TiMJAUAN PUSTAKA. Hanafi (1987) rnenyebutkan bahwa inuvasi adalah gagasan, tindakan &au

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "TiMJAUAN PUSTAKA. Hanafi (1987) rnenyebutkan bahwa inuvasi adalah gagasan, tindakan &au"

Transkripsi

1 TiMJAUAN PUSTAKA Karaktedstlk tnavasi Uanafi (1987) mengmukakan hhwa kamkteristik suatatu inavasi ciapa4 digunakan untuk rnengukur persepsi sesearang terhadap sifat-sifat yang terdapat inovasi tersebut. lnovasi stau penemuan-penemuan baru, baik au berupa gagasan-gagasan atau tindakan afau knda-benda baru yang dapat mtryebabkan terjadinya prubahan sosial bila menyebar ke rnasyamkat. Hanafi (1987) rnenyebutkan bahwa inuvasi adalah gagasan, tindakan &au krang-barang yang diatlggap taam obh ~ m g tidak, menjadi soal sejauh dihubufigkafi dengan tingkah Iaku manusia, apakah ide itu betucbetul barn atau tidak jika diukur dengan setatlg warn diiretemukannya pertarn# kali. Suatu ide dianggap barn A h seseorang maka ia adatah inovasi (bagi orang itu). Gonzales dam Jahi (1988) mwgemukakan bahwa kdka suatu itlwetsi diperkenalkan kepada suatu karnunitas pertanian, t ida k setiap orang akan mengabpsi inuvasi tersebut. Dikahkan lebih lanjut hhwa setelah mernplajari penggunaan pupuk organik, sejurnlah kdl petani akan rnernkntuk atitud yang layak tehadap pernakahn pupuk itu. Beberapa mani kernuclian mncobanya pacla suatu petak, kemudian membandingkannya dengan pupuk lain. Jika pupuk tersebut terbukti febih baik, maka petani akan mngadopsinya. Suatu inovasi akan diterirna atau ditalak tidak bpas dari pertirnkngan- pftimbangcm apakah teknologi tersebut m r a &onomis mnguntungkan atau ficiak kgi pengembangan usahatani yaw dikefolan ya. Pertimtrangan-pertimbangan ternbut pada dasarnya brtumpu pada keedaen sumkrdaya yang dirnifiki okt:

2 dm mer, Okh itu Swhrwi (1988) mnegaskan bah ddam proses pengambihn keputusan adopsi inuvasi dalu dipenganthi okh : (I) faktor sasial, (2) fa- budaya, (3) faktor psunaltl, dan (4) fabr situasbnaf. Rogers (4962) mengatakart batwlra karakteristik personal rnetiputi : urnur, pendidikan, pdaksanam ukuran usahatani, pndapatan usataatani, keahlian dan Wiapan mental. Soekartawi (1988) mengatakan bahwa faktw-faktar situasianat meliputi pendamn usahatani, ukuran usahatani. status gemilikan tanah, presfise rnasyarakat, sumber-sumher inform& yang digunakan dan tingkat kehidupan. Lebih jauh dikatakan pub bahwa kamheristik prsanal meliputi umur, pendidikan, brakterlsti k psi kohgi. Kurnia (2000) menyahkan batrwa keapatan adopsi inavasi ditentukan abh (1) Compi8xityitv Sernakin rumit suatu inovasi, maka &an makin stitit Wni mnerimanya, (2) DivisXbiIifvX Petani hanya mengadopsi brtgian-hgian tedentu saja dari inovasi tefutelrna yang kunsisten dengan farming o b + e mereka. (3) Congmme - lr?compwbi/ify WHI farm and personal objecfive- Peiani akan bbih =pat memrirna inavasi apabila kornpatibel dengan apa yang telah rnereka ketahui dan kwnpatibel clengan personal objecwe8 (4) Econant&~ Secara hipotesis, yang kbih menguntungkan akan diadopsi m t a lebitr cepat wabupun kwntungan ekmami ini bukan -ah-galanya. (5) Rislr and Uncertainty" Resiku den ketidakpasfian akan menjadi perhatian mereka, apalagi di dalarn kordisi prnilikan dan penguasaan fahart mpit. (6) ConRidng infodns. Di tengah-tengah masyankat yang makin terbuka, petani menerima infarmasi dari krbagai sumber. Surnkr terdskat

3 dan paling meyakinkan akan sangat membantu mereka di datam mengarnbii keputusan, (7) Impiemenfaffun cost - capital out& and intei#er:fuai outiy. Pertim bang an modal dan pengatahuan akan sangat penting bag1 pstani. (8) Lass of flexibility. FFlksihIitas di dalam rnernilih komuditas dan sebagainya juga rnenjadi pertimbangan petani. (9) Physical and social Infrestructtlro~ Ketersediaan infrastruktur pertanian, akan pula rnempengaruhi kecepatan petani di dalam mengadapsi inovasi. Oengan rnelihat faktor-faktor tersebut diatas, secara hipotesis, inavasi y ang sumbernya lebih dekat kepada getani dan sesuai dengan kebutuhan petani, akan lebih cepat diierima olah para petani. Hanafi (1 987) mengatakan bahwa kecepatan adopsi ditentukan olet-i : (1) tipe keputusan inovasi, (2) sifat saluran kornunikasi yang dipargunakan untuk menyebarkan inovasi dalam proses keputusan inovasi, (3) ciri-ciri sistem sosial, dan (4) gencarnya agen pernbaru dalam rnsmpromosikan inovasi, Selanjutnya Lionbergat* (5 968) menyebutkan bahwa faktar yang rnempengaruhi keceoatan adopsi adalah : (4) Urnur, (2) tingkat pendidikan, (3) tingkat pendapatan, (4) ukuran luas lahan, dan (5) sumber inforrnasi yang digunakan. Soekartawi (1988) menyebutkan bahwa peubah yang berhubungdn positif dengan ting kat adopsi dipengaruhi oleh faktor :(I) susiat ekonomi, (2) personal dan (3) komunikasi yang meliputi partisipasi sosial, kekosmapalitan, hubungan dengan agen pembaru, keterdedahan terhadap media massa dan aktivitas untuk mencafi inforrnasi serta tingkat kepemimpinan. Rogers (1 989) msngata kan ba hwa pengharnbat para petani untuk mengadansi suatu unsur inovasi tertentu adalah kemampuan modal yang mereka

4 rniliki terbatas, terutama has lahan yang rnereka miliki, aleh sebab itu dalam adopsi inovasi pertanian faktar mudal, famor alam dan faktor tenaga kerja rnerupakan hal utama yang perlu ctiperhatikan wink, 1984), Selain faktor alam, modal dan tenaga ke ja, aktivitas petani juga dipngaruhi oleh masukan dan ketuaran pasar, kebijaksanaan perneriniah, kebudayaan, kepercayaan dan peraturztn-peraturan, sehingga Ieknologi bani yang sesuai dengan kundisi Iahan, sasial ekonomi dan lingkungan akan dapat diadopsi, sedangkan bila tidak sesuai akan ditolak Soskantb (3937) mengatakan bahwa faktar-faktur psnyebab hambatan adopsi inovasi, yaitu : (1) Sistem nilai yang dianut, apabila hal yang baru bedentangan dengan nilainilai yang berlaku, maka daya swap pramis tertutup adanya. (2) Perangkat kaidah-kaidah rnasyarakat, artinya kalau ha1 baru diperlukan tidak serasi dengan kaidah-kaidah rnasyarakat yang brlaku, maka tidak ada daya serap rnasyarakat. (3) Pula interaksi yang berlaku, kalau interaksi yang ada tidak didukung hal-ral baru, maka daya serap tidak ada, (4) Taraf pendidikan formal dan informal fertentu, rnelatih manusia untuk seuantiasa rnenyesuaikan diri dengan sesamanya maupun dengan rnasyarakat secara rnenyeluruh. (5) Tradisi yang dipelihara secara turun ternurun, adanya tradisi yang kuat tidak dengan sandirinya bararti tidak ada daya serap terhadap unsur-unsur yang datang dari luar, lazirnnya daya penyerapan itu ada, apabila rnemperkuat dan mengembangkan tradisi yang ada. (6) Sikap tidak terbuka tshadap hal-hal baru.

5 (7) Adanya anutan yang tidak marnpu rnenyerasikan konsewatisme dengan inovatisms. Keterlibatan banyak orang dalarn proses adopsi inuvasi juga rnernpengaruhi kecepatan adopsi inovasi. Hanafi (1987) rnengatakan bahwa semakin banyak orang yang te Abat daiarn proses pembuatrin keputusan inuvasi, sarnakin lambat tempo adopsinya, Asumsi tersebut dibenarkan dengan hasil penelitian di Amerika, yaitu " Jika keputusan untuk mengadopsi psmberian fluorida pada air minurn kota dibuat aleh pimpinan pusat pemerintah kata, ternpa adapsi akan labih cepat dari pada jika keputusan itu dibuat seam Ralektif rnelalui referendum". Hanafi (5987) rnenyebutkan bahwa ada lima ciri inovasi yang dagat digunakan sebagai indikator dalarn rnangukur prsepsi antara lain : (1) Keuntungan relatif (relafjve advantages), adalah rnerupakan tingkatan din~ana suatu ide baru dianggap suatu yang lebih baik dari pada ide-ide yang ada sebelumnya, dan secara akanamis manguntungkan. (2) Kesesuaian (compatibiiify), adafah sejauh mana suatu inovasi dianggap konsistan cfengan nilai-nllai yang ada, pengalaman maaa lalu, dan kabutuhan adopter (penerima). Qleh karma itu inovasi yang tidak kornpatibet dengan ciri-ciri sistern sosial yang rnenanjal akan tidak diadopsi sawpat ids yang kornpatibel. (3) Kernmitan (complexity), adalah suatu tingkat dimana suatu inovasi dianggap relatif suiit untuk dimengerti dan digunak~n. KesuIitan untuk dimengerti dan digunakan, akan rnerupakan hambatan bagi proses kecepatan adapsi inovasi. (4) Kemungkinan untuk dicoba (triaiibi!iiy,), adalah suatu tingkat dimana suatu inovasi dapaf dicoba dalam skala kecil. Ide baru yang dapat dicaba dalarn

