Faktor Faktor yang Mempengaruhi Financial Distress pada Perusahaan Property dan Real Estate Terbuka di Bursa Efek Indonesia

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Faktor Faktor yang Mempengaruhi Financial Distress pada Perusahaan Property dan Real Estate Terbuka di Bursa Efek Indonesia"

Transkripsi

1 Repositori Institusi USU Departemen Manajemen Skripsi Sarjana 2017 Faktor Faktor yang Mempengaruhi Financial Distress pada Perusahaan Property dan Real Estate Terbuka di Bursa Efek Indonesia Rezki, Dwi Juniary Sri Downloaded from Repositori Institusi USU, Univsersitas Sumatera Utara

2 SKRIPSI FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI FINANCIAL DISTRESS PADA PERUSAHAAN PROPERTY DAN REAL ESTATE TERBUKA DI BURSA EFEK INDONESIA OLEH : DWI JUNIARY SRI REZKI PROGRAM STUDI S-1 MANAJEMEN EKSTENSI DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2017

3 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS DEPARTEMEN MANAJEMEN PENANGGUNG JAWAB SKRIPSI Nama : Dwi Juniary Sri Rezki NIM : Program Studi Konsentrasi Judul : S1- Manajemen Ekstensi : Manajemen Keuangan : Faktor Faktor yang Mempengaruhi Financial Distress pada Perusahaan Property dan Real Estate Terbuka di Bursa Efek Indonesia Medan, November 2017 Dwi Juniary Sri Rezki NIM

4 UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS DEPARTEMEN MANAJEMEN LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI Nama : Dwi Juniary Sri Rezki NIM : Program Studi Konsentrasi Judul : S1- Manajemen Ekstensi : Manajemen Keuangan : Faktor Faktor yang Mempengaruhi Financial Distress pada Perusahaan Property dan Real Estate Terbuka di Bursa Efek Indonesia Penguji I Penguji II Dra. Nisrul Irawati, MBA Dra. Lisa Marlina, M.Si NIP NIP Pembimbing Drs. Syahyunan, M.Si NIP

5 LEMBAR PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul Faktor Faktor yang Mempengaruhi Financial Distress pada Perusahaan Property dan Real Estate Terbuka di Bursa Efek Indonesia adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga, dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku. Medan, November 2017 Dwi Juniary Sri Rezki NIM

6 ABSTRAK FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI FINANCIAL DISTRESS PADA PERUSAHAAN PROPERTY DAN REAL ESTATE TERBUKA DI BURSA EFEK INDONESIA Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh likuiditas, leverage, profitabilitas dan pertumbuhan penjualan terhadap financial distress pada perusahaan property dan real estate terbuka di Bursa Efek Indonesia. Sampel yang digunakan penelitian ini adalah 28 (dua puluh delapan) perusahaan property dan real estate terbuka di Bursa Efek Indonesia. Metode analisis data yang digunakan adalah metode statistik deskriptif dan metode regresi linier berganda data panel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara serempak, current ratio, debt ratio, ROA dan pertumbuhan penjualan berpengaruh signifikan terhadap financial distress, secara parsial current ratio berpengaruh positif dan signifikan terhadap financial distress pada perusahaan property dan real estate terbuka di Bursa Efek Indonesia, dan debt ratio berpengaruh positif dan signifikan terhadap financial distress pada perusahaan property dan real estate terbuka di Bursa Efek Indonesia, sedangkan ROA (Return on Asset) berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap financial distress pada perusahaan property dan real estate terbuka di Bursa Efek Indonesia dan pertumbuhan penjualan berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap financial distress pada perusahaan property dan real estate terbuka di Bursa Efek Indonesia. Kata Kunci: Likuiditas, Leverage, Profitabilitas Pertumbuhan Penjualan, Financial Distress. i

7 ABSTRACT FACTORS AFECTING THE FINANCIAL DISTRESS IN PROPERTY AND REAL ESTATE LISTED IN INDONESIA STOCK EXCHANGE This Study aims to identify and analyze the influence of Liquidity, Leverage, Profitability, and growth to financial distress at the company s property and real estate in the Indonesia Stock Exchange (BEI). The sample used in this study was 28 (twenty eight) property and real estate companies listed on the Stock Exchange. The analytical method used is descriptive statistical methods and multiple linier regression panel data. The result showed that current ratio, debt ratio, ROA and sales growth have negative and significant impact on financial distress. Partially current ratio positive and significant impact on the financial distress in the property and real estate companies listed on the Indonesian Stock Exchange (BEI) and while the debt ratio and significant positive effect on the financial distress in the property and real estate companies listed on the Indonesian Stock Exchange (BEI), while ROA (Return on Asset) variable influence negatively and significant on the financial distress in the property and real estate companies listed on the Indonesian Stock Exchange (BEI) and sales growth have positive and insignificant effect on the financial distress in the property and real estate companies listed on the Indonesian Stock Exchange (BEI). Keywords: Liquidity, Leverage, Profitability, Sales Growth, Financial Distress ii

8 KATA PENGANTAR Alhamdulillahirabbil alamin, puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wata ala atas segala rahmat dan karunia-nya peneliti masih diberikan kesehatan sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Faktorfaktor yang Mempengaruhi Financial Distress pada Perusahaan Property dan Real Estate Terbuka di Bursa Efek Indonesia. Tujuan penulisan skripsi ini adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, karena itu peneliti pengharapkan kritik dan saran dari semua pihak, agar skripsi ini dapat lebih baik lagi. Dengan segala kerendahan hati, peneliti berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak. Pada kesempatan ini, peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya buat orang tua tercinta bapak Juni Rosnaryo dan ibu Musniar yang telah membesarkan, mendidik dan memberikan dukungan, dan doa yang tak hentihentinya kepada penulis. Selama proses penyusunan skripsi ini peneliti menyadari banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu peneliti mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis. 2. Bapak Dr. Amlys Syahputra Silalahi, M.Si, selaku Ketua Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis. 3. Bapak Drs. Syahyunan, M.Si, selaku Dosen Pembimbing yang telah membantu dan memberikan bimbingan, dukungan, arahan kepada peneliti iii

