KARAKTER PESERTA DIDIK DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KARAKTER PESERTA DIDIK DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM"

Transkripsi

1 33 KARAKTER PESERTA DIDIK DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Salamet (Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumenep) Abstrak Potensi manusia harus senantiasa ditumbuh-kembangkan secara optimal dan terpadu melalui proses pendidikan. Dari alasan ini, peserta didik diharapkan mampu mengembakan karakter dirinya. Sedangkan karakter diri selalu dipengaruhi oleh faktorfaktor di dalam dan luar diri. Dalam pendidikan Islam, faktor-faktor tersebut secara sinergi dan terpadu mempengaruhi keberhasilan proses pendidikan. Dan aktivitas pendididikan, baik pendidikan umum maupun yang berbasis Islam, pada umumnya memiliki sumber-sumber norma sebagai landasan berpijak. Pendidikan Islam memiliki landasan utama sebagai aktivitas normatif, yaitu bersumber pada al-qur an dan Hadits. Dengan demikian, perlu kajian lebih lanjut tentang karakter peserta didik perspektif pendidikan Islam. Kata Kunci: pendidikan Islam, karakter peserta didik, character Pendahuluan Islam menganjurkan kepada manusia untuk mencari ilmu sebagai bekal mengatasi segala permasalahan hidup dan juga membimbing umatnya supaya berakhlak mulia serta berilmu pengetahuan. Menuntut ilmu merupakan kewajian di mana saja dan kapan saja, karena ilmu merupakan penyelamat di dunia dan bekal di akhirat kelak. Jika manusia belum memiliki ilmu, dalam Islam dianjurkan untuk bertanya kepada mereka yang memiliki ilmu tersebut. Firman Allah Swt. dalam surat an-nahl ayat 43: Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui (DEPAG RI, 1979:408). Dengan itu, tak ada satu orangpun yang berhak menghentikan atau melarang seseorang dalam mencari ilmu (belajar). Setiap individu berhak mendapatkan pendidikan dan tak ada kata akhir dari suatu proses belajar. Bahkan, Islam sangat menganjurkan, sebagaimana sabda Nabi Saw; طلب العلم فریضة على كل مسلمومسلمة Menuntut ilmu itu fardu atas setiap muslimin dan muslimat (al-ghazali, tt:27). Berdasarkan alasan dan ajaran Islam tersebut, para ahli pendidikan Islam sejak dahulu sehingga sekarang secara serius melaksanakan proses pendidikan dalam upaya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Menurut Aminuddin Rasyad yang dikutip Ahmad Tafsir (1996:15), bahwa Islam menginginkan manusia individu (guru dan murid) dan masyarakat menjadi orangorang yang berpendidikan. Berpendidikan berarti berilmu, berketerampilan, berakhlak mulia, berkepribadian luhur, pandai bermasyarakat dan bekerjasama untuk mengelola bumi dan alam beserta isinya untuk kesejahteraan umat di dunia dan akhirat serta dekat dengan Khalik-nya. Keberhasilan dalam memahami ilmu pengetahuan dapat dipengaruhi oleh kondisi psikologis orang yang mencari ilmu itu sendiri. Kondisi psikologis berupa karakteristik setiap orang tentu berbeda-beda antara yang satu dengan lainnya. Sebagaimana yang Volume 3, Nomor 1, Januari 2012

2 34 KARAKTER PESERTA DIDIK DALAM PERSPEKTIF telah dilakukan oleh Rasulullah, dijelaskan oleh M. Ajaj al-khatib (1999:75), bahwa Rasulullah mem-pertimbangkan perbedaan daya tangkap, daya ingatan, serta kadar kemampuan akal para sahabatnya. Beliau cukup memberikan isyarat kepada orang yang cerdas dan memberikan pandangan sepintas kepada orang yang mempunyai daya hapalan yang baik. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa setiap orang mempunyai daya tangkap terhadap ilmu yang berbeda-beda. Perbedaan ini dipengaruhi oleh perbedaan karakteristik individu itu sendiri. Antara individu yang pemarah akan berbeda dengan mereka yang memiliki karakter pemaaf, antara penyabar berbeda dengan mereka yang mudah frustasi. Karena itu, dalam pendidikan Islam berupaya untuk menumbuhkan dan mengembangkan sifat-sifat (karakter) yang baik serta mengendali-kan karakter yang tidak baik. Persoalan perbedaan individu menurut Syaiful Bahri Djamarah (2000:55) terdiri dari: 1) perbedaan biologis, 2) perbedaan intelektual, 3) dan perbedaan psikologis. Perbedaan ini tidak dapat dihindari disebabkan pembawaan dan lingkungan hidup yang berbeda. Namun demikian, perbedaan tersebut merupakan potensi manusia yang berkembang. Lebih lanjut, Muhaimin (2001:19) menjelaskan, alat-alat potensial manusia harus ditumbuh-kembangkan secara optimal dan terpadu melalui proses pendidikan sepanjang hayat. Manusia diberi kebebasan untuk berikhtiar mengembangkan alat potensial tersebut. Pertumbuhan dan perkembangan karakter manusia di-pengaruhi oleh faktor-faktor keturunan, lingkungan, sejarah dan faktor-faktor temporer (Muhaimin, 2001:19). Dalam ilmu pendidikan Islam, faktor-faktor tersebut secara sinergi dan terpadu mempengaruhi keberhasilan proses pendidikan. Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2000:51), peserta didik atau murid sebagai pokok persoalan dalam pendidikan. murid adalah unsur manusiawi yang penting dalam kegiatan interaksi edukatif. Ia dijadikan sebagai pokok persoalan dalam semua gerak kegiatan pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu perlu dipahami pula tentang karakter mereka dan bagaimana mengembangkan dan bertindak sesuai dengan karakter tersebut. Berdasarkan uraian tersebut, perlu digali dan diteliti lebih mendalam untuk mendapat-kan pemahaman yang sangat luas tentang bagaimana seharusnya karakter peserta didik dibentuk dan dikembangkan agar tujuan pendidikan tercapai sesuai dengan cita-cita para peserta didik. Dalam hal ini, pembahas-an tentang karakter peserta didik ini akan ditinjau dari aspek pendidikan Islam. Pengertian Karakter Peserta Didik Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994:445), kata karakter berasal dari kata karakteristik yang artinya sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lainnya. Selanjutnya, disebutkan bahwa karakter adalah ciri khusus atau mempunyai ciri khas yang sesuai dengan perwatakan tertentu. Sedangkan Kartini (1990:16) menjelaskan, kata karakter berasal dari kata charac atau charassein atau chaatto yang berarti stempel, takut, tarik, guratan, ukiran. Dengan demikian, karakter adalah guratan totalitas yang unik dari seorang individu. Sejalan dengan pengertian itu, Mohamad Ngazeman (1990:16) menegaskan bahwa sifat adalah ciri, rupa, keadaan suatu hal. Sifat seseorang merupakan ciri yang dapat diidentifikasi sehingga dapat mem-bedakan antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Dali Ejulo (t.th:29) menjelaskan, Jurnal Pelopor Pendidikan

