KATA PENGANTAR. Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KATA PENGANTAR. Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."

Transkripsi

1 KATA PENGANTAR Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Mengawali pengantar ini, marilah kita mengucapkan puji dan rasa syukur kepada Allah SWT, tuhan yang telah menjadikan alam beserta isinya yang menjadi sumber kehidupan umat manusia. Selawat dan salam kita sampaikan kepada junjungan kita, nabi Muhammad SAW, rasul yang telah membawa risalah untuk pedoman hidup kita di atas permukaan bumi ini. Dengan karunia Allah pulalah kami telah dapat menyelesaikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Aceh tahun 2010 untuk memenuhi kewajiban undang undang sesuai pasal 42 ayat (1) huruf f Undang Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Hal ini juga terkait pasal 16 dan pasal 17 ayat (1) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Masyarakat. Selain itu penyampaian LKPJ ini adalah kewajiban Pemerintah Aceh dalam melaporkan implementasi Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA) Tahun 2010 sebagai penjabaran dari RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Panjang) Aceh. LKPJ 2010 juga menjadi gambaran realisasi program/kegiatan kerja pada tahun yang bersangkutan, sebagai hasil kerja Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) dan instansi vertikal di daerah selama tahun Program tersebut terdiri dari pelaksanaan urusan wajib, urusan pilihan, dan urusan wajib lainnya. Kami atas nama Pemerintah Aceh menyampaikan terima kasih serta memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pimpinan dan anggota DPRA atas kerjasamanya selama ini. Hanya dengan kerjasama yang baik antara eksekutif dengan legislatiflah maka sebuah pemerintahan akan stabil sehingga semua program kerja dapat dilaksanakan. Demikian juga kepada Satuan Kerja Perangkat Aceh, instansi vertikal dan pemerintah kabupaten/kota se Aceh yang telah memberikan konstribusi, mulai dari tahapan perencanaan, pelaksanaan kegiatan, sampai selesainya penyusunan laporan ini, kami juga menyampaikan terima kasih. Di samping, kita mengetahui bahwa rakyat merupakan komponen penting dalam suatu negara atau daerah. Sebuah daerah yang mencapai kemajuan adalah daerah yang tinggi tingkat partisipasi rakyatnya. Untuk itu pada tempatnyalah kami menyampaikan penghargaan atas dukungan dan partisipasi seluruh rakyat dalam i

2 penyelenggaraan Pemerintahan Aceh selama tahun Partisipasi rakyat inilah yang telah membangkitkan spirit dan inspirasi bagi gubernur dan seluruh jajarannya dalam memimpin rakyat dan melaksanakan pemerintahan. Selama kepemimpinan kami yang tenggang waktunya lima tahun, sudah empat kali kami menyampaikan LKPJ sebagai tanggungjawab konstitusi dan tanggungjawab moral yang kami sampaikan di depan sidang Dewan yang terhormat. Harapan kami, hendaknya laporan ini dapat menjadi katalisator sinergisitas serta terbentuknya garis koherensi antara Gubernur Aceh dengan DPRA dalam pelaksanaan pemerintahan di daerah. Kerjasama ini sangat penting maknanya bagi kepentingan daerah ke depan. Kita berharap agar ke depan kerjasama seperti ini senantiasa terbuka ke arah yang lebih baik, sehingga muncul pula gagasan dan ide baru untuk penyempurnaan tata hubungan kemitraan antara legislatif dan eksekutif, sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem pemerintahan sesuai dengan amanat UU Nomor 11 tahun Dengan baiknya hubungan dan kemitraan antara dua lembaga ini, semua program pembangunan dapat terlaksana dengan maksimal. Dengan demikian tekad kita untuk memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh akan terlaksana dengan baik pula. Meskipun laporan ini telah dijadikan sebuah buku yang berisi narasi dan angkaangka, namun kekurangannya baik bentuk maupun isi tidak dapat kami elakkan. Betapapun kami telah berusaha untuk lebih baik, namun apa yang kita capai tidaklah sesempurna yang direncanakan. Tidak satu pun yang sempurna di dunia ini, kecuali yang datang dari Allah SWT pemilik kesempurnaan itu. Maka, pada tempatnyalah atas semua yang kita peroleh, kita selalu bersyukur dan berserah diri kepada Allah SWT. Sekali lagi, taufiq dan hidayah Nya senantiasa kita harapkan. Amin Ya Rabbal Alamin. Billahi taufiq wal hidayah, Wassalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Banda Aceh, 31 Maret 2011 GUBERNUR ACEH, IRWANDI YUSUF ii

3 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii BAB I PENDAHULUAN... A. DASAR HUKUM... B. GAMBARAN UMUM DAERAH... BAB II KEBIJAKAN PEMERINTAHAN DAERAH... A. VISI DAN MISI... B. STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN DAERAH... C. PRIORITAS DAERAH... BAB III KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH... A. PENGELOLAAN PENDAPATAN DAERAH... B. PENGELOLAAN BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH... BAB IV PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH... A. URUSAN WAJIB YANG DILAKSANAKAN... B. URUSAN PILIHAN YANG DILAKSANAKAN... BAB V PENELENGGARAAN TUGAS PEMBANTUAN... A. TUGAS PEMBANTUAN YANG DITERIMA... B. TUGAS PEMBANTUAN YANG DIBERIKAN... BAB VI PENYELENGGARAAN TUGAS UMUM PEMERINTAHAN... A. KERJASAMA ANTAR DAERAH... B. KERJASAMA DAERAH DENGAN PIHAK KETIGA... C. KOORDINASI DENGAN INSTANSI VERTIKAL DI DAERAH... D. PEMBINAAN BATAS WILAYAH... E. PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BENCANA... F. PENGELOLAAN KAWASAN KHUSUS... G. PENYELENGGARAAN KETENTRAMAN DAN KETERTIBAN UMUM... BAB VII PENUTUP iii

4 BAB I PENDAHULUAN I. DASAR HUKUM Provinsi Aceh yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1956 memiliki kewenangan yang luas dalam penyelenggaraan pemerintahan. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh memberikan kewenangan kepada Pemerintahan Aceh untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam semua sektor publik kecuali urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah. Kewenangan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Aceh harus dilaporkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Pasal 42 ayat (1) huruf f menegaskan salah satu tugas dan wewenang gubernur adalah: memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban mengenai penyelenggaraan pemerintahan kepada DPRA. Penyelenggaraan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban mengenai penyelenggaraan Pemerintahan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah Kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Masyarakat. Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) disusun berdasarkan Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA) yang merupakan penjabaran tahunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), dan disampaikan kepada DPRD paling lambat 3 (tiga) bulan setelah tahun 1

5 anggaran berakhir. Oleh karena itu LKPJ Gubernur Aceh tahun 2010 ini didasarkan pada RKPA tahun 2010 yang telah ditetapkan dengan Peraturan Gubernur Aceh Nomor 69 Tahun 2009 tentang Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA) Tahun Dasar hukum penyusunan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Aceh Tahun 2010 ini sebagai berikut: 1. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Propinsi Atjeh dan Perubahan Peraturan Propinsi Sumatera Utara; 2. Undang-Undang Nomor 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme; 3. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh; 4. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Retribusi Dasar; 5. Undang-Undang 37 Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang menjadi Undang-Undang; 6. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara; 7. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara; 8. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan Keuangan dan tanggungjawab Keuangan Negara; 9. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; 10. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; 11. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah; 12. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh; 13. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Tahun ; 14. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi sebagai Daerah Otonom; 15. Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan; 16. Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2000 tentang Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah; 2

6 17. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah; 18. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah; 19. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2005 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD; 20. Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Negara/Daerah; 21. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan; 22. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah; 23. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah; 24. Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah Kepada Daerah; 25. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah; 26. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah; 27. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Laporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah; 28. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah Kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Masyarakat; 29. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah; 30. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional ; 31. Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2009 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2010; 32. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; 33. Kepmendagri Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta Tata Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha 3

