BAGIAN TIGA REPRODUKSI DAN SIRKULASI DARI SELURUH KAPITAL SOSIAL

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAGIAN TIGA REPRODUKSI DAN SIRKULASI DARI SELURUH KAPITAL SOSIAL"

Transkripsi

1 BAGIAN TIGA REPRODUKSI DAN SIRKULASI DARI SELURUH KAPITAL SOSIAL 339

2 BAB DELAPAN BELAS PENGANTAR I. OBYEK PENELITIAN Proses produksi kapital langsung adalah proses kerja dan valorisasinya, hasil proses ini ialah produk barang-dagangan, dan motif yang menentukan produksi nilai-lebih. Proses reproduksi kapital mencakup, di atas proses produksi langsung ini, proses sirkulasi yang khusus dengan kedua tahapannya; ia merupakan keseluruhan sirkuit yang merupakan omset kapital, suatu proses periodik yang selalu diulangi kembali pada selang-selang tertentu. Apakah kita mempertimbangkan sirkuit itu dalam bentuk M...M atau dalam bentuk P...P, proses produksi langsung, P, tidak pernah merupakan lebih dari satu masa dalam sirkuit ini. Dalam satu bentuk ia tampak sebagai mediator dari proses sirkulasi, sedangkan dalam bentuk lainnya ia merupakan proses sirkulasi yang tampil sebagai mengantarai produksi. Pengulangan terus-menerus dari sirkuit itu, selalu munculnya-kembali kapital sebagai kapital produktif, dikondisikan dalam kedua-dua kasus itu oleh transformasi-transformasinya dalam proses sirkulasi. Di pihak lain, pengulangan terus-menerus dari proses produksi itu merupakan kondisi bagi transformasi-transformasi yang dialami kapital berulangulang kali di dalam lingkungan sirkulasi, bagi penyajian dirinya sendiri secara bergantian sebagai kapital uang dan sebagai kapital barang-dagangan. Tetapi masing-masing kapital individual hanya merupakan suatu fraksi dari seluruh kapital sosial, suatu pecahan yang telah memperoleh kebebasan dan telah diberkati dengan kehidupan individual, boleh dikata, tepat sebagaimana setiap kapitalis individual adalah tidak lebih dari suatu unsur dari kelas kapitalis. Gerakan kapital sosial tersusun dari totalitas gerakan-gerakan dari pecahanpecahan otonom ini, omset-omset dari kapital-kapital individual. Tepat sebagaimana metamorfosis dari barang-dagangan individual hanya merupakan satu masa di dalam deretan metamorfosis dari keseluruhan dunia barangdagangan, dari sirkulasi barang-dagangan, demikian metamorfosis dari kapital individual, omsetnya, merupakan satu masa tunggal dalam sirkuit kapital sosial. Keseluruhan proses ini melibatkan konsumsi produktif (proses produksi langsung) bersama-sama dengan perubahan-perubahan bentuk yang mengantarainya (yang dipandang dalam aspek material mereka adalah pertukaran-pertukaran), maupun konsumsi individual, dengan perubahanperubahan bentuk atau pertukaran-pertukaran yang mengantarai ini. Di satu sisi 340

3 KAPITAL 341 ia melibatkan konversi dari kapital variabel menjadi tenaga-kerja dan karena itu dimasukkannya tenaga-kerja ke dalam proses produksi kapitalis. Dalam segi ini, pekerja memasuki adegan itu sebagai penjual dari barang-dagangannya, tenagakerja, dan si kapitalis sebagai pembelinya. Sebalikya, namun, penjualan barangdagangan melibatkan penjualannya oleh kelas pekerja, yaitu konsumsi individual kaum pekerja itu. Di sini, kelas pekerja muncul sebagai pembeli barang-dagangan, dan kaum kapitalis sebagai penjual barang-dagangan kepada kaum pekerja itu. Sirkulasi kapital barang-dagangan melibatkan sirkulasi nilai-lebih, dan karena itu pembelian-pembelian dan penjualan-penjualan yang melaluinya para kapitalis mengantarai konsumsi individual mereka, konsumsi nilai-lebih. Sirkuit kapital-kapital individual, oleh karena itu, manakala dipandang terpadu di dalam kapital sosial, yaitu dipandang dalam keseluruhannya, tidak hanya meliputi sirkulasi kapital, melainkan juga sirkulasi barang-dagangan pada umumnya. Pada dasarnya, yang tersebut belakangan hanya terdiri atas dua komponen: (1) sirkuit khusus dari kapital, dan (2) sirkuit dari barang-dagangan yang masuk ke dalam konsumsi individual, yaitu barang-dagangan yang untuknya para pekerja membelanjakan upah-upah mereka dan para kapitalis nilai-lebih mereka (atau sebagian darinya). Sirkuit kapital itu, sesungguhnya, sendiri merupakan sirkulasi nilai-lebih, sepenuhnya sama sebagaimana ini merupakan bagian dari kapital barang-dagangan, dan ia secara sama meliputi transformasi kapital variabel menjadi tenaga-kerja, pembayaran upah-upah. Tetapi pengeluaran nilai-lebih dan upah-upah ini untuk barang-dagangan tidak merupakan suatu bagian dari sirkulasi kapital, sekali pun pembelanjaan upah-upah itu, sekurang-kurangnya, bergantung pada sirkulasi ini. Dalam Buku I, proses produksi kapitalis telah dianalisis sebagai suatu peristiwa tersendiri maupun sebagai suatu proses reproduksi; produksi dari nilai-lebih, dan produksi dari kapital itu sendiri. Perubahan-perubahan formal dan material yang dialami oleh kapital di dalam lingkungan sirkulasi telah diasumsikan, dan tidak dilakukan usaha untuk membahas rincian-rincian mereka. Oleh karena telah diasumsikan bahwa si kapitalis menjual produk menurut nilainya maupun bahwa ia mendapatkan di lingkungan sirkulasi itu alat-alat produksi material yang ia perlukan untuk memulai proses itu kembali atau untuk melanjutkannya tanpa suatu penghentian. Satu-satunya tindakan di dalam lingkungan sirkulasi yang harus kita bahas dalam Buku I itu adalah pembelian dan penjualan tenaga-kerja sebagai kondisi dasar dari produksi kapitalis. Dalam Bagian Satu dari Buku II ini, kita membahas berbagai bentuk dari kapital yang diambil di dalam sirkuitnya, dan berbagai bentuk dari sirkuit ini sendiri. Sebagai tambahan pada waktu kerja yang dibahas dalam Buku I, kita kini membahas waktu sirkulasi.

4 342 Karl Marx Dalam Bagian Dua, kita membahas sirkuit sebagai suatu sirkuit yang berkala, yaitu sebagai suatu omset. Telah dibuktikan, di satu pihak, bagaimana berbagai komponen kapital (kapital tetap dan kapital yang beredar) menyelesaikan sirkuit bentuk-bentuk mereka pada selang-seling yang berbeda-beda dan dengan cara yang berbeda-beda; keadaan yang menimbulkan berbagai kepanjangan periode kerja dan periode sirkulasi juga telah diselidiki. Kita mengindikasikan pengaruh periodisitas sirkuit dan rasio yang berbeda-beda bagian-bagian komponennya dalam skala proses produksi itu sendiri, dan pada tingkat setahun nilai-lebih. Sesungguhnya, jika yang secara azasi dibahas dalam Bagian Satu adalah urutan bentuk-bentuk yang selalu diambil dan dibuang oleh kapital di dalam proses sirkuitnya, yang telah dibahas dalam Bagian Dua adalah bagaimana pada dasarnya di dalam perubahan dan berturut-turutnya bentuk-bentuk, suatu kapital dari ukuran tertentu secara serempak dibagi, bahkan bila hingga suatu batas yang berubah-ubah, menjadi berbagai bentuk dari kapital produktif, kapital uang dan kapital barang-dagangan, sehingga tidak hanya ini yang saling bergantian, melainkan juga berbagai bagian dari keseluruhan nilai kapital berada dan berfungsi dalam berbagai keadaan berdampingan satu sama lain pada sesuatu waktu. Kapital uang, khususnya, menyajikan ciri-ciri tertentu yang tidak diindikasikan dalam Buku I. Hukum-hukum tertentu telah diciptakan, dan menurut itu komonenkomponen penting dari suatu kapital tertentu, bervariasi menurut kondisi-kondisi omset, harus selalu dikeluarkan di muka dan diperbarui dalam bentuk kapital uang, untuk mempertahankan terus berfungsinya suatu ukuran tertentu kapital produktif. Namun, yang telah kita bahas dalam Bagian Satu maupun Bagian Dua selalu tidak lebih dari suatu kapital individual, gerakan suatu bagian otonom dari kapital sosial. Namun, sirkuit-sirkuit kapital-kapital individual saling-berkaitan, mereka saling mengandaikan satu-sama-lain dan saling mengondisikan satu-sama-lain, dan adalah justru karena saling-berkaitannya seperti itu mereka merupakan gerakan dari keseluruhan kapital sosial. Tepat sebagaimana, dalam kasus sirkulasi barangdagangan sederhana, keseluruhan metamorfosis dari suatu barang-dagangan saja tampil sebagai hanya satu masa di dalam deretan metamorfosis seluruh dunia barang-dagangan, ini metamorfosis dari kapital individual tampil sebagai satu masa di dalam deretan metamorfosis dari kapital sosial. Tetapi jika sirkulasi barang-dagangan sederhana sama sekali tidak harus melibatkan sirkulasi kapital karena ia dapat berlangsung baik sekali atas dasar produksi non-kapitalis sirkuit seluruh kapital sosial, seperti sudah dinyatakan, juga melibatkan suatu sirkulasi barang-dagangan yang tidak termasuk di dalam sirkuit sesuatu kapital individual, yaitu sirkulasi dari barang-dagangan yang tidak membentuk kapital.

