MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI PENERAPAN BEBERAPA ALTERNATIF PENDEKATAN PEMBELAJARAN. Oleh : Dra. Umi Chotimah, M.

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI PENERAPAN BEBERAPA ALTERNATIF PENDEKATAN PEMBELAJARAN. Oleh : Dra. Umi Chotimah, M."

Transkripsi

1 MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI PENERAPAN BEBERAPA ALTERNATIF PENDEKATAN PEMBELAJARAN Oleh : Dra. Umi Chotimah, M. Pd ABSTRAK Akhir-akhir ini pendidikan karakter menjadi issue yang hangat dibicarakan, terlebih lagi sejak dua tahun terakhir secara berturut-turut (tahun 2010 dan 2011) dijadikan sebagai tema peringatan Hari Pendidikan Nasional oleh Mentri Pendidikan Nasional. Walaupun sesungguhnya masalah karakter tersebut sudah dimuat di dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional tepatnya di dalam pasal 3 tentang tujuan dan fungsi pendidikan nasional. Saking pentingnya pendidikan karakter, maka Kementrian Pendidikan Nasional menetapkan grand design pendidikan karakter untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan, yang menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Dalam sistem pendidikan, pembentukan karakter dapat dilakukan baik secara makro (perencanaan, implementasi dan evaluasi hasil) maupun secara mikro berupa kegiatan belajar mengajar di kelas, kegiatan keseharian berupa budaya satuan pendidikan, ko-kurikuler dan atau ekstrakurikuler serta keseharian di rumah, dan dalam masyarakat. Sehubungan dengan pembentukan karakter dalam kegiatan belajar di kelas, maka hendaknya guru menerapkan berbagai alternatif pendekatan, diantaranya Pendekatan Penanaman Nilai (inculcation approach), Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif (cognitive moral development approach), Pendekatan Analisis Nilai (values analysis approach), Pendekatan Klarifikasi Nilai (values clarification approach), dan Pendekatan Pembelajaran Berbuat (action learning approach). Kata Kunci : Pendidikan karakter, gand design, Pendekatan Penanaman Nilai, Perkembangan Moral Kognitif, Analisis Nilai, Klarifikasi Nilai dan Pendekatan Pembelajaran Berbuat Pendahuluan Krisis multidimensional yang menerpa Indonesia pada tahun 1998 yang lalu telah membawa dampak luas terhadap kehancuran tatanan kehidupan masyarakat Indonesia, terlebih lagi dengan adanya dampak negatif dari globalisasi, terbukti dengan akhir-akhir ini banyak keluhan masyarakat tentang menurunnya tatakrama, etika dan kreativitas karena pendidikan budaya dan karakter bangsa melemah. Alhasil, sebagian besar siswa sekolah yang berperilaku tidak sopan dan kadang-kadang menyimpang dari etika dan budaya Indonesia. Masyarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat. Dengan kata lain dapat dikatakan bawha dampak krisis multi-dimensional ini telah memperlihatkan tanda-tanda awal munculnya krisis kepercayaan diri (self-confidence) dan rasa hormat diri (self-esteem) di kalangan para generasi muda sebagai tunas bangsa. Di samping itu akhir-akhir ini kerap dipertontonkan melalui media elektronik tentang fenomena kekerasan yang terjadi di masyarakat baik di pentas politik oleh beberapa oknum politikus, dalam kehidupan keluarga, bahkan di dunia pendidikan yang nota bene merupakan lembaga yang seharusnya menjadi teladan bagi masyarakat luas. Penurunan nilai-nilai dan etika tersebut juga tersebut apabila tidak segera diupayakan solusinya maka kemungkinan akan berdampak luas terhadap sebagai integritas bangsa. *) Makalah disampaikan dalam Kegiatan Seminar Nasional Pendidikan- Yang diselenggarakan di Palembang, 7 Mei 2011 Page 1 **) Dosen Program Studi PPKn FKIP Universitas Sriwijaya

2 Bahkan hal yang paling menyedihkan lagi adalah bilamana kita kehilangan wawasan tentang makna hakekat bangsa dan kebangsaan yang akan mendorong terjadinya dis-orientasi dan perpecahan. Salah satu upaya untuk menghindari hal tersebut di atas adalah melalui pencanangan kembali akan pentingnya pendidikan karakter. Pentingnya pembentukan karakter menjadi hangat sejak dua tahun terakhir ini, bahkan dua tahun berturut-turt menjadi tema peringatan Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) oleh Menteri Pendidikan Nasional. Pembentukan karakter dapat di-bangun baik secara makro maupun mikro. Secara makro (mulai dari tahap perencanaan, melalui pengembangan perangkat karakter yang digali, dikristalisasi dan dirumuskan dengan menggunakan berbagai sumber, antara lain pertimbangan filosofi, teoritis maupun empiris, sampai pada tahap implementasi yang dikembangkan adalah pengalaman belajar (learning experiences) dan proses pembelajaran yang bermuara pada pembentukan karakter, serta tahap evaluasi hasil. Sedangkan secara mikro diantaranya melalui belajar mengajar di kelas : kegiatan keseharian dalam bentuk budaya satuan pendidikan (school culture), Kegiatan kokurikuler dan atau ekstra-kurikuler serta keseharian di rumah, dan dalam masyarakat. Dalam kegiatan pembelajaran di kelas pengembangan nilai/karaktrer dapat dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua mata pelajaran (embeded approach). Sementara khusus untuk matapelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), karena memang misinya adalah mengembangkan nilai dan sikap, maka pengembangan nilai/ karakter harus menjadi fokus utama yang dapat menggunakan berbagai strategi maupun metode pendidikan nilai (value/character education).baik sebagai dampak pembelajaran secara langsung (instructional effects) maupun sebagai dampak penyerta (nurturrant effects) Makalah ini memfokuskan pada pembentukan karakter dalam konteks structured learning-experiences, dengan permasalahan bagaimana membangun karakter peserta didik melalui penerapan alternatif pendekatan pembelajaran? Adapun tujuannya adalah untuk dapat mengetahui alternatif pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru (maupun calon guru) dalam membangun karakter peserta didik. 2. Konsep Karakter dan Pendidikan Karakter Tidak semua orang mempunyai pemahaman yang sama tentang apa sesungguhnya arti karakter, sehingga banyak asumsi yang timbul atas pengertian karakter. Secara umum Doni Koesuma A (2010) mengatakan karakter sering diasosiasikan dengan apa yang disebut dengan temperamen yang memberinya pada pengertian yang menekankan unsur psikososial yang dikaitkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan, selain itu karakter bisa juga dipahami dari sudut pandang behavioral yang menekankan unsur somatopsikis yang dimiliki individu sejak lahir. Dalam hal ini istilah karakter dianggap sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari seseorang yang bersumber dari bentukanbentukan yang diterima dari lingkungan misalnya keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seserorang sejak lahir. Jakoep Ezra (2008) mendefinisikan karakter sebagai cultur untuk sebuah kesuksesan yang langgeng dan tahan uji, karena telah melewati banyak persitiwa dalam kehidupan ini. Jadi menurut Jakoep karakter adalah sebuah kekuatan dan landasan, karajter adalah sebuah jaminan untuk sukses dan tahan uji di masa sulit dalam menyongsong masa depan yang penuh harapan. Untuk itu agar kemenangan dapat diraih dalam upaya mengatasi kesulitan hidup diperlukan sikap karakter yang tepat. Soemarmo Soedarsono (2010) mengarti-kan karakter adalah nilai-nilai yang terpatri dalam diri kita melalui pendidikan, pengalaman, percobaan, pengorbanan dan pengaruh lingkungan yang dipadukan dengan nilai-nilai dari dalam diri manusia sehingga menjadi semacam nilai intrinsik yang mewujud dalam sistem daya juang yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku kita. Sementara Imam Al-Ghazali mengatakan akhlak adalah sifat yang tertanam/menghujam dalam jiwa dan sifat itu, seseorang akan secara spontan dapat dengan mudah memancarkan sikap, tindakan dan perbuatan. Di dalam Kebijakan Nasional (2010:7) karakter diartikan sebagai nilai-nilai khas-baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyata 2

