PERLAWANAN WACANA POLITIK DI DUNIA MAYA. Rizky Abrian, S.S, M.Hum. PT Pelindo Husada Citra Pos-el:

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PERLAWANAN WACANA POLITIK DI DUNIA MAYA. Rizky Abrian, S.S, M.Hum. PT Pelindo Husada Citra Pos-el:"

Transkripsi

1 PERLAWANAN WACANA POLITIK DI DUNIA MAYA Rizky Abrian, S.S, M.Hum. PT Pelindo Husada Citra Pos-el: Abstrak Perkembangan internet melahirkan banyak laman-laman media yang salah satunya adalah laman mojok.co dengan gaya tulisannya yang satir dan jenaka. Dalam praktiknya, Mojok.co sebagai laman media menulis wacana-wacana tentang Jonru yang kemudian menimbulkan ketidakberesan sosial. Jurnal ini berusaha meneliti bagaimana konstruksi wacana kritis Jonru dalam esai mojok.co melalui perspektif analisis wacana kritis Norman Fairclough. Kata-kata kunci: wacana, satir, counter discourse, Mojok.co Abstract The development of internet is bringing up many media. One of the media that attract the public s attention by its funny and entartaining language style in writing opinions are Mojok.co. In its development, Mojok.co as a media that wrote discourse on Jonru which led to social wrongs. This Journal try to analyze how to constructs discourse analysis of Jonru in Mojok.co s essays with a critical paradigm using the theory of critical discourse analysis of Fairclough. Keywords: discourse, satir, counter discourse, Mojok.co PENDAHULUAN Perkembangan internet melahirkan banyak laman-laman media yang menawarkan berbagai jenis tulisan.tulisan-tulisan media di internet sebagai bagian dari jurnalisme publik terikat dengan kode etik untuk menjaga kredibilitas media itu sendiri. Salah satu dari laman media tersebut adalah laman Mojok.co. Laman Mojok.co dibentuk pada 28 Agustus 2014 di Jogja yang dipimpin oleh Puthut EA. Laman tersebut merupakan laman media online berisi esai-esai yang mengomentari isu-isu sosial yang terjadi di masyarakat. Tulisan opini di Mojok.co berasal dari berbagai penulis dan tema yang beragam.setiap orang disilakan untuk mengirim tulisannya ke laman ini, kemudian tulisan-tulisan tersebut akan dikurasi oleh bagian redaksi Mojok.co. Tulisan-tulisan yang dirasa sesuai dengan redaksi akan diposting ke laman (Mojok.co, 2017). Kekhasan yang membuat laman ini cepat dikenal di dunia maya adalah karakter tulisannya yang santai dan jenaka. Sesuai dengan tagline yang mereka miliki sedikit nakal banyak akal, dalam mengomentari isu-isu yang terjadi di masyarakat, tulisan- 1

2 tulisan di laman ini menampilkan gaya menulis yang santai, yang terkadang diisi guyonan ataupun sindiran yang berhubungan dengan isu dan menggunakan bahasa ala obrolan warung kopi. Meskipun demikian, esai-esai yang diterbitkan Mojok.co sebagai media jurnalistik tetap terikat dengan kode etik jurnalistik. Meski pemimpin Mojok.co menyatakan bahwa laman ini merupakan laman yang netral dan tidak berafiliasi dengan pihak manapun 1. Akan tetapi, dalam praktiknya, Mojok.co justru menunjukkan ketidaknetralan dengan cenderung berpihak ke golongan tertentu sehingga terdapat arah keberpihakan. Keberpihakan yang ada dalam laman Mojok.co adalah terdapat satu bagian yang berisi beberapa tulisan yang membahas dan mencitrakan satu tokoh. Tulisan-tulisan tentang satu tokoh itu dikelompokkan dalam bagian khusus yang dikategorikan dalam tag dan diberi nama Jonru. Dalam kategori ini sementara terdapat 11 artikel yang membahas secara implisit dengan gaya bahasa ala Mojok.co untuk mendeskriditkan sosok Jonru. Jonru adalah seseorang yang mulai muncul dan dikenal pada saat Pemilu Presiden Jonru mulai dikenal publik ketika sering menulis di beberapa media sosial. Pada awalnya, Jonru, dengan nama asli Jon Riah Ukur Ginting adalah salah satu kader Partai Politik PKS (Partai Keadilan Sejahtera), sering menulis esai maupun opini melalui statusstatus facebook. Pada saat pemilihan presiden 2014 Jonru lebih banyak menulis opini di sosial media facebook dan twitter tentang Joko Widodo dan Prabowo. Sebagai pendukung calon presiden Prabowo, Jonru banyak menuliskan opini di fanpage dengan mencitrakan Prabowo dan mengkritisi Joko Widodo. Setelah Pemilihan Presiden usai, Jonru masih tetap rutin untuk menuliskan opini-opini di fanpage miliknya yang berisi kritikan terhadap pemerintah. Jonru banyak menulis opini berisi wacana kritikan terhadap kinerja pemerintahan kabinet Joko Widodo. Hal tersebut kemudian menjadikan popularitas Jonru di sosial media melambung tinggi. Kemunculan Jonru semakin membuat ramai dunia maya karena banyak tulisan Jonru yang subjektif dan terkesan menggiring persepsi masyarakat. Dari berbagai wacana yang ditulis Jonru, beberapa merupakan isu yang merujuk pada salah satu calon presiden 1 Pada tanggal 17 maret 2015, Puthut EA sebagai pemimpin Mojok.co memberikan statement melalui status facebook tentang Mojok.co dalam salah satu pernyataannya adalah bahwa Mojok.co merupakan laman yang tidak berafiliasi dengan politik apapun dan tidak dapat didefinisikan. Pernyataan tersebut ditulis dalam 2

