Dasar-Dasar Obligasi. Pendidikan Investasi Dua Bulanan. Cara Kerja Obligasi

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Dasar-Dasar Obligasi. Pendidikan Investasi Dua Bulanan. Cara Kerja Obligasi"

Transkripsi

1 September 2010 Dasar-Dasar Pasar obligasi dikenal juga sebagai pasar surat utang dan merupakan bagian dari pasar efek yang memungkinkan pemerintah dan perusahaan meningkatkan modalnya. Sama seperti orang yang membutuhkan uang, demikian juga perusahaan dan pemerintah di seluruh dunia. Perusahaan-perusahaan perlu uang untuk ekspansi bisnis dan membiayai pengeluaran mereka, sementara pemerintah harus membayar utangnya dan membutuhkan dana untuk program-program pembangungan infrastruktur. Semua ini dapat dicapai dengan menerbitkan obligasi di pasar. Tak seorangpun akan meminjamkan uangnya secara cuma-cuma. adalah utang yang ditawarkan oleh peminjam (penerbit) kepada pemberi pinjaman (investor). Singkatnya, obligasi adalah kewajiban mengikat atau utang yang harus dilunasi oleh penerbit kepada investor pada akhir suatu periode tertentu. Pada mekanisme obligasi yang umum, terdapat pembayaran yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu di antara tanggal penerbitan dan tanggal jatuh tempo. Penerbit berjanji kepada investor untuk membayarkan sejumlah uang tertentu dalam bentuk pembayaran bunga pinjaman selama periode tertentu dan melunasi pokok pinjaman pada saat jatuh tempo. Korporasi atau Pemerintah Mekanisme Memberi Utang Pembayaran Bunga Berkala Melunasi Pokok Utang Pada Saat Jatuh Tempo Investor Cara Kerja Perusahaan menawarkan utang (pokok) Rp 20 miliar dengan suku bunga tetap 5% per tahun selama 5 tahun (tenor). Pemegang obligasi akan menerima Rp 1 miliar (5% dari Rp 20 miliar) dalam bentuk pembayaran bunga tahunan. Saat jatuh tempo (akhir tahun ke-5), penerbit akan melunasi pokok utang senilai Rp 20 miliar dan membayar bunga terakhir kepada pemegang obligasi. Pembayaran Bunga tahunan Rp 1 miliar Tahun Pokok utang Rp 20M dibayar saat jatuh tempo versus Saham Investor obligasi menerima pendapatan tetap dalam bentuk kupon. Tidak seperti dividen pada saham, kupon harus dibayar pada waktu yang telah ditetapkan, kecuali jika penerbit obligasi mengalami gagal bayar dan akan dilikuidasi. Pada saat jatuh tempo, investor obligasi akan menerima kembali investasi awalnya. Sementara investor saham dapat memperoleh peningkatan/kehilangan investasi awalnya akibat keuntungan/kerugian dari kenaikan/penurunan harga saham setelah pembelian. Selain itu, investor saham juga dapat menikmati pembayaran dividen, tetapi hal ini tidak dijamin karena tidak ada kewajiban perusahaan untuk membayar dividen. Dengan demikian, menjadi investor saham umumnya lebih berisiko daripada investor obligasi. Setiap kelas aset (saham, obligasi atau pasar uang) mengandung tingkat risiko dan imbal hasil masing-masing. Deposito berjangka umumnya memiliki risiko yang rendah sementara saham mengandung risiko tinggi namun memberikan kompensasi tingkat imbal hasil yang tinggi juga. Biasanya, obligasi menawarkan risiko dan imbal hasil yang lebih seimbang relatif terhadap deposito berjangka dan saham.

2 September Jenis Nama Korporasi Penjelasan Diterbitkan oleh perusahaan swasta. berperingkat noninvestasi (high yield bonds/junk bonds) memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi berperingkat layak investasi (investment grade bonds), sebagai kompensasi, seringkali investor mengharapkan imbal hasil yang lebih tinggi. Perusahaan juga dapat menerbitkan obligasi dalam mata uang asing untuk mengakses modal investasi yang tersedia di pasar luar negeri. Contohnya, Samurai, obligasi yang diterbitkan dalam mata uang Yen Jepang oleh perusahaan non-jepang dan sebagian besar dijual di Jepang, dan obligasi Yankee, obligasi bermata uang Dollar AS yang dikeluarkan oleh perusahaan non-amerika untuk pasar Amerika. Pemerintah Diterbitkan oleh pemerintah dengan dasar kredibilitas pemerintah untuk membayar kembali utangnya. Beberapa penerbit utama obligasi pemerintah di seluruh dunia termasuk Amerika (US Treasury - Dollar), Inggris (Gilts - Poundsterling), Jepang (Japan Government Bonds - Yen) dan Jerman (Bunds -Euro). Memahami Harga dan Suku Bunga Walaupun obligasi memberikan tingkat kestabilan yang mampu mengimbangi beberapa faktor volatilitas saham, obligasi sangat rentan terhadap perubahan ekonomi yang dapat mempengaruhi nilai obligasi. Tekanan Inflasi 1 Ekspansi Ekonomi Inflasi biasanya merupakan dampak dari pertumbuhan ekonomi yang terlalu tinggi. Sebagai bentuk intervensi, Pemerintah memperketat kebijakan moneter (kenaikan tarif) untuk mencegah tekanan inflasi Perlambatan Ekonomi/Resesi Sebaliknya, ketika ekonomi mengalami perlambatan, pemerintah mengadopsi pelonggaran kebijakan moneter dengan mengurangi tingkat suku bunga untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Tingkat Suku Bunga Saat suku bunga turun, harga obligasi naik Saat suku bunga naik, harga obligasi turun Sebuah contoh 2 untuk mengilustrasikan keterkaitan tingkat suku bunga dengan harga obligasi: 5 tahun Rp10 miliar dengan kupon 5% per tahun Situasi A suku bunga pasar 3 naik menjadi 6% Situasi B suku bunga pasar turun menjadi 4% Hubungan terbalik tampak jelas pada rumus berikut (bunga tahunan berdasarkan tingkat kupon tetap sepanjang waktu): - Imbal Hasil Sekarang (%) = Bunga Tahunan (Rp) (Suku Bunga) Harga Sekarang (Rp) Harga Sekarang Imbal Hasil Sekarang Bunga Tahunan Situasi A Situasi B Rp 8,3 miliar Rp12,5 miliar 6% Rp 500 juta 4% Rp 500 juta Perubahan suku bunga pasar tidak berdampak pada nilai obligasi yang ada jika seorang investor memilih untuk memegang obligasi hingga jatuh tempo. Investor masih akan mendapatkan jumlah pokok yang dijanjikan pada saat pembelian, dan semua hal lain dianggap sama. 1 Inflasi adalah peningkatan harga barang dan jasa - dengan kata lain, terlalu banyak uang diperlukan untuk mendapatkan sedikit barang. 2 Ini bukan merupakan suatu perhitungan aktual dan disertakan hanya untuk ilustrasi 3 Imbal hasil dan suku bunga adalah sama. Mereka adalah istilah yang berbeda untuk konsep yang sama.

3 September Terminologi Istilah Penerbit Nilai Par atau Nilai Nominal Pemegang Tanggal Jatuh Tempo Tingkat Kupon Imbal Hasil Peringkat Penjelasan Badan Hukum yang memiliki otoritas untuk menerbitkan dan mendistribusikan efek.penerbit dapat berupa perusahaan, pemerintah asing/lokal, dan dana investasi berbentuk kontrak investasi kolektif. Setiap obligasi memiliki nilai par yang merupakan nominal atau besarnya utang yang tercantum dalam sertifikat obligasi dan merupakan jumlah yang akan dibayar pada saat obligasi jatuh tempo. Pemilik obligasi atau pemegang obligasi dapat berupa individu atau institusi seperti korporasi, bank, perusahaan asuransi, atau reksa dana. Tanggal dimana obligasi jatuh tempo dan dibayarkan kepada pemegang obligasi. Lamanya waktu sejak tanggal penerbitan sampai dengan tanggal jatuh tempo sering disebut dengan istilah tenor. Semain lama tenor, semakin tinggi imbal hasilnya. Tingkat bunga obligasi yang akan dibayar oleh penerbit kepada pemegang obligasi selama jangka waktu tertentu sampai obligasi tersebut jatuh tempo. Ada 3 jenis kupon: kupon tetap dengan pembayaran bunga yang sama selama jangka waktu obligasi. Pembayaran ini akan dilakukan sampai obligasi jatuh tempo atau sampai obligasi mengalami gagal bayar, tanpa kupon atau tidak ada pembayaran bunga secara berkala, dan kupon mengambang di mana besarnya jumlah kupon yang dibayar mengacu pada tingkat bunga atau indeks tertentu dan dihitung secara berkala, biasanya setiap satu, tiga atau enam bulan. Persentase pengembalian investasi. Imbal Hasil Sekarang (Current Yield) dikenal sebagai tingkat bunga bunga dibagi dengan harga obligasi saat ini. Misalnya, obligasi dengan nilai nominal Rp 500 juta dijual pada harga Rp 480 juta dan memiliki tingkat bunga sebesar 5,0%. Maka imbal hasil sekarang untuk obligasi tersebut adalah 5,2%. Ketika harga obligasi bergerak turun, imbal hasil akan naik dan berlaku sebaliknya. Peringkat obligasi menunjukkan kualitas kredit dari suatu obligasi dan seberapa besar kemungkinan penerbit akan memenuhi kewajiban. Lembaga pemeringkat independen seperti Standard & Poor's, Fitch Rating, dan Moody's menyampaikan kemungkinan terjadinya gagal bayar (default) pada suatu obligasi. Skala penilaian yang digunakan adalah sebagai berikut: Berdasarkan Standard & Poor's, peringkat kredit berkisar dari AAA (sangat tidak mungkin untuk gagal bayar) hingga D (gagal bayar). berperingkat BB atau di bawahnya dikenal sebagai obligasi berperingkat NON-INVESTASI sedangkan obligasi dengan peringkat di atas BB dikenal sebagai obligasi berperingkat LAYAK INVESTASI. Umumnya, semakin tinggi kualitas kredit, makin rendah imbal hasilnya.

4 Disclaimer Laporan ini hanya merupakan informasi yang disebarluaskan untuk kalangan sendiri dan ditujukan bagi para nasabah dan calon nasabah PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia). Laporan ini tidak diperbolehkan untuk dicetak, dibagikan, atau direproduksi atau didistribusikan secara keseluruhan atau sebagian kepada orang lain tanpa izin tertulis dari Prudential Indonesia. Laporan ini bukan merupakan penawaran atau ajakan melakukan pemesanan, pembelian, atau penjualan aset-aset keuangan yang tertulis di dalamnya. Penerima laporan ini sebaiknya mencari nasihat seorang ahli keuangan sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Prudential Indonesia tidak memberikan pertimbangan dan tidak akan melakukan investigasi atas tujuan investasi, kondisi keuangan, atau kebutuhan tertentu dari penerima laporan ini, sehingga tidak ada jaminan dan kewajiban apapun yang akan kami berikan atau terima atas kerugian yang timbul secara langsung maupun tidak langsung yang diderita oleh penerima laporan ini karena informasi, opini, atau estimasi yang ada dalam laporan ini. Prudential Indonesia dan semua perusahaan yang terkait dan berafiliasi dengannya, termasuk jajaran direksi dan staf di dalamnya, dapat memiliki atau mengambil posisi atas aset keuangan yang tercantum dalam laporan ini dan dapat melakukan atau sedang menjajaki jasa perantaraan atau jasa investasi lainnya dengan perusahaan-perusahaan yang aset keuangannya tercantum dalam laporan ini, termasuk dengan pihak-pihak di luar laporan ini. Kinerja masa lalu dan perkiraan yang dibuat bukan merupakan indikasi kinerja yang akan datang. Nilai dan hasil investasi bisa naik atau turun. Prudential Indonesia adalah bagian dari Prudential plc, sebuah grup perusahaan jasa keuangan terkemuka dari Inggris. Grup Prudential pada tanggal 30 Juni 2010 memiliki total dana kelolaan sebesar lebih dari GBP 309 miliar (Rp 4,198 triliun) dengan lebih dari 22 juta nasabah. Prudential Indonesia dan Prudential plc tidak memiliki afiliasi apapun dengan Prudential Financial Inc, suatu perusahaan yang berdomisili di Amerika Serikat. Kinerja hasil investasi di atas adalah hasil yang sudah terjadi. Hasil pada periode mendatang, bisa naik atau turun. Prudential Asset Management (Singapore) Limited 30 Cecil Street #20-01 Prudential Tower Singapore Company Reg H

PROSPEKTUS PEMBAHARUAN

PROSPEKTUS PEMBAHARUAN PROSPEKTUS PEMBAHARUAN REKSA DANA DANAREKSA MAWAR FOKUS 10 Prospektus ini dibuat di Jakarta pada tahun 2012 Tanggal Efektif: 22 Feb 2010 Tanggal Mulainya Penawaran Umum: 02 Mar 2010 PROSPEKTUS PEMBAHARUAN

Lebih terperinci

Schroders. Schroders PROSPEKTUS REKSA DANA SCHRODER 90 PLUS EQUITY FUND PENAWARAN UMUM

Schroders. Schroders PROSPEKTUS REKSA DANA SCHRODER 90 PLUS EQUITY FUND PENAWARAN UMUM PROSPEKTUS REKSA DANA TANGGAL EFEKTIF : 1 April 2010 TANGGAL MULAI PENAWARAN : 21 April 2010 Schroders SCHRODER 90 PLUS EQUITY FUND BAPEPAM & LK TIDAK MEMBERIKAN PERNYATAAN MENYETUJUI ATAU TIDAK MENYETUJUI

Lebih terperinci

Kewajiban Pelaporan Pajak Amerika Serikat berdasarkan FATCA

Kewajiban Pelaporan Pajak Amerika Serikat berdasarkan FATCA UNTUK DIPERHATIKAN Schroder Dana Likuid tidak termasuk produk investasi dengan penjaminan. Sebelum membeli Unit Penyertaan, calon investor harus terlebih dahulu mempelajari dan memahami Prospektus dan

Lebih terperinci

Kewajiban Pelaporan Pajak Amerika Serikat berdasarkan FATCA

Kewajiban Pelaporan Pajak Amerika Serikat berdasarkan FATCA UNTUK DIPERHATIKAN Reksa Dana SCHRODERS tidak termasuk produk investasi dengan penjaminan. Sebelum membeli Unit Penyertaan, calon investor harus terlebih dahulu mempelajari dan memahami Prospektus dan

Lebih terperinci

Pembahasan Hasil Kinerja Keuangan

Pembahasan Hasil Kinerja Keuangan Pendahuluan Tinjauan Bisnis Pendukung Bisnis Tinjauan Tata Kelola Perusahaan Pembahasan Hasil Kinerja Keuangan TINJAUAN EKONOMI MAKRO INDONESIA TAHUN 2012 Perekonomian Indonesia tumbuh 6,2% di tahun 2012,

Lebih terperinci

PROSPEKTUS REKSA DANA PANIN DANA UTAMA PLUS 2 PENAWARAN UMUM

PROSPEKTUS REKSA DANA PANIN DANA UTAMA PLUS 2 PENAWARAN UMUM PROSPEKTUS REKSA DANA PANIN DANA UTAMA PLUS 2 Tanggal Efektif: 27 Agustus 2007 Tanggal Mulai Penawaran: 30 Agustus 2007 Reksa Dana PANIN DANA UTAMA PLUS 2 (selanjutnya disebut PANIN DANA UTAMA PLUS 2 )

Lebih terperinci

SERI OBLIGASI NEGARA INDONESIA Mata Uang IDR, Obligasi Ritel. Halaman 1 dari 8

SERI OBLIGASI NEGARA INDONESIA Mata Uang IDR, Obligasi Ritel. Halaman 1 dari 8 SERI OBLIGASI NEGARA INDONESIA Mata Uang IDR, Obligasi Ritel Halaman 1 dari 8 SERI OBLIGASI NEGARA INDONESIA PERINGATAN RISIKO PENTING! 1. Harga Obligasi dipengaruhi oleh fluktuasi pasar. Investor dapat

Lebih terperinci

Kewajiban Pelaporan Pajak Amerika Serikat berdasarkan FATCA

Kewajiban Pelaporan Pajak Amerika Serikat berdasarkan FATCA UNTUK DIPERHATIKAN Schroder Dana Andalan II tidak termasuk produk investasi dengan penjaminan. Sebelum membeli Unit Penyertaan, calon investor harus terlebih dahulu mempelajari dan memahami Prospektus

Lebih terperinci

PEMBAHARUAN PROSPEKTUS

PEMBAHARUAN PROSPEKTUS PEMBAHARUAN PROSPEKTUS REKSA DANA MANDIRI INVESTA DANA UTAMA Tanggal Efektif: 24 Mei 2007 Tanggal Mulai Penawaran: 17 September 2007 BAPEPAM & LK TIDAK MEMBERIKAN PERNYATAAN MENYETUJUI ATAU TIDAK MENYETUJUI

Lebih terperinci

KEPUTUSAN DIREKSI PT BURSA EFEK JAKARTA NOMOR : Kep-305/BEJ/07-2004 TENTANG

KEPUTUSAN DIREKSI PT BURSA EFEK JAKARTA NOMOR : Kep-305/BEJ/07-2004 TENTANG KEPUTUSAN DIREKSI PT BURSA EFEK JAKARTA NOMOR : Kep-305/BEJ/07-2004 TENTANG PERATURAN NOMOR I-A TENTANG PENCATATAN SAHAM DAN EFEK BERSIFAT EKUITAS SELAIN SAHAM YANG DITERBITKAN OLEH PERUSAHAAN TERCATAT

Lebih terperinci

Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Jalan Tol

Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Jalan Tol Nomor : SE- 02/PM/2002 Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Jalan Tol Nomor : SE- 02/PM/2002 PEDOMAN PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN EMITEN

Lebih terperinci

PROSPEKTUS REKSA DANA TERPROTEKSI BATAVIA PROTEKSI UTAMA 3

PROSPEKTUS REKSA DANA TERPROTEKSI BATAVIA PROTEKSI UTAMA 3 PROSPEKTUS REKSA DANA TERPROTEKSI BATAVIA PROTEKSI UTAMA 3 Tanggal Efektif : 30 Agustus 2010 Masa Penawaran : Maksimal 90 Hari Bursa, terhitung sejak Tanggal Efektif Tanggal Launching : 28 Oktober 2010

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UU R.I No.8/1995 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa tujuan pembangunan nasional

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/10/PBI/2014 TENTANG PENERIMAAN DEVISA HASIL EKSPOR DAN PENARIKAN DEVISA UTANG LUAR NEGERI

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/10/PBI/2014 TENTANG PENERIMAAN DEVISA HASIL EKSPOR DAN PENARIKAN DEVISA UTANG LUAR NEGERI PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/10/PBI/2014 TENTANG PENERIMAAN DEVISA HASIL EKSPOR DAN PENARIKAN DEVISA UTANG LUAR NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

MANAJER INVESTASI (021) 252 1594 UNIT LAIN YANG DIDIRIKAN

MANAJER INVESTASI (021) 252 1594 UNIT LAIN YANG DIDIRIKAN Tanggal Efektif: 16 Januari 2001 Tanggal Mulai Penawaran Umum: 28 Februari 2001 OJK TIDAK MEMBERIKAN PERNYATAAN MENYETUJUI ATAU TIDAK MENYETUJUI EFEK INI, TIDAK JUGA MENYATAKAN KEBENARAN ATAU KECUKUPAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Salah satu tolak ukur pembangunan nasional adalah pembangunan ekonomi dimana sektor ekonomi selalu menjadi fokus pemerintah dalam melaksanakan pembangunan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian, Sumber, dan Jenis Modal 2.1.1 Pengertian Modal Dengan perkembangan teknologi dan makin jauhnya spesialisasi dalam perusahaan serta juga makin banyaknya perusahaan-perusahaan

Lebih terperinci

Unit. atau BNP. Investasi. atau MANAJER INVESTASI. Fax : (021) 252 1594

Unit. atau BNP. Investasi. atau MANAJER INVESTASI. Fax : (021) 252 1594 Tanggal Efektif : 23 Februari 2012 Tanggal Mulai Penawaran : 2 April 2012 PEMBAHARUAN PROSPEKTUS REKSA DANA BNP PARIBAS INTEGRA OJK TIDAK MEMBERIKAN PERNYATAAN MENYETUJUI ATAU TIDAK MENYETUJUI EFEK INI,

Lebih terperinci

P.T. ASURANSI MULTI ARTHA GUNA Tbk

P.T. ASURANSI MULTI ARTHA GUNA Tbk P.T. ASURANSI MULTI ARTHA GUNA Tbk Laporan Keuangan pada tanggal 30 Juni 2014 dan 31 Desember 2013 serta periode tiga bulan yang berakhir 30 Juni 2014 dan 2013 P.T. ASURANSI MULTI ARTHA GUNA Tbk Halaman

Lebih terperinci

PENGARUH LIKUIDITAS SAHAM DAN RETURN ON EQUITY (ROE) PERUSAHAAN TERHADAP TINGKAT PENGEMBALIAN SAHAM

PENGARUH LIKUIDITAS SAHAM DAN RETURN ON EQUITY (ROE) PERUSAHAAN TERHADAP TINGKAT PENGEMBALIAN SAHAM PENGARUH LIKUIDITAS SAHAM DAN RETURN ON EQUITY (ROE) PERUSAHAAN TERHADAP TINGKAT PENGEMBALIAN SAHAM (Studi pada Perusahaan yang berada pada Index LQ45 di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2009-2011 )

Lebih terperinci

P.T. ASURANSI MULTI ARTHA GUNA Tbk

P.T. ASURANSI MULTI ARTHA GUNA Tbk P.T. ASURANSI MULTI ARTHA GUNA Tbk Laporan Keuangan pada tanggal 31 Maret 2013 dan 31 Desember 2012 serta periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2013 dan 2012 P.T. ASURANSI MULTI ARTHA GUNA Tbk Halaman

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 108/PMK.08/2007 TENTANG SISTEM DEALER UTAMA MENTERI KEUANGAN,

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 108/PMK.08/2007 TENTANG SISTEM DEALER UTAMA MENTERI KEUANGAN, SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 108/PMK.08/2007 TENTANG SISTEM DEALER UTAMA MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mengoptimalkan pelaksanaan Sistem Dealer Utama dan untuk lebih meningkatkan

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH DARI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

Survei Ekonomi OECD INDONESIA

Survei Ekonomi OECD INDONESIA Survei Ekonomi OECD INDONESIA MARET 2015 IKHTISAR The quality of the translation and its coherence with the original language text of the work are the sole responsibility of the author(s) of the translation.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1992 TENTANG PERBANKAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1992 TENTANG PERBANKAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 1998 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1992 TENTANG PERBANKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 6/ 9 /PBI/2004 TENTANG TINDAK LANJUT PENGAWASAN DAN PENETAPAN STATUS BANK GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 6/ 9 /PBI/2004 TENTANG TINDAK LANJUT PENGAWASAN DAN PENETAPAN STATUS BANK GUBERNUR BANK INDONESIA, . PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 6/ 9 /PBI/2004 TENTANG TINDAK LANJUT PENGAWASAN DAN PENETAPAN STATUS BANK GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka menciptakan sistem perbankan yang sehat,

Lebih terperinci