5 Yang harus kita bahas sekarang adalah proses sirkulasi dari kapital-kapital individual sebagai komponen-komponen seluruh kapital sosial, yaitu proses sirkulasi dari seluruh kapital sosial ini. Dalam keseluruhannya, proses sirkulasi ini adalah suatu bentuk dari proses reproduksi. 2. PERANAN KAPITAL UANG KAPITAL 343 (Hal-ikhwal berikut ini, yaitu kapital uang dipandang sebagai suatu komponen dari keseluruhan kapital masyarakat, sebenarnya termasuk dalam suatu bagian kemudian dari Bagian ini. Namun begitu, kita bermaksud menyelidikinya di sini). Dalam kaitan dengan omset kapital individual, kita mengetahui bahwa kapital uang memperagakan dua aspek. Pertama, ia memberikan bentuk yang dengannya setiap kapital individual melangkah ke atas pentas dan memulai prosesnya sebagai kapital. Karena itu ia tampak sebagai penggerak utama, yang memberikan dorongan (impuls) pertama pada seluruh proses itu. Kedua, menurut beragam kepanjangan dari periode omset dan beragam rasio dari kedua komponennya periode kerja dan periode sirkulasi komponen nilai kapital yang dikeluarkan di muka yang harus dikeluarkan di muka dan diperbarui pada sesuatu waktu dalam bentuk uang berada dalam suatu rasio yang berbeda dengan kapital produktif yang digerakkannya, yaitu dengan skala produksi yang bersinambungan. Tetapi apa pun adanya rasio ini, bagian dari nilai kapital di dalam proses yang dapat berfungsi pada sesuatu waktu sebagai kapital produktif selalu dibatasi oleh bagian dari nilai kapital yang dikeluarkan di muka yang selalu harus berada berdamping-dampingan dengan kapital produktif di dalam bentuk uang. Yang terlibat di sini hanya omset normal, suatu rata-rata yang abstrak. Oleh karena itu kita mengabaikan sesuatu kapital uang tambahan yang diperlukan untuk mengatasi penundaan-penundaan dalam sirkulasi. Mengenai ikhwal yang pertama. Produksi barang-dagangan mengandaikan sirkulasi barang-dagangan, dan sirkulasi barang-dagangan mengandaikan perwakilan barang-dagangan dalam (bentuk) uang, sirkulasi moneter; duplikasi barang-dagangan menjadi barang-dagangan dan uang adalah suatu hukum mengenai munculnya produk sebagai suatu barang-dagangan. 1 Produksi barangdagangan kapitalis, di pihaknya, entah kita memandangnya secara sosial atau secara individual, secara sama mengandaikan kapital dalam bentuk uang, atau kapital uang, sebagai penggerak utama bagi setiap bisnis tatkala ia bermula pada awalnya, dan sebagai suatu kekuatan pendorong permanen. Kapital beredar, khususnya, mengandaikan terus-menerus berulangnya pemunculan, pada selangselang singkat, penggerak kapital uang. Seluruh nilai kapital yang dikeluarkan di

6 344 Karl Marx muka, yaitu semua komponen kapital yang terdiri atas barang-dagangan tenagakerja, alat-alat kerja dan bahan-bahan produksi selalu harus dibeli dengan uang dan kemudian dibeli lagi. Yang berlaku di sini bagi kapital individual, juga berlaku bagi kapital sosial, yang hanya beroperasi dalam bentuk banyak kapital individual. Tetapi, sebagaimana sudah kita tunjukkan dalam Buku I, sama sekali tidak berarti dari ini bahwa medan operasi kapital, skala produksi, bahkan atas dasar kapitalis, batas-batasnya yang mutlak ditentukan oleh volume kapital uang yang beroperasi. Unsur-unsur produksi yang dimasukkan ke dalam kapital adalah bebas dan keluasannya, di dalam batas-batas tertentu, dari besaran kapital uang yang dikeluarkan di muka. Tenaga-kerja dengan suatu tingkat pembayaran tertentu dapat lebih atau kurang ganas dieksploitasi, dalam luas dan intensitasnya, oleh pengerakan lebih besar dari jumlah tenaga-kerja yang sama, tanpa suatu peningkatan dalam kapital uang yang dikeluarkan di muka. Dengan cara ini unsur-unsur yang sebenarnya dari kapital produktif dapat ditingkatkan tanpa kebutuhan akan tambahan kapital uang. Sejauh yang tersebut terakhir itu diperlukan untuk tambahan bahan-bahan bantu, maka kapital uang yang di dalamnya nilai kapital itu dikeluarkan di muka tidak ditingkatkan dalam hubungan dengan meningkatnya efektivitas dari kapital produktif, yaitu lagi-lagi sama sekali tidak proporsional. Alat-alat kerja yang sama, yaitu kapital tetap yang sama, dapat digunakan secara lebih efisien tanpa suatu tambahan pengeluaran uang untuk kapital tetap, dengan memperpanjang penggunaan hariannya atau pun dengan meningkatkan intensitas penggunaannya. Maka hanya terdapat suatu omset yang lebih cepat, tetapi ini juga berarti bahwa unsur-unsur reproduksinya ditawarkan secara lebih cepat. Kecuali dari bahan-bahan alami, tenaga-tenaga alam yang tidak berbiaya apa pun dapat juga dimasukkan secara lebih atau kurang efektif sebagai agenagen dalam proses produksi. Tingkat keefektivan mereka bergantung pada metode-metode dan kemajuan-kemajuan ilmiah yang tidak berbiaya apa pun bagi si kapitalis. Yang sama berlaku pada perpaduan sosial tenaga-kerja di dalam proses produksi, dan pada keahlian-keahlian pekerja individual yang telah diakumulasi. Carey 2 memperhitungkan bahwa si pemilik tanah tidak pernah menerima uang sewa yang menjadi haknya, karena ia tidak dibayar untuk semua kapital dan kerja yang telah diinvestasikan dalam tanah sejak jaman dahulu-kala untuk memberikannya kapasitas produktifnya yang sekarang. (Sudah tentu tiada disebutkan kapasitas produktif yang telah diambil dari tanah itu.) Menurut konsepsi ini, pekerja individual harus dibayar menurut pekerjaan yang menjadi biaya seluruh

7 KAPITAL 345 bangsa manusia untuk mengembangkan dirinya dari seorang biadab menjadi seorang insinyur modern. Yang sesungguhnya terjadi adalah justru yang sebaliknya. Jika semua kerja yang tidak dibayar yang diinvestasikan pada tanah demi untuk keuntungan para pemilik tanah dan kaum kapitalis itu dijumlahkan, maka kapital yang terkandung di dalam tanah telah dibayar kembali berulang kali dalam suatu tingkat bunga pemerasan, sehingga kepemilikan tanah telah lama ditebus kembali oleh masyarakat, dan ditebus berulang kali pula. Peningkatan dalam tenaga-tenaga produktif kerja, sejauh ini tidak bersandar pada sesuatu tambahan pengeluaran nilai kapital pertama sekali hanya meningkatkan kuantitas produk, dan tidak nilai mereka, kecuali hingga batas bahwa ia memungkinkan lebih banyak kapital konstan direproduksi, dan nilainya dengan demikian dipertahankan, dengan jumlah kerja yang sama. Namun, ia juga merupakan bahan tambahan bagi kapital, dan dengan demikian memberikan dasar bagi suatu peningkatan akumulasi kapital. Sama banyaknya seperti pengorganisasian kerja masyarakat, dan karena itu peningkatan produktivitas kerja masyarakat, itu sendiri memperlukan produksi pada suatu skala besar dan karena itu pengeluaran di muka kapital uang dalam kuantitas-kuantitas besar oleh para kapitalis individual, kita sudah membuktikan dalam Buku I bagaimana hal ini sebagian terjadi sebagai suatu akibat dari sentralisasi kapital-kapital dalam sedikit tangan, tanpa sesuatu pertumbuhan mutlak dalam volume nilai-nilai kapital yang beroperasi, dan tidak pula oleh karena itu dalam volume kapital uang yang melaluinya mereka dikeluarkan di muka. Ukuran kapital-kapital individual itu dapat berkembang melalui pemusatan dalam beberapa tangan, tanpa sesuatu pertumbuhan dalam jumlah sosialnya. Maka hanya terdapat suatu redistribusi kapital-kapital individual. Akhirnya, telah dibuktikan dalam Bagian sebelumnya bagaimana suatu pengurangan dalam periode omset memungkinkan kapital produktif yang sama digerakkan dengan lebih sedikit kapital uang, atau pun kapital yang lebih produktif digerakkan dengan kapital uang yang sama. Semua ini jelas tidak mempunyai hubungan apa pun dengan masalah kapital uang tertentu itu sendiri. Ia semata-mata mengindikasikan bahwa kapital yang dikeluarkan di muka suatu jumlah nilai tertentu yang, dalam bentuknya yang bebas, bentuk nilainya, terdiri atas suatu jumlah uang tertentu yang mengandung, begitu ia telah ditransformasi menjadi kapital produktif, tenaga-tenaga produktif yang batas-batasnya tidak ditentukan oleh ikatan-ikatan nilainya sendiri, melainkan, di dalam suatu medan aksi tertentu, dapat beroperasi secara berbeda, dalam keluasan maupun intensitas. Begitu harga-harga unsur-unsur produksi (alat-alat produksi dan tenaga-kerja) telah tertentu, ukuran kapital uang yang diperlukan untuk memberi suatu kuantitas tertentu dari unsur-unsur produksi ini, yang hadir

8 346 Karl Marx sebagai barang-dagangan, adalah juga ditentukan. Dengan kata lain, nilai kapital yang harus dikeluarkan di muka telah ditentukan. Namun begitu, skala yang dengannya kapital ini beroperasi untuk membentuk nilai-nilai dan produk-produk adalah kenyal dan variabel. Mengenai ikhwal kedua.telah jelas bahwa bagian dari kerja sosial dan alat-alat produksi yang harus dikeluarkan setiap tahun untuk produksi atau memperoleh uang, untuk menggantikan mata-mata uang yang telah aus, melibatkan suatu pengurangan proporsional dalam skala produksi sosial. Tetapi karena untuk nilai uang yang sudah sebagian berfungsi sebagai alat sirkulasi dan sebagian sebagai suatu penimbunan, ini sudah diperoleh, dan berada berdamping tenaga-kerja, alat-alat produksi yang diproduksi, dan sumber-sumber kekayaan alam. Ia tidak dapat dipandang sebagai suatu pembatasan terhadapnya. Jika ia telah ditransformasi menjadi unsur-unsur produksi, atau ditukarkan dengan bangsa-bangsa lain, maka skala produksi itu dapat diperluas. Tetapi pengandaian bahwa uang itu terus memainkan, seperti sebelumnya, peranan uang dunia. 3 Sesuai dengan kepanjangan periode omset, suatu kuantitas kapital uang yang lebih banyak atau lebih sedikit diperlukan untuk menggerakkan kapital produktif itu. Kita telah juga mengetahui bagaimana pembagian periode omset ke dalam waktu kerja dan waktu sirkulasi menimbulkan suatu peningkatan dalam kapital yang laten atau yang diambangkan dalam bentuk uang. Hingga batas bahwa periode omset dikuasa oleh panjangnya periode kerja, ia ditentukan oleh sifat material dari proses produksi, dengan kondisi-kondisinya tetap sama, dan tidak oleh sifat sosial tertentu dari proses produksi ini. Namun, berdasarkan produksi kapitalis, operasi-operasi yang berdurasi lama yang diperpanjang memerlukan pengeluaran-pengeluaran kapital uang yang lebih besar untuk suatu waktu yang lebih lama. Produksi di cabang-cabang ini, oleh karena itu, bergantung pada batas kapital uang yang si kapitalis individual tersedia untuk dirinya. Batas ini ditanggulangi oleh sistem kredit dan bentuk-bentuk asosiasi yang bersangkutan dengannya, misalnya, perusahaan-perusahaan perseroan. Gangguan-gangguan dalam pasar uang, karena itu, menyebabkan bisnis-bisnis seperti itu berhenti, sedang bisnis-bisnis yang sama itu, berperan menimbulkan gangguan-gangguan di dalam pasar uang. Atas dasar produksi sosial, akan perlu untuk menentukan hingga sebatas apa dimungkinkan untuk melaksanakan operasi-operasi ini, yang menarik tenagakerja dan alat produksi untuk suatu periode yang relatif panjang tanpa menghasilkan sesuatu produk atau efek berguna selama waktu ini, tanpa merusak cabang-cabang produksi secara terus-menerus atau sejumlah kali dalam perjalanan suatu tahun, melainkan juga menawarkan kebutuhan hidup dan alatalat produksi. Dengan produksi sosial tepat sebagaimana dengan produksi