6 skaia yang lsbifi kecil biasanya diadopsi lebih cepat daripada inovasi yang tidak dapat dicoba lebih dulu. (5) Mudah diamati (observabilify), adalatr suatu tingkat dirnana hasil-hasil suatu inovasi dapat dengan mudah dilihat orang lain, sefiingga akan mempermpat proses adapsinya. Jadi calan-calon pengadopsi lainnya tidak perlu lagi menjalar~i tafiap percabaan, melainkan dapat terus ke tahap adopsi. Kandala-kandala Patan! Mengadopsi Inovad Kendala-kendafa yang berhubungan dengan tingkat keputusan petani mengadopsi suatu inovasi, prlu rnelihat faktur-faktar yang berhubungan dengan input dan output rumah tangga petani, serta lingkungan rumah tangga petani Kendala-kendalia input rumah tangga petani dapat dilihat antara lain : (1) Surnber-surnber Lahan. Menurut Soekartawi (1988) bahwa petani pernilik lahan lebih iuas memungkinkan rnereka rnelakukan usahataninya lebih tanjut, dan rnakin dibutuhkan. Selanjutnya dikatakan bahwa pernilik tanah dsngan status hak pernilikan lebih inovatif dibandingkan dengan petani bukan pemilik. (2) Tenaga Kerja. Satah satu faktor yang menentukan petani mengadapsi teknalagi adalah tersedianya tenaga kerja terarnpil, baik tenaga karja keluarga maupun tenaga kerja yang disewa atau tenaga kerja lainnya. Waiaupun tenaga kerja yang dibutuhkan itu tersedia, bila produktivitas kerjanya rendah, tetap rnefupakan kendala bagi pengadopsian teknologi. Tenaga kerja keluarga maupun tenaga kerja yang disewa tidak dapat rnernpertahankan prestasi kerja sampai pada tingkat tetentu, maka

7 tenaga kerja keluarga #tau yang disewa tersebut akan mundur dan bisa lenyap (Vink, 1984). (3) Modal SaIah satu sifat inovasi adalah keuntungan relatif, yaitu secara ekanomis menguntungkan bila dilihat dad biaya yang dikeluarkan iebih rendah, pamakaian tenaga kerja dan waktu lebih hemat, resiko kagagalan dapat dipsrhitungkan, dan hasilnya segera terlihat (Rogers, 1983). Kendala utarna yang rnenyebabkan petani tidak mengadapsi suatu inovasi, bila dilihat dari faktor modal adalah selain tidak tersediany a modal berupa sarana dan prasarana, juga tidak tersedianya modal barupa uang tunai. Modaf uang rnerugakan faktor penting dalarn usaha, untuk itu pada kelompok petani y ang hidup dalam ikatan rnasyarakat yang tersantuh oleh ekonami, uang ikut rnanentukan kehidupan individu. Semakin menonjol peran usaha perseorangan, uang semakin menjadi faidor yang sangat penting (Vink, 1984). Hasil penetitian yang dilakukan Batai Basar Pengembangan Mekanisasi Pertanian bahwa salah satu faktor yang rnenentukan adapsi alat mesin pengalah ubikayu ini adalah modal, Sarana dan prasarana adalah faktor penting dalarn penggunaan alat rnssin ini. Tidak tersedianya sarana dan prasarana ditempat, rnengakibatkan tidak tertariknya petani untuk rnengadopsinya. Keberadaan sarana pruduksi ditempat dan kemampuan daya bli petan! akan sarana dan prasarana rnenentukan tingkat kecepatan adopsi inavasi, sehingga dapat dikernukan bahwa kendala-kendala yang berhubungan dengan sarana dan prasarana adalah : (1) tersedia atau tidak tersedianya suku cadang alat tersebut ditempat, (2) tingkat kesesuaian lahan dan pengolahannya, (3) ada tidaknya dukungan pasar untuk pemasaran hasil,

8 Berdasarkan ha1 tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa kendaia-kendala yang berhubungan dengan faktor input rumah tangga petani yang mengakibatkan pula kemung kinan penolakan suatu inovasi adalah : (1) sempitnya lahan y ang dirniiiki, (2) tidak tersedianya tenaga kerja yang praduktif, (3) kecilnya pemilikan modal, (4) tidak tarsedianya sarana dan prasarana di ternpat seda harganya relatif mahal, Kendala-kendala yang berhubungan dengan output rumah tangga petani, gerlu mernbandingkan niiai input rumah tangga petani dengan nilai out put rumah tangga petani. Nilai output hhubungan langsung dengan produksi, sedangkan nilai input berhubungan dengan modal, Secara deskriptif dapat digam barkan bahwa penggunaan suatu teknslogi oleh petani rnenentukan keputusannya untuk imengadopsi atau tidak, setelah petani tersebut membandingkan nilai input dan nilai out put penggunaan teknalagi tersebut. Menurut Surjanto, dkk (1991) bahwa yang temasuk faktor iingkungan adalah segala sesuatu yang ada di luar manusia, sedangkan kendala-kendala yang berhubungan dengan lingkungan diantaranya dapat dilihat dad famor fisik dan bialoy is alarn, sosial budaya dan politikkelembagaan Kendala-kendala yang berhubungan dengan famar fiaik adalah terjadinya gerubahan lingkungan krupa kemsakan tanah, air dan hutan, pencemaran lingkungan kahidupan pada tanah dan air, polusi udara, rendahnya mutu dan kualitas lahan, dan sebagainya. Sedangkan kendala yang brhubungan dengan faktor sosial adalah bila teknologi tersebut dianggap bet-tentangan dan dapat merubah adat istiadat siatecn sosial masyarakat setempat, agarna dan kepercayaan. Selanjutnya kendala-kendala yang berhubungan dengan politik dan kelembagaan, bisa terjadi dangen adanya kebijaksanaan pemerintah, turun nniknya

9 harga akibat resesi ekonomi, tidak adanya bantuan luar negeri, atau bantuan pernerintah, tidak tersedianya Bank dan KUD untuk rnernberikan kredit, panyediaan sarana angkutan, pernasaran dan sebagainya. Kendala-kendala yang menghambat petani rnengadopsi suatu unsur inovasi dapat disebabkan oteh rendatrnya faktor input dan output rumah tangga petani, adanya perubahan alam atau lingkungan hidup diluar kakuasaan manusia, kuatnya nilai-nilai budaya dan sasiat politik, Parsepsi Menurut Devita (19971, definisi persepsi yaitu bahwa parsepsi merupakan proses dimana kita sadar akan banyaknya rangsangan (stimulus) yang mernpengaruhi indera kita. Persepsi mempengaruhi rangsangan atau pesan apa yang kita serap dan makna apa yang kita berikan kepada rnereka ketika mereka mancapai kesadarara. RokRmat (2000) rnanyatakan bahwa persepsi adalah pengalaman tentang abyek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan rnenyimpulkan infamasi dan menafsirkan pssan. Dengan demikian persepsi adalah proses mem beri makna pada ssnsasi sehingga manusia rnernperoleh pengetahuan baru, dengan kata lain, prsepsi rnengubah sensasi menjadi informasi, Pefsepsi brhubungan erat dangan rangsangan {stimuli) tentang hal yang menyebabkan sesearang sadar kemudian pengatahuan dan pemahamannya meningkat, Kincaid dan Schramm (1984) menjefaskan bahwa usaha memahami makna sesuatu ha1 merupakan suatu proses yang tidak berwujud dan proses tersebut dapat terus berlangsung selama seseorang masih mau betusaha rnendapat kan makna yang lebih luas. Memahami adalah proses bertanya atau

10 n~encari makna yang lebih mendalam atau lebih Iuas, dengan jalan rneneliti keterkaitan makna serta kesimpulan yang terkandung dalam suatu infurmasi, Wilbur Sctrramm dalam Sastropoetra (1988) menegaskan bahwa taraf-taraf efek komunikasi yang terjadi dalam bnak komunikan adalah tirnbulnya minat, tirnbulnya perhatian untuk mencar; keterangan, tirnbulnya keinginan untuk memanfaatkan dan memilikinya, serta tirnbulnya prtimbangan-prtimbangan tentang rnanfaatnya. Pada prosesnya persepsi menrpakan penerirnaan informasi aleh sesearang mengenai sesuatu, sehingga ia rnernpersepsi abyek tersebut berdasarkan pengetahuan serta pengalaman yang ada dalam pikirannya. Dalam hubungannya dengan adapsi inavasi, biia persapsi petani terhadap inovasi dan ayen pembaru negatif, maka inovasi yang gaga1 bisa rnenjadi racun bagi gengadopsian inovasi lain yang akan diperkefielkan (Hanafi, 1987)). Sereno, ot ai dalam Mulyana (2000) mengatakan bahwa persepsi merupakan serangkaian tiga jenis proses yaitu : seleksi, arganisasi dan interpretasi. Ketiga proses tersebut berlangsung nyaris sarempak. Seleksi, mempakan proses msmusatkan perhatian tarhadap bebarnpa dimensi yang relavan dari sejurnlah rangsangan yang ada. Tidak semua rangsangan menarik perhatian seseorang, hanya sebagian kecil saja yang diubah menjadi kesadaran. Qrganisasi adalah kegiatan menyusun rangsangan ke dalam bantuk yang sederhana dan terpadu, sedangkan interpretasi rnerupakan proses dirnana sssearang mem bentuk penilaian-pnilaian dan mengarnbil kesimpulan. Susanto (19'17) rnenyatakan bahwa persepsi seseorang menentukan tingkat keputusan inovasi, Lebih lanjuf dikatakan oleh Rakhrnat (2000), bahwa persapsi sesearang dipengaruhi oleh faktor struktural dan fungsional. Secara strukturaf

11 fungsional tiiniukan OM kamkteristik orang yang mempmpsi. David Krech dan Richard S. CWcMieId dalarn Rakhrnat (2000) mengafakan bahwa m s i =fain ditenktkan &h fairtor personal juga faktor siiuasionaf. Rakfrmat (20001, persepsi manusia bukan sekedar rekaman pefistkhca atau obyek. Pengaruh kebutuhan, kesiapan mental, suasana ernosional dan iatar belakang Maya akan menentukan pmepsi manusia. Manusia sebagai obyek persepsi diistila h kan sebagai prsepsi interpersonat, sedangkan pmpsi pada obyek selain rnanusia disebut sebagai persepsi obyek. Hubungan antarn Karakteristik Petani dengan Persapsinya tarhadap lnovasi Teknologi Alat Mesin Pengolah ubikaylr Meskipun seseomng dan atau bberapa orang berada dalam ternpat yang sama mengalami kejadian yaw sama serta mam-ima stimulan yang sama, kmunglrinan twjadi penadmaan, penafsimn yang bebeds terhadap obyek atau pristiwa yang mereka alami. Persepsi =perti juga sensasi yang dikatakan Rakhmat f2w0) ditentukan ofeh fakar persona! dan faktor situasianal. Faktor-faictar personal yang sgcara langsung rnempengaruhi kernmatatan persepsi adalah : (1) pengalaman, yang tidak setalu diperoleh tewat proses befajar formal, (2) rnotivasi, (3) kepribadian. Sejalan dengan pandangan di atas Tubbs and Moss (3966) msngatakan bahwa perangkat psikologis mempengaruhi ptarsepsi antar personal. Cam pnafsiran mengungkapkan suatu ireinginan dari masa laiu. Hal ini sejalan dsngan penciapat Oevitu (1997) yang mengemukakan bahwa karameristik seswrang merupabn salah satu fawr yaw dapat mempenganrhi persepsi semrang.

12 Lionhrger dan Gwin (1982) mengatakan bahwa karakteristik personal dapat rnernpengaruhi penerimaan individu terhadap pembahan atas unsut seperti pendidikar?, ternpat tinggal, kedudukan orang tua, kernarnpuan rnengelola, kesehatan, umur dan sikap. Soakartawi (4988) menjabarkan bahwa atasan petani mefigadopsi inovasi disebabkan oleh faktor situasi yaitu situasi dimana rnereka mendapatkan dirinya sendiri dalam proses difusi inovasi, yang terrnasuk faktar ini diantaranya penda,,atan usahatani, ukuran usahatani, status prnilikan tanah, prestise masyarakat, surnbersurnber informasi yang dipergunakan dan tingkat kehidupan. Hubungan karakteristik petani dengan persepsinya tehadap inuvasi feknologi alat masin gengolah ubikayu adalah : (1) Umur Umur berhubungan dengan =pat tidaknya adopsi teknologi aleh petani, ha1 ini sesuai dengan yang dikatakan Soekartawi (1988) bahwa petani yang lebih tua tarnpaknya cendenrng kurang rnetakukan difusi inovasi pertanian dibandingkan dengan meraka yang urnurnya rebtif rnuda. (2) Pendldikan Tingkat pengetahuan seseorang berhubungan dengan tingkat penilaian dan keputusan adogsi inovasi, sspefti dikatakan oleh Rogers (1983) bahwa orang-orang yang mengadups! inovasi labih awal dalarn proses difusi, cenderung lebih berpendidikan. Hal yang sama dikatakan Soekattawi (1988) bahwa mereka yang berpendidikan lebih tinggi relatif lebih cepat melaksanakan adopsi inovasi. (3) Pengalaman Bsrtani Faktor pengalarnan mernpunyai hubungan pasitif dsngen kecepatan adopsi inovasi, Menurut Soekartawi (1988) ptani yang berpengalarnan lebih cepat

13 rnengadopsi teknologi dibandingkan dengan petani yang Mum atau kurang berpengalaman. (4) Kosrnopolitan Dikatakan Smkartawi (1988) bahwa petani yang berada pada pala hubungan yang kosrnapolitan kebanyakan dari rnereka lebih cepat melakukan adapsi dibandingkan dengan ptani yang tidair berada dalarn pola hrrbungan kosmapoiitan. 5 Pondapatan Menurut Soekartawi (1988) bahwa ptani yang berpenghasiian rendah lam bat untuk melakukan difusi inovasi, sebaliknya petani yang berpenghasiian tinggi marnpu untuk rnelakukan percobaan-percobaan dan perubahan, (6) Status dan Luas Psmilikan Lahan Status dan luas fafian menentukan petani untuk dapat rnengambil keputusan secepatnya datam upaya menerapkan suatu unsur inovesi. Menurut Soekartawi (1988) ukuran Iahan usahatani bethubungan pasitif dengan adopsi. Penggunaan teknologi pertanian yang lebih baik akan rnenghasilkan manfaat ekanarni yang rnemungkinkan usahatani lebih lanjut. (7) Kreditrltitas Sumkr Informael PertanIan yang Digunakan Menurut Hanafi (1987) bbawa kredibilitas adalah tingkat dimana sumber atau saluran kernunikasi (yang datarn hal ini bisa agen pernbaru) dapat diprcaya oleh penerirnanya, selanjutnya dikatakan pula bahwa penilaian kredibilitas sumbe1 oleh klien bisa terdorong aleh bebrapa alasan. misalnya orang rnenilai sangat tinggi kredibilitas petugas penyuluhan ternyata mereka itu yang pating ssring dikunjungi aleh agan pernbaru, sedangkan para gedagang dinilai kurang kredibilitasnya karma mareka itu msmpunysi motiv-rnativ kumsrsial yang lebih besar, rnisatnya dengan pengadapsian itu rnereka mengeduk keuntungan sebesar-besamya.

14 (8) Status Kettnggotaan dalarn Kelampok Menurut Maksurn (1 994) bahwa malalui pertemuan kelornpak timbul kesernpafan bagi petani untuk brdiskusi dengan PPL maupun petani lain, sehingga petani menyadari manfaat dan kountungan yang diperoleh dari pertemuan. Pertemuan merupakan ha1 yang bepengarut.1 pada keputusan adopsi inovasi. Pentingnya peranan kelompuk adalah sebagai media untuk meng komuni kasikan masalah-masalah serta pemecahannya, maka partisipas! anggota dalam kegiatan keiornpak baik dalam Ral perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi, serta sampai pada tingkat pengamtjtlan keputusan sangat menentukan kemampuan mereka. (9) Aksesibilitas terhadap Sarana dan Prasarana Peralahn Menurut Maksum (1994) bahwa sarana pruduksi adalah faktar penting dalam pening katan usahatan!. Tidak tersedianya sarana produksi di tempat, rnengakibatkan keterlarnbatan dalam menanam, keterlarnbatan pem berantasan hama dan penyakit, keterlam batan penyiangan, dan sebagainya. Keberadaan sarana praduksi diternpat, dan kemarnpuan daya kli petani akan sarana praduksi menantu kan ting kat kecspatan adopsi inovasi. 110) KesernpataniKetarlf batan dalarn Gelar Te knolagi Hasil pnalitian yang dilakukan Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian bahwa semakin sering angguta terlibat dalarn suatu gatar teknalogi maka akan semakin paham akan teknolagi tersebut. Hal ini sejalan dengan Bsnor et al (1984) mengemukakan bahwa petak dernonstrasi telah terbukti berguna untuk rnernbantu meyakinkan petani akan manfaat bibit, peralatan, dan teknik-teknik baru prartanian di negeri-negeri yang sedang berkembang (Gawalez dalam Jahi, 1988).

15 Hubungan anbra Parilaku KmutdOrasi Petani dengan Persepsinya terhadap Inovasi Teknologi Alat Mesin Pengolab Ubikayu Pedaku komunikasi adalah qefa aktivitas yang bertujum wltuk mencari *au memperoleh informasi dad krbagai sum& dan untuk mnyebaduaskan infomasi kepada pihak rnanapun yang memerlukan. Hemy dan Blanchard ddam f-anuctin (1998),1 mngemukakan bahwa perilaku pada dasamya brorkntasi pada ktjuan dafarn arti pwilalru sesearang pada umumnya dimativasi dengan keinginan unhtk memperokh tujuan Wentu. Menurut Eould dan Kolb d8iam Ichwanudin (I 998). perilaku kornunhsi adalah tindakan respon dad sesuatu atau sisbm apapun dalam Whhungan antara lain : keterdeclahan tehemdap saluran komunikasi internal, keteddahan terfradap media masw dm pralrtisipasi sosial, keblwbungan man sbm asoaial, kusmopoli konbir m a n agen pembru, m r i infurmad tantzufg inwasi, pngetahuan, kepemimpinan atau pemuka pendapat. Lavidge-Steiner ddam Ichwanudin (1 998) menyatakan bahwa mudel tip-tipe efek (perilaku) 'sebagai akibat dafi dikenainya pesan tertentu terbagi ire dalam : (1) kognitif, yang mefiputi atam pikiran, (2) afektif, meiiputi emosi, sikap dan perasaan, serta (3) konatif, meliputi motif, atau keinginan langsung. Warsito dalam Danudiredjo (1988) mengatakan bahwa pfsepsi bekaraiasi dengan ItaraMeristik personal dan faktor-faktar lain. sedangkan Ha~n dab Danudirejo (1998) menyebutkan khwa irarakteristik personal seperti mur, tirrgkat pendiclikan, pengataman, statatus susial ekonarni, keanggotaan pada suatu organisasi, serta prilaku mencari inforrnasi, merupakan pubah yang bemubungan dengan prsepsi dan sikap terfiadap inavasi.

