JURNAL ILMIAH. PELAKSANAAN PENETAPAN KELAHIRAN ANAK BERUMUR DI ATAS 1 (SATU) TAHUN SECARA PRODEO (Studi di Pengadilan Negeri Mataram)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "JURNAL ILMIAH. PELAKSANAAN PENETAPAN KELAHIRAN ANAK BERUMUR DI ATAS 1 (SATU) TAHUN SECARA PRODEO (Studi di Pengadilan Negeri Mataram)"

Transkripsi

1 JURNAL ILMIAH PELAKSANAAN PENETAPAN KELAHIRAN ANAK BERUMUR DI ATAS 1 (SATU) TAHUN SECARA PRODEO (Studi di Pengadilan Negeri Mataram) Oleh : KADEK AGUS ARI WIJAYANA D1A FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM MATARAM 2013

2 Halaman Pengesahan Jurnal Ilmiah PELAKSANAAN PENETAPAN KELAHIRAN ANAK BERUMUR DI ATAS 1 (SATU) TAHUN SECARA PRODEO (Studi di Pengadilan Negeri Mataram) Oleh : KADEK AGUS ARI WIJAYANA D1A Menyetujui, Mataram, 04 Maret 2013 Pembimbing Utama, Muhammad Umar,SH.,MH NIP

3 PELAKSANAAN PENETAPAN KELAHIRAN ANAK BERUMUR DI ATAS 1 (SATU) TAHUN SECARA PRODEO (Studi di Pengadilan Negeri Mataram) Kadek Agus Ari Wijayana D1A ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme permohonan penetapan kelahiran anak berumur di atas 1 (satu) tahun secara prodeo. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian normatif empiris dengan pendekatan peraturan perundang-undangan, konseptual dan kasus. Penelitian menyatakan bahwa apabila seseorang yang akan mengajukan permohonan secara prodeo harus memenuhi syarat yang telah di tetapkan seperti melampirkan surat keterangan tidak mampu pada surat permohonan yang akan di ajukan. Simpulannya adalah mekanisme permohonan penetapan kelahiran anak berumur di atas 1 (satu) tahun secara prodeo harus melalui tahapan -tahapan tertentu dengan memenuhi syarat-syarat yang telah di tentukan. Pasal 64 Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 Tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil. Kata Kunci: Penetapan, Kelahiran Anak, Prodeo IMPLEMENTATION DETERMINATION OF BIRTH CHILDREN AGED ABOVE 1 (ONE) YEAR IN FREE ABSTRACT This study aims to analyze the mechanism of determining application of child birth over the age of 1 (one) year in free. This research uses normative empiric research with statute approach, conceptual and case approach. Research explain that someone who will apply for in free should qualify that have been defined as not able to attach a letter to the petition that will be submitted. Conclusion is the mechanism for determining application of child birth over the age of 1 (one) year in without cost to go through certain steps to meet the requirements that have been set. Pasal 64 of Presidential Decree No. 25 Year 2008 on Terms and Procedures for Population and Civil Registration.

4 Keyword: Determination, Birth of Child, Free PENDAHULUAN Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang paling sempurna diantara ciptaan-nya. Manusia dikatakan makhluk yang paling sempurna, karena manusia berbeda dengan makhluk ciptaan lainnya. Dalam kehidupan seharihari, manusia senantiasa berhubungan dengan manusia yang lainnya melalui polapola tertentu. Pola hubungan tersebut disebut dengan interaksi sosial yang merupakan hubungan antara pribadi dengan pribadi, pribadi dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Manusia mengadakan hubungan dengan sesamanya karena adanya kebutuhan antara satu dengan yang lainnya. Salah satu di antara banyak hubungan yang terjadi antara manusia dengan manusia adalah perkawinan. Menurut Pasal 1 ayat 2 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menentukan bahwa: Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Salah satu dari tujuan perkawinan adalah memiliki anak untuk meneruskan keturunan. Anak hasil dari perkawinan tersebut harus dijaga dan dirawat agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, karena itu sudah menjadi tanggung jawab

5 setiap orang tua terhadap anaknya dalam mencapai kesejahteraan anak. Setiap anak yang dilahirkan sudah menjadi kewajiban orang tua untuk melaporkannya kepada instansi pelaksana di tempat terjadinya peristiwa kelahiran. Hal tersebut sesuai dengan bunyi Pasal 27 Ayat (1) Undang -undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan. Namun sesuai faktanya masih banyak anak yang hingga umurnya melebihi satu tahun belum di catatkan kelahirannya. Berdasarkan bunyi Pasal 32 Ayat (2) Undang -undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan yang menyatakan bahwa Pencatatan kelahiran yang melampaui batas 1 (satu) tahun sebagaimana dimaksud pada Pas al 32 Ayat (1), dilaksanakan berdasarkan Penetapan Pengadilan Negeri. Berdasarkan uraian latar belakang yang telah penulis paparkan di atas, maka penulis merumuskan masalah untuk diteliti adalah sebagai berikut: 1) Bagaimana mekanisme permohonan penetapan kelahiran anak berumur di atas 1 (satu) tahun secara prodeo di Pengadilan Negeri Mataram?; 2) Apakah sebabnya masyarakat tidak mencatat kelahiran anaknya di Kantor Catatan Sipil sebelum berumur 1 (satu) tahun?; 3) Apakah sebab dan hambatan yang ada dalam proses permohonan penetapan kelahiran anak umur di atas 1 (satu) tahun secara prodeo di Pengadilan Negeri Mataram dan bagaimana solusi penyelesaiannya? Tujuan dan manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui Untuk mengetahui mekanisme permohonan penetapan kelahiran anak berumur di atas 1 (satu) tahun secara prodeo di Pengadilan Negeri Mataram, untuk