3 berkehidupan baik dan berdampak baik terhadap lingkungan) yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku. Karakter secara koheren memancar dari hasil olah piker, olah hati, olah raga, serta olah rasa dan karsa seseorang atau sekelompok orang. Karakter merupakan ciri khas seseorang atau sekelompok orang yang mengandung nilainilai, kemampuan, kapasitas moral dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan. Sedangkan karakter bangsa adalah kualitas perilaku kolektif kebangsaan yang khas-baik yang tercermin dalam kesadaran pemahaman, rasa, karsa dan perlialku bebangsa dabn bernegara sebagai hasil olah piker, olah hati, olah raga dan olah rasa seseorang atau sekelompok orang. building) Seperti telah dikemukakan, terwujudnya dan terbentuknya bangsa Indonesia tidak dengan sendirinya melainkan harus diupayakan, diusahakan dan diperjuangkan terus menerus. Setiap kali upaya menanamkan nilainilai kebangsaan "kendor maka merosot pulalah semangat kebangsaan bangsa Indonesia. Pembangunan bangsa Indonesia tidak ada hentinya dan tidak ada akhirnya selama bangsa Indonesia Ini masih eksis dan masih dikehendaki eksistensinya. Sehubungan dengan hal tersebut, beberapa tahun belakangan ini istilah karakter muncul dan mencuat kembali, adalah sesungguhnya istilah tersebut sudah lama didengungkan oleh tokoh pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara. Ki Hadjar Dewantara mengungkap kan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak kita. Secara diagramatik, bentuk konfigurasi karakter dalam konsteks totalitas proses psikologis dan sosio kultural tersebut dapat dilihat dari konfigurasi sebagai berikut: OLAH PIKIR : CERDAS OLAH RAGA Bersih dan S h t OLAH HATI : bertanggu ng Jawab OLAH Sumber: RASA DAN KARSA Peduli Kementrian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia (2010) 3 Selanjutnya apabila kita simak secara substantive, maka character terdiri atas tiga yaitu operatives values, values in action atau tiga unjuk perilaku yang satu sama lain saling berkaitan yaitu moral knowing, moral feeling, and moral behaviour. Lickona (1991:51) menyebutkan bahwa karakter yang baik adalah terdiri atas proses psikologis knowing the good, desiring the good, and doing the goodhabit of the mind, habit of the heart and habit of action. Dari ketika substansi dan proses psikologis tersebut bermuara pada kehidupan moral dan kematangan moral individu. Karakter juga dimaknai sebagai kualitas kepribadian yang baik, dalam arti tahu kebaikan, mau berbuat baik dan nyata berperilaku baik, yang secara koheren akan memancar sebagai hasil olah pikir, olah hati olah raga, dan olah rasa dan karsa. Sebagai suatu konsep akademis, karakter memiliki makna substantive dan proses psikologis yang sangat mendasar. Lickona (1992:50) merujuk pada konsep good character yang dikemukakan oleh Aristoteles sebagai the life of right conduct-rignt in relation to other persons and in relation to oneself. Pengertian ini dimaknai bahwa karakter dapat diartikan sebagai suatu kehidupan berprilaku baik/penuh kebajikan yakni berprilaku baik terhadap pihak lain. Pihak lain dalam hal ini adalah Tuhan Yang Mahas Esa, manusia dan alam semesta) dan terhadap dirinya sendiri. Selanjutnya Lickona menjelaskan bahwa dalam dunia modern sekarang ini kita cenderung melupakan the virtous life (kehidupan yang penuh kebajikan, termasuk di dalamnya self oriented virtous atau kebajikan terhadap diri sendiri, seperti self control and moderation atau pengendalian diri dan kesabaran, dan other oriented virtous atau kebajikan terhadap orang lain, seperti generously and compassion (kesadaran berbagi dan merasakan kebaikan). Selanjutnya apa yang dimaksud dengan pendidikan karakter? Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilainilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus

4 dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. Secara imperative pendidikan karakter bukanlah hal yang baru dalam sistem pendidikan nasional kita sebab jika jika kita telaah tujuan pendidikan national kita yang terdapat dalam semua Undang-Undang yang pernah berlaku, diantaranya adalah UU No 12 Tahun 1954 Jo UU yang menyebutkan bahwa UU No.4 Tahun 1950, bahwa tujuan pendidikan dan pengajaran menurut UU No. 4 Tahun 1950 Bab. II pasal 3 adalah membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air, Selanjutnya di dalam di dalam UU No. 20 Tahun 1989 Undang- Undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional meneguhkan dasar pendidikan nasional adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar Hal tersebut termaktub dalam Bab II pasal 2 yang bunyi lengkapnya adalah Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Sedangkan tujuan pendidikan nasional tercantum dalam Bab II pasal 4 yang berbunyi Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Pendidikan karakter dapat diintegrasidalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan seharihari. Dengan demikian, pembelajaran nilainilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat Pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana peran pendidikan dalam membangun karakter bangsa yang berbudaya dan berkarakter. Pentingnya membangun karakter ini nampak dari adanya perhatian pemerintah dalam membangun peradaban bangsa, salah satunya dapat dilihat dari pidato Menteri Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa pilihan tema yang diambil dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) tahun 2010 ini adalah "Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa." Pemilihan tema ini menjadi tepat dengan perkembangan dan perubahan aspirasi masyarakat yang sangat dinamis. Bahkan pada peringatan HARDIKNAS tahun 2011, Menteri Pendidikan Nasional menetapkan tema Pendidikan Karakter sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa dan subtema adalah Raih Prestasi Junjung Tinggi Budi Pekerti. Dari tema peringatan Hardiknas tahun 2011 ini lebih dieksplisitkan dengan sub tema budi pekerti. Hal ini sesungguhnya jika kita telaah ke belakang sudah lama dikemukan oleh bapak pendidikan kita Ki Hajar Dewantara. Setiap bangsa mempunyai budaya. Bangsa yang berbudaya artinya bangsa yang memiliki dan menjunjung tinggi budaya yang hidup dan berkembang di dalam bangsa tersebut. Ki Hajar Dewantara ( ) mengartikan kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai. Koentjaraningrat ( ) menyebutkan kebudayaan berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar beserta keseluruhan dari hasil budi pekertinya. Jika disimak dari pengertian budaya di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa sesungguhnya kebudayaan merupakan identitas suatu bangsa yang dapat membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lainnya. Identitas budaya terdiri atas perangkat konsep dan nilai-nilai yang mengatur hubungan antara manusia dan Tuhan, antar sesama manusia serta antara manusia dan alam semesta. Disamping membentuk budaya bangsa, melalui pendidikan juga dapat membangun karakter bangsa yang berkarakter. Menurut Sigmund Freud (dalam Syaifudin dan Karim, 4