3 Salamet 35 character adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, biasanya mempunyai kaitan dengan sifat, sifat yang relatif tetap. Pengertian karakter yang dikaitkan dengan sudut pandang etis dan moral, dapat dipahami karena karakter seseorang dapat menimbulkan suka atau tidak suka; senang atau tidak senang terhadap orang lain. Misalnya, karakter kejujuran dapat menimbulkan senang bagi orang lain, sedangkan karakter dusta dapat menimbulkan rasa benci. Karena itu, memahami karakter seseorang terkait erat dengan landasan etika dan moral. J.P Chaplin (1999:82) berpendapat, character adalah watak atau sifat yang dapat dirumuskan dalam tiga pengertian, yaitu: 1. Kualitas atau sifat yang tetap terus menerus dan kekal yang dapat dijadikan ciri untuk mengidentifikasi seorang pribadi. 2. Integrasi atau sintesa dari sifat-sifat individual dalam bentuk satu atau kesatuan. 3. Kepribadian seseorang dipertimbangkan dari titik pandangan etis atau moral. Sedangkan James Drever (1986:53) berpendapat beda, bahwa character digunakan dalam pengertian biologis terhadap suatu sifat dari suatu organisme dalam dimana ia dapat dibandingkan dengan organisme lainnya. Di bidang psikologi digunakan kepada integrasi kebiasaan, sentimen dan ideal yang membuat tindakan seseorang relatif stabil dan dapat diramalkan, sifat khusus pada integrasi ini, atau tampil dalam aksi, disebut character traits dan tes yang disusun untuk mengungkapkan sifat demikian adalah personality test. Selanjutnya, Muhibbin Syah (1995:226) menjelaskan bahwa karakteristik memiliki arti yang hampir sama dengan identitas atau dengan kepribadian. Kepribadian ditinjau dari sudut pandang psikologi, pada prinsipnya merupakan susunan atau kesatuan antara aspek perilaku mental (pikiran, perasaan, dan sebagainya) dengan aspek perilaku behavioral (perbuatan nyata). Aspek-aspek tersebut, secara fungsional dalam diri individu saling berkaitan, sehingga muncul tingkah laku yang khas dan menetap. Berdasarkan pada tingkah laku tersebut, muncul julukan-julukan yang bermaksud menggambarkan kepribadian seseorang yang mengacu pada sifat seseorang, seperti: Pak Amin malas, Ibu Rini rajin mengaji, dan sebagainya. Dengan demikian, yang dimaksud peserta didik (siswa atau murid) adalah orang yang menginginkan (the wilier) ilmu, dan menjadi salah satu sifat Allah Swt. yang berarti Maha Menghendaki (Abuddin Nata, 2001:50). Pengertian ini dapat dipahami karena seorang murid dalam pandangan pendidikan Islam adalah orang yang menghendaki agar mendapatkan ilmu pengetahuan, pengalaman dan kepribadian yang baik untuk bekal hidupnya agar bahagia di dunia dan akhirat dengan jalan belajar yang sungguh-sungguh. Istilah lain tentang peserta didik dalam pendidikan Islam adalah Al-Thalib, yaitu orang yang mencari sesuatu (Abuddin Nata, 2001:51). Artinya, seorang murid adalah orang yang tengah mencari ilmu pengetahuan, keterampilan dan pem-bentukan karakter tertentu. Pengertian peserta didik dalam istilah al-thalib lebih bersifat aktif, mandiri, kreatif dan sedikit bergantung kepada guru, (Abuddin Nata, 2001:52). Peserta didik sebagai al-thalib dalam beberapa hal dapat meringkas, mengkritik dan menambahkan informasi yang disampaikan oleh guru. Dalam konteks ini, seorang guru dituntut bersifat terbuka, demokratis, memberi kesempatan dan menciptakan suasana belajar yang saling mengisi, dan mendorong Volume 3, Nomor 1, Januari 2012

4 36 KARAKTER PESERTA DIDIK DALAM PERSPEKTIF peserta didik memecahkan masalahmasalah yang dihadapi. Dengan demikian, pem-belajaran dari guru harus merangsang peserta didik untuk belajar, berfikir, melakukan penalaran yang memungkinkan peserta didik dan guru tercipta hubungan mitra belajar. Minat dan pemahaman, timbal balik antara guru dan peserta didik ini akan memperkaya kuri-kulum dan kegiatan belajar mengajar pada kelas bersangkutan (Nana Syaodih Sukmadinata, 1997:196). Selanjutnya, istilah yang berhubungan erat dengan pengertian peserta didik yaitu al-muta allim, yaitu orang yang mencari ilmu pengetahuan. Istilah muta allim yang menunjukkan pengertian peserta didik, sebagai orang yang menggali ilmu pengetahuan merupakan istilah yang populer dalam karya-karya ilmiah para ahli pendidikan Islam. Berdasarkan pengertian istilah karakter dan peserta didik dari para ahli di atas, dapat dipahami bahwa karakter peserta didik berarti sifat-sifat yang dimiliki individu sebagai siswa yang dapat diidentifikasi sebagai orang yang mencari ilmu pengetahuan dengan sungguh-sungguh untuk bekal di masa depan baik kehidupan dunia maupun akhirat. Dengan demikian, masing-masing individu akan memiliki karakteristik yang berbeda sesuai dengan kedudukan individu tersebut. Macam-macam Karakter Peserta didik Peserta didik dalam pendidikan Islam merupakan unsur manusiawi yang memiliki latar belakang dan pengalaman berbedabeda. Perbedaan pengalaman tersebut, dapat melahirkan kepribadian yang berbeda pula. Teori ini yang dianut oleh aliran empiris-me, yang percaya bahwa kepribadian seseorang ditentukan oleh pengalaman empiris. Di sisi lain, anak didik sebagai makhluk ciptaan Allah, lahir ke alam dunia ini sudah memiliki pembawaan masingmasing yang diciptakan-nya, pembawaan ini pun dapat menentukan kepribadian seseorang. Teori ini banyak dianut oleh aliran Nativisme, yang mengatakan bahwa anak ditentukan oleh pembawaan; baik buruk seseorang tergantung pembawaannya. Namun demikian, pendidikan Islam tidak me-mandang kedua hal tersebut secara berlawanan, melainkan antara pembawaan dan pengalaman empiris saling melengkapi dan saling menunjang dalam pembentukan karakteristik seseorang. Prinsip-prinsip yang memberikan landasan kokoh tentang karakter peserta didik dalam pendidikan Islam yaitu: sabar, ikhlas, jujur, tawadhu, qana ah, toleran, tha at, tawakal, khauf dan raja, serta syukur. 1. Sabar Imam al-ghazali (1995:256) menjelaskan bahwa kesabaran terdiri dari pengetahuan, keadaan, dan amal. Pengetahuan di dalamnya seperti pohon, keadaan seperti ranting-ranting, dan amal seperti buah. Atas dasar pengertian ini, Imam al-ghazali mengatakan bahwa maslahat keagama-an terdapat dalam kesabaran, sehingga dalam diri manusia harus timbul kekuatan dan dorongan untuk me-lakukan kesabaran. Menurut Thabathaba i (1991:338), sulit bersabar atas apa yang tidak diketahui maknanya merupakan hal yang sangat dikhawatirkan seorang guru, karena dapat menyebabkan kegagalan di tengah perjalanan menuntut ilmu atau pen-capaian tujuan pendidikan. Dengan demikian, sikap sabar merupakan sifat yang harus dimiliki seorang peserta didik. 2. Ikhlas Ikhlas adalah perbuatan membersihkan dan memurnikan; sesuatu yang bersih dari campuran yang mencemarinya (Al- Jurnal Pelopor Pendidikan

5 Salamet 37 Ghazali, 1995:316). Jika suatu perbuatan bersih dari riya dan ditunjukkan bagi Allah Ta ala, perbuatan itu dianggap khalis. Seorang pelajar harus ikhlas membersihkan hati sebagai prasyarat untuk menuntut ilmu. Sebagaimana penjelasan al-nawawy (1993:102), bersihnya hati dalam menuntut ilmu seperti bersihnya bumi untuk tanaman. Dengan demikian, seorang peserta didik perlu membersihkan hatinya agar dapat menyerap ilmu pengetahuan secara baik. 3. Jujur Salah satu sifat seorang peserta didik yang dapat menentukan kepercayaan orang lain, baik guru maupun teman sesamanya, adalah kejujuran. Jujur dapat ditandai dengan sikap terbuka atas apa yang sebenarnya ada atau terjadi pada dirinya. Lawan dari sifat jujur ini adalah dusta, suka berbohong baik pada dirinya maupun pada orang lain. Sifat dusta ini seringkali menjadi penyebab hilangnya rasa percaya diri. Sedangkan sifat jujur dapat menumbuhkan rasa percaya diri. Sifat jujur ini tidak hanya dalam perkataan, melainkan pula mencakup segala perbuatan. Dalam pendidikan Islam, kejujuran seorang peserta didik merupakan asas yang menjiwai segala hubungan dengan seorang guru. Sifat jujur yang terpelihara dengan baik dalam diri seorang peserta didik akan menjadikan seorang guru menaruh percaya pada peserta didik tersebut. Kepercayaan ini merupakan nilai tersendiri yang tidak dapat dibeli dengan banyaknya materi. 4. Tawadhu Muhammad bin Jamil Zainu (1997:21) menjelaskan, bahwa yang dimaksud tawadhu yaitu mengakui kebenaran dari orang lain dan rujuk dari kesalahan kepada kebenaran. Menurut al-nawawi (1993: 104), murid harus bersikap tawadhu terhadap ilmu dan guru, karena hanya dengan sikap tawadhu itulah ilmu dapat tercapai. Ilmu itu musuhnya sifat sombong seperti banjir tidak suka dataran yang tinggi. 5. Qana ah Qana ah adalah menerima cukup. Qana ah merupakan kekayaan yang sebenarnya. Rasulullah Saw bersabda: Bukanlah kekayaan itu lantaran banyak harta, kekayaan ialah kekayaan jiwa (Hamka, 1990:228). Dengan demikian, sifat qana ah berkaitan erat dengan cara penerimaan dan kondisi psikologis seorang anak didik terhadap apa yang diperolehnya. Sifat qana ah ini, tidak hanya berkaitan dengan cara penerimaan terhadap materi, tetapi juga berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. 6. Toleran Imam Al-Ghazali (1995:120) menjelaskan bahwa sifat toleran seorang pelajar adalah menghindarkan perbedaan yang menyebabkan perpecahan demi meraih lezatnya persaudaraan. Oleh karena itu, sifat toleran dapat menimbulkan persaudaraan yang terpelihara dan terhindar dari saling permusuhan. Seorang peserta didik yang toleran terhadap orang lain, berarti ia membangun persaudaraan yang menjadi jalan bagi kelancaran belajar bersama. Seorang peserta didik selain memerlukan bimbingan seorang guru, juga memerlukan kawan tempat mereka berbagi rasa dan belajar bersama. Teman ini diyakini besar pengaruhnya terhadap kesuksesan belajar mereka, sehingga muncul pula akhlak yang harus Volume 3, Nomor 1, Januari 2012