6 mengetahui penyebab masyarakat tidak mencatat kelahiran anaknya di Kantor Catatan sipil sebelum berumur 1 (satu) tahun. Dan untuk mengetahui penyebab dan hambatan dalam proses permohonan penetapan kelahiran anak umur di atas 1 (satu) tahun secara prodeo di Pengadilan Negeri Mataram dan bagaimana solusi penyelesaiannya; 2) Adapun manfaat dari dilakukannya penelitian ini antara lain: Manfaat secara akademis untuk memenuhi persyaratan dalam mencapai derajat S-1 Program Studi Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Mataram. Manfaat secara teoritis diharapkan dapat dijadikan referensi ilmiah bagi kalangan akademik dalam menunjang proses belajar mengajar dalam upaya pengembangan ilmu hukum pada umumnya dan pada khususnya. Manfaat secara praktis diharapkan agar dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat khususnya orang tua anak agar mendaftarkan setiap kelahiran anknya pada instansi yang berwenang untuk mengeluarkannya. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian normatif empiris dengan pendekatan yang digunakan yaitu Pendekatan peraturan perundang-undangan (statute approach), Pendekatan konseptual ( conceptual approach) dan Pendekatan kasus (case approach). Sumber dan Jenis Data yang digunakan adalah data kepustakaan yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder, dan tersier serta data lapangan yang terdiri dari data primer dan data sekunder. Tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumen dan wawancara. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan analisis deskriptif.

7 PEMBAHASAN A. Mekanisme Permohonan Penetapan Kelahiran Anak Berumur di Atas 1 (satu) Tahun Secara Prodeo. Tujuan dari perkawinan adalah untuk memperoleh keturunan atau sering disebut dengan anak. Anak merupakan anugrah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada setiap orang tua, dimana anak tersebut wajib dijaga dan dirawat agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. 1 Setiap anak yang dilahirkan sejak dalam kandungan telah melekat hak dan kewajiban anak tersebut. Salah satu hak anak terdapat dalam Pasal 5 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan anak berbunyi Setiap anak berhak atas nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan. Identitas anak di dapatkan setelah anak tersebut dicatatkan kelahirannya oleh orang tua anak tersebut. Pelaporan peristiwa kelahiran tersebut dilakukan paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak terjadinya peristiwa kelahiran hal ini di atur dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan. Namun sesuai faktanya banyak orang tua anak tidak melaporkan kejadian atau peristiwa kelahiran anaknya dalam jangka waktu yang di tetapkan yaitu 60 (enam puluh) hari sejak anak tersebut dilahirkan bahkan hingga anak tersebut berumur lebih dari satu tahun. Hal ini disebabkan karena orang tua anak lalai menjalankan 1 perihal-syarat-syarat Perkawinan Menurut Ahli Hukum. K. Wantijk Saleh. Rabu ( 10 - Oktober- 2012).

8 kewajibannya dan terkait dengan biaya yang di keluarkan untuk membuat akta kelahiran tersebut terutama bagi golongan masyarakat miskin. Biasanya orang tua anak membuatkan akta kelahiran anaknya hanya jika diperlukan saja seperti jika anak tersebut ingin bersekolah. Berdasarkan Pasal 32 Ayat (2) Undang -undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan menetapkan bahwa Pencatatan kelahiran yang melampaui batas waktu hingga satu tahun, dilaksanakan berdasarkan penetapan pengadilan negeri. Dengan dikeluarkannya penetapan ini maka biaya yang dikeluarkan untuk dapat memperoleh akta kelahiran anak membutuhkan biaya yang lebih banyak karena harus melalui persidangan di Pengadilan Negeri. Hal ini tambah menyulitkan bagi golongan masyarakat miskin. Dalam berperkara di Pengadilan Negeri bagi golongan masyarakat tidak mampu atau miskin akan di berikan bantuan hukum. Berdasarkan Pasal 1 Ayat (1) Undang-undang Nomor 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum yang dimaksud dengan bantuan hukum adalah Jasa hukum yang diberikan oleh pemberi bantuan hukum secara cuma-cuma kepada penerima bantuan hukum. Sedangkan yang dimaksud dengan pemberi bantuan hukum adalah lembaga bantuan hukum atau organisasi kemasyarakatan yang memberi layanan bantuan hukum berdasarkan peraturan Perundang-undangan. Hal ini sesuai dengan bunyi Pasal 2 Undangundang Nomor 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum. Adapun syarat-syarat pemberi bantuan hukum sesuai dengan Pasal 8 Undang-undang Nomor 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum yaitu:

