PERSPEKTIF PENYELESAIAN PERJANJIAN BATAS MARITIM ANTARA INDONESIA DENGAN NEGARA TETANGGA*

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PERSPEKTIF PENYELESAIAN PERJANJIAN BATAS MARITIM ANTARA INDONESIA DENGAN NEGARA TETANGGA*"

Transkripsi

1 PERSPEKTIF PENYELESAIAN PERJANJIAN BATAS MARITIM ANTARA INDONESIA DENGAN NEGARA TETANGGA* Oleh: Direktorat Perjanjian Polkamwil Departemen Luar Negeri Pendahuluan 1. Dengan berlakunya Konvensi PBB tentang Hukum Laut tahun 1982 yang diratifikasi melalui Undang-Undang No. 17 tahun maka salah satu prioritas utama bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dalam rangka implementasi Konvensi tersebut adalah penetapan batas maritim dengan negaranegara tetangga. Selain diamanatkan oleh Konvensi tsb, Undang-Undang No. 6 tahun 1996 tentang Perairan Indonesia juga mengatur tentang perlunya secara jelas menetapkan batas-batas wilayah perairan Indonesia dan 3. zona maritim lainnya, termasuk batas-batas yang berkaitan dengan negara-negara tetangga. 2. Berdasarkan letak geografisnya, pada dasarnya batas-batas terluar zona maritim suatu negara ditetapkan berdasarkan dua kemungkinan: (1) Jika letak geografis negara tersebut tidak berhadapan atau tidak berdampingan dengan negara-negara lain maka batas terluar zona maritimnya adalah titik terluar dan Iebar maksimum yang diakui oleh Konvensi, yaitu 12 mil untuk laut teritorial (pasal 4 ), 24 mil untuk zona tambahan (pasal 33), 20 mil untuk ZEE dan landas kontinen (pasal 57 dan 76 ayat 1 ), dan dalam kondisi tertentu 350 untuk landas kontinen (pasal 76 ayat 6). Dalam hukum laut, klaim terhadap Iebar maksimum ini sering. disebut dengan entitlement. Makalah Disampaikan dalam Seminar Hukum Tentang Masalah Hukum Batas Lautlndonesia (2) Jika letak geografis negara tersebut berhadapan atau berdampingan dengan nengara-negara lain dan jika jarak an tara pantai negara-negara tersebut menimbulkan situasi tumpang tindih klaim maksimum atas salah satu atau semua zona maritim, maka batas terluar zona maritim tersebut harus ditetapkan melalui peranjian perbatasan antara negaranegara terkait. Dalam hal ini penetapan batas terluar zona maritim tunduk pada rejim delimitasi batas maritim (maritime boundaries delimitation) menurut pasal 15 (laut teritorial), pasal74 (ZEE) dan pasal83 (landas kontinen). 4. Karena kedekatannya dengan negara-negara tetangga, penetapan batas terluar zona maritim Indonesia pada umumnya harus dilakukan berdasarkan pentetapan melalui perjanjian perbatasan maritim dengan 1 0 negara tetangga, yaitu Malaysia, Singapura, Papua Nugini, Australia, Filipina, Palau, Vietnam, Thailand, India, dan Timor Leste. Namun, pada daerah-daerah tertentu penetapan batas maritim dapat dilakukan berdasarkan klaim maksimum (entitlement) seperti di Samudra India khususnya perairan disebelah Selatan Pulau Jawa dan Sumatera, dan di Samudra Pasifik khususnya di sebelah Utara Pulau Irian Jaya. Jenis-jenis perbatasan Indonesia dengan negara-negara tetangga mencakup perbatasan: (1) Wilayah darat dengan Malaysia, Papua Nugini, dan Timor Leste;

2 Majalah Hukum Nasional (2) Laut tentorial dengan Malaysia, Singapura, Papua Nugini, dan Timor Leste; (3) Landas Kontinen (hak-hak berdaulat) dengan Malaysia,Australia, India, Thailand, Vietnam, Filipina, Palau, dan Timor Leste; (4) Zona Ekonomi Eksklusif (hak-hak berdaulat) dengan Malaysia, Filipina, Australia, India, Thailand, Vietnam, dan Timor Leste; 5. Di Laut Gina Selatan, Indonesia juga akan memiliki perbatasan landas kontinen dan ZEE dengan negara yang akan menjadi pemilik Kepulauan Spratly. Sampai saat ini masih belum diketahui negara pemiliknya karena belum terselesaikannya masalah klaim tumpang tindih antar beberapa negara terhadap kepulauan tsb. 6. Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 juga menetapkan zona tambahan (continuous zone) yang lebamya tidak lebih dan 24 millaut namun, berbeda dengan zona-zona lainnya, tidak mengatur apakah negara-negara yang berhadapan atau berdampingan perlu membuat batas zona ini jika jaraknya kurang dan 48 mil laut. Dilihat dan kebutuhan dan praktik negara saat ini mungkin dinilai belum perlu menetapkan batas zona tambahan ini namun tidak tertutup kemungkinan bahwa dikemudian hari kebutuhan akan kepastian status perairan ini dalam rangka penegakan hukum menjadi semakin penting sehingga penetapan batasnya menjadi mutlak. Prinsip-prinsip Hukum Perbatasan Maritim 7. Penetapan garis batas maritim bukan merupakan tindakan hukum sepihak (unilateral) dan suatu negara (sekalipun berdaulat) melainkan tindakan hukum antar dua negara atau lebih yang dituangkan dalam suatu pe~anjian perbatasan. Hal ini merupakan prinsip utama dari hukum internasional tentang perbatasan yang telah dijabarkan baik dalam Konvensi-konvensi Hukum Laut maupun jurisprudensi peradilan internasional. 8. Beberapa pasal dalam UNCLOS 1982 merujuk adanya suatu Perjanjian sebagai dasar keabsahan dan suatu garis batas maritim, yaitu: ( 1 ) Atticle 15: Delimitation of the territorial sea between States with opposite or adjacent coasts : 9 Where the coasts of two states are opposite or adjacent to each other; neither of the two States is entitled failing agreement between them to the contrarj to extend its territorial sea beyond the median line every point of which is equidistant from the nearest points on the baselines from which the breadth of the territorial seas of each of the two States is measured The above provision does not apply, however, where it is necessary by reason of historic title or other special circumstances to delimit the territorial seas of the two States in a way which is at variance therewith. (2) Article 83 and [74 (1)]: Delimitation of the continental shelf [the exclusive economic zone] between States with opposite or adjacent coasts The delimitation of of the continental shelf [the exclusive economic zone] between States with opposite or adjacent coasts shall be effected ggreement on the basis of international law, as referred to in atticle 38 of the Statute of the International Gault of Justice,, in order to achieve an equitable solution. Jurisprudensi Peradilan lnternasional juga menganut prinsip ini seperti tercermin antara lain pada: (1) Keputusan ICJ tgl 18 Desember 1951 (Fisheries Case): "Delimitasi batas laut memiliki aspek internasional, tidak hanya tergantung pada kehendak satu negara pantai yang dinyatakan dalam hukum nasionalnya. Keabsahan delimitasi bagi negara lain didasarkan pada hukum internasional." (2) Keputusan ICJ dalam North Sea Continental Shelf 1969: "Delimitation to be effected by agreement in accordance with equitable principles". (3) Keputusan ICJ dalam Kasus Gulf Of Maine 1984: "Delimitasi batas maritim harus dilakukan dengan pe~anjian antara para pihak. jika hal tersebut tidak mungkin, perlu diupayakan penyelesaian melalui pihak ketiga. Delimitasi tersebut barus didasarkan pada