9 dalam penyelesaian skripsi ini. 4. Ibu Dra. Nisrul Irawati, MBA, selaku Dosen Penguji I yang telah memberikan arahan dan masukan dalam menyelesaikan skripsi ini. 5. Ibu Dra. Lisa Marlina, M.Si, selaku Dosen Penguji II yang memberikan waktu, arahan dan masukan dalam penyelesaian skripsi ini. 6. Untuk seluruh Dosen dan Pegawai Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara untuk setiap jasa-jasanya selama perkuliahan. 7. Terimakasih kepada Abangnda tercinta Andry Murhastomo yang telah memberikan doa dan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini. 8. Terimakasih kepada sahabat peneliti (Tiwi, Delvira, Pita, Anindya, Lifti) terima kasih atas doa, semangat, dan dukungan yang diberikan kepada peneliti. 9. Terimakasih kepada sahabat tercinta dari sma (Rina, Rini, Eka, Irfan, Alfin, Bobby) terima kasih atas dukungan, doa dan semangat yang diberikan kepada peneliti. 10. Terimakasih kepada rekan-rekan khususnya bagi Manajemen Ekstensi 2015 grup B dan Konsentrasi Manajemen Keuangan yang telah memberikan semangat kepada peneliti. Medan, November 2017 Peneliti, Dwi Juniary Sri Rezki NIM: iv

10 DAFTAR ISI ABSTRAK... ABSTRACT... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... Halaman i ii iii v vii viii ix BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian... 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Landasan Teori Pengertian Financial Distress Prediksi Financial Distress Penyebab Terjadinya Financial Distress Analisis Kebangkrutan Model Altman Z -Score Manfaat Prediksi Financial Distress Solusi Untuk Perusahaan Yang Mengalami Financial Distress Rasio-Rasio Keuangan Dalam Memprediksi Financial Distress Penelitian Terdahulu Kerangka Konseptual Hipotesis Penelitian BAB III METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Tempat dan Waktu Penelitian Batasan Operasional Variabel Defenisi Operasional Variabel Variabel Independen Variabel Dependen Operasionalisasi Variabel Populasi dan Sampel Penelitian Jenis Data dan Sumber Data Metode Pengumpulan Data Teknik Analisis Data Analisis Statistik Deskritif v

11 3.9.2 Analisis Regresi Linier Berganda Data Panel Uji Asumsi Klasik Pengujian Hipotesis Uji- F (Uji Secara Simultan) Uji- t (Uj Secara Parsial) BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Perusahaan Hasil Penelitian Analisis Deskriptif Pemilihan Model Estimasi Pengujian Hipotesis Pembahasan Pengaruh Likuiditas Terhadap Financial Distress Pengaruh Leverage Terhadap Financial Distress Pengaruh Profitabilitas Terhadap Financial Distress Pengaruh Pertumbuhan Penjualan Terhadap Financial Distress BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN vi

12 DAFTAR TABEL No. Tabel Judul Halaman 1.1 Perkembangan Current Ratio, Debt Ratio,ROA(Return on Asset) dan Pertumbuhan Penjualan pada Perusahaan Property dan Real Estate terbuka di Bursa Efek Indonesia Pada Tahun Tabel Klasifikasi Altman Z-Score Tabel Klasifikasi Altman Z -Score Tabel Klasifikasi Altman Z -Score Tinjauan PenelitianTerdahulu Operasionalisasi Variabel Penelitian Daftar Sampel Perusahaan Property dan Real Estate Perusahaan Property dan Real Estate yang menjadi Sampel Penelitian HasilAnalisis Deskriptif Pengujian Pooled Least Square (PLS) Pengujian Fixed Effect Model (FEM) Pengujian Random Effect Model (REM) Hasil Uji Chow Hasil Uji Hausman Hasil Uji Secara Serempak (Uji-F) Hasil Uji Secara Parsial (Uji-t) vii

13 DAFTAR GAMBAR No. Gambar Judul Halaman 2.1 Kerangka Konseptual viii

14 DAFTAR LAMPIRAN No. Lampiran Judul Halaman 1. Daftar Nama Perusahaan Berdasarkan Kriteria Sampel Data Current Ratio, Debt Ratio, ROA (Return on Asset, Pertumbuhan Penjualan, dan Z - Score Hasil Statistik Deskriptif Hasil Uji Model Regresi Data Panel Hasil Uji Chow Hasil Uji Hausman ix

15 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Krisis keuangan yang terjadi di Amerika pada tahun 2008 dan di Eropa pada tahun 2010 tidak hanya berdampak bagi Amerika dan Eropa sendiri, namun juga berdampak terhadap perekonomian global, dimana beberapa negara juga mengalami gejolak perekonomian sebagai dampak dari krisis tersebut, dan dampaknya masih terasa sampai saat ini. Perekomian global masih mengalami pelemahan dan proses pemulihan ekonomi yang terjadi di beberapa kawasan masih rentan dan tidak merata. Terutama negara-negara yang sedang berkembang, dan Indonesia sebagai salah satu negara yang sedang berkembang tidak luput dari dampak yang ditimbulkan krisis tersebut. Penyebab krisis ini hanya karena struktur ekonomi yang lemah tetapi karena utang swasta luar negeri yang telah mencapai jumlah yang cukup besar. Akibatnya, tingkat suku bunga dan inflasi meningkat tajam serta investasi berkurang sehingga kesehatan perusahaan banyak yang mengalami penurunan bahkan berpotensi untuk bangkrut, termasuk industri property yang terkena dampak. Semakin banyak perusahaan property dan real estate menyebabkan tingkat persaingan semakin tinggi, sehingga perusahaan property dan real estate dituntut untuk memiliki kemampuan untuk tetap menjaga eksistensinya. Perusahaan yang tidak mampu bersaing dalam mempertahankan kinerjanya, perlahan akan tersingkirkan dari lingkungan industri dan akan mengalami kebangkrutan. kebangkrutan merupakan kondisi dimana perusahaan tidak mampu lagi untuk 1

16 2 melunasi kewajibannya (Syahyunan, 2013). Menurut (Fahmi, 2016) Financial distress merupakan keadaan dimana perusahaan mengalami kesulitan keuangan sebelum terjadinya kebangkrutan atau likuidasi. Financial distress mengindikasikan bahwa kondisi keuangan perusahaandalam keadaan tidak sehat dan merupakan penyebab utama kebangkrutan perusahaan. Dalam dunia ekonomi, kebangkrutan memang sering dihubungkan dengan suatu kondisi yang disebut financial distress. Analisis mengenai kondisi financial distress sangat penting bagi berbagai pihak. Hal ini dikarenakan kebangkrutan perusahaan tidak hanya merugikan pihak perusahaan saja, tetapi merugikan pihak lain yang berhubungan dengan perusahaan tersebut. Oleh karena itu, analisis kondisi financial distress dapat dilakukan untuk memperoleh peringatan awal kebangkrutan. Dengan analisis rasio ini dapat diketahui kekuatan dan kelemahan perusahaan di bidang keuangan. Analisis rasio keuangan dapat dipakai sebagai model sistem peringatan dini (early warning system) terhadap menurunnya kondisi keuangan dari suatu perusahaan. Analisis rasio keuangan untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan menjadi topik menarik setelah Altman tahun 1968 menemukan suatu formula untuk mendeteksi kebangkrutan perusahaan dengan istilah yang sangat dikenal yaitu Z-score Altman. Z-score merupakan skor yang ditentukan dari hitungan standar dikalikan rasio-rasio keuangan yang akan menunjukkan tingkat kemungkinan kebangkrutan perusahaan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan rasio likuiditas, leverage,

17 3 profitabilitas dan pertumbuhan penjualan. Dimana rasio likuiditas merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia, besar kecilnya rasio ini dapat dilihat dan diukur melalui current ratio (rasio lancar). Menurut (Hendra, 2009) rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Apabila perusahaan mampu mendanai dan melunasi kewajiban jangka pendeknya dengan baik maka potensi perusahaan mengalami financial distress akan semakin kecil. Dalam penelitian ini rasio likuiditas diharapkan mampu menjadi alat prediksi kondisi financial distress suatu perusahaan. Indikator lain yang digunakan adalah Rasio leverage. Rasio leverage digunakan untuk mengukur seberapa besar penggunaan utang dalam pembelanjaan perusahaan, dengan kata lain rasio ini dapat pula digunakan untuk mengetahui bagaimana perusahaan mendanai kegiatan usahanya apakah lebih banyak menggunakan utang atau modal sendiri. Rasio leverage yang biasa digunakan adalah rasio hutang (debt ratio). Rasio ini menunjukkan semakin besar porsi penggunaan utang dalam membiayai investasi pada aktiva, yang berarti pula resiko keuangan perusahaan meningkat dan sebaliknya (Sudana, 2011). Semakin besar jumlah aset yang dimiliki perusahaan tersebut, perusahaan akan lebih stabil keadaannya dan lebih kuat menghadapi ancaman financial distress. Sebaliknya, jika aset perusahaan yang dimiliki rendah, maka perusahaan lebih mudah terkena financial distress. Indikator lain yang digunakan untuk memprediksi terjadinya financial

18 4 distress adalah rasio profitabilitas. Rasio profitabilitas adalah untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan aset dan modal saham tertentu. Untuk mengukur profitabilitas ini dapat menggunakan ROA (Return on Assets). ROA (Return on Assets) menunjukkan kemampuan perusahaan dengan menggunakan seluruh aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba setelah pajak atau laba bersih operasi. Rasio yang tinggi menunjukkan efisiensi manajemen aset. Menurut (Mamduh, 2009), profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat aset tertentu. Dengan adanya efektivitas dari penggunaan aset perusahaan maka akan mengurangi biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan, maka perusahaan akan memperoleh penghematan dan akan memiliki kecukupan dana untuk menjalankan usahanya. Dengan adanya kecukupan dana tersebut maka perusahaan mengalami financial distress dimasa yang akan datang akan menjadi lebih kecil. Pertumbuhan penjualan mencerminkan kemampuan perusahaan untuk meningkatkan penjualannya dari waktu ke waktu. Semakin tinggi kemampuan tingkat pertumbuhan penjualan suatu perusahaan maka perusahaan tersebut berhasil dalam menjalankan strateginya dalam hal pemasaran dan penjualan produk. Hal ini berarti semakin besar pula laba yang akan diperoleh perusahaan dari penjualan tersebut. Berikut ini adalah perkembangan Current Ratio, Debt Ratio,ROA (Return on Assets) dan Pertumbuhan Penjualan pada Perusahaan Property dan Real Estate terbuka di Bursa Efek Indonesia.

19 5 Tabel 1.1 Perkembangan Current Ratio, Debt Ratio, ROA (Return on Assets), dan Pertumbuhan Penjualan pada Perusahaan Property dan Real Estate Terbuka di Bursa Efek Indonesia tahun Rasio PT Cowell Development, Tbk PT Jaya Real Property, Tbk Current Ratio 1,27 1,45 0,66 0,97 1,01 1,03 0,87 0,70 0,75 0,98 Debt Ratio 0,57 0,36 0,39 1,57 1,49 1,87 1,79 1,77 1,92 2,20 ROA (%) 0,46 0,17 1,65 0,15 0,16 8,49 8,83 9,42 10,8 11,4 Pertumbuhan Penjualan (%) 56,7 12,1 53,0 17,36-35,1 27,3 29,4 0,54 2,39 4,61 Sumber: (Data Diolah) Berdasarkan data pada Tabel 1.1 dapat dilihat Current Ratio, Debt Ratio, ROA (Return on Asset),dan pertumbuhan penjualan pada perusahaan property dan real estate dengan kode emiten COWL yaitu PT Cowell Development, Tbk dan JPRT yaitu Jaya Real Property,Tbk. Dapat dilihat pada perusahaan dengan kode COWL pada tahun current ratio pada perusahaan COWL di tahun mengalami penurunan sebesar -0,18 dan pada tahun mengalami penurunan sebesar 0,79. Sedangkan current ratio pada tahun mengalami peningkatan sebesar 0,31. Sedangkan current ratio pada tahun mengalami penurunan sebesar 1,01. Sedangkan untuk debt ratio yang dimiliki perusahaan COWL mengalami penurunan debt ratio sebesar 0,21 dan pada tahun mengalami peningkatan debt ratio sebesar 0,03, dan pada tahun mengalami peningkatan sebesar 1,18. Sedangkan untuk tahun debt ratio mengalami penurunan sebesar 0,08. Sedangkan ROA pada tahun mengalami penurunan sebesar 0,29. Pada tahun ROA mengalami kenaikan sebesar 1,48 pada tahun Pada tahun ROA mengalami penurunan sebesar 1,5 pada tahun Pada tahun mengalami peningkatan sebesar 0,01 pada tahun Sedangkan untuk

20 6 pertumbuhan penjualan pada perusahaan COWL pada tahun mengalami penurunan sebesar 44,58 % dan pada tahun mengalami peningkatan sebesar 40,92 % dan pada tahun mengalami penurunan sebesar 35,69% dan pada tahun pertumbuhan penjualan mengalami penurunan sebesar 17,77%. Pada perusahaan JRPT dapat dilihat aktiva lancar pada perusahaan JRPT mengalami peningkatan aktiva lancar di tahun mengalami penurunan sebesar 0,16dan pada tahun mengalami penurunan aktiva lancar sebesar 0,17 dan pada tahun perusahaan mengalami peningkatan aktiva lancar sebesar 0,05 dan pada tahun perusahaan mengalami peningkatan aktiva lancar sebesar 0,23. Sedangkan untuk utang lancar yang dimiliki JRPT untuk tahun mengalami penurunan hutang lancar sebesar 0,08 pada dan pada tahun mengalami peningkatan hutang lancar sebesar 0,02 dan pada tahun mengalami peningkatan hutang lancar sebesar 0,15. Sedangkan pada tahun mengalami peningkatan hutang lancar sebesar 0,28. Sedangkan ROA perusahaan pada periode mengalami peningkatan sebesar 0,34 % dan pada tahun mengalami peningkatan sebesar 0,59% dan pada tahun mengalami penurunan sebesar 1,46% sedangkan pada tahun ROA mengalami peningkatan sebesar 0,59%. Sedangkan untuk pertumbuhan penjualan perusahaan JRPT mengalami peningkatan sebesar 2,03%, sedangkan pada tahun untuk pertumbuhan penjualan JRPT mengalami penurunan sebesar 2,4% dan pada tahun pertumbuhan penjualan JRPT mengalami peningkatan sebesar

