THE LABOURS OF HERCULES. by Agatha Christie TUGAS-TUGAS HERCULES. Alih bahasa: Widya Kirana. Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "THE LABOURS OF HERCULES. by Agatha Christie TUGAS-TUGAS HERCULES. Alih bahasa: Widya Kirana. Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama"

Transkripsi

1 THE LABOURS OF HERCULES by Agatha Christie TUGAS-TUGAS HERCULES Alih bahasa: Widya Kirana Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Cetakan kedua: September 2002 Untuk Edmund Cork yang karena tugas-tugasnya atas nama Hercule Poirot sangat kukagumi buku ini dengan penuh sayang dipersembahkan KATA PENGANTAR APARTEMEN Hercule Poirot berperabotan sangat modern. Berkilau karena berlapis kromium. Kursi-kursinya yang nyaman, meskipun berlapis tebal, bentuknya persegi dan kaku sama sekali tidak luwes. Pada salah satu kursi itu duduk Hercule Poirot, rapi, tepat di tengah-tengahnya. Di seberangnya, di kursi lain, duduk Dr. Burton, anggota Fellow of All Souls. Ia sedang meneguk Château Mouton Rothschild dengan nikmat. Dia memuji anggur koleksi Poirot yang dihidangkan untuknya itu. Penampilan Dr. Burton sama sekali tidak rapi. Gendut, pakaiannya sembarangan, dan di bawah rambut putihnya wajahnya memancarkan keramahan dan kebaikan hatinya. Suaranya dalam dan serak. Kebiasaannya adalah menebarkan abu rokoknya di mana-mana. Dengan susah payah namun tanpa hasil, Poirot mencoba meletakkan asbak di sekeliling tamunya. Dr. Burton sedang menanyakan sesuatu. Katakan, katanya, mengapa kau dinamakan Hercule?

2 Maksudmu, nama baptisku? Ah, itu bukan nama baptis yang umum, sangkal Dr. Burton. Seratus persen mencerminkan kepercayaan kuno, paganisme. Tapi mengapa? Itu yang aku ingin tahu. Keisengan ayah? Harapan ibu? Alasan-alasan keluarga? Kalau aku tak salah ingat... meskipun ingatanku tak sebaik dulu lagi... kau punya kakak bernama Achille, ya, kan? Ingatan Poirot melayang cepat pada karier kakaknya, Achille Poirot. Apa benar kakaknya memang sukses dalam kariernya? Ya, tapi tidak lama, sahutnya singkat. Dengan cerdik Dr. Burton mengalihkan pembicaraan dari Achille Poirot. Seharusnya orang hati-hati bila memberi nama anak-anaknya, gumamnya setengah merenung. Aku punya sejumlah anak baptis. Ada yang namanya Blanche... padahal kulitnya gelap seperti gadis gipsy! Lalu ada Deirdre, Deirdre yang Berduka padahal gadis itu amat periang dan ceriwis seperti jangkrik. Dan Patience, seharusnya dia diberi nama Impatience, itu lebih cocok baginya! Lalu Diana... yah, Diana... Tiba-tiba ahli sastra Yunani Klasik itu bergidik. Beratnya sudah enam puluh kilo padahal sekarang umurnya baru lima belas! Orang bilang, itu lemak anak-anak tapi menurutku tidak begitu. Diana! Mereka ingin memberinya nama Helen, tapi aku berkeras mencegahnya. Kalau ingat seperti apa ayah-ibunya... Belum lagi neneknya! Sudah kuusulkan nama Martha atau Dorcas... nama yang lebih masuk akal, tapi tak diterima, buang-buang energi saja. Dasar orang desa tolol, orangtua... Pria itu batuk-batuk pelan, wajahnya yang kecil dan tembam sedikit berkerut. Poirot memandangnya penuh ingin tahu. Bayangkan suatu obrolan khayalan. Ibumu dan almarhum Mrs. Holmes, sambil merajut mantel-mantel bayi, Achille, Hercule, Sherlock, Mycroft... Poirot tidak bisa mengerti lelucon kawannya. Maksudmu, secara fisik penampilanku sama sekali tidak mirip Hercules, begitu? Mata Dr. Burton menyapu Hercule Poirot sekilas, memandang lelaki kecil berpenampilan serba rapi, mengenakan celana bergaris-garis, jas hitam tanpa cela, dasi kupu-kupu, dan sepasang sepatu kulit mahal yang serasi. Lalu pandangannya beralih ke kepala berbentuk telur dan kumis lebat yang menghiasi bagian bawah hidungnya. Terus terang, Poirot, kata Dr. Burton, kau benar-benar tiruan Hercules yang sama sekali tak ada miripnya! Lagi pula, tambahnya, rupanya kau tidak pernah mempelajari sastra Yunani Klasik, ya? Itu benar. Sayang. Sayang. Kau kehilangan banyak. Kalau aku punya wewenang, setiap orang akan kuharuskan mempelajari sastra Yunani Klasik. Poirot mengangkat bahu, Eh bien, tanpa itu pun aku sudah sukses. Sukses! Sukses! Bukan itu masalahnya. Itu pandangan yang seratus persen keliru. Sastra Yunani Klasik bukan tangga yang bisa cepat membawa kita ke puncak sukses, seperti kursus korespondensi modern! Bukan jam kerja seseorang yang penting melainkan justru waktu senggangnya. Itulah kesalahan kita semua. Lihat saja dirimu sekarang, kau masih tetap begitu, kau pasti akan punya keinginan untuk membebaskan diri dari semua ini, hidup santai lalu, apa yang akan kaulakukan di waktu senggangmu?

3 Poirot sudah siap dengan jawabannya. Aku akan menyibukkan diri secara serius dengan usaha menciptakan sumsum sayur-mayur. Dr. Burton terkejut bukan main. Sumsum sayur-mayur? Apa maksudmu? Cairan hijau yang rasanya tawar seperti air? Ah, sahut Poirot antusias. Itulah gagasan utamanya. Sumsum itu tidak harus tawar rasanya. Oh! Aku tahu... taburi keju parut, bawang giling, atau saus putih. Bukan, bukan... kau keliru. Aku yang menemukan gagasan bahwa rasa sumsum sayur-mayur, atau sari pati sayuran, bisa disempurnakan. Bisa kita beri... matanya menyipit sebuah bouquet... Astaga, kawan, itu kan bukan claret. Kata bouquet mengingatkan Dr. Burton akan gelas anggur dekat sikunya. Sekali lagi dia meneguk isinya dengan nikmat. Ini anggur yang sangat bagus. Rasanya sangat enak. Ya. Kepalanya mengangguk-angguk. Tapi, tentang urusan rasa sumsum sayuran itu... kau tidak serius, bukan? Kau tidak bermaksud... suaranya tiba-tiba berubah ngeri untuk membungkuk-bungkuk, tangannya mengelus perutnya sendiri yang amat gendut, membungkuk, menggali-gali, membasahinya dengan secarik kain wol yang sudah dicelupkan ke air, dan seterusnya, dan seterusnya? Sepertinya kau sudah terbiasa merekayasa sumsum sayuran? balas Poirot. Aku pernah lihat tukang kebun melakukannya waktu berkunjung ke desa. Tapi terus terang, Poirot... itu hobi yang sangat aneh! Dibandingkan dengan... suaranya merendah, seakan berlagu kursi empuk di depan perapian, dalam ruangan panjang dengan dinding penuh buku... ya, harus ruangan yang panjang... bujur sangkar tidak cocok. Buku-buku di mana-mana. Segelas anggur enak... dan sebuah buku terbuka di pangkuan. Waktu berjalan mundur ke masa lalu, sementara kau asyik membaca, dia mengutip dengan nada penuh irama, { tulisan dengan huruf Yunani } Lalu menerjemahkannya, Dengan terampil, sekali lagi, di tengah badai di samudera merah bagaikan anggur, sang nakhoda meluruskan perahunya yang dipermainkan gelombang. Tentu saja kau takkan dapat memahami keindahan nuansanya dalam bahasa aslinya. Sejenak, karena terlalu menggebu-gebu, ia tidak menyadari kehadiran Poirot. Dan Poirot, yang asyik memandangi kawannya, tiba-tiba ragu ada perasaan tidak enak yang mengusik hatinya. Apakah benar ada sesuatu yang tak dimilikinya, yang membuatnya merasa kehilangan? Kekayaan batin? Pelan-pelan rasa sedih merayapi hatinya. Ya, seharusnya dia sudah mengenal sastra Yunani Klasik, sejak dulu. Dan sekarang, sudah terlambat... Dr. Burton membuyarkan lamunannya. Maksudmu, kau benar-benar sudah berpikir untuk pensiun? Ya. Kawan Poirot itu tertawa geli. Tak mungkin! Sungguh, aku...

4 Kau takkan sanggup, kawan. Kau terlalu mencintai pekerjaanmu. Sungguh, aku sudah membuat persiapan-persiapan. Beberapa kasus lagi yang benar-benar terpilih bukan yang biasa-biasa saja, bukan yang muncul di depanku begitu saja. Aku hanya akan menangani kasus-kasus yang secara pribadi membuatku tertarik. Dr. Burton tersenyum lebar. Pasti begitu. Sudah kuduga. Satu-dua kasus lagi, lalu satu lagi, dan seterusnya. Gaya penampilan terakhir seorang Prima Donna takkan cocok dengan watakmu, Poirot! Ia tertawa geli sambil bangkit berdiri, seraut wajah menyenangkan di bawah mahkota rambut yang sudah putih. Pilihanmu bukanlah Tugas-tugas Hercules, katanya. Pilihanmu adalah tugas-tugas karena cinta. Berani taruhan, aku pasti benar. Dua belas bulan lagi kau pasti masih tetap di sini, dan sumsum sayuran masih tetap... dia bergidik sumsum biasa saja. Setelah berpamitan pada tuan rumahnya, Dr. Burton meninggalkan ruangan persegi panjang yang kaku itu. Dia keluar dari halaman-halaman buku ini dan takkan muncul kembali. Yang menjadi perhatian kita adalah kesan yang ditinggalkannya, kesan yang kemudian berubah menjadi gagasan. Karena, setelah kawannya itu pergi, Hercule Poirot pelan-pelan kembali duduk di kursinya, dan seperti orang bermimpi ia bergumam, Tugas-tugas Hercules... Mais oui, c est une idée, ça... *** Keesokan harinya Hercule Poirot menyibukkan diri dengan membuka-buka sebuah buku tebal bersampul kulit dan sejumlah buku lain yang penampilannya sudah lusuh. Sesekali ia membuat catatan atau membaca potongan-potongan kertas berisi catatan yang sudah diketik. Sekretarisnya, Miss Lemon, telah diperintahkannya untuk mengumpulkan segala macam tulisan tentang Hercules, dan menyusun detail-detailnya secara sistematis. Dengan tak acuh (Miss Lemon bukan tipe wanita yang selalu ingin tahu!), tetapi dengan efisiensi yang sempurna, Miss Lemon menyelesaikan tugasnya. Hercule Poirot boleh dikatakan terjun begitu saja ke dalam lembah sastra Yunani Klasik yang mengerikan, dan dengan perhatian khusus pada Hercules, pahlawan yang dipuja, yang setelah kematiannya diangkat menjadi makhluk yang sejajar dengan para dewa, serta mendapat kehormatan sebagaimana layaknya seorang dewa. Sampai sejauh itu segalanya berjalan lancar tetapi, setelah itu, kemajuan yang diperolehnya tidak mudah. Selama dua jam dengan tekun Poirot membuat catatan-catatan, mengerutkan dahi, memeriksa potongan-potongan kertas berisi detail-detail penting, dan membaca buku-buku referensi lainnya. Akhirnya ia duduk bersandar sambil menggelenggelengkan kepala. Semangatnya yang menggebu-gebu pada malam sebelumnya kini lenyap. Orang-orang macam apa ini?! Ambil contoh si Hercules ini... si pahlawan! Huh, pahlawan! Dia tak lebih dari makhluk berotot dengan inteligensi rendah dan kecenderungan-kecenderungan kriminal! Tokoh ini mengingatkannya akan Adolfe Durand, si tukang jagal yang diadili di Lyon pada tahun 1895 lelaki dengan kekuatan sapi jantan yang tega membunuh anak-anak kecil. Pembelanya mengatakan ia menderita epilepsi pernyataan yang tak perlu diragukan lagi meskipun, apakah kasusnya grand mal atau petit

