oleh Sandi Aria Wakil Kepala Bidang Kajian BK MWA UI UM 2015

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "oleh Sandi Aria Wakil Kepala Bidang Kajian BK MWA UI UM 2015"

Transkripsi

1 UKT versus BOP-B oleh Sandi Aria Wakil Kepala Bidang Kajian BK MWA UI UM 2015 Uang Kuliah Tunggal (UKT) merupakan salah satu sistem pembayaran biaya pendidikan di perguruan tinggi yang menggunakan konsep berkeadilan. UKT adalah sistem pembayaran biaya pendidikan dengan besaran yang sama/tetap setiap semesternya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi mahasiswa. Dengan adanya UKT, mahasiswa tidak dibebankan biaya lain selain biaya pendidikan per semester. UKT merupakan salah satu implementasi dari Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, serta Surat Edaran Dirjen Dikti No. 488 E/T/2012 dan Surat Edaran Dirjen Dikti No. 97 E/KU/2013, yang mengamanatkan bahwa setiap perguruan tinggi negeri di Indonesia diwajibkan untuk menggunakan sistem UKT. Sistem UKT sudah mulai diterapkan di beberapa PTN di Indonesia mulai tahun 2013, seperti di IPB, ITB, UGM, dan PTN lainnya. Di Universitas Indonesia (UI) kebijakan ini baru akan diterapkan pada tahun 2015, dimulai pada mahasiswa baru angkatan Sistem UKT baru diterapkan di UI tahun 2015 dengan alasan pada saat itu belum ada Rektor yang menjabat secara sah dari tahun Sehingga pada saat itu Prof. Anis sebagai Plt. Rektor yang menjabat belum dapat memberikan keputusan, karena hal itu terkait rancangan startegis yang harus diputuskan oleh Rektor UI yang sah. Dan juga UI yang berstatus PTN BH diberikan kewenangan untuk mengatur tata kelola keuangannya sendiri, sehingga UI bebas untuk mengikuti atau tidak terkait pemberlakuan sistem UKT. Baru setelah dilantiknya Prof. Anis sebagai Rektor UI yang baru pada tahun 2014, UI baru akan memulai sistem UKT pada tahun UI sebetulnya sudah mempunyai sistem dengan konsep biaya pendidikan berkadilan yang disebut Sistem Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan (BOP-B), sejak tahun 2008 sampai sekarang. BOP-B awalnya dilandasi oleh Surat Keputusan Rektor UI No. 432 A/SK/R/UI/2008 tentang Biaya Pendidikan Mahasiswa Baru Universitas Indonesia Program Sarjana Reguler 2008/2009. Pemberlakuan sistem BOP-B tidak diatur dalam dasar hukum apapun seperti peraturan pemerintah ataupun Surat Keputusan Rektor. Secara umum tak banyak perbedaan antara UKT dan BOP-B, tetapi ada beberapa hal penting untuk diperhatikan terkait perbandingan kedua sistem tersebut. 1 B K M W A U I U M

