Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia"

Transkripsi

1 CIFOR Working Paper No.30(i) Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia Julia Maturana

2 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia Julia Maturana Center for International Forestry Research (CIFOR) Jalan CIFOR, Situ Gede, Sindang Barang, Bogor Barat 16680, Indonesia

3 2005 oleh Center for International Forestry Research Hak cipta dilindungi oleh undang-undang Diterbitkan tahun 2005 Dicetak oleh Inti Prima Karya, Jakarta Foto sampul oleh Julia Maturana Diterbitkan oleh Center for International Forestry Research Alamat pos: P.O. Box 6596 JKPWB, Jakarta 10065, Indonesia Alamat kantor: Jl. CIFOR, Situ Gede, Sindang Barang, Bogor Barat 16680, Indonesia Tel. : +62 (251) Fax. : +62 (251) Situs:

4 Daftar Isi Singkatan Daftar Istilah Ucapan Terimakasih Abstrak iv v vi vii Pendahuluan 1 Usulan pendekatan 1 Konsep Kerangka Kerja 2 Telaah Secara Ekonomi 2 Alasan Penggunaan Telaah Secara Ekonomi 2 Jenis-jenis Dampak yang Termasuk dan Efeknya terhadap Kemakmuran 3 Studi Kasus 4 Menentukan Dampak Ekonomi pada Skenario Keseluruhan 4 Perkiraan Manfaat dan Biaya Ekonomi 6 Manfaat-manfaat Ekonomi 6 Biaya-biaya Ekonomi 7 Perkiraan Kasus per kasus 8 Inti Indo Rayon di Sumatera Utara 10 Arara Abadi di Riau 11 Riau Andalan Pulp and Paper di Riau 12 Wira Karya Sakti di Jambi 13 Musi Hutan Persada di Sumatera Selatan 14 Keseluruhan Manfaat dan Biaya Ekonomi bagi Negara 14 Pembahasan 16 Manfaat-manfaat Ekonomi 16 Biaya-biaya Ekonomi 17 Membandingkan Kelima Proyek Perkebunan 18 Data dan Asumsi-asumsi 19 Skenario-skenario 19 Kesimpulan 21 Referensi 23 Lampiran 25

5 iv Singkatan AA APP APRIL DR EB EC GOI HTI IIR IKPP MAI MHP MHW MWP NGO NTFP PSDH RAPP SMG SPK TEL TEV tonne TPL WKS Arara Abadi Perusahaan perkebunan yang terkait dengan IKPP dan APP Asia Pulp and Paper Asia Pacific Resources International Holdings Dana Reboisasi Manfaat ekonomi Biaya ekonomi Pemerintah Indonesia Hutan Tanaman Industri Inti Indo Rayon Perusahaan perkebunan terkait dengan TPL Pulp Mill dan RAPP (hingga tahun 2002) Indah Kiat Pulp and Paper Rata-rata Nilai PertambahanTahunan Musi Hutan persada Perusahaan perkebunan terkait dengan group TEL Mill dan Barito Pacific Kayu keras campuran Rata-rata produksi kayu Organisasi Non Pemerintah Produk hutan non-kayu Pajak Pertambahan Sumber Daya Hutan Riau Andalan Pulp and Paper Group Sinar Mas Group Sumbangan Pihak Ketiga Tanjung Enim Lestari Mill Total Nilai Ekonomi metrik ton (1000 kg) Toba Pulp Lestari Pulp Mill Wira Karya Sakti Perusahaan perkebunan terkait dengan Lontar Papyrus Mill dan Group APP

6 v Daftar Istilah Belukar Nilai saat ini Eksternalitas Panen Rimba karet Hutan tebangan Biaya marjinal Kegunaan marjinal Rata-rata tambahan pertahun(mai) monopsoni Biaya penggunaan terbaik Alokasi optimal Nilai pilihan Harga bayangan Biaya-biaya sosial Istilah bahasa Indonesia untuk lahan tandus yang sudah lama atau hutan sekunder yang terdegradasi. Nilai yang ada untuk dipertahankan sebagai nilai yang melekat untuk generasi selanjutnya. Manfaat atau biaya yang dihasilkan sebagai akibat aktivitas ekonomi yang tidak langsung berkembang kepada pihakpihak yang terlibat dalam aktivitas; contohnya, eksternalitas lingkungan adalah manfaat-manfaat atau biaya-biaya yang termanifestasikan sendiri melalui perubahan-perubahan secara fisik atau biologis tanpa menghiraukan hubungan para pihak terhadap lingkungan yang dipengaruhi. Pengambilan produk dari perkebunan-perkebunan. Tanaman karet (Hevea brasiliensis) yang ditanam untuk memperkuat lahan tandus. Area hutan yang hasil kayu komersialnya telah diambil. Perubahan total biaya yang terkait dengan hasil yang diproduksi unit tambahan; dihitung dengan membagi perubahan total biaya dengan perubahan pada hasil. Kegunaan tambahan atau kepuasan yang dihasilkan dari pemakaian unit tambahan. Total peningkatan pertumbuhan tanaman per unit area (ha) hingga akhir periode rotasi dibagi dengan jumlah tahun dalam rotasi. Suatu struktur pasar (pasar kayu untuk bubur dimana hanya ada satu pembeli dengan kurva suplai yang memiliki rentang positif, yang dengan kata lain kekuatan monopsoni mampu menekan harga menjadi rendah dengan pembatasan pembelian. Biaya sumberdaya tertentu yang dihitung pada alternatif terbaik penggunaan. Sebenarnya menggambarkan jumlah uang terkecil yang dapat diterima sebagai pengganti sumberdaya atau perkiraan nilai dari sumberdaya. Sumberdaya dapat secara optimal dialokasikan apabila sumberdaya tersebut dalam situasi optimal. Setiap perubahan pada alokasi memperkecil kemakmuran pada sedikitnya satu pihak yang terlibat dalam suatu keputusan. Sehingga alokasi sumberdaya yang optimal adalah pada saat semua pihak berada pada posisi mereka yang terbaik. Nilai yang melekat kepada pemeliharaan lansekap alam dan sumberdaya yang ada, sehingga generasi mendatang memiliki pilihan sosial untuk menentukan jenis terbaik menurut kebutuhan mereka. Harga yang disesuaikan yang memperhitungkan distorsi harga pasar dan tujuan-tujuan pemerintah, atau juga dikenal sebagai harga akuntansi, yang mewakili biaya penggunaan terbaik dalam memproduksi atau mengkonsumsi sumberdaya. Biaya-biaya yang langsung bersentuhan dengan masyarakat saat barang tersebut dihasilkan, contohnya polusi.

7 vi Ucapan Terimakasih Penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya bagi mereka yang disebutkan di bawah ini atas masukan yang sangat berharga serta dukungan selama kegiatan ini dan tentunya dalam penyelesaian laporan ini. Kepada CIFOR: Christian Cossalter; Philippe Guizol; Rosita Go; Ani Nawir; David Kaimowitz; Glen Mulcahy; Luluk Suhada; Yemi Katerere; Gideon Suharyanto. Kepada Pihak Departemen Kehutanan, Pemerintah Daerah, Badan Pusat Statistik (BPS) dan kantor LSM setempat di tingkat Kabupaten dan Kecamatan di Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Ucapan terimakasih juga untuk penterjemahan, format dan editing: Devi Kausar, Dicky Purwanto dan Kriswanto. Secara khusus ucapan terima kasih saya sampaikan kepada pemerintah Belanda serta staf mitra program profesional atas dukungannya selama kegiatan riset yang saya lakukan di CIFOR.

8 vii Abstrak Pada akhir tahun 1980-an, uang dalam jumlah besar dan area-area hutan Indonesia dialokasikan untuk pembangunan perkebunan kayu untuk bubur kertas, yang sangat cepat pertumbuhannya. Biaya dan manfaat finansial dari tindakan ini yang mewakili hanya sedikit dari biaya aktual, dapat dengan mudah dihitung, sementara biaya dan manfaat ekonomi sepenuhnya tetap tersembunyi. Pengetahuan tentang manfaat ekonomi bersih dapat menjadi masukan yang berguna bagi Pemerintah Indonesia dan kelompok minat lain untuk merevisi kebijakan dan peraturan yang ada sekarang dan menetapkan arah baru bagi proyek perkebunan di masa mendatang yang memberikan manfaat ekonomi bagi perekonomian nasional dalam jangka panjang. Makalah ini melihat biaya dan manfaat ekonomi total dari lima perkebunan besar penghasil kayu untuk bubur kertas di Sumatera. Empat dari lima proyek perkebunan tersebut menghasilkan biaya ekonomi lebih tinggi daripada manfaat ekonominya. Perkiraan biaya ekonomi menunjukkan lebih dari 30 kali pembayaran finansial sebenarnya yang diterima oleh pemerintah dari setiap perusahaan. Alokasi lebih dari 1,4 juta hektar lahan hutan untuk konversi menjadi tiga perkebunan menghasilkan kerugian bersih lebih dari 3 miliar dolar AS bagi negara. Analisis ini dengan jelas menunjukkan bahwa Pemerintah Indonesia seharusnya tidak lagi mengalokasikan lahan hutan untuk dikonversi menjadi perkebunan kayu untuk bubur kertas HTI.

9

10 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 1 PENDAHULUAN Industri-industri bubur kertas telah berkembang pesat di Indonesia setelah investasi besar-besaran pada sektor ini di akhir 80-an. Total produksi dari dalam negeri telah meningkat dari 3 juta ton per tahun pada 1997 (Barr 2001) menjadi 5,6 juta ton per tahun hingga 2002 (FAO 2003). Sebagian besar kawasan hutan yang dikelola oleh negara telah dialokasikan melalui izin hutan tanaman industri (HTI), dan hampir 100 juta dolar AS dana modal dalam negeri dialokasikan guna mempromosikan pengembangan berbagai hutan tanaman industri di Indonesia (Barr 2001). Jumlah keseluruhan yang dialokasikan bagi pengembangan beberapa perkebunan hingga tahun 2002 adalah 5,38 juta ha (DEPHUT 2003) dan sekitar 41%nya terkonsentrasi di kepulauan Sumatera. Sebagian besar lahan yang diberikan sebagai konsesi terdiri atas lahan tandus bekas hutan tebangan, rimba karet, hutan-hutan bakau, beberapa kepemilikan karet skala kecil, perkebunan sawit, padang rumput dan kebun-kebun agrikultur serta pemukiman desa. Perusahaan-perusahaan perkebunan hutan diharapkan untuk menghasilkan bahan baku mentah untuk kebutuhan industri bubur kertas nasional, baik untuk kebutuhan ekspor maupun kebutuhan dalam negeri. Ekspor bubur kertas dan kertas menghasilkan 2 triliun dolar AS sebagai cadangan ekspor dalam negeri dalam tahun 1997 (FWI dan GFW 2002). Meskipun Pemerintah Indonesia dapat secara mudah menghitung penambahan pendanaan dan pembiayaan-pembiayaan yang telah dicapai dalam investasinya pada industri bubuk kertas dan perusahaan-perusahaan terkait, manfaat dan biaya ekonomi masih tetap menjadi hal yang belum jelas. Biaya keuangan hanya merupakan porsi kecil dari total biaya aktual, sehingga mengarah kepada persepsi akan adanya manfaat bersih yang lebih besar daripada yang sebenarnya. Biaya-biaya sebenarnya adalah biaya-biaya yang langsung dikeluarkan dalam rangka investasi dan biaya, yang dibebankan kepada masyarakat lokal, Indonesia dan dunia, dari area hutan yang luas yang dialokasikan bagi proyek-proyek HTI. Walaupun beberapa studi telah mencoba mendalami aspek-aspek ekonomi dan keuangan industri bubur kertas dan kertas serta menganalisa HTI di Indonesia (Davis 1989; MoF 1994; Potter and Lee 1998; Kartodihardjo and Supriono 2000; Barr 2001; van Dijk 2003). Namun belum ada studi yang mempelajari dampak perkebunan HTI untuk negara. Dalam tulisan ini saya mencoba untuk menghitung manfaat-manfaat dan biaya-biaya dari lima proyek HTI di Sumatera-Indonesia dengan memasukkan perbedaan-perbedaan dari hutan dan lansekap yang diberikan dalam konsesi tersebut dan kapasitas produksi dari industri bubur kertas mereka yang terkait. Secara khusus saya menetapkan efek dan dampak ekonomi utama yang dihasilkan dengan adanya proyek-proyek tersebut, menganalisa dan membandingkan kinerja ekonomi dari lima hutan perkebunan yang termasuk ke dalam studi kasus dan menyoroti hal-hal utama yang dapat menentukan kinerja proyek-proyek tersebut. Hasil-hasil studi ini juga dapat merupakan masukan yang bermanfaat bagi Pemerintah Indonesia dan pihak-pihak terkait lainnya dalam menelaah kinerja ekonomi dari proyek-proyek HTI yang digunakan untuk kepentingan negara, dan mengubah aturan dan kebijakan yang dapat mengarahkan proyek-proyek perkebunan agar dapat memberikan manfaat ekonomi secara besar (tidak hanya dari sisi keuangan) bagi negara. Usulan Pendekatan Analisa secara kasar telah digunakan untuk menunjukkan dampak dari proyek-proyek HTI dan barang dan jasa yang dipengaruhinya. Harga pasar dan harga bayangan 1 digunakan untuk mengukur pengaruh tersebut apabila pasar ada, jika tidak nilai ditentukan dengan menggunakan perkiraan terhadap nilai barang dan jasa yang tidak tersedia di pasar, yang berkaitan dengan area yang ditelaah. Pengaruh positif dan negatif terkait dengan proyek-proyek HTI telah diidentifikasi dan diukur menurut pasarnya masing-masing terkait dengan barang yang dihasilkan dan biaya-biaya yang diperlukan sebagai perbandingan untuk masing-masing kasus. 1 Untuk definisi lihat daftar istilah.

11 2 Julia Maturana Konsep Kerangka Kerja Telaah Secara Ekonomi Ekonomi, optimalisasi dan kelangkaan adalah merupakan tiga konsep yang saling terkait. Kebutuhan manusia meningkat setiap saat dan cara untuk memuaskan kebutuhan tersebut adalah dengan pemenuhan sumberdaya. Untuk beberapa sebab (contohnya perbedaan biofisik, proses-proses kepunahan secara alamiah, tingginya tingkat konsumsi, akumulasi sosial), beberapa sumberdaya telah menjadi sulit ditemukan; kadang-kadang sulit ditemukan secara umum, sulit ditemukan di satu tempat tertentu atau sulit ditemukan oleh kelompokkelompok tertentu. Ilmu ekonomi telah berkembang sebagai suatu respon terhadap kebutuhan untuk mengoptimalkan alokasi sumberdaya yang sulit ditemukan untuk memuaskan meningkatnya kebutuhan dasar dari masyarakat. Alokasi secara optimal diobservasi saat tidak adanya lagi alternatif untuk memulihkan situasi pada para pihak atau kelompok-kelompok yang sedang dianalisa dengan memberikan sejumlah sumberdaya dalam waktu-waktu tertentu 2. Ketika suatu proyek investasi atau suatu kebijakan yang mengarahkan suatu investasi disusun, pengambil keputusan mengarahkannya kepada suatu tujuan yang khusus, contohnya: suatu keluarga melakukan suatu investasi untuk tujuan kemakmuran saat ini dan mendatang, suatu perusahaan mengharapkan manfaat maksimal, dan pemerintah menginvestasikan uang masyarakat untuk mencapai tujuan sosialekonomi secara khusus yakni peningkatan kemakmuran masyarakat. Setiap kebijakan program atau keputusan ekonomi harus ditelaah dalam rangka melihat pengaruh-pengaruh yang ada. Telaah secara ekonomi adalah suatu alat yang digunakan oleh para ahli untuk memberikan arahan dalam proses proses pengambilan keputusan secara nasional dan untuk menganalisa kebijakan ekonomi. Telaah ekonomi juga digunakan untuk mengevaluasi kontribusi dari kebijakan-kebijakan yang ada, keputusan-keputusan atau proyek yang memberikan kemakmuran bagi masyarakat. Nilai dari setiap barang/produk, faktor atau sumberdaya yang akan digunakan atau dihasilkan oleh proyek dinilai berdasarkan kontribusinya terhadap kemakmuran negara. Alasan Penggunaan Telaah Secara Ekonomi Seberapa besar peningkatan kemakmuran dan ekonomi masyarakat sulit untuk diukur. Setiap aksi akan memberikan implikasi keuntungankeuntungan dan pembiayaan. Kebijakan atau keputusan investasi yang ada dapat memberikan dampak dan efek yang berlawanan pada kelompok yang berbeda-beda. Suatu aksi dapat memberikan peningkatan kemakmuran bagi beberapa, namun mengurangi dari yang lain; atau dapat meningkatkan tingkat konsumsi dari penduduk (peningkatan kemakmuran) namun meningkatkan polusi untuk negara (pembiayaan kemakmuran). Apabila sebuah kebijakan tidak mempunyai efek negatif terhadap kelompok manapun, kebijakan itu tidak diragukan lagi merupakan kebijakan yang baik. Namun demikian, kasus semacam itu jarang terjadi atau jarang mendapat perhatian. Lebih sering kita melihat terdapatnya beberapa pengaruh positif dan pengaruh negatif. Selanjutnya, penting untuk mengetahui apakah kombinasi pengaruh dari keduanya akan mengarahkan masyarakat (secara keseluruhan) kepada situasi yang lebih baik atau lebih rusak. Teori dalam ekonomi menyarankan kita untuk menambahkan semua keuntungan dari semua pihak yang berada pada situasi lebih baik, dan semua kerugian dari pihak yang akan berada pada situasi yang parah. Apabila yang dihasilkan adalah keuntungan bersih, maka kebijakan atau aksi harus dilakukan atau sebaliknya. Telaah secara ekonomi ini didasarkan pada teori kemakmuran 3 dengan definisi-definisi kemakmuran, pemanfaatan dan perilaku sosial. 2 Untuk definisi lihat daftar istilah. 3 Untuk studi yang lebih luas mengenai teori kemakmuran lihat Just, dkk. (1982) dan Mishan (1988)

