Tiara Oliviarizky Toersina 1) Dosen Fakultas Hukum Universitas Merdeka Madiun

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Tiara Oliviarizky Toersina 1) Dosen Fakultas Hukum Universitas Merdeka Madiun"

Transkripsi

1 Harmonisasi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Dan Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2008 Terkait Dengan Perlindungan Konsumen Dalam Transaksi Bisnis Elektronik (E-Commerce). 1) Tiara Oliviarizky Toersina 1) Dosen Fakultas Hukum Universitas Merdeka Madiun Abstract Trade development is inseparable from the development of technology. E- commerce began to grow along with the number of sales transactions to consumers is done through the internet. With the internet, business transactions become more practical. However, the implications of the development of trade through e-commerce, there are positive and negative sides. The negative aspect of e-commerce one of which is the lack of consumer protection in e-commerce. What's more associated with the enactment of Law No. 8 of 1999 and Law No. 11 of Keywords : E-commerce, consumer protection in e-commerce, Law No. 8 of 1999, Law No. 11 of PENDAHULUAN Latar Belakang Menelaah mengenai pasar tentu pemikiran kita langsung tertuju pada pemikiran tentang adanya penjual, pembeli, transaksi atau kegiatan jual beli, serta tempat untuk melaksanakan transaksi atau kegiatan jual beli tersebut. Dalam ilmu ekonomi, pasar merupakan suatu sistem yang memungkinkan penjual dan pembeli untuk berinteraksi saling menukar barang, jasa, maupun informasi dengan imbalan sejumlah uang. Awalnya, pasar merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli ditandai dengan adanya transaksi jual beli secara langsung, biasanya diawali dengan proses tawar-menawar, serta ada bangunan terbuka tempat untuk menaruh barang dagangan. Pasar seperti itu sering kita sebut sebagai pasar tradisional. Seiring dengan perkembangan jaman, terjadi perubahan pasar dari yang dulu bersifat tradisional menjadi bersifat modern. Pasar modern tidak banyak berbeda dari pasar tradisional, namun pasar jenis ini bercirikan antara lain penjual dan pembeli tidak bertransakasi secara langsung melainkan pembeli melihat label harga yang tercantum dalam barang (barcode), berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri, serta pelayanan dilakukan oleh pramuniaga. Perkembangan perdagangan juga tidak akan pernah terlepas dari adanya pengaruh perkembangan teknologi. Pengaruh tersebut semakin nyata dengan lahirnya e-commerce (electronic commerce). E-commerce mulai berkembang secara signifikan ketika internet mulai diperkenalkan. E- commerce merupakan penemuan baru dalam bentuk transaksi perdagangan yang dinilai lebih praktis dari perdagangan pada umumnya. E- commerce merupakan transaksi perdagangan yang melibatkan individu-individu dan organisasiorganisasi atau badan, berdasarkan pada proses dan transmisi data digital, termasuk teks, suara, atau jaringan tertutup yang mempunyai jalur ke jaringan terbuka. 1 Prinsip 1 Abdul Halim Barkatullah, dkk, Bisnis E- Commerce : Studi Sistem Keamanan dan Sosial Volume 15 Nomor 1 Maret 2014 HARMONISASI UNDANG UNDANG..81

2 perdagangan dengan sistem pembayaran tradisional yang dikenal adalah perdagangan dimana penjual dan pembeli bertemu secara fisik atau secara langsung kini berubah menjadi konsep telemarketing, yakni perdagangan jarak jauh dengan menggunakan media internet dimana suatu perdagangan tidak lagi membutuhkan pertemuan antar para pelaku bisnis. 2 Dengan internet, batas-batas wilayah Negara dalam melakukan transaksi bisnis menjadi tidak lagi signifikan. Praktik perdagangan melalui internet digambarkan juga sebagai final frontiers of commerce pada abad ke- 21 ini. 3 John Nielson, salah satu pimpinan perusahaan Microsoft menyatakan bahwa dalam kurun waktu 30 (tiga puluh) tahun, 30% dari transaksi penjualan kepada konsumen dilakukan melalui e-commerce. 4 Data statistik di Indonesia menyatakan bahwa pengguna jasa internet diperkirakan tumbuh berkembang dan tahun 2005 mencapai jumlah 4,9 juta jiwa dimana potensi besar akan peluang untuk mengembangkan bisnis melalui media internet ini khususnya dengan e-commerce ini sangat bergantung kepada pengguna jasa tersebut. 5 Perkembangan e- commerce membawa banyak perubahan terhadap sektor aktivitas bisnis yang selama ini dijalankan. Hukum Di Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2006, h. 2 2 Ibid. 3 Huala Adolf, Hukum Perdagangan Internasional, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005, h. 162, dikutip dari Abu Bakar Munir, Cyber Law : Politics and Challenges, Butterworths Asia, (Malaysia, Singapore, Hongkong), 1999, h Ibid. 5 Abdul Halim Barkatullah, Op. Cit., h. 2, dikutip dari Jay, M.S., Peranan E- Commerce Dalam Sektor Ekonomi dan Industri, Makalah disampaikan pada seminar sehari Aplikasi Internet di Era Millenium Ketiga, Jakarta, 2000, h. 3. Perubahan tersebut ditandai dengan adanya sejumlah upaya dari sektor aktivitas bisnis yang semula berbasis di dunia nyata (real), kemudian mengembangkannya ke dunia maya (virtual). 6 Transaksi bisnis melalui e- commerce ini memiliki beberapa ciriciri sebagai berikut : 7 1. Transaksi secara e-commerce memungkinkan para pihak memasuki pasar global secara cepat tanpa dirintangi oleh batasbatas Negara. 2. Transaksi secara e-commerce memungkinkan para pihak berhubungan tanpa mengenal satu sama lainnya. 3. Transaksi melalui e-commerce sangan bergantung pada sarana (teknologi) yang keandalannya kurang dijamin. Oleh karena itu, keamanan transaksi secara e- commerce ini belum atau tidak begitu dapat diandalkan. Implikasi dari perkembangan transaksi bisnis melalui elektronik (ecommerce) ini dirasa menguntungkan maupun merugikan. Transaksi melalui e-commerce ini memiliki beberapa keuntungan, yaitu : 8 1. Transaksi dagang menjadi lebih efektif dan cepat. 2. Transaksi dagang menjadi lebih efisien, produktif, dan bersaing. 3. Lebih memberi kecepatan dan ketepatan kepada konsumen. 4. Mengurangi biaya administratif. 5. Memperkecil masalah-masalah sebagai akibat dari perbedaan budaya, bahasa, dan praktik perdagangan. 6. Meningkatkan pendistribusian logistik. 7. Memungkinkan perusahaanperusahaan kecil untuk menjual produknya secara global. Meningkatnya transaksi-transaksi bisnis melalui e-commerce ternyata 6 Ibid, h Huala Adolf, Loc. Cit. 8 Ibid., h Sosial Volume 15 Nomor 1 Maret 2014 HARMONISASI UNDANG UNDANG..82