2 Pertama, dimulai dari latar belakangnya, pembentukan BOP-B pada tahun 2008 dilatarbelakangi oleh kenaikan biaya kuliah di UI yang menggunakan sistem flat, yaitu pada kisaran Rp ,00/semester. Pada saat itu mahasiswa manilai sistem flat dianggap tidak baik bagi sistem biaya pendidikan mahasiswa. Karena seiring dengan kenaikan harga, maka uang kuliah pun akan terus-menerus naik. Oleh karena itu, perlu dibuat sistem berkeadilan yang memungkinkan mahasiswa dapat membayar biaya kuliah sesuai dangan kemampuannya. Sistem biaya pendidikan berkeadilan menjadi subsidi silang antara mahasiswa yang berkemampuan lebih dan kurang mampu dalam hal finansial. Sementara itu sistem UKT dilatarbelakangi oleh langkah awal kebijakan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang mengamanatkan pemerintah menggunakan standar tertentu besaran SPP sesuai dengan wilayah sebuah PTN. Penerapan UKT bertujuan untuk menerapkan akuntabilitas pembayaran SPP agar semua pengeluaran dapat diakomodir di awal masa pembayaran setiap periode akademik. Kedua, rumus perhitungan besaran Biaya Kuliah Tunggal (BKT) pada UKT adalah total biaya selama masa pendidikan (4 tahun) dibagi per semester (8 semester). Komponen biaya dalam BKT terdiri dari Uang Pangkal (UP), SPP per semester, dan biaya lain-lain (uang praktik, administrasi, fasilitas, dll). Sama dengan UKT, rumus perhitungan Biaya Operasional Pendidikan (BOP) pada BOP-B adalah total biaya selama masa pendidikan dibagi per semester. Komponen biaya dalam BOP terdiri dari Uang Pangkal (UP), SPP per semester, Dana Pelengkap Pendidikan (DPP sebesar Rp ,00), dan Dana Kegiatan dan Fasilitas Mahasiswa (DKFM sebesar RP ,00). Akan tetapi, saat ini UP sudah dihapuskan di UI karena sudah ter-cover oleh BOPTN, jadi mahasiswa hanya membayarkan SPP per semester dan DKFM untuk per semesternya. Ketiga, mengenai pengelompokan kelas dalam biaya pendidikan. Pengelompokan kelas dalam UKT terdiri dari 5 sampai 8 kelas dengan jarak rata-rata Rp1juta antar kelas. Besaran biaya setiap kelas nominalnya bulat (misal kelas I = Rp1 juta, Kelas II = Rp2juta, Kelas III = Rp3 juta, dll). Sementara pengelompokan dalam BOP-B terdiri dari kelas dengan jarak rata-rata Rp400 ribu antar kelas. Besaran biaya setiap kelas nominalnya berupa range (misal kelas I = ribu, kelas II = 500 ribu-1 juta, kelas III = 1-2 juta, dll). Keempat, mengenai sistem perhitungan yang digunakan dalam menentukan pengelompokan kelas. Sistem perhitungan yang digunakan oleh BOP-B menggunakan sistem matriks yang dirancang khusus untuk BOP-B. Matriks BOP-B terdapat 11 variabel yang 2 B K M W A U I U M

3 diperhitungkan, yaitu penghasilan orangtua, penghasilan tambahan, penghasilan saudara kandung, tanggungan anak yang masih bersekolah, rekening listrik, rekening telepon, rekening air, status kepemilikan rumah dan lahan, kendaraan, dan alat elektronik. Sementara dalam sistem perhitungan UKT masih belum dirumuskan. Kabarnya saat ini UKT hanya menggunakan beberapa variabel seperti pendapatan dan tanggungan. Kelima, terkait kuota kelas pembayaran. Dalam sistem UKT terdapat kebijakan kuota dalam kelas tertentu. Menurut Permendikbud, Kelompok 1 dan 2 berisi masing-masing minimal 5% dari jumlah mahasiswa baru yang diterima di tahun bersangkutan, untuk kelas 3 ke atas tidak dikenakan batasan kuota. Sementara dalam sistem BOP-B tidak ada sistem kuota dalam setiap kelasnya. Siapapun dapat mengajukan BOP-B. Tetapi UI mempunyai kebijakan kuota dalam menerima pendapatan anggaran yang berasal dari mahasiswa. Keenam, mengenai kelengkapan berkas administrasi dalam pengajuan biaya pendidikan. Dalam BOP-B terdapat 15 berkas administrasi yang harus dikumpulkan seusai dengan variabel dalam matriks. Sementara dalam UKT, berkas yang direncanakan oleh UI untuk 2015 adalah penyesuaian sesuai kelas. Semakin kecil kelas atau biaya pendidikan yang diinginkan oleh mahasiswa maka semakin banyak berkas yang harus dikumpulkan, dan sebaliknya. Ketujuh, terkait hukum kebijakan dalam pilihan sistem pembayaran. BOP-B merupakan salah satu sistem pembayaran selain sistem pembayaran lainnya yang ditentukan oleh UI, yaitu Penuh dan Cicilan. Sementara UKT merupakan sistem pembayaran yang wajib dipilih oleh seluruh mahasiswa program sarjana reguler. Kedelapan, terkait mekanisme pemutakhiran data finansial mahasiswa. Dalam sistem BOP-B terdapat mekanisme pemutakhiran data finansial mahasiswa yang disebut Update BOP-B. Update BOP-B dilaksanakan setiap 2 semester sekali pada angkatan ganjil, sementara 3 semester sekali pada angkatan genap. Dalam proses mekanisme, penetepannya melibatkan unsur keuangan fakultas, unsur kemahasiswaan fakultas, dan mahasiswa, dalam hal ini Adkesma BEM setiap fakultas. Tetapi kebijakan pemutakhiran data ini tidak diatur waktu dan mekanismenya dalam peraturan apapun di UI. Pelaksanaanya dilakukan kultural sesuai kebijakan dari Kemahasiswaan UI. Sementara dalam UKT belum jelas dan tidak diatur mengenai mekanisme pemutakhiran data finansial mahasiswa dalam Permendikbud. Kesembilan, terkait keterlibatan mahasiswa dalam mekanisme. Sampai pada tahun 2014, keterlibatan mahasiswa dalam mekanisme BOP-B terbagi menjadi dua, yaitu Sahabat 3 B K M W A U I U M