16 Effmdy (t993), mengahitan bahwa persepsi adafah penginderaan terhadap auatu kesan yaw timbul dalam lingkungannya. Penginderaan t d dipngaruhi dsh malaman, kebiasaan dan bbukthan. Kemampuan mernpersepsi antara orang yang satu dangan yang fain tidak akan sama rneskipun mwa =ma-sama dalam mtu arganisasi atau kelompok. Hal tersebut disebabkan karena pempsi tersebut dipangaruhi olsh akivitas kornuniirasi orang tersebut, baik ia sebagai kamuniitatar rnaupun karnunikan Hanaft (1987) rnengernukairan bahwa -psi selektif mwpakan suatu kecenclerungan individu yang msnginterpretasihn pesan-pesan komunibsi menurut sikap, kepmtingan, kebutuhan dm keyakinannya. Hal ternbut dipengaruhi deh pendidin, status dal, katarcfetfahan, kontak intqmarral, partisipaeri sosiaf dan k&osmopolitan. Pdlaku komunikasi ymg bwfwbngan m a n pet"sepsi tarhadap imvaai teknologi abat mesin pengolath ubikayu actdah : ($1 Keterdedothan pada Media Mas= Smkartawi (1988) menyemkan bahwa sumber infarmasi sangat berpengaruh tahadap proses adopsi inavasi, sum& yang dimaksud dapat kmsai dari media massa maupun media interpemal, seperti media massa, petugas, penyuluh, aparat desa dan lain ssbagainya. Masing-masing media mempuny ai icelebi han dan kelsmahan. Media komunikasi massa dapat menyampaikan informasi dalam jurnlah banyak dan dalarn wairtu yaw singkat M a memberiican efek kognim yang maliputi pningitatan kesadamn untuk belajar dan rnenmhh pengetahuan. Media kmunikasi personal &pat manimbulkan afek perubahan parilaku.

17 Medm massa memihki m a n mamberibn informasi untuk memperfuas cakmwda, mmlcsatkan perhatian, mnwnkhkan aspimi dan sebagainya (Scttramm 4984), etapi tergantung pacla Mwdedatran khalayaknya di media massa. Menunrt Jahi (1888) keterdedahan pack media massa akan mmkrikan kontrit>usi tertradap pemaan pwilaku. Sajaian m a n hal tersebut, penlbahan perilaku kklayak Mak saja dipenganthi ash iceterdedahnnya pada sahr miuran media maw, tetapi juga rnemedukan lsbih dari satu saluran lcumunikasi massa lainnya seperti hr, radb, film, dan bahan-bahan cetakan (Kimicl dan Schramm f 984). (2) Kabrdedahan pade Salumn Komuniki I n ~ ~ ~ n a l Sesaomng unu meyakinkan infwmasi yang dipwukhnya, &an Wakukan bntak intmpwnal dmgan talruh masyarakat maupun agen p m b. Pada tahap ini akan memmkan pnd* dm dhat dari mng yaw dipemyainya. Sas4qmb (1988) nwmgmum bahwa kepmirnpinan toiroh myslrakat sekitamya atau umg yaw mmiw kompetenai this dam memmkan fungsi bgitimasi twhadap tcapukisan yang alcan dibtnya. Hal tenebut dams dengan Havelock (f97t) yang brpendapat bahwa tak& masyarakat merniliki peranan di dalamnya sebagai pndarong dan Iegitimatw (penguiruhan) dad tahap adopsi proses difusi sasial. Meningkatnya pengawh pads sesmmng untuk mewadopsi afau menolak inovasi, mentpakan suahi hasii akmtasnya dalam jaringan komunikasi dengan individu lain yaq diawgap &kt &n ahb wrta mamiliki pengaruh terfaadap dirinya. tndivicfu lain yang aanggap mliki pengaruh dalam sistern jaringan komunikasi t e M addah tokoh masyarakat, narnun demikian ha1 ini tergantung

18 sebagisn pada nma-noma yang bmu, apaicah mertdukung atau mendak prubahan (Rogers 4 983). Semng *an letrih cepat mefigadopsi inwad, m l a ia i&ih banyak melakukan kantak komunibsi interpersonal dengan age# pmbaru dan tokoh masyarakat (R- dan Shoemaker (1971) daiam Haraafi 1987). Disisi lain Kimid dan Schramrn (19841, brpendapat bahwa pr-s mangetahui ()cognitif), memahami (afektif) sarnpai w a n parilaku (kortatif) pada diri -rang sangat dipngaruhi oleh hubungan inte~gensanal. (3) Intenshas Interaksi daiam Kslmpok Kmunikasi Soeitat.tawi (f 988) rnenyatabn bahwa prm adopsi inovasi tidak Mepas dad penganih interaksi antar ind'rvidu, anggota mssyaratcat kelornpok rnasyarakat, juga pengaruh dad inbraksi antar kdompok daiam su& masyarakrat. H a penetttian Maksum (3994) menywkan Wwa intemksi anbr angguta dahm pertemuan temyats mampu r n pengetahan ~ dan keterslmpilan ~ menerapkan Mumad atau tehologi yaw dianjurfcan, yaitu h nyak 9?,30 pwsm petani mampu melaksanakan anjurato-anjuran yang diprokh dari pertemuan kelarnpok, 42,W persen diantaranya mampu mengicamunikasikan hasil pertemuan yang rnerekw perokh dari orang lain. Eoldberg dan Lawn (1985) mnyatakan bahwa variabel prsepsi mernpunyai hubungan dengan kumunikasi kebmpak, diantaranya asumsi-asumsi tentang proses kmunikasi yang rnernpengaruhi kepukisan anggoia pada saat rnareka saling bsdnbraksi.

19 (4) KWrllbahn dalsm PrrngambPan Keputusan Kelompak Rogers Siwemaker dalam Hanafi (198n mengatakan bahwa peneriinaan artggota terhadap keputusan inovasi kofektiif krhubungan positif dengan tingkat partisipasi rnereita, sema kin banya k mere ka berpattisipasi dalam proses pembuatan keputusan kofektif, sernakin besar penerimaan mereka terhadap keputusan. Hal ini sejatan dengan Lewin dalam Djurnrsa, dkk (2001) menyatakan bahwa pngaruh, kelompok dalam pengambilan keputusan rnenunjukkan bahwa persoalan yang dikemukakan dan didiskusikan dalam kelornpok, memiliki pengaruh yang febih bsar dalam mendorang pengambilan keputusan afeh para anggatanya. Swkartawi (1988) menyatakan bahwa makin tinggi partisipasi anggota dalam proses pengambilan keputusan, semakin bsar pula tirtgkat kepuasan rnereka brhadap keputusan. Alat Metsin Pengabh Ubikayu sebagsrl Teknologl Pengolahan U blirayu pada Lnhan Perbukitsln Kritis feknalagi alat mesin pengolah ubikayu adalah suatu teknofogi yang ditancang untuk rnengatasi pnznganan pasca panen ubikayu pada lahan perbukitan kritis yaitu dengan penganekaragaman pengolahan ubikay u, yang bertujuan untuk menciptakan nilai tambah hasil panen ubikayu sehingga diharapkan penclapatan petani akan meningkat sehingga ubikayu dapat dibudidayakan secara Penanganan pasca panen ubikayu adalah semua kegiatan yang dilakukan sejak ubikayu dipanen sampai dipasarkan kepada itonsumen. Salah satu unsur pananganan pasca panen yaitu pengolahan ubikayu segar setelah tahap

20 Kegiatan pnanganan pasca panen pada urnumnya dilakukan 0l8h petani, kelornpok tani, kaperasi dan pedagang pengumpul, Adapun tujuan penanganan pasca panen ini adatah : (?) Mernpertahankan mutu ubikayu supaya tetap seperti pada wamu panen. (2) Mengurangi susut tercocer pada semua proses ksgiatan yang dilakukan (3) Mendapatkan harga jual ubikayu yang tinggi Untuk rnencapai tujuan tersebut dibutuhkan kernarnpuan mengelola untuk memadukan unsur-unsur rnasukan berupa alat tepat guna, kredit modal, ketrarnpilan dan teknolagi. f uwadaria (1989) mernprkirakan susut pasca panen ubikay u secara tradisional di tingkat petani pada jnlur penanganan ubikayu untuk gaplek adalah 12,2% susut tercecer dan 6,8 % susut rnutu. Adapun jenis-jenis teknologi alat mesin pengatah ubikayu adalah : (t Mesin Penyawut Tipe JICA-ALSINTAN Kapasitas 1,080 kgijarn, daya (motor listrik PK) 3,5, ukuran p x l x t = 96 x 60 x 93 dan berat "7 kg. (2) Mesin Pernanrt Ubikayu tipe BSP-ALSINTAN Kapasitas 100 kgljarn, daya (motor listrik PK) 3,5, ukuran p x I x t = 83 x 43 x 91 dan berat 44 kg. (3) Kambinaai Perajang dan F)enyawt Ubikayu manual Tipe Jufri Psrajang, kapasitas 30 kgljarn, p x I x t = 35 x 40 x 48 dan penyawut, kapasitas 40 kgrjarn, p x I x t = 35 x 40 x 43 dengan berat 32 kg.

21 Eelar Teknologi sebagai Wlledfa Penyebaran lnovasi Sebagaimana diketahui bahwa tujuan penyebaran hasil pemjitian/ perekayasaan alat mesin prtanian adalah untuk rnernprcepat penyampaian paket teknolugi hasil peneliadperekayasaan afat m&in pertanian kepada pengguna, untuk menunjang ha# tersebut diperlukan suatu media. Effendi, 0.U (3999) rnengatakan bahwa peranan media rnassa adalah sebagai agen prnbaru (agent of social change). Letak peranannya adalah dalam ha1 membankr mempercepat proses peralihan rnasyarakat yang tradisianal menjadi rnasyarakat yang mudern, Telah diketahui bahwa media komunikasi dikmal dengan berbagai macam ktrtuhya, seperti : rnajajalah arganisasi, press rebase, artikel surat kabar atau majalah, pidato radio, pidato televisi, film dokurnenter, txusur, lea&$, poster, dan kmferensi pew yang dapat diktasifikasikan Wgai media cetakan atau tulisan, visual, aural, dan audio visual. Unkik mencapai sasamn kornunikasi, dari sejurnlah media komunikasi tersebut perlu dipilih salah saw yang paling mungkin untuk digunakan atau dengan rnenggabungkan dari bebrapa media, bergantung pada tujiran yang akan dicapai, pesan yang akan disampaikan, dan teknik yang akan digunakart. Hal ini dkarenakan masing-masing media tersebut rnarnpunyai kekurangan maupun kelebihan. Gelar feknologi rnenrpakan gabungan dari be berapa media kornunikasi yang besar peranannya dalam rangka rnernpercepat genyebarluasan hasil inovasi teknolagi alat mesin pengalah ubikayu, karma datam gelar teknolugi tersebut secara Wsik ditampilkan alat yang akan disebarkan dan secara tmri dituangiran dafarn bentuk leafief, setringga sasarant pengguna dapat s-ra tangsung rnsncuba aiat mesin yang akan disebarkan tersebut serta dapat menanyakan pernasalahan yang

22 ada hubungannya dwgan inovasi tersebut. Oengan demikian dapat dikatakan bahwa sasaranlpengguna yang terlibat dalam gelar teknologi tersebut secara langsung dapat melihat, rnengenal, memahami, dan mernpraktekkan alat mesin pertanian yang siap diaptikasiksn, DIharapkan dengan gelar teknologi ini akan terjadi kontak pribadi, umpafi balik bersifat tangsung, dan suasana lingkungan yang dapat diketahui. Hal ini sangat rnernbantu dafam gelaksanaan penyebaran inovasi.