5 2008 : 48), menyebutkan character is striving sistem with underly behaviour. Karakter merupakan kumpulan tata nilai yang terwujud dalam suatu sistem daya dorong yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku yang dapat ditampilkan secara mantap. Begitu pula dengan UU Sisdiknas yang sekarang sedang berlaku saat ini yakni No. 20 Tahun 2003, yang juga menyebutkan pentingnya karakter yang diharapkan melalui proses pendidikan (di sekolah). Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Jika dicermati dari tahun ke tahun di atas jelaslah bahwa pendidikan karakter bukanlah merupakan sesuatu yang baru, melainkan sudah la menjadi perhatian pemerintah, hanya saja implementasinya belum begitu ditekankan, namun sejak tahun 2007 istilah pendidikan karakter ini baru muncul kembali, bahkan sudah diperkenalkan oleh Bapak Pendidikan Nasional kita Ki Hajar Dewantara sejak jauh sebelumnya. Menurut-nya pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuh-nya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Pendidikan yang humanis menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang (menurut Ki Hajar Dewantara menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif)). Singkatnya, educate the head, the heart, and the hand! Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa secara psikologi dan sosio kultural, pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia baik secara kognitif, afektif, konatif dan psikomotor) dalam konteks interaksi social kultural baik dalam kehidupan keluarga, satuan pendidikan maupun dalam kehidupan bermasyarakat dan berlangsung sepanjang hayat. Kementrian Pendidikan Nasional 2010 :10 mengambarkan konsep ini dalam bentuk konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosio kultural yang dikelompokkan dalam olah hati atau spiritual and emotional development, Olah pikir atau intellectual development, olah raga dan kinestetik atau psysical and kinesthetic development, dan olah rasa dan karsa atau affective and creativity development. Wahab (2010) mengemukakan bahwa salah satu kebijakan penting dalam pembangunan pendidikan nasional jangka menengah adalah adanya penekanan pendidikan karakter. Karena pendidikan karakter dapat menjadikan individu ''smart and good''. Menurutnya pendidikan karakter bukanlah suatu proses yang linier, melainkan suatu proses dinamis. Pendidikan karakter membutuhkan suatu lingkungan yang aman, positif dan teratur. Demikian pula membutuhkan ''condusive school and home climate'', ujarnya ketika membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia (HISPISI) Dari uraian di atas jelaslah bahwa pendidikan merupakan upaya yang dapat ditempuh untuk mewujudkan karakter bangsa yang berbudaya dan berkarakter. Menurut Suhardi (2010) bahwa "Pendidikan budaya dan karakter bangsa mesti dipraktekkan sehingga titik beratnya bukan pada teori. Apalagi, selama ini pendidikan budaya seperti "hidden curiculum." Selanjutnya Kementrian Pendidikan Nasional mengembangkan Desain Induk Pendidikan Karakter yang merupakan kerangka paradigmatik implementasi pembangunan karakter bangsa melalui sistem pendidikan, yaitu : Secara makro pengembangan karakter dapat dibagi dalam tiga tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi hasil. a. Tahap perencanaan, pada tahap ini dikembangkan perangkat karakter yang digali, dikristalisasi dan dirumuskan dengan menggunakan berbagai sumber, antara lain pertimbangan filosofis: agama, Pancasila, UUD 1945, UU Sisdiknas. teoritis: teori tentang otak (brain theories), dan lain-lain, empiris: berupa pengalaman dan praktek terbaik (best practices) 5

6 b. Tahap implementasi, yang dikembangkan adalah pengalaman belajar (learning experiences) dan proses pembelajaran yang bermuara pada pem-bentukan karakter. Proses ini dilakukan dalam tiga lingkungan yaitu pendidikan formal, in formal dan non formal (sekolah, keluarga dan masyarakat). Dalam masing-masing pilar akan dikembangkan dua jenis pengalaman belajar yaitu : intervensi dan habituasi. Dalam intervensi, dikembangkan suasana interaksi belajar dan pembelajaran yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan pembentukan karakter dengan menerapkan kegiatan terstruktur (structu-red learning experiences). Untuk itu peran guru sangat penting dan menentukan, sedangkan pada habituasi diciptakan situasi dan konsisi (persistent-life situation) dan reinforcement yang memungkinkan peserta didik membiasakan diri berperilaku sesuai dengan nolai-nilai dan karakter yang telah diinternalisasikan melalui proses intervensi. Proses pembudayaan dan permberdayaan yang mencakup pemberian contoh, pembelajaran dan pembiasaan dan pe guatan harus dikembangkan secara Dalam konteks makro, kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia pelaksanaannya merupakan komitmen dari seluruh sektor kehidupan, baik dalam sector pendidikan nasional maupun lainya. 6 c. Pada tahap evaluasi hasil, dilakukan asessmen program untuk perbaikan berkelanjutan untuk mendeksi aktualisasi karakter dalam diri peserta didik sebagai indicator bahwa proses pembudayaan dan pemberdayakan karakter itu berhasil baik. Sebaliknya pada tataran mikro, Kemendiknas, 2010:13-14) menyebutkan dapat ditata sebagai berikut : a) Secara mikro pengembangan nilai/ karakter dapat dibagi menjadi empat pilar yaitu : Belajar mengajar di kelas Kegiatan keseharian dalam bentuk budaya satuan pendidikan (school culture) Kegiatan ko-kurikuler dan atau ekstrakurikuler serta keseharian di rumah, dan dalam masyarakat. b) Dalam kegiatan belajar mengajar di kelas pengembangan nilai/karaktrer dapat dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua mata pelajaran (embeded approach). Sementara khusus untuk matapelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), karena memang misinya adalah mengembangkan nilai dan sikap, maka pengembangan nilai/karakter harus menjadi fokus utama yang dapat mengguna-kan berbagai strategi maupun metode pendidikan nilai (value/character education). Kedua matapelajaran ini nilai/ karakter dapat dikembangkan baik sebagai dampak pembelajaran secara langsung (instructional effects) maupun sebagai dampak penyerta (nurturrant effects) c) Dalam lingkungan satuan pendidikan, dapat dilakukan dengan dengan dikondisi-kan agar lingkungan fisik, sosial dan kultural satuan pendidikan yang me-mungkinkan para siswa bersama dengan warga satuan pendidikan lainnya terbiasa membangun kegiatan kesehariannya mencerminkan perwujudan nilai/karakter, misalnya menjaga kebersihan sekolah, dengan menyediakan tempat-tempat sampah; dan lain-lain. d) Di lingkungan keluarga dan masyarakat, diupayakan agar terjadi proses penguatan dari orang tua/wali serta tokoh-tokoh masyarakat terhadap perilaku berkarakter mulia yang di kembangkan di satuan pendidikan menjadi kegiatan keseharian siswa ketika berada di rumah maupun dalam lingkungan masyarakat. KBM di Kelas Pembiasan dalam kehidupan keseharian di satuan pendidikan Penerapan pembiasaan kehidupan keseharian di rumah yg sama dg di satuan pendidikan Budaya Sekolah (Kegiatan kehidupan keseharian di Satuan Pendidikan Keg eksku rikuler Integrasi dlm KBM dlm setiap Mapel Keg kesehari an di rmh Integrasi ke dalam kegiatan ekstrakurikuler : pramuka, olahraga, karya tulis dll Sumber : Kementrian Koordinator Kesejahteraan Rakyat RI (2010) g