12 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 3 Konsekuensinya, kita menganalisa manfaat ekonomi keseluruhan (EB) yang diakibatkan oleh produksi dari proyek (EB dari produksi) dan biaya ekonomi dari input (EC) dan faktor-faktor yang digunakan (EB dan EC biasanya dianalisa secara terpisah berdasarkan masing-masing pasar). Analisa difokuskan pada perubahan konsumsi dari barang dan jasa berbeda, penggunaan sumberdaya, input-input dan faktor produksi. Analisa ini memfokuskan pada efek daripada konsumsi dan produksi keseluruhan, dan bukan pada efek terhadap konsumen yang berbeda-beda. Analisa ini juga dikenal sebagai analisa manfaat dan biaya dengan menggunakan efisiensi atau harga-harga bayangan. Penggunaan harga dengan perkiraan dapat menjadikan kesalahan perkiraan 4 dari manfaat-manfaat dan biaya-biaya (nilai yang berlebih atau kurang) ketika kita bekerja pada ekonomi yang terdistorsi, yang memiliki karakter kesalahan-kesalahan pasar seperti subsidi, pajak, monopoli dan eksternalitas 5. Namun masalah dapat dikoreksi dengan menganalisa kesalahan-kesalahan pasar dan pengaruhnya terhadap harga dan jumlah yang diperdagangkan untuk barang tertentu di pasar tertentu. Jenis-jenis Dampak yang Termasuk dan Efeknya terhadap Kemakmuran Untuk menilai manfaat-manfaat dan biayabiaya dari suatu investasi atau aksi, termasuk di dalamnya seluruh manfaat ekonomi. Teori menganjurkan untuk menghitung perubahan dalam konsumsi (saat sekarang dan mendatang) dari semua barang dan jasa (pasaran dan non pasaran). Dampak positif dari barang dan jasa tersebut dapat disebut sebagai manfaat sosial dan dampak negatifnya dapat disebut sebagai biaya-biaya sosial. Dampak-dampak positif pada konsumsi adalah hasil dari suatu proyek yang menghasilkan barang atau jasa. Sementara dampak negatif adalah hasil dari proyek yang membutuhkan input atau faktor yang sulit. Hasil dari proyek yang membutuhkan input atau faktor yang sulit disebut sebagai suatu biaya, karena mengkonsumsi beberapa elemen tertentu yang hanya dapat dilakukan apabila pihak-pihak lain dalam masyarakat melepaskan elemen tersebut, yang dalam istilah ekonomi disebut sebagai kerugian. Dampak positif dan negatif lainnya adalah berhubungan dengan penggunaan sumberdaya (dampak tidak langsung dari konsumsi), seperti melepaskan atau mengkonsumsi sumberdaya melalui produk pengganti, tabungan, dan mengkompromikan faktor-faktor dan input yang produktif. Sumberdaya-sumberdaya tersebut dinilai berdasarkan biaya-biaya penggunaan terbaik 6 dari sumberdaya itu. Dampak-dampak negatif dan positif yang akan diidentifikasi, berhubungan dengan (Castro and Mokate 1998): Peningkatan/penurunan konsumsi barang/jasa yang dipasarkan dan tidak dipasarkan Peningkatan/penurunan dalam ekspor (pendapatan nilai tukar luar negeri meningkat atau berkurang) Peningkatan/penurunan impor (tabungan nilai tukar luar negeri atau pengeluaran) Pelepasan/kompromi sumberdaya produktif. 4 Ketika kompetensi yang sempurna diobservasi, harga menggambarkan biaya marjinal (untuk produsen) dan kegunaan/utilitas marjinal (untuk konsumen). Adanya kegagalan pasar menyebabkan biaya tidak mencerminkan biaya marjinal maupun utilitas marjinal. Pada kasus seperti itu, biaya tidak menunjukkan refleksi sebenarnya dari manfaat dan biaya ekonomi. 5 Untuk definisi lihat daftar istilah. 6 Untuk definisi lihat daftar istilah.

13 4 Julia Maturana STUDI KASUS Menentukan Dampak Ekonomi pada Skenario Keseluruhan Antara tahun 1984 dan 1996, pemerintah telah mengalokasikan 1,4 juta ha kawasan hutan kepada lima perusahaan di Sumatera (Gambar 1), untuk memanen (tebang habis) kawasan-kawasan tersebut guna memproduksi kayu untuk bubur kertas dan mengembangkan perkebunan kayu. Konsesi ini diberikan kepada kelompok yang saat ini sedang mengembangkan dan membangun industri kertas dan bubur kertas untuk mempertahankan produksinya 7. Sejak tahun 1984 ke atas, industri bubur kertas dimaksud telah memulai operasinya dan meningkatkan kapasitas terpasang untuk memanfaatkan sumber besar yang ada untuk produksi bubur kertas mereka. Permintaan dan penawaran terintegrasi sebagai akibat dari suatu kenyataan bahwa industri dan perusahaan pemegang konsesi HTI adalah dalam kelompok yang sama. Sehingga konsekuensinya adalah volume kayu untuk bubur kertas yang dihasilkan bergantung pada jumlah yang diharapkan oleh industri bubur kertas. Sehingga volume penawaran akan seimbang dengan tingkat permintaan. Hal tersebut secara tidak langsung menyatakan bahwa harga tidak ditentukan oleh kekuatan pasar, tetapi oleh pemaksimuman keuntungan dari kelompok yang mengelola rantai produksi secara terintegrasi. Karena sistem kerja yang digunakan adalah monopsoni, kayu untuk bubur kertas harganya jauh lebih rendah (tidak ada pasar lain), sehingga menghasilkan biaya transaksi (pada pasar kayu untuk bubur dibawah harga optimal. Gambar 1. Lokasi lima perusahaan perkebunan bubur kayu yang termasuk di dalam studi Inti Indo Rayon TPL Arara Abadi IK RAPP LP Riau Andalan Pulp & Paper Wira Karya Sakti Musi Hutan Persada SUMATRA TEL KALIMANTAN TPL : Toba Pulp Lestari IK : Indah Kiat RAPP : Riau Andalan P&P LP : Lontar Papyrus TEL : Tanjung Enim Lestari JAVA 7 Tiga pabrik kertas dan bubur kertas, satu pabrik bubur kertas dan rayon, satu pabrik bubur kertas.

14 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 5 Lapangan kayu tebangan dari salah satu perusahaan perkebunan HTI di Sumatera (Foto oleh Julia Maturana) Efek keseluruhan, yang ditemui pada pasar kayu untuk bubur kertas, dapat ditampilkan dengan grafik (Gambar 2). Proyek-proyek menyebabkan peningkatan dalam suplai kayu untuk bubur kertas yang digambarkan dengan pergerakan kurva suplai permulaan dari S ke S. Permintaan juga meningkat melalui pembentukan industri bubur kertas dan peningkatan kapasitas terpasang, yang digambarkan dengan pergerakan kurva D kepada D. Harga kayu untuk bubur kertas tetap tidak berubah karena peningkatan dalam penawaran tidak terlihat. Kelima penghasil kayu untuk bubur kertas menjual produknya kepada industri mereka sendiri. Kurva penawaran sangat tidak elastis jika dilihat dari harga, karena pasar yang sudah terintegrasi (contohnya penghasil dan pembeli P D Sebelum 1984 D 2003 p S S q 0 q 1 Q Gambar 2. Pasar kayu untuk bubur kertas (pulp) Kunci: D = Permintaan awal (untuk kasus ini sebelum 1984, sebelum konsesi); D = permintaan selanjutnya (untuk kasus ini pada tahun 2003); P = sumbu harga; p = harga transaksi (diasumsikan tetap sepanjang waktu); Q = sumbu jumlah (kayu untuk bubur ; q 0 = jumlah (kayu bubur yang dihasilkan (sebelum-1984); q 1 = jumlah (kayu bubur yang diproduksi (dalam 2003); S = kurva suplai (sebelum 1984); S = kurva suplai (2003).

15 6 Julia Maturana memiliki hubungan yang kuat). Porsi terakhir dari kurva harus vertikal saat produksi maksimal yang dimungkinkan oleh ekosistem (termasuk perkebunan) telah terpenuhi. Kurva penawaran juga bisa digambarkan sebagai garis yang sangat tidak elastis jika dihubungkan dengan harga dan hal tersebut utamanya ditentukan oleh kapasitas industri yang dimasukkan. Elastisitas harga dari penawaran untuk pasar kayu bagi keperluan bubur kertas di Indonesia telah dihitung oleh FAO (1996) dengan seri data yang cukup besar adalah 0.09 (skala 0 = sangat tidak elastik; 1 = sangat elastik). Biaya-biaya ekonomi berhubungan dengan jumlah yang besar (1,4 juta ha) dari lahan hutan yang digunakan. Efek-efeknya dapat diperhatikan pada pasar lahan hutan (hipotesa). Harga sumberdaya (yang berhubungan dengan biaya-biaya konsesi) ditentukan oleh pemerintah dengan memperhitungkan pertimbanganpertimbangan bukan pasar karena tidak adanya pasar untuk lahan hutan milik negara. Alokasi lisensi HTI (konsesi-konsesi) untuk proyekproyek tersebut menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan lahan hutan yang dimiliki oleh negara dari q 0 menjadi q 1 (ditunjukkan pada Gambar 3) dengan pergerakan dari kurva permintaan dari D kepada D. Permintaan digambarkan sebagai kurva horizontal yang mencakup fakta bahwa area lahan pemerintah yang ditawarkan tidak tergantung kepada permintaan namun kepada area yang tersedia. Akhir dari bagian vertikal menggambarkan batas untuk suplai area hutan negara. Keseluruhan dampak area alokasi HTI di dalam konsesi akan menghasilkan sejumlah dampak (manfaat ekonomi) positif dan negatif (biaya-biaya ekonomi) yang menjadi perlu untuk dijelaskan dalam bentuk angka. Perkiraan Manfaat dan Biaya Ekonomi Semua perusahaan perkebunan yang dianalisa mendapatkan hak lebih dari ha dari hutan milik negara dalam periode waktu yang sama (> 40 tahun). Tiga dari konsesi tersebut utamanya terdiri atas hutan-hutan bekas tebangan dari kayu keras campuran (MHW); satu konsesi oleh pinus dan hutan bekas tebangan MHW dan satu lagi terutama oleh padang rumput (Imperata cylindrical) dan belukar. Manfaat-manfaat dan biaya-biaya ekonomi dihitung sejak periode 1984 hingga Tiga angka potongan (4%, 8% dan 12%) digunakan untuk menunjukkan nilai sejak tahun awal (1984) sehingga memungkinkan untuk dibandingkan. Semua biaya dan harga dibuat dalam dolar AS (2003). Tiga skenario dibuat untuk menguji sensitivitas dari analisa: skenario awal stabilitas; skenario optimis dengan peningkatan harga kayu untuk bubur kertas dan area yang ditanam dan skenario pesimis dengan penurunan harga dan area yang ditanam. Manfaat-manfaat Ekonomi Peningkatan penawaran kayu untuk bubur kertas diobservasi setelah alokasi dari hutan negara cocok dengan permintaan dari industri (sebenarnya permintaan menentukan penawaran). Manfaat-manfaat yang terkait P D D, setelah konsensi HTI p S q 0 q 1 Q Gambar 3. Lahan hutan milik negara (pasar hipotesis) Kunci: D = permintaan awal (untuk kasus ini sebelum 1984, sebelum konsesi-konsesi); D = permintaan selanjutnya (untuk kasus ini pada tahun 2003); P = sumbu harga (lahan hutan); p = harga transaksi; Q = sumbu jumlah (lahan hutan) ; q 0 = jumlah (kawasan hutan) permintaan (sebelum-1984); q 1 = jumlah (lahan hutan) permintaan (tahun 2003); S = kurva penawaran (lahan hutan).

16 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 7 P D Sebelum 1984 D, 2003 p m p p S S, q 0 q 1 Q Gambar 4. Pasar kayu untuk bubur kertas (pulp) Kunci: lihat gambar 2; p m = harga pasar; p p = harga sebenarnya. Notes: q 1 = q juta m 3 /tahun. Daerah abu-abu gelap mewakili pemasukan keuangan untuk perusahaan perkebunan, yang ditentukan dari harga aktual dan jumlah yang diperdagangkan. Daerah abu-abu terang mewakili manfaat-manfaat yang tidak aktual dan ditentukan oleh harga yang tidak terdistorsi (40 dolar AS) yang mewakili nilai pasar dari kayu bubuk kertas. Sehingga nilai tersebut merupakan nilai yang sebenarnya bagi masyarakat. Manfaat ekonomi yang dihasilkan dari peningkatan konsumsi tahunan (permintaan) hampir 27 juta m 3 kayu bubur kertas dihitung dengan menjumlahkan kedua area. dapat dilihat pada daerah yang diwarnai pada Gambar 4 atau dengan perkiraan: EB T = T t=1 ( q p 1 q0 ) t Harga yang digunakan terkait dengan transaksi (pasar) harga (pm) yang diobservasi dari kayu untuk bubur kertas setiap tahunnya (t). Dan seperti yang telah disampaikan sebelumnya, pasar kayu untuk perusahaan perkebunan tidak berada dalam situasi kompetensi yang sempurna. Sebaliknya, penyedia menghadapi monopsoni dalam permintaan yang mengurangi harga sebenarnya (pp) hingga di bawah level harga kompetensi 8 (pp < pm). Menggunakan harga yang sebenarnya akan menjadikan manfaat proyek yang kecil. Kenyataannya, pembayaran harga transaksi kepada perusahaan perkebunan Arari Abadi oleh industri bubur kertas dan kertas Indah Kiat dalam tahun 1998 dan 1999 adalah sekitar 8 dolar AS/m 3, dibandingkan dengan 42 dolar AS/m 3 yang harus dibayarkan untuk bahan kayu dari luar (Ometraco 2000), dan biaya-biaya kayu pada tahun 2002 yang disebut oleh APP untuk m t kebutuhan industri bubur kertas dan kertasnya adalah antara 34 dolar AS dan 36 dolar AS per m 3 (APP 2000). Dengan menggunakan informasi ini sebagai bahan referensi, harga yang digunakan dalam analisa adalah 40 dolar AS per m 3 bagi kelima perusahaan perkebunan. Jumlah (q 1 q 0 ) t yang berkaitan dengan total volume kayu untuk bubur kertas cenderung berubah setiap tahun pada lima perusahaan. Volume-volume tersebut dihitung dari kapasitas produksi industri bubur kertas terkait. Biaya-biaya Ekonomi Biaya-biaya terkait dihitung berdasarkan sumberdaya yang dibutuhkan untuk mempertahankan peningkatan penawaran kayu: 1,4 juta ha MHW, hutan pinus, hutan terdegradasi dan padang rumput yang dialokasikan kepada proyek, yang diberi nilai masing-masing pasar dengan perkiraan: EC T = T t=1 ( q p 1 q0 ) t s t 8 Monopsoni menentukan harga input berdasarkan kerangka maksimalisasi keuntungan, sehingga menekan harga ke bawah.

17 8 Julia Maturana Gambar 5. Lahan hutan yang dimiliki oleh negara (pasar hipotesis) Kunci: lihat Gambar 3; p c = harga saat ini; p s = harga sosial; S P = kurva penawaran (swasta); S S = kurva penawaran (sosial); MSC = Biaya sosial terendah; TEV = Keseluruhan nilai ekonomi. Catatan: q 1 = (q 0 + 1,4 juta ha) Warna abu-abu gelap mewakili pengeluaran keuangan dari perusahaan perkebunan (biaya-biaya saat ini), ditentukan oleh p c and area konsesi. Warna abu-abu terang mewakili biaya-biaya tidak aktual yang ditetapkan sebagai perbedaan antara TEV dan p c. Biaya-biaya ekonomi yang dihasilkan dari kompromi lebih dari 1,4 juta ha hutan milik negara, diperoleh dengan menyatukan dua area. Harga yang sebenarnya dibayar untuk penggunaan hutan tersebut (izin penebangan/ pemanenan, pembayaran konsesi, biaya dan pajak, dst.) menggambarkan biaya finansial pada masa sekarang bagi perusahaan-perusahaan perkebunan dan disebut sebagai p c (harga sekarang) dalam Gambar 5, menentukan biayabiaya sekarang (warna abu-abu gelap) untuk penggunaan sumberdaya. Biaya-biaya tersebut berkisar antara dolar AS hingga 99 juta dolar AS per tahun per perusahaan, dihitung dari pembayaran per volume yang diperkirakan oleh Pemerintah Indonesia (PSDH, SPK, and DR). Karena tidak adanya pasar untuk hutanhutan milik negara, maka tidak ada harga pasar yang dapat dipelajari. Jika tersedia suatu pasar, maka harga akan merefleksikan nilai dari daerah tertentu. Namun demikian, harga pasar ini juga dapat salah dalam menilai manfaat-manfaat positif sosial terkait dengan eksternalitas dari hutan-hutan tersebut; seperti perlindungan biodiversitas dan kehidupan liar, rekreasi, polinasi, kontrol biologis, fungsi habitat, dan informasi sejarah. Beberapa nilai dikenali melalui perkiraan total nilai ekonomi (TEV = p5). TEV untuk hutan-hutan bekas tebangan di Indonesia dibuat oleh Simangunsong (2003) yang menggunakan perkiraan dari berbagai penulis adalah 1283 dolar AS/ha per tahun. Kuantitas (q 1 q 0 ) t adalah keseluruhan area hutan negara yang diberikan dalam bentuk konsesi kepada perusahaan perkebunan. Perkiraan Kasus per kasus Dalam rangka menghitung keseluruhan biayabiaya ekonomi dan manfaat dari proyek ini, kuantitas produksi kayu per individu dan area yang dimanfaatkan oleh masing-masing perusahaan ditetapkan. Untuk melakukan hal tersebut, beberapa asumsi di bawah ini telah dibuat. Area yang akan dihitung biaya-biaya ekonominya, EC (q 1 q 0 ), ditetapkan sebagai suatu fungsi dari volume kayu yang ditebang: Biaya ekonomi t = Area tebang t TEV t TEV didapatkan dari Simangungsong (2003) yang telah menetapkan TEV untuk hutan yang telah ditebang di Indonesia. Termasuk di dalamnya: nilai penggunaan langsung (kayu, kayu bakar, produk hutan non-kayu dan 9 Untuk definisi lihat daftar istilah.