9 1. Berbadan hukum 2. Terakreditasi berdasarkan peraturan Perundang-undangan 3. Memiliki kantor atau secretariat yang tetap 4. Memiliki pengurus 5. Memiliki program bantuan hukum. Oleh karena itu untuk golongan masyarakat miskin tidak perlu cemas apabila akan berperkara di Pengadilan Negeri. Karena akan mendapatkan bantuan hukum sesuai dengan kebutuhannya. Dalam hal ini penulis telah melakukan penelitian di lapangan tentang bagaimana mekasnisme permohonan penetapan kelahiran anak berumur di atas 1 (satu) tahun di pengadilan negeri secara prodeo. Adapun tahapantahapannya sebagai berikut : 2 1. Pemohon datang ke pengadilan negeri dan menemui bagian pendaftaran perkara. 2. Pemohon mengajukan surat permohonan penetapan akta kelahiran secara prodeo, dalam surat permohon melampirkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), Surat Keterangan Lahir, Buku Nikah, dan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang disertakan dengan materai tempel seharga Rp yang ditujukan kepada Ketua pengadilan negeri. Desember Wawancara dengan Panitera Pengganti di Pengadilan Negeri Mataram, Tanggal, 13

10 3. Setelah berkas perkara diterima oleh Ketua Pengadilan Negeri, maka Ketua Pengadilan Negeri menunjuk Hakim dan Panitera untuk menangani perkara tersebut. 4. Hakim menentukan hari persidangan perkara yang diajukan oleh pemohon. 5. Majelis Hakim memerintahkan kepada Kuasa Pengguna Anggaran (Pansek) agar mengeluarkan biaya pemanggilan pemohon, selanjutnya pula yang diikuti Kuasa Pengguna Anggaran mengeluarkan perintah kepada bendara pengeluaran. 6. Majelis hakim menunjuk jurusita untuk memanggil pihak yang mengajukan permohonan secara prodeo. Dalam pemanggilan ini jurusita juga bertugas untuk melihat kondisi ekonomi pemohon atau melaporkan kondisi kehidupan pemohon apakah benar pemohon layak atau tidak untuk berperkara secara prodeo. 7. Petugas buku induk perkara, petugas/pemegang buku jurnal keuangan perkara, dan petugas atau pemegang buku kas pembantu mencatat penerimaan tersebut di buku mereka sabagai panjar pertama. Pada hari sidang yang telah di tentukan, Majelis Hakim Memeriksa pokok perkara, terlebih dahulu memeriksa pemohon yang beracara secara cuma-cuma di dalam persidangan. 8. Apabila pemohon beracara secara prodeo terbukti dan permohonan di kabulkan maka Majelis Hakim menjatuhkan putusan sela yang dimuat secara lengkap pada Berita Acara Persidangan (BAP).

11 9. Setelah di jatuhkannya putusan sela oleh Majelis Hakim maka Panitera melapor kebagian Perdata dan melaporkan bahwa permohonan dikabulkan. 10. Salinan amar putusan sela tersebut diserahkan Majelis Hakim kepada Kuasa Pengguna Anggaran (pansek) guna pembayaran perkara oleh Negara. 11. Pansek menyerahkan salinan amar putusan sela kepada bendahara rutin dengan perintah agar mengeluarkan sejumlah biaya yang telah di tetapkan yang telah dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk panggilan pertama. 12. keuangan perkara, dan petugas atau pemegang buku kas pembantu mencatat penerimaan tersebut di buku mereka sabagai panjar kedua. 13. Setelah dikeluarkannya putusan sela Majelis Hakim memerintahkan Panitera muda perdata untuk mendaftarkan permohonan tersebut di bagian perdata. 14. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan saksi atau pembuktian surat. Dalam kaitannya dengan pemeriksaan saksi, orang yang dijadikan saksi dalam persidangan penetapan akta kelahiran ini adalah orang-orang yang benar mengetahui anak dari pemohon dilahirkan, kapan dan dimana pemohon melangsungkan pernikahan dan mengetahui benar-benar kondisi kehidupan pemohon. 15. Setelah putusan akhir dibacakan, apabila biaya perkara kurang Majelis Hakim dapat memerintahkan kepada Kuasa pengguna Anggaran (pansek) untuk mengeluarkan biaya perkara tambahan yang diperlukan. 16. Apabila ada kelebihan biaya perkara kasir wajib mengembalikannya kepada kas Negara.

