Laporan Tengah Semester Direktorat Pembinaan SMA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Laporan Tengah Semester Direktorat Pembinaan SMA"

Transkripsi

1 Laporan Tengah Semester Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Tahun 2018

2 KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa memberikan taufik dan hidayah-nya kepada kita, sehingga penyusunan Laporan Tengah Tahunan (semester) Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas Tahun 2018 dapat diselesaikan. Laporan tengah tahunan disusun untuk melaporkan capaian kinerja Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas dalam kurun waktu 1 semester dan membantu dalam penyusunan Laporan akuntabilitas kinerja Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas Tahun Dasar hukum penyusunan laporan ini adalah Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2006 tentang pelaporan keuangan dan kinerja instansi pemerintah, khususnya pasal 2 menyatakan bahwa setiap Menteri/Pimpinan Lembaga selaku Pengguna Anggaran menyusun Laporan Kinerja sebagai pertanggungjawaban keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. Laporan tengah tahunan merupakan laporan yang menggambarkan dan menjelaskan tentang pelaksanaan capaian program, kegiatan dan anggaran yang sedang berjalan pada semester pertama tahun 2018, kesimpulan, serta saran dan rekomendasi untuk perbaikan dan pertimbangan perencanaan dan pelaksanaan program dan kegiatan di semester ke dua tahun Semoga laporan tengah tahunan ini bermanfaat dan dapat dijadikan acuan untuk pelaksanaan program, kegiatan dan anggaran Direktorat Pembinaan SMA semester ke dua. Jakarta, Juli 2018 Direktur Pembinaan SMA, Drs. Purwadi Sutanto, M. Si NIP

3 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iii BAB I PENDAHULUAN... A. Landasan Filosofis Pendidikan... B. Dasar Hukum... C. Organisasi Direktorat Pembinaan SMA Tugas Pokok dan Fungsi Struktur Organisasi Direktorat Pembinaan SMA... BAB II RENCANA STRATEGIS TAHUN A. Rencana Strategis Visi Direktorat Pembinaan SMA Misi Direktorat Pembinaan SMA Tujuan Strategis Direktorat Pembinaan SMA Indikator Kinerja Kunci Direktorat Pembinaan SMA Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan Direktorat Pembinaan SMA 25 B. Rencana Kinerja Tahunan... C. Penetapan Kinerja... D. Rencana Kerja Dan Anggaran Direktorat Pembinaan SMA Tahun Sub Direktorat Program Dan Evaluasi Sub Direktorat Kurikulum Sub Direktorat Kelembagaan Sarana Dan Prasarana Sub Direktorat Peserta Didik Subbagian Tata Usaha... BAB III AKUNTABILITAS KINERJA... A. Pengukuran Kinerja Pelaksanaan Kegiatan Subdit Program Dan Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Subdit Kurikulum...

4 3. Pelaksanaan Kegiatan Subdit Kelembagaan Dan Sarana Prasarana Pelaksanaan Kegiatan Subdit Peserta Didik Pelaksanaan Kegiatan Subbag Tata Usaha... B. Capaian Kinerja Direktorat... C. Akuntabilitas Keuangan... BAB IV PENUTUP... A. KESIMPULAN... B. SARAN/REKOMENDASI... LAMPIRAN

5 BAB I PENDAHULUAN Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Selanjutnya di dalam batang tubuh UUD 1945 Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28 C ayat (1), Pasal 31, dan Pasal 32, juga mengamanatkan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Sistem pendidikan nasional tersebut harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global. Untuk itu, perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. Pendidikan merupakan hak asasi setiap warga negara Indonesia dan untuk itu setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya tanpa memandang status sosial, status ekonomi, suku, etnis, agama, dan gender. Pemerataan akses dan peningkatan mutu pendidikan akan membuat warga negara Indonesia memiliki kecakapan hidup (life skills) sehingga mendorong tegaknya pembangunan manusia seutuhnya serta masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila, sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pembangunan pendidikan saat ini dilaksanakan dengan mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun Berdasarkan RPJPN tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah menyusun Rencana Pembangunan Pendidikan Nasional Jangka Panjang (RPPNJP) sebagai Peta Jalan (Road Map) pembangunan

6 pendidikan dengan berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun (Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007). Di dalam RPPNJP ditentukan tema-tema pembangunan yang telah diselaraskan dengan tema-tema pembangunan dalam RPJPN seperti ditunjukan pada Gambar 1.1. RPJMN-I ( ) Menata kembali NKRI, menbangun Indonesia yang aman dan damai, yang adil dan demokratis, dengan tingkat kesejahteraan yang lebih baik RPJMN-II ( ) Memantapkan penataan kembali NKRI, meningkatkan kualitas SDM, membangun kemampuan IPTEK, memperkuat daya saing perekonomian RPJMN-III ( ) Memantapkan pembangunan secara menyeluruh dengan menekankan pembangunan keunggulan kompetitif perekonomian yang berbasis pada SDA yang tersedia, SDM yang berkualitas serta kemampuan IPTEK. RPJMN-IV ( ) Mewujudkan manusia Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur melalui percepatan pembangunan di segala bidang dengan struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif TEMA PEMBANGUNAN PENDIDIKAN Peningkatan Kapasitas & Modernisasi Penguatan Pelayanan Daya Saing Regional Daya Saing Internasional Gambar 1.1. Tema pembangunan pendidikan Periode pertama dalam RPPNJP, pembangunan pendidikan difokuskan pada peningkatan kapasitas satuan pendidikan sebagai penyelenggara pendidikan dalam memperluas layanan dan meningkatkan modernisasi penyelenggaraan proses pembelajaran. Sementara pada periode kedua sebagai tindak lanjut hasil peningkatan kapasitas dan modernisasi pendidikan, pemerintah mendorong penguatan layanan sehingga pendidikan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Pada saat ini pembangunan pendidikan dan kebudayaan memasuki periode ketiga, dimana pemerintah bertugas untuk mendorong agar penguatan layanan di satuan pendidikan dapat menghasilkan keluaran-keluaran (manusia, karya, atau inovasi) yang berdaya saing minimal pada tingkat regional di Asia Tenggara (ASEAN), sehingga Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara kembali menjadi barometer dunia dan menjadi poros dalam peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat ASEAN.

7 Dengan digabungnya fungsi kebudayaan bersama dengan pendidikan merupakan langkah untuk mengembalikan fungsi kementerian sesuai dengan BAB XIII UUD Pendidikan dan kebudayaan menjadi satu bagian yang sangat berkaitan, sehingga pendidikan tidak hanya menjadi sumber daya manusia sebagai penggerak ekonomi namun dapat sekaligus menjadi manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. Program Kerja Direkotrat Pembinaan SMA mengacu pada Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun yang merupakan upaya komprehensif dalam menjabarkan tema pembangunan pendidikan tahap III yaitu mendorong daya saing regional, serta arahan Presiden yaitu kebijakan Trisakti yang mencakup kedaulatan di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan, juga Nawa Cita (9 agenda perubahan), yang meliputi: 1) menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara; 2) membuat pemerintah selalu hadir dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya; 3) membangun indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerahdaerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan; 4) memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya; 5) meningkatkan kualitas hidup manusia indonesia; 6) meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa asia lainnya; 7) mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik; 8) melakukan revolusi karakter bangsa; serta 9) memperteguh kebhineka-an dan memperkuat restorasi sosial Indonesia. Dalam Upaya mengawal Pencapaian dari sasaran sasaran kegiatan yang telah tertuang dalam program kerja Direktorat Pembinaan SMA tersebut perlu disusun Laporan Semester untuk mengawal proses pelaksanaan kegiatan dan Laporan akhir tahun dalam bentuk Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP),

8 sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2006 Tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah dijelaskan bahwa Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) ini mempunyai tujuan akhir untuk mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Akuntabilitas kinerja tersebut akan menjadi prasyarat untuk terciptanya pemerintah yang baik dan terpercaya. Dalam Peraturan Pemerintah tersebut juga dijelaskan bahwa sasaran Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah adalah: 1. Menjadikan instansi pemerintah yang akuntabel, yakni instansi pemerintah yang beroperasi secara efisien, efektif dan responsif terhadap aspirasi masyarakat dan lingkungannya; 2. Terwujudnya transparansi instansi pemerintah dalam pelaksanaan fungsi dan tugasnya secara operasional; 3. Terwujudnya partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan nasional; 4. Terpeliharanya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. A. Landasan Filosofis Pendidikan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memberikan landasan filosofis serta berbagai prinsip dasar dalam pembangunan pendidikan.berdasarkan landasan filosofis tersebut, sistem pendidikan nasional menempatkan peserta didik sebagai makhluk yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan segala fitrahnya dengan tugas memimpin kehidupan yang berharkat dan bermartabat serta menjadi manusia yang bermoral, berbudi luhur, dan berakhlak mulia. Pendidikan merupakan upaya memberdayakan peserta didik untuk berkembang menjadi manusia Indonesia seutuhnya, yaitu yang menjunjung tinggi dan memegang teguh norma dan nilai sebagai berikut: 1. Norma agama dan kemanusiaan untuk menjalani kehidupan sehari-hari, baik sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, makhluk individu, maupun makhluk

9 sosial; 2. Norma persatuan bangsa untuk membentuk karakter bangsa dalam rangka memelihara keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia; 3. Norma kerakyatan dan demokrasi untuk membentuk manusia yang memahami dan menerapkan prinsip-prinsip kerakyatan dan demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; dan 4. Nilai-nilai keadilan sosial untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang merata dan bermutu bagi seluruh bangsa serta menjamin penghapusan segala bentuk diskriminasi dan bias gender serta terlaksananya pendidikan untuk semua dalam rangka mewujudkan masyarakat berkeadilan sosial. B. Dasar Hukum Laporan Tengah Semester ini disusun berdasarkan Undang-Undang dasar, Undang-Undang, Keputusan dan Instruksi Presiden dan aturan hukum lainnya, antara lain: 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara; 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik; 3. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah (RKP); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-K/L); 5. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah; 6. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 9 Tahun 2007 tentang Indikator Kinerja Utama; 7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2006 Tentang Pelaporan Keuangan Dan Kinerja Instansi Pemerintah; 8. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah;

10 9. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2014 Tentang Perubahan Lampiran Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi Nomor 25 Tahun 2013 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah; 10. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja dilingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; 11. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 11 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; 12. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 22 Tahun 2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun ; 13. Rencana Strategis Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Tahun Rencana Strategis Direktorat Pembinaan SMA Tahun C. Organisasi Direktorat Pembinaan SMA 1. Tugas Pokok dan Fungsi Dalam rangka mencapai target program prioritas bidang pendidikan yang ditetapkan, maka Direktorat Pembinaan SMA menyesuaikan struktur organisasi dan penganggaran berdasarkan Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) untuk mencapai sasaran-sasaran strategis yang telah ditetapkan. Berikut ini adalah struktur organisasi dan anggaran berdasarkan Tugas Pokok dan Fungsi dari Direktorat Pembinaan SMA berdasarkan Peraturan Meneteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 11 Tahun 2015 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Secara umum, tugas dari Direktorat Pembinaan SMA adalah melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pembinaan sekolah menengah atas. Dan memiliki fungsi:

11 a. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang kurikulum, peserta didik, sarana dan prasarana, pendanaan, dan tata kelola sekolah menengah atas; b. Koordinasi dan pelaksanaan kebijakan di bidang kurikulum, peserta didik, sarana dan prasarana, pendanaan, dan tata kelola sekolah menengah atas; c. Peningkatan kualitas pendidikan karakter peserta didik sekolah menengah atas; d. Fasilitasi sarana dan prasarana serta pendanaan sekolah menengah atas; e. Pemberian pertimbangan izin dan kerja sama penyelenggaraan sekolah menengah atas yang diselenggarakan perwakilan negara asing atau lembaga asing; f. Fasilitasi pelaksanaan penjaminan mutu sekolah menengah atas; g. Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang kurikulum, peserta didik, sarana dan prasarana, pendanaan, dan tata kelola sekolah menengah atas; h. Pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang kurikulum, peserta didik, sarana dan prasarana, pendanaan, dan tata kelola sekolah menengah atas; i. Pelaksanaan evaluasi dan laporan di bidang kurikulum, peserta didik, sarana dan prasarana, pendanaan, dan tata kelola sekolah menengah atas; dan j. Pelaksanaan administrasi Direktorat.

12 2. Struktur Organisasi Direktorat Pembinaan SMA Subdit Kelembagaan Program Pembelajaran Kelembagaan Evaluasi Penilaian Kepribadian Secara organisasi, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas terdiri atas 4 (empat) sub direktorat, 8 (delapan) seksi dan dan 1 (satu) sub bagian. Rincian detail organisasi tersebut adalah sebagai berikut : a. Sub Direktorat Program dan Evaluasi Sub Direktorat program dan Evaluasi mempunyai tugas untuk melaksanakan penyusunan bahan perumusan kebijakan, program dan anggaran, kerja sama, pemberdayaan peran serta masyarakat, evaluasi pelaksanaan program dan anggaran, dan pelaporan Direktorat. Sub Direktorat Program dan Evaluasi terdiri dari 2 seksi, yaitu: 1) Seksi Program mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan perumusan kebijakan, pengumpulan, pengolahan, penyajian, data dan informasi, dan penyusunan program, kegiatan dan anggaran Direktorat, serta fasilitasi pendanaan sekolah menengah atas.

13 2) Seksi Evaluasi mempunyai tugas melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program, kegiatan, dan anggaran Direktorat dan pelaksanaan fasilitasi pendanaan sekolah menengah atas, penyusunan bahan koordinasi pelaksanaan kerja sama di bidang pembinaan sekolah menengah atas, dan penyusunan laporan Direktorat. b. Sub Direktorat Kurikulum Sub Direktorat Kurikulum mempunyai tugas untuk melaksanakan penyusunan bahan perumusan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan, norma, standar, prosedur, kriteria, bimbingan teknis dan supervisi, fasilitasi penjaminan mutu di bidang kurikulum sekolah menengah atas. Sub Direktorat Kurikulum terdiri dari 2 seksi, yaitu: 1) Seksi Pembelajaran mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan perumusan, koordinasi, dan pelaksanaan kebijakan, norma, standar, prosedur, kriteria, bimbingan teknis dan supervisi, fasilitasi penjaminan mutu, evaluasi dan laporan di bidang pembelajaran sekolah menengah atas. 2) Seksi Penilaian mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan perumusan, koordinasi, dan pelaksanaan kebijakan, norma, standar, prosedur, kriteria, bimbingan teknis dan supervisi, fasilitasi penjaminan mutu, evaluasi dan laporan di bidang penilaian sekolah menengah atas. c. Sub Direktorat Kelembagaan dan Sarana Prasarana Sub Direktorat Kelembagaan dan Sarana Prasarana mempunyai tugas untuk melaksanakan penyusunan bahan perumusan, koordinasi, dan pelaksanaan kebijakan, norma, standar, prosedur, kriteria, bimbingan

14 teknis dan supervisi, pertimbangan pemberian izin penyelenggaraan sekolah menengah atas yang diselenggarakan perwakilan negara asing dan satuan pendidikan kerja sama yang diselenggarakan oleh lembaga asing dengan lembaga pendidikan Indonesia, serta fasilitasi sarana dan prasarana, tata kelola, dan penjaminan mutu di bidang tata kelola dan sarana prasarana sekolah menengah atas. Sub Direktorat Kelembagaan dan Sarana Prasarana terdiri dari 2 seksi, yaitu: 1) Seksi Kelembagaan mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan perumusan, koordinasi, dan pelaksanaan kebijakan, norma, standar, prosedur, kriteria, bimbingan teknis dan supervisi, pertimbangan pemberian izin penyelenggaraan sekolah menengah atas yang diselenggarakan perwakilan negara asing dan satuan pendidikan kerja sama yang diselenggarakan oleh lembaga asing dengan lembaga pendidikan Indonesia, fasilitasi penjaminan mutu, evaluasi dan laporan di bidang tata kelola sekolah menengah atas. 2) Seksi Sarana dan Prasarana mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan perumusan, koordinasi, dan pelaksanaan kebijakan, norma, standar, prosedur, kriteria, bimbingan teknis dan supervisi, fasilitasi sarana prasarana dan penjaminan mutu, evaluasi dan laporan di bidang sarana dan prasarana menengah atas. d. Sub Direktorat Peserta Didik Sub Direktorat Peserta Didik mempunyai tugas untuk melaksanakan penyusunan bahan perumusan, koordinasi, dan pelaksanaan kebijakan, norma, standar, prosedur, kriteria, bimbingan teknis dan supervisi dibidang peserta didik sekolah menengah atas. Sub Direktorat Kelembagaan dan Peserta Didik terdiri dari 2 seksi, yaitu: 1) Seksi Bakat dan Prestasi mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan perumusan, koordinasi, dan pelaksanaan kebijakan, norma, standar, prosedur, kriteria, bimbingan teknis dan

15 supervisi, evaluasi dan laporan di bidang bakat dan prestasi peserta didik sekolah menengah atas. 2) Seksi Kepribadian mempunyai tugas melakukan penyusunan bahan perumusan, koordinasi, dan pelaksanaan kebijakan, norma, standar, prosedur, kriteria, bimbingan teknis dan supervisi, evaluasi dan laporan di bidang peningkatan kualitas pendidikan karakter dan kepribadian peserta didik sekolah menengah atas. e. Sub Bagian Tata Usaha Sub Bagian Tata Usaha memiliki tugas untuk urusan persuratan, kepegawaian, keuangan, barang milik negara, dan kerumahtanggaan Direktorat.

16 BAB II RENCANA STRATEGIS TAHUN A. Rencana Strategis Sejalan dengan tuntutan reformasi administrasi publik, maka dalam sistem akuntabilitas kinerja perencanaan strategis merupakan langkah awal yang harus dilakukan oleh instansi pemerintah agar mampu menjawab tuntutan strategis lokal dan global. Dengan pendekatan perencanan strategis yang jelas dan sinergis, setiap instansi pemerintah lebih dapat menyelaraskan program kerja, dengan potensi, peluang dan kendala yang dihadapi dalam upaya peningkatan akuntabilitas kinerja. Perencanaan kinerja merupakan proses penyusunan rencana kinerja sebagai penjabaran dari sasaran, program dan kegiatan yang telah ditetapkan dalam rencana strategis, yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah melalui berbagai kegiatan tahunan. Di dalam rencana kinerja ditetapkan rencana target kinerja tahunan untuk seluruh indikator kinerja yang ada pada tingkat sasaran dan kegiatan. Penyusunan rencana kinerja dilakukan seiring dengan agenda penyusunan dan kebijakan anggaran, serta merupakan komitmen bagi instansi untuk mencapainya dalam tahun tertentu. Renstra Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas mencakup visi, misi, tujuan, dan sasaran kegiatan beserta dengan indikator kinerja. Renstra Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas berorientasi pada hasil yang ingin dicapai dalam kurun waktu lima tahun, yaitu tahun Didalamnya juga telah memperhitungan berbagai potensi, peluang, dan kendala yang mungkin timbul dalam rentang waktu tersebut. Selain itu Renstra ini menjadi pedoman bagi semua tingkatan pengelola pendidikan, baik di pemerintah pusat, daerah, maupun satuan pendidikan.

17 1. Visi Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Pembinaan SMA mulai tahun 2015 tidak lagi memiliki visi dan misi tersendiri, hal ini terjadi karena setiap program dari unit utama adalah mendukung visi, misi, dan program prioritas Kementerian Pendidikan dan mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Insan cerdas dan insan kompetitif melandasi penetapan Visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2019 sebagaimana tercantum di dalam Rencana Strategis , yaitu: Tabel 2. 1 Visi Kemdikbud Visi Kemendikbud 2019: Terbentuknya Insan serta Ekosistem Pendidikan dan Kebudayaan yang Berkarakter dengan Berlandaskan Gotong Royong. Terbentuknya insan serta ekosistem pendidikan yang berkarakter dapat dimaknai sebagai terwujudnya dengan baik apa yang disebut sebagai tujuh elemen ekosistem. Penyebutan insan secara terpisah adalah untuk menekankan arti sangat penting dari peran pelaku dalam suatu ekosistem. Tujuh elemen ekosistem pendidikan tersebut adalah: a. Sekolah yang kondusif Suasana kondusif di sekolah sangat diperlukan dalam membuat sekolah yang efektif. Sekolah adalah suatu tempat yang di dalamnya terjadi hubungan saling ketergantungan antara manusia dengan lingkungannya. Sekolah yang kondusif sebagai tempat yang menyenangkan bagi manusia yang berinteraksi di dalamnya, baik siswa, guru, tenaga pendidik, orang tua siswa dan pelaku lainnya. Ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai juga menjadi faktor pendukung. Faktor pendukung lain yang penting adalah

18 Kepala Sekolah yang memimpin para pelaku menghadapi dan menyelesaikan masalah. b. Guru sebagai penyemangat Guru yang baik adalah guru yang mempunyai empat kompetensi yang mumpuni yaitu kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan berkepribadian. Selain itu seorang guru juga harus punya naluri yang sensitif atau peka terhadap kemampuan dan perkembangan siswanya. Sensitif terhadap kebutuhan siswa serta mampu memberikan semangat kepada siswa untuk aktif, kreatif, inovatif, dan sportif dalam mengikuti proses belajar mengajar. c. Orangtua yang terlibat aktif Orang tua berperan sejak awal sebagai pendidik bagi anak-anaknya dan terus berlanjut meskipun mereka sudah masuk sekolah. Keluarga sebagai lembaga pendidikan memiliki beberapa fungsi seperti: membentuk kepribadian anak, melaksanakan pedidikan anak di rumah dan mendukung pendidikan di sekolah. Pemerintah memang memiliki tanggung jawab untuk menyelenggarakan pendidikan secara baik bagi seluruh anak Indonesia. Orang tua memiliki hak dan kewajiban dalam memilih satuan pendidikan, memperoleh informasi tentang perkembangan pendidikan anaknya, serta memberi masukan kepada sekolah. Orang tua yang terlibat aktif dalam penyelanggaraan pendidikan di sekolah akan menjadikan pendidikan menjadi lebih efektif. d. Masyarakat yang sangat peduli Penyelenggaraan pendidikan membutuhkan partisipasi dan kepedulian masyarakat. Salah satu alasannya adalah keterbatasan sumber daya Pemerintah. Partisipasi dan kepedulian masyarakat itu dapat berupa menyelenggaraan satuan pendidikan sendiri atau mendukung satuan pendidikan milik Pemerintah. Masyarakat yang menyelenggarakan

19 satuan pendidikan sendiri harus berupaya sebaik-baiknya dan tetap mematuhi semua pedoman, aturan dan kurikulum yang ditetapkan Pemerintah. Sedangkan partisipasi masyarakat dalam satuan pendidikan yang diselenggarakan Pemerintah dapat berupa materi, tenaga dan pikiran. Masyarakat kini bisa memiliki peran serta dalam pembahasan masalah pendidikan baik akademis maupun non akademis, dan dalam proses pengambilan keputusan dalam Rencana Pengembangan Sekolah. e. Industri yang berperan penting Di negara-negara maju, peran industri ditunjukkan secara nyata berupa kerjasama program, dukungan finansial untuk penelitian dan beasiswa. Bahkan di beberapa negara peran industri menjadi kewajiban sesuai undang-undang yang mengaturnya. Pengalaman Negara-negara tersebut dapat menjadi pelajaran bagi penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Selain dukungan finansial, peran industri yang penting adalah dalam memecahkan permasalahan peralihan dari dunia pendidikan ke dunia kerja. Dunia industri bisa berfungsi sebagai tempat praktik, magang kerja, belajar manajemen industri dan wawasan dunia kerja bagi siswa. Kerjasama sekolah dan industri harus dibangun berdasarkan kemauan dan saling membutuhkan. Pihak dunia kerja dan industri seharusnya menyadari bahwa pihak industri tidak akan mendapatkan tenaga kerja siap pakai yang mereka perlukan sesuai kualifikasi yang diharapkan, tanpa membangun program pendidikan bersama. f. Organisasi profesi yang berkontribusi besar Organisasi profesi diharapkan bisa meningkatkan peran dalam penyelenggaraan pendidikan. Organisasi profesi dapat memberi masukan bahkan menentukan arah kebijakan pendidikan. Pemerintah sudah seharusnya bekerja sama lebih erat dengan organisasi profesi,

