Laporan Kegiatan Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia, Hari Air Internasional dan Hari Bumi, Tahun 2013

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Laporan Kegiatan Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia, Hari Air Internasional dan Hari Bumi, Tahun 2013"

Transkripsi

1 Laporan Kegiatan Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia, Hari Air Internasional dan Hari Bumi, Tahun 2013 diselenggarakan di Sawah Luhur, Kec. Kasemen, Serang-Banten, 27 April 2013 Oleh: Triana LATAR BELAKANG Hari Lahan Basah Sedunia, 2 Februari 2013 Lahan Basah Peduli AIR Dalam pertemuan berbagai bangsa di kota Ramsar (Iran), pada tanggal 2 Februari 1971, disepakati adanya suatu Konvensi International tentang penyelamatan lahan basah bernilai penting diseluruh dunia (dikenal sebagai Konvensi Ramsar). Terkait hal ini, selanjutnya pada setiap tanggal 2 Februari, diperingati sebagai Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day /WWD). Indonesia masuk menjadi anggota/meratifikasi Konvensi Ramsar pada tahun 1991 melalui Keppres No. 48 tahun 1991, dimana saat itu diajukan Taman Nasional Berbak di Propinsi Jambi sebagai situs Ramsar pertama di Indonesia. TN Berbak selain merupakan lahan basah yang sangat penting (162,000 Ha) dari sisi keanekaragaman hayati, ia juga merupakan lahan basah yang menyimpan Karbon dalam jumlah besar pada lahan gambutnya. Saat ini Indonesia memiliki 6 situs Ramsar, yaitu: TN. Danau Sentarum, TN. Berbak, TN. Sembilang, TN. Wasur, TN. Rawa Aopa, dan SM Pulau Rambut. Lahan basah menurut konvensi Ramsar didefinisikan sebagai: Daerah-daerah rawa, payau, lahan gambut, dan perairan: alami atau buatan; tetap atau sementara; dengan air yang tergenang atau mengalir, tawar, payau atau asin; termasuk wilayah perairan laut yang kedalamannya tidak lebih dari enam meter pada waktu surut. Hari Lahan Basah Sedunia-Hari Air Internasional-Hari Bumi,

2 Tema hari lahan basah tahun ini adalah Lahan Basah Peduli AIR Air adalah sumber kehidupan, seluruh mahluk hidup sangat bergantung kepada adanya air. Air yang menjadi sumber vital tersebut, tentu harus terus dijaga dan dipelihara ketersedian maupun kualitasnya. Lahan basah, sebagai suatu ekosistem adalah sumber penyedia air. Dengan peran dan fungsinya sebagai penyerap maupun pemasok air, maka lahan basah perlu dan wajib dipelihara dan dikelola dengan baik, benar dan berkesinambungan. Kerusakan atau hilangnya lahan basah, juga akan menghilangkan peran dan fungsi di dalamnya, seperti mencegah banjir, mencegah kebakaran (hutan), mencegah intrusi air laut, sumber penyedia air bersih, mencegah pemanasan global, sumber mata pencaharian, dsb. Adalah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk melestarikan, mengelola dan memanfaatkan lahan basah dengan bijak. Bila kita peduli pada kehidupan kita dan generasi penerus kita, maka kita wajib peduli pada kelestarian lahan basah yang ada di sekitar kita!! Selamat Hari Lahan Basah, 2 Februari 2013 Hari Air Internasional, 22 Maret 2013 Tahun Kerjasama Air Internasional Hari Air Sedunia dicetuskan untuk pertama kali pada saat Nations Conference on Environment and Development (UNCED) oleh Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) di Rio de Janeiro, Brasil, tahun Pada Sidang Umum PBB ke-47 yang dilaksanakan 22 Desember 1992, dirumuskanlah Resolusi Nomor 147/1993 yang menetapkan pelaksanaan peringatan Hari Air Dunia setiap tanggal 22 Maret dan mulai diperingati tahun Setiap tahunnya PBB menentukan tema peringatan yang berbeda-beda, sesuai dengan fokus kerja yang direncanakan. Tahun ini dicanangkan tema Tahun Kerjasama Air Internasional Kondisi Air Saat Ini Air bersih menjadi barang yang semakin langka dan berharga sangat mahal bagi sebagian warga dunia. UN Water merilis data bahwa sekitar 780 juta manusia di dunia tidak bisa mengakses air bersih. Disamping itu, tedapat 2.5 miliar manusia tidak dapat mengakses sanitasi yang layak. Air tidak merata dalam ruang dan waktu, siklus hidrologi sangat kompleks dan gangguan terhadapnya memiliki efek ganda. Pemenuhan kebutuhan dasar manusia, lingkungan kita, pembangunan sosialekonomi dan pengurangan kemiskinan, semua sangat bergantung pada air. Dengan sifatnya yang tidak dibatasi oleh batas-batas administratif, wilayah dan negara, melalui tema kali ini kita semua disadarkan betapa pengelolaan air dan sumber-sumbernya tidak dapat dikelola secara sendiri-sendiri. Diperlukan kerjasama dan sinergitas yang erat antar lintas sektoral, wilayah maupun bangsa-bangsa di dunia. Mulailah mendukung kerja sama air dengan berbuat sesuatu yang kecil namun bermanfaat. Berhemat air, tidak mengotori badan air dengan sampah, menanam dan merawat tanaman di sekitar lingkungan kita, mungkin bisa berkontibusi untuk lestarinya air di bumi kita. Selamat Hari Air Internasional, 22 Maret Hari Lahan Basah Sedunia-Hari Air Internasional-Hari Bumi,

3 Hari BUMI, 22 April 2013 Wajah Perubahan Iklim Planet bumi yang kita tempati ini merupakan planet ketiga dari sembilan planet dalam susunan ketata suryaan (solar system). Diperkirakan usianya mencapai 4,6 milyar tahun. Bumi diciptakan berbeda dengan planetplanet lainnya, dimana Sang Khalik menempatkan seluruh mahluk hidup ciptaannya termasuk manusia di dalamnya. Bumi mempunyai lapisan udara (atmosfer) dan medan magnet yang disebut (magnetosfer) yang melindungi permukaan Bumi dari angin matahari, sinar ultra ungu, dan radiasi dari luar angkasa. Lapisan udara ini menyelimuti bumi hingga ketinggian sekitar 700 kilometer. Manusia tergantung atas segala sumberdaya yang dikandung bumi, sebaliknya bumi sangat memerlukan sentuhan dan perlakuan arif manusia agar dapat terus menyediakan fungsi dan manfaatnya. Sejak manusia pertama menapakan kakinya di bumi, hubungan itu berjalan harmonis. Namun, dalam sejarah perkembangannya, nilai-nilai yang saling menguntungkan sudah mulai pudar. Manusia seiring dengan perubahan budaya, pola hidup serta kebutuhan yang terus meningkat, cenderung memeras dan mengeksploitasi bumi demi mewujudkan keinginan duniawinya. Akibatnya bumi semakin merana dan terdegradasi. Bumi semakin letih menopang beban gedung-gedung tinggi menjulang. Bumi semakin sakit menghirup udara kotor (limbah) yang dikeluarkan kendaraan bermotor dan pabrik-pabrik, Bumi semakin hancur akibat penggalian tambang dimana-mana, dan Bumi semakin panas terkena dampak perubahan iklim akibat penggundulan hutan dan gas-gas hasil industri. Lalu, bagaimana kita bisa berpikir logis, jika keadaan panas, udara terkontaminasi polusi kendaraan dan pabrik? Lalu akankah kita semua berpangku tangan atas apa yang telah terjadi dan menimpa bumi yang kita diami? Sebenarnya banyak yang dapat kita lakukan seiring jalannya kehidupan. Tahun demi tahun, bulan, hari bahkan detik per detik adalah waktu-waktu yang sangat berharga dalam memelihara bumi. Komitmen kita semua untuk berfikir, melangkah dan berkarya bersama dalam menggapai kondisi lingkungan yang lebih baik adalah suatu kekuatan bahkan kebutuhan yang harus segera direalisasikan. Tiada satu katapun yang bisa menampik bahwa kita bernafas dari udara yang sama, kita minum dari air yang sama dan kita berdiri pada tanah yang sama. Bumi adalah Ibu bagi kita semua, mari kita rajut keharmonisan yang pernah ada, agar Ibu masih bisa memberikan susunya bagi kita semua. STOP Pemanasan Global! Selamat Hari BUMI, 22 April Hari Lahan Basah Sedunia-Hari Air Internasional-Hari Bumi,