4 Mahasiswa Baru (Samaba) dan Adkesma. Samaba terlibat dalam penerimaan berkas maba, entri data maba, dan survey BOP-B maba. Adkesma terlibat dalam entri data maba, entri data maba, survey BOP-B maba, Update BOP-B, entri data Update BOP-B, Survey Update BOP-B, dan rapat penetapan Update BOP-B. Di antara semua perbandingan tersebut perlu dianalisis lebih lanjut mengenai kelebihan dan kelemahan dari UKT dan BOPB. Bagaimana apabila UKT diterapkan di UI? Dan apa hal-hal yang sudah berjalan dengan baik yang harus dipertahankan dalam sistem yang baru. Perlu dibuat kebijakan yang jelas dan program-progam yang terencana dengan baik agar sebuah sistem dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan. 4 B K M W A U I U M

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2013

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2013 PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2013 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PEMBERIAN TUNJANGAN KINERJA BAGI PEGAWAI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PEMBERIAN TUGAS BELAJAR BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN

Lebih terperinci

PEDOMAN UMUM BEASISWA DAN BANTUAN BIAYA PENDIDIKAN PENINGKATAN PRESTASI AKADEMIK (PPA)

PEDOMAN UMUM BEASISWA DAN BANTUAN BIAYA PENDIDIKAN PENINGKATAN PRESTASI AKADEMIK (PPA) PEDOMAN UMUM BEASISWA DAN BANTUAN BIAYA PENDIDIKAN PENINGKATAN PRESTASI AKADEMIK (PPA) DIREKTORAT JENDERAL PEMBELAJARAN DAN KEMAHASISWAAN KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI 2015 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

PANDUAN PROGRAM BANTUAN BEASISWA BEASISWA KURANG MAMPU MAHASISWA MAHASISWA PERGURUAN TINGGI PROVINSI JAWA TENGAH OLEH: TIM PENYUSUN

PANDUAN PROGRAM BANTUAN BEASISWA BEASISWA KURANG MAMPU MAHASISWA MAHASISWA PERGURUAN TINGGI PROVINSI JAWA TENGAH OLEH: TIM PENYUSUN PANDUAN PROGRAM BANTUAN BEASISWA BEASISWA MAHASISWA KURANG MAMPU MAHASISWA PERGURUAN TINGGI PROVINSI JAWA TENGAH OLEH: TIM PENYUSUN PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH DINAS PENDIDIKAN Jl. Pemuda No. 134 -

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN TINGGI DAN PENGELOLAAN PERGURUAN TINGGI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN TINGGI DAN PENGELOLAAN PERGURUAN TINGGI PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN TINGGI DAN PENGELOLAAN PERGURUAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2013 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2013 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2013 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PEDOMAN PENYELENGGARAAN BANTUAN BIAYA PENDIDIKAN BIDIKMISI TAHUN 2015

PEDOMAN PENYELENGGARAAN BANTUAN BIAYA PENDIDIKAN BIDIKMISI TAHUN 2015 PEDOMAN PENYELENGGARAAN BANTUAN BIAYA PENDIDIKAN BIDIKMISI TAHUN 2015 DIREKTORAT JENDERAL PEMBELAJARAN DAN KEMAHASISWAAN KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI i PENGANTAR Pemerintah melalui

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa jalan sebagai salah satu prasarana transportasi merupakan

Lebih terperinci

DATA DUKUNG CALON MAHASISWA BARU TAHUN AKADEMIK 2015/2016. Nomor Peserta :... Jalur Penerimaan :... Program Studi :... Fakultas :...

DATA DUKUNG CALON MAHASISWA BARU TAHUN AKADEMIK 2015/2016. Nomor Peserta :... Jalur Penerimaan :... Program Studi :... Fakultas :... DATA DUKUNG CALON MAHASISWA BARU TAHUN AKADEMIK 2015/2016 :. Nomor Peserta :... Jalur Penerimaan :... Program Studi :... Fakultas :... UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG TAHUN 2015 DATA DUKUNG CALON MAHASISWA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