9 KAPITAL 347 kapitalis, para pekerja dalam cabang-cabang industri dengan periode-periode kerja yang singkat akan menarik produk-produk hanya untuk suatu waktu singkat tanpa memberikan pengembalian produk-produk lain sebagai gantinya, sedangkan cabang-cabang industri dengan periode-periode kerja yang lama akan terus menarik produk-produk hanya untuk suatu waktu yang lama sebelum mereka memberikan sesuatu apa pun sebagai gantinya. Keadaan ini timbul dari kondisikondisi material dari proses kerja bersangkutan, dan tidak dari bentuk sosialnya. Dengan produksi kolektif, kapital uang sepenuh-penuhnya tidak diperlukan. Masyarakat mendistribusikan tenaga-kerja dan alat-alat produksi di antara berbagai cabang industri. Tidak ada alasan mengapa para produsen tidak menerima tanda-tanda kertas yang memungikinkan mereka menarik suatu jumlah sesuai dengan waktu kerja mereka dari persediaan-persediaan konsumsi sosial. Tetapi tanda-tanda ini bukan uang; mereka tidak beredar. Kita melihat bahwa sejauh keperluan akan kapital uang timbul dari panjangnya periode kerja, hal ini dikondisikan oleh dua faktor. Pertama-tama, bahwa uang merupakan bentuk umum yang dengannya masing-masing kapital individual harus memasuki pentas (dengan mengesampingkan kredit), untuk ditransformasi menjadi kapital produktif; ini lahir dari sifat produksi kapitalis, dan pada umumnya dari produksi barang-dagangan. Kedua, ukuran dari uang yang dikeluarkan di muka yang diperlukan lahir dari keadaan bahwa tenaga-kerja dan alat-alat produksi telah ditarik dari masyarakat untuk suatu periode panjang tanpa penggantian suatu produk yang dapat ditransformasi kembali menjadi uang. Faktor yang pertama, bahwa kapital harus dikeluarkan di muka dalam bentuk uang, tidak dihapuskan dengan bentuk yang diambil oleh uang ini, entah ia itu uang metalik, uang kredit, tanda-tanda nilai dsb. Faktor kedua sama sekali tidak dipengaruhi oleh medium moneter atau pun oleh bentuk produksi yang dengannya kerja, kebutuhan hidup dan alat produksi ditarik, tanpa suatu kesetaraan dilemparkembali ke dalam sirkulasi.

10 BAB SEMBILANBELAS PENYAJIAN SUBYEK SEBELUMNYA KAUM FISIOKRAT Tableau économique Quesnay dalam beberapa garis besar menunjukkan bagaimana hasil produksi nasional setahun, yang ditentukan dalam batasanbatasan nilai, didistribusikan melalui sirkulasi sedemikian rupa sehingga, dengan keadaan-keadaan lain tetap sama, reproduksi sederhana dapat berlangsung, yaitu reproduksi pada skala yang sama. Dari sudut pandang material, selalu adalah panen tahun sebelumnya yang merupakan titik-pangkal periode produksi. Tindaktanduk sirkulasi individual yang tidak terhitung jumlahnya dengan begitu seketika dikelompokkan menjadi satu dalam gerakan sosial mereka yang karakteristik sebagai suatu sirkulasi massal antara kelas-kelas ekonomi utama masyarakat yang ditentukan oleh fungsi-fungsi mereka. Yang penting bagi kita di sini adalah bahwa satu bagian dari produk total yang sebagai suatu obyek kegunaan, tepat seperti suatu bagian lain, adalah hasil baru dari pekerjaan tahun lalu adalah juga suatu pembawa dari nilai kapital lama yang muncul kembali di dalam bentuk alami yang sama. Ia tidak beredar, tetapi lebih tepatnya tetap dalam tangan para produsennya, kelas dari kaum pengusaha pertanian, untuk memulai kembali fungsinya di sana sebagai kapital. Quesney sesungguhnya memasukkan ke dalam kapital konstan ini bagian dari produk setahun, unsur-unsur yang tidak termasuk di sana, tetapi ia berusaha mengatasi persoalan terpenting, justru berkat kesempitan kaki-langit mentalnya, di mana agrikultur adalah satu-satunya lingkungan penerapan kerja manusia yang memproduksi nilai-lebih dan oleh karena itu satu-satrunya yang sungguh-sungguh produktif dari sudut-pandang kapitalis. Proses reproduksi ekonomi, apa pun adanya sifat sosial tertentunya, di dalam wilayah ini (agrikultur) selalu saling-berjalin dengan suatu proses reproduksi alami. Kondisi-kondisi yang kelihatannya selalu tersedia dari yang tersebut belakangan menerangi yang tersebut terdahulu, dan menjauhkan kekacauankekacauan yang hanya diintroduksikan oleh ilusi-ilusi sirkulasi. Label suatu sistem gagasan-gagasan dibedakan dari label barang-barang lain, di antara lain, oleh kenyataan bahwa ia tidak hanya membohongi si pembeli, tetap sering pula si penjual. Quesnay sendiri, dan murid-murid terdekatnya, mempercayai papan-nama feodal mereka. Para pemuka-keakademian 348

11 KAPITAL 349 melakukan hal yang sama hingga dewasa ini. Namun, sesungguhnya, sistem Fisiokrat adalah konsepsi sistematik pertama dari produksi kapitalis. Para wakil kapital industri 4 kelas kaum pengusaha pertanian memimpin seluruh gerakan ekonomi. Agrikultur dijalankan atas dasar kapitalis, yaitu sebagai usaha skalabesar si pengusaha pertanian kapitalis; penggarap tanah langsung adalah kaum pekerja-upahan. Produksi tidak hanya memproduksi barang-barang kegunaan, melainkan juga nilai nilai mereka; daya pendorongnya adalah memperoleh nilailebih, dan tempat-lahirnya nilai-lebih adalah lingkungan produksi itu, bukan lingkungan sirkulasi. 5 Dalam ketiga kelas yang tampil sebagai pembawa proses reproduksi sosial, yang dimediasi oleh sirkulasi, pengeksploitasi langsung dari kerja produktif, yaitu produsen nilai-lebih, pengusaha pertanian kapitalis dibedakan dari yang sekedar perampas nilai-lebih ini. 6 Sifat kapitalis dari sistem Fisiokrat sudah memancing perlawanan selama masa jayanya, di satu pihak dari Linguet dan Mably, 7 di lain pihak dari para pembela pemilikan tanah skala-kecil yang merdeka. * Kemunduran 8 dalam analisis Adam Smith tentang proses reproduksi semakin menyolok, yaitu bahwa ia tidak hanya mengelaborasi analisis Quesnay yang tepat, misalnya dengan menjabarkan avances primitives dan avances annuelles Quesnay menjadi kapital tetap dan kapital beredar, 9 tetapi di berbagai tempat sepenuhnya jatuh kembali ke dalam kesalahan-kesalahan kaum Fisiokrat. Untuk menunjukkan, misalnya, bahwa si pengusaha pertanian memproduksi nilai lebih besar dari sesuatu jenis kapitalis lainnya, ia mengatakan: Tiada kapital setara menggerakkan suatu kuantitas kerja produktif yang lebih besar dari dari si pengusaha pertanian. [Sebuah pujian yang memikat hati bagi para pelayan yang bekerja!] Dalam agrikultur juga, alam bekerja bersama dengan manusia; dan sekali pun kerjanya tiada berbiaya apa pun, produknya mempunyai nilainya, yang sebaik kaum pekerja yang paling mahal. Operasi-operasi agrikultur yang paling penting tampaknya tidak dimaksudkan untuk lebih meningkat, sekali pun itu yang juga telah terjadi, dari mengarahkan kesuburan alam ke arah produksi tanamantanaman yang paling menguntungkan manusia. Ladang yang ditumbuhi semak-semak berduri (blackberry/mawar) seringkali dapat menghasilkan suatu kuantitas besar sayur-mayur seperti kebun-anggur atau ladang jagung yang dibudidayakan paling baik. Penanaman dan penggarapan seringkali mengatur lebih banyak dari menghidupakan kesuburan alam yang aktif; dan setelah semua kerja mereka, sebagian besar dari pekerjaan itu selalu harus dilakukan olehnya. Kaum pekerja dan ternak yang bekerja (!), oleh karena itu, yang dipekerjakan dalam agrikultur, tidak

12 350 Karl Marx hanya menyebabkan, seperti para pekerja dalam manufaktur, reproduksi dari suatu nilai yang setara dengan konsumsi mereka sendiri, atau dengan kapital yang mempekerjakan mereka, bersama dengan laba para pemiliknya; tetapi dari suatu nilai yang jauh lebih besar. Melampaui dan di atas kapital si pengusaha pertanian dan semua labanya, mereka secara teratur menyebabkan reproduksi sewa si tuan-tanah. Sewa tanah ini dapat dipandang sebagai produk dari tenagatenaga alam itu, yang penggunaannya si tuan-tanah pijamkan kepada si pengusaha pertanian. Ia lebih besar atau lebih kecil menurut kesuburan tanah yang dianggap alami atau diperbaiki. Yang tertinggal adalah pekerjaan alam setelah dikurangi atau dikompensasinya segala sesuatu yang dapat dipandang sebagai pekerjaan manusia. Ia jarang kurang dari seperempatnya, dan seringkali lebih dari sepertiga dari seluruh produk itu. Tiada kesetaraan kuantitas kerja produktif yang dipekerjakan dalam manufaktur yang pernah dapat menghasilkan suatu reproduksi sebesar itu. Di dalamnya alam tidak melakukan suatu apa pun; manusia yang melakukan segala-galanya; dan reproduksi itu selalu harus dalam kesebandingan dengan kekuatan agen-agen yang menyebabkannya. Kapital yang dipekerjakan dalam agrikultur, oleh karena itu, tidak saja menggerakkan suatu kuantitas kerja produktif yang lebih besar dari suatu kapital setara yang dipekerjakan dalam manufaktur, tetapi dalam kesebandingan, juga, dengan kuantitas kerja produktif yang dipergunakannya, ia menambahkan suatu nilai yang jauh lebih besar pada produk setahun dari tanah itu dan kerja negeri itu, kepada kekayaan dan pemasukan nyata dari para penghuninya. (Buku Dua, Bab V, hal ). [Tekanan Marx. Di sini, seperti di atas, halaman itu merujuk pada The Wealth of Nations diberikan menurut edisi Pelican.] Adam Smith mengatakan dalam Buku Dua, Bab I: Seluruh nilai benih itu, sesungguhnya adalah juga suatu kapital tetap. Di sini karena itu, kapital = nilai kapital; ini berada dalam suatu bentuk tetap. Sekali pun ia mundur dan maju di antara tanah dan gudang, ia tidak pernah berganti majikan, dan karena itu tidak sesungguhnya beredar. Si pengusaha pertanian mendapatkan labanya, tidak dengan penjualannya, tetapi dengan peningkatannya (hal. 375). Kesempitan konsepsi ini terletak dalam kegagalan Smith untuk melihat apakah yang telah dilihat oleh Quesnay, yaitu munculnya-kembali nilai kapital konstan dalam suatu bentuk yang diperbarui. Gantinya itu, di sini ia hanya melihat suatu ilustrasi lebih lanjut, dan lagi pula suatu ilustrasi yang palsu, mengenai perbedaannya antara kapital tetap dan kapital beredar; karena itu ia tidak melihat suatu aspek penting dari proses reproduksi itu. Kemajuan dalam terjemahan Smith mengenai avances primitives dan avances annuelles menjadi kapital tetap dan kapital beredar terdiri atas kata kapital, karena konsep ini dijabarkan dan dibebaskan dari rujukan khususnya pada lingkungan terapan agrikultur