3 Ma"alah Hukum Nasional equitable criteria & practical method to ensure an equitable result". 10. Undang-Undang Nasonal Indonesia juga memuat beberapa aturan tentang batas maritim yang pada intinya adalah perlunya pentepan garis batas dituangkan melalui suatu perjanjian intemasional. (1) Undang-Undang No.6 tahun 1996 tentang Perairan Indonesia pada pasal10 mengatur bahwa dalam hal pantai Indonesia letaknya berhadapan atau berdampingan dengan negara lain, kecuali ada persetujuan yang sebaliknya, garis batas laut territorial an tara Indonesia dengan negara tetangga adalah garis tengah yang titik-titiknya sama jaraknya dan titik-titik terdekat pada garis pangkal dan mana Iebar laut territorial masing-masing negara diukur. (2) Undang-Undang No.5 tahun 1983 tentang ZEEI pada pasal3 mengatur bahwa apabila ZEEI tumpang tindih dengan ZEE negara lain maka batas ZEEI ditetapkan melalui persetujuan dengan negara itu. (3) Undang-Undang No. 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia pada pasal 3 mengatur bahwa dalam hallandas kontinen Indonesia, termasuk depresi-depresi yang terdapat di landas kontinen Indonesia, berbatasan dengan negara lain, penerapan garis batas landas kontinen dengan negara lain dapat dilakukan dengan cara mengadakan perundingan untuk mencapai suatu persetujuan. Border Diplomacy 11. Dalam kerangka pelakasanan politik luar negeri maka saat ini, Indonesia dalam kerangka border diplomacy telah dan masih terus melanjutkan upaya penetapan batas maritim dan penegasan batas darat dengan negara-negara tetangga, termasuk penetapan batas-batas terluar zona maritim Indonesia berdasarkan klaim maksimal (entitlement). Mengingat bahwa Konvensi PBB tentang Hukum Laut tahun 1982 telah membedakan jenis rejim maritim dan bahkan mengembangkan rejim baru yaitu ZEE, maka wilayah-wilayah yang perlu ditetapkan batas maritimnya semakin bertambah. Dengan berlakunya Konvensi ini maka zona-zona yang perlu ditetapkan batasnya tidak lagi mencakup zona landas kontinen dan laut teritorial tetapi juga meliputi ZEE dan, dalam hal tertentu, batas terluar landas kontinen yang lebamya lebih dari 200 mil. 12. Dalam rangka penetapan batas-batas wilayahnya, Indonesia telah menyelesaikan titiktitik garis pangkalnya yang dituangkan melalui PP No. 38 Tahun Sesuai dengan Konvensi Hukum Laut 1982, garis pangkal ini merupakan dasar bagi penetapan garis perbatasan dengan negara-negara tetangga. 13. Seperti lazimnya dalam setiap proses perundingan penetapan perbatasan antara negara, faktor-faktor yang mempengaruhi upaya menetapkan batas-batas wilayah Indonesia dengan negara-negara tetangga, antara lain dapat berupa faktor politis, politisjuridis, ekonomis, atau semata-mata faktor teknis perundingan. Faktor politis misalnya pernah sarat mewarnai penetapan batas maritim antara Australia dan Indonesia karena keterkaitan isutimortimurdi dalamnya. Faktor ekonomis mungkin sangat mempengaruhi perundingan batas maritim antara Indonesia dengan Vietnam di Laut Natuna. Faktor politisjuridis dan sekaligus ekonomis sangat mewarnai proses penetapan batas maritim di Laut Sulawesi dengan Malaysia paska kasus Pulau Sipadan dan Ligitan. Faktor lain seperti uself-interesr Malaysia misalnya sangat mendominasi perundingan batas ZEE di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Di wilayah/ perairan lain, proses penetapannya secara umum hanya dipengaruhi oleh faktor teknis perundingan, antara lain, masalah prioritas negara-negara terkait tentang perlunya segera dilakukan penetapan batas maritim, atau jadwal dan modus perundingan yang masih perlu ditetapkan. Tertundanya penetapan batas maritim Indonesia dengan Palau, misalnya, lebih banyak disebabkan karena kesulitan komunikasi diplomatik kedua negara karena masing-masing tidak memiliki perwakilan diplomatik. Penetapan batas maritim dengan Timor Leste juga akan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang lebih kompleks yang akan mencakup saling keterkaitan antara penetapan batas bilateral dengan penetapan "trijunction points" antara Indonesia-Australia-Timor Leste. Selain itu, rumitnya konfigurasi geografis di sebelah Utara Pulau Timor anatara lain dengan faktor lokasi Okusi yang terpisah dan Timor Leste sedikit banyak akan memberikan kendala

4 Majalah Hukum Nasional tertentu dalam penetapan batas maritim di wilayah tersebut. 14. Karena berbagai faktor tersebut di atas maka pada umumnya proses perundingan penetapan perbatasan akan berlangsung lama dan membutuhkan suatu proses serta mekanisme yang berkesinambungan. Perundingan Indonesia dengan Vietnam tentang batas landas kontinen misalnya membutuhkan waktu lebih dari 25 tahun. Namun demikian sebagian batas laut ditetapkan dalam 16 pe~anjian perbatasan dan dengan mencermati wilayah laut nasional yang sangat luas ini (5,8 juta km persegi), sesungguhnya tercapainya 16 perjanjian tentang garis batas maritim mencerminkan komitmen jelas bagi pelaksanaan Border Diplomacy Indonesia dalam rangka memberikan bingkai hukum yang pasti terhadap NKRI sesuai dengan prinsip hukum Negara Kepulauan (Nusantara). Berbagai segmen yang belum tuntas telah masuk dalam proses dan agenda perundingan. 15. Border Diplomacy yang saat ini sedang digalakkan oleh Departemen Luar Negeri dititikberatkan pada upaya-upaya: (1) Konsolidasi posisi Rl untuk semua zona maritime (2) Membuat skala prioritas perundingan, pertama dengan Malaysia (batas darat dan laut), Singapura (batas lautwilayah), Filipina (batas ZEE dan LK), Timor-Leste (batas darat), Palau (batas ZEE) dan Masalah FIR; kedua adalah perundingan dengan Timor Leste (batas laut wilayah, ZEE, LK) India (batas Thailand (batas ZEE), dan Vietnam (batas ZEE). (3) Penyesuaian titik-titik dasar untuk garis pangkal (4) Mempertimbangkan untuk mengeluarkan peta laut NKRI sebagai unilateral klaim yang tidak rigid. Perkembangan Perundingan Batas Maritim lndonesia Malaysia 16. Perundingan batas dengan Malaysia berjalan a lot. Persoalan mendasar adalah klaim sepihak Malaysia bahwa batas landas kontinen yang telah disepakati kedua negara untuk kawasan Selat Malaka dan Laut China Selatan pada 27 Oktober 1969 dinyatakan bebagai batas ZEE, atau difungsikan sebagai single line. Posisi ini telah disampaikan dalam bentuk dekiarasi pada saat meratifikasi UNCLOS 1982 pada tanggal 14 Oktober 1996 yang memuat: "In accordance with article 310 of the United Nations Convention on the Law of the Sea, the Government of Malaysia makes the following declarations:... The Malaysian Government interprets article 7 4 and article 83 to the effect that in the absence of agreement on the delimitation of the exclusive ecnomic zone or continental she if or other maritime zones, for an equitable solution to be achieved, the bowidary shalf be the median line, namely a line every point of which is equidistant from the nearest points of the baselines from which the breadth of the territorial sea of Malaysia and of such other States is measured. Malaysia is also of the view that in accordance with the provisions of the Convention, namely article 56 and article 76, of the maritime area is less {than} or to a distance of 200 nautical miles from the baselines, the boundary for the continental shelf and the exclusive economic zone shall be on the same line ("identical"). 17. Dalam perundingan dengan Malaysia, Deklarasi ini telah ditolak oleh Indonesia karena bertentangan dengan UNCLOS Menu rut pasal 310 UNCLOS 1982, deklarasi hanya diperbolehkan with a view, inter alia, to the harmonization of its laws and regulations with the provisions of this Convention, provided that such declarations or statements do not purport to exclude or to modify the legal effect of the provisions of this Convention in their application to that State. 18. Di samping itu Peta unilateral Malaysia tahun 1979 merupakan kendala utama dan proses perundingan Indonesia-Malaysia. Keterikatan Malaysia terhadap Peta 1979 sebagai produk legislatif nasionalnya telah "menyandera" posisi berunding Malaysia sehingga tidak leluasa lagi bernegosiasi secara lazim dengan menggunakan parameter hukum internasionaf. Dengan Peta 1979, di kawasan Laut Sulawesi Malaysia telah mengklaim secara unilateral kawasan yang sangat luas dengan mengabaikan cara-cara penarikan garis batas