Kesimpulan. Beberapa kesimpulan yang menjadi perhatian dari penelitian ini disusun

Kesimpulan. Beberapa kesimpulan yang menjadi perhatian dari penelitian ini disusun KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Beberapa kesimpulan yang menjadi perhatian dari penelitian ini disusun dalarn rangkaian berikut ini: (1) Karakteristik Personal: Sernua peternak, baik peternak ayarn buras

Lebih terperinci

KERANGKA PENDEKATAN TEORI. seperti industri, jasa, pemasaran termasuk pertanian. Menurut Rogers (1983),

KERANGKA PENDEKATAN TEORI. seperti industri, jasa, pemasaran termasuk pertanian. Menurut Rogers (1983), II. KERANGKA PENDEKATAN TEORI A. Landasan Teori 1. Penerapan Inovasi pertanian Inovasi merupakan istilah yang sering digunakan di berbagai bidang, seperti industri, jasa, pemasaran termasuk pertanian.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Pengaturan Pola Tanam dan Tertib Tanam (P2T3) pola tanam bergilir, yaitu menanam tanaman secara bergilir beberapa jenis

TINJAUAN PUSTAKA. Pengaturan Pola Tanam dan Tertib Tanam (P2T3) pola tanam bergilir, yaitu menanam tanaman secara bergilir beberapa jenis TINJAUAN PUSTAKA Pengaturan Pola Tanam dan Tertib Tanam (P2T3) Pola tanam adalah pengaturan penggunaan lahan pertanaman dalam kurun waktu tertentu, tanaman dalam satu areal dapat diatur menurut jenisnya.

Lebih terperinci

SAPJA ANANTANYU. "Anal~sis Kebutuhan Dasar dan Respons Masyarakat. Sekitar Hutan terhadap Perhutanan Sosial (Kasus di Desa Katekan, Desa

SAPJA ANANTANYU. Anal~sis Kebutuhan Dasar dan Respons Masyarakat. Sekitar Hutan terhadap Perhutanan Sosial (Kasus di Desa Katekan, Desa SAPJA ANANTANYU. "Anal~sis Kebutuhan Dasar dan Respons Masyarakat Sekitar Hutan terhadap Perhutanan Sosial (Kasus di Desa Katekan, Desa Mojorebo, dan Desa Dokoro", d~bawah birnbingan PANG S. ASNGARI sebaga~

Lebih terperinci

BAB VIII PENGAMBILAN KEPUTUSAN INOVASI PRIMA TANI OLEH PETANI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA

BAB VIII PENGAMBILAN KEPUTUSAN INOVASI PRIMA TANI OLEH PETANI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA 59 BAB VIII PENGAMBILAN KEPUTUSAN INOVASI PRIMA TANI OLEH PETANI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGANNYA 8.1 Pengambilan Keputusan Inovasi Prima Tani oleh Petani Pengambilan keputusan inovasi Prima

Lebih terperinci

program yang sedang digulirkan oleh Badan Litbang Pertanian adalah Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian yang

program yang sedang digulirkan oleh Badan Litbang Pertanian adalah Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian yang PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Pembangunan pertanian di Indonesia telah mengalami perubahan yang pesat. Berbagai terobosan yang inovatif di bidang pertanian telah dilakukan sebagai upaya untuk memenuhi

Lebih terperinci

BAB VII KESIMPULAN DAN IMPLIKASI PENELITIAN. penelitian, sedangkan pada bagian implikasi penelitian disajikan beberapa saran

BAB VII KESIMPULAN DAN IMPLIKASI PENELITIAN. penelitian, sedangkan pada bagian implikasi penelitian disajikan beberapa saran BAB VII KESIMPULAN DAN IMPLIKASI PENELITIAN Bagian ini menyajikan uraian kesimpulan dan rekomendasi penelitian. Kesimpulan yang disajikan merupakan hasil kajian terhadap permasalahan penelitian, sedangkan

Lebih terperinci

VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI PENELITIAN. penelitian, sedangkan pada bagian implikasi penelitian disajikan beberapa saran

VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI PENELITIAN. penelitian, sedangkan pada bagian implikasi penelitian disajikan beberapa saran 283 VIII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI PENELITIAN Bagian ini menyajikan uraian kumpulan dan rekomendasi penelitian. Kesimpulan yang disajikan merupakan hasil kajian terhadap permasalahan penelitian, sedangkan

Lebih terperinci

PERSEPSI PETERNAK SAPI POTONG KEREMAN TERHADAP INOVASI TEKNOLOGI MESIN SILASE ONGGOK TAPIOKA

PERSEPSI PETERNAK SAPI POTONG KEREMAN TERHADAP INOVASI TEKNOLOGI MESIN SILASE ONGGOK TAPIOKA PERSEPSI PETERNAK SAPI POTONG KEREMAN TERHADAP INOVASI TEKNOLOGI MESIN SILASE ONGGOK TAPIOKA (Kasus Inovasi pada Kelompok Peternak Sapi Potong Kereman Margo Lestari di Desa Sidomukti Kecamatan Margoyoso

Lebih terperinci

BAB VI PROSES DIFUSI, KATEGORI ADOPTER DAN LAJU ADOPSI INOVASI SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI) DI DUSUN MUHARA

BAB VI PROSES DIFUSI, KATEGORI ADOPTER DAN LAJU ADOPSI INOVASI SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI) DI DUSUN MUHARA BAB VI PROSES DIFUSI, KATEGORI ADOPTER DAN LAJU ADOPSI INOVASI SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI) DI DUSUN MUHARA Adanya komponen waktu dalam proses difusi, dapat mengukur tingkat keinovativan dan laju

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sasarannya

TINJAUAN PUSTAKA. komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sasarannya TINJAUAN PUSTAKA Peranan Penyuluh Pertanian Penyuluhan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sasarannya memberikan pendapat sehingga

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1989, sebagai perusahaan afiliasi Avon, USA yang didirikan pada tahun oleh Mr. David McConnel dengan narna California Perfume

I. PENDAHULUAN. 1989, sebagai perusahaan afiliasi Avon, USA yang didirikan pada tahun oleh Mr. David McConnel dengan narna California Perfume I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PT. Avon Indonesia didirikan di Jakarta pada tanggal 15 Juni 1989, sebagai perusahaan afiliasi Avon, USA yang didirikan pada tahun 1886 oleh Mr. David McConnel dengan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan pembangunan di Indonesia telah sejak lama mengedepankan peningkatan sektor pertanian. Demikian pula visi pembangunan pertanian tahun 2005 2009 didasarkan pada tujuan pembangunan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kecamatan Wonosari merupakan salah satu dari 7 kecamatan yang ada di

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kecamatan Wonosari merupakan salah satu dari 7 kecamatan yang ada di BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum Wilayah Penelitian Kecamatan Wonosari merupakan salah satu dari 7 kecamatan yang ada di Kabupaten Boalemo, Di lihat dari letak geografisnya, Kecamatan Wonosari

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Komunikasi merupakan suatu proses penyampaian pesan dari satu pihak

TINJAUAN PUSTAKA. Komunikasi merupakan suatu proses penyampaian pesan dari satu pihak TINJAUAN PUSTAKA Perilaku Komunikasi Komunikasi merupakan suatu proses penyampaian pesan dari satu pihak (individu maupun kelompok) kepada pihak (individu atau kelompok) lainnya. komunikasi merupakan penyampaian

Lebih terperinci

BAB VII FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KEINOVATIFAN PETANI DAN LAJU ADOPSI INOVASI

BAB VII FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KEINOVATIFAN PETANI DAN LAJU ADOPSI INOVASI BAB VII FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINGKAT KEINOVATIFAN PETANI DAN LAJU ADOPSI INOVASI Sebagaimana telah dikemukakan di depan, fokus studi difusi ini adalah pada inovasi budidaya SRI yang diintroduksikan

Lebih terperinci

KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS Kerangka Berpikir Paradigma Adopsi Inovasi Paradigma lama kebijakan pembangunan selama ini mengalami distorsi terhadap pluralitas bangsa dengan melakukan perencanaan program

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakanq. Setiap keluarga berusaha mernenuhi kebutuhan dengan menggunakan

PENDAHULUAN. Latar Belakanq. Setiap keluarga berusaha mernenuhi kebutuhan dengan menggunakan PENDAHULUAN Latar Belakanq Setiap keluarga berusaha mernenuhi kebutuhan dengan menggunakan sumberdaya yang tersedia. Karena kebutuhan semakin beragarn dan saling rnendesak untuk didahulukan, rnaka individu

Lebih terperinci

Salah satu bekal yang berguna bagi usaha memasyarakatkan inovasi atau ide-ide baru adalah pemahaman yang mendalam mengenai bagaimana inovasi tersebut

Salah satu bekal yang berguna bagi usaha memasyarakatkan inovasi atau ide-ide baru adalah pemahaman yang mendalam mengenai bagaimana inovasi tersebut "OPINION LEADER" PERANANNYA DALAM PROSES ADOPSI TEKNOLOGI IB TERNAK SAPI MADURA Jauhari Efendy Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peranan

Lebih terperinci

BAB II PENDEKATAN TEORITIS

BAB II PENDEKATAN TEORITIS 6 BAB II PENDEKATAN TEORITIS 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Pengertian Komunikasi Komunikasi berasal dari bahasa latin communis yang maknanya adalah sama. Apabila dua orang sedang berkomunikasi berarti mereka

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Tinjauan Pustaka Program adalah pernyataan tertulis tentang keadaan, masalah, tujuan dan cara mencapai tujuan yang disusun dalam bentuk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dirasa baru oleh individu atau unit adopsi lain. Sifat dalam inovasi tidak hanya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dirasa baru oleh individu atau unit adopsi lain. Sifat dalam inovasi tidak hanya 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Inovasi Rogers (2003) mengartikan inovasi sebagai ide, praktik atau objek yang dirasa baru oleh individu atau unit adopsi lain. Sifat dalam inovasi tidak hanya pengetahuan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 27 PENDAHULUAN Latar Belakang Paradigma baru pembangunan Indonesia lebih diorientasikan pada sektor pertanian sebagai sumber utama pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kapasitas lokal. Salah satu fokus

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Lernbaga keuangan, khususnya perbankan rnernpunyai peran. penting dalarn rnenggerakkan roda perekonornian suatu negara.