3 juga melahirkan berbagai masalah. Masalah-masalah tersebut timbul mengingat bahwa transaksi bisnis melalui e-commerce merupakan praktik perdagangan yang baru dan berkembang progresif, sedangkan aturan-aturan hukum yang dibuat untuk mengatur transaksi tersebut sifatnya statis. Masalah utamanya terletak pada apakah ketentuanketentuan atau aturan-aturan hukum yang ada dapat mengakomodasi lahirnya transaksi-transaksi melalui media e-commerce ini. 9 Di samping itu, masalah lain yang juga penting adalah apakah peraturan hukum yang ada sekarang dapat memberi perlindungan atau keseimbangan pengaturan antara pengusaha, konsumen, dan pemerintah. 10 Secara khusus, masalahmasalah tersebut dapat diuraikan lebih lanjut menjadi : Masalah pembuktian mengenai data-data yang terdapat dalam e- commerce. 2. Masalah keabsahan suatu kontrak dan bentuk kontrak e-commerce ini, khususnya mengenai pembuktian orisinalitas data (originality), syarat tertulis (writing), dan masalah tanda tangan (signature). 3. Masalah kapan kata sepakat telah terjadi dalam transaksi-transaksi yang dilakukan secara e- commerce. 4. Masalah pengesahan, pengakuan penerimaan, penyimpanan data elektronik. 5. Masalah hilangnya wewenang bank sentral untuk mengawasi nilai tukar mata uang dan penerimaan pemerintah dari transaksi-transaksi dagang yang dikeluarkan secara elektronik. 6. Masalah rintangan-rintangan (perdagangan) dari adanya kebijakan-kebijakan (perdagangan) 9 Ibid., h Ibid. 11 Ibid. negara yang mengakibatkan transaksi-transaksi e-commerce ini menjadi tidak lancar (terganggu). Realita yang ada pada saat ini memperlihatkan bahwa dalam transaksi bisnis elektronik (ecommerce), konsumenlah yang selalu menanggung beban resiko paling besar dibandingkan dengan resiko yang ditanggung produsen atau pelaku usaha. Hasil survei 12 (dua belas) organisasi konsumen dunia yang diselenggarakan pada akhir tahun 1998 dan awal tahun 1999 menunjukkan bahwa faktor negatif yang timbul dari bentuk transaksi bisnis elektronik (e-commerce) antara lain adalah : Satu dari sepuluh jenis barang yang telah dipesan tidak pernah diterima pembeli (dua) pembeli, masing-masing dari Inggris dan Hongkong, telah menunggu lebih dari 5 (lima) tahun untuk refund. 3. Hampir setengah (44%) produk yang telah dipesan ternyata diterima pembeli tanpa disertai dengan bukti pembayaran. 4. Hampir 73% pedagang gagal memenuhi kesepakatan kontrak (crucial contract term). 5. Lebih dari 25% penjual tidak mencantumkan alamat dan nomor telepon. 6. Hampir 24% penjual tidak mencantumkan biaya yang jelas atas jenis barang yang telah dipesan. 7. Hasil survei terhadap warga-warga yang berdomisili di Eropa mengatakan bahwa 25% dari warga Eropa tidak percaya untuk membeli di Internet. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian-uraian fakta tersebut, maka dapat disimpulkan mengenai rumusan permasalahan sebagai berikut : 12 Iman Sjahputra, Perlindungan Konsumen Dalam Transaksi Elektronik, Alumni, Bandung, 2010, h. 7. Sosial Volume 15 Nomor 1 Maret 2014 HARMONISASI UNDANG UNDANG..83

4 1. Apakah prinsip-prinsip hukum dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 dapat diterapkan untuk memberikan perlindungan hukum bagi konsumen, khususnya yang berkaitan dengan aktivitas konsumen dalam transaksi elektronik (e-commerce)? 2. Apakah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 yang hanya berlaku dalam yurisdiksi hukum Indonesia mampu melindungi konsumen yang melakukan transaksi elektronik (e-commerce) dengan pihak lain di luar yurisdiksi hukum Indonesia? Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui dan menganalisa prinsip-prinsip hukum perlindungan konsumen dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 yang dapat diterapkan dalam rangka perlindungan konsumen terkait dengan aktivitas konsumen dalam transaksi elektronik (e-commerce). 2. Untuk mengetahui dan menganalisa perlindungan konsumen di dalam yurisdiksi Indonesia yang melakukan transaksi elektronik (e-commerce) dengan pihak lain di luar yurisdiksi hukum Indonesia. Manfaat Penelitian Secara teoritis, penelitian ini diharapkan memberikan manfaat : 1. Mengkaji dan memberikan pemahaman mengenai prinsipprinsip hukum hukum perlindungan konsumen dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 dan Undang- Undang Nomor 11 Tahun Mengkaji dan memberikan pemahaman mengenai perlindungan konsumen di dalam yurisdiksi Indonesia yang melakukan transaksi elektronik (ecommerce) dengan pihak lain di luar yurisdiksi hukum Indonesia. Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberikan manfaat : Dapat memberikan kontribusi terhadap pemikiran mengenai perlindungan konsumen terkait dengan adanya harmonisasi Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 serta terkait dengan adanya pengaturan dan pengembangan perlindungan konsumen yang melakukan transaksi elektronik (ecommerce) dengan pihak lain di luar yurisdiksi hukum Indonesia. Metode Penelitian Pendekatan Masalah Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan undang-undang (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Pendekatan undang-undang (statute approach) dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani. 13 Fakta yang ada dikaitkan dengan peraturan perundang-undangan yang mengaturnya dan yang masih berlaku. Undang-undang dan regulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun Kemudian setelah metode pendekatan undang-undang (statute approach) digunakan, selanjutnya yang digunakan adalah pendekatan konseptual (conceptual approach). Pendekatan konseptual (conceptual approach) beranjak dari pandanganpandangan dan doktrin-doktrin yang berkembang di dalam ilmu hukum. 14 Dalam penulisan ini, pendekatan konseptual (conceptual approach) 13 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2007, h Ibid., h. 95. Sosial Volume 15 Nomor 1 Maret 2014 HARMONISASI UNDANG UNDANG..84

5 digunakan adalah pandanganpandangan dan doktrin-doktrin di dalam hukum perlindungan konsumen terkait dengan aktivitas konsumen dalam transaksi elektronik (ecommerce), baik dalam wilayah yurisdiksi Indonesia maupun di luar yurisdiksi Indonesia. Bahan Hukum Untuk memecahkan suatu rumusan masalah, diperlukan adanya sumber-sumber penelitian. Sumbersumber tersebut dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu bahan-bahan hukum primer dan bahan-bahan hukum sekunder. Bahan hukum primer merupakan bahan hukum yang bersifat autoritatif, artinya mempunyai kekuasaan. 15 Bahan-bahan hukum primer terdiri dari perundangundangan, catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan perundangundangan, dan putusan-putusan hakim. 16 Sumber bahan hukum primer dalam penelitian ini, antara lain Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 11 tahun Selain menggunakan bahanbahan hukum primer, penelitian ini juga menggunakan bahan-bahan hukum sekunder. Bahan-bahan hukum sekunder berupa semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi. 17 Bahan-bahan hukum sekunder yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain buku-buku literatur, kamus hukum, jurnal-jurnal hukum, serta komentar-komentar para ahli atas putusan pengadilan. Terutama yang berkaitan dengan harmonisasi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 terkait dengan adanya perlindungan konsumen dalam transaksi elektronik (ecommerce). 15 Ibid.. h Ibid. 17 Ibid. Prosedur Pengumpulan Bahan Hukum Prosedur pengumpulan bahan hukum untuk penelitian ini dilakukan dengan cara inventarisasi dan kategorisasi. Sumber bahan hukum yang telah dikumpulkan kemudian dikategorikan. Selanjutnya, sumber bahan hukum yang telah dikumpulkan dan dikategorikan tersebut berdasarkan cara studi kepustakaan dilakukan dengan mempelajari pendapat para ahli yang tertuang dalam buku-buku literatur, kamus hukum, jurnal-jurnal hukum, dan majalah hukum. Apabila berkaitan dengan rumusan masalah yang sedang dibahas dapat dilakukan pengutipan jika diperlukan. Analisa Bahan Hukum Dalam penelitian ini, semua bahan hukum, baik sumber bahan hukum primer maupun sumber bahan hukum sekunder, dianalisis dengan menggunakan metode deduktif, yaitu metode yang menganalisis ketentuanketentuan hukum sebagai suatu hal yang umum kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. PEMBAHASAN Prinsip-Prinsip Perlindungan Konsumen dalam Transaksi Elektronik (E-Commerce) Langkah dasar dari perkembangan konsep perlindungan hak-hak konsumen berawal dari kebijakankebijakan yang tertuang dalam doktrin caveat emptor. Doktrin ini berkembang luas pada jaman kekaisaran Romawi Kuno. Hingga tahun 1600, doktrin caveat emptor dianut oleh sistem hukum Inggris dan Amerika Serikat (common law system). Selama periode itu, konsumen tidak dapat berbuat banyak terhadap pembelian barang-barang cacat (defective goods) yang dijual produsen atau pelaku usaha. 18 Istilah 18 Iman Sjahputra, Op. Cit., h. 47 dikutip dari Curtis R. Reitz, Consumer Product Sosial Volume 15 Nomor 1 Maret 2014 HARMONISASI UNDANG UNDANG..85

