BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Kondisi Awal Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 4 Sidorejo Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan dengan subjek penelitian siswa kelas 4 yang terdiri dari 25 siswa 14 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Letak SD Negeri 4 Sidorejo berada di wilayah Kecamatan Negeri 4 Sidorejo Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan. SD Negeri 4 Sidorejo terletak di Dusun Waduk sebelah kiri berbatasan dengan rumah-rumah penduduk, bagian belakang berbatasan dengan persawahan, sebelah kanan berbatasan dengan rumah-rumah penduduk dan bagian depan adalah jalan raya yang menghubungkan antar desa. Siswa SD Negeri 4 Sidorejo terdiri dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 dengan jumlah 116 siswa. Staf pengajar terdiri dari 9 guru, 1 penjaga dan 1 kepala sekolah. Proses belajar mengajar berlangsung mulai pukul sampai dengan pukul Kecuali pada hari Jumat dan Sabtu berlangsung mulai pukul sampai dengan pukul Pra Siklus Pada pelaksanaan pembelajaran pra siklus di kelas 4 SD Negeri 4 Sidorejo terdiri dari 1 pertemuan. 1. Perencanaan Pada tahap perencanaan, guru telah menyiapkan RPP dan soal evaluasi pokok bahasan gaya dapat mengubah gerak suatu benda. Penulis menyiapkan lembar observasi untuk mengetahui aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran yang telah disusun. 2. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan pra siklus telah dilaksanakan pada hari Selasa 10 Februari 2014 melalui kegiatan-kegiatan: 47

2 48 Pada saat mengawali pembelajaran, salah seorang siswa memimpin doa, kemudian guru mengucapkan salam dan mengkondisikan siswa siap menerima pelajaran. Guru tidak melakukan absensi kelas dan belum memeriksa kesiapan belajar siswa. Guru belum mengadakan apersepsi. Guru langsung masuk pada kegiatan inti. Pada saat elaborasi guru menjelaskan materi yang ada dalam buku paket kepada siswa. Siswa mencatat penjelasan dari guru. Siswa kurang diajak berinteraksi. Guru sesekali bertanya kepada siswa. Siswa tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan guru. Siswa cenderung diam. Pada kegiatan konfirmasi guru belum bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa. Guru belum meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan penyimpulan. Pada saat kegiatan akhir, guru tidak mengulas materi yang telah dipelajari untuk mengetahui kemampuan siswa dalam penguasaan materi. Kemudian belum guru bersama siswa melakukan refleksi tentang proses pembelajaran yang telah dilakukan. Setelah itu guru melakukan tes evaluasi/tes formatif. Siswa duduk dengan rapi sesuai dengan tempat duduknya. 3. Observasi 1. Data hasil observasi guru Pada pra siklus guru sudah mempersiapkan kelas, alat dan media pembelajaran. Guru belum melaksanakan apersepsi, sehingga siswa kurang antusias memulai pembelajaran. Guru belum memeriksa kesiapan siswa saat akan mengikuti pembelajaran. Guru masih cenderung menggunakan ceramah dalam proses pembelajaran.selama proses pembelajaran berlangsung guru belum melaksanakan kegiatan secara runtut. Guru belum mampu mengajak siswa aktif dalam proses pembelajaran. Guru lebih mendominasi jalannya pembelajaran. Bimbingan dari guru belum nampak. Guru belum membuat simpulan secara bersama-sama dengan siswa. 2. Data hasil observasi siswa Siswa cenderung pasif dan belum berani mengemukakan pendapat. Siswa belum mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru selama

3 49 proses pembelajaran berlangsung. Beberapa siswa nampak ragu ketika ingin mengajukan pertanyaan. Siswa hanya duduk diam dan mencatat penjelasan guru. Pada satu jam pertama, siswa mulai nampak lelah dan gaduh. Pada saat evaluasi/tes formatif yang harus dikerjakan secara mandiri, siswa bekerja sama dengan teman. 4. Refleksi Berdasarkan hasil observasi, beberapa kelamahan dialami guru selama proses pembelajaran berlangsung. Kelemahan tersebut antara lain guru belum melaksanakan apersepsi, sehingga siswa kurang antusias memulai pembelajaran. Guru belum memeriksa kesiapan siswa saat akan mengikuti pembelajaran. Selama proses pembelajaran berlangsung guru belum melaksanakan kegiatan secara runtut. Guru belum mampu mengajak siswa aktif dalam proses pembelajaran. Guru lebih mendominasi jalannya pembelajaran. Bimbingan dari guru belum nampak. Guru belum membuat simpulan secara bersama-sama dengan siswa. Guru belum mampu mengkaitkan pembelajaran dengan pengetahuan lain yang relevan. Penguasaan kelas masih kurang. Siswa cenderung pasif dan belum berani mengemukakan pendapat. Siswa belum mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru selama proses pembelajaran berlangsung. Beberapa siswa nampak ragu ketika ingin mengajukan pertanyaan. Siswa hanya duduk diam dan mencatat penjelasan guru. Pada satu jam pertama, siswa mulai nampak lelah dan gaduh. Pada saat evaluasi/tes formatif yang harus dikerjakan secara mandiri, siswa bekerja sama dengan teman. Guru diharapkan mampu mengajak siswa secara aktif dan tidak mendominasi proses pembelajaran. Guru hendaknya bisa memilih metode atau model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk berperan aktif selama proses pembelajaran, misalnya pembelajaran kooperatif. Guru juga harus bisa lebih menguasai kelas, baik selama proses pembelajaran maupun paa saat tes berlangsung. Siswa diharapkan juga lebih berani dalam mengemukakan pendapat. Siswa diharapkan untuk mempersiapkan materi yang hendak diajarkan, agar dapat

4 50 menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Siswa diharap lebih tenang dalam mengikuti pembelajaran, juga pada saat tes berlangsung Pelaksanaan Tindakan Siklus I Pada pelaksanaan pembelajaran siklus I di kelas 4 SD Negeri 4 Sidorejo terdiri dari 3 pertemuan. Pertemuan 1 1. Perencanaan Pada tahap perencanaan, penulis menyiapkan RPP yang telah disusun bersama guru kelas IV dengan materi berbagai penyebab perubahan lingkungan fisik (angin, hujan, cahaya matahari, dan gelombang air laut). Merpersiapkan lembar observasi untuk mengetahui aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran yeng telah disusun. Merpersiapkan lembar kerja kelompok dan media pembelajaran flip chart yang telah dibuat oleh penulis. Kegiatan dibantu oleh 1 guru kelas 3 untuk mengamati proses pembelajaran yang berlangsung dan penulis sebagai dokumentasi pembelajaran. 2. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan siklus I pertemuan pertama telah dilaksanakan pada tanggal 17 Maret 2014, melalui kegiatan-kegiatan: Pada saat mengawali pembelajaran, salah seorang siswa memimpin doa, kemudian guru mengucapkan salam dan mengkondisikan siswa siap menerima pelajaran. Guru melakukan absensi kelas dan memeriksa kesiapan belajar siswa. Langkah selanjutnya adalah guru menunjukkan gambar hujan, lalu bertanya kepada siswa, Apa kalian pernah bermain ketika hujan?, Kenapa bisa terjadi hujan? dan guru menampung semua jawaban siswa untuk disimpulkan serta menyampaikan tujuan pembelajaran.pada kegiatan inti, dalam eksplorasi siswa memperhatikan gambar banjir yang ditunjukkan guru. Siswa dibimbing guru melakukan tanya jawab tentang gambar banjir dan penyebabnya kemudian siswa bersama guru meluruskan jawaban yang salah. Pada saat elaborasi siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 5 anak dari jumlah siswa 25 anak. Setiap anggota kelompok mendapat nomor

5 51 yang berbeda. Nomor yang disediakan 1-5 untuk masing-masing kelompok. Kemudian guru membagikan flip chart sebagai media belajar dan membimbing siswa dalam kelompok. Siswa bersama guru melakukan tanya jawab tentang materi yang terdapat pada flip chart. Setelah itu guru membagi lembar kerja kepada setiap kelompok. Pada saat kerja kelompok, setiap siswa berpikir bersama dalam kelompoknya. Setelah kelompok selesai mengerjakan, guru memanggil nomor anggota dan menyebutkan satu nomor. Para siswa dari tiap kelompok yang nomornya dipanggil menyiapkan jawaban untuk dipresentasikan/dilaporkan. Pada kegiatan konfirmasi guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa. Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan penyimpulan. Pada saat kegiatan akhir, guru mengulas sekilas mengenai materi yang dipelajari untuk mengetahui kemampuan siswa dalam penguasaan materi. Kemudian guru bersama siswa melakukan refleksi tentang proses pembelajaran yang telah dilakukan. Seteah itu guru menyampaikan pembelajaran untuk pertemuan selanjutnya. 3. Observasi 1. Data hasil observasi guru Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh observer pada guru kelas 4 mata pelajaran IPA saat mengajar menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together. Pada pertemuan pertama sebenarnya guru sudah melaksanakan pembelajaran memgunakan model numbeered heads together cukup baik. Guru sudah mempersiapkan kelas, alat dan media pembelajaran. Guru juga telah melaksanakan apersepsi dengan menarik, sehingga siswa antusias memulai pembelajaran. Guru memeriksa kesiapan siswa saat akan mengikuti pembelajaran. Guru juga sudah menyampaikan motivasi dan tujuan pembelajaran dengan cukup baik. Beberapa kelamahan masih dialami guru selama proses pembelajaran berlangsung. Kelemahan tersebut antara lain guru masih belum melaksanakan kegiatan secara runtut. Guru masih belum mampu mengajak siswa aktif dalam