7 3. Alternatif Pendekatan Pembelajaran Dalam Membangun Karakter Peserta Didik Berdasarkan permasalahan yang menjadi fokus makalah ini, maka berikut ini akan disajikan alternatif pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru dalam membangun karakter peserta didiknya. Sebelum dikemukakan alternatif tersebut, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan pendekatan pembelajaran. Menurut Sudradjat (2008), pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnyamasih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pen-dekatannya, pembelajaranterdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pem-belajaran yang berorientasi atauberpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yangberorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).karakter berkenaan dengan nilai-nilai dan moral, maka pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan dalam pendidikan karakter adalah pendekatan yang berkenaan dengan penanaman nilai maupun moral. Dengan kata lain proses pembelajaran pembentukan karakter dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan yang dapat meng-akomodasi kemajemukan dan kedinamisan masyarakat sebagai sumber materi pem-belajaran, akan tetapi tetap memperhatikan dan mengembangkan nilai-nilai. Oleh karena-nya pembelajaran memerlukan multi pendekatan, diantaranya di antaranya adalah : Superka 1976, menyebutkan setidaknya ada lima pendekatan dalam penanaman nilai yakni: 1. Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach), 2. Pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach), 3. Pendekatan analisis nilai (values analysis approach), 4. Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach), dan 5. Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach) (1) Pendekatan Penanaman Nilai Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach) adalah suatu pendekatan yang memberi penekanan pada penanaman nilainilai sosial dalam diri siswa. Pendekatan ini sebenarnya merupakan pendekatan tradisional. Banyak kritik dalam berbagai literatur barat yang ditujukan kepada pendekatan ini. Pendekatan ini dipandang indoktrinatif, tidak sesuai dengan perkembang-an kehidupan demokrasi (Banks, 1985; Windmiller, 1976). Pendekatan ini dinilai mengabaikan hak anak untuk memilih nilainya sendiri secara bebas. Menurut Raths & Harmin et al. (1978) kehidupan manusia berbeda karena perbedaan waktu dan tempat. Kita tidak dapat meramalkan nilai yang sesuai untuk generasi yang akan datang. Menurut beliau, setiap generasi mempunyai hak untuk menentukan nilainya sendiri. Oleh karena itu, yang perlu diajarkan kepada generasi muda bukannya nilai, melainkan proses, supaya mereka dapat menemukan nilai-nilai mereka sendiri, sesuai dengan tempat dan zamannya. (2) Pendekatan Perkembangan Kognitif Pendekatan perkembangan kognitif ini lebih mendorong siswa untuk berpikir aktif tentang masalah-masalah yang berkenaan dengan moral dan dalam membuat keputusankeputusan moral. Perkembangan moral menurut pendekatan ini dilihat sebagai perkembangan tingkat berpikir dalam membuat pertimbangan moral, dari suatu tingkat yang lebih rendah menuju suatu tingkat yang lebih tinggi (Elias, 1989). Ada dua hal yang utama yang menjadai tujuan yang ingin dicapai oleh pendekatan ini. Pertama, membantu siswa dalam membuat pertimbangan moral yang lebih kompleks berdasarkan kepada nilai yang lebih tinggi. Kedua, mendorong siswa untuk mendiskusikan alasan-alasannya ketika memilih nilai dan posisinya dalam suatu masalah moral (Superka, et. al., 1976; Banks, 1985). Sebetulnya pendekatan kognitif pertama kali dikemukakan oleh Dewey (Kohlberg 1971, 1977). Selanjutkan dikembangkan lagi oleh Peaget dan Kohlberg (Freankel, 1977; Hersh, et. al. 1980). Dewey membagi perkembangan moral anak menjadi tiga tahap (level) sebagai berikut: a) Tahap "premoral" atau "preconventional". Pada tahap ini tingkah laku seseorang 7

8 didorong oleh desakan yang bersifat fisikal atau sosial; b) Tahap "conventional". Pada tahap ini seseorang mulai menerima nilai dengan sedikit kritis, berdasarkan kepada kriteria kelompoknya. c) Tahap "autonomous". Pada tahap ini seseorang berbuat/bertingkah laku sesuai dengan akal pikiran dan pertimbangan dirinya sendiri, tidak sepenuhnya menerima kriteria kelompoknya. Piaget berusaha mendefinisikan tingkat perkembangan moral pada anak-anak melalui pengamatan dan wawancara (Windmiller, 1976). Dari hasil observasi terhadap anak-anak ketika sedang bermain, dan jawaban mereka atas pertanyaan mengapa mereka patuh kepada peraturan, Piaget sampai pada suatu kesimpulan bahwa perkembangan kemampuan kognitif pada anak-anak mempengaruhi pertimbangan moral mereka. Kohlberg (1977) juga mengembangkan teorinya berdasarkan pada -asumsi umum tentang teori perkembangan kognitif dari Dewey dan Piaget di atas. Seperti dijelaskan oleh Elias (1989), Kohlberg mendefinisikan kembali dan mengembangkan teorinya menjadi lebih rinci. Tingkat-tingkat perkem-bangan moral menurut Kohlberg dimulai dari konsekuensi yang sederhana, yang berupa pengaruh kurang menyenangkan dari luar ke atas tingkah laku, sampai kepada peng-hayatan dan kesadaran tentang nilai-nilai kemanusian universal. Lebih tinggi tingkat berpikir adalah lebih baik, dan otonomi lebih baik daripada heteronomi. (3) Pendekatan Analisis Nilai Berbeda dengan pendekatan lainnya, pendekatan analisis nilai atau values analysis approach ini lebih menekankan pada perkembangan kemampuan siswa untuk berpikir logis, dengan cara menganalisis masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial. Jika dibandingkan dengan pendekatan perkembangan kognitif, salah satu perbedaan penting antara keduanya bahwa pendekatan analisis nilai lebih menekankan pada pembahasan masalah-masalah yang memuat nilai-nilai sosial. Adapun pendekatan perkembangan kognitif memberi penekanan pada dilemma moral yang bersifat per-seorangan. Ada enam langkah analisis nilai yang penting dan perlu diperhatikan dalam proses pendidikan nilai menurut pendekatan ini 8 (Hersh, et. al., 1980; Elias, 1989), sebagai berikut: Adapun langkah Analisis Nilai Tugas Penyelesaian Masalah adalah: Mengidentifikasi dan menjelaskan nilai yang terkait Mengurangi perbedaan penafsiran tentang nilai yang terkait Mengumpulkan fakta yang berhubungan Mengurangi perbedaan dalam fakta yang berhubungan Menguji kebenaran fakta yang berkaitan Mengurangi perbedaan kebenaran tentang fakta yang berkaitan Menjelaskan kaitan antara fakta yang bersangkutan Mengurangi perbedaan tentang kaitan antara fakta yang bersangkutan Merumuskan keputusan moral sementara Mengurangi perbedaan dalam rumusan keputusan sementara Menguji prinsip moral yang digunakan dalam pengambilan keputusan Mengurangi perbedaan dalam pengujian prinsip moral yang diterima (4) Pendekatan Klarifikasi Nilai Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach) memberi penekanan pada usaha membantu siswa dalam mengkaji perasaan dan perbuatannya sendiri, untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang nilainilai mereka sendiri. Pendekatan ini memberi penekanan pada nilai yang sesungguhnya dimiliki oleh seseorang. Bagi penganut pendekatan ini, nilai bersifat subjektif, ditentukan oleh seseorang berdasarkan kepada berbagai latar belakang pengalamannya sendiri, tidak ditentukan oleh faktor luar, seperti agama, masyarakat, dan sebagainya. Oleh karena itu, bagi penganut pendekatan ini isi nilai tidak terlalu penting. Hal yang sangat dipentingkan dalam program pendidikan adalah mengembangkan keterampilan siswa dalam melakukan proses menilai. Ada tiga proses klarifikasi nilai menurut pendekatan ini. Dalam tiga proses tersebut terdapat tujuh subproses, yaitu : Pertama : Memilih 1. dengan bebas 2. dari berbagai alternatif 3. setelah mengadakan pertimbangan tentang berbagai akibatnya

