Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada"

Transkripsi

1 GRAND DESIGN PERCEPATAN PEMBANGUNAN EKONOMI DAN INFRASTRUKTUR BERBASIS 5 (LIMA) WILAYAH ADAT DI PROVINSI PAPUA Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada

2 MASALAH-MASALAH POKOK PEMBANGUNAN PAPUA 1. Masalah kemiskinan (absolut dan relatif) 2. Masalah kependudukan dan ketenagakerjaan (pertumbuhan alamiah, kesehatan, pendidikan, produk tivitas SDM rendah, dan pengangguran) 3. Masalah keterbatasan infrastruktur (fisik, ekonomi, dan sosial) 4. Masalah kelembagaan (aturan main & organisasi; formal dan informal)

3 FAKTA PAPUA POTENSI SUMBERDAYA ALAM SANGAT KAYA DAN KAYA AKAN KEANEKARAGAMAN HAYATI FLORA JENIS, MAMALIA 164 JENIS, REPTIL/AMFIBI 329 JENIS, BURUNG 650 JENIS, IKAN AIR TAWAR 250 JENIS, IKAN LAUT 1200 JENIS, SERANGGA 150 JENIS YANG TERJADI KEMISKINAN KEBODOHAN KETERISOLASIAN KETERTINGGALAN KETERBELAKANGAN KETIDAKADILAN KEMATIAN Sumber: Pemda Papua, 2014

4 PENDEKATAN PEMBANGUNAN YANG BERSIFAT ENDOGENOUS pendekatan pembangunan berbasis lokal (endogenous development approach) berkembang pada awalnya di Eropa, Amerika Utara, dan Jepang pada pertengahan 1970-an upaya untuk menciptakan model pertumbuhan ekonomi berbasiskan komunitas (community-based economic growth) lebih bersifat bottom-up

5 PEMBANGUNAN YANG ENDOGENOUS DAN INSTITUSI Vásquez-Barquero (2005): pembangunan endogen berkaitan dengan proses akumulasi modal pada suatu wilayah tertentu (specific localities) dengan memperhatikan kapasitas wilayah dalam penyebaran inovasi ke seluruh sistem produksi lokal dan peran yang dimainkan oleh sistem inovasi lokal. Oleh karena itu, efisiensi penggunaan potensi lokal sangat ditentukan oleh bagaimana bekerjanya institusi. North (1990, 1994): proses pembangunan tidak terpisah dan memiliki akar kelembagaan dan budaya yang kuat. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi harus harus memperhatikan kekuatan sistem kelembagaan dari suatu wilayah.

6 PRINSIP IMPLEMENTASI PEMBANGUNAN berorientasikan kepada komunitas (community oriented) berbasiskan pada sumberdaya komunitas (community s resourcesbased) dikelola komunitas (community managed)

7 METODOLOGI KONVENSIONAL Pola dan Struktur Perekonomian Regional-Tipologi Klasen Permintaan Agregat Regional Y=C+I+G+(X-M) Produksi Agregat Regional Y=ΣVA Stabilitas Perekonomian Regional Deflator PDRB Nominal/Riil Pergeseran Perekonomian - SS Sektor Basis - LQ k. Transfer Konsumen (TR) l. Pajak Konsumen (TA) Rumah Tangga Pemerintah / Internasional a. Output Barang dan Jasa b. Pengeluaran konsumsi Keseimbangan Makroekonomi Regional: Y C+I+G+(X-M) g. Pengeluaran Pemerintah (G) h. Pajak Produsen (TA) i. Transfer Produsen (TR) Produsen Angka Pemganda Output Regional 1/(1-c) Efisiensi Investasi Regional ICOR I/ΔY Kemiskinan Regional e. Tabungan (S) c. Balas jasa faktor produksi d. Faktor Produksi Bank f. Investasi (I) Kapasitas Keuangan Regional APBD/PDRB Pemerataan Pendapatan Sektoral Distribuasi Pendapatan Gini Ketenagakerjaan Regional Keterbukaan Ekonomi Regional (X+M)/Y

8 Transformasi Ekonomi Papua 25 PDRB Dengan Pertambangan Rp. Triliun Pertambangan & Penggalian Konstruksi Trasportasi & Komunikasi PDRB Tanpa Pertambangan Pertanian Jasa-Jasa PHR* Transformasi ditandai dengan semakin meningkatnya peran sektor ekonomi nonpertambangan Utilitas*** Industri Olahan KPJP** Catatan: Berdarkan Harga Konstan (ADHK=2000) * PHR : Perdagangan, Hotel, dan Resotran **KPJP : Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan ***Utilitas : Listrik, Gas, dan Air Bersih

9 Perspektif Swasta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Papua: pembangunan berbasis komoditas unggulan daerah - lima Kawasan Pengembangan Ekonomi (KPE) wilayah adat yakni KPE Anim Ha, KPE La Pago, KPE Mamta, KPE Saireri, dan KPE Mee Pago. Wilayah Adat Mee Pago dan La Pago komoditas unggulan: kopi, buah merah, tanaman pangan dan hortikultura, ternak dan makanan olahan berbahan baku daging. Wilayah Adat Anim Ha komoditas unggulan: berupa karet, sagu, tebu, padi, jagung, perikanan, ternak sapi, ayam dan olahan berbahan baku daging. Wilayah Adat Mamta komoditas unggulan: kelapa sawit, coklat, sagu, buah merah, ternak sapi, ayam dan pakan ternak. Wilayah Adat Saireri komoditas unggulan: berupa perikanan dan kelautan, kelapa, sagu dan pariwisata berbasis alam dan budaya.

10 PENGEMBANGAN WILAYAH BERBASIS KOMODITAS WILAYAH ADAT (COMMODITY CULTURE AREA BASED DEVELOPMENT) A. KPE ANIM HA Sektor industri pariwisata budaya, pertanian & perkebunan terpadu, perikanan & peternakan B. KPE LA PAGO Sektor industri, pariwisata budaya & alam, perkebunan, peternakan & pertanian hortikultura C. KPE MAMTA Sektor industri, Perkebunan & pariwisata D. KPE SAERERI Sektor industri, pariwisata, jasa, perikanan & perkebunan E. KPE MEE PAGO Sektor pertambangan, industri & perkebunan 10

11 Pengembangan Wilayah Adat Ha Anim (Merauke, Asmat, Mappi, Boven Digul + Mimika) Kawasan Komoditas Unggulan Potensi lahan padi 48,3 ribu Ha (2011) Merauke Boven Digul Asmat Kawasan MIFEE (PADI ha); PERIKANAN ( ton), Minyak Kayu Putih, KELAPA, Peternakan Sapi ( ekor) KARET (1.318 Ha) PERIKANAN (5.899 ton), SAGU Mappi KARET (2.997 Ha) Mimika KEPITING, SAGU, PERIKANAN, DAN TAMBANG

12 Pengembangan Wilayah Adat Mamta (Kota & Kab. Jayapura, Keerom, Sarmi dan Mamb-Ra) Kawasan Komoditas Unggulan Keerom KELAPA SAWIT, KAKAO Jayapura (Kab/Kota) Sarmi KAKAO(13.342), DAN PARIWISATA KELAPA DALAM (361 Ha) Mamberamo Raya SAGU ( HA), PISANG

13 Pengembangan Wilayah Adat Lapago (Peg. Bintang, Jayawijaya, Lanny Jaya Yahukimo, Tolikara, Yalimo, Nduga) Kawasan Komoditas Unggulan Peg. Bintang Jayawijaya Lanny Jaya Yahukimo Tolikara Yalimo Nduga KOPI (434 Ha), UBI JALAR(13,332 HA) KOPI Ha), UBI JALAR ( ), BUAH MERAH, TERNAK BABI BUAH MERAH, KOPI (1.070 Ha), SARANG SEMUT KOPI (581 HA), UBI JALAR(81,891 HA00000), BUAH MERAH KOPI (246 Ha), BUAH MERAH GAHARU KOPI (306 HA)

14 Pengembangan Wilayah Adat Saireri (Biak Numfor, Kep. Yapen, Waropen, Supiori) Kawasan Komoditas Unggulan Biak Numfor Kopi (434 Ha), Kelapa Dalam (3.623 ha), Perikanan laut dalam, rumput laut Kep. Yapen Coklat (1.971 ha), Perikanan (6.618 ton), rumput laut Waropen Kelapa dalam (4.766 Ha) Supiori Perikanan (4.667 ton), Rumput Laut