3 yaitu Joko Widodo. Beberapa wacananya antara lain, identitas orang tua Jokowi yang dituduh tidak jelas, isu tentang Jokowi yang melakukan korupsi, isu tentang Jokowi adalah komunis, isu tentang Jokowi anti-islam dengan menghapus Kementrian Agama, hingga foto kunjungan kerja Jokowi yang dituduh editan 2 (Sujatmiko, 2014). Kontroversi dari opini-opini Jonru ini kemudian mendapatkan banyak respon dari publik. Di satu sisi banyak pihak yang mendukung, di sisi lain juga banyak pihak yang berusaha melawan. Dari kontroversi Jonru yang fenomenal ini, kemudian Mojok.co hadir dengan esai-esainya sebagai respon. Mojok.co hadir merespon Jonru dengan menempatkan diri sebagai media akal sehat publik. Namun dalam perkembangan praktiknya sebagai media, mojok.co sendiri memiliki beberapa masalah yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah pelanggaran kode etik jurnalistik. Meski begitu, nyatanya Mojok.co mendapat respon yang bagus dari pengguna internet di Indonesia, dalam satu tahun, laman ini telah mencapai ranking kunjungan laman pengunjung per hari. Mojok.co sebagai bagian jurnalistik yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya, memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pembacanya. Bahasa dapat digunakan untuk beragam fungsi dan bahasa mempunyai berbagai konsekuensi, bisa juga untuk memerintah, memengaruhi, mendeskripsi, mengiba, memanipulasi, menggerakan kelompok atau membujuk (Haryatmoko, 2016). Haryatmoko melanjutkan bahwa bahasa juga bisa digunakan untuk menciptakan realitas sosial. Dari asumsi tersebut, didukung dengan pernyataan bahwa analisis wacana kritis tertarik pada cara bagaimana bahasa dan wacana digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan sosial, termasuk untuk membangun kohesi sosial atau perubahan-perubahan sosial (Haryatmoko, 2016), maka penelitian ini menggunakan teori analisis wacana kritis Norman Fairclough sebagai perangkat teori. Penelitian ini dirasa perlu karena kehadiran Mojok.co sebagai teks media yang berusaha menjadi mediator akal sehat di tengah masyarakat, menghadirkan beberapa ketidakberesan sosial yang menurut Fairclough dipahami sebagai aspek-aspek sistem sosial, bentuk dan tatanan yang merugikan atau merusak kesejahteraan bersama yang bisa 2 daftar isu yang disebar Jonru ini telah dihapus oleh penulisnya, namun beberapa sempat didokumentasikan oleh salah satu akun twitter dan diposting menjadi sebuah daftar dalam satu tautan di 3

4 diperbaiki melalui perubahan radikal dari sistem (Fairclough, Critical Discourse Analysis, 2012). Ketidakberesan sosial tersebut yang pertama adalah cap netralitas yang ditempelkan di laman Mojok.co oleh pemiliknya sendiri yang digunakan untuk menutupi posisi ideologisnya. Ketidakberesan sosial kedua muncul ketika Mojok.co dengan tulisantulisannya berusaha mengonstruksi tokoh Jonru secara negatif yang bisa dikategorikan sebagai propaganda karena adanya usaha sistematis dan disengaja yang digunakan untuk membentuk persepsi dan mengarahkan perilaku sesuai dengan maksud yang diinginkan penulis (Nohrstedt SA, et al, 2000). Ketidakberesan sosial yang ketiga adalah ada upaya mengaburkan konstruksi negatif yang diwacanakan dalam Mojok.co terhadap Jonru dengan menggunakan gaya bahasa yang jenaka sehingga mengesankan tidak adanya konstruksi negatif atau upaya dalam mendeskriditkan Jonru dalam esai-esainya. Berdasarkan ketidakberesan sosial tersebut, penelitian ini berusaha untuk menganalisis bagaimana konstruksi wacana Jonru dalam esai mojok.co, apa saja ideologi yang ingin disampaikan dalam konstruksi wacana tersebut serta bagaimana mengatasi ketidakberesan sosial yang muncul atas kehadiran mojok.co. Beberapa penelitian terdahulu yang pernah dilakukan yaitu Satire as counterdiscourse: Dissent,cultural citizenship, and youth culture in Morocco meneliti tentang video satire dalam youtube yang dibuat oleh warga kota, sebagai bentuk partisipasi produksi kultural dalam konteks paska protes di maroko (Marzouki, 2015). Peneliti memetakan isu-isu yang paling sering digunakan satire sebagai praktik budaya alternatif, kemudian menganalisis posisi ideologis counter-discourse mereka. Peneliti berusaha menjelajah konsekuensi dari satire online pada budaya politik di maroko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehadiran laman internet sebagai medium partisipan dan bentuk persaingan budaya menunjukkan kebangkitan atas budaya perbedaan pandangan politik melalui publik, serta ajakan global dan praktik kosmopolitan budaya perkotaan. Penelitian selanjutnya adalah Wacana Identitas Kota Surabaya dalam Media Alternatif Ayorek. Penelitian tersebut mengkaji tentang identitas kota Surabaya yang diwacanakan media alternatif Ayorek(Fitri, 2016). Ayorek atau Ayorek.org merupakan salah satu media alternatif melalui perantara internet yang mengangkat isu kota, khususnya kota Surabaya. Menjadi menarik ketika sebuah media alternatif mewacanakan 4

5 isu kota selain Jakartaarena mengingat identitas kota yang selama ini diwacanakan media masih cenderung Jakartasentris. Berdasarkan hasil analisis, Ayorek sebagai media alternatif tak hanya menghadirkan counter-discourse atas diskursus dominan mengenai identitas kota Surabaya. Alternativitas yang diajukan sebagai wacana dominan oleh Ayorek selaku media alternatif ini justru menyimpan motif politis lain, seperti memuat kepentingan pihak-pihak tertentu yang masih berada dalam satu jaringan. Landasan Teori Pemikiran awal tentang wacana diawali bahwa wacana adalah alat bagi kepentingan kekuasaan, hegemoni, dominasi budaya, dan ilmu pengetahuan. Kekuasaan dalam hal ini memiliki dimensi yang luas, segala hal yang berada pada sistem relasi, yang menempatkan keberadaan pihak yang dikuasa dan menguasai (Foucault, 1990). Melalui kajiannya tentang inklusi (penyertaan) dan eksklusi (penyingkiran), Foucault menyatakan bahwa kekuasaan terartikulasikan melalui penyelenggaraan pengetahuan dan pengetahuan selalu memiliki efek kuasa. Dalam penelitian ini, teks media ditempatkan sebagai sistem penyelenggaraan pengetahuan yang nantinya mengartikulasikan kekuasaan. Pandangan selanjutnya adalah menurut Fairclough yang mengemukakan wacana sebagai instrumen penting dalam praktik sosial yang mereproduksi dan mengubah pengetahuan, identitas dan hubungan sosial yang mencakup hubungan kekuasaan dan sekaligus dibentuk oleh struktur dan praktik sosial yang lain (Marriane W Jorgensen, 2007). Hal tersebut menjelaskan bahwa terdapat hubungan dialektik antara wacana dengan dimensi sosial yang lain. Fairclough selanjutnya memahami struktur sosial sebagai hubungan sosial di masyarakat secara keseluruhan dan terdiri atas unsur kewacanaan dan nonkewacanaan Analisis Wacana Kritis, dipandang Fairclough sebagai bagian dari analisis kritik sosial yang kemudian bisa dipahami sebagai kritik normatif dan eksplanatoris. Analisis Wacana Kritis menjadi kritik normatif karena tidak hanya mendeskripsikan realitas yang ada, tapi juga mengevaluasi sejauh mana realitas tersebut sesuai dengan berbagai nilai yang ada. Analisis Wacana Kritis juga menjadi kritik eksplanatoris karena tidak hanya mendeskripsikan realitas tapi juga mencoba untuk menjelaskannya (Fairclough, Critical Discourse Analysis, 2012). 5