21 7 1,85% sedangkan pada tahun pertumbuhan penjualan JRPT mengalami peningkatan sebesar 2,22%. Berdasarkan data pada Tabel 1.1 dapat dilihat bahwa perusahaan property dan real estate terbuka memiliki current ratio, debt ratio, ROA (Return on Asset), pertumbuhan penjualan yang tidak stabil dibeberapa perusahaan bahkan cenderung mengalami penurunan yang berkelanjutan. Kondisi keuangan ini tentu merupakan cerminan untuk mengetahui kelancaran aktivitas perusahaan. Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penelitian bertujuan melakukan pengujian secara empiris untuk mengetahui apakah ada pengaruh likuiditas, leverage, profitabilitas dan pertumbuhan penjualan terhadap financial distress perusahaan property dan real estate terbuka yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun yang memenuhi persyaratan untuk dijadikan sampel dalam penelitian ini. Alasan pemilihan sampel adalah karena perusahaan property dan real estate dinilai mampu memberikan gambaran yang lebih baik dalam melihat apakah akan terjadi kondisi financial distress pada perusahaan dan perusahaan property dan real estate memiliki prospek yang cukup baik mengingat semakin pesatnya pertambahan pendapatan masyarakat sehingga mendorong peningkatan dalam hal permintaan dan penawaran tempat tinggal. Oleh karena itu penulis memberi judul penelitian faktor faktor yang mempengaruhi financial distress pada perusahaan property dan real estate terbuka yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, maka perumusan

22 8 masalah pada penelitian ini adalah: apakah likuiditas, leverage, profitabilitas dan pertumbuhan penjualan berpengaruh terhadap financial distress pada perusahaan property dan real estate terbuka di Bursa Efek Indonesia? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh likuiditas, leverage, profitabilitas dan pertumbuhan penjualan terhadap financial distress pada perusahaan property dan real estate terbuka di Bursa Efek Indonesia. 1.4 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi beberapa pihak terkait, yaitu : 1. Bagi Perusahaan Property dan Real Estate Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan masukan untuk menghindari terjadinya financial distress pada perusahaan. 2. Bagi Peneliti Sebagai sarana untuk menambah pengetahuan, wawasan mengenai financial distress perusahaan property dan real estate terbuka di Bursa Efek Indonesia. 3. Bagi Peneliti Selanjutnya Sebagai bahan referensi oleh peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian pada ruang lingkup dan kajian yang lebih luas.

23 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori Pengertian Financial Distress Financial distress atau kesulitan keuangan merupakan kondisi yang terjadi dimana perusahaan mengalami penurunan kondisi keuangan selama beberapa periode. Keadaan ini terjadi saat kondisi arus kas perusahaan pada beberapa periode tersebut tidak sesuai dengan arus kas yang diharapkan atau proyeksinya tidak terpenuhi. Pada kondisi financial distress, kondisi cashflow sangat minimum sehingga menyebabkan terjadinya deadweight losses. Berarti, financial distress berada antara keadaan solvent dan insolvent (Pranowo, 2010). Menurut (Rudianto, 2013)Kebangkrutan diartikan sebagai kegagalan perusahaan dalam menjalankan operasi untuk mencapai tujuannya. Dari penjelasan para ahli yang telah penulis paparkan, penulis menyimpulkan bahwa perusahaan yang berada pada kondisi financial distress berpotensi mengalami kebangkrutan dalam arti sebenarnya yakni bangkrut secara hukum, tetapi tidak berarti semua perusahaan yang mengalami financial distress akan mengalami kebangkrutan. Perusahaan bisa survive dari masa masa kritis tersebut tergantung dari ketepatan penanganan yang dilakukan oleh manajemen perusahaan. Fenomena financial distress makin marak dijadikan sebagai objek penelitian. Hal ini bertujuan agar perusahaan dapat mengetahui cara memprediksi kondisi financial distress didalam sebuah perusahaan. Prediksi tersebut dapat 9

24 10 diukur dengan melakukan analisis laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan laporan mengenai posisi kemampuan dan kinerja keuangan perusahaan serta informasi lainnya yang diperlukan oleh pemakai informasi keuangan Prediksi Financial Distress Prediksi kekuatan keuangan suatu perusahaan pada umumnya dilakukan oleh pihak eksternal, seperti investor, kreditor, auditor, pemerintah, pemilik, perusahaan. Pihak-pihak eksternal perusahaan biasanya bereaksi terhadap sinyal distress seperti penundaan pengiriman, masalah kualitas produk, tagihan dari bank, dan lain sebagainya untuk mengindikasikan adanya financial distress yang dialami oleh perusahaan. Menurut (Yuanita, 2010) salah satu aspek pentingnya analisis terhadap laporan keuangan dari sebuah perusahaan adalah kegunaannya untuk meramalkan kelangsungan hidup perusahaan. Financial distress sebagai tahap penurunan kondisi keuangan yang terjadi sebelum terjadinya kebangkrutan ataupun likuidasi. Beberapa peneliti yang melakukan penelitian mengenai metode prediksi financial distress dengan menggunakan macam-macam cara untuk menentukan perusahaan dalam kategori financial distress ataupun tidak. Metode tersebut berupa laba bersih negatif selama 2 tahun berturut-turut, hal ini menandakan kinerja perusahaan kurang baik karena perusahaan tidak memiliki sumber pembiayaan. Selain itu metode yang peneliti lain gunakan adalah dengan menggunakan metode earning per share negatif, metode ini digunakan karena perusahaan yang mengalami kondisi tersebut akan sulit mendapatkan sumber pembiayaan. Kesulitan yang dihadapi perusahaan akan menghambat kinerja