7 Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja. 34. Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 4 Tahun 2002 tentang Dana Perimbangan antara Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/ Kota. 35. Qanun Aceh Nomor 1 tahun 2008 tentang Pengelolaan Keuangan Aceh. 36. Peraturan Gubernur Aceh Nomor 21 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam ; 37. Peraturan Gubernur Aceh Nomor 69 Tahun 2009 tentang Rencana Kerja Pemerintah Aceh (RKPA) Tahun II. GAMBARAN UMUM DAERAH 1. Kondisi Georafis Daerah Secara Geografis Aceh terletak di ujung barat Pulau Sumatera, yaitu pada posisi lintang utara dan Bujur Timur. Posisi tersebut sangat strategis sebagai pintu gerbang lalu lintas perdagangan dan kebudayaan yang menghubungkan belahan dunia timur dan barat. Ibu Kota Aceh adalah Banda Aceh dengan luas wilayah ,94 Km 2 (12,26% dari luas pulau Sumatera), dengan batas wilayahnya sebagai berikut: - Sebelah utara dengan Selat Malaka, - Sebelah selatan dengan Provinsi Sumatera Utara, - Sebelah barat dengan Samudera Indonesia, dan - Sebelah timur dengan Selat Malaka. Aceh terdiri dari 18 kabupaten dan 5 kota, dengan perincian 276 kecamatan, 754 mukim dan gampong. Secara Topografi Aceh terdiri dari 47,58% wilayahnya bergunung, 24,63% dataran, 10,25% berbukit, 10,55% berombak dan selebihnya bergelombang. Kalau diklasifikasan dalam bentuk slope (kelerengan), maka persentasenya adalah : < 2% dataran, 2-8% berombak, 8-15% bergelombang, % berbukit dan > 25% bergunung. Adapun luas daratan Aceh menurut penggunaan lahan dapat dilihat pada tabel di bawah ini: 4

8 Tabel 1 Luas Daratan Aceh Menurut Penggunaan Lahan No Penggunaan Lahan Luas (Ha) Persentase Perkampungan ,03 2 Industri ,07 3 Pertambangan ,99 4 Persawahan ,38 5 Pertanian tanah kering semusim ,38 6 Kebun ,27 7 Perkebunan - Perkebunan Besar - Perkebunan Rakyat 8 Padang (padang Rumput, alang-alang, semak) ,46 12, ,96 9 Hutan (Lebat,belukar,sejenis) ,85 10 Perairan Darat (Kolam air tawar, tambak, ,53 Penggaraman, waduk, danau, rawa) 11 Tanah terbuka (tandus, rusak, ,77 land clearing) 12 Lain-lain ,25 Jumlah Sumber : 1. Badan Pertanahan Nasional Aceh (2009) 2. Badan Pusat Statistik Aceh (BPS), Aceh Dalam Angka, Gambaran Umum Demografis Jumlah penduduk Aceh berdasarkan proyeksi tahun 2010 adalah sebesar jiwa. Kabupaten/Kota yang memiliki jumlah penduduk terbanyak adalah Kabupaten Aceh Utara yaitu jiwa dan yang memiliki jumlah penduduk terkecil adalah Kota Sabang yaitu jiwa. Tingkat kepadatan penduduk di Aceh bervariasi, Kota Banda Aceh memiliki tingkat kepadatan tertinggi yaitu jiwa/km 2, sedangkan Kabupaten Gayo Lues memiliki kepadatan penduduk terendah yaitu 13 jiwa/km 2. Secara rinci tingkat kepadatan penduduk Aceh dapat dilihat pada tabel di bawah ini: 5

9 No Tabel 2 Luas Wilayah, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Aceh Kabupaten/Kota Luas Wilayah (Ha)* ) Jumlah Penduduk (Jiwa)* ) Kepadatan (Jiwa/Km) Aceh Selatan Aceh Tenggara Aceh Timur Aceh Tengah Aceh Barat Aceh Besar Pidie Aceh Utara Simeulue Aceh Singkil Bireuen Aceh Barat Daya Gayo Lues Aceh Jaya Nagan Raya Aceh Tamiang Bener Meriah Pidie Jaya Banda Aceh Sabang Lhokseumawe Langsa Sabulussalam Jumlah Sumber : * Kantor Gubernur Aceh 3. Kondisi Ekonomi a. Potensi Unggulan Daerah Secara geografis, Aceh memiliki posisi letak yang sangat strategis yaitu gerbang Selat Malaka yang merupakan jalur lintas perdagangan laut Internasional terpadat kedua di dunia. Posisi Aceh juga sangat dekat dengan negara Malaysia, Thailand, India, dan negara-negara Timur Tengah. Oleh karena itu Aceh dari aspek ekonomi memiliki keuntungan komparatif letak, karena mudah membuka akses perdagangan Internasional secara langsung. Di samping itu, Aceh juga memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat potensial dan beragam. Luas areal daratan Aceh adalah ,94 km 2, dengan 6

10 panjang garis pantai sekitar km serta luas perairan lautnya sekitar km 2, terdiri dari perairan teritorial dan perairan kepulauan seluas km 2 dan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) km 2 dengan jumlah pulau sebanyak 119 buah. Berdasarkan sumber daya alam yang dimiliki Aceh serta tinjauan dukungan aspek topografi dan agroklimat, ada beberapa sektor yang dapat dijadikan unggulan diantaranya sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, pertambangan, dan pariwisata. Saat ini di sektor pertanian dan perkebunan, ada beberapa komoditi yang menjadi unggulan daerah diantaranya padi, kedelai, kacang tanah, kopi, kakao, nilam, kelapa sawit, kelapa, karet dan pinang. Di sektor Perikanan, komoditi yang menjadi unggulan adalah kerapu, bandeng, Udang, lobster, dan kelompok ikan pelagis seperti tuna, tongkol, cakalang, kembung, selar, tenggiri dan layang. Sedangkan di sektor pariwisata, wisata bahari, agrowisata, historis, petualang, pemburuan (hama babi) sangat potensial untuk dikembangkan dimasa yang akan datang, demikian pula di sektor pertambangan masih banyak jenis-jenis bahan tambang yang belum dieksplorasi secara optimal. Perkembangan produksi komoditi pertanian tanaman pangan dapat dilihat pada tabel di bawah ini: No Tabel 3 Perkembangan Produksi Tanaman Pangan menurut Komoditi Aceh Tahun Produksi (Ton) Perkembangan * *) (%) 1 Padi ,54 2 Jagung ,90 3 Kedelai ,69 4 Kacang Tanah ,70 5 Kacang Hijau ,48 6 Ubi Kayu ,55 7 Ubi Jalar ,02 Sumber: BPS Aceh Tahun * Angka Ramalan III/2009 Sektor perkebunan besar memiliki luas areal mencapai Ha. Kelapa Sawit masih mendominasi luas areal perkebunan di Aceh, yakni Ha yang diikuti oleh Karet Ha, Kakao Ha, Kopi 25 Ha, serta Kemiri 21 Ha. Begitu juga pruduktivitasnya dimana kelapa sawit berada pada urutan tertinggi diantara komoditi perkebunan lainnya yaitu sebesar ton TBS; dapat menghasilkan minyak sebesar ton dan CPO sebesar ton. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam Tabel di bawah ini: 7