6 Wacana kemudian dijelaskan lebih lanjut sebagai kritis, dengan melihat wacana tidak hanya berdasari bentuk teks dan makna saja, tapi juga melalui proses produksi wacana dan reproduksi makna juga. Analisis wacana kritis berusaha melihat wacana sebagai praksis sosial yang memiliki hubungan dengan kekuasaan. Haryatmoko menjelaskan dalam AWK, penganalisis mengambil posisi, berpihak dan membongkar, mendemistifikasi bentuk-bentuk dominasi melalui analisis wacana (Haryatmoko, 2016). Teori analisis wacana kritis mengharuskan peneliti menentukan posisinya sejak awal terhadap wacana sehingga dalam penelitiannya terdapat tanggung jawab moral dan politik. Tanggung jawab moral dan politik ini yang kemudian diharapkan analisis wacana kritis tak hanya membongkar ideologi tapi juga menghasilkan perubahan sosial. Dalam menganalisis wacana, metode yang dikemukakan oleh Fairclough didasarkan pada tiga komponen, yakni deskripsi, interpretasi, dan penjelasan (Fairclough, Critical Discourse Analysis : The Critical Study of Language, 1995). Properti-properti linguistik dideskripsikan sebagai hubungan antara proses-proses praktik diskursif yang produktif dan interpretatif dengan teks diinterpretasikan, dan hubungan antara praktik sosial dan diskursif dijelaskan Dalam teori analisis wacana kritis, Norman fairclough menawarkan empat langkah strategi analisis wacana kritis. Berbeda dengan tahap metode penelitian, empat langkah ini digunakan untuk menganalisis dan mengatasi ketidakberesan sosial dalam wacana. Pertama, memberikan perhatian pada ketidakberesan sosial dalam aspek semiotiknya. Ketidakberesan sosial adalah aspek-aspek sosial, bentuk dan tatanan yang merugikan atau merusak kesejahteraan bersama, yang masih bisa diperbaiki dengan perubahan-perubahan sistem yang radikal. Langkah pertama dalam analisis adalah memfokuskan ketidakberesan sosial yang muncul. Dalam fokus ketidakberesan sosial terdapat dua langkah yang dilakukan, pertama adalah memilih sebuah topik penelitian tentang ketidakberesan sosial, Langkah kedua adalah mengidentifikasi hambatan-hambatan untuk menangani ketidakberesan sosial yaitu dengan menanyakan bagaimana kehidupan sosial diorganisir dan distruktur sehingga mencegahnya dari upaya menanganinya. Dalam langkah kedua ini terdapat tiga tahap, pertama menganalisis hubungan dialektik antara semiosis dalam teks. Kedua menyeleksi teks yang berkaitan serta mengelompokkannya sesuai dengan tujuannya untuk membentuk objek penelitian.ketiga melakukan analisis teks. 6

7 Langkah ketiga adalah mempertanyakan apakah tatanan sosial membutuhkan ketidakberesan sosial atau tidak. Apakah ketidakberesan sosial yang muncul atas kehadiran wacana melekat pada tataran sosial, apakah dapat ditangani dalam sistem tersebut, atau hanya bisa ditangani bila diubah. Langkah keempat adalah mengidentifikasi cara-cara yang memungkinkan untuk mengatasi hambatan. Dalam langkah ini dilakukan identifikasi kemungkinankemungkinan dalam proses sosial yang ada untuk mengatasi hambatan-hambatan mengenai ketidakberesan sosial pada wacana. Keempat langkah ini digunakan digunakan ketika memandang objek penelitian sebagai sebuah ketidakberesan sosial. Wacana kemudian ditemukan solusi dari ketidakberesan tersebut yang nantinya akan digunakan dalam membentuk tatanan masyarakat sesuai nilai-nilai yang ada. METODE PENELITIAN Dalam Penelitian yang berjudul Konstruksi Wacana Jonru Dalam Esai-Esai Mojok.co ini, digunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Metode analisis wacana kritis juga disertakan dalam metode analisis penelitian. Metode ini dipahami oleh Fairclough sebagai proses interdisipliner dalam membangun objek penelitian secara teoritis dalam penelitian. (Fairclough, Critical Discourse Analysis, 2012). Dalam versi ini, Analisis Wacana Kritis terhubung dengan metode secara umum, Namun beberapa metode-metode spesifik digunakan untuk bagian-bagian tertentu dalam penelitian berdasarkan dari proses teoritis yang membangun objek penelitian tersebut. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi. Teknik pengumpulan data dokumentasi ini diperoleh melalui media internet dengan cara mengunduh arsip tulisan dalam laman Mojok.co dengan menggunakan aplikasi google chrome. Data berupa arsip tulisan dalam laman Mojok.co terhitung sebanyak 300 tulisan hingga juni 2015 ( Dengan banyaknya populasi tersebut, maka dilakukan teknik pengambilan sampling data dengan cara purposive sampling. Pertimbangan yang dipilih peneliti didasari aspek yang ingin diteliti yaitu konstruksi Jonru dalam laman Mojok.co. Data tersebut adalah tulisan-tulisan yang diarsipkan oleh laman Mojok.co yang diberi kategori tag Jonru. Data primer penelitian ini berupa sebelas tulisan yang telah dipilih secara purposive sampling oleh peneliti.data tersebut adalah esai-esai yang membahas tentang 7

8 jonru. Sedangkan data sekunder dalam penelitian terdiri dari dua aspek. aspek pertama adalah hasil transkrip wawancara dengan Agus Mulyadi selaku redaktur dari laman Mojok.co. Serta laman blog mojok.co. laman blog ini berisi laporan secara berkala tentang perkembangan dari laman mojok.co serta deskripsi kerja yang telah dilakukan oleh redaksi dan rencana-rencana yang akan dilakukan kedepannya dalam mengelola laman mojok.co. Setelah data terkumpul, dilakukan analisis data. Analisis data merupakan upaya peneliti menangani langsung masalah yang terkandung pada data (Sudaryanto, 1993). Penganalisisan data dalam penelitian ini menggunakan dua langkah analisis, yaitu padan referensial, dan empat langkah metode analisis wacana kritis norman Fairclough. Hasil Konstruksi wacana Jonru dalam esai mojok.co Esai dijelaskan berdasarkan unsur, gaya bahasa, serta referensi yang terkait yang dibutuhkan. Setelah itu istilah-istilah atau kutipan dalam esai yang mengonstruksikan Jonru akan dijelaskan beserta referensi pendukung yang memperjelas maksud. Penjelasan dari sebelas esai tersebut akan dijelaskan secara berurutan berdasar tanggal esai dimuat karena tiap esai merupakan representasi dari kondisi sosial pada saat itu. Dari hasil analisis tekstual sebelas esai dengan, ditemukan beberapa aspek konstruksi wacana terhadap Jonru. Semua aspek konstruksi wacana kemudian dikategorisasi dalam tabel sehingga bisa diperlihatkan aspek konstruksi apa saja yang dominan dari tiap-tiap esai. Tabel 1 Konstruksi Wacana Jonru dalam Mojok.co No Judul Esai Aspek Konstruksi 1 Jonru for President Jonru sebagai kritikus, Jonru dengan cacat pikir, Jonru sebagai provokator 2 Cacat Pikir Jonru Ginting Jonru dengan cacat pikir, Jonru sebagai orang berpengetahuan sempit 3 Membela Kak Jonru Jonru sebagai tukang fitnah, Jonru sebagai kritikus, Jonru sebagai orang berpengetahuan sempit, Jonru sebagai pelaku komodifikasi, Jonru dengan logika berpikir keliru, Jonru sebagai orang bodoh, Jonru penulis yang tidak terkenal 4 Pelarangan Jilbab BUMN, Jurnalisme, dan Jonru Syndrome Jonru dengan cacat pikir, Jonru sebagai penyakit, 5 Mojok Person of The Year 2014 Jonru sebagai kritikus, Jonru sebagai pelaku komodifikasi. 8

9 6 Chelsea Islan Penyelamat Loper Koran Jonru menggunakan agama untuk kepentingan pribadi 7 Kenapa Om Jonru Tidak Ikut Demo Menjatuhkan Jokowi? Jonru sebagai provokator, Jonru sebagai pembenci Jokowi, Jonru sebagai kritikus 8 Anjuran kepada Jonru dan Bunda Eden agar Segera Melakukan RevolUFO Jonru sebagai anti pluralisme, Jonru sebagai ekstrimis, Jonru pejuang facebook, Jonru calon diktator, 9 Kartu Penulis Mojok Jonru sebagai bahan olok-olok. 10 Lupakan Jokowi, Inilah Lima Capres Masa Depan Indonesia Jonru sebagai juru kampanye pilpres, Jonru sebagai anti plurarisme, 11 Surat Tertutup Buat Oom Krishna Murti Jonru sebagai pelaku komodifikasi, Jonru kritikus presiden, Ideologi Dalam Esai-Esai Mojok.co Dari praktik yang dilakukan oleh Mojok.co terdapat beberapa aspek ideologi yang coba dibangun berdasarkan analisis teks dalam esai, proses produksi teks dalam redaksi dan konteks sosial. Ideologi pertama adalah kapitalisme wacana di era digital. Kemunculan internet yang mengubah banyak tatanan hidup di masyarakat telah membawa pola hidup masyarakat menuju era digital. Yaitu era dimana informasi melimpah dalam ruang digital dengan kecepatan produksi dan distribusi yang tinggi karena tingkat aksesibilitasnya yang begitu mudah. Perubahan pola hidup masyarakat yang terjadi di era digital ini juga kemudian berpengaruh pada pergeseran pola komunikasi wacana publik di media sosial. Media sosial dengan meminjam istilah menurut Habermas,adalah sebuah ruang publik (publik sphere) yang terbuka bagi semu orang untuk mengemukakan opini, mengunggah informasi sesuai keinginan dan kebutuhan (Habermas, 2011). Dalam konteks di era digital, pola komunikasi politik lebih berfokus kepada pemilih mayoritas yang bergeser dari media massa konvensional menjadi media sosial di internet. Berdasarkan pendapat Suko Widodo, generasi mayoritas pemilih adalah generasi melek internet yang telah menjadikan media sosial sebagai ruang komunikasi publiknya. Sampai saat ini, sudah ada 88,1 juta pengguna internet aktif di Indonesia (Widodo, 2016). Mayoritas yang telah berpindah dari konvensional menjadi digital ini pada akhirnya membuat para tokoh politik juga mengikuti pola komunikasi di media sosial. Dari pola komunikasi seperti yang sudah disebutkan, maka publik kemudian berusaha memaknai politik melalui informasi-informasi yang tersedia di laman-laman berita, bukan dari peristiwa dan pengalaman langsung yang dialami publik dalam dunia nyata. Laman berita berlomba dalam membentuk wacana yang nantinya akan dikonsumsi 9

