KERANGKA ACUAN KERJA PEMBINAAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DESA

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KERANGKA ACUAN KERJA PEMBINAAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DESA"

Transkripsi

1 KERANGKA ACUAN KERJA PEMBINAAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DESA A. LATAR BELAKANG Pembangunan nasional merupakan perwujudan tujuan nasional bangsa Indonesia yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata baik materiil maupun spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Pembangunan nasional mencakup semua aspek kehidupan manusia yang dilakukan secara terarah, terpadu dan berkesinambungan serta menyeluruh. Agar pembangunan nasional sesuai dengan sasaran, maka pelaksanaannya dapat diarahkan kepada daerah untuk mengatur dan mengurus kegiatan pembangunannya sendiri. Dalam pelaksanaannya sejak dikeluarkannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang telah telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, maka penyelenggaraan otonomi daerah dalam substansinya juga mengalami perubahan, namun pada esensinya tetap menggunakan prinsip otonomi seluasluasnya dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua unsur pemerintahan di luar yang menjadi urusan Pemerintah Pusat dengan prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Implementasi kebijakan otonomi daerah tersebut mendorong terjadinya perubahan secara struktural, fungsional dan kultural dalam keseluruhan tatanan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Salah satu perubahan yang sangat esensial adalah yang berkenaan dengan kedudukan, kewenangan, tugas dan fungsi Camat. Perubahan paradigmatik penyelenggaraan pemerintahan daerah tersebut, mengakibatkan pola distribusi kewenangan Camat menjadi sangat tergantung pada pendelegasian sebagian kewenangan pemerintahan dari Bupati untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah dan penyelenggaraan pemerintahan umum, yang mempunyai implikasi langsung terhadap optimalisasi peran dan kinerja Camat dalam upaya pemenuhan pelayanan kepada masyarakat. Dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Kecamatan tidak lagi merupakan satuan wilayah kekuasaan pemerintahan, melainkan sebagai satuan wilayah kerja atau pelayanan. Camat memiliki kewenangan untuk membina penyelenggaraan pemerintahan desa. Yang dimaksud membina dalam ketentuan ini adalah dalam bentuk fasilitasi pembuatan peraturan desa dan terwujudnya administrasi tata kelola pemeritahan yang baik. B. DASAR HUKUM 1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa 2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;

2 3. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang- Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa; 4. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa; 5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 110 Tahun 2016 Tentang Badan Permusyawaratan Desa; 6. Peraturan Daerah Gunungkidul Nomor 6 Tahun 2011 Tentang RT/RW; 7. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 5 Tahun 2015 tentang Kepala Desa sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Nomor 17 Tahun 2017 Tentang perubahan atas Peraturan Daerah kabupaten Gunungkidul Nomor 5 Tahun 2015; 8. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 6 Tahun 2016 tentang Urusan Pemerintahan Daerah; 9. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 10 Tahun 2018 Tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2019; 10. Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Pelimpahan sebagian Kewenangan Kepala Daerah Dalam Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Kepada Camat; 11. Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Pedoman Penyusunan Monografi Desa; 12. Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 36 Tahun 2016 Tentang Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Pemerintah Desa; 13. Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 76 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Kecamatan; 14. Peraturan daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 3 Tahun 2017 Tentang Lembaga Kemasyarakatan Desa; 15. Peraturan Bupati Nomor 38 Tahun 2018 Tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 26 Tahun 2015 Tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 5 Tahun 2015 Tentang Kepala desa; 16. Peratuiran Bupati Gunungkidul Nomor 61 tahun 2018 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa 17. Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 72 tahun 2018 Tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2019; C. TUJUAN Tujuan Kegiatan Pembinaan penyelenggaraan Pemerintahan Desa adalah: 1. Tersusunnya Siklus Tahunan Desa Tahun 2019 yang tepat waktu dan sesuai dengan peraturan yang berlaku. 2. Meningkatkan SDM Pengelola Keuangan Desa. 3. Terisinya Jabatan Kepala desa dan Perangkat Desa sesuai dengan Peraturan yang berlaku. 4. Tersedianya Data Tanah Kas Desa dengan baik. 5. Terciptanya upaya Kerjasama Antar Desa di wilayah Kecamatan Ngawen 6. Tersusunnya data Monografi Desa yang tepat waktu dan sesuai dengan Peraturan yang berlaku. 7. Terwujudnya Tata kelola wilayah Perkotaan di setiap Desa

3 D. WAKTU PELAKSANAAN Kegiatan Pembinaan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa dilaksanakan dalam waktu 1 tahun (Januari 2019 s/d Desember 2019). E. LOKASI PELAKSANAAN Lokasi Kegiatan Pembinaan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa adalah di Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Gunungkidul F. TAHAPAN PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PIHAK TERKAIT Waktu Pelaksanaan Sub-Aktivitas No. 1. Januari 2019 Bimtek Pengelolaan Keuangan Desa Pihak Terkait - Tim - Pemerintah Desa Jumlah Orang Terlibat 165 orang Ket. 2. Februari 2019 Rakor Penyusunan Pertanggungjawaban dan LPPDesa Tahun Tim - Pemerintah Desa 45 orang 3. Maret 2019 Sosialisasi produk hukum Desa - Tim - Pemerintah Desa 40 orang 4 April Monitoring APBDesa Triwulan I - Tim 9 orang - Penguatan Kapasitas Lembaga Desa 5 Mei 2019 Penguatan Kapasitas Lembaga Kemasyarakatan Desa 6 Juni 2019 Rakor Penyusunan Monografi Semester 1 - Tim - DP3AKBPM&D Kab. GK - Tim - DP3AKBPM&D Kab. GK - Tim - Pemerintah Desa 60 0rang 80 orang 15 orang 7 Juli Monitoring APBDesa Triwulan II - Fasilitasi persiapan Pengisian Perades - Tim Kecamatan - Tim Kecamatan 9 orang 9 orang 8 Agustus Rakor Penyusunan RKPDesa - Penguatan Kapasitas Perades - Tim Kecamatan - Tim Kecamatan - DP3AKBPM&D Kab.Gunungkidul 30 orang 80 orang

