BAB I PENDAHULUAN. masih berada di bawah umur yang sudah mengenal Rokok, Narkoba, Freesex,

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN. masih berada di bawah umur yang sudah mengenal Rokok, Narkoba, Freesex,"

Transkripsi

1 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peserta didik zaman sekarang adanya rasa hormat, kasih sayang, rasa segan, atau kita kenal dengan istilah ta dhim terhadap guru ataupun terhadap orang tua semakin hilang, pudar entah kemana, perasaan itu hilang dan hampir tidak tampak terlihat dalam nuansa proses pembelajaran yang terjadi dan berlangsung pada saat ini. Mengapa demikian, hal itu terjadi karena peserta didik jaman sekarang kurang dalam meresapi, kurang dalam menghayati, dan kurang dalam melaksanakan atau mempraktikkan apa yang telah dipelajari dalam ilmu tata laksana aqidah akhlak atau dalam ilmu budi pekerti dikenal dengan istilah sopan santun. Bahkan menurut para ahli pendidikan tingkat kenakalan anak usia sekolah di era modern ini sudah melebihi batas yang sewajarnya. Terlihat jelas bahwa banyak terjadi kasus pada anak usia sekolah yang masih berada di bawah umur yang sudah mengenal Rokok, Narkoba, Freesex, tawuran dan terlibat banyak tindakan kriminal lainnya, yang pada hakikatnya hal tersebut adalah merupakan krisis akhlak pada anak usia sekolah. Maraknya tawuran antar pelajar, penyalahgunaan narkoba, perilaku asusila, pergaulan bebas yang menjamur sampai tingkat pedesaan serta penyakit lainnya yang itu semua karena di sebabkan oleh merosotnya moral bangsa.(mukhlas,2007:99)

2 2 Realita lain yang terjadi dalam lembaga kependidikan saat ini adalah pendidikan yang lebih mengedepankan kecerdasan intelegensinya sehingga apabila siswa dihadapkan pada permasalahan yang terlalu berat sedikit semisal tidak naik kelas atau tidak lulus ujian maka siswa tersebut akan depresi berat dan tidak dapat mengambil pelajaran dibalik semua kejadian tersebut. Akibat yang lebih fatal dari kejadian tersebut siswa ada yang melakukan perbuatan yang tidak tidak seharusnya dilakukan oleh siswa, frustasi berat atau perbuatan yang lebih parah lagi yaitu mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Sebagai penerus generasi, anak diharapkan menjadi manusia unggul, lebih dari pada yang dicapai oleh ayah dan ibunya. Anak yang tumbuh dan berkembang secara normal dapat dilihat dari bakat yang dimiliki oleh anak antara lain mampu memahami dirinya dan pandai menyikapi permasalahan yang ada di sekelilingnya (Jaudah, 1995:25). Dalam konteks ini, peran pendidik sebagai orang tua kedua dari anak sangatlah penting dalam menumbuhkan dan mengembangkan kecerdasan anakya. Seperti disebutkan diatas bahwa anak dilahirkan dalam keadaan suci, dalam hal ini Nabi Muhammad Saw bersabda: ح د ث ى ا ع ب د ان أ خ ب ر و ا ع ب د ا لل أ خ ب ر و ا و س ع ه الز ر ي أ خ ب ر و أ ب س ل م ت ب ه ع ب د الر ح م ه أ ن أ ب ا ر ر ة ر ض ا لل ع ى ق ال,ق ال ر س ل ا لل ص ل ى ا لل ع ل س ل م م ا م ه م ل د إ ل ل د ع ل ى ال ف ط ر ة ف أ ب اي د او ى ص ر او أ م او.

3 3 Artinya: Dari Abu Hurairah berkata bahwasanya Nabi SAW bersabda : Semua anak-anak dilahirkan suci (fitrah), tetapi ibu bapaknyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi (HR. Muslim). (Muallifah, 2009: ) Dari uraian tersebut, maka peran dan tanggung jawab pendidik sebagai orang tua kedua terhadap anaknya adalah sangat penting dalam membimbing, mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan siswanya dan menanamkan pendidikan akhlak sebagai jiwa dari pendidikan Islam secara berangsur-angsur dan bertahap sampai tercapai tujuan pendidikan. Pendidik dan Orang tua sama-sama bertanggung jawab penuh demi masa depannya terutama dalam pembentukan kecerdasan (fitrah) baik intelligensi, emosional, terlebih lagi spiritual peserta didik. Proses pendidikan khususnya pendidikan akhlak merupakan proses panjang dimana hal tersebut membutuhan waktu lama secara terus menerus dan berkesinambungan yang dibutuhkan manusia dalam rangka menjalani kehidupan yang hakiki untuk kebahagiaan dunia maupun kebahagiaan akherat. Menurut Haris Supratno di bukunya Muchlis Samadi, menyatakan " Pendidikan merupakan investasi jangka panjang bagi keluarga maupun Negara yang sangat bermakna, pendidikan yang bermakna merupakan upaya membantu anak didik untuk memperdayakan potensi yang dimilikinya, sebagai bekal hidup di masa akan depan, untuk memperoleh kebahagian hidup di dunia dan di akhirat yang hakiki". Dalam pencapaian kebahagiaan hakiki, maka pendidikan khususnya adalah pendidikan Islam

4 4 utama yang menjadi tonggak yaitu membentuk akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang-orang bermoral, berjiwa bersih, berkemauan keras, citacita besar, dan memiliki akhlak yang tinggi serta luhur. Pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa pendidikan Islam (zakiyah darodjat,2006:30). Dalam hal ini pencapaian akhlak yang sempurna merupakan tujuan utama dari proses pendidikan. Kemudian hal tersebut akan terjadi dan terbentuk dalam suatu proses pendidikan yang membutuhkan waktu lama dimana proses tersebut selalu berhubungan secara terus menerus dan berkesinambungan. Untuk mengatasi masalah seperti ini maka diperlukan suatu metode yang berfungsi sebagai pembangun kecerdasan spiritual siswa yang berlandaskan kepada nilai-nilai rukun iman, rukun islam, dan ihsan sehingga akan lebih mengoptimalkan kecerdasan spiritual dan kecerdasan Emotional (Ginanjar, 2009:3). Di dalam suatu adegan salah satu film nasional yang berjudul Alangkah Lucunya (Negeriku) dimana dalam salah satu adegan dikatakan bahwa pendidikan itu adalah "Suatu kebutuhan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. atau pendidikan itu sebuah alat untuk meloncat, yang bertujuan untuk memulyakan manusia". Jadi dengan adanya pendidikan harkat dan martabat manusia akan makin meningkat, dan kemuliyaan hidup akan tercapai, akan tetapi diperlukan suatu ketelatenan, keuletan, kesabaran serta pikiran positif untuk mencapai tujuan tersebut. Terdapat tiga fungsi pendidikan, yaitu: pertama, pendidikan berfungsi sebagai penumbuh kreativitas peserta didik; kedua, pendidikan berfungsi

5 5 mewariskan nilai-nilai kepada peserta didik; dan ketiga, pendidikan berfungsi meningkatkan kemampuan kerja produktif peserta didik (Muhadjir, 1987:6). Ketiga fungsi pendidikan tersebut pada prinsipnya merupakan suatu kesatuan organik dan, oleh karena itu, pelaksanaan dari ketiga fungsi pendidikan tersebut harus dilaksanakan secara terpadu dan berimbang. Selain itu dalam konteks inilah kita melihat bahwa pembentukan kecerdasan spiritual atau dikenal dengan istilah Spitirual Quatient SQ menjadi sangat penting sebagai etika masa depan pendidikan nasional. Lain daripada itu, semakin menguatnya desakan pemilikan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi untuk hidup bersama dalam pusaran global membuat SQ terasa kian penting peranannya. Anak usia didik atau remaja yang nakal itu disebut pula sebagai anak cacat sosial. Mereka menderita cacat mental disebabkan oleh pengaruh sosial yang ada ditengah masyarakat, sehingga perilaku mereka dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan disebut kenakalan (Kartono, 1986:93). Kenakalan remaja anak usia sekolah meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri lembaga sekolah dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Krisis multi dimensi yang terjadi pada saat ini sangatlah memprihatinkan, dan jika diteliti lebih mendalam fenomena yang terjadi pada saat ini dapat disimpulkan bahwa pola pengembangan SDM saat ini yang terlalu mengedepankan IQ (Intelaktual Quotient) dan meterialisme, tetapi mengabaikan EQ (Emotional Quotient) terlebih nuansa yang bermakna IQ

6 6 (Spiritual Quotient). Terdapat juga di dalam bukunya Sukidi yang berjudul rahasia sukses hidup bahagia dengan kecerdasan spiritual mengapa SQ lebih penting daripada IQ dan EQ? beliau mengatakan bahwa pendidikan sejati adalah pendidikan hati dan budi pekerti, serta kecerdasan spiritual adalah membimbing Manusia untuk mendidik hati dan budi pekerti (akhlak). (Mukhlas Samadi, 2007:18) Oleh karena itu, memandang fitrah manusia yang dibekali oleh Allah SWT berupa kecerdasan (emosi, intelektual, dan spiritual) maka orang tua dan pendidik sebagai lembaga pendidikan utama dalam pembentukan dan pengembangan kecerdasan anak adalah sangat penting. Orang tua sebagai penanggungjawab atas kehidupan keluarga harus memberikan pendidikan Islam kepada anak-anaknya dengan menanamkan ajaran agama serta pendidikan akhlak sehingga anak akan menjadi pribadi yang tangguh dan bermoral. Menjadi hal yang menarik untuk dikaji dengan permasalahan yang berkaitan dengan pendidikan akhlak dalam rangka pembentukan kecerdasan spiritual siswa dalam proses pembelajaran, akan tetapi tidak mengesampingkan dari peran guru orang tua, masyarakat dan lingkungan sekitar. Melihat permasalahan diatas menjadi tema yang manarik untuk dikaji dalam suatu penelitian, maka dari itu peneliti mengambil judul: PENGARUH PENDIDIKAN AKHLAK TERHADAP PEMBENTUKAN KECERDASAN SPIRITUAL SISWA DI MTS NU SALATIGA TAHUN AJARAN 2010/2011.

7 7 B. Rumusan masalah Adapun pokok permasalahan yang dapat kami hadirkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) Bagaimana pendidikan akhlak siswa MTS NU Salatiga dalam kegiatan belajarnya di sekolah? 2) Sejauh mana pembentukan kecerdasan spiritual (SQ) siswa MTS NU Salatiga dalam kegiatan belajarnya? 3) Apakah ada pengaruh pendidikan akhlak terhadap pembentukan kecerdasan spiritual (SQ) siswa MTS NU Salatiga dalam kegiatan belajarnya sehari-hari? C. Tujuan penelitian Sebagai akibat atau konsekwensi dari pokok permasalahan diatas maka tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui pendidikan akhlak siswa dan siswi dalam proses belajar mengajar di MTS NU Salatiga 2) Untuk mengetahui seberapa besar pembentukan kecerdasan spiritual (SQ) siswa dan siswi di MTS NU Salatiga dalam kegiatan belajar mengajar. 3) Untuk mengetahui pengaruh pendidikan akhlak terhadap pembentukan kecerdasan spiritual (SQ) siswa dan siswi di MTS NU

8 8 Salatiga tahun ajaran 2010/2011 dalam kegiatan belajar mengajar disekolah. D. Manfaat Penelitian Sedangkan yang menjadi manfaat penelitian ini adalah: a) Manfaat teoritis Diharapkan dapat memberikansumbangan bagi pengembangan pendidikan pada umumnya,khususnya dapat memperkaya khasanah dunia pendidikan islam yang diperoleh dari penelitian lapangan. b) Manfaat praktis Bagi guru : Dapat menumbuhkan sikap rasa tanggungjawab sebagai pendidik dalam pembentukan kecerdasan spiritual melalui pendidikan akhlak sehingga proses belajar berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan pembelajaran Bagi siswa: Dapat menambah wawasan keilmuan, memahami kecerdasan spiritual yang dimiliki serta dapat menumbuhkan semangat untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. E. Hipotesis Penelitian Hipotesa adalah : Steling, patokan, pendirian, dalil yang dianggap benar untuk sementara waktu dan perlu dibuktikan kebenaranya (Kartono, 1990:78). Berdasarkan dari kesimpulan itu maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut, Ada pengaruh positif antara pendidikan akhlak

9 9 terhadap pembentukan kecerdasan spiritual (SQ) siswa MTS NU Salatiga tahun ajaran 2010/2011. Atau dengan kata lain, semakin banyak model atau proses pendidikan akhlak yang diterapkan maka semakin tinggi pula tingkat kecerdasan spiritual siswa dalam proses belajar mengajar di sekolah. F. Penjelasan Istilah Untuk menghindari kesalahan pemahaman mengenai maksud dari judul penelitian ini maka peneliti merasa perlu untuk memberikan pengertian istilah-istilah yang ada pada judul tersebut sebagai berikut : 1. Pengaruh Yang dimaksud dengan kata pengaruh adalah daya yang ada dari sesuatu (orang, benda,dsb) yang ikut membentuk kepercayaan, watak atau perbuatan seseorang (Em.Zul Fajri, 19:638). Yang dimaksud dengan kata pengaruh disini adalah daya akibat dari pendidikan akhlak hubunganya dengan pembentukan kecerdasan spiritual (SQ) siswa dalam proses belajar mengajar dalam suatu lembaga kependidikan sekolah. 2. Pendidikan Akhlak Pendidikan secara umum dapat diartikan sebagai suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar agar anak didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak dan budi mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan

10 10 Negara.Sedangkan secara khusus pendidikan itu adalah suatu proses yang disadari untuk mengembangkan potensi individu sehingga memiliki kecerdasan spiritual, emosional serta Intelegtual dan berketerampilan untuk siap hidup di tengah-tengah masyarakat.(theo riyanto, 2004:40). Arti penting dari suatu proses pendidikan adalah suatu proses panjang dalam rangka mengantarkan manusia menjadi seseorang yang kaya spiritual dan intelektual, sehingga dia dapat meningkatkan kualitas hidupnya di segala aspek dan menajalani kehidupan dengan cita-cita dan tujuan yang pasti (Ma arif, 1996:6). Maka dari itu dalam dunia pendidikan instansi kependidikan sekolah diperlukan pembentukan kecerdasan spiritual yang mana mengacu pada tujuan nasional dalam proses pembelajaran. Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia disebutkan bahwa pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan kepribadiannya melalui upaya pengajaran dan latihan. Akhlak secara bahasa artinya tabiat, perangai, adat istiadat, sedangkan secara istilah akhlak adalah hal-hal berkaitan dengan sikap, perilaku, dan sifat manusia dalam berinteraksi dengan dirinya, dengan makhluk lain dan dengan tuhannya.(depag RI,1983:104) sedangkan menurut Imam al-ghazali, Akhlak adalah suatu sifat yang mendalam/berakar/menyatu benar dalam jiwa/hati yang menimbulkan perbuatan dengan mudah tanpa difikirkan dan dipertimbangkan terlebih dahulu.(akhmad munif,2005:52) Dari beberapa definisi di atas dapatlah disimpulkan bahwa pengertian pendidikan akhlak adalah suatu proses yang bermaksud menumbuh

11 11 kembangkan fitrah (kemampuan dasar) manusiawi dengan dasar-dasar akhlak, keutamaan perangai, tabiat agar dimiliki dan diterapkan dalam diri manusia menjadi adat kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun indikator pendidikan akhlak adalah sebagai berikut: 1. Dalam proses pengajaran dengan indikator sebagai berikut: - Guru mengajar dengan menggunakan sistem pengaktifan siswa dan pembelajaran tuntas. - Guru menyampaikan materi pendidikan akhlak sesuai GBPP yang berlaku. 2. Dalam pemberian keteladanan - Guru selalu berusaha dalam menerapkan kedisiplinan - Guru menjalankan tata tertib sekolah dengan baik - Guru tidak merokok saat mengajar - Guru dalam proses pembelajaran menmpilkan penampilan yang sopan dan baik - Guru berperilaku baik terhadap siswa dan lingkungan sekolah. 3. Cerdas Cerdas bisa diartikan sebagai sempurna akal budinya (pandai, tajam,pikirannya) kecerdasan berarti kesempurnaan perkembangan akal budinya (seperti kepandaian, ketajaman pikiran).(purdaminta, 2006:232).

12 12 4. Kecerdasan spiritual Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang kita gunakan untuk mengembangkan tingkat diri kita, untuk mengintegrasikan konflik dan menjadi lebih pada diri kita(rihard,2004:7). Dalam ESQ kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna spiritual terhadap pemikiran perilaku egiatan, serta mampu menyinergikan IQ, EQ, dan SQ secara komprehensif (ginanjar, 2007:13). Sedangkan, menurut Danah Zohar menyatakan bahwa kecerdasan spiritual anak itu adalah kemampuan menyadari diri sendiri, kemampuan untuk bisa menghadapi penderitaan, tidak melakukan kerusakan/menyakiti orang lain, kemampuan untuk menghadapi kesulitan yang dihadapinya atau kemampuan individu untuk bisa memaknai setiap tindakan dan tujuan hidupnya.(muallifah, 1999: ) Adapun indikator dalam pembentukan kecerdasan spiritual siswa adalah sebagai berikut: a) Siswa diharapkan Memiliki prinsip dan pegangan hidup jelas dan kuat yang berpijak pada kebenaran universal baik berupa cinta, kasih sayang dan lain-lain. b) Siswa dibentuk supaya memiliki kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan dan memiliki kemampuan dalam menghadapi rasa takut.

13 13 c) Siswa mampu memaknai semua aktivitasnya dalam kerangka yang lebih luas dan bermakna. d) Dalam beraktifitas siswa memiliki kesadaran diri yang tinggi dalam bergaul sesama lingkungan. 5. Siswa Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,(1997:1077) pengertian siswa itu adalah murid atau pelajar yang duduk di sekolah dasar sampai menengeh pertama, sedangkan murid adalah orang yang sedang berguru atau belajar. Sedangkan dalam Kamus Munawwir, murid itu berasal dari kata " arada, yuridu, iradatan, muridan, " yang berarti " orang yang menghendaki supaya mendapatkan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan kepribadian yang baik untuk bekal hidupnya agar berbahagia di dunia dan akhirat dengan jalan belajar yang sungguh-sungguh. G. Metodologi penelitian Uraian yang berkaitan dengan metode penelitian dalam tulisan ini menyangkut hal-hal sebagai berikut: 1) Populasi dan sampel Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto, 1898: ). Jika dari peneliti hanya meneliti sebagian dari populasi maka penelitian tersebut dinamakan sampel.

14 14 Sebagai pedoman maka apabila subjek yang diteliti lebih dari 100 maka lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya dinamakan dengan istilah populasi. Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih (Arikunto, 1898:120). Untuk itu peneliti mengambil sampel 20% dari jumlah populasi dalam penelitian ini adalah siswa MTS NU Salatiga, dengan jumlah murid dari kelas VII sampai kelas IX adalah 222, akan tetapi dikarenakan kelas IX masih dalam masa ujian akhir nasional (UAN) maka dari itu peneliti hanya meneliti kelas VII dan VIII dengan jumlah siswa sebanyak 173 siswa kemudian peneliti mengambil sampelnya 20% dari 173 siswa adalah dibulatkan menjadi 35 siswa. 2) Metode Pengumpulan Data Untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian berikut yaitu : a. Riset Kepustakaan (library research) Yakni dengan membaca buku-buku atau sumber tulisan lain yang erat kaitannya dengan masalah yang diteliti untuk mendapatkan gambaran tentang pengaruh pendidikan akhlak terhadap pembentukan kecerdasan spiritual siswa, secara faktual dan akurat. b. Riset Lapangan (field research) Yakni dengan mengadakan penelitian khususnya di MTS NU Salatiga Cara pengumpulan datanya ditempuh melalui :

15 15 1) Wawancara Dengan teknik ini penulis mengumpulkan data langsung dari pihak sekolah untuk memperoleh data-data yang diperlukan dalam penelitian seperti data-data tentang siswa, data tentang guru, serta data lain yang dibutuhkan dalam penelitian yang kami laksanakan. Sedangkan untuk wawancara peneliti berpedoman kepada informasi dari kepala sekolah, guru akhlak dan juga beberapa pegawai di MTS NU Salatiga. 2) Angket Dengan teknik ini penulis mengumpulkan data dengan mengajukan beberapa pertanyaan tertentu yang kemudian diberikan kepada responden guna mendapatkan data yang diperlukan secara langsung dan untuk memperoleh data-data yang diperlukan dalam penelitian. Angket bersifat tertutup (closed form), artinya siswa tinggal memilih beberapa jawaban yang telah disediakan yang dianggap paling benar sesuai dengan pribadinya dan tidak diberi kesempatan untuk menyusun kalimat jawaban sendiri. 3) Teknik Analisa Data Untuk melakukan pengolahan data, peneliti menggunakan langkahlangkah sebagai berikut : a. Editing

16 16 Yang dimaksud dengan Editing dalam penelitian ini adalah penulis berusaha meneliti sedetail mungkin terhadap angket yang akan disebarkan kepada populasi yang ada. Hal tersebut dilakukan agar angket terhindar dari kesalahan dan diharapkan hasilnya yang diperoleh benar-benar obyektif. b. Coding Data yang telah diperoleh penulis, lalu dikelompokkan untuk mempermudah dilakukannya analisa data. c. Tabulating Berdasarkan data-data yang telah terkumpul, setelah memberikan kode, lalu data tersebut dimasukkan ke dalam tabel. Kegiatan ini dilakukan untuk mempermudah interpretasi data. Untuk menganalisa data, penulis menggunakan deskriptif yang bertujuan untuk membuat gambaran yang sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat yang diteliti. untuk tahapan analisis data menggunakan rumus prosentase yaitu: P = N F x 100% Dengan keterangan: P F N : angka prosentase : frekuensi masing-masing : jumlah subjek

17 17 Sedangkan untuk menganalisa hubungan dua variabel akan dianalisa secara kuantitatif dengan menggunakan rumus statistik korelasi Product Moment, dimaksudkan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh adanya pendidikan akhlak di lembaga sekolah dapat di analisis dengan rumus: X Y XY r N xy X 2 Y X Y N N Keterangan: Rxy : Koefisien dari X dan Y XY : produk dari X dan y X Y : variabel dari nilai angket pendidikan ahlak : variabel dari nilai angket pembentukan kecerdasan spiritual. N : jumlah sampel yang diteliti (Sutrisno hadi, 1989: ).

18 18 H. SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI Sistematika penulisan hasil penelitian ini dibagi dalam lima bab, setiap bab terdiri beberapa sub-bab, yaitu sebagai berikut ; BAB I : PENDAHULUAN Dalam bab ini akan diuraikan mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, hipotesis, penjelasan istilah, metodologi penelitian, serta sistematika penulisan skripsi. BAB II : LANDASAN TEORI Dalam bab ini penulis menguraikan tentang pengertian pendidikan ahlak,model pendidikan ahlak serta pengertian kecerdasan spiritual dalam suatu proses pembelajaran. BAB III : LAPORAN HASIL PENELITIAN Gambaran umum tentang MTS NU SALATIGA tentang keadaan guru keadaan siswa dan sarana prasarana. Data tentang proses pendidikan ahlak terhadap pembentukan kecerdasan spiritual siswa. BAB IV : ANALISIS DATA Berisi tentang analisis pendahuluan dan analisis uji hipotesis BAB V : PENUTUP Bab ini merupakan akhir dari penulisan skripsi yang membahas kesimpulan yang dapat ditarik dari bab-bab sebelumnya dan daftar kepustakaan yang penulis gunakan untuk memperkuat penelitian.

PENGARUH PENDIDIKAN AKHLAQ TERHADAP PEMBENTUKAN KECERDASAN SPIRITUAL SISWA MTS NU SALATIGA TAHUN AJARAN 2010/2011 SKRIPSI

PENGARUH PENDIDIKAN AKHLAQ TERHADAP PEMBENTUKAN KECERDASAN SPIRITUAL SISWA MTS NU SALATIGA TAHUN AJARAN 2010/2011 SKRIPSI PENGARUH PENDIDIKAN AKHLAQ TERHADAP PEMBENTUKAN KECERDASAN SPIRITUAL SISWA MTS NU SALATIGA TAHUN AJARAN 2010/2011 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian itu sebagai factor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau segala

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian itu sebagai factor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau segala BAB III METODE PENELITIAN A. Identifikasi Variabel Menurut Sumadi suryabrata, variable sering dikatakan sebagai gejala yang menjadi obyek pengamatan penelitian. Sering juga dinyatakan variable penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat. Untuk membina

BAB I PENDAHULUAN. kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat. Untuk membina 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah usaha manusia secara sadar untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat. Untuk membina kepribadian tersebut dibutuhkan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASAMAN BARAT PANDAI BACA TULIS HURUF AL- QUR AN BAGI MURID SD, SISWA, SLTP, SLTA, DAN CALON PENGANTEN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASAMAN BARAT PANDAI BACA TULIS HURUF AL- QUR AN BAGI MURID SD, SISWA, SLTP, SLTA, DAN CALON PENGANTEN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASAMAN BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2007 TENTANG PANDAI BACA TULIS HURUF AL- QUR AN BAGI MURID SD, SISWA, SLTP, SLTA, DAN CALON PENGANTEN BUPATI PASAMAN BARAT Menimbang : a. Bahwa

Lebih terperinci

PENANAMAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA PADA PELAKSANAAN ULANGAN HARIAN DALAM MATA PELAJARAN

PENANAMAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA PADA PELAKSANAAN ULANGAN HARIAN DALAM MATA PELAJARAN PENANAMAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA PADA PELAKSANAAN ULANGAN HARIAN DALAM MATA PELAJARAN PKn Studi Kasus: Siswa Kelas VII B MTs Muhammadiyah 07 Klego Boyolali Tahun Ajaran 2013/2014) NASKAH PUBLIKASI

Lebih terperinci

PERAN PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QURAN SEBAGAI MUATAN LOKAL DALAM UPAYA MEMBENTUK KARAKTER KEPRIBADIAN SISWA STUDI DI SMP TRI BHAKTI NAGREG

PERAN PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QURAN SEBAGAI MUATAN LOKAL DALAM UPAYA MEMBENTUK KARAKTER KEPRIBADIAN SISWA STUDI DI SMP TRI BHAKTI NAGREG PERAN PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QURAN SEBAGAI MUATAN LOKAL DALAM UPAYA MEMBENTUK KARAKTER KEPRIBADIAN SISWA STUDI DI SMP TRI BHAKTI NAGREG IRA YUMIRA EMAIL: http // i.yumira@yahoo.co.id STKIP SILIWANGI

Lebih terperinci

BAB III METODELOGI PENELITIAN. penulis akan mengemukakan metode penelitian induktif. Metode penelitian

BAB III METODELOGI PENELITIAN. penulis akan mengemukakan metode penelitian induktif. Metode penelitian 76 BAB III METODELOGI PENELITIAN Agar suatu masalah dapat dipaparkan dengan jelas, maka perlu adanya suatu metode khusus sesuai dengan permasalahan yang akan di bahas. Disini penulis akan mengemukakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diperhatikan saat ini adalah pembangunan dibidang pendidikan, menyadari. kalangan pendidikan itu sendiri termasuk para guru.

BAB I PENDAHULUAN. diperhatikan saat ini adalah pembangunan dibidang pendidikan, menyadari. kalangan pendidikan itu sendiri termasuk para guru. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan yang giat-giatnya dilakukan oleh bangsa saat ini adalah upaya membentuk manusia Indonesia yang seutuhnya, baik mental, spiritual dan fisik material. Salah

Lebih terperinci

MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI PENDIDIKAN MORAL Oleh Sukiniarti FKIP UT kuniarti@mail.ut.ac.id. Abstrak

MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI PENDIDIKAN MORAL Oleh Sukiniarti FKIP UT kuniarti@mail.ut.ac.id. Abstrak MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI PENDIDIKAN MORAL Oleh Sukiniarti FKIP UT kuniarti@mail.ut.ac.id Abstrak Garis-garis besar Haluan Negara telah menggariskan bahwa pengembangan sumber daya manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memahami, menganalisis, membandingkan, menyimpulkan dan sebagainya

BAB I PENDAHULUAN. memahami, menganalisis, membandingkan, menyimpulkan dan sebagainya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembelajaran dapat diartikan sebagai upaya mempengaruhi jiwa anak didik agar mereka mau melakukan berbagai kegiatan belajar, seperti membaca, memahami, menganalisis,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan

BAB III METODE PENELITIAN. Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan seorang peneliti harus memahami metodologi penelitian yang merupakan

Lebih terperinci

MUKADIMAH. Untuk mewujudkan keluhuran profesi dosen maka diperlukan suatu pedoman yang berupa Kode Etik Dosen seperti dirumuskan berikut ini.

MUKADIMAH. Untuk mewujudkan keluhuran profesi dosen maka diperlukan suatu pedoman yang berupa Kode Etik Dosen seperti dirumuskan berikut ini. MUKADIMAH STMIK AMIKOM YOGYAKARTA didirikan untuk ikut berperan dalam pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dibidang manajemen, teknologi, dan kewirausahaan, yang akhirnya bertujuan untuk memperoleh

Lebih terperinci

penulis adalah pendekatan sosiologis, pedagogis, dan filosofis.

penulis adalah pendekatan sosiologis, pedagogis, dan filosofis. ( Word to PDF Converter - Unregistered ) http://www.word-to-pdf-converter.netbab III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini adalah Field Rescarch. Adapun data yang dikumpulkan dalam penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. agama yang diberikan pada instansi-instansi pendidikan. Berbagai kritik atau

BAB I PENDAHULUAN. agama yang diberikan pada instansi-instansi pendidikan. Berbagai kritik atau 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dewasa ini banyak muncul berbagai persoalan mengenai pendidikan agama yang diberikan pada instansi-instansi pendidikan. Berbagai kritik atau keluhan yang sering dilontarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung:

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan unsure yang penting dan utama dalam konteks pembangunan bangsa dan negara. Dalam pendidikan, khususnya pendidikan formal di sekolah, pendidik merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejak adanya manusia maka sejak saat itu pula pendidikan itu ada. 1

BAB I PENDAHULUAN. Sejak adanya manusia maka sejak saat itu pula pendidikan itu ada. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah dan Penegasan Judul Pendidikan merupakan pondasi utama dalam pengembangan peradaban. Sejak adanya manusia maka sejak saat itu pula pendidikan itu ada. 1 Pengembangan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini pemerintah sedang giat berupaya meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini dikarenakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Metode memiliki arti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan.1 Sedangkan penelitian diartikan sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis

Lebih terperinci

SKRIPS. Oleh : AMIRUL HIKAM_ NIM : G 000 070 103 FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

SKRIPS. Oleh : AMIRUL HIKAM_ NIM : G 000 070 103 FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA PENGARUH BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA SISWA SDIT MUHAMMADIYAH SINAR FAJAR CAWAS KLATEN TAHUN PELAJARAN 2009/2010 SKRIPS Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian dari

Lebih terperinci

KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PADA ACARA PERINGATAN ISRA MI RAJ NABI MUHAMMAD SAW 1435 H / 2014 H TANGGAL 20 JUNI 2014

KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PADA ACARA PERINGATAN ISRA MI RAJ NABI MUHAMMAD SAW 1435 H / 2014 H TANGGAL 20 JUNI 2014 KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN PADA ACARA PERINGATAN ISRA MI RAJ NABI MUHAMMAD SAW 1435 H / 2014 H TANGGAL 20 JUNI 2014 Assalamu alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera bagi kita semua. Yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tersebut siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehinga mendorong

BAB I PENDAHULUAN. tersebut siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehinga mendorong 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manajemen kurikulum pendidikan sangat penting, karena tanpa adanya manajemen maka pendidikan tidak akan dapat berjalan dengan baik Kurikulum merupakan program

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS KORELASI AJARAN WU CHANG TERHADAP PERILAKU EKONOM. A. Ajaran Wu Chang (lima kebajikan) dalam Agama Khonghucu

BAB IV ANALISIS KORELASI AJARAN WU CHANG TERHADAP PERILAKU EKONOM. A. Ajaran Wu Chang (lima kebajikan) dalam Agama Khonghucu BAB IV ANALISIS KORELASI AJARAN WU CHANG TERHADAP PERILAKU EKONOM A. Ajaran Wu Chang (lima kebajikan) dalam Agama Khonghucu Khonghucu merupakan salah satu agama yang sangat menekankan etika moral, namun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sesuai dengan tuntutan Kurikulum KTSP yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah mengharapkan agar penguasaan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DAN LEMBAGA ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DAN LEMBAGA ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DAN LEMBAGA ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUTAI KARTANEGARA, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Buku memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan. Buku merupakan salah satu sumber bahan ajar. Ilmu pengetahuan,

Lebih terperinci

W A L I K O T A B A N J A R M A S I N

W A L I K O T A B A N J A R M A S I N W A L I K O T A B A N J A R M A S I N PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG WAJIB BACA TULIS AL-QURAN BAGI SISWA SEKOLAH DASAR / MADRASAH IBTIDAIYAH, SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pola Asuh Orang Tua 2.1.1 Pengertian Pola Asuh Orang Tua Menurut Hurlock (1999) orang tua adalah orang dewasa yang membawa anak ke dewasa, terutama dalam masa perkembangan. Tugas

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pengawasan melekat adalah segala usaha atau kegiatan untuk

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pengawasan melekat adalah segala usaha atau kegiatan untuk ,,* N _ PENn. \. I s ^ rut r >, Wit al" BAB III 3w^v METODOLOGI PENELITIAN A. Definisi Operasional Pengawasan melekat adalah segala usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan menilai pelaksanaan tugas atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Remaja Rosda Karya, 2013) hlm. 16. aplikasinya (Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada, 2009) hlm, 13

BAB I PENDAHULUAN. Remaja Rosda Karya, 2013) hlm. 16. aplikasinya (Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada, 2009) hlm, 13 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi, serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MPENAJAM PASER UTARA NOMOR 23 TAHUN 2012 TENTANG PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QUR AN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MPENAJAM PASER UTARA NOMOR 23 TAHUN 2012 TENTANG PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QUR AN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN MPENAJAM PASER UTARA NOMOR 23 TAHUN 2012 TENTANG PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QUR AN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PENAJAM PASER UTARA, Menimbang : a. bahwa tujuan pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan lingkungan. dari mereka sulit untuk menyesuaikan diri dengan baik.

BAB I PENDAHULUAN. manusia perlu melakukan penyesuaian-penyesuaian dengan lingkungan. dari mereka sulit untuk menyesuaikan diri dengan baik. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam kehidupan bermasyarakat manusia perlu adanya hubungan yang baik antar sesamanya. Manusia tidak dapat hidup sendiri karena manusia merupakan makhluk sosial dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kewajiban untuk mewujudkan pendidikan nasional seperti yang tercantum dalam

BAB I PENDAHULUAN. kewajiban untuk mewujudkan pendidikan nasional seperti yang tercantum dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal mengemban tugas dan kewajiban untuk mewujudkan pendidikan nasional seperti yang tercantum dalam pasal 3 UU RI No.20, Tahun

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 200 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 200 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 200 TENTANG GERAKAN PRAMUKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan kepribadian ditujukan untuk mengembangkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah pendidikan merupakan masalah yang sangat penting. khususnya di negara yang sedang berkembang, termasuk negara Indonesia.

BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah pendidikan merupakan masalah yang sangat penting. khususnya di negara yang sedang berkembang, termasuk negara Indonesia. BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masyarakat tidak dapat melepaskan dari pendidikan.peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan sistem pendidikan nasional yang meningkatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tantangan kehidupan selalu muncul secara alami seiring dengan berputarnya waktu. Berbagai tantangan bebas bermunculan dari beberapa sudut dunia menuntut untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk

BAB I PENDAHULUAN. atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perpustakaan adalah kumpulan materi tercetak dan media non cetak dan atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk digunakan pengguna (Sulistyo-Basuki,

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA MINAT BACA DENGAN KEMAMPUAN MEMAHAMI BACAAN SISWA KELAS V SD SE-GUGUS II KECAMATAN GEDONGTENGEN KOTA YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012

HUBUNGAN ANTARA MINAT BACA DENGAN KEMAMPUAN MEMAHAMI BACAAN SISWA KELAS V SD SE-GUGUS II KECAMATAN GEDONGTENGEN KOTA YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012 HUBUNGAN ANTARA MINAT BACA DENGAN KEMAMPUAN MEMAHAMI BACAAN SISWA KELAS V SD SE-GUGUS II KECAMATAN GEDONGTENGEN KOTA YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012 SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas

Lebih terperinci

Dua Sisi Mata Uang Dampak Teknologi Jumat, 14 Februari 2014 17:15. Oleh Ahmad Turmudzi*

Dua Sisi Mata Uang Dampak Teknologi Jumat, 14 Februari 2014 17:15. Oleh Ahmad Turmudzi* Oleh Ahmad Turmudzi* Sebelum masuk ke inti tulisan singkat ini, saya ingin mengulas terlebih dahulu arti remaja. Menurut akar katanya, remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. data yang ada dalam ini adalah upaya guru PAI dalam pengembangan. data untuk memberi gambaran penyajian laporan.

BAB III METODE PENELITIAN. data yang ada dalam ini adalah upaya guru PAI dalam pengembangan. data untuk memberi gambaran penyajian laporan. 52 BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Sesuai dengan judul yang peneliti angkat, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, fenomenologis dan berbentuk diskriptif.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu Dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam

SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu Dalam Ilmu Pendidikan Agama Islam STUDI KOMPARASI PRESTASI BELAJAR PAI PADA ASPEK KOGNITIF ANTARA SISWA YANG IKUT ROHIS DENGAN SISWA YANG TIDAK IKUT ROHIS di SMA NEGERI 3 SEMARANG KELAS XI TAHUN AJARAN 2011/2012 SKRIPSI Diajukan untuk

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1990 TENTANG PENDIDIKAN DASAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1990 TENTANG PENDIDIKAN DASAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1990 TENTANG PENDIDIKAN DASAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 13 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. bulan, sejak bulan Oktober 2007 sampai dengan bulan April 2008. Tabel 1 Jadwal Penelitian Tahapan

METODE PENELITIAN. bulan, sejak bulan Oktober 2007 sampai dengan bulan April 2008. Tabel 1 Jadwal Penelitian Tahapan 14 BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah di SMK Negeri 1 Ngawen Kabupaten Gunungkidul.. Waktu Penelitian Aktivitas penelitian

Lebih terperinci

Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5

Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5 Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) 1/5 Latar Belakang Diselenggarakannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Lifeskills) Bagian I (dari 5 bagian) Oleh, Dadang Yunus L, S.Pd.

Lebih terperinci

PENGARUH LAYANAN INFORMASI BIDANG SOSIAL TERHADAP PERILAKU BERMORAL SISWA KELAS VII F SMP 4 BAE KUDUS TAHUN PELAJARAN 2011/2012

PENGARUH LAYANAN INFORMASI BIDANG SOSIAL TERHADAP PERILAKU BERMORAL SISWA KELAS VII F SMP 4 BAE KUDUS TAHUN PELAJARAN 2011/2012 PENGARUH LAYANAN INFORMASI BIDANG SOSIAL TERHADAP PERILAKU BERMORAL SISWA KELAS VII F SMP 4 BAE KUDUS TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Oleh LAILA NI MAH NIM 200731059 PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB III METOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan jenis kuantitatif,

BAB III METOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan jenis kuantitatif, BAB III METOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis dan Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan jenis kuantitatif, oleh karena itu digunakan pendekatan secara kuantitatif yaitu suatu

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA SALINAN - 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA DAN SASTRA, SERTA PENINGKATAN FUNGSI BAHASA INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

SURATKU BUAT RI 1-2: "Dua Harapan Agar Generasi Muda dapat Berkarya" (112)

SURATKU BUAT RI 1-2: Dua Harapan Agar Generasi Muda dapat Berkarya (112) Tretes, 20 Agustus 2009 Kepada Yth : Bpk Presiden RI beserta Wakil Di Tempat Dengan hormat, Sebelumnya saya menyampaikan selamat atas terpilihnya Bapak Presiden beserta Wakil untuk memimpin Bangsa Indonesia

Lebih terperinci

HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR

HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR Baiq Neni Sugiatni, Jumailiyah, dan Baiq Rohiyatun Administrasi pendidikan, FIP IKIP Mataram Email :Baiqnenysugiatni@gmail.com

Lebih terperinci

Hari Raya Natal tahun 2014 bagi narapidana dan anak pidana yang

Hari Raya Natal tahun 2014 bagi narapidana dan anak pidana yang MENTERI IIUKUM DAN HAKASASI MANUSIA REPTIBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI HUKUM DAN HAM RI PADA ACARA PEMBERIAN REMISI KHUSUS KEPADA NARAPIDANA DAN ANAK PIDANA PADA PERINGATAN HARI RAYA NATAL TANGGAL 25

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah pengembangan model bimbingan kelompok berbasis islami yang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah pengembangan model bimbingan kelompok berbasis islami yang BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini adalah pengembangan model bimbingan kelompok berbasis islami yang dilaksanakan di SMA 2 Bae Kudus. 3.2 Subjek Penelitian Subjek dalam

Lebih terperinci

PENINGKATAN POTENSI PESERTA DIDIK DAN PENDIDIK DALAM DIKLAT

PENINGKATAN POTENSI PESERTA DIDIK DAN PENDIDIK DALAM DIKLAT PENINGKATAN POTENSI PESERTA DIDIK DAN PENDIDIK DALAM DIKLAT Oleh Samsul Hidayat, M.Ed (Widyaiswara Madya BKD & DIKLAT Provinsi NTB) ABSTRAKSI Peserta didik dalam menempuh pendidikan Pelatihan sangat ditentukan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Masyhuri

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Masyhuri BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Berdasarkan pada permasalahan yang diteliti, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Masyhuri

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh: TSALIS HIDAYATI NIM 11507020. Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam

SKRIPSI. Oleh: TSALIS HIDAYATI NIM 11507020. Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN MATEMATIKA OPERASI HITUNG PERKALIAN DENGAN METODE BERMAIN KARTU PADA SISWA KELAS III MI DADAPAYAM II KECAMATAN SURUH KABUPATEN SEMARANG TAHUN PELAJARAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan pada dasarnya merupakan proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan dirinya, sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi dalam

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. agar manusia tidak terjerumus dalam kehidupan yang negatif. Pendidikan

BAB 1 PENDAHULUAN. agar manusia tidak terjerumus dalam kehidupan yang negatif. Pendidikan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara umum pengertian pendidikan adalah proses perubahan atau pendewasaan manusia, berawal dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak biasa menjadi biasa, dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan secara historis telah ikut menjadi landasan moral dan etik

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan secara historis telah ikut menjadi landasan moral dan etik BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan secara historis telah ikut menjadi landasan moral dan etik dalam proses pembentukan jati diri bangsa. Di samping itu pendidikan juga merupakan variabel

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap keterbatasannya akan dialami oleh seseorang bila berumur panjang. Di Indonesia istilah untuk

Lebih terperinci

PENGARUH FAKTOR SYARIAH, TINGKAT KEUNTUNGAN BAGI HASIL, DAN MOTIVASI TERHADAP KEPUTUSAN NASABAH MENGGUNAKAN PERBANKAN SYARIAH

PENGARUH FAKTOR SYARIAH, TINGKAT KEUNTUNGAN BAGI HASIL, DAN MOTIVASI TERHADAP KEPUTUSAN NASABAH MENGGUNAKAN PERBANKAN SYARIAH Endang Tri Wahyuni A.: Pengaruh Faktor Syariah, Tingkat Keuntungan Bagi 269 PENGARUH FAKTOR SYARIAH, TINGKAT KEUNTUNGAN BAGI HASIL, DAN MOTIVASI TERHADAP KEPUTUSAN NASABAH MENGGUNAKAN PERBANKAN SYARIAH

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Makna hidup (the meaning of life) adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan

BAB I PENDAHULUAN. Makna hidup (the meaning of life) adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Makna hidup (the meaning of life) adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak dijadikan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapat data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dalam metodologi penelitian harus didasarkan pada ciri-ciri

Lebih terperinci

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG PENGARUH BAGI HASIL DAN KREDIT MACET TERHADAP PEMBIAYAAN MUDHARABAH DI BMT NU SEJAHTERA SEMARANG TAHUN 2011-2013 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi SyaratGuna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kehidupan yang terus berkembang membawa konsekuensikonsekuensi

BAB I PENDAHULUAN. Kehidupan yang terus berkembang membawa konsekuensikonsekuensi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kehidupan yang terus berkembang membawa konsekuensikonsekuensi tertentu terhadap pola kehidupan masyarakat. Begitu juga dengan dunia pendidikan yang terus berubah

Lebih terperinci

BAB 31 PENINGKATAN KUALITAS KEHIDUPAN BERAGAMA

BAB 31 PENINGKATAN KUALITAS KEHIDUPAN BERAGAMA BAB 31 PENINGKATAN KUALITAS KEHIDUPAN BERAGAMA Pembangunan agama merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu hak memeluk agama dan beribadat menurut keyakinan masing-masing sebagaimana

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Bogdan dan Taylor sebagaimana dikutip Lexy J.Moloeng, medefinisikan metodologi

Lebih terperinci

MODEL PEMBELAJARAN KATA ULANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKUIRI PADA SISWA KELAS VIII MTS DARUL ASIQIN BANYURESMI GARUT MAKALAH

MODEL PEMBELAJARAN KATA ULANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKUIRI PADA SISWA KELAS VIII MTS DARUL ASIQIN BANYURESMI GARUT MAKALAH MODEL PEMBELAJARAN KATA ULANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKUIRI PADA SISWA KELAS VIII MTS DARUL ASIQIN BANYURESMI GARUT MAKALAH OLEH: RIDHO ELSY FAUZI NIM. 10.21.0462 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pemberdayaan masyarakat

Lebih terperinci

CIRI CIRI ORANG YANG BER-SQ TINGGI

CIRI CIRI ORANG YANG BER-SQ TINGGI Disarikan dari Quantum Quotient (Hal. 123 141) By. Agus Nggermanto CIRI CIRI ORANG YANG BER-SQ TINGGI Manusia dengan kemampuan dan kompetensi yang dimilikinya terdiri dari 3 kemampuan yaitu : Kemampuan

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN KOMITMEN ORGANISASI

HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN KOMITMEN ORGANISASI HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN KOMITMEN ORGANISASI SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Psikologi Oleh: GALUH TRI DAMAYANTI F. 100 030 007 FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelajaran matematika. Permasalahan ini relevan dengan bukti empiris yang. membaca atau mengerjakan soal-soal yang ada di dalamnya.

BAB I PENDAHULUAN. pelajaran matematika. Permasalahan ini relevan dengan bukti empiris yang. membaca atau mengerjakan soal-soal yang ada di dalamnya. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kurang maksimalnya pemanfaatan media merupakan salah satu dari sekian banyak masalah dalam pembelajaran di sekolah termasuk pada mata pelajaran matematika. Permasalahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dapat mendorong dirinya untuk bersikap dan berperilaku baik terhadap

BAB I PENDAHULUAN. dapat mendorong dirinya untuk bersikap dan berperilaku baik terhadap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dimasa ini banyak kita lihat dan kita nilai kurangnya perilaku atau bisa disebut dengan zamannya krisis akidah yang baik. Banyak kita lihat baik itu di lingkungan sekitar

Lebih terperinci

PESAN NILAI KESETIAKAWANAN SOSIAL PADA FILM RUMAH TANPA JENDELA NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH. Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai

PESAN NILAI KESETIAKAWANAN SOSIAL PADA FILM RUMAH TANPA JENDELA NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH. Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai PESAN NILAI KESETIAKAWANAN SOSIAL PADA FILM RUMAH TANPA JENDELA (Analisis Semiotik Pada Film Rumah Tanpa Jendela) NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat

Lebih terperinci

Abdul Muiz, M.Pd math.muiz@gmail.com Dosen Prodi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Bangkalan ABSTRAK

Abdul Muiz, M.Pd math.muiz@gmail.com Dosen Prodi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Bangkalan ABSTRAK PENDIDIKAN KARAKTER DAN BUDAYA BANGSA DALAM PEMBELAJARAN KOOPERATIF Abdul Muiz, M.Pd math.muiz@gmail.com Dosen Prodi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Bangkalan ABSTRAK Identitas suatu bangsa dapat dilihat

Lebih terperinci

PENGARUH INTENSITAS MENGIKUTI PEMBELAJARAN BACA TULIS AL-QUR AN TERHADAP KEMAMPUAN BACA TULIS AL-QUR AN SISWA DI MTs. IHYAUL ULUM WEDARIJAKSA PATI

PENGARUH INTENSITAS MENGIKUTI PEMBELAJARAN BACA TULIS AL-QUR AN TERHADAP KEMAMPUAN BACA TULIS AL-QUR AN SISWA DI MTs. IHYAUL ULUM WEDARIJAKSA PATI PENGARUH INTENSITAS MENGIKUTI PEMBELAJARAN BACA TULIS AL-QUR AN TERHADAP KEMAMPUAN BACA TULIS AL-QUR AN SISWA DI MTs. IHYAUL ULUM WEDARIJAKSA PATI SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh

Lebih terperinci

yang berhubungan dengan aturan agama Islam. Hal yang wajib dilakukan secara tertib adalah melaksanakan shalat. Shalat merupakan tiang agama Islam

yang berhubungan dengan aturan agama Islam. Hal yang wajib dilakukan secara tertib adalah melaksanakan shalat. Shalat merupakan tiang agama Islam 1 NYAI AHMAD DAHLAN Bangsa Indonesia pada umumnya, khususnya keluarga besar Muhammadiyah dan Aisiyah di manapun berada, selayaknyalah menyambut gembira Surat Keputusan Republik Indonesia, Jenderal Soeharto

Lebih terperinci

DI KELAS 2014/2015. SKRIPSI Diajukan Guna Program

DI KELAS 2014/2015. SKRIPSI Diajukan Guna Program PENGARUH PROFESIONALISME GURU DAN PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN DI KELAS TERHADAP MOTIVASI BELAJAR EKONOMI SISWA KELAS XI IPS SMA MTA SURAKARTA TAHUN AJARAN 2014/2015 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!

BAB 1 PENDAHULUAN. Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia! BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia! Siapakah yang tidak mengenal kalimat

Lebih terperinci

EKSISTENSI SANGGAR TARI KEMBANG SORE PUSAT - YOGYAKARTA Theresiana Ani Larasati

EKSISTENSI SANGGAR TARI KEMBANG SORE PUSAT - YOGYAKARTA Theresiana Ani Larasati EKSISTENSI SANGGAR TARI KEMBANG SORE PUSAT - YOGYAKARTA Theresiana Ani Larasati Pengaruh era globalisasi sangat terasa di berbagai sendi kehidupan bangsa Indonesia, tidak terkecuali di Daerah Istimewa

Lebih terperinci

Kompetensi 1 : Mengenal karakteristik peserta didik Jenis dan cara penilaian : Kompetensi Pedagogik (Pengamatan dan Pemantauan)

Kompetensi 1 : Mengenal karakteristik peserta didik Jenis dan cara penilaian : Kompetensi Pedagogik (Pengamatan dan Pemantauan) Kompetensi 1 : Mengenal karakteristik peserta didik Jenis dan cara penilaian : Kompetensi Pedagogik (Pengamatan dan Pemantauan) Pernyataan : Guru mencatat dan menggunakan informasi tentang karakteristik

Lebih terperinci

Model Penilaian Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Pendidikan Karater di Sekolah Dasar

Model Penilaian Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Pendidikan Karater di Sekolah Dasar Model Penilaian Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Pendidikan Karater di Sekolah Dasar Oleh: Riyadi Program Studi PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk (1) Memperoleh

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN :

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Gaya Hidup Islami dan Jahili

Gaya Hidup Islami dan Jahili Gaya Hidup Islami dan Jahili Dalam pandangan Islam gaya hidup dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu: 1) gaya hidup Islami, dan 2) gaya hidup jahili. Gaya hidup Islami mempunyai landasan yang

Lebih terperinci

LANGKAH-LANGKAH PROGRAM POSY ANDU MANDIRI

LANGKAH-LANGKAH PROGRAM POSY ANDU MANDIRI BAB III LANGKAH-LANGKAH PROGRAM POSY ANDU MANDIRI PENGEMBANGAN PROGRAM POSYANDU MANDIRI Atas dasar berbagai uraian tersebut, Posyandu masa depan harus secara sadar dikembangkan untuk pertama-tama menjadi

Lebih terperinci

BELAJAR MINAT 2013/2014 SKRIPSI. Disusun oleh : A510100230 FAKULTA

BELAJAR MINAT 2013/2014 SKRIPSI. Disusun oleh : A510100230 FAKULTA PENGARUH PEMBELAJARAN JOYFUL LEARNING TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA KELAS V MATA PELAJARAN IPA SD NEGERI TANGKIL 4 TAHUN PELAJARAN 2013/2014 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Derajat

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 366/Kpts/OT.220/9/2005 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 366/Kpts/OT.220/9/2005 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 366/Kpts/OT.220/9/2005 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN INDEKS PENERAPAN NILAINILAI DASAR BUDAYA KERJA APARATUR NEGARA LINGKUP DEPARTEMEN PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Program Studi Pendidikan Akuntansi

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Program Studi Pendidikan Akuntansi PENGARUH PROMOSI DAN CITRA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI TERHADAP MINAT MASUK PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI PADA MAHASISWA FKIP AKUNTANSI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA ANGKATAN 2012 SKRIPSI

Lebih terperinci

Masa Kanak-Kanak Akhir. Siti Rohmah Nurhayati

Masa Kanak-Kanak Akhir. Siti Rohmah Nurhayati Masa Kanak-Kanak Akhir Siti Rohmah Nurhayati MASA KANAK-KANAK AKHIR Masa kanak-kanak akhir sering disebut sebagai masa usia sekolah atau masa sekolah dasar. Masa ini dialami anak pada usia 6 tahun sampai

Lebih terperinci

SRI WAHYUNI HADI NIM: A54C090015

SRI WAHYUNI HADI NIM: A54C090015 UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA DENGAN METODE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) PADA SISWA KELAS V SDN SRUNI MUSUK TAHUN PELAJARAN 2012/2013 SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian yang akan dilaksanakan, jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dalam bentuk studi kasus. Penelitian

Lebih terperinci

MELALUI MODIFIKASI ALAT PEMBELAJARAN DAPAT MENINGKATKAN GERAK DASAR MENANGKAP BOLA MENDATAR DALAM BOLA TANGAN KELAS V SDN 1 SEPANGJAYA KEC

MELALUI MODIFIKASI ALAT PEMBELAJARAN DAPAT MENINGKATKAN GERAK DASAR MENANGKAP BOLA MENDATAR DALAM BOLA TANGAN KELAS V SDN 1 SEPANGJAYA KEC MELALUI MODIFIKASI ALAT PEMBELAJARAN DAPAT MENINGKATKAN GERAK DASAR MENANGKAP BOLA MENDATAR DALAM BOLA TANGAN KELAS V SDN 1 SEPANGJAYA KEC. KEDATON TAHUN PELAJARAN 2012/2013 (SKRIPSI) HARYATI 1013068068

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode diskriptif, dimana penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode diskriptif, dimana penelitian BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis atau rancangan penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah metode diskriptif, dimana penelitian diarahkan untuk mendiskripsikan suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo,

Lebih terperinci

!!" #$ % &' &()*+&, -./ +0 &'!1 2 &3/" 4./" 56 * % &' &()*+&, " "# $ %! #78*5 9: ;<*% =7" >1?@*5 0 ;A " 4! : B C*5 0 D % *=75E& 2 >1?@*5 0 4. "/ 4!

!! #$ % &' &()*+&, -./ +0 &'!1 2 &3/ 4./ 56 * % &' &()*+&,  # $ %! #78*5 9: ;<*% =7 >1?@*5 0 ;A  4! : B C*5 0 D % *=75E& 2 >1?@*5 0 4. / 4! [ ] E٤٩١ J٤٨٧ W F : : Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu. Sesungguhnya agama mewajibkan kepada para pengikutnya (berbuat baik) dalam segala hal dan tidak ridha dari para pengikutnya

Lebih terperinci

PENGARUH JAM PELAJARAN KOSONG TERHADAP KENAKALAN PESERTA DIDIK DI SMAN 1 REJOTANGAN TAHUN 2013 Oleh : Supriadi Guru SMAN 1 Rejotangan

PENGARUH JAM PELAJARAN KOSONG TERHADAP KENAKALAN PESERTA DIDIK DI SMAN 1 REJOTANGAN TAHUN 2013 Oleh : Supriadi Guru SMAN 1 Rejotangan PENGARUH JAM PELAJARAN KOSONG TERHADAP KENAKALAN PESERTA DIDIK DI SMAN 1 REJOTANGAN TAHUN 2013 Oleh : Supriadi Guru SMAN 1 Rejotangan ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan besarnya pengaruh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu unsur yang tidak bisa dipisahkan dari

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu unsur yang tidak bisa dipisahkan dari BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Pendidikan merupakan suatu unsur yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Manusia membutuhkan pendidikan untuk keberlangsungan hidupnya. Berdasarkan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel 3.1.1 Definisi Konseptual Kepemimpinan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan kinerja organisasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) sebagai salah satu institusi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) sebagai salah satu institusi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) sebagai salah satu institusi penegak hukum, merupakan muara dari peradilan pidana yang menjatuhkan pidana penjara kepada para

Lebih terperinci

SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagai Tugas dan Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam. Oleh: TRI MASRIFAH NIM: 083911010

SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagai Tugas dan Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana dalam Ilmu Pendidikan Islam. Oleh: TRI MASRIFAH NIM: 083911010 PENGARUH KONSEP DIRI DAN MINAT TERHADAP MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA PESERTA DIDIK KELAS IV DAN V SD NEGERI SELOMARTO II KECAMATAN GIRIWOYO, KABUPATEN WONOGIRI TAHUN PELAJARAN 2011/2012 SKRIPSI Diajukan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci