Perbedaan kondisi karang gigi pada masyarakat yang mengkonsumsi air sumur dengan bukan air sumur

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Perbedaan kondisi karang gigi pada masyarakat yang mengkonsumsi air sumur dengan bukan air sumur"

Transkripsi

1 Perbedaan kondisi karang gigi pada masyarakat yang mengkonsumsi air sumur dengan bukan air sumur I Made Budi Artawa, I G A A Pt.Swastini Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Denpasar ABSTRAK Karang gigi merupakan suatu faktor iritasi yang terus menerus terhadap gusi sehingga dapat menyebabkan keradangan pada gusi. Mineral kalsium dan phosphat sebagai pembentuk karang gigi dapat diperoleh dari konsumsi makanan dan minuman. Penduduk Desa Kelan sebagian besar mengkonsumsi air sumur dengan kandungan kalsium cukup tinggi yaitu 132,08 mg/liter air. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan terjadi karang gigi pada masyarakat yang mengkonsumsi air bersumber dari sumur dengan yang bukan dari sumur. Penelitian ini merupakan penelitian komperasi dengan rancangan penelitian prosfektif. Penelitian ini menggunakan dua sampel independen yaitu kelompok terpapar (pengkonsumsi air sumur) dan kelompok tidak terpapar (pengkonsumsi air bukan air sumur). Besar sampel penelitian sebanyak 66 orang. Data dikumpulkan dengan cara wawancara dan pemeriksaan langsung. Pengolahan data dianalisis secara statistik univariat dan bivariat dengan uji T-test dua sampel berbeda. Hasil analisis kuantitatif uji T-test dua sampel berbeda menunjukkan t hitung dengan equal varience not assumed sebesar 5,907 dan probabilitas sebesar 0,000. Oleh karena probabilitas < 0,005, maka Ho ditolak atau kedua rata-rata skor karang gigi pada pengkonsumsi air bersumber dari sumur dengan yang bukan sumur benar-benar berbeda secara signifikan. Kata Kunci: perbedaan, karang gigi, air sumur Korespondensi: I Md.Budi Artawa, Poltekkes Kemenkes Denpasar, Jurusan Kesehatan Gigi. Jl. P Moyo no 33 Pedungan Denpasar Selatan. Telp: PENDAHULUAN Pemeliharaan kesehatan gigi sangatlah penting, karena gigi bukan hanya sebagai alat pengunyahan melainkan lebih dari itu, maka sepatutnya gigi tersebut dipertahankan keberadaannya di dalam rongga mulut 1. Penyakit gigi dan mulut merupakan penyakit yang tersebar luas di masyarakat Indonesia. Faktor penyebab dari penyakit gigi dan mulut dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan gigi. Berbagai upaya untuk mengatasi hal tersebut telah banyak dilakukan baik oleh pemerintah maupun swasta 2. Karang gigi merupakan suatu faktor iritasi yang terus menerus terhadap gusi sehingga dapat menyebabkan keradangan pada gusi. Bila tidak dihilangkan maka akan berlanjut pada kerusakan jaringan penyangga gigi dan lamakelamaan mengakibatkan gigi menjadi goyang serta lepas dengan sendirinya 3. Karang gigi adalah jaringan keras yang melekat erat pada gigi yang terdiri dari bahan-bahan mineral seperti Ca, Fe, Cu, Zn, dan Ni 4. Karang gigi adalah merupakan plak yang berkalsifikasi 5

2 Karang gigi terbentuk oleh karena adanya pengendapan sisa makanan dengan air ludah dan kuman-kuman maka terjadilah proses pengapuran yang lama kelamaan menjadi keras 6. Karang gigi juga terbentuk oleh karena pengendapan kalsium pada plak basa kemudian terjadi pengapuran dan mengeras maka terbentuklah karang gigi 7 Mineral kalsium dan phosphat sebagai pembentuk karang gigi dapat diperoleh dari konsumsi makanan dan minuman. Sumur gali merupakan salah satu sumber air minum terutama bagi masyarakat yang berada di daerah dataran rendah seperti di pesisir pantai. Salah satu desa yang berada di pesisir pantai adalah Desa Kelan Kecamatan Kuta Selatan. Berdasarkan informasi dari dokter gigi yang praktek swasta di daerah tersebut, menyatakan bahwa banyak pasien yang berasal dari Desa Kelan datang dengan keluhan giginya mudah kotor oleh karang gigi. Hasil observasi dan wawancara pendahuluan terhadap beberapa penduduk Desa Kelan menyatakan sebagian besar masih mengkonsumsi air dengan menggunakan sarana sumur gali atau sumur bor. Hasil tes laboratorium air dari 33 sumur di Desa Kelan menunjukkan kandungan phosphat rata-rata 0,01 dan kalsium cukup tinggi yaitu yaitu rata-rata 132,09 mg/liter air dibandingkan dengan standar normal kalsium dalam air minum yaitu 100 mg/liter air 8. Konsentrasi kalsium pada air minum yang melebihi standar apabila dikonsumsi terus menerus dapat menambah kepekatan air ludah sehingga kalsium bersama dengan phosphat akan membentuk hablur dan menjadi karang gigi. Tetapi belum diketahui apakah ada perbedaan terjadi karang gigi pada masyarakat yang mengkonsumsi air sumur dengan yang bukan air sumur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kondisi karang gigi pada masyarakat yang mengkonsumsi air sumur dengan yang bukan air sumur di Desa Kelan Kecamatan Kuta Selatan Kabupaten Badung Provinsi Bali METODE Penelitian ini merupakan penelitian komperasi dengan rancangan penelitian prosfektif. Penelitian ini dilakukan di Desa Kelan Kecamatan Kuta Selatan Kabupaten Badung Provinsi Bali Populasii penelitian ini adalah semua masyarakat yang tinggal menetap minimal tujuh bulan di Desa Kelan. Penelitian ini menggunakan dua sampel independen yaitu kelompok terpapar (pengkonsumsi air sumur) dan kelompok tidak terpapar (pengkonsumsi air bukan air sumur). Besar sampel penelitian sebanyak 66 responden. Penelitian ini menggunakan data primer, data dikumpulkan dengan cara wawancara dan pemeriksaan langsung. Kedua kelompok sampel pada awal pengamatan dilakukan pemeriksaan kalkulus indeknya, dan dilakukan pembersihan karang gigi. Pemeriksaan ulang dan menghitung kalkulus indek dilakukan setelah tiga bulan. Pengolahan data dilakukan dengan bantuan komputer dan dianalisis secara statistik univariat dan bivariat dengan uji T-test dua sampel berbeda. HASIL PENELITIAN Hasil pengamatan terhadap obyek penelitian kelompok pengkonsumsi air sumur maupun yang bukan pengkonsumsi air sumur tentang keadaan karang gigi pada awal pengamatan dan akhir pengamatan disajikan pada tabel berikut.

3 Tabel 1. Keadaan Karang Gigi Kelompok Pengkonsumsi Air Sumur pada Awal Pengamatan No Kriteria Frekuensi % 1 Baik (0.0-0,6) Sedang (0,7-1,8) Buruk (1,9-3,0) Jumlah Rata-rata 2,97 Tabel 1 menunjukkan bahwa keadaan karang gigi responden yang mengkonsumsi air sumur paling banyak berada pada kriteria buruk yaitu sebanyak 28 orang (84.85%) dan tidak ada responden yang mempunyai skor karang gigi dengan kriteria baik. Nilai rata-rata sebesar 2,97 berada pada kriteria buruk. Tabel 2. Keadaan Karang Gigi Kelompok Pengkonsumsi Bukan Air Sumur pada Awal Pengamatan No Kriteria Frekuensi % 1 Baik (0.0-0,8) 18 54,55 2 Sedang (0,9-1,8) 13 39,39 3 Buruk (1,9-3,0) 2 06,06 Jumlah Rata-rata 0,57 Tabel 2 menunjukkan bahwa keadaan karang gigi responden yang mengkonsumsi bukan air sumur paling banyak berada pada kriteria baik yaitu sebanyak 18 orang (54,55), dan paling sedikit berada pada kriteria buruk yaitu sebanyak dua orang (06,06%), dan nilai rata-rata 0,57 berada pada kriteria baik. Tabel 3. Keadaan Karang Gigi Kelompok Pengkonsumsi Air Sumur pada Akhir Pengamatan No Kriteria Frekuensi % 1 Baik (0.0-0,6) Sedang (0,7-1,8) Buruk (1,9-3,0) Jumlah Rata-rata 2,97 Tabel 3 menunjukkan bahwa keadaan karang gigi responden yang mengkonsumsi air sumur paling banyak berada pada kriteria buruk yaitu sebanyak 31 orang (93,94%) dan tidak ada responden yang mempunyai karang gigi kriteria baik. Nilai rata-rata sebesar 2,97 berada pada kriteria buruk. Tabel 4. Keadaan Karang Gigi Kelompok Pengkonsumsi Bukan Air Sumur pada Akhir Pengamatan

4 No Kriteria Frekuensi % 1 Baik (0.0-0,8) Sedang (0,9-1,8) Buruk (1,9-3,0) Jumlah Rata-rata 0,48 Tabel 4 menunjukkan bahwa keadaan karang gigi responden yang mengkonsumsi bukan air sumur paling banyak berada pada kriteria baik yaitu sebanyak 17 orang (51,52) dan paling sedikit berada pada kriteria buruk yaitu sebanyak dua orang (6,06), dan nilai rerata 0,48 berada pada kriteria baik. Tabel 5. Hasil Uji T-tes pada Awal Pengamatan Kelompok Skor Equal Variance Assumed Equal Variance Not Assumed Levene s Test for quality of t-test for Equality of Means Variances F Sig t df Sig (2-tailed) Tabel 5 menunjukkan t hitung dengan equal varience not assumed sebesar 10,977 dan probabilitas sebesar 0,000. Oleh karena probabilitas < 0,005, maka Ho ditolak atau kedua rata-rata skor karang gigi pada masyarakat yang mengkonsumsi air sumur dengan yang bukan air sumur di Desa Kelan Kecamatan Kuta Selatan Provinsi Bali 2010 benar-benar berbeda secara signifikan. Besar perbedaannya 1,39 berada diantara perbedaan rata-rata bagian bawah =1,14 dan perbedaan rata-rata bagian atas = 1,65. Tabel 6. Hasil Uji T-tes pada Akhir Pengamatan Levene s Test for quality of t-test for Equality of Means Kelompok Skor Variances F Sig t df Sig. Equal Variance Assumed Equal Variance Not Assumed (2-tailed) Tabel 6 menunjukkan t hitung dengan equal varience not assumed sebesar 5,907 dan probabilitas sebesar 0,000. Oleh karena probabilitas < 0,005, maka Ho ditolak atau kedua rata-rata skor karang gigi pada masyarakat yang mengkonsumsi air sumur dengan yang bukan air sumur di Desa Kelan Kecamatan Kuta Selatan Provinsi Bali 2010 benar-benar berbeda secara signifikan. Besar perbedaannya 0,79 berada diantara perbedaan rata-rata bagian bawah =0,52 dan perbedaan rata-rata bagian atas = 1,05.

5 PEMBAHASAN Hasil penelitian terhadap 66 responden yang terdiri dari 33 responden yang mengkonsumsi air sumur dan 33 responden yang mengkonsumsi bukan air sumur. Secara deskriptif dapat dijelaskan antara lain keadaan karang gigi responden yang mengkonsumsi air sumur pada awal pengamatan rara-rata 2,97 berada pada kriteria buruk. Sedangkan keadaan karang gigi pada responden yang mengkonsumsi bukan air sumur menunjukkan nilai rata-rata 0,57 berada pada kriteria baik. Keadaan karang gigi responden yang mengkonsumsi air sumur pada akhir pengamatan nilai rara-rata 2,97 berada pada kriteria buruk. Sedangkan keadaan karang gigi pada responden yang mengkonsumsi bukan air sumur menunjukkan nilai rata-rata 0,48 berada pada kriteria baik. Hasil analisis data dengan menggunakan uji T- test dua sampel berbeda pada awal pengamatan didapatkan t hitung dengan equal varience not assumed sebesar 10,977 dan probabilitas sebesar 0,000. Dan hasil analisis data pada akhir pengamatan didapatkan t hitung dengan equal varience not assumed sebesar 5,907 dan probabilitas sebesar 0,000. Oleh karena probabilitas < 0,005, maka Ho ditolak atau kedua rata-rata skor karang gigi pada pengkonsumsi air sumur dengan yang bukan air sumur benar-benar berbeda secara signifikan baik pada awal pengamatan dan akhir pengamatan. Besar perbedaannya pada awal pengamatan sebesar 1,39 berada diantara perbedaan rata-rata bagian bawah =1,14 dan perbedaan rata-rata bagian atas = 1,65. Dan besar perbedaannya pada akhir pengamatan sebesar 0,79 berada diantara perbedaan rata-rata bagian bawah =0,52 dan perbedaan rata-rata bagian atas = 1,05. Hasil analisis tersebut menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan terjadinya karang gigi pada masyarakat yang mengkonsumsi air sumur dengan yang bukan air sumur di Desa Kelan Perbedaan yang didapatkan antara lain pada responden yang mengkonsumsi air sumur nilai rata-rata karang gigi berada pada kriteria buruk sedangkan pada responden yang mengkonsumsi bukan air sumur nilai rata-rata karang gigi berada pada kriteria baik. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena kandungan air sumur yang dikonsumsi oleh responden banyak mengandung kalsium, sehingga akan mempercepat pengapuran dan pengendapan plak menjadi karang gigi. Hal ini didukung oleh hasil tes laboratorium air sumur Desa Kelan menunjukkan kandungan rata-rata kalsium cukup tinggi yaitu 132,08 mg/liter air dibandingkan dengan standar normal kalsium dalam air minum yaitu 100 mg/liter air 8. Pernyataan ini didukung oleh pendapat Be Ken Nio, bahwa karang gigi terbentuk akibat dari kalsium yang ada dalam air ludah akan mengendap pada lapisan plak, kemudian terjadilah pengapuran lapisan plak dan mengeras maka terbentuklah karang gigi (calculus) 7. Hal ini didukung juga oleh pernyataan Houwink, yang mengatakan bahwa karang gigi terbentuk karena plak yang dibiarkan dalam waktu lebih lama pada gigi dan akan berkalsifikasi 5. Konsentrasi kalsium pada air minum yang melebihi standar apabila dikonsumsi terus menerus dapat menambah kepekatan air ludah sehingga kalsium bersama dengan phosphat akan membentuk hablur dan menjadi karang gigi. Jenis karang gigi yang terbentuk adalah karang gigi air ludah (salivary calculus) 9 Simpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang bermakna terjadi karang gigi pada masyarakat yang mengkonsumsi air sumur dengan yang bukan air sumur, di Desa Kelan Kecamatan Kuta Selatan Kabupaten Badung

6 Provinsi Bali Sehingga disarankan kepada masyarakat Desa kelan pada umumnya dan masyarakat yang mengkonsumsi air sumur pada khususnya, agar lebih memperhatikan kebersihan gigi dan mulutnya, dengan cara menyikat gigi segera setelah makan minimal dua kali dalam sehari, yaitu pagi setelah makan dan malam sebelum tidur, rajin memeriksakan gigi dan membersihkan gigi ke tempat pelayanan kesehatan gigi minimal enam bulan sekali. DAFTAR PUSTAKA 1. Departemen Kesehatan RI. Tata cara kerja pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas. Jakarta: Direktorat Jendral Pelayanan Medik; h Departemen Kesehatan RI. Pedoman upaya pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas. Jakarta: Depkes RI; h Tarigan R. Kesehatan gigi dan mulut. Edisi IV. Jakarta: EGC; h Tarigan R. Kesehatan gigi dan mulut. Edisi I. Jakarta: EGC; h Houwink BJ. Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada; h Tomasowa RA. Pengetahuan dasar tentang kesehatan gigi dan mulut. Jakarta: Depkes RI; h Be KN. Preventif dentistry. Bandung: Yayasan Kesehatan Gigi Indonesia; h WHO. Guidelines for Drinking-Water Quality. Geneva: Heal Criteria and Other Supporting Information; p Ariyantono E. Karang gigi Available from: co.cc/2009/12/karang-gigi.html. Accessed September 27, 2010.

7 The effect of oral rinse from beluntas extract to minimize the creation of plaque Asep Arifin Senjaya Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Denpasar ABSTRAK Obat - obat tradisional bukan masalah bagi kehidupan masyarakat khususnya yang hidup di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Beluntas adalah tanaman yang umum tumbuh di Indonesia. Ekstrak beluntas sangat efektif untuk mengurangi pertumbuhan mikrobakteri dalam air ludah. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis efektivitas kumur - kumur ekstrak beluntas untuk mengurangi pembentukan plak. Metode: Desain penelitian ini adalah eksperimental murni menggunakan pretest design with control. Populasi penelitian 61 orang. Pada penelitian ini tidak dilakukan sampling, tetapi menggunakan total populasi dengan memberlakukan kriteria inklusi dan eksklusi. Kelompok eksperimen diberikan kumur - kumur ekstrak beluntas, sedangkan kelompok kontrol diberikan kumur - kumur aquadest. Pengukuran plak menggunakan metode Sillness dan Loe. Hasil: Jumlah mahasiswa yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 34 orang, terdiri dari 24 perempuan dan 10 laki - laki. Tidak dijumpai sampel yang ekslusi. Pada sampel yang berkumur - kumur dengan aquadest dijumpai satu orang sampel dengan indeks plak terendah: 1,25 dan satu orang sampel dengan indeks plak tertinggi: 2,71. Pada sampel yang berkumur - kumur dengan ekstrak beluntas dijumpai satu orang dengan indeks plak terendah: 1,04 dan satu orang dengan indeks plak tertinggi: 2,79. Berdasarkan hasil penelitian ini, terlihat bahwa indeks rata - rata pada sampel yang berkumur - kumur dengan ekstrak beluntas: 1,76. Nilai ini lebih rendah dibandingkan dengan indeks plak rata - rata pada sampel yang berkumur - kumur dengan aquadest, yaitu: 1,98. Uji Mann Whitney menunjukkan nilai signifikansi: 0,106, ini berarti tidak ada perbedaan antara kedua cara berkumur tersebut. Simpulan: Kumur - kumur ekstrak beluntas tidak efektif untuk mengurangi pembentukan plak. Kata kunci: ekstrak beluntas, pembentukan plak Korespondensi: Drg. Asep Arifin Senjaya M.Kes, Poltekkes Kemenkes Denpasar, Jurusan Kesehatan Gigi. Jl. P Moyo no 33 Pedungan Denpasar Selatan. Telp:

8 INTRODUCTION Traditional medicine is not something new in Asia, Africa and Latin America 1. In ancient Egypt, the cultivation of plants needed for traditional medicine started at 2,500 B.C. 2. In recent days, the research and development in medicinal plants was conducted widely in Indonesia as well as overseas. Health Minister of the Republic of Indonesia supports the traditional treatment and healing that is being so progressed in Indonesia. There has been published a decision letter of the Health Minister of the Republic of Indonesia regarding: the center for the development and application of the traditional way of treatment in namely 12 provinces 3. Beluntas (Plucea Indica) is a kind of plant that could been easily found in Indonesia. Beluntas leaves have unique aromas and bitter taste and helps to increase appetite, helps in the digestive system, stop perspiration, lower temperature and also act as freshener 3. Beluntas leaves can also be used to remove body odor and bad breath 1,3,4,5. As a traditional medicine, beluntas leaves is also used to relieve cough and stop diarrhea. Beluntas leaves have an anti bacteria and anti oxidant function and also tends to develop as preservation for food. Beluntas leaves effective to relief any kind of diseases caused by bacteria infection 6. Beluntas is a small plant that grow straight with an average height of 2 meters. This is a wild plant grow on a dry climate and hard and stony soil or some may plant it as fence plants. Beluntas need sunshine, normally grows near sea costal area with height of 1,000 m above sea level 3. The chemical substance that is contained in Beluntas are alkaloid, flavonoida, tannin, and atsiri oil which usually contain several phenol compounds such as eugenol, kavikol, phenyl propane and sineol. This phenol compound has a very strong anti bacterial potency 7. Research: Beluntas leaves extract used to lower the bacterial amount inside the mouth done by Nahak M M and companions (2006) showing that Beluntas leaves extract has capability decrease down the bacteria s growth in saliva. The Beluntas leaves in higher concentration will decrease the microba s growth. However, there is no significant difference in the decrease of microba s growth between sample that using 10%, 20% and 30% extract 8. Oral health is a part of public fundamental health and welfare 8. Health Research Principal Year 2007 shows DMF T: Index DMF T shows the amount of damage tooth transpire as decay, missing, and filling 9. Caries is a disease whereby bacterial process damage hard tooth structure (enamel, dentin, and cementum). Caries will only appear if there are 4 factors: bacteria, substrate, susceptible teeth, and timing, which cannot be argued that if there is no plaque then caries will not happen. One of the preventive measure is to remove and prevent the formation of plaques, as well as cleaning the plaque at certain time 10. 2

9 Bacterial collects directly on enamel, but usually bacteria will be collected first on pellicle. Pellicle is a thin layer, smooth, and colourless from protein especially glycoprotein saliva that collected on teeth surface. Several minutes after pellicle formed, then it will be populated by bacteria. Those populated pellicle that is called plaque 11. Plaque is the pellicle that contains bacteria. Definition of pellicle is thin skin or film consists most of glycoprotein. Pellicle that formed from saliva or gum liquid will be formed first on the tooth. Right after the cuticle formed, bacteria typed coccus (primarily streptococcus) will be collected on the cuticle surface. Plaques consists of two main types: Supragingival and Subgingival on cervical gingival or pocket periodontal. The early shape is more cariogenic. Which the last formation can stimulate the periodontal disease. Tooth plaques takes part in the pathogenic of caries and periodontal disease 11. Dental plaque is a soft deposit that accumulates on the teeth. Plaque can be defined as a complex microbial community with greater than bacteria per milligram. It has been estimated that as many as 400 district bacterial species may found in plaque. In addition to the bacterial cells, plaque contains a small number of epithelial cell, leucocytes, and macrophages 12. The primary cause of the periodontal diseases is the bacterial irritation. While the secondary cause consists of two factor namely local and systemic factor. The local factor consists of the following: 1) improper restoration, 2) caries, 3) the accumulation of food debris, 4) removable partial denture which are not properly done, 5) removable or fixed orthodontic appliance, 6) the malformation of teeth, 7) the improper lips formation, 8) mouth breathing, 9) smoking habit, 10) groove formation of on the surface or the cervical area. While the systemic factor consists of: 1) genetic factor, 2) nutrition, 3) hormonal imbalance, 4) hematologic factor 11. Periodontal disease can be prevented and the early treatment is very simple. If the disease progresses, then it will require more complicated therapy. When there is good and accurate plaque control then most of the patient will not experience gingivitis or periodontitis. Cleaning teeth is to remove plaque 13. To show plaque on the teeth surface can be done using disclosing agent 13 and determining plaque score using plaque index as stated by Silness and Loe.(1964) 13,14. Plaque controlling method can be with chemical ingredients (mouthwash solution), water irrigation and mechanisms (teeth polishing and brushing teeth) regular prevention / cure from plaque accumulation is the best method to keep off periodontal diseases and the most important prevention measure is using tooth brush effectively. Brushing teeth effectively is the very method to prevent accumulation of plaque 13. The main objectives on this analysis the effect of using beluntas extract to decrees plaque formation. The research question: Is oral rinse using beluntas extract effective to minimize the plaque formation? 3

10 The Purpose of this research: first is to increase knowledge on the usage of Beluntas leaves as antiseptic oral rinse suspension and the second as an additional information for further research. Hypothesis of research is: oral rinse using beluntas extract effective to minimize the plaque formation. MATERIAL AND METHOD This is a pure experimental study using pretest design with control. The test being done on November to the early December at The research population is the entire students of Dental Nursing Departement in Health Polytechnic Denpasar at 2009/2010, with the sum of 61 students. No samples being done. The test is done using the total population with inclusive and exclusive criteria. Criteria of Inclusive samples are the following: 1) Available to be the research sample, 2) Posses at least 28 teeth, 3) Posses a healthy teeth condition, 4) Do not suffer from gingivitis or periodontal disease. Criteria of exclusive sample are the following: 1) The sample is absent due to sickness or other reason, 2) The sample has done tooth brushing when the research time set. When the research time was done, there are 34 students have completed the inclusive criteria. No exclusive samples was found. The data gathering as of the following: 1) A week before the data gathering. There should did the tooth polishing and plaque removal and the entire students were taught the manner of proper tooth brushing by the Dental Nursing in Health Polytechnic Denpasar who have qualified the inclusive sample criteria. 2) During the time when the research being done (which is on Thursday), the sample was divided in to two groups which is the treatment and control group. The grouping was done by lottery technic. 3) After the lottery technic, to each student of the treatment group were given a bottle of Beluntas extract (150 ml), while a bottle of aquadest was given to the control group. The Beluntas extract was made of 2.5 kg of young Beluntas leaves. The leaves are fresh, boiled with 5,000 ml of water. The boiling time should take an hour, while the aquadest can be bought at any chemical store. 4) The following day (Friday), all throughout the day no tooth brushing was done and as the substitute, the students will be given 30 ml of beluntas extract and 30 ml of aquadest in 20 second mouth rinsing. The rinsing was done three times during the day, which was after breakfast, after lunch and before went to bed. During this experimental period the sample should not consume the sweets that can stick to the teeth such as: candies, chocolates and dodol. 5) After the time accomplished, the samples should do the rinsing again using same method in the morning at the following day (Saturday). So that the total time of rinsing is 4 times which the examination of plaque on the samples followed by Silness and Loe method (1964) 15. The result is recorded on a separate sheet. After the plaque examination, the samples may go for tooth brushing. This is the end of the procedure. 4

11 The teeth surface that examined on the index set by Silness and Loe are: buccal, lingual, mesial, and distal. The teeth examined are the following: 1) The first molar: the right upper jaw (16), 2) The second incisor: the right upper jaw (24), 3) The first molar: left lower jaw (36), 4) The second incisor: left lower jaw (32), 5) The first premolar: right lower jaw (44) 15. When the index tooth is missing then there is no replacement. The procedure of the index plaque measurement is: to evaluate the plaque score on the teeth surface (buccal, lingual, and distal). The index plaque of each tooth attained by the total plaque index of all the teeth that divided by the number of teeth being examined 15. The value (score) of the teeth surface is 15 : No. Score Criteria 1. 0 No plaque is detected 2. 1 A thin layer of plaque of the gum side is detected by scratching the probe or using disclosing 3. 2 The accumulation of plaque on the minimum rate along the gum side and obviously seen 4. 3 The large accumulation of plaque along the gum side and at the interdental area The plaque index examination is done at Dental Clinic Dental Nursing Departement - Health Polytechnic Denpasar. The material and instruments that used were: two mouth mirrors, dental pliers, examination sheet, cotton, and disclosing agent. The gathering data was analized by statistic univariate analysis using frequency, mean, range, and standard deviation. The same data was also analized by statistic bivariate analysis using Mann Whitney test. RESULT The students which were qualified for the inclusive criteria were 34 students. Consists of 24 female students (70.58%) and 10 male students (29.42 %). The average age 20 years. No exclusive samples was found. We were using aquadest mouth rinsing for the samples, found that: one person with the lowest plaque index of 1.25 and one person with the highest plaque index was Mean plaque index on the samples that were using aquadest The deviation standard was Plaque index on Beluntas extract rinsing samples, we found that: one person with the lowest plaque index of 1.04 and one person with the highest plaque index of Mean plaque index on the samples has been used Beluntas extract is 1.76 and the deviation standard was

12 Based on this research, we could say that the mean plaque index on the samples using Beluntas extract as mouth rinsing was This score was lower than the samples that were using aquadest rinsing which was A test of Mann Whitney was used to identify whether there was a difference on plaque index after using aquadest rinsing compare to Beluntas extract rinsing 16. The result is the significant score of DISCUSSION Mean plaque index on the samples that were using Beluntas extract as mouth rinse: The score is lower than mean plaque index on the samples that were using aquadest as mouth rinse: This is indicating that Beluntas extract has capacity to decrease the plaque. Beluntas contains several chemical compounds, one of them is Phenol 7. Phenol compounds contain very strong antibacterial potency 7. Phenol also known as carbolic acid, is an organic compound with the chemical formula: C 6 H 5 OH. Phenol appreciably soluble in water and versatile precursor to a large of drugs. The antiseptic property of phenol were used by Sir Joseph Lister ( ) in his pioneering technique of antiseptic surgery 17. Phenol has been used since long time ago as mouth rinse solution and when used in high concentration with another compound, phenol has proved to decrease plaque accumulation 11. This statement can be interpreted that phenol usage is effective in decreasing plaque if combined with another compound. The decrease of plaque is very important because teeth plaque have a role in pathogenicity from caries and periodontal disease 13. The pathogenicity from plaque is caused by high amount of microorganism within the plaque. Around 300 species and sub species of microorganism can be found and be isolated from a sample of plaque that was taken from sub gingival area 14. Mann Whitney test result showed a significant value for a single type: This means even though the average plaque index with samples that rinsed with Beluntas extract was lower than average plaque index with samples that rinsed with aquadest, but there is no significant differences in the plaque decrease between rinsing with Beluntas extract and was not effective in decreasing plaque formation. On this research Sillness and Loe method was used to examine plaque by measuring plaque thickness. This method can be used if there are two samples from two different groups which have same plaque index, but the researcher does not knowledge on microorganism amount on those two samples. In this case rinsing with aquadest and sample using beluntas extract. Plaque is the pellicle containing bacteria hat glued tightly to the teeth as supra gingival or sub gingival on cervix gingival or periodontal pocket. Plaque controlling method can be done using chemical ingredients (rinsing solution), water irrigation, and mechanism (tooth polishing, brushing teeth). Effective tooth brushing is the major method to get solved clean the plaque. So that the best method to the plaque removal is teeth polishing and tooth brushing 11. Dental plaque can cause to dental caries and periodontal problems such as gingivitis and chronic periodontitis. Dental plaque removal is essential for maintaining good oral health. Follow these tips on how to remove plaque from teeth: (1) Brush thoroughly at least twice a day with a fluoride toothpaste. (2) Use dental floss 6

13 everyday to remove plaque from your teeth and under your gum line. (3) Check your teeth with disclosing agent (tablet or solution) to ensure removing tooth plaque. (4) Control your diet. Limit sugary or starchy foods especially sticky snacks. (5) Ask your dentist or dental hygienist if your plaque removal techniques are good enough. (6) Visit your dentist regularly for professional cleanings and dental examinations 18. The average of plaque formation after oral rinse with aquadest is higher than the average plaque formation after oral rinse with beluntas extract. There is no difference from plaque formation after oral rinse with aquadest than Beluntas extract. So the conclusion of this research is: oral rinse using beluntas extract is not effective to decrease plaque formation. Furthermore it can be recommended that: 1) Beluntas extract can be used as mouth rinsing, 2) Teeth brushing is the major method to clean the plaque. REFERENCES 1. Suriawiria U. Obat mujarab dari pekarangan rumah. Jakarta: Papas Sinar Sinanti, h Kartasapoetra G. Budidaya tanaman berkhasiat obat. Cetakan kedua. Jakarta: Rineka Cipta h. 1,2. 3. Dalimartha S. Atlas tumbuhan obat Indonesia Jilid 1. Cetakan VIII. Jakarta: Trubus Agriwidya, h. viii, Hariana A. Tumbuhan obat dan khasiatnya Seri I. Cetakan IV. Depok: Penebar Swadaya h. 38,40 5. Sunariadi S. Ramuan Obat Tradisional. Surabaya: Amelia; h Anonim. Kamus Ilmiah: Daun beluntas sebagai bahan anti bakteri dan anti oksidan. Available from: Accessed: Oktober 29, Heyne K. Tumbuhan berguna Indonesia II. Jakarta: Badan Litbang Departemen Kehutanan; h Nahak MM, Dharmawati I.G.A.A., Tedjasulaksana R. Khasiat ekstrak daun beluntas untuk mengurangi jumlah bakteri dalam saliva. Interdental Jurnal Kedokteran Gigi 2007; 5: Departemen Kesehatan R I. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta; h Kidd Edwina AM, Joyston S Bechal. Dasar-dasar karies, penyakit dan penanggulangannya. Narlan Sumawinata, Safrida Faruk (penterjemah). Jakarta: EGC; h. 1,2,141, Manson JD, Eley BM. Buku ajar Periodonti. Lilian Yuwono (penterjemah). Jakarta: Hipokrates; h. 23, 44, 49, 67,115, 116, Haake SK. Microbiology of dental plaque. Available from: members/microbio/mdphome.html. Accesed October 29, Forrest JO. Pencegahan penyakit mulut. Yuwono (penerjemah). Jakarta: Hipokrates; h. 24, 29, Rateischak KH, Wolf HF, Hassel TM. Periodontology. 2 nd revised and expanded edition. New York: Thieme Medical Pub, Inc; p. 19, 35, 36. 7

14 15. WHO. Silness - Loe Index. Available from: html. Accessed September 15, Santoso S. Mengatasi berbagai masalah statistik dengan SPSS versi 11,5. Jakarta: PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia; h Wikipedia. Phenol. Available from: Accessed : October 29, Wikipedia. Dental plaque. Available from: Accesed October 29,

15 1 Perbedaan pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi disertai monitoring dan tanpa monitoring terhadap, sikap, perilaku dan status kebersihan gigi dan mulut. (Kajian terhadap murid SDN 1 dan 2 Sepang Kelod, Singaraja, Bali, tahun 2010) ABSTRAK Ni Ketut Ratmini Poltekkes Kemenkes Denpasar, Jurusan Kesehatan Gigi Promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat bertujuan memberdayakan individu, keluarga dan masyarakat agar mampu mengembangkan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM). Kegiatan pokok dan kegiatan indikatif dari program UKBM diantaranya adalah peningkatan pendidikan kesehatan kepada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi disertai monitoring dengan tanpa monitoring terhadap pengetahuan, sikap, perilaku dan status kebersihan gigi dan mulut murid SD. Penelitian ini adalah eksperimental semu dengan rancangan pretest and posttest group design. Subjek penelitian berjumlah 125 orang, dibagi dalam dua kelompok, yaitu: kelompok I responden kelas IV-VI SDN 1 Sepang Kelod yang diberi pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi disertai monitoring (64 orang), kelompok II adalah responden kelas IV- VI SDN 2 Sepang Kelod yang diberi pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi tanpa monitoring (61 orang). Pre-test menunjukkan hasil yang sebanding pengetahuan, sikap dan status kebersihan gigi dan mulut (p>0,05) dan terdapat perbedaan perilaku antara kelompok I dengan kelompok II (p<0,05). Hasil setelah perlakuan menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pengetahuan responden antara kelompok I dengan kelompok II (p>0,05) dan ada perbedaan yang signifikan sikap, perilaku serta status kebersihan gigi dan mulut antara kelompok I dengan kelompok II (p<0,05). Pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi disertai monitoring lebih baik dibandingkan dengan tanpa monitoring terhadap sikap, perilaku dan status kebersihan gigi dan mulut murid sekolah dasar. Kata kunci: Monitoring, sikap, perilaku, status kebersihan gigi dan mulut. Korespondensi: Ni Ketut Ratmini, Poltekkes Kemenkes Denpasar, Jurusan Kesehatan Gigi. Jl. P Moyo no 33 Pedungan Denpasar Selatan. Telp: PENDAHULUAN Pendidikan kesehatan gigi adalah usaha terencana dan terarah untuk menciptakan suasana agar seseorang atau kelompok masyarakat mau mengubah perilaku lama yang kurang menguntungkan untuk kesehatan gigi, menjadi lebih menguntungkan untuk kesehatan giginya 1. Tehnik yang dianjurkan untuk mencapai

16 2 tujuan pendidikan kesehatan gigi agar dapat memotivasi sesuai kebutuhan individu adalah, melalui alat bantu pendidikan yang tepat 2. Metode ceramah yang diikuti dengan memperagakan cara menyikat gigi (demonstrasi menyikat gigi) efektif digunakan terhadap murid SD untuk menyampaikan informasi tentang pendidikan kesehatan gigi 3. Dorongan orang tua dalam membantu anak belajar dapat berupa monitoring secara rutin 4. Upaya pendidikan usia sekolah sangat perlu dilakukan, karena anak usia sekolah merupakan kelompok umur yang rawan terhadap masalah kesehatan. Pendidikan kesehatan melalui anak-anak sekolah sangat efektif untuk merubah perilaku dan kebiasaan-kebiasaan tentang kesehatan 5. Pentingnya pendidikan kesehatan gigi dan mulut pada usia sekolah, karena anak-anak dengan keadaan gigi dan mulut buruk akan mengganggu belajar dan aktifitas sehari-hari 6. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi disertai monitoring dengan tanpa monitoring terhadap sikap, perilaku dan status kebersihan gigi dan mulut murid SD. BAHAN DAN METODE Monitoring (pemantauan) adalah pemantauan yang dapat dijelaskan sebagai kesadaran (awareness) tentang apa yang ingin diketahui 7. Likert mengatakan, sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan seseorang terhadap suatu objek perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) 8. Perilaku merupakan hasil segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan 9.. Menurut Wilkin dan Cullough, tingkat kebersihan mulut ditentukan oleh jumlah deposit dan pewarnaan gigi (stain) 10. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental semu dengan rancangan pretest-posttest control group design. Subjek penelitian adalah responden kelas IV,V dan VI SDN Sepang Kelod yang berjumlah 125 orang, dibagi dalam kelompok perlakuan I dan II. Kelompok perlakuan I adalah responden kelas IV,V dan VI SDN 1 Sepang Kelod yang diberi pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi disertai monitoring (64 orang). Kelompok perlakuan II adalah responden kelas IV,V dan VI SDN 2 Sepang Kelod yang diberi pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi tanpa monitoring (61 orang). Variabel pengaruh dalam penelitian ini yaitu, pemberian pendidikan kesehatan gigi dengan metode ceramah dan demonstrasi disertai monitoring, sedangkan variabel terpengaruh yaitu: sikap, perilaku dan status kebersihan gigi dan mulut murid sekolah dasar. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner untuk mengukur sikap dan perilaku murid tentang kebersihan gigi dan mulut. Status kebersihan gigi dan mulut diukur dengan melakukan pemeriksaan kebersihan gigi dan mulut menggunakan indeks PHP-M (Personal Hygiene Performance-Modified) 6. Telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas kuesioner pada 30 orang murid SDN 3 Sepang Kelod Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Singaraja dalam penelitian ini. Hasil uji validitas kuesioner menunjukkan bahwa: Aitem pernyataan sikap yang berjumlah 17 aitem, dinyatakan valid 15 aitem (r antara 0,788 0,971) dan reliabel (α =0,970). Seluruh aitem pernyataan perilaku (16 aitem) dinyatakan valid (r antara 0,733 0,890) dan reliabel (α =0,976).

17 3 Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji statistik parametrik: Paired t-test, Independent t-test dan analisis delta. Pengukuran sikap, perilaku dan status kebersihan gigi dan mulut dilakukan sebelum perlakuan (pre-test). Pengukuran setelah perlakuan dilakukan post-test I, selanjutnya setelah tiga bulan perlakuan dilakukan post-test II. Hal ini dilakukan, karena perubahan perilaku dapat diukur setelah tiga sampai enam bulan setelah perlakuan 11. Analisis data menggunakan Statistik Program for Social Science (SPSS) versi 16, dengan pengujian hipotesis berdasarkan taraf signifikan p<0,05. Hasil uji normalitas, menunjukkan data penelitian semua berdistribusi normal. HASIL PENELITIAN Analisis perbedaan antar kelompok (Independent t-test), menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan rerata sikap dan status kebersihan gigi dan mulut responden antara kelompok I dengan kelompok II pada pre-test (p>0,05). Terdapat perbedaan rerata nilai perilaku responden antara kelompok I dengan kelompok II pada pre-test (p<0,05) (tabel 1). Hasil analisis peningkatan rerata nilai sikap pre-test ke post-test II pada kelompok perlakuan I; 10,66 dan kelompok II; 7,688, terdapat selisih; 2,98, kelompok I lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok II. Secara statistik ada perbedaan yang signifikan peningkatan rerata nilai sikap responden antara kelompok perlakuan I dengan perlakuan II (t=2,992, p<0,05) (tabel 2). Peningkatan rerata nilai perilaku pre-test ke post-test II pada kelompok perlakuan I; 10,73 dan kelompok II; 7,83, terdapat selisih; 2,90, kelompok I lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok II. Secara statistik ada perbedaan yang signifikan peningkatan rerata nilai perilaku antara kelompok perlakuan I dengan perlakuan II (t=3,348, p<0,05) (tabel 2). Peningkatan rerata status kebersihan gigi dan mulut pre- test ke post-test II pada kelompok perlakuan I; 20,57) dan kelompok II; 12,90, terdapat selisih; 7,67, kelompok I lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok II. Secara statistik ada perbedaan yang signifikan peningkatan rerata status kebersihan gigi dan mulut antara kelompok perlakuan I dengan perlakuan II (t= 4,677, p<0,05) (tabel 2). Tabel 1. Analisis Independent t- test Sikap, Perilaku dan Status Kebersihan Gigi dan Mulut Responden Sebelum perlakuan antara kelompok I dengan kelompok II Variabel Kelompok Rerata SD t df=123 p Keterangan Sikap Perilaku Status Kebersihan Gigi & Mulut I 42,18 1,31 II 44,44 0,51 I 44,73 1,24 II 46,98-0,26 I 45,04 2,16 II 47,19 1,68 2,59 0,11 Tidak Signifikan 2,67 0,09 Signifikan 1,17 0,44 Tidak Signifikan

18 4 Tabel 2. Analisis Paered simple t-test Sikap, Perilaku dan Status Kebersihan Gigi dan Mulut Responden dari pre-test ke post-test II dalam Kelompok perlakuan I dan II Sikap variabel Perilaku Status Kebersihan Gigi dan Mulut Kelompok Perlakuan I Rerata selisih SD t df=123 p Kelompok Perlakuan II Rerata selisih SD t df=123 10,66-1,30-15,77 0,00* 2,65-0,22-10,56 0,00* 10,73-1,98-18,493 0,00* 7,83-2,38-12,158 0,00* 20,57 3,17 17,093 0,00* 12,90 3,29 11,628 0,00* p Tabel 3. Rangkuman Hasil Analisis Delta Sikap, Perilaku dan Status Kebersihan Gigi dan Mulut Responden dari Pre-test ke Post-test II Antara Kelompok I dengan Kelompok II Variabel Kelompok Perlakuan I dan II t p Keterangan df=123 Sikap Perilaku Status Kebersihan gigi 2,992 3,348 4,677 0,003 0,001 0,000 Signifikan Signifikan Signifikan PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis awal karakteristik responden pada kelompok perlakuan I dan II (pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi disertai monitoring dan pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi tanpa monitoring), tidak terdapat perbedaan yang signifikan atau sebanding. Distribusi frekuensi, sikap dan status kebersihan gigi dan mulut responden berdasarkan hasil pengukuran awal (pre-test) antara kelompok perlakuan I dengan kelompok II menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan, namun distribusi frekuensi perilaku menunjukkan ada perbedaan yang signifikan antara kelompok I dengan kelompok II. Adanya perbedaan perilaku antara kelompok I dengan kelompok II diduga, karena adanya perbedaan lingkungan/wilayah tempat tinggal, yang mana kelompok I berlokasi di dusun Asah Badung dan kelompok II di dusun Gunung Sari, dengan jarak tempuh berkisar tiga (3) km. Hasil analisis ini sesuai dengan teori Kurt Lewin yang mengatakan, terbentuknya perilaku dapat terjadi

19 5 karena proses kematangan dan dari proses interaksi dengan lingkungan. Pengaruh yang paling besar terhadap perilaku adalah dari proses interaksi dengan lingkungan 1. Laporan hasil monitoring yang dilakukan oleh orang tua responden dalam penelitian ini, menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua responden sudah mengisi kartu monitoring sesuai dengan petunjuk untuk memonitoring anaknya dalam menyikat gigi di rumah. Jumlah kartu monitoring yang dibagikan kepada orang tua (64 lembar), telah kembali sesuai jumlah yang dibagikan (64 lembar). Pengembalian kartu monitoring pada minggu berikutnya sudah mulai memperlihatkan ketidakpatuhan, yaitu pengembalian jumlah kartu monitoring tidak sesuai dengan jumlah yang dibagikan (berkurang) dan ada juga yang mengembalikan kartu monitoring dengan mengisi hanya beberapa hari saja. Pengisian tanda ( ) yang tidak lengkap pada jumlah baris yang tersedia, membuktikan bahwa orang tua tidak rutin mengisi kartu monitoring sesuai dengan yang diharapkan peneliti. Hal ini diduga, karena beberapa orang tua responden tidak sempat mengisi kartu monitoring karena alasan sibuk atau tidak bisa mengisi kartu monitoring, karena orang tua responden tidak hadir pada waktu diundang untuk pembekalan pengisian kartu monitoring. Hasil analisis ini membuktikan bahwa ada ketidakpatuhan dalam pengisian kartu monitoring yang merupakan kelemahan penelitian dan dapat mempengaruhi efektivitas penelitian ini. Apabila monitoring yang dilakukan oleh orang tua menunjukkan kepatuhan, maka hasil penelitian ini mendukung pendapat Saefulloh yang menyatakan bahwa pelaksanaan monitoring yang dilakukan sejak awal, rutin pada proses dan di akhir pelaksanaan program, akan memberikan peningkatan efisiensi, efiktivitas, produktifitas serta secara akuntabilitas dapat dipertanggung jawabkan 12. Menurut Webste, s New Collegiate Dictionary, monitoring cenderung bersifat pengawasan, yaitu melakukan kegiatan pengawasan terhadap jalannya proyek 13. Menurut Azwar, untuk dapat melakukan pekerjaan pengawasan dengan baik, maka hal yang harus diperhatikan adalah objek pengawasan 14. Pembahasan hasil analisis monitoring orang tua, dijelaskan pada masing-masing variabel berikut: 1. Sikap Hasil analisis perbedaan rerata nilai sikap responden pada pre-test, post-test I dan post-test II antara kelompok perlakuan I dan kelompok perlakuan II, menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan rerata nilai sikap responden sebelum perlakuan (pre-test) dan setelah perlakuan (post-test I dan post-test II) antara kelompok perlakuan I dengan perlakuan II (p>0,05) Hasil analisis peningkatan rerata nilai sikap responden dari pre-test ke posttest I menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada kedua kelompok (p<0,05). Analisis peningkatan rerata nilai sikap responden dari post-test I ke posttest II menunjukkan adanya peningkatan rerata nilai sikap yang signifikan pada kedua kelompok (p<0,05) dan analisis peningkatan rerata dari pre-test ke post-test II, menunjukkan adanya peningkatan rerata nilai sikap yang signifikan pada kelompok perlakuan I dan II (p<0,05). Adanya peningkatan rerata nilai sikap pada kedua kelompok perlakuan, disebabkan karena pada kedua kelompok yang telah mendapatkan pendidikan kesehatan gigi dengan metode ceramah dan demonstrasi

20 6 menunjukkan bahwa sikap dipandang sebagai hasil belajar, bukan hasil perkembangan atau sesuatu yang diturunkan sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Mar, at dalam buku pengantar ilmu perilaku kesehatan dan pendidikan kesehatan gigi yang mengatakan bahwa, pendidikan kesehatan gigi yang telah diterima juga menimbulkan adanya keyakinan murid terhadap pengetahuan kesehatan gigi yang mereka dapatkan, sehingga terdapat peningkatan rerata nilai sikap 1. Hasil analisis ini mendukung pendapat Malvitz yang mengatakan, bahwa melalui pendidikan kesehatan gigi akan menimbulkan sikap dan tingkah laku yang positif terhadap pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut 15. Hasil analisis delta dari Pre-test ke Post-test II, menunjukkan adanya perbedaan peningkatan rerata nilai sikap yang signifikan antara kelompok I (p<0,05). Rerata peningkatan nilai sikap pada kelompok I (10,66), sedangkan kelompok II (7,688) terdapat selisih (2,98), kelompok I lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok II. Adanya peningkatan rerata nilai sikap yang lebih tinggi pada kelompok perlakuan I yang diberi pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi disertai monitoring dibandingkan dengan kelompok II yang diberi pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi tanpa monitoring, disebabkan karena monitoring menyikat gigi yang dilakukan oleh orang tua di rumah menghasilkan reaksi sikap yang lebih positif terhadap rangsangan yang diterimanya, sehingga murid yang mendapatkan monitoring menyikat gigi oleh orang tua terlihat lebih terkesan dan akan menetap serta membentuk pengertian dengan baik, sehingga dapat mempengaruhi sikap terhadap status kebersihan gigi dan mulut. Hasil penelitian ini mendukung pendapat Guilbert yang mengatakan bahwa sikap merupakan hasil dari proses sosialisasi, yaitu bereaksi sesuai dengan rangsangan yang berupa objek 1. Hasil analisis ini juga mendukung teori tentang sikap dalam buku psikologi pendidikan yang mengatakan, sikap adalah pandangan atau kecenderungan mental yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu 16. Disimpulkan bahwa, pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi disertai monitoring lebih baik dibandingkan dengan tanpa monitoring terhadap sikap tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut murid SD, dapat diterima. 2. Perilaku Hasil analisis perbedaan rerata nilai perilaku responden pada pre-test, posttest I dan post-test II antara kelompok perlakuan I dengan kelompok perlakuan II didapatkan: Pada waktu pre-test terdapat perbedaan yang signifikan perilaku responden antara kelompok perlakuan I dengan perlakuan II (p<0,05). Analisis perbedaan rerata nilai perilaku setelah perlakuan (post -test I) menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok I dengan kelompok II (p<0,05). Analisis perbedaan rerata nilai perilaku setelah perlakuan (post-test II) menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok I dengan kelompok II (p>0,05). Hasil analisis peningkatan rerata nilai perilaku responden dari pre-test ke post-test I, dari post-test I ke post-test II, dari pre-test ke post-test II, menunjukkan adanya peningkatan rerata nilai perilaku yang signifikan pada kedua kelompok

21 7 perlakuan (p>0,05). Adanya peningkatan rerata nilai perilaku yang signifikan pada kedua kelompok perlakuan, disebabkan karena responden setelah mendapat pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi, menjadi sadar akan adanya informasi baru tentang menyikat gigi yang diterimanya, sehingga mereka mulai tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang cara menyikat gigi, lalu mulai menilai apakah akan dan mulai mencoba melakukan cara menyikat gigi atau tidak dan selanjutnya mulai mencoba menyikat gigi sesuai yang diajarkan pada saat menerima pendidikan kesehatan gigi di kelas. Hasil analisis ini mendukung teori Roger, yaitu seseorang akan mengikuti atau menganut perilaku baru melalui tahapan: sadar akan adanya informasi baru, tertarik untuk mengetahui lebih lanjut lalu menilai dan mencoba melakukan 1. Hasil analisis ini juga mendukung pernyataan Depkes RI, bahwa pendidikan kesehatan gigi merupakan upaya-upaya yang dilakukan untuk merubah perilaku individu, kelompok atau masyarakat, sehingga mempunyai kemampuan dan kebiasaan berperilaku hidup sehat terhadap kesehatan gigi dan mulut 17. Hasil penelitian ini mendukung pula pendapat Karefa yang mengatakan pendidikan kesehatan gigi yang disampaikan kepada seseorang atau masyarakat mengenai kesehatan gigi diharapkan mampu mengubah perilaku kesehatan gigi individu atau masyarakat 1. Hasil analisis delta menunjukkan adanya perbedaan peningkatan rerata nilai perilaku dari pre-test ke post-test II antara kelompok perlakuan I dengan kelompok perlakuan II (p<0,05). Adanya peningkatan rerata nilai perilaku yang lebih tinggi pada kelompok I yang diberi pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi disertai monitoring dibandingkan dengan kelompok II yang diberi pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi tanpa monitoring, disebabkan karena monitoring menyikat gigi yang dilakukan oleh orang tua di rumah merupakan sumber penguat belajar (penguat ekstrinsik), sehingga memperoleh peningkatan rerata nilai perilaku yang lebih baik. Hasil analisis ini mendukung pendapat Atmodiwiryo, yang mengatakan bahwa pendidikan kesehatan gigi oleh orang tua dapat meningkatkan atau memperkuat suatu perubahan perilaku kesehatan gigi yang dianggap belum memadai 1. Hasil analisis ini menguatkan hasil penelitian tentang monitoring sepuluh menit yang mendapatkan, bahwa hasil monitoring sepuluh menit mencuci tangan pakai sabun di tingkat rumah tangga, mempengaruhi perubahan perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan sehat 17. Hasil analisis ini mendukung pula Program Edukasi dan Rehabilitasi Gizi (PERGIZI) yang mendapatkan telah terjadi perubahan perilaku yang lebih sehat dan lebih baik dalam merawat dan memberi makan anak dengan pelaksanaan monitoring 18. Disimpulkan bahwa, pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi disertai monitoring lebih baik dibandingkan dengan tanpa monitoring terhadap perilaku tentang pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut murid SD, dapat diterima. 3. Status Kebersihan Gigi dan Mulut Hasil analisis perbedaan rerata status kebersihan gigi dan mulut, menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan rerata status kebersihan gigi dan mulut responden sebelum perlakuan (pre-test) antara kelompok perlakuan I dengan

22 8 perlakuan II (p>0,05). Setelah diberikan perlakuan (post test I dan pada post-test II) terdapat perbedaan yang signifikan rerata status kebersihan gigi dan mulut responden antara kelompok I dengan kelompok II (p<0,05). Hasil analisis peningkatan rerata status kebersihan gigi dan mulut pada masing-masing kelompok perlakuan, menunjukkan adanya peningkatan rerata yang signifikan dari pre-test ke post-test I, dari post-test I ke post-test II, dan dari pre-test ke post test II pada kedua kelompok perlakuan (p<0,05). Adanya peningkatan status kebersihan gigi dan mulut yang signifikan pada kedua kelompok, disebabkan karena responden setelah mendapat mendapat pendidikan kesehatan gigi mulai termotivasi untuk memperbaiki cara pemeliharaan kesehatan gigi melalui pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi menyikat gigi serta dilanjutkan dengan menyikat gigi bersama. Menyikat gigi bersama yang dilakukan di sekolah dapat menghasilkan perubahan yang bermakna. Hasil penelitian ini mendukung pendapat Howard yang mengatakan, latihan khusus mengenai cara membersihkan gigi yang benar akan menghasilkan perubahan yang bermakna pada status kebersihan gigi dan mulut individu atau masyarakat 1. Hasil analisis delta dari pre-test ke post-test II pada kedua kelompok perlakuan menunjukkan adanya peningkatan rerata status kebersihan gigi yang signifikan. Hasil analisis ini membuktikan bahwa pada kelompok perlakuan I yang diberi pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi disertai monitoring memberikan peningkatan status kebersihan gigi dan mulut yang lebih tinggi dibandingkan kelompok perlakuan II yang diberi pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi tanpa monitoring. Adanya peningkatan rerata status kebersihan gigi dan mulut yang lebih tinggi antara kelompok perlakuan I dengan kelompok perlakuan II, disebabkan karena pada kelompok perlakuan I yang mendapatkan monitoring oleh orang tua di rumah, mereka dapat menerapkan pelaksanaan menyikat gigi secara teratur sesuai dengan waktu yang dianjurkan, yaitu pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur, sehingga menjadi kebiasaan. Hasil penelitian ini mendukung pendapat Feshbein dan Ajzen, tentang kaitan antara sikap dan perilaku yaitu, apabila pola sikap positif telah terbentuk, maka timbul niat untuk melaksanakan suatu hal tersebut, namun demikian untuk sampai pada pelaksanaannya sangat tergantung pada beberapa hal seperti; tersedianya sarana, kemudahan-kemudahan lain, serta pandangan orang lain di sekitarnya (tokoh masyarakat, ayah, teman, dan lain-lain) 19. Disimpulkan bahwa, hipotesis yang menyatakan pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi disertai monitoring lebih baik dibandingkan dengan tanpa monitoring terhadap status kebersihan gigi dan mulut murid SD dapat diterima. SIMPULAN 1. Sikap tentang pemeliharaan kesehatan gigi murid SD yang diberi pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi disertai monitoring lebih baik dibandingkan dengan tanpa monitoring.

23 9 2. Perilaku tentang pemeliharaan kesehatan gigi murid SD yang diberi pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi disertai monitoring lebih baik dibandingkan dengan tanpa monitoring. 3. Status kebersihan gigi dan mulut murid SD yang diberi pendidikan kesehatan gigi metode ceramah dan demonstrasi disertai monitoring lebih baik dibandingkan dengan tanpa monitoring. SARAN Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan kesimpulan, dapat disarankan sebagai berikut ini: bagi sekolah dasar, agar mengikutsertakan orang tua/wali murid melalui kegiatan monitoring menyikat gigi di rumah secara teratur, agar dapat meningkatkan status kebersihan gigi dan mulut murid SD yang optimal. Kepada guru SD disarankan agar meningkatkan sikap, perilaku terhadap pemeliharaan kesehatan gigi untuk mencapai status kebersihan gigi dan mulut yang optimal pada murid SD. Bagi tenaga Puskesmas, supaya memonitoring kegiatan UKGS dan pelatihan dokter kecil ke lapangan, agar kegiatan berjalan sesuai dengan tujuan, meningkatkan status kebersihan gigi dan mulut murid SD, meningkatkan pelayanan kesehatan gigi melalui kegiatan UKGS dan pelatihan dokter kecil, dan bagi Dinas Kesehatan, agar memberikan dukungan dana untuk kegiatan UKGS dan pelatihan dokter kecil, agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar. DAFTAR PUSTAKA 1. Budiharto. Pengantar ilmu perilaku kesehatan dan pendidikan kesehatan gigi. Jakarta: EGC; 2009.H. 9, 14, Nurdin. Efektivitas pendidikan kesehatan gigi antara metode ceramah disertai diskusi dengan metode ceramah disertai demonstrasi terhadap pengetahuan, sikap, dan periaku murid sekolah dasar dalam meningkatkan kebersihan gigi dan mulut. (Tesis), Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. 3. Efendi N. Dasar-dasar keperawatan kesehatan masyarakat. Edisi 2. Jakarta: EGC; h Susilo MJ. Gaya belajar menjadikan makin pintar. Yogyakarta: Pinus. 5. Depdiknas. Pedoman pelatihan pembina dan pelaksana UKS di SD dan MI. Yogyakarta: Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani; Sriyono NW. Pengantar Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan. Medika Anonim. Monitoring. Available from: Accessed 23 Oktober Azwar S. Sikap manusia teori dan pengukurannya. Edisi kedua. Cetakan XII. Yogyakarta: Pustaka Pelajar; h Sarwono S. Sosiologi Kesehatan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press; h

24 Priyono B. Pengaruh tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi orang tua terhadap sikap dan kebersihan mulut anak-anak yang pernah menerima program UKGS. Majalah Ilmiah Dies Natalis Edisi VII. Yogyakarta: FKG-UGM. 11. Sardiman AM. Interaksi dan motivasi belajar mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada; h Saefulloh A. Monitoring dan evaluasi PPK IPM kabupaten Sukabumi Available from: Accessed Desember 12, Soekartawi. Monitoring dan evaluasi proyek pendidikan. Jakarta: Pustaka Jaya; Azwar A. Pengantar administrasi kesehatan. Edisi III. Jakarta: Binarupa Aksara; h Syah M. Psikologi pendidikan dengan pendekatan baru. Bandung: Remaja Rosdakarya; h Depkes RI. Penyelenggaraan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah. Jakarta Lestari A. Mencatat kemajuan program dengan monitoring sepuluh menit Available from: http//www, Published. Accessed Juni 12, Puslitbang Gizi dan Makanan Accessed Maret 11, Ruminem. Hubungan pengetahuan dan sikap ibu tentang autisme dan partisipasi ibu dalam penanganan anak autis di rumah. (Tesis), Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada; 2005.

25 Analisis fotometrik frontal wajah mahasiswi suku bali di FKG UNMAS Denpasar Wiwekowati, Surwandi Walianto, Pande Md. Maha Prasthanika Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar ABSTRAK Sudah banyak dilakukan penelitian mengenai fotometri wajah pada berbagai suku di Indonesia maupun berbagai ras di luar negeri. Namun, belum ada penelitian untuk wajah suku Bali. Pemeriksaan bentuk wajah terdiri dari dua macam, yaitu pemeriksaan dari arah frontal dan lateral. Telah dilakukan penelitian fotometrik frontal pada 30 sampel mahasiswi FKG UNMAS usia tahun. Telah dilakukan penelitian pengukuran wajah pandangan frontal, baik secara vertikal dan horizontal sebanyak 12 parameter. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui ciri ciri fisik wajah wanita suku Bali, interval nilai normal, rata rata jaringan lunak wajah; serta meneliti menarik atau tidaknya wajah menurut formula neoclassical canons. Metode penelitian adalah deskriptif. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa ciri ciri fisik wajah wanita suku Bali adalah panjang hidung lebih kecil dari lebar wajah bawah; lebar interokular lebih kecil dari lebar hidung, lebih besar daripada lebar mata kanan, dan lebar mata kiri; lebar mulut lebih kecil dari 1,5 kali lebar hidung, dan lebar wajah atas lebih kecil dari 4 kali lebar hidung. Rata rata jaringan lunak wajah wanita suku Bali adalah panjang hidung 4,004 cm, panjang bibir bawah adalah 0,964 cm, panjang bibir dagu bawah adalah 2,676 cm, panjang vermilion atas adalah 0,807 cm, panjang vermilion bawah adalah 0,982 cm, lebar wajah atas adalah 12,380 cm, lebar wajah bawah adalah 10,488 cm, lebar mata kanan adalah 2,714 cm, lebar interokular adalah 2,980 cm, lebar mata kiri adalah 2,843 cm, lebar hidung adalah 3,434 cm, lebar mulut adalah 4,518 cm. Dari hasil penelitian, ternyata wajah wanita suku Bali yang menarik tidak sesuai dengan proporsi wajah yang menarik menurut neoclassical canons. Kata kunci: Fotometrik frontal, ciri fisik wajah wanita suku Bali, neoclassical canons. Korespondensi: Drg. Wiwekowati M.Kes, Bagian Ortodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar, Jl. Kamboja 11 A Denpasar, Telp. (0361) , , Fax. (0361) PENDAHULUAN Pada penampilan fisik, wajah adalah pokok persoalan penting dalam kehidupan sosial 1. Penampilan wajah adalah dasar untuk komunikasi dan interaksi dengan lingkungan. 2 Keberhasilan suatu perawatan ortodonsi sering berhubungan dengan penampilan wajah pasien yang meliputi profil jaringan lunak. 3 Wajah dengan estetik baik atau menyenangkan adalah wajah yang mempunyai keseimbangan dan keserasian bentuk, hubungan, serta proporsi komponen wajah yang baik. Penelitian tentang profil wajah jaringan lunak kebanyakan mengukur tentang perubahan profil serta variasi komponen profil yaitu hidung, bibir, dan dagu merupakan faktor penting dalam menentukan keindahan muka dan relasi antara hidung, bibir dan dagu tersebut sangat berpengaruh terhadap profil wajah. Profil yang seimbang adalah bila bibir atas, bibir bawah, dan dagu teletak pada satu garis vertikal yang melalui subnasal. 4 Menurut paradigma Angle perawatan ortodonsia bertujuan menghasilkan oklusi sempurna dari semua gigi dan kecantikan wajah. Konsep ini berkembang bukan saja pada dentofasial sebagai penentu tujuan perawatan dengan melakukan pemeriksaan sefalometri tetapi juga melakukan pemeriksaan klinis pasien dan penilaian pada jaringan lunak untuk

26 menentukan adanya perubahan sehingga memungkinkan untuk akurasi yang lebih dalam perawatan. 5 Analisis jaringan lunak wajah dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu dengan metode langsung pada jaringan lunak, sefalometri radiologik, dan fotometri. 4 Fotometri digunakan dalam ortodontik yang menunjukan wajah sebelum dan setelah perawatan. Hasil perubahan wajah dari perawatan dapat dilihat secara subjektif dengan membandingkan foto sebelum perawatan, dan setelah perawatan. 6 Pemeriksaan bentuk wajah terdiri dari dua macam, yaitu pemeriksaan pandangan frontal, dan pandangan lateral. 7 Pada pandangan frontal sebanyak 12 parameter pengukuran wajah, baik secara vertikal maupun horisontal. Secara vertikal diukur panjang hidung, panjang bibir atas, panjang bibir-dagu bawah, panjang vermilion atas dan panjang vermilion bawah. Secara horizontal diukur lebar wajah atas, lebar wajah bawah, lebar mata kanan, lebar interokular, lebar mata kiri, lebar hidung, dan lebar mulut. 6 Pada tahun 2003, Bass, melakukan penelitian tentang pengukuran sudut profil, dan analisis estetik pada profil wajah. Pada tahun 2005, Mejia-Maidi dkk melakukan penelitian tentang preferensi profil wajah antara orang Meksiko Amerika, dan orang yang berbangsa Kaukasoid. Pada tahun 2007, Stofza melakukan penelitian tentang karakteristik jaringan lunak wajah pada wanita Italia yang menarik, dan perbandingannya dengan wanita normal, dan juga di tahun 2008 dilakukan kembali penelitian tentang karakteristik jaringan lunak wajah pada remaja laki - laki dan perempuan yang menarik dan normal di Italia. Di Indonesia, pada tahun 1995, Lestari melakukan penelitian tentang posisi bibir yang baik pada wanita dari sudut pandang orang Indonesia suku Jawa terhadap garis E chaconas melalui tinjauan fotometri. Pada tahun 2008, Odias melakukan penelitian tentang analisis wajah perempuan suku Batak. Pada tahun 2009, Wiwekowati melakukan penelitian tentang fenomena wajah cantik pada wanita Jepang, dan wanita Jawa melalui studi komparasi menggunakan fenomena kaidah. 8 Semua penelitian tersebut membuktikan bahwa analisis jaringan lunak wajah dilakukan untuk memperoleh nilai normal yang digunakan sebagai acuan sehingga tidak lagi menggunakan standard ras lain sebagai referensi seperti ras Kaukasoid karena akan menyebabkan ketidakproporsionalan wajah. Nilai normal yang digunakan sebagai standard diharapkan dapat mempertahankan bentuk wajah tanpa merusak ciri dari pasien. 9 Nilai normal tersebut dapat dikaitkan dengan formula neoclassical canons untuk melihat proporsi wajah yang menarik. Noclassical canons adalah sembilan formula yang digunakan sebagai pemandu untuk menggambarkan wajah yang menarik. Namun, hanya terdapat enam formula canons yang bisa diuji dari pandangan frontal untuk menyelidiki adanya hubungan ketertarikan dari wajah. 10 Indonesia merupakan bangsa yang memiliki banyak suku. Bangsa Indonesia pada awalnya berasal dari ras Mongoloid dan Australomelansid yang membentuk sub-ras Proto Melayu dan selanjutnya Proto Melayu dengan mongoloid membentuk Deutro Melayu. 6 Namun di Indonesia, belum banyak dilakukan penelitian mengenai jaringan lunak wajah baik itu wanita maupun pria, sehingga masih terdapat kesulitan menentukan nilai normal dalam suatu perawatan, baik itu perawatan gigi khususnya bidang ortodonsia maupun perawatan lainya. Untuk itu diperlukan adanya suatu nilai rata rata dari jaringan lunak wajah suku Bali khususnya wanita Bali. Penelitian ini mengambil sampel wanita suku Bali karena penulis berada di lingkungan suku Bali, dan untuk mempermudah dalam pengambilan sampel. Penelitian ini bertujuan mengetahui ciri - ciri fisik wajah wanita suku Bali, memperoleh interval nilai normal, nilai rata rata dan standard deviasi wajah wanita suku Bali pada mahasiswa FKG UNMAS Denpasar yang berusia tahun, mengetahui menarik atau tidaknya wajah wanita suku Bali menurut formula Neoclassical canons. METODE

27 Penelitian ini menggunakan metode diskriptif. Penelitian ini memberikan gambaran terhadap nilai rata rata proporsi jaringan lunak wajah wanita suku Bali. Variabel dari penelitian ini adalah variabel pengaruh dari penelitian ini adalah 12 parameter menurut Bishara, Jorgensen, Jakobsen (1995). Variabel terpengaruh dari penelitian ini adalah proporsi jaringan lunak wajah wanita suku Bali. Dua belas parameter menurut Bishara, Jorgensen, dan Jakobsen(1995) adalah parameter pengukuran wajah dari pandangan frontal dengan menggunakan diukur secara vertikal dan horizontal. Pengukuran 12 parameter tersebut secara vertikal antara lain, panjang hidung (NL) adalah panjang exocanthion subnasal, panjang bibir atas (ULL) adalah panjang subnasal stomiom, panjang bibir dagu bawah (LL CL) adalah panjang stomiom menton, panjang vermilion atas (UVL) adalah panjang labrale superior stomiom, panjang vermilion bawah (LVL) adalah panjang stomiom labrale inferius. Secara horizontal antara lain lebar wajah atas (UFW) adalah lebar zygion kanan zygion kiri, lebar wajah bawah (LFW) adalah lebar gonion kanan gonion kiri, lebar mata kanan (REW) adalah lebar exocanthion kanan endocanthion kanan, lebar interoccular (IL) adalah lebar endocanthion kanan endocanthion kiri, lebar mata kiri (LEW) adalah lebar endocanthion kiri exocanthion kiri, lebar hidung (NW) adalah lebar alare kanan alare kiri, dan lebar mulut (MW) adalah lebar cheilion kanan cheilion kiri. Proporsi jaringan lunak wajah adalah nilai rata rata dari pengambilan foto wajah yang dilakukan dari pandangan frontal dengan menggunakan 12 parameter Bishara, Jorgensen, dan Jakobsen (1995) dengan memilih 30 mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi UNMAS berusia tahun, mempunyai wajah yang proposional, oklusi gigi yang normal yaitu hubungan gigi molar pertama Klas I Angle dimana tonjol mesiobukal gigi molar pertama rahang atas berada di groove bukal gigi molar pertama rahang bawah, tidak pernah melakukan perawatan ortodontik, gigi permanen rahang atas, dan bawah lengkap dengan atau tanpa molar ketiga dan gigi molar pertama utuh, susunan gigi teratur atau derajat ketidakteraturan ringan, tidak terdapat diastema, overjet, dan overbite normal dengan jarak 2 4 mm, tidak memiliki kebiasaan buruk, dan dua garis keturunan asli suku Bali, kakek, nenek, ibu dan ayah asli suku Bali. Pengambilan foto secara frontal, dimana fokus untuk terletak pada alis mata. Posisi pasien saat dilakukan pemotretan adalah duduk tegak dimana garis median pasien mengikuti garis yang telah ditentukan. Garis yang telah ditentukan adalah penggaris dengan panjang 200 cm ditempelkan pada dinding. Jarak antara subyek dan kamera adalah 1 meter. Kamera yang digunakan adalah DSLR Nikon D5000 dengan lensa mm. Neoclassical canons adalah pengujian hasil pengukuran wajah dengan menggunakan enam formula untuk membuktikan menarik atau tidaknya wajah wanita suku Bali. Enam formula tersebut adalah tinggi hidung dengan tinggi wajah bawah, nilai jarak interokular sama dengan nilai lebar hidung, sama dengan nilai lebar mata kanan, dan nilai lebar mata kiri, nilai lebar mulut harus sama dengan nilai 1,5 kali lebar hidung, dan nilai lebar wajah sama dengan nilai 4 kali lebar hidung.

28 Gambar 1. Pengukuran untuk foto wajah pandangan frontal dimensi vertikal (dikutip dari Bishara, Jorgensen, dan Jakobsen 1995). Gambar 2. Pengukuran untuk foto wajah pandangan frontal dimensi horizontal (dikutip dari Bishara, Jorgensen, dan Jakobsen 1995). Kriteria sampel penelitian ini antara lain, wanita keturunan Suku Bali murni 2 keturunan, mahasiswi FKG UNMAS berusia tahun dimana masa pertumbuhan sudah selesai, mempunyai oklusi yang normal, hubungan gigi Molar pertama Klas I Angle, yaitu tonjol mesiobukal gigi molar pertama rahang atas berada di groove bukal gigi molar pertama rahang bawah, penutupan gigi insisivus rahang atas dengan gigi insisivus rahang bawah pada saat oklusi dengan overjet normal 2 4 mm dan overbite normal 2 4 mm, gigi permanen tumbuh sempurna, lengkap, teratur dari molar dua kiri sampai molar dua kanan, dengan atau tanpa gigi molar ketiga atau derajat ketidakteraturan normal, tidak terdapat diastema, pada saat rileks, kedua bibir berkontak ringan, tidak pernah menjalani perawatan ortodonsia, bersedia mengikuti penelitian. Subyek penelitian ini adalah 30 orang mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar Suku Bali murni 2 keturunan yang memenuhi kriteria inklusi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive random sampling yaitu dimana peneliti mencari wanita Suku Bali murni 2 keturunan yang memenuhi kriteria inklusi kemudian diambil secara random sebagai subjek penelitian. Dilakukan pemotretan pada sisi frontal kemudian dilakukan pengukuran wajah sesuai dengan 12 parameter Bishara, Jorgensen dan Jakobsen (1995). Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain kaca mulut, kamera DSLR (Digital single lens reflex) merk Nikon D5000, tripod, lensa mm, lampu blitz, alat tulis, penggaris dan busur derajat, kaliper / jangka sorong, slotip, kertas cetak foto, Penggaris 200 cm, penggaris segitiga, kertas kalkir, pensil HB, lembar persetujuan menjadi subjek penelitian (informed consent), lembar penilaian pengukuran wajah. Jalannya penelitian 30 sampel mahasisiwi FKG UNMAS yang memenuhi kreteria inklusi dikumpulkan. a. Mengisi form informed consent.

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA (Studi Eksperimen Di kelas XI IPA SMA Negeri 4 Tasikmalaya)

Lebih terperinci

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID ABSTRAK PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID Ekowati Retnaningsih dan Rini Oktariza Angka kejadian berat badan lebih pada anak usia sekolah di Indonesia mencapai 15,9%. Prevalensi

Lebih terperinci

ABSTRAK. Ronauly V. N, 2011, Pembimbing 1: dr. Sijani Prahastuti, M.Kes Pembimbing 2 : Prof. DR. Susy Tjahjani, dr., M.Kes

ABSTRAK. Ronauly V. N, 2011, Pembimbing 1: dr. Sijani Prahastuti, M.Kes Pembimbing 2 : Prof. DR. Susy Tjahjani, dr., M.Kes ABSTRAK EFEK INFUSA DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL LDL DAN PENINGKATAN KADAR KOLESTEROL HDL DARAH TIKUS JANTAN GALUR WISTAR MODEL DISLIPIDEMIA Ronauly V. N, 2011,

Lebih terperinci

ABSTRAK. UJI EFEK ANTIFUNGI EKSTRAK AIR TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria) SECARA IN VITRO TERHADAP Candida albicans

ABSTRAK. UJI EFEK ANTIFUNGI EKSTRAK AIR TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria) SECARA IN VITRO TERHADAP Candida albicans iv ABSTRAK UJI EFEK ANTIFUNGI EKSTRAK AIR TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria) SECARA IN VITRO TERHADAP Candida albicans Bernike Yuriska M.P, 2009; Pembimbing I: Endang Evacuasiany,Dra.,Apt.M.S.AFK Pembimbing

Lebih terperinci

Raharjo Raharjo@gmail.com http://raharjo.ppknunj.org

Raharjo Raharjo@gmail.com http://raharjo.ppknunj.org Uji Validitas dan Reliabilitas Raharjo Raharjo@gmail.com http://raharjo.ppknunj.org Lisensi Dokumen: Seluruh dokumen di StatistikaPendidikan.Com dapat digunakan, dimodifikasi dan disebarkan secara bebas

Lebih terperinci

ABSTRAK PENGARUH ALKOHOL GOLONGAN B TERHADAP KETELITIAN DAN KEWASPADAAN PADA PRIA DEWASA

ABSTRAK PENGARUH ALKOHOL GOLONGAN B TERHADAP KETELITIAN DAN KEWASPADAAN PADA PRIA DEWASA ABSTRAK PENGARUH ALKOHOL GOLONGAN B TERHADAP KETELITIAN DAN KEWASPADAAN PADA PRIA DEWASA Irvan Gedeon Firdaus, 2010. Pembimbing: dr. Pinandojo Djojosoewarno, AIF Latar belakang : Minum minuman beralkohol

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat sarjana strata-1 kedokteran umum

LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat sarjana strata-1 kedokteran umum PERBEDAAN KUALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SEBELUM DAN SESUDAH PELATIHAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SECARA BIJAK Penelitian di Instalasi Rawat Jalan Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr. Kariadi LAPORAN AKHIR HASIL

Lebih terperinci

Perbandingan Media Video Compact Disk (VCD) Dengan Bola Gantung Terhadap Hasil Belajar Sepak Mula

Perbandingan Media Video Compact Disk (VCD) Dengan Bola Gantung Terhadap Hasil Belajar Sepak Mula PERBANDINGAN MEDIA VIDEO COMPACT DISK (VCD) DENGAN BOLA GANTUNG TERHADAP HASIL BELAJAR SEPAK MULA BAWAH (SERVIS) SEPAK TAKRAW (Studi pada siswa kelas VII SMP Negeri 2 Gedeg, Mojokerto) Diyah Purwaningsih

Lebih terperinci

ABSTRAK. Pengaruh Tindak Lanjut Rekomendasi Audit Internal Bidang Kredit Investasi. Terhadap Tingkat Non Performing Loans (NPL)

ABSTRAK. Pengaruh Tindak Lanjut Rekomendasi Audit Internal Bidang Kredit Investasi. Terhadap Tingkat Non Performing Loans (NPL) ABSTRAK Pengaruh Tindak Lanjut Rekomendasi Audit Internal Bidang Kredit Investasi Terhadap Tingkat Non Performing Loans (NPL) Permasalahan kredit bermasalah merupakan masalah serius yang masih menghantui

Lebih terperinci

PENGAWASAN PROSES WAKTU JENIS. SAMPLING PENERIMAAN *single *double *sequential. X-Chart R- Chart. By Variable. *single *double *sequential

PENGAWASAN PROSES WAKTU JENIS. SAMPLING PENERIMAAN *single *double *sequential. X-Chart R- Chart. By Variable. *single *double *sequential I. PENGERTIAN Kualitas adalah sesuatu yang cocok/sesuai dengan selera seseorang (fitness for use) Kualitas adalah barang atau jasa yang dapat menaikkan status pemakai Kualitas adalah barang atau jasa yang

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Rasa Takut terhadap Perawatan Gigi dan Mulut. Rasa takut terhadap perawatan gigi dapat dijumpai pada anak-anak di berbagai

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Rasa Takut terhadap Perawatan Gigi dan Mulut. Rasa takut terhadap perawatan gigi dapat dijumpai pada anak-anak di berbagai 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Rasa Takut terhadap Perawatan Gigi dan Mulut Rasa takut terhadap perawatan gigi dapat dijumpai pada anak-anak di berbagai unit pelayanan kesehatan gigi misalnya di praktek

Lebih terperinci

ABSTRAK. PENGARUH JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) TERHADAP ACNE RINGAN

ABSTRAK. PENGARUH JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) TERHADAP ACNE RINGAN ABSTRAK PENGARUH JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) TERHADAP ACNE RINGAN Nadia Elizabeth, 2006. Pembimbing I : Winsa Husin, dr.,msc., Mkes. Pembimbing II : Dian Puspitasari, dr., SpKK. Penampilan kulit

Lebih terperinci

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG (DIRECT INSTRUCTION) BERBANTUAN LKS BERGAMBAR DISERTAI TEKS TERHADAP HASIL BELAJAR GEOGRAFI SISWA SMP/MTs

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG (DIRECT INSTRUCTION) BERBANTUAN LKS BERGAMBAR DISERTAI TEKS TERHADAP HASIL BELAJAR GEOGRAFI SISWA SMP/MTs PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG (DIRECT INSTRUCTION) BERBANTUAN LKS BERGAMBAR DISERTAI TEKS TERHADAP HASIL BELAJAR GEOGRAFI SISWA SMP/MTs (1) Ayu Listriani, (2) Achmad Fatchan, (3) Budijanto Universitas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian pra eksperimental yaitu jenis penelitian yang belum merupakan eksperimen sungguh-sungguh karena masih terdapat variabel

Lebih terperinci

1. Menjelaskan maksud, tujuan, dan cara dilakukannya teknik relaksasi Pernapasan

1. Menjelaskan maksud, tujuan, dan cara dilakukannya teknik relaksasi Pernapasan Lampiran 1 PROSEDUR PELAKSANAAN DENGAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) TEKNIK RELAKSASI NAPAS DALAM 1. Menjelaskan maksud, tujuan, dan cara dilakukannya teknik relaksasi Pernapasan 2. Mengkaji intensitas

Lebih terperinci

HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR

HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR Baiq Neni Sugiatni, Jumailiyah, dan Baiq Rohiyatun Administrasi pendidikan, FIP IKIP Mataram Email :Baiqnenysugiatni@gmail.com

Lebih terperinci

Dewi Indriani, Miharty, dan Jimmi Copriady Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Riau Email: dewi_indriani90@yahoo.co.id

Dewi Indriani, Miharty, dan Jimmi Copriady Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Riau Email: dewi_indriani90@yahoo.co.id PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE BENAR ATAU SALAH BESERTA ALASAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA POKOK BAHASAN KOLOID DI KELAS XI IPA SMA MUHAMMADIYAH 1 PEKANBARU Dewi Indriani, Miharty,

Lebih terperinci

ANALISIS PERHITUNGAN UNIT COST PELAYANAN SIRKUMSISI DENGAN PENDEKATAN ABC DI KLINIK SETIA BUDI JAMBI. Tesis

ANALISIS PERHITUNGAN UNIT COST PELAYANAN SIRKUMSISI DENGAN PENDEKATAN ABC DI KLINIK SETIA BUDI JAMBI. Tesis ANALISIS PERHITUNGAN UNIT COST PELAYANAN SIRKUMSISI DENGAN PENDEKATAN ABC DI KLINIK SETIA BUDI JAMBI Tesis Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata 2 Program Studi Manajemen

Lebih terperinci

UJI COBA MODEL (VALIDASI)

UJI COBA MODEL (VALIDASI) UJI COBA MODEL (VALIDASI) Yaya Jakaria PUSAT PENELITIAN KEBIJAKAN DAN INOVASI PENDIDIKAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL JAKARTA 2009 Uji Coba Model atau Produk Uji coba

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimental, yang bertujuan untuk meneliti pengaruh dari suatu perlakuan tertentu terhadap gejala suatu kelompok

Lebih terperinci

PENGARUH LINGKUNGAN KERJA, GAJI, DAN PROMOSI TERHADAP KINERJA PEGAWAI BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH PATI TESIS

PENGARUH LINGKUNGAN KERJA, GAJI, DAN PROMOSI TERHADAP KINERJA PEGAWAI BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH PATI TESIS PENGARUH LINGKUNGAN KERJA, GAJI, DAN PROMOSI TERHADAP KINERJA PEGAWAI BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH PATI TESIS Oleh: Mimpi Arde Aria NIM : 2008-01-020 PROGAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

Karya Tulis Ilmiah. Disusun oleh: RASTIFIATI 20080320108

Karya Tulis Ilmiah. Disusun oleh: RASTIFIATI 20080320108 HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN PRIMIGRAVIDA TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS MERGANGSAN YOGYAKARTA Karya Tulis Ilmiah Disusun dan Diajukan untuk

Lebih terperinci

Melakukan Operasi Logika

Melakukan Operasi Logika Melakukan Operasi Logika Hampir semua statemen C++ adalah ekspresi. Operator C++ selain +, -, /, * yakni operator logika. Pada dasarnya orang2 menghitung menggunakan operasi AND dan OR Mengapa Menggunakan

Lebih terperinci

ABSTRAK ABSTRACT. Pendahuluan

ABSTRAK ABSTRACT. Pendahuluan Analisis Tingkat Kepuasan Konsumen Terhadap Kualitas Pelayanan Jasa dengan Pendekatan Metode Servqual (Studi Kasus pada Pusat Pelatihan Bahasa dan Budaya CILACS UII, Yogyakarta) Hendy Ahmad Febrian 1,

Lebih terperinci

Respon Masyarakat Pesisir Terhadap Pentingnya Pengolahan Air Sungai Menjadi Air Siap Pakai di Desa Sungsang III Banyuasin Sumatera Selatan

Respon Masyarakat Pesisir Terhadap Pentingnya Pengolahan Air Sungai Menjadi Air Siap Pakai di Desa Sungsang III Banyuasin Sumatera Selatan 40 Fauziyah et al. / Maspari Journal 04 (2012) 40-45 Maspari Journal, 2012, 4(1), 40-45 http://masparijournal.blogspot.com Respon Masyarakat Pesisir Terhadap Pentingnya Pengolahan Air Sungai Menjadi Air

Lebih terperinci

PENGARUH KAFEIN PADA COKELAT (Theobroma Cacao) TERHADAP WAKTU REAKSI SEDERHANA PRIA DEWASA

PENGARUH KAFEIN PADA COKELAT (Theobroma Cacao) TERHADAP WAKTU REAKSI SEDERHANA PRIA DEWASA PENGARUH KAFEIN PADA COKELAT (Theobroma Cacao) TERHADAP WAKTU REAKSI SEDERHANA PRIA DEWASA THE EFFECT OF CAFFEINE IN CHOCOLATE (Theobroma Cacao) IN ADULT HUMAN MALE S SIMPLE REACTION TIME Szzanurindah

Lebih terperinci

ANALISIS DIMENSI E-SERVICE QUALITY TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN TOKO ONLINE OLEH: CELIA FAUSTINE NOVELIA 3103010102

ANALISIS DIMENSI E-SERVICE QUALITY TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN TOKO ONLINE OLEH: CELIA FAUSTINE NOVELIA 3103010102 ANALISIS DIMENSI E-SERVICE QUALITY TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN TOKO ONLINE OLEH: CELIA FAUSTINE NOVELIA 3103010102 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS BISNIS UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA 2014 ANALISIS

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci : Fluktuasi kurs, Ekspor, Impor, Peramalan. iii. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Kata kunci : Fluktuasi kurs, Ekspor, Impor, Peramalan. iii. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Beberapa tahun terakhir ini kurs tukar IDR/USD terus mengalami fluktuasi yang tidak dapat diprediksi. Akibatnya para pelaku pasar sulit untuk menentukan pada saat kapan mereka harus melakukan ekspor

Lebih terperinci

PENERAPAN TEKNIK CATATAN TULIS DAN SUSUN DALAM PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING PADA MATERI POKOK BUNYI DI SMP NEGERI 1 MOJOKERTO

PENERAPAN TEKNIK CATATAN TULIS DAN SUSUN DALAM PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING PADA MATERI POKOK BUNYI DI SMP NEGERI 1 MOJOKERTO PENERAPAN TEKNIK CATATAN TULIS DAN SUSUN DALAM PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING PADA MATERI POKOK BUNYI DI SMP NEGERI 1 MOJOKERTO Retno Wandhira dan Madewi Mulyanratna Jurusan Fisika, Universitas Negeri Surabaya

Lebih terperinci

Lembar data harian tekanan darah. Blood pressure diary

Lembar data harian tekanan darah. Blood pressure diary Lembar data harian tekanan darah Blood pressure diary The World Health Organisation (WHO) and the International Society of Hypertension (ISH) have developed the following classification for blood pressure

Lebih terperinci

Research = experiment

Research = experiment Disain Riset Purwiyatno Hariyadi Departemen Ilmu & Teknologi Pangan Fateta IPB Bogor RISET = RESEARCH RISET = RE + SEARCH there is no guaranteed recipe for success at research / Research = experiment 1

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PERILAKU CUCI TANGAN PAKAI SABUN PADA MASYARAKAT DI DESA SENURO TIMUR

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PERILAKU CUCI TANGAN PAKAI SABUN PADA MASYARAKAT DI DESA SENURO TIMUR HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PERILAKU CUCI TANGAN PAKAI SABUN PADA MASYARAKAT DI DESA SENURO TIMUR Nur Alam Fajar * dan Misnaniarti ** ABSTRAK Penyakit menular seperti diare dan ISPA (Infeksi

Lebih terperinci

PENGARUH PENGATURAN TEMPAT DUDUK U SHAPE TERHADAP KONSENTRASI BELAJAR SISWA PRIMARY DI HARVARD ENGLISH COURSE SEI RAMPAH SKRIPSI

PENGARUH PENGATURAN TEMPAT DUDUK U SHAPE TERHADAP KONSENTRASI BELAJAR SISWA PRIMARY DI HARVARD ENGLISH COURSE SEI RAMPAH SKRIPSI PENGARUH PENGATURAN TEMPAT DUDUK U SHAPE TERHADAP KONSENTRASI BELAJAR SISWA PRIMARY DI HARVARD ENGLISH COURSE SEI RAMPAH SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Ujian Sarjana Psikologi OLEH : DEEPRAJ

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEK SARI KUKUSAN KEMBANG KOL (Brassica oleracea var botrytis) TERHADAP GEJALA KLINIK PADA MENCIT MODEL KOLITIS ULSERATIVA

ABSTRAK. EFEK SARI KUKUSAN KEMBANG KOL (Brassica oleracea var botrytis) TERHADAP GEJALA KLINIK PADA MENCIT MODEL KOLITIS ULSERATIVA ABSTRAK EFEK SARI KUKUSAN KEMBANG KOL (Brassica oleracea var botrytis) TERHADAP GEJALA KLINIK PADA MENCIT MODEL KOLITIS ULSERATIVA Raissa Yolanda, 2010. Pembimbing I : Lusiana Darsono, dr., M. Kes Kolitis

Lebih terperinci

Ferrel Rodge Raintama Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia

Ferrel Rodge Raintama Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia PERBEDAAN PEMAHAMAN TUJUH LANGKAH MENCUCI TANGAN SETELAH PROSES PEMBELAJARAN ANTARA METODE BERMAIN DENGAN FLASHCARD DAN METODE BERNYANYI PADA ANAK TK LABORATORI UNAI Abstract Ferrel Rodge Raintama Fakultas

Lebih terperinci

SKRIPSI ANALISIS FAKTOR TEKNIKAL DAN FAKTOR FUNDAMENTAL PENGARUHNYA TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN PADA TRADING FOREX OLEH HASTON BALMAYEN SILALAHI

SKRIPSI ANALISIS FAKTOR TEKNIKAL DAN FAKTOR FUNDAMENTAL PENGARUHNYA TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN PADA TRADING FOREX OLEH HASTON BALMAYEN SILALAHI SKRIPSI ANALISIS FAKTOR TEKNIKAL DAN FAKTOR FUNDAMENTAL PENGARUHNYA TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN PADA TRADING FOREX OLEH HASTON BALMAYEN SILALAHI 110523043 PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN DEPARTEMEN

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI SURAT PERNYATAAN KARYA ASLI SKRIPSI

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI SURAT PERNYATAAN KARYA ASLI SKRIPSI ABSTRACT National Program for Community Empowerment in Rural Areas (PNPM MP) is one of the mechanisms used community development program PNPM in an effort to accelerate poverty reduction and expansion

Lebih terperinci

A UNIFIED ANALYSIS OF KE-/-AN IN INDONESIAN. Benedict B. Dwijatmoko Sanata Dharma University Yogyakarta Indonesia b.b.dwijatmoko@gmail.

A UNIFIED ANALYSIS OF KE-/-AN IN INDONESIAN. Benedict B. Dwijatmoko Sanata Dharma University Yogyakarta Indonesia b.b.dwijatmoko@gmail. A UNIFIED ANALYSIS OF KE-/-AN IN INDONESIAN Benedict B. Dwijatmoko Sanata Dharma University Yogyakarta Indonesia b.b.dwijatmoko@gmail.com INDONESIAN PASSIVES With the Prefix di- Rumah itu akan dijual.

Lebih terperinci

GAMBARAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP FLU BURUNG DI KELURAHAN BATANG TERAP PERBAUNGAN SUMATERA UTARA TAHUN 2010

GAMBARAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP FLU BURUNG DI KELURAHAN BATANG TERAP PERBAUNGAN SUMATERA UTARA TAHUN 2010 GAMBARAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP FLU BURUNG DI KELURAHAN BATANG TERAP PERBAUNGAN SUMATERA UTARA TAHUN 2010 Oleh : NISA LAILAN S. SIRAIT 070100009 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 UJI COBA INSTRUMEN PENELITIAN

LAMPIRAN 1 UJI COBA INSTRUMEN PENELITIAN 83 LAMPIRAN 1 UJI COBA INSTRUMEN PENELITIAN 83 84 Nama : Kelas/No. Absen : Petunjuk Pengisian Angket: Berilah tanda check ( ) pada kolom S (Selalu), SR (Sering), J (Jarang), TP (Tidak Pernah) sesuai dengan

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN DENGAN KEPATUHAN KUNJUNGAN ANC DI KLINIK DINA BROMO UJUNG LINGKUNGAN XX MEDAN TAHUN 2013

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN DENGAN KEPATUHAN KUNJUNGAN ANC DI KLINIK DINA BROMO UJUNG LINGKUNGAN XX MEDAN TAHUN 2013 HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN DENGAN KEPATUHAN KUNJUNGAN ANC DI KLINIK DINA BROMO UJUNG LINGKUNGAN XX MEDAN TAHUN 2013 Oleh: ARIHTA BR. SEMBIRING Dosen Poltekkes Kemenkes

Lebih terperinci

SKRIPSI MENURUT PASAL. N P M Program. Hukum Program FAKULTAS HUKUM

SKRIPSI MENURUT PASAL. N P M Program. Hukum Program FAKULTAS HUKUM SKRIPSI TINJAUAN YURIDIS PELAYANAN KESEHAT TAN YANGG BERMUTU MENURUT PASAL 5 AYAT (2) UNDANG-UNDANG NOMOR 36 TAHUN 2009 BERKAITAN DENGAN KEKECEWAAN PASIEN TERHADAP PERILAKU DOKTER Diajukan oleh : ELLEN

Lebih terperinci

PERANCANGAN ALAT UKUR TINGKAT KEPUASAN PENGGUNA WEB STUDENT PORTAL PALCOMTECH

PERANCANGAN ALAT UKUR TINGKAT KEPUASAN PENGGUNA WEB STUDENT PORTAL PALCOMTECH PERANCANGAN ALAT UKUR TINGKAT KEPUASAN PENGGUNA WEB STUDENT PORTAL PALCOMTECH Febria Sri Handayani STMIK PalComTech Abstract STMIK PalComTech student portal website used as a means of promotion of academic

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KURANG GIZI PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GODEAN 1 KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA. Karya Tulis Ilmiah

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KURANG GIZI PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GODEAN 1 KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA. Karya Tulis Ilmiah FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KURANG GIZI PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GODEAN 1 KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA Karya Tulis Ilmiah Disusun Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Derajat Sarjana Keperawatan Pada

Lebih terperinci

SKRIPSI SESUDAH R OLEH

SKRIPSI SESUDAH R OLEH SKRIPSI ANALISIS DAMPAK ABNORMAL RETURN SAHAM SEBELUM DAN SESUDAH PENGUMUMAN MERGER DAN D AKUISISI PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR R DI BURSA EFEK INDONESIA OLEH : ADINDA PUSPITA 070503065 PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN OTOMATISASI PROSES MIXING PADA SISTEM OTOMATISASI PENYAJIAN KOPI SUSU BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 TUGAS AKHIR

RANCANG BANGUN OTOMATISASI PROSES MIXING PADA SISTEM OTOMATISASI PENYAJIAN KOPI SUSU BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 TUGAS AKHIR RANCANG BANGUN OTOMATISASI PROSES MIXING PADA SISTEM OTOMATISASI PENYAJIAN KOPI SUSU BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 TUGAS AKHIR Diajukan guna melengkapi persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan tingkat

Lebih terperinci

Pradifta Devi. Abstrak

Pradifta Devi. Abstrak HUBUNGAN KEPEDULIAN DAN PERAN ORANG TUA TERHADAP INDEKS PLAK SKOR PADA PENGGUNAAN SIKAT GIGI BERLAMPU (LIGHT UP TIMER TOOTH BRUSH) PADA ANAK USIA 4-5 TAHUN Pradifta Devi Abstrak Kepedulian dan peran orang

Lebih terperinci

Jenis-jenis metode penelitian

Jenis-jenis metode penelitian Jenis-jenis metode penelitian Metode deskriptif: penelitian yang menggunakan metode kuantitatif untuk menggambarkan fenomena seperti apa adanya fenomena tersebut. Bukan bermaksud untuk memanipulasi atau

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MURIA KUDUS TAHUN 2014

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MURIA KUDUS TAHUN 2014 1 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUASAN MASYARAKAT PADA PELAYANAN BADAN PELAYANAN PERIJINAN TERPADU DAN PENANAMAN MODAL KABUPATEN DEMAK Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk

Lebih terperinci

PENGARUH MEDIA LOTO WARNA DAN BENTUK TERHADAP KEMAMPUAN KOGNTITIF ANAK KELOMPOK A DI RA AL-ISLAM JETIS DAGANGAN MADIUN

PENGARUH MEDIA LOTO WARNA DAN BENTUK TERHADAP KEMAMPUAN KOGNTITIF ANAK KELOMPOK A DI RA AL-ISLAM JETIS DAGANGAN MADIUN PENGARUH MEDIA LOTO WARNA DAN BENTUK TERHADAP KEMAMPUAN KOGNTITIF ANAK KELOMPOK A DI RA AL-ISLAM JETIS DAGANGAN MADIUN Muslimawati Suryaningrum (msuryaningrum@yahoo.co.id) Program Studi PG-PAUD, Fakultas

Lebih terperinci

PEMANFAATAN ALAT BANTU PEMBELAJARAN BOX JUMP TERHADAP HASIL BELAJAR LOMPAT TINGGI GAYA FLOP

PEMANFAATAN ALAT BANTU PEMBELAJARAN BOX JUMP TERHADAP HASIL BELAJAR LOMPAT TINGGI GAYA FLOP PEMANFAATAN ALAT BANTU PEMBELAJARAN BOX JUMP TERHADAP HASIL BELAJAR LOMPAT TINGGI GAYA FLOP Dwi Khusnul Wulandari Mahasiswa S-1 Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi, Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas

Lebih terperinci

Lampiran 1. Surat Keterangan Selesai Melaksanakan Revisi Desk Evaluasi

Lampiran 1. Surat Keterangan Selesai Melaksanakan Revisi Desk Evaluasi Lampiran 1. Surat Keterangan Selesai Melaksanakan Revisi Desk Evaluasi 34 Lampiran 2. Surat Keterangan Mencit Putih Jantan Galur Swiss 35 36 Lampiran 3. Gambar Alat dan Bahan yang digunakan Madu dan Pollen

Lebih terperinci

EFEKTIVITAS KUMUR-KUMUR AIR REBUSAN KULIT BUAH MANGGIS PASCA ORAL FISIOTERAPI UNTUK PENYEMBUHAN GINGIVITIS

EFEKTIVITAS KUMUR-KUMUR AIR REBUSAN KULIT BUAH MANGGIS PASCA ORAL FISIOTERAPI UNTUK PENYEMBUHAN GINGIVITIS EFEKTIVITAS KUMUR-KUMUR AIR REBUSAN KULIT BUAH MANGGIS PASCA ORAL FISIOTERAPI UNTUK PENYEMBUHAN GINGIVITIS Ni Wayan Arini 1, Sagung Agung Putri Dwi Astuti 2, Maria Martina Nahak 3 Abstract. Gum disease

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian atas Pengukuran profitabilitas perusahaan ini adalah jenis penelitian

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian atas Pengukuran profitabilitas perusahaan ini adalah jenis penelitian BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian Penelitian atas Pengukuran profitabilitas perusahaan ini adalah jenis penelitian komparatif yakni penelitian yang dilakukan dengan maksud

Lebih terperinci

Elin Ismayati, Purwati Kuswarini Suprapto, Suharsono elinmaya88@gmail.com ABSTRACT

Elin Ismayati, Purwati Kuswarini Suprapto, Suharsono elinmaya88@gmail.com ABSTRACT PERBEDAAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK YANG PROSES PEMBELAJARANNYA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STRUCTURED NUMBERED HEADS DAN JIGSAW DIBANTU MEDIA POWERPOINT (The Difference in Learning

Lebih terperinci

PENINGKATAN EFEKTIVITAS PADA PROSES PEMBELAJARAN

PENINGKATAN EFEKTIVITAS PADA PROSES PEMBELAJARAN PENINGKATAN EFEKTIVITAS PADA PROSES PEMBELAJARAN FARID AGUS SUSILO UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA Jl. Ketintang Gedung D1, Surabaya 60231 Telp:+6231-8280009 pes 310 fax :+6231-8296427 Abstrak Sebagaimana

Lebih terperinci

Efektivitas Massage Baby Terhadap Peningkatan Berat Badan Bayi Usia 3-4 Bulan Di BPS BUNDA Kecamatan Mandiangin Koto Selayan Bukittinggi Tahun 2014

Efektivitas Massage Baby Terhadap Peningkatan Berat Badan Bayi Usia 3-4 Bulan Di BPS BUNDA Kecamatan Mandiangin Koto Selayan Bukittinggi Tahun 2014 Efektivitas Massage Baby Terhadap Peningkatan Berat Badan Bayi Usia 3-4 Bulan Di BPS BUNDA Kecamatan Mandiangin Koto Selayan Bukittinggi Tahun 2014 Neila Sulung 1 Ajeng Chania Dini Gayatri 2 Stikes Fort

Lebih terperinci

PENGARUH FAKTOR-FAKTOR ANTESEDEN PADA MOTIVASI PELAYANAN PUBLIK. (Studi pada Karyawan Puskesmas di Kecamatan Gatak Sukoharjo)

PENGARUH FAKTOR-FAKTOR ANTESEDEN PADA MOTIVASI PELAYANAN PUBLIK. (Studi pada Karyawan Puskesmas di Kecamatan Gatak Sukoharjo) PENGARUH FAKTOR-FAKTOR ANTESEDEN PADA MOTIVASI PELAYANAN PUBLIK (Studi pada Karyawan Puskesmas di Kecamatan Gatak Sukoharjo) SKRIPSI Disusun Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Persyaratan Guna Meraih

Lebih terperinci

KEPATUHAN CUCI TANGAN PETUGAS DI CSSD RSUD DR. SOETOMO YENNYKA LEILASARIYANTI 2443008138

KEPATUHAN CUCI TANGAN PETUGAS DI CSSD RSUD DR. SOETOMO YENNYKA LEILASARIYANTI 2443008138 KEPATUHAN CUCI TANGAN PETUGAS DI CSSD RSUD DR. SOETOMO YENNYKA LEILASARIYANTI 2443008138 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA 2012 ABSTRAK KEPATUHAN CUCI TANGAN PETUGAS DI CSSD

Lebih terperinci

PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON ABSTRACT

PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON ABSTRACT Pengaruh Kadar Air.. Kuat Tekan Beton Arusmalem Ginting PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON Arusmalem Ginting 1, Wawan Gunawan 2, Ismirrozi 3 1 Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik,

Lebih terperinci

HUBUNGAN MINAT BACA DENGAN KEMAMPUAN MENENTUKAN UNSUR INSTRINSIK CERPEN SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 GUNUNG TALANG JURNAL SKRIPSI

HUBUNGAN MINAT BACA DENGAN KEMAMPUAN MENENTUKAN UNSUR INSTRINSIK CERPEN SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 GUNUNG TALANG JURNAL SKRIPSI HUBUNGAN MINAT BACA DENGAN KEMAMPUAN MENENTUKAN UNSUR INSTRINSIK CERPEN SISWA KELAS VII SMP NEGERI GUNUNG TALANG JURNAL SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Strata

Lebih terperinci

PENGARUH TERAPI BRAIN GYM TERHADAP PENINGKATAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANJUT USIA DI POSYANDU LANJUT USIA DESA PUCANGAN KARTASURA NASKAH PUBLIKASI

PENGARUH TERAPI BRAIN GYM TERHADAP PENINGKATAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANJUT USIA DI POSYANDU LANJUT USIA DESA PUCANGAN KARTASURA NASKAH PUBLIKASI PENGARUH TERAPI BRAIN GYM TERHADAP PENINGKATAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANJUT USIA DI POSYANDU LANJUT USIA DESA PUCANGAN KARTASURA NASKAH PUBLIKASI Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat meraih derajat

Lebih terperinci

Perbedaan Pemahaman Mahasiswa Akuntansi Dan Manajemen Terhadap Mata Kuliah Dasar Dasar Akuntansi

Perbedaan Pemahaman Mahasiswa Akuntansi Dan Manajemen Terhadap Mata Kuliah Dasar Dasar Akuntansi Perbedaan Pemahaman Mahasiswa Akuntansi Dan Manajemen Terhadap Mata Kuliah Dasar Dasar Akuntansi Novan Adriansyah (adriansyah_novan@yahoo.com) Betri Sirajuddin (betri.sirajuddin@facebook.com) Jurusan Akuntansi

Lebih terperinci

PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN. Merry Marshella Sipahutar

PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN. Merry Marshella Sipahutar PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN Merry Marshella Sipahutar 1087013 Perumahan merupakan kebutuhan utama bagi manusia di dalam kehidupan untuk berlindung

Lebih terperinci

LAMPIRAN A STANDARISASI SIMPLISIA HASIL PERHITUNGAN SUSUT PENGERINGAN SERBUK Hasil susut pengeringan daun alpukat

LAMPIRAN A STANDARISASI SIMPLISIA HASIL PERHITUNGAN SUSUT PENGERINGAN SERBUK Hasil susut pengeringan daun alpukat LAMPIRAN A STANDARISASI SIMPLISIA HASIL PERHITUNGAN SUSUT PENGERINGAN SERBUK Replikasi Hasil susut pengeringan daun alpukat Hasil susut pengeringan daun belimbing manis 1 5,30 % 6,60% 2 5,20 % 6,80% 3