I. PENDAHULUAN. Lernbaga keuangan, khususnya perbankan rnernpunyai peran. penting dalarn rnenggerakkan roda perekonornian suatu negara. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lernbaga keuangan, khususnya perbankan rnernpunyai peran penting dalarn rnenggerakkan roda perekonornian suatu negara. Bank rnerupakan perantara keuangan (financial intermediary)

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELlTlAN

METODOLOGI PENELlTlAN METODOLOGI PENELlTlAN Kerangka Pemikiran Petani dalarn pernbangunan pertanian saat ini rnerniliki peran penting, yaitu sebagai subyek dari pernbangunan pelrtanian. Dalarn penentuan kebijakankebijakan pernbangunan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN Tinjauan Pustaka Jaringan Komunikasi Fisher (1986) menyatakan bahwa penelitian tentang jaringan komunikasi hampir seluruhnya bersifat mekanistis. Suatu jaringan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Pembangunan pertanian merupakan faktor penunjang ekonomi nasional. Program-program pembangunan yang dijalankan pada masa lalu bersifat linier dan cenderung bersifat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN berhasil tidak suatu organisasi. Salah satu karakteristik yang harus dirniliki

I. PENDAHULUAN berhasil tidak suatu organisasi. Salah satu karakteristik yang harus dirniliki I. PENDAHULUAN I.I. Latar Belakang Surnberdaya rnanusia rnerupakan faktor utarna dalarn rnenentukan berhasil tidak suatu organisasi. Salah satu karakteristik yang harus dirniliki oleh seorang Pirnpinan

Lebih terperinci

KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS. Kerangka Berpikir

KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS. Kerangka Berpikir 49 KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS Kerangka Berpikir Kemampuan masyarakat (peternak) untuk berpartisipasi dalam pembangunan harus didahului oleh suatu proses belajar untuk memperoleh dan memahami informasi,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Penyuluhan pertanian mempunyai peranan strategis dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia (petani) sebagai pelaku utama usahatani. Hal ini ditegaskan dalam Undang-Undang

Lebih terperinci

Ketahanan Pangan yaitu pencegahan dan penanganan kerawanan pangan dan gizi. Kerawanan pangan adalah suatu kondisi ketidakcukupan pangan

Ketahanan Pangan yaitu pencegahan dan penanganan kerawanan pangan dan gizi. Kerawanan pangan adalah suatu kondisi ketidakcukupan pangan PENDAHULUAN Latar Belakang Pangan rnerupakan kebutuhan dasar rnanusia agar dapat hidup dan beraktivitas. Kondisi terpenuhinya kebutuhan ini dikenal dengan istilah ketahanan pangan. Undang-undang No. 7

Lebih terperinci

BABI PENDAHULUAN. Dunia pendidikan rnerupakan wadah utarna yang paling penting bagi

BABI PENDAHULUAN. Dunia pendidikan rnerupakan wadah utarna yang paling penting bagi BABI PENDAHULUAN BABI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dunia pendidikan rnerupakan wadah utarna yang paling penting bagi setiap individu untuk dapat belajar. Tujuan utarna dari pendidikan itu sendiri

Lebih terperinci

Oleh : YANTl ANGGRAlNl A

Oleh : YANTl ANGGRAlNl A HUBUNGAN KARAKTERISTIK DENGAN MOBILITAS KERJA PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS) PADA ORGANlSASl PEMERINTAHAN (Kasus di Sekretariat Daerah Kota Cilegon, Provinsi Banten) Oleh : YANTl ANGGRAlNl A09499040 PROGRAM

Lebih terperinci

masyarakat berupa tabungan, giro dan deposit0 dihadapkan pada persaingan ketat dalam memenuhi kebutuhan likuiditas bank. Pesatnya

masyarakat berupa tabungan, giro dan deposit0 dihadapkan pada persaingan ketat dalam memenuhi kebutuhan likuiditas bank. Pesatnya I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Bank sebagai suatu lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat berupa tabungan, giro dan deposit0 dihadapkan pada persaingan ketat dalam memenuhi kebutuhan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah dilaksanakan

I. PENDAHULUAN. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah dilaksanakan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah dilaksanakan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.

Lebih terperinci

METODE DEMONSTRASI. Oleh :Tuty Herawati

METODE DEMONSTRASI. Oleh :Tuty Herawati METODE DEMONSTRASI Oleh :Tuty Herawati Metode demonstrasi sering kali dipandang sebagai metode yang paling efektif, karena metode seperti ini sesuai dengan kata pepatah seeing is believing yang dapat diartikan

Lebih terperinci

Dalam keberlangsungannya,

Dalam keberlangsungannya, Pada dasarnya pembangunan merupakan upaya yang ber- sifat perbailcan dan peningkatan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Dalam keberlangsungannya, partisipasi masyarakat merupakan

Lebih terperinci

pelaksanaan dalam penyaluran KKP di pedesaan. Penelitian ini melibatkan

pelaksanaan dalam penyaluran KKP di pedesaan. Penelitian ini melibatkan III. METODOLOGI PENELITIAN A. Kerangka Pemikiran Penelitian ini ingin mengetahui faktor yang mempengaruhi pola pelaksanaan dalam penyaluran KKP di pedesaan. Penelitian ini melibatkan karakteristik petani,

Lebih terperinci

Dalam rangka meningkatkan pendapatan dan diversifikasi produksi. pengembangan tanaman obat selaras dengan arahan pembangunan di

Dalam rangka meningkatkan pendapatan dan diversifikasi produksi. pengembangan tanaman obat selaras dengan arahan pembangunan di 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam rangka meningkatkan pendapatan dan diversifikasi produksi pertanian kini dikembangkan agribisnis tanaman obat. Rencana pengembangan tanaman obat selaras dengan arahan

Lebih terperinci

1. Terdapat permasalahan tata ruang yang meliputi penggunaan lahan yang

1. Terdapat permasalahan tata ruang yang meliputi penggunaan lahan yang BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN 1. Terdapat permasalahan tata ruang yang meliputi penggunaan lahan yang tumpang tindih (antara ladang dan kawasan hutan produksi, desa definitif di hutan produksi,

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Komunikasi

TINJAUAN PUSTAKA Komunikasi 7 TINJAUAN PUSTAKA Komunikasi Pengertian komunikasi secara etimologis berasal dari perkataan latin communicatio. Istilah ini bersumber dari perkataan communis yang berarti sama; sama di sini maksudnya

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. budidaya ini meluas praktiknya sejak paruh kedua abad ke 20 di dunia serta

TINJAUAN PUSTAKA. budidaya ini meluas praktiknya sejak paruh kedua abad ke 20 di dunia serta TINJAUAN PUSTAKA Monokultur Pertanaman tunggal atau monokultur adalah salah satu cara budidaya di lahan pertanian dengan menanam satu jenis tanaman pada satu areal. Cara budidaya ini meluas praktiknya

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. krisis ekonorni di Indonesia yang berkepanjangan, diperlukan suatu usaha

PENDAHULUAN. krisis ekonorni di Indonesia yang berkepanjangan, diperlukan suatu usaha L PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalarn usaha rnernbangkitkan sektor perekonornian rnenghadapi krisis ekonorni di Indonesia yang berkepanjangan, diperlukan suatu usaha dari seluruh lapisan rnasyarakat,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Selakang. nasional dengan mernilih sektor pertanian sebagai penggerak pembangunan

PENDAHULUAN. Latar Selakang. nasional dengan mernilih sektor pertanian sebagai penggerak pembangunan PENDAHULUAN Latar Selakang Sejak awal Pelita I, Indonesia telah rnenetapkan strategi pembangunan nasional dengan mernilih sektor pertanian sebagai penggerak pembangunan nasional (agnku//ture led deve/opment

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Dalarn pernbangunan ekonorni Indonesia, sektor perdagangan luar

I. PENDAHULUAN. Dalarn pernbangunan ekonorni Indonesia, sektor perdagangan luar I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. Dalarn pernbangunan ekonorni Indonesia, sektor perdagangan luar negeri rnernpunyai peranan yang sangat penting. Pada periode tahun 1974-1981 surnber utarna pernbangunan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Paradigma pembangunan nasional Indonesia semenjak awal tahun 1968 hingga

PENDAHULUAN. Paradigma pembangunan nasional Indonesia semenjak awal tahun 1968 hingga PENDAHULUAN Latar Belakang Paradigma pembangunan nasional Indonesia semenjak awal tahun 1968 hingga akhir 1998, masih bertumpu kepada pertumbuhan ekonomi, dan belum memperhatikan aspek pemerataan pendapatan.