18 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 9 konsumsi air); penggunaan secara tidak langsung (konservasi tanah dan air, pengurangan karbon, perlindungan terhadap banjir dan transportasi air), dan nilai-nilai yang belum digunakan (nilainilai pilihan dan nilai-nilai eksistensi 9 ) Manfaat-manfaat Ekonomi t = Volume produksi t Harga t Harga adalah harga pasar yang tetap untuk kayu bahan baku bubur kertas diperhitungkan pada 40 dolar AS/m3. Harga tersebut berubah pada skenario optimis dan skenario pesimis. Volume produksi termasuk total volume kayu yang ditebang dari kawasan alam, hasil panen dari perkebunan, dan atau didapatkan dari sumber-sumber lain: Volume produksi t = volume tebangan t + volume panen t + Sumber-sumber lain t Perusahaan perkebunan menyamakan kebutuhan industrinya dengan kayu-kayu alam sebelum tanaman perkebunannya dapat dipanen, dan hal tersebut diasumsikan bahwa mereka lebih memilih menebang kayu walaupun perkebunannya telah siap. Asumsi ini dipertimbangkan bahwa biaya-biaya dari menebang hutan alam adalah setengah dari biaya panen yang dihasilkan dari perkebunan (van Dijk 2003), sehingga: Volume tebangan t = kebutuhan industri t Apabila hutan alam yang tersedia t-1 kebutuhan industri t Volume tebangan t = hutan alam yang tersedia t-1 Apabila hutan alam yang tersedia t-1 < kebutuhan industri t Dimana: Hutan alam yang tersediat t = Area t x Feasibility t x MWP t Tingkat Konversi t apabila volume tebangan t = 0 Dimana area yang dimaksud adalah jumlah ha yang diberikan dalam konsesi, maksud dari feasibility atau kemungkinan untuk dilaksanakan adalah perubahan jumlah area yang dapat ditebang dan itu tergantung dari ukuran area yang dipelihara sebagai kawasan konservasi, dan hunian masyarakat, dan kebun. Nilai tengah produksi kayu (MWP) menggambarkan produktivitas kayu di area dan ditujukan untuk volume kayu yang bisa ditebang dari setiap ha hutan alam (rata-rata). Nilai tersebut diperoleh dari informasi perusahaan perkebunan dan diperiksa ulang dengan data yang ada dari setiap area jika memungkinkan. Kebutuhan industri t = kapasitas produksi t Kuota t operasional t Kapasitas produksi didapatkan dari data aktual hingga 2003, dan kemudian ditentukan ulang berdasarkan harapan kenaikan dengan informasi yang disiapkan oleh perusahaan atau dipertahankan pada level saat ini. Kuota adalah termasuk satu atau lebih perusahaan perkebunan yang mensuplai material bagi industri bubur kertas. Nilai operasional menunjukkan apakah industri tersebut ber operasi dengan kapasitas penuh setiap tahunnya. Volume panen akan bergantung pada area yang ditanam dan kebutuhan industri yang harus dipenuhi. Volume yang dipanen t = volume yang dapat dipanen t Jika kebutuhan industri t volume tebangan t Sumber lain t > volume yang dapat dipanen t atau Volume yang dapat dipanen t = kebutuhan industrit t volume tebangan t sumber lain t Jika kebutuhan industri t volume tebangan t sumber lain t volume yang dapat dipanen t Dimana: Volume yang dapat dipanen t = volume yang dapat dipanen t-1 volume yang dipanen t-1 + or Keberadaan hutan alam t = Planted Area t-7 x MI t-7 x Survival Factor t-7 Tingkat konversi t-7 Area t x Feasibility t x MWP t Volume tebangan Tingkat konversi t if apabila volume tebangan t 0 Area yang ditanam (planted area), didapatkan langsung dari perusahaan dan menggambarkan area yang ditanam setiap tahun sejak awal operasi hingga Nilai sesudah 10 Untuk definisi lihat daftar istilah.

19 10 Julia Maturana Perkebunan Eucalyptus sp. Inti Indo Rayon di Sumatera Utara (Foto oleh Julia Maturana) 2003 memperlihatkan adanya nilai maksimum rata-rata yang diperoleh dari periode yang sebelumnya disebut dan dibatasi oleh pada total area seluruhnya yang memungkinkan bagi setiap perusahaan untuk menanam. Nilai tengah dari penambahan (MI) adalah turunan dari nilai tengah pertambahan tahunan (MAI) 10 dari masing-masing perusahaan untuk setiap jenis yang ditanam dan unit lansekap (lahan kering atau lahan humus) nilai itu dapat berubah menurut waktu berdasarkan informasi yang disediakan oleh masing-masing perusahaan. Faktor kelangsungan hidup (survival factor) juga diperoleh dari masing-masing perusahaan untuk setiap jenis tanaman dan setiap unit lansekap. Tingkat konversi adalah faktor yang telah dihitung untuk mengkonversi 1 m 3 kayu menjadi 1 ton bubur kertas, dimana nilai tersebut dapat berubah tergantung material kasar (yang ditanam atau ditebang) dan setiap jenis yang ditanam. Istilah t-7 adalah periode rotasi dari jenis-jenis yang ditanam didalam analisa, dimana hampir semua adalah tujuh tahun kecuali satu kasus dimana periode rotasi bervariasi. Inti Indo Rayon di Sumatera Utara Jumlah area keseluruhan ha telah dikonsesi pada tahun 1984, 1992, dan 1994 kepada perusahaan perkebunan Inti Indo Rayon melalui izin HTI yang memperbolehkan tebang habis dan penyiapan industri perkebunan kayu. Area konsesinya tersebar di antara 5 kabupaten dengan 50%nya terkonsentrasi di Kabupaten Tapanuli Utara. Area yang dimiliki terdiri atas pinus (30%), MHW (68%) dan hampir 6000 ha merupakan padang rumput (2%). Perusahaan perkebunan telah memulai operasinya pada tahun 1988 untuk mensuplai perusahaan industri bubur kertas terkait Indorayon (sekarang Toba Pulp Lestari). Permintaan industri tersebut adalah m 3 bubur kertas per tahun hingga Saat ekspansi, permintaan meningkat hampir 1 juta m 3. Sekitar 70% area yang telah dialokasikan adalah kebun, pemukiman dan zona konservasi. Sehingga hanya menyisakan ha yang memungkinkan untuk penebangan dan konversi.

20 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 11 Rata-rata area yang ditanam hingga tahun 2003 adalah mendekati 5000 ha per tahun dengan total keseluruhan yang ditanam adalah ha. Industri menghadapi permasalahan sosial pada tahun 1998 ketika terjadi krisis ekonomi dan politik, sehingga ditutup mulai tahun 1999 hingga awal 2003 dan selanjutnya memulai lagi operasinya. Manfaat ekonomi (EB) dari proyek konsesi TPL bagi masyarakat Indonesia selama 48 tahun ( ) telah dihitung pertahunnya (lihat lampiran I.1). Dan kemudian dikembalikan pada tahun 0 (1984) dengan nilai (dalam dolar AS): = US$511,588,592 = US$241,626,464 = US$138,027,774 Biaya-biaya ekonomi (EC) pada tiga angka potongan adalah: = US$1,398,888,431 = US$557,121,027 = US$263,921,323 Perkiraan rasio manfaat dan biaya dari proyek ini adalah 0,37, 0,43 dan 0,52 pada tiga angka potongan berbeda (masing-masing 4%, 8% and 12%). Arara Abadi di Riau Perusahaan perkebunan Arara Abadi (AA) di provinsi Riau telah mengkonsesi area seluas ha pada tahun Meskipun demikian Divisi Kehutanan industri kertas dan bubur kertas terkait, Indah Kiat, telah melaksanakan penanaman pertama pada area ini tahun 1984 dengan mengantongi izin dari pemerintah Indonesia. Area konsesinya tersebar di tujuh kabupaten, dimana 72% areanya dialokasikan di Kabupaten Siak dan Pelalawan. Area tersebut ditutupi dengan jenis MHW dengan sebesar 60%nya adalah hutan bakau dengan produksi kayu rata-rata > 150 m 3 /ha (Komunikasi personal). Perusahaan ini mensuplai permintaan industri bubur kertas terkait yang meningkat dari hampir m 3 kayu bubur kertas per tahun untuk 1984 hingga mendekati 9 juta m 3 per tahun di tahun Dari total keseluruhan area yang dialokasikan, sebanyak 28% terdiri atas tanaman kebun, pemukiman dan zona konservasi. Masih Truk IIR yang membawa kayu gelondongan di Sumatera Utara. (Foto oleh Julia Maturana)

21 12 Julia Maturana menyisakan area dengan luas total ha yang bisa dipakai untuk area tebangan dan konversi. Hingga tahun 2003, rata-rata maksimum area yang telah ditanam adalah ha per tahun dengan total area yang harus ditanami berjumlah ha (termasuk area sulaman) Dalam 55 tahun ( ) manfaat ekonomi dari proyek konsesi AA bagi masyarakat yang dimulai sejak tahun 0 (1984) nilainya dalam dolar AS adalah (lihat juga Lampiran 2): = US$1,935,837,869 = US$793,918,705 = US$398,513,520 Biaya-biaya ekonomi pada tiga angka potongan adalah: = US$3,169,867,526 = US$1,169,452,455 = US$533,947,366 Perkiraan rasio manfaat dan biaya untuk proyek ini masing-masing adalah 0,61, 0,68 dan 0,75. Riau Andalan Pulp and Paper, Riau Industri Riau Andalan Pulp and Paper di Riau adalah perusahaan perkebunan yang memiliki konsesi seluas ha. Alokasinya tersebar di antara 5 kabupaten, dan 70% diantaranya telah terkonsentrasi di Kabupaten Pelalawan dan Kuantan Singingi. Areanya merupakan hutan bekas tebangan MHW dengan 70% diantaranya berada di area rawa-rawa. Perusahaan ini mulai melakukan penanaman tahun 1993, dan memulai suplai kayu untuk bubur kertas untuk industri terkait pada tahun Permintaan tahunan industri tersebut adalah 3 juta m 3 kayu untuk bubur kertas dan dalam tahun 1995 meningkat hingga menjadi 9 juta m 3 pada tahun Area seluas kurang lebih ha dapat dikonversi untuk mendapatkan bahan mentah untuk keperluan industri. Sedangkan hampir ha (24% dari area konsesi) terdiri atas berbagai macam tumbuhan, pemukiman dan kawasan hunian. Hutan bekas tebangan MHW yang telah dialokasikan untuk pengembangan HTI, masih memiliki produk melimpah. Di sini beberapa penduduk tengah mengolah kayu bulat untuk dijual di industri kayu di Riau. (Foto oleh Nicholas Hosgood).

22 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 13 Kayu-kayu keras campuran yang diambil dari hutan rawa-rawa di Jambi (Foto oleh Julia Maturana) Luas rata-rata maksimum area yang dapat ditanami hingga 2002 mendekati ha per tahun, dengan total luas area yang harus ditanam adalah ha. Manfaat ekonomi proyek konsesi RAPP untuk masyarakat Indonesia selama 44 tahun ( ) yang dihitung berdasarkan nilai awal tahun 1984 (Lampiran I.3) adalah: = US$ 1,336,119,511 = US$ 556,385,589 = US$ 269,709,028 Biaya-biaya ekonomi pada tiga angka potongan adalah: = US$ 3,547,376,172 = US$ 1,222,022,515 = US$ 495,253,977 Perkiraan rasio manfaat dan biaya untuk proyek ini masing-masing adalah 0,38, 0,46 dan 0,54. Wira Karya Sakti di Jambi Perusahaan perkebunan Wira Karya Sakti di Jambi memulai operasi penebangan tahun 1989 dengan melalui izin khusus untuk konversi lahan kecil sampai tahun 1996 setelah izin konsesinya dikantongi. Alokasi akhir lahan adalah ha yang tersebar di 4 kabupaten, dengan 60% dari area keseluruhannya terkonsentrasi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Area kelola terdiri atas hutan bekas tebangan MHW dengan 70%nya adalah hutan-hutan rawa. Permintaan awal industri kertas dan bubur kertas Lontar Papyrus adalah sekitar 2 juta m 3 kayu untuk bubur kertas per tahun pada tahun 1994, dan meningkat menjadi lebih dari 3 juta m 3 dalam tahun Jumlah area yang tersedia untuk dikonversi seluruhnya hampir ha. Sementara ha (21% dari area konsesi) terdiri atas pemukiman, kebun dan area konservasi. Rata-rata maksimum area yang ditanami sejak 1992 hingga 2003 adalah kurang lebih ha per tahun, dengan keseluruhan area yang ditanami kira-kira ha. Manfaat-manfaat ekonomi proyek konsesi WKS untuk periode konsesi selama 45 tahun ( ) telah dihitung berdasarkan nilai tahun 1984 (dalam dolar AS) adalah (lihat Lampiran I.4:

23 14 Julia Maturana = US$1,106,100,135 = US$426,455,511 = US$196,769,551 Biaya-biaya ekonomi pada tiga angka potongan adalah: = US$2,257,196,475 = US$780,475,981 = US$319,480,269 Rasio manfaat dan biaya untuk proyek ini masing-masing adalah 0,49, 0,55 and 0,62. Musi Hutan Persada di Sumatera Selatan Perusahaan Musi Hutan Persada di Sumatera Selatan memulai perkebunannya sejak 1991 dan mendapatkan hak konsesi dengan luas total area ha dalam tahun Area mereka tersebar di lebih dari 5 kabupaten, dengan lebih dari 50% terkonsentrasi di Kabupaten Muara Enim. Kawasan tersebut 50%nya merupakan semak belukar dan 50% lainnya adalah padang rumput. Dalam tahun 1999, perusahaan perkebunan mulai mensuplai industri bubur kertas Tanjung Enim Lestari yang pertahunnya membutuhkan 2 juta m 3 kayu untuk bubur kertas. Kebutuhan industri tersebut telah meningkat mencapai 4,5 juta m 3 per tahun pada tahun Hampir 32% konsesinya terdiri atas kebun, pemukiman dan area konservasi. Dari 68% yang tersisa, dengan memperhitungkan area padang rumput, sejumlah ha memungkinkan untuk ditebang dan dikonversi dengan tingkat produktivitas yang rendah, yaitu 20,3 m 3 /ha (angka produksi ini telah dihitung dengan menggunakan rata-rata tambahan volume untuk hutan Indonesia yang dikutip oleh Simangunsong (2003) dan dalam periode 10 tahun). Rata-rata area yang ditanami adalah ha per tahun, dengan total area yang ditanami ha sejak 1991 hingga 1998 (termasuk area yang disulam). Manfaat-manfaat ekonomi dari proyek konsesi MHP bagi masyarakat (dolar AS) selama 41 tahun ( ) dan dihitung sejak 1984, nilainya adalah (Annex I.5): = US$1,789,920,969 = US$594,828,448 = US$232,016,988 Biaya-biaya ekonomi pada tiga angka potongan adalah = US$770,295,134 = US$271,596,775 = US$112,471,049 Rasio manfaat dan biaya yang diperkirakan untuk proyek ini adalah masing masing 2,32, 2,19 dan 2,06. Keseluruhan Manfaat dan Biaya Ekonomi bagi Negara Dampak-dampak keseluruhan dari alokasi lebih dari 1,4 juta ha lahan negara untuk lima perusahaan perkebunan untuk keperluan produksi bubur kertas adalah negatif (Tabel 1 dan Gambar 6). Biaya-biaya ekonomi lebih tinggi dibandingkan manfaat-manfaat ekonomi yang terkait. Manfaat-manfaat ekonomi dari proyek ini, terkait dengan produksi hampir 554 juta m 3 kayu, dinilai pada harga 1984 dengan tiga angka potongan yang berbeda (12%, 8% dan 4% per-tahun) menghasilkan 1,2 triliun dolar AS hingga 6,7 triliun dolar AS. Biaya-biaya ekonomi dengan konversi hampir ha hutan bekas tebangan, pinus dan yang sudah terdegradasi secara besar adalah berkisar antara 1,7 triliun dolar AS hingga 11,1 triliun dolar AS. Tabel 1. Biaya dan manfaat ekonomi (dalam juta dolar AS) untuk setiap perusahaan perkebunan dan secara keseluruhan (skenario stabil). Disk. TPL AA RAPP WKS MHP Keseluruhan EB EC EB EC EB EC EB EC EB EC EB EC EB/EC 12% , ,725, ,72 8% , ,000, ,65 4% , ,143, ,60 11 Harga potongan yang digunakan pada penelitian adalah: 3%, 5%, 6%, 7%, 8%, 10%, 15% dan 20%.

