PROGRA AM P2M. Coconut KIMIA JURUSAN ANALIS. Made

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PROGRA AM P2M. Coconut KIMIA JURUSAN ANALIS. Made"

Transkripsi

1 LAPORAN AKHIR PROGRA AM P2M PENERAPAN IPTEKS Pelatihan Paket Pengolahan Buah Kelapa Menjadi Virgin Coconut Oil (VCO) dan Nata de Cocoo Bagi Kelompok Tani di Desa Nyuh Kukuh, Kecamatan Nusa Penida I Putu Parwata, S.Si., M.Si. (Ketua) NIP Made Vivi Oviantari, S.Si., M.Si. (Anggota) NIP Ni Putu Sri Ayuni, S.Si., M.Sc. (Anggota) NIP Dibiayai dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Universitass Pendidikann Ganesha SPK No. 76/UN.48.15/LPM/2014 Tanggal 13 Februari 2014 JURUSAN ANALIS KIMIA FAKULTAS MATEMATIKAA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA 2014 i

2 ii

3 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, berkat lindungan dan limpahan karunia-nya kegiatan P2M dengan judul Pelatihan Paket Pengolahan Buah Kelapa Menjadi Virgin Coconut Oil (VCO) dan Nata de Coco Bagi Kelompok Tani di Desa Nyuh Kukuh, Kecamatan Nusa Penida ini dapat terlaksana dengan lancar dan memberikan hasil yang cukup baik. Laporan ini memuat hasil kegiatan pelatihan yang telah dilakukan termasuk hasil evaluasinya. Secara umum kegiatan pelatihan telah memberikan bekal pengetahuan/wawasan kepada masyarakat tentang teknologi pengolahan buah kelapa menjadi produk nata de coco dan virgin coconut oil (VCO). Peserta pelatihan telah mampu membuat produk VCO dan nata de coco dengan kualitas yang cukup baik, namun perlu diperbaiki secara berkesinambungan untuk memperoleh kualitas terbaik. Keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh tindak lanjut masyarakat menerapkan teknologi yang telah dilatihkan dalam bentuk unit usaha. Pelaksanaan program P2M ini didukung oleh beberapa pihak, untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Ketua LPM Undiksha yang telah mengkoordinasikan kegiatan P2M di tingkat lembaga termasuk pendanaannya, 2. Bapak Kepala Desa Adat Nyuh Kukuh, atas sambutan yang baik terhadap program P2M ini, 3. Tim pelaksana kegiatan yang telah merancang, melaksanakan, mengevaluasi dan mengkoordinasikan kegiatan ini hingga terlaksana dengan baik, serta 4. Kelompok Tani Mekar Sari, khususnya dari kalangan ibu-ibu rumah tangga yang dengan penuh semangat telah mengikuti kegiatan pelatihan ini. Kami menyadari laporan ini masih belum sempurna, untuk itu kami terbuka dengan segala saran dan masukan yang bersifat positif dan inovatif. Semoga laporan ini memberikan manfaat optimal bagi pembaca. Singaraja, Semptember 2014 Tim Pelaksana iii

4 DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN... ii KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... iv DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... vi BAB I PENDAHULUAN Analisis Situasi Identifikasi dan Perumusan Masalah Tujuan Kegiatan Manfaat Kegiatan... 6 BAB II METODE PELAKSANAAN Rancangan Kegiatan Khalayak Sasaran Tahap Pelaksanaan Kegiatan Rancangan Evaluasi... 9 BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kegiatan Pembahasan BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran LAMPIRAN iv

5 DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1 Keterkaitan Tujuan dan Metode Kegiatan...7 Tabel 3.1 Semangat/Antusiasme Masyarakat Mengikuti Kegiatan...11 Tabel 3.2 Respon Masyarakat terhadap Pelaksanaan Kegiatan P2M...11 Tabel 3.3 Kemampuan/Keterampilan Masyarakat Menerapkan Teknologi yang Dilatihkan...13 v

6 DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 3.1 Produk VCO Yang Dihasilkan Oleh Peserta Pelatihan 14 Gambar 3.2 Produk Nata de Coco Yang Dihasilkan Oleh Peserta Pelatihan...14 vi

7 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Analisis Situasi Desa Adat Nyuh Kukuh adalah salah satu desa di Kecamatan Nusa Penida Kabupaten Klungkung, Bali. Desa ini terletak di daerah pesisir dengan luas wilayah paling kecil dibandingkan desa-desa lainnya (+ 10 Ha). Sesuai dengan namanya, di desa ini banyak ditemukan pohon kelapa (bahasa bali nyuh ) yang tumbuh subur di daerah yang relatif tandus ini. Namun, hingga saat ini buah kelapa yang dihasilkan belum mampu diolah menjadi produk komersial. Kemajuan teknologi telah mampu mengolah buah kelapa menjadi produk komersial bernilai jual tinggi. Daging buah kelapa dapat diolah menjadi produk VCO (virgin coconut oil) yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan minyak kelapa ( lengis tanusan ). Hal ini disebabkan kandungan nutrisi minyak VCO masih sama dengan bahan bakunya yaitu buah kelapa, sedangkan pada minyak kelapa banyak nutrisi yang sudah rusak akibat pemanasan pada suhu tinggi. Selain itu, air kelapa yang umumnya menjadi limbah dapat diolah menjadi produk makanan nata de coco yang bergizi dan bernilai jual tinggi. Teknologi pembuatan VCO dan nata de coco cukup sederhana dan tidak memerlukan modal tinggi, sehingga dapat dilakukan dalam skala rumah tangga. Kegiatan P2M ini secara khusus dilaksanakan bagi Kelompok Tani Merta Sari di Desa Nyuh Kukuh Kecamatan Nusa Penida yang terletak sekitar 6 kilometer ke arah barat dari Pelabuhan Mentigi Nusa Penida. Sampai saat ini kelompok tani ini memiliki anggota sejumlah 30 kk (kepala keluarga). Secara umum, mata pencaharian utama masyarakat dari kelompok tani ini adalah sebagai petani rumput laut. Hasil pertanian lain seperti jagung dan dan singkong masih sangat minim dan hanya digeluti oleh segelintir petani dengan lahan yang terbatas. Hanya sedikit hasil panen yang bisa dijual karena sebagian juga harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka sendiri. Tanah pertanian di daerah Nusa Penida memang tergolong tandus, sehingga kurang mendukung untuk kegiatan pertanian. Selain tidak ada sumber air permukaan seperti sungai atau bendungan, curah hujan yang menjadi satusatunya sumber air pertanian sangat minim. Budidaya rumput laut sebagai mata pencaharian andalan sebagian besar masyarakat juga tidak terlalu menjanjikan. Akhir- 1

8 akhir ini produksi rumput laut merosot karena penurunan kualitas lahan budidaya, bahkan pada musim-musim tertentu banyak masyarakat yang mengalami gagal panen. Selain itu, harga rumput laut juga sering merosot dan berfluktuasi karena dipermainkan oleh penadah. Dalam bidang usaha, masyarakat Kelompok Tani Merta Sari dan masyarakat Nusa Penida secara umum masih tergolong sangat langka. Salah satu usaha yang hanya digeluti oleh segelintir orang dari kelompok masyarakat ini adalah usaha dagang dengan hasil yang tidak terlalu menggembirakan. Hal ini disebabkan biaya transportasi barang dagangan yang harus didatangkan dari luar pulau Nusa Penida relatif mahal sehingga tidak sebanding dengan harga barang yang harus dijual. Dalam bidang industri, hingga saat ini belum ada masyarakat dari kelompok tani ini yang tergerak untuk mengembangkan industri rumah tangga. Padahal kalau dilihat dari potensi daerah, banyak usaha/industri rumah tangga yang dapat dikembangkan oleh penduduk setempat. Komoditi utama masyarakat Nusa Penida termasuk Kelompok Tani Merta Sari seperti rumput laut dan buah kelapa sebenarnya dapat dioalah menjadi berbagai produk komersial yang bernilai jual tinggi. Rumput laut dapat diolah menjadi berbagai produk makanan bergizi seperti dodol, kerupuk, manisan, dan bakso dengan citarasa khas. Sedangkan buah kelapa dapat diolah menjadi produk seperti VCO dan nata de coco. Permasalahannya adalah belum ada masyarakat yang tergerak untuk memulai usaha yang menjanjikan ini. Hal ini disebabkan oleh kurangnya wawasan dan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat mengenai teknologi tepat guna. Bila dilihat dari hasil perkebunan kelapanya, sangat menjanjikan untuk mengembangkan usaha pengolahan buah kelapa menjadi VCO dan nata de coco di Desa Nyuh Kukuh. Produksi buah kelapa masyarakat Desa Nyuh Kukuh dan Nusa Penida secara umum tergolong cukup tinggi. Data Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Klungkung tahun 2011 menunjukkan bahwa hasil produksi kelapa di Kecamatan Nusa Penida sebesar 360,73 ton, didominasi oleh perkebunan di daerah pesisir termasuk di Desa Nyuh Kukuh. Hampir semua wilayah Desa Nyuh Kukuh ditumbuhi oleh pohon-pohon kelapa yang tergolong daerah pesisir. Kebun kelapa di wilayah Desa Nyuh Kukuh memang hanya dimiliki oleh segelintir orang, namun masyarakat dapat memperoleh buah kelapa tersebut dengan mudah dan cukup murah baik sekedar untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga ataupun untuk usaha produksi 2