6 52 proses pembelajaran. Guru masih nampak canggung dan mencoba beradaptasi dengan model pembelajaran dan media yang digunakan. Pada saat pembentukan kelompok guru kurang bisa menguasai kelas, karena siswa ramai dalam kelas. Bimbingan dari guru belum nampak, guru hanya memperhatikan sebagian kecil siswa. Pada saat membuat simpulan guru belum mengajak siswa secara bersamasama dan belum dilaksanakan dengan baik. 2. Data hasil observasi siswa Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh observer pada siswa kelas 4 mata pelajaran IPA saat proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together. Siswa memulai proses pembelajaran dengan berdoa dengan dipimpin salah satu siswa. Siswa mempersiapkan diri untuk mengikuti pembelajaran. Mereka duduk dengan tertib sesuai dengan tempat duduknya masing-masing. Dalam proses pembelajaran, sebagian besar siswa sudah mulai aktif mencatat berbagai penjelasan dari guru. Siswa sebagian besar nampak antusias ketika mengetahui adanya media pembelajaran yang digunakan. Siswa masih belum paham akan alur pembelajaran Numbered Heads Together terlihat masih bingung dalam proses pembelajaran. Pada saat pembentukan kelompok, siswa masih gaduh. Hal tersebut mungkin dikarenakan siswa belum terbiasa melakukan kerja kelompok. Pada saat kerja kelompok, siswa belum mampu berpartisipasi aktif, hanya ada beberapa siswa yang mendominasi dalam kelompok. Beberapa petanyaan dari guru belum mampu dijawab dengan baik oleh siswa. Siswa belum mampu membuat kesimpulan secara bersama tentang proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. 3. Refleksi Berdasarkan hasil observasi, beberapa kelamahan masih dialami guru selama proses pembelajaran berlangsung. Kelemahan tersebut antara lain guru masih belum melaksanakan kegiatan secara runtut. Guru masih belum mampu mengajak siswa aktif dalam proses pembelajaran. Guru masih nampak canggung dan mencoba beradaptasi dengan model pembelajaran dan media yang digunakan. Guru belum mampu mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan

7 53 dan belum mengkaitkan dengan kenyataan/realita yang ada disekitar siswa. Pada saat pembentukan kelompok guru kurang bisa menguasai kelas, karena siswa ramai dalam kelas. Bimbingan dari guru belum nampak, guru hanya memperhatikan sebagian kecil siswa. Pada saat membuat simpulan guru belum mengajak siswa secara bersama-sama dan belum dilaksanakan dengan baik. Guru tidak melakukan refleksi setelah pembelajaran dilaksanakan. Siswa masih belum paham akan alur pembelajaran Numbered Heads Together terlihat masih bingung dalam proses pembelajaran. Pada saat pembentukan kelompok, siswa masih gaduh. Hal tersebut mungkin dikarenakan siswa belum terbiasa melakukan kerja kelompok. Pada saat kerja kelompok, siswa belum mampu berpartisipasi aktif, hanya ada beberapa siswa yang mendominasi dalam kelompok. Beberapa petanyaan dari guru belum mampu dijawab dengan baik oleh siswa. Siswa belum mampu membuat kesimpulan secara bersama tentang proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Dari beberapa kekurangan saat pembelajaran menggunakan model Numbered Heads Together perlu dilakukan refleksi untuk perbaikan pertemuan kedua siklus I. Guru diharapkan lebih menguasai model pembelajaran Numbered Heads Together saat pertemuan ke 2 siklus I. Guru juga harus lebih menguasai kelas saat pembentukan kelompok. Bimbingan kepada siswa perlu ditingkatkan lagi, sehingga siswa lebih merasa dihargai dan memudahkan siswa untuk memahami materi. Guru hendaknya melakukan refleksi, agar siswa lebih memahami secara mendalam materi yang telah diajarkan. Pada pertemuan 2 siklus 1 diharapkan siswa lebih mengerti dan dapat mengikuti model pembelajaran Numbered Heads Together dengan baik. Siswa diharapkan lebih berani mengemukakan pendapat, sehingga pembelajaran akan berlangsung lebih menarik. Siswa juga perlu lebih berkonsentrasi dan fokus, sehingga ketika guru mengajukan pertanyaan siswa siap menjawab dengan benar. Pada akhir pembelajaran, siswa hendaknya mampu secara bersama dengan bibingan guru membuat simpulan tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan.

8 54 Pertemuan 2 1. Perencanaan Pada tahap perencanaan, penulis menyiapkan RPP yang telah disusun bersama guru kelas IV dengan materi berbagai penyebab perubahan lingkungan fisik (angin, hujan, cahaya matahari, dan gelombang air laut). Merpersiapkan lembar observasi untuk mengetahui aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran yang sudah diusun oleh penulis. Merpersiapkan lembar kerja kelompok dan media flipchart yang sudah dibuat oleh penulis. Pada pertemuan 2 tes evaluasi belum diberikan. Kegiatan dibantu oleh 1 guru kelas 3 untuk mengamati proses pembelajaran yang berlangsung dan penulis sebagai dokumentasi pembelajaran. 2. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan siklus I pertemuan kedua telah dilaksanakan pada tanggal 18 Maret 2014, melalui kegiatan-kegiatan: Pada saat mengawali pembelajaran ini salah seorang siswa memimpin doa, kemudian guru mengucapkan salam dan mengkondisikan siswa siap menerima pelajaran, melakukan absensi kelas dan memeriksa kesiapan belajar siswa. Guru menunjukkan gambar angin kemudian bertanya kepada siswa, lalu guru melakukan bertannya. Apa kalian bisa melihat angin?, Kenapa bisa terjadi angin? guru menampung semua jawaban siswa untuk disimpulkan dan menyampaikan tujuan pembelajaran. Pada kegiatan inti, ketika eksplorasi siswa memperhatikan gambar banjir yang ditunjukkan guru. Siswa dibimbing guru melakukan tanya jawab tentang gambar banjir dan penyebabnya kemudian siswa bersama guru meluruskan jawaban yang salah. Pada saat elaborasi siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 5 anak dari jumlah siswa 25 anak. Setiap anggota kelompok mendapat nomor yang berbeda. Nomor yang disediakan 1-5 untuk masing-masing kelompok. Kemudian guru membagikan flip chart sebagai media belajar dan membimbing siswa dalam kelompok. Siswa bersama guru melakukan tanya jawab tentang materi yang terdapat pada flip chart. Setelah itu guru membagi lembar kerja

9 55 kepada setiap kelompok. Pada saat kerja kelompok, setiap siswa berpikir bersama dalam kelompoknya. Setelah kelompok selesai mengerjakan, guru memanggil nomor anggota dan menyebutkan satu nomor. Para siswa dari tiap kelompok yang nomornya dipanggil menyiapkan jawaban untuk dipresentasikan/dilaporkan. Pada kegiatan konfirmasi guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa. Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan penyimpulan. Pada saat kegiatan akhir, guru mengulas sekilas mengenai materi yang dipelajari untuk mengetahui kemampuan siswa dalam penguasaan materi. Kemudian guru bersama siswa melakukan refleksi tentang proses pembelajaran yang telah dilakukan. Seteah itu guru menyampaikan pembelajaran untuk pertemuan selanjutnya. Siswa mengerjakan tes formatif. Pada saat mengakhiri pembelajaran, guru menyampaikan pembelajaran untuk pertemuan selanjutnya. 3. Observasi 1. Data hasil observasi guru Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh observer pada guru kelas 4 mata pelajaran IPA saat mengajar menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together. Pada pertemuan ke 2 siklus I guru sudah melakukan bempelajaran dengan model Numbered Heads Together dengan baik. Guru mulai terbiasa menerapkan model pembejaran yang direncanakan. Guru lebih terlihat santai dan tidak canggung lagi. Guru juga sudah melakukan bimbingan secara menyeluruh kepada sebagian besar siswa. Materi dapat dikuasai dengan baik oleg guru. Terlihat guru lebih terampil menggunakan media yang telah disediakan. Guru sudah mulai mengajak siswa untuk membuat simpulan secara bersama dan melakukan refleksi. Beberapa kelemahan masih dialami guru. Guru belum secara runtut melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan metode atau model yang telah dirancang. Selama proses pembelajaran, guru masih agak mendominasi proses pembelajaran, walaupun terkadang siswa diajak secara aktif. Guru menggunakan waktu terlalu banyak atau belum sesuai dengan waktu yang disediakan. Motivasi

10 56 dan penguatan untuk siswa kurang diberikan, sehingga siswa cenderung kurang antusias menjawab pertanyaan dari guru. 2. Data hasil observasi siswa Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh observer pada siswa kelas 4 mata pelajaran IPA saat proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together. Siswa lebih baik saat proses pembelajaran menggunakan model Numbered Heads Together dibandingkan pertemuan 1. Siswa menyiapkan diri, alat dan berdoa sebelum proses pembelajaran dimulai. Siswa memulai proses pembelajaran dengan berdoa dengan dipimpin salah satu siswa. Siswa mempersiapkan diri untuk mengikuti pembelajaran. Mereka duduk dengan tertib sesuai dengan tempat duduknya masing-masing. Pada saat proses pembelajaran, sebagian besar siswa sudah lebih aktif mencatat berbagai penjelasan dari guru. Siswa sebagian besar nampak lebih antusias ketika menggunakan media pembelajaran yang disediakan. Beberapa kelemahan masih dialami oleh siswa. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain ketika guru bertanya tentang materi yang lalu, hanya sebagian kecil siswa saja yang mampu menjelaskan kembali. Siswa masih agak malu-malu untuk mengajukan pertanyaan maupun pendapat. Masih ada siswa yang gaduh ketika dibagi kelompok, walaupun sebagian sudah dapat dikendalikan. Pada saat guru mengajukan beberapa pertanyaan, sebagian besar siswa tidak mampu menjawab dengan tepat. Pada akhir pembelajaran, hanya sebagian kecil siswa yang mmpu diajak secara bersama-sama untuk membuat kesimpulan. Siswa kurang merespon refleksi yang diberikan oleh guru. 4. Refleksi Berdasarkan hasil observasi, Beberapa kelemahan masih dialami guru. Guru belum secara runtut melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan metode atau model yang telah dirancang. Selama proses pembelajaran, guru masih agak mendominasi proses pembelajaran, walaupun terkadang siswa diajak secara aktif. Guru menggunakan waktu terlalu banyak atau belum sesuai dengan waktu yang