4.9.4. Penjelasan... 139 4.9.5. Cara Penilaian Kesehatan KSP/USP... 141 4.9.6. Penetapan Kesehatan KSP/USP... 164

4.9.4. Penjelasan... 139 4.9.5. Cara Penilaian Kesehatan KSP/USP... 141 4.9.6. Penetapan Kesehatan KSP/USP... 164 DAFTAR ISI DAFTAR ISI...i BAB I...1 PENDAHULUAN...1 1.1. LATAR BELAKANG...1 1.2. TUJUAN...1 1.3. SASARAN...2 1.4. RUANG LINGKUP...2 1.5. DEFINISI DAN KONSEPSI...2 1.6. LANDASAN KERJA KSP/USP KOPERASI...3

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

Usulan Perubahan Anggaran Dasar Bank Permata

Usulan Perubahan Anggaran Dasar Bank Permata Usulan Perubahan Anggaran Dasar Bank Permata No. ANGGARAN DASAR PT BANK PERMATA Tbk USULAN PERUBAHAN ANGGARAN DASAR PT BANK PERMATA Tbk Peraturan 1. Pasal 6 ayat (4) Surat saham dan surat kolektif saham

Lebih terperinci

BAB I UJIAN DAN PENILAIAN

BAB I UJIAN DAN PENILAIAN BAB I UJIAN DAN PENILAIAN Ujian Mata Kuliah terdiri dari Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester. 1.1. TUJUAN UJIAN TENGAH SEMESTER DAN UJIAN AKHIR SEMESTER Penyelenggaraan ujian dimaksudkan untuk

Lebih terperinci

Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1996 Tentang : Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan Dan Hak Pakai Atas Tanah

Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1996 Tentang : Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan Dan Hak Pakai Atas Tanah Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1996 Tentang : Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan Dan Hak Pakai Atas Tanah Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 40 TAHUN 1996 (40/1996) Tanggal : 17 JUNI 1996 (JAKARTA)

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2006 DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN ( DALAM SATU NASKAH )

UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2006 DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN ( DALAM SATU NASKAH ) UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2006 DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN ( DALAM SATU NASKAH ) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara

Lebih terperinci

STANDAR PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG

STANDAR PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG STANDAR PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG SPMI-UMP SM 03 11 PALEMBANG 2O13 1 Standar Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.09/MEN/2011 TENTANG TUGAS BELAJAR BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN

Lebih terperinci

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH. BAB I KETENTUAN UMUM

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH. BAB I KETENTUAN UMUM www.bpkp.go.id PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/23/PBI/2009 TENTANG BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/23/PBI/2009 TENTANG BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/23/PBI/2009 TENTANG BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa perekonomian nasional perlu memiliki

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI DI PROVINSI RIAU

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI DI PROVINSI RIAU UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI DI PROVINSI RIAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun

Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun Undang-Undang Nomor 11 tahun 1992 Tentang Dana Pensiun BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankan program

Lebih terperinci

BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH (BOS) SEKOLAH MENENGAH ATAS

BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH (BOS) SEKOLAH MENENGAH ATAS PETUNJUK TEKNIS BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH (BOS) SEKOLAH MENENGAH ATAS TAHUN 2014 DIREKTORAT PEMBINAAN SMA DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN MENENGAH KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN TAHUN 2014 PENGANTAR

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH DARI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2014 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2014 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2014 TENTANG STATUTA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

MATRIKS PERUBAHAN ANGGARAN DASAR PT TELKOM INDONESIA (PERSERO) Tbk

MATRIKS PERUBAHAN ANGGARAN DASAR PT TELKOM INDONESIA (PERSERO) Tbk MATRIKS PERUBAHAN ANGGARAN DASAR PT TELKOM INDONESIA (PERSERO) Tbk MATRIKS PERUBAHAN ANGGARAN DASAR PT TELKOM INDONESIA (PERSERO) Tbk DAFTAR ISI Halaman Pasal 1 Nama dan Tempat Kedudukan... 1 Pasal 2 Jangka

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10/Permentan/OT.140/3/2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10/Permentan/OT.140/3/2015 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10/Permentan/OT.140/3/2015 TENTANG PEDOMAN TUGAS BELAJAR DAN IZIN BELAJAR PEGAWAI NEGERI SIPIL LINGKUP PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

UNIVERSITAS DARMA PERSADA STANDAR ISI STANDAR ISI SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL 2010/2011-2013/2014 SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL

UNIVERSITAS DARMA PERSADA STANDAR ISI STANDAR ISI SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL 2010/2011-2013/2014 SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL UNIVERSITAS STANDAR ISI 2010/2011-2013/2014 UNIVERSITAS STANDAR ISI 2010/2011-2013/2014 UNSADA/SPMI/STD/001 UNIVERSITAS STANDAR ISI SPMI Universitas Darma Persada Jl. Radin Inten II, Pondok Kelapa Jakarta

Lebih terperinci