20 melalui berbagai jalur komunikasi dan aspirasi. Interaksi yang baik akan menguntungkan kedua belah pihak, sekaligus mempercepat kemajuan pembangunan di bidang pendidikan. g. Pemerintah yang berperan optimal Berdasarkan hasil amandemen UUD 1945 ke IV (empat) tahun 2002 yaitu tentang pendidikan maka bentuk dukungan pemerintah diantaranya telah dituangkan dalam pasal 31 ayat 1, 2, 3, 4, 5. Khusus untuk dukungan pendanaan secara eksplisit dituangkan pada pasal 31 ayat 4 yang berbunyi Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang kurangnya 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan nasional. Pemerintah memegang peranan penting dalam peningkatan akses, kualitas, dan relevansi pendidikan serta daya saing anak-anak Indonesia, terutama dalam penyediaan sarana dan prasarana sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar Nasional Pendidikan (SNP), pemberian Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pada semua jenjang pendidikan serta pemberian beasiswa miskin melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP) sehingga keterjangkauan dan jaminan untuk memperoleh layanan pendidikan dasar dan menengah dapat terpenuhi. Selain itu pemerintah juga harus menjamin ketersediaan pendidik dan tenaga kependidikan yang profesional di seluruh jenjang pendidikan dan seluruh satuan pendidikan, serta mengurangi kesenjangan akses dan kualitas antar propinsi, kabupaten dan kota serta daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Pemerintah daerah pun dituntut untuk berperan lebih daripada waktu sebelumnya. Sebagian cukup besar penggunaan dana pendidikan dari APBN berada dibawah kontrol Pemerintah Daerah. Pemanfaatan dana

21 pendidikan yang berasal dari APBN dan APBD dapat diupayakan semakin terkoordinasi, antara lain dengan mengkaitkan alokasi dana Pemerintah dihubungkan dengan seberapa besar alokasi APBD daerah bersangkutan. Terbentuknya insan serta ekosistem kebudayaan yang berkarakter dapat dimaknai sebagai: a. Terwujudnya pemahaman mengenai pluralitas sosial dan keberagaman budaya dalam masyarakat, yang diindikasikan oleh kesediaan untuk membangun harmoni sosial, menumbuhkan sikap toleransi, dan menjaga kesatuan dalam keanekaragaman; b. Terbentuknya wawasan kebangsaan di kalangan anak-anak usia sekolah yang diindikasikan oleh menguatnya nilai-nilai nasionalisme dan rasa cinta tanah air; c. Terwujudnya budaya dan aktivitas riset, budaya inovasi, budaya produksi serta pengembangan ilmu dasar dan ilmu terapan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri untuk mendukung pusat-pusat pertumbuhan ekonomi; d. Terwujudnya pelestarian warisan budaya baik bersifat benda (tangible) maupun tak benda (intangible); e. Terbentuknya karakter yang tangguh dengan melestarikan, memperkukuh dan menerapkan nilai-nilai kebudayaan Indonesia; f. Tingginya apresiasi terhadap keragaman seni dan kreativitas karya budaya, yang mendorong lahirnya insan kebudayaan yang profesional yang lebih banyak; g. Berkembangnya promosi dan diplomasi budaya. Berlandaskan gotong-royong dapat dimaknai sebagai berikut: Gotong-royong merupakan salah satu ciri khas bangsa Indonesia. Gotong- royong diakui sebagai kepribadian dan budaya bangsa yang telah berakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Gotong-royong

22 dalam pembangunan pendidikan dan kebudayaan berarti banyak hal yang dilakukan secara bersama oleh banyak pihak secara sadar, sukarela, dan keinginan saling tolong menolong. Berlandaskan gotong-royong akan memposisikan pembangunan pendidikan dan kebudayaan sebagai sebuah gerakan. Gerakan yang dicirikan antara lain oleh keterlibatan aktif masyarakat dan kepercayaan yang tinggi terhadap lingkungan lembaga satuan pendidikan seperti sekolah. 2. Misi Direktorat Pembinaan SMA Mengacu pada visi Kemdikbud 2019, misi Kemdikbud yang diembankan kepada Direktorat Pembinaan SMA tahun adalah: Tabel 2. 2 Misi Kemdikbud 2019 Kode M1 M2 M3 M4 Misi Mewujudkan Pelaku Pendidikan dan Kebudayaan yang Kuat Mewujudkan Akses yang Meluas dan Merata Mewujudkan Pembelajaran yang Bermutu Mewujudkan Penguatan Tata Kelola serta Peningkatan Efektivitas Birokrasi dan Pelibatan Publik Misi Renstra Kemendikbud dapat dimaknai sebagai berikut: a. Mewujudkan pelaku pendidikan dan kebudayaan yang kuat adalah menguatkan siswa, guru, kepala sekolah, orangtua dan pemimpin institusi pendidikan dalam ekosistem pendidikan; memberdayakan pelaku budaya dalam pelestarian dan pengembangan kebudayaan; serta fokus kebijakan diarahkan pada penguatan perilaku yang mandiri dan berkepribadian; b. Mewujudkan akses yang meluas dan merata adalah mengoptimalkan capaian wajib belajar 12 tahun; meningkatkan ketersediaan serta

23 keterjangkauan layanan pendidikan, khususnya bagi masyarakat yang terpinggirkan, serta bagi wilayahterdepan, terluar, dan tertinggal (3T); c. Mewujudkan pembelajaran yang bermutu adalah meningkatkan mutu pendidikan sesuai lingkup standar nasional pendidikan; serta fokus kebijakan didasarkan pada percepatan peningkatan mutu untuk menghadapi persaingan global dengan pemahaman akan keberagaman, penguatan praktik baik dan inovasi; d. Mewujudkan penguatan tata kelola serta peningkatan efektivitas birokrasi dan pelibatan publik adalah dengan memaksimalkan pelibatan publik dalam seluruh aspek pengelolaan kebijakan yang berbasis data, riset dan bukti lapangan; membantu penguatan kapasitas tata kelola pada pendidikan di daerah, mengembangkan koordinasi dan kerjasama lintas sektor di tingkat nasional serta mewujudkan birokrasi Kemdikbud yang menjadi teladan dalam tata kelola yang bersih, efektif dan efisien. Misi Renstra dapat pula dijelaskan sebagai bagian dari revolusi mental. Penerapannya terintegrasi pada pengelolaan pendidikan yang mencakup tujuh jalan revolusi mental, yaitu: a. Menerapkan paradigma pendidikan untuk membentuk manusia mandiri dan berkepribadian; b. Mengembangkan kurikulum berbasis karakter dengan mengadopsi kearifan lokal serta vokasi yang beragam berdasarkan kebutuhan geografis daerah serta bakat dan potensi anak; c. Menciptakan proses belajar yang nyaman dan menyenangkan untuk menumbuhkan kemauan belajar dari dalam diri anak; d. Memberi kepercayaan kepala sekolah dan guru untuk mengelola suasana dan proses belajar yang kondusif agar anak nyaman belajar; e. Memberdayakan orangtua untuk terlibat lebih aktif pada proses

24 pembelajaran dan tumbuh kembang anak; f. Membantu kepala sekolah untuk menjadi pemimpin yang melayani warga sekolah; g. Menyederhanakan birokrasi dan regulasi pendidikan diimbangi pendampingan dan pengawasan yang efektif. 3. Tujuan Strategis Direktorat Pembinaan SMA Rumusan tentang tujuan dan sasaran strategis adalahbuntukbmenggambarkan ukuran-ukuran terlaksananya misi dan tercapainya visi. Tujuan strategis Kemendikbud tahun yang diembankan kepada Direktorat Pembinaan SMA adalah sebagai berikut: Tabel 2. 3 Tujuan Strategis Kode T1 T2 T3 Tujuan Strategis Peningkatan Kepastian Akses Pendidikan Menengah yang Bermutu dan Relevan dengan Kebutuhan Masyarakat Peningkatan Mutu Pembelajaran Pendidikan Dasar dan Menengah yang Berorientasi pada Pembentukan Karakter Peningkatan Sistem Tata Kelola yang Transparan dan Akuntabel dengan Melibatkan Publik Tujuan strategis ini untuk memenuhi hak dasar masyarakat/wni, tanpa memandang status sosial ekonomi dan budaya, ras, etnik, agama, gender, ataupun faktor geografis, serta mendapatkan pendidikan yang berkualitas agar tercapai kesejahteraan yang adil dan merata. Penjabaran tujuan tersebut secara rinci sebagai berikut: a. Peningkatan Kepastian Akses Pendidikan Menengah yang Bermutu dan Relevan dengan Kebutuhan Masyarakat Peningkatan akses di semua jenjang pendidikan telah dilaksanakan selama ini diseluruh wilayah Indonesia. Upaya peningkatan lebih lanjut

25 akan dilakukan, mengingat masih ada ketidakmerataan tingkat akses pendidikan antar provinsi, kabupaten dan kota. Perhatian lebih besar dibanding era sebelumnya akan diberikan pula pada peningkatan akses pendidikan anak berkebutuhan khusus. Meskipun upaya penuntasan wajib belajar sembilan tahun telah dilaksanakan dan tuntas bagi 66,15% dari keseluruhan kabupaten dan kota (340 dari 514 kabupaten dan kota), peningkatan akses pendidikan dasar dan menengah untuk memenuhi program wajib belajar dua belas tahun merupakan agenda yang harus dipenuhi dalam lima tahun ke depan sebagaimana diamanatkan dalam RPJMN Seiring dengan hal ini, fokus peningkatan akses untuk jenjang pendidikan menengah adalah peningkatan jaminan bagi lulusan SMP/MTs untuk dapat melanjutkan ke pendidikan menengah. Solusi atas kendala biaya dan jarak atau keterjangkauan antara lain melalui pendirian sekolah menengah baru di setiap kecamatan yang dikombinasikan dengan penyediaan biaya operasional pendidikan serta bantuan khusus bagi siswa miskin dengan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Inovasi dalam penerapan sistem pembelajaran berbasis teknologi informasi diperhatikan untuk mengakselerasi peningkatan akses pendidikan menengah. Fokus peningkatan akses menengah dalam lima tahun kedepan juga menitikberatkan pada peningkatan akses bagi anak berkebutuhan kusus, pengembangan daerah 3T, dan memperhatikan aspek gender. b. Peningkatan Mutu Pembelajaran Pendidikan Dasar dan Menengah yang Berorientasi pada Pembentukan Karakter Peningkatan mutu dan relevansi pembelajaran pada semua jenjang pendidikan dalam lima tahun ke depan difokuskan pada pembentukan karakter siswa. Peningkatan mutu pembelajaran pendidikan dasar dan menengah didukung oleh semakin banyak pelibatan siswa di kelas secara interaktif, sehingga mendorong kreativitas siswa, daya kritis dalam berpikir dan kemampuan analisis. Ditargetkan adanya

26 peningkatan hasil yang signifikan dalam hasil tes nasional dan hasil tes internasional. Sebagai contoh, hasil tes PISA siswa Indonesia meningkat dalam periode lima tahun ke depan. Di samping tes yang demikian itu, mengingat Indonesia sebagai negara maritim dan kepulauan, pembentukan karakter bagi siswa menjadi hal yang utama dalam rangka mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peningkatan mutu pada pendidikan dasar dan menengah berkaitan erat dengan pengembangan dan penerapan kurikulum secara baik. Evaluasi yang terus-menerus atas pelaksanaan Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013 diharapkan menghasilkan kurikulum yang lebih baik dan diterapkan secara baik. Contoh aspek yang mutlak diperhatikan dalam konteks ini adalah pendidikan karakter dan pendidikan kewargaan. Pendidikan karakter dimaksudkan untuk membina budi pekerti, membangun watak, dan mengembangkan kepribadian peserta didik. Sementara itu, pendidikan kewargaan dimaksudkan untuk meningkatkan wawasan kebangsaan di kalangan anak usia sekolah, sehingga terbentuk pemahaman mengenai pluralitas sosial dan keberagaman budaya dalam masyarakat, yang berdampak pada kesediaan untuk membangun harmoni sosial, menumbuhkan sikap toleransi, dan menjaga kesatuan dalam keanekaragaman. c. Peningkatan Sistem Tata Kelola yang Transparan dan Akuntabel Peningkatan akuntabilitas pengelolaan keuangan dan kinerja bertujuan untuk menjaga agar, (a) mutu laporan keuangan tetap memperoleh opini hasil audit Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK, dan (b) tingkat pencapaian akuntabilitas pengelolaan kinerja dalam kategori B (baik), yaitu dengan cara peningkatan efisiensi dan efektivitas perencanaan dan pelaksanaan program kerja dan anggaran serta pengembangan koordinasi dan kerjasama lintas sektor di tingkat nasional. Selain itu konsistensi dalam pelaksanaan reformasi birokrasi akan terus

27 dilakukan dan difokuskan pada kebijakan untuk mewujudkan birokrasi Kemendikbud yang menjadi teladan dalam memberikan layanan prima, mewujudkan tata kelola yang bersih, efektif dan efisien, Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan transparansi dengan melibatkan publik dalam seluruh aspek pengelolaan kebijakan berbasis data, riset, dan bukti lapangan. Partisipasi pemerintah daerah dalam pendidikan akan dicapai melalui penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM). SPM ditujukan agar penyediaan sumber daya oleh pendidikan menjadi lebih fokus dan bermutu. Diharapkan semakin banyak daerah yang telah memenuhi SPM pendidikan sehingga penyediaan sumber daya oleh daerah semakin berorientasi pada mutu layanan pendidikan. Oleh karena itu perlu penguatan kapasitas tata kelola pada birokrasi pendidikan di daerah. Penerapan penyediaan anggaran pendidikan melalui APBN yang setiap tahunnya semakin meningkat melalui mekanisme BOS, Program Indonesia Pintar (PIP), anggaran pengembangan sarana prasarana melalui DAK akan diarahkan pada ketersediaan sarana prasarana yang lengkap, baik dan mutu pendidikan dalam rangka pemenuhan SPM pendidikan. 4. Indikator Kinerja Kunci Direktorat Pembinaan SMA Untuk mengetahui ketercapaian masing-masing tujuan strategis yang telah ditetapkan maka diperlukan sasaran strategis program yang harus dicapai sampai tahun 2019 dari setiap tujuan strategis tersebut, sehingga menjadi target yang harus dicapai dalam pembangunan pendidikan dasar dan menengah selama 5 tahun kedepan. Pada setiap sasaran strategis ditetapkan indikator kinerja program (IKP). Untuk mendukung IKP Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah tahun maka Direktorat Pembinaan SMA menetapkan Indikator Kinerja Kunci (IKK) sebagai berikut: a. Tujuan Strategis Peningkatan Kepastian Akses Pendidikan

28 Menengah yang Bermutu dan Relevan dengan Kebutuhan Masyarakat. Melalui tujuan strategis ini diharapkan dapat meningkatkan akses yang meluas, merata, dan berkeadilan. Untuk mencapai tujuan ini dilakukan upaya dengan mengoptimalkan program wajib belajar 12 tahun; meningkatkan ketersediaan serta keterjangkauan layanan pendidikan, khususnya bagi masyarakat yang berkebutuhan khusus dan masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Beberapa sasaran Indikator Kinerja Kunci untuk mencapai tujuan tersebut adalah sebagai berikut : 1) Jumlah siswa SMA penerima BOS SM; 2) Jumlah RKB SMA yang dibangun; 3) Jumlah unit SMA baru yang dibangun; 4) Jumlah siswa SMA penerima bantuan melalui KIP; 5) Jumlah siswa SMA yang memperoleh beasiswa. b. Tujuan Strategis Peningkatan Mutu Pembelajaran Pendidikan Dasar dan Menengah yang Berorientasi pada Pembentukan Karakter Mewujudkan pembelajaran yang bermutu adalah meningkatkan mutu pendidikan sesuai lingkup standar nasional pendidikan; serta memfokuskan kebijakan berdasarkan percepatan peningkatan mutu untuk menghadapi persaingan global dengan pemahaman akan keberagaman, dan penguatan praktik baik dan inovatif. Untuk melaksanakan tujuan strategis ini diperlukan beberapa sasaran program sasaran Indikator Kinerja Kunci antara lain: 1) Pembangunan Prasarana Pembelajaran SMA; 2) Rehabilitasi Ruang Pembelajaran SMA; 3) Pengadaan Sarana Pembelajaran SMA;

29 4) Jumlah SMA yang menerapkan kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah; 5) Jumlah bahan ajar SMA yang disusun; 6) Jumlah SMA yang menerapkan standar penilaian pendidikan; 7) Jumlah SMA Rujukan; 8) Jumlah siswa SMA yang mengikuti lomba/olimpiade, festival, debat, dan unjuk prestasi tingkat nasional dan Internasional; 9) Jumlah Siswa SMA yang menerapkan pendidikan karakter. c. Tujuan Strategis Peningkatan Sistem Tata Kelola yang Transparan dan Akuntabel Mewujudkan penguatan tata kelola serta peningkatan efektivitas birokrasi dan pelibatan publik adalah dengan memaksimalkan pelibatanpublik dalam seluruh aspek pengelolaan kebijakan yang berbasis data, riset, dan bukti lapangan; membantu penguatan kapasitas tata kelola pada pendidikan di daerah, mengembangkan koordinasi dan kerjasama lintas sektor di tingkat nasional; mewujudkan birokrasi Kemendikbud yang menjadi teladan dalam tata kelola yang bersih, efektif, dan efisien. Performace atau kinerja pengelola kegiatan menjadi sangat penting bagi terciptanya tata kelola yang diinginkan tersebut. Selain perlunya kinerja yang baik, maka ketercapaian tujuan strategis ini harus didukung oleh: 1) Jumlah layanan Sistem Pendataan dan Informasi Pendidikan SMA; 2) Jumlah dokumen rumusan kebijakan, perencanaan, penganggaran dan pengendalian kegiatan bidang Pendidikan SMA serta koordinasi lintas sektoral bidang Pendidikan SMA; 3) Jumlah kerja sama dan kemitraan institusi/instansi dalam dan luar

30 negeri. 5. Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan Direktorat Pembinaan SMA Berikut dijabarkan arah kebijakan dan strategi pencapaian sasaran strategis Direktorat Pembinaan SMA tahun a. Meningkatnya ketersediaan layanan pendidikan SMA dicirikan dengan: Melaksanakan Wajib Belajar 12 Tahun dengan memperluas dan meningkatkan akses pendidikan menengah yang berkualitas untuk mempercepat ketersediaan SDM terdidik untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja (Nawacita. 5): Peningkatan ketersediaan SMA di kecamatan- kecamatan yang belum memiliki satuan pendidikan menengah, melalui pembangunan USB, dan terutama penambahan RKB, dan pembangunan SMP/MTs-SMA/MA satu atap. b. Meningkatkan keterjangkauan layanan pendidikan SMA dicirikan dengan: Melaksanakan Wajib Belajar 12 Tahun dengan memperluas dan meningkatkan akses pendidikan SMA yang berkualitas untuk mempercepat ketersediaan SDM terdidik untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja (Nawacita. 5): 1) Pemberian dukungan bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk dapat mengikuti Program Indonesia Pintar pada pendidikan menengah melalui Kartu Indonesia Pintar; 2) Penyediaan bantuan operasional sekolah untuk menjamin kemampuan sekolah dalam menyelenggarakan layanan pendidikan yang berkualitas; c. Meningkatkan kualitas/mutu dan relevansi layanan pendidikan SMA dicirikan dengan: 1) Melaksanakan Wajib Belajar 12 Tahun dengan memperluas dan

31 meningkatkan akses pendidikan SMA yang berkualitas untuk mempercepat ketersediaan SDM terdidik untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja (Nawacita. 5), melalui: a) Penguatan peran swasta dalam menyediakan layanan pendidikan SMA yang berkualitas ; b) Penilaian terhadap sekolah/madrasah swasta secara komprehensif yang diikuti dengan intervensi untuk pengembangannya; c) Penguatan kompetensi keahlian di SMA untuk bidangbidang aplikatif seperti ekonomi, bisnis, komunikasi, dan bahasa, baik bahasa Indonesia dan bahasa asing. 2) Memperkuat jaminan kualitas (quality assurance) pelayanan pendidikan (Nawacita. 5) melalui: a) Penerapan SPM jenjang pendidikan menengah sebagai upaya untuk mempersempit kesenjangan kualitas pelayanan pendidikan antar satuan pendidikan dan antardaerah; b) Penguatan proses akreditasi untuk satuan pendidikan negeri dan swasta; 3) Memperkuat kurikulum dan pelaksanaannya (Nawacita. 5) melalui: a) Penguatan kurikulum yang memberikan keterampilan abad ke 21; b) Diversifikasi kurikulum agar siswa dapat berkembang secara maksimal sesuai dengan potensi, minat, dan kecerdasan individu; c) Penyiapan guru untuk mampu melaksanakan kurikulum secara baik; d) Evaluasi pelaksanaan kurikulum secara ketat, komprehensif, dan berkelanjutan; e) Peningkatan peran serta guru untuk berpartisipasi aktif dalam memberikan umpan balik pelaksanaan kurikulum di tingkat kelas; f) Penguatan kerjasama antara guru, kepala sekolah, dan pengawas

32 sekolah untuk mendukung efektivitas pembelajaran; g) Pengembangan profesi berkelanjutan tentang praktek pembelajaran di kelas untuk guru dan kepala sekolah; h) Penyediaan dukungan materi pelatihan secara online untuk membangun jaringan pertukaran materi pembelajaran dan penilaian antar guru; i) Peningkatan kualitas pembelajaran literasi, matematika, dan sains sebagai kemampuan dasar yang dibutuhkan dalam kehidupan keseharian dan dalam bermasyarakat, yang dilakukan secara responsif gender; dan j) Penguatan kurikulum tentang ketahanan diri seperti perilaku hidup bersih dan sehat, kepedulian terhadap lingkungan, kesehatan reproduksi, pengetahuan gizi seimbang, dan pendidikan jasmani dengan tetap mengedepankan norma-norma yang dianut masyarakat Indonesia, serta penguatan kurikulum tentang kewirausahaan. 4) Memperkuat sistem penilaian pendidikan yang komprehensif dan kredibel (Nawacita. 5) melalui: a) Peningkatan sistem penilaian pendidikan yang komprehensif; b) Peningkatan mutu, validitas, dan kredibilitas penilaian hasil belajar siswa; c) Penguatan mutu penilaian diagnostik dan peningkatan kompetensi guru dalam bidang penilaian di tingkat kelas; d) Pemanfaatan hasil penilaian siswa untuk peningkatan kualitas pembelajaran secara berkesinambungan; e) Pemanfaatan hasil ujian untuk pemantauan dan peningkatan mutu pendidikan berkelanjutan;

33 f) Penguatan lembaga penilaian pendidikan yang independen dan kredibel; serta Pengembangan sumberdaya lembaga penilaian pendidikan di pusat dan daerah. 5) Mengembangkan pendidikan kewargaan di sekolah (Nawacita. 8) untuk menumbuhkan jiwa kebangsaan, memperkuat nilai-nilai toleransi, menumbuhkan penghargaan pada keragaman sosial budaya, memperkuat pemahaman mengenai hak-hak sipil dan kewargaan, serta tanggung jawab sebagai warga negara yang baik (good citizen), melalui: a) Penguatan pendidikan kewargaan yang terintegrasi ke dalam mata pelajaran yang relevan yaitu: PKN, IPS (sejarah, geografi, sosiologi/antropologi), bahasa Indonesia; b) Penguatan pendidikan karakter pada anak-anak usia sekolah pada semua jenjang pendidikan untuk memperkuat nilai-nilai moral, akhlak, dan kepribadian peserta didik dengan memperkuat pendidikan karakter yang terintegrasi ke dalam mata pelajaran; c) peningkatan kualitas proses pembelajaran dalam pendidikan agama untuk memantapkan pemahaman ajaran agama, menguatkan internalisasi nilai-nilai agama, menumbuhkan pribadi yang berakhlak mulia, serta menumbuhkan sikap dan perilaku beragama yang toleran dan saling menghormati di antara pemeluk agama yang berbeda; d) pembinaan siswa melalui kegiatan kerokhanian dalam rangka pendalaman dan pengamalan ajaran agama di sekolah; e) penyediaan media pembelajaran, termasuk untuk anak-anak berkebutuhan khusus. 6) Meningkatkan pemasyarakatan budaya produksi (Nawacita. 8), melalui: a) Peningkatan pemahaman bahwa konsumsi yang berlebihan (excessive consumption) tidak baik; b) Penyebaran pengetahuan teknik-teknik pembuatan barang dan jasa

34 yang dapat dilakukan sendiri baik melalui jalur pendidikan maupun melalui pemasyarakatan sehingga terbangun budaya swadesi dengan sebutan populer Do It Yourself (DIY). 7) Meningkatkan iklim yang kondusif bagi inovasi (Nawacita. 8) melalui: a) Pemberian penghargaan bagi temuan-temuan baru antara lain dengan penegakan hak kekayaan intelektual dan berbagai penghargaan sosial lainnya; b) Peningkatan pemahaman masyarakat atas sifat acak dari setiap kejadian (randomness nature of event) agar terbangun kemampuan mengantisipasi kejadian-kejadian yang tidak terduga termasuk efek negatifnya (calculated risk) yang pada akhirnya meningkatkan daya kreasi. c) Penyediaan ruang publik yang mendorong kreatifitas dan yang memfasilitasi perwujudan ide kreatif antara lain ke dalam bentuk barang, audio, visual, grafis, dan koreografi. d. Meningkatkan kesetaraan dalam memperoleh layanan pendidikan SMA dicirikan dengan: Melaksanakan Wajib Belajar 12 Tahun dengan memperluas dan meningkatkan akses pendidikan SMA yang berkualitas untuk mempercepat ketersediaan SDM terdidik untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja (Nawacita. 5), melalui: Penyediaan layanan khusus pendidikan menengah terutama untuk memberi akses bagi anak yang tidak bisa mengikuti pendidikan reguler. e. Meningkatkan kepastian/keterjaminan memperoleh layanan pendidikan SMA dicirikan dengan: Melaksanakan Wajib Belajar 12 Tahun dengan memperluas dan meningkatkan akses pendidikan SMA yang berkualitas untuk mempercepat ketersediaan SDM terdidik untuk memenuhi kebutuhan

35 pasar kerja (Nawacita. 5), melalui: 1) Peningkatan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pendidikan menengah untuk mendorong kemauan orangtua menyekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi. 2) Pemberian insentif baik finansial maupun non-finansial untuk mendorong industri dalam penyediaan fasilitas magang. f. Meningkatkan Keakuratan layanan pendataan dan akuntabiltas tata kelola pendidikan SMA dicirikan dengan: Melaksanakan Wajib Belajar 12 Tahun dengan memperluas dan meningkatkan akses pendidikan SMA yang berkualitas untuk mempercepat ketersediaan SDM terdidik untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja (Nawacita. 5), melalui: 1) Penegakan aturan dalam pemberian izin pembukaan sekolah/madrasah baru. 2) Penguatan kerjasama pemerintah dan swasta dengan mengatur secara jelas kontribusi pemerintah dalam membantu sekolah/madrasah swasta dan akuntabilitas sekolah/madrasah swasta dalam penggunaan bantuan pemerintah; 3) Memperkuat jaminan kualitas (quality assurance) pelayanan pendidikan (Nawacita. 5), melalui: Peningkatan kapasitas pemerintah kabupaten/kota dan satuan pendidikan untuk mempercepat pemenuhan SPM. Meningkatkan pengelolaan dan penempatan guru, (Nawacita. 5), melalui: 1) Penegakan aturan dalam pengangkatan guru oleh pemerintah kabupaten/kota maupun oleh sekolah/madrasah berdasarkan kriteria mutu yang ketat dan kebutuhan aktual di kabupaten/kota; 2) Peningkatan efisiensi pemanfaatan guru dengan memperbaiki rasio

36 guru-murid dan memaksimalkan beban mengajar termasuk melalui multigrade dan/atau multisubject teaching; Membangun Transparansi dan Akuntabiltas Kinerja Pemerintahan (Nawacita. 2), melalui Penerapan e-government untuk mendukung bisnis proses pemerintahan dan pembangunan yang sederhana, efisien dan transparan, dan terintegrasi. B. Rencana Kinerja Tahunan Mengacu pada Renstra Direktorat Pembinaan SMA tahun , Direktorat Pembinaan SMA tahun berusaha untuk mencapai tujuan strategis dan sasaran kegiatan yang telah ditetapkan melalui pelaksanaan program, kegiatan, dan Output pada setiap tahun. Adapun sasaran kegiatan Direktorat Pembinaan SMA tahun , terdapat 3 sasaran kegiatan yang didukung oleh 17 IKK. Rencana kinerja tahunan Pembinaan SMA tahun 2018 dapat dilihat pada tabel Sasaran Kegiata n SK 3.1 Tabel 2. 4 Rencana Kinerja Tahunan Indikator Kinerja Tercapainya Perluasan dan Pemerataan Akses Pendidikan SMA Bermutu, Berkesetaraan Jender, dan Relevan dengan Kebutuhan Masyarakat, di Semua Kabupaten dan Kota IKK Jumlah RKB SMA yang 3.2 dibangun IKK Jumlah unit SMA baru yang 3.3 dibangun IKK Pembangunan Prasarana 3.4 Pembelajaran SMA IKK Rehabilitasi Ruang 3.5 Pembelajaran SMA IKK 3.6 IKK 3.7 Pengadaan Sarana Pembelajaran SMA Jumlah SMA yang menerapkan kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah Target 2018 Anggaran (dalam Target Kinerja rupiah) 1,864,085,752,000 1,624 Ruang 409,395,890, Unit 61,815,116,000 1,627 Ruang 404,238,739,000 2,600 Paket 179,568,835,000 2,152 Paket 494,877,877,000 8,012 Sekolah 16,358,035,000

37 Sasaran Kegiata n SK 3.2 SK 3.3 IKK 3.8 IKK 3.9 IKK 3.10 IKK 3.11 IKK 3.12 IKK 3.13 IKK 3.14 Indikator Kinerja Jumlah bahan ajar SMA yang disusun Jumlah SMA yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Target 2018 Anggaran (dalam Target Kinerja rupiah) 19 Modul 2,878,210,000 3,137 Sekolah 25,989,424,000 Jumlah SMA Rujukan 650 Sekolah 106,348,105,000 Jumlah SMA yang melakukan pembelajaran kewirausahaan Jumlah siswa SMA yang mengikuti lomba/olimpiade, festival, debat, dan unjuk prestasi tingkat nasional dan Internasional Jumlah siswa SMA yang memperoleh beasiswa Jumlah Siswa SMA yang menerapkan pendidikan karakter Tersedianya bantuan pendidikan bagi siswa SMA dari keluarga miskin Jumlah siswa SMA IKK penerima bantuan melalui 3.15 KIP Menguatnya tata kelola dan sistem pengendalian manajemen di Direktorat SMA IKK Sekolah 22,278,500,000 3,346 Siswa 85,424,578,000 2,895 Siswa 10,577,040,000 5,000 Siswa 44,335,403,000 1,196,188,175,000 1,367,559 Siswa 1,196,188,175, ,362,306,000 Jumlah Satker yang Mendapat Dukungan Manajemen dan 35 Satker 72,300,141,000 Layanan Teknis SMA Dekonsentrasi 92,062,165,000 Jumlah 3,224,636,233,000 C. Penetapan Kinerja Direktorat Pembinaan Sekolah Menegah Atas telah merumuskan Penetapan Kinerja yang ditandatangani oleh Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas dengan

38 Direktur Jenderal Pendidikan Menengah pada Bulan Januari Penetapan kinerja dilakukan sebagai bentuk perjanjian kerja dalam rangka upaya untuk memfokuskan pelaksanaan program dan kegiatan Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas agar dapat dilaksanakan secara efektif, efisien, transparan, dan akuntabel. Pelaksanaan program dan kegiatan tersebut, selain akan berorientasi kepada hasil, juga senantiasa memperhatikan proses pelaksanaannya. Penetapan kinerja juga dimaknai sebagai kesiapan dan kesanggupan pelaksana program dan kegiatan kepada instansi atasan yang melakukan supervisi dan evaluasi terhadap kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan program dan kegiatan tersebut yang akan dicapai dalam kurun waktu satu tahun sesuai dengan rencana strategis. Rencana Kerja Dan Anggaran Direktorat Pembinaan SMA Tahun Untuk mencapai target IKK tahun 2018 yang telah ditetapkan, maka Direktorat Pembinaan SMA telah menyusun program-program pembangunan pendidikan SMA. Program tersebut kemudian dilaksanakan oleh setiap Sub Direktorat sesuai dengan Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi). Berikut ini adalah program-program Direktorat Pembinaan SMA per Sub Direktorat. 1. Sub Direktorat Program Dan Evaluasi a. Layanan Manajemen Program Output ini bertujuan untuk menyusun dokumen perencanaan dan penganggaran program Direktorat Pembinaan SMA. Proses penyusunan perencanaan program pembangunan pendidikan SMA dilaksanakan lintas sektoral. Dalam penyusunan perencanaan dan pengganggaran tersebut, Direktorat Pembinaan SMA melakukan beberapa proses tahapan yang harus berkoordinasi dengan unit kerja lain di lingkungan Kemdikbud maupun dengan Instansi/Kementerian lainnya, diantaranya: Bappenas, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Keuangan. Penyusunan perencanaan program tersebut juga dilaksanakan secara berkesinambungan. Pada tahun 2018 ini, Subdirektorat Program dan Evaluasi harus menyusun rencana pelaksanaan anggaran di tahun berjalan dan menyusun perencanaan program di tahun mendatang. Untuk mendukung hal

39 tersebut, maka diperlukan data dan informasi yang tepat dan akurat agar program yang disusun dapat terlaksana dengan efektif, efisien, dan tepat sasaran. Untuk itu, maka dalam output layanan manajemen program ini juga ditunjang oleh kegiatan pengelolaan data dan informasi yang ditujukan untuk mendukung proses penyusunan program. Berdasarkan hal tersebut maka dibutuhkan beberapa kegiatan untuk mendukung hal tersebut. Berikut ini adalah kegiatan yang dipersiapkan untuk mendukung output Layanan Manajemen Program. 1) Penyusunan Program dan Anggaran Dalam penyusunan dokumen perencanaan dan anggaran diperlukan beberapa tahapan. Dokumen perencanaan yang harus dipersiapkan meliputi dokumen perencanaan di tahun 2018 dan di tahun 2019, baik pusat maupun deerah (dekonsentrasi). Untuk mendukung setiap tahapan dalam proses penyusunan perencanaan, maka dipersiapkan beberapa kegiatan untuk mendukung hal tersebut. Adapun kegiatan dalam penyusunan program dan anggaran adalah: a) Penajaman Rencana Strategis Direktorat SMA ; b) Penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) Tahun 2018 (pusat); c) Penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) Program SMA tingkat Provinsi Tahun 2018 d) Penyusunan Program Kerja Direktorat Pembinaan SMA Tahun 2018; e) Koordinasi Pelaksanaan Program Direktorat Pembinaan SMA; f) Penyusunan Program dan Anggaran Tahun 2019 ; g) Desiminasi Program SMA Tahun 2018; h) Review Juknis Bantuan Direktorat Pembinaan SMA ) Pengelolaan Data dan Informasi Dalam penyusunan program tentunya harus didukung oleh data dan informasi yang valid dan akurat. Dengan data dan informasi yang baik, diharapkan dapat dihasilkan program yang efektif, efisien, dan tepat sasaran. Berdasarkan hal tersebut, maka data dan informasi merupakan sesuatu yang cukup penting dalam proses penyusunan perencanaan program maupun anggaran.

40 Melalui kegiatan ini diharapkan dapat tersusun data dan informasi individual persekolahan SMA di seluruh Indonesia. Data dan informasi ini juga dibutuhkan untuk pemetaan kondisi pendidikan SMA di seluruh Indonesia. Berdsarkan hal tersebut, maka data dan informasi tersebut sangat dibutuhkan sebagai dasar dalam penyusunan kebijakan, program, dan anggaran Direktorat Pembinaan SMA. Selain itu, kegiatan ini juga ditujukan untuk memberikan layanan informasi pendidikan SMA kepada masyarakat maupun instansi lain yang membutuhkan data dan informasi persekolahan SMA. Untuk mendapatkan data dan informasi yang valid dan akurat, maka dibutuhkan suatu pengelolaan terhadap data dan informasi persekolahan SMA. Dalam pelaksanaan pengelolaan data dan informasi tersebut, maka Direktorat Pembinaan SMA mempersiapkan beberapa rangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mendukung terwuudnya hal tersebut, yakni: a) Workshop Peningkatan Kualitas Data SMA 2018; b) Pengolahan dan pemutakhiran data pokok SMA; c) Pengelolaan portal dan database SMA; d) Penyajian data pokok SMA 2018; e) Penyusunan lokus bantuan Direktorat Pembinaan SMA 2018 dan 2019; f) Penyusunan Buku Statistik dan Bantuan Pemerintah SMA 2019; b. Layanan Manajemen Evaluasi Keberhasilan suatu program akan sangat bergantung dari kualitas perencanaan dan pengawasan. Oleh sebab itu untuk memenuhi target tata kelola, akuntabilitas dan citra publik pengelolaan pendidikan, kegiatan monitoring dan evaluasi program perlu dilaksanakan. Terkait dengan pelaksanaan evaluasi, maka Subdirektorat Program dan Evaluasi memprsiapkan 3 kegiatan utama untuk menunjang proses tersebut. Berikut ini adalah kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk mendukung terwujudnya manajemen evaluasi program. 1) Pelaksanaan Pemantauan dan Evaluasi

41 Ruang lingkup pelaksanaan monitoring dan evaluasi ini meliputi programprogram yang dilakukan di tingkat pusat (direktorat Pembinaan SMA); di tingkat provinsi (dinas pendidikan) sebagai pelaksana teknis dana dekonsentrasi, dan sekolah. Proses monitoring dan evaluasi dilaksanakan terhadap pelaksanaan anggaran maupun program yang terkait dengan Direktorat Pembinaan SMA. Monitoring dan evaluasi dalam pelaksanaan anggaran ditujukan untuk mewujudkan akuntabilitas dan tata kelola yang efektif serta efisien. Kegiatan monitoring dan evaluasi pelaksanaan anggaran dilaksanakan

42 setiap bulan. Monitoring dan evaluasi tersebut dilaksanakan untuk melihat perkembangan pelaksanaan anggaran setiap subdirektorat di lingkungan Direktorat Pembinaan SMA maupun pengelola dana dekonsentrasi di 34 provinsi. Selain itu, melalui proses monitoring diharapkan seluruh kendala maupun hambatan dalam proses pelaksanaan anggaran dapat diselesaikan sehingga setiap program dapat terlaksana dengan baik. Sedangkan evaluasi program, dilaksanakan untuk melihat hasil yang dicapai oleh setiap program. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan program difokuskan pada programprogram prioritas pembangunan SMA, seperti: BOS, PIP, Pembangunan Sarana dan Prasarana, dan implementasi pembelajaran. Melalui proses tersebut, diharapkan dapat teridentifikasi capaian program-program tersebut. Melalui monitoring dan evaluasi tersebut diharapkan dapat terangkum seluruh proses pelaksanaan program dan anggaran. Selain itu, seluruh kendala ataupun hambatan yang diperoleh dalam proses monitoring dan ketercapaian program yang diperoleh dari hasil evaluasi, diharapkan dapat terjaring berbagai informasi yang dapat digunakan sebagai dasar dalam penyusunan kebijakan dan program kedepan. Untuk mendukung hal tersebut, maka Subdirektorat Program dan Evaluasi mempersiapkan beberapa kegiatan pendukung dalam pelaksanaan output pemantauan dan evaluasi, sebagai berikut: a) Pelaksanaan Pemantauan dan Evaluasi (laporan daya serap bulanan); b) Pemantauan Dana Dekonsentrasi Tahun 2018; c) Pemantauan Dana Bantuan Pemerintah Dit. Psma Th 2017 dan 2018; d) Pelaksanaan Evaluasi Pencapaian Hasil Program SMA Tingkat Provinsi e) Sosialisasi aplikasi emonev; f) Penyusunan Lakip;

43 g) Tindak lanjut pemeriksaan; h) Koordinasi Program Direkorat Pembinaan SMA; i) Koordinasi pelaksanaan bantuan Direktorat Pembinaan SMA; 2) Pelayanan Kerjasama antar Lembaga Tertuang dalam visi Kemdikbud yaitu terbentuknya insan serta ekosistem pendidikan yang berkarakter yang berlandaskan gotong royong. Gotong royong merupakan salah satu ciri khas bangsa Indonesia. Gotong royong diakui sebagai kepribadian dan budaya bangsa yang telah berakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Gotong royong dalam pembangunan pendidikan dan kebudayaan berarti banyak hal yang dilakukan secara bersama oleh banyak pihak secara sadar, sukarela, dan keinginan saling tolong menolong. Semangat gotong royong akan memposisikan pembangunan pendidikan dan kebudayaan sebagai sebuah gerakan. Gerakan yang dicirikan antara lain oleh keterlibatan aktif masyarakat dan kepercayaan yang tinggi terhadap lingkungan lembaga satuan pendidikan seperti sekolah. Terdapat tujuh elemen ekosistem pendidikan yang menjadi target renstra Kemdikbud dimana menitikberatkan kepada pentingnya kerjasama dalam membangun pendidikan baik antar pelaku ekosistem di internal pemerintahan maupun dengan pelaku ekosistem lain. Oleh karena itu Direktorat Pembinaan SMA sebagai bagian dari subsitem Kemdikbud yang khusus membina pendidikan SMA perlu melihat pentingnya kerja sama dengan elemen lain. Maka dalam implementasinya, Direktorat PSMA telah menyusun program dan anggaran untuk Program Kerjasama dan Sinergi Antar Lembaga untuk pengembangan dan pembinaan SMA yang lingkupnya dalam dan luar negeri. Kegiatan Kerjasama dan sinergi antar lembaga bertujuan sebagai berikut: (1) Mengindentifikasi bentuk kerjasama dan sinergi antar lembaga dilakukan oleh Direktorat Pembinaan SMA; (2) Bentuk kerjasama yang sudah dilakukan dan akan dilakukan oleh Direktorat Pembinaan SMA; (3) Penyusunan pedoman kerjasama dan sinergi antar lembaga; (4) Sosialisasi kerjasama dan sinergi antar lembaga yang telah dilakukan Direktorat Pembinaan SMA; dan (5) Mengevaluasi kerjasama dan sinergi antar lembaga yang telah dilakukan Direktorat Pembinaan SMA.

44 Untuk mewujudkan hal tersebut, maka disusunlah beberapa kegiatan kerjasama dan sinergi antar lembaga, sebagai berikut : a) Kajian Naskah Akademik Pembinaan dan Pengembangan SMA b) Workshop Penguatan Kerjasama antara SMA dengan Instansi lainnya c) Kerjasama dengan Instansi Lainnya d) Penyusunan buku informasi Dit. PSMA Tahun ) Pelayanan BOS dan DAK Program BOS SMA adalah bantuan yang diberikan kepada sekolah negeri dan swasta untuk membantu pembiayaan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan usaha sekolah dalam meningkatkan mutu dan akses pendidikan. Besar bantuan dana BOS diperhitungkan dari jumlah siswa, yaitu Rp ,-/ siswa/tahun. Jumlah dana BOS menjangkau hampir 100% dari total siswa SMA di seluruh Indonesia. Tahun 2018 merupakan tahun kedua dalam pelaksanaan mekanisme dalam proses penyaluran BOS SMA. Sejalan dengan implementai UU 23 Tahun 2014 dimana kewenangan SMA menjadi tanggungjawab Provinsi, dana BOS SMA untuk SMA negeri tidak lagi disalurkan dalam bentuk hibah tetapi dalam bentuk Belanja Langsung. Hal tersebut merupakan suatu hal berbeda dari tahun sebelumnya. Untuk itu, maka dibutuhkan koordinasi diantara Direktorat Pembinaan SMA dengan Dinas Pendidikan Provinsi terkait dengan pelaksanaan program BOS SMA Tahun Pada Tahun 2018, Pemerintah juga kembali mengalokasikan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk jenjang SMA. DAK SMA difokuskan pada peningkatan sarana dan prasarana SMA di seluruh Indonesia. Adapun menu DAK untuk Tahun 2018 ini meliputi DAK Reguler berupa : Rehabilitasi, Pembangunan Ruang Kelas Baru, Pembangunan Lab.IPA, Pembangunan jamban, Pengadaan Peralatan Pendidikan (Peralatan IPA), sarana PJOK, media pendidikan dan rehabilitasi jamban serta DAK Afirmasi untuk pembangunan asrama siswa dan rumah dinas guru. Kedua program tersebut merupakan termasuk program prioritas pembangunan pendidikan SMA. Agar program-program tersebut dapat terlaksana dengan baik, maka perlu dilaksanakan koordinasi yang baik antara

45 Direktorat Pembinaan SMA dengan Dinas Pendidikan Provinsi. Berdasarkan hal tersebut, Subdirektorat Program dan Evaluasi telah mempersiapkan beberapa kegiatan pendukung yakni: a) Penyusunan Juknis BOS SMA b) Pengolahan Data BOS SMA c) Diseminasi Program SMA Tingkat Provinsi d) Workshop Koordinasi Pelaksanaan BOS 2018 e) Workshop Pengelolaan DAK Fisik SMA Tahun 2018 f) Workshop Evaluasi DAK Fisik SMA Tahun 2018 Semester 1 g) Workshop Evaluasi DAK Fisik SMA Tahun 2018 Semester 2 2. Sub Direktorat Kurikulum a. Sekolah yang dibina menjadi sekolah rujukan. Di dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 di sebutkan bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana terarah, dan berkesinambungan. Berdasarkan hal tersebut, maka program pembangunan pendidikan SMA juga diupayakan untuk dapat mewujudkan pemerataan kualitas layanan pendidikan SMA. Salah satu upaya untuk mewujudkan hal tersebut adalah melalui pembinaan SMA menjadi sekolah rujukan. Standar Nasional Pendidikan (SNP) merupakan standar minimal layananan penyelenggaraan pendidikan yang harus dipenuhi oleh sekolah.snp yang terdiri dari standar isi, standar proses, standar penilaian, standar kelulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pembiayaan, dan standar pengelolaan, ditetapkan untuk mengatasi kesenjangan mutu pendidikan serta sebagai acuan dalam mencapai standar yang telah ditetapkan pada setiap jenjang pendidikan. Untuk mengimplementasikan hal tersebut Kementerian Pendidikan Kebudayaan melalui Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah telah meprogramkan sekolah yang menerapkan pemenuhan Standar Nasional Pendidikan. Sasaran penerapan program ini adalah sekolahsekolah yang berada di 34 Propinsi dan 514 kabupaten/kota yang akan

46 dijadikan sebagai Sekolah Rujukan. Sekolah Rujukan adalah sebagai sekolah referensi untuk sekolah-sekolah sekitar di wilayahnya. Sekolah Rujukan ini juga sebagai laboratorium sekolah dalam penerapan kebijakan-kebijakan pendidikan dan diharapkan hasil implementasi berbagai macam kebijakan pendidikan pada Sekolah Rujukan akan menunjukan hasil yang baik, terutama dalam mutu pendidikan secara umum. Sekolah Rujukan ini merupakan tindak lanjut dari program peningkatan mutu sebelumnya yang pernah dirintis oleh direktorat PSMA, seperti program Sekolah Standar Nasional (SSN), Sekolah Kategori Mandiri (SKM), Sekolah Pusat Sumber Belajar (PSB), dan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Direktorat Pembinaan SMA sebagai direktorat teknis berkewajiban untuk menyusun dan menyiapkan perangkat yang mendukung kegiatan dalam penyiapan Sekolah Rujukan pada tingkat satuan pendidikan menengah (SMA). Program Sekolah Rujukan mulai dilaksanakan tahun 2016 dengan jumlah sekolah sebanyak 614 SMA. Tahun 2018 sasaran sebanyak 650 SMA. Sekolah yang dipilih untuk menjadi Sekolah Rujukan merupakan sekolah yang diusulkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi dengan mempertimbangkan beberapa indikator, diantaranya adalah: pelaksana kurikulum 2013, berakreditasi A; memiliki ekosistem pendidikan yang kondusif; mengembangkan budaya mutu; melaksanakan program penumbuhan budi pekerti; menjadi pusat keunggulan; dan lokasi yang strategis, mudah dijangkau dan aman. Sekolah yang dipilih untuk menjadi Sekolah Rujukan akan mendapatkan bantuan sebesar Rp ,-. Dalam pelaksanaan program-program tersebut telah disusun serangkaian kegiatan yang ditujukan untuk mendukung pelaksanaan program Sekolah Rujukan, yakni: 1) Verifikasi sekolah calon SMA rujukan 2) Bimbingan Teknis Bantuan Pemerintah SMA Rujukan 3) Penyaluran Teknis Pengelolaan Bantuan Pemerintah SMA Rujukan 4) Koordinasi Implementasi Program SMA Rujukan tahun ) Penyaluran Bantuan Pemerintah SMA Rujukan 6) Supervisi Bantuan Pemerintah SMA Rujukan b. Sekolah yang mendapatkan pembinaan Manajemen Berbasis Sekolah

47 (MBS) Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) adalah manajemen yang diyakini akan memberikan dampak positip bagi sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan. MBS memberikan ruang bagi kepala sekolah dalam menetukan arah tujuan sekolah yang dipimpinnya karena MBS bertujuan untuk memandirikan dan memberdayakan sekolah melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepala sekolah dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan. Program kegiatan MBS termasuk dalam pengelolaan pembelajaran dan penilaian. Sekolah diberikan kewenangan untuk meningkatkan proses pembelajaran dan penilaian sesuai dengan kondisi sekolah. Namun sekolah tetap mengacu pada panduan yang telah dipersiapkan dalam pengaturan pembelajaran dan penilaian tersebut. Untuk itu Direktorat PSMA menyiapkan kegiatan penyusuan panduan pembelajaran dan penilaian yang terdiri dari 1. Workshop review dan pengembangan naskah pembelajaran dan penilaian, 2. Pembahasan dan penyempurnaan naskah pembelajaran dan penilaian, 3. Editing dan finalisasi pengembangan naskah pembelajaran dan penilaian. Selain kegiatan tersebut juga dipersiapkan kegiatan bimbingan teknis dan supervisi yang yang terdiri dari 1. ToT tim fasilitator pembinaan di SMA pasca evaluasi hasil belajar (EHB), 2. Pelaksanaan pembinaan SMA pasca EHB, 3. Pelaksanaan pendampingan pasca EHB, 4. ToT penyiapan penyelenggaraan ujian sekolah di SMA 5. Workshop pembinaan penyiapan penyelenggaraan US 6. Workshop tim pengembang pembelajaran dan penilaian higher order thinking skills (HOTS) 7. ToT tim fasilitator SMA pelaksana gerakan literasi sekolah (GLS) 8. Workshop pembinaan SMA pelaksana GLS 9. Pelaksanaan supervisi ujian nasional (UN)

48 Namun untuk kegiatan ToT pembinaan penyiapan penyelenggaraan ujian sekolah, Workshop Pembinaan Penyiapan Penyelenggaraan Ujian Sekolah, ToT Tim Fasilitator SMA Pelaksana GLS dan Workshop Pembinaan SMA Pelaksana GLS direvisi menjadi kegiatan: 1. Workshop pengelola Sistem Kredit Semester (SKS) 2. Workshop Pengembangan Unit Kegiatan Belajar Mandiri (UKBM) 3. Workshop Peningkatan Mutu Penyelenggaraan dan Pengembangan Soal USBN 4. Bimbingan Teknis Implementasi E-Raport Sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan penyusunan naskah pembelajaran dan penilaian adalah 25 naskah. Naskah-naskah tersebut akan dibahas dan disempurnakan dalam 2 kali kegiatan. Selanjutnya ke-25 naskah tersebut akan di edit dan difinalkan. Workshop Pengelolaan Kredit Semester adalah kegiatan lanjutan tahun 2017 yang membahas pelaksanaan sekolah-sekolah yang telah melaksanakan sistem kredit semester. Pada workshop ini diharapkan akan didapatkan kesepakatan bentuk implementasi model SKS yang sesuai dengan kondisi/karateristik sekolah. Kegiatan ini akan melibatkan 150 orang dari sekolah pelaksana SKS. Workshop Pengembangan Unit Kegiatan Belajar Mandiri adalah workshop yang terkait dengan pelaksanaan SKS. Unit kegiatan belajar mandiri adalah bentuk modul bagi siswa yang sekolah pelaksana SKS. UKBM ini masih perlu mendapatkan masukan dari peserta workshop untuk mendapatkan bentuk yang sesuai dengan perkembangan kecepatan belajar siswa. Workshop Peningkatan Mutu Penyelenggaran dan Pengembangan Soal USBN adalah dalam upaya untuk memandirikan sekolah dalam penyusunan soal-soal ujian sekolah yang sesuai dengan standar soal yang telah ditetapkan. Untuk memaksimalkan manfaat kemajuan teknologi, maka hasil penilaianpun perlu disiapkan dalam bentuk elektronik. E-rapor adalah solusinya. Untuk itu bimbingan teknis implementasi E-raport diprogramkan bagi sekolah rujukan dan beberapa sekolah lain yang telah siap dalam implementasi e_rapor. Sementara itu untuk kegiatan ToT Penyiapan Penyelenggaran Ujian Sekolah di SMA akan melibatkan 100 orang narasumber pembahas. Untuk pelaksanaan workshop Pembinaan Penyiapan Penyelenggaran Ujian sekolah

49 akan melibatkan 480 orang guru dari sekolah rujukan yang akan dilaksanakan di 5 region. (Jakarta, Bogor, Surabaya, dan Makasar). Workshop Tim Pengembang Pembelajaran dan penilaian HOTS melibatkan 100 orang narasumber pembahas yang merupakan guru mata pelajaran dan dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan. Kegiatan Supervisi ujian sekolah akan dilaksanakan pada saat ujian sekolah/ujian sekolah berstandar nasional berlangsung yang akan dilaksanakan di 102 lokasi di 34 propinsi. c. Sekolah yang menerapkan kurikulum 2013 Kurikulum merupakan perangkat pembelajaran yang akan mengarahkan tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, kurikulum terus menerus disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Kurikulum 2013 merupakan pengembangan Kurikulum 2006 yang telah didisesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran abad 21. Kurikulum 2013 juga merupakan jawaban dari permasalahan kurikulum sebelumnya dan juga bertujuan untuk mendorong pseserta didik agar memiliki kemampuan yang lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan berkomunikasi, misalnya mengkomunikasikan apa yang diperoleh atau diketahui siswa dalam menerima materi pembelajaran. Penerapan Kurikulum nasional 2013 sudah dilaksanakan sejak tahun 2013/2014 secara bertahap. Pada Tahun 2018 ini direncanakan seluruh sekolah (SMA) menerapkan Kurikulum Sasaran sekolah yang akan menerapkan kurikulum 2013 adalah 4220 SMA, yang merupakan sisa dari target sasaran secara keseluruhan. Dalam pembinaan pelaksanaan Kurikulum 2013, tidak hanya dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menegah pada masing- masing direktorat teknis, namun juga menjadi tanggung jawab Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan yang tersebar di 34 propinsi. Selain itu Dinas Pendidikan Propinsi sebagai perpanjangan tangan pelaksanaan kebijakan pusat juga mempunyai tanggung jawab yang sama dalam pelaksanaan kurikulum Mengingat penyiapan instruktur untuk pelatihan K-13 pada tahun 2018 dilaksanakan oleh direktorat teknis, maka beberapa kegiatan dalam output ini perlu direvisi untuk menyesuaikan dengan kebutuhan kegiatan. Untuk itu kegiatan yang direvisi adalah penyusunan panduan, bahan, dan materi

50 pendampingan implementasi kurikulum 2013 dan Workshop Pengembangan Sistem Penyelenggaraan Bimbingan Teknis Dalam Jaringan (daring), yang berubah menjadi seperti berikut: a. Penyusunan Bahan Penyusunan Panduan, Bahan, Materi Pendampingan implementasi Kurikulum 2013 dan penyiapan pelaksanaan bimbingan teknis penyegaran instruktur propinsi (IP) K-13 yang akan melibatkan 200 orang dan dilaksanakan dalam 2 kali. b. Koordinasi Pelaksanaan Workshop Koordinasi dan Sinkronisasi Pelaksanan Pelatihan Kurikulum 2013 dengan LPMP merupakan kegiatan sosialisasi dan persamaan persepsi tentang pelaksanaan kurikulum di SMA serta koordinasi dalam pembagian tugas dan tanggung jawab dalam pelaksanaan kurikulum 2013 di sekolah-sekolah sasaran dan kegiatan ini juga melibatkan Dinas Propinsi bidang SMA. Koordinasi ini akan dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan. c. Pelaksanaan Kurikulum 2013 Pada kegiatan ini terdiri dari beberapa sub kegiatan dalam pelaksanan Kurikulum 2013, yaitu 1. Pendampingan Penyelenggaran Pelatihan K-13 (Instruktur Kab/Kota dan guru sasaran) akan dilaksanakan dalam 2 kali kegiatan. 2. Workshop Pembinaan Kurikulum SMA bagi Pengawas dan Guru Bimbingan Konseling (BK) yang akan melibatkan 102 orang dan dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan. 3. Sosialisasi/Seminar Kurikulum (Uji publik) yang akan melibatkan 100 orang dan dilaksanakan dalam 5 kali pertemuan 4. Workshop Penyiapan Video Feature, e-modul, dan Video Pembelajaran dilaksanakan dalam 2 kali kegiatan 5. Workshop pembahasan dan penyempurnaan aplikasi e- modul,video dan skrip feature yang akan dilaksanakan dlam 2 kali kegiatan 6. Editing dan Finalisasi E-Modul, Video Pembelajaran dan Skrip Features 7. Bimbingan Teknis Penyegaran Instruktur Provinsi

51 8. Penggandaan dan Pengiriman Serifikat/Ijazah Sekolah Menengah Atas sebanyak lembar. d. Sekolah yang mendapatkan program keterampilan dan kewirausahaan Lulusan SMA dipersiapkan untuk meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu perguruan tinggi. Namun kenyaaannya msih banyak (sekitar 30-40%) lulusan SMA yang tidak melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Ada berbagai alasan mengapa para lulusan tersebut tidak melanjutkan pendidikannya. Hal ini disebakan antara lain (alasan umumnya) adalah tingginya biaya pendidikan di pergurauan tinggi. Oleh karena itu, perlu diprogramkan keterampilan bagi para siswa SMA agar setelah mereka lulus dari SMA memiliki keterampilan/memiliki sertifikat keahlian. Dalam upaya mewujudkan kemandirian peserta didik, Direktorat pembinaan SMA memberikan perhatian terhadap peningkatan kualitas pembelajaran prakarya dan kewirausahaan di SMA. Pembelajaran kewirausahaan pada dasarnya merupakan suatu pembelajaran tentang nilai (value), kemampuan (ability), dan perilaku (attitude) dalam menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang dihadapi. Program kewirausahaan merupakan salah satu jawaban bagi pendidikan SMA untuk mengenal konsep kewirausahaan, latihan mengembangkan usaha, mendapatkan pengalaman praktis berwirausaha, menumbuhkan minat berwirausaha, dan mengembangkan potensi berwirausaha. Kewirausahan dalam ranah pendidikan tidak hanya dikembangkan untuk menghasilkan manusia terampil tetapi juga inspiratif, pragmatis. Pengembangan pendidikan kewirausahaan dilaksanakan secara terprogram dan sistematis melalui kurikulum dan pembelajaran dan dilaksanakan secara terbuka, eksploratif, dan meminimalkan pembelajaran yang bersifat simulasi. Oleh karena itu, program Kewirausahaan SMA harus menjadi alternatif dalam mempersiapkan lulusan yang mampu menerapkan dan mnegelola peluang usaha serta

52 mampu menyesuaikan diri agar berhasil dalam kehidupan bermasyarakat. Direktorat Pembinaan SMA sebagai direktorat teknis berkewajiban untuk menyusun dan menyiapkan bahan-bahan yang terkait kegiatan kewirausahaan pada satuan pendidikan menengah (SMA), sepert pedoman/naskah panduan. Disamping itu juga memberikan bimbingan teknis dalam pelaksanaan program kewirausahaan di sekolah. Pada Tahun 2018 ini program kegiatan Kewirausahaan di SMA dilaksanakan dalam bentuk bimbingan Teknis Bantuan pemerintah dan dan Bimbingan teknis Pengelolaan program Kewirausahaan serta penyaluran bantuan pemerintah. Sasaran dari masing masing kegiatan tersebut adalah 204 orang dari 204 sekolah pelaksana kewirausahaan yang dilaksanakan sebanyak 2 angkatan. Adapun sekolah pelaksana kewirausahaan adalah sekolah-sekolah yang dalam tiga tahun berturutturut lulusannya lebih dari 50 % tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Bimbingan Teknis Bantuan Pemerintah program Kewirausahaan sebanyak 204 sekolah adalah kegiatan penandatangan MoU pemberian bantuan antara Direktorat PSMA dan SMA Program Kewirausahaan. Jumlah pesertanya adalah 204 orang kepala SMA Program Kewirausahaan. Bimbingan Teknis Pengelolaan SMA Program Kewirausahaan adalah bimbingan dalam pengelolaan SMA Kewirausahaan baik pengelolaan secara program maupun keuangan. Peserta Bimtek adalah wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum atau Guru yang diangkat sebagai Penjab Kewirausahaan sebanyak 204 orang. Penyaluran Bantuan Pemerintah SMA Program Kewirausahaan adalah kegiatan penyaluran bantuan setelah kepala SMA Program Kewirausahaan menandatangi MoU bantuan pemerintah pada saat bimtek bantuan pemerintah. 3. Sub Direktorat Kelembagaan Sarana Dan Prasarana a. Unit Sekolah Baru (USB) Unit Sekolah Baru adalah bantuan pembangunan unit gedung baru untuk penyelenggaraan sekolah SMA negeri maupun swasta yang diberikan kepada provinsi ataupun yayasan dalam rangka memperluas akses dan pemerataan

53 layanan pendidikan SMA. Pembangunan Unit Sekolah Baru bertujuan untuk meningkatkan Angka Partisipasi Pendidikan SMA. Oleh karena itu, Bantuan ini difokuskan bagi daerah-daerah yang memiliki Angka Partisipasi Pendidikan (APK) rendah. Bantuan ini juga ditujukan bagi daerah-daerah terpencil yang tidak memiliki atau kekurangan fasilitas pendidikan SMA. Selain itu, bantuan ini juga ditujukan bagi daerah atau wilayah perbatasan Republik Indonesia yang memerlukan layanan pendidikan SMA. Melalui program pembangunan USB diharapkan dapat memperluas ketersediaan layanan pendidikan SMA, khususnya di daerah terpencil. Pada tahun 2018 ini, alokasi anggaran untuk Program Unit Sekolah Baru adalah sebesar Rp ,- dengan sasaran 18 unit. Bantuan pembangunan Unit Sekolah Baru untuk penyelenggaraan sekolah SMA yang diberikan kepada Provinsi dalam rangka memperluas akses dan pemerataan layanan pendidikan SMA. Untuk itu, Provinsi diharapkan dapat mengajukan usulan dalam bentuk proposal dengan persyaratan minimal: Status Sertifikat/dalam proses BPN; Ketersediaan lahan +/- 7 hektar; Kondisi Lahan siap bangun; Ada dukungan SMP sederajat disekitar lokasi. Lokasi yang diprioritaskan untuk mendapatkan bantuan ini adalah kecamatan-kecamatan yang belum tersedia layanan pendidikan SMA/sederajat. Untuk mendukung pelaksanaan program bantuan USB ini, maka dilaksanakan beberapa kegiatan pendukung, yakni: 1) Penyusunan Panduan; 2) Verifikasi Sekolah Calon Penerima Bantuan; 3) Bimbingan Teknis Bantuan USB; 4) Penyaluran Bantuan b. Ruang Kelas Baru (RKB) yang dibangun Program Ruang Kelas Baru adalah bantuan pembangunan ruang kelas yang diberikan kepada sekolah dalam rangka meningkatkan daya tampung sekolah. Program ini juga ditujukan untuk meningkatkan akses layanan pendidikan SMA. Dengan meningkatnya kapasitas ruang belajar yang ada, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sekolah dalam menampung siswa yang mendaftar. Selain itu, bantuan ini juga ditujukan untuk meningatkan kualitas pembelajaran,

54 khususnya pada sekolah-sekolah dengan kondisi jumlah rombongan belajar lebih banyak dari ruang kelas yang dimiliki sehingga harus menyelenggarakan pendidikan secara double shift maupun menggunakan ruangan lain yang tidak sesuai dengan standar yang sudh ditetapkan. Pada tahun 2018, Direktorat Pembinaan SMA mengalokasikan anggaran sebesar Rp ,- untuk membangun RKB. Secara umum, sasaran RKB difokuskan pada daerah-daerah yang memiliki APK rendah atau Kab/Kota yang memiliki APK di bawah APK Nasional. Secara khusus, program ini ditujukan pada sekolah dengan kondisi: Jumlah pendaftar lebih banyak dari jumlah yang diterima; Rombongan Belajar lebih banyak daripada Ruang Kelas yang ada; Sekolah yang menyelenggarakan pendidikan SMA dengan mekanisme double shift; dan masih tersedia lahan untuk pembangunan. Untuk mendukung pelaksanaan program RKB tersebut, maka akan dilaksanakan beberapa kegiatan pendukung sebagai berikut: 1) Penyusunan Panduan RKB; 2) Bimbingan Teknis Bantuan RKB; 3) Penyaluran Bantuan RKB. c. Ruang Belajar yang direhabilitasi. Berdasarkan Aplikasi Data Pokok Pendidikan Dasar dan Menengah (Dapodikdasmen) yang diakses pada Bulan Januari 2018, teridentifkasi sebanyak ruang belajar yang mengalami kerusakan, yang terdiri dari ruang dengan kondisi rusak sedang dan ruang yang mengalami rusak berat. Hal tersebut menunjukan bahwa cukup banyak siswa yang saat ini belajar didalam ruang belajar yang rusak. Kondisi tersebut tentunya membuat proses belajar mengajar menjadi kurang kondusif. Selain itu, faktor keselamatan juga menjadi patut menjadi perhatian karena sebagian besar aktifitas siswa disekolah berada di ruang belajar tersebut. Berdasarkan hal tersebut, maka Direktorat Pembinaan SMA mengalokasikan anggaran sebesar Rp ,-. Untuk merehabilitasi ruang belajar yang rusak sedang maupun berat. Jumlah tersebut memang masih jauh dari total kebutuhan ruang belajar yang harus direhabilitasi. Berdasarkan hal tersebut, maka proses pelaksanaan program rehabilitasi harus dilaksanakan secara lebih selektif agar bantuan dapat diberikan kepada sekolah yang sangat

55 membutuhkan rehabilitasi ruang belajarnya. Untuk itu, maka telah dipersiaapkan kegiatan pendukung, yakni: 1) Penyusunan Panduan Rehabilitasi; 2) Bimbingan Teknis Bantuan Rehabilitasi; 3) Penyaluran Bantuan Rehabilitasi.

56 d. Sekolah yang direnovasi Program Sekolah yang di renovasi ini adalah bantuan yang diberikan kepada sekolah untuk melakukan revitalisasi terhadap bangunan sekolah yang ada. Bantuan ini diharakan dapat membantu sekolah untuk memperbaiki tampilan bangunan sekolah agar terlihat lebih bagus. Selain itu, bantuan ini juga ditujukan untuk sekolah-sekolah yang menjadi icon dari suatu daerah sehingga dapat meningkatkan citra pelayanan pendidikan SMA di daerah tersebut. Berdasarkan hal tersebut, maka bantuan ini diprioritaskan pada sekolah yang sudah berusia diatas 20 Tahun. Untuk melaksanakan program tersebut, telah dialokasikan anggaran sebesar Rp ,- dengan sasaran sebanyak 100 sekolah. Sekolah diharapkan dapat memberikan proposal ke Direktorat Pembinaan SMA untuk dilakukan review dan dinilai kelayakannya. Untuk itu, maka dipersiapkan kegiatankegiatan pendukung dalam pelaksanaan penyaluran bantuan, yakni: 1) Penyusunan Panduan; 2) Verifikasi Penerima Bantuan; 3) Bimbingan Teknis Bantuan Rehabilitasi; 4) Penyaluran Bantuan Rehabilitasi. e. Ruang perpustakaan yang dibangun Layanan pendidikan SMA ditujukan untuk mempersiapkan siswa dalam melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Untuk itu, maka layanan pendidikan SMA harus mempersiapkan siswanya dengan kemampuan akademik yang baik sebagai bekal dalam melanjutkan ke Pendidikan Tinggi. Salah satu upaya untuk mempersiapkan kemampuan akademik tersebut adalah dengan mendorong minat baca siswa. Berdasarkan hal tersebut, maka perpustakaan merupakan suatu fasilitas penting untuk mewujudkan hal tersebut. Pada tahun 2018 ini, Direktorat Pembinaan SMA mengalokasikan anggaran sebesar Rp untuk membangun sebanyak 750 ruang perpustakaan di sekolah. Dalam pelaksanaan penyaluran bantuan, juga telah dipersiapkan beberapa kegiatan pendukung agar bantuan dapat disalurkan dengan tepat sasaran. Berikut ini adalah kegiatan pendukung dalam penyaluran bantuan ruang perpustakaan.

57 1) Review Panduan Bantuan Perpustakaan; 2) Bimbingan Teknis Bantuan Perpustakaan; 3) Penyaluran Bantuan Perpustakaan; 4) Supervisi penerima Bantuan Perpustakaan f. Ruang Laboratorium yang dibangun Berdasarkan Aplikasi Data Pokok Pendidikan Dasar dan Menengah (Dapodikdasmen) yang diakses pada Bulan Januari 2018, teridentifkasi sebanyak SMA belum memiliki ruang laboratorium komputer. Ruang laboratorium komputer dirasakan cukup penting mengingat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang juga semakin pesat. Ruang laboratorium memiliki peranan cukup penting dalam proses belajar mengajar, dimana hal tersebut dirasakan akan lebih efektif apabila dapat diperagakan secara langsung. Berdasarkan hal tersebut, maka Direktorat Pembinaan SMA telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp ,- untuk pembangunan 656 ruang laboratorium beserta peralatannya. Untuk mendukung proses penyaluran bantuan pembangunan laboratorium, maka telah dipersiapkan beberapa kegiatan pendukung, yakni: 1) Penyusunan Panduan Bantuan Laboratorium; 2) Verifikasi Penerima Bantuan Laboratorium 3) Bimbingan Teknis Bantuan Laboratorium; 4) Penyaluran Bantuan Perpustakaan. g. Ruang penunjang lainnya yang dibangun Standar sarana dan prasarana SMA menjelaskan bahwa ketersediaan fasilitas dasar pada jenjang pendidikan SMA berupa ruang belajar (ruang kelas, perpustakaan, laboratorium fisika/kimia/biologi dan lain-lain), perlu disertai dengan kesiapan fasilitas pendukung seperti taman, tempat parkir, lapangan olah raga, kantin, toilet siswa, tempat ibadah dan lain-lain. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.24 Tahun 2007 tentang standar sarana dan prasarana SMA dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.24 Tahun 2008 tentang pedoman pemeliharaan dan perawatan bangunan gedung menjadi payung hukum dalam upaya penataan fasilitas pendukung seperti taman, kantin sekolah, dan toilet siswa. Berbagai pertimbangan dan latar belakang diatas menjadi dasar

58 perlunya upaya kegiatan ruang penunjang lainnya penataan kantin, toilet, dan taman sekolah oleh Direktorat Pembinaan SMA. Program ini di jalankan dengan mengedepankan identifikasi dari desain yang inovatif, kreatif, efisien dan terintegrasi terhadap lingkungan sekolah secara keseluruhan. Pada tahun 2018 ini, Direktorat Pembinaan SMA mengalokasikan anggaran sebesar Rp untuk membangun sebanyak 221 ruang penunjang di sekolah. Dalam pelaksanaan program ini, maka dipersiapkan kegiatan pendukung, yakni: 1) Bimbingan Teknis Bantuan; 2) Penyaluran Bantuan. h. Sekolah yang mendapatkan peralatan pendidikan Era globalisasi yang didorong oleh kemajuan teknologi Informasi dan komunikasi (TIK) mengharuskan pendidikan untuk dapat menyesuaikan kompetensi lulusannya dengan tuntutan tersebut. Untuk meningkatkan daya saing lulusan SMA, maka metode pembelajaran berbasis TIK dapat dilaksanakan oleh seluruh SMA. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka diperlukan sarana pendidikan berupa peralatan TIK yang cukup untuk mendukung proses pembelajaran di sekolah. Berdasarkan hal tersebut, maka Direktorat Pembinaan SMA mengalokasikan anggaran sebesar Rp ,- untuk pengadaan Paket peralatan TIK untuk SMA diseluruh Indonesia. Cukup besarnya sasaran tersebut, dibutuhkan beberapa kegiatan pendukung agar proses pengadaan alat TIK ini dapat terlaksana dengan baik. Adapun kegiatan pendukung tersebut adalah: 1) Penyusunan Panduan Bantuan Alat TIK; 2) Bimbingan Teknis Bantuan Alat TIK; 3) Penyaluran Bantuan Alat TIK; 4) Supervisi penerima Bantuan Alat TIK. i. Sekolah yang mendapatkan pembinaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, mengamanatkan bahwa dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional secara bertahap, terencana, dan terukur. Oleh karena itu, Pemerintahan melakukan

59 akreditasi terhadap seluruh sekolah. Pasal 60 tentang Akreditasi dinyatakan bahwa, ayat (1) akreditasi dilakukan untuk menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan nonformal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan; dan ayat (2) akreditasi terhadap program dan satuan pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri yang berwenang sebagai bentuk akuntabilitas publik. Lembaga mandiri yang berwenang untuk melaksanakan akreditasi tesebut adalah Bandan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M) Akreditasi sekolah merupakan proses penilaian secara komprehensif terhadap kelayakan program dan satuan pendidikan, yang diwujudkan dengan adanya sertifikasi yang dikeluarkan oleh BAN S/M. Penggunaan instrumen akreditasi yang komprehensif dikembangkan berdasarkan standar yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP). Hal ini didasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 (juncto Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013) yang memuat kriteria minimal tentang komponen pendidikan. Seperti dinyatakan pada pasal 1 ayat (1) bahwa SNP adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh sebab itu, SNP harus dijadikan standar mutu guna memetakan secara utuh profil kualitas sekolah. Mengingat pentingnya akreditasi dalam meningkatkan mutu pendidikan, maka hasil akreditasi perlu ditindaklanjuti oleh masing- masing direktorat teknis terkait. Program tindaklanjut lebih di fokuskan kepada sekolah-sekolah yang nilai akreditasinya masih belum memadai. Oleh karena itu. Sasaran program adalah sekolah yang harus akreditasi C atau TT (tidak terakreditasi). Sementara itu, untuk sekolah sekolah yang belum terakreditasi juga perlu diberikan perlakuan/bimbingan teknis untuk persiapan Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas akan melaksanakan Kegiatan Pembinaan dan peningkatan mutu kelembagaan SMA melalui beberapa kegiatan, yakni: a. Penyusunan Naskah Kelembagaan; b. Supervisi Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) c. Profile MBS d. Supervisi Penerima Bantuan Akreditasi

60 e. Penyusunan Naskah Sanitasi f. Bimtek Sanitasi Sekolah 4. Sub Direktorat Peserta Didik a. Sekolah yang menerapkan karakter Bangsa. Pendidikan Karakter Bangsa yang bertujuan untuk mengaktualisasikan peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui kegiatan ini siswa diharapkan mampu mengaplikasikan sikap kerjasama, nasionalisme, rasa persatuan dan kesatuan bangsa, jujur, peduli, berfikir kritis, positif, dll. Melalui hal tersebut diharapkan dapat membangun jiwa kepemimpinan dikalangan generasi muda. Hal tersebut perlu ditanamkan pada generasi muda untuk mencegah berbagai potensi ancaman terhadap bangsa, diantaranya: disintegrasi bangsa, konflik, narkoba, hedonisme, dll. Sekolah merupakan instrumen penting dalam pembentukan karakter bangsa, mengingat sekolah merupakan suatu media dalam pembinaan generasi muda. Pembelajaran di sekolah merupakan sarana yang diraskan cukup efektif dalam menanamkan nilai-nilai yang akan membentuk generasi penerus. Berdasarkan hal tersebut, Direktorat Pembinaan SMA mengalokasikan anggaran sebesar Rp.24,903,138,000,- dengan sasaran siswa mendapatkan pembinaan karakter bangsa. Selain pelaksanaan program pembinaan peserta didik, dalam program ini juga dialokasikan untuk bantuan pembinaan siswa kepada sekolah. Dari total anggaran tersebut terdapat bantuan pendidikan untuk sekolah dengan total alokasi anggaran sebesar Rp ,-.Untuk mendukung hal tersebut, maka dipersiapkan rangkaian kegiatan sebagai berikut: 1) Penyusunan Panduan; 2) Bimbingan Teknis; 3) Pelaksanaan Kegiatan Kawah Kepemimpinan Pelajar; 4) Pelaksanaan Pramuka Tingkat Provinsi; 5) Kegiatan Pramuka Tingkat Nasional; 6) ToT Pembina Pramuka Tingkat Nasional; 7) Desiminasi Program Peserta Didik SMA 2018; 8) Seleksi peserta dan LO Sislac; 9) Pembinaan dan Pembekalan Sislac, Ihsaf, AYL, Jenesys dan SYC

61 10) Finalisasi SOP Peserta Didik; 11) Sarasehan membangun karakter cinta damai 12) Pemberian Bantuan Program Pendidikan Karakter;

62 b. Siswa yang mendapatkan Program Indonesia Pintar (PIP) Sebagai usaha untuk menekan angka putus sekolah siswa SMA, Direktorat Pembinaan SMA memberikan bantuan berupa dana kepada siswa untuk memenuhi biaya pribadinya melalui program Program Indonesia Pintar (PIP). Biaya pribadi peserta didik melipui: pembelian seragam, pembelian buku dan alat tulis, transportasi ke sekolah, uang saku, dll. Dengan bantuan PIP ini diharapkan dapat mengurangi resiko siswa miskin dari putus sekolah karena kesulitan ekonomi. Melalui program ini juga diharapkan dapat memberikan kesempatan yang sama (equal opportunity) kepada siswa miskin agar dapat tetap bersekolah. Program PIP merupakan salah satu program pengentasan kemiskinan yang menjadi prioritas dari pemerintah. Saat ini upaya untuk pengentasan kemiskinan diintegrasikan sehingga PIP ini menjadi bagian dari upaya pemerintah tersebut bersama dengan program kementerian lain, yakni: Program Indonesia Sehat dan Program Indonesia Sejahtera. Untuk mendukung keterlaksanaan program tersebut, maka telah dipersiapkan rangkaian kegiatan pendukung, yakni: 1) Penyusunan Petunjuk Teknis; 2) Verifikasi Calon Penerima Bantuan; 3) Bimbingan Tekis berupa Workshop Koordinasi PIP dan pelaksanaan desiminasi tingkat provinsi; 4) Penyaluran Bantuan; 5) Supervisi penerima bantuan berupa pelaksanaan supervisi, monitoring percepatan PIP, dan roadshow penyerahan KIP Yatim Piatu. c. Siswa yang mendapatkan Beasiswa Bakat dan Berprestasi. Sebagai bentuk penghargaan atas bakat dan prestasi, Direktorat Pembinaan SMA akan memberikan beasiswa bakat dan prestasi kepada siswasiswi yang layak menerima beasiswa tersebut. Beasiswa ini akan diberikan kepada siswa-siswi pemenang Olimpiade Sains Nasional,

63 Olimpiade Olah Raga Siswa Nasional, dan Festival Lomba Seni Siswa Nasional. Selain itu, beasiswa ini juga diberikan kepada siswa yang berhasil membawa pulang medali pada olimpiade tingkat internasional. Beasiswa bakat dan prestasi ini merupakan suatu bentuk apresiasi atas prestasi yang dimiliki siswa. Melalui beasiswa ini diharapkan siswa dapat mengembangkan bakat dan prestasi yang dimiliki sehingga dapat berguna bagi bangsa. Dalam pelaksanaan program ini, telah dipersiapkan beberapa kegiatan pendukung, yakni: 1) Verifikasi Calon Penerima Beasiswa; 2) Penyaluran Beasiswa Bakat dan Prestasi. d. Siswa yang mengikuti lomba, festival. Salah satu kegiatan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan SMA adalah mendorong minat siswa dalam bentuk lomba di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, olah raga, penelitian, debat bahasa indonesia, debat bahasa inggris, kewirausahaan dan lomba apresiasi budaya. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan akademik siswa dan membentuk karakter siswa yang bersikap sportif, jujur, berprestasi, menumbuhkan kecerdasan estetika termasuk juga dibidang budaya dan kewirausahaan. Kegiatan Lomba, Festival yang dilaksanakan pada tahun 2018 adalah : 1) Olimpiade Sains Nasional (OSN) Salah satu kegiatan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan adalah mendorong minat siswa di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Usaha mendorong minat tersebut dilakukan dengan menyelenggarakan Olimpiade 9 bidang pengetahuan sains, yaitu: Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Informatika, Astronomi, Ekonomi, Kebumian, dan Geografi. Lomba-lomba tersebut dilaksanakan secara berjenjang dari mulai tingkat sekolah, kabupaten/kota, provinsi, nasional. Mekanisme secara berjenjang tersebut juga sekaligus menjadi alat seleksi untuk mewakili Indonesia di olimpiade internasional. Indonesia direncanakan akan mengirim siswa dari hasil seleksi dan pembinaan pemenang OSN 2018 untuk mengikuti berbagai event internasional yang akan diselenggarakan sepanjang tahun 2018.

64 Pada tahun 2018, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan target kepada Direktorat Pembinaan SMA untuk meningkatkan prestasi siswa Indonesia di semua event Olimpiade Internasional dengan raihan medali emas. Untuk mencapai target raihan emas pada olimpiade internasional, maka akan diteruskan kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi terkemuka di Indonesia dalam bentuk program pembinaan khusus (training centre), sebelum siswa mengikuti olimpiade internasional. 2) Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN); Selain meningkatkan intelektualitas, pendidikan juga harus dapat menciptakan jiwa yang bersikap sportif, jujur, berprestasi, serta mempererat persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka Direktorat Pembinaan SMA melaksanakan kegiatan olahraga pendidikan melalui O2SN. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka meningkatkan semangat berolaharaga di kalangan siswa SMA. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun fisik yang sehat, kuat dan membentuk karakter siswa. Kegiatan seleksi ini akan dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan pusat. Pada Tahun 2018, O2SN akan mempertandingkan 5 Cabang Olahraga, yakni: Atletik, Renang, Bulutangkis, Karate, dan Pencak Silat. Kegiatan O2SN ini akan melibatkan 544 siswa SMA diseluruh Indonesia. 3) Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional Indonesia dikenal dunia internasional salah satunya adalah karena kekayaan seni dan budayanya. Seni dan budaya Indonesia menjadi warisan bangsa yang harus tetap dijaga dan dikembangkan. Berdasarkan hal tersebut, maka Direktorat Pembinaan SMA pada tahun 2018 ini akan melaksanakan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang akan melibatkan 646 siswa SMA diseluruh Indonesia. Untuk menjaring siswa terbaik yang mewakili provinsinya, maka seleksi FLS2N akan dilaksanakan secara berjenjang mulai dari tingkat Kabupaten/Kota, Provinsi, dan Nasional. Pada Tahun 2018 ini, kegiatan FLS2N akan mempertandingkan 7 lomba, yakni: desain poster, kriya, vokal solo, gitar solo, tari kreasi berpasangan, baca puisi, dan teater monolog. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat

65 menumbuhkembangkan jiwa seni dikalangan siswa SMA. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wahana bagi siswa untuk mengapresiasikan bakat seni yang ada. 4) Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI); Kegiatan Olimpiade Penelitian dilaksanakan dalam rangka menumbuhkembangkan semangat penelitian dikalangan siswa SMA. Hal ini menjadi penting mengingat pendidikan SMA ditujukan untuk mempersiapkan siswa untuk melanjutkan ke jenjang Pendidikan Tinggi. Untuk itu, semangat penelitian perlu untuk dikembangkan dalam rangka meningkatkan kemampuan akademik siswa. Mekanisme pelaksanaan OPSI dilaksanakan sesuai dengan kaidah dalam penelitian. Setiap siswa dapat mendaftarkan dan mengirimkan proposal secara online. Kemudian proposal yang terkumpul diunggah dan dinilai oleh Tim Penilai. Penelitian yang memenuhi syarat kemudian akan diseleksi lebih lanjut untuk ditentukan pemenangnya. Acara puncak dari Gelar Pameran dan Presentasi Finalis OPSI akan dilaksanakan di Kota Semarang, Jawa Tengah pada 15 s.d. 20 Oktober Kegiatan tersebut akan melibatkan 100 siswa SMA diseluruh Indonesia. 5) Lomba Debat Bahas Indonesia Dan Bahasa Inggris Tingkat Nasional Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemikiran analitik siswa dalam mengemukan dan mempertahankan pendapat, membangun rasa percaya diri, serta menumbuh sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan pendapat. Ajang debat ini akan membicarakan isu-isu hangat mengenai perkembangan kondisi nasional maupun internasional yang terjadi. Lomba Debat Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris ini akan dilaksanakan secara berjenjang mulai dari tingkat Kabupaten/Kota, Provinsi, dan Pusat. Kegiatan lomba debat pada tingkat pusat akan dilaksanakan di Bengkulu pada tanggal 5 s.d. 12 Agustus ) FIKSI (Festival dan Inovasi Kewirausahaan Siswa Indonesia) Dalam rangka menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan, maka Direktorat

66 Pembinaan SMA akan melaksanakan Lomba Kewirausahaan bagi siswa SMA. Selain itu, kegiatan ini juga ditujukan untuk memberikan wahana bagi siswa yang memiliki jiwa kewirausahaan untuk mengapresiasikan dalam lomba ini. Kegiatan lomba kewirausahaan ini akan mempertandingkan 6 bidang, yakni: boga, fashion, desain grafis, games, dan craft/kerajinan. Kegiatan ini akan dilaksanakan di Yogyakarta, D I Yogyakarta pada tanggal 1 s.d. 6 Oktober 2018, dengan peserta 150 siswa. e. Sekolah yang menerapkan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran sekolah dan peserta didik tentang lingkungan yang sehat. Kegiatan sosialisai ini sekaligus penilaian dari lomba sekolah sehat tingkat nasional yang bekerja sama antar lembaga kementerian. Hal ini tidak terlepas dari tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mandiri. Salah satu usaha yang dilakukan dan terus dikembangkan adalah Usaha Kesehatan Sekolah atau yang disebut dengan UKS. Program UKS pada semua jenis dan tingkat pendidikan, baik Sekolah Negeri maupun Swasta, khusus pengembangan UKS tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) penyelenggaraannya bersamasama dengan lembaga pendidikan mulai tingkat daerah sampai tingkat pusat. Program UKS ini hendaknya dilaksanakan dengan baik sehingga sekolah menjadi tempat yang dapat meningkatkan kesehatan peserta didik. Penyelenggaraan program kesehatan sekolah sebagai upaya untuk mencapai tujuan pengembangan kemampuan hidup, sebagai syarat utama tercapainya kesehatan yang optimal, dan selanjutnya menghasilkan tenaga kerja yang berkualitas. Peningkatan kualitas manusia Indonesia memerlukan berbagai upaya yang di antaranya melalui upaya pendidikan dan kesehatan baik di sekolah maupun luar sekolah. Pendidikan kesehatan memiliki berbagai tujuan, yaitu memiliki pengetahuan tentang isu kesehatan, memiliki nilai dan sikap positif terhadap prinsip hidup sehat, memiliki keterampilan dalam pemeliharaan, pertolongan dan perawatan kesehatan, memiliki kebiasaan

67 hidup sehat, mampu menularkan perilaku hidup sehat, peserta didik tumbuh kembang secara harmonis, menerpakan prinsip- prinsip pencegahan penyakit, memiliki daya tangkal terhadap pengaruh buruk dari luar, memiliki kesegaran jasmani dan kesehatan yang optimal. Sebagai tempat yang baik tumbuh dan kembangnya generasi penerus, maka sekolah perlu memerhatikan hal-hal yang mendukung dalam proses perkembangan dan pertumbuhan, baik di sekolah maupun di lingkungan hidupnya, sehingga mereka dapat tumbuh secara harmonis, efisien, dan optimal, maka perlu di ciptakan lingkungan yang sehat dan memupuk kebiasaan hidup sehat. Kegiatan sosialisai Sekolah yang melaksanakan Program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) akan di laksanakan di beberapa provinsi. 5. Subbagian Tata Usaha Bagian Tata Usaha memiliki tugas-tugas yang berkaitan dengan persuratan, kepegawaian, dan urusan kerumahtanggaan dalam lingkungan Direktorat pembinaan SMA. Berikut ini adalah beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh Sub Bagian Tata usaha : a. Layanan Dukungan Manajemen Eselon 1 Layanan dukungan Eselon I termasuk Layanan Umum, Pelayanan Umum dan Perlengkapan, dan pengelolaan keuangan 1. Layanan Umum dan Tata usaha Pelayanan Tata Laksana terdiri dari : 1. Bimbingan teknis Prosedur Operasional Standar. Dalam rangka memenuhi reformasi birokrasi yang menyangkut tugas dan fungsi organisasi, serta memenuhi standar pelayanan publik perlu adanya Standar Operasional Prosedur (SOP). Mekanisme kegiatan meliputi penyusunan dengan melibatkan Subdirektorat, Subbagian Tata Usaha, Sekretariat Ditjen Dikdasmen, Biro Hukum dan Organisasi. 2. Pelayanan Hubungan Masyarakat ( Pameran/Visualisasi ) Dalam rangka memenuhi keterbukaan publik, Direktorat Pembinaan SMA berperan aktif mengikuti Acara Pameran seperti Pameran Hari Pendidikan Nasional, Pemeran Hari Guru dan Pameran Pusbangtendik bekerja sama dengan Sekretariat Dikdasmen. Dalam pameran tersebut

68 Direktorat Pembinaan SMA menampilkan hasil-hasil kegiatan meliputi buku pedoman, buku Olimpiade, CD Pembelajaran, informasi publik dan diberikan kepada pengunjung Pameran. 2. Pelayanan Umum dan Perlengkapan Salah satu tugas dan fungsi Sub bagian Tata usaha adalah memberikan layanan dalam pemenuhan data kepegawaian dan pengembangan Sumber Daya Manusia. Kegiatan kegiatan tersebut di tuangkan dalam : 1. Bimbingan Teknis Administrasi Pengelolaan Barang Milik Negara Menindaklanjuti Permendikbud Nomor 60 Tahun 2015 tentang Pelaksanaan Kewenangan Pengelolaan Barang, perlu dilakukan Sosialisasi dengan tujuan dapat terpahami mekanisme tata cara penetapan status penggunaan BMN, penjualan, hibah dan pemusnahan bongkaran, serta penghapusan BMN. Peserta Bimtek adalah pegawai pada Subdirektorat, Subbagian. Narasumber Sekretariat Direktorat Jenderal Dikdasmen, Biro Umum Kemdikbud. 2. Pembinaan Capacity Pegawai Sumber Daya Manusia mempunyai peranan yang sangat penting dalam suatu organisasi. Agar tujuan organisasi tercapai dibutuhkan dorongan, motivasi untuk mencapai visi dan misi organisasi. Untuk Itu Direktorat Pembinaan SMA menyelenggarakan Capacity Building yang bertujuan meningkatkan dan menumbuhkan kebersamaan para pegawai dalam mencapai visi dan misi Direktorat Pembinaan SMA. Peserta adalah seluruh pegawai di lingkungan Kantor Direktorat Pembinaan SMA. 3. Bimbingan Teknis Administrasi Pengelolaan Persuratan dan Kearsipan. Menindaklanjuti Permendikbud Nomor 74 Tahun 2015 tentang Tata Naskah Dinas di Lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Permendikbud Nomor 60 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Arsip dan Dokumentasi, dipandang perlu dilakukan Bimbingan Teknis kepada Tenaga Administrasi Umum pada Subdirektorat dan Subbagian. Tujuan Bimtek ini diharapkan dapat terpahaminya mekanisme prosedur tata naskah dinas persuratan meliputi Jenis Naskah, pengamanan dan penyampaian, pencatuman alamat, pemberian nomor, tanggal dan kode

69 naskah. Untuk Pengelolaan Arsip meliputi arsip aktif, Inaktif, arsip Fital, arsip Audiofisual, arsip elektronik serta masa retensi arsip dan penyusutan arsip. 4. Pelatihan Bahasa Inggris Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa inggris secara aktif dan pasif melalui kursus bahasa inggris. kursus ini sangat berguna untuk meningkatkan kemampuan pegawai dalam penulisan dan pembicaraan terutama pegawai yang kuliah di luar negeri atau yang di tugaskan ke luar negri. 5. Bimbingan Teknis Administrasi Pengelolaan Kepegawaian. Menindaklanjuti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, dan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010, serta Reformasi Birokrasi, perlu dilakukan bimbingan teknis dengan tujuan agar terpahaminya azas, prinsip, nilai dasar, serta kode etik dan kode prilaku, jenis, status dan kedudukan, fungsi, tugas dan peran, jabatan, hak dan kewajiban ASN. Peserta adalah pegawai dari Subdirektorat dan Subbagian. Narasumber Sesditjen Dikdasmen, Biro Kepegawaian Kemdikbud dan BKN. 6. Bimbingan Teknis Penyusunan SKP Online Mendindaklanjuti Pemendikbud Nomor 14 Tahun 2016 tentang ketentuan teknis pelaksanaan pemberian tunjangan kinerja pegawai, perlu dilakukan bimbingan teknis dalam Penyusunan Sasaran Kinerja Pegawai. Peserta Bimtek adalah Pegawai pada Subdirektorat dan Subbagian. Tujuan adalah terpahaminya mekanisme penginputan sasaran kinerja, baik harian, mingguan dan bulanan serta tahunan 7. Input Data Kepegawaian. Input Data Kepegawaian bertujuan untuk memasukkan data kepegawaian seluruh pegawai Direktorat pembinaan SMA ke dalam aplikasi yang telah disediakan. Dengan adanya input data kepegawaian di harapkan data semua pegawai terinput dan valid. Data kepegawaian tersimpan dengan rapi dan mudah di cari. 8. Bimbingan Teknis Pengadaan Barang dan Jasa Dalam upaya peningkatan tata kelola pengadaan barang dan jasa di

70 lingkungan Direktorat Pembinaan SMA, dipandang perlu dilakukan bimbingan teknis pengadaan barang dan jasa pemerintah. Tujuan bimtek dimaksud adalah terpahaminya proses pengadaan barang dan jasa baik melalui lelang umum maupun lelang elektronik (LPSE). Peserta adalah pegawai pada Subdirektorat dan Subbagian. Narasumber dari Biro Umum, Sesditjen Dikdasmen dan LKPP 9. Bimbingan Teknis Tunas Integritas RBI Dalam manajemen perubahan perlu didukung oleh agen- agen perubahan yang nantinya akan menjadi pengerak integritas, role mode sebagai pengerak 7 tata nilai budaya kerja di lingkungan Kemendikbud. Untuk itu perlu dilakukan bimbingan teknis Tunas-Tugas Integritas. Tujuan bimtek ini nantinya tunas-tunas itegritas dapat mengimplementasikan tata nilai budaya kerja kepada seluruh pegawai di lingkungan Kantor Direktorat Pembinaan SMA. Peserta adalah Pegawai pada Subdirektorat, Subbagian. Narasumber Tim RBI Kemdikbud dan Menpan. 10. Pelatihan Desain Presentasi Interaktif Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan staf dalam membuat presentasi yang menarik di butuhkan keahlian khusus dalam membuat slide yang menarik, sehingga apabila pegawai memulai melakukan presentasi, materi presentasinya tidak membosankan dan audience cepat mengerti tentang materi yang diberikan dalam tampilan slide tersebut. 11. Bimbingan Teknis Peningkatan Publik Speaking Mengundang perwakilan subdit dan subbag tata usaha. pelatihan ini bertujuan untuk menyampaikan informasi dan kebijakan direktorat yang jelas dan di lengkapi data data yang akurat kepada masyarakat luas dari sabang sampai merauke. Informasi yang di berikan oleh narasumber harus meyakinkan. 12. Sosialisasi Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi Instansi Mengundang perwakilan Subdit dan Subbag di lingkungan Dit. PSMA Kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan staf dalam pengelolaan pelaksanaan RBI pada Direktorat

71 Pembinaan SMA. 13. Penyusunan Program kerja RBI Mengundang perwakilan Subdit dan Subbag di lingkungan Dit. PSMA Kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan staf dalam pengelolaan Program Kerja RBI pada Direktorat Pembinaan SMA. 14. Bimbingan Teknis Reformasi Birokrasi Instansi Mengundang perwakilan Subdit dan Subbag di lingkungan Dit. PSMA Kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan staf dalam ada Direktorat Pembinaan SMA. 3. Pengelolaan Keuangan Salah satu tugas dan fungsi Sub bagian Tata usaha adalah memberikan layanan dalam pemenuhan data Keuangan antara lain : a. Bimbingan teknis administrasi pengelolaan keuangan Bimbingan Teknis Administrasi Pengelolaan Keuangan dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan staf dalam pengelolaan keuangan kegiatan pada Direktorat Pembinaan SMA. b. Penyusunan Laporan satuan kerja Penyusunan Laporan Keuangan Satuan Kerja (SATKER) dilaksanakan dalam rangka pembenahan sistem administrasi keuangan Direktorat Pembinan SMA yang telah terealisasi kegiatannya yang kemudian dipertanggungjawabkan dalam bentuk laporan keuangan. c. Penyusunan laporan persediaan. Mengundang perwakilan Subdit dan Subbag di lingkungan Dit. PSMA.Laporan Keuangan Satuan Kerja (SATKER) dilaksanakan dalam rangka pembenahan sistem administrasi keuangan Direktorat Pembinan SMA yang telah terealisasi kegiatannya yang kemudian dipertanggungjawabkan dalam bentuk laporan keuangan. 2. Layanan Internal ( Overhead ) Layanan ini terdiri dari 1. Pengadaan Kendaraan Bermotor 2. Pengadaan Perangkat Pengolah data dan Komunikasi 3. Pengadaan Perangkat Dan Fasilitas Perkantoran.

72 3. Layanan Perkantoran Program/kegiatan ini digunakan untuk mendukung operasionalisasi Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai direktorat pelaksana teknis pendidikan menengah atas. Fokus program/kegiatan adalah pembayaran gaji dan tunjangan-tunjangan pejabat dan pegawai pada Direktorat Pembinaan SMA dan tugas-tugas rutin direktorat lainnya untuk kurun waktu tahun Layanan Perkantoran terdiri dari 1. Gaji dan Tunjangan 2. Operasional dan Pemeliharaan Perkantoran

73 BAB III AKUNTABILITAS KINERJA Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2006 Tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah dijelaskan bahwa akuntabilitas kinerja adalah perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui alat pertanggungjawaban secara periodik. Direktorat Pembinaan SMA sebagai bagian dari institusi pemerintah mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 11 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Program Kerja Tahunan. Sesuai dengan target kinerja yang telah ditetapkan pada tahun 2018, Direktorat Pembinaan SMA berkewajiban untuk mencapai target-target tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban kinerja instansi. Untuk memaksimalkan tingkat keberhasilan unit kerja dalam upaya pencapaian sasaran strategisnya dan juga sebagai bahan evaluasi akuntabilitas kinerja dalam I tahun, maka diperlukan evaluasi berjalan di tengah tahunnya sebagai gambaran tentang capaian-capaian kinerja yang sudah maupun belum dilaksanakan. Di bawah ini diuraikan hasil capaian kinerja Direktorat Pembinaan SMA seperti capaian dari penetapan kinerja, akuntabilitas keuangan dan hasil capaian kinerja selama semester I tahun 2018 : A. Pengukuran Kinerja 1. Pelaksanaan Kegiatan Subdit Program Dan Evaluasi Anggaran untuk pelaksanaan kegiatan di Subdit Program dan Evaluasi adalah sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I telah mencapai Rp ,- atau sebesar 43.0% dari total alokasi anggaran. Realisasi anggaran untuk masing-masing tolak ukur dijabarkan sebagaimana penjelasan berikut :

74 a. Layanan Manajemen Program Alokasi anggaran untuk Sub output Layanan Manajemen Program semula adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 56,2%. Alokasi tersebut terdiri dari dua sub-output, yakni: 1) Penyusunan Program dan Anggaran Alokasi anggaran untuk sub output ini adalah Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 58,3%. Alokasi tersebut terdiri dari 11 komponen, yakni: a) Penajaman Renstra Direktorat PSMA Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 24.5%. b) Penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) Tahun 2018 (Pusat) Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 27.1%. c) Pelaksanaan Penyusunan Rencana Tindak (Action plan) Program SMA Tingkat Provinsi Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 98.8%. Penyusunan Rencana Tindak (action plan) Program SMA Tahun 2018 telah dilaksanakan pada tanggal 25 s.d. 27 Januari di Surakarta. d) Penyusunan Program Kerja Dit. PSMA Tahun 2018 Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 59,9%. e) Koordinasi Pelaksanaan Program SMA Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut telah terserap sebesar Rp ,00 atau 93,4%. f) Penyusunan Program dan Anggaran 2019

75 Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp atau 46,7%. g) Diseminasi Program SMA Tahun 2018 Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 98.2%. Kegiatan Diseminasi Program SMA Tahun 2018 Tahap 1 telah dilaksanakan pada tanggal 13 s.d. 15 Februari 2018 dan Tahap 2 pada tanggal 19 s.d. 21 Februari 2018 di Sentul Bogor. h) Review Juknis Bantuan Direktorat PSMA Tahun 2018 Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut belum terserap. i) Singkronisasi Program SMA Tahun 2018 Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 85,5%. j) Roadmap pemenuhan sarana prasarana 2024 Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut belum terserap. 2) Pengelolaan Data dan Informasi Alokasi anggaran untuk komponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 54,9%. Alokasi tersebut terdiri dari enam subkomponen yakni: a) Workshop Peningkatan kualitas Data SMA Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 65.2%. Kegiatan Workshop Peningkatan Kualitas Data Pendidikan SMA Tahun 2018 tahap 1 sampai dengan tahap 4 telah dilaksanakan pada bulan Februari dan Mei 2018 di Bekasi dan Bogor.

76 b) Pengolahan dan Pemutakhiran Data Pokok SMA Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 11,4%. c) Pengelolaan Portal dan Database SMA Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 31,1%. d) Penyusunan Lokus Bantuan Dit. PSMA Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut belum terserap. e) Penyusunan Buku Statistik dan Bansos SMA Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 54,8%. f) Dukungan pelaksanaan Asian Games Tahun Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut belum terserap. b. Layanan Manajemen Evaluasi Alokasi anggaran untuk Suboutput Layanan Manajemen Evaluasi adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 27,9%. Alokasi tersebut terdiri dari tiga komponen, yakni: 1) Pelaksanaan Pemantauan dan Evaluasi Alokasi anggaran untuk Pelaksanaan Pemantauan dan Evaluasi adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 20,0%. Alokasi tersebut terdiri dari delapan subkomponen, yakni: a) Pemantauan Pelaksanaan Anggaran Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut

77 terserap sebesar Rp ,00 atau 29,8%. b) Pemantauan Dana Dekonsentrasi Tahun 2018 Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 5,6%. c) Pemantauan dana bantuan pemerintah Direktorat Pembinaan SMA Tahun 2017 dan Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 79,3%. d) Pelaksanaan Evaluasi pencapaian hasil program SMA tingkat Provinsi. Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir Juni, alokasi anggaran tersebut belum terserap. e) Sosialisasi aplikasi e-monev Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir Juni, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 47,3%. f) Penyusunan Rancangan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP). Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 27,5%. g) Tindak Lanjut Pemeriksaan Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut belum terserap. h) Koordinasi Program Direktorat PSMA Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 14,4%. 2) Pelayanan kerjasama Antar Lembaga Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00.

78 Sampai dengan akhir Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 26,1%. Alokasi tersebut terdiri dari empat subkomponen. yakni: a) Kajian Naskah Akademik Pembinaan dan Pengembangan SMA Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap Rp ,00 atau 1,1%. b) Workshop Penguatan Kerjasama antara SMA dengan Instansi lainnya Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut belum terserap. c) Kerjasama dengan Instansi Lainnya Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 50,01%. d) Penyusunan buku informasi Dit. PSMA Tahun 2018 Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 72,0%. 3) Layanan Pengelolaan BOS dan DAK Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 38,5%. Alokasi tersebut terdiri dari delapan subkomponen, yakni: a) Penyusunan Juknis BOS SMA Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00 Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 21,6%. b) Pengolahan Data BOS SMA Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 45,5%. c) Diseminasi Program SMA Tingkat Provinsi

79 Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp atau 27,9%. d) Workshop Koordinasi Pelaksanaan BOS 2018 Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 94,0%. Kegiatan Workshop Koordinasi Pelaksanaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Sekolah Menengah Atas (SMA) Tahun 2018 dilaksanakan pada tanggal 5 s.d. 7 Mei di Bogor. e) Pengelolaan dan Pengolahan DAK SMA Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 46,5%. f) Workshop Pengelolaan DAK Fisik SMA Tahun 2018 Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 90,1%. Kegiatan Workshop Koordinasi Pengelolaan DAK Tahun 2018 dilaksanakan pada tanggal 12 s.d. 14 Mei di Bogor. g) Workshop Evaluasi DAK Fisik SMA Tahun 2018 Semester 1 Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap Rp atau 3,3%. h) Workshop Evaluasi DAK Fisik SMA Tahun 2018 Semester 2 Alokasi anggaran untuk subkomponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut belum terserap. 2. Pelaksanaan Kegiatan Subdit Kurikulum Anggaran untuk pelaksanaan kegiatan di Subdit Kurikulum adalah sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I telah mencapai Rp ,- atau sebesar 81,2% dari total alokasi anggaran. Realisasi anggaran untuk masing- masing tolak ukur

80 dijabarkan sebagaimana penjelasan berikut : a. Sekolah Rujukan. Sekolah rujukan dikembangkan dengan tujuan untuk mendorong sekolah dalam memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP) guna peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan melalui kerjasama antara sekolah rujukan dengan sekolah lainnya sebagai mitra. Kegiatan ini memiliki 650 Paket sasaran output dengan alokasi anggaran sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I baru mencapai Rp ,- atau sebesar 96,7% dari total alokasi anggaran. Adapun capaian masing-masing inputan kegiatan ini terdiri dari : 1) Bimbingan Teknis Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebanyak Rp ,00 atau 25,4%. a) Verifikasi Sekolah Calon SMA Rujukan Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebanyak Rp ,00 atau 48,3%. b) Bimbingan Teknis Bantuan Pemerintah SMA Rujukan Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebanyak Rp ,00 atau 89,5%. c) Bimbingan Teknis Pengelolaan SMA Rujukan Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut belum terserap. 2) Penyaluran Bantuan Alokasi anggaran untuk penyaluran bantuan ini semula adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 100%. b. Sekolah yang mendapatkan pembinaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

81 Kegiatan ini memiliki 3,137 sasaran sekolah dengan alokasi anggaran sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 29.0%. Dalam output ini didukung oleh tiga Komponen yaitu: 1) Penyusunan Panduan Alokasi anggaran untuk komponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 27,3%. 2) Bimbingan teknis Alokasi anggaran untuk komponen ini adalah sebesar Rp ,00 Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 24,2%. 3) Supervisi Alokasi anggaran untuk komponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 92,0%. c. Sekolah yang menerapkan kurikulum 2013 Kebijakan Direktorat Pembinaan SMA melaksanakan Program ini bertujuan untuk mengimplementasikan kurikulum 2013 dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran SMA. Kegiatan ini memiliki sasaran Sekolah dengan alokasi anggaran sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I telah mencapai Rp ,- atau sebesar 24.1% dari total alokasi anggaran. Adapun capaian masing-masing inputan kegiatan ini terdiri dari : 1) Penyusunan bahan, Panduan dan Materi pelatihan dan pendampingan Kurikulum Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap Rp ,00 atau 97,0%. 2) Koordinasi dan Singkronisasi pelaksanaan pelatihan Kurikulum 2013 dengan LPMP. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut belum terserap.

82 3) Pelatihan Kurikulum 2013 Tahun Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap Rp ,00 atau 24,0%. Alokasi tersebut terdiri dari beberapa sub komponen, yakni: a) Pendampingan penyelenggaraan pelatihan K13 (instruktur kab/kota dan guru sasaran). Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 50,9%. b) Workshop pembinaan program kurikulum SMA bagi pengawas dan guru BK. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 81,9%. c) Sosialisasi/Seminar Kurikulum (Uji Public). Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 18,5%. d) Workshop penyiapan video feature, e-modul, dan video pembelajaran. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut belum terserap. e) Workshop Pembahasan dan Penyempurnaan Aplikasi e-modul, Video dan Skrip Feature. Alokasi angaran untuk komponen ini adalah sebesar Rp ,00 sampai dengan akhir Juni 2018, alokasi anggaran tersebut belum terserap. f) Bimbingan Teknis Penyegaran Instruktur Provinsi. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebanyak Rp ,00 atau 100%. g) Penggandaan dan Pengiriman Sertifikat/Ijazah SMA. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00.

83 Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebanyak Rp ,00 d. Sekolah yang menerapkan program Keterampilan/Kewirausahaan Program kewirausahaan ini bertujuan untuk memberikan pembekalan kepada sekolah-sekolah yang berprestasi baik yang jumlah lulusannya banyak yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Sasaran sekolah kewirausahaan 204 sekolah dengan alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 95,1%. Alokasi tersebut terdiri dari dua komponen, yakni: 1) Bimbingan Teknis Alokasi anggaran untuk Sub komponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 45,4%. a) Workshop asistensi Bantuan Pemerintah program Kewirausahaan. Alokasi anggaran untuk Sub komponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap Rp ,00 atau 89,8%. b) Workshop pengelolaan program kewirausahaan. Alokasi anggaran untuk Sub komponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut belum terserap. 2) Penyaluran Bantuan Kewirausahaan. Pada tahun 2017 Direktorat Pembinaan SMA memberikan bantuan kewirausahaan dengan nilai bantuan sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut telah terserap Rp ,00 atau 100%. 3. Pelaksanaan Kegiatan Subdit Kelembagaan Dan Sarana Prasarana Anggaran untuk pelaksanaan kegiatan di Subdit Kelembagaan dan Sarana Prasarana adalah sebesar Rp ,- dimana realisasi

84 penyerapan anggaran sampai dengan semester I telah mencapai Rp ,- atau sebesar 34,0% dari total alokasi anggaran. Realisasi anggaran untuk masing-masing tolak ukur dijabarkan sebagaimana penjelasan berikut : a. Unit Sekolah Baru (USB) Unit Sekolah Baru adalah bantuan pembangunan unit gedung baru untuk penyelenggaraan sekolah SMA negeri maupun swasta yang diberikan kepada Kabupaten/Kota ataupun yayasan dalam rangka memperluas akses dan pemerataan layanan pendidikan SMA. Pembangunan Unit Sekolah Baru bertujuan untuk meningkatkan Angka Partisipasi Pendidikan SMA. Oleh karena itu, Bantuan ini difokuskan bagi daerah-daerah yang memiliki Angka Partisipasi Pendidikan (APK) rendah. Selain itu, bantuan ini juga ditujukan bagi daerah atau wilayah perbatasan Republik Indonesia (Sekolah Garis Depan) yang memerlukan layanan pendidikan SMA. Program ini memiliki sasaran lokasi sebanyak 18 USB, yang sampai dengan semester I telah tersalurkan untuk membangun 18 USB. Alokasi anggaran program ini sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I sebesar Rp ,- atau sebesar 54,1% dari total alokasi anggaran. Adapun capaian masing-masing inputan kegiatan ini terdiri dari: 1) Verifikasi Calon Penerima Bantuan Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00 Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 32,8%. 2) Bimtek Sosialisasi Pemberian Bantuan Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2017, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 32,1%. 3) Penyaluran Bantuan Pembangunan Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Untuk USB reguler, dan Rp ,00 untuk USB yang berasrama. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 62,5% dengan sasaran 16 unit sekolah, untuk USB reguler, dan Rp ,00 untuk USB yang berasrama

85 dengan sasaran 2 unit sekolah. 4) Supervisi Penerima Bantuan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut belum terserap. b. Ruang Kelas Baru (RKB) yang dibangun Ruang Kelas Baru adalah bantuan pembangunan ruang kelas yang diberikan kepada sekolah dalam rangka meningkatkan daya tampung sekolah. pembangunan RKB difokuskan pada daerah-daerah yang memiliki APK rendah. Program ini memiliki sasaran lokasi sebanyak 1,624 ruang. Realisasi sampai dengan semester I telah tersalurkan untuk membangun RKB, sehingga masih 351 ruang akan di bangun di semester II nanti. Alokasi anggaran program ini sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I sebesar Rp ,- atau sebesar 54,7% dari total alokasi anggaran. Adapun capaian masing-masing inputan kegiatan ini terdiri dari: 1) Workshop/Bimtek Sosialisasi Bantuan Pembangunan Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 40,3%. 2) Analisis Kegiatan dan Penyusunan Laporan Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 44,2%. 3) Penyaluran Bantuan Alokasi anggaran untuk komponen penyaluran bantuan ini adalah sebesar Rp ,00 untuk RKB reguler dan Rp ,00 untuk RKB daerah 3T dan perbatasan. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 54,2% dengan sasaran ruang untuk RKB reguler dan Rp ,00 atau 70,0% dengan sasaran 20 ruang untuk RKB daerah 3T dan perbatasan. c. Sekolah yang mendapat Ruang Laboratorium Komputer/Praktik Siswa. Mengingat pentingnya pemanfaatan teknologi komputer dalam proses

86 pembelajaran dan keterbatasan fasilitas teknologi komputer, maka pemerintah mencoba mengeliminasi keterbatasan tersebut dengan memberikan bantuan untuk pembangunan laboratorium komputer. Program Laboratorium Komputer adalah bantuan penyediaan Laboratorium Komputer yang diberikan kepada sekolah yang belum memiliki laboratorium tersebut. Program ini memiliki sasaran lokasi sebanyak 656 ruang laboratorium. Realisasi sampai dengan semester I tersalurkan untuk membangun 505 ruang, sehingga masih 151 ruang akan di bangun di semester II nanti. Alokasi anggaran program ini sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I sebesar Rp ,- atau sebesar 53,3% dari total alokasi anggaran. Adapun capaian masing-masing inputan kegiatan ini terdiri dari: 1) Verifikasi Calon Penerima Bantuan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut belum. 2) Bimtek Sosialisasi Bantuan Pembangunan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 44,8%. 3) Penyaluran Bantuan Pemerintah. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00 untuk laboratorium komputer daerah reguler dengan sasaran 646 sekolah dan Rp ,00 untuk laboratorium komputer daerah daerah 3T dan perbatasan dengan sasaran 10 sekolah. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 53,0% dengan sasaran 497 ruang untuk laboratorium komputer daerah reguler dan Rp ,00 atau 80,6% dengan sasaran 8 ruang. d. Ruang Belajar yang direhabilitasi. Kondisi sarana dan prasarana SMA masih belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP). Untuk itu, Direktorat Pembinaan SMA berupaya untuk memenuhi sarana dan prasarana mutu dengan memberikan bantuan Ruang Belajar yang direhabilitasi kepada sekolah dalam bentuk dana bantuan sosial yang disalurkan langsung ke sekolah penerima. Untuk memenuhi kualitas

87 layanan pendidikan yang sesuai atau mendekati Standar Nasional Pendidikan. Program ini memiliki sasaran lokasi sebanyak 2500 paket rehab. Realisasi sampai dengan semester I tersalurkan untuk membangun 2202 paket rehab. Alokasi anggaran program ini sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I sebesar Rp ,- atau sebesar 52.0% dari total alokasi anggaran. Adapun capaian masing-masing inputan kegiatan ini terdiri dari: 1) Bimtek Sosialisasi Bantuan Sosial. Alokasi anggaran untuk komponen ini semula adalah sebesar Rp ,00 menjadi Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2017, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 16,7%. 2) Penyaluran Bantuan Pembangunan. Alokasi anggaran untuk komponen ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2017, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 20,7% dengan sasaran 1554 ruang. e. Sekolah yang mendapatkan peralatan pendidikan. Layanan pendidikan sangat ditentukan oleh ketersediaan sarana dan prasarana mutu yang dimiliki sekolah untuk mendukung kegiatan proses belajar mengajar. Kondisi kepemilikan sarana dan prasarana dari sisi jumlah masih belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP). Kegiatan ini untuk memenuhi kualitas layanan pendidikan yang sesuai atau mendekati Standar Nasional Pendidikan. Program ini memiliki sasaran lokasi sebanyak 2152 paket. Realisasi sampai dengan semester I belum tersalurkan karena masih dalam proses clicking ecatalog. Alokasi anggaran program ini sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I sebesar Rp. Rp ,- atau sebesar 0.04% dari total alokasi anggaran. Adapun capaian masing-masing inputan kegiatan ini terdiri dari: 1) Penyusunan Materi dan Panduan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, realisasi penyerapan anggaran sampai dengan akhir Juni 2018 sebesar Rp. Rp ,- atau sebesar 7,5%. 2) Bimtek operator komputer pembelajaran. Alokasi anggaran untuk output ini

88 adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut belum terserap. 3) Penyaluran Bantuan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut belum terserap. 4) Supervisi penerima bantuan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut belum terserap. f. Sekolah yang mendapatkan pembinaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, mengamanatkan bahwa dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional secara bertahap, terencana, dan terukur. Oleh karena itu, Pemerintahan melakukan akreditasi terhadap seluruh sekolah. Pasal 60 tentang Akreditasi dinyatakan bahwa, ayat (1) akreditasi dilakukan untuk menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan nonformal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan; dan ayat (2) akreditasi terhadap program dan satuan pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri yang berwenang sebagai bentuk akuntabilitas publik. Lembaga mandiri yang berwenang untuk melaksanakan akreditasi tesebut adalah Bandan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M) Akreditasi sekolah merupakan proses penilaian secara komprehensif terhadap kelayakan program dan satuan pendidikan, yang diwujudkan dengan adanya sertifikasi yang dikeluarkan oleh BAN S/M. Penggunaan instrumen akreditasi yang komprehensif dikembangkan berdasarkan standar yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP). Hal ini didasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 (juncto Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013) yang memuat kriteria minimal tentang komponen pendidikan. Seperti dinyatakan pada pasal 1 ayat (1) bahwa SNP adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh sebab itu, SNP harus dijadikan standar mutu guna memetakan secara utuh profil kualitas sekolah.

89 Mengingat pentingnya akreditasi dalam meningkatkan mutu pendidikan, maka hasil akreditasi perlu ditindaklanjuti oleh masing- masing direktorat teknis terkait. Program tindaklanjut lebih di fokuskan kepada sekolah-sekolah yang nilai akreditasinya masih belum memadai. Oleh karena itu. Sasaran program adalah sekolah yang harus akreditasi C atau TT (tidak terakreditasi). Sementara itu, untuk sekolah sekolah yang belum terakreditasi juga perlu diberikan perlakuan/bimbingan teknis untuk persiapan Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut belum terserap.. g. Sekolah yang mendapatkan bantuan sarana prasarana lainnya. Sekolah yang mendapatkan bantuan sarana prasarana lainnya merupakan salah satu bentuk Program Direktorat Pembinaan SMA bertujuan untuk peningkatan kualitas pendidikan SMA sebagai pusat pengembangan mutu pendidikan melalui Sekolah yang mendapatkan bantuan sarana prasarana lainnya. Program ini memiliki sasaran lokasi sebanyak 221 paket. Realisasi sampai dengan semester I tersalurkan untuk 198 paket, sehingga masih 23 paket yang akan disalurkan di semester II. Alokasi anggaran program ini sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I sebesar Rp ,- atau sebesar 54,6% dari total alokasi anggaran. Adapun capaian masing-masing inputan kegiatan ini terdiri dari: 1) Bimbingan Teknis Bantuan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 25,2%. 2) Penyaluran Bantuan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 55,4%. h. Sekolah yang direnovasi. Program ini bertujuan untuk peremajaan sekolah-sekolah SMA yang sudah memiliki umur ditas 20 tahun. Selain itu tujuan dari program ini adalah untuk memenuhi kualitas layanan pendidikan yang sesuai atau mendekati Standar Nasional Pendidikan. program ini memiliki sasaran 100 paket dengan alokasi

90 anggaran sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I sebesar Rp ,- atau sebesar 47.1%. dari total alokasi anggaran. Adapun capaian masing-masing inputan kegiatan ini terdiri dari. Adapun capaian masing-masing inputan kegiatan ini terdiri dari: 1) Verifikasi Calon Penerima Bantuan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap Rp ,00 atau 53,0%. 2) Bimtek Sosialisasi Bantuan Pembangunan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 13,4%. 3) Penyaluran Bantuan Pembangunan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 48% dengan sasaran 100 sekolah. 4) Supervisi penerima bantuan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap belum terserap. i. Ruang perpustakaan yang dibangun. Melalui kegiatan pemberian bantuan Perpustakaan/Pusat Sumber Belajar, diharapkan adanya peningkatan jumlah sekolah sekolah yang memiliki perpustakaan/pusat sumber belajar berpusat pada peserta didik pada jenjang pendidikan menengah khususnya SMA pada tingkat nasional dapat dicapai secara bertahap sesuai dengan restra Kementerian Pendidikan Nasional Siswa akan dapat belajar secara maksimal dengan menggunakan ruang perpusatakaan/ pusat sumber belajar sesuai dengan standar dan memadai sehingga dapat meningkatkan kualitas belajarnya dan manfaat yang didapat yaitu sekolah memiliki ruang perpustakaan/ pusat sumber belajar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan yang dapat meningkatkan PBM sehingga akan meningkatkan mutu proses belajar mengajar di sekolah. Program ini memiliki sasaran lokasi sebanyak 750 perpustakaan yang sampai dengan semester I telah tersalurkan untuk membangun 475 perpustakaan, dan masih 275 lokasi yang akan

91 di bangun di semester II nanti. Alokasi anggaran program ini sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I sebesar Rp ,- atau sebesar 42.5% dari total alokasi anggaran. Adapun capaian masing-masing inputan kegiatan ini terdiri dari: 1) Bimtek Bantuan Pembangunan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 39,0%. 2) Verifikasi Penerima Bantuan Pembangunan Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut belum terserap. 3) Penyaluran Bantuan Pembangunan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 42,8%. 4. Pelaksanaan Kegiatan Subdit Peserta Didik Anggaran untuk pelaksanaan kegiatan di Subdit Peserta Didik adalah sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I telah mencapai Rp ,- atau sebesar 65.4% dari total alokasi anggaran. Realisasi anggaran untuk masing-masing tolak ukur dijabarkan sebagaimana penjelasan berikut : a. Sekolah yang menerapkan karakter Bangsa. Pendidikan Karakter Bangsa yang bertujuan untuk mengaktualisasikan peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui kegiatan ini siswa diharapkan mampu mengaplikasikan sikap kerjasama, nasionalisme, rasa persatuan dan kesatuan bangsa, jujur, peduli, berfikir kritis, positif, dapat menumbuhkembangkan sikap hormat dan saling menghargai dalam keberagaman, meningkatkan disiplin diri, tanggungjawab, kesadaran terhadap lingkungan fisik, sosial dan budaya, hidup bersih dan sehat, melatih kewirusahaan, menjalin silaturahmi antar siswa dari berbagai wilayah di Indonesia, memperkokoh kesatuan bangsa, membangun jiwa kepemimpinan di kalangan generasi muda, meningkatkan kematangan jiwa

92 dan kestabilan emosi dalam rangka pembentukan sikap dan perilaku terpuji, serta menyalurkan bakat dan minat serta kreativitas siswa dalam rangka pembinaan karakter bangsa. Kegiatan ini memiliki sasaran output siswa yang sampai dengan semester I telah tercapai 2088 siswa dengan alokasi anggaran sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I telah mencapai Rp. Rp ,- atau sebesar 41.8% dari total alokasi anggaran. Adapun capaian masing-masing inputan kegiatan ini terdiri dari: 1) Penyusunan Panduan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 92,2%. 2) Bimbingan Teknis penerima bantuan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 48,2%. 3) Pelaksanaan Kegiatan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 41,1%. 4) Penyaluran Bantuan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 37,9%. b. Sekolah yang menerapkan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) Secara umum kegiatan ini bertujuan meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat kesehatan peserta didik. Selain itu juga menciptakan lingkungan yang sehat, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia berkualitas. Sedangkan secara khusus tujuan UKS adalah menciptakan lingkungan kehidupan sekolah yang sehat, meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap dan membentuk perilaku masyarakat sekolah yang sehat dan mandiri. Di samping itu juga meningkatkan peran serta peserta didik dalam usaha peningkatan kesehatan di sekolah dan lingkungan masyarakat, meningkatkan keteramplan hidup sehat agar mampu melindungi diri dari pengaruh buruk lingkungan. Kegiatan ini memiliki sasaran 64 sekolah dengan alokasi anggaran sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester

93 I masih 0 dan akan dilaksankana pada semester II. c. Siswa yang mendapatkan Program Indonesia Pintar (PIP). Sebagai usaha untuk menekan angka putus sekolah siswa SMA, Direktorat Pembinaan SMA memberikan bantuan berupa dana untuk operasional siswa melalui program Program Indonesia Pintar (PIP). Pelaksanaan program ini selain melalui kegiatan pusat. Pengalokasian dana PIP diharapkan dapat lebih mencapai siswa miskin yang terancam putus sekolah karena kesulitan ekonomi. Skenario pelaksanaan dilakukan secara sistematis meliputi identifikasi dan pengolahan data siswa penerima bantuan, penyusunan dokumen administrasi keuangan, pengiriman dana bantuan ke rekening siswa melalui kerja sama dengan bank pemerintah sebagai bank penyalur, pemantauan program, dan pengolahan data siswa penerima bantuan. Kegiatan ini memiliki sasaran output 1,367,559 siswa yang sampai dengan semester I telah tercapai 1,005,709 siswa dengan alokasi anggaran sebesar Rp 1,153,787,076,000,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I telah mencapai Rp. 836,180,337,000,- atau sebesar 70% dari total alokasi anggaran. Adapun capaian masing-masing inputan kegiatan ini terdiri dari: 1) Penyusunan dan penggandaan bahan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 96%. 2) Verifikasi calon penerima bantuan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 33%. 3) Bimbingan Teknis penerima bantuan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 82,2%. 4) Penyaluran bantuan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap Rp ,00 atau 70,6% dengan capaian sebanyak siswa. 5) Supervisi penerima bantuan. Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi

94 anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 14,3%. d. Siswa yang mendapatkan Beasiswa Bakat dan Berprestasi. Sebagai bentuk penghargaan bagi siswa berprestasi dan berbakat akan diberikan beasiswa kepada siswa-siswi pemenang Olimpide Internasional, Debat Bahasa Inggris, OSN, O2SN dan FL2SN tingkat nasional. Kebijakan dan Program ini bertujuan untuk memberikan motivasi dan penghargaan bagi siswa berprestasi. Impelementasi pelaksanaan program dilakukan melalui pemberian beasiswa dengan melibatakan sasaran mencakup 2895 siswa SMA yang sampai dengan semester I telah tercapai 277 Siswa. Alokasi anggaran beasiswa bakat dan prestasi sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I telah mencapai Rp ,- atau sebesar 10,2% dari total alokasi anggaran. Adapun capaian masing-masing inputan kegiatan ini terdiri dari: 1) Verifikasi Calon Penerima Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,-. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap Rp ,- atau sekitar 54,6% 2) Penyaluran Beasiswa Bakat dan Prestasi Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 9,6%. e. Siswa yang mengikuti lomba, Festival. Salah satu kegiatan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan SMA adalah mendorong minat siswa dalam bentuk lomba di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, olah raga, penelitian, debat bahasa indonesia, debat bahasa inggris, kewirausahaan dan lomba apresiasi budaya. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan akademik siswa dan membentuk karakter siswa yang bersikap sportif, jujur, berprestasi, menumbuhkan kecerdasan estetika termasuk juga dibidang budaya dan kewirausahaan. Kegiatan ini memiliki sasaran output 35 bidang yang sampai dengan semester I telah tercapai 9 bidang dengan alokasi anggaran sebesar Rp ,- dimana realisasi

95 penyerapan anggaran sampai dengan semester I telah mencapai Rp ,- atau sebesar 17.4% dari total alokasi anggaran. Adapun capaian masing- masing inputan kegiatan ini terdiri dari: 1) Olimpiade Sains Nasional (OSN) adalah suatu kompetisi bersifat Nasional yang dijadikan wadah oleh para remaja khususnya siswa SMA, yang berbakat dalam bidang matematika, fisika, kimia, Komputer, Biologi, Astronomi dan Geo Science (Kebumian), Geografi serta ekonomi. Kegiatan ini memiliki sasaran input 35 bidang yang sampai dengan semester I telah tercapai 9 bidang dengan alokasi anggaran sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I telah mencapai Rp ,- atau sebesar 26.8% dari total alokasi anggaran. 2) Festival dan lomba seni siswa Indonesia memiliki sasaran input 1 bidang dengan alokasi anggaran sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I telah mencapai Rp ,- atau sebesar 2,1% dari total alokasi anggaran. 3) Olimpiade olahraga siswa nacional (O2SN) memiliki sasaran input 8 bidang dengan alokasi anggaran sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I telah mencapai Rp ,- atau sebesar 1.5% dari total alokasi anggaran. 4) Olimpiade penelitian Siswa Indonesia (OPSI) memiliki sasaran input 2 bidang dengan alokasi anggaran sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I telah mencapai Rp ,- atau sebesar 19,3% dari total alokasi anggaran. 5) Lomba debat bahas indonesia dan bahasa inggris tingkat nasional memiliki sasaran input 1 bidang dengan alokasi anggaran sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I telah mencapai Rp ,- atau sebesar 6.1% dari total alokasi anggaran. 6) Lomba Apresiasi Sastra; memiliki sasaran input 1 bidang dengan alokasi anggaran sebesar R ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I telah mencapai Rp ,- atau sebesar 2,4% dari total alokasi anggaran. 7) Lomba Kewirausahaan. memiliki sasaran input 1 bidang dengan alokasi anggaran sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I telah mencapai Rp. Rp ,- atau sebesar

96 11.1% dari total alokasi anggaran. 5. Pelaksanaan Kegiatan Subbag Tata Usaha Bagian Tata Usaha memiliki tugas-tugas yang berkaitan dengan persuratan, kepegawaian, dan urusan kerumahtanggaan dalam lingkungan Direktorat pembinaan SMA. Anggaran untuk pelaksanaan kegiatan di Subbag Tata Usaha adalah sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I telah mencapai Rp ,- atau sebesar 43,4% dari total alokasi anggaran. Realisasi anggaran untuk masing-masing tolak ukur dijabarkan sebagaimana penjelasan berikut : a. Layanan Perkantoran Program/kegiatan ini digunakan untuk mendukung operasionalisasi Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai direktorat pelaksana teknis pendidikan menengah atas. Fokus program/kegiatan adalah pembayaran gaji dan tunjangan-tunjangan pejabat dan pegawai pada Direktorat Pembinaan SMA dan tugas-tugas rutin Direktorat lainnya untuk kurun waktu tahun Kegiatan ini memiliki sasaran output 12 bulan yang sampai dengan semester I telah tercapai 6 bulan dengan alokasi anggaran sebesar Rp ,- dimana realisasi penyerapan anggaran sampai dengan semester I telah mencapai Rp ,- atau sebesar 45,0% dari total alokasi anggaran. Adapun capaian masing-masing inputan kegiatan ini terdiri dari: 1) Gaji dan Tunjangan Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 54,7%. 2) Operasional dan Pemeliharaan Kantor Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 24.3%. b. Layanan Umum dan Tata Usaha Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai

97 dengan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 55,6%. Alokasi tersebut terdiri dari empat suboutput, yakni: 1) Pelayanan Tata Laksana Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 93,8%. 2) Pengelolaan Keuangan Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 57% 3) Pelayanan Umum dan Perlengkapan Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan akhir bulan Juni 2018, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 53,0%. c. Layanan Internal (Overhead) Alokasi anggaran untuk output ini adalah sebesar Rp ,00. Sampai dengan Juni 2017, alokasi anggaran tersebut terserap sebesar Rp ,00 atau 6,1%.

98 B. Capaian Kinerja Direktorat Tabel 3. 1 Tabel Capaian Kinerja Semester 1 Direktorat PSMA Sasaran Kegiatan SK 3.1 Indikator Kinerja Tercapainya Perluasan dan Pemerataan Akses Pendidikan SMA Bermutu, Berkesetaraan Jender, dan Relevan dengan Kebutuhan Masyarakat, di Semua Kabupaten dan Kota Jumlah RKB SMA yang IKK 3.2 dibangun Jumlah unit SMA baru yang IKK 3.3 dibangun Pembangunan Prasarana IKK 3.4 Pembelajaran SMA Rehabilitasi Ruang IKK 3.5 Pembelajaran SMA Pengadaan Sarana IKK 3.6 Pembelajaran SMA IKK 3.7 IKK 3.8 IKK 3.9 IKK 3.10 IKK 3.11 IKK 3.12 Jumlah SMA yang menerapkan kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah Jumlah bahan ajar SMA yang disusun Jumlah SMA yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah Target Kinerja Target 2018 Realisasi Semester 1 Anggaran (dalam rupiah) Fisik Persent ase Keuangan 1,864,085,752, ,077,946,743 Persent ase 1,624 Ruang 409,395,890,000 1, % 205,277,299, % 18 Unit 61,815,116, % 33,473,729, % 1,627 Ruang 404,238,739,000 1, % 192,500,071, % 2,600 Paket 179,568,835,000 2, % 102,725,793, % 2,152 Paket 494,877,877, % 8,012 Sekolah 16,358,035,000 1, % - 3,937,756, % 24.1% 19 Modul 2,878,210, % 0.0% 3,137 Sekolah 25,989,424, % Jumlah SMA Rujukan 650 Sekolah 106,348,105, % 104,026,899, % Jumlah SMA yang melakukan pembelajaran kewirausahaan Jumlah siswa SMA yang mengikuti lomba/olimpiade, festival, debat, dan unjuk prestasi tingkat nasional dan Internasional 204 Sekolah 22,278,500, % 21,318,811, % 3,346 Siswa 85,424,578, % 15,298,875, % - 0.0% IKK 3.13 Jumlah siswa SMA yang memperoleh beasiswa 2,895 Siswa 10,577,040, % 1,117,170, % SK 3.2 SK 3.3 IKK 3.14 Jumlah Siswa SMA yang menerapkan pendidikan karakter Tersedianya bantuan pendidikan bagi siswa SMA dari keluarga miskin IKK 3.15 Jumlah siswa SMA penerima bantuan melalui KIP Menguatnya tata kelola dan sistem pengendalian manajemen di Direktorat SMA IKK 3.16 Jumlah Satker yang mendapat Dukungan Manajemen dan Layanan Teknis SMA 5,000 Siswa 44,335,403,000 2, % 10,401,539, % 1,196,188,175, ,180,336,650 1,367,559 Siswa 1,196,188,175,000 1,005, % 836,180,336, % 164,362,306,000 46,293,741, Satker 72,300,141, % 38,806,955, % Dekonsentrasi 92,062,165,000 7,486,785,639 Jumlah 3,224,636,233,000 1,572,552,024, %

99 C. Akuntabilitas Keuangan Pagu belanja Direktorat Pembinaan SMA dalam DIPA dibagi dalam 4 (empat) pos pengeluaran, yaitu: (1) Pegawai, (2) Barang, (3) Modal, (4) Bantuan Sosial (Bansos). Pos pengeluaran belanja Pegawai yaitu pos yang dikhususkan untuk belanja pegawai, misalnya: gaji dan tunjangan-tunjangan. Pos pengeluaran belanja Barang yaitu pos pengeluaran yang meliputi belanja untuk keperluan sehari-hari perkantoran, pemeliharaan dan perjalanan dinas sebagai penunjang kegiatan. Pos pengeluaran belanja Modal yaitu pos pengeluaran yang meliputi kegiatan pengadaan sarana prasarana yang merupakan aset tetap. Pos pengeluaran belanja Bansos yaitu pos pengeluaran yang meliputi kegiatan bantuan sosial kepada penyelenggaraan pendidikan berupa dana Program Indobesia Pintar. Alokasi untuk pos-pos pengeluaran tersebut dapat dilihat dari gambar 3.1. berikut ini. Belanja Pegawai, 0.57% Belanja Bansos, 36.45% Belanja Modal, 0.08% Belanja Barang, 62.90% Total pagu belanja pada DIPA Direktorat Pembinaan SMA tahun 2018 (termasuk dekonsentrasi) sebesar Rp. 3,223,577,513,000,- (tiga trilyun dua ratus dua puluh tiga milyar lima ratus tujuh puluh tujuh juta lima ratus tiga belas ribu rupiah). Dari jumlah tersebut Belanja Pegawai mendapatkan alokasi 0.5%, Belanja Barang mendapatkan alokasi 52.9%, Belanja Modal mendapatkan alokasi 0,08%, dan Belanja Bantuan Sosial mendapatkan alokasi sebesar 36.4%. Realisasi Anggaran Direktorat Pembinaan SMA yang ada dalam DIPA tahun 2018 sampai dengan semester I adalah 1,572,552,025,000-.Sehingga daya serap anggaran

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah mencerdaskan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah mencerdaskan

Lebih terperinci

- 1 - BAB I PENGUATAN REFORMASI BIROKRASI

- 1 - BAB I PENGUATAN REFORMASI BIROKRASI - 1 - LAMPIRAN PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2016 TENTANG ROAD MAP REFORMASI BIROKRASI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN SOSIAL TAHUN 2015-2019. BAB I PENGUATAN REFORMASI BIROKRASI

Lebih terperinci

RPJMN dan RENSTRA BPOM

RPJMN dan RENSTRA BPOM RPJMN 2015-2019 dan RENSTRA BPOM 2015-2019 Kepala Bagian Renstra dan Organisasi Biro Perencanaan dan Keuangan Jakarta, 18 Juli 2017 1 SISTEMATIKA PENYAJIAN RPJMN 2015-2019 RENCANA STRATEGIS BPOM 2015-2019

Lebih terperinci

BAB II PERJANJIAN KINERJA

BAB II PERJANJIAN KINERJA BAB II PERJANJIAN KINERJA Untuk mencapai visi dan misi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, yang salah satu misinya adalah Mengajak masyarakat Katolik untuk berperan serta secara aktif dan

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1 VISI Dalam periode Tahun 2013-2018, Visi Pembangunan adalah Terwujudnya yang Sejahtera, Berkeadilan, Mandiri, Berwawasan Lingkungan dan Berakhlak Mulia. Sehingga

Lebih terperinci

Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional POKOK-POKOK PENJELASAN PERS MENTERI NEGARA PPN/ KEPALA BAPPENAS TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG

Lebih terperinci

1 KATA PENGANTAR. Jakarta, Juni 2017 a.n Kepala Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan, Kepala Bidang Sinkronisasi Kebijakan

1 KATA PENGANTAR. Jakarta, Juni 2017 a.n Kepala Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan, Kepala Bidang Sinkronisasi Kebijakan ( REVISI I ) KATA PENGANTAR Rencana Strategis Pusat Analisis dan Sinkronisasi Kebijakan (PASKA) 205 209 merupakan turunan dari Rencana Strategis (Renstra) Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan

Lebih terperinci

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Kata Pengantar

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Kata Pengantar Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas perkenan-nya kami dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Dinas Pendidikan

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2009 TENTANG KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2009 TENTANG KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2009 TENTANG KEPEMUDAAN Menimbang DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, : a. bahwa dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia sejak

Lebih terperinci

BAB IV VISI DAN MISI DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA

BAB IV VISI DAN MISI DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA BAB IV VISI DAN MISI DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA Pembangunan adalah suatu orientasi dan kegiatan usaha yang tanpa akhir. Development is not a static concept. It is continuously changing. Atau bisa

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN BIDANG PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN BIDANG PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN BIDANG PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KLUNGKUNG, Menimbang : a. bahwa bidang pendidikan merupakan

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI,TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI,TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI,TUJUAN DAN SASARAN Perencanaan pembangunan daerah adalah suatu proses penyusunan tahapantahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan, guna pemanfaatan dan pengalokasian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masuh belum cukupnya kualitas SDM yang menangani pembangunan. Disamping kualitas SDM, kualitas jenjang pendidikan di Dinas-dinas

BAB I PENDAHULUAN. masuh belum cukupnya kualitas SDM yang menangani pembangunan. Disamping kualitas SDM, kualitas jenjang pendidikan di Dinas-dinas BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peningkatan kualitas SDM bidang infrastruktur sangat penting, mengingat infrastruktur memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan kesejahteraan sosial, pertumbuhan

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) BIRO HUKUM DAN ORGANISASI

RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) BIRO HUKUM DAN ORGANISASI RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) BIRO HUKUM DAN ORGANISASI 2015-2019 SEKRETARIAT JENDERAL KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2015 KATA PENGANTAR Rencana strategis (Renstra) 2015 2019 Biro Hukum dan Organisasi

Lebih terperinci

BAB II VISI, MISI, DAN TUJUAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

BAB II VISI, MISI, DAN TUJUAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN BAB II VISI, MISI, DAN TUJUAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN A. Visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Rencana Pembangunan Pendidikan Nasional Jangka Panjang (RPPNJP) 2005 2025 menyatakan bahwa

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 957, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENDIKBUD. Tingkat Satuan Pendidikan. Dasar. Menengah. Kurikulum. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Upaya pembangunan pendidikan di Indonesia dilaksanakan dalam berbagai

BAB I PENDAHULUAN. Upaya pembangunan pendidikan di Indonesia dilaksanakan dalam berbagai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Upaya pembangunan pendidikan di Indonesia dilaksanakan dalam berbagai level/jenjang pendidikan. Mulai dari pendidikan dasar, menengah, sampai pendidikan tinggi.

Lebih terperinci

BAB III ISU-ISU STRATEGIS Identifikasi Isu-Isu strategis Lingkungan Internal

BAB III ISU-ISU STRATEGIS Identifikasi Isu-Isu strategis Lingkungan Internal BAB III ISU-ISU STRATEGIS 3.1. Identifikasi Permasalahan Identifikasi permasalahan berisikan Isu-isu strategis yaitu isu-isu yang berkaitan dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sumbawa

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DASAR & FUNGSI Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pendidikan Nasional

Lebih terperinci

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN (LPMP) LAMPUNG

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN (LPMP) LAMPUNG KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN (LPMP) LAMPUNG Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Lampung sebagai unit pelaksana teknis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Lebih terperinci

DASAR & FUNGSI. PENDIDIKAN NASIONAL BERDASARKAN PANCASILA DAN UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

DASAR & FUNGSI. PENDIDIKAN NASIONAL BERDASARKAN PANCASILA DAN UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 DASAR & FUNGSI. PENDIDIKAN NASIONAL BERDASARKAN PANCASILA DAN UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DASAR & FUNGSI Pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN BAB I

BAB I PENDAHULUAN BAB I BAB I BAB I 1 A Latar Belakang Lahirnya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) merupakan perwujudan dari tekad melakukan reformasi pendidikan untuk menjawab tuntutan

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.174, 2014 PENDIDIKAN. Pelatihan. Penyuluhan. Perikanan. Penyelenggaraan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5564) PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Medan Tahun BAB 1 PENDAHULUAN

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Medan Tahun BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sejalan dengan perkembangan kondisi sosial, ekonomi dan budaya, Kota Medan tumbuh dan berkembang menjadi salah satu kota metropolitan baru di Indonesia, serta menjadi

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 09 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGERANG NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN TANGERANG DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN I. VISI Pembangunan di Kabupaten Flores Timur pada tahap kedua RPJPD atau RPJMD tahun 2005-2010 menuntut perhatian lebih, tidak hanya untuk menghadapi permasalahan

Lebih terperinci

INDIKATOR KEBERHASILAN PEMBANGUNAN KEBUDAYAAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN

INDIKATOR KEBERHASILAN PEMBANGUNAN KEBUDAYAAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN INDIKATOR KEBERHASILAN PEMBANGUNAN KEBUDAYAAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2015-2019 Rapat Koordinasi Pusat dan Daerah Direktur Jenderal Kebudayaan Hotel Mercure Ancol Jakarta, 16 April

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI 3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah. Dalam upaya meningkatkan

Lebih terperinci

Bab 1 Pendahuluan Latar Belakang

Bab 1 Pendahuluan Latar Belakang Bab 1. Pendahuluan Bab 1 Pendahuluan Pembangunan pendidikan tinggi sebagaimana yang diamanatkan oleh UUD 1945 merupakan bagian tugas dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Perguruan tinggi

Lebih terperinci

RPJMD KABUPATEN LINGGA BAB 5 VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

RPJMD KABUPATEN LINGGA BAB 5 VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN I BAB 5 I VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1. Visi Pengertian visi secara umum adalah gambaran masa depan atau proyeksi terhadap seluruh hasil yang anda nanti akan lakukan selama waktu yang ditentukan.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk

I. PENDAHULUAN. agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan mempunyai peranan besar dalam memberikan kontribusi terhadap pembangunan dan kemajuan bangsa. Pendidikan merupakan kunci utama sebagai fondasi untuk meningkatkan

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, disebutkan bahwa setiap Provinsi, Kabupaten/Kota wajib menyusun RPJPD

Lebih terperinci

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEMBANGUNAN MANUSIA DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA Sambutan Pada Acara PEMBUKAAN REMBUK NASIONAL PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN (RNPK) TAHUN 2016 Tema: Meningkatkan Pelibatan Publik

Lebih terperinci

MATRIK TAHAPAN RPJP KABUPATEN SEMARANG TAHUN

MATRIK TAHAPAN RPJP KABUPATEN SEMARANG TAHUN MATRIK TAHAPAN RPJP KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2005-2025 TAHAPAN I (2005-2009) TAHAPAN I (2010-2014) TAHAPAN II (2015-2019) TAHAPAN IV (2020-2024) 1. Meningkatkan kualitas sumber daya masyarakat Kabupaten

Lebih terperinci

BAB III VISI, MISI, DAN ARAH PEMBANGUNAN DAERAH

BAB III VISI, MISI, DAN ARAH PEMBANGUNAN DAERAH BAB III VISI, MISI, DAN ARAH PEMBANGUNAN DAERAH 3.1. Visi Berdasarkan kondisi masyarakat dan modal dasar Kabupaten Solok saat ini, serta tantangan yang dihadapi dalam 20 (dua puluh) tahun mendatang, maka

Lebih terperinci

BAB III VISI, MISI, DAN TUJUAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

BAB III VISI, MISI, DAN TUJUAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL BAB III VISI, MISI, DAN TUJUAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL 3.1 Visi dan Misi Kementerian Pendidikan Nasional Dalam rangka mewujudkan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa dan sejalan dengan visi

Lebih terperinci

Sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Disampaikan pada: Rapat Koordinasi Nasional BAN PAUD DAN PNF The Alana Hotel Yogyakarta Jumat, 10 Februari 2017 1 Kebijakan Umum Kebijakan

Lebih terperinci

PUSAT DATA DAN STATISTIK PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

PUSAT DATA DAN STATISTIK PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN SEKRETARIAT JENDERAL PUSAT DATA DAN STATISTIK PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RENCANA STRATEGIS TAHUN 2015-2019 KATA PENGANTAR Berdasarkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004

Lebih terperinci

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Ringkasan Eksekutif

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Ringkasan Eksekutif Ringkasan Eksekutif Pendidikan telah menjadi sebuah kekuatan bangsa khususnya dalam proses pembangunan di Jawa Timur. Sesuai taraf keragaman yang begitu tinggi, Jawa Timur memiliki karakter yang kaya dengan

Lebih terperinci

Bandar Lampung, Desember 2015 KEPALA DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROVINSI LAMPUNG,

Bandar Lampung, Desember 2015 KEPALA DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN PROVINSI LAMPUNG, Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung 2015-2019 ini disusun melalui beberapa tahapan dengan mengacu kepada visi RPJMD Provinsi Lampung tahun 2015-2019, yaitu Lampung

Lebih terperinci

DASAR & FUNGSI. Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

DASAR & FUNGSI. Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 UNDANG UNDANG NO. 20 TH.2003 Tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DASAR & FUNGSI Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pendidikan Nasional

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PENGAWASAN INTERNAL DI KEMRISTEKDIKTI. Oleh : Prof. Jamal Wiwoho, SH, Mhum. (INSPEKTORAT JENDERAL KEMRISTEKDIKTI)

KEBIJAKAN PENGAWASAN INTERNAL DI KEMRISTEKDIKTI. Oleh : Prof. Jamal Wiwoho, SH, Mhum. (INSPEKTORAT JENDERAL KEMRISTEKDIKTI) KEBIJAKAN PENGAWASAN INTERNAL DI KEMRISTEKDIKTI Oleh : Prof. Jamal Wiwoho, SH, Mhum. (INSPEKTORAT JENDERAL KEMRISTEKDIKTI) Disampaikan Dalam Rapat Koordinasi Pengawasan Peningkatan Kapasitas Pengendalian

Lebih terperinci

LAKIP LPMP PROV. JATIM TAHUN 2016

LAKIP LPMP PROV. JATIM TAHUN 2016 LPMP PROV. JATIM TAHUN 2016 LAKIP Jl. Ketintang Wiyata No. 15 Surabaya Telp. : (031) 8290243, 8273734, & Fax : (031) 8273734 Email : lpmpjatim@yahoo.co.id DAFTAR ISI KATA PENGANTAR...ii IKHTISAR EKSEKUTIF...iii

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PEMERINTAH TENTANG PELAKSANAAN HAK ATAS PENDIDIKAN DASAR DI INDONESIA

KEBIJAKAN PEMERINTAH TENTANG PELAKSANAAN HAK ATAS PENDIDIKAN DASAR DI INDONESIA KEBIJAKAN PEMERINTAH TENTANG PELAKSANAAN HAK ATAS PENDIDIKAN DASAR DI INDONESIA Prof. Suyanto, Ph.D. Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANTUL, Menimbang : bahwa dalam mewujudkan masyarakat Bantul

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN Sesuai dengan amanat Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Kubu Raya Tahun 2009-2029, bahwa RPJMD

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 23 SERI E

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 23 SERI E LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2013 NOMOR 23 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG PENDIDIKAN MUATAN LOKAL KABUPATEN BANJARNEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

WALIKOTA MAKASSAR PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN WALIKOTA MAKASSAR NOMOR 8 TAHUN 2017 TENTANG KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA MAKASSAR PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN WALIKOTA MAKASSAR NOMOR 8 TAHUN 2017 TENTANG KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MAKASSAR PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN WALIKOTA MAKASSAR NOMOR 8 TAHUN 2017 TENTANG KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MAKASSAR, Menimbang : a. bahwa program kepemudaan

Lebih terperinci

REVIEW UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

REVIEW UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL REVIEW UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL Faridah T, S.Pd., M.Pd. NIP.19651216 198903 2 012 Widyaiswara LPMP Sulawesi Selatan LEMBAGA PENJAMINAN MUTU

Lebih terperinci

BAB III VISI, MISI DAN NILAI

BAB III VISI, MISI DAN NILAI BAB III VISI, MISI DAN NILAI VISI PEMBANGUNAN KABUPATEN SIAK Dalam suatu institusi pemerintahan modern, perumusan visi dalam pelaksanaan pembangunan mempunyai arti yang sangat penting mengingat semakin

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN V.1. Visi Menuju Surabaya Lebih Baik merupakan kata yang memiliki makna strategis dan cerminan aspirasi masyarakat yang ingin perubahan sesuai dengan kebutuhan, keinginan,

Lebih terperinci

BUPATI BANGKA TENGAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI BANGKA TENGAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI BANGKA TENGAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1. VISI Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Sawahlunto Tahun 2013-2018, adalah rencana pelaksanaan tahap ketiga (2013-2018) dari Rencana Pembangunan Jangka

Lebih terperinci

PEDOMAN PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

PEDOMAN PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2014 TENTANG KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN PEDOMAN PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BUPATI PURBALINGGA PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 25 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI PURBALINGGA PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 25 TAHUN 2013 TENTANG BUPATI PURBALINGGA PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 25 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 3 PURBALINGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA

Lebih terperinci

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun LPMP Sulawesi Selatan

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun LPMP Sulawesi Selatan LPMP SULSEL, 2016 1 KATA PENGANTAR P uji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-nya, telah menyelesaikan Laporan Akuntabilitas Kinerja Tahun 2016. Laporan ini merupakan

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN. Visi Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013-

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN. Visi Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013- BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1. Visi 2017 adalah : Visi Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2013- ACEH TAMIANG SEJAHTERA DAN MADANI MELALUI PENINGKATAN PRASARANA DAN SARANA

Lebih terperinci

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG GERAKAN NASIONAL REVOLUSI MENTAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG GERAKAN NASIONAL REVOLUSI MENTAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG GERAKAN NASIONAL REVOLUSI MENTAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka memperbaiki dan membangun karakter bangsa Indonesia dengan melaksanakan

Lebih terperinci

VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN

VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN 2013 2018 Visi Terwujudnya Kudus Yang Semakin Sejahtera Visi tersebut mengandung kata kunci yang dapat diuraikan sebagai berikut: Semakin sejahtera mengandung makna lebih

Lebih terperinci

BAB II KEBIJAKAN PEMERINTAH KOTA SEMARANG

BAB II KEBIJAKAN PEMERINTAH KOTA SEMARANG BAB II KEBIJAKAN PEMERINTAH KOTA SEMARANG Untuk memberikan arahan pada pelaksanaan pembangunan daerah, maka daerah memiliki visi, misi serta prioritas yang terjabarkan dalam dokumen perencanaannya. Bagi

Lebih terperinci

1 ( atau

1  (  atau VISI - MISI JANGKA PANJANG DAERAH KABUPATEN SUMEDANG (Perda No. 2 Tahun 2008 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Tahun 2005-2025) 1.1. VISI DAERAH Berdasarkan kondisi sampai dengan

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN Visi pembangunan daerah dalam RPJMD adalah visi Kepala daerah dan wakil kepala daerah terpilih yang disampaikan pada waktu pemilihan kepala daerah (pilkada). Visi Kepala

Lebih terperinci

Disampaikan Dalam Kegiatan Diseminasi Aplikasi SAK BLU 2015 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa - Banten di The Royale Krakatau Hotel - Cilegon

Disampaikan Dalam Kegiatan Diseminasi Aplikasi SAK BLU 2015 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa - Banten di The Royale Krakatau Hotel - Cilegon ARAH DAN SASARAN PEMBINAAN PENGELOLAAN APBN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN RISTEK DAN DIKTI Oleh : Prof. Dr. Jamal Wiwoho, SH, M.Hum. Inspektur Jenderal Kemenristekdikti Disampaikan Dalam Kegiatan Diseminasi

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2013-2017 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS

Lebih terperinci

Gambar 1.1 Struktur Organisasi Kemdiknas

Gambar 1.1 Struktur Organisasi Kemdiknas BAB I PENDAHULUAN Sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia pasal 31, bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional untuk meningkatkan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komperhensif tentang bagaimana Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya melalui proses pembelajaran ataupun dengan cara lain yang

BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya melalui proses pembelajaran ataupun dengan cara lain yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran ataupun dengan cara lain yang dikenal dan diakui

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Dalam mencapai tujuan, setiap organisasi dipengaruhi oleh perilaku

I. PENDAHULUAN. Dalam mencapai tujuan, setiap organisasi dipengaruhi oleh perilaku I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam mencapai tujuan, setiap organisasi dipengaruhi oleh perilaku organisasi yang merupakan pencerminan dari perilaku dan sikap orang-orang yang terdapat dalam organisasi

Lebih terperinci

Arah Kebijakan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana

Arah Kebijakan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Arah Kebijakan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana Dr. Ir. Taufik Hanafi, MUP Staf Ahli Mendikbud Bidang Sosial dan Ekonomi Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Lebih terperinci

AYO KERJA, KAMI PASTI

AYO KERJA, KAMI PASTI KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA GERAKAN REVOLUSI MENTAL AYO KERJA, KAMI PASTI LATAR BELAKANG 1. Menindaklanjuti Hasil Rapat Koordinasi Perencanaan Penganggaran pada tanggal 10-13

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA TAHUN 2013-2017 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIJUNJUNG NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SIJUNJUNG TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIJUNJUNG NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SIJUNJUNG TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIJUNJUNG NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SIJUNJUNG TAHUN 2010-2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIJUNJUNG, Menimbang

Lebih terperinci

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu tersusunnya Buku Program Kerja ini.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu tersusunnya Buku Program Kerja ini. Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Pengasih, karena berkat rahmat dan karunia-nya kami dapat menyajikan Buku Program Kerja Direktorat Pembinaan SMA Tahun Anggaran 2016. Buku ini memuat

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1 Visi Visi sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, khususnya dalam Pasal 1, angka 12 disebutkankan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Pemerintah kabupaten dan kota di

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Pemerintah kabupaten dan kota di BAB I PENDAHULUAN Pada bab pendahuluan ini, peneliti akan membahas tentang: 1) latar belakang; 2) fokus penelitian; 3) rumusan masalah; 4) tujuan penelitian; 5) manfaat penelitian; dan 6) penegasan istilah.

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1. Visi Terwujudnya Masyarakat Bengkulu Utara yang Mandiri, Maju, dan Bermartabat Visi pembangunan Kabupaten Bengkulu Utara Tahun 2011-2016 tersebut di atas sebagai

Lebih terperinci

KEBIJAKAN DAN PROGRAM KERJA KEMENRISTEKDIKTI 2018

KEBIJAKAN DAN PROGRAM KERJA KEMENRISTEKDIKTI 2018 KEBIJAKAN DAN PROGRAM KERJA KEMENRISTEKDIKTI 2018 Bandung, 11 Januari 2018 Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi 1 A. Program Kerja 2018 2 Visi-Misi Pembangunan 2015-2019 VISI : Terwujudnya

Lebih terperinci

2013, No.71 2 Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 T

2013, No.71 2 Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 T LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.71, 2013 PENDIDIKAN. Standar Nasional Pendidikan. Warga Negara. Masyarakat. Pemerintah. Perubahan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Lebih terperinci

BAB V VISI DAN MISI RPJMD KABUPATEN SIJUNJUNG TAHUN

BAB V VISI DAN MISI RPJMD KABUPATEN SIJUNJUNG TAHUN BAB V VISI DAN MISI Secara Nasional, isu strategis yang telah dirumuskan pada RPJM nasionaldalam sembilan agenda prioritas dan dikenal dengan Nawa Cita adalah sebagai berikut: 1. Menghadirkan kembali Negara

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN OLEH SATUAN PENDIDIKAN NONFORMAL

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN OLEH SATUAN PENDIDIKAN NONFORMAL SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN OLEH SATUAN PENDIDIKAN NONFORMAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PROGRAM PRIORITAS PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

PROGRAM PRIORITAS PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH PROGRAM PRIORITAS PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH Prof. Suyanto, Ph.D. Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional 1 Tahapan

Lebih terperinci

Pendidikan Vokasi Bercirikan Keunggulan Lokal Oleh: Istanto W. Djatmiko Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta

Pendidikan Vokasi Bercirikan Keunggulan Lokal Oleh: Istanto W. Djatmiko Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Pendidikan Vokasi Bercirikan Keunggulan Lokal Oleh: Istanto W. Djatmiko Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Peran Kebudayaan dalam Pembangunan Pendidikan Berkelanjutan Salah satu fungsi pendidikan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa dengan telah ditetapkannya

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN DAERAH

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN DAERAH BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN DAERAH 5.1 VISI DAN MISI KOTA CIMAHI. Sesuai dengan ketentuan yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional,

Lebih terperinci

PELAYANAN INFORMASI PUBLIK

PELAYANAN INFORMASI PUBLIK KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM REPUBLIK INDONESIA UNIT PELAYANAN INFORMASI PUBLIK PPID RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) PELAYANAN INFORMASI PUBLIK BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Salah satu prasyarat penting

Lebih terperinci

BAB I LANDASAN KURIKULUM AL-ISLAM, KEMUHAMMADIYAHAN DAN BAHASA ARAB DENGAN PARADIGMA INTEGRATIF-HOLISTIK

BAB I LANDASAN KURIKULUM AL-ISLAM, KEMUHAMMADIYAHAN DAN BAHASA ARAB DENGAN PARADIGMA INTEGRATIF-HOLISTIK BAB I LANDASAN KURIKULUM AL-ISLAM, KEMUHAMMADIYAHAN DAN BAHASA ARAB DENGAN PARADIGMA INTEGRATIF-HOLISTIK A. Latar Belakang Pemikiran Indonesia merupakan negara kepulauan dengan keragamannya yang terdapat

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN V.1. Visi Menuju Surabaya Lebih Baik merupakan kata yang memiliki makna strategis dan cerminan aspirasi masyarakat yang ingin perubahan sesuai dengan kebutuhan, keinginan,

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA CIREBON

LEMBARAN DAERAH KOTA CIREBON LEMBARAN DAERAH KOTA CIREBON NOMOR 3 SERI E TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KOTA CIREBON NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG KEPEMUDAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA CIREBON, Menimbang Mengingat : a. bahwa

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. menengah.

KATA PENGANTAR. menengah. KATA PENGANTAR Sesuai dengan amanat Undang Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, Kementerian Pendidikan

Lebih terperinci

BAB III ISU ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI BAPPEDA KABUPATEN LAHAT

BAB III ISU ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI BAPPEDA KABUPATEN LAHAT ISU ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI BAPPEDA KABUPATEN LAHAT 3.1. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI PELAYANAN BAPPEDA KABUPATEN LAHAT Sumber daya Bappeda Kabupaten Lahat

Lebih terperinci

TERWUJUDNYA MASYARAKAT MADANI DAN SEJAHTERA YANG MENERAPKAN NILAI-NILAI DINUL ISLAM

TERWUJUDNYA MASYARAKAT MADANI DAN SEJAHTERA YANG MENERAPKAN NILAI-NILAI DINUL ISLAM BAB IV VISI DAN MISI BAB IV VISI DAN MISI Untuk menyelenggarakan pembangunan jangka panjang Kabupaten Aceh Tamiang, perlu dikembangkan suatu kredo atau arahan bagi penyelenggaraan sistem pembangunan agar

Lebih terperinci

BAB V. Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Banjarbaru Tahun Visi

BAB V. Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Banjarbaru Tahun Visi BAB V Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran 5.1 Visi Visi merupakan arah pembangunan atau kondisi masa depan daerah yang ingin dicapai dalam 5 (lima) tahun mendatang (clarity of direction). Visi juga menjawab

Lebih terperinci

KEBIJAKAN MUTU INTERNAL SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI PADANG TAHUN

KEBIJAKAN MUTU INTERNAL SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI PADANG TAHUN KEBIJAKAN MUTU INTERNAL SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI PADANG TAHUN 2014-2019 A. Pendahuluan A.1 Latar Belakang Sesuai dengan visi dan misi, Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi (STIFARM) Padang terus berupaya berperan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

2016, No Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahu

2016, No Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahu No.793, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENAKER. Tata Laksana. Penataan. PERATURAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2016 TENTANG PENATAAN TATALAKSANA KEMENTERIAN KETENAGAKERJAAN

Lebih terperinci