10 oleh publik. Wacana-wacana ini kemudian menghasilkan citra atas pihak-pihak yang memiliki kepentingan politik kepada publik sebagai konsumen wacana. Pentingnya citra ini sangat berpengaruh terhadap elektabilitas tokoh politik karena berkaitan dengan kesukaan publik atas tokoh-tokoh tertentu. Ketika wacana mampu dikonstruksi secara massif terhadap publik, maka wacana tersebut dapat dibentuk sedemikian rupa sehingga menghasilkan citra yang bisa menguntungkan tokoh politik. Dari pemahaman tersebut kemudian citra dianggap sebagai komoditas yang penting di era digital untuk dikapitalisasi dalam meningkatkan elektabilitas tokoh politik. Kapitalisme, sebagai sistem dinamis dengan mekanisme pengendalian keuntungan yang membawa kepada revolusi berkesinambungan atas makna produksi, dan selalu mencari pasar baru (Barker, 2004). Pemahaman kapitalisme kemudian menempatkan citra sebagai komoditas baru yang bisa dikomersialisasikan oleh produsen-produsen berita. Tokoh politik kemudian memandang redaksi laman berita sebagai produsen dimana tokoh politik bisa memesan wacana-wacana yang mencitrakan pihaknya sebagai aktor politik dengan baik sehingga publik kemudian menyukai aktor politik tersebut. Kontestasi kemudian terjadi diantara institusi-institusi penyedia berita bukan dalam persaingan dalam menyediakan berita yang informatif dan mencerahkan akal sehat publik, namun kontestasi terjadi karena tiap-tiap laman berita telah mewakili afiliasi politik tertentu. Kontestasi yang mulanya hanya terjadi antar institusi politik kemudian menjalar kepada kontestasi laman berita karena laman berita merupakan perpanjangan tangan dari aktor politik tersebut. Kontestasi antara Jonru dengan mojok.co, merupakan salah satu contoh kontestasi wacana yang terjadi di Indonesia. kontestasi wacana ini merupakan perwujudan dari kepentingan kapitalis dalam menguasai pasar opini publik. Publik dianggap sebagai asset yang diperebutkan dalam upaya memenangkan opininya sehingga berpengaruh dalam pemilihan umum. Jonru yang pada awalnya berafiliasi dengan Partai Keadilan Sejahtera, kemudian menyadari bahwa pengikutnya merupakan sebuah komoditas yang bagus, menggeser perilaku wacananya dari penulis yang fokus memperjuangkan ideologi demi apa yang diyakini, menjadi penulis wacana yang berfokus pada kepentingan ekonomis. Sama halnya dengan mojok.co, yang pada awalnya menyatakan diri sebagai institusi yang netral namun setelah ditelusuri lebih lanjut ternyata mojok.co merupakan representasi dari 10

11 sebuah perusahaan yang bergerak di bidang internet marketing. Permintaan pasar yang tinggi terhadap komoditas wacana membuat para produsen wacana berpindah dari mempertahankan ideologi menjadi memperebutkan pasar dalam rangka meraup keuntungan sebesar-besarnya. Di Indonesia, produsen berita lebih menganggap wacana sebagai komoditas yang bisa dijual kepihak manapun tanpa perlu melihat afiliasi politik. Selama ada tokoh politik yang ingin membentuk citranya melalui wacana, maka produsen berita selalu siap menerima pesanan dalam menciptakan wacana-wacana maupun propaganda. Kepentingan ekonomis ini juga kemudian berpengaruh terhadap etika jurnalisme yang semakin diabaikan. Produsen berita lebih berfokus pada bagaimana membentuk citra daripada mengutamakan kode etik jurnalisme. Pandangan inilah yang akhirnya membuat media sosial penuh dengan berbagai opini, hingga maraknya kampanye negatif, kampanye hitam dan Hoax. Pemerintah kemudian mengesahkan Undang-undang nomr 11 tahun 2008 atau yang biasa disebut UU ITE dalam melindungi publik dari fenomena yang merugikan tersebut. UU ITE kemudian membatasi kebebasan publik dalam membentuk wacana sehingga publik tidak merugikan banyak pihak. Ideologi kedua adalah Satir sebagai counter discourse.konstruksi Jonru dalam esai-esai Mojok.co menggunakan gaya bahasa satir. yang dipahami sebagai distorsi realitas yang menyenangkan (Heather L. LaMarre, 2009). Mojok.co dengan satir seolah bermain-main menggunakan bahasa dalam menghibur pembaca sekaligus mengkonstruksikan Jonru. dalam esai-esai yang telah diteliti, terdapat beberapa bentuk satir yang dikategorikan peneliti menjadi dua bagian besar yaitu modifikasi dan hiperbola. Modifikasi yang muncul dalam teks esai Mojok.co tentang Jonru berupa modifikasi atas istilah-istilah umum yang sudah dipahami di masyarakat seperti pepatah, peribahasa dan konsep-konsep umum. beberapa contoh modifikasi yang dilakukan oleh penulis-penulis mojok dengan menggunakan pepatah adalah Pertempuran dimenangkan oleh para prajurit di garis depan, tapi perang dimenangkan oleh para jenderal di warung kopi sambil update status.,lempar kentut, sembunyi pantat yang berasal dari pepatah. Sedangkan modifikasi yang menggunakan pemahaman umum adalah modifikasi tentang penggunaan water canon yang dikombinasikan dengan mobil sedot WC, sehingga konvensi masyarakat tentang water canon yang biasa menggunakan air untuk menghalau demonstran diganti dengan tinja yang dibawa mobil sedot WC, serta modifikasi istilah 11

12 syndrome sebagai sebuah gejala atau ketidaknormalan yang terjadi secara serentak, kemudian digabungkan dengan istilah Jonru. Kategori hiperbola dalam esai Mojok.co digunakan untuk mencitrakan Jonru sebagai sosok yang sempurna, dengan menampilkan hal-hal yang terdapat dalam diri Jonru dengan penggambaran yang kolosal. Penggunaan hiperbola tersebut kadang disisipi dengan penggunaan tanda baca yang mencoret satu kata yang seharusnya menjadi kata kunci sehingga menggugurkan penggambaran hiperbolik yang sudah berusaha dibangun. Penggunaan istilah 20 juta mahasiswa, dengan mencoret tanda juta dalam salah satu esai seperti ingin membangun citra Jonru yang miliki pengaruh besar sehingga sanggup menggerakkan jutaan massa namun dibatalkan penulis esai tersebut. Juga ketika penggunaan di tengah-tengah lautan para demonstran dengan mencoret istilah lautan memperlihatkan usaha pembangunan kesan hiperbola yang dibatalkan sendiri oleh penulis. Penggambaran lain yang dilakukan secara hiperbola adalah penyebutan Jonru yang memiliki jadwal seminar padat, penggambaran kemampuan Jonru yang mampu berpikir dan mengkritisi segala aspek kehidupan masyarakat dengan jangkauan yang luas mulai dari politik, sosial budaya, ekonomi, energi sampai dengan kaidah hukum fiqih dan syariat, dan penggambaran kebijaksanaan dan pengetahuan Jonru yang begitu tinggi sehingga orang biasa tidak sanggup memahaminya. Satir sebagai gaya bahasa yang melekat dengan laman Mojok.co dijelaskan melalui salah satu esai yang dimuat. Dalam esai kartu penulis mojok, dijelaskan tentang karakter Mojok.co sebagai media. Situs ini didaulat sebagai media alternatif, media satire di tengah seragamnya isi dari arus besar situs online. Tulisan-tulisan di Mojok dianggap berbeda dari tulisan-tulisan di media lain. Penuh olok-olok dan konon membuat yang membacanya tertawa atau minimal tersenyum masam (Mathari, 2015). Dengan menggunakan esai ini, Mojok.co secara tersirat ingin menyampaikan tentang karakter dari laman Mojok.co. Mojok.co berusaha menyampaikan pada publik bahwa laman ini adalah media satir yang berjuang sebagai media alternatif di tengah seragamnya isi dari arus besar situs online. Satir sebagai gaya bahasa juga diafirmasi oleh redaksi Mojok.co. dalam wawancara dengan Agus Mulyadi, redaktur Mojok.co, dijelaskan bahwa Mojok.co memiliki beberapa kriteria tersendiri tentang tulisan-tulisan yang bisa dimuat. 12