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing,

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan

Lebih terperinci

URGENSI PENDIDIKAN NILAI DALAM UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER (Ummyssalam A.T.A Duludu) A. Pendahuluan Pendidikan nilai menyangkut budi pekerti memiliki

URGENSI PENDIDIKAN NILAI DALAM UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER (Ummyssalam A.T.A Duludu) A. Pendahuluan Pendidikan nilai menyangkut budi pekerti memiliki URGENSI PENDIDIKAN NILAI DALAM UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER (Ummyssalam A.T.A Duludu) A. Pendahuluan Pendidikan nilai menyangkut budi pekerti memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan wahana mengubah kepribadian dan pengembangan diri. Oleh

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan wahana mengubah kepribadian dan pengembangan diri. Oleh BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan wahana mengubah kepribadian dan pengembangan diri. Oleh karena itu tentu pendidikan juga akan membawa dampak yang besar terhadap peningkatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan bangsa, oleh karena itu setiap individu yang terlibat dalam

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan bangsa, oleh karena itu setiap individu yang terlibat dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan memegang peranan penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, oleh karena itu setiap individu yang terlibat dalam pendidikan dituntut berperan

Lebih terperinci

Oleh: Dr. Marzuki Universitas Negeri Yogyakarta

Oleh: Dr. Marzuki Universitas Negeri Yogyakarta PENDIDIKAN KARAKTER DI SMP Oleh: Dr. Marzuki Universitas Negeri Yogyakarta Latar Belakang UUSPN Pasal 3 menyebutkan: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban

Lebih terperinci

MERANCANG PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MAHASISWA STAN

MERANCANG PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MAHASISWA STAN MERANCANG PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MAHASISWA STAN Pendahuluan Krisis multidimensional merupakan masalah besar yang sedang dihadapi bangsa Indonesia. Karakter bangsa yang berada di titik nadir merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembentukan karakter (character building) generasi bangsa. Pentingnya pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. pembentukan karakter (character building) generasi bangsa. Pentingnya pendidikan BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal turut bertanggung jawab dalam pembentukan karakter (character building) generasi bangsa. Pentingnya pendidikan karakter

Lebih terperinci

PERAN GURU DALAM MENANAMKAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR 1

PERAN GURU DALAM MENANAMKAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR 1 PERAN GURU DALAM MENANAMKAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR 1 Fauzatul Ma rufah Rohmanurmeta 2 IKIP PGRI Madiun ABSTRAK Salah satu kewajiban utama yang harus dijalankan oleh guru kepada peserta didik

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. pendidikan karakter dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Di samping

BAB 1 PENDAHULUAN. pendidikan karakter dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Di samping BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini, dunia pendidikan menghadapi berbagai masalah yang sangat kompleks yang perlu mendapatkan perhatian bersama. Fenomena merosotnya karakter kebangsaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berubah dari tradisional menjadi modern. Perkembangan teknologi juga

BAB I PENDAHULUAN. berubah dari tradisional menjadi modern. Perkembangan teknologi juga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Zaman selalu berubah setiap waktu, keadaan tidak pernah menetap pada suatu titik, tetapi selalu berubah.kehidupan manusia yang juga selalu berubah dari tradisional menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. BAB I PENDAHULUAN A. Konteks penelitian Pendidikan merupakan wahana untuk membentuk manusia yang berkualitas, sebagaimana dalam undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan pasal 3, yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan nasional memiliki peranan yang sangat penting bagi warga negara. Pendidikan nasional bertujuan untk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. adalah generasi penerus yang menentukan nasib bangsa di masa depan.

BAB I PENDAHULUAN. adalah generasi penerus yang menentukan nasib bangsa di masa depan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia sesungguhnya memiliki modal besar untuk menjadi sebuah bangsa yang maju, adil, makmur, berdaulat, dan bermartabat. Hal itu didukung oleh sejumlah fakta

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sekolah menyelenggarakan proses pembelajaran untuk membimbing, mendidik,

I. PENDAHULUAN. Sekolah menyelenggarakan proses pembelajaran untuk membimbing, mendidik, I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Sekolah menyelenggarakan proses pembelajaran untuk membimbing, mendidik, melatih dan mengembangkan kemampuan siswa guna mencapai tujuan pendidikan nasional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum pendidikan mampu manghasilkan manusia sebagai individu dan

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum pendidikan mampu manghasilkan manusia sebagai individu dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional harus mencerminkan kemampuan sistem pendidikan nasional untuk mengakomodasi berbagi tuntutan peran yang multidimensional.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 pasal 3 menyatakan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prasyarat mutlak

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prasyarat mutlak 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prasyarat mutlak untuk mencapai tujuan pembangunan, salah satu wahana untuk meningkatkan kualitas Sumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan sejatinya adalah untuk membangun dan mengembangkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan sejatinya adalah untuk membangun dan mengembangkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sejatinya adalah untuk membangun dan mengembangkan potensi manusia agar memiliki karakter, integritas, dan kompetensi yang bermakna dalam kehidupan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seutuhnya sangatlah tidak mungkin tanpa melalui proses pendidikan.

BAB I PENDAHULUAN. seutuhnya sangatlah tidak mungkin tanpa melalui proses pendidikan. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pendidikan merupakan sebuah usaha yang ditempuh oleh manusia dalam rangka memperoleh ilmu yang kemudian dijadikan sebagai dasar untuk bersikap dan berperilaku. Karena

Lebih terperinci

GRAND DESIGN PENDIDIKAN KARAKTE& Oleh: NUR ROHMAH MUKTIANI, MPd. NIP

GRAND DESIGN PENDIDIKAN KARAKTE& Oleh: NUR ROHMAH MUKTIANI, MPd. NIP GRAND DESIGN PENDIDIKAN KARAKTE& Oleh: NUR ROHMAH MUKTIANI, MPd. NIP. 19731006 20011 2 001 Disampaikan dalamsrawung Ilmiah jurusan POR FIK UNY 16 Februari2012 ! GRAND DESIGN PENDIDIKAN KARAKTER A. Latar

Lebih terperinci

PEMBELAJAR YANG MENDIDIK DAN BERKARAKTER

PEMBELAJAR YANG MENDIDIK DAN BERKARAKTER PEMBELAJAR YANG MENDIDIK DAN BERKARAKTER Pengertian Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peranan sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk

BAB I PENDAHULUAN. peranan sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan sarana yang secara sengaja dirancang untuk melaksanakan pendidikan. Semakin maju suatu masyarakat semakin penting peranan sekolah dalam mempersiapkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan memudarnya sikap saling menghormati, tanggung jawab,

BAB I PENDAHULUAN. dengan memudarnya sikap saling menghormati, tanggung jawab, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Merosotnya moralitas bangsa terlihat dalam kehidupan masyarakat dengan memudarnya sikap saling menghormati, tanggung jawab, kesetiakawanan sosial (solidaritas),

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan satu dari sekian banyak hal yang tidak dapat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan satu dari sekian banyak hal yang tidak dapat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan satu dari sekian banyak hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan, seseorang dapat semakin berkembang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. membutuhkan sumber daya manusia yang dapat diandalkan. Pembangunan manusia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. membutuhkan sumber daya manusia yang dapat diandalkan. Pembangunan manusia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia sebagai negara berkembang dalam pembangunannya membutuhkan sumber daya manusia yang dapat diandalkan. Pembangunan manusia Indonesia yang pada