11 57 disediakan. Motivasi dan penguatan untuk siswa kurang diberikan, sehingga siswa cenderung kurang antusias menjawab pertanyaan dari guru. Siswa masih agak malu-malu untuk mengajukan pertanyaan maupun pendapat. Masih ada siswa yang gaduh ketika dibagi kelompok, walaupun sebagian sudah dapat dikendalikan. Pada saat guru mengajukan beberapa pertanyaan, sebagian besar siswa tidak mampu menjawab dengan tepat. Pada akhir pembelajaran, hanya sebagian kecil siswa yang mmpu diajak secara bersama-sama untuk membuat kesimpulan. Siswa kurang merespon refleksi yang diberikan oleh guru. Dari beberapa kekurangan saat pembelajaran menggunakan model Numbered Heads Together perlu dilakukan refleksi untuk perbaikan pada siklus II. Diharapkan guru lebih menguasai model pembelajaran Numbered Heads Together saat pertemuan I siklus II. Guru juga harus lebih memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif selama proses pembelelajaran. Bimbingan kepada siswa perlu ditingkatkan lagi, sehingga siswa lebih merasa dihargai dan memudahkan siswa untuk memahami materi. Penguatan serta motivasi diharapkan lebih diperhatikan oleh guru agar siswa merasa lebih dihargai dan terdorong untuk berusaha kembali dan berusaha lebih baik lagi. Pada pertemuan I siklus II diharapkan siswa lebih mengerti dan dapat mengikuti model pembelajaran Numbered Heads Together dengan baik. Siswa diharapkan lebih berani mengemukakan pendapat, sehingga pembelajaran akan berlangsung lebih menarik. Siswa juga perlu lebih berkonsentrasi dan fokus, sehingga ketika guru mengajukan pertanyaan siswa siap menjawab dengan benar. Pada akhir pembelajaran, siswa hendaknya mampu secara bersama dengan bibingan guru membuat simpulan tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan. Pertemuan 3 1. Perencanaan Pada tahap perencanaan, penulis menyiapkan soal evaluasi untuk siswa dengan materi mendeskripsikan berbagai berbagai penyebab perubahan lingkungan fisik (angin, hujan, cahaya matahari, dan gelombang air laut) yang

12 58 telah disusun. Disediakan 20 butir soal pilihan ganda yang telah disusun oleh penulis. Pada pertemuan 3 tes evaluasi diberikan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah menerapkan model pembelajaran Numbered Heads Together berbantuan media flip chart. 2. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan siklus I pertemuan ketiga telah dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 19 Maret 2014, melalui kegiatan-kegiatan: Pada saat mengawali pembelajaran ini salah seorang siswa memimpin doa, kemudian guru mengucapkan salam dan mengkondisikan siswa siap mengikuti kegiatan pembelajaran, melakukan absensi kelas dan memeriksa kesiapan belajar siswa. Guru memeriksa kesiapan alat dan bahan yang digunakan pada saat tes. Guru memotivasi siswa agar dapat mengerjakan soal dengan jujur dan teliti. Pada kegiatan inti, siswa duduk dengan rapi di tempat duduknya masingmasing. Guru menunjukkan lembar kerja kepada siswa. Guru membacakan petunjuk mengerjakan lembar kerja. Guru membagi lembar kerja kepada setiap siswa. Guru mengawasi siswa yang sedang mengerjakan soal. Soal dikumpulkan secara bersama-sama sesuai dengan waktu waktu yang ditentukan. Salah satu siswa mengumpulkan lembar jawab dari setiap siswa agar tidak gaduh. Pada saat kegiatan akhir, guru mengulas materi yang telah dipelajari untuk mengetahui kemampuan siswa dalam penguasaan materi melalui tanya jawab. Guru bersama siswa melakukan refleksi tentang proses pembelajaran yang telah dilakukan. Guru memotivasi siswa untuk tekun dalam belajar. Guru menyampaikan pembelajaran untuk pertemuan selanjutnya. 3. Observasi Pada pertemuan ketiga difokukan pada tes evaluasi. Evaluasi diberikan kepada setiap siswa secara individu untuk mengetahui hasil pembelajaran setelah diterapkan model pembelajaran Numbered Heads Together. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada pertemuan ketiga, guru telah melakasanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Guru memulai pembelajaran dengan tenang dan santai. Guru berusaha memotivasi siswa untuk siap melaksanakan tes. Guru menjelaskan dengan baik petunjuk pengerjaan soal. Guru

13 59 telah melakukan pengawasan terhadap siswa secara objektif. Penguasaan kelas sudah baik. Kelemahan guru pada saat pertemuan ketiga siklus pertama adalah guru belum melaksanakan sesuai dengan waktu yang dialokasikan. Guru juga belum melaksanakan refleksi dengan baik di akhir kegiatan pembelajaran. Pada saat tes dilaksanakan siswa mengawali dengan baik. Siswa memulai dengan berdoa bersama. Alat tulis sudah dipersiapkan dengan baik oleh siswa. Kelemahan masih dialami siswa. Siswa masih Nampak takut ketika dilaksanakan tes. Mereka terlihat gugup. Namun dengan motivasi guru, akhirnya siswa bisa lebih tenang. Siswa masih Nampak agak berisik ketika tes berlangsung, namun guru sedah berusaha memberi arahan dan bimbingan agar mereka mengerjakan dengan jujur dan tenang. Refleksi Siklus I Berdasarkan pembelajaran yang telah dilaksanakan, hasil belajar IPA sudah mengalami peningkatan. Tetapi masih ada siswa yang mendapat nilai di bawah KKM. Beberapa kelemahan masih dialami guru. Guru belum secara runtut melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan metode atau model yang telah dirancang. Selama proses pembelajaran, guru masih agak mendominasi proses pembelajaran, walaupun terkadang siswa diajak secara aktif. Guru menggunakan waktu terlalu banyak atau belum sesuai dengan waktu yang disediakan. Motivasi dan penguatan untuk siswa kurang diberikan, sehingga siswa cenderung kurang antusias menjawab pertanyaan dari guru. Beberapa kelemahan juga masih dialami oleh siswa. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain ketika guru bertanya tentang materi yang lalu, hanya sebagian kecil siswa saja yang mampu menjelaskan kembali. Siswa masih agak malu-malu untuk mengajukan pertanyaan maupun pendapat. Masih ada siswa yang gaduh ketika dibagi kelompok, walaupun sebagian sudah dapat dikendalikan. Pada saat guru mengajukan beberapa pertanyaan, sebagian besar siswa tidak mampu menjawab dengan tepat. Pada akhir pembelajaran, hanya sebagian kecil siswa yang mmpu diajak secara bersama-sama untuk membuat kesimpulan. Siswa kurang merespon refleksi yang diberikan oleh guru.

14 60 Berdasarkan kekurangan-kekurangan dari pelaksanaan pembelajaran siklus I, penulis dan guru kelas akan memperbaiki proses belajar mengajar pada siklus II. Pada siklus II, model pembelajaran tipe Numbered Heads Together lebih ditekankan, serta pembagian kelompok menjadi lebih kecil. Seluruh siswa diharapkan dapat lebih berperan aktif sehingga pembelajaran akan berjalan lebih menarik dan menyenagkan. Hal tersebut diharapkan mampu memudahkan siswa untuk memahami materi yang disampaikan. Guru juga hendaknya lebih aktif membimbing serta memotivasi siswa agar lebih antusias mengikuti pembelajaran. Penguasaan kelas juga harus bisa ditingkatkan agar tercipta suasana kelas yang kondusif dan nyaman untuk melakukan proses pembelajaran. Siklus II Pada pelaksanaan pembelajaran siklus II di kelas 4 SD Negeri 4 Sidorejo terdiri dari 3 pertemuan. Pertemuan 1 1. Perencanaan Pada tahap perencanaan, penulis menyiapkan RPP yang telah disusun bersama guru kelas IV dengan materi pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan (erosi, abrasi, banjir, dan longsor). Mempersiapkan lembar observasi untuk mengetahui aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran yang sudah dibuat oleh penulis. Merpersiapkan lembar kerja kelompok dan media pembelajaran flip chart yang telah dibuat oleh penulis. Pada pertemuan 1, tes evaluasi belum diberikan. Kegiatan dibantu oleh 1 guru kelas 3 untuk mengamati proses pembelajaran yang berlangsung dan penulis sebagai dokumentasi pembelajaran. 2. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan siklus II pertemuan pertama telah dilaksanakan pada tanggal 20 Maret 2014, melalui kegiatan-kegiatan: Pada saat mengawali pembelajaran, salah seorang siswa memimpin doa, kemudian guru mengucapkan salam dan mengkondisikan siswa siap menerima pelajaran, melakukan absensi kelas dan memeriksa kesiapan belajar siswa. Guru menunjukkan gambar gempa bumi kemudian bertanya kepada siswa, lalu bertanya

15 61 kepada siswa, Minggu lalu apa kalian lihat ada hujan abu?, Kenapa bisa terjadi bisa terjadi hujan abu? kemudian guru menampung semua jawaban siswa untuk disimpulkan dan menyampaikan tujuan pembelajaran. Pada kegiatan inti, ketika eksplorasi siswa memperhatikan gambar gempa bumi yang ditunjukkan guru. Siswa dibimbing guru melakukan tanya jawab tentang gambar gempa bumi dan akibatnya kemudian siswa bersama guru meluruskan jawaban yang salah. Pada saat elaborasi siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 4 anak dari jumlah siswa 25 anak. Setiap anggota kelompok mendapat nomor yang berbeda. Nomor yang disediakan 1-4 untuk masing-masing kelompok. Kemudian guru membagikan flip chart sebagai media belajar dan membimbing siswa dalam kelompok. Siswa bersama guru melakukan tanya jawab tentang materi yang terdapat pada flip chart. Setelah itu guru membagi lembar kerja kepada setiap kelompok. Pada saat kerja kelompok, setiap siswa berpikir bersama dalam kelompoknya. Setelah kelompok selesai mengerjakan, guru memanggil nomor anggota dan menyebutkan satu nomor. Para siswa dari tiap kelompok yang nomornya dipanggil menyiapkan jawaban untuk dipresentasikan/dilaporkan. Pada saat kegiatan konfirmasi guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa. Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan penyimpulan. Pada kegiatan akhir guru, mengulas sekilas mengenai materi yang dipelajari untuk mengetahui kemampuan siswa dalam penguasaan materi. Guru menyampaikan pembelajaran untuk pertemuan selanjutnya. 3. Observasi 1. Data hasil observasi guru Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh observer pada guru kelas 4 mata pelajaran IPA saat mengajar menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together. Pada pertemuan pertama siklus II guru sudah melakukan bempelajaran dengan model Numbered Heads Together dengan baik. Guru sudah melakukan apersepsi dengan menarik sehingga siswa pada awal pembelajaran sudah nampak