6 38 KARAKTER PESERTA DIDIK DALAM PERSPEKTIF dilakukan antara sesama peserta didik dan cara mencari kawan yang baik. Berkaitan dengan masalah ini, seorang peserta didik harus bersikap toleran. Sikap toleran ini, dapat melahirkan sikap terbuka terhadap orang lain, terutama ketika terjadi perbedaan pendapat. 7. Tha at Imam Syafi i berkata (dikutip Abuddin Nata, 1997:80) aku mengadukan masalahku kepada guruku bernama Waki, karena kesulitan dalam mendapatkan ilmu (sulit menghapal). Guruku itu menasehatiku agar menjauhi perbuatan maksiat. Selanjutnya, guruku mengatakan bahwa ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah itu tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat maksiat. Ungkapan Imam Syafi i itu mengisyaratkan bahwa ilmu itu hakikatnya cahaya dari Allah, dan hal itu hanya diberikan kepada hamba-nya yang tha at. 8. Tawakkal Tawakal berarti pengandalan hati kepada Tuhan Yang Maha Pelindung karena segala sesuatu keluar dari ilmu dan kekuasaan-nya, sedangkan selain Allah tidak dapat membahayakan dan tidak dapat memberinya manfaat, (Imam Al-Ghazali, 1995:290). Seorang peserta didik perlu bertawakal dalam belajarnya dan dapat memanfaatkan seluruh waktunya baik siang maupun malam, baik ketika sedang diam atau dalam perjalanan. Jangan menyianyiakan waktu sedikitpun selain dalam ilmu kecuali dalam kondisi darurat, seperti untuk makan dan tidur atau istirahat sebentar. Oleh karena itu, peserta didik tidak menempatkan diri mereka kecuali di tempat yang terhormat, tempat yang dapat dihargai tanpa bersikap sombong dan egois, dan tidak pula menggunakan kemampuan mereka kecuali untuk tujuan-tujuan yang tepat. Mereka juga dapat meneladani banyak tokoh yang mencurahkan dedikasi, seraya tetap berani melakukan kritik secara terbuka terhadap kebobrokan moral yang merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan. 9. Khauf dan Raja Harapan (raja) dan takut (khauf) termasuk kedudukan para penempuh jalan Allah dan keadaan para pencari ridha Allah. Sifat yang ditunggu apabila menimbulkan kesedihan di hati dinamakan rasa takut (khauf). Jika menimbulkan kegembiraan maka dinamakan harapan (Al-Ghazali, 1995:261). Dengan itu, peserta didik diharapkan dan sudah semestinya memiliki sifat khauf dan raja (harapan dan rasa takut) supaya dalam menuntut ilmu mendapatkan nilai prestasi sebagaimana tujuan pendidikan. Berkaitan dengan hal tersebut, Asma Hasan Fahmi (1979:174) mengatakan, para pelajar mendapat penghormatan dan penghargaan karena mereka mencari sesuatu yang amat tinggi nilainya dalam dunia ini, yaitu ilmu pengetahuan. Dengan ilmu, seseorang dapat menjadi mulia, sebagaimana Nabi Adam a.s dihormati oleh malaikat karena ia memiliki ilmu yang mulia. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Karakter Peserta didik Sardiman AM. (2001:118) menjelaskan, bahwa karakter peserta didik adalah keseluruhan kelakuan dan kemampuan yang ada pada peserta didik sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan sosialnya. Berdasarkan pada pengertian yang dikemuka- Jurnal Pelopor Pendidikan

7 Salamet 39 kan Sardiman tersebut, dapat dipahami bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi karakter peserta didik secara umum yaitu; faktor pembawaan dan faktor lingkungan. Kedua faktor ini yang dominan mempengaruhi karakteristik peserta didik. 1. Faktor Internal Fleksibilitas (kelenturan) sifat peserta didik ditinjau dari segi fisiologi, yaitu hasil dari hakikat jaringan urat syaraf dan sel-sel otak (Al-Syaibani, 1979:156). Syaraf dapat dipengaruhi oleh perulangan latihan yang menghasilkan adat kebiasaan sifat tertentu. 2. Faktor Lingkungan Lingkungan tempat peserta didik hidup diyakini besar pengaruhnya terhadap pembentukan kepribadian dan karakter peserta didik, Faktor lingkungan tersebut meliputi lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Keluarga, merupakan lingkungan yang pertama dan utama dialami oleh seorang peserta didik. Situasi keluarga akan turut menentukan bagaimana karakter peserta didik dibentuk. Sedangkan sekolah, merupakan lingkungan tempat bertemu peserta didik dengan teman-teman yang lain. Pertemuan mereka datang dari berbagai budaya dan sosial yang berbeda-beda. Seorang peserta didik yang secara psikologis berada pada masa pencarian identitas, akan mengikuti gaya hidup temannya yang lain yang dianggapnya cocok dengan dirinya. Dengan demikian, untuk terbentuknya karakter peserta didik yang baik perlu dibangun suatu lingkungan yang baik, agar peserta didik dalam menjalani hidupnya menuju pada pembinaan sifat-sifat yang positif. Walaupun pada awalnya sifat seorang peserta didik adalah baik, namun karena hidup dalam lingkungan yang tidak baik, ia dapat mengalami penyimpangan dan perubahan kepribadian sesuai dengan watak lingkungan itu sendiri. Karakter Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam Setiap aktivitas pendidikan, umum maupun Islam tentu memiliki sumbersumber norma. Pendidikan sebagai aktivitas yang normatif dibatasi oleh peraturanperaturan tertentu yang digunakan sebagai landasan berpijak. Dengan demikian, pendidikan Islam memiliki landasan utama yang bersumber pada ajaran-ajaran Islam. Al-Qur an menurut Abdurrahman Shalih (1994:152), sebagaimana yang dikutip dari Thabram dan S. Arifin, memiliki spesifikasi pandangan kependidikan. Beberapa idiom yang banyak dijumpai dalam al-qur an seperti perkataan rabb sebagai akar kata tarbiyah merupakan konsep pendidikan yang secara konvensionai masih digunakan hingga sekarang. Di samping itu pula al-qur an memiliki beberapa keistimewaan dalam usaha pendidikan manusia di antaranya adalah: 1. Menghormati akal manusia; 2. Bimbingan ilmiah; 3. Tidak menentang fitrah manusia; 4. Penggunaan kisah-kisah untuk tujuan pendidikan; dan 5. Memelihara keperluan-keperluan sosial (Hasan Langgulung, 1995:36-37). Sumber pendidikan Islam yang paling utama adalah al-qur an yang juga merupakan sumber pertama dalam ajaran Islam. Hal ini sesuai dengan pendapat Langgulung (1995: 196) menyatakan bahwa tidaklah berlebihan kita menjadikan al- Qur an sebagai sumber pertama yang patut menjadi tempat peng-ambilan pendidikan Islam kita. Demikian juga Zakiyah Darajat (1996:21) berpendapat bahwa pendidikan Islam harus menggunakan al-qur an sebagai sumber utama yang merumuskan berbagai teori pendidikan Islam. Volume 3, Nomor 1, Januari 2012

8 40 KARAKTER PESERTA DIDIK DALAM PERSPEKTIF Oleh karena itu, bertolak dari pemahaman terhadap al-qur an khususnya surat al-kahfi ayat 66-67, peserta didik agar sukses dalam belajarnya, ia harus: 1. Menunjukkan minat yang tinggi, 2. Tawadhu 3. Tha at, 4. Berambisi untuk memperoleh ilmu, 5. Sopan santun, 6. Sabar, 7. Optimis, dan 8. Ikhlas. Karakteristik-karakteristik tersebut yang dapat dipahami dari surat al-kahfi ayat tentu memiliki implikasi logis terhadap diri peserta didik yang sedang melaksanakan proses belajar mengajar. Dengan demikian, implikasi pendidikan dari karakter peserta didik dalam ayat al-qur an tersebut, yaitu: 1. Peserta didik dalam melaksanakan proses belajar mengajar harus memiliki niat yang lurus. Niat yang lurus, merupakan langkah awal untuk membangun unsur psikologi manusia yang kokoh, tangguh, tidak mudah patah semangat, sehingga suatu aktivitas dilalui dengan penuh keyakinan. Dalam pendidikan Islam, niat yang lurus itu terpusat pada Allah SWT sebagai sumber ilmu dan kebahagiaan. Oleh karena itu, niat dalam belajar terkonsentrasi pada upaya untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat yang dianugerahkan oleh Allah Swt. 2. Peserta didik dalam melaksanakan proses belajar mengajar harus memiliki kesucian hati. Sifat-sifat yang dituntut dalam mencari ilmu tersebut dalam pendidikan Islam mengarah pada konsekuensi untuk mensucikan hatinya dari sifat kotor, hasud, dan akidah yang lemah agar ia mampu menangkap ilmu dan menghapalnya serta menyingkap berbagai rahasianya. Dalam pendidikan Islam, ilmu itu datang dari Allah, sehingga untuk mendapatkannya perlu mendekatkan diri kepada Allah. Untuk dapat dekat dengan Allah, tiada lain yaitu dengan cara membersihkan hati dari sifat-sifat yang hina dan kotor. Hal ini didasarkan pula bahwa ilmu adalah ibadahnya hati dan taqarubnya Jiwa kepada Allah. Sebagaimana shalat tidak sah kecuali suci dari najis, maka ilmu pun tidak sah kecuali bersihnya hati dari kejelekan karakter. Hal inilah yang menyebabkan seseorang akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat sehingga menggapai derajat yang tinggi. Sebagai pribadi, peserta didik harus bersih hatinya dari kotoran dan dosa agar dapat dengan mudah dan benar dalam menangkap pelajaran, menghapal dan meng-amalkannya. 3. Peserta didik dalam proses belajar mengajar harus memiliki akhlak yang mulia. Peserta didik yang sedang belajar harus bersikap tawaddu rendah hati pada ilmu dan guru. Di samping ia juga harus menjaga keridhaan gurunya. Ia jangan menggunjing di sisi gurunya, juga jangan menunjukkan perbuatan yang buruk, mencegah orang lain yang menggunjing gurunya. Dalam pada itu, ia berupaya untuk lebih dekat dengan guru agar mendapatkan pemahaman yang sempurna dan tidak sulit, bersikap sopan santun ketika mengadakan proses belajar mengajar, karena yang demikian itu berarti menghormati guru dan memuliakan majelis ilmu, jangan mengajukan pertanyaan atau permasalahan kecuali setelah mendapatkan izin dari guru. Bersamaan dengan itu jangan bertanya, tentang sesuatu di luar masalah yang dibahas, kecuali masalah itu diketahuinya, karena hal itu akan kurang menyenangkan hati guru. Selanjutnya, peserta didik bersikap sabar, dan menjauhkan diri dari perlakuan yang kurang baik dari gurunya dan jangan menutup diri dan terus berupaya menyertainya dengan menduga tetap ada nilai- Jurnal Pelopor Pendidikan

9 Salamet 41 nilai positifnya, dan hendaknya ia menduga terhadap perbuatan guru yang secara lahiriah tampak buruk, tetapi pada hakikatnya tetap baik. Ia tetap harus menunjukkan sikap yang manis, cita-cita yang tinggi, tidak puas dengan hasil ilmu yang sedikit padahal peluang cukup banyak, tidak menunda-nunda keberhasilan walaupun sedikit. 4. Peserta didik dalam proses belajar mengajar harus menyempurnakan ikhtiar. Ikhtiar merupakan kewajiban setiap insan dalam rangka menggapai pertolongan Allah Swt. dalam mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Artinya kesucian hati dan kemuliaan akhlak tidak terpisah dari keharusan berikhtiar dalam mendapatkan pertolongan Allah Swt. Kesempurnaan ikhtiar seorang siswa terlihat dan sejauh mana kerelaan berkorban dan meluangkan waktu yang cukup untuk tercapainya ilmu yang diinginkan. Peserta didik harus siap mencari ilmu walaupun dengan jarak yang jauh dan memerlukan perjalanan yang sulit. Melalui ikhtisar tersebut, peserta didik akan terlatih untuk berjuang di jalan kebenaran yang diridhai Allah dengan sungguhsungguh, karena mencari ilmu merupakan pekerjaan yang paling mulia. Dari uraian tersebut di atas, dapat dipahami bahwa peserta didik harus bersih hatinya agar mendapatkan pancaran ilmu dengan mudah dari Tuhan melalui seorang guru. la juga harus menunjukkan sikap akhlak yang tinggi, terutama terhadap gurunya, pandai membagi waktu yang baik, me-mahami tata krama dalam majelis ilmu, berupaya menyenangkan hati sang guru, tidak menunjukkan sikap yang memancing ketidaksenangan guru, giat belajar dan sabar dalam menuntut ilmu. Sifat-sifat yang demikian itu sebagai prasyarat untuk mencapai keberhasilan dalam menuntut ilmu pengetahuan. Jadi, peserta didik bukan hanya orang yang melewati pendidikan dan memperoleh Ijazah. Mereka juga bukan sekedar peserta didik yang mendalami dan mempelajari ilmu di sekolah. Mereka selain itu semua adalah kelompok orang yang berakhlak mulia, memiliki karakteristik yang terpuji. Dengan demikian, dalam pendidikan Islam peserta didik selain berilmu juga disertai taqwa dan amal saleh yang melekat pada kepribadiannya. Dengan demikian, implikasi dari sifatsifat yang telah dikemukakan di atas, menuntut pada peserta didik untuk memiliki sifat yang baik tersebut, karena tanpa disertai dengan sifat yang terpuji, kecerdasan akal semata-mata tidak akan menghantarkan pada perolehan kebenaran ilmu secara hakiki. Ilmu yang benar secara hakiki merupakan limu yang dianugerahkan Allah dan membawa pada kemanfaatan. Penutup Berdasarkan pembahasan tentang karakter peserta didik tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan dengan pemaparan berikut; Pertama,pendidikan Islam erat sekali dengan al-qur an dan al-hadits sebagai landasan dalam merumuskan teoriteori pendidikan Islam. Aktivitas pendidikan yang sejalan dengan pedoman al-qur an dan al-hadits tersebut, hampir dapat dipastikan tidak akan hampa dari nilai-nilai Ilahi yang pada gilirannya dapat dicerna oleh peserta didik sebagai bekal hidup baik di dunia maupun di akhirat. Peserta didik dalam pendidikan Islam merupakan salah satu komponen utama yang bersifat manusiawi dan memiliki potensi untuk dinamis ke arah kemuliaan akhlak, sesuai dengan prinsipprinsip ajaran Islam. Dan pendididkan Islam berpotensi besar dalam membentuk karakter peserta didik sesuai dengan konsepkonsep yang termuat dalam al-qur an, al- Volume 3, Nomor 1, Januari 2012

10 42 KARAKTER PESERTA DIDIK DALAM PERSPEKTIF Hadits dan hasil pemikiran para ahli pendidikan Islam. Kedua, implikasi paedagosis yang tersirat dalam surat al-kahfi ayat tentang karakter peserta didik merupakan pelajaran sejarah yang menggambarkan proses pencarian ilmu, yaitu yang dilakukan oleh Nabi Musa a.s. sebagai seorang peserta didik. Beliau memiliki beberapa karakter yang dapat dipandang sebagai unsur manusiawi dan dapat diteladani oleh para peserta didik. Di antara karakter yang dimiliki oleh Nabi Musa a.s, yaitu tawadhu, sabar, ikhlas, khauf dan raja, ambisius dan syukur. Sedangkan ketidaktaatan Nabi Musa terhadap Hidir sebagai gurunya justru menjadi penyebab gagalnya kebersamaan mereka, sehingga dalam ujung kisah disebutkan mereka berpisah karena melanggar kesepakatan yang berarti pula hilangnya sifat taat terhadap guru. Dengan demikian, implikasi pen-didikannya bahwa seorang siswa harus menghiasi diri dengan kesucian jiwa dan akhlak mulia dalam menuntut ilmu, sehingga dapat menerima pancaran cahaya ilmu dari Allah Swt. Jika tidak demikian, ilmu yang didapatkan oleh seorang peserta didik menjadi kurang bermanfaat dan tidak menghantarkan pemilik ilmu tersebut pada derajat takwa.[] Daftar Pustaka: Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur an, Jakarta: Rineka Cipta, Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru Dan Murid, Jakarta: Rajawali Press, 2001.,Filsafat Pendidikan Isam. Jakarta: Logos, Ahmad Tafsir, Epistemologi Untuk Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Fakultas Tarbiyah UUN Sunan Gunung Djati Bandung, Al Ghazali, Ringkasan Ihya Ulumuddin, Jakarta: Pustaka Amani, 1995., Ringkasan Ihya Ulumuddin, Jilid I, Semarang: Cv. Asyifa, Al Syaibani, Falafah Pendidikan Islam, Jakarta: Bintang, Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Depdikbud, Hadari Nawawi, Pendidikan dalam Islam, Surabaya: Al-Ikhlas, Hamka, Tasawuf Modern, Jakarta: Pustaka Panjimas, Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan (Studi Analisis Psikologi dan Pendidikan), Jakarta: Al-Husna Zikra, James Drever, Kamus Psikologi, Jakarta: Bina Aksar, J.P. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, Jakarta: Rajawali Press, Oemar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibani, Filsafah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, Sardiman AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Rajawali Press, Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: Rineka Cipta, Jurnal Pelopor Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Agama merupakan pendidikan yang memperbaiki sikap dan tingkah laku manusia untuk membina budi pekerti luhur seperti kebenaran keikhlasan, kejujuran, keadilan,

Lebih terperinci

BAB II. mengembangkan diri, baik dalam aspek kognitif, psikomotorik maupun sikap.12 Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak

BAB II. mengembangkan diri, baik dalam aspek kognitif, psikomotorik maupun sikap.12 Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak 7 BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Pustaka 1. Prestasi Belajar a. Pengertian prestasi belajar Belajar adalah suatu tingkah laku atau kegiatan dalam rangka mengembangkan diri, baik dalam aspek kognitif,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sampai mencapai kedewasaan masing-masing adalah pendidikan. Pengalaman

BAB I PENDAHULUAN. sampai mencapai kedewasaan masing-masing adalah pendidikan. Pengalaman BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Aspek kehidupan yang harus dan pasti dijalani oleh semua manusia di muka bumi sejak kelahiran, selama masa pertumbuhan dan perkembangannya sampai mencapai kedewasaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan

BAB I PENDAHULUAN. membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam arti sederhana pendidikan sering diartikan sebagai usaha untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Suwarto, Pengembangan Tes Diagnosis dalam Pembelajaran, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2013, hal. 3-4.

BAB I PENDAHULUAN. Suwarto, Pengembangan Tes Diagnosis dalam Pembelajaran, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2013, hal. 3-4. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Belajar pada dasarnya merupakan proses usaha aktif seseorang untuk memperoleh sesuatu sehingga terbentuk perilaku baru menuju arah yang lebih baik. Kenyataannya,

Lebih terperinci

AKHLAK PRIBADI ISLAMI

AKHLAK PRIBADI ISLAMI AKHLAK PRIBADI ISLAMI Modul ke: 06Fakultas MATA KULIAH AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MERCU BUANA BEKASI Sholahudin Malik, S.Ag, M.Si. Program Studi Salah satu kunci sukses di dunia dan akhirat karena faktor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diberbagai belahan dunia terutama Negara-negara yang sedang berkembang banyak

BAB I PENDAHULUAN. diberbagai belahan dunia terutama Negara-negara yang sedang berkembang banyak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan yang begitu pesat akibat dari pengaruh globalisasi yang melanda diberbagai belahan dunia terutama Negara-negara yang sedang berkembang banyak menimbulkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Islam yang akan menjadikan pendidikan berkualitas, individu-individu yang

BAB I PENDAHULUAN. Islam yang akan menjadikan pendidikan berkualitas, individu-individu yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul Islam yang akan menjadikan pendidikan berkualitas, individu-individu yang beradab dan berakhlak mulia akan terbentuk yang akhirnya akan memunculkan

Lebih terperinci

TAUHID. Aku ciptakan jin dan manusia tiada lain hanyalah untuk beribadah kepadaku (QS. Adz-Dzariyat : 56)

TAUHID. Aku ciptakan jin dan manusia tiada lain hanyalah untuk beribadah kepadaku (QS. Adz-Dzariyat : 56) www.ariefprawiro.co.nr TAUHID HAKEKAT DAN KEDUDUKANNYA Allah berfirman: Aku ciptakan jin dan manusia tiada lain hanyalah untuk beribadah kepadaku (QS. Adz-Dzariyat : 56) Dan sesungguhnya Kami ntelah mengutus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran adalah suatu proses pendewasaan berfikir. Nilai demi nilai

BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran adalah suatu proses pendewasaan berfikir. Nilai demi nilai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran adalah suatu proses pendewasaan berfikir. Nilai demi nilai mewarnai interaksi edukatif yang terjadi antara guru dengan siswa. Interaksi yang bernilai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hlm Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer, Alfabeta, Bandung : 2005, hlm.

BAB I PENDAHULUAN. hlm Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer, Alfabeta, Bandung : 2005, hlm. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Semakin baik pendidikan suatu bangsa, semakin baik pula kualitas bangsa, itulah asumsi secara umum terhadap program pendidikan suatu bangsa. Pendidikan menggambarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003 pasal I mengamanahkan bahwa tujuan

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang Sisdiknas tahun 2003 pasal I mengamanahkan bahwa tujuan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan upaya mencapai kedewasaan subjek didik yang mencakup segi intelektual, jasmani dan rohani, sosial maupun emosional. Undang-Undang Sisdiknas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bidang ekonomi, sosial budaya dan juga pendidikan. kepribadian yang bulat dan untuk membentuk manusia sebagai makhluk

BAB I PENDAHULUAN. bidang ekonomi, sosial budaya dan juga pendidikan. kepribadian yang bulat dan untuk membentuk manusia sebagai makhluk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan, kehidupan bangsa dan diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Perkembangan ilmu pengetahuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Implementasi ajaran agama dalam bentuk hubungan sosial kemasyarakatan

BAB I PENDAHULUAN. Implementasi ajaran agama dalam bentuk hubungan sosial kemasyarakatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Implementasi ajaran agama dalam bentuk hubungan sosial kemasyarakatan dan segala kegiatan yang berujung pada maslahat hidup pada hakekatnya merupakan gambaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak bisa terlepas dari individu

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak bisa terlepas dari individu BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, terkandung suatu maksud bahwa manusia bagaimanapun juga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Peraturan Pelaksanaannya (Bandung: Citra Umbara, 2010), h. 6.

BAB I PENDAHULUAN. Peraturan Pelaksanaannya (Bandung: Citra Umbara, 2010), h. 6. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembinaan akhlak sangat penting ditanamkan sejak dini, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat, agar menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur.

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS UPAYA GURU PAI DALAM MEMBINA MORAL SISWA SMP NEGERI 1 KANDEMAN BATANG

BAB IV ANALISIS UPAYA GURU PAI DALAM MEMBINA MORAL SISWA SMP NEGERI 1 KANDEMAN BATANG BAB IV ANALISIS UPAYA GURU PAI DALAM MEMBINA MORAL SISWA SMP NEGERI 1 KANDEMAN BATANG A. Analisis tentang Upaya Guru PAI dalam Membina Moral Siswa SMP Negeri 1 Kandeman Batang Sekolah adalah lingkungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ajaran agama diwahyukan Tuhan untuk kepentingan manusia. Dengan bimbingan agama, diharapkan manusia mendapatkan pegangan yang pasti untuk menjalankan hidup dan juga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu pilar dalam kemajuan bangsa, dan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu pilar dalam kemajuan bangsa, dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu pilar dalam kemajuan bangsa, dan kemajuan peradaban. Kemajuan suatu bangsa salah satunya dapat dilihat dari lembaga-lembaga pendidikannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang semakin mengglobal dan kompetitif memunculkan tantangan-tantangan

BAB I PENDAHULUAN. yang semakin mengglobal dan kompetitif memunculkan tantangan-tantangan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kondisi bangsa Indonesia yang sudah pada tingkat mengkhawatirkan seperti sekarang ini tentu tidak lepas dari kualitas sumber daya manusianya. Didalam

Lebih terperinci

Hakikat Manusia Menurut Islam

Hakikat Manusia Menurut Islam Hakikat Manusia Menurut Islam Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Allah SWt yang memiliki peranan penting dalam kehidupan di muka bumi. Manusia juga dipandang sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya

Lebih terperinci

Motivasi Agar Istiqomah

Motivasi Agar Istiqomah Motivasi Agar Istiqomah Khutbah Pertama:????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.??????????????????????????????????????????????

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN KELUARGA DALAM MEMBENTUK AKHLAQUL KARIMAH PADA REMAJA DI DUSUN KAUMAN PETARUKAN PEMALANG

BAB IV ANALISIS PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN KELUARGA DALAM MEMBENTUK AKHLAQUL KARIMAH PADA REMAJA DI DUSUN KAUMAN PETARUKAN PEMALANG 77 BAB IV ANALISIS PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI LINGKUNGAN KELUARGA DALAM MEMBENTUK AKHLAQUL KARIMAH PADA REMAJA DI DUSUN KAUMAN PETARUKAN PEMALANG A. Analisis Tentang Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Potensi sumber daya manusia merupakan aset nasional sekaligus

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Potensi sumber daya manusia merupakan aset nasional sekaligus BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Potensi sumber daya manusia merupakan aset nasional sekaligus sebagai modal dasar pembangunan Bangsa. Salah satu potensi yang dikaruniai Allah kepada manusia yakni potensi

Lebih terperinci

Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam Modul ke: Pendidikan Agama Islam Kesalehan Sosial Fakultas EKONOMI Dr. Saepudin S.Ag. M.Si. Program Studi Manajemen www.mercubuana.ac.id PENGERTIAN KESALEHAN SOSIAL Kesalehan sosial adalah suatu perilaku

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di antara makluk-nya yang lain. Allah memberi banyak kelebihan kepada

BAB I PENDAHULUAN. di antara makluk-nya yang lain. Allah memberi banyak kelebihan kepada BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Allah menciptakan manusia dengan penciptaan yang paling sempurna di antara makluk-nya yang lain. Allah memberi banyak kelebihan kepada manusia, salah satunya yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah suatu proses multi dimensial yang meliputi bimbingan atau pembinaan yang dilakukan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. akan mendorong individu untuk melakukan hal-hal yang lebih baik. Minat

BAB I PENDAHULUAN. akan mendorong individu untuk melakukan hal-hal yang lebih baik. Minat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu faktor pokok untuk mencapai sukses dalam segala bidang baik berupa studi, kerja, hobi, atau aktivitas apapun adalah minat. Minat yang besar akan mendorong

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan kontrol dalam kehidupan. Hal inilah yang membedakan manusia dengan

BAB I PENDAHULUAN. dan kontrol dalam kehidupan. Hal inilah yang membedakan manusia dengan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam pandangan Islam manusia adalah makhluk yang sangat mulia karena memiliki potensi dan kemampuan untuk tumbuh dan berkembang serta mempunyai kecenderungan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS KURIKULUM TAMAN KANAK-KANAK RELEVANSINYA DENGAN PERKEMBANGAN PSIKIS ANAK DI TK AL HIDAYAH NGALIYAN SEMARANG

BAB IV ANALISIS KURIKULUM TAMAN KANAK-KANAK RELEVANSINYA DENGAN PERKEMBANGAN PSIKIS ANAK DI TK AL HIDAYAH NGALIYAN SEMARANG BAB IV ANALISIS KURIKULUM TAMAN KANAK-KANAK RELEVANSINYA DENGAN PERKEMBANGAN PSIKIS ANAK DI TK AL HIDAYAH NGALIYAN SEMARANG A. Analisis relevansi kurikulum dengan perkembangan sosial Perkembangan sosial

Lebih terperinci

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dianalisis dan dibahas tentang

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dianalisis dan dibahas tentang BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dianalisis dan dibahas tentang konsep ketuhanan Al Ghazali dalam Perspektif Filsafat Ketuhanan dan Relevansinya dengan Pembentukan Pribadi

Lebih terperinci

( ). BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

( ). BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta munculnya media-media massa yang serba canggih ini, dengan segala kemajuannya menawarkan

Lebih terperinci

BULETIN ORGANISASI DAN APARATUR

BULETIN ORGANISASI DAN APARATUR BULETIN ORGANISASI DAN APARATUR PENDIDIKAN KARAKTER DALAM DIMENSI PROSES BELAJAR DAN PEMBELAJARAN (Dapat Dijadikan Bahan Perbandingan dalam Mengembangkan Proses Belajar dan Pembelajaran pada Lembaga Diklat

Lebih terperinci

Persiapan Menuju Hari Akhir

Persiapan Menuju Hari Akhir Persiapan Menuju Hari Akhir Khutbah Jumat berikut ini berisi nasihat kepada kaum muslimin untuk senantiasa mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang sesungguhnya di akhirat. Surga sebagai balasan bagi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sedang berkembang, maka pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sedang berkembang, maka pendidikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sedang berkembang, maka pendidikan mempunyai peranan yang penting untuk perkembangan tersebut. Dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hidup (life skill atau life competency) yang sesuai dengan lingkungan kehidupan. dan kebutuhan peserta didik (Mulyasa, 2013:5).

BAB I PENDAHULUAN. hidup (life skill atau life competency) yang sesuai dengan lingkungan kehidupan. dan kebutuhan peserta didik (Mulyasa, 2013:5). 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi semua orang. Pendidikan bersifat umum bagi semua orang dan tidak terlepas dari segala hal yang berhubungan

Lebih terperinci

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD)

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD) 11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. 1. Penelitian yang dilakukan oleh Syarif Hidayatullah (STAIN Jember,

BAB II KAJIAN TEORI. 1. Penelitian yang dilakukan oleh Syarif Hidayatullah (STAIN Jember, BAB II KAJIAN TEORI A. Kajian Terdahulu Dalam melaksanakan penelitian, peneliti tidak mengesampingkan hasil dari penelitian yang lebih dahulu dilakukan oleh peneliti lain. Hal ini dilakukan dalam rangka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Beberapa tahun terakhir ini sering kita melihat siswa siswi yang dianggap

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Beberapa tahun terakhir ini sering kita melihat siswa siswi yang dianggap 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Beberapa tahun terakhir ini sering kita melihat siswa siswi yang dianggap tidak sopan dan tidak bertanggung jawab terhadap tindakannya. Hal ini bisa dilihat

Lebih terperinci

10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E)

10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E) 10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengalami proses pendidikan yang didapat dari orang tua, masyarakat maupun

BAB I PENDAHULUAN. mengalami proses pendidikan yang didapat dari orang tua, masyarakat maupun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu unsur yang tidak dapat dipisahkan dari diri manusia mulai dari kandungan sampai beranjak dewasa kemudian tua. Manusia mengalami proses

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. dalam penelitian novel Saya Mujahid Bukan Teroris karya Muhammad B.

BAB V PENUTUP. dalam penelitian novel Saya Mujahid Bukan Teroris karya Muhammad B. BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Berdasarkan uraian dari bab-bab sebelumnya, hasil temuan penulis dalam penelitian novel Saya Mujahid Bukan Teroris karya Muhammad B. Anggoro yaitu berupa makna pesan dakwah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam keluarga, masyarakat, maupun kehidupan berbangsa dan bernegara. Maju

BAB I PENDAHULUAN. dalam keluarga, masyarakat, maupun kehidupan berbangsa dan bernegara. Maju BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan ini. Pendidikan sama sekali tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan umat manusia, baik dalam keluarga,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seperangkat ajaran tentang kehidupan manusia; ajaran itu dirumuskan berdasarkan

BAB I PENDAHULUAN. seperangkat ajaran tentang kehidupan manusia; ajaran itu dirumuskan berdasarkan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu pendidikan Islam adalah ilmu pendidikan yang berdasarkan Islam. Islam adalah nama agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Islam berisi seperangkat ajaran tentang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan sistem dan cara meningkatkan kualitas

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan sistem dan cara meningkatkan kualitas BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan sistem dan cara meningkatkan kualitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan manusia. Dalam sejarah umat manusia, hampir tidak ada kelompok

Lebih terperinci

BAB IV PERSAMAAN DAN PERBEDAAN PENDIDIKAN AKHLAK PRESPEKTIF PARA AHLI DAN KH. HASYIM ASY ARI DALAM KITAB ADABUL ALIM WAL MUTA ALLIM

BAB IV PERSAMAAN DAN PERBEDAAN PENDIDIKAN AKHLAK PRESPEKTIF PARA AHLI DAN KH. HASYIM ASY ARI DALAM KITAB ADABUL ALIM WAL MUTA ALLIM BAB IV PERSAMAAN DAN PERBEDAAN PENDIDIKAN AKHLAK PRESPEKTIF PARA AHLI DAN KH. HASYIM ASY ARI DALAM KITAB ADABUL ALIM WAL MUTA ALLIM A. Persamaan Konsep Pendidikan Akhlak Prespektif Para Ahli dengan KH.

Lebih terperinci

Masih Spiritualitas Bisnis

Masih Spiritualitas Bisnis c Prestasi, bukan Prestise d Masih Spiritualitas Bisnis Oleh Nurcholish Madjid Dalam uraian mengenai spiritualitas bisnis pekan lalu, kita menyadari bahwa adanya kombinasi antara ihsān dan itqān dalam

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PEMIKIRAN IMAM AL- GHAZALI DAN SYED MUHAMMAD NAQUIB AL ATTAS

BAB IV ANALISIS PEMIKIRAN IMAM AL- GHAZALI DAN SYED MUHAMMAD NAQUIB AL ATTAS BAB IV ANALISIS PEMIKIRAN IMAM AL- GHAZALI DAN SYED MUHAMMAD NAQUIB AL ATTAS A. Persamaan pemikiran Imam Al Ghazali dan Syed Muhammad Naquib Al Attas. Pendidikan akhlak merupakan pendidikan yang menekankan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dicontohkan oleh Rasulullah SAW, karena dengan akhlak-nya yang mulia beliau

BAB I PENDAHULUAN. dicontohkan oleh Rasulullah SAW, karena dengan akhlak-nya yang mulia beliau BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ajaran agama Islam tidak hanya mengajarkan agar seseorang cerdas dari segi pendidikan namun juga harus memiliki akhlak terpuji seperti yang dicontohkan oleh

Lebih terperinci

BAB IV PERILAK TERPUJI

BAB IV PERILAK TERPUJI BAB IV Standar Kompetensi (Akhlak) 4. Membiasa kan Perilaku Terpuji Kompetensi Dasar 4.1 Menjelaskan pengertian tawadlu, taat, qana ah, dan sabar. 4.2 Menampilkan contoh-contoh perilaku tawadlu, taat,