15 Fakta, Strategi dan Cita-cita Setiap pengembangan produk harus dapat memberikan economic value created (surplus produsen dan surplus konsumen) Mengapa Propinsi Papua harus berpikir out of the box paradigma konvensional? Price, P A A Supply S, (MC) Supply S, (MC ) Papua Bangkit, Mandiri, Sej ahtera P* CS=WTP- P* E E Value-Created = CS+ PS PS=P*- MC Demand D, (WTP ) B Demand D, (WTP) Fakta: 7K B Endogenous Quantity, Q growth

16 7 Langkah Strategis 7. Penguatan kelembagaan 3. Penyelesaian aksebililitas wilayah antar moda transportasi dalam membangun pusat logistik Papua terutama antar pantai dan wilayah pegunungan untuk penurunan kemahalan harga 4. Membangun perwilayahan komoditas unggulan berbasis 5 wilayah untuk peningkatan ketahanan ekonomi/security income masyarakat Papua 5. Pengembangan SDM dan Iptek untuk mendorong peningkatan peningkatan nilai tambah ekonomi daerah berbasis 5 wilayah adat 6. Pembangunan kawasan industri untuk peningkatan nilai tambah produksi daerah dalam konsep tanam, petik, olah, jual di masing-masing wilayah adat 1. Penyelesaian sinkronisasi regulasi pusat dengan UUD OTSUS (perdasus dan perdasi) 2. Penyelesaian konflik Hak Tanah Ulaya dengan menjadikan tanah sebagai aset ekonomi masyarakat

17 KESIMPULAN 1. Provinsi Papua mengalami permasalahan 7K yaitu Kemiskinan, Kebodohan, Keterisolasian, Ketertinggalan, Keterbelakangan, Ketidakadilan, dan Kematian. Untuk itu, diperlukan langkah taktis yang terintegrasi di segala bidang supaya permasalahan tersebut dapat teratasi sehingga Papua mampu mencapai target pembangunan pada tahun Papua memiliki potensi yang besar, terutama sumber daya alam, yang dapat dikembangkan untuk memberikan eksternalitas positif bagi masyarakat lokal. Namun demikian, terjadi bottleneck di berbagai bidang pembangunan seperti SDM, infrastruktur, teknologi, maupun kelembagaan. Grand Design Percepatan Pembangunan Kawasan Papua berupaya menghasilkan dekripsi yang cukup lengkap mengenai kondisi Provinsi Papua untuk menghasilkan rekomendasi yang mampu mempercepat proses pembangunan di Provinsi Papua.

18 KESIMPULAN 3. Kawasan adat memiliki peran penting dalam pembangunan karena kebudayaan masyarakat setempat yang masih menjunjung tinggi adat istiadat lokal. Kesesuaian institusi formal dan informal menjadi dasar pelaksanaan proses pembangunan yang bermanfaat dan tepat sasaran. 4. Keunikan kondisi di Papua dibandingkan wilayah Indonesia lainnya, menyebabkan penggunaan indikator keberhasilan pembangunan konvensional perlu didukung dengan indikator pembangunan lainnya. 5. Akibat kondisi kehidupan masyarakat Papua yang sebagian besar masih subsisten, dan biaya transportasi yang mahal, jalan menuju perekonomian dengan mekanisme pasar masih membutuhkan waktu yang panjang. Perlu adanya perlakuan khusus, seperti proteksi dan intervensi/peran pemerintah.

19 REKOMENDASI 1. Penyelesaian masalah aksesibilitas antar wilayah moda transportasi dalam membangun pusat logistik di Papua. Untuk itu perlu dibangun berbagai fasilitas dan infrastruktur transportasi yang efisien, seperti kereta api, jalan, dan pelabuhan. 2. Terkait dengan rekomendasi di atas, untuk menekan indeks kemahalan konstruksi (IKK) di Pegunungan Tengah, perlu dibangun jalur kereta api yang menghubungkan Timika dengan wilayah Pegunungan Tengah 3. Pengembangan pariwisata (Danau Sentani, Pegunungan) masih memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan dan memberikan nilai tambah bagi rakyat Papua. 4. Membangun perwilayahan komoditas unggulan berbasis 5 wilayah adat untuk peningkatan ketahanan ekonomi masyarakat papua. 5. Pengembangan sumber daya manusia dan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendorong peningkatan nilai tambah ekonomi daerah berbasis 5 wilayah adat. 6. Pembangunan kawasan industri untuk peningkatan nilai tambah produksi daerah dalam konsep tanam, petik, olah, jual di masing-masing 5 wilayah adat. Khusus untuk hasil pertambangan, potensi nilai tambah pertambangan di Timika dapat ditingkatkan dengan membangun smelter, pembangunan PLTA

20 REKOMENDASI 6. Untuk mendukung percepatan pembangunan di kawasan Papua perlu dilaksanakan capacity building yang komprehensif untuk lembaga pemerintah, masyarakat, dan adat. 7. Perlunya pendampingan pada kegiatan ekonomi rakyat yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat Papua. 8. Penyelesaian konflik hak tanah ulayat dengan menjadikan tanah sebagai aset ekonomi masyarakat adat. Perlu adanya peraturan agraria khusus untuk wilayah Papua. 9. Perlu adanya lembaga khusus yang dapat menjembatani permasalahan antar wilayah adat, terkait dengan hak ulayat. Dalam hal ini diperlukan kerja sama antara masyarakat adat dan pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan hak wilayah adat di Papua. 10. Penetapan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dapat mendorong pengembangan potensipotensi ekonomi yang ada di Papua. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengikutsertakan BUMN/BUMD dalam pemasaran hasil-hasil produk Papua di pasar yang lebih luas.

21 REKOMENDASI 11.Penyelesaian sinkronisasi regulasi pusat dengan daerah 12.Penguatan kelembagaan Badan Percepatan Pembangunan Kawasan Papua (BP2KP) dalam rangka melancarkan program percepatan pembangunan berbasis wilayah adat.

22 No Wilayah Adat Matriks Kebutuhan Komoditas Unggulan Kebutuhan Komoditas Unggulan 1 Saireri Biak Numfor: Kopi (434 Ha), Kelapa Dalam (3.623 Ha), Perikanan Laut Dalam, Rumput Laut Kep. Yapen: Coklat (1.971 Ha), Perikanan (6.618 Ton), Rumput Laut Waropen: Kelapa Dalam (4.766 Ha) Supiori: Perikanan (4.667 Ton), Rumput Laut 2 Mamta Keerom: Kelapa Sawit, Kakao Jayapura (Kab/Kota): Kakao(13.342), Dan Pariwisata Sarmi: Kelapa Dalam (361 Ha) Mamberamo Raya: Sagu ( Ha), Pisang 3 Mipago Puncak Jaya: Kopi (334 Ha), Karet (334 Ha) Dogiyai: Kopi, Ubi Jalar Nabire: Jeruk, Ternak Babi Intan Jaya: Gaharu Paniai: Kopi(1.245 Ha), Ubi Jalar

23 Matriks Kebutuhan Komoditas Unggulan No Wilayah Adat Kebutuhan Komoditas Unggulan 4 Lapago Peg. Bintang: Kopi (434 Ha), Ubi Jalar(13,332 Ha) Jayawijaya: Kopi Ha), Ubi Jalar ( ), Buah Merah, Ternak Babi Lanny Jaya: Buah Merah, Kopi (1.070 Ha), Sarang Semut Yahukimo: Kopi (581 Ha), Ubi Jalar(81,891 Ha00000), Buah Merah Tolikara: Kopi (246 Ha), Buah Merah Yalimo: Gaharu Nduga: Kopi (306 Ha) 5 Haanim Merauke: Kawasan MIFEE (PADI Ha); PERIKANAN ( Ton), Minyak Kayu Putih, KELAPA, Peternakan Sapi ( Ekor) Boven Digul: KARET (1.318 Ha) Asmat: PERIKANAN (5.899 Ton), SAGU Mappi: KARET (2.997 Ha) Mimika: KEPITING, SAGU, PERIKANAN, DAN TAMBANG