25 11 perusahaan dan dapat memicu perusahaan mengalami financial distress. Selanjutnya metode lain yang digunakan dalam memprediksi financial distress adalah interest coverage ratio yang kurang dari satu yaitu rasio biaya bunga terhadap laba operasional. Sedangkan prediksi financial distress pada penelitian ini menggunakan metode altman z-score Penyebab Terjadi Financial Distress Financial distress dapat terjadi karena beberapa faktor penyebab. Penyebab tersebut dapat berasal dari internal maupun eksternal perusahaan. Analisis eksternal dilakukan atas data yang bersumber dari luar perusahaan seperti laporan perdagangan, statistik maupun indikator ekonomi yang dikerluarkan oleh pemerintah atau swasta. Analisis internal dilakukan melalui antara lain analisis strategi perusahaan dimana strategi ini memfokuskan pada persaingan yang dihadapi perusahaan, struktur biaya relatif terhadap pesaing, kemampuan manajemen dalam mengendalikan biaya, kualitas manajemen lainnya. Kebangkrutan perusahaan terjadi karena adanya kegagalan dalam perusahaan. Terdapat 3 jenis kegagalan dalam perusahaan, yaitu (Rudianto, 2013): 1. Perusahaan yang menghadapi technically insolvent, jika perusahaan tidak dapat memenuhi kewajibannya yang segera jatuh tempo tetapi nilai aset perusahaan lebih tinggi daripada hutangnya. 2. Perusahaan yang menghadapi legally insolvent, jika nilai aset perusahaan lebih rendah daripada utangnya. 3. Perusahaan yang menghadapi kebangkrutan, yaitu jika tidak dapat membayar utangnya dan oleh pengadilan dinyatakan pailit.

26 12 Manajemen yang kurang kompeten juga menjadi penyebab utama kegagalan suatu perusahaan dapat digolongkan menjadi dua, yaitu (Rudianto, 2013). 1. Faktor Internal Kurang kompetennya manajemen perusahaan akan berpengaruh terhadap kebijakan dan keputusan yang diambil. Kesalahan dalam mengambil keputusan akibat kurangnya kompetennya manajemen yang dapat menjadi penyebab kegagalan perusahaan, meliputi faktor keuangan maupun non keuangan. Kesalahan pengelolaan dibidang keuangan yang dapat menyebabkan kegagalan perusahaan, meliputi: adanya hutang yang terlalu besar sehingga memberikan beban tetap yang berat bagi perusahaan, adanya current liabilities yang terlalu besar diatas current asset, lambatnya penagihan piutang dan banyaknya bad debts, kesalahan dalam divident policy. Kesalahan pengelolaan dibidang nonkeuangan yang dapat menyebabkan kegagalan perusahaan, meliputi: kesalahan dalam penentuan produk yang dihasilkan, kesalahan dalam kebijakan produksi. 2. Faktor Eksternal Berbagai faktor eksternal dapat menjadi penyebab kegagalan sebuah perusahaan. Penyebab eksternal adalah berbagai hal yang timbul atau berasal dari luar perusahaan atau kendali pimpinan perusahaan atau badan usaha, yaitu kondisi perekonomian secara makro, baik domestik maupun internasional, adanya persaingan yang ketat, berkurangnya permintaan yang ketat, berkurangnya permintaan terhadap produk yang dihasilkannya,turunnya harga-harga dan sebagainya. Faktor eksternal yang bisa mengakibatkan

27 13 kebangkrutan adalah kesulitan bahan baku supplier tidak dapat memasok lagi kebutuhan bahan baku yang digunakan untuk produksi, perubahan dalam keinginan pelanggan yang tidak diantisipasi oleh perusahaan. Menurut (Fahmi, 2012) penyebab terjadinya financial distress adalah dimulai dari ketidakmampuan dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya, terutama kewajiban yang bersifat jangka pendek termasuk kewajiban likuiditas dan juga termasuk kewajiban dalam kategori solvabilitas. Ketidakmampuan tersebut dapat ditunjukan dengan 2 (dua) metode, yaitu Stock-based insolvency dan Flow-based insolvency. Stock-based insolvency adalah kondisi yang menunjukkan suatu kondisi ekuitas negatif dari neraca perusahaan (negative net wort), sedangkan Flow-based insolvency ditunjukkan oleh kondisi arus kas operasi (operating cash flow) yang tidak dapat memenuhi kewajiban-kewajiban lancar perusahaan Analisis Kebangkrutan Model Alman Z-Score Menurut (Syahyunan, 2013). Kebangkrutan merupakan kondisi dimana perusahaan tidak mampu lagi untuk melunasi kewajibannya. Kondisi ini biasanya tidak begitu saja muncul di perusahaan. Ada indikasi awal dari perusahaan tersebut yang biasanya dapat dikenali lebih dini kalau laporan keuangan di analisis secara cermat dengan suatu cara tertentu. Altman dikenal sebagai pionir dalam teori kebangkrutan dengan Z-score nya. Z-score merupakan suatu persamaan multivariabel yang digunakan oleh altman dalam rangka memprediksi tingkat kebangkrutan. Altman menggunakan model statistic yang disebut dengan analisis diskriminan, tepatnya adalah

28 14 Multiplediscriminant analysis (MDA). Adapun Z-Score yang terus mengalami perubahan yaitu: 1. Z-Score Asli Z-Score asli pertama sekali dirumuskan oleh Altman dengan latar belakang, antara lain: a. Sampel diambil dari perusahaan manufaktur publik. b. Perusahaan beralokasi di Amerika. c. Dirumuskan tahun d. Jumlah sampel 66 perusahaan terdiri dari 33 perusahaan bangkrut dan 33 perusahaan tidak bangkrut. Jumlah rasio yang dipilih adalah 22 buah. Dari jumlah kemudian hanya dipilih 5 rasio yang paling kuat secara bersama berkolerasi dengan kebangkrutan.versi pertama dari Z-Score yang asli dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 2.1 Tabel Klasifikasi Altman Z-Score Z = 1,2 X + 1,4 X + 3,3 X + 0,6 X + 1,0 X Working Capital / Total Asset Retained Earning / Total Asset EBIT / Total Asset Market Value of Equity / Book Value of DebtSales / Total Asset Score Kondisi >2,99 Tidak Bangkrut 1,81 2,99 Daerah Kelabu <1,81 Bangkrut Sumber : Syahyunan (2013: 104) Keterangan: 1) Jika nilai Z > 2,99 maka termasuk perusahaan yang tidak bangkrut. 2) Jika nilai 1,81-2,99 maka termasuk perusahaan daerah kelabu. 3) Jika nilai Z < 2,99 maka termasuk perusahaan yang bangkrut.