6 caveat emptor berasal dari bahasa Latin yang berarti pembeli harus berwaspada. Jika pembeli tidak berhati-hati dalam pembeliannya, ia akan bertanggung jawab sendiri dan memikul seluruh resiko atas pembelian yang tidak menguntungkannya. 19 Pada abad ke-13, Summa Theologica yang ditulis oleh Thomas Aquinas membicarakan tentang pentingnya tanggung jawab pelaku usaha. David G. Owen mengakui bahwa apa yang disebut Thomas Aquinas sebagai merchantile obligation selaras dengan prinsip tanggung jawab penjual yang tercantum dalam peraturan-peraturan (digest) yang diterbitkan oleh Kaisar Justanianus. 20 Pada masa Kekaisaran Justanianus tersebut, penjual mulai bertanggung jawab atas beberapa bentuk kerugian yang timbul akibat kesalahannya karena tidak melakukan upaya preventif terhadap suatu peristiwa yang merugikan. Sehingga tanggung jawab pelaku usaha terus dikembangkan dengan standar yang cukup keras, ketika ditetapkan 3 (tiga) perilaku produsen yang dikategorikan sebagai kejahatan : Kelalaian dalam memberikan pelayanan kepada konsumen. 2. Tidak mengungkapkan cacat tersembunyi dari suatu barang yang dijual. 3. Menjual produk yang tidak memenuhi standar sesuai dengan yang diperjanjikan. Warranties Under Federal and State Laws, Second Edition, University of Pennsylvania Law School, 1987, h Ibid. 20 Ibid., h. 48, dikutip dari David G. Owen, The Evolution of Product Liability Law, Review of Litigation Symposium, University of Texas School of Law Publications Inc., Texas, 2007, h Ibid., dikutip dari Inosentius Samsul, Perlindungan Konsumen : Kemungkinan Penerapan Tanggung Jawab Mutlak, Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2004, h. 49. Karena itu, sejak tahun 1810, pengadilan-pengadilan di Inggris mulai menekankan bahwa caveat emptor sudah tidak dapat diterapkan lagi. Doktrin caveat emptor menempatkan pelaku usaha dalam posisi yang sulit tersentuh hukum. Sehingga kemudian pada akhir abad ke-19, pengadilanpengadilan di Amerika Serikat mulai menerapkan doktrin caveat venditor (berwaspadalah penjual). Dalam doktrin ini, penjual bertanggung jawab penuh jika barang yang dijual merugikan konsumen sehingga akibatnya penjual harus dapat menjamin kualitas (warranty of quality) terhadap barang yang mereka jual. 22 Pada tahun 1921, Roscoe Pond mengatakan bahwa tanggung jawab (liability) produsen adalah : Kewajiban memenuhi tuntutan konsumen yang mengalami kerugian. 2. Pengejewantahan kewajiban itu harus dilaksanakan secara formal. Sejak saat itu, persoalan mengenai pentingnya tanggung jawab produsen menarik perhatian di berbagai kalangan. Di berbagai negara, khususnya di negara-negara maju, telah dilakukan pembaharuanpembaharuan hukum terkait dengan product liability yang bertujuan untuk mempermudah pemberian kompensasi bagi konsumen yang menderita kerugian akibat dari produk yang diedarkan oleh produsen. Harmonisasi Perlindungan Konsumen E-Commerce Dalam Perspektif Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 merupakan instrumen hukum yang paling efektif untuk melindungi konsumen. Namun sayangnya, undang-undang tersebut sangat terbatas, karena Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 hanya berlaku 22 Ibid., h Ibid., h. 52. Sosial Volume 15 Nomor 1 Maret 2014 HARMONISASI UNDANG UNDANG..86

7 terhadap subyek hukum yang berdomisili di dalam yurisdiksi wilayah Indonesia. Sedangkan kenyataannya, yang terjadi dewasa ini adalah liberalisasi perdagangan menyebabkan lahirnya aktivitas bisnis yang diselenggarakan melalui komunikasi jarak jauh (distance communication) yang dapat melewati batas-batas negara. Persoalanpersoalan yang sering muncul antara lain : Tindakan curang dan penipuan. 2. Non-delivery of goods ordered. 3. Long delivery delays. 4. Slow reimbursement deposit or amounts paid. 5. Inadequate nature of good delivered. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 jelas telah kehilangan efektivitasnya ketika berhadapan dengan pelanggaran hak-hak konsumen dalam transaksi elektronik (e-commerce) oleh pelaku usaha yang berdomisili di negara asing. Untuk mengatasi permasalahan tersebut kemudian muncul Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 yang secara eksplisit di dalam Pasal 2 menyebutkan bahwa undang-undang tersebut berlaku untuk setiap perbuatan subyek hukum yang menimbulkan implikasi hukum di Indonesia. Oleh karena itu, undangundang tersebut memberi kewenangan kepada para pihak untuk memilih hukum yang berlaku bagi transaksi elektronik yang dibuatnya. Akan tetapi jika para pihak tidak melakukan pilihan hukum dalam transaksi elektronik internasional, hukum yang berlaku didasarkan pada asas hukum perdata internasional. Kesimpulan 1. Prinsip-prinsip hukum perlindungan konsumen yang diterapkan untuk membangun konsep perlindungan hak dan kewajiban konsumen dalam aktivitas bisnis melalui transaksi elektronik (e-commerce), 24 Ibid., h antara lain doktrin caveat emptor, doktrin caveat venditor, serta product liability. Untuk di Indonesia, dalam rangka perlindungan hak dan kewajiban konsumen menggunakan 2 (dua) instrumen hukum, yakni Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 dan Undang- Undang Nomor 11 Tahun Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 berlaku secara limitatif hanya kepada konsumen yang melakukan transaksi bisnis dalam yurisdiksi wilayah Indonesia. Undang-undang tersebut juga hanya mengatur hubungan produsen dan konsumen yang melakukan transaksi secara offline. Sehingga, undang-undang tersebut tidak sepenuhnya dapat digunakan sebagai dasar hukum dalam memberikan perlindungan hukum bagi konsumen-konsumen yang melakukan aktivitas bisnis melalui transaksi elektronik (ecommerce). Dengan demikian, perlindungan hukum yang digunakan adalah Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 yang mana undang-undang tersebut telah mengadopsi hukum internasional dan hukum perdata internasional terkait dengan kompetensi forum yang berwenang untuk menyelesaikan kasus tersebut. Daftar Pustaka Adolf, Huala, 2005 Hukum Perdagangan Internasional, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Barkatullah, dkk, Abdul Halim, 2006, Bisnis E-Commerce : Studi Sistem Keamanan dan Hukum Di Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Marzuki, Peter Mahmud, 2007, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, Sjahputra, Iman, 2010, Perlindungan Konsumen Dalam Transaksi Elektronik, Alumni, Bandung Undang-Undang : Sosial Volume 15 Nomor 1 Maret 2014 HARMONISASI UNDANG UNDANG..87