24 Matriks Kebutuhan Program Komoditas Unggulan No Kawasan Adat Rencana Pengembangan SDM 1 Anim Ha Padi 1. Intensifikasi Dan Ekstensifikasi Sawah; 2. Peningkatan Sarana Dan Prasarana Produksi (Jalan Usahatani; Jalan Produksi; Sarana Pengairan/Irigasi) 3. Pembangunan Rice Mill Unit (Rmu); 4. Pengembangan Pemasaran (Regulasi Tata Niaga Beras); 5. Pengembangan Plta/Energi Terbarukan; 6. Pembinaan Dan Pendampingan; 7. Optimalisasi Kredit Usaha Tani/Skim Kredit; 8. Penyediaan Saprodi (Bibit; Pupuk; Obat-Obatan) 9. Pengembangan Balai Benih Padi; 10. Pemetaan Alih Fungsi Lahan Dan Pemetaan Hak Ulayat/Sertifikasi Hak Ulayat Pendukung : 1. Pembangunan Terminal Agribisnis Di Serapu 2. Pembangunan Pelabuhan Serapu; 3. Pengembangan Kawasan Terpadu Mandiri Salor; 4. Pembangunan Situ/Bendali/Embung; 5. Pembangunan Power Plann Energi Terbarukan;

25 No Kawasan Adat Matriks Kebutuhan Program Komoditas Unggulan Rencana Pengembangan SDM Anim Ha Karet : 1. Rehabilitasi; Intensifikasi Dan Ekstensifikasi Kebun; 2. Peningkatan Sarana Dan Prasarana Produksi (Jalan Usahatani; Jalan Produksi); 3. Pembangunan Industri Olahan Karet (Bahan Mentah S.D Bahan 4. Penguatan Kelembagaan Koperasi Pekebun Karet; 5. Pembangunan Balai Riset Dan Sertifikasi Produk Karet; 6. Pembangunan Pusat Kebun Bibit Karet; Pendukung : 1. Pemetaan Alih Fungsi Lahan; 2. Regulasi Tata Niaga Karet; 3. Pembangunan Plta/Energi Alternatif Lain; 4. Penyediaan Air Bersih; 5. Pengembangan Pelabuhan Ekspor Muara Digoel (Pulau Dua);

26 Matriks Kebutuhan Program Komoditas Unggulan No Kawasan Adat Rencana Pengembangan SDM 2 La Pago (Pegunungan Bintang, Jayawijaya, Lanny Jaya, Yahukimo, Tolikara, Yalimo, Nduga) Kopi : 1. Rehabilitasi, Intensifikasi Dan Ekstensifikasi Kebun Kopi; 2. Pembentukan Badan Riset Kopi Daerah; 3. Sarana Dan Prasarana Pendukung; 4. Introduksi Teknologi Pengolahan (Kopi Bean; Bubuk; Packaging) 5. Fasilitasi Permodalan (Skim Kredit; Bumd/Bumn/Swasta) Dan Pasar; 6. Peningkatan Kapasitas Petani Kopi (Pembinaan Dan Pendampingan); 7. Pembangunan Sentra Industri Pengolahan Kopi 8. Pembinaan Dan Pendampingan; 9. Sertifikasi Informasi Geologis (Hak Pada Petani) Buah Merah: 1. Pembukaan Kebun Baru 2. Pembentukan Badan Riset Buah Surga Daerah; 3. Sarana Dan Prasarana Pendukung; 4. Introduksi Teknologi Pengolahan (Buah Surga : Juice; Cream; Sabun; Permen Dsb) 5. Fasilitasi Permodalan (Skim Kredit; Bumd/Bumn/Swasta) Dan Pasar; 6. Pelatihan Budidaya Buah Surga; 7. Pembangunan Sentra Industri Pengolahan Buah Surga; 8. Pembinaan Dan Pendampingan;

27 Matriks Kebutuhan Program Komoditas Unggulan No Kawasan Rencana Pengembangan SDM Adat 3 Mamta Kakao (Jayapura, 1. Rehabilitasi; Intensifikasi Dan Ektensifikasi Kebun Rakyat; Keerom, 2. Pembentukan Badan Riset Kakao Daerah; Sarmi, 3. Revitalisasi Kebun Bibit Kakao Besum Mamberam 4. Introduksi Teknologi Pengolahan (Fermentasi; Bubuk Coklat; Pasta) o Ra) 5. Fasilitasi Permodalan (Skim Kredit; Bumd/Bumn/Swasta) Dan Pasar; 6. Peningkatan Kapasitas Petani (Pembinaan Dan Pendampingan); 7. Pembangunan Sentra Industri Pengolahan Kakao Pariwisata Danau Sentani 1. Peningkatan Infrastruktur Jalan; Jalan Produksi; Jalan Usahatani Dan Transportasi Danau 2. Peningkatan Penyerapan Skim Kredit Usaha Tani 3. Pengembangan Plta ; 4. Penyediaan Air Bersih Di Kawasan Wisata; 5. Pemetaan Hak Ulayat Di Kawasan Pengembangan Kakao Dan Pariwisata Danau Sentani; 6. Penyelesaiaan Alih Fungsi Lahan; 7. Pengembangan Dan Peningkatan Blk; Smk Pertanian Dan Pariwisata

28 Matriks Kebutuhan Program Komoditas Unggulan No Kawasan Adat Rencana Pengembangan SDM 4 Saereri (Biak Numfor, Yapen, Waropen, Supiori) Pariwisata Maritim Dan Sejarah 1. Rencana Induk Pengambangan Pariwisata Maritim Dan Sejarah 2. Penataan Daerah Tujuan Obyek Wisata; 3. Promosi Dan Pemasaran Wisata; 4. Sarana Dan Prasarana Pendukung; 5. Pengembangan Kampung Wisata; 6. Pembinaan Dan Pendampingan; Perikanan Tangkap : 1. Penyediaan Armada Dan Sarana Tangkap 5-10 Gt; 2. Pembangunan Pelabuhan Pendaratan Ikan; Pasar Pelelangan Ikan; 3. Pengembangan Budidaya Ikan Hias; 4. Pembangunan Kawasan Industri Minapolitan; 5. Fasilitasi Permodalan (Perorangan/Kelompok/Koperasi); 6. Peningkatan Kapasitas Sdm (Aparatur Dan Nelayan) Sektor Pendukung : 1. Pembangunan Spbu Nelayan; 2. Penyediaan Listrik (Energi Alternatif/Terbarukan); 3. Pembangunan Sarana Air Bersih Dan Pengolahan Air Bersih

29 Matriks Kebutuhan Program Komoditas Unggulan No Kawasan Adat Rencana Pengembangan SDM 5 Mee Pago (Puncak Jaya, Nabire, Paniai, Dogiyai, Puncak, Mamberamo Tengah, Deyai, Intan Jaya) Kopi; Tanaman Pangan: 1. Rehabilitasi, Intensifikasi Dan Ekstensifikasi Kebun Kopi; 2. Pembentukan Badan Riset Kopi Daerah; 3. Sarana Dan Prasarana Pendukung; 4. Introduksi Teknologi Pengolahan (Kopi Bean; Bubuk; Packaging) 5. Fasilitasi Permodalan (Skim Kredit; Bumd/Bumn/Swasta) Dan Pasar; 6. Peningkatan Kapasitas Petani Kopi (Pembinaan Dan Pendampingan); 7. Pembangunan Sentra Industri Pengolahan Kopi 8. Pembinaan Dan Pendampingan; 9. Sertifikasi Informasi Geologis (Hak Pada Petani) Mendukung Ekspor Hortikultura : 1. Rehabilitasi, Intensifikasi Dan Ekstensifikasi Kebun; 2. Sarana Dan Prasarana Pendukung (Jalan Usaha Tani; Jalan Produksi; Pengarian Dsb; 3. Introduksi Teknologi Pengolahan Buah Dan Sayur 4. Fasilitasi Permodalan (Skim Kredit; Bumd/Bumn/Swasta) Dan Pasar; 5. Peningkatan Kapasitas Petani (Pembinaan Dan Pendampingan); 6. Pembangunan Sentra Industri Pengolahan Buah 7. Pembinaan Dan Pendampingan; 8. Fasilitasi Pemasaran;

30 Matriks Kebutuhan Program Komoditas Unggulan No Kawasan Adat Rencana Pengembangan SDM Mee Pago (Puncak Jaya, Nabire, Paniai, Dogiyai, Puncak, Mamberamo Tengah, Deyai, Intan Jaya) Pariwisata (Danau Paniai dan Wisata Pegunungan) 1. Peningkatan Infrastruktur Jalan dan Telekomunikasi; 2. Penyediaan Air Bersih Di Kawasan Wisata; 3. Pemetaan Hak Ulayat; 4. Pengembangan Dan Peningkatan BLK dan SMK Pariwisata

31 Matriks Kebutuhan Infrastruktur No Wilayah Adat Kebutuhan Infrastruktur 1 Saereri A. Memperpajang penyelesaian pembanunan tujuh ruas jalan penunjang Kawasan Ekonomi Teluk Youtefa (Saereri), yaitu: 1. ruas jalan Menawi-Sumberbaba, sepanjang 40 km; 2. ruas jalan Serui-Ansus, sepanjang 71,5 km; 3. ruas jalan Botawa-Sumiangga, sepanjang 21 km; 4. ruas jalan Koweda-Botawa, sepanjang 18 km; 5. ruas jalan Biak-Adibai-Marau/Bosnik, sepanjang 19,45 km; 6. ruas jalan Duber-Sorendoweri-Korido; 7. dan ruas jalan Serui-Menawi-Saubeba yang dibiyaia dari sumber dana APBN. B. Mempercepat penyelesaian pembangunan transportasi perhubungan darat, laut, dan udara, yang terdiri dari: 1. pengembangan Bandara Internasional Frans Kaisepo; 2. pengembangan Pelabuhan Internasional Biak; 3. pengembangan Bandara Botawa di Kabupaten Waropen; 4. dan pengembangan Bandara Kamanap di Serui. C. Mempercepat pembangunan infrastruktur air bersih, listrik, dan telekomunikasi, yaitu: 1. pengembangan air bersih DAS Biak Utara dan Supiori; 2. PLTA Supiori; 3. PLTA Urfu di Kabupaten Biak; 4. Sejumlah PLTS yang tersebar di berbagai tempat; 5. dan pengembangan telekomunikasi Palapa Ring.

32 Matriks Kebutuhan Infrastruktur No Wilayah Kebutuhan Infrastruktur Adat 2 Mamta A. Mempercepat penyelesaian pembangunan 8 ruas jalan penunjang Kawasan Ekonomi Jayapura (Mamta), yang terdiri dari: 1. ruas jalan Ring Road Jayapura, sepanjang 41 km; 2. ruas jalan Arso XIV-Sawia-Kwaja, sepanjang 60 km; 3. ruas jalan Berap-Nimbontong-Lereh-Tengon, sepanjang 82,56 km; 4. ruas jalan Kemiri-Dedapre, sepanjang 24 km; 5. ruas jalan Depapre-Bokrang yang dibiayai APBN; 6. dan ruas jalan Jayapura-Wamena-Mulia yang juga dibiayai APBN. B. Mempercepat pembangunan infrastruktur air bersih, listrik, dan telekomunikasi yang terdiri dari: 1. pengembangan air bersih Danau Sentani; 2. PLTA Mamberamo; 3. PLTA Genyem; 4. PLTA Hotekamp; 5. PLTS yang tersebar di berbagai tempat; 6. dan pengembangan telekomunikasi Palapa Ring. C. Mempercepat pembangunan transportasi perhubungan darat, udara, dan laut, yang terdiri dari: 1. pengembangan Bandara Internasional Sentani; 2. pengembangan Pelabuhan Peti Kemas Depapre; 3. pembangunan Terminal Tipe A di Kota Jayapura; 4. dan pengembangan Terminal Tipe B di Kabupaten Sarmi, Kabupaten Keerom, dan Kota Jayapura. Di wilayah ini, pengembangan infrastruktur menghadapi beberapa kendala, yaitu: 1. kontribusi dana APBN dan APBD provinsi untuk prasarana fisik sangat kecil sehingga pembangunannya menjadi lambat; 2. permasalahan hak ulayat yang menuntut penyelesaian segera; 3. dan peningkatan jalan menuju Pelabuhan Depepre yang sampai saat ini masih belum ada perkembangan.

33 Matriks Kebutuhan Infrastruktur No Wilayah Adat Kebutuhan Infrastruktur 3 Mipago dan Lapago A. Mempercepat pembangunan infrastruktur listrik, air bersih, dan telekomunikasi yang terdiri dari: 1. pengembangan air bersih DAS Baliem; 2. pengembangan energi listrik dengan mengembangkan PLA Urumuka, PLTA Baliem, PLTMH yang tersebar di berbagai tempat, dan PLTS yang tersebar di berbagai tempat; 3. dan pengembangan telekomunikasi Palapa Ring. B. Pembangunan transportasi perhubungan darat, udara, dan laut yang terdiri dari: 1. pengem bangan Bandara Internasional Moses Kilangin, 2. pengembangan Pelabuhan Pomako Timika; 3. pengembangan Bandara Wamena; 4. pengembangan Bandara Dekai; 5. pengembangan Dermaga Kenyam; 6. dan pengembangan Dermaga Suru-suru. C. Mempercepat penyelesaian lima ruas jalan menuju Kawasan Ekonomi Timika (Mipigo) yang terdiri dari: 1. ruas jalan Logistric Centre-Power Station, sepanjang 33 km; 2. ruas jalan Timika-Mapurujaya-Pomako yang dibiayaai dengan APBN; 3. ruas jalan Timika-Kapiraya, sepanjang 110 km; 4. ruas jalan Nabire-Waghete-Enarotali yang dibiyayai dengan APBN; 5. ruas jalan Timika-Potwayburu-Enarotali yang juga dibiayai dengan APBN. D. Mempercepat penyelesaian pembangunan enam ruas jalan menuju Kawasan Ekonomi Lapago (Jayawijaya) yang terdiri dari: 1. ruas jalan Pasir Putih-Nduga-Kenyam-Habema-Wamena, sepanjang 210 km; 2. ruas jalan Jayapura-Senggi-Tengon-Elelim-Wamena, sepanjang 576,17 km; 3. ruas jalan Waropko-Kawor-Iwur-Oksibil, sepanjang 275,6 Km; 4. ruas jalan Dekai-Oksibili yang dibiayai dengan APBN; 5. dan ruas jalan Jayapura-Wamena yang juga dibiayaai dengan APBN. E. Mempercepat daerah irigasi Nabire yang terdiri dari: 1. pengembangan jaringan irigasi, 2. dan pengembangan pertanian. Pembangunan renewable energy based industry seperti PLTA menjadi fokus utama dalam pengembangan infrastruktur energi. PLTA yang sedang dibangun adalah PLTA Genyem, PLTA Urumuka, dan PLTA Kapiraya. PLTA Urumuka berada di Sungai Urumuka di Distrik Mimika yang memanfaatkan sumber air dari Danau Paniai, Danau Tage, dan Danau Tigi.

34 Matriks Kebutuhan Infrastruktur No Wilayah Adat Kebutuhan Infrastruktur 4 Haanim A. Mempercepat penyelesaian pebangunan enam ruas jalan penunjang Kawasan Ekonomi Merauke (Haanim) yang terdiri dari: 1. ruas jalan Kuprik-Jagebob-Erambu, sepanjang 134 km; 2. ruas jalan Batas Kota Merakue-Kube-Bian-Okaba, sepanjang 68 km; 3. ruas jalan Okaba-Bade, sepanjang 170 km; 4. ruas jalan Lingkar Kimaam-Tabonji-Waan, sepanjang 300 km; 5. ruas jalan Merauke-Waropko yang dibiayaai dengan APBN; 6. dan ruas jalan Salor-Okaba-Bade yang juga dibiayaai dengan APBN. B. Mempercepat pembangunan transportasi perhubungan darat, udara, dan laut yng terdiri dari: 1. pengembangan Bandara Internasional Mopah; 2. dan pengembangan Pelabuhan Wanam. C. Mempercepat pembangunan jaringan irigasi rawa di Merauke yang terdiri dari: 1. pembangunan long storage, 2. dan pembangunan bendungan serta embung. C. Mempercepat pembangunan infrastruktur air bersih, listrik, dan telekomunikasi yang terdiri dari: 1. pengembangan air bersi di Kali Maro; 2. Pembangkit Listrik Tenaga Ombak; 3. PLTS Makro; 4. dan pengembangan Palapa Ring.