13 fisiokratik; kemunduran ini terdiri atas penerimaan dan pengabadian konsepkonsep tetap dan beredar sebagai perbedaan yang menentukan. 2. ADAM SMITH (a) Perspektif-perspektif Umum Smith. Dalam Buku Satu, Bab VI (hal. 153), Smith mengatakan: Dalam setiap masyarakat harga dari setiap barang-dagangan pada akhirnya memecahkan dirinya menjadi salah satu atau lainnya, atau semua dari ketiga bagian itu (upah, laba dan sewa) dan dalam setiap masyarakat yang telah diperbaiki, ketiganya itu kurang lebih masuk, sebagai bagian-bagian komponen, menjadi harga dari bagian yang jauh lebih besar dari barang-dagangan. 10 Ia selanjutnya berkata (hal. 155): Upah, laba, dan sewa, merupakan tiga sumber asli dari semua pemasukan mau pun dari semua nilai yang dapat ditukarkan [tekanan dari Marx]. Kelak akan kita selidiki secara lebih terperinci doktrin Adam Smith ini yang berkenaan dengan bagian-bagian komponen dari harga barang-dagangan dan dari semua nilai yang dapat ditukarkan. Ia selanjutnya berkata: Karena demikian halnya, telah diobservasi, berkenaan dengan setiap barang-dagangan tertentu, diambil secara sendiri-sendiri, harus demikian (juga) dengan semua barang-dagangan yang merupakan keseluruhan produk setahun dari tanah dan kerja setiap negeri, diambil secara kompleks. Seluruh harga dari nilai yang dapat ditukarkan dari produk setahun itu harus memecahkan diri menjadi tiga bagian yang sama itu, dan dijatahkan di antara berbagai penduduk negeri itu, sebagai upah kerja mereka, sebagai laba persediaan mereka, atau pun sebagai sewa tanah mereka (Buku Dua, Bab II, hal )[Tekanan dari Marx]. Setelah Adam Smith dengan demikian telah memecahkan harga dari semua barang-dagangan diambil secara tersendiri maupun seluruh harga atau pun nilai yang dapat ditukarkan... dari produk setahun dari tanah dan kerja setiap negeri menjadi tiga sumber penerimaan, bagi pekerja-upahan, kapitalis dan tuan-tanah, menjadi upah, laba dan sewa, ia harus menyelundupkan suatu unsur keempat melalui suatu proses tidak langsung, yaitu unsur kapital. Ia melakukan ini dengan pembedaannya antara pendapatkan kotor dan pendapatan bersih: Pendapatan kotor semua penghuni suatu negeri besar meliputi seluruh produksi setahun negeri dan kerja mereka; pendapatan bersih, yang tersisa bebas bagi mereka setelah dikurangi biaya pemeliharaan pertama-tama kapital tetap mereka dan, kedua, kapital beredar mereka; atau KAPITAL 351

14 352 Karl Marx yang, tanpa mengganggu kapital mereka, dapat mereka tempatkan di dalam persediaan mereka yang dicadangkan untuk konsumsi langsung, atau dikeluarkan untuk kebutuhan hidup, kemudahankemudahan, dan hiburan mereka. Kekayaan mereka yang sesungguhnya, juga, adalah sebanding, tidak dengan pendapatkan kotor mereka, melainkan dengan pendapatan bersih mereka (hal. 382) [Tekanan dari Marx]. Mengenai ini, hal-hal berikut ini harus dikemukakan: 1. Adam Smith secara sengaja hanya membahas reproduksi sederhana, tidak dengan reproduksi dalam suatu skala yang diperluas, atau dengan akumulasi; ia hanya berbicara mengenai biaya untuk memelihara kapital yang berfungsi. Pendapatan bersih adalah bagian dari produk setahun, dari seluruh masyarakat atau pun dari si kapitalis individual, yang dapat masuk ke dalam dana konsumsi, melainkan skala dari dana ini harus yang tidak mengganggu kapital. Satu bagian dari nilai produk individual maupun sosial, oleh karena itu, tidak dipecah menjadi upah-upah atau pun menjadi laba atau sewa, melainkan menjadi kapital. 2. Adam Smith lolos dari teorinya sendiri melalui suatu permainan kata-kata, perbedaan antara pendapatan kotor dan bersih. Si kapitalis individual maupun seluruh kelas kapitalis, yang disebut bangsa, menerima, sebagai gantinya kapital yang digunakan di dalam produksi, suatu produk barang-dagangan. Nilai ini yang dapat digambarkan dalam bagian-bagian proporsional produk ini sendiri di satu pihak menggantikan nilai kapital yang digunakan, dan karena itu merupakan pendapatan dan dalam arti paling harfiah pendapatan (revenu, partisip masa-lalu dari revenir [Perancis], kata kerja kembali), tetapi, patut diperhatikan, pengembalian kapital atau penghasilan kapital; di lain pihak ia merupakan komponen-komponen nilai yang dibagikan di antara berbagai penghuni negeri itu, entah sebagai upah-upah kerja mereka, laba-laba persediaan mereka, ataupun sebagai sewa tanah mereka yaitu yang diartikan dengan pemasukan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai seluruh produk itu, entah dari si kapitalis individual atau dari seluruh negeri itu, bersesuaian merupakan pendapatan untuk seseorang, tetapi di satu pihak pendapatan kapital, di pihak lain suatu pendapatan yang berbeda darinya. Demikian, yang telah disingkirkan ketika nilai barang-dagangan dianalisis menjadi bagian-bagian komponennya dimasukkan kembali melalui pintu belakang oleh mendua-artinya kata pendapatan ini. Namun hanya komponen-komponen dari nilai produk yang sudah berada di dalam produk itu yang dapat diterima. Jika kapital harus masuk sebagai pemasukan, maka kapital harus sebelumnya digunakan. Adam Smith selanjutnya berkata: Tingkat laba biasa yang paling rendah harus selalu suatu yang lebih banyak dari yang cukup untuk

15 KAPITAL 353 mengompensasi (mengganti) kerugian-kerugian yang kadangkala dapat diderita setiap penggunaan persediaan. Adalah hanya surplus ini yang merupakan laba bersih atau jelas laba. (Kapitalis mana yang memandang laba mencakup keharusan pengeluaran-pengeluaran kapital?) Yang disebut laba kotor seringkali berarti, tidak hanya surplus ini, melainkan yang ditahan untuk mengganti kerugiankerugian luar-biasa seperti itu (Buku Satu, Bab IX, hal ). Tetapi ini hanya berarti bahwa suatu bagian dari nilai-lebih, yang diperlakukan di sini sebagai bagian dari laba kotor (gross), harus membentuk suatu dana asuransi bagi produksi. Dana asuransi diciptakan oleh sebagian dari kerja lebih, yang dengan begitu secara langsung memproduksi kapital, yaitu dana yang disisihkan untuk reproduksi. Sejauh yang berkenaan dengan pengeluaran untuk pemeliharaan kapital tetap, dsb. (lihat kalimat-kalimat yang dikutip di atas), penggantian kapital tetap yang dikonsumsi oleh kapital baru sama sekali tidak merupakan suatu investasi kapital baru, melainkan hanya suatu penggantian dari nilai kapital lama dalam bentuk baru. Namun, sejauh yang bersangkutan dengan reparasi kapital tetap, yaitu suatu yang Adam Smith juga perhitungkan bersama dengan biaya pemeliharaan, biayanya merupakan bagian dari harga kapital yang dikeluarkan di muka. Jika si kapitalis menanamkan ini hanya secara berangsur-angsur dan menurut keperluan, sedangkan kapitalnya sudah berfungsi, dan dapat menginvestasikannya dari laba yang sudah dikumpulkannya, gantinya harus menginvestasikan semuanya sekaligus, hal ini sama sekali tidak mengubah sumber labanya ini. Komponen nilai yang darinya itu berasal hanya mengindikasikan bahwa kaum pekerja menghasilkan kerja lebih untuk dana reparasi itu maupun untuk dana asuransi itu. Yang sesungguhnya dijelaskan oleh Adam Smith mengenai kapital tetap adalah bahwa itu adalah bagian dari kapital industri yang dikeluarkan di muka yang ditetapkan dalam proses produksi, atau, sebagaimana dinyatakannya pada halaman 377, memungkinkan suatu pendapatan atau laba tanpa beredar atau berganti tuan, atau, menurut halaman 374, tetap berada dalam kepemilikannya, atau berlanjut dalam bentuk yang sama. 11 Adam Smith selanjutnya memberitahukan pada kita bahwa tidak saja seluruh kapital tetap harus dikeluarkan dari pendapatan bersih, yaitu dari pendapatan dalam arti khususnya, melainkan begitu juga seluruh bagian dari kapital beredar yang diperlukan untuk mjempertahankan, mereparasi dan menggantikan kapital tetap, sebenarnya semua kapital yang tidak berada dalam suatu bentuk alami yang diperuntukkan bagi dana konsumsi. Seluruh biaya untuk mempertahankan kapital tetap harus betul-betul dikecualikan dari pendapatan bersih masyarakat. Bahan-bahan yang diperlukan untuk mendukung mesin-mesin dan perkakas-