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIUITAS KERJA PENGRAJIN ROTAN

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIUITAS KERJA PENGRAJIN ROTAN ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIUITAS KERJA PENGRAJIN ROTAN (Studi Kasus Pad* Industri Kecll Rotan, Desa Curug Kulon, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang) Duma Netty Simanjuntak A. 280948

Lebih terperinci

II. KERANGKA PENDEKATAN TEORI. ilmu usahatani merupakan ilmu yang mempelajari cara-cara petani menentukan,

II. KERANGKA PENDEKATAN TEORI. ilmu usahatani merupakan ilmu yang mempelajari cara-cara petani menentukan, II. KERANGKA PENDEKATAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Usahatani Padi Sistem Jajar Legowo Ilmu usahatani merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana mengusahakan dan mengkoodinir faktor produksi seperti lahan

Lebih terperinci

HUBUNGAN KARAKTERISTIK PETANI DENGAN KOMPETENSI AGRIBISNIS PADA

HUBUNGAN KARAKTERISTIK PETANI DENGAN KOMPETENSI AGRIBISNIS PADA JURNAL P ENYULUHAN ISSN: 1858-2664 September 2005, Vol. 1, No.1 HUBUNGAN KARAKTERISTIK PETANI DENGAN KOMPETENSI AGRIBISNIS PADA USAHATANI SAYURAN DI KABUPATEN KEDIRI JAWA TIMUR Rini Sri Damihartini dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka Program adalah pernyataan tertulis tentang keadaan, masalah, tujuan dan cara mencapai tujuan yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Yusri (1999), penelitian tersebut membahas tentang factor-faktor yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Yusri (1999), penelitian tersebut membahas tentang factor-faktor yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Yusri (1999), penelitian tersebut membahas tentang factor-faktor yang memperngaruhi persepsi petani terhadap kredibilitas penyuluh pertanian. Tujuan penelitian

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar Teori Teori Adopsi dan Difusi Inovasi

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar Teori Teori Adopsi dan Difusi Inovasi II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar Teori 2.1.1 Teori Adopsi dan Difusi Inovasi Inovasi menurut Rogers (1983) merupakan suatu ide, praktek atau obyek yang dianggap baru oleh individu atau kelompok pengadopsi.

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Penelusuran terhadap makna pembangunan, tidak dapat dilepaskan dari manusia

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Penelusuran terhadap makna pembangunan, tidak dapat dilepaskan dari manusia PENDAHULUAN Latar Belakang Penelusuran terhadap makna pembangunan, tidak dapat dilepaskan dari manusia yang sering dipandang sebagai subyek maupun obyek pembangunan. Titik tolak dari falsafah pembangunan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN Tinjauan Pustaka Pola integrasi antara tanaman dan ternak atau yang sering disebut dengan pertanian terpadu, adalah memadukan

Lebih terperinci

Delapan puluh persen penduduk Indonesia, hidup di. ikut serta mengolah informasi guna berpartisipasi dalam

Delapan puluh persen penduduk Indonesia, hidup di. ikut serta mengolah informasi guna berpartisipasi dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Balakang Penelitian Delapan puluh persen penduduk Indonesia, hidup di pedesaan. Pada umumnya mereka lambat dalam memahami dan ikut serta mengolah informasi guna berpartisipasi

Lebih terperinci

5 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penyuluh Pertanian Dalam UU RI No. 16 Tahun 2006 menyatakan bahwa penyuluhan pertanian dalam melaksanakan tugasnya

5 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penyuluh Pertanian Dalam UU RI No. 16 Tahun 2006 menyatakan bahwa penyuluhan pertanian dalam melaksanakan tugasnya 5 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penyuluh Pertanian Dalam UU RI No. 16 Tahun 2006 menyatakan bahwa penyuluhan pertanian dalam melaksanakan tugasnya memiliki beberapa fungsi sistem penyuluhan yaitu: 1. Memfasilitasi

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Jakarta sebagai kota metropolitan sekaligus sebagai pusat kegiatan

PENDAHULUAN. Jakarta sebagai kota metropolitan sekaligus sebagai pusat kegiatan L PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jakarta sebagai kota metropolitan sekaligus sebagai pusat kegiatan bisnis di Indonesia, yang dihuni oleh masyarakat dari berbagai suku serta warga negara dari hampir seluruh

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Tanaman padi merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang penting dalam rangka ketahanan pangan penduduk Indonesia. Permintaan akan beras meningkat pesat seiring dengan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman padi yang termasuk golongan rumput-rumputan. Kegiatan pembudidayaan tanaman padi adalah:

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman padi yang termasuk golongan rumput-rumputan. Kegiatan pembudidayaan tanaman padi adalah: TINJAUAN PUSTAKA Pembudidayaan Tanaman Padi Sawah Klasifikasi tanaman padi yang termasuk golongan rumput-rumputan adalah: - Genus = Oryza linn - Family = Gramineae (poaceae) - Spesies = 25 diantaranya:

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka Kedelai merupakan komoditas strategis yang unik tapi kontradiktif dalam sistem usahatani di Indonesia. Luas pertanaman kedelai kurang dari lima persen dari

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Meskipun sebagai bahan makanan pokok, padi dapat digantikan atau disubstitusi

TINJAUAN PUSTAKA. Meskipun sebagai bahan makanan pokok, padi dapat digantikan atau disubstitusi TINJAUAN PUSTAKA Padi Sebagai Bahan Makanan Pokok Padi adalah salah satu bahan makanan yang mengandung gizi dan penguat yang cukup bagi tubuh manusia, sebab didalamnya terkandung bahan-bahan yang mudah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Dalam pembangunan jangka panjang II, pembangunan sektor pertanian

I. PENDAHULUAN. Dalam pembangunan jangka panjang II, pembangunan sektor pertanian 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam pembangunan jangka panjang II, pembangunan sektor pertanian khususnya sub sektor peternakan terus digalakan melalui usaha intensifikasi, ektensifikasi dan diversifikasi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Pertanian organik merupakan bagian dari pertanian alami yang dalam

II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Pertanian organik merupakan bagian dari pertanian alami yang dalam II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1. Tinjauan Pustaka Pertanian organik merupakan bagian dari pertanian alami yang dalam pelaksanaanya berusaha menghindarkan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Desain. Tempat dan Waktu Penelitian. Desain penelitian rnerupakan studi cross-sectional dengan rnenggunakan

METODE PENELITIAN. Desain. Tempat dan Waktu Penelitian. Desain penelitian rnerupakan studi cross-sectional dengan rnenggunakan METODE PENELITIAN Desain. Tempat dan Waktu Penelitian Desain penelitian rnerupakan studi cross-sectional dengan rnenggunakan data primer dan data sekunder guna rnenggali inforrnasi rnengenai Penggunaan

Lebih terperinci

BAB. II LANDASAN TEORI

BAB. II LANDASAN TEORI digilib.uns.ac.id 7 BAB. II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Pembangunan Pertanian Pembangunan Pertanian akan berhasil apabila ada partisipasi petani dalam setiap kegiatan untuk mencapai tujuan yang

Lebih terperinci

Kerangka Berpikir. Dalam konteks pengembangan sumberdaya manusia, salah satu. masalah pembangunan di pedesaan Indonesia adalah sangat kecilnya

Kerangka Berpikir. Dalam konteks pengembangan sumberdaya manusia, salah satu. masalah pembangunan di pedesaan Indonesia adalah sangat kecilnya KERANGKA BERPlKiR DAN HlPOTESlS Kerangka Berpikir Dalam konteks pengembangan sumberdaya manusia, salah satu masalah pembangunan di pedesaan Indonesia adalah sangat kecilnya peluang untuk mendapatkan pekerjaan

Lebih terperinci

Lampiran 1. Peta wilayah Provinsi Bali

Lampiran 1. Peta wilayah Provinsi Bali L A M P I R A N Lampiran 1. Peta wilayah Provinsi Bali 151 152 Lampiran 2. Hasil uji CFA peubah penelitian Chi Square = 112.49, df=98 P-value=0.15028, RMSEA=0.038, CFI=0.932 153 Lampiran 3. Data deskriptif

Lebih terperinci

Ill. KERANGKA PEMlKlRAN DAN HlPOTESlS

Ill. KERANGKA PEMlKlRAN DAN HlPOTESlS Ill. KERANGKA PEMlKlRAN DAN HlPOTESlS 3.1. Pengaruh Kesehatan Terhadap Kualitas Dan Produktivitas Sumber Daya Manusia (SDM) Produktivitas, pemerataan, keseimbangan dan pemberdayaan merupakan empat ha1

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Lahirnya Kelembagaan Lahirnya kelembagaan diawali dari kesamaan karakteristik dan tujuan masing-masing orang dalam kelompok tersebut. Kesamaan kepentingan menyebabkan adanya

Lebih terperinci

BAB V Perilaku Konsumen pada Pasar Konsumsi dan Pasar Bisnis

BAB V Perilaku Konsumen pada Pasar Konsumsi dan Pasar Bisnis BAB V Perilaku Konsumen pada Pasar Konsumsi dan Pasar Bisnis PASAR KONSUMEN DAN TINGKAH LAKU KONSUMEN DALAM MEMBELI Pasar konsumen: Semua individu dan rumah tangga yang membeli atau memperoleh barang dan

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA TEORITIS

BAB II KERANGKA TEORITIS BAB II KERANGKA TEORITIS 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Efektivitas Kelompok tani Kelompok tani adalah sekumpulan orang-orang tani atau petani, yang terdiri atas petani dewasa pria atau wanita maupun petani

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN dielakkan. Arus globalisasi yang bergerak cepat ke arah rnasyarakat tanpa

BAB I PENDAHULUAN dielakkan. Arus globalisasi yang bergerak cepat ke arah rnasyarakat tanpa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mernasuki abad 21, aparatur Pernerintah Propinsi Daerah Khusus lbukota Jakarta rnenghadapi banyak tantangan yang tidak dapat dielakkan. Arus globalisasi yang bergerak