5 Majalah Hukum Nasional menurut hukum internasional dan tanpa memperhatikan kepentingan Indonesia, dan bahkan Filipina. Peta ini merupakan akar masalah dan munculnya insiden blok Ambalat karena blok ini merupakan bag ian dari wilayah yang secara sepihak masuk dalam klaim peta Malaysia tersebut. 19. Pada pasca kasus Sipadan dan Ligitan, Indonesia dan Malaysia telah melakukan beberapa pertemuan delimitasi batas maritim yang dimulai pada bulan Juli 2004, yang merupakan pertemuan pertama setelah sekitar 30 tahun. Pertemuan Juli 2004 tidak menghasiikan suatu kesepakatan substantif akibat perbedaan posisi yang sulit dijembatani. Malaysia tetap pada posisinya tentang single line. Sikap ini bertentangan dengan kesepakatan kedua Menlu pada Sidang ke 7 Joint Commission for Bilateral Cooperation di Kuala Lumpur bulan Februari 2002 di mana telah dicapai kesepakatan bahwa kedua negara setuju delimitasi batas ZEE di Selat Malaka dan delimitasi ZEE di tempat lainnya yaitu Laut China Selatan dan Laut Sulawesi. Indonesia secara tegas menolak posisi Malaysia tersebut, karena berdasarkan Konvensi Hukum Laut PBB 1982 Landas Kontinen dan ZEE diatur oleh dua rezim hukum yang berbeda, sehingga batas Landas Kontinen dan ZEE tidak selalu single line. 20. Namun demikian dan perspektif kepentingan nasional, pertemuan bilateral bulan Juli 2004 menghasilkan beberapa hal positif, yaitu: a. Disepakatinya suatu agenda perundingan yang mencakup semua kawasan yang perlu didelimitasi; b. Malaysia menyadari bahwa Indonesia menghendaki pendekatan yang komprehensif dalam penyelesaian seluruh batas maritim dengan Malaysia; c. Malaysia juga mengetahui bahwa tanpa penetapan batas ZEE di Selat Malaka dan Laut China Selatan maka perundingan batas landas kontinen di Laut Sulawesi yang kaya akan sumber daya minyak dan gas bumi tidak akan berjalan. 21. lsu mengenai batas maritim Indonesia - Malaysia di Laut Sulawesi telah mencuat akhirakhir ini, antara lain karena munculnya kasus Ambalat yang melibatkan kekuatan militer di wilayah tumpag tindih. Sejak insiden Ambalat. perundingan kedua pihak semakin intensif dan telah menyepakati untuk mempercepat proses perundingan dengan mekanisme pertemuan 2 bulan sekali yang dimulai pada Pertemuan Bali bulan Maret 2005 dan dilanjutkan pada bulan Mei Sampai pada tahap ini telah dicapai suatu tahap di mana kedua delegasi telah saling mengemukakan dan memahami secara jelas posisi hukum masing-masing tentang titik dasar dan garis pangkalnya. lndonesia-singapura 22. Pemerintah Indonesia berkeinginan untuk memulai perundingan garis batas wilayah perairan antara Indonesia - Singapura, guna melengkapi pe~anjian garis batas laut wilayah tahun 1973, yaitu di wilayah sebelah Barat dan Timur. Saat ini yang memungkinkan untuk dibicarakan adalah bataslaut wilayah di sebelah barat sejauh sekitar 18 mil. Sedangkan yang di sebelah timur masih harus menunggu penyelesaian sengketa antara Malaysia dan Singapura mengenai status kepemilikan Pulau Batu Puteh/Pedra Branca di Mahkamah lnternasional. 23. Indonesia telah mendesak kesediaan Singapura untuk membicarakan masalah penetapan batas laut wilayah yang belum ditetapkan tersebut. Singapura telah menyatakan kesediaannya, namun komitmen Singapura untuk merundingkan batas laut kedua negara pada awalnya masih sebatas pernyataan politis dan baru pada tanggal28 Februari 2005 dilakukan perundingan pertama di Singapura yang masih san gat embryonic dari masing-masing delegasi baru melakukan pertukaran pendapat (exchange of views) tentang pengalaman masing-masing dalam proses penetapan perbataaan. 24. Salah satu isu panting dalam masalah penetapan batas kedua negara yaitu ekspor pasir laut ke Singapura. PM Lee Hsien Loong pernah menyatakan bahwa reklamasi Singapura adalah dalam batas perairan nasional Singapura dan tidak akan terpengaruh terhadap batas wilayah. Namun demikian, Singapura tidak pernah menyatakan bahwa Singapura dapat menggunakan hasil reklamasi sebagai titik dasar baru. Perlu dicatat bahwa Pasal 11 UNCLOS memungkinkan suatu

6 negara memanfaatkan permanent harbour works sebagai titik dasar, sehingga Indonesia harus tetap mencermati reklamasi Singapura yang sangat berpotensi merugikan Indonesia secara strategis. lndonesia-filipina 25. Pembahasan mengenai penetapan batas maritim antara Rl - Filipina telah dilakukan secara intensif dalam dua tahun terakhir dengan perkembangan positif. Forum perundingan bilateral adalah Joint Permanent Working Group on Maritime and Ocean Concerns (JPWG-MOC) dan Sub Working Group on Delimitation of Common Maritime Boundaries. Batas maritim kedua negara yang perlu ditetapkan adalah batas ZEE dan Landas Kontinen di Laut Sulawesi. Pada Sidang JPWG MOC di Manila bulan Desember 2003 telah dihasilkan penegasan kembali posisi Filipina yang menyatakan tidak memiliki klaim kewilayahan terhadap Pulau Miangas: Penegasan tersebut merupakan pengulangan dan penegasan sebelumnya yang tertuang dalam suatu protokol dalam perjanjian ekstradisi Rl- Filipina tahun Dalam perkembangan, pada tanggal 3-5 Agustus 2004 telah diselenggarakan Sidang kedua JPWG-MOC di Jakarta. Selain itu, pada tanggal 5-6 November 2004 telah diselenggarakan pertemuan Sub-Working Group Delimitasi di Manila, Filipina. Dalam pertemuan tersebut, Indonesia telah mengajukan berbagai usulan kepada Filipina tentang prinsip hukum batas maritime yang hendaknya diterapkan, yang telah diakui oleh hukum intemasional. Selanjutnya kedua negara telah sepakatakan melanjutnya pertemuan Sub Working Group Delimitasi di Indonesia yang semula dijadwalkan pada akhir Desember 2004, namun karena masalah domestik Filipina tentang isu ini, pertemuan lanjutan belum dapat diselenggarakan. Indonesia-Timor Leste (RDTL) 27. Perundingan penetapan batas antara Rl - RDTL telah dilaksanakan secara intensif sejak tahun 2001 hingga saat ini dan diharapkan perbatasan darat kedua negara dapat diselesaikan dalam waktu dekat. Mengenai penetapan batas laut, kedua negara telah sepakat bahwa perundingan batas laut baru akan dilaksanakan setelah selesainya penetapan batas darat. Indonesia - Palau 28. Palau merupakan satu-satunya negara tetangga Indonesia dimana kedua negara belum pernah mengadakan pertemuan untuk membahas batas maritim (ZEE dan Landas Kontinen. Dari hasil penjajahan yang telah dilakukan Indonesia, dipastikan bahwa Palau baru bersedia membicarakan mengenai delimitasi batas maritim antara kedua negara setelah dibukanya hubungan diplomatik Rl - Palau. Harus diakui pula bahwa Palau merupakan satu-satunya negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia di mana Indonesia belum memiliki hubungan diplomatik. Mengingat kedekatan geografis kedua negara, persyaratan yang diajukan Palau tersebut sangat masuk akal karena sebagai negara yang bertetangga, tidak akan terhindari terjadinya interaksi baik antara pemerintah maupun rakyat, sehingga diperlukan hubungan diplomatik yang mapan untuk memfasilitasi hal tersebut. Pada saat ini pembukaan hubungan diplomatik kedua negara masih dalam proses, dan diharapkan persetujuan pembukaan hubungan diplomatik antara kedua negara dapat ditandatangani segera. 29. Secara geografis Republik Palau terletak di sebelah Timur Laut Indonesia. Palau memiliki luas daratan sekitar 458 km 2, terdiri dari pulaupulau utama dan sekitar 250 pulau-pulau kecil. Jumlah penduduk Palau diperkirakan sekitar jiwa (tahun 2002), mayoritas (sekitar 70%) tinggal di ibukota Koror yang terletak di Pulau Koror. Penduduk Palau berasal dari etnis Micronesia. Bahasa resmi adatah Bahasa lnggris dan Palau. Palau memiliki GOP US$ juta, GOP per kapita US$ dan pendapatan per kapita US$ Perekonomian Palau utamanya ditopang dari turisme, ekspor sumber daya laut dan pertanian. Palau merdeka pada 1 Oktober 1994, setelah sebelurnnya merupakan salah satu bagian dan US Pacific Trust Territory. Palau adalah Republik Konstitusional dan berasosiasi secara bebas dengan Amerika Serikat dimana AS bertanggungjawab terhadap pertahanan Palau selama 50 tahun. Majalah Hukum Nasional