11 Tabel 4 Rekapitulasi Luas Areal dan Produksi Komoditi Perkebunan Besar Aceh Produksi Jumlah (Ha) Produksi (Ton) No. Komoditi TBM TM TR 1 Karet Kelapa Sawit Kakao Kemiri Kopi Jumlah Sumber: BPS Aceh Tahun Ket Minyak Inti Keterangan: TBM = Tanaman Belum Menghasilkan TM = Tanaman Menghasilkan TR = Tanaman Rusak No. Komoditi Tabel 5 Rekapitulasi Perkembangan Areal dan Produksi Komoditi Perkebunan Rakyat Produksi TBM TM TR Jumlah (Ha) Produksi (Ton) Rata-Rata Produktivitas (Kg/Ha) Jumlah Petani (KK) NASIONAL 1 Karet Kelapa Dalam Kelapa Hibryda 4 Kelapa Sawit Kopi: Robusta Arabica Kakao Cengkeh Lada Jambu Mete Tebu Tembakau DAERAH 1 Pala Pinang Kapuk/ Randu Kemiri Sagu Aren Cassiavera Gambir Nilam Serewangi Ket 8

12 11 Jarak Kunyit Jahe Jumlah Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan kabupaten/kota (Angka Tetap 2009) Keterangan: TBM = Tanaman Belum Menghasilkan TM = Tanaman Menghasilkan TR = Tanaman Rusak Di sektor perikanan, secara keseluruhan pertumbuhan rata-rata produksi perikanan selama adalah sebesar 14,59% dengan perincian pertumbuhan produksi perikanan tangkap sebesar 15,27% dan perikanan budidaya sebesar 12,09%. Produksi perikanan tangkap umumnya didominasi oleh kelompok ikan pelagis seperti tuna, tongkol, kembung, cakalang, selar, tenggiri dan layang. Kelompok udang dan bandeng memberi sumbangan terbesar dari subsektor budidaya perikanan. No Tabel 5 Produksi Perikanan di Aceh Tahun Klasifikasi Jumlah Produksi (Ton) * 1. Perikanan Tangkap , , , ,2 2. Perikanan Budidaya ,7 32,264, , ,5 Total , , , ,7 Pertumbuhan (%) 5,20-12,38 23,15 6,19 Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh 2010 Badan Pusat Statistik Aceh (Buku Aceh Dalam Angka 2010) *Angka Sementara dan akan divalidasi kembali di bulan Maret 2011 b. Pertumbuhan Ekonomi/PDRB (tiga tahun terakhir) Salah satu indikator ekonomi makro yang dapat mencerminkan perkembangan ekonomi daerah secara keseluruhan adalah perkembangan PDRB/pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan pengukuran terhadap kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) baik dengan migas maupun tanpa migas atas dasar harga konstan pada tahun 2000, bahwa pertumbuhan ekonomi Aceh selama tiga tahun terakhir ( ) mengalami penurunan seperti yang terlihat pada Tabel 6. Pada tahun 2007 pertumbuhan ekonomi Aceh mengalami penurunan sebesar -2,36 persen, pada tahun 2008 dan 2009 juga mengalami pertumbuhan negatif yakni masing-masing sebesar -5,27 persen dan -5,51 persen. Namun, pada tahun 2010 pertumbuhan di Aceh mengalami kenaikan mencapai 2,64 persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Aceh tanpa migas pada tahun 2007 tumbuh sebesar 7,23 persen, pada tahun 2008 tumbuh 9

13 1,88 persen, tahun 2009 tumbuh sebesar 3,92 persen serta pada tahun 2010 sebesar 5,32 persen. Menurunnya pertumbuhan ekonomi Aceh selama periode tersebut terutama disebabkan oleh semakin menurunnya secara signifikan lifting migas Aceh disamping akibat turunnya nilai ekspor Aceh pada tahun 2009 sebagai konsekuensi turunnya harga beberapa komoditi di pasaran dunia termasuk minyak dan gas bumi. Sebagaimana diketahui bahwa sampai dengan tahun 2009 kontribusi sektor migas masih dominan terhadap pembentukan PDRB Aceh, sehingga penurunan volume dan nilai jual produksi dari sektor tersebut memberi pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh secara keseluruhan. Sedangkan kenaikan pada tahun 2010 terutama disebabkan oleh semakin meningkatnya nilai tambah yang berasal dari sektor pertanian. Tabel 6 Pertumbuhan Ekonomi Aceh Menurut Sektor (Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000) Tahun No Sektor 2007 (%) 2008 (%) 2009* (%) 2010** (%) 1 Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 3,62 0,81 2,56 5,02 2 Pertambangan dan Penggalian -21,10-27,31-47,28-6,72 3 Industri Pengolahan -10,10-7,73-7,85-8,00 4 Listrik, Gas dan Air Bersih 23,70 12,73 13,79 16,97 5 Kontruksi (Bangunan) 13,93-0,85 3,13 5,11 6 Perdag, Hotel dan Restoran 1,70 4,59 4,94 6,36 7 Transport dan Komunikasi 10,95 1,38 4,88 6,57 8 Keuangan dan Perbankan 6,02 5,16 7,83 5,54 9 Jasa-Jasa 14,30 1,21 4,02 3,62 Pertumbuhan Ekonomi dengan Migas -2,36-5,27-5,51 2,64 Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Migas 7,23 1,88 3,97 5,32 Sumber : Badan Pusat Statistik Aceh * Angka Sementara ** Angka sangat sementara Adapun nilai PDRB Aceh sebagaimana yang disajikan pada Tabel 7 menunjukkan bahwa dengan migas berdasarkan harga berlaku tahun 2007 adalah sebesar Rp 71,09 triliun, tahun 2008 sebesar Rp 73,53 triliun dan tahun 2009 sebesar Rp 71,69 triliun serta tahun 2010 sebesar Rp 77,51 triliun. Jika dilihat nilai PDRB Aceh tanpa migas pada tahun 2007 adalah sebesar Rp 49,72 triliun, tahun 2008 sebesar Rp. 54,19 triliun, dan tahun 2009 sebesar Rp 58,62 triliun serta tahun 2010 sebesar Rp.64,61 triliun. Sebaliknya, harga konstan dengan migas pada tahun 2007 adalah sebesar Rp 35,98 triliun, tahun 2008 sebesar Rp 34,09 triliun dan tahun 2009 sebesar Rp 32,22 triliun serta tahun 2010 sebesar Rp 33,07 triliun. Jika dilihat nilai 10

14 PDRB Aceh tanpa migas pada tahun 2007 adalah sebesar Rp 26,02 triliun, tahun 2008 sebesar Rp 32,18 triliun, dan tahun 2009 sebesar Rp 27,58 triliun serta tahun 2010 sebesar Rp 29,04 triliun. Tabel 7 Perkembangan Nilai PDRB Aceh Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Tahun 2000 selama periode Tahun Atas Dasar Harga Berlaku (triliun rupiah) Atas Dasar Harga Konstan 2000 (triliun rupiah) Dengan Migas Tanpa Migas Dengan Migas Tanpa Migas ,09 49,72 35, ,53 54,19 34,09 32, * 71,69 58,62 32,22 27, ** 77,51 64,61 33,07 29,04 Sumber BPS *Angka sementara ** Angka sangat sementara 11

15 BAB II KEBIJAKAN PEMERINTAHAN DAERAH A. Visi Terwujudnya perubahan yang fundamental di Aceh dalam segala sektor kehidupan masyarakat Aceh dan pemerintahan, yang menjunjung tinggi asas transparansi dan akuntabilitas bagi terbentuknya suatu pemerintahan Aceh yang bebas dari praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, sehingga pada tahun 2012 Aceh akan tumbuh menjadi negeri makmur yang berkeadilan dan adil dalam kemakmuran. Misi a. Kepemimpinan yang aspiratif, inovatif, dan intuitif 1) Membangun suatu mekanisme kontrol yang ketat agar para pemimpin formal dari level tertinggi sampai level yang terendah memperlihatkan keteladanan yang baik, taat beragama, hidup sederhana, menegakkan keadilan, taat pada hukum, tidak melakukan KKN dalam bentuk apapun, sehingga memberi contoh keteladanan bagi masyarakat. 2) Pemimpin harus memiliki sikap inovatif dan intuitif yang tinggi dalam menciptakan dan melaksanakan kebijakan agar selalu dalam koridor kepentingan rakyat. Pemimpin dan pejabat negara adalah "Orang Besar", namun kebesarannya bukan karena dia berpangkat tinggi, kaya raya atau berketurunan bangsawan tetapi karena dia dengan setia telah menjadi pelayan rakyatnya. 12

