Dr. Elindra Yetti,M.Pd

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Dr. Elindra Yetti,M.Pd"

Transkripsi

1 Cara mudah Identifikasi bakat istimewa seni Tari 1

2 Cara mudah Identifikasi bakat istimewa seni Tari 2

3 Sanksi Pelanggaran Pasal 72: Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang tentang HAK CIPTA. 1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp (lima miliar rupiah). 2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang asli pelanggaran hak cipta atau terkait sebagai dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp (Lima Ratus Juta Rupiah). 3

4 @ 2012 Penerbit Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip, memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa ijin tertulis dari penerbit. Cetakan I : Februari 2012 Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Judul Buku Referensi: Cara Mudah Identifikasi Bakat Istimewa Seni Tari. iii halaman romawi, 75 halaman isi: 14,5 x 21 cm ISBN: i

5 KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan limpahan Taufiq, Hidayah dan InayahNya sehingga penyusunan buku yang berjudul: CARA MUDAH IDENTIFIKASI BAKAT ISTIMEWA SENI TARI dapat terselesaikan. Rasa terimakasih yang setinggi-tingginya saya haturkan kepada Pimpinan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta beserta jajarannya, atas segala kesempatan yang telah diberikan. Tak lupa saya haturkan rasa hormat dan sungkem kepada para pakar Tari yang secara langsung maupun tidak langsung telah membesarkan pemahaman saya di dunia seni tari. Buku ini ditujukan bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya bagi yang mendalami seni tari dimanapun berada. Dalam buku ini dikaji berbagai teori keberbakatan dan kemudahan untuk identifikasi bakat istimewa seni tari. Buku ini terbit berawal dari salah satu keprihatinan dari minimnya referensi tentang identifikasi bakat seni tari. Penulis sangat menyadari pula adanya kekurangan-kekurangan maupun kekhilafan dalam penyusunan. Oleh karena itu diharapkan kritikan-kritikan yang bersifat membangun dari semua pihak untuk penyempurnaan buku ini. Siapa mau berusaha disitu pasti ada jalan, akhirnya harapan penulis, semoga buku ini dapat bermanfaat bagi semua yang membaca dan memperlajarinya. Yogyakarta, Februari 2012 Penulis ii

6 DAFTAR ISI Halaman Sampul i Kata Pengantar ii Daftar isi iii Bab 1 PENTINGNYA PANDUAN IDENTIFIKASI 1 a. Pendahuluan 1 b. Tujuan Penelusuran Bakat Istimewa 4 Seni c. Pelunya Penyusunan Panduan 4 Penelusuran Bakat Istimewa Seni Bab 2 LANDASAN TEORITIS BAKAT ISTIMEWA 6 a. Pengertian Bakat Istimewa 6 b. Yang Mempengaruhi Keberbakatan 14 Bab 3 KARAKTERISTIK BERBAKAT ISTIMEWA SENI a. Karakteristik Umum Peserta Didik Berbakat Istimewa b. Karakteristik Khusus Peserta Didik Berbakat Istimewa di Bidang Seni Rupa c. Karakteristik Khusus Peserta Didik Berbakat Musik d. Karakteristik Peserta Didik Berbakat Istimewa di Bidang Seni Tari Bab 4 SELEKSI DAN IDENTIFIKASI PESERTA DIDIK BERBAKAT ISTIMEWA DI BIDANG SENI 26 iii

7 a. Seleksi Peserta Didik Berbakat Istimewa di Bidang Seni b. Langkah-Langkah Rekrutmen Program Pengembangan Bakat Istimewa Seni c. Identifikasi Peserta Didik Bakat Istimewa Bidang seni Bab 5 INSTRUMEN IDENTIFIKASI BAKAT 43 ISTIMEWA SENI a. Identitas Siswa Berbakat Istimewa 44 Seni Tari b. Identitas Penguji Bakat Istimewa 44 Seni Tari c. Petunjuk penggunaan istrumen 45 d. Instrumen identifikasi bakat istimewa 47 bidang seni tari 1. Dimensi Portofolio Petunjuk Penilaian Keterampilan Penampilan Tari Petunjuk Penilaian Kreativitas Petunjuk Penilaian 59 Penutup 61 Daftar Pustaka 62 Biodata Penulis 67 iv

8 BAB I PENTINGNYA PANDUAN IDENTIFIKASI A. Pendahuluan Peserta didik pada hakikatnya memiliki bakat, dan minat yang berbeda antara peserta didik yang satu dengan yang lainnya. Di antara peserta didik tersebut ada yang mempunyai bakat yang istimewa dibandingkan dengan peserta didik yang lainnya, untuk itu diperlukan layanan khusus bagi peserta didik yang memiliki bakat istimewa tersebut. Azas pemerataan kesempatan belajar merupakan penerapan dari azas demokrasi. Kesempatan pendidikan yang sama harus diberikan kepada semua warga negara Indonesia baik normal maupun berkebutuhan khusus. Pemberian kesempatan pendidikan yang sama pada hakikatnya menciptakan suatu lingkungan yang semua peserta didik mendapat kesempatan yang sama untuk mewujudkan potensi secara optimal. Implikasinya bahwa peserta didik yang memiliki pelayanan pendidikan khusus. bakat istimewa diperlukan Undang-undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 5 ayat 4 dinyatakan bahwa warga negara yang memiliki kecerdasan dan atau bakat 1

9 istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus. Perlunya perhatian khusus bagi peserta didik yang memiliki bakat istimewa melalui program pendidikan yang selaras dengan fungsi utama pendidikan, yaitu mengembangkan potensi peserta didik secara utuh dan optimal. Dengan pendidikan khusus istimewa diharapkan mampu peserta didik berbakat menciptakan prestasi yang unggul. Fakta di lapangan terdapat peserta didik yang sudah dapat mewujudkan bakat, tetapi ada pula yang belum. Bakat memerlukan pendidikan dan latihan agar dapat tampil dalam prestasi yang unggul. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap bakat istimewa yang dimiliki peserta didik makin meningkat, terutama untuk bidang seni musik, utamanya seni olah vokal. Program pendidikan untuk peserta didik bakat istimewa bidang seni dilaksanakan dalam bentuk pendidikan formal seperti Sekolah Menengah Kejuruan, misalnya Sekolah Musik dan Karawitan (di Solo), Sekolah Pedalangan, Sekolah Tari (di Padang Panjang, Solo, Bandung, Jogyakarta, Surabaya, Bali), Sekolah Ukir (di Jepara), atau Sekolah Teater (di Bandung dan Padang Panjang). Sedangkan pendidikan seni yang nonformal, antara lain program televisi seperti: Akademi Fantasi Indosiar, 2

10 Indonesian Idol, KDI. Di samping itu, juga model yang hampir mirip adalah program pemilihan dai cilik (Pildacil), dan Audisi Pelawak TPI (API). Munculnya pendidikan dan pelatihan tersebut menunjukkan bahwa perhatian kepada bakat istimewa selama ini sudah berjalan, meskipun belum optimal. Sejalan dengan amanat yang tercantum dalam UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka pemerintah harus memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pendidikan yang diselenggarakan untuk peserta didik berbakat istimewa dalam bentuk pendidikan khusus melalui pengembangan program pendidikan bakat istimewa (BI) atau mendirikan sekolah khusus bakat istimewa. Melalui penyelenggaraan pendidikan khusus bagi peserta didik berbakat istimewa, diharapkan potensi peserta didik yang selama ini belum dikembangkan secara optimal, akan tumbuh dan menunjukkan kinerja yang baik. Kondisi ini pada gilirannya akan dapat memberi kontribusi terhadap kehormatan dan nama baik bangsa Indonesia di antara bangsa-bangsa lain di dunia. Namun permasalahannya, sampai saat ini belum ada panduan identifikasi dalam penelusuran bakat peserta didik dalam bidang seni. Untuk saat ini hal yang menjadi prioritas adalah menentukan standarisasi alat ukur yang dapat 3

11 digunakan untuk menyeleksi peserta didik yang akan mengikuti program pendidikan layanan khusus, dan panduan kegiatan proses penelusuran bakat peserta didik bagi para pakar seni, guru seni, psikolog dan pihak lain yang terkait. B. TUJUAN PENELUSURAN BAKAT ISTIMEWA SENI Tujuan penelusuran bakat peserta didik adalah untuk mengidenfikasi atau menjaring peserta didik berbakat istimewa dalam bidang seni. Oleh sebab itu penelusuran bakat diharapkan dapat memperoleh hal-hal sebagai berikut. 1. Pemetaan bakat peserta didik dalam bidang seni tari. 2. Pemetaan bakat peserta didik dalam bidang seni musik. 3. Pemetaan bakat peserta didik dalam bidang seni rupa. C. PERLUNYA PANDUAN PENELUSURAN BAKAT ISTIMEWA Tujuan penyusunan pedoman penelusuran minat, bakat, dan prestasi peserta didik, adalah memberikan pemahaman dan arah yang jelas dalam penelusuran minat, bakat, dan prestasi peserta didik dalam hal sebagai berikut. 1. Memberikan pemahaman kepada guru dalam melaksanakan penelusuran bakat peserta didik dalam bidang seni. 4

12 2. Memberikan petunjuk yang jelas serta tahap-tahap pelaksanaan penelusuran bakat peserta didik dalam bidang seni. 3. Memberikan pemahaman tentang karakteristik peserta didik bakat istimewa dalam bidang seni 5

13 BAB II LANDASAN TEORETIS BAKAT ISTIMEWA A. PENGERTIAN BAKAT ISTIMEWA Istilah bakat sering digunakan di lingkungan persekolahan untuk menggambarkan kemampuan peserta didik dalam berbagai bidang termasuk seni sehingga sering kita dengar istilah peserta didik berbakat. Istilah bakat juga seringkali diartikan sebagai kemampuan khusus, yaitu kemampuan yang diperoleh tanpa melalui proses pengajaran atau pembelajaran yang sistematik, atau sering dikatakan sebagai anugrah dari Yang Maha Kuasa tanpa ditandai dengan indikasi yang jelas dan mudah diidentifikasi. Penggunaan istilah peserta didik berbakat, yang sering digunakan di Indonesia, terkandung istilah gifted and talented pupils yang sering digunakan oleh para ahli pendidikan dari luar negeri. Walaupun penggunaan kedua istilah tersebut sering disatukan, namun banyak para ahli mencoba membedakan pengertian dari keduanya. George (2000) mengemukakan bahwa gifted pupils memiliki potensi menunjukkan penampilan yang superior pada sejumlah bidang, sedangkan talented pupils merujuk pada mereka 6

14 yang memiliki kemampuan istimewa pada satu bidang. Eyre s (1997) menyoroti istilah tersebut dari sudut pandang yang luas dan kompleks, dikatakan bahwa gifted dan talented tidak hanya digunakan untuk menggambarkan mereka dengan kemampuan tinggi pada bidang akademik, tetapi harus juga pada bidang musik, olahraga, dan seni. Piirto (2007) menyatakan bahwa keberbakatan merupakan kemampuan alami yang luar biasa, diperoleh dari kombinasi sifat-sifat yang meliputi kapasitas intelektual, kemauan yang kuat untuk mengembangkan kemampuan, dan unjuk kerja. Menurut Utami Munandar (1992), bakat istimewa pada umumnya diartikan sebagai kemampuan bawaan sebagai potensi seorang peserta didik yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat diwujudkan. Secara umum dikatakan bahwa bakat istimewa adalah sebagai kemampuan khusus yang merupakan faktor bawaan yang dapat terwujud dalam prestasi yang unggul. Potensi tersebut perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat diwujudkan. Renzulli (2002) mengatakan bahwa bakat isimewa adalah suatu kemampuan lebih pada bidang tertentu yang didukung oleh tiga indikator, yaitu keterampilan atau kemampuan, motivasi atau task commitment, dan 7