35 Matriks Rencana Pengembangan Sumber Daya Manusia No Kawasan Adat Rencana Pengembangan SDM 1 Anim Ha (Merauke, Boven Digul, Asmat, Mappi, Mimika) a. Pembinaan dan pendampingan petani dan peternak dalam hal memberikan pengetahuan dasar dan lanjut pengelolaan ternak dan tanaman pangan (khususnya padi) a. Tujuan: i. meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja petani dan peternak ii. mengurangi potensi gagal panen iii. meningkatkan hasil panen padi maupun hasil ternak b. Optimalisasi kredit usaha tani/ternak dengan pembinaan dan pendampingan petani dan peternak dalam hal memberikan pengetahuan dasar pengelolaan keuangan dan akuntansi a. Tujuan: i. Meningkatkan efektivitasn dan efisiensi kredit yang telah disalurkan ii. Mengurangi potensi kredit macet iii. Meningkatkan kesadaran penggunaan kredit dan mengarahkan penggunaan kredit untuk kepentingan produktif (usaha) c. Penyediaan dan Pengembangan SDM untuk Pengembangan Balai Benih Padi a. Pengiriman lulusan SLTA dari lima kabupaten wilayah adan Anim Ha untuk kuliah di Fakultas Pertanian untuk mendapatkan pengetahuan pembibitan dan pembenihan padi. b. Mengirimkan staf Balai Benih Padi untuk belajar/studi banding ke balai benih padi lain di Indonesia, termasuk balai benih padi tingkat ASEAN di Los Banos Filipina.

36 Matriks Rencana Pengembangan Sumber Daya Manusia No Kawasan Adat Rencana Pengembangan SDM Anim Ha (Merauke, Boven Digul, Asmat, Mappi, Mimika) d. Penyediaan dan Pengembangan SDM untuk Pusat Pembibitan Ternak Sapi a. Pengiriman lulusan SLTA dari lima kabupaten wilayah adan Anim Ha untuk kuliah di Fakultas Peternakan untuk mendapatkan pengetahuan pembibitan Ternak Sapi b. Mengirimkan staf Pusat Pembibitan Ternak Sapi untuk belajar/studi banding ke pembibitan ternak sapi lain di Indonesia dan dunia e. Penyediaan dan Pengembangan SDM untuk Klinik Hewan dan Laboratorium Serta Pos Inseminasi Buatan a. Pengiriman lulusan SLTA dari lima kabupaten wilayah adan Anim Ha untuk kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan untuk mendapatkan pengetahuan kedokteran hewan dan inseminasi buatan b. Mengirimkan staf Klinik Hewan dan Laboratorium Serta Pos Inseminasi Buatan untuk belajar/studi banding ke pembibitan ternak sapi lain di Indonesia dan dunia f. Peningkatan kapasitas petani dan peternak lewat pelatihan dan magang di peternakanpeternakan besar di Indonesia dan dunia (Australia dan New Zealand) a. Tujuan: i. Mendapatkan pengetahuan dan keterampilan praktis pengelolaan ternak dan peternakan, bukan sekedar teori, yang dapat segera diaplikasikan ii. Mendapatkan pengetahuan dan keterampilan praktis pengembangan kebun hijau sebagai sumber pakan ternak agar pengembangan peternakan diikuti dengan pengembangan produksi pakan ternak lokal sehingga peternak nantinya tidak tergantung dengan pakan ternak dari luar wilayah adat.

37 Matriks Rencana Pengembangan Sumber Daya Manusia No Kawasan Adat Rencana Pengembangan SDM Anim Ha (Merauke, Boven Digul, Asmat, Mappi, Mimika) g. Penguatan SDM koperasi di wilayah adat ini untuk mengelola hasil panen padi, ternak, maupun karet secara mandiri sehingga tidak tergantung dengan tengkulak ataupun rentenir a. Dilakukan dengan pengiriman SDM untuk kuliah di Fakultas Ekonomi di universitas terkemuka di Indonesia untuk belajar pengelolaan koperasi b. Dilakukan dengan pelatihan dan pemagangan SDM di Koperasi unggulan di Indonesia untuk mendapatkan pengalaman praktis, bukan hanya teori, yang dapat diaplikasikan segera h. Penyediaan dan pengembangan SDM lokal untuk Balai Riset dan Sertifikasi Produk Karet, dan Pusat Kebun Bibit Karet a. Pengiriman lulusan SLTA dari lima kabupaten wilayah adan Anim Ha untuk kuliah di ke Fakultas Pertanian untuk mendapatkan pengetahuan pengembangan kebun karet dan hasil kebun karet b. Mengirimkan staf Balai Riset dan Srtifikasi Produk Karet, dan Pusat Kebun Bibit Karet untuk belajar/studi banding/magang ke balai riset perkebunan lain di Indonesia i. Pembangunan dan peningkatan Balai Latihan Kerja di Marauke j. Pembangunan Politeknik Agroindustri di Timika

38 Matriks Rencana Pengembangan Sumber Daya Manusia No Kawasan Adat Rencana Pengembangan SDM 2 La Pago (Pegunungan Bintang, Jayawijaya, Lanny Jaya, Yahukimo, Tolikara, Yalimo, Nduga) a. Penyediaan dan pengembangan SDM lokal untuk Badan Riset Kopi Daerah a. Pengiriman lulusan SLTA dari lima kabupaten wilayah adan La Pago untuk kuliah di ke Fakultas Pertanian dan Teknologi Pertanian untuk mendapatkan pengetahuan pengembangan kebun kopi dan produk kopi, termasuk teknologi pengolahan kopi (coffee bean, bubuk, packaging) b. Mengirimkan staf Badan Riset Kopi Daerah untuk belajar/studi banding/magang ke balai riset perkebunan lain di Indonesia b. Pembinaan dan pendampingan petani kopi dan buah surga dalam hal memberikan pengetahuan dasar dan lanjut pengelolaan kebun kopi dan produk kopi, serta kebun buah surge dan produk buah surge. a. Tujuan: i. meningkatkan kapasitas petani kopi dan buah surga ii. meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja petani kopi dan buah surga iii. mengurangi potensi gagal panen kopi dan buah surga iv. meningkatkan hasil panen kopi dan buah surga

39 Matriks Rencana Pengembangan Sumber Daya Manusia No Kawasan Adat Rencana Pengembangan SDM La Pago (Pegunungan Bintang, Jayawijaya, Lanny Jaya, Yahukimo, Tolikara, Yalimo, Nduga) c. Optimalisasi kredit usaha tani kopi dan buah surga dengan pembinaan dan pendampingan petani dalam hal memberikan pengetahuan dasar pengelolaan keuangan dan akuntansi Tujuan: i. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi kredit yang telah disalurkan ii. Mengurangi potensi kredit macet iii. Meningkatkan kesadaran penggunaan kredit dan mengarahkan penggunaan kredit untuk kepentingan produktif (usaha) d. Penyediaan dan pengembangan SDM lokal untuk Badan Riset Buah Surga a. Pengiriman lulusan SLTA dari lima kabupaten wilayah adan La Pago untuk kuliah di ke Fakultas Pertanian dan Teknologi Pertanian untuk mendapatkan pengetahuan pengembangan kebun buah surga dan produk buah surga, termasuk teknologi pengolahan buah surga (es krim, jus, cream, sabun, permen dll) b. Mengirimkan staf Badan Riset Buah Surga untuk belajar/studi banding/magang ke balai riset perkebunan lain di Indonesia e. Pelatihan dan pengembangan serta pemberian teknologi tepat guna untuk budidaya buah surga dan kopi f. Pembangunan Politeknik Agroindustri Kopi dan Buah Merah di Wamena

Pengembangan dan pembangunan Ketenagalistrikan. Pembangunan PLTMH. Program Inumerasi Energi. Pengadaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Pengembangan dan pembangunan Ketenagalistrikan. Pembangunan PLTMH. Program Inumerasi Energi. Pengadaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Revitalisasi/ Daya Listrik/ Energi Kapasitas Energi Listrik (Kelistrikan) Meningkatnya Energi ketenagalistrikan dan pembangunan Ketenagalistrikan PLTMH Bulungan, Paser Terbangunnya PLTMH 1 Unit dan Pendayagunaan

Lebih terperinci

PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN MAHAKAM ULU TAHUN ANGGARAN 2016

PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN MAHAKAM ULU TAHUN ANGGARAN 2016 PAPARAN PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN MAHAKAM ULU TAHUN ANGGARAN 2016 OLEH : Pj. BUPATI MAHAKAM ULU M.S. RUSLAN, SH, MH, M.Si MAHAKAM ULU KABUPATEN BERBUDAYA (Bersih, Ramah, Beradat, Ulet, Damai,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka secara

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka secara 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka secara otomatis kebutuhan terhadap pangan akan meningkat pula. Untuk memenuhi kebutuhan pangan

Lebih terperinci

DAFTAR DAERAH TERTINGGAL, TERLUAR DAN TERDEPAN (3T)

DAFTAR DAERAH TERTINGGAL, TERLUAR DAN TERDEPAN (3T) DAFTAR DAERAH TERTINGGAL, TERLUAR DAN TERDEPAN (3T) Daftar Daerah Terdepan dan Terluar (Perbatasan) No Provinsi No Kabupaten / Kota Status 1 Sambas Perbatasan 2 Bengkayang Perbatasan 1 Kalimantan Barat

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah

Lebih terperinci

BAGAN ORGANISASI DINAS PERINDUSTRIAN, KOPERASI, DAN UMKM KABUPATEN SRAGEN..