7 Ma"alah Hukum Nasional 30. Dalam perundingan penetapan batas, Palau kemungkinan akan dibantu oleh Amerika Serikat. Hal ini mengingat Pasal 147 (a) Konstitusi Palau mengenai delimitasi yang menyatakan bahwa "The Authority, the United States Government and the Trust Territory Government shall cooperate in the delimitation of the extended fishery zone". Mekanisme Penyelesaian Perbatasan jika Perundingan tidak berhasil 31. Sumbangan panting lainnya dan Konvensi terhadap perkembangan hukum delimitasi batas maritim ini adalah ditetapkannya kewajiban hukum terhadap setiap negara peserta untuk menyelesaikan perbatasan maritim dengan negara tetangganya. Konvensi tidak memberi ruang kepada suatu negara untuk membiarkan masalah perbatasannya terlunta-lunta dan tidak terselesaikan (pending) tanpa alasan yang sah. Masalah delimitasi batas maritim ini termasuk dalam kategori masalah yang harus diselesaikan dalam kerangka prosedur memaksa (compulsory procedure) dan mekanisme penyelesaian sengketa Bab XV Konvensi. Oengan prosedur ini maka suatu negara pihak Konvensi tidak dapat secana sepihak menyatakan tidak akan menyelesaikan atau menunda dengan alasan tertentu (kecuali atas kesepakatan kedua pihak) penyelesaian masalah perbatasannya. Jika suatu perundingan penetapan perbatasan mengalami jalan buntu maka para pihak terkait wajib menyelesaikannya melalui mekanisme penyelesaian sengketa Konvensi dimaksud. Dalam hal ini, jika suatu pihak menolak untuk menyelesaikan masalah perbatasannya secara bilateral maka pihak lain dapat meminta agar masalah ini diselesaikan melalui konsiliasi atau pihak ketiga. Diterapkannya prosedur memaksa ini oleh para perumus Konvensi tampaknya didasarkan pada penilaian bahwa terbengkelainya masalah perbatasan dapat mengundang konflik potensial antara negara yang akibatanya dapat mengancam perdamaian dan keamanan dunia. 32. Tahapan penyelesaian sengketa tentang masalah perbatasan jika perundingan telah memasuki jalan buntu oleh Konvensi disusun secara sitematis sbb: (1) Tukar menukar pandangan (exchange of views) Perundingan merupakan langkah pertama yang dilakukan oleh Negara Pihak yang bersengketa bila suatu perselisihan terjadi. Sebagaimana diatur dalam pasal 283 Konvensi, hal ini dilakukan melalui tukar menukar pandangan dalam rangka mencari penyelesaian sengketa tersebut secara damai, Apabila perundingan delimitasi batas laut tersebut menemui jalan buntu, Negara Pihak tidak serta merta menunda atau bahkan mengakhiri upaya penyelesaiannya. Pasal 283 Konvensi mewajibkan Negara Pihak untuk terus melakukan Exchange of views agar dapat dicapai kesepakatan atas langkah berikutnya dalam rangka mencari mekanisme penyelesaian sengketa secara damai yang lain. Exchange of views lazim dilakukan melalui jalur diplomatik. Oalam kaitan ini kedua pihakjuga dihimbau untuk membuat suatu pengaturan sementara (provisional measures) jika kesepakatan belum tercapai. Joint Development Zone misalnya merupakan model pengaturan sementara yang sering digunakan oleh para pihak yang bersengketa. (2) Konsiliasi Seandainya para Pihak yang bersengketa gagal dalam bernegosiasi dan kesepakatan mengenai prosedur yang dipilih tidak tercapai, maka salah satu pihak dapat meminta prosedur conciliation atau konsillasi (Pasal 284 Konvensi). (3) Mekanisme Penyelesaian Sengketa Batas Laut melalui Badan Peradilan Apabila mekanisme yang tidak mengikat tidak tercapai, Pasal 286 Konvensi mengatur mekanisme penyelesaian sengketa batas maritim melalui salah satu dari empat badan peradilan yang disediakan oleh Konvensi, yaitu (1) Mahkamah lnternasional (ICJ); (2) Mahkamah lnternasional untuk Hukum Laut (ITLOS); (3) MahkamahArbitrasi (Annex VII) dan (4) MahkamahArbitrasi Khusus (Annex VIII). 33. Karekteristik prosedur memaksa (compulsory precedures) UNCLOS 1982 tercermin dan adanya kewajiban negara untuk memilih prosedur penyelesaian yang dikehendaki pada

8 saat menandatangani atau meratifikasi Konvensi (pasal287) atau setiap waktu setelah itu. Jika pada saat penandatanganan atau ratifikasi suatu negara tidak memilih, seperti halnya Indonesia, maka negara tersebut dianggap memilih Mahkamah Arbitrase berdasarkan Annex VJ I. 34. Mahkamah Arbitrase terdiri dari 5 anggota: masing-masing pihak memilih 1 anggota, dan ketiga anggota lainnya ditentukan kedua pihak bersama. Apabila tidak terdapat kesepakatan atas ketiga anggota tersebut, maka Presiden ITLOS yang menentukan. Para arbitrator tidak harus memiliki keahlian di bidang hukum laut, melainkan dibuka pula peluang untuk keahlian di bidang teknis lainnya seperti pengelolaan perikanan atau lingkungan hidup. Ada pun jangka waktu pelaksanaan arbitrase dapat memakan waktu hingga 660 hari. 35. Sengketa penetapan batas maritim juga termasuk dalam kategori sengketa yang, jika suatu negara menghendaki, dapat dikecualikan dan mekanisme prosedur memaksa Konvensi sepanjang niat tersebut dinyatakan secara tegas pada saat menandatangani atau meratifikasi Konvensi atau setiap waktu setelah itu (pasal298 1 (a) (i). Indonesia dalam hal ini tidak melakukan pengecualian dimaksud sehingga dalam hal penetapan perbatasan tunduk pada mekanisme prosedur memaksa ini. Majalah Hukum Nasional

9 Ma"alah Hukum Nasional 30. Dalam perundingan penetapan batas, Palau kemungkinan akan dibantu oleh Amerika Serikat. Hal ini mengingat Pasal 147 (a) Konstitusi Palau mengenai delimitasi yang menyatakan bahwa "The Authority, the United States Government and the Trust Territory Government shall cooperate in the delimitation of the extended fishery zone". Mekanisme Penyelesaian Perbatasan jika Perundlngan tidak berhasil 31. Sumbangan penting lainnya dan Konvensi terhadap perkembangan hukum dehmitasi batas maritim ini adalah ditetapkannya kewajiban hukum terhadap setiap negara peserta untuk menyelesaikan perbatasan maritim dengan negara tetangganya. Konvensi tidak memberi ruang kepada suatu negara untuk membiarkan masalah perbatasannya terlunta-lunta dan tidak terselesaikan (pending) tanpa alasan yang sah. Masalah delimitasi batas maritim ini termasuk dalam kategori masalah yang harus diselesaikan dalam kerangka prosedur memaksa (compulsory procedure) dan mekanisme penyelesaian sengketa Bab XV Konvensi. Dengan prosedur ini maka suatu negara pihak Konvensi tidak dapat secana sepihak menyatakan tidak akan menyelesaikan atau menunda dengan alasan tertentu (kecuali atas kesepakatan kedua pihak) penyelesaian masalah perbatasannya. Jika suatu perundingan penetapan perbatasan mengalami jalan buntu maka para pihak terkait wajib menyelesaikannya melalui mekanisme penyelesaian sengketa Konvensi dimaksud. Dalam hal ini, jika suatu pihak menolak untuk menyelesaikan masalah perbatasannya secara bilateral maka pihak lain dapat meminta agar masalah ini diselesaikan melalui konsiliasi atau pihak ketiga. Diterapkannya prosedur memaksa ini oleh para perumus Konvensi tampaknya didasarkan pada penilaian bahwa terbengkelainya masalah perbatasan dapat mengundang konflik potensial antara negara yang akibatanya dapat mengancam perdamaian dan keamanan dunia. 32. Tahapan penyelesaian sengketa tentang masalah perbatasan jika perundingan telah memasuki jalan buntu oleh Konvensi disusun secara sitematis sbb: (1) Tukar menukar pandangan (exchange of views) Perundingan merupakan langkah pertama yang dilakukan oleh Negara Pihak yang bersengketa bila suatu perselisihan te~adi. Sebagaimana diatur dalam pasal 283 Konvensi, hal ini dilakukan melalui tukar menukar pandangan dalam rangka mencari penyelesaian sengketa tersebut secara damai, Apabila perundingan delimitasi batas laut tersebut menemui jalan buntu, Negara Pihak tidak serta merta menunda atau bahkan mengakhiri upaya penyelesaiannya. Pasal 283 Konvensi mewajibkan Negara Pihak untuk terus melakukan Exchange of views agar dapat dicapai kesepakatan atas langkah berikutnya dalam rangka mencari mekanisme penyelesaian sengketa secara damai yang lain. Exchange of views lazim dilakukan melalui jalur diplomatik. Dalam kaitan ini kedua pihakjuga dihimbau untuk membuat suatu pengaturan sementara (provisional measures) jika kesepakatan belum tercapai. Joint Development Zone misalnya merupakan model pengaturan sementara yang sering digunakan oleh para pihak yang bersengketa. (2) Konsiliasi Seandainya para Pihak yang bersengketa gagal dalam bemegosiasi dan kesepakatan mengenai prosedur yang dipilih tidak tercapai, maka salah satu pihak dapat meminta prosedur conciliation atau konsillasi (Pasal284 Konvensi). (3) Mekanisme Penyelesaian Sengketa Batas Laut melalui Badan Peradilan Apabila mekanisme yang tidak mengikat tidak tercapai, Pasal 286 Konvensi mengatur mekanisme penyelesaian sengketa batas maritim melalui salah satu dari empat badan peradilan yang disediakan oleh Konvensi, yaitu (1) Mahkamah lnternasional (ICJ); (2) Mahkamah lntemasional untuk Hukum Laut (ITLOS); (3) MahkamahArbitrasi (Annex VII) dan (4) Mahkamah Arbitrasi Khusus (Annex VIII). 33. Karekteristik prosedur memaksa (compulsory precedures) UNCLOS 1982 tercermin dan adanya kewajiban negara untuk memilih prosedur penyelesaian yang dikehendaki pada