9 minyak kelapa. Jadi dari aspek bahan baku, usaha produksi VCO dan nata de coco sangat mendukung. Buah kelapa yang dihasilkan oleh masyarakat di Desa Nyuh Kukuh sebagian besar dijual langsung dengan harga sekitar Rp ,- per butir. Hanya sedikit dari hasil panen dimanfaatkan oleh segelintir warga untuk membuat minyak kelapa yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga dan dijual dengan harga Rp ,- per liter. Namun, biaya produksi yang mahal akibat teknik produksi yang kurang efisien menyebabkan warga enggan menggeluti usaha produksi minyak kelapa ini. Sementara itu, sampai saat ini belum ada anggota kelompok tani Merta Sari yang memanfaatkan air kelapa untuk kepentingan komersial. Padahal air kelapa yang dibuang dari usaha pembuatan minyak kelapa sangat melimpah. Sebagian air kelapa tersebut memang dimanfaatkan oleh sebagian petani sebagai bahan campuran untuk pakan babi, namun sebagian besar masih dibuang secara percuma. Dapat dikatakan air kelapa hanya menjadi limbah yang tidak memiliki nilai ekonomis. Dengan potensi sebagai daerah penghasil buah kelapa, sangat cocok dikembangkan usaha pengolahan kelapa menjadi produk-produk bernilai jual tinggi dengan memanfaatkan teknologi sederhana dan tepat guna. Bila dilihat dari aspek pemasaran, usaha produksi VCO dan nata de coco ini memiliki prospek pemasaran yang sangat menjanjikan. Hal ini didukung oleh pengembangan Nusa Penida sebagai salah satu tujuan wisata di Bali. Kegiatan pariwisata sudah sangat ramai di kawasan Desa Lembongan Kecamatan Nusa Penida yang terkenal dengan pesona alam bawah lautnya. Selain itu, keberadaan tiga buah Pura di Nusa Penida, yaitu: Pura Ped, Pura Gua Giri Putri dan Pura Puncak Mundi telah menjadi tujuan wisata religi bagi Umat Hindu dari berbagai daerah di Bali maupun dari luar Bali. Menurut keterangan masyarakat setempat, ketiga Pura di Nusa Penida ini tidak pernah sepi dari kunjungan umat yang ingin melakukan persembahyangan. Kunjungan umat terutama membludak pada saat upacara odalan yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Hal ini tentu saja menjadi peluang besar untuk mempromosikan sekaligus memasarkan produk VCO dan nata de coco yang akan diproduksi oleh mitra. Apalagi, sampai saat ini belum ada produk lokal yang dapat dijadikan sebagai oleh-oleh khas dari Nusa Penida. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh pengusul, toko-toko atau warung-warung yang ada di sekitar areal Pura-Pura tersebut belum ada yang menawarkan produk oleh-oleh khas dari 3

10 Nusa Penida yang bisa dibawa pulang oleh para pengunjung. Toko-toko dan warungwarung tersebut dapat dijadikan tempat promosi dan pemasaran produk yang akan dihasilkan oleh mitra. Hal inilah yang mendasari keyakinan pihak mitra maupun pelaksana terhadap prospek usaha ini. Selain itu, di Nusa Penida terdapat dua pasar tradisional, satu terletak di Desa Sampalan (+ 5 KM sebelah timur lokasi mitra) dan yang lain terletak di Desa Toya Pakeh (+ 1 KM sebelah barat lokasi mitra). Lokasi mitra sangat dekat dengan Pasar Toya Pakeh (+ 400 meter) dan cukup dekat dengan Pasar Sampalan (+ 7 kilometer) Kedua pasar tersebut cukup penting artinya bagi aktivitas jual beli masyarakat. Kedua pasar tersebut dapat dijadikan salah satu target tempat penjualan produk olahan buah kelapa yang akan dihasilkan oleh mitra. Lebih lanjut, tidak menutup kemungkinan untuk mempromosikan dan memasarkan produk pada pasar-pasar tradisional maupun pasar swalayan yang ada di luar pulau Nusa Penida sebagai produk khas dari Nusa Penida. Hal ini didukung oleh sistem transportasi yang sudah mulai lancar sehingga akses dari Nusa Penida ke berbagai daerah lainnya menjadi lebih mudah. 1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah Secara umum taraf hidup masyarakat Nusa Penida termasuk Kelompok Tani Merta Sari sebagai mitra kegiatan P2M ini tergolong rendah. Hal ini disebabkan masyarakat hanya menggantungkan kehidupannya dari hasil budidaya rumput laut yang tidak menentu hasilnya karena kondisi lahan budidaya yang sulit dikontrol dan adanya permainan harga dari pihak pengepul. Di lain pihak, hasil perkebunan darat jumlah dan hasilnya sangat minim, sehingga hanya sedikit orang yang mau menekuninya sebagai pekerjaan sampingan. Keadaan ini memang tidak lepas dari karakteristik tanah di Nusa Penida yang tergolong tandus dan tidak ada sumber air permukaan seperti sungai atau danau. Satu satunya komoditi dari hasil perkebunan yang baik produksinya di daerah ini adalah tanaman kelapa. Kebun kelapa juga hanya dimiliki oleh beberapa orang yang memang tergolong tingkat ekonomi atas, sedangkan sebagian masyarakat lainnya hanya bisa menjadi buruh pada saat musim panen dengan imbalan yang tidak begitu besar. Permasalahan ini berakar dari kurangnya wawasan dan pengetahuan masyarakat tentang teknologi pengolahan hasil kebun baik rumput laut maupun buah kelapa yang merupakan komoditi andalan di daerah Nusa Penida. Masyarakat belum 4

11 mengetahui dan belum mampu mengolah hasil kebun mereka menjadi produk komersial yang bernilai jual lebih tinggi. Mereka selama ini hanya menjual hasil panen dalam bentuk mentah kepada para pengepul yang ada di daerah mereka masingmasing. Para pengepul ini sering mempermainkan harga sehingga nilai jual hasil panen cenderung berfluktuatif dan anjlok. Hingga saat ini masyarakat belum bisa keluar dari permasalahan ini karena tidak bisa berbuat banyak akibat kurangnya wawasan dan pengetahuan yang dimiliki. Khusus mengenai produk VCO dan nata de coco, masyarakat setempat sebagaian besar memang sudah mengenal kedua produk komersial tersebut. Namun, mereka belum mengetahui teknik pembuatannya yang ternyata dapat diproduksi secara sederhana dari daging dan air buah kelapa yang berlimpah di daerah mereka. Hal ini disebabkan kurangnya informasi dan pelatihan yang mereka dapat mengenai teknologi tersebut. Permasalahan inilah yang akan dipecahkan melalui kegiatan P2M ini dengan solusi memberikan pelatihan teknologi pengolahan buah kelapa menjadi produk VCO dan nata de coco. Kegiatan ini diharapkan memberikan perubahan dalam kehidupan masyarakat setempat sehingga menjadi masyarakat yang lebih produktif. Hasil akhir kegiatan ini diharapkan terbentuknya unit usaha atau industri kecil yang mengolah hasil panen kelapa menjadi produk komersial bernilai jual tinggi. 1.3 Tujuan Kegiatan Berdasarkan permasalahan yang dirumuskan, tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah sebagai berikut. 1. Meningkatkan wawasan dan pengetahuan kelompok tani Merta Sari Desa Nyuh Kukuh tentang teknologi pengolahan buah kelapa menjadi produk virgin coconut oil (VCO) dan nata de coco 2. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan kelompok tani Merta Sari Desa Nyuh Kukuh dalam mengolah buah kelapa menjadi produk virgin coconut oil (VCO) dan nata de coco 5

12 1.4 Manfaat Kegiatan Kegiatan ini dapat memberikan manfaat kepada mitra sebagai berikut. 1) Masyarakat memperoleh wawasan serta pengetahuan tentang teknologi pengolahan buah kelapa menjadi produk virgin coconut oil (VCO) dan nata de coco 2) Masyarakat memperoleh informasi tentang bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat virgin coconut oil (VCO) dan nata de coco, serta cara memperoleh bahan-bahan tersebut. 3) Masyarakat memperoleh bekal keterampilan membuat virgin coconut oil (VCO) dan nata de coco sampai menjadi produk yang siap dipasarkan. 4) Masyarakat memperoleh motivasi, dorongan, serta bimbingan untuk memulai usaha/industri kecil dari bahan baku buah kelapa. 6

13 BAB II METODE PELAKSANAAN 2.1 Rancangan Kegiatan Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan kegiatan P2M ini adalah ceramah, diskusi, demonstrasi dan praktik secara langsung. Gabungan metode-metode tersebut diharapkan mampu meningkatkan wawasan, pemahaman dan keterampilan masyarakat tentang pengolahan buah kelapa menjadi produk bernilai jual tinggi, dalam hal ini produk VCO dari daging buah kelapa dan produk nata de coco dari air kelapa. Keterkaitan antara tujuan dan metode yang digunakan dalam kegiatan P2M ini dapat dilihat pada Tabel 2.1 Tabel 2.1 Keterkaitan Tujuan dan Metode Kegiatan No Tujuan Metode Bentuk Kegiatan 1 Meningkatkan wawasan dan pengetahuan kelompok tani Merta Sari Desa Nyuh Kukuh tentang teknologi pengolahan buah kelapa menjadi produk virgin coconut oil (VCO) dan nata de coco Ceramah dan Diskusi Sosialisasi dan dialog interaktif tentang potensi pengolahan buah kelapa menjadi produk komersial Penyebaran Brosur tentang teknik pengolahan buah kelapa menjadi VCO dan nata de coco 2 Meningkatkan kemampuan dan keterampilan kelompok tani Merta Sari Desa Nyuh Kukuh dalam mengolah buah kelapa menjadi produk virgin coconut oil (VCO) dan nata de coco Demonstrasi dan Praktik secara langsung, Diskusi, Pendampingan Demonstrasi teknik pembuatan VCO dan nata de coco dari bahan baku buah kelapa Pelatihan (praktik langsung) pembuatan VCO dan nata de coco oleh masyarakat Diskusi tentang teknik produksi dan pemasaran produk yang akan dihasilkan. Pembimbingan/ Pendampingan secara berkelanjutan 7

14 2.2 Khalayak Sasaran Khalayak sasaran yang dilibatkan dalam kegiatan ini adalah masyarakat kelompok tani Merta Sari yang berlokasi di Desa Nyuh Kukuh Kecamatan Nusa Penida. Peserta yang dilibatkan dalam kegiatan P2M ini secara khusus adalah dari kalangan ibu-ibu rumah tangga dan remaja putri. Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa usaha produksi VCO dan nata de coco identik dengan kegiatan yang biasanya dilakukan oleh kaum wanita, sehingga diharapkan khalayak secara cepat dapat mengadopsi pengetahuan dan keterampilan yang dilatihkan kepada mereka. Jumlah peserta yang dilibatkan maksimal sebanyak 15 orang, dengan pertimbangan efisiensi kegiatan pelatihan. 2.3 Tahap Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan dilaksanakan melalui tiga tahap utama sebagai berikut. Tahap I (Sosialisasi) Pada tahap ini dilakukan sosialisasi mengenai prospek dan teknologi pengolahan buah kelapa menjadi nata de coco dan VCO. Sosialisasi dilaksanakan dengan metode ceramah dan diskusi serta penyebaran brosur. Melalui sosialisasi ini mitra diharapkan mulai tertarik dan tergerak untuk menekuni usaha pengolahan buah kelapa ini serta memahami prospek, seluk-beluk, teknologi, serta pemasaran produk yang akan dihasilkan. Tahap II (Pelatihan) Pada tahap ini dilakukan pelatihan membuat VCO dari daging buah kelapa dan membuat nata de coco dari air kelapa. Pelatihan dilakukan dengan cara demonstrasi proses produksi oleh tim pelaksana program yang diikuti dengan pelatihan produksi secara langsung oleh semua peserta kegiatan. Selama pelatihan juga dilakukan kegiatan pembimbingan dan konsultasi sehingga peserta benar-benar menguasai dan memahami teknologi yang dilatihkan. Tahap III (Monitoring dan Evaluasi) Pada tahap ini dilakukan kegiatan monitoring dan konsultasi bagi mitra terkait teknologi yang telah mereka peroleh termasuk aspek pemasaran sehingga diharapkan mitra menjadi kelompok pengusaha yang mandiri dan mampu mengembangkan 8