Lebih terperinci

PEMBENTUKAN WATAK BANGSA INDONESIA MELALUI PENDIDIKAN PANCASILA SEBAGAI UPAYA PEMBANGUNAN BANGSA INDONESIA ABAD 21

PEMBENTUKAN WATAK BANGSA INDONESIA MELALUI PENDIDIKAN PANCASILA SEBAGAI UPAYA PEMBANGUNAN BANGSA INDONESIA ABAD 21 PEMBENTUKAN WATAK BANGSA INDONESIA MELALUI PENDIDIKAN PANCASILA SEBAGAI UPAYA PEMBANGUNAN BANGSA INDONESIA ABAD 21 Machful Indra Kurniawan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah mencerdaskan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembinaan moral bagi siswa sangat penting untuk menunjang kreativitas. siswa dalam mengemban pendidikan di sekolah dan menumbuhkan

BAB I PENDAHULUAN. Pembinaan moral bagi siswa sangat penting untuk menunjang kreativitas. siswa dalam mengemban pendidikan di sekolah dan menumbuhkan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembinaan moral bagi siswa sangat penting untuk menunjang kreativitas siswa dalam mengemban pendidikan di sekolah dan menumbuhkan karakter siswa yang diharapkan bangsa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indri Cahyani

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah  Indri Cahyani 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan menurut UNESCO merupakan upaya mempersiapkan manusia untuk bisa hidup di masyarakat dan harus sesuai dengan tuntutan kebutuhan pendidikan masa lalu,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dan Pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita permasalahan kebangsaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dan Pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita permasalahan kebangsaan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan karakter yang merupakan upaya perwujudan amanat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita permasalahan kebangsaan yang berkembang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar manusia menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan bagi perannya dimasa yang akan datang.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 pada Pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Karakter merupakan hal sangat esensial dalam berbangsa dan

BAB I PENDAHULUAN. Karakter merupakan hal sangat esensial dalam berbangsa dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karakter merupakan hal sangat esensial dalam berbangsa dan bernegara, oleh sebab itu hilangnya karakter akan menyebabkan hilangnya generasi penerus bangsa. Karakter

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan usaha membina kepribadian dan kemajuan manusia

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan usaha membina kepribadian dan kemajuan manusia I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan usaha membina kepribadian dan kemajuan manusia baik fisik maupun moril, sehingga pendidikan memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia khususnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. produktif. Di sisi lain, pendidikan dipercayai sebagai wahana perluasan akses.

BAB I PENDAHULUAN. produktif. Di sisi lain, pendidikan dipercayai sebagai wahana perluasan akses. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan aspek penting bagi perkembangan sumber daya manusia, sebab pendidikan merupakan wahana atau salah satu instrumen yang digunakan bukan saja

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan teknis (skill) sampai pada pembentukan kepribadian yang kokoh

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan teknis (skill) sampai pada pembentukan kepribadian yang kokoh 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan mengacu pada berbagai macam aktifitas, mulai dari yang sifatnya produktif-material sampai kreatif-spiritual, mulai dari proses peningkatan kemampuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. BP. Dharma Bhakti, 2003), hlm. 6. 2

BAB I PENDAHULUAN. BP. Dharma Bhakti, 2003), hlm. 6. 2 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Pendidikan karakter saat ini memang menjadi isu utama pendidikan, selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa. Dalam UU No 20 Tahun 2003

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya melalui proses pembelajaran ataupun dengan cara lain yang

BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya melalui proses pembelajaran ataupun dengan cara lain yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran ataupun dengan cara lain yang dikenal dan diakui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Lutma Ranta Allolinggi, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Lutma Ranta Allolinggi, 2013 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan adalah upaya sadar dan terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar tumbuh berkembang menjadi manusia yang mandiri,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan karakter penting bagi bangsa Indonesia, karena untuk melahirkan generasi bangsa yang tangguh. Bung Karno menegaskan bahwa bangsa ini harus dibangun dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. BP. Dharma Bhakti, 2003), hlm Depdikbud, UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta :

BAB I PENDAHULUAN. BP. Dharma Bhakti, 2003), hlm Depdikbud, UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta : BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan karakter saat ini memang menjadi isu utama pendidikan, selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa. Dalam UU No 20 Tahun 2003

Lebih terperinci

Kompetensi Inti Kompetensi Dasar

Kompetensi Inti Kompetensi Dasar Kompetensi Inti 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukan sikap sebagai

Lebih terperinci

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN. Materi Kuliah. Latar Belakang Pendidikan kewarganegaraan. Modul 1

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN. Materi Kuliah. Latar Belakang Pendidikan kewarganegaraan. Modul 1 PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Materi Kuliah Latar Belakang Pendidikan kewarganegaraan Modul 1 0 1. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan dapat mengerti dan memahami

Lebih terperinci

RENCANA AKSI NASIONAL PENDIDIKAN KARAKTER KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

RENCANA AKSI NASIONAL PENDIDIKAN KARAKTER KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL RENCANA AKSI NASIONAL PENDIDIKAN KARAKTER KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL 2010 2014 A. Latar Belakang Karakater adalah kualitas individu atau kolektif yang menjadi ciri seseorang atau kelompok. Dalam hal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. globalisasi seperti sekarang ini akan membawa dampak diberbagai bidang

BAB I PENDAHULUAN. globalisasi seperti sekarang ini akan membawa dampak diberbagai bidang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan zaman yang semakin modern terutama pada era globalisasi seperti sekarang ini akan membawa dampak diberbagai bidang kehidupan. Hal ini menuntut adanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik secara aktif mengembangkan

BAB I PENDAHULUAN. belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik secara aktif mengembangkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. negara bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Upaya mewujudkan tujuan

BAB I PENDAHULUAN. negara bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Upaya mewujudkan tujuan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pada pembukaan Undang-undang Dasar 1945 alinea 4 dinyatakan bahwa negara bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Upaya mewujudkan tujuan tersebut, setiap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai Negara yang berkembang dengan jumlah penduduk besar, wilayah

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai Negara yang berkembang dengan jumlah penduduk besar, wilayah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Sebagai Negara yang berkembang dengan jumlah penduduk besar, wilayah yang luas dan komplek, Indonesia harus bisa menentukan prioritas atau pilihan pembangunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. serta ketrampilan yang diperlukan oleh setiap orang. Dirumuskan dalam

BAB I PENDAHULUAN. serta ketrampilan yang diperlukan oleh setiap orang. Dirumuskan dalam 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan manusia seutuhnya bertujuan agar individu dapat mengekspresikan dan mengaktualisasi diri dengan mengembangkan secara optimal dimensi-dimensi kepribadian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Akhlak sebagai potensi yang bersemayam dalam jiwa menunjukkan

BAB I PENDAHULUAN. Akhlak sebagai potensi yang bersemayam dalam jiwa menunjukkan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Akhlak sebagai potensi yang bersemayam dalam jiwa menunjukkan bahwa akhlak bersifat abstrak, tidak dapat diukur, dan diberi nilai oleh indrawi manusia (Ritonga,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. siswa, Departemen Pendidikan Nasional yang tertuang dalam rencana srategis

BAB I PENDAHULUAN. siswa, Departemen Pendidikan Nasional yang tertuang dalam rencana srategis 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Upaya peningkatan mutu sumber daya manusia Indonesia, khususnya siswa, Departemen Pendidikan Nasional yang tertuang dalam rencana srategis (Renstra) Depdiknas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Upaya pemerintah dalam menanamkan kembali nilai-nilai karakter (luhur) dilatar

I. PENDAHULUAN. Upaya pemerintah dalam menanamkan kembali nilai-nilai karakter (luhur) dilatar I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Upaya pemerintah dalam menanamkan kembali nilai-nilai karakter (luhur) dilatar belakangi oleh realita permasalahan kebangsaan yang berkembang saat ini, seperti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah mencerdaskan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang.