16 354 Karl Marx perkakas usaha mereka yang berguna, gedung-gedung mereka yang menguntungkan, dsb;. maupun produk dari kerja yang diperlukan untuk membentuk bahan-bahan itu ke dalam bentuk yang selayaknya, tidak akan pernah menjadi sesuatu bagian darinya. Harga kerja itu memang dapat menjadi suatu bagian darinya; karena para pekerja yang dipekerjakan untuk itu dapat menempatkan seluruh nilai upah-upah mereka dalam persediaan mereka yang dicadangkan untuk konsumsi langsung. Tetapi setimpal-jenis lain kerja, harga (yaitu upah yang dibayar untuk kerja ini) dan produk itu (yang di dalamnya kerja ini diwujudkan) pergi ke persediaan ini, pada harga dari para pekerja itu, produk yang dari orang-orang lain, yang kebutuhan hidupnya, kenyamanannya, dan kesenangannya, diperbesar oleh kerja para pekerja itu (Buku Dua, Bab II, hal ) [Tekanan Marx]. Di sini Adam smith tersandung pada suatu perbedaan yang sangat penting, antara kaum pekerja yang terlibat di dalam produksi alat-alat produksi, dan yang terlibat dalam produksi langsung alat-alat konsumsi. Produk barangdagangan dari yang tersebut terdahulu mengandung, di dalam nilainya, suatu komponen yang setara dengan jumlah upah-upah yang dibayarkan, yaitu dengan bagian kapital yang dikeluarkan untuk pembelian tenaga-kerja; bagian nilai ini berada secara material sebagai suatu bagian integral dari alat-alat produksi yang diproduksi oleh para pekerja ini. Uang yang mereka terima sebagai upah-upah merupakan pendapatan bagi mereka, dan namun begitu kerja mereka tidak memproduksi produk-produk yang dapat dikonsumsi, bagi diri mereka sendiri maupun bagi pihak-pihak lain. Oleh karena itu, produk-produk ini sendiri tidak merupakan sesuatu unsur dari bagian produk setahun yang dirancang untuk menawarkan dana konsumsi masyarakat, yang dengannya saja pendapatan bersih dapat direalisasikan. Adam Smith lupa menambahkan bahwa yang berlaku di sini untuk upah-upah secara sama berlaku bagi komponen nilai dari alat-alat produksi yang merupakan pendapatan dari para kapitalis industri (pertama sekali), sebagai nilai-lebih di bawah judul-judul laba dan sewa. Komponen nilai ini juga berada di dalam alat-alat produksi, yang tidak dapat dikonsumsi; hanya sesudah ia telah diubah menjadi uang baru ia dapat menarik sejumlah tertentu alat-alat konsumsi yang diproduksi oleh tipe pekerja kedua, sesuai dengan harganya sendiri, dan memindahkan ini ke dalam dana konsumsi individual dari para pemiliknya. Seharusnya lebih diketahui oleh Adam Smith bahwa bagian dari alat-alat produksi yang diproduksi setahunnya dalam nilai menyamai alat-alat produksi yang berfungsi di dalam lingkungan produksi ini alat-alat produksi yang dengannya alat-alat produksi itu dibuat dan oleh karena itu suatu bagian yang setara dalam nilai dengan kapital konstan yang digunakan di sini dikecualikan secara mutlak, tidak hanya oleh bentuk alami yang dengannya ia berada, melainkan juga oleh

17 fungsi kapitalnya, karena sebagai suatu komponen nilai yang merupakan pendapatan. Dalam hubungan dengan tipe pekerja kedua yang secara langsung memproduksi alat-alat konsumsi dalil-dalil Adam Smith tidak sepenuhnya cermat. Ia secara khusus mengatakan bahwa, dalam tipe-tipe kerja ini, harga kerja maupun produk masuk pada dana konsumsi langsung: harga [yaitu uang yang diterima sebagai upah-upah] masuk pada yang dari para pekerja itu, produk pada yang dari pihak-pihak lain, yang hidupnya, kenyamanannya, dan kesenangannya, diperbesar oleh kerja para pekerja itu. Tetapi si pekerja tidak dapat hidup dari harga kerjanya, uang yang dengannya upah-upahnya dibayar; ia merealisasikan uangnya dengan menggunakannya untuk membeli kebutuhan konsumsi, dan ini dapat terdiri sebagian atas tipe-tipe barang-dagangan yang si pekerja sendiri telah memproduksinya. Namun begitu, produknya sendiri mungkin sebuah barang-dagangan yang hanya dikonsumsi oleh para penghisap kerja. Setelah Adam Smith dengan demikian sepenuhnya mengecualikan kapital tetap dari pendapatan bersih sebuah negeri, ia melanjutkan: Namun sekali pun seluruh biaya mempertahankan kapital tetap dengan demikian harus dikecualikan dari pendapatan bersih masarakat, tidak merupakan hal yang sama dengan biaya mempertahankan kapital yang beredar. Dari empat bagian kapital tersebut uang, persediaan, bahan, dan kerja jadi yang tiga tersebut terakhir, sudah diketahui, secara teratur ditarik darinya, dan ditempatkan di dalam kapital tetap dari masyarakat, ataupun di dalam persediaan yang dicadangkan untuk konsumsi langsung. Bagian yang manapun dari barang-barang yang dapat dikonsumsi itu tidak digunakan untuk mempertahankan yang tersebut terdahulu, (kapital tetap) kesemuanya pergi pada yang tersebut belakangan, (pada persdiaan yang dicadangkan untuk konsumsi langsung) dan menjadi sebagian dari pendapatkan bersih dari masyarakat. Pemeliharaan ketiga bagian dari kapital beredar itu, oleh karena itu, tidak menarik bagian dari produk setahun dari pendapatan bersih masyarakat, di samping yang diperlukan untuk mempertahankan kapital tetap (Buku Dua, Basb II, hal. 384). Semua ini semata-mata suatu tautologi bahwa bagian dari kapital beredar yang tidak berguna bagi produksi alat-alat produksi masuk ke dalam produksi alat-alat konsumsi, yaitu menjadi bagian dari produk setahun yang diperuntukkan guna membentuk dana konsumsi masyarakat. Tetapi yang penting adalah kalimat yang segera menyusul: Kapital beredar dari sebuah masyarakat dalam hal ini berbeda dari yang dari seorang individu. Dari seorang individu secara total tidak termasuk dalam sesuatu bagian dari pendapatan bersihnya, KAPITAL 355

18 356 Karl Marx yang harus sudah tercakup di dalam labanya. Tetapi, sekali pun kapital beredar setiap individu menjadi satu bagian (kapital beredar) dari masyarakat yang ke dalamnya dirinya termasuk, bukan karena itu ia secara total dikecualikan untuk juga menjadi sebagian dari pendapatan bersih mereka. Sekali pun seluruh barang dalam toko seorang saudagar sama sekali tidak harus ditempatkan dalam persediaannya sendiri yang dicadangkan untuk konsumsi langsung, barang-barang itu dapat (ditempatkan) dalam toko orang-orang lain yang, dari suatu pendapatan yang berasal dari dana-dana lain, dapat secara teratur menggantikan nilai mereka pada dirinya, bersama dengan labanya, tanpa menimbulkan suatu pengurangan dari kapitalnya atau pun kapital mereka (ibid.). Maka di sini kita mengetahui: 1. Tepat sebagaimana kapital tetap, dan kapital beredar yang diperlukan bagi reproduksi dan pemeliharaannya (ia melupakan berfungsinya), sehingga setiap kapitalis individual yang terlibat di dalam produksi alat-alat konsumsi juga sepenuhnya dikecualikan dari pendapatan bersih-nya, yang hanya dapat terdiri atas labanya. Bagian dari produk barang-dagangannya yang menggantikan kapitalnya oleh karena itu tidak dapat dipecahkan menjadi komponen-komponen nilai yang merupakan pendapatan bagi dirinya. 2. Kapital beredar dari masing-masing kapitalis individual merupakan bagian dari kapital beredar masyarakat, tepat sebagaimana dengan setiap kapital tetap individual. 3. Kapital beredar masyarakat, sekali pun ia hana merupakan jumlah dari kapital-kapital beredar individual, memiliki suatu watak yang berbeda dari kapital beredar seorang kapitalis individual. Yang tersebut terakhir itu tidak pernah merupakan suatu bagian dari pendapatannya; berbeda dengan ini, suatu seksi dari yang tersebut terdahulu (yaitu yang terdiri atas alat-alat konsumsi) dapat secara serentak merupakan bagian dari pendapatan masyarakat, atau dengan kata lain, seperti yang dikatakannya semula, pendapatan bersih dari masyarakat tidak harus dikurangi oleh bagian produk setahun ini. Dalam kenyataan sesungguhnya, yang di sini disebut Adam Smith kapital beredar adalah kapital barang-dagangan yang diproduksi setahun yang dilemparkan oleh kaum kapitalis yang memproduksi alat-alat konsumsi setahunnya ke dalam sirkulasi. Ini, seluruh produk barang-dagangan mereka setahun, terdiri atas barang-barang yang dapat dikonsumsi, dan oleh karena itu merupakan dana yang di dalamnya pendapatanpendapatan bersih masyarakat (termasuk upah-upah) direalisasikan atau yang untuknya pendapatan-pendapatan itu dikeluarkan. Gantinya memilih barangbarang di dalam toko eceran sebagai contohnya, Adam Smith harusnya memilih persediaan yang ditumpuk dalam gudang-gudang para kapitalis industri. Seandainya Adam Smith sekarang, dalam mendiskusikan apa yang ia namakan

19 KAPITAL 357 kapital sirkulasi, mengepaskan gagasan-gagasan fragmentasi yang semula berkesan pada dirinya sementara ia sedang merenungkan reproduksi dari yang ia sebut kapital tetap, maka ia seharusnya sampai pada hasil berikut ini: 1. Produk sosial setahun terdiri atas dua departemen; yang pertama terdiri atas alat-alat produksi, yang kedua atas alat-alat konsumsi; keduanya harus dibahas secara terpisah. 2. Nilai total dari bagian produk setahun yang terdiri atas alat-alat produksi terbagi sebagai berikut. Satu bagian adalah semata-mata nilai dari alat-alat produksi yang dikonsumsi dalam penciptaan alat-alat produksi ini, dan karena itu hanya nilai kapital yang muncul kembali di dalam suatu bentuk baru; suatu bagian kedua adalah setara dengan nilai kapital yang dikeluarkan untuk tenaga-kerja, atau jumlah dari upah-upah yang dibayar oleh kaum kapitalis dalam bidang produksi ini. Suatu bagian ketiga dari nilai, pada akhirnya, merupakan sumber laba untuk para kapitalis industri dalam kategori ini, termasuk sewa tanah. Bagian pertama ini, menurut Adam Smith komponen kapital tetap yang direproduksi dari semua kapital individual yang terlibat dalam departemen ini, adalah sama sekali tidak merupakan sesuatu bagian dari penghasilan bersih, dari kapitalis individual ataupun dari masyarakat. Ia selalu berfungsi sebagai kapital, dan tidak pernah sebagai penghasilan. Dalam hubungan ini kapital tetap dari setiap kapitalis individual sama sekali tidak berbeda dari kapital tetap dari masyarakat. Namun begitu, komponen-komponen nilai lain dari hasil alat-alat produksi masyarakat setahun komponen-komponen nilai yang oleh karena itu juga ada sebagai bagian-bagian integral dari keseluruhan massa alat-alat produksi ini memang pada waktu bersamaan merupakan pendapatan bagi semua agen yang terlibat di dalam produksi ini, yaitu upah untuk para pekerja, laba dan sewa bagi kaum kapitalis. Namun, bagi masyarakat mereka tidak merupakan pendapatan, melainkan kapital, sekali pun produksi setahun masyarakat hanya terdiri atas jumlah produk dari para anggota kapitalis individualnya. Bagian besar dari produk di dalam departemen pertama karena sifatnya sendiri dapat berfungsi hanya sebagai alat-alat produksi, dan bahkan yang dapat berfungsi sebagai alatalat konsumsi, jika perlu, dirancang untuk bergfungsi sebagai bahan mentah atau bahan bantuan bagi produksi baru. [Komponen-komponen nilai pembentukpendapatan dari departemen pertama] berfungsi sebagai alat-alat produksi, dan karena itu sebagai kapital, namun tidak di dalam tangan para produsen mereka, melainkan lebih dalam tangan para pengguna mereka, yang adalah: 3. Kaum kapitalis dalam departemen kedua, para produsen langsung dari alat-alat konsumsi. Mereka menggantikan kapital para kapitalis dalam departemen pertama yang dipakai dalam produksi alat-alat konsumsi (kecuali sejauh kapital ini diubah menjadi tenaga-kerja, dan mewakili jumlah dari upah-

20 358 Karl Marx upah kaum pekerja di dalam departemen kedua ini), sedangkan kapital yang dihabiskan ini, yang kini berada di dalam tangan kaum kapitalis yang memproduksinya di dalam bentuk alat-alat konsumsi, merupakan bagi bagiannya yaitu, dari sudut-pandang masyarakast dana konsumsi yang di dalamnya para kapitalis dan para pekerja dalam departemen pertama merealisasikan pendapatan mereka. Jika Adam Smith telah melakukan analisisnya hingga sejauh ini, maka hanya tinggal sedikit saja yang diperlukan bagi pemecahan seluruh masalah itu. Ia hampir tepat mengenai permasalahannya, karena ia sudah mencatat bahwa bagian-bagian tertentu dari nilai dari satu jenis khusus (alat produksi) dari kapital barang-dagangan yang di dalamnya produk total setahun dari masyarakat itu berada, sekali pun mereka merupakan pendapatan bagi para pekerja dan kapitalis individual yang terlibat di dalam produksinya, bukan suatu komponen dari pendapatan masyarakat; sedangkan suatu komponen nilai dari jenis produk lain (alat konsumsi), sekali pun ia merupakan nilai kapital bagi para pemilik individualnya, kaum kapitalis yang terlibat di dalam bidang investasi ini, betapa pun hanya suatu bagian dari pendapatan masyarakat. Ini sudah jelas dari penelitian sejauh ini: Pertama-tama, sekali pun kapital masyarakat hanya jumlah dari kapital-kapital individual, dan karena itu produk barang-dagangan setahun (atau kapital barangdagangan) dari masyarakat adalah setara dengan jumlah produk-produk barangdagangan dari kapital-kapital individual ini; dan sekali pun, oleh karena itu, analisis yang sama mengenai nilai barang-dagangan ke dalam komponen-komponennya yang berlaku bagi setiap kapital barang-dagangan individual harus juga berlaku bagi masyarakat sebagai suatu keseluruhan dan dalam analisis terakhir memang berlaku, namun begitu bentuk pemunculan yang diambil oleh komponen-komponen ini di dalam proses menyeluruh dari reproduksi sosial adalah sesuatu yang berbeda. Kedua, bahkan atas dasar reproduksi sederhana, kita tidak hanya mendapatkan bahwa produksi upah-upah (kapital variabel) dan nilai-lebih, tetapi juga produksi langsung dari nilai kapital konstan baru; ini benar sekali pun hari kerja terdiri atas hanya dua bagian, satu di mana si pekerja menggantikan kapital variabel, dan yang lainnya di mana si pekerja memproduksi nilai-lebih (laba, sewa, dsb.). Dengan kata lain, kerja harian yang dikeluarkan dalam mereproduksi alat produksi yang nilainya dibagi menjadi upah-upah dan nilai-lebih direalisasikan dalam alat produksi baru yang juga menggantikan komponen kapital konstan yang dikeluarkan di dalam produksi alat konsumsi. Kesulitan-kesulitan utama tidak timbul di dalam perlakukan akumulasi, tetapi sudah di dalam perlakukan reproduksi sederhana, sekali pun bagian yang lebih

K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA

K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA 1 K-88 Lembaga Pelayanan Penempatan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi

Lebih terperinci

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA 1 K 29 - Kerja Paksa atau Wajib Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki

Lebih terperinci

K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA

K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA 1 K 100 - Upah yang Setara bagi Pekerja Laki-laki dan Perempuan untuk Pekerjaan yang Sama Nilainya 2 Pengantar

Lebih terperinci

Penjelasan atas UU Nomor 11 Tahun 1992 P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN

Penjelasan atas UU Nomor 11 Tahun 1992 P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN U M U M Dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional yang pada hakekatnya merupakan pembangunan manusia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1951 TENTANG PENIMBUNAN BARANG-BARANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1951 TENTANG PENIMBUNAN BARANG-BARANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 1951 TENTANG PENIMBUNAN BARANG-BARANG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Pemerintah berhubung dengan keadaan dalam dan luar negeri

Lebih terperinci

LAPORAN KEUANGAN. Pengertian Laporan Keuangan

LAPORAN KEUANGAN. Pengertian Laporan Keuangan BAB 3 LAPORAN KEUANGAN Tujuan Pengajaran: Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan mampu : 1. Menjelaskan pengertian laporan keuangan 2. Membedakan dan menggolongkan jenis aktiva dan pasiva 3.

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1996 TENTANG PEMILIKAN RUMAH TEMPAT TINGGAL ATAU HUNIAN OLEH ORANG ASING YANG BERKEDUDUKAN DI INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

BAB II HARGA POKOK PRODUKSI

BAB II HARGA POKOK PRODUKSI BAB II HARGA POKOK PRODUKSI Bab ini berisi teori yang akan digunakan sebagai dasar melakukan analisis data. Mencakup pengertian dan penggolongan biaya serta teori yang berkaitan dengan penentuan harga

Lebih terperinci

K120 HYGIENE DALAM PERNIAGAAN DAN KANTOR-KANTOR

K120 HYGIENE DALAM PERNIAGAAN DAN KANTOR-KANTOR K120 HYGIENE DALAM PERNIAGAAN DAN KANTOR-KANTOR 1 K-120 Hygiene dalam Perniagaan dan Kantor-Kantor 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan

Lebih terperinci

LAMPIRAN KHUSUS SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN

LAMPIRAN KHUSUS SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN DAFTAR PENYUSUTAN DAN AMORTISASI FISKAL 1A BULAN / HARGA NILAI SISA BUKU FISKAL METODE PENYUSUTAN / AMORTISASI KELOMPOK / JENIS HARTA TAHUN PEROLEHAN AWAL TAHUN PENYUSUTAN / AMORTISASI FISKAL TAHUN INI

Lebih terperinci

BAB 2 FASE DEFINISI Memahami Masalah User

BAB 2 FASE DEFINISI Memahami Masalah User BAB 2 FASE DEFINISI Memahami Masalah User 2.1. PENDAHULUAN Tujuan dari fase definisi adalah untuk memahami dengan baik masalah-masalah yang dihadapi oleh user dalam memperkirakan biaya dan waktu penyelesaian

Lebih terperinci

LAMPIRAN: Keputusan Ketua BAPEPAM Nomor : Kep- 26/PM/2003 Tanggal : 17 Juli 2003 - 1 -

LAMPIRAN: Keputusan Ketua BAPEPAM Nomor : Kep- 26/PM/2003 Tanggal : 17 Juli 2003 - 1 - - 1 - PERATURAN NOMOR IX.D.1: HAK MEMESAN EFEK TERLEBIH DAHULU 1. Definisi: a. Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu adalah hak yang melekat pada saham yang memungkinkan para pemegang saham yang ada untuk membeli

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai badan

Lebih terperinci

K27 PEMBERIAN TANDA BERAT PADA BARANG-BARANG BESAR YANG DIANGKUT DENGAN KAPAL

K27 PEMBERIAN TANDA BERAT PADA BARANG-BARANG BESAR YANG DIANGKUT DENGAN KAPAL K27 PEMBERIAN TANDA BERAT PADA BARANG-BARANG BESAR YANG DIANGKUT DENGAN KAPAL 1 K-27 Mengenai Pemberian Tanda Berat pada Barang-Barang Besar yang Diangkut dengan Kapal 2 Pengantar Organisasi Perburuhan

Lebih terperinci

BAB 1 AKUNTANSI DAN OPERASI BISNIS. A. Pengertian dan Tujuan Akuntansi

BAB 1 AKUNTANSI DAN OPERASI BISNIS. A. Pengertian dan Tujuan Akuntansi BAB 1 AKUNTANSI DAN OPERASI BISNIS Peranan akuntansi sebagai alat bantu dalam pengambilan keputusan ekonomi dan keuangan semakin disadari oleh semua pihak yang berkepentingan. Bahkan organisasi pemerintah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UU R.I No.8/1995 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1995 TENTANG PASAR MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa tujuan pembangunan nasional

Lebih terperinci

STANDAR PENETAPAN HARGA INDONESIA Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1977 tanggal 26 April 1977 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

STANDAR PENETAPAN HARGA INDONESIA Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1977 tanggal 26 April 1977 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, STANDAR PENETAPAN HARGA INDONESIA Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1977 tanggal 26 April 1977 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pengaturan standar penetapan harga guna perhitungan bea

Lebih terperinci

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankan program

Lebih terperinci

Proses ProdUKsI KAPITALIs secara MenyeLUrUh

Proses ProdUKsI KAPITALIs secara MenyeLUrUh KAPITAL BUKU III Proses ProdUKsI KAPITALIs secara MenyeLUrUh Terjemahan Kapital Buku III ini kupersembahkan untuk mengenang dan sebagai terima-kasihku pada: Eng Ming Ching dan Koo Thian Po yang menjadi

Lebih terperinci

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK DIREKTORAT PENYULUHAN PELAYANAN DAN HUBUNGAN MASYARAKAT KATA PENGANTAR DAFTAR ISI Assalamualaikum

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan upaya

Lebih terperinci

PERSANDINGAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN

PERSANDINGAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN PERSANDINGAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PAJAK PENGHASILAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK DIREKTORAT PENYULUHAN PELAYANAN DAN HUMAS 2011 KATA PENGANTAR DAFTAR

Lebih terperinci

JURUS-JURUS KAPITALISME MENGUASAI DUNIA

JURUS-JURUS KAPITALISME MENGUASAI DUNIA JURUS-JURUS KAPITALISME MENGUASAI DUNIA JURUS-1 Sistem ekonomi kapitalisme telah mengajarkan pertumbuhan ekonomi hanya akan terwujud jika semua pelaku ekonomi terfokus pada akumulasi kapital. = Mereka

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH DARI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Dalam mengembangkan sebuah program untuk mencapai pasar yang diinginkan,

TINJAUAN PUSTAKA. Dalam mengembangkan sebuah program untuk mencapai pasar yang diinginkan, II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Produk 2.1.1. Pengertian Produk Dalam mengembangkan sebuah program untuk mencapai pasar yang diinginkan, sebuah perusahaan harus memulai dengan produk atau jasa yang dirancang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1996 TENTANG HAK TANGGUNGAN ATAS TANAH BESERTA BENDA-BENDA YANG BERKAITAN DENGAN TANAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1996 TENTANG HAK TANGGUNGAN ATAS TANAH BESERTA BENDA-BENDA YANG BERKAITAN DENGAN TANAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1996 TENTANG HAK TANGGUNGAN ATAS TANAH BESERTA BENDA-BENDA YANG BERKAITAN DENGAN TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang

Lebih terperinci

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep II. LANDASAN TEORI 2.1 Arti dan Pentingnya Pemasaran Pemasaran merupakan faktor penting untuk mencapai sukses bagi perusahaan akan mengetahui adanya cara dan falsafah yang terlibat didalamnya. Cara dan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar. dimensi produksi dan dimensi konsumsi. Dimensi produksi memandang keadaan sehat sebagai

Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar. dimensi produksi dan dimensi konsumsi. Dimensi produksi memandang keadaan sehat sebagai Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar Sehat merupakan kondisi optimal fisik, mental dan sosial seseorang sehingga dapat memiliki produktivitas, bukan hanya terbebas dari bibit penyakit. Kondisi sehat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1968 TENTANG PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI

UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1968 TENTANG PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1968 TENTANG PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI DENGAN RACHMAT TUHAN JANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa didalam penyelenggaraan pembangunan ekonomi nasional

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

SINTESIS FUNGSI-FUNGSI BISNIS

SINTESIS FUNGSI-FUNGSI BISNIS 1 SINTESIS FUNGSI-FUNGSI BISNIS PENILAIAN SUATU BISNIS Mengingat nilai suatu proyek ditentukan dengan mengestimasi present value perkiraan arus kasnya di masa mendatang. Sebuah perusahaan yang menilai

Lebih terperinci

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Badan Usaha Milik Negara merupakan

Lebih terperinci

KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI)

KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) tertanggal 16 Desember 1966, dan terbuka untuk penandatangan, ratifikasi, dan aksesi MUKADIMAH

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 56 TAHUN 1960 TENTANG PENETAPAN LUAS TANAH PERTANIAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 56 TAHUN 1960 TENTANG PENETAPAN LUAS TANAH PERTANIAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 56 TAHUN 1960 TENTANG PENETAPAN LUAS TANAH PERTANIAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa perlu ditetapkan luas maksimum dan minimum tanah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa perekonomian nasional yang diselenggarakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG [LN 2007/58, TLN 4720 ]

UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG [LN 2007/58, TLN 4720 ] UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG [LN 2007/58, TLN 4720 ] BAB II TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG Pasal 2 (1) Setiap orang yang melakukan perekrutan,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1191/MENKES/PER/VIII/2010 TENTANG PENYALURAN ALAT KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1191/MENKES/PER/VIII/2010 TENTANG PENYALURAN ALAT KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1191/MENKES/PER/VIII/2010 TENTANG PENYALURAN ALAT KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit

Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit esaunggul.ac.id http://www.esaunggul.ac.id/article/merancang-strategi-komunikasi-memenangkan-pemilih-dan-kelompok/ Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit Dr. Erman Anom,

Lebih terperinci

K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL

K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL K144 KONSULTASI TRIPARTIT UNTUK MENINGKATKAN PELAKSANAAN STANDAR-STANDAR KETENAGAKERJAAN INTERNASIONAL 1 K-144 Konsultasi Tripartit untuk Meningkatkan Pelaksanaan Standar-Standar Ketenagakerjaan Internasional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Dalam perkembangan dunia usaha saat ini, banyak timbul persaingan bisnis

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Dalam perkembangan dunia usaha saat ini, banyak timbul persaingan bisnis BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Dalam perkembangan dunia usaha saat ini, banyak timbul persaingan bisnis yang semakin kompetitive. Perusahaan dituntut tidak sekedar menerapkan berbagai strategi

Lebih terperinci

BAB IV PEMILIKAN SATUAN RUMAH SUSUN BAGI WARGA NEGARA ASING DI INDONESIA

BAB IV PEMILIKAN SATUAN RUMAH SUSUN BAGI WARGA NEGARA ASING DI INDONESIA BAB IV PEMILIKAN SATUAN RUMAH SUSUN BAGI WARGA NEGARA ASING DI INDONESIA A. Kepastian hukum dalam pemilikan satuan rumah susun bagi warga negara asing di Indonesia Menurut Kepala Urusan Umum dan Kepegawaian

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 1999 TENTANG KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 1999 TENTANG KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 1999 TENTANG KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : Mengingat : Menetapkan :

Lebih terperinci

K122 Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja

K122 Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja K122 Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja 1 K 122 - Konvensi mengenai Kebijakan di Bidang Penyediaan Lapangan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan

Lebih terperinci

GARANSI TERBATAS (PLAYBOOK) Hak-Hak Yang Wajib Diperoleh Berdasarkan Undang-Undang. Garansi

GARANSI TERBATAS (PLAYBOOK) Hak-Hak Yang Wajib Diperoleh Berdasarkan Undang-Undang. Garansi GARANSI TERBATAS (PLAYBOOK) Hak-Hak Yang Wajib Diperoleh Berdasarkan Undang-Undang. Garansi Terbatas ini mengatur tanggung jawab Research In Motion dan grup perusahaan afiliasinya ( RIM ) tentang BlackBerry

Lebih terperinci

MODUL 10 AKUNTANSI PERUSAHAAN JASA

MODUL 10 AKUNTANSI PERUSAHAAN JASA MODUL 10 AKUNTANSI PERUSAHAAN JASA Tujuan pembelajaran: Setelah selesai mempelajari Bab ini, diharapkan : 1. Menganalisa dan mencatat transaksi yang menyangkut pembelian dan penjualan jasa.. 2. Membuat

Lebih terperinci

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 PERSEDIAAN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 PERSEDIAAN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 PERSEDIAAN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 tentang Persediaan disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal

Lebih terperinci

Undang-undang Nomor I Tahun 1970

Undang-undang Nomor I Tahun 1970 KESELAMATAN KERJA Undang-undang Nomor I Tahun 1970 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PI HAK YAN G M EM I LI KI HUBUN GAN I STI M EW A

PI HAK YAN G M EM I LI KI HUBUN GAN I STI M EW A Pihak yang Memiliki Hubungan Istimewa SA Se k si 3 3 4 PI HAK YAN G M EM I LI KI HUBUN GAN I STI M EW A Sumber: PSA No. 34 PEN DAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan tentang prosedur yang harus dipertimbangkan

Lebih terperinci

PSAK 7 PENGUNGKAPAN PIHAK-PIHAK BERELASI IAS 24 - Related Party Disclosure. Presented by: Dwi Martani

PSAK 7 PENGUNGKAPAN PIHAK-PIHAK BERELASI IAS 24 - Related Party Disclosure. Presented by: Dwi Martani PSAK 7 PENGUNGKAPAN PIHAK-PIHAK BERELASI IAS 24 - Related Party Disclosure Presented by: Dwi Martani Ruang Lingkup Identifikasi hubungan dan transaksi dengan pihak-pihak berelasi Identifikasi saldo, komitmen

Lebih terperinci

BAB 5 Aktiva Tetap Berwujud (Tangible - Assets)

BAB 5 Aktiva Tetap Berwujud (Tangible - Assets) BAB 5 Aktiva Tetap Berwujud (Tangible - Assets) Tujuan Pengajaran: Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan mampu : 1. Menjelaskan pengertian aktiva tetap berwujud 2. Menerangkan penentuan harga

Lebih terperinci

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT SA Seksi 312 RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT Sumber: PSA No. 25 PENDAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan bagi auditor dalam mempertimbangkan risiko dan materialitas pada saat perencanaan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. hukum pada hakikatnya adalah proses perwujudan ide-ide. merupakan suatu proses yang melibatkan banyak hal. 1

II. TINJAUAN PUSTAKA. hukum pada hakikatnya adalah proses perwujudan ide-ide. merupakan suatu proses yang melibatkan banyak hal. 1 17 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Penegakan Hukum Penegakan hukum merupakan suatu usaha untuk mewujudkan ide-ide keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan sosial menjadi kenyataan. Jadi penegakan hukum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang ditandai dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006

BAB I PENDAHULUAN. yang ditandai dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 13 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perubahan paradigma baru pengelolaan barang milik negara/aset negara yang ditandai dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 yang merupakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA www.legalitas.org UNDANG-UNDANG NOMOR 3 TAHUN 1997 TENTANG PENGADILAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa anak adalah bagian dari generasi muda sebagai

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG (UU) 1946 No. 18 (18/1946) UANG, KEWAJIBAN MENYIMPAN UANG. Peraturan tentang kewajiban menyimpan uang dalam bank.

