METODE BIMBINGAN ISLAM BAGI LANJUT USIA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS IBADAH DI RUMAH PERLINDUNGAN LANJUT USIA JELAMBAR

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "METODE BIMBINGAN ISLAM BAGI LANJUT USIA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS IBADAH DI RUMAH PERLINDUNGAN LANJUT USIA JELAMBAR"

Transkripsi

1 METODE BIMBINGAN ISLAM BAGI LANJUT USIA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS IBADAH DI RUMAH PERLINDUNGAN LANJUT USIA JELAMBAR Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I) Oleh NUR APRIANTI NIM PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1432 H / 2011 M

2 METODE BIMBINGAN ISLAM BAGI LANJUT USIA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS IBADAH DI RUMAH PERLINDUNGAN LANJUT USIA JELAMBAR Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I) Oleh NUR APRIANTI NIM Pembimbing Prof. Dr. Hj. Ismah Salman, M. Hum NIP PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1432 H / 2011 M

3

4 ABSTRAK Nur Aprianti Metode Bimbingan Islam Bagi Lanjut Usia dalam Meningkatkan Kualitas Ibadah di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar. Permasalahan penyandang masalah kesejahteraan sosial semakin lama kian meningkat. Banyak yang menjadi penyebab mengapa semua itu bisa terjadi. Masalah PMKS memang sangat beragam mulai dari anak jalanan, pemulung, PSK, dan lanjut usia terlantar. Sungguh sangat memperhatinkan bila hal tersebut semakin lama kian meningkat. Salah satunya adalah permasalahan lansia. Yang mana lansia adalah orang tua dan fisiknya pun sudah mulai menurun. Perlu adanya perhatian yang lebih kepada mereka. Untuk itu tepat sekali jika pemerintah menyediakan tempat bagi golongan-golongan lansia terlantar. Pada masa lansia perlu adanya kekuatan yang lebih dalam meningkatkan kualitas ibadah. Karena ketika tua seseorang akan mulai memikirkan masa depannya di akhirat nanti. Seperti yang telah dilakukan oleh salah satu Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar yang terletak di Jln. Jelambar Selatan 11/10 Jelambar Jakarta Barat. Rumah perlindungan lanjut usia ini telah memberikan bimbingan Islam kepada lansia dengan metode yang secara khusus diberikan oleh pihak panti yang berupa memberikan jalan yang dapat mempermudah lansia untuk bisa meningkatkan kualitas ibadahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang proses pelaksanaan bimbingan Islam bagi lansia dalam meningkatkan kualitas ibadah dan metodemetode yang digunakan pada pelaksanaan bimbingan Islam bagi lansia dalam meningkatkan kualitas ibadahnya. Dimana bimbingan merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan supaya individu dapat memahami dirinya dan lingkungannya, dalam hal ini informan terdiri dari 3 pembimbing dan 3 lansia. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan penelitian kualitatif. Adapun pengumpulan data penelitiannya dilakukan dengan wawancara dan observasi yang diperoleh langsung dari sasaran penelitian berupa catatan, rekaman, dan data-data dari sumber yang terkait dengan penelitian. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa metode bimbingan Islam yang diberikan kepada lansia dalam meningkatkan kualitas ibadahnya, yaitu dengan metode individu, kelompok, dan psikoanalisis. Metode-metode lain pun digunakan sesuai dengan kondisi dan keadaan lansia. Dalam hal ini berarti dapat dikatakan bahwa pelaksanaan bimbingan Islam cukup baik dan lancar serta berdampak positif bagi lansia. Dan memang untuk meningkatkan kualitas ibadah lansia. i

5 KATA PENGANTAR Alhamdulillahirobbil alamin, segala puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena rahmat-nya penulis dapat menyelesaikan hasil karya tulis ini, sehingga terlaksana sesuai dengan harapan. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada junjungan kita yang ummi, Nabi Muhammad SAW, sang suri tauladan yang telah memberikan pembelajaran hidup yang begitu berharga bagi kita semua. Semoga curahan kebaikan selalu mengiringi keluarga, sahabat dan para pengikutnya hingga hari akhir kelak. Amin. Pada dasarnya dalam proses penulisan skripsi ini, penulis mengalami berbagai halangan dan rintangan, mulai dari persiapan, pelaksanaan penelitian sampai dengan penulisan skripsi ini. Akan tetapi dengan bantuan, dorongan, dan bimbingan dari berbagai pihak sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini sebagai syarat untuk mencapai gelar sarjana pada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Dan penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya terutama kepada: 1. Jajaran dekanat Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Yang terhormat Dr. H. Arief Subhan,MA selaku Dekan, Drs. H. Wahidin Saputra, MA selaku Pembantu Dekan bidang Akademik, Drs. H. Mahmud Jalal, MA selaku pembantu Dekan bid. Administrasi Umum, dan Drs. Study Rizal LK, MA selaku pembantu Dekan bidang Kemahasiswaan. ii

6 2. Dra. Rini Laili Prihatini, M.Si selaku ketua Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam yang telah banyak membantu kelancaran dalam skripsi penulis. 3. Drs. Sugiarto, MA selaku Sekretariat Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam. 4. Prof. Dr. Hj. Ismah Salman, M. Hum selaku dosen Pembimbing penulis yang telah membimbing penulis dengan penuh kesabaran, penulis mohon maaf jika selama bimbingan banyak merepotkan. 5. Drs. M. Lutfi, M. Ag, selaku Pembimbing Akademik Mahasiswa Bimbingan dan Penyuluhan Islam tahun Yang telah memberi arahan dan bimbingannya. 6. Seluruh Dosen pengajar Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi baik yang masih mengajar maupun yang sudah tidak mengajar. Yang telah memberikan Ilmu dan wawasan yang begitu banyak. 7. Ayahanda dan Ibunda tercinta, Bpk. Arifin dan Ibu Rohaeti yang selalu mendoakan penulis dalam menjalankan tugas skripsi ini, atas segala perhatian, kesabaran, dan semangat yang kalian berikan, mohon maaf jika penulis belum bisa memberikan yang terbaik. Akan tetapi, penulis akan berusaha untuk bisa lebih baik lagi. 8. Seluruh Staf dan karyawan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi atas kerja sama dan bantuannya selama penulis menyelesaikan skripsi ini. 9. Pimpinan dan Karyawan Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi iii

7 yang telah menyediakan buku dan fasilitas wi-fi untuk mendapatkan referensi dalam memperkaya skripsi ini. 10. Ibu Hj. Murni Dinsos DKI Jakarta, yang telah membantu penulis untuk bisa melaksanakan penelitian di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar. 11. Ibu Siti Murtofingah, S.AP yang telah membimbing penulis selama penelitian di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar. Dan kepada Ustadz Abdul Hakim, Bpk Suwarso dan Staf/ karyawan RPLU Jelambar yang telah membantu penulis dalam penelitian di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar. 12. Lansia RPLU Jelambar, kepada Bpk. Shaleh, Ibu Yuli, dan Bpk. Maman yang telah meluangkan waktunya untuk membantu penulis menyelesaikan skripsi ini. 13. Wahyudi yang telah banyak membantu dalam kelancaran skipsi ini, yang selalu setia menemani penulis dari awal penelitian sampai selesai atas doa, kesabaran, motivasi, dan semangatnya. 14. Adik tercinta Usniawati, Ayaturrokhman, dan M. Hafidz Fairuz Amrullah, yang telah membantu dan mendoakan penulis dalam perjalanan menyelesaikan skripsi ini. 15. Sahabat karib Melia, Ulfah, Najwa, Nova yang telah memberikan semangat, motivasi, dan berbagai masukan-masukan yang diberikan. Dan tumpangannya ke kostsan kalian. iv

8 16. Teman-teman seperjuangan BPI angkatan 2007, yang menjadi penyemangat penulis dan kesetiaannya selama ini. Semoga kedepannya kita bisa menjadi seseorang yang dibanggakan. Buat keke, wiwin, aida, indah, najwa, fina, yang sama-sama berjuang dalam menyelesaikan skripsi atas semangat dan kerja samanya bersama demi menyelesaikan skripsi. Akhirnya, penulis hanya dapat berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi diri penulis dan juga bagi pembaca umumnya. Sekali lagi penulis ucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu penulis. Semoga apa yang telah diberikan menjadi amal sholeh di sisi Allah SWT. Amin. Jakarta, 03 Mei 2011 Nur Aprianti v

9 DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... i ii DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... viii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Pembatasan dan Perumusan Masalah... 7 C. Tujuan dan Manfaat Penelitin... 8 D. Tinjaun Pustaka... 9 E. Metodologi Penelitian F. Sistematika Penulisan BAB II LANDASAN TEORI A. Bimbingan Islam 1. Pengertian Metode, Bimbingan, Islam Metode Bimbingan Islam Tujuan dan Fungsi Bimbingan Islam B. Ibadah 1. Pengertian Ibadah Pembagian Ibadah Kualitas Ibadah C. Lansia 1. Pengertian vi

10 2. Pembagian B III GAMBARAN UMUN RUMAH PERLINDUNGAN LANJUT USIA JELAMBAR A. Sejarah Berdirinya B. Visi, Misi, Fungsi, dan Tujuan C. Program Kerja dan Kegiatan D. Struktur Organisasi E. Sarana dan Prasarana BAB IV TEMUAN DAN ANALISIS A. Temuan 1. Pembimbing Terbimbing Metode Bimbingan B. Analisis Metode Bimbingan Islam 1. Metode Individu Metode Kelompok Metode Psikoanalisis BAB V PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN vii

11 DAFTAR TABEL Tabel 1 Jadwal Kegiatan harian warga binaan sosial Tabel 2 Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Kesejahteraan Sosial WBS viii

12 ix

13 x

14 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia dalam hidupnya, selalu ingin mendapatkan dan menikmati ketentraman batin, ketenangan hidup dan kebahagian diri. Hal tersebut merupakan tuntutan fisik maupun psikis, baik berasal dari internal maupun eksternal, dan manusia selalu berusaha mencarinya. Semua ini di sebabkan oleh bermacam-macam hambatan yang terjadi, yang merupakan problemaproblema kehidupan, sehingga banyak manusia yang tidak sanggup menghadapi dan menyelesaikan problema-problema itu dan akhirnya mengalami reaksi-reaksi fisiologis dan psikologis seperti cemas, gelisah, takut, merasa tidak puas dan merasa daya pikirnya menurun, hal inilah yang biasanya dialami oleh para lansia. Sepanjang rentang kehidupan, seseorang akan mengalami perubahan fisik dan psikologis. Dalam psikologi perkembangan disebutkan bahwa dalam diri manusia terjadi perubahan-perubahan fisik, bahkan sampai pada anggapan bahwa masa tua merupakan masa yang mudah dihinggapi segala penyakit dan akan mengalami kemunduran mental seperti menurunnya daya ingat, masa ini disebut dengan masa lansia. 1 Menurut Sarlito Wirawan Sarwono bahwa pada masa lansia, maka seseorang akan merasa kehilangan kesibukan, sekaligus merasa mulai tidak h Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, (Jakarta : Erlangga, 1998), Cet. Ke-5, 1

15 2 diperlukan lagi. Bertepatan dengan itu, anak-anak mulai menikah dan meninggalkan rumah. Badan mulai lemah dan tidak memungkinkan untuk berpergian jauh. Sebagai akibatnya, semangat mulai menurun, mudah dihinggapi penyakit dan segera akan mengalami kemunduran-kemunduran mental. Hal ini disebabkan oleh mundurnya fungsi-fungsi otak dan daya konsentrasi berkurang. 2 Masa lanjut usia adalah masa di mana semua orang berharap akan menjalani hidup dengan tenang, damai, serta menikmati masa pensiun bersama anak dan cucu tercinta dengan penuh kasih sayang. Pada kenyataannya tidak semua lanjut usia mendapatkannya. Berbagai persoalan hidup yang menimpa lanjut usia sepanjang hayatnya seperti merasa dirinya tidak berguna, kurang mendapat perhatian, merasa diasingkan, sehingga mereka berpikir bahwa dirinya tidak ada gunanya lagi dan hanya menjadi beban bagi orang disekelilingnya. 3 Pada usia senja ini, lazimnya sebagian besar manusia masih ingin memperoleh pengakuan kejayaan dan prestasi masa lalu yang pernah dicapainya. Pergulatan antara kejayaan dan ketidakberdayaan diri seperti itu merupakan situasi batin yang dialami manusia usia senja. Makin bertambah usia akan semakin tersiksa dirinya. Untuk mengatasi kendala psikologis seperti ini umumnya manusia usia lanjut ini menempuh berbagai jalan yang 2 Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi, (Jakarta:Bulan Bintang.2001), Cet ke-8, h Akhmadi, Permasalahan Lanjut Usia, artikel diakses pada 01 Mei 2011 dari

16 3 diperkirakan dapat meredam gejolak batinnya. 4 Di antara alternatif yang cenderung dipilih adalah ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan positif, baik dari segi agama, sosial, atau kesehatan. Sehingga dengan adanya banyak kegiatan yang positif memberikan kepercayaan yang penuh bahwa mereka masih bisa aktif dan berperan dalam hidupnya. Dan mereka pun harus bisa banyak bersyukur kepada Allah SWT karena di usia tua masih bisa diberikan kesehatan. Dan sudah seharusnya pada masa tua lansia bisa lebih meningkatkan amal ibadah mereka untuk bekal mereka di hari akhirat nantinya. Kehidupan keagamaan pada usia lanjut ini menurut hasil penelitian psikologi agama ternyata meningkat M. Argle mengutip sejumlah penelitian yang dikemukakan oleh Cavan yang mempelajari orang sampel berusia tahun. Temuan menunjukkan secara jelas kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan yang semakin meningkat pada umurumur ini. Sedangkan, pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat baru muncul sampai 100 persen setelah usia 90 tahun. 5 Dan dengan realitas yang ada maka pada masa tualah seseorang bisa lebih memfokuskan hidupnya untuk kehidupan akhirat dan bisa lebih meningkatkan amal ibadahnya. Karena pada masa tua apa lagi yang harus di cari kecuali bekal untuk di akhirat nanti. Dan secara garis besarnya ciri-ciri keberagamaan pada lansia adalah bahwa tingkat keberagamaan pada lansia sudah mulai mantap dan mulai timbul rasa takut kepada kematian yang h Ibid 5 Jalaluddin, Psikologi Agama, ( Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada.2007 ), Cet. ke-10,

17 4 meningkat sejalan dengan pertambahan usia lanjutnya. Dan dengan perasaan takutnya kepada kematian ini berdampak pada peningkatan pembentukan sikap keberagamaan dan kepercayaan terhadap kehidupan abadi (akhirat). 6 Untuk itulah perlu adanya kegiatan keagamaan yang dapat mendukung para lansia dalam meningkatkan amal ibadah mereka menjadi lebih baik lagi sesuai dengan ajaran Islam. Salah satunya adalah dengan adanya kegiatan Bimbingan Islam bagi Lansia. Dalam buku Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan (Konseling) Islam yang dikemukan oleh M. Lutfi, bimbingan adalah usaha membantu orang lain dengan mengungkapkan dan membangkitkan potensi yang dimilikinya. Sehingga dengan potensi itu, ia akan memiliki kemampuan untuk mengembangkan dirinya secara wajar dan optimal, yakni dengan cara memahami dirinya, mengenal lingkungannya, mengarahkan dirinya, mampu mengambil keputusan untuk hidupnya, dan dengannya ia akan dapat mewujudkan kehidupan yang baik, berguna, dan bermanfaat di masa kini dan masa yang akan datang. 7 Menurut Abu Ahmadi dalam bukunya yang berjudul Dasar-dasar Pendidikan Agama Islam, bahwa agama Islam adalah risalah yang disampaikan kepada Nabi sebagai petunjuk bagi manusia dan hukum-hukum sempurna untuk dipergunakan manusia dalam menyelenggarakan tata cara 6 Ibid., h M. Lutfi, Dasar-Dasar Bimbingan dan Penyuluhan (Konseling) Islam, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah 2008 ), h. 6.