10 saat menandatangani atau meratifikasi Konvensi (pasal287) atau setiap waktu setelah itu. Jika pada saat penandatanganan atau ratifikasi suatu negara tidak memilih, seperti halnya Indonesia, maka negara tersebut dianggap memilih Mahkamah Arbitrase berdasarkan Annex VII. 34. Mahkamah Arbitrase terdiri dari 5 anggota: masing-masing pihak memilih 1 anggota, dan ketiga anggota lainnya ditentukan kedua pihak bersama. Apabila tidak terdapat kesepakatan atas ketiga anggota tersebut, maka Presiden ITLOS yang menentukan. Para arbitrator tidak harus memiliki keahlian di bidang hukum laut, melainkan dibuka pula peluang untuk keahlian di bidang teknis lainnya seperti pengelolaan perikanan a tau lingkungan hidup. Adapun jangka waktu pelaksanaan arbitrase dapat memakan waktu hingga 660 han. 35. Sengketa penetapan batas maritim juga termasuk dalam kategori sengketa yang, jika suatu negara menghendaki, dapat dikecualikan dan mekanisme prosedur memaksa Konvensi sepanjang niat tersebut dinyatakan secara tegas pada saat menandatangani atau meratifikasi Konvensi atau setiap waktu setelah itu (pasal (a) (i). Indonesia dalam hal ini tidak melakukan pengecualian dimaksud sehingga dalam hal penetapan perbatasan tunduk pada mekanisme prosedur memaksa ini. Majalah Hukum Nasional

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PENGESAHAN PERJANJIAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN REPUBLIK SINGAPURA TENTANG PENETAPAN GARIS BATAS LAUT WILAYAH KEDUA NEGARA DI BAGIAN BARAT

Lebih terperinci

PEMANFAATAN DAN PENGENDALIAN RUANG KAWASAN PERBATASAN LAUT

PEMANFAATAN DAN PENGENDALIAN RUANG KAWASAN PERBATASAN LAUT PEMANFAATAN DAN PENGENDALIAN RUANG KAWASAN PERBATASAN LAUT Suparman A. Diraputra,, SH., LL.M. Fakultas Hukum. Universitas Padjadjaran Bandung 1 PERMASALAHAN Sebagai Negara Kepulauan, Indonesia mempunyai

Lebih terperinci

Media Komunikasi dan Interaksi. Penetapan Batas Maritim. Indonesia Siap Berunding Kapan Saja

Media Komunikasi dan Interaksi. Penetapan Batas Maritim. Indonesia Siap Berunding Kapan Saja No. 35 Tahun III, 21, Tgl. Tahun 15 September II, Tgl. 15 - Juli 14 Oktober - 14 Agustus 2010 2009 TABLOID Media Komunikasi dan Interaksi www.tabloiddiplomasi.org Menlu RI : Penetapan Batas Maritim ISSN

Lebih terperinci

PENGUATAN HUKUM INTERNASIONAL KELAUTAN 1

PENGUATAN HUKUM INTERNASIONAL KELAUTAN 1 PENGUATAN HUKUM INTERNASIONAL KELAUTAN 1 Prof. Dr. Etty R. Agoes, S.H., LL.M. 2 Universitas Padjadjaran Pendahuluan Laut merupakan sumber kehidupan di dunia. Laut membentuk iklim, sumb er makanan bagi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1996 TENTANG PERAIRAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1996 TENTANG PERAIRAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1996 TENTANG PERAIRAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: 1. bahwa berdasarkan kenyataan sejarah dan cara pandang

Lebih terperinci

RENCANA AKSI PENGELOLAAN BATAS WILAYAH NEGARA DAN KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2011

RENCANA AKSI PENGELOLAAN BATAS WILAYAH NEGARA DAN KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2011 LAMPIRAN I : PERATURAN BNPP NOMOR : 3 TAHUN 2011 TANGGAL : 7 JANUARI 2011 RENCANA AKSI PENGELOLAAN BATAS WILAYAH NEGARA DAN KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2011 A. LATAR BELAKANG Penyusunan Rencana Aksi (Renaksi)

Lebih terperinci

BATAS WILAYAH LAUT INDONESIA DILIHAT DARI HUKUM INTERNASIONAL

BATAS WILAYAH LAUT INDONESIA DILIHAT DARI HUKUM INTERNASIONAL BATAS WILAYAH LAUT INDONESIA DILIHAT DARI HUKUM INTERNASIONAL Lidya Melda. K, SH, MH Dosen Fakultas Hukum Universitas Sahid Jakarta Abstract Following the ratification of Indonesia to the United Nations

Lebih terperinci

Penetapan dan Penegasan Batas Negara

Penetapan dan Penegasan Batas Negara HARMEN BATUBARA Penetapan dan Penegasan Batas Negara Penerbit Wilayahperbatasan.com Penetapan dan Penegasan Batas Negara Oleh: Harmen Batubara Copyright 2015 by Harmen Batubara Penerbit Wilayahperbatasan.com

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PRESIDEN NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG PENGESAHAN FINAL ACTS OF THE PLENIPOTENTIARY CONFERENCE, GUADALAJARA, 2010 (AKTA-AKTA AKHIR KONFERENSI YANG BERKUASA PENUH, GUADALAJARA, 2010) DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

KONFERENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI ARBITRASE KOMERSIAL INTERNASIONAL KONVENSI MENGENAI PENGAKUAN DAN PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE ASING

KONFERENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI ARBITRASE KOMERSIAL INTERNASIONAL KONVENSI MENGENAI PENGAKUAN DAN PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE ASING KONFERENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI ARBITRASE KOMERSIAL INTERNASIONAL KONVENSI MENGENAI PENGAKUAN DAN PELAKSANAAN PUTUSAN ARBITRASE ASING PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA 1958 Konvensi mengenai Pengakuan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL CONVENTION FOR THE SUPPRESSION OF ACTS OF NUCLEAR TERRORISM (KONVENSI INTERNASIONAL PENANGGULANGAN TINDAKAN TERORISME

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL COVENANT ON ECONOMIC, SOCIAL AND CULTURAL RIGHTS (KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA)

Lebih terperinci

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN Potensi dan Tantangan DI INDONESIA Oleh: Dr. Sunoto, MES Potensi kelautan dan perikanan Indonesia begitu besar, apalagi saat ini potensi tersebut telah ditopang

Lebih terperinci

SARASEHAN "INDONESIA POROS MARITIM DUNIA"

SARASEHAN INDONESIA POROS MARITIM DUNIA SARASEHAN "INDONESIA POROS MARITIM DUNIA" TOPIK BAHASAN "KEDAULATAN MARITIM INDONESIA" Pengantar Kita sudah sering mendengar bahwa secara geografis lndonesia terdiri dari beribu-ribu pulau, dilintasi garis

Lebih terperinci

BEBERAPA KOMPONEN YANG MENDUKUNG DALAM PELAKSANAAN SISTEM ADMINISTRASI DANDOKUMENTASI HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL*

BEBERAPA KOMPONEN YANG MENDUKUNG DALAM PELAKSANAAN SISTEM ADMINISTRASI DANDOKUMENTASI HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL* BEBERAPA KOMPONEN YANG MENDUKUNG DALAM PELAKSANAAN SISTEM ADMINISTRASI DANDOKUMENTASI HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL* Oleh: Abdul Bari Azed 1. Kami menyambut baik pelaksanaan seminar ten tang Penegakan Hukum

Lebih terperinci

REGULASI NO. 2001/14 TENTANG MATA UANG RESMI DI TIMOR LOROSAE

REGULASI NO. 2001/14 TENTANG MATA UANG RESMI DI TIMOR LOROSAE UNITED NATIONS United Nations Transitional Administration in East Timor NATIONS UNIES Administrasion Transitoire des Nations Unies in au Timor Oriental UNTAET UNTAET/REG/2001/14 20 Juli 2001 REGULASI NO.

Lebih terperinci

Rencana Induk Pengelolaan Batas Wilayah Negara & Kawasan Perbatasan

Rencana Induk Pengelolaan Batas Wilayah Negara & Kawasan Perbatasan 68261 Public Disclosure Authorized Public Disclosure Authorized Public Disclosure Authorized Rencana Induk Pengelolaan Batas Wilayah Negara & Kawasan Perbatasan Tahun 2011-2014 Public Disclosure Authorized

Lebih terperinci

MENJAGA KEDAULATAN WILAYAH NKRI MELALUI PERCEPATAN PENETAPAN BATAS NEGARA. Pendah uluan.

MENJAGA KEDAULATAN WILAYAH NKRI MELALUI PERCEPATAN PENETAPAN BATAS NEGARA. Pendah uluan. MENJAGA KEDAULATAN WILAYAH NKRI MELALUI PERCEPATAN PENETAPAN BATAS NEGARA Oleh : Mayjen TNI A.Chasib (Tenaga Pengkaji Bidang Strategi Lemhannas RI) Pendah uluan. sejarah lahirnya bangsa Indonesia ditandai

Lebih terperinci

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA 1 K 29 - Kerja Paksa atau Wajib Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57/PERMEN-KP/2014 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER.30/MEN/2012 TENTANG USAHA PERIKANAN TANGKAP

Lebih terperinci

GARANSI TERBATAS (PLAYBOOK) Hak-Hak Yang Wajib Diperoleh Berdasarkan Undang-Undang. Garansi

GARANSI TERBATAS (PLAYBOOK) Hak-Hak Yang Wajib Diperoleh Berdasarkan Undang-Undang. Garansi GARANSI TERBATAS (PLAYBOOK) Hak-Hak Yang Wajib Diperoleh Berdasarkan Undang-Undang. Garansi Terbatas ini mengatur tanggung jawab Research In Motion dan grup perusahaan afiliasinya ( RIM ) tentang BlackBerry

Lebih terperinci

PENDIRIAN DAN PEMBUBARAN ORGANISASI INTERNASIONAL OAI 2013 ILMU ADMINISTRASI NEGARA UTAMI DEWI

PENDIRIAN DAN PEMBUBARAN ORGANISASI INTERNASIONAL OAI 2013 ILMU ADMINISTRASI NEGARA UTAMI DEWI PENDIRIAN DAN PEMBUBARAN ORGANISASI INTERNASIONAL OAI 2013 ILMU ADMINISTRASI NEGARA UTAMI DEWI PENDIRIAN Prasayarat berdirinya organisasi internasional adalah adanya keinginan yang sama yang jelas-jelas

Lebih terperinci

MULTILATERAL TRADE (WTO), FREE TRADE AREA DI TINGKAT REGIONAL (AFTA) ATAU FREE TRADE AGREEMENT BILATERAL

MULTILATERAL TRADE (WTO), FREE TRADE AREA DI TINGKAT REGIONAL (AFTA) ATAU FREE TRADE AGREEMENT BILATERAL MULTILATERAL TRADE (WTO), FREE TRADE AREA DI TINGKAT REGIONAL (AFTA) ATAU FREE TRADE AGREEMENT BILATERAL INDONESIA DAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL (SERI 1) 24 JULI 2003 PROF. DAVID K. LINNAN UNIVERSITY OF

Lebih terperinci

K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA

K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA 1 K-88 Lembaga Pelayanan Penempatan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi

Lebih terperinci

KODE ETIK MEDIATOR Drs. H. HAMDAN, SH., MH. Pendahuluan. Terwujudnya keadilan yang cepat, sedarhana dan biaya ringan merupakan dambaan dari setiap

KODE ETIK MEDIATOR Drs. H. HAMDAN, SH., MH. Pendahuluan. Terwujudnya keadilan yang cepat, sedarhana dan biaya ringan merupakan dambaan dari setiap KODE ETIK MEDIATOR Drs. H. HAMDAN, SH., MH. Pendahuluan. Terwujudnya keadilan yang cepat, sedarhana dan biaya ringan merupakan dambaan dari setiap pencari keadilan dimanapun. Undang-Undang Nomor 48 Tahun

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG PENGESAHAN NAGOYA PROTOCOL ON ACCESS TO GENETIC RESOURCES AND THE FAIR AND EQUITABLE SHARING OF BENEFITS ARISING FROM THEIR UTILIZATION TO THE

Lebih terperinci

K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA

K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA 1 K 100 - Upah yang Setara bagi Pekerja Laki-laki dan Perempuan untuk Pekerjaan yang Sama Nilainya 2 Pengantar

Lebih terperinci

Di bawah pimpinan: Fachrudin, S.H., M.H.

Di bawah pimpinan: Fachrudin, S.H., M.H. PENGKAJIAN HUKUM HUBUNGAN KOORDINASI TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN LEMBAGA LAIN DALAM RANGKA MEMPERTAHANKAN KEDAULATAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA Di bawah pimpinan: Fachrudin, S.H., M.H. BADAN

Lebih terperinci

Bab 3 PERJANJIAN PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA (P3B)

Bab 3 PERJANJIAN PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA (P3B) Bab 3 PERJANJIAN PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA (P3B) PENGERTIAN DAN TUJUAN PERJANJIAN PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA Perjanjian penghindaran pajak berganda adalah perjanjian pajak antara dua negara bilateral

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2006 DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN ( DALAM SATU NASKAH )

UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2006 DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN ( DALAM SATU NASKAH ) UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2006 DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN ( DALAM SATU NASKAH ) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2004 TENTANG PENGESAHAN KYOTO PROTOCOL TO THE UNITED NATIONS FRAMEWORK C'ONVENTION ON CLIMATE CHANGE (PROTOKOL KYOTO ATAS KONVENSI KERANGKA KERJA PERSERIKATAN

Lebih terperinci

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI PEMBERDAYAAAN KOPERASI & UMKM DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT 1) Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI 2) A. Muhajir, SH., MH Anggota Komisi VI DPR RI Disampaikan

Lebih terperinci

KONVENSI INTERNASIONAL PEMBERANTASAN PENDANAAN TERORISME. Mukadimah

KONVENSI INTERNASIONAL PEMBERANTASAN PENDANAAN TERORISME. Mukadimah KONVENSI INTERNASIONAL PEMBERANTASAN PENDANAAN TERORISME Negara-Negara Pihak pada Konvensi ini, Mukadimah Mengingat tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai pemeliharaan

Lebih terperinci

K19 PERLAKUKAN YANG SAMA BAGI PEKERJA NASIONAL DAN ASING DALAM HAL TUNJANGAN KECELAKAAN KERJA

K19 PERLAKUKAN YANG SAMA BAGI PEKERJA NASIONAL DAN ASING DALAM HAL TUNJANGAN KECELAKAAN KERJA K19 PERLAKUKAN YANG SAMA BAGI PEKERJA NASIONAL DAN ASING DALAM HAL TUNJANGAN KECELAKAAN KERJA 1 K-19 Perlakukan Yang Sama Bagi Pekerja Nasional dan Asing dalam Hal Tunjangan Kecelakaan Kerja 2 Pengantar

Lebih terperinci

JURNAL ILMIAH. Oleh : BAIQ AYU KARTIKA SARI D1A 008252 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM

JURNAL ILMIAH. Oleh : BAIQ AYU KARTIKA SARI D1A 008252 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM JURNAL ILMIAH ASPEK HUKUM PENGALIHAN FUNGSI KAWASAN HUTAN MENJADI LAHAN PERTANIAN (NON HUTAN) DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG KEHUTANAN Oleh : BAIQ AYU KARTIKA SARI D1A 008252 FAKULTAS

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PERALIHAN HAK ATAS TANAH BERDASARKAN PERJANJIAN PENGIKATAN JUAL BELI DAN KUASA UNTUK MENJUAL YANG DIBUAT OLEH NOTARIS

PELAKSANAAN PERALIHAN HAK ATAS TANAH BERDASARKAN PERJANJIAN PENGIKATAN JUAL BELI DAN KUASA UNTUK MENJUAL YANG DIBUAT OLEH NOTARIS PELAKSANAAN PERALIHAN HAK ATAS TANAH BERDASARKAN PERJANJIAN PENGIKATAN JUAL BELI DAN KUASA UNTUK MENJUAL YANG DIBUAT OLEH NOTARIS Bambang Eko Mulyono Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Lamongan. ABSTRAK

Lebih terperinci

K27 PEMBERIAN TANDA BERAT PADA BARANG-BARANG BESAR YANG DIANGKUT DENGAN KAPAL

K27 PEMBERIAN TANDA BERAT PADA BARANG-BARANG BESAR YANG DIANGKUT DENGAN KAPAL K27 PEMBERIAN TANDA BERAT PADA BARANG-BARANG BESAR YANG DIANGKUT DENGAN KAPAL 1 K-27 Mengenai Pemberian Tanda Berat pada Barang-Barang Besar yang Diangkut dengan Kapal 2 Pengantar Organisasi Perburuhan

Lebih terperinci

PETUNJUK PELAKSANAAN KERJA SAMA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN LUAR NEGERI

PETUNJUK PELAKSANAAN KERJA SAMA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN LUAR NEGERI LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : TANGGAL : PETUNJUK PELAKSANAAN KERJA SAMA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN LUAR NEGERI I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam era globalisasi ekonomi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2007 TENTANG KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS BINTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2007 TENTANG KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS BINTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2007 TENTANG KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS BINTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

KEMUNGKINAN LUAS LAUT SEBAGAI BAGIAN DARI LUAS WILAYAH DALAM PERHITUNGAN DAU 1)

KEMUNGKINAN LUAS LAUT SEBAGAI BAGIAN DARI LUAS WILAYAH DALAM PERHITUNGAN DAU 1) KEMUNGKINAN LUAS LAUT SEBAGAI BAGIAN DARI LUAS WILAYAH DALAM PERHITUNGAN DAU 1) Oleh Dr. Ir. Sobar Sutisna, M.Surv.Sc. 2) Kepala Pusat Pemetaan Batas Wilayah Badan Koordinasi Survei Dan Pemetaan Nasional

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG PENGESAHAN PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK ISLAM PAKISTAN TENTANG KEGIATAN KERJA SAMA DI BIDANG PERTAHANAN

Lebih terperinci

PERAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MASYARAKAT DAERAH PERBATASAN Kasus Propinsi Kepulauan Riau

PERAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MASYARAKAT DAERAH PERBATASAN Kasus Propinsi Kepulauan Riau PERAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MASYARAKAT DAERAH PERBATASAN Kasus Propinsi Kepulauan Riau Dicky R. Munaf 1, Thomas Suseno 2, Rizaldi Indra Janu 2, Aulia M. Badar 2 Abstract The development in Indonesia

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KEIMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2000 TENTANG PENYELENGGARAAN JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa jasa konstruksi mempunyai peran strategis dalam pembangunan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PENGESAHAN TREATY ON MUTUAL LEGAL ASSISTANCE IN CRIMINAL MATTERS (PERJANJIAN TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA) Menimbang :

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam 10 tahun terakhir, jumlah kebutuhan ikan di pasar dunia semakin meningkat, untuk konsumsi dibutuhkan 119,6 juta ton/tahun. Jumlah tersebut hanya sekitar 40 %

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa di dalam era perdagangan global, sejalan dengan konvensi-konvensi

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013 PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013 TENTANG PERIZINAN REKLAMASI DI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL Menimbang DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

PERNYATAAN PERS TAHUNAN MENTERI LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA R.M. MARTY M. NATALEGAWA TAHUN 2014

PERNYATAAN PERS TAHUNAN MENTERI LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA R.M. MARTY M. NATALEGAWA TAHUN 2014 Mohon diperiksa dengan penyampaiannya PERNYATAAN PERS TAHUNAN MENTERI LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA R.M. MARTY M. NATALEGAWA TAHUN 2014 JAKARTA, 7 JANUARI 2014 Yang terhormat Duta Besar negara sahabat

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2012 TENTANG STRATEGI NASIONAL PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN KORUPSI JANGKA PANJANG TAHUN 2012-2025 DAN JANGKA MENENGAH TAHUN 2012-2014 DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

JAMINAN TERBATAS AKSESORI

JAMINAN TERBATAS AKSESORI JAMINAN TERBATAS AKSESORI Aksesori yang diserahkan kepada Anda dan yang dimaksud untuk digunakan bersama dengan model khusus BlackBerry Handheld Anda ( Aksesori ), akan bebas dari cacat dalam pembuatan

Lebih terperinci

K120 HYGIENE DALAM PERNIAGAAN DAN KANTOR-KANTOR

K120 HYGIENE DALAM PERNIAGAAN DAN KANTOR-KANTOR K120 HYGIENE DALAM PERNIAGAAN DAN KANTOR-KANTOR 1 K-120 Hygiene dalam Perniagaan dan Kantor-Kantor 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33/M-DAG/PER/8/2010

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33/M-DAG/PER/8/2010 PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33/M-DAG/PER/8/2010 TENTANG SURAT KETERANGAN ASAL (CERTIFICATE OF ORIGIN) UNTUK BARANG EKSPOR INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 50 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN KOORDINASI PENATAAN RUANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 50 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN KOORDINASI PENATAAN RUANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 50 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN KOORDINASI PENATAAN RUANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang : a. bahwa dalam rangka menserasikan

Lebih terperinci

KESEMPATAN KERJA PERDAGANGAN. Rahma Iryanti Direktur Tenaga Kerja dan Pengembangan Kesempatan Kerja. Jakarta, 5 Juli 2013

KESEMPATAN KERJA PERDAGANGAN. Rahma Iryanti Direktur Tenaga Kerja dan Pengembangan Kesempatan Kerja. Jakarta, 5 Juli 2013 KESEMPATAN KERJA MENGHADAPI LIBERALISASI PERDAGANGAN Rahma Iryanti Direktur Tenaga Kerja dan Pengembangan Kesempatan Kerja Jakarta, 5 Juli 2013 1 MATERI PEMAPARAN Sekilas mengenai Liberalisasi Perdagangan

Lebih terperinci

Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia

Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Mukadimah Menimbang bahwa pengakuan atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan mutlak dari semua anggota keluarga manusia adalah dasar kemerdekaan, keadilan

Lebih terperinci

Bahan Diskusi Sessi Kedua Implementasi Konvensi Hak Sipil Politik dalam Hukum Nasional

Bahan Diskusi Sessi Kedua Implementasi Konvensi Hak Sipil Politik dalam Hukum Nasional Bahan Diskusi Sessi Kedua Implementasi Konvensi Hak Sipil Politik dalam Hukum Nasional Oleh Agung Putri Seminar Sehari Perlindungan HAM Melalui Hukum Pidana Hotel Nikko Jakarta, 5 Desember 2007 Implementasi

Lebih terperinci

KAJIAN KEBIJAKAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS PENYERAHAN JASA KEPELABUHANAN TERTENTU KEPADA PERUSAHAAN ANGKUTAN LAUT YANG MELAKUKAN KEGIATAN ANGKUTAN LAUT LUAR NEGERI Angkutan Laut Luar Negeri memiliki

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/XI/2011 TENTANG TATA CARA PEMBUATAN DAN PENGESAHAN PERATURAN PERUSAHAAN SERTA PEMBUATAN DAN PENDAFTARAN PERJANJIAN KERJA

Lebih terperinci

MEMORANDUM ANTARA KEMENTERIAN PERTAHANAN JEPANG DAN KEMENTERIAN PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG KERJA SAMA DAN PERTUKARAN DI BIDANG PERTAHANAN

MEMORANDUM ANTARA KEMENTERIAN PERTAHANAN JEPANG DAN KEMENTERIAN PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG KERJA SAMA DAN PERTUKARAN DI BIDANG PERTAHANAN MEMORANDUM ANTARA KEMENTERIAN PERTAHANAN JEPANG DAN KEMENTERIAN PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG KERJA SAMA DAN PERTUKARAN DI BIDANG PERTAHANAN Kementerian Kementerian Pertahanan Jepang dan Pertahanan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERLAKUAN KEPABEANAN, PERPAJAKAN, DAN CUKAI SERTA TATA LAKSANA PEMASUKAN DAN PENGELUARAN BARANG KE DAN DARI SERTA BERADA DI KAWASAN YANG

Lebih terperinci

UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA

UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa berdasarkan

Lebih terperinci

PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK PERANCIS MENGENAI KERJA SAMA ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK PERANCIS MENGENAI KERJA SAMA ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK PERANCIS MENGENAI KERJA SAMA ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL - 1 - Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Perancis

Lebih terperinci

KONVENSI MENGENAI PENERAPAN PRINSIP PRINSIP HAK UNTUK BERORGANISASI DAN BERUNDING BERSAMA

KONVENSI MENGENAI PENERAPAN PRINSIP PRINSIP HAK UNTUK BERORGANISASI DAN BERUNDING BERSAMA 1 KONVENSI MENGENAI PENERAPAN PRINSIP PRINSIP HAK UNTUK BERORGANISASI DAN BERUNDING BERSAMA Ditetapkan oleh Konferensi Umum Organisasi Buruh Internasional, di Jenewa, pada tanggal 1 Juli 1949 [1] Konferensi

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEAMANAN NASIONAL

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KEAMANAN NASIONAL RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KEAMANAN NASIONAL Jakarta, 16 Oktober 2012 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KEAMANAN NASIONAL DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2012 TENTANG PENUNJUKAN PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI TIMUR UNTUK MENJADI PIHAK DALAM PROSES ARBITRASE INTERNATIONAL CENTRE FOR SETTLEMENT OF INVESTMENT

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2015 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2015 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2015 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

ACEH: Proyek Uji Coba REDD+ Ulu Masen

ACEH: Proyek Uji Coba REDD+ Ulu Masen Seri briefing hak-hak, hutan dan iklim Oktober 2011 ACEH: Proyek Uji Coba REDD+ Ulu Masen Proyek Ulu Masen dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Aceh dengan bantuan Fauna and Flora International (FFI)

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2009 TENTANG KAWASAN EKONOMI KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2009 TENTANG KAWASAN EKONOMI KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2009 TENTANG KAWASAN EKONOMI KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa masyarakat adil dan makmur berdasarkan

Lebih terperinci

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Briefing October 2014 Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Patrick Heller dan Poppy Ismalina Universitas Gadjah Mada Memaksimalkan keuntungan dari sektor

Lebih terperinci

BAB 10 PENGHAPUSAN DISKRIMINASI

BAB 10 PENGHAPUSAN DISKRIMINASI BAB 10 PENGHAPUSAN DISKRIMINASI DALAM BERBAGAI BENTUK Diskriminasi merupakan bentuk ketidakadilan. Pasal 1 ayat 3 Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, menjelaskan bahwa pengertian

Lebih terperinci

PRINSIP NON-REFOULEMENT DAN PENERAPANNYA DI INDONESIA. Jun Justinar

PRINSIP NON-REFOULEMENT DAN PENERAPANNYA DI INDONESIA. Jun Justinar PRINSIP NON-REFOULEMENT DAN PENERAPANNYA DI INDONESIA Jun Justinar Abstrak Dari sudut pandang negara penerima, pengungsian merupakan masalah kemanusiaan yang dapat berdampak pada bidang keamanan, ekonomi

Lebih terperinci

KERJA SAMA INTERNASIONAL DALAM PERPINDAHAN NARAPIDANA (TRANSFER OF SENTENCED PERSON)

KERJA SAMA INTERNASIONAL DALAM PERPINDAHAN NARAPIDANA (TRANSFER OF SENTENCED PERSON) KERJA SAMA INTERNASIONAL DALAM PERPINDAHAN NARAPIDANA (TRANSFER OF SENTENCED PERSON) Oleh: Eka Martiana Wulansari Naskah diterima : 1 September 2014; disetujui : 23 September 2014 Kebebasan dasar dan hak

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENANGANAN BENCANA

PENJELASAN ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENANGANAN BENCANA PENJELASAN ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENANGANAN BENCANA I. Umum Indonesia, merupakan negara kepulauan terbesar didunia, yang terletak di antara dua benua, yakni benua Asia dan benua Australia,

Lebih terperinci

KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP SEMUA ORANG DARI TINDAKAN PENGHILANGAN SECARA PAKSA

KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP SEMUA ORANG DARI TINDAKAN PENGHILANGAN SECARA PAKSA KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP SEMUA ORANG DARI TINDAKAN PENGHILANGAN SECARA PAKSA Diadopsi pada 20 Desember 2006 oleh Resolusi Majelis Umum PBB A/RES/61/177 Mukadimah Negara-negara

Lebih terperinci

PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN. Merry Marshella Sipahutar

PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN. Merry Marshella Sipahutar PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN Merry Marshella Sipahutar 1087013 Perumahan merupakan kebutuhan utama bagi manusia di dalam kehidupan untuk berlindung

Lebih terperinci

SYARAT DAN KETENTUAN ( SYARAT ) UNTUK PROGRAM UPGRADE STATUS HILTON HHONORS GOLD KAWASAN ASIA PASIFIK

SYARAT DAN KETENTUAN ( SYARAT ) UNTUK PROGRAM UPGRADE STATUS HILTON HHONORS GOLD KAWASAN ASIA PASIFIK SYARAT DAN KETENTUAN ( SYARAT ) UNTUK PROGRAM UPGRADE STATUS HILTON HHONORS GOLD KAWASAN ASIA PASIFIK Istilah-istilah berikut mengandung arti seperti tertera dibawah ini kecuali konteks menyatakan lain:

Lebih terperinci

KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP SEMUA ORANG DARI TINDAKAN PENGHILANGAN SECARA PAKSA

KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP SEMUA ORANG DARI TINDAKAN PENGHILANGAN SECARA PAKSA E/CN.4/2005/WG.22/WP.1/REV.4 23 September 2005 (Diterjemahkan dari Bahasa Inggris. Naskah Asli dalam Bahasa Prancis) KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP SEMUA ORANG DARI TINDAKAN PENGHILANGAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG PENGESAHAN ROTTERDAM CONVENTION ON THE PRIOR INFORMED CONSENT PROCEDURE FOR CERTAIN HAZARDOUS CHEMICALS AND PESTICIDES IN INTERNATIONAL TRADE

Lebih terperinci

JAMINAN TERBATAS. Handheld Limited Warranty - Indonesia (Bahasa) 091304 (North America Version 022403)

JAMINAN TERBATAS. Handheld Limited Warranty - Indonesia (Bahasa) 091304 (North America Version 022403) JAMINAN TERBATAS BlackBerry Handheld, Blackberry Cradle dan perangkat keras RIM lain, tidak termasuk batere luar dan kartu SIM yang diserahkan kepada Anda pada waktu yang bersamaan dan bersama dengan BlackBerry

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM 60 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM 60 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM 60 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN, Menimbang : a. bahwa sebagai tindak

Lebih terperinci

K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL

K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL 1 K-144 Konsultasi Tripartit untuk Meningkatkan Pelaksanaan Standar-Standar Ketenagakerjaan Internasional

Lebih terperinci

KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI)

KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) tertanggal 16 Desember 1966, dan terbuka untuk penandatangan, ratifikasi, dan aksesi MUKADIMAH

Lebih terperinci

S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK DAN NASABAH BANK DI INDONESIA

S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA BANK DAN NASABAH BANK DI INDONESIA No. 8/14/DPNP Jakarta, 1 Juni 2006 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK DAN NASABAH BANK DI INDONESIA Perihal: Mediasi Perbankan ----------------------- Sehubungan dengan telah dikeluarkannya Peraturan

Lebih terperinci

MATERI PERDAGANGAN LUAR NEGERI

MATERI PERDAGANGAN LUAR NEGERI MATERI PERDAGANGAN LUAR NEGERI A. Definisi Pengertian perdagangan internasional merupakan hubungan kegiatan ekonomi antarnegara yang diwujudkan dengan adanya proses pertukaran barang atau jasa atas dasar

Lebih terperinci

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau dan Kabupaten Lingga BAB III KONDISI UMUM 3.1. Geografis Wilayah Kepulauan Riau telah dikenal beberapa abad silam tidak hanya di nusantara tetapi juga

Lebih terperinci

amnesti internasional

amnesti internasional [Embargo: 11 Maret 2004] Umum amnesti internasional Indonesia Direktur-direktur Amnesti Internasional seluruh Asia Pacific mendesak partai-partai politik untuk menjadikan HAM sebagai prioritas Maret 2004

Lebih terperinci

K122 Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja

K122 Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja K122 Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja 1 K 122 - Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan

Lebih terperinci

PERDAGANGAN ORANG (TRAFFICKING) TERUTAMA PEREMPUAN & ANAK DI KALIMANTAN BARAT

PERDAGANGAN ORANG (TRAFFICKING) TERUTAMA PEREMPUAN & ANAK DI KALIMANTAN BARAT PERDAGANGAN ORANG (TRAFFICKING) TERUTAMA PEREMPUAN & ANAK DI KALIMANTAN BARAT BADAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN, ANAK, MASYARAKAT DAN KELUARGA BERENCANA PROVINSI KALIMANTAN BARAT JL. SULTAN ABDURRACHMAN NO.

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.03/ MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.03/ MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.03/ MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

TANGGUNG JAWAB NEGARA (STATE RESPONSIBILITY) TERHADAP PENCEMARAN UDARA LINTAS BATAS NEGARA BERDASARKAN ASEAN AGREEMENT ON TRANSBOUNDARY HAZE POLLUTION

TANGGUNG JAWAB NEGARA (STATE RESPONSIBILITY) TERHADAP PENCEMARAN UDARA LINTAS BATAS NEGARA BERDASARKAN ASEAN AGREEMENT ON TRANSBOUNDARY HAZE POLLUTION TANGGUNG JAWAB NEGARA (STATE RESPONSIBILITY) TERHADAP PENCEMARAN UDARA LINTAS BATAS NEGARA BERDASARKAN ASEAN AGREEMENT ON TRANSBOUNDARY HAZE POLLUTION Fadhlan Dini Hanif Maria Maya Lestari, SH., M.Sc,

Lebih terperinci

BUDAYA MARITIM NUSANTARA DAN GERAKAN KEMBALI KE LAUT

BUDAYA MARITIM NUSANTARA DAN GERAKAN KEMBALI KE LAUT BUDAYA MARITIM NUSANTARA DAN GERAKAN KEMBALI KE LAUT Gusti Asnan (Jur. Sejarah, Fak. Ilmu Budaya, Univ. Andalas Padang gasnan@yahoo.com) Berbincang mengenai budaya maritim Nusantara sesungguhnya membincangkan

Lebih terperinci

Copyright 2008, Departemen Pertahanan Republik Indonesia ISBN 978-979-8878-04-6

Copyright 2008, Departemen Pertahanan Republik Indonesia ISBN 978-979-8878-04-6 Copyright 2008, Departemen Pertahanan Republik Indonesia ISBN 978-979-8878-04-6 DEPARTEMEN PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTAHANAN NOMOR : Per/03/M/II/2008 TENTANG BUKU PUTIH PERTAHANAN

Lebih terperinci

KONDISI PERIKANAN TANGKAP DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN (WPP) INDONESIA. Rinda Noviyanti 1 Universitas Terbuka, Jakarta. rinda@ut.ac.

KONDISI PERIKANAN TANGKAP DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN (WPP) INDONESIA. Rinda Noviyanti 1 Universitas Terbuka, Jakarta. rinda@ut.ac. KONDISI PERIKANAN TANGKAP DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN (WPP) INDONESIA Rinda Noviyanti 1 Universitas Terbuka, Jakarta rinda@ut.ac.id ABSTRAK Aktivitas usaha perikanan tangkap umumnya tumbuh dikawasan

Lebih terperinci

DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA

DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA DEKLARASI UNIVERSAL HAK-HAK ASASI MANUSIA Diterima dan diumumkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948 melalui resolusi 217 A (III) Mukadimah Menimbang, bahwa pengakuan atas martabat alamiah

Lebih terperinci