16 62 antusias. Guru terlihat siap dan menguasai materi yang disampaikan. Penerapan model pembelajaran sudah mulai runtut dan rapi sehingga siswa tidak merasa kebingungan. Penggunaan media pembelajaran oleh guru sudah lebih mampu menarik perhatian siswa. Beberapa kelemahan masih dialami oleh guru. Guru belum menyampaikan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Guru kurang mengkaitkan materi yang disampaikan dengan pengetahuan lain yang relevan. Guru jega belum mengkaitkan materi dengan realitas kehidupan di sekitar. Pada saat pelaksanaan pembelajaran, guru masih lemah dalam mengatur waktu sehingga waktu yang digunakan cendenrung lebih lama dari pada waktu yang telah direncanakan. Pada akhir pembelajaran guru kurang membimbing siswa untuk membuat simpulan secara berama-sama. 2. Data hasil observasi siswa Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh observer pada siswa kelas 4 mata pelajaran IPA saat proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together. Siswa lebih baik saat proses pembelajaran menggunakan model Numbered Heads Together. Siswa melakukan proses pembelajaran Numbered Heads Together dengan baik. Dalam siklus II pertemuan I, siswa nampak lebih siap mengikuti proses pembelajaran. Siswa menyiapkan diri, alat dan berdoa sebelum proses pembelajaran dimulai. Siswa memulai proses pembelajaran dengan berdoa dengan dipimpin salah satu siswa. Siswa mempersiapkan diri untuk mengikuti pembelajaran. Mereka duduk dengan tertib sesuai dengan tempat duduknya masing-masing. Dalam proses pembelajaran, sebagian besar siswa sudah lebih aktif mencatat berbagai penjelasan dari guru. Siswa sebagian besar nampak lebih antusias ketika menggunakan media pembelajaran yang disediakan. Sebagian besar siswa sudah berani untuk bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru. Beberapa kekurangan masih dialami oleh siswa. Sebagian besar siswa masih belum berani mengemukakan pendapat atau menanggapi penjelasan dari guru. Dalam pembentukan kelompok, masih ada siswa yang gaduh. Siswa masih mengalami kesulitan atau butuh waktu agak lama untuk menjawab pertanyaan

17 63 dari guru. Pada akhir pembelajaran, sebagian besar siswa masih belum mampu membuat simpulan bersama-sama. 4. Refleksi Berdasarkan hasil observasi, Beberapa kelemahan masih dialami oleh guru. Guru belum menyampaikan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Guru kurang mengkaitkan materi yang disampaikan dengan pengetahuan lain yang relevan. Guru jega belum mengkaitkan materi dengan realitas kehidupan di sekitar. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru masih lemah dalam mengatur waktu sehingga waktu yang digunakan cendenrung lebih lama dari pada waktu yang telah direncanakan. Pada akhir pembelajaran guru kurang membimbing siswa untuk membuat simpulan secara berama-sama. Beberapa kekurangan masih dialami oleh siswa. Sebagian besar siswa masih belum berani mengemukakan pendapat atau menanggapi penjelasan dari guru. Dalam pembentukan kelompok, masih ada siswa yang gaduh. Siswa masih mengalami kesulitan atau butuh waktu agak lama untuk menjawab pertanyaan dari guru. Pada akhir pembelajaran, sebagian besar siswa masih belum mampu membuat simpulan bersama-sama. Berdasarkan hasil observasi, maka perlu dilakukan refleksi pada pertemuan kedua siklus II proses pembelajaran dengan menggunakan model Numbered Heads Together dapat lebih meningkat. Pada pertemuan kedua siklus II guru diaharapkan mampu memperbaiki kelemahan-kelamahan yang ada. Guru hendaknya mampu mengkaitkan materi yang ada dengan pengetahuan lain yang relevan serta realitas kehidupan. Hal tersebut akan berdampak positif bagi siswa karena siswa akan lebih mudah mengingat dan memahami materi yang diasampaikan. Penggunaan waktu juga harus diperhatikan oleh guru, sehingga pelaksanaan pembelajaran sesuia dengan yang direncakana. Pembuatan kesimpulan hendaknya juga penting ditekankan agar siswa lebih memahami secara mendalam tentang materi yang telah dipelajari. Siswa juga diharapkan lebih berani lagi dalam mengemukakan pendapat dan menanggapi penjelasan dari guru. Pada akhir pembelajaran siswa harus mampu

18 64 membuat simpulan baik secara mandiri maupun bersama-sama, sehingga mereka lebih menguasai materi secara mendalam. Pertemuan 2 1. Perencanaan Pada tahap perencanaan, penulis menyiapkan RPP yang telah disusun dengan berkolaborasi bersama guru kelas IV dengan materi cara pencegahan kerusakan lingkungan (erosi, abrasi, banjir, dan longsor). Merpersiapkan lembar observasi untuk mengetahui aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran yang telah disusun oleh penulis. Merpersiapkan lembar kerja kelompok dan media pembelajaran flip chart yang sudah dibuat oleh penulis. Pada pertemuan 2, tes evaluasi belum diberikan. Kegiatan dibantu oleh 1 guru kelas 3 untuk mengamati proses pembelajaran yang berlangsung dan penulis sebagai dokumentasi pembelajaran. 2. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan siklus II pertemuan kedua telah dilaksanakan pada tanggal 21 Maret 2014, melalui kegiatan-kegiatan: Pada saat mengawali pembelajaran, salah seorang siswa memimpin doa, kemudian guru mengucapkan salam dan mengkondisikan siswa siap menerima pelajaran, melakukan absensi kelas dan memeriksa kesiapan belajar siswa. Guru menunjukkan gambar erosi akibat gelolombang air, lalu bertanya kepada siswa, siapa yang penah lihat erosi, bagaimana cara mencegahnya kemudian guru menampung semua jawaban siswa untuk disimpulkan dan menyampaikan tujuan pembelajaran. Pada kegiatan inti, ketika eksplorasi siswa memperhatikan gambar erosi akibat gelolombang air yang ditunjukkan guru. Siswa dibimbing guru melakukan tanya jawab tentang gambar gempa bumi dan akibatnya kemudian siswa bersama guru meluruskan jawaban yang salah. Pada saat elaborasi siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 4 anak dari jumlah siswa 25 anak. Setiap anggota kelompok mendapat nomor yang berbeda. Nomor yang disediakan 1-4 untuk masing-masing kelompok.

19 65 Kemudian guru membagikan flip chart sebagai media belajar dan membimbing siswa dalam kelompok. Siswa bersama guru melakukan tanya jawab tentang materi yang terdapat pada flip chart. Setelah itu guru membagi lembar kerja kepada setiap kelompok. Dalam kerja kelompok, setiap siswa berpikir bersama dalam kelompoknya. Setelah kelompok selesai mengerjakan, guru memanggil nomor anggota dan menyebutkan satu nomor. Para siswa dari tiap kelompok yang nomornya dipanggil menyiapkan jawaban untuk dipresentasikan/dilaporkan. Pada kegiatan konfirmasi guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa. Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan penyimpulan. Pada saat kegiatan akhir guru, mengulas sekilas mengenai materi yang dipelajari untuk mengetahui kemampuan siswa dalam penguasaan materi. Siswa mengerjakan tes formatif. Guru menyampaikan pembelajaran untuk pertemuan selanjutnya. 3. Observasi 1. Data hasil observasi guru Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh observer pada guru kelas 4 mata pelajaran IPA saat mengajar menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together berbantuan media flip chart. Pada pertemuan pertama siklus II guru sudah melakukan bempelajaran dengan model Numbered Heads Together dengan baik. Pada saat pertemuan ke 2 siklus II guru sudah melakukan bempelajaran dengan model Numbered Heads Together dengan sangat baik. Guru telah melaksanakan pembelajaran lebih baik dan menarik. Guru sudah melakukan apersepsi dengan menarik sehingga siswa pada awal pembelajaran sudah nampak antusias. Guru sudah menyampaikan dengan baik tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Guru sudah berusaha mengkaitkan materi dengan pengetahuan yang relevan. Guru terlihat siap dan menguasai materi yang disampaikan. Penerapan model pembelajaran sudah mulai runtut dan rapi sehingga siswa tidak merasa kebingungan. Guru sudah mampu lebih baik dalam menguasai kelas, terutama pada saat pembagian kelompok. Materi disampaikan dengan mengunakan waktu sesuai dengan rencana yang

20 66 disipakan. Penerapan model pembelajaran lebih runtut dan baik dalam pelaksanaannya. Penggunaan media pembelajaran oleh guru sudah lebih mampu menarik perhatian siswa. Refleksi sudah dilaksanakan dengan baik. Beberapa kelemahan masih dialami oleh guru. Guru belum mengkaitkan dengan realitas kehidupan di sekitar. Pada saat akhir pembelajaran, guru kurang memotivasi dan mengajak siswa secara bersamasama untuk membat simpulan. 2. Data hasil observasi siswa Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh observer pada siswa kelas 4 mata pelajaran IPA saat mengajar menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together. Siswa lebih baik saat proses pembelajaran menggunakan model Numbered Heads Together dibandingkan pertemuan 1. Dalam siklus II pertemuan 2, siswa nampak jauh lebih siap mengikuti proses pembelajaran. Seperti biasanya siswa menyiapkan diri, alat dan berdoa sebelum proses pembelajaran dimulai. Siswa memulai proses pembelajaran dengan berdoa dengan dipimpin salah satu siswa. Siswa mempersiapkan diri untuk mengikuti pembelajaran. Mereka duduk dengan tertib sesuai dengan tempat duduknya masing-masing. Pada saat proses pembelajaran, sebagian besar siswa sudah lebih aktif mencatat berbagai penjelasan dari guru. Siswa sebagian besar nampak lebih antusias ketika menggunakan media pembelajaran yang disediakan. Sebagian besar siswa sudah berani untuk bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru. Kelemahan pada pertemuan pertama yaitu siswa masih gaduh pada saat pembagian kelompok tidak nampak lagi pada pertemuan kedua. Beberapa kelemahan masih dialami siswa. Siswa sebagian besar masih belum berani bertanya mengemukakan pendapatnya ketika guru menjelaskan. Siswa masih nampak malu-malu ataupun belum berani berpendapat, walaupun guru sebenarnya sudah berusaha memotivasi. 4. Refleksi Berdasarkan hasil observasi, beberapa kelemahan masih dialami guru. Guru belum mengkaitkan dengan realitas kehidupan di sekitar. Pada saat akhir