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. diam, melainkan suatu proses yang tidak berhenti. Karena di dalam masyarakat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. diam, melainkan suatu proses yang tidak berhenti. Karena di dalam masyarakat BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perubahan Sosial Masyarakat tidak dapat dibayangkan dalam suatu keadaan yang tetap dan diam, melainkan suatu proses yang tidak berhenti. Karena di dalam masyarakat akan selalu

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN PERTANIAN. Penyuluhan Pertanian. Metode.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN PERTANIAN. Penyuluhan Pertanian. Metode. No.489, 2009 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN PERTANIAN. Penyuluhan Pertanian. Metode. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 52/Permentan/OT.140/12/2009 TENTANG METODE PENYULUHAN PERTANIAN DENGAN

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. definisi sempit dan pertanian organik dalam definisi luas. Dalam pengertian

TINJAUAN PUSTAKA. definisi sempit dan pertanian organik dalam definisi luas. Dalam pengertian 5 TINJAUAN PUSTAKA Pertanian organik Pertanian organik meliputi dua definisi, yaitu pertanian organik dalam definisi sempit dan pertanian organik dalam definisi luas. Dalam pengertian sempit, pertanian

Lebih terperinci

Kerangka Berpikir. Petani itu rasional dan selalu ingin memperbaiki nasibnya dengan memanfaatkan

Kerangka Berpikir. Petani itu rasional dan selalu ingin memperbaiki nasibnya dengan memanfaatkan KERANGKA BERPKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN Kerangka Berpikir Penelitian ini bxtitik tolak dari kerangka berpikir bahwa dalam memasuki era globalismi dan perkembangan regional maupun domesik yang sangat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Program restrukturisasi perbankan nasional akan tetap dijalankan

I. PENDAHULUAN. Program restrukturisasi perbankan nasional akan tetap dijalankan I. PENDAHULUAN 1.l. Latar Belakang Program restrukturisasi perbankan nasional akan tetap dijalankan secara sistemik sebagai bagian integral dan utama dalam upaya pemulihan perekonomian nasional. Upaya

Lebih terperinci

KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS

KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS Kerangka Berpikir Keterbukaan ekonomi sebagai konsekwensi diterapkannya kesepakatan GATT, APEC dan diberlakukannya perdagangan bebas di kawasan Asean (AFTA), cepat ataupun

Lebih terperinci

Pertanian merupakan salah satu sektor yang menjadi tulang punggung. perekonomian Indonesia. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa sektor pertanian

Pertanian merupakan salah satu sektor yang menjadi tulang punggung. perekonomian Indonesia. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa sektor pertanian 11. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Usahatani Pertanian merupakan salah satu sektor yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa sektor pertanian merupakan salah satu

Lebih terperinci

Latar Belakang PENDAHULUAN

Latar Belakang PENDAHULUAN PENDAHULUAN Latar Belakang Kegiatan penyuluhan pertanian yang dilaksanakan di berbagai daerah, termasuk Maluku, tidak saja mempunyai andil yang cukup penting dalam sektor pertanian, tetapi telah pula menimbulkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kehidupan dunia yang modern pada saat ini mempunyai dua ciri. secara perorangan rnaupun kelompok, pada tingkat nasional rnaupun

I. PENDAHULUAN. Kehidupan dunia yang modern pada saat ini mempunyai dua ciri. secara perorangan rnaupun kelompok, pada tingkat nasional rnaupun I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehidupan dunia yang modern pada saat ini mempunyai dua ciri pokok, yaitu adanya kete~kaitan atau ketergantungan dan persaingan yang sernakin ketat. Dua ciri pokok tersebut

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia. Secara konstitusional koperasi telah mendapat posisi politis

I. PENDAHULUAN. Indonesia. Secara konstitusional koperasi telah mendapat posisi politis I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Koperasi memiliki kedudukan yang khusus dalam perekonomian Indonesia. Secara konstitusional koperasi telah mendapat posisi politis X yang kuat dalam UUD 1945, dan dalam

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian berkaitan secara langsung dan tidak langsung

I. PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian berkaitan secara langsung dan tidak langsung I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pertanian berkaitan secara langsung dan tidak langsung dalam upaya peningkatan kesejahteraan petani dan upaya menanggulangi kemiskinan khususnya di pedesaan.

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Perekonomian padi dan beras merupakan pendukung pesatnya

II. TINJAUAN PUSTAKA. Perekonomian padi dan beras merupakan pendukung pesatnya II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ekonomi Padi Perekonomian padi dan beras merupakan pendukung pesatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurut Kasryno dan Pasandaran (2004), beras serta tanaman pangan umumnya berperan

Lebih terperinci

BAB l PENDAHULUAN. Pada era globalisasi dan kemajuan tekhnologi informasi serta

BAB l PENDAHULUAN.  Pada era globalisasi dan kemajuan tekhnologi informasi serta BAB l PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada era globalisasi dan kemajuan tekhnologi informasi serta desentralisasi, dituntut adanya pelayanan publik yang cepat, tepat dan akurat. Dalam program pembangunan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. masalah pertanian, mulai dari teknis agronomis sampai pada aspek sosial

TINJAUAN PUSTAKA. masalah pertanian, mulai dari teknis agronomis sampai pada aspek sosial TINJAUAN PUSTAKA Penyuluhan pertanian adalah kegiatan non formal yang mencakup masalah masalah pertanian, mulai dari teknis agronomis sampai pada aspek sosial ekonominya. Tenaga penyuluhan dalam bidang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. profil Desa Sukanegara, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang tahun 2016.

HASIL DAN PEMBAHASAN. profil Desa Sukanegara, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang tahun 2016. 26 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Daerah Penelitian Keadaan umum daerah penelitian meliputi, keadaan administratif daerah, tata guna lahan, dan mata pencaharian penduduk. Keadaan umum didapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris yang artinya sektor pertanian

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris yang artinya sektor pertanian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang artinya sektor pertanian memiliki peranan yang sangat penting. Indonesia dikenal dengan negara yang kaya akan hasil alam, kondisi

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESA. Kerangka Pemikiran

KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESA. Kerangka Pemikiran KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESA Kerangka Pemikiran Studi tentang keputusan petani dalam mengadopsi pola kemitraan agribisnis ini merujuk pada teori pengambilan keputusan inovasi (Rogers, 1995), di mana

Lebih terperinci

KERANGKA PEMlKlRAN. Jenis pengeluaran rumahtangga dapat dibagi menjadi dua kelompok besar

KERANGKA PEMlKlRAN. Jenis pengeluaran rumahtangga dapat dibagi menjadi dua kelompok besar KERANGKA PEMlKlRAN Jenis pengeluaran rumahtangga dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu pengeluaran pangan dan non pangan. Secara naluri setiap individu keluarga lebih dahulu rnernanfaatkan setiap

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. meramu bahan-bahan kimia (anorganik) berkadar hara tinggi. Misalnya, pupuk urea

TINJAUAN PUSTAKA. meramu bahan-bahan kimia (anorganik) berkadar hara tinggi. Misalnya, pupuk urea TINJAUAN PUSTAKA Pupuk Anorganik Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat oleh pabrik-pabrik pupuk dengan meramu bahan-bahan kimia (anorganik) berkadar hara tinggi. Misalnya, pupuk urea berkadar N 45-46

Lebih terperinci

DIFUSI INOVASI. Agustina Bidarti Fakultas Pertanian Unsri

DIFUSI INOVASI. Agustina Bidarti Fakultas Pertanian Unsri DIFUSI INOVASI M ETODE PENGEMBANGAN PARTISIPATIF Agustina Bidarti Fakultas Pertanian Unsri Faktor yang Mempengaruhi Kecepatan Adopsi 1. Sifat inovasi (keuntungan relatif, kompabilitas, kompleksitas, triabilitas,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sektor agribisnis rnerupakan sektor yang penting di harnpir sernua. perekonomian lndonesia yang cenderung mengalami kelesuan karena

I. PENDAHULUAN. Sektor agribisnis rnerupakan sektor yang penting di harnpir sernua. perekonomian lndonesia yang cenderung mengalami kelesuan karena I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor agribisnis rnerupakan sektor yang penting di harnpir sernua negara berkembang dikarenakan merniliki peran strategis yang seyogyanya menjadi turnpuan utama pernilihan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Usahatani Definisi usahatani ialah setiap organisasi dari alam, tenaga kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan

Lebih terperinci

VI. ADOPSI PROGRAM SISTEM INTEGRASI TANAMAN- TERNAK. partisipatif di lahan petani diharapkan dapat membawa dampak terhadap

VI. ADOPSI PROGRAM SISTEM INTEGRASI TANAMAN- TERNAK. partisipatif di lahan petani diharapkan dapat membawa dampak terhadap VI. ADOPSI PROGRAM SISTEM INTEGRASI TANAMAN- TERNAK Penerapan program sistem integrasi tanaman-ternak yang dilakukan secara partisipatif di lahan petani diharapkan dapat membawa dampak terhadap peningkatan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Komunikasi Dalam bukunya, Effendy (2007) mengutip perkataan Lasswell bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi adalah dengan menjelaskan pertanyaan : who says what in

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Letak Administratif Kelurahan Pulutan terletak di Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah dengan perbatasan wilayah kelurahan sebagai berikut: Batas sebelah

Lebih terperinci

METODOLOG1 PENELITIAN

METODOLOG1 PENELITIAN METODOLOG1 PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini dilsksanakan dengan metode survey yang didesain bersifat deskriptif-korelasional serta menggunakan cara wawancara terhadap responden. Variabel yang

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN

II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN 16 II. TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1. Tinjauan Pustaka Definisi pembangunan masyarakat yang telah diterima secara luas adalah definisi yang telah ditetapkan oleh Peserikatan

Lebih terperinci

Dalarn rnengantisipasi rneningkatnya perrnintaan konsurnen

Dalarn rnengantisipasi rneningkatnya perrnintaan konsurnen I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalarn rnengantisipasi rneningkatnya perrnintaan konsurnen terhadap produk olahan perikanan yang berrnutu, dewasa ini rnuncul industri pengolahan perikanan yang rnengalarni

Lebih terperinci