4 PERINGATAN HARI LAHAN BASAH SEDUNIA HARI AIR INTERNASIONAL HARI BUMI, 2013 OLEH WETLANDS INTERNATIONAL IP Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, acara peringatan Hari Lahan Basah kali ini digabung dengan peringatan dua Hari Besar lainnya, yaitu Hari Air Internasional dan Hari Bumi. Peringatan ketiga Hari Besar tersebut dilangsungkan pada tanggal 27 April 2013, di kawasan pesisir (pertambakan), Sawah Luhur, Kec. Kasemen, Kota Serang, Banten, yang merupakan kawasan penyangga Cagar Alam Pulau Dua. Peringatan melibatkan tidak kurang dari 150 peserta dari berbagai kalangan, yaitu: Kelompok Pencinta Alam Pesisir Pulau Dua, siswa-siswi dari 5 SD di wilayah Sawah Luhur, Aparatur Kelurahan Sawah Luhur, Seksi Konservasi Wilayah I Serang, Bidang KSDA, Ditjen. PHKA, Dinas BLH Kota Serang, Ditjen. Perikanan Budidaya, Ditjen. Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Ditjen. PHKA, Wetlands International IP, Media elektronik, serta masyarakat luas. Seluruh kegiatan yang dilangsungkan terlaksana atas kerjasama antara Wetlands International Indonesia Programme, Ditjen. PHKA dan Yayasan Lahan Basah Indonesia, dengan dukungan pendanaan dari Program PfR (Partners for Resilience). Acara peringatan dimeriahkan dengan diadakannya perlombaan Menggambar bagi siswa-siswi sekolah dasar yang ada di sekitar Sawah Luhur, dan perlombaan Memancing ikan bagi masyarakat umum. Kedua acara perlombaan tersebut dilakukan di dalam tambak Sigenting, dimana pemancing menyebar di sekeliling tambak, sedangkan lomba menggambar dilakukan di saung-saung yang ada di tengah-tengah tambak. Sementara lokasi acara utama dilangsungkan di samping sebelah barat tambak dengan menggunakan tenda. Antusiasme masyarakat dan siswa-siswi Sekolah Dasar untuk ikut berpartisipasi dalam acara peringatan, patut diapresiasi. Mereka menyadari bahwa kegiatan yang mereka ikuti bukanlah sematamata dikarenakan hadiah atau kemenangan, akan tetapi karena dilandaskan semangat kebersamaan dan rasa cinta terhadap lingkungan pesisir mereka. Penyadartahuan dan pengembangan wawasan bagi masyarakat dan generasi muda melalui pendekatan minat dan permainan ini, menjadi langkah awal yang strategis dalam mengajak dan menumbuh kembangkan rasa kepedulian mereka untuk menghijaukan lingkungan pesisir dan pertambakan di wilayah mereka. SAMBUTAN-SAMBUTAN Acara dimulai dengan sambutan dari panitia penyelenggara, dan ucapan terima kasih khususnya kepada masyarakat dan pemerintah lokal yang telah mengijinkan diselenggarakannya acara peringatan ke-tiga hari-hari besar dunia ini. Satu hari ini, marilah kita gunakan untuk merenung dan berfikir sejenak, apa yang akan terjadi bila di bumi yg kita diami ini air (bersih) menjadi sulit didapati? atau mengapa air kadang melimpah namun justru mendatangkan bencana (banjir) bagi kita? Mudahmudahan peringatan kali ini akan menjadi pemacu dan penyemangat bagi kita semua untuk lebih menjaga dan melestarikan sumber-sumber air (bersih). Sambutan dilanjutkan oleh Bapak Basuni, Lurah Sawah Luhur selaku wakil pemerintah pada tingkat kelurahan dan sebagai tuan rumah di wilayah Sawah Luhur. Dalam sambutannya, beliau sangat mendukung kegiatan yang dilaksanakan, dan sangat berharap akan ada dampak dan manfaat positif setelahnya bagi penguatan pesisir dan peningkatan taraf hidup masyarakat Sawah Luhur. Hari Lahan Basah Sedunia-Hari Air Internasional-Hari Bumi,

5 Berikutnya sambutan (utama) dari Bapak Haryono, Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, mewakili Bapak Direktur Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung, Ditjen. PHKA. Beliau merasa senang bisa hadir pada acara peringatan yang terkesan unik karena diselenggarakan di tengahtengah pertambakan bersama masyarakat. Selanjutnya beliau membacakan pesan dan kesan tertulis dari Bapak Direktur KKBHL, antara lain berisi ucapan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh tim penyelenggara dari WI-IP, YLBI dan kelompok masyarakat, yang telah bekerja keras hingga terwujudnya acara tersebut, juga kepada Lurah Sawah Luhur atas ijin dan dukungannya, serta bagi masyarakat dan seluruh undangan. Dalam pesan tertulisnya, Direktur KKBHL menekankan agar kegiatan-kegiatan seperti ini dapat terus ditingkatkan. Kesatuhatian dan kebersamaan antara seluruh pihak merupakan modal utama bagi keberlangsungan perbaikan kualitas lingkungan khususnya di kawasan Sawah Luhur. Kegiatan penghijauan oleh masyarakat setempat (kelompok binaan WI-IP) pada tambak-tambak yang sebelumnya gersang, telah menunjukkan hasil dan dapat dijadikan contoh nyata dalam rehabiltasi pesisir sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat. Lebih jauh dikatakan bahwa kegiatan rehabilitasi pesisir Sawah Luhur sebagai kawasan penyangga, menjadi sangat penting dan berdampak positif bagi terjaganya ekosistem kawasan lindung CA Pulau Dua. Ke depan, melalui pola-pola kegiatan yang ramah lingkungan (seperti silvo-fishery), bukan tidak mungkin pesisir Sawah Luhur suatu saat akan menjadi wilayah yang diminati dan dijadikan tujuan wisata bagi pengunjung lokal maupun luar daerah. PRESENTASI-PRESENTASI Kepala Seksi BKSDA Serang (Bapak Rifki), tentang CA Pulau Dua. Pulau Dua yang juga dikenal dengan sebutan Pulau Burung, ditetapkan sebagai Cagar Alam berdasarkan GB tanggal Nomor 21 Stbl 49 seluas 8 Ha. Karena ada tanah timbul di sekitarnya, cagar alam ini luasnya bertambah dan pada tahun 1978 menyatu dengan dataran pulau Jawa. Untuk menjamin kelestarian ekosistem Pulau Dua, telah diterbitkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 253/Kpts/II/1984 yang menetapkan bahwa tanah timbul di selatan pulau menjadi tanah cagar alam, sehingga luas cagar alam ini menjadi 30 Ha. Cagar alam ini terletak di Teluk Banten, masuk ke wilayah administrasi Desa Sawah Luhur, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang. (Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Barat) Kelompok fauna yang umum terdapat di kawasan ini didominasi jenis-jenis burung-air, selain itu terdapat pula kelompok reptilia seperti Biawak (Varanus salvator) dan Ular lumpur (Cerberus rhynchops), dari kelompok mammalia, Garangan (Herpectes javanicus). Selain itu ditemukan pula jenis-jenis flora diantaranya: Kepuh (Sterculia foetida), Ketapang (Terminalia catappa), Bangka (Bruguiera sp). Api-api (Avicennia sp), Dadap (Erythrina variegata), Cangkring (Erythrina fusca), dan Pace (Morinda sitripolia). Keberadaan CAPD sangatlah penting selain sebagai habitat burung dan ikan, juga sebagai benteng pelindung bagi tambak dan pemukiman yang berada di belakangnya. Agar manfaat dan fungsi CAPD dapat terus terjaga, maka peran aktif dan kesadaran masyarakat di sekitarnya perlu untuk terus ditingkatkan. Berbagai upaya menjaga keberadaan CAPD dan penghijauan pesisir Sawah Luhur yang telah dilakukan oleh WI-IP bersama kelompok masyarakat, merupakan kegiatan nyata dan sangat penting bagi tercapainya semua sasaran tersebut. Melalui kesempatan pada peringatan 3 hari-hari besar dunia ini, Pak Rifki menyampaikan terima kasih dan dukunan terhadap seluruh kegiatan WI-IP yang sedang dan akan terus dilakukan di wilayah pesisir Sawah Luhur. Hari Lahan Basah Sedunia-Hari Air Internasional-Hari Bumi,

6 Direktur Wetlands International Indonesia Programme (Bapak I Nyoman N. Suryadiputra) Wetlands International - Indonesia Programme (WI-IP) memiliki sejarah sangat dekat dengan Teluk Banten khususnya di wilayah Sawah Luhur. Sejak tahun 1997, WI-IP telah melakukan kegiatan penelitian burung air dan ekosistem pesisir Teluk Banten. Pada tahun 2001 hingga saat ini, kegiatan dilanjutkan melalui sensus burung air di CAPD, rehabilitasi kawasan pesisir, pemberdayaan masyarakat serta pendidikan lingkungan bagi siswa-siswi sekolah dasar dan menengah. Kegiatan rehabilitasi ekosistem pesisir yang sedang dikembangkan di Teluk Banten, dipadukan dengan upaya-upaya penciptaan mata pencaharian alternatif. Kegiatan penghijauan pesisir melalui sistem tambak ramah lingkungan terus ditingkatkan bersama masyarakat. Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia yang diselenggarakan bersamaan dengan peringatan Hari Air Internasional dan hari Bumi tahun 2013 ini, dilakukan pada salah satu lokasi (pertambakan) kegiatan WI-IP, yaitu tambak Sigenting. Tanaman-tanaman mnagrove yang tumbuh di sepanjang bantaran dan tengah tambak diperkirakan sudah berumur 2 sampai 3 tahun. Dengan melihat begitu semangatnya siswa-siswi SD mengikuti lomba menggambar di saung-saung tengah tambak, dan antusiasnya masyarakat mengelilingi tambak untuk berlomba memancing ikan, bisa menjadi indikasi dan inspirasi bahwa kegiatan rehabilitasi di pesisir Sawah Luhur berpotensi dikembangkan menjadi daerah eko-wisata dan Pusat Pendidikan Lingkungan pesisir. Kelompok masyarakat pengelola tambak bahkan mengusulkan adanya unsur-unsur permainan atau hiburan lain seperti wisata air (kayuh perahu, sepeda air, dll). Pengembangan permainan-permaian alam pesisir tidak hanya akan menjadi pembelajaran dan pendidikan lingkungan (pesisir) bagi masyarakat, tetapi juga akan membantu meningkatkan pendapatan (perekonomian) kelompok masyarakat untuk digunakan bagi pemenuhan hidup mereka maupun perawatan tambak. WI-IP sangat mendukung setiap rencana dan upaya pengembangan pengelolaan ke arah lebih baik. Bersama-sama dengan YLBI, WI-IP akan merancang suatu event yang bersifat promosi edukasi dan wisata, yang pelaksanaannya bisa dikaitkan dengan hari-hari besar nasional atau sejarah daerah Banten, seperti Hari Kemerdekaan RI, Hari Jadinya Provinsi Banten, dll. Acara dipadukan dengan suguhan-suguhan kesenian tradisional lokal, seperti debus, calung, seni tari, dll. Ekosistem mangrove yang nanti bakal terbentuk di pesisir Sawah Luhur, akhirnya akan menjadi benteng lapis kedua dari CAPD dalam menghadang gempuran ombak, air pasang dan angin topan dari laut. Permasalahan lain selain intervensi manusia terhadap kawasan, saat ini CAPD terus menghadapi ancaman abrasi di bagian garis pantainya. Kegiatan yang saat ini dikembangkan WI-IP untuk melindungi CAPD dari gerusan abrasi, adalah melakukan penangkapan sedimen/lumpur dengan menggunakan perangkap sederhana yaitu karung-karung yang diisi tanah. Karung-karung tersebut dipasang disepanjang pantai yang berbatasan langsung dengan lahan kawasan CAPD. Hasil yang dapat dilihat saat ini adalah terbentuknya hamparan daratan baru akibat terperangkapnya sedimen-sedimen yang dibawa arus laut. Daratan baru tersebut saat ini sudah ditumbuhi jenis-jenis tanaman pantai secara alami. Dengan semakin luasnya daratan baru yang terbentuk dan rimbunnya tumbuhan di atasnya kelak, kawasan CAPD akan menjadi lebih luas dan terlindungi. Diharapkan dengan terus ditingkatkannya kerjasama yang erat antara berbagai pihak, harapan bersama terbentuknya wilayah pesisir yang kuat di Sawah Luhur, CAPD yang lestari, dan masyarakat yang mandiri, dapat terwujud. Hari Lahan Basah Sedunia-Hari Air Internasional-Hari Bumi,

7 Pembina YLBI (Bapak Dibjo Sartono), tentang Profil YLBI Yayasan Lahan Basah Indonesia (YLBI), didirikan di Bogor pada tanggal 17 Januari YLBI memiliki misi yang tidak jauh berbeda dengan WI-IP, yaitu peduli pada kelestarian lahan basah dan mengedepankan pola-pola pemanfaatan yang bijak dan berkesinambungan, demi generasi saat ini dan yang akan datang. YLBI akan berperan aktif untuk setiap kegiatan pelestarian dan perlindungan tipe-tipe ekosistem lahan basah termasuk pemberdayaan masyarakat dalam wilayah kesatuan Republik Indonesia, dan membuka pintu selebar-lebarnya dengan pihak manapun untuk bekerjasama dalam rangka mewujudkan visi dan misi yayasan. Pada kesempatan acara Hari Lahan Basah Sedunia - Hari Air Internasional - Hari Bumi 2013 yang diselenggarakan oleh WI-IP ini, YLBI turut aktif mendukung sebagai tim pelaksana untuk kelancaran acara. Tawaran kerjasama oleh WI-IP kepada YLBI untuk melakukan kegiatan rehabilitasi dan pemberdayaan masyarakat di pesisir Sawah Luhur, Serang, adalah peluang yang akan dipertimbangkan dan segera ditindaklanjuti. YLBI akan memberikan bukti bukan janji, bukti bahwa setiap langkah upaya yang dilakukan dapat dirasakan manfaatnya bagi kemaslahatan umat manusia dan seluruh mahluk hidup lainnya. Ketua KPAPPD (Bapak Nasrudin) Kelompok Pencinta Alam Pesisir Pulau Dua (KPAPPD) berdiri pada tahun 2008 atas dukungan WI-IP. Terdiri dari 15 anggota yang umumnya merupakan petani tambak atau nelayan. KPAPPD dibentuk sebagai mitra kerja WI-IP di lokasi kegiatan, yang dituangkan dalam bentuk kontrak kerjasama sebagai dasar acuan kedua belah pihak. Salah satu butir yang harus dilakukan oleh kelompok adalah menanam sejumlah bibit-bibit tanaman mangrove dan tanaman pantai lainnya didalam kawasan pertambakan maupun sekitarnya. Kelompok wajib merawat dan memelihara tanaman hingga dapat tumbuh besar, setidaknya 75% yang hidup dari keseluruhan bibit yang ditanam. Sebagai kompensasi atas komitmen dan dedikasi kelompok, WI-IP memberikan bantuan modal untuk pengembangan perekonomian kelompok. Saat ini, kelompok telah memanfaatkan bantuan modal usaha antara lain untuk budidaya ikan bandeng. Mendukung kegiatan usaha ini, WI-IP telah mengijinkan seluruh tambak-tambak tempat kegiatan WI-IP digunakan oleh kelompok. Hasil perikanan seluruhnya akan dimanfaatkan dan menjadi milik kelompok. Dengan hubungan timbal balik yang saling menguntungkan itu, alam dan masyarakat akan secara bersama-sama mendapatkan manfaat dan kebaikan. PENANAMAN Puncak acara adalah penanaman bersama seluruh peserta, termasuk para undangan dari pusat maupun daerah. Telah disediakan sekitar 300 bibit tanaman jenis Rhizophora stylosa dan R. apiculata untuk ditanam di sekitar tambak. Sebelum dilakukan penanaman, terlebih dahulu disampaikan teknis penanaman oleh salah seorang staff WI-IP mulai dari pembukaan bibit dari polybag hingga dimasukkan ke dalam lumpur. Hari Lahan Basah Sedunia-Hari Air Internasional-Hari Bumi,

8 Kegiatan simbolis tersebut adalah pengingat dan penyemangat untuk kita berbuat lebih bijak dan nyata dalam memelihara lingkungan lahan basah kita. Lahan basah yang terpelihara dengan baik, tentu akan memberikan manfaatnya bagi kita khususnya dalam menyediakan air bersih sebagai sumber vital kehidupan. Bumi yang kita pijak saat ini sedang mengalami kerusakan dan ancaman, akibat yang ditimbulkan oleh berbagai aktifitas manusia yang tidak ramah lingkungan. Pemanasan global yang terus meningkat, mengakibatkan iklim dengan cepat berubah tanpa dapat diperhitungkan lagi. Harus ada upaya-upaya penyeimbang agar bumi tidak cepat hancur. Hutan mangrove yang terbentuk akan menyerap emisi gas rumah kaca di udara. Langkah nyata yang telah dilakukan WI-IP bersama-sama para mitranya dalam merehabilitasi pesisir Sawah Luhur, diharapkan akan turut andil dalam mereduksi dan menghambat laju pemanasan global. PEMBAGIAN HADIAH PEMENANG LOMBA MENGGAMBAR DAN MEMANCING Sebelum penutupan acara, diumumkan para pemenang lomba menggambar tingkat SD dan pemenang lomba memancing. Dari 5 sekolah perwakilan SD-SD di Sawah Luhur, keluar sebagai pemenang sbb: 1. Juara I: Asis Sul Hakim dari SDN KEBON 2. Juara II: Siti Nur Aliyah dari SDN INPRES 3. Juara III: Syifa F. dari SDN CANGKRING 4. Juara Harapan I: Juni dari SDN HARJA MUKTI 5. Juara Harapan II: Dianawati dari MI Al-Khairiyah Badamusalam Sementara untuk lomba memancing, juaranya adalah: 1. Juara I: Bapak Yanto 2. Juara II: Bapak Toha 3. Juara III: Bapak Arif Perlombaan adalah salah satu sarana untuk terjadinya interaksi positif antara masyarakat dan generasi pelajar dengan lingkungan pesisirnya. Diharapkan dengan silahturahmi dan kesenangan yang mereka dapatkan di lokasi kegiatan, akan menumbuhkan rasa cinta dan kepedulian di hati mereka untuk menjaga dan memelihara lingkungannya. Dengan selesainya penyerahan hadiah bagi para pemenang, maka selesai pula seluruh rangkaian acara peringatan. Pelaksanaan peringatan mulai dari awal hingga akhir diliput oleh media eleltronik BANTEN TV, yang merupakan stasiun TV lokal. Selamat Hari Lahan Basah Sedunia, 2 Februari 2013 Selamat Hari Air Internasional, 22 Maret 2013 Selamat Hari Bumi, 22 April 2013 Hari Lahan Basah Sedunia-Hari Air Internasional-Hari Bumi,

9 DOKUMENTASI FOTO-FOTO Sambutan Lurah Sawah Luhur Sambutan Kepala Balai TN Ujung Kulon mewakili Direktur KKBHL, Ditjen PHKA Presentasi Kepala Seksi BKSDA Serang Presentasi Direktur Program WI-IP Presentasi Pembina YLBI Pesan dan kesan Ketua Kelompok (KPAPPD) Hari Lahan Basah Sedunia-Hari Air Internasional-Hari Bumi,

10 Para peserta yang hadir di tenda utama Berfoto bersama Siswa-siswi SD peserta Lomba Menggambar di saung-saung tengah tambak Saung-saung di atas tambak tempat lomba menggambar berlangsung Masyarakat peserta lomba memancing, mengambil posisi di bantaran mengelilingi tambak Hari Lahan Basah Sedunia-Hari Air Internasional-Hari Bumi,

11 Penjelasan teknis sebelum penanaman Penanaman bersama di dalam tambak Penanaman oleh siswa-siswi sekolah Penanaman di dalam tambak Pememang Lomba Menggambar Pemenang Lomba Memancing Hari Lahan Basah Sedunia-Hari Air Internasional-Hari Bumi,

Forests for Water and Wetlands

Forests for Water and Wetlands Laporan Kegiatan Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia, 2 Februari 2011 diselenggarakan di Desa Sawah Luhur, Kec. Kasemen, Serang-Banten, 19 Februari 2011 Forests for Water and Wetlands Oleh: Triana LATAR

Lebih terperinci

Lahan Basah bagi Pengurangan Risiko Bencana

Lahan Basah bagi Pengurangan Risiko Bencana PRESS RELEASE Perayaan Hari Lahan Basah Sedunia di Teluk Banten: Lahan Basah bagi Pengurangan Risiko Bencana Serang, 16 Februari 2016 Pengelolaan Lahan Basah secara Kolaboratif Kondisi lahan basah (wetlands)

Lebih terperinci

SAMBUTAN BUPATI SLEMAN PADA PUNCAK ACARA PERINGATAN HARI LINGKUNGAN HIDUP SE-DUNIA TINGKAT KABUPATEN SLEMAN TAHUN 2014 TANGGAL : 27 JUNI 2014

SAMBUTAN BUPATI SLEMAN PADA PUNCAK ACARA PERINGATAN HARI LINGKUNGAN HIDUP SE-DUNIA TINGKAT KABUPATEN SLEMAN TAHUN 2014 TANGGAL : 27 JUNI 2014 1 SAMBUTAN BUPATI SLEMAN PADA PUNCAK ACARA PERINGATAN HARI LINGKUNGAN HIDUP SE-DUNIA TINGKAT KABUPATEN SLEMAN TAHUN 2014 TANGGAL : 27 JUNI 2014 Assalamu alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera bagi kita semua.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove yang cukup besar. Dari sekitar 15.900 juta ha hutan mangrove yang terdapat di dunia, sekitar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membentang dari Sabang sampai Merauke yang kesemuanya itu memiliki potensi

BAB I PENDAHULUAN. membentang dari Sabang sampai Merauke yang kesemuanya itu memiliki potensi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki garis pantai yang terpanjang di dunia, lebih dari 81.000 KM garis pantai dan 17.508 pulau yang membentang

Lebih terperinci

DISAMPAIKAN PADA ACARA PELATIHAN BUDIDAYA KANTONG SEMAR DAN ANGGREK ALAM OLEH KEPALA DINAS KEHUTANAN PROVINSI JAMBI

DISAMPAIKAN PADA ACARA PELATIHAN BUDIDAYA KANTONG SEMAR DAN ANGGREK ALAM OLEH KEPALA DINAS KEHUTANAN PROVINSI JAMBI PERAN EKOSISTEM HUTAN BAGI IKLIM, LOKAL, GLOBAL DAN KEHIDUPAN MANUSIA DINAS KEHUTANAN PROVINSI JAMBI DISAMPAIKAN PADA ACARA PELATIHAN BUDIDAYA KANTONG SEMAR DAN ANGGREK ALAM OLEH KEPALA DINAS KEHUTANAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Mangrove merupakan ekosistem dengan fungsi yang unik dalam lingkungan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Mangrove merupakan ekosistem dengan fungsi yang unik dalam lingkungan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mangrove merupakan ekosistem dengan fungsi yang unik dalam lingkungan hidup. Oleh karena adanya pengaruh laut dan daratan, dikawasan mangrove terjadi interaksi kompleks

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Tujuan Penulisan Laporan

BAB I PENDAHULUAN Tujuan Penulisan Laporan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Tujuan Penulisan Laporan Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Lingkungan dan Pembangunan (the United Nations Conference on Environment and Development UNCED) di Rio

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA U M U M Bangsa Indonesia dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa kekayaan berupa

Lebih terperinci

BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN

BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN 2.1 Tujuan Penataan Ruang Dengan mengacu kepada Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, khususnya Pasal 3,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Cagar lam merupakan sebuah kawasan suaka alam yang berarti terdapat

BAB I PENDAHULUAN. Cagar lam merupakan sebuah kawasan suaka alam yang berarti terdapat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut Peraturan Pemerintah Nomer 28 tahun 2011 pasal 1 nomer 1 tentang pengolaan kawasan suaka alam dan kawasan pelestaian alam yang berbunyi Kawsasan Suaka Alam

Lebih terperinci

Mata Pencaharian Penduduk Indonesia

Mata Pencaharian Penduduk Indonesia Mata Pencaharian Penduduk Indonesia Pertanian Perikanan Kehutanan dan Pertambangan Perindustrian, Pariwisata dan Perindustrian Jasa Pertanian merupakan proses untuk menghasilkan bahan pangan, ternak serta

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA ACARA FINALISASI DAN REALISASI MASTERPLAN PUSAT KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (PPKH) Pongkor, Selasa, 23 April 2013

SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA ACARA FINALISASI DAN REALISASI MASTERPLAN PUSAT KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (PPKH) Pongkor, Selasa, 23 April 2013 SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA ACARA FINALISASI DAN REALISASI MASTERPLAN PUSAT KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (PPKH) Pongkor, Selasa, 23 April 2013 Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Hutan mangrove di DKI Jakarta tersebar di kawasan hutan mangrove Tegal Alur-Angke Kapuk di Pantai Utara DKI Jakarta dan di sekitar Kepulauan Seribu. Berdasarkan SK Menteri

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. manusia dalam penggunaan energi bahan bakar fosil serta kegiatan alih guna

I. PENDAHULUAN. manusia dalam penggunaan energi bahan bakar fosil serta kegiatan alih guna I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perubahan iklim adalah fenomena global yang disebabkan oleh kegiatan manusia dalam penggunaan energi bahan bakar fosil serta kegiatan alih guna lahan dan kehutanan. Kegiatan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Sumberdaya perikanan laut di berbagai bagian dunia sudah menunjukan

PENDAHULUAN. Sumberdaya perikanan laut di berbagai bagian dunia sudah menunjukan PENDAHULUAN Latar Belakang Sumberdaya perikanan laut di berbagai bagian dunia sudah menunjukan adanya kecenderungan menipis (data FAO, 2000) terutama produksi perikanan tangkap dunia diperkirakan hanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kekayaan sumberdaya alam wilayah kepesisiran dan pulau-pulau kecil di Indonesia sangat beragam. Kekayaan sumberdaya alam tersebut meliputi ekosistem hutan mangrove,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang-surut

Lebih terperinci

PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA. Bab II

PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA. Bab II Bab II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA Dengan berlakunya Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah, setiap satuan kerja perangkat Daerah, SKPD harus menyusun Rencana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pantai sekitar Km, memiliki sumberdaya pesisir yang sangat potensial.

BAB I PENDAHULUAN. pantai sekitar Km, memiliki sumberdaya pesisir yang sangat potensial. 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Indonesia sebagai suatu negara kepulauan dengan panjang garis pantai sekitar 81.000 Km, memiliki sumberdaya pesisir yang sangat potensial. Salah satu ekosistem

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 108 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 108 TAHUN 2015 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 108 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 28 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan Negara kepulauan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang termasuk rawan

Lebih terperinci

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Salam Sejahtera Om Swastiastu

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Salam Sejahtera Om Swastiastu SAMBUTAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN PADA ACARA MEMPERINGATI HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA Minggu, 5 Juni 2016 Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Salam Sejahtera Om Swastiastu Saudara-saudara

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN. Mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dengan

BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN. Mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dengan 29 BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN 3.1. Kerangka Berpikir Mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dengan ekosistem laut. Mangrove diketahui mempunyai fungsi ganda

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keanekaragaman hayati atau biodiversitas adalah keanekaragaman organisme yang menunjukkan keseluruhan atau totalitas variasi gen, jenis, dan ekosistem pada suatu daerah,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tata Ruang dan Konflik Pemanfaatan Ruang di Wilayah Pesisir dan Laut

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tata Ruang dan Konflik Pemanfaatan Ruang di Wilayah Pesisir dan Laut 6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tata Ruang dan Konflik Pemanfaatan Ruang di Wilayah Pesisir dan Laut Menurut UU No. 26 tahun 2007, ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara,

Lebih terperinci

Sidang Pendadaran, 24 Desember 2016 Prodi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis ~VK

Sidang Pendadaran, 24 Desember 2016 Prodi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis ~VK Sidang Pendadaran, 24 Desember 2016 Prodi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis ~VK RAFIKA DEWI Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prodi Ilmu Ekonomi 2016 Dosen pembimbing: Bapak Ahmad Ma ruf, S.E., M.Si.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kota-kota seluruh dunia.

I. PENDAHULUAN. merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kota-kota seluruh dunia. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Banyak kota di dunia dilanda oleh permasalahan lingkungan, paling tidak adalah semakin memburuknya kualitas udara. Terpapar oleh polusi udara saat ini merupakan

Lebih terperinci

Pembangunan KSDAE di Eko-Region Papua Jakarta, 2 Desember 2015

Pembangunan KSDAE di Eko-Region Papua Jakarta, 2 Desember 2015 Pembangunan KSDAE di Eko-Region Papua Jakarta, 2 Desember 2015 Papua terdiri dari Provinsi Papua Barat dan Provinsi Papua dengan luas total 42,22 juta ha merupakan provinsi terluas dengan jumlah penduduk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir merupakan suatu wilayah peralihan antara daratan dan

BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir merupakan suatu wilayah peralihan antara daratan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Wilayah pesisir merupakan suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan. Negara Indonesia mempunyai wilayah pesisir dengan panjang garis pantai sekitar 81.791

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 108 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 28 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. potensial bagi kesejahteraan masyarakat ekonomi, sosial dan lingkungan hidup.

BAB I PENDAHULUAN. potensial bagi kesejahteraan masyarakat ekonomi, sosial dan lingkungan hidup. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Hutan bakau merupakan salah satu ekosistem lautan dan pesisir yang sangat potensial bagi kesejahteraan masyarakat ekonomi, sosial dan lingkungan hidup. Dibeberapa

Lebih terperinci

PENTINGNYA MENJAGA KEANEKARAGAMAN HAYATI ALAM DI SEKITAR KITA

PENTINGNYA MENJAGA KEANEKARAGAMAN HAYATI ALAM DI SEKITAR KITA Peringatan Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia 5 Juni 2010 PENTINGNYA MENJAGA KEANEKARAGAMAN HAYATI ALAM DI SEKITAR KITA Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati, baik tumbuhan maupun hewan. Sampai dengan

Lebih terperinci

PEDOMAN TEKNIS PENGGUNAAN DAN PEMANFAATAN TANAH

PEDOMAN TEKNIS PENGGUNAAN DAN PEMANFAATAN TANAH Lampiran I Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor : 2 TAHUN 2011 Tanggal : 4 Pebruari 2011 Tentang : Pedoman Pertimbangan Teknis Pertanahan dalam Penerbitan Izin Lokasi, Penetapan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2013 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2013 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2013 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa dalam rangka Konservasi Rawa, Pengembangan Rawa,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2013 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2013 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 2013 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : bahwa dalam rangka Konservasi Rawa,

Lebih terperinci

KAJIAN MATA PENCAHARIAN ALTERNATIF MASYARAKAT NELAYAN KECAMATAN KAMPUNG LAUT KABUPATEN CILACAP TUGAS AKHIR

KAJIAN MATA PENCAHARIAN ALTERNATIF MASYARAKAT NELAYAN KECAMATAN KAMPUNG LAUT KABUPATEN CILACAP TUGAS AKHIR KAJIAN MATA PENCAHARIAN ALTERNATIF MASYARAKAT NELAYAN KECAMATAN KAMPUNG LAUT KABUPATEN CILACAP TUGAS AKHIR Oleh: PROJO ARIEF BUDIMAN L2D 003 368 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS

Lebih terperinci

Dampak Pemanasan Global Terhadap Perubahan Iklim di Indonesia Oleh : Ahkam Zubair

Dampak Pemanasan Global Terhadap Perubahan Iklim di Indonesia Oleh : Ahkam Zubair Dampak Pemanasan Global Terhadap Perubahan Iklim di Indonesia Oleh : Ahkam Zubair Iklim merupakan rata-rata dalam kurun waktu tertentu (standar internasional selama 30 tahun) dari kondisi udara (suhu,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PRT/M/2015 TENTANG RAWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 101111111111105 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki sumberdaya alam hayati laut yang potensial seperti sumberdaya terumbu karang. Berdasarkan

Lebih terperinci

Avicenia sp. ( Api-Api ) Rhizophora sp( Bakau ) Nypa sp. ( Nipah ) Bruguiera sp. ( Lacang ) Sonneratia sp. ( Pedada )

Avicenia sp. ( Api-Api ) Rhizophora sp( Bakau ) Nypa sp. ( Nipah ) Bruguiera sp. ( Lacang ) Sonneratia sp. ( Pedada ) Mangal komunitas suatu tumbuhan Hutan Mangrove adalah hutan yang tumbuh di daerah pantai, biasanya terletak didaerah teluk dan muara sungai dengan ciri : tidak dipengaruhi iklim, ada pengaruh pasang surut

Lebih terperinci

FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2010

FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2010 PENGARUH AKTIVITAS EKONOMI PENDUDUK TERHADAP KERUSAKAN EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI KELURAHAN BAGAN DELI KECAMATAN MEDAN BELAWAN SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyarataan Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.19/Menhut-II/2004 TENTANG KOLABORASI PENGELOLAAN KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.19/Menhut-II/2004 TENTANG KOLABORASI PENGELOLAAN KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.19/Menhut-II/2004 TENTANG KOLABORASI PENGELOLAAN KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM MENTERI KEHUTANAN, Menimbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berkelanjutan (sustainabel development) merupakan alternatif pembangunan yang

BAB I PENDAHULUAN. berkelanjutan (sustainabel development) merupakan alternatif pembangunan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan mengandung pengertian suatu perubahan besar yang meliputi perubahan fisik wilayah, pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang didukung

Lebih terperinci

DAMPAK PEMBANGUNAN PADA KOMPONEN IKLIM

DAMPAK PEMBANGUNAN PADA KOMPONEN IKLIM DAMPAK PEMBANGUNAN PADA KOMPONEN IKLIM Faktor cuaca/iklim belum mampu direkayasa manusia kecuali dalam skala mikro seperti pembuatan rumah kaca. Setiap organisme kehidupannya mempunyai keadaan cuaca/iklim

Lebih terperinci

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG PENCADANGAN KAWASAN TERUMBU KARANG PASIR PUTIH SEBAGAI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DAERAH KABUPATEN SITUBONDO BUPATI SITUBONDO, Menimbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kerusakan sehingga perlu dijaga kelestariannya. Hutan mangrove adalah

BAB I PENDAHULUAN. kerusakan sehingga perlu dijaga kelestariannya. Hutan mangrove adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan mangrove (bakau) merupakan suatu bentuk ekosistem yang mempunyai keragamanan potensi serta memberikan manfaat bagi kehidupan manusia baik secara langsung maupun

Lebih terperinci

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyuasin

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyuasin 2.1 Tujuan Penataan Ruang Tujuan penataan ruang wilayah kabupaten merupakan arahan perwujudan ruang wilayah kabupaten yang ingin dicapai pada masa yang akan datang (20 tahun). Dengan mempertimbangkan visi

Lebih terperinci

TIN206 - Pengetahuan Lingkungan. Materi # T a u f i q u r R a c h m a n

TIN206 - Pengetahuan Lingkungan. Materi # T a u f i q u r R a c h m a n Materi #4 Bahasan 2 Penipisan Ozon (Ozone Depletion). Pemanasan global dan Perubahan Iklim Global. Hujan Asam. Penyebaran Kehidupan (Biological Magnification). Dampak manusia pada Air, Udara, dan Perikanan.

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang selain merupakan sumber alam yang penting artinya bagi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pendahuluan 1. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pendahuluan 1. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hutan sebagai sebuah ekosistem mempunyai berbagai fungsi penting dan strategis bagi kehidupan manusia. Beberapa fungsi utama dalam ekosistem sumber daya hutan adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Wilayah pesisir sebagai daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut memiliki karakteristik fisik, biologi, sosial, dan ekonomi yang unik dan layak untuk dipertahankan.

Lebih terperinci

ALAM. Kawasan Suaka Alam: Kawasan Pelestarian Alam : 1. Cagar Alam. 2. Suaka Margasatwa

ALAM. Kawasan Suaka Alam: Kawasan Pelestarian Alam : 1. Cagar Alam. 2. Suaka Margasatwa UPAYA DEPARTEMEN KEHUTANAN DALAM ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM DIREKTORAT JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM DEPARTEMEN KEHUTANAN FENOMENA PEMANASAN GLOBAL Planet in Peril ~ CNN Report + Kenaikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhan yang hidup di lingkungan yang khas seperti daerah pesisir.

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhan yang hidup di lingkungan yang khas seperti daerah pesisir. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan mangrove adalah tipe hutan yang khas terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove banyak dijumpai di wilayah

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL PEDOMAN INVENTARISASI DAN IDENTIFIKASI LAHAN KRITIS MANGROVE

DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL PEDOMAN INVENTARISASI DAN IDENTIFIKASI LAHAN KRITIS MANGROVE DEPARTEMEN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL REHABILITASI LAHAN DAN PERHUTANAN SOSIAL PEDOMAN INVENTARISASI DAN IDENTIFIKASI LAHAN KRITIS MANGROVE JAKARTA, MEI 2005 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan mangrove

Lebih terperinci

Konservasi Lingkungan. Lely Riawati

Konservasi Lingkungan. Lely Riawati 1 Konservasi Lingkungan Lely Riawati 2 Dasar Hukum Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.14/Menhut-II/2007 TENTANG TATACARA EVALUASI FUNGSI KAWASAN SUAKA ALAM, KAWASAN PELESTARIAN ALAM DAN TAMAN BURU

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.14/Menhut-II/2007 TENTANG TATACARA EVALUASI FUNGSI KAWASAN SUAKA ALAM, KAWASAN PELESTARIAN ALAM DAN TAMAN BURU MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : P.14/Menhut-II/2007 TENTANG TATACARA EVALUASI FUNGSI KAWASAN SUAKA ALAM, KAWASAN PELESTARIAN ALAM DAN TAMAN BURU MENTERI KEHUTANAN,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dari penunjukan kawasan konservasi CA dan SM Pulau Bawean adalah untuk

I. PENDAHULUAN. dari penunjukan kawasan konservasi CA dan SM Pulau Bawean adalah untuk I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Suaka Alam Pulau Bawean ditunjuk dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 76/Kpts/Um/12/1979 tanggal 5 Desember 1979 meliputi Cagar Alam (CA) seluas 725 ha dan Suaka

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP.38/MEN/2004 TENTANG PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN TERUMBU KARANG MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN,

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP.38/MEN/2004 TENTANG PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN TERUMBU KARANG MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN, KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP.38/MEN/2004 TENTANG PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN TERUMBU KARANG MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN, Menimbang : a. bahwa sumberdaya terumbu karang dan ekosistemnya

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Undang Undang No. 6 Tahun 1994 Tentang : Pengesahan United Nations Framework Convention On Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa Bangsa Mengenai Perubahan Iklim) Oleh : PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

Definisi dan Batasan Wilayah Pesisir

Definisi dan Batasan Wilayah Pesisir Definisi dan Batasan Wilayah Pesisir Daerah peralihan (interface area) antara ekosistem daratan dan laut. Batas ke arah darat: Ekologis: kawasan yang masih dipengaruhi oleh proses-proses laut seperti pasang

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DALAM ACARA PERINGATAN HARI KONSERVASI ALAM NASIONAL (HKAN) TAHUN 2015 DI SELURUH INDONESIA

SAMBUTAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DALAM ACARA PERINGATAN HARI KONSERVASI ALAM NASIONAL (HKAN) TAHUN 2015 DI SELURUH INDONESIA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DALAM ACARA PERINGATAN HARI KONSERVASI ALAM NASIONAL (HKAN) TAHUN 2015 DI SELURUH INDONESIA Yang

Lebih terperinci

C. Model-model Konseptual

C. Model-model Konseptual C. Model-model Konseptual Semua kampanye Pride Rare dimulai dengan membangun suatu model konseptual, yang merupakan alat untuk menggambarkan secara visual situasi di lokasi proyek. Pada bagian intinya,

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sumberdaya alam seperti air, udara, lahan, minyak, ikan, hutan dan lain - lain merupakan sumberdaya yang esensial bagi kelangsungan hidup manusia. Penurunan

Lebih terperinci

SAMBUTAN KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN PADA SEMINAR DAN PAMERAN HASIL PENELITIAN DI MANADO. Manado, Oktober 2012

SAMBUTAN KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN PADA SEMINAR DAN PAMERAN HASIL PENELITIAN DI MANADO. Manado, Oktober 2012 SAMBUTAN KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN PADA SEMINAR DAN PAMERAN HASIL PENELITIAN DI MANADO Manado, 23-24 Oktober 2012 Assalamualaikum Warakhmatullah Wabarakatuh Salam Sejahtera bagi

Lebih terperinci

STUDI PROSPEK PENGEMBANGAN EKOWISATA PADA KAWASAN SEKITAR KARS GOMBONG SELATAN DALAM MENDUKUNG KEBERLANJUTAN WILAYAH TUGAS AKHIR

STUDI PROSPEK PENGEMBANGAN EKOWISATA PADA KAWASAN SEKITAR KARS GOMBONG SELATAN DALAM MENDUKUNG KEBERLANJUTAN WILAYAH TUGAS AKHIR STUDI PROSPEK PENGEMBANGAN EKOWISATA PADA KAWASAN SEKITAR KARS GOMBONG SELATAN DALAM MENDUKUNG KEBERLANJUTAN WILAYAH TUGAS AKHIR Oleh: WISNU DWI ATMOKO L2D 004 358 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan Salomon, dalam Rahayu et al. (2006), untuk mengurangi dampak perubahan

BAB I PENDAHULUAN. dan Salomon, dalam Rahayu et al. (2006), untuk mengurangi dampak perubahan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemanasan global mengakibatkan terjadinya perubahan iklim. Menurut Sedjo dan Salomon, dalam Rahayu et al. (2006), untuk mengurangi dampak perubahan iklim, upaya yang

Lebih terperinci

PEMERINTAH DAERAH SUMATERA BARAT DALAM PENGURANGAN DAMPAK PERUBAHAN IKLIM

PEMERINTAH DAERAH SUMATERA BARAT DALAM PENGURANGAN DAMPAK PERUBAHAN IKLIM I. PENDAHULUAN PEMERINTAH DAERAH SUMATERA BARAT DALAM PENGURANGAN DAMPAK PERUBAHAN IKLIM Dr. Bambang Istijono, ME Anggota Ikatan Geografi Indonesia Cabang Sumatera Barat Kepala Bappeda Provinsi Sumatera

Lebih terperinci

STRATEGI TINDAK LANJUT

STRATEGI TINDAK LANJUT VII. STRATEGI TINDAK LANJUT Pendahuluan Kampanye tahap pertama yang dilakukan di Kompleks hutan rawa gambut Sungai Putri baru saja berakhir Juli 2010 lalu. Beberapa capaian yang dicatat dari kampaye tersebut:

Lebih terperinci

LINGKUNGAN HIDUP: masalah dan solusinya

LINGKUNGAN HIDUP: masalah dan solusinya LINGKUNGAN HIDUP: masalah dan solusinya Pembekalan Peserta Pemilihan Putri Pariwisata Provinsi Gorontalo Tahun 2011 Ramli Utina Ecologist & Environmental Education Department of Biology - Gorontalo State

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu sumberdaya pesisir yang penting adalah ekosistem mangrove, yang mempunyai fungsi ekonomi dan ekologi. Hutan mangrove dengan hamparan rawanya dapat menyaring dan

Lebih terperinci

#LIBURAN HIJAU MY HOLIDAYS SAVE THE WORLD. Oleh syifa

#LIBURAN HIJAU MY HOLIDAYS SAVE THE WORLD. Oleh syifa #LIBURAN HIJAU MY HOLIDAYS SAVE THE WORLD Oleh syifa Liburan telah tiba, kali ini saya mencoba mencari kegiatan liburan yang berbeda. Saya menemukan kegiatan yang menarik dengan tema My Holidays Save The

Lebih terperinci

Sambutan Presiden RI pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Jakarta, 5 Juni 2012 Selasa, 05 Juni 2012

Sambutan Presiden RI pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Jakarta, 5 Juni 2012 Selasa, 05 Juni 2012 Sambutan Presiden RI pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Jakarta, 5 Juni 2012 Selasa, 05 Juni 2012 SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA PERINGATAN HARI LINGKUNGAN HIDUP SEDUNIA DAN

Lebih terperinci

PELESTARIAN BIODIVERSITAS DAN PERUBAHAN IKLIM JOHNY S. TASIRIN ILMU KEHUTANAN, UNIVERSITAS SAM RATULANGI

PELESTARIAN BIODIVERSITAS DAN PERUBAHAN IKLIM JOHNY S. TASIRIN ILMU KEHUTANAN, UNIVERSITAS SAM RATULANGI PELESTARIAN BIODIVERSITAS DAN PERUBAHAN IKLIM JOHNY S. TASIRIN ILMU KEHUTANAN, UNIVERSITAS SAM RATULANGI Seminar Benang Merah Konservasi Flora dan Fauna dengan Perubahan Iklim Balai Penelitian Kehutanan

Lebih terperinci

KAJIAN PROSPEK DAN ARAHAN PENGEMBANGAN ATRAKSI WISATA KEPULAUAN KARIMUNJAWA DALAM PERSPEKTIF KONSERVASI TUGAS AKHIR (TKP 481)

KAJIAN PROSPEK DAN ARAHAN PENGEMBANGAN ATRAKSI WISATA KEPULAUAN KARIMUNJAWA DALAM PERSPEKTIF KONSERVASI TUGAS AKHIR (TKP 481) KAJIAN PROSPEK DAN ARAHAN PENGEMBANGAN ATRAKSI WISATA KEPULAUAN KARIMUNJAWA DALAM PERSPEKTIF KONSERVASI TUGAS AKHIR (TKP 481) Oleh : GITA ALFA ARSYADHA L2D 097 444 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di

BAB I PENDAHULUAN. karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hutan bakau / mangrove adalah hutan yang tumbuh di muara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut (pesisir). Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan

Lebih terperinci

SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 03 TAHUN 2004 TENTANG PENETAPAN DAN PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 03 TAHUN 2004 TENTANG PENETAPAN DAN PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 30 APRIL 2004 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK 01 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN NGANJUK NOMOR 03 TAHUN 2004 TENTANG PENETAPAN DAN PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai lebih dari pulau dan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai lebih dari pulau dan BAB I BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai lebih dari 17.000 pulau dan wilayah pantai sepanjang 80.000 km atau dua kali keliling bumi melalui khatulistiwa.

Lebih terperinci

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I LINGKUNGAN HIDUP. Pengelolaan. Pelestarian. Suaka. Kawasan. Perubahan. (Penjelasan Atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 330). PENJELASAN ATAS PERATURAN

Lebih terperinci

KAJIAN DAMPAK PENGEMBANGAN WILAYAH PESISIR KOTA TEGAL TERHADAP ADANYA KERUSAKAN LINGKUNGAN (Studi Kasus Kecamatan Tegal Barat) T U G A S A K H I R

KAJIAN DAMPAK PENGEMBANGAN WILAYAH PESISIR KOTA TEGAL TERHADAP ADANYA KERUSAKAN LINGKUNGAN (Studi Kasus Kecamatan Tegal Barat) T U G A S A K H I R KAJIAN DAMPAK PENGEMBANGAN WILAYAH PESISIR KOTA TEGAL TERHADAP ADANYA KERUSAKAN LINGKUNGAN (Studi Kasus Kecamatan Tegal Barat) T U G A S A K H I R Oleh : Andreas Untung Diananto L 2D 099 399 JURUSAN PERENCANAAN

Lebih terperinci

Sambutan Endah Murniningtyas Penyusunan Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Balikpapan, Februari 2012

Sambutan Endah Murniningtyas Penyusunan Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Balikpapan, Februari 2012 Sambutan Endah Murniningtyas Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) Penyusunan

Lebih terperinci

Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung

Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang : Pengelolaan Kawasan Lindung Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 32 TAHUN 1990 (32/1990) Tanggal : 25 JULI 1990 (JAKARTA) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

MARKAS BESAR TENTARA NASIONAL INDONESIA Tim Teknis PWP dalam KLH

MARKAS BESAR TENTARA NASIONAL INDONESIA Tim Teknis PWP dalam KLH RAKOTER TNI TAHUN 2009 Tema Melalui Rapat Koordinasi Teritorial Tahun 2009 Kita Tingkatkan Pemberdayaan Wilayah Pertahanan di Jajaran Komando Kewilayahan TNI CERAMAH KETUA TIM TEKNIS KETAHANAN LINGKUNGAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai lebih dari 8.100 km serta memiliki luas laut sekitar 5,8 juta km2 dan memiliki lebih dari 17.508 pulau, sehingga

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 32 TAHUN 1990 TENTANG PENGELOLAAN KAWASAN LINDUNG PRESIDEN

Lebih terperinci

INTENSITAS DAMPAK LINGKUNGAN DALAM PENGEMBANGAN EKOWISATA (Studi Kasus Pulau Karimunjawa, Taman Nasional Karimunjawa)

INTENSITAS DAMPAK LINGKUNGAN DALAM PENGEMBANGAN EKOWISATA (Studi Kasus Pulau Karimunjawa, Taman Nasional Karimunjawa) INTENSITAS DAMPAK LINGKUNGAN DALAM PENGEMBANGAN EKOWISATA (Studi Kasus Pulau Karimunjawa, Taman Nasional Karimunjawa) TUGAS AKHIR Oleh: LISA AGNESARI L2D000434 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS

Lebih terperinci

Bab III Karakteristik Desa Dabung

Bab III Karakteristik Desa Dabung Bab III Karakteristik Desa Dabung III.1. Kondisi Fisik Wilayah III.1.1. Letak Wilayah Lokasi penelitian berada di Desa Dabung yang merupakan salah satu desa dari 18 desa yang terdapat di Kecamatan Kubu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat

BAB I PENDAHULUAN. dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan, pengertian hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber

Lebih terperinci

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN 92 IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN 4.1. Kota Bekasi dalam Kebijakan Tata Makro Analisis situasional daerah penelitian diperlukan untuk mengkaji perkembangan kebijakan tata ruang kota yang terjadi

Lebih terperinci

REVITALISASI KEHUTANAN

REVITALISASI KEHUTANAN REVITALISASI KEHUTANAN I. PENDAHULUAN 1. Berdasarkan Peraturan Presiden (PERPRES) Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2004-2009 ditegaskan bahwa RPJM merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Model Genesi dalam Jurnal : Berkala Ilmiah Teknik Keairan Vol. 13. No 3 Juli 2007, ISSN 0854-4549.

BAB I PENDAHULUAN. Model Genesi dalam Jurnal : Berkala Ilmiah Teknik Keairan Vol. 13. No 3 Juli 2007, ISSN 0854-4549. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Wilayah pesisir merupakan pertemuan antara wilayah laut dan wilayah darat, dimana daerah ini merupakan daerah interaksi antara ekosistem darat dan ekosistem laut yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhannya bertoleransi terhadap garam (Kusman a et al, 2003). Hutan

BAB I PENDAHULUAN. tumbuhannya bertoleransi terhadap garam (Kusman a et al, 2003). Hutan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut, terutama di pantai yang terlindung, laguna dan muara sungai yang tergenang pada

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Tabel SD-1 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama Tabel SD-2 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi/Status... 1

DAFTAR ISI. Tabel SD-1 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama Tabel SD-2 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi/Status... 1 DAFTAR ISI A. SUMBER DAYA ALAM Tabel SD-1 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama... 1 Tabel SD-2 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi/Status... 1 Tabel SD-3 Luas Kawasan Lindung berdasarkan RTRW dan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam

PENDAHULUAN. daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam 11 PENDAHULUAN Latar Belakang Hutan, termasuk hutan tanaman, bukan hanya sekumpulan individu pohon, namun merupakan suatu komunitas (masyarakat) tumbuhan (vegetasi) yang kompleks yang terdiri dari pohon,

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TADULAKO 2016

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TADULAKO 2016 PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE UNTUK MENANGGULANGI ABRASI DI PANTAI SARI DESA TOLAI BARAT KECAMATAN TORUE KABUPATEN PARIGI MOUTONG Ni Ketut Rediasti No. Stb A 351 10 052 Diajukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di permukaan bumi ini, kurang lebih terdapat 90% biomasa yang terdapat

BAB I PENDAHULUAN. Di permukaan bumi ini, kurang lebih terdapat 90% biomasa yang terdapat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di permukaan bumi ini, kurang lebih terdapat 90% biomasa yang terdapat dalam hutan berbentuk pokok kayu, dahan, daun, akar dan sampah hutan (serasah) (Arief, 2005).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ekologis yaitu untuk melakukan pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery

BAB I PENDAHULUAN. ekologis yaitu untuk melakukan pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekosistem mangrove adalah suatu lingkungan yang memiliki ciri khusus yaitu lantai hutannya selalu digenangi air, dimana air tersebut sangat dipengaruhi oleh pasang

Lebih terperinci

Paket Ekowisata Bahari Segara Anakan Kabupaten Cilacap sebagai Poros Wisata Bahari di Pulau Jawa

Paket Ekowisata Bahari Segara Anakan Kabupaten Cilacap sebagai Poros Wisata Bahari di Pulau Jawa Paket Ekowisata Bahari Segara Anakan Kabupaten Cilacap sebagai Poros Wisata Bahari di Pulau Jawa Pulau Jawa merupakan sebuah pulau yang selalu menjadi incaran wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara.

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. garis pantai sepanjang kilometer dan pulau. Wilayah pesisir

PENDAHULUAN. garis pantai sepanjang kilometer dan pulau. Wilayah pesisir PENDAHULUAN Latar belakang Wilayah pesisir merupakan peralihan ekosistem perairan tawar dan bahari yang memiliki potensi sumberdaya alam yang cukup kaya. Indonesia mempunyai garis pantai sepanjang 81.000

Lebih terperinci

Menghitung PDRB Hijau di Kabupaten Bandung

Menghitung PDRB Hijau di Kabupaten Bandung ISSN : 205-421 Menghitung PDRB Hijau di Kabupaten Bandung Randy Maulana Institut Teknologi Bandung E-mail : maulana.randy@fe.unpad.ac.id Abstrak. Ekonomi hijau menunjukan hubungan antara degradasi lingkungan,

Lebih terperinci