15 usahanya secara berkelanjutan. Pada tahap ini juga dilakukan evaluasi terhadap kemampuan dan keterampilan peserta mempraktikkan teknologi yang dilatihkan termasuk kualitas produk nata de coco dan VCO yang dihasilkan 2.4 Rancangan Evaluasi Evaluasi kegiatan P2M ini dilakukan terhadap proses dan produk kegiatan. Evaluasi proses dilakukan terhadap variabel-variabel berikut : kehadiran peserta mengikuti kegiatan, semangat/antusiasme masyarakat mengikuti kegiatan, dan tanggapan/respon masyarakat terhadap pelaksanaan kegiatan. Kehadiran peserta diukur dengan absensi kegiatan, kemudian dinyatakan dalam bentuk persentase kehadiran peserta. Semangat/antusiasme peserta mengikuti kegiatan diukur selama kegiatan berlangsung dengan skala likert, selanjutnya dinyatakan dalam bentuk frekuensi dan dipersentasekan. Berdasarkan frekuensi (persentase) tersebut dilakukan interpretasi sehingga diperoleh kesimpulan tentang semangat/antusiame peserta mengikuti kegiatan. Tanggapan/respon peserta terhadap pelaksanaan kegiatan diukur di akhir kegiatan dengan angket tertutup menggunakan skala Likert (SS = sangat setuju, S = setuju, TT = tidak tentu, TS = tidak setuju, STS = sangat tidak setuju). Evaluasi produk dilakukan terhadap kualitas produk VCO dan nata de coco yang dihasilkan oleh mitra. Evaluasi produk diukur dengan skala Likert, selanjutnya dinyatakan dalam bentuk frekuensi (dipersentasekan), dan hasilnya diinterpretasikan untuk memperoleh kesimpulan. Parameter-parameter yang dievaluasi untuk produk VCO meliputi bau, rasa dan warna. Produk VCO yang berkualitas memiliki karakteristik: bau khas kelapa segar dan tidak tengik, rasa normal khas minyak kelapa, dan warna tidak berwarna hingga kuning pucat. Sedangkan untuk produk nata de coco, parameter-parameter yang diuji meliputi tekstur, bau, rasa, dan warna. Produk nata de coco yang baik memiliki tekstur kenyal, tidak berbau, rasa khas kelapa, dan berwarna putih seperti daging kelapa. Indikator yang digunakan sebagai ukuran keberhasilan kegiatan yang dilakukan sebagai berikut. 1. Kehadiran peserta mengikuti kegiatan lebih dari 85 % 2. Semangat/antusiasme peserta mengikuti kegiatan baik 3. Kualitas produk VCO dan nata de coco yang dihasilkan oleh mitra baik 4. Tanggapan/respon peserta terhadap pelaksanaan kegiatan positif 9

16 BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Kegiatan Kegiatan pelatihan paket teknologi pengolahan buah kelapa menjadi virgin coconut oil (VCO) dan nata de coco bagi kelompok tani Merta Sari Desa Nyuh Kukuh Kecamatan Nusa Penida secara umum telah terlaksana dengan baik dan memberikan hasil yang cukup memuaskan bagi mitra. Masyarakat mampu mengikuti serta mempraktikkan secara langsung teknologi yang dilatihkan dan mampu menghasilkan produk VCO dan nata de coco dengan kualitas yang cukup baik. Namun, untuk memperoleh hasil yang lebih baik, perlu usaha dan kreativitas masyarakat sendiri untuk melakukan percobaan secara terus menerus untuk memperbaiki kualitas produk mereka. Keberhasilan program pelatihan ini diukur melalui evaluasi yang dilakukan baik terhadap proses maupun produk kegiatan. Hasil evaluasi proses yang meliputi: kehadiran peserta mengikuti kegiatan, semangat/antusiasme masyarakat mengikuti kegiatan, dan tanggapan/respon masyarakat terhadap pelaksanaan kegiatan menunjukkan hasil baik. Hasil evaluasi produk nata de coco dan VCO yang dihasilkan peserta cukup baik, namun kualitasnya perlu ditingkatkan oleh mitra. Hasil penilaian terhadap parameter-parameter evaluasi adalah sebagai berikut Kehadiran Peserta Mengikuti Kegiatan Kehadiran peserta mengikuti kegiatan pelatihan sangat baik (daftar hadir ditunjukkan pada Lampiran 1). Peserta kegiatan pelatihan ini berasal dari satu keluarga besar ( Paibon ) dengan jumlah peserta dibatasi maksimal 15 orang. Hal ini bertujuan agar pelatihan berlangsung lebih efisien dan efektif, sehingga mitra diharapkan benar-benar mampu mengadopsi teknologi yang dilatihkan dan mampu membuat unit usaha secara mandiri. Peserta kegiatan terutama dari kalangan ibu-ibu rumah tangga, dan beberapa dari kalangan bapak-bapak juga ikut. 10

17 3.1.2 Semangat/Antusiasme Peserta Mengikuti Kegiatan Berdasarkan hasil pengamatan, peserta cukup semangat dan antusias mengikuti seluruh kegiatan pelatihan. Data hasil penilaian terhadap semangat/antusiasme peserta dalam mengikuti kegiatan pelatihan ditunjukkan pada Tabel 3.1 di bawah. Tabel 3.1 Semangat/Antusiasme Masyarakat Mengikuti Kegiatan No Aspek yang diamati Nilai Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang 1 Perhatian peserta selama kegiatan berlangsung 2 Keterlibatan peserta dalam kegiatan diskusi/penyuluhan 3 Keterlibatan peserta dalam kegiatan praktek/pelatihan 4 Semangat peserta mengajukan pertanyaan terkait materi yang dilatihkan 5 Kerjasama peserta selama kegiatan 6 Penerimaan masyarakat terhadap kegiatan Respon Masyarakat terhadap Pelaksanaan Kegiatan Data respon/tanggapan masyarakat terhadap pelaksanaan kegiatan pelatihan diperoleh melalui penyebaran angket tertutup menggunakan skala Likert. Data respon masyarakat ditunjukkan pada Tabel 3.2 di bawah. Berdasarkan hasil tersebut, tanggapan masyarakat terhadap pelaksanaan kegiatan pelatihan ini tergolong positif. Tabel 3.2 Respon Masyarakat terhadap Pelaksanaan Kegiatan P2M No Pernyataan 1 Masyarakat menyambut dengan baik kegiatan pengabdian dalam bentuk penyuluhan dan pelatihan tentang teknologi tepat guna Pendapat SS S TT TS STS N % N % N % N % N %

18 2 Kegiatan penyuluhan dan pelatihan yang diberikan memberikan tambahan pengetahuan dan wawasan bagi masyarakat tentang teknologi tepat guna 3 Kegiatan pelatihan yang diberikan meningkatkan kemampuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah buah kelapa menjadi nata de coco dan VCO 4 Pelatihan dan penyuluhan yang diberikan dapat dengan mudah dipahami dan diikuti 5 Teknologi yang diperkenalkan dan dilatihkan kepada masyarakat sederhana dan tepat guna 6 Kegiatan pelatihan mendorong masyarakat untuk memulai menggunakan teknologi yang diperkenalkan. 7 Kegiatan penyuluhan dan pelatihan seperti ini sebaiknya terus dilakukan secara berkelanjutan 8 Kegiatan penyuluhan dan pelatihan menyita waktu dan tenaga masyarakat dengan hasil yang tidak pasti 9 Kegiatan pelatihan ini kurang bermanfaat bagi masyarakat Kemampuan/Keterampilan Masyarakat Menerapkan Teknik yang Dilatihkan Kemampuan dan keterampilan peserta dalam mengolah daging buah kelapa menjadi produk VCO dan mengolah air kelapa menjadi nata de coco dinilai dengan pedoman observasi, hasilnya ditunjukkan pada Tabel 3.3 berikut. Berdasarkan hasil 12

19 tersebut, secara umum masyarakat peserta kegiatan sudah mampu membuat produk VCO dan nata de coco dengan kualitas yang cukup, namun perlu dilkukan latihan dan percobaan kembali secara mandiri oleh masyarakat di bawah bimbingan tim pelatih. Tabel 3.3 Kemampuan/Keterampilan Masyarakat Menerapkan Teknologi yang Dilatihkan No Aspek yang diamati Nilai Sangat Baik 1 Kemampuan dan keterampilan membuat nata de coco 2 Kualitas nata de coco yang dihasilkan : a. Tekstur b. Warna c. Rasa d. Bau/aroma 3 Kemampuan dan keterampilan membuat VCO 4 Kualitas VCO yang dihasilkan : a. Warna b. Rasa c. bau Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Produk VCO dan nata de coco yang dihasilkan oleh peserta kegiatan pelatihan ditunjukkan pada Gambar 3.1 dan Gambar 3.2 di bawah. Produk VCO (Gambar 3.1) yang dihasilkan memiliki warna yang jernih dengan bau khas kelapa segar dan rasa seperti minyak kelapa. Produk nata de coco (Gambar 3.2) yang dihasilkan sudah baik dalam hal tekstur dan warnanya, namun aroma dan rasanya masih perlu diperbaiki. 13

20 Gambar 3.1 Produk VCO Yang Dihasilkan Oleh Peserta Pelatihan Gambar 3.2 Produk Nata de coco Yang Dihasilkan Oleh Peserta Pelatihan 3.2 Pembahasan Secara umum kegiatan pelatihan teknologi pengolahan buah kelapa menjadi produk VCO dan nata de coco memberikan manfaat bagi kelompok tani Merta Sari. Pertama, masyarakat memperoleh wawasan mengenai prospek produk VCO dan nata de coco. Kedua, masyarakat memperoleh bekal keterampilan mengolah buah kelapa menjadi produk VCO dan nata de coco yang memiliki nilai komersial tinggi. Ketiga, masyarakat memperoleh motivasi dan pendampingan secara berkelanjutan dari tim pelaksana kegiatan sehingga diharapkan peserta mampu membentuk unit usaha secara mandiri. 14