UNDANG-UNDANG (UU) 1946 No. 18 (18/1946) UANG, KEWAJIBAN MENYIMPAN UANG. Peraturan tentang kewajiban menyimpan uang dalam bank. UNDANG-UNDANG (UU) 1946 No. 18 (18/1946) UANG, KEWAJIBAN MENYIMPAN UANG. Peraturan tentang kewajiban menyimpan uang dalam bank. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa sebelum uang Republik dapat

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. dibahas arti dari proses yaitu : Proses adalah suatu cara, metode maupun

BAB II LANDASAN TEORI. dibahas arti dari proses yaitu : Proses adalah suatu cara, metode maupun BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Proses Produksi Dewasa ini banyak dijumpai perusahaan yang memproduksi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan masyarakat. Untuk memproduksi barang dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG. Konsumen biasanya membeli suatu produk karena alasan. kebutuhan. Namun ada alasan atau faktor- faktor lain yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG. Konsumen biasanya membeli suatu produk karena alasan. kebutuhan. Namun ada alasan atau faktor- faktor lain yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Konsumen biasanya membeli suatu produk karena alasan kebutuhan. Namun ada alasan atau faktor- faktor lain yang turut serta mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembeliannya,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung

Lebih terperinci

LAPORAN AUDI TOR ATAS LAPORAN KEUANGAN AUDI TAN

LAPORAN AUDI TOR ATAS LAPORAN KEUANGAN AUDI TAN SA Seksi 508 LAPORAN AUDI TOR ATAS LAPORAN KEUANGAN AUDI TAN Sumber: PSA No. 29 Lihat SA Seksi 9508 untuk interpretasi Seksi ini PENDAHULUAN 01 Seksi ini berlaku untuk laporan auditor yang diterbitkan

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR MATEMATIKA EKONOMI

BAB I PENGANTAR MATEMATIKA EKONOMI BAB I PENGANTAR MATEMATIKA EKONOMI 1.1 Matematika Ekonomi Aktivitas ekonomi merupakan bagian dari kehidupan manusia ribuan tahun yang lalu. Kata economics berasal dari kata Yunani klasik yang artinya household

Lebih terperinci

KOPERASI DALAM OTONOM DAERAH

KOPERASI DALAM OTONOM DAERAH 5 KOPERASI DALAM OTONOM DAERAH 5.1. Substansi Otonom Daerah Secara subtantif otonomi daerah mengandung hal-hal desentralisasi dalam hal bidang politik, ekonomi dalam rangka kemandirian ekonomi daerah dan

Lebih terperinci

SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia)

SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia) SCHOTT Igar Glass Syarat dan Ketentuan Pembelian Barang (versi Bahasa Indonesia) Syarat dan ketentuan pembelian barang ini akan mencakup semua barang dan jasa yang disediakan oleh PT. SCHOTT IGAR GLASS

Lebih terperinci

Perjanjian BlackBerry ID

Perjanjian BlackBerry ID Perjanjian BlackBerry ID Perjanjian BlackBerry ID atau "Perjanjian" merupakan suatu perjanjian hukum antara Research In Motion Limited, atau anak perusahaannya atau afiliasinya sebagaimana tertera dalam

Lebih terperinci

Dasar-Dasar Obligasi. Pendidikan Investasi Dua Bulanan. Cara Kerja Obligasi

Dasar-Dasar Obligasi. Pendidikan Investasi Dua Bulanan. Cara Kerja Obligasi September 2010 Dasar-Dasar Pasar obligasi dikenal juga sebagai pasar surat utang dan merupakan bagian dari pasar efek yang memungkinkan pemerintah dan perusahaan meningkatkan modalnya. Sama seperti orang

Lebih terperinci

Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono

Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono washington College of education, UNESA, UM Malang dan LAPI-ITB. 1 Pebruari 8 Maret dan 8-30 April 2002 di Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono Dalam pembelajaran matematika, sistem evaluasinya

Lebih terperinci

Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia

Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia Mukadimah Menimbang bahwa pengakuan atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan mutlak dari semua anggota keluarga manusia adalah dasar kemerdekaan, keadilan

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI USAHA YANG DITERIMA ATAU DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG MEMILIKI PEREDARAN BRUTO TERTENTU DENGAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1981 TENTANG METROLOGI LEGAL [LN 1981/11, TLN 3193]

UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1981 TENTANG METROLOGI LEGAL [LN 1981/11, TLN 3193] UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1981 TENTANG METROLOGI LEGAL [LN 1981/11, TLN 3193] BAB VIII KETENTUAN PIDANA Pasal 32 (1) Barangsiapa melakukan perbuatan yang tercantum dalam Pasal 25 1, Pasal 26 2, Pasal

Lebih terperinci

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN LAMPIRAN VI PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 00 TANGGAL JUNI 00 STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN PERNYATAAN NO. 0 CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN DAFTAR ISI Paragraf PENDAHULUAN-------------------------------------------------------------------------

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan perekonomian nasional bertujuan

Lebih terperinci

Lampiran I Surat Edaran Bank Indonesia No. 15/28/DPNP tanggal 31 Juli 2013 Perihal Penilaian Kualitas Aset Bank Umum PENETAPAN KUALITAS KREDIT

Lampiran I Surat Edaran Bank Indonesia No. 15/28/DPNP tanggal 31 Juli 2013 Perihal Penilaian Kualitas Aset Bank Umum PENETAPAN KUALITAS KREDIT Lampiran I Surat Edaran Bank Indonesia No. 15/28/DPNP tanggal 31 Juli 2013 Perihal Penilaian Kualitas Aset Bank Umum PENETAPAN KUALITAS KREDIT PROSPEK USAHA Potensi pertumbuhan usaha memiliki potensi pertumbuhan

Lebih terperinci

BUPATI GRESIK PERATURAN BUPATI GRESIK NOMOR 19 TAHUN 2011 TENTANG

BUPATI GRESIK PERATURAN BUPATI GRESIK NOMOR 19 TAHUN 2011 TENTANG BUPATI GRESIK PERATURAN BUPATI GRESIK NOMOR 19 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN BATAS MINIMAL KAPITALISASI ASET TETAP DALAM SISTEM AKUNTANSI KABUPATEN GRESIK BUPATI GRESIK Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR : 790 TAHUN : 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

SALINAN KEPUTUSAN MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR KEP-236/MBU/2003 TENTANG

SALINAN KEPUTUSAN MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR KEP-236/MBU/2003 TENTANG SALINAN KEPUTUSAN NOMOR KEP-236/MBU/2003 TENTANG PROGRAM KEMITRAAN BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN USAHA KECIL DAN PROGRAM BINA LINGKUNGAN, Menimbang Mengingat : a. bahwa dalam rangka mendorong kegiatan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1951 TENTANG MENAIKKAN JUMLAH MAKSIMUM PORTO DAN BEA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1951 TENTANG MENAIKKAN JUMLAH MAKSIMUM PORTO DAN BEA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG DARURAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 1951 TENTANG MENAIKKAN JUMLAH MAKSIMUM PORTO DAN BEA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dianggap sangat perlu menaikkan porto dan bea

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.. TAHUN..

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.. TAHUN.. PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.. TAHUN.. TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983 TENTANG PAJAK PENGHASILAN I. UMUM 1. Peraturan Perundang-undangan perpajakan

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH A. Ridwan Siregar Universitas Sumatera Utara I. PENDAHULUAN Minat baca adalah keinginan atau kecenderungan hati yang tinggi (gairah) untuk membaca. Minat baca dengan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN DIREKSI PT BURSA EFEK JAKARTA NOMOR : Kep-306/BEJ/07-2004 TENTANG PERATURAN NOMOR I-E TENTANG KEWAJIBAN PENYAMPAIAN INFORMASI

KEPUTUSAN DIREKSI PT BURSA EFEK JAKARTA NOMOR : Kep-306/BEJ/07-2004 TENTANG PERATURAN NOMOR I-E TENTANG KEWAJIBAN PENYAMPAIAN INFORMASI KEPUTUSAN DIREKSI PT BURSA EFEK JAKARTA NOMOR : Kep-306/BEJ/07-2004 TENTANG PERATURAN NOMOR I-E TENTANG KEWAJIBAN PENYAMPAIAN INFORMASI Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan pelindungan terhadap

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN - 61 - BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN Dasar yuridis pengelolaan keuangan Pemerintah Kota Tasikmalaya mengacu pada batasan pengelolaan keuangan daerah yang tercantum

Lebih terperinci

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT

RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT Risiko Audit dan Materialitas dalam Pelaksanaan Audit Standar Prof SA Seksi 3 1 2 RISIKO AUDIT DAN MATERIALITAS DALAM PELAKSANAAN AUDIT Sumber: PSA No. 25 PENDAHULUAN 01 Seksi ini memberikan panduan bagi

Lebih terperinci

PENGERTIAN KALIMAT EFEKTIF

PENGERTIAN KALIMAT EFEKTIF KALIMAT EFEKTIF Pengertian Kalimat Efektif Ciri-ciri Kalimat Efektif Penggunaan Kalimat Efektif Syaratsyarat Kalimat Efektif Penerapan Kalimat Efektif PENGERTIAN KALIMAT EFEKTIF Kalimat efektif ialah kalimat

Lebih terperinci

Sistem Pertukaran Bon Di Desa Pisang. Oleh Stephen DeMeulenaere

Sistem Pertukaran Bon Di Desa Pisang. Oleh Stephen DeMeulenaere Sistem Pertukaran Bon Di Desa Pisang Oleh Stephen DeMeulenaere 1. Gambaran Umum Sistem ini berbasis sistem Bon, untuk pertukaran janji antara anggota sistem. Untuk memakai sistem ini, setiap orang harus

Lebih terperinci

Pangan untuk Indonesia

Pangan untuk Indonesia Pangan untuk Indonesia Tantangan Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya. Indikator ketahanan pangan juga menggambarkan kondisi yang cukup baik. Akan

Lebih terperinci

Kebijakan Anti Korupsi di Seluruh Dunia

Kebijakan Anti Korupsi di Seluruh Dunia Kebijakan Anti Korupsi di Seluruh Dunia I. TUJUAN Undang-undang sebagian besar negara di dunia menetapkan bahwa membayar atau menawarkan pembayaran atau bahkan menerima suap, kickback atau pun bentuk pembayaran

Lebih terperinci

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR Disampaikan pada Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SD Jenjang Lanjut Tanggal 6 s.d. 9 Agustus 200 di PPPG Matematika Oleh: Dra. Sukayati, M.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dunia bisnis semakin berkembang sesuai dengan kemajuan zaman dan teknologi. Perkembangan bisnis lem saat ini menunjukkan bahwa lem menjadi kebutuhan bagi beberapa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1981 TENTANG WAJIB LAPOR KETENAGAKERJAAN DI PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1981 TENTANG WAJIB LAPOR KETENAGAKERJAAN DI PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1981 TENTANG WAJIB LAPOR KETENAGAKERJAAN DI PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam melaksanakan

Lebih terperinci

K150 Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi

K150 Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi K150 Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi 1 K 150 - Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi 2 Pengantar Organisasi Perburuhan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

merencanakan UNTUNG MODUL PELATIHAN KEUANGAN untuk Pebisnis Kecil Mei 2007 dibuat oleh Yayasan Penabulu Bekerja sama dengan CCDE

merencanakan UNTUNG MODUL PELATIHAN KEUANGAN untuk Pebisnis Kecil Mei 2007 dibuat oleh Yayasan Penabulu Bekerja sama dengan CCDE merencanakan UNTUNG MODUL PELATIHAN KEUANGAN untuk Pebisnis Kecil Mei 2007 dibuat oleh Yayasan Penabulu Bekerja sama dengan CCDE Untung. Inilah semacam roh atau ramuan yang merangsang setiap orang mau

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. kondisi langsung belajar dalam menjelaskan tingkah laku. Menurut teori ini, semua

Bab 2. Landasan Teori. kondisi langsung belajar dalam menjelaskan tingkah laku. Menurut teori ini, semua Bab 2 Landasan Teori 2.1 Teori Behavioristik Teori ini menekankan proses belajar serta peranan lingkungan yang merupakan kondisi langsung belajar dalam menjelaskan tingkah laku. Menurut teori ini, semua

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci