahasiswa Imasari, N. Pengaruh Customer Relationship Management Terhadap Loyalitas Ibu Hamil Pada Persalinan (Studi Di RS Hermina Tangkubanperahu Malang). J. Apl. Manaj. 11, Hesti Kartika Sari. Efektivitas Loyalty Program Dalam Customer Relationship Management Terhadap Kepuasan Dan Loyalitas Pelanggan (Studi Kegiatan Divisi Retensi Dalam Pelaksanaan Loyalty Program Community Pada Pt Indosat Tbk) Eva Ayu Nila Faradila, Arya Sidemen, E. W. Hubungan Antara Faktor Pendukung Customer Relationship Management Dengan Loyalitas Pasien Di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Paru Jember). Artikel Ilmiah Penelitian Mahasiswa Klinik Ratulangi Medical Centre (RMC) Kota Makassar. Data kunjungan pasien di Poli Interna Isfan RW, Fauziah Y. Service Quality for Patient Loyalty With Patient Satisfaction as Mediation of Hospital Patients In Dewi Sartika Kendari Hospital. Window of Health: Jurnal Kesehatan Apr 24: Estiningsih, H. Pengukuran Kepuasan Dan Loyalitas Rumah Sakit Berbasis Customer Relationship Management. Syariah Paper Accounting Feb Ums, Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 16

20 Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 3 No. 1 (Januari, 2020) : E-ISSN Terakreditasi Nasional Peringkat 3 No. 36/E/KPT/2019 Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 17

21 ARTIKEL RISET URL artikel: Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Penyedia Makanan Terhadap Pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Di Warung Kecamatan Panyabungan Cipto Marianto Sihombing 1, Ismail Efendy 2, K Anto Jamma Hadi 3 1,2,3 Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Institut Kesehatan Helvetia Penulis Korespondensi ( K ): 1, 2, 3 ( ) ABSTRAK Penurunan pelaksanaan perilaku hidup bersih dan sehat diantaranya disebabkan oleh faktor pengetahuan, sikap, personal higiene, sarana air bersih, dan kebersihan peralatan makanan, serta sarana pengelolaan limbah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi perilaku penyedia makanan terhadap pelaksanaan perilaku hidup bersih dan sehat di warung Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal. Penelitian ini bersifat survei dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh warung yang menyediakan makanan, yaitu sebanyak 50 warung. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 50 warung dengan teknik total sampling. Pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Analisis data yang dilakukan dengan analisis univariat, bivariat (uji chi square), dan multivariat (uji regresi logistik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan rendah sebanyak 52.0% dengan nilai p = dan OR , sikap buruk sebanyak 56.0% dengan nilai p = dan OR 3.114, personal higiene buruk sebanyak 70.0% dengan nilai p = dan OR , sarana air bersih tidak memenuhi syarat sebanyak 66.0% dengan nilai p = dan OR 9.067, kebersihan peralatan makanan buruk sebanyak 66.0% dengan nilai p = 0.007, dan sarana pengelolaan limbah mayoritas tidak memenuhi syarat sebanyak 62.0% dengan nilai p = dan OR Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa ada hubungan pengetahuan, sikap, personal hygiene, sarana air bersih, dan kebersihan peralatan makanan dengan pelaksanaan perilaku hidup bersih dan sehat. Variabel paling dominan yang memengaruhi perilaku penyedia makanan adalah pengetahuan. Bagi tenaga kesehatan diharapkan untuk mengadakan penyuluhun dan promosi kesehatan tentang perilaku hidup bersih dan sehat. Kata kunci: Perilaku hidup bersih dan sehat; pengetahuan; kebersihan pribadi; sarana air bersih PUBLISHED BY : Public Health Faculty Universitas Muslim Indonesia Address : Jl. Urip Sumoharjo Km. 5 (Kampus II UMI) Makassar, Sulawesi Selatan. Phone : ABSTRACT Article history : Received 02 November 2019 Received in revised form 13 November 2019 Accepted 15 November 2019 Available online 25 Januari 2020 licensed by Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. Decreasing Penerbit : Fakultas the implementation Kesehatan of Masyarakat clean and healthy Universitas live behavior Muslim Indonesia is caused by factors of knowledge, attitude, 18 personal hygiene, clean water facilities, and cleanliness of food equipment, as well as waste management facilities. The purpose of this study was to analyze the factors that influence the behavior of food providers towards the implementation of clean and healthy life behavior in the stalls of Panyabungan District, Mandailing Natal District. This research is a survey with cross sectional approach. The population in this study are all stalls that provide food, as many as 50 stalls. The number of samples in this study were 50 stalls with a total sampling technique. Data collection was carried out using a questionnaire. Data analysis was performed with univariate, bivariate Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 18

22 (chi square test), and multivariate analysis (logistic regression tests). The results showed that low knowledge as much as 52.0% with p value = and OR , bad attitude as much as 56.0% with p value = and OR 3.114, bad personal hygiene as much as 70.0% with p value = and OR , clean water facilities did not meet the requirements as much as 66.0% with a value of p = and OR 9.067, poor food equipment hygiene as much as 66.0% with a value of p = 0.007, and the majority of waste management facilities did not meet the requirements as much as 62.0% with a value of p = and OR 9,202. The conclusion of this study is that there is a relationship of knowledge, attitudes, personal hygiene, clean water facilities, and cleanliness of food equipment with the implementation of clean and healthy life behaviors. The most dominant variable influencing the behavior of food providers is knowledge. Health workers are expected to hold counseling and health promotion regarding clean and healthy life behavior. Keywords: Clean and healthy life behavior; knowledge; personal higiene; clean water facilities PENDAHULUAN Berdasarkan data dari profil Dinas Kesehatan Sumatera Utara didapatkan bahwa masih terdapat masalah kesehatan lingkungan yang memerlukan penanganan serius, diantaranya adalah akses sanitasi dasar tingkat rumah tangga yang masih rendah. Penyakit yang banyak timbul di masyarakat adalah penyakit diare, skabies, dan penyakit yang bersumber dari binatang seperti malaria, Demam Berdarah (DBD), dan kurang gizi. 1 Perilaku kesehatan yang kurang bersih terhadap lingkungan, kedaruratan, kejadian bencana, dan sejenisnya. 2 Pada tahun 2017, jumlah keluarga yang memiliki sarana air bersih masih sangat minim. Dari hasil pengumpulan data melalui laporan bulanan pada puskesmas, penggunaan air bersih setiap keluarga yang paling tinggi adalah sumur air 60.2%, penampungan air hujan 16.3%, sedangkan yang menggunakan air ledeng hanya 8.8%. 3 Perilaku hidup bersih dan sehat juga sangat penting dalam peningkatan derajat kesehatan. Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) merupakan skala wujud keberdayaan masyarakat yang sadar, mau, dan mampu mempraktikkan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS). Beberapa program prioritas dalam Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS), yaitu KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), gizi, kesehatan lingkungan, dan personal hygiene. Dengan demikian, perlu diadakan upaya untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan tindakan dalam menciptakan suatu kondisi bagi kesehatan perorangan, keluarga, kelompok, dan masyarakat secara berkesinambungan. Upaya dilaksanakan melalui pendekatan pimpinan (advokasi), bina suasana (social support), dan pemberdayaan masyarakat (empowerment). 4 Masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, terutama dalam tatanan masingmasing, dan masyarakat dapat menerapkan bagaimana tahapan-tahapan dalam alur sehat, dimana harus selalu perhatikan dalam kehidupan sehari-hari, supaya tetap memperhatikan cara-cara hidup sehat dengan menjaga, memelihara, dan meningkatkan derajat kesehatan. 4 Survei pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal tahun 2018 yang bersumber dari laporan puskesmas dari empat kecamatan tahun 2019, tercatat di Kecamatan Panyabungan Kota terdapat 10 desa dengan jumlah penduduk di Kecamatan Panyabungan adalah sebanyak 6.802, yang terdiri dari laki-laki dan perempuan yang tersebar di 10 desa. Kasus penyakit yang tertinggi adalah penyakit diare yang terjadi di Kecamatan Panyabungan Kota, yaitu sebanyak 924 kasus mencret dan skabies sebanyak 326 kasus, dimana di kecamatan ini terdapat warung Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 19

23 makan yang belum memperhatikan kesehatannya dilihat dari penyediaan makanan yang kurang bersih, personal higiene dari penyedia makanan yang belum terpelihara, dan masih banyak terdapat pembuangan sampah-sampah di depan warung yang cukup banyak, dimana akan menimbulkan kondisi kesehatan yang rendah dari orang yang membeli makanan di warung penyedia makanan di Kota Panyabungan. Pengetahuan yang kurang dan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) yang tidak baik serta kondisi sanitasi lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat menjadi faktor penyebab penyakit. Berdasarkan pemaparan sebelumnya, maka peneliti tertarik untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi perilaku penyedia makanan terhadap pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) di Warung Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal. METODE Penelitian ini bersifat survey dengan pendekatan desain cross sectional study. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Panyabunganyang yang dilaksanakan pada bulan Juli sampai bulan September Populasi pada penelitian ini adalah seluruh warung yang menyediakan makanan di Kecamatan Panyabungan Kota sebanyak 50 warung. Sampel adalah seluruh warung yang menyediakan makanan, dengan teknik pengambilan sampel secara total sampling. Data hasil survey dianalisis dengan menggunakan uji Chi-Square dan analisis Regresi Logistik. HASIL Hasil penelitian terhadap 50 sampel dapat dilihat dalam tabel distribusi frekuensi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh bahwa umur responden mayoritas memiliki umur tahun sebanyak 28 orang (56.0%) dan pendidikan mayoritas SMA sebanyak 24 orang (48.0%). Berdasarkan variabel pengetahuan terhadap pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) di warung mayoritas rendah sebanyak 26 responden (52.0%). Faktor sikap mayoritas buruk sebanyak 28 responden (56.0%), personal higiene mayoritas buruk sebanyak 35 responden (70.0%), sarana air bersih mayoritas tidak memenuhi syarat sebanyak 33 responden (66.0%), kebersihan peralatan makanan mayoritas buruk sebanyak 33 responden (66.0), sarana pengelolaan limbah mayoritas tidak memenuhi syarat sebanyak 31 responden (62.0) serta perilaku hidup bersih dan sehat di warung mayoritas tidak melaksanakan sebanyak 36 responden (72.0%). Tabel 1. Karakteristik Responden Penyedia Makanan di Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal Karakteristik Responden n=50 %= Kelompok Umur (Thn) Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 20

24 Tingkat Pendidikan DIII/S SD SMP SMA Pengetahuan Rendah Tinggi Sikap Buruk Baik Personal Higiene Buruk Baik Sarana Air Bersih Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Kebersihan Peralatan Makanan Buruk Baik Sarana Pengelolaan Limbah Tidak Memenuhi Syarat Memenuhi Syarat Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Tidak Melaksanakan Melaksanakan Berdasarkan tabel 2, terlihat bahwa dari 50 responden, faktor pengetahuan dengan kriteria rendah cenderung tidak melaksanakan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) di warung sebanyak 24 responden (18.7%). Faktor pengetahuan dengan kriteria tinggi tidak melaksanakan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) sebanyak 12 responden (17.3%) dan melaksanakan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) sebanyak 12 responden (6.7%). Hasil analisis uji statistik chi square didapat nilai p value = (p<0.05). Dengan demikian maka hipotesis dalam penelitian ini adalah H0 diterima yang berarti ada pengaruh faktor pengetahuan terhadap pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) di warung Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal. Berdasarkan faktor sikap dengan kriteria buruk cenderung tidak melaksanakan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) sebanyak 24 responden (20.2%). Faktor sikap dengan kriteria baik melaksanakan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) sebanyak 10 reponden (6.2%). Hasil analisis uji statistik chi square didapat nilai p value = (p<0.05). Dengan demikian maka hipotesis dalam penelitian ini adalah H0 diterima yang berarti ada pengaruh faktor sikap terhadap pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) di warung Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal. Berdasarkan faktor personal higiene dengan kriteria tidak memenuhi syarat cenderung tidak melaksanakan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) sebanyak 27 responden (23.8%). Faktor sarana air bersih dengan kriteria memenuhi syarat dengan melaksanakan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) sebanyak 8 responden (4.8%). Hasil analisa uji statistik chi square didapat nilai Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 21

25 p value = (p<0.05). Dengan demikian maka hipotesis dalam penelitian ini adalah H0 diterima yang berarti ada pengaruh faktor sarana air bersih terhadap Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) di warung Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal. Pada variabel faktor kebersihan peralatan makanan dengan kriteria buruk cenderung tidak melaksanakan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) sebanyak 28 responden (23.8%). Faktor kebersihan peralatan makanan dengan kriteria baik dengan melaksanakan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) sebanyak 9 responden (4.8%). Hasil analisa uji statistik chi square didapat nilai p value = (p<0.05). Dengan demikian maka hipotesis dalam penelitian ini adalah H0 diterima yang berarti ada pengaruh faktor kebersihan peralatan makanan terhadap Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) di warung Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal. Pada variabel sarana pengelolaan limbah dengan kriteria tidak memenuhi syarat cenderung tidak melaksanakan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) sebanyak 20 responden (22.3%). Faktor sarana pengelolaan limbah dengan kriteria memenuhi syarat dengan melaksanakan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) sebanyak 3 responden (5.3%). Hasil analisa uji statistik chi square didapat nilai p value = (p<0.05). Dengan demikian maka hipotesis dalam penelitian ini adalah H0 ditolak yang berarti tidak ada pengaruh faktor pengelolaan limbah terhadap Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS). Tabel 2. Hubungan Perilaku Penyedia Makanan dengan Pelaksanaan PHBS Variabel Perilaku Penyedia Makanan di Warung Jumlah p (Sig) Tidak Diberikan Diberikan n=36 %= n=14 %= n=50 %= Pengetahuan Rendah Tinggi Sikap Buruk Baik Personal Higiene Buruk Baik Sarana Air Bersih Tidak Memenuhi Memenuhi Syarat Kebersihan Peralatan Makanan Buruk Baik Sarana Pengelolaan Limbah Tidak Memenuhi Memenuhi Syarat Berdasarkan analisis multivariat pada tabel 3 ternyata variabel yang berpengaruh terhadap Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) di warung, yaitu pengetahuan (0.012), personal higiene (0.012), dan sarana air bersih (0.044). Sedangkan variabel sikap (0.228) merupakan confounding (variabel pengacau). Dari hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel yang paling dominan dalam penelitian ini adalah pengetahuan yang dapat dilihat dari nilai OR yang artinya responden yang Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 22

26 terpengaruh dengan pengetahuan berpeluang kali terhadap Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) di warung dibandingkan dengan personal higiene (11.440), dan sarana air bersih (9.067). Tabel 3. Analisis Multivariat Perilaku Penyedia Makanan terhadap Pelaksanaan PHBS Variabel r 2 B p value OR 95% CI Lower Upper Pengetahuan Personal Higiene Sarana Air Bersih Sikap PEMBAHASAN Perilaku penyedia makanan yang didasari oleh pengetahuan baik akan lebih bertahan daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan rendah terkait makanan dan unsur tambahan pada makanan yang berdampak pada perilaku hidup bersih dan sehat. 5 Dengan demikian PHBS di warung dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, hal ini sejalan dengan hasil penelitian bahwa mayoritas responden dalam PHBS di warung berada pada kategori pengetahuan yang rendah. 9 Hasil penelitian ini berbanding terbalik dengan penelitian Marlina (2018) dengan judul Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Pada Tatanan Rumah Tangga Di Wilayah Kerja Puskesmas Deleng Pokhkisen Kabupaten Aceh Tenggara, dengan hasil p value (< 0.05) dari 146 responden terdapat mayoritas yang pengetahuan baik sebanyak 85 responden (58.2%) sementara kurang baik diperoleh 61 responden (41.8%). 6 Hal tersebut kemungkinan disebabkan karena pengetahuan dapat memberikan manfaat dan yang diperoleh memberikan pengaruh perilaku yang buruk maupun baik seseorang yang diantaranya adalah menjaga perilaku hidup bersih dan sehat. Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu hal, ini dapat disebabkan oleh faktor-faktor lain yang turut memegang peranan adalah faktor internal dalam diri pribadi itu yaitu selektivitas sendiri, daya pilih sendiri atau minat perhatian untuk menerima dan mengelola pengaruh-pengaruh yang datang dari luar dirinya sendiri. Selektivitas dilakukan untuk memenuhi kebutuhan. Kebutuhan akan menyebabkan seseorang menginter-pretasikan stimulus secara berbeda. Oleh sebab itu, sebagian besar sikap responden buruk perlu diberikan penyuluhan dan pengarahan secara terus-menerus bagi responden tentang sanitasi dasar untuk lebih meningkatkan perubahan sikap yang lebih baik lagi sehingga tercipta suatu lingkungan yang sehat baik di lingkungan warung maupun di lingkungan keluarga. Untuk penjamah makanan yang suspect TBC masih bekerja di Instalasi Gizi dan sedang dalam pengobatan. Padahal menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1096/ MENKES/PER/VI/2011 tentang Higiene Sanitasi Jasa Boga menyebutkan bahwa penjamah makanan harus berbadan sehat yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter serta tidak mengidap penyakit menular seperti tipus, kolera, TBC, hepatitis, dll atau pembawa kuman (carrier). 7 Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 23

27 Sebagian besar pengelola warung di sekitar kecamatan Panyabungan adalah usia produktif, yaitu antara 25 sampai dengan 45 tahun. Dalam penelitian ini didapatkan usia penyedia makanan di warung usia sebanyak 28 orang (56.0%). Usia produktif mempengaruhi kinerja seseorang, bagi pengelola warung yang merangkap menjadi penyedia makanan perlu kinerja yang bagus dalam penerapan atau pelaksanaan higiene sanitasi makanan dan minuman. Dalam hal ini terdapat enam prinsip yang meliputi pengamanan bahan makanan, pemilihan bahan makanan, pengangkutan makanan, pengolahan makanan, penyimpanan makanan, dan penyajian makanan. Pelaksanaan enam prinsip higiene sanitasi makanan dan minuman mempengaruhi mutu atau keamanan pangan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/Menkes/SK/VII/2002 tentang pengawasan dan syarat-syarat kualitas air yang disebut sebagai air minum adalah air yang memenuhi syarat kesehatan yang dapat langsung diminum, sedangkan yang disebut sebagai air bersih adalah air yang memenuhi syarat kesehatan, yang harus dimasak terlebih dahulu sebelum diminum. Syarat-syarat yang ditentukan sesuai dengan persyaratan kualitas air secara fisika, kimia dan biologi. Air yang sehat harus memenuhi standart yang telah ditentukan. 8 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa saluran air bersih penyedia makanan di warung tidak memenuhi syarat sebanyak 33 orang (66.0%). Hasil analisa uji statistik chi square didapat nilai p value = (p<0.05). Dengan demikian maka hipotesis dalam penelitian ini adalah H0 diterima yang berarti ada pengaruh faktor sarana air bersih terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Warung Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal. Pemeriksaan terhadap penyedia makanan dalam penggunaan air bersih yang memenuhi syarat. Sehingga terhindar dari berbagai penyakit yang berhubungan dengan air antara lain sakit perut, diare, sakit kulit, sakit mata, kecacingan, demam berdarah, malaria, sakit gajah (filiarisis) dan lain-lain. 11,12,13 Peralatan merupakan alat yang bersentuhan langsung dengan makanan, untuk menghindari terjadinya kontaminasi maka peralatan yang digunakan untuk mengolah dan menyajikan makanan harus sesuai dengan peruntukannya dan memenuhi syarat higiene sanitasi. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1096/ MENKES/ PER/ VI/2011 tentang Higiene Sanitasi Jasa Bogalantai di tempat pengolahan makanan tidak boleh retak dan harus konus. Sedangan untuk pintu harus menutup sendiri dan membuka ke arah luar. Untuk persyaratan fasilitas sanitasi, seperti tersedianya air bersih, jamban dan urinoir, kamar mandi, tempat sampah, serta tempat cuci tangan 100% memenuhi syarat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor kebersihan peralatan makanan penyedia makanan terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di warung mayoritas buruk syarat sebanyak 33 responden (66.0%). Hasil analisa uji statistik chi square didapat nilai p value = (p<0.05). Dengan demikian maka hipotesis dalam penelitian ini adalah H0 diterima yang berarti ada pengaruh faktor kebersihan peralatan makanan terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Warung Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal. Menurut asumsi peneliti, peralatan makanan yang digunakan di warung Kecamatan Panyabungan belum memenuhi syarat diakibatkan karena peralatan Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 24

28 tersebut tidak memiliki tutup dan tidak menutup dengan sempurna, karena sebagian wadah makanan berupa piring dan mangkok yang ditutup dengan plastik. Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya, dan pada umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan kesehatan manusia serta menganggu lingkungan hidup. Batasan lain mengatakan bahwa air limbah adalah kombinasi dari cairan dan sampah cair yang berasal dari daerah pemukiman, perdagangan, perkantoran dan industri, bersama-sama dengan air tanah dan air permukaan. 13,14,15 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor sarana pengelolaan limbah penyedia makanan terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di warung mayoritas tidak memenuhi syarat sebanyak 31 responden (62.0%). Hasil analisa uji statistik chi square didapat nilai p value = (p<0.05). Dengan demikian maka hipotesis dalam penelitian ini adalah H0 ditolak yang berarti tidak ada pengaruh faktor pengelolaan limbah terhadap PHBS di Warung Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal. Dalam hal ini, sarana pengelolaan limbah bukan menjadi tolak ukur dalam memengaruhi perilaku PHBS di warung Kecamatan Panyabungan. Akan tetapi bukan berarti diabaikan begitu saja, namun harus perlu adanya penyuluhan secara berkala demi untuk memperoleh sarana pengelolaan limbah yang memenuhi syarat dan pembuangan limbah yang sehat serta perilaku hidup bersih dan sehat yang seharusnya terlaksana dengan baik. Dari analisis multivariat ternyata variabel yang berpengaruh terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di warung yaitu pengetahuan (0.012), personal higiene (0.012), dan sarana air bersih (0.044). Sedangkan variabel sikap (0.228) merupakan confounding (variabel pengacau). Dari hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel yang paling dominan dalam penelitian ini adalah pengetahuan yang dapat dilihat dari nilai OR yang artinya responden yang terpengaruh dengan pengetahuan berpeluang kali terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di warung dibandingkan dengan personal higiene (11.440), dan sarana air bersih (9.067). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan salah satunya adalah usia. Bertambahnya usia seseorang dapat berpengaruh pada pertambahan pengetahuan yang diperolehnya, akan tetapi pada usia-usia tertentu atau menjelang usia lanjut kemampuan penerimaan atau mengingat akan berkurang. Pengetahuan yang bersumber dari intuisi merupakan pengalaman batin yang bersifat langsung. Artinya, tanpa melalui sentuhan indera mampu olahan akal pikiran. Ketika dengan serta merta seseorang memutuskan untuk berbuat atau tidak berbuat dengan tanpa alasan yang jelas, maka ia berada di dalam pengetahuan yang intuitif. 10 Dengan demikian, pengetahuan intuitif ini kebenarannya tidak dapat diuji baik menurut ukuran pengalaman, alat indra maupun akal pikiran. Karena itu tidak bisa berlaku umum, hanya berlaku secara personal. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa ada hubungan pengetahuan, sikap, personal higiene, sarana air bersih, kebersihan peralatan makanan, sarana pengelolaan limbah dengan pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Pengetahuan merupakan variabel yang paling berhubungan dengan pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Penelitian ini merekomendasikan pada penyedia makanan di Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 25

29 warung diharapkan lebih proaktif dan antusias dalam mencari informasi tentang bahaya-bahaya apa saja yang mungkin terjadi jika Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tidak dilaksanakan secara optimal. Bagi penyedia makanan warung diharapkan lebih proaktif dan antusias dalam mencari informasi tentang bahaya apa saja yang mungkin terjadi jika PHBS tidak dilaksanakan secara optimal. DAFTAR PUSTAKA 1. Wardani W, Efendy I, Hadi AJ, Asriwati A. Pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam Tatanan Rumah Tangga di Wilayah Kerja Puskesmas Cot Ie Jue Kabupaten Bireuen. Promotion Journal Kesehatan Masyarakat. 2019;9(1): Hartini N, Ariana AD, Dewi TK, Kurniawan A. Improving Urban Environment Through Public Commitment Toward The Implementation of Clean and Healthy Living Behaviors. PsycH0l Res Behav Manag. 2017;10: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Utara KK. Kesehatan Lingkungan Tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Kesehatan K. Langkah Awal Menuju Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat. Direktorat Promkes dan Pemberdayaan Masyaralat Hatta H, Hadi, Anto J; Yetti R E, Tombeg Z, Manggabarani S. The Relationship Between Food Selection Factors For Students at Maccini Sombala Inpres Elementary School Makassar City. Window Of Health: Jurnal Kesehatan. 2018; Marlina M. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada Tatanan Rumah Tangga di Wilayah Kerja Puskesmas Deleng Pokhkisen Kabupaten Aceh Tenggara. Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia. 2018;5(1): Adnani H, Subiyanto AA, Hanim D, Sulaeman ES. Health promotion In Clean And Healthy Behavior Programs In Traditional Markets. Int Res J Manag IT Soc Sci. 2018;5(4): Kesehatan K. 907/Menkes/SK/VII/2002 PMKRN. Pengawasan dan syarat-syarat kualitas air. 9. Roni, T. Tati, R. Denny, S. Hubungan Pendidikan Dan Penghasilan Dengan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia. 2018;12(1): Nurhajati, Nunun. Perilaku Hidup Bersih dansehat (PHBS) Masyarakat Desa Samir Dalam Meningkatkan Kesehatan Masyarakat. Jurnal Unita. 2014; Tan, S. L., Cheng, P. L., Soon, H. K., Ghazali, H. and,mahyudin, N. A. A Qualitative Study On Personal Hygiene Knowledge And Practices Among Food Handlers At Selected Primary Schools In Kiang Valley Area, Selangor, Malaysia. International Food Research Journal, 2018;20(1): Nadia, Sabri, R., Nurdin, Y. Hubungan Pelaksanaan Program Usaha Kesehatan Sekolah Terhadap Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Pada Siswa SDN 13 Seberang Padang Utara. Ners Jurnal Keperawatan. 2016;8(2): Suteki M. Pelaksanaan layanan Khusus Kantin Di SMP Negeri 1 Diwek Jombang. Inspirasi Manajemen Pendidikan. 2017;1(1):8-14. Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 26

30 14. Awaludin MT. Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Pedagang Makanan Di Kawasan Universitas Pakuan. Pedagonal Jurnal Ilmiah Pendidikan Apr 15;1(1): Susanna D, Indrawani YM, Zakianis Z. Kontaminasi Bakteri Escherichia coli pada Makanan Pedagang Kaki Lima di Sepanjang Jalan Margonda Depok, Jawa Barat. Kesmas: National Public Health Journal Dec 1;5(3): Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 3 No. 1 (Januari, 2020) : E-ISSN Terakreditasi Nasional Peringkat 3 No. 36/E/KPT/2019 ARTIKEL RISET Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 27

31 URL artikel: Pengontrolan Diet Pasien Yang Didiagnosis Dengan Diabetes Mellitus Sebagai Dasar Program Konseling K Amriati Mutmainna 1 1 Keperawatan Medikal Bedah, Program Studi Sarjana Keperawatan, STIKES Nani Hasanuddin Makassar Penulis Korespondensi ( K ): ( ) ABSTRAK Kondisi kesehatan seseorang yang mengalami diabetes mellitus akan dialami seumur hidup oleh pasien yang menderita diabetes mellitus yang serius dimana terjadi ketika jumlah glukosa dalam darah terlalu tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah analisis faktor yang mempengaruhi penilaian kontrol diet pasien dengan diabetes mellitus untuk mengusulkan program konseling. Desain penelitian yang digunakan adalah survei deskriptif dengan pendekatan cross sectional study. 72 responden diambil sebagai subjek dalam penelitian ini. Frekuensi, persentase, nilai rata-rata, dan uji chi-square digunakan untuk mengolah data kuantitatif pada penelitian ini. Peringkat penilaian untuk pengontrolan diet dalam penelitian ini berkisar dari derajat sangat tinggi, derajat tinggi, derajat sedang, hingga derajat rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pengontrolan diet menurut usia, jenis kelamin, dan riwayat merokok. Namun, ada perbedaan yang signifikan pada pengontrolan diet responden ketika dikelompokkan sesuai dengan kadar gula darah dan indeks massa tubuh. Penilaian kontrol makanan ini melalui Diabetes Mellitus Self-Management Questionnaire (DSMQ) dengan melihat pengontrolan dietnya, maka dianggap sebagai pendekatan yang efektif untuk mengatasi berbagai kondisi pasien diabetes mellitus melalui program konseling. Kesimpulan penelitian bahwa perilaku pengontrolan diet dari responden memiliki pengaruh pada kadar gula darah. Disarankan agar pasien diabetes mellitus mengontrol makanan karena dapat membantu pasien untuk mengontrol gula darah dalam batas normal. Kata kunci: Diabetes mellitus; pengontrolan; diet pasien; program konseling Article history : PUBLISHED BY : Public Health Faculty Received 28 November 2019 Universitas Muslim Indonesia Received in revised form 17 Januari 2020 Accepted 20 Januari 2020 Address : Jl. Urip Sumoharjo Km. 5 (Kampus II UMI) Available online 25 Januari 2020 licensed by Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. Makassar, Sulawesi Selatan. Phone : Penerbit : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas ABSTRACT Muslim Indonesia 28 The health condition of someone who has diabetes mellitus will be experienced for a lifetime by patients suffering from serious diabetes mellitus which occurs when the amount of glucose in the blood is too high. The purpose of this study is the analysis of factors that influence the assessment of dietary control of patients with diabetes mellitus to propose a counseling program. The research design used was a descriptive survey with cross sectional study approach. 72 respondents were taken as subjects in this study. Frequency, percentage, average value, and chisquare test were used to process quantitative data in this study. Rating ratings for diet control in this study range from very high degrees, high degrees, moderate degrees, to low degrees. The results showed that there were no significant differences in diet control according to age, sex, and smoking history. However, there are significant differences in the control of the respondent's diet when grouped according to blood sugar levels and body mass Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 28

32 index. Assessment of food control through Diabetes Mellitus Self-Management Questionnaire (DSMQ) by looking at the control of the diet, it is considered an effective approach to overcome various conditions of diabetes mellitus patients through counseling programs. The conclusion of the study was that the dietary control behavior of the respondents had an influence on blood sugar levels. It is recommended that patients with diabetes mellitus control food because it can help patients to control blood sugar within normal limits. Keywords: Diabetes mellitus; dietary control; counseling program PENDAHULUAN Perkiraan global terbaru dari Federasi Diabetes Mellitus Internasional memperkirakan bahwa pada tahun 2040, 642 juta orang akan hidup dengan diabetes mellitus. 1 Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa jumlah orang dengan diabetes mellitus telah meningkat dari 108 juta pada 1980 menjadi 422 juta pada Angka dari Kanada menunjukkan beberapa variasi sebagai anggota First Nation (cadangan) memiliki prevalensi terstandar usia T2D dari 17.2% dan populasi sesuai populasi pada prevalensi 4%, meskipun Singh dan Chan menemukan prevalensi rata-rata 5.7% di antara populasi Inuit di Kanada Arktik, dengan variasi dari 3.9% hingga 8.7% diberbagai elemen. 3 Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS), menunjukkan Diabetes Mellitus (DM) yang terdiagnosis tertinggi terdapat di Daerah DKI Jakarta sebesar 3.4% dan terendah terdapat pada daerah Nusa Tenggara Timur sebanyak 0.9%. Peningkatan kejadian diabetes mellitus juga tercermin di tingkat provinsi khususnya di provinsi Sulawesi Selatan. Berdasarkan surveilans rutin Penyakit Tidak Menular (PTM) berbasis Rumah Sakit di Sulawesi Selatan tahun 2010, diabetes mellitus menjadi penyebab kematian tertinggi penyakit tidak menular di Sulawesi Selatan yaitu sebesar 41.56%. 4 Peningkatan kasus diabetes mellitus juga terjadi di tingkat kabupaten/kota, khususnya di kota Makassar. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Makassar, angka kejadian penyakit diabetes mellitus pada tahun 2013 menjadi kasus dan semakin meningkat di tahun 2014 menjadi kasus. 4 Adapun data survailens penyakit tidak menular bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), kasus baru diabetes mellitus di Kota Makassar tahun 2015 yaitu kasus, sedangkan kasus lama yaitu Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini mengkaji mengenai hal yang berkaitan dengan penyakit diabetes mellitus. Adapun, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjaga kadar glukosa darah pasien dalam kisaran target yang mencegah komplikasi dan membantu pasien merasakan yang terbaik melalui pendekatan konseling dengan melakukan pengontrolan diet. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui bagaimana mengidentifikasi masalah glukosa darah, merespons dengan tepat, dan mengambil tindakan untuk mencegah di masa depan. 6 Selain itu, efek menguntungkan dari pola diet pada diabetes mellitus dan metabolisme glukosa secara umum dan pola makanan tradisional dikaitkan dengan pengurangan yang signifikan dalam risiko pengembangan diabetes mellitus tipe-2. 7 Studi oleh Diabetes Control and Complication Trial (DCCT) dan Kelompok The United Kingdom Prospective Diabetes Study (UKPDS) membuktikan manfaat Terapi Nutrisi Medis (TNM) untuk kontrol glikemik. 8 Namun, salah satu faktor kegagalan pengobatan adalah ketidakpatuhan terhadap terapi yang direncanakan, salah satu upaya paling penting untuk meningkatkan kepatuhan Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 29