21 Kegiatan pelatihan yang telah dilaksanakan berlangsung lancar dan penuh dengan semangat dan antusiasme masyarakat. Kegiatan pelatihan dilakukan melalui tiga tahap, yaitu sosialisasi, pelatihan, dan monitoring dan evaluasi. Pada tahap sosialisasi, peserta diberikan wawasan mengenai teknologi dan prospek pengolahan buah kelapa menjadi produk VCO dan nata de coco, dilakukan melalui ceramah dan diskusi. Peserta cukup antusias mengikuti kegiatan ceramah yang dipadukan dengan diskusi. Selama sosialisasi, perhatian masyarakat sangat baik, namun hanya sedikit yang mengajukan pertanyaan mengenai teknologi yang diperkenalkan. Hal ini kemungkinan disebabkan masyarakat masih merasa canggung untuk bertanya, karena kegiatan sosialisasi seperti ini memang masih awam bagi mereka yang kesehariannya sebagai petani. Namun, secara umum masyarakat mampu memahami teknologi yang diperkenalkan karena teknik produksi VCO dan nata de coco cukup sederhana. Pada sosialisasi mengenai teknik pembuatan nata de coco dari bahan baku air kelapa, peserta banyak menanyakan bahan-bahan yang masih asing bagi mereka, seperti: starter, DAP dan ZA. Banyak peserta yang masih awam dengan istilah starter serta bagaimana cara memperolehnya. Starter merupakan biakan bakteri yang dimanfaatkan untuk memfermentasi air kelapa menjadi produk nata de coco. Untuk awalnya, starter dapat diperoleh dari industri kecil yang memproduksi nata de coco, selanjutnya starter dapat terus diperbaharui dengan teknik yang sangat mudah sejalan dengan teknik produksi nata de coco. Sedangkan bahan-bahan tambahan seperti DAP (diammonium phosphate) dan ZA (Zwavlein Ammonium) adalah nutrisi bagi bakteri yang akan memfermentasi air kelapa menjadi nata de coco dan dapat diperoleh dengan mudah. Kedua bahan tersebut dapat diganti menggunakan bahan lain seperti air rebusan kecambah dan pupuk urea, atau tanpa penambahan kedua bahan tersebut. Namun, biasanya fermentasi akan memerlukan waktu yang lebih lama (13-20 hari) dibandingkan jika ditambahkan bahan DAP dan ZA (7-8 hari). Setelah memperoleh penjelasan dari tim pelatih, akhirnya peserta mengetahui bahan-bahan tersebut serta cara memperolehnya. Satu permasalahan terkait produksi nata de coco yang membuat masyarakat sedikit kurang semangat untuk memulai usaha ini adalah lamanya waktu yang diperlukan mulai dari fermentasi hingga pengolahan menjadi nata manis yang siap dikonsumsi. Waktu yang diperlukan untuk fermentasi air kelapa menjadi nata mentah sekitar 7-8 hari. Selanjutnya, pengolahan nata hasil fermentasi menjadi nata yang siap 15

22 dikonsumsi atau dipasarkan memerlukan waktu yang cukup lama, dimana sebagian besar waktu tersita untuk perendaman nata yang memerlukan waktu kurang lebih 3 x 5 hari hingga dihasilkan nata yang bersih. Setelah bersih nata siap dimasak menjadi nata manis dengan penambahan gula dan perasa, dan siap dikemas untuk dikonsumsi atau dipasarkan. Jadi waktu total waktu yang diperlukan kurang lebih tiga minggu hingga satu bulan. Namun, untuk keperluan produksi secara kontinyu, hal ini sebenarnya bukan menjadi masalah karena masing-masing tahap bisa dikerjakan sementara menunggu tahap yang lain. Masyarakat masih belum mampu memahami proses produksi secara berkelanjutan ini karena dalam pikiran mereka produk harus bisa dihasilkan dalam waktu singkat (1-2 hari). Hal ini memang tidak lepas dari pengalaman yang mereka miliki dalam membuat produk seperti kue yang memerlukan waktu sangat singkat. Sosialisasi juga diberikan mengenai pengemasan produk nata yang bisa dilakukan secara sederhana menggunakan plastik atau menggunakan kemasan lainnya yang lebih menarik seperti gelas plastik. Hanya saja perlu diperhatikan bahwa kemasan yang lebih menarik tentu memerlukan biaya lebih banyak, hal ini harus disesuaikan dengan harga produk yang akan di tawarkan dan daya beli masyarakat. Pemasaran produk nata de coco ini bisa dilakukan melalui warung-warung kecil atau sekolah-sekolah. Pada pengenalan prospek dan teknik pembuatan VCO, peserta banyak menanyakan mengenai kegunaan VCO dan perbedaannya dengan minyak kelapa yang sudah mereka buat secara turun-temurun. Setelah diberikan penjelasan, peserta dapat memahami bahwa VCO memiliki manfaat yang jauh lebih banyak dibandingkan minyak kelapa yang hanya dapat digunakan untuk menggoreng bahan makanan. VCO dapat dimanfaatkan untuk kesehatan, kecantikan, aroma terapi, pengobatan, dan harganya jauh lebih mahal dibandingkan minyak kelapa biasa. Teknik pembuatan VCO sangat sederhana dan tidak memerlukan energi yang banyak karena tidak perlu pemanasan seperti halnya dalam membuat minyak kelapa. Hanya saja proses pembuatan VCO harus dilakukan menggunakan peralatan-peralatan yang bersih dan steril karena keberadaan mikroba pada bahan-bahan atau peralatan dapat mengganggu proses pembentukan VCO dari santan kelapa. Peserta sempat menanyakan mengenai istilah steril dan bagaimana caranya mensterilkan alat-alat. Tim pelatih memberikan penjelasan mengenai teknik mensterilkan peralatan secara sederhana yaitu dengan 16

23 membilas peralatan menggunakan air panas, sedangkan untuk peralatan yang tidak tahan panas dan tangan pengolah dapat disterilkan menggunakan alkohol 70% yang dapat dibeli di apotek atau toko-toko obat. Tim pelatih juga memberikan teknik pengemasan VCO dapat dilakukan dalam botol-botol kecil yang sudah disterilkan sebelumnya menggunakan air panas. Pemasaran dapat dilakukan di warung-warung atau toko-toko terutama yang ada di sekitar Pura Penataran Ped dan Pura Goa Giri Putri. Produk VCO dapat dipasarkan dengan label Produk Khas Nusa Penida sebagai oleh-oleh bagi para umat Hindu dari luar pulau Nusa Penida yang melakukan persembahyangan. Evaluasi kegiatan pelatihan dilakukan terhadap proses dan produk hasil kegiatan. Dari data hasil evaluasi, secara umum kegiatan pelatihan telah memberikan hasil yang cukup memuaskan dan bermanfaat bagi masyarakat. Keempat indikator keberhasilan yang dievaluasi, meliputi: kehadiran peserta, semangat/antusiasme peserta, kemampuan/keterampilan peserta menerapkan teknologi yang dilatihkan, dan respon peserta terhadap pelaksanaan kegiatan menunjukkan nilai cukup sampai sangat baik. Kehadiran peserta mengikuti kegiatan lebih dari 100%, dari 15 peserta yang diundang, kegiatan dihadiri oleh 21 peserta. Hal ini disebabkan rasa ingin tahu masyarakat sangat tinggi terhadap kegiatan-kegiatan pelatihan sehingga banyak yang mau ikut dan hanya sekedar melihat. Semangat/antusiasme peserta mengikuti kegiatan seperti ditunjukkan pada Tabel 3.1, dari enam aspek yang diamati rata-rata menunjukkan hasil baik. Dari keenam aspek yang diamati, keterlibatan peserta dalam kegiatan diskusi dan mengajukan pertanyaan masuk kategori cukup. Tidak banyak peserta yang mau bertanya kemungkinan karena masih malu. Namun ada peserta yang memang sangat aktif dalam diskusi maupun praktik. Uktuk kegiatan praktik, keterlibatan peserta tergolong sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat memang lebih senang praktik secara langsung dibandingkan berdiskusi. Respon/tanggapan peserta terhadap kegiatan yang dilaksanakan secara umum positif. Berdasarkan Tabel 3.2, dari tujuh pernyataan positif yang diberikan menggunakan skala Likert, sebagian besar mendapatkan tanggapan setuju sampai sangat setuju dari peserta, sedangkan dua pernyataan negatif mendapatkan tanggapan tidak setuju. 17

24 Kemampuan/keterampilan peserta membuat produk nata de coco dan VCO dengan teknik yang dilatihkan secara umum baik. Untuk produk nata yang dibuat oleh peserta memiliki tekstur dan warna yang baik, namun rasa dan aromanya masih perlu diperbaiki (lihat Gambar 3.2). Rasa dan aroma nata dapat diperbaiki dengan menambahkan essence pada produk nata manis yang dibuat. Sedangkan untuk produk VCO yang dihasilkan oleh masyarakat sudah baik dilihat dari warna, rasa dan baunya (lihat Gambar 3.1). Menurut keterangan peserta, mereka dapat menghasilkan produk VCO dengan kualitas baik setelah tiga kali percobaan. Keberhasilan produksi VCO sangat tergantung pada kebersihan peralatan-peralatan dan bahan yang digunakan, serta pada proses pembuatan santan dari daging kelapa. Teknik peremasan daging kelapa yang telah diparut dapat menentukan jumlah santan yang diperoleh. Sebelum dibuat menjadi santan, daging kelapa yang telah diparut terlebih dahulu ditambahkan air hangat, hal ini bertujuan agar mempermudah pengeluaran santan dari daging kelapa. 18

25 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil kegiatan dan evaluasi yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kegiatan pelatihan ini telah berhasil meningkatkan wawasan dan pengetahuan kelompok tani Merta Sari di Desa Nyuh Kukuh Kecamatan Nusa Penida tentang prospek dan teknologi pengolahan buah kelapa menjadi nata de coco dan VCO. Masyarakat juga telah menguasai teknik pembuatan nata de coco dan VCO dari buah kelapa serta mampu menghasilkan kedua produk tersebut dengan kualitas cukup baik. 4.2 Saran Dari hasil diskusi dengan pihak mitra, kendala utama mereka membangun sebuah industri rumah tangga adalah keterbatasan modal dan peralatan penunjang yang dimiliki. Pihak mitra sangat mengharapkan adanya bantuan dalam bentuk modal selain pelatihan. Untuk itu, diperlukan program pengabdian yang dapat memberikan bantuan berupa peralatan penunjang serta modal awal produksi bagi masyarakat yang memiliki potensi dan semangat untuk maju. 19