16 b. Aparatur pemerintah yang bersih, kompeten dan berwibawa, bebas dari korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan 1) Memperbaiki kesejahteraan PNS/pejabat negara sebagai prioritas utama, melalui pendapatan dan gaji yang layak. 2) Memberikan reward bagi PNS/pejabat negara yang berprestasi dan punishment (sanksi/hukuman) bagi mereka yang melalaikan tugasnya. 3) Memperbaiki kembali sistem penerimaan PNS dimana akan dilakukan secara lebih ketat sehigga diperoleh PNS yang berkualitas dan tidak mengandung unsur KKN. c. Penegakan hukum 1) Pemerintah Aceh terus berusaha sekuat tenaga membantu agar pengadilan dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Walaupun bidang kehakiman menjadi wewenang Pemerintah Indonesia, Pemerintah Aceh akan berusaha agar pejabat dan PNS yang berdinas di Aceh dalam bidang penegakan hukum akan mendapat fasilitas yang sama dengan pejabat dan PNS yang berada di bawah Pemerintah Aceh. 2) Pemerintah Aceh bekerjasama dengan aparat penegak hukum akan membangun mekanisme agar rakyat pencari keadilan dapat dan berani mengawasi proses hukum yang terjadi di dalam dan di luar pengadilan dan mengawasi perilaku para hakim serta aparat penegak hukum lainnya. d. Pengembangan sumberdaya manusia 1) Pendidikan harus menjadi media pemerataan kesempatan untuk berkembang (mobilitas vertikal) bagi semua lapisan masyarakat, terutama masyarakat lapisan bawah. 13

17 2) Kualitas dan mutu sekolah di seluruh Aceh terus ditingkatkan baik kualitas fisik bangunannya maupun kualitas para pendidik terutama administrasinya. 3) Pemerintah Aceh memberikan subsidi untuk universitas-universitas atau perguruan tinggi di Aceh guna meningkatkan mutu sumberdaya manusia dan fasilitas pendidikan (sarana penunjang). 4) Pemerintah Aceh mengusahakan pendidikan gratis minimal bagi murid sekolah dasar (SD/MI) sampai dengan Sekolah Lanjutan Atas (SLTA/MA) Sekolah akan dibersihkan dari pungutan yang membebani orang tua siswa. 5) Pemerintah Aceh berupaya sesuai dengan kemampuan ekonomi Pemerintah Aceh pembebasan biaya pendidikan bagi semua anak yatim korban konflik dan korban tsunami sampai tamat Perguruan Tinggi (S1). 6) Pemerintah Aceh terus mengusahakan (sesuai kemampuan pemerintahan Aceh) pembebasan uang kuliah atau sekurang-kurangnya akan dikembangkan sistem subsidi yang adil untuk semua program studi S1 yang memenuhi criteria dan kualifikasi tertentu. 7) Pemerintah Aceh terus mengupayakan institusi-institusi/lembaga pendidikan pencetak tenaga pendidik untuk meningkatkan standar mutu penerimaan calon tenaga pendidik dengan menaikkan rating kualifikasi penerimaan mahasiswa baru. Institusi ini mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Aceh. 8) Institusi-institusi pendidikan agama seperti dayah telah mendapat perhatian serius dari Pemerintah Aceh. 9) Pemerintah Aceh terus memberikan perhatian khusus dalam bentuk programprogram beasiswa secara luas untuk mahasiswa cerdas dan berprestasi untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 dan S3 di universitas-universitas terkemuka di luar negeri. 10) Dalam rangka pemerataan kesempatan pendidikan, Pemerintah Aceh harus mengembangkan sistem subsidi/beasiswa kepada mereka yang secara ekonomi tidak mampu namun memiliki keinginan dan kemampuan kecerdasan untuk melanjutkan pendidikan. 11) Di daerah-daerah tertentu dikembangkan sekolah-sekolah kejuruan (vocational). 12) Sekurang-kurangnya 30% APBD digunakan untuk pendidikan. 13) Pemerintah Aceh terus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat. 14) Pemerintah Aceh bertekad memberantas penyakit-penyakit menular klasik seperti Malaria, TBC, DBD, Lepra, dan sebagaimana. 15) Pemerintah Aceh terus berupaya memberikan pelayanan medis gratis bagi ibu hamil dan anak. 16) Meningkatkan kualitas hidup perempuan dan anak dalam berbagai bidang khususnya pendidikan, kesehatan, ekonomi, hukum, politik, adat istiadat dan agama. e. Perekonomian 1) Membangun kembali infrastruktur perekonomian di seluruh Aceh sehingga akhirnya seluruh teritorial Aceh dapat menjadi satu kesatuan politik dan satu kesatuan ekonomi. 14

18 2) Pemerintah Aceh memperlakukan pelaku ekonomi sebagai partner pembangunan. 3) Pemerintah Aceh terus memberikan perhatian serius pada pengembangan ekonomi kerakyatan untuk mencapai keadilan di bidang ekonomi. 4) Pemerintah Aceh secara proaktif terus mengidentifikasi semua sumber ekonomi yang berbiaya tinggi (high cost economy) untuk mengatasi dan mencari jalan keluarnya. 5) Pemerintah Aceh terus mendorong bangkitnya kembali semangat kewirausahaan rakyat Aceh seperti yang pernah kita saksikan pada periode tahun 1940-an sampai dengan tahun 1980-an. Pengusaha Aceh harus dapat bangkit kembali menjadi masyarakat ekonomi yang handal. 6) Perdagangan luar negeri, terutama dengan Malaysia, Singapura, Thailand, India, dan lain-lain kembali digalakkan. 7) Produksi agrobisnis tradisional masyarakat memperoleh pasar yang layak, yaitu dengan membuka pemasaran ke luar negeri. 8) Di setiap kabupaten terus dibangun kebun-kebun percobaan dan percontohan (pilot project) agar rakyat dapat memperoleh penyuluhan dan dapat memperoleh bibit unggul sesuai dengan kondisi alam di tempat itu. 9) Para mantan kombatan GAM dan korban konflik terus diperhatikan secara serius untuk memperoleh kehidupan ekonomi yang layak melalui penyediaan modal dan lapangan kerja yang memadai. 10) Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, berwawasan lingkungan, dan berkesadaran resiko bencana. 11) Keberhasilan transisi dari rehabilitasi dan rekonstruksi dampak tsunami terus ditingkatkan. 15