12 17. Seluruh biaya perkara yg tercantum dalam pengadilan harus sama dengan biaya yang dikeluarkan Negara melalui DIPA Pengadilan Negeri. 18. Setelah semua tahan dilewati maka diterbikannya Penetapan kelahiran anak yang pemohon ajukan. B. Penyebab Masyarakat Tidak Mencatat Kelahiran Anaknya di Kantor Catatan Sipil Sebelum Berumur Satu Tahun Setiap orang tidak akan pernah lepas dari suatu identitas, karena identitas selalu melekat pada diri setiap orang baik waktu mereka masih hidup ataupun sudah meninggal. Berdasarkan bunyi Pasal 53 ayat (2) Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia di nyatakan Setiap anak yang dilahirkan berhak atas suatu nama dan kewarganegaraan. Pemberian nama dari anak yang dilahirkan sudah menjadi kewajiban orang tua ataupun keluarganya, seperti yang terdapat dalam bunyi Pasal 9 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak yaitu Orang tua adalah yang pertama-tama bertanggung jawab atas kesejahteraan anak, baik jasmani, rohani, maupun sosial. Hak anak yang pertama sejak di lahirkan adalah identitas yang meliputi nama, silsilah keturunan, dan kewarganegaraan yang di tuangkan dalam bentuk akta kelahiran. Akta kelahiran ini akan menentukan pengakuan, pemenuhan, dan perlindungan anak lainnya, seperti hak keperdataan ( waris, hibah, nafkah ). Akta kelahiran anak ini di atur dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang

13 Administrasi Kependudukan. Namun faktanya dalam kehidupan sehari-hari masi banyak anak yang belum memiliki akta kelahiran atau belum tercatat kelahirannya bahkan anak tersebut sudah berumur di atas satu tahun. Hal ini biasanya di alami oleh masyarakat yang tidak mampu atau masyarakat pedesaan. Dalam hal ini penulis telah melakukan penelitian untuk mengetahui penyebab masyarakat tidak mencatatkan kelahiran anaknya di kantor catatan sipil sebelum berumur satu tahun. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyebab orang tua tidak mencatatkan kelahiran anaknya sebelum berumur satu tahun adalah sebagai berikut: 1. kelalailan orang tua Lalainya orang tua ini biasa dialami warga pedesaan yang menyepelekan akta kelahiran anaknya, salah satu contohnya adalah apabila orang tua anak tersebut berprofesi sebagai petani, yang berfikiran bahwa anaknya akan melanjutkan profesinya sebagai pentani saja agar ada yang menggarap tanah pertaniannya hal ini biasa orang tua anak tersebut tidak memiliki wawasan yang luas dan kurangnya mendapat pendidikan. 2. Keadaan tak hadir orang tua Keadaan tak hadir orang tua ini biasanya di karenakan orang tua anak yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, orang tua anak dalam penjara atau orang

14 tua anak meniggal dunia yang menyebabkan anak tidak memiliki akta kelahiran. 3. Biaya Ketidak mampuan orang tua untuk membayar ongkos dalam pembuatan akta kelahiran terhadap anaknya. Hal ini biasa di alami oleh masyarakat yang tidak berpenghasilan atau masyarakat miskin. Sehingga orang tua beranggapan untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga sehari-hari aja belum bisa tentu terpenuhi 4. Jarak tempuh Jarak antara tempat tinggal orang tua dengan kantor catatan sipil yang jauh. Maksudnya dalam membuat akta kelahiran anak memakan waktu yang lama sehingga banyak waktu yang terbuang atau sulit untuk mencari kendaraan yang akan di tumpangi oleh orang tua anak karena tidak memiliki alat transportasi. Hal ini biasanya di alami warga masyarakat yang berdomisi di tempat-tempat plosok. 5. Masih rendahnya pemikiran orang tua tentang kegunaan dari akta kelahiran Kurangnnya pemikiran orang tua tentang kegunaan dari akta kelahiran ini disebabkan karena kurangnya fasilitas pendidikan didaerah tempat tinggal mereaka.

15 C. Apakah Hambatan dan Penyebab Dalam Proses Permohonan Penetapan Kelahiran Anak Berumur di Atas 1 (satu) Tahun Secara Prodeo di Pengadilan Negeri dan Bagaimana Solusi Penyelesaiannya. Berdasarkan ketentuan Perundang-undangan pencatatan kelahiran anak yang melampaui satu tahun dilaksanakan berdasarkan penetapan Pengadilan Negeri yakni bunyi Pasal 32 Ayat (2) Undang -undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan. Dalam memperoleh penetapan Pengadilan Negeri terdapat beberapa hambatan dan penyebabnya bagi orang-orang tertentu antara lain : 3 1. Apabila pemohon yang akan mengajukan permohonan tidak bisa baca dan tulis yang mengakibatkan pemohon tidak bisa membuat surat permohonan. Dalam hal menangani orang-orang berperkara di pengadilan yang mengalami buta aksara atau tidak bisa baca tulis pemohon dapat meminta bantuan pada pos bantuan hukum (Posbakum) atau petugas yang berwenang di pengadilan negeri. Yang dimaksud dengan Posbakum adalah ruang yang di sediakan oleh dan pada setiap Pengadilan Negeri bagi Advokat piket dalam memberikan layanan bantuan hukum kepada pemohon bantuan hukum untuk pengisian formulir permohonan bantuan hukum, bantuan pembuatan dokumen hukum, advis atau konsultasi hukum, memberikan rujukan lebih lanjut tentang pembebasan biaya. Dalam halnya pemohon buta baca dan tulis maka pengajuan permohonan Desember Wawancara dengan Panitera Muda Perdata di Pengadilan Negeri Mataram, Tanggal 12