Lebih terperinci

UNIVERSITI KEBANGSAAN MALAYSIA FAKULTI PENGAJIAN ISLAM

UNIVERSITI KEBANGSAAN MALAYSIA FAKULTI PENGAJIAN ISLAM UNIVERSITI KEBANGSAAN MALAYSIA FAKULTI PENGAJIAN ISLAM HHHC9401 KEMAHIRAN NILAI, SIKAP, ETIKA DAN PROFESIONALISME SET 14 KONSEP ETIKA DAN MORAL DISEDIAKAN OLEH: FATIMAH BINTI HUSSIN A 144901 DISEDIAKAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan nasional pada pasal 3 yang menyebutkan bahwa:

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan nasional pada pasal 3 yang menyebutkan bahwa: BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Pembangunan nasional di bidang pendidikan merupakan usaha mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menempatkan tujuan sebagai sesuatu yang hendak dicapai. Maka yang merupakan

BAB I PENDAHULUAN. menempatkan tujuan sebagai sesuatu yang hendak dicapai. Maka yang merupakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sebagai bentuk kegiatan manusia dalam kehidupannya juga menempatkan tujuan sebagai sesuatu yang hendak dicapai. Maka yang merupakan masalah masalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menghadapi perkembangan ini dan harus berfikiran lebih maju. Ciri-ciri

BAB I PENDAHULUAN. menghadapi perkembangan ini dan harus berfikiran lebih maju. Ciri-ciri 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Majunya perkembangan IPTEK pada era globalisasi sekarang ini membuat dunia terasa semakin sempit karena segala sesuatunya dapat dijangkau dengan sangat mudah.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. proses optimalisasi yang memerlukan waktu serta tahapan-tahapan tertentu. yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan berprestasi.

BAB I PENDAHULUAN. proses optimalisasi yang memerlukan waktu serta tahapan-tahapan tertentu. yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan berprestasi. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan ujung tombak proses menuju perkembangan manusia, bahkan dapat dikatakan bahwa maju mundurnya suatu bangsa dapat dilihat bagaimana kemajuan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS TENTANG PERAN GURU PAI DALAM PEMBINAAN MENTAL KEAGAMAAN SISWA SMP N 2 WARUNGASEM BATANG

BAB IV ANALISIS TENTANG PERAN GURU PAI DALAM PEMBINAAN MENTAL KEAGAMAAN SISWA SMP N 2 WARUNGASEM BATANG BAB IV ANALISIS TENTANG PERAN GURU PAI DALAM PEMBINAAN MENTAL KEAGAMAAN SISWA SMP N 2 WARUNGASEM BATANG A. Analisis Pembinaan Mental Keagamaan Siswa di SMP N 2 Warungasem Batang Pembinaan mental keagamaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sehingga masayarakat tidak meragukan figur guru. Masyarakat percaya bahwa

BAB I PENDAHULUAN. sehingga masayarakat tidak meragukan figur guru. Masyarakat percaya bahwa 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Guru memang menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat. Guru dapat dihormati oleh masyarakat karena kewibawaannya, sehingga masayarakat tidak meragukan figur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari pendidikan nasional tersirat dalam undang-undang sistem pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. dari pendidikan nasional tersirat dalam undang-undang sistem pendidikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul Pendidikan adalah bagian dari proses kehidupan bernegara, yang mana visi dari pendidikan nasional tersirat dalam undang-undang sistem pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berujung pada pencapaian suatu kualitas manusia tertentu yang dianggap dan

BAB I PENDAHULUAN. berujung pada pencapaian suatu kualitas manusia tertentu yang dianggap dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan proses dan sekaligus sistem yang bermuara dan berujung pada pencapaian suatu kualitas manusia tertentu yang dianggap dan diyakini sebagai

Lebih terperinci

1. lebih menitikberatkan pencapaian kompetensi secara utuh selain penguasaan materi;

1. lebih menitikberatkan pencapaian kompetensi secara utuh selain penguasaan materi; 5. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB-E) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bergaul satu sama lain. Dalam pergaulan di masyarakat, interaksi sesama manusia

BAB I PENDAHULUAN. bergaul satu sama lain. Dalam pergaulan di masyarakat, interaksi sesama manusia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul Secara fitrah manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang saling bergantung satu sama lain. Dengan fitrah tersebut, maka manusia akan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah. Manusia adalah makhluk yang paling mulia, karena manusia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang masalah. Manusia adalah makhluk yang paling mulia, karena manusia BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Manusia adalah makhluk yang paling mulia, karena manusia diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna. Disamping manusia mempunyai potensi untuk tumbuh dan berkembang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. banyak berhubungan dengan para siswa jika dibandingkan dengan personal

BAB I PENDAHULUAN. banyak berhubungan dengan para siswa jika dibandingkan dengan personal BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Pada dasarnya guru merupakan kunci utama dalam pengajaran. Guru secara langsung berupaya mempengaruhi, mengarahkan dan mengembangkan kemampuan siswa didalam proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Jakarta : Logos. Wacana Ilmu, 2009), hlm. 140.

BAB I PENDAHULUAN Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Jakarta : Logos. Wacana Ilmu, 2009), hlm. 140. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Proses pembelajaran Akidah Akhlak merupakan pembelajaran yang lebih menekankan penguasaan teori dan praktik, karena mata pelajaran Akidah Akhlak berhubungan

Lebih terperinci

Membentuk Karakter Cara Islam (ringkasan)

Membentuk Karakter Cara Islam (ringkasan) Membentuk Karakter Cara Islam (ringkasan) Judul Buku : Membentuk Karakter Cara Islam Penulis : M. Anis Matta Penerbit : Al-I tishom Cahaya Umat, Jakarta Tahun : 2002 Ukuran Buku : 90 hal; 12,5 cm x 19

Lebih terperinci

Mendidik Anak Menuju Surga. Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA. Tugas Mendidik Generasi Unggulan

Mendidik Anak Menuju Surga. Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA. Tugas Mendidik Generasi Unggulan Mendidik Anak Menuju Surga Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA Tugas Mendidik Generasi Unggulan Pendidikan merupakan unsur terpenting dalam proses perubahan dan pertumbuhan manusia. Perubahan dan pertumbuhan kepada

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN REKOMENDASI BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Simpulan 1. Secara Umum Konsep pendidikan yang Islami menurut Mohammad Natsir menjelaskan bahwa asas pendidikan Islam adalah tauhid. Ajaran tauhid manifestasinya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan di Indonesia saat ini mengalami kemajuan dan

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan di Indonesia saat ini mengalami kemajuan dan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan di Indonesia saat ini mengalami kemajuan dan perkembangan yang cukup pesat. Dengan adanya kemajuan dan perkembangan dalam bidang pendidikan diharapkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rangka mewujudkan dinamika peradaban yang dinamis.

BAB I PENDAHULUAN. rangka mewujudkan dinamika peradaban yang dinamis. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan sesuatu yang urgen bagi kehidupan manusia. Maju tidaknya peradaban manusia, tidak terlepas dari eksistensi pendidikan. Untuk itu manusia berpacu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia baik dalam hubungan dengan Tuhannya maupun berinteraksi dengan

BAB I PENDAHULUAN. manusia baik dalam hubungan dengan Tuhannya maupun berinteraksi dengan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Agama sebagai dasar pijakan umat manusia memiliki peran yang sangat besar dalam proses kehidupan manusia. Agama telah mengatur pola hidup manusia baik dalam hubungan

Lebih terperinci

SEGI TIGA KESEIMBANGAN: TUHAN, MANUSIA DAN ALAM RAYA

SEGI TIGA KESEIMBANGAN: TUHAN, MANUSIA DAN ALAM RAYA SEGI TIGA KESEIMBANGAN: TUHAN, MANUSIA DAN ALAM RAYA MANUSIA MAKHLUK BUDAYA: HAKEKAT MANUSIA Manusia Makhluk ciptaan Tuhan, terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai kesatuan utuh. Manusia merupakan makhluk

Lebih terperinci

Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari Puasanya itu kecuali lapar dan dahaga.

Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari Puasanya itu kecuali lapar dan dahaga. Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari Puasanya itu kecuali lapar dan dahaga. (Hadits Riwayat Turmudzi) Hampir setengah bulan sudah kita menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Sejauh

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. yang sangat penting dalam kehidupan manusia baik individu, maupun sebagai anggota

BAB 1 PENDAHULUAN. yang sangat penting dalam kehidupan manusia baik individu, maupun sebagai anggota BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejalan dengan kemajuan zaman yang semakin cepat, pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia baik individu, maupun sebagai anggota masyarakat,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. disisi Tuhan-Nya, dan untuk berpacu menjadi hamba-nya yang menang di

BAB 1 PENDAHULUAN. disisi Tuhan-Nya, dan untuk berpacu menjadi hamba-nya yang menang di BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ajaran agama Islam merupakan tuntunan yang sangat penting dan mendasar yang merupakan tujuan untuk mengatur setiap sikap dan tingkah laku manusia, terutama kaum muslimin,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bagi kehidupan manusia yakni al-qur'an dan al-hadits yang di dalamnya

BAB I PENDAHULUAN. bagi kehidupan manusia yakni al-qur'an dan al-hadits yang di dalamnya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Islam adalah agama yang memberikan arti yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Islam memiliki dasar pokok yang menjadi pedoman bagi kehidupan manusia yakni al-qur'an

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan secara umum berarti suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupannya pada taraf hidup yang lebih baik.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Mitra Pustaka, 2006), hlm 165. Rhineka Cipta,2008), hlm 5. 1 Imam Musbikiin, Mendidik Anak Kreatif ala Einstein, (Yogyakarta:

BAB I PENDAHULUAN. Mitra Pustaka, 2006), hlm 165. Rhineka Cipta,2008), hlm 5. 1 Imam Musbikiin, Mendidik Anak Kreatif ala Einstein, (Yogyakarta: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagai orang tua kadang merasa jengkel dan kesal dengan sebuah kenakalan anak. Tetapi sebenarnya kenakalan anak itu suatu proses menuju pendewasaan dimana anak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan pokok bagi manusia. Tanpa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan pokok bagi manusia. Tanpa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu kebutuhan pokok bagi manusia. Tanpa pendidikan, manusia tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, pendidikan memiliki peranan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jangka waktu tertentu. Bila anak didik sudah mencapai pibadi dewasa susila,

BAB I PENDAHULUAN. jangka waktu tertentu. Bila anak didik sudah mencapai pibadi dewasa susila, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu proses terhadap anak didik berlangsung terus sampai anak didik mencapai pribadi dewasa susila. Proses ini berlangsung dalam jangka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan maupun teori belajar dan merupakan penentu utama keberhasilan

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan maupun teori belajar dan merupakan penentu utama keberhasilan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran ialah membelajarkan siswa yang menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar dan merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah suatu proses usaha manusia guna menimbulkan dan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah suatu proses usaha manusia guna menimbulkan dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah suatu proses usaha manusia guna menimbulkan dan mengembangkan potensi pembawaan sejak lahir menuju kearah pendewasaan pikiran dan sikap yang

Lebih terperinci

Landasan Sosial Normatif dan Filosofis Akhlak Manusia

Landasan Sosial Normatif dan Filosofis Akhlak Manusia Landasan Sosial Normatif dan Filosofis Akhlak Manusia A. Landasan Sosial Normatif Norma berasal dari kata norm, artinya aturan yang mengikat suatu tindakan dan tinglah laku manusia. Landasan normatif akhlak

Lebih terperinci

MENJADI KONSELOR PROFESIONAL : SUATU PENGHARAPAN Oleh : Eva Imania Eliasa, M.Pd

MENJADI KONSELOR PROFESIONAL : SUATU PENGHARAPAN Oleh : Eva Imania Eliasa, M.Pd MENJADI KONSELOR PROFESIONAL : SUATU PENGHARAPAN Oleh : Eva Imania Eliasa, M.Pd A. PENDAHULUAN Banyak pertanyaan dari mahasiswa tentang, bagaimana menjadi konselor professional? Apa yang harus disiapkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maju mundurnya suatu bangsa terletak pada baik tidaknya karakter dan akhlak

BAB I PENDAHULUAN. maju mundurnya suatu bangsa terletak pada baik tidaknya karakter dan akhlak 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan karakter dan akhlak generasi muda sangatlah urgent, karena maju mundurnya suatu bangsa terletak pada baik tidaknya karakter dan akhlak generasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kepribadian dan kemampuan menuju kedewasaan serta pembentukan manusia

BAB I PENDAHULUAN. kepribadian dan kemampuan menuju kedewasaan serta pembentukan manusia 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan menuju kedewasaan serta pembentukan manusia seutuhnya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan, kehidupan bangsa dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan, kehidupan bangsa dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan, kehidupan bangsa dan diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Perkembangan ilmu pengetahuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peserta didik. Meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancang dan

BAB I PENDAHULUAN. peserta didik. Meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancang dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kompetensi paedagogik adalah kemampuan mengelolah pembelajaran peserta didik. Meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancang dan pelaksanaan pembelajaran. Kemampuan

Lebih terperinci

Cahaya di Wajah Orang-Orang Yang Memahami Ilmu Agama

Cahaya di Wajah Orang-Orang Yang Memahami Ilmu Agama Cahaya di Wajah Orang-Orang Yang Memahami Ilmu Agama Khutbah Pertama:????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.????????????:????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1995), hlm M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis,

BAB 1 PENDAHULUAN. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1995), hlm M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan agama merupakan segi pendidikan yang utama yang mendasari semua segi pendidikan lainnya. Betapa pentingnya pendidikan agama itu bagi setiap warga

Lebih terperinci

Hadits Menuntut Ilmu. Ringkasan Materi. A. Membaca Al Hadits Tentang Menuntut Ilmu Hadits 1. Hadits 2. Hadits 3

Hadits Menuntut Ilmu. Ringkasan Materi. A. Membaca Al Hadits Tentang Menuntut Ilmu Hadits 1. Hadits 2. Hadits 3 Hadits Menuntut Ilmu 2 Standar Kompetensi : 2. Memahami Ajaran Al Hadits tentang menuntut Ilmu Kompetensi Dasar : 2.1. Membaca Al Hadits Tentang Menuntut Ilmu 2.2. Menyebutkan arti Al-Hadits tentang menuntut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki potensi kreatif dan inovatif dalam segala bidang kehidupannya, sehingga

BAB I PENDAHULUAN. memiliki potensi kreatif dan inovatif dalam segala bidang kehidupannya, sehingga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan dan peradaban manusia yang terus berkembang. Hal ini sejalan dengan pembawaan manusia yang memiliki potensi kreatif

Lebih terperinci

Sucikan Diri Benahi Hati

Sucikan Diri Benahi Hati Sucikan Diri Benahi Hati Khutbah Pertama:?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????...????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010), hlm Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,

BAB I PENDAHULUAN. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010), hlm Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan kebutuhan mutlak bagi kehidupan umat manusia yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa adanya sebuah pendidikan, maka tidak mungkin suatu

Lebih terperinci

TEORI BELAJAR KLASIK Oleh : Habibi FKIP Universitas Wiraraja Sumenep

TEORI BELAJAR KLASIK Oleh : Habibi FKIP Universitas Wiraraja Sumenep TEORI BELAJAR KLASIK Oleh : Habibi FKIP Universitas Wiraraja Sumenep Teori belajar berkembang dengan pesat setelah psikologi sebagai bidang ilmu terbentuk. Ilmu pengetahuan sendiri benar-benar eksis dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Sebagai suatu kegiatan yang sadar akan tujuan, maka dalam pelaksanaannya

BAB I PENDAHULUAN. manusia. Sebagai suatu kegiatan yang sadar akan tujuan, maka dalam pelaksanaannya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Penegasan Judul Pendidikan adalah usaha sadar dan bertujuan untuk mengembangkan kualitas manusia. Sebagai suatu kegiatan yang sadar akan tujuan, maka dalam pelaksanaannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di era modern ini, begitu pentingnya nilai dalam menjaga keharmonisan

BAB I PENDAHULUAN. Di era modern ini, begitu pentingnya nilai dalam menjaga keharmonisan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di era modern ini, begitu pentingnya nilai dalam menjaga keharmonisan dan menyelaraskan pembangunan dan kemajuan, maka nilai akhlak harus tetap dilestarikan dan ditanamkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejak dilahirkan manusia membutuhkan pergaulan dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Pada perkembangan menuju dewasa, interaksi sosial diantara

Lebih terperinci

E٤٨٤ J٤٧٧ W F : :

E٤٨٤ J٤٧٧ W F : : [ ] E٤٨٤ J٤٧٧ W F : : MENGHORMATI ORANG LAIN "Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang muda dari kami." Orang yang paling pantas dihormati dan dihargai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pemahaman yang mereka miliki dan mereka butuhkan.

BAB I PENDAHULUAN. pemahaman yang mereka miliki dan mereka butuhkan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan dan pembelajaran sangatlah dibutuhkan oleh setiap manusia. Pendidikan dan pembelajaran dapat diberikan ketika masih kecil sampai ketahap dewasa dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Agama Islam merupakan agama yang membawa kesejahteraan, kedamaian,

BAB I PENDAHULUAN. Agama Islam merupakan agama yang membawa kesejahteraan, kedamaian, BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Agama Islam merupakan agama yang membawa kesejahteraan, kedamaian, menciptakan suasana sejuk dan harmonis bukan hanya di antara sesama umat manusia tetapi juga

Lebih terperinci