Perbedaan Karakteristik Lanjut Usia yang Tinggal di Keluarga dengan yang Tinggal di Panti di Jakarta Barat

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Perbedaan Karakteristik Lanjut Usia yang Tinggal di Keluarga dengan yang Tinggal di Panti di Jakarta Barat"

Transkripsi

1 Perbedaan Karakteristik Lanjut Usia yang Tinggal di dengan yang Tinggal di di Jakarta Barat Budi Riyanto Wreksoatmodjo Bagian Neurologi, Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya, Jakarta, Indonesia ABSTRAK Penelitian dilakukan atas 210 lanjut usia yang tinggal di keluarga dan 76 lanjut usia yang tinggal di panti werdha di Jakarta Barat. Mereka yang tinggal di panti werdha lebih lanjut usia, lebih rendah tingkat pendidikannya dan lebih banyak yang tidak bekerja. Tidak didapatkan perbedaan bermakna dalam riwayat hipertensi dan diabetes melitus, tetapi mereka yang tinggal di panti werdha lebih banyak yang underweight. Para penghuni panti werdha mempunyai fungsi kognitif rata-rata lebih rendah dan social engagementnya lebih buruk. Kata kunci: lanjut usia, panti werdha, fungsi kognitif, social engagement ABSTRACT The survey was done on 210 elderly living in the community and on 76 elderly living in institutions. The elderlies living in institutions were older, have lower educational level and lower occupation. No differences on history of hypertension and diabetes mellitus, but more underwieght was found among those living in institutions. Those who live in institutions have lower cognitive function and also lower level of social engagement. Budi Riyanto Wreksoatmodjo. Characteristics of Elderlies Living in Communities and in Institutions in West Jakarta. Key words: elderly, elderly institution, cognitive function, social engagement PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Seiring dengan peningkatan harapan hidup, jumlah penduduk dunia bertambah dari sekitar 6,5 milyar di tahun 2006, menjadi 7 milyar di tahun Penambahan tersebut diikuti dengan peningkatan jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas; antara tahun 1970 sampai tahun 2025, jumlah mereka akan meningkat 223% atau bertambah sekitar 694 juta jiwa. Di tahun 2025 akan terdapat sekitar 1,2 milyar penduduk dunia berusia 60 tahun ke atas, yang akan menjadi 2 milyar di tahun 2050; 80% di antaranya tinggal di negara-negara berkembang 2. Di Indonesia seseorang dikategorikan sebagai lanjut usia jika berusia 60 tahun ke atas 5 proporsinya meningkat dari 4,7% (2000) menjadi 5,1% (2008) 4, jumlahnya pada tahun 2010 diperkirakan jiwa 3 atau sekitar 7% dari jumlah seluruh penduduk yang diperkirakan sebesar jiwa. Proporsi populasi lanjut usia tersebut akan terus meningkat mencapai 11,34% di tahun Sementara itu, meningkatnya mobilitas pekerja usia produktif menyebabkan pengasuhan para lanjut usia di dalam keluarga menjadi makin sulit 7. Pergeseran struktur keluarga dan kekerabatan dari keluarga besar (extended family) ke arah keluarga kecil (nuclear family) berdampak pada berkurangnya atau hilangnya fungsi-fungsi tertentu dalam keluarga seperti fungsi perawatan untuk para lanjut usia, menurunnya tanggung jawab moral keluarga untuk menyediakan tempat bagi anggota/kerabat lain; padahal selama ini, kekerabatan dan sistem kekeluargaan yang extended senantiasa menyediakan tempat bagi semua anggota keluarga atau kerabat untuk penampungan, perawatan ataupun perlindungan 8. Dan saat ini diketahui bahwa neighborhood deprivation di lingkungan perkotaan dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif di kalangan usia lanjut, pengaruhnya tidak tergantung pada faktor individual maupun sosioekonomi 9. Memperhatikan keadaan ini, suatu kontinuum pilihan perawatan para lanjut usia yang memadai, mulai dari keluarga sampai dengan institusi, sangat diperlukan 10. Seyogyanya ada institusi yang menjalankan atau mengambil alih fungsi-fungsi yang telah ditinggalkan/ diabaikan oleh keluarga; dalam hal ini panti werdha merupakan salah satu pilihan; panti werdha akan makin dibutuhkan sebagai pilihan dan solusi atas perubahan sosial tadi 8. werdha diharapkan bisa tetap memelihara fungsi kognitif para penghuninya sebaik mungkin. Di Indonesia, tersedia beberapa jenis sarana pelayanan sosial untuk lanjut usia, meliputi sistem panti, pelayanan model pendampingan di kalangan keluarga (home care), dan pelayanan harian (day care) 11. Pendekatan panti dilakukan melalui Sosial Tresna Werdha (PSTW) yang tersebar di beberapa wilayah, sedangkan pendekatan non panti dilakukan melalui Pusat Santunan (PUSAKA), Karang Lanjut Usia, Karang Werdha, Posyandu Lanjut Usia, kegiatan usia ekonomi Alamat korespondensi 738

2 produktif, pelayanan lanjut usia berbasis masyarakat dan pendekatan pendekatan lainnya. Namun demikian, pelayanan yang sudah ada selama ini, baik melalui panti maupun nonpanti belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan lanjut usia secara memadai dan jangkauan layanannya masih terbatas 12. Di tahun 2002 tercatat 186 panti werdha di seluruh Indonesia, 118 di antaranya diselenggarakan oleh pihak swasta, dengan jumlah penghuni 2552 pria dan 5380 perempuan. Jumlahnya meningkat menjadi 278 Sosial Tresna Werdha seperti yang terdata di tahun 2009, 13 sedangkan di database Departemen Sosial tercatat 444 panti werdha di seluruh Indonesia. 14 Beragam jenis pelayanan sosial dan perawatan para lanjut usia, baik dalam panti maupun di luar panti dapat memberikan pengaruh yang berbeda terhadap kesehatan dan fungsi kognitif mereka. Beberapa hasil penelitian di luar negeri menunjukkan bahwa mereka yang tinggal di institusi cenderung lebih berisiko mengalami gangguan kognitif dibandingkan dengan mereka yang tinggal di keluarga masing-masing; selain itu perbedaan sifat pelayanan juga mempengaruhi aktivitas sehari-hari, minat terhadap lingkungan dan afek para penghuninya. 18 Mengingat Indonesia mempunyai pola hubungan keluarga dan situasi panti yang mungkin berbeda dengan yang ada di negara lain, perlu diketahui apakah ada perbedaan karakteristik para lanjut usia yang tinggal di panti werdha dengan mereka yang masih tinggal dengan keluarganya. METODOLOGI Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian Pengaruh Social Disengagement terhadap Fungsi Kognitif Lanjut Usia yang dilaksanakan di Jakarta Barat pada tahun Desain penelitian ini bersifat cross sectional, dilaksanakan di Kelurahan Jelambar dan Jelambar Baru, Jakarta Barat. Populasi target penelitian ini ialah populasi lanjut usia di Jakarta. Populasi eligible merupakan populasi para lanjut usia yang telah tinggal di lingkungannya masingmasing, baik di keluarga maupun di panti werdha di wilayah kelurahan Jelambar dan kelurahan Jelambar Baru, selama sedikitnya 1 tahun. Populasi lanjut usia di keluarga Tabel 1. Perbedaan Karakteristik Demografi antara Kelompok dan Karakteristik Demografi N=210 (100%) Jenis kelamin Laki-laki 21 (27.6) 52 (24.8) Perempuan 55 (72.4) 158 (75.2) Usia tahun 36 (47.4) 144 (68.6) >70 tahun 40 (52.6) 66 (31.4) Pekerjaan Tidak bekerja 71 (93.4) 153 (72.90) < Bekerja 5 (6.6) 57 (27.1) Pendidikan Rendah 45 (59.2) 76 (36.20) Tinggi 31 (40.8) 134 (63.8) Status Marital Tidak menikah 13 (17.1) 5 (2.4) < Pernah menikah 46 (60.5) 92 (43.8) Menikah 17 (22.4) 113 (53.8) Tabel 2. Perbedaan Karakteristik Riwayat Kesehatan antara Kelompok dan Karakteristik Riwayat Kesehatan N=210 (100%) Hipertensi Ya 22 (28.9) 62 (29.5) Tidak 54 (71.1) 148 (70.5) Diabetes melitus Ya 6 (7.9) 30 (14.3) Tidak 70 (92.1) 180 (85.7) Status Gizi Underweight (IMT < 18.50) 18 (23.7) 20 (9.5) Normal IMT ( ) 36 (47.4) 122 (58.1) Overweight (IMT 25.00) 22 (28.9) 68 (32.4) Tabel 3. Perbedaan Aktivitas Fisik dan Aktivitas Kognitif antara Kelompok dan Karakteristik Aktivitas Fisik dan Kognitif N=210(100%) Aktivitas Fisik Kurang 55 (72.4) 116 (55.2) Baik 21 (27.6) 94 (44.8) Aktivitas Kognitif Kurang 69 (90.8) 77 (36.7) < Baik 7 (9.2) 133 (63.3) Tabel 4. Perbedaan Social Engagement antara Kelompok dan Karakteristik Social Engagement N=76(100%) N=210(100%) Buruk 68 (89.5) 34 (16.2) < Baik 8 (10.5) 176 (83.8) 739

3 Tabel 5. Perbedaan Karakteristik Komponen Social Engagement antara Kelompok dan Social engagement Tabel 6 Perbedaan Karakteristik Komponen Jaringan Sosial dan Aktivitas Sosial antara Kelompok dan Social Engagement diambil dari daftar lanjut usia yang ada di Posyandu Lanjut Usia Puskesmas, sedangkan populasi lanjut usia di panti diambil dari daftar penghuni masing-masing panti. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria Inklusi - Laki-laki atau perempuan 60 tahun saat penelitian dimulai. - Telah tinggal di lingkungannya selama sedikitnya 1 tahun - Bersedia mengikuti penelitian ini. Kriteria Eksklusi - Menderita gangguan jiwa psikosis; N=76 N=210 JARINGAN SOSIAL Kontak in person (VIS) Kurang 53 (69.7) 22 (10.5) Baik 23 (30.3) 188 (89.5) < Kontak in media (NVIS) Kurang 73 (96.0) 178 (84.8) Baik 3 (4.0) 32 (15.2) Pasangan Hidup (PH) Tidak ada 59 (77.6) 97 (46.2) Ada 17 (22.4) 113 (53.8) < AKTIVITAS SOSIAL Aktivitas di Masyarakat (MAS) Kurang 75 (98.7) 172 (81.9) Baik 1 (1.3) 38 (18.1) Kunjungan ke tempat ibadah (TIB) < 1 kali/minggu 39 (51.3) 17 (8.1) 1 kali/minggu 37 (48.7) 193 (91.9) < Keanggotaan/Partisipasi di kelompok selain posyandu (KEL) Tidak 64 (84.2) 49 (23.3) Ya 12 (15.8) 161 (76.7) < Tabel 7 Perbedaan Fungsi Kognitif antara Kelompok dan Fungsi Kognitif N=210 (100%) Jaringan Sosial Buruk 69 (90.8) 97 (46.2) < Baik 7 (9.2) 113 (53.8) Aktivitas Sosial Buruk 66 (86.8) 44 (20.9) < Baik 10 (13.2) 166 (79.1) N=210 (100%) Buruk 47 (61.8) 61 (29.0) Baik 29 (38.2) 149 (71.0) < gangguan fungsi luhur seperti afasia, apraksia. Mempunyai riwayat gangguan peredaran darah otak (stroke). - Mereka yang diketahui telah menderita atau didiagnosis demensia (19). Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui: 1) Kuesioner informasi umum. 2) Kuesioner indeks social disengagement dan aktivitas fisik dan aktivitas kognitif (Lampiran 1). 3) Kuesioner Mini Mental State Examination (MMSE) (Lampiran 2). Pengumpulan data oleh petugas yang telah dilatih dan tersertifikasi AAzI (Asosiasi Alzheimer Indonesia). Definisi Social engagement: Terpeliharanya beragam hubungan sosial dan keikutsertaan (partisipasi) dalam kegiatan sosial 20. Pada penelitian ini dinilai menggunakan indeks social disengagement 20. Social engagement dinilai baik jika nilai indeks keseluruhan (GAB) 3 4, dinilai buruk jika nilainya 1 2. Fungsi kognitif: Kemampuan mengenal atau mengetahui mengenai benda atau keadaan atau situasi, yang dikaitkan dengan pengalaman pembelajaran dan kapasitas inteligensi seseorang 21. Pada penelitian ini dinilai menggunakan MMSE (Mini Mental State Examination) Penilaian baik buruknya fungsi kognitif didasarkan atas nilai potong yang disesuaikan dengan tingkat pendidikan terakhir yang ditamatkan responden 24. Dinilai baik jika nilainya: 13 jika tidak sekolah, jika tdk tamat SD 19, tamat SD 23, tamat SLP 25, tamat SLA ke atas 26. Dinilai buruk jika nilainya: < 13 jika tidak sekolah, tdk tamat SD < 19, tamat SD < 23, tamat SLP < 25 dan jika tamat SLA ke atas < HASIL Diperoleh responden 76 lanjut usia yang tinggal di panti werdha dan 210 lanjut usia yang tinggal di keluarga. Pada populasi penelitian ini proporsi gender para lanjut usia yang tinggal di panti dan yang tinggal di keluarga tidak berbeda bermakna. Tetapi, para lanjut usia yang tinggal di panti berusia lebih lanjut, lebih banyak yang tidak bekerja, berpendidikan lebih rendah dan lebih banyak berstatus pernah menikah, artinya lebih banyak yang berstatus janda/ duda dibandingkan dengan para lanjut usia yang tinggal di keluarga (Tabel 1). Dalam hal riwayat penyakit, para lanjut usia yang tinggal di panti lebih banyak yang underweight jika dibandingkan dengan para lanjut usia yang tinggal di keluarga, tetapi tidak didapatkan perbedaan dalam hal riwayat penyakit hipertensi maupun diabetes melitus (Tabel 2). Para lanjut usia yang tinggal di panti kurang aktivitasnya, baik aktivitas fisik maupun aktivitas kognitifnya jika dibandingkan dengan 740

4 para lanjut usia yang tinggal di keluarga (Tabel 3). Demikian juga dalam hal social engagement; dibandingkan dengan para lanjut usia yang tinggal di keluarga, para lanjut usia yang tinggal di panti lebih buruk social engagementnya (Tabel 4), baik dalam hal jaringan sosialnya, maupun aktivitas sosialnya (Tabel 5). Secara keseluruhan, hanya 8 (10.5%) lanjut usia di panti yang social engagementnya masih baik, dibandingkan dengan 176 (83.8%) lanjut usia yang tinggal dengan keluarganya. Jika dipilah berdasarkan komponen jaringan sosial yang dinilai; para lanjut usia yang tinggal di panti lebih banyak yang sudah tidak lagi mempunyai pasangan hidup, kurang mempunyai kontak dengan keluarga maupun teman dekat, baik secara langsung (bertemu muka, mengobrol, bercakap-cakap) maupun secara tak langsung melalui media komunikasi, baik telepon, surat maupun SMS (Tabel 6). Mereka yang tinggal di panti juga kurang aktif berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat, jarang yang menjadi anggota kelompok masyarakat dan juga kurang mengunjungi tempat ibadah (Tabel 6) jika dibandingkan dengan mereka yang tinggal di keluarga. Patut dicatat bahwa 81.9% mereka yang tinggal di keluarga juga sudah kurang melakukan aktivitas di luar rumah (di masyarakat), sebaliknya menarik untuk dilihat bahwa ada satu penghuni panti yang aktivitasnya di masyarakat masih baik. Dalam hal fungsi kognitif, para lanjut usia penghuni panti rata-rata lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang masih tinggal di keluarga. Lanjut usia dengan fungsi kognitif buruk lebih banyak dijumpai di antara para lanjut usia yang tinggal di panti yaitu sebesar 61.8% daripada di kelompok lanjut usia yang tinggal di keluarga yaitu sebesar 29.0%. (Tabel 7). PEMBAHASAN Pada populasi penelitan ini, proporsi gender tidak berbeda antara lanjut usia yang tinggal di keluarganya dengan mereka yang tinggal di panti, hal ini dapat diartikan bahwa kesempatan atau keputusan untuk masuk ke panti tidak dipengaruhi oleh gender; keputusan tinggal di panti mungkin lebih dipengaruhi oleh faktor usia dan apakah masih mempunyai pasangan hidup; karena pada populasi penelitian ini, dibandingkan dengan mereka yang tinggal di keluarga, mereka yang tinggal di panti lebih lanjut usianya, lebih banyak yang berstatus janda/duda; hanya 17 (22.4%) yang masih mempunyai pasangan hidup, dibandingkan dengan 113 (53.8%) di kalangan mereka yang tinggal di keluarga. Hal ini dapat karena mereka yang masih mempunyai pasangan hidup dipertahankan untuk tetap di lingkungan keluarganya, sedangkan mereka yang sudah sendiri cenderung untuk masuk ke panti werdha, bisa atas keinginan sendiri, atau karena keterbatasan tempat tinggal. Para penghuni panti selain lebih lanjut usia, mereka lebih rendah pendidikannya, dan lebih banyak yang tidak bekerja; hal ini dapat berarti bahwa mereka yang relatif lebih muda dan yang berpendidikan lebih tinggi masih lebih berkesempatan bekerja atau mempunyai aktivitas di masyarakat dan dengan demikian masih tetap tinggal di keluarganya; mereka baru masuk ke panti setelah tidak lagi mempunyai aktivitas. Faktor usia juga bisa mempengaruhi aktivitas/pekerjaan, makin lanjut usia, biasanya akan makin sulit bekerja atau mempertahankan pekerjaan, terkait dengan usia pensiun dan persaingan dengan tenaga kerja berusia lebih muda. Dapat dipahami jika mereka yang tinggal di panti lebih sedikit yang masih bekerja atau mempunyai kegiatan rutin, mengingat keterbatasan akses dan mobilitas dibandingkan dengan mereka yang masih tinggal di keluarga. Tidak dapat diketahui apakah mereka tinggal di panti karena memang sudah tidak bekerja, atau karena alasan lain sehingga harus masuk ke panti dan dengan demikian kehilangan pekerjaaannya; tetapi mengingat usia dan tingkat pendidikannya, besar kemungkinan mereka yang masuk ke panti sebelumnya memang sudah tidak bekerja lagi. Dapat diduga bahwa mereka cenderung masuk ke panti saat tidak lagi mempunyai pekerjaan, dan kehilangan pekerjaan lebih cepat/ mudah terjadi di kalangan mereka yang berpendidikan lebih rendah. Cukup menarik bahwa masih ada 5 orang lanjut usia di panti yang bekerja, yaitu menjahit dan membuat kerajinan tangan. Aktivitas ini perlu terus dipertahankan dan jika mungkin diperluas dengan melibatkan lebih banyak penghuni panti dan bekerja sama dengan sukarelawan yang bisa membimbing kegiatan tersebut. Studi menunjukkan bahwa mereka yang rendah okupasinya (sering menganggur) 2.25 kali lebih berisiko demensia 25. Sebaliknya, pekerjaan kompleks yang lebih memerlukan fungsi mental dan intelek yang tinggi, dibandingkan dengan aktivitas fisik 26), atau pekerjaan yang melibatkan orang lain 30 lebih dapat mempertahankan kemampuan kognitif dan mengurangi risiko demensia di kemudian hari. Status pekerjaan yang lebih rendah (buruh, petani) berkaitan dengan fungsi kognitif yang lebih rendah 28, lebih berisiko demensia dan Alzheimer Rendahnya tingkat pendidikan dapat merupakan faktor risiko penurunan fungsi kognitif 32. Beberapa penelitian secara konsisten menunjukkan tingkat pendidikan rendah meningkatkan risiko hendaya kognitif 31,33 dan pendidikan tinggi bersifat protektif 31 ; meskipun studi Cobb et al. (1995) tidak mendukung dugaan tersebut. 35 Peningkatan risiko gangguan fungsi kognitif di kalangan berpendidikan rendah perlu mendapatkan perhatian dari pengelola panti mengingat didapatkan bahwa ratarata tingkat pendidikan lanjut usia di panti lebih rendah daripada mereka yang tinggal di keluarganya (Tabel 1); program / aktivitas di panti werdha agar lebih diprioritaskan ke pada mereka yang berpendidikan rendah dan jenis kegiatannya perlu disesuaikan dengan tingkat pendidikan yang rendah tersebut, dapat berupa permainan yang lebih sederhana dan/atau menganjurkan tetap melakukan kegiatan rutin sehari-hari seperti memasak atau menyiapkan makanan, membersihkan tempat tidur sendiri. Yang menarik pada populasi ini adalah bahwa mereka yang tinggal di panti tidak lebih berpenyakit; dalam hal ini hipertensi dan diabetes melitus, tetapi lebih banyak yang underweight. Di panti-panti yang diteliti tersedia fasilitas poliklinik yang dikunjungi secara berkala oleh tenaga medis, dan tersedia juga obat esensial; fasilitas ini agaknya cukup efektif mengendalikan penyakit hipertensi dan diabetes melitus sehingga prevalensinya tidak berbeda dibandingkan dengan di masyarakat. Hal yang patut diperhatikan adalah banyaknya penghuni yang underweight dibandingkan dengan para lanjut usia yang tinggal di keluarganya; para pengelola panti diharapkan dapat lebih memperhatikan kecukupan gizi 741

5 para penghuninya dan mengenali faktorfakto yang mempengaruhinya, dapat berasal dari faktor medis seperti selera makan rendah, gangguan gigi geligi, disfagia, gangguan fungsi indra penghidu dan pengecap, gangguan pernafasan, pencernaan, neurologis, infeksi, cacad fisik atau penyakit lain Faktor lain yang juga berkontribusi adalah kurangnya pengetahuan menganai asupan makanan yang baik, depresi karena terpisah dari keluarga, kecemasan dan demensia (36). Dibandingkan dengan mereka yang tinggal di keluarga, para lanjut usia penghuni panti kurang beraktivitas, baik fisik maupun kognitif; hal ini patut menjadi perhatian karena kurangnya aktivitas fisik maupun aktivitas kognitif memperbesar risiko penurunan fungsi kognitif 43. Aktivitas fisik adalah aktivitas yang melibatkan gerakan motorik tubuh dan anggota badan. Aktivitas fisik rutin di masa muda (usia tahun) dikaitkan dengan kecepatan memproses informasi di usia lanjut 37 ; aktivitas fisik yang lebih aktif dikaitkan dengan penurunan risiko demensia dan Alzheimer 38, selain itu kemungkinan demensia lebih rendah di kalangan aktivitas fisik ringan maupun aktivitas fisik teratur 39 tetapi jika dikaitkan dengan aktivitas fisik pekerjaan tidak didapatkan hubungan bermakna 38. Tidak adanya efek proteksi aktivitas fisik terkait pekerjaan mungkin berhubungan dengan kebutuhan intelek/berpikir yang lebih rendah 38,40. Beberapa studi lain menunjukkan efek protektif aktivitas fisik terhadap gangguan kognitif 41,42, terhadap demensia Alzheimer ,46 dan terhadap demensia vaskuler sedangkan studi lain tidak 47. Hanya satu studi acak yang mendukung efek aktivitas fisik terhadap fungsi kognitif di kalangan demensia 48. Aktivitas fisik dapat bermanfaat terhadap fungsi kognitif melalui beberapa cara: pertama, manfaat yang sama terhadap sistem kardiovaskuler berlanjut ke sistem serebrovaskuler, efek ini bisa langsung (melalui perbaikan perfusi jaringan) atau tak langsung melalui penurunan morbiditas vaskuler seperti hipertensi, DM, hiperkholesterol dan obesitas. Selain itu mungkin ada jalur pengaruh lain karena meskipun faktor vaskuler sudah dikontrol, efek perbaikan tetap ada 49. Diduga bisa melalui peningkatan neurogenesis, perbaikan sitoarsitektur otak dan elektrofisiologi otak, meningkatkan faktor pertumbuhan dan menghambat proses neuropatologis seperti pembentukan plak amiloid pada AD (50). Aktivitas kognitif adalah aktivitas yang melibatkan kegiatan berfikir. Di Kanada, Hultsch et al. (2005) mendapatkan asosiasi antara aktivitas intelek dengan lebih kecilnya probabilitas penurunan fungsi kognitif; juga sebaliknya bahwa rendahnya aktivitas intelek meningkatkan probabilitas penurunan fungsi kognitif. 51 Dua studi prospektif menilai manfaat aktivitas kognitif di usia pertengahan terhadap risiko demensia dan AD, keduanya mengikutsertakan analisis anak-kembar untuk mengendalikan faktor genetik dan lingkungan masa dini, hasilnya menunjukkan bahwa aktivitas kognitif menurunkan risiko demensia 52,53 dan juga menurunkan risiko AD di kalangan perempuan. 52 Studi Wang et al. (2002) memperlihatkan aktivitas kognitif dapat menurunkan risiko gangguan kognitif. 54 Karp et al. (2006) mendapatkan risiko demensia lebih rendah di kalangan yang kognitif aktif. 43 Peningkatan aktivitas kognitif dikaitkan dengan penurunan risiko demensia 47 dan menurunkan risiko AD peningkatan aktivitas kognitif dikaitkan dengan 19% penurunan laju perburukan fungsi kognitif. 15 Sebaliknya aktivitas dengan rangsang kognitif rendah seperti menonton TV dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kognitif 2.3% per tahun. 55 Terlibat dalam aktivitas yang menstimulasi mental dapat dianggap sebagai cara langsung meningkatkan kapasitas otak. Studi pada manusia menunjukkan bahwa aktivitas kognitif dapat menghasilkan reorganisasi jaringan neurokognitif, 58 menekan efek merugikan dari hormon stres ke otak. 55,57 Keterlibatan pada aktivitas kognitif dapat memperbaiki kompensasi otak terhadap patologi melalui cara meningkatkan cadangan otak yang dapat melindungi/memperlambat onset klinis gangguan kognitif dan demensia dalam rentang hidup seseorang. 48 Aktivitas-aktivitas fisik dan kognitif bisa ditingkatkan tanpa membutuhkan banyak tambahan tenaga maupun sarana, tetapi membutuhkan penjadualan yang konsisten dan perhatian dari para pengelola panti. Sarana berupa televisi umumnya telah tersedia di panti-panti werdha, yang perlu ditingkatkan adalah merangsang minat dan mendiskusikan apa-apa yang telah ditonton, terutama yang sifatnya berita karena jenis siaran berita lebih bermanfaat dibandingkan dengan jenis siaran hiburan. 59 Demikian juga dengan penyediaan sarana bacaan dan permainan yang merangsang daya ingat dan konsentrasi seperti buku tekateki silang, sudoku, permainan halma dan catur, atau penyediaan suratkabar agar bisa menjadi bahan pembicaraan di antara penghuni panti maupun dengan para pengasuhnya. Mungkin dapat digalang kerjasama dengan para donatur agar dapat menyumbangkan bahan bacaan dan/atau sarana media yang sesuai dengan lanjut usia; juga untuk sarana olahraga yang sesuai dengan usia dan kemampuan para penghuninya. Hal ini patut menjadi perhatian mengingat rata-rata fungsi kognitif para penghuni panti lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tinggal di keluarganya (tabel 7). Pada penelitian ini tidak dapat diketahui apakah penurunan fungsi kognitif di kalangan penghuni panti lebih cepat/buruk dibandingkan dengan mereka yang tinggal di keluarganya. Beberapa hasil penelitian di luar negeri menunjukkan bahwa mereka yang tinggal di panti cenderung lebih berisiko mengalami gangguan kognitif dibandingkan dengan mereka yang tinggal di keluarga masingmasing; 15-17,60 ada yang menyimpulkan bahwa setelah 6 bulan, kondisi para lanjut usia yang masuk ke panti memburuk, terutama di kalangan perempuan dengan angka mortalitas mencapai 33%. 61 Penelitian Alvarado-Esquivel dkk di Mexico City mendapatkan dari 155 lanjut usia yang tinggal di panti, 102 (65.8%) nilai MMSEnya rendah, dibandingkan dengan 30 (24.0%) di antara 125 lanjut usia yang tinggal di keluarga. 60 Penelitian Guerrerro dkk di Filipina juga menunjukkan bahwa para lanjut usia di masyarakat rata-rata nilai MMSEnya lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tinggal di panti (25.3 ± 4.6 vs 21.9 ± 4.6). 17 Kemungkinan lain buruknya fungsi kognitif di kalangan penghuni panti ialah karena keluarga cenderung masih mempertahankan para lanjut usia di lingkungannya sepanjang masih berfungsi, dan baru memasukkannya ke panti jika sudah mulai pikun. Hal ini tidak dapat diketahui mengingat tidak terdapat 742

6 data awal saat para penghuni panti mulai tinggal di dalam panti tersebut. Penemuan ini perlu didalami lebih lanjut untuk bisa menentukan apakah perbedaan aktivitas di lingkungan tempat tinggal yang berbeda memang berpengaruh terhadap perubahan fungsi kognitif masing-masing penghuninya. Pada penelitian ini, social engagement dinilai dari beberapa variabel yang dikategorikan ke dalam dua aspek yaitu jaringan sosial dan aktivitas sosial (Lampiran %) Didapatkan bahwa di kalangan lanjut usia yang tinggal di panti, social engagement mereka lebih rendah di semua aspek, baik jaringan sosial maupun aktivitas sosialnya (Tabel 5 dan 6). Meskipun demikian, 30.3% (sepertiga) lanjut usia di panti masih dinilai baik social engagementnya, hal ini dapat berarti bahwa tinggal di panti tidak harus terkait dengan buruknya social engagement. Hubungan dengan kerabat masih terpelihara dalam tingkat tertentu, meskipun mereka telah tinggal di panti. Dalam aspek jaringan sosial, kontak langsung (in person, temu muka) sebagian besar buruk (70.7%) di kalangan mereka yang tinggal di panti, sebaliknya hanya 29.3% di kalangan yang tinggal di keluarga yang dikategorikan buruk; hal ini dapat dipahami mengingat para lanjut usia di keluarga umumnya tinggal bersama dengan anak/cucu mereka sehingga bisa bertemu setiap saat. Demikian juga kontak tak langsung melalui media komunikasi, umumnya buruk, baik di kalangan keluarga maupun di kalangan panti; hanya 3 orang (4.0%) di panti yang dinilai masih baik, sedangkan di kalangan keluarga 32 (15.2%) orang masih mempunyai kontak tak langsung yang baik. Perbaikan kontak dengan keluarga/kerabat, baik secara langsung (in person) dalam bentuk kunjungan, maupun secara tak langsung (in media) melalui surat atau sarana elektronik, masih bisa dilakukan. Potensi ini kiranya masih bisa dimaksimalkan melalui upaya peningkatan hubungan dan komunikasi pengelola panti dengan para kerabat agar dapat lebih sering mengunjungi atau memelihara kontak dengan keluarganya yang tinggal di panti. Pemanfaatan sarana elektronik seperti telepon atau SMS memerlukan kesiapan penguasaan teknologinya di kalangan para lanjut usia. Glei et al. (2005) meneliti perubahan fungsi kognitif berkaitan dengan partisipasi kegiatan sosial dan jaringan sosial pada lanjut usia di Taiwan; didapatkan lanjut usia yang berpartisipasi dalam satu atau dua kegiatan sosial 13% lebih kecil risikonya untuk failed cognitive task dibandingkan dengan mereka yang tidak ikut serta dalam aktivitas sosial, dan lanjut usia yang berpartisipasi dalam tiga atau lebih kegiatan sosial 33% lebih kecil risikonya untuk failed cognitive task dibandingkan mereka yang tidak ikut serta dalam aktivitas sosial (62). Tetapi analisis longitudinal Green et al. (2008) pada orang dewasa berusia 18 tahun ke atas yang dinilai sebanyak 3 kali selama tahun , tidak menemukan hubungan antara jaringan sosial dengan kognisi, meskipun dalam analisis cross sectional ditemukan ada hubungan. 63 Telitian Amieva et al. (2010) menunjukkan hubungan signifikan antara aspek jaringan sosial terhadap gangguan fungsi kognitif berupa demensia dan penyakit Alzheimer (AD). Kepuasan dan timbal balik dalam hubungan merupakan faktor protektif terhadap demensia, responden yang merasa puas dengan hubungan mereka risiko demensianya berkurang sebanyak 23%. Selain itu responden yang menerima dukungan lebih selama hidupnya memiliki 55% dan 53% penurunan risiko untuk demensia dan AD. Pengaruh proteksi terhadap demensia atau AD selama 15 tahun lebih kepada kualitas dibandingkan dengan kuantitas jaringan sosial. 64 Sedangkan James et al. (2011) mendapatkan bahwa setiap penambahan skor aktivitas sosial diasosiasikan dengan penurunan fungsi kognitif 47% lebih lambat. 65 Pada populasi ini, aktivitas di masyarakat sebagian besar sudah menurun, baik mereka yang tinggal di keluarga maupun di panti, sebaliknya menarik untuk dicatat bahwa masih ada penghuni panti yang aktivitas di masyarakatnya dinilai baik. Hanya 1 (1.3%) lanjut usia di panti yang aktivitas di masyarakatnya masih baik, dibandingkan dengan 38 (18.1%) lanjut usia yang tinggal di keluarga. Kurangnya aktivitas di masyarakat para lanjut usia, baik mereka yang tinggal di keluarga maupun yang tinggal di panti dapat karena keterbatasan fisik yang menyulitkan mobilitas mereka. Aktivitas di masyarakat bisa digabungkan dengan program lain, misalnya senam bersama atau arisan atau program masak bersama antara penghuni panti dengan anggota masyarakat sekitar. Untuk para penghuni panti dapat ditingkatkan antara lain dengan mengajak para penghuni panti ke luar, misalnya ke pasar atau berekreasi ke tempat umum atau menonton pertunjukan. Hal ini tentunya memerlukan kesiapan para pengasuhnya, yang mungkin bisa diatasi dengan bekerja sama dengan kelompok-kelompok sosial di masyarakat agar bisa mendampingi para penghuni panti di saat tersebut. Aktivitas di masyarakat juga bisa ditingkatkan melalui peningkatan interaksi dengan masyarakat sekitar, misalnya aktivitas posyandu lansia dilakukan di panti agar ada kesempatan untuk bergaul/berinteraksi dengan para panjut usia di luar panti. Kunjungan murid sekolah juga bisa direncanakan secara berkala, sekaligus membina hubungan emosional positif dengan para anak/remaja. Kunjungan ke tempat ibadah di kalangan mereka yang tinggal di panti juga bisa dimaksimalkan mengingat relatif masih aktifnya para lanjut usia yang tinggal di keluarga; kesempatan ini juga bisa dimanfaatkan untuk berinteraksi dengan kalangan masyarakat yang lebih luas. SIMPULAN DAN SARAN Fungsi kognitif para lanjut usia penghuni panti didapatkan lebih buruk dibandingkan dengan mereka yang tinggal di keluarga, mereka yang tinggal di panti juga mempunyai social engagement lebih buruk. Secara keseluruhan, social engagement di kalangan lanjut usia, terutama di kalangan penghuni panti masih dapat diperbaiki agar dapat mempertahankan fungsi kognitif para penghuninya, hendaknya dapat diupayakan peningkatan jaringan sosial antara lain dengan meningkatkan komunikasi/kontak para penghuni dengan keluarga atau kerabat, terutama dengan menganjurkan kunjungan maupun melalui sarana komunikasi, baik surat, telepon maupun sarana SMS dan elektronik lainnya. Terlihat bahwa kontak langsung (temu muka) lebih bermakna dibandingkan dengan kontak tak langsung (melalui sarana komunikasi). Aktivitas sosial dapat diperbaiki dengan meningkatkan aktivitas bersama antara masyarakat dengan penghuni panti, baik dalam bentuk kunjungan maupun kegiatan bersama, baik kegiatan ibadah maupun kemasyarakatan lain. 743

7 DAFTAR PUSTAKA WHO. Active ageing : A policy framework BPS. Statistik Indonesia BPS, Jakarta, BPS. Indikator Kesejahteraan Rakyat BPS, Jakarta Republik Indonesia. UU no.13/1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia Komisi Nasional Lanjut Usia. Profil Lanjut Usia Jakarrta: Komnas Lansia, Ananta A, Arifin EN (eds.) Older persons in Southeast Asia : from liability to asset older persons in southeast asia. An emerging asset, ISEAS, Singapore, 2009, pp Syamsuddin. Penguatan Eksistensi Werdha di tengah Pergeseran Budaya dan Diakses Nov.14, Lang IA, Llewellyn DJ, Langa KM, Wallace RB, Huppert FA, Melzer D. Neighborhood deprivation, individual socioeconomic status, and cognitive function in older people: analyses from the english longitudinal study of ageing. J Am Geriatr Soc, 2008; 56(2): Available from: Epub. [2007 Dec 24]. 10. Komisi Nasional Lanjut Usia Rencana Aksi tentang Kelanjutusiaan untuk Asia dan Pasifik. Kumpulan Kesepakatan bidang Lanjut Usia. Komisi Nasional Lanjut Usia, Komnas Lansia, Jakarta, pp Handayani YS. Kelanjutusiaan Global: Kebijakan yang Mendukung Kesejahteraan Lanjut Usia di Indonesia. Orasi Ilmiah, 9 Desember Jakarta. 12. Kemensos. Pedoman Pelayanan Harian Lanjut Usia. Kementrian Sosial RI, Jakarta. 2010, Hal Kemensos. Profil Sosial Tresna Werdha. Direktorat Pelayanan Lanjut Usia., Direktorat Jendral Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Kementrian Sosial RI, Jakarta Diakses 4 September Wilson RS, Bennett DA, Bienias JL, et al. Cognitive activity and incident AD in a population-based sample of older persons, Neurology2002;59( 12): Dehlin O, Franzén M. Prevalence of dementia syndromes in persons living in homes for the elderly and in nursing homes in southern Sweden. Scand. J. Primary Health Care, 1985; 3( 4): Guerrerro JR, Aguirre JM, Carpio AD, Dalupang RG, Nicolas RA. A comparative analysis of the cognitive functioning of community dwelling and institution-based well elderly in Manila. Phillipine Journal of Allied Health Sciences, 2007; 2: Reimer MA, Slaughter S, Donaldson C, Currie G, Eliasziw M. Special care facility compared with traditional environments for dementia care: A longitudinal study of quality of life. J. Am. Geriatr. Soc.l2004;52( 7): American Psychiatric Association, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 1994, 4 th ed., American Psychiatric Association, Washington DC Bassuk SS, Glass TA, Berkman, LF. Social disengagement and incident cognitive decline in community-dwelling elderly persons. Ann Intern Med. 1999; 131(3): Elvira SD, Hadisukanto G. (eds). Buku Ajar Psikiatri. Badan Penerbit FKUIl, Assosiasi Alzheimer Indonesia. Konsensus Nasional Pengenalan dan Penatalaksanaan Demensia Alzheimer dan Demensia Lainnya. ed. 1, Asosiasi Alzheimer Indonesia, Jakarta Dikot Y. Deteksi dini gangguan kognitif dalam praktek umum dan neurologi sehari-hari. Dalam: Basuki A, Dian S, (eds.) Neurology in Daily Practice. Ed 1. Bagian/UPF Ilmu Penyakit Saraf, FK Universitas Padjadjaran/RS Hasan Sadikin, Bandung. 2010, 24. Turana Y, Handayani YS. Nilai Mini-mental State Examination (MMSE) berdasarkan usia dan tingkat pendidikan pada masyarakat lanjut usia di Jakarta. Medika 2011;37( 5): Stern Y, Gurland B, Tatemich, TK, Tang MX, Wilder D, Mayeux R.Influence of education and occupation on the incidence of Alzheimer s disease. JAMA. 1994;271(13): Smyth KA, Fritsch T, Cook TB, McClendon MJ, Santillan CE, Friedland RP. Worker functions and traits associated with occupations and the development of AD. Neurology 2004; 63(3): Andel R, Crowe M, Pedersen NL, Mortimer J, Crimmins E, Johansson B, Gatz M. Complexity of work and risk of alzheimer s disease: A population-based study of Swedish twins. J Gerontol B Psychol Sci Soc Sci., 2005; 60( 5): Jorm AF, Jolley D. The incidence of dementia: A Meta-analysis. Neurology 1998; 51(3): Helmer C, Letenneur L, Rouch I, et al. Occupation during life and risk of dementia in French elderly community residents. J Neurol Neurosurg Psychiatry 2001; 71( 3): Qiu C, Karp A, von Strauss E, Winblad B, Fratiglioni L, Bellander T. Life-time principal occupation and risk of Alzheimer s disease in the Kungsholmen project, Am J Int Med, vol. 43, no. 2, pp dikutip dari : Hughes TF, Ganguli M. Modifiable midlife risk factors for late-life cognitive impairment and dementia. Curr Psychiatry Rev. 2009;5(2): Stern Y, Gurland B, Tatemichi TK, Tang MX, Wilder D, Mayeux R. Influence of education and occupation on the incidence of Alzheimer s disease. JAMA. 1994; 271(13): Jacqmin-Gadda H, Fabrigoule C, Commenges D, Dartigues JF. A 5-year longitudinal study of the Mini-Mental State Examination in normal aging. Am J Epidemiol. 1997; 145( 6): Tyas SL, Salazar JC, Snowdon DA, et al. Transitions to mild cognitive impairments, dementia, and death: findings from the Nun Study. Am J Epidemiol.2007; 165( 11): Stern Y, Gurland B, Tatemichi TK, Tang MX, Wilder D, Mayeux R.Influence of education and occupation on the incidence of Alzheimer s disease. JAMA. 1994; 271(13): Cobb JL, Wolf PA, Au R, White R, D Agostino RB. The effect of education on the incidence of dementia and Alzheimer s disease in the Framingham study. Neurology 1995; 45( 9): Fatimah-Muis S, Puruhito N. Gizi pada Lansia. Dalam: Martono HH, Pranarka K. Geriatri. Ed.4, Hal Dik M, Deeg DJ, Visser M, Jonker C. Early life physical activity and cognition at old age. J Clin Exp Neuropsychol., 2003; 25(5): Rovio S, Kåreholt I, Helkala EL, et al. Leisure time physical activity at midlife and the risk of dementia and Alzheimer s disease. Lancet Neurol. 2005; 4(11): Andel R, Crowe M, Pedersen NL, et al. Physical exercise at midlife and risk of dementia three decades later: A population-based study of Swedish twins., J Gerontol A Biol Sci Med Sci., 2008;63(1): Yamada M, Kasagi F, Sasaki H, Masunari N, Mimori Y, Suzuki G. Association between dementia and midlife risk factors: the radiation effects research foundation adult gealth study. JAGS 2009; 51( 3): Dikutip dari : Hughes,TF, Ganguli M. Modifiable midlife risk factors for late-life cognitive impairment and dementia. Curr Psychiatry Rev. 2009;5(2): Laurin D, Verreault R, Lindsay J, MacPherson K, Rockwood K. Physical activity and risk of cognitive impairment and dementia in elderly persons. Arch Neurol. 2001; 58( 3): Lytle ME, Vander Bilt J, Pandav RS, Dodge HH, Ganguli M. Exercise level and cognitive decline: the MoVIES Project. Alzheimer Dis Assoc Disord., 2004;18(2):

8 46. Karp A, Paillard-Borg S, Wang HX, Silverstein M, Winblad B, Fratiglioni L Mental, physical and social components in leisure activities equally contribute to decrease dementia risk. Dement Geriatr Cogn Disord., 2006;21(2): Larson EB, Wang L, Bowen JD, et al. Exercise is associated with reduced risk for incident dementia among persons 65 years of age and older. Ann Intern Med., 2006;144( 2): Podewils LJ, Guallar E, Kuller LH, et al., Physical activity, APOE genotype, and dementia risk: Findings from the Cardiovascular Health Cognition Study. Am J Epidemiol. 2005; 161(7): Ravaglia G, Forti P, Lucicesare A, et al. Physical activity and dementia risk in the elderly: Findings from a prospective Italian Study. Neurology. 2008; 70(19): Verghese J, Lipton RB, Katz MJ, et al. Leisure activities and the risk of dementia in the elderly. N Engl J Med. 2003; 73(11): Lautenschlager NT, Cox KL, Flicker L, Foster JK, van Bockxmeer FM, Xiao J et al. Effect of physical activity on cognitive function in older adults at risk for Alzheimer disease: a randomized trial. JAMA. 2008; 300(9): Rolland Y, Abell AN, van Kan G, Vellas B. Physical activity and Alzheimer s disease: from prevention to therapeutic perspectives. J Am Med Dir Assoc. 2008; 9(6): Hughes TF, Ganguli M. Modifiable midlife risk factors for late-life cognitive impairment and dementia. Curr Psychiatry Rev. 2009; 5(2): Hultsch DF, Hertzog C, Small BJ, Dixon RA. Use it or lose it: Engaged lifestyle as a buffer of cognitive decline in aging? Psychol. Aging 1999;14(2): Crowe M, Andel R, Pedersen NL, Johansson B, Gatz M.Does participation in leisure activities lead to reduced risk of Alzheimer s disease? A prospective study of Swedish twins. J Gerontol. 2003;58(5): Carlson MC, Helms MJ, Steffens DC, Burke JR, Potter GG, Plassman BL. Midlife activity predicts risk of dementia in older male twin pairs., Alzheimer s & Dementia 2008; 4(5): Wang HX, Karp A, Winblad B, Fratiglioni L. Late-life engagement in social and leisure activities is associated with a decreased risk of dementia: a longitudinal study from the Kungsholmen project. Am J Epidemiol. 2002; 155(12): Wang JY, Zhou DH, Li J, et al. Leisure activities and risk of cognitive impairment:the Chongqing Aging Study. Neurology 2009;66( 9): Wreksoatmodjo BR. Pengaruh Social Engagement terhadap Fungsi Kognitif Lanjut Usia di Jakarta. Disertasi, Universitas Indonesia, Alvarado-Esquivel C, Hernández-Alvarado AB, Tapia-Rodríguez RO, Guerrero-Iturbe A, Rodríguez-Corral K, Martínez SE. Prevalence of dementia and Alzheimer s disease in elders of nursing homes and a senior center of Durango City, Mexico. BMC Psychiatry 2004; 4(3):.1 7. Available from: < 1 Agustus Scocco P, Rapattoni M, Fantoni G. Nursing home institutionalization: a source of eustress or distress for the elderly? Int J Geriatr Psychiatry. 2006;21( 3): Glei DA, Landau DA, Goldman N, Chuang YL, Rodríguez G, Weinstein M. Participating in social activities helps preserve cognitive function: an analysis of a longitudinal, populatio-based study of the elderly. Internat J Epidemiol. 2005;34( 4): Green AF, Rebok G, Lyketsos CG. Influence of social network characteristics on cognition and functional status with aging. Int J Geriatr Psychiatry. 2008; 23(9): Amieva H, Stoykova R, Matharan F, Helmer C, Antonucci TC, Dartigues JF. What aspects of social network are protective for dementia? Not the quantity but the quality of social interactions is protective up to 15 years later. Psychosom.Med. 2010;72( 9): James BD, Wilson RS, Barnes LL, Bennett DA. Late-life social activity and cognitive decline in old-age. J Int Neuropsychol Soc 2011 ;17(60):

Analisis Komponen Aktivitas dan Jaringan Sosial yang Berpengaruh terhadap Fungsi Kognitif Lanjut Usia

Analisis Komponen Aktivitas dan Jaringan Sosial yang Berpengaruh terhadap Fungsi Kognitif Lanjut Usia Analisis Komponen Aktivitas dan Jaringan Sosial yang Berpengaruh terhadap Fungsi Kognitif Lanjut Usia Budi Riyanto Wreksoatmodjo Bagian Neurologi, Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya, Jakarta, Indonesia

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan. masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan. masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan

Lebih terperinci

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID ABSTRAK PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID Ekowati Retnaningsih dan Rini Oktariza Angka kejadian berat badan lebih pada anak usia sekolah di Indonesia mencapai 15,9%. Prevalensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Aktivitas fisik merupakan pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Aktivitas fisik merupakan pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Aktivitas fisik merupakan pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi (WHO, 2011). Menurut Departemen Kesehatan RI (2007),

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap keterbatasannya akan dialami oleh seseorang bila berumur panjang. Di Indonesia istilah untuk

Lebih terperinci

BAB. 3. METODE PENELITIAN. : Cross sectional (belah lintang)

BAB. 3. METODE PENELITIAN. : Cross sectional (belah lintang) BAB. 3. METODE PENELITIAN 3.1 Rancang Bangun Penelitian Jenis Penelitian Desain Penelitian : Observational : Cross sectional (belah lintang) Rancang Bangun Penelitian N K+ K- R+ R- R+ R- N : Penderita

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk. negara-negara dunia diprediksikan akan mengalami peningkatan.

BAB I PENDAHULUAN. dengan menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk. negara-negara dunia diprediksikan akan mengalami peningkatan. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lanjut usia (lansia) merupakan tahap akhir dari kehidupan dan merupakan proses alami yang tidak dapat dihindari oleh setiap individu. Proses alami ditandai

Lebih terperinci

Beberapa Kondisi Fisik dan Penyakit yang Merupakan Faktor Risiko Gangguan Fungsi Kognitif

Beberapa Kondisi Fisik dan Penyakit yang Merupakan Faktor Risiko Gangguan Fungsi Kognitif Beberapa Kondisi Fisik dan Penyakit yang Merupakan Faktor Risiko Gangguan Fungsi Kognitif Budi Riyanto Wreksoatmodjo Bagian Neurologi, Fakultas Kedokteran Universitas Atmajaya, Jakarta, Indonesia ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mencapai 1,2 milyar. Pada tahun 2000 diperkirakan jumlah lanjut usia

BAB I PENDAHULUAN. mencapai 1,2 milyar. Pada tahun 2000 diperkirakan jumlah lanjut usia 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini, di seluruh dunia jumlah orang lanjut usia diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/ mengganti diri dan. mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/ mengganti diri dan. mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lanjut usia adalah suatu proses menghilangnya secara perlahanlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/ mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi

Lebih terperinci

ABSTRAK PENGARUH ALKOHOL GOLONGAN B TERHADAP KETELITIAN DAN KEWASPADAAN PADA PRIA DEWASA

ABSTRAK PENGARUH ALKOHOL GOLONGAN B TERHADAP KETELITIAN DAN KEWASPADAAN PADA PRIA DEWASA ABSTRAK PENGARUH ALKOHOL GOLONGAN B TERHADAP KETELITIAN DAN KEWASPADAAN PADA PRIA DEWASA Irvan Gedeon Firdaus, 2010. Pembimbing: dr. Pinandojo Djojosoewarno, AIF Latar belakang : Minum minuman beralkohol

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. orang tua yang sudah memiliki anak. Enuresis telah menjadi salah satu

BAB I PENDAHULUAN. orang tua yang sudah memiliki anak. Enuresis telah menjadi salah satu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Enuresis atau yang lebih kita kenal sehari-hari dengan istilah mengompol, sudah tidak terdengar asing bagi kita khususnya di kalangan orang tua yang sudah memiliki

Lebih terperinci

BAB 4 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya

BAB 4 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya Perinatologi dan Neurologi. 4.. Waktu dan tempat penelitian Penelitian ini

Lebih terperinci

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dan Merck peduli kesehatan saraf

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dan Merck peduli kesehatan saraf Siaran Pers Kontak Anda: Niken Suryo Sofyan Telepon +62 21 2856 5600 29 Mei 2012 Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dan Merck peduli kesehatan saraf Neuropati mengancam 1 dari 4 orang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dalam bidang kesehatan. Sampai saat ini Angka Kematian Ibu (AKI) di. Indonesia menempati teratas di Negara-negara ASEAN, yaitu 228 per

I. PENDAHULUAN. dalam bidang kesehatan. Sampai saat ini Angka Kematian Ibu (AKI) di. Indonesia menempati teratas di Negara-negara ASEAN, yaitu 228 per 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Indonesia kematian ibu melahirkan masih merupakan masalah utama dalam bidang kesehatan. Sampai saat ini Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia menempati teratas di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Aktivitas fisik yang teratur mempunyai banyak manfaat kesehatan dan merupakan salah satu bagian penting dari gaya hidup sehat. Karakteristik individu, lingkungan sosial,

Lebih terperinci

HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYAR NASKAH PUBLIKASI

HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYAR NASKAH PUBLIKASI HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYAR NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana

Lebih terperinci

PENGARUH TERAPI BRAIN GYM TERHADAP PENINGKATAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANJUT USIA DI POSYANDU LANJUT USIA DESA PUCANGAN KARTASURA NASKAH PUBLIKASI

PENGARUH TERAPI BRAIN GYM TERHADAP PENINGKATAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANJUT USIA DI POSYANDU LANJUT USIA DESA PUCANGAN KARTASURA NASKAH PUBLIKASI PENGARUH TERAPI BRAIN GYM TERHADAP PENINGKATAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANJUT USIA DI POSYANDU LANJUT USIA DESA PUCANGAN KARTASURA NASKAH PUBLIKASI Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat meraih derajat

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESULITAN MENGINGAT DAN KONSENTRASI PADA USIA LANJUT DI INDONESIA TAHUN 2004

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESULITAN MENGINGAT DAN KONSENTRASI PADA USIA LANJUT DI INDONESIA TAHUN 2004 FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESULITAN MENGINGAT DAN KONSENTRASI PADA USIA LANJUT DI INDONESIA TAHUN 2004 Analisis Data Survei Sosial Ekonomi Nasional dan Data SDKI Tahun 2004 Faiza Yuniati, S.Pd,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keadaan gizi kurang dapat ditemukan pada setiap kelompok masyarakat. Pada hakekatnya keadaan gizi kurang dapat dilihat sebagai suatu proses kurang asupan makanan ketika

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Rumah sakit merupakan salah satu unit usaha yang memberikan pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu pelayanan kesehatan yang diberikan,

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUNJUNGAN LANSIA DALAM KEGIATAN POSYANDU DI DESA PLUMBON KECAMATAN MOJOLABAN SUKOHARJO

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUNJUNGAN LANSIA DALAM KEGIATAN POSYANDU DI DESA PLUMBON KECAMATAN MOJOLABAN SUKOHARJO FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUNJUNGAN LANSIA DALAM KEGIATAN POSYANDU DI DESA PLUMBON KECAMATAN MOJOLABAN SUKOHARJO NASKAH PUBLIKASI Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat meraih derajat Sarjana

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDANARAN SEMARANG TAHUN 2013

FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDANARAN SEMARANG TAHUN 2013 FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDANARAN SEMARANG TAHUN 2013 Ignatia Goro *, Kriswiharsi Kun Saptorini **, dr. Lily Kresnowati **

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KURANG GIZI PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GODEAN 1 KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA. Karya Tulis Ilmiah

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KURANG GIZI PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GODEAN 1 KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA. Karya Tulis Ilmiah FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KURANG GIZI PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GODEAN 1 KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA Karya Tulis Ilmiah Disusun Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Derajat Sarjana Keperawatan Pada

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK IBU BALITA KAITANNYA DENGAN PELAKSANAAN STIMULASI, DETEKSI DAN INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK BALITA

KARAKTERISTIK IBU BALITA KAITANNYA DENGAN PELAKSANAAN STIMULASI, DETEKSI DAN INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK BALITA KARAKTERISTIK IBU BALITA KAITANNYA DENGAN PELAKSANAAN STIMULASI, DETEKSI DAN INTERVENSI DINI TUMBUH KEMBANG ANAK BALITA Siti Rahayu, Ilham Setyo Budi, Satino Kementerian Kesehatan Politeknik Kesehatan

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

LATIHAN FISIK DAN KUALITAS HIDUP PADA LANSIA DI KECAMATAN DIMEMBE, KABUPATEN MINAHASA UTARA

LATIHAN FISIK DAN KUALITAS HIDUP PADA LANSIA DI KECAMATAN DIMEMBE, KABUPATEN MINAHASA UTARA LATIHAN FISIK DAN KUALITAS HIDUP PADA LANSIA DI KECAMATAN DIMEMBE, KABUPATEN MINAHASA UTARA Jeklin Linda Tambariki Universitas Klabat Jeklin_tambariki@yahoo.com Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa

Lebih terperinci

Imelda Erman, Yeni Elviani Dosen Prodi Keperawatan Lubuklinggau Politeknik Kesehatan Palembang ABSTRAK

Imelda Erman, Yeni Elviani Dosen Prodi Keperawatan Lubuklinggau Politeknik Kesehatan Palembang ABSTRAK HUBUNGAN PARITAS DAN SIKAP AKSEPTOR KB DENGAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI JANGKA PANJANG DI KELURAHAN MUARA ENIM WILAYAH KERJA PUSKESMAS PERUMNAS KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2012 Imelda Erman, Yeni Elviani

Lebih terperinci

PENGARUH BRAIN GYM TERHADAP TINGKAT KOGNITIF LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA WARGA TAMA INDRALAYA TAHUN 2013

PENGARUH BRAIN GYM TERHADAP TINGKAT KOGNITIF LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA WARGA TAMA INDRALAYA TAHUN 2013 PENGARUH BRAIN GYM TERHADAP TINGKAT KOGNITIF LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA WARGA TAMA INDRALAYA TAHUN 213 Oleh Ria Verany, Budi Santoso, Mery Fanada Abstrak Kemunduran fisik maupun mental selalu

Lebih terperinci

ABSTRAK. Ronauly V. N, 2011, Pembimbing 1: dr. Sijani Prahastuti, M.Kes Pembimbing 2 : Prof. DR. Susy Tjahjani, dr., M.Kes

ABSTRAK. Ronauly V. N, 2011, Pembimbing 1: dr. Sijani Prahastuti, M.Kes Pembimbing 2 : Prof. DR. Susy Tjahjani, dr., M.Kes ABSTRAK EFEK INFUSA DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL LDL DAN PENINGKATAN KADAR KOLESTEROL HDL DARAH TIKUS JANTAN GALUR WISTAR MODEL DISLIPIDEMIA Ronauly V. N, 2011,

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE DI DEPARTEMEN NON JAHIT PT. KERTA RAJASA RAYA

IMPLEMENTASI TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE DI DEPARTEMEN NON JAHIT PT. KERTA RAJASA RAYA JURNAL TEKNIK INDUSTRI VOL. 3, NO. 1, JUNI 001: 18-5 IMPLEMENTASI TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE DI DEPARTEMEN NON JAHIT PT. KERTA RAJASA RAYA Tanti Octavia Ronald E. Stok Dosen Fakultas Teknologi Industri,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 23 April 2013. Penelitian dilakukan pada saat pagi hari yaitu pada jam 09.00-

BAB III METODE PENELITIAN. 23 April 2013. Penelitian dilakukan pada saat pagi hari yaitu pada jam 09.00- BAB III METODE PENELITIAN 1.1 Lokasi Dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian akan dilakukan di peternakan ayam CV. Malu o Jaya Desa Ulanta, Kecamatan Suwawa dan peternakan ayam Risky Layer Desa Bulango

Lebih terperinci

BADAN PUSAT STATISTIK

BADAN PUSAT STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK KEBUTUHAN DATA KETENAGAKERJAAN UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN OLEH: RAZALI RITONGA DIREKTUR STATISTIK KEPENDUDUKAN DAN KETENAGAKERJAAN BADAN PUSAT STATISTIK Pokok bahasan Latar Belakang

Lebih terperinci

PERANCANGAN ALAT UKUR TINGKAT KEPUASAN PENGGUNA WEB STUDENT PORTAL PALCOMTECH

PERANCANGAN ALAT UKUR TINGKAT KEPUASAN PENGGUNA WEB STUDENT PORTAL PALCOMTECH PERANCANGAN ALAT UKUR TINGKAT KEPUASAN PENGGUNA WEB STUDENT PORTAL PALCOMTECH Febria Sri Handayani STMIK PalComTech Abstract STMIK PalComTech student portal website used as a means of promotion of academic

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Stres muncul sejalan dengan peristiwa dan perjalanan kehidupan yang dilalui

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Stres muncul sejalan dengan peristiwa dan perjalanan kehidupan yang dilalui BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stres muncul sejalan dengan peristiwa dan perjalanan kehidupan yang dilalui oleh individu dan terjadinya tidak dapat dihindari sepenuhnya. Pada umumnya, individu yang

Lebih terperinci

PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS

PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS Agung Nugroho Divisi Peny. Tropik & Infeksi Bag. Peny. Dalam FK-UNSRAT Manado PENDAHULUAN Jumlah pasien HIV/AIDS di Sulut semakin meningkat. Sebagian besar pasien diberobat

Lebih terperinci

Jurnal Kesehatan Kartika 27

Jurnal Kesehatan Kartika 27 HUBUNGAN MOTIVASI KERJA BIDAN DALAM PELAYANAN ANTENATAL DENGAN KEPATUHAN PENDOKUMENTASIAN KARTU IBU HAMIL DI PUSKESMAS UPTD KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2008 Oleh : Yulia Sari dan Rusnadiah STIKES A. Yani Cimahi

Lebih terperinci

PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM UPAYA PELAYANAN KESEHATAN JIWA PARIPURNA

PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM UPAYA PELAYANAN KESEHATAN JIWA PARIPURNA PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM UPAYA PELAYANAN KESEHATAN JIWA PARIPURNA Dr. Suryo Dharmono SpKJ Divisi Psikiatri Komunitas Departemen Psikiatri FKUI/RSCM UPAYA PELAYANAN KESEHATAN JIWA DI INDONESIA Dikenal

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PERILAKU CUCI TANGAN PAKAI SABUN PADA MASYARAKAT DI DESA SENURO TIMUR

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PERILAKU CUCI TANGAN PAKAI SABUN PADA MASYARAKAT DI DESA SENURO TIMUR HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PERILAKU CUCI TANGAN PAKAI SABUN PADA MASYARAKAT DI DESA SENURO TIMUR Nur Alam Fajar * dan Misnaniarti ** ABSTRAK Penyakit menular seperti diare dan ISPA (Infeksi

Lebih terperinci

TERBENTUKNYA RUANG BERSAMA OLEH LANSIA BERDASARKAN INTERAKSI SOSIAL DAN POLA PENGGUNAANNYA

TERBENTUKNYA RUANG BERSAMA OLEH LANSIA BERDASARKAN INTERAKSI SOSIAL DAN POLA PENGGUNAANNYA SIDANG TERBUKA PROMOSI DOKTOR TERBENTUKNYA RUANG BERSAMA OLEH LANSIA BERDASARKAN INTERAKSI SOSIAL DAN POLA PENGGUNAANNYA Mahendra Wardhana Nrp. 3207301003 Pembimbing 1 : Prof. Dr. Ir. Josef Prijotomo,

Lebih terperinci

KEPADATAN TULANG, AKTIVITAS FISIK & KONSUMSI MAKANAN BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 6 12 TAHUN

KEPADATAN TULANG, AKTIVITAS FISIK & KONSUMSI MAKANAN BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 6 12 TAHUN KEPADATAN TULANG, AKTIVITAS FISIK & KONSUMSI MAKANAN BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 6 12 TAHUN Heryudarini Harahap, dkk TEMU ILMIAH INTERNASIONAL PERSAGI XV YOGYAKARTA, 25 30 NOVERMBER

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. anak-anak dan dewasa muda. Penyakit ini mencapai lebih dari 13 juta kematian per

BAB I PENDAHULUAN. anak-anak dan dewasa muda. Penyakit ini mencapai lebih dari 13 juta kematian per 11 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemakaian antibiotik pada saat ini sangat tinggi, hal ini disebabkan penyakit infeksi masih mendominasi. Penyakit infeksi sekarang pembunuh terbesar di dunia anak-anak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan sehat fisik, mental, dan sosial, bukan semata-mata keadaan tanpa penyakit atau kelemahan. Definisi

Lebih terperinci

SITUASI UPAYA KESEHATAN JAKARTA PUSAT

SITUASI UPAYA KESEHATAN JAKARTA PUSAT SITUASI UPAYA KESEHATAN JAKARTA PUSAT A.UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK Salah satu komponen penting dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat adalah pelayanan kesehatan dasar. UU no.3 tahun 2009 tentang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 34 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Posyandu wilayah binaan Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Jakarta Barat. Puskesmas ini terletak di Jalan Angsana Raya

Lebih terperinci

Karya Tulis Ilmiah. Disusun oleh: RASTIFIATI 20080320108

Karya Tulis Ilmiah. Disusun oleh: RASTIFIATI 20080320108 HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN PRIMIGRAVIDA TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS MERGANGSAN YOGYAKARTA Karya Tulis Ilmiah Disusun dan Diajukan untuk

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 2009 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 2009 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 2009 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT)

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) LAMPIRAN 1 50 LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) Yang bertanda tangan dibawah ini: N a m a : U s i a : Alamat : Pekerjaan : No. KTP/lainnya: Dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Sehat merupakan nikmat karunia Allah yang menjadi dasar bagi segala nikmat dan kemampuan jasmani maupun rohani. Karena itu sehat patut disyukuri, dijaga, dipelihara,

Lebih terperinci

Buku Panduan Klaim Asuransi Kecelakaan Kerja

Buku Panduan Klaim Asuransi Kecelakaan Kerja [Untuk Orang Asing yang Bekerja di Jepang] インドネシア 語 版 Buku Panduan Klaim Asuransi Kecelakaan Kerja Pembayaran Asuransi Yang Dapat Diklaim (Ditagihkan) Asuransi kecelakaan kerja juga diterapkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Keluhan low back pain (LBP) dapat terjadi pada setiap orang, dalam kehidupan

I. PENDAHULUAN. Keluhan low back pain (LBP) dapat terjadi pada setiap orang, dalam kehidupan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Keluhan low back pain (LBP) dapat terjadi pada setiap orang, dalam kehidupan sehari-hari keluhan LBP dapat menyerang semua orang, baik jenis

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG BERKAITAN DENGAN PREVALENSI KURANG TIDUR KRONIS PADA MAHASISWA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA ABSTRACT

FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG BERKAITAN DENGAN PREVALENSI KURANG TIDUR KRONIS PADA MAHASISWA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA ABSTRACT FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG BERKAITAN DENGAN PREVALENSI KURANG TIDUR KRONIS PADA MAHASISWA DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Oleh : *Syamsumin Kurnia Dewi ABSTRACT Background: Sleep is a part of human biological

Lebih terperinci

BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN

BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN YANG BERKUALITAS Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan

Lebih terperinci

MEMBANGUN KAPASITAS DAN KAPABILITAS UNTUK MENINGKATKAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN. Compliance for QPS standard

MEMBANGUN KAPASITAS DAN KAPABILITAS UNTUK MENINGKATKAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN. Compliance for QPS standard MEMBANGUN KAPASITAS DAN KAPABILITAS UNTUK MENINGKATKAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN Compliance for QPS standard Dr. Hermanto Nurya, MM Direktur Eka Hospital BSD Jakarta 19 November 2013 Jaringan Layanan Eka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan suatu negara, karena merupakan generasi penerus bangsa

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan suatu negara, karena merupakan generasi penerus bangsa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak pada hakikatnya merupakan aset terpenting dalam tercapainya keberhasilan suatu negara, karena merupakan generasi penerus bangsa selanjutnya. Derajat kesehatan anak

Lebih terperinci

ASKEP KELUARGA TAHAP LANSIA. RETNO INDARWATI TIM KEPERAWATAN GERONTIK PSIK FKp UNAIR

ASKEP KELUARGA TAHAP LANSIA. RETNO INDARWATI TIM KEPERAWATAN GERONTIK PSIK FKp UNAIR ASKEP KELUARGA TAHAP LANSIA RETNO INDARWATI TIM KEPERAWATAN GERONTIK PSIK FKp UNAIR Lanjut Usia Lansia bukan suatu penyakit tapi tahap lanjut dari proses kehidupan yang ditandai dg penurunan kemampuan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1. AKTIVITAS FISIK II.1.1. Definisi Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi. Aktivitas fisik yang tidak

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. memberikan pertolongan yang justru sangat dibutuhkan.

BAB 1 PENDAHULUAN. memberikan pertolongan yang justru sangat dibutuhkan. BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tingkah laku menolong sering muncul dalam masyarakat, dimana perilaku ini diberikan guna meringankan penderitaan orang lain, misalnya menolong orang lain yang

Lebih terperinci

ABSTRAK. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Insidensi Nyeri Pungggung Bawah. Januari-Desember 2009

ABSTRAK. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Insidensi Nyeri Pungggung Bawah. Januari-Desember 2009 ABSTRAK Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Insidensi Nyeri Pungggung Bawah (Low Back Pain) pada Pasien Rumah Sakit Immanuel Bandung Periode Januari-Desember 2009 Santi Mariana Purnama, 2010, Pembimbing I

Lebih terperinci

BAB VI PEMBAHASAN. RSPAD Gatot Soebroto. Cara pengambilan data menggunakan metode Cross

BAB VI PEMBAHASAN. RSPAD Gatot Soebroto. Cara pengambilan data menggunakan metode Cross BAB VI PEMBAHASAN Pembahasan adalah kesenjangan yang muncul setelah peneliti melakukan penelitian kemudian membandingkan antara teori dengan hasil penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian tentang

Lebih terperinci

TAHAP PERKEMBANGAN ANAK USIA 12-17 TAHUN

TAHAP PERKEMBANGAN ANAK USIA 12-17 TAHUN TAHAP PERKEMBANGAN ANAK USIA 12-17 TAHUN LATAR BELAKANG Lerner dan Hultsch (1983) menyatakan bahwa istilah perkembangan sering diperdebatkan dalam sains. Walaupun demikian, terdapat konsensus bahwa yang

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH DI RSIA PERTIWI MAKASSAR

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH DI RSIA PERTIWI MAKASSAR FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH DI RSIA PERTIWI MAKASSAR Factors Associated With Low Birth Weight Infants Incident At Pertiwi Maternity And Children Hospital

Lebih terperinci

KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN ASUPAN ZAT GIZI MAKRO DAN PENGETAHUAN GIZI SEIMBANG DENGAN STATUS GIZI SISWA-SISWI DI SMP MUHAMMADIYAH 1 KARTASURA

KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN ASUPAN ZAT GIZI MAKRO DAN PENGETAHUAN GIZI SEIMBANG DENGAN STATUS GIZI SISWA-SISWI DI SMP MUHAMMADIYAH 1 KARTASURA KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN ASUPAN ZAT GIZI MAKRO DAN PENGETAHUAN GIZI SEIMBANG DENGAN STATUS GIZI SISWA-SISWI DI SMP MUHAMMADIYAH 1 KARTASURA Karya Tulis Ilmiah ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Lebih terperinci

KELELAHAN OTOT TANGAN PADA TENAGA KERJA ANGKUT DI GUDANG LOGISTIK SUB DIVRE BULOG KOTA MAKASSAR

KELELAHAN OTOT TANGAN PADA TENAGA KERJA ANGKUT DI GUDANG LOGISTIK SUB DIVRE BULOG KOTA MAKASSAR KELELAHAN OTOT TANGAN PADA TENAGA KERJA ANGKUT DI GUDANG LOGISTIK SUB DIVRE BULOG KOTA MAKASSAR Muscle Fatigue Hands Transport Warehouse Labor on Logistics Sub-Division Bulog in Makassar Raden Mas Bayu,

Lebih terperinci

PELAKSANAAN TUGAS INSTITUSI PENERIMA WAJIB LAPOR DI PUSKESMAS PERKOTAAN RASIMAH AHMAD BUKITTINGGI

PELAKSANAAN TUGAS INSTITUSI PENERIMA WAJIB LAPOR DI PUSKESMAS PERKOTAAN RASIMAH AHMAD BUKITTINGGI 1 PELAKSANAAN TUGAS INSTITUSI PENERIMA WAJIB LAPOR DI PUSKESMAS PERKOTAAN RASIMAH AHMAD BUKITTINGGI (Studi Di Puskesmas Perkotaan Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi) Disusun Oleh : Agus Darmawan Pane, 10.10.002.74201.020,

Lebih terperinci

PROPOSAL BHAKTI SOSIAL PANTI ASUHAN. Share Love to Another. (1 John 4:11)

PROPOSAL BHAKTI SOSIAL PANTI ASUHAN. Share Love to Another. (1 John 4:11) Share Love to Another PROPOSAL BHAKTI SOSIAL PANTI ASUHAN (1 John 4:11) A. Pengantar Diadakannya acara Bhakti Sosial ke Panti Asuhan (PA) didasari atas pemikiran kami sebagai generasi muda yang mempunyai

Lebih terperinci

KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK

KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK Sri Rezki Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Pontianak ABSTRAK Latar Belakang: Rekam medis merupakan berkas yang berisi catatan

Lebih terperinci

PENDUDUK LANJUT USIA

PENDUDUK LANJUT USIA PENDUDUK LANJUT USIA Salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk. Dengan semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk, menyebabkan jumlah penduduk

Lebih terperinci

HUBUNGAN HIPERTENSI TIDAK TERKONTROL DENGAN KEJADIAN STROKE ULANG DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SUKOHARJO

HUBUNGAN HIPERTENSI TIDAK TERKONTROL DENGAN KEJADIAN STROKE ULANG DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SUKOHARJO HUBUNGAN HIPERTENSI TIDAK TERKONTROL DENGAN KEJADIAN STROKE ULANG DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SUKOHARJO NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana Kedokteran Diajukan Oleh

Lebih terperinci

HUBUNGAN DIMENSI MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN KUNJUNGAN ULANG PASIEN DIABETES MELLITUS DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT KARYA ASIH PALEMBANG

HUBUNGAN DIMENSI MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN KUNJUNGAN ULANG PASIEN DIABETES MELLITUS DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT KARYA ASIH PALEMBANG HUBUNGAN DIMENSI MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN KUNJUNGAN ULANG PASIEN DIABETES MELLITUS DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT KARYA ASIH PALEMBANG MANUSKRIF SKRIPSI OLEH RESTI DWIJAYATI NIM 10101001046

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN KONSEP DIRI PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROV.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN KONSEP DIRI PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROV. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN KONSEP DIRI PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROV. SULAWESI SELATAN Beatris F. Lintin 1. Dahrianis 2. H. Muh. Nur 3 1 Stikes Nani Hasanuddin

Lebih terperinci

FAKTOR RESIKO KEJADIAN KURANG ENERGI PROTEIN (KEP) PADA BALITA (>2-5 TAHUN) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI AUR KABUPATEN PASAMAN BARAT TAHUN 2012

FAKTOR RESIKO KEJADIAN KURANG ENERGI PROTEIN (KEP) PADA BALITA (>2-5 TAHUN) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI AUR KABUPATEN PASAMAN BARAT TAHUN 2012 FAKT RESIKO KEJADIAN KURANG ENERGI PROTEIN (KEP) PADA BALITA (>2-5 TAHUN) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI AUR KABUPATEN PASAMAN BARAT TAHUN 2012 Pembimbing I : Delmi Sulastri,Dr,dr,MS,SpGK Penulis : Ferawati

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari tahun ke tahun.sementara target Rencana Pembangunan Jangka Menengah

BAB I PENDAHULUAN. dari tahun ke tahun.sementara target Rencana Pembangunan Jangka Menengah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia menempati urutan tertinggi di ASEAN yaitu 228/100.000 kelahiran

Lebih terperinci

MANFAAT EPIDEMIOLOGI Membantu pekerjaan administrator dan perencana kesehatan untuk mengidentifikasi masalah dan kebutuhan kesehatan, alokasi sumber d

MANFAAT EPIDEMIOLOGI Membantu pekerjaan administrator dan perencana kesehatan untuk mengidentifikasi masalah dan kebutuhan kesehatan, alokasi sumber d MANFAAT EPIDEMIOLOG Oleh: Fatkurahman Arjuna.M.Or E-Mail; Arjuna@UNY.ac.id FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2012 MANFAAT EPIDEMIOLOGI Membantu pekerjaan administrator dan perencana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masalah tumbuh kembang merupkan masalah yang masih perlu

BAB I PENDAHULUAN. Masalah tumbuh kembang merupkan masalah yang masih perlu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah tumbuh kembang merupkan masalah yang masih perlu diperhatikan tidak hanya pada bayi lahir normal melainkan juga pada bayi lahir prematur. Dikarenakan tingkat

Lebih terperinci

SIMULASI RANCANGAN ACAK KELOMPOK TAK LENGKAP SEIMBANG DAN EFISIENSINYA

SIMULASI RANCANGAN ACAK KELOMPOK TAK LENGKAP SEIMBANG DAN EFISIENSINYA Agusrawati //Paradigma, Vol. 16 No.1, April 2012, hlm. 31-38 SIMULASI RANCANGAN ACAK KELOMPOK TAK LENGKAP SEIMBANG DAN EFISIENSINYA Agusrawati 1) 1) Jurusan Matematika FMIPA Unhalu, Kendari, Sulawesi Tenggara

Lebih terperinci

Ekowati Retnaningsi dan Nuryanto

Ekowati Retnaningsi dan Nuryanto KEPATUHAN TENAGA KESEHATAN TERHADAP STANDAR OPERASIOANAL PROSEDUR PERTOLONGAN PERSALINAN UNTUK MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN IBU DI PROVINSI SUMATERA SELATAN Ekowati Retnaningsi dan Nuryanto ABSTRAK Tujuan

Lebih terperinci

Anna Ngatmira,SPd,MKM ( Jogjakarta, 25 November 2014)

Anna Ngatmira,SPd,MKM ( Jogjakarta, 25 November 2014) Anna Ngatmira,SPd,MKM ( Jogjakarta, 25 November 2014) Joint Commission International (JCI) International Patient Safety Goals (IPSG) Care of Patients ( COP ) Prevention & Control of Infections (PCI) Facility

Lebih terperinci

ABSTRAK PENILAIAN KUALITAS HIDUP PASIEN PPOK RAWAT JALAN DENGAN METODE SAINT GEORGE S RESPIRATORY QUESTIONNAIRE (SGRQ)

ABSTRAK PENILAIAN KUALITAS HIDUP PASIEN PPOK RAWAT JALAN DENGAN METODE SAINT GEORGE S RESPIRATORY QUESTIONNAIRE (SGRQ) ABSTRAK PENILAIAN KUALITAS HIDUP PASIEN PPOK RAWAT JALAN DENGAN METODE SAINT GEORGE S RESPIRATORY QUESTIONNAIRE (SGRQ) Felicia S., 2010, Pembimbing I : J. Teguh Widjaja, dr., SpP., FCCP. Pembimbing II

Lebih terperinci

KEGIATAN DALAM RANGKA HARI KANKER SEDUNIA 2013 DI JAWA TIMUR

KEGIATAN DALAM RANGKA HARI KANKER SEDUNIA 2013 DI JAWA TIMUR KEGIATAN DALAM RANGKA HARI KANKER SEDUNIA 2013 DI JAWA TIMUR PENDAHULUAN Kanker merupakan salah satu penyakit yang telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia. Setiap tahun,

Lebih terperinci

Integrated Care for Better Health Integrasi Layanan untuk Kesehatan Yang Lebih Baik

Integrated Care for Better Health Integrasi Layanan untuk Kesehatan Yang Lebih Baik Integrated Care for Better Health Integrasi Layanan untuk Kesehatan Yang Lebih Baik An ounce of prevention is worth a pound of cure Pencegahan kecil mempunyai nilai yang sama dengan pengobatan yang banyak

Lebih terperinci

Masalah perkembangan pada anak. Keluhan Utama pada Keterlambatan Perkembangan Umum di Klinik Khusus Tumbuh Kembang RSAB Harapan Kita

Masalah perkembangan pada anak. Keluhan Utama pada Keterlambatan Perkembangan Umum di Klinik Khusus Tumbuh Kembang RSAB Harapan Kita Artikel Asli Keluhan Utama pada Keterlambatan Perkembangan Umum di Klinik Khusus Tumbuh Kembang RSAB Harapan Kita Anna Tjandrajani,* Attila Dewanti,* Amril A. Burhany,* Joanne Angelica Widjaja** *Kelompok

Lebih terperinci

MODUL PUSKESMAS 1. SISTEM INFORMASI PUSKESMAS (SIMPUS)

MODUL PUSKESMAS 1. SISTEM INFORMASI PUSKESMAS (SIMPUS) Modul Puskesmas 1. SIMPUS MODUL PUSKESMAS 1. SISTEM INFORMASI PUSKESMAS (SIMPUS) I. DESKRIPSI SINGKAT Sistem informasi merupakan bagian penting dalam suatu organisasi, termasuk puskesmas. Sistem infomasi

Lebih terperinci

HUBUNGAN IBU HAMIL PEROKOK PASIF DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RSU MEURAXA BANDA ACEH

HUBUNGAN IBU HAMIL PEROKOK PASIF DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RSU MEURAXA BANDA ACEH HUBUNGAN IBU HAMIL PEROKOK PASIF DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RSU MEURAXA BANDA ACEH NURLAILA RAMADHAN 1 1 Tenaga Pengajar Pada STiKes Ubudiyah Banda Aceh Abtract

Lebih terperinci

Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA)

Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA) Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA) Penyakit flu umumnya dapat sembuh dengan sendirinya jika kita cukup istirahat, makan teratur, dan banyak mengkonsumsi sayur serta buah-buahan. Namun demikian,

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN. Lia Amalia (e-mail: lia.amalia29@gmail.com)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN. Lia Amalia (e-mail: lia.amalia29@gmail.com) FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN Lia Amalia (e-mail: lia.amalia29@gmail.com) Jurusan Kesehatan Masyarakat FIKK Universitas Negeri Gorontalo ABSTRAK: Dalam upaya penurunan

Lebih terperinci

Masa Kanak-Kanak Akhir. Siti Rohmah Nurhayati

Masa Kanak-Kanak Akhir. Siti Rohmah Nurhayati Masa Kanak-Kanak Akhir Siti Rohmah Nurhayati MASA KANAK-KANAK AKHIR Masa kanak-kanak akhir sering disebut sebagai masa usia sekolah atau masa sekolah dasar. Masa ini dialami anak pada usia 6 tahun sampai

Lebih terperinci

Low density lipoprotein padat kecil sebagai prediktor dari kualitas hidup pada lanjut usia

Low density lipoprotein padat kecil sebagai prediktor dari kualitas hidup pada lanjut usia Oktober-Desember 2006, Vol.25 No.4 Low density lipoprotein padat kecil sebagai prediktor dari kualitas hidup pada lanjut usia ABSTRAK Pusparini* a, Rita Khairani** dan Danny Wiradharma* * Bagian Patologi

Lebih terperinci

KUESIONER FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI POLA PEMILIHAN MAKANAN SIAP SAJI (FAST FOOD) PADA PELAJAR DI SMA SWASTA CAHAYA MEDAN TAHUN 2012

KUESIONER FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI POLA PEMILIHAN MAKANAN SIAP SAJI (FAST FOOD) PADA PELAJAR DI SMA SWASTA CAHAYA MEDAN TAHUN 2012 LAMPIRAN KUESIONER FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI POLA PEMILIHAN MAKANAN SIAP SAJI (FAST FOOD) PADA PELAJAR DI SMA SWASTA CAHAYA MEDAN TAHUN 2012 I. INFORMASI WAWANCARA No. Responden... Nama Responden...

Lebih terperinci

SKRIPSI Diajukan ke Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sebagai pemenuhan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran.

SKRIPSI Diajukan ke Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sebagai pemenuhan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran. HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DALAM MENGHADAPI OBJECTIVE STRUCTURED CLINICAL EXAMINATION (OSCE) DENGAN NILAI OSCE MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS SKRIPSI Diajukan ke Fakultas Kedokteran

Lebih terperinci

SKRIPSI PENGARUH DISIPLIN KERJA DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP PRESTASI KERJA PEGAWAI PADA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN SAMOSIR

SKRIPSI PENGARUH DISIPLIN KERJA DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP PRESTASI KERJA PEGAWAI PADA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN SAMOSIR SKRIPSI PENGARUH DISIPLIN KERJA DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP PRESTASI KERJA PEGAWAI PADA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN SAMOSIR OLEH : PIRTAHAP SITANGGANG 120521115 PROGRAM STUDI STRATA

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat sarjana strata-1 kedokteran umum

LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat sarjana strata-1 kedokteran umum PERBEDAAN KUALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SEBELUM DAN SESUDAH PELATIHAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SECARA BIJAK Penelitian di Instalasi Rawat Jalan Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr. Kariadi LAPORAN AKHIR HASIL

Lebih terperinci

Proyeksi Penduduk, Angkatan Kerja, Tenaga Kerja, dan Peran Serikat Pekerja dalam Peningkatan Kesejahteraan

Proyeksi Penduduk, Angkatan Kerja, Tenaga Kerja, dan Peran Serikat Pekerja dalam Peningkatan Kesejahteraan Proyeksi Penduduk, Angkatan Kerja, Tenaga Kerja, dan Peran Serikat Pekerja dalam Peningkatan Kesejahteraan Prijono Tjiptoherijanto Pendahuluan Banyak ahli dan pengamat terutama mereka yang bergerak di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskuler secara cepat di negara maju dan negara berkembang.

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskuler secara cepat di negara maju dan negara berkembang. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini perubahan pola hidup yang terjadi meningkatkan prevalensi penyakit jantung dan berperan besar pada mortalitas serta morbiditas. Penyakit jantung diperkirakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. yang dapat diceritakan ke orang lain. Memori melahirkan, peristiwa dan orang-orang

BAB 1 PENDAHULUAN. yang dapat diceritakan ke orang lain. Memori melahirkan, peristiwa dan orang-orang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Persalinan merupakan salah satu peristiwa penting dan senantiasa diingat dalam kehidupan wanita. Setiap wanita memiliki pengalaman melahirkan tersendiri yang dapat

Lebih terperinci

I Ketut Sudiatmika*), Budi Anna Keliat**), dan Ice Yulia Wardani***)

I Ketut Sudiatmika*), Budi Anna Keliat**), dan Ice Yulia Wardani***) EFEKTIVITAS COGNITIVE BEHAVIOUR THERAPY DAN RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOUR THERAPY TERHADAP GEJALA DAN KEMAMPUAN MENGONTROL EMOSI PADA KLIEN PERILAKU KEKERASAN I Ketut Sudiatmika*), Budi Anna Keliat**), dan

Lebih terperinci

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BAYI DI PUSKSMAS ANTANG KOTA MAKASSAR

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BAYI DI PUSKSMAS ANTANG KOTA MAKASSAR GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BAYI DI PUSKSMAS ANTANG KOTA MAKASSAR Novendra Charlie Budiman, Muh. Askar, Simunati Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar Dosen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Cokelat bagi sebagian orang adalah sebuah gaya hidup dan kegemaran, namun masih banyak orang yang mempercayai mitos tentang cokelat dan takut mengonsumsi cokelat walaupun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang Penelitian. Peningkatan populasi lanjut usia yang lebih banyak akan terjadi di negara-negara

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang Penelitian. Peningkatan populasi lanjut usia yang lebih banyak akan terjadi di negara-negara BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Penelitian Peningkatan populasi lanjut usia yang lebih banyak akan terjadi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Penyebabnya adalah karena turunnya angka kelahiran

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA PASURUAN SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA PASURUAN NOMOR 03 TAHUN 2013 TENTANG KESEJAHTERAAN LANJUT USIA

PEMERINTAH KOTA PASURUAN SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA PASURUAN NOMOR 03 TAHUN 2013 TENTANG KESEJAHTERAAN LANJUT USIA PEMERINTAH KOTA PASURUAN SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA PASURUAN NOMOR 03 TAHUN 2013 TENTANG KESEJAHTERAAN LANJUT USIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PASURUAN, Menimbang : Mengingat : a. bahwa

Lebih terperinci