16 tersebut di ajukan secara lisan oleh pemohon kepada petugas yang berwenang untuk itu. Hal ini sesuai dengan bunyi Pasal 14 Ayat (2) Undang-undang Nomor 16 Tahun 2011 Tentang bantuan Hukum. 2. Kurangnya kepemilikan kelengkapan atau syarat yang di butuhkan dalam mengajukan permohonan kelahiran anak berumur di atas 1 (satu) tahun secara prodeo oleh si pemohon. Dimana syarat-syarat yang harus di lengkapi antara lain: a. Foto copy KTP pemohon 1 rangkap; b. Foto copy kartu keluarga pemohon 1 rangkap; c. Foto copy kartu nikah atau akte perkawinan pemohon 1 rangkap d. Foto copy surat keterangan kelahiran anak 1 rangkap; e. Foto copy surat keterangan tidak mampu 1 rangkap. Tidak adanya kelengkapan dari persyaratan yang telah di tentukan tersebut biasanya di karenakan karena pemohon malas membuatnya atau menghilangkannya. Dalam hal ketidak lengkapan persyaratan untuk mengajukan permohonan penetapan akta kelahiran anak berumur di atas 1 (satu) tahun secara prodeo, para pihak atau pemohon harus melengkapinya terlebih dahulu dimana tempat pelaksanaan untuk membuat dari syarat-syarat tersebut.

17 PENUTUP A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, maka penulis menarik simpulan sebagai berikut: 1) seseorang yang akan beracara secara prodeo di pengadilan negeri harus melewati tahapan-tahan yaitu dari tahap pengajuan permohonan yang disertai syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk beracara secara prodeo sampai dengan diterbitkannya penetapan oleh pengadilan negeri. Apabila pemohon mengajukan permohonan secara prodeo tetapi Majelis Hakim memutuskan bahwa pemohon tidak layak untuk berperkara secara prodeo maka pemohon wajib membayar seluruh biaya yang di keluarkan dalam perkara yang diajukan. Dan apabila permohonan berperkara secara prodeo dikabulkan maka seluruh biaya perkara selama persidangan di tanggung oleh Negara; 2) Penyebab masyarakat tidak mendaftarkan kelahiran anaknya di Kantor Catatan Sipil sebelum berumur satu tahun adalah karena lalainya orang tua terhadap kewajibannya terhadap anak, keadaan tak hadir orang tua seperti orang tua anak meninggal dunia atau kedua orang tua anak berada di penjara, biaya yang di keluarkan dalam pembuatan akta kelahiran, serta jarak yang di tempuh masyarakat dari tempat tinggalnya dengan kantor catatan sipil dan masih kurangnya pemahaman orang tua terhadap kegunaan akta kelahiran anak yang disebabkan karena orang tua anak kurang memperoleh pendidikan; 3) Hambatan dalam memperoleh penetapan akta kelahiran anak berumur di atas 1 (satu) tahun secara prodeo dan upaya

18 penyelesaiannya, terjadinya suatu hambatan dikarenakan kesalahannya sendiri seperti menghilangkan buku nikah, tidak adanya kepemilikan surat keterangan kelahiran yang menyebabkan pemohon harus membuatnya persyaratan tersebut terlebih dahulu. Sedangkan untuk pemohon yang mengalami buta aksara atau tidak bisa baca dan tulis pengadilan telah menyediakan pos pelayanan hukum yang mana pengajuan permohonan dilakukan secara lisan. B. Saran Berkaitan dengan permasalahan di atas, maka penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut: 1) Dalam halnya berperkara secara gratis atau cuma-cuma (prodeo) pemerintah setempat harus lebih banyak lagi mengadakan penyuluhanpenyuluhan atau pemberitahuan terutama pada daerah-daerah yang pendidikannya masi kurang dan banyak terdapat masyarakat miskin agar mereka mengetahui bahwa berperkara di pengadilan dapat dilakukan dengan gratis atau semua biaya di tanggung oleh Negara; 2) Menurut penulis orang tua dari setiap anak harus memperhatikan kewajibannya terhadap anaknya terutama dalam hal pendaftaran kelahiran anaknya, karena sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mendaftarkan setiap kelahiran anaknya kepada petugas yang berwenang. Selain itu akta kelahiran anak juga memiliki banyak kegunaan demi tumbuh kembang anak; 3)Mengenai hambatan-hambatan yang dialami oleh pemohon dalam memperoleh penetapan menurut saya orang tua anak atau pemohon harus lebih memperhatikan syarat-syarat yang harus di penuhi dalam berperkara secara gratis di pengadilan

19 seperti surat keterangan kelahiran, buku nikah, kartu keluarga agar menjaganya dengan baik karena sewaktu waktu akan di butuhkan.