26 Lampiran 1. Absensi Peserta Kegiatan 20

27 Lampiran 2. Foto-foto Kegiatan A. Foto-foto Pelatihan Pembuatan VCO 21

28 B. Foto-foto Pelatihan Pembuatan Nata de Coco 22

29 Lampiran 3. Peta Lokasi Wilayah Mitra Lokasi Mitra 23

30 Lampiran 4. Brosur Resep Nata de Coco dan VCO BAHAN RESEP MEMBUAT NATA DE COCO A. Bahan Utama : Air Kelapa yang sudah tua = 1 liter B. Bahan Tambahan : Starter ZA (Zwavlein Ammonium) = 3 3,5 gram. DAP (DiAmmonium Posphat) = 0,5 1 gram. Cuka = 2 mililiter. Gula pasir = 5 6 gram. Kaporit : 3 mililiter/liter air tawar. Essence untuk penambah aroma seperti aroma sirsak, leci, pisang. CARA PEMBUATAN A. Pembuatan Nata de coco 1) Saring air kelapa hingga bersih, kemudian masak dalam panci sampai mendidih. 2) Masukkan ZA, DAP, cuka dan gula pasir ke dalam sedikit air dan diaduk sampai larut, kemudian dimasukkan ke dalam air kelapa mendidih lalu diaduk-aduk hingga tercampur rata kemudian ditutup dan dibiarkan selama 5-10 menit. 3) Tutup panci dibuka sedikit lalu dibiarkan sampai dingin. Setelah dingin adonan dapat digunakan untuk membuat nata de coco dan sebagian untuk membuat starter 4) Setelah dingin, adonan dimasukkan ke dalam baki lalu ditutup dengan kertas koran dan diikat dengan karet atau tali raffia dan didiamkan selama 6 8 jam. 5) Adonan kemudian ditambahkan starter (satu botol starter untuk membuat 4 baki nata de coco), lalu ditutup kembali dengan kertas koran. dan didiamkan dalam ruangan selama + 8 hari sampai terbentuk lapisan nata yang kenyal. 24

31 B. Pembuatan Starter 1. Bilas botol kaca dengan air panas atau menggunakan sedikit adonan panas yang dibuat 2. Masukkan sebagian adonan nata de coco yang telah dingin kedalam botol lalu ditutup dengan kertas Koran kemudian didiamkan selama kurang lebih 6-8 jam 3. Tambahkan starter (satu botol starter untuk membuat 6 botol starter baru), kemudian ditutup kembali dan didiamkan dalam ruangan selama kurang lebih 5 hari 4. Setelah 5 hari, starter ini siap digunakan membuat nata de coco. C. Pembuatan Nata de coco manis 1) Nata yang telah terbentuk dipotong berbentuk kubus dengan ukuran kecil, kemudian dicuci dan direndam dalam air tawar selama 5 hari. 2) Nata yang telah direndam dalam air tawar ini kemudian direndam dalam campuran air kaporit selama lima hari (tahap ini dilakukan sampai 3 kali). 3) Setelah melalui 3 kali pergantian air kaporit maka nata direndam kembali dalam air tawar selama 5 hari. 4) Setelah proses perendaman, nata de coco ditiriskan agar tidak ada sisa air rendaman. 5) Nata de coco tawar direbus sampai mendidih, kemudian ditambahkan gula dan dibiarkan mendidih sampai 15 menit, kemudian didinginkan. 6) Jika menginginkan nata de coco dengan rasa yang berbeda maka ditambahkan essence (perasa) buah seperti sirsak, leci, moka, pisang dan jeruk. 7) Nata siap dikemas dalam plastik dan siap dikonsumsi atau dipasarkan. 25

32 RESEP MEMBUAT VCO BAHAN DAN ALAT Bahan : Kelapa, VCO untuk pancingan, alcohol 70% atau food grade. Peralatan : - Sprayer alkohol, tisu / lap bersih untuk sterilisasi peralatan. - Alat pemarut kelapa - Toples - Pengaduk / mixer, sendok panjang - Selang untuk memisahkan santan kanil dan encerannya, dan untuk memisahkan minyak, blondo dan VCO - Botol pengemas PROSES PEMBUATAN a. Gunakan sprayer untuk menyemprotkan peralatan kerja dan tangan, tunggu kira-kira 5 menit hingga kering. b. Ambil kelapa yang masih segar dan tua di pohon (usia ± 12 bulan), parut dan peras santannya. c. Santan yang sudah diperas kemudian ditempatkan dalam wadah (toples), biarkan sekitar 2 jam, sehingga terbentuk 2 lapisan (santan kanil (atas) dan encerannya (bawah)), kemudian dipisahkan. 26

33 d. Campur santan kanil dengan VCO pancingan. e. Aduk dengan mixer (bila tak ada, dapat memakai sendok panjang). f. Setelah tercampur homogen antara santan kanil dan VCO pancingan, letakkan di tempat bersih dan teduh, biarkan selama 10 jam. Setelah 10 jam, terjadi pemisahan campuran menjadi lapisan minyak paling atas, blondo di tengah dan VCO di bagian bawah. g. Pisahkan minyak, blondo dan airnya. VCO yang sudah disaring siap dikemas. 27

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU Oleh: Gusti Setiavani, S.TP, M.P Staff Pengajar di STPP Medan Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang tanah, biji kecipir, koro, kelapa

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Prosedur pelaksanaan dilakukan dalam 2 (dua) tahap yaitu tahap preparasi dan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Prosedur pelaksanaan dilakukan dalam 2 (dua) tahap yaitu tahap preparasi dan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Prosedur pelaksanaan dilakukan dalam 2 (dua) tahap yaitu tahap preparasi dan tahap pengolahan. 4.1 Tahap preparasi 4.1.1 Tahap Preparasi untuk Tempe Ada beberapa hal yang harus

Lebih terperinci

ARTIKEL. IPTEKS BAGI MASYARAKAT (IbM)

ARTIKEL. IPTEKS BAGI MASYARAKAT (IbM) ARTIKEL IPTEKS BAGI MASYARAKAT (IbM) IbM KELOMPOK WANITA TANI ANGGREK DI DESA ADATONGENG, KECAMATAN TURIKALE, KABUPATEN MAROS, SULAWESI SELATAN (Perbanyakan dan Aklimatisasi Anggrek Melalui Kultur Jaringan

Lebih terperinci

Resep Makanan Bayi. (6-8 Bulan) Copyright TipsBayi.com & KartuBayi.com

Resep Makanan Bayi. (6-8 Bulan) Copyright TipsBayi.com & KartuBayi.com Resep Makanan Bayi (6-8 Bulan) Copyright TipsBayi.com & KartuBayi.com Resep Makanan Bayi (6 Bulan, 7 Bulan, 8 Bulan) Bayi Anda sudah berusia 6 bulan? Jika Anda seperti para bunda lainnya, pasti Anda sedang

Lebih terperinci

PERENCANAAN PRODUKSI NATA DE COCO MENTAH DAN SIAP-SANTAP

PERENCANAAN PRODUKSI NATA DE COCO MENTAH DAN SIAP-SANTAP PERENCANAAN PRODUKSI NATA DE COCO MENTAH DAN SIAP-SANTAP ebookpangan.com 2006 I. MENGENAL NATA DE COCO A. Asal dan Bahan Nata de Coco Teknologi pengolahan nata de coco (sari kelapa) berasal dari Filipina.

Lebih terperinci

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur dapat

Lebih terperinci

TTL : Boyolali, 07 Mei 1969 : Desa Mayajaya, kecamatan Pamona Selatan Kab.Poso, Provinsi Sulawesi Tengah

TTL : Boyolali, 07 Mei 1969 : Desa Mayajaya, kecamatan Pamona Selatan Kab.Poso, Provinsi Sulawesi Tengah Nama : Juminah TTL : Boyolali, 07 Mei 1969 Asal : Desa Mayajaya, kecamatan Pamona Selatan Kab.Poso, Provinsi Sulawesi Tengah Saya mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang sudah diberikan kepada saya

Lebih terperinci

: pendampingan, vokasi, kelompok keterampilan, peternakan

: pendampingan, vokasi, kelompok keterampilan, peternakan PENINGKATAN KETERAMPILAN BETERNAK DENGAN DILENGKAPI PEMANFAATAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA PADA KKN VOKASI DI DESA MOJOGEDANG KECAMATAN MOJOGEDANG KABUPATEN KARANGANYAR Sutrisno Hadi Purnomo dan Agung Wibowo

Lebih terperinci

TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI

TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI Teknik Pembuatan Pupuk Bokashi @ 2012 Penyusun: Ujang S. Irawan, Senior Staff Operation Wallacea Trust (OWT) Editor: Fransiskus Harum, Consultant

Lebih terperinci

ANEKA PENGOLAHAN PRODUK PERTANIAN

ANEKA PENGOLAHAN PRODUK PERTANIAN ANEKA PENGOLAHAN PRODUK PERTANIAN Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian DKI Jakarta 1996 / 1997 DAFTAR ISI I. PENDAHULUAN II. Dasar-dasar pengolahan dan pengawetan produk pertanian 2.1

Lebih terperinci

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi)

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Pengolahan Tanah Sebagai persiapan, lahan diolah seperti kebiasaan kita dalam mengolah tanah sebelum tanam, dengan urutan sebagai berikut.