BAGAN ORGANISASI DINAS PERINDUSTRIAN, KOPERASI, DAN UMKM KABUPATEN SRAGEN.. DINAS PERINDUSTRIAN, KOPERASI, DAN UMKM KABUPATEN SRAGEN LAMPIRAN I :.. PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN TANGGAL : 31 MARET 2011 UMUM DAN KEPEGAWAIAN INDUSTRI KOPERASI LEMBAGA MIKRO USAHA MIKRO, KECIL,

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Bengkulu Utara selama lima tahun, yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun

Lebih terperinci

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN Potensi dan Tantangan DI INDONESIA Oleh: Dr. Sunoto, MES Potensi kelautan dan perikanan Indonesia begitu besar, apalagi saat ini potensi tersebut telah ditopang

Lebih terperinci

5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) pembangunan di urusan lingkungan hidup, urusan pertanian,

5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) pembangunan di urusan lingkungan hidup, urusan pertanian, urusan perumahan rakyat, urusan komunikasi dan informatika, dan urusan kebudayaan. 5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) Pembangunan di tahun kelima diarahkan pada fokus pembangunan di urusan lingkungan

Lebih terperinci

RANCANGAN AWAL RKP 2016 DAN PAGU INDIKATIF 2016. DEPUTI BIDANG PENDANAAN PEMBANGUNAN Jakarta, 15 April 2015

RANCANGAN AWAL RKP 2016 DAN PAGU INDIKATIF 2016. DEPUTI BIDANG PENDANAAN PEMBANGUNAN Jakarta, 15 April 2015 RANCANGAN AWAL RKP 2016 DAN PAGU INDIKATIF 2016 DEPUTI BIDANG PENDANAAN PEMBANGUNAN Jakarta, 15 April 2015 OUTLINE 1 Rancangan Awal RKP 2016 2 3 Pagu Indikatif Tahun 2016 Pertemuan Tiga Pihak 4 Tindak

Lebih terperinci

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA September 2011 1. Pendahuluan Pulau Kalimantan terkenal

Lebih terperinci

VI LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS

VI LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS Bab VI LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS A da empat dimensi daya saing yang dirangkum dalam buku ini yang dijadikan landasan untuk menetapkan langkah langkah strategis yang diperlukan untuk memperkuat daya saing

Lebih terperinci

Deskripsikan Maksud dan Tujuan Kegiatan Litbangyasa :

Deskripsikan Maksud dan Tujuan Kegiatan Litbangyasa : ISI FORM D *Semua Informasi Wajib Diisi *Mengingat keterbatasan memory database, harap mengisi setiap isian dengan informasi secara general, singkat dan jelas. A. Uraian Kegiatan Deskripsikan Latar Belakang

Lebih terperinci

ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG

ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG K E M E N T E R I A N P E R E N C A N A A N P E M B A N G U N A N N A S I O N A L / B A D A N P E R E N C A N A A N P E M B A N G U N A N N A S I O N A L ( B A

Lebih terperinci

Tabel-Tabel Pokok TABEL-TABEL POKOK. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81

Tabel-Tabel Pokok TABEL-TABEL POKOK. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81 TABEL-TABEL POKOK Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81 Tabel 1. Tabel-Tabel Pokok Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Lamandau Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan

Lebih terperinci

Tabel IV.C.1.1 Rincian Program dan Realisasi Anggaran Urusan Perikanan Tahun 2013

Tabel IV.C.1.1 Rincian Program dan Realisasi Anggaran Urusan Perikanan Tahun 2013 C. URUSAN PILIHAN YANG DILAKSANAKAN 1. URUSAN PERIKANAN Pembangunan pertanian khususnya sektor perikanan merupakan bagian integral dari pembangunan ekonomi, dalam hal ini sektor perikanan adalah sektor

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Pemilihan lokasi usaha oleh suatu organisasi (perusahaan) akan mempengaruhi risiko (risk) dan keuntungan (profit) perusahaan tersebut secara keseluruhan. Kondisi ini

Lebih terperinci

STABILISASI HARGA PANGAN

STABILISASI HARGA PANGAN STABILISASI HARGA PANGAN Oleh : Dr.Ir. Nuhfil Hanani AR DEWAN KETAHANAN PANGAN TAHUN 2008 PERANAN KOMODITAS PANGAN PRODUSEN KESEMPATAN KERJA DAN PENDAPATAN KONSUMEN RUMAH TANGGA AKSES UNTUK GIZI KONSUMEN

Lebih terperinci

M E T A D A T A. INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik

M E T A D A T A. INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik M E T A D A T A INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik : Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter, Bank Indonesia 3 Alamat : Jl. M.H. Thamrin No.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1.tE,"P...F.3...1!..7. INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH 5.1. Sasaran Pokok dan Arah Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tujuan akhir pelaksanaan pembangunan jangka panjang daerah di Kabupaten Lombok Tengah

Lebih terperinci

BAB II KONDISI UMUM DAERAH

BAB II KONDISI UMUM DAERAH BAB II KONDISI UMUM DAERAH 2.1. Kondisi Geografi dan Demografi Kota Bukittinggi Posisi Kota Bukittinggi terletak antara 100 0 20-100 0 25 BT dan 00 0 16 00 0 20 LS dengan ketinggian sekitar 780 950 meter

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat mendukung untuk pengembangan usaha perikanan baik perikanan

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat mendukung untuk pengembangan usaha perikanan baik perikanan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan suatu Negara yang memiliki kawasan perairan yang hampir 1/3 dari seluruh kawasannya, baik perairan laut maupun perairan tawar yang sangat

Lebih terperinci

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia =============================================================================== Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia !" #$ %$#&%!!!# &%!! Tujuan nasional yang dinyatakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

ARAH KEBIJAKAN, PROGRAM, DAN KEGIATAN BIDANG PENINGKATAN DI DAERAH TERTINGGAL

ARAH KEBIJAKAN, PROGRAM, DAN KEGIATAN BIDANG PENINGKATAN DI DAERAH TERTINGGAL Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal ARAH KEBIJAKAN, PROGRAM, DAN KEGIATAN BIDANG PENINGKATAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI DAERAH TERTINGGAL WORKSHOP PERAN PV DALAM PENYEDIAAN ENERGI LISTRIK

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN Untuk mewujudkan visi dan misi pembangunan daerah Kabupaten Sumbawa di era desentralisasi, demokrasi dan globalisasi ini, strategi dan arah kebijakan pembangunan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Maksud dan Tujuan

I. PENDAHULUAN. A. Maksud dan Tujuan I. PENDAHULUAN A. Maksud dan Tujuan Rencana Kerja (Renja) Dinas Peternakan Kabupaten Bima disusun dengan maksud dan tujuan sebagai berikut : 1) Untuk merencanakan berbagai kebijaksanaan dan strategi percepatan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pelaksanaan otonomi daerah secara luas, nyata dan bertanggungjawab telah menjadi tuntutan daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah memiliki hak dan kewenangan dalam mengelola

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER. 16/MEN/2006 TENTANG PELABUHAN PERIKANAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN,

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER. 16/MEN/2006 TENTANG PELABUHAN PERIKANAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN, PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER. 16/MEN/2006 TENTANG PELABUHAN PERIKANAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN, Menimbang : a. bahwa sesuai dengan Pasal 41 Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004

Lebih terperinci

Dampak Banjir Terhadap Inflasi

Dampak Banjir Terhadap Inflasi Dampak Banjir Terhadap Inflasi Praptono Djunedi, Peneliti Badan Kebijakan Fiskal Siapa yang merusak harga pasar hingga harga itu melonjak tajam, maka Allah akan menempatkannya di dalam neraka pada hari

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam 10 tahun terakhir, jumlah kebutuhan ikan di pasar dunia semakin meningkat, untuk konsumsi dibutuhkan 119,6 juta ton/tahun. Jumlah tersebut hanya sekitar 40 %

Lebih terperinci

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau dan Kabupaten Lingga BAB III KONDISI UMUM 3.1. Geografis Wilayah Kepulauan Riau telah dikenal beberapa abad silam tidak hanya di nusantara tetapi juga