18 5 hidup nyata serta mengatur hubungan dengan sesama dan tanggung jawab kepada Allah SWT. 8 Agama Islam adalah agama Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, untuk diteruskan kepada seluruh umat manusia di dunia yang mengandung ketentuan-ketentuan ibadah, yang menentukan proses berpikir, merasa berbuat, dan proses terbentuknya kata hati. Penulis menyimpulkan bahwa bimbingan Islam adalah segala usaha dan kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana, sebagai upaya kerja keras mendidik dan mengarahkan objek jamaah lanjut usia yang beragama Islam agar mereka mampu mengadakan perubahan, perbaikan, peningkatan, dan pengamalan-pengamalan terhadap ajaran Islam sesuai dengan tuntunan Al-Qur an dan Hadits, khususnya dalam hal menjalankan akidah dan ibadah, serta telah ada kesesuaian dengan hukum Islam yang berlaku umum. Dengan adanya kegiatan bimbingan Islam diharapkan para lansia dapat menjadi lebih baik akan pemahaman ibadahnya sehingga mereka dapat mempersiapkan sisa-sisa hari tua mereka dengan melaksanakan ibadahibadah yang akan menjadi bekal amalan mereka di hari akhirat nanti. Kegiatan bimbingan Islam bagi lansia juga diterapkan di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar. Bimbingan tersebut diberikan kepada lansia guna bisa meningkatkan kualitas ibadah lansia. Yang mungkin dari yang pengamalannya sudah mantap bisa lebih ditingkatkan lagi dan dari yang 8 Abu Ahmadi dan Noor Salimi, Dasar-dasar Penndidikan Agama Islam, ( Jakarta : Grafika Offset, 2004), Cet. ke-4, h. 4.

19 6 belum baik bisa menjadi baik. Dan dengan adanya bimbingan diharapkan dapat merubah adab dan tingkah laku yang buruk menjadi lebih baik. Yang mana tujuan pembimbing dengan adanya bimbingan adalah berupaya mengembalikan kembali lansia menjadi manusia yang mana dahulunya lansia hidup terlantar dan tidak dihargai dan bisa mendapatkan pengakuan dari banyak orang. Dengan keterbatasn yang dimiliki oleh lansia maka pembimbing berupaya memberikan cara yang mudah yang dapat dimengerti oleh lansia karena lansia butuh praktik bukan teori lagi. Maka pembimbing pun dengan adanya bimbingan Islam berharap lansia bisa memiliki cita-cita meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Tujuan diadakannya metode bimbingan islam tersebut adalah agar para lansia dapat melaksanakan pengamalan-pengamalan ibadah seperti shalat, puasa, mengaji, dan ibadah-ibadah lain. Dan diharapkan pula mereka dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dan dengan bimbingan tersebut memberikan dampak yang besar bagi perubahan hidup mereka. Contohnya terlihat dari perubahan ibadah shalat mereka dari yang tadinya tidak tepat waktu menjadi tepat waktu. Dari penelitian psikologi agama yang menyatakan bahwa pada masa tua adalah masa dimana kecenderungan menerima pendapat keagamaan meningkat dan mengapa pada masa usia-usia sebelumnya mereka tidak memikirkan agamanya dengan baik. Dan banyak juga terdapat faktor yang menyebabkan lansia tidak mampu melaksanakan ibadahnya secara maksimal

20 7 karena keterbatasan fisik dan menurunnya fungsi organ tubuh. Maka peneliti ingin bermaksud mengetahui cara (metode) apa yang digunakan oleh Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar dalam memberikan bimbingan kepada lansia agar mereka dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan pengamalan ibadah dengan baik walaupun dengan segala keterbatasan secara fisik dan daya fikir yang dimiliki oleh lansia. Dengan paparan latar belakang dia atas, maka peneliti merasa tertarik untuk meneliti Metode Bimbingan Islam Bagi Lansia dengan judul: Metode Bimbingan Islam Bagi Lanjut Usia Dalam Meningkatkan Kualitas Ibadah di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar.. B. Pembatasan dan Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis memfokuskan kajian serta membatasi masalahnya pada Metode Bimbingan Islam bagi Lansia dalam Meningkatkan Kualitas Ibadah di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar Jakarta Barat. Berdasarkan pembatasan masalah di atas dan untuk lebih memperjelas permasalahan yang akan diteliti, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana Pelaksanaan Bimbingan Islam bagi Lansia dalam Meningkatkan Kualitas Ibadah di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar? 2. Bagaimana Metode Bimbingan Islam bagi Lansia dalam Meningkatkan Kualitas Ibadah di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar?

21 8 3. Apa Faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan Metode Bimbingan Islam bagi Lansia dalam meningkatkan Kualitas Ibadah? C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian Sesuai dengan pembatasan dan perumusan masalah di atas maka tujuan dari penelitian ini adalah: a. Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan bimbingan islam bagi lansia dalam meningkatkan kualitas ibadah di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar. b. Untuk mengetahui metode apa yang digunakan pada pelaksanaan bimbingan Islam bagi lansia dalam meningkatkan kualitas ibadah di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar. c. Untuk Mengetahui faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan bimbingan islam bagi lansia dalam meningkatkan kualitas ibadah di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar. 2. Manfaat Penelitian Hasil Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut : a. Manfaat Teoritis 1) Dengan penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran ilmiah yang dapat menambah pengetahuan dalam

22 9 bidang ilmu dan bimbingan konseling serta pengetahuan tentang bimbingan Islam. 2) Dan dapat dijadikan sebagai bahan rujukan bagi peneliti selanjutnya pada kajian yang sama tetapi pada ruang lingkup yang lebih luas dan mendalam di bidang bimbingan Islam. b. Manfaat Praktis 1) Bagi Peneliti, dapat menambah pengalaman dan mengetahui cara metode bimbingan Islam yang dapat diterapkan bagi lansia. 2) Bagi Lembaga, dapat dijadikan acuan atau pedoman untuk memberikan masukan-masukan terhadap metode yang digunakan. 3) Bagi Jurusan, penelitian ini dapat menambah koleksi kajian tentang metode bimbingan Islam bagi lansia. 4) Bagi Akademik, dapat menambah wawasan, informasi dan pengetahuan tentang metode bimbingan Islam bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi dan di Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam. D. Tinjauan Pustaka Dalam penulisan skripsi ini penulis mengadakan penelitian lebih lanjut kemudian menyusunnya menjadi satu karya ilmiah, maka langkah awal yang penulis teliti adalah menelaah terlebih dahulu terhadap skripsi-skripsi terdahulu yang mempunyai judul yang hampir sama dengan yang akan penulis teliti.

23 10 Setelah penulis mengadakan kajian kepustakaan, akhirnya penulis menemukan beberapa skripsi yang memiliki judul yaitu: 1. Peran Pembimbing dalam Memberikan Motivasi Hidup Pada Lansia Di Pusaka Cengkareng Jakarta Barat. Yang ditulis oleh Khayrul Mutta Qori Baini Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam tahun Dalam skripsi ini lebih ditekankan mengenai bagaimana peran pembimbing dalam memberikan motivasi hidup pada lansia, harapan-harapan lansia dan kesesuaian antara harapan lansia dengan konseling yang diberikan oleh pembimbing. Akan tetapi di dalam penelitian penulis, membahas mengenai bimbingan Islam bagi Lansia yang mana pembimbing memberikan bimbingan keagamaan yang secara khusus guna untuk meningkatkan ibadah lansia. 2. Bimbingan Islam dalam memberikan motivasi bershadaqah di kalangan siswa SMPN 254 Jagakarsa Jakarta Selatan. Yang ditulis oleh Riri Fikriyati Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam tahun Dalam skripsi ini menerangkan bagaimana bimbingan islam dapat memberikan motivasi bershadaqah bagi siswa. Akan tetapi dalam penelitian penulis bimbingan Islamnya diberikan kepada subyek yang berbeda yaitu lansia. 3. Pelaksanaan bimbingan Islam dalam kecerdasaan spritual kaum dhuafa di yayasan Irtiqo kebajikan ciputat tangerang. Yang ditulis oleh Atie Mutya Wulansari Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam tahun Dalam penelitian ini bermaksud untuk mengembangakan kecerdasaan spiritual terhadap kaum dhuafa agar menjadi insan bertakwa. Materi yang diberikan

24 11 bersumber dari Al-Qur an, Al-Hadits, dan pengetahuan umum lainnya. Akan tetapi dalam penelitian penulis, pelaksanaan bimbingan Islam yang diberikan kepada lansia menggunakan metode yang khusus agar dapat mempermudah lansia dalam mengamalkannya. E. Metodologi Penelitian 1. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Seperti yang diungkapkan oleh Burhan Bungin metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. 9 Sedangkan penelitian kualitatif menurut Bogdan dan Tailor seperti yang dikutif Lexy J. Moleong yaitu, sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. 10 Dalam hal ini, penulis melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang diperoleh akan dianalisa serta disajikan dalam suatu pandangan yang utuh. Dan penelitian ini bermaksud mengungkapkan fakta-fakta yang tampak di lapangan dan digambarkan 9 Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006), h Lexy J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT.Remaja Rasta Karya, 2000), h. 3.

25 12 sebagaimana adanya dengan berupaya memahami sudut pandang responden dan konteks subyek penelitian secara mendalam, sehingga diperlukan metode deskiptif dan pendekatan kualitatif. Dan kegiatan yang dilakukan penulis dalam penelitian ini adalah mengumpulkan data yang erat hubungannya dengan metode bimbingan Islam bagi lansia dalam meningkkatkan kualitas ibadah berupa data apa adanya ketika penelitian dilakukan. 2. Penetapan Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini bertempat di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar, Jln.Jelambar Selatan II/ 10 Jelambar Jakarta Barat. Di mulai pada tanggal 27 Januari sampai 12 Mei Adapun yang dijadikan alasan dan pertimbangan pemilihan lokasi ini adalah pertama, belum ada yang meneliti tentang bimbingan Islam bagi lansia dalam meningkatkan pengamalan ibadah. Dan di tempat penelitian pun belum ada yang meneliti tentang metode bimbingan Islam bagi lansia. Kedua, pihak panti bersedia untuk diadakan penelitian dan memberikan data dan informasi sesuai dengan permasalahan. Ketiga, lokasi penelitian tersebut cukup strategis, karena terletak dekat tempat tinggal peneliti sehingga mudah dijangkau dan lebih hemat energi dan biaya. 3. Subjek dan Objek Penelitian Adapun subjek penelitian ini adalah Penaggung jawab RPLU yaitu Siti Murtofingah, S.AP, 2 Staf RPLU yaitu Suwarso (Bag. Pembinaan dan perawatan PMKS) dan Abdul Hakim (Bag. Bimbingan & Penyuluhan

26 13 Islam ) dan 3 orang lansia yaitu M. Shaleh (68 tahun), Yuli (69 tahun), dan Maman (67 tahun). Kemudian objek dalam penelitian ini adalah metode bimbingan Islam bagi Lansia dalam meningkatkan pengamalan ibadah di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar. 4. Sumber Data Yang dimaksud sumber data dalam penelitian adalah subyek dari penelitian dimaksud. 11 Adapun sumber data dari penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Data Primer, yaitu berupa wawancara kepada penanggung jawab RPLU yaitu Siti Murtofingah, S.AP, dan 2 Staf RPLU yaitu Suwarso ( Bag. Pembinaan dan perawatan PMKS) dan Abdul Hakim (Bag. Bimbingan & Penyuluhan Islam ) dan 3 orang lansia yaitu M. Shaleh (68 tahun), Yuli (69 tahun), dan Maman (67 tahun). b. Data Sekunder, yaitu data tidak langsung yang berupa catatan-catatan, dokumen-dokumen, buku, rekaman suara dan sebagainya. 5. Teknik Pengumpulan Data a. Observasi ialah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang diteliti. 12 Dalam penelitian ini teknik observasi yang dilakukan langsung ke tempat lokasi penelitian di RPLU Jelambar. Mengenai bimbingan Islam bagi lansia dalam meningkatkan kualitas ibadah. Dan selama observasi, penulis dibantu dengan alat-alat observasi seperti kamera, buku, catatan, dan alat tulis. 11 M. Subana, Dasar-dasar Penelitian Ilmiah, ( Bandung : Pustaka Setia, 2005 ), h Husaini Usman, Metodologi Penelitian Sosial, ( Jakarta : Bumi Aksara, 2000), h.54

27 14 b. Wawancara yaitu bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dari seseorang lainnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu. 13. Dalam penelitian ini wawancara ditujukan kepada Penaggung jawab RPLU yaitu Siti Murtofingah, S.AP, 2 Staf RPLU yaitu Suwarso ( Bag. Pembinaan dan perawatan PMKS) dan Abdul Hakim (Bag. Bimbingan & Penyuluhan Islam ) dan 3 orang lansia yaitu M. Shaleh (68 tahun), Yuli (69 tahun), dan Maman (67 tahun). c. Dokumentasi adalah pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen. 14 Dan dalam hal ini penulis menyelidiki benda tertulis seperti buku, dokumen-dokumen, catatan-catatan dan sebagainya. Dan dokumentasi dilakukan dengan pengumpulan datadata tertulis yang terdapat di RPLU Jelambar Jakarta Barat, dengan masalah yang diteliti. 6. Teknik Analisis Data Yang dimaksud dengan teknik analisis data adalah suatu proses mengorganisasikan dan mengurutkan ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar kemudian dianalisa agar mendapatkan hasil berdasarkan data yang ada. Hal ini disesuaikan dengan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif Deddy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : PT.Remaja Rosdakarya, 2004), h Husaini Usman, Metodologi Penelitian Sosial, ( Jakarta : Bumi Aksara, 2000), h Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta : Bulan Bintang, 2003), Cet. Ke-9, h.11

28 15 Seperti penjelasan Murdiyatmoko dan Handayani yang dikutip oleh Upi Zahra 16 tentang analisa data yakni secara garis besar, pengolahan data kualitatif memiliki tiga alur kegiatan, yakni: a. Reduksi Data Pada bagian awal, proses analisa dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara dengan responden/informan observasi yang telah dituliskan dalam lembar observasi lapangan, dsb. Data-data tersebut tak lain adalah kesimpulan kata-kata mentah yang masih perlu dibaca, dipelajari dan ditelaah lebih lanjut. Untuk mengubah kata-kata mentah tersebut menjadi bermakna, maka peneliti kemudian mengadakan reduksi data. Reduksi data adalah suatu kegiatan yang berupa penajaman analisis, pengolongan data, pengarahan data, pembuangan data yang tidak perlu dan pengorganisasian sedemikian rupa untuk bahan penarikan kesimpulan. b. Penyajian Data Setelah ditemukannya hasil olahan data mentah hadir dalam bentuk kalimat yang mudah dicerna, selanjutnya peneliti menganalisa masing-masing kasus tersebut. Peneliti kembali melakukan analisa dengan mengombinasikan berbagai kasus, yang selanjutnya data tersebut dijadikan panduan untuk menjawab semua pertanyaan yang terdapat pada perumusan masalah dengan cara menganalisanya dalam 16 Upi Zahra, Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Pengaruhnya terhadap Tingkat Kematangan Emotional Anak : Studi pada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Pusat. Skripsi, Ciputat; 2009

29 16 bentuk narasi yang bersifat deskriptif sehingga tujuan dari penelitian ini dapat terjawab. c. Penarikan Kesimpulan/Verifikasi Sedangkan pada tahap akhir, data yang tersaji pada analisa antar kasus khususnya yang berisi jawaban atas tujuan penelitian kualitatif diuraikan secara singkat, sehingga mendapat kesimpulan mengenai pelaksanaan bimbingan Islam bagi lansia dalam meningkatkan pengamalan ibadah. 7. Teknik Penulisan Dalam penelitian ini penulis berpedoman dan mengacu kepada buku Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis dan Disertasi) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Yang diterbitkan oleh CeQDA, April 2007, Cet. Ke-2. F. Sistematika penulisan Untuk mempermudah dalam skripsi ini, maka penulis membuat rancangan sistematika penulisan sebagai berikut: BAB I : PENDAHULUAN. Meliputi latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metodologi penelitian, dan sistematika penelitian BAB II: LANDASAN TEORI. Meliputi Pengertian metode, metode bimbingan Islam, tujuan dan fungsi bimbingan Islam, pengertian

30 17 ibadah, pembagian ibadah, kualitas ibadah, pengertian Lansia, pembagiannya BAB III : GAMBARAN UMUM RUMAH PERLINDUNGAN LANJUT USIA JELAMBAR. Meliputi sejarah dan dan perkembangannya, visi, misi, tugas pokok dan fungsi, tujuan, program kerja dan kegiatan, struktur organisasi, sarana dan prasarana. BAB IV : TEMUAN LAPANGAN DAN ANALISA. Meliputi temuan lapangan (pembimbing, terbimbing, dan metode bimbingan), analisa metode bimbingan (metode 1, metode 2, dan metode 3) BAB V : PENUTUP. Meliputi kesimpulan, saran, daftar pustaka dan lampiran

31 BAB II TINJAUAN TEORI A. Bimbingan Islam 1. Pengertian Metode, Bimbingan, Islam a. Pengertian Metode Secara etimologi metode berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari penggalan kata meta yang berarti melalui dan hodos berarti jalan. Bila digabungkan maka metode bisa diartikan jalan yang dilalui. Dalam pengertian yang lebih luas, metode bisa pula diartikan sebagai segala sesuatu atau cara yang digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan. 1 Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia metode ialah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. 2 Sedangkan menurut Kamus Manajemen metode ialah cara melaksanakan pekerjaan. 3 Begitu pun yang diungkapkan oleh M. Arifin dalam bukunya yang berjudul Pedoman pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan Islam 1 M. Luthfi, Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan (Konseling) Islam, (Jakarta : Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah, 2008), h Depdiknas, Kamus Bahasa Indonesia, edisi ke. 3, (Jakarta : Balai Pustaka, 2002), h B. N. Marbun, Kamus Manajemen, ( Jakarta : Pustaka Harapan, 2005), h

32 19 bahwa metode adalah adalah segala sarana yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan, baik sarana yang tersebut bersifat fisik seperti alat peraga, alat administrasi, dan pergedungan dimana proses kegiatan bimbingan berlansung, bahkan pelaksana metode seperti pembimbing sendiri adalah termasuk metode juga. Selain kata metode adapula kata teknik dan pendekatan, keduanya dipahami sebagai cara-cara ilmiah yang dipakai sebagai peralatan (instrument) dalam melakukan pekerjaan yang sifatnya lebih di fokuskan kepada subyek atau obyek yang dijadikan sasaran pelayanan. Sesungguhnya antara metode dan teknik secara subtansial, memiliki pengertian yang sama. Perbedaannya adalah pada sisi fungsionalisasinya, yaitu unsur-unsur dan penggunaan metode bersifat teoritis dan lebih luas sebagai bagian dari upaya ilmiah. Dalam pelayanan bimbingan dan penyuluhan (konseling) pada umumnya penggunaan istilah metode dan teknik kadangkala dipakai berganti-ganti tergantung kepada obyek permasalahan yang sedang dilayani. Hal ini perlu dikemukakan untuk memberikan wacana yang lebih luas dan fleksibel mengenai berbagai metode dan teknik serta pendekatan yang digunakan dalam pelayanan bimbingan dan konseling. 4 Untuk itu penulis menyimpulkan bahwa metode adalah sebuah cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan dan dengan adanya metode maka diharapkan apa yang 4 M. Luthfi, Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan (Konseling) Islam, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2008), h. 121.

33 20 diinginkan dapat sesuai dengan harapan. Karena metode berupaya secara sistematis melakukan cara-cara atau tahapan-tahapan suatu tujuan yang diinginkan dapat dilakukan dengan baik. b. Pengertian Bimbingan Bimbingan merupakan terjemahan dari istilah Guidance & Counseling dalam bahasa Inggris. Sesuai dengan istilahnya maka bimbingan dapat diartikan secara umum sebagai suatu bantuan atau tuntunan. 5 Pada prinsipnya bimbingan adalah pemberian pertolongan atau bantuan. Bantuan atau pertolongan itu merupakan hal yang pokok dalam bimbingan. Bimbingan merupakan suatu pertolongan yang menuntun. Bimbingan merupakan suatu tuntunan. Hal ini mengandung pengertian bahwa dalam memberikan bimbingan bila keadaan menuntut, kewajiban dari pembimbing untuk memberikan bimbingan secara aktif, yaitu memberikan arah kepada yang dibimbingnya. 6 Hal senada juga diungkapkan M. Umar bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu agar dengan potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik. 7 5 Djumhur, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, (Bandung: CV Ilmu, 1975), h Bimo Walgito, Bimbingan dan Koseling (studi & karier), (Yogyakarta: CV Andi Offset, 2010), Cet. Ke- 3, h M. Umar, Bimbingan dan Penyuluhan,( Bandung : CV Pustaka Setia, 2001), h. 9.

34 21 Sedangkan Prayitno memaknai bimbingan sebagai pemberian yang dilakukan orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu baik anak-anak, remaja, maupun dewasa, agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuannnya sendiri dan mandiri, dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada, dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku. 8 Dengan demikian penulis menyimpulkan bahwa bimbingan adalah proses membantu seorang individu yang mengalami permasalahan yang berhubungan secara psikis, dimana dilakukan secara terus-menerus dan memiliki tujuan untuk membantu individu agar individu menemukan potensinya sehingga individu itu dapat hidup secara mandiri serta mampu beradaptasi dengan baik bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya. c. Pengertian Islam Kata Islam berasal dari bahasa arab, yaitu: Aslama, Yuslimu, Islaman, yang artinya patuh, tunduk, menyerahkan diri, selamat. Sedangkan menurut istilah, Islam yaitu agama yang mengajarkan agar manusia berserah diri dan tunduk sepenuhnya kepada Allah. Yang dimaksud dengan tunduk atau menyerah diri adalah mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-nya. 9 Menurut Abul A la Islam itu adalah tunduk dan patuh kepada perintah orang yang memberi perintah dan kepada larangannya tanpa 8 Prayitno dan Erman Amti, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Rineka Cipta), Cet. Ke-1, h Masan Alfat, Aqidah Akhlak, ( Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1997), h. 8.

35 22 membantah. Agama kita telah diberi nama Islam, karena ia berarti taat kepada Allah dan tunduk kepada perintahnya tanpa membantah. 10 Arti perkataan Islam adalah bahwa Islam kata turunan (jadian) yang berarti ketundukan, ketaatan, kepatuhan (kepada kehendak Allah) berasal dari kata salama artinya patuh atau menerima. Kata dasarnya adalah salima yang berarti sejahtera, tidak tercela, tidak bercacat. Dari kata itu terbentuk kata masdar salamat (yang dalam bahasa Indonesia menjadi selamat). 11 Demikianlah analisis makna perkataan Islam Intinya adalah berserah diri, tunduk, patuh, dan taat dengan sepenuh hati kepada kehendak Ilahi. Agama Islam sebagai wahyu yang memberi bimbingan kepada manusia mengenai semua aspek hidup dan kehidupannya, dapat diibaratkan seperti jalan raya yang lurus dan mendaki, memberi peluang kepada manusia yang melaluinya sampai ke tempat yang dituju, tempat tertinggi dan mulia. 12 Dengan demikian, bimbingan Islam adalah pemberian bantuan secara sistematis kepada individu yang mengalami permasalahan menyangkut masa kini dan masa depan dimana bantuan ini dalam bentuk pembinaan mental spritual dengan pendekatan keagamaan melalui 10 Abul A la Al-Maududi, Prinsip-prinsip Islam,( Bandung: PT. Alma arif, 1988), Cet. Ke-4, h Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1998), Cet. Ke-1, h Ibid., h. 50.

36 23 kekuatan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Sehinggga sasarannya adalah untuk membangkitkan daya rohaninya. 2. Metode Bimbingan Islam Dalam bimbingan Islam banyak metode yang dapat dipergunakan: a. Wawancara adalah salah satu cara memperoleh fakta-fakta kejiwaaan yang dapat dijadikan bahan pemetaan tentang bagaimana sebenarnya hidup kejiwaan seseorang pada saat tertentu yang memerlukan bantuan. b. Metode group guidance ( bimbingan secara kelompok ) Bilamana metode interview atau wawancara merupakan cara pemahaman tentang keadaan seseorang secara individual ( Pribadi ), maka bimbingan kelompok adalah sebaliknya, yaitu pengungkapan jiwa/batin serta pembinaannya melalui kegiatan kelompok seperti ceramah, diskusi, seminar, dsb. c. Metode non-direktif ( cara yang tidak mengarah ) Cara lain untuk mengungkapkan segala perasaan dan pikiran yang tertekan sehingga menjadi lebih baik. Metode ini dapat dibagi menjadi 2 macam yaitu: 1) Client centered, yaitu cara pengungkapan tekanan batin yang dirasakan menjadi penghambat dengan sistem pancingan yang berupaya satu dua pertanyaan yang terarah. Selanjutnya client diberi kesempatan seluas-luasnya untuk menceritakan segala uneg-uneg ( tekanan batin) yang disadari menjadi hambatan jiwanya. Pembimbing

37 24 bersikap memperhatikan dan mendengarkan serta mencatat pointpoint penting yang dianggap rawan untuk diberi bantuan. 2) Metode edukatif yaitu cara mengungkapkan tekanan perasaan yang menghambat perkembangan belajar dengan mengorek sampai tuntas perasaan/sumber perasaan yang menyebabkan hambatan dan ketegangan dengan cara-cara client centered, yang diperdalam dengan permintaan/pertanyaan yang motivatif dan persuatif (meyakinkan) untuk mengingat-ingat serta mendorong agar berani mengungkapkan perasaan tertekan sampai keakar-akarnya. d. Metode Psikoanalitis ( penganalisahan jiwa ) Metode ini berasal dari psiko-analisis Freud yang dipergunakan untuk mengungkapkan segala tekanan perasaan yang sudah tidak lagi disadari. Untuk memperoleh data-data tentang jiwa tertekan bagi penyembuhan jiwa klien tersebut, diperlukan metode psiko-analitis yaitu menganalisis gejala tingkah laku, baik melalui mimpi atau pun melalui tingkah laku yang serba salah, dengan menitik beratkan pada perhatian atas hal-hal apa sajakah perbuatan salah itu terjadi berulang-ulang. Dengan demikian, maka pada akhirnya akan diketahui bahwa masalah pribadi klien sebenarnya akan terungkap dan selanjutnya disadarkan kembali (dicerahkan) agar masalah tersebut dianggap telah selesai dan tidak perlu dianggap suatu hal yang memberatkan, dan sebagainya. Disini perlu adanya nillai-nilai iman dan taqwa dibangkitkan dalam pribadi seseorang,

38 25 sehingga terbentuklah dalam pribadinya sikap tawakal dan optimisme dalam menempuh kehidupan baru yang lebih cerah lagi. e. Metode Direktif (metode yang bersifat mengarahkan) Metode ini lebih bersifat mengarahkan kepada klien untuk berusaha mengatasi kesulitan (problema) yang dihadapi. Pengarahan yang diberikan kepada klien ialah dengan memberikan secara langsung jawaban-jawaban terhadap permasalahan yang menjadi sebab kesulitan yang dihadapi. 13 f. Teknik Rasional-Emotif Dalam istilah yang lain teknik ini disebut dengan rational-emotif therapy, atau model RET yang dikembangkan oleh Dr. Albert Ellis (ahli psikologi klinis). Dalam pelayanan bimbingan dan penyuluhan (konseling), teknik ini dimaksudkan untuk mengatasi pikiran-pikiran yang tidak logis (tidak rasional) yang disebabkan dorongan emosinya yang tidak stabil. Pelayanan teknik dan pendekatan rasional-emotif merupakan bentuk terapi yang berupaya membimbing dan menyadarkan diri klien, sesungguhnya cara berpikir ynag tidak rasional itulah yang menyebabkan terjadinya gangguan-gangguan emosionalnya. Maka dalam layanan ini konselor membantu klien dalam membebaskan diri dari caracara berpikir atau pandangan-pandangannya yang tidak rasional, dan selanjutnya diarahkan ke arah cara-cara berpikir yang lebih rasional. 13 M. Arifin, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama, (Jakarta: PT Golden Terayon Press, 1994), Cet. Ke-5, h

39 26 g. Teknik Konseling Klinikal Pelayanan bimbingan dan penyuluhan (konseling) dengan menggunakan teknik klinikal menitikberatkan pada pengembangan skill klien sesuai dengan latar belakang dan kemampuan yang dimilikinya. Pendekatan teknik klinikal tidak semata-mata berorientasi kepada pengembangan intelektul, tetapi juga berorientasi juga kepada kemampuan personal secara keseluruhan, baik jasmani maupun rohani. Pada teknik ini, bantuan atau pelayanan yang diberikan tidak sebatas mengungkapkan masalah-masalah klien atau membimbing memecahkannya. Namun selanjutnya, konselor membantu mengarahkan klien kepada kemungkinan atau peluang-peluang yang bisa bermanfaat sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya Tujuan dan Fungsi Bimbingan Islam Tujuan dari adanya bimbingan Islam adalah dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan. Bimbingan dalam rangka menemukan pribadi, dimaksudkan agar seseorang mengenal kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri serta menerimanya secara positif dan dinamis sebagai modal pengembangan diri lebih lanjut. Bimbingan dalam rangka mengenal lingkungan dimaksudkan agar seseorang mengenal lingkungannya secara obyektif, baik lingkungan keluarga, masyarakat, budaya, dan norma-norma yang ada. Sedangkan bimbingan dalam rangka merencanakan masa depan dimaksudkan agar seseorang 14 M. Lutfi, Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan (Konseling) Islam, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2008), h

40 27 mampu mempertimbangkan dan mengambil keputusan tentang masa depannya. 15 Di dalam buku bimbingan konseling islami (di Sekolah Dasar). Fungsi Bimbingan Islam dibagi menjadi tujuh, yaitu: a. Bimbingan berfungsi preventif (pencegahan) adalah usaha bimbingan yang ditujukan kepada seseorang yang belum bermasalah agar orang tersebut terhindar dari kesulitan-kesulitan dalam hidupnya. b. Bimbingan berfungsi kuratif (penyembuhan) adalah usaha bimbingan yang ditujukan kepada seseorang yang mengalami kesulitan (sudah bermasalah) agar setelah menerima layanan dapat memecahkan sendiri kesulitannya. c. Bimbingan berfungsi preservatif (pemeliharaan/penjagaan) adalah usaha bimbingan yang ditujukan kepada seseorang yang sudah dapat memecahkan masalahnya agar kondisi yang sudah baik tetap dalam kondisi yang baik. d. Bimbingan berfungsi developmental (pengembangan) adalah usaha bimbingan yang diberikan kepada seseorang agar kemampuan yang mereka miliki dapat ditingkatkan. e. Bimbingan berfungsi distributif (penyaluran) adalah fungsi bimbingan dalam hal membantu seseorang menyalurkan kemampuan (kecerdasan, bakat, minat). 15 Hallen A, Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), h

41 28 f. Bimbingan berfungsi Adaptif (pengadaptasian) adalah fungsi bimbingan agar seseorang bisa beradaptasi dengan orang yang lebih luas. g. Bimbingan berfungsi Adjustif (penyesuaian) adalah bimbingan dalam hal membantu seseorang agar dapat menyesuaikan diri secara tepat dalam lingkungannya. 16 B. Ibadah 1. Pengertian Ibadah Kata ibadah berasal dari kata abada, yu aabidu, ibadatan, artinya menyembah, mempersembahkan tunduk, patuh, taat. Seseorang yang tunduk, patuh, merendahkan diri, dan hina dihadapan yang disembah disebut abid (yang beribadah). 17 Dalam kamus Bahasa Indonesia ibadah diartikan segala usaha lahir batin sesuai dengan perintah Tuhan untuk mendapatkan kebahagiaan dan keseimbangan hidup, baik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat, maupun terhadap alam semesta. 18 Dan ulama tauhid mengartikan ibadah dengan Mengesakan Allah, menta dhimkannya dengan sepenuh-penuh ta dhim serta menghinakan diri kita dan menundukkan jiwa kepada-nya ( menyembah Allah sendiri-nya) Elfi Mu awanah, Bimbingan dan Konseling Islami (di Sekolah Dasar), (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), Cet. Ke-1, h Zurinal Z, Fiqih Ibadah, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah, 2008), Cet. Ke-1, h Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia,( Jakarta: Balai Pustaka, 2005), h Hasbi Ash Shiddieqy, Kuliah Ibadah, ( Jakarta: Bulan bintang, 1987), Cet. Ke-6, h. 4.

42 29 Adapun ibadah dapat di bagi menjadi dua bagian yaitu ibadah mahdoh dan ibadah ghoiru mahdoh. Ibadah mahdoh adalah ibadah yang terbatas (khusus) contohnya adalah shalat, zakat, puasa dll. Sedangkan ibadah ghoiru mahdoh adalah ibadah yang luas (tidak terbatas) contohnya adalah menolong orang yang kesusahan, berzikir kepada Allah, berperang dll. 20 Dari definisi-definisi di atas dapat dipahami bahwa ibadah adalah segala kegiatan manusia sebagai wujud ketaatan dan kepatuhan kepada Allah baik berupa perbuatan yang diperintahkan Allah, juga perbuatan yang berhubungan dengan Allah, sesama manusia, dan alam lingkungan. 2. Pembagian Ibadah Ibadah dapat di bagi menjadi dua bagian, yaitu ibadah mahdoh dan ibadah ghoiru mahdoh. Ibadah mahdoh adalah segala jenis ibadah yang tata caranya telah ditetapkan oleh Allah (khusus) atau terbatas. Contohnya shalat, puasa, zakat, dan lain sebagainya. Sedangkan ibadah ghoiru mahdoh adalah segala jenis ibadah kepada Allah akan tetapi semua perbuatan yang diperintahkan Allah baik perbuatan yang berhubungan dengan Allah, sesama manusia, dan alam lingkungan, misalnya berzikir kepada Allah, menolong orang yang kesusahan, menjaga lingkungan, bergaul dengan teman, dan menghormati orang lain. Adapun dari macam-macam bagian ibadah itu dapat di bagi menjadi beberapa bagian: 20 Ibid., h. 5.

43 30 a. Ibadah Itiqodiyah Ibadah itiqodiyah adalah ibadah berupa keyakinan kepada Allah dan Nabi Muhammad. Adapun macam-macamnya adalah sebagai berikut: 1) Berkeyakinan tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. 2) Cinta kepada Allah 3) Takut kepada Allah serta mengharapkan rahmatnya. 4) Tawakal dan minta pertolongan kepada Allah b. Ibadah Qouliyah Ibadah qauliyah adalah ibadah yang terdiri atas perbuatan atau ucapan lidah. Adapun macam-macamnya sebagai berikut: 1) Mengucapkan syahadat 2) Dzikir kepada Allah, tasbih dan istigfar 3) Berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah 4) Amar Ma ruf nahi munkar c. Ibadah Amaliyah Ibadah amaliyah adalah ibadah yang sudah terinci baik perkataan maupun perbuatannya. Adapun macam-macamnya sebagai berikut: 1) Mendirikan shalat Shalat menurut pengertian bahasa adalah doa, sedangkan menurut istilah adalah ibadah yang mengandung perkataan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan

44 31 salam. Shalat hukumnya fardu ain atas setiap orang beriman laki-laki dan wanita yang mesti didirikan pada waktu-waktu yang telah ditentukan. 2) Menunaikan Zakat Zakat adalah sebagian harta yang mesti diberikan kepada fakir miskin yang merupakan suatu kewajiban syariah dengan menggunakan syarat-syarat tertentu. Zakat difardhukan pada setiap muslim yang memiliki nisab, yaitu suatu kadar yang bila seseorang memilikinya dan sampai satu tahun ia wajib mengeluarkan zakatnya. 3) Puasa Ramadhan Puasa menurut syariah adalah menahan dari makan, minum, bersetubuh, dan segala yang membatalkan, mulai dari terbit fajar sampai tenggelam matahari, dengan niat taqorrub (mendekatkan diri kepada Allah Ta aala. Puasa ramadhan adalah fardu ain bagi setiap muslim yang baligh, berakal, dan mampu berpuasa. 4) Haji ke Baitullah Haji menurut syariah adalah menuju Baitullah al-haram untuk melakukan amalan-amalan tertentu yang dijelaskan dalam Al-qur an dan Sunnah. Haji adalah satu rukun islam yang diwajibkan kepada setiap muslim muslimah yang sanggup satu kali seumur hidup.

45 32 5) Berjihad di jalan Allah 6) Thawaf di Baitullah Kualitas Ibadah Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kualitas diartikan sebagai tingkat buruknya sesuatu, kadar, derajat atau taraf ( kepandaian, kecakapan, dan sebagainya), bisa juga diartikan mutu, sangat dibutuhkan tenaga, tenaga terampil yang tinggi. 22 Ibadah merupakan hal penting yang akan selalu ada ketika kita mencoba menggali lebih dalam mengenai agama Islam. Kita sebagai seorang muslim dituntut untuk mengetahui, melaksanakan atau mengamalkan apa-apa saja yang kita punya dan sudah kita ketahui bahwa ibadah berupaya agar menjadi insan-nya yang taqwa. Sebelum kita bahas lebih dalam mengenai bagaimana dan upaya apa saja yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kualitas ibadah kita, kita harus mengetahui terlebih dahulu pengertian ibadah itu sendiri. Menurut Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah berfirman: 21 Yulian Mirza, Makna ibadah dalam Islam, artikel diakses pada 11 April 2011 dari 22 Depdiknas, Kamus Bahasa Indonesia, edisi ke. 3, (Jakarta : Balai Pustaka, 2002), h. 603.

46 33 Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada- Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. [Adz-Dzaariyaat : 56-58]. Berdasarkan pengertian dari ibadah tadi, hubungannya dengan manusia adalah bahwa ibadah secara tidak langsung berarti ketundukkan kita sebagai seorang hamba serta sarana hubungan vertikal manusia kepada Tuhan pencipta alam semesta, Allah SWT. Sekarang bagaimana kita sebagai seorang manusia memaksimalkan atau meningkatkan kualitas-kualitas dari ibadah tadi. Hal pertama yang bisa kita lakukan adalah mengevaluasi diri sendiri sejauh mana ibadah-ibadah yang telah kita lakukan apakah sudah baik, sudah sesuai aturan-nyakah atau belum. Setelah mengevaluasi, kita bisa buat suatu perencanaan apa-apa saja yang bisa mendukung untuk meningkatkan kualitas ibadah kita. Sebagai contoh, kalau sebelumnya kita hanya melakukan ibadah wajib saja seperti sholat lima waktu, puasa di bulan ramadhan, dan lainnya, tetapi setelah melakukan evaluasi, kita bisa menambah rangkaian ibadah kita dengan ibadah-ibadah sunnah lainnya yang mempunyai nilai-nilai keutamaan seperti shalat sunnah dhuha, tahajud, dan lain sebagainya. Membuat form mutabaah yaumiah pun dapat memotivasi kita untuk selalu meningkatkan kualitas ibadah kita.

47 34 Begitupun untuk aktifitas kita sesama manusia, kita juga harus mengevaluasi diri kita, apakah selama ini dalam menjalin hubungan dengan orang lain kita sudah menyakitinya, atau perbuatan yang selama ini kita lakukan tanpa kita sadari telah melanggar aturan yang sudah ditetapkan Al- Quran dan Hadist. Sehingga apabila kita sudah mengetahui kesalahankesalahan kita selama ini, kedepannya kita tidak mengulanginya lagi. Mungkin cara untuk meningkatkan kualitas ibadah kita dengan cara memperbanyak membaca buku-buku pengetahuan umum, Islam, dan sejarah-sejarah umat terdahulu dalam melaksanakan hubungannya sesama manusia. Jadi, untuk meningkatkan kualitas ibadah sangat bergantung dari manusianya itu sendiri. Semuanya pun membutuhkan niat dan tekad yang kuat untuk selalu memotivasi diri agar menjadi insan yang lebih baik di hadapan- Nya. Metode-metodenya pun disesuaikan atau tergantung dari manusia itu sendiri. 23 C. Lansia 1. Pengertian Pengertian lansia adalah periode dimana organisme telah mencapai kemasakan dalam ukuran dan fungsi dan juga telah menunjukkan kemunduran sejalan dengan waktu. Ada beberapa pendapat mengenai usia kemunduran yaitu ada yang menetapkan 60 tahun, 65 tahun dan 70 tahun. Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang 23 Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pengertian Ibadah dalam Islam, artikel diakses pada 15 Juni 2011 dari

48 35 menunjukkan proses menua yang berlangsung secara nyata dan seseorang telah disebut lanjut usia. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi. 24 Menurut Elizabeth Hurlock dalam bukunya Psikologi Perkembangan masa lansia adalah masa dimana seseorang mengalami perubahan fisik dan psikologis. Bahkan ketika masa tua disebut sebagai masa yang mudah dihinggapi segala penyakit dan akan mengalami kemunduran mental seperti menurunnya daya ingat, dan pikiran. 25 Masalah kesehatan mental pada lansia dapat berasal dari 4 aspek yaitu fisik, psikologik, sosial dan ekonomi. Masalah tersebut dapat berupa emosi labil, mudah tersinggung, gampang merasa dilecehkan, kecewa, tidak bahagia, perasaan kehilangan, dan tidak berguna. Lansia dengan problem tersebut menjadi rentan mengalami gangguan psikiatrik seperti depresi, ansietas (kecemasan), psikosis (kegilaan) atau kecanduan obat. Pada umumnya masalah kesehatan mental lansia adalah masalah penyesuaian. Penyesuaian tersebut karena adanya perubahan dari keadaan sebelumnya (fisik masih kuat, bekerja dan berpenghasilan) menjadi kemunduran. 26 Memasuki masa lanjut usia merupakan periode akhir di dalam rentang kehidupan manusia di dunia ini. Banyak hal penting yang perlu diperhatikan guna mempersiapkan memasuki masa lanjut usia dengan sebaik-baiknya. 24 Akhmadi, Permasalahan Lanjut Usia, artikel diakses pada 01 Mei 2011 dari 25 Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, (Jakarta : Erlangga, 1998), Cet. Ke- 5, h Akhmadi, Permasalahan Lanjut Usia, artikel diakses pada 01 Mei 2011 dari

49 36 Kisaran usia yang ada pada periode ini adalah 60 tahun ke atas. Perubahan fisik ke arah penurunan fungsi-fungsi organ merupakan indikator utama yang tampak jelas, guna membedakan periode ini dengan periode-periode sebelumnya. 27 Adapun tugas-tugas perkembangan usia lanjut adalah sebagai berikut: 1. Menyesuaikan diri dengan kondisi fisik dan kesehatan yang semakin menurun. 2. Menyesuaikan diri dengan situasi pensiun dan penghasilan yang semakin berkurang. 3. Menyesuaikan diri dengan kematian dari pasangan hidup. 4. Membina hubungan dengan sesama usia lanjut. 5. Memenuhi kewajiban-kewajiban sosial dan kenegaraan secara luwes. 6. Kesiapan menghadapi kematian. 28 Jadi masa tua adalah masa dimana seseorang telah mengalami kemunduran-kemunduran dalam hidupnya baik fisik, daya tahan tubuh, pikiran yang sudah mulai menurun. Untuk itulah perlu adanya perhatian yang khusus kepada lansia agar mereka bisa hidup dengan nyaman dan batinnya bisa merasa tenang tanpa harus berpikir bahwa mereka sudah tidak berdaya guna. Dan dengan adanya motivasi yang diberikan diharapkan lansia bisa lebih aktif dalam menjalani sisa-sisa hidupnya dengan cara melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang kesehatannya baik jasmani maupun 27 Zahrotun, Psikologi Perkembangan ( Tinjaun psikologi barat dan psikologi islam), (Jakarta: UIN Jakarta press, 2006), Cet. Ke-1, h Elfi Yuliani Rochmah, Psikologi Perkembangan, ( Yogyakarta: STAIN Ponorogo Press, 2005), Cet. Ke-1, h. 84.

50 37 rohani. Dan bisa mempersiapkan amal ibadah yang lebih baik lagi untuk bekal mereka di akhirat nanti. 2. Pembagian Oleh karena usia madya merupakan periode yang panjang dalam rentang kehidupan manusia, biasanya usia tersebut dibagi-bagi ke dalam dua subbagian, yaitu : a) Usia Madya Dini (antara usia 40 hingga 50 tahun). Pada usia madya dini adalah bahwa usia ini merupakan masa transisi. Seperti halnya masa puber, yang merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa remaja dan kemudian dewasa, demikian pula usia madya dini merupakan masa dimana pria dan wanita meninggalkan ciriciri jasmani dan perilaku dewasanya dan memasuki suatu periode dalam kehidupan yang akan diliputi oleh ciri-ciri jasmani dan perilaku baru. Transisi senantiasa berarti penyesuaian diri terhadap minat, nilai, dan pola perilaku yang baru. Pada usia madya dini, cepat atau lambat, semua orang dewasa harus melakukan penyesuaian diri terhadap berbagai perubahan jasmani dan harus menyadari bahwa pola perilaku pada usia mudanya harus diperbaiki secara radikal. b) Usia Madya Lanjut (antara usia 50 tahun sampai 60 tahun keatas). Umumnya pada masa usia madya lanjut ditandai oleh adanya perubahan-perubahan jasmani dan mental. Pada usia 60 tahun biasanya terjadi penurunan fisik, sering pula diikuti oleh penurunan daya ingat. Walaupun dewasa ini banyak yang mengalami perubahan-perubahan

51 38 tersebut lebih lambat dari pada masa lalu, namun garis batas tradisionalnya masih nampak. Meningkatkan kecenderungan untuk pensiun pada usia enampuluhan sengaja ataupun tidak sengaja usia enampuluhan tahun dianggap sebagai garis batas antara usia madya dini dengan usia madya lanjut. 29 5, h Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, (Jakarta : Erlangga, 1998), Cet. Ke-

52 BAB III GAMBARAN UMUM RUMAH PERLINDUNGAN LANJUT USIA A. Sejarah Berdirinya Jakarta sebagai kota metropolitan dalam perkembangannya saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu internal dan eksternal. Di samping itu tingkat mobilitas penduduknya yang tinggi membuat jakarta berbeda dengan daerah lain. Dengan tingkat kepadatan penduduknya yang tinggi sedangkan daya dukung lingkungan sangat rendah menjadikan beban Jakarta semakin bertambah, hal ini mengakibatkan jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) semakin meningkat, salah satu diantaranya adalah Lanjut Usia Terlantar. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu adanya Panti yang khusus menampung Lanjut Usia terlantar agar dapat hidup layak dan normatif. Tahun 1994 secara bertahap Pemda DKI Jakarta membangun Panti Werdha 05 Jelambar hasil dari alih fungsi Panti Sosial 01 Jelambar yang menangani para Tuna Wisma, kemudian dengan SK Gubernur DKI Jakarta No.163 tahun 2002 nama Panti berubah menjadi Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar. 1 Dasar hukum : 1. UUD No.13 tahun 1998 tentang Lanjut Usia. 1 Data Dinas Bina Mental Spritual dan Kesejahteraan Sosial RPLU Jelambar,

53 40 2. Perda No.3 tahun 2001 tentang Bentuk Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat. 3. SK Gubernur No.41 tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Bina Mental Spritual dan Kesejahteraan Sosial Propinsi DKI Jakarta. 4. SK Gubernur No. 163 tahun 2002, tentang Organisasi dan tata kerja Unit Pelaksana Teknis dilingkungan Dinas Bina Mental Spritual dan Kesejahteraan Sosial Propinsi DKI Jakarta. 2 B. Visi, Misi, Fungsi, dan Tujuan Visi Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar adalah memberikan pembinaan dan penyantunan kepada para lanjut usia terlantar agar dapat hidup layak. Misi Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar adalah agar para lanjut usia terlantar dapat terbina dan tersantuni, sehinggga mampu melaksanakan fungsi sosialnya. Tugas Pokok Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar adalah memberikan pelayanan kesejahteraan sosial bagi Penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) lanjut usia terlantar. Fungsi : 1. Mengadakan pendekatan. Motivasi dan observasi calon klien serta penerimaan. 2. Pengungkapan dan pemahaman masalah (Assesment). 2 Data Dinas Bina Mental Spritual dan Kesejahteraan Sosial RPLU Jelambar, 2010.

54 41 3. Penyusunan rencana intervensi. 4. Intervensi, meliputi: a. Social Treatment (penyembuhan sosial). Antara lain : penampungan, pelayanan, penyantunan, dan perawatan. b. Social Development ( Pengembangan sosial), antara lain: bimbingan sosial individual, kelompok maupun masyarakat dengan kegiatannya pembinaan fisik, mental, bimbingan keterampilan dan rujukan. 5. Melakukan kegiatan pembinaan lanjut. Tujuan Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar adalah terbina dan tersantuninya PMKS lanjut Usia terlantar, sehingga mampu melaksanakan fungsi sosialnya. 3 Dari tujuan tersebut pihak panti berupaya bisa menjadikan lansia bisa hidup dengan baik dari yang dulunya terlantar dan bisa melaksanakan tugas-tugas dan perannya sebagai individu yang lebih baik lagi. Sasaran dan garapan 1. PMKS lanjut usia terlantar. 2. Rawan kondisi sosial ekonomi. Pesyaratan 1. Laki-laki/ Perempuan. 2. Tidak menderita gangguan jiwa. 3. Tidak menderita penyakit menular. 4. Mampu mengurus diri 3 Data Dinas Bina Mental Spritual dan Kesejahteraan Sosial RPLU Jelambar, 2008.

55 42 Prosedur Pelayanan 1. Penyerahan dari kepolisian a. Menyerahkan langsung ke sasana b. Surat penyerahan 2. Penyerahan dari Institusi Sosial ( Pemerintah/ Swasta ) a. Surat pengantar penyerahan b. Laporan sosial ( Case Study ) PMKS ybs. 3. Penyerahan dari keluarga/ masyarakat a. Menyerahkan langsung ke sasana b. Membuat surat pernyataan tertulis diatas materai yang cukup 4. Penyerahan dari rumah sakit a. Menyerahkan ke sasana dengan surat Rekomendasi dari Dinas Sosial setempat. b. Kelengkapannya: 1) Surat penyerahan. 2) Berita acara penyerahan. 3) Case Study. Fasilitas Pelayanan 1. Penampungan dan perawatan. 2. Pelayanan Kesehatan. 3. Usaha Kesejahteraan Sosial, Mental dan Spritual bagi lansia binaan. 4. Kegiatan Rekreatif dan Rekreasi. 5. Pembinaan lanjut.

56 43 Proses Pelayanan Untuk kelancaran pelaksanaan program penanganan PMKS lanjut usia di dalam Sasana, pelaksanaannya melalui tahapan sebagai berikut: 1. Pendekatan awal/intake process, terdiri dari: a. Orientasi dan Konsultasi b. Identifikasi c. Motivasi d. Seleksi 2. Penerimaan, terdiri dari: a. Registrasi b. Penelaahan dan pengungkapan masalah c. Penempatan pada program 3. Bimbingan Sosial dan Keterampilan 4. Pembinaan lanjut a. Supervisi bagi lanjut usia binaan yang telah mampu melaksanakan fungsi sosialnya. b. Bimbingan sosial (Home Visit) terhadap lanjut usia binaan yang kembali ke keluarganya/wali. Himbauan Peran Serta (Partisipasi) Masyarakat 1. Meningkatkan kerjasama lintas sektoral 2. Social Action dari masyarakat sekitar berupa kunjungan sosial maupun sebagai Volenter. 4 4 Data Dinas Bina Mental Spritual dan Kesejahteraan Sosial RPLU Jelambar, 2008.

57 44 C. Program Kerja dan kegiatan Program kerja 1. Mengembalikan kembali menjadi manusia (tidak ada gembel, orang terlantar). 2. Memberikan pembinaan-pembinaan, yang mana dengan adanya pembinaan-pembinaan maka dibentuk adanya kegiatan-kegiatan dana pembinaan-pembinaan seperti : Kegiatan 1. Pembinaan Fisik/senam kesehatan. 2. Bimbingan Islam/ mental spritual. 3. Bimbingan Keterampilan. 4. Check Kesehatan/konsultasi Wawancara dengan Abdul Hakim ( bag. Bimbingan & Penyuluhan), Jakarta, 04 April

58 45 Tabel 1 Jadwal kegiatan harian warga binaan sosial RPLU 6 No Hari Pukul Kegiatan 1. Senin - Minggu Shalat Tahajud 2. Senin - Minggu Bangun Pagi, Mandi 3. Senin - Minggu Sholat Subuh berjamaah 4. Rabu & Sabtu Olahraga (senam) / pemeriksaan kesehatan 5. Jum at Kebersihan 6. Senin - Minggu Minum Teh 7. Senin - Minggu Makan Pagi 8. Senin - Minggu Shalat Dhuha 9. Selasa & Kamis Pembinaan Agama & Sholat Dzuhur berjamaah 10. Senin - Minggu Makan Siang 11. Senin - Minggu Tidur siang 12. Senin - Minggu Extra Fooding 13. Senin - Minggu Sholat Ashar berjamaah 14. Senin - Minggu Makan sore 15. Senin - Minggu Kegiatan Pribadi 16. Senin - Minggu Shalat Maghrib berjamaah dan Tadarus bersama 17. Senin - Minggu Istirahat 18. Senin - Minggu Shalat Isya berjamaah 19. Senin - Minggu Tidur 6 Data Dinas Bina Mental Spritual dan Kesejahteraan Sosial RPLU Jelambar, 2010.

59 46 Tabel 2 Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Kesejahteraan Sosial WBS 7 No Jenis Kegiatan Volume Keluaran / Hasil / Manfaat 1. Bimbingan Mental Spritual Islam 4 Kali - Diharapkan WBS dapat lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. 2. Bimbingan Mental Spritual Kristen 4 Kali - Manfaatnya dapat mendalami ajaran Agama yang dianutnya. 3. Bimbingan Sosial Perorangan dan Kelompok 2 Kali - Diharapkan WBS dapat beradaptasi dengan lingkungan selama berada didalam panti. - Manfaatnya dapat membagi perhatian sesama WBS lainnya dan hidup mandiri. 4. Bimbingan Keterampilan 2 Kali - Diharapkan WBS dapat mengisi waktu luangnya dan terampil dalam menyulam, membuat keset dan menjahit serta 7 Data Dinas Bina Mental Spritual dan Kesejahteraan Sosial RPLU Jelambar, 2010.

60 47 membuat bunga. - Manfaatnya WBS dapat menyalurkan Hobby dan bakatnya. 5. Senam Kesegaran Jasmani ( SKJ ) 4 Kali - Diharapkan WBS dapat hidup sehat. - Manfaatnya bagi para WBS untuk kesegaran tubuh dan kebugaran tubuh. 6. Pemeriksaan Kesehatan secara rutinitas dilaksanakan oleh tenaga Medis Puskesmas Kec. Grogol Petamburan 2 Kali - Diharapkan kesehatan WBS dapat terkontrol dengan baik. - Manfaatnya bagi para WBS dapat terdeteksi secara dini jika ada penyakit yang dideritanya.

61 48 D. Struktur Organisasi Struktur Organisasi Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 2 Cengkareng Kepala Panti KkKkp Ahmad Dumyani, SE, MM Sub bagian tata usaha Haryanto SH, Msi Seksi Perawatan Dra. Hj. Misliati Seksi Bimbingan & Penyaluran Dra. Basaria Ritonga Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar Kelompok Jabatan Fungsional

62 49 Rumah Perlindungan lanjut Usia Jelambar Penanggung Jawab Siti Murtofingah, S.AP Seksi Perawatan Suwarso Wasri Sumantri Bag. Administrasi Ferry Hermawan Selamet Riyadi Rasini Bimbingan & Penyuluhan Abdul Hakim Agus Romansyah WBS

63 50 E. Sarana dan Prasarana 1. Ruang Kantor 2. Mushalla 3. Aula 4. Kamar tidur 5. Barak 6. Tempat terapi 7. Televisi 8. Persediaan obat-obatan 9. Peralatan keterampilan 10. Lapangan parkir. 8 8 Data Dinas Bina Mental Spritual dan Kesejahteraan Sosial RPLU Jelambar, 2008.

64 BAB IV TEMUAN DAN ANALISA A. Temuan 1. Pembimbing Pembimbing adalah seseorang yang bertugas memberikan arahan dan masukan kepada kliennya agar masalah yang ada pada klien tersebut dapat terpecahkan dan berupaya agar seseorang dengan arahan pembimbing dapat memahami dirinya dan lingkungannya. Secara akademis pembimbing harus memiliki wawasan ilmu pengetahuan yang luas, serta mempunyai kemampuan dalam bidangnya dan dalam melayani berbagai permasalahan dari setiap kliennya. Dan dapat melayani berbagai permasalahan masyyarakat sesuai dengan situasi dan kondisi yang berkembang di masyarakat. Dan dalam hal ini pembimbing terutama di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar meliputi Penanggung Jawab, Seksi Keperawatan, Bagian Administrasi, dan Bagian Bimbingan dan Penyuluhan Islam. adapun nama-nama pembimbing yang dimaksud disini adalah Siti Murtofingah S.AP (Penanggung Jawab RPLU), Abdul Hakim (Staff bagian Bimbingan dan Penyuluhan Islam), Suwarso ( Staff bagian Seksi Keperawatan). 51

65 52 a. Siti Murtofingah, S.AP Beliau lahir di Kebumen tanggal 12 Juni 1967 dan lulusan Sekolah Tinggi Administrasi Mandala Indonesia, dan diangkat menjadi PNS pada tahun Beliau bergabung di Rumah Perlindungan Lanjut Usia Jelambar sejak tanggal 1 desember Dan jabatan yang diduduki di RPLU Jelambar adalah sebagai Penanggung Jawab. Adapun alasan beliau dijadikan sebagai informan karena beliau adalah yang bertanggung jawab di RPLU Jelambar, dan sebagai pembimbing penulis selama melaksanakan penelitian di RPLU Jelambar. Beliau memberikan arahan kepada penulis untuk mendapatkan informasi lainnya baik mengenai data, lansia, ataupun pembimbing lain yang harus penulis ketahui. Dan beliau pun mengetahui banyak perkembangan yang ada dari adanya bimbingan islam yang diberikan pembimbing agama kepada lansia, dan sebab itu penulis juga merasa perlu adanya informasi dari beliau selaku penanggung jawab di RPLU Jelambar. 1 b. Bapak Suwarso Beliau lahir di Jakarta tanggal 26 Mei 1964 dan luluan SMA/A3 Ilmu Sosial di Tanggerang. Awalnya sejak tahun 1996 beliau bertugas di Panti Sosial Bina Grahita Cacat Ganda Kalideres dan masih menjadi Pramu. Dan pada tahun 2003 beliau bergabung di RPLU Jelambar masih menjadi pramu. Dan tahun 2007 menjadi Wawancara Pribadi dengan Siti Murtofingah. ( Penanggung Jawab), Jakarta, 28 Maret

66 53 CPNS dan baru tahun 2010 dingkat menjadi PNS. Tugas beliau di RPLU Jelambar adalah sebagai Staf Pembinaan dan Perawatan PMKS. Yang mana beliau bertugas bagi masuk dan keluarnya lansia, untuk data-data mengenai lansia beliau pulalah yang mengetahuinya dan mengurusinya. Alasan beliau dijadikan informan adalah beliau membantu penulis dalam proses pendataan baik jumlah lansia, keadaaan panti, struktur kepegawaian, serta pembinaan dan perawatan lansia lainnya. 2 c. Ustadz Abdul Hakim Beliau lahir di Jakarta tanggal 06 Agustus 1974, beliau lulusan Darul ulum Jombang. Beliau diangkat menjadi PNS sejak tahun 2007 dan sebelumnya beliau bertugas di PSTW Cengkareng. Dan tahun 2003 beliau bergabung di RPLU Jelambar. Yang mana beliau bertugas melayani dan membantu binaan sosial, dengan tugasnya di bagian bimbingan dan penyuluhan. Alasan beliau dijadikan informan karena beliau banyak membantu penulis dalam mendapatkan informasi, beliau juga merupakan pembimbing agama dan sekaligus staf di RPLU. Dan untuk bimbingan agamanya memang beliau yang membimbing baik kelompok maupun individu di RPLU serta beliau mengetahui bentuk-bentuk perkembangan yang ada bagi lansia dengan adanya bimbingan islam tersebut. 3 2 Wawancara Pribadi dengan Suwarso. ( Staf Pembinaan dan Peraawatan PMKS), Jakarta, 28 Maret Wawancara Pribadi dengan Abdul Hakim ( Bag. Bimbingan & Penyuluhan), Jakarta, 04 April 2011.

67 54 2. Terbimbing Ialah seseorang yang mendapatkan bimbingan, pengarahan dan pembinaan untuk lebih meningkatkan kualitas ibadahnya. Dan terbimbing ini perlu adanya bimbingan yang lebih dan khusus yang bisa memberikan mereka kemudahan dalam menerima arahan dari pembimbing. Disinilah peran pembimbing yang dapat memberikan bimbingan dengan cara dan metode yang tepat bagi lansia meningat lansia yang sudah tua perlu adanya metode secaaara praktik bukan teoritik lagi. Adapun terbimbing di sini ialah Bapak Shaleh, Pak Maman, dan Ibu Yuli. a. M. Shaleh ( Lansia 1) Beliau lahir di Surabaya pada tanggal 10 Mei 1943 dan sudah tiga tahun berada di RPLU Jelambar. Beliau adalah seorang kontraktor dan mempunyai istri dan 2 orang anak. Latar belakang beliau berada di RPLU karena pernyerahan masyarakat kepada panti. Beliau yang hidup serba berkecukupan memilih untuk berada di panti dibandingkan dengan hidup bersama keluarganya dengan alasan beliau ingin melatih dirinya untuk hidup mandiri dan bisa memperbanyak belajar mengenai agama dan mengamalkannya dengan baik. Karena beliau merasa masa lalunya penuh dengan kesibukan duniawi dan melupakan ibadah. Mencari uang dan mencari uang itu sebutan bagi beliau. Akan tetapi beliau menemukan titik kejenuhan dengan apa yang dilakukannya, untuk itulah beliau memilih untuk bisa hidup dipanti dengan teman-teman sebayanya dan bisa

68 55 memperdalam agamanya karena ketika sudah tua apa lagi yang dicari kecuali bisa meningkatkan amal ibadah untuk bekal diakhirat, tutur beliau. 4 b. Yuli ( Lansia 2 ) Beliau seorang nenek yang kuat dan tangguh, lahir pada tanggal 17 Juli Sudah 4 tahun beliau berada di RPLU Jelambar. Beliau sebatang kara tidak mempunyai anak dan suaminya sudah meningggal. Beliau merupakan hasil penertiban dari petugas dan awalnya beliau di tangkap ketika menyapu di jalanan di depan Rumah makan. Beliau sangat bersyukur bisa berada di panti karena beliau sudah tidak punya siapa-siapa lagi dan hanya disisa-sisa hidupnya beliau bisa hidup dengan tenang, dan bisa mendapat banyak bimbingan terutama bimbingan ibadahnya. Meskipun sudah tua beliau masih bisa mengamalkan ibadah-ibadahnya dengan baik dan masih mau mengikuti bimbingan-bimbingan yang ada di panti. 5 c. Maman ( Lansia 3 ) Pak maman adalah seorang lansia yang merupakan penyerahan dari rumah sakit ke panti. Awalnya beliau kecelakaan sampai kakinya lumpuh dan karena ketidakberdayaan itu pak maman akhirnya di tempatkan di panti. Tetapi pak maman tidak ingin pulang ke rumahnya atau ke keluarganya di tasikmalaya dikarenakan faktor ekonomi yang sangat rendah. Beliau tidak mau menyusahkan istri dan anak-anaknya, dan beliau berharap dengan hidup di panti bisa lebih baik lagi. Karena menurut pembimbing pak maman memang sudah punya basic agama yang mantap 4 Wawancara dengan M. Shaleh ( Lansia RPLU Jelambar ), Jakarta, 04 April Wawancara dengan Yuli ( Lansia RPLU Jelambar ), Jakarta, 07 Apri 2011.

69 56 dan tinggal meningkatkannya, serta pembimbing berharap pak maman bisa menjadi contoh dan panutan bagi lansia-lansia yang lain Metode Bimbingan Islam dalam Meningkatkan Kualitas Ibadah. Metode berasal dari Bahasa Yunani Methodos yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah. Maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan. Dan dalam hal ini bimbingan dibagi dalam tiga hal yaitu: 1. Metode Invidual Adalah salah satu cara atau teknik yang digunakan untuk mengungkapkan dan mengetahui mengenai fakta-fakta mental/kejiwaan (psikis) yang ada pada diri terbimbing atau klien. Untuk itu, dalam teknik ini jalannya wawancara setiap pembimbing atau konselor melakukan pencatatan atau mungkin pula direkam agar bimbingan berjalan dengan kemudahan. 7 Pembimbing mempunyai peranan penuh dalam mengarahkan sesuai dengan masalah yang dihadapi lansia ini biasanya dilakukan secara personal. Dalam metode individu ini pembimbing berusaha melakukan pendekatan yang lebih kepada lansia. Menanyakan apa yang sedang dialami dan dirasakan. Ketika seorang lansia mempunyai semangat yang besar dalam beribadah maka pembimbing memprioritaskan dirinya untuk 6 Wawancara dengan Maman ( Lansia RPLU Jelambar ), Jakarta, 07 April M. Lutfi, Dasar-Dasar Bimbingan dan Penyuluhan (Konseling) Islam, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah 2008 ), h. 122

70 57 bisa dibimbing secara personal. Ataupun sebaliknya jika lansia membutuhkan bimbingan dan perlu akan adanya seorang pembimbing maka pembimbing pun membantu dalam permasalahannya itu. 2. Metode Kelompok Metode yang digunakan oleh pembimbing, selain metode individual adalah metode kelompok, dimana pembimbing mengumpulkan para lansia untuk mengikuti kegiatan bimbingan dan bersama-sama mendapatkan pelajaran dan bimbingan dari pembimbing. Yang sifatnya diskusi, ceramah, dan berbincang-bincang sambil santai. Dan biasanya dilakukan dengan teknik persuasive yaitu berupa dorongan-dorongan yang positif, bersifat santai, dan hiburan yang mendidik. Disana mereka menjadi satu dari yang pengamalan ibadahnya yang sudah mantap sampai yang baru belajar dan untuk bisa meningkatkan kualitas ibadahnya, maka bersama-sama mengikuti kegiatan bimbingan islam tersebut Metode Psikoanalisis Adalah salah satu teknik yang digunakan untuk memberikan penilaian terhadap peristiwa dan pengalaman kejiwaan yang pernah dialami sejak kecil. Misalnya perasaan tertekan, perasaan takut, trauma dan merasa rendah diri bila berada dalam situasi tertentu yang ada kaitannya dengan peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Bisa jadi hal ini kadang-kadang dianggap tidak rasional bagi orang lain yang ada disekitarnya, tetapi bagi diri klien mungkin menjadi masalah karena tanpa 8 wawancara pribadi dengan Abdul Hakim ( pembimbing Agama ), Jakarta, 04 April (Lampiran 2)

71 58 disadarinya peristiwa kejiwaan itu dapat menggangu pikirannnya atau mungkin pula bisa mempengaruhi keyakinan, sikap dan perilakunya sehari-hari. 9 Metode psikoanalisis pun diterapkan pembimbing kepada WBS guna mengetahui kejiwaan yang ada pada diri lansia. Mengetahui bahwa lansia yang ada sebagian besar dari jalanan dan terlantar serta memiliki kehidupan masa lalu yang berbeda-beda. Untuk itu pembimbing pun memberikan bimbingan dengan mengetahui terlebih dahulu kejiwaan yang ada pada diri WBS. Karena di panti lansia beragam-ragam ada yang sehat, sakit-sakitan, defresi, gangguan tidur dan dengan penyakit atau gangguan yang lain. Untuk itu perlu adanya metode psikoanalisis yang diberikan kepada lansia. Dan beberapa teknik yang diterapkan pada matode individu dan kelompok adalah sebagai berikut : 1) Metode Individual Menurut Ustadz Abdul Hakim dalam metode ini biasanya dilakukan pada setiap permasalahan-permasalahan kecil yang tidak berdampak besar dengan keadaaan panti. Sehingga masih dapat ditangani oleh masingmasing pimpinan unit. Dan terlebih dahulu pembimbing melakukan 9 M. Lutfi, Dasar-Dasar Bimbingan dan Penyuluhan (Konseling) Islam, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah 2008 ), h. 122

72 59 assesment awal dalam menjalankan metode ini. 10 Dan metode individual ini dapat dilakukan dengan dua teknik yaitu : a. Non Direktif Teknik ini pertama kali dikembangkan oleh Carl Rogers yang dikenal dengan Clien Centered Counseling dan pada teknik ini yang menjadi pusat ialah terbimbing. Pembimbing hanya membantu memberikan dorongan dalam memecahkan masalah klien, dan keputusan terletak pada terbimbing. Dan dalam teknik ini mengaktifkan diri terbimbing dalam mengungkapkan dan memecahkan masalah dirinya, serta tugas pembimbing berupaya mendorong tumbuhnya tanggung jawab pada diri WBS. b. Teknik direktif Adalah salah satu teknik yang diberikan dan digunakan bagi karyawan yang mengalami kesulitan dalam memahami dan memecahkannya. Maka pengarahan yang diberikan pembimbing ialah memberikan secara lansung jawaban-jawaban terhadap faktor-faktor yang dianggap menjadi penyebab timbulnya masalah pada diri terbimbing. Namun selanjutnya, pembimbing membantu mengarahkan karyawan kepada kemungkinan atau peluang-peluang yang bisa bermanfaat sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. 10 Wawancara Pribadi dengan Abdul Hakim ( Bag. Bimbingan & Penyuluhan), Jakarta, 04 April (Lampiran 2)

73 60 2) Metode Kelompok Teknik bimbingan yang digunakan melalui kegiatan bersama. Seperti kegiatan ceramah, diskusi, seminar, pelatihan, dan sebagainya. Pada bimbingan kelompok pembimbing memberikan bimbingan Islam melalui metode yang simple, praktis, dan mudah ditangkap oleh lansia, salah satunya dengan zikir. Pembimbing pun tidak mengaharuskan lansia bisa berzikir yang menurutnya bisa menyulitkan lansia. Pembimbing memberi arahan agar para WBS berzikir setiap waktu untuk mengingat Allah di mana pun dan kapan pun. Pembimbing pun tidak mengharuskan banyaknya amalan seberapa banyak dan zikir apa yang harus dipakai. Tetapi mengarahkan untuk berzikir sesuai kemampuannya. Dan pembimbing pun menerangkan dengan metode pengibaratanpengibaratan, seperti apa bentuk tubuh kita, untuk apa kita mempunyai tangan, kaki, mulut dan sebagainya itu hanya untuk beribadah kepada Allah. Ini merupakan bentuk pengibaratan pembimbing untuk mempermudah lansia menangkap apa yang dijelaskan oleh pembimbing karena lansia memiliki keterbatasan fisik baik kesehatan, pendengaran, maupun daya tangkap. Adapun materi yang diberikan pembimbing dalam bimbingan kelompok adalah sebagai berikut : Dalam bimbingan islam yang diberikan pembimbing kepada lansia adalah dengan materi zikir, yang mana zikir tersebut adalah cara yang praktis, dan mudah diterapkan kepada lansia menurut pembimbing. Karena lansia itu memang sudah tua dan mereka perlu adanya bimbingan

74 61 yang membuat mereka tidak sulit untuk bisa mengamalkannya. Dan di mula dengan zikir maka lansia bisa mengamalkannya dan menerapkannnya untuk ibadah-ibadah yang lainnya seperti shalat, mengaji, dan sebagainya. Untuk pertama yang diterapkan pembimbing adalah bahwa kita sebagai manusia harus : 1. Mengenal diri sendiri WBS harus mengenal dirinya sendiri, untuk apa kita hidup dan diciptakan, dan akan kemana kita hidup nantinya. Pembimbing memberikan arahan kepada lansia untuk bisa mengenal dirinya sendiri terlebih dahulu. Dan pada akhirnya kita berpikir dan merenunginya. 2. Dan setelah kita bisa mengenal diri kita dan untuk apa kita, maka kita akan mengetahui bahwa kita hidup semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. 3. Dan setelah ibadah, maka pembimbing mengajarkan bagaimana caranya beribadah yang benar, bagaimana cara bersyukur kepada Allah akan nikmat yang telah diberikannya. 4. Dan ketika dia bersyukur maka timbul rasa terimakasih. 5. Dengan rasa terima kasih tersebut maka mereka dapat mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-nya. 6. Setelah itu prioritas utama pembimbing adalah menggali wudhu apa manfaat wudhu serta setelah wudhu mereka akan mengerjakan shalat,

75 62 pembimbing mengutamakan ini karena menurutnya shalat itu adalah amal ibadah yang pertama kali dihisab. 7. Dan dari adanya manfaat wudhu dari niat, berkumur-kumur, membasuh wajah, tangan, kaki dan sbg. Maka akan berdampak pada adab, tata cara berbicara, akhlak, dan sopan santun. 11 Lafazh-lafazh zikir yang dimaksud antara lain adalah sebagai berikut: 1) Basmalah, lafazh basmalah ialah: Artinya: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 2) Hamdalah atau juga disebut Tahmid, lafazhnya ialah: Artinya : Segala puji bagi Allah. 3) Takbir, lafadznya ialah : Artinya: Allah Maha Besar. 4) Tahlil, lafazhnya ialah : Artinya : Tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah. 5) Ta awwuzh, lafazhnya ialah: 11 Wawancara pribadi dengan Abdul Hakim ( Pembimbing Agama ), Jakarta, 04 April ( Lampiran 2 )

76 63 Artinya : Saya berlindung kepada Allah dari godaan Syaitan yang terkutuk. 6) Istigfar, lafazhnya ialah: Artinya: Saya mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung. 7) Tasbih, lafazhnya ialah: Artinya : Maha Suci Allah. 8) Hauqalah, lafazhnya ialah : Artinya : Tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah. 9) Shalawat, lafazhnya ialah : Artinya: Ya Allah berikanlah rahmat kepada junjungan kita Nabi Muhammad dan keluarganya dan para sahabatnya semua. 10) Membaca Ayat-ayat Al-Qur an Di dalam melakukan zikir dengan ucapan, hati kita hendaknya selalu ingat kepada makna yang terkandung dalam ucapan-ucapan (lafazh-lafazh) yang sedang kita ucapkan itu. Oleh sebab itu kita harus mengetahui makna dari lafazh-lafazh itu.

BAB I PENDAHULUAN. di antara makluk-nya yang lain. Allah memberi banyak kelebihan kepada

BAB I PENDAHULUAN. di antara makluk-nya yang lain. Allah memberi banyak kelebihan kepada BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Allah menciptakan manusia dengan penciptaan yang paling sempurna di antara makluk-nya yang lain. Allah memberi banyak kelebihan kepada manusia, salah satunya yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Persada, 2003), hlm Jalaluddin, Teologi Pendidikan,(Jakarta: PT. Raja Grafindo

BAB I PENDAHULUAN. Persada, 2003), hlm Jalaluddin, Teologi Pendidikan,(Jakarta: PT. Raja Grafindo BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia pada konsep al-nas lebih ditekankan pada statusnya sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia dilihat sebagai makhluk yang memiliki dorongan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Lansia merupakan periode penutup dalam rentang hidup seseorang yaitu

BAB I PENDAHULUAN. Lansia merupakan periode penutup dalam rentang hidup seseorang yaitu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lansia merupakan periode penutup dalam rentang hidup seseorang yaitu periode dimana seseorang telah beranjak jauh dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan

Lebih terperinci

PERAN BIMBINGAN ROHANI ISLAM DALAM MENUMBUHKAN KESADARAN PASIEN RAWAT INAP AKAN HIKMAH SAKIT DI RSI KENDAL SKRIPSI

PERAN BIMBINGAN ROHANI ISLAM DALAM MENUMBUHKAN KESADARAN PASIEN RAWAT INAP AKAN HIKMAH SAKIT DI RSI KENDAL SKRIPSI PERAN BIMBINGAN ROHANI ISLAM DALAM MENUMBUHKAN KESADARAN PASIEN RAWAT INAP AKAN HIKMAH SAKIT DI RSI KENDAL SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Derajat Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I) Jurusan Bimbingan

Lebih terperinci

Diajukan oleh LESTARI NIM :

Diajukan oleh LESTARI NIM : METODE ORANG TUA DALAM MENANAMKAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ANAK DI GAMPONG JAMBO LABU KECAMATAN BIREM BAYEUN KABUPATEN ACEH TIMUR SKRIPSI Diajukan oleh LESTARI NIM : 111005490 Program Studi Pendidikan Agama

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN KELUARGA DALAM MEMBENTUK AKHLAQUL KARIMAH PADA REMAJA DI DUSUN KAUMAN PETARUKAN PEMALANG

BAB IV ANALISIS PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN KELUARGA DALAM MEMBENTUK AKHLAQUL KARIMAH PADA REMAJA DI DUSUN KAUMAN PETARUKAN PEMALANG 77 BAB IV ANALISIS PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN KELUARGA DALAM MEMBENTUK AKHLAQUL KARIMAH PADA REMAJA DI DUSUN KAUMAN PETARUKAN PEMALANG A. Analisis Tentang Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan agama merupakan salah satu bidang studi yang. dimasukkan dalam setiap kurikulum formal dan tingkat dasar hingga

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan agama merupakan salah satu bidang studi yang. dimasukkan dalam setiap kurikulum formal dan tingkat dasar hingga BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Pendidikan agama merupakan salah satu bidang studi yang dimasukkan dalam setiap kurikulum formal dan tingkat dasar hingga perguruan tinggi di Indonesia. Hal ini

Lebih terperinci

SITI MEGAWATI NIM:

SITI MEGAWATI NIM: PROFIL TOKOH AGAMA ISLAM SEBAGAI TAULADAN BAGI MASYARAKAT MENURUT PANDANGAN MASYARAKAT GAMPONG BLANG SKRIPSI Diajukan Oleh SITI MEGAWATI NIM: 211001355 Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN)

Lebih terperinci

PERAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM DALAM REHABILITASI SOSIAL KEAGAMAAN PADA LANJUT USIA TERLANTAR DI UNIT REHABILITASI SOSIAL MANDIRI SEMARANG II

PERAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM DALAM REHABILITASI SOSIAL KEAGAMAAN PADA LANJUT USIA TERLANTAR DI UNIT REHABILITASI SOSIAL MANDIRI SEMARANG II PERAN BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM DALAM REHABILITASI SOSIAL KEAGAMAAN PADA LANJUT USIA TERLANTAR DI UNIT REHABILITASI SOSIAL MANDIRI SEMARANG II SKRIPSI untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI METODE MUWAHHADAH DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENERJEMAH AL-QUR'AN (Studi Kasus di SMP Al-Hikmah Surabaya)

IMPLEMENTASI METODE MUWAHHADAH DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENERJEMAH AL-QUR'AN (Studi Kasus di SMP Al-Hikmah Surabaya) IMPLEMENTASI METODE MUWAHHADAH DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENERJEMAH AL-QUR'AN (Studi Kasus di SMP Al-Hikmah Surabaya) SKRIPSI Diajukan Kepada Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 (S.1) Dalam Ilmu Syari ah

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 (S.1) Dalam Ilmu Syari ah ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP JAMINAN KECELAKAAN KERJA (Studi Implementatif Pasal 9 UU No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja di PT Abadi Jaya Manunggal Kendal) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

BAB IV PELAKSANAAN BIMBINGAN AGAMA ISLAM DAN FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT BIMBINGAN AGAMA ISLAM BAGI PARA LANJUT USIA

BAB IV PELAKSANAAN BIMBINGAN AGAMA ISLAM DAN FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT BIMBINGAN AGAMA ISLAM BAGI PARA LANJUT USIA BAB IV PELAKSANAAN BIMBINGAN AGAMA ISLAM DAN FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT BIMBINGAN AGAMA ISLAM BAGI PARA LANJUT USIA 4.1. Pelaksanaan Bimbingan Agama Islam Di Panti Wredha Sultan Fatah Demak Panti

Lebih terperinci

PELAKSANAAN DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 12 PEKANBARU

PELAKSANAAN DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 12 PEKANBARU PELAKSANAAN DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 12 PEKANBARU Skripsi Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Oleh IVO ULTRAYANA NIM. 10913005293

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. sebagai salah satu rahmat yang tidak

BAB I PENDAHULUAN. Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. sebagai salah satu rahmat yang tidak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Alquran sebagai kitab suci umat Islam yang merupakan sumber utama dan pertama ajaran Islam, menjadi petunjuk kehidupan umat manusia diturunkan Allah swt. kepada

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS MASALAH. 4.1 Analisis Tentang Kepercayaan Diri Anak Tuna Netra di Balai

BAB IV ANALISIS MASALAH. 4.1 Analisis Tentang Kepercayaan Diri Anak Tuna Netra di Balai 69 BAB IV ANALISIS MASALAH 4.1 Analisis Tentang Kepercayaan Diri Anak Tuna Netra di Balai Rehabilitasi Data hasil penelitian lapangan memberikan gambaran yang cukup jelas bahwa pada awal anak tuna netra

Lebih terperinci

Faktor-Faktor Psikologis Yang Mempengaruhi Intensi Membeli Air Minum Dalam Kemasan Merek Aqua Pada Mahasiswa FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Faktor-Faktor Psikologis Yang Mempengaruhi Intensi Membeli Air Minum Dalam Kemasan Merek Aqua Pada Mahasiswa FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Faktor-Faktor Psikologis Yang Mempengaruhi Intensi Membeli Air Minum Dalam Kemasan Merek Aqua Pada Mahasiswa FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Di Susun Oleh: NYA SORAYA RIZKINA (106070002284) Skripsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan kesehatan yang Islami dalam aspek sumber. (wawancara dengan dr. Ismanto tenaga medis di RSI Pati, 17 Maret 2014).

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan kesehatan yang Islami dalam aspek sumber. (wawancara dengan dr. Ismanto tenaga medis di RSI Pati, 17 Maret 2014). BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rumah Sakit Islam Pati merupakan Rumah sakit yang didirikan oleh Yayasan Kesejahteraan Muslimat (YKM). Rumah Sakit ini dalam memberikan pelayanan kesehatan bersifat

Lebih terperinci

STRATEGI COPING PADA MAHASISWA KORBAN BROKEN HOME (STUDI KASUS ATAS EMPAT MAHASISWA PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM ANGKATAN 2011)

STRATEGI COPING PADA MAHASISWA KORBAN BROKEN HOME (STUDI KASUS ATAS EMPAT MAHASISWA PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM ANGKATAN 2011) STRATEGI COPING PADA MAHASISWA KORBAN BROKEN HOME (STUDI KASUS ATAS EMPAT MAHASISWA PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM ANGKATAN 2011) OLEH HARTATI INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUHAN. untuk mengenal Allah swt dan melakukan ajaran-nya. Dengan kata lain,

BAB I PENDAHULUHAN. untuk mengenal Allah swt dan melakukan ajaran-nya. Dengan kata lain, 1 BAB I PENDAHULUHAN A. Konteks Penelitian Anak dilahirkan dalam keadaan lemah baik secara fisik maupun kejiwaan, sejak lahir seorang anak sudah dianugerahi fitrah (potensi) untuk mengenal Allah swt dan

Lebih terperinci

Potensi Muslimah Muslimah Berpotensi

Potensi Muslimah Muslimah Berpotensi 31 Agustus 2005 Potensi Muslimah Muslimah Berpotensi Orang tua kita yang telah menyekolahkan anaknya mencapai tingkat pendidikan tinggi, dalam menanggapi putrinya yang lebih memilih aktif di rumah setelah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Allah SWT mengisi dunia ini dengan berbagai macam ciptaannya, sehingga

BAB I PENDAHULUAN. Allah SWT mengisi dunia ini dengan berbagai macam ciptaannya, sehingga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Allah SWT mengisi dunia ini dengan berbagai macam ciptaannya, sehingga tampaklah keindahan yang tercipta di hamparan bumi ini. Namun Allah SWT menciptakan berbagai macam

Lebih terperinci

Isilah 10 Hari Awal Dzul Hijjah dengan Ketaatan

Isilah 10 Hari Awal Dzul Hijjah dengan Ketaatan Isilah 10 Hari Awal Dzul Hijjah dengan Ketaatan Isilah 10 Hari Awal Dzul Hijjah dengan Ketaatan Khutbah Pertama???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Lebih terperinci

ANALISIS PERILAKU KONSUMEN MUSLIM DALAM HAL TREND JILBAB PERSPEKTIF TEORI KONSUMSI ISLAM

ANALISIS PERILAKU KONSUMEN MUSLIM DALAM HAL TREND JILBAB PERSPEKTIF TEORI KONSUMSI ISLAM ANALISIS PERILAKU KONSUMEN MUSLIM DALAM HAL TREND JILBAB PERSPEKTIF TEORI KONSUMSI ISLAM (studi kasus pada mahasiswi Fakultas Syari ah Jurusan Ekonomi Islam angkatan 2009 IAIN Walisongo Semarang) SKRIPSI

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM NOVEL NAK, MAAFKAN IBU TAK MAMPU MENYEKOLAHKANMU KARYA WIWID PRASETYO

BAB IV ANALISIS NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM NOVEL NAK, MAAFKAN IBU TAK MAMPU MENYEKOLAHKANMU KARYA WIWID PRASETYO 75 BAB IV ANALISIS NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM NOVEL NAK, MAAFKAN IBU TAK MAMPU MENYEKOLAHKANMU KARYA WIWID PRASETYO Setelah dilakukan penelitian dan pengkajian adapun kandungan dalam novel Nak,

Lebih terperinci

PROBLEMATIKA PEMBINAAN AKHLAK ANAK DI GAMPONG LHOK SEUNTANG KECAMATAN JULOK KABUPATEN ACEH TIMUR. Skripsi. Diajukan Oleh : J A S M A N I

PROBLEMATIKA PEMBINAAN AKHLAK ANAK DI GAMPONG LHOK SEUNTANG KECAMATAN JULOK KABUPATEN ACEH TIMUR. Skripsi. Diajukan Oleh : J A S M A N I PROBLEMATIKA PEMBINAAN AKHLAK ANAK DI GAMPONG LHOK SEUNTANG KECAMATAN JULOK KABUPATEN ACEH TIMUR Skripsi Diajukan Oleh : J A S M A N I Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Zawiyah Cot Kala

Lebih terperinci

PROBLEMATIKA MANAJEMEN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN SOLUSINYA DI SMP ISLAM HIDAYATULLAH SEMARANG

PROBLEMATIKA MANAJEMEN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN SOLUSINYA DI SMP ISLAM HIDAYATULLAH SEMARANG PROBLEMATIKA MANAJEMEN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN SOLUSINYA DI SMP ISLAM HIDAYATULLAH SEMARANG SKRIPSI Disusun untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata

Lebih terperinci

MANAJEMEN DANA ZAKAT DI BADAN AMIL ZAKAT DAERAH (BAZDA) KABUPATEN KENDAL

MANAJEMEN DANA ZAKAT DI BADAN AMIL ZAKAT DAERAH (BAZDA) KABUPATEN KENDAL MANAJEMEN DANA ZAKAT DI BADAN AMIL ZAKAT DAERAH (BAZDA) KABUPATEN KENDAL SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana (S1) Dalam Ilmu Ekonomi Islam Disusun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Segala puji bagi Allah Swt. yang mengatur dan memelihara segala sesuatu yang

BAB I PENDAHULUAN. Segala puji bagi Allah Swt. yang mengatur dan memelihara segala sesuatu yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Segala puji bagi Allah Swt. yang mengatur dan memelihara segala sesuatu yang ada di alam ini, serta teriring salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad

Lebih terperinci

KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DI PONDOK PESANTREN (Studi di Pondok Pesantren Hajroh Basyir Salafiyah Kajen Margoyoso Pati) SKRIPSI

KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DI PONDOK PESANTREN (Studi di Pondok Pesantren Hajroh Basyir Salafiyah Kajen Margoyoso Pati) SKRIPSI KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DI PONDOK PESANTREN (Studi di Pondok Pesantren Hajroh Basyir Salafiyah Kajen Margoyoso Pati) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana Sosial

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. seluruh umat Muslim di dunia. Dalam ibadah yang disyariatkan Allah kepada

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. seluruh umat Muslim di dunia. Dalam ibadah yang disyariatkan Allah kepada BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mendirikan shalat merupakan suatu ibadah yang wajib dilakukan bagi seluruh umat Muslim di dunia. Dalam ibadah yang disyariatkan Allah kepada manusia tersebut,

Lebih terperinci

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENGAKTUALISASIKAN KEGIATAN DAKWAH DI GAMPONG BUKIT SEULEMAK KECAMATAN BIREM BAYEUN. Skripsi. Diajukan Oleh : ANITA

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENGAKTUALISASIKAN KEGIATAN DAKWAH DI GAMPONG BUKIT SEULEMAK KECAMATAN BIREM BAYEUN. Skripsi. Diajukan Oleh : ANITA PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENGAKTUALISASIKAN KEGIATAN DAKWAH DI GAMPONG BUKIT SEULEMAK KECAMATAN BIREM BAYEUN Skripsi Diajukan Oleh : ANITA Mahasiswa Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Zawiyah Cot

Lebih terperinci

PERNYATAAN. Tugas Akhir yang berjudul MEKANISME PENYELESAIAN PEMBIAYAAN BERMASALAH PADA PRODUK MUDHARABAH

PERNYATAAN. Tugas Akhir yang berjudul MEKANISME PENYELESAIAN PEMBIAYAAN BERMASALAH PADA PRODUK MUDHARABAH PERNYATAAN Dengan penuh kejujuran dan tanggunga jawab, penulis menyatakan bahwa Tugas Akhir yang berjudul MEKANISME PENYELESAIAN PEMBIAYAAN BERMASALAH PADA PRODUK MUDHARABAH TANPA JAMINAN DI PASAR WONIPRINGGO

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. data yang ada dalam ini adalah upaya guru PAI dalam pengembangan. data untuk memberi gambaran penyajian laporan.

BAB III METODE PENELITIAN. data yang ada dalam ini adalah upaya guru PAI dalam pengembangan. data untuk memberi gambaran penyajian laporan. 52 BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Sesuai dengan judul yang peneliti angkat, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, fenomenologis dan berbentuk diskriptif.

Lebih terperinci

TEKNIK PENYAMPAIAN PESAN DALAM FILM SANG PEMIMPI PERSPEKTIF DAKWAH

TEKNIK PENYAMPAIAN PESAN DALAM FILM SANG PEMIMPI PERSPEKTIF DAKWAH TEKNIK PENYAMPAIAN PESAN DALAM FILM SANG PEMIMPI PERSPEKTIF DAKWAH SKRIPSI untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I) Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Siti

Lebih terperinci

RAGAM BAHASA REMAJA DALAM SITUS JEJARING SOSIAL FACEBOOK SKRIPSI. oleh ELIA PUTRI MAHARANI NIM

RAGAM BAHASA REMAJA DALAM SITUS JEJARING SOSIAL FACEBOOK SKRIPSI. oleh ELIA PUTRI MAHARANI NIM RAGAM BAHASA REMAJA DALAM SITUS JEJARING SOSIAL FACEBOOK SKRIPSI oleh ELIA PUTRI MAHARANI NIM 070210402091 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS UPAYA GURU PAI DALAM MEMBINA MORAL SISWA SMP NEGERI 1 KANDEMAN BATANG

BAB IV ANALISIS UPAYA GURU PAI DALAM MEMBINA MORAL SISWA SMP NEGERI 1 KANDEMAN BATANG BAB IV ANALISIS UPAYA GURU PAI DALAM MEMBINA MORAL SISWA SMP NEGERI 1 KANDEMAN BATANG A. Analisis tentang Upaya Guru PAI dalam Membina Moral Siswa SMP Negeri 1 Kandeman Batang Sekolah adalah lingkungan

Lebih terperinci

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN 2016/1437 H

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN 2016/1437 H PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA PAPAN PLANEL TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN IPS DI MIN IZHARUSSALAM BARUH JAYA KECAMATAN DAHA SELATAN KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN OLEH SITI RAHMAH INSTITUT AGAMA

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN REKOMENDASI BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Simpulan 1. Secara Umum Konsep pendidikan yang Islami menurut Mohammad Natsir menjelaskan bahwa asas pendidikan Islam adalah tauhid. Ajaran tauhid manifestasinya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW membawa agama yang suci. kehidupan, menjamin bagi manusia berkehidupan bersih lagi mulia, dan

BAB I PENDAHULUAN. Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW membawa agama yang suci. kehidupan, menjamin bagi manusia berkehidupan bersih lagi mulia, dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW membawa agama yang suci lagi penuh kelapangan, serta syariat yang lengkap dan meliputi segala aspek

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yakni tingginya angka korupsi, semakin bertambahnya jumlah pemakai narkoba,

BAB I PENDAHULUAN. yakni tingginya angka korupsi, semakin bertambahnya jumlah pemakai narkoba, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini bukan hanya mengenai ekonomi, keamanan dan kesehatan, tetapi juga menurunnya kualitas sumber daya

Lebih terperinci

ANALISIS KOHESI LEKSIKAL SINONIMI PADA TEKS TERJEMAHAN ALQURAN SURAH AN-NAHL

ANALISIS KOHESI LEKSIKAL SINONIMI PADA TEKS TERJEMAHAN ALQURAN SURAH AN-NAHL ANALISIS KOHESI LEKSIKAL SINONIMI PADA TEKS TERJEMAHAN ALQURAN SURAH AN-NAHL SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah

Lebih terperinci

1. lebih menitikberatkan pencapaian kompetensi secara utuh selain penguasaan materi;

1. lebih menitikberatkan pencapaian kompetensi secara utuh selain penguasaan materi; 5. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar Luar Biasa Tunalaras (SDLB-E) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya

Lebih terperinci

Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. [Q.S. 6 : 116]

Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. [Q.S. 6 : 116] Untuk selamat dari siksa neraka, mungkin adalah suatu yang sangat mustahil bagi kita karena memang Mayoritas manusia memang tersesat.dalam Al-Qur an sendiri sudah menegaskan hal itu. Jika kamu mengikuti

Lebih terperinci

AKTIFITAS BIMBINGAN AGAMA DALAM PEMBINAAN PERILAKU MENYIMPANG ANAK ASUH DI PANTI ASUHAN AS-SOHWAH WILAYAH KOTA PEKANBARU SKRIPSI

AKTIFITAS BIMBINGAN AGAMA DALAM PEMBINAAN PERILAKU MENYIMPANG ANAK ASUH DI PANTI ASUHAN AS-SOHWAH WILAYAH KOTA PEKANBARU SKRIPSI AKTIFITAS BIMBINGAN AGAMA DALAM PEMBINAAN PERILAKU MENYIMPANG ANAK ASUH DI PANTI ASUHAN AS-SOHWAH WILAYAH KOTA PEKANBARU SKRIPSI Di AjukanUntukMelengkapiTugasdanMemenuhiSyarat- SyaratGunaMemperolehGelarSerjanaKomunikasi

Lebih terperinci

STRATEGI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SD NEGERI 2 JATISABA KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS TAHUN PELAJARAN 2014 / 2015 SKRIPSI

STRATEGI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SD NEGERI 2 JATISABA KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS TAHUN PELAJARAN 2014 / 2015 SKRIPSI STRATEGI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SD NEGERI 2 JATISABA KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS TAHUN PELAJARAN 2014 / 2015 SKRIPSI Diajukan Kepada Instutut Agama Islam Negeri Purwokerto Untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan melalui wahyu Allah yang disampaikan oleh Malaikat jibril. Islam itu

BAB I PENDAHULUAN. dengan melalui wahyu Allah yang disampaikan oleh Malaikat jibril. Islam itu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Islam adalah agama Allah yang kepada Nabi Muhammad SAW, dengan melalui wahyu Allah yang disampaikan oleh Malaikat jibril. Islam itu sendiri didirikan atas lima

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan

Lebih terperinci

Sucikan Diri Benahi Hati

Sucikan Diri Benahi Hati Sucikan Diri Benahi Hati Khutbah Pertama:?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????...????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian Berdasarkan sumber data, jenis penelitian yang peneliti lakukan adalah berupa penelitian lapangan (Field Research). Penelitian lapangan (Field

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan atau field research, yaitu penelitian yang di lakukan secara intensif, terinci dan mendalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sudah banyak pernyataan yang dikemukakan bahwa Indonesia sekarang krisis keteladanan. Krisis keteladanan maksudnya tidak ada lagi tokoh yang pantas menjadi idola,

Lebih terperinci

Khutbah Jum'at. Melanjutkan Spirit Qurban dalam Kehidupan. Bersama Dakwah 1

Khutbah Jum'at. Melanjutkan Spirit Qurban dalam Kehidupan. Bersama Dakwah 1 Bersama Dakwah 1 KHUTBAH PERTAMA.. Lima hari yang lalu Allah SWT mempertemukan kita dengan Idul Adha; disebut pula yaumun nahar, hari raya qurban. Lalu hari ini kita dipertemukan-nya dengan hari raya pekanan;

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Peraturan Pelaksanaannya (Bandung: Citra Umbara, 2010), h. 6.

BAB I PENDAHULUAN. Peraturan Pelaksanaannya (Bandung: Citra Umbara, 2010), h. 6. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembinaan akhlak sangat penting ditanamkan sejak dini, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat, agar menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur.

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. dalam penelitian novel Saya Mujahid Bukan Teroris karya Muhammad B.

BAB V PENUTUP. dalam penelitian novel Saya Mujahid Bukan Teroris karya Muhammad B. BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Berdasarkan uraian dari bab-bab sebelumnya, hasil temuan penulis dalam penelitian novel Saya Mujahid Bukan Teroris karya Muhammad B. Anggoro yaitu berupa makna pesan dakwah

Lebih terperinci

PERAN PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH DALAM MENINGKATKAN PENDIDIKAN ISLAM DI KABUPATEN SUMBAWA TAHUN

PERAN PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH DALAM MENINGKATKAN PENDIDIKAN ISLAM DI KABUPATEN SUMBAWA TAHUN PERAN PIMPINAN DAERAH MUHAMMADIYAH DALAM MENINGKATKAN PENDIDIKAN ISLAM DI KABUPATEN SUMBAWA TAHUN 2005-2010 NASKAH PUBLIKASI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat dan Tugas guna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

Skripsi. Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S-1) dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam

Skripsi. Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S-1) dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN FIQIH POKOK MATERI MAKANAN DAN MINUMAN MELALUI METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW PADA KELAS VIIIA MTs ASY-SYARIFIYAH

Lebih terperinci

ANALISIS HUKUM ACARA TERHADAP PELAKSANAAN SIDANG KELILING (STUDY KASUS SIDANG KELILING DI PENGADILAN AGAMA TANJUNG BALAI KARIMUN DI KECAMATAN KUNDUR).

ANALISIS HUKUM ACARA TERHADAP PELAKSANAAN SIDANG KELILING (STUDY KASUS SIDANG KELILING DI PENGADILAN AGAMA TANJUNG BALAI KARIMUN DI KECAMATAN KUNDUR). ANALISIS HUKUM ACARA TERHADAP PELAKSANAAN SIDANG KELILING (STUDY KASUS SIDANG KELILING DI PENGADILAN AGAMA TANJUNG BALAI KARIMUN DI KECAMATAN KUNDUR). SKRIPSI Diajukan Kepada Untuk Melengkapi Sebagian

Lebih terperinci

JURUSAN MUAMALAH FAKULTAS SYARI AH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2011

JURUSAN MUAMALAH FAKULTAS SYARI AH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2011 TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG PELAKSANAAN PEMBAYARAN NISHAB ZAKAT TANAMAN PADI DI DESA KEDUNGWUNGU KECAMATAN TEGOWANU KABUPATEN GROBOGAN SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh

Lebih terperinci

1734/BPI-D/SD-S1/2014

1734/BPI-D/SD-S1/2014 1734/BPI-D/SD-S1/2014 BIMBINGAN PRANIKAH BAGI CALON PENGANTIN DALAM MEWUJUDKAN KELUARGA SAKINAH (Studi Tentang Kegiatan BP-4 Kantor Urusan Agama Kecamatan Kuantan Tengah Kabupaten Kuantan Singingi) SKRIPSI

Lebih terperinci

TINGKAT KESADARAN PEGAWAI DALAM MEMBAYAR ZAKAT PROFESI DI LINGKUNGAN KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KOTA PEKANBARU SKRIPSI

TINGKAT KESADARAN PEGAWAI DALAM MEMBAYAR ZAKAT PROFESI DI LINGKUNGAN KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KOTA PEKANBARU SKRIPSI 1655/MD-D/SD-SI/2014 TINGKAT KESADARAN PEGAWAI DALAM MEMBAYAR ZAKAT PROFESI DI LINGKUNGAN KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KOTA PEKANBARU SKRIPSI Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Salah Satu Syarat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam ajaran Islam penanaman nilai aqidah akhlak bagi manusia

BAB I PENDAHULUAN. Dalam ajaran Islam penanaman nilai aqidah akhlak bagi manusia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam ajaran Islam penanaman nilai aqidah akhlak bagi manusia merupakan hal yang sangat mendasar, karena itu nilai ini harus senantiasa ditanamkan sejak dini

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan Oleh:

SKRIPSI. Diajukan Oleh: TANGGUNG JAWAB ANAK PEREMPUAN DALAM KELUARGA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP SISTEM KEWARISAN (Kajian Terhadap Adat Perpatih Masyarakat Rembau, Negeri Sembilan) SKRIPSI Diajukan Oleh: SITI AMINAH BINTI MOHD

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan uraian dari bab demi bab yang telah peneliti kemukakan diatas, maka peneliti bisa mengambil beberapa

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan uraian dari bab demi bab yang telah peneliti kemukakan diatas, maka peneliti bisa mengambil beberapa BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan uraian dari bab demi bab yang telah peneliti kemukakan diatas, maka peneliti bisa mengambil beberapa kesimpulan sebagai 1. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana

Lebih terperinci

PENERAPAN MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM DI PLAY GROUP ISLAM TERPADU PERMATA HATI NGALIYAN SEMARANG

PENERAPAN MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM DI PLAY GROUP ISLAM TERPADU PERMATA HATI NGALIYAN SEMARANG PENERAPAN MULTIMEDIA DALAM PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM DI PLAY GROUP ISLAM TERPADU PERMATA HATI NGALIYAN SEMARANG SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Program

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. meliputi manusia, hewan, dan tumbuhan. Diantara ciptaan-nya, manusia

BAB 1 PENDAHULUAN. meliputi manusia, hewan, dan tumbuhan. Diantara ciptaan-nya, manusia BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuhan Yang Maha Esa menciptakan alam semesta beserta isinya yang meliputi manusia, hewan, dan tumbuhan. Diantara ciptaan-nya, manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan ahkirat. manusia dengan berbagai dimensi kemanusiaannya, potensinya, dan

BAB I PENDAHULUAN. keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan ahkirat. manusia dengan berbagai dimensi kemanusiaannya, potensinya, dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Makluk Allah yang paling sempurna adalah Manusia. Karena manusia diberi kelebihan berupa akal dan fikiran agar dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk.

Lebih terperinci

Diajukan oleh: HANIFAH

Diajukan oleh: HANIFAH PENERAPAN PAPAN MAGNETIK DAN CD WARNA UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT SISWA KELAS IV SDN KLECO I SURAKARTA Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. ii UPAYA MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL MATERI MENGENAL PERMASALAHAN SOSIAL MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO-VISUAL DI KELAS IV SD NEGERI

Lebih terperinci

DESKRIPSI KALIMAT BERITA, TANYA, DAN PERINTAH PADA JUDUL BUKU CERITA ANAK SKRIPSI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan. Guna mencapai derajat

DESKRIPSI KALIMAT BERITA, TANYA, DAN PERINTAH PADA JUDUL BUKU CERITA ANAK SKRIPSI. Untuk memenuhi sebagian persyaratan. Guna mencapai derajat DESKRIPSI KALIMAT BERITA, TANYA, DAN PERINTAH PADA JUDUL BUKU CERITA ANAK SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia YULI ASTUTI

Lebih terperinci

KELUARGA ADALAH MINIATUR PERILAKU BUDAYA. Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar Dosen : Muhammad Burhan Amin

KELUARGA ADALAH MINIATUR PERILAKU BUDAYA. Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar Dosen : Muhammad Burhan Amin KELUARGA ADALAH MINIATUR PERILAKU BUDAYA Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar Dosen : Muhammad Burhan Amin i Topik Makalah Keluarga Adalah Miniatur Perilaku Budaya Kelas : 1-ID08 Tanggal Penyerahan Makalah

Lebih terperinci

WACANA ARGUMENTASI DALAM RUBRIK OPINI PADA SURAT KABAR HARIAN JAWA POS DAN PEMANFAATANNYA DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA KRITIS DI SMA SKRIPSI

WACANA ARGUMENTASI DALAM RUBRIK OPINI PADA SURAT KABAR HARIAN JAWA POS DAN PEMANFAATANNYA DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA KRITIS DI SMA SKRIPSI WACANA ARGUMENTASI DALAM RUBRIK OPINI PADA SURAT KABAR HARIAN JAWA POS DAN PEMANFAATANNYA DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA KRITIS DI SMA SKRIPSI Oleh Winarti NIM 070210402096 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa

Lebih terperinci

SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Drajat Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I) Jurusan Manajemen Dakwah (MD) SABIQ ATTAQY

SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Drajat Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I) Jurusan Manajemen Dakwah (MD) SABIQ ATTAQY OPTIMALISASI PERAN DAN FUNGSI MASJID DALAM PENINGKATAN DAKWAH ISLAM (STUDI KASUS DI MASJID BESAR BAITUL MUTTAQIN KAUMAN KECAMATAN MRANGGEN KABUPATEN DEMAK) SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia diciptakan Allah dalam dua dimensi untuk melakukan hal-hal positif

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Manusia diciptakan Allah dalam dua dimensi untuk melakukan hal-hal positif BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia diciptakan Allah dalam dua dimensi untuk melakukan hal-hal positif dan negatif dimana kedua dimensi ini cenderung sama-sama memiliki karakter, potensi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sedang berkembang, maka pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sedang berkembang, maka pendidikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sedang berkembang, maka pendidikan mempunyai peranan yang penting untuk perkembangan tersebut. Dengan

Lebih terperinci

BIMBINGAN PERKAWINAN DI KUA KECAMATAN BANJARMASIN BARAT KOTA BANJARMASIN

BIMBINGAN PERKAWINAN DI KUA KECAMATAN BANJARMASIN BARAT KOTA BANJARMASIN BIMBINGAN PERKAWINAN DI KUA KECAMATAN BANJARMASIN BARAT KOTA BANJARMASIN OLEH: MIRAWATI NIM.0901340663 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI BANJARMASIN 2015M/1436H i ii BIMBINGAN PERKAWINAN DI KUA KECAMATAN

Lebih terperinci

Skripsi. Diajukan Oleh : HILDA AYU NANDA

Skripsi. Diajukan Oleh : HILDA AYU NANDA PENERAPAN MEDIA LEMBAR KERJA SISWA DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (Studi Kasus di SMA Negeri 3 Langsa Tahun Pelajaran 2012/2013) Skripsi Diajukan Oleh : HILDA

Lebih terperinci

STUDI TENTANG MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DAN PERANANNYA DALAM MENINGKATAN MUTU GURU DI MTS NEGERI JEKETRO KABUPATEN GROBOGAN

STUDI TENTANG MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DAN PERANANNYA DALAM MENINGKATAN MUTU GURU DI MTS NEGERI JEKETRO KABUPATEN GROBOGAN STUDI TENTANG MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DAN PERANANNYA DALAM MENINGKATAN MUTU GURU DI MTS NEGERI JEKETRO KABUPATEN GROBOGAN SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Setelah menulis menyelesaikan pembahasan dalam skripsi ini, kiranya dapat diambil kesimpulan : 1. Pendidikan Islam adalah usaha bimbingan jasmani dan rohani pada tingkat kehidupan

Lebih terperinci

SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S-1. Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah.

SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S-1. Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah. GAYA KATA (DIKSI) PADA KUMPULAN PUISI GOLF UNTUK RAKYAT KARYA DARMANTO JATMAN DAN PEMAKNAANNYA: KAJIAN STILISTIKA DAN IMPLEMENTASINYA SEBAGAI BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA DI SMA SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Secara filosofis, ibadah dalam Islam tidak semata-mata bertujuan

BAB I PENDAHULUAN. Secara filosofis, ibadah dalam Islam tidak semata-mata bertujuan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara filosofis, ibadah dalam Islam tidak semata-mata bertujuan untuk menyembah Allah. Sebab, disembah maupun tidak disembah Allah tetaplah Allah. Esensi

Lebih terperinci

STRATEGI BERTANYA GURU DALAM INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR BAHASA INDONESIA KELAS VIII SMP NEGERI 18 MALANG SKRIPSI

STRATEGI BERTANYA GURU DALAM INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR BAHASA INDONESIA KELAS VIII SMP NEGERI 18 MALANG SKRIPSI STRATEGI BERTANYA GURU DALAM INTERAKSI BELAJAR MENGAJAR BAHASA INDONESIA KELAS VIII SMP NEGERI 18 MALANG SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Bahasa

Lebih terperinci

ANALISIS KUALITAS KINERJA RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI) BERBASIS ISO (Studi Kasus pada SMA Negeri 1 Jepara) SKRIPSI

ANALISIS KUALITAS KINERJA RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI) BERBASIS ISO (Studi Kasus pada SMA Negeri 1 Jepara) SKRIPSI ANALISIS KUALITAS KINERJA RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (RSBI) BERBASIS ISO 9001 (Studi Kasus pada SMA Negeri 1 Jepara) SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. kualitatif. Yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah penelitian yang

BAB III METODE PENELITIAN. kualitatif. Yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah penelitian yang BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Jenis dan Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk dihafal. Karena keaslian dan kemurnian Al-Qur'an haruslah tetap

BAB I PENDAHULUAN. untuk dihafal. Karena keaslian dan kemurnian Al-Qur'an haruslah tetap BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Jika dilihat dari salah satu fungsi diturunkannya Al-Qur'an adalah untuk dihafal. Karena keaslian dan kemurnian Al-Qur'an haruslah tetap terjaga. Sejalan dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di pesantren. Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan agama

BAB I PENDAHULUAN. di pesantren. Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan agama BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Santri merupakan sebutan bagi para siswa yang belajar mendalami agama di pesantren. Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan agama islam yang bertujuan

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S 1 ) dalam Ilmu Tarbiyah.

SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S 1 ) dalam Ilmu Tarbiyah. PENGARUH BACAAN FIKSI TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK PADA BIDANG STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SDN 02 PEGADEN TENGAH WONOPRINGGO PEKALONGAN SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci.

BAB III METODE PENELITIAN. dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dimaksudkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik. 1

BAB I PENDAHULUAN. lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Belajar merupakan masalah yang kompleks karena setiap individu yang belajar melibatkan aspek kepribadiannya, baik fisik maupun mental sehingga akan terjadi perubahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. amanah dari Allah SWT dan fungsi sebagai generasi penerus kehidupan di

BAB I PENDAHULUAN. amanah dari Allah SWT dan fungsi sebagai generasi penerus kehidupan di BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Secara logis anak memiliki dua nilai fungsi, yakni fungsi sebagai amanah dari Allah SWT dan fungsi sebagai generasi penerus kehidupan di masa depan. Untuk memenuhi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perhatian; motivasi; keaktifan siswa; mengalami sendiri; pengulangan; materi

BAB I PENDAHULUAN. perhatian; motivasi; keaktifan siswa; mengalami sendiri; pengulangan; materi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam sebuah pendidikan, proses belajar memegang peranan yang sangat vital. Belajar merupakan proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang. Perubahan yang

Lebih terperinci

PENERAPAN MODEL KONSELING BEHAVIORISTIK UNTUK MENGATASI SISWA SERING TIDAK MASUK SEKOLAH KELAS X SMK NU LASEM REMBANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012

PENERAPAN MODEL KONSELING BEHAVIORISTIK UNTUK MENGATASI SISWA SERING TIDAK MASUK SEKOLAH KELAS X SMK NU LASEM REMBANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012 PENERAPAN MODEL KONSELING BEHAVIORISTIK UNTUK MENGATASI SISWA SERING TIDAK MASUK SEKOLAH KELAS X SMK NU LASEM REMBANG TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Oleh NUR HANDAYANI NIM. 200831045 PROGRAM STUDI BIMBINGAN

Lebih terperinci

PELECEHAN SEKSUAL TERHADAP ANAK (PEDOPHILIA) MENURUT HUKUM POSITIF DAN HUKUM ISLAM SKRIPSI

PELECEHAN SEKSUAL TERHADAP ANAK (PEDOPHILIA) MENURUT HUKUM POSITIF DAN HUKUM ISLAM SKRIPSI PELECEHAN SEKSUAL TERHADAP ANAK (PEDOPHILIA) MENURUT HUKUM POSITIF DAN HUKUM ISLAM SKRIPSI OLEH: AWALIA META SARI NIM. 3222113006 JURUSAN HUKUM KELUARGA FAKULTAS SYARIAH DAN ILMU HUKUM INSTITUT AGAMA ISLAM

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan

BAB I PENDAHULUAN. kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk

Lebih terperinci

Assalamu alaikum wr. wb.

Assalamu alaikum wr. wb. Assalamu alaikum wr. wb. Ibadah: Aspek Ritual Umat Islam Pokok Bahasan 1. Makna Ibadah 2. Fungsi Ibadah 3. Kewajiban Beribadah bagi Manusia 4. Bentuk-bentuk Peribadatan a. Shalat: Makna, Tata Cara, dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seluruh alam. Agama yang menjamin terwujudnya kebahagiaan dan

BAB I PENDAHULUAN. seluruh alam. Agama yang menjamin terwujudnya kebahagiaan dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Islam adalah agama dakwah, yaitu agama yang menyerukan kepada umatnya dan menyiarkan Islam kepada seluruh umat manusia sebagai rahmat seluruh alam. Agama yang menjamin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada era globalisasi dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan

BAB I PENDAHULUAN. Pada era globalisasi dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada era globalisasi dan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi ini ikut menuntut kemajuan dalam segala sektor. Hal ini terlihat dengan adanya persaingan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Percaya akan diri sendiri dalam melakukan sesuatu. Percaya diri wajib dimiliki oleh siswa agar mudah bergaul dengan teman-teman sebayanya, karena dengan rasa percaya

Lebih terperinci

PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH DASAR AL FALAAH SIMO BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 2013/2014

PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH DASAR AL FALAAH SIMO BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 2013/2014 PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH DASAR AL FALAAH SIMO BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 2013/2014 I T A S M U H A M M A D I V E R S U N I YA H S U R A K A R T A NASKAH

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kepada Allah SWT, terampil cerdas memiliki etos kerja yang tinggi, budi

BAB I PENDAHULUAN. kepada Allah SWT, terampil cerdas memiliki etos kerja yang tinggi, budi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendikan Islam sebagai suatu proses pengembangan potensi kreatifitas anak didik, bertujuan untuk mewujudkan manusia beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, terampil

Lebih terperinci