29 15 2. Z-Score Karena keterbatasan dari penggunaan Z-Score yang hanya dapat digunakan bagi perusahaan publik dan manufaktur, kemudian Alman mengembangkan dua varian dari Z-Score, yaitu Z -Score dan Z -Score. Z -Score ditunjukan untuk perusahaan non publik (Private) dengan cara merumuskan kembali rasio yang digunakan yaitu menghilangkan market value of equity dan menggantinya dengan book value of equity. Tabel 2.2 Tabel Klasifikasi Altman Z -Score Z = 0,717 X Working capital/ Total Asset + 0,847 X Retained earning/ Total Asset + 3,107 X EBIT/ Total Asset + 0,420 X Book Value of equity/ Book Value of debt + 0,998 X Sales/ Total Asset Score Kondisi Tidak bangkrut 1,23 2,90 Daerah kelabu < 1,23 Bangkrut Sumber: Syahyunan (2013:104) Keterangan: a. Jika nilai Z > 2,99 maka termasuk perusahaan yang tidak bangkrut. b. Jika nilai Z 1,81-2,99 Maka termasuk perusahaan daerah kelabu c. Jika nilai Z < 1,81 maka termasuk perusahaan yang bangkrut 3. Z -Score Varian terakhir adalah Z -Score. Pada model terakhir ini rasio sales to total asset dihilangkan dengan harapan efek industri, dalam pengertian ukuran perusahaan terkait dengan asset atau penjualan dapat dihilangkan. Sampel yang digunakan kemudian diganti dengan perusahaan dari negara berkembang (emerging market), yaitu Mexico. Z -Score merupakan rumus yang palingfleksibel karena bisa digunakan untuk perusahaan publik maupun private.

30 16 Keterangan: Tabel 2.3 Tabel Klasifikasi Altman Z -Score Z = 6,56 X Working capital / Total Asset + 3,26 X Retained earning / Total Asset + 6,72 X EBIT / Total Asset + 1,05 X Book value of equity / Book value of debt ScoreKondisi >2,60 Tidak Bangkrut 1,1 2,60 Daerah kelabu < 1,1 Bangkrut Sumber: Syahyunan (2013:117) a. Jika nilai Z > 2,99 maka termasuk perusahaan yang tidak bangkrut. b. Jika nilai Z 1,81-2,99 Maka termasuk perusahaan daerah kelabu. c. Jika nilai Z < 1,81 maka termasuk perusahaan yang bangkrut. Menurut The Journal of Finance Altman tahun 1968, Z-Score model Altman adalah model pengklasifikasi perusahaan yang sehat dan bangkrut didasarkan pada nilai Z yang diperoleh, yaitu: 1) Bila Z > 2,99 = zona aman (pada kondisi ini, perusahaan berada pada kondisi yang sehat sehingga kecil kemungkinan terjadi kebangkrutan). 2) Bila 1,81 < Z < 2,99 = zona abu-abu (pada kondisi ini, perusahaan mengalami financial distress yang harus ditangani dengan penanganan managemen yang tepat. Jika terlambat dan tidak tepat penangananya, perusahaan dapat mengalami kebangkrutan. Jika pada grey area ini ada kemungkinan perusahaan bangkrut atau survive dari masa financial distress. 3) Bila Z < 1,81 = zona distress (pada kondisi ini, perusahaan mengalami financial distress dan bersiko tinggi mengalami kebangkrutan).

31 Manfaat Prediksi Financial Distress Banyak pihak yang memiliki kepentingan terhadap informasi kesulitan keuangan yang dialami oleh perusahaan. Bagi pihak internal perusahaan informasi tersebut akan membantu pihak manajemen dalam melakukan perbaikan-perbaikan dan mengantisipasi hal buruk yang selanjutnya akan terjadi. Sedangkan bagi pihak eksternal yaitu kreditor dan investor akan memberikan gambaran secara lebih mendalam mengenai kemampuan perusahaan dalam mengelola investasi yang ditanamkan oleh pihak eksternal tersebut. Menurut (Hanafi, 2009) menyatakan bahwa, prediksi financial distress suatu perusahaan memberikan manfaat bagi beberapa pihak antara lain: 1. Pemberi Pinjaman Informasi kebangkrutan bisa bermanfaat untuk mengambil keputusan siapa yang akan diberi pinjaman dan kemudian bermanfaat untuk kebijakan memonitor pinjaman yang ada. 2. Investor Saham atau obligasi yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan tentunya akan sangat berkepentingan melihat adanya kemungkinan bangkrut (distress) atau tidaknya perusahaan yang menjual surat berharga tersebut. Investor yang aktif akan mengembangkan model prediksi financial distress untuk melihat tandatanda kebangkrutan seawal mungkin dan kemudian mengantisipasi kemungkinan tersebut. 3. Pihak Pemerintah Untuk beberapa sektor usaha, pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk

32 18 mengawasi jalannya usaha tersebut (misalnya sektor perbankan dan BUMN). Pemerintah mempunyai kepentingan untuk melihat tanda-tanda kebangkrutan 4. Akuntan atau auditor Akuntan mempunyai kepentingan terhadap informasi kelangsungan suatu usaha karena akuntan akan menilai kemampuan going concern suatu perusahaan. 5. Manajemen Apabila perusahaan mengalami kebangkrutan maka perusahaan akan menanggung biaya langsung (fee akuntan dan pengacara) biaya tidak langsung (kerugian penjualan atau kerugian paksaan akibat ketetapan pengadilan). Sehingga adanya model prediksi financial distress diharapkan perusahaan dapat menghindari kebangkrutan dan otomatis juga dapat menghindari biaya langsung dan tidak langsung dari kebangkrutan Solusi Untuk Perusahaan yang Mengalami Financial Distress Kondisi financial distress memberikan dampak buruk bagi perusahaan karena kepercayaan investor dan kreditur serta pihak eskternal lainnya. Oleh karena itu, manajemen harus melakukan tindakan untuk mengatasi kondisi financial distress dan mencegah terjadinya kebangkrutan. Perusahaan yang mengalami financial distress biasanya memiliki arus kas yang negatif sehingga mereka tidak bisa membayar kewajiban yang jatuh tempo. Ada 2 solusi yang bisa diberikan jika perusahaan mempunyai arus kas negatif (Pustylnick, 2012) yaitu: 1. Restrukturisasi Hutang Manajemen bisa melakukan restrukturisasi hutang yaitu mencoba meminta perpanjangan waktu dari kreditor untuk pelunasan hutang hingga perusahaan