Lebih terperinci

PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT

PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT MODUL: PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT I. DESKRIPSI SINGKAT A ir dan sanitasi merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan manusia, karena itu jika kebutuhan tersebut

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK

ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK 45 ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK Perilaku konsumen dalam mengkonsumsi dangke dipengaruhi oleh faktor budaya masyarakat setempat. Konsumsi dangke sudah menjadi kebiasaan masyarakat dan bersifat turun

Lebih terperinci

Bisnis Susu Kedelai Tugas Karya Ilmiah Lingkungan Bisnis

Bisnis Susu Kedelai Tugas Karya Ilmiah Lingkungan Bisnis Bisnis Susu Kedelai Tugas Karya Ilmiah Lingkungan Bisnis Disusun Oleh : Asep Firmansyah Murdas ( 11.11.4775 ) S1-TI-03 SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2012 ABSTRAK

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI TAMBAH, KEUNTUNGAN, DAN TITIK IMPAS PENGOLAHAN HASIL RENGGINANG UBI KAYU (RENGGINING) SKALA RUMAH TANGGA DI KOTA BENGKULU

ANALISIS NILAI TAMBAH, KEUNTUNGAN, DAN TITIK IMPAS PENGOLAHAN HASIL RENGGINANG UBI KAYU (RENGGINING) SKALA RUMAH TANGGA DI KOTA BENGKULU ANALISIS NILAI TAMBAH, KEUNTUNGAN, DAN TITIK IMPAS PENGOLAHAN HASIL RENGGINANG UBI KAYU (RENGGINING) SKALA RUMAH TANGGA DI KOTA BENGKULU Andi Ishak, Umi Pudji Astuti dan Bunaiyah Honorita Balai Pengkajian

Lebih terperinci

PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT IPALS

PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT IPALS PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT IPALS (Instalasi Pengolahahan Air Laut Sederhana): Transformasi Air Laut Menjadi Air Tawar dengan Pemisahan Elektron Cl - Menggunakan Variasi Batu Zeolit sebagai Upaya Penyediaan

Lebih terperinci

4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen. Tujuan Intruksional Khusus:

4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen. Tujuan Intruksional Khusus: 108 4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen Tujuan Intruksional Khusus: Setelah mengikuti course content ini mahasiswa dapat menjelaskan kriteria, komponen dan cara panen tanaman semusim dan tahunan

Lebih terperinci

Haris Dianto Darwindra 240210080133 BAB VI PEMBAHASAN

Haris Dianto Darwindra 240210080133 BAB VI PEMBAHASAN BAB VI PEMBAHASAN Pada praktikum ini membahas mengenai Kurva Pertumbuhan Mikroorganisme Selama Proses Aging Keju. Keju terbuat dari bahan baku susu, baik susu sapi, kambing, atau kerbau. Proses pembuatannya

Lebih terperinci

Teknologi Tepat Guna Penjernihan Air Dengan Biji Kelor (Moringa Oleifera) Teknologi Tepat Guna

Teknologi Tepat Guna Penjernihan Air Dengan Biji Kelor (Moringa Oleifera) Teknologi Tepat Guna Teknologi Tepat Guna Penjernihan Air Dengan Biji Kelor (Moringa Oleifera) Oleh Kharistya - http://kharistya.wordpress.com Teknologi Tepat Guna Teknologi tepat guna, mengutip dari wikipedia, merupakan teknologi

Lebih terperinci

TFC ( Therapeutic Feeding Centre ) / PPG ( Pusat Pemulihan Gizi )

TFC ( Therapeutic Feeding Centre ) / PPG ( Pusat Pemulihan Gizi ) TFC ( Therapeutic Feeding Centre ) / PPG ( Pusat Pemulihan Gizi ) Balita yang sehat dan cerdas adalah idaman bagi setiap orang. Namun apa yang terjadi jika balita menderita gizi buruk?. Di samping dampak

Lebih terperinci

MEMANFAATKAN PEKARANGAN PEROLEH RUPIAH

MEMANFAATKAN PEKARANGAN PEROLEH RUPIAH MEMANFAATKAN PEKARANGAN PEROLEH RUPIAH Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL) merupakan program yang dicanangkan pemerintah dengan tujuan pemanfaatan lahan pekarangan untuk pengembangan pangan rumah

Lebih terperinci

PELATIHAN PENILAIAN KESEHATAN KOPERASI SIMPAN PINJAM DAN UNIT SIMPAN PINJAM KOPERASI DI KABUPATEN BULELENG

PELATIHAN PENILAIAN KESEHATAN KOPERASI SIMPAN PINJAM DAN UNIT SIMPAN PINJAM KOPERASI DI KABUPATEN BULELENG LAPORAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT PELATIHAN PENILAIAN KESEHATAN KOPERASI SIMPAN PINJAM DAN UNIT SIMPAN PINJAM KOPERASI DI KABUPATEN BULELENG Ketua : Fridayana Yudiaatmaja, M.Sc / 0012047414 Anggota

Lebih terperinci

Kulit masohi SNI 7941:2013

Kulit masohi SNI 7941:2013 Standar Nasional Indonesia ICS 65.020.99 Kulit masohi Badan Standardisasi Nasional BSN 2013 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen ini

Lebih terperinci

PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati

PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati Kebutuhan pangan selalu mengikuti trend jumlah penduduk dan dipengaruhi oleh peningkatan pendapatan per kapita serta perubahan

Lebih terperinci

FORM D. A. Uraian Kegiatan. Deskripsikan Latar Belakang Permasalahan: Deskripsikan Maksud dan Tujuan Kegiatan Litbangyasa :

FORM D. A. Uraian Kegiatan. Deskripsikan Latar Belakang Permasalahan: Deskripsikan Maksud dan Tujuan Kegiatan Litbangyasa : FORM D A. Uraian Kegiatan Deskripsikan Latar Belakang Permasalahan: 1. Pemanenan jeruk kisar yang dilakukan petani di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) masih tradisional, diantaranya tingkat kematangan,

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI TAMBAH PADA AGROINDUSTRI JAGUNG DI KOTA GORONTALO (Studi Kasus pada UKM Qalifa)

ANALISIS NILAI TAMBAH PADA AGROINDUSTRI JAGUNG DI KOTA GORONTALO (Studi Kasus pada UKM Qalifa) ANALISIS NILAI TAMBAH PADA AGROINDUSTRI JAGUNG DI KOTA GORONTALO (Studi Kasus pada UKM Qalifa) Ria Indriani Universitas Negeri Gorontalo Jl.Jend.Sudirman No.6 Kota Gorontalo Email :ria.s_imran@yahoomail.com

Lebih terperinci

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI DEPARTEMEN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 ABSTRAK LIRA BUDHIARTI. Karakterisasi

Lebih terperinci

PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN PEREMPUAN BERBASIS POTENSI LOKAL

PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN PEREMPUAN BERBASIS POTENSI LOKAL PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN PEREMPUAN BERBASIS POTENSI LOKAL PENGOLAHAN KACANG TANAH DI DUSUN BUTUH, PATALAN, JETIS, BANTUL, YOGYAKARTA Oleh : Sri Palupi Yuriani Mulyadi Fakultas Teknik UNY PENDAHULUAN Mayoritas

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR

PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR VISI DAN MISI VISI Meningkatkan Kebersihan dan Keindahan Kota Denpasar Yang Kreatif dan Berwawasan

Lebih terperinci

Seru sekali lomba lari itu! Siapa yang lebih dulu tiba di lapangan, dialah yang menjadi pemenang...

Seru sekali lomba lari itu! Siapa yang lebih dulu tiba di lapangan, dialah yang menjadi pemenang... SODIS BOTOL AJAIB Seru sekali lomba lari itu! Mereka berlari sekencang-kencangnya untuk memenangkan perlombaan. 4 5 Pada suatu pagi di hari Minggu, Ani dan Ayah berjalan-jalan. Sesampai di dekat lapangan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat mendukung untuk pengembangan usaha perikanan baik perikanan

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat mendukung untuk pengembangan usaha perikanan baik perikanan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan suatu Negara yang memiliki kawasan perairan yang hampir 1/3 dari seluruh kawasannya, baik perairan laut maupun perairan tawar yang sangat

Lebih terperinci

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan 2007 Kerja sama Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan, Departemen Kehutanan dengan Direktorat Statistik Pertanian, Badan Pusat Statistik Jakarta, 2007 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

Petunjuk Pengunaan Saringan Air Nazava Nazava Tulip sipon

Petunjuk Pengunaan Saringan Air Nazava Nazava Tulip sipon Nazava saringan air Petunjuk Pengunaan Saringan Air Nazava Nazava Tulip sipon Kami mengucapkan dan terima kasih atas kepercayaan anda membeli Saringan Air Nazava. Dengan Saringan Air Nazava anda bisa dapat

Lebih terperinci

PERAN PEREMPUAN DAYA AIR, SANITASI DAN HIGIENE UNTUK KESEJAHTERAAN ETTY HESTHIATI LPPM UNIV. NASIONAL

PERAN PEREMPUAN DAYA AIR, SANITASI DAN HIGIENE UNTUK KESEJAHTERAAN ETTY HESTHIATI LPPM UNIV. NASIONAL PERAN PEREMPUAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR, SANITASI DAN HIGIENE UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT ETTY HESTHIATI LPPM UNIV. NASIONAL JAKARTA A PERAN PEREMPUAN Perempuan sangat berperan dalam pendidikan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN

Lebih terperinci

S E H A T, L E Z A T, & P R A K T I S MENU LENGKAP CITA RASA

S E H A T, L E Z A T, & P R A K T I S MENU LENGKAP CITA RASA masak! idemasak S E H A T, L E Z A T, & P R A K T I S MENU LENGKAP CITA RASA DAPUR BORNEO prakata Dapur Borneo adalah aneka resep masakan yang berasal dari daerah Kalimantan wilayah Indonesia. Ini mencakup,

Lebih terperinci

BERGUNAKAH PELAJARAN PRAKARYA BAGI SISWA?