24 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 15 Gambar 6. (A) Pasar kayu untuk bubur kertas, and (B) Pasar hutan yang dimiliki oleh negara (hipotesa) Kunci: lihat Gambar 2,3,4,5. Catatan: Kayu bubur kertas q 1 = q juta m 3. Hutan alam yang baru saja ditebang dan ditanami dengan akasia (Acacia sp.) di Sumatera (Foto oleh Julia Maturana)

25 16 Julia Maturana PEMBAHASAN Manfaat-manfaat ekonomi Manfaat-manfaat ekonomi dihitung dengan menggunakan volume kayu untuk bubur kertas (m 3 ) yang dihasilkan per tahun dari setiap periode konsesi. Volume tersebut dihitung dengan menambahkan jumlah kayu tebangan (dari sumber yang ada) dan yang dipanen (dari perkebunan) yang ada setiap tahunnya. Termasuk juga yang diperhitungkan (untuk daerah-daerah tertentu) adalah volume saat ini dari hutan bekas tebangan, persentase area hutan, persentase area yang saat ini digunakan, nilai tengah pertumbuhan tahunan (MAI), angka kematian pohon, faktor konversi dan kebutuhan-kebutuhan industri. Harga yang digunakan dalam menilai kayu untuk bubur kertas ini adalah harga pasar dari produk tersebut saat terjual di pasar terbuka. Harga tersebut didapatkan melalui informasi dari pembeli-pembeli kayu untuk bubur kertas di Sumatera (bukan dari perusahaan perkebunan terkait). Daripada membuat asumsi-asumsi bagaimana perilaku harga kayu untuk bubur kertas di masa mendatang, harga pasti sejumlah 40 dolar AS per m 3 digunakan untuk menentukan manfaat-manfaat ekonomi setiap tahunnya dari setiap perusahaan. Bergantung kepada harga sebenarnya setiap tahun; apakah lebih rendah atau lebih tinggi dari harga yang digunakan disini, harga tersebut akan meningkatkan atau mengurangi jumlah keseluruhan manfaat ekonomi dari proyek-proyek ini kepada negara. Mempertahankan harga tetap akan memberikan nilai yang melebihi atau di bawah perkiraan manfaat ekonomi sebenarnya, tetapi hal ini tidak memiliki relevansi dengan sasaran untuk membandingkan antar perusahaan perkebunan. Dengan menggunakan harga pasar yang sebenarnya, dan bukan dengan harga yang sebenarnya dibayarkan oleh industri bubur kertas yang terkait dengan perusahaan, diperoleh nilai ekonomi dari produk ini untuk masyarakat Indonesia. Sehingga harga pasar yang sebenarnya merupakan harga yang tepat untuk digunakan bagi penilaian sumberdaya tersebut. Menggunakan harga yang dibayarkan akan secara serius merendahkan manfaat-manfaat dari proyek tersebut bagi negara. Angka-angka potongan 4%, 8% dan 12 % telah digunakan untuk menghitung nilai tahun ke-0 dari keseluruhan manfaat ekonomi proyek tersebut. Angka-angka tersebut meliputi sejumlah angka-angka yang digunakan dalam studi sebelumnya (Shyamsudar dan Kramer 1996; Kremen dkk. 2000; Ferraro 2002; Beukering dkk. 2003; Simangungsong 2003) yang melihat penilaian sumberdaya hutan dan lahan di Indonesia serta negara-negara lain yang memiliki pendapatan rendah 11. Peningkatanpeningkatan angka potongan (dari 4% menjadi 8% dan 12%) mengurangi nilai dasar tahunan dari manfaat ekonomi yang dihitung. Penurunan MAI dari perkebunan kayu dan faktor daya tahan pohon (persentase dari pohon yang bertahan hingga masa panen) tidak dihitung pada rotasi-rotasi selanjutnya. Sebaliknya MAI yang digunakan (informasi perusahaan) meningkat seiring dengan waktu untuk mencapai hasil MAI maksimum yang diharapkan, yang tetap konstan hingga akhir periode yang dipertimbangkan. Dengan melihat kenyataan bahwa sangat diragukan keuntungan tidak akan menurun selama periode rotasi selanjutnya (SAM 2004), manfaat ekonomi yang dihitung di sini akan berada pada nilai tertinggi atau kelebihan nilai. Manfaat-manfaat tambahan dari proyek-proyek tersebut yang terkait dengan perlindungan kawasan konservasi diantara kawasan konsesi, tidak dihitung di sini. Tidak satupun dari lima perusahaan tersebut yang diketahui melaksanakan perlindungan kawasan konservasi dari penebangan liar atau tujuan-tujuan lainnya. Malahan beberapa dari perusahaan perkebunan tersebut telah dituduh oleh LSM dan pengamat lainnya sebagai yang mendorong pembalakan liar di area tersebut untuk keuntungan sendiri. Kemungkinan manfaat dari penanaman pohon juga tidak dihitung. Sebagian besar area perusahaan untuk pengembangan perkebunan merupakan konversi dari hutan alam yang akhirnya menyebabkan manfaat ekonomi berada di bawah biaya-biaya ekonomi dari penebangan hutan. Di lain pihak, konversi padang rumput menjadi perkebunan kayu juga tidak selamanya bermanfaat secara ekonomi; padang rumput berperan menahan hilangnya karbon dan juga penting bagi konservasi tanah, kedua fungsi tersebut hilang dan rusak selama proses perkebunan (WRM 2000, 2003;

26 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 17 Cossalter dan Pye-Smith 2003). Periode rotasi dari perkebunan tanaman yang diperhitungkan juga masih terlalu pendek (7-8 tahun) untuk menangkap manfaat yang terkait dengan berkembangnya tanaman; tidak adanya kayu bakar atau produksi hasil hutan non-kayu yang bisa didapatkan dari perkebunan; air dan tanah yang akan lebih rusak dengan adanya peralatan-peralatan berat, pemupukan dan pemberian pestisida dan teknik pengeringan (area rawa) selamanya; karbon yang dilepaskan pada saat konversi pertama dan saat konversi selanjutnya dalam kawasan tersebut, tidak hanya berakibat pengurangan kemampuan ekosistem dalam memperbaiki CO 2, akan tetapi juga mempengaruhi kapasitas penyerapan (WRM 2000); dan tidak diperolehnya nilai pilihan atau nilai eksistensi. Biaya-biaya ekonomi Biaya-biaya ekonomi dihitung menggunakan nilai ekonomi keseluruhan (TEV) dari hutan bekas tebangan dan total area yang ditebang oleh masing-masing perusahaan setiap tahunnya. TEV telah dihitung oleh Simangunsong (2003) dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang berhubungan dengan kayu, kayu bakar dan produk hutan non kayu; konsumsi air; konservasi tanah dan air, hilangnya karbon, perlindungan dari banjir dan fungsi transportasi air; nilai pilihan dan nilai eksistensi. Kesemuanya nilai tersebut dianggap tetap ada sebagai karakteristik hutan bekas tebangan yang diberikan bagi konsesi dan akan hilang dengan konsesi, penebangan dan konversi area-area tersebut. Jumlah fungsi-fungsi yang dimasukkan dalam perkiraan TEV adalah sangat jauh di bawah jumlah keseluruhan fungsi yang diberikan atau disediakan oleh hutan. Terdapat tidak kurang dari 23 fungsi-fungsi hutan yang tetap dipertahankan oleh area hutan yang sudah ditebang ini (Petrick dan Quinn 1994; Groot dkk. 2002; Rose dan Chapman 2003), dan hanya beberapa yang dimasukkan dalam perkiraan TEV oleh Simangunsong (2003). Sebagai tambahan, TEV yang dihitung dalam fungsi-fungsi tersebut, sangat konservatif dibandingkan dengan TEV pada area lainnya. TEV yang diperkirakan oleh Simangunsong (2003) untuk hutan primer di Indonesia, yang digunakan sebagai referensi untuk turunan dari TEV pada kawasan bekas tebangan lainnya, nilainya di bawah beberapa Hutan-hutan alam yang diberikan kepada konsesi pengembangan perkebunan HTI di Sumatera. (Foto oleh Julia Maturana)

27 18 Julia Maturana TEV yang telah dihitung untuk fungsi-fungsi yang sama pada area lain (sebagai contoh, Aylward dkk. 1995; Norton-Griffiths dan Southey 1995; Reyes dkk. 2002; Pearce dkk. 2003; Beukering dkk. 2003). Hal di atas memperlihatkan bahwa biayabiaya ekonomi yang dihitung pada lima perusahaan dalam analisa ini adalah rendah. Sedangkan apabila menggunakan TEV lain sebagai referensi, akan lebih mempertinggi biaya-biaya ekonomi dari proyek-proyek tersebut. Di lain pihak, biaya-biaya ekonomi dihitung dengan hanya menggunakan area yang ditebang oleh perusahaan (jumlah dalam ha) tanpa memasukkan padang rumput, kebun dan pemukiman, termasuk kawasan yang secara hukum harus tetap dipertahankan sebagai hutan konservasi. Pengurangan-pengurangan tersebut akan menjadikan penilaian menjadi sekitar setengah dari lahan negara yang diberikan sebagai konsesi untuk proyek-proyek ini. Dengan memasukkan area padang rumput dan memberinya penilaian dengan harga positif, akan menghasilkan biaya-biaya ekonomi yang besar dari proyek ini. Utamanya bagi MHP di Sumatera Selatan.Nilai dari area padang rumput diantaranya terkait dengan fungsi pengurangan karbon dan penggunaan untuk pertanian, (WRM 2003). Pekerja dan alokasi keuangan juga merupakan input penting (biaya-biaya) yang dibutuhkan dalam pengembangan proyekproyek perkebunan. Pekerja yang dibutuhkan dalam proyek ini hanya dihitung sebagai biaya ekonomi jika dinilai sebagai sumberdaya yang langka dalam suatu negara. Dengan jumlah pekerja yang melimpah di Indonesia dan bahwa pekerja tidak dipindakan dari aktivitas produktif lainnya, maka pekerja bukan merupakan biaya bagi masyarakat. Pekerja juga tidak bisa disebut sebagai manfaat ekonomi. Proyek-proyek tersebut tidak menghasilkan buruh, namun menghasilkan pekerjaan sehingga masyarakat hanya berganti dari aktivitas ekonomi sebelumnya (tidak harus sebagai pegawai). Hal tersebut hanya merupakan suatu perubahan dalam ekonomi, sehingga tidak dihitung sebagai manfaat ekonomi. Jumlah keuangan yang dibutuhkan dalam membangun proyek ini juga menggambarkan perubahan dalam ekonomi dan tidak dihitung per bagian. Namun dihitung secara tidak langsung sebagai dampak ekonomi dari proyekproyek tersebut. Membandingkan Kelima Proyek Perkebunan Rasio-rasio manfaat-biaya dari semua proyekproyek, kecuali MHP, mendekati kesamaan dengan menggunakan nilai pemotongan lebih besar. Nilai pemotongan lebih besar secara tidak langsung merupakan penilaian lebih tinggi terhadap manfaat-manfaat yang dirasakan saat ini dan penilaian lebih rendah terhadap manfaat-manfaat di masa mendatang. Perilaku dari rasio manfaat-biaya dapat dijelaskan dengan manfaat-manfaat yang cenderung turun setiap saat, sementara biaya-biaya terus meningkat. Namun ketika keduanya meningkat, peningkatan biaya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan manfaat. Semua perusahaan dengan analisa ini menunjukkan penampilan yang buruk menurut istilah ekonomi kecuali MHP. TPL adalah perusahaan dengan kinerja yang terburuk. Perusahaan perkebunan TPL menyebabkan kerugian besar secara ekonomi bagi masyarakat Indonesia dengan biaya-biaya ekonomi yeng hampir mencapai tiga kali dari manfaatmanfaat ekonomi yang dihasilkan dengan nilai pemotongan ter-rendah (4%). Biaya-biaya ekonomi untuk proyek ini kira-kira setengah atau sepertiga dari biaya-biaya perusahaan lain (kecuali MHP). Akan tetapi, tidak seperti perusahaan lainnya, TPL meberikan manfaatmanfaat ekonomi sangat kecil bagi negara, dan merupakan yang ter-rendah di antara 5 perusahaan yang juga dianalisa. Penjelasan untuk sangat rendahnya manfaat-manfaat ekonomi TPL dapat dijelaskan dengan ukuran area yang ditanami: dimana perusahaan ini memunculkan biaya dari menebang dan menggunakan lebih dari ha lahan, sementara menghasilkan manfaat-manfaat produksi dari area tanam yang kurang dari setengahnya. Hal inilah yang memberikan efek langsung terhadap manfaat yang berhubungan dengan produksi. Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa area yang ditanam setiap tahunnya (mulai 2004 hingga seterusnya) dipakai dalam analisa ini sebagai rata-rata maksimum area yang ditanam sampai tahun Perkiraanperkiraan ini menggunakan data-data aktual untuk perusahaan dengan asumsi bahwa 12 Kecuali untuk RAPP, dimana yang digunakan adalah angka ha (APRIL 2004).

28 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 19 perusahaan akan melaksanakannya (dalam waktu dekat) sama seperti yang dilakukan hingga RAPP, WKS dan AA memiliki biaya-biaya ekonomi (berurut) 2,65, 2,04 dan 1,64 kali dari manfaat-manfaat ekonomi (Tabel 1). Perbedaan tersebut utamanya disebabkan oleh perbedaan ukuran area yang ditebang dibandingkan dengan ukuran area yang ditanam. Satu-satunya perusahaan yang memberikan pengembalian manfaat positif bagi negara adalah MHP, dengan manfaat ekonomi dua kali dibanding biaya-biaya ekonomi mereka. Perusahaan ini adalah kedua terbesar yang memberikan manfaat-manfaat ekonomi dengan mengasilkan 1,7 triliun dolar AS untuk negara (dengan angka pemotongan terendah) dan biaya-biaya ekonomi terendah (setengan atau sepertiga dibandingkan dengan perusahaan lain). Hal yang mendasari rendahnya biayabiaya ekonomi tersebut (setengah atau sepertiga) adalah perbedaan dalam cakupan alam yang dialokasikan untuk konsesi bagi perusahaan ini. Perusahaan-perusahaan lain mendapatkan mendapatkan konsesi-konsesi pada area yang luasannya terdiri atas area bekas tebang, hutan rawa dan pinus. Sedangkan MHP setengahnya merupakan padang rumput, dan setengahnya lagi merupakan hutan-hutan yang terdegradasi. Apabila menggunakan TEV untuk penilaian area dalam analisa ini, maka konversi padang rumput tidak diikuti oleh biaya-biaya ekonomi dan hutan-hutan yang terdegradasi luas di Sumatera Selatan penilaian biaya-biaya ekonominya adalah kirakira setengah dibandingkan dengan hutan-hutan tebangan dan hutan pinus dari perusahaanperusahaan lainnya. Nilai yang melekat kepada kayu sebagai produk yang bisa didapatkan dari area ini tidak dipertimbangkan, demikian pula nilai pilihan atau nilai eksistensi, nilai pengurangan karbon juga berkurang setengah. Namun perusahaan ini telah menunjukkan kinerja terbaik dalam kaitan dengan area yang ditanam, yang akan memberikan efek kepada volume dari kayu untuk bubuk kertas yang dihasilkan dan selanjutnya kepada manfaatmanfat ekonomi. Data dan asumsi-asumsi Area yang ditanam setiap tahunnya merupakan data aktual hingga 2003 dan telah diperoleh dari masing-masing perusahaan perkebunan. Untuk 2004 ke depan, digunakanrata-rata maksimum dari periode sebelumnya. Faktorfaktor lain seperti nilai tengah kenaikan per tahun (MAI), rasio bertahan tumbuh dan rasio konversi, juga disiapkan oleh masing-masing perusahaan perkebunan. Kapasitas produksi yang merupakan kapasitas terpasang secara aktual untuk industri terkait hingga 2003 tetap stabil sejak tahun tersebut kedepan. Kecuali untuk WKS yang telah menghitung peningkatan ton bubur kertas mulai 2007 ke depan. Hal ini didasarkan bahwa Lontar Papyrus (industri kayu yang terkait dengan WKS) telah memiliki rencana untuk meningkatkan kapasitas terpasangnya. Semua industri dianggap berjalan dengan 98% dari kapasitas terpasang. Area yang memungkinkan untuk ditebang telah dihitung dengan tidak memasukkan area yang dipertimbangkan untuk konservasi, pemukiman dan kebun. Informasi ini juga diperoleh dari setiap perusahaan-perusahaan perkebunan. Nilai tengah produksi kayu (MWP) dari hutan-hutan yang telah ditebang di Riau dan Jambi diperkirakan adalah 75 m 3 /ha untuk lahan tandus dan 150 m 3 /ha untuk area rawa; sedang di Sumatera Utara MWP-nya adalah 91,5 m 3 /ha untuk MHW, dan 200 m 3 /ha untuk hutan pinus yang telah digunakan. Sedangkan di Sumatera Selatan diperkirakan menghasilkan rata-rata 20m 3 /ha. Nilai-nilai tersebut adalah berdasarkan apa yang disampaikan oleh perusahaan-perusahaan tersebut mengenai MWP aktual mereka dengan mempertimbangkan persediaan area hutan yang telah ditebang di Indonesia (Simangunsong, 2003). Mengubah asumsi bahwa perusahaan perkebunan menyesuaikan kebutuhan industri dengan kayu-kayu alam menjadi asumsi bahwa perusahaan akan menggunakan kayu-kayu alam hanya jika mereka tidak memiliki persediaan kayu yang ditanam, tidak secara signifikan mengubah hasil. Rasio manfaat-biaya dari RAPP dan WKS tetap tidak berubah, dan untuk IIR dan AA meningkat namun tetap dibawah 1. Pada skenario keseluruhan, rasio manfaatbiaya berubah dari 0,60 menjadi 0,61, dari 0,65 menjadi 0,67 dan dari 0,72 menjadi 0,74 dengan masing-masing nilai pemotongan 4%, 8% dan 12% (Tabel 2). Skenario-skenario Skenario optimis menggambarkan kondisi terbaik bagi perusahaan dalam jumlah keseluruhan area yang ditanam dan peningkatan secara berkelanjutan 1% dari harga bubur kertas setiap tahunnya. Dalam kasus ini area yang ditanam oleh masing-masing perusahaan