33 pasien terhadap terapi adalah dengan memberikan konseling yang komprehensif, akurat, dan terstruktur tentang terapi. Keberadaan konseling ini sangat penting karena diabetes mellitus adalah penyakit yang berhubungan dengan kontrol diet pasien. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah analisis faktor yang mempengaruhi penilaian kontrol diet pasien diabetes mellitus untuk mengembangkan program konseling. METODE Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan studi survei analitik dengan pendekatan cross sectional study yang menggambarkan kontrol diet pasien yang didiagnosis dengan diabetes mellitus sebagai dasar untuk tujuan program konseling. Responden penelitian adalah mereka yang termasuk dalam kriteria inklusi di mana ada 72 responden. Penelitian ini dilakukan selama dua bulan, dan peneliti melakukan pendataan di dua rumah sakit. Data primer dalam penelitian ini adalah profil responden dalam hal usia, jenis kelamin, Kadar Gula Darah (KGD), Indeks Massa Tubuh (IMT), dan riwayat merokok. Selain itu, pertanyaan untuk pasien diabetes mellitus menggunakan Diabetes Mellitus Self- Management Questionnaire (DSMQ) oleh Schmitt et al. (2013) untuk menilai perilaku perawatan diri para responden. 9 Selanjutnya, data primer Kadar Gula Darah diperoleh dengan menggunakan meteran glukosa darah merek ACCU Check. Selain itu, untuk data primer Indekss Massa Tubuh skala platform di Rumah Sakit digunakan untuk mengetahui berat dan tinggi responden. Setelah itu, peneliti mengelompokkan Indeks Massa Tubuh dalam empat kategori: kurus, normal, kelebihan berat badan, dan obesitas menurut American Cancer Society (ACS). 10 Analisis varians ANOVA digunakan untuk menentukan perbedaan yang signifikan pada perilaku pengontrolan diet responden ketika pengelompokan menurut variabel profil (usia, Kadar Gula Darah, dan Indeks Massa Tubuh). Jika distribusi data tidak normal, peneliti akan menggunakan Kruskal Wallis. Dan kemudian, Chi-Square digunakan untuk menentukan perbedaan yang signifikan pada perilaku pengontrolan diet, ketika pengelompokan menurut variabel profil (jenis kelamin dan riwayat merokok). Jika distribusi data tidak normal, peneliti akan menggunakan Kolmogorov Smirnov. Karakteristik Responden HASIL Pada tabel 1 menunjukkan bahwa mayoritas responden (61.1%) berusia >45 tahun. Ini menunjukkan bahwa mayoritas pasien diabetes mellitus adalah orang dewasa yang lebih tua. Mayoritas responden (65.3%) adalah perempuan, mayoritas responden (73,6%) memiliki Kadar Gula Darah yang lebih dari 200 mg/dl. Sebanyak 40.3% dari responden yang memiliki Indeks Massa Tubuh normal, 55.6% di atas tingkat normal seperti yang ditunjukkan oleh data spesifik di mana responden sebanyak 26.4% dianggap kelebihan berat badan, dan 29.2 % mengalami obesitas. Mayoritas responden (73.6%) adalah bukan perokok. Secara terperinci ada pada table berikut: Tabel 1. Distribusi Frekuensi Dan Persentase Menurut Karakteristik Usia, Jenis Kelamin, Kadar Gula Darah, Indeks Massa Tubuh dan Riwayat Merokok Pada Pengontrolan Diet Pasien yang terdiagnosis diabetes mellitus Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 30

34 Karakteristik Responden n=72 %= Usia 45 tahun > 45 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Kadar Gula Darah < 200 mg/dl 200 mg/dl Indeks Massa Tubuh < 18.5 (Kurus) (Normal) (Berat Badan Berlebihan) 30 (Obesitas) Riwayat Merokok Ada Tidak Ada Tingkat manifestasi perilaku perawatan diri responden secara umum dan dalam hal pengontrolan diet. Tabel 2 menunjukkan bahwa nilai p yang dihitung dari dalam table 2, tingkat kontrol makanan responden signifikan ketika mereka dikelompokkan berdasarkan usia. Ini berarti bahwa semua umur memanifestasikan kontrol makanan yang tidak sama. Usia Tabel 2. Analisis Kruskal-Wallis Test Pada Pengontrolan Diet Pasien Yang Terdiagnosis Diabetes Mellitus Berdasarkan Usia Responden Derajat Sangat Tinggi 3 10 Pengontrolan Diet Derajat Tinggi Derajat Sedang Derajat Rendah Total 45 tahun Usia > 45 tahun Total Nilai α Tabel 3 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dari kontrol diet pria dan wanita. Ini disesuaikan dengan nilai X 2 0,315 gender dan nilai-p 0,496. Ini berarti bahwa pria dan wanita memanifestasikan kontrol makanan yang sama. Tabel 3. Analisis Chi-Square Pada Pengontrolan Diet Pasien Yang Terdiagnosis Diabetes Mellitus Berdasarkan Jenis Kelamin Responden Jenis Kelamin Derajat Sangat Tinggi 5 8 Pengontrolan Diet Derajat Tinggi Derajat Sedang Derajat Rendah Laki-laki Jenis Kelamin Perempuan Total Total Nilai α Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 31

35 Dalam tabel 4 menunjukkan ada perbedaan yang signifikan dalam kontrol makanan responden ketika dikelompokkan berdasarkan Indeks Massa Tubuh dengan nilai X 2 14,884 dan p-nilai 0,015. Dengan kata lain, ini menunjukkan bahwa Indeks Massa Tubuh responden dengan berat badan kurang, berat normal, kelebihan berat badan, dan obesitas memiliki kontrol diet yang tidak sama. Tabel 4. Analisis Kruskal-Wallis Test Pada Pengontrolan Diet Pasien Yang Terdiagnosis Diabetes Mellitus Berdasarkan Indeks Massa Tubuh Responden Indeks Massa Tubuh Indeks Massa Tubuh Kurus Normal BB Berlebihan Obesitas Derajat Sangat Tinggi Pengontrolan Diet Derajat Tinggi Derajat Sedang Derajat Rendah Total Total Nilai α Pada tabel 5 menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kontrol makanan responden ketika dikelompokkan berdasarkan riwayat merokok dengan p-value 0,079 melalui Chi- Square Test. Selain itu, ini menunjukkan juga bahwa responden yang memiliki dan tidak memiliki riwayat merokok memiliki tingkat kontrol diet yang sama. Tabel 5. Analisis Chi-Square Pada Pengontrolan Diet Pasien Yang Terdiagnosis Diabetes Mellitus Berdasarkan Riwayat Merokok Responden Riwayat Merokok Derajat Sangat Tinggi 3 10 Pengontrolan Diet Derajat Tinggi Derajat Sedang Derajat Rendah Ada Riwayat Merokok Tidak ada Total Total Nilai α Data pada tabel 6 menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada kontrol makanan responden ketika dikelompokkan sesuai dengan KGD yang didukung oleh nilai ρ Seperti yang ditunjukkan dalam tabel, proporsi tertinggi dari mereka yang memiliki tingkat manajemen glukosa sedang hingga rendah adalah mereka yang memiliki KGD tinggi. Sebaliknya, mereka yang memiliki KGD rendah memiliki kontrol diet tingkat tinggi hingga sangat tinggi. Tabel 6. Analisis Kruskal-Wallis Test Pada Pengontrolan Diet Pasien Yang Terdiagnosis Diabetes Mellitus Berdasarkan Kadar Gula Darah Responden Kadar Gula Darah Derajat Sangat Tinggi 13 0 Pengontrolan Diet Derajat Tinggi Derajat Sedang Derajat Rendah Kadar Gula Darah < 200 mg/dl 200 mg/dl Total PEMBAHASAN Total Nilai α Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 32

36 Mayoritas usia responden ditemukan lebih dari 45 tahun. Ini menunjukkan bahwa mayoritas pasien diabetes mellitus adalah orang dewasa yang lebih tua. Secara konseptual, pasien diabetes mellitus mengalami jumlah kasus tertinggi terjadi pada rentang usia lansia berdasarkan kelompok usia berdasarkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mulai dari 46 tahun hingga 55 tahun 50%. 11 Data ini konsisten dengan pernyataan dari American Diabetes Association (ADA), bahwa usia di atas 45 tahun adalah salah satu faktor risiko untuk diabetes mellitus tipe Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah perempuan. Dengan demikian menyiratkan bahwa mayoritas pasien diabetes mellitus adalah perempuan. Secara konseptual, hasil penelitian yang dilakukan oleh Rumah Sakit Koja menyatakan bahwa prevalensi diabetes mellitus tipe 2 yang terjadi pada wanita adalah 62%, lebih besar daripada prevalensi pada pria. 13 Menurut Joshlin (2017) bahwa wanita lebih rentan terkena diabetes mellitus tipe 2 dengan rasio wanita dan pria adalah 1.8: 1. Hal ini sejalan dengan penelitian yang disampaikan oleh Azrul Azwar yang menyatakan bahwa ada variasi dalam prevalensi tipe 2. Diabetes mellitus antara pria dan wanita di beberapa daerah. 14 Lebih lanjut, responden terdiri dari 59.1% jenis kelamin perempuan dan 40.9% jenis kelamin laki-laki. 15 Hasil penelitian ini pula didapatkan mayoritas pasien yaitu 73.6% memiliki kadar gula darah yang lebih dari 200 mg/dl. Ini berarti bahwa diabetes mellitus memiliki kadar gula darah tinggi. Ini menyiratkan bahwa mayoritas dari mereka adalah pasien diabetes mellitus, melalui implikasinya terhadap obat-obatan atau intervensi, kadar gula darah tinggi yang biasa ketika dikurangi ke tingkat normal. Secara konseptual, diabetes mellitus adalah kondisi kesehatan seumur hidup yang serius yang terjadi ketika jumlah glukosa (gula) dalam darah terlalu tinggi karena tubuh tidak dapat menggunakannya dengan benar. Jika tidak diobati, kadar glukosa darah tinggi dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang serius. 16 Hasil penelitian yang didapatkan pula menunjukkan bahwa 55.6% pasien memiliki Indeks Massa Tubuh di atas tingkat normal. Secara konseptual, Indeks Massa Tubuh sering digunakan sebagai alat skrining untuk memutuskan apakah berat badan pasien mungkin menempatkan pasien pada risiko untuk masalah kesehatan seperti diabetes mellitus, penyakit jantung, dan kanker. Dalam hal ini, peneliti menggunakan interval Indeks Massa Tubuh oleh American Cancer Society (ACS). 10 Mayoritas pasien yaitu 73.6% adalah bukan perokok. Hasilnya menyiratkan bahwa merokok untuk sebagian besar responden bukan sebagai faktor risiko untuk menjadi pasien diabetes mellitus. Penelitian lebih lanjut menemukan bahwa perokok adalah laki-laki. Selain itu, merokok adalah faktor risiko untuk diabetes mellitus tipe 2 terlepas dari Body Mass Index (BMI) dan aktivitas fisik. 17,22 Dan kemudian, sebaliknya beberapa penelitian yang mengklaim orang dengan diabetes mellitus yang merokok setidaknya memiliki risiko morbiditas dan mortalitas yang sama dengan non-penderita diabetes mellitus yang merokok, mungkin lebih besar. Studi ini menunjukkan bahwa ada kebutuhan untuk mengecilkan hati orang muda dengan diabetes mellitus dari mulai merokok. Nikotin dapat mengubah laju penyerapan insulin, jadi ada kebutuhan untuk memantau glukosa setelah berhenti. 18 Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 33

37 Seperti yang ditunjukkan oleh nilai p yang dihitung dari 0.035, tingkat kontrol makanan responden signifikan ketika mereka dikelompokkan berdasarkan usia. Ini berarti bahwa semua umur memanifestasikan kontrol makanan yang tidak sama. Ini sejalan dengan teori yang mengklaim strategi manajemen diabetes mellitus pada orang dewasa yang lebih tua berbeda dengan diabetes mellitus pada kelompok yang lebih muda, dengan beberapa pengecualian. Tidak seperti orang yang lebih muda dengan diabetes mellitus tipe 2, yang sering kelebihan berat badan, obesitas tidak umum di antara pasien diabetes mellitus yang lebih tua. Di panti jompo, masalah kekurangan berat badan sama dengan masalah kelebihan berat badan. Dengan demikian, manajemen nutrisi harus fokus pada penambahan berat badan untuk pasien lansia yang kekurangan berat sebanyak yang difokuskan pada penurunan berat badan untuk pasien obesitas. 19 Hasil penelitian ini pula menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dari kontrol diet pria dan wanita. Ini berarti bahwa pria dan wanita memanifestasikan kontrol makanan yang sama. Berdasarkan data yang diperoleh dari tempat penelitian bahwa tingkat konsumsi glukosa pada wanita dan pada pria memiliki kesamaan dalam porsi makanannya setiap hari. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fatimah (2016) yang menyatakan bahwa analisis gender dengan manajemen glukosa menunjukkan tidak ada hubungan yang antara gender dan manajemen glukosa. 20 Data pada penelitian ini juga menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada kontrol makanan responden ketika dikelompokkan sesuai dengan kadar gula darah yang didukung oleh nilai p yaitu Seperti yang ditunjukkan dalam tabel, proporsi tertinggi dari mereka yang memiliki tingkat manajemen glukosa sedang hingga rendah adalah mereka yang memiliki kadar gula darah tinggi. Sebaliknya, mereka yang memiliki kadar gula darah rendah memiliki kontrol diet tingkat tinggi hingga sangat tinggi. Ini sejalan dengan Schmitt et al. (2013) menyatakan pasien dengan kontrol glikemik yang baik melaporkan kontrol diet yang lebih signifikan. 9 Dalam penelitian juga menunjukkan ada perbedaan yang signifikan dalam kontrol makanan responden ketika dikelompokkan berdasarkan Indeks Massa Tubuh. Dengan kata lain, ini menunjukkan bahwa Indeks Massa Tubuh responden dengan berat badan kurang, berat normal, kelebihan berat badan, dan obesitas memiliki kontrol diet yang tidak sama. Ini sejalan dengan teori Mooradian et al. (2016) yang menyatakan bahwa manajemen nutrisi harus fokus pada penambahan berat badan untuk pasien dengan berat badan kurang sebanyak yang difokuskan pada penurunan berat badan untuk pasien obesitas. 19 Pada penelitian ini menunjukkan pula bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kontrol makanan responden ketika dikelompokkan berdasarkan riwayat merokok dengan p-value 0,079 melalui Chi-Square Test. Selain itu, ini menunjukkan juga bahwa responden yang memiliki dan tidak memiliki riwayat merokok memiliki tingkat kontrol diet yang sama. Selanjutnya, Patja et al. (2015) menyatakan merokok adalah faktor risiko untuk DM tipe 2 terlepas dari BMI. 17 Pencegahan merokok harus didorong sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi risiko DM tipe 2, dan itu akan menghasilkan manfaat kesehatan lainnya juga. 21 Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 34

38 Dalam penelitian ini juga, tingkat kontrol makanan responden tidak berbeda secara signifikan ketika mereka dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin dan riwayat merokok. Namun, ketika mereka dikelompokkan berdasarkan usia, indeks massa tubuh, dan kadar gula darah, tingkat kontrol diet mereka berbeda secara signifikan. Ini berarti bahwa kadar gula darah adalah faktor signifikan yang mempengaruhi tingkat kontrol diet. Selain itu, Schmitt et al. (2013) menyatakan bahwa pasien dengan kontrol glikemik yang baik melaporkan kontrol diet yang lebih signifikan. 9 Program konseling dapat bertujuan untuk meningkatkan perilaku perawatan diri. Rumah sakit mendukung program konseling melalui konselor PEDI (Perhimpunan Edukator Diabetes Indonesia/Asosiasi Pendidik Diabetes Indonesia) dari petugas kesehatan. Rumah sakit berkepentingan untuk memiliki konselor yang merupakan konselor terdaftar yang harus memiliki lisensi dari PEDI. Konselor PEDI menunjukkan peningkatan pengetahuan pasien diabetes mellitus melalui konseling terutama tentang perilaku perawatan diri, seperti manajemen glukosa, kontrol diet, aktivitas fisik, dan penggunaan perawatan kesehatan. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa secara umum ada perilaku perawatan diri yang buruk dari para pasien diabetes mellitus terutama dalam kontrol makanan. Selanjutnya, karakteristik pasien diabetes mellitus dengan jumlah kasus terbanyak yaitu berusia di atas 45 tahun, berjenis kelamin wanita, kadar gula darah tinggi, berat badan normal, dan belum pernah merokok. Perilaku pengontrolan diet dari pasien dalam penelitian ini menggambarkan memiliki pengaruh pada kadar gula darah. Sebaliknya jenis kelamin dan riwayat merokok tidak mempengaruhi kontrol diet. Selain itu, untuk usia, Indeks Massa Tubuh dan Kadar Gula Darah tergantung pada perilaku pengontrolan diet, sebaliknya untuk jenis kelamin dan riwayat merokok tidak tergantung pada pengaruh kontrol makanan. Kontrol makanan adalah hal penting yang harus dilakukan untuk pasien diabetes mellitus karena dapat membantu pasien untuk mengontrol gula darah dalam batas normal. DAFTAR PUSTAKA 1. The Lancet. Obesity And Diabetes in 2017: A New Year. The Lancet, 2017;389(10064):1. 2. WHO. 30 Oktober [cited 29 November 2019]. Available from: 3. Veyhe AS, Andreassen J, Halling J, Grandjean P, Petersen MS, Weihe P. Prevalence of Type 2 Diabetes and Prediabetes in the Faroe Islands. Diabetes Research and Clinical Practice. 2018; 140(March): Arda, D. Pengetahuan Perawat Tentang Penggunaan Insulin Pada Pasien Diabetes Mellitus di Rumah Sakit Islam Faisal Makassar. Jkshsk, 2016;1: Dinkes Makassar. Profil Kesehatan Kota Makassar , May, Fletcher P. 6 September [cited 30 November 2019]. Available from: Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 35

39 7. Bannard ND, Scialli AR, Turner-Mcgrievy G, Lanou AJ, Glass, J. The Effects of A Low-Fat, Plant- Based Dietary Intervention on Body Weight, Metabolism, and Insulin Sensitivity. American Journal Medication. 2015;118(9): Srimanunthiphol J, Beddow R, Arakaki R. A Review of the United Kingdom Prospective Diabetes Study (UKPDS) And A Discussion Of The Implications For Patient Care. Hawaii Medical Journal. 2000;59(7): ; Schmitt A, Gahr A, Hermanns N, Kulzer B, Huber J, Haak T. The Diabetes Self-Management Questionnaire (DSMQ): Development and Evaluation Of An Instrument To Assess Diabetes Self- Care Activities Associated with Glycaemic Control. Health and Quality of Life Outcomes. 2013; 11(1): ACS. American Cancer Society. 5 Februari [cited 30 November 2019]. Available from: Depkes. Pedoman Pengendalian Diabetes Mellitus Dan Penyakit Metabolik. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI); ADA. American Diabetes Association. Nutrition Recommendations And Intervention For Diabetes. Diabetes Care [Online Journal] [cited 27 November 2019]. Available from: Santoso M, Lian S, Yudy. Gambaran Pola Penyakit Diabetes Melitus di Bagian Rawat Inap RSUD Koja Jakarta: RSUD Koja; Azwar A. Epidemiologi Hipertensi. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; Sucipto A, Rosa EM. Efektifitas Konseling Diabetes Mellitus dalam Meningkatkan Kepatuhan dan Pengendalian Gula Darah pada Diabetes Mellitus Tipe 2. Muhammadiyah Journal Nursing Available from: journal.umy.ac.id/index.php/ijnp/article/download/637/ Diabetes UK. 12 Oktober [cited 22 Oktober 2019]. Available from: Patja K, Jousilahti P, Hu G, Valle T, Qiao Q, Tuomilehto J. Effects of Smoking, Obesity and Physical Activity on the Risk of Type 2 Diabetes in Middle-Aged Finnish Men and Women. Journal of Internal Medicine. 2015;258(4): Hillson, R. Diabetes Care: A Practical Manual (Second Edi). England: OXFORD University Press; Mooradian AD, McLaughlin S., Boyer CC, Winter J. Diabetes Care for Older Adults. Diabetes Spectrum. 2016;12(2): Ungke DE. Analysis of Wound Care Management in the Case of Diabetic Injury at Emergency Installation (IGD) Arifin Nu'mang Hospital of Sidrap Regency. Window of Health: Jurnal Kesehatan May 1: Fatimah. Hubungan Faktor Personal Dan Dukungan Keluarga Dengan Manajemen Diri Penderita Diabetes Mellitus Di Posbindu Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan Tahun Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah: 2016 Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 36

40 22. Purnama A, Sari N. Aktivitas Fisik dan Hubungannya dengan Kejadian Diabetes Mellitus. Window of Health: Jurnal Kesehatan Oct 25: Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 3 No. 1 (Januari, 2020) : E-ISSN Terakreditasi Nasional Peringkat 3 No. 36/E/KPT/2019 ARTIKEL RISET URL artikel: Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 37

41 Perbedaan Focus Group Discussion Dan Brainstorming Terhadap Pencegahan Bullying Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Karangtengah K Agung Sutriyawan 1, Intan Permata Sari 2 1,2 Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Bhakti Kencana Penulis Korespondensi ( K ): 1, 2 ( ) ABSTRAK Perilaku bullying pada remaja di sekolah menengah pertama memilki dampak yang serius terhadap pelaku maupun korban, dampaknya akan terasa hingga dewasa. Kasus bullying di Indonesia tahun 2018 sebesar 47.9%. Tujuan penelitian ini mengetahui perbedaan pendidikan kesehatan dengan metode Focus Group Discussion (FGD) dan brainstorming dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang pencegahan bullying di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Karangtengah Cianjur tahun Jenis penelitian ini adalah quasi experiment dengan rancangan penelitian two group pretest-postest design. Populasi penelitian sebanyak 300 remaja Sekolah Menengah Pertama kelas VII. Teknik besar sampel menggunakan rumus estimasi pada satu populasi, sehingga besar sampel sebanyak 15 responden untuk kelompok Focus Group Discussion dan 15 responden untuk kelompok brainstorming. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik systematic random sampling untuk menentukan sampel pada masing-masing kelas. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah kuesioner. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan Man Whitney. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh metode Focus Group Discussion dalam meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan bullying (p=0.001), ada pengaruh metode brainstorming dalam meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan bullying (p=0.003) dan tidak ada perbedaan antara metode Focus Group Discussion dan brainstorming dalam meningkatkan pengetahuan (p=0.210). Kesimpulan penelitian bahwa metode Focus Group Discussion dan brainstorming tidak memiliki perbedaan terhadap pencegahan bullying. Saran untuk institusi sekolah agar dapat menerapkan metode Focus Group Discussion dan brainstorming dalam meningkatkan pengetahuan siswa tentang pencegahan bullying. Kata kunci: Pengetahuan; bullying ; focus group discussion; brainstorming PUBLISHED BY : Public Health Faculty Universitas Muslim Indonesia Address : Jl. Urip Sumoharjo Km. 5 (Kampus II UMI) Makassar, Sulawesi Selatan. Article history : Received 19 Desember 2019 Received in revised form 11 Januari 2020 Accepted 23 Januari 2020 Available online 25 Januari 2020 licensed by Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. Phone : ABSTRACT Bullying behavior in adolescents in junior high schools has a serious impact on perpetrators and victims, the impact will be felt into adulthood. The cases of bullying in Indonesia in 2018 amounted to 47.9%. The purpose of this study is to determine the differences in health education with the Focus Group Discussion (FGD) method and brainstorming in increasing adolescent knowledge about bullying prevention in SMP Negeri 2 Karangtengah Cianjur in This type of research is a quasi experiment with a two group pretest-posttest design research design. The study population was 300 junior high school class VII students. The sample size technique uses the estimation formula in one population, so that the sample size is 15 respondents for the Focus Group Discussion group and 15 respondents for the brainstorming group. The sampling method used was systematic random sampling technique to determine the sample in each class. The instrument used to collect data was a questionnaire. Data analysis used Wilcoxon and Man Whitney tests. The results showed that there was an influence of the Focus Group Discussion method in increasing knowledge about bullying prevention (p = 0.001), there was an effect of the brainstorming method in increasing knowledge about bullying prevention (p = 0.003) and there was no Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 38

42 difference between the Focus Group Discussion and brainstorming methods in increasing knowledge (p = 0.210). The conclusion of the research is that the Focus Group Discussion and brainstorming methods have no difference in preventing bullying. Suggestions for school institutions to be able to apply Focus Group Discussion and brainstorming methods in increasing student knowledge about bullying prevention. Keywords: Knowledge; bullying ; focus group discussion; brainstorming PENDAHULUAN Masa remaja adalah masa peralihan atau masa transisi dari anak menuju dewasa. Pada masa ini banyak terjadi perubahan pada diri seseorang, perubahan dapat berupa perubahan positif maupun perubahan negatif. 1 Peran orang tua dalam tahapan ini sangat penting karena melalui orang tua seharusnya individu belajar berbagai peran dalam hidupnya dan menanamkan nilai-nilai yang dianutnya. Namun jika nilai-nilai tersebut tidak tersampaikan dengan baik, maka remaja akan berisiko memiliki perilaku sosial yang menyimpang. Beberapa perilaku sosial menyimpang pada remaja salah satunya bullying. Saat ini, bullying merupakan istilah yang sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Bullying adalah tindakan penggunaan kekuasaan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang baik secara verbal, fisik, maupun psikologis sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tak berdaya. Pelaku bullying sering disebut dengan istilah bully. Seorang bully tidak mengenal gender maupun usia. Bahkan, bullying sudah sering terjadi di sekolah dan dilakukan oleh para remaja. 2 Perilaku bullying dari waktu ke waktu terus menjadi hal yang menghantui anak Indonesia. Kasus bullying marak terjadi di usia anak-anak dan kebanyakan terjadi di lingkungan sekolah. Kasus bullying yang sering dijumpai adalah kasus senioritas atau adanya intimidasi siswa yang lebih senior terhadap adik kelasnya baik secara fisik maupun nonfisik. Bullying dapat mengubah kegiatan di sekolah yang awalnya menyenangkan, belajar sambil berteman, menjadi menakutkan bahkan mimpi buruk dan membawa cita rasa yang tidak menyenangkan pada kesan kehidupan sekolah. 3 Bullying merupakan perilaku sebagai tindakan agresif, disengaja yang dilakukan oleh kelompok atau individu berulang kali dan dari waktu ke waktu terhadap korban yang tidak dapat dengan mudah mempertahankan dirinya. Meskipun ada beberapa perdebatan tentang definisi, sebagian besar peneliti setuju bahwa bullying melibatkan niat untuk melukai dan ketidakseimbangan kekuasaan antara pelaku dan korban, dan itu terjadi berulang kali. Bullying tersebut bisa langsung maupun tidak langsung, tidak langsung seperti menyebarkan rumor jahat, merusak barang kepunyaan dan cyberbullying yaitu bullying menggunakan telepon seluler atau internet. Sedangkan bullying secara langsung yaitu melalui fisik, verbal, dan pengasingan sosial. 4 Dalam ulasan terbaru, melaporkan bahwa sekitar 20 25% dari remaja terlibat langsung dalam perilaku bullying sebagai pelaku, korban, atau keduanya. Studi skala besar yang dilakukan di negaranegara barat menunjukkan bahwa 4-9% remaja sering terlibat dalam perilaku bullying dan dan 9-25% pada anak usia sekolah. Subkelompok yang lebih kecil dari remaja yang baik menindas dan diintimidasi Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 39

43 (penindas/korban) juga telah diidentifikasi. 5 Baru-baru ini meta-analisis tentang prevalensi intimidasi dan cyberbullying di seluruh konteks dengan sampel keseluruhan remaja (12-18 tahun), penulis memperkirakan rata-rata prevalensi 35%, baik sebagai pelaku maupun korban bullying ) dan 15% untuk keterlibatan cyberbullying. 6 Berdasarkan penelitian Yulastri Arif dan Dwi Novrianda (2019) terdapat 36.6% siswa dipukul 1-2 kali dalam seminggu, 30.7% siswa didorong 1-2 kali dalam seminggu, 32.2% ditendang 1-2 kali dalam seminggu, 22.8% diambil barang 1-2 kali dalam seminggu. 7 Laporan terbaru menurut Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun dilihat dari data pendidikan, yang paling banyak terjadi kasus pelaku kekerasan anak (bullying ). Dari 161 kasus, terdiri dari kasus tawuran sebanyak 54 (33.6 %), kasus bullying sebanyak 77 (47.9%), dan kasus anak korban kebijakan sebanyak 30 (18.7%). Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) kasus bullying sebanyak 84% pada anak berusia tahun. 8 Bullying dapat menyebabkan dampak negatif pada kesehatan kesehatan bagi pelaku bullying maupun korban. 9 Dalam tiga dekade terakhir, upaya signifikan telah dilakukan oleh para peneliti menganalisis efek bullying terhadap fisik, psikologis, relasional, dan umum kesejahteraan. Remaja yang diganggu akan menunjukkan tanda-tanda prestasi sekolah yang buruk, merasa kesepian yang lebih tinggi dan kesehatan yang lebih buruk serta dan tingkat kecemasan dan depresi yang lebih besar daripada rekan-rekan mereka yang bukan korban bullying. 5,10,11 Bullying dapat terjadi di mana saja, yaitu di lingkungan masyarakat umum maupun lingkungan pendidikan (sekolah formal dan non-formal). Dua faktor besar yang mempengaruhi perilaku bullying pada anak, yaitu (1) faktor eksternal : lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, dan (2) faktor internal individu (sifat, kepribadian, karakter). 12 Kasus kekerasan dan bullying di Kabupaten Cianjur juga masih menjadi perhatian, menurut Dinas Sosial Kabupaten Cianjur terdapat 46 anak korban kekerasan seksual, psikis maupun fisik dan 14 anak terkena bullying dari lingkungan masyarakat sebagai dampak kekerasan yang dialaminya. Banyak terjadi juga dalam kegiatan persekolahan salah satunya kasus aksi kekerasan diduga dilakukan para siswa senior terhadap murid baru di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Cianjur. Tindakan ini dilakukan di luar lingkungan sekolah yang mengakibatkan sejumlah siswa mengalami trauma dan berencana pindah kesekolah lainnya. Siswa mengalami penamparan dan dimintai uang oleh seniornya di sekolah. 13 Menurut data Badan Pusat Statistik Ciajur jumlah Sekolah Menengah Pertama di Cianjur yaitu sebanyak 301 sekolah. Telah dilakukan studi pendahuluan pada tiga Sekolah Menengah Pertama yang berada di Cianjur. Berdasarkan informasi yang didapat, pada sekolah yang pertama menyebutkan setiap tahunnya hanya menerima kurang lebih 20 laporan siswa melakukan bullying verbal dan setiap tahunnya selalu melakukan sosialisasi tentang anti-bullying pada siswa. Sekolah kedua menyebutkan tidak ada laporan yang tercatat mengenai bullying, hanya sedikit laporan siswa melakukan bullying fisik maupun verbal dan di sekolah tersebut sudah mendapatkan sosialisasi tentang anti-bullying. Sedangkan Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 40