19 f. Politik 1) Pemerintah Aceh terus berusaha sekuat tenaga agar seluruh Rakyat Aceh mendapat perlakuan yang adil, baik dalam bidang politik dan hukum maupun dalam bidang ekonomi, dengan memperhatikan potensi dan karakteristik masingmasing. 2) Kepala dan Wakil Kepala Pemerintahan di setiap level menjadi satu kesatuan yang saling mengisi dengan pembagian tugas yang jelas. Sementara Bupati/Walikota menjadi mandataris rakyat di daerahnya masing-masing. 3) Semua lembaga politik, lembaga adat, dan lembaga keagamaan dapat menjalankan kegiatannya berdasarkan fungsi masing-masing dan tidak akan ada tumpang tindih dalam hal fungsi dan wewenang. 4) Partai lokal menjadi sarana demokrasi yang menciptakan kestabilan politik, kemandirian, dan kemakmuran bagi Rakyat Aceh. g. Sumber Daya Alam 1) Penerimaan Pemerintah Aceh yang berasal dari bagi hasil kekayaan alam akan digunakan secara adil, efisien, dan bertanggungjawab untuk kesejahteraan dan kemakmuran seluruh Rakyat Aceh. 2) Pemerintah Aceh meninjau kembali Hak Pengelolaan Hutan (HPH). Jika selama ini HPH hanya diberikan kepada pengusaha, maka dimasa mendatang, Pemerintah Aceh menciptakan sistem pengelolaan hutan yang dikelola sendiri oleh rakyat secara lestari, berkesinambungan dan bertanggung jawab untuk kepentingah rakyat Aceh sendiri. 3) Pemerintah Aceh melarang dan membatasi penebangan hutan yang dilakukan secara liar, kecuali untuk keperluan domestik rakyat yang dilakukan secara terkontrol. 4) Pemerintah Aceh melakukan eksploitasi dan eksplorasi sumber kekayaan alam lainnya, terutama pertambangan, dengan mempertimbangkan secara serius kelestarian ekosistem. h. Adat Istiadat, Kebudayaan, dan Olahraga 1) Pemerintah Aceh memberi perhatian lebih secara seksama dan mendukung upaya-upaya untuk mengembangan adat istiadat dan budaya Aceh, antara lain dengan mendorong rakyat untuk menghidupkan kembali pendidikan tatacara sopan-santun ke-acehan dalam keluarga serta akan menyelenggarakan secara reguler festival dan seni Aceh. 2) Pemerintah Aceh terus membangun sarana olahraga dan seni yang merata di seluruh Aceh dan terus mendukung partisipasi Aceh dalam event olahraga dan seni secara lokal, nasional, dan internasional. 16

20 B. Strategi dan Arah Kebijakan Daerah Perumusan strategi pembangunan didasarkan pada kerangka analisis terhadap faktor lingkungan strategis. Proses perumusan strategi perlu dilakukan mengingat faktor strategis lingkungan terus menentukan keberhasilan pelaksanaan visi dan misi yang ditetapkan. Keberadaan faktor-faktor lingkungan strategis yang dimaksud terdiri dari faktor lingkungan internal strategis dan faktor lingkungan eksternal strategis yang merupakan kerangka dasar, mengingat pada faktor tersebut dapat ditemukan berbagai kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan. Analisis faktor lingkungan internal strategis dan faktor eksternal strategis mengisyaratkan bahwa implementasi strategi yang tepat dapat mewujudkan peningkatan dan optimalisasi setiap program dan kegiatan secara menyeluruh. Berdasarkan UU No 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Untuk itu pemerintah daerah mempunyai peluang yang besar untuk melakukan perubahan-perubahan yang bersifat fundamental dalam segala aspek kehidupan masyarakat yang di implimentasikan melalui berbagai kebijakan umum pemerintah daerah. Arah kebijakan umum Pemerintah Aceh selama jangka waktu adalah sebagai berikut : 1. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Perluasan Kesempatan Kerja dan Penanggulangan Kemiskinan Arah kebijakan umum pembangunan ekonomi Aceh pada dasarnya adalah dalam rangka mewujudkan peningkatan aktivitas perekonomian daerah yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melalui upaya peningkatan 17

21 pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 5 s/d 6 persen, penurunan tingkat kemiskinan menjadi sekitar 16 persen dan tingkat pengangguran mampu ditekan menjadi 7,6 persen. Adapun untuk mencapai hal sebagaimana tersebut diatas maka perlu ditempuh beberapa kebijakan sebagai berikut : a. Peningkatan pengelolaan potensi pertanian dan perikanan seoptimal mungkin dengan prinsip-prinsip agribisnis sebagai tulang punggung ekonomi daerah yang berkelanjutan. b. Pengembangan komoditi unggulan daerah melalui pola kluster dengan memperkuat sistim mata rantai produksi (supply chain). c. Pembangunan dan peningkatan kapasitas sarana dan prasarana pendukung produksi termasuk prioritas fungsionalisasi aset, terutama di kawasan-kawasan sentra produksi pertanian, perikanan, industri, dan perdagangan. d. Percepatan pemanfaatan mekanisasi di sektor industri kerajinan, pertanian dan perikanan, termasuk motorisasi armada perikanan dalam upaya meningkatkan daya jelajah dan produktivitas nelayan. e. Pengembangan dan peningkatan kapasitas unit penyedia sarana produksi serta peningkatan pengendalian dan pengawasan distribusi sarana produksi sehingga mudah dapat diakses oleh masyarakat. f. Peningkatan produktivitas lahan budidaya pertanian dan perikanan melalui upaya intensifikasi, diversifikasi, optimalisasi termasuk peningkatan Indeks Penanaman (IP), dan rehabilitasi lahan-lahan yang terlantar. g. Mengupayakan tumbuhnya dan berkembangnya industri pengolahan hasil, terutama yang berbasis bahan baku lokal di kawasan-kawasan sentra produksi. h. Peningkatan kompetensi tenaga kerja formal dan informal, serta pelaku UMKM melalui pengembangan dan peningkatan kapasitas Balai Latihan Kerja serta pelatihan-pelatihan kejuruan. i. Melakukan pembinaan dan pengawasan penggunaan dan penyaluran tenaga kerja untuk kebutuhan lokal maupun luar negeri. j. Percepatan aplikasi teknologi di sektor pertanian dan perikanan melalui penguatan kelembagaan dan sistem penyuluhan. k. Penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat dengan sasaran utama usahausaha kelompok dan koperasi. l. Memfasilitasi peningkatan jalinan kemitraan usaha yang lebih luas antara kelompok usaha besar dengan pelaku UMKM dan industri rumah tangga. m. Mengupayakan peningkatan fungsi intermediasi perbankan, terutama penyaluran kredit bagi pelaku UMKM dan industri rumah tangga. 18

22 n. Pencegahan penebangan dan perdagangan kayu illegal melalui penguatan dan pembinaan satuan pengamanan hutan dalam rangka terciptanya hutan lestari dan pengembangan ekonomi berkelanjutan. o. Pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan melalui pemanfaatan hasil hutan non kayu dan pengembangan hutan rakyat. p. Meningkatkan kemandirian pangan bagi masyarakat di kawasan-kawasan yang teridentifikasi rawan pangan, serta peningkatan penganekaragaman pangan berbasis sumberdaya, kelembagaan dan budaya lokal. q. Melakukan pengendalian dan pengawasan distribusi bahan pangan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman. r. Penyediaan fasilitas pemukiman baru pada kawasan-kawasan potensi dan memberikan bantuan stimulasi untuk pengembangan usaha ekonomi bagi penduduk yang dimukimkan berbasis potensi lokal. s. Pengembangan sistem informasi dan promosi yang dapat menarik investasi untuk menanamkan modalnya di daerah, baik PMA maupun PMDN. t. Mengupayakan terjadinya peningkatan aktivitas perdagangan dalam daerah hingga terjadinya pasar sempurna, termasuk melakukan pengawasan dan pengendalian distribusi barang serta pengembangan dan peningkatan sarana dan prasarana pemasaran. u. Melakukan upaya meningkatnya ekspor daerah baik peningkatan volume maupun nilai, terutama komoditi-komoditi yang memiliki nilai tambah tinggi bagi daerah 2. Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur dan Sumber Daya Energi Pendukung Investasi Untuk tercapainya tujuan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur dan Sumber Daya Energi Pendukung Investasi sesuai dengan strategi yang telah ditetapkan, maka perlu adanya dukungan kebijakan pembangunan dalam pelaksanaan program dan kegiatan yang dilaksanakan. Arah Kebijakan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur dan Sumber Daya Energi Pendukung Investasi tahun sebagai berikut : a. Sumber Daya Air Kebijakan pembangunan sumber daya air dilakukan dengan 9 (sembilan) pendekatan pokok, yaitu: 1) Terkelolanya penyelenggaraan konservasi sumber daya air demi terjaganya kelangsungan keberadaan daya dukung, daya tampung, dan fungsi sumber daya air. 19

23 2) Terkelolanya penyelenggaraan pendayagunaan sumber daya air demi terwujudnya pemanfaatan sumber daya air secara berkelanjutan dengan mengutamakan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil. 3) Terkelolanya penyelenggaraan pengendalian daya rusak air demi terwujudnya rasa aman masyarakat terhadap daya rusak air. 4) Terkelolanya sistem informasi sumber daya air demi terwujudnya jaringan informasi sumber daya air yang tersebar dan dapat diakses oleh berbagai pihak yang berkepentingan dalam bidang sumber daya air. 5) Terbangunnya jaringan irigasi baru Wilayah Pantai Barat-Selatan di 4 daerah irigasi dan di 5 daerah rawa; Wilayah Pantai Utara-Timur di 4 daerah irigasi. 6) Terperbaikinya jaringan irigasi berdasarkan kewenangan nasional seluas ha (15 DI), kewenangan provinsi seluas ha (40 DI) dan kewenangan Kabupaten/Kota seluas ha (652 DI). 7) Tersedianya air baku untuk irigasi dengan membangun dan meningkatkan fungsi waduk sebanyak 4 unit, embung sebanyak 3 unit dan situ sebanyak 9 unit. 8) Memfungsikan kembali DI yang rusak : DI Jambo Aye ( ha) dan DI. Pante Lhong (6.562 ha) serta optimalisasi daerah irigasi sebanyak 9 DI. 9) Terkendalinya banjir dan pengamanan pantai secara selektif terutama pada areal produktif. b. Bina Marga dan Cipta Karya Kebijakan pembangunan kebinamargaan dan keciptakaryaan dilakukan dengan 10 (sepuluh) pendekatan pokok, yaitu: 1) Terbukanya aksesibilitas daerah terpencil/terisolir, perbatasan dan kepulauan dengan menyediakan jaringan jalan dan jembatan untuk mendukung kawasan yang berpotensi dan cepat tumbuh. 2) Terselenggaranya peningkatkan pelayanan prasarana jalan yang terintegrasi dengan standar minimal MST 10 ton pada ruas jalan nasional dan provinsi serta MST 8 ton pada ruas-ruas jalan strategis. 3) Terlaksananya rehabilitasi dan pemeliharaan prasarana jalan sehingga tercapai fungsional jalan nasional sepanjang 1.782,78 km dan jalan provinsi sepanjang 1.701,82 km dapat tercapai. 4) Terlaksananya pembangunan dan peningkatan ruas-ruas jalan nasional lintas timur sepanjang 55 km, lintas barat sepanjang 30 km, lintas tengah sepanjang 11 km. Selanjutnya pembangunan dan peningkatanruas-ruas jalan provinsi sepanjang 95 km, serta jalan strategis lainnya termasuk jalan desa sepanjang 10 km. 20

24 5) Terwujudnya pembangunan jalan yang menghubungkan Pantai Barat- Tengah-Pantai Timur untuk menghilangkan disparitas antar wilayah. 6) Terlaksananya pembangunan dan rehabilitasi rumah korban bencana/dhuafa sebanyak 500 unit serta penyediaan prasarana dan sarana dasar permukiman. 7) Terbangunnya prasarana air minum dan sanitasi baik di perkotaan maupun di pedesan sebanyak 500 unit. 8) Terselenggaranya pembinaan tata bangunan dan pemberdayaan jasa konstruksi. 9) Terpadunya tata ruang provinsi dengan tata ruang kabupaten/kota, dengan titik berat pada penanganan kawasan-kawasan strategis/prioritas dan kawasan lintas kabupaten. 10) Terbangunnya kawasan perbatasan dan terisolir dalam rangka peningkatan ekonomi masyarakat. c. Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telematika Kebijakan pembangunan perhubungan, komunikasi, informasi dan telematika dilakukan dengan 10 (sepuluh) pendekatan pokok, yaitu : 1) Terlaksananya pembangunan, pengembangan sarana dan prasarana transportasi, pos dan telekomunikasi di wilayah perbatasan dan terisolir serta terehabilitasinya sarana dan prasarana transportasi, pos dan telekomunikasi yang hancur akibat gempa tektonik dan tsunami. 2) Terlaksananya pengembangan sistem transportasi wilayah terpadu, harmonis dan sinergi serta aparatur yang mandiri. 3) Terindentifikasi inventarisasi data dan penyebaran informasi pembangunan dengan melakukan peningkatan kerjasama pemerintah daerah dengan organisasi, lembaga pers dan media massa. 4) Terjalinnya hubungan kerjasama penyebarluasan informasi melalui TVRI dan RRI serta melakukan pengawasan terhadap penyiaran media informasi swasta. 5) Terbangunnya fasilitas e-government Pemerintah Aceh guna meningkatkan kualitas penyelenggaraan administrasi Pemerintahan Aceh yang berbasis teknologi komunikasi dan informasi dalam rangka memberikan pelayanan informasi kepada publik secara transparan dan akuntabel. 6) Terselenggaranya pembinaan sumberdaya aparatur Pemerintah Aceh yang memiliki pengetahuan dan keahlian dalam mengelola teknologi komunikasi dan sistem informasi. 21

25 7) Terbangunnya sarana angkutan kereta api diwilayah pesisir timur Aceh yang menghubungkan Aceh ke batas Sumatera Utara sepanjang 486 Km. 8) Terbangunnya pelabuhan baru di wilayah Pantai Barat-Selatan dan pantai Utara -Timur dengan kapasitas DTW. 9) Terlaksnanya pengembangan pelabuhan Malahayati untuk mendukung Kawasan Ekonomi Terpadu (KAPET) Bandar Aceh Darussalam. 10) Terlaksananya pembangunan dan pengembangan bandara untuk melayani penerbangan Domestik dan Internasional serta meningkatkan pelayanan trasportasi udar antar kabupaten/kota. d. Lingkungan Hidup Kebijakan pembangunan lingkungan hidup dilakukan dengan 6 (enam) pendekatan pokok, yaitu: 1) Terkendalinya pencemaran lingkungan melalui pencegahan dan pengendalian dampak dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan. 2) Tersedianya peralatan dan sumber daya aparatur dalam pengendalian dampak lingkungan dengan memanfaatkan media massa untuk pelayanan informasi lingkungan hidup kepada masyarakat. 3) Melakukan optimalisasi bentuk dan kinerja institusi pengelolaan lingkungan serta peningkatan koordinasi antar pemangku kepentingan dalam pengelolaan lingkungan hidup. 4) Terkendalinya pengelolaan Kawasan Ekosistem Lauser (KEL) secara berkelanjutan dalam menjaga keseimbangan pemanfaatan ruang yang serasi antara kawasan lindung dan budidaya. 5) Terpeliharanya terumbu karang, manggrove dan konservasi daerah aliran sungai dalam rangka memulihkan kembali daya dukung lingkungan dan antisipasi ancaman terhadap abrasi pantai dan sungai. 6) Terbangunnya ruang terbuka hijau dan desa model yang ramah lingkungan di setiap kabupaten/kota. e. Pertanahan Kebijakan pembangunan pertanahan dilakukan dengan 3 (tiga) pendekatan pokok, yaitu: 1) Terselenggaranya peningkatan kualitas pelayanan dan administrasi pertanahan serta penyediaan informasi pertanahan bagi keperluan pembangunan dan investasi. 22