29 20 Julia Maturana mencapai maksimun memungkinkan untuk di tanam hingga 2010, setelah peningkatan yang berkelanjutan hingga 10% pertahun. Area yang mungkin untuk ditanam berhubungan dengan lahan tandus dan rawa air tawar, tidak termasuk area yang dialokasikan untuk kepentingan konservasi, pemukiman, kebun dan infrastruktur 12. Hal ini berarti perusahaanperusahaan akan menyelesaikan seluruh klaimklaim (isu konflik) di area mereka, yang pada tahun 1993 berjumlah ha (April, 2004; Maturana dkk.), dan menanami kawasan tersebut dengan tanaman untuk tujuan menghasilkan bubur kertas. Ini juga berarti bahwa perusahaan melakukan sesuatu yang sebelumnya sangat diragukan, misalnya perusahaan mampu dan berkeinginan kuat untuk mengembangkan tanamannya pada lebih dari 100% area rawa, yang terbukti sulit, berbiaya tinggi dan sangat mudah terbakar. Walau dengan skenario ini, manfaat ekonomi meningkat, negara tetap saja merugi (Tabel 3). Artinya, walaupun dalam situasi terbaik dimana perusahaan-perusahaan mampu secara maksimal menanam semua kawasan yang dimungkinkan, tetap saja proyekproyek tersebut menghasilkan kerugian bersih bagi negara. Skenario ini juga menunjukkan bahwa dua perusahaan, yaitu AA dan RAPP, tidak mampu mempertahankan kebutuhan industri mereka sendiri dengan tanaman yang mereka tanam, masing-masing hanya 57% dan 45%. Sedangkan sisa kebutuhannya akan dipenuhi oleh tanaman yang berasal dari luar area konsesi mereka (seperti yang mereka sampaikan), mengkonversi area diluar kawasan mereka akan terkait dengan biaya-biaya ekonomi, berakibat kepada tingginya biaya-biaya ekonomi bagi negara. Skenario pesimis menghitung manfaatmanfaat ekonomi dan biaya-biaya proyek tersebut untuk pengurangan harga kayu secara konstan (dari 40 dolar AS per m 3 menjadi 26 dolar AS per m 3 ) dan pengurangan 1% dari area yang ditanam setiap tahunnya, dengan menggunakan rata-rata maksimum area yang ditanam oleh-masing masing perusahaan. Dalam skenario ini manfaat-manfaat dikurangi (Tabel 3). Tabel 2. Biaya dan manfaat ekonomi (dalam juta dolar AS) untuk setiap perusahaan perkebunan dan secara keseluruhan dengan asumsi bahwa perusahaan akan memanen kayu yang ditanam kapan saja tersedia (skenario stabil). Disk. TPL AA RAPP WKS MHP Keseluruhan EB EC EB EC EB EC EB EC EB EC EB EC EB/EC 12% , , ,74 8% , , ,67 4% , , ,61 Tabel 3. Biaya dan manfaat ekonomi (dalam juta dolar AS) untuk setiap perusahaan perkebunan dan secara keseluruhan untuk tiga skenario yang dipertimbangkan. Skenario Disk. TPL AA RAPP WKS MHP Keseluruhan EB EC EB EC EB EC EB EC EB EC EB EC EB/EC Stabil 12% , , ,72 8% , , ,65 4% , , ,60 Optimis 12% , , ,77 8% , , ,74 4% , , ,74 Pesimis 12% , , ,69 8% , , ,61 4% , , ,53 13 Untuk analisis aspek keuangan dari proyek ini dan pabrik-pabrik terkait, lihat Barr (2001).

30 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 21 KESIMPULAN Studi ini menggunakan informasi khusus dan data yang terkait dengan setiap perusahaan yang dianalisis serta area konsesinya untuk memperlihatkan bahwa, alokasi 1,4 juta ha kawasan hutan untuk pengembangan perkebunan tanaman industri, memperlihatkan adanya kerugian ekonomi bagi negara. Manfaat secara ekonomi yang dihasilkan dari peningkatan produksi bubur kertas, yang dihitung dengan menggunakan harga efisiensi 40 dolar AS per m 3 kayu, jauh dibawah biayabiaya ekonomi yang dikeluarkan dalam rangka konversi lahan tersebut. Menghitung hanya berdasarkan kepada manfaat-manfaat keuangan yang bisa dilihat akan menghasilkan persepsi dan juga keputusankeputusan yang salah. Alokasi lahan-lahan hutan bekas tebangan untuk kepentingan pengembangan tanaman industri dapat terlihat sangat memberikan manfaat 13 bagi negara, apabila hanya menghitung manfaat-manfaat dan pembiayaan keuangan. Meskipun lahan hutan yang dialokasikan dianggap tidak menunjukkan manfaat yang bisa dilihat oleh pemerintah, proyek ini akan memberikan manfaat-manfaat langsung, termasuk pembayaran untuk konsesi dan konversi, perolehan investasi luar negeri dalam pengembangan industri bubur kertas, dan peningkatan produksi dan ekspor bubur kertas dan kertas. Kenyataannya, ketika biaya-biaya ekonomi dan manfaat ekonomi dihitung, kita dapat melihat bahwa proyek-proyek tersebut menghasilkan pembiayaan 1,67 kali dari manfaat-manfaat yang dihasilkan. Empat dari lima proyek perkebunan yang telah dianalisa menghasilkan biaya-biaya ekonomi di atas manfaat ekonomi. Di antara kelimanya : AA adalah yang tertinggi rasio manfaat dan biayanya (0,61) diikuti oleh WKS (0,49) dan RAPP (0,38); sedangkan TPL adalah yang terendah (0,37). MHP di Sumatera Selatan adalah satu-satunya (dalam studi ini) yang memiliki rasio positif antara biaya dan manfaat ekonomi (2,32). Pemerintah Indonesia menjual sumberdaya hutannya kepada perusahaan perkebunan dengan harga dibawah nilai sebenarnya. Pembayaran-pembayaran yang diterima saat ini dari area yang digunakan dan konversi area bekas tebangan (PSDH, SPK dan DR) jauh dari apa yang digambarkan sebagai biaya-biaya ekonomi aktual dari penggunaan sumberdaya tersebut. Biaya-biaya ekonomi yang diperkirakan mencapai 30 kali dari pembayaran keuangan yang diterima Pemerintah Indonesia dari setiap perusahaan (lihat biaya-biaya ekonomi saat in pada Lampiran I 1-15). Perusahaan perkebunan IIR seharusnya membayar lebih dari 92 juta dolar AS per tahun, bukannya sekitar 2 juta dolar AS seperti yang disebut sebagai biaya keuangan aktual yang dimintakan kepada perusahaan. AA dan RAPP seharusnya membayar 200 juta dolar AS dan 290 juta dolar AS per tahun dibandingkan 6 juta dolar AS dan 8 juta dolar AS yang mereka diminta untuk membayar. WKS seharusnya membayar 180 juta dolar AS dibandingkan 6 juta dolar AS yang mereka bayarkan, dan MHP seharusnya membayar hingga 67 juta dolar AS dan bukan 2 juta dolar AS seperti yang selama ini dikeluarkan. Hanya MHP di Sumatera Selatan satusatunya perusahaan dengan manfaat yang cukup besar yang dapat menanggung biaya-biaya yang harusnya dikeluarkan. Perusahaan ini mampu untuk membayar biaya-biaya ekonomi dan masih mampu untuk memproduksi lebih dari 98 juta dolar AS per tahun sebagai manfaatmanfaat ekonomi secara bersih. Alokasi hampir ha pada lahan hutan yang terdegradasi secara besar dan padang rumput untuk konversi industri hutan tanaman di Sumatera Selatan tersebut,adalah satu-satunya dari lima perusahaan lain yang dipelajari, yang memiliki manfaat-manfaat untuk negara ini. Alokasi lebih dari 1 juta ha untuk tujuan yang sama pada lokasi lainnya merugikan negara. Mengalokasikan area-area bekas tebangan di Riau, Jambi dan Sumatera Utara untuk konsesi menjadi perkebunan merupakan suatu kesalahan, dan masyarakat Indonesia akan mengalami kerugian lebih dari 3 triliun dolar AS (dengan 4 % potongan harga) sejak tahun 1984 hingga Karena biaya-biaya ekonomi lebih tinggi dibandingkan dengan manfaat ekonomi, perusahaan perkebunan yang mengalami defisit ekonomi tidak akan mampu untuk membayar biaya actual mereka. Pilihan terbaik saat ini bagi negara adalah membiarkan perusahaan beroperasi untuk menghindarkan biaya-biaya operasi bersih yang lebih tinggi (karena biayabiaya ekonomi akan tetap sama walaupun manfaatnya mencapai angka nol).

31 22 Julia Maturana Di samping kenyataan bahwa tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencapai nilai ekonomi positif untuk perusahaan-perusahaan yang konsesinya telah diberikan tersebut, telaah ini menjadi sangat penting ketika mempertimbangkan kebijakan-kebijakan masa mendatang serta keputusan yang terkait dengan alokasi lahan baru bagi pengembangan HTI. Analisa ini secara jelas menggambarkan bahwa Pemerintah Indonesia tidak seharusnya mengalokasi kawasan-kawasan bekas tebangan lainnya untuk dikonversi menjadi perkebunan HTI, jika ingin memberikan manfaat bagi negara dan masyarakatnya. Penelitian ini dapat memberikan pembuktian bagi pihak-pihak yang tertarik, LSM dan masyarakat sipil dalam membantu untuk menghindarkan dari penjualan sumberdaya di bawah harga. Dan dapat membantu masyarakat Indonesia dalam memastikan pemerintahannya dapat mengambil keputusan yang tepat ketika menginvestasikan asetnya (uang, sumberdaya, kualitas lingkungan, dll.), serta agar kebijakankebijakan baru terhadap sumberdaya alam menghasilkan pengembalian ekonomi secara positif bagi negara. Pengembangan perkebunan HTI pada area bekas tebangan seharusnya membayar biaya-biaya ekonomi terkait kepada negara atau tidak diperbolehkan untuk dilaksanakan.

32 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 23 REFERENSI Asia Pulp and Paper Company (APP) 2002 Asia Pulp and Paper Company Ltd announces details of its October 15-16, 2002 discussions with bondholders. APP, Singapore. 16p. Asia Pacific Resources International Holdings (APRIL) Sustainability Report. APRIL, Pekanbaru, Riau, Indonesia. 80p. Aylward, B., Echeverría, J. dan Barbier, E Economic incentives for watershed protection: A report on an ongoing study of Arenal, Costa Rica. Collaborative Research in the Economics of Environment and Development (CREED), London. 21h. Barr, C Banking on sustainability: Structural adjustment and forestry reform in post-suharto Indonesia. Center for International Forestry Research (CIFOR) & WWF Macroeconomics for Sustainable Development Program Office, Bogor, Indonesia. Beukering, P.v., Cesar, H. dan Janssen, M Economic valuation of the Leuser National Park on Sumatra, Indonesia. Ecological Economics 44: Castro, R. dan Mokate, K Evaluacion economica y social de proyectos de inversion. Ediciones Uniandes, Bogota, Indonesia. Cossalter, C. dan Pye-Smith, C Fast wood forestry: Myths and realities. Center for International Forestry Research (CIFOR), Bogor, Indonesia. Davis, C Outlook and prospects for Indonesia s forest plantations. Directorate General of Forest Utilization, Ministry of Forestry, Jakarta, Indonesia, and Food and Agriculture Organization of the United Nations. 143p. Departemen Kehutanan (DEPHUT) 2003 Data strategis kehutanan. DEPHUT, Jakarta, Indonesia. Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) 1996 Provisional forest products outlook. Policy and Planning Division, Forestry Department, FAO, Rome. Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) 2003 FAO statistical databases. [FAOSTAT adalah database berbasis jaringan dan dalam banyak bahasa yang saat ini memiliki hampir 1 juta seri data yang mencakup statistik internasional pada 10 wilayah. Diakses melalui jaringan internet, 2003.] FAO, Rome. Ferraro, P The local costs of establishing protected areas in low-income nations: Ranomafana National Park, Madagascar. Ecological Economics 43: Forest Watch Indonesia (FWI) dan Global Forest Watch (GFW) 2002 The state of the forest: Indonesia. FWI, Bogor, Indonesia, and GFW, Washington D.C., USA. Groot, R.d., Wilson, M. dan Boumans, R A typology for the classification, description and valuation of ecosystem functions, goods and services. Ecological Economics 41 (Special issue: The dynamics and value of ecosystem services: Integrating economic and ecological perspectives): Just, R., Hueth, D. dan Schmitz, A Applied welfare economics and public policy. Prentice Hall, New York, USA. Kartodihardjo, H. dan Supriono, A The impact of sectoral development on natural forest conversion and degradation: The case of timber and tree crop plantations in Indonesia. Occasional Paper No. 26(E). Center for International Forestry Research (CIFOR), Bogor, Indonesia. 14h. Kremen, C., Niles, J.O., Dalton, M.G., Daily, G.C., Ehrlich, P.R., Fay, J.P., Grewal, D. dan Guillery, R.P Economic incentives for rain forest conservation across scales. Science 288: Maturana, J., Hosgood, N. dan Suhartanto, A.A. In press. Moving towards companycommunity partnerships: Elements to take into account for fast-wood plantation companies in Indonesia. Center for International Forestry Research (CIFOR), Bogor, Indonesia. Mishan, E Cost-benefit analysis. Allen & Urwin, London, UK. Ministry of Forestry (MoF) 1994 National masterplan for forest plantations. Directorate General of Reforestation

33 24 Julia Maturana and Land Rehabilitation, MoF, Jakarta, Indonesia. Norton-Griffiths, M. dan Southey, C The opportunity costs of biodiversity conservation in Kenya. Ecological Economics 12: Ometraco 2000 Indah Kiat Company Update. PT. G.K. Goh Ometraco, Jakarta, Indonesia. 47h. Pearce, D., Putz, F. dan Vanclay, J Sustainable forestry in the tropics: Panacea or folly? Forest Ecology and Management 172: Petrick, J. dan Quinn, J Deforestation in Indonesia: Policy framework for sustainable development. Journal of Asian Business 10(2): Potter, L. dan Lee, J Tree planting in Indonesia: Trends, impacts and directions. Occasional Paper No. 18. Center for International Forestry Research (CIFOR), Bogor, Indonesia. 86h. Reyes, V., Segura, O. dan Verweij, P Valuation of hydrological services provided by forests in Costa Rica. ETFRN [European Tropical Forest Research Network] News 35 (Innovative Financing Mechanisms for Conservation and Sustainable Forest Management, European Tropical Forest Research Network News): [Diakses melalui internet tahun 2004.] Rose, S. dan Chapman, D Timber harvest adjacency economies, hunting, species protection, and old growth value: Seeking the dynamic optimum. Ecological Economics 44: Sahabat Alam Malaysia (SAM) 2004 Additional comment on special environment impact assessment of the proposed Sino-Malaysia JV Forest Plantation Kalabakan and Gunung Rara Forest Reserves, Tawau District, Sabah, Malaysia. SAM. [Diakses melalui internet tahun 2005.] Shyamsundar, P. dan Kramer, R Tropical forest protection: An empirical analysis of the costs borne by local people. Journal of Environmental Economics and Management 31: Simangunsong, B The economic value of Indonesia s natural production forest. Indonesian Working Group on Forest Finance (IWGFF), Jakarta, Indonesia. van Dijk, M Industry evolution in developing countries: The Indonesian pulp and paper industry. Eindhoven Centre for Innovation Studies (Ecis), The Netherlands. 30h. World Rainforest Movement (WRM) 2000 WRM Bulletin Issue no. 39 Oktober WRM, Montevideo. World Rainforest Movement (WRM) Plantations are not forests. WRM, Montevideo.

34 Lampiran I: Seri data lengkap untuk perkiraan manfaat dan pembiayaan secara ekonomi I.1. Inti Indo Rayon Perusahaan perkebunan: Inti Indo Rayon Perusahaan industri terkait: Toba Pulp Lestari/Indorayon Kabupaten: SIMALUNGUN (Districts) TAPUT TOBASA TAPSEL DAIRI Jenis tanaman Jenis 1 Eucalyptus sp. Jenis 2 Jenis 3 Cakupan secara alamiah Jenis 1 MTHW Jenis 2 Pinus Jenis 3 BCR EB (1984)12% = $138,027,774 EEC (1984)12% = $263,921,323 0,52 EB (1984)8%= $241,626,464 EEC (1984)8% = $557,121,027 0,43 EB (1984)4% = $511,588,592 EEC (1984)4% = $1,398,888,431 0,37 EC saat ini Perkiraan EC EB total = $1,441,227,324 Total = $93,727,296 Total = $4,442,146,638 DF KEMAMPUAN PERMINTAAN VOLUME PRODUKSI VOLUME LAYAK PANEN KEBUTUHAN INDUSTRI ANF VOLUME HUTAN ALAM YANG ADA MANFAAT EKONOMI BIAYA EKONOMI Tahun Volume produksi Kebutuhan industri Volume panen Volume tebang Sumber lain Layak Panen kertas, cumm.) Area tanam (ha) Jenis 1: Eucalyptus sp. MI (m 3 /ha) Faktor ketahanan Angka konversi (m 3 Kayu/ ton bubur Kapasitas produksi Kuota Sedang berjalan Terbatas Area konsesi (ha) Jenis 1: MTHW Jenis 2: Pines Jenis 1: Eucalyptus sp. Jenis 1: MTHW Jenis 2: Pinus Dapat mudah dikerjakan Rata-rata produksi kayu (m 3 /ha) Angka konversi (m 3 /ton bubur , ,5 4, , $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $3.56 0,00 $0 0 $1, , ,5 4, , $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $3.56 0,00 $0 0 $1, , ,5 4, , $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $3.56 0,00 $0 0 $1, , ,5 4, , $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $3.56 0,00 $0 0 $1, , , ,5 4, , $3,456, $307,469 $0.46 0,00 $ ,00 $ ,00 $554, $1, , , ,5 4, , $28,224, $2,510,995 $0.46 0,00 $ ,00 $ ,00 $5,080, $1, , , ,5 4, , $28,224, $2,510,995 $0.46 0,00 $ ,00 $ ,00 $9,607, $1, , , , ,5 4, , $28,224, $2,510,995 $0.46 0,00 $ ,00 $ ,00 $14,133, $1, , , , ,29 91,5 4, , $29,988, $6,967,919 $0.46 0,00 $ ,67 $ ,52 $23,264, $1, , , , ,29 91,5 4, , $39,984, $9,290,559 $0.46 0,00 $ ,22 $ ,02 $35,439, $1, , , , ,29 91,5 4, , $39,984, $9,290,559 $0.46 0,00 $ ,22 $ ,02 $47,614, $1, , , , ,29 91,5 4, , $39,984, $9,290,559 $0.46 0,00 $ ,22 $ ,02 $59,789, $1, , , , ,29 91,5 4, , $39,984, $9,290,559 $0.46 0,00 $ ,22 $ ,02 $71,964, $1, , , , ,29 91,5 4, , $39,984, $9,290,559 $0.46 0,00 $ ,22 $ ,02 $84,138, $1, , , , ,29 91,5 4, , $14,280, $3,318,057 $0.46 0,00 $ ,37 $ ,01 $88,487, $1, , , ,29 91,5 4, , $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $3.56 0,00 $88,487,028 0 $1, , , ,29 91,5 4, , $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $3.56 0,00 $88,487,028 0 $1, , , ,29 91,5 4, , $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $3.56 0,00 $88,487,028 0 $1, , , ,29 91,5 4, , $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $3.56 0,00 $88,487,028 0 $1, , , ,29 91,5 4, , $26,112, $6,067,304 $0.46 0,00 $ ,13 $ ,44 $96,437, $1, , , ,29 91,5 4, , $39,984, $9,290,559 $0.46 0,00 $ ,22 $ ,02 $108,612, $1, , , ,29 91,5 4,5 0 0, $38,409, $2,321,663 $ ,80 $ ,10 $3.56 0,00 $111,066, $1, , , ,29 91,5 4,5 0 0, $37,632, $429,691 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $37,632, $429,691 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $37,632, $429,691 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $37,632, $429,691 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $37,632, $429,691 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $27,445, $313,379 $ ,21 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $28,560, $326,105 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $28,560, $326,105 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $28,560, $326,105 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $28,560, $326,105 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $28,560, $326,105 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1,283 Area konversi (ha) Dapat mudah dikerjakan Rata-rata produksi kayu (m 3 /ha) Angka konversi (m3/ton bubur EB (US$) Harga (US$/m 3 ) Volume produksi (m 3 of Kayu) EC saat ini (US$) Biaya panen (US$/m 3 ) Jumlah panen keseluruhan (m 3 ) Biaya tebangan (US$/m 3 ) Keseluruhan jumlah tebangan (m 3 ) Biaya tebangan (US$/m 3 ) Keseluruhan jumlah tebangan (m 3 ) EEC (US$) Area yang telah di tebang (ha) TEV (US$/ha) Catatan: ANF = hutan alam yang tersedia MI = Rata-rata penambahan (rata-rata penambahan tahunan, MAI * Tahun dalam rotasi). MTHW = Kayu keras campuran. TEV = Nilai ekonomi secara keseluruhan. DF = Kemampuan permintaan.

35 I.2. Arara Abadi Perusahaan perkebunan: Arara Abadi Jenis tanaman Cakupan secara alamiah Jenis 1 Acacia sp. Jenis 1 MTHW Jenis 2 Jenis 3 Jenis 2 Jenis 3 Perusahaan industri terkait: Kabupaten: (Districts) Indah Kiat KAMPAR PELALAWAN SIAK BENGKALIS ROKAN HILIR DUMAI PEKANBARU BCR EB (1984)12% = US$398,513,520 EC (1984)12% = US$533,947, EB (1984)8% = US$793,918,705 EC (1984)8% = US$1,169,452, EB (1984)4% = US$1,935,837,869 EC (1984)4% = US$3,169,867, EC saat ini Perkiraan EC EB total = US$6,187,130,263 EC total = US$358,214,408 EC total = US$11,164,245,409 DF Tahun KEMAMPUAN PERMINTAAN VOLUME PRODUKSI VOLUME LAYAK PANEN KEBUTUHAN INDUSTRI ANF VOLUME HUTAN ALAM YANG ADA MANFAAT EKONOMI BIAYA EKONOMI Jenis 1: Acacia sp. Terbatas Jenis 1: MTHW Jenis 1: Acacia sp. Jenis 1: MTHW MI Kuota Harga EC saat ini (m 3 /ha) (US$) (US$/m 3 ) (US$) Volume produksi Kebutuhan industri Volume panen Volume tebang Sumber lain Layak Panen kertas, cumm.) Area tanam (ha) Faktor ketahanan Angka konversi (m 3 Kayu/ton bubur Kapasitas produksi (ton bubur Sedang berjalan ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $21,168, $5,935,446 $0.46 0,00 $ ,00 $5,486, $1, ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $21,168, $5,935,446 $0.46 0,00 $ ,00 $10,973, $1, ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $21,168, $5,935,446 $0.46 0,00 $ ,00 $16,459, $1, ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $21,168, $5,935,446 $0.46 0,00 $ ,00 $21,946, $1, ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $21,168, $5,935,446 $0.46 0,00 $ ,00 $27,432, $1, ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $21,168, $5,935,446 $0.46 0,00 $ ,00 $32,919, $1, ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $15,552, $4,360,736 $0.46 0,00 $ ,00 $36,950, $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $1,599, $18,259 $ ,45 $ ,00 $36,950,400 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $1,352, $15,443 $ ,25 $ ,00 $36,950,400 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $5,755, $65,715 $ ,92 $ ,00 $36,950,400 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $7,877, $89,942 $ ,39 $ ,00 $36,950,400 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $10,365, $118,360 $ ,30 $ ,00 $36,950,400 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $38,279, $437,081 $ ,12 $ ,00 $36,950,400 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $82,606, $943,216 $ ,12 $ ,00 $36,950,400 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $112,014, $31,408,404 $0.46 0,00 $ ,00 $65,983, $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $112,014, $31,408,404 $0.46 0,00 $ ,00 $95,016, $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $112,014, $31,408,404 $0.46 0,00 $ ,00 $124,049, $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $352,800, $98,924,108 $0.46 0,00 $ ,00 $215,492, $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $350,242, $67,937,828 $ ,00 $ ,50 $277,104, $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $276,432, $3,156,369 $ ,88 $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $113,239, $1,292,998 $ ,14 $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $76,496, $873,451 $ ,22 $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $112,665, $1,286,441 $ ,42 $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $86,753, $990,571 $ ,74 $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $134,797, $1,539,152 $ ,83 $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $136,299, $1,556,302 $ ,71 $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $113,629, $1,297,453 $0.46 2, ,60 $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $121,008, $1,381,703 $ ,60 $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $121,008, $1,381,703 $ ,60 $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $128,386, $1,465,953 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $128,386, $1,465,953 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $128,386, $1,465,953 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $128,386, $1,465,953 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1,283 Area konsesi (ha) Dapat mudah dikerjakan Rata-rata produksi kayu (m 3 /Ha) Angka konversi (m 3 /ton bubur Volume produksi (m 3 of Kayu) Biaya panen (US$/m 3 ) Jumlah Panen keseluruhan (m 3 ) Biaya tebangan (US$/m 3 ) Keseluruhan jumlah tebangan (m 3 ) Perkiraan EC (US$) Area yang telah di tebang (ha) TEV (US$/ha) Catatan: ANF = hutan alam yang tersedia MI = Rata-rata penambahan (rata-rata penambahan tahunan, MAI * Tahun dalam rotasi). MTHW = Kayu keras campuran. TEV = Nilai ekonomi secara keseluruhan. DF = Kemampuan permintaan.

36 I.3. Riau Forestry Perusahaan perkebunan: RAPP Jenis tanaman Cakupan secara alamiah Jenis 1 Acacia sp. Jenis 1 MTHW Jenis 2 Jenis 3 Jenis 2 Jenis 3 Perusahaan industri terkait: Kabupaten: (Districts) RAPP PELALAWAN KUANTAN SINGINGI KAMPAR INDRAGIRI HULU SIAK BCR EB (1984)12% = 269,709,028 EC (1984)12% = 495,253, EB (1984)8% = 556,385,589 EC (1984)8% = 1,222,022, EB (1984)4% = 1,336,119,511 EC (1984)4% = 3,547,376, EC saat ini Perkiraan EC Total EB = $4,114,463,362 Total EC = $370,787,482 Total EC = $12,870,141,863 DF Tahun KEMAMPUAN PERMINTAAN VOLUME PRODUKSI VOLUME LAYAK PANEN KEBUTUHAN INDUSTRI ANF AVAILABLE NATURAL FOREST VOLUME MANFAAT EKONOMI ECONOMIC COSTS Volume Kebutuhan Volume Volume Sumber lain Layak Panen Jenis 1: Acacia sp. Terbatas Jenis 1: MTHW Jenis 1: Acacia sp. Jenis 1: MTHW Area yang produksi industri panen. tebang kertas, cumm.) Area tanam (ha) MI (m 3 /ha) Faktor ketahanan Kuota Sedang berjalan Area konversi (ha) EB (US$) Harga (US$/m 3 ) EC saat ini (US$) Biaya panen (US$/m 3 ) Biaya tebangan (US$/m 3 ) Perkiraan EC (US$) telah di tebang (ha) Angka konversi (m 3 Kayu/ton bubur Kapasitas produksi , ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, , ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, , ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, , ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, , ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, , ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, , ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, ,00 4, ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, ,00 4, ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, , ,70 4, , ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, , ,70 4, , ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $54,180, $15,191,917 $ $ ,00 $14,481, $1, , ,70 4, , , ,50 $84,420, $23,671,126 $ $ ,00 $37,046, $1, , ,70 4, , , ,50 $100,800, $28,264,031 $ $ ,00 $63,989, $1, , ,70 4, , , ,50 $210,600, $59,051,636 $ $ ,00 $120,281, $1, , ,70 4, , , ,50 $229,320, $64,300,670 $ $ ,00 $181,576, $1, , ,70 4, , , ,50 $229,320, $64,300,670 $ $ ,00 $242,871, $1, , ,70 4, , , ,50 $229,320, $64,300,670 $ $ ,00 $304,167, $1, , ,70 4, , , ,50 $105,498, $18,924,933 $ ,74 $ ,00 $321,776, $1, , ,70 4, , , ,50 $58,254, $665,166 $ ,20 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $76,742, $876,265 $ ,87 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $54,684, $624,406 $ ,77 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $61,558, $702,894 $ $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $31,425, $358,823 $ $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $60,762, $693,796 $ $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $97,125, $1,109,004 $ $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $63,021, $719,599 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $63,021, $719,599 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $63,021, $719,599 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $63,021, $719,599 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $63,021, $719,599 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $63,021, $719,599 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $63,021, $719,599 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1,283 Dapat mudah dikerjakan Rata-rata produksi kayu (m 3 /ha) Angka konversi (m 3 /ton bubur Volume produksi (m 3 of wood) Jumlah panen keseluruhan (m 3 ) Keseluruhan jumlah tebangan (m 3 ) TEV (US$/ha) Catatan: ANF = hutan alam yang tersedia MI = Rata-rata penambahan (rata-rata penambahan tahunan, MAI * Tahun dalam rotasi). MTHW = Kayu keras campuran. TEV = Nilai ekonomi secara keseluruhan. DF = Kemampuan permintaan.

37 I.4. Wira Karya Sakti Perusahaan perkebunan: Wira Karya Sakti Jenis tanaman Cakupan secara alamiah Jenis 1 Acacia sp. Jenis 1 MTHW Jenis 2 Jenis 3 Jenis 2 Jenis 3 Perusahaan industri terkait: Kabupaten: (Districts) Lontar Papyrus TAN JAB BARAT BATANG HARI MUARO JAMBI TAN JAB TIMUR BCR EB (1984)12% = $196,769,551 EC (1984)12% = $319,480, EB (1984)8% = $426,455,511 EC (1984)8% = $780,475, EB (1984)4% = $1,106,100,135 EC (1984)4% = $2,257,196, EC saat ini Perkiraan EC EB total = $3,720,852,925 EC total = $256,481,789 EC total = $8,197,029,284 DF KEMAMPUAN PERMINTAAN VOLUME PRODUKSI VOLUME LAYAK PANEN KEBUTUHAN INDUSTRI ANF VOLUME NF YANG ADA MANFAAT EKONOMI BIAYA EKONOMI Tahun Volume produksi Kebutuhan industri Volume panen Volume tebang Sumber lain (ton bubur Layak Panen kertas, cumm.) Area tanam (ha) Jenis 1: Acacia sp. MAI (m 3 /ha) Faktor ketahanan Angka konversi (m 3 Kayu/ ton bubur Kapasitas produksi (ton bubur Kuota Sedang berjalan Terbatas Area konversi (ha) Species 1: MTHW Jenis 1: Acacia sp. Species 1: MTHW Dapat mudah dikerjakan Nilai tengah Produksi kayu (m 3 /ha) Angka konversi (m3/ton bubur EB (US$) Harga (US$/m 3 ) Volume produksi (m3 of Kayu) EC saat ini (US$) Biaya panen (US$/m 3 ) Jumlah panen keseluruhan (m 3 ) Biaya tebangan (US$/m 3 ) Total Log. (m 3 ) EEC (US$) Area yang telah di tebang (ha) TEV (US$/ha) 0, , ,75 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $0 0 $1,283 0, , ,75 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $0 0 $1,283 0, , ,75 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $0 0 $1,283 0, , ,75 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $0 0 $1,283 0, , ,75 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $0 0 $1,283 0, , ,75 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $0 0 $1,283 0, , ,75 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $0 0 $1,283 0, , ,75 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $0 0 $1,283 0, ,88 186,9 0,67 4, ,79 123,75 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $0 0 $1,283 0, ,07 186,9 0,67 4, ,79 123,75 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $0 0 $1,283 1, ,42 186,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $72,324, $20,279,442 $0.46 0,00 $ ,00 $18,745, $1,283 1, ,52 186,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $72,324, $20,279,442 $0.46 0,00 $ ,00 $37,491, $1,283 0, ,37 186,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $11,772, $3,300,835 $0.46 0,00 $ ,00 $40,542, $1,283 1, ,06 186,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $72,324, $20,279,442 $0.46 0,00 $ ,00 $59,288, $1,283 1, ,87 186,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $72,324, $20,279,442 $0.46 0,00 $ ,00 $78,034, $1,283 1, ,25 186,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $72,324, $20,279,442 $0.46 0,00 $ ,00 $96,780, $1,283 1, ,07 186,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $72,324, $20,279,442 $0.46 0,00 $ ,00 $115,525, $1,283 1, ,42 200,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $123,480, $34,623,438 $0.46 0,00 $ ,000,00 $147,531, $1,283 1, ,50 200,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $123,480, $34,623,438 $0.46 0,00 $ ,000,00 $179,536, $1,283 1, ,50 200,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $123,022, $29,085,676 $ ,09 $ ,86 $206,209, $1,283 0, ,00 200,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $58,164, $664,135 $ ,80 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 200,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $44,358, $506,494 $ ,61 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 200,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $51,287, $585,614 $ ,60 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 200,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $70,621, $806,369 $ ,84 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 200,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $102,020, $1,164,895 $ ,18 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 200,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $96,852, $1,105,882 $ $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $55,243, $630,787 $ $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $69,993, $799,203 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $69,993, $799,203 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $69,993, $799,203 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $69,993, $799,203 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $69,993, $799,203 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $69,993, $799,203 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 Catatan: ANF = hutan alam yang tersedia MI = Rata-rata penambahan (rata-rata penambahan tahunan, MAI * Tahun dalam rotasi). MTHW = Kayu keras campuran. TEV = Nilai ekonomi secara keseluruhan. DF = Kemampuan permintaan.

38 I.5. Musi Hutan Persada Perusahaan perkebunan: Musi Hutan Persada Jenis tanaman Cakupan secara alamiah Jenis 1 Acacia sp. Jenis 1 Belukar Jenis 2 Jenis 3 Jenis 2 Jenis 3 Perusahaan industri terkait: Kabupaten: (Districts) Tanjung Enim Lestari MUARA ENIM LAHAT OKU MUSI BANYUASIN MUSI RAWAS BCR EB (1984)12% = $232,016,988 EC (1984)12% = $112,471, EB (1984)8% = $594,828,448 EC (1984)8% = $271,596, EB (1984)4% = $1,789,920,969 EC (1984)4% = $770,295, EC saat ini Perkiraan EC EB total = $6,685,418,447 EC total = $85,145,294 EC total = $2,737,393,486 DF KEMAMPUAN PERMINTAAN VOLUME PRODUKSI VOLUME LAYAK PANEN KEBUTUHAN INDUSTRI Jenis 1: Acacia sp. Tahun Volume produksi (ton bubur Kebutuhan industri Vol. Panen Vol. yg telah ditebang) Sumbersumber lain Siap panen kertas, cumm.) Area tanam (ha) MI (m 3 /ha) Faktor ketahanan Angka konversi (m 3 Kayu/ ton bubur Kapasitas Produksi (ton bubur Kuota Berjalan ANF Terbatas Areal konversi (ha) ECONOMIC COSTS VOLUME HUTAN ALAM YANG ADA MANFAAT EKONOMI Jenis 1: Belukar Jenis 1: Acacia sp. Jenis 1: Belukar 0, ,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,95 4,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,95 4,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,95 4,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,95 4,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,95 4,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,95 4, ,34 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,95 4, ,34 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $79,380, $9,452,182 $0.46 0,00 $ ,00 $64,813, $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $77,670, $1,150,631 $ ,37 $ ,80 $66,814, $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $77,616, $886,238 $ ,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $103,488, $1,181,651 $ ,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $137,984, $1,575,535 $ ,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 Dapat mudah dikerjakan Nilai tengah prod. Kayu (m 3 /ha) Angka konversi (m 3 /ton bubur EB (US$) Harga (US$/m 3 ) Volume produksi (m 3 of Kayu) EC saat ini (US$) Biaya panen (US$/m 3 ) Total panen (m 3 ) Cost Log. (US$/m 3 ) Total Log. (m 3 ) Perkiraan EC (US$) Daerah tebangan (ha) TEV (US$/ha) Catatan: ANF = hutan alam yang tersedia MI = Rata-rata penambahan (rata-rata penambahan tahunan, MAI * Tahun dalam rotasi). MTHW = Kayu keras campuran. TEV = Nilai ekonomi secara keseluruhan. DF = Kemampuan permintaan.

39 Alokasi lahan luas milik negara untuk pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia sangat penting dalam menyokong industri bubur kertas dan kertas yang secara ekonomi sangat penting. Alokasi ini menyebabkan pembabatan secara total area yang sangat luas dari hutan, yang telah ditebang untuk mendapatkan kayu utama, dan penghilangan banyak manfaat lingkungan dan ekonomi yang disediakan oleh area tersebut. Makalah kerja CIFOR ini menganalisis biaya dan manfaat ekonomi dari alokasi hampir 1,4 juta hektar hutan bekas tebangan menjadi lima perusahaan perkebunan besar di Sumatera. Hasil dan kesimpulan dari studi ini mungkin sangat relevan khususnya bagi masa depan kebijakan kehutanan di Indonesia.

Decentralisation Brief

Decentralisation Brief No. 8, April 2005 Forests and Governance Programme Can decentralisation work for forests and the poor? Akses Masyarakat Adat Terhadap Peluang-peluang Pembangunan Kehutanan di Kabupaten Manokwari Oleh Max

Lebih terperinci

BAB 8 SUMBER DAYA LAHAN

BAB 8 SUMBER DAYA LAHAN BAB 8 SUMBER DAYA LAHAN 8.1. Beberapa Konsep Dasar Ekonomi Lahan Lahan mempunyai tempat yang khusus dalam kelompok sumber daya, karena lahan diperlukan dalam semua aspek kehidupan manusia dan lahan juga

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

KODEFIKASI RPI 25. Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan

KODEFIKASI RPI 25. Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan KODEFIKASI RPI 25 Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan Lembar Pengesahan Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan 851 852 RENCANA PENELITIAN INTEGRATIF 2010-2014

Lebih terperinci

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA September 2011 1. Pendahuluan Pulau Kalimantan terkenal

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU 189 Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian Urgensi dan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bengkulu 7 Juli 2011 ISBN 978-602-19247-0-9 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

(APP) (5 2013) RENCANA EVALUASI TANGGAL DIKELUARKAN:

(APP) (5 2013) RENCANA EVALUASI TANGGAL DIKELUARKAN: Evaluasi Independen terhadap Perkembangan Pemenuhan Komitmen Asia Pulp and Paper (APP) sesuai Kebijakan Konservasi Hutan (Forest Conservation Policy/FCP) Perusahaan (5 Februari 2013) RENCANA EVALUASI TANGGAL

Lebih terperinci

SINAR MAS: Ancaman Kelapa Sawit di Indonesia

SINAR MAS: Ancaman Kelapa Sawit di Indonesia SINAR MAS: Ancaman Kelapa Sawit di Indonesia Salah satu bentuk ancaman baru terhadap hutan Indonesia adalah maraknya pembukaan perkebunan kelapa sawit baru, yang didorong oleh meningkatnya permintaan dunia

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN BERBAGAI JENIS PADA IZIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI

Lebih terperinci

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Laporan ini berisi Kata Pengantar dan Ringkasan Eksekutif. Terjemahan lengkap laporan dalam Bahasa Indonesia akan diterbitkan pada waktunya. LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Pendefinisian

Lebih terperinci

Temuan Foto Sampul: Lanskap di Kutai Barat (kiri), Desa Batu Majang di Kabupaten Kutai Barat (kanan) / Subekti Rahayu

Temuan Foto Sampul: Lanskap di Kutai Barat (kiri), Desa Batu Majang di Kabupaten Kutai Barat (kanan) / Subekti Rahayu BRIEF No. 36 Perancangan Aksi Mitigasi Untuk Mendukung Rencana Pembangunan Rendah Emisi di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur Indonesia adalah salah satu negara yang telah berkomitmen untuk mengurangi

Lebih terperinci

Decentralisation Brief

Decentralisation Brief No.9, April 2005 Forests and Governance Programme Can decentralisation work for forests and the poor? Marginalisasi Masyarakat Miskin di Sekitar Hutan: Studi Kasus HPHH 100 Ha di Kabupaten Sintang, Provinsi

Lebih terperinci

-eq/(ha.tahun). Keluaran matriks emisi untuk tab unit perencanaan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

-eq/(ha.tahun). Keluaran matriks emisi untuk tab unit perencanaan dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Keluaran Matriks Emisi Keluaran dari matriks emisi adalah total hasil perhitungan matriks yang terbagi atas tab unit perencanaan, emisi bersih, emisi total, dan sekuestrasi total dengan satuan unit ton

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Pemilihan lokasi usaha oleh suatu organisasi (perusahaan) akan mempengaruhi risiko (risk) dan keuntungan (profit) perusahaan tersebut secara keseluruhan. Kondisi ini

Lebih terperinci

BAB 7 PRINSIP DASAR PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM

BAB 7 PRINSIP DASAR PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM BAB 7 PRINSIP DASAR PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM 7.1. Pengelompokan Sumber Daya Alam Keputusan perusahaan dan rumah tangga dalam menggunakan sumber daya alam dipengaruhi oleh karakteristik fisik dan biologi

Lebih terperinci

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang No. 5, Agustus 2002 Warta Kebijakan C I F O R - C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan

Lebih terperinci

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-5 1 Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta Dwitanti Wahyu Utami dan Retno Indryani Jurusan Teknik

Lebih terperinci

Resiko Korupsi dalam REDD+ Oleh: Team Expert

Resiko Korupsi dalam REDD+ Oleh: Team Expert Resiko Korupsi dalam REDD+ Oleh: Team Expert Kenapa Kita Bicara Korupsi dalam REDD? Good Governance Lestari Hutan Dikelola Korupsi Rusak REDD Insentif Lestari Korupsi Rusak Akar Masalah Deforestasi Dan

Lebih terperinci

INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA In House Training Profil Bisnis Industri Kelapa Sawit Indonesia Medan, 30-31 Mei 2011

INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA In House Training Profil Bisnis Industri Kelapa Sawit Indonesia Medan, 30-31 Mei 2011 INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA In House Training Profil Bisnis Industri Kelapa Sawit Indonesia Medan, 30-31 Mei 2011 Ignatius Ery Kurniawan PT. MITRA MEDIA NUSANTARA 2011 KEMENTERIAN KEUANGAN

Lebih terperinci

I. U M U M. TATA CARA PANEN.

I. U M U M. TATA CARA PANEN. LAMPIRAN : PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 17/Permentan/OT.140/2/2010 TANGGAL : 5 Pebruari 2010 TENTANG : PEDOMAN PENETAPAN HARGA PEMBELIAN TANDA BUAH SEGAR (TBS) KELAPA SAWIT PRODUKSI PEKEBUN TATA

Lebih terperinci

4 KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

4 KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN 4 KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN doc. FWI Simpul Sumatera 4.1. Dari Kebakaran yang Normal Sampai yang Tidak Normal Salah satu akibat yang paling nampak dari salah urus pengelolaan hutan selama 30 tahun yang

Lebih terperinci

PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS

PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS Jakarta, 27 Mei 2015 Pendahuluan Tujuan Kebijakan Industri Nasional : 1 2 Meningkatkan produksi nasional. Meningkatkan

Lebih terperinci

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan 2007 Kerja sama Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan, Departemen Kehutanan dengan Direktorat Statistik Pertanian, Badan Pusat Statistik Jakarta, 2007 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

MENINGKATKAN DEVISA SEKTOR KEHUTANAN TANPA MENGABAIKAN LINGKUNGAN

MENINGKATKAN DEVISA SEKTOR KEHUTANAN TANPA MENGABAIKAN LINGKUNGAN MENINGKATKAN DEVISA SEKTOR KEHUTANAN TANPA MENGABAIKAN LINGKUNGAN DWI ENDAH WIDYASTUTI, S. HUT Fakultas Pertanian Jurusan Ilmu Kehutanan Universitas Sumatera Utara A. TREND GLOBAL TERHADAP PRODUK HUTAN

Lebih terperinci

POTRET KEADAAN HUTAN INDONESIA

POTRET KEADAAN HUTAN INDONESIA POTRET KEADAAN HUTAN INDONESIA Periode Tahun 20002009 FOREST WATCH INDONESIA POTRET KEADAAN HUTAN INDONESIA Edisi Pertama 2011 FOREST WATCH INDONESIA POTRET KEADAAN HUTAN INDONESIA PERIODE TAHUN 20002009

Lebih terperinci

1. Apakah perlu atau ada keinginan untuk kerja sama dengan pihak lain, atau bisa mengembangkan usaha sendiri?

1. Apakah perlu atau ada keinginan untuk kerja sama dengan pihak lain, atau bisa mengembangkan usaha sendiri? Kabar dari TIM PENDAMPING PEMETAAN DESA PARTISIPATIF HULU SUNGAI MALINAU No. 3, Agustus 2000 Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang baik, Salam sejahtera, dengan surat ini kami ingin menyampaikan contoh pertanyaan-pertanyaan

Lebih terperinci

PENERAPAN PAJAK BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN UU NOMOR 28 TAHUN 2009 TERKAIT BBM BERSUBSIDI

PENERAPAN PAJAK BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN UU NOMOR 28 TAHUN 2009 TERKAIT BBM BERSUBSIDI PENERAPAN PAJAK BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN UU NOMOR 28 TAHUN 2009 TERKAIT BBM BERSUBSIDI 1. Permasalahan Penerapan aturan PBBKB yang baru merupakan kebijakan yang diperkirakan berdampak

Lebih terperinci

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1 TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1 Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta I Jl. Surabaya 2 A, Malang Indonesia 65115 Telp. 62-341-551976, Fax. 62-341-551976 http://www.jasatirta1.go.id

Lebih terperinci

PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 24-34

PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 24-34 PENATAUSAHAAN HASIL HUTAN RAKYAT SEBAGAI UPAYA MENDORONG PEMBANGUNAN KEHUTANAN BERBASIS MASYARAKAT Oleh: Direktur Bina Iuran Kehutanan dan Peredaran Hasil Hutan I. PENDAHULUAN Hutan adalah sumber daya

Lebih terperinci

ALTERNATIF PENDIDIKAN DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT

ALTERNATIF PENDIDIKAN DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT ALTERNATIF PENDIDIKAN DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT Upaya memberi kesempatan belajar bagi masyarakat yang tidak berkesempatan untuk belajar dan bekerjasama mengembangkan komunitasnya di berbagai

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 20/Menhut-II/2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KARBON HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 20/Menhut-II/2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KARBON HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 20/Menhut-II/2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KARBON HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, : a. bahwa

Lebih terperinci

SILABUS OLIMPIADE EKONOMI. : 120 menit tingkat kabupaten/kota dan provinsi. 150 menit tingkat nasional

SILABUS OLIMPIADE EKONOMI. : 120 menit tingkat kabupaten/kota dan provinsi. 150 menit tingkat nasional SILABUS OLIMPIADE EKONOMI Bidang studi Jenjang Alokasi waktu : Ekonomi : SMA/MA : 120 menit tingkat kabupaten/kota dan provinsi 150 menit tingkat nasional Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran 1. Mengidentifikasi

Lebih terperinci

Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan

Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya juga memiliki

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

BAB II PENENTUAN HARGA JUAL DENGAN PENDEKATAN VARIABEL COSTING

BAB II PENENTUAN HARGA JUAL DENGAN PENDEKATAN VARIABEL COSTING BAB II PENENTUAN HARGA JUAL DENGAN PENDEKATAN VARIABEL COSTING II.1. Harga Jual Penentuan harga jual suatu produk atau jasa merupakan salah satu keputusan penting manajemen karena harga yang ditetapkan

Lebih terperinci

Kebakaran Hutan di Indonesia:

Kebakaran Hutan di Indonesia: C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h CIFOR Occasional Paper No. 38(i) Kebakaran Hutan di Indonesia: Penyebab, Biaya dan Implikasi Kebijakan Luca Tacconi ISSN 0854-9818

Lebih terperinci

Disampaikan pada Annual Forum EEP Indonesia 2012 di Provinsi Riau Pekanbaru, 30-31 Oktober 2012

Disampaikan pada Annual Forum EEP Indonesia 2012 di Provinsi Riau Pekanbaru, 30-31 Oktober 2012 Disampaikan pada Annual Forum EEP Indonesia 2012 di Provinsi Riau Pekanbaru, 30-31 Oktober 2012 Oleh : Drs. Z U L H E R, MS Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau TERWUJUDNYA KEBUN UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG TAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG TAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG TAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Juli 2014 Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi risiko perubahan iklim tercermin melalui serangkaian

Lebih terperinci

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau dan Kabupaten Lingga BAB III KONDISI UMUM 3.1. Geografis Wilayah Kepulauan Riau telah dikenal beberapa abad silam tidak hanya di nusantara tetapi juga

Lebih terperinci

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN Pangkal Pinang 16-17 April 2014 BAGIAN DATA DAN INFORMASI BIRO PERENCANAAN KEMENHUT email: datin_rocan@dephut.go.id PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan pelaksanaan pembangunan

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI TAMBAH, KEUNTUNGAN, DAN TITIK IMPAS PENGOLAHAN HASIL RENGGINANG UBI KAYU (RENGGINING) SKALA RUMAH TANGGA DI KOTA BENGKULU

ANALISIS NILAI TAMBAH, KEUNTUNGAN, DAN TITIK IMPAS PENGOLAHAN HASIL RENGGINANG UBI KAYU (RENGGINING) SKALA RUMAH TANGGA DI KOTA BENGKULU ANALISIS NILAI TAMBAH, KEUNTUNGAN, DAN TITIK IMPAS PENGOLAHAN HASIL RENGGINANG UBI KAYU (RENGGINING) SKALA RUMAH TANGGA DI KOTA BENGKULU Andi Ishak, Umi Pudji Astuti dan Bunaiyah Honorita Balai Pengkajian

Lebih terperinci

Program Penelitian CGIAR tentang Hutan, Pohon dan Wanatani. Penghidupan, Bentang Alam dan Tata Kelola

Program Penelitian CGIAR tentang Hutan, Pohon dan Wanatani. Penghidupan, Bentang Alam dan Tata Kelola Program Penelitian CGIAR tentang Hutan, Pohon dan Wanatani Penghidupan, Bentang Alam dan Tata Kelola Program Penelitian CGIAR tentang Hutan, Pohon dan Wanatani (CRP-FTA) CRP-FTA adalah sebuah program kolaboratif

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN

Lebih terperinci

Desa Semoyo merupakan salah satu desa di Kec. Pathuk kab. Gunung Kidul.

Desa Semoyo merupakan salah satu desa di Kec. Pathuk kab. Gunung Kidul. Oleh Mugi Riyanto Kelompok Serikat Petani Pembaharu (SPP) dan Gapoktan Desa Kawasan Konservasi Semoyo. Alamat : Dusun Salak Desa Semoyo, Pathuk Kab. Gunung Kidul Desa Semoyo merupakan salah satu desa di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka secara

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka secara 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka secara otomatis kebutuhan terhadap pangan akan meningkat pula. Untuk memenuhi kebutuhan pangan

Lebih terperinci

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 SEMESTER I

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 SEMESTER I 1 KATA PENGANTAR Kualitas belanja yang baik merupakan kondisi ideal yang ingin diwujudkan dalam pengelolaan APBD. Untuk mendorong tercapainya tujuan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh penyerapan

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 08 Teknik Analisis Aspek Fisik & Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Tata Ruang Tujuan Sosialisasi Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik ik & Lingkungan,

Lebih terperinci

PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012

PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012 PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012 Apa saja prasyaarat agar REDD bisa berjalan Salah satu syarat utama adalah safeguards atau kerangka pengaman Apa itu Safeguards Safeguards

Lebih terperinci

Governance Brief. Menggunakan UU Tindak Pidana Pencucian Uang Menjerat Aktor Intelektual Illegal Logging

Governance Brief. Menggunakan UU Tindak Pidana Pencucian Uang Menjerat Aktor Intelektual Illegal Logging C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Forests and Governance Programme Menggunakan UU Tindak Pidana Pencucian Uang Menjerat Aktor Intelektual Illegal Logging Bambang

Lebih terperinci

PETA 1. Perubahan Tutupan Hutan Alam di Indonesia, 1985-1997

PETA 1. Perubahan Tutupan Hutan Alam di Indonesia, 1985-1997 Lampiran Peta PETA 1. Perubahan Tutupan Hutan Alam di Indonesia, 1985-1997 Tutupan hutan, 1997 Regenerasi potensial Kehilangan hutan, 1985-1997 Kawasan yang datanya bertentangan Data tutupan hutan 1997

Lebih terperinci

HUTAN-HUTAN INDONESIA: APA YANG DIPERTARUHKAN?