Lebih terperinci

STATUS PASIEN PENELITIAN. Alamat : Jenis kelamin : 1. Laki-laki 2. Perempuan

STATUS PASIEN PENELITIAN. Alamat : Jenis kelamin : 1. Laki-laki 2. Perempuan LAMPIRAN 3. STATUS PASIEN PENELITIAN Tanggal pemeriksaan : Nomor urut penelitian : IDENTITAS Nama : Alamat : Umur : Jenis kelamin : 1. Laki-laki 2. Perempuan Suku : Pekerjaan : Pendidikan : ANAMNESIS Keluhan

Lebih terperinci

ROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MURIA KUDUS TAHUN 2013

ROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MURIA KUDUS TAHUN 2013 i ADAPTASI MODEL DELONE DAN MCLEAN YANG DIMODIFIKASI GUNA MENGUJI KEBERHASILAN APLIKASI OPERASIONAL PERBANKAN BAGI INDIVIDU PENGGUNA SISTEM INFORMASI (STUDI KASUS PADA PD.BPR BKK DI KABUPATEN PATI) Skripsi

Lebih terperinci

PENDUGAAN ANGKA PUTUS SEKOLAH DI KABUPATEN SEMARANG DENGAN METODE PREDIKSI TAK BIAS LINIER TERBAIK EMPIRIK PADA MODEL PENDUGAAN AREA KECIL SKRIPSI

PENDUGAAN ANGKA PUTUS SEKOLAH DI KABUPATEN SEMARANG DENGAN METODE PREDIKSI TAK BIAS LINIER TERBAIK EMPIRIK PADA MODEL PENDUGAAN AREA KECIL SKRIPSI PENDUGAAN ANGKA PUTUS SEKOLAH DI KABUPATEN SEMARANG DENGAN METODE PREDIKSI TAK BIAS LINIER TERBAIK EMPIRIK PADA MODEL PENDUGAAN AREA KECIL SKRIPSI Disusun Oleh: NANDANG FAHMI JALALUDIN MALIK NIM. J2E 009

Lebih terperinci

BAB 8 RENCANA TES PENERIMAAN

BAB 8 RENCANA TES PENERIMAAN BAB 8 RENCANA TES PENERIMAAN 8.1. PENDAHULUAN Tujuan dari penerimaan adalah mendapatkan pernyataan tertulis dari user bahwa produk (dalam hal ini sistem) yang dikirim sesuai dengan yang dijanjikan. Mendapatkan

Lebih terperinci

PENGARUH PERSILANGAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) STRAIN GIFT DENGAN STRAIN NIFI TERHADAP NILAI HETEROSIS PANJANG, LEBAR, DAN BERAT BADAN

PENGARUH PERSILANGAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) STRAIN GIFT DENGAN STRAIN NIFI TERHADAP NILAI HETEROSIS PANJANG, LEBAR, DAN BERAT BADAN ARTIKEL ILMIAH Oleh Ikalia Nurfitasari NIM 061810401008 JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS JEMBER 2012 ARTIKEL ILMIAH diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi

Lebih terperinci

SIMULASI RANCANGAN ACAK KELOMPOK TAK LENGKAP SEIMBANG DAN EFISIENSINYA

SIMULASI RANCANGAN ACAK KELOMPOK TAK LENGKAP SEIMBANG DAN EFISIENSINYA Agusrawati //Paradigma, Vol. 16 No.1, April 2012, hlm. 31-38 SIMULASI RANCANGAN ACAK KELOMPOK TAK LENGKAP SEIMBANG DAN EFISIENSINYA Agusrawati 1) 1) Jurusan Matematika FMIPA Unhalu, Kendari, Sulawesi Tenggara

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR (FACTOR ANALYSIS)

ANALISIS FAKTOR (FACTOR ANALYSIS) ANALISIS FAKTOR (FACTOR ANALYSIS) Dr. Widayat, SE. MM. Outline Apa analisis faktor? Syarat dan asumsi yang diperlukan? Bagaimana caranya? Aplikasi analisis faktor Factor Analysis Prosedur analisis yang

Lebih terperinci

HUBUNGAN SIKAP KERJA ANGKAT-ANGKUT DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA KULI PANGGUL DI GUDANG BULOG SURAKARTA

HUBUNGAN SIKAP KERJA ANGKAT-ANGKUT DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA KULI PANGGUL DI GUDANG BULOG SURAKARTA HUBUNGAN SIKAP KERJA ANGKAT-ANGKUT DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA KULI PANGGUL DI GUDANG BULOG SURAKARTA SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sains Terapan Andang Rafsanjani

Lebih terperinci

Kata kunci : Body Mass Index (BMI), Lingkar Lengan Atas (LLA)

Kata kunci : Body Mass Index (BMI), Lingkar Lengan Atas (LLA) ABSTRAK HUBUNGAN PENILAIAN STATUS GIZI DENGAN METODE BMI (Body Mass Index) DAN METODE LLA (Lingkar Lengan Atas) PADA ANAK PEREMPUAN USIA 6-10 TAHUN Asyer, 2009 Pembimbing : Dr. Iwan Budiman, dr., MS.,

Lebih terperinci

Perancangan Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Mata Katarak pada Manusia Berbasis Web

Perancangan Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Mata Katarak pada Manusia Berbasis Web Perancangan Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Mata Katarak pada Manusia Berbasis Web Yudi1, Yessi Nofrima2 STMIK IBBI Jl. Sei Deli No. 18 Medan, Telp. 061-4567111 Fax. 061-4527548 e-mail: ynn_linc@yahoo.com1

Lebih terperinci

KORELASI SIKAP PETANI PLASMA KELAPA SAWIT TERHADAP PELAYANAN KOPERASI UNIT DESA DI KABUPATEN LAMANDAU. Trisna Anggreini 1)

KORELASI SIKAP PETANI PLASMA KELAPA SAWIT TERHADAP PELAYANAN KOPERASI UNIT DESA DI KABUPATEN LAMANDAU. Trisna Anggreini 1) KORELASI SIKAP PETANI PLASMA KELAPA SAWIT TERHADAP PELAYANAN KOPERASI UNIT DESA DI KABUPATEN LAMANDAU Trisna Anggreini 1) Abstract. The purpose of this research are acessing the correlation of attitudes

Lebih terperinci

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR BERSERI UNTUK PENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PARAGRAF NARASI SISWA KELAS IV SD 2 PLOSO KECAMATAN JATI KABUPATEN KUDUS

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR BERSERI UNTUK PENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PARAGRAF NARASI SISWA KELAS IV SD 2 PLOSO KECAMATAN JATI KABUPATEN KUDUS PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR BERSERI UNTUK PENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PARAGRAF NARASI SISWA KELAS IV SD 2 PLOSO KECAMATAN JATI KABUPATEN KUDUS Oleh SAIFUL MUNA NIM 200933084 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN

Lebih terperinci

ANOVA SATU ARAH Nucke Widowati Kusumo Projo, S.Si, M.Sc

ANOVA SATU ARAH Nucke Widowati Kusumo Projo, S.Si, M.Sc ANOVA SATU ARAH Nucke Widowati Kusumo Proo, S.Si, M.Sc It s about: Ui rata-rata untuk lebih dari dua populasi Ui perbandingan ganda (ui Duncan & Tukey) Output SPSS PENDAHULUAN Ui hipotesis yang sudah kita

Lebih terperinci

SKRIPSI PENGARUH DISIPLIN KERJA DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP PRESTASI KERJA PEGAWAI PADA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN SAMOSIR

SKRIPSI PENGARUH DISIPLIN KERJA DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP PRESTASI KERJA PEGAWAI PADA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN SAMOSIR SKRIPSI PENGARUH DISIPLIN KERJA DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP PRESTASI KERJA PEGAWAI PADA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN SAMOSIR OLEH : PIRTAHAP SITANGGANG 120521115 PROGRAM STUDI STRATA

Lebih terperinci

ANALISIS PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA CV INDAH UTAMA 171

ANALISIS PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA CV INDAH UTAMA 171 ANALISIS PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA CV INDAH UTAMA 171 Suryanto Kanadi (Suryanto_Kanadi@yahoo.com) Lili Syafitri (Lili.Syafitri@rocketmail.com) Jurusan Akuntansi STIE MDP Abstrak Tujuan dari penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 23 April 2013. Penelitian dilakukan pada saat pagi hari yaitu pada jam 09.00-

BAB III METODE PENELITIAN. 23 April 2013. Penelitian dilakukan pada saat pagi hari yaitu pada jam 09.00- BAB III METODE PENELITIAN 1.1 Lokasi Dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian akan dilakukan di peternakan ayam CV. Malu o Jaya Desa Ulanta, Kecamatan Suwawa dan peternakan ayam Risky Layer Desa Bulango

Lebih terperinci

KARTU BIMBINGAN PENELITIAN

KARTU BIMBINGAN PENELITIAN Lampiran 1 KARTU BIMBIGA PEELITIA Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Pembangunan asional Veteran Jakarta Tahun 2011 Peneliti Judul : Linda Wattimena : Hubungan Tingkat

Lebih terperinci

Kata Kunci: Posisi Dorsal Recumbent, Posisi litotomi, Keadaan Perineum

Kata Kunci: Posisi Dorsal Recumbent, Posisi litotomi, Keadaan Perineum KEADAAN PERINEUM LAMA KALA II DENGAN POSISI DORSAL RECUMBENT DAN LITOTOMI PADA IBU BERSALIN Titik Lestari, Sri Wahyuni, Ari Kurniarum Kementerian Kesehatan Politeknik Kesehatan Surakarta Jurusan Kebidanan

Lebih terperinci

! "#$"# "%& '(&) *)+ )"$*& ***,-. / 0 + ' / 01. 1 + 2 / 3-, + / 33 3 + ' / 4- - / 13 4 $ */ 1, 5 ( / 01. % / 00 6 $ + ' / 4

! #$# %& '(&) *)+ )$*& ***,-. / 0 + ' / 01. 1 + 2 / 3-, + / 33 3 + ' / 4- - / 13 4 $ */ 1, 5 ( / 01. % / 00 6 $ + ' / 4 BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksplanatori, yang bertujuan untuk menjelaskan pengaruh tingkat kecerdasan emosi dan sikap pada budaya organisasi

Lebih terperinci

Advancing the health of Indonesia s poor and disadvantaged

Advancing the health of Indonesia s poor and disadvantaged Advancing the health of Indonesia s poor and disadvantaged Memajukan kesehatan penduduk miskin dan tidak mampu di Indonesia Indonesia s diverse geography, large and growing population and decentralised

Lebih terperinci

ANALISIS UNDERPR OLEH: YESIKA 3203009241 FAKULTAS BISNIS

ANALISIS UNDERPR OLEH: YESIKA 3203009241 FAKULTAS BISNIS ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI UNDERPR RICING PADA SAAT PENAWARAN UMUM SAHAM PERDANAA PERUSAHAAN SEKTOR KEUANGAN DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2003-2011 OLEH: YESIKA CANDRA YANI KOSASIH 3203009241

Lebih terperinci

LED Display Screen Indoor / Outdoor FAQ (Frequently Asked Questions)

LED Display Screen Indoor / Outdoor FAQ (Frequently Asked Questions) LED Display Screen Indoor / Outdoor FAQ (Frequently Asked Questions) Unpacking: Thank you for purchasing the AZTEC LED Display Full Color Indoor / Outdoor by AZTECELECTRONIC. Below are the Lists of Frequently

Lebih terperinci

NEGERI PASIR BANYUMAS SKRIPSI

NEGERI PASIR BANYUMAS SKRIPSI PENGARUH PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASARR NEGERI PASIR WETANN BANYUMAS SKRIPSI Diajukan

Lebih terperinci

PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS

PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS EFFECT OF EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DOSAGE ADDED IN DRINKING WATER ON BODY WEIGHT OF LOCAL CHICKEN

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI DAN VERIFIKASI TANDA TANGAN STATIK MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION DAN ALIHRAGAM WAVELET

IDENTIFIKASI DAN VERIFIKASI TANDA TANGAN STATIK MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION DAN ALIHRAGAM WAVELET TESIS IDENTIFIKASI DAN VERIFIKASI TANDA TANGAN STATIK MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION DAN ALIHRAGAM WAVELET ROSALIA ARUM KUMALASANTI No. Mhs. : 135302014/PS/MTF PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK INFORMATIKA PROGRAM

Lebih terperinci

LAPORAN HASIL. Oleh. Nama : I Gede Surata, SPd. MM NIP : 196510261991031001 Guru Praktik Jasa Boga

LAPORAN HASIL. Oleh. Nama : I Gede Surata, SPd. MM NIP : 196510261991031001 Guru Praktik Jasa Boga LAPORAN HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN PEMBERIAN TUGAS UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENGELOLAAN USAHA JASA BOGA KELAS X JASA BOGA 2 SMK NEGERI 6 PALEMBANG TAHUN PELAJARAN

Lebih terperinci

SOAL ESSAY TENTANG ANIMALIA KELAS X SERTA JAWABAN. Related Soal Essay Tentang Animalia Kelas X Serta Jawaban :

SOAL ESSAY TENTANG ANIMALIA KELAS X SERTA JAWABAN. Related Soal Essay Tentang Animalia Kelas X Serta Jawaban : Reading and Free Access soal essay tentang animalia kelas x serta jawaban Page : 1 SOAL ESSAY TENTANG ANIMALIA KELAS X SERTA JAWABAN [Download] Soal Essay Tentang Animalia Kelas X Serta Jawaban.PDF The

Lebih terperinci

ANALISIS PROFFITABILITAS USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG

ANALISIS PROFFITABILITAS USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG ANALISIS PROFFITABILITAS USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG (Studi Kasus di II Desa Gunungrejo Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan) Ista Yuliati 1, Zaenal Fanani 2 dan Budi Hartono 2 1) Mahasiswa Fakultas

Lebih terperinci

SOFTWARE MONITORING BUKA TUTUP PINTU AIR OTOMATIS BERBASIS BORLAND DELPHI 7.0 TUGAS AKHIR

SOFTWARE MONITORING BUKA TUTUP PINTU AIR OTOMATIS BERBASIS BORLAND DELPHI 7.0 TUGAS AKHIR SOFTWARE MONITORING BUKA TUTUP PINTU AIR OTOMATIS BERBASIS BORLAND DELPHI 7.0 TUGAS AKHIR Untuk memenuhi persyaratan mencapai pendidikan Diploma III (D III) Program Studi Instrumentasi dan Elektronika

Lebih terperinci

ANALISIS KUALITAS PELAYANAN PADA RUMAH MAKAN METRO

ANALISIS KUALITAS PELAYANAN PADA RUMAH MAKAN METRO ANALISIS KUALITAS PELAYANAN PADA RUMAH MAKAN METRO JURNAL Oleh : SANDIKA SAPUTRA C1B110070 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BENGKULU 2014 Jurusan Manajemen Universitas Bengkulu

Lebih terperinci

MANAJEMEN RESIKO DALAM PELAYANAN KESEHATAN: KONSEP DALAM SISTEM PELAYANAN KESEHATAN

MANAJEMEN RESIKO DALAM PELAYANAN KESEHATAN: KONSEP DALAM SISTEM PELAYANAN KESEHATAN MANAJEMEN RESIKO DALAM PELAYANAN KESEHATAN: KONSEP DALAM SISTEM PELAYANAN KESEHATAN Dr. dr. Fachmi Idris, M.Kes Dosen FK UNSRI BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT KEDOKTERAN KOMUNITAS (IKM/IKK) FAKULTAS KEDOKTERAN

Lebih terperinci

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110 ISSN: 1693-1246 Juli 2011 Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110 J P F I http://journal.unnes.ac.id PEMBELAJARAN SAINS DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

Lebih terperinci