26 2) Terlaksananya penataan dan pengendalian penguasaan, penggunaan, pemanfaatan dan pemilikan tanah serta pengembangan dan penguatan lembaga pertanahan. 3) Menyelesaikan sengketa pertanahan, penyusunan neraca penggunaan tanah, pemetaan/revisi penatagunaan tanah, konsolidasi tanah, identifikasi dan penegasan tanah negara serta penertiban administrasi land reform. f. Energi dan Sumber Daya Mineral Kebijakan pembangunan energi dan sumber daya mineral dilakukan dengan 9 (sembilan) pendekatan pokok, yaitu: 1) Terealisasinya peningkatan peluang eksploitasi pertambangan skala besar, menengah dan kecil serta membina, mengawasi dan menertibkan usaha pertambangan yang berpotensi merusak lingkungan. 2) Terlaksananya peningkatkan keterampilan sumber daya aparatur dalam pengelolaan dan pengawasan usaha pertambangan. 3) Terlaksananya peningkatan pemahaman masyarakat penambang dan dunia usaha terhadap peraturan dan perundang-undangan di bidang pertambangan. 4) Terselenggaranya peningkatan pelayanan dan informasi pertambangan, termasuk informasi kawasan-kawasan yang rentan terhadap bencana geologi. 5) Tersedianya data potensi sumber-sumber energi baru sebagai energi alternatif dan potensi pertambangan. 6) Terbangunnya sarana dan prasarana sumber-sumber air bawah tanah yang memenuhi standar kesehatan di kawasan krisis air. 7) Tersedianya perangkat hukum di bidang energi, mineral, batubara, panas bumi dan air bawah tanah. 8) Terlaksananya pembangunan PLTMH baik skala besar maupun kecil terutama untuk pedesaan/kawasan yang tidak terjangkau jaringan listrik PLN. 9) Terealisasinya penambahan pembangkit listrik non diesel dengan memanfaatkan potensi energi primer pada sub-sistem isolated dengan sasaran pengurangan biaya pokok penyediaan (BPP) yang berpengaruh terhadap usaha menekan biaya operasional pada sektor pembangkitan dan harga tarif (Rp/kWh) penjualan energi listrik. Pembangkit-pembangkit dimaksud adalah: PLTU batubara di Kabupaten Nagan Raya dengan total kapasitas 2 x 100 MW yang direncanakan beroperasi pada akhir tahun 2011 (tahap konstruksi). 23

27 PLTP Seulawah di Kabupaten Aceh Besar dengan total kapasitas 2 x 20 MW yang akan beroperasi pada akhir tahun Pre-feasibility (FS) telah dilakukan pada tahun 2008 dan saat ini dalam proses pelelangan WKP oleh Pemerintah Aceh. PLTA Peusangan I dan II di Kabupaten Aceh Tengah dengan total kapasitas 2 x 43 MW dibiayai dari Loan JBIC (Japan Bank International Company) dan direncanakan beroperasi pada tahun 2011 dan Contract Loan Aggreement dengan pihak JBIC telah ditandatangani pada 29 Maret PLTA Lawe Mamas di Kabupaten Aceh Tenggara dengan total kapasitas 3 x 30 MW yang direncanakan beroperasi pada tahun Saat ini masih dalam Pre-FS dan MoU. 3. Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pemerataan Kesempatan Belajar Menindaklanjuti strategi Pembangunan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan dan pemerataan kesempatan belajar baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal bagi peserta didik dan anggota masyarakat melalui perbekalan ilmu pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (life skills). Pemberantasan buta aksara (illiteracy) perlu dilakukan secara serius sebagai upaya untuk mencerdaskan seluruh rakyat dan mendukung pembelajaran sepanjang hidup (life long learning) maka kebijakan yang ditempuh sebagai berikut: a. Pemerataan dan Perluasan Akses 1) Tersedianya beasiswa dan bantuan biaya pendidikan usia dini, pendidikan dasar, menengah, dayah dan luar sekolah. 2) Terlaksananya efektivitas internal dan tingkat kelangsungan sekolah di setiap jenjang pendidikan. 3) Terciptanya partisipasi yang lebih besar dari masyarakat dan dunia usaha. 4) Tersedianya fasilitas pendidikan yang fokus dalam rangka menghapus hambatan kesempatan belajar dan perluasan akses penyediaan pendidikan dasar dan menengah di daerah-daerah terpencil, pemukiman terpencar dan daerah kepulauan. 5) Terciptanya pengembangan Perguruan Tinggi sesuai dengan prioritas dan arah pengembangan daerah. 6) Tersedianya fasilitas dayah dalam menunjang pelayanan pendidikan yang bermutu. b. Mutu, Relevansi dan Daya Saing 1) Terciptanya kinerja pelayanan pendidikan pada semua jenjang pendidikan. 2) Terwujudnya desentralisasi sekolah/manajemen kelembagaan, dan manajemen perencanaan pengembangan guru. 3) Tersedianyan kurikulum dan bahan ajar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. 24

28 4) Terlaksananya monitoring kinerja sekolah/kelembagaan dan prestasi siswa. 5) Tersedianya sarana penunjang pembelajaran yang bermutu dan berkualitas. 6) Terwujudnya pendidikan unggulan pada jenjang pendidikan dasar, menengah dan dayah. 7) Terlaksananya pembinaan dan pengembangan kelembagaan, kurikulum, manajemen, serta akreditasi dayah. 8) Terlaksananya penelitian dan pengembangan pendidikan secara optimal. c. Tata Kelola, Akuntabilitas dan Pencitraan Publik 1) Tersedianya sistem perencanaan, pengawasan, monitoring dan evaluasi. 2) Tersedianya sistem manajemen kelembagaan dan sekolah. 3) Terlaksananya tata kelola yang akuntabel dan transparan. 4) Terlaksananya koordinasi antar PT/PTS dan Akreditasi pendidikan. d. Penerapan Sistem Pendidikan Bernuansa Islami 1) Terlaksananya koordinasi dengan berbagai pihak terkait dalam rangka penerapan syari at Islam. 2) Tersedianya sarana peribadatan, media pembelajaran dan penerapan budaya yang menunjang pendidikan bernuansa Islami. 3) Terciptanya kualitas guru dalam metode internalisasi nilai-nilai Islami. 4) Terlaksananya monitoring dan evaluasi pelaksanaan sistem pendidikan yang bernuansa Islami secara berkala. 5) Terlaksananya penambahan jam pelajaran agama di sekolah dan pelatihan tentang pemahaman Al-Qur an. 4. Peningkatan Mutu dan Pemerataan Pelayanan Kesehatan Menindaklanjuti strategi Pembangunan dalam rangka peningkatan mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan yang meliputi aspek status kesehatan (umur harapan hidup, angka kematian ibu dan angka kematian bayi, angka kesakitan, status gizi), pelayanan kesehatan, kondisi kesehatan lingkungan, pembiayaan kesehatan, fasilitas kesehatan dan sumber daya kesehatan maka kebijakan umum yang ditempuh sebagai berikut: a. Terbangunnya sarana dan prasarana pelayanan kesehatan dasar, rujukan dan pelayanan kesehatan khusus. b. Tersedianya tenaga kesehatan sesuai kebutuhan daerah dalam rangka penyediaan pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat. c. Tersedianya fasilitas kesehatan kepada masyarakat yang mudah dijangkau. d. Terlaksananya sosialisasi pencegahan dan pengendalian penyakit serta terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat. e. Terciptanya mekanisme rujukan yang baik antar institusi pelayanan kesehatan. 25