8 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Sosial Volume 15 Nomor 1 Maret 2014 HARMONISASI UNDANG UNDANG..88

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN E-COMMERCE DAN EKSISTENSI ELECTRONIC SIGNATURE DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN E-COMMERCE DAN EKSISTENSI ELECTRONIC SIGNATURE DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN E-COMMERCE DAN EKSISTENSI ELECTRONIC SIGNATURE DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL Oleh: Ni Putu Putri Wasundari Edward Thomas Lamury Hadjon Program Kekhususan Hukum Internasional

Lebih terperinci

Perlindungan Hukum Domain Name Dalam Perspektif Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001

Perlindungan Hukum Domain Name Dalam Perspektif Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 Perlindungan Hukum Domain Name Dalam Perspektif Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Dan 2001 1) Anik Tri Haryani 1) Dosen Fakultas Hukum Universitas Merdeka Madiun Abstract Information and communication

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tersebut dewasa ini semakin nyata dengan lahirnya e-commerce. dalam Internet dan Web. E-commerce merupakan suatu proses

BAB I PENDAHULUAN. tersebut dewasa ini semakin nyata dengan lahirnya e-commerce. dalam Internet dan Web. E-commerce merupakan suatu proses BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan perdagangan tidak akan pernah terlepas dari perkembangan teknologi. Oleh karena itu, dalam upaya mencapai kemakmuran, teknologi tidak terlepas dari upaya

Lebih terperinci

LAYANAN PURNA JUAL PRODUK ELEKTRONIK DENGAN GARANSI. Oleh Dian Pertiwi Ketut Sudiarta Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Udayana

LAYANAN PURNA JUAL PRODUK ELEKTRONIK DENGAN GARANSI. Oleh Dian Pertiwi Ketut Sudiarta Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Udayana LAYANAN PURNA JUAL PRODUK ELEKTRONIK DENGAN GARANSI Oleh Dian Pertiwi Ketut Sudiarta Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Udayana Abstract The title of this research is after sales service of electronic

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari aktivitas yang dilakukan. Tetapi beberapa di antara resiko, bahaya, dan

BAB I PENDAHULUAN. dari aktivitas yang dilakukan. Tetapi beberapa di antara resiko, bahaya, dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam kehidupan manusia pada zaman modern ini, sarat dengan beragam macam resiko, bahaya, dan kerugian yang harus dihadapi. Sehingga kemungkinan resiko yang terjadi

Lebih terperinci

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB I PENDAHULUAN. berbasiskan internet yaitu pelaksanaan lelang melalui internet.

ADLN- PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB I PENDAHULUAN. berbasiskan internet yaitu pelaksanaan lelang melalui internet. 11 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Pesatnya perkembangan teknologi informasi membawa perubahan pada berbagai sisi kehidupan. Dengan teknologi informasi yang berkembang saat ini, maka memudahkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan perekonomian terus berlangsung di manapun dan oleh siapapun

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan perekonomian terus berlangsung di manapun dan oleh siapapun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kegiatan perekonomian terus berlangsung di manapun dan oleh siapapun sebagai pelaku usaha, baik pribadi, badan hukum privat atau publik, bahkan oleh gabungan

Lebih terperinci

TANGGUNG JAWAB PELAKU USAHA ATAS INFORMASI SUATU PRODUK MELALUI IKLAN YANG MENGELABUI KONSUMEN

TANGGUNG JAWAB PELAKU USAHA ATAS INFORMASI SUATU PRODUK MELALUI IKLAN YANG MENGELABUI KONSUMEN TANGGUNG JAWAB PELAKU USAHA ATAS INFORMASI SUATU PRODUK MELALUI IKLAN YANG MENGELABUI KONSUMEN Oleh: Ni Putu Shinta Kurnia Dewi I Nyoman Gatrawan Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Udayana ABSTRACT:

Lebih terperinci

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB I PENDAHULUAN. tidak menawarkan sesuatu yang merugikan hanya demi sebuah keuntungan sepihak.

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB I PENDAHULUAN. tidak menawarkan sesuatu yang merugikan hanya demi sebuah keuntungan sepihak. BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Bisnis merupakan salah satu aktivitas kehidupan manusia dan bahkan telah merasuki semua sendi kehidupan masyarakat modern. Dengan fenomena ini mustahil orang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia sebagai negara hukum, maka sudah seharusnya. yang berkaitan dengan kepentingan umum, kepentingan perseorangan,

BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia sebagai negara hukum, maka sudah seharusnya. yang berkaitan dengan kepentingan umum, kepentingan perseorangan, BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia sebagai negara hukum, maka sudah seharusnya mengatur hubungan-hubungan yang sering terjadi dalam kehidupan bernegara yang berkaitan dengan kepentingan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. saat ini adalah internet. Internet (interconnection networking) sendiri

BAB I PENDAHULUAN. saat ini adalah internet. Internet (interconnection networking) sendiri BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu media informasi dan telekomunikasi sangat pesat berkembang saat ini adalah internet. Internet (interconnection networking) sendiri adalah jaringan komunikasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perbankan merupakan lembaga keuangan yang sering muncul sengketa yang bersentuhan dengan hukum dalam menjalankan usahanya. Sengketa Perbankan bisa saja terjadi antar

Lebih terperinci

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN DALAM MELAKUKAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DI INDONESIA

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN DALAM MELAKUKAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DI INDONESIA PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN DALAM MELAKUKAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DI INDONESIA Oleh A.A.Bintang Evitayuni Purnama Putri Edward Thomas Lamury Hadjon Bagian Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas

Lebih terperinci

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga BAB I PENDAHULUAN. seperti ASEAN Industrial Project (AIP) tahun 1976, the ASEAN Industrial

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga BAB I PENDAHULUAN. seperti ASEAN Industrial Project (AIP) tahun 1976, the ASEAN Industrial BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ASEAN telah menghasilkan banyak kesepakatan-kesepakatan baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya. Pada awal berdirinya, kerjasama ASEAN lebih bersifat politik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas

BAB I PENDAHULUAN. diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam era modern ini Indonesia harus menghadapi tuntutan yang mensyaratkan beberapa regulasi dalam bidang ekonomi. tidak terkecuali mengenai perusahaan-perusahaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Banyaknya barang dan jasa yang melintasi batas-batas wilayah suatu negara

BAB I PENDAHULUAN. Banyaknya barang dan jasa yang melintasi batas-batas wilayah suatu negara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan aktivitas perdagangan memperluas cara berkomunikasi dan berinteraksi antara pelaku usaha dengan konsumen. Globalisasi dan perdagangan bebas sebagai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. (interconnection networking), yaitu suatu koneksi antar jaringan komputer.

