FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESULITAN MENGINGAT DAN KONSENTRASI PADA USIA LANJUT DI INDONESIA TAHUN 2004

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESULITAN MENGINGAT DAN KONSENTRASI PADA USIA LANJUT DI INDONESIA TAHUN 2004"

Transkripsi

1 FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESULITAN MENGINGAT DAN KONSENTRASI PADA USIA LANJUT DI INDONESIA TAHUN 2004 Analisis Data Survei Sosial Ekonomi Nasional dan Data SDKI Tahun 2004 Faiza Yuniati, S.Pd, MKM ), *Muchlis Riza, SKM, M.Kes 2) ),2) Dosen Poltekkes Palembang Abstrak Meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut Indonesia dari tahun ke tahun menyebabkan makin meningkatnya masalah sosial dan penyakit, baik penyakit fisik maupun mental yang berhubungan dengan usia lanjut. Salah satu gangguan mental yang sering dikeluhkan oleh usia lanjut adalah kesulitan mengingat dan konsentrasi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kesulitan mengingat dan konsentrasi pada usia lanjut di Indonesia. Data yang dipakai pada penelitian ini adalah data Survey Sosial Ekonomi Nasional yang terintegrasi dengan Survei Kesehatan Rumah Tangga Tahun Dari hasil diketahui bahwa prevalensi kesulitan mengingat dan konsentrasi di Indonesia adalah sebesar 2,5%. Diketahui bahwa faktor-faktor yang berhubungan dengan kesulitan mengingat dan konsentrasi adalah umur, kesulitan merawat diri sendiri, tingkat keparahan perasaan sedih, rendah diri dan tertekan, kesulitan melaksanakan aktivitas sosial, pendidikan, status perkawinan serta kebiasaan mengkonsumsi buah dan sayur. Kata Kunci: Usia Lanjut, Kesulitan Mengingat dan konsentrasi, pre-demensia Abstract Elderly population increases from year to year in Indonesia, and has caused many social problems in elderly, physical diseases and also mental diseases. One of the mental diseases in elderly is Subjective complaints of memory and concentration. The goal of this research is to uncover the factors correlate with Subjective Complaints of Memory and Concentration in Indonesian elder people using a quantitative research with cross sectional design. Data resources in this research is a data of National Social Economic Survey integrated with Family Health Survey, year The result shown that prevalence of subjective complaints of memory and concentration is 2,5 %, known that factors correlate with subjective complaint of memory and concentration is age, disability in activity daily living, low self esteem and depression, disability in social activity, education, marital status, and behavior in consume fruits and vegetables. Key Word: Elderly, Subjective Memory Complain, pre-demensia

2 Pendahuluan Jumlah penduduk usia lanjut Indonesia pada tahun 2000 menurut Badan Pusat Statistik mencapai 7, persen dari total penduduk ( jiwa), atau mencapai jiwa, tahun 2003 menjadi 6,2 juta jiwa dan tahun 2004 mengalami peningkatan menjadi 6,5 juta jiwa. Menurut perkiraan dari United State Buraeau of Census 993, populasi usia lanjut di Indonesia antara tahun akan naik 44% (Depkes & Kessos, 200), suatu angka tertinggi di seluruh dunia. Depkes RI memperkirakan tahun jumlah usia lanjut akan menyamai jumlah balita yaitu sekitar 8,5% dari jumlah seluruh penduduk Indonesia atau sekitar 9 juta jiwa. Berdasarkan survei Depkes RI tahun 2002 gangguan mental pada usia tahun mencapai 7,9% dan usia di atas 65 tahun sebesar 2,3%. Gangguan mental yang banyak terjadi pada usia lanjut adalah penurunan fungsi kognitif yaitu kesulitan mengingat (Subjective Memory Complain/SMC) Bila tidak ditindaklanjuti dengan baik akan berkembang menjadi gangguan dengan tingkat yang lebih parah menyebabkan berbagai masalah di tiap aspek kehidupan. Pasien dengan gangguan kognitif berat rata-rata lama hari rawat sebesar 0,4 hari dan menyebabkan perbedaan biaya perkapita 4000 $ lebih tinggi dibanding pasien tanpa gangguan kognitif yang mempunyai rata-rata lama hari rawat hanya 6,5 hari. Sebesar 7 juta jiwa usia lanjut di rawat oleh orang lain yaitu pasangannya, anak atau teman karib. Mereka merawat dan memenuhi kebutuhan usia lanjut tanpa di bayar. Namun jika digantikan oleh petugas yang mendapat bayaran maka negara harus mengeluarkan dana sebesar $45-75 billion pertahun (National Alliance: 997). Mengingat besarnya dampak baik bagi usia lanjut, keluarga atau negara jika masalah kogntif tidak disikapi dengan tepat dan serius, maka deteksi dini masalah tersebut harus ditingkatkan. Perlu diketahui faktor-faktor sosiodemografi yang berhubungan dengan terjadinya kesulitan mengingat dan konsentrasi pada usia lanjut, sehingga upaya pencegahan gangguan fungsi kognitif secara efektif dan efisien ditujukan pada usia lanjut yang mempunyai resiko.

3 Tujuan umum: Mendapatkan informasi mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan kesulitan mengingat dan konsentrasi pada usia lanjut di Indonesia. Tujuan Khusus:. Diperoleh informasi mengenai prevalensi keluhan subyektif kesulitan mengingat dan konsentrasi pada usia lanjut di Indonesia. 2. Diperoleh informasi mengenai deskriptif karakteristik usia lanjut di Indonesia. 3. Diperoleh informasi mengenai: Faktor-faktor yang berhubungan dengan kesulitan mengingat dan konsentrasi pada usia lanjut di Indonesia. Kerangka Konsep Penelitian Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi potong lintang (Cross Sectional). Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Tahun 2004 dan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Tahun Sampel yang diambil pada penelitian ini adalah total sampel pada SKRT dengan kriteria umur 60 tahun ke atas dan terintegrasi dengan sampel Susenas yaitu sebanyak 00 orang. Analisis penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis multivariabel regresi logistik. Hasil Penelitian Dan Pembahasan Univariabel Pada analisis univariabel diketahui bahwa usia lanjut yang mengeluh sulit dan sangat sulit mengingat adalah sebesar 2,5% seperti terlihat pada tabel. Department of Health and Human Services U.S (999) mengestimasi kejadian SMC antara 50-80% pada usia lanjut. Menurut Euroderm (99) prevalensi gangguan fungsi kognitif di negara berkembang lebih rendah dari pada di negara maju (Finlandia 76,3%, Brazil 59%, Perancis 33,5%

4 dan Swedia 33%). Laporan Susenas tahun 2004, sebesar 2,5% kelompok usia lanjut Indonesia di atas 60 tahun (rata-rata umur 68,8 tahun) mengeluh sulit dan sangat sulit dalam mengingat dan konsentrasi, dan sebesar 3% untuk kelompok umur 5 tahun ke atas. Angka ini jika dibandingkan dengan prevalensi di negara lain masih jauh lebih rendah. Prevalensi SMC yang lebih rendah ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal yaitu: a. Jenis pertanyaan atau kuesioner yang digunakan untuk menggali keluhan subyektif gangguan memori berbeda, baik dari teks pertanyaannya ataupun jenis kuesioner itu sendiri (memory complaints questionnaire atau self report Questionnaire) b. Ada perbedaan pengklasifikasian jawaban responden ( ya, tidak, ringan, sedang, sulit dan sangat sulit). c. Kelompok responden berbeda di tinjau dari segi umur. Secara teoritis semakin bertambah umur semakin besar kemungkinan terjadi penurunan fungsi kognitif (NIH, 2002) d. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan informasi yang lebih luas mengenai kepedulian dan kewaspadaan usia lanjut terhadap gangguan kognitif menyebabkan tingkat persepsi diri yang lebih baik sehingga dapat menjaring angka kejadian SMC.dibanding dengan negara berkembang seperti Indonesia yang tingkat kepedulian dan kewaspadaan akan penurunan fungsi konitifnya masih rendah, sehingga kesulitan mengingat dan konsentrasi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari tidak disadari sebagai suatu gangguan atau bahkan dianggap sebagai suatu yang normal. Keluhan subyektif gangguan memori sebenarnya tidak dapat langsung di identifikasi melalui kuesioner/pertanyaan yang berisi laporan/keluhan spontan subjek akan gangguan memori (self report Questionnaire), dan hal ini sering dilakukan oleh para ahli pada prakteknya sehari-hari. Keluhan gangguan memori/penurunan fungsi kognitif akan lebih bermakna dengan menggunakan kuesioner/pertanyaan yang langsung mengarah pada masalah gangguan memori (direct questioner about memory problem/ memory complaint questionnaire

5 (Mac-Q), sebelum dilakukan tes obyektif gangguan memori. Tabel. Distribusi Usia Lanjut Menurut Tingkat Kesulitan Mengingat/konsentrasi Indonesia, Susenas 2004 Analisis Bivariabel Pada analisis bivariabel terlihat hubungan SMC dengan variabel bebas lainnya (Tabel 2). Tabel 2 Hubungan Variabel Bebas dengan Keluhan Kesulitan Mengingat dan Konsentrasi Pada Usia Lanjut di Indonesia, Susenas 2004 Kesulitan mengingat/konsentrasi Tdk ada, Sulit, sgt sulit ringan, sdg Total Nilai P OR 95%CI Variabel bebas n % n % n Umur : th , , , th 67 78,82 8 2,8 85 2,4,29 4,5 8 th 55 73, , ,40,88 6,6 Jenis k. : Perempuan ,38 8 4, ,052 Laki-laki ,6 44 9, ,66 0,43,00 Merawat diri : Tidak masalah, rng,sdg , , ,000 Sulit dan sangat sulit 23 49, , ,40 4,98 7,73 Sedih,tertekan: Tidak masalah, rng,sdg , , ,000 Sulit dan sangat sulit 26 49, , ,68 4,9 4,07

6 Aktivitas sosial: Tidak masalah, rng,sdg , , ,000 Sulit dan sangat sulit 27 43, ,45 62,07 6,4-9,94 Pendidikan : Tidak punya ijazah , , ,007 SD 224 9, , ,53 0,3 0,90 SMP 99 92,52 8 7, ,38 0,8 0,80 Status kawin : Kawin ,66 5 9, ,002 Belum kawin 4 93,33 6,67 5 0,50 0,06 4,00 Cerai ,4 73 6, ,00,33 3,0 Tempat tinggal: Kota 36 9,07 3 8, ,22 Desa , ,37 654,44 0,9 2,30 Ekonomi : <Rp ,7 69 4, ,60 Rp ,45 4, ,87 0,57 34 Rp ,80 5 9, ,75 0,4,38 >Rp Merokok : Ya, tiap hari 20 90,9 2 9, ,340 Ya, kadang-kadang 42 84,00 8 6,00 50,79 0,70 4,58 Tidak, sebelumnya 95 88,79 2,2 07,35 0,6 2,98 pernah , ,70 63,60 0,95 2,69 Tidak pernah Konsumsi buah : >3 porsi/mgg ,5 26 9, ,06 0-0,49 porsi/mgg , ,0 408,7,00 2,9 0,5 3 porsi/mgg ,40 37,60 39,05 0,59,87 Konsumsi sayur : 0, , , , , , ,67 45,92 0,82 4, , , ,74 0,48,2

7 Aktivitas kerja: Bekerja , , ,07 Tidak bekerja ,0 83 4,90 557,68,0 2,58 Olah raga jalan kaki: 3x/minggu ,74 5 0, ,079 <3x/mgg atau tdk jalan , ,68 504,47 0,96 2,27 kaki Analisis Multivariabel Tahap awal analisis multivariabel dengan melakukan seleksi kandidat variabel bebas untuk dapat masuk dalam model. Seleksi kandidat variabel bebas berdasarkan kriteria nilai P<0,25 terdapat pada Tabel 3. Tabel 3. Seleksi Variabel Bebas Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kesulitan Mengingat dan Konsentrasi pada Usia Lanjut di Indonesia, Susenas 2004 Variabel Koefisien Standar Odds G (Chi) Nilai P Error Ratio Umur (76-80 th) Umur ( 8 th) Jenis kelamin (lakilaki) Sulit merawat diri Rendah diri, tertekan Kesulitan fungsi sosial Pendidikan SD Pendidikan SMP Belum kawin 0,880,225-0,46 2,240 2,038 2,404-0,633-0,956-0,69 0,692 0,367 0,38 0,302 0,24 0,323 0,308 0,300 0,269 0,376,057 0,209 0,237 2,4 3,403 0,660 9,395 7,678,068 0,53 0,384 0,50,998,444 23,204 5,67 77,63 75,732 6,898 8,086 2,92 6,38 0,006 0,000 0,052 0,000 0,000 0,000 0,09 0,0 0,54 0,00 0,22

8 Cerai Daerah pedesaan 0,53 0,29 0,329 0,3,66,338 3,325 0,532 0,35 Pengeluaran (450-0,583 0,479,79 3,99 0, rb) 0,297 0,404,346 0,463 Pengeluaran ( 900rb) Kadang merokok Pernah merokok 0,467 0,536 0,05 0,265 0,29 0,27,595,708,053 5,224 0,079 0,860 0,049 Tidak pernah 0,652 0,435,99 2,60 0,35 merokok -0,307 0,23 0,736 0,49 Tidak konsumsi buah Konsumsi buah ( 3 0,52 0,387 0,28 0,22,684,473 6,695 4,476 0,07 0,080 prs) Tidak konsumsi sayur Konsumsi syr (>7 porsi) Tidak bekerja Jalan kaki <3x/mgg Keterangan: Variabel yang dicetak tebal adalah variabel yang masuk dalam analisis lanjut. Analisis multivariabel dilakukan dengan menggunakan metode backward selection, yaitu dengan memasukkan semua variabel bebas yang memenuhi kriteria kedalam regresi logistik, kemudian dikeluarkan satu persatu dimulai dari nilai P yang terbesar kemudian dinilai besar perubahan odds ratio. Bila besar perubahan odds ratio variabel-variabel bebas lainnya lebih dari 0%, maka variabel yang dikeluarkan tersebut tetap masuk dalam analisis lanjut, dan sebaliknya bila besar perubahan odds ratio kurang dari 0% maka variabel tersebut tidak diikutkan dalam analisis lanjut. Hasil akhir regresi logistik multivariabel sebelum uji interaksi dapat dilihat pada tabel 4.

9 Tabel 4. Hasil Akhir Analisis Regresi Logistik Multivariabel Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kesulitan Mengingat dan Konsentrasi Pada Usia Lanjut di Indonesia, Susenas 2004 Variabel bebas Umur (60-75 th) Umur (76-80 th Umur (>80 th) Koef, 0,579 0,482 Standar Error 0,654 0,7044 t,58, P>t 0,5 0,268 Odds Ratio,78,62 95% CI 0,869 3,663 0,690 3,803 Sulit merawat diri,025,305 2,9 0,029 2,78,0 6,99 Rendah diri, tertekan,395,756 3,2 0,00 4,03,77 9,485 Kesulitan fungsi sosial,60,907 4,22 0,000 5,00 2,366 0,575 Tidak punya ijazah - Pendidikan SD -0,438 0,202 -,4 0,6 0,64 0,349,9 Pendidikan SMP -0,670 0,27 -,58 0,5 0,5 0,222,78 Kawin Belum kawin -0,669 0,52-0,66 0,5 0,5 0,070 3,775 Cerai 0,462 0,377,94 0,052,58 0,995 2,532 Konsumsi buah >3 porsi Tidak konsumsi buah 0,249 0,377 0,85 0,397,28 0,720 2,285 Konsumsi buah ( 3 prs) -0,255 0,246-0,8 0,42 0,77 0,45,445 Konsumsi sayur 7 porsi Tidak konsumsi sayur 0,722,029,44 0,49 2,05 0,77 5,496 Konsumsi sayur (>7 prs) -0,72 0,203-0,7 0,477 0,84 0,524,353 Konstanta -2,544 Faktor-faktor yang berhubungan dengan kesulitan mengingat dan konsentrasi.. Hubungan umur dengan kesulitan mengingat dan konsentrasi di Indonesia Rata-rata umur usia lanjut pada penelitian ini adalah sebesar 68,8 tahun. Kelompok umur tahun memiliki jumlah paling banyak yaitu sebesar 84,02%. Hubungan umur dengan kejadian kesulitan mengingat dan konsentrasi pada usia lanjut mempunyai hubungan bermakna. Usia lanjut lebih dari 80 tahun berisiko lebih besar untuk mengalami kesulitan mengingat dan konsentrasi, yaitu 3,40 kali dibanding kelompok umur tahun. Semakin bertambah usia, makin besar risiko terjadinya kesulitan

10 mengingat dan konsentrasi yang artinya makin besar kemungkinan terjadi penurunan fungsi kognitif. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Bassett et.al (993) bahwa frekuensi SMC meningkat linier pada usia lanjut diatas 65 tahun. bertambahnya umur merupakan faktor risiko mayor terjadinya penurunan fungsi kognitif karena otak mengalami beberapa perubahan (NIH,2002). Terbentuknya plaq di sekitar area otak menyebabkan sel mitokondria otak lebih mudah rusak dan berpengaruh juga terhadap terjadinya peningkatan inflamasi (Katzman, 992). Namun bila di kontrol dengan variabel bebas lain dalam analisis multivariabel maka risiko untuk mengalami kesulitan mengingat dan konsentrasi lebih besar pada usia lanjut berumur tahun yaitu,78 kali (95%CI=0,86-3,66 dibanding kelompok umur tahun) dari pada usia lanjut berumur di atas 80 tahun (OR=,62; 95% CI=0,64-3,80 dibandingkan umur tahun). Walaupun perbedaan ini tidak begitu besar namun hal ini mungkin disebabkan, penduduk usia lanjut yang telah mencapai umur di atas 80 tahun mempunyai fungsi ketahanan hidup dan adaptasi yang lebih baik dibandingkan usia tahun, baik ketahanan fisik maupun mental. Pengalaman dan pendidikan yang diperoleh semasa hidup dapat memberikan pengajaran yang berarti dalam mengatasi permasalahan, menatalaksana stress dengan baik, lebih bijaksana menjalani kehidupan. Dengan bertambahnya usia, walaupun kesehatan fisik mulai menurun, bila psikologis sehat dapat memberi efek pencegahan terhadap gangguan mental seperti gangguan kognitif kesulitan mengingat dan konsentrasi. 2. Hubungan kesulitan merawat diri dengan kesulitan mengingat dan konsentrasi. Terdapat hubungan bermakna antara kesulitan merawat diri dengan kesulitan mengingat dan konsentrasi pada usia lanjut. Dalam analisis multivariabel diketahui bahwa usia lanjut dengan kesulitan merawat diri, berisiko untuk mengalami kesulitan mengingat dan konsentrasi sebesar 2,78 (95% CI :, 6,99) dibanding usia lanjut tanpa kesulitan merawat diri atau hanya mengalami kesulitan ringan/sedang. Aktivitas fisik seharihari, pada banyak penelitian telah ditemukan sebagai faktor protektif melawan terjadinya gangguan fungsi

11 kognitif (Flicker, et.al:2005 ; Abbott, et.al:2004;weuve,et.al:2004).studi longitudinal 2 tahun di Inggris oleh Jagger et.al menunjukkan bahwa ketergantungan dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang merefleksikan gangguan atau kesulitan dalam melakukan aktivitas tersebut, berisiko terhadap terjadinya gangguan fungsi kognitif sebesar 3,4 kali di banding individu yang tidak mengalami gangguan. Kegiatan merawat diri sendiri seperti mandi, berpakaian, BAB/BAK, menggosok gigi, makan dan ambulation, merupakan kemampuan dasar yang seharusnya dapat dilakukan oleh orang yang sehat. Demikian juga kemampuan aktivitas sehari-hari yang lebih tinggi tingkatannya (membaca, menulis,memasak,membersihkan lingkungan,belanja dll. Dibentuknya Pusat Pelayanan Usia Lanjut oleh pemerintah (day care, psychogeriatric service) merupakan sarana yang tepat untuk memberi kesempatan bagi usila mendapatkan konseling tentang kemampuan fisiknya terutama dalam melakukan aktivitas sehari-hari. 3. Hubungan perasaan sedih, rendah diri dan tertekan dengan kesulitan mengingat dan konsentrasi Terdapat hubungan bermakna antara tingkat keparahan perasaan sedih, rendah diri dan tertekan dengan kesulitan mengingat dan konsentrasi pada usia lanjut. Usia lanjut dengan perasaan sedih, rendah diri atau tertekan dengan tingkat keparahan berat dan sangat berat, berisiko untuk mengalami kesulitan mengingat dan konsentrasi sebesar 4,03 (95% CI :,7 9,48) dibanding usia lanjut yang tidak mengalami masalah psikologis tersebut atau bermasalah dengan tingkat ringan dan sedang. Penelitian ini menunjukkan bahwa masalah psikologis (perasaan sedih, rendah diri dan tertekan) yang berat dan sangat berat merupakan faktor risiko terjadinya keluhan mengingat dan konsentrasi.hal ini sejalan dengan penelitian Michael & Norman (996) yang didapat hubungan signifikan antara perasaan rendah diri atau tertekan dengan total keluhan subyektif gangguan memori (pada usila berumur rata-rata 70 th). Perasaan sedih dan pola pikir yang terganggu jika berlangsung dalam waktu yang lama dan

12 mengakibatkan perubahan pola hidup dapat berindikasi pada depresi. Depresi bukan hanya gangguan pada perasaan tapi juga pikiran, kemauan, pola tidur dan rasa percaya diri. Pada tingkat lanjut keadaan ini akan menyebabkan perubahan fungsi kognitif dan sosial (Linda, 2006). Selain itu tingginya tingkat hormon stres juga dapat menyebabkan penyusutan daerah otak yang akan mempengaruhi area critical untuk fungsi kognitif sehingga berlanjut dengan terjadinya gangguan memori dan lebih parah lagi adanya gangguan kognitif (Sciencedaily, 2006). 4. Hubungan kesulitan melaksanakan fungsi sosial dengan kesulitan mengingat dan konsentrasi. Usia lanjut yang mengalami kesulitan dalam beraktivitas sosial, berisiko untuk mengalami kesulitan mengingat dan konsentrasi sebesar 5,00 (95% CI: 2,36 0,57) dibanding usia lanjut tanpa kesulitan beraktivitas. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa usia lanjut dengan aktivitas sosial yang lebih rendah berisiko 6, (95% CI:2,9 3,0) dibanding usia lanjut yang mempunyai tingkat aktivitas yang lebih tinggi (Elderly Health Service,2003). Aktivitas sosial merupakan tantangan komunikasi yang efektif dan tingkat partisipasi dalam hubungan interpersonal yang kompleks. Dukungan dan partisipasi sosial merupakan faktor pencegah penurunan fungsi kognitif pada usia lanjut (Christensen et.al, 996). Usia lanjut harus tetap dihargai sebagai personal yang masih dapat melakukan banyak hal, terutama dalam hubungan dengan masyarakat. Dukungan positif dari keluarga dan lingkungan terdekat merupakan faktor penguat bagi usia lanjut untuk tetap mempertahankan kemampuannya dalam aktivitas sosial. Keberadaan kelompok-kelompok usia lanjut yang ada dimasyarakat perlu mendapat dukungan positif dari pemerintah dan masyarakat 5. Hubungan pendidikan dengan kesulitan mengingat dan konsentrasi Penduduk usia lanjut Indonesia tahun 2004 sebagian besar tidak memiliki ijazah pendidikan formal (64,7%). Usia lanjut paling banyak hanya memiliki ijazah sekolah dasar (24,6%), dan hanya sebagian kecil

13 saja (0,7%) yang memiliki ijazah sekolah menengah pertama atau pendidikan formal lain diatasnya. Tingkat pendidikan seseorang berhubungan bermakna dengan kesulitan mengingat dan konsentrasi. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang di dapat, semakin berkurang risiko terjadinya kesulitan mengingat dan konsentrasi pada saat lanjut usia. Rocca (990) menyatakan bahwa terdapat hubungan terbalik antara pendidikan dan fungsi kognitif. Studi di Malaysia (Sidik, dkk : 2003) melaporkan bahwa usia lanjut tanpa pendidikan formal berisiko sebesar 8 kali (95% CI : 2,97 2,48) untuk mengalami penurunan fungsi kognitif. Menurut penelitian Coffey (999), pendidikan dapat menciptakan semacam lapisan penyangga yang melindungi dan mengkompensasi perubahan otak. Hal ini dibuktikan dengan meneliti struktur otak 320 orang berusia 66 tahun sampai 90 tahun yang tidak terkena kepikunan. Yang ditelitinya adalah volume cairan otak (Cerebrospinal fluid/csf). Coffey menemukan, semakin banyak pendidikan yang di kenyam seseorang, makin besar pula volume CSF yang dimilikinya. 6. Hubungan status perkawinan dengan kesulitan mengingat dan konsentrasi Penduduk usia lanjut yang banyak mengalami kesulitan mengingat dan konsentrasi adalah usia lanjut dengan status cerai, baik cerai mati atau cerai hidup (58,4%), dan kelompok ini berisiko mengalami kesulitan mengingat dan konsentrasi sebesar,58 (95% CI : 0,99 2,53) di banding kelompok usia lanjut dengan status kawin. Zaragoza studi (995) juga menunjukkan hasil penelitian yang sama yaitu gangguan memori lebih banyak terjadi pada usia lanjut dengan status cerai. Hal ini dimungkinkan karena telah berkurangnya dukungan sosial dan masalah kehilangan pasangan hidup. kerekatan Emosional (Emotional Attachment) merupakan jenis dukungan sosial yang memungkinkan seseorang memperoleh kedekatan emosional sehingga menimbulkan rasa aman bagi yang menerima. 7. Hubungan konsumsi buah dan sayur dengan kesulitan mengingat dan konsentrasi

14 Usia lanjut yang tidak mengkonsumsi sayuran berisiko sebesar 2,05 (95% CI : 0,77 5,49) untuk mengalami kesulitan mengingat dan konsentrasi di banding dengan yang mengkonsumsi 0,5-7 porsi/minggu. Konsumsi sayuran lebih dari 7 porsi/mgg memberi perlindungan terhadap terjadinya kesulitan mengingat dan konsentrasi sebesar 0,84 (95% CI: 0,52-,35) dibanding usia lanjut yang mengkonsumsi sayuran 0,5-7 porsi/minggu. Otak memerlukan suplai makanan yang cukup seperti vitamin dan asam amino untuk menjalankan fungsinya. Jika kadar cholesterol dan trigliserid tinggi di dalam darah maka dapat terjadi penurunan suplai nutrien ke otak Hal ini menyebabkan otak kekurangan makanan dan mempengaruhi fungsinya, antara lain kemampuan mengingat dan proses informasi. 8. Hubungan variabel bebas lain dengan kesulitan mengingat dan konsentrasi Hubungan Kesulitan mengingat dan konsenterasi dengan variabel bebas lainnya yaitu jenis kelamin, tempat tinggal, ekonomi, aktivitas kerja, kebiasaan merokok dan olah raga jalan kaki tidak mempunyai hubungan bermakna dalam analisis multivariabel Kesimpulan Dan Saran Kesimpulan. Prevalensi keluhan subyektif gangguan memori pada usia lanjut di Indonesia dengan menggunakan self report questioner sebesar 2,5%. Angka prevalensi ini masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan negaranegara lain yang menggunakan alat ukur memory complaints questionnaire. 2. Faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan subyektif gangguan kognitif pada usia lanjut adalah faktor umur, kesulitan merawat diri sendiri, tingkat keparahan perasaan sedih, rendah diri dan tertekan, kesulitan melaksanakan aktivitas sosial, pendidikan, status perkawinan, serta kebiasaan mengkonsumsi buah dan sayur. 3. Faktor jenis kelamin, daerah tempat tinggal, status ekonomi, kebiasaan merokok, aktivitas kerja

15 dan olah raga jalan kaki pada penelitian ini tidak berhubungan dengan kesulitan mengingat dan konsentrasi pada usia lanjut. Saran Untuk pembuat keputusan. Perlunya program penyuluhan dan konseling bagi masyarakat khususnya usia lanjut agar lebih peduli, waspada dan dapat melakukan evaluasi terhadap fungsi kognitifnya serta mampu mengambil keputusan yang tepat dalam mencari evaluasi dini sekaligus sebagai upaya preventif terhadap terjadinya gangguan kognitif tahap lanjut. 2. Perlu penelitian lanjut yang mengkaji lebih dalam tentang keluhan gangguan memori untuk memastikan prevalensi kejadian tersebut, serta faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap terjadinya keluhan gangguan memori pada usia lanjut. 3. Perlu penelitian lanjut yang mengkaji lebih dalam mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya risiko kesulitan mengingat dan konsentrasi pada penduduk berumur di atas 80 tahun dibanding penduduk usia lanjut yang lebih muda (76-80 tahun) 4. Departemen lainnya Perlunya kerja sama lintas sektoral dimana antar Lembaga/Departemen Pemerintahan, masyarakat dan Lembaga Swadaya Masyarakat bersama-sama melakukan upaya pencegahan terhadap gangguan fungsi kognitif pada usia lanjut. 5. Dalam survei nasional seperti Susenas dan SKRT memerlukan instrumen yang efektif dan efisien namun dapat mencapai sasaran, maka disarankan untuk menggunakan pertanyaan langsung yang ditujukan kepada masalah keluhan memori secara khusus (memory complaint questionnaire/ Mac-Q) bukan dengan pertanyaan keluhan spontan responden akan gangguan memori (self report questionnaire). Untuk masyarakat Usia lanjut. Disarankan untuk peduli dan waspada terhadap fungsi kognitif dan melakukan evaluasi dini bila dirasakan ada keluhan /gangguan

16 dengan melakukan cek rutin di pelayanan kesehatan terdekat. 2. Menatalaksana dengan baik halhal yang dapat mengurangi risiko terjadinya gangguan fungsi kognitif; Meningkatkan kemandirian dalam melakukan aktivitas sehari-hari terutama dalam merawat diri, menatalaksana stress dan rasa rendah diri, tetap mempertahankan aktivitas sosial dan bagi usia lanjut yang merokok di himbau untuk mengurangi jumlah rokok yang dihisap, walaupun nikotin dapat meningkatkan daya ingat dan konsentrasi tapi kerugiannya akan lebih besar daripada manfaat yang di dapat. 3. Meningkatkan konsumsi makanan berserat (sayur dan buah) sesuai dengan anjuran Pedoman Umum Gizi Seimbang yaitu 3-5 porsi sayuran/hari dan 2-4 porsi buah/hari. Keluarga Keluarga diharapkan dapat membantu dan memberikan dukungan mental yang baik agar usia lanjut yang mengalami penurunan fungsi kognitif dapat mengatasi masalah kognitif yang dihadapi supaya tidak bertambah parah, dan dapat mempertahankan kemampuan serta kemandiriannya semaksimal mungkin. Masyarakat Umum. Masyarakat turut mensukseskan program wajib belajar 9 tahun, karena pendidikan dapat mencegah terjadinya penurunan fungsi kognitif. 2. Tetap mengaktifkan dan mengembangkan kegiatan kelompok/ organisasi bagi usia lanjut, yang merupakan wadah bagi usila untuk melaksanakan fungsi sosial kemasyarakatan dan sebagai sarana pengaktualisasian diri. Institusi Kesehatan Pelayanan Kesehatan. Mempromosikan pengenalan dan deteksi dini terhadap gangguan fungsi kognitif kepada masyarakat luas 2. Mempermudah pemeriksaan dan deteksi dini tersebut dari segi prosedur dan biaya. Pendidikan Kesehatan Institusi pendidikan kesehatan disarankan untuk memasukkan bahasan usia lanjut dan permasalahannya terutama gangguan fungsi kognitif pada kurikulum sebagai

17 antisipasi masalah kesehatan di Indonesia. Daftar Pustaka American Psychiatric Association. Association Between Memory Complaints and Incident Alzheimer's Disease in Elderly People With Normal Baseline Cognition. Am J Psychiatry 56:53-537, April 999. American Family Physician. Do Memory Complaints Predict Alzheimer's Disease? August, 999 cles/ akses Mei 2006 Bassett SS, Folstein MF: Memory complaint, memory performance, and psychiatric diagnosis: a community study. J Geriatr Psychiatry Neurol 993; 6:05 Christensen H, Korten A, Jorm AF, Henderson AS, Scott R, Mackinnon AJ. Activity levels and cognitive functioning in an elderly community sample. Age Ageing 996, 25: Pedoman Puskesmas Santun Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan. Direktorat Bina Kesehatan Masyarakat. Direktorat Kesehatan Keluarga, Linda Ercoli; Prabha Siddarth; Sung- Cheng Huang; et al: Perceived Loss of Memory Ability and Cerebral Metabolic Decline in Persons With the Apolipoprotein E-IV Genetic Risk for Alzheimer Disease. Archives of General Psychiatry. Volume 63: April, 2006, pages UCLA Press release. National Institutes of health. The Search For Alzheimers s Disease Preventive Strategis. America, Michael W. Collins., Norman Abeles, Michigan State University. Subjective Memory Complaints and Depression in the Able Elderly. the journal of aging and mental health, vol 6. publilkasi 27 Mei 996. Departemen Kesehatan, R.I. Pedoman Pembinaan kesehatan Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan. Direktorat Kesehatan keluarga. Jakarta, Edisi ke VI, Pedoman Pengenalan Dini Demensia (Kepikunan). Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat, 2002

GAYA HIDUP DAN STATUS GIZI SERTA HUBUNGANNYA DENGAN HIPERTENSI DAN DIABETES MELITUS PADA PRIA DAN WANITA DEWASA DI DKI JAKARTA SITI NURYATI

GAYA HIDUP DAN STATUS GIZI SERTA HUBUNGANNYA DENGAN HIPERTENSI DAN DIABETES MELITUS PADA PRIA DAN WANITA DEWASA DI DKI JAKARTA SITI NURYATI 49 GAYA HIDUP DAN STATUS GIZI SERTA HUBUNGANNYA DENGAN HIPERTENSI DAN DIABETES MELITUS PADA PRIA DAN WANITA DEWASA DI DKI JAKARTA SITI NURYATI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 50

Lebih terperinci

The Association between Social Functions and Quality of Life among Elderly in Denpasar

The Association between Social Functions and Quality of Life among Elderly in Denpasar Laporan hasil penelitian Hubungan antara Fungsi Sosial dengan Kualitas Hidup Lanjut Usia di Kota Denpasar Nandini Parahita Supraba 1,2, N.P Widarini 2,3, L. Seri Ani 2,4 1 Akademi Kebidanan Bina Husada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. termasuk Indonesia. The United Nation telah memprediksikan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. termasuk Indonesia. The United Nation telah memprediksikan bahwa 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peningkatan jumlah lanjut usia dihadapi oleh negara- negara di dunia, termasuk Indonesia. The United Nation telah memprediksikan bahwa beberapa wilayah di Indonesia

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Proporsi penduduk dunia berusia 60 tahun ke atas tumbuh lebih

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Proporsi penduduk dunia berusia 60 tahun ke atas tumbuh lebih BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Proporsi penduduk dunia berusia 60 tahun ke atas tumbuh lebih cepat kelompok usia lainnya. Antara tahun 1970 dan 2025 pertumbuhan penduduk lanjut usia (lansia) di dunia

Lebih terperinci

METODE. Tabel 5 Pengkategorian variabel penelitian Variabel

METODE. Tabel 5 Pengkategorian variabel penelitian Variabel 104 METODE Sumber Data, Disain, Cara Pengambilan Sampel, Waktu dan Tempat Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari hasil Riskesdas 2007. Riskesdas 2007 menggunakan disain penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. semakin berkembangnya anggapan bahwa menjadi tua itu identik dengan semakin

BAB I PENDAHULUAN. semakin berkembangnya anggapan bahwa menjadi tua itu identik dengan semakin BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sering kali keberadaan lanjut usia dipersepsikan secara negatif, dianggap sebagai beban keluarga dan masyarakat sekitarnya. Kenyataan ini mendorong semakin berkembangnya

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT DEPRESI DENGAN KEMANDIRIAN DALAM ACTIVITY of DAILY LIVING (ADL) PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT DEPRESI DENGAN KEMANDIRIAN DALAM ACTIVITY of DAILY LIVING (ADL) PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI HUBUNGAN ANTARA TINGKAT DEPRESI DENGAN KEMANDIRIAN DALAM ACTIVITY of DAILY LIVING (ADL) PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan

Lebih terperinci

BAB 5 HASIL PENELITIAN. 5.1 Gambaran Umum Pemberian ASI Eksklusif Di Indonesia

BAB 5 HASIL PENELITIAN. 5.1 Gambaran Umum Pemberian ASI Eksklusif Di Indonesia BAB 5 HASIL PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Pemberian ASI Eksklusif Di Indonesia Berdasarkan laporan Biro Pusat Statistik (2008), pada hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menunjukkan

Lebih terperinci

PREVALENSI PENYAKIT HIPERTENSI PENDUDUK DIINDONESIA DAN FAKTOR YANG BERISIKO

PREVALENSI PENYAKIT HIPERTENSI PENDUDUK DIINDONESIA DAN FAKTOR YANG BERISIKO PREVALENSI PENYAKIT HIPERTENSI PENDUDUK DIINDONESIA DAN FAKTOR YANG BERISIKO Sarwanto, Lestari Kanti Wilujeng, dan Rukmini*) ABSTRACT Background: The analysis of hypertension prevalence for Indonesia citizen

Lebih terperinci

Jurnal Farmasi Andalas Vol 1 (1) April 2013 ISSN :

Jurnal Farmasi Andalas Vol 1 (1) April 2013 ISSN : Jurnal Farmasi Andalas Vol 1 (1) April 2013 ISSN : 2302-8254 Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Pasien HIV/AIDS di Poliklinik Khusus Rawat Jalan Bagian Penyakit Dalam RSUP dr. M. Djamil Padang

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 68 PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan kesehatan di Indonesia saat ini dihadapkan pada dua masalah ganda (double burden). Disamping masalah penyakit menular dan kurang gizi, terjadi pula peningkatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demensia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat. Demensia akan mengganggu kegiatan sehari-hari lansia maupun hubungan sosial lansia dengan lingkungannya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Aktivitas fisik merupakan salah satu aktivitas yang didapatkan dari adanya pergerakan tubuh manusia.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Aktivitas fisik merupakan salah satu aktivitas yang didapatkan dari adanya pergerakan tubuh manusia. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Aktivitas fisik merupakan salah satu aktivitas yang didapatkan dari adanya pergerakan tubuh manusia. Aktivitas ini memenuhi semua kehidupan manusia. Menurut WHO (2010),

Lebih terperinci

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 53 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Faktor-faktor risiko hipertensi pada pria berdasarkan nilai odds ratio (OR) tertinggi ke terendah adalah: 1.1. Konsumsi minuman alkohol jenis tradisional berisiko

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit degeneratif yang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit degeneratif yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit degeneratif yang banyak diderita oleh penduduk dunia dan hingga saat ini belum ditemukan pengobatan yang efektif

Lebih terperinci

EFEKTIFITAS STRATEGI UPSTREAM TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU HIDUP SEHAT GIGI MELALUI KONSELING PADA SISWA/I KELAS I SDN 12 PONTIANAK KOTA

EFEKTIFITAS STRATEGI UPSTREAM TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU HIDUP SEHAT GIGI MELALUI KONSELING PADA SISWA/I KELAS I SDN 12 PONTIANAK KOTA EFEKTIFITAS STRATEGI UPSTREAM TERHADAP PERUBAHAN PERILAKU HIDUP SEHAT GIGI MELALUI KONSELING PADA SISWA/I KELAS I SDN 12 PONTIANAK KOTA Asmaul Husna 1 dan Budi Suryana 2 1,2 Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masalah ganda (Double Burden). Disamping masalah penyakit menular dan

BAB I PENDAHULUAN. masalah ganda (Double Burden). Disamping masalah penyakit menular dan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan di Indonesian saat ini dihadapkan pada dua masalah ganda (Double Burden). Disamping masalah penyakit menular dan kekurangan gizi terjadi pula

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia yang berusia 60 tahun (Badan Pusat Statistik, 2015). Menurut WHO

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia yang berusia 60 tahun (Badan Pusat Statistik, 2015). Menurut WHO BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lanjut usia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Lansia merupakan suatu proses alami yang di tentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Semua orang akan mengalami proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. cukup besar. Di samping populasi yang terus meningkat, Indonesia juga

BAB I PENDAHULUAN. cukup besar. Di samping populasi yang terus meningkat, Indonesia juga BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang dengan populasi penduduk yang cukup besar. Di samping populasi yang terus meningkat, Indonesia juga mengalami peningkatan angka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jumlahnya terus meningkat. World Health Organization (WHO) di Kabupaten Gunungkidul DIY tercatat 1262 orang terhitung dari bulan

BAB I PENDAHULUAN. jumlahnya terus meningkat. World Health Organization (WHO) di Kabupaten Gunungkidul DIY tercatat 1262 orang terhitung dari bulan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes melitus merupakan masalah kesehatan di Indonesia karena jumlahnya terus meningkat. World Health Organization (WHO) memperkirakan jumlah penderita diabetes melitus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang terkadang menimbulkan masalah sosial, tetapi bukanlah suatu penyakit

BAB I PENDAHULUAN. yang terkadang menimbulkan masalah sosial, tetapi bukanlah suatu penyakit BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lanjut usia (lansia) adalah seseorang dengan usia 65 tahun atau lebih yang terkadang menimbulkan masalah sosial, tetapi bukanlah suatu penyakit melainkan suatu proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Berdasarkan data United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP) tahun 2011 menyebutkan bahwa, jumlah penduduk lanjut usia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Jepang 129%, Jerman 66%, dan Swedia 33% (Depkes,2003). Indonesia termasuk salah satu negara Asia yang pertumbuhan penduduk

BAB I PENDAHULUAN. Jepang 129%, Jerman 66%, dan Swedia 33% (Depkes,2003). Indonesia termasuk salah satu negara Asia yang pertumbuhan penduduk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jumlah penduduk lansia (lanjut usia) Indonesia pada tahun 2025 dibandingkan dengan keadaan pada tahun 1990 akan mengalami kenaikan sebesar 414% dan hal ini merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sedih bagi individu maupun anggota keluarga yang dapat menimbulkan. depresi. Depresi merupakan penyakit atau gangguan mental yang

BAB I PENDAHULUAN. sedih bagi individu maupun anggota keluarga yang dapat menimbulkan. depresi. Depresi merupakan penyakit atau gangguan mental yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Gangguan kesehatan dapat menimbulkan perasaan cemas dan sedih bagi individu maupun anggota keluarga yang dapat menimbulkan depresi. Depresi merupakan penyakit atau gangguan

Lebih terperinci

Kata Kunci : Tingkat Pendidikan, Pendapatan, Persepsi, Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan.

Kata Kunci : Tingkat Pendidikan, Pendapatan, Persepsi, Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan. HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN, PENDAPATAN, PERSEPSI KEPALA KELUARGA DENGAN PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TIKALA BARU KOTA MANADO Riyadi Kurniawan Agus*. Ardiansa A.T Tucunan*.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Meskipun terdapat larangan untuk merokok di tempat umum, namun perokok

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Meskipun terdapat larangan untuk merokok di tempat umum, namun perokok BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rokok merupakan zat adiktif yang dapat membahayakan kesehatan individu atau masyarakat yang mengkonsumsinya. Merokok dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan adalah keadaan sehat baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pembangunan

Lebih terperinci

ANALISA DETERMINAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT TUBERKULOSIS (TBC) DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO

ANALISA DETERMINAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT TUBERKULOSIS (TBC) DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO ANALISA DETERMINAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT TUBERKULOSIS (TBC) DI RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO Aan Sunani, Ratifah Academy Of Midwifery YLPP Purwokerto Program Study of D3 Nursing Poltekkes

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pada abad ini. Dijelaskan oleh WHO, di dunia penyakit tidak menular telah

BAB I PENDAHULUAN. pada abad ini. Dijelaskan oleh WHO, di dunia penyakit tidak menular telah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit tidak menular telah berkembang menjadi suatu permasalahan pada abad ini. Dijelaskan oleh WHO, di dunia penyakit tidak menular telah menyumbang 3 juta kematian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan adalah meningkatnya usia harapan hidup (UHH) yang. berdampak terhadap meningkatnya populasi Lanjut Usia (Lansia).

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan adalah meningkatnya usia harapan hidup (UHH) yang. berdampak terhadap meningkatnya populasi Lanjut Usia (Lansia). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu indikator keberhasilan pemerintah dalam pembangunan kesehatan adalah meningkatnya usia harapan hidup (UHH) yang berdampak terhadap meningkatnya populasi Lanjut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terjadi peningkatan secara cepat pada abad ke-21 ini, yang merupakan

BAB I PENDAHULUAN. terjadi peningkatan secara cepat pada abad ke-21 ini, yang merupakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Insidens dan prevalensi PTM (Penyakit Tidak Menular) diperkirakan terjadi peningkatan secara cepat pada abad ke-21 ini, yang merupakan tantangan utama masalah kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembentukan cairan empedu, dinding sel, vitamin dan hormon-hormon tertentu, seperti hormon seks dan lainnya (Gondosari, 2010).

BAB I PENDAHULUAN. pembentukan cairan empedu, dinding sel, vitamin dan hormon-hormon tertentu, seperti hormon seks dan lainnya (Gondosari, 2010). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kolesterol merupakan konstituen utama membrane plasma dan lipoprotein plasma. Senyawa ini sering ditemukan sebagai ester kolesteril, dengan gugus hidroksil di posisi

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR RESIKO KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK SITI FATIMAH KOTA MAKASSAR

ANALISIS FAKTOR RESIKO KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK SITI FATIMAH KOTA MAKASSAR ANALISIS FAKTOR RESIKO KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK SITI FATIMAH KOTA MAKASSAR Ningsih Jaya 1 1 Jurusan Keperawatan, Politeknik Kesehatan, Makassar ABSTRACT Latar Belakang:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Depkes RI (2007 dalam Nastiti, 2012) menjelaskan bahwa Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Depkes RI (2007 dalam Nastiti, 2012) menjelaskan bahwa Indonesia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Depkes RI (2007 dalam Nastiti, 2012) menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang saat ini sedang mengalami masa peralihan, dari masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sederhana dan mudah dilakukan pengukurannya. Tekanan darah. penyakit gangguan hemodinamik dalam sistem kardiovaskuler

BAB I PENDAHULUAN. sederhana dan mudah dilakukan pengukurannya. Tekanan darah. penyakit gangguan hemodinamik dalam sistem kardiovaskuler BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tekanan darah merupakan salah satu parameter hemodinamik yang sederhana dan mudah dilakukan pengukurannya. Tekanan darah menggambarkan situasi hemodinamik seseorang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kesejahteraan penduduk saat ini diketahui menyebabkan peningkatan usia harapan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kesejahteraan penduduk saat ini diketahui menyebabkan peningkatan usia harapan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Meningkatnya berbagai fasilitas dan pelayanan kesehatan serta kesejahteraan penduduk saat ini diketahui menyebabkan peningkatan usia harapan hidup (UHH) yang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari 38 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Karakteristik Lokasi Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari yang merupakan salah satu rumah sakit umum milik pemerintah Kabupaten

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa tua merupakan masa paling akhir dari siklus kehidupan manusia, dalam masa ini akan terjadi proses penuaan atau aging yang merupakan suatu proses yang dinamis sebagai

Lebih terperinci

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Higienitas Pasien Skabies di Puskesmas Panti Tahun 2014

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Higienitas Pasien Skabies di Puskesmas Panti Tahun 2014 Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Higienitas Pasien Skabies di Puskesmas Panti Tahun 2014 (Factors Related to Hygiene of Scabies Patients in Panti Primary Health Care 2014) Ika Sriwinarti, Wiwien Sugih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terutama di bidang kesehatan berdampak pada penurunan angka kelahiran,

BAB I PENDAHULUAN. terutama di bidang kesehatan berdampak pada penurunan angka kelahiran, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan pembangunan sumberdaya manusia di Indonesia, terutama di bidang kesehatan berdampak pada penurunan angka kelahiran, penurunan kematian bayi, penurunan fertilitas

Lebih terperinci

PATH ANALYSIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEDIAAN SUAMI SEBAGAI AKSEPTOR VASEKTOMI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SANDEN BANTUL YOGYAKARTA TESIS

PATH ANALYSIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEDIAAN SUAMI SEBAGAI AKSEPTOR VASEKTOMI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SANDEN BANTUL YOGYAKARTA TESIS PATH ANALYSIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEDIAAN SUAMI SEBAGAI AKSEPTOR VASEKTOMI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SANDEN BANTUL YOGYAKARTA TESIS Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Stroke masih merupakan masalah kesehatan yang utama. Di dunia, stroke

BAB I PENDAHULUAN. Stroke masih merupakan masalah kesehatan yang utama. Di dunia, stroke BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stroke adalah sindrom yang terdiri dari tanda dan/atau gejala hilangnya fungsi sistem saraf pusat fokal (atau global) yang berkembang cepat (dalam detik atau menit).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG. masyarakat industri banyak memberikan andil. terhadap perubahan gaya hidup yang pada gilirannya

BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG. masyarakat industri banyak memberikan andil. terhadap perubahan gaya hidup yang pada gilirannya BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Perubahan pola struktur masyarakat agraris ke masyarakat industri banyak memberikan andil terhadap perubahan gaya hidup yang pada gilirannya dapat memacu semakin meningkatnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Seseorang mulai memasuki tahap lanjut usia dimulai saat memasuki usia 60

BAB I PENDAHULUAN. Seseorang mulai memasuki tahap lanjut usia dimulai saat memasuki usia 60 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penuaan merupakan tahap akhir siklus kehidupan dari perkembangan normal yang akan dialami individu dan tidak dapat dihindari (Sutikno, 2011). Seseorang mulai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terus menerus mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari data WHO

BAB I PENDAHULUAN. terus menerus mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari data WHO BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hipertensi merupakan penyakit degeneratif yang menjadi salah satu penyebab kematian di dunia. Penderita hipertensi setiap tahunnya terus menerus mengalami peningkatan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Amerika Serikat (Rahayu, 2000). Berdasarkan data American. hipertensi mengalami peningkatan sebesar 46%.

BAB I PENDAHULUAN. Amerika Serikat (Rahayu, 2000). Berdasarkan data American. hipertensi mengalami peningkatan sebesar 46%. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang masalah Penyakit hipertensi merupakan penyakit nomor satu di Amerika Serikat (Rahayu, 2000). Berdasarkan data American Heart Association (2001) terjadi peningkatan

Lebih terperinci

Kata kunci : asap rokok, batuk kronik, anak, dokter praktek swasta

Kata kunci : asap rokok, batuk kronik, anak, dokter praktek swasta ABSTRAK HUBUNGAN ANTARA PAPARAN ASAP ROKOK DENGAN ANGKA KEJADIAN BATUK KRONIK PADA ANAK YANG BEROBAT KE SEORANG DOKTER PRAKTEK SWASTA PERIODE SEPTEMBER OKTOBER 2011 Devlin Alfiana, 2011. Pembimbing I :

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. mobilitas, perawatan diri sendiri, interaksi sosial atau aktivitas sehari-hari. (1)

BAB 1 : PENDAHULUAN. mobilitas, perawatan diri sendiri, interaksi sosial atau aktivitas sehari-hari. (1) BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fungsi kognitif merupakan bagian dari fungsi kortikal luhur, dimana pengetahuan fungsi kognitif luhur mengaitkan tingkah laku manusia dengan sistem saraf. Fungsi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke merupakan adanya gangguan aliran darah ke otak baik merupakan penyumbatan atau perdarahan pada otak yang mengelola bagian tubuh yang kehilangan fungsi (Cahyono,

Lebih terperinci

Angka Kejadian dan Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe 2 di 78 RT Kotamadya Palembang Tahun 2010

Angka Kejadian dan Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe 2 di 78 RT Kotamadya Palembang Tahun 2010 MKS, Th.46. No. 2, April 2014 Angka Kejadian dan Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe 2 di 78 RT Kotamadya Palembang Tahun 2010 R.M. Suryadi Tjekyan Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perubahan era globalisasi saat ini telah. memberikan dampak peningkatan urbanisasi dan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perubahan era globalisasi saat ini telah. memberikan dampak peningkatan urbanisasi dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perubahan era globalisasi saat ini telah memberikan dampak peningkatan urbanisasi dan industrialisasi di masyarakat. Perubahan masyarakat menjadi masyarakat industri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari. kesehatan dan Keadaan Sejahtera Badan, Jiwa dan Sosial yang

BAB I PENDAHULUAN. keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari. kesehatan dan Keadaan Sejahtera Badan, Jiwa dan Sosial yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut World Health Organization (WHO) kesehatan adalah keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat, juga dapat diukur

Lebih terperinci

WHO memperkirakan setiap tahun akan terdapat sekitar sembilan juta penderita baru TB paru dengan kematian sekitar tiga juta orang (Depkes, 2009)

WHO memperkirakan setiap tahun akan terdapat sekitar sembilan juta penderita baru TB paru dengan kematian sekitar tiga juta orang (Depkes, 2009) LATAR BELAKANG WHO memperkirakan setiap tahun akan terdapat sekitar sembilan juta penderita baru paru dengan kematian sekitar tiga juta orang (Depkes, 2009) Indonesia merupakan satu dari tiga negara yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. No.13 tahun 1998 pasal 1 ayat 2 tentang kesejahteraan lanjut usia dinyatakan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. No.13 tahun 1998 pasal 1 ayat 2 tentang kesejahteraan lanjut usia dinyatakan bahwa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembagunan kesehatan di Indonesia diarahkan pada peningkatan kualitas hidup manusia dan masyarakat termaksud usia lanjut. Berdasarkan undang-undang No.13 tahun 1998

Lebih terperinci

METODE. Desain, Waktu dan Tempat

METODE. Desain, Waktu dan Tempat Kerangka pemikiran dalam penelitian ini disusun berdasarkan rangkuman tinjauan teori yang ada, khususnya mengenai hubungan antara satu faktor risiko dengan faktor risiko lain yang berpengaruh terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Triple Burden Disease, yaitu suatu keadaan dimana : 2. Peningkatan kasus Penyakit Tidak Menular (PTM), yang merupakan penyakit

BAB I PENDAHULUAN. Triple Burden Disease, yaitu suatu keadaan dimana : 2. Peningkatan kasus Penyakit Tidak Menular (PTM), yang merupakan penyakit BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini dihadapkan pada beban Triple Burden Disease, yaitu suatu keadaan dimana : 1. Masalah penyakit menular masih merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dampak dari pembangunan di negara-negara sedang berkembang. sebagaimana juga hal ini terjadi di Indonesia, terutama di daerah Jawa

BAB I PENDAHULUAN. dampak dari pembangunan di negara-negara sedang berkembang. sebagaimana juga hal ini terjadi di Indonesia, terutama di daerah Jawa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemajuan dan perkembangan perekonomian adalah suatu dampak dari pembangunan di negara-negara sedang berkembang sebagaimana juga hal ini terjadi di Indonesia, terutama

Lebih terperinci

Sri Marisya Setiarni, Adi Heru Sutomo, Widodo Hariyono Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

Sri Marisya Setiarni, Adi Heru Sutomo, Widodo Hariyono Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta KES MAS ISSN : 1978-0575 HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN, STATUS EKONOMI DAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU PADA ORANG DEWASA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TUAN-TUAN KABUPATEN KETAPANG

Lebih terperinci

ANALISIS MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT DAERAH MADANI PROVINSI SULAWESI TENGAH. Aminuddin 1) Sugeng Adiono 2)

ANALISIS MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT DAERAH MADANI PROVINSI SULAWESI TENGAH. Aminuddin 1) Sugeng Adiono 2) ANALISIS MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT DAERAH MADANI PROVINSI SULAWESI TENGAH Aminuddin 1) Sugeng Adiono 2) Abstrak :Peranan tenaga kesehatan dalam penyelenggarraan pelayanan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Diskripsi Lokasi Penelitian RSUD Dr Moewardi Surakarta merupakan rumah sakit negeri kelas A yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut laporan World Health Organitation tahun 2014, kasus penularan

BAB I PENDAHULUAN. Menurut laporan World Health Organitation tahun 2014, kasus penularan BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Penyakit Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia. Menurut laporan World Health Organitation

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penduduk lansia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2025

BAB I PENDAHULUAN. penduduk lansia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2025 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di seluruh dunia pertumbuhan penduduk lansia umur 60 tahun ke atas sangat cepat, bahkan lebih cepat dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Semakin meningkatnya usia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah stunting masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Stunting pada balita bisa berakibat rendahnya produktivitas dan kualitas sumber daya manusia

Lebih terperinci

Lisda W. Longgupa 1) JIK Vol. I No.16 Mei 2014: e-issn:

Lisda W. Longgupa 1) JIK Vol. I No.16 Mei 2014: e-issn: Pengaruh Faktor Pengetahuan, Sikap dan Pelatihan Asuhan Persalinan Normal Pada Kinerja Bidan Dalam Pertolongan Persalinan Normal Suatu Studi Eksploratif di Kota Palu Propinsi Sulawesi Tengah Lisda W. Longgupa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lansia yaitu kelompok usia tahun yang disebut masa virilitas, 55-64

BAB I PENDAHULUAN. lansia yaitu kelompok usia tahun yang disebut masa virilitas, 55-64 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Populasi lanjut usia (lansia) adalah kemajuan bagi keberhasilan umat manusia dalam meningkatkan kesehatan dan keberhasilan masyarakat untuk perilaku hidup sehat.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bidang kesehatan gigi (Depkes RI, 2000). integral dari kesehatan secara keseluruhan yang memerlukan penanganan

BAB I PENDAHULUAN. bidang kesehatan gigi (Depkes RI, 2000). integral dari kesehatan secara keseluruhan yang memerlukan penanganan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan dirumuskan dalam visi dan misi Indonesia Sehat 2010. Usaha mewujudkan pembangunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lima tahun pada setiap tahunnya, sebanyak dua per tiga kematian tersebut

BAB I PENDAHULUAN. lima tahun pada setiap tahunnya, sebanyak dua per tiga kematian tersebut BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dikenal sebagai salah satu penyebab kematian utama pada bayi dan anak balita di negara berkembang. ISPA menyebabkan empat dari

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan pengetahuan keluarga yang baik dapat menurunkan angka prevalensi

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan pengetahuan keluarga yang baik dapat menurunkan angka prevalensi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keluarga sebagai unit terkecil masyarakat diharapkan mengetahui risiko dan pencegahan dari penyakit DM, pengetahuan keluarga tentang risiko DM yang baik contohnya

Lebih terperinci

KONTRIBUSI PELAYANAN GIZI RUMAH SAKIT

KONTRIBUSI PELAYANAN GIZI RUMAH SAKIT KONTRIBUSI PELAYANAN GIZI RUMAH SAKIT DALAM MENINGKATKAN ANGKA KESEMBUHAN MENURUNKAN LAMA RAWAT RISIKO MATI, DAN BIAYA PERAWATAN DI RUMAH SAKIT FROM THE SARMILLA STUDY Ambhara, 13 Oktober 2010 Dr. Hamam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Gagal ginjal kronis (Chronic Renal Failure) adalah kerusakan ginjal progresif

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Gagal ginjal kronis (Chronic Renal Failure) adalah kerusakan ginjal progresif BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gagal ginjal kronis (Chronic Renal Failure) adalah kerusakan ginjal progresif yang berakibat fatal bagi tubuh, sehingga tubuh tidak mampu untuk mempertahankan keseimbangan

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP KELUARGA TERHADAP DIET HIPERTENSI PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RAWASARI KOTA JAMBI TAHUN 2014

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP KELUARGA TERHADAP DIET HIPERTENSI PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RAWASARI KOTA JAMBI TAHUN 2014 HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP KELUARGA TERHADAP DIET HIPERTENSI PADA LANSIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RAWASARI KOTA JAMBI TAHUN 2014 1 Gumarang, 2 Gita 1,2 Akademi Keperawatan Prima Jambi Korespondensi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang meresahkan adalah penyakit

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang meresahkan adalah penyakit BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang meresahkan adalah penyakit jantung dan pembuluh darah. Berdasarkan laporan WHO tahun 2005, dari 58 juta kematian di dunia,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN ISSN : Jul Tumbol 1, Telly Mamuaya 2, Fredrika N Losu 3. 1,2,3 Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Manado.

PENDAHULUAN ISSN : Jul Tumbol 1, Telly Mamuaya 2, Fredrika N Losu 3. 1,2,3 Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Manado. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Frekuensi Kunjungan Ibu Yang Memiliki Anak Balita Ke Posyandu Kelurahan Lewet Kecamatan Amurang Timur Kabupaten Minahasa Selatan Jul Tumbol 1, Telly Mamuaya 2, Fredrika

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam tesis ini merupakan data sekunder gabungan yang berasal dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2007 (Susenas 2007) dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini, penduduk dunia diperkirakan berjumlah sekitar 7 milyar,

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini, penduduk dunia diperkirakan berjumlah sekitar 7 milyar, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini, penduduk dunia diperkirakan berjumlah sekitar 7 milyar, meningkat dari sekitar 6.5 milyar di tahun 2006. Peningkatan jumlah penduduk tersebut diikuti dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang menderita asma hingga saat ini. Prevalensi asma di Indonesia tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang menderita asma hingga saat ini. Prevalensi asma di Indonesia tahun 2003 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada tahun 2013, WHO, (2013) memperkirakan terdapat 235 juta orang yang menderita asma hingga saat ini. Prevalensi asma di Indonesia tahun 2003 berdasarkan hasil survei

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan retrovirus RNA yang dapat menyebabkan penyakit klinis, yang kita kenal sebagai Acquired Immunodeficiency

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. secara Nation Wide mengingat prevalensinya cukup tinggi umumnya sebagian

BAB I PENDAHULUAN. secara Nation Wide mengingat prevalensinya cukup tinggi umumnya sebagian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dimasa mendatang masalah penyakit tidak menular akan menjadi perioritas masalah kesehatan di indonesia, salah satu masalah tersebut adalah masalah hipertensi. Hipertensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan degenerasi organ tubuh yang dipengaruhi gaya hidup. Gaya

BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan degenerasi organ tubuh yang dipengaruhi gaya hidup. Gaya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit degeneratif adalah penyakit yang sulit untuk diperbaiki yang ditandai dengan degenerasi organ tubuh yang dipengaruhi gaya hidup. Gaya hidup sehat menggambarkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. adalah perokok pasif. Bila tidak ditindaklanjuti, angka mortalitas dan morbiditas

I. PENDAHULUAN. adalah perokok pasif. Bila tidak ditindaklanjuti, angka mortalitas dan morbiditas 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rokok telah membunuh 50 persen pemakainya, hampir membunuh enam juta orang setiap tahunnya yang merupakan bekas perokok dan 600.000 diantaranya adalah perokok

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Jumlah penduduk lansia semakin meningkat dari tahun ke tahun diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai

Lebih terperinci

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DIABETES MELLITUS TIPE 2 PADA ORANG DEWASA DI KOTA PADANG PANJANG TAHUN 2011 OLEH:

FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DIABETES MELLITUS TIPE 2 PADA ORANG DEWASA DI KOTA PADANG PANJANG TAHUN 2011 OLEH: FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DIABETES MELLITUS TIPE 2 PADA ORANG DEWASA DI KOTA PADANG PANJANG TAHUN 2011 OLEH: RORO UTAMI ADININGSIH No BP : 0910335075 PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata Kunci: Karakteristik Umum Responden, Perilaku Mencuci Tangan, Diare, Balita

ABSTRAK. Kata Kunci: Karakteristik Umum Responden, Perilaku Mencuci Tangan, Diare, Balita ABSTRAK GAMBARAN PERILAKU MENCUCI TANGAN PADAPENDERITA DIARE DI DESA KINTAMANI KABUPATEN BANGLI BALI TAHUN 2015 Steven Awyono Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Diare masih merupakan penyebab kematian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. telah meningkatkan kualitas hidup manusia dan menjadikan rata-rata umur

BAB I PENDAHULUAN. telah meningkatkan kualitas hidup manusia dan menjadikan rata-rata umur 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keberhasilan dalam bidang peningkatan dan pencegahan penyakit telah meningkatkan kualitas hidup manusia dan menjadikan rata-rata umur harapan hidup meningkat

Lebih terperinci

UNIVERSITAS UDAYANA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN EFEK SAMPING PENGGUNAAN KONTRASEPSI IUD DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MENGWI II

UNIVERSITAS UDAYANA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN EFEK SAMPING PENGGUNAAN KONTRASEPSI IUD DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MENGWI II UNIVERSITAS UDAYANA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN EFEK SAMPING PENGGUNAAN KONTRASEPSI IUD DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MENGWI II NI PUTU ENIK ERNAWATI PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS

Lebih terperinci

BEBERAPA FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PRIMER PADA SUPIR TRUK

BEBERAPA FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PRIMER PADA SUPIR TRUK BEBERAPA FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PRIMER PADA SUPIR TRUK Melly Mustikasari 1) Korneliani dan vianti 2) Mahasiswi Fakultas Ilmu Kesehatan Peminatan Epidemiologi dan Penyakit

Lebih terperinci

Ulfa Miftachur Rochmah. Mahasiswa S1 Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya

Ulfa Miftachur Rochmah. Mahasiswa S1 Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN, PENGETAHUAN, PENDAPATAN DAN JUMLAH ANAK TERHADAP KEIKUTSERTAAN KELUARGA BERENCANA (KB) DI KECAMATAN GONDANG KABUPATEN TULUNGAGUNG Ulfa Miftachur Rochmah Mahasiswa S1 Pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan diarahkan pada meningkatnya mutu SDM yang berkualitas. Salah

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan diarahkan pada meningkatnya mutu SDM yang berkualitas. Salah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) mengamanatkan bahwa pembangunan diarahkan pada meningkatnya mutu SDM yang berkualitas. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Kementrian

Lebih terperinci

Dewi Karwati 1) Nur lina, SKM, M.Kes dan Kiki Korneliani, SKM, M.Kes 2)

Dewi Karwati 1) Nur lina, SKM, M.Kes dan Kiki Korneliani, SKM, M.Kes 2) HUBUNGAN FREKUENSI KONSUMSI MAKANAN BERISIKO GASTRITIS DAN STRESS DENGAN KEJADIAN GASTRITIS PADA WANITA USIA 20-44 TAHUN YANG BEROBAT DI PUSKESMAS CILEMBANG TAHUN 2012 Dewi Karwati 1) Nur lina, SKM, M.Kes

Lebih terperinci

HUBUNGAN PERAN SERTA KADER POSYANDU DENGAN PERAWATAN HIPERTENSI PADA LANJUT USIA (LANSIA) DI DESA SALAMREJO SENTOLO KULON PROGO

HUBUNGAN PERAN SERTA KADER POSYANDU DENGAN PERAWATAN HIPERTENSI PADA LANJUT USIA (LANSIA) DI DESA SALAMREJO SENTOLO KULON PROGO 168 HUBUNGAN PERAN SERTA KADER POSYANDU DENGAN PERAWATAN HIPERTENSI PADA LANJUT USIA (LANSIA) DI DESA SALAMREJO SENTOLO KULON PROGO Sugiyanto 1 1 Universitas Aisyiyah Yogyakarta, Jalan Ring Road Barat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan yang ada di negara berkembang dan negara maju. Hal ini disebabkan karena masih tingginya

Lebih terperinci

Hubungan Pergaulan Teman Sebaya Terhadap Tindakan Merokok Siswa Sekolah Dasar Negeri Di Kecamatan Panjang Kota Bandar Lampung

Hubungan Pergaulan Teman Sebaya Terhadap Tindakan Merokok Siswa Sekolah Dasar Negeri Di Kecamatan Panjang Kota Bandar Lampung The Relation Of Socially With Friends Againts Act Of Smoking Elementary School Students In District Panjang Bandar Lampung Firdaus, E.D., Larasati, TA., Zuraida, R., Sukohar, A. Medical Faculty of Lampung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masa hidup manusia yang terakhir. Lanjut usia atau yang lazim disingkat

BAB I PENDAHULUAN. masa hidup manusia yang terakhir. Lanjut usia atau yang lazim disingkat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lanjut usia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Lansia merupakan suatu proses alami yang di tentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Semua orang akan mengalami proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta perbedaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta perbedaan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta perbedaan yang terjadi setiap daerah, banyak menyebabkan perubahan dalam segi kehidupan manusia baik fisik, mental,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sehingga hal ini masih menjadi permasalahan dalam kesehatan (Haustein &

BAB I PENDAHULUAN. sehingga hal ini masih menjadi permasalahan dalam kesehatan (Haustein & BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Merokok merupakan salah satu kebiasaan negatif manusia yang sudah lama dilakukan. Kebiasaan ini sering kali sulit dihentikan karena adanya efek ketergantungan yang ditimbulkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. usia tua di Indonesia akan mencapai 23,9 juta atau 9,77% dan usia harapan

BAB I PENDAHULUAN. usia tua di Indonesia akan mencapai 23,9 juta atau 9,77% dan usia harapan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penduduk Lanjut usia di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun, ini disebabkan karena meningkatnya usia harapan hidup. Pada tahun 1980 usia harapan hidup di Indonesia

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. diantaranya penyakit pada sistem kardiovaskular, penyakit pada sistem

I. PENDAHULUAN. diantaranya penyakit pada sistem kardiovaskular, penyakit pada sistem 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Merokok merupakan suatu masalah di dalam masyarakat yang dapat menimbulkan banyak kerugian baik dari segi sosial ekonomi maupun kesehatan bahkan kematian (Kemenkes RI,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki prioritas tertinggi dalam hirarki Maslow. Dimana seseorang memiliki

BAB I PENDAHULUAN. memiliki prioritas tertinggi dalam hirarki Maslow. Dimana seseorang memiliki 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tidur merupakan aktivitas yang dilakukan setiap hari dan juga salah stau kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Menurut Teori Hirarki Maslow tentang kebutuhan,

Lebih terperinci

PREVALENSI HIPERTENSI PADA PENDUDUK UMUR 30 TAHUN HINGGA 80 TAHUN DI KECAMATAN TEMBUKU BANGLI BALI TAHUN 2013

PREVALENSI HIPERTENSI PADA PENDUDUK UMUR 30 TAHUN HINGGA 80 TAHUN DI KECAMATAN TEMBUKU BANGLI BALI TAHUN 2013 PREVALENSI HIPERTENSI PADA PENDUDUK UMUR 30 TAHUN HINGGA 80 TAHUN DI KECAMATAN TEMBUKU BANGLI BALI TAHUN 2013 I Made Artha Wiguna Sanjaya Program Studi Pendidikan Dokter,Fakultas Kedokteran Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Merokok merupakan suatu hal yang tabu untuk ditinggalkan meski menimbulkan dampak serius bagi kesehatan. Peneliti sering menjumpai orang merokok di rumah, tempat umum

Lebih terperinci