5 mal menjadi perdebatan seru selama berhari-hari. Hercules dari Yunani Kuno ini barangkali menderita grand mal. Sialan, Poirot menggeleng. Kalau memang seperti itu gambaran tokoh pahlawan bagi orang-orang Yunani, jika diukur dengan standar modern, jelas takkan cocok. Keseluruhan pola pikir Yunani Klasik membuatnya terkejut dan ngeri. Dewa-dewa dan dewi-dewi itu... rupanya mereka punya banyak nama lain, punya banyak alias, persis tokoh-tokoh kriminal modern. Sungguh, mereka benar-benar mewakili berbagai tipe kriminal. Pemabuk, punya kebiasaan-kebiasaan seksual yang aneh, incest, pemerkosa, pencuri, perampok, pembunuh, penipu ulung pendek kata, cukup untuk membuat seorang juge d Instruction selalu sibuk. Tak ada kehidupan keluarga yang sopan dan terhormat. Tanpa aturan jelas dan tanpa metode. Bahkan dalam tindak kejahatan mereka, tak ada aturan jelas dan tak ada metode! Huh, Hercules! gumam Hercule Poirot sambil bangkit berdiri. Dia merasa ilusinya hancur. Ia memandang sekelilingnya dengan sikap puas. Ruangan persegi panjang, dengan perabotan persegi yang modern bahkan dilengkapi dengan patung modern yang berbentuk kubus yang ditumpangkan pada kubus lain, dan di atasnya terdapat bangun geometris dari susunan kawat-kawat tembaga. Dan... di tengah ruangan yang serba rapi, bersih, dan teratur itu... dirinya sendiri. Dipandanginya bayangan dirinya di cermin. Inilah Hercules modern sangat berbeda dari sketsa menjijikkan yang menggambarkan makhluk telanjang berotot sedang mengayun-ayunkan gada. Hercules modern adalah sosok kecil berpenampilan serba rapi, mengenakan setelan modern yang bagus potongannya, lengkap dengan kumis yang... ya, kumis yang anggun dan amat mengesankan yang tidak dimiliki si Hercules kuno itu. Apakah Hercules dulu pernah berpikir untuk memelihara kumisnya? Namun, ada satu persamaan antara Hercule Poirot dan Hercules dari sastra Yunani Klasik itu. Keduanya jelas berperan penting dalam membersihkan dunia ini dari kuman-kuman busuk tertentu... Masing-masing bisa dikatakan berperan sebagai Penyelamat Masyarakat di tempat mereka hidup... Apa kata Dr. Burton kemarin, sebelum dia pergi? Pilihanmu bukanlah Tugas-tugas Hercules... Ah, kawannya itu keliru. Dasar makhluk pikun. Harus ada, sekali lagi, Tugas-tugas Hercules yang harus diselesaikan... Hercules modern. Seorang tokoh yang cerdas dan amat menarik! Sebelum akhirnya benar-benar pensiun, Hercule Poirot akan menyelesaikan dua belas kasus, tidak lebih, tidak kurang. Dan dua belas kasus itu harus dipilih dengan referensi khusus terhadap dua belas tugas yang diselesaikan Hercules dari Zaman Yunani Kuno itu. Ya, itu pasti tidak hanya menarik, tetapi juga artistik, kecuali itu juga... mungkin akan berkesan spiritual. Poirot mengambil Kamus Sastra Klasik dan sekali lagi menenggelamkan diri ke Zaman Yunani Kuno. Dia tidak bermaksud mengikuti jejak prototipenya itu secara persis. Tak boleh ada wanita, tak boleh ada jubah yang ternoda darah Nessus... Hanya boleh ada Tugas-tugas, ya, Tugas-tugas semata-mata. Tugas Pertama, kalau begitu, adalah Singa dari Nemea. Singa dari Nemea, ulangnya beberapa kali. Tentu saja ia tidak mengharap akan mendapat kasus yang benar-benar melibatkan singa hidup. Pasti akan terlalu mencolok dan tidak bermutu bila ia tiba-tiba dikunjungi Direktur Kebun Binatang yang meminta bantuannya memecahkan kasus yang ada hubungannya dengan singa betul. Tidak, tidak begitu. Harus ada simbolisme dalam kasus-kasus yang akan ditanganinya. Kasus pertama harus ada hubungannya dengan tokoh masyarakat, harus ada sensasinya, harus merupakan kasus yang amat penting! Tokoh kriminal yang amat terkenal... atau, alternatifnya, seseorang yang bisa disejajarkan dengan singa di mata masyarakat. Pengarang terkenal, politikus, pelukis... atau bahkan kerabat Kerajaan?

6 Hercule Poirot menyukai gagasan terlibatnya seorang kerabat Kerajaan dalam kasus... Dia takkan tergesa-gesa. Dia akan menunggu... menunggu kasus yang penting dan menarik minatnya, yang akan menjadi Tugas Pertama yang dibebankannya pada pundaknya sendiri. 1 SINGA DARI NEMEA I ADA yang menarik perhatian pagi ini, Miss Lemon? tanya Hercule Poirot sambil masuk ke ruang kerjanya, keesokan harinya. Dia amat menghargai dan mempercayai pendapat Miss Lemon. Wanita itu tak punya imajinasi, tetapi punya insting kuat. Apa pun yang dikatakannya layak dipertimbangkan, dan kemudian akan terbukti memang layak dipertimbangkan. Miss Lemon memang terlahir sebagai sekretaris. Tak banyak, M. Poirot. Hanya ada satu surat yang menurut saya akan membuat Anda tertarik. Saya letakkan paling atas di tumpukan surat. Tentang apa? Ia melangkah maju dengan penuh minat. Dari seorang pria yang meminta bantuan Anda untuk menyelidiki kasus hilangnya anjing peking kesayangan istrinya. Langkah Poirot langsung terhenti. Kakinya masih menggantung di udara. Dia melemparkan pandangan kesal ke arah Miss Lemon. Wanita itu tidak menggubrisnya. Ia sudah kembali sibuk mengetik. Miss Lemon mengetik dengan cepat dan tepat, seperti senapan otomatis yang ditembakkan penembak ulung. Poirot gemetar; gemetar dan merasa terhina. Miss Lemon, sekretarisnya yang cekatan dan efisien, telah menghinanya! Seekor anjing peking. Seekor anjing peking! Padahal semalam ia bermimpi. Ia sedang meninggalkan Buckingham Palace setelah mendapat ucapan terima kasih secara pribadi, ketika pelayan setianya datang membawakan segelas cokelat hangat dan membangunkannya. Kata-kata bergetar di mulutnya... kata-kata yang tajam menusuk. Ia tidak mengucapkannya secara terang-terangan sebab Miss Lemon, yang sedang asyik mengetik dengan cepat dan efisien, pasti takkan mendengarnya. Dengan geram dan agak jijik ia mengambil surat paling atas dari tumpukan surat-surat di atas mejanya. Ya, surat itu persis seperti yang dikatakan Miss Lemon! Sebuah alamat di pusat kota permintaan resmi dalam bahasa yang ringkas dan tanpa basa-basi. Masalahnya berhubungan dengan kasus diculiknya seekor anjing peking. Jenis anjing bermata menonjol yang amat disukai wanita-wanita kaya. Bibir Hercule Poirot berkerut sementara dia membaca surat itu. Tak ada yang istimewa tentang isinya. Tak ada yang luar biasa atau... Tapi... ya, ya, tentang satu detail kecil, Miss Lemon ternyata benar. Tentang satu detail kecil, memang

7 ada sesuatu yang luar biasa. Hercule Poirot duduk. Dengan pelan dan cermat ia membaca kembali surat itu. Bukan jenis kasus yang diinginkannya, bukan jenis yang telah dijanjikannya pada dirinya sendiri. Dari sudut apa pun, ini bukan kasus yang bisa disebut penting dan hal pokok yang membuatnya keberatan adalah... Ini bukan Tugas Hercules yang sesuai untuknya. Sayangnya, Hercule Poirot tertarik... Ya, ia merasa tergelitik dan ingin tahu... Ia berkata dengan suara nyaring, agar dapat terdengar Miss Lemon di tengah bunyi mesin tiknya yang tak kalah nyaringnya. Telepon Sir Joseph Hoggin, perintahnya, dan buatkan janji pertemuan dengannya, di kantornya, seperti yang diusulkannya. Seperti biasa, Miss Lemon selalu benar. *** Saya orang biasa, M. Poirot, kata Sir Joseph Hoggin. Hercule Poirot menggerakkan tangan kanannya tanpa maksud tertentu. Gerakan tangannya itu (kalau kita memilih mengartikannya) mengungkapkan kekagumannya akan keberhasilan Sir Joseph dalam kariernya dan penghargaannya akan kerendah-hatian pria itu dalam menggambarkan dirinya sendiri. Barangkali bisa juga diartikan sebagai gaya anggun untuk membenarkan pernyataan tersebut. Singkatnya, gerakan tangan Poirot sama sekali tidak mengungkapkan apa yang sesungguhnya terlintas dalam pikirannya, yaitu bahwa sebenarnya (kalau kita gunakan istilah yang lebih umum) Sir Joseph adalah pria yang sama sekali tidak istimewa. Mata Hercule Poirot yang kritis menilai dagu yang gemuk, sepasang mata sipit, hidung besar menggelembung, dan bibir yang terkatup rapat. Efek keseluruhannya mengingatkannya pada seseorang atau sesuatu... tapi saat itu ia tak ingat siapa atau apa. Samar-samar sesuatu terlintas dalam ingatannya. Dulu... sudah lama berlalu... di Belgia... sesuatu, ya, sesuatu yang ada hubungannya dengan sabun... Sir Joseph sedang melanjutkan. Tak ada rumbai-rumbai atau basa-basi. Saya tak suka berputar-putar. Sebagian besar orang pasti akan membiarkan kasus ini berlalu begitu saja. Menganggapnya nasib sial dan melupakannya. Tapi itu bukan watak Joseph Hoggin. Saya orang kaya... dan uang dua ratus pound sebenarnya tak ada artinya bagi saya... Poirot menyela dengan cepat, Saya ucapkan selamat kepada Anda. Eh? Sir Joseph berhenti satu menit lamanya. Matanya yang kecil semakin menyipit. Ia berkata dengan suara tajam, Tapi itu tidak berarti saya punya kebiasaan membuang-buang uang. Apa yang saya inginkan saya bayar. Saya bayar sesuai dengan harga pasar... tidak lebih. Hercule Poirot menanggapi, Tahukah Anda, bayaran saya amat tinggi? Ya, ya. Tapi, Sir Joseph memandang tamunya dengan cerdik, kasus ini amat sepele. Hercule Poirot mengangkat bahu. Katanya, Saya tak suka tawar-menawar. Saya seorang ahli. Untuk layanan jasa seorang ahli, Anda harus bersedia membayar harga yang sesuai. Sir Joseph berkata terus terang, Saya tahu, Anda orang yang paling hebat dalam hal-hal semacam ini. Saya sudah menyelidikinya dan saya diberitahu bahwa Anda-lah yang terbaik yang tersedia. Saya memang ingin kasus ini diselesaikan dengan tuntas dan saya takkan

8 mengomel tentang ongkosnya. Itulah sebabnya Anda menemui saya di sini. Anda sangat beruntung, balas Poirot dengan nada tak kalah tajamnya. Sir Joseph menggumamkan Eh? lagi. Sangat beruntung, ulang Hercule Poirot dengan tegas. Saya... saya bisa mengatakannya tanpa harus pura-pura berendah hati, saya sudah mencapai puncak karier saya. Tak lama lagi saya bermaksud pensiun... pindah ke desa, kadang-kadang melakukan perjalanan melihat-lihat dunia. Selain itu, mungkin saya juga akan mengembangkan kebun percobaan... dengan perhatian khusus pada usaha memperbaiki rasa sumsum sayuran. Mengembangkan sayuran yang luar biasa. Yang ada sekarang sudah cukup hebat, tetapi rasanya masih kurang. Namun, itu bukanlah alasan utamanya. Yang ingin saya katakan, sebelum benar-benar pensiun saya sudah mencanangkan sejumlah tugas yang harus saya selesaikan. Saya telah memutuskan menerima dua belas kasus... tidak lebih, tidak kurang. Tugas-tugas Hercules yang saya bebankan sendiri ke pundak saya. Kasus Anda, Sir Joseph, adalah tugas pertama dari dua belas tugas itu. Saya tertarik, desah Hercule Poirot, justru karena tidak pentingnya kasus ini. Penting? ulang Sir Joseph. Tidak penting, itu kata saya tadi. Saya telah menangani berbagai macam kasus... menyelidiki kasus pembunuhan, kematian yang tak jelas sebab-sebabnya, perampokan, pencurian permata, dan ini untuk pertama kalinya saya diminta menggunakan bakat-bakat saya untuk memecahkan kasus penculikan seekor anjing peking. Sir Joseph menggeram. Katanya, Anda membuat saya heran! Seharusnya Anda saat ini sudah dikerumuni wanita-wanita kaya yang mengeluh tentang hilangnya anjing kesayangan mereka. Itulah, memang begitu. Tapi, ini adalah untuk pertama kalinya saya dimintai tolong oleh pihak suami dalam kasus seperti ini. Mata sipit Sir Joseph makin menyipit, menyorotkan kekagumannya. Katanya, Saya mulai mengerti, mengapa mereka merekomendasikan Anda. Anda orang yang sangat cerdik, Mr. Poirot. Poirot bergumam, Kalau begitu, silakan menceritakan fakta-faktanya sekarang. Kapan anjing itu hilang? Tepat seminggu yang lalu. Dan saat ini istri Anda pasti panik, ya, kan? Sir Joseph memandang Poirot lekat-lekat. Katanya, Anda tidak mengerti. Anjing itu sudah dikembalikan. Dikembalikan? Kalau begitu, izinkan saya bertanya, dalam hal apa saya dibutuhkan di sini? Wajah Sir Joseph menjadi merah padam. Sebab saya seperti orang tolol kalau mau ditipu begitu saja! Dengar, Mr. Poirot, akan saya ceritakan semuanya. Seminggu yang lalu, anjing itu diculik di Kensington Gardens, ketika sedang diajak jalan-jalan kawan istri saya. Esok harinya istri saya menerima surat yang minta tebusan sebesar dua ratus pound. Bayangkan, dua ratus pound! Hanya untuk seekor anjing jelek yang selalu menghalangi langkah kita! Poirot bergumam, Anda tidak bersedia membayar uang tebusan itu, tentu saja? Tentu saja tidak... atau tidak akan sudi seandainya saya tahu! Milly, istri saya, tahu

9 benar watak saya. Dia tak mengatakan apa-apa pada saya. Langsung saja dikirimkannya uang itu... dalam pecahan satu pound seperti yang diminta... ke alamat yang telah disebutkan. Dan anjingnya kemudian dikembalikan? Ya. Malamnya bel pintu dibunyikan, dan ketika pintu dibuka, anjing itu ada di sana. Tak ada siapa-siapa kecuali anjing itu. Sempurna. Lanjutkan. Kemudian, tentu saja Milly mengakui perbuatannya dan saya agak marah. Tapi saya marah tak lama-lama. Bagaimanapun juga, hal itu sudah telanjur. Kita tak mungkin mengharapkan kaum wanita bertindak sesuai dengan akal sehat, bukan? Dan, kalau saya tidak bertemu dan mengobrol dengan Samuelson di Klub, saya akan melupakan kasus ini begitu saja. Ya? Sungguh sial! Penculikan anjing pasti merupakan usaha yang amat menguntungkan! Hal yang persis sama terjadi padanya. Tiga ratus pound berhasil mereka keruk dari istrinya! Yah... jumlah itu agak terlalu banyak. Saya memutuskan hal ini harus dihentikan. Saya lalu memanggil Anda. Tapi, Sir Joseph, seharusnya dan ini jauh lebih murah Anda menghubungi polisi. Sir Joseph menggaruk-garuk hidungnya. Katanya, Apakah Anda sudah menikah, M. Poirot? Ah, kata Poirot, saya belum memperoleh kebahagiaan itu. Hmm, gumam Sir Joseph. Entahlah kalau Anda menyebut ini kebahagiaan. Tapi jika sudah menikah Anda akan tahu wanita makhluk yang aneh. Istri saya langsung menjerit-jerit histeris begitu saya menyebut-nyebut kata polisi. Entah bagaimana, dia yakin sesuatu yang buruk akan terjadi pada Shan Tung jika saya menghubungi polisi. Dia menolak gagasan itu mentah-mentah... dan kalau saya boleh mengatakannya, dia pun sebenarnya tidak setuju saya memanggil Anda. Tapi saya bersikap tegas dan akhirnya dia menyerah. Tapi, ingat, dia tidak menyukai gagasan ini. Hercule Poirot bergumam, Kalau begitu, sejauh pengamatan saya, kasus ini amat peka. Sebaiknya mungkin saya juga mewawancara Madame, istri Anda, untuk memperoleh beberapa keterangan tambahan dan sekaligus meyakinkannya bahwa anjingnya akan baik-baik saja. Sir Joseph mengangguk lalu berdiri. Katanya, Mari saya antarkan dengan mobil saya. II Dalam sebuah ruang duduk yang cukup luas, panas, dan berperabotan meriah, dua wanita sedang bersantai. Ketika Sir Joseph dan Hercule Poirot masuk, seekor anjing peking kecil melompat ke depan, menggonggong galak, dan dengan sikap mengancam mengelilingi kaki Poirot berkalikali. Shan... Shan... sini, sini, ikut Mama, Sayang... Ambil dia, Miss Carnaby. Wanita yang disuruh cepat-cepat melakukan perintah itu dan Hercule Poirot bergumam, Seperti singa! Dengan napas terengah-engah wanita yang berhasil menangkap Shan Tung menyetujui pendapatnya.