4 No. Waktu Pelaksanaan Sub-Aktivitas Pihak Terkait Jumlah Orang Terlibat Ket. 9 September Rakor Penyusunan RAPBDesa Perubahan - Tim Kecamatan 9 orang 10 Oktober Monitoring APBDesa Triwulan IV - Tim Kecamatan 9 orang - Fasilitasi Pendataan Tanah Kas - Tim Kecamatan - Pemerintah Desa 30 Orang 11 Nopember Desember 2019 Koordinasi Pemanfaatan tata Ruang Wilayah - Rakor Penyusunan RAPBDesa Rakor Pengisian Perades - Penyusunan Monografi semester II Tim Kecamatan Dispertaru GK - Tim Kecamatan - Tim Kecamatan - Pemerintah Desa Tim Kecamatan 62 orang 73 orang 30 orang 15 orang G. KELUARAN (OUTPUT) Keluaran dari Kegiatan Pembinaan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa adalah sebagai berikut: 1. Tahap I (Januari s.d. Maret) Dokumen Pelaksanaan Bimtek Pengelolaan Keuangan Desa Laporan Hasil Fasilitasi Penyusunan Pertanggungjawaban APBDesa dan LPPDesa 2. Tahap II (April s.d. Juni) Laporan Monitoring APBDesa Triwulan I Laporan Pelaksanaan Penguatan Kapasitas Lembaga Desa dan Lembaga Kemasyarakatan Desa Arsip Monografi Desa Semester I 3. Tahap III (Juli s.d. September) Laporan Monitoring APBDesa Triwulan II Laporan Pemilihan Kepala Desa dan Pengisian Perangkat Desa Laporan Penguatan Kapasitas Kepala Desa dan Perangkat Desa Laporan Penyusunan RKPDesa dan APBDesa Perubahan 4. Tahap III (Oktober s.d. Desember) Laporan Monitoring APBDesa Triwulan III Data Tanah Kas Desa Laporan Kegiatan Pemanfaatan tata Ruang Wilayah Laporan Monitoring APBDesa Triwulan IV Arsip Monografi Desa Semester II Laporan Penyusunan APBDesa Tahun 2020

5

6 H. PELAKSANA Pelaksana Kegiatan Pembinaan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa adalah Seksi Tata Pemerintahan Kecamatan Ngawen. Seksi Tata Pemerintahan dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 7 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Gunungkidul dan mempunyai Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Kecamatan berdasarkan Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 76 Tahun 2016 Susunan Organisasi Kecamatan terdiri dari : a. Camat; b. Sekretariat yang membawahi : 1. Subbagian Perencanaan dan Keuangan; 2. Subbagian Umum; c. Seksi Tata Pemerintahan; d. Seksi Ketenteraman dan Ketertiban Umum; e. Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Desa; f. Seksi Kesejahteraan Sosial; g. Seksi Pelayanan Umum; dan h. Kelompok Jabatan Fungsional I. SUMBER DANA (PEMBIAYAAN) Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Gunungkidul Tahun Anggaran 2019 sebesar Rp ,00 (Enam puluh empat ribu dua ratus empat puluh ribu rupiah) yang akan digunakan untuk: 1. Fasilitasi Penyusunan Siklus Tahunan Desa, Penyuluhan Produk Hukum Desa dan Bimtek Pengelolaan Keungan Desa 2. Pembinaan dan Koordinasi Pengisian Kepala Desa dan Perangkat Desa. 3. Penguatan Kapasitas Kades dan Perangkat Desa, Lembaga Desa dan Lembaga Kemasyarakatan Desa. 4. Koordinasi dan Pendampingan Kerjasama antar Desa. 5. Koordinasi dan Pendampingan Penyusunan Monografi Desa. 6. Koordinasi Pemanfaatan Tata ruang Wilayah. J. PENUTUP Kerangka Acuan Kerja ini sebagai gambaran umum dan penjelasan mengenai Pembinaan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa yang akan dilaksanakan pada Tahun Anggaran 2019, dan memuat informasi mengenai latar belakang, dasar hukum, tujuan, waktu, lokasi, tahapan, keluaran, pelaksana kegiatan serta pembiayaannya.

7

8 KERANGKA ACUAN KERJA PEMBINAAN SOSIAL DAN KEMASYARAKATAN A. LATAR BELAKANG Pembangunan Bidang Kesejahteraan Sosial atau yang lebih memegang peranan yang penting karena merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan pada hakikatnya bersinergi terhadap pembangunan daerah dan nasional. Hal tersebut terlihat melalui banyaknya program pembangunan bidang Kesejahteraan Sosial yang dirancang pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat. Hampir seluruh instansi, terutama pemerintah daerah mengakomodir pembangunan bidang kesejahteraan Sosial dalam program kerjanya. Di Kabupaten Gunungkidul khususnya pembangunan bidang kesejahteraan Sosial harus berlandaskan Basis Data Terpadu (BDT). Progaram pengentasan Kemiskinan dan Bidang Jaminan Kesehatan yang telah dianggarkan pada kegiatan masing-masing OPD harus berdaqsarka BDT tersebut. Dengan demikian, pembangunan bidang kesejahteran sosial masih memiliki peran yang sangat penting dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan peningkatan derajat kesehatan bagi warga. Fakta tersebut menyebabkan pemerintah semakin intensif menggulirkan program dan proyek pembangunan dalam pelaksanaan pembangunan kesejahteraan sosial. Namun demikian program atau proyek yang diarahkan dalam pembangunan bagi warga masyarakat justru tidak dapat berjalan optimal, karena kebanyakan direncanakan jauh dari Pusat (Korten, 1988:247). Masyarakat masih dianggap sebagai obyek/sasaran yang akan dibangun. Hubungan yang terbangun adalah pemerintah sebagai subyek/pelaku pembangunan dan masyarakat sebagai obyek/sasaran pembangunan (Kartasasmita, 1996:144). Partisipasi yang ada masih sebatas pemanfaatan hasil. Tingkat partisipasi dalam pembangunan Kesejahteraan Masyarakat masih terbatas, misalnya masih sebatas peran serta secara fisik tanpa berperan secara luas sejak dari perencanaan sampai evaluasi. Kondisi tersebut mengakibatkan peranan pemerintah semakin besar. Terutama Pendamping, Pemerintah berperan dominan sejak dari perencanaan hingga pelaksanaan program dan kegiatan dalam pembangunan. Fakta ini berangkat dari perspektif stakeholders pemerintahan bahwa berhasilnya programatau proyek pembangunan diukur dari penyelesaian yang tepat pada waktunya (efisiensi dan efektifitas) serta sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Dengan orientasi seperti ini, tentunya masyarakat desa beserta Stakeholder lainnya di desa yang seharusnya memiliki peranan yang besar tidak dapat mengembangkan kemampuannya dan menjadi terbelenggu dalam berinovasi. Hal tersebut misalnya dapat dilihat dari

9 implementasi program BPNT dan PKH selama ini, justru peranan birokrat pemerintah yang amat menonjol. Walaupun sesungguhnya program tersebut sudah lama dilaksanakan dan cukup dikenal luas di desa, namun masyarakat selalu dianggap kurang mampu, sehingga bimbingan dan arahan dari pemerintahbegitu kuat pengaruhnya dan merasuk (internalisasi) dalam masyarakat. Pada akhirnya masyarakat tergantung pada bimbingan dan arahan dari pemerintah. Bila kondisi tersebut tetap dipertahankan, maka masyarakat tidak akan pernah dapat menunjukkan kemampuannya dalam mengelola pembangunan di desanya. Apapun bentuk pembangunan, secara substantif akan selalu diartikan mengandung unsur proses dan adanya suatu perubahan yang direncanakan untuk mencapai kemajuan masyarakat. Karena ditujukan untuk merubah masyarakat itulah maka sewajarnya masyarakatlah sebagai pemilik (owner) kegiatan pembangunan. Hal ini dimaksudkan supaya perubahan yang hendak dituju adalah perubahan yang diketahui dan sebenarnya yang dikehendaki oleh masyarakat (Conyers, 1991: ). Ada kesiapan masyarakat untuk menghadapi dan menerima perubahan itu. Untuk itu keterlibatannya harus diperluas sejak perencanaan, pelaksanaan, evaluasi hingga pemanfaatannya, sehingga proses pembangunan yang dijalankan dapat memberdayakan masyarakat, bukan memperdayakan. Pembangunan desa secara konseptual mengandung makna proses dimana usaha-usaha dari masyarakat desa terpadu dengan usaha-usaha dari pemerintah. Tujuannya untuk memperbaiki kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Sehingga dalam konteks pembangunan desa, paling tidak terdapat dua stakeholder yang berperan utama dan sejajar (equal)yaitu pemerintah dan masyarakat. Meskipun demikian, dalam konteks yang lebih luas, juga terdapat peranan Agen Eksternal seperti LSM, Konsultan, Lembaga Donor dll. Domain pembangunan desa juga tidak terlepas dari wacana tentang model perencanaan pembangunan yaitu dari atas ke bawah (top down planning) dan dari bawah ke atas (bottom up planning).pada dasarnya setiap program dari pemerintah senantiasa mencerminkan kombinasi kedua model tersebut, hanya intensitasnya yang berbeda. Sesuai dengan tuntutan paradigma baru tentang pembangunan yang berpusat pada manusia (people centered development), maka pendekatan bottom up planning sudah sewajarnya diperbesar dan menjadi inti dari proses pembangunan bidang kesejahteraan social. B. DASAR HUKUM 1. Dasar hukum penyusunan Rencana Kerja pada tahun 2016 ini adalah : Undangundang Nomor 15 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta jo. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1950;

10 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; 3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah; 4. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah; 5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah; 6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2017; 7. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 6 tahun 2016 tentang Urusan Pemerintah Daerah; 8. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 7 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Gunungkidul; 9. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 4 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun ; 10. Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 76 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Kecamatan; 11. Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 27 Tahun 2017 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun C. TUJUAN Tujuan Kegiatan Pembinaan Sosial dan Kemasyarakatan adalah : 1. Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara 2. Meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat melalui beberapa program yang dikucurkan, seperti Porgram PKH, BPNT dan Jambanisasi serta program yang lain 3. Meningkatkan sumber daya manusia untuk cepat tanggap dengan kondisi warga masyarakat 4. Menguatkan sinergi antar pemerintah Kecamatan Ngawen, Pemerintah Desa serta lembaga Kemasyarakatan sepert6i Karang Taruna, PSM dan Tagana

11 D. WAKTU PELAKSANAAN Kegiatan Pembinaan Perencanaan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa dilaksanakan dalam waktu 1 tahun (Januari 2019 s/d Desember 2019): E. LOKASI PELAKSANAAN Lokasi kegiatan Pembinaan Sosial dan Kemasyarakatan adalah di Kecamatan Ngawen F. TAHAPAN PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PIHAK TERKAIT No Waktu Pelaksanaan Sub-Aktivitas Pihak Terkait 1 Maret 2019 Pembinaan Kasi Pelayanan Kesehatan Desa, Kader Masyarakat Kesehatan, PLKB 2 Maret 2019 Kegiatan awal Kasi Jambanisasi Pelayanan, TKSK, Pendamping PKH 3 April 2019 Jambanisasi Tim yang sudah terbentuk, Kasi Pelayanan Desa 4 Mei 2019 Lanjutan Perangkat Jambanisasi Desa, Lembaga Desa, Tokoh Masyarakat 5 Mei 2019 Safari Tarawih Perangkat Desa, Lembaga Desa, Tokoh Masyarakat, KUA 6 Agustus 2019 Forum Tokoh Agama, Komunikasi KUA Umat Beragama Jumlah Orang Terlibat 55 Orang 15 Orang 45 Orang 40 Orang 91 Orang 60 orang Keterangan

12 7 Nopember Monev KUBE TKSK, 6 Desa 2019 dan PKH Pendamping PKH, Kasi Pelayanan Desa G. KELUARAN (OUTPUT) Keluaran dari kegiatan Pembinaan Sosial dan Kemasyarakatan adalah sebagai berikut: 1. Tahap I (Januari s/d Maret) - Jumlah Peserta Pembinnaan Kesehatan dan KB - Pembentukan TIM - 2. Tahap II (April s/d Juni) -Jumlah Jamban bagi KK Miskin Meningkat - Jumlah peserta rakor Safari Tarawih Kecamatan dan Desa 3. Tahap III (Juli s/d September) - Prosentase penyelenggaraan Pembinaan Sosial dan Kemasyarakatan terlaksana dengan baik 4. Tahap IV (Oktober s/d Desember) - Jumlah peserta monev KUBE dan PKH H. PELAKSANA Pelaksana Kegiatan Pembinaan Sosial dan Kemasyarakatan Kecamatan Ngawen. I. SUMBER DANA (PEMBIAYAAN) Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan Perencanaan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Gunungkidul Tahun Anggaran 2019 sebesar Rp ,000,00 (Dua raatus dua puluh satu juta Sembilan ratus tujuh puluh ribu Rupiah) yang akan digunakan untuk: 1. Pembinaan Kesehatan Masyarakat 2. Jambanisasi 3. Pembinaan PMKS 4. Menyelenggarakan Forum Komunikasi Umat Beragama 5. Safari Tarawih 6. Monitoring dan Evaluasi KUBE dan PKH