13 Kriteria apa saja yang dibutuhkan agar bisa dimuat di situs, yang pertama gaya tulisannya menarik, menarik itu apa ya, yang jelas kita ndak punya parameter menarik itu bagaimana tapi orang-orang yang sering baca mojok passti tau ini artikel yang mojok, ini artikel yang nggak mojok jadi mungkin sudah ada parameter sendiri. itu pertama menarik punya tata bahasa yang mojok yang lucu, lucu harus, jenaka, itu yang kedua, kemudian punya sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan sudut pandang orang-orang. Jadi pertama gaya tulisan menarik, yang kedua jenaka ya, yang ketiga punya sudut pandang yang lain daripada yang lain (Mulyadi, 2015) Agus menjelaskan bahwa tidak ada kriteria wajib yang harus dilakukan dalam menentukan tulisan seperti apa yang dimuat dalam Mojok.co. namun terdapat tiga kriteria yang dibutuhkan, pertama adalah tata bahasa yang lucu, kedua jenaka, dan ketiga adalah memiliki sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang orang-orang. Dua kriteria yaitu tata bahasa yang lucu dan jenaka inilah yang kemudian membentuk karakter satir dalam setiap esai-esai di Mojok.co. Selain sebagai gaya bahasa, satir juga digunakan sebagai counterdiscourse. Jones menjelaskan bahwa satire politik adalah penggunaan humor untuk mengkritik, mengejek, dan mengekspos kekurangan politisi, kebijakan dan rezim pemerintah itu sendiri (Jones, 2017). Dari pemahaman ini satir yang digunakan dalam teks sebagai gaya bahasa, memiliki fungsi lain yaitu menjadi alat untuk melawan wacana dominan lain, yang dalam penelitian ini adalah wacana-wacana Jonru. Sebelum menggambarkan aspek apa saja yang berusaha dilawan Mojok.co terhadap Jonru, perlu diteliti bagaimana posisi ideologis dari Mojok.co. dengan mengetahui posisi ideologis Mojok.co, maka bentuk perlawananan Mojok.co terhadap Jonru bisa dijabarkan secara rinci. Penjelasan posisi ideologis Mojok.co diawali dengan memahami proses kerja redaksi dari laman tersebut. Mojok.co selain memiliki situs sebagai tempat menampilkan wacana-wacananya, juga memiliki blog yang digunakan untuk menyampaikan perkembangan laman Mojok.co dari awal dibentuk hingga sekarang. Dalam blog tersebut disampaikan bagaimana dinamika Mojok.co dalam prosesnya sebagai sebuah media, serta hal-hal teknis yang telah dilakukan oleh redaktur dalam mengembangkan situs ini. Di blog ini juga dijelaskan bahwa Mojok.co sebagai media ternyata memiliki sisi politis. Posisi politis Mojok.co pada awalnya tidak disebutkan secara jelas. Hal ini disampaikan sendiri oleh pendiri Mojok.co dalam status facebooknya yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang mojok. Dalam salah satu pertanyaan tentang afiliasi politik 13

14 Mojok.co, Puthut EA menjelaskan bahwa afiliasi politik Mojok.co tidak jelas dan sulit untuk didefinisikan. Peneliti kemudian mencoba mencari posisi ideologis Mojok.co melalui aspek lain yaitu proses wawancara redaksi dan pengamatan proses kreatif Mojok.co. berkenaan dengan perlawanan Mojok.co terhadap Jonru, Agus melalui wawancara menjelaskan bahwa Mojok.co tidak terlalu memfokuskan dalam menulis tentang Jonru. Agus menjelaskan bahwa Jonru dipilih sebagai topik karena pada saat itu isu yang ramai menghiasi media sosial adalah Jonru. Agus menambahi bahwa di Mojok.co tulisan tentang Jokowi jauh lebih menarik pembaca dan meningkatkan kunjungan di laman Mojok.co. selain itu Agus menambahi bahwa dalam sejarah mojok tulisan terbanyak justru terdapat pada tulisan-tulisan yang membahas Jokowi. Berkenaan dengan apakah Mojok.co berafiliasi dengan ideologi atau institusi tertentu, agus menjawab bahwa Mojok.co tidak berafiliasi dengan ideologi atau institusi apapun. Agus menambahkan lagi bahwa Mojok.co menerima tulisan dari penulis dengan ideologi manapun, selama kriteria tulisan sesuai dengan karakter Mojok.co. sedangkan tujuan dari Mojok.co menurutnya adalah supaya pembaca bisa menikmati tulisan-tulisan serius, tulisan-tulisan bertema berat dengan cara yang menyenangkan, dalam bentuk tulisan yang ringan lagi jenaka. Berdasarkan analisis tentang satir yang dikonstruksikan Mojok.co terhadap Jonru. Mojok.co berusaha menjadikan satir sebagai bentuk perlawanan wacana terhadap beberapa aspek. Pertama adalah perlawanan terhadap wacana kebohongan publik. Mojok.co berusaha membongkar kebohongan publik yang dilakukan Jonru dengan penggambaran secara satir Jonru sebagai kritikus yang tidak pernah berhenti dalam mengkritisi pemerintahan Jokowi dengan berbagai cara, termasuk dengan cara membangun wacana berdasarkan opini-opini yang kurang berdasar. Segala hal baik yang berhubungan maupun tidak dengan Jokowi diolah sedemikian rupa sehingga menjadi wacana yang bisa menggiring opini publik terhadap Jokowi secara negatif. Kedua, perlawanan terhadap Black campaign. black campaign (kampanye hitam) dipahami sebagai kampanye yang isinya bukanlah kebenaran atau fakta tapi lebih pada fitnah (Institut Studi Arus Informasi, 2005). Mojok.co dengan satirnya terhadap Jonru berusaha melawan wacana black campaign yang dikonstruksi Jonru terhadap Jokowi. ketiga, perlawanan terhadap seragamnya isi arus besar media di laman internet. Mojok.co 14