10 Ya, benar, dia anjing penjaga yang baik. Dia tak takut pada apa pun dan siapa pun. Sini, Sayang, sini... Setelah memperkenalkan mereka, Sir Joseph berkata, Well, Mr. Poirot, silakan melakukan penyelidikan Anda. Saya ada urusan lain, katanya. Lalu sambil mengangguk singkat ia meninggalkan ruangan itu. Lady Hoggin seorang wanita gemuk, berpenampilan aneh dengan rambut yang dicat kemerahmerahan. Kawannya, Miss Carnaby yang selalu terengah-engah, bertubuh gemuk, berwajah ramah, dan menyenangkan. Usianya antara empat puluh dan lima puluh tahun. Dia memperlakukan Lady Hoggin dengan penuh hormat dan jelas sekali ia amat takut pada majikannya. Poirot berkata, Tolong ceritakan, Lady Hoggin, bagaimana terjadinya kejahatan yang menjengkelkan ini. Wajah Lady Hoggin memerah. Saya senang Anda mengatakannya seperti itu, Mr. Poirot. Sebab itu memang kejahatan. Anjing peking sangat sensitif, seperti anak-anak. Shan Tung yang malang... bisa saja dia mati karena ketakutan. Miss Carnaby menyambung dengan suara seakan menahan napas, Ya, kejam... sungguh kejam. Tolong katakan fakta-faktanya. Ya, begini. Shan Tung sedang berjalan-jalan di taman bersama Miss Carnaby... Oh, benar... benar... semua ini salah saya, sela Miss Carnaby. Betapa tololnya saya waktu itu... ceroboh... Lady Hoggin berkata dengan suara masam, Aku tidak ingin mencelamu, Miss Carnaby, tapi menurutku, seharusnya kau lebih waspada. Poirot mengalihkan pandangannya pada wanita yang satunya. Apa yang terjadi? Miss Carnaby langsung nyerocos. Ya, sangat aneh dan luar biasa! Kami baru saja berjalan-jalan dekat bedeng-bedeng bunga... Shan Tung, tentu saja, tetap terikat pada tali lehernya. Dia telah saya beri kesempatan untuk lari-lari dan berguling-guling di rumput. Dan saya baru saja hendak melangkah pulang ketika perhatian saya tertarik pada bayi dalam kereta dorong... bayi yang lucu dan menggemaskan... dia tersenyum pada saya... pipinya merah jambu dan rambutnya keriting. Saya tak dapat menahan diri untuk tidak mengobrol sebentar dengan perawat pengasuhnya, hanya satu-dua menit, lalu tiba-tiba saya memandang ke bawah dan... Shan Tung tak ada lagi. Tali lehernya sudah dipotong... Lady Hoggin menyela, Kalau kau melaksanakan tugasmu dengan baik, orang tak mungkin menyelinap dan memotong tali itu. Miss Carnaby hampir-hampir menangis. Poirot dengan cepat menengahi, Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Yah, tentu saja saya mencarinya di mana-mana. Dan memanggil-manggil dia! Saya juga bertanya pada penjaga taman, kalau-kalau dia melihat orang menggendong seekor anjing peking... tetapi dia mengatakan tak tahu. Saya kehilangan akal... saya terus mencaricari, tapi akhirnya, tentu saja, saya harus pulang... Kata-kata Miss Carnaby tiba-tiba terputus. Poirot dapat membayangkan apa yang kemudian

11 terjadi. Ia bertanya, Lalu Anda menerima sepucuk surat? Lady Hoggin menyambung cerita itu, Bersama pos pertama esok harinya. Tertulis di sana, kalau saya ingin melihat Shan Tung dalam keadaan selamat, saya harus mengirimkan uang sebesar dua ratus pound dalam pecahan satu pound dalam sebuah paket yang tak tercatat kepada Kapten Curtis, Bloomsbury Road Square Nomor 38. Ditulis pula, jika uangnya ditandai atau polisi diberitahu, maka... maka... ekor dan telinga Shan Tung akan dipotong! Miss Carnaby mulai terisak. Sungguh kejam, gumamnya. Bagaimana mungkin orang bisa sejahat itu?! Lady Hoggin melanjutkan, Ditulis pula, jika saya segera mengirimkan uangnya, Shan Tung akan langsung dikembalikan malam itu juga, dalam keadaan hidup dan tak kurang suatu apa. Tapi jika... jika sesudah itu saya melapor pada polisi, nyawa Shan Tung akan terancam... Miss Carnaby menggumam dengan air mata berlinang, Oh, saya amat cemas... bahkan sekarang pun saya masih khawatir... Tapi, tentu saja M. Poirot bukan polisi... Lady Hoggin berkata dengan nada cemas, Jadi, Mr. Poirot, Anda harus sangat hati-hati. Dengan cepat Hercule Poirot menenangkan kedua wanita itu. Tapi saya bukan polisi. Pertanyaan dan penyelidikan saya akan dilakukan secara diam-diam dan tanpa ribut-ribut. Anda harus percaya pada saya, Lady Hoggin, Shan Tung takkan diapa-apakan. Tentang itu saya berani menjamin. Kedua wanita itu tampak lega setelah mendengar kata ajaib itu. Poirot melanjutkan. Anda masih menyimpan surat itu? Lady Hoggin menggeleng. Tidak. Saya diperintahkan untuk menyertakannya bersama uangnya. Dan Anda menuruti perintah itu? Ya. Hmm, sayang sekali. Miss Carnaby berkata dengan nada penuh kemenangan, Tapi saya masih menyimpan sisa potongan tali leher itu. Saya ambil dulu, ya? Dia langsung meninggalkan ruangan itu. Hercule Poirot memanfaatkan kesempatan itu untuk mengajukan beberapa pertanyaan khusus. Amy Carnaby? Oh! Dia cukup baik. Wataknya baik, meskipun dia agak tolol. Saya sudah pernah mempekerjakan sejumlah wanita untuk menemani saya, mereka semua tolol. Tapi Amy sangat mencintai Shan Tung dan benar-benar sedih karena peristiwa itu... dia bingung... Yah, dasar tolol. Dia asyik memandangi bayi itu dan melupakan anjing kesayangan saya! Perawan-perawan tua seperti dia biasanya suka bersikap tolol jika melihat bayi! Tidak, saya yakin, dia tak ada hubungannya dengan kasus ini. Sepertinya memang tidak, Poirot sependapat. Tapi karena anjing itu hilang ketika berada dalam pengawasannya, kita harus meyakinkan diri akan kejujurannya. Sudah lama dia bekerja pada Anda? Hampir setahun. Dia punya referensi yang bagus. Pernah bekerja pada almarhum Lady Hartingfield sampai wanita itu meninggal... selama sepuluh tahun di sana. Kemudian dia merawat kakaknya yang invalid selama beberapa waktu. Dia wanita yang baik... tetapi, seperti kata saya tadi, orangnya tolol.

12 Saat itu Amy Carnaby masuk ke ruangan, dengan napas terengah-engah. Ia mengulurkan sisa tali leher Shan Tung kepada Poirot dengan sikap khidmat dan memandang pria itu dengan penuh harap. Poirot mengamati benda itu dengan teliti. Mais oui, katanya. Ini jelas bekas dipotong. Kedua wanita itu masih tetap memandangnya dengan penuh harap. Kemudian Poirot berkata, Saya akan menyimpan tali ini. Dengan sikap yang tak kalah khidmatnya dimasukkannya benda itu ke dalam sakunya. Kedua wanita itu mendesah lega. Poirot telah melakukan apa yang diharapkan kedua wanita itu akan dilakukannya. III Hercule Poirot mempunyai kebiasaan menguji segala kemungkinan. Meskipun sekilas seakan tak mungkin Miss Carnaby terlibat dalam kasus itu, karena jelas-jelas tolol dan agak linglung, Poirot tetap mewawancarai seorang wanita ningrat yang semula tidak menerimanya dengan ramah. Ia keponakan mendiang Lady Hartingfield. Amy Carnaby? tanya Miss Maltravers. Tentu saja saya masih ingat dia. Dia baik dan cocok sekali dengan Bibi Julia. Sangat suka anjing dan pandai membaca keras-keras. Dia juga cerdik, dalam arti tidak pernah menentang orang cacat. Ada apa dengan dia? Mudahmudahan dia tidak mendapat kesulitan. Setahun yang lalu saya memberinya referensi karena dia akan bekerja pada seorang wanita yang namanya mulai dengan huruf H... Cepat-cepat Poirot menjelaskan bahwa Miss Carnaby masih bekerja pada wanita yang dimaksud. Katanya, ada masalah kecil sehubungan dengan hilangnya seekor anjing. Amy Carnaby sangat mencintai anjing. Bibi saya punya seekor anjing peking. Sebelum meninggal, ia mewariskan anjing itu kepada Miss Carnaby. Dan... Miss Carnaby amat menyayangi anjing itu. Saya yakin, dia pasti sedih sekali ketika anjing itu mati. Oh ya, dia wanita baik-baik. Tentu saja kita tidak bisa mengatakan dia berotak cerdas. Hercule Poirot sependapat bahwa, bagaimanapun juga, Miss Carnaby tak dapat digambarkan sebagai wanita cerdas. Selanjutnya dia mewawancarai penjaga taman, yang waktu itu ditanyai Miss Carnaby... pada sore hari yang nahas itu. Hal itu dilakukan Poirot tanpa kesulitan. Laki-laki itu masih ingat kejadian tersebut. Seorang wanita setengah baya, agak gemuk namun masih normal dia kehilangan anjing peking-nya. Saya hafal dia hampir setiap sore ke sini mengajak jalan-jalan anjingnya. Saya melihatnya datang membawa anjing itu. Dia benar-benar bingung ketika anjing itu hilang. Dia lari-lari menemui saya, menanyakan kalau-kalau saya melihat orang membawa anjingnya! Yah, Anda lihat saja sendiri! Taman ini penuh dengan segala macam anjing... terrier, peking, anjing Jerman... bahkan jenis borzoi pun ada. Tentu saya tak bisa mengawasi setiap orang yang membawa anjing peking. Hercule Poirot mengangguk sambil berpikir-pikir. Kemudian ia pergi ke Bloomsbury Road Square Nomor 38. Nomor 38, 39, dan 40 digabungkan menjadi Balaclava Private Hotel. Poirot menaiki undakannya lalu mendorong sebuah pintu. Pintu itu membuka dan ia disambut aroma kubis rebus serta sisa-sisa sarapan pagi. Ruangan di hadapannya agak suram. Di sisi kirinya ada sebuah meja terbuat dari kayu mahoni dengan sebuah tanaman chrysanthemum yang tampak menyedihkan. Di atas meja terdapat rak besar, berbentuk kotak-kotak, penuh

13 berisi tumpukan surat. Poirot memandangi rak itu sambil berpikir keras selama beberapa menit. Kemudian ia mendorong pintu di sebelah kanannya. Ruangan di baliknya merupakan ruang duduk dengan sebuah meja kecil dan sejumlah kursi nyaman dengan pola yang sudah usang. Tiga wanita tua dan seorang pria berpenampilan garang mengangkat kepala, memandang Hercule Poirot dengan pandangan tajam dan penuh permusuhan. Wajah detektif itu memerah lalu ia cepat-cepat menutup pintu itu kembali. Ia menyusuri lorong, sampai ke bawah tangga. Di sisi kanannya, lorong itu membelok, membentuk sudut siku-siku, ke arah ruangan yang jelas merupakan ruang makan. Pada lorong tersebut, beberapa langkah darinya, ada sebuah pintu bertanda KANTOR. Poirot mengetuk pintu tersebut. Karena tidak mendapat jawaban, ia membukanya dan melongok ke dalam. Ada sebuah meja besar di tengah ruangan, penuh kertas, tetapi tak ada seorang pun di sana. Dia kemudian pergi ke ruang makan. Seorang gadis berpenampilan murung dengan celemek kumal sedang menata meja untuk makan siang. Tangannya membawa sebuah keranjang kecil penuh pisau dan garpu. Hercule Poirot berkata dengan nada orang yang enggan mengganggu, Maaf, bisakah saya bertemu dengan pemilik hotel ini? Gadis itu membalas pandangannya dengan sorot mata letih dan tanpa gairah. Katanya, Entahlah. Hercule Poirot berkata, Tak ada siapa-siapa di kantor. Wah, entahlah. Saya tak tahu di mana dia. Mungkin, kata Hercule Poirot dengan sabar namun dengan nada menekan, Anda bisa mencarinya? Gadis itu mendesah. Tugasnya sehari-hari, yang meletihkan, kini ditambah dengan satu tugas lagi. Dia berkata dengan enggan, Yah, akan saya coba. Poirot mengucapkan terima kasih, lalu mengundurkan diri ke lorong. Dia tak berani berhadapan sekali lagi dengan mereka yang sedang berada di ruang duduk. Dia sedang mengamati rak penyimpan surat ketika aroma kuat bunga violet dari Devonshire mendahului munculnya sang pemilik hotel. Mrs. Harte seorang wanita yang suka melebih-lebihkan. Ia berseru, Maaf, maaf, saya sedang tak ada di kantor tadi. Anda membutuhkan kamar? Hercule Poirot menggumam, Tidak persis seperti itu. Saya ingin bertanya, apakah salah seorang kawan saya akhir-akhir ini menginap di sini. Kapten Curtis. Curtis, seru Mrs. Harte. Kapten Curtis? Ah, rasanya saya pernah mendengar namanya disebut-sebut. Poirot tidak menanggapi. Wanita itu menggeleng kuat-kuat. Poirot berkata, Kalau begitu, Anda tidak pernah punya tamu bernama Kapten Curtis? Yah... pasti tidak akhir-akhir ini. Tetapi... rasa-rasanya namanya saya kenal. Bisakah Anda menggambarkan, seperti apa kawan Anda itu? Ah, sulit sekali, kata Hercule Poirot. Lalu ia melanjutkan, Rupanya, kalau saya tidak keliru, banyak surat yang dialamatkan pada orang-orang yang sebenarnya tidak menginap di sini, benarkah? Ya, memang. Yang seperti itu sudah biasa di sini.

