2. Awal Musim kemarau Bilamana jumlah curah hujan selama satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter serta diikuti oleh dasarian berikutnya.

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "2. Awal Musim kemarau Bilamana jumlah curah hujan selama satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter serta diikuti oleh dasarian berikutnya."

Transkripsi

1 I. PENGERTIAN A. DEFINISI AWAL MUSIM 1. Awal Musim hujan Bilamana jumlah curah hujan selama satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter serta diikuti oleh dasarian berikutnya. 2. Awal Musim kemarau Bilamana jumlah curah hujan selama satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter serta diikuti oleh dasarian berikutnya. B. DEFINISI SIFAT HUJAN 1. Sifat Hujan Normal (N) Bila jumlah curah hujan selama satu musim berkisar antara 85% - 115% dari rata-rata curah hujan. 2. Sifat Hujan Atas Normal (AN) Bila jumlah curah hujan selama satu musim lebih dari 115% rata-rata curah hujan. 3. Sifat Hujan Bawah Normal (BN) Bila jumlah curah hujan selama satu musim kurang dari 85% rata-rata curah hujan. 4. Rata-rata curah hujan dihitung dari data hujan minimal 30 tahun C. PENGERTIAN DASARIAN : Dasarian I : Tanggal 1-10 Dasarian II : Tanggal Dasarian III : Tanggal 21 - akhir bulan. Contoh : Awal Musim Hujan : OKT II = Tanggal Oktober. Awal Musim Kemarau : JUN I = Tanggal 1-10 Juni. Stasiun Klimatologi Semarang 1

2 II. UMUM Secara umum kondisi musim di Indonesia dipengaruhi oleh fenomena iklim global seperti El Nino, La Nina atau Dipole Mode dan fenomena iklim regional seperti sirkulasi monsun Asia-Australia, Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ) yang merupakan daerah pertumbuhan awan serta ditentukan pula oleh kondisi dinamika atmosfer dan perkembangan suhu muka laut di sekitar wilayah Indonesia. A. KONDISI DINAMIKA ATMOSFER DAN LAUT Dinamika atmosfer dan laut dipantau dan diprakirakan berdasarkan 6 (enam) fenomena alam, yaitu 3 fenomena global dan 3 fenomena regional. Monitoring dan prakiraan kondisi dinamika atmosfer dan laut yang akan terjadi selama Musim Kemarau 2011, adalah : 1. Monitoring dan Prakiraan Fenomena Global a. El Nino La Nina Pada akhir Pebruari 2011 kondisi suhu permukaan laut di Pasifik Ekuator, khususnya wilayah Ekuator Pasifik Tengah (Nino 3.4) masih relatif dingin berharga 25.3 O C, jika dibandingkan nilai rata-ratanya bernilai Hal ini memberikan indikasi bahwa sampai dengan akhir Pebruari 2011, La Nina masih berlangsung dengan intensitas moderate, selanjutnya intensitas La Nina diprediksi mulai melemah pada Maret 2011 dan cenderung menuju netral pada Juni Indeks Osilasi Selatan (SOI) sejak Nopember 2010 sampai dengan akhir Pebruari 2011 bernilai positif 19,2. Nilai ini signifikan pengaruhnya (<+10 dan >-10) terhadap penambahan curah hujan di Indonesia. Kondisi demikian memberikan indikasi bahwa fenomena La Nina masih cukup kuat mempengaruhi wilayah Indonesia sampai dengan pertengahan tahun b. Dipole Mode Nilai Dipole Mode Indeks (DMI) dalam 3 bulan terakhir adalah : -0,04 (Nopember 2010) ; -0,18 (Desember 2010) dan +0,05 (Januari 2011). Sementara, prediksi Dipole Mode Indeks (DMI) pada Pebruari hingga Juli 2011 berkisar +0,2 s/d +0,4. Nilai ini masih berada pada kondisi netral. Dalam kaitan tersebut mengindikasikan bahwa pada Musim Kemarau 2011, pergerakan uap air dari Samudera Hindia menuju wilayah Indonesia berada pada intensitas normal. Stasiun Klimatologi Semarang 2

3 c. Madden Julian Oscillation (MJO) Monitoring terhadap aktivitas MJO, terkait kondisi gerakan vertikal di wilayah Indonesia pada 23 Pebruari 2011 menunjukkan intensitas bernilai 0.6, dan selanjutnya diprakirakan akan terus berada pada kondisi lemah sampai minggu kedua Maret Lebih lanjut, hal ini memberikan indikasi tidak adanya penambahan maupun penekanan pembentukan awan-awan hujan di wilayah Indonesia (kondisi netral). 2. Monitoring dan Prakiraan Fenomena Regional a. Sirkulasi Monsun Asia Australia Hingga akhir Pebruari 2011 sirkulasi monsun di Indonesia umumnya masih dalam kisaran normalnya. Gangguan-gangguan yang terjadi umumnya disebabkan adanya pola-pola tekanan rendah di wilayah Lautan Pasifik bagian selatan sekitar Utara Australia dan sekitar lautan Hindia. Kondisi ini menyebabkan terjadinya curah hujan cukup tinggi di beberapa wilayah seperti sekitar Sumatera, Kalimatan dan Sulawesi. Diprakirakan bahwa monsun Australia akan berada pada kisaran normal sampai dengan pertengahan bulan Maret b. Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone / ITCZ) Posisi ITCZ hingga akhir Pebruari 2011 masih berada di sekitar ekuator dan cenderung bergerak ke arah utara pada bulan-bulan berikutnya mengikuti pergerakan tahunannya. Jika dibandingkan terhadap posisi rataratanya, posisi tersebut masih berada dalam kisaran rata-rata, sehingga potensi kejadian hujan di setiap wilayah diprakirakan akan mendekati normal sesuai kondisi rata-rata wilayah masing-masing. c. Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia Hingga akhir Pebruari 2011 kondisi suhu permukaan permukaan laut di sebagian besar perairan Indonesia berada di atas nilai rata-rata atau normalnya, seperti sekitar Lautan Hindia barat Sumatera, Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Laut Maluku, Lautan Pasifik utara Papua dengan anomali suhu berkisar C s/d +2.0 C diatas rata-rata. Sedangkan perairan dengan suhu permukaan laut relatif dingin (dibawah rata-rata) berada di Lautan Hindia barat dan selatan Jawa, Laut Banda, Laut Arafura. Stasiun Klimatologi Semarang 3

4 Suhu permukaan laut di beberapa perairan Indonesia selama Musim Kemarau 2011 diprakirakan relatif netral dan cenderung dingin, kecuali saat awal Musim Kemarau 2011 beberapa wilayah perairan Indonesia Bagian Barat cenderung panas (diatas nilai rata-rata). Selengkapnya adalah sebagai berikut : 1) Wilayah perairan Laut Sulawesi, Laut Maluku dan Lautan Pasifik utara Papua akan tetap panas hingga Maret 2011 dengan anomali suhu berkisar +0.5 C s/d +2.0 C, bulan-bulan lainnya berada pada kisaran normalnya. 2) Wilayah perairan Lautan Hindia barat Sumatra dan selatan Jawa, Laut Cina Selatan, Laut Jawa, Laut Banda, diprakirakan akan netral cenderung mendingin pada bulan Maret s/d Juli 2011, dengan anomali suhu berkisar C s/d -1 o C. 3) Wilayah perairan Indonesia lainnya diprakirakan berada pada kondisi normalnya dengan anomali suhu berkisar antara -0.5 o C s/d +0.5 o C. B. RINGKASAN PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2011 DI JAWA TENGAH a. Awal Musim Kemarau 2011 di wilayah Jawa tengah diprakirakan berlangsung antara bulan April 2011 sampai bulan Juli 2011, yaitu sekitar 56.25% pada bulan Juni 2011, 37.5% pada bulan Mei 2011, 3.125% pada bulan April 2011 dan 3.125% pada bulan Juli b. Sifat hujan Musim Kemarau 2011 di Jawa Tengah diprakirakan sekitar 56.25% wilayah di Jawa Tengah umumnya Normal (N), 25% Atas Normal (AN) dan 18.75% Bawah Normal(BN). c. Bila dibandingkan terhadap rata-ratanya, sekitar 78% wilayah di Jawa Tengah awal musim kemaraunya lebih lambat dari rata-ratanya (Mundur) dan 22% sama dengan rata-ratanya. III. ANALISA MUSIM HUJAN 2010/2011 DI JAWA TENGAH A. ANALISA AWAL MUSIM HUJAN 2010/ Awal Musim Hujan terjadi pada bulan Agustus 2010 meliputi : Kab.Banyumas, Kab.Purbalingga, Kab.Wonosobo, Kab.Klaten, Kab. Wonogiri, Kab.Kendal, Kodya Semarang; sebagian besar wilayah Kab. Tegal, Kab.Pemalang, Kab.Pekalongan, Kab.Sukoharjo, Kab.Demak, Kab.Purworejo dan Kab. Kebumen ; sebagian wilayah Kab. Brebes, Kab. Stasiun Klimatologi Semarang 4

5 Cilacap dan Kab.Magelang; sebagian wilayah utara Kab.Semarang; sebagian wilayah selatan Kab.Boyolali. (Luasan Zona Musim + 50% ) 2. Awal Musim Hujan terjadi pada bulan September 2010 meliputi : Kab.Sragen, Kab.Karanganyar, Kab.Rembang, Kab.Kudus, Kab.Pati, Kab.Jepara; sebagian besar wilayah Kab.Grobogan, Kab.Cilacap dan Kab. Boyolali; sebagian wilayah Kab.Brebes, Kab.Semarang, Kab.Magelang; sebagian kecil wilayah Kab.Sukoharjo; sebagian wilayah selatan Kab. Purworejo; Kab.Kebumen bagian selatan; sebagian kecil wilayah utara Kab.Blora. (Luasan Zona Musim + 41% ) 3. Awal Musim Hujan terjadi pada bulan Oktober 2010 meliputi : Sebagian besar wilayah Kab.Blora; sebagian wilayah utara Kab.Pemalang, Kab.Pekalongan dan Kab.Batang; sebagian kecil wilayah utara Kab.Tegal; sebagian wilayah selatan Kab.Semarang; sebagian kecil wilayah timur Kab.Grobogan. (Luasan Zona Musim + 9% ) B. PERBANDINGAN ANALISA AWAL MUSIM HUJAN 2009/2011 TERHADAP RATA-RATANYA. 1. Daerah - daerah yang lebih Awal (Maju) dari rata-ratanya meliputi : Kab.Brebes, Kab.Kendal, Kodya Semarang, Kab.Semarang, Kab.Demak, Kab.Pati, Kab.Jepara, Kab.Grobogan, Kab.Kudus, Kab.Rembang, Kab. Blora, Kab.Sragen, Kab.Karanganyar, Kab.Sukoharjio, Kab.Wonogiri, Kab.Klaten, Kab.Boyolali, Kab.Temanggung, Kab.Magelang, Kab. Purworejo, Kab.Kebumen, Kab.Wonosobo, Kab.Banjarnegara, Kab. Purbalingga, Kab.Banyumas, Kab.Cilacap; sebagian besar wilayah Kab. Tegal, Kab.Pemalang, Kab.Pekalongan dan Kab.Batang. (Luasan Zona Musim + 97 % ) 2. Daerah-daerah yang sama dengan rata-ratanya meliputi : Sebagian wilayah utara Kab.Pemalang, Kab.Pekalongan dan Kab.Batang; sebagian kecil wilayah utara Kab.Tegal. (Luasan Zona Musim + 3% ). Stasiun Klimatologi Semarang 5

6 IV. PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2011 DI JAWA TENGAH A. PRAKIRAAN AWAL MUSIM KEMARAU 2011 a. Awal Musim Kemarau diprakirakan terjadi pada bulan April 2011 meliputi : Pati bagian timur. (Luasan Zona Musim %) b. Awal Musim Kemarau diprakirakan terjadi pada bulan Mei 2011 meliputi : Kab.Blora, Kab.Rembang, Kab.Wonogiri, Kab.Sukoharjo, Kab.Klaten, Kab.Boyolali; sebagian besar wilayah Kab.Semarang, Kab. Sragen, Kab.Grobogan, dan Kab.Karanganyar,; sebagian wilayah Kab. Magelang dan Kab.Jepara; Kab.Purworejo dan Kab.Kudus bagian selatan; Kab.Kebumen bagian tenggara; sebagian kecil wilayah Kab. Demak; Kab.Brebes bagian utara; Kab.Tegal bagian barat laut. (Luasan Zona Musim %) c. Awal Musim Kemarau diprakirakan terjadi pada bulan Juni 2011 meliputi : Kab.Cilacap, Kab.Banyumas, Kab.Purbalingga, Kab. Pemalang, Kab.Kendal, Kodya Semarang; sebagian besar wilayah Kab. Brebes, Kab.Kebumen, Kab.Purworejo, Kab.Temanggung, Kab. Pekalongan, Kab.Batang, Kab.Demak, Kab.Banjarnegara, Kab. Wonosobo; Kab.Kudus dan Kab.Semarang bagian utara; sebagian wilayah Kab.Magelang dan Kab.Jepara; sebagian kecil wilayah barat Kab.Pati dan Kab.Grobogan; sebagian kecil wilayah selatan Kab.Sragen; sebagian kecil wilayah utara Kab.Karanganyar. (Luasan Zona Musim %) d. Awal Musim Kemarau diprakirakan terjadi pada bulan Juli 2011 meliputi : Kab.Banjarnegara bagian timur laut, Kab.Wonosobo bagian utara; sebagian kecil wilayah selatan Kab.Pekalongan dan Kab.Batang. (Luasan Zona Musim %) B. PRAKIRAAN SIFAT HUJAN SELAMA MUSIM KEMARAU Sifat hujan Bawah Normal (BN) meliputi : Sebagian besar wilayah Kab.Grobogan, Kab.Sragen, Kab.Karanganyar, Kab.Boyolali, Kab. Semarang, Kab.Purworejo; sebagian wilayah Kab.Magelang dan Kab. Sukoharjo; sebagian kecil wilayah selatan Kab.Brebes; sebagian kecil wilayah utara Kab.Cilacap; sebagian kecil wilayah timur Kab. Kebumen; sebagian kecil barat daya Kab.Wonosobo; sebagian wilayah tenggara Kab.Temanggung. (Luasan Zona Musim + 25%) Stasiun Klimatologi Semarang 6

7 2. Sifat hujan Normal (N) meliputi : Kab.Wonogiri, Kab.Klaten, Kab. Tegal; sebagian besar wilayah Kab.Brebes, Kab.Cilacap, Kab. Pekalongan, Kab.Pemalang, Kab.Batang, Kab.Banyumas, Kab.Kebumen, Kab.Temanggung; sebagian besar wilayah Kab.Brebes, Kab.Pemalang, Kab.Pekalongan, Kab.Cilacap, Kab.Banyumas, Kab.Kebumen, Kab. Sukoharjo, Kab.Blora, Kab.Wonosobo; Kodya Semarang, Kab.Boyolali, Kab.Banjarnegara dan Kab.Purworejo bagian selatan; sebagian wilayah Kab.Magelang, Kab. Jepara dan Kab.Pati; Kab.Kendal bagian tenggara; sebagian kecil wilayah Kab.Demak; sebagian kecil wilayah selatan Kab. Purbalingga dan Kab.Sragen; sebagian kecil wilayah utara Kab. Karanganyar. (Luasan Zona Musim %) 3. Sifat hujan Bawah Normal (BN) meliputi : Sebagian besar wilayah Kab.Grobogan, Kab.Sragen, Kab.Semarang, Kab.Boyolali, Kab. Karanganyar, dan Kab.Purworejo; Kab.Sukoharjo bagian timur; sebgaian wilayah Kab.Magelang; Kab.Temanggung bagian tenggara; sebagian kecil wilayah selatan Kab.Brebes dan Kab.Wonosobo; sebagian kecil wilayah utara Kab.Cilacap; sebagian kecil wilayah timur Kab.Kebumen. (Luasan Zona Musim %) C. PERBANDINGAN PRAKIRAAN AWAL MUSIM KEMARAU 2011 TERHADAP RATA-RATANYA. 1. Daerah-daerah Kabupaten yang sama dengan rata-ratanya meliputi : Sebagian besar wilayah Kab.Boyolali; Kab.Jepara, Kab.Pati dan Kab. Kudus bagian utara; sebagian wilayah Kab.Semarang; sebagian kecil wilayah utara Kab.Demak. Kab.Karanganyar dan Kab.Cilacap; Kab. Magelang bagian timur laut; sebagian wilayah selatan Kab.Brebes dan Kab.Tegal; sebagian kecil wilayah selatan Kab.Pemalang, Kab.Sragen dan Kab.Temanggung. (Luasan Zona Musim + 22%) 2. Daerah-daerah Kabupaten yang lebih lambat (Mundur) dari rataratanya meliputi : Kab.Pekalongan, Kab.Kendal, Kab.Batang, Kab, Semarang, Kab.Rembang, Kab.Blora, Kab.Grobogan, Kab.Wonogiri, Kab. Sukoharjo, Kab.Klaten, Kab.Purworejo, Kab.Kebumen, Kab.Banyumas, Kab.Wonosobo, Kab.Banjarnegara, Kab.Purbalingga; sebagian besar wilayah Kab.Brebes, Kab.Pemalang, Kab.Tegal, Kab.Demak, Kab. Magelang, Kab.Sragen, Kab.Karanganyar; Kab.CIlacap, Kab.Magelang; Kab.Kudus dan Kab.Pati bagian selatan; sebagian wilayah selatan Kab. Semarang. (Luasan Zona Musim + 78%). Stasiun Klimatologi Semarang 7

8 Lampiran 1. TABEL 1 ANALISA MUSIM HUJAN 2009/2011 PER KOTA/KABUPATEN DI JAWA TENGAH ANALISA MUSIM HUJAN 2009/2011 NO. KABUPATEN DAN KOTA AWAL MUSIM HUJAN 2009/2011 PERBANDINGAN THD RATA-RATA (Dasarian) ( 1 ) ( 2 ) ( 3 ) ( 4 ) 1 KOTA SEMARANG UTARA AGT III -6 SELATAN AGT I -7 2 KAB.SEMARANG UTARA AGT I -7 TENGAH SEP II -4 SELATAN OKT II -4 3 KOTA SALATIGA UTARA SEP II -4 SELATAN OKT II -4 4 KENDAL UTARA AGT III -6 BARAT DAYA AGT III -5 TENGGARA AGT I -7 5 GROBOGAN TIMUR SEP II -4 SELATAN SEP II -4 BARAT SEP II -3 6 DEMAK AGT III -5 7 JEPARA BARAT SEP I -6 TIMUR SEP III -3 8 KUDUS UTARA SEP III -3 SELATAN SEP II -3 9 PATI TIMUR LAUT SEP II -6 BARAT SEP III -3 SELATAN SEP II REMBANG SEP III BLORA OKT III -1 dilanjutkan ke halaman 9 Stasiun Klimatologi Semarang 8

9 Lanjutan Tabel 1 NO. KABUPATEN DAN KOTA ANALISA MUSIM HUJAN 2009/2011 AWAL MUSIM HUJAN 2009/2011 PERBANDINGAN THD RATA-RATA (Dasarian) ( 1 ) ( 2 ) ( 3 ) ( 4 ) 12 BREBES UTARA AGT III -9 TENGAH SEP II -6 BARAT DAYA AGT II -6 TENGGARA AGT II KOTA TEGAL AGT III KAB.TEGAL TIMUR LAUT OKT III 0 TENGAH AGT III -5 SELATAN AGT II PEMALANG UTARA OKT III 0 TENGAH AGT III -5 SELATAN AGT III KOTA PEKALONGAN OKT III 0 17 KAB.PEKALONGAN UTARA OKT III 0 TENGAH AGT III -5 BARAT DAYA AGT III -5 TENGGARA AGT II BATANG BARAT LAUT OKT III 0 TIMUR LAUT AGT III -6 SELATAN AGT II -6 TENGGARA AGT III -5 BARAT DAYA AGT III SUKOHARJO AGT II KOTA SOLO SEP II BOYOLALI UTARA SEP II -4 SELATAN AGT II SRAGEN SEP II KARANGANYAR TIMUR LAUT SEP II -2 BARAT SEP II WONOGIRI AGT III -7 dilanjutkan ke halaman 10 Stasiun Klimatologi Semarang 9

10 Lanjutan Tabel 1 ANALISA MUSIM HUJAN 2009/2011 NO. KABUPATEN DAN KOTA AWAL MUSIM HUJAN 2009/2011 PERBANDINGAN THD RATA-RATA (Dasarian) ( 1 ) ( 2 ) ( 3 ) ( 4 ) 25 KLATEN AGT II TEMANGGUNG AGT III WONOSOBO UTARA AGT III -6 SELATAN AGT III KEBUMEN UTARA AGT III -5 BARAT DAYA SEP II -3 TENGGARA SEP I PURWOREJO UTARA AGT III -5 SELATAN SEP I KOTA MAGELANG AGT III KAB.MAGELANG UTARA SEP II -4 SELATAN AGT III BANYUMAS AGT III PURBALINGGA AGT III BANJARNEGARA BARAT LAUT AGT III -5 TIMUR LAUT AGT II -6 SELATAN AGT III CILACAP UTARA AGT II -6 TENGAH SEP I -6 SELATAN SEP II -3 Stasiun Klimatologi Semarang 10

11 Lampiran 2. TABEL 2 PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2011 PER KOTA/KABUPATEN DI JAWA TENGAH PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU TAHUN 2011 NO. KABUPATEN DAN KOTA AWAL MUSIM KEMARAU 2011 PERBANDINGAN TERHADAP RATA- RATA (Dasarian) SIFAT HUJAN ( 1 ) ( 2 ) ( 3 ) ( 4 ) (5) 1 KOTA SEMARANG UTARA MEI III 0 BN SELATAN MEI I 0 BN 2 KAB.SEMARANG UTARA MEI I 0 N TENGAH MEI II +1 N SELATAN MEI II +1 N 3 KOTA SALATIGA UTARA MEI II +1 N SELATAN MEI II +1 N 4 KENDAL UTARA MEI III 0 BN BARAT DAYA MEI I 0 N TENGGARA MEI I 0 N 5 GROBOGAN TIMUR MEI II 0 N SELATAN MEI I +1 BN BARAT MEI II +2 N 6 DEMAK MEI III 0 BN 7 JEPARA BARAT MEI II 0 N TIMUR JUN II 0 N 8 KUDUS UTARA JUN II 0 N SELATAN MEI II +2 N 9 PATI TIMUR LAUT APR III 0 N BARAT JUN II 0 N SELATAN MEI II +2 N 10 REMBANG APR III +2 BN 11 BLORA APR III 0 N dilanjutkan ke halaman 12 Stasiun Klimatologi Semarang 11

12 Lanjutan Tabel 2 PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU TAHUN 2011 NO. KABUPATEN DAN KOTA AWAL MUSIM KEMARAU 2011 PERBANDINGAN THD RATA-RATA (Dasarian) SIFAT HUJAN ( 1 ) ( 2 ) ( 3 ) ( 4 ) ( 5 ) 12 BREBES UTARA MEI II +2 BN TENGAH MEI II 0 BN BARAT DAYA JUN II 0 BN TENGGARA MEI II -3 N 13 KOTA TEGAL MEI II +2 BN 14 KAB.TEGAL TIMUR LAUT JUN II 0 BN TENGAH JUN II 0 BN SELATAN MEI II -3 N 15 PEMALANG UTARA JUN II 0 BN TENGAH JUN II 0 BN SELATAN MEI III -1 N 16 KOTA PEKALONGAN JUN II 0 BN 17 KAB.PEKALONGAN UTARA JUN II 0 BN TENGAH JUN II 0 BN BARAT DAYA MEI III -1 N TENGGARA MEI II -2 N 18 BATANG BARAT LAUT JUN II 0 BN TIMUR LAUT MEI III 0 BN SELATAN MEI II -2 N TENGGARA MEI I 0 N BARAT DAYA JUN II 0 BN 19 SUKOHARJO MEI I +1 BN 20 KOTA SOLO MEI I +1 BN 21 BOYOLALI UTARA MEI II +1 N SELATAN MEI I +1 BN 22 SRAGEN MEI I +1 BN 23 KARANGANYAR TIMUR LAUT JUN I 0 N BARAT MEI I +1 BN dilanjutkan ke halaman 13 Stasiun Klimatologi Semarang 12

13 Lanjutan Tabel 2 PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU TAHUN 2011 NO. KABUPATEN DAN KOTA AWAL MUSIM KEMARAU 2011 PERBANDINGAN THD RATA-RATA (Dasarian) SIFAT HUJAN ( 1 ) ( 2 ) ( 3 ) ( 4 ) ( 5 ) 24 WONOGIRI MEI I 0 BN 25 KLATEN MEI I +1 BN 26 TEMANGGUNG MEI II -2 N 27 WONOSOBO UTARA MEI II -2 N SELATAN MEI II -2 N 28 KEBUMEN UTARA MEI II -2 N BARAT DAYA JUN I 0 N TENGGARA MEI I +1 N 29 PURWOREJO UTARA MEI II -1 N SELATAN MEI I -1 N 30 KOTA MAGELANG MEI III +1 N 31 KAB.MAGELANG UTARA MEI II +1 N SELATAN MEI III +1 N 32 BANYUMAS MEI III 0 N 33 PURBALINGGA MEI III -1 N 34 BANJARNEGARA BARAT LAUT MEI III -1 N TIMUR LAUT MEI II -2 N SELATAN MEI II -2 N 35 CILACAP UTARA JUN II 0 BN TENGAH MEI III 0 BN SELATAN JUN I 0 N Stasiun Klimatologi Semarang 13

14 KETERANGAN : 1. SIFAT HUJAN AN : ATAS NORMAL N : NORMAL BN : BAWAH NORMAL 2. Perbandingan Analisa dan Prakiraan Hujan terhadap Rata-Ratanya -1 : Maju 1 Dasarian dari Rata-Ratanya -2 : Maju 2 Dasarian dari Rata-Ratanya -3 : Maju 3 Dasarian dari Rata-Ratanya -4 : Maju 4 Dasarian dari Rata-Ratanya -5 : Maju 5 Dasarian dari Rata-Ratanya 0 : Sama dengan Rata-Ratanya +1 : Mundur 1 Dasarian dari Rata-Ratanya +2 : Mundur 2 Dasarian dari Rata-Ratanya +3 : Mundur 3 Dasarian dari Rata-Ratanya +4 : Mundur 4 Dasarian dari Rata-Ratanya +5 : Mundur 5 Dasarian dari Rata-Ratanya Stasiun Klimatologi Semarang 14

PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2011/2012 PADA ZONA MUSIM (ZOM) (DKI JAKARTA)

PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2011/2012 PADA ZONA MUSIM (ZOM) (DKI JAKARTA) PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2011/2012 PADA ZONA MUSIM (ZOM) (DKI JAKARTA) Sumber : BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA I. PENDAHULUAN Wilayah Indonesia berada pada posisi strategis, terletak di daerah

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Negara, September 2015 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI NEGARA BALI. NUGA PUTRANTIJO, SP, M.Si. NIP

KATA PENGANTAR. Negara, September 2015 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI NEGARA BALI. NUGA PUTRANTIJO, SP, M.Si. NIP 1 KATA PENGANTAR Publikasi Prakiraan Awal Musim Hujan 2015/2016 di Propinsi Bali merupakan salah satu bentuk pelayanan jasa klimatologi yang dihasilkan oleh Stasiun Klimatologi Negara Bali. Prakiraan Awal

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. merupakan hasil pemutakhiran rata-rata sebelumnya (periode ).

KATA PENGANTAR. merupakan hasil pemutakhiran rata-rata sebelumnya (periode ). KATA PENGANTAR Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setiap tahun menerbitkan dua jenis prakiraan musim yaitu Prakiraan Musim Kemarau diterbitkan setiap bulan Maret dan Prakiraan Musim Hujan

Lebih terperinci

P E N G A N T A R. Jakarta, Maret 2017 Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Dr. Andi Eka Sakya, M.Eng

P E N G A N T A R. Jakarta, Maret 2017 Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Dr. Andi Eka Sakya, M.Eng P E N G A N T A R Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setiap tahun menerbitkan dua buku Prakiraan Musim yaitu Prakiraan Musim Hujan diterbitkan setiap bulan September dan Prakiraan Musim

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR PANGKALPINANG, APRIL 2016 KEPALA STASIUN METEOROLOGI KLAS I PANGKALPINANG MOHAMMAD NURHUDA, S.T. NIP

KATA PENGANTAR PANGKALPINANG, APRIL 2016 KEPALA STASIUN METEOROLOGI KLAS I PANGKALPINANG MOHAMMAD NURHUDA, S.T. NIP Buletin Prakiraan Musim Kemarau 2016 i KATA PENGANTAR Penyajian prakiraan musim kemarau 2016 di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diterbitkan untuk memberikan informasi kepada masyarakat disamping publikasi

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR KUPANG, MARET 2016 PH. KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI LASIANA KUPANG CAROLINA D. ROMMER, S.IP NIP

KATA PENGANTAR KUPANG, MARET 2016 PH. KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI LASIANA KUPANG CAROLINA D. ROMMER, S.IP NIP KATA PENGANTAR Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setiap tahun menerbitkan dua jenis prakiraan musim yaitu Prakiraan Musim Kemarau diterbitkan setiap bulan Maret dan Prakiraan Musim Hujan

Lebih terperinci

Prakiraan Musim Hujan 2015/2016 Zona Musim di Nusa Tenggara Timur

Prakiraan Musim Hujan 2015/2016 Zona Musim di Nusa Tenggara Timur http://lasiana.ntt.bmkg.go.id/publikasi/prakiraanmusim-ntt/ Prakiraan Musim Hujan 2015/2016 Zona Musim di Nusa Tenggara Timur KATA PENGANTAR Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setiap tahun

Lebih terperinci

ANALISIS MUSIM KEMARAU 2015 DAN PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2015/2016

ANALISIS MUSIM KEMARAU 2015 DAN PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2015/2016 B M K G BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Tangerang Selatan Telp. (021) 7353018 / Fax: 7355262 E-mail: staklim.pondok.betung@gmail.com,

Lebih terperinci

PENGANTAR. Bogor, Maret 2017 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI BOGOR

PENGANTAR. Bogor, Maret 2017 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI BOGOR PENGANTAR Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofísika () setiap tahun menerbitkan dua buku Prakiraan Musim yaitu Prakiraan Musim Kemarau diterbitkan setiap awal Maret dan Prakiraan Musim Hujan setiap awal

Lebih terperinci

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG ANALISIS MUSIM KEMARAU 2013 DAN PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2013/2014

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG ANALISIS MUSIM KEMARAU 2013 DAN PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2013/2014 BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan (12070) Telp. (021) 7353018 / Fax: 7355262 E-mail: staklim.pondok.betung@gmail.com,

Lebih terperinci

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG B M K G BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan (12070) Telp. (021) 7353018 / Fax: 7355262 E-mail: staklim.pondok.betung@gmail.com,

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR TANGERANG SELATAN, MARET 2016 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG. Ir. BUDI ROESPANDI NIP

KATA PENGANTAR TANGERANG SELATAN, MARET 2016 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG. Ir. BUDI ROESPANDI NIP PROPINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan YME atas berkat dan rahmat Nya kami dapat menyusun laporan dan laporan Prakiraan Musim Kemarau 2016 di wilayah Propinsi Banten

Lebih terperinci

PENGANTAR. Bogor, Maret 2016 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI DARMAGA BOGOR

PENGANTAR. Bogor, Maret 2016 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI DARMAGA BOGOR PENGANTAR Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofísika () setiap tahun menerbitkan dua buku Prakiraan Musim yaitu Prakiraan Musim Kemarau diterbitkan setiap awal Maret dan Prakiraan Musim Hujan setiap awal

Lebih terperinci

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG B M K G BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan (12070) Telp. (021) 7353018 / Fax: 7355262 E-mail: staklim.pondok.betung@gmail.com,

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Pontianak, 1 April 2016 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI SIANTAN PONTIANAK. WANDAYANTOLIS, S.Si, M.Si NIP

KATA PENGANTAR. Pontianak, 1 April 2016 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI SIANTAN PONTIANAK. WANDAYANTOLIS, S.Si, M.Si NIP KATA PENGANTAR Stasiun Klimatologi Siantan Pontianak pada tahun 2016 menerbitkan dua buku Prakiraan Musim yaitu Prakiraan Musim Kemarau dan Prakiraan Musim Hujan. Pada buku Prakiraan Musim Kemarau 2016

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kondisi kesenjangan ekonomi antar wilayah dalam suatu negara.

BAB I PENDAHULUAN. kondisi kesenjangan ekonomi antar wilayah dalam suatu negara. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesenjangan ekonomi antar wilayah merupakan fenomena global yang sering terjadi di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Bahkan masalah kesenjangan ekonomi ini

Lebih terperinci

BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG

BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan ( 12070 ) Telp. (021) 7353018, Fax: (021) 7355262 E-mail: staklim.pondok.betung@gmail.com,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang 1 A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Sub sektor peternakan merupakan bagian dari sektor pertanian yang sangat potensial untuk dikembangkan. Sub sektor peternakan perlu dikembangkan karena sub sektor ini

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Prakiraan Musim Kemarau 2016

KATA PENGANTAR. Prakiraan Musim Kemarau 2016 KATA PENGANTAR Publikasi Prakiraan Musim Kemarau 2016 Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu bentuk pelayanan jasa klimatologi yang dihasilkan oleh Stasiun Geofisika Kelas 1 Yogyakarta / Pos Klimatologi

Lebih terperinci

Propinsi Banten dan DKI Jakarta

Propinsi Banten dan DKI Jakarta BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan (12070) Telp. (021) 7353018 / Fax: 7355262 E-mail: staklim.pondok.betung@gmail.com,

Lebih terperinci

PENGANTAR. Bogor, September 2016 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI DARMAGA BOGOR. DEDI SUCAHYONO S, S.Si, M.Si NIP

PENGANTAR. Bogor, September 2016 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI DARMAGA BOGOR. DEDI SUCAHYONO S, S.Si, M.Si NIP Prakiraan Musim Hujan 2016/2017 Provinsi Jawa Barat PENGANTAR Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofísika () setiap tahun menerbitkan dua buku Prakiraan Musim yaitu Prakiraan Musim Kemarau diterbitkan

Lebih terperinci

SPATIAL AUTOCORRELATION UNTUK DETEKSI DATA KEWILAYAHAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO PROVINSI JAWA TENGAH 1. PENDAHULUAN

SPATIAL AUTOCORRELATION UNTUK DETEKSI DATA KEWILAYAHAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO PROVINSI JAWA TENGAH 1. PENDAHULUAN SPATIAL AUTOCORRELATION UNTUK DETEKSI DATA KEWILAYAHAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO PROVINSI JAWA TENGAH Muhammad Saifudin Nur 1, Abdul Karim 2 1 FMIPA,, Semarang, Indonesia saipungdekirby@gmail.com

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR REDAKSI. Pengarah : Wandayantolis, S. SI, M. Si. Penanggung Jawab : Subandriyo, SP. Pemimpin Redaksi : Ismaharto Adi, S.

KATA PENGANTAR REDAKSI. Pengarah : Wandayantolis, S. SI, M. Si. Penanggung Jawab : Subandriyo, SP. Pemimpin Redaksi : Ismaharto Adi, S. i REDAKSI KATA PENGANTAR Pengarah : Wandayantolis, S. SI, M. Si Penanggung Jawab : Subandriyo, SP Pemimpin Redaksi : Ismaharto Adi, S. Kom Editor : Idrus, SE Staf Redaksi : 1. Fanni Aditya, S. Si 2. M.

Lebih terperinci

EVALUASI CUACA BULAN JUNI 2016 DI STASIUN METEOROLOGI PERAK 1 SURABAYA

EVALUASI CUACA BULAN JUNI 2016 DI STASIUN METEOROLOGI PERAK 1 SURABAYA EVALUASI CUACA BULAN JUNI 2016 DI STASIUN METEOROLOGI PERAK 1 SURABAYA OLEH : ANDRIE WIJAYA, A.Md FENOMENA GLOBAL 1. ENSO (El Nino Southern Oscillation) Secara Ilmiah ENSO atau El Nino dapat di jelaskan

Lebih terperinci

STRATEGI PENURUNAN AKI di JAWA TENGAH

STRATEGI PENURUNAN AKI di JAWA TENGAH STRATEGI PENURUNAN AKI di JAWA TENGAH JEPARA DEMAK KUDUS PAT I REMBANG BREBES TEGAL PML PKL BATANG KENDAL SMG GROBOGAN BLORA CILACAP BANYUMAS PURBA LINGGA KEBU MEN BANJ. NEGA RA WONO SOBO PURWO REJO TEMANG

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Banjarbaru, Oktober 2012 Kepala Stasiun Klimatologi Banjarbaru. Ir. PURWANTO NIP Buletin Edisi Oktober 2012

KATA PENGANTAR. Banjarbaru, Oktober 2012 Kepala Stasiun Klimatologi Banjarbaru. Ir. PURWANTO NIP Buletin Edisi Oktober 2012 KATA PENGANTAR i Analisis Hujan Bulan Agustus 2012, Prakiraan Hujan Bulan November, Desember 2012, dan Januari 2013 Kalimantan Timur disusun berdasarkan hasil pantauan kondisi fisis atmosfer dan data yang

Lebih terperinci

LUAS TANAM, LUAS PANEN DAN PREDIKSI PANEN PADI TAHUN 2016 DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA PROVINSI JAWA TENGAH

LUAS TANAM, LUAS PANEN DAN PREDIKSI PANEN PADI TAHUN 2016 DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA PROVINSI JAWA TENGAH LUAS TANAM, LUAS PANEN DAN PREDIKSI PANEN PADI TAHUN 2016 DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA PROVINSI JAWA TENGAH OUT LINE 1. CAPAIAN PRODUKSI 2. SASARAN LUAS TANAM DAN LUAS PANEN 3. CAPAIAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perubahan iklim telah menjadi isu paling penting dalam kebijakan pembangunan dan global governance pada abad ke 21, dampaknya terhadap pengelolaan sektor pertanian dan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu Provinsi di Jawa, letaknya diapit

BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu Provinsi di Jawa, letaknya diapit BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Kondisi Fisik Daerah Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu Provinsi di Jawa, letaknya diapit oleh dua Provinsi besar, yaitu

Lebih terperinci

PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2017 REDAKSI

PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2017 REDAKSI Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas perkenannya, kami dapat menyelesaikan Buku Prakiraan Musim Kemarau Tahun 2017 Provinsi Kalimantan Barat. Buku ini berisi kondisi dinamika atmosfer

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Demikian Buku KEADAAN TANAMAN PANGAN JAWA TENGAH kami susun dan semoga dapat digunakan sebagaimana mestinya.

KATA PENGANTAR. Demikian Buku KEADAAN TANAMAN PANGAN JAWA TENGAH kami susun dan semoga dapat digunakan sebagaimana mestinya. KATA PENGANTAR Sektor pertanian merupakan sektor yang vital dalam perekonomian Jawa Tengah. Sebagian masyarakat Jawa Tengah memiliki mata pencaharian di bidang pertanian. Peningkatan kualitas dan kuantitas

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Gambaran Umum Provinsi Jawa Tengah 1. Peta Provinsi Jawa Tengah Sumber : Jawa Tengah Dalam Angka Gambar 4.1 Peta Provinsi Jawa Tengah 2. Kondisi Geografis Jawa Tengah merupakan

Lebih terperinci

DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH

DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH Halaman : 1 DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN ANGGARAN 2015 Formulir DPA - SKPD 2.2 Urusan Pemerintahan Organisasi : 1.0. - PEKERJAAN UMUM

Lebih terperinci

EVALUASI MUSIM HUJAN 2007/2008 DAN PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2008 PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA

EVALUASI MUSIM HUJAN 2007/2008 DAN PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2008 PROVINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG-TANGERANG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan ( 12070 ) Telp: (021) 7353018 / Fax: 7355262, Tromol Pos. 7019 / Jks KL, E-mail

Lebih terperinci

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA Press Release BMKG Jakarta, 12 Oktober 2010 BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA 2 BMKG A F R I C A A S I A 3 Proses EL NINO, DIPOLE MODE 2 1 1963 1972 1982 1997 1 2 3 EL NINO / LA NINA SUHU PERAIRAN

Lebih terperinci

I. INFORMASI METEOROLOGI

I. INFORMASI METEOROLOGI I. INFORMASI METEOROLOGI I.1 ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER I.1.1 MONITORING DAN PRAKIRAAN FENOMENA GLOBAL a. ENSO ( La Nina dan El Nino ) Berdasarkan pantauan suhu muka laut di Samudra Pasifik selama bulan

Lebih terperinci

I. INFORMASI METEOROLOGI

I. INFORMASI METEOROLOGI I. INFORMASI METEOROLOGI I.1 ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER I.1.1 MONITORING DAN PRAKIRAAN FENOMENA GLOBAL a. ENSO ( La Nina dan El Nino ) Berdasarkan pantauan suhu muka laut di Samudra Pasifik selama bulan

Lebih terperinci

I. INFORMASI METEOROLOGI

I. INFORMASI METEOROLOGI I. INFORMASI METEOROLOGI I.1 ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER I.1.1 MONITORING DAN PRAKIRAAN FENOMENA GLOBAL a. ENSO ( La Nina dan El Nino ) Berdasarkan pantauan suhu muka laut di Samudra Pasifik selama bulan

Lebih terperinci

ANALISIS MUSIM KEMARAU 2011 DAN PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2011/2012 PROVINSI DKI JAKARTA

ANALISIS MUSIM KEMARAU 2011 DAN PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2011/2012 PROVINSI DKI JAKARTA ANALISIS MUSIM KEMARAU 2011 DAN PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2011/2012 PROVINSI DKI JAKARTA Sumber : BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG 1. TINJAUAN UMUM 1.1.

Lebih terperinci

I. INFORMASI METEOROLOGI

I. INFORMASI METEOROLOGI I. INFORMASI METEOROLOGI I.1 ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER I.1.1 MONITORING DAN PRAKIRAAN FENOMENA GLOBAL a. ENSO ( La Nina dan El Nino ) Berdasarkan pantauan suhu muka laut di Samudra Pasifik selama bulan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berinteraksi mengikuti pola yang tidak selalu mudah dipahami. Apabila

BAB I PENDAHULUAN. berinteraksi mengikuti pola yang tidak selalu mudah dipahami. Apabila BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pengangguran merupakan masalah yang sangat kompleks karena mempengaruhi sekaligus dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berinteraksi mengikuti pola yang

Lebih terperinci

PRAKIRAAN ANOMALI IKLIM TAHUN 2016 BMKG DI JAWA TENGAH

PRAKIRAAN ANOMALI IKLIM TAHUN 2016 BMKG DI JAWA TENGAH PRAKIRAAN ANOMALI IKLIM TAHUN 2016 BMKG DI JAWA TENGAH OUTLINE Kondisi Dinamika Atmosfir Terkini Prakiraan Cuaca di Jawa Tengah Prakiraan Curah hujan pada bulan Desember 2015 dan Januari Tahun 2016 Kesimpulan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dan Jusuf Kalla, Indonesia mempunyai strategi pembangunan yang

BAB 1 PENDAHULUAN. dan Jusuf Kalla, Indonesia mempunyai strategi pembangunan yang BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di era Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dan Jusuf Kalla, Indonesia mempunyai strategi pembangunan yang dinamakan dengan nawacita.

Lebih terperinci

PENEMPATAN TENAGA KERJA. A. Jumlah Pencari Kerja di Prov. Jateng Per Kab./Kota Tahun 2016

PENEMPATAN TENAGA KERJA. A. Jumlah Pencari Kerja di Prov. Jateng Per Kab./Kota Tahun 2016 PENEMPATAN TENAGA KERJA A. Jumlah Pencari Kerja di Prov. Jateng Per Kab./Kota Tahun 2016 NO KAB./KOTA L P JUMLAH 1 KABUPATEN REMBANG 820 530 1.350 2 KOTA MAGELANG 238 292 530 3 KABUPATEN WONOGIRI 2.861

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TENGAH

GUBERNUR JAWA TENGAH GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 56 TAHUN 201256 TAHUN 2012 TENTANG ALOKASI SEMENTARA DANA BAGI HASIL CUKAI HASIL TEMBAKAU BAGIAN PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH DAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

BPS PROVINSI JAWA TENGAH

BPS PROVINSI JAWA TENGAH BPS PROVINSI JAWA TENGAH No. 05/01/33/Th.II, 2 Januari 2008 KONDISI KETENAGAKERJAAN DAN PENGANGGURAN JAWA TENGAH AGUSTUS 2007 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Tengah pada Agustus 2007 adalah

Lebih terperinci

ASPEK : PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMAKAIAN KONTRASEPSI INDIKATOR : HASIL PEROLEHAN PESERTA KB BARU

ASPEK : PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMAKAIAN KONTRASEPSI INDIKATOR : HASIL PEROLEHAN PESERTA KB BARU INDIKATOR : HASIL PEROLEHAN PESERTA KB BARU BULAN : KABUPATEN/KOTA IUD MOW MOP KDM IMPL STK PILL JML PPM PB % 1 Banyumas 748 34 3 790 684 2,379 1,165 5,803 57,379 10.11 2 Purbalingga 141 51 10 139 228

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Belanja Daerahnya juga semakin tinggi. Belanja Daerahnya juga semakin tinggi. Belanja Daerahnya juga semakin tinggi.

BAB V PENUTUP. Belanja Daerahnya juga semakin tinggi. Belanja Daerahnya juga semakin tinggi. Belanja Daerahnya juga semakin tinggi. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 1. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa Pendapatan Asli Daerah berpengaruh positif terhadap Belanja Daerah. Pemerintah Daerah yang memiliki PAD tinggi maka pengeluaran

Lebih terperinci

BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG

BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan ( 12070 ) Telp: (021) 7353018 / Fax: 7355262, Tromol Pos. 7019 /

Lebih terperinci

PENEMPATAN TENAGA KERJA

PENEMPATAN TENAGA KERJA PENEMPATAN TENAGA KERJA A. Jumlah Pencari Kerja di Prov. Jateng Per Kab./Kota Tahun 2015 NO. KAB./KOTA 2015 *) L P JUMLAH 1 KABUPATEN SEMARANG 3,999 8,817 12816 2 KABUPATEN REMBANG 1,098 803 1901 3 KOTA.

Lebih terperinci

ASPEK : PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMAKAIAN KONTRASEPSI INDIKATOR : HASIL PEROLEHAN PESERTA KB BARU

ASPEK : PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMAKAIAN KONTRASEPSI INDIKATOR : HASIL PEROLEHAN PESERTA KB BARU INDIKATOR : HASIL PEROLEHAN PESERTA KB BARU BULAN : KABUPATEN/KOTA IUD MOW MOP KDM IMPL STK PILL JML PPM PB % 1 Banyumas 447 60 8 364 478 2.632 629 4.618 57.379 8,05 2 Purbalingga 87 145 33 174 119 1.137

Lebih terperinci

BPS PROVINSI JAWA TENGAH

BPS PROVINSI JAWA TENGAH BPS PROVINSI JAWA TENGAH No. 05/12/33/Th.III, 1 Desember 2009 KONDISI KETENAGAKERJAAN DAN PENGANGGURAN JAWA TENGAH AGUSTUS 2009 Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) dilaksanakan dua kali dalam setahun,

Lebih terperinci

BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG-TANGERANG

BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG-TANGERANG BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG-TANGERANG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan ( 12070 ) Telp: (021) 7353018 / Fax: 7355262, Tromol Pos. 7019 / Jks KL, E-mail

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TENGAH

GUBERNUR JAWA TENGAH GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 78 TAHUN 2013 TAHUN 2012 TENTANG PERKIRAAN ALOKASI DANA BAGI HASIL CUKAI HASIL TEMBAKAU BAGIAN PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH DAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menggali, mengelola, dan mengembangkan sumber-sumber ekonomi yang

BAB I PENDAHULUAN. menggali, mengelola, dan mengembangkan sumber-sumber ekonomi yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pembangunan bidang ekonomi dilakukan untuk mencapai sasaran pembangunan nasional, yaitu mencapai masyarakat yang adil dan makmur. Pencapaian sasaran yang dilakukan

Lebih terperinci

BAB 3 GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN DAN KEUANGAN DAERAH KAB/KOTA DI JAWA TENGAH

BAB 3 GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN DAN KEUANGAN DAERAH KAB/KOTA DI JAWA TENGAH BAB 3 GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN DAN KEUANGAN DAERAH KAB/KOTA DI JAWA TENGAH 3.1 Keadaan Geografis dan Pemerintahan Propinsi Jawa Tengah adalah salah satu propinsi yang terletak di pulau Jawa dengan luas

Lebih terperinci

TABEL 4.1. TINGKAT KONSUMSI PANGAN NASIONAL BERDASARKAN POLA PANGAN HARAPAN

TABEL 4.1. TINGKAT KONSUMSI PANGAN NASIONAL BERDASARKAN POLA PANGAN HARAPAN TABEL 4.1. TINGKAT KONSUMSI PANGAN NASIONAL BERDASARKAN POLA PANGAN HARAPAN No Kelompok Pola Harapan Nasional Gram/hari2) Energi (kkal) %AKG 2) 1 Padi-padian 275 1000 50.0 25.0 2 Umbi-umbian 100 120 6.0

Lebih terperinci

LAPORAN POTENSI HUJAN AKHIR JANUARI HINGGA AWAL FEBRUARI 2016 DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

LAPORAN POTENSI HUJAN AKHIR JANUARI HINGGA AWAL FEBRUARI 2016 DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT LAPORAN POTENSI HUJAN AKHIR JANUARI HINGGA AWAL FEBRUARI 2016 DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOSFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS I KEDIRI-MATARAM 2016 1 Stasiun Klimatologi

Lebih terperinci

BIDANG ANALISIS VARIABILITAS IKLIM

BIDANG ANALISIS VARIABILITAS IKLIM 1 BMKG ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER LAUT, ANALISIS & PREDIKSI CURAH HUJAN UPDATED DASARIAN II OKTOBER 2016 BIDANG ANALISIS VARIABILITAS IKLIM BMKG OUTLINE Analisis Angin dan OLR Analisis dan Prediksi SST

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 27 TAHUN 2015 TENTANG

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 27 TAHUN 2015 TENTANG GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 27 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN PERKIRAAN ALOKASI DANA BAGI HASIL CUKAI HASIL TEMBAKAU BAGIAN PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH DAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA

Lebih terperinci

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH AGUSTUS 2011: TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA SEBESAR 5,93 PERSEN

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH AGUSTUS 2011: TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA SEBESAR 5,93 PERSEN No. 62/11/33/Th.V, 07 November 2011 KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH AGUSTUS 2011: TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA SEBESAR 5,93 PERSEN Jumlah angkatan kerja di Jawa Tengah Agustus 2011 mencapai 16,92 juta

Lebih terperinci

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 PROVINSI JAWA TENGAH

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 PROVINSI JAWA TENGAH No. 56/08/33 Th.IX, 3 Agustus 2015 PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 PROVINSI JAWA TENGAH PRODUKSI CABAI BESAR SEBESAR 167,79 RIBU TON, CABAI RAWIT SEBESAR 107,95 RIBU TON,

Lebih terperinci

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2013

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2013 No. 50/08/33/Th. VIII, 4 Agustus 2014 PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2013 PRODUKSI CABAI BESAR SEBESAR 145,04 RIBU TON, CABAI RAWIT 85,36 RIBU TON, DAN BAWANG

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TENGAH

GUBERNUR JAWA TENGAH GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 71 A TAHUN 201356 TAHUN 2012 TENTANG ALOKASI DEFINITIF DANA BAGI HASIL CUKAI HASIL TEMBAKAU BAGIAN PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH DAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

ASPEK : PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMAKAIAN KONTRASEPSI INDIKATOR : HASIL PEROLEHAN PESERTA KB BARU

ASPEK : PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMAKAIAN KONTRASEPSI INDIKATOR : HASIL PEROLEHAN PESERTA KB BARU INDIKATOR : HASIL PEROLEHAN PESERTA KB BARU BULAN : KABUPATEN/KOTA IUD MOW MOP KDM IMPL STK PILL JML PPM PB % 1 Banyumas 728 112 20 1,955 2,178 2,627 1,802 9,422 57,379 16.42 2 Purbalingga 70 50 11 471

Lebih terperinci

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2015

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2015 No.42/06/33/Th.X, 15 Juni 2016 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2015 IPM Jawa Tengah Tahun 2015 Pembangunan manusia di Jawa Tengah pada tahun 2015 terus mengalami kemajuan yang ditandai dengan terus

Lebih terperinci

ANALISIS HUJAN BULAN MEI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN JULI, AGUSTUS DAN SEPTEMBER 2011 PROVINSI DKI JAKARTA

ANALISIS HUJAN BULAN MEI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN JULI, AGUSTUS DAN SEPTEMBER 2011 PROVINSI DKI JAKARTA ANALISIS HUJAN BULAN MEI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN JULI, AGUSTUS DAN SEPTEMBER 2011 PROVINSI DKI JAKARTA Sumber : BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG

Lebih terperinci

KONDISI UMUM PROVINSI JAWA TENGAH

KONDISI UMUM PROVINSI JAWA TENGAH KONDISI UMUM PROVINSI JAWA TENGAH Kondisi umum Provinsi Jawa Tengah ditinjau dari aspek pemerintahan, wilayah, kependudukan dan ketenagakerjaan antara lain sebagai berikut : A. Administrasi Pemerintah,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Tembakau merupakan salah satu komoditas perdagangan penting di dunia. Menurut Rachmat dan Sri (2009) sejak tahun

I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Tembakau merupakan salah satu komoditas perdagangan penting di dunia. Menurut Rachmat dan Sri (2009) sejak tahun I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Tembakau merupakan salah satu komoditas perdagangan penting di dunia. Menurut Rachmat dan Sri (2009) sejak tahun 2000-an kondisi agribisnis tembakau di dunia cenderung

Lebih terperinci

EVALUASI DAERAH PRIORITAS PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAN PENARGETAN BERBASIS WILAYAH

EVALUASI DAERAH PRIORITAS PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAN PENARGETAN BERBASIS WILAYAH EVALUASI DAERAH PRIORITAS PENANGGULANGAN KEMISKINAN DAN PENARGETAN BERBASIS WILAYAH Rapat Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Penanganan Kemiskinan Provinsi Jawa Tengah Surakarta, 9 Februari 2016 Kemiskinan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI KABUPATEN/KOTA DAN KINERJA KEUANGAN DAERAH DI JAWA TENGAH PADA ERA OTONOMI

PERKEMBANGAN EKONOMI KABUPATEN/KOTA DAN KINERJA KEUANGAN DAERAH DI JAWA TENGAH PADA ERA OTONOMI Jurnal Bisnis dan Ekonomi (JBE), Maret 2014, Hal. 1 17 Vol. 21, No. 1 1 ISSN: 1412-3126 PERKEMBANGAN EKONOMI KABUPATEN/KOTA DAN KINERJA KEUANGAN DAERAH DI JAWA TENGAH PADA ERA OTONOMI Firmansyah Fakultas

Lebih terperinci

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA Jakarta, 30 AGUSTUS 2010 BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA I. Mekanisme Pembahasan Prediksi Iklim & Pemahaman Tiga Faktor Pengendali Curah Hujan di Wilayah Indonesia II. Prediksi; Indeks La Nina

Lebih terperinci

UPDATE HASIL MONITORING EL NINO DAN PRAKIRAAN CURAH HUJAN AGUSTUS DESEMBER 2015

UPDATE HASIL MONITORING EL NINO DAN PRAKIRAAN CURAH HUJAN AGUSTUS DESEMBER 2015 BMKG UPDATE HASIL MONITORING EL NINO DAN PRAKIRAAN CURAH HUJAN AGUSTUS DESEMBER 15 Status Perkembangan 18 Agustus 15 RINGKASAN, VERSI 18 AGUSTUS 15 Monitoring kolam hangat di Laut Pasifik menunjukkan konsistensi

Lebih terperinci

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2015

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2015 No.1/3307/BRS/11/2016 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2015 Pembangunan manusia di Wonosobo pada tahun 2015 terus mengalami kemajuan yang ditandai dengan terus meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia

Lebih terperinci

PRESS RELEASE PERKEMBANGAN MUSIM KEMARAU 2011

PRESS RELEASE PERKEMBANGAN MUSIM KEMARAU 2011 BMKG KEPALA BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA Dr. Sri Woro B. Harijono PRESS RELEASE PERKEMBANGAN MUSIM KEMARAU 2011 Kemayoran Jakarta, 27 Mei 2011 BMKG 2 BMKG 3 TIGA (3) FAKTOR PENGENDALI CURAH

Lebih terperinci

Keadaan Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Tengah April 2015

Keadaan Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Tengah April 2015 KATA PENGANTAR Sektor pertanian merupakan sektor yang vital dalam perekonomian Jawa Tengah. Sebagian masyarakat Jawa Tengah memiliki mata pencaharian di bidang pertanian. Peningkatan kualitas dan kuantitas

Lebih terperinci

ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER LAUT, ANALISIS & PREDIKSI CURAH HUJAN UPDATED DASARIAN II FEBRUARI 2017

ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER LAUT, ANALISIS & PREDIKSI CURAH HUJAN UPDATED DASARIAN II FEBRUARI 2017 1 BMKG ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER LAUT, ANALISIS & PREDIKSI CURAH HUJAN UPDATED DASARIAN II FEBRUARI 2017 BIDANG ANALISIS VARIABILITAS IKLIM BMKG OUTLINE Ø Analisis Angin dan OLR Ø Analisis dan Prediksi

Lebih terperinci

LITBANG KEMENTAN Jakarta, 8 Maret 2011

LITBANG KEMENTAN Jakarta, 8 Maret 2011 LITBANG KEMENTAN Jakarta, 8 Maret 2011 1 2 3 TIGA (3) FAKTOR PENGENDALI CURAH HUJAN WILAYAH INDONESIA A S I A KETERANGAN : 1 EL NINO / LA NINA Uap air 2 Uap air 1 2 3 SUHU PERAIRAN INDONESIA DIPOLE MODE

Lebih terperinci

ANALISIS HUJAN BULAN OKTOBER 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN DESEMBER 2011, JANUARI DAN FEBRUARI 2012 PROVINSI DKI JAKARTA 1.

ANALISIS HUJAN BULAN OKTOBER 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN DESEMBER 2011, JANUARI DAN FEBRUARI 2012 PROVINSI DKI JAKARTA 1. ANALISIS HUJAN BULAN OKTOBER 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN DESEMBER 2011, JANUARI DAN FEBRUARI 2012 PROVINSI DKI JAKARTA 1. TINJAUAN UMUM 1.1. Curah Hujan Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang

Lebih terperinci

Gambar 1 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Tengah,

Gambar 1 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Tengah, No.26/04/33/Th.XI, 17 April 2017 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM) TAHUN 2016 IPM Jawa Tengah Tahun 2016 Pembangunan manusia di Jawa Tengah pada tahun 2016 terus mengalami kemajuan yang ditandai dengan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. cepat, sementara beberapa daerah lain mengalami pertumbuhan yang lambat.

I. PENDAHULUAN. cepat, sementara beberapa daerah lain mengalami pertumbuhan yang lambat. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tolok ukur keberhasilan pembangunan dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan semakin kecilnya ketimpangan pendapatan antar penduduk, antar daerah dan antar sektor. Akan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran adalah sesuatu yang dilakukan oleh siswa, bukan dibuat untuk siswa. Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik

Lebih terperinci

ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER LAUT, ANALISIS & PREDIKSI CURAH HUJAN UPDATED DASARIAN I FEBRUARI 2017

ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER LAUT, ANALISIS & PREDIKSI CURAH HUJAN UPDATED DASARIAN I FEBRUARI 2017 1 BMKG ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER LAUT, ANALISIS & PREDIKSI CURAH HUJAN UPDATED DASARIAN I FEBRUARI 2017 BIDANG ANALISIS VARIABILITAS IKLIM BMKG OUTLINE Ø Analisis Angin dan OLR Ø Analisis dan Prediksi

Lebih terperinci

ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER LAUT. ANALISIS & PREDIKSI CURAH HUJAN UPDATE DASARIAN I MARET 2017

ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER LAUT. ANALISIS & PREDIKSI CURAH HUJAN UPDATE DASARIAN I MARET 2017 BMKG ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER LAUT. ANALISIS & PREDIKSI CURAH HUJAN UPDATE DASARIAN I MARET 2017 BIDANG ANALISIS VARIABILITAS IKLIM * 1 BMKG OUTLINE ΠAnalisis Angin dan OLR ΠAnalisis dan Prediksi SST

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. turun, ditambah lagi naiknya harga benih, pupuk, pestisida dan obat-obatan

BAB I PENDAHULUAN. turun, ditambah lagi naiknya harga benih, pupuk, pestisida dan obat-obatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pertanian merupakan salah satu basis perekonomian Indonesia. Jika mengingat bahwa Indonesia adalah negara agraris, maka pembangunan pertanian akan memberikan

Lebih terperinci

ANALISIS HUJAN BULAN JUNI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN AGUSTUS, SEPTEMBER DAN OKTOBER 2011 PROVINSI DKI JAKARTA

ANALISIS HUJAN BULAN JUNI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN AGUSTUS, SEPTEMBER DAN OKTOBER 2011 PROVINSI DKI JAKARTA ANALISIS HUJAN BULAN JUNI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN AGUSTUS, SEPTEMBER DAN OKTOBER 2011 PROVINSI DKI JAKARTA 1. TINJAUAN UMUM 1.1. Curah Hujan Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang jatuh

Lebih terperinci

ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER LAUT. ANALISIS & PREDIKSI CURAH HUJAN UPDATED DASARIAN I APRIL 2017

ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER LAUT. ANALISIS & PREDIKSI CURAH HUJAN UPDATED DASARIAN I APRIL 2017 BMKG ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER LAUT. ANALISIS & PREDIKSI CURAH HUJAN UPDATED DASARIAN I APRIL 2017 BIDANG ANALISIS VARIABILITAS IKLIM 1 BMKG OUTLINE Analisis dan Prediksi Angin, Monsun, Analisis OLR Analisis

Lebih terperinci

KEGIATAN PADA BIDANG REHABILITASI SOSIAL TAHUN 2017 DINAS SOSIAL PROVINSI JAWA TENGAH

KEGIATAN PADA BIDANG REHABILITASI SOSIAL TAHUN 2017 DINAS SOSIAL PROVINSI JAWA TENGAH KEGIATAN PADA BIDANG REHABILITASI SOSIAL TAHUN 2017 DINAS SOSIAL PROVINSI JAWA TENGAH No Program Anggaran Sub Sasaran Lokasi 1. Program Rp. 1.000.000.000 Pelayanan dan Sosial Kesejahteraan Sosial Penyandang

Lebih terperinci

Oleh Tim Agroklimatologi PPKS

Oleh Tim Agroklimatologi PPKS Kondisi Indian Oscillation Dipole (IOD), El Nino Southern Oscillation (ENSO), Curah Hujan di Indonesia, dan Pendugaan Kondisi Iklim 2016 (Update Desember 2015) Oleh Tim Agroklimatologi PPKS Disarikan dari

Lebih terperinci

ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER LAUT. ANALISIS & PREDIKSI CURAH HUJAN UPDATED DASARIAN III FEBRUARI 2017

ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER LAUT. ANALISIS & PREDIKSI CURAH HUJAN UPDATED DASARIAN III FEBRUARI 2017 1 BMKG ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER LAUT. ANALISIS & PREDIKSI CURAH HUJAN UPDATED DASARIAN III FEBRUARI 2017 BIDANG ANALISIS VARIABILITAS IKLIM BMKG OUTLINE Ø Analisis Angin dan OLR Ø Analisis dan Prediksi

Lebih terperinci

PROVINSI JAWA TENGAH. Data Agregat per K b t /K t

PROVINSI JAWA TENGAH. Data Agregat per K b t /K t PROVINSI JAWA TENGAH Data Agregat per K b t /K t PROVINSI JAWA TENGAH Penutup Penyelenggaraan Sensus Penduduk 2010 merupakan hajatan besar bangsa yang hasilnya sangat penting dalam rangka perencanaan pembangunan.

Lebih terperinci

ANALISIS HUJAN BULAN PEBRUARI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN APRIL, MEI DAN JUNI 2011 PROVINSI DKI JAKARTA

ANALISIS HUJAN BULAN PEBRUARI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN APRIL, MEI DAN JUNI 2011 PROVINSI DKI JAKARTA ANALISIS HUJAN BULAN PEBRUARI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN APRIL, MEI DAN JUNI 2011 PROVINSI DKI JAKARTA Sumber : BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG

Lebih terperinci

Prakiraan Musim Kemarau 2015 KATA PENGANTAR

Prakiraan Musim Kemarau 2015 KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Prakiraan Musim Kemarau 2015 Prakiraan Musim Kemarau 2015 Provinsi Kalimantan Selatan ini disusun berdasarkan hasil pantauan kondisi fisis atmosfer dan data curah hujan yang diterima dari

Lebih terperinci

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH No.31 /05/33/Th.VIII, 05 Mei 2014 KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH FEBRUARI 2014: TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA SEBESAR 5,45 PERSEN Jumlah angkatan kerja di Jawa Tengah Februari 2014 yang sebesar 17,72

Lebih terperinci

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH No. 66/11/33/Th.VI, 05 November 2012 KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH AGUSTUS 2012: TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA SEBESAR 5,63 PERSEN Jumlah angkatan kerja di Jawa Tengah Agustus 2012 mencapai 17,09

Lebih terperinci

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH

KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH No.69 /11/33/Th.VII, 06 November 2013 KEADAAN KETENAGAKERJAAN JAWA TENGAH AGUSTUS 2013: TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA SEBESAR 6,02 PERSEN Jumlah angkatan kerja di Jawa Tengah Agustus 2013 mencapai 16,99

Lebih terperinci

PROSPEK IKLIM DASARIAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Update: 01 Februari 2016

PROSPEK IKLIM DASARIAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Update: 01 Februari 2016 PROSPEK IKLIM DASARIAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Update: 01 Februari 2016 BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOSFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS I KEDIRI-MATARAM 2016 PROSPEK IKLIM DASARIAN FEBRUARI

Lebih terperinci

Buletin Edisi November Tahun 2016 KATA PENGANTAR

Buletin Edisi November Tahun 2016 KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Analisis Hujan Oktober 2016 dan Prakiraan Desember 2016 dan Januari, Februari 2017 juga memuat informasi hasil Analisis Tingkat Kekeringan tiga bulanan (Agustus Oktober 2016) dan Prakiraan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meningkat. Kemampuan yang meningkat ini disebabkan karena faktor-faktor. pembangunan suatu negara (Maharani dan Sri, 2014).

BAB I PENDAHULUAN. meningkat. Kemampuan yang meningkat ini disebabkan karena faktor-faktor. pembangunan suatu negara (Maharani dan Sri, 2014). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masalah pertumbuhan ekonomi dapat dipandang sebagai masalah makroekonomi jangka panjang. Dari satu periode ke periode berikutnya kemampuan suatu negara untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan kekhasan daerah

BAB I PENDAHULUAN. terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan kekhasan daerah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah pokok dalam pembangunan daerah adalah terletak pada penekanan terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan kekhasan daerah yang bersangkutan dengan

Lebih terperinci