13

14 KERANGKA ACUAN KERJA PEMBINAAN PEREMPUAN, BUDAYA, PEMUDA DAN OLAH RAGA A. LATAR BELAKANG Pembangunan Bidang Perempuan, Budaya Pemuda dan Olah raga atau yang lebih memegang peranan yang penting karena merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan pada hakikatnya bersinergi terhadap pembangunan daerah utamanya Daerah Istimewa Yogyakarta dan nasional. Hal ini terbukti dengan dikucurkannya dana keistimewaan dari Pusat ke Pemerintah Propinsi dan selanjutnya dari Pemerintah Propinsi dialokasikan ke Pemerintah Kabupaten. Yang paling dominan adalah alokasi untuk bidang kebudayaan.hal tersebut terlihat melalui banyaknya program pembangunan bidang social budaya yang dirancang pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat. Beberapa instansi, terutama Instansi pemerintah daerah mengakomodir pembangunan bidang Perempuan, Budaya, Pemuda dan Olahraga dalam program kerjanya. Di Kabupaten Gunungkidul khususnya pembangunan bidang Perempuan, Budaya, Pemuda dan Olahraga ditangani oleh beberapa Dinas. Dengan demikian, pembangunan yang menangani bidang Perempuan, Budaya Pemuda dan Olahraga ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat melalui kegiatan Perempuan, Seni Budaya serta Pemuda dan Olahraga. Fakta tersebut menyebabkan pemerintah semakin intensif menggulirkan program dan proyek pembangunan dalam pelaksanaan pembangunan kesejahteraan sosial. Namun demikian program atau proyek yang diarahkan dalam pembangunan bagi warga masyarakat justru tidak dapat berjalan optimal, karena kebanyakan direncanakan jauh dari Pusat (Korten, 1988:247). Masyarakat masih dianggap sebagai obyek/sasaran yang akan dibangun. Hubungan yang terbangun adalah pemerintah sebagai subyek/pelaku pembangunan dan masyarakat sebagai obyek/sasaran pembangunan (Kartasasmita, 1996:144). Partisipasi yang ada masih sebatas pemanfaatan hasil. Tingkat partisipasi dalam pembangunan Kesejahteraan Masyarakat masih terbatas, misalnya masih sebatas peran serta secara fisik tanpa berperan secara luas sejak dari perencanaan sampai evaluasi. Kondisi tersebut mengakibatkan peranan pemerintah semakin besar. Terutama Pendamping, Pemerintah berperan dominan sejak dari perencanaan hingga pelaksanaan program dan kegiatan dalam pembangunan. Fakta ini berangkat dari perspektif stakeholders pemerintahan bahwa berhasilnya program atau proyek pembangunan diukur dari penyelesaian yang tepat pada waktunya (efisiensi dan efektifitas) serta sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Dengan orientasi seperti ini, tentunya masyarakat desa beserta Stakeholder lainnya di desa yang seharusnya memiliki peranan yang besar tidak dapat mengembangkan kemampuannya dan

15 menjadi terbelenggu dalam berinovasi bagi kaum perempuan, Pelaku seni dan budaya serta Atlit-atlit bidang olahraga. Hal tersebut misalnya dapat dilihat dari implementasi program Peningkatan Peranan Wanita, Peningkatan seni dan budaya serta pembinaan Atlit berprestasi selama ini, justru peranan birokrat pemerintah yang amat menonjol. Walaupun sesungguhnya program tersebut sudah lama dilaksanakan dan cukup dikenal luas di desa, namun masyarakat selalu dianggap kurang mampu, sehingga bimbingan dan arahan dari pemerintah begitu kuat pengaruhnya dan merasuk (internalisasi) dalam masyarakat. Pada akhirnya masyarakat tergantung pada bimbingan dan arahan dari pemerintah. Bila kondisi tersebut tetap dipertahankan, maka masyarakat tidak akan pernah dapat menunjukkan kemampuannya dalam mengelola pembangunan di desanya. Apapun bentuk pembangunan, secara substantif akan selalu diartikan mengandung unsur proses dan adanya suatu perubahan yang direncanakan untuk mencapai kemajuan masyarakat. Karena ditujukan untuk merubah masyarakat itulah maka sewajarnya masyarakatlah sebagai pemilik (owner) kegiatan pembangunan. Hal ini dimaksudkan supaya perubahan yang hendak dituju adalah perubahan yang diketahui dan sebenarnya yang dikehendaki oleh masyarakat (Conyers, 1991: ). Ada kesiapan masyarakat untuk menghadapi dan menerima perubahan itu. Untuk itu keterlibatannya harus diperluas sejak perencanaan, pelaksanaan, evaluasi hingga pemanfaatannya, sehingga proses pembangunan yang dijalankan dapat memberdayakan masyarakat, bukan memperdayakan. Pembangunan desa secara konseptual mengandung makna proses dimana usaha-usaha dari masyarakat desa terpadu dengan usaha-usaha dari pemerintah. Tujuannya untuk memperbaiki kondisi social kaum perempuan, ekonomi dan budaya masyarakat. Sehingga dalam konteks pembangunan Perempuan, budaya, pemuda dan olahraga, paling tidak terdapat dua stakeholder yang berperan utama dan sejajar (equal)yaitu pemerintah dan masyarakat. Meskipun demikian, dalam konteks yang lebih luas, juga terdapat peranan Agen Eksternal seperti LSM, Konsultan, Lembaga Donor dll. Domain pembangunan desa juga tidak terlepas dari wacana tentang model perencanaan pembangunan yaitu dari atas ke bawah (top down planning) dan dari bawah ke atas (bottom up planning).pada dasarnya setiap program dari pemerintah senantiasa mencerminkan kombinasi kedua model tersebut, hanya intensitasnya yang berbeda. Sesuai dengan tuntutan paradigma baru tentang pembangunan yang berpusat pada manusia (people centered development), maka pendekatan bottom up planning sudah sewajarnya diperbesar dan menjadi inti dari proses pembangunan bidang bidang seperti tersebut diatas.

16 B. DASAR HUKUM 1. Dasar hukum penyusunan Rencana Kerja pada tahun 2016 ini adalah : Undangundang Nomor 15 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta jo. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1950; 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; 3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah; 4. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah; 5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah; 6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2017; 7. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 6 tahun 2016 tentang Urusan Pemerintah Daerah; 8. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 7 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Gunungkidul; 9. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 4 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun ; 10. Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 76 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Kecamatan; 11. Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 27 Tahun 2017 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun C. TUJUAN Tujuan Kegiatan Pembinaan Perempuan, Budaya, Pemuda dan Olah raga adalah : 1. Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara 2. Meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat melalui beberapa program yang dikucurkan, seperti Porgram Peningkatan Peran Perempuan, Gelar Potensi Budaya, Pelaksanaan PORKAB dan PORDA dan peningkatan sarana dan prasarana olah raga serta program yang lain

17 3. Meningkatkan sumber daya manusia untuk cepat tanggap dengan kondisi warga masyarakat 4. Menguatkan sinergi antar pemerintah Kecamatan Ngawen, Pemerintah Desa serta lembaga Kemasyarakatan sepert PKK, Karang Taruna, PSM dan Dewan budaya D. WAKTU PELAKSANAAN Kegiatan Pembinaan Perempuan, Budaya, Pemuda dan Olah raga dilaksanakan dalam waktu 1 tahun (Januari 2019 s/d Desember 2019): E. LOKASI PELAKSANAAN Lokasi kegiatan Pembinaan Sosial dan Kemasyarakatan adalah di Kecamatan Ngawen F. TAHAPAN PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PIHAK TERKAIT No Waktu Pelaksanaan Sub-Aktivitas Pihak Terkait Jumlah Orang Terlibat Keterangan 1 Februari 2019 Seleksi Peserta Ketua Dewan 15 Orang Uyon-uyon Budaya, Kasi Pelayanan Desa 2 Maret 2019 Pembinaan PKK Desa dan 35 Orang PKK PKK Kec. kecamatan dan Desa 3 Mei 2019 Kirab Hari Jadi Perangkat 70 Orang Gunungkidul Desa, Tokoh Masyarakat, Pelaku seni 4 Juni 2019 Pembinaan PKK 35 Orang PKK Kecamatan dan kecamatan dan PKK Desa Desa 5 Juli 2019 Pentas Ketua Dewan 25 Orang Kethoprak dan Budaya, Karawitan Putri Pelaku seni

18 6 Agustus 2019 Pentas Langen Carita, Festival dalang Ketua Dewan Budaya, Pelaku seni 60 orang 6 September Pembinaan PKK 60 orang 2019 PKK Kecamatan dan kecamatan dan PKK Desa Desa 7 Desember Pembinaan PKK 6 Desa 2019 PKK Kecamatan dan kecamatan dan PKK Desa Desa G. KELUARAN (OUTPUT) Keluaran dari kegiatan Pembinaan Perempuan, Budaya, Pemuda dan Olah Raga adalah sebagai berikut: 1. Tahap I (Januari s/d Maret) - Jumlah Kelompok Seni yang dipentaskan - Jumlah Pertemuan PKK 2. Tahap II (April s/d Juni) -Jumlah Partisipan Upacara Hari Jadi Kab. Gunungkidul - Jumlah Pertemuan PKK 3. Tahap III (Juli s/d September) - Jumlah kelompok seni yang dibina - Jumlah Pertemuan PKK 4. Tahap IV (Oktober s/d Desember) - Jumlah Pertemuan PKK H. PELAKSANA Pelaksana Kegiatan Pembinaan Perempuan, Budaya, Pemuda dan Olah raga Kecamatan Ngawen. I. SUMBER DANA (PEMBIAYAAN) Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan Perencanaan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Gunungkidul Tahun Anggaran 2019 sebesar Rp ,000,00 (Dua puluh satu juta dua ratus lima belas ribu Rupiah) yang akan digunakan untuk:

19

20 KERANGKA ACUAN KERJA PEMBINAAN KETENTERAMAN, KETERTIBAN, DAN PENCEGAHAN BENCANA A. LATAR BELAKANG Keamanan dan Kenyamanan merupakan kebutuhan dasar bagi semua orang sehingga pemerintah mempunyai kewajiban dalam pemenuhan kebutuhan dasar tersebut. Untuk mewujudkan situasi dan kondisi keamanan dan kenyamanan lingkungan yang kondusif diperlukan perumusan kebijakan dan strategi untuk mengimplementasikannya. Kecamatan sebagai salah satu Perangkat Daerah Kabupaten juga berkewajiban untuk menyusun rencana kebijakan di bidang keamanan, ketertiban umum dan penanggulangan bencana alam. Untuk mencapai efisiensi dan efektifitas pelaksanaan program/kegiatan tersebut tentu tidak lepas dari tugas umum dan fungsi kecamatan yang salah satunya adalah mengkoordinasikan penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum. B. DASAR HUKUM Dalam menyusun rencana kebijakan dalam penyelenggaraan di bidang keamanan, ketertiban umum, ketentraman masyarakat dan penanggulangan serta penanganganan kejadian bencana alam, tahun 2019i didasarkan pada peraturan dan perundang-undangan yang ada agar sesuai dengan peraturan di tingkat pusat maupun daerah. Adapun dasar hukum dalam pelaksanaan program kegiatan di bidang keamanan, ketertiban umum dan penanggulangan dan penanganan bencana berpedoman pada : 1. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten dalam lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta; 2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015; tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang no. 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah; 3. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 Tentang Perangkat Daerah; 4. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 2 Tahun 2010 tentang Rencana Kerja Pembangunan Jangka Panjang daerah Kabupaten Gunungkidul Tahun ; 5. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 18 Tahun 2012 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Daerah dan Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah; 6. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 6 Tahun 2016 tentang Urusan Pemerintahan Daerah; 7. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 7 Tahun 2016 Tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Gunungkidul; 8. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 14 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 4 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun ;