14 Anda apakan surat-surat seperti itu? Kami simpan selama beberapa waktu. Bisa saja orang yang dituju sewaktu-waktu muncul. Tentu saja, kalau ada surat atau paket yang sudah lama dan tak ada yang mengakuinya sebagai pemiliknya, semua itu akan kami kirimkan kembali ke kantor pos. Hercule Poirot mengangguk sambil berpikir-pikir. Katanya, Saya mengerti. Lalu tambahnya, Rupanya begitu. Saya menulis surat pada kawan saya, ke sini. Wajah Mrs. Harte kelihatan lega. Kalau begitu, masalahnya sudah jelas. Saya pasti melihat namanya pada salah satu surat. Tapi, sungguh... banyak sekali pensiunan tentara yang menginap di sini, atau sekadar mampir. Biar saya periksa dulu. Dia memeriksa tumpukan surat di rak. Hercule Poirot berkata, Sudah tak ada di situ. Saya rasa sudah dikembalikan lewat tukang pos. Maaf sekali. Saya harap, itu bukan sesuatu yang penting. Bukan... bukan... tidak penting. Sementara Hercule Poirot melangkah ke arah pintu, Mrs. Harte dengan aroma bunga violet yang tajam menusuk bergegas menyusulnya. Seandainya kawan Anda datang... Rasanya tidak mungkin. Saya pasti telah membuat kesalahan... Syarat-syarat kami di sini cukup longgar, kata Mrs. Harte. Termasuk kopi sesudah makan malam. Silakan melihat-lihat kamar yang tersedia... Dengan susah payah Hercule Poirot melepaskan diri dari wanita itu. IV Ruang duduk milik Mrs. Samuelson lebih luas, perabotannya sedikit lebih mewah, dan ada alat pemanas sentralnya itu jika dibandingkan dengan milik Lady Hoggin. Dengan hatihati Hercule Poirot melangkah di antara meja-meja kecil yang berlapis keemasan dan kelompok-kelompok patung tertentu. Mrs. Samuelson lebih jangkung daripada Lady Hoggin dan rambutnya dicat dengan peroksida. Anjing peking-nya bernama Nanki Poo. Dengan mata melotot angkuh, Nanki Poo mengawasi Hercule Poirot. Miss Keble, yang diupah Mrs. Samuelson untuk menemaninya, adalah wanita kurus kering. Satu-satunya persamaannya dengan Miss Carnaby yang gemuk adalah cara bicaranya yang terengah-engah. Dia juga dipersalahkan karena hilangnya Nanki Poo. Tapi sungguh, Mr. Poirot, kejadiannya benar-benar luar biasa. Terjadinya hanya dalam waktu sekejap. Di luar Harrods. Seorang perawat menanyakan jam berapa... Poirot menyela, Perawat? Perawat rumah sakit? Bukan, bukan... perawat anak... tepatnya, pengasuh bayi. Aduh, bayinya manis sekali. Lucu dan menggemaskan. Pipinya merah. Orang bilang, tak ada anak yang kelihatan sehat di London ini, tapi saya yakin yang itu... Ellen, tukas Mrs. Samuelson.

15 Wajah Miss Keble memerah, ia terbata-bata, lalu berdiam diri. Mrs. Samuelson berkata dengan suara masam, Dan sementara Miss Keble bercanda dengan si bayi yang tak ada urusannya dengannya penjahat yang kejam itu memotong tali pengikat Nanki Poo dan membawanya lari. Miss Keble menggumam, air matanya berlinang. Terjadinya hanya sedetik. Saya menoleh, dan anjing itu sudah tak ada... hanya tinggal sisa potongan talinya. Mungkin Anda ingin melihat potongan tali itu, Mr. Poirot? Tidak perlu, tukas Poirot cepat-cepat. Dia tak ingin mengoleksi potongan tali pengikat anjing. Dan kemudian, katanya melanjutkan, tak lama sesudah itu Anda menerima sepucuk surat? Cerita selanjutnya persis sama surat itu ancaman akan keselamatan Nanki Poo. Hanya dua hal yang berbeda... uang tebusan yang diminta adalah tiga ratus pound, dan harus dialamatkan pada Komandan Blackleigh, Harrington Hotel, Clonmel Gardens 76, Kensington. Mrs. Samuelson melanjutkan, Ketika Nanki Poo sudah aman berada di tangan saya lagi, saya datang sendiri ke sana, Mr. Poirot. Ya, tiga ratus pound kan tidak sedikit. Memang tidak sedikit. Yang pertama saya lihat adalah surat saya, dengan uang di dalamnya, ada pada semacam rak yang menempel di dinding. Ketika menunggu munculnya pemilik hotel, saya selipkan surat itu ke dalam tas saya. Sayangnya... Poirot melanjutkan. Sayangnya, ketika Anda membukanya, isinya hanya kertas-kertas kosong. Bagaimana Anda bisa tahu? tanya Mrs. Samuelson dengan penuh kagum. Poirot mengangkat bahu. Jelas sekali, chère Madame, penculiknya pasti sudah mengambil uang itu sebelum mengembalikan anjingnya. Dia telah mengganti uang itu dengan kertas-kertas kosong dan mengembalikan amplop surat itu ke rak, supaya jangan ada yang bertanya-tanya kalau surat itu tak ada di sana. Tak ada orang bernama Komandan Blackleigh yang menginap di sana. Poirot tersenyum. Tentu saja suami saya amat kesal karena kasus ini. Tepatnya, dia marah besar... dia mengamuk! Dengan hati-hati Poirot berkata, Anda tidak... eh... tidak meminta nasihatnya sebelum mengirimkan uang itu? Tentu saja tidak, kata Mrs. Samuelson dengan mantap. Poirot menatap wanita itu dengan pandangan bertanya. Mrs. Samuelson menjelaskan, Saya tak berani mengambil risiko sedetik pun. Saya tak mau membuang-buang waktu. Laki-laki biasanya cerewet bila urusannya menyangkut uang. Jacob pasti akan menyuruh saya menghubungi polisi. Saya tak mau mengambil risiko itu. Nanki Poo, anjing kesayangan saya. Sesuatu yang mengerikan bisa terjadi padanya. Tentu saja, sesudahnya saya bilang juga pada suami saya, sebab saya harus menjelaskan uang yang saya ambil dari bank itu. Poirot menggumam, Ya... benar... Belum pernah saya melihatnya mengamuk seperti itu. Dasar laki-laki! Mrs. Samuelson

16 membetulkan letak gelang dan cincin-cincin berlian yang menghiasi tangan dan jarinya. Laki-laki hanya memikirkan uang! V Dengan lift Hercule Poirot naik ke kantor Sir Joseph Hoggin. Diserahkannya kartu namanya, dan ia diberitahu bahwa saat itu Sir Joseph sedang sibuk, namun tak lama lagi akan segera menemuinya. Akhirnya, seorang gadis menarik berambut pirang keluar dari ruangan Sir Joseph dengan tangan penuh kertas. Gadis itu memandang Poirot sekilas pandangannya tajam dan meremehkan. Sir Joseph duduk di belakang meja mahoni yang lebar. Di dagunya ada bekas lipstik. Well, Mr. Poirot? Silakan duduk. Ada berita baru? Hercule Poirot berkata, Masalah ini sebenarnya sangat sederhana namun menarik. Pada setiap kasus, uang tebusan harus dikirimkan ke sebuah hotel kecil atau rumah penginapan tempat tak ada penjaga pintu atau petugas penerima tamu dan tempat ada banyak tamu keluar-masuk setiap hari... termasuk sejumlah besar pensiunan militer. Mudah sekali seseorang masuk ke tempat-tempat seperti itu, tanpa mencurigakan, mengambil sepucuk surat dari rak penyimpan surat... lalu mengambil uangnya atau mengganti isi amplop dengan kertas-kertas kosong. Karenanya, dalam setiap kasus, jejaknya berakhir di tempat-tempat seperti itu. Maksud Anda, Anda tak punya gambaran siapa sesungguhnya pelakunya? Saya punya sejumlah dugaan. Saya butuh beberapa hari lagi untuk membuktikannya. Sir Joseph memandang tamunya dengan penuh minat. Bagus. Jadi, kalau Anda sudah punya sesuatu untuk dilaporkan... Saya akan melaporkannya pada Anda, di rumah Anda. Sir Joseph berkata, Kalau berhasil membongkar kasus ini Anda telah bekerja dengan sebaik-baiknya. Hercule Poirot menyahut dengan cepat, Tak ada kata gagal dalam kamus saya. Hercule Poirot tak pernah gagal. Sir Joseph Hoggin memandang tamunya dan menyeringai. Anda sangat yakin akan kemampuan Anda, bukan? pancingnya. Dengan alasan yang masuk akal. Oh, baiklah, kata Sir Joseph sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Kesombongan akan runtuh sebelum Anda jatuh, ya, kan? VI Hercule Poirot, sambil duduk di depan radiator listriknya (dan puas melihat bentuknya yang rapi dan geometris), sedang memberikan sejumlah perintah kepada pelayannya yang setia. Ia juga menambahkan beberapa fakta penting. Kau sudah paham, George? Sempurna, Sir. Lebih mungkin sebuah flat atau maisonette. Dan pasti ada dalam batas-batas tertentu. Di sebelah selatan Kensington Gardens, sebelah timur Kensington Church, sebelah barat Knightsbridge Barracks, dan sebelah utara Fulham Road.

17 Saya mengerti benar, Sir. Poirot menggumam, Kasus kecil yang menarik. Ada bukti suatu kemampuan berorganisasi yang hebat. Dan... tentu saja, kemampuan aktor utamanya untuk menghilang dari pandangan... ya, Singa dari Nemea itu sendiri... kalau aku boleh menjulukinya begitu. Ya, kasus sepele namun sangat menarik. Seharusnya aku makin tertarik pada klienku... tapi sayang dia amat mirip dengan pemilik pabrik sabun di Liege, yang meracuni istrinya agar bisa menikah dengan sekretarisnya yang berambut pirang. Ya, salah satu kasus pertamaku. George menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berkata dengan sungguh-sungguh, Gadis-gadis berambut pirang itu, Sir... mereka menimbulkan banyak kesulitan. VII Tiga hari kemudian George yang setia dan dapat diandalkan berkata, Ini alamatnya, Sir. Hercule Poirot menyambut secarik kertas yang diulurkan kepadanya. Bagus sekali, George. Dan harinya apa? Setiap Kamis, Sir. Setiap Kamis. Untung benar, hari ini Kamis. Jadi, aku tak boleh membuang waktu. Dua puluh menit kemudian Hercule Poirot menaiki tangga sebuah gedung apartemen yang tidak mencolok mata, di sisi sebuah jalan sempit, yang bercabang dari sebuah jalan yang lebih besar. Rosholm Mansions Nomor 10 terletak di lantai tiga alias lantai paling atas. Tidak ada lift di gedung itu. Poirot menaiki tangga yang melingkar-lingkar ke atas. Dia berhenti sejenak di puncak tangga, menarik napas dalam-dalam. Dari balik pintu nomor 10 terdengar salak seekor anjing. Sambil tersenyum sekilas, Hercule Poirot mengangguk-angguk. Dia memencet bel pintu nomor 10. Suara salak anjing terdengar makin keras. Ada langkah-langkah kaki mendekati pintu, lalu... pintu itu dibuka... Miss Amy Carnaby kaget sekali, tangannya memegangi dadanya yang gemuk. Anda izinkan saya masuk? tanya Hercule Poirot, dan tanpa menunggu jawaban ia melangkah masuk. Pintu di sebelah kanannya membuka ke arah ruang duduk. Poirot masuk ke sana. Di belakangnya Miss Amy Carnaby membuntutinya seperti orang linglung. Ruang duduk itu sangat kecil dan penuh perabotan. Di antara perabotan yang berserakan, tampak sesosok tubuh manusia, seorang wanita tua terbaring di atas sofa yang didekatkan ke perapian dari gas. Ketika Poirot masuk, seekor anjing peking melompat menerjangnya dan menyalak-nyalak dengan galak. Aha, kata Poirot. Sang aktor utama! Hormat dan pujiku untukmu, kawan. Ia membungkuk dan mengulurkan tangannya. Anjing itu mengendus-endus, sementara sepasang matanya yang bersinar cerdik mengawasi wajah tamunya. Miss Carnaby menggumam tak jelas, Jadi Anda sudah tahu?

18 Hercule Poirot mengangguk. Ya, saya tahu. Dia berpaling ke arah wanita yang terbaring di sofa. Kakak Anda, ya? Secara otomatis Miss Carnaby menjawab, Ya, ini Emily. Kenalkan, ini Mr. Poirot. Emily Carnaby tertegun. Dia berkata, Oh! Amy Carnaby berkata. Augustus... Anjing peking itu berpaling ke arahnya... ekornya bergoyang-goyang... kemudian kembali mengawasi tangan tamunya. Sekali lagi ekornya bergoyang-goyang. Dengan ramah Hercule Poirot mengangkat anjing itu, lalu duduk dengan si anjing di pangkuannya. Katanya, Dengan demikian, saya telah berhasil menangkap Singa dari Nemea. Tugas saya sudah selesai. Amy Carnaby berkata dengan suara kering dan kaku, Benarkah Anda telah tahu semuanya? Poirot mengangguk. Saya rasa begitu. Anda mengorganisasi bisnis ini... dengan bantuan Augustus. Anda membawa anjing majikan Anda untuk berjalan-jalan... seperti biasa. Anda bawa kemari, lalu Anda pergi ke taman bersama Augustus. Seperti biasa, penjaga taman melihat Anda menuntun seekor anjing peking. Gadis pengasuh bayi itu, kalau kita bisa menemukannya, tentunya juga akan bersaksi bahwa Anda sedang menuntun seekor anjing peking ketika bercakap-cakap dengannya. Kemudian, sementara bicara, Anda potong tali pengikat Augustus yang sudah Anda latih untuk segera kembali ke sini. Beberapa menit kemudian Anda berteriak-teriak kebingungan karena kehilangan anjing. Hening beberapa saat. Kemudian Miss Carnaby menegakkan duduknya, dan dengan sikap penuh keyakinan dan harga diri berkata, Ya. Itu semua memang benar. Saya... saya takkan membantahnya. Wanita invalid yang terbaring di sofa itu kini menangis. Poirot berkata, Anda tak punya alasan atau sanggahan apa pun, Mademoiselle? Miss Carnaby berkata, Tidak. Saya ini pencuri... dan sekarang saya tertangkap basah. Poirot menggumam, Anda tak punya alasan apa pun... untuk membela diri, misalnya? Tiba-tiba pipi Amy Carnaby memerah. Katanya, Saya... saya tidak menyesali apa yang sudah saya lakukan. Tapi... saya rasa Anda orang yang baik hati, Mr. Poirot, dan mungkin Anda mau mengerti. Ya, saya sebenarnya sangat takut. Takut? Ya. Mungkin sulit bagi pria untuk mengerti hal ini. Tapi masalahnya begini. Saya ini semakin tua, tidak pintar, dan tak punya kepandaian apa-apa. Saya amat takut memikirkan masa depan. Selama ini saya tak mampu menyisihkan uang untuk menabung bagaimana mungkin, sementara ada Emily yang membutuhkan perawatan khusus? Dan... kalau saya semakin tua dan semakin tak kuat, takkan ada lagi yang mau menyewa tenaga saya. Orang lebih suka menyewa tenaga muda yang kuat dan cekatan. Saya kenal banyak wanita tua seperti saya... Tak ada yang mau menampung mereka, dan mereka terpaksa tinggal dalam sebuah kamar sempit, tanpa pemanas, tanpa makanan cukup, dan akhirnya... bahkan untuk membayar sewa kamar pun mereka tak mampu... Memang ada yayasan-yayasan yang bisa menampung mereka... tapi untuk masuk ke sana pun tak mudah, kecuali jika kita punya kenalan yang berpengaruh... dan orang-orang seperti saya ini

19 tak punya siapa-siapa yang bisa diandalkan... Banyak sekali wanita seperti saya... wanita tua yang tak berguna, tak punya keterampilan... dan hanya bisa menunggu nasib dengan penuh ketakutan... Suara Miss Carnaby bergetar. Katanya melanjutkan, Dan kemudian... beberapa di antara kami berkumpul... dan saya tawarkan gagasan ini. Karena punya Augustus, saya berani menawarkan gagasan itu. Anda pasti tahu, bagi orang yang tidak tahu, anjing peking amat mirip satu sama lain. Seperti halnya kalau kita melihat orang Cina. Tentu saja itu tidak benar. Siapa pun yang mengenal Augustus dengan baik, takkan keliru menyangka dia Nanki Poo atau Shan Tung, atau anjing peking lainnya. Satu hal sudah jelas, dia jauh lebih cerdas dibandingkan anjing-anjing lainnya. Dia juga jauh lebih tampan. Tapi, seperti kata saya tadi, bagi kebanyakan orang, anjing peking adalah anjing peking. Augustus menimbulkan gagasan di benak saya, dan melihat kenyataan bahwa banyak sekali wanita kaya punya anjing peking. Poirot berkata sambil tersenyum samar, Bisnis ini pasti amat menguntungkan! Berapa anggota... eh... komplotan ini? Atau, mungkin lebih baik jika saya tanyakan, seberapa seringkah operasi ini berhasil? Miss Carnaby menjawab dengan ringkas, Shan Tung adalah yang keenam belas. Hercule Poirot menaikkan alisnya. Saya ucapkan selamat kepada Anda. Organisasi Anda pasti sangat rapi. Emily Carnaby berkata, Amy Carnaby sejak dulu pandai berorganisasi. Ayah kami beliau pendeta Gereja Kellington di Essex selalu mengatakan Amy sangat pandai membuat rencana. Dialah yang selalu mengatur dan menyiapkan pertemuan-pertemuan sosial dan berbagai bazar. Poirot berkata sambil sedikit membungkukkan badan, Saya sependapat. Sebagai kriminalis, Mademoiselle, Anda termasuk yang kelas satu. Amy Carnaby menjerit. Kriminalis! Oh, astaga, ya, mungkin memang begitu. Tapi... tapi saya tak pernah merasa begitu. Bagaimana perasaan Anda? Tentu saja Anda benar. Ini melanggar hukum. Tapi... cobalah mengerti bahwa... oh, bagaimana harus saya jelaskan? Hampir semua wanita kaya yang mempekerjakan kami itu sangat kasar dan tidak menyenangkan. Misalnya Lady Hoggin, dia tak pernah menjaga katakatanya. Pernah dia bilang obat tonikum yang diminumnya rasanya aneh, dan dia menuduh saya telah mengutak-atik obat itu. Pokoknya mereka rewel dan cerewet. Wajah Miss Carnaby memerah. Sungguh menjengkelkan. Sialnya, kami tak berdaya untuk membalas kekasaran mereka, dengan kata-kata atau dengan sikap melawan. Ini sungguh menjengkelkan... itu kalau Anda mengerti apa yang saya ceritakan. Saya bisa mengerti, kata Hercule Poirot. Itu belum seberapa. Setiap hari kami melihat bagaimana uang diboroskan untuk hal-hal yang tidak berguna... Oh, itu membuat kami sakit hati. Dan Sir Joseph, kadang-kadang dia mengatakan ada masalah di kota... sesuatu yang menurut saya tentu saja, saya tahu otak saya ini otak perempuan yang tak tahu apa-apa tentang seluk-beluk masalah keuangan tidak jujur. Nah, Anda pun tahu, Mr. Poirot, semua itu... semua itu membuat saya kesal, dan saya merasa bahwa mengambil sedikit uang dari orang-orang yang tidak akan merasa kehilangan, dari orang-orang yang memperolehnya dengan jalan tidak benar itu yah... saya rasa itu tidak terlalu salah... Poirot menggumam, Robin Hood modern! Katakan, Miss Carnaby, pernahkah Anda terpaksa harus melaksanakan ancaman Anda seperti di surat-surat itu?

20 Ancaman? Miss Carnaby memandang tamunya dengan kaget sekali. Tak pernah! Sekali pun tak pernah! Tak terbayangkan oleh saya bahwa saya akan tega melakukannya! Itu hanyalah... hanyalah sentuhan artistik! Sangat artistik. Dan berhasil. Ya, tentu saja saya yakin itu akan berhasil. Saya tahu bagaimana perasaan saya seandainya itu terjadi pada Augustus. Dan saya harus yakin benar wanita-wanita itu takkan menceritakannya pada suami-suami mereka, sampai masalahnya sudah selesai. Setiap rencana kami selalu berhasil dengan baik. Dalam sembilan dan sepuluh kasus, anggota kami sendiri yang disuruh mengantarkan uang tebusannya. Biasanya amplop itu kami buka dengan hati-hati dengan menguapinya kami ambil uangnya, dan menggantinya dengan kertaskertas kosong. Satu-dua kali nyonya kaya itu sendiri yang mengeposkannya. Dalam hal itu, tentu saja anggota kami harus pergi ke hotel untuk mengambil suratnya dari rak. Tapi, itu pun bisa dilakukan dengan mudah. Dan, cerita tentang pengasuh bayi itu? Apakah selalu pengasuh bayi? Ah, Mr. Poirot, wanita-wanita tua yang tidak menikah seperti kami ini sangat terkenal suka akan bayi-bayi. Jadi, rasanya wajar apabila mereka begitu tertarik melihat bayi hingga lupa segala-galanya. Hercule Poirot mendesah. Katanya, Dasar psikologis Anda sangat bagus, organisasi Anda kelas satu, dan Anda juga aktris yang sangat berbakat. Penampilan Anda waktu itu, ketika saya mewawancarai Lady Hoggin, sama sekali tak diragukan. Jangan merendahkan kemampuan Anda sendiri, Miss Carnaby. Anda mungkin disebut orang wanita yang tak punya keterampilan, tapi tentang otak dan keberanian Anda... dua-duanya amat istimewa. Miss Carnaby menanggapi sambil tersenyum samar, Tapi saya telah tertangkap basah, Mr. Poirot. Hanya oleh SAYA. Itu tak bisa dihindari! Ketika saya mewawancarai Mrs. Samuelson, saya segera menyadari penculikan Shan Tung adalah bagian dari rangkaian kejahatan yang sama. Sebelum itu saya sudah berhasil tahu Anda pernah mendapat warisan seekor anjing peking dan bahwa Anda punya seorang kakak perempuan yang invalid. Langkah saya selanjutnya adalah menugaskan pelayan saya yang setia untuk mencari sebuah flat kecil, dalam radius tertentu dari Kensington Gardens, yang dihuni seorang wanita invalid yang punya seekor anjing peking, dan yang seminggu sekali, secara teratur, dikunjungi adiknya pada saat adiknya itu punya hari libur. Sederhana sekali. Amy Carnaby menegakkan duduknya. Katanya, Anda telah sangat berbaik hati. Karena itu, saya berani mengajukan sebuah permintaan kepada Anda. Saya tahu, saya tak dapat menghindari hukuman karena apa yang telah saya lakukan. Saya rasa, saya akan dikirim ke penjara. Tapi, seandainya Anda bisa, M. Poirot, tolonglah agar hal ini tidak dipublikasikan. Akan sangat berat bagi Emily... dan bagi mereka yang mengenal kami sejak dulu. Bolehkah saya masuk ke penjara dengan... misalnya... nama palsu? Atau... permintaan ini sendiri tidak benar? Hercule Poirot menanggapi, Saya rasa, saya dapat melakukan yang jauh lebih baik dari itu. Tapi pertama-tama, saya minta satu hal: bisnis ini harus dihentikan. Tak boleh lagi ada anjing menghilang. Selesai. Titik! Ya! Oh ya! Dan uang yang Anda ambil dari Lady Hoggin harus dikembalikan! Amy Carnaby menyeberangi ruangan, membuka laci sebuah meja, dan kembali sambil membawa sebuah bungkusan yang kemudian diserahkannya kepada Poirot.

2. Gadis yang Dijodohkan

2. Gadis yang Dijodohkan 2. Gadis yang Dijodohkan Burung-burung berkicau merdu di tengah pagi yang dingin dan sejuk. Dahan-dahan pohon bergerak melambai, mengikuti arah angin yang bertiup. Sebuah rumah megah dengan pilar-pilar

Lebih terperinci

Yui keluar dari gedung Takamasa Group dengan senyum lebar di wajahnya. Usaha kerasnya ternyata tak sia-sia. Dia diterima berkerja di perusahaan itu

Yui keluar dari gedung Takamasa Group dengan senyum lebar di wajahnya. Usaha kerasnya ternyata tak sia-sia. Dia diterima berkerja di perusahaan itu PROLOG Yui mengerjapkan matanya yang berat dan menggerakan tubuhnya turun dari ranjangnya. Seluruh badannya terasa remuk, dan kepalanya terasa amat pening. Mungkin karena aku terlalu banyak minum semalam,

Lebih terperinci

Aku menoleh. Disana berdiri seorang pemuda berbadan tinggi yang sedang menenteng kantong belanjaan di tangan kirinya. Wajahnya cukup tampan.

Aku menoleh. Disana berdiri seorang pemuda berbadan tinggi yang sedang menenteng kantong belanjaan di tangan kirinya. Wajahnya cukup tampan. 1st Spring Hujan lagi. Padahal ini hari Minggu dan tak ada yang berharap kalau hari ini akan hujan. Memang tidak besar, tapi cukup untuk membuat seluruh pakaianku basah. Aku baru saja keluar dari supermarket

Lebih terperinci

Buku BI 1 (5 des).indd 1 10/12/2014 8:43:03

Buku BI 1 (5 des).indd 1 10/12/2014 8:43:03 Buku BI 1 (5 des).indd 1 10/12/2014 8:43:03 Ibu Utha berjualan gorengan di tepi jalan. Di sana ada pisang, bakwan, tahu, dan cireng tersedia. Rasanya? Kata para pembelinya, gorengan Ibu Utha renyah dan

Lebih terperinci

DI BALIK DINDING. Apa ya, yang berada di balik dinding itu?, selalu dan selalu dia bertanya-tanya

DI BALIK DINDING. Apa ya, yang berada di balik dinding itu?, selalu dan selalu dia bertanya-tanya Apa ya, yang berada di balik dinding itu?, selalu dan selalu dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Hingga akhirnya suatu hari, dia pun memberanikan diri untuk mengintip. Terlihat seorang bocah lelaki

Lebih terperinci

Pertama Kali Aku Mengenalnya

Pertama Kali Aku Mengenalnya 1 Pertama Kali Aku Mengenalnya Aku berhasil menjadi kekasihnya. Laki-laki yang selama 4 tahun sudah aku kagumi dan cintai. Aku pertama kali bertemu dengannya ketika aku duduk di bangku SMP. Saat itu hidupku

Lebih terperinci

Suzy melangkahkan kaki memasuki lift gedung tempatnya bekerja. Beberapa orang wanita yang tidak ia kenal akrab mengikutinya dari belakang.

Suzy melangkahkan kaki memasuki lift gedung tempatnya bekerja. Beberapa orang wanita yang tidak ia kenal akrab mengikutinya dari belakang. Suzy melangkahkan kaki memasuki lift gedung tempatnya bekerja. Beberapa orang wanita yang tidak ia kenal akrab mengikutinya dari belakang. Sepertinya mereka adalah rekan kerja satu ruangan di lantai 12,

Lebih terperinci

Sayang berhenti menangis, masuk ke rumah. Tapi...tapi kenapa mama pergi, Pa? Masuk Sayang suatu saat nanti pasti kamu akan tahu kenapa mama harus

Sayang berhenti menangis, masuk ke rumah. Tapi...tapi kenapa mama pergi, Pa? Masuk Sayang suatu saat nanti pasti kamu akan tahu kenapa mama harus SATU Love is that condition in which the happiness of another person is essential to your own - ROBERT A. HEINLEIN Kenapa Mama harus pergi? tanya seorang anak berusia sekitar delapan tahun. Mama harus

Lebih terperinci

Buku BI 3 (12 des).indd 1 16/12/ :41:24

Buku BI 3 (12 des).indd 1 16/12/ :41:24 Buku BI 3 (12 des).indd 1 16/12/2014 11:41:24 2 Buku BI 3 (12 des).indd 2 16/12/2014 11:41:25 Bintang berkunjung ke rumah Tante Menik, adik ibunya. Tante Menik seorang wartawati. Rumah Tante Menik kecil,

Lebih terperinci

Loyalitas Tak Terbatas

Loyalitas Tak Terbatas Loyalitas Tak Terbatas Agra Utari Saat orang bertanya pada saya, Hal favoritmu di dunia ini apa, Gra? Saya selalu dengan pasti menjawab, Anjing. Ya, saya sangat cinta dengan makhluk berkaki empat ini.

Lebih terperinci

Cermin. Luklukul Maknun

Cermin. Luklukul Maknun Cermin Luklukul Maknun Orang-orang terkekeh-kekeh setelah melihat dirinya di cermin. Mereka tersenyum, memerhatikan dirinya, lalu tersenyum lagi. Setelah itu, mereka mencatat sesuatu di buku. Mereka memerhatikan

Lebih terperinci

CHAPTER 1. There s nothing left to say but good bye Air Supply

CHAPTER 1. There s nothing left to say but good bye Air Supply CHAPTER 1 There s nothing left to say but good bye Air Supply Wolverhampton, 29 Agustus 2006 -Sierra s pov- Happy birthday, Lee! ucapku girang setelah Lee meniup lilin di atas kue ulang tahunnya. Lee,

Lebih terperinci

PROLOG. Wow, lihat! Dia datang. Kata Ronald sambil bersiul.

PROLOG. Wow, lihat! Dia datang. Kata Ronald sambil bersiul. PROLOG Frankfurt, Germany. Nick umur 9 tahun. Aku berlarian di padang rumput. Mengitari lapangan yang seperti permadani hijau. Rumput-rumputnya sudah mulai meninggi. Tingginya hampir melewati lututku.

Lebih terperinci

Seorang gadis sedang berjalan bahagia di

Seorang gadis sedang berjalan bahagia di Chapter I: The First Meeting Seorang gadis sedang berjalan bahagia di sepanjang jalan pada malam yang cerah. Ia melihat ke sekelilingnya dengan senyum ceria. Ia berharap hal aneh itu tidak akan muncul

Lebih terperinci

Soedjono-Tresno Private High School (STPHS) (I)

Soedjono-Tresno Private High School (STPHS) (I) CHAPTER 1 Soedjono-Tresno Private High School (STPHS) (I) Kepala Sekolah Soedjono-Tresno Private High School atau STPHS, Christoper Rumbewas, menerima sejumlah buku, berkas siswa, dan juga seragam sekolah

Lebih terperinci

Marwan. Ditulis oleh Peter Purwanegara Rabu, 01 Juni :25

Marwan. Ditulis oleh Peter Purwanegara Rabu, 01 Juni :25 Ellen hanya berdiri termangu melihat tubuh Marwan yang kaku terbujur yang tiga perempat tubuhnya tertutup oleh kain putih. Hanya kelihatan kepalanya saja. Ellen hanya ingin melihat wajah Marwan terakhir

Lebih terperinci

Sang Pangeran. Kinanti 1

Sang Pangeran. Kinanti 1 Sang Pangeran Langkah Rara terhenti mendengar percakapan dari ruang tamu. Suara seseorang yang sangat dikenalnya. Suara tawa yang terdengar khas itu semakin memperkuat dugaannya, membuat jantung Rara berpacu

Lebih terperinci

AKU AKAN MATI HARI INI

AKU AKAN MATI HARI INI AKU AKAN MATI HARI INI Cerpen Ardy Kresna Crenata AKU BELUM TAHU DENGAN CARA APA AKU AKAN MATI. Apakah mengiris nadi dengan pisau akan menyenangkan? Atau memukul-mukul tengkorak dengan batu akan jauh lebih

Lebih terperinci

Semalam Aldi kurang tidur. Hujan deras ditambah. Rahasia Gudang Tua

Semalam Aldi kurang tidur. Hujan deras ditambah. Rahasia Gudang Tua Rahasia Gudang Tua Semalam Aldi kurang tidur. Hujan deras ditambah suara petir yang silih berganti membuatnya susah memejamkan mata. Hiasan gantung di luar jendela kamarnya selalu bergerak ditiup angin

Lebih terperinci

(Aku Melihatnya & Dia Melihatku)

(Aku Melihatnya & Dia Melihatku) (Aku Melihatnya & Dia Melihatku) JUBAH HITAM PART 1 Tahun 1993, sebuah cerita tentang kelahiranku. Tentunya, kedua orangtuaku menjadi saksi bagaimana aku lahir. Saat aku masih dalam kandungan, ayah, dan

Lebih terperinci

TERPERANGKAP. merakitkata.blogspot.com

TERPERANGKAP. merakitkata.blogspot.com TERPERANGKAP Seberapa percayakah kau dengan apa yang ada di hadapanmu? Apakah setiap benda, padat, cair, gas yang kaurasakan itu nyata? Apakah tangan ini bergerak sesuai kehendakmu? Kaki ini berdiri menopang

Lebih terperinci

yang paling tidak pernah luput dari kematian adalah cairan ini. Wanita itu meringis ngilu. Semua yang menimpanya kini sudah jelas bagian dari

yang paling tidak pernah luput dari kematian adalah cairan ini. Wanita itu meringis ngilu. Semua yang menimpanya kini sudah jelas bagian dari PROLOG Queenstown Singapore, 1970 Apartemen setinggi ratusan kaki itu mustahil akan membuatnya mudah turun dan keluar. Dia ada di lantai paling atas. Bersama tiga nyawa yang telah hilang dengan beragam

Lebih terperinci

oooooooo "Park Shinhye!!!!!"

oooooooo Park Shinhye!!!!! 1 Ingin mengerti apa makna di balik senyumnya. Tapi seolah-olah aku mengamati, hatiku semakin jauh berlari berlawanan arah. Mengapa semua begitu rumit dan selalu ada yang terluka? Adakah satu hal saja

Lebih terperinci

Di Unduh dari : Bukupaket.com

Di Unduh dari : Bukupaket.com bab 5 kejujuran gambar 5.1 tesa sedang berkumpul dengan teman temannya lihatlah gambar di atas tesa sedang berkumpul dengan teman temannya tentu kalian juga sering melakukannya setiap hari kita bergaul

Lebih terperinci

Kehidupan itu terlalu penuh dengan kebahagian bagi orang yang menyadarinya Tommy membaca kalimat terakhir dari sebuah novel yang diterbitkan melalui

Kehidupan itu terlalu penuh dengan kebahagian bagi orang yang menyadarinya Tommy membaca kalimat terakhir dari sebuah novel yang diterbitkan melalui Kehidupan itu terlalu penuh dengan kebahagian bagi orang yang menyadarinya Tommy membaca kalimat terakhir dari sebuah novel yang diterbitkan melalui salah satu blog yang sudah lama ia ikuti. Blog yang

Lebih terperinci

Bagian 1 : Tak Kan Kubiarkan Kau Merebutnya Dariku!

Bagian 1 : Tak Kan Kubiarkan Kau Merebutnya Dariku! Bagian 1 : Tak Kan Kubiarkan Kau Merebutnya Dariku! Mesin mobil sudah mati beberapa menit yang lalu, tapi Zhara masih duduk diam dibelakang kemudi. Sibuk menenangkan debar jantungnya, berusaha untuk bisa

Lebih terperinci

Ayo, minum, katanya seolah mengajaknya ikut minum bersamanya.

Ayo, minum, katanya seolah mengajaknya ikut minum bersamanya. Keledai Cerpen Dedy Tri Riyadi (Koran Tempo, 6 April 2014) LELAKI tua itu memandang ke arah jalan yang ramai di luar jendela. Di jalanan, entah karena apa, banyak sekali orang seperti sedang menunggu sesuatu

Lebih terperinci

Pekerjaan. Menghargai kelebihan orang lain merupakan wujud sikap memiliki harga diri

Pekerjaan. Menghargai kelebihan orang lain merupakan wujud sikap memiliki harga diri Tema 4 Pekerjaan Menghargai kelebihan orang lain merupakan wujud sikap memiliki harga diri Kamu Harus Mampu Setelah mempelajari tema ini, kamu akan mampu: 1. mengenal pentingnya memiliki harga diri; 2.

Lebih terperinci

sudah rapi kembali setelah dicukur. Ruangan-ruangan didalam bangunan ini sangat

sudah rapi kembali setelah dicukur. Ruangan-ruangan didalam bangunan ini sangat Hujan turun lagi disiang hari ini. Bulan April yang aneh. Bukankah seharusnya ini sudah menjadi liburan musim panas yang menyenankan? Mengapa hujan lagi? Jakarta, metropolitan yang sungguh kontras dengan

Lebih terperinci

Kegiatan Sehari-hari

Kegiatan Sehari-hari Bab 1 Kegiatan Sehari-hari Kegiatan Sehari-hari 1 Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari bab ini kamu diharapkan mampu: 1) membuat daftar kegiatan sehari-hari berdasarkan penjelasan guru; 2) menceritakan

Lebih terperinci

Mahesa Bayu Suryosubroto

Mahesa Bayu Suryosubroto Mahesa Bayu Suryosubroto hlm 1 Sekutu Lencana Vietnam Penerbit hlm 2 Wartawan dengan Tinta bab 1 Bajuku sedang lusuh, aku di kantor redaksi menanti hari yang hampir berakhir, jam kerja hampir selesai,

Lebih terperinci

Mata Tomi terbelalak, ketika menyadari dia berada

Mata Tomi terbelalak, ketika menyadari dia berada Petualangan Tomi di Negeri Glourius Oleh: Desi Ratih Mata Tomi terbelalak, ketika menyadari dia berada di tempat yang begitu asing baginya. Suasana gelap dan udara yang cukup dingin menyelimuti tempat

Lebih terperinci

"Apa begitu sulit untuk memulai hidup dengan seorang fotografer?" tanyanya saat aku

Apa begitu sulit untuk memulai hidup dengan seorang fotografer? tanyanya saat aku One - Deshi Angin yang semilir, bergerak dalam diam, malu-malu menelusup masuk melalui jendela kamar yang memang di biarkan terbuka oleh sang pemilik. Jam dinding yang bertengger indah di sisi sebelah

Lebih terperinci

SATU. Plak Srek.. Srek

SATU. Plak Srek.. Srek SATU Plak Srek.. Srek Kertas coklat bertuliskan WANTED itu terlepas dari dinding tempat ia tertempel tadi. Tejatuh ke lantai yang juga terbuat dari kayu. Sehingga gambarnya orang bertopi besar mirip pembungkus

Lebih terperinci

Tukang Grafir. Dari Kumpulan Cerpen "Keberanian Manusia"

Tukang Grafir. Dari Kumpulan Cerpen Keberanian Manusia Dari Kumpulan Cerpen "Keberanian Manusia" Tukang Grafir Hanya ada satu tukang grafir di kota kami dan kebetulan dia adalah paman saya. Kalau dia bercakap dengan saya akhir-akhir ini, dia takkan bercerita

Lebih terperinci

Damar, apakah pada akhirnya mereka ini bisa benar-benar pulang?

Damar, apakah pada akhirnya mereka ini bisa benar-benar pulang? 100 101 Walaupun aku pura-pura menutup kedua mataku. Toh, akhirnya kubaca juga cerita tentang Ann. Ann yang malang, mengingatkanku pada cerita tentang Elsja dan Djalil, hantu Belanda yang sempat kuceritakan

Lebih terperinci

Lima Belas Tahun Tidak Lama

Lima Belas Tahun Tidak Lama Dari Kumpulan Cerpen "Keberanian Manusia" Lima Belas Tahun Tidak Lama Kota kami telah hampir berusia setengah abad, dan hampir saja hanyut karena kecelakaan gunung berapi. Beberapa tahun belakangan ini

Lebih terperinci

Kejadian Sehari-hari

Kejadian Sehari-hari Tema 5 Kejadian Sehari-hari Menghormati dan menaati orang tua merupakan salah satu perwujudan perilaku yang mencerminkan harga diri. Berperilaku baik, berarti kita juga mempunyai harga diri yang baik pula

Lebih terperinci

BAB 1: ASAL MULA KEJADIAN

BAB 1: ASAL MULA KEJADIAN BAB 1: ASAL MULA KEJADIAN KELAHIRANKU Ternyata proses kelahiranku itu dahsyat, saat pasangan suami istri melakukan hubungan intim, maka bisa jadi sang istri hamil. Kehamilan terjadi saat sperma masuk ke

Lebih terperinci

Tuhan dengan Suatu Malam

Tuhan dengan Suatu Malam Dari Kumpulan Cerpen "Keberanian Manusia" Tuhan dengan Suatu Malam Maukah kau kawin dengan aku? Kenapa? Aku mau kawin, Perempuan ini ketawa sambil menuangkan teh ke cangkir. Lelaki itu pergi. Maukah kau

Lebih terperinci

dengan mudah, mereka melukaimu? Mengancammu?, aku membuka mataku. Menatap

dengan mudah, mereka melukaimu? Mengancammu?, aku membuka mataku. Menatap Dean, kau menghilang cukup lama, dan kau tak mungkin bergabung dengan mereka dengan mudah, mereka melukaimu? Mengancammu?, aku membuka mataku. Menatap Justin yang menatapku dengan penuh perhatian. Aku

Lebih terperinci

Seri Kitab Wahyu Pasal 14, Pembahasan #11 oleh Chris McCann

Seri Kitab Wahyu Pasal 14, Pembahasan #11 oleh Chris McCann Seri Kitab Wahyu Pasal 14, Pembahasan #11 oleh Chris McCann Selamat malam dan selamat datang di pembahasan Alkitab EBible Fellowship dalam Kitab Wahyu. Malam ini adalah pembahasan #11 tentang Wahyu, pasal

Lebih terperinci

pernah terasa sama lagi setelah kau mengalami hal yang fantastis. Bagiku, pengalaman selama di Vazard adalah hal yang fantastis.

pernah terasa sama lagi setelah kau mengalami hal yang fantastis. Bagiku, pengalaman selama di Vazard adalah hal yang fantastis. A PROLOG lex memacu kudanya secepat yang dia bisa. Matanya bergerak cepat menyisir pemandangan di hadapannya. Dia kenal betul kawasan ini, kawasan terlarang. Tangannya berusaha menarik tali kekang kudanya

Lebih terperinci

Kura-kura dan Sepasang Itik

Kura-kura dan Sepasang Itik Kura-kura dan Sepasang Itik Seekor kura-kura, yang kamu tahu selalu membawa rumahnya di belakang punggungnya, dikatakan tidak pernah dapat meninggalkan rumahnya, biar bagaimana keras kura-kura itu berusaha.

Lebih terperinci

PRAJURIT YANG HILANG. Bulan Merkurius, dalam sistem kalender Teffloo

PRAJURIT YANG HILANG. Bulan Merkurius, dalam sistem kalender Teffloo 1 PRAJURIT YANG HILANG Bulan Merkurius, dalam sistem kalender Teffloo Seorang gadis berusia kira-kira dua puluh tahunan kalau tidak salah taksir sedang duduk membelakangi meja marmer besar yang terletak

Lebih terperinci

Behind the sea there s a kingdom where I could see your sweet smile.

Behind the sea there s a kingdom where I could see your sweet smile. Angel Has Fallen Down Chapter 1 : Alice the Holy Angel Dunia ini memiliki 101 dimensi yang setiap dimensinya dari teratas merupakan tempat yang bahagia hingga yang terbawah merupakan tempat paling menyengsarakan

Lebih terperinci

ROSE PAPPER AND BLOODY LILY Part 1

ROSE PAPPER AND BLOODY LILY Part 1 ROSE PAPPER AND BLOODY LILY Part 1 Sinar matahari siang ini begitu terik hingga sanggup menembus setiap celah kain berlapis yang menutupi kulit setiap orang yang menantangnya. Langkah Guri semakin cepat

Lebih terperinci

.satu. yang selalu mengirim surat

.satu. yang selalu mengirim surat .satu. yang selalu mengirim surat Bunyi klakson motor berwarna oranye, dengan teriakan khas Pos! setiap hari selalu aku nantikan. Mata tak lepas dari balik pagar besi lusuh bewarna coklat tua. Ketika pagi

Lebih terperinci

Fiction. John! Waktunya untuk bangun!

Fiction. John! Waktunya untuk bangun! Prologue Ada seorang anak kecil yang mengendap-endap memasuki sebuah kamar dimana di tengah ruangan terdapat sebuah piano besar. Dia perlahan-lahan menutup pintu dan melihat piano besar tersebut dengan

Lebih terperinci

Tubuh-tubuh tanpa bayangan

Tubuh-tubuh tanpa bayangan Tubuh-tubuh tanpa bayangan Ada sebuah planet bernama Arais. Planet Arais dihuni oleh suatu makhluk bernama Tubuh berjubah hitam. Mereka adalah makhluk yang sepanjang masa hanya berdiri di tempat yang sama.

Lebih terperinci

Chapter 01: What will you do to protect me?

Chapter 01: What will you do to protect me? Chapter 01: What will you do to protect me? gimana bisa mereka?, Suzy memandangi tumpukan foto dihadapannya dengan muka merah padam menahan malu. Ada sepuluh lembar foto yang dikirim oleh wartawan Choi

Lebih terperinci

yang berbentuk datar bagian atasnya dengan sebuah ukiran kepala singa. Mereka yang berada di ruangan sudah berdiri di atas shinéga sejak dari tadi.

yang berbentuk datar bagian atasnya dengan sebuah ukiran kepala singa. Mereka yang berada di ruangan sudah berdiri di atas shinéga sejak dari tadi. Prolog Orion mempercepat langkah kakinya, baju perang yang dikenakannya membuat langkah kakinya menjadi berat, suaranya menggema di lorong gua, bergema dengan cepat seiring dengan langkah kaki yang dia

Lebih terperinci

Bayangan Merah di Laut dan Tempat Untuk Kembali:

Bayangan Merah di Laut dan Tempat Untuk Kembali: Noand Hegask Bayangan Merah di Laut dan Tempat Untuk Kembali: Kisah-kisah pendek dan sajak rumpang Diterbitkan melalui: Nulisbuku.com Darah Biasanya keluar rumah Saat tengah malam Sambil menangis Hanya

Lebih terperinci

Keberanian. Dekat tempat peristirahatan Belanda pada zaman penjajahan, dimulailah perjuangan nya.

Keberanian. Dekat tempat peristirahatan Belanda pada zaman penjajahan, dimulailah perjuangan nya. Keberanian Pagi itu di pedesan Kaliurang udara tampak sejuk dan embun pagi mulai pupus. Pada hari pahlawan 10 November tahun dimana kita mengingat perjuangan para pahlawan Indonesia. Ibu Malino sedang

Lebih terperinci

Chapter 1. Baik, selagi kalian mencatat, saya absen.

Chapter 1. Baik, selagi kalian mencatat, saya absen. Chapter 1 Sebuah sekolah SMA swasta di suatu tempat, tepatnya di suatu kelas, seorang guru wanita muda tengah berdiri di depan papan tulis putih yang telah penuh dengan coretan-coretan spidol hitam. Setelah

Lebih terperinci

Laki-laki yang berdasarkan Alkitab. (1 Korintus 16:13) Rasul Paulus menuliskan kata-kata ini kepada jemaat di Korintus:

Laki-laki yang berdasarkan Alkitab. (1 Korintus 16:13) Rasul Paulus menuliskan kata-kata ini kepada jemaat di Korintus: Laki-laki yang berdasarkan Alkitab (1 Korintus 16:13) Rasul Paulus menuliskan kata-kata ini kepada jemaat di Korintus: Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki!

Lebih terperinci

TEKNIK EDITING DALAM FILM BELENGGU

TEKNIK EDITING DALAM FILM BELENGGU TEKNIK EDITING DALAM FILM BELENGGU Scene 36 Scene 41 Untuk memenuhi tugas mata kuliah Penyuntingan Digital II Dosen Pengampu : Ranang Agung S., S.Pd., M.Sn Disusun Oleh Nopsi Marga Handayani 14148118 Angga

Lebih terperinci

Batu yang Menjadi Roti

Batu yang Menjadi Roti Batu yang Menjadi Roti Berikut ini adalah kisah tentang Tuhan Yesus dan para murid-nya. Kisah ini hanya sebuah kiasan, ceritanya sendiri tidak tertulis dalam Injil mana pun. Oleh karenanya kisah ini hanya

Lebih terperinci

Puzzle-Puzzle Fiksi. Inilah beberapa kisah kehidupan yang diharapkan. menginspirasi pembaca

Puzzle-Puzzle Fiksi. Inilah beberapa kisah kehidupan yang diharapkan. menginspirasi pembaca Puzzle-Puzzle Fiksi Inilah beberapa kisah kehidupan yang diharapkan menginspirasi pembaca JULIE 2 Akhirnya Buku Ini Milikku Aku tidak menghiraukan panasnya matahari di siang hari ini. Aku tetap berlari

Lebih terperinci

Setelah para penyamun pergi, Alibaba memberanikan diri keluar dari tempat

Setelah para penyamun pergi, Alibaba memberanikan diri keluar dari tempat Dahulu kala, dikota Persia, hidup 2 orang bersaudara yang bernama Kasim dan Alibaba. Alibaba adalah adik Kasim yang hidupnya miskin dan tinggal didaerah pegunungan. Ia mengandalkan hidupnya dari penjualan

Lebih terperinci

SHAINA BARENO. 9 Butterflies. (9 Kupu-kupu) Diterbitkan secara mandiri. melalui Nulisbuku.com

SHAINA BARENO. 9 Butterflies. (9 Kupu-kupu) Diterbitkan secara mandiri. melalui Nulisbuku.com SHAINA BARENO 9 Butterflies (9 Kupu-kupu) Diterbitkan secara mandiri melalui Nulisbuku.com 1 INSPIRASI DARI KEPOMPONG Senja itu, saya duduk di bawah pohon mangga berbuah lebat di taman samping rumah, sambil

Lebih terperinci

Mr Knight, tadi Mr. Boyd menelepon untuk membuat janji temu di hari Jumat jam 2 siang. Apakah saya ada janji di hari itu?

Mr Knight, tadi Mr. Boyd menelepon untuk membuat janji temu di hari Jumat jam 2 siang. Apakah saya ada janji di hari itu? 1 Mr Knight, tadi Mr. Boyd menelepon untuk membuat janji temu di hari Jumat jam 2 siang. Apakah saya ada janji di hari itu? Bapak ada janji makan siang dengan Mrs. Knight jam 11.30 siang. Baiklah. Susun

Lebih terperinci

S a t u DI PAKUAN EXPRESS

S a t u DI PAKUAN EXPRESS S a t u DI PAKUAN EXPRESS Ya, awal tahun 2008. Pindah ke rumah sendiri. Berpisah dari orangtua, pindah kerja pula ke Jakarta. Meninggalkan kenyamanan kerja di Bogor rupanya membuatku terkaget-kaget dengan

Lebih terperinci

Segera jemput dia di bandara! Dan bawa kemari! Awas, jika dia melarikan diri! Siap, Pak! ~1~ Bandara Soekarno Hatta, am. Pesawat dari Singapura

Segera jemput dia di bandara! Dan bawa kemari! Awas, jika dia melarikan diri! Siap, Pak! ~1~ Bandara Soekarno Hatta, am. Pesawat dari Singapura Segera jemput dia di bandara! Dan bawa kemari! Awas, jika dia melarikan diri! Siap, Pak! ~1~ Bandara Soekarno Hatta, 11.30 am. Pesawat dari Singapura baru saja mendarat. Kau tahu siapa yang kita tunggu?

Lebih terperinci

PROLOG. Terbangun di tempat yang aku tidak mengenalnya bukanlah impianku.

PROLOG. Terbangun di tempat yang aku tidak mengenalnya bukanlah impianku. PROLOG Terbangun di tempat yang aku tidak mengenalnya bukanlah impianku. Tersadar lalu melihat sekeliling dan menjadi asing. Di manakah aku? Aku ingat aku tertidur di antara buku-buku dan kesedihan. Aku

Lebih terperinci

WASIAT SEGELAS PASIR. Oleh: Agus Setiawan. Copyright 2013 by Agus Setiawan. Penerbit. Nulis Buku. Desain Sampul: Welly Huang. Diterbitkan melalui:

WASIAT SEGELAS PASIR. Oleh: Agus Setiawan. Copyright 2013 by Agus Setiawan. Penerbit. Nulis Buku. Desain Sampul: Welly Huang. Diterbitkan melalui: WASIAT SEGELAS PASIR Oleh: Agus Setiawan Copyright 2013 by Agus Setiawan Penerbit Nulis Buku Desain Sampul: Welly Huang Diterbitkan melalui: www.nulisbuku.com 2 Cerita ini adalah fiksi. Apabila ada kesamaaan

Lebih terperinci

SILUET. Penulis : Gabrielle Tatia

SILUET. Penulis : Gabrielle Tatia SILUET Penulis : Gabrielle Tatia Perjalanan terasa sangat panjang bagi Panji Anggara, seorang calon legisslatif. Duduk termenung di dalam mobilnya. Memandangi hijaunya pepohonan serta indahnya pemandangan

Lebih terperinci

Buah Kejujuran Putri Amanda Karimatullah LL

Buah Kejujuran Putri Amanda Karimatullah LL Buah Kejujuran Putri Amanda Karimatullah LL Berita duka menyelimuti kerajaan Airllie, patih kerajaan itu meninggal dunia karena tertimpa bebatuan yang jatuh dari atas bukit saat sedang menjalankan tugas

Lebih terperinci

huh, akhirnya hanya mimpi, ucapnya sambil mengusap dada.

huh, akhirnya hanya mimpi, ucapnya sambil mengusap dada. Malam begitu gelap, semilir angin merasuk dalam kulit tubuh. Dingin melanda sanubari dan merasuk ke dalam jiwa. Di tempat mereka, semua orang tertidur dengan pulas, bahkan ada yang bersitepi dengan mimpi-mimpi

Lebih terperinci

Restoran Masih Terbuka

Restoran Masih Terbuka Dari Kumpulan Cerpen "Keberanian Manusia" Restoran Masih Terbuka Sudah lima tahun lelaki itu jadi langganan restoran saya. Saya tahu benar siapa dia itu dulu dan sekarang. Dulu ia seorang mayor. Sekarang

Lebih terperinci

YUNUS. 1 7/15/15 Yunus 1. Yunus menolak perintah Allah untuk pergi memperingatkan penduduk kota Niniwe

YUNUS. 1 7/15/15 Yunus 1. Yunus menolak perintah Allah untuk pergi memperingatkan penduduk kota Niniwe 1 7/15/15 Yunus 1 YUNUS Yunus menolak perintah Allah untuk pergi memperingatkan penduduk kota Niniwe 1 Pada jaman dahulu, ada seorang nabi di Israel yang bernama Yunus. Ayahnya bernama Amitai. ALLAH memberi

Lebih terperinci

Siapakah Yesus Kristus? (4/6)

Siapakah Yesus Kristus? (4/6) Siapakah Yesus Kristus? (4/6) Nama Kursus : SIAPAKAH YESUS KRISTUS? Nama Pelajaran : Yesus adalah Juru Selamat dan Tuhan Kode Pelajaran : SYK-P04 Pelajaran 04 - YESUS ADALAH JURU SELAMAT DAN TUHAN DAFTAR

Lebih terperinci

Suatu hari, saat liburan semester pertama mereka pergi ke sebuah pantai. Disana mereka menghabiskan waktu hanya bertiga saja. ``Aku mau menuliskan

Suatu hari, saat liburan semester pertama mereka pergi ke sebuah pantai. Disana mereka menghabiskan waktu hanya bertiga saja. ``Aku mau menuliskan Sahabat yang Pergi Kisah ini diawali dari tiga anak laki-laki yang sudah berteman sejak mereka masih duduk di bangku SD. Mereka adalah Louis William, Liam Payne, dan Harry Styles. Louis tinggal bersama

Lebih terperinci

Penokohan Karakter Utama dalam novel Kunjungan Nyonya Tua dan Perempuan di Titik Nol

Penokohan Karakter Utama dalam novel Kunjungan Nyonya Tua dan Perempuan di Titik Nol Penokohan Karakter Utama dalam novel Kunjungan Nyonya Tua dan Perempuan di Titik Nol Nama : Janice Anastasia Lee-Layhadi No. Kandidat : 00076-06 Sesi : Mei 007 Mata Pelajaran : Indonesian A Sekolah : The

Lebih terperinci

Perlu waktu bagi anak anak itu untuk menjadi bagian dari kegelapan sebelum pohon pohon terlihat lebih jelas. Sebelum semak semak tinggi terlihat

Perlu waktu bagi anak anak itu untuk menjadi bagian dari kegelapan sebelum pohon pohon terlihat lebih jelas. Sebelum semak semak tinggi terlihat Perlu waktu bagi anak anak itu untuk menjadi bagian dari kegelapan sebelum pohon pohon terlihat lebih jelas. Sebelum semak semak tinggi terlihat lebih jelas. Sebelum batang pohon terlihat seperti batang

Lebih terperinci

BAGIAN I PORTOFOLIO PUISIKU

BAGIAN I PORTOFOLIO PUISIKU Aku rasa ada yang salah denganku, pasti. Orang akan mencoba menerbitkan kisah kesuksesan mereka, cerita-cerita fantasi bermoral, semua yang berhubungan dengan intrik tingkat tinggi, dan tentu saja komedi.

Lebih terperinci

Penerbit BLUE RABBIT

Penerbit BLUE RABBIT JULIAN ASGLON Penerbit BLUE RABBIT Asglon Oleh: Julian Copyright 2014 by Julian Penerbit Blue Rabbit triedison1983@gmail.com Desain Sampul: Julian Diterbitkan melalui: www.nulisbuku.com 2 3 Ucapan Terimakasih:

Lebih terperinci

Untuk ayah.. Kisah Sedih.

Untuk ayah.. Kisah Sedih. Untuk ayah.. s emua hal yang pernah ku ingat tentang ayah ku, adalah hal yang sangat biasa saja, tak sedikit pun ada kenangan yang bermakna yang teringat di dalam relung hatiku, semua hal yang ku ingat

Lebih terperinci

P A D A M U E M B U N

P A D A M U E M B U N R I S H E L L Y R I T O N G A P A D A M U E M B U N dan cerita-cerita lainnya Diterbitkan secara mandiri melalui Nulisbuku.com Perbincangan Denganmu 2 Jarum pada jam yang melingkar di tangan kiriku menunjukkan

Lebih terperinci

1. Mengapa bermeditasi?

1. Mengapa bermeditasi? CARA BERMEDITASI 1. Mengapa bermeditasi? Oleh: Venerable Piyananda Alih bahasa: Jinapiya Thera Dalam dunia ini, apakah yang dicari oleh kebanyakan orang dalam hidupnya? Sebenarnya, mereka ingin mencari

Lebih terperinci

Sayangnya, bukan karena faktor-faktor positifnya. Gang Eyeri-Headburry terkenal sebagai gang terkumuh di kota Headburry. Terkotor, terbobrok, dan

Sayangnya, bukan karena faktor-faktor positifnya. Gang Eyeri-Headburry terkenal sebagai gang terkumuh di kota Headburry. Terkotor, terbobrok, dan Eyeri Headburry Suasana kota kecil itu tetap ramai walaupun pada malam hari. Orang-orang lalu-lalang sambil membawa belanjaan mereka. Mobil-mobil sibuk membunyikan klakson, menyelipkan posisinya satu sama

Lebih terperinci

Penerbit Kin S Gallery

Penerbit Kin S Gallery Penerbit Kin S Gallery CINDERELLA Oleh: Arliza Septianingsih Copyright 2010 by Arliza Septianingsih Penerbit Kin S Gallery Desain Sampul: Fitria Afkarina Diterbitkan melalui: www.nulisbuku.com 2 Goresan

Lebih terperinci

Seperti api membakar hati Irfan. Dia menekan dadanya, menangis sekuatnya. Padahal hidup belum berakhir. Aisyah datang menampakkan diri.

Seperti api membakar hati Irfan. Dia menekan dadanya, menangis sekuatnya. Padahal hidup belum berakhir. Aisyah datang menampakkan diri. Seperti api membakar hati Irfan. Dia menekan dadanya, menangis sekuatnya. Padahal hidup belum berakhir. Aisyah datang menampakkan diri. Irfan terperangkap dalam medan asmara, hatinya terpaut dan terjatuh

Lebih terperinci

Trainers Club Indonesia Surabaya Learning Forum episode 28. Rabu 29 Juli 2009 WILLEM ISKANDAR

Trainers Club Indonesia Surabaya Learning Forum episode 28. Rabu 29 Juli 2009 WILLEM ISKANDAR WILLEM ISKANDAR Willem Iskandar adalah penulis terkenal dari Sumatra Utara, Indonesia. Ia menulis puisi dan buku-buku sekolah. Ia tertarik untuk mengajar dan belajar. Ia adalah seorang Sumatra pertama

Lebih terperinci

CERITA, INGATAN, DAN KENANGAN. By MID A.K.A ICHISAN A.K.A NEKOVA LIGHT NOVEL SERIES BAB II UNTUK SEMUA YANG MENDUKUNGKU AKU UCAPKAN TERIMAKASIH

CERITA, INGATAN, DAN KENANGAN. By MID A.K.A ICHISAN A.K.A NEKOVA LIGHT NOVEL SERIES BAB II UNTUK SEMUA YANG MENDUKUNGKU AKU UCAPKAN TERIMAKASIH CERITA, INGATAN, DAN KENANGAN By MID A.K.A ICHISAN A.K.A NEKOVA LIGHT NOVEL SERIES BAB II UNTUK SEMUA YANG MENDUKUNGKU AKU UCAPKAN TERIMAKASIH UNTUK DUKUNGAN DAN KOMENTAR BISA MELALUI EMAIL: isan.only@gmail.com

Lebih terperinci

ayahku selalu mengajarkan bahwa kita harus selalu menghormati orang yang lebih tua. Ambillah sendiri. Kau kenapa nak? Sepertinya ada masalah?

ayahku selalu mengajarkan bahwa kita harus selalu menghormati orang yang lebih tua. Ambillah sendiri. Kau kenapa nak? Sepertinya ada masalah? ayahku selalu mengajarkan bahwa kita harus selalu menghormati orang yang lebih tua. Ambillah sendiri. Kau kenapa nak? Sepertinya ada masalah? Nanti keceritakan. Aku mengambil seiikat bunga tulip yang ada

Lebih terperinci

Kisah Mikhail. Jaman dahulu kala di Rusia hidup pasangan suami-istri Simon dan Matrena. Simon

Kisah Mikhail. Jaman dahulu kala di Rusia hidup pasangan suami-istri Simon dan Matrena. Simon Kisah Mikhail Jaman dahulu kala di Rusia hidup pasangan suami-istri Simon dan Matrena. Simon page 1 / 7 yang miskin ini adalah seorang pembuat sepatu. Meskipun hidupnya tidaklah berkecukupan, Simon adalah

Lebih terperinci

Alkemis itu mengambil buku yang dibawa seseorang dalam karavan. Membuka-buka halamannya, dia menemukan sebuah kisah tentang Narcissus.

Alkemis itu mengambil buku yang dibawa seseorang dalam karavan. Membuka-buka halamannya, dia menemukan sebuah kisah tentang Narcissus. Alkemis itu mengambil buku dibawa seseorang dalam karavan. Membuka-buka halamannya, dia menemukan sebuah kisah tentang Narcissus. Alkemis itu sudah tahu legenda Narcissus, seorang muda setiap hari berlutut

Lebih terperinci

"Berusaha... bekerja dengan tanganmu. " Powerpoint Templates Page 1

Berusaha... bekerja dengan tanganmu.  Powerpoint Templates Page 1 "Berusaha... bekerja dengan tanganmu. " Page 1 Pada waktu penciptaan dunia, bekerja telah ditetapkan sebagai suatu berkat. Bekerja dimaksudkan untuk perkembangan, kuasa dan kebahagiaan. Perubahan keadaan

Lebih terperinci

Kukatakan kepadamu, seseorang yang

Kukatakan kepadamu, seseorang yang Lelaki dan Payung Kukatakan kepadamu, seseorang yang kurindukan. Aku masih mencari jejakmu dengan penuh harap. Di mana kau bersembunyi. Aku masih memegang ucapanmu, bahwa suatu hari nanti kita akan bertemu,

Lebih terperinci

Satu Hari Bersama Ayah

Satu Hari Bersama Ayah Rafid A Shidqi Satu Hari Bersama Ayah Tapi aku akan mengatakannya... bahwa aku sangat menyayangimu... Ayah Penerbit Nulis Buku Satu Hari Bersama Ayah Rafid A Shidqi Copyright Rafid A Shidqi, 2012 All rights

Lebih terperinci

Rangkuman Kata Mutiara Tentang Waktu

Rangkuman Kata Mutiara Tentang Waktu Rangkuman Kata Mutiara Tentang Waktu Ambillah waktu untuk berfikir, itu adalah sumber kekuatan. Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi. Ambillah waktu untuk berdoa,

Lebih terperinci

BAB II RINGKASAN CERITA. sakit dan mengantarkan adik-adiknya ke sekolah. Karena sejak kecil Lina

BAB II RINGKASAN CERITA. sakit dan mengantarkan adik-adiknya ke sekolah. Karena sejak kecil Lina BAB II RINGKASAN CERITA Ada dua kewajiban yang paling di benci Lara yang harus di lakukannya setiap pagi. Lara harus mengemudi mobil ayahnya yang besar dan tua ke rumah sakit dan mengantarkan adik-adiknya

Lebih terperinci

Kaki Langit. Bulan dan Matahari

Kaki Langit. Bulan dan Matahari Kaerala Kaki Langit antara Bulan dan Matahari Penerbit Kaerala Kaki Langit antara Bulan dan Matahari Oleh: Kaerala Copyright 2014 by Kaerala Penerbit Kaerala Desain Sampul: Kaerala Diterbitkan melalui:

Lebih terperinci

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANSIETAS

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANSIETAS STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANSIETAS A. Proses Keperawatan 1. Kondisi Klien Klien sudah beberapa hari mengalami gelisah, sulit tidur, tidak nafsu makan. Klien selalu memikirkan

Lebih terperinci

Mengapa hidupku jadi seperti ini Tuhan? Aku takkan bisa menikmati kebebasanku seperti dulu lagi.

Mengapa hidupku jadi seperti ini Tuhan? Aku takkan bisa menikmati kebebasanku seperti dulu lagi. Hari ini adalah hari dimana aku dan James akan menikah. Ya Tuhan, aku benar-benar tidak pernah berpikir untuk menikah secepat ini. Tidak, sebelum aku menjadi seorang dokter. Ya, minimal aku lulus dari

Lebih terperinci

Hingga akhirnya, hadirlah Kala yang saat ini menjadi sahabat terbaikku. Kala, yang tengah duduk di sampingku. Bagaimana ujian pendadaranmu tadi?

Hingga akhirnya, hadirlah Kala yang saat ini menjadi sahabat terbaikku. Kala, yang tengah duduk di sampingku. Bagaimana ujian pendadaranmu tadi? Sangkala Jingga Aku tengah duduk berdua bersama sahabatku. Kuperkenalkan dia dengan nama Sangkala Jingga. Parasnya ayu, laksana rembulan malam yang bersinar dengan keayuannya yang menghibur gelap langit.

Lebih terperinci

Buku BI 2 (9 des).indd 1 11/12/ :46:33

Buku BI 2 (9 des).indd 1 11/12/ :46:33 Buku BI 2 (9 des).indd 1 11/12/2014 14:46:33 Malam itu, Ayah Gilang sangat repot. Ia baru menerima banyak kiriman barang untuk warungnya. Ada berkotak-kotak minuman dalam botol, sabun, kopi, susu cokelat,

Lebih terperinci

Pergi Tak Kembali. Oleh: Firmansyah

Pergi Tak Kembali. Oleh: Firmansyah 1 Pergi Tak Kembali Oleh: Firmansyah Lima tahun berlalu tanpa terasa. Tanpa terasa? Tidak juga, lima tahun itu juga Dam dan istrinya menunggu. Beruntung saat mereka mulai merencanakan banyak terapi hamil,

Lebih terperinci

Stupid Love. June 21 st, 2013

Stupid Love. June 21 st, 2013 Stupid Love June 21 st, 2013 Sepasang mata biru terangnya menatapku lekat. Aku menggigit bibir bawahku, menahan kalimat yang tidak ingin aku katakan. Tapi aku harus. Aku harus mengatakannya. Emosiku sudah

Lebih terperinci