33 19 mempunyai kas yang cukup untuk melunasi hutang tersebut. 2. Perubahan dalam manajemen Jika memang diperlukan, perusahaan mungkin harus melakukan penggantian manajemen dengan orang yang lebih berkompeten. Dengan begitu, mungkin saja kepercayaan stakeholder bisa kembali pada perusahaan. Hal ini untuk menghindari larinya investor potensial perusahaan pada kondisi financial distress Rasio Rasio Keuangan Dalam Memprediksi Financial Distress 1. Likuiditas Likuiditas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa likuid suatu perusahaan. Rasio likuiditas dapat diperoleh melalui sumber informasi mengenai modal kerja yaitu pos-pos yang berada dalam aktiva lancar maupun pos-pos yang berada pada utang lancar (Harahap, 2013). Cara untuk mengukurnya adalah dengan membandingkan seluruh komponen yang berada dalam aktiva lancar dengan komponen utang lancar (utang jangka pendek). Yang termasuk dalam rasio likuiditas adalah Current ratio. Current ratio adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan aktiva lancar. Melalui Current ratio dapat diketahui apakah hutang jangka pendek yang biasanya jatuh tempo dalam waktu 12 bulan bisa dibayar oleh perusahaan. Karena current ratio sifatnya lebih cepat dikonversi dalam satuan moneter. Makadiharapkan hutang jangka pendek tersebut bisa dibayar dengan jumlah currentasset tersebut. Oleh karena itu jumlah current asset harus lebih besar

34 20 dari jumlah current liabilities. Dengan kata lain untuk bisa melunasi hutang jangka pendekperusahaan, maka perusahaan tersebut harus memiliki current ratio yang tinggi. Sebaliknya, apabila ternyata perusahaan memiliki current asset yang rendah, atau jumlah current asset harus lebih kecil dari jumlah current liabilities, maka perusahaan tersebut dikhawatirkan akan kesulitan dalam membayar utang jangka pendeknya. Hal ini yang dapat memicu terjadinya financial distress. 2. Leverage Leverage digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam melunasi seluruh utangnya dengan kata lain rasio ini dapat pula digunakan untuk mengetahui bagaimana perusahaan mendanai kegiatan usahanya apakah lebih banyak menggunakan utang atau modal sendiri. Menurut (Kasmir, 2014) apabila suatu perusahaan pembiayaannya lebih banyak menggunakan utang hal ini bersiko akan terjadi kesulitan pembayaran dimasa yang akan datang akibat utang lebih besar dari hasil yang dimiliki. Jika keadaan ini tidak dapat diatasi dengan baik, potensi terjadinya financial distress pun semkain besar. Kebangkrutan biasanya diawali dengan terjadinya momen gagal bayar, hal ini disebabkan semakin besar jumlah utang semakin tinggi probabilitas financial distress. Menurut (Syahyunan, 2013) penggolongan rasio leverage yaitu salah satunya adalah debt ratio. Debt ratio adalah mengukur jumlah aset perusahaan yang dibiayai oleh utang atau modal yang berasal dari kreditur. Rasio ini membandingkan antara jumlah total utang dengan aktiva total yang dimiliki

35 21 perusahaan. Biasanya para kreditur lebih menyukai rasio utang dari perusahaan yang diberi kredit akan semakin besar tingkat keamanan yang didapat kreditur diwaktu likuiditas. 3. Profitabilitas Profitabilitas merupakan suatu penggambaran atas kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada dalam perusahaan tersebut seperti kegiatan penjualan, kas, modal, dan sebagainya (Harahap, 2013). Menurut (Mamduh, 2009), profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat aset tertentu. Semakin besar tingkat aset maka laba bersih yang dihasilkan oleh suatu perusahaan juga harus semakin besar, sehingga semakin rendah ROA (Return on Asset) suatu perusahaan maka kemungkinan perusahaan mengalami financial distress menjadi tinggi. Menurut (Sudana, 2011) mengemukakan bahwa ROA (Return on Asset) menunjukkan kemampuan perusahaan dengan menggunakan seluruh aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba setelah pajak. Sedangkan menurut (Hapsari, 2012) menyatakan bahwa semakin merugi perusahaan maka semakin tinggi potensi perusahaan mengalami financial distress. Artinya semakin rendah profitabilitas perusaahaan maka kemungkinan perusahaan dapat mengalami financial distress akan semakin besar. 4. Pertumbuhan Penjualan Pertumbuhan digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan mempertahankan posisi ekonominya ditengah pertumbuhan ekonomi dan

36 22 industri. Menurut (Kasmir, 2012) mendefinisikan rasio pertumbuhan sebagai berikut: rasio pertumbuhan merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan mempertahankan posisi ekonominya ditengah pertumbuhan perekonomian dan sektor usahanya. Pengukuran rasio pertumbuhan dapat dijadikan tolak ukur kinerja manajemen dalam melaksanakan setiap kegiatan perusahaan, rasio pertumbuhan dapat pula digunakan sebagai ukuran kinerja atau sebagai dasar bagi ukuran yang lain seperti imbalan investasi (return on investment) atau penghasilan persaham (earning per share). Pertumbuhan laba dari tahun ke tahun menggambarkan keberhasilan manajemen dalam mengelola perusahaan. Laba yang terus meningkat akan menjamin going concern sebuah perusahaan. Laba bersih suatu perusahaan digunakan sebagai dasar pembagian deviden kepada investornya. Jika laba bersih yang diperoleh perusahaan sedikit atau bahkan mengalami rugi maka pihak investor tidak akan mendapatkan deviden. Hal ini jika terjadi berturutturut akan mengakibatkan para investor menarik investasinya karena mereka menganggap perusahaan tersebut mengalami kondisi permasalahan keuangan atau financial distress Pertumbuhan laba berpengaruh negatif terhadap prediksi financial distress artinya ketika pertumbuhan naik maka perusahaan akan terhindar dari kondisi financial distress. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi rasio pertumbuhan penjualan maka kemungkinan perusahaan mengalami financial distress akan semakin rendah. Jika semakin rendah rasio pertumbuhan penjualan maka

37 23 kemungkinan perusahaan mengalami kondisi financial distress akan semakin tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan berpengaruh positif dan tidak signifikan. 2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu Beberapa penelitian untuk memprediksi kegagalan perusahaan telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti, diantaranya adalah sebagai berikut: Tabel 2.4 Review Penelitian Terdahulu No Peneliti / Tahun 1. Khaliq,et al./ (2014) 2. Alifiah (2014) 3. Noviandri (2014) Judul Penelitian Identifying financial distress firms : A Case Study of Malaysia s Government Linked Companies (GLC) Prediction of financial distress companies in the trading and services sector in Malaysia using Macroeconomic Variabel Peranan analisis rasio keuangan dalam memprediksi kondisi financial distress perusahaan sektor perdagangan Variabel Dependen : Financial distress (Altman Z- Score) Independen: 1. Current Ratio 2. Debt Ratio Dependen : Financial Distress Independen: 1. Debt Ratio 2. Quick Ratio 3. Working Capital Ratio 4. Net Income to Total Assets ratio 5. Base Lending 6. GDP 7. Money Supply Dependen: Financial Distress 1. Likuiditas 2. Leverage 3. Profitabilitas Teknik analisis data Analisis Regresi Linier Berganda Regresi Logistik Analisis Regresi Logistik Hasil Penelitian 1. Current Ratio berpengaruh signifikan terhadap financial distres 2. Debt Ratio berpengaruh signifikan terhadap financial distress 1. Rasio Hutang berpengaruh signifikan terhadap financial distress 2. Total Asset Turnover Ratio berpengaruh signifikan terhadap financialdistress 3. Working Capital Ratio berpengaruh signifikan terhadap financial distress 4. BaseLending Rate berpengaruh signifikan terhadap financial distress 5. Quick Ratio berpengaruh signifikan terhadap financial distress 6. GDP tidak berpengaruh signifikan terhadap financial distress 7. Money Supply tidak berpengaruh signifikan terhadap financial distress 1. Current Ratio berpengaruh signifikan terhadap financial Distress 2. Debt Equity Ratio berpengaruh

38 24 Lanjutan Tabel 2.4 No Peneliti/ Tahun 4. Liana dan Sutrisno (2014) 5. Hapsari (2012) 6. Abusalahdann gkim-soon / (2012) 7. HazemdanHor ani (2012) Judul Penelitian Analisis Rasio Keuangan untuk memprediksi kondisi Financial Distress perusahaan manufaktur Kekuatan Rasio Keuangan dalam memprediksi kondisi financial distress perusahaan manufaktur di BEI Using Altman s model and current ratio to asses the financial status of companies quoted in the Malaysian stock exchange Predicting financial distress of companies listed an amman stock exchange Variabel Dependen : Financial Distress Independen: 1. Likuiditas 2. Financial Leverage 3. Pertumbuhan Dependen: 1. Likuiditas, 2. Profitablitas, 3. Profit Margin on Sales, 4. Leverage Independen: Financial Distress Dependen: Financial Distress Independen: Current Ratio Dependen: Financial Distress Independen: 1. Current Ratio 2 Debt Ratio Analisis Data Model analisis Regresi Linear Berganda Analisis Regresi Logistik RegresiLogi stik RegresiLogi stik Hasil Penelitian signifikan terhadap financial distress 3. Total Asset Turnover berpengaruh signifikan Terhadap Financial Distress 1. Rasio Likuiditas tidak memiliki pengaruh yang signifikan dalam menentukan perubahan variabel financial distress 2. Financial Leverage tidak memiliki pengaruh yang signifikan dalam financial Distress 3. Pertumbuhan tidak memiliki pengaruh yang signifikan dalam menentukan financial distress 1. Likuiditas bertanda negatif secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap kondisi financial distress 2. Profitabilitas mempengaruhi kondisi financial distress 3. Profit Margin on Sales terhadap kondisi financial distress pada perusahaan manufaktur tidak berpengaruh signifikan 4. Leverage terhadap kondisifinancial distress berpengaruh signifikan Current Ratio berpengaruh signifikan terhadap financial distress 1. Current Ratio berpengaruh terhadap financial distress 2. Debt Ratio berpengaruh terhadap financial distress

39 25 Lanjutan Tabel 2.4 No Peneliti / Tahun Judul Penelitian Variabel Teknik Analisis Data Hasil Penelitian 8. Mas uddansre ngga / (2011) 9. Yuanita (2010) AnalisisRasioKeuan gandalammempredi ksikondisifinancial distress perusahaanmanufak tur di Bursa Efek Indonesia Prediksifinancial distress dalam industry textile dan garment Dependen : Financial Distress Altman Z - score) Independen: 1. Likuiditas 2. Financial Leverage 3.Rentabilitas 4. Profitabilitas Dependen : Financial Distress Independen: 1. Rasio Likuiditas 2. Leverage Analisis Regresi Logistik Analisis Regresi Logistik 1. Current Ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap financial distress. 2. Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap financial distress. 3. Arus Kas berpengaruh signifikan terhadap financial distress. 4. Aktivitas perusahaan berpengaruh signifikan terhadap financial distress. 1. Rasio likuiditas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap financial distress. 2. Rasio Solvabilitas / leverage memiliki pengaruh yang signifikan terhadap financial distress. 10. Salehi dan Abedini (2009) Financial distress prediction in emerging market: empirical evidences from Iran Dependen: Financial distress Independen: 1. PBIT/TA 2. TE/TA 3. S/TA 4. WC/TA RegresiBerga nda 1. PBIT/TA berpengaruh positif dan signifikan terhadap financial distress 2.TE/TA berpengaruh positif dan signifikanterhadap financial distress. 3. S/TA berpengaruh positif dan signifikan terhadap financial distres. 4. WC/Ta berpengaruh negative dan signifikan terhadap financial distress 2.3 Kerangka Konseptual Kerangka konseptual adalah suatu model yang menerangkan bagaimana hubungan suatu teori dengan faktor-faktor yang penting yang telah diketahui dalam suatu masalah tertentu. Kerangka konseptual akan menghubungkan secara teoritis antara variabel-variabel penelitian yaitu variabel bebas dengan variabel

40 26 terikat. Pengukuran rasio Altman yaitu untuk mengetahui potensi kebangkrutan menggunakan perhitungan Z-score. Metode Altman Z- Score memilikirasio yang terdiri dari: working capital / total assets, retained earnings / total assets, earning before interest and taxes / total assets, book value of equity / total liabilities, sales / total assets. Kesulitan keuangan ini dapat dilihat berbagai cara seperti kinerja perusahaan yang semakin menurun, ketidakmampuan perusahaan membayar kewajibannya adanya pengentian pemberian dividen, masalah arus kas yang dihadapi perusahaan, kesulitan likuiditas, adanya pemberhentian tenaga kerja, dan kondisi lain-lainnya yang mengindikasikan kesulitan keuangan yang dihadapi oleh perusahaan. Untuk mendeteksi financial distress suatu perusahaan dapat dilakukan dengan menggunakan rasio keuangan perusahaan. Adapun pengaruh antara masing-masing variabel dalam kerangka konseptual ini yaitu sebagai berikut : 1. Pengaruh Rasio Likuiditas terhadap Financial Distress Rasio likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban financial jangka pendek (Syafri, 2013:301). Likuiditas perusahaan ditunjukkan oleh besar kecilnya aktiva lancar yaitu aktiva yang mudah untuk diubah menjadi kas yang meliputi kas, surat berharga, piutang dan persediaan. Rasio likuiditas merupakan salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam menentukan sukses atau kegagalan suatu perusahaan. Current ratio merupakan perbandingan antara aktiva lancar dengan hutang lancar. Perusahaan yang mempunyai rasio likuiditas lebih dari dua dapat