15 menempatkan diri sebagai media alternatif, diantara maraknya media-media online yang serius. Dengan gaya bahasa yang khas, Mojok.co mengajak publik untuk menikmati informasi, berita dengan santai, ringan dan jenaka. Ketidakberesan Sosial dalam Wacana Mojok.co Dalam menganalisis ketidakberesan dalam wacana di Mojok.co, Fairclough menawarkan empat langkah. Pertama, memberikan perhatian pada ketidakberesan sosial dalam aspek semiotiknya. Langkah kedua adalah mengidentifikasi hambatan-hambatan untuk menangani ketidakberesan sosial. Langkah ketiga adalah mempertanyakan apakah tatanan sosial membutuhkan ketidakberesan sosial atau tidak. Langkah keempat adalah mengidentifikasi cara-cara yang memungkinkan untuk mengatasi hambatan (Fairclough, Critical Discourse Analysis, 2012). Perhatian terhadap ketidakberesan sosial dalam aspek semiotik ditunjukkan dengan penggunaan istilah-istilah yang terdapat dalam esai-esai di Mojok.co yang berkaitan dengan Jonru. ketidakberesan sosial yang terungkap dalam wacana ini adalah malpraktik jurnalisme. Mojok.co sebagai media menggunakan esai-esainya untuk mengkonstruksi salah satu tokoh secara negatif. Penggunaan kata atau istilah yang menunjukkan keberpihakan terdapat dalam esai-esai Mojok.co yang mengkostruksikan Jonru telah dijelaskan dalam sub bab sebelumnya. Hasil analisis konstruksi wacana tentang Jonru menghasilkan beberapa aspek konstruksi yang kemudian disimpulkan menjadi sebuah konsep yaitu penggambaran Jonru secara negatif, dari simpulan tersebut diketahui bahwa keberpihakan Mojok.co adalah oposisi dari Jonru. Hambatan-hambatan untuk menangani ketidakberesan sosial yang terdapat dalam wacana Mojok.co terdiri dari tiga aspek. hambatan pertama adalah posisi ideologis Mojok.co yang menggambarkan diri sebagai institusi yang netral. Penggambaran posisi ideologis ini ditunjukkan dari pernyataan pendiri Mojok.co melalui status facebook, dan pernyataan dari hasil wawancara. Posisi ideologis yang disamarkan menjadi hambatan terutama bagi publik yang memahami wacana sebatas permukaan saja. Hambatan kedua adalah gaya bahasa Mojok.co yang ringan, santai, jenaka dan tidak provokatif. Gaya bahasa ini kemudian memberikan efek rekreatif terhadap pembaca dan membuat pembaca melihat esai-esai dalam Mojok.co sebagai sarana hiburan, bukan sebagai wacana perlawanan terhadap pihak-pihak tertentu. 15

16 Hambatan ketiga adalah realitas sosial yang terbentuk dari esai-esai Mojok.co. Konstruksi sosial atas realitas (sosial construction of reality) didefinisikan sebagai proses sosial melalui tindakan dan interaksi dimana individu menciptakan secara terus-menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif. (Poloma, 2004). Mojok.co menciptakan wacana-wacana setiap harinya yang kemudian diterima oleh publik, kemudian wacana itu ditafsirkan oleh individu sebagai realitas yang kemudian dialami secara bersama-sama sehingga terbentuk menjadi sebuah realitas sosial. Realitas sosial yang terbentuk dari penafsiran bersama tersebut ditunjukkan dari salah satu esai yang dimuat. Silakan dicek, setiap kali muncul tulisan yang mengejek Jonru, menertawakan Felix Siauw, mengolok-olok Yusuf Mansur; tingkat kunjungan pembaca Mojok ikut pula terdongkrak (Mathari, 2015). Dari kutipan tersebut, digambarkan realitas sosial yang menyebutkan bahwa dengan menggunakan Jonru sebagai bahan ejekan dalam esai mampu meningkatkan kunjungan di laman Mojok.co. Realitas sosial ini menjadi hambatan dalam menangani ketidakberesan sosial karena ketika dalam praktik jurnalistik terjadi pemberitaan yang menyudutkan pihak tertentu, justru malpraktik jurnalisme ini malah diminati oleh publik. Penentuan apakah tatanan sosial membutuhkan ketidakberesan sosial dijelaskan dengan pembandingan beberapa alasan. Dalam kehadiran Mojok.co, wacana-wacana yang dikonstruksikan hadir sebagai antithesis dari wacana-wacana Jonru yang memposisikan diri sebagai oposisi pemerintah. Mojok.co dengan wacananya melawan wacana Jonru yang selalu mengkritik pemerintah dengan opini-opini yang menyesatkan, cacat logika, serta membohongi publik. Di sisi lain, wacana Mojok.co sebagai perlawanan atas Jonru ternyata masih terdapat pelanggaran dalam prinsip jurnalisme. Berdasarkan kondisi tersebut, maka tatanan sosial membutuhkan ketidakberesan sosial tersebut agar terjadi keseimbangan antara wacana yang mengkritik pemerintah dengan wacana yang mendukung pemerintah, serta perlawanan terhadap opini-opini publik yang kurang memperhatikan kepentingan akal sehat publik. Berdasarkan pengamatan atas ketidakberesan sosial, hambatan-hambatan, dan pentingnya ketidakberesan sosial tersebut oleh tatanan sosial maka terdapat beberapa solusi yang mungkin dilakukan untuk mengatasi ketidakberesan sosial tersebut. 16

17 Pertama dengan perbaikan dari sistem kerja redaksi di Mojok.co. redaksi memperbaiki sistem seleksi tulisan-tulisan yang akan dimuat dalam laman Mojok.co. Kedua, dengan keterbukaan tentang posisi ideologis Mojok.co. Mojok.co perlu menunjukkan posisi ideologis secara jelas dan terbuka, apakah berposisi ideologis netral atau berpihak pada ideologi tertentu sehingga tidak muncul persepsi yang memancing kerancuan dalam pemaknaan atas esai. Selain itu dengan adanya keterbukaan posisi ideologis dari Mojok.co, publik mampu memahami serta mampu menempatkan konteks dalam tulisan-tulisan di laman Mojok.co dengan baik. Penutup Peneliti menemukan beberapa poin penting yang menunjukkan hasil penelitian. Mojok.co sebagai institusi, melakukan konstruksi wacana Jonru dengan menggambarkan Jonru secara negatif. Esai-esai yang dimuat,istilah-istilah yang digunakan, serta keterkaitan teks luar dengan teks di dalam laman Mojok.co menunjukkan adanya upaya secara sistematis dan tersusun dalam mengkonstruksi Jonru. Dari analisis praktik wacana dan praktik sosial,terdapat beberapa ideologi yang dikontruksikan Mojok.co kepada publik. Ideologi pertama adalah kapitalisme wacana di era digital.ideologi kedua adalah satir sebagai counter discourse. Ideologi ini menjelaskan tentang bagaimana perlawanan wacana bisa dilakukan dengan gaya bahasa satir yang lucu dan menghibur. Posisi Mojok.co dengan wacananya menjadi unik karena pada umumnya counter discourse digunakan untuk melawan pemerintah yang otoriter dan membatasi ruang wacana publik. Di dalam penelitian ini Mojok.co dengan wacananya melakukan counter discourse terhadap pihak yang melawan pemerintah sehingga bisa dipahami bahwa Mojok.co menggunakan counter discourse untuk membela pemerintahan. Pemerintah memberikan ruang pada demokrasi wacana di Indonesia. hal ini terlihat dari adanya pertarungan wacana antara kubu yang pro pemerintah dengan kubu yang kontra dengan pemerintah. Selain itu kebebasan berwacana diberikan ruang yang memadai ditunjukkan dengan tidak adanya intervensi represif yang berlebihan dari pemerintah terhadap wacana-wacana yang mengkritisi pemerintah. Dalam konteks kehidupan di Indonesia, kontestasi wacana antara mojok.co dan Jonru terjadi tidak hanya terjadi karena pertarungan ideologis yang berlawanan diantara keduanya. Dibalik ideologis tersebut terdapat pertarungan dalam memperebutkan opini 17

18 publik. Opini publik ini diperebutkan karena mojok.co dan Jonru menganggap wacana sebagai komoditas yang menghasilkan nilai ekonomis. Apabila sebagai institusi produsen wacana mereka berhasil memenangkan opini publik, Maka institusi tersebut akan menarik minat banyak pihak untuk memanfaatkan kemampuan membuat konstruksi wacana yang disediakan institusi tersebut untuk menciptakan citra yang dinginkan sesuai permintaan konsumen. Konstestasi wacana juga berpengaruh pada etika dalam memproduksi wacana di ruang publik. Karena berorientasi pada keuntungan, maka para produsen berita mengabaikan kode etik jurnalistik dan lebih mengutamakan kemampuannya dalam mengolah berita dan peristiwa sesuai keinginan tokoh politik yang menggunakan jasanya sehingga menciptakan konstruksi wacana dan propaganda yang nantinya berdampak pada citra tokoh tertentu sehingga tokoh tersebut menjadi tokoh politik yang disukai oleh publik. Pertimbangan yang berorientasi pada keuntungan itu yang menciptakan berbagai wacana di ruang publik seperti kampanye negatif,kampanye hitam hingga hoax. Atas dasar hal tersebut kemudian pemerintah menerbitkan UU No 11 tahun 2008 tentang UU ITE yang mengatur tentang teknologi informasi secara umum untuk menciptakan ruang publik digital yang sehat. DAFTAR PUSTAKA Barker, C. (2004). The SAGE Dictionary Cultural Studies. London: SAGE Publication Ltd. Fairclough, N. (1995). Critical Discourse Analysis : The Critical Study of Language. London: Longman. Fairclough, N. (2012). Critical Discourse Analysis. The Routledge Handbook of Discourse Analysis, Foucault, M. (1990). The History of Sexuality: An Introduction, Volume 1. New York: Vintage Books. Habermas, J. (2011). The Power of Religion In The Public Sphere. New York: Columbia University Press. Haryatmoko. (2016). Critical Discourse Analysis (Analisis Wacana Kritis). Jakarta : Rajawali Press. Heather L. LaMarre, K. D. (2009). The Irony of Satire : Political Ideology and the Motivation to See What You Want to See in The Colbert Report. International Journal of Press/Politics, Institut Studi Arus Informasi. (2005). Pemilu di Layar Kaca : Monitoring Berita Pemilu di Media Televisi Pada Pemilu Jakarta: Institut Studi Arus Informasi. Jones, M. O. (2017). Satire, Social Media And Revolutionary Cultural Production In The Bahrain Uprising: From Utopian Fiction To Political Satire. Communication and The Public, 137. Jonru Media Centre. (2017). about. Retrieved July 27, 2017, from 18

19 Marriane W Jorgensen, L. J. (2007). Analisis Wacana : Teori dan Metode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Mathari, R. (2015, Agustus 29). Kartu Penulis Mojok. Retrieved from Mojok.co: Mojok.co. (2017). about. Retrieved July 27, 2017, from mojok.co: Mulyadi, A. (2015, Desember 14). Wawancara Proses Redaksi Mojok.co. (R. Abrian, Interviewer) Nohrstedt SA, et al. (2000). From the Persian Gulf to Kosovo : War Journalism and Propaganda. European Journal of Communication, Poloma, M. (2004). Sosiologi Kontemporer. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada. Redaksiindonesia. (2016, January 3). jonru tetap dilaporkan fotografer presiden meski sudah minta maaf. Retrieved from redaksiindonesia.com: Saraswati, P. D. (2017, Juni 9). Jonru: Kami adalah Muslim Cyber Army. Retrieved from CNN Indonesia: Sujatmiko, B. (2014, September 28). Daftar Fitnah dan Retrieved from chirpstory.com: Widodo, S. (2016, Juni 28). Pergeseran Pola Komunikasi Politik Indonesia. JawaPos, p