29 f. Bertambahnya pemahaman masyarakat tentang kesehatan diseluruh lapisan masyarakat. g. Tersedianya arah dan kebijakan yang jelas dalam hal pelayanan kesehatan. h. Terlaksananya penerapan pola BLU Rumah Sakit di Kabupaten/Kota. i. Terlaksananya koordinasi lintas sektor, LSM lokal maupun luar negeri dalam rangka pelayanan kesehatan. j. Terbangunnya fasilitas pendidikan yang memadai dalam rangka peningkatan pengetahuan tenaga medis. k. Terwujudnya pelaksanaan program JKA dalam rangka pelayanan kesehatan yang baik, berkualitas secara gratis kepada masyarakat miskin. 5. Pembangunan Syariat Islam, Sosial dan Budaya Pelaksanaan Syari`at Islam di Aceh yang menjadi sumber nilai dan sumber penuntun perilaku dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tataran kehidupan pribadi, kehidupan bermasyarakat, maupun dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kebijakan umum yang ditempuh dalam pelaksanaan pembangunan syari at Islam secara kaffah di Aceh sebagai berikut: 1) Terpadunya pelaksanaan kegiatan pelayanan keagamaan antara pemerintah, ulama dan masyarakat secara optimal. 2) Terkoordinasinya kerja sama keagamaan baik dengan instansi terkait maupun lembaga keagamaan tingkat Nasional dan Internasional. 26

30 3) Terlaksananya pendidikan agama di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi yang berkualitas. 4) Terjadinya peningkatan pengetahuan, pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pelaksanaan syari at Islam. 5) Terlaksananya pengawasan syari at Islam secara kaffah dalam masyarakat. 6) Terlaksananya pemberdayaan lembaga keagamaan dalam melakukan sertifikasi, penatausahaan, pengelolaan dan pemberdayaan harta agama. 7) Terlaksananya pelayanan kesejahteraan sosial yang berkualitas di seluruh Aceh. 8) Terlaksananya peningkatan dan pengembangan potensi sumber daya sosial. 9) Terbangun dan berkembangnya ekonomi masyarakat pedesaan dalam rangka pengentasan kemiskinan. 10) Terlaksananya peningkatan dan penguatan kelembagaan pengarusutamaan gender dan anak dalam pengambilan keputusan dan kebijakan pembangunan. 11) Terlaksananya peningkatan kualitas hidup dan perlindungan hukum terhadap perempuan dan anak. 12) Terlaksananya peningkatan terhadap peran dan hubungan antar lembaga pemuda serta pengembangan sistem kaderisasi organisasi kepemudaan. 13) Terjadinya peningkatan pengetahuan dan keterampilan pemuda dalam rangka menanggulangi dampak demoralitas pemuda. 14) Terciptanyan hidup yang sehat dalam masyarakat melalui kegiatan olahraga. 15) Termotivasinya penguatan institusi keolahragaan di daerah melalui bantuan/subsidi. 16) Terjadinya peningkatan dan penguatan peran kelembagaan adat dalam masyarakat. 17) Terjadinya peningkatan peran dan koordinasi antar lembaga adat dengan pihak-pihak yang terkait secara maksimal. 18) Terwujudnya pengembangan apresiasi budaya, kesenian, bahasa dan adat istiadat. 19) Terwujudnya pelestarian dan pemeliharaan situs dan cagar budaya. 20) Terjadinya peningkatan jumlah wisatawan dalam dan luar negeri dengan mengikutsertakan masyarakat. 21) Terwujudnya pertumbuhan kultur demokrasi yang sehat, kompetitif dialogis dan rasional. 22) Terciptanya penghargaan terhadap nilai-nilai kepahlawanan para pejuang. 23) Terbinanya kekayaan adat istiadat, seni, budaya dan bahasa dalam kehidupan masyarakat. 24) Terjadinya peningkatan penguatan fungsi meunasah sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. 25) Terlaksananya penegakan hukum adat di tingkat gampong dan kemukiman. 27

31 6. Penciptaan Pemerintah Yang Baik dan Bersih Serta Penyehatan Birokrasi Pemerintahan Untuk menciptakan pemerintahan yang baik dan bersih sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat mulai dari pemerintah gampong, mukim, kecamatan, kabupaten dan provinsi dilakukan melalui kebijakan sebagai berikut: 1) Terwujudnya pemerintahan yang transparan, partisipatif dan akuntabel. 2) Terbangunnya kelembagaan pemerintah daerah yang sesuai dengan kebutuhan. 3) Tersedianya sarana dan prasarana pendukung yang dibutuhkah dalam rangka pencapaian target kinerja. 4) Terselenggaranya kewenangan antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan gampong. 5) Terfasilitasi penyelesaian masalah tata ruang dan batas wilayah administrasi bagi kabupaten/kota. 6) Terlaksananya pemetaan, pemberian nama-nama, toponomi pulau kecil dan terluar. 7) Tertatanya batas wilayah administrasi, titik kordinat, dan penguasaan wilayah secara ekonomi dan sosial budaya. 8) Tersedianya kapasitas sumber daya aparatur. 9) Terwujudnya revitalisasi baperjakat dalam penempatan dan penjenjangan karir aparatur. 10) Terlaksananya penghargaan dan sanksi kepada aparatur secara adil. 11) Terlaksananya penerapan sistem birokrasi pemerintahan yang baik dan bersih. 12) Terlaksananya peningkatan pemahaman berbangsa dan bernegara dalam rangka memeliharan keutuhan NKRI. 13) Terlaksananya peningkatan pengetahuan kader politik yang bebas, adil dan islami serta memihak kepentingan masyarakat. 14) Terjaminnya perbedaan berpendapat dan berpolitik. 15) Terselenggaranya peningkatan etika dan pendidikan politik yang sehat melalui rasa saling percaya dan menghargai (sportifitas) di dalam kelompok masyarakat. 16) Terselenggaranya peningkatan pemahaman terhadap hukum di Aceh dan Pengkajian materi hukum sesuai dengan amanah UUPA. 17) Terselenggaranya peningkatan kapasitas dan sumber daya aparat penegak hukum serta dukungan sarana dan prasarana. 18) Terlaksananya pemberian bantuan hukum dalam kasus prodeo dan Peningkatan penyuluhan hukum kepada masyarakat. 19) Terlaksananya inventarisasi kebijakan kabupaten/kota yang bertentangan dengan kepentingan umum dan ketentuan perundang-undangan lebih tinggi. 20) Terlaksananya peningkatan kapasitas aparatur dan penyediaan fasilitas sarana, prasarana Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). 28

32 7. Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana Penanganan dan pengurangan risiko bencana merupakan tanggungjawab pemerintah, masyarakat dan lembaga - lembaga kemasyarakatan yang dilaksanakan secara bersama - sama dengan prinsip kemitraan dan kesejajaran peran, maka diperlukan kebijakan dalam penanganannya. Arah Kebijakan Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana yang telah dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Mengurangi ancaman bahaya melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan kearifan lokal dengan tetap memperhatikan perubahan - perubahan global yang berdampak pada kondisi lokal. b. Mengurangi kerentanan masyarakat di daerah ancaman bahaya dengan cara memberikan pengetahuan yang memadai tentang ancaman mendasarkan pada analisis risiko. c. Meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pendidikan, pelatihan dan pemberdayaan secara terus menerus khususnya di daerah ancaman. d. Mengedepankan keterbukaan dengan pola kemitraan dalam penyelenggaraan Pengurangan Risiko Bencana melalui keterbukaan tatakelola termasuk penyediaan informasi yang berimbang bagi masyarakat. e. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan pemerintah lokal dengan mengoptimalkan potensi, sumber daya dan kearifan local melalui optimalisasi peran birokrasi, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh adat serta pimpinan informal lain yang berkembang dalam masyarakat. f. Mendorong dan meningkatkan peran dan partisipasi perempuan dalam pengurangan risiko bencana baik dalam ranah domestic(rumah tangga) maupun diluar rumah tangga melalui pengarus utamaan gender dalam semua kegiatan yang melibatkan masyarakat. A. PRIORITAS DAERAH Visi dan misi Pemerintah Aceh diwujudkan melalui pelaksanaan 7 (tujuh) