Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia"

Transkripsi

1 CIFOR Working Paper No.30(i) Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia Julia Maturana

2 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia Julia Maturana Center for International Forestry Research (CIFOR) Jalan CIFOR, Situ Gede, Sindang Barang, Bogor Barat 16680, Indonesia

3 2005 oleh Center for International Forestry Research Hak cipta dilindungi oleh undang-undang Diterbitkan tahun 2005 Dicetak oleh Inti Prima Karya, Jakarta Foto sampul oleh Julia Maturana Diterbitkan oleh Center for International Forestry Research Alamat pos: P.O. Box 6596 JKPWB, Jakarta 10065, Indonesia Alamat kantor: Jl. CIFOR, Situ Gede, Sindang Barang, Bogor Barat 16680, Indonesia Tel. : +62 (251) Fax. : +62 (251) Situs:

4 Daftar Isi Singkatan Daftar Istilah Ucapan Terimakasih Abstrak iv v vi vii Pendahuluan 1 Usulan pendekatan 1 Konsep Kerangka Kerja 2 Telaah Secara Ekonomi 2 Alasan Penggunaan Telaah Secara Ekonomi 2 Jenis-jenis Dampak yang Termasuk dan Efeknya terhadap Kemakmuran 3 Studi Kasus 4 Menentukan Dampak Ekonomi pada Skenario Keseluruhan 4 Perkiraan Manfaat dan Biaya Ekonomi 6 Manfaat-manfaat Ekonomi 6 Biaya-biaya Ekonomi 7 Perkiraan Kasus per kasus 8 Inti Indo Rayon di Sumatera Utara 10 Arara Abadi di Riau 11 Riau Andalan Pulp and Paper di Riau 12 Wira Karya Sakti di Jambi 13 Musi Hutan Persada di Sumatera Selatan 14 Keseluruhan Manfaat dan Biaya Ekonomi bagi Negara 14 Pembahasan 16 Manfaat-manfaat Ekonomi 16 Biaya-biaya Ekonomi 17 Membandingkan Kelima Proyek Perkebunan 18 Data dan Asumsi-asumsi 19 Skenario-skenario 19 Kesimpulan 21 Referensi 23 Lampiran 25

5 iv Singkatan AA APP APRIL DR EB EC GOI HTI IIR IKPP MAI MHP MHW MWP NGO NTFP PSDH RAPP SMG SPK TEL TEV tonne TPL WKS Arara Abadi Perusahaan perkebunan yang terkait dengan IKPP dan APP Asia Pulp and Paper Asia Pacific Resources International Holdings Dana Reboisasi Manfaat ekonomi Biaya ekonomi Pemerintah Indonesia Hutan Tanaman Industri Inti Indo Rayon Perusahaan perkebunan terkait dengan TPL Pulp Mill dan RAPP (hingga tahun 2002) Indah Kiat Pulp and Paper Rata-rata Nilai PertambahanTahunan Musi Hutan persada Perusahaan perkebunan terkait dengan group TEL Mill dan Barito Pacific Kayu keras campuran Rata-rata produksi kayu Organisasi Non Pemerintah Produk hutan non-kayu Pajak Pertambahan Sumber Daya Hutan Riau Andalan Pulp and Paper Group Sinar Mas Group Sumbangan Pihak Ketiga Tanjung Enim Lestari Mill Total Nilai Ekonomi metrik ton (1000 kg) Toba Pulp Lestari Pulp Mill Wira Karya Sakti Perusahaan perkebunan terkait dengan Lontar Papyrus Mill dan Group APP

6 v Daftar Istilah Belukar Nilai saat ini Eksternalitas Panen Rimba karet Hutan tebangan Biaya marjinal Kegunaan marjinal Rata-rata tambahan pertahun(mai) monopsoni Biaya penggunaan terbaik Alokasi optimal Nilai pilihan Harga bayangan Biaya-biaya sosial Istilah bahasa Indonesia untuk lahan tandus yang sudah lama atau hutan sekunder yang terdegradasi. Nilai yang ada untuk dipertahankan sebagai nilai yang melekat untuk generasi selanjutnya. Manfaat atau biaya yang dihasilkan sebagai akibat aktivitas ekonomi yang tidak langsung berkembang kepada pihakpihak yang terlibat dalam aktivitas; contohnya, eksternalitas lingkungan adalah manfaat-manfaat atau biaya-biaya yang termanifestasikan sendiri melalui perubahan-perubahan secara fisik atau biologis tanpa menghiraukan hubungan para pihak terhadap lingkungan yang dipengaruhi. Pengambilan produk dari perkebunan-perkebunan. Tanaman karet (Hevea brasiliensis) yang ditanam untuk memperkuat lahan tandus. Area hutan yang hasil kayu komersialnya telah diambil. Perubahan total biaya yang terkait dengan hasil yang diproduksi unit tambahan; dihitung dengan membagi perubahan total biaya dengan perubahan pada hasil. Kegunaan tambahan atau kepuasan yang dihasilkan dari pemakaian unit tambahan. Total peningkatan pertumbuhan tanaman per unit area (ha) hingga akhir periode rotasi dibagi dengan jumlah tahun dalam rotasi. Suatu struktur pasar (pasar kayu untuk bubur dimana hanya ada satu pembeli dengan kurva suplai yang memiliki rentang positif, yang dengan kata lain kekuatan monopsoni mampu menekan harga menjadi rendah dengan pembatasan pembelian. Biaya sumberdaya tertentu yang dihitung pada alternatif terbaik penggunaan. Sebenarnya menggambarkan jumlah uang terkecil yang dapat diterima sebagai pengganti sumberdaya atau perkiraan nilai dari sumberdaya. Sumberdaya dapat secara optimal dialokasikan apabila sumberdaya tersebut dalam situasi optimal. Setiap perubahan pada alokasi memperkecil kemakmuran pada sedikitnya satu pihak yang terlibat dalam suatu keputusan. Sehingga alokasi sumberdaya yang optimal adalah pada saat semua pihak berada pada posisi mereka yang terbaik. Nilai yang melekat kepada pemeliharaan lansekap alam dan sumberdaya yang ada, sehingga generasi mendatang memiliki pilihan sosial untuk menentukan jenis terbaik menurut kebutuhan mereka. Harga yang disesuaikan yang memperhitungkan distorsi harga pasar dan tujuan-tujuan pemerintah, atau juga dikenal sebagai harga akuntansi, yang mewakili biaya penggunaan terbaik dalam memproduksi atau mengkonsumsi sumberdaya. Biaya-biaya yang langsung bersentuhan dengan masyarakat saat barang tersebut dihasilkan, contohnya polusi.

7 vi Ucapan Terimakasih Penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya bagi mereka yang disebutkan di bawah ini atas masukan yang sangat berharga serta dukungan selama kegiatan ini dan tentunya dalam penyelesaian laporan ini. Kepada CIFOR: Christian Cossalter; Philippe Guizol; Rosita Go; Ani Nawir; David Kaimowitz; Glen Mulcahy; Luluk Suhada; Yemi Katerere; Gideon Suharyanto. Kepada Pihak Departemen Kehutanan, Pemerintah Daerah, Badan Pusat Statistik (BPS) dan kantor LSM setempat di tingkat Kabupaten dan Kecamatan di Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Ucapan terimakasih juga untuk penterjemahan, format dan editing: Devi Kausar, Dicky Purwanto dan Kriswanto. Secara khusus ucapan terima kasih saya sampaikan kepada pemerintah Belanda serta staf mitra program profesional atas dukungannya selama kegiatan riset yang saya lakukan di CIFOR.

8 vii Abstrak Pada akhir tahun 1980-an, uang dalam jumlah besar dan area-area hutan Indonesia dialokasikan untuk pembangunan perkebunan kayu untuk bubur kertas, yang sangat cepat pertumbuhannya. Biaya dan manfaat finansial dari tindakan ini yang mewakili hanya sedikit dari biaya aktual, dapat dengan mudah dihitung, sementara biaya dan manfaat ekonomi sepenuhnya tetap tersembunyi. Pengetahuan tentang manfaat ekonomi bersih dapat menjadi masukan yang berguna bagi Pemerintah Indonesia dan kelompok minat lain untuk merevisi kebijakan dan peraturan yang ada sekarang dan menetapkan arah baru bagi proyek perkebunan di masa mendatang yang memberikan manfaat ekonomi bagi perekonomian nasional dalam jangka panjang. Makalah ini melihat biaya dan manfaat ekonomi total dari lima perkebunan besar penghasil kayu untuk bubur kertas di Sumatera. Empat dari lima proyek perkebunan tersebut menghasilkan biaya ekonomi lebih tinggi daripada manfaat ekonominya. Perkiraan biaya ekonomi menunjukkan lebih dari 30 kali pembayaran finansial sebenarnya yang diterima oleh pemerintah dari setiap perusahaan. Alokasi lebih dari 1,4 juta hektar lahan hutan untuk konversi menjadi tiga perkebunan menghasilkan kerugian bersih lebih dari 3 miliar dolar AS bagi negara. Analisis ini dengan jelas menunjukkan bahwa Pemerintah Indonesia seharusnya tidak lagi mengalokasikan lahan hutan untuk dikonversi menjadi perkebunan kayu untuk bubur kertas HTI.

9

10 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 1 PENDAHULUAN Industri-industri bubur kertas telah berkembang pesat di Indonesia setelah investasi besar-besaran pada sektor ini di akhir 80-an. Total produksi dari dalam negeri telah meningkat dari 3 juta ton per tahun pada 1997 (Barr 2001) menjadi 5,6 juta ton per tahun hingga 2002 (FAO 2003). Sebagian besar kawasan hutan yang dikelola oleh negara telah dialokasikan melalui izin hutan tanaman industri (HTI), dan hampir 100 juta dolar AS dana modal dalam negeri dialokasikan guna mempromosikan pengembangan berbagai hutan tanaman industri di Indonesia (Barr 2001). Jumlah keseluruhan yang dialokasikan bagi pengembangan beberapa perkebunan hingga tahun 2002 adalah 5,38 juta ha (DEPHUT 2003) dan sekitar 41%nya terkonsentrasi di kepulauan Sumatera. Sebagian besar lahan yang diberikan sebagai konsesi terdiri atas lahan tandus bekas hutan tebangan, rimba karet, hutan-hutan bakau, beberapa kepemilikan karet skala kecil, perkebunan sawit, padang rumput dan kebun-kebun agrikultur serta pemukiman desa. Perusahaan-perusahaan perkebunan hutan diharapkan untuk menghasilkan bahan baku mentah untuk kebutuhan industri bubur kertas nasional, baik untuk kebutuhan ekspor maupun kebutuhan dalam negeri. Ekspor bubur kertas dan kertas menghasilkan 2 triliun dolar AS sebagai cadangan ekspor dalam negeri dalam tahun 1997 (FWI dan GFW 2002). Meskipun Pemerintah Indonesia dapat secara mudah menghitung penambahan pendanaan dan pembiayaan-pembiayaan yang telah dicapai dalam investasinya pada industri bubuk kertas dan perusahaan-perusahaan terkait, manfaat dan biaya ekonomi masih tetap menjadi hal yang belum jelas. Biaya keuangan hanya merupakan porsi kecil dari total biaya aktual, sehingga mengarah kepada persepsi akan adanya manfaat bersih yang lebih besar daripada yang sebenarnya. Biaya-biaya sebenarnya adalah biaya-biaya yang langsung dikeluarkan dalam rangka investasi dan biaya, yang dibebankan kepada masyarakat lokal, Indonesia dan dunia, dari area hutan yang luas yang dialokasikan bagi proyek-proyek HTI. Walaupun beberapa studi telah mencoba mendalami aspek-aspek ekonomi dan keuangan industri bubur kertas dan kertas serta menganalisa HTI di Indonesia (Davis 1989; MoF 1994; Potter and Lee 1998; Kartodihardjo and Supriono 2000; Barr 2001; van Dijk 2003). Namun belum ada studi yang mempelajari dampak perkebunan HTI untuk negara. Dalam tulisan ini saya mencoba untuk menghitung manfaat-manfaat dan biaya-biaya dari lima proyek HTI di Sumatera-Indonesia dengan memasukkan perbedaan-perbedaan dari hutan dan lansekap yang diberikan dalam konsesi tersebut dan kapasitas produksi dari industri bubur kertas mereka yang terkait. Secara khusus saya menetapkan efek dan dampak ekonomi utama yang dihasilkan dengan adanya proyek-proyek tersebut, menganalisa dan membandingkan kinerja ekonomi dari lima hutan perkebunan yang termasuk ke dalam studi kasus dan menyoroti hal-hal utama yang dapat menentukan kinerja proyek-proyek tersebut. Hasil-hasil studi ini juga dapat merupakan masukan yang bermanfaat bagi Pemerintah Indonesia dan pihak-pihak terkait lainnya dalam menelaah kinerja ekonomi dari proyek-proyek HTI yang digunakan untuk kepentingan negara, dan mengubah aturan dan kebijakan yang dapat mengarahkan proyek-proyek perkebunan agar dapat memberikan manfaat ekonomi secara besar (tidak hanya dari sisi keuangan) bagi negara. Usulan Pendekatan Analisa secara kasar telah digunakan untuk menunjukkan dampak dari proyek-proyek HTI dan barang dan jasa yang dipengaruhinya. Harga pasar dan harga bayangan 1 digunakan untuk mengukur pengaruh tersebut apabila pasar ada, jika tidak nilai ditentukan dengan menggunakan perkiraan terhadap nilai barang dan jasa yang tidak tersedia di pasar, yang berkaitan dengan area yang ditelaah. Pengaruh positif dan negatif terkait dengan proyek-proyek HTI telah diidentifikasi dan diukur menurut pasarnya masing-masing terkait dengan barang yang dihasilkan dan biaya-biaya yang diperlukan sebagai perbandingan untuk masing-masing kasus. 1 Untuk definisi lihat daftar istilah.

11 2 Julia Maturana Konsep Kerangka Kerja Telaah Secara Ekonomi Ekonomi, optimalisasi dan kelangkaan adalah merupakan tiga konsep yang saling terkait. Kebutuhan manusia meningkat setiap saat dan cara untuk memuaskan kebutuhan tersebut adalah dengan pemenuhan sumberdaya. Untuk beberapa sebab (contohnya perbedaan biofisik, proses-proses kepunahan secara alamiah, tingginya tingkat konsumsi, akumulasi sosial), beberapa sumberdaya telah menjadi sulit ditemukan; kadang-kadang sulit ditemukan secara umum, sulit ditemukan di satu tempat tertentu atau sulit ditemukan oleh kelompokkelompok tertentu. Ilmu ekonomi telah berkembang sebagai suatu respon terhadap kebutuhan untuk mengoptimalkan alokasi sumberdaya yang sulit ditemukan untuk memuaskan meningkatnya kebutuhan dasar dari masyarakat. Alokasi secara optimal diobservasi saat tidak adanya lagi alternatif untuk memulihkan situasi pada para pihak atau kelompok-kelompok yang sedang dianalisa dengan memberikan sejumlah sumberdaya dalam waktu-waktu tertentu 2. Ketika suatu proyek investasi atau suatu kebijakan yang mengarahkan suatu investasi disusun, pengambil keputusan mengarahkannya kepada suatu tujuan yang khusus, contohnya: suatu keluarga melakukan suatu investasi untuk tujuan kemakmuran saat ini dan mendatang, suatu perusahaan mengharapkan manfaat maksimal, dan pemerintah menginvestasikan uang masyarakat untuk mencapai tujuan sosialekonomi secara khusus yakni peningkatan kemakmuran masyarakat. Setiap kebijakan program atau keputusan ekonomi harus ditelaah dalam rangka melihat pengaruh-pengaruh yang ada. Telaah secara ekonomi adalah suatu alat yang digunakan oleh para ahli untuk memberikan arahan dalam proses proses pengambilan keputusan secara nasional dan untuk menganalisa kebijakan ekonomi. Telaah ekonomi juga digunakan untuk mengevaluasi kontribusi dari kebijakan-kebijakan yang ada, keputusan-keputusan atau proyek yang memberikan kemakmuran bagi masyarakat. Nilai dari setiap barang/produk, faktor atau sumberdaya yang akan digunakan atau dihasilkan oleh proyek dinilai berdasarkan kontribusinya terhadap kemakmuran negara. Alasan Penggunaan Telaah Secara Ekonomi Seberapa besar peningkatan kemakmuran dan ekonomi masyarakat sulit untuk diukur. Setiap aksi akan memberikan implikasi keuntungankeuntungan dan pembiayaan. Kebijakan atau keputusan investasi yang ada dapat memberikan dampak dan efek yang berlawanan pada kelompok yang berbeda-beda. Suatu aksi dapat memberikan peningkatan kemakmuran bagi beberapa, namun mengurangi dari yang lain; atau dapat meningkatkan tingkat konsumsi dari penduduk (peningkatan kemakmuran) namun meningkatkan polusi untuk negara (pembiayaan kemakmuran). Apabila sebuah kebijakan tidak mempunyai efek negatif terhadap kelompok manapun, kebijakan itu tidak diragukan lagi merupakan kebijakan yang baik. Namun demikian, kasus semacam itu jarang terjadi atau jarang mendapat perhatian. Lebih sering kita melihat terdapatnya beberapa pengaruh positif dan pengaruh negatif. Selanjutnya, penting untuk mengetahui apakah kombinasi pengaruh dari keduanya akan mengarahkan masyarakat (secara keseluruhan) kepada situasi yang lebih baik atau lebih rusak. Teori dalam ekonomi menyarankan kita untuk menambahkan semua keuntungan dari semua pihak yang berada pada situasi lebih baik, dan semua kerugian dari pihak yang akan berada pada situasi yang parah. Apabila yang dihasilkan adalah keuntungan bersih, maka kebijakan atau aksi harus dilakukan atau sebaliknya. Telaah secara ekonomi ini didasarkan pada teori kemakmuran 3 dengan definisi-definisi kemakmuran, pemanfaatan dan perilaku sosial. 2 Untuk definisi lihat daftar istilah. 3 Untuk studi yang lebih luas mengenai teori kemakmuran lihat Just, dkk. (1982) dan Mishan (1988)

12 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 3 Konsekuensinya, kita menganalisa manfaat ekonomi keseluruhan (EB) yang diakibatkan oleh produksi dari proyek (EB dari produksi) dan biaya ekonomi dari input (EC) dan faktor-faktor yang digunakan (EB dan EC biasanya dianalisa secara terpisah berdasarkan masing-masing pasar). Analisa difokuskan pada perubahan konsumsi dari barang dan jasa berbeda, penggunaan sumberdaya, input-input dan faktor produksi. Analisa ini memfokuskan pada efek daripada konsumsi dan produksi keseluruhan, dan bukan pada efek terhadap konsumen yang berbeda-beda. Analisa ini juga dikenal sebagai analisa manfaat dan biaya dengan menggunakan efisiensi atau harga-harga bayangan. Penggunaan harga dengan perkiraan dapat menjadikan kesalahan perkiraan 4 dari manfaat-manfaat dan biaya-biaya (nilai yang berlebih atau kurang) ketika kita bekerja pada ekonomi yang terdistorsi, yang memiliki karakter kesalahan-kesalahan pasar seperti subsidi, pajak, monopoli dan eksternalitas 5. Namun masalah dapat dikoreksi dengan menganalisa kesalahan-kesalahan pasar dan pengaruhnya terhadap harga dan jumlah yang diperdagangkan untuk barang tertentu di pasar tertentu. Jenis-jenis Dampak yang Termasuk dan Efeknya terhadap Kemakmuran Untuk menilai manfaat-manfaat dan biayabiaya dari suatu investasi atau aksi, termasuk di dalamnya seluruh manfaat ekonomi. Teori menganjurkan untuk menghitung perubahan dalam konsumsi (saat sekarang dan mendatang) dari semua barang dan jasa (pasaran dan non pasaran). Dampak positif dari barang dan jasa tersebut dapat disebut sebagai manfaat sosial dan dampak negatifnya dapat disebut sebagai biaya-biaya sosial. Dampak-dampak positif pada konsumsi adalah hasil dari suatu proyek yang menghasilkan barang atau jasa. Sementara dampak negatif adalah hasil dari proyek yang membutuhkan input atau faktor yang sulit. Hasil dari proyek yang membutuhkan input atau faktor yang sulit disebut sebagai suatu biaya, karena mengkonsumsi beberapa elemen tertentu yang hanya dapat dilakukan apabila pihak-pihak lain dalam masyarakat melepaskan elemen tersebut, yang dalam istilah ekonomi disebut sebagai kerugian. Dampak positif dan negatif lainnya adalah berhubungan dengan penggunaan sumberdaya (dampak tidak langsung dari konsumsi), seperti melepaskan atau mengkonsumsi sumberdaya melalui produk pengganti, tabungan, dan mengkompromikan faktor-faktor dan input yang produktif. Sumberdaya-sumberdaya tersebut dinilai berdasarkan biaya-biaya penggunaan terbaik 6 dari sumberdaya itu. Dampak-dampak negatif dan positif yang akan diidentifikasi, berhubungan dengan (Castro and Mokate 1998): Peningkatan/penurunan konsumsi barang/jasa yang dipasarkan dan tidak dipasarkan Peningkatan/penurunan dalam ekspor (pendapatan nilai tukar luar negeri meningkat atau berkurang) Peningkatan/penurunan impor (tabungan nilai tukar luar negeri atau pengeluaran) Pelepasan/kompromi sumberdaya produktif. 4 Ketika kompetensi yang sempurna diobservasi, harga menggambarkan biaya marjinal (untuk produsen) dan kegunaan/utilitas marjinal (untuk konsumen). Adanya kegagalan pasar menyebabkan biaya tidak mencerminkan biaya marjinal maupun utilitas marjinal. Pada kasus seperti itu, biaya tidak menunjukkan refleksi sebenarnya dari manfaat dan biaya ekonomi. 5 Untuk definisi lihat daftar istilah. 6 Untuk definisi lihat daftar istilah.

13 4 Julia Maturana STUDI KASUS Menentukan Dampak Ekonomi pada Skenario Keseluruhan Antara tahun 1984 dan 1996, pemerintah telah mengalokasikan 1,4 juta ha kawasan hutan kepada lima perusahaan di Sumatera (Gambar 1), untuk memanen (tebang habis) kawasan-kawasan tersebut guna memproduksi kayu untuk bubur kertas dan mengembangkan perkebunan kayu. Konsesi ini diberikan kepada kelompok yang saat ini sedang mengembangkan dan membangun industri kertas dan bubur kertas untuk mempertahankan produksinya 7. Sejak tahun 1984 ke atas, industri bubur kertas dimaksud telah memulai operasinya dan meningkatkan kapasitas terpasang untuk memanfaatkan sumber besar yang ada untuk produksi bubur kertas mereka. Permintaan dan penawaran terintegrasi sebagai akibat dari suatu kenyataan bahwa industri dan perusahaan pemegang konsesi HTI adalah dalam kelompok yang sama. Sehingga konsekuensinya adalah volume kayu untuk bubur kertas yang dihasilkan bergantung pada jumlah yang diharapkan oleh industri bubur kertas. Sehingga volume penawaran akan seimbang dengan tingkat permintaan. Hal tersebut secara tidak langsung menyatakan bahwa harga tidak ditentukan oleh kekuatan pasar, tetapi oleh pemaksimuman keuntungan dari kelompok yang mengelola rantai produksi secara terintegrasi. Karena sistem kerja yang digunakan adalah monopsoni, kayu untuk bubur kertas harganya jauh lebih rendah (tidak ada pasar lain), sehingga menghasilkan biaya transaksi (pada pasar kayu untuk bubur dibawah harga optimal. Gambar 1. Lokasi lima perusahaan perkebunan bubur kayu yang termasuk di dalam studi Inti Indo Rayon TPL Arara Abadi IK RAPP LP Riau Andalan Pulp & Paper Wira Karya Sakti Musi Hutan Persada SUMATRA TEL KALIMANTAN TPL : Toba Pulp Lestari IK : Indah Kiat RAPP : Riau Andalan P&P LP : Lontar Papyrus TEL : Tanjung Enim Lestari JAVA 7 Tiga pabrik kertas dan bubur kertas, satu pabrik bubur kertas dan rayon, satu pabrik bubur kertas.

14 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 5 Lapangan kayu tebangan dari salah satu perusahaan perkebunan HTI di Sumatera (Foto oleh Julia Maturana) Efek keseluruhan, yang ditemui pada pasar kayu untuk bubur kertas, dapat ditampilkan dengan grafik (Gambar 2). Proyek-proyek menyebabkan peningkatan dalam suplai kayu untuk bubur kertas yang digambarkan dengan pergerakan kurva suplai permulaan dari S ke S. Permintaan juga meningkat melalui pembentukan industri bubur kertas dan peningkatan kapasitas terpasang, yang digambarkan dengan pergerakan kurva D kepada D. Harga kayu untuk bubur kertas tetap tidak berubah karena peningkatan dalam penawaran tidak terlihat. Kelima penghasil kayu untuk bubur kertas menjual produknya kepada industri mereka sendiri. Kurva penawaran sangat tidak elastis jika dilihat dari harga, karena pasar yang sudah terintegrasi (contohnya penghasil dan pembeli P D Sebelum 1984 D 2003 p S S q 0 q 1 Q Gambar 2. Pasar kayu untuk bubur kertas (pulp) Kunci: D = Permintaan awal (untuk kasus ini sebelum 1984, sebelum konsesi); D = permintaan selanjutnya (untuk kasus ini pada tahun 2003); P = sumbu harga; p = harga transaksi (diasumsikan tetap sepanjang waktu); Q = sumbu jumlah (kayu untuk bubur ; q 0 = jumlah (kayu bubur yang dihasilkan (sebelum-1984); q 1 = jumlah (kayu bubur yang diproduksi (dalam 2003); S = kurva suplai (sebelum 1984); S = kurva suplai (2003).

15 6 Julia Maturana memiliki hubungan yang kuat). Porsi terakhir dari kurva harus vertikal saat produksi maksimal yang dimungkinkan oleh ekosistem (termasuk perkebunan) telah terpenuhi. Kurva penawaran juga bisa digambarkan sebagai garis yang sangat tidak elastis jika dihubungkan dengan harga dan hal tersebut utamanya ditentukan oleh kapasitas industri yang dimasukkan. Elastisitas harga dari penawaran untuk pasar kayu bagi keperluan bubur kertas di Indonesia telah dihitung oleh FAO (1996) dengan seri data yang cukup besar adalah 0.09 (skala 0 = sangat tidak elastik; 1 = sangat elastik). Biaya-biaya ekonomi berhubungan dengan jumlah yang besar (1,4 juta ha) dari lahan hutan yang digunakan. Efek-efeknya dapat diperhatikan pada pasar lahan hutan (hipotesa). Harga sumberdaya (yang berhubungan dengan biaya-biaya konsesi) ditentukan oleh pemerintah dengan memperhitungkan pertimbanganpertimbangan bukan pasar karena tidak adanya pasar untuk lahan hutan milik negara. Alokasi lisensi HTI (konsesi-konsesi) untuk proyekproyek tersebut menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan lahan hutan yang dimiliki oleh negara dari q 0 menjadi q 1 (ditunjukkan pada Gambar 3) dengan pergerakan dari kurva permintaan dari D kepada D. Permintaan digambarkan sebagai kurva horizontal yang mencakup fakta bahwa area lahan pemerintah yang ditawarkan tidak tergantung kepada permintaan namun kepada area yang tersedia. Akhir dari bagian vertikal menggambarkan batas untuk suplai area hutan negara. Keseluruhan dampak area alokasi HTI di dalam konsesi akan menghasilkan sejumlah dampak (manfaat ekonomi) positif dan negatif (biaya-biaya ekonomi) yang menjadi perlu untuk dijelaskan dalam bentuk angka. Perkiraan Manfaat dan Biaya Ekonomi Semua perusahaan perkebunan yang dianalisa mendapatkan hak lebih dari ha dari hutan milik negara dalam periode waktu yang sama (> 40 tahun). Tiga dari konsesi tersebut utamanya terdiri atas hutan-hutan bekas tebangan dari kayu keras campuran (MHW); satu konsesi oleh pinus dan hutan bekas tebangan MHW dan satu lagi terutama oleh padang rumput (Imperata cylindrical) dan belukar. Manfaat-manfaat dan biaya-biaya ekonomi dihitung sejak periode 1984 hingga Tiga angka potongan (4%, 8% dan 12%) digunakan untuk menunjukkan nilai sejak tahun awal (1984) sehingga memungkinkan untuk dibandingkan. Semua biaya dan harga dibuat dalam dolar AS (2003). Tiga skenario dibuat untuk menguji sensitivitas dari analisa: skenario awal stabilitas; skenario optimis dengan peningkatan harga kayu untuk bubur kertas dan area yang ditanam dan skenario pesimis dengan penurunan harga dan area yang ditanam. Manfaat-manfaat Ekonomi Peningkatan penawaran kayu untuk bubur kertas diobservasi setelah alokasi dari hutan negara cocok dengan permintaan dari industri (sebenarnya permintaan menentukan penawaran). Manfaat-manfaat yang terkait P D D, setelah konsensi HTI p S q 0 q 1 Q Gambar 3. Lahan hutan milik negara (pasar hipotesis) Kunci: D = permintaan awal (untuk kasus ini sebelum 1984, sebelum konsesi-konsesi); D = permintaan selanjutnya (untuk kasus ini pada tahun 2003); P = sumbu harga (lahan hutan); p = harga transaksi; Q = sumbu jumlah (lahan hutan) ; q 0 = jumlah (kawasan hutan) permintaan (sebelum-1984); q 1 = jumlah (lahan hutan) permintaan (tahun 2003); S = kurva penawaran (lahan hutan).

16 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 7 P D Sebelum 1984 D, 2003 p m p p S S, q 0 q 1 Q Gambar 4. Pasar kayu untuk bubur kertas (pulp) Kunci: lihat gambar 2; p m = harga pasar; p p = harga sebenarnya. Notes: q 1 = q juta m 3 /tahun. Daerah abu-abu gelap mewakili pemasukan keuangan untuk perusahaan perkebunan, yang ditentukan dari harga aktual dan jumlah yang diperdagangkan. Daerah abu-abu terang mewakili manfaat-manfaat yang tidak aktual dan ditentukan oleh harga yang tidak terdistorsi (40 dolar AS) yang mewakili nilai pasar dari kayu bubuk kertas. Sehingga nilai tersebut merupakan nilai yang sebenarnya bagi masyarakat. Manfaat ekonomi yang dihasilkan dari peningkatan konsumsi tahunan (permintaan) hampir 27 juta m 3 kayu bubur kertas dihitung dengan menjumlahkan kedua area. dapat dilihat pada daerah yang diwarnai pada Gambar 4 atau dengan perkiraan: EB T = T t=1 ( q p 1 q0 ) t Harga yang digunakan terkait dengan transaksi (pasar) harga (pm) yang diobservasi dari kayu untuk bubur kertas setiap tahunnya (t). Dan seperti yang telah disampaikan sebelumnya, pasar kayu untuk perusahaan perkebunan tidak berada dalam situasi kompetensi yang sempurna. Sebaliknya, penyedia menghadapi monopsoni dalam permintaan yang mengurangi harga sebenarnya (pp) hingga di bawah level harga kompetensi 8 (pp < pm). Menggunakan harga yang sebenarnya akan menjadikan manfaat proyek yang kecil. Kenyataannya, pembayaran harga transaksi kepada perusahaan perkebunan Arari Abadi oleh industri bubur kertas dan kertas Indah Kiat dalam tahun 1998 dan 1999 adalah sekitar 8 dolar AS/m 3, dibandingkan dengan 42 dolar AS/m 3 yang harus dibayarkan untuk bahan kayu dari luar (Ometraco 2000), dan biaya-biaya kayu pada tahun 2002 yang disebut oleh APP untuk m t kebutuhan industri bubur kertas dan kertasnya adalah antara 34 dolar AS dan 36 dolar AS per m 3 (APP 2000). Dengan menggunakan informasi ini sebagai bahan referensi, harga yang digunakan dalam analisa adalah 40 dolar AS per m 3 bagi kelima perusahaan perkebunan. Jumlah (q 1 q 0 ) t yang berkaitan dengan total volume kayu untuk bubur kertas cenderung berubah setiap tahun pada lima perusahaan. Volume-volume tersebut dihitung dari kapasitas produksi industri bubur kertas terkait. Biaya-biaya Ekonomi Biaya-biaya terkait dihitung berdasarkan sumberdaya yang dibutuhkan untuk mempertahankan peningkatan penawaran kayu: 1,4 juta ha MHW, hutan pinus, hutan terdegradasi dan padang rumput yang dialokasikan kepada proyek, yang diberi nilai masing-masing pasar dengan perkiraan: EC T = T t=1 ( q p 1 q0 ) t s t 8 Monopsoni menentukan harga input berdasarkan kerangka maksimalisasi keuntungan, sehingga menekan harga ke bawah.

17 8 Julia Maturana Gambar 5. Lahan hutan yang dimiliki oleh negara (pasar hipotesis) Kunci: lihat Gambar 3; p c = harga saat ini; p s = harga sosial; S P = kurva penawaran (swasta); S S = kurva penawaran (sosial); MSC = Biaya sosial terendah; TEV = Keseluruhan nilai ekonomi. Catatan: q 1 = (q 0 + 1,4 juta ha) Warna abu-abu gelap mewakili pengeluaran keuangan dari perusahaan perkebunan (biaya-biaya saat ini), ditentukan oleh p c and area konsesi. Warna abu-abu terang mewakili biaya-biaya tidak aktual yang ditetapkan sebagai perbedaan antara TEV dan p c. Biaya-biaya ekonomi yang dihasilkan dari kompromi lebih dari 1,4 juta ha hutan milik negara, diperoleh dengan menyatukan dua area. Harga yang sebenarnya dibayar untuk penggunaan hutan tersebut (izin penebangan/ pemanenan, pembayaran konsesi, biaya dan pajak, dst.) menggambarkan biaya finansial pada masa sekarang bagi perusahaan-perusahaan perkebunan dan disebut sebagai p c (harga sekarang) dalam Gambar 5, menentukan biayabiaya sekarang (warna abu-abu gelap) untuk penggunaan sumberdaya. Biaya-biaya tersebut berkisar antara dolar AS hingga 99 juta dolar AS per tahun per perusahaan, dihitung dari pembayaran per volume yang diperkirakan oleh Pemerintah Indonesia (PSDH, SPK, and DR). Karena tidak adanya pasar untuk hutanhutan milik negara, maka tidak ada harga pasar yang dapat dipelajari. Jika tersedia suatu pasar, maka harga akan merefleksikan nilai dari daerah tertentu. Namun demikian, harga pasar ini juga dapat salah dalam menilai manfaat-manfaat positif sosial terkait dengan eksternalitas dari hutan-hutan tersebut; seperti perlindungan biodiversitas dan kehidupan liar, rekreasi, polinasi, kontrol biologis, fungsi habitat, dan informasi sejarah. Beberapa nilai dikenali melalui perkiraan total nilai ekonomi (TEV = p5). TEV untuk hutan-hutan bekas tebangan di Indonesia dibuat oleh Simangunsong (2003) yang menggunakan perkiraan dari berbagai penulis adalah 1283 dolar AS/ha per tahun. Kuantitas (q 1 q 0 ) t adalah keseluruhan area hutan negara yang diberikan dalam bentuk konsesi kepada perusahaan perkebunan. Perkiraan Kasus per kasus Dalam rangka menghitung keseluruhan biayabiaya ekonomi dan manfaat dari proyek ini, kuantitas produksi kayu per individu dan area yang dimanfaatkan oleh masing-masing perusahaan ditetapkan. Untuk melakukan hal tersebut, beberapa asumsi di bawah ini telah dibuat. Area yang akan dihitung biaya-biaya ekonominya, EC (q 1 q 0 ), ditetapkan sebagai suatu fungsi dari volume kayu yang ditebang: Biaya ekonomi t = Area tebang t TEV t TEV didapatkan dari Simangungsong (2003) yang telah menetapkan TEV untuk hutan yang telah ditebang di Indonesia. Termasuk di dalamnya: nilai penggunaan langsung (kayu, kayu bakar, produk hutan non-kayu dan 9 Untuk definisi lihat daftar istilah.

18 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 9 konsumsi air); penggunaan secara tidak langsung (konservasi tanah dan air, pengurangan karbon, perlindungan terhadap banjir dan transportasi air), dan nilai-nilai yang belum digunakan (nilainilai pilihan dan nilai-nilai eksistensi 9 ) Manfaat-manfaat Ekonomi t = Volume produksi t Harga t Harga adalah harga pasar yang tetap untuk kayu bahan baku bubur kertas diperhitungkan pada 40 dolar AS/m3. Harga tersebut berubah pada skenario optimis dan skenario pesimis. Volume produksi termasuk total volume kayu yang ditebang dari kawasan alam, hasil panen dari perkebunan, dan atau didapatkan dari sumber-sumber lain: Volume produksi t = volume tebangan t + volume panen t + Sumber-sumber lain t Perusahaan perkebunan menyamakan kebutuhan industrinya dengan kayu-kayu alam sebelum tanaman perkebunannya dapat dipanen, dan hal tersebut diasumsikan bahwa mereka lebih memilih menebang kayu walaupun perkebunannya telah siap. Asumsi ini dipertimbangkan bahwa biaya-biaya dari menebang hutan alam adalah setengah dari biaya panen yang dihasilkan dari perkebunan (van Dijk 2003), sehingga: Volume tebangan t = kebutuhan industri t Apabila hutan alam yang tersedia t-1 kebutuhan industri t Volume tebangan t = hutan alam yang tersedia t-1 Apabila hutan alam yang tersedia t-1 < kebutuhan industri t Dimana: Hutan alam yang tersediat t = Area t x Feasibility t x MWP t Tingkat Konversi t apabila volume tebangan t = 0 Dimana area yang dimaksud adalah jumlah ha yang diberikan dalam konsesi, maksud dari feasibility atau kemungkinan untuk dilaksanakan adalah perubahan jumlah area yang dapat ditebang dan itu tergantung dari ukuran area yang dipelihara sebagai kawasan konservasi, dan hunian masyarakat, dan kebun. Nilai tengah produksi kayu (MWP) menggambarkan produktivitas kayu di area dan ditujukan untuk volume kayu yang bisa ditebang dari setiap ha hutan alam (rata-rata). Nilai tersebut diperoleh dari informasi perusahaan perkebunan dan diperiksa ulang dengan data yang ada dari setiap area jika memungkinkan. Kebutuhan industri t = kapasitas produksi t Kuota t operasional t Kapasitas produksi didapatkan dari data aktual hingga 2003, dan kemudian ditentukan ulang berdasarkan harapan kenaikan dengan informasi yang disiapkan oleh perusahaan atau dipertahankan pada level saat ini. Kuota adalah termasuk satu atau lebih perusahaan perkebunan yang mensuplai material bagi industri bubur kertas. Nilai operasional menunjukkan apakah industri tersebut ber operasi dengan kapasitas penuh setiap tahunnya. Volume panen akan bergantung pada area yang ditanam dan kebutuhan industri yang harus dipenuhi. Volume yang dipanen t = volume yang dapat dipanen t Jika kebutuhan industri t volume tebangan t Sumber lain t > volume yang dapat dipanen t atau Volume yang dapat dipanen t = kebutuhan industrit t volume tebangan t sumber lain t Jika kebutuhan industri t volume tebangan t sumber lain t volume yang dapat dipanen t Dimana: Volume yang dapat dipanen t = volume yang dapat dipanen t-1 volume yang dipanen t-1 + or Keberadaan hutan alam t = Planted Area t-7 x MI t-7 x Survival Factor t-7 Tingkat konversi t-7 Area t x Feasibility t x MWP t Volume tebangan Tingkat konversi t if apabila volume tebangan t 0 Area yang ditanam (planted area), didapatkan langsung dari perusahaan dan menggambarkan area yang ditanam setiap tahun sejak awal operasi hingga Nilai sesudah 10 Untuk definisi lihat daftar istilah.

19 10 Julia Maturana Perkebunan Eucalyptus sp. Inti Indo Rayon di Sumatera Utara (Foto oleh Julia Maturana) 2003 memperlihatkan adanya nilai maksimum rata-rata yang diperoleh dari periode yang sebelumnya disebut dan dibatasi oleh pada total area seluruhnya yang memungkinkan bagi setiap perusahaan untuk menanam. Nilai tengah dari penambahan (MI) adalah turunan dari nilai tengah pertambahan tahunan (MAI) 10 dari masing-masing perusahaan untuk setiap jenis yang ditanam dan unit lansekap (lahan kering atau lahan humus) nilai itu dapat berubah menurut waktu berdasarkan informasi yang disediakan oleh masing-masing perusahaan. Faktor kelangsungan hidup (survival factor) juga diperoleh dari masing-masing perusahaan untuk setiap jenis tanaman dan setiap unit lansekap. Tingkat konversi adalah faktor yang telah dihitung untuk mengkonversi 1 m 3 kayu menjadi 1 ton bubur kertas, dimana nilai tersebut dapat berubah tergantung material kasar (yang ditanam atau ditebang) dan setiap jenis yang ditanam. Istilah t-7 adalah periode rotasi dari jenis-jenis yang ditanam didalam analisa, dimana hampir semua adalah tujuh tahun kecuali satu kasus dimana periode rotasi bervariasi. Inti Indo Rayon di Sumatera Utara Jumlah area keseluruhan ha telah dikonsesi pada tahun 1984, 1992, dan 1994 kepada perusahaan perkebunan Inti Indo Rayon melalui izin HTI yang memperbolehkan tebang habis dan penyiapan industri perkebunan kayu. Area konsesinya tersebar di antara 5 kabupaten dengan 50%nya terkonsentrasi di Kabupaten Tapanuli Utara. Area yang dimiliki terdiri atas pinus (30%), MHW (68%) dan hampir 6000 ha merupakan padang rumput (2%). Perusahaan perkebunan telah memulai operasinya pada tahun 1988 untuk mensuplai perusahaan industri bubur kertas terkait Indorayon (sekarang Toba Pulp Lestari). Permintaan industri tersebut adalah m 3 bubur kertas per tahun hingga Saat ekspansi, permintaan meningkat hampir 1 juta m 3. Sekitar 70% area yang telah dialokasikan adalah kebun, pemukiman dan zona konservasi. Sehingga hanya menyisakan ha yang memungkinkan untuk penebangan dan konversi.

20 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 11 Rata-rata area yang ditanam hingga tahun 2003 adalah mendekati 5000 ha per tahun dengan total keseluruhan yang ditanam adalah ha. Industri menghadapi permasalahan sosial pada tahun 1998 ketika terjadi krisis ekonomi dan politik, sehingga ditutup mulai tahun 1999 hingga awal 2003 dan selanjutnya memulai lagi operasinya. Manfaat ekonomi (EB) dari proyek konsesi TPL bagi masyarakat Indonesia selama 48 tahun ( ) telah dihitung pertahunnya (lihat lampiran I.1). Dan kemudian dikembalikan pada tahun 0 (1984) dengan nilai (dalam dolar AS): = US$511,588,592 = US$241,626,464 = US$138,027,774 Biaya-biaya ekonomi (EC) pada tiga angka potongan adalah: = US$1,398,888,431 = US$557,121,027 = US$263,921,323 Perkiraan rasio manfaat dan biaya dari proyek ini adalah 0,37, 0,43 dan 0,52 pada tiga angka potongan berbeda (masing-masing 4%, 8% and 12%). Arara Abadi di Riau Perusahaan perkebunan Arara Abadi (AA) di provinsi Riau telah mengkonsesi area seluas ha pada tahun Meskipun demikian Divisi Kehutanan industri kertas dan bubur kertas terkait, Indah Kiat, telah melaksanakan penanaman pertama pada area ini tahun 1984 dengan mengantongi izin dari pemerintah Indonesia. Area konsesinya tersebar di tujuh kabupaten, dimana 72% areanya dialokasikan di Kabupaten Siak dan Pelalawan. Area tersebut ditutupi dengan jenis MHW dengan sebesar 60%nya adalah hutan bakau dengan produksi kayu rata-rata > 150 m 3 /ha (Komunikasi personal). Perusahaan ini mensuplai permintaan industri bubur kertas terkait yang meningkat dari hampir m 3 kayu bubur kertas per tahun untuk 1984 hingga mendekati 9 juta m 3 per tahun di tahun Dari total keseluruhan area yang dialokasikan, sebanyak 28% terdiri atas tanaman kebun, pemukiman dan zona konservasi. Masih Truk IIR yang membawa kayu gelondongan di Sumatera Utara. (Foto oleh Julia Maturana)

21 12 Julia Maturana menyisakan area dengan luas total ha yang bisa dipakai untuk area tebangan dan konversi. Hingga tahun 2003, rata-rata maksimum area yang telah ditanam adalah ha per tahun dengan total area yang harus ditanami berjumlah ha (termasuk area sulaman) Dalam 55 tahun ( ) manfaat ekonomi dari proyek konsesi AA bagi masyarakat yang dimulai sejak tahun 0 (1984) nilainya dalam dolar AS adalah (lihat juga Lampiran 2): = US$1,935,837,869 = US$793,918,705 = US$398,513,520 Biaya-biaya ekonomi pada tiga angka potongan adalah: = US$3,169,867,526 = US$1,169,452,455 = US$533,947,366 Perkiraan rasio manfaat dan biaya untuk proyek ini masing-masing adalah 0,61, 0,68 dan 0,75. Riau Andalan Pulp and Paper, Riau Industri Riau Andalan Pulp and Paper di Riau adalah perusahaan perkebunan yang memiliki konsesi seluas ha. Alokasinya tersebar di antara 5 kabupaten, dan 70% diantaranya telah terkonsentrasi di Kabupaten Pelalawan dan Kuantan Singingi. Areanya merupakan hutan bekas tebangan MHW dengan 70% diantaranya berada di area rawa-rawa. Perusahaan ini mulai melakukan penanaman tahun 1993, dan memulai suplai kayu untuk bubur kertas untuk industri terkait pada tahun Permintaan tahunan industri tersebut adalah 3 juta m 3 kayu untuk bubur kertas dan dalam tahun 1995 meningkat hingga menjadi 9 juta m 3 pada tahun Area seluas kurang lebih ha dapat dikonversi untuk mendapatkan bahan mentah untuk keperluan industri. Sedangkan hampir ha (24% dari area konsesi) terdiri atas berbagai macam tumbuhan, pemukiman dan kawasan hunian. Hutan bekas tebangan MHW yang telah dialokasikan untuk pengembangan HTI, masih memiliki produk melimpah. Di sini beberapa penduduk tengah mengolah kayu bulat untuk dijual di industri kayu di Riau. (Foto oleh Nicholas Hosgood).

22 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 13 Kayu-kayu keras campuran yang diambil dari hutan rawa-rawa di Jambi (Foto oleh Julia Maturana) Luas rata-rata maksimum area yang dapat ditanami hingga 2002 mendekati ha per tahun, dengan total luas area yang harus ditanam adalah ha. Manfaat ekonomi proyek konsesi RAPP untuk masyarakat Indonesia selama 44 tahun ( ) yang dihitung berdasarkan nilai awal tahun 1984 (Lampiran I.3) adalah: = US$ 1,336,119,511 = US$ 556,385,589 = US$ 269,709,028 Biaya-biaya ekonomi pada tiga angka potongan adalah: = US$ 3,547,376,172 = US$ 1,222,022,515 = US$ 495,253,977 Perkiraan rasio manfaat dan biaya untuk proyek ini masing-masing adalah 0,38, 0,46 dan 0,54. Wira Karya Sakti di Jambi Perusahaan perkebunan Wira Karya Sakti di Jambi memulai operasi penebangan tahun 1989 dengan melalui izin khusus untuk konversi lahan kecil sampai tahun 1996 setelah izin konsesinya dikantongi. Alokasi akhir lahan adalah ha yang tersebar di 4 kabupaten, dengan 60% dari area keseluruhannya terkonsentrasi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Area kelola terdiri atas hutan bekas tebangan MHW dengan 70%nya adalah hutan-hutan rawa. Permintaan awal industri kertas dan bubur kertas Lontar Papyrus adalah sekitar 2 juta m 3 kayu untuk bubur kertas per tahun pada tahun 1994, dan meningkat menjadi lebih dari 3 juta m 3 dalam tahun Jumlah area yang tersedia untuk dikonversi seluruhnya hampir ha. Sementara ha (21% dari area konsesi) terdiri atas pemukiman, kebun dan area konservasi. Rata-rata maksimum area yang ditanami sejak 1992 hingga 2003 adalah kurang lebih ha per tahun, dengan keseluruhan area yang ditanami kira-kira ha. Manfaat-manfaat ekonomi proyek konsesi WKS untuk periode konsesi selama 45 tahun ( ) telah dihitung berdasarkan nilai tahun 1984 (dalam dolar AS) adalah (lihat Lampiran I.4:

23 14 Julia Maturana = US$1,106,100,135 = US$426,455,511 = US$196,769,551 Biaya-biaya ekonomi pada tiga angka potongan adalah: = US$2,257,196,475 = US$780,475,981 = US$319,480,269 Rasio manfaat dan biaya untuk proyek ini masing-masing adalah 0,49, 0,55 and 0,62. Musi Hutan Persada di Sumatera Selatan Perusahaan Musi Hutan Persada di Sumatera Selatan memulai perkebunannya sejak 1991 dan mendapatkan hak konsesi dengan luas total area ha dalam tahun Area mereka tersebar di lebih dari 5 kabupaten, dengan lebih dari 50% terkonsentrasi di Kabupaten Muara Enim. Kawasan tersebut 50%nya merupakan semak belukar dan 50% lainnya adalah padang rumput. Dalam tahun 1999, perusahaan perkebunan mulai mensuplai industri bubur kertas Tanjung Enim Lestari yang pertahunnya membutuhkan 2 juta m 3 kayu untuk bubur kertas. Kebutuhan industri tersebut telah meningkat mencapai 4,5 juta m 3 per tahun pada tahun Hampir 32% konsesinya terdiri atas kebun, pemukiman dan area konservasi. Dari 68% yang tersisa, dengan memperhitungkan area padang rumput, sejumlah ha memungkinkan untuk ditebang dan dikonversi dengan tingkat produktivitas yang rendah, yaitu 20,3 m 3 /ha (angka produksi ini telah dihitung dengan menggunakan rata-rata tambahan volume untuk hutan Indonesia yang dikutip oleh Simangunsong (2003) dan dalam periode 10 tahun). Rata-rata area yang ditanami adalah ha per tahun, dengan total area yang ditanami ha sejak 1991 hingga 1998 (termasuk area yang disulam). Manfaat-manfaat ekonomi dari proyek konsesi MHP bagi masyarakat (dolar AS) selama 41 tahun ( ) dan dihitung sejak 1984, nilainya adalah (Annex I.5): = US$1,789,920,969 = US$594,828,448 = US$232,016,988 Biaya-biaya ekonomi pada tiga angka potongan adalah = US$770,295,134 = US$271,596,775 = US$112,471,049 Rasio manfaat dan biaya yang diperkirakan untuk proyek ini adalah masing masing 2,32, 2,19 dan 2,06. Keseluruhan Manfaat dan Biaya Ekonomi bagi Negara Dampak-dampak keseluruhan dari alokasi lebih dari 1,4 juta ha lahan negara untuk lima perusahaan perkebunan untuk keperluan produksi bubur kertas adalah negatif (Tabel 1 dan Gambar 6). Biaya-biaya ekonomi lebih tinggi dibandingkan manfaat-manfaat ekonomi yang terkait. Manfaat-manfaat ekonomi dari proyek ini, terkait dengan produksi hampir 554 juta m 3 kayu, dinilai pada harga 1984 dengan tiga angka potongan yang berbeda (12%, 8% dan 4% per-tahun) menghasilkan 1,2 triliun dolar AS hingga 6,7 triliun dolar AS. Biaya-biaya ekonomi dengan konversi hampir ha hutan bekas tebangan, pinus dan yang sudah terdegradasi secara besar adalah berkisar antara 1,7 triliun dolar AS hingga 11,1 triliun dolar AS. Tabel 1. Biaya dan manfaat ekonomi (dalam juta dolar AS) untuk setiap perusahaan perkebunan dan secara keseluruhan (skenario stabil). Disk. TPL AA RAPP WKS MHP Keseluruhan EB EC EB EC EB EC EB EC EB EC EB EC EB/EC 12% , ,725, ,72 8% , ,000, ,65 4% , ,143, ,60 11 Harga potongan yang digunakan pada penelitian adalah: 3%, 5%, 6%, 7%, 8%, 10%, 15% dan 20%.

24 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 15 Gambar 6. (A) Pasar kayu untuk bubur kertas, and (B) Pasar hutan yang dimiliki oleh negara (hipotesa) Kunci: lihat Gambar 2,3,4,5. Catatan: Kayu bubur kertas q 1 = q juta m 3. Hutan alam yang baru saja ditebang dan ditanami dengan akasia (Acacia sp.) di Sumatera (Foto oleh Julia Maturana)

25 16 Julia Maturana PEMBAHASAN Manfaat-manfaat ekonomi Manfaat-manfaat ekonomi dihitung dengan menggunakan volume kayu untuk bubur kertas (m 3 ) yang dihasilkan per tahun dari setiap periode konsesi. Volume tersebut dihitung dengan menambahkan jumlah kayu tebangan (dari sumber yang ada) dan yang dipanen (dari perkebunan) yang ada setiap tahunnya. Termasuk juga yang diperhitungkan (untuk daerah-daerah tertentu) adalah volume saat ini dari hutan bekas tebangan, persentase area hutan, persentase area yang saat ini digunakan, nilai tengah pertumbuhan tahunan (MAI), angka kematian pohon, faktor konversi dan kebutuhan-kebutuhan industri. Harga yang digunakan dalam menilai kayu untuk bubur kertas ini adalah harga pasar dari produk tersebut saat terjual di pasar terbuka. Harga tersebut didapatkan melalui informasi dari pembeli-pembeli kayu untuk bubur kertas di Sumatera (bukan dari perusahaan perkebunan terkait). Daripada membuat asumsi-asumsi bagaimana perilaku harga kayu untuk bubur kertas di masa mendatang, harga pasti sejumlah 40 dolar AS per m 3 digunakan untuk menentukan manfaat-manfaat ekonomi setiap tahunnya dari setiap perusahaan. Bergantung kepada harga sebenarnya setiap tahun; apakah lebih rendah atau lebih tinggi dari harga yang digunakan disini, harga tersebut akan meningkatkan atau mengurangi jumlah keseluruhan manfaat ekonomi dari proyek-proyek ini kepada negara. Mempertahankan harga tetap akan memberikan nilai yang melebihi atau di bawah perkiraan manfaat ekonomi sebenarnya, tetapi hal ini tidak memiliki relevansi dengan sasaran untuk membandingkan antar perusahaan perkebunan. Dengan menggunakan harga pasar yang sebenarnya, dan bukan dengan harga yang sebenarnya dibayarkan oleh industri bubur kertas yang terkait dengan perusahaan, diperoleh nilai ekonomi dari produk ini untuk masyarakat Indonesia. Sehingga harga pasar yang sebenarnya merupakan harga yang tepat untuk digunakan bagi penilaian sumberdaya tersebut. Menggunakan harga yang dibayarkan akan secara serius merendahkan manfaat-manfaat dari proyek tersebut bagi negara. Angka-angka potongan 4%, 8% dan 12 % telah digunakan untuk menghitung nilai tahun ke-0 dari keseluruhan manfaat ekonomi proyek tersebut. Angka-angka tersebut meliputi sejumlah angka-angka yang digunakan dalam studi sebelumnya (Shyamsudar dan Kramer 1996; Kremen dkk. 2000; Ferraro 2002; Beukering dkk. 2003; Simangungsong 2003) yang melihat penilaian sumberdaya hutan dan lahan di Indonesia serta negara-negara lain yang memiliki pendapatan rendah 11. Peningkatanpeningkatan angka potongan (dari 4% menjadi 8% dan 12%) mengurangi nilai dasar tahunan dari manfaat ekonomi yang dihitung. Penurunan MAI dari perkebunan kayu dan faktor daya tahan pohon (persentase dari pohon yang bertahan hingga masa panen) tidak dihitung pada rotasi-rotasi selanjutnya. Sebaliknya MAI yang digunakan (informasi perusahaan) meningkat seiring dengan waktu untuk mencapai hasil MAI maksimum yang diharapkan, yang tetap konstan hingga akhir periode yang dipertimbangkan. Dengan melihat kenyataan bahwa sangat diragukan keuntungan tidak akan menurun selama periode rotasi selanjutnya (SAM 2004), manfaat ekonomi yang dihitung di sini akan berada pada nilai tertinggi atau kelebihan nilai. Manfaat-manfaat tambahan dari proyek-proyek tersebut yang terkait dengan perlindungan kawasan konservasi diantara kawasan konsesi, tidak dihitung di sini. Tidak satupun dari lima perusahaan tersebut yang diketahui melaksanakan perlindungan kawasan konservasi dari penebangan liar atau tujuan-tujuan lainnya. Malahan beberapa dari perusahaan perkebunan tersebut telah dituduh oleh LSM dan pengamat lainnya sebagai yang mendorong pembalakan liar di area tersebut untuk keuntungan sendiri. Kemungkinan manfaat dari penanaman pohon juga tidak dihitung. Sebagian besar area perusahaan untuk pengembangan perkebunan merupakan konversi dari hutan alam yang akhirnya menyebabkan manfaat ekonomi berada di bawah biaya-biaya ekonomi dari penebangan hutan. Di lain pihak, konversi padang rumput menjadi perkebunan kayu juga tidak selamanya bermanfaat secara ekonomi; padang rumput berperan menahan hilangnya karbon dan juga penting bagi konservasi tanah, kedua fungsi tersebut hilang dan rusak selama proses perkebunan (WRM 2000, 2003;

26 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 17 Cossalter dan Pye-Smith 2003). Periode rotasi dari perkebunan tanaman yang diperhitungkan juga masih terlalu pendek (7-8 tahun) untuk menangkap manfaat yang terkait dengan berkembangnya tanaman; tidak adanya kayu bakar atau produksi hasil hutan non-kayu yang bisa didapatkan dari perkebunan; air dan tanah yang akan lebih rusak dengan adanya peralatan-peralatan berat, pemupukan dan pemberian pestisida dan teknik pengeringan (area rawa) selamanya; karbon yang dilepaskan pada saat konversi pertama dan saat konversi selanjutnya dalam kawasan tersebut, tidak hanya berakibat pengurangan kemampuan ekosistem dalam memperbaiki CO 2, akan tetapi juga mempengaruhi kapasitas penyerapan (WRM 2000); dan tidak diperolehnya nilai pilihan atau nilai eksistensi. Biaya-biaya ekonomi Biaya-biaya ekonomi dihitung menggunakan nilai ekonomi keseluruhan (TEV) dari hutan bekas tebangan dan total area yang ditebang oleh masing-masing perusahaan setiap tahunnya. TEV telah dihitung oleh Simangunsong (2003) dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang berhubungan dengan kayu, kayu bakar dan produk hutan non kayu; konsumsi air; konservasi tanah dan air, hilangnya karbon, perlindungan dari banjir dan fungsi transportasi air; nilai pilihan dan nilai eksistensi. Kesemuanya nilai tersebut dianggap tetap ada sebagai karakteristik hutan bekas tebangan yang diberikan bagi konsesi dan akan hilang dengan konsesi, penebangan dan konversi area-area tersebut. Jumlah fungsi-fungsi yang dimasukkan dalam perkiraan TEV adalah sangat jauh di bawah jumlah keseluruhan fungsi yang diberikan atau disediakan oleh hutan. Terdapat tidak kurang dari 23 fungsi-fungsi hutan yang tetap dipertahankan oleh area hutan yang sudah ditebang ini (Petrick dan Quinn 1994; Groot dkk. 2002; Rose dan Chapman 2003), dan hanya beberapa yang dimasukkan dalam perkiraan TEV oleh Simangunsong (2003). Sebagai tambahan, TEV yang dihitung dalam fungsi-fungsi tersebut, sangat konservatif dibandingkan dengan TEV pada area lainnya. TEV yang diperkirakan oleh Simangunsong (2003) untuk hutan primer di Indonesia, yang digunakan sebagai referensi untuk turunan dari TEV pada kawasan bekas tebangan lainnya, nilainya di bawah beberapa Hutan-hutan alam yang diberikan kepada konsesi pengembangan perkebunan HTI di Sumatera. (Foto oleh Julia Maturana)

27 18 Julia Maturana TEV yang telah dihitung untuk fungsi-fungsi yang sama pada area lain (sebagai contoh, Aylward dkk. 1995; Norton-Griffiths dan Southey 1995; Reyes dkk. 2002; Pearce dkk. 2003; Beukering dkk. 2003). Hal di atas memperlihatkan bahwa biayabiaya ekonomi yang dihitung pada lima perusahaan dalam analisa ini adalah rendah. Sedangkan apabila menggunakan TEV lain sebagai referensi, akan lebih mempertinggi biaya-biaya ekonomi dari proyek-proyek tersebut. Di lain pihak, biaya-biaya ekonomi dihitung dengan hanya menggunakan area yang ditebang oleh perusahaan (jumlah dalam ha) tanpa memasukkan padang rumput, kebun dan pemukiman, termasuk kawasan yang secara hukum harus tetap dipertahankan sebagai hutan konservasi. Pengurangan-pengurangan tersebut akan menjadikan penilaian menjadi sekitar setengah dari lahan negara yang diberikan sebagai konsesi untuk proyek-proyek ini. Dengan memasukkan area padang rumput dan memberinya penilaian dengan harga positif, akan menghasilkan biaya-biaya ekonomi yang besar dari proyek ini. Utamanya bagi MHP di Sumatera Selatan.Nilai dari area padang rumput diantaranya terkait dengan fungsi pengurangan karbon dan penggunaan untuk pertanian, (WRM 2003). Pekerja dan alokasi keuangan juga merupakan input penting (biaya-biaya) yang dibutuhkan dalam pengembangan proyekproyek perkebunan. Pekerja yang dibutuhkan dalam proyek ini hanya dihitung sebagai biaya ekonomi jika dinilai sebagai sumberdaya yang langka dalam suatu negara. Dengan jumlah pekerja yang melimpah di Indonesia dan bahwa pekerja tidak dipindakan dari aktivitas produktif lainnya, maka pekerja bukan merupakan biaya bagi masyarakat. Pekerja juga tidak bisa disebut sebagai manfaat ekonomi. Proyek-proyek tersebut tidak menghasilkan buruh, namun menghasilkan pekerjaan sehingga masyarakat hanya berganti dari aktivitas ekonomi sebelumnya (tidak harus sebagai pegawai). Hal tersebut hanya merupakan suatu perubahan dalam ekonomi, sehingga tidak dihitung sebagai manfaat ekonomi. Jumlah keuangan yang dibutuhkan dalam membangun proyek ini juga menggambarkan perubahan dalam ekonomi dan tidak dihitung per bagian. Namun dihitung secara tidak langsung sebagai dampak ekonomi dari proyekproyek tersebut. Membandingkan Kelima Proyek Perkebunan Rasio-rasio manfaat-biaya dari semua proyekproyek, kecuali MHP, mendekati kesamaan dengan menggunakan nilai pemotongan lebih besar. Nilai pemotongan lebih besar secara tidak langsung merupakan penilaian lebih tinggi terhadap manfaat-manfaat yang dirasakan saat ini dan penilaian lebih rendah terhadap manfaat-manfaat di masa mendatang. Perilaku dari rasio manfaat-biaya dapat dijelaskan dengan manfaat-manfaat yang cenderung turun setiap saat, sementara biaya-biaya terus meningkat. Namun ketika keduanya meningkat, peningkatan biaya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan manfaat. Semua perusahaan dengan analisa ini menunjukkan penampilan yang buruk menurut istilah ekonomi kecuali MHP. TPL adalah perusahaan dengan kinerja yang terburuk. Perusahaan perkebunan TPL menyebabkan kerugian besar secara ekonomi bagi masyarakat Indonesia dengan biaya-biaya ekonomi yeng hampir mencapai tiga kali dari manfaatmanfaat ekonomi yang dihasilkan dengan nilai pemotongan ter-rendah (4%). Biaya-biaya ekonomi untuk proyek ini kira-kira setengah atau sepertiga dari biaya-biaya perusahaan lain (kecuali MHP). Akan tetapi, tidak seperti perusahaan lainnya, TPL meberikan manfaatmanfaat ekonomi sangat kecil bagi negara, dan merupakan yang ter-rendah di antara 5 perusahaan yang juga dianalisa. Penjelasan untuk sangat rendahnya manfaat-manfaat ekonomi TPL dapat dijelaskan dengan ukuran area yang ditanami: dimana perusahaan ini memunculkan biaya dari menebang dan menggunakan lebih dari ha lahan, sementara menghasilkan manfaat-manfaat produksi dari area tanam yang kurang dari setengahnya. Hal inilah yang memberikan efek langsung terhadap manfaat yang berhubungan dengan produksi. Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa area yang ditanam setiap tahunnya (mulai 2004 hingga seterusnya) dipakai dalam analisa ini sebagai rata-rata maksimum area yang ditanam sampai tahun Perkiraanperkiraan ini menggunakan data-data aktual untuk perusahaan dengan asumsi bahwa 12 Kecuali untuk RAPP, dimana yang digunakan adalah angka ha (APRIL 2004).

28 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 19 perusahaan akan melaksanakannya (dalam waktu dekat) sama seperti yang dilakukan hingga RAPP, WKS dan AA memiliki biaya-biaya ekonomi (berurut) 2,65, 2,04 dan 1,64 kali dari manfaat-manfaat ekonomi (Tabel 1). Perbedaan tersebut utamanya disebabkan oleh perbedaan ukuran area yang ditebang dibandingkan dengan ukuran area yang ditanam. Satu-satunya perusahaan yang memberikan pengembalian manfaat positif bagi negara adalah MHP, dengan manfaat ekonomi dua kali dibanding biaya-biaya ekonomi mereka. Perusahaan ini adalah kedua terbesar yang memberikan manfaat-manfaat ekonomi dengan mengasilkan 1,7 triliun dolar AS untuk negara (dengan angka pemotongan terendah) dan biaya-biaya ekonomi terendah (setengan atau sepertiga dibandingkan dengan perusahaan lain). Hal yang mendasari rendahnya biayabiaya ekonomi tersebut (setengah atau sepertiga) adalah perbedaan dalam cakupan alam yang dialokasikan untuk konsesi bagi perusahaan ini. Perusahaan-perusahaan lain mendapatkan mendapatkan konsesi-konsesi pada area yang luasannya terdiri atas area bekas tebang, hutan rawa dan pinus. Sedangkan MHP setengahnya merupakan padang rumput, dan setengahnya lagi merupakan hutan-hutan yang terdegradasi. Apabila menggunakan TEV untuk penilaian area dalam analisa ini, maka konversi padang rumput tidak diikuti oleh biaya-biaya ekonomi dan hutan-hutan yang terdegradasi luas di Sumatera Selatan penilaian biaya-biaya ekonominya adalah kirakira setengah dibandingkan dengan hutan-hutan tebangan dan hutan pinus dari perusahaanperusahaan lainnya. Nilai yang melekat kepada kayu sebagai produk yang bisa didapatkan dari area ini tidak dipertimbangkan, demikian pula nilai pilihan atau nilai eksistensi, nilai pengurangan karbon juga berkurang setengah. Namun perusahaan ini telah menunjukkan kinerja terbaik dalam kaitan dengan area yang ditanam, yang akan memberikan efek kepada volume dari kayu untuk bubuk kertas yang dihasilkan dan selanjutnya kepada manfaatmanfat ekonomi. Data dan asumsi-asumsi Area yang ditanam setiap tahunnya merupakan data aktual hingga 2003 dan telah diperoleh dari masing-masing perusahaan perkebunan. Untuk 2004 ke depan, digunakanrata-rata maksimum dari periode sebelumnya. Faktorfaktor lain seperti nilai tengah kenaikan per tahun (MAI), rasio bertahan tumbuh dan rasio konversi, juga disiapkan oleh masing-masing perusahaan perkebunan. Kapasitas produksi yang merupakan kapasitas terpasang secara aktual untuk industri terkait hingga 2003 tetap stabil sejak tahun tersebut kedepan. Kecuali untuk WKS yang telah menghitung peningkatan ton bubur kertas mulai 2007 ke depan. Hal ini didasarkan bahwa Lontar Papyrus (industri kayu yang terkait dengan WKS) telah memiliki rencana untuk meningkatkan kapasitas terpasangnya. Semua industri dianggap berjalan dengan 98% dari kapasitas terpasang. Area yang memungkinkan untuk ditebang telah dihitung dengan tidak memasukkan area yang dipertimbangkan untuk konservasi, pemukiman dan kebun. Informasi ini juga diperoleh dari setiap perusahaan-perusahaan perkebunan. Nilai tengah produksi kayu (MWP) dari hutan-hutan yang telah ditebang di Riau dan Jambi diperkirakan adalah 75 m 3 /ha untuk lahan tandus dan 150 m 3 /ha untuk area rawa; sedang di Sumatera Utara MWP-nya adalah 91,5 m 3 /ha untuk MHW, dan 200 m 3 /ha untuk hutan pinus yang telah digunakan. Sedangkan di Sumatera Selatan diperkirakan menghasilkan rata-rata 20m 3 /ha. Nilai-nilai tersebut adalah berdasarkan apa yang disampaikan oleh perusahaan-perusahaan tersebut mengenai MWP aktual mereka dengan mempertimbangkan persediaan area hutan yang telah ditebang di Indonesia (Simangunsong, 2003). Mengubah asumsi bahwa perusahaan perkebunan menyesuaikan kebutuhan industri dengan kayu-kayu alam menjadi asumsi bahwa perusahaan akan menggunakan kayu-kayu alam hanya jika mereka tidak memiliki persediaan kayu yang ditanam, tidak secara signifikan mengubah hasil. Rasio manfaat-biaya dari RAPP dan WKS tetap tidak berubah, dan untuk IIR dan AA meningkat namun tetap dibawah 1. Pada skenario keseluruhan, rasio manfaatbiaya berubah dari 0,60 menjadi 0,61, dari 0,65 menjadi 0,67 dan dari 0,72 menjadi 0,74 dengan masing-masing nilai pemotongan 4%, 8% dan 12% (Tabel 2). Skenario-skenario Skenario optimis menggambarkan kondisi terbaik bagi perusahaan dalam jumlah keseluruhan area yang ditanam dan peningkatan secara berkelanjutan 1% dari harga bubur kertas setiap tahunnya. Dalam kasus ini area yang ditanam oleh masing-masing perusahaan

29 20 Julia Maturana mencapai maksimun memungkinkan untuk di tanam hingga 2010, setelah peningkatan yang berkelanjutan hingga 10% pertahun. Area yang mungkin untuk ditanam berhubungan dengan lahan tandus dan rawa air tawar, tidak termasuk area yang dialokasikan untuk kepentingan konservasi, pemukiman, kebun dan infrastruktur 12. Hal ini berarti perusahaanperusahaan akan menyelesaikan seluruh klaimklaim (isu konflik) di area mereka, yang pada tahun 1993 berjumlah ha (April, 2004; Maturana dkk.), dan menanami kawasan tersebut dengan tanaman untuk tujuan menghasilkan bubur kertas. Ini juga berarti bahwa perusahaan melakukan sesuatu yang sebelumnya sangat diragukan, misalnya perusahaan mampu dan berkeinginan kuat untuk mengembangkan tanamannya pada lebih dari 100% area rawa, yang terbukti sulit, berbiaya tinggi dan sangat mudah terbakar. Walau dengan skenario ini, manfaat ekonomi meningkat, negara tetap saja merugi (Tabel 3). Artinya, walaupun dalam situasi terbaik dimana perusahaan-perusahaan mampu secara maksimal menanam semua kawasan yang dimungkinkan, tetap saja proyekproyek tersebut menghasilkan kerugian bersih bagi negara. Skenario ini juga menunjukkan bahwa dua perusahaan, yaitu AA dan RAPP, tidak mampu mempertahankan kebutuhan industri mereka sendiri dengan tanaman yang mereka tanam, masing-masing hanya 57% dan 45%. Sedangkan sisa kebutuhannya akan dipenuhi oleh tanaman yang berasal dari luar area konsesi mereka (seperti yang mereka sampaikan), mengkonversi area diluar kawasan mereka akan terkait dengan biaya-biaya ekonomi, berakibat kepada tingginya biaya-biaya ekonomi bagi negara. Skenario pesimis menghitung manfaatmanfaat ekonomi dan biaya-biaya proyek tersebut untuk pengurangan harga kayu secara konstan (dari 40 dolar AS per m 3 menjadi 26 dolar AS per m 3 ) dan pengurangan 1% dari area yang ditanam setiap tahunnya, dengan menggunakan rata-rata maksimum area yang ditanam oleh-masing masing perusahaan. Dalam skenario ini manfaat-manfaat dikurangi (Tabel 3). Tabel 2. Biaya dan manfaat ekonomi (dalam juta dolar AS) untuk setiap perusahaan perkebunan dan secara keseluruhan dengan asumsi bahwa perusahaan akan memanen kayu yang ditanam kapan saja tersedia (skenario stabil). Disk. TPL AA RAPP WKS MHP Keseluruhan EB EC EB EC EB EC EB EC EB EC EB EC EB/EC 12% , , ,74 8% , , ,67 4% , , ,61 Tabel 3. Biaya dan manfaat ekonomi (dalam juta dolar AS) untuk setiap perusahaan perkebunan dan secara keseluruhan untuk tiga skenario yang dipertimbangkan. Skenario Disk. TPL AA RAPP WKS MHP Keseluruhan EB EC EB EC EB EC EB EC EB EC EB EC EB/EC Stabil 12% , , ,72 8% , , ,65 4% , , ,60 Optimis 12% , , ,77 8% , , ,74 4% , , ,74 Pesimis 12% , , ,69 8% , , ,61 4% , , ,53 13 Untuk analisis aspek keuangan dari proyek ini dan pabrik-pabrik terkait, lihat Barr (2001).

30 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 21 KESIMPULAN Studi ini menggunakan informasi khusus dan data yang terkait dengan setiap perusahaan yang dianalisis serta area konsesinya untuk memperlihatkan bahwa, alokasi 1,4 juta ha kawasan hutan untuk pengembangan perkebunan tanaman industri, memperlihatkan adanya kerugian ekonomi bagi negara. Manfaat secara ekonomi yang dihasilkan dari peningkatan produksi bubur kertas, yang dihitung dengan menggunakan harga efisiensi 40 dolar AS per m 3 kayu, jauh dibawah biayabiaya ekonomi yang dikeluarkan dalam rangka konversi lahan tersebut. Menghitung hanya berdasarkan kepada manfaat-manfaat keuangan yang bisa dilihat akan menghasilkan persepsi dan juga keputusankeputusan yang salah. Alokasi lahan-lahan hutan bekas tebangan untuk kepentingan pengembangan tanaman industri dapat terlihat sangat memberikan manfaat 13 bagi negara, apabila hanya menghitung manfaat-manfaat dan pembiayaan keuangan. Meskipun lahan hutan yang dialokasikan dianggap tidak menunjukkan manfaat yang bisa dilihat oleh pemerintah, proyek ini akan memberikan manfaat-manfaat langsung, termasuk pembayaran untuk konsesi dan konversi, perolehan investasi luar negeri dalam pengembangan industri bubur kertas, dan peningkatan produksi dan ekspor bubur kertas dan kertas. Kenyataannya, ketika biaya-biaya ekonomi dan manfaat ekonomi dihitung, kita dapat melihat bahwa proyek-proyek tersebut menghasilkan pembiayaan 1,67 kali dari manfaat-manfaat yang dihasilkan. Empat dari lima proyek perkebunan yang telah dianalisa menghasilkan biaya-biaya ekonomi di atas manfaat ekonomi. Di antara kelimanya : AA adalah yang tertinggi rasio manfaat dan biayanya (0,61) diikuti oleh WKS (0,49) dan RAPP (0,38); sedangkan TPL adalah yang terendah (0,37). MHP di Sumatera Selatan adalah satu-satunya (dalam studi ini) yang memiliki rasio positif antara biaya dan manfaat ekonomi (2,32). Pemerintah Indonesia menjual sumberdaya hutannya kepada perusahaan perkebunan dengan harga dibawah nilai sebenarnya. Pembayaran-pembayaran yang diterima saat ini dari area yang digunakan dan konversi area bekas tebangan (PSDH, SPK dan DR) jauh dari apa yang digambarkan sebagai biaya-biaya ekonomi aktual dari penggunaan sumberdaya tersebut. Biaya-biaya ekonomi yang diperkirakan mencapai 30 kali dari pembayaran keuangan yang diterima Pemerintah Indonesia dari setiap perusahaan (lihat biaya-biaya ekonomi saat in pada Lampiran I 1-15). Perusahaan perkebunan IIR seharusnya membayar lebih dari 92 juta dolar AS per tahun, bukannya sekitar 2 juta dolar AS seperti yang disebut sebagai biaya keuangan aktual yang dimintakan kepada perusahaan. AA dan RAPP seharusnya membayar 200 juta dolar AS dan 290 juta dolar AS per tahun dibandingkan 6 juta dolar AS dan 8 juta dolar AS yang mereka diminta untuk membayar. WKS seharusnya membayar 180 juta dolar AS dibandingkan 6 juta dolar AS yang mereka bayarkan, dan MHP seharusnya membayar hingga 67 juta dolar AS dan bukan 2 juta dolar AS seperti yang selama ini dikeluarkan. Hanya MHP di Sumatera Selatan satusatunya perusahaan dengan manfaat yang cukup besar yang dapat menanggung biaya-biaya yang harusnya dikeluarkan. Perusahaan ini mampu untuk membayar biaya-biaya ekonomi dan masih mampu untuk memproduksi lebih dari 98 juta dolar AS per tahun sebagai manfaatmanfaat ekonomi secara bersih. Alokasi hampir ha pada lahan hutan yang terdegradasi secara besar dan padang rumput untuk konversi industri hutan tanaman di Sumatera Selatan tersebut,adalah satu-satunya dari lima perusahaan lain yang dipelajari, yang memiliki manfaat-manfaat untuk negara ini. Alokasi lebih dari 1 juta ha untuk tujuan yang sama pada lokasi lainnya merugikan negara. Mengalokasikan area-area bekas tebangan di Riau, Jambi dan Sumatera Utara untuk konsesi menjadi perkebunan merupakan suatu kesalahan, dan masyarakat Indonesia akan mengalami kerugian lebih dari 3 triliun dolar AS (dengan 4 % potongan harga) sejak tahun 1984 hingga Karena biaya-biaya ekonomi lebih tinggi dibandingkan dengan manfaat ekonomi, perusahaan perkebunan yang mengalami defisit ekonomi tidak akan mampu untuk membayar biaya actual mereka. Pilihan terbaik saat ini bagi negara adalah membiarkan perusahaan beroperasi untuk menghindarkan biaya-biaya operasi bersih yang lebih tinggi (karena biayabiaya ekonomi akan tetap sama walaupun manfaatnya mencapai angka nol).

31 22 Julia Maturana Di samping kenyataan bahwa tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencapai nilai ekonomi positif untuk perusahaan-perusahaan yang konsesinya telah diberikan tersebut, telaah ini menjadi sangat penting ketika mempertimbangkan kebijakan-kebijakan masa mendatang serta keputusan yang terkait dengan alokasi lahan baru bagi pengembangan HTI. Analisa ini secara jelas menggambarkan bahwa Pemerintah Indonesia tidak seharusnya mengalokasi kawasan-kawasan bekas tebangan lainnya untuk dikonversi menjadi perkebunan HTI, jika ingin memberikan manfaat bagi negara dan masyarakatnya. Penelitian ini dapat memberikan pembuktian bagi pihak-pihak yang tertarik, LSM dan masyarakat sipil dalam membantu untuk menghindarkan dari penjualan sumberdaya di bawah harga. Dan dapat membantu masyarakat Indonesia dalam memastikan pemerintahannya dapat mengambil keputusan yang tepat ketika menginvestasikan asetnya (uang, sumberdaya, kualitas lingkungan, dll.), serta agar kebijakankebijakan baru terhadap sumberdaya alam menghasilkan pengembalian ekonomi secara positif bagi negara. Pengembangan perkebunan HTI pada area bekas tebangan seharusnya membayar biaya-biaya ekonomi terkait kepada negara atau tidak diperbolehkan untuk dilaksanakan.

32 Biaya dan Manfaat Ekonomi dari Pengalokasian Lahan Hutan untuk Pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia 23 REFERENSI Asia Pulp and Paper Company (APP) 2002 Asia Pulp and Paper Company Ltd announces details of its October 15-16, 2002 discussions with bondholders. APP, Singapore. 16p. Asia Pacific Resources International Holdings (APRIL) Sustainability Report. APRIL, Pekanbaru, Riau, Indonesia. 80p. Aylward, B., Echeverría, J. dan Barbier, E Economic incentives for watershed protection: A report on an ongoing study of Arenal, Costa Rica. Collaborative Research in the Economics of Environment and Development (CREED), London. 21h. Barr, C Banking on sustainability: Structural adjustment and forestry reform in post-suharto Indonesia. Center for International Forestry Research (CIFOR) & WWF Macroeconomics for Sustainable Development Program Office, Bogor, Indonesia. Beukering, P.v., Cesar, H. dan Janssen, M Economic valuation of the Leuser National Park on Sumatra, Indonesia. Ecological Economics 44: Castro, R. dan Mokate, K Evaluacion economica y social de proyectos de inversion. Ediciones Uniandes, Bogota, Indonesia. Cossalter, C. dan Pye-Smith, C Fast wood forestry: Myths and realities. Center for International Forestry Research (CIFOR), Bogor, Indonesia. Davis, C Outlook and prospects for Indonesia s forest plantations. Directorate General of Forest Utilization, Ministry of Forestry, Jakarta, Indonesia, and Food and Agriculture Organization of the United Nations. 143p. Departemen Kehutanan (DEPHUT) 2003 Data strategis kehutanan. DEPHUT, Jakarta, Indonesia. Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) 1996 Provisional forest products outlook. Policy and Planning Division, Forestry Department, FAO, Rome. Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) 2003 FAO statistical databases. [FAOSTAT adalah database berbasis jaringan dan dalam banyak bahasa yang saat ini memiliki hampir 1 juta seri data yang mencakup statistik internasional pada 10 wilayah. Diakses melalui jaringan internet, 2003.] FAO, Rome. Ferraro, P The local costs of establishing protected areas in low-income nations: Ranomafana National Park, Madagascar. Ecological Economics 43: Forest Watch Indonesia (FWI) dan Global Forest Watch (GFW) 2002 The state of the forest: Indonesia. FWI, Bogor, Indonesia, and GFW, Washington D.C., USA. Groot, R.d., Wilson, M. dan Boumans, R A typology for the classification, description and valuation of ecosystem functions, goods and services. Ecological Economics 41 (Special issue: The dynamics and value of ecosystem services: Integrating economic and ecological perspectives): Just, R., Hueth, D. dan Schmitz, A Applied welfare economics and public policy. Prentice Hall, New York, USA. Kartodihardjo, H. dan Supriono, A The impact of sectoral development on natural forest conversion and degradation: The case of timber and tree crop plantations in Indonesia. Occasional Paper No. 26(E). Center for International Forestry Research (CIFOR), Bogor, Indonesia. 14h. Kremen, C., Niles, J.O., Dalton, M.G., Daily, G.C., Ehrlich, P.R., Fay, J.P., Grewal, D. dan Guillery, R.P Economic incentives for rain forest conservation across scales. Science 288: Maturana, J., Hosgood, N. dan Suhartanto, A.A. In press. Moving towards companycommunity partnerships: Elements to take into account for fast-wood plantation companies in Indonesia. Center for International Forestry Research (CIFOR), Bogor, Indonesia. Mishan, E Cost-benefit analysis. Allen & Urwin, London, UK. Ministry of Forestry (MoF) 1994 National masterplan for forest plantations. Directorate General of Reforestation

33 24 Julia Maturana and Land Rehabilitation, MoF, Jakarta, Indonesia. Norton-Griffiths, M. dan Southey, C The opportunity costs of biodiversity conservation in Kenya. Ecological Economics 12: Ometraco 2000 Indah Kiat Company Update. PT. G.K. Goh Ometraco, Jakarta, Indonesia. 47h. Pearce, D., Putz, F. dan Vanclay, J Sustainable forestry in the tropics: Panacea or folly? Forest Ecology and Management 172: Petrick, J. dan Quinn, J Deforestation in Indonesia: Policy framework for sustainable development. Journal of Asian Business 10(2): Potter, L. dan Lee, J Tree planting in Indonesia: Trends, impacts and directions. Occasional Paper No. 18. Center for International Forestry Research (CIFOR), Bogor, Indonesia. 86h. Reyes, V., Segura, O. dan Verweij, P Valuation of hydrological services provided by forests in Costa Rica. ETFRN [European Tropical Forest Research Network] News 35 (Innovative Financing Mechanisms for Conservation and Sustainable Forest Management, European Tropical Forest Research Network News): [Diakses melalui internet tahun 2004.] Rose, S. dan Chapman, D Timber harvest adjacency economies, hunting, species protection, and old growth value: Seeking the dynamic optimum. Ecological Economics 44: Sahabat Alam Malaysia (SAM) 2004 Additional comment on special environment impact assessment of the proposed Sino-Malaysia JV Forest Plantation Kalabakan and Gunung Rara Forest Reserves, Tawau District, Sabah, Malaysia. SAM. [Diakses melalui internet tahun 2005.] Shyamsundar, P. dan Kramer, R Tropical forest protection: An empirical analysis of the costs borne by local people. Journal of Environmental Economics and Management 31: Simangunsong, B The economic value of Indonesia s natural production forest. Indonesian Working Group on Forest Finance (IWGFF), Jakarta, Indonesia. van Dijk, M Industry evolution in developing countries: The Indonesian pulp and paper industry. Eindhoven Centre for Innovation Studies (Ecis), The Netherlands. 30h. World Rainforest Movement (WRM) 2000 WRM Bulletin Issue no. 39 Oktober WRM, Montevideo. World Rainforest Movement (WRM) Plantations are not forests. WRM, Montevideo.

34 Lampiran I: Seri data lengkap untuk perkiraan manfaat dan pembiayaan secara ekonomi I.1. Inti Indo Rayon Perusahaan perkebunan: Inti Indo Rayon Perusahaan industri terkait: Toba Pulp Lestari/Indorayon Kabupaten: SIMALUNGUN (Districts) TAPUT TOBASA TAPSEL DAIRI Jenis tanaman Jenis 1 Eucalyptus sp. Jenis 2 Jenis 3 Cakupan secara alamiah Jenis 1 MTHW Jenis 2 Pinus Jenis 3 BCR EB (1984)12% = $138,027,774 EEC (1984)12% = $263,921,323 0,52 EB (1984)8%= $241,626,464 EEC (1984)8% = $557,121,027 0,43 EB (1984)4% = $511,588,592 EEC (1984)4% = $1,398,888,431 0,37 EC saat ini Perkiraan EC EB total = $1,441,227,324 Total = $93,727,296 Total = $4,442,146,638 DF KEMAMPUAN PERMINTAAN VOLUME PRODUKSI VOLUME LAYAK PANEN KEBUTUHAN INDUSTRI ANF VOLUME HUTAN ALAM YANG ADA MANFAAT EKONOMI BIAYA EKONOMI Tahun Volume produksi Kebutuhan industri Volume panen Volume tebang Sumber lain Layak Panen kertas, cumm.) Area tanam (ha) Jenis 1: Eucalyptus sp. MI (m 3 /ha) Faktor ketahanan Angka konversi (m 3 Kayu/ ton bubur Kapasitas produksi Kuota Sedang berjalan Terbatas Area konsesi (ha) Jenis 1: MTHW Jenis 2: Pines Jenis 1: Eucalyptus sp. Jenis 1: MTHW Jenis 2: Pinus Dapat mudah dikerjakan Rata-rata produksi kayu (m 3 /ha) Angka konversi (m 3 /ton bubur , ,5 4, , $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $3.56 0,00 $0 0 $1, , ,5 4, , $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $3.56 0,00 $0 0 $1, , ,5 4, , $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $3.56 0,00 $0 0 $1, , ,5 4, , $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $3.56 0,00 $0 0 $1, , , ,5 4, , $3,456, $307,469 $0.46 0,00 $ ,00 $ ,00 $554, $1, , , ,5 4, , $28,224, $2,510,995 $0.46 0,00 $ ,00 $ ,00 $5,080, $1, , , ,5 4, , $28,224, $2,510,995 $0.46 0,00 $ ,00 $ ,00 $9,607, $1, , , , ,5 4, , $28,224, $2,510,995 $0.46 0,00 $ ,00 $ ,00 $14,133, $1, , , , ,29 91,5 4, , $29,988, $6,967,919 $0.46 0,00 $ ,67 $ ,52 $23,264, $1, , , , ,29 91,5 4, , $39,984, $9,290,559 $0.46 0,00 $ ,22 $ ,02 $35,439, $1, , , , ,29 91,5 4, , $39,984, $9,290,559 $0.46 0,00 $ ,22 $ ,02 $47,614, $1, , , , ,29 91,5 4, , $39,984, $9,290,559 $0.46 0,00 $ ,22 $ ,02 $59,789, $1, , , , ,29 91,5 4, , $39,984, $9,290,559 $0.46 0,00 $ ,22 $ ,02 $71,964, $1, , , , ,29 91,5 4, , $39,984, $9,290,559 $0.46 0,00 $ ,22 $ ,02 $84,138, $1, , , , ,29 91,5 4, , $14,280, $3,318,057 $0.46 0,00 $ ,37 $ ,01 $88,487, $1, , , ,29 91,5 4, , $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $3.56 0,00 $88,487,028 0 $1, , , ,29 91,5 4, , $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $3.56 0,00 $88,487,028 0 $1, , , ,29 91,5 4, , $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $3.56 0,00 $88,487,028 0 $1, , , ,29 91,5 4, , $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $3.56 0,00 $88,487,028 0 $1, , , ,29 91,5 4, , $26,112, $6,067,304 $0.46 0,00 $ ,13 $ ,44 $96,437, $1, , , ,29 91,5 4, , $39,984, $9,290,559 $0.46 0,00 $ ,22 $ ,02 $108,612, $1, , , ,29 91,5 4,5 0 0, $38,409, $2,321,663 $ ,80 $ ,10 $3.56 0,00 $111,066, $1, , , ,29 91,5 4,5 0 0, $37,632, $429,691 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $37,632, $429,691 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $37,632, $429,691 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $37,632, $429,691 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $37,632, $429,691 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $27,445, $313,379 $ ,21 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $28,560, $326,105 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $28,560, $326,105 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $28,560, $326,105 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $28,560, $326,105 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $28,560, $326,105 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1, , , , ,29 91,5 4,5 0 0, $34,000, $388,220 $ ,00 $ ,00 $3.56 0,00 $111,066,923 0 $1,283 Area konversi (ha) Dapat mudah dikerjakan Rata-rata produksi kayu (m 3 /ha) Angka konversi (m3/ton bubur EB (US$) Harga (US$/m 3 ) Volume produksi (m 3 of Kayu) EC saat ini (US$) Biaya panen (US$/m 3 ) Jumlah panen keseluruhan (m 3 ) Biaya tebangan (US$/m 3 ) Keseluruhan jumlah tebangan (m 3 ) Biaya tebangan (US$/m 3 ) Keseluruhan jumlah tebangan (m 3 ) EEC (US$) Area yang telah di tebang (ha) TEV (US$/ha) Catatan: ANF = hutan alam yang tersedia MI = Rata-rata penambahan (rata-rata penambahan tahunan, MAI * Tahun dalam rotasi). MTHW = Kayu keras campuran. TEV = Nilai ekonomi secara keseluruhan. DF = Kemampuan permintaan.

35 I.2. Arara Abadi Perusahaan perkebunan: Arara Abadi Jenis tanaman Cakupan secara alamiah Jenis 1 Acacia sp. Jenis 1 MTHW Jenis 2 Jenis 3 Jenis 2 Jenis 3 Perusahaan industri terkait: Kabupaten: (Districts) Indah Kiat KAMPAR PELALAWAN SIAK BENGKALIS ROKAN HILIR DUMAI PEKANBARU BCR EB (1984)12% = US$398,513,520 EC (1984)12% = US$533,947, EB (1984)8% = US$793,918,705 EC (1984)8% = US$1,169,452, EB (1984)4% = US$1,935,837,869 EC (1984)4% = US$3,169,867, EC saat ini Perkiraan EC EB total = US$6,187,130,263 EC total = US$358,214,408 EC total = US$11,164,245,409 DF Tahun KEMAMPUAN PERMINTAAN VOLUME PRODUKSI VOLUME LAYAK PANEN KEBUTUHAN INDUSTRI ANF VOLUME HUTAN ALAM YANG ADA MANFAAT EKONOMI BIAYA EKONOMI Jenis 1: Acacia sp. Terbatas Jenis 1: MTHW Jenis 1: Acacia sp. Jenis 1: MTHW MI Kuota Harga EC saat ini (m 3 /ha) (US$) (US$/m 3 ) (US$) Volume produksi Kebutuhan industri Volume panen Volume tebang Sumber lain Layak Panen kertas, cumm.) Area tanam (ha) Faktor ketahanan Angka konversi (m 3 Kayu/ton bubur Kapasitas produksi (ton bubur Sedang berjalan ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $21,168, $5,935,446 $0.46 0,00 $ ,00 $5,486, $1, ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $21,168, $5,935,446 $0.46 0,00 $ ,00 $10,973, $1, ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $21,168, $5,935,446 $0.46 0,00 $ ,00 $16,459, $1, ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $21,168, $5,935,446 $0.46 0,00 $ ,00 $21,946, $1, ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $21,168, $5,935,446 $0.46 0,00 $ ,00 $27,432, $1, ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $21,168, $5,935,446 $0.46 0,00 $ ,00 $32,919, $1, ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $15,552, $4,360,736 $0.46 0,00 $ ,00 $36,950, $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $1,599, $18,259 $ ,45 $ ,00 $36,950,400 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $1,352, $15,443 $ ,25 $ ,00 $36,950,400 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $5,755, $65,715 $ ,92 $ ,00 $36,950,400 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $7,877, $89,942 $ ,39 $ ,00 $36,950,400 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $10,365, $118,360 $ ,30 $ ,00 $36,950,400 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $38,279, $437,081 $ ,12 $ ,00 $36,950,400 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $82,606, $943,216 $ ,12 $ ,00 $36,950,400 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $112,014, $31,408,404 $0.46 0,00 $ ,00 $65,983, $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $112,014, $31,408,404 $0.46 0,00 $ ,00 $95,016, $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $112,014, $31,408,404 $0.46 0,00 $ ,00 $124,049, $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $352,800, $98,924,108 $0.46 0,00 $ ,00 $215,492, $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $350,242, $67,937,828 $ ,00 $ ,50 $277,104, $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $276,432, $3,156,369 $ ,88 $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $113,239, $1,292,998 $ ,14 $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $76,496, $873,451 $ ,22 $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $112,665, $1,286,441 $ ,42 $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $86,753, $990,571 $ ,74 $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $134,797, $1,539,152 $ ,83 $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,6 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $136,299, $1,556,302 $ ,71 $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $113,629, $1,297,453 $0.46 2, ,60 $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $121,008, $1,381,703 $ ,60 $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $121,008, $1,381,703 $ ,60 $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $128,386, $1,465,953 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $128,386, $1,465,953 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $128,386, $1,465,953 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $128,386, $1,465,953 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1, , ,2 0,73 4, , ,72 123,75 4,50 $138,716, $1,583,903 $ $ ,00 $277,104,906 0 $1,283 Area konsesi (ha) Dapat mudah dikerjakan Rata-rata produksi kayu (m 3 /Ha) Angka konversi (m 3 /ton bubur Volume produksi (m 3 of Kayu) Biaya panen (US$/m 3 ) Jumlah Panen keseluruhan (m 3 ) Biaya tebangan (US$/m 3 ) Keseluruhan jumlah tebangan (m 3 ) Perkiraan EC (US$) Area yang telah di tebang (ha) TEV (US$/ha) Catatan: ANF = hutan alam yang tersedia MI = Rata-rata penambahan (rata-rata penambahan tahunan, MAI * Tahun dalam rotasi). MTHW = Kayu keras campuran. TEV = Nilai ekonomi secara keseluruhan. DF = Kemampuan permintaan.

36 I.3. Riau Forestry Perusahaan perkebunan: RAPP Jenis tanaman Cakupan secara alamiah Jenis 1 Acacia sp. Jenis 1 MTHW Jenis 2 Jenis 3 Jenis 2 Jenis 3 Perusahaan industri terkait: Kabupaten: (Districts) RAPP PELALAWAN KUANTAN SINGINGI KAMPAR INDRAGIRI HULU SIAK BCR EB (1984)12% = 269,709,028 EC (1984)12% = 495,253, EB (1984)8% = 556,385,589 EC (1984)8% = 1,222,022, EB (1984)4% = 1,336,119,511 EC (1984)4% = 3,547,376, EC saat ini Perkiraan EC Total EB = $4,114,463,362 Total EC = $370,787,482 Total EC = $12,870,141,863 DF Tahun KEMAMPUAN PERMINTAAN VOLUME PRODUKSI VOLUME LAYAK PANEN KEBUTUHAN INDUSTRI ANF AVAILABLE NATURAL FOREST VOLUME MANFAAT EKONOMI ECONOMIC COSTS Volume Kebutuhan Volume Volume Sumber lain Layak Panen Jenis 1: Acacia sp. Terbatas Jenis 1: MTHW Jenis 1: Acacia sp. Jenis 1: MTHW Area yang produksi industri panen. tebang kertas, cumm.) Area tanam (ha) MI (m 3 /ha) Faktor ketahanan Kuota Sedang berjalan Area konversi (ha) EB (US$) Harga (US$/m 3 ) EC saat ini (US$) Biaya panen (US$/m 3 ) Biaya tebangan (US$/m 3 ) Perkiraan EC (US$) telah di tebang (ha) Angka konversi (m 3 Kayu/ton bubur Kapasitas produksi , ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, , ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, , ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, , ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, , ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, , ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, , ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, ,00 4, ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, ,00 4, ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, , ,70 4, , ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, , ,70 4, , ,50 $ $0 $ $ ,00 $0 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $54,180, $15,191,917 $ $ ,00 $14,481, $1, , ,70 4, , , ,50 $84,420, $23,671,126 $ $ ,00 $37,046, $1, , ,70 4, , , ,50 $100,800, $28,264,031 $ $ ,00 $63,989, $1, , ,70 4, , , ,50 $210,600, $59,051,636 $ $ ,00 $120,281, $1, , ,70 4, , , ,50 $229,320, $64,300,670 $ $ ,00 $181,576, $1, , ,70 4, , , ,50 $229,320, $64,300,670 $ $ ,00 $242,871, $1, , ,70 4, , , ,50 $229,320, $64,300,670 $ $ ,00 $304,167, $1, , ,70 4, , , ,50 $105,498, $18,924,933 $ ,74 $ ,00 $321,776, $1, , ,70 4, , , ,50 $58,254, $665,166 $ ,20 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $76,742, $876,265 $ ,87 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $54,684, $624,406 $ ,77 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $61,558, $702,894 $ $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $31,425, $358,823 $ $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $60,762, $693,796 $ $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $97,125, $1,109,004 $ $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $63,021, $719,599 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $63,021, $719,599 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $63,021, $719,599 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $63,021, $719,599 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $63,021, $719,599 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $63,021, $719,599 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $63,021, $719,599 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1, , ,70 4, , , ,50 $90,422, $1,032,468 $ ,00 $ ,00 $321,776,400 0 $1,283 Dapat mudah dikerjakan Rata-rata produksi kayu (m 3 /ha) Angka konversi (m 3 /ton bubur Volume produksi (m 3 of wood) Jumlah panen keseluruhan (m 3 ) Keseluruhan jumlah tebangan (m 3 ) TEV (US$/ha) Catatan: ANF = hutan alam yang tersedia MI = Rata-rata penambahan (rata-rata penambahan tahunan, MAI * Tahun dalam rotasi). MTHW = Kayu keras campuran. TEV = Nilai ekonomi secara keseluruhan. DF = Kemampuan permintaan.

37 I.4. Wira Karya Sakti Perusahaan perkebunan: Wira Karya Sakti Jenis tanaman Cakupan secara alamiah Jenis 1 Acacia sp. Jenis 1 MTHW Jenis 2 Jenis 3 Jenis 2 Jenis 3 Perusahaan industri terkait: Kabupaten: (Districts) Lontar Papyrus TAN JAB BARAT BATANG HARI MUARO JAMBI TAN JAB TIMUR BCR EB (1984)12% = $196,769,551 EC (1984)12% = $319,480, EB (1984)8% = $426,455,511 EC (1984)8% = $780,475, EB (1984)4% = $1,106,100,135 EC (1984)4% = $2,257,196, EC saat ini Perkiraan EC EB total = $3,720,852,925 EC total = $256,481,789 EC total = $8,197,029,284 DF KEMAMPUAN PERMINTAAN VOLUME PRODUKSI VOLUME LAYAK PANEN KEBUTUHAN INDUSTRI ANF VOLUME NF YANG ADA MANFAAT EKONOMI BIAYA EKONOMI Tahun Volume produksi Kebutuhan industri Volume panen Volume tebang Sumber lain (ton bubur Layak Panen kertas, cumm.) Area tanam (ha) Jenis 1: Acacia sp. MAI (m 3 /ha) Faktor ketahanan Angka konversi (m 3 Kayu/ ton bubur Kapasitas produksi (ton bubur Kuota Sedang berjalan Terbatas Area konversi (ha) Species 1: MTHW Jenis 1: Acacia sp. Species 1: MTHW Dapat mudah dikerjakan Nilai tengah Produksi kayu (m 3 /ha) Angka konversi (m3/ton bubur EB (US$) Harga (US$/m 3 ) Volume produksi (m3 of Kayu) EC saat ini (US$) Biaya panen (US$/m 3 ) Jumlah panen keseluruhan (m 3 ) Biaya tebangan (US$/m 3 ) Total Log. (m 3 ) EEC (US$) Area yang telah di tebang (ha) TEV (US$/ha) 0, , ,75 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $0 0 $1,283 0, , ,75 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $0 0 $1,283 0, , ,75 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $0 0 $1,283 0, , ,75 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $0 0 $1,283 0, , ,75 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $0 0 $1,283 0, , ,75 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $0 0 $1,283 0, , ,75 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $0 0 $1,283 0, , ,75 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $0 0 $1,283 0, ,88 186,9 0,67 4, ,79 123,75 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $0 0 $1,283 0, ,07 186,9 0,67 4, ,79 123,75 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $ ,00 $0 0 $1,283 1, ,42 186,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $72,324, $20,279,442 $0.46 0,00 $ ,00 $18,745, $1,283 1, ,52 186,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $72,324, $20,279,442 $0.46 0,00 $ ,00 $37,491, $1,283 0, ,37 186,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $11,772, $3,300,835 $0.46 0,00 $ ,00 $40,542, $1,283 1, ,06 186,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $72,324, $20,279,442 $0.46 0,00 $ ,00 $59,288, $1,283 1, ,87 186,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $72,324, $20,279,442 $0.46 0,00 $ ,00 $78,034, $1,283 1, ,25 186,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $72,324, $20,279,442 $0.46 0,00 $ ,00 $96,780, $1,283 1, ,07 186,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $72,324, $20,279,442 $0.46 0,00 $ ,00 $115,525, $1,283 1, ,42 200,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $123,480, $34,623,438 $0.46 0,00 $ ,000,00 $147,531, $1,283 1, ,50 200,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $123,480, $34,623,438 $0.46 0,00 $ ,000,00 $179,536, $1,283 1, ,50 200,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $123,022, $29,085,676 $ ,09 $ ,86 $206,209, $1,283 0, ,00 200,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $58,164, $664,135 $ ,80 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 200,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $44,358, $506,494 $ ,61 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 200,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $51,287, $585,614 $ ,60 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 200,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $70,621, $806,369 $ ,84 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 200,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $102,020, $1,164,895 $ ,18 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 200,9 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $96,852, $1,105,882 $ $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $55,243, $630,787 $ $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $69,993, $799,203 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $69,993, $799,203 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $69,993, $799,203 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $69,993, $799,203 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $69,993, $799,203 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $69,993, $799,203 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 0, ,000,00 261,8 0,67 4, , ,79 123,75 4,50 $91,211, $1,041,471 $ ,00 $ ,00 $206,209,803 0 $1,283 Catatan: ANF = hutan alam yang tersedia MI = Rata-rata penambahan (rata-rata penambahan tahunan, MAI * Tahun dalam rotasi). MTHW = Kayu keras campuran. TEV = Nilai ekonomi secara keseluruhan. DF = Kemampuan permintaan.

38 I.5. Musi Hutan Persada Perusahaan perkebunan: Musi Hutan Persada Jenis tanaman Cakupan secara alamiah Jenis 1 Acacia sp. Jenis 1 Belukar Jenis 2 Jenis 3 Jenis 2 Jenis 3 Perusahaan industri terkait: Kabupaten: (Districts) Tanjung Enim Lestari MUARA ENIM LAHAT OKU MUSI BANYUASIN MUSI RAWAS BCR EB (1984)12% = $232,016,988 EC (1984)12% = $112,471, EB (1984)8% = $594,828,448 EC (1984)8% = $271,596, EB (1984)4% = $1,789,920,969 EC (1984)4% = $770,295, EC saat ini Perkiraan EC EB total = $6,685,418,447 EC total = $85,145,294 EC total = $2,737,393,486 DF KEMAMPUAN PERMINTAAN VOLUME PRODUKSI VOLUME LAYAK PANEN KEBUTUHAN INDUSTRI Jenis 1: Acacia sp. Tahun Volume produksi (ton bubur Kebutuhan industri Vol. Panen Vol. yg telah ditebang) Sumbersumber lain Siap panen kertas, cumm.) Area tanam (ha) MI (m 3 /ha) Faktor ketahanan Angka konversi (m 3 Kayu/ ton bubur Kapasitas Produksi (ton bubur Kuota Berjalan ANF Terbatas Areal konversi (ha) ECONOMIC COSTS VOLUME HUTAN ALAM YANG ADA MANFAAT EKONOMI Jenis 1: Belukar Jenis 1: Acacia sp. Jenis 1: Belukar 0, ,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,95 4,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,95 4,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,95 4,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,95 4,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,95 4,4 0 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,95 4, ,34 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 0, ,95 4, ,34 20,3 4,50 $ $0 $0.46 0,00 $4.76 0,00 $0 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $79,380, $9,452,182 $0.46 0,00 $ ,00 $64,813, $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $77,670, $1,150,631 $ ,37 $ ,80 $66,814, $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $77,616, $886,238 $ ,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $103,488, $1,181,651 $ ,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $137,984, $1,575,535 $ ,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 1, ,95 4, , ,34 20,3 4,50 $172,480, $1,969,418 $ ,000,00 $4.76 0,00 $66,814,488 0 $663 Dapat mudah dikerjakan Nilai tengah prod. Kayu (m 3 /ha) Angka konversi (m 3 /ton bubur EB (US$) Harga (US$/m 3 ) Volume produksi (m 3 of Kayu) EC saat ini (US$) Biaya panen (US$/m 3 ) Total panen (m 3 ) Cost Log. (US$/m 3 ) Total Log. (m 3 ) Perkiraan EC (US$) Daerah tebangan (ha) TEV (US$/ha) Catatan: ANF = hutan alam yang tersedia MI = Rata-rata penambahan (rata-rata penambahan tahunan, MAI * Tahun dalam rotasi). MTHW = Kayu keras campuran. TEV = Nilai ekonomi secara keseluruhan. DF = Kemampuan permintaan.

39 Alokasi lahan luas milik negara untuk pengembangan Hutan Tanaman Industri di Indonesia sangat penting dalam menyokong industri bubur kertas dan kertas yang secara ekonomi sangat penting. Alokasi ini menyebabkan pembabatan secara total area yang sangat luas dari hutan, yang telah ditebang untuk mendapatkan kayu utama, dan penghilangan banyak manfaat lingkungan dan ekonomi yang disediakan oleh area tersebut. Makalah kerja CIFOR ini menganalisis biaya dan manfaat ekonomi dari alokasi hampir 1,4 juta hektar hutan bekas tebangan menjadi lima perusahaan perkebunan besar di Sumatera. Hasil dan kesimpulan dari studi ini mungkin sangat relevan khususnya bagi masa depan kebijakan kehutanan di Indonesia.

Menuju Kemitraan Perusahaan Masyarakat. Elemen-elemen yang Perlu Dipertimbangkan oleh Perusahaan Perkebunan Kayu di Indonesia

Menuju Kemitraan Perusahaan Masyarakat. Elemen-elemen yang Perlu Dipertimbangkan oleh Perusahaan Perkebunan Kayu di Indonesia CIFOR Working Paper No.29(i) Menuju Kemitraan Perusahaan Masyarakat Elemen-elemen yang Perlu Dipertimbangkan oleh Perusahaan Perkebunan Kayu di Indonesia Julia Maturana Nicolas Hosgood Aditya Alit Suhartanto

Lebih terperinci

PENGARUH HUTAN TANAMAN INDUSTRI (HTI) TERHADAP KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI KECAMATAN KAMPAR KIRI TUGAS AKHIR

PENGARUH HUTAN TANAMAN INDUSTRI (HTI) TERHADAP KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI KECAMATAN KAMPAR KIRI TUGAS AKHIR PENGARUH HUTAN TANAMAN INDUSTRI (HTI) TERHADAP KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI KECAMATAN KAMPAR KIRI TUGAS AKHIR Oleh : RISA ANJASARI L2D 005 396 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK

Lebih terperinci

DEFORESTASI DAN DEGRADASI HUTAN DI INDONESIA FOREST DEFORESTATION AND DEGRADATION IN INDONESIA

DEFORESTASI DAN DEGRADASI HUTAN DI INDONESIA FOREST DEFORESTATION AND DEGRADATION IN INDONESIA ISSN 1410-1939 DEFORESTASI DAN DEGRADASI HUTAN DI INDONESIA FOREST DEFORESTATION AND DEGRADATION IN INDONESIA Nursanti Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jambi Kampus Pinang Masak,

Lebih terperinci

VALUASI EKONOMI 3.1 Perkiraan Luas Tutupan Hutan 1

VALUASI EKONOMI 3.1 Perkiraan Luas Tutupan Hutan 1 VALUASI EKONOMI Dalam menentukan kontribusi suatu sektor kegiatan ekonomi terhadap pembangunan nasional pada umumnya dinyatakan dalam nilai uang yang kemudian dikonversi dalam nilai persentase. Setiap

Lebih terperinci

Decentralisation Brief

Decentralisation Brief No. 8, April 2005 Forests and Governance Programme Can decentralisation work for forests and the poor? Akses Masyarakat Adat Terhadap Peluang-peluang Pembangunan Kehutanan di Kabupaten Manokwari Oleh Max

Lebih terperinci

Laporan Investigatif Eyes on the Forest. Investigasi 2010 Dipublikasikan Maret 2011

Laporan Investigatif Eyes on the Forest. Investigasi 2010 Dipublikasikan Maret 2011 Laporan lacak balak dari PT Artelindo Wiratama, perusahaan pengembang HTI, terafiliasi dengan Asia Pulp And Paper (APP), ke pabrik pulp PT Indah Kiat Pulp and Paper (PT IKPP) Perawang, Siak Laporan Investigatif

Lebih terperinci

C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h. Governance Brief

C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h. Governance Brief C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Program Forests dan Governance Nomor 15b Peluang dan Tantangan untuk Mengembangkan Hutan Kemasyarakatan Pengalaman dari Malinau

Lebih terperinci

RESUM SKRIPSI PERANAN GREENPEACE DALAM PELESTARIAN HUTAN RAWA GAMBUT DI SEMENANJUNG KAMPAR RIAU

RESUM SKRIPSI PERANAN GREENPEACE DALAM PELESTARIAN HUTAN RAWA GAMBUT DI SEMENANJUNG KAMPAR RIAU RESUM SKRIPSI PERANAN GREENPEACE DALAM PELESTARIAN HUTAN RAWA GAMBUT DI SEMENANJUNG KAMPAR RIAU Disusun oleh : ELISABETH NIGA BEDA (151070007) JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kegiatan manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam diduga menjadi faktor penting penyebab kerusakan lingkungan (Gumilar, 2012). Pertambahan jumlah penduduk Indonesia

Lebih terperinci

INDUSTRI PENGGUNA HARUS MEMBERSIHKAN RANTAI PASOKAN MEREKA

INDUSTRI PENGGUNA HARUS MEMBERSIHKAN RANTAI PASOKAN MEREKA SOLUSI Masa depan perdagangan internasional Indonesia tidak harus bergantung pada deforestasi. Sinar Mas Group adalah pemain terbesar dalam sektor-sektor pulp dan kelapa sawit, dan dapat memotori pembangunan

Lebih terperinci

MEMBENDUNG meluasnya preseden buruk pengelolaan HPH di Indonesia

MEMBENDUNG meluasnya preseden buruk pengelolaan HPH di Indonesia www.greenomics.org MEMBENDUNG meluasnya preseden buruk pengelolaan HPH di Indonesia 5 Desember 2011 HPH PT Mutiara Sabuk Khatulistiwa -- yang beroperasi di Provinsi Riau -- melakukan land-clearing hutan

Lebih terperinci

Pengabaian Kelestarian Hutan Alam dan Gambut, serta Faktor Pemicu Konflik Lahan yang Berkelanjutan 1

Pengabaian Kelestarian Hutan Alam dan Gambut, serta Faktor Pemicu Konflik Lahan yang Berkelanjutan 1 Pengabaian Kelestarian Hutan Alam dan Gambut, serta Faktor Pemicu Konflik Lahan yang Berkelanjutan 1 Studi Kasus Ekspansi Industri Pulp and Paper di Provinsi Sumatera Selatan, Riau dan Jambi A. Pendahuluan

Lebih terperinci

STRATEGI PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN BADAN LITBANG KEHUTANAN

STRATEGI PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN BADAN LITBANG KEHUTANAN STRATEGI PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN BADAN LITBANG KEHUTANAN Desember 2005 Partially funded by EC Asia Pro Eco Program Kesimpulan Sintesa Studi: Prospek Status Quo: Kehutanan di EraTransisi 80 Skenario

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri pengolahan kayu merupakan salah satu sektor penunjang perekonomian di Provinsi Jawa Timur. Hal ini terlihat dengan nilai ekspor produk kayu dan barang dari

Lebih terperinci

Penggunaan Lahan Pertanian dan Arah Pengembangan ke Depan

Penggunaan Lahan Pertanian dan Arah Pengembangan ke Depan Penggunaan Lahan Pertanian dan Arah Pengembangan ke Depan Oleh: Anny Mulyani, Fahmuddin Agus, dan Subagyo Penggunaan Lahan Pertanian Dari total luas lahan Indonesia, tidak terrnasuk Maluku dan Papua (tidak

Lebih terperinci

Strategi dan Rencana Aksi Pengurangan Emisi GRK dan REDD di Provinsi Kalimantan Timur Menuju Pembangunan Ekonomi Hijau. Daddy Ruhiyat.

Strategi dan Rencana Aksi Pengurangan Emisi GRK dan REDD di Provinsi Kalimantan Timur Menuju Pembangunan Ekonomi Hijau. Daddy Ruhiyat. Strategi dan Rencana Aksi Pengurangan Emisi GRK dan REDD di Provinsi Kalimantan Timur Menuju Pembangunan Ekonomi Hijau Daddy Ruhiyat news Dokumen terkait persoalan Emisi Gas Rumah Kaca di Kalimantan Timur

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. menonjol terutama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi pada periode

I. PENDAHULUAN. menonjol terutama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi pada periode I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peran sub sektor kehutanan pada perekonomian nasional Indonesia cukup menonjol terutama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi pada periode Pembangunan Lima Tahun Pertama

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM LOKASI DAN KARAKTERISTIK PETANI

V GAMBARAN UMUM LOKASI DAN KARAKTERISTIK PETANI V GAMBARAN UMUM LOKASI DAN KARAKTERISTIK PETANI 5.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 5.1.1. Kabupaten Banyuasin Kabupaten Banyuasin merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Sumatera Selatan.

Lebih terperinci

EKSPANSI PERKEBUNAN KAYU YANG MENGHILANGKAN HUTAN ALAM DAN MENIMBULKAN KONFLIK SOSIAL (Studi Kasus Provinsi Sumatera Utara dan Riau) PRESS BRIEFING

EKSPANSI PERKEBUNAN KAYU YANG MENGHILANGKAN HUTAN ALAM DAN MENIMBULKAN KONFLIK SOSIAL (Studi Kasus Provinsi Sumatera Utara dan Riau) PRESS BRIEFING EKSPANSI PERKEBUNAN KAYU YANG MENGHILANGKAN HUTAN ALAM DAN MENIMBULKAN KONFLIK SOSIAL (Studi Kasus Provinsi Sumatera Utara dan Riau) PRESS BRIEFING PENDAHULUAN Masih terjadinya deforestasi di dalam area

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR NOMOR : 53 TAHUN 2001 T E N T A N G IJIN USAHA HUTAN TANAMAN (IHT) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANJUNG JABUNG TIMUR, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat secara ekonomi dengan ditunjang oleh faktor-faktor non ekonomi

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat secara ekonomi dengan ditunjang oleh faktor-faktor non ekonomi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses perubahan yang dilakukan melalui upaya-upaya terencana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara ekonomi dengan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. ekonomi dan sosial budaya. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang

I. PENDAHULUAN. ekonomi dan sosial budaya. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan merupakan modal pembangunan nasional yang memiliki manfaat ekologi, ekonomi dan sosial budaya. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan menjelaskan bahwa

Lebih terperinci

KODEFIKASI RPI 25. Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan

KODEFIKASI RPI 25. Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan KODEFIKASI RPI 25 Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan Lembar Pengesahan Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan 851 852 RENCANA PENELITIAN INTEGRATIF 2010-2014

Lebih terperinci

APP melaporkan perkembangan implementasi pengelolaan lahan gambut

APP melaporkan perkembangan implementasi pengelolaan lahan gambut APP melaporkan perkembangan implementasi pengelolaan lahan gambut Jakarta, 12 November 2015 Asia Pulp & Paper Group (APP) menyambut baik instruksi Presiden Indonesia untuk perbaikan pengelolaan lahan gambut,

Lebih terperinci

Laporan Investigatif Eyes on the Forest Desember 2015

Laporan Investigatif Eyes on the Forest Desember 2015 Penebangan hutan alam gambut oleh PT. Muara Sungai Landak mengancam ekosistem dan habitat Orangutan Laporan Investigatif Eyes on the Forest Desember 2015 Eyes on the Forest (EoF) adalah koalisi LSM Lingkungan

Lebih terperinci

Pengecekan lapangan lokasi kebakaran foto dirilis di database online EoF

Pengecekan lapangan lokasi kebakaran foto dirilis di database online EoF 10 Juli 2013 Pengecekan lapangan lokasi kebakaran foto dirilis di database online EoF Warta EoF (PEKANBARU) Eyes on the hari ini menerbitkan foto-foto perjalanan verifikasi lapangan yang dilakukan pada

Lebih terperinci

Dampak moratorium LoI pada hutan alam dan gambut Sumatra

Dampak moratorium LoI pada hutan alam dan gambut Sumatra Dampak moratorium LoI pada hutan alam dan gambut Sumatra - Analisa titik deforestasi Riau, Sumatra- 16 Maret 2011 oleh Eyes on the Forest Diserahkan kepada : Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto, Kepala Unit

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN. angka-angka statistik sering dijadikan sebagai alat untuk memahami

III. KERANGKA PEMIKIRAN. angka-angka statistik sering dijadikan sebagai alat untuk memahami 44 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Perkembangan suatu wilayah dapat dinilai mengalami kemajuan atau mengalami kemunduran dengan melihat beberapa indikator tertentu. Struktur dan

Lebih terperinci

BAB 8 SUMBER DAYA LAHAN

BAB 8 SUMBER DAYA LAHAN BAB 8 SUMBER DAYA LAHAN 8.1. Beberapa Konsep Dasar Ekonomi Lahan Lahan mempunyai tempat yang khusus dalam kelompok sumber daya, karena lahan diperlukan dalam semua aspek kehidupan manusia dan lahan juga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terjadi apabila barang yang dihasilkan oleh suatu negara dijual ke negara lain

BAB I PENDAHULUAN. terjadi apabila barang yang dihasilkan oleh suatu negara dijual ke negara lain BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perdagangan Internasional merupakan kegiatan pertukaran barang dan jasa antara masyarakat di suatu negara dengan masyarakat di negara lain. Indonesia termasuk salah

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam BAB PENDAHULUAN. Latar Belakang Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor Karet Indonesia selama 0 tahun terakhir terus menunjukkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri, demikian halnya dengan

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri, demikian halnya dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri, demikian halnya dengan negara karena setiap negara membutuhkan negara lain untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya

Lebih terperinci

Governance Brief. Dampak Kebijakan IPPK dan IUPHHK Terhadap Perekonomian Masyarakat di Kabupaten Malinau

Governance Brief. Dampak Kebijakan IPPK dan IUPHHK Terhadap Perekonomian Masyarakat di Kabupaten Malinau 1 C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Forests and Governance Programme Dampak Kebijakan IPPK dan IUPHHK Terhadap Perekonomian Masyarakat di Kabupaten Malinau Oding

Lebih terperinci

PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI DENGAN SWAKELOLA DI INDONESIA

PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI DENGAN SWAKELOLA DI INDONESIA PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI DENGAN SWAKELOLA DI INDONESIA Oleh : Apul Sianturi 1) Adanya isu sentral tentang pengelolaan hutan produksi alam yang lestari merupakan bukti semakin tingginya tuntutan yang

Lebih terperinci

MG-8 PERMINTAAN DAN PENAWARAN HASIL HUTAN

MG-8 PERMINTAAN DAN PENAWARAN HASIL HUTAN MG-8 PERMINTAAN DAN PENAWARAN HASIL HUTAN Dr. Meti Ekayani, S.Hut, M.Sc Dr. Ir. Dodik Ridho Nurrochmat, M.Sc Asti Istiqomah, SP, M.Si EKONOMI KEHUTANAN ESL 325 (3-0) PERMINTAAN HASIL HUTAN Pengertian Permintaan:

Lebih terperinci

HUTAN HUJAN DAN LAHAN GAMBUT INDONESIA PENTING BAGI IKLIM, SATWA LIAR DAN MASYARAKAT HUTAN

HUTAN HUJAN DAN LAHAN GAMBUT INDONESIA PENTING BAGI IKLIM, SATWA LIAR DAN MASYARAKAT HUTAN RISIKO Jutaan hektar ekosistem hutan hujan Indonesia dan lahan gambut yang kaya karbon tetap terancam penghacuran untuk perkebunan kelapa sawit dan kayu pulp, walaupun moratorium telah di tandatangani

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. integral dan menyeluruh. Pendekatan dan kebijaksanaan sistem ini telah

BAB I PENDAHULUAN. integral dan menyeluruh. Pendekatan dan kebijaksanaan sistem ini telah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator penting untuk menganalisis pembangunan ekonomi yang terjadi disuatu Negara yang diukur dari perbedaan PDB tahun

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR NOMOR 50 TAHUN 2001 T E N T A N G IZIN PEMANFAATAN HUTAN (IPH) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANJUNG JABUNG TIMUR, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

9/1/2014. Pelanggaran yang dirancang sebelum FCP APP diluncurkan?

9/1/2014. Pelanggaran yang dirancang sebelum FCP APP diluncurkan? 9/1/2014 Pelanggaran yang dirancang sebelum FCP APP diluncurkan? Satu Pelanggaran yang dirancang sebelum Forest Conservation Policy APP/SMG diluncurkan ke Publik SENARAI Pada 5 Februari 2013, Sinar Mas

Lebih terperinci

Latar Belakang. Gambar 1. Lahan gambut yang terbakar. pada lanskap lahan gambut. Di lahan gambut, ini berarti bahwa semua drainase

Latar Belakang. Gambar 1. Lahan gambut yang terbakar. pada lanskap lahan gambut. Di lahan gambut, ini berarti bahwa semua drainase 1 2 Latar Belakang Gambar 1. Lahan gambut yang terbakar. Banyak lahan gambut di Sumatra dan Kalimantan telah terbakar dalam beberapa tahun terakhir ini. Kebakaran gambut sangat mudah menyebar di areaarea

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertanian (agro-based industry) yang banyak berkembang di negara-negara tropis

BAB I PENDAHULUAN. pertanian (agro-based industry) yang banyak berkembang di negara-negara tropis BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Industri kelapa sawit merupakan salah satu industri strategis sektor pertanian (agro-based industry) yang banyak berkembang di negara-negara tropis seperti

Lebih terperinci

Mengekspor di Tengah Perubahan Lansekap Hukum

Mengekspor di Tengah Perubahan Lansekap Hukum Mengekspor di Tengah Perubahan Lansekap Hukum LOKAKARYA PELATIHAN LEGALITAS Indonesia 2,3 & 5 Agustus, 2010 LOKAKARYA PELATIHAN LEGALITAS Kebijakan dan Konvensi Internasional yang berdampak pada Perdagangan

Lebih terperinci

ANALISA EKONOMI PEMBANGUNAN KEHUTANAN: Aplikasi MUTAN

ANALISA EKONOMI PEMBANGUNAN KEHUTANAN: Aplikasi MUTAN ANALISA EKONOMI PEMBANGUNAN KEHUTANAN: Aplikasi MUTAN DEDEN DJAENUDIN Pusat Litbang Perubahan Iklim dan Kebijakan Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Email: dendja07@yahoo.com.au Latar

Lebih terperinci

Kementerian Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan. Implikasi Kebijakan

Kementerian Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan. Implikasi Kebijakan Kementerian Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan Jl. Gunung Batu No. 5 Bogor; Telp.: 0251 8633944; Fax: 0251 8634924; Email:

Lebih terperinci

dampak perubahan kemampuan lahan gambut di provinsi riau

dampak perubahan kemampuan lahan gambut di provinsi riau dampak perubahan kemampuan lahan gambut di provinsi riau ABSTRAK Sejalan dengan peningkatan kebutuhan penduduk, maka kebutuhan akan perluasan lahan pertanian dan perkebunan juga meningkat. Lahan yang dulunya

Lebih terperinci

Membangun Moral Rimbawan di Tengah Krisis Kebijakan dan Laju Deforestasi Hutan (Pengantar Praktek Umum Kehutanan) Edy Batara Mulya Siregar

Membangun Moral Rimbawan di Tengah Krisis Kebijakan dan Laju Deforestasi Hutan (Pengantar Praktek Umum Kehutanan) Edy Batara Mulya Siregar Membangun Moral Rimbawan di Tengah Krisis Kebijakan dan Laju Deforestasi Hutan (Pengantar Praktek Umum Kehutanan) Edy Batara Mulya Siregar Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang memiliki kekayaan

I. PENDAHULUAN. Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang memiliki kekayaan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang memiliki kekayaan sumberdaya alam, terutama dari hasil pertanian. Sektor pertanian menjadi sektor penting sebagai penyedia

Lebih terperinci

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA September 2011 1. Pendahuluan Pulau Kalimantan terkenal

Lebih terperinci

Menyelaraskan hutan dan kehutanan untuk pembangunan berkelanjutan. Center for International Forestry Research

Menyelaraskan hutan dan kehutanan untuk pembangunan berkelanjutan. Center for International Forestry Research Menyelaraskan hutan dan kehutanan untuk pembangunan berkelanjutan Center for International Forestry Research Siapakah kami Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (Center for International Forestry Research)

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.17/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2/2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN NOMOR P.12/MENLHK-II/2015

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Dalam masa menuju era globalisasi dan pasar bebas, kemajuan di bidang industri

I. PENDAHULUAN. Dalam masa menuju era globalisasi dan pasar bebas, kemajuan di bidang industri I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam masa menuju era globalisasi dan pasar bebas, kemajuan di bidang industri dan teknologi sangat menunjang kebijakan yang telah disusun pemerintah. Salah satu kebijakan

Lebih terperinci

PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : POTENSI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA DAN PERMASALAHANNYA Oleh : Sukadaryati 1) ABSTRAK

PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : POTENSI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA DAN PERMASALAHANNYA Oleh : Sukadaryati 1) ABSTRAK POTENSI HUTAN RAKYAT DI INDONESIA DAN PERMASALAHANNYA Oleh : Sukadaryati 1) ABSTRAK Hutan rakyat sudah lama ada dan terus berkembang di masyarakat. Manfaat yang diperoleh dari hutan rakyat sangat dirasakan

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Pada penelitian tentang penawaran ekspor karet alam, ada beberapa teori yang dijadikan kerangka berpikir. Teori-teori tersebut adalah : teori

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Kebakaran hutan di Jambi telah menjadi suatu fenomena yang terjadi setiap tahun, baik dalam cakupan luasan yang besar maupun kecil. Kejadian kebakaran tersebut tersebar dan melanda

Lebih terperinci

REVITALISASI KEHUTANAN

REVITALISASI KEHUTANAN REVITALISASI KEHUTANAN I. PENDAHULUAN 1. Berdasarkan Peraturan Presiden (PERPRES) Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2004-2009 ditegaskan bahwa RPJM merupakan

Lebih terperinci

KAJIAN SISTEM DAN KEBUTUHAN BAHAN BAKU INDUSTRI PENGOLAHAN KAYU DI KALIMANTAN SELATAN

KAJIAN SISTEM DAN KEBUTUHAN BAHAN BAKU INDUSTRI PENGOLAHAN KAYU DI KALIMANTAN SELATAN KAJIAN SISTEM DAN KEBUTUHAN BAHAN BAKU INDUSTRI PENGOLAHAN KAYU DI KALIMANTAN SELATAN Oleh : Rachman Effendi 1) ABSTRAK Jumlah Industri Pengolahan Kayu di Kalimantan Selatan tidak sebanding dengan ketersediaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Gula merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomian

BAB I PENDAHULUAN. Gula merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gula merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomian Indonesia dan salah satu sumber pendapatan bagi para petani. Gula juga merupakan salah satu kebutuhan

Lebih terperinci

Kementerian Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan

Kementerian Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan Kementerian Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan ISSN : 2085-787X Volume 5 No. 2 Tahun 2011 Transfer Fiskal antara Pemerintah

Lebih terperinci

Moratorium gambut diabaikan, dua kebun sawit grup Panca Eka menebangi hutan alam di Semenanjung Kampar, Riau

Moratorium gambut diabaikan, dua kebun sawit grup Panca Eka menebangi hutan alam di Semenanjung Kampar, Riau Moratorium gambut diabaikan, dua kebun sawit grup Panca Eka menebangi hutan alam di Semenanjung Kampar, Riau Laporan Investigatif Eyes on the Forest Januari 2016 Eyes on the Forest (EoF) adalah koalisi

Lebih terperinci

Boks 1. DAMPAK PENGEMBANGAN KELAPA SAWIT DI JAMBI: PENDEKATAN INPUT-OUTPUT

Boks 1. DAMPAK PENGEMBANGAN KELAPA SAWIT DI JAMBI: PENDEKATAN INPUT-OUTPUT Boks 1. DAMPAK PENGEMBANGAN KELAPA SAWIT DI JAMBI: PENDEKATAN INPUT-OUTPUT Sektor pertanian merupakan salah satu sektor penting di Indonesia yang berperan sebagai sumber utama pangan dan pertumbuhan ekonomi.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. hambatan lain, yang di masa lalu membatasi perdagangan internasional, akan

I. PENDAHULUAN. hambatan lain, yang di masa lalu membatasi perdagangan internasional, akan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada era globalisasi saat ini, di mana perekonomian dunia semakin terintegrasi. Kebijakan proteksi, seperi tarif, subsidi, kuota dan bentuk-bentuk hambatan lain, yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. ini adalah industri pulp dan kertas. Ada tiga alasan utama yang melatarbelakangi

I. PENDAHULUAN. ini adalah industri pulp dan kertas. Ada tiga alasan utama yang melatarbelakangi I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Salah satu subsektor agroindustri yang berkembang pesat di Indonesia pada saat ini adalah industri pulp dan kertas. Ada tiga alasan utama yang melatarbelakangi pentingnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Mangrove merupakan ekosistem dengan fungsi yang unik dalam lingkungan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Mangrove merupakan ekosistem dengan fungsi yang unik dalam lingkungan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mangrove merupakan ekosistem dengan fungsi yang unik dalam lingkungan hidup. Oleh karena adanya pengaruh laut dan daratan, dikawasan mangrove terjadi interaksi kompleks

Lebih terperinci

TUGAS TEORI ORGANISASI UMUM 2 MASALAH POKOK EKONOMI. Oleh: Asmara Nuryadi

TUGAS TEORI ORGANISASI UMUM 2 MASALAH POKOK EKONOMI. Oleh: Asmara Nuryadi TUGAS TEORI ORGANISASI UMUM 2 MASALAH POKOK EKONOMI Oleh: Asmara Nuryadi 18109006 MASALAH POKOK EKONOMI A. KEBUTUHAN MANUSIA Pada dasarnya, manusia bekerja mempunyai tujuan tertentu, yaitu memenuhi kebutuhan.

Lebih terperinci

Edisi 1 No. 1, Jan Mar 2014, p Resensi Buku

Edisi 1 No. 1, Jan Mar 2014, p Resensi Buku Resensi Buku Edisi 1 No. 1, Jan Mar 2014, p.33-38 Judul Buku: : Rencana Kehutanan Tingkat Nasional (RKTN) Tahun 2011-2030 Penyunting Akhir : Ir. Basoeki Karyaatmadja, M.Sc., Ir. Kustanta Budi Prihatno,

Lebih terperinci

Governance Brief. Bagaimana masyarakat dapat dilibatkan dalam perencanaan tata ruang kabupaten? Penglaman dari Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur

Governance Brief. Bagaimana masyarakat dapat dilibatkan dalam perencanaan tata ruang kabupaten? Penglaman dari Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Forests and Governance Programme Bagaimana masyarakat dapat dilibatkan dalam perencanaan tata ruang kabupaten? Penglaman dari

Lebih terperinci

Kepastian Pembiayaan dalam keberhasilan implementasi REDD+ di Indonesia

Kepastian Pembiayaan dalam keberhasilan implementasi REDD+ di Indonesia ISSN : 2085-787X Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SOSIAL, EKONOMI, KEBIJAKAN DAN PERUBAHAN IKLIM Jl. Gunung Batu No.

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian memiliki peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Selain berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, sektor

Lebih terperinci

AGROFORESTRY : SISTEM PENGGUNAAN LAHAN YANG MAMPU MENINGKATKAN PENDAPATAN MASYARAKAT DAN MENJAGA KEBERLANJUTAN

AGROFORESTRY : SISTEM PENGGUNAAN LAHAN YANG MAMPU MENINGKATKAN PENDAPATAN MASYARAKAT DAN MENJAGA KEBERLANJUTAN AGROFORESTRY : SISTEM PENGGUNAAN LAHAN YANG MAMPU MENINGKATKAN PENDAPATAN MASYARAKAT DAN MENJAGA KEBERLANJUTAN Noviana Khususiyah, Subekti Rahayu, dan S. Suyanto World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Sektor pertanian dinegara-negara berkembang perannya sangat besar karena merupakan mata pencarian pokok sebagian besar penduduk. Peranan sektor pertanian dalam perekonomian

Lebih terperinci

Pengantar Ekonomi Makro. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM

Pengantar Ekonomi Makro. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM Pengantar Ekonomi Makro Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM Pengertian Ilmu Ekonomi Adalah studi mengenai cara-cara yang ditempuh oleh masyarakat untuk menggunakan sumber daya yang langka guna memproduksi komoditas

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2006 PROSPEK PENGEMBANGAN SUMBER ENERGI ALTERNATIF (BIOFUEL)

LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2006 PROSPEK PENGEMBANGAN SUMBER ENERGI ALTERNATIF (BIOFUEL) LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2006 PROSPEK PENGEMBANGAN SUMBER ENERGI ALTERNATIF (BIOFUEL) Oleh : Prajogo U. Hadi Adimesra Djulin Amar K. Zakaria Jefferson Situmorang Valeriana Darwis PUSAT ANALISIS SOSIAL

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Landasan Teori Landasan teori mengenai penawaran dan permintaan barang dan jasa serta elastisitas harga dan mekanisme keseimbangan pasar secara umum berlaku sebagai landasan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN BERBAGAI JENIS PADA IZIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor penting yang patut. diperhitungkan dalam meningkatkan perekonomian Indonesia.

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor penting yang patut. diperhitungkan dalam meningkatkan perekonomian Indonesia. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Sektor pertanian merupakan salah satu sektor penting yang patut diperhitungkan dalam meningkatkan perekonomian Indonesia. Negara Indonesia yang merupakan negara

Lebih terperinci

MASALAH-MASALAH DASAR DALAM ORGANISASI EKONOMI BAB 3. 1 Chapter 3 Masalah Dasar Organisasi Ekonomi Navik Istikomah

MASALAH-MASALAH DASAR DALAM ORGANISASI EKONOMI BAB 3. 1 Chapter 3 Masalah Dasar Organisasi Ekonomi Navik Istikomah MASALAH-MASALAH DASAR DALAM ORGANISASI EKONOMI BAB 3 1 Tiga Masalah Pokok Organisasi Ekonomi 1. Komoditi apa (what) yang harus diproduksi, dan berapa? Karena sumber daya bersifat langka atau terbatas (konsep

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Karet di Indonesia merupakan salah satu komoditas penting perkebunan. selain kelapa sawit, kopi dan kakao. Karet ikut berperan dalam

I. PENDAHULUAN. Karet di Indonesia merupakan salah satu komoditas penting perkebunan. selain kelapa sawit, kopi dan kakao. Karet ikut berperan dalam 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Karet di Indonesia merupakan salah satu komoditas penting perkebunan selain kelapa sawit, kopi dan kakao. Karet ikut berperan dalam menyumbangkan pendapatan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu Penelitian Suherwin (2012), tentang harga Crude Palm Oil dengan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi harga CPO dunia. Tujuan umum penelitian adalah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Analisis Situasi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Analisis Situasi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Analisis Situasi Pertumbuhan dan perkembangan sektor usaha perkebunan di Indonesia dimotori oleh usaha perkebunan rakyat, perkebunan besar milik pemerintah dan milik swasta. Di Kabupaten

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki areal perkebunan yang luas.

I. PENDAHULUAN. Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki areal perkebunan yang luas. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki areal perkebunan yang luas. Komoditas yang ditanami diantaranya kelapa sawit, karet, kopi, teh, kakao, dan komoditas

Lebih terperinci

KONSEPSI HUTAN, PENGELOLAAN HUTAN DAN PENERAPANNYA DALAM PENGELOLAAN HUTAN ALAM PRODUKSI DI INDONESIA

KONSEPSI HUTAN, PENGELOLAAN HUTAN DAN PENERAPANNYA DALAM PENGELOLAAN HUTAN ALAM PRODUKSI DI INDONESIA Hadirin sekalian, penulis berpendapat, beberapa permasalahan besar di muka sangatlah penting untuk diperhatikan dalam pengelolaan hutan, akan tetapi pembahasan terhadap konsep-konsep dasar ilmu kehutanan

Lebih terperinci

seperti Organisasi Pangan se-dunia (FAO) juga beberapa kali mengingatkan akan dilakukan pemerintah di sektor pangan terutama beras, seperti investasi

seperti Organisasi Pangan se-dunia (FAO) juga beberapa kali mengingatkan akan dilakukan pemerintah di sektor pangan terutama beras, seperti investasi 1.1. Latar Belakang Upaya pemenuhan kebutuhan pangan di lingkup global, regional maupun nasional menghadapi tantangan yang semakin berat. Lembaga internasional seperti Organisasi Pangan se-dunia (FAO)

Lebih terperinci

Lahan rawa untuk budidaya tanaman pangan berwawasan lingkungan Sholehien

Lahan rawa untuk budidaya tanaman pangan berwawasan lingkungan Sholehien Perpustakaan Universitas Indonesia >> UI - Tesis (Membership) Lahan rawa untuk budidaya tanaman pangan berwawasan lingkungan Sholehien Deskripsi Dokumen: http://lib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=74226&lokasi=lokal

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia sebagai suatu bangsa dan negara besar dengan pemilikan sumber daya alam yang melimpah, dalam pembangunan ekonomi yang merupakan bagian dari pembangunan nasional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendekatan pembangunan pertanian dari segi komoditi terutama bersumber pada kenyataan peranan yang besar dari komoditi itu secara nasional atau bagi satu daerah tertentu

Lebih terperinci

DAMPAK PENCABUTAN PSAK: AKUNTANSI KEHUTANAN PSAK 32

DAMPAK PENCABUTAN PSAK: AKUNTANSI KEHUTANAN PSAK 32 T O P I K U T A M A DAMPAK PENCABUTAN PSAK: AKUNTANSI KEHUTANAN PSAK 32 DWI MARTANI Ketua Departemen Akuntansi FEUI dan Anggota Tim Implementasi IFRS-IAI Abstrak Pencabutan PSAK memberikan dampak pada

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU 189 Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian Urgensi dan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bengkulu 7 Juli 2011 ISBN 978-602-19247-0-9 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN

Lebih terperinci

PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : KAJIAN POTENSI KAYU PERTUKANGAN DARI HUTAN RAKYAT PADA BEBERAPA KABUPATEN DI JAWA BARAT

PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : KAJIAN POTENSI KAYU PERTUKANGAN DARI HUTAN RAKYAT PADA BEBERAPA KABUPATEN DI JAWA BARAT KAJIAN POTENSI KAYU PERTUKANGAN DARI HUTAN RAKYAT PADA BEBERAPA KABUPATEN DI JAWA BARAT Oleh: Ridwan A. Pasaribu & Han Roliadi 1) ABSTRAK Departemen Kehutanan telah menetapkan salah satu kebijakan yaitu

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA Pertumbuhan Penduduk dan Dampaknya terhadap Perkembangan Suatu Wilayah

II. TINJAUAN PUSTAKA Pertumbuhan Penduduk dan Dampaknya terhadap Perkembangan Suatu Wilayah 3 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pertumbuhan Penduduk dan Dampaknya terhadap Perkembangan Suatu Wilayah Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk di suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu dibandingkan

Lebih terperinci

M.Ikhlas Khasana ( ) Mengetahui berbagai dampak kebijakan persawitan nasional saat ini. Pendahuluan. ekspor. produksi.

M.Ikhlas Khasana ( ) Mengetahui berbagai dampak kebijakan persawitan nasional saat ini. Pendahuluan. ekspor. produksi. Tugas Akhir ANALISIS DAMPAK KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI PERKEBUNAN SAWIT DI KABUPATEN SIAK PROVINSI RIAU: SEBUAH PENDEKATAN SISTEM DINAMIK Membuat model persawitan nasional dalam usaha memahami permasalahan

Lebih terperinci

KAJIAN PERMINTAAN MINYAK GORENG PADA BERBAGAI GOLONGAN PENDAPATAN DAN SEGMEN PASAR DI INDONESIA ')

KAJIAN PERMINTAAN MINYAK GORENG PADA BERBAGAI GOLONGAN PENDAPATAN DAN SEGMEN PASAR DI INDONESIA ') KAJIAN PERMINTAAN MINYAK GORENG PADA BERBAGAI GOLONGAN PENDAPATAN DAN SEGMEN PASAR DI INDONESIA ') Oleh : Delima H. Azahari Darmawan 2), I Wayan Rusastra 2) dan Nizwar Sjafa'at Abstrak Masalah kekurangan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Mencermati data laporan Bank Indonesia dari berbagai seri dapat

I. PENDAHULUAN. Mencermati data laporan Bank Indonesia dari berbagai seri dapat I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mencermati data laporan Bank Indonesia dari berbagai seri dapat dinyatakan bahwa perekonomian Indonesia pada tahun 1997 telah mengalami kontraksi dari tahun sebelumnya,

Lebih terperinci

KITA, HUTAN DAN PERUBAHAN IKLIM

KITA, HUTAN DAN PERUBAHAN IKLIM KITA, HUTAN DAN PERUBAHAN IKLIM Peningkatan Kapasitas Akar Rumput untuk REDD+ di kawasan Asia Pasifik Maret 2012 RECOFTC - The Center for People and Forests adalah satusatunya organisasi nirlaba internasional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam dunia modern sekarang suatu negara sulit untuk dapat memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri tanpa kerjasama dengan negara lain. Dengan kemajuan teknologi yang sangat

Lebih terperinci

Decentralisation Brief

Decentralisation Brief Forests and Governance Programme Can decentralisation work for forests and the poor? No. 6, April 2005 Kontribusi Izin Pemungutan dan Pemanfaatan Kayu (IPPK) 100 ha terhadap Pendapatan Daerah: Studi Kasus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hal luasnya, hutan tropis Indonesia menempati urutan ke-3 setelah Brazil dan

BAB I PENDAHULUAN. hal luasnya, hutan tropis Indonesia menempati urutan ke-3 setelah Brazil dan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sebagian dari hutan tropis terbesar di dunia terdapat di Indonesia. Dalam hal luasnya, hutan tropis Indonesia menempati urutan ke-3 setelah Brazil dan Republik

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU 4.1 Kondisi Geografis Secara geografis Provinsi Riau membentang dari lereng Bukit Barisan sampai ke Laut China Selatan, berada antara 1 0 15 LS dan 4 0 45 LU atau antara

Lebih terperinci

Persyaratan ISPO Untuk Bahan Baku Energi Terbarukan (Bioenergi)

Persyaratan ISPO Untuk Bahan Baku Energi Terbarukan (Bioenergi) 1 Persyaratan ISPO Untuk Bahan Baku Energi Terbarukan (Bioenergi) DR. ROSEDIANA SUHARTO SEKRETARIAT KOMISI ISPO Workshop Skema ISPO (P&C) untuk Minyak Sawit (CPO) sebagai Bahan Baku Energi Terbarukan (Bioenergy)

Lebih terperinci

dikeluarkannya izin untuk aktivitas pertambangan pada tahun 1999 dengan dikeluarkannya SK Menperindag Nomor. 146/MPP/Kep/4/1999 tanggal 22 April 1999

dikeluarkannya izin untuk aktivitas pertambangan pada tahun 1999 dengan dikeluarkannya SK Menperindag Nomor. 146/MPP/Kep/4/1999 tanggal 22 April 1999 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Awal mula aktivitas pertambangan di Pulau Bangka terjadi sejak awal abad ke-18 oleh VOC (Heidhues, 2008). Pulau Bangka memiliki cadangan timah yang sangat besar karena

Lebih terperinci