RHTRSBUSS ffitru G&ruGG[3AN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "RHTRSBUSS ffitru G&ruGG[3AN"

Transkripsi

1 PER.AT&Jffi,Aru PAER,AE.E KABT.E PATETS EAR.TTCI TEM U R. ruoft $R i 72 TAHUFU 2SS5 TEruTANG RHTRSBUSS ffitru G&ruGG[3AN PFM ER.STTAFI KABLI PATHru FARSTS TgM I,J R.

2 ..* PEMERTNTAH KABUPATEN BARITO TIMUR PEMTURAN DAEMH KABUPATEN BARITO TIMUR NOMOR :2e TAHUN 2005 TENTANG RETRIBUSI IZIN GANGGUAN DENGAN RAHMATTUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BART O TIMUR, Menimbang : 4. bahwa untuk meningkatkan PADS sebagai wujud kontribusi nyata bagi pembangunan di wilayah Kabupaten tsarito Timur; c. Mengingat : bahwa untuk maksud tersebut huruf a dan b di atas maka perlu ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Barito Timur; Undang-Undang Nomor : 27 Tahun 1959, tentang Pembentukan Daerah llngkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor ; 72, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor : 1820); bahwa dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor : 34 Tahun 2000, tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor : 18 Tahun 1997, tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah; Undang-Undang Nomor : 1 Tahun 1967, tentang Penanaman Modal Asing Jo Undang-Undang Nomor : 11 Tahun t970, tentang Perubahan dan Tambahan Undang- Undang Nomor : 1 Tahun 1967, tentang penanam'an Modal Asing; Undang-{Jndang Nomor : 6 Tahun 1968, tentang Penanaman Modal Dalam Negeri Jo Undang-Undang Nomor : t2 Tahun 197A, tentang perubahan dan Tambahan Undang-Undang Nomor : 6 Tahun 1968, tentang Penanaman Modal Dalam Negeri;

3 :)- 4. Undang-Undang Nomor : B Tahun 1981, tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor :76, Tarnbahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor :3209); ::r::,. i::,, L Undang-Undang Nomor : 23 Tahun Igg7, tentang Pokok-pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik indonesia Tahun 1997 Nomor : 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor : 3599); Undang-Undang Nornor : 5 Tahun L984, tentang Perindustrian; Undang-Undang Nomor : 34 Tahun 2000, tentang Perubahan atas Undang - Undang Nomor : LB Tahun L997, tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Repubiik Indonesia Tahun 1997 Nomor : 246, Tambahan Lembaran Negara Repubtik Indonesia Nomor : 4048); Undang-Undang Nomor : 5 Tahun 2002;' tentang Pembentukan Kabupaten Katingan, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Sukamara, Kabupaten l-amandau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Murung Raya dan Kabupaten Barito Timur di Propinsi Kalimantan Tengah; Undang-Undang Nomor : 10 Tahun 29A4, tentang Pembentukan Peraturan Perundang - Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun ZAA4 Nomor : 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor : 4389); 10. Undang-Undang Nomor : 15 Tahun ZAA4, tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2404 Nomor : 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor :448D; 11. Llndang-Undang Nomor : 32 Tahun 2A04, tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor : 125, Tambahan Lembaran Negar.a Republik indonesia Nomor :4437); ' 12. Undang-Undang Nomor : 33 Tahun 2A04, tentang Penimbangan Keuangan antara pemerintahan pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2404 Nomor : L26, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor : 4438);

4 -3-,,:: 13. L L Peraturan Pemerintah Nomor ; 27 Tahun 1983, tentang Pelaksana Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana; Peraturan Pemerintah Nomor : 29 Tahun i.983, tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986 Nomor : 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor : 3338); Peraturan Pemerintah Nomor : 66 Tahun 2001, tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor : 55 Tahun 2001, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor :3692); Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor : 20 Tahun 1990, tentang Limbah Cair; Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor : 33 Tahun 1992, tentang Tata Cara Penanaman Modal; Peraturan Daerah Kabupaten Barito Timur Nomor : 03 Tahun 2003, tentang susunan Organisasi Tata Kerja Sekretariat Daerah Kabupaten Barito Timur; Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN MKYAT DAEMH KABUPATEN BARITO TIMUR dan BUPATI BARITO TiMUR MEMUTUSKAN : Menetapkan PERATURAN DAERAH KAB1JPATEN BARITO TIiViUR TENTANG RETRIBUSI IZiN GANGGUAN. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksudengan : a. Daerah adalah Kabupaten Barito 1-imur; b. Pemerintah Daerah adalah pemerintah Kabupaten Barito Timur;

5 -4- Bupati adalah Bupati Barito Timur; d. F Dinas Pendapatan adalah Dinas pendapatan Kabupaten Barito Timur; Kas Daerah adalah Kas Daerah Kabupaten Barito Timur; Bendaharawan Khusus Penerimadalah mereka yang diberi tugas, kewajiban dan tanggung jawab untuk menerima, menyimpan, rnembukukan dan menyetor ke Kas Daerah dan atau rekening Pemegang Kas Daerah pada Bank Pembangunan Kalimantan Tengah/Bank lain/kantor Pos yang ditr"rnjuk serta melaporkan / mempertanggungjawabkan hasil pelaksanaan tugas kepada Bupati Up. Kepala Bagian Keuangan; ' Pejabat adalah Pegawai yang diberi tugas teftentu di bidang Retribusi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; Badan adalah suatu bentuk badan usaha yang meliputi Perseroan Terbatas, Perseroan Komanditer, Perseroan lainnya, Badan Usaha Milik t\egara atau Daerah dengan nama dan bentuk apapun, persekutuan, perkumpulan, Firma, Kongsi, Koperasi, yayasan atau bentuk usaha tetap serta badan usaha lainnya; I Retribusi Perizinan Tertentu adalah Retribusi atas kegiatan tertentu P'emerintah Daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksud untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang prasarana' sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan; Wajib Reiribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang-undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi; Surat Pendaftaran Objek Retribusi Daerah yang selanjutnya disingkat SpdoRD adalah surat yang digunakan oleh Wajib Retribusi untuk melaporkan objek Retribusi dan Wajib Retribusi sebagai dasar perhitungan dan pembayaran Retribusi yang terhutang menurut peraturan perundang-undangan Retribusi Daerah; I t- Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang seianjutnya disingkat SKRD adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah retribusi yang terutang; m. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar Tambahan, yang selanjutnya disingkat SKRDKBT adalah Surat Keputusan yang menentukan tambahan atas jumlah Retribusi yang telah ditetapkan; I L surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar, yang selanjutnya disingkat SKRDI-B adalah surat Keputusan yang menenti.rkan :lmdrr kelebihan pembayaran Retribusi karena jumlah kredit Retribusi lebih besar dari pada Retribusi terutang atau tidak seharusnya terutang;

6 -5- o. n Surat ragihan Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat srrd adalah surat untuk melakukan tagihan Retribusi dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda; Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan keberatan terhadap SKRD atau dokurnen lain yang dipersamakan, SKRDKBT dan skrdlb yang dius-urun oleh Wajib Retribusi; Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan, dan rnengolah data dan atau keterangan lainnya dalam rangka p"*ngu*urun keputusan pemenuhan kewajiban Retribusi Daerah berdajarkan piraturan perundang-undangan Retribusi Daerah; r Penyidikan llndak Pidana di bidang Retribusi Daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut Penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti'yaig dengan bukti itu membuaterang tindak pidana di bidang Retribusi Oaera-h yang tefiadi serta menemukan tersangkanya. BAB II NAMA, OB]EK DAN SUB]EK RETRIBUSI Pasal z Dengan nama Retribusi Izin Gangguan dipungut Retribusi atas pelayanan pemberian izin gangguan yang dapat menimblulkan bahaya, kerugian dan gangguan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Pasal 3 obyek Retribusi pelayanan yang diberikan atas pemberian izin gangguan. Pasal 4 Subyek Retribusi adalah orangpribadi atau badan yang mendapatkan dan atau memperoleh izin gangguan. BAB III GOLONGAN RETRIBTJS] Pasal 5 Retribusizin Gangguan termasuk golongan Retribusi perizinan tertentu yang merupakan kegiatan Pemerintah Daerah untuk melakukan p.nguiuiun melindungi untuk kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan."

7 -6- :. BAB IV : RETRIBUSI IZIN GANGGUAN 't,.,.. Pasal 6 -- Retribusi Izin Gangguan adalah jasa pelayanan yang 'unlang-undang diberikan pemerintah Daerah,,i,' kepada orang atau badan yang berdasarkan Gangguan yang i"' kegiatan usahanya dilokasi tetentu yang dapat menilrbulkan- ' nahaii, kerugian dan gangguan kepada masyarakat sekitarnya dan kelestarian lingkungirr. Pasal 7 (1) Setiap orang atau badan yang mendirikan atau memperluas tempat - usahanya dilokasi tertentu yang dapat menimbulkan bahaya, kerugian dan I gangguan, tidak termasuk tempat "r usaha yang lokasinya teiah ditunjuk oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah diwajibkan mernitiki Izin Gangguan. r?\ E \L) dagi setiap orang atau badan yang akan mendirikan, memperlr:as atau mendaftarkan ulang dimana usaha berpotensi limbah pencemaran diwajibkan melengkapi dengan Analisa mengenai Darnpak Lingkungan (nmon{ dan studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan (sfmdal). pasal B (1) Syarat-syarat dan tata cara pengajuan permohonan izin berdasarkan qndang-undang Gangguan (UUG/ HO) bagi perorangan diatun tebih lanjut dengan Keputusan Kepala Daerah. ' (2) Syarat-syarat dan tata cara pengajuan permohonan izin berdasarkan Undang-Undang Gangguan (UUG/HO) bagi perusahaan-perusahaan yang berlokasl di dalam kawasan industri mengikuti'ketentuan peraturan Menteri dalam Negeri Nomor : 5 Tahun (3) Syarat-syarat dan tata cara pengajuan perrnohonan izin berdasarkan Undang-undang Gangguan (UUG/Hb) bagi perusahaan-perusahaan yang berlokasi di luar: kawasan industri mengikuti ketentuan peraturan Menteri Dalarn Negeri Nomor : 7 Tahun Lgg2. BAB V ]ANGI{A WAKTU BERI.AKUNYA izin UNDANG-UNDANG GANGGUAN (HO) Pasal 9 (i) Jangka waktu berlakunya izin undang-undang Gangguan (Ho) selama ditetapkan usaha tersebut masih berjalan.

8 -7- (2) Terhadap Izin Undang-Undang Gangguan(HO) sebagaimana tersebut ayat (1) pasalni, harus dilakukan pendaftaran ulang setiap 3 (tiga) tahun sekali dalam rangka pengendalian, pembinaandan pengawasan oleh Kepala Daerah. BAB VI KETENTUAN RETRIBUSI Pasal 10 : untuk setiap pemberian Izin Gangguan maupun pendaftaran ulang lzin sebagaimana dinraksud pasal 7 Peraturan Daerah ini dikenakan retribusi. Pasal 11 Besarnya retribusi sebagaimana dimaksu dalam pasal 10 peraturan Daerah ini didasarkan pada perhitungan dengan rumus : RUUG = Tarif Lingkungan x Indeks Lokasi x Luas Ruang Tempat Usaha X Indeks Gangguan RUUG : Retribusi Izin Gangguan adalah jumlah Biaya retribusi pemberian izin gangguan yang harus dibayarkan kepada Pemerintah Daerah. TL : Tarif Lingkungan adala.h besarnya pungutan per M2 dari luas ruang usaha yang meliputi bangunan teftuiup maupun terbuka sesuai dengan kondisi lingkungan. a. Lingkungan Industri : - Luas 25 M2 kebawah besar tarifnya Rp , _ I Mz - Luas 26sld 100 M2 besartarifnya Rp.6.000,_ - lm2 Luas 101 s/d 500 M2 besar tarifnya Rp , _ Mz - Luas 501 s/d 1000 M2 besar tarifnya Rp. i0.000 ; I M, - Luas 1001 M2 keatas besar tar.ifnya Rp ,_ lqz b. Lingkungan pefokoan dan pasar - Luas 25 M2 kebawah besar tarifnya Rp ,_/ Mz Luas 26 sld 100 M2 besar tarifnya np. 1+.OOO,_ I Mz - Luas 101 s/d 500 M2 besar tarifnya Rp ,_ Mz Luas 501 s/d 1000 M2 besar tarifnya Rp ,_ Mz Luas 1001 M2 keatas besar tarifnya np. ZZ.SOO,- / Mz c. Lingkungan pemukiman / Sosial - Luas 25 Mz kebawah besar tarifnya Rp , _ - I M2 Luas 26 s/d 100 M2 besar tarifnya np. S.SOO, _ 1 fnz - Luas 101 s/d 500 Mz besar tarifnya Rp. 4.50b, - 7 f+