21 67 pembelajaran, guru kurang memotivasi dan mengajak siswa secara bersama-sama untuk membat simpulan. Siswa sebagian besar masih belum berani bertanya atau mengemukakan pendapatnya ketika guru menjelaskan. Siswa masih nampak malu-malu ataupun belum berani berpendapat, walaupun guru sebenarnya sudah berusaha memotivasi. Guru diharapkan lebih mengkaitkan materi dengan realitas kehidupan disekitar agar siswa lebih lama mengingat dan mudah memahami. Pada akhir penmbelajaran hendaknya guru mampu memotivasi siswa untuk membuat simpulan secara bersamama-sama. Hal tersebut penting karena dapat membuat siswa memahami lebih mendalam tentang materi yang telah diajarkan. Pada pembelajaran berikutnya, siswa diharapkan lebih berani lagi dalam mengungkapkan pendapatnya. Hal tersebut melatih berfikir kritis siswa. Siswa hendaknya tidak perlu takut atau khawatir jika jawaban salah, akan tetapi siswa harus berani mencoba. Pertemuan 3 1. Perencanaan Pada tahap perencanaan, penulis menyiapkan soal evaluasi untuk siswa dengan materi mendeskripsikan berbagai penyebab perubahan lingkungan fisik (angin, hujan, cahaya matahari, dan gelombang air laut) yang sudah disusun. Disediakan 20 butir soal yang telah dibuat oleh penulis. Pada pertemuan 3 tes evaluasi diberikan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah menerapkan model pembelajaran Numbered Heads Together berbantuan media flip chart. 2. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan siklus II pertemuan ketiga telah dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 22 Maret 2014, melalui kegiatan-kegiatan: Pada saat mengawali pembelajaran ini salah seorang siswa memimpin doa, kemudian guru mengucapkan salam dan mengkondisikan siswa siap mengikuti kegiatan pembelajaran, melakukan absensi kelas dan memeriksa kesiapan belajar

22 68 siswa. Guru memeriksa kesiapan alat dan bahan yang digunakan pada saat tes. Guru memotivasi siswa agar dapat mengerjakan soal dengan jujur dan teliti. Pada kegiatan inti, siswa duduk dengan rapi di tempat duduknya masingmasing. Guru menunjukkan lembar kerja kepada siswa. Guru membacakan petunjuk mengerjakan lembar kerja. Guru membagi lembar kerja kepada setiap siswa. Guru mengawasi siswa yang sedang mengerjakan soal. Soal dikumpulkan secara bersama-sama sesuai dengan waktu waktu yang ditentukan. Salah satu siswa mengumpulkan lembar jawab dari setiap siswa agar tidak gaduh. Pada saat kegiatan akhir, Guru mengulas materi yang telah dipelajari untuk mengetahui kemampuan siswa dalam penguasaan materi melalui tanya jawab. Guru bersama siswa melakukan refleksi tentang proses pembelajaran yang telah dilakukan. Guru memotivasi siswa untuk tekun dalam belajar. Guru menyampaikan pembelajaran untuk pertemuan selanjutnya. 3. Observasi Pada pertemuan ketiga difokukan pada tes evaluasi. Evaluasi diberikan kepada setiap siswa secara individu untuk mengetahui hasil pembelajaran setelah diterapkan model pembelajaran Numbered Heads Together. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada pertemuan ketiga, guru telah melakasanakan kegiatan pembelajaran dengan sangat baik. Guru memulai pembelajaran dengan tenang dan santai. Guru berusaha memotivasi siswa untuk siap melaksanakan tes. Guru menjelaskan dengan baik petunjuk pengerjaan soal. Guru telah melakukan pengawasan terhadap siswa secara objektif. Penguasaan kelas sudah baik. Guru telah melaksanakan sesuai dengan waktu yang dialokasikan Kelemahan guru pada saat pertemuan ketiga siklus pertama adalah Guru juga belum melaksanakan refleksi dengan baik di akhir kegiatan pembelajaran. Pada saat tes dilaksanakan siswa mengawali dengan baik. Siswa memulai dengan berdoa bersama. Alat tulis sudah dipersiapkan dengan baik oleh siswa. Siswa nampak lebih siap mengikuti tes dibandingkan tes sebelumnya pada siklus satu pertemuan ketiga. Siswa juga sudah terlihat tenang dan tidak gaduh lagi.

23 69 Refleksi Siklus II Berdasarkan observasi pada siklus II, terjadi peningkatan pada guru dan siswa yang lebih baik dibandingkan dengan siklus I, walaupun masih terdapat beberapa kekurangan. Kelebihan dari guru pada siklus II adalah guru telah melaksanakan pembelajaran lebih baik dan menarik. Guru sudah melakukan apersepsi dengan menarik sehingga siswa pada awal pembelajaran sudah nampak antusias. Guru sudah menyampaikan dengan baik tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. Guru sudah berusaha mengkaitkan materi dengan pengetahuan yang relevan. Guru terlihat siap dan menguasai materi yang disampaikan. Penerapan model pembelajaran sudah mulai runtut dan rapi sehingga siswa tidak merasa kebingungan. Guru sudah mampu lebih baik dalam menguasai kelas, terutama pada saat pembagian kelompok. Materi disampaikan dengan mengunakan waktu sesuai dengan rencana yang disipakan. Penerapan model pembelajaran lebih runtut dan baik dalam pelaksanaannya. Penggunaan media pembelajaran oleh guru sudah lebih mampu menarik perhatian siswa. Refleksi sudah dilaksanakan dengan baik. Beberapa kelemahan masih dialami oleh guru. Guru belum mengkaitkan dengan realitas kehidupan di sekitar. Dalam akhir pembelajaran, guru kurang memotivasi dan mengajak siswa secara bersamasama untuk membat simpulan. Kelebihan dari siswa pada siklus II adalah siswa nampak jauh lebih siap mengikuti proses pembelajaran. Seperti biasanya siswa menyiapkan diri, alat dan berdoa sebelum proses pembelajaran dimulai. Siswa memulai proses pembelajaran dengan berdoa dengan dipimpin salah satu siswa. Siswa mempersiapkan diri untuk mengikuti pembelajaran. Mereka duduk dengan tertib sesuai dengan tempat duduknya masing-masing. Pada saat proses pembelajaran, sebagian besar siswa sudah lebih aktif mencatat berbagai penjelasan dari guru. Siswa sebagian besar nampak lebih antusias ketika menggunakan media pembelajaran yang disediakan. Sebagian besar siswa sudah berani untuk bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru. Kelemahan pada pertemuan pertama yaitu siswa masih gaduh pada saat pembagian kelompok tidak nampak lagi pada

24 70 pertemuan kedua. Beberapa kelemahan masih dialami siswa. Siswa sebagian besar masih belum bertanya mengemukakan pendapatnya ketika guru menjelaskan. Siswa masih nampak malu-malu ataupun belum berani berpendapat, walaupun guru sebenarnya sudah berusaha memotivasi. Secara keseluruhan pelaksanaan pembelajaran pada siklus II jauh lebih baik dari pada pembelajaran pra siklus atau siklus I. Guru telah berusaha dengan sungguh untuk memperbaiki setiap klemahan-kelemahan pada pertemuan sebelumnya. Siswa juga Nampak lebih terbiasa dan menikmati pembelajaran yang dilaksanakan. Hal tersebut diharapkan akan berdampak positif terhadap kerja guru serta motivasi siswa untuk selalu belajar dan berusaha dengan sungguh-sungguh pada pembelajaran selanjutnya Hasil Analisis Data Lembar Observasi Data Pra Siklus dan Siklus I Pada lembar observasi data pra siklus dan siklus I yang akan dianalisis adalah (1) Hasil Analisis Data aktivitas guru pra siklus dan siklus I (2) Hasil analisis data aktivitas siswa pra siklus dan siklus I, dan (3) Hasil analisis Data ketuntasan hasil belajar pra siklus dan siklus I Hasil Analisis Data Aktivitas Guru Pra Siklus dan Siklus I Hasil analisis data aktivitas guru dalam proses pembelajaran IPA kelas 4 pada pra siklus dan siklus I dapat dilihat pada tabel 4.1. Skor Penilaian Tabel 4.1 Hasil Aktivitas Guru Dalam Proses Pembelajaran Pada Pra Siklus dan Siklus I Pra Siklus Siklus I Pertemuan 1 Pertemuan 2 Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Skor Skor Skor Skor Jumlah Prosentase 100% 43,94% 100% % 100% 71,42% Kategori - Kurang Baik - Cukup Baik - Baik

25 71 Berdasarkan hasil analisis data aktivitas guru pada tabel 4.1, maka dapat dijelaskan bahwa: Pada pra siklus, jumlah skor yang diperoleh secara keseluruhan sebanyak 58. Prosentase skor dengan jumlah skor secara keseluruhan 58 adalah 43,94%, maka dapat dikualifikasikan pada kategori kurang baik. Pada siklus I dalam pertemuan 1 terjadi peningkatan, jumlah skor yang diperoleh secara keseluruhan sebanyak 74. Prosentase skor adalah 66,07%, maka dapat dikualifikasikan pada kategori cukup baik. Pada pertemuan 2 meningkat kembali, jumlah skor yang diperoleh guru secara keseluruhan sebanyak 80. Prosentase skor adalah 71,42%, maka dapat dikualifikasikan pada kategori baik. Berdasarkan penjelasan tentang hasil analisis data aktivitas guru pada pra siklus dan siklus I, maka dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas guru dalam proses pembelajaran pada pra siklus dan siklus I. Pada awalnya prosentase skor pada pra siklus adalah 43,94%, lalu meningkat menjadi 66,07% pada siklus I pertemuan 1, kemudian prosentase skor meningkat lagi menjadi 71,42% pada siklus I pertemuan Hasil Analisis Data Aktivitas Siswa Pra Siklus dan Siklus I Hasil analisis data aktivitas siswa dalam proses pembelajaran IPA kelas 4 pada pra siklus dan siklus I dapat dilihat pada tabel 4.2. Skor Penilaian Tabel 4.2 Hasil Aktivitas Siswa Dalam Proses Pembelajaran Pada Pra Siklus dan Siklus I Siklus I Pra Siklus Pertemuan 1 Pertemuan 2 Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Frekuensi Jumlah Skor Skor Skor Skor Jumlah Prosentase 100% 43,48% 100% 68,48% 100% 70,65% Kategori - Kurang Baik - Cukup Baik - Baik