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN INKLUSIF

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN INKLUSIF KEBIJAKAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN INKLUSIF Dr. Ir. Winny Dian Wibawa, M.Sc Kepala Badan PPSDMP Disampaikan pada Seminar Nasional UNPAD Jatinangor, 24 November 2014

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung

Lebih terperinci

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia IFAD/R. Grossman Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia Kemiskinan perdesaan di Indonesia Indonesia telah melakukan pemulihan krisis keuangan pada tahun 1997 yang

Lebih terperinci

SEKTOR-SEKTOR UNGGULAN PENOPANG PEREKONOMIAN BANGKA BELITUNG

SEKTOR-SEKTOR UNGGULAN PENOPANG PEREKONOMIAN BANGKA BELITUNG Suplemen 4. Sektor-Sektor Unggulan Penopang Perekonomian Bangka Belitung Suplemen 4 SEKTOR-SEKTOR UNGGULAN PENOPANG PEREKONOMIAN BANGKA BELITUNG Salah satu metode dalam mengetahui sektor ekonomi unggulan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.18/MEN/2011 TENTANG PEDOMAN UMUM MINAPOLITAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.18/MEN/2011 TENTANG PEDOMAN UMUM MINAPOLITAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.18/MEN/2011 TENTANG PEDOMAN UMUM MINAPOLITAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... i vii xii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-2 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4 1.3.1 Hubungan RPJMD

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN Strategi merupakan langkah-langkah yang berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Strategi harus dijadikan salah satu rujukan penting

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN FASILITAS DAN INSENTIF USAHA HORTIKULTURA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN FASILITAS DAN INSENTIF USAHA HORTIKULTURA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN FASILITAS DAN INSENTIF USAHA HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kabupaten Sleman Akhir Masa Jabatan Tahun 2005-2010

Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kabupaten Sleman Akhir Masa Jabatan Tahun 2005-2010 Oleh sebab itu, untuk penyempurnaan penyelenggaraan urusan perpustakaan pada masa yang akan datang, dapat kami rekomendasikan kebijakan umum sebagai berikut : a. Meningkatkan penyediaan buku/bahan bacaan

Lebih terperinci

S. Andy Cahyono dan Purwanto

S. Andy Cahyono dan Purwanto S. Andy Cahyono dan Purwanto Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Jl. Jend A. Yani-Pabelan, Kartasura. PO BOX 295 Surakarta 57102 Telp/Fax: (0271) 716709; 716959 Email:

Lebih terperinci

VISI KALTIM BANGKIT 2013

VISI KALTIM BANGKIT 2013 VISI KALTIM BANGKIT 2013 Mewujudkan Kaltim Sebagai Pusat Agroindustri Dan EnergiTerkemuka Menuju Masyarakat Adil Dan Sejahtera MENCIPTAKAN KALTIM YANG AMAN, DEMOKRATIS, DAN DAMAI DIDUKUNG PEMERINTAHAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR PER.12/MEN/2010 TENTANG MINAPOLITAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR PER.12/MEN/2010 TENTANG MINAPOLITAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.12/MEN/2010 TENTANG MINAPOLITAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendorong percepatan

Lebih terperinci

PDRB HIJAU (KONSEP DAN METODOLOGI )

PDRB HIJAU (KONSEP DAN METODOLOGI ) PDRB HIJAU (KONSEP DAN METODOLOGI ) Oleh: M. Suparmoko Materi disampaikan pada Pelatihan Penyusunan PDRB Hijau dan Perencanaan Kehutanan Berbasis Penataan Ruang pada tanggal 4-10 Juni 2006 1 Hutan Indonesia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

BAB II RENCANA STRATEGIS DAN PENETAPAN KINERJA. 2.1. Perencanaan Strategis Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKPPP)

BAB II RENCANA STRATEGIS DAN PENETAPAN KINERJA. 2.1. Perencanaan Strategis Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKPPP) BAB II RENCANA STRATEGIS DAN PENETAPAN KINERJA 2.1. Perencanaan Strategis Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKPPP) Rencana strategis (Renstra) instansi pemerintah merupakan langkah awal

Lebih terperinci

B A P P E D A D A N P E N A N A M A N M O D A L P E M E R I N T A H K A B U P A T E N J E M B R A N A. 1.1 Latar Belakang

B A P P E D A D A N P E N A N A M A N M O D A L P E M E R I N T A H K A B U P A T E N J E M B R A N A. 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang U ntuk menindak lanjuti diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 maka dalam pelaksanaan otonomi daerah yang harus nyata dan bertanggung

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang No. 5, Agustus 2002 Warta Kebijakan C I F O R - C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan

Lebih terperinci

RINCIAN RANCANGAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN

RINCIAN RANCANGAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN Lampiran III Ranperda APBD Tahun 2012 Nomor Tanggal : : 19 Desember 2011 PEMERINTAH KABUPATEN BLITAR RINCIAN RANCANGAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN

Lebih terperinci

SUSUNAN ORGANISASI SEKRETARIAT DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN

SUSUNAN ORGANISASI SEKRETARIAT DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN SUSUNAN ORGANISASI SEKRETARIAT DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN GUBERNUR WAKIL GUBERNUR STAF AHLI JABATAN FUNGSIONAL SERETARIAT DAERAH BIDANG HUKUM DAN POLITIK ASISTEN PEMERINTAHAN ASISTEN EKONOMI, KEUANGAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2012 TENTANG PEMBIAYAAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2012 TENTANG PEMBIAYAAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2012 TENTANG PEMBIAYAAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

Profil Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Provinsi Sumatera Selatan

Profil Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Provinsi Sumatera Selatan 1 A. GAMBARAN UMUM 1. Nama Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 2. Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Terletak di Kawasan a. Jumlah Transmigran (Penempatan) Penempata 2009 TPA : 150 KK/563

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN JEPARA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN JEPARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN JEPARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA, Menimbang : a bahwa dalam rangka mengoptimalkan

Lebih terperinci

BUPATI BANYUMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

BUPATI BANYUMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI BANYUMAS PERATURAN BUPATI BANYUMAS NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PERTANIAN, PERKEBUNAN DAN KEHUTANAN KABUPATEN BANYUMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI

Lebih terperinci

BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) pada hakekatnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka membangun

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA)

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Menimbang : PP 47/1997, RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 47 TAHUN 1997 (47/1997) Tanggal: 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber:

Lebih terperinci

BAB II PERENCANAAN DAN PENETAPAN KINERJA

BAB II PERENCANAAN DAN PENETAPAN KINERJA BAB II PERENCANAAN DAN PENETAPAN KINERJA RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2011-2015, sebagaimana ditetapkan dengan

Lebih terperinci

SEMUA HAL YANG TERKAIT DENGAN KODE ETIK BPSDMKP, SILAHKAN BERKOMUNIKASI MELALUI ALAMAT EMAIL: kodeetik_bpsdmkp@kkp.go.id

SEMUA HAL YANG TERKAIT DENGAN KODE ETIK BPSDMKP, SILAHKAN BERKOMUNIKASI MELALUI ALAMAT EMAIL: kodeetik_bpsdmkp@kkp.go.id SEMUA HAL YANG TERKAIT DENGAN KODE ETIK BPSDMKP, SILAHKAN BERKOMUNIKASI MELALUI ALAMAT EMAIL: kodeetik_bpsdmkp@kkp.go.id hal 2.indd 2 1/24/2012 11:30:15 AM S U L U H Harus Komunikatif dan Strategis Penyuluh

Lebih terperinci

STRUK UK UR O R O GANISA GANISA DIN DI AS AS DAE RAH KABUP UP TEN N A B NGKA T HUN UN 0 2 0 0 8

STRUK UK UR O R O GANISA GANISA DIN DI AS AS DAE RAH KABUP UP TEN N A B NGKA T HUN UN 0 2 0 0 8 DINAS DAERAH TAHUN 2008 DINAS PENDIDIKAN LAMPIRAN I : PERATURAN DAERAH PERNCANAN DAN TAMAN KANAK-KANAK DAN SEKOLAH DASAR SEKOLAH MENENGAH PENDIDIKAN NON FORMAL PERENCANAAN KURIKULUM KURIKULUM PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 78,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: / / Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementrian Pekerjaan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU 189 Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian Urgensi dan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bengkulu 7 Juli 2011 ISBN 978-602-19247-0-9 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN

Lebih terperinci

Kebijakan pengembangan kawasan strategis nasional antara lain: peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara

Kebijakan pengembangan kawasan strategis nasional antara lain: peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara DIREKTUR PENATAAN RUANG WILAYAH NASIONAL 06 FEBRUARI 2014 Pasal 1 nomor 17 Kawasan Strategis Nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2000 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2000 TENTANG KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS MENJADI UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI PEMBERDAYAAAN KOPERASI & UMKM DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT 1) Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI 2) A. Muhajir, SH., MH Anggota Komisi VI DPR RI Disampaikan

Lebih terperinci

OPD : DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI JAWA BARAT

OPD : DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI JAWA BARAT OPD : DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI JAWA BARAT Indikator Kode Dana/ Pagu Indikatif 1 URUSAN WAJIB 1 07 BIDANG PERHUBUNGAN 1 07 49 Program Pembangunan Prasarana dan Fasilitas Perhubungan 1 07 49 01 Persiapan

Lebih terperinci

BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI

BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah sesuai dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN - 115 - BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Visi dan Misi, Tujuan dan Sasaran perlu dipertegas dengan upaya atau cara untuk mencapainya melalui strategi pembangunan daerah dan arah kebijakan yang diambil

Lebih terperinci

Disampaikan pada: SOSIALISASI PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NO.6 TAHUN 2014 TENTANG DESA dan TRANSISI PNPM MANDIRI Jakarta, 30 April 2015

Disampaikan pada: SOSIALISASI PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NO.6 TAHUN 2014 TENTANG DESA dan TRANSISI PNPM MANDIRI Jakarta, 30 April 2015 KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERMENDES NO.1: Pedoman Kewenangan Berdasarkan Hak Asal Usul dan Kewenangan Lokal Berskala Desa PERMENDES NO.5: Penetapan

Lebih terperinci

selama 12 jam. Pendapatan mereka rataratanya 1.5 juta rupiah sebulan. Saat ini, mata Nelayan 1.000.000 kerja masyarakat adalah nelayan selama 4 jam.

selama 12 jam. Pendapatan mereka rataratanya 1.5 juta rupiah sebulan. Saat ini, mata Nelayan 1.000.000 kerja masyarakat adalah nelayan selama 4 jam. Datar Luas Gambaran Umum Desa Datar Luas terletak di Kecamatan Krueng Sabee dengan luas 1600 Ha terdiri dari tiga dusun yaitu Dusun Makmur Jaya, Dusun Damai dan Dusun Subur. Desa yang dipimpin oleh Andalan

Lebih terperinci

FOKUS PROGRAM DAN KEGIATAN KETAHANAN PANGAN TA.2015

FOKUS PROGRAM DAN KEGIATAN KETAHANAN PANGAN TA.2015 FOKUS PROGRAM DAN KEGIATAN KETAHANAN PANGAN TA.2015 1 ARAHAN UU NO. 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN A. KERANGKA KEBIJAKAN KETAHANAN PANGAN Kedaulatan Pangan Kemandirian Pangan Ketahanan Pangan OUTCOME Masyarakat

Lebih terperinci

Penetapan dan Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan

Penetapan dan Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 1 TAHUN 2011 Tentang Penetapan dan Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan Direktorat Perluasan dan Pengelolaan Lahan Ditjen PSP, Kementerian Pertanian ALUR PERATURAN

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN A. Strategi Pembangunan Daerah Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Strategi pembangunan Kabupaten Semarang

Lebih terperinci

Tata Guna Lahan Perkotaan dan Pedesaan. Salmina W Ginting, ST., MT.

Tata Guna Lahan Perkotaan dan Pedesaan. Salmina W Ginting, ST., MT. Tata Guna Lahan Perkotaan dan Pedesaan Salmina W Ginting, ST., MT. Perbedaan Karakteristik Tanah perkotaan Tanah Perdesaan Jalur transportasi + - Fasilitas Umum + - Kegiatan Pertanian - + Jaringan Infrastruktur

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN 6.1 Strategi dan Arah Kebijakan Pembangunan Strategi pembangunan daerah adalah kebijakan dalam mengimplementasikan program Kepala Daerah, sebagai payung pada perumusan

Lebih terperinci

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah 1. Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2011 dan Perkiraan Tahun 2012 Kondisi makro ekonomi Kabupaten Kebumen Tahun

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN-KP/2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN-KP/2014 TENTANG PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN-KP/2014 TENTANG PEDOMAN UMUM MONITORING, EVALUASI, DAN PELAPORAN MINAPOLITAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN

Lebih terperinci

DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI KABUPATEN WONOSOBO. Jakarta, 25 Pebruari 2015

DINAS TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI KABUPATEN WONOSOBO. Jakarta, 25 Pebruari 2015 Pengembangan Ekonomi Produktif Perdesaan Melalui Sinergi Kegiatan IP3LRB, (Infrastruktur Perdesaan Padat Pekerja Local Resources Based), Pengembangan Padat Karya Produktif & Terapan Teknologi Tepat Guna

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI REJANG LEBONG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI KABUPATEN REJANG LEBONG BUPATI REJANG LEBONG,

PERATURAN BUPATI REJANG LEBONG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI KABUPATEN REJANG LEBONG BUPATI REJANG LEBONG, PERATURAN BUPATI REJANG LEBONG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI KABUPATEN REJANG LEBONG BUPATI REJANG LEBONG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendorong percepatan

Lebih terperinci

Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi

Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Edisi 49 Juni 2014 Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi ISSN: 2087-930X Katalog BPS: 9199017 No. Publikasi: 03220.1407 Ukuran Buku: 18,2 cm x 25,7 cm Jumlah Halaman: xix + 135 halaman Naskah: Direktorat

Lebih terperinci

TANGGAPAN KAJIAN/EVALUASI KONDISI AIR WILAYAH SULAWESI (Regional Water Assessment) Disampaikan oleh : Ir. SALIMAN SIMANJUNTAK, Dipl.

TANGGAPAN KAJIAN/EVALUASI KONDISI AIR WILAYAH SULAWESI (Regional Water Assessment) Disampaikan oleh : Ir. SALIMAN SIMANJUNTAK, Dipl. TANGGAPAN KAJIAN/EVALUASI KONDISI AIR WILAYAH SULAWESI (Regional Water Assessment) Disampaikan oleh : Ir. SALIMAN SIMANJUNTAK, Dipl. HE 1 A. KONDISI KETAHANAN AIR DI SULAWESI Pulau Sulawesi memiliki luas

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat (2) Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

Tabel 3 Matrik Usulan Indikasi Program Utama Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Luwu Timur 2010-2030

Tabel 3 Matrik Usulan Indikasi Program Utama Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Luwu Timur 2010-2030 Tabel 3 Matrik Usulan Indikasi Program Utama Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Luwu Timur 2010-2030 No. PROGRAM UTAMA LOKASI A. PERWUJUDAN STRUKTUR RUANG WILAYAH 1. Perwujudan Pusat Kegiatan dan Pelayanan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2009 TENTANG KAWASAN EKONOMI KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2009 TENTANG KAWASAN EKONOMI KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2009 TENTANG KAWASAN EKONOMI KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa masyarakat adil dan makmur berdasarkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. bangsa Indonesia. Dengan demikian pembangunan sektor pertanian khususnya

I. PENDAHULUAN. bangsa Indonesia. Dengan demikian pembangunan sektor pertanian khususnya I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagai negara dengan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia memiliki potensi daya saing komparatif dengan negara-negara lain. Daya saing tersebut khususnya pada sektor

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 08 Teknik Analisis Aspek Fisik & Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Tata Ruang Tujuan Sosialisasi Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik ik & Lingkungan,

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah ditetapkannya

Lebih terperinci

Kerangka landasan pendekatan DAS: Merupakan ekologi bentang lahan (Landscape ecology), suatu subdisiplin ekologi yang mengamati sebab dan akibat

Kerangka landasan pendekatan DAS: Merupakan ekologi bentang lahan (Landscape ecology), suatu subdisiplin ekologi yang mengamati sebab dan akibat Kerangka landasan pendekatan DAS: Merupakan ekologi bentang lahan (Landscape ecology), suatu subdisiplin ekologi yang mengamati sebab dan akibat ekologi dari pola ruang, proses dan perubahan dalam suatu

Lebih terperinci

TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN KEPULAUAN SERIBU SELATAN

TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN KEPULAUAN SERIBU SELATAN LAMPIRAN V : PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG DAN PERATURAN ZONASI TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN

Lebih terperinci