HUTAN-HUTAN INDONESIA: APA YANG DIPERTARUHKAN? 1 HUTAN-HUTAN INDONESIA: APA YANG DIPERTARUHKAN? doc. FWI Simpul Sulawesi 1.1. Hutan Tropis Seratus Juta Hektar Sebagian dari hutan tropis terbesar di dunia terdapat di Indonesia. Dalam hal luasnya, hutan

Lebih terperinci

PROGRAM TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI BIOMASSA (TSHE) INDONESIA

PROGRAM TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI BIOMASSA (TSHE) INDONESIA PROGRAM TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI BIOMASSA (TSHE) INDONESIA Program kerja sama antara Kementrian ESDM Direktorat Jendral Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Direktorat bioenergi - dan Bank Dunia

Lebih terperinci

Teori Produksi dan Kegiatan Perusahaan. Pengantar Ilmu Ekonomi TIP FTP UB

Teori Produksi dan Kegiatan Perusahaan. Pengantar Ilmu Ekonomi TIP FTP UB Teori Produksi dan Kegiatan Perusahaan Pengantar Ilmu Ekonomi TIP FTP UB Perusahaan ditinjau dari sisi Teori Ekonomi Tidak dibedakan atas kepemilikanya, jenis usahanya maupun skalanya. Terfokus pada bagaimana

Lebih terperinci

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep II. LANDASAN TEORI 2.1 Arti dan Pentingnya Pemasaran Pemasaran merupakan faktor penting untuk mencapai sukses bagi perusahaan akan mengetahui adanya cara dan falsafah yang terlibat didalamnya. Cara dan

Lebih terperinci

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I 1 laporan monitoring realisasi APBD dan dana idle Tahun 2013 Triwulan I RINGKASAN EKSEKUTIF Estimasi realisasi belanja daerah triwulan I Tahun 2013 merupakan

Lebih terperinci

BABI PENDAHULU~ Jumlah uang beredar teramat penting karena peranannya sebagai alat

BABI PENDAHULU~ Jumlah uang beredar teramat penting karena peranannya sebagai alat BABI PENDAHULU~ 1.1 Latar Belakang Jumlah uang beredar teramat penting karena peranannya sebagai alat transaksi penggerak perekonomian. Besar kecilnya jumlah uang beredar akan mempengaruhi daya beli riil

Lebih terperinci

MATERI PERDAGANGAN LUAR NEGERI

MATERI PERDAGANGAN LUAR NEGERI MATERI PERDAGANGAN LUAR NEGERI A. Definisi Pengertian perdagangan internasional merupakan hubungan kegiatan ekonomi antarnegara yang diwujudkan dengan adanya proses pertukaran barang atau jasa atas dasar

Lebih terperinci

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia IFAD/R. Grossman Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia Kemiskinan perdesaan di Indonesia Indonesia telah melakukan pemulihan krisis keuangan pada tahun 1997 yang

Lebih terperinci

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79 No. 17/03/34/Th.XVII, 2 Maret 2015 NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI 1. Nilai Tukar Petani (NTP) Pada Februari 2015, NTP

Lebih terperinci

Legalitas Pengeksporan Hasil-Hasil Hutan ke Negara-Negara Uni Eropa, Australia dan Amerika Serikat

Legalitas Pengeksporan Hasil-Hasil Hutan ke Negara-Negara Uni Eropa, Australia dan Amerika Serikat Legalitas Pengeksporan Hasil-Hasil Hutan ke Negara-Negara Uni Eropa, Australia dan Amerika Serikat LOKAKARYA PELATIHAN LEGALITAS Kota, Negara Tanggal, 2013 Australian Illegal Logging Prohibition Act (AILPA)

Lebih terperinci

Transparansi dan Akuntabilitas di Industri Migas dan Pertambangan: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK

Transparansi dan Akuntabilitas di Industri Migas dan Pertambangan: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Briefing October 2014 Transparansi dan Akuntabilitas di Industri Migas dan Pertambangan: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Patrick Heller dan Poppy Ismalina Universitas Gadjah Mada Pengalaman dari

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1.tE,"P...F.3...1!..7. INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

Pengalaman Penegakan Hukum yang Berkaitan dengan Kebakaran di Areal Perkebunan dan HTI Rawa Gambut

Pengalaman Penegakan Hukum yang Berkaitan dengan Kebakaran di Areal Perkebunan dan HTI Rawa Gambut Darjono 73 Pengalaman Penegakan Hukum yang Berkaitan dengan Kebakaran di Areal Perkebunan dan HTI Rawa Gambut Darjono 1 Abstrak Kebakaran hutan dan lahan di Propinsi Riau pada umumnya terjadi di lahan

Lebih terperinci

ACEH: Proyek Uji Coba REDD+ Ulu Masen

ACEH: Proyek Uji Coba REDD+ Ulu Masen Seri briefing hak-hak, hutan dan iklim Oktober 2011 ACEH: Proyek Uji Coba REDD+ Ulu Masen Proyek Ulu Masen dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Aceh dengan bantuan Fauna and Flora International (FFI)

Lebih terperinci

10. Aspek Ekonomi, Sosial, dan Politik

10. Aspek Ekonomi, Sosial, dan Politik 10. Aspek Ekonomi, Sosial, dan Politik Lecture Note: Trisnadi Wijaya, S.E., S.Kom Trisnadi Wijaya, S.E., S.Kom 1 Studi Kelayakan Bisnis 1. ASPEK EKONOMI Trisnadi Wijaya, S.E., S.Kom 2 Pendahuluan Cukup

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN HUTAN RAKYAT. Disampaikan oleh: Dede Rohadi

PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN HUTAN RAKYAT. Disampaikan oleh: Dede Rohadi PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN HUTAN RAKYAT Disampaikan oleh: Dede Rohadi Gelar Teknologi Badan Litbang Kehutanan Semarang, 2 Oktober 2012 Outline Presentasi 1. PENDAHULUAN 2. KARAKTERISTIK SISTEM USAHA TANAMAN

Lebih terperinci

di kota tetap Balikpapan menjanjikan. Era ini (tahun milik setara Produksi ton atau Segar) ton CPO (Crude skala cukup luas saat Paser

di kota tetap Balikpapan menjanjikan. Era ini (tahun milik setara Produksi ton atau Segar) ton CPO (Crude skala cukup luas saat Paser Peluang Industri Komoditi Kelapaa Sawit di kota Balikpapan (Sumber : Dataa Badan Pusat Statistik Pusat dan BPS Kota Balikpapan dalam Angka 2011, balikpapan.go.id, www..grandsudirman.com dan berbagai sumber,

Lebih terperinci

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 PERSEDIAAN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 PERSEDIAAN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 PERSEDIAAN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 tentang Persediaan disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal

Lebih terperinci

Analisis Valuasi Ekonomi Investasi Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia

Analisis Valuasi Ekonomi Investasi Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia Analisis Valuasi Ekonomi Investasi Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia September 2001 Laporan Teknis Analisis Valuasi Ekonomi Investasi Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia Oleh: E. G. Togu Manurung Forest

Lebih terperinci

BAB III DISAIN PRODUK

BAB III DISAIN PRODUK BAB III DISAIN PRODUK 3.1. Pendahuluan Salah satu karakteristik manusia adalah mereka selalu berusaha mencitakan sesuatu, baik alat atau benda lainnya untuk membantu kehidupan mereka. Untuk mewejudkan

Lebih terperinci

Sepuluh Tahun Riset Hutan Hujan Tropica Dataran Rendah di Labanan, Kalimantan Timur Plot Penelitian STREK

Sepuluh Tahun Riset Hutan Hujan Tropica Dataran Rendah di Labanan, Kalimantan Timur Plot Penelitian STREK European Union Ministry of Forestry and Estate Crops Sepuluh Tahun Riset Hutan Hujan Tropica Dataran Rendah di Labanan, Kalimantan Timur Plot Penelitian STREK 1999 Graham Tyrie Manggala Wanabakti, Jakarta

Lebih terperinci

Prakarsa Karet Alam Berkesinambungan Sukarela (SNR) Kriteria dan Indikator Kinerja

Prakarsa Karet Alam Berkesinambungan Sukarela (SNR) Kriteria dan Indikator Kinerja Prakarsa Karet Alam Berkesinambungan Sukarela (SNR) Kriteria dan Indikator Kinerja Kriteria, Indikator dan KPI Karet Alam Berkesinambungan 1. Referensi Kriteria, Indikator dan KPI SNR mengikuti sejumlah

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA ACARA FINALISASI DAN REALISASI MASTERPLAN PUSAT KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (PPKH) Pongkor, Selasa, 23 April 2013

SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA ACARA FINALISASI DAN REALISASI MASTERPLAN PUSAT KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (PPKH) Pongkor, Selasa, 23 April 2013 SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA ACARA FINALISASI DAN REALISASI MASTERPLAN PUSAT KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (PPKH) Pongkor, Selasa, 23 April 2013 Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang

Lebih terperinci

Panduan Penerapan Penilaian Indonesia 18 (PPPI 18) Penilaian Dalam Rangka Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum

Panduan Penerapan Penilaian Indonesia 18 (PPPI 18) Penilaian Dalam Rangka Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum Panduan Penerapan Penilaian Indonesia 18 (PPPI 18) Penilaian Dalam Rangka Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum Komentar atas draf ini dapat diberikan sampai dengan tanggal 10 Desember

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam 10 tahun terakhir, jumlah kebutuhan ikan di pasar dunia semakin meningkat, untuk konsumsi dibutuhkan 119,6 juta ton/tahun. Jumlah tersebut hanya sekitar 40 %

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA AMBON MALUKU KOTA AMBON ADMINISTRASI Profil Wilayah Kota Ambon merupakan ibukota propinsi kepulauan Maluku. Dengan sejarah sebagai wilayah perdagangan rempah terkenal, membentuk

Lebih terperinci

Governance Brief. Mengapa kawasan hutan penting bagi penanggulangan kemiskinan di Indonesia?

Governance Brief. Mengapa kawasan hutan penting bagi penanggulangan kemiskinan di Indonesia? C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Forests and Governance Programme Mengapa kawasan hutan penting bagi penanggulangan kemiskinan di Indonesia? Eva Wollenberg, Brian

Lebih terperinci

UNTUK DITERBITKAN SEGERA. 24 September 2014

UNTUK DITERBITKAN SEGERA. 24 September 2014 UNTUK DITERBITKAN SEGERA Corporate Communications Division Public Relations & Investor Relations Office 1-1-1 Shibaura, Minato-ku, Tokyo 105-8001, Japan URL : http://www.toshiba.co.jp/about/press/index.htm

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara yang berkembang yang giat giatnya melaksanakan

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Negara yang berkembang yang giat giatnya melaksanakan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan Negara yang berkembang yang giat giatnya melaksanakan pembangunan di segala bidang termasuk pembangunan di bidang kesehatan.pembangunan kesehatan

Lebih terperinci

Petunjuk Pemakaian Permainan Bentang Alam

Petunjuk Pemakaian Permainan Bentang Alam Petunjuk Pemakaian Permainan Bentang Alam Permainan ini menghadirkan dinamika kompetisi lahan, kebijakan dan dan kelestarian bentang alam Landscape Game ini dikembangkan oleh Herry Purnomo dengan kontribusi

Lebih terperinci

Program Bonus: Sebuah Modifikasi dari Konsep Kredit-Mikro

Program Bonus: Sebuah Modifikasi dari Konsep Kredit-Mikro Deskripsi Singkat Program Bonus: Sebuah Modifikasi dari Konsep Kredit-Mikro Tujuan dokumen ini adalah untuk memberikan gambaran singkat tentang Program Bonus. Program Bonus memobilisasi dana hibah untuk

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Pendahuluan Kebijakan anggaran mendasarkan pada pendekatan kinerja dan berkomitmen untuk menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Anggaran kinerja adalah

Lebih terperinci

Bekerja sama untuk konservasi hutan

Bekerja sama untuk konservasi hutan Bekerja sama untuk konservasi hutan 1 Presentasi ini dikeluarkan oleh Golden Agri-Resources Ltd ( GAR atau Perusahaan ) guna keperluan pemberian informasi. Presentasi ini memuat pernyataan-pernyataan,

Lebih terperinci

PERANAN PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN

PERANAN PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN PERANAN PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN Peranan Pemerintah Dalam Perekonomian Dapat dilihat dari Format dan Komposisi APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) Contohnya pada saat krisis ekonomi tahun 1997,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Peranan sektor pertanian dalam pembangunan di Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Pemerintah memberikan amanat bahwa prioritas pembangunan diletakkan pada pembangunan

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA)

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Menimbang : PP 47/1997, RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 47 TAHUN 1997 (47/1997) Tanggal: 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber:

Lebih terperinci

Pengumuman Hasil Sertifikasi Legalitas Kayu pada IUIPHHK PT. Suka Jaya Makmur, Provinsi Kalimantan Barat oleh SUCOFINDO ICS

Pengumuman Hasil Sertifikasi Legalitas Kayu pada IUIPHHK PT. Suka Jaya Makmur, Provinsi Kalimantan Barat oleh SUCOFINDO ICS Materi Website Pengumuman Hasil Sertifikasi Legalitas Kayu pada IUIPHHK PT. Suka Jaya Makmur, Provinsi Kalimantan Barat oleh SUCOFINDO ICS Jaminan legalitas produk kayu harus dibuktikan dengan adanya sistem

Lebih terperinci

RINGKASAN DISERTASI. Oleh : Sayid Syarief Fathillah NIM 06/240605/SPN/00217

RINGKASAN DISERTASI. Oleh : Sayid Syarief Fathillah NIM 06/240605/SPN/00217 PENILAIAN TINGKAT BAHAYA EROSI, SEDIMENTASI, DAN KEMAMPUAN SERTA KESESUAIAN LAHAN KELAPA SAWIT UNTUK PENATAGUNAAN LAHAN DAS TENGGARONG, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA RINGKASAN DISERTASI Oleh : Sayid Syarief

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DALAM ACARA PERINGATAN HARI MENANAM POHON INDONESIA (HMPI) DAN BULAN MENANAM NASIONAL (BMN)

SAMBUTAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DALAM ACARA PERINGATAN HARI MENANAM POHON INDONESIA (HMPI) DAN BULAN MENANAM NASIONAL (BMN) SAMBUTAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DALAM ACARA PERINGATAN HARI MENANAM POHON INDONESIA (HMPI) DAN BULAN MENANAM NASIONAL (BMN) TAHUN 2014 DI SELURUH INDONESIA Yang terhormat : Gubernur/Bupati/Walikota

Lebih terperinci

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,

Lebih terperinci

ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG

ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG K E M E N T E R I A N P E R E N C A N A A N P E M B A N G U N A N N A S I O N A L / B A D A N P E R E N C A N A A N P E M B A N G U N A N N A S I O N A L ( B A

Lebih terperinci

IWGFF PERKIRAAN PENGGUNAAN SUMBER BAHAN BAKU INDUSTRI PULP & PAPER. Studi Advokasi: PT RAPP & PT IKPP di Propinsi Riau

IWGFF PERKIRAAN PENGGUNAAN SUMBER BAHAN BAKU INDUSTRI PULP & PAPER. Studi Advokasi: PT RAPP & PT IKPP di Propinsi Riau IWGFF PERKIRAAN PENGGUNAAN SUMBER BAHAN BAKU INDUSTRI PULP & PAPER Studi Advokasi: PT RAPP & PT IKPP di Propinsi Riau Desember 2010 INDONESIAN WORKING GROUP ON FOREST FINANCE Kantor Taman A9 Unit A-1,

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JUNI 2001

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JUNI 2001 REPUBLIK INDONESIA PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JUNI 2001 Kondisi ekonomi makro bulan Juni 2001 tidak mengalami perbaikan dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Kepercayaan masyarakat

Lebih terperinci

Kerangka acuan kerja Urban Farming sebagai Solusi Kehidupan Hijau Perkotaan

Kerangka acuan kerja Urban Farming sebagai Solusi Kehidupan Hijau Perkotaan Kerangka acuan kerja Urban Farming sebagai Solusi Kehidupan Hijau Perkotaan 1. Pendahuluan 1.1.Latar Belakang Dunia, tidak terkecuali Indonesia tengah menghadapai dua masalah yang sangat fundamental dan

Lebih terperinci

Emisi Dari Alih Guna Lahan. Apa itu emisi alih guna lahan dan bagaimana cara menghitungnya?

Emisi Dari Alih Guna Lahan. Apa itu emisi alih guna lahan dan bagaimana cara menghitungnya? Emisi Dari Alih Guna Lahan Apa itu emisi alih guna lahan dan bagaimana cara menghitungnya? 1 Sejarah dan latar belakang ISPO membentuk sebuah kelompok kerja yang bertujuan untuk membuat sebuah kalkulator

Lebih terperinci

Kebijakan pengelolaan zona khusus Dapatkah meretas kebuntuan dalam menata ruang Taman Nasional di Indonesia?

Kebijakan pengelolaan zona khusus Dapatkah meretas kebuntuan dalam menata ruang Taman Nasional di Indonesia? Brief CIFOR memberi informasi mengenai topik terkini di bidang penelitian kehutanan secara ringkas, akurat dan ilmiah. CIFOR No. 01, April 2010 www.cifor.cgiar.org Kebijakan pengelolaan zona khusus Dapatkah

Lebih terperinci