I. PENDAHULUAN. (interconnection networking), yaitu suatu koneksi antar jaringan komputer. I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu produk inovasi teknologi telekomunikasi adalah internet (interconnection networking), yaitu suatu koneksi antar jaringan komputer. Internet adalah seluruh jaringan

Lebih terperinci

BAHAN KULIAH HUKUM PERNIAGAAN/PERDAGANGAN INTERNASIONAL MATCH DAY 8 TRANSAKSI DAN KONTRAK ELEKTRONIK

BAHAN KULIAH HUKUM PERNIAGAAN/PERDAGANGAN INTERNASIONAL MATCH DAY 8 TRANSAKSI DAN KONTRAK ELEKTRONIK BAHAN KULIAH HUKUM PERNIAGAAN/PERDAGANGAN INTERNASIONAL MATCH DAY 8 TRANSAKSI DAN KONTRAK ELEKTRONIK A. Transaksi Elektronik (E-Commerce) Perkembangan perdagangan internasional tidak akan pernah terlepas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Untuk memperoleh data atau bahan yang diperlukan dalam penelitian ini, penulis melakukan penelitian hukum dengan metode yang lazim digunakan dalam metode penelitian hukum dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hukum, politik, budaya dan ekonomi. Teknologi yang sangat berpengaruh dalam

BAB I PENDAHULUAN. hukum, politik, budaya dan ekonomi. Teknologi yang sangat berpengaruh dalam 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap aspek-aspek kehidupan. Perkembangan tersebut berpengaruh pada aspek hukum, politik, budaya

Lebih terperinci

TANGGUNG JAWAB DISTRIBUTOR DALAM CACAT PRODUK PADA TRANSAKSI E-COMMERCE MELALUI FACEBOOK

TANGGUNG JAWAB DISTRIBUTOR DALAM CACAT PRODUK PADA TRANSAKSI E-COMMERCE MELALUI FACEBOOK TANGGUNG JAWAB DISTRIBUTOR DALAM CACAT PRODUK PADA TRANSAKSI E-COMMERCE MELALUI FACEBOOK ABSTRACT oleh Nessya Nindri Sari I Ketut Westra Dewa Gede Rudy Bagian Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Udayana

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. termasuk di dalamnya perkembangan aktivitas ekonomi. Masyarakat Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. termasuk di dalamnya perkembangan aktivitas ekonomi. Masyarakat Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Keberadaan hukum selalu berhubungan dengan keberadaan manusia oleh sebab itu dikenal istilah ubi societas ibi ius yang artinya dimana ada manusia,disitu ada hukum. Terdapat

Lebih terperinci

ABSTRAK KAJIAN YURIDIS ATAS DOKTRIN CAVEAT VENDITOR

ABSTRAK KAJIAN YURIDIS ATAS DOKTRIN CAVEAT VENDITOR ABSTRAK KAJIAN YURIDIS ATAS DOKTRIN CAVEAT VENDITOR TERHADAP PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KONSUMEN PEMBELI GAWAI DALAM KONTRAK ELEKTRONIK MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. aktivitasnya melibatkan hampir seluruh negara di dunia. Hal ini sejalan pula dengan

BAB I PENDAHULUAN. aktivitasnya melibatkan hampir seluruh negara di dunia. Hal ini sejalan pula dengan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perdagangan internasional merupakan salah satu aspek yang dewasa ini aktivitasnya melibatkan hampir seluruh negara di dunia. Hal ini sejalan pula dengan hukum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kita dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Perkembangan ini membawa dampak

BAB I PENDAHULUAN. kita dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Perkembangan ini membawa dampak BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini kita dituntut agar semakin mampu mengikuti kemajuan teknologi. Munculnya berbagai macam teknologi sangat berguna untuk memudahkan kehidupan kita dalam menjalankan

Lebih terperinci

Keywords: Role, UNCITRAL, Harmonization, E-Commerce.

Keywords: Role, UNCITRAL, Harmonization, E-Commerce. Peran United Nations Commission on International Trade Law (UNCITRAL) dalam Harmonisasi Hukum Transaksi Perdagangan Elektronik (E-Commerce) Internasional Oleh: Ni Putu Dewi Lestari Ni Made Ari Yuliartini

Lebih terperinci

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga BAB I PENDAHULUAN. ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya.

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga BAB I PENDAHULUAN. ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya disebut UU PT) definisi dari Perseroan Terbatas (selanjutnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perjanjian pada umumnya memuat beberapa unsur, yaitu: 1

BAB I PENDAHULUAN. perjanjian pada umumnya memuat beberapa unsur, yaitu: 1 1 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Dalam menghadapi perkembangan era globalisasi pekerja dituntut untuk saling berlomba mempersiapkan dirinya supaya mendapat pekerjaan yang terbaik bagi dirinya sendiri.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan Nasional merupakan upaya untuk mewujudkan masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan Nasional merupakan upaya untuk mewujudkan masyarakat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan Nasional merupakan upaya untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

BAB. I PENDAHULUAN. Tujuan negara Indonesia sebagaimana dinyatakan dalam alinea keempat. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah :

BAB. I PENDAHULUAN. Tujuan negara Indonesia sebagaimana dinyatakan dalam alinea keempat. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah : BAB. I PENDAHULUAN Tujuan negara Indonesia sebagaimana dinyatakan dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah : Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang memiliki kelebihan dana dengan pihak-pihak yang kekurangan dan

BAB I PENDAHULUAN. yang memiliki kelebihan dana dengan pihak-pihak yang kekurangan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Bank Pembangunan Daerah dengan fungsinya meningkatkan pertumbuhan perekonomian dan pembangunan daerah, sebagai perantara pihakpihak yang memiliki kelebihan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam perkembangan global saat ini. Teknologi yang diciptakan berkembang

BAB I PENDAHULUAN. dalam perkembangan global saat ini. Teknologi yang diciptakan berkembang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Era global pada saat ini memberikan dampak yang begitu besar di berbagai sektor kehidupan. Semua sektor dalam kehidupan dituntut untuk terus berkembang dengan cepat.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terbentuk dari jaringan-jaringan computer-komputer yang saling terkoneksi

BAB I PENDAHULUAN. terbentuk dari jaringan-jaringan computer-komputer yang saling terkoneksi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hadirnya masyarakat informasi yang diyakini merupakan salah satu agenda penting masyarakat dunia di milenium ketiga, antara lain ditandai dengan pemanfaatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pengertian bank menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992

BAB I PENDAHULUAN. Pengertian bank menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengertian bank menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 adalah badan usaha

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perlindungan hukum bagi konsumen 1 bertujuan untuk melindungi hak-hak

BAB I PENDAHULUAN. Perlindungan hukum bagi konsumen 1 bertujuan untuk melindungi hak-hak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perlindungan hukum bagi konsumen 1 bertujuan untuk melindungi hak-hak konsumen yang seharusnya dimiliki dan diakui oleh pelaku usaha 2. Oleh karena itu, akhirnya naskah

Lebih terperinci

TINJAUAN YURIDIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PROSTITUSI SECARA ONLINE BERDASARKAN PERSPEKTIF CYBER CRIME

TINJAUAN YURIDIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PROSTITUSI SECARA ONLINE BERDASARKAN PERSPEKTIF CYBER CRIME TINJAUAN YURIDIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PROSTITUSI SECARA ONLINE BERDASARKAN PERSPEKTIF CYBER CRIME Oleh : Ni Made Rica Vitayanti A.A. Gede Duwira Hadi Santosa Program Kekhususan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HUKUM MENGENAI PENCANTUMAN KLAUSULA EKSONERASI DALAM PERJANJIAN JUAL BELI DIHUBUNGKAN DENGAN BUKU III BURGERLIJK

BAB IV ANALISIS HUKUM MENGENAI PENCANTUMAN KLAUSULA EKSONERASI DALAM PERJANJIAN JUAL BELI DIHUBUNGKAN DENGAN BUKU III BURGERLIJK 43 BAB IV ANALISIS HUKUM MENGENAI PENCANTUMAN KLAUSULA EKSONERASI DALAM PERJANJIAN JUAL BELI DIHUBUNGKAN DENGAN BUKU III BURGERLIJK WETBOEK JUNCTO UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pembangunan Nasional Indonesia bertujuan untuk mewujudkan suatu

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pembangunan Nasional Indonesia bertujuan untuk mewujudkan suatu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan Nasional Indonesia bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil, makmur, dan sejahtera berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945. Perekonomian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hukum perlindungan konsumen selalu berhubungan dan berinteraksi dengan berbagai bidang dan cabang hukum lain, karena pada tiap bidang dan cabang hukum itu senantiasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan zaman, kontrak diselenggarakan bukan hanya terkait barang saja melainkan juga jasa. Secara sederhana kontrak ialah suatu perjanjian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Era global dimana segala aspek mulai berkembang pesat salah satunya

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Era global dimana segala aspek mulai berkembang pesat salah satunya 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Era global dimana segala aspek mulai berkembang pesat salah satunya dalam bidang perekonomian suatu negara dapat dibuktikan dengan banyaknya pelaku usaha dalam negeri

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 64 BAB III METODE PENELITIAN Menurut Peter Mahmud, Penelitian hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi.

Lebih terperinci

PENGECUALIAN MONOPOLI DAN/ATAU PEMUSATAN KEGIATAN BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN) DALAM PERSPEKTIF HUKUM PERSAINGAN USAHA

PENGECUALIAN MONOPOLI DAN/ATAU PEMUSATAN KEGIATAN BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN) DALAM PERSPEKTIF HUKUM PERSAINGAN USAHA PENGECUALIAN MONOPOLI DAN/ATAU PEMUSATAN KEGIATAN BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN) DALAM PERSPEKTIF HUKUM PERSAINGAN USAHA Tiara Oliviarizky Toersina 1), Anik Tri Haryani 2) 1),2) Dosen Fakultas Hukum Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai Negara berkembang dapat diidentifikasikan dari tingkat pertumbuhan ekonominya.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai Negara berkembang dapat diidentifikasikan dari tingkat pertumbuhan ekonominya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai Negara berkembang dapat diidentifikasikan dari tingkat pertumbuhan ekonominya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia terbaru diukur berdasarkan besaran

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. penting untuk dapat mempengaruhi pola perdagangan. Kemampuan

BAB 1 PENDAHULUAN. penting untuk dapat mempengaruhi pola perdagangan. Kemampuan 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Pesat dan majunya teknologi internet mempermudah untuk mengakses informasi apapun yang dibutuhkan, termasuk di dalamnya informasi produk. Adanya kemudahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bidang transaksi perdagangan yang selanjutnya disebut Electronic commerce. media dalam transaksi e-commerce antara lain :

BAB I PENDAHULUAN. bidang transaksi perdagangan yang selanjutnya disebut Electronic commerce. media dalam transaksi e-commerce antara lain : BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan zaman telah membawa dunia ini pada era globalisasi, yang ditandai dengan kemajuan teknologi yang cukup pesat. Seiring perkembangan teknologi ini, terjadi

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang

III. METODE PENELITIAN. hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang III. METODE PENELITIAN Penelitian Hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsipprinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi. 30 A. Pendekatan Masalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hal itu membuat masyarakat menjadi lebih konsumtif. Masyarakat lebih senang

BAB I PENDAHULUAN. hal itu membuat masyarakat menjadi lebih konsumtif. Masyarakat lebih senang BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Seiring dengan perkembangan zaman masyarakat mulai berfikir praktis, hal itu membuat masyarakat menjadi lebih konsumtif. Masyarakat lebih senang untuk membeli barang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memberikan pergerakkan dari keadaan tradisional menuju keadaan masyarakat yang. masyarakat untuk menunnjang martabat bangsa.

BAB I PENDAHULUAN. memberikan pergerakkan dari keadaan tradisional menuju keadaan masyarakat yang. masyarakat untuk menunnjang martabat bangsa. BAB I A. Latar Belakang PENDAHULUAN Dengan berkembangnya jaman saat ini yang semakin modern, menjadikan sebagai perubahan-perubahan di dalam masyarakat. Dimana perubahan tersebut memberikan pergerakkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan Nasional Indonesia bertujuan mewujudkan masyarakat Indonesia seutuhnya yang adil, makmur, sejahtera, tertib, dan damai berdasarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan nasional dilakukan secara berkesinambungan, yaitu dilakukan secara menyeluruh, terpadu, dan terarah, yang di selenggarakan dalam rangka mewujudkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Tanah merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan kepada

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Tanah merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan kepada BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Tanah merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan kepada manusia untuk dikelola, digunakan dan dipelihara sebaik - baiknya sebagai sumber kehidupan dan penghidupan.

Lebih terperinci

AKIBAT HUKUM TERHADAP PELAKU USAHA YANG MENJUAL MAKANAN KADALUWARSA

AKIBAT HUKUM TERHADAP PELAKU USAHA YANG MENJUAL MAKANAN KADALUWARSA AKIBAT HUKUM TERHADAP PELAKU USAHA YANG MENJUAL MAKANAN KADALUWARSA Oleh Gek Ega Prabandini I Made Udiana Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Udayana ABSTRACT This study, entitled "Effects Against

Lebih terperinci

BAB I. Kehadiran profesi Notaris sangat dinantikan untuk memberikan

BAB I. Kehadiran profesi Notaris sangat dinantikan untuk memberikan BAB I 1. Latar Belakang Masalah Kehadiran profesi Notaris sangat dinantikan untuk memberikan jaminan kepastian atas transaksi bisnis yang dilakukan para pihak, sifat otentik atas akta yang dibuat oleh

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. orang dapat saling terhubung meskipun dengan jarak yang sangat jauh sekalipun.

BAB 1 PENDAHULUAN. orang dapat saling terhubung meskipun dengan jarak yang sangat jauh sekalipun. BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di era globalisasi yang serba modern ini, semua aktifitas manusia diupayakan dapat dilaksanakan dengan cepat dan mudah. aktifitas manusia terminimalisir dengan alat

Lebih terperinci

E-Journal Graduate Unpar Part B : Legal Science

E-Journal Graduate Unpar Part B : Legal Science PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PELAKU USAHA DAN KONSUMEN DALAM TRANSAKSI JUAL BELI SECARA ONLINE DENGAN PEMBAYARAN MELALUI PAYPAL Indra Kirana D. PROGRAM MAGISTER ILMU HUKUM UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN ABSTRAK

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Indonesia kian pesat,

I. PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Indonesia kian pesat, 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Indonesia kian pesat, hal ini berdampak pada perubahan aktivitas dalam dunia bisnis. Perubahan tersebut mencakup

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. aspek kehidupan masyarakat. Perubahan tersebut juga berpengaruh

BAB I PENDAHULUAN. aspek kehidupan masyarakat. Perubahan tersebut juga berpengaruh BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Era globalisasi telah mendorong berbagai perubahan pada setiap aspek kehidupan masyarakat. Perubahan tersebut juga berpengaruh terhadap meningkatnya perdagangan barang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Negara dan Konstitusi merupakan dua lembaga yang tidak dapat dipisahkan.

BAB I PENDAHULUAN. Negara dan Konstitusi merupakan dua lembaga yang tidak dapat dipisahkan. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Negara dan Konstitusi merupakan dua lembaga yang tidak dapat dipisahkan. Menurut Sri Soemantri tidak ada satu negara pun yang tidak mempunyai konstitusi atau Undang-Undang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian hukum normatif atau penelitian hukum. bahan-bahan kepustakaan untuk memahami Piercing The

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian hukum normatif atau penelitian hukum. bahan-bahan kepustakaan untuk memahami Piercing The BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang akan dilakukan adalah Penelitian hukum normatif atau penelitian hukum doktrinal, yaitu penelitian hukum yang menggunakan sumber data

Lebih terperinci

TANGGUNG GUGAT PRODUCT LIABILITY DALAM HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN DI INDONESIA

TANGGUNG GUGAT PRODUCT LIABILITY DALAM HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN DI INDONESIA TANGGUNG GUGAT PRODUCT LIABILITY DALAM HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN DI INDONESIA ABSTRACT oleh : Gede Adhitya Ariawan Ni Made Ari Yuliartini Griadhi Bagian Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Udayana

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mengungkapkan kebenaran secara sistematis, metodologis dan konsisten. 2 Jadi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mengungkapkan kebenaran secara sistematis, metodologis dan konsisten. 2 Jadi BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metode merupakan cara yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, termasuk juga metode dalam sebuah penelitian. Menurut Peter R. Senn, 1 metode merupakan suatu prosedur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini perkembangan era globalisasi yang semakin pesat berpengaruh

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini perkembangan era globalisasi yang semakin pesat berpengaruh BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini perkembangan era globalisasi yang semakin pesat berpengaruh terhadap semakin banyaknya kebutuhan masyarakat akan barang/ jasa tertentu yang diikuti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maju dan berkembang dengan pesatnya. Pertumbuhan internet yang dimulai

BAB I PENDAHULUAN. maju dan berkembang dengan pesatnya. Pertumbuhan internet yang dimulai 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi yang marak akhir-akhir ini, tidak saja memberikan pengaruh terhadap perekonomian suatu negara tertentu namun juga akan berimbas terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN.. Di dalam kondisi perekonomian saat ini yang bertambah maju, maka akan

BAB I PENDAHULUAN.. Di dalam kondisi perekonomian saat ini yang bertambah maju, maka akan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap orang berhak untuk melakukan suatu usaha, hal ini dilakukan untuk memenuhi suatu kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka seharihari. Di dalam kondisi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. yang merujuk pada cara yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data

BAB III METODE PENELITIAN. yang merujuk pada cara yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data BAB III METODE PENELITIAN Penelitian hukum dilakukan untuk mencari suatu pemecahan permasalahan atau isu yang ada di dalam masyarakat. Untuk menjawab suatu isu tersebut dibutuhkan metode yang merujuk pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bisnis atau industri bisnis yang kemudian melahirkan perdagangan online

BAB I PENDAHULUAN. bisnis atau industri bisnis yang kemudian melahirkan perdagangan online BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hadirnya globalisasi di era millennium ini telah membawa dampak yang besar di seluruh sektor kehidupan manusia termasuk salah satunya adalah teknologi dan internet.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Meski belum terlalu populer, pada tahun 1996 mulai bermunculan

BAB I PENDAHULUAN Meski belum terlalu populer, pada tahun 1996 mulai bermunculan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di Indonesia, transaksi melalui internet sudah dikenal sejak tahun 1996. Meski belum terlalu populer, pada tahun 1996 mulai bermunculan berbagai situs yang melakukan

Lebih terperinci

BAB I Pendahuluan. A. Latar belakang Masalah

BAB I Pendahuluan. A. Latar belakang Masalah BAB I Pendahuluan A. Latar belakang Masalah Indonesia merupakan negara hukum sesuai dengan yang tercantum dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik indonesia Tahun 1945 yang menyatakan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. produk dengan semakin leluasa karena banyaknya penawaran dari pelaku usaha.

BAB I PENDAHULUAN. produk dengan semakin leluasa karena banyaknya penawaran dari pelaku usaha. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam bidang perindustrian dan perdagangan di Indonesia pada dewasa ini memberikan banyak kemajuan. Masyarakat dapat memilih berbagai macam produk dengan semakin leluasa

Lebih terperinci

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga BAB I PENDAHULUAN. dan harmoni bagi bangsa dan negara Indonesia. Namun saat ini ditemukan

ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga BAB I PENDAHULUAN. dan harmoni bagi bangsa dan negara Indonesia. Namun saat ini ditemukan BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Tanah merupakan karunia Tuhan Yang Maha Kuasa untuk kesejahteraan seluruh bangsa Indonesia, sehingga hubungan bangsa Indonesia dengan tanah bersifat abadi. Hubungan

Lebih terperinci

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN YANG TIDAK MENGETAHUI TELAH MEMBELI BAJU BEKAS

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN YANG TIDAK MENGETAHUI TELAH MEMBELI BAJU BEKAS PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN YANG TIDAK MENGETAHUI TELAH MEMBELI BAJU BEKAS Oleh : I Gusti Agung Puspa Dewi I Gusti Agung Ayu Ari Krisnawati Bagian Hukum Bisnis, Fakultas Hukum, Universitas Udayana

Lebih terperinci

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI FRANCHISEE TERKAIT PENDIRIAN USAHA DI BIDANG YANG SERUPA SETELAH BERAKHIRNYA PERJANJIAN WARALABA*

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI FRANCHISEE TERKAIT PENDIRIAN USAHA DI BIDANG YANG SERUPA SETELAH BERAKHIRNYA PERJANJIAN WARALABA* PERLINDUNGAN HUKUM BAGI FRANCHISEE TERKAIT PENDIRIAN USAHA DI BIDANG YANG SERUPA SETELAH BERAKHIRNYA PERJANJIAN WARALABA* Oleh Tashaekti Fadhila Rahmadany** I Ketut Tjukup*** Bagian Hukum Keperdataan Fakultas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Penelitian hukum merupakan suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip prinsip hukum, maupun doktrin doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang sedang dihadapi. Penelitian

Lebih terperinci

Kontrak: Pendekatan-pendekatan Hukum Perdata dan Common Law

Kontrak: Pendekatan-pendekatan Hukum Perdata dan Common Law Kontrak: Pendekatan-pendekatan Hukum Perdata dan Common Law Sistem Common Law: Kebanyakan negara-negara yang dulunya di bawah pemerintahan Kolonial Inggris manganut sistem hukum kasus (common law) Inggris.

Lebih terperinci

PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN APABILA TIDAK HANYA SATU KONSUMEN YANG MERASA TELAH DIRUGIKAN OLEH PRODUK YANG SAMA

PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN APABILA TIDAK HANYA SATU KONSUMEN YANG MERASA TELAH DIRUGIKAN OLEH PRODUK YANG SAMA PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN APABILA TIDAK HANYA SATU KONSUMEN YANG MERASA TELAH DIRUGIKAN OLEH PRODUK YANG SAMA Oleh : Kadek Anggiana Dwi Cahyani I Wayan Wiryawan Bagian Hukum Bisnis, Fakultas Hukum,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pemesanan barang dikomunikasikan melalui internet, hampir semua barang

BAB I PENDAHULUAN. pemesanan barang dikomunikasikan melalui internet, hampir semua barang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Internet, jaringan komputer terbesar di dunia pada saat ini digunakan oleh berjuta-juta orang yang tersebar di segala penjuru dunia. Internet membantu mereka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masih tetap berlaku sebagai sumber utama. Unifikasi hak-hak perorangan atas

BAB I PENDAHULUAN. masih tetap berlaku sebagai sumber utama. Unifikasi hak-hak perorangan atas BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA) pada tanggal 24 September 1960, telah terjadi perubahan

Lebih terperinci

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PELAKU USAHA TERKAIT WANPRESTASI YANG DILAKUKAN KONSUMEN DENGAN CARA HIT AND RUN

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PELAKU USAHA TERKAIT WANPRESTASI YANG DILAKUKAN KONSUMEN DENGAN CARA HIT AND RUN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PELAKU USAHA TERKAIT WANPRESTASI YANG DILAKUKAN KONSUMEN DENGAN CARA HIT AND RUN Oleh Bagus Made Bama Anandika Berata I.G.N Parikesit Widiatedja Hukum Bisnis Fakultas Hukum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perkembangan jaman telah membawa perubahan di berbagai

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perkembangan jaman telah membawa perubahan di berbagai BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan jaman telah membawa perubahan di berbagai bidang kehidupan terutama dalam bidang teknologi, dimana dalam teknologi dapat dilihat dengan adanya perkembangan

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN 32 BAB 3 METODE PENELITIAN Dalam membuat suatu penelitian tentunya dibutuhkan suatu metode, begitu pula dalam pembuatan penelitian hukum dalam bentuk skripsi ini. Metode sendiri ialah suatu kerangka kerja

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Korupsi merupakan suatu perbuatan yang bertentangan dengan aturan hukum namun sudah menjadi budaya dalam setiap lapisan masyarakat. Perbuatan Korupsi merupakan ancaman

Lebih terperinci

ETIKA DAN PROFESIONALISME TSI

ETIKA DAN PROFESIONALISME TSI ETIKA DAN PROFESIONALISME TSI CYBERLAW Materi Minggu V - Priyo Sarjono Wibowo - 4KA07, 4KA08, 4KA22 TINJAUAN UMUM Computer Crime Act Council of Europe Convention of Cyber Crime LATAR BELAKANG a. Pemanfaatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam perekonomian nasional demi menjaga keseimbangan, kemajuan dan

BAB I PENDAHULUAN. dalam perekonomian nasional demi menjaga keseimbangan, kemajuan dan 9 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Industri perbankan merupakan salah satu komponen sangat penting dalam perekonomian nasional demi menjaga keseimbangan, kemajuan dan kesatuan ekononomi nasional. Hal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Internet berkembang demikian pesat sebagai kultur masyarakat modern, dikatakan sebagai kultur karena melalui internet berbagai aktifitas masyarakat cyber seperti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. informasi global yang serba transparan, menurut Toffler, adalah gejala

BAB I PENDAHULUAN. informasi global yang serba transparan, menurut Toffler, adalah gejala 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Globalisasi ditandai oleh perkembangan teknologi elektronik yang sangat pesat, yang telah mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan dan kegiatan masyarakat.

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 41 III. METODE PENELITIAN Penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran, secara sistematis, metodologis,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. anggapan, uang adalah darah -nya perekonomian, karena dalam mekanisme

BAB I PENDAHULUAN. anggapan, uang adalah darah -nya perekonomian, karena dalam mekanisme BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Uang merupakan alat pertukaran yang sah dalam transaksi jual beli. Uang sudah menjadi bagian terpenting dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahkan ada anggapan, uang adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tersendiri. Pelaksanaan jual beli atas tanah yang tidak sesuai dengan ketentuan Pasal

BAB I PENDAHULUAN. tersendiri. Pelaksanaan jual beli atas tanah yang tidak sesuai dengan ketentuan Pasal BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Jual beli sebagai salah satu cara untuk memperoleh hak dan kepemilikan atas tanah yang pelaksanaannya memiliki aturan dan persyaratan serta prosedur tersendiri.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis, Sifat, Lokasi Dan Waktu Penelitian 3.1.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian dalam penulisan skripsi ini yaitu penelitian normatif. Penelitian normatif yang dimaksud

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. signigfikan terhadap sistem ekonomi global dewasa ini. Teknologi telah

BAB I PENDAHULUAN. signigfikan terhadap sistem ekonomi global dewasa ini. Teknologi telah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan sains dan teknologi membawa dampak yang signigfikan terhadap sistem ekonomi global dewasa ini. Teknologi telah membawa kontribusi yang begitu domain

Lebih terperinci

KEKUATAN MENGIKAT KONTRAK BAKU DALAM TRANSAKSI ELEKTRONIK

KEKUATAN MENGIKAT KONTRAK BAKU DALAM TRANSAKSI ELEKTRONIK KEKUATAN MENGIKAT KONTRAK BAKU DALAM TRANSAKSI ELEKTRONIK Oleh : Pande Putu Frisca Indiradewi I Gusti Ayu Puspawati I Dewa Gede Rudy Bagian Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Udayana ABSTRACT Goals

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Page 14 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945, telah ditegaskan bahwa Negara Indonesia merupakan negara yang berdasarkan atas hukum. Itu berarti bahwa

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. menggali, mengelola dan merumuskan bahan-bahan hukum dalam menjawab

BAB III METODE PENELITIAN. menggali, mengelola dan merumuskan bahan-bahan hukum dalam menjawab BAB III METODE PENELITIAN A. METODE PENELITIAN Metode dalam sebuah penelitian merupakan suatu sarana pokok dalam pengembangan disiplin ilmu pengetahuan, khususnya Ilmu hukum yang berusaha mengungkapkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hewan tumbuan dan organisme lain namun juga mencangkup komponen abiotik

BAB I PENDAHULUAN. hewan tumbuan dan organisme lain namun juga mencangkup komponen abiotik BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang sangat kaya sumber daya, baik itu sumber daya manusia atau pun sumber daya alam. Dari aspek sumber daya alam, kekayaan yang dimiliki

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian merupakan suatu proses, yaitu suatu rangkaian langkah yang dilakukan secara terencana dan sistematis untuk memperoleh pemecahan masalah atau jawaban

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 37 III. METODE PENELITIAN Metode artinya cara melakukan sesuatu dengan teratur (sistematis). Metode penelitian merupakan suatu cara yang digunakan dalam mengumpulkan data penelitian dan membandingkan dengan

Lebih terperinci

PERLINDUNGAN KONSUMEN TERKAIT DENGAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN SERVICE CHARGE DI RESTORAN

PERLINDUNGAN KONSUMEN TERKAIT DENGAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN SERVICE CHARGE DI RESTORAN PERLINDUNGAN KONSUMEN TERKAIT DENGAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN SERVICE CHARGE DI RESTORAN Oleh : Junia Adolfina Blegur Laumuri Suatra Putrawan Bagian Hukum Bisnis, Fakultas Hukum, Universitas Udayana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hukum Acara Pidana adalah memberi perlindungan kepada Hak-hak Asasi Manusia dalam keseimbangannya dengan kepentingan umum, maka dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang berdasarkan atas hukum, hal ini telah diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, yaitu Pasal 1 ayat 3 Undang-Undang

Lebih terperinci