BERGUNAKAH PELAJARAN PRAKARYA BAGI SISWA? BERGUNAKAH PELAJARAN PRAKARYA BAGI SISWA? Pendahuluan M. Fajar Prasudi Dalam kurikulum 2013 terdapat pelajaran Prakarya yang wajib dilaksanakan oleh satuan pendidikan dari berbagai jenjang, mulai dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka secara

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka secara 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka secara otomatis kebutuhan terhadap pangan akan meningkat pula. Untuk memenuhi kebutuhan pangan

Lebih terperinci

USAHA MINUMAN SEHAT SARI LIDAH BUAYA SERBUK SIAP SEDUH SEBAGAI ALTERNATIF PENGOBATAN ALAMI

USAHA MINUMAN SEHAT SARI LIDAH BUAYA SERBUK SIAP SEDUH SEBAGAI ALTERNATIF PENGOBATAN ALAMI PKMK-1-11-1 USAHA MINUMAN SEHAT SARI LIDAH BUAYA SERBUK SIAP SEDUH SEBAGAI ALTERNATIF PENGOBATAN ALAMI Retno Tri Wahyuni, Fanty Nur Laili, Aninda Yulian Pritasari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

Profil Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Provinsi Sumatera Selatan

Profil Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Provinsi Sumatera Selatan 1 A. GAMBARAN UMUM 1. Nama Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 2. Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Terletak di Kawasan a. Jumlah Transmigran (Penempatan) Penempata 2009 TPA : 150 KK/563

Lebih terperinci

Software Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004 Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär. Alif Muttaqin

Software Digital Journal Al-Manär Edisi I/2004 Copyleft 2004 Digital Journal Al-Manär. Alif Muttaqin CD Warintek: Gudang Informasi Teknologi Tepat Guna Alif Muttaqin LISENSI DOKUMEN Copyleft: Digital Journal Al-Manar. Lisensi Publik. Diperkenankan untuk melakukan modifikasi, penggandaan maupun penyebarluasan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam 10 tahun terakhir, jumlah kebutuhan ikan di pasar dunia semakin meningkat, untuk konsumsi dibutuhkan 119,6 juta ton/tahun. Jumlah tersebut hanya sekitar 40 %

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU 189 Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian Urgensi dan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bengkulu 7 Juli 2011 ISBN 978-602-19247-0-9 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN

Lebih terperinci

Pengemasan dengan sterilisasi steam/gas. Sterilisasi dengan steam/gas. Pembungkus dapat ditembus oleh uap/gas Impermiabel bagi mikroba Tahan lama

Pengemasan dengan sterilisasi steam/gas. Sterilisasi dengan steam/gas. Pembungkus dapat ditembus oleh uap/gas Impermiabel bagi mikroba Tahan lama PERAWATAN DAN MAINTENANCE PREPARASI OPERASI Dr. Drh.Gunanti S,MS Bag Bedah dan Radiologi PERSIPAN PENGEMASAN Prinsip : bebas dari kontaminasi Peralatan dan bahan harus bersih : Alat dibersihkan manual/pembersih

Lebih terperinci

BOKS Perbatasan Kalimantan Barat Masih Perlu Perhatian Pemerintah Pusat Dan daerah

BOKS Perbatasan Kalimantan Barat Masih Perlu Perhatian Pemerintah Pusat Dan daerah BOKS Perbatasan Kalimantan Barat Masih Perlu Perhatian Pemerintah Pusat Dan daerah Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang berbatasan langsung dengan Sarawak (Malaysia) dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Bagi manusia selain

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Bagi manusia selain BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Bagi manusia selain untuk minum, mandi dan mencuci, air bermanfaat juga sebagai sarana transportasi, sebagai sarana

Lebih terperinci

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN Potensi dan Tantangan DI INDONESIA Oleh: Dr. Sunoto, MES Potensi kelautan dan perikanan Indonesia begitu besar, apalagi saat ini potensi tersebut telah ditopang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Desember 2012. Cangkang kijing lokal dibawa ke Laboratorium, kemudian analisis kadar air, protein,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. latar Belakang Masalah. Indonesia di kenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam bahan galian

BAB 1 PENDAHULUAN. A. latar Belakang Masalah. Indonesia di kenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam bahan galian BAB 1 PENDAHULUAN A. latar Belakang Masalah Indonesia di kenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam bahan galian mineral, Seperti bahan galian (C) jika sumber daya alam ini dapat di kelola dengan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA

KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA Lampiran IV : Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 01 Tahun 2009 Tanggal : 02 Februari 2009 KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA NILAI Sangat I PERMUKIMAN 1. Menengah

Lebih terperinci

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang No. 5, Agustus 2002 Warta Kebijakan C I F O R - C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan

Lebih terperinci

LAPORAN TUGAS AKHIR PENGARUH WAKTU PENGGORENGAN VAKUM TERHADAP KADAR AIR DAN ORGANOLEPTIK KERIPIK KULIT PISANG

LAPORAN TUGAS AKHIR PENGARUH WAKTU PENGGORENGAN VAKUM TERHADAP KADAR AIR DAN ORGANOLEPTIK KERIPIK KULIT PISANG LAPORAN TUGAS AKHIR PENGARUH WAKTU PENGGORENGAN VAKUM TERHADAP KADAR AIR DAN ORGANOLEPTIK KERIPIK KULIT PISANG ( The Time Effect of Vacuum Frying Towards the Amount of water and Organoleptic Ingredients

Lebih terperinci

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat Standar Nasional Indonesia Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat ICS 91.100.15 Badan Standardisasi Nasional Daftar Isi Daftar

Lebih terperinci

ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT

ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT A. PENDAHULUAN Pembinaan masyarakat dalam pengelolaan sampah adalah dengan melakukan perubahan bentuk perilaku yang didasarkan pada kebutuhan atas kondisi lingkungan yang bersih

Lebih terperinci

Basic laboratory skills terampil menggunakan alat dasar

Basic laboratory skills terampil menggunakan alat dasar Basic laboratory skills terampil menggunakan alat dasar Memanaskan menyaring meneteskan larutan ke dalam tabung reaksi Memastikan kesempurnaan endapan mengocok larutan melarutkan Memilih wadah untuk menimbang

Lebih terperinci

PROVINSI BALI. Tanah Lot

PROVINSI BALI. Tanah Lot PROVINSI BALI BY: SUVI Pantai Kuta (Atas) Garuda Wisnu Kencana Pantai Nusa dua (Bawah) Ada patung yang sangat gede, patung itu berwarna biru campur sama abu abu. Ada orang yang melihat patung itu. Ada

Lebih terperinci

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KEKERASAN DAN WAKTU PEMECAHAN DAGING BUAH KAKAO (THEOBROMA CACAO L) 1) MUH. IKHSAN (G 411 9 272) 2) JUNAEDI MUHIDONG dan OLLY SANNY HUTABARAT 3) ABSTRAK Permasalahan kakao Indonesia

Lebih terperinci

PERTANYAAN YANG SERING MUNCUL. Tanya (T-01) :Bagaimana cara kerja RUST COMBAT?

PERTANYAAN YANG SERING MUNCUL. Tanya (T-01) :Bagaimana cara kerja RUST COMBAT? PERTANYAAN YANG SERING MUNCUL Tanya (T-01) :Bagaimana cara kerja RUST COMBAT? JAWAB (J-01) : RUST COMBAT bekerja melalui khelasi (chelating) secara selektif. Yaitu proses di mana molekul sintetik yang

Lebih terperinci

ANALISA KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PENGOLAHAN NIRA LONTAR MENJADI PRODUK NATA Financial Analysis of Processing Nata Lontar (from lontar sap)

ANALISA KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PENGOLAHAN NIRA LONTAR MENJADI PRODUK NATA Financial Analysis of Processing Nata Lontar (from lontar sap) ANALISA KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PENGOLAHAN NIRA LONTAR MENJADI PRODUK NATA Financial Analysis of Processing Nata Lontar (from lontar sap) Oleh/ By: Abd. Kadir W. ABSTRACT Lontar sap has a great potential

Lebih terperinci

A. TEKNIK DASAR PENGGUNAAN TIMBANGAN MANUAL DAN DIGITAL

A. TEKNIK DASAR PENGGUNAAN TIMBANGAN MANUAL DAN DIGITAL LAPORAN PRAKTIKUM 2 TEKNIK DASAR: TIMBANGAN, PIPET DAN PEMBUATAN LARUTAN Oleh : Ningrum Wahyuni Kegiatan Praktikum 2 : a. Teknik dasar penggunaan timbangan manual dan digital b. Teknik dasar penggunaan

Lebih terperinci

Alat Pemarut Kelapa dan Singkong

Alat Pemarut Kelapa dan Singkong SERI BUKU SERI BUKU PENGEMBANGAN MASYARAKAT DESA 31 4 Alat Pemarut Kelapa dan Singkong Program Kerjasama DINSOSNAKERTRANS-SIL Edisi Ketiga Alat Pemarut Kelapa dan Singkong Tim Penyusun Leu Maiseka David

Lebih terperinci

PROSES PENGOLAHAN KOPI INSTAN, KOPI BLENDING, DAN KOPI TUBRUK DI PUSAT PENELITIAN KOPI DAN KAKAO INDONESIA JENGGAWAH-JEMBER

PROSES PENGOLAHAN KOPI INSTAN, KOPI BLENDING, DAN KOPI TUBRUK DI PUSAT PENELITIAN KOPI DAN KAKAO INDONESIA JENGGAWAH-JEMBER PROSES PENGOLAHAN KOPI INSTAN, KOPI BLENDING, DAN KOPI TUBRUK DI PUSAT PENELITIAN KOPI DAN KAKAO INDONESIA JENGGAWAH-JEMBER LAPORAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI PENGOLAHAN PANGAN OLEH: KENT MIRA CANDRA 6103008083

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pengembangan ternak ruminansia di Indonesia akan sulit dilakukan jika hanya

I. PENDAHULUAN. Pengembangan ternak ruminansia di Indonesia akan sulit dilakukan jika hanya I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengembangan ternak ruminansia di Indonesia akan sulit dilakukan jika hanya mengandalkan hijauan. Karena disebabkan peningkatan bahan pakan yang terus menerus, dan juga

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Pemilihan lokasi usaha oleh suatu organisasi (perusahaan) akan mempengaruhi risiko (risk) dan keuntungan (profit) perusahaan tersebut secara keseluruhan. Kondisi ini

Lebih terperinci

Tabel 1.1. Letak geografi dan administratif Kota Balikpapan. LS BT Utara Timur Selatan Barat. Selat Makasar

Tabel 1.1. Letak geografi dan administratif Kota Balikpapan. LS BT Utara Timur Selatan Barat. Selat Makasar KOTA BALIKPAPAN I. KEADAAN UMUM KOTA BALIKPAPAN 1.1. LETAK GEOGRAFI DAN ADMINISTRASI Kota Balikpapan mempunyai luas wilayah daratan 503,3 km 2 dan luas pengelolaan laut mencapai 160,1 km 2. Kota Balikpapan

Lebih terperinci

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara.

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara. Penyulaman Penyulaman dilakukan apabila bibit ada yang mati dan perlu dilakukan dengan segera agar bibit sulaman tidak tertinggal jauh dengan bibit lainnya. Penyiangan Penyiangan terhadap gulma dilakukan

Lebih terperinci

Upaya Balai Bahasa Provinsi Bali dalam Mengembangkan Pengajaran BIPA di Bali

Upaya Balai Bahasa Provinsi Bali dalam Mengembangkan Pengajaran BIPA di Bali Upaya Balai Bahasa Provinsi Bali dalam Mengembangkan Pengajaran BIPA di Bali Sang Ayu Putu Eny Parwati, Balai Bahasa Provinsi Bali Jalan Trengguli I No. 34 Denpasar, Tlp. 0361 461714 timbipa_bbd@yahoo.co.id

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Risna Khoerun Nisaa, 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Risna Khoerun Nisaa, 2013 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan

Lebih terperinci

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79 No. 17/03/34/Th.XVII, 2 Maret 2015 NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI 1. Nilai Tukar Petani (NTP) Pada Februari 2015, NTP

Lebih terperinci

A. KERANGKA RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM

A. KERANGKA RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM LAMPIRAN : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM NOMOR : P. 01/IV- SET/2012 TANGGAL : 4 Januari 2012 TENTANG : PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM, RENCANA

Lebih terperinci

[Sabu yang Lestari] Cabrejou Foundation

[Sabu yang Lestari] Cabrejou Foundation [Sabu yang Lestari] Cabrejou Foundation Dimanakah kita pernah menyadari adanya suatu masyarakat yang lestari (berkelanjutan) hanya dengan menggunakan energi matahari dan angin? Barangkali ini hanya dapat

Lebih terperinci

selama 12 jam. Pendapatan mereka rataratanya 1.5 juta rupiah sebulan. Saat ini, mata Nelayan 1.000.000 kerja masyarakat adalah nelayan selama 4 jam.

selama 12 jam. Pendapatan mereka rataratanya 1.5 juta rupiah sebulan. Saat ini, mata Nelayan 1.000.000 kerja masyarakat adalah nelayan selama 4 jam. Datar Luas Gambaran Umum Desa Datar Luas terletak di Kecamatan Krueng Sabee dengan luas 1600 Ha terdiri dari tiga dusun yaitu Dusun Makmur Jaya, Dusun Damai dan Dusun Subur. Desa yang dipimpin oleh Andalan

Lebih terperinci

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR Disampaikan pada Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SD Jenjang Lanjut Tanggal 6 s.d. 9 Agustus 200 di PPPG Matematika Oleh: Dra. Sukayati, M.

Lebih terperinci

SAMBUTAN PENJABAT GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN TEMU BISNIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO SULAWESI TENGAH SENIN, 18 APRIL 2011

SAMBUTAN PENJABAT GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN TEMU BISNIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO SULAWESI TENGAH SENIN, 18 APRIL 2011 GUBERNUR SULAWESI TENGAH SAMBUTAN PENJABAT GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN TEMU BISNIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO SULAWESI TENGAH SENIN, 18 APRIL 2011 ASSALAMU ALAIKUM WAR, WAB, SALAM SEJAHTERA

Lebih terperinci

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar Standar Nasional Indonesia Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi wilayah PT. Cipta Frima Jaya adalah salah satu perusahaan yang bergerak dalam penanganan pasca panen (pembekuan) untuk hasil perikanan, yang merupakan milik Bapak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Peranan sektor pertanian dalam pembangunan di Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Pemerintah memberikan amanat bahwa prioritas pembangunan diletakkan pada pembangunan

Lebih terperinci

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA NASI SISA UNTUK CEMILAN BERBAGAI RASA. BIDANG KEGIATAN : PKM Kewirausahaan. Diusulkan oleh :

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA NASI SISA UNTUK CEMILAN BERBAGAI RASA. BIDANG KEGIATAN : PKM Kewirausahaan. Diusulkan oleh : PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA NASI SISA UNTUK CEMILAN BERBAGAI RASA BIDANG KEGIATAN : PKM Kewirausahaan Diusulkan oleh : Eko Ari Septiyono ( 611070023 tahun angkatan 2007 ) Irwan Dwi Hermanto ( 611070050

Lebih terperinci

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA PULAU BALI 1. Letak Geografis, Batas Administrasi, dan Luas Wilayah Secara geografis Provinsi Bali terletak pada 8 3'40" - 8 50'48" Lintang Selatan dan 114 25'53" -

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung

Lebih terperinci

Penerapan Produksi Bersih Berbasis Teknologi Tepat Guna Pada Sentra Industri Kecil Tahu Di Kabupaten Subang

Penerapan Produksi Bersih Berbasis Teknologi Tepat Guna Pada Sentra Industri Kecil Tahu Di Kabupaten Subang kode kegiatan : I.03 Penerapan Produksi Bersih Berbasis Teknologi Tepat Guna Pada Sentra Industri Kecil Tahu Di Kabupaten Subang Doddy A. Darmajana LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA BALAI BESAR PENGEMBANGAN

Lebih terperinci

11/14/2011. By: Yuli Yanti, S.Pt., M.Si Lab. IPHT Jurusan Peternakan Fak Pertanian UNS. Lemak. Apa beda lemak dan minyak?

11/14/2011. By: Yuli Yanti, S.Pt., M.Si Lab. IPHT Jurusan Peternakan Fak Pertanian UNS. Lemak. Apa beda lemak dan minyak? By: Yuli Yanti, S.Pt., M.Si Lab. IPHT Jurusan Peternakan Fak Pertanian UNS Lemak Apa beda lemak dan minyak? 1 Bedanya: Fats : solid at room temperature Oils : liquid at room temperature Sources : vegetables

Lebih terperinci

PEDOMAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH

PEDOMAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH B PL A PEDOMAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH T HD AR PRO AK VINSI DKI J KATA PENGANTAR Masalah persampahan di Provinsi DKI Jakarta sulit di tangani secara tuntas sampai saat ini. Banyak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kurangnya pemanfaatan kijing dikarenakan belum terdapatnya informasi dan

BAB I PENDAHULUAN. Kurangnya pemanfaatan kijing dikarenakan belum terdapatnya informasi dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu jenis kerang yang kurang dimanfaatkan adalah kijing lokal. Kijing atau Pilsbryoconcha sp. tergolong dalam moluska yang hidup di dasar perairan dan makan

Lebih terperinci

Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut

Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut Pengelolaan Tanah dan Air di Lahan Pasang Surut Penyusun IPG Widjaja-Adhi NP Sri Ratmini I Wayan Swastika Penyunting Sunihardi Setting & Ilustrasi Dadang

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA SENSUS PERTANIAN 2013 SURVEI RUMAH TANGGA USAHA BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN TAHUN 2014

REPUBLIK INDONESIA SENSUS PERTANIAN 2013 SURVEI RUMAH TANGGA USAHA BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN TAHUN 2014 ST2013-SBK.S REPUBLIK INDONESIA SENSUS PERTANIAN 2013 SURVEI RUMAH TANGGA USAHA BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN TAHUN 2014 RAHASIA Jenis tanaman kehutanan terpilih...... 6 1 I. PENGENALAN TEMPAT 101. Provinsi

Lebih terperinci

SEMUA HAL YANG TERKAIT DENGAN KODE ETIK BPSDMKP, SILAHKAN BERKOMUNIKASI MELALUI ALAMAT EMAIL: kodeetik_bpsdmkp@kkp.go.id

SEMUA HAL YANG TERKAIT DENGAN KODE ETIK BPSDMKP, SILAHKAN BERKOMUNIKASI MELALUI ALAMAT EMAIL: kodeetik_bpsdmkp@kkp.go.id SEMUA HAL YANG TERKAIT DENGAN KODE ETIK BPSDMKP, SILAHKAN BERKOMUNIKASI MELALUI ALAMAT EMAIL: kodeetik_bpsdmkp@kkp.go.id hal 2.indd 2 1/24/2012 11:30:15 AM S U L U H Harus Komunikatif dan Strategis Penyuluh

Lebih terperinci

mencemarkan dan mengolah lahan pengolahan kesulitan Sehingga ketiga untuk Padahal limbah Waste Metode Biutek merupakan negeri maupun organic, sabun,

mencemarkan dan mengolah lahan pengolahan kesulitan Sehingga ketiga untuk Padahal limbah Waste Metode Biutek merupakan negeri maupun organic, sabun, PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PENGOLAHANN LIMBAH LEMAK MALL MENJADI BARANG BERMANFAAT (PT. Biuteknika Bina Prima) 1. PENDAHULUANN Limbah lemak Mall dan/atau Pasar Swalayan dapat digolongkan sebagai limbah

Lebih terperinci

1. Apakah perlu atau ada keinginan untuk kerja sama dengan pihak lain, atau bisa mengembangkan usaha sendiri?

1. Apakah perlu atau ada keinginan untuk kerja sama dengan pihak lain, atau bisa mengembangkan usaha sendiri? Kabar dari TIM PENDAMPING PEMETAAN DESA PARTISIPATIF HULU SUNGAI MALINAU No. 3, Agustus 2000 Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang baik, Salam sejahtera, dengan surat ini kami ingin menyampaikan contoh pertanyaan-pertanyaan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1.tE,"P...F.3...1!..7. INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

I. U M U M. TATA CARA PANEN.

I. U M U M. TATA CARA PANEN. LAMPIRAN : PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 17/Permentan/OT.140/2/2010 TANGGAL : 5 Pebruari 2010 TENTANG : PEDOMAN PENETAPAN HARGA PEMBELIAN TANDA BUAH SEGAR (TBS) KELAPA SAWIT PRODUKSI PEKEBUN TATA

Lebih terperinci

MENGENAL SECARA SEDERHANA TERNAK AYAM BURAS

MENGENAL SECARA SEDERHANA TERNAK AYAM BURAS MENGENAL SECARA SEDERHANA TERNAK AYAM BURAS OLEH: DWI LESTARI NINGRUM, S.Pt Perkembangan ayam buras (bukan ras) atau lebih dikenal dengan sebutan ayam kampung di Indonesia berkembang pesat dan telah banyak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Dalam perkembangan dunia usaha saat ini, banyak timbul persaingan bisnis

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Dalam perkembangan dunia usaha saat ini, banyak timbul persaingan bisnis BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Dalam perkembangan dunia usaha saat ini, banyak timbul persaingan bisnis yang semakin kompetitive. Perusahaan dituntut tidak sekedar menerapkan berbagai strategi

Lebih terperinci

dan minyak atsiri (Sholikhah, 2006). Saponin mempunyai efek sebagai mukolitik (Gunawan dan Mulyani, 2004), sehingga daun sirih merah kemungkinan bisa

dan minyak atsiri (Sholikhah, 2006). Saponin mempunyai efek sebagai mukolitik (Gunawan dan Mulyani, 2004), sehingga daun sirih merah kemungkinan bisa BAB I PENDAHULUAN Lebih kurang 20 % resep di negara maju memuat tanaman obat atau bahan berkhasiat yang berasal dari tanaman, sedangkan di negara berkembang hal tersebut dapat mencapai 80 %. Di Indonesia

Lebih terperinci

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Penyusun I Wayan Suastika

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

Lebih terperinci