15 kreativitas. Pendapat Renzulli ini disebut Tree Rings Concept. Skills Motivation Creativity Gambar 1: Tree Rings Concept dari Renzulli Peserta didik berbakat istimewa adalah peserta didik yang memiliki kemampuan unggul dan mampu berprestasi tinggi di bidang seni dan/atau olah raga. Peserta didik ini membutuhkan program pendidikan yang berdiferensiasi dan atau yang memerlukan pelayanan di luar jangkauan program sekolah biasa agar bakat mereka secara optimal dapat dikembangkan, baik bagi pengembangan diri maupun 8

16 dalam memberikan sumbangan yang bermakna bagi kemajuan masyarakat. Jadi menurut Renzulli dengan tiga indikator (kemampuan istimewa, kreativitas, dan task commitment) membawa mereka menguasai bidang umum, seperti matematika, musik, movement art, dan selanjutnya mereka menguasai menjadi bidang-bidang profesi khusus, seperti komposisi musik, game design, dan sebagainya. Gambar 2: Bakat Istimewa Bidang Bakat Umum dan Bidang Bakat Khusus (sumber: Renzulli, 2002) 9

17 Howard Gardner (1993) menyatakan bahwa konsep keberbakatan dapat ditinjau berdasarkan faktor bakat dan faktor performance (unjuk kerja). Faktor bakat adalah sebagai potensi yang ada dalam individu yang dapat meramalkan aktualisasi performance dalam area yang spesifik. Faktor bakat ini mencakup tujuh area yang masingmasing berdiri sendiri. Bakat dapat berkembang menjadi performance dengan dipengaruhi oleh dua faktor yaitu 1) karakteristik kepribadian yang mencakup: cara mengatasi stres, motivasi berprestasi, strategi belajar, kecemasaan terhadap tes, pengendalian terhadap harapan; dan 2) kondisi-kondisi lingkungan yang mencakup: lingkungan belajar yang dikenal, iklim keluarga, kualitas pembelajaran, iklim kelas, dan peristiwa-peristiwa kritis. Heller (2004) mengembangkan Model multifaktor yang pada dasarnya merupakan pengembangan dari three ring concept dari Renzulli dan Triadic Interdependence model Mönks serta Multiple Intelligences dari Howard Gardner. 10

18 Gambar 3. The Munich Model of Giftedness by Kurt A. Heller (2005) 11

19 Keterangan: Tujuh bidang bakat Model Munich: Kemampuan intelektual Kemampuan kreatif, Kompetensi sosial, Kecerdasan praktis, Kecerdasan artistik, musikalitas, Ketrampilan motorik. Karakteristik kepribadian (non koqnitif) yang berpengaruh, antara lain, motivasi berprestasi, Strategi belajar dan bekerja, control expectations, Delapan bidang performance Model Munich: matematika, natural sciences, tehnologi, Ilmu komputer, seni (musik, lukis), bahasa, atletik, olahraga, dan relasi sosial. Kondisi lingkungan yang berpengaruh, antara lain: Iklim keluarga, Jumlah saudara dan urutan kelahiran, Tingkat pendidikan orangtua, 12

20 harapan untuk sukses dan ketakutan untuk gagal, dan konsep diri. Stimulasi lingkungan rumah Tuntutan dan prestasi yang dditetapkan orangtua, Lingkungan belajar yang ramah, Iklim sekolah (teman sekelas), Gaya pendidkan Kualitas pengajaran, Pembelajaran dengan differensiasi Reaksi sosial terhadap kesuksesan, maupun kegagalan Peristiwa kehidupan Bakat sebagaimana halnya intelegensi dianggap sebagai warisan dari orangtua atau keluarga melalui aspek genetika. Warisan ini dapat dipupuk dan dikembangkan dengan berbagai cara terutama dengan latihan dan didukung oleh dana yang memadai. Seseorang yang 13

21 memiliki bakat tertentu sejak kecil, namun tidak memperoleh kesempatan untuk berkembang karena tidak ada fasilitas maupun dana, bakat itu tidak dapat berkembang. Pada umumnya peserta didik yang berbakat dapat diketahui orangtuanya dengan memperhatikan tingkah laku dan kegiatan peserta didik sejak kecil. Biasanya peserta didik yang memiliki bakat di suatu bidang, dia gemar sekali membicarakan atau melakukan bidang tersebut. Oleh karena itu dalam penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik berbakat, guru perlu berkomunikasi dengan orangtua agar memperoleh informasi yang lengkap tentang bakat peserta didiknya. Di sisi lain, orangtua juga dapat meminta tenaga ahli seperti psikolog untuk mengidentifikasi bakat yang dimiliki seorang peserta didik. Pengertian keberbakatan dalam pengembangannya telah mengalami berbagai perubahan dan kini pengertian keberbakatan selain mencakup kemampuan intelektual tinggi, juga menunjuk kepada kemampuan kreatif. Bahkan menurut Clark (1986) kreativitas adalah ekspresi tertinggi dari keberbakatan. B. YANG MEMPENGARUHI KEBERBAKATAN Keberbakatan dipengaruhi oleh berbagai unsur kebudayaan bahkan sementara ahli berpendapat bahwa 14

22 sifat-sifat peserta didik berbakat itu bercirikan culture bound (dibatasi oleh batasan kebudayaan). Dengan demikian, ada dua petunjuk kunci dalam mengamati dan mengerti keberbakatan ini, sebagai berikut. (1) Keberbakatan itu adalah ciri-ciri universal yang khusus dan luar biasa yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil interaksi dari pengaruh lingkungan. (2) Keberbakatan itu ikut ditentukan oleh kebutuhan dan kecenderungan kebudayaan di mana seseorang yang berbakat itu hidup. Mengacu pada teori dari Piirto tentang Pyramid of Talent Development, untuk mencapai kompetensi puncak dari pengembangan bakat, terdapat 5 aspek penting yang berperan. Lima aspek tersebut sebagai berikut. 1. Genetik Genetik merupakan potensi yang diperoleh seorang peserta didik secara genetik. 2. Karakteristik Kepribadian Karakteristik kepribadian meliputi: dorongan, kesenangan, disiplin diri, intuisi, kreativitas, rasa ingin tahu, keterbukaan, imajinasi, pengambilan resiko, persepsi, pemahaman, toleransi terhadap ambiguitas, perfeksionis, ketahanan, androginitas, persistensi, serta 15

23 intensitas pada aspek intelektual, emosional, imajinasi, pengindaraan dan psikomotor. 3. Kognitif Agar kognitif dapat berfungsi dalam kompetensi bidang bakat tertentu diperlukan tingkat intelektual minimum pada taraf rata-rata. Tingkat intelektual tidak harus terukur melalui skor inteligensi umum, namun dapat juga terukur melalui aspek inteligensi khusus yang diperlukan pada pengembangan bakat khusus tertentu, misalnya inteligensi spasial yang diperlukan pada pengembangan bakat seni visual. 4. Bidang Bakat Khusus Bidang bakat khusus, seperti seni tari, seni musik, seni rupa, teater, menulis, atletik, sains, akademik,sosial, spiritual, dll 5. Lingkungan Lingkungan terdiri atas 5 (lima) lingkungan yaitu rumah, sekolah, masyarakat dan budaya, gender, dan adanya kesempatan. Sebagian besar pengertian keberbakatan bagi peserta didik di sekolah merujuk pada kemampuan pada bidang tertentu, sebagaimana dikemukakan dalam teori ragam intelegensi (Gardner, 1993) yang menggambarkan 16

24 macam-macam kecerdasan. Thomson (2006) mengatakan bahwa para peneliti dan guru di United Kingdom tidak setuju bahwa gifted learner ditunjukkan kepada peserta didik yang memiliki kemampuan dalam salah satu atau beberapa bidang akademik, sementara talented learner ditujukan kepada peserta didik yang menunjukkan kemampuan nyata dalam bidang olahraga, musik, desain, dan seni kreatif. Untuk mendapatkan pengertian yang bisa diterima semua pihak memang tidak mudah, oleh karena itu beberapa praktisi membuat beberapa kesepakatan kontekstual dalam mendefinisikan istilah tersebut. Beberapa diantaranya, Thomson, (2006: 4) mengemukakan, peserta didik berbakat adalah mereka yang memerlukan aktivitas belajar yang lebih luas dan lebih mendalam daripada peserta didik pada umumnya dan memiliki kesempatan yang tinggi melalui pengembangan kurikulum untuk meraih kemampuan yang sebenarnya. Johnsen (2006) mengemukakan bahwa peserta didik berbakat adalah peserta didik yang dapat memberikan bukti kemampuan tinggi pada bidang seperti intelektual, seni, kreativitas, atau bidang keahlian tertentu dan memerlukan layanan atau aktivitas lebih daripada sekedar yang disediakan sekolah agar kemampuan yang dimilikinya dapat berkembang secara penuh 17

25 Dalam naskah ini peserta didik berbakat diartikan sebagai peserta didik yang menunjukkan potensi tinggi dapat meraih dan menampilkan prestasi seni luar biasa dibandingkan peserta didik lainnya pada usia, pengalaman, atau lingkungan yang sama, serta menunjukkan kemampuan tinggi dalam bidang intelektual, kreativitas, atau seni, memiliki kemampuan yang tidak biasa (unussual) atau istimewa dalam bidang kajian khusus tertentu. Karakteristik utama dari definisi tersebut adalah (a) potensi tinggi dapat meraih prestasi olahraga luarbiasa, (b) keragaman potensi yang mungkin ditunjukkan (intelektual, akademik, kreativitas, seni, dan kepemimpinan, (b) perbandingan dengan peserta didik lainnya (kelompok sekelasnya, seusianya, sepengalamannya, selingkungannya), (c) perlunya pengembangan keberbakatan (potensial atau kapabilitas). Beberapa pakar psikologi memberikan indikator peserta didik berbakat secara beragam, misal: Tannenbaum (1983) memandang keberbakatan dapat dilihat dari empat klasifikasi yaitu kelangkaan, keunggulan (mengacu pada sensibilitas serta sensitivitas yang lebih tinggi), kuota (keterbatasan jumlah individu yang memiliki keterampilan) dan anomali. Sementara itu, Renzulli (2007) berpendapat bahwa seseorang bisa dikatakan berbakat jika ia 18

26 menunjukkan kemampuan di atas rata-rata, melakukan halhal yang kreatif, dan memiliki tekad dalam melaksanakan tugasnya. Sedangkan Damon berpendapat bahwa bakat sangat dibutuhkan untuk berprestasi tinggi. Namun untuk berprestasi tinggi, bakat harus dikembangkan dengan kerja keras, keuletan, serta latihan. didik Utami Munandar, mengemukakan bahwa peserta buyar jika ada hal lain yang menarik perhatiannya. berbakat berbeda dengan anak pintar. "Bakat berarti punya potensi. Sedangkan pintar bisa didapat dari tekun mempelajari sesuatu,". Meski tekun namun tak berpotensi, seseorang tak akan bisa optimal seperti halnya peserta didik berbakat. Peserta didik tidak berbakat musikal, misalnya, walaupun dikursuskan musik sehebat apa pun, perkembangan kemampuannya tetap tidak akan sesuai harapan. Sebaliknya, jika peserta didik berbakat tapi lingkungannya tidak menunjang, ia pun tidak akan berkembang. Pada peserta didik hiperaktif, konsentrasinya kurang terfokus. Jadi, hanya gerak fisiknya yang aktif tapi tak menunjukkan kelincahan intelektual. Aktivitasnya pun sering tanpa tujuan." Kendati dia suka bertanya, tapi tak berkonsentrasi pada jawabannya. Konsentrasinya mudah 19

27 Lain hal dengan peserta didik berbakat. "Jika ia lari ke sana-sini, pasti ada tujuannya. Jika ia tertarik pada sesuatu, ia akan duduk diam dalam waktu yang lama, asyik sendiri mengerjakan sesuatu. Menurut pendekatan yang lebih inklusif, yang dimaksud peserta didik berbakat adalah peserta didik yang tidak hanya memiliki kemampuan intelektual tinggi, tetapi juga memiliki kemampuan kreativitas, sosial-emosional, dan motivasi serta memiliki keunggulan dalam satu atau lebih bidang tertentu dalam musik, sastra, olahraga dsb sehingga mereka memerlukan layanan khusus dalam pendidikan. 20

28 BAB III KARAKTERISTIK BERBAKAT ISTIMEWA SENI A. Karakteristik Umum Peserta Didik Berbakat Istimewa Peserta didik berbakat istimewa memiliki karakteristik sebagai berikut. 1. Menunjukkan perkembangan yang sangat luar biasa pada usia yang sangat dini, tanpa mempedulikan bidang bakatnya. Beberapa peserta didik menunjukkan perilaku dengan perkembangan yang pesat melampaui usianya pada beberapa bidang bakat. a. Peserta didik berbakat musik sering bernyanyi pada kunci nada tertentu, berminat terhadap piano atau alat musik lainnya, dan berhenti melakukan sesuatu ketika mendengarkan musik. b. Peserta didik yang berbakat seni rupa menunjukkan karya seni yang serupa dengan anak yang berusia lebih tua darinya c. Peserta didik yang berbakat kinestetik menunjukkan perkembangan koordinasi dan kontrol motorik yang istimewa. 21

29 d. Peserta didik yang berbakat interpersonal atau intrapersonal menunjukkan pemahaman tentang relasi antarpribadi, dan menunjukkan perasaan tentang hal-hal yang tidak dilihat oleh peserta didik lain seusianya. 2. Memiliki ingatan yang luar biasa terkait bidang bakatnya. 3. Berkonsentrasi secara mendalam pada hal-hal yang diminatinya, dalam jangka waktu yang lebih lama dibandingkan dengan peserta didik seusianya. 4. Menunjukkan asinkroni antara perkembangan bakat istimewanya dengan aspek lain dalam dirinya, terutama pada peserta didik dengan IQ yang tinggi. 5. Perkembangan afektif yang sangat dini mengarah pada asumsi dimilikinya peran kepemimpinan dan lebih suka bermain dengan peserta didik yang lebih tua usianya. B. Karakteristik Khusus Peserta Didik Berbakat Istimewa di Bidang Seni Rupa Peserta didik berbakat istimewa di bidang seni rupa memiliki karakteristik sebagai berikut. 22

30 1. Berminat pada seni rupa sejak usia dini dan tampak melalui gambar. 2. Kemampuan menggambar berkembang dengan cepat sejak usia dini. 3. Mampu berkonsentrasi dalam jangka waktu lama untuk menghadapi masalah-masalah seni rupa. 4. Lebih suka menyendiri saat mengerjakan karya seni. 5. Mampu menentukan target sendiri. 6. Menggambar untuk alasan-alasan emosional. Menggunakan gambar sebagai hiburan, menggambar untuk kenyamanan. 7. Berpikir lancar. Dalam gambarnya ada banyak gagasan, seringkali gambarnya menunjukkan detil yang diabaikan oleh peserta didik seusianya. 8. Menggunakan gambar untuk mengilustrasikan sesuatu. 9. Menggunakan ingatan visual dan ingatan kinestetik untuk membuat gambar. C. Karakteristik Khusus Peserta Didik Berbakat Musik Peserta didik berbakat istimewa di bidang musik memiliki karakteristik sebagai berikut. 23

31 1. Merespons secara spontan terhadap irama dan musik. 2. Gemar menyanyikan lagu-lagu yang sudah dikenal atau lagu-lagu yang dibuat sendiri. 3. Menguasai nada relatif maupun absolut, peka terhadap nada. 4. Mampu mengasosiasikan nada dengan simbolsimbol visual. 5. Mampu mengingat musik yang didengarnya. 6. Menggunakan musik untuk mengungkapkan perasaan. 7. Mampu mencocokkan nada. 8. Mengapresiasi keindahan struktur musik. 9. Mampu membedakan syair lagu, bagian dari lagu, dan komposisi musik yang kontras. 10. Mempunyai keinginan untuk memainkan alat musik. 11. Berkonsentrasi pada musik atau menghentikan aktivitas lain hanya untuk mendengarkan musik. D. Karakteristik Peserta Didik Berbakat Istimewa di Bidang Seni Tari Peserta didik berbakat istimewa di bidang seni tari memiliki karakteristik sebagai berikut. 24

32 1. Mampu menyelesaikan tarian secara terfokus dan penuh percaya diri. 2. Mampu memahami dan mengingat secara akurat informasi-informasi dan petunjuk, kemampuan untuk menari dalam berbagai gerakan. 3. Mampu secara konsisten menyesuaikan gerakan tubuh dengan irama. 4. Mampu merefleksikan irama dan ritme dalam keseluruhan gerakan tubuh. 5. Mampu menggerakkan seluruh tubuh sesuai dengan irama yang telah ditentukan, mengulang pola irama yang kompleks. 6. Menunjukkan kekuatan, fleksibilitas, keseimbangan, dan pengendalian tubuh. 7. Mampu menunjukkan sejumlah kualitas gerakan ( kuat, lembut, mengayun). 8. Mampu menunjukkan gerakan dengan berbagai intensitas. 9. Mampu mengomunikasikan gagasan dan rasa melalui gerakan, 10. Menari dengan ekspresi dan intensitas yang mendalam. 25

33 BAB IV SELEKSI DAN IDENTIFIKASI PESERTA DIDIK BERBAKAT ISTIMEWA DI BIDANG SENI A. Seleksi Peserta Didik Berbakat Istimewa di Bidang Seni Proses rekrutmen dan seleksi dipengaruhi oleh model layanan pendidikan yang diberikan bagi peserta didik berbakat istimewa. Prinsip- prinsip identifikasi yang perlu diperhatikan sebagai berikut. 1. Keberbakatan istimewa merupakan suatu fenomena yang kompleks sehingga identifikasi hendaknya dilakukan secara multidimensional. Identifikasi secara multidimensional dilakukan sebagai berikut. a. Menggunakan sejumlah cara pengukuran untuk melihat variasi dari kemampuan yang dimiliki peserta didik berbakat istimewa pada usia yang berbeda. b. Mengukur bakat khusus yang dimiliki peserta didik untuk dijadikan acuan penyusunan program belajar bagi peserta didik bakat istimewa. 26

34 c. Tidak hanya memperhatikan keberbakatan istimewa yang sudah teraktualisasi, namun juga mengidentifikasi potensi. d. Identifikasi tidak hanya untuk mengukur aspek keahlian (art skill), namun juga motivasi, minat, perkembangan sosial emosional serta aspek lainnya. 2. Prosedur dirancang untuk semua peserta didik artinya dapat menjangkau semua peserta didik dengan berbagai perbedaan latar belakang. Untuk memperoleh peserta didik dengan potensi bakat istimewa, perlu dilakukan rekrutmen melalui proses pengamatan terhadap peserta didik yang memiliki kemampuan dasar di atas rata-rata di bidang seni (talent scouting). B. Langkah-Langkah Rekrutmen Program Pengembangan Bakat Istimewa Seni 1. Pra-assesment (Nominasi) Proses nominasi dilakukan oleh guru mata pelajaran seni (atau pekerja seni dari luar sekolah) serta orang tua. Pada proses nominasi disediakan lembar nominasi untuk mengetahui bahwa peserta didik dinominasikan memiliki bakat istimewa pada bidang seni tertentu (seni tari, seni musik, dan seni rupa). 27

35 2. Skrining Skrining atau seleksi sebaiknya dilakukan oleh psikolog, dan juga dapat dilakukan oleh guru bimbingan konseling (BK). Skrining ditujukan untuk upaya mendapatkan peserta didik dengan potensi bakat istimewa dengan cara memberikan serangkaian tes psikologi, yaitu : 1. Tes kreativitas (tes kreativitas figural) 2. Skala Pengikatan Diri pada Tugas (Task Commitment Scale) 3. Tes inteligensi umum Seleksi peserta didik diselenggarakan dengan mengacu pada behavior checklist yang berdasarkan karakteristik peserta didik sesuai dengan bakat seninya. 3. Identifikasi Identifikasi dilakukan oleh pakar seni setelah proses skrining. Identifikasi dilakukan untuk asesmen kemampuan seni (performance assesment) pada peserta didik yang memenuhi persyaratan sesuai dengan karakteristik khusus masing-masing bidang seni. 28

36 Kegiatan seleksi di atas dirangkum pada tabel berikut. TAHAP PELAKSANA 1. Pra asesmen guru seni, pekerja seni, orang tua 2. Skrining Psikolog, atau Guru Bimbingan Konseling (BK) 3. Identifikasi pakar seni 29

37 Skema Prosedur Skrining dan Identifikasi persetujuan orangtua peserta didik di skrining dengan behavior checklist (BC) Skor BC di bawah persyaratan Skor BC masuk di atas batas persyaratan Skor BC diambang batas persyaratan Bukan Berbakat Seni masuk dalam tahap identifikasi (performance assesment) Dilakukan re-evaluasi (dlm waktu tertentu) dilakukan pengamatan ulang (second BC) Masuk Masuk Program Layanan Khusus dan Kelas Khusus Peserta Didik Berbakat Istimewa Gambar 4: Prosedur Skrining dan Identifikasi 30

38 C. Identifikasi Peserta Didik Bakat Istimewa Bidang seni Di dalam proses belajar mengajar pada umumnya dan pendidikan bagi peserta didik berbakat istimewa di bidang seni, kualitas input sangat penting dan menentukan. Oleh sebab itu, untuk memperoleh peserta didik dengan potensi berbakat istimewa perlu dilakukan secara cermat dengan melibatkan berbagai unsur. Diantaranya berkoordinasi dengan sekolah terkait, dinas pendidikan terkait, dinas kebudayaan dan pariwisata, sanggar seni, paguyuban seni, galeri seni, asosiasi/organisasi seni, serta melibatkan psikolog, tenaga ahli baik dari perguruan tinggi maupun praktisi seni. Disamping itu diperlukan juga personil untuk menyosialisasikan dalam penjaringan peserta didik, dan yang sangat penting adalah peran orang tua dan keterlibatan masyarakat dalam mendukung adanya sekolah bagi peserta didik berbakat istmewa di bidang seni. Masukan (input/intake) berupa peserta didik, diseleksi dengan kriteria tertentu. Peralatan yang digunakan adalah tes behavior chek list Peserta didik bakat istimewa bidang seni adalah peserta didik usia sekolah yang diidentifikasi oleh psikolog 31

39 dan ahli bidang seni berdasarkan kriteria bakat istimewa bidang seni berikut. 1. Seni Tari No. Dimensi Indikator 1 Minat o Menyukai akivitas kreatif seni tari o Memiliki kemampuan artisitik yang baik o Memberikan nilai yang tinggi pada seni tari o Menilai diri sebagai orang yang original, kreatif, dan independen 2 Motivasi o Beraktivitas seni untuk mengembangkan dan menampilkan kompetensi serta berkarya dalam bidang seni tari, tidak sekedar bersosialisasi untuk dapat diterima oleh orang lain atau hanya sekedar untuk menikmati aktivitas seni. o Memiliki harapan untuk berhasil dalam berkarya seni tari o Memiliki nilai (value) yang tinggi untuk beraktivitas seni tari o Memiliki identitas diri yang terkait dengan seni tari. 3 Keterampilan o Memiliki sensibilitas wiraga, wirasa, wirama dalam tari o Mengekspreikan seni tari 32

40 4 Kreativitas o Memiliki kepribadian kreatif bidang seni tari o Memilki perilaku kreatif bidang seni tari Minat Seni: menyukai aktivitas kreatif, seperti drama, tari, seni lukis, musik dan sebagainya; tidak menyukai aktivitas yang teratur dan berulang-ulang; mempunyai kemampuan artistik yang baik; memberikan nilai yang tinggi seni kreatif; dan melihat dirinya sendiri sebagai orang yang ekspresif, original dan independen. Motivasi Beraktivitas Seni: motif beraktivitas seni untuk mengembangkan dan menampilkan kompetensi serta berkarya dalam bidang seni, tidak sekedar bersosialisasi untuk dapat diterima oleh orang lain atau hanya sekedar untuk menikmati aktivitas seni. Deskripsi keterampilan wiraga, pada dasarnya wiraga erat hubungannya dengan cara menilai bentuk pisik tari, terutama segi geraknya. Dari sudut pandang ini, keterampilan gerak penari diukur dengan ketentuan (indeks nilai) yang telah ditetapkan. Misalnya bagaimana bentuk sikap dan geraknya, apakah penari 33

41 melakukan gerak secara runtut dan berkesenambungan, dan sebagainya. Deskripsi keterampilan wirama, merupakan kemampuan peserta didik terhadap penguasaan irama, baik irama musik iringannya maupun irama geraknya. Kepekaan penari terhadap irama sangat menentukan kualitas tariannya. Deskripsi indikator wirasa, maksudnya bahwa semua kegiatan wiraga dan penerapan wirama harus selalu mengingat arti, maksud dan tujuan tarinya. Untuk mencapai hal itu sangat diperlukan penghayatan yang prima, seperti penghayatan terhadap karakter peran yang dibawakan, gerak yang dilakukan, dan ekspresi yang ditampilkan. Penghayatan berarti melibatkan olah rasa. Dalam hal ini peranan rasa harus dapat disatukan dengan aktivitas wiraga dan wirama, sehingga bisa terwujud keharmonisan dalam penyajian tari yang berkualitas. 2. Seni Rupa No. Dimensi Indikator 1. Minat o Menyukai akivitas kreatif seni rupa 34

42 o Memiliki kemampuan artisitik yang baik o Memberikan nilai yang tinggi pada seni rupa o Menilai diri sebagai orang yang original, kreatif, dan independen 2. Motivasi o Beraktivitas seni untuk mengembangkan dan menampilkan kompetensi serta berkarya dalam bidang seni rupa, tidak sekedar bersosialisasi untuk dapat diterima oleh orang lain atau hanya sekedar untuk menikmati aktivitas seni. o Memiliki harapan untuk berhasil dalam berkarya seni rupa o Memiliki nilai (value) yang tinggi untuk beraktivitas seni rupa o Memiliki identitas diri yang 35

43 terkait dengan seni rupa. 3. Ketetrampilan o Memiliki sensibilitas terhadap warna, bentuk, garis, komposisi, dan material. o Kemampuan mengungkapkan pikiran, keinginan, pengalaman, imajinasi, perasaan dalam bentuk; gambar, objek (tiga dimensional) atau instalasi. 4. Kreativitas o Memiliki kepribadian kreatif bidang seni rupa o Memilki prilaku kreatif bidang seni rupa Diskripsi Indikator Wawasan Seni Rupa Mengukur kemampuan peserta didik dalam hal pengetahuan seni rupa, antara lain meliputi sejarah seni rupa, tinjauan seni rupa untuk mengetahui berbagai gaya, corak, kecenderungan dan memiliki pengetahuan tentang perkembangan pemikiran dan praktik seni rupa 36

44 dalam berbagai tingkatan (level), serta memiliki pengetahuan tentang bahan/material seni rupa. Diskripsi Indikator Bahasa Visual. Mengukur derajat kemampuan artistik terkait dengan penguasaan bahasa (elemen) dasar gambar dan bentuk, meliputi garis, bidang, warna, tekstur, bentuk, volume, keruangan, komposisi, dan lain-lain. Kemampuan artistik akan mewujud dalam bentuk misalnya gambar dengan kecenderungan figuratif representasional (realistik) atau nonfigurative/nonrepresentasional (corat-coret), bisa berwujud komik (gambar berkisah), membentuk (relief, tiga dimensional), dan merakit atau menempel (kolase, instalasi). Deskripsi Indikator Artikulasi Kemampuan mengukur derajat kemampuan peserta dirik dalam mengartikulasikan ide-ide, harapan, pengalaman, perasaan, dan imajinasi, yang berlanjut pada kemmapuan mewujudkan dalam bahasa visual (dua atau tiga dimensional). Deskripsi Indikator Sensitivitas Mengukur derajat kedalaman bahasa ekspresi, meliputi kedalaman dalam mengolah elemen-elemen 37

45 seni rupa, terkait kemampuan peserta didik dalam mengolah dan merespons rangsang dari luar (lingkungan) dirinya, dan dari dalam dirinya. Sensitivitas merupakan nilai yang bersifat kualitatif yang bisa dilihat dari keragamandan karakter dalam mengolah berbagai elemen seni rupa. Setiap orang/peserta didik memiliki cara yang khas dengan karakter yang berbeda-beda dalam hal mengolah elemen seni rupa. 3.Seni Musik No. Dimensi Indikator 1. Minat o Menyukai akivitas kreatif seni musik o Memiliki kemampuan artisitik yang baik o Memberikan nilai yang tinggi pada seni musik o Menilai diri sebagai orang yang original, kreatif, dan independen 2. Motivasi o Beraktivitas seni untuk mengembangkan dan menampilkan kompetensi 38

46 serta berkarya dalam bidang seni musik, tidak sekedar bersosialisasi untuk dapat diterima oleh orang lain atau hanya sekedar untuk menikmati aktivitas seni. o Memiliki harapan untuk berhasil dalam berkarya seni musik o Memiliki nilai (value) yang tinggi untuk beraktivitas seni musik o Memiliki identitas diri yang terkait dengan seni musik. 3. Ketetrampilan o Musikalitas o Memainkan Alat Musik/Vokal o Sensibilitas terhadap musik 4. Kreatibvitas o Memiliki kepribadian kreatif bidang seni musik o Memilki prilaku kreatif bidang seni musik 39

47 2) Deskripsi Musikalitas Peserta didik yang berminat seni menyukai aktivitas kreatif musik, tidak menyukai aktivitas yang teratur dan berulang-ulang; mempunyai kemampuan artistik yang baik; memberikan nilai yang tinggi seni kreatif; dan melihat dirinya sendiri sebagai orang yang ekspresif, original dan independen. 3) Motivasi Beraktivitas Seni Motif beraktivitas seni untuk mengembangkan dan menampilkan kompetensi serta berkarya dalam bidang seni, tidak sekedar bersosialisasi untuk dapat diterima oleh orang lain atau hanya sekedar untuk menikmati aktivitas seni. 4) Uji Vokal Uji vocal bertujuan untuk mengukur tingkat sensitivitas dan daya ingat, melalui: menirukan/ menyanyikan nada/melodi dengan vokal yang diperdengarkan melalui piano, kemampuan mengidentifikasi bunyi, serta menyanyikan sebuah lagu. Indikator uji vocal meliputi: a) Ketepatan nada / imitasi pitch 40

48 b) Pergerakan nada/ interval/melodi c) Imitasi pola melodi d) Kesehatan suara secara biologis 5) Irama Irama bertujuan untuk mengukur tingkat sensitivitas dan daya ingat, melalui: menirukan ritmik yang diperdengarkan dengan berbagai pola irama dan berbagai birama. Indikator : a) Imitasi Pola Irama b) Metris birama 6) Interval / Melodi dan Ritmik Interval/melode dan ritmik bertujuan untuk mengukur tingkat kemampuan dalam menganalisis perubahan melodi/interval dan/atau ritmik pada frase pendek yang diperdengarkan. 7) Tonalitas dan Harmoni / Akor Tonalitas dan harmoni/akor bertujuan untuk mengukur pemahaman / rasa / kesan dari akor yang diperdengarkan. Tes ini terdiri atas: a) Identifikasi tonalitas mayor dan minor 41

49 b) Identifikasi akor mayor, minor, diminis dan augmented Keterampilan Memainkan Alat Musik Keterampilan memainkan alat musik bertujuan untuk mengukur tingkat kemampuan peserta didik dalam memainkan alat musik (termasuk vocal) yang dikuasai dengan membaca partitur (apabila mampu) dan teknik permainan. Wawasan Musik Wawasan musik bertujuan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam berpikir secara kritis terhadap fenomena-fenomena musik yang mereka amati atau diperdengarkan melalui audio Indikator: a) kemampuan menganalisisi b) kemampuan mengevaluasi Kreativitas Musik Kreativitas musik bertujuan untuk mengukur tingkat kemampuan peserta didik, indikatornya sebagai berikut. a) Merespon musik/lagu yang distimulus oleh penguji berupa lagu atau melodi/ritmik dengan alat musik yang dikuasai maupun vocal. b) Kemampuan mengaransemen secara sederhana. 42

50 BAB V INSTRUMEN IDENTIFIKASI BAKAT ISTIMEWA SENI Identitas Siswa Berbakat Istimewa Seni Tari Nama : Tempat/Tanggal Lahir : Jenis Kelamin : L/P*) Kelas : Alamat Sekolah : Alamat Rumah : No, Hp/Tlp : e_mail : Hobi : Keahlian Bidang Seni : Tanggal Pelaksanaan Tes : *) coret yang tidak perlu 43

51 Identitas Penguji Bakat Istimewa Seni Tari Nama : Tempat/Tanggal : Lahir Jenis Kelamin : L/P*) Profesi : Guru/seniman/budayawan/pakar*) Gelar Akademik : Empu seni/sarjana/magister/doktor/guru besar*) Alamat Institusi : Alamat Rumah : No, Hp/Tlp : e_mail : : Keahlian Bidang Seni : Tanggal : Pelaksanaan Tes *) coret yang tidak perlu 44

52 PETUNJUK PENGGUNAAN ISTRUMEN 1. Bacalah setiap dimensi penilaian dengan seksama 2. Penilaian dimensi portofolio dilakukan dengan menilai dokumen fisik siswa 3. Penilaian dimensi penampilan dilakukan dengan cara siswa menggambar atau melukis dengan teknik dan meterial yang dikuasai 4. Penilaian dimensi kreativitas terdiri dari eksplorasi dan improvisasi 5. Eksplorasi dilakukan melalui praktek dengan menggunakan pendekatan rangsang gerak, rangsang bunyi, rangsang visual, rangsang tema. Penilaian dengan cara memilih salah satu atau semua aspek rangsang tersebut 6. Improvisasi dilakukan dengan praktek sesuai dengan instruksi penguji/penilai 7. Nilai Akhir dilakukan dengan menggunakan rumus A (portofolio) + B (penampilan) + C (Kreativitas) =

53 8. Penentuan keberbakatan dengan menggunakan rumus = Bakat Istimewa = Bakat = Cukup Berbakat < 65 = Kurang Berbakat 46