I. PENDAHULUAN. karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang. 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan

Lebih terperinci

PENTINGNYA PENDEKATAN KLARIFIKASI NILAI DAN PENDIDIKAN MORAL TERHADAP PEMBELAJARAN DI SEKOLAH. Oleh: Abidinsyah ABSTRAK

PENTINGNYA PENDEKATAN KLARIFIKASI NILAI DAN PENDIDIKAN MORAL TERHADAP PEMBELAJARAN DI SEKOLAH. Oleh: Abidinsyah ABSTRAK PENTINGNYA PENDEKATAN KLARIFIKASI NILAI DAN PENDIDIKAN MORAL TERHADAP PEMBELAJARAN DI SEKOLAH Oleh: Abidinsyah ABSTRAK Moralitas merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam pendidikan, tepatnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. partisipasi dalam proses pembelajaran. Dengan berpartisipasi dalam proses

BAB I PENDAHULUAN. partisipasi dalam proses pembelajaran. Dengan berpartisipasi dalam proses BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keberhasilan suatu proses pembelajaran tidak terlepas dari peran guru dalam mengelola proses pembelajaran di kelas. Namun secara khusus keberhasilan dalam belajar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan

BAB I PENDAHULUAN. Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan (seperti sekolah dan madrasah) yang digunakan untuk menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini proses pembelajaran hendaknya menerapkan nilai-nilai karakter.

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini proses pembelajaran hendaknya menerapkan nilai-nilai karakter. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini proses pembelajaran hendaknya menerapkan nilai-nilai karakter. Hal tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan karakter di Indonesia. Pendidikan

Lebih terperinci

Pendidikan Karakter Melalui Proses Pembiasaan Oleh: Deetje

Pendidikan Karakter Melalui Proses Pembiasaan Oleh: Deetje Pendidikan Karakter Melalui Proses Pembiasaan Oleh: Deetje Sunarsih/deetje@ut.ac.id A. Latar Belakang Di Indonesia, keinginan menjadi bangsa yang berkarakter telah tertanam sejak lama. Hal ini dapat dilihat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Persoalan yang muncul di

BAB I PENDAHULUAN. tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Persoalan yang muncul di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persoalan budaya dan karakter bangsa kini menjadi sorotan tajam masyarakat. Sorotan itu mengenai berbagai aspek kehidupan, tertuang dalam berbagai tulisan di media cetak,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

BAB I PENDAHULUAN. aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar dan tercantum dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi

Lebih terperinci

PENDIDIKAN KARAKTER SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER BANGSA

PENDIDIKAN KARAKTER SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER BANGSA Pendidikan Karakter Sebagai Pembentuk Karakter Bangsa 15 PENDIDIKAN KARAKTER SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER BANGSA Oleh: Yulianti Siantayani 1 Konflik antar suku dan agama yang terus bergulir dari waktu ke

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu faktor yang sangat strategis dan substansial dalam upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) suatu bangsa adalah pendidikan. Pada saat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. karena belajar merupakan kunci untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Tanpa

BAB I PENDAHULUAN. karena belajar merupakan kunci untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Tanpa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap manusia yang telah dimulai sejak dari buaian hingga liang lahat. Oleh sebab itu, setiap manusia wajib untuk belajar baik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dengan pendidikan manusia menjadi lebih mampu beradaptasi dengan

BAB I PENDAHULUAN. Dengan pendidikan manusia menjadi lebih mampu beradaptasi dengan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bagi suatu bangsa pendidikan merupakan hal yang sangat penting. Dengan pendidikan manusia menjadi lebih mampu beradaptasi dengan lingkungan, manusia juga akan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada hakikatnya pendidikan adalah upaya sadar dari suatu masyarakat dan pemerintah suatu negara untuk menjamin kelangsungan hidup dan kehidupan generasi penerus. Selaku

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. terurai, maka dalam pembahasan ini akan disajikan sesuai dengan permasalahan

BAB V PEMBAHASAN. terurai, maka dalam pembahasan ini akan disajikan sesuai dengan permasalahan BAB V PEMBAHASAN Berdasarkan temuan hasil penelitian dalam bentuk wawancara dan dokumentasi yang kemudian dilakukan analisis data temuan hasil penelitian akan dilakukan pembahasan sesuai dengan teori dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan model utama untuk meningkatkan kualitas

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan model utama untuk meningkatkan kualitas 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan model utama untuk meningkatkan kualitas bangsa, karena dengan pendidikan dapat meningkatkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Peran

Lebih terperinci

2015 PEMBINAAN KECERDASAN SOSIAL SISWA MELALUI KEGIATAN PRAMUKA (STUDI KASUS DI SDN DI KOTA SERANG)

2015 PEMBINAAN KECERDASAN SOSIAL SISWA MELALUI KEGIATAN PRAMUKA (STUDI KASUS DI SDN DI KOTA SERANG) 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 berisi rumusan tujuan pendidikan yang kaya dengan dimensi moralitas, sebagaimana disebutkan dalam

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. lain-lain. Perubahan itu merupakan kecakapan baru yang terjadi karena adanya

I. PENDAHULUAN. lain-lain. Perubahan itu merupakan kecakapan baru yang terjadi karena adanya I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belajar merupakan suatu proses perubahan dalam diri seseorang yang ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan pengetahuan,

Lebih terperinci

ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN INDONESIA

ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN INDONESIA ASOSIASI PROFESI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN INDONESIA Sri Muryati Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, IKIP Veteran Semarang Email : srimuryati@yahoo.com Abstrak Guru dalam pembelajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi informasi menyebabkan arus informasi menjadi cepat dan tanpa batas. Hal ini berdampak langsung pada

Lebih terperinci

BULETIN ORGANISASI DAN APARATUR

BULETIN ORGANISASI DAN APARATUR BULETIN ORGANISASI DAN APARATUR PENDIDIKAN KARAKTER DALAM DIMENSI PROSES BELAJAR DAN PEMBELAJARAN (Dapat Dijadikan Bahan Perbandingan dalam Mengembangkan Proses Belajar dan Pembelajaran pada Lembaga Diklat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sebagaimana digariskan dalam Pasal 3 Undang-Undang Republik. RI No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas).