21 9. Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 33 Tahun 2018 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2019; 10. Surat Edaran Bupati Gunungkidul Nomor 050/2139 Tahun 2018 Tentang Pedoman, Penyusunan, Penyempurnaan, dan Penetapan Rencana Kerja Perangkat Daerah Tahun Keputusan Camat Ngawen Nomor 19/KPTS/2019 tentang Tim Pelaksana Kegiatan Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkompinca) Pengendalian Keamanan Lingkungan Kecamatan Ngawen Tahun C. TUJUAN 1. Tujuan penyelenggaraan kebijakan di bidang keamanan dan ketertiban umum serta penanggulangan dan penanganan korban bencana alam Kecamatan Ngawen Tahun 2019 adalah: a. Untuk meningkatkan keamanan dan ketertiban masyarakat. b. Terlaksananya pembinaan Linmas Inti Kecamatan sebagai upaya peningkatan sumber daya manusia di bidang keamanan dan ketertiban untuk mewujudkan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. c. Sebagai upaya pencegahan dini timbulnya penyakit masyarakat. e. Terlaksanya upaya pencegahan bencana dan penanganan korban bencana alam. D. WAKTU PELAKSANAAN Kegiatan penyelenggaraan dibidang keamanan ketertiban umum dan penanggulangan bencana dan penanganan korban bencana alam dilaksanakan dalam waktu 1 tahun (Januari 2019 s/d Desember 2019). E. LOKASI PELAKSANAAN Lokas kegiatan penyelenggaraan dibidang keamanan ketertiban umum dan penanggulangan bencana dan penanganan korban bencana alam dilaksanakan Wilayah Kecamatan Ngawen. F. TAHAPAN PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PIHAK TERKAIT No. Waktu Pelaksanaan Sub-Aktivitas Pihak Terkait Jumlah Orang Terlibat Keterangan 1. Januari - Maret 2019 Persiapan Forkopinca Persiapan rakor mitigasi bencana Tim Forkopinca Desa se-kec. Ngawen Masyarakat 18 orang 34 orang April - Juni 2019 Juli Sept Persiapan Forkompinca Pembinaan Linmas Inti Kecamatan Persiapan Forkopinca Tim Forkopinca 18 orang 40 orang 18 orang

22 No. Waktu Pelaksanaan Sub-Aktivitas Pihak Terkait Jumlah Orang Terlibat Keterangan Tim Forkopinca 4. Oktober- Desember 2019 Persiapan Pembinaan Pekat Rakor mitigasi bencana Forkopinca Desa, toga/tomas dan Siswa Kecamatan,,Koramil, Polsek dan Desa Tim Forkopinca 44 orang 34 orang 18 orang G. KELUARAN (OUTPUT) Keluaran dari kegiatan penyelenggaraan dibidang keamanan ketertiban umum dan penanggulangan bencana dan penanganan korban bencana alam adalah sebagai berikut : 1. Terlaksananya 12 kali patrol terpadu (Januari Desember 2019) 2. Pembinaan Linmas Inti Kecamatan 31 orang ( Mei minggu ke dua 2019) 3. Rapat koordinasi mitigasi bencana dan penanganan bencana alam 60 orang (Februari minngu ke-iii dan Desember minggu ke- II 2019) 4. Pembinaan pekat 36 orang (Oktober minggu ke- I 2019) 5. Terlaksananya patrol terpadu pekat 12 kali (Januari Desember 2019) H. PELAKSANA Pelaksana kegiatan penyelenggaraan dibidang keamanan ketertiban umum dan penanggulangan bencana dan penanganan korban bencana alam Tahun 2019 adalah Seksi Ketentraman dan Ketertiban Umum Kecamatan Ngawen Kabupaten Gunungkidul. I. SUMBER DANA (PEMBIAYAAN) Pelaksanaan Kegiatan penyelenggaraan dibidang keamanan ketertiban umum dan penanggulangan bencana dan penanganan korban bencana alam Tahun 2019 di Kecamatan Ngawen bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Gunungkidul Tahun Anggaran 2019 sebeser Rp (dua puluh empat juta empat puluh lima ribu rupiah) yang akan digunakan untuk: 1. Belanja Alat Tulis Kantor (ATK) 2. Belanja fotocopy/pengadaan 3. Belanja makan, sneck dan minum rapat 4. Transport peserta rapat 5. Honor Non PNS 6. Biaya Perjalanan Dinas

23

24

25 KERANGKA ACUAN KERJA PENYIAPAN PASUKAN PENGIBAR BENDERA PUSAKA (PASKIBRAKA) KECAMATAN A. LATAR BELAKANG Untuk menumbuhkan dan menjaga rasa Nasionalisme Bangsa, Momentum yang menjadi sejarah bagi Bangsa Indonesia perlu dijaga, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang senantiasa mengingat sejarah bangsanya dan menghargai jasa Pahlawannya. Salah satunya adalah sejarah yang menjadi tonggak berdirinya Bangsa Indonesia untuk menjadi Bangsa yang Berdaulat yaitu Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus Adalah menjadi kewajiban kita semua sebaga komponen bangsa untuk menjaga Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Apalagi bagi generasi muda yang akan menjadi pewaris dan mengisi Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Salah satu bentuk kegiatan untuk mengenang dan menumbuhkan rasa Nasionalisme Bangsa adalah Upacara memperingati Detik-detik Proklamasi Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 17 Agustus, termasuk di Kecamatan Ngawen. Kecamatan Ngawen sebagai salah satu Perangkat Daerah Kabupaten berkewajiban melaksanakan Upacara Peringatan Detik-detik Proklasmasi Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, untuk melaksanakan kewajiban tersebut diperlukan rencana kegiatan agar dalam pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik. B. DASAR HUKUM Dalam menyusun rencana kegiatan pelaksanaan Upacara Memperingati Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 2019 didasarkan pada peraturan dan perundang-undangan yang ada agar dalam pelaksanaannya sesuai dengan pedoman secara nasional baik di tingkat pusat maupun daerah. Adapun dasar hukum dalam pelaksanaan program kegiatan Upacara Memperingati Detik-detik Proklamasi Negara Kesatuan Republik Indonesia berpedoman pada : 1. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten dalam lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta; 2. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015; tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang no. 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah; 3. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 Tentang Perangkat Daerah; 4. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 2 Tahun 2010 tentang Rencana Kerja Pembangunan Jangka Panjang daerah Kabupaten Gunungkidul Tahun ; 5. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 18 Tahun 2012 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Daerah dan Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah; 6. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 6 Tahun 2016 tentang Urusan Pemerintahan Daerah;

26 7. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 7 Tahun 2016 Tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Gunungkidul; 8. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 14 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 4 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun ; 9. Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 33 Tahun 2018 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2019; 10Surat Edaran Bupati Gunungkidul Nomor 050/2139 Tahun 2018 Tentang Pedoman, Penyusunan, Penyempurnaan, dan Penetapan Rencana Kerja Perangkat Daerah Tahun C. TUJUAN Tujuan persiapan dan pelaksanaan Upacara memperingati Detik-detik Proklamasi Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-74 Tahun 2019 Kecamatan Ngawen adalah ; a. Terbentuknya Anggota Pasukan Pengibar Bendera. b. Terlaksananya latihan Anggota Paskibra agar dalam melaksanakan tugas mengibarkandan menurunkan bendera Merah Putih saat pelaksanaan Upacara memperingati Detik-detik Proklamasi HUT RI Ke-74 Tahu 2019 dapat berjalan dengan baik. c. Terbentuk mental disiplin dan tanggungjawab Anggota Paskibra. e. Terlaksanya Upacara memperingati Detik-detik Proklamasi Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-74 Kecamatan Ngawen Tahun D. WAKTU PELAKSANAAN Kegiatan persiapan dan pelaksanaan Upacara memperingati Detik-detik Proklamasi Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-74 Tahun 2019 Kecamatan Ngawen akan dilaksanakan dalam waktu 2 bulan (Juli dan Agustus 2019). E. LOKASI PELAKSANAAN Lokas kegiatan Upacara memperingati Detik-detik Proklamasi Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-74 Tahun 2019 akan dilaksanakan Lapangan Kecamatan Ngawen. F. TAHAPAN PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PIHAK TERKAIT No. Waktu Pelaksanaan Sub-Aktivitas Pihak Terkait Jumlah Orang Terlibat Keterangan 1. Juli 2019 Persiapan pembentuka n Paskibra Kecamatan, Koramil, dan Polsek SMA/SMK se-kec. Ngawen 100 orang Seleksi paskibra

27 No. Waktu Pelaksanaan Sub-Aktivitas Pihak Terkait Jumlah Orang Terlibat Keterangan Latihan paskibra Instruktur anggota Paskibra 69 orang Pengukuhan paskibra Muspinca, Instruktur,paskibra, orang tua wali, 150 orang 2. Agustus 2019 Gladi bersih/kotor Muspinca, Instruktur,paskibra, petugas upacara, 150orang Upacara detik-detik Proklamasi Muspinca, Instruktur,paskibra, petugas upacara, 150orang G. KELUARAN (OUTPUT) Keluaran dari kegiatan Upacara Memperingati Detik-detik Proklamasi HUT RI KE-74 Tahun 2019 bencana adalah sebagai berikut : 1. Terbentuknya Anggota Paskibra 62 orang (Juli 2019) 2. Terlaksananya latihan Paskibra 62 orang sepuluh kali( Agustus 2019) 3. Terlaksannya Gladi upacara 150 orang (Agustus 2019) 4. Terlaksannya pengukuhan Anggota Paskib 150 orang (Agustus 2019) 5. Terlaksananya Upacara Perigatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan HUT RI KE-74 (Agustus 2019) H. PELAKSANA Pelaksana kegiatan Upacara Memperingati Detik-detik Proklamasi HUT RI KE-74 Tahun 2019 Seksi Ketentraman dan Ketertiban Umum Kecamatan Ngawen Kabupaten Gunungkidul.

28

29 KERANGKA ACUAN KERJA PEMBINAAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA A. LATAR BELAKANG Pembangunan desa memegang peranan yang penting karena merupakan bagian yang tidak terpisahkan dan pada hakikatnya bersinergi terhadap pembangunan daerah dan nasional. Hal tersebut terlihat melalui banyaknya program pembangunan yang dirancang pemerintah untuk pembangunan desa. Hampir seluruh instansi, terutama pemerintah daerah mengakomodir pembangunan desa dalam program kerjanya. Tentunya berlandaskan pemahaman bahwa desa sebagai kesatuan geografis terdepan yang merupakan tempat sebagian besar penduduk bermukim. Dalam struktur pemerintahan, desa menempati posisi terbawah, akan tetapi justru terdepan dan langsung berada di tengah masyarakat. Karenanya dapat dipastikan apapun bentuk setiap program pembangunan dari pemerintah akan selalu bermuara ke desa. Meskipun demikian, pembangunan desa masih memiliki berbagai permasalahan, seperti adanya desa terpencil atau terisolir dari pusat-pusat pembangunan (centre of excellent), masih minimnya prasarana sosial ekonomi serta penyebaran jumlah tenaga kerja produktif yang tidak seimbang, termasuk tingkat produktivitas, tingkat pendapatan masyarakat dan tingkat pendidikan yang relatif masih rendah. Semuanya itu pada akhirnya berkontribusi pada kemiskinan penduduk. Fakta tersebut menyebabkan pemerintah semakin intensif menggulirkan program dan proyek pembangunan dalam pelaksanaan pembangunan desa. Namun demikian program atau proyek yang diarahkan dalam pembangunan desa justru tidak dapat berjalan optimal, karena kebanyakan direncanakan jauh dari desa (Korten, 1988:247). Masyarakat masih dianggap sebagai obyek/sasaran yang akan dibangun. Hubungan yang terbangun adalah pemerintah sebagai subyek/pelaku pembangunan dan masyarakat desa sebagai obyek/sasaran pembangunan (Kartasasmita, 1996:144). Partisipasi yang ada masih sebatas pemanfaatan hasil. Tingkat partisipasi dalam pembangunan masih terbatas, misalnya masih sebatas peran serta secara fisik tanpa berperan secara luas sejak dari perencanaan sampai evaluasi. Kondisi tersebut mengakibatkan peranan pemerintah semakin besar. Pemerintah berperan dominan sejak dari perencanaan hingga pelaksanaan program atau proyek pembangunan. Fakta ini berangkat dari perspektif stakeholders pemerintahan bahwa berhasilnya programatau proyek pembangunan diukur dari penyelesaian yang tepat pada waktunya (efisiensi

30 dan efektifitas) serta sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Dengan orientasi seperti ini, tentunya masyarakat desa beserta Stakeholder lainnya di desa yang seharusnya memiliki peranan yang besar tidak dapat mengembangkan kemampuannya dan menjadi terbelenggu dalam berinovasi. Hal tersebut misalnya dapat dilihat dari implementasi program bantuan desa (Bangdes) selama ini, justru peranan birokrat pemerintah yang amat menonjol. Walaupun sesungguhnya program tersebut sudah lama dilaksanakan dan cukup dikenal luas di desa, namun masyarakat selalu dianggap kurang mampu, sehingga bimbingan dan arahan dari pemerintahbegitu kuat pengaruhnya dan merasuk (internalisasi) dalam masyarakat. Pada akhirnya masyarakat tergantung pada bimbingan dan arahan dari pemerintah. Bila kondisi tersebut tetap dipertahankan, maka masyarakat tidak akan pernah dapat menunjukkan kemampuannya dalam mengelola pembangunan di desanya. Apapun bentuk pembangunan, secara substantif akan selalu diartikan mengandung unsur proses dan adanya suatu perubahan yang direncanakan untuk mencapai kemajuan masyarakat. Karena ditujukan untuk merubah masyarakat itulah maka sewajarnya masyarakatlah sebagai pemilik (owner) kegiatan pembangunan. Hal ini dimaksudkan supaya perubahan yang hendak dituju adalah perubahan yang diketahui dan sebenarnya yang dikehendaki oleh masyarakat (Conyers, 1991: ). Ada kesiapan masyarakat untuk menghadapi dan menerima perubahan itu. Untuk itu keterlibatannya harus diperluas sejak perencanaan, pelaksanaan, evaluasi hingga pemanfaatannya, sehingga proses pembangunan yang dijalankan dapat memberdayakan masyarakat, bukan memperdayakan. Pembangunan desa secara konseptual mengandung makna proses dimana usaha-usaha dari masyarakat desa terpadu dengan usaha-usaha dari pemerintah. Tujuannya untuk memperbaiki kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Sehingga dalam konteks pembangunan desa, paling tidak terdapat dua stakeholder yang berperan utama dan sejajar (equal)yaitu pemerintah dan masyarakat. Meskipun demikian, dalam konteks yang lebih luas, juga terdapat peranan Agen Eksternal seperti LSM, Konsultan, Lembaga Donor dll. Domain pembangunan desa juga tidak terlepas dari wacana tentang model perencanaan pembangunan yaitu dari atas ke bawah (top down planning) dan dari bawah ke atas (bottom up planning).pada dasarnya setiap program dari pemerintah senantiasa mencerminkan kombinasi kedua model tersebut, hanya intensitasnya yang berbeda. Sesuai dengan tuntutan paradigma baru tentang pembangunan yang berpusat pada manusia (people centered development), maka pendekatan

31 bottom up planning sudah sewajarnya diperbesar dan menjadi inti dari proses pembangunan yang memberdayakan masyarakat. B. DASAR HUKUM 1. Dasar hukum penyusunan Rencana Kerja pada tahun 2016 ini adalah : Undang-undang Nomor 15 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta jo. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1950; 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; 3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah; 4. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah; 5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah; 6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2017; 7. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 6 tahun 2016 tentang Urusan Pemerintah Daerah; 8. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 7 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Gunungkidul; 9. Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 4 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun ; 10. Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 76 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Kecamatan; 11. Peraturan Bupati Gunungkidul Nomor 27 Tahun 2017 tentang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun C. TUJUAN Tujuan Kegiatan Pembinaan Perencanaan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa adalah :

32 1. Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antar-daerah, antar-ruang, antar-waktu, antar-fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah 2. Meningkatkan kinerja aparatur pemerintah desa dan lembaga kemasyarakatan 3. Meningkatkan sumber daya manusia aparatur pemerintah desa dan lembaga kemasyarakatan desa. 4. Menguatkan sinergi antar pemerintah Kecamatan Ngawen, Pemerintah Desa serta lembaga Kemasyarakatan Desa. D. WAKTU PELAKSANAAN Kegiatan Pembinaan Perencanaan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa dilaksanakan dalam waktu 1 tahun (Januari 2019 s/d Desember 2019): E. LOKASI PELAKSANAAN Lokasi kegiatan Pembinaan Perencanaan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa adalah di Kecamatan Ngawen F. TAHAPAN PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PIHAK TERKAIT No Waktu Pelaksanaan Sub-Aktivitas 1 Februari 2019 Musrenbang RKPD tahun Maret 2019 Evaluasi Perlombaan Desa Pihak Terkait Perangkat Desa, Lembaga Desa, Tokoh Masyarakat Perangkat Desa, Lembaga Desa, Tokoh Masyarakat 3 April 2019 Bimbingan Teknis Perangkat Desa, Lembaga Desa, Tokoh Masyarakat 4 Juli 2019 Rakor Aset Perangkat Desa, Lembaga Desa, Tokoh Masyarakat 5 November 2019 Profil Desa Perangkat Desa, Lembaga Desa, Tokoh Masyarakat Jumlah Orang Terlibat 180 Orang 140 Orang 120 Orang 40 Orang 40 Orang Keterangan

33 6 Desember 2019 Monitoring dan Evaluasi Perangkat Desa, Lembaga Desa, Tokoh Masyarakat 60 Orang G. KELUARAN (OUTPUT) Keluaran dari kegiatan Pembinaan Perencanaan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa adalah sebagai berikut: 1. Tahap I (Januari s/d Maret) - Dokumen usulan rencana pembangunan 2. Tahap II (April s/d Juni) -Jumlah Desa yang dievaluasi 3. Tahap III (Juli s/d September) - Frekuensi rakor pelestarian asset program pemberdayaan 4. Tahap IV (Oktober s/d Desember) - Dokumen profil desa - Frekuensi monitoring dan evaluasi pembangunan desa H. PELAKSANA Pelaksana Kegiatan Pembinaan Perencanaan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa adalah Seksi Pemberdayaan Masyarakat Desa Kecamatan Ngawen. I. SUMBER DANA (PEMBIAYAAN) Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan Perencanaan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Gunungkidul Tahun Anggaran 2019 sebesar Rp ,00 (Empat Puluh Juta Seratus Enam Puluh Ribu Rupiah) yang akan digunakan untuk: 1. Musrenbang RKPD tahun Evaluasi Perlombaan Desa 3. Bimbingan Teknis 4. Rakor Aset 5. Profil Desa 6. Monitoring dan Evaluasi

34 J. PENUTUP Kerangka Acuan Kerja ini sebagai gambaran umum dan penjelasan mengenai kegiatankegiatan pembinaan perencanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa yang akan dilaksanakan pada tahun 2019, dan memuat informasi mengenai latar belakang, dasar hokum, tujuan, waktu, lokasi, tahapan, keluaran, pelaksana kegiatan serta pembiayaannya. Mengetahui