20 DAFTAR PUSTAKA A. Website perihal-syarat-syarat Perkawinan Menurut Ahli Hukum. K. Wantijk Saleh. Rabu ( 10 - October- 2012). B. Peraturan Perundang-undangan Indonesia, Undang-undang Tentang Perkawinan. UU No. 1 Tahun LN No. 1 Tahun 1974 TLN No Indonesia, Undang-undang Tentang Kesejahteraan Anak. UU No. 4 Tahun LN No. 32 Tahun 1979 TLN No Indonesia, Undang-undang Tentang Perlindungan Anak. UU No. 23 Tahun LN No. 109 Tahun 2002 Indonesia, Undang-undang Tentang Administrasi Kependudukan. UU No. 23 Tahun LN 124 Tahun 2006 Indonesia, Undang-Undang Tentang Bantuan Hukum. UU No. 16 Tahun TLN No Indonesia, Surat Edaran Tentang Pedoman Pemberian Bantuan Hukum.

21 SEMA No. 10 Tahun 2010 Indonesia, Surat Edaran Tentang Pedoman Penetapan Pencatatan Kelahiran Yang Melampaui Batas Waktu Satu Tahun Secara Kolektif. SEMA No. 6 Tahun 2012 Kitab Undang-undang Hukum Perdata

JURNAL ILMIAH PROSES PELAKSANAAN PENETAPAN PENGADILAN TERHADAP PERMOHONAN AKTA KELAHIRAN ANAK LUAR KAWIN. ( Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Mataram )

JURNAL ILMIAH PROSES PELAKSANAAN PENETAPAN PENGADILAN TERHADAP PERMOHONAN AKTA KELAHIRAN ANAK LUAR KAWIN. ( Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Mataram ) i JURNAL ILMIAH PROSES PELAKSANAAN PENETAPAN PENGADILAN TERHADAP PERMOHONAN AKTA KELAHIRAN ANAK LUAR KAWIN ( Studi Kasus Di Pengadilan Negeri Mataram ) Oleh : L I S M A Y A D I D1A 009 211 FAKULTAS HUKUM

Lebih terperinci

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BADAN PERADILAN UMUM

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BADAN PERADILAN UMUM Perbaikan Tgl. 28-02-2012 MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BADAN PERADILAN UMUM KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BADAN PERADILAN UMUM NOMOR : 1/DJU/OT.01.03/I/2012 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN

Lebih terperinci

BERITA NEGARA. No.649,2014 KEMENKUMHAM. Paspor Biasa. Surat Perjalanan. Laksana Paspor PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

BERITA NEGARA. No.649,2014 KEMENKUMHAM. Paspor Biasa. Surat Perjalanan. Laksana Paspor PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.649,2014 KEMENKUMHAM. Paspor Biasa. Surat Perjalanan. Laksana Paspor PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PASPOR

Lebih terperinci

PEMBATALAN HAK ATAS TANAH BERDASARKAN PUTUSAN PENGADILAN MENURUT PERATURAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2011

PEMBATALAN HAK ATAS TANAH BERDASARKAN PUTUSAN PENGADILAN MENURUT PERATURAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2011 i PEMBATALAN HAK ATAS TANAH BERDASARKAN PUTUSAN PENGADILAN MENURUT PERATURAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2011 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Memperoleh

Lebih terperinci

Studi tentang pertimbangan hakim Dalam menjatuhkan penetapan permohonan Perkawinan beda agama (studi kasus di pengadilan negeri surakarta)

Studi tentang pertimbangan hakim Dalam menjatuhkan penetapan permohonan Perkawinan beda agama (studi kasus di pengadilan negeri surakarta) Studi tentang pertimbangan hakim Dalam menjatuhkan penetapan permohonan Perkawinan beda agama (studi kasus di pengadilan negeri surakarta) Penulisan Hukum (Skripsi) Disusun dan Diajukan untuk Melengkapi

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK

PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, KOMISI INFORMASI Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)PEDOMAN PEMBERIAN LAYANAN HUKUM BAGI MASYARAKAT TIDAK MAMPU DI PENGADILAN

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)PEDOMAN PEMBERIAN LAYANAN HUKUM BAGI MASYARAKAT TIDAK MAMPU DI PENGADILAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)PEDOMAN PEMBERIAN LAYANAN HUKUM BAGI MASYARAKAT TIDAK MAMPU DI PENGADILAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BADAN PERADILAN MILITER DAN PERADILAN TATA

Lebih terperinci

TANGGUNG JAWAB WALI TERHADAP ANAK YANG BERADA DI BAWAH PERWALIANNYA (SUATU PENELITIAN DI KOTA BANDA ACEH)

TANGGUNG JAWAB WALI TERHADAP ANAK YANG BERADA DI BAWAH PERWALIANNYA (SUATU PENELITIAN DI KOTA BANDA ACEH) 60 TANGGUNG JAWAB WALI TERHADAP ANAK YANG BERADA DI BAWAH PERWALIANNYA (SUATU PENELITIAN DI KOTA BANDA ACEH) Zahratul Idami Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala E-mail: idami_isa@yahoo.com Abstract The