26 72 Berdasarkan hasil analisis data aktivitas siswa pada tabel 4.2, maka dapat dijelaskan bahwa: Pada pra siklus, jumlah skor yang diperoleh secara keseluruhan sebanyak 40. Prosentase skor dengan jumlah skor secara keseluruhan 40 adalah 43,48% maka dapat dikualifikasikan pada kategori kurang baik. Pada siklus I dalam pertemuan 1 terjadi peningkatan, jumlah skor yang diperoleh secara keseluruhan sebanyak 63. Prosentase skor dengan jumlah skor secara keseluruhan 63 adalah 68,48% maka dapat di kualifikasi pada kategori cukup baik. Pada pertemuan 2 aktivitas guru meningkat kembali, jumlah skor yang diperoleh siswa secara keseluruhan sebanyak 65. Prosentase skor adalah 70,65% maka dapat di kualifikasikan pada kategori baik. Berdasarkan penjelasan tentang hasil analisis data aktivitas siswa pada pra siklus dan siklus I, maka dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran pada pra siklus dan siklus I. Pada awalnya prosentase skor pada pra siklus adalah 43,48%, lalu meningkat menjadi 68,48% pada siklus I pertemuan 1, kemudian prosentase skor meningkat lagi menjadi 70,65% pada siklus I pertemuan Hasil Analisis Data Ketuntasan Hasil Belajar Pra Siklus dan Siklus I Hasil analisis data ketuntasan hasil belajar IPA kelas 4 pada pra siklus dan siklus I dapat dilihat pada tabel 4.3. Tabel 4.3 Nilai Tes Pra Siklus dan Siklus I No Rentang Nilai Pra Siklus Siklus I Jumlah Prosentase Jumlah Prosentase % 3 12% % 16 64% % 1 4% % 3 12% % 2 8% Jumlah % % KKM Rata-rata 56,6 64,2 Nilai Tertinggi Nilai Terendah 40 45

27 73 Berdasarkan tabel 4.3 tentang nilai tes pada pra siklus dan siklus I, maka dapat dijelaskan bahwa: Pada pra siklus sebelum diterapkan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together berebantuan media flipchart, jumlah siswa yang mendapat nilai tidak ada atau 0%, siswa yang mendapat nilai antara sebanyak 9 siswa atau 36%, siswa yang mendapat nilai antara sebanyak 3 siswa atau 12%, siswa yang mendapat nilai sebanyak 7 siswa atau 28%, dan yang mendapat nilai sebanyak 6 atau 24%. Berdasarkan data hasil tes menunjukkan sebagian besar siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Pada siklus I setelah diterapkan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together berebantuan media flipchart, terjadi peningkatan ketuntasan siswa. Jumlah siswa yang mendapat nilai sebanyak 3 siswa atau 12%, siswa yang mendapat nilai antara sebanyak 16 siswa atau 64%, siswa yang mendapat nilai antara sebanyak 1 siswa atau 4%, siswa yang mendapat nilai sebanyak 3 siswa atau 12%, dan yang mendapat nilai sebanyak 2 siswa atau 8%. Berdasarkan data hasil tes menunjukkan bahwa pada pra siklus sebagian besar siswa belum mencapai ketuntasan belajar dan ketuntasan meningkat pada siklus I. Data ketuntasan belajar pada Pra Siklus dan Siklus I dapat dilihat pada tabel 4.4. Tabel 4.4 Data Ketuntasan Hasil Belajar IPA Pada Pra Siklus dan Siklus II No Ketuntasan Pra siklus Siklus I Jumlah Prosentase Jumlah Prosentase 1 Tuntas 9 36% 17 68% 2 Tidak tuntas 16 64% 8 32% Jumlah % % Berdasarkan hasil analisis ketuntasan hasil belajar IPA siswa kelas 4 SD Negeri 4 Sidorejo pada tabel 4.4, maka dapat dijelaskan bahwa: Pada pra siklus dan model pembelajaran Numbered Heads Together belum diterapkan, hasil belajar siswa dari ulangan harian pada hari Selasa tanggal 10

28 74 Februari 2014 pada mata pelajaran IPA dalam pokok bahasan gaya dapat mengubah gerak suatu benda nilai rata-rata kelas masing rendah yaitu 56,35. Siswa yang nilainya diatas KKM ( 65) atau yang tuntas hasil belajarnya adalah 9 siswa (36%), sedangkan 16 siswa (64%) belum tuntas. Nilai tertinggi 70, dan nilai terendah 40. Pada siklus I dan model pembelajaran Numbered Heads Together telah diterapkan, hasil belajar siswa dari ulangan harian pada hari Rabu tanggal 19 Maret 2014 pada mata pelajaran IPA dalam pokok bahasan berbagai penyebab perubahan lingkungan fisik (angin, hujan, cahaya matahari, dan gelombang air laut) nilai rata-rata kelas meningkat menjadi 64,2. Siswa yang nilainya diatas KKM ( 65) atau yang tuntas hasil belajarnya juga meningkat menjadi 22 siswa (88%), sedangkan pada siklus I hanya 17 siswa (68%). Siswa yang tidak tuntas menurun atau lebih baik menjadi 3 siswa (12%) sedangkan pada siklus I siswa yang tidak tuntas sebanyak 8 siswa (32%). Nilai tertinggi meningkat menjadi 90, sedangkan pada siklus I hanya 75. Nilai terendah juga ikut meningkat menjadi 55, sedangkan pada siklus I hanya 45. Siswa yang nilainya diatas KKM ( 65) atau yang tuntas hasil belajarnya juga meningkat menjadi 17 siswa (68%) dibandingkan pada pra siklus yang hanya 9 siswa (36%). Siswa yang tidak tuntas menurun atau lebih baik menjadi 8 siswa (32%) belum tuntas, sedangkan pada pra siklus siswa yang tidak tuntas sebanyak 16 siswa (64%). Nilai tertinggi meningkat menjadi 75, sedangkan pada pra sikus hanya 70. Pada nilai terendah juga meningkat menjadi 45 dibandingkan dengan pra siklus yang hanya 40. Perbandingan ketuntasan pada pada pra siklus dan siklus I dapat dilihat pada gambar 4.1.

29 75 80,00% 70,00% 60,00% 64,00% Hasil Belajar IPA 68% 50,00% 40,00% 30,00% 36,00% 32% Tidak Tuntas Tuntas 20,00% 10,00% 0,00% Pra Siklus Siklus I Gambar 4.1 Diagram Batang Ketuntasan Belajar Pra Siklus dan siklus I Berdasarkan gambar 4.1 tentang ketuntasan belajar pada pra siklus dan siklus I dapat dijelaskan bahwa: Prosentase ketuntasan Hasil Belajar IPA pada pra siklus menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM 65) sebanyak 16 siswa atau 64% dari total keseluruhan siswa. Sedangkan siswa yang nilainya telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum sebanyak 9 siswa atau 36% dari total keseluruhan siswa. Prosentase ketuntasan Hasil Belajar IPA pada siklus I menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM 65) sebanyak 8 siswa atau 68% dari total keseluruhan siswa. Sedangkan siswa yang nilainya telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum sebanyak 17 siswa atau 32% dari total keseluruhan siswa Lembar Observasi Data Siklus I dan Siklus II Pada lembar observasi data siklus I dan siklus II yang akan dianalisis adalah (1) Data aktivitas guru siklus I dan siklus II (2) Data aktivitas siswa siklus I dan siklus II, dan (3) Data ketuntasan hasil belajar siklus I dan siklus II.

30 Hasil Analisis Data Aktivitas Guru Siklus I dan Siklus 1I Hasil analisis data aktivitas guru dalam proses pembelajaran IPA kelas 4 pada siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel 4.5. Skor Penilaian Tabel 4.5 Hasil Aktivitas Guru Dalam Proses Pembelajaran Pada Siklus I dan Siklus II Siklus I Siklus II Pertemuan 1 Pertemuan 2 Pertemuan 1 Pertemuan 2 F Jumlah F Jumlah F Jumlah F Jumlah Skor Skor Skor Skor Jumlah % 100% % - 71,42% - 75% - 86,61% K - Cukup Baik - Baik - Baik - Sangat Baik Keterangan: F : Frekuensi % : Prosentase Skor K : Kategori Berdasarkan hasil analisis data aktivitas guru pada tabel 4.5, maka dapat dijelaskan bahwa: Pada siklus I dalam pertemuan 1, jumlah skor yang diperoleh secara keseluruhan sebanyak 74. Prosentase skor dengan jumlah skor secara keseluruhan 74 adalah 66,07% maka dapat dikualifikasikan pada kategori cukup baik. Pada pertemuan 2 aktivitas guru meningkat, jumlah skor yang diperoleh guru secara keseluruhan sebanyak 80. Prosentase skor dengan jumlah skor secara keseluruhan 80 adalah 71,42% maka dapat di kualifikasikan pada kategori baik. Pada siklus II dalam pertemuan 1 aktivitas guru kembali meningkat dibandingkan dengan siklus I, baik pada pertemuan pertama maupun yang kedua, jumlah skor yang diperoleh guru secara keseluruhan sebanyak 85. Prosentase skor dengan jumlah skor secara keseluruhan 85 adalah 75% maka dapat di kualifikasikan pada kategori baik. Pada pertemuan 2 aktivitas guru terus

31 77 meningkat, jumlah skor yang diperoleh guru secara keseluruhan sebanyak 97. Prosentase skor dengan jumlah skor secara keseluruhan 97 adalah 86,61% maka dapat di kualifikasikan pada kategori sangat baik. Berdasarkan penjelasan tentang hasil analisis data aktivitas guru pada siklus I dan siklus II, maka dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas guru dalam proses pembelajaran pada siklus I dan siklus II. Pada awalnya prosentase skor pada siklus I pertemuan 1 adalah 66,07%, kemudian meningkat menjadi 71,42% pada siklus I pertemuan 2, setelah itu prosentase skor meningkat lagi menjadi 75% pada siklus II pertemuan 1, kemudian pada siklus II pertemuan 2 prosentasi skor meningkat kembali menjadi 86,61% Hasil Analisis Data Aktivitas Siswa Siklus I dan Siklus 1I Hasil analisis data aktivitas siswa dalam proses pembelajaran IPA kelas 4 pada siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel 4.6. Skor Penilaian Tabel 4.6 Hasil Aktivitas Siswa Dalam Proses Pembelajaran Pada Siklus I dan Siklus II Siklus I Siklus II Pertemuan 1 Pertemuan 2 Pertemuan 1 Pertemuan 2 F Jumlah F Jumlah F Jumlah F Jumlah Skor Skor Skor Skor % 100% 68,48% 100% 70,65% 100% 76,09% 100% 86,96% K - Keterangan: F : Frekuensi % : Prosentase Skor K : Kategori Cukup Baik - Baik - Baik - Sangat Baik