44 pada sekolah ketiga yaitu Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Karangtengah. Informasi yang di dapatkan, sekolah tersebut dari tahun ke tahun sering mengalami tawuran antar sekolah yang disebabkan banyak faktor salah satunya saling mengejek antar sekolah. Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Karangtengah merupakan salah satu Sekolah Menengah Pertama yang berada di Kecamatan Karangtengah Kabupaten Cianjur yang mempunyai jumlah siswa terdiri dari kelas VII 352 siswa, kelas VIII 343 siswa, dan kelas IX 339 siswa. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru bimbingan dan konseling Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Karangtengah beliau menjelaskan, sudah terjadi hampir setiap tahunannya tercatat laporan siswa pelaku dan korban bullying di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Karangtengah tersebut. Pada tahun ajaran terdapat 50 laporan siswa melakukan perilaku bullying di sekolah yang di ketahui wali kelas. Pada kelas VII sebanyak 33 orang, kelas VIII sebanyak 17 orang dan kelas IX tidak ada laporan perilaku bullying. Salah satu yang paling sering terjadi adalah bullying verbal seperti saling mengejek nama orang tua, memanggil nama panggilan yang tidak baik, sedangkan bullying fisik yaitu menendang dan memainkan dasi untuk memukul temannya. Hasil wawancara pada 15 orang siswa, 6 siswa pernah melakukan bullying, seperti saling memanggil nama panggilan yang tidak baik, 3 orang mengakui sering memainkan dasi untuk memukul temannya dengan alasan bercanda dan 6 orang siswa lainnya mengaku tidak pernah melakukan bullying namun pernah menjadi korban. Upaya yang dilakukan sekolah, jika terjadi bullying yang pertama adalah pemanggilan siswa dan jika tindakan bullying tersebut sudah diluar batas segera dilakukan pemanggilan orang tua siswa. Untuk pengarahan langsung di kelas hanya beberapa kali di lakukan pada kelas-kelas tertentu tidak di lakukan menyuluruh. Sehingga siswa kurang mengetahui seperti apa bullying dan pencegahan bullying, yang mereka tahu bullying adalah tindakan kekerasan fisik yang di lakukan suatu kelompok pada seseorang. Untuk mengurangi perilaku bullying di sekolah maka perlu meningkatkan pengetahuan siswa tentang bullying, metode yang tepat digunakan untuk untuk memperoleh informasi keinginan, kebutuhan, sudut pandang, kepercayaan dan pengalaman peserta tentang perilaku bullying digunakan metode Focus Group Discussion (FGD) dan brainstorming, yang merupakan metode yang sudah ada dan biasanya digunakan dalam proses pengambilan data, akan tetapi dalam penelitian ini Focus Group Discussion (FGD) dan brainstorming dijadikan metode untuk penyampaian. 14 Focus Group Discussion (FGD) atau diskusi kelompok terarah, merupakan metode yang sudah ada dan biasanya digunakan dalam proses pengambilan data, akan tetapi dalam penelitian ini Focus Group Discussion (FGD) dijadikan metode untuk penyampaian materi tentang bullying. Metode Focus Group Discussion (FGD) dapat meningkatkan pengetahuan remaja siswa Sekolah Menengah Kejuruan. 15 Sedangkan metode brainstorming merupakan metode dengan menggunakan diskusi dalam rangka menghimpun gagasan, informasi, pengetahuan serta pengalaman dari semua peserta diskusi. 16 Sehingga metode brainstorming lebih efektif dalam meningkat pengetahuan dibandingkan dengan Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 41

45 metode ceramah, metode brainstorming berpengaruh signifikan dalam meningkatkan pengetahuan remaja. 17 Berdasarkan latar belakang tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pendidikan kesehatan metode Focus Group Discussion (FGD) dan brainstorming dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang pencegahan bullying di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Karangtengah Cianjur tahun METODE Jenis penelitian menggunakan kuantitatif dengan desain Quasi Eksperiment, pendekatan yang digunakan adalah pretest-posttest two group design. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VII di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Karangtengah Cianjur yang berjumlah 300 siswa. Teknik besar sampel menggunakan rumus estimasi pada satu populasi, diperoleh sampel sebesar 12 kemudian untuk menghindari drop out ditambahkan 10%, sehingga besar sampel sebanyak 15 responden untuk kelompok Focus Group Discussion (FGD) dan 15 responden untuk kelompok brainstorming, kemudian untuk menentukan besar sampel pada masing-masing kelas digunakan tehnik proportionate stratified random sampling. Cara pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik systematic random sampling untuk menentukan sampel pada masing-masing kelas. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni-Juli Metode Focus Group Discussion (FGD) dilakukan berdasarkan langkah seperti berikut: 1) Moderator menjelaskan permasalahan; 2) diskusi; 3) Hasil diskusi akan disimpulkan bersama-sama (peserta dan moderator). Sedangkan langkah-langkah metode brainstorming, yaitu: 1) Moderator menjelaskan permasalahan; 2) diskusi; 3) Peserta satu persatu menanggapi pertanyaan; 4) Moderator menuliskan ide/pendapat di papan tulis; 4) Hasil diskusi akan disimpulkan bersama-sama (peserta dan moderator). Analisis data menggunakan analisis univariat yang berupa data proporsi untuk variabel pengetahuan, hasil ukur pengetahuan adalah cukup dan kurang. Analisis bivariat menggunakan Uji Wilcoxon dan Man Whitney karena data hasil penelitian tidak berdistribusi normal. HASIL Tabel 1 menunjukan bahwa pada kelompok Focus Group Discussion (FGD) sebelum diberikan intervensi hampir seluruh remaja berpengetahuan baik (86.7%), dan setelah diberikan Focus Group Discussion (FGD) seluruh remaja berpengetahuan baik (100%). Sedangkan pada kelompok brainstorming sebelum diberikan intervensi sebagian besar remaja berpengetahuan baik (66.7%) dan setelah diberikan brainstorming hampir seluruh remaja berpengetahuan baik (80.0%). Tabel 1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Remaja Sebelum dan Setelah diberikan Pendidikan Kesehatan Pengetahuan Sebelum Sesudah Focus Group Discussion Cukup Baik Brainstorming Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 42

46 Cukup Baik Total Tabel 2 menunjukan bahwa rata-rata pengetahuan pada kelompok yang di berikan metode Focus Group Discussion (FGD) meningkat sebesar 2.2. Hasil uji wilcoxon terhadap nilai pengetahuan sebelum dan setelah diberikan metode Focus Group Discussion (FGD) diperoleh p-value 0.001< 0.05, maka H0 ditolak, artinya ada pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang pencegahan bullying. Rata-rata pengetahuan pada kelompok yang di berikan metode brainstorming meningkat sebesar 1,8. Hasil uji wilcoxon terhadap nilai pengetahuan sebelum dan setelah diberikan metode brainstorming diperoleh p-value 0,003< 0,05, maka H0 ditolak, artinya ada pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan metode brainstorming dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang pencegahan bullying. Tabel 2. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Menggunakan Metode Focus Group Discussion (FGD) dan Brainstorming dalam Meningkatkan Pengetahuan Remaja Tentang Pencegahan Bullying Pendidikan Kesehatan Mean SD Z P Value Focus Group Discussion Sebelum Sesudah Brainstorming Sebelum Sesudah Tabel 3 menunjukan bahwa hasil uji Man-Whitney diperoleh p-value sebesar > 0.05, maka H0 gagak ditolak, artinya tidak adanya perbedaan yang signifikan antara pendidikan kesehatan dengan metode Focus Group Discussion (FGD) dan brainstorming dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang pencegahan bullying. Tabel 3. Perbedaan Pendidikan Kesehatan Menggunakan Metode Focus Group Discussion (FGD) dan Brainstorming Dalam Meningkatkan Pengetahuan Remaja tentang Pencegahan Bullying Pendidikan Kesehatan Z P Value Focus Group Discussion Brainstorming PEMBAHASAN Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 43

47 Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Metode Focus Group Discussion (FGD) dalam Meningkatkan Pengetahuan Remaja tentang Pencegahan Bullying Pendidikan kesehatan dengan metode Focus Group Discussion (FGD) terbukti dapat meningkatkan pengetahuan pada remaja tentang pencegahan bullying karena peningkatan rata-rata pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan metode Focus Group Discussion (FGD). Sebelum diberikan Focus Group Discussion (FGD) tentang pencegahan bullying didapatkan data bahwa sangat sedikit dari remaja memiliki pengetahuan cukup. Setelah diberikan Focus Group Discussion (FGD) tentang pencegahan bullying menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan, yaitu dari 13 peserta yang memiliki pengetahuan baik menjadi 15 peserta yang memiliki pengetahuan baik, yang artinya terdapat 2 orang remaja yang berpengetahuan cukup menjadi baik. Hal ini disebabkan dengan menggunakan metode FGD remaja menjadi lebih leluasa mengemukakan pendapat, opini, serta bertanya tentang perilaku bullying, sehingga sehingga dapat meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan bullying. Menurut Putri (2019) metode Focus Group Discussion (FGD) dapat meningkatkan pengetahuan remaja, yang sebelumnya berpengetahuan kurang akan meningkat menjadi pengetahuan baik. 18 Melalui teknik Focus Group Discussion (FGD) dapat diketahui tentang persepsi, opini, kepercayaan, dan sikap terhadap suatu produk, pelayanan, konsep atau ide. Teknik ini tidak hanya dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah, melainkan juga dapat diterapkan untuk penggalian informasi persepsi dan kebutuhan yang berkaitan dengan masalah tersebut. 14 Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lathifah & Susanti (2015) menunjukan peningkatan pengetahuan sebelum dan setelah diberikan Focus Group Discussion (FGD). 19 Sedangkan penelitian Rizki (2019) tentang perbedaan pengaruh antara metode Focus Group Discussion (FGD) dengan Simulation Game terhadap peningkatan pengetahuan siswa kelas XI tentang kesehatan reproduksi remaja, hasilnya menyatakan terdapat pengaruh yang signifikan antara pengetahuan siswa kelas XI pretest dan post-test karena nilai p-value < Pendidikan kesehatan merupakan upaya perubahan perilaku kesehatan yang ditekankan pada pemberian informasi-informasi kesehatan guna meningkatkan pengetahuan dan sikap positif terhadap kesehatan saja, tetapi memandang pentingnya upaya peningkatan yang mendukung perubahan perilaku tersebut. Dalam proses pendidikan kesehatan, agar mencapai hasil yang maksimal perlu menggunakan metode atau media promkes yang tepat sesuai sasaran. Teori belajar asosiasi yang menjelaskan bahwa belajar adalah mengambil dan menggabungkan respon karena rangsangan (stimulus) yang berulangulang, semakin banyak stimulus yang diberikan, maka semakin banyak respon yang diperoleh. 16 Pengaruh Pendidikan Kesehatan dengan Metode Brainstorming dalam Meningkatkan Pengetahuan Remaja tentang Pencegahan Bullying Pendidikan kesehatan dengan metode brainstorming terbukti dapat meningkatkan pengetahuan pada remaja tentang pencegahan bullying karena peningkatan rata-rata pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan metode brainstorming. Rata-rata pengetahuan remaja sebelum diberikan metode Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 44

48 brainstorming sebesar 16.93, sedangkan setelah diberikan metode brainstorming menjadi Hal ini menunjukan terjadi peningkatan rata-rata pengetahuan semaja sebesar 1.8. Sedangkan berdasarkan data proporsi sebelum diberikan brainstorming tentang pencegahan bullying didapatkan sebagian kecil dari peserta berpengetahuan cukup, sedangkan setelah diberikan brainstorming tentang pencegahan bullying menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dari pengetahuan cukup menjadi baik, yaitu sebanyak 2 orang, sedangkan yang 10 orang pengetahuannya tetap baik. Penggunaan metode brainstorming dapat memperlihatkan keaktifan remaja pada saat mengemukakan pendapat, serta respon remaja yang pada umunya menunjukan ketertarikan atau antusias pada proses diskusi. Penerapan metode brainstorming tidak hanya meningkatkan kemampuan mengemukakan pendapat remaja yang memang menjadi fokus penelitian, ternyata penerapan metode brainstoming ini dapat memberikan dampak yang lain yakni, dalam hal keaktifan siswa serta membuat ketertarikan akan materi yang diberikan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fauziningtyas, Mia, & Makhfudli (2018) tentang Pengaruh Metode brainstorming terhadap Tingkat Pengetahuan dan Rasionalitas Penggunaan Obat Swamedikasi, dalam penelitian ini terjadi peningkatan pengetahuan yaitu sebelum dan setelah diberikan brainstorming. 20 Penelitian Ratnaningsih, Zulkifli, & Hakim (2012) menunjukkan bahwa ada pengaruh metode brainstorming terhadap pengetahuan responden tentang kesehatan reproduksi remaja. 21 Remaja Sekolah Menengah Pertama masih belum mengetahui bentuk bullying mental/psikologis dan pencegahan bullying. Remaja hanya mengetahui bullying adalah tindakan kekerasan fisik yang dilakukan suatu kelompok pada seseorang, bentuk bullying yang mereka ketahui hanya bullying fisik, elektronik, dan verbal. Belum adanya sosialisasi dari guru konseling tentang pencegahan bullying dan bentuk-bentuk bullying secara jelas. Setelah diberikan pendidikan kesehatan dengan metode brainstorming, ada peningkatan pengetahuan remaja tentang bentuk-bentuk bullying dan pencegahan bullying. Pendidikan kesehatan dilakukan dengan metode brainstorming untuk meningkatkan pengetahuan dan memberikan informasi kepada responden mengenai pencegahan bullying. Pendidikan kesehatan brainstorming merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran dan penglihatan. Metode brainstorming melibatkan indra pendengaran dan penglihatan karena dalam penerapannya metode brainstorming mengundang peserta menyampaikan pendapat, memberikan komentar dan pada akhirnya terdapat proses diskusi. 22 Perbedaan Pendidikan Kesehatan dengan Metode Focus Group Discussion (FGD) dan Brainstorming dalam Meningkatkan Pengetahuan Remaja tentang Pencegahan Bullying Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada perbedaan pendidikan kesehatan dengan metode Focus Group Discussion (FGD) dan brainstorming dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang pencegahan bullying. Berdasarkan hasil lapangan terlihat pada saat intervensi remaja yang mengikuti diskusi kelompok dengan metode Focus Group Discussion (FGD) dan brainstorming sama-sama aktif Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 45

49 bertukar pendapat, saling menghargai pendapat temannya, merespon dengan baik dan saling terbuka menceritakan pengalaman individu tentang bullying. Selain itu ada perbedaan sedikit dari kedua metode tersebut, pada kelompok Focus Group Discussion (FGD) dari 15 peserta ada beberapa yang tidak berpendapat sedangkan pada kelompok brainstorming semua berpendapat, karena di tuntut untuk berpendapat secara berantai. Sesuai dengan kelebihan dari kedua metode tersebut, menurut Sudjana (2011), Focus Group Discussion (FGD) dapat menambah pengetahuan, karena mempunyai kelebihan yaitu merangsang kreativitas peserta dalam bentuk ide, gagasan, memperluas wawasan dan menimbulkan terobosan baru dalam pemecahan masalah. Sedangkan brainstorming, yaitu dapat membangkitkan pendapat baru, merangsang semua anggota untuk ambil bagian, menghasilkan reaksi rantai dalam pendapat, dapat dipakai kelompok besar maupun kecil, dan hanya sedikit peralatan yang diperlukan. 23 Menurut teori S- O-R (Simulation Organisme Respon), proses dari perubahan sikap adalah serupa dengan proses belajar, yaitu stimulus kepada organisme dapat diterima atau ditolak. Apabila stimulus diterima oleh organisme berarti ada perhatian dari individu dan stimulus tersebut efektif. 16 Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Rizki (2012) yang hampir serupa, menyatakan ada perbedaan antara metode Focus Group Discussion (FGD) dengan metode Simulation Game terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja. 15 Tidak sejalan juga dengan penelitian Zulkifli, dkk (2013) yang menyatakan ada perbedaan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja menggunakan metode simulasi permainan dan brainstorming dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja sebagai pencegahan primer pada siswa dan siswi di Kota Makassar. 24 Berdasarkan hasil penelitian tidak ada perbedaan pendidikan kesehatan dengan metode Focus Group Discussion (FGD) dan brainstorming dapat dikatakan kedua metode tersebut memiliki pengaruh yang sama. Kedua metode tersebut sama-sama merupakan metode pendidikan kesehatan kelompok kecil, peserta kurang dari 20 orang dan kedua metode tersebut merupakan metode diskusi yang mempunyai tujuan sama agar semua anggota kelompok bebas berpartisipasi dalam diskusi. Diskusi tersebut merupakan stimulus yang dapat diterima oleh peserta yang berarti ada perhatian dari setiap peserta sehingga diskusi dengan metode Focus Group Discussion (FGD) dan brainstorming dapat sama-sama untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang pencegahan bullying. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan, bahwa pendidikan kesehatan menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) dapat meningkatkan pengetahuan remaja tentang pencegahan bullying, pendidikan kesehatan menggunakan metode brainstorming dapat meningkatkan pengetahuan remaja tentang pencegahan bullying. Tidak ada perbedaan pendidikan kesehatan dengan metode Focus Group Discussion (FGD) dan brainstorming karena kedua metode tersebut sama-sama meningkatkan pengetahuan remaja tentang pencegahan bullying. Dari hasil penelitian ini disarankan pihak sekolah dapat menerapkan metode FGD dan brainstorming dalam meningkatkan pengetahuan Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 46

50 siswa tentang pencegahan bullying serta dapat juga digunakan pada kegiatan penyuluhan kesehatan reproduksi remaja (KRR). DAFTAR PUSTAKA 1. Nuradita E. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan Tentang Bahaya Rokok Pada Remaja di SMP Negeri 3 Kendal. Jurnal Keperawatan Anak. 2013;1(1). 2. Zakiyah EZ, Humaedi S, Santoso MB. Faktor Yang Mempengaruhi Remaja Dalam Melakukan Bullying. Prospek Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. 2017;4(2): Yamin A. Pencegahan Perilaku Bullying pada Siswa-siswi SMPN 2 Tarogong Kidul Kabupaten Garut. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. 2018;2(4): Menesini E, Salmivalli C. Bullying in sch0ols : The State Of Knowledge And Effective Interventions. PsycH0l Health Med [Internet]. 2017;8506:1 14. Available from: 5. Juvonen J, Graham S. Bullying In Schools: The Power Of Bullies And The Plight Of Victims. Annu Rev PsycH0l. 2014;65: Modecki KL, Minchin J, Harbaugh AG, Guerra NG, Runions KC. Bullying Prevalence Across Contexts: A Meta-Analysis Measuring Cyber And Traditional Bullying. Journal Adolescent Health. 2014;55(5): Arif Y, Novrianda D. Perilaku Bullying Fisik Dan Lokasi Kejadian Pada Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Kesehatan Medika Saintika. 2019;10(1): Novianto RD. Catatan KPAI Bidang Pendidikan: Kasus Bullying Paling Banyak Wolke D, Lereya ST. Long-Term Effects Of Bullying. Arch Dis Child. 2015;100(9): Nakamoto J, Schwartz D. Is Peer Victimization Associated With Academic Achievement? A Meta Analytic Review. Soc Dev. 2010;19(2): Fekkes M, Pijpers FIM, Fredriks AM, Vogels T, Verloove-VanHorick SP. Do Bullied Children Get Ill, Or Do Ill Children Get Bullied? A Prospective Cohort Study On The Relationship Between Bullying And Health-Related Symptoms. Pediatrics. 2016;117(5): Purwati P, Japar M, Wardani S, Rohmayanti R. Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Orang Tua Untuk Mencegah Bullying Guna Mewujudkan Desa Layak Anak. CARADDE Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. 2019;1(2): Iman RN, Hazliansyah. Siswa Baru SMK Cianjur Diduga Alami Kekerasan Senior Paramita A, Kristiana L. Teknik Focus Group Discussion Dalam Penelitian Kualitatif. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. 2013;16(2 Apr). 15. Rizki NA. Metode Focus Group Discussion Dan Simulation Game Terhadap Peningkatan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi. KEMAS Journal Kesehatan Masyarakat. 2012;8(1): Notoatmodjo S. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi, RinekaCipta. Jakarta; Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 47

51 17. Ardian I, Tsaqafannisa M. Pengaruh Promosi Kesehatan Melalui Metode Curah Pendapat Terhadap Peningkatan Pengetahuan Remaja Tentang HIV/AIDS. Nurscope Jurnal Penelitian dan Pemikiran Ilmu Keperawatan. 2015;1(2): Putri LD, Solehati T, Trisyani M. Perbandingan Metode Ceramah Tanya Jawab Dan Focus Group Discussion Dalam Meningkatkan Pengetahuan Dan Sikap Siswa. Siklus J Res Midwifery Politek Tegal. 2019;8(1): Lathifah MA, Susanti S, Ilham M, Wibowo A. Perbandingan Metode CBIA Dan FGD Dalam Peningkatan Pengetahuan Dan Ketepatan Caregiver Dalam Upaya Swamedikasi Demam Pada Anak. Pharm Sci Res. 2015;2(2): Fauziningtyas R, Mia AYD, Makhfudli. Efek Metode Brainstorming Terhadap Tingkat Pengetahuan Dan Rasionalitas Penggunaan Obat Swamedikasi. J Ners LENTERA. 2018;6(1): Ratnaningsih M, Zulkifli A, Hakim BHA. Pengaruh Metode Simulasi Permainan dan Brainstorming Terhadap Pengetahuan dan Sikap Pengurus PIK-R SMA Tentang Kesehatan Reproduksi Remaja di Kota Makassar. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, Universitas Hasanuddin, Makassar. 2012;10(2): Hardita DM, Qur aniati N, Kristiawati K. Brainstorming Dalam Pencegahan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Oleh Ibu. Pediomaternal Nurse Journal. 2019;3(1): Sudjana N. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru; Zulkifli A, Muliani R. Pengaruh Metode Simulasi Permainan Dan Brainstorming Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Pengurus PIK-R SMA Tentang Kesehatan Reproduksi Remaja di Kota Makassar. 2013;1 9. Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 3 No. 1 (Januari, 2020) : E-ISSN Terakreditasi Nasional Peringkat 3 No. 36/E/KPT/2019 ARTIKEL RISET URL artikel: Pengaruh Pelaksanaan Terapi Spiritual Terhadap Kemampuan Pasien Mengontrol Perilaku Kekerasan Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 48

52 Ernawati 1, Samsualam 2, K Suhermi 3 1,2,3 Ilmu Keperawatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muslim Indonesia Penulis Korespondensi ( K ): 1, 2, 3 ( ) ABSTRAK Perawat dapat mengontrol perilaku kekerasan pasien dengan melakukan tindakan salah satunya adalah terapi spiritual atau religius. Bentuk dari terapi spiritual dalam penelitian ini adalah dzikir dan mendengarkan bacaan Al- Qur an surah Ar-Rahman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelaksanaan terapi spiritual terhadap kemampuan pasien mengontrol perilaku kekerasan di Ruang Kenari Rumah Sakit Khusus Daerah Dadi Provinsi Sulawesi Selatan. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Pre Experimental One Group Pretest-Posttest Design, yaitu design penelitian yang terdapat Pre-test sebelum diberi perlakuan dan Post-test setelah diberi perlakuan. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi tanda dan gejala yang muncul pada pasien sebelum dan sesudah diberikan terapi spiritual. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan besar sampel sebanyak 20 pasien. Uji pengaruh dilakukan dengan menggunakan uji statistik Wilcoxon dengan nilai p < Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara pelaksanaan terapi spiritual terhadap kemampuan pasien mengontrol perilaku kekerasan dimana dari hasil uji Wilcoxon diperoleh (p=0.003) α < Kemampuan mengontrol perilaku kekerasan sebelum dilakukan terapi spiritual adalah sebanyak sembilan pasien, sedangkan sesudah dilakukan terapi spiritual adalah sebanyak sebelas pasien. Kesimpulan penelitian ini adalah ada pengaruh antara pelaksanaan terapi spiritual terhadap kemampuan pasien mengontrol perilaku kekerasan di Ruang Kenari Rumah Sakit Khusus Daerah Dadi Provinsi Sulawesi Selatan. Diharapkan bagi tenaga perawat untuk lebih meningkatkan lagi pemberian terapi spiritual terhadap kemampuan pasien mengontrol perilaku kekerasan. Kata kunci: Terapi; spiritual; kekerasan; mengontrol; psikiatri Article history : PUBLISHED BY : Public Health Faculty Received 23 Desember 2019 Universitas Muslim Indonesia Received in revised form 10 Januari 2020 Accepted 12 Januari 2020 Address : Jl. Urip Sumoharjo Km. 5 (Kampus II UMI) Available online 25 Januari 2020 licensed by Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. Makassar, Sulawesi Selatan. Phone : ABSTRACT Penerbit : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 49 Nurses can control the violent behavior of patients by taking action one of which is spiritual or religious therapy. The form of spiritual therapy in this study is dhikr and listening to the recitation of the Qur'an surah Ar-Rahman. This study aims to determine the effect of the implementation of spiritual therapy on the ability of patients to control violent behavior in the Walnut Room of the Dadi Special Hospital of South Sulawesi Province. The research design used in this study is the Pre Experimental One Group Pretest-Posttest Design, which is a research design that contains a Pre-test before being treated and Post-test after being treated. The research instrument used observation sheets of signs and symptoms that appeared in patients before and after being given spiritual therapy. Determination of the sample is done by using purposive sampling technique with a sample size of 20 patients. The effect test was performed using the Wilcoxon statistical test with a p value <0.05. The results showed that there was a significant influence between the implementation of spiritual therapy on the ability of patients to control violent behavior where the Wilcoxon test results were obtained (p = 0.003) α <0.05. The ability to control violent behavior before spiritual therapy is carried out as many as nine patients, while after spiritual therapy is carried out as many as eleven patients. The conclusion of this study is that there is an influence between the implementation of spiritual therapy on the ability of patients to control violent behavior in the Walnut Room of the Dadi Regional Special Hospital of South Sulawesi Province. It is expected that nurses will further enhance the provision of spiritual therapy to the patient's ability to control violent behavior. Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 49

53 Keywords: Therapy; spiritual; violence; control; psychiatry PENDAHULUAN Kesehatan jiwa masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang signifikan di dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, dengan berbagai fakta biologis, psikologis sosial dengan keanekaragaman penduduk, maka jumlah kasus gangguan jiwa terus bertambah yang berdampak pada penambahan beban negara dan penurunan produktivitas manusia untuk jangka panjang. 1 Permasalahan utama yang sering terjadi pada pasien gangguan jiwa adalah perilaku kekerasan. Perilaku kekerasan didefinisikan sebagai suatu keadaan hilangnya kendali perilaku seseorang yang diarahkan pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan. Perilaku kekerasan pada diri sendiri dapat berbentuk melukai diri kita sendiri untuk bunuh diri atau membiarkan diri kita terlantar. 2 Perilaku kekerasan pada orang bisa juga dikatakan tindakan agresif yang ditujukan untuk melukai atau membunuh orang lain. Perilaku kekerasan pada lingkungan dapat berupa perilaku merusak lingkungan, melempar kaca, genting, dan semua yang ada di lingkungan. Pasien yang dibawa ke rumah sakit jiwa sebagian besar akibat melakukan kekerasan di rumah. Perawat harus jeli dalam melakukan pengkajian untuk menggali penyebab perilaku kekerasan yang dilakukan selama di rumah. 3 Salah satu tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengontrol perilaku kekerasan adalah terapi religius atau spritual, yaitu suatu terapi yang dilakukan dengan cara mendekatkan diri klien terhadap kepercayaan yang dianutnya. Bentuk dari terapi spritual diantaranya adalah dzikir dan mendengarkan Al-Qur an. Berzikir kepada Allah adalah ibadah sunnah yang teramat mulia. Dzikir adalah peringatan doa yang paling tinggi yang di dalamnya tersimpan berbagai keutamaan dan manfaat yang besar bagi hidup dan kehidupan kita. Bahkan kualitas kita di hadapan Allah sangat dipengaruhi oleh kualitas dzikir kita kepada-nya. Mendengarkan Al-Qur an atau murottal adalah pembacaan Alqur an dengan menggunakan tajwid yang benar dan berirama. 4 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelaksanaan terapi spiritual terhadap kemampuan pasien mengontrol perilaku kekerasan di Ruang Kenari Rumah Sakit Khusus Daerah Dadi Provinsi Sulawesi Selatan. METODE Penelitian ini menggunakan metode Pre-Experimental One Group Pretest-Posttest Design, yaitu memberikan terapi spiritual dengan zikir dan membaca Al-Quran dua kali dalam seminggu selama satu bulan yang dipandu oleh terapis agama atau perawat di rumah sakit. Setelah itu dilakukan pengkajian dan observasi kepada pasien seberapa besar pasien mampu mengontrol perilaku kekerasannya. Penelitian ini dilaksanakan di Ruang Kenari Rumah Sakit Khusus Daerah Dadi Provinsi Sulawesi Selatan pada tanggal 15 April s/d tanggal 15 Mei Populasi dalam penelitian ini adalah semua klien dengan masalah keperawatan perilaku kekerasan pada bulan Februari hingga bulan Maret di Ruang Kenari Rumah Sakit Khusus Daerah Dadi Provinsi Sulawesi Selatan yang Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 50

54 berjumlah 30 pasien. Sampel dalam penelitian ini adalah klien dengan masalah keperawatan perilaku kekerasan yang sesuai dengan kriteria inklusi dan sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah sebanyak 20 pasien. Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan Purposive Sampling dengan kriteria inklusi, yaitu pasien beragama Islam, pasien lama yang masih sering mengalami perilaku kekerasan, serta telah mendapatkan pengobatan secara teratur. Kriteria Ekslusi dalam penelitian ini, yaitu tahap tidak mampu mengontrol perilaku kekerasan. 5 HASIL Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pre-Test Terapi Spiritual Terhadap Kemampuan Pasien Mengontrol Perilaku Kekerasan Pre-Test Terapi Spiritual n (%) Terkontrol Tidak Terkontrol Total Tabel 1 menunjukkan jumlah responden pada pre-test terapi spiritual yang tertinggi adalah tidak terkontrol sebanyak 13 responden (65.0%). Tabel 2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Post-Test Terapi Spiritual Terhadap Kemampuan Pasien Mengontrol Perilaku Kekerasan Post-Test Terapi spiritual n (%) Terkontrol Tidak Terkontrol Total Berdasarkan tabel 2 jumlah responden pada post-test terapi spiritual yang tertinggi adalah kelompok terkontrol, sebanyak 16 responden (80.0%). Adapun jumlah post-test terapi spiritual terendah adalah tidak terkontrol, sebanyak 4 responden (20.0%). Tabel 3. Perbedaan Pre-Test dan Post-Test Terapi Spiritual terhadap Kemampuan Pasien Mengontrol Perilaku Kekerasan Kemampuan Mengontrol Perilaku Kekerasan Terapi Spiritual Pre-Test Post-Test n % n % Terkontrol Tidak Terkontrol Total Tabel 3 menunjukkan sebelum dilakukan terapi spiritual terhadap kemampuan pasien mengontrol perilaku kekerasan jumlah responden yang terkontrol sebanyak 7 orang (35.0%) dan jumlah responden yang tidak terkontrol sebanyak 13 orang (65.0%), sedangkan setelah dilakukan terapi spiritual terhadap kemampuan pasien mengontrol perilaku kekerasan jumlah responden yang terkontrol sebanyak 16 orang (80.0%). Jumlah responden yang tidak terkontrol sebanyak 4 orang (20,0%). Sehingga dalam hal ini ada Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 51

55 perbedaan sebelum dan sesudah dilakukan terapi spiritual terhadap kemampuan pasien mengontrol perilaku kekerasan di mana pada post-test jumlah responden yang terkontrol mengalami peningkatan, yaitu sebanyak 16 responden (80.0%). Tabel 4. Pengaruh Pelaksanaan Terapi Spiritual Terhadap Kemampuan Pasien Mengotrol Perilaku Kekerasan Kemampuan Mengontrol Perilaku Kekerasan Terapi Spiritual Pre-Test Post-Test p value Mean Mean Kelompok perlakukan (n= 20) Tabel 4 menunjukkan nilai p value = < α= 0.05 dengan demikian hipotesis nol (H0) ditolak dan menerima Ha, artinya bahwa terdapat perbedaan kemampuan mengontrol perilaku kekerasan sebelum dan setelah diberikan terapi spiritual. PEMBAHASAN Penelitian dilakukan di ruang Kenari Rumah Sakit Khusus Daerah Dadi Provinsi Sulawesi selatan selama satu bulan dengan frekuensi pemberian terapi spiritual dua kali dalam seminggu. Hasil uji statistik menggunakan Uji Wicoxon di peroleh nilai sig. (2-tailed) dengan α (0.05). Oleh karena p<α maka Ha diterima dan H0 ditolak. Maka dalam hal ini berarti ada pengaruh yang signifikan antara pelaksanaan terapi spiritual terhadap kemampuan pasien mengontrol perilaku kekerasan di Ruang Kenari Rumah Sakit Khusus Daerah Dadi Provinsi Sulawesi Selatan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Wahyu bahwa ada pengaruh peningkatan kemampuan mengotrol halusinasi pendengaran setelah di berikan terapi spiritual dzikir. 6 Apabila terapi spiritual dilakukan secara terus menerus dan jika pasien sering mengikuti jadwal terapi keagamaan maka akan semakin memberikan pengaruh yang kuat untuk membantu pasien mengotrol perilaku kekerasan dan menenangkan hatinya. Dengan demikian pasien pun akan semakin percaya diri dan merasa lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa terapi spiritual apabila dilafalkan secara baik dan benar dapat membuat hati menjadi tenang dan rileks. Terapi spiritual (dzikir dan mendengarkan bacaan Al-qur an) juga dapat diterapkan pada pasien perilaku kekerasan, karena ketika pasien melakukan terapi spiritual dengan tekun dan memusatkan perhatian yang sempurna (khusu ) dapat memberikan dampak saat perilaku kekerasan yang juga memiliki masalah keperawatan halusinasi pendengaran yang dapat membuat pasien melakukan kekerasan itu dapat menghilangkan suara-suara yang tidak nyata dan lebih dapat menyibukkan diri dengan melakukan terapi spiritual: dzikir dan mendengarkan bacaan Al- Qur an. 3 Menurut Yusuf, seseorang yang mengalami gangguan jiwa atau penyimpangan perilaku dapat terjadi apabila banyak faktor sosial disekitar lingkungannya yang memicu munculnya stress. Stres yang Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 52

56 berlebih dapat memicu munculnya gangguan jiwa apabila seseorang tidak memiliki pertahanan atau mekanisme koping yang baik. 7 Terapi spiritual/religi adalah suatu terapi yang dilakukan dengan cara mendekatkan diri pasien terhadap kepercayaan yang dianutnya. Bentuk dari terapi spiritual diantaranya adalah dzikir dan mendengarkan Al-qur an. Salah satu tindakan yang dapat menurunkan perilaku kekerasan adalah dengan terapi spiritual dzikir (subhanallah, alhamdulillah, allahu akbar) sebanyak 33 kali dan mendengarkan bacaan Al-qur an (surah Ar-Rahman) yang dibacakan langsung oleh petugas terapi keagamaan Rumah Sakit Khusus Daerah Dadi Provinsi Sulawesi Selatan. Mendengarkan bacaan Al-qur an dapat menurunkan hormon-hormon stres, mengaktifkan hormon endorfin alami, meningkatkan perasaan rileks dan mengalihkan perhatian dari rasa takut, cemas, dan tegang, serta memperbaiki sistem kimia tubuh sehingga menurunkan tekanan darah serta memperlambat pernafasan, detak jantung denyut nadi dan aktivitas gelombang otak. Laju pernapasan yang lebih dalam atau lebih lambat tersebut sangat baik menimbulkan ketenangan, kendali emosi, pemikiran yang lebih dalam dan metabolisme yang lebih baik. Dengan demikian diberikan terapi spiritual mendegarkan bacaan Al-qur an bisa menjadi lebih rileks dan tenang sehingga menurunkan tingkat emosi pada pasien perilaku kekerasan. 8 Pada saat dilakukan penelitian di Ruang Kenari RSKD Dadi Provinsi Sulawesi Selatan, sebelum dan sesudah dilakukan terapi spiritual terdapat perbedaan atau pengaruh yang sifnifikan karena dari tanda dan gejala yang muncul ada saat pre-test menjadi berkurang setelah dilakukan post-test terapi spiritual. Itu sangat terbukti karena pada saat pre-test, kategori tidak terkontrol lebih banyak (65.0%) dibanding kategori yang tekontrol (35.0%), sedangkan pada saat post-test kategori terkontrol lebih banyak (80.0%) dibanding kategori tidak terkontrol (20.0%). Seluruh pasien beragama Islam yang ada di Ruang Kenari menjalani terapi keagamaan atau terapi spiritual secara bergantian, dimulai dari 10 hingga 15 pasien yang ikut terapi keagamaan mengikuti jadwal yaitu setiap hari selasa dan kamis. Adapun kegiatan keagamaan yang biasanya diikuti oleh pasien adalah dzikir, membaca atau memperdengarkan Al-qur an, ceramah agama, dan lain sebagainya. Pasien tersebut mengatakan akan merasa tenang apabila sedang mengikuti terapi keagamaan terutama pada saat diperdengarkan bacaan Al-qur an. Ketika tanda marah muncul pada diri pasien maka hal yang dilakukannya adalah kadang-kadang membaca bacaan surah Al-qur an yang menurutnya ia hafal dan ada pula yang langsung berdzikir untuk menenangkan hatinya. Pada saat wawancara pasien mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh peneliti dan mau menjawab serta mengikuti alur penelitian, meskipun beberapa dari mereka ada yang menunjukkan sikap menarik diri sehingga beberapa pertanyaan tidak mampu ia jawab namun pasien tersebut masih bisa membantu dalam penelitian ini. Pada saat dilakukannya terapi spiritual (dzikir dan mendengarkan bacaan Al-qur an) pasien melakukan dzikir dengan baik namun masih ada pula yang belum mampu melakukan dzikir (subhanallah, alhamdulillah, allahu akbar) tersebut. Akan tetapi pada saat diperdengarkan bacaan Al-qur an yang dibacakan langsung oleh petugas terapi keagamaan Rumah Sakit Khusus Daerah Dadi Provinsi Sulawesi Selatan seluruh pasien mendengarkan bacaan surah Ar-rahman Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 53

57 tersebut dengan penuh perhatian meskipun beberapa dari mereka ada yang tidak terlalu memperhatikannya namun mereka masih bisa menyebutkan nama surah yang diperdengarkan, dan bahkan ada yang langsung membacakan beberapa ayat dari Surah Ar-rahman tersebut dan mengatakan merasa lega setelah membacanya sendiri. Perilaku kekerasan merupakan salah satu respon terhadap stresor yang dihadapi oleh seseorang, yang ditunjukkan dengan perilaku aktual melakukan kekerasan, baik pada diri sendiri, orang lain maupun lingkungan, secara verbal maupun non-verbal. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku kekerasan atau agresifitas dapat didefinisikan, yaitu suatu perilaku mencederai atau melukai diri sendiri, orang lain/sekelompok orang dan lingkungan, baik secara verbal, fisik, dan psikologis yang akan mengakibatkan beberapa kerugian seperti trauma fisik, psikologis, dan bahkan kematian. Untuk mengatasi maupun meminimalkan dampak tersebut, maka perawat perlu mengetahui karakteristik perilaku yang ditunjukkan oleh individu melakukan perilaku kekerasan mulai dari kondisi memperlihatkan permusuhan sampai pada tingkat yang serius seperti memukul atau melukai dan reaksi perilaku kekerasan yang ditunjukkan setiap individu berbeda-beda dan berfluktuasi. 9,10,11,12 Kemampuan pasien mengontrol perilaku kekerasan merupakan salah satu proses dalam pemulihan terhadap penyakitnya. Pasien bukan hanya untuk sekadar pulih dari penyakit, tapi untuk membuat kehidupannya menjadi lebih berarti. Selama menjalani proses pemulihan, individu membutuhkan dukungan dari lingkungan. Mereka membutuhkan supportive environment dari keluarga, tetangga, masyarakat, pemerintah, dan swasta. 10,13,14,15 KESIMPULAN DAN SARAN Ada pengaruh antara pelaksanaan terapi spiritual terhadap kemampuan pasien mengontrol perilaku kekerasan di Ruang Kenari Rumah Sakit Khusus Daerah Dadi Provinsi Sulawesi Selatan. Diharapkan pihak rumah sakit dapat lebih memperhatikan lagi pasiennya terutama di Ruang Kenari dengan memberikan terapi spiritual yang teratur agar hati pasien menjadi lebih tenang dan merasa lebih dekat dengan Allah SWT, terutama pasien dengan perilaku kekerasan. Untuk peneliti selajutnya diharapkan agar menggunakan metode penelitian yang lain, sampel yang lebih banyak, dan waktu yang lebih lama agar dapat memperoleh hasil yang lebih signifikan. DAFTAR PUSTAKA 1. Health WFFM. Annual Report In Mill Street, USA; Available from: 2. Stuart GW. Prinsip dan Praktik Keperawatan Kesehatan Jiwa. 1st Indone. Pasaribu BAK and J, editor. Elsevier Singapore Pte Ltd.; Laela Dewi Saputri, Dwi Heppy S-. Pengaruh Terapi Spiritual Mendengarkan Ayat Suci Al-Quran Terhadap Kemampuan Mengontrol Emosi Pada Pasien Resiko Perilaku Kekerasan Di RSJ DR. Amino Gondohutomo. Karya Ilm STIKES Telogorejo. 2015;22:1 12. Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 54

58 4. Wulandari I. Pemberian terapi Psikoreligius (Shalat) Terhadap Frekuensi Halusinasi Pendengaran Pada Asuhan Keperawatan Jiwa Sdr.I Dengan Skizofrenia Paranoid di Ruang Arjuna RSJD Surakarta. 2014; Available from: 5. Notoatmodjo S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta; Hidayati, Wahyu Catur, Dwi Heppy Rochmawati T. Pengaruh Terapi Religius Zikir Terhadap Peningkatan Kemampuan Mengontrol Halusinasi Pendengaran Pada Pasien Halusinasi Di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan. 2014; Yusuf, Ah. fitryasari, Rizky. Nihayati HE. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika; Fitriani I. Penerapan Tindakan Keperawatan Mengontrol Marah Dengan Spiritual : Psikoreligius Pada Klien Resiko Perilaku Kekerasan Di Wisma Dwarawati RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang Karya Ilmiah Akhir Ners. ABA J [Internet]. 2017;102(4):24 5. Available from: 80/ %0Ahttps://doi.org/ / %0Ahttp://hein online.org/hol/page?handle=hein.journals/abaj102&div=144&start_page=26&collection=jour 9. Baradero Mary. Seri Asuhan Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC; Suhermi, Fatma J. Dukungan Keluarga dalam Proses Pemulihan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Jurnal Kesehatan Suara Forikes [Internet]. 2019;10(April): Available from: 11 Nurlaili N, Nurdin AE, Putri DE, Arif Y, Basmanelly B, Fernandes F. Pengaruh tehnik distraksi menghardik dengan spiritual terhadap halusinasi pasien. Jurnal Keperawatan Sep 26;11(3): Yusuf A. Terapi Keluarga Dengan Pendekatan Spiritual Terhadap Model Keyakinan Kesehatan Keluarga Dalam Merawat Pasien Skizofrenia (The Effect of Family Therapy with Spiritual Approach Toward Family S Health Belief Model in Taking Care of Patient with Schizophrenia). Jurnal Ners Susilowati Y, Ningsih DW. Penatalaksanaan Pasien Gangguan Jiwa Dengan Perilaku Kekerasan Di Ruang Citro Anggodo RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Jurnal Profesi Keperawatan (JPK) Jul 1;2(2) 14 Ariani TA. Perbandingan Ketuntasan Perawatan Klien Perilaku Kekerasan antara yang Menerima Komunikasi Terapeutik Perawat dan Pekerja Sosial (Sebuah Studi di UPT Rehabilitasi Sosial Eks Psikotik Pasuruan). Jurnal Ners dan Kebidanan (Journal of Ners and Midwifery) Apr 1;3(1): Nyumirah S. Manajemen Asuhan Keperawatan Spesialis Jiwa pada Klien Halusinasi di Ruang Sadewa Di Rs Dr. H Marzoeki Mahdi Bogor. Jurnal Keperawatan Jiwa May 15;2(1):1-3 Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 55

59 Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 3 No. 1 (Januari, 2020) : E-ISSN Terakreditasi Nasional Peringkat 3 No. 36/E/KPT/2019 ARTIKEL RISET URL artikel: Uji Aktivitas Antikolesterol Ekstrak Etanol Daun Gedi (Abelmoschus Manihot (L.) Medik) Secara In Vitro K Andi Nurjayanti Ilyas 1, Rahmawati 2, Harti Widiastuti 3 1,2,3 Jurusan Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Muslim Indonesia Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 56

60 Penulis Korespondensi (K) : 1, 2, 3 ( ) ABSTRAK Perubahan gaya hidup antara lain pola makan menyebabkan pola makan tradisional bergeser ke pola makan barat seperti fast food yang banyak mengandung kalori, lemak dan kolesterol. Salah satu tumbuhan yang sering digunakan masyarakat sebagai obat yaitu gedi (Abelmoschus Manihot (L.) Medik). Daun gedi (Abelmoschus Manihot (L.) Medik) secara empiris digunakan untuk mengobati sakit ginjal, menurunkan kolesterol, dan maag. Daun gedi (Abelmoschus Manihot (L.) Medik) mengandung senyawa berkhasiat flavonoid yang dapat digunakan sebagai penurun kolesterol. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antikolesterol ekstrak etanol daun gedi (Abelmoschus Manihot (L.) Medik) secara in vitro serta menentukan nilai EC 50. Sampel diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dengan % rendamen ekstrak yang diperoleh 9.149%. Ekstrak yang diperoleh dianalisis aktivitas antikolesterol dengan metode Lieberman-Burchard pereaksi asam asetat anhidrat dan asam sulfat pekat dengan menggunakan pengukuran spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang maksimum nm. Ekstrak etanol daun gedi (Abelmoschus Manihot (L.) Medik) memiliki aktivitas antikolesterol secara in vitro. Nilai EC 50 ekstrak etanol daun gedi (Abelmoschus Manihot (L.) Medik) yaitu sebesar ppm. Kesimpulan penelitian bahwa pada konsentrasi ppm dapat menurunkan 50% dari kolesterol awal. Disarankan menggunakan ekstrak etanol daun gedi sebagai terapi medis. Kata kunci: Antikolesterol; ekstrak etanol; daun gedi; spektrofotometer Article history : PUBLISHED BY : Public Health Faculty Received 25 Oktober 2019 Received in revised form 05 November 2019 Universitas Muslim Indonesia Accepted 20 Januari 2020 Address : Jl. Urip Sumoharjo Km. 5 (Kampus II UMI) Available online 25 Januari 2020 licensed by Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. Makassar, Sulawesi Selatan. Phone : ABSTRACT Lifestyle changes, including eating patterns, have caused traditional diets to shift to western diets such as fast foods that contain lots of calories, fat and cholesterol. One of the plants that are often used by the community as medicine is gedi (Abelmoschus Manihot (L.) Medik). Gedi (Abelmoschus Manihot (L.) Medik) leaves are empirically used to treat kidney pain, reduce cholesterol, and ulcers. Gedi (Abelmoschus Manihot (L.) Medik) leaves contain compounds that have the efficacy of flavonoids that can be used as cholesterol-lowering agents. This study aims to determine the anti-cholesterol activity of gedi leaf extract (Abelmoschus Manihot (L.) Medik) in vitro and determine the EC50 value. Samples were extracted by maceration method using 96% ethanol solvent with 9% extract extraction obtained. The extract obtained was analyzed anticolesterol activity by the Lieberman- Burchard method of anhydrous acetic acid and concentrated sulfuric acid using UV-Vis spectrophotometer measurements with a maximum wavelength of nm. Ethanol extract of gedi leaves (Abelmoschus Manihot (L.) Medik) has anti-cholesterol activity in vitro. EC50 value of gedi leaf extract (Abelmoschus Manihot (L.) Medik) that is equal to ppm. Research conclusions that at a concentration of ppm can reduce 50% of initial cholesterol. It is recommended to use gedi leaf ethanol extract as medical therapy. Keywords: Anticholesterol, gedi leaves, spectrophotometer Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 57

61 PENDAHULUAN Kemajuan dibidang ekonomi, terutama di perkotaan menyebabkan perubahan gaya hidup, antara lain perubahan pada pola makan. Saat ini, pola makan tradisional mulai bergeser ke pola makan barat seperti fast food yang banyak mengandung kalori, lemak dan kolesterol. 1 Kolesterol adalah lemak berwarna kekuningan seperti lilin yang diproduksi oleh tubuh manusia, terutama di dalam lever (hati). Kolesterol terbentuk secara alamiah. Dari segi ilmu kimia, kolesterol merupakan senyawa lemak kompleks yang dihasilkan oleh tubuh dengan bermacam -macam fungsi, antara lain untuk membuat hormon seks, hormon korteks adrenal, vitamin D, dan untuk membuat garam empedu yang membantu usus untuk menyerap lemak. Kolesterol berasal dari organ binatang, terutama bagian otak, kuning telur, dan jeroan. Demikian juga produksi yang berasal darinya, seperti susu asli, keju, mentega, dan lain-lain. Sedangkan bahan makanan yang bersumber dari tumbuh-tumbuhan tidak mengandung kolesterol. Dengan demikian, cara yang efektif untuk mengurangi kadar kolesterol dalam tubuh dapat dilakukan dengan mongonsumsi sayuran dan buah. 2 Gedi (Abelmoschus manihot (L.) Medik) merupakan tumbuhan tropis famili Malvaceae, secara tradisional telah lama dikenal di Sulawesi Utara sebagai tanaman sayuran. Masyarakat memanfaatkan daun gedi yang direbus tanpa garam sebagai obat tradisional, antara lain untuk sakit ginjal, maag, dan kolesterol tinggi. 3 Daun gedi mengandung senyawa berkhasiat polifenol, yaitu : tanin terkondensasi, fenolik dan flavonoid yang diketahui dapat menurunkan kolesterol darah. 4 Ekstrak flavonoid dan steroid yang diisolasi dari daun gedi (Abelmoschus manihot (L.) Medik) menunjukkan penurunan kadar kolesterol sebesar 84.45% pada ekstrak flavonoid, dan menurunkan kolesterol sebesar 72.53% pada ekstrak steroid. 5 Senyawa aktif flavonoid banyak manfaatnya bagi tubuh. Salah satunya yaitu flavonoid dapat digunakan sebagai penurun kolesterol. Di dalam tubuh, flavonoid mampu mengikis endapan kolesterol pada dinding pembuluh darah koroner. Dengan terkikisnya kolesterol pada pembuluh darah, maka tidak akan memicu timbulnya penyakit lain yang diakibatkan oleh kolesterol, seperti : hipertensi, stroke, dan jantung. 6 Daun gedi (Abelmoschus manihot (L.) Medik) memiliki kandungan flavonoid yang cukup tinggi (23-41%). Flavonoid juga berperan sebagai senyawa yang dapat mereduksi trigliserida (TGA) dan meningkatkan HDL. 7 Selain itu, flavonoid bekerja menurunkan kadar kolesterol dalam darah dengan menghambat kerja enzim 3-hidroksi 3-metilglutaril koenzim A reduktase (HMG Co-A reduktase). 8 Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dilakukan penelitian uji aktivitas antikolesterol ekstrak etanol daun gedi (Abelmoschus manihot (L.) Medik) dengan metode spektrofotometri UV-Vis. METODE Alat dan Bahan Alat-alat serta instrument yang digunakan dalam penelitian ini antara lain alat-alat gelas (Pyrex ), blender, pipet, mikropipet (Nesco), seperangkat alat maserasi, seperangkat alat rotavapor, spektrofotometer UV-Visible (Thermo Scientific Genesys 10S UV-Vis), dan timbangan analitik (Kern), Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 58

62 dan Vortex (Ika ). Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain, asam sulfat (H 2SO 4) pekat, asam asetat anhidrat (CH 3CO) 2O, baku kolesterol pa, etanol 96% teknis, kloroform (CHCl 3) pa. Prosedur Kerja Pengambilan dan Pengolahan Sampel Pengambilan sampel daun gedi (Abelmoschus manihot (L.) Medik) yang akan digunakan berupa sampel segar yang dipetik dari tumbuhan gedi dilakukan pada pagi hari sekitar pukul WITA di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Sampel yang diperoleh disortasi basah untuk menghilangkan tanah dan pengotor lainnya yang masih menempel pada sampel. Kemudian sampel daun gedi yang telah dibersihkan dilakukan pengubahan bentuk dengan cara dipotong-potong kecil dan dikeringkan pada suhu ruangan. Simplisia kemudian dihaluskan hingga menjadi serbuk kemudian siap untuk diekstraksi dengan metode maserasi. 9 Pembuatan Ekstrak Serbuk sampel daun gedi (Abelmoschus manihot (L.) Medik) sebanyak 100 gram dimaserasi dengan menggunakan 1000 ml pelarut etanol 96% selama 1 x 24 jam, disaring dan dilakukan remaserasi sebanyak 2 kali. Proses maserasi dibantu dengan pengadukan sesekali agar proses ekstraksi berlangsung dengan maksimal. Filtrat yang didapat dari hasil maserasi digabungkan, kemudian diuapkan dengan rotary vacum evaporator dan diperoleh ekstrak kental. 7 Uji Potensi Antikolesterol Pembuatan Larutan Stok Kolesterol 500 ppm Larutan stok kolesterol dibuat dengan konsentrasi 500 ppm yaitu dengan cara melarutkan 50 mg serbuk kolesterol dalam kloroform kemudian cukupkan volumenya hingga 100 ml. 6 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan dengan spektrofotometer UV-Vis dengan cara running panjang gelombang dari larutan stok kolesterol dengan konsentrasi 500 ppm sebanyak 5 ml kemudian direaksikan dengan 2 ml asam asetat anhidrat dan diinkubasi selama 5 menit lalu ditambahakan 0,1 ml asam sulfat pekat kemudian divortex selama 2 menit dan diukur pada menit ke- 15. Dilakukan pengukuran menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang nm. 6 Penentuan Operating Time Penentuan operating time ditentukan dengan cara dipipet 5 ml larutan stok kolesterol 500 ppm. Kemudian direaksikan dengan 2 ml asam asetat anhidrat dan diinkubasi selama 5 menit lalu ditambahkan 0,1 ml asam sulfat pekat kemudian divortex selama 2 menit dan diukur tiap interval 1 menit dari menit ke 5 hingga menit 60 menggunakan panjang gelombang maksimum nm untuk memperoleh absorbansi kolesterol. Kemudian diamati hubungan antara waktu pengukuran dengan absorbansi larutan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui waktu pengukuran yang stabil. 6 Penentuan Potensi Antikolesterol Pada Ekstrak Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 59

63 Absorbansi Ekstrak sebanyak mg ditimbang dilarutkan dalam kloroform hingga volume 50 ml diperoleh konsentrasi ppm. Selanjutnya dibuat variasi konsentrasi ; ; ; ; dan ppm dengan memipet larutan stok berturut-turut 2; 4; 6; 8; dan 10 ml, lalu dicukupkan volumenya hingga 10 ml dengan kloroform. Dari masing-masing konsentrasi diambil 2 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan dengan 5 ml baku kolesterol 500 ppm lalu divorteks 1 menit dan diinkubasi selama 5 menit. Setelah itu, direaksikandengan 2 ml asam asetat anhidrat dan diinkubasi 5 menit lalu ditambahkan 0,1 ml asam sulfat pekat kemudian divorteks selama 2 menit dan diukur pada menit ke 15. Hasil warna yang diperoleh yaitu warna hijau, diukur dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang maksimum nm. 6 HASIL Tabel 1. Hasil Perhitungan Persen Rendamen Ekstrak Etanol Daun Gedi (Abelmoschus manihot (L.)Medik) Berat simplisia Rendamen Sampel Berat ekstrak (g) (g) ekstrak (%) Daun Gedi Absorbansi kolesterol awal 500 ppm 1 0,98 0,96 0,94 0,92 0,9 0,88 0,86 0,84 0,82 Tabel 2. Data % Inhibisi Kolesterol oleh Ekstrak Sampel Konsentrasi ekstrak (ppm) Absorbansi % Inhibisi Operating Time 15; 0, Waktu (menit) Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 60

64 % inhibisi Gambar 1. Hasil Operating Time 60 Kurva Baku Sampel y = x R² = r = Konsentrasi (ppm) Gambar 2. Kurva Baku Ekstrak Etanol Daun Gedi (Abelmoschus manihot (L.) Medik) PEMBAHASAN Kolesterol adalah lemak yang berperan penting dalam tubuh. Namun, jika kolesterol dalam aliran darah terlalu banyak justru berbahaya bagi tubuh sehingga akan menyebabkan zat tersebut bereaksi dengan zat-zat lain dalam tubuh dan akan mengendap dalam pembuluh darah arteri. Hal yang akan terjadi selanjutnya adalah penyempitan dan pengerasan pembuluh darah hingga penyumbatan dan pemblokiran aliran darah atau sering dikenal dengan istilah atherosclerosis. Akibatnya, jumlah suplai darah ke jantung berkurang, terjadi sakit atau nyeri dada yang disebut angina, bahkan dapat menjurus ke serangan jantung. 2 Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antikolesterol secara in vitro ekstrak etanol daun gedi (Abelmoschus manihot (L.) Medik) dengan perbedaan konsentrasi. Tumbuhan yang digunakan yaitu daun gedi yang diyakini secara empiris sebagai obat tradisional dapat menurunkan kolesterol tinggi. 3 Daun gedi mengandung senyawa berkhasiat polifenol, yaitu tanin terkondensasi, fenolik, dan flavonoid yang diketahui dapat menurunkan kolesterol darah. 4 Metode ektraksi yang digunakan yaitu maserasi merupakan metode ekstraksi cara dingin, senyawa yang diinginkan pada daun gedi yaitu flavonoid, senyawa flavonoid tidak tahan panas dan mudah teroksidasi pada suhu tinggi, 11 sehingga rusaknya flavonoid dalam sampel karena adanya panas dapat dihindarkan. 12 Penelitian ini menggunakan ekstrak etanol dari daun gedi yang yang telah diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% yang efektif dalam mengektraksi jumlah bahan aktif yang optimal dan dapat melarutkan hampir semua senyawa organik baik senyawa polar maupun semi polar, sehingga senyawa-senyawa aktif seperti flavonoid akan terlarut dalam pelarut etanol, 13 ekstrak etanol daun gedi diuapkan dengan rotary vacum evaporator pada suhu 50 0 C sehingga menghasilkan ekstrak kental dan memperoleh % rendamen ekstrak seperti pada tabel 1. Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 61

65 Dari tabel tersebut ekstrak daun gedi (Abelmoschus manihot (L.) Medik) dilakukan uji aktivitas antikolesterol dengan metode Lieberman-Burchard yang sangat spesifik digunakan untuk mengukur senyawa golongan steroid salah satunya yaitu kolesterol, jenis steroid yang terdapat pada tumbuhan yaitu fitosterol yang dimana struktur molekularnya identik dengan kolesterol. 14 Pengukuran aktivitas antikolesterol menggunakan spektrofotometer UV-Vis, karena prinsip penelitian ini yaitu penurunan kolesterol dimana kolesterol memiliki gugus kromofor. Kromofor merupakan semua gugus atau atom dalam senyawa organik yang mampu menyerap sinar ultraviolet dan sinar tampak, 15 adapun contoh dari kromofor pada kolesterol yaitu alkena. Pada penelitian ini pertama dilakukan penentuan panjang gelombang maksimum dengan tujuan dapat diketahui panjang gelombang yang menghasilkan absorbansi maksimum. 12 Konsentrasi kolesterol yang digunakan yaitu 500 ppm dan diperoleh panjang gelombang maksimum nm. Selanjutnya dilakukan penentuan operating time dapat dilihat pada gambar 1. Di mana operating time untuk melihat hasil reaksi atau pembentukan warna dan tujuannya untuk mengetahui waktu pengukuran yang stabil. Waktu operasional ditentukan dengan mengukur hubungan waktu pengukuran dengan absorbansi larutan. 15 Dari hasil operating time dapat dilihat waktu yang stabil yaitu pada menit 15. Hasil yang didapatkan dari operating time yaitu waktu pengukuran yang stabil, kemudian dilakukan pengukuran % inhibisi kolesterol pada sampel ekstrak etanol daun gedi (Abelmoschus manihot (L.) Medik) dibuat deret konsentrasi yaitu ; ; ; ; dan ppm, dari konsentrasi tersebut dilakukan pengukuran kolesterol dengan penambahan pereaksi Lieberman-Burchard yang terdiri dari asam asetat anhidrat untuk mengektraksi kolesterol, memastikan media bebas air dan membentuk turunan asetil sedangkan asam sulfat pekat untuk menghasilkan warna hijau untuk senyawa steroid termasuk kolesterol, jenis steroid yang terdapat pada tumbuhan yaitu fitosterol yang dimana struktur molekularnya identik dengan kolesterol. 14 Pada proses pengerjaan larutan kolesterol harus terbungkus aluminium foil karena bersifat fotodegradasi dimana tidak stabil terhadap cahaya. 10 Hasil % inhibisi kolesterol pada ekstrak sampel dapat dilihat pada tabel 2. Dari tabel tersebut dapat dilihat absorbansi kolesterol awal 500 ppm yaitu 0.904, dibuat deret konsentrasi ekstrak sampel ppm hingga ppm dengan penambahan kolesterol 500 ppm pada esktrak daun gedi memberikan penurunan absorbansi dari hingga 0.449, dapat dilihat bahwa konsentrasi ekstrak berbanding terbalik dengan absorbansi ekstrak, semakin tinggi konsentrasi ekstrak maka nilai absorbansi ekstrak menurun karena adanya pengaruh penghambatan kolesterol pada ekstrak. Setelah diketahui absorbansi dari ekstrak kemudian dihitung % inhibisi tiap konsentrasi. Semakin rendah nilai absorbansi maka semakin tinggi % inhibisi kolesterol oleh ekstrak daun gedi. Dari tabel 2, kemudian diplotkan dalam sebuah grafik kurva baku sampel sehingga menghasilkan persamaan garis lurus dari ekstrak daun gedi dapat dilihat pada gambar 2. Pada gambar didapatkan persamaan garis lurus dari ekstrak sampel yang kemudian dihitung nilai EC 50 (Effective concentration) merupakan suatu konsentrasi efektif dari ekstrak yang dapat menurunkan 50% dari kolesterol awal, Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 62

66 dengan memasukkan nilai pada rumus. Nilai EC 50 yang didapatkan yaitu sebesar ppm, yang artinya pada konsentrasi tersebut dapat menurunkan 50% dari kolesterol awal. KESIMPULAN DAN SARAN Ekstrak etanol daun gedi (Abelmoschus manihot (L.) Medik) memiliki aktivitas antikolesterol secara in vitro. Nilai EC 50 ekstrak etanol daun gedi (Abelmoschus manihot (L.) Medik) yaitu sebesar ppm. DAFTAR PUSTAKA 1. Sudargo T, Freitag H, Rosiyani F, Kusmayanti NA. Pola Makan dan Obesitas. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press; p Nilawati S, Krisnatuti D, Mahednra B, Djing OG. Care Your Self Kolesterol. Bogor; 2008 p Mamahit LP, Soekamto NH. Satu Senyawa Asam Organik Yang Diisolasi dari Daun Gedi (Abelmoschus Manihot L. Medik) Asal Sulawesi Utara. Chem. Prog; 2010; 3(1): Papodi NN, Durry M, Kairupan C. Pengaruh Ekstrak Daun Gedi (Abelmoschus Manihot L.) Terhadap Gambaran Histopatologi Aorta Tikus Wistar Dengan Diet Aterogenik; 2013 p Ranti GC, Fatimawali, Wehantouw F. Uji Efektivitas Ekstrak Flavonoid dan Steroid Daun Gedi (Abelmoschus manihot) Sebagai Anti Obesitas dan Hipolipidemik pada Tikus Putih Jantang Galur Wistar. Jurnal Ilmiah Farmasi UNSRAT. 2013; 2(2): Anggraini DI, Nabillah LF. Activity Test of Suji Leaf Extract (Dracaena angustifolia Roxb.) on In Vitro Cholesterol Lowering. Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi. 2018; 21(2): Pine ATD, Alam G, Attamim F. Standarisasi Mutu Ekstrak Daun Gedi (Abelmoschus manihot L. Medik) dan Uji Efek Antioksidan dengan Metode DPPH; p. 113, Sekhon S. Antioxidant, Antiinflammatory and Hypolipidemic Properties of Apple Flavonols. NovaScotia Agricultural College Truro; Nova Scotia [skripsi]; p Dahlia AA, Ahmad AR. Penetapan Kadar Flavonoid Total dari Ekstrak Etanolik Daun Benalu Mangga (Dendrophthoe pentandra L. Miq). Jurnal Fitofarmaka Indonesia. 2016; 1(1): Amin MS. Studi In Vitro: Efek Antikolesterol dari Ekstrak Metanol Buah Parijoto (Medinilla speciosa Blume) terhadap Kolesterol Total. Jakarta: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah; p. 29, Rompas RA, Edy HJ, Yudistira A. Isolasi dan Identifikasi Flavonoid dalam Daun Lamun (Syringodium isoetifolium); Anggraini DI, Ali MM. Uji Aktivitas Antikolesterol Ekstrak Etanol Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten) Steenis) Secara In Vitro. Jurnal Ilmiah Kesehatan. 2017; 9(1): Sundaryono A. Penggunaan Batang Tanaman Betadin (Jatropha mulitifida Linn) untuk Meningkatkan Jumlah Trombosit pada Mus musculus. Media Medika Indonesiana. 2011; 45(2): Kowalski R. Terapi Hipertensi, Terjemahan Rani S. Qanita. Bandung; p Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 63

67 15. Gandjar IG, Rohman A. Spektroskopi Molekuler untuk Analisis Farmasi. Yogyakarta: UGM Press; p. 222, 243, Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 3 No. 1 (Januari, 2020) : E-ISSN Terakreditasi Nasional Peringkat 3 No. 36/E/KPT/2019 ARTIKEL RISET URL artikel: Isolasi Dan Identifikasi Bakteri Tanah Burkholderia Pseudomalllei Penyebab Melioidosis Di Kota Makassar K Nur Faidah Munir 1, Nur Wahyuni Munir 2 1 Jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan, Program Studi Agroindustri, Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 64

68 2 Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muslim Indonesia Penulis Korespondensi ( K ): 1, 2 ( ) ABSTRAK Burkholderia pseudomallei adalah jenis bakteri saprofit, bersifat patogen oportunistik, dan sebagai agen penyebab penyakit melioidosis. Bakteri ini banyak ditemukan hidup di tanah, air, maupun pada sawah pertanian. Kasus kejadian penyakit melioidosis telah banyak dilaporkan di wilayah negara Asia, namun belum banyak informasi spesifik mengenai kejadian penyakit tersebut di Indonesia. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri tanah Burkholderia pseudomalllei di Kota Makassar. Pengambilan sampel dilakukan secara acak di 11 kecamatan di Kota Makassar, yaitu Mamajang, Tamalate, Rappocini, Mariso, Bontoala, Wajo, Biringkanaya, Manggala, Tamalanrea, Tallo, dan Makassar. Analisis data menggunakan metode kualitatif deskriptif dalam bentuk gambar dan tabel. Kulturisasi isolat menggunakan medium selektif Ashdown Agar. Identifikasi bakteri menggunakan pengecatan gram, dan beberapa uji biokimiawi. Hasil penelitian diperoleh sebanyak 100 isolat sampel, masingmasing 28 isolat sampel positif Burkholderia pseudomalllei dan 72 isolat bakteri jenis lain. Penelitian disimpulkan bahwa terdapat persebaran bakteri Burkholderia pseudomallei di Kota Makassar, sehingga disarankan dapat menjadi acuan untuk penelitian lanjutan tentang penyakit melioidosis. Kata kunci: Identifikasi; burkholderia pseudomalllei; melioidosis PUBLISHED BY : Public Health Faculty Universitas Muslim Indonesia Address : Jl. Urip Sumoharjo Km. 5 (Kampus II UMI) Makassar, Sulawesi Selatan. Phone : ABSTRACT Burkholderia pseudomallei is a type of saprophytic bacteria, is an opportunistic pathogen, and as a causative agent of melioidosis. These bacteria are found living in soil, water, and agricultural fields. Cases of melioidosis have been widely reported in Asian countries, but there is not much specific information regarding the incidence of these diseases in Indonesia. The study aims to identify the soil bacteria Burkholderia pseudomalllei in Makassar City. Sampling was carried out randomly in 11 districts in Makassar City, namely Mamajang, Tamalate, Rappocini, Mariso, Bontoala, Wajo, Biringkanaya, Manggala, Tamalanrea, Tallo, and Makassar. Data analysis uses descriptive qualitative methods in the form of figures and tables. Cultivation of isolates using selective medium Ashdown Agar. Identification of bacteria using gram staining, and several biochemical tests. The results were obtained as many as 100 isolates of samples, each of 28 isolates of Burkholderia pseudomalllei positive samples and 72 isolates of other types of bacteria. The study concluded that there was a spread of the Burkholderia pseudomallei bacterium in Makassar City, so it was suggested to be a reference for further research on melioidosis. Keywords: Identification; burkholderia pseudomallei; melioidosis Article history : Received 28 Desember 2019 Received in revised form 23 Januari 2020 Accepted 24 Januari 2020 Available online 25 Januari 2020 licensed by Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. PENDAHULUAN Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 65

69 Burkholderia pseudomallei (B. pseudomallei) adalah bakteri gram negatif yang sangat menular dan merupakan patogen oportunistik. 1 Bakteri ini dapat hidup di tanah dan air sehingga dapat menginfeksi manusia maupun binatang melalui inhalasi, konsumsi, atau inokulasi perkutan. 2,3 Tingkat keparahan penyakit bervariasi dari infeksi kronis menyerupai tuberkulosis, sepsis akut, dan kemerahan. 4 Manajemen klinis dipersulit oleh resistensi antibiotik dan angka kematian tinggi meskipun diagnosis yang tepat disertai pengobatan. 5 Burkholderia pseudomallei merupakan agen penyebab penyakit melioidosis dan telah banyak dilaporkan di beberapa negara seperti Amerika, Australia, dan beberapa negara di Asia Tenggara, namun jarang dilaporkan di Indonesia. 6,7 Sebuah studi pemodelan terbaru memperkirakan bahwa sebanyak kasus melioidosis pada manusia per tahun di Indonesia, dengan sekitar kematian potensial setiap tahunnya. Meski demikian, melioidosis di Indonesia masih belum diketahui. Jaringan melioidosis Indonesia dibentuk selama lokakarya melioidosis pertama pada tahun 2017 dan ditemukan 101 kasus melioidosis (99 manusia dan dua kasus pada hewan) yang sebelumnya dilaporkan dan tambahan 45 kasus melioidosis pada manusia. Adapun sebaran dari 146 kasus yang dikonfirmasi, yaitu ditemukan di Sumatra (n = 15), Jawa (n = 104), Kalimantan (n = 15), Sulawesi (n = 11) dan Nusa Tenggara (n = 1). Secara keseluruhan, 15 (36%) kasus adalah anak-anak (usia < 15 tahun) dan 27 (64%) adalah orang dewasa (usia 15 tahun), dimana kematian keseluruhan adalah 43%. 8 Salah satu studi mengamati pola resistensi B. pseudomallei dari isolat klinis di Dr. Saiful Rumah Sakit Umum Anwar, Malang-Indonesia selama periode 2011 hingga Isolat dikonfirmasi sebagai B. pseudomallei menggunakan VITEK-2. Uji sensitivitas antimikroba menunjukkan beberapa isolat resisten terhadap ceftazidime dan meropenem. Resistensi terhadap asam amoksisilin-klavulanat, kotrimoksazol dan doksisiklin juga ditemukan dalam tingkat tinggi. 9 Dari studi literatur, ditemukan hanya tujuh laporan kasus melioidosis di Indonesia dan lima diantaranya sebelum tahun Pada tahun ditemukan tiga kasus melioidosis di Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia, dimana dua pasien dinyatakan meninggal. Seluruh pasien terlambat mendapatkan antimikroba untuk melioidosis karena diagnosis yang kurang tepat sebelumnya. 10 Melioidosis adalah penyakit endemik di seluruh Indonesia dengan mortalitas tinggi, namun studi sebelumnya belum ada yang melakukan penelitian pada tanah sebagai salah satu media penularan melioidosis. Oleh karena itu, tujuan penelitian adalah untuk melakukan isolasi dan identifikasi bakteri Burkholderia pseudomallei di Kota Makassar sebagai salah satu kota besar di Indonesia. METODE Tanah diambil pada 60 titik lokasi yang tersebar pada 11 kecamatan di Kota Makassar (5⁰ LS dan 119⁰ BT). Penentuan lokasi ini dilakukan secara acak dengan memperhatikan kondisi lingkungan setempat. Sampel tanah diambil sebanyak l00 gram, masing-masing pada permukaan tanah dan pada kedalaman 30 cm. Selanjutnya digunakan untuk mengisolasi B. pseudomallei sekaligus mengkarakterisasinya dengan menggunakan beberapa uji biokimia. Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 66

70 Karakterisasi pada tanah juga dilakukan dengan menganalisis berbagai faktor lingkungan tanah seperti jenis tanah, warna tanah, ph tanah, kedalaman, dan kelembaban tanah. Keasaman tanah dikategorikan tanah asam dan tanah basa. Jenis tanah dikategorikan Alfisol, Aridisol, Entisol, Histosol, Inceptisol, Mollisol, Oxisol, Spodosol, Ultisol, dan Vertisol. 11 Medium ashdown agar dengan melarutkan sebanyak 10 gram TSB (Tryptone Soya Broth), 15 gram agar, 40 ml glycerol, 5 ml kristal violet, 5 ml netral red ke dalam aquadest 1000 ml, lalu dipanaskan hingga larut dan disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 121º C dengan tekanan 2 atm selama 15 menit. Setelah agak dingin, ditambahkan sebanyak 0.8 ml gentamicin lalu dibiarkan hingga larut. Untuk membuat medium ashdown broth, dilakukan cara yang sama tanpa menggunakan agar. Sampel tanah dimasukkan ke dalam botol yang berisi aquadest steril sebanyak 200 ml. Tanah tersebut didiamkan selama jam pada suhu kamar. Setelah itu diambil 1 ml dimasukkan ke dalam medium ashdown broth dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37 0 C. Selanjutnya inokulum diambil sebanyak 0.1 ml, kemudian diinokulasikan secara goresan ke dalam cawan petri yang berisi medium ashdown agar lalu diinkubasi selama jam pada suhu 37 0 C. Selanjutnya dilakukan uji pengecatan gram. Berdasarkan ciri-ciri pertumbuhan koloninya (koloni merah muda keunguan), koloni bakteri yang diduga B. pseudomallei selanjutnya diuji dengan menggunakan pengecatan gram dan uji-uji biokimia untuk lebih memastikannya. 12 Isolat yang diduga B. pseudomallei dilakukan pengujian produksi asam dan gas dengan menggunakan medium TSIA (Triple Sugar Iron Agar), uji motilitas dengan menggunakan medium SIM (Sulfid Indol Motility), dan dilanjutkan dengan uji biokimia lainnya meliputi uji katalase, oksidase, dan arginine dihydrolase. Dilakukan pula pengecatan gram dan uji aglutinasi lateks. Isolat tersebut diinokulasi ke dalam masing-masing medium dan dilakukan pengamatan setelah diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37 0 C. Analisis data menggunakan metode kualitatif deskriptif dalam bentuk gambar dan tabel. 12 HASIL Tabel 1. Karakterisasi Sampel Tanah Ditemukan Bakteri Burkholderia Pseudomallei Pada 11 Kecamatan di Kota Makassar Kecamatan Jumlah isolat Mamajang 6 Tamalate 22 Rappocini 8 Jenis tanah Warna ph Alfisol, Inceptisol Alfisol, Inceptisol Alfisol, Inceptiso Mariso 0 Inceptisol Bontoala 2 Alfisol Wajo 4 Alfisol, Inceptisol Kuning kecokelatan Kuning kecokelatan Cokelat kehitaman Cokelat kehitaman Kuning kecokelatan Kuning kecokelatan Kelembaban (%) Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 67

71 Biringkanaya 29 Manggala 26 Tamalanrea 1 Tallo 2 Makassar 0 Alfisol, Inceptisol Alfisol, Inceptisol Alfisol, Inceptisol Alfisol, Inceptisol Alfisol, Inceptisol Kuning kecokelatan Cokelat kehitaman Cokelat kehitaman Kuning kecokelatan Cokelat kehitaman Tabel 1 menunjukkan hubungan antara faktor lingkungan dengan pertumbuhan B. pseudomallei. Pengambilan sampel tanah dilakukan secara acak dengan memperhatikan kondisi lingkungan setempat. Bakteri Burkholderia pseudomallei diteliti di 11 kecamatan di Kota Makassar dengan meninjau jumlah isolat, jenis tanah, warna, ph, dan kelembaban tanah. Bentuk morfologi dari Burkholderia pseudomallei yang diisolasi dari tanah di kecamatan di Kota Makassar, setelah diinokulasi dengan metode tabur (surface) dan diinkubasi selama 3x24 jam, disajikan pada gambar 1. Gambar 1. Koloni Burkholderia Pseudomallei Pada Medium Ashdown Agar Yang Diisolasi Dari Tanah Di Kecamatan Tamalate Kota Makassar Hasil identifikasi Burkholderia pseudomallei dari sampel tanah yang diambil secara acak di 11 kecamatan di Kota Makassar disajikan pada tabel 2. PG Tabel 2. Hasil Identifikasi Burkholderia Pseudomallei UJI BIOKIMIA K O I ADH M TSIA Slant LA Isolat Jumlah Bacill (-) Merah merah + B. Pseudomallei 28 Bacill (+) merah merah - A 16 Bacill (+) merah merah - B 13 Bacill (-) merah merah - C 2 Coccus (+) merah merah - D 3 Coccus (+) merah merah - E 5 Coccus (+) hitam hitam - F 1 Coccus (+) kuning kuning - G 2 Butt Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 68

72 Coccus (-) merah merah - H 14 Coccus (-) variabel variabel - I 5 Coccus (-) kuning kuning - J 8 Coccus (-) merah kuning - K 3 Keterangan: PG = Pengecatan Gram; K = Katalase; O = Oksidase; I = Indol; ADH = Arginine Dehydrolase; M = Motil; LA = Latex Aglutinasi PEMBAHASAN Burkholderia pseudomallei merupakan salah satu jenis bakteri tanah yang pertumbuhannya sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Jumlah mikroorganisme yang terdapat di dalam tanah umumnya lebih banyak daripada di air maupun udara. Aktivitas mikroorganisme di dalam tanah (terutama bakteri) sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungannya. Perubahan lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi dari mikroorganisme tersebut. Beberapa faktor abiotik yang mempengaruhi pertumbuhan populasi mikroorganisme di dalam tanah antara lain jenis tanah, warna tanah, kadar keasaman (ph), kelembaban, dan kedalaman tanah. 5 Berdasarkan hasil karakterisasi tanah, diperoleh bahwa jenis tanah sampel di Kota Makassar ada dua jenis, yaitu alfisol dan inceptisol. Karakteristik tanah berjenis alfisol, berwarna kuning kecokelatan merupakan jenis tanah yang baik sebagai tempat pertumbuhan Burkholderia pseudomallei, sedangkan tanah inceptisol berwarna cokelat kehitaman juga dapat ditumbuhi oleh B. pseudomallei dan jenis bakteri lain. Dari sepuluh jenis tanah yang terdapat di Indonesia menurut Sistem Taksonomi Tanah USDA 1975, jenis tanah mollisol dan inceptisol merupakan jenis tanah yang mendominasi tanah di bagian Sumatera, Kalimantan Timur, Sulawesi, Maluku, dan Papua. 6 Adapun jenis tanah andisol banyak terdapat di daerah Sumatera Utara, Jawa, dan Maluku. Namun, secara umum jenis tanah alfisol merupakan jenis tanah yang terdapat hampir di seluruh Indonesia termasuk Sulawesi Selatan. Berdasarkan pada tabel 1 diperoleh kisaran ph tanah kota Makassar antara dan kelembaban relatif tanah berkisar 0 60%, kisaran ph dan kelembaban relatif tanah tersebut sesuai untuk pertumbuhan B. pseudomallei. ph optimum untuk pertumbuhan bakteri B. pseudomallei berkisar antara , dengan kelembaban relatif tanah berkisar 10 20%. 7,8,9,10 Koloni Burkholderia pseudomallei pada 11 kecamatan di Kota Makassar ditemukan umumnya terdapat/tumbuh pada jenis tanah alfisol yang berwarna cokelat kehitaman, meliputi Kecamatan Mamajang, Tamalate, Rappocini, Wajo, Bontoala, Biringkanaya, dan Makassar. Variasi warna tanah sangat tergantung pada kadar organik tanah. Semakin tinggi kadar organik tanah, maka semakin gelap pula warna tanahnya. Tanah berwarna kuning banyak mengandung besi oksida, sedangkan yang berwarna cokelat atau gelap banyak mengandung karbon, nitrogen, fosfat, dan beberapa unsur lain yang penting untuk pertumbuhan bakteri tanah. 8,11,12,13,14,15 Sampel tanah yang diambil untuk mengisolasi Burkholderia pseudomallei kebanyakan diambil dari daerah persawahan yang tidak terkena paparan sinar ultraviolet secara langsung. Hal ini dilakukan Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 69

73 berdasarkan atas hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya bahwa bahwa B. pseudomallei tidak aktif setelah 7.75 menit berada di bawah paparan sinar ultraviolet sebesar 4.65 W/m 2 dengan panjang gelombang 254 nm. 9 Hasil karakterisasi sampel tanah di Kota Makassar kemudian dilanjutkan dengan identifikasi bakteri menggunakan beberapa uji biokimia, pengecatan gram, dan uji aglutinasi lateks. Hal ini dilakukan karena tidak tertutup kemungkinan terdapat pertumbuhan jenis bakteri lain pada medium selektif ashdown agar. Secara morfologi, koloni Burkholderia pseudomallei berwarna merah muda dan berupa bintikbintik setelah diinkubasi selama 24 jam. Bentuk koloni datar dan berubah menjadi merah muda keunguan setelah beberapa hari. Setelah diinkubasi selama tiga hari, biasanya terdapat flora lain pada ujung koloni. 10 Koloni dewasa Burkholderia pseudomallei pada formulasi medium agar padat yang mengandung gliserol umumnya terlihat mengkerut setelah diinkubasi beberapa hari pada suhu 23.59⁰C. Dari hasil penelitian ini ditemukan koloni serupa seperti yang ditunjukkan pada gambar 1. Hasil identifikasi, uji biokimia, pengecatan gram, dan aglutinasi lateks Burkholderia pseudomallei yang diisolasi dari 11 kecamatan di Kota Makassar diperoleh sebanyak 28 isolat positif Burkholderia pseudomallei dari 100 isolat tanah. Hasil uji biokimia spesifik untuk Burkholderia pseudomallei, yang menunjukkan reaksi positif adalah uji katalase, oksidase, arginine dihydrolase, uji motilitas SIM (Sulfid Indol Motility), dan TSIA (Triple Sugar Iron Agar) bereaksi negatif terhadap uji indol. Burkholderia pseudomallei merupakan bakteri gram negatif berbentuk basil (batang) dengan reaksi positif terhadap uji aglutinasi lateks. Penyebaran pertumbuhan Burkholderia pseudomallei di Kota Makassar lebih banyak ditemukan pada jenis tanah alfisol dengan warna tanah cokelat kehitaman ph dan kelembaban berkisar antara 0 20 %. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian menyimpulkan bahwa setelah dilakukan pengambilan sampel secara acak di 11 kecamatan di Kota Makassar, kulturisasi isolat menggunakan medium selektif ashdown agar, dan identifikasi bakteri menggunakan pengecatan gram serta beberapa uji biokimiawi, diperoleh hasil penelitian sebanyak 100 isolat sampel, dimana masing-masing 28 isolat sampel positif Burkholderia pseudomalllei dan 72 isolat bakteri jenis lain. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat persebaran bakteri Burkholderia pseudomallei di Kota Makassar, sehingga disarankan dapat menjadi referensi acuan untuk penelitian lanjutan tentang dampaka penyebaran Burkholderia pseudomalllei terhadap penyakit Melioidosis. DAFTAR PUSTAKA 1. Ginther et al. Identification Of Burkholderia Pseudomallei Near-Neighbor Species In The Northern Territory Of Australia. PLoS Negl. Trop. Dis. 2015: 9: e Currie BJ, Kaestli M. Epidemiology: A Global Picture Of Melioidosis. Nature. 2016; 529: Wiersinga et al. Melioidosis. Nat. Rev. Dis. Primers. 2018;4: Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 70

74 4. Randall LB, Dobos K, Papp-Wallace KM, Bonomo RA, Schweizer HP. Membrane-Bound Pena Β-Lactamase Of Burkholderia Pseudomallei. Antimicrob. Agents Chemother. 2015;60: Rhodes KA, Schweizer HP. Antibiotic Resistance In Burkholderia Species. Drug Resisten. Update. 2016;28: Hemarajata P, Baghdad JD, Hoffman R, Humpries RM. Burkholderia Pseudomallei: Challenges For Microbiology Laboratory.J. CLin. Microbiol Benoit TJ, Blaney DD, Doker TJ, Gee JE, Elrod MG, Rolim DB, Inglis TJ, Hoffmaster AR, Bower WA, Walke HT. A Review of Melioidosis Cases in the Americas. Am J Trop Med Hyg 2015;93: Tauran PM, Wahyunie S, Saad F, Dahesihdewi A, Graciella M, Muhammad M, Aryati A Emergence Of Melioidosis In Indonesia And Today s Challenges. Trop. Med. Infect. Dis. 2018;3: Irmawati-Rahayu, Noorhamdani AS, Santoso S. Resistance Pattern Of Burkholderia Pseudomallei From Clinical Resistance Pattern Of Burkholderia Pseudomallei From Clinical Isolates At dr. Saiful Anwar General Hospital, Malang-Indonesia. Journal of Clinical Microbiology & Infectious Disease 2014;1(1): Tauran PM, Sennang N, Rusli B, Wiersinga WJ, Dance D. Emergence Of Melioidosis In Indonesia. Am. J. Trop. Med. Hyg. 2015;93(6): Engelkirk PG, Duben-Engelkirk. Laboratory Diagnosis Of Infectious Diseases: Essentials Of Diagnostic Microbiology. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; Howard K, Inglis TJJ. Novel Selective Medium for Isolation Of Burkholderia Pseudomallei, 2017: 41(7): Ristiati Ni Putu, Muliadihardja Sanusi dan Nurlita Frieda. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Penambat Nitrogen Non Simbiosios Dari Dalam Tanah. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora. 2018;l(1): Purwaningsih, Sri. Populasi Bakteri Rhizobium Di Tanah Pada Beberapa Tanaman Dari Pulau Buton, Kabupaten Muna, Propinsi Sulawesi Tenggara. J. Tanah Trop., 2018;14(1): Priadie, Bambang. Teknik Bioremediasi Sebagai Alternatif Dalam Upaya Pengendalian Pencemaran Air. Jurnal Ilmu Lingkungan. 2012;10(1): Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 71

75 Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 3 No. 1 (Januari, 2020) : E-ISSN Terakreditasi Nasional Peringkat 3 No. 36/E/KPT/2019 ARTIKEL RISET URL artikel: Pengelolaan Limbah Medis Padat Di Rumah Sakit Umum Daerah Mamuju Provinsi Sulawesi Barat K A. Rizki Amelia 1, Annisa Ismayanti 2, Arni Rizqiani Rusydi 3 1,2,3 Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muslim Indonesia Penulis Korespondensi (K) : 1, 2, 3 ( ) ABSTRAK Rumah sakit sebagai institusi yang tugasnya memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, tidak terlepas dari tanggung jawab terhadap kesehatan lingkungan di sekitarnya yaitu mengelola limbah medis dengan benar (sesuai persyaratan). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengelolaan limbah medis padat di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat tahun Jenis penelitian yang digunakan Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 72

76 adalah observasional dengan pendekatan deskriptif, populasinya adalah semua ruangan yang termasuk dalam kategori medis dan sampelnya adalah semua populasi yang dijadikan sampel. Pengambilan sampel akan menggunakan sistem total sampel (exhaustic sampling). Pengolahan dan analisis data hasil observasi kemudian diolah secara manual dan dikelompokan sesuai tujuan. Hasil penelitian menunjukkan pemilahan, pewadahan, pengangkutan, tempat penampungan sementara dan tempat pembuangan akhir belum memenuhi syarat sesuai dengan Kepmenkes RI No. 1204/Menkes/SK/X/2004, karena beberapa ruangan belum dilakukan pemilahan limbah medis maupun non-medis walaupun wadah sudah siapkan sesuai dengan jenis limbah, wadah sulit untuk dibersihkan dan dikosongkan karena sebagian wadah tidak dilengkapi dengan kantong plastik, proses pengangkutan menggunakan jalur umum sehingga menganggu aktivitas rumah sakit. Selain itu, tempat penampungan sementara limbah rumah sakit hanya memiliki sebuah ruangan berukuran 4 x 4 yang terletak di belakang rumah sakit dan tidak memisahkan limbah medis dan non medis. Alat pemusnahan limbah rumah sakit tidak digunakan karena belum memiliki izin operasional. Kesimpulan penelitian bahwa pengelolaan limbah medis padat di Rumah Sakit belum memenuhi syarat. Disarankan agar pelaksanaan pengelolaan berjalan dengan baik, diperlukan standar operasional prosedur mengenai cara pengelolaan limbah pada sumbernya, pelatihan mengenai teknik pemilahan limbah sesuai jenisnya dan pengurusan izin pengoperasian pengunaan insenerator. Kata kunci: Pengelolaaan; limbah medis padat; rumah sakit PUBLISHED BY : Public Health Faculty Universitas Muslim Indonesia Address : Jl. Urip Sumoharjo Km. 5 (Kampus II UMI) Makassar, Sulawesi Selatan. Phone : ABSTRACT The hospital as an institution whose task is to provide health services to the community, is inseparable from the responsibility for the health of the surrounding environment, namely managing medical waste properly (as required). The purpose of this study is to determine the management of solid medical waste in the Mamuju District General Hospital, West Sulawesi Province in The type of research used is observational with descriptive approach, the population is all rooms that are included in the medical category and the sample is all populations that are used the sample. Sampling will use a total sample system (exhaustic sampling). Processing and analyzing the observational data is then processed manually and grouped according to purpose. The results showed that sorting, storage, transportation, temporary shelter and final disposal site did not meet the requirements in accordance with the Republic of Indonesia Decree No. Kepmenkes / Menkes / SK / X / 2004, because some rooms have not been sorted out medical or non-medical waste even though the container has been prepared according to the type of waste, the container is difficult to clean and empty because some containers are not equipped with plastic bags, the transport process uses lines general so that disrupt hospital activities. In addition, the hospital waste temporary shelter only has a 4 x 4 room located behind the hospital and does not separate medical and non-medical waste. Hospital waste disposal equipment is not used because it does not yet have an operational permit. The conclusion of the research is that the management of solid medical waste in hospitals has not yet met the requirements. It is recommended that the implementation of management runs well, required standard operating procedures on how to manage waste at the source, training on waste sorting techniques according to its type and obtaining an operation permit for the use of an incinerator. Keywords: Management; medical waste solid; hospital Article history : Received 04 November 2019 Received in revised form 19 Desember 2019 Accepted 20 Desember 2019 Available online 25 Januari 2020 licensed by Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. PENDAHULUAN Masalah lingkungan erat hubungannya dengan dunia kesehatan. Untuk mencapai kondisi masyarakat yang sehat diperlukan lingkungan yang baik pula. Dalam hal ini sarana pelayanan kesehatan harus pula memperhatikan keterkaitan tersebut. 1 Sarana pelayanan kesehatan merupakan tempat Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 73

77 2019. METODE bertemunya kelompok masyarakat penderita penyakit, kelompok masyarakat pemberi pelayanan, kelompok pengunjung dan kelompok lingkungan sekitar. Adanya interaksi di dalamnya memungkinkan menyebarnya penyakit bila tidak didukung dengan kondisi lingkungan yang baik dan saniter. 2 Limbah yang dihasilkan dari upaya medis seperti rumah sakit, puskesmas, dan poliklinik yaitu jenis limbah yang termasuk dalam kategori biohazard yaitu jenis limbah yang sangat membahayakan lingkungan, dimana banyak terdapat buangan virus, bakteri maupun zat-zat yang membahayakan lainnya sehingga harus dimusnahkan dengan jalan dibakar dalam suhu diatas 800 derajat celcius. Namun, pengelolaan limbah medis yang berasal dari rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan maupun laboratorium medis di Indonesia masih dibawah standar profesional. Bahkan banyak rumah sakit yang membuang dan mengolah limbah medis tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku. 3 Berdasarkan data yang ada, pengelolaan limbah padat sampah medis di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mamuju jumlah limbah medis yang dihasilkan pada tahun 2016 sebanyak 707 kg, pada tahun 2017 sebanyak 1300 kg, pada tahun 2018 mengalami kenaikan sebanyak 1500 kg. Sehingga sangat berdampak pada lingkungan jika tidak segera dikelola dengan baik. Data lapangan yang ada menunjukkan setiap rumah sakit di Mamuju dapat memproduksi limbah medis (klinis) berkisar 10 sampai 20 kg/hari. Dimana limbah tersebut pada umumnya ditampung di tempat sampah sementara untuk selanjutnya diangkut dan dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). 4 Berdasarkan observasi awal peneliti di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mamuju dimana letak geografisnya terletak diantara pegunungan dan pemukiman warga maka dikhawatirkan limbah medis yang digunakan rumah sakit tersebut berdampak pada warga sekitar. Bila hal ini terjadi akan memberikan dampak negatif yakni pencemaran lingkungan terhadap masyarakat yang tinggal di daerah sekitar rumah sakit yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan. Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mamuju memiliki insinerator namun jarang digunakan disebabkan kurangnya perhatian pihak pengelola dalam hal biaya operasional dan perawatan alat sehingga limbah atau sampah medis di rumah sakit dibuang bersama dengan limbah non-medis kemudian diangkut ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Limbah yang ada meliputi limbah infeksius yang mengandung logam berat, limbah organik yang berasal dari sisa makanan serta limbah anorganik dalam bentuk botol bekas infus dan plastik. Volume limbah infeksius ini lebih banyak ditemukan karena pemeliharaan lingkungannya kurang baik. Limbah infeksius yang ditemukan berupa alat-alat kedokteran seperti perban, salep, serta suntikan bekas (tidak termasuk tabung infus), darah, dan sebagainya. 5 Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengelolaan limbah medis padat di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat Tahun Adapun tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengelolaan limbah medis padat di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat Tahun Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 74

78 Dalam penelitian ini digunakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan observasional dan deskriptif. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Mamuju di Jalan Kurungan Bassi Kelurahan Rimuku Kecamatan Mamuju Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat. Adapun waktu penelitian dimulai tanggal 29 Mei sampai 12 Juni Populasi dan sampel penelitian yaitu populasi adalah 11 ruangan yang termasuk dalam kategori medis yaitu ruang perawatan, poliklinik, ruang Unit Gawat Darurat (UGD), ICU/ICCU, bedah sentral/kamar bedah, radiologi, laboratorium, ruangan fisioterapi, ruangan pelayanan farmasi/apotek, ruang persalinan, dan ruang instalasi gizi. Sedangkan sampelnya adalah adalah semua populasi yang dijadikan sampel. Pengambilan sampel akan menggunakan sistem total sampel (Exhaustic sampling), pada seluruh unit-unit pelayanan di rumah sakit yang terdiri dari 11 ruangan. Pengukuran sampel merupakan suatu langkah untuk menentukan besarnya sampel memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat yang diambil dalam melaksanakan suatu penelitian. Selain itu, memperhatikan bahwa sampel yang dipilih harus menunjukkan segala karakteristik populasi sehingga tercermin dalam sampel yang dipilih, dengan kata lain sampel harus dapat menggambarkan keadaan populasi yang sebenarnya atau mewakili (representatif). Untuk menghitung penentuan jumlah sampel memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat dari populasi tertentu, maka digunakan rumus Slovin. Sumber data penelitian yaitu data primer diperoleh melalui observasi langsung di lokasi penelitian dan dokumentasi melalui peninggalan arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori, peraturan atau undang-undang, dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber, seperti dari pihak rumah sakit berupa data tentang profil rumah sakit. Instrument dalam penelitian kuantitatif analisis pengelolaan limbah medis padat pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat ini adalah peneliti mandiri yang dilengkapi dengan kamera, alat perekam, catatan, dan lembar observasi. Data diperoleh dari hasil observasi kemudian diolah secara manual dengan bantuan komputer dan disajikan dalam bentuk distribusi yang dilengkapi dengan narasi. HASIL Penelitian dilaksanakan dengan melakukan observasi lapangan terhadap kepala bagian sanitasi dan petugas limbah medis padat yang berjumlah empat orang di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mamuju pada tanggal 29 Mei sampai dengan 12 Juni Adapun hasil dari penelitian yang dilaksanakan yaitu : Pemilahan Ruangan perawatan, ruangan operasi/bedah, ruangan Unit Gawat Darurat (UGD), fisioterapi, ruangan laboratorium, ruangan instalasi gizi, ruangan ICU/ICCU, instalasi farmasi, ruangan persalinan, dan ruangan poliklinik. Terjadi pemilahan antara sampah medis dan non medis, pemilahan limbah dilakukan mulai dari sumber yang menghasilkan limbah, limbah benda tajam dikumpulkan satu wadah Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 75

79 dengan memperhatikan terkontaminasi atau tidaknya, dan limbah medis padat dimanfaatkan kembali melalui proses sterilisasi. Ruangan radiologi tidak terjadi pemilahan antara sampah medis dan non medis, pemilahan limbah tidak dilakukan mulai dari sumber yang menghasilkan limbah, limbah benda tajam tidak dikumpulkan satu wadah dengan memperhatikan terkontaminasi atau tidaknya, dan limbah medis padat tidak dimanfaatkan kembali melalui proses sterilisasi. Pewadahan Tabel 1. Distribusi Pemilahan Limbah Medis di RSUD Kabupaten Mamuju Tahun 2019 Pemilahan Limbah Medis n % Memenuhi Syarat Tidak Memenuhi Syarat Total Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti, kondisi pewadahan limbah medis padat dari sumber penghasil limbah medis padat mempunyai karakteristik yang berbeda, ruang perawatan memiliki 84 buah wadah limbah, radiologi memiliki 1 buah wadah limbah, ruang operasi/bedah memiliki 9 buah wadah limbah, UGD memiliki 13 buah wadah limbah, fisioterapi memiliki 3, instalasi gizi memiliki 3 buah wadah limbah, laboratorium memiliki 6 buah wadah limbah, ICU memiliki 11 buah wadah limbah, instalasi farmasi memiliki 5 buah wadah limbah, ruang persalinan memiliki 5 buah wadah limbah, dan poliklinik 28 buah wadah limbah. Tabel 2. Distribusi Pewadahan Limbah Medis Di RSUD Kabupaten Mamuju Tahun 2019 Pengangkutan Pewadahan Limbah Medis n % Memenuhi Syarat Tidak Memenuhi Syarat Total Pengangkutan limbah medis padat di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mamuju dilakukan tiap ruangan dengan alat angkut sampah untuk menuju ke tempat pembuangan sementara. Tempat sampah yang berada di ruangan perawatan memiliki roda, terkadang sampah menempel pada alat angkut tersebut, jarang dibersihkan, jarang dikeringkan, dan pengangkutannya terkadang tempat sampah diangkat langsung sendiri oleh petugas ketempat pembuangan sementara dan tidak menggunakan rute sendiri. Gerobak tersebut mampu mengangkut limbah medis padat dengan kapasitas 20 kg. Selain itu, limbah tidak diangkut bersama plastiknya melainkan dituang dalam gerobak dan plastiknya kembali digunakan. Plastik tersebut baru akan diganti setelah dua hari atau dikondisikan sesuai dengan keadaan plastik. Pengangkutan dilakukan pada pukul WITA WITA atau dikondisikan dengan keadaan. Jika pengangkutan lewat dari jadwal dan limbah masih ada, maka limbah tersebut baru diangkut keesokan harinya. Pengangkutan limbah medis menunjukkan dimana dari 11 Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 76

80 ruangan (100%) yang diteliti tidak ada satu ruangan pun yang memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh Permenkes RI No. 1204/Menkes/SK/X/2004. Adapun yang memenuhi syarat sesuai dengan Permenkes yakni kereta atau troli yang digunakan untuk pengangkutan sampah klinis harus didesain sedemikian rupa sehingga permukaaan harus licin, rata, dan tidak tembus. Tidak akan menjadi sarang serangga, mudah dibersihkan dan dikeringkan, sampah tidak menempel pada alat angkut, dan sampah mudah diisikan, diikat, dan dituang kembali. Tempat Penampungan Sementara Tempat Penampungan Sementara (TPS) limbah medis padat Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mamuju tidak terpisah dari limbah non-medis. Tempat penampungan sementara limbah medis padat berada di belakang rumah sakit dengan kondisi limbah medis padat digabung dengan limbah domestik. Kedua jenis limbah tersebut dikumpulkan disebuah ruangan. Adapun pintu dan jendela ruangan tersebut tidak ditutup sehingga memudahkan vektor (misalnya serangga tikus dan lalat) masuk untuk berkembangbiak didalamnya. Limbah bekas seperti botol infus dan botol bekas minuman dikumpulkan oleh petugas limbah. Keadaan limbah medis padat dan limbah domestik digabung seperti itu maka sangat membahayakan bagi petugas. Rumah sakit mempunyai kontainer khusus pada TPS (Tempat Penampungan Sementara) akan tetapi tidak mempunyai penutup sehingga limbahnya hanya disimpan begitu saja ditempat terbuka yang dapat menimbulkan bau yang tidak sedap. Khusus limbah jaringan tubuh, langsung diserahkan kepada pihak keluarga untuk dikuburkan di tempat yang disediakan khusus oleh pihak rumah sakit atau dalam hal ini sejenis galian atau kuburan yang berada di area rumah sakit. Tempat penampungan sementara Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mamuju menunjukkan dimana limbah medis dari 11 ruangan ditampung disuatu ruangan yang berukuran 4 x 4 sebagai tempat penampungan sementara dan tidak memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh Permenkes RI No 1204/MENKES/SK/X/2004 tentang persyaratan dan petunjuk teknis tata cara penyehatan lingkungan rumah sakit, dimana syarat tempat penampungan sementara yaitu tempat penampungan limbah tidak permanen, tempat penampungan sementara dilengkapi dengan penutup, terletak di lokasi yang mudah dijangkau oleh kendaraan pengangkut, dan dikosongkan dan dibersihkan sekurang-kurangnya satu kali 24 jam. Tempat Pembuangan Akhir Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mamuju memiliki dua buah insinerator tahun 2012 dan 2016 akan tetapi satu insenerator sudah rusak sedangkan insenerator yang baru tidak digunakan karena pihak rumah sakit belum mempunyai surat izin pengoperasian. Semua limbah medis padat, kecuali limbah jaringan tubuh dan limbah farmasi akan dibuang di tempat pembuangan akhir beserta limbah domestik. Pihak rumah sakit juga bekerja sama dengan pihak Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan, sehingga limbah rumah sakit diangkut oleh pihak Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan ke tempat pembuangan akhir. Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 77

81 Tempat penampungan akhir limbah medis di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Sulawesi Barat, dimana 11 ruangan penghasil limbah medis semua tidak memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh Permenkes RI No. 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang persyaratan dan petunjuk teknis tata cara penyehatan lingkungan rumah sakit, dimana syarat tempat penampungan akhir adalah sebagai berikut yaitu limbah sitotoksis dan limbah farmasi harus dimusnahkan dengan menggunakan insinerator pada suhu diatas 1000 ºC, limbah radioaktif harus dibuang sesuai dengan persyaratan teknis dan perundangundangan yang berlaku (PP No. 27 Tahun 2002) dan kemudian diserahkan kepada BATAN untuk penanganan lebih lanjut, dan limbah umum dibuang ke tempat yang dikelola oleh pemerintah daerah atau instansi lain yang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku PEMBAHASAN Pemilahan Proses pemilahan dan reduksi sampah hendaknya merupakan proses yang kontinyu yang pelaksanaannya harus mempertimbangkan kelancaran penanganan dan penampungan sampah, pengurangan volume dengan perlakuan pemisahan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) dan non B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) serta menghindari penggunaan bahan kimia B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), pengemasan dan pemberian label yang jelas dari berbagai jenis limbah untuk efisiensi biaya, petugas dan pembuangan. 6 Dalam pengelolaan limbah medis diwajibkan melakukan pemilihan menurut limbah dan menyimpannya di dalam kantong plastik yang berbeda-beda menurut karekteristik atau jenis limbahnya. Limbah umum dimasukkan ke dalam plastik berwarna hitam, limbah infeksius ke dalam kantong plastik berwarna kuning, limbah sitotoksis kedalam warna kuning, limbah kimia/farmasi ke dalam kantong plastik berwarna coklat dan limbah radioaktif ke dalam kantong warna merah. Disamping itu rumah sakit diwajibkan memiliki tempat penyimpanan sementara limbahnya sesuai persyaratan yang ditetapkan dalam Kepmenkes No. 1204/Menkes/SK/X/2004. Adapun syarat kesehatan menurut Permenkes No. 1204/Menkes/SK/X/2004 yaitu memenuhi syarat jika tempat sampah anti bocor dan anti tusuk, memiliki tutup dan tidak mudah dibuka orang, sampah medis padat yang akan dimanfaatkan harus melalui sterilisasi. Berdasarkan hasil saat observasi langsung di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mamuju kegiatan pemilahan tidak dilakukan oleh semua ruangan penghasil limbah medis tetapi hanya ada 4 ruangan yang melakukan pemilahan pada limbah medis sesuai karakteristiknya diantaranya yaitu UGD (Unit Gawat Darurat), ruang operasi/bedah, ruang perawatan dan poliklinik dari ke 4 ruangan tersebut telah melakukan pemilahan limbah medis dan non medis dimana limbah medis dipisahkan kembali sesuai dengan karakteristiknya seperti limbah infeksius, benda tajam, limbah farmasi dan citotoksik. Kegiatan pemilahan tersebut sesuai dengan ketentuan Permenkes No. 1204/Menkes/SK/X/2004 sehingga dikatakan memenuhi syarat. 7 Ada 7 ruangan yang tidak memenuhi syarat yang tidak melakukan pemilahan limbah medis seperti ICU dan ruang bersalin yang tidak melakukan pemilahan limbah medis, non medis dan infeksius Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 78

82 tetapi limbah tajam, farmasi dan citotoksik telah dipilah, sedangkan Radiologi, fisoterapi, instalasi gizi, laboratorium, dan instalasi farmasi tidak melakukan pemilahan pada limbah medis sesuai dengan karakteristiknya. Pewadahan Wadah limbah medis adalah suatu jenis tempat limbah yang tersedia dan digunakan sebagai tempat membuang limbah, baik limbah medis maupun non medis. Yang memiliki kriteria sehingga layak digunakan sebagai wadah tempat limbah medis maupun non medis. Pewadahan yang digunakan oleh setiap rumah sakit adalah pewadahan yang betul-betul memperhatikan kelayakan atau memenuhi syarat kesehatan dengan pertimbangan bahwa wadah tersebut sesuai dengan standar kesehatan nasional yang ditetapkan dalam Permenkes No 1204/Menkes/SK/X/2004 dan mengacu pada standar WHO (World Health Organization) yaitu pewadahan sampah medis menggunakan label (warna kantong plastik/kontainer), sampah radioaktif menggunakan warna merah, sampah sangat infeksius menggunakan warna kuning, sampah/limbah infeksius, patologi dan anatomi menggunakan warna kuning, sampah sitotoksis menggunakan warna ungu, dan sampah/limbah kimia dan farmasi menggunakan warna cokelat. Masalah utama dalam mengatasi limbah medis padat adalah risiko penularan oleh agen infeksius yang berasal dari limbah tersebut. Resiko penularan akan muncul mulai pembuangan dari sumbernya. Hal ini merupakan faktor yang dipertimbangkan dalam menentukan wadah atau kontainer untuk limbah medis padat. Pertimbangan penggunaan wadah juga dibedakan sesuai tipe limbah. 3 Berdasarkan hasil saat observasi langsung di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mamuju, petugas sudah melakukan pemilahan antara limbah medis, non medis dan limbah domestik sesuai dengan karakternya dari 11 ruangan penghasil limbah medis hanya 2 ruangan yang memenuhi syarat yaitu ruang operasi/bedah, dan ruang perawatan karena wadah tersebut anti bocor, anti tusuk, dan tidak mudah untuk dibuka, sehingga orang yang tidak berkepentingan tidak dapat membukanya. Jarum dan syringes dipisahkan sehingga tidak dapat digunakan kembali. Selain itu, 2 ruangan ini melakukan pemilahan limbah medis sesuai dengan jenisnya dan disimpan ke dalam plastik sesuai dengan kategori jenis limbah medis padat. Adapun 9 ruangan tidak memenuhi syarat diantaranya ruang ICU (Intensive Care Unit), radiologi, UGD (Unit Gawat Darurat), poliklinik, fisoterapi, instalasi gizi, laboratorium, dan instalasi farmasi dan ruang bersalin, dari 7 ruangan tidak memenuhi syarat karena tidak sesuai dengan Permenkes No tahun 2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit karena 7 ruangan RSUD Kabupaten Mamuju hanya menggunakan jenis wadah yang tidak kedap air dan kuat hal ini karena wadah limbah yang digunakan hanya berupa tempat sampah biasa, yaitu bagian sisi pinggirnya berlubanglubang dan tanpa penutup, dan hanya menggunakan dua warna plastik yaitu warna kuning untuk semua jenis limbah medis padat yang ada di rumah sakit tersebut dan plastik warna hitam untuk limbah domestik. Pengangkutan Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 79

83 Pada umumnya pengangkutan limbah medis padat dilakukan dengan menggunakan gerobak dorong yang mempunyai penutup limbah yang telah dikumpulkan pada lokasi tertentu dipindahkan ke dalam wadah gerobak dorong sesuai kategori limbah. Proses pengangkutan limbah medis dalam penelitian ini merupakan proses pemindahan limbah medis dari sumber penghasil limbah ke tempat penyimpanan sementara dengan menggunakan gerobak limbah padat yang dilengkapi dengan penutup. Adapun Pengangkutan sesuai dengan ketentuan Permenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 sehingga dikatakan memenuhi syarat yakni kereta atau troli yang digunakan untuk pengangkutan sampah klinis harus didesain sedemikian rupa sehingga permukaaan harus licin, rata, dan tidak tembus, tidak akan menjadi sarang serangga, mudah dibersihkan dan dikeringkan, sampah tidak menempel pada alat angkut, dan sampah mudah diisikan, diikat, dan dituang kembali. Berdasarkan hasil observasi dan pengamatan langsung di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mamuju proses pengangkutan limbah medis tidak memenuhi syarat karena diangkut menggunakan tempat sampah troli terkadang sampah menempel pada alat angkut tersebut, jarang dibersihkan, jarang dikeringkan, dan pengangkutannya terkadang tempat sampah diangkat langsung sendiri oleh petugas, akibatnya terdapat limbah medis berserakan saat diangkut atau dipindahkan ke tempat penyimpanan sementara. Hal ini disebabkan oleh petugas kebersihan yang tidak memperhatikan limbah saat pengangkutan sehingga ditemukan limbah berserakan, jalur yang dilewatipun menggunakan jalur umum, seperti yang dilalui pasien dan petugas rumah sakit lainnya. Pengangkutan dengan menggunakan jalur umum tidak memenuhi syarat kesehatan dimana jalur yang digunakan dapat mengganggu aktivitas orang-orang yang ada di rumah sakit. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan para petugas kebersihan tentang syarat pengangkutan limbah medis dan juga tidak adanya himbauan dari pihak rumah sakit. Selain itu, pengangkutan tidak dilakukan setiap hari, menurut keterangan dari petugas kebersihan pengangkutan limbah medis di RSUD Kabupaten Mamuju tidak menentu, ada beberapa ruangan limbah medis diangkut setiap hari seperti ruangan perawatan yang berpotensi penghasil limbah medis terbanyak tetapi dibeberapa ruangan lainnya seperti UGD, ICU, poliklinik, ruang bedah/operasi, ruang persalinan, dan laboratorium dari 7 ruangan tersebut sudah menggunakan tempat sampah troli saat penangkutan limbah medis setiap hari dikarenakan menurut keterangan petugas sanitasi di RSUD Kabupaten Mamuju limbah medis biasanya diangkut ketika pewadahan limbah medis penuh dan terkadang tergantung dari keaktifan petugas. Pengangkutan sampah yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mamuju satu kali dalam sehari pengangkutan sampah tersebut diangkut ke tempat penampungan sementara menggunakan gerobak sampah yang dikumpulkan dalam sebuah wadah antara sampah infeksius dan sampah noninfeksius dimasukkan ke dalam plastik besar berwarna hitam dan terkadang tidak ada pemisahan antara sampah infeksius dan non infeksius. Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 80

84 Dampak pengangkutan limbah medis yang tidak memenuhi syarat yaitu dapat menyebabkan limbah yang diangkut dengan gerobak yang tidak mempunyai penutup akan mengakibatkan limbah berserakan dan menimbulkan bakteri penyebab infeksi nosokomial, seperti tertusuk jarum suntik dan penularan bakteri dari bekas perban yang tercecer selama proses pengumpulan sampai pembuangan. 8 Tempat Penampungan Sementara Lokasi penampungan untuk limbah layanan kesehatan harus dirancang agar berada di dalam lingkungan rumah sakit. Limbah, baik dalam kantongan maupun kontainer, harus disamping area, ruangan, atau bangunan terpisah yang ukurannya sesuai dengan kuantitas limbah yang dihasilkan dan frekuensi pengumpulannya. Kecuali digunakan ruang yang memiliki pendingin, waktu tampung sementara untuk limbah layanan kesehatan (misalnya waktu tunggu antara produksi dan pengelolaan jangan sampai berlebihan. 9 Adapun rekomendasi untuk fasilitas penampungan sementara adalah sebagai berikut area penampungan harus memiliki lantai yang kokoh, impermibel dan drainasenya baik. Lantai harus mudah dibersihkan dan didesinfeksi, harus ada persediaan air untuk pembersihan, area penampungan harus mudah dijangkau oleh staf yang bertugas menangani limbah, ruangan atau area tersebut harus dapat dikunci untuk mencegah masuknya mereka yang tidak berkepentingan, kemudahan akses kendaraan pengumpul limbah sangat penting, harus ada perlindungan dari sinar matahari, area penampungan jangan sampai mudah dijangkau dan dimasuki serangga, burung, dan binatang lainnya, lokasi penampungan tidak boleh berdekatan dengan lokasi penyimpanan makanan mentah atau lokasi penyiapan makanan, dan persediaan perlengkapan kebersihan pakaian pelindung, dan kantong plastik atau kontainer limbah harus diletakkan di lokasi yang cukup dekat dengan lokasi penanganan limbah. 5 Tentang persyaratan dan petunjuk teknis tata cara penyehatan lingkungan rumah sakit sesuai dengan Kepmenkes No. 1204/Menkes/SK/X/2004, dimana syarat tempat penampungan sementara adalah sebagai berikut yaitu tempat penampungan limbah tidak permanen, tempat penampungan sementara dilengkapi dengan penutup, terletak di lokasi yang mudah dijangkau oleh kendaraan pengangkut, dikosongkan dan dibersihkan sekurang-kurangnya satu kali 24 jam. 7 Terjangkau oleh kendaraaan pengumpul sampah, sampah yang tidak berbahaya dengan penanganan pendahuluan dapat ditampung bersama sampah lain sambil menunggu pengangkutan. Pada tempat penampungan sementara memiliki kontainer khusus dan dipisah dengan limbah non medis, kontainer kuat dan ditutup. 10 Sedangkan dalam pelaksanaannya di tempat penampungan sementara di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mamuju tidak memenuhi syarat karena setelah semua limbah medis padat dari setiap ruangan/unit diangkut kemudian limbah medis padat tersebut disimpan di belakang rumah sakit berbentuk bangunan yang berukuran 4 x 4 Meter. Limbah pada tempat penampungan sementara ditampung lebih dari 24 jam yang memungkinkan berkembangbiaknya vektor karena tempat penampungan sementara pintu dan jendelanya sudah rusak. Selain itu limbah juga mudah dijangkau oleh binatang. Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 81

85 Limbah medis padat seharusnya diletakkan terpisah dan jauh dari jangkauan masyarakat umum. Kontainer yang digunakan hendaknya tertutup dan mudah dibersihkan. Dampak tempat penampungan sementara yang tidak memenuhi syarat yaitu ruangan TPS menjadi terlihat kumuh, kotor dan jorok. Ini akan menjadi tempat yang subur bagi vector penyakit yang berbahaya bagi kesehatan manusia, Kecelakaan kerja pada pekerja atau masyarakat akibat tercecernya jarum suntik atau benda tajam lainnya. Insiden penyakit demam berdarah dengue meningkat karena vector penyakit hidup dan berkembangbiak dalam sampah kaleng bekas atau genangan air. Tempat Pembuangan Akhir Insinerator merupakan proses oksidasi kering bersuhu tinggi yang dapat mengurangi limbah organik dan limbah yang mudah terbakar menjadi bahan anorganik yang tidak dapat mudah terbakar dan mengakibatkan penurunan yang sangat signifikan dari segi volume maupun berat limbah. Pembakaran senyawa organik hanya dapat menghasilkan emisi gas termasuk uap, karbon dioksida, nitrogen oksida, dan beberapa toksok lainnya (misalnya logam dan asam halogenik). Abu dan limbah cair yang dihasilkan dari proses tersebut juga mengandung senyawa toksik yang harus diolah kembali agar tidak menimbulkan efek yang tidak buruk bagi kesehatan dan lingkungan. 11 Petunjuk teknis tata cara penyehatan lingkungan rumah sakit, dimana syarat Tempat penampungan akhir sesuai dengan Kepmenkes No. 1204/Menkes/SK/X/2004 yaitu limbah sitotoksis dan limbah farmasi harus dimusnahkan dengan menggunakan insinerator pada suhu diatas 1000 ºC, limbah radioaktif harus dibuang sesuai dengan persyaratan teknis dan perundang-undangan yang berlaku (PP Nomor 27 Tahun 2002) dan kemudian diserahkan kepada BATAN untuk penanganan lebih lanjut, dan limbah umum dibuang ke tempat yang dikelola oleh pemerintah daerah atau instansi lain yang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Bagi rumah sakit yang mempunyai insinerator di lingkungannya harus membakar limbahnya selambat-lambatnya 24 jam. Bagi rumah sakit yang yang tidak mempunyai insinerator, maka limbah medis padatnya harus dimusnahkan melalui kerjasama dengan rumah sakit lain atau pihak lain yang mempunyai insinerator untuk dilakukan pemusnahan selambat-lambatnya 24 jam apabila disimpan pada suhu ruang. 12 Berdasarkan hasil saat observasi langsung di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mamuju Pemusnahan limbah medis padat tidak memenuhi syarat karena tidak melakukan pemusnahan limbah medis padat, rumah sakit ini mempunyai insinerator akan tetapi tidak digunakan karena belum mempunyai surat izin pengoperasian, sehingga limbah medis padat hanya dikumpul begitu saja bersama limbah domestik kemudian diangkut oleh pihak Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan. Untuk limbah farmasi pemusnahannya mendapat pengawasan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sedangkan untuk limbah jaringan tubuh, seperti potongan tubuh diserahkan kepada keluarga pasien untuk dikubur. Sebaiknya RSUD Kabupaten Mamuju secepatnya mengurus surat izin pengoperasian insinerator agar segera bisa digunakan, dan untuk sementara waktu Pihak Rumah Sakit melakukan kerjasama Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 82

86 dengan pihak rumah sakit lain dalam hal pemusnahan limbah medis atau penggunaan insinerator, sehingga penanganan Limbah Medis Sesuai dengan Kepmenkes No. 1204/Menkes/SK/X/2004. Keuntungan menggunakan insinerator adalah dapat mengurangi volume sampah dapat membakar beberapa jenis sampah termasuk limbah B3 (toksik dan non toksik, infeksius menjadi non infeksius), lahan yang digunakan relatif luas, pengoperasiannya tidak tergantung pada iklim, dan residu abu dapat digunakan untuk mengisi tanah yang rendah. Sedangkan kerugiannya adalah tidak semua jenis limbah bisa dimusnahkan dengan menggunakan insinerator terutama limbah dari logam berat dan botol, serta dapat menimbulkan pencemaran udara bila tidak dilengkapi dengan polutan contoh berupa cyclon (udara berputar) atau bagi filter (penghisap debu). 13 Kementerian Sekertaris Negara dalam Peraturan Pemerintah Nomor 01 Tahun 2014 menyatakan bahwa setiap orang yang menghasilkan limbah B3 wajib melakukan penyimpanan limbah B3. 14 Dampak yang ditimbulkan oleh limbah B3 yang dibuang langsung ke lingkungan sangat besar dan bersifat akumulatif, sehingga dampaknya akan berantai mengikuti proses pengangkutan (sirkulasi) bahan dan jaring-jaring rantai makanan. Pencapaian sasaran dalam pengelolaan limbah perlu dibuat dan diterapkan suatu sistem pengelolaan yang baik, utamanya pada sektor-sektor kegiatan yang sangat berpotensi menghasilkan limbah B3. Salah satu sektor kegiatan yang sangat berpotensi menghasilkan limbah B3 adalah sektor industri. Sampai saat ini sektor industri merupakan salah satu penyumbang bahan pencemar yang terbesar di kota-kota besar di Indonesia yang mengandalkan kegiatan perekonomiannya dari industri. Untuk menghindari terjadinya pencemaran yang ditimbulkan dari sektor industri, maka diperlukan suatu sistem yang baik untuk melakukan pengawasan dan pengelolaan limbah industri, terutama limbah B3-nya. 15,16 KESIMPULAN DAN SARAN Pengelolaan limbah medis padat pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2019 tidak memenuhi syarat sesuai dengan Kepmenkes No. 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit. Adapun saran yang dapat diberikan sebagai hasil evaluasi bagi pihak rumah sakit dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Mamuju yaitu pihak rumah sakit harus lebih ketat dalam pengawasan pemilahan limbah medis dan non medis terlebih dahulu sebelum membuang limbah ke tempat penampungan sementara, pewadahan di rumah sakit hendaknya dilengkapi dengan kantong plastik pada wadah yang tersedia agar mudah dibersihkan dan diisi kembali, pengangkutan di rumah sakit hendaknya menggunakan jalur tersendiri agar tidak menganggu aktifitas pengunjung di rumah sakit tersebut, tempat penampungan sementara di rumah sakit hendaknya memiliki tempat penampungan sementara terpisah antara limbah medis maupun non medis, dan pada proses pemusnahan/tempat pembuangan akhir hendaknya pihak rumah sakit membuat proposal untuk diajukan kepada pihak instansi lain atau dinas lingkungan hidup dan kebersihan untuk bekerja sama untuk melakukan proses pemusnahan. DAFTAR PUSTAKA Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 83

87 1. Rahno D, Roebijoso J, Leksono AS. Pengelolaan Limbah Medis Padat di Puskesmas Borong Kabupaten Manggarai Timur Propinsi Nusa Tenggara Timur. Jurnal Pembangunan dan Alam Lestari. 2015;6(1): Pratiwi D, Maharani C. Pengelolaan Limbah Medis Padat pada Puskesmas Kabupaten Pati. KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Jul 19;9(1): Leonita E. Pengelolaan Limbah Medis Padat Puskesmas Se-Kota Pekanbaru. Jurnal Kesehatan Komunitas May 1;2(4): Kemenkes RI. Data Dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia Data dan Info Profil Kesehatan Indonesia Leonita E. Pengelolaan Limbah Medis Padat Puskesmas Se-Kota Pekanbaru. Jurnal Kesehatan Komunitas. 2014; 2(4): Ningrum SS, Tualeka AR. Upaya Pengendalian Risiko Pada Unit Pengelolaan Limbah Medis Benda Tajam Di Rumah Sakit. Journal of Public Health Research and Community Health Development Nov 22;1(2): Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan No Tahun Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit p Sirait AAFD, Mulyadi A, Nazriati E. Analisis Pengelolaan Limbah Medis Di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gunungtua Kabupaten Padang Lawas Utara Propinsi Sumatera Utara. Jurnal Ilmu Lingkungan, Program Pasca Sarjana Universitas Riau, Pekan Baru. 2015;2(2): Djanggih H. The Phenomenon Of Cyber Crimes Which Impact Children As Victims In Indonesia. Yuridika. 2018;33(2): Setyawati S. Hospital Environmental Performance. 2018;7(1): Puspitasari I, Azizah R. Evaluation of Solid Medical Waste Management at Public Health Center in Magetan-East Java Province. International Journal of Advanced Engineering, Management and Science. 2016;2(2). 12. Purwanti AA. Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun Rumah Sakit Di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Jurnal Kesehatan Lingkungan. 2018;10(3): Umboh JML, Joseph WBS. Pengelolaan Limbah Medis Padat Bahan Berbahaya Beracun (B3) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Piru Kabupaten Seram Bagian Barat, Propinsi Maluku pada Tahun J KESMAS. 2018;7(5). 14. Maulana M, Kusnanto H, Suwarni A. Pengolahan Limbah Padat Medis dan Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun Di RS Swasta Kota Jogja. 5th Urecol Proceeding. 2017;(February): Rachmawati1 S, Sumiyaningsih E, Atmojo TB. Analisis Manajemen Pengelolaan Limbah Padat Medis B3 Di Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pros SNST Fak Tek [Internet]. 2018;1(1): Dewi HY. Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap dengan Praktik Petugas Kebersihan Pengelola Sampah Medis di RSUD Dr. M. Ashari Pemalang. Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro. 2012;1(2):18812 Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 84

88 Window of Health : Jurnal Kesehatan, Vol. 3 No. 1 (Januari, 2020) : E-ISSN Terakreditasi Nasional Peringkat 3 No. 36/E/KPT/2019 ARTIKEL RISET URL artikel: Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Dan Fraksinya Dari Kulit Batang Rambutan (Nephelium Lappaceum Linn) Menggunakan Metode DPPH K Tisa Mandala Sari 1, Hazli Nurdin 2, Elin Andika Putri 3 1,2,3 Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Perintis Padang Penulis Korespondensi ( K ): 1, 2, 3 ( ) ABSTRAK Kulit batang dari tanaman rambutan (Nephelium Lappaceum Linn) merupakan tanaman yang memiliki kandungan senyawa flavonoid yang dapat digunakan sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai IC 50 dari ekstrak etanol beserta fraksi n-heksana, etil asetat dan n-butanol dari kulit batang rambutan. Ekstrak etanol diperoleh dengan cara metoda maserasi menggunakan pelarut etanol 70% kemudian dengan pelarut etanol 96%. Proses fraksinasi menggunakan pelarut n-heksan, etil asetat dan n-butanol. Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dengan melihat nilai IC 50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada ekstrak etanol diperoleh IC 50 sebesar ppm, fraksi n-heksan sebesar ppm, fraksi etil asetat sebesar 9.05 ppm, fraksi n-butanol sebesar ppm dan asam galat sebagai pembanding sebesar 2.27 ppm. Semakin besar nilai IC 50 maka aktivitas antioksidan akan semakin lemah. Berdasarkan nilai tersebut, ekstrak etanol, fraksi etil asetat dan fraksi n-butanol memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat yaitu <50 ppm. Sedangkan pada fraksi n-heksan memiliki aktivitas antioksida yang lemah (>150 ppm). Kesimpulan bahwa aktivitas antioksidan dari kulit batang rambutan tergolong pada kategori sangat kuat pada ekstrak etanol, fraksi etil dan fraksi n-butanol yang bervariasi. Namun pada fraksi n-heksan didapatkan nilai yang termasuk dalam kategori lemah. Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 85

89 Disarankan hasil penelitian ini untuk dapat dilanjutkan pada pembuatan sediaan farmasi seperti dibidang kosmetik. Kata kunci: Ekstrak etanol;kulit batang rambutan; antioksidan; metode DPPH Article history : PUBLISHED BY : Public Health Faculty Received 30 Desember 2019 Universitas Muslim Indonesia Received in revised form 19 Januari 2020 Accepted 20 Januari 2020 Address : Jl. Urip Sumoharjo Km. 5 (Kampus II UMI) Available online 25 Januari 2020 licensed by Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. Makassar, Sulawesi Selatan. Phone : Penerbit : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas ABSTRACT Muslim Indonesia 86 The bark of the rambutan plant (Nephelium Lappaceum Linn) is a plant that contains flavonoid compounds that can be used as antioxidants. This study aims to determine the IC50 value of ethanol extract along with fractions of n-hexane, ethyl acetate and n-butanol from rambutan bark. Ethanol extract was obtained by maceration method using 70% ethanol and then 96% ethanol. The fractionation process uses n-hexane, ethyl acetate and n-butanol. Testing antioxidant activity using the DPPH method by looking at the IC50 value. The results showed that ethanol extract obtained IC50 of ppm, n-hexane fraction of ppm, ethyl acetate fraction of 9.05 ppm, n- butanol fraction of ppm and gallic acid as a comparison of 2.27 ppm. The greater the IC50 value, the weaker antioxidant activity will be. Based on this value, ethanol extract, ethyl acetate fraction and n-butanol fraction have very strong antioxidant activity that is <50 ppm. Whereas the n-hexane fraction has weak antioxidant activity (> 150 ppm). The conclusion that the antioxidant activity of rambutan stem bark belongs to the very strong category in ethanol extract, ethyl fraction and varying n-butanol fraction. But in the n-hexane fraction, values are included in the weak category. It is recommended that the results of this study be continued in the manufacture of pharmaceutical preparations such as in cosmetics. Keywords: Ethanol extract; rambutan stems; antioxidant; DPPH method PENDAHULUAN Radikal bebas adalah suatu senyawa atau molekul yang mengandung satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan. Adanya elektron yang tidak berpasangan menyebabkan senyawa tersebut sangat reaktif mencari pasangan dengan cara menyerang dan mengikat elektron molekul yang berada di sekitarnya seperti protein, lipid, karbohidrat, dan DNA untuk menetralkan diri. 1 Oleh sebab itu, dibutuhkan senyawa antioksidan untuk membantu melindungi tubuh dari serangan radikal bebas tersebut dan dapat meredam dampak negatifnya. 2 Senyawa antioksidan memiliki peran yang sangat penting dalam kesehatan. Berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa senyawa antioksidan mengurangi resiko berbagai penyakit kronis seperti kanker dan penyakit jantung koroner. Karakter utama senyawa antioksidan adalah kemampuannya menangkap Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 86

90 radikal bebas. 3 Penggunaan senyawa antioksidan semakin berkembang baik untuk makanan maupun pengobatan seiring dengan bertambahnya pengetahuan tentang radikal bebas. Tubuh manusia tidak mempunyai cadangan antioksidan dalam jumlah banyak, sehingga jika terjadi paparan radikal berlebih, maka tubuh membutuhkan antioksidan yang berasal dari luar tubuh. Adanya kekhawatiran akan kemungkinan efek samping yang belum diketahui dari antioksidan sintetik menyebabkan antioksidan alami menjadi alternatif yang sangat potensial untuk dikembangkan. Antioksidan alami mampu melindungi tubuh terhadap kerusakan yang disebabkan senyawa oksigen reaktif, mampu menghambat terjadinya penyakit degeneratif serta mampu menghambat peroksida lipid pada makanan. 1 Beberapa studi menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi antioksidan fenolik alami yang terdapat dalam buah, sayur mayur, dan tanaman serta produk produknya mempunyai manfaat besar terhadap kesehatan yakni dapat mengurangi resiko terjadinya penyakit jantung koroner. 4 Hal ini disebabkan karena adanya kandungan beberapa vitamin (A,C,E dan folat), serat, dan kandungan kimia lain seperti polifenol yang mampu menangkap radikal bebas. 5 Rambutan (Nephelium lappaceum Linn) merupakan salah satu tanaman yang banyak terdapat di Indonesia. Secara tradisional tanaman rambutan digunakan untuk pengobatan berbagai penyakit, seperti kulit buah dan kulit kayu untuk mengatasi sariawan, daun untuk mengatasi diare dan menghitamkan rambut, akar untuk mengatasi demam dan serat bijinya untuk mengatasi diabetes mellitus. 6 Penelitian terdahulu membuktikan bahwa tingginya senyawa fenol dan flavonoid dari beberapa tanaman menunjukkan aktivitas antioksidan yang kuat. 7 Salah satu tanaman yang mengandung flavonoid adalah rambutan (Nephelium lappaceum Linn). Bagian dari tanaman rambutan yang mengandung flavonoid adalah kulit batang rambutan. Selain senyawa flavonoid, kulit batang rambutan juga mengandung tannin, saponin, peptic substances dan zat besi. 8 Berdasarkan hal diatas maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan ekstrak etanol, fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi n-butanol dari kulit batang rambutan menggunakan metode DPPH. METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen yang dilakukan Laboratorium Penelitian Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Perintis Padang dan Laboratorium Penelitian LLDIKTI Wilayah X. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas (pyrex), batang pengaduk, corong pisah, kurs porselen, timbangan analitik (Ohaus tipe pioner), blender (Cosmos), Rotary evaporator, Spektrofotometri (Apel PD 303 UV). Adapun bahan yang digunakan adalah Kulit batang rambutan (Nephelium lappaceum Linn), etanol 96%, etanol 70%, aquadest, DPPH, Asam galat, NaOH, FeCl 3, metanol, kloroform, n-heksana, n-butanol, Etil asetat, Serbuk Mg, Asam asetat anhidrat, amoniak, H 2SO 4 pekat. Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 87

91 Kulit batang rambutan diambil di daerah Kecamatan Pulau Punjung, Kelurahan Sikabau, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat. Kulit batang rambutan sebanyak 2 kg dibersihkan dan dikering anginkan, lalu diserbukkan dengan blender. Sampel dimaserasi dengan pelarut etanol 70% dan etanol 96%. Lalu diuapkan dengan rotary evaporator hingga didapat ekstrak kental. Ekstrak kental kulit batang rambutan ditimbang sebanyak 30 g di fraksinasi dengan n-heksan dan air perbandingan (1:1) sebanyak 200 ml hingga lapisan n-heksan jernih (maserat), lalu ambil lapisan air dan lakukan cara yang sama pada etil asetat dan n-butanol. Maserat yang didapat pada masing-masing fraksi diuapkan dengan rotary evaporator. Ekstrak kental dan masing-masing fraksi diidentifikasi dengan pemeriksaan organoleptis, rendemen, susut pengeringan dan kadar abu. Lalu uji skrining fitokimia. Penentuan aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH dengan tahapan sebagai berikut: Pembuatan larutan DPPH, Penentuan panjang gelombang serapan maksimum, penentuan aktivitas antioksidan asam gelat sebagai pembanding, dan penentuan aktivitas antioksidan ekstrak beserta fraksifraksinya. Larutan DPPH dibuat dengan menimbang Serbuk DPPH sebanyak 10 mg kemudian dilarutkan dalam 100ml metanol dalam labu ukur sampai tanda batas. Dari larutan tersebut dipipet 17.5 ml dan dimasukkan kedalam labu ukur 50 ml kemudian tambahkan metanol sampai tanda batas sehingga konsentrasi menjadi 35 μg/ml. Selanjutnya ditentukan panjang gelombang serapan maksimum DPPH dengan menakar sebanyak 4 ml larutan DPPH 35 ppm kemudian ditambahkan 2 ml metanol, larutan dihomogenkan dan didiamkan 30 menit di tempat yang gelap. Serapan larutan di ukur dengan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang nm. Pembanding yang digunakan adalah asam galat. Asam galat ditimbang sebanyak 10 mg dan dilarutkan dengan metanol di dalam labu ukur 100 ml sampai tanda batas. Dari konsentrasi 100 µg/ml. Pipet 0.1; 0.15; 0.20; 0.25 dan 0.3 ml dimasukan kedalam labu ukur 10 ml, kemudian ditambahkan campuran metanol hingga tanda batas sehingga diperoleh konsentrasi 1; 1.5; 2; 2.5 dan 3 µg/ml. Deret konsentrasi larutan dipipet sebanyak 2 ml dan masukan kedalam vial, kemudian tambahkan 4 ml larutan DPPH 35 µg/ml. Campuran di homogenkan dan biarkan selama 30 menit di tempat gelap, serapan diukur dengan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimum. Pemeriksaan aktivitas antioksidan ekstrak etanol dan fraksi kulit batang rambutan dilakukan sebagai berikut: Ekstrak ditimbang sebanyak 50 mg dilarutkan dengan metanol dalam labu ukur 50 ml, sehingga diperoleh konsentrasi 1000 ppm. Dari konsentrasi 1000 ppm dipipet 10 ml dan dilarutkan dengan metanol dalam labu ukur 100ml, sehingga konsentrasi diperoleh 100 ppm. Pipet 1 ;1 5; 2; 2.5 dan 3 ml kemudian lakukan pengenceran dengan menambahkan metanol sampai volume 10 ml sehingga diperoleh konsentrasi 10; 15; 20; 25 dan 30 µg/ml. Deret konsentrasi larutan dipipet sebanyak 2 ml dan masukan kedalam vial, kemudian tambahkan 4 ml larutan DPPH 35 µg/ml. Campuran di homogenkan dan biarkan selama 30 menit ditempat gelap, serapan diukur dengan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimum. Fraksi n-heksan ditimbang sebanyak 125 mg dilarutkan dengan methanol dalam labu ukur 25 ml, sehingga diperoleh konsentrasi 5000 ppm. Dari larutan sampel dipipet 3; 4; 5; 6 dan 7 ml kemudian Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 88

92 lakukan pengenceran dengan menambahkan metanol sampai volume 10 ml sehingga diperoleh konsentrasi 1500; 2000; 2500; 3000 dan 3500 µg/ml. Deret konsentrasi larutan dipipet sebanyak 2 ml dan masukan kedalam vial, kemudian tambahkan 4 ml larutan DPPH 35 µg/ml. Campuran di homogenkan dan biarkan selama 30 menit di tempat gelap, serapan diukur dengan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimum. Fraksi etil asetat ditimbang sebanyak 50 mg dilarutkan dengan metanol dalam labu ukur 50 ml, sehingga diperoleh konsentrasi 1000 ppm. Dari konsentrasi 1000 ppm dipipet 10ml dan dilarutkan dengan metanol dalam labu ukur 100 ml, sehingga konsentrasi diperoleh 100 ppm. Pipet 0.25; 0.5; 0.75; 1 dan 1.25 ml kemudian lakukan pengenceran dengan menambahkan metanol sampai volume 10 ml sehingga diperoleh konsentrasi 2.5; 5; 7.5; 10 dan 12.5 µg/ml. Deret konsentrasi larutan dipipet sebanyak 2 ml dan masukan ke dalam vial, kemudian tambahkan 4 ml larutan DPPH 35 µg/ml. Campuran dihomogenkan dan biarkan selama 30 menit ditempat gelap, serapan diukur dengan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimum. Fraksin-butanol ditimbang sebanyak 50 mg dilarutkan dengam air dalam labu ukur 50 ml, sehingga diperoleh konsentrasi 1000 ppm. Dari konsentrasi 1000 ppm dipipet 5ml dan dilarutkan dengan metanol dalam labu ukur 50ml, sehingga konsentrasi diperoleh 100 ppm. Pipet 0.5; 1; 1.5; 2 dan 2.5 ml kemudian lakukan pengenceran dengan menambahkan metanol sampai volume 10 ml sehingga diperoleh konsentrasi 5; 10; 15; 20 dan 25µg/ml. Deret konsentrasi larutan dipipet sebanyak 2 ml dan masukan ke dalam vial, kemudian tambahkan 4 ml larutan DPPH 35 µg/ml. Campuran di homogenkan dan biarkan selama 30 menit di tempat gelap, serapan diukur dengan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimum. Hitung % inhibisi dan nilai IC 50 dengan rumus: % inhibisi = absorban kontrol absorban sampel absorban kontrol x 100% Untuk menentukan IC 50, diperlukan persamaan kurva standar dari persen inhibisi sebagai sumbu y dan konsentrasi ekstrak antioksidan sebagai sumbu x. IC 50 dihitung dengan cara memasukkan nilai 50% ke dalam persamaan kurva standar sebagai y kemudian dihitung nilai x sebagai konsentrasi IC 50. Semakin kecil nilai IC 50 menunjukkan semakin tinggi aktivitas antioksidannya. 9 HASIL Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Fitokimia Ekstrak Etanol dan Fraksi Kulit Batang Rambutan Kandungan kimia Hasil Ekstrak Etanol Hasil Fraksi n-heksan Hasil Fraksi Etil asetat Hasil Fraksi n-butanol Alkaloid Flavonoid Fenolik Saponin Steroid Terpenoid Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 89

93 % inhibisi Ekstrak etanol y = 2.148x r = 0, Konsentrasi Gambar 1. Panjang Gelombang Serapan Maksimum DPPH Tabel 2. Hasil Penentuan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Sampel Konsentrasi (ppm) Absorban % inhibisi IC 50 (µg/ml) Kontrol Ekstrak etanol ,21 Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 90

94 % inhibisi % inhibisi Gambar 2. Kurva Kalibrasi Ekstrak Etanol Tabel 3. Hasil Penentuan Aktivitas Antioksidann-heksan Sampel Fraksi n-heksan Konsentrasi (ppm) Absorban % inhibisi IC 50 (µg/ml) Kontrol Fraksi n-heksana y = 0.013x r = 0, Konsentrasi Gambar 3. Kurva Kalibrasi Fraksi n-heksan Tabel 4. Hasil Penentuan Aktivitas Antioksidan Etil Asetat Sampel Konsentrasi (ppm) Absorban % inhibisi IC 50 (µg/ml) Kontrol Fraksi etil asetat Fraksi Etil asetat y = 5.241x r = 0, Konsentrasi Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 91

95 % inhibisi Gambar 4. Kurva Kalibrasi Fraksi Etil Asetat Tabel 5. Hasil Penentuan Aktivitas Antioksidan n-butanol Sampel Konsentrasi (ppm) Absorban % inhibisi IC 50 (µg/ml) Kontrol Fraksi n-butanol Fraksi n-butanol y = 3.199x r = 0, Konsentrasi Gambar 5. Kurva Kalibrasi Fraksi n-butanol PEMBAHASAN Hasil evaluasi menunjukkan ekstrak kental etanol diperoleh sebanyak g, rendemennya 26.37%, susut pengeringan yang didapat yaitu 27.77%, kadar abu yang diperoleh yaitu 2.52%. Nilai susut pengeringan ini tinggi kemungkinan ekstrak banyak mengandung senyawa yang mudah menguap seperti minyak atsiri, resin dan belum memenuhi standar yaitu tidak lebih dari 11%. Pada kadar abu, telah memenuhi standar yaitu tidak lebih dari 16.6%. 10,11,12 Pada pemeriksaan organoleptis diperoleh ekstrak kental berwarna coklat kehitaman, berbau khas, kandungan kimia yang terdapat didalamnya yaitu flavonoid, fenolik, saponin dan alkaloid. Dari masing-masing fraksi diperoleh, fraksi n-heksan sebanyak g rendemennya 15.22%, susut pengeringannya 17.61%, kadar abu 0.91%. Fraksi etil asetat sebanyak g dengan rendemen 19.77%, susut pengeringan 20.72%, kadar abu 1.09% dan fraksi n-butanol sebanyak g dengan rendemen 25.80%, susut pengeringan 25.43%, kadar abu 0.44%. Hasil pemeriksaan organoleptis fraksi n-heksan berwana hijau, frasksi etil asetat berwarna coklat, sedangkan fraksi n-butanol berwarna coklat pekat, dan memiliki bau yang khas, hasil skrining fitokimia pada fraksi n-heksan mengandung alkaloid, pada fraksi etil asetat mengandung flavonoid, fenolik, saponin, sedangkan pada n-butanol mengandung flavonoid, fenolik dan saponin. Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 92

96 Pengukuran aktivitas antioksidan untuk ekstrak dan masing-masing fraksinya dilakukan dengan metode DPPH menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang serapan maksimum 515 nm. Hasil pengukuran aktivitas antioksidan ekstrak etanol, fraksi n-heksan, fraksi etil asetat dan fraksi n-butanol kulit batang rambutan memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC 50 yaitu ekstrak etanol sebesar 24.2 ppm, fraksi n-heksan sebesar ppm, fraksi etil asetat sebesar 9.05 ppm, fraksi n- butanol sebesar ppm dan asam galat sebagai pembanding sebesar 2.27 ppm. Berdasarkan nilai IC 50 yang dikatakan memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat apabila nilai IC 50 kurang dari 50ppm, antioksidan kuat jika IC ppm, antioksidan sedang jika IC ppm, antioksidan lemah jika nilai IC 50 besar dari 150ppm. 9,13,14,15 Nilai IC 50 ekstrak etanol, fraksi etil asetat dan n-butanol lebih tinggi dibandingkan asam galat sebagai pembanding, tetapi masih dalam kategori sangat kuat. Sedangkan nilai IC 50 untuk fraksi n- heksan sangat tinggi dibandingkan dengan asam galat yang menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan fraksi n-heksan tergolong lemah. KESIMPULAN DAN SARAN Kulit batang rambutan memiliki aktivitas antioksidan. Aktivitas antioksidan dari kulit batang rambutan tergolong pada kategori sangat kuat pada ekstrak etanol sebesar ppm, fraksi etil asetat 9.05 ppm dan fraksi n-butanol sebesar ppm. Namun pada fraksi n-heksan didapatkan nilai sebesar ppm yang termasuk dalam kategori lemah. Disarankan hasil penelitian ini untuk dapat dilanjutkan pada pembuatan sediaan farmasi seperti dibidang kosmetik. DAFTAR PUSTAKA 1. Winarsi H. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas. Yogyakarta: Kanisius; Alina R, Hidayati SN, Antares DA, Fuadah FS, Wijayanti R. Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Kulit Buah Rambutan (Nephellium Lappaceum L.) Dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri E. Coli Penyebab Diare. Media Farmasi Indonesia Oct 1;12(2) 3. Ulfah S. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Rambutan Dengan Metode DPPH. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah; Musfiroh E. Uji Aktivitas Peredaman Radikal Bebas Nanopartikel Emas Dengan Berbagai Konsentrasi Sebagai Material Antiaging dalam Kosmetik. UNESA J Chem. 2012;1(2): Afifah E. Khasiat Dan Manfaat Temulawak:Rimpang Penyembuh Aneka Penyakit; Carocho M, Morales P, Ferreira ICFR. Antioxidants: Reviewing the chemistry, food applications, legislation and role as preservatives. Trends Food Sci Technol. 2018;71: Suparmi S, Anshory H, Dirmawati N. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit Buah Rambutan (Nephelium lappaceum, L.) Dengan Metode Linoleat-Tiosianat. Jurnal Ilmu Farmasi. 2012;9(1): Yuvakkumar R, Suresh J, Nathanael AJ, Sundrarajan M, Hong SI. Novel Green Synthetic Strategy To Prepare Zno Nanocrystals Using Rambutan (Nephelium Lappaceum L.) peel Extract And Its Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 93

97 Antibacterial Applications. Materi Sci Eng C. 2014;1(41): Taufiq T. Aktifitas Efek Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Bidara Laut (Ziziphus Mauritiana Lam.) Terhadap Pertumbuhan Candida Albicans Dan Escherichia Coli. Jurnal Kesehatan Jan 31;2(1). 10. Leaves L. Antioxidant Activity by DPPH Radical Scavenging Method of Ageratum Conyzoides. Orient. 2014;1(4): Nonci FY, Rusdi M. Uji Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Klika Jambu Mede (Anacardium occidentale L.) Pada Mencit JantaN (Mus musculus). Jurnal Farmasi UIN Alauddin Makassar Feb 19;2(2): Wabula RA, Dali S, Widiastuti H. Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Buah Merah (Pandanus conoideus Lam.) dengan Metode FRAP. Window of Health: Jurnal Kesehatan. 2019; 2(4): Muthia R, Saputri R, Verawati SA. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit Buah Mundar (Garcinia forbesii King.) Menggunakan Metode DPPH (2, 2-Diphenyl-1-Picrylhydrazil). Jurnal Pharmascience Mar 4;6(1): Mulyaningsih S. Aktivitas Imunostimulan Ekstrak Ekstrak Etanol Daun Rambutan (Nephelium lappaceus L.) pada Mencit. Logika. 2007;4(1): Andriyani D, Utami PI, Dhiani BA. Penetapan Kadar Tanin Daun Rambutan (Nephelium lappaceum. L) Secara SpektrofotometrI Ultraviolet Visibel. PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Aug 1;7(2). Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 94

98 Penerbit :Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia 95

ABSTRAK. Pembimbing I : Widura, dr., MS. Pembimbing II : Yenni Limyati, dr., Sp.KFR., S.Sn., M.Kes. Selly Saiya, 2016;

ABSTRAK. Pembimbing I : Widura, dr., MS. Pembimbing II : Yenni Limyati, dr., Sp.KFR., S.Sn., M.Kes. Selly Saiya, 2016; ABSTRAK Efek Antimikroba Ekstrak Etanol Daun Miana (Coleus atropurpureus Benth.) Terhadap Staphylococcus aureus Dan Streptococcus pyogenes Secara In Vitro Selly Saiya, 2016; Pembimbing I : Widura, dr.,

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEK ANTIMIKROBA EKSTRAK ETANOL BAWANG PUTIH (Allium sativum Linn.) TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli SECARA IN VITRO

ABSTRAK. EFEK ANTIMIKROBA EKSTRAK ETANOL BAWANG PUTIH (Allium sativum Linn.) TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli SECARA IN VITRO ABSTRAK EFEK ANTIMIKROBA EKSTRAK ETANOL BAWANG PUTIH (Allium sativum Linn.) TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli SECARA IN VITRO Maysella Suhartono Tjeng, 2011 Pembimbing: Yenni Limyati,

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEK ANTIMIKROBA EKSTRAK ETANOL DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) TERHADAP Escherichia coli DAN Bacillus subtilis SECARA IN VITRO

ABSTRAK. EFEK ANTIMIKROBA EKSTRAK ETANOL DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) TERHADAP Escherichia coli DAN Bacillus subtilis SECARA IN VITRO ABSTRAK EFEK ANTIMIKROBA EKSTRAK ETANOL DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) TERHADAP Escherichia coli DAN Bacillus subtilis SECARA IN VITRO Vanny Setiawan, 2014; dr. Penny Setyawati Martioso, SpPK., M.Kes

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Desain Penelitian Desain penelitian dalam penelitian ini adalah desain cross-sectional (potong lintang) dengan menggunakan data sekunder, yaitu data hasil uji kepekaan

Lebih terperinci

INTISARI. UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL RIMPANG TEMU GIRING (Curcuma Heyneana Val) TERHADAP PERTUMBUHAN Shigella Dysentriae SECARA IN VITRO

INTISARI. UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL RIMPANG TEMU GIRING (Curcuma Heyneana Val) TERHADAP PERTUMBUHAN Shigella Dysentriae SECARA IN VITRO INTISARI UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL RIMPANG TEMU GIRING (Curcuma Heyneana Val) TERHADAP PERTUMBUHAN Shigella Dysentriae SECARA IN VITRO Ria Hervina Sari 1 ; Muhammad Arsyad 2 ; Erna Prihandiwati

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA BAURAN PEMASARAN DENGAN PEMANFAATAN PELAYANAN RAWAT INAP DI UPTD RUMAH SAKIT MATA PROVINSI SULAWESI UATARA

HUBUNGAN ANTARA BAURAN PEMASARAN DENGAN PEMANFAATAN PELAYANAN RAWAT INAP DI UPTD RUMAH SAKIT MATA PROVINSI SULAWESI UATARA HUBUNGAN ANTARA BAURAN PEMASARAN DENGAN PEMANFAATAN PELAYANAN RAWAT INAP DI UPTD RUMAH SAKIT MATA PROVINSI SULAWESI UATARA Virginia M.A. Tompodung*, Chreisye K.F. Mandagi*, Febi K. Kolibu* *Fakultas Kesehatan

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEK ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa Linn) TERHADAP Staphylococcus aureus SECARA IN VITRO

ABSTRAK. EFEK ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa Linn) TERHADAP Staphylococcus aureus SECARA IN VITRO ABSTRAK EFEK ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa Linn) TERHADAP Staphylococcus aureus SECARA IN VITRO Gabriella, 2014 Pembimbing : Roro Wahyudianingsih, dr., SpPA Indonesia merupakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. positif yang hampir semua strainnya bersifat patogen dan merupakan bagian dari

BAB 1 PENDAHULUAN. positif yang hampir semua strainnya bersifat patogen dan merupakan bagian dari 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Staphylococcus aureus merupakan salah satu kelompok bakteri gram positif yang hampir semua strainnya bersifat patogen dan merupakan bagian dari flora normal kulit

Lebih terperinci

25 Universitas Indonesia

25 Universitas Indonesia 3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) untuk mengetahui pola resistensi bakteri terhadap kloramfenikol, trimethoprim/ sulfametoksazol,

Lebih terperinci

UJI ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN SAWO (Manilkara zapota) TERHADAP BAKTERI Eschericia coli, dan Staphylococcus aureus SKRIPSI

UJI ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN SAWO (Manilkara zapota) TERHADAP BAKTERI Eschericia coli, dan Staphylococcus aureus SKRIPSI UJI ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN SAWO (Manilkara zapota) TERHADAP BAKTERI Eschericia coli, dan Staphylococcus aureus SKRIPSI JUNITA MAYARISTA SIMANULLANG 080822036 DEPARTEMEN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri seperti mycobacterium, staphylococcus,

BAB I PENDAHULUAN. pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri seperti mycobacterium, staphylococcus, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Antibiotik merupakan obat antimikroba yang paling banyak digunakan pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri seperti mycobacterium, staphylococcus, streptococcus, enterococcus

Lebih terperinci

AKTIVITAS ANTIBAKTERI SARI BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi Linn.) TERHADAP BAKTERI PSEUDOMONAS AERUGINOSA DAN STAPHYLOCOCCUS EPIDERMIDIS

AKTIVITAS ANTIBAKTERI SARI BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi Linn.) TERHADAP BAKTERI PSEUDOMONAS AERUGINOSA DAN STAPHYLOCOCCUS EPIDERMIDIS AKTIVITAS ANTIBAKTERI SARI BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi Linn.) TERHADAP BAKTERI PSEUDOMONAS AERUGINOSA DAN STAPHYLOCOCCUS EPIDERMIDIS Jeryanti Tandi Datu 1,*, Nur Mita 1, Rolan Rusli 1,2, 1 Laboratorium

Lebih terperinci

Prosiding Seminar Nasional Kefarmasian Ke-1

Prosiding Seminar Nasional Kefarmasian Ke-1 Prosiding Seminar Nasional Kefarmasian Ke-1 Samarinda, 5 6 Juni 2015 Potensi Produk Farmasi dari Bahan Alam Hayati untuk Pelayanan Kesehatan di Indonesia serta Strategi Penemuannya AKTIVITAS ANTIBAKTERI

Lebih terperinci

ABSTRAK AKTIVITAS TEH HIJAU SEBAGAI ANTIMIKROBA PADA MIKROBA PENYEBAB LUKA ABSES TERINFEKSI SECARA IN VITRO

ABSTRAK AKTIVITAS TEH HIJAU SEBAGAI ANTIMIKROBA PADA MIKROBA PENYEBAB LUKA ABSES TERINFEKSI SECARA IN VITRO ABSTRAK AKTIVITAS TEH HIJAU SEBAGAI ANTIMIKROBA PADA MIKROBA PENYEBAB LUKA ABSES TERINFEKSI SECARA IN VITRO Agnes Setiawan, 2011. Pembimbing 1: Fanny Rahardja, dr., M.si. Pembimbing 2: Roys A. Pangayoman

Lebih terperinci

Hubungan Tingkat Pendidikan dan Status Ekonomi terhadap Tingkat Pengetahuan Tentang Penggunaan Antibiotik

Hubungan Tingkat Pendidikan dan Status Ekonomi terhadap Tingkat Pengetahuan Tentang Penggunaan Antibiotik Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 2460-657X Hubungan Tingkat Pendidikan dan Status Ekonomi terhadap Tingkat Pengetahuan Tentang Penggunaan Antibiotik 1 Nita Ayu Toraya, 2 Miranti Kania Dewi, 3 Yuli Susanti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. jika menembus permukaan kulit ke aliran darah (Otto, 2009). S. epidermidis

BAB I PENDAHULUAN UKDW. jika menembus permukaan kulit ke aliran darah (Otto, 2009). S. epidermidis BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Staphylococcus epidermidis merupakan flora normal,bersifat komensal pada permukaan kulit dan membran mukosa saluran napas atas manusia. Bakteri ini diklasifikasikan

Lebih terperinci

DAYA HAMBAT DEKOKTA KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.) TERHADAP BAKTERI ESCHERICHIA COLI. Muhamad Rinaldhi Tandah 1

DAYA HAMBAT DEKOKTA KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.) TERHADAP BAKTERI ESCHERICHIA COLI. Muhamad Rinaldhi Tandah 1 DAYA HAMBAT DEKOKTA KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.) TERHADAP BAKTERI ESCHERICHIA COLI Muhamad Rinaldhi Tandah 1 1. Laboratorium Biofarmasetika, Program Studi Farmasi, Fakultas Matematika dan

Lebih terperinci

ABSTRAK. AKTIVITAS ANTIBAKTERIAL EKSTRAK ETANOL LIDAH BUAYA (Aloe vera) TERHADAP Staphylococcus aureus SECARA IN VITRO TAHUN 2014

ABSTRAK. AKTIVITAS ANTIBAKTERIAL EKSTRAK ETANOL LIDAH BUAYA (Aloe vera) TERHADAP Staphylococcus aureus SECARA IN VITRO TAHUN 2014 ABSTRAK AKTIVITAS ANTIBAKTERIAL EKSTRAK ETANOL LIDAH BUAYA (Aloe vera) TERHADAP Staphylococcus aureus SECARA IN VITRO TAHUN 2014 Josephine Widya Wijaya, 2014. Pembimbing: Roro Wahyudianingsih, dr., SpPA.

Lebih terperinci

Pengaruh Mutu Pelayanan Dokter Terhadap Loyalitas Pasien di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul

Pengaruh Mutu Pelayanan Dokter Terhadap Loyalitas Pasien di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul Jurnal Medicoeticolegal dan Manajemen Rumah Sakit, 5 (2): 150-156, Juli 2016 Website: http://journal.umy.ac.id/index.php/mrs DOI: 10.18196/jmmr.5120. Pengaruh Mutu Pelayanan Dokter Terhadap Loyalitas Pasien

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA MUTU PELAYANAN DENGAN PEMANFAATAN APOTEK RUMAH SAKIT PANCARAN KASIH GMIM MANADO Margreit I. Musak*

HUBUNGAN ANTARA MUTU PELAYANAN DENGAN PEMANFAATAN APOTEK RUMAH SAKIT PANCARAN KASIH GMIM MANADO Margreit I. Musak* HUBUNGAN ANTARA MUTU PELAYANAN DENGAN PEMANFAATAN APOTEK RUMAH SAKIT PANCARAN KASIH GMIM MANADO Margreit I. Musak* *Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi Abstrak Mutu pelayanan kesehatan merupakan salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar tidak

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar tidak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar tidak saja di Indonesia, tetapi juga diseluruh dunia. Selain virus sebagai penyebabnya, bakteri juga

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata Kunci : Streptococcus mutans, avokad, in vitro.

ABSTRAK. Kata Kunci : Streptococcus mutans, avokad, in vitro. ABSTRAK Kesehatan gigi dan mulut sangat erat hubungannya dengan penyakit penyakit infeksi. Streptococcus mutans merupakan salah satu penyebab utama infeksi di dalam rongga mulut. Berdasarkan penelitian

Lebih terperinci

METODELOGI PENELITIAN. Umum DR. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung dan Laboratorium. Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dalam waktu 4

METODELOGI PENELITIAN. Umum DR. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung dan Laboratorium. Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dalam waktu 4 27 III. METODELOGI PENELITIAN A. Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kesehatan Daerah, Rumah Sakit Umum DR. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung dan Laboratorium Mikrobiologi

Lebih terperinci

HUBUNGAN PERILAKU TENAGA KESEHATAN DENGAN KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS MOPUYA KECAMATAN DUMOGA UTARA KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW

HUBUNGAN PERILAKU TENAGA KESEHATAN DENGAN KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS MOPUYA KECAMATAN DUMOGA UTARA KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW HUBUNGAN PERILAKU TENAGA KESEHATAN DENGAN KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS MOPUYA KECAMATAN DUMOGA UTARA KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW Putu Rivan Gregourian Budiarta 1), Chreisye K. F. Mandagi 1),

Lebih terperinci

Daya Antibakteri Air Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) Terhadap Pertumbuhan Stapylococcus aureus dan Escherichia coli yang Diuji Secara In Vitro

Daya Antibakteri Air Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) Terhadap Pertumbuhan Stapylococcus aureus dan Escherichia coli yang Diuji Secara In Vitro Daya Antibakteri Air Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) Terhadap Pertumbuhan Stapylococcus aureus dan Escherichia coli yang Diuji Secara In Vitro Oleh : Cut Nurkalimah 080100254 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

ABSTRAK AKTIVITAS ANTIMIKROBA MADU IN VITRO TERHADAP ISOLASI BAKTERI DARI LUKA

ABSTRAK AKTIVITAS ANTIMIKROBA MADU IN VITRO TERHADAP ISOLASI BAKTERI DARI LUKA ABSTRAK AKTIVITAS ANTIMIKROBA MADU IN VITRO TERHADAP ISOLASI BAKTERI DARI LUKA Alvita Ratnasari, 2011,Pembimbing 1 : Triswaty Winata, dr., M.Kes Pembimbing 2: Roys A. Pangayoman, dr., SpB., FInaCS. Madu,

Lebih terperinci

AKTIVITAS ANTIMIKROBA PADA PUTIH TELUR DARI BEBERAPA JENIS UNGGAS TERHADAP BAKTERI GRAM POSITIF DAN GRAM NEGATIF SKRIPSI CHAIRUL

AKTIVITAS ANTIMIKROBA PADA PUTIH TELUR DARI BEBERAPA JENIS UNGGAS TERHADAP BAKTERI GRAM POSITIF DAN GRAM NEGATIF SKRIPSI CHAIRUL AKTIVITAS ANTIMIKROBA PADA PUTIH TELUR DARI BEBERAPA JENIS UNGGAS TERHADAP BAKTERI GRAM POSITIF DAN GRAM NEGATIF SKRIPSI CHAIRUL PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri dari Ekstrak Etanol dan Metanol Daun Kapehu (Guioa diplopetala)

Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri dari Ekstrak Etanol dan Metanol Daun Kapehu (Guioa diplopetala) Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri dari Ekstrak Etanol dan Metanol Daun Kapehu (Guioa diplopetala) (Antioxidant and Antibacterial Activity from Ethanol and Methanol Extract of Kapehu (Guioa diplopetala))

Lebih terperinci

EFEKTIVITAS BERBAGAI SEDIAAN EKSTRAK BAWANG PUTIH

EFEKTIVITAS BERBAGAI SEDIAAN EKSTRAK BAWANG PUTIH ABSTRAK EFEKTIVITAS BERBAGAI SEDIAAN EKSTRAK BAWANG PUTIH (Allium sativum Linn.) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus DAN Salmonella typhi Ricky Hartanto, 2006. Pembimbing I : Diana Krisanti

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 19 III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian adalah eksperimen laboratorik dengan metode difusi (sumuran). Perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak enam kali sehingga digunakan 12 unit

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. antara lain: disebabkan oleh penyakit infeksi (28,1 %), penyakit vaskuler

I. PENDAHULUAN. antara lain: disebabkan oleh penyakit infeksi (28,1 %), penyakit vaskuler 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling utama di negara - negara berkembang termasuk Indonesia. Berdasarkan Survey Kesehatan Rumah Tangga

Lebih terperinci

INTISARI TINGKAT PENGETAHUAN ORANG TUA DALAM PENGGUNAAN AMOXICILLIN SIRUP KERING PADA PASIEN BALITA DI PUSKESMAS SUNGAI KAPIH SAMARINDA

INTISARI TINGKAT PENGETAHUAN ORANG TUA DALAM PENGGUNAAN AMOXICILLIN SIRUP KERING PADA PASIEN BALITA DI PUSKESMAS SUNGAI KAPIH SAMARINDA INTISARI TINGKAT PENGETAHUAN ORANG TUA DALAM PENGGUNAAN AMOXICILLIN SIRUP KERING PADA PASIEN BALITA DI PUSKESMAS SUNGAI KAPIH SAMARINDA Ruli Yanti ¹; Amaliyah Wahyuni, S.Si, Apt ²; drg. Rika Ratna Puspita³

Lebih terperinci

EFEKTIFITAS EKSTRAK DAUN KATUK (SAUROPUS ANDROGYNUS L.) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS SECARA IN VITRO

EFEKTIFITAS EKSTRAK DAUN KATUK (SAUROPUS ANDROGYNUS L.) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS SECARA IN VITRO EFEKTIFITAS EKSTRAK DAUN KATUK (SAUROPUS ANDROGYNUS L.) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS SECARA IN VITRO Siti Fatimah, Yuliana Prasetyaningsih, Aris Munandar STIKes Guna Bangsa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bagian tubuh manusia seperti kulit, mukosa mulut, saluran pencernaan, saluran ekskresi dan organ reproduksi dapat ditemukan populasi mikroorganisme, terutama bakteri.

Lebih terperinci

3. METODOLOGI PENELITIAN

3. METODOLOGI PENELITIAN 3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Desain Penelitian Desain penelitian dalam penelitian ini adalah desain cross-sectional (potong lintang) dengan menggunakan data sekunder, yaitu data hasil uji kepekaan bakteri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya dengan tumbuhan berkhasiat, sehingga banyak dimanfaatkan dalam bidang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya dengan tumbuhan berkhasiat, sehingga banyak dimanfaatkan dalam bidang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya dengan tumbuhan berkhasiat, sehingga banyak dimanfaatkan dalam bidang pertanian, kesehatan, dan industri. Umumnya pengetahuan masyarakat

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI MAHASISWA TENTANG MUTU PELAYANAN POLIKLINIK DIAN NUSWANTORO DENGAN KEPUTUSAN PEMANFAATAN ULANG DI UPT POLIKLINIK DIAN

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI MAHASISWA TENTANG MUTU PELAYANAN POLIKLINIK DIAN NUSWANTORO DENGAN KEPUTUSAN PEMANFAATAN ULANG DI UPT POLIKLINIK DIAN 1 HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI MAHASISWA TENTANG MUTU PELAYANAN POLIKLINIK DIAN NUSWANTORO DENGAN KEPUTUSAN PEMANFAATAN ULANG DI UPT POLIKLINIK DIAN NUSWANTORO SEMARANG TAHUN 2015 Ramdhania Ayunda Martiani

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling utama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia karena temperatur yang tropis, dan kelembaban

Lebih terperinci

ABSTRAK. AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK KULIT MANGGIS (Garcinia mangostana L.) TERHADAP BAKTERI PENYEBAB JERAWAT SECARA IN VITRO

ABSTRAK. AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK KULIT MANGGIS (Garcinia mangostana L.) TERHADAP BAKTERI PENYEBAB JERAWAT SECARA IN VITRO ABSTRAK AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK KULIT MANGGIS (Garcinia mangostana L.) TERHADAP BAKTERI PENYEBAB JERAWAT SECARA IN VITRO Putri Sion Ginting Pembimbing I Pembimbing II : Dr. Savitri Restu Wardhani.,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dari saluran napas bagian atas manusia sekitar 5-40% (Abdat,2010).

BAB 1 PENDAHULUAN. dari saluran napas bagian atas manusia sekitar 5-40% (Abdat,2010). BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bakteri Streptococcus pneumoniae merupakan bakteri komensal dari saluran napas bagian atas manusia sekitar 5-40% (Abdat,2010). Streptococcus pneumoniae menyebabkan

Lebih terperinci

ABSTRAK. AKTIVITAS ANTIMIKROBA INFUSA DAUN ASAM JAWA (Tamarindus indica Linn.) TERHADAP Escherichia coli SECARA IN VITRO

ABSTRAK. AKTIVITAS ANTIMIKROBA INFUSA DAUN ASAM JAWA (Tamarindus indica Linn.) TERHADAP Escherichia coli SECARA IN VITRO ABSTRAK AKTIVITAS ANTIMIKROBA INFUSA DAUN ASAM JAWA (Tamarindus indica Linn.) TERHADAP Escherichia coli SECARA IN VITRO Caroline Suryadi, 1010148. Pembimbing I: dr. Djaja Rusmana, M.Si. Pembimbing II:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. lain (Jawetz dkk., 2013). Infeksi yang dapat disebabkan oleh S. aureus antara lain

BAB I PENDAHULUAN UKDW. lain (Jawetz dkk., 2013). Infeksi yang dapat disebabkan oleh S. aureus antara lain BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Staphylococcus aureus merupakan bakteri komensal pada manusia yang ditemukan di kulit, kuku, hidung, dan membran mukosa. Bakteri ini dapat menjadi patogen

Lebih terperinci

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BIJI BUAH PEPAYA (Carica papaya L.) TERHADAP Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BIJI BUAH PEPAYA (Carica papaya L.) TERHADAP Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BIJI BUAH PEPAYA (Carica papaya L.) TERHADAP Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus Lienny Meriyuki Mulyono Fakultas Farmasi liengodblessme@gmail.com Abstrak -

Lebih terperinci

TESIS. Untuk memenuhi persyaratan Mencapai derajat Sarjana S2. Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Konsentrasi Administrasi Rumah Sakit

TESIS. Untuk memenuhi persyaratan Mencapai derajat Sarjana S2. Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Konsentrasi Administrasi Rumah Sakit ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN IBU HAMIL MEMILIH PELAYANAN ANTENATAL CARE (ANC) DI POLIKLINIK KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA SEMARANG TESIS Untuk memenuhi

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kesehatan Masyarakat,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kesehatan Masyarakat, BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi Dan Waktu Penelitian Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kesehatan Masyarakat, Jurusan Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan dan Keolahragaan,

Lebih terperinci

PERBANDINGAN EFEK EKSTRAK BUAH ALPUKAT (Persea americana Mill) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Pseudomonas aeruginosa DENGAN METODE DISK DAN SUMURAN

PERBANDINGAN EFEK EKSTRAK BUAH ALPUKAT (Persea americana Mill) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Pseudomonas aeruginosa DENGAN METODE DISK DAN SUMURAN PERBANDINGAN EFEK EKSTRAK BUAH ALPUKAT (Persea americana Mill) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Pseudomonas aeruginosa DENGAN METODE DISK DAN SUMURAN Sri Dewi Haryati 1, Sri Darmawati 2, Wildiani Wilson 2

Lebih terperinci

Alexander Dicky 1, Ety Apriliana 2

Alexander Dicky 1, Ety Apriliana 2 Efek Pemberian Ekstrak Temulawak (Curcuma Xanthorrhiza Roxb) terhadap Daya Hambat Pertumbuhan Staphylococcus Aureus dan Escherichia Coli secara In Vitro Alexander Dicky 1, Ety Apriliana 2 1 Fakultas Kedokteran,

Lebih terperinci

SKRINING AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK ETANOL BIJI DAN EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH ANGGUR HITAM

SKRINING AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK ETANOL BIJI DAN EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH ANGGUR HITAM SKRINING AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK ETANOL BIJI DAN EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH ANGGUR HITAM (Vitis vinifera L.) TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acne Skripsi I GUSTI AYU AGUNG RATIH CARDIANI PUTRI

Lebih terperinci

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN DI RUANG RAWAT INAP RSUD SYEKH YUSUF KABUPATEN GOWA

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN DI RUANG RAWAT INAP RSUD SYEKH YUSUF KABUPATEN GOWA PENGARUH KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN DI RUANG RAWAT INAP RSUD SYEKH YUSUF KABUPATEN GOWA INFLUENCE OF SERVICE QUALITY TO PATIENT SATISFACTION IN INTENSIVE CARE ROOM OF SYEKH YUSUF PUBLIC

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. S.Thypi. Diperkirakan angka kejadian ini adalah kasus per

BAB I PENDAHULUAN UKDW. S.Thypi. Diperkirakan angka kejadian ini adalah kasus per BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid termasuk salah satu penyakit infeksi bakteri yang banyak ditemukan di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Penyakit infeksi yang ditularkan melalui

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci: Staphylococcus aureus, buah andaliman, antibakteri.

ABSTRAK. Kata kunci: Staphylococcus aureus, buah andaliman, antibakteri. ABSTRAK Berbagai penyakit di rongga mulut disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Biasanya penyakit tersebut diobati dengan antibiotik, tetapi tidak selalu berhasil karena resisten terhadap beberapa antobiotik,

Lebih terperinci

ABSTRAK. AKTIVITAS ANTIMIKROBA GEL LIDAH BUAYA (Aloe vera L.) PADA ACNE VULGARIS YANG TERINFEKSI Staphylococcus sp.

ABSTRAK. AKTIVITAS ANTIMIKROBA GEL LIDAH BUAYA (Aloe vera L.) PADA ACNE VULGARIS YANG TERINFEKSI Staphylococcus sp. ABSTRAK AKTIVITAS ANTIMIKROBA GEL LIDAH BUAYA (Aloe vera L.) PADA ACNE VULGARIS YANG TERINFEKSI Staphylococcus sp. SECARA IN VITRO Arlene Angelina, 2010. Pembimbing I : Fanny Rahardja, dr., M.Si Pembimbing

Lebih terperinci

HUBUNGAN KUALITAS PELAYANAN DENGAN MINAT PEMANFAATAN KEMBALI PELAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS JONGAYA KOTA MAKASSAR

HUBUNGAN KUALITAS PELAYANAN DENGAN MINAT PEMANFAATAN KEMBALI PELAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS JONGAYA KOTA MAKASSAR HUBUNGAN KUALITAS PELAYANAN DENGAN MINAT PEMANFAATAN KEMBALI PELAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS JONGAYA KOTA MAKASSAR Relationship between Service Quality with Re-Utilization Interest of Health Services

Lebih terperinci

BAB VI PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. Untuk mengetahui efek pemberian ekstrak mengkudu terhadap daya

BAB VI PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. Untuk mengetahui efek pemberian ekstrak mengkudu terhadap daya 1 BAB VI PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN 6.1. Subjek Penelitian Untuk mengetahui efek pemberian ekstrak mengkudu terhadap daya hambat Streptococcus mutans secara in vitro maka dilakukan penelitian pada plate

Lebih terperinci

AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK DAUN BUNGUR (LANGERSTROEMIA SPECIOSA (L.) PERS)

AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK DAUN BUNGUR (LANGERSTROEMIA SPECIOSA (L.) PERS) AKTIVITAS ANTIMIKROBA EKSTRAK DAUN BUNGUR (LANGERSTROEMIA SPECIOSA (L.) PERS) Nurhidayati Febriana, Fajar Prasetya, Arsyik Ibrahim Laboratorium Penelitian dan Pengembangan FARMAKA TROPIS Fakultas Farmasi

Lebih terperinci

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN IDENTIFIKASI DAN POLA KEPEKAAN BAKTERI YANG DIISOLASI DARI URIN PASIEN SUSPEK INFEKSI SALURAN KEMIH DI RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN Oleh : ESTERIDA SIMANJUNTAK 110100141 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA

Lebih terperinci

PERBEDAAN EFEKTIFITAS ANTARA KEJU CHEDDAR DAN YOGHURT PLAIN TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI STREPTOCOCCUS MUTANS SECARA IN VITRO

PERBEDAAN EFEKTIFITAS ANTARA KEJU CHEDDAR DAN YOGHURT PLAIN TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI STREPTOCOCCUS MUTANS SECARA IN VITRO PERBEDAAN EFEKTIFITAS ANTARA KEJU CHEDDAR DAN YOGHURT PLAIN TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI STREPTOCOCCUS MUTANS SECARA IN VITRO Lita Paramita*, Farichah Hanum**, Muhammad Dian Firdausy** ABSTRAK Karies merupakan

Lebih terperinci

ABSTRAK. PENGARUH EKSTRAK ETANOL DAUN KEMANGI (Ocimum americanum) TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli SECARA IN VITRO

ABSTRAK. PENGARUH EKSTRAK ETANOL DAUN KEMANGI (Ocimum americanum) TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli SECARA IN VITRO ABSTRAK PENGARUH EKSTRAK ETANOL DAUN KEMANGI (Ocimum americanum) TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli SECARA IN VITRO Gittha Ullytha 0410129, 2007 Pembimbing I : Kartika Dewi.,dr.,M.Kes

Lebih terperinci

PENGARUH EKSTRAK METANOL DAUN SIRSAK (ANNONA MURICATA) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI SALMONELLA TYPHI SECARA IN VITRO. Putu Nanda Pramadya P.

PENGARUH EKSTRAK METANOL DAUN SIRSAK (ANNONA MURICATA) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI SALMONELLA TYPHI SECARA IN VITRO. Putu Nanda Pramadya P. PENGARUH EKSTRAK METANOL DAUN SIRSAK (ANNONA MURICATA) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI SALMONELLA TYPHI SECARA IN VITRO Putu Nanda Pramadya P. Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ABSTRAK Salmonella

Lebih terperinci

MUTU PELAYANAN DAN KOMUNIKASI TERAUPETIK YANG BAIK MENINGKATKAN KEPUASAN PASIEN PENGGUNA BPJS KESEHATAN DI RSI NU DEMAK

MUTU PELAYANAN DAN KOMUNIKASI TERAUPETIK YANG BAIK MENINGKATKAN KEPUASAN PASIEN PENGGUNA BPJS KESEHATAN DI RSI NU DEMAK MUTU PELAYANAN DAN KOMUNIKASI TERAUPETIK YANG BAIK MENINGKATKAN KEPUASAN PASIEN PENGGUNA BPJS KESEHATAN DI RSI NU DEMAK Dyah Ayu Wulandari 1, Nadhifah 2 1 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada Semarang

Lebih terperinci

Abdi Setiawan 1, Darmawansyah 1, Asiah Hamzah 1.

Abdi Setiawan 1, Darmawansyah 1, Asiah Hamzah 1. HUBUNGAN BAURAN PEMASARAN DENGAN MINAT KEMBALI PASIEN RAWAT INAP RSUD TENRIAWARU BONE RELATION OF MARKETING MIX WITH INTERESTS IN RETURNING OF INPATIENT TENRIAWARU HOSPITAL BONE Abdi Setiawan 1, Darmawansyah

Lebih terperinci

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ini telah dilaksanakan pada percobaan uji mikrobiologi dengan menggunakan ekstrak etanol daun sirih merah. Sebanyak 2,75 Kg daun sirih merah dipetik di

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEK ANTIMIKROBA EKSTRAK DAUN MIMBA (Azadirachta indica A. Juss) TERHADAP Enterococcus faecalis

ABSTRAK. EFEK ANTIMIKROBA EKSTRAK DAUN MIMBA (Azadirachta indica A. Juss) TERHADAP Enterococcus faecalis ABSTRAK EFEK ANTIMIKROBA EKSTRAK DAUN MIMBA (Azadirachta indica A. Juss) TERHADAP Enterococcus faecalis Hadisusanto Alie M., 2014, Pembimbing I : Ibnu Suryatmojo, drg., Sp.KG Pembimbing II : Widura, dr.,

Lebih terperinci

BAB III METODELOGI PENELITIAN

BAB III METODELOGI PENELITIAN BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1 JENIS PENELITIAN : Eksperimental Laboratoris 3.2 LOKASI PENELITIAN : Laboratorium Fatokimia Fakultas Farmasi UH & Laboratorium Mikrobiologi FK UH 3.3 WAKTU PENELITIAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. penyakit menemui kesulitan akibat terjadinya resistensi mikrobia terhadap antibiotik

I. PENDAHULUAN. penyakit menemui kesulitan akibat terjadinya resistensi mikrobia terhadap antibiotik I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengobatan berbagai jenis penyakit infeksi sampai sekarang ini adalah dengan pemberian antibiotik. Antibiotik merupakan substansi atau zat yang dapat membunuh atau melemahkan

Lebih terperinci

HUBUNGAN KOMPENSASI DAN DISIPLIN KERJA DENGAN PRODUKTIVITAS KERJA TENAGA KEPERAWATAN DI RSJ. PROF. DR. V. L. RATUMBUYSANG MANADO

HUBUNGAN KOMPENSASI DAN DISIPLIN KERJA DENGAN PRODUKTIVITAS KERJA TENAGA KEPERAWATAN DI RSJ. PROF. DR. V. L. RATUMBUYSANG MANADO HUBUNGAN KOMPENSASI DAN DISIPLIN KERJA DENGAN PRODUKTIVITAS KERJA TENAGA KEPERAWATAN DI RSJ. PROF. DR. V. L. RATUMBUYSANG MANADO Jessiliani A. Patodo*, Franckie R.R Maramis*, Adisti A. Rumyar* *Fakultas

Lebih terperinci

Artikel Penelitian. Abstrak. Abstract PENDAHULUAN. Ikhsan Amanda Putra 1, Erly 2, Machdawaty Masri 3

Artikel Penelitian. Abstrak. Abstract PENDAHULUAN.  Ikhsan Amanda Putra 1, Erly 2, Machdawaty Masri 3 497 Artikel Penelitian Uji Efek Antibakteri Ekstrak Etanol Kulit Batang Salam {Syzigium polyanthum (Wight) Walp} terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli secara Invitro Ikhsan Amanda Putra 1,

Lebih terperinci

Efek Pasca Antibiotik Ciprofloxacin terhadap Staphylococcus aureus ATCC dan Escherichia coli ATCC 25922

Efek Pasca Antibiotik Ciprofloxacin terhadap Staphylococcus aureus ATCC dan Escherichia coli ATCC 25922 JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA, September 2009, hal. 99-03 ISSN 693-83 Vol. 7, No. 2 Efek Pasca Antibiotik Ciprofloxacin terhadap Staphylococcus aureus ATCC 25923 dan Escherichia coli ATCC 25922 SHIRLY

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pengukuran zona hambat yang berikut ini disajikan dalam Tabel 2 : Ulangan (mm) Jumlah Rata-rata

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pengukuran zona hambat yang berikut ini disajikan dalam Tabel 2 : Ulangan (mm) Jumlah Rata-rata BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Hasil Dari penelitian yang dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan, diperoleh hasil pengukuran zona hambat yang berikut ini disajikan dalam Tabel 2 : Tabel 2 : Hasil pengukuran

Lebih terperinci

UJI EFEK ANTIBAKTERI JINTAN HITAM DAN MADU TERHADAP BAKTERI PSEUDOMONAS AERUGINOSA PADA OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS SECARA IN VITRO

UJI EFEK ANTIBAKTERI JINTAN HITAM DAN MADU TERHADAP BAKTERI PSEUDOMONAS AERUGINOSA PADA OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS SECARA IN VITRO UJI EFEK ANTIBAKTERI JINTAN HITAM DAN MADU TERHADAP BAKTERI PSEUDOMONAS AERUGINOSA PADA OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS SECARA IN VITRO Oleh : MOHAMAD ZAKUAN BIN ABD RAHMAN 090100438 FAKULTAS KEDOKTERAN

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif laboratorium dengan metode

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif laboratorium dengan metode 25 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif laboratorium dengan metode difusi Kirby bauer. Penelitian di lakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. ekstrak kulit nanas (Ananas comosus) terhadap bakteri Porphyromonas. Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. ekstrak kulit nanas (Ananas comosus) terhadap bakteri Porphyromonas. Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh daya antibakteri ekstrak kulit nanas (Ananas comosus) terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis secara in vitro dengan

Lebih terperinci

The Relations of Knowledge and The Adherence to Use PPE in Medical Service Employees in PKU Muhammadiyah Gamping Hospital.

The Relations of Knowledge and The Adherence to Use PPE in Medical Service Employees in PKU Muhammadiyah Gamping Hospital. The Relations of Knowledge and The Adherence to Use PPE in Medical Service Employees in PKU Muhammadiyah Gamping Hospital. Hubungan Pengetahuan Dengan Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada

Lebih terperinci

SKRIPSI HUBUNGAN PENERAPAN KOMUNIKASI EFEKTIF PERAWAT DENGAN KEPUASAN PASIEN DI RSUD DR. ADNAAN WD PAYAKUMBUH TAHUN 2016

SKRIPSI HUBUNGAN PENERAPAN KOMUNIKASI EFEKTIF PERAWAT DENGAN KEPUASAN PASIEN DI RSUD DR. ADNAAN WD PAYAKUMBUH TAHUN 2016 PAYAKUMBUH TAHUN Dosen Pembimbing: 1. Ns. Zifriyanthi Minanda Putri, M.Kep 2. Ns. Windy Freska, S.Kep.,M.Kep PAYAKUMBUH TAHUN PAYAKUMBUH TAHUN Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan jenjang

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA PELAYANAN DOKTER DENGAN KEPUASAN PASIEN DI INSTALASI RAWAT INAP A BADAN LAYANAN UMUM RUMAH SAKIT UMUM PUSAT PROF. DR. R. D. DR. R.

HUBUNGAN ANTARA PELAYANAN DOKTER DENGAN KEPUASAN PASIEN DI INSTALASI RAWAT INAP A BADAN LAYANAN UMUM RUMAH SAKIT UMUM PUSAT PROF. DR. R. D. DR. R. HUBUNGAN ANTARA PELAYANAN DOKTER DENGAN KEPUASAN PASIEN DI INSTALASI RAWAT INAP A BADAN LAYANAN UMUM RUMAH SAKIT UMUM PUSAT PROF. DR. R. D. KANDOU KOTA MANADO RELATIONSHIP BETWEEN DOCTOR SERVICE WITH THE

Lebih terperinci

PENGHAMBATAN EKSTRAK BUBUK TEH HIJAU TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI YOGURT DAN BAKTERI PATOGEN SKRIPSI

PENGHAMBATAN EKSTRAK BUBUK TEH HIJAU TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI YOGURT DAN BAKTERI PATOGEN SKRIPSI PENGHAMBATAN EKSTRAK BUBUK TEH HIJAU TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI YOGURT DAN BAKTERI PATOGEN SKRIPSI OLEH: MIRAH 6103007062 PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS KATOLIK

Lebih terperinci

DAYA HAMBAT EKSTRAK SABUT KELAPA (COCOS NUCIFERA) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI ESCHERICHIA COLI DAN

DAYA HAMBAT EKSTRAK SABUT KELAPA (COCOS NUCIFERA) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI ESCHERICHIA COLI DAN DAYA HAMBAT EKSTRAK SABUT KELAPA (COCOS NUCIFERA) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI ESCHERICHIA COLI DAN STAPHYLOCOCCUS AUREUS DARI INFEKSI LUKA PASCA OPERASI SECARA IN VITRO SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN MINAT KUNJUNGAN ULANG PASIEN RAWAT JALAN DI RSUD MARIA WALANDA MARAMIS Sherly Nayoan*

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN MINAT KUNJUNGAN ULANG PASIEN RAWAT JALAN DI RSUD MARIA WALANDA MARAMIS Sherly Nayoan* FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN MINAT KUNJUNGAN ULANG PASIEN RAWAT JALAN DI RSUD MARIA WALANDA MARAMIS Sherly Nayoan* *Program Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi Manado ABSTRAK Dengan adanya

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. 3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif laboratorik dengan

III. METODE PENELITIAN. 3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif laboratorik dengan III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif laboratorik dengan pendekatan cross sectional, menggunakan metode difusi dengan memakai media Agar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. merupakan bentuk pengobatan tertua di dunia. Setiap budaya di dunia

I. PENDAHULUAN. merupakan bentuk pengobatan tertua di dunia. Setiap budaya di dunia I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penggunaan tumbuh-tumbuhan untuk penyembuhan kemungkinan merupakan bentuk pengobatan tertua di dunia. Setiap budaya di dunia memiliki sistem pengobatan tradisional

Lebih terperinci

ABSTRAK. Michael Jonathan, 2012; Pembimbing I : dr. Fanny Rahardja, M.Si Pembimbing II: dr. Rita Tjokropranoto, M.Sc

ABSTRAK. Michael Jonathan, 2012; Pembimbing I : dr. Fanny Rahardja, M.Si Pembimbing II: dr. Rita Tjokropranoto, M.Sc ABSTRAK INTERAKSI AIR PERASAN BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) DENGAN GENTAMISIN DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN KOLONI Staphylococcus aureus SEBAGAI BAKTERI PENYEBAB INFEKSI NOSOKOMIAL PADA LUKA BAKAR SECARA

Lebih terperinci

PERBEDAAN DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL BIJI ALPUKAT (Persea americana Mill.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli DENGAN Staphylococcus.

PERBEDAAN DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL BIJI ALPUKAT (Persea americana Mill.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli DENGAN Staphylococcus. 1 PERBEDAAN DAYA HAMBAT EKSTRAK ETANOL BIJI ALPUKAT (Persea americana Mill.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli DENGAN Staphylococcus aureus Difference In The Inhibition Of Ethanol Extract Of

Lebih terperinci

Daya Antibakteri Ekstrak Tumbuhan Majapahit (Crescentia cujete L.)Terhadap Bakteri Aeromonas hydrophila

Daya Antibakteri Ekstrak Tumbuhan Majapahit (Crescentia cujete L.)Terhadap Bakteri Aeromonas hydrophila Daya Antibakteri Ekstrak Tumbuhan Majapahit (Crescentia cujete L.)Terhadap Bakteri Aeromonas hydrophila Noorkomala Sari 1506 100 018 Dosen pembimbing : N.D Kuswytasari, S.Si, M.Si Awik Puji Dyah N., S.Si,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental laboratoris dengan rancangan the post test only control group design. B. Tempat dan Waktu Penelitian

Lebih terperinci

ABSTRAK AKTIVITAS ANTIMIKROBA INFUSA BUNGA ROSELLA (Hibiscus sadariffa L) TERHADAP Escherichia coli SECARA IN VITRO

ABSTRAK AKTIVITAS ANTIMIKROBA INFUSA BUNGA ROSELLA (Hibiscus sadariffa L) TERHADAP Escherichia coli SECARA IN VITRO ABSTRAK AKTIVITAS ANTIMIKROBA INFUSA BUNGA ROSELLA (Hibiscus sadariffa L) TERHADAP Escherichia coli SECARA IN VITRO Ayundari D, 2013 Pembimbing I : dr. Djaja Rusmana, Msi Pembimbing II: Dra. Endang Evacuasiany,

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia/Biokimia Hasil Pertanian dan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia/Biokimia Hasil Pertanian dan 18 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia/Biokimia Hasil Pertanian dan Laboratorium Mikrobiologi Hasil Pertanian Jurusan Teknologi Hasil

Lebih terperinci

Haris Dianto Darwindra BAB VI PEMBAHASAN

Haris Dianto Darwindra BAB VI PEMBAHASAN BAB VI PEMBAHASAN Produk pangan harus tetap dijaga kualitasnya selama penyimpanan dan distribusi, karena pada tahap ini produk pangan sangat rentan terhadap terjadinya rekontaminasi, terutama dari mikroba

Lebih terperinci

Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kersen. (Muntingia calabura L.) Terhadap Bakteri Klebsiella pneumoniae TUGAS AKHIR

Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kersen. (Muntingia calabura L.) Terhadap Bakteri Klebsiella pneumoniae TUGAS AKHIR Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kersen (Muntingia calabura L.) Terhadap Bakteri Klebsiella pneumoniae TUGAS AKHIR Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Ahli Madya

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian bulan Desember 2011 hingga Februari 2012.

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian bulan Desember 2011 hingga Februari 2012. BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi, Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya.

Lebih terperinci

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) ASAL KOTA WATAMPONE. St. Maryam, Saidah juniasti, Rachmat Kosman

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) ASAL KOTA WATAMPONE. St. Maryam, Saidah juniasti, Rachmat Kosman As-Syifaa Vol 07 (01) : Hal. 60-69, Juli 2015 ISSN : 2085-4714 UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) ASAL KOTA WATAMPONE St. Maryam, Saidah juniasti, Rachmat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah dalam bidang kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah dalam bidang kesehatan BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah dalam bidang kesehatan yang dari waktu ke waktu terus berkembang. Infeksi merupakan penyakit yang dapat ditularkan dari

Lebih terperinci

UJI EKSTRAK DAUN BELUNTAS

UJI EKSTRAK DAUN BELUNTAS UJI EKSTRAK DAUN BELUNTAS (Pluchea indica L. Less) TERHADAP ZONA HAMBAT BAKTERI Escherichia coli patogen SECARA IN VITRO Oleh: Ilma Bayu Septiana 1), Euis Erlin 2), Taupik Sopyan 3) 1) Alumni Prodi.Pend.Biologi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian yang dilakukan menggunakan daun sirsak (Annona muricata) yang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian yang dilakukan menggunakan daun sirsak (Annona muricata) yang BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1. Hasil Penelitian yang dilakukan menggunakan daun sirsak (Annona muricata) yang berasal dari daerah Sumalata, Kabupaten Gorontalo utara. 4.1.1 Hasil Ektraksi Daun Sirsak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. tersusun seperti buah anggur. Dikenal dua spesies Staphylococcus, yaitu

BAB I PENDAHULUAN UKDW. tersusun seperti buah anggur. Dikenal dua spesies Staphylococcus, yaitu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang penelitian Staphylococcus adalah bakteri gram negatif yang berbentuk bulat tersusun seperti buah anggur. Dikenal dua spesies Staphylococcus, yaitu S. aureus dan S.

Lebih terperinci

Uji daya hambat ekstrak daun lidah mertua (Sansevieriae trifasciata folium) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Streptococcus sp

Uji daya hambat ekstrak daun lidah mertua (Sansevieriae trifasciata folium) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Streptococcus sp Uji daya hambat ekstrak daun lidah mertua (Sansevieriae trifasciata folium) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Streptococcus sp 1 Brily Lombogia 2 Fona Budiarso 2 Widdhi Bodhi 1 Kandidat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maupun anaerob. Bakteri Streptococcus viridans dan Staphylococcus aureus

BAB I PENDAHULUAN. maupun anaerob. Bakteri Streptococcus viridans dan Staphylococcus aureus BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rongga mulut manusia banyak terdapat berbagai jenis bakteri, baik aerob maupun anaerob. Bakteri Streptococcus viridans dan Staphylococcus aureus adalah mikroorganisme

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juni 2012

METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juni 2012 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juni 2012 bertempat di Laboratorium Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan

Lebih terperinci

ANALISIS DEMAND MASYARAKAT TERHADAP PELAYANAN RAWAT INAP DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEDAN DELI, PUSKESMAS BROMO DAN PUSKESMAS KEDAI DURIAN TAHUN 2013

ANALISIS DEMAND MASYARAKAT TERHADAP PELAYANAN RAWAT INAP DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEDAN DELI, PUSKESMAS BROMO DAN PUSKESMAS KEDAI DURIAN TAHUN 2013 ANALISIS DEMAND MASYARAKAT TERHADAP PELAYANAN RAWAT INAP DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEDAN DELI, PUSKESMAS BROMO DAN PUSKESMAS KEDAI DURIAN TAHUN 2013 SKRIPSI Oleh : SERLI NIM. 111021024 FAKULTAS KESEHATAN

Lebih terperinci

ABSTRAK PENGARUH BAKTERI PROBIOTIK TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI INTESTINAL SECARA IN VITRO

ABSTRAK PENGARUH BAKTERI PROBIOTIK TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI INTESTINAL SECARA IN VITRO ABSTRAK PENGARUH BAKTERI PROBIOTIK TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI INTESTINAL SECARA IN VITRO Mikael Aditya, 2012, Pembimbing I : Fanny Rahardja, dr., M.Si Pembimbing II : Lisawati Sadeli, dr., M.Kes Gangguan

Lebih terperinci

ABSTRAK. retail marketing mix, loyalitas konsumen, harga, tata letak, dan personalia

ABSTRAK. retail marketing mix, loyalitas konsumen, harga, tata letak, dan personalia ABSTRAK Persaingan untuk mendapatkan pelanggan yang loyal membuat retail berusaha untuk memberikan layanan belanja yang memuaskan. Pelanggan berharap retail mampu memberikan pengalaman yang positif bagi

Lebih terperinci