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PENCATATAN PERKAWINAN BEDA AGAMA YANG MENDAPAT PENETAPAN PENGADILAN NEGERI DI KABUPATEN WONOGIRI

PELAKSANAAN PENCATATAN PERKAWINAN BEDA AGAMA YANG MENDAPAT PENETAPAN PENGADILAN NEGERI DI KABUPATEN WONOGIRI PELAKSANAAN PENCATATAN PERKAWINAN BEDA AGAMA YANG MENDAPAT PENETAPAN PENGADILAN NEGERI DI KABUPATEN WONOGIRI Penulisan Hukum (Skripsi) Disusun dan diajukan untuk Melengkapi Persyaratan Guna Meraih Derajat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.09/MEN/2011 TENTANG TUGAS BELAJAR BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1995 TENTANG KOMISI BANDING MEREK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1995 TENTANG KOMISI BANDING MEREK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1995 TENTANG KOMISI BANDING MEREK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 35 Undang-undang Nomor 19 Tahun

Lebih terperinci

JURNAL ILMIAH. Oleh : NI WAYAN MEGA JAYANTARI D1A 007 204 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM MATARAM 2013

JURNAL ILMIAH. Oleh : NI WAYAN MEGA JAYANTARI D1A 007 204 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM MATARAM 2013 1 JURNAL ILMIAH PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEKERJA PEREMPUAN PADA MALAM HARI DI MINIMARKET ALFAMART MATARAM (Studi Berdasarkan Undang-Undang No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan) Oleh : NI WAYAN MEGA

Lebih terperinci

PENDAFTARAN HAK PAKAI ATAS TANAH

PENDAFTARAN HAK PAKAI ATAS TANAH PENDAFTARAN HAK PAKAI ATAS TANAH Fakultas Hukum Universitas Kutai Kartanegara angka_andi@yahoo.co.id Abstract Land for the community is the property that has a high value because of its function as a source

Lebih terperinci

PENELITIAN HUKUM TENTANG TANGGUNG JAWAB NEGARA DAN ADVOKAT DALAM MEMBERIKAN BANTUAN HUKUM KEPADA MASYARAKAT. Tim di bawah Pimpinan : MOSGAN SITUMORANG

PENELITIAN HUKUM TENTANG TANGGUNG JAWAB NEGARA DAN ADVOKAT DALAM MEMBERIKAN BANTUAN HUKUM KEPADA MASYARAKAT. Tim di bawah Pimpinan : MOSGAN SITUMORANG PENELITIAN HUKUM TENTANG TANGGUNG JAWAB NEGARA DAN ADVOKAT DALAM MEMBERIKAN BANTUAN HUKUM KEPADA MASYARAKAT Tim di bawah Pimpinan : MOSGAN SITUMORANG BADAN PEMBINAAN HUKUM NASIONAL KEMENTERIAN HUKUM DAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa setiap orang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 1999 TENTANG HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 1999 TENTANG HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 1999 TENTANG HAK ASASI MANUSIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a b c d e bahwa manusia, sebagai makhluk ciptaan

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI PP NOMOR 10 TAHUN 1983 jo PP NOMOR 45 TAHUN 1990 TENTANG IZIN PERCERAIAN BAGI PNS DI PENGADILAN AGAMA SALATIGA TAHUN 2010 SKRIPSI

IMPLEMENTASI PP NOMOR 10 TAHUN 1983 jo PP NOMOR 45 TAHUN 1990 TENTANG IZIN PERCERAIAN BAGI PNS DI PENGADILAN AGAMA SALATIGA TAHUN 2010 SKRIPSI IMPLEMENTASI PP NOMOR 10 TAHUN 1983 jo PP NOMOR 45 TAHUN 1990 TENTANG IZIN PERCERAIAN BAGI PNS DI PENGADILAN AGAMA SALATIGA TAHUN 2010 SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Islam Oleh SITI

Lebih terperinci

IMPLIKASI ASAS SEDERHANA, CEPAT, DAN BIAYA RINGAN DALAM HUBUNGANNYA DENGAN GUGATAN PERCERAIAN DI PENGADILAN AGAMA MAKASSAR

IMPLIKASI ASAS SEDERHANA, CEPAT, DAN BIAYA RINGAN DALAM HUBUNGANNYA DENGAN GUGATAN PERCERAIAN DI PENGADILAN AGAMA MAKASSAR SKRIPSI IMPLIKASI ASAS SEDERHANA, CEPAT, DAN BIAYA RINGAN DALAM HUBUNGANNYA DENGAN GUGATAN PERCERAIAN DI PENGADILAN AGAMA MAKASSAR OLEH: ANDI AFRIANTY B 111 09 009 BAGIAN HUKUM MASYARAKAT DAN PEMBANGUNAN