32 78 Berdasarkan hasil analisis data aktivitas siswa pada tabel 4.6, maka dapat dijelaskan bahwa: Pada siklus I dalam pertemuan 1, jumlah skor yang diperoleh secara keseluruhan sebanyak 63. Prosentase skor dengan jumlah skor secara keseluruhan 63 adalah 68,48% maka dapat di kualifikasi pada kategori cukup baik. Pada pertemuan 2 aktivitas siswa meningkat, jumlah skor yang diperoleh siswa secara keseluruhan sebanyak 65. Prosentase skor dengan jumlah skor secara keseluruhan 65 adalah 70,65% maka dapat di kualifikasikan pada kategori baik. Pada siklus II dalam pertemuan 1 aktivitas siswa kembali meningkat dibandingkan dengan siklus I, jumlah skor yang diperoleh siswa secara keseluruhan sebanyak 70. Prosentase skor dengan jumlah skor secara keseluruhan 70 adalah 76,09% maka dapat di kualifikasikan pada kategori baik. Pada pertemuan 2 aktivitas siswa terus meningkat, jumlah skor yang diperoleh siswa secara keseluruhan sebanyak 80. Prosentase skor dengan jumlah skor secara keseluruhan 80 adalah 86,96% maka dapat di kualifikasikan pada kategori sangat baik. Berdasarkan penjelasan tentang hasil analisis data aktivitas siswa pada siklus I dan siklus II, maka dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran pada siklus I dan siklus II. Pada awalnya prosentase skor pada siklus I pertemuan 1 adalah 68,48%, kemudian meningkat menjadi 70,65% pada siklus I pertemuan 2, setelah itu prosentase skor meningkat lagi menjadi 76,09% pada siklus II pertemuan 1, kemudian pada siklus II pertemuan 2 prosentasi skor meningkat kembali menjadi 86,96% Hasil Analisis Data Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I dan Siklus 1I Hasil analisis data ketuntasan hasil belajar IPA kelas 4 pada siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel 4.7.

33 79 Tabel 4.7 Nilai Tes Siklus I dan Siklus II No Rentang Nilai Siklus I Siklus II Jumlah Prosentase Jumlah Prosentase % 2 8% % 10 40% % 10 40% % 3 12% % 0 0% Jumlah % % KKM Rata-rata 64,2 70,6 Nilai Tertinggi Nilai Terendah Berdasarkan tabel 4.7 tentang nilai tes pada siklus I dan siklus II, maka dapat dijelaskan bahwa: Pada siklus I dan telah diterapkan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together berebantuan media flipchart, jumlah siswa yang mendapat nilai tidak ada atau 0%, siswa yang mendapat nilai antara sebanyak 4 siswa atau 16%, siswa yang mendapat nilai antara sebanyak 13 siswa atau 52%, siswa yang mendapat nilai antara sebanyak 5 siswa atau 20%, dan siswa yang mendapat nilai sebanyak 3 siswa atau 12%. Pada siklus II dan telah diterapkan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together berebantuan media flipchart, terjadi peningkatan ketuntasan siswa. Jumlah siswa yang mendapat nilai adalah 2 siswa atau 8%, siswa yang mendapat nilai antara sebanyak 10 siswa atau 40%, siswa yang mendapat nilai antara sebanyak 10 siswa atau 40%, siswa yang mendapat nilai antara sebanyak 3 siswa atau 12%, dan siswa yang mendapat nilai tidak ada atau 0%. Berdasarkan data hasil tes menunjukkan terjadi peningkatan pada siklus II dibandingkan dengan siklus I. Data ketuntasan belajar pada Pra Siklus dan Siklus I dapat dilihat pada tabel 4.8.

34 80 Tabel 4.8 Data Ketuntasan Hasil Belajar IPA Pada Siklus I dan Siklus II No Ketuntasan Siklus I Siklus II Frekuensi Prosentase Frekuensi Prosentase 1 Tuntas 17 68% 22 88% 2 Tidak tuntas 8 32% 3 12% Jumlah % % Berdasarkan hasil analisis ketuntasan hasil belajar IPA siswa kelas 4 SD Negeri 4 Sidorejo pada tabel 4.8, maka dapat dijelaskan bahwa: Pada siklus I dan model pembelajaran Numbered Heads Together telah diterapkan, hasil belajar siswa dari ulangan harian pada hari Rabu tanggal 19 Maret 2014 pada mata pelajaran IPA dalam pokok bahasan berbagai penyebab perubahan lingkungan fisik (angin, hujan, cahaya matahari, dan gelombang air laut) nilai rata-rata kelas adalah 64,2. Siswa yang nilainya diatas KKM ( 65) atau yang tuntas hasil belajarnya adalah 17 siswa (68%), sedangkan 8 siswa (32%) belum tuntas. Nilai tertinggi 75, dan nilai terendah 45. Pada siklus II dan model pembelajaran Numbered Heads Together telah diterapkan, hasil belajar siswa dari ulangan harian pada hari Sabtu tanggal 22 Maret 2014 pada mata pelajaran IPA dalam pokok bahasan pengaruh perubahan lingkungan fisik terhadap daratan (erosi, abrasi, banjir, dan longsor) nilai rata-rata kelas meningkat menjadi 70,6 dibandingkan dengan siklus I yang hanya 64, 2. Siswa yang nilainya diatas KKM ( 65) atau yang tuntas hasil belajarnya juga meningkat menjadi 22 siswa (88%), sedangkan pada siklus I hanya 17 siswa (68%). Siswa yang tidak tuntas menurun atau lebih baik menjadi 3 siswa (12%) sedangkan pada siklus I siswa yang tidakb tuntas sebanyak 8 siswa (32%). Nilai tertinggi meningkat menjadi 90, sedangkan pada siklus I hanya 75. Nilai terendah juga ikut meningkat menjadi 55, sedangkan pada siklus I hanya 45. Perbandingan ketuntasan pada pada pra siklus dan siklus I dapat dilihat pada gambar 4.2.

35 81 Hasil Belajar IPA 100% 90% 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 32% Siklus I 68% 12% Siklus II 88% Tidak Tuntas Tuntas Gambar 4.2. Diagram Batang Ketuntasan Belajar Siklus I dan siklus II Berdasarkan gambar 4.2 tentang ketuntasan belajar pada siklus I dan siklus II dapat dijelaskan bahwa: Prosentase ketuntasan Hasil Belajar IPA pada siklus I menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM 65) sebanyak 8 siswa atau 32% dari total keseluruhan siswa. Sedangkan siswa yang nilainya telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum sebanyak 17 siswa atau 68% dari total keseluruhan siswa. Prosentase ketuntasan Hasil Belajar IPA pada siklus II menunjukkan bahwa siswa yang memperoleh nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM 65) sebanyak 3 siswa atau 12% dari total keseluruhan siswa. Sedangkan siswa yang nilainya telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimum sebanyak 22 siswa atau 88% dari total keseluruhan siswa Perbandingan Data Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II Berdasarkan anaslis data tiap siklus, maka data yang dibandingkan adalah (1) Data aktivitas guru pra siklus, siklus I dan siklus II (2) Data aktivitas siswa pra siklus, siklus I dan siklus II, dan (3) Data ketuntasan hasil belajar pra siklus, siklus I dan siklus II.

36 Hasil Analisis Data Aktivitas Guru Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II Hasil analisis data aktivitas guru dalam proses pembelajaran pada pra siklus, siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel 4.9. Skor Penilaian Tabel 4.9 Hasil Aktivitas Guru Dalam Proses Pembelajaran Pada Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II Siklus I Siklus II Pra Siklus Pertemuan 1 Pertemuan 2 Pertemuan 1 Pertemuan 2 F F F F F Skor Skor Skor Skor % - 43,94% % - 71,42% - 75% - 86,61% K - Kurang Baik Keterangan: F : Frekuensi : Jumlah % : Prosentase Skor K : Kategori - Cukup Baik - Baik - Baik - Sangat Baik Berdasarkan hasil analisis data aktivitas guru pada tabel 4.9, maka dapat dijelaskan bahwa: Pada kondisi awal (pra siklus) sebelum diadakan penelitian tindakan guru masih cenderung menggunakan ceramah dalam proses pembelajaran. Jumlah skor yang diperoleh secara keseluruhan sebanyak 54. Prosentase skor adalah 43,94%. Guru lebih mendominasi proses pembelajran sedangkan siswanya pasif dalam proses pembelajan yang berlangsung. Dampaknya adalah siswa tidak secara optimal menyerap materi pelajaran yang disampaikan karena merasa jenuh dan bosan. Hal tersebut berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa. Proses belajar mengajar yang berlangsung dengan metode ceramah dianggap kurang efektif terutama dalam mata pelajaran IPA dengan pokok bahasan memahami perubahan lingkungan fisik dan pengaruhnya terhadap daratan. Sehingga diterapkan pembelajaran yang lebih menarik dan dapat mendorong siswa lebih aktif selama

37 83 proses pembelajaran. Maka diharapkan siswa dapat lebih mudah dan mendalam dalam memahami materi pembelajaran khususnya materi perubahan lingkungan fisik dan pengaruhnya terhadap daratan. Aktivitas guru meningkat setelah diterapkan model pembelajaran Numbered Heads Together. Peningkatan aktivitas guru dapat dilihat dari perolehan hasil analisis data siklus I dan II. Pada siklus I dalam pertemuan 1, jumlah skor yang diperoleh secara keseluruhan sebanyak 74. Prosentase skor adalah 66,07%. Dibandingkan dengan pertemuan 1, terjadi peningkatan pada aktivitas guru pada siklus I pertemuan 2, jumlah skor yang diperoleh guru secara keseluruhan meningkat menjadi 80. Prosentase skor menjadi 71,42%. Perolehan hasil analisis data aktivitas guru pada siklus I masih belum optimal, beberapa kekurangan dalam penelitian tindakan siklus I sehingga harus ada perbaikan yaitu guru hendaknya lebih aktif membimbing serta memotivasi siswa agar lebih antusias mengikuti pembelajaran. Penguasaan kelas juga harus bisa ditingkatkan agar tercipta suasana kelas yang kondusif dan nyaman untuk melakukan proses pembelajaran. Pada siklus II perbaikan hasil analisis data aktivitas guru difokuskan pada kekurangan di siklus I. Hasil siklus II dengan penerapan pembelajaran Numbered Heads Together dalam pertemuan 1, jumlah skor yang diperoleh guru secara keseluruhan sebanyak 85. Prosentase skor adalah 75%. Dibandingkan dengan pertemuan 1, terjadi peningkatan pada aktivitas guru pada siklus I pertemuan 2, jumlah skor yang diperoleh guru secara keseluruhan meningkat menjadi 97. Prosentase skor menjadi 86,61%. Beberapa kelemahan masih dialami oleh guru. Guru belum mengkaitkan dengan realitas kehidupan di sekitar. Dalam akhir pembelajaran, guru kurang memotivasi dan mengajak siswa secara bersamasama untuk membat simpulan. Secara keseluruhan pelaksanaan pembelajaran pada siklus II jauh lebih baik dari pada pembelajaran pra siklus atau siklus I. Guru telah berusaha dengan sungguh untuk memperbaiki setiap kelemahan-kelemahan pada pertemuan sebelumnya. Hal tersebut diharapkan akan berdampak positif terhadap kerja guru

38 84 serta motivasi siswa untuk selalu belajar dan berusaha dengan sungguh-sungguh pada pembelajaran selanjutnya. Peningkatan aktivitas guru pada pra siklus, siklus I dan siklus II dapat dilihat pada gambar 4.3. Axis Title 100,00% 80,00% 60,00% 40,00% 20,00% 0,00% Pra Siklus Aktivitas Guru Siklus I Pert. 1 Siklus I Pert.2 Siklus II Pert. 1 Gambar 4.3 Diagram Batang Peningkatan Aktivitas Guru Pada Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II Berdasarkan gambar 4.3 tentang hasil analisis data aktivitas guru, dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas guru pada setiap siklus. Peningkatan tersebut terbukti dari adanya kenaikan prosentase skor tiap siklus. Pada pra siklus Prosentase skor adalah 43,94%, setelah diadakan tindakan siklus I terjadi peningkatan Prosentase skor menjadi 66,07% pada pertemuan 1, dan meningkat lagi pada pertemuan 2 yaitu menjadi 71,42%. Pada siklus II, Prosentase skor terus meningkat menjadi 75% dalam pertemuan 1, dan meningkat lagi pada pertemuan 2 yaitu menjadi 86,61%. Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran menggunakan model Numbered Heads Together dapat meningkatkan aktivitas guru dalam proses pembelajaran IPA pada pokok bahasan memahami perubahan lingkungan fisik dan pengaruhnya terhadap daratan Hasil Analisis Data Aktivitas Siswa Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II Hasil analisis data aktivitas siswa dalam proses pembelajaran IPA kelas 4 pada pra siklus, siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel Siklus II Pert. 2 Aktivitas Guru 43,94% 66% 71% 75% 86,61%

39 85 Skor Penilaian Tabel 4.10 Hasil Aktivitas Siswa Dalam Proses Pembelajaran Pada Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II Siklus I Siklus II Pra Siklus Pertemuan 1 Pertemuan 2 Pertemuan 1 Pertemuan 2 F F F F F Skor Skor Skor Skor % - 43,48% - 68,48% - 70,65% - 76,09% - 86,96% K - Kurang Cukup Sangat - - Baik - Baik - Baik Baik Baik Keterangan: F : Frekuensi : Jumlah % : Prosentase Skor K : Kategori Berdasarkan hasil analisis data aktivitas siswa pada tabel 4.10, maka dapat dijelaskan bahwa: Pada kondisi awal (pra siklus) sebelum diadakan penelitian tindakan aktivitas siswa masih rendah. Jumlah skor yang diperoleh secara keseluruhan sebanyak 40. Prosentase skor adalah 43,48%. Aktivitas siswa meningkat setelah diterapkan model pembelajaran Numbered Heads Together. Peningkatan aktivitas guru dapat dilihat dari perolehan hasil analisis data siklus I dan II. Pada siklus I dalam pertemuan 1, jumlah skor yang diperoleh secara keseluruhan sebanyak 63. Prosentase skor adalah 68,48%. Dibandingkan dengan pertemuan 1, terjadi peningkatan pada aktivitas guru pada siklus I pertemuan 2, jumlah skor yang diperoleh guru secara keseluruhan meningkat menjadi 65. Prosentase skor menjadi 70,65%. Perolehan hasil analisis data aktivitas guru pada siklus I masih belum optimal, beberapa kekurangan dalam penelitian tindakan siklus I sehingga harus ada perbaikan yaitu seluruh siswa diharapkan dapat lebih berperan aktif sehingga

40 86 pembelajaran akan berjalan lebih menarik dan menyenagkan. Hal tersebut diharapkan mampu memudahkan siswa untuk memahami materi yang disampaikan. Pada siklus II perbaikan hasil analisis data aktivitas siswa difokuskan pada kekurangan di siklus I. Hasil siklus II dengan penerapan pembelajaran Numbered Heads Together dalam pertemuan 1, jumlah skor yang diperoleh guru secara keseluruhan sebanyak 70. Prosentase skor adalah 76,09%. Dibandingkan dengan pertemuan 1, terjadi peningkatan pada aktivitas guru pada siklus I pertemuan 2, jumlah skor yang diperoleh guru secara keseluruhan meningkat menjadi 80. Prosentase skor menjadi 86,96%. Peningkatan aktivitas siswa pada pra siklus, siklus I dan siklus II dapat dilihat pada gambar 4.4. Prosentase 100,00% 90,00% 80,00% 70,00% 60,00% 50,00% 40,00% 30,00% 20,00% 10,00% 0,00% Pra Siklus Aktivitas Siswa Siklus I Pert. 1 Siklus I Pert. 2 Siklus II Pert. 1 Siklus II Pert. 2 Aktivitas Siswa 43,48% 68% 71% 76% 86,96% Gambar 4.4 Grafik Peningkatan Aktivitas Siswa Pada Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II Berdasarkan gambar 4.4 tentang hasil analisis data aktivitas siswa, dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas siswa pada setiap siklus. Peningkatan tersebut terbukti dari adanya kenaikan prosentase skor tiap siklus. Pada pra siklus Prosentase skor adalah 43,48%, setelah diadakan tindakan siklus I terjadi peningkatan Prosentase skor menjadi 68,48% pada pertemuan 1, dan

41 87 meningkat lagi pada pertemuan 2 yaitu menjadi 70,65%. Pada siklus II, Prosentase skor terus meningkat menjadi 76,09% dalam pertemuan 1, dan meningkat lagi pada pertemuan 2 yaitu menjadi 86,96%. Hal ini membuktikan bahwa pembelajaran menggunakan model Numbered Heads Together dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran IPA pada pokok bahasan memahami perubahan lingkungan fisik dan pengaruhnya terhadap daratan Hasil Analisis Data Ketuntasan Hasil Belajar Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II Hasil analisis data ketuntasan hasil belajar IPA kelas 4 pada pra siklus, siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel Tabel 4.11 Data Ketuntasan Hasil Belajar IPA Pada Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II No Ketuntasan Pra siklus Siklus I Siklus II F % F % F % 1 Tuntas 9 36% 17 68% 22 88% 2 Tidak tuntas 16 64% 8 32% 3 12% Jumlah % % % Nilai maksimum Nilai minimum Rata-rata 56,6 64,2 70,6 KKM Keterangan: F : Frekuensi % : Prosentase Berdasarkan hasil analisis ketuntasan hasil belajar IPA siswa kelas 4 SD Negeri 4 Sidorejo pada tabel 4.11, maka dapat dijelaskan bahwa: Hasil belajar IPA meningkat setelah diterapkan model pembelajaran Numbered Heads Together. Peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas 4 SD Negeri 4 Sidorejo dapat dilihat dari perolehan data ketuntasan hasil belajar IPA siklus I dan II.

42 88 Pada kondisi awal (pra siklus) sebelum diadakan penelitian tindakan di kelas 4 SD Negeri 4 Sidorejo sebagian besar dari jumlah siswa yaitu 16 siswa (64%) belum mencapai kriteria ketuntasan minimal dan hanya sebanyak 9 siswa (36%) untuk kriteria ketuntasan minimal (KKM 65). Nilai tertinggi yang berhasil di dapatkan oleh siswa sebelum tindakan adalah 70 sedangkan nilai terendahnya adalah 40. Peningkatan hasil belajar IPA dapat dilihat dari perolehan nilai siklus I dan II. Siklus I dengan penerapan pembelajaran Numbered Heads Together siswa yang mencapai KKM 65 meningkat menjadi 17 siswa (68%) dan sebanyak 8 siswa (32%) belum tuntas KKM. Nilai tertinggi meningkat menjadi 75 dan nilai terendahnya menjadi 45. Pada siklus II perbaikan hasil belajar siswa difokuskan pada kekurangan di siklus I. Hasil siklus II dengan penerapan pembelajaran Numbered Heads Together siswa yang mencapai KKM 65 meningkat menjadi 22 siswa (88%) dan sebanyak 3 siswa (12%) belum tuntas KKM. Nilai tertinggi meningkat menjadi 90 dan nilai terendahnya meningkat menjadi 55. Meskipun belum dapat mencapai 100% namun dapat dikatakan bahwa penelitian telah berhasil sesuai indikator kinerja yaitu jika minimal dari 80% seluruh siswa kelas 4 SD Negeri 4 Sidorejo Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan pada mata pelajaran IPA telah mencapai KKM 65. Peningkatan hasil belajar IPA siswa Kelas 4 pada pra siklus, siklus I dan siklus II dapat dilihat pada gambar 4.5.

43 89 100,00% 90,00% 80,00% 70,00% 60,00% 50,00% 40,00% 30,00% 20,00% 10,00% 0,00% Hasil Belajar IPA 88% 64,00% 68% 36,00% 32% 12% Pra Siklus Siklus I Siklus II Tidak Tuntas Tuntas Gambar 4.5 Diagram Batang Rekapitulasi Perbandingan Hasil Belajar IPA Kelas 4 SD Negeri 4 Sidorejo pada Kondisi Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II Berdasarkan gambar 4.5 tampak bahwa terjadi peningkatan ketuntasan belajar IPA pada pra siklus dan siklus I kemudian ke siklus II. Dalam kondisi awal siswa sebelum diadakan tindakan dengan menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together hampir sebagian dari keseluruhan siswa belum tuntas atau memenuhi KKM 65 sebesar 64% sedangkan yang sudah tuntas sebesar 36% dari keseluruhan siswa. Setelah diadakan tindakan dengan menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together pada siklus I terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar IPA sebesar 68% siswa tuntas dan masih ada 32% siswa yang belum tuntas. Maka dari itu perlu meningkatkan hasil belajar pada siklus II. Sedangkan pada siklus II tampak telah terjadi peningkatan hasil belajar IPA yang signifikan dengan 88% siswa tuntas dan hanya 12% saja siswa yang belum tuntas atau memenuhi KKM.