BAB I PENDAHULUAN. Sebagaimana digariskan dalam Pasal 3 Undang-Undang Republik. RI No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas). 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan hal pokok yang dapat menunjang kecerdasan serta keterampilan anak dalam mengembangkan kemampuannya. Pendidikan merupakan sarana yang paling tepat

Lebih terperinci

ETIKA DAN MORAL dalam Pembelajaran

ETIKA DAN MORAL dalam Pembelajaran ETIKA DAN MORAL dalam Pembelajaran Oleh: Dr. Marzuki PUSAT PENDIDIKAN KARAKTER DAN PENGEMBANGAN KULTUR LPPMP - UNY 12/05/2015 1 RIWAYAT PENDIDIKAN BIODATA SINGKAT S1 dari Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga

Lebih terperinci

Landasan Pengembangan Kurikulum. Farida Nurhasanah, M.Pd Sebelas Maret University Surakarta-2012

Landasan Pengembangan Kurikulum. Farida Nurhasanah, M.Pd Sebelas Maret University Surakarta-2012 Landasan Pengembangan Kurikulum Farida Nurhasanah, M.Pd Sebelas Maret University Surakarta-2012 KURIKULUM: PENGERTIAN DASAR Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui

BAB I PENDAHULUAN. potensi dirinya melalui proses pembelajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sebagai salah satu proses perubahan pada pembentuk sikap, kepribadian dan keterampilan manusia untuk menghadapi masa depan. Dalam proses pertumbuhan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia adalah Bangsa yang heterogen, kita menyadari bahwa bangsa

I. PENDAHULUAN. Bangsa Indonesia adalah Bangsa yang heterogen, kita menyadari bahwa bangsa I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia adalah Bangsa yang heterogen, kita menyadari bahwa bangsa Indonesia memang sangat majemuk. Oleh karena itu lahir sumpah pemuda, dan semboyan bhineka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting dan menentukan bagi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting dan menentukan bagi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting dan menentukan bagi kehidupan manusia; demikian pula bagi kehidupan suatu bangsa. Untuk mencapai tujuan suatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Emas Di lingkungan Kemendikbud, pendidikan karakter menjadi fokus

BAB I PENDAHULUAN. Emas Di lingkungan Kemendikbud, pendidikan karakter menjadi fokus A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Pendidikan karakter menjadi isu utama pendidikan, selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa, pendidikan karakter juga diharapkan mampu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum pendidikan bertujuan untuk menjadikan manusia

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum pendidikan bertujuan untuk menjadikan manusia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara umum pendidikan bertujuan untuk menjadikan manusia seutuhnya yang bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat dan bagi negaranya. Hal ini selaras dengan

Lebih terperinci

NUR ENDAH APRILIYANI,

NUR ENDAH APRILIYANI, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Fenomena globalisasi membuahkan sumber daya manusia yang menunjukkan banyak perubahan, maka daripada itu dalam menghadapi era globalisasi seperti sekarang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang berperan penting bagi pembangunan suatu bangsa, untuk itu diperlukan suatu

BAB I PENDAHULUAN. manusia yang berperan penting bagi pembangunan suatu bangsa, untuk itu diperlukan suatu BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan Indonesia merupakan inti utama untuk menunjang pengembangan sumber daya manusia yang berperan penting bagi pembangunan suatu bangsa, untuk itu diperlukan

Lebih terperinci

Landasan dan Tujuan Pendidikan Pancasila

Landasan dan Tujuan Pendidikan Pancasila Landasan dan Tujuan Pendidikan Pancasila 1. LANDASAN PENDIDIKAN PANCASILA Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang diejawantahkan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam menghadapi tantangan globalisasi sekarang ini sangat sekali diperlukan sumber

BAB I PENDAHULUAN. Dalam menghadapi tantangan globalisasi sekarang ini sangat sekali diperlukan sumber 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam menghadapi tantangan globalisasi sekarang ini sangat sekali diperlukan sumber daya manusia yang handal yang mampu menghadapi segala tantangan di masa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (1) yang

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (1) yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (1) yang dimaksud dengan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar

Lebih terperinci

PENDIDIKAN NILAI SEBAGAI SUATU STRATEGI DALAM PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN SISWA

PENDIDIKAN NILAI SEBAGAI SUATU STRATEGI DALAM PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN SISWA PENDIDIKAN NILAI SEBAGAI SUATU STRATEGI DALAM PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN SISWA DYAH KUSUMA WINDRATI 08128043966 dyahkusumawindrati@yahoo.com Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Teknik, Matematika

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan sebagai suatu proses mempunyai dua sisi yang saling berkaitan. Pendidikan bukan sekedar transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) tapi lebih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk mengikuti dan menaati peraturan-peraturan nilai-nilai dan hukum

BAB I PENDAHULUAN. untuk mengikuti dan menaati peraturan-peraturan nilai-nilai dan hukum BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Disiplin merupakan kesadaran diri yang muncul dari batin terdalam untuk mengikuti dan menaati peraturan-peraturan nilai-nilai dan hukum yang berlaku dalam satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003 pasal I mengamanahkan bahwa tujuan

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003 pasal I mengamanahkan bahwa tujuan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan upaya mencapai kedewasaan subjek didik yang mencakup segi intelektual, jasmani dan rohani, sosial maupun emosional. Undang-Undang Sisdiknas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki eksistensi yang lebih bermartabat. Pendidikan formal pada hakikatnya

BAB I PENDAHULUAN. memiliki eksistensi yang lebih bermartabat. Pendidikan formal pada hakikatnya BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini peneliti akan menyajikan terkait dengan latar balakang masalah yang ada dilapangan yang membuat peneliti tertarik melakukan penelitian, kemudian dilanjutkan dengan rumusan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada bab I ini, akan memaparkan beberapa sub judul yang akan digunakan

BAB I PENDAHULUAN. Pada bab I ini, akan memaparkan beberapa sub judul yang akan digunakan BAB I PENDAHULUAN Pada bab I ini, akan memaparkan beberapa sub judul yang akan digunakan dalam penelitian. Sub judul tersebut yaitu latar belakang, fokus masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk mengikuti dan menaati peraturan-peraturan nilai-nilai dan hukum

BAB I PENDAHULUAN. untuk mengikuti dan menaati peraturan-peraturan nilai-nilai dan hukum 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Disiplin merupakan kesadaran diri yang muncul dari batin terdalam untuk mengikuti dan menaati peraturan-peraturan nilai-nilai dan hukum yang berlaku dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh berbagai krisis yang melanda, maka tantangan dalam

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh berbagai krisis yang melanda, maka tantangan dalam 1 BAB I PENDAHULUAN Pada saat bangsa Indonesia menghadapi permasalahan komplek yang disebabkan oleh berbagai krisis yang melanda, maka tantangan dalam menghadapi era globalisasi yang bercirikan keterbukaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan sebuah proses yang ditempuh oleh peserta didik

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan sebuah proses yang ditempuh oleh peserta didik BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sebuah proses yang ditempuh oleh peserta didik melalui proses pembelajaran dengan tujuan untuk memperoleh berbagai ilmu berupa pengetahuan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hidup (life skill atau life competency) yang sesuai dengan lingkungan kehidupan. dan kebutuhan peserta didik (Mulyasa, 2013:5).

BAB I PENDAHULUAN. hidup (life skill atau life competency) yang sesuai dengan lingkungan kehidupan. dan kebutuhan peserta didik (Mulyasa, 2013:5). 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi semua orang. Pendidikan bersifat umum bagi semua orang dan tidak terlepas dari segala hal yang berhubungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan pada dasarnya merupakan proses pengembangan sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan pada dasarnya merupakan proses pengembangan sumber daya 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan pada dasarnya merupakan proses pengembangan sumber daya manusia. Melalui pendidikan seseorang akan dapat mengembangkan potensi dirinya yang diperlukan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu topik yang menarik untuk dibahas, karena

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu topik yang menarik untuk dibahas, karena BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan suatu topik yang menarik untuk dibahas, karena pendidikan adalah upaya manusia untuk memperluas dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bangsa. Dalam pelaksanaannya, proses pendidikan membutuhkan kesiapan,

BAB I PENDAHULUAN. bangsa. Dalam pelaksanaannya, proses pendidikan membutuhkan kesiapan, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan merupakan aspek utama dalam pembentukan moral suatu bangsa. Dalam pelaksanaannya, proses pendidikan membutuhkan kesiapan, kecakapan, ketelitian, keuletan,

Lebih terperinci