54 INSTRUMEN IDENTIFIKASI BAKAT ISTIMEWA BIDANG SENI TARI Dimensi Portofolio 47

55 A. Dimensi Portofolio (Skor Maksimum 10) No. Indikator Skor Skor Maksimum 1. Memiliki prestasi 3 2. Memiliki kontiunitas proses 2 3. Memiliki jumlah penguasaan 2 materi tari 4. Memiliki pengalaman pentas 3 Total Skor Maksimum 48

56 Petunjuk Penilaian Indikator Skor ; Deskripsi 1 Berbakat Istimewa : Jika siswa memiliki sebagai juara pertama tingkat nasional/internasional > 5 Berbakat : Jika siswa memiliki sebagai juara pertama tingkat propinsi > 3 Cukup Berbakat : Jika siswa memiliki sebagai juara pertama tingkat kecamatan atau kabupaten > 2 Indikator Skor : Deskripsi 2 Berbakat Istimewa : Jika siswa memiliki kontinuitas > 5 tahun Berbakat : Jika siswa memiliki kontinuitas < 3-4 tahun Cukup Berbakat : Jika siswa memiliki kontinuitas < 0-2 tahun 49

57 Indikator Skor : Deskripsi 3 Berbakat Istimewa : Jika siswa memiliki penguasaan tari > 5 tari bentuk Berbakat : Jika siswa memiliki penguasaan tari 3-4 tari bentuk Cukup Berbakar : Jika siswa memiliki penguasaan tari 1-2 tari bentuk Indikator : 4 Berbakat Istimewa : Jika siswa memiliki pengalaman pentas tingkat propinsi/nasional/internasional > 5 Berbakat : Jika siswa memiliki pengalaman pentas tingkat kabupaten > 5 Cukup Berbakar Jika siswa memiliki pengalaman pentas tingkat kecamatan > 5 50

58 KETERAMPILAN PENAMPILAN TARI 51

59 B. Keterampilan Penampilan Tari (Skor Maksimum 70) No. Indikator Skor Skor Maksimum 1. Penguasaan Gerak Penguasaan Irama Penguasaan Ekspresi Penguasaan Penyajian 20 Total Skor Maksimum 52

60 Petunjuk Penilaian Indikator 1 Skor ; Deskripsi Berbakat Istimewa : Jika siswa memiliki kemampuan secara optimal dan lancar pada aspek gerak secara kesatuan, dinamis, memiliki karakter, serta penuh dengan kesungguhan Berbakat : Jika siswa kurang memiliki kemampuan secara optimal dan lancar pada aspek gerak secara kesatuan, dinamis, memiliki karakter, serta penuh dengan kesungguhan Cukup Berbakat : Jika siswa tidak memiliki kemampuan secara optimal dan lancar pada aspek gerak secara kesatuan, dinamis, memiliki karakter, serta penuh dengan kesungguhan 53

61 Indikator 2 Skor : Deskripsi Berbakat Istimewa : Jika siswa memiliki kemampuan melakukan gerak secara optimal dan lancar pada aspek ketepatan tempo, mengikuti tempo, mendahului tempo, serta fleksibilitas menggunakan tempo 7.5 : Jika siswa kurang memiliki kemampuan melakukan gerak Cukup Berbakat Berbakat secara optimal dan lancar pada aspek ketepatan tempo, mengikuti tempo, mendahului tempo, serta fleksibilitas menggunakan tempo : Jika siswa tidak memiliki melakukan gerak secara optimal dan lancar pada aspek ketepatan tempo, mengikuti tempo, mendahului tempo, serta fleksibilitas 54

62 menggunakan tempo Indikator 3 Skor : Deskripsi Berbakat Istimewa : Jika siswa memiliki kemampuan secara optimal dan lancar pada penjiwaan karakter tari Berbakat : Jika siswa kurang memiliki secara optimal dan lancar pada penjiwaan karakter tari Cukup Berbakar : Jika siswa tidak memiliki secara optimal dan lancar pada penjiwaan karakter tari Indikator 4 : Berbakat Istimewa : Jika siswa memiliki kemampuan secara optimal, utuh dan lancar penguasaan gerak, penguasaan irama, dan penguasaan ekspresi Berbakat : Jika siswa kurang memiliki 55

63 Cukup Berbakat kemampuan secara optimal, utuh, dan lancar penguasaan gerak, penguasaan irama, dan penguasaan ekspresi Jika siswa tidak memiliki kemampuan secara optimal, utuh, dan lancar penguasaan gerak, penguasaan irama, dan penguasaan ekspresi 56

64 KREATIVITAS 57

65 C. Kreativitas No. Dimensi Skor Skor Maksimum 1. Eksplorasi Improvisasi 10 Total Skor Maksimum 58

66 Petunjuk Penilaian Indikator 1 Skor ; Deskripsi Berbakat Istimewa : Jika siswa memiliki kemampuan secara optimal dan lancar gagasan, material dan teknik Berbakat : Jika siswa kurang memiliki kemampuan secara optimal dan lancar gagasan, material dan teknik Cukup Berbakat : Jika siswa tidak memiliki kemampuan secara optimal dan lancar gagasan, material dan teknik Indikator 2 Skor : Deskripsi Berbakat Istimewa : Jika siswa memiliki kemampuan secara optimal dan lancar merespon dan mengembangkan gagasan, material dan teknik 59

67 Berbakat Cukup 1.0- Berbakat 5.0 : Jika siswa kurang memiliki kemampuan secara optimal dan lancar merespon dan mengembangkan gagasan, material dan teknik : Jika siswa tidak memiliki kemampuan secara optimal dan lancar merespon dan mengembangkan gagasan, material dan teknik 60

68 PENUTUP Penelusuran bakat istimewa seni perlu dilakukan sejak dini dan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Upaya peningkatan prestasi dan prestise bisa dicapai dengan melakukan pembinaan yang terstruktur, terarah dan terprogram. Panduan ini akan menjelaskan tentang pentingnya penelusuran bakat istimewa seni. Semoga dapat dipergunakan untuk panduan penelusuran bakat istimewa seni. 61

69 DAFTAR PUSTAKA Amstrong, Thomas, Sekolah Para Juara, Kaifa, Bandung, , Setiap Anak Cerdas, Grasindo, Jakarta, Cambell, Linda, Bruce Cambell, and Dee Dikson, Metode Terbaru Melesatkan Kecerdasan Anak, Inisiasi Press, Jakarta, Campbell, Don, Efek Mozart Bagi Anak-anak, Terj. Alex Trikantjono Widodo, Gramedia, Jakarta, Carol Ann Tomlinson Differentiation for Gifted and Talented Students. California : Corwin Press. Elliot, David J., Music Metters A New Phylosophy of Music Education. McDonald, New York, Ellfedt, Lois, A Primer for Choreografers, Waveland Press, Illinois, Gabbard, Carl, Elizabet LeBlanc, Susan Lowy, Physical Education for Children: Building the Foundation, Prentice-Hall, Inc, Englewood, New Jersey, Gardner, Howard, Multiple Intellegence: Teori dalam Praktik, Binarupa, Batam,

70 .., Frame of Mind: The Theory of Multiple Intellegences, HarperCollins-Basic Book, New York, , Gilbert, Ann Green, Creative Dance for All Ages, American Dance Association, Virginia, Gottman, John, Joan DeClaire, Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Majemuk, Gramedia, Jakarta, Grout, Donald Jay., A history of Western Music. WW Norton & Company., New York., London. Hawkins, Alma, Mencipta Lewat Tari, terj. Sumandiyo Hadi, ISI, Yogyakarta, Hindemith, Paul. A. Concentrated Course in Traditiona Harmony. Book I.,Associated Music Publishers Inc., New York. Hoffer, Charles R., Psychology Music, Harper and Row, Iowa, Hoffer, Charles R., The Understanding of Music, Fifth Edition, Belmont, Wadworth Publishing Company, California, Humprey, Doris, Seni Menata Tari, terj. Sal Murgiyanto, Dewan Kesenian Jakarta, Jakarta, Jane Piirto. Talented Children and Adults. Texas : Prufrock Press Inc

71 Jitka Fortikova, Joseph S. Renzulli, Sally M. Reis, Diane Montgomery.. Succesfull Teaching of the Exceptonally Gifted Children. Praha : Triton John Martin. The Modern Dance. New York: Princeton Book Company, Mack, Dieter.. Teori Dasar Musik Barat. Banung: IKIP Mack, Dieter.. Harmoni Tonal Gaya JS. Bach. Bandung: IKIP Mack, Dieter.. Ilmu Melodi. Yogyakarta. PML Mack, Dieter.. Pengarahan Solfegio. Bandung: IKIP Mack, Dieter.. Pengarahan Teori Musik Barat dan Harmoni Tonal Four-voiced Harmony. Bandung: IKIP Bandung Master, Geoff, Margareth Forster, Development Assesment, Allan by Press Printers, Melbourne, Martin, John. The Modern Dance. New York : Princeton Book Company, Mc Neill, Rhoderick J Sejarah Musik 1.. Munandar, Utami S.C., Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah: Petunjuk Bagi Para Guru dan Orang Tua, Grasindo, Jakarta,1999.., Kreativitas dan Keberbakatan, Gramedia, Jakarta,

72 Munandar, Utami S.C., (ed), Mengembangkan Kreativitas, Pustaka Populer Obor, Jakarta, Olson, Robert W., Seni Berpikir Kreatif: Sebuah Pedoman Praktis, terj. Alfonsus Samosir, Erlangga, Jakarta, Primadi, Proses Kreatif, Apresiasi, Belajar, Penerbit ITB, Bandung, Prier, Karl-Edmund., 1991., Sejarah Musik Jilid 1., PML.,Yogyakarta Prier, Karl-Edmund., 1991., Sejarah Musik Jilid 2., PML.,Yogyakarta Rahmawati, Shinta, (ed), Mencetak Anak Cerdas dan Kreatif, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, Sally M. Reis.. Curriculum for Gifted and Talented Students. California : Corwin Press Schneer, Geoegette, Movement Improvisation, Human Kinetics, Edwardstone, South Australia, Semiawan, Conny, I Made Putrawan, Th. I. Setiawan, Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu, Rosda, Bandung, , Perspektif Pendidikan Anak Berbakat, Grasindo, Jakarta, Semiawan, Conny, A.S. Munandar, S.C. Utami Munandar, Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah Menegah: Petunjuk bagi Guru dan Orang Tua, Gramedia, Jakarta,

73 Setiabudhi, Toni, Hardywinoto, (ed), Anak Unggul Berotak Prima, Gramedia-Puska UI, Jakarta, Slade, Peter, Natural Dance: Development Movement and Guide Action, Hodder and Stoughton, Toronto, Slater, Wendy, Dance Movement in the Primary School, Northcote House Publisher Ltd, Plymbridge House, Estover Road, Plymouth PL6 7PZ, United Kingdom, Smith, Jacqueline, Komposisi Tari: Sebuah Petunjuk Praktis bagi Guru, terj. Ben Suharto, Ikalasti, Yogyakarta, Supratiknya, A., Statistik Psikologi, Grasindo, Jakarta, Thraves, Barbara and Diana Williamson. Now for a Dance. Albert Part : Phoenix Education, Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang : Sistem Pendidikan Nasional/SISDIKNAS. Jakarta: BP. Cipta Jaya,2003. Wall, Jennifer, Nancy Murray, Children and Movement: Physical Education in the Elementary School, Brown & Benchmark Publisher, Dubuque, Iowa, William and Richard D, Introduction to Material and Structur of Music, Printice Hall Int, Englewood

74 BIODATA PENULIS Lahir di Sawahlunto, 2 Juli 1968 merupakan putri sulung 6 bersaudara dari pasangan Bapak H.Nurdaily.B dan Ibu Hj. Arny Salam. Menyelesaikan studi Diploma di IKIP Padang Jurusan Sendratasik, tahun S-1 IKIP Yogyakarta Jurusan Sendratasik tahun S-2 Pascasarjana UNJ Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini tahun S-3 tahun 2007 Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini di Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta. Pengalaman sebagai dosen luar biasa di Jurusan Seni Tari FBS UNJ (1994). Dosen tetap pada Jurusan Seni Tari FBS UNJ (2000-sekarang). Konsultan di Direktorat PSLB Kementerian Pendidikan Nasional (2007). Penatar pada Diklat Peningkatan Kreativitas Guru dan Widyaiswara PAUD Tingkat Nasional (2008-sekarang). Juri Nasional seni tari. Asesor sertifikasi guru Rayon IX. Instruktur Tari Tradisonal di State Ballet School Berlin (2009). 67

BAB I PENDAHULUAN. menjadi manusia seutuhnya baik secara jasmani maupun rohani seperti yang

BAB I PENDAHULUAN. menjadi manusia seutuhnya baik secara jasmani maupun rohani seperti yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tujuan pendidikan nasional mengamanatkan negara menjamin hak dasar setiap warga negara terhadap pemenuhan kebutuhan pendidikan serta pengembangan diri dan memperoleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan proses membantu mengembangkan dan. yang lebih baik, pendidikan ini berupa pembelajaran.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan proses membantu mengembangkan dan. yang lebih baik, pendidikan ini berupa pembelajaran. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Blakang Pendidikan merupakan proses membantu mengembangkan dan meningkatkan harkat martabat manusia. Pendidikan akan menciptakan kemampuan untuk menghadapi setiap perubahan yang

Lebih terperinci

Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Mata Pelajaran Seni Musik Sumber: KTSP 2006

Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Mata Pelajaran Seni Musik Sumber: KTSP 2006 (SK) dan (KD) Mata Pelajaran Sumber: KTSP 2006 52. Mata Pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan untuk Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) A. Latar Belakang Muatan seni budaya dan keterampilan sebagaimana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dikenal dan diakui oleh masyarakat. Undang-undang Dasar Negara Republik

BAB I PENDAHULUAN. dikenal dan diakui oleh masyarakat. Undang-undang Dasar Negara Republik BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan atau acuan cara lain yang dikenal dan diakui oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kemampuan terbatas dalam belajar (limitless caoacity to learn ) yang

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kemampuan terbatas dalam belajar (limitless caoacity to learn ) yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Hakikat pendidikan anak usia dini, secara alamiah, perkembangan anak berbeda-beda, baik intelegensi, bakat, minat, kreativitas, kematang emosi, kepribadian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang mendengarkan alunan musik selalu menggerak-gerakan anggota. Tuhan yang diberikan kepada seluruh manusia tanpa membedakan jenis

BAB I PENDAHULUAN. yang mendengarkan alunan musik selalu menggerak-gerakan anggota. Tuhan yang diberikan kepada seluruh manusia tanpa membedakan jenis BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Manusia ketika mendengar alunan musik mayoritas menyukai. Orang yang mendengarkan alunan musik selalu menggerak-gerakan anggota tubuhnya dan mengikuti irama

Lebih terperinci

Mengembangkan Bakat Anak

Mengembangkan Bakat Anak A. Artikel Mengembangkan Bakat Anak Oleh: Andi Sri Suriati Amal Setiap anak dipercaya memiliki bakat sendiri-sendiri. Namun bakat anak ini tidak bisa langsung terlihat begitu saja. Karenanya orang tua

Lebih terperinci

`BAB I PENDAHULUAN. yang berpindah-pindah kemungkinan memberikan mereka inspirasi untuk

`BAB I PENDAHULUAN. yang berpindah-pindah kemungkinan memberikan mereka inspirasi untuk `BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Musik diperkirakan telah lahir sejak kehadiran manusia modern homo sapien yaitu sekitar 180.000 hingga 100.000 tahun yang lalu. Kehidupan mereka yang berpindah-pindah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. salah satu cara untuk mengubah sikap dan perilaku seseorang atau kelompok

BAB I PENDAHULUAN. salah satu cara untuk mengubah sikap dan perilaku seseorang atau kelompok 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana yang dilakukan sebagai salah satu cara untuk mengubah sikap dan perilaku seseorang atau kelompok orang dalam hal mendewasakan

Lebih terperinci

Bahan Ajar BAB I KONSEP, DAN PENTINGNYA SENI MUSIK

Bahan Ajar BAB I KONSEP, DAN PENTINGNYA SENI MUSIK Bahan Ajar BAB I KONSEP, DAN PENTINGNYA SENI MUSIK A. Pendahuluan Pendidikan seni musik bukanlah sekedar hiburan untuk memancing siswa menjadi semangat dalam belajar, seperti yang didengungkan sebagian

Lebih terperinci

Prioritas pembangunan nasional sebagaimana yang dituangkan

Prioritas pembangunan nasional sebagaimana yang dituangkan PENDIDIKAN KARAKTER LATAR BELAKANG Prioritas pembangunan nasional sebagaimana yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional Tahun 2005 2025 (UU No 17 Tahun 2007) antara lain

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. perlu untuk ditingkatkan dan digali sebesar-besarnya karena hal tersebut

BAB 1 PENDAHULUAN. perlu untuk ditingkatkan dan digali sebesar-besarnya karena hal tersebut 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada masa sekarang ini, kita memasuki dunia yang berkembang serba cepat sehingga memaksa setiap individu untuk dapat mengikuti perkembangan tersebut. Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pengembangan sumber daya manusia merupakan faktor kunci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pengembangan sumber daya manusia merupakan faktor kunci BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengembangan sumber daya manusia merupakan faktor kunci kesuksesan pembangunan suatu bangsa, karena itu berbagai upaya pengembangan sumber daya manusia haruslah merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan bermakna. Menurut Morse (1964) dalam Suherman (2000: 5) membedakan

BAB I PENDAHULUAN. dan bermakna. Menurut Morse (1964) dalam Suherman (2000: 5) membedakan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan pada dasarnya merupakan rekonstruksi aneka pengalaman dan peristiwa yang dialami individu agar segala sesuatu yang baru menjadi lebih terarah dan bermakna.

Lebih terperinci

TINGKAT KABUPATEN/KOTA BANTEN 2015

TINGKAT KABUPATEN/KOTA BANTEN 2015 FESTIVAL DAN LOMBA SENI SISWA TINGKAT KABUPATEN/KOTA BANTEN 2015 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH DIREKTORAT PEMBINAAN M ENENGAH KE URUAN A. Persyaratan Peserta

Lebih terperinci

PENDIDIKAN KARAKTER. Imam Gunawan

PENDIDIKAN KARAKTER. Imam Gunawan PENDIDIKAN KARAKTER Imam Gunawan LATAR BELAKANG Prioritas pembangunan nasional sebagaimana yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional Tahun 2005 2025 (UU No 17 Tahun 2007)

Lebih terperinci

A. LATAR BELAKANG MASALAH

A. LATAR BELAKANG MASALAH BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Pendidikan merupakan kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas siswa menjadi yang lebih baik. Sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini sudah mulai memaknai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Jasmani (penjas) merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan sepanjang hayat (Long Life Education), merupakan kalimat yang telah

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan sepanjang hayat (Long Life Education), merupakan kalimat yang telah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan sepanjang hayat (Long Life Education), merupakan kalimat yang telah sejak lama dikenal sejak dahulu sampai saat ini. Pentingnya pendidikan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang dituangkan melalui instrumen atau suara dengan unsur dasar melodi,

BAB I PENDAHULUAN. yang dituangkan melalui instrumen atau suara dengan unsur dasar melodi, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Musik merupakan salah satu karya seni yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, musik salah satu cabang kesenian yang merupakan sarana dalam menyampaikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Usia kanak-kanak yaitu 4-5 tahun anak menerima segala pengaruh yang diberikan

BAB I PENDAHULUAN. Usia kanak-kanak yaitu 4-5 tahun anak menerima segala pengaruh yang diberikan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masa anak usia dini merupakan tahun-tahun kehidupan yang sangat aktif. Usia kanak-kanak yaitu 4-5 tahun anak menerima segala pengaruh yang diberikan oleh lingkungannya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang termasuk dalam aspek kebudayaan, sudah dapat dirasakan oleh

BAB I PENDAHULUAN. yang termasuk dalam aspek kebudayaan, sudah dapat dirasakan oleh BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Seni budaya merupakan penjelmaan rasa seni yang sudah membudaya, yang termasuk dalam aspek kebudayaan, sudah dapat dirasakan oleh orang banyak dalam rentang perjalanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan seni di sekolah umum SMA pada dasarnya diarahkan untuk

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan seni di sekolah umum SMA pada dasarnya diarahkan untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan seni di sekolah umum SMA pada dasarnya diarahkan untuk menumbuhkan kepekaan rasa estetik dan artistik sehingga terbentuk sikap kritis, apresiatif dan kreatif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Analisis merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh

BAB I PENDAHULUAN. Analisis merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Analisis merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang pelaku seni khususnya dibidang seni musik, baik sebagai seorang seorang pengajar, praktisi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang pesat terutama pada era globalisasi seperti sekarang ini, akan membawa dampak kemajuan baik

Lebih terperinci

KOMPETENSI DASAR SENI BUDAYA DAN PRAKARYA SEKOLAH DASAR KELAS I - VI

KOMPETENSI DASAR SENI BUDAYA DAN PRAKARYA SEKOLAH DASAR KELAS I - VI SENI BUDAYA DAN PRAKARYA SEKOLAH DASAR KELAS I - VI KELAS I KOMPETENSI INTI 1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya. 2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli,

Lebih terperinci

Permasalahan Anak Berbakat Di Indonesia

Permasalahan Anak Berbakat Di Indonesia Permasalahan Anak Berbakat Di Indonesia Sri Sayekti FIP IKIP Veteran Semarang Email : basiroh_1428@yahoo.co.id ABSTRAK Bakat yang dimiliki oleh sebagian individu masih belum terwujud,yaitu masih berupa

Lebih terperinci

Prinska Damara Sastri, 2013

Prinska Damara Sastri, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kecerdasan emosional akhir-akhir ini menjadi perbincangan yang cukup hangat dikalangan masyarakat, karena dari beberapa penelitian kecerdasan emosional memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang dimulai dari usia

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang dimulai dari usia 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang dimulai dari usia 0-6 tahun. Pendidikan ini dapat dilaksanakan oleh beberapa lembaga pendidikan antara lain pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Berpikir kritis untuk menganalisis

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Berpikir kritis untuk menganalisis BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal ini memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Berpikir kritis untuk menganalisis masalah; dan

Lebih terperinci

PP No 19 Tahun 2005 (PASAL 19, AYAT 1)

PP No 19 Tahun 2005 (PASAL 19, AYAT 1) KARAKTERISTIK SISWA PP No 19 Tahun 2005 (PASAL 19, AYAT 1) proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Seni musik dianggap cabang seni yang tertua diantara cabang seni yang lain (seni

BAB I PENDAHULUAN. Seni musik dianggap cabang seni yang tertua diantara cabang seni yang lain (seni BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seni musik dianggap cabang seni yang tertua diantara cabang seni yang lain (seni rupa,seni tari dan seni drama), kemunculan dan keberadaannya dianggap sama dengan

Lebih terperinci

56. Mata Pelajaran Seni Budaya untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs)

56. Mata Pelajaran Seni Budaya untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) 56. Mata Pelajaran Seni Budaya untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) A. Latar Belakang Muatan seni budaya sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan mereka dapat menggenggam dunia. mental. Semua orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak serta sama,

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan mereka dapat menggenggam dunia. mental. Semua orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak serta sama, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan suatu alat merubah suatu pola pikir ataupun tingkah laku manusia dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak memiliki pengetahuan atau keterampilan

Lebih terperinci

Teknik dan Kriteria Evaluasi Pendidikan Seni Tari Dewi Karyati dan Maman Tocharman

Teknik dan Kriteria Evaluasi Pendidikan Seni Tari Dewi Karyati dan Maman Tocharman Modul IV Teknik dan Kriteria Evaluasi Pendidikan Seni Tari Dewi Karyati dan Maman Tocharman Pendahuluan Penilaian di bidang pendidikan, merupakan salah satu kewajiban mutlak yang harus dilakukan oleh setiap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Direktorat Jendral Managamen Pendidikan Dasar dan Menengah, yang

BAB I PENDAHULUAN. Direktorat Jendral Managamen Pendidikan Dasar dan Menengah, yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Direktorat Jendral Managamen Pendidikan Dasar dan Menengah, yang membawahi Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, pelaksanaan ditingkat provinsi khususnya di Provinsi

Lebih terperinci

56. Mata Pelajaran Seni Budaya untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs)

56. Mata Pelajaran Seni Budaya untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) 56. Mata Pelajaran Seni Budaya untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) A. Latar Belakang Muatan seni budaya sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan masalah yang cukup kompleks dalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan masalah yang cukup kompleks dalam kehidupan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan masalah yang cukup kompleks dalam kehidupan kita. Pendidikan merupakan salah satu fasilitas kita sebagai manusia dan pendidik untuk merangsang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. terhadap setiap siswa akan berbeda dan bervariasi. Tidak setiap siswa

BAB 1 PENDAHULUAN. terhadap setiap siswa akan berbeda dan bervariasi. Tidak setiap siswa 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Adanya perbedaan kecerdasan yang dimiliki oleh setiap siswa, tentunya akan berimplikasi pada perbedaan kemampuan yang dimiliki oleh siswa itu sendiri. Kecerdasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan usia dini memegang peran yang sangat penting dalam perkembangan anak karena merupakan pondasi dasar dalam kepribadian anak. Anak yang berusia 5-6 tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan yang terjadi ternyata menampakkan andalan pada. kemampuan sumber daya manusia yang berkualitas, melebihi potensi

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan yang terjadi ternyata menampakkan andalan pada. kemampuan sumber daya manusia yang berkualitas, melebihi potensi 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Fenomena pertumbuhan kehidupan masyarakat maju, semakin lama semakin menunjukkan bahwa kunci perkembangan dan pertumbuhan yang terjadi ternyata menampakkan andalan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia dalam melaksanakan fungsi-fungsi kehidupan tidak lepas dan

BAB I PENDAHULUAN. Manusia dalam melaksanakan fungsi-fungsi kehidupan tidak lepas dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Manusia dalam melaksanakan fungsi-fungsi kehidupan tidak lepas dan tidak akan lepas dari pendidikan, karena pendidikan berfungsi untuk meningkatkan kualitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Berkenaan dengan pendidikan seni dalam Permendiknas no.22 tahun

BAB I PENDAHULUAN. Berkenaan dengan pendidikan seni dalam Permendiknas no.22 tahun BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berkenaan dengan pendidikan seni dalam Permendiknas no.22 tahun 2006 tentang Standar Isi Kurikulum 2006 dijelaskan bahwa mata pelajaran Seni Budaya pada dasarnya merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu upaya untuk mencerdaskan kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu upaya untuk mencerdaskan kehidupan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang produktif. Pendidikan adalah usaha

Lebih terperinci

Pengelolaan Pendidikan Kelas Khusus Istimewa Olahraga. menuju tercapainya Prestasi Olahraga

Pengelolaan Pendidikan Kelas Khusus Istimewa Olahraga. menuju tercapainya Prestasi Olahraga Pengelolaan Pendidikan Kelas Khusus Istimewa Olahraga menuju tercapainya Prestasi Olahraga Oleh: Sumaryanto Dosen FIK UNY Dipresentasikan dalam acara Program Kelas Khusus Olahraga Di SMA N 4 Yokyakarta,

Lebih terperinci

12. Mata Pelajaran Seni Budaya A. Latar Belakang Muatan seni budaya sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor

12. Mata Pelajaran Seni Budaya A. Latar Belakang Muatan seni budaya sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12. Mata Pelajaran Seni Budaya A. Latar Belakang Muatan seni budaya sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. media atau sarana yang digunakan untuk mengekspresikan diri. Musik adalah

BAB I PENDAHULUAN. media atau sarana yang digunakan untuk mengekspresikan diri. Musik adalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Musik merupakan cabang dari seni. Seni musik juga termasuk salah satu media atau sarana yang digunakan untuk mengekspresikan diri. Musik adalah salah satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di era informasi instan dewasa ini, setiap masyarakat membutuhkan informasi,

BAB I PENDAHULUAN. Di era informasi instan dewasa ini, setiap masyarakat membutuhkan informasi, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Di era informasi instan dewasa ini, setiap masyarakat membutuhkan informasi, baik informasi yang berupa ilmu pengetahuan umum, teknologi, maupun yang lainnya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah cara yang dianggap paling strategis untuk mengimbangi

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah cara yang dianggap paling strategis untuk mengimbangi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam era globalisasi ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat pesat. Dengan berkembangnya jaman, pendidikan turut serta berkembang. Pendidikan

Lebih terperinci

PROFESIONALITAS GURU SENI TARI: ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN. Abstrak Oleh: Wenti Nuryani

PROFESIONALITAS GURU SENI TARI: ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN. Abstrak Oleh: Wenti Nuryani PROFESIONALITAS GURU SENI TARI: ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN Abstrak Oleh: Wenti Nuryani Pendidikan seni sebagai bagian dari pendidikan dalam keseluruhannya, berfungsi dan memiliki tujuan untuk menumbuhkan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK PRASEKOLAH

PERKEMBANGAN KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK PRASEKOLAH PERKEMBANGAN KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK PRASEKOLAH Pendahuluan Pada hakikatnya, anak manusia, ketika dilahirkan telah dibekali dengan bermacam-macam potensi yakni kemungkinan-kemungkinan untuk berkembang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. fungsional yang terarah dan memiliki suatu tujuan dalam mengembangkan

BAB I PENDAHULUAN. fungsional yang terarah dan memiliki suatu tujuan dalam mengembangkan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan suatu usaha atau sistem yang memiliki totalitas fungsional yang terarah dan memiliki suatu tujuan dalam mengembangkan kualitas hidup.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kecerdasan yang seimbang. Menurut Undang-Undang RI Nomor 20

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kecerdasan yang seimbang. Menurut Undang-Undang RI Nomor 20 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan ujung tombak kemajuan suatu bangsa. Pendidikan yang berkualitas dapat menghasilkan sumberdaya manusia yang berkualitas dan memiliki kecerdasan

Lebih terperinci

HUBUNGAN ASPEK MULTIPLE INTELLIGENCES DENGAN KINERJA MAHASISWA PADA PRAKTIKUM FISIKA DASAR I

HUBUNGAN ASPEK MULTIPLE INTELLIGENCES DENGAN KINERJA MAHASISWA PADA PRAKTIKUM FISIKA DASAR I HUBUNGAN ASPEK MULTIPLE INTELLIGENCES DENGAN KINERJA MAHASISWA PADA PRAKTIKUM FISIKA DASAR I Sulistiyono Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan MIPA STKIP PGRI Lubuklinggau suliswae85@gmail.com

Lebih terperinci

SILABUS PEMBELAJARAN

SILABUS PEMBELAJARAN SILABUS PEMBELAJARAN Sekolah Kelas / Semester Mata Pelajaran Standar : SMP : VII (Tujuh) / 1 (Satu) : SENI BUDAYA : SENI RUPA 1. Mengapresiasi Karya Seni Rupa 1.1. Mengindentifikasi jenis karya seni rupa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemampuan dalam akademik khususnya membaca sangat diperlukan untuk perkembangan pengetahuan anak. Dalam era yang serba modern seperti saat ini, banyak anak usia prasekolah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berfungsi untuk memperjelas istilah pada permasalahan yang ada.

BAB I PENDAHULUAN. berfungsi untuk memperjelas istilah pada permasalahan yang ada. BAB I PENDAHULUAN Bab satu ini membahas tentang latar belakang permasalahan mengenai assesment afektif yang merupakan penilaian pada jenjang pendidikan selain penilaian kognitif dan psikomotor. Pada sub

Lebih terperinci

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN METODE SOLFEGIO UNTUK PEMBELAJARAN KETRAMPILAN BERMAIN MUSIK DI SEKOLAH DASAR

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN METODE SOLFEGIO UNTUK PEMBELAJARAN KETRAMPILAN BERMAIN MUSIK DI SEKOLAH DASAR PKMI-1-6-1 EFEKTIVITAS PENGGUNAAN METODE SOLFEGIO UNTUK PEMBELAJARAN KETRAMPILAN BERMAIN MUSIK DI SEKOLAH DASAR Mochamad Usman Wafa, Ferry Bayu Arianto, Bagasworo D.S. Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. No. Daftar 1 : 185/S/PGSD-Reg/8/Agustus/2014

BAB I PENDAHULUAN. No. Daftar 1 : 185/S/PGSD-Reg/8/Agustus/2014 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam situasi masyarakat yang selalu berubah, idealnya pendidikan tidak

BAB I PENDAHULUAN. Dalam situasi masyarakat yang selalu berubah, idealnya pendidikan tidak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam situasi masyarakat yang selalu berubah, idealnya pendidikan tidak hanya berorientasi pada masa lalu dan masa kini, tetapi sudah seharusnya merupakan proses

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. 1. Pengertian Motivasi Berprestasi

BAB II LANDASAN TEORI. 1. Pengertian Motivasi Berprestasi BAB II LANDASAN TEORI A. Motivasi Berprestasi 1. Pengertian Motivasi Berprestasi Mc Clelland (dalam Opnanningtyas, 2010) menyatakan bahwa motivasi berprestasi merupakan kecenderungan seseorang dalam mengarahkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membantu mengembangkan seluruh potensi dan kemampuan fisik,

BAB I PENDAHULUAN. membantu mengembangkan seluruh potensi dan kemampuan fisik, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Anak usia dini (PAUD) merupakan upaya pembinaan dan pengasuhan yang ditujukan kepada anak sejak lahir hingga usia 6 tahun, meskipun sesungguhnya akan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah bangsa yang besar. Terdiri dari 33 Provinsi, 17.508 Pulau dan 238 juta penduduk, Indonesia dikenal di mata dunia memiliki kekayaan serta keanekaragaman

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

BAB V PENUTUP KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN 94 BAB V PENUTUP KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN Pada bab ini akan dikemukakan kesimpulan hasil penelitian, implikasi serta saran-saran yang berhubungan dengan penelitian lanjutan, maupun upaya memanfaatkan

Lebih terperinci

61. Mata Pelajaran Seni Budaya untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E)

61. Mata Pelajaran Seni Budaya untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E) 61. Mata Pelajaran Seni Budaya untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E) A. Latar Belakang Muatan seni budaya sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. (Hasanuddin, 1996:1). Dimensi pertama, drama sebagai seni lakon, seni peran

BAB 1 PENDAHULUAN. (Hasanuddin, 1996:1). Dimensi pertama, drama sebagai seni lakon, seni peran BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian Drama merupakan karya yang memiliki dua dimensi karakter (Hasanuddin, 1996:1). Dimensi pertama, drama sebagai seni lakon, seni peran atau seni pertunjukan.

Lebih terperinci

PROGRAM PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN KETRAMPILAN SEKOLAH DASAR KELAS III SEMESTER 1

PROGRAM PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN KETRAMPILAN SEKOLAH DASAR KELAS III SEMESTER 1 PROGRAM PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN KETRAMPILAN SEKOLAH DASAR KELAS III SEMESTER 1 1 Standar Kompetensi : 1. Mengapresiasi karya seni rupa PROGRAM SEMESTER SENI RUPA Kompetensi Dasar Indikator Materi

Lebih terperinci

Wenny Hulukati ISBN :

Wenny Hulukati ISBN : 1 PANDUAN PENDIDIKAN KARAKTER BAGI SISWA SMA 2 UU No 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Fungsi dan Sifat Hak Cipta pasal 2 1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi pencipta atau pemegang Hak Cipta untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Masalah Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan seseorang memasuki masa dewasa. Masa ini merupakan, masa transisi dari masa anak-anak menuju dewasa.

Lebih terperinci

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS V SDN SAWOJAJAR V KOTA MALANG

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS V SDN SAWOJAJAR V KOTA MALANG PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI DENGAN MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS V SDN SAWOJAJAR V KOTA MALANG Dwi Sulistyorini Abstrak: Dalam kegiatan pembelajaran menulis, siswa masih banyak mengalami kesulitan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam masa perkembangan negara Indonesia, pendidikan penting untuk

BAB I PENDAHULUAN. Dalam masa perkembangan negara Indonesia, pendidikan penting untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam masa perkembangan negara Indonesia, pendidikan penting untuk kemajuan pembangunan. Salah satu lembaga pendidikan yang penting adalah perguruan tinggi.

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP )

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) Nama Sekolah : Mata Pelajaran : Seni Budaya Dan Keterampilan Kelas/Semester : III (tiga)/ii (dua) Pertemuan Ke : Alokasi Waktu : x 35 Standar Kompetensi SENI RUPA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 Ayat 14 menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD yaitu suatu upaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masa ini sering kali disebut dengan masa keemasan the Golden Age, masa-masa

BAB I PENDAHULUAN. masa ini sering kali disebut dengan masa keemasan the Golden Age, masa-masa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anak adalah individu yang unik, dimana anak selalu bergerak, memiliki rasa ingin tahu yang kuat, memiliki potensi untuk belajar dan mampu mengekspresikan diri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia dan masyarakat Indonesia yang maju, modern, dan sejajar dengan

BAB I PENDAHULUAN. manusia dan masyarakat Indonesia yang maju, modern, dan sejajar dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tujuan pembangunan nasional Indonesia menyatakan perlunya masyarakat melaksanakan program pembangunan nasional dalam upaya terciptanya kualitas manusia dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Musik merupakan seni yang menghasilkan suara terampil dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Musik merupakan seni yang menghasilkan suara terampil dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Musik merupakan seni yang menghasilkan suara terampil dan menyenangkan, untuk menggabungkan rangkaian musik dengan baik bahkan mempesona sehingga bunyi merdu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perilakunya karena hasil dari pengalaman.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perilakunya karena hasil dari pengalaman. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Belajar Banyak ahli pendidikan yang mengungkapkan pengertian belajar menurut sudut pandang mereka masing-masing. Berikut ini kutipan pendapat beberapa ahli pendidikan tentang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Semua manusia memiliki

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Semua manusia memiliki BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap manusia secara fitrah lahir ke dunia dalam keadaan yang baik secara keseluruhan. Namun dalam kehidupannya dengan manusia lain, setiap manusia memiliki

Lebih terperinci

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN MUSIK

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN MUSIK STANDAR KOMPETENSI LULUSAN MUSIK DIREKTORAT PEMBINAAN KURSUS DAN PELATIHAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI, NONFORMAL DAN INFORMAL KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL 2011 A. Latar Belakang Musik

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN DAN TEORI HASIL PENELITIAN. 1. Indikator dan tujuan rencana pelaksanaan pembelajaran berbasis

BAB V PEMBAHASAN DAN TEORI HASIL PENELITIAN. 1. Indikator dan tujuan rencana pelaksanaan pembelajaran berbasis 67 BAB V PEMBAHASAN DAN TEORI HASIL PENELITIAN A. Pembahasan 1. Indikator dan tujuan rencana pelaksanaan pembelajaran berbasis karakter di SMP Muhammadiyah 3 Ampel Boyolali Perencanaan adalah proses dasar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan makhluk sosial di samping sebagai makhluk

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan makhluk sosial di samping sebagai makhluk 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia merupakan makhluk sosial di samping sebagai makhluk individual. Sebagai makhluk sosial manusia punya dorongan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain ataupun

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Sekolah : SMP... Mata Pelajaran : Seni Budaya (Seni Rupa) Kelas / Semester : VII (tujuh) / (satu) Standar Kompetensi :. Mengapresiasikan Karya Seni Rupa Kompetensi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar

I. PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN ANAK MELALUI PENDIDIKAN JASMANI

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN ANAK MELALUI PENDIDIKAN JASMANI 1 PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN ANAK MELALUI PENDIDIKAN JASMANI Pendahuluan Guru-guru pendidikan jasmani (penjas) sudah mengetahui dan menyadari sepenuhnya bahwa aktivitas jasmani di samping mengembangkan aspek

Lebih terperinci

PERANAN METODE BERCAKAP-CAKAP DALAM PERKEMBANGAN KEMAMPUAN BERBAHASA TERPADU PADA ANAK TAMAN KANAK-KANAK. Abstrak

PERANAN METODE BERCAKAP-CAKAP DALAM PERKEMBANGAN KEMAMPUAN BERBAHASA TERPADU PADA ANAK TAMAN KANAK-KANAK. Abstrak PERANAN METODE BERCAKAP-CAKAP DALAM PERKEMBANGAN KEMAMPUAN BERBAHASA TERPADU PADA ANAK TAMAN KANAK-KANAK Oleh: Ni Putu Parmini Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Saraswati Tabanan Abstrak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan memegang peranan yang penting untuk menjamin

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan memegang peranan yang penting untuk menjamin BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan yang penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa. Hal ini disebabkan pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan

Lebih terperinci

30. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR SENI BUDAYA DAN PRAKARYA SD/MI

30. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR SENI BUDAYA DAN PRAKARYA SD/MI 30. KOMPETENSI INTI DAN SENI BUDAYA DAN PRAKARYA SD/MI KELAS: I Rumusan Kompetensi Sikap Spiritual adalah Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya. Adapun rumusan Kompetensi Sikap Sosial adalah

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCE. Oleh. Isniatun Munawaroh,M.Pd*)

PENGEMBANGAN RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCE. Oleh. Isniatun Munawaroh,M.Pd*) PENGEMBANGAN RANCANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCE Oleh Isniatun Munawaroh,M.Pd*) Salah satu implikasi yang paling provokatif dalam teori Multiple Intelligence adalah

Lebih terperinci

UPAYA PENGEMBANGAN KECERDASAN VISUAL SPASIAL ANAK MELALUI PERMAINAN BALOK DI TK RA GUPPI MANDAN SUKOHARJO

UPAYA PENGEMBANGAN KECERDASAN VISUAL SPASIAL ANAK MELALUI PERMAINAN BALOK DI TK RA GUPPI MANDAN SUKOHARJO UPAYA PENGEMBANGAN KECERDASAN VISUAL SPASIAL ANAK MELALUI PERMAINAN BALOK DI TK RA GUPPI MANDAN SUKOHARJO SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu Kependidikan

Lebih terperinci

PROSES PEMBELAJARAN MUSIK BAGI KELOMPOK BAND JUST 4_U DI SMA BOPKRI 1 YOGYAKARTA

PROSES PEMBELAJARAN MUSIK BAGI KELOMPOK BAND JUST 4_U DI SMA BOPKRI 1 YOGYAKARTA RINGKASAN SKRIPSI PROSES PEMBELAJARAN MUSIK BAGI KELOMPOK BAND JUST 4_U DI SMA BOPKRI 1 YOGYAKARTA Diajukan Kepada Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masa kanak-kanak merupakan gambaran awal manusia, dimana anak-anak

BAB I PENDAHULUAN. Masa kanak-kanak merupakan gambaran awal manusia, dimana anak-anak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masa kanak-kanak merupakan gambaran awal manusia, dimana anak-anak mulai mengenal dan belajar sesuatu. Anak kecil pada dasarnya senang mencoba aktivitas yang

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN MOTORIK KASAR ANAK MELALUI TARI KREASI DI TAMAN KANAK-KANAK MELATI KABUPATEN SOLOK SELATAN

PENINGKATAN KEMAMPUAN MOTORIK KASAR ANAK MELALUI TARI KREASI DI TAMAN KANAK-KANAK MELATI KABUPATEN SOLOK SELATAN PENINGKATAN KEMAMPUAN MOTORIK KASAR ANAK MELALUI TARI KREASI DI TAMAN KANAK-KANAK MELATI KABUPATEN SOLOK SELATAN Idrawati Abstrak Kemampuan motorik kasar anak di TK Melati Kabupaten Solok Selatan masih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian 1 A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Pembelajaran seni tari merupakan suatu upaya pembekalan pengetahuan dan pemahaman tentang tari. Melalui pembelajaran seni tari guru harus memotivasi siswa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tantangan kehidupan selalu muncul secara alami seiring dengan berputarnya waktu. Berbagai tantangan bebas bermunculan dari beberapa sudut dunia menuntut untuk

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Marilah kita kaji sejenak arti kata belajar menurut Wikipedia Bahasa

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Marilah kita kaji sejenak arti kata belajar menurut Wikipedia Bahasa 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Hakikat Belajar Marilah kita kaji sejenak arti kata belajar menurut Wikipedia Bahasa Indonesia. Disana dipaparkan bahwa belajar diartikan sebagai perubahan yang relatif permanen

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan 175 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut. 1. Gerak dan irama dalam bentuk lagu dapat digunakan sebagai suatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang membatasi antar negara terasa hilang. Kemajuan ilmu pengetahuan dan

BAB I PENDAHULUAN. yang membatasi antar negara terasa hilang. Kemajuan ilmu pengetahuan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Arus informasi mengalir cepat seolah tanpa hambatan, jarak dan ruang yang membatasi antar negara terasa hilang. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di belahan

Lebih terperinci

INDIKATOR ESENSIAL Menjelaskan karakteristik peserta. didik yang berkaitan dengan aspek fisik,

INDIKATOR ESENSIAL Menjelaskan karakteristik peserta. didik yang berkaitan dengan aspek fisik, NO KOMPETENSI UTAMA KOMPETENSI INTI 1 Pedagogik 1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual, sosial, kultural, emosional, dan intelektual. 2. Menguasai teori belajar dan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PENDEKATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM 1. Arah atau Sasaran Kurikulum PAUD Kurikulum diarahkan pada pencapaian perkembangan sesuai dengan tingkatan

PENDEKATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM 1. Arah atau Sasaran Kurikulum PAUD Kurikulum diarahkan pada pencapaian perkembangan sesuai dengan tingkatan PENDEKATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM 1. Arah atau Sasaran Kurikulum PAUD Kurikulum diarahkan pada pencapaian perkembangan sesuai dengan tingkatan pertumbuhan dan perkembangan anak berdasarkan standar perkembangan

Lebih terperinci