Lebih terperinci

TANGGUNG JAWAB PEMELIHARAAN ANAK ANGKAT SETELAH PUTUSNYA PERKAWINAN ORANG TUA ANGKAT

TANGGUNG JAWAB PEMELIHARAAN ANAK ANGKAT SETELAH PUTUSNYA PERKAWINAN ORANG TUA ANGKAT TANGGUNG JAWAB PEMELIHARAAN ANAK ANGKAT SETELAH PUTUSNYA PERKAWINAN ORANG TUA ANGKAT ( Suatu Studi Kasus Putusan Pengadilan Agama Jakarta Barat Nomor: 23/Pdt.G/2011/PA.JB) IBNU HIBAN DIA010140 FH Unram

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PEMBERIAN TUGAS BELAJAR BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pria dan wanita diciptakan oleh Tuhan untuk hidup berpasang-pasangan

BAB I PENDAHULUAN. Pria dan wanita diciptakan oleh Tuhan untuk hidup berpasang-pasangan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Pria dan wanita diciptakan oleh Tuhan untuk hidup berpasang-pasangan sehingga dapat memperoleh keturunan. Proses tersebut ditempuh melalui suatu lembaga

Lebih terperinci

STANDARD OPERATION PROCEDURE (S.O.P) DI JAJARAN PENGADILAN TINGGI DAN PENGADILAN NEGERI SE-KALIMANTAN TENGAH

STANDARD OPERATION PROCEDURE (S.O.P) DI JAJARAN PENGADILAN TINGGI DAN PENGADILAN NEGERI SE-KALIMANTAN TENGAH STANDARD OPERATION PROCEDURE (S.O.P) DI JAJARAN PENGADILAN TINGGI DAN PENGADILAN NEGERI SEKALIMANTAN TENGAH I. PENDAHULUAN Dalam Visi Mahkamah Agung Republik Indonesia yang dituangkan dalam Blue Print

Lebih terperinci

: ADE RESTYA HELDA SH NIM. B4 B00

: ADE RESTYA HELDA SH NIM. B4 B00 PERAN DAN TANGGUNG JAWAB PEJABAT PEMBUAT AKTA TANAH DALAM RANGKA KEGIATAN PENDAFTARAN TANAH BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 24 TAHUN 1997 (STUDI PADA WILAYAH KERJA KOTA JAMBI) Tesis Untuk memenuhi

Lebih terperinci

PERADILAN TATA USAHA NEGARA Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 Tanggal 29 Desember 1986 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia,

PERADILAN TATA USAHA NEGARA Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 Tanggal 29 Desember 1986 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia, PERADILAN TATA USAHA NEGARA Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 Tanggal 29 Desember 1986 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia sebagai

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10/Permentan/OT.140/3/2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10/Permentan/OT.140/3/2015 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10/Permentan/OT.140/3/2015 TENTANG PEDOMAN TUGAS BELAJAR DAN IZIN BELAJAR PEGAWAI NEGERI SIPIL LINGKUP PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

JURNAL ILMIAH. Oleh : BAIQ AYU KARTIKA SARI D1A 008252 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM

JURNAL ILMIAH. Oleh : BAIQ AYU KARTIKA SARI D1A 008252 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM JURNAL ILMIAH ASPEK HUKUM PENGALIHAN FUNGSI KAWASAN HUTAN MENJADI LAHAN PERTANIAN (NON HUTAN) DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG KEHUTANAN Oleh : BAIQ AYU KARTIKA SARI D1A 008252 FAKULTAS

Lebih terperinci

KEDUDUKAN HUKUM RUMAH SUSUN SEBAGAI OBJEK JAMINAN KREDIT SETELAH BERLAKUNYA UU NO 20 TAHUN 2011. ( Studi Di Selagalas Kecamatan Sandubaya Mataram)

KEDUDUKAN HUKUM RUMAH SUSUN SEBAGAI OBJEK JAMINAN KREDIT SETELAH BERLAKUNYA UU NO 20 TAHUN 2011. ( Studi Di Selagalas Kecamatan Sandubaya Mataram) 1 KEDUDUKAN HUKUM RUMAH SUSUN SEBAGAI OBJEK JAMINAN KREDIT SETELAH BERLAKUNYA UU NO 20 TAHUN 2011 ( Studi Di Selagalas Kecamatan Sandubaya Mataram) Oleh: DANIEL SAKKE D1A 007 061 Menyetujui, Pembimbing

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

TESIS. Disusun. Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Derajat S2. Program Studi Magister Kenotariatan. O l e h : AGUS OPRASI B4B 007 007 PEMBIMBING :

TESIS. Disusun. Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Derajat S2. Program Studi Magister Kenotariatan. O l e h : AGUS OPRASI B4B 007 007 PEMBIMBING : PELAKSANAAN PEMBERIAN GANTI KERUGIAN TERHADAP HAK ATAS TANAH YANG TERKENA PROYEK PEMBANGUNAN WATER FRONT CITY DI KABUPATEN SAMBAS, PROVINSI KALIMANTAN BARAT TESIS Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Lebih terperinci