9 -B- :ii.: - Luas 501 s/d 1000 M2 besar tarifnya Rp , _ I M, - Luas 1001 M2 keatas besar tarifnya Rp , - I Mz d. Lingkungan pergudangan -. Luas 25 tv12 kebawah besar tarifnya Rp , _ / M2 - Luas 26 s/d 100 M2 besar tarifnya np. S.0OO, - / Mz - Luas 101 s/d 500 M2 besar tarifnya Rp , - Mz - Luas 501 s/d 1000 M2 besar tarifnya Rp ,- / M2 - Luas 1001 M2 keatas besar tarifnya Rp , - I M2 IL : indeks lokasi adalah angka indeks yang didasarkan pada klasifikasi jalan dengan parameter : Jalan Utama denga nilai : 3 Jalan Sekunder denga nilai : Z lalan Lingkungan denga nilai : 1 IG : Indeks Gangguan adalah angka indeks besar kecilnya gangguan yang ditimbulkan oleh kegiatan usaha dengan parameier : Gangguan Besar denga nilai : 3 Gangguan Menengah denga nilai : 2 Gangguan Kecil dengan nilai : 1 LRTU : Luas ruang tempat usaha. Pasal t2 Pungutan sebagairnana dimaksud dalam pasal 10 dan 11 peraturan Daerah ini disetor ke Kas Daerah melalui Bendahara penerima. Pasal 13 Untuk setiap orang atau badan yang mendaftarkan ulang dikenakan retribusi sebesar 75 o/o (tujuh puluh lima perseratus) pengenaan atas dasar golongan gangguan. izin BAB IX SUMT PENDAFTAMN (1) Wajib Retribusi wajib mengisi SpdoRD. Pasal 14, {2) SPdoRD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diisi dengan jelas, dan benar lengkap serta ditanda tangani oteh iva;ib Retribusi atau kiasu'*u.

10 "9- (3) Bentuk, isi dan tata gqra pengisian dan penyanrpaian SpdoRD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetafikan oteh glpaii. Pasal 15 (1) Berdasarkan lfdono sebagaimana dimaksu daram pasar ditetapkan 14 Retribusi ayat (1), rerutang dengan *un.ruiilun yang skrd atau dipersamakan. dokumen lain {2) Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan dan ditemukan data baru dan atau data yang semua berum terungkap yang menyebabkan penambahan - -1" jumrah Retribusi yang terutang, maka oiketuarkjn srnbrb-i. (3) Bentuk' isi da.n tata cara pengisian dan penyampaian ' SKRDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh'euputi. BAB X TATA CARA PEMUNGUTAN pasal 16 (1) (2) Pemungutan Retribusi tidak dapat diborongkan. Retribusi dipungut_dengan menggunakan skr.d atau dokumeniain yang dipersamakan dan SKRDKBT. BAB XI WILAYAH PEMUNGUTAN Pasal 17 wilayah Pemungutan Retribusi adalah Kabupaten Barito nmur. BAB XII SANKSI ADMINISTMSI pasal 1B Dalam hal Wajib Retribusi tidak membayartepat pada walgunya membayar, dikenakan utuu Lurung sanksi administrasi berupa bunga sebesar qgrsgiat.us) ditiap 2 bulan dari Retribusi o/o (dua yangterutang ditagih atau kurang dengan dibayar menggunakan dan STRD.

11 -10- BAB XiIi TATA CARA PEMBAYARAN DAN UPAH PUNGUT Pasal 19 (i) Pembayaran Retribusi yang terutang harus dilunasi sekaligus. (2) Retribusi lzin Gangguan yang terutang dilunasi selambat-lambatnya 5 (lima) hari sejak diterbitkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan, SKRDKBT dan STRD (3) Tata cara pembayaran, penyetoran dan upah pungut Retribusi diatur dengan Keputusan Bupati. BAB XiV TATA CARA PENAGIHAN Pasal 20 (1) Retribusi terutang berclasarkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan, SKRDKBT dan Surat Keputusan Keberatan yang harus dibayar yang bertambah, tidak ditagih merarui Badan urusan piutang dan (BUPLN). Letang Negara (2) Penagihan Retribusi melalui BUPLN dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB XV KEBERATAN Pasal 2I (1) Wajib Retribusi dapat mengajukan keberatanhanya kepada Bupati Pejabat yang atau ditunjuk berdasarkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan SKRDKBT dan SKRDLB. (2), Keberatan diajukan secara tertulis dalambahasa Indonesia dengan alasan-alasan yang disertai jelas. (3) Dalarn hal wajib Retribusi mengajukan keberatan atas ketetapan wajib Retribusi Retrinusi, harus dapat memouttikan ketidakbunurun Retribusi tersebut. (4) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 14 (empat hari sejak tanggar belas) SKRD atau do-kurien taln 6;9 dipersamakan, dan SKRDLB skrdkbt diterbitkan, keeuari niru wuii[ ReFibusi te*entu dapat

12 -:. ' -li -IImengajukan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi diluar karena kekuasaannva. keadaan (5) Keberatan yang tldak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (z) 9un {3) tidtk dianggap tuuug.i,rral keberitan, diperlimbangkan. sehingga ridak (6) Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar Retribusi, pelaksanaan penagihan dan Retribusi. Pasal 22 (i) Bupati dalam. janglla waktu paring rama 60 (enam puruh) hari sejak surat ranggal keberatan diterima harus memberi keputusan atas diajukan. kebeiatan yung (2) Keputr.:san Bupati atas keberatqn.dapat berupa menerima sebagian, seluruhnyatau menolak, atau menambah besarnya itetriuusi yang terhutang. {3) jangka fraoita waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Bupati tetah tidak tewat dan.memberikan keputusan, keberatan yang dianggap diajukan.,, tersebut dikabulkan BAB XVI PENGEMBALIAN KELEBiHAN PEMBAYARAN Pasal 23 (1) Atas kelebihan pembayaran Retrib-usi, wajib Retribusi permohonan dapat pengembalian mengajukan kepada Bupati. (2) Bupati dalam jangka waktu paring rama 60 (enam puruh) hari diterimanya sejak permohonan kelebihari pemoayaran Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memberikan kejutusan. Apabila j.lqt? i3) waktu sebagaimana dimaksud pada ayar (2) ::, dan tetah Bupati ditampaui tidak memberikin.:rgty keputusan, permohonan pengembarian kelebihan Retribusi-dianggap dikabulkan'can sr*olb harus waku paling diterbitkan lama dalam 30 (tiga putuh) hari. (4) Apabila wajib Retribusi mem,punyai utang Retribusi pembayaran lainnya, kelebihan Retribusi sebagaimanaimifsuc pada diperhitirngkan ayat (1) ;;6;; untuk melunaii terlebih dahulu li-ng Retribusi tersebut. {5) Pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi sebagaimana ayat (1) dirnaksud pada dilakukan dalam 3'angka waktu paling tama 30 (tiga puluh) diterbitkannya hari sejak SKRDLB.

13 -12- 't" ; (6) Apabila pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi lewat jangka dilakukan setelah w.aktu 30 (tiga putuhj hari, bupati sebesar 2 olo memberikan imbalan (dua perseratus) bunga iebulan utu, keterlambatan kelebihan pembayaran retribusi. l:r: : Pasal 24 (1) Permohonan..pengembalian pembayaran Retribusi diajukan secara kepada Bupati tertulis dengan sekurang-kuringnya men-yebutkan : a. Nama dan alamat Wajib Retribusi; b. Masa Retribusi; c. Besarnya kelebihan pembayaran; d. Alasan yang singkat dan jetas. (2) Permohcnan pengembalian kelebjhan pembayaran Retribusi secara disampaikan langsung atau melalaui pos Tercatat. (3) Bukti penerimaa.n oleh Pejabat Daerah atau bukti pengiriman pos merupakan Tercatat bukti saat permohonan diterima oreh Bupati. (4) Pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi dilakukan menerbrtkan dengan surat cara Keputusan pajak / Retribusi (ixp / skr). (5) Apabila kelebihan pengembalian. pembayaran Retribusi dengan diperhitungkan utang Retribusi lainnya, sebagaimana dimaksudalam pasat (4) pembayaran 30 ayat dilakukan dengan cara pemindahbukuan juga sebagai buldi pembayaran. berlaku BAB XVII PENGUMNGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI Pasal 25 (1) Bupati dapat memberikanpengurangan/ keringanan Retribusi. dan penrbebasan (2) Pemberian cgra pengurangan, keringanandan pembebasan ditetapkan Retribusi oleh Bupati. (3) Tata cara pengurangan, keringanan dan pembebasan oteh Bupati. Retribusi ditetapkbn

14 -13- BAB XVIil KEDALUWARSA PENAGIHAN Pasal 26 (1) Hak untuk melakukan. penagihan retribusi, kedaluwarsa jangka setelah rnelampaui waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak iaat terhutangnya kecuali apabila retribusi, wajib Retribusi melakukjn tirijar. picana di bidang retribusi. (2) Kedaluwarsa penagihan Retribusisebagaimana dimaksud paga tertanggung ayat (1) apabila : a. Diterbitkan Surat Teguran; atau b. Adanya pengakuan utang Retribusi dari wajib Retribusi baik maupun langsung tidak langsung. BAB XIX KETENTUAN PENYID]KAN Pasal 27 Fejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan pemerintah wewenang khusu Daerah sebagai diberi Penyidik untuk metatut6n penyidikan Tindak pidana bidang Retribusi oaegh di sebagiimana dimaksu dalam undang-undang Tahun 1981 Nomor tentang B Hukum Aiara pidana. Pasal 28 (1) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksudalam pasal 27 adalah : a' Menerima, mencari, menyimpulkan dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang Retribuii Daerah keterangan agar atau raporan tersebut menjacii tengfap dan jeras; b' Meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan tentang kebenaran_ perbuatan yang dilaftukan sehubungan dengan tindak pidana Retribusi Daerah tersebut; c" Mer*inta keterangan dan bahan bukti dari orane pribadi sehubungan atau badan dengan tindak pidana di bidan! Retribursiba*rit.,;- d. Memeriksa. buku-buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen berkenaan - -- dengan rain tindak pidana di bidang netrinusi oaeran; e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan dan dokumenlain, serta melakukan penyitaan bahan terhadap buki tersebut;

15 f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas Penyidik tindak pidana di bidang Retribusi Daerah; g. Menyuruh berhenti dan atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimakud pada huruf e; h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana Retribusi Daerah; ' i. Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangk atau saksi; j, Menghentikan penyidikan; k. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang Retribusi Daerah menurut hukum yang dapat dipeftanggungjawabkan. (2) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) rnemberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentanq Hukum Acara Pidana. BAB X( KETENTUAN PIDANA Pasal 29 -L4- (1) Barangsiapa melanggar ketentuan sebagaimana dimaksudalam Pasal B, diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda sebanyakbanyaknya Rp ,- (lima puluh juta rupiah). tz) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran. BAB )Cfl KETENTUAN PENUTUP Pasal 30 Hal-hal yang belum diatur daian'r Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai pelaksanaannya - - akan diatur lebih lanjut dengan Keputusan Bupati.

16 Pasal 31 Peraturan Daerah ini murai berraku pada tanggar diundangkan. Agar supaya setiap. orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan ;:rriyfrl Daerah ini dengan penempatannya -Kabupaten daram Lembaran Daerah Ditetapkan di Tamiang Layang pada tanggal I fobruaru Z-OOS Diundangkan di Tamiang Layang pada tanggal g pebruan,- ioos SEKRFIARIS DAEMH IGBUPATEN BARITO TIMU& CIFl, MM I LEMBARAN DAEMH KABUPATEN BARITO TIMUR TAHUN 2OO5.NOMOR

17 i:.:.::: -15- Pasal 31 Peraturan Daerah ini murai berraku pada tanggar diundangkan. Agar supaya setiap orang mengetahuinya, memerintahkan penqundangan ;:liyiil J?:-* n i n i dengan penem pata n nva da ra m r-., ouia n ;"*;ui;' ka o u paterl ff Ditetapkan di Tamiang Layang pada tanggal 8 Rbrtra,rr 2005 ti Diundangkan di Tamiang Layang pada tanggill g pabyuarr ZOOS SEKRIETARIS DAEMH KABUPAI"EN BARITO TIMUR, #y,v RSffi LEMBAMN DAEMH IGBUPATEN BARITO TiMUR TAHUN 2005 NoMOR...

PERATURAN DAERAH KABUPATEN GUNUNG MAS NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI PENGGANTIAN BIAYA CETAK PETA DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN GUNUNG MAS NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI PENGGANTIAN BIAYA CETAK PETA DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN GUNUNG MAS NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI PENGGANTIAN BIAYA CETAK PETA DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GUNUNG MAS, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendorong

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG

PEMERINTAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG PEMERINTAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG PERATURAN DAERAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG RETRIBUSI WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PARIGI MOUTONG, Menimbang

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA PADANG PANJANG

PEMERINTAH KOTA PADANG PANJANG PEMERINTAH KOTA PADANG PANJANG PERATURAN DAERAH KOTA PADANG PANJANG NOMOR 8 TAHUN 2005 TENTANG RETRIBUSI PEMERIKSAAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PADANG PANJANG, Menimbang

Lebih terperinci

TENTANG BUPATI PATI,

TENTANG BUPATI PATI, PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG RETRIBUSI TEMPAT PELELANGAN IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PATI, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan kesejahteraan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS

PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 9 TAHUN 2006 T E N T A N G RETRIBUSI PELAYANAN PEMAKAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUDUS, Menimbang : a. bahwa dengan berlakunya

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

PEMERINTAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT PEMERINTAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT NOMOR 9 TAHUN 2003 TENTANG RETRIBUSI WAJIB LAPOR KETENAGAKERJAAN DI PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

RETRIBUSI TEMPAT KHUSUS PARKIR

RETRIBUSI TEMPAT KHUSUS PARKIR PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKALIS NOMOR 06 TAHUN 2003 TENTANG RETRIBUSI TEMPAT KHUSUS PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BENGKALIS, Menimbang : a. bahwa dengan di berlakukannya Undang-undang

Lebih terperinci

WALIKOTA BENGKULU PERATURAN DAERAH KOTA BENGKULU NOMOR 03 TAHUN 2013 TENTANG

WALIKOTA BENGKULU PERATURAN DAERAH KOTA BENGKULU NOMOR 03 TAHUN 2013 TENTANG WALIKOTA BENGKULU PERATURAN DAERAH KOTA BENGKULU NOMOR 03 TAHUN 2013 TENTANG RETRIBUSI PEMERIKSAAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BENGKULU, Menimbang : a. bahwa dengan

Lebih terperinci

QANUN KOTA BANDA ACEH NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI PEMERIKSAAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN

QANUN KOTA BANDA ACEH NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI PEMERIKSAAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN QANUN KOTA BANDA ACEH NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI PEMERIKSAAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA WALIKOTA BANDA ACEH, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 8 TAHUN 2007 TENTANG RETRIBUSI PENGGANTIAN BIAYA ADMINISTRASI

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 8 TAHUN 2007 TENTANG RETRIBUSI PENGGANTIAN BIAYA ADMINISTRASI PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 8 TAHUN 2007 TENTANG RETRIBUSI PENGGANTIAN BIAYA ADMINISTRASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH, Menimbang : a. bahwa berdasarkan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH PROPINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2003 SERI B NOMOR 1

LEMBARAN DAERAH PROPINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2003 SERI B NOMOR 1 No. 7, 2003 LEMBARAN DAERAH PROPINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2003 SERI B NOMOR 1 PERATURAN DAERAH PROPINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG RETRIBUSI TERA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 17 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK TENTANG IZIN GANGGUAN DAN RETRIBUSI IZIN GANGGUAN

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 17 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK TENTANG IZIN GANGGUAN DAN RETRIBUSI IZIN GANGGUAN LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 17 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG IZIN GANGGUAN DAN RETRIBUSI IZIN GANGGUAN Menimbang Mengingat DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO

PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG.PELAYANAN KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO Menimbang :a. bahwa Daerah otonomi

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI MALUKU PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR : 14 TAHUN 2008

PEMERINTAH PROVINSI MALUKU PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR : 14 TAHUN 2008 PEMERINTAH PROVINSI MALUKU PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR : 14 TAHUN 2008 TENTANG RETRIBUSI BIAYA TERA, ALAT-ALAT UKUR,TAKAR,TIMBANG DAN PERLENGKAPANNYA SERTA PENGUJIAN BARANG DALAM KEADAAN TERBUNGKUS

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 5 TAHUN 2008 SERI : C NOMOR : 2

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 5 TAHUN 2008 SERI : C NOMOR : 2 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 5 TAHUN 2008 SERI C NOMOR 2 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG RETRIBUSI IZIN PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN SWASTA, IZIN INDUSTRI

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 1997 TENTANG PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI

LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : 7 2013 SERI : C PERATURAN DAERAH KOTA BEKASI NOMOR 07 TAHUN 2013 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN TERA/TERA ULANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BEKASI, Menimbang

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN MAMUJU

PEMERINTAH KABUPATEN MAMUJU PEMERINTAH KABUPATEN MAMUJU Alamat : Jl. Soekarno Hatta No. 17, Telp (0426) 21101, Kode Pos 51911 Mamuju PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAMUJU NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI TEMPAT KHUSUS PARKIR DENGAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KUANTAN SINGINGI Nomor : 25 Tahun 2001 Seri : B Nomor : 17

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KUANTAN SINGINGI Nomor : 25 Tahun 2001 Seri : B Nomor : 17 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KUANTAN SINGINGI Nomor : 25 Tahun 2001 Seri : B Nomor : 17 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUANTAN SINGINGI NOMOR : 25 TAHUN 2001 TENTANG RETRIBUSI IZIN GANGGUAN DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BUPATI TOLITOLI PERATURAN DAERAH KABUPATEN TOLITOLI NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG RETRIBUSI TERMINAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TOLITOLI,

BUPATI TOLITOLI PERATURAN DAERAH KABUPATEN TOLITOLI NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG RETRIBUSI TERMINAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TOLITOLI, BUPATI TOLITOLI PERATURAN DAERAH KABUPATEN TOLITOLI NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG RETRIBUSI TERMINAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TOLITOLI, Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan pasal 127

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MEDAN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK REKLAME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MEDAN,

PERATURAN DAERAH KOTA MEDAN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK REKLAME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MEDAN, PERATURAN DAERAH KOTA MEDAN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK REKLAME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MEDAN, Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat (2) huruf d Undang-Undang

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK TAHUN 2002 NOMOR 09 SERI B PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 06 TAHUN 2002 TENTANG WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DEPOK, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

TENTANG RETRIBUSI TANDA DAFTAR PERUSAHAAN

TENTANG RETRIBUSI TANDA DAFTAR PERUSAHAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERUYAN NOMOR 9 TAHUN 2006 TENTANG RETRIBUSI TANDA DAFTAR PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERUYAN, Menimbang : a. bahwa Retribusi Tanda Pendaftar Perusahaan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI BARAT NOMOR 7 TAHUN 2009 T E N T A N G PENGENDALIAN KELEBIHAN MUATAN ANGKUTAN BARANG

PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI BARAT NOMOR 7 TAHUN 2009 T E N T A N G PENGENDALIAN KELEBIHAN MUATAN ANGKUTAN BARANG PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI BARAT NOMOR 7 TAHUN 2009 T E N T A N G PENGENDALIAN KELEBIHAN MUATAN ANGKUTAN BARANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI BARAT, Menimbang Mengingat :

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 6 TAHUN 2003

PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 6 TAHUN 2003 LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 6 TAHUN : 2003 SERI :B PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 6 TAHUN 2003 TENTANG PAJAK REKLAME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA CIMAHI Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KUANTAN SINGINGI Nomor : 14 Tahun 2001 Seri : B Nomor : 06

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KUANTAN SINGINGI Nomor : 14 Tahun 2001 Seri : B Nomor : 06 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KUANTAN SINGINGI Nomor : 14 Tahun 2001 Seri : B Nomor : 06 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUANTAN SINGINGI NOMOR : 14 TAHUN 2001 TENTANG RETRIBUSI PEMAKAIAN KEKAYAAN DAERAH DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 7 TAHUN 2009 TENTANG RETRIBUSI TERA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG, Menimbang : a. bahwa dengan berlakunya

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMUNGUTAN RETRIBUSI DAERAH PELAYANAN TATA KOTA

PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMUNGUTAN RETRIBUSI DAERAH PELAYANAN TATA KOTA PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 139 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMUNGUTAN RETRIBUSI DAERAH PELAYANAN TATA KOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI

Lebih terperinci

QANUN KABUPATEN ACEH BESAR NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS QANUN KABUPATEN ACEH BESAR NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PASAR

QANUN KABUPATEN ACEH BESAR NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS QANUN KABUPATEN ACEH BESAR NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PASAR QANUN KABUPATEN ACEH BESAR NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS QANUN KABUPATEN ACEH BESAR NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PASAR Menimbang : a. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH DARI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU

PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR : 2 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN PERTAMA PERATURAN DAERAH KABUPATEN INDRAMAYU NOMOR 10 TAHUN 2001 TENTANG RETRIBUSI PENGUJIAN BERKALA KENDARAAN BERMOTOR DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PEMONDOKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PEMONDOKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, S A L I N A N NOMOR 4/E, 2006 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2006 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PEMONDOKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. bahwa Kota Malang

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA BARAT

LEMBARAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA BARAT LEMBARAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA BARAT No. 1 1989 SERI C ----------------------------------------------------------------- PERATURAN DAERAH TINGKAT I PROPINSI JAWA BARAT NOMOR 2 TAHUN 1989

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 13 TAHUN 2002 TENTANG SURAT IJIN USAHA PERDAGANGAN ( SIUP ) WALIKOTA DENPASAR,

PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 13 TAHUN 2002 TENTANG SURAT IJIN USAHA PERDAGANGAN ( SIUP ) WALIKOTA DENPASAR, PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 13 TAHUN 2002 TENTANG SURAT IJIN USAHA PERDAGANGAN ( SIUP ) WALIKOTA DENPASAR, Menimbang : a. bahwa sebagai tindak lanjut dari amanat Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KARANGANYAR

PEMERINTAH KABUPATEN KARANGANYAR PEMERINTAH KABUPATEN KARANGANYAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGANYAR NOMOR 8 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN DAERAH Menimbang : TINGKAT II KARANGANYAR NOMOR 7 T AHUN 1999

Lebih terperinci

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK DIREKTORAT PENYULUHAN PELAYANAN DAN HUBUNGAN MASYARAKAT KATA PENGANTAR DAFTAR ISI Assalamualaikum

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK TAHUN 2002 NOMOR 12 SERI C PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 09 TAHUN 2002 TENTANG PENGELOLAAN AIR BAWAH TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DEPOK, Menimbang : a.

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN POLEWALI MANDAR

PEMERINTAH KABUPATEN POLEWALI MANDAR POLEWALI MANDAR PEMERINTAH KABUPATEN POLEWALI MANDAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN POLEWALI MANDAR NOMOR 19 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN TERA/TERA ULANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas

Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (4) Pasal 18 Pasal 19 Pasal 20 Pasal 21 TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 3 Menimbang LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA TAHUN 2011 NOMOR 4 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG IZIN PEMAKAIAN RUMAH MILIK ATAU DIKUASAI PEMERINTAH KOTA SURABAYA

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG IZIN PEMAKAIAN RUMAH MILIK ATAU DIKUASAI PEMERINTAH KOTA SURABAYA RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG IZIN PEMAKAIAN RUMAH MILIK ATAU DIKUASAI PEMERINTAH KOTA SURABAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

RAMBU LALU LINTAS JALAN

RAMBU LALU LINTAS JALAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BONE NOMOR 4 TAHUN 2013 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONE NOMOR 4 TAHUN 2013 T E N T A N G RAMBU LALU LINTAS JALAN DISUSUN OLEH BAGIAN HUKUM SEKRETARIAT DAERAH KABUPETEN BONE PEMERINTAH

Lebih terperinci

PERATURAN TENTANG MAHA ESA GUBERNUR MALUKU, bahwa. Menimbang. merupakan. Maluku; Usaha. Perikanan : 1. Mengingat. Tahun. Lembaran Indonesia

PERATURAN TENTANG MAHA ESA GUBERNUR MALUKU, bahwa. Menimbang. merupakan. Maluku; Usaha. Perikanan : 1. Mengingat. Tahun. Lembaran Indonesia PEMERINTAH PROVINSI MALUKU PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR : 11 TAHUN 2008 TENTANG RETRIBUSI IZIN USAHA PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR MALUKU, Menimbang : a. b. c. bahwa dalam

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA NOMOR : 5 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI TENGGARA,

PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA NOMOR : 5 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI TENGGARA, PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA NOMOR : 5 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI TENGGARA, Menimbang : a. bahwa dengan berlakunya Undang-Undang

Lebih terperinci

Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya

Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi : Account Representative Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI PERIZINAN TERTENTU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BALIKPAPAN,

PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI PERIZINAN TERTENTU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BALIKPAPAN, PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI PERIZINAN TERTENTU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BALIKPAPAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Otonomi Daerah

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR : 22 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR : 22 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR : 22 TAHUN 2014 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 7 TAHUN 2012 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PASAR DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BUPATI MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG USAHA PERIKANAN DI KABUPATEN MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG USAHA PERIKANAN DI KABUPATEN MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG USAHA PERIKANAN DI KABUPATEN MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MAGELANG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 07 TAHUN 2002 TENTANG RUMAH SUSUN DALAM WILAYAH KOTA TARAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TARAKAN,

PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 07 TAHUN 2002 TENTANG RUMAH SUSUN DALAM WILAYAH KOTA TARAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TARAKAN, PERATURAN DAERAH KOTA TARAKAN NOMOR 07 TAHUN 2002 TENTANG RUMAH SUSUN DALAM WILAYAH KOTA TARAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TARAKAN, Menimbang : a. bahwa dengan semakin bertambahnya jumlah

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA NOMOR 5 TAHUN 2013

LEMBARAN DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA NOMOR 5 TAHUN 2013 LEMBARAN DAERAH KOTA SAMARINDA Nomor 5 Tahun 2013 SALINAN PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA TEMPAT HIBURAN DI KOTA SAMARINDA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG SUMBANGAN PIHAK KETIGA KEPADA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG SUMBANGAN PIHAK KETIGA KEPADA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG SUMBANGAN PIHAK KETIGA KEPADA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBA BARAT DAYA, Menimbang : a. bahwa dalam upaya

Lebih terperinci

b. Dasar hukum Perda ini adalah UU No 10 Th 1950, UU No 2 Th 1981,

b. Dasar hukum Perda ini adalah UU No 10 Th 1950, UU No 2 Th 1981, TERA, TERA ULANG ALAT-ALAT UKUR, TAKAR, TIMBANG DAN PERLENGKAPANNYA, DAN KALIBRASI ALAT UKUR SERTA PENGUJIAN BARANG DALAM KEADAAN TERBUNGKUS - RETRIBUSI PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 3 ABSTRAK

Lebih terperinci

BUPATI SINJAI PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SINJAI NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG SUMBANGAN PIHAK KETIGA KEPADA PEMERINTAH DAERAH

BUPATI SINJAI PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SINJAI NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG SUMBANGAN PIHAK KETIGA KEPADA PEMERINTAH DAERAH SALINAN BUPATI SINJAI PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SINJAI NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG SUMBANGAN PIHAK KETIGA KEPADA PEMERINTAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SINJAI,

Lebih terperinci

GUBERNUR BALI PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG USAHA JASA PERJALANAN WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BALI,

GUBERNUR BALI PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG USAHA JASA PERJALANAN WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BALI, GUBERNUR BALI PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG USAHA JASA PERJALANAN WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BALI, Menimbang : a. bahwa Pembangunan Kepariwisataan di

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 259/PMK.04/2010 TENTANG JAMINAN DALAM RANGKA KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN,

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 259/PMK.04/2010 TENTANG JAMINAN DALAM RANGKA KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 259/PMK.04/2010 TENTANG JAMINAN DALAM RANGKA KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

RUMAH SUSUN BAGIAN HUKUM SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN BONE LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BONE NOMOR 26 TAHUN 2009 DISUSUN OLEH

RUMAH SUSUN BAGIAN HUKUM SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN BONE LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BONE NOMOR 26 TAHUN 2009 DISUSUN OLEH LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BONE NOMOR 26 TAHUN 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONE NOMOR 26 TAHUN 2009 T E N T A N G RUMAH SUSUN DISUSUN OLEH BAGIAN HUKUM SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN BONE PEMERINTAH KABUPATEN

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO LEMBARAN DAERAH NOMOR : 10 TAHUN 2001 PERATURAN DAERAH KABUPATEN JENEPONTO NOMOR 10 TAHUN 2001 T E N T A N G

PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO LEMBARAN DAERAH NOMOR : 10 TAHUN 2001 PERATURAN DAERAH KABUPATEN JENEPONTO NOMOR 10 TAHUN 2001 T E N T A N G PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO LEMBARAN DAERAH NOMOR : 10 TAHUN 2001 PERATURAN DAERAH KABUPATEN JENEPONTO NOMOR 10 TAHUN 2001 T E N T A N G REGISTRASI ALAT UKUR, TAKAR, TIMBANG DAN PERLENGKAPANNYA (UTTP)

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SELAYAR NOMOR 08 TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SELAYAR NOMOR 08 TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SELAYAR NOMOR 08 TAHUN 2007 TENTANG PENGENDALIAN ALAT UKUR, TAKAR, TIMBANG DAN PERLENGKAPANNYA (UTTP) YANG DIGUNAKAN UNTUK TRANSAKSI BARANG DI KABUPATEN SELAYAR DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR : 790 TAHUN : 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PERIZINAN TEMPAT USAHA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG GANGGUAN

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PERIZINAN TEMPAT USAHA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG GANGGUAN PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PERIZINAN TEMPAT USAHA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG GANGGUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH

Lebih terperinci

QANUN KABUPATEN ACEH BESAR NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN TERA /TERA ULANG BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

QANUN KABUPATEN ACEH BESAR NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN TERA /TERA ULANG BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM QANUN KABUPATEN ACEH BESAR NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN TERA /TERA ULANG BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA BUPATI ACEH BESAR Menimbang : a. bahwa untuk menciptakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2009 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2009 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENENTUAN JUMLAH, PEMBAYARAN, DAN PENYETORAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG TERUTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1982 TENTANG WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1982 TENTANG WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1982 TENTANG WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kemajuan dan peningkatan pembangunan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SERTIFIKASI LAIK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SERTIFIKASI LAIK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA, PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SERTIFIKASI LAIK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA, Menimbang : Mengingat : a. bahwa keracunan makanan dan minuman, proses

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA Nomor: 07 TAHUN 1981. Tentang WAJIB LAPOR KETENAGA KERJAAN DI PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA Nomor: 07 TAHUN 1981. Tentang WAJIB LAPOR KETENAGA KERJAAN DI PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA Nomor: 07 TAHUN 1981 Tentang WAJIB LAPOR KETENAGA KERJAAN DI PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia, Menimbang : a. Bahwa dalam melaksanakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1982 TENTANG WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1982 TENTANG WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1982 TENTANG WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa kemajuan dan peningkatan pembangunan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG SUMBANGAN PIHAK KETIGA KEPADA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG SUMBANGAN PIHAK KETIGA KEPADA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG SUMBANGAN PIHAK KETIGA KEPADA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan pelayanan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a.

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI

LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI LEMBARAN DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : 15 2012 SERI : C PERATURAN DAERAH KOTA BEKASI NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG RETRIBUSI IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BEKASI, Menimbang

Lebih terperinci

Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pemulihan kerugian Daerah agar dapat berjalan lebih

Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pemulihan kerugian Daerah agar dapat berjalan lebih RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PENAJAM

Lebih terperinci

PAJAK PEMANFAATAN AIR BAWAH TANAH DAN AIR PERMUKAAN DALAM WILAYAH KODYA DATI II UJUNG PANDANG

PAJAK PEMANFAATAN AIR BAWAH TANAH DAN AIR PERMUKAAN DALAM WILAYAH KODYA DATI II UJUNG PANDANG PERATURAN DAERAH KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II UJUNG PANDANG NOMOR : 6 TAHUN 1998 T E N T A N G PAJAK PEMANFAATAN AIR BAWAH TANAH DAN AIR PERMUKAAN DALAM WILAYAH KODYA DATI II UJUNG PANDANG BAGIAN HUKUM

Lebih terperinci

GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR

GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR NOMOR 4 TAHUN 1991 TENTANG WAJIB LATIH TENAGA KERJA BAGI PERUSAHAAN DAN IURAN WAJIB LATIH TENAGA KERJA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG PENGATURAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG PENGATURAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, S A L I N A N Nomor : 02/E, 2005 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG PENGATURAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. bahwa dengan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULELENG NOMOR 7 TAHUN 2009 TENTANG PENANGGULANGAN PELACURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULELENG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULELENG NOMOR 7 TAHUN 2009 TENTANG PENANGGULANGAN PELACURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULELENG, PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULELENG NOMOR 7 TAHUN 2009 TENTANG PENANGGULANGAN PELACURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULELENG, Menimbang Mengingat : a. bahwa pelacuran bertentangan dengan norma

Lebih terperinci

Dengan Persetujuan: DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

Dengan Persetujuan: DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1981 TENTANG WAJIB LAPOR KETENAGAKERJAAN DI PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam melaksanakan

Lebih terperinci

BUPATI BONE PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONE NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PARTISIPASI PIHAK KETIGA DALAM PEMBANGUNAN DAERAH

BUPATI BONE PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONE NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PARTISIPASI PIHAK KETIGA DALAM PEMBANGUNAN DAERAH BUPATI BONE PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONE NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PARTISIPASI PIHAK KETIGA DALAM PEMBANGUNAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BONE, Menimbang

Lebih terperinci

BENTUK DAN ISI SKRD MASA : TAHUN : NAMA :... ALAMAT :... NO. POKOK WAJIB RETRIBUSI :... TANGGAL JATUH TEMPO :...

BENTUK DAN ISI SKRD MASA : TAHUN : NAMA :... ALAMAT :... NO. POKOK WAJIB RETRIBUSI :... TANGGAL JATUH TEMPO :... Lampiran I Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 29 Tahun 2012 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 13 Tahun 2012 Tentang Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan BENTUK

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2011 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2011 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2011 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN BARAT, Menimbang : a. bahwa kekayaan daerah adalah

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABIJPATBN I(ARANGANYAR '..

PERATURAN DAERAH KABIJPATBN I(ARANGANYAR '.. \W PERATURAN DAERAH KABIJPATBN I(ARANGANYAR '.. a. NSMOR t5.rahrjn 9 OOa TEN'fANG PERUBAF{AN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPA'TEN D.AEFT.AH 1!'NGKAT II KARANGANYI\R NOMOR 16 TAHUN 1998 TEIVTANG RETRIBUSI TEMPAT

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PERIZINAN PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PERIZINAN PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN Hasil PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PERIZINAN PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI SLEMAN, Menimbang

Lebih terperinci

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankan program

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 10 TAHUN 2002 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 10 TAHUN 2002 TENTANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 10 TAHUN 2002 TENTANG WAJIB LATIH TENAGA KERJA BAGI PERUSAHAAN DAN IURAN WAJIB LATIH TENAGA KERJA BAGI PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIAK, Menimbang

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KAMPAR

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KAMPAR LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KAMPAR NOMOR : 05 TAHUN : 2009 SERI : E PERATURAN DAERAH KABUPATEN KAMPAR NOMOR 05 TAHUN 2009 TENTANG PENEMPATAN TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KAMPAR,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1981 TENTANG WAJIB LAPOR KETENAGAKERJAAN DI PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1981 TENTANG WAJIB LAPOR KETENAGAKERJAAN DI PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1981 TENTANG WAJIB LAPOR KETENAGAKERJAAN DI PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam melaksanakan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEPULAUAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA SAMARINDA

LEMBARAN DAERAH KOTA SAMARINDA LEMBARAN DAERAH KOTA SAMARINDA Nomor 07 Tahun 2010 PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA NOMOR 07 TAHUN 2010 TENTANG KETENTUAN RUMAH SUSUN DIKOTA SAMARINDA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SAMARINDA,

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PENANGKAPAN IKAN

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PENANGKAPAN IKAN PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PENANGKAPAN IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KOTAWARINGIN BARAT, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SERAH SIMPAN KARYA CETAK DAN KARYA REKAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SERAH SIMPAN KARYA CETAK DAN KARYA REKAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SERAH SIMPAN KARYA CETAK DAN KARYA REKAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN BARAT, Menimbang : a. Bahwa karya cetak

Lebih terperinci

BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN

BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN,

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PENERIMAAN SUMBANGAN PIHAK KE TIGA KEPADA PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PENERIMAAN SUMBANGAN PIHAK KE TIGA KEPADA PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PENERIMAAN SUMBANGAN PIHAK KE TIGA KEPADA PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA, Menimbang

Lebih terperinci

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR : 15 /PER/M.KOMINFO/9/2005 TENTANG

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR : 15 /PER/M.KOMINFO/9/2005 TENTANG MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR : 15 /PER/M.KOMINFO/9/2005 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TARIF ATAS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2010 NOMOR : 11 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR : 11 TAHUN 2010 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2010 NOMOR : 11 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR : 11 TAHUN 2010 TENTANG LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2010 NOMOR : 11 PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR : 11 TAHUN 2010 TENTANG PELARANGAN, PENGAWASAN, DAN PENGENDALIAN MINUMAN BERALKOHOL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PINJAMAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PINJAMAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PINJAMAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan efektivitas dan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. bukunya Mardiasmo (2011 : 1) :

BAB II LANDASAN TEORI. bukunya Mardiasmo (2011 : 1) : BAB II LANDASAN TEORI A. Deskripsi Teori 1. Pajak a. Definisi Pajak Membahas mengenai perpajakan tidak terlepas dari pengertian pajak itu sendiri, menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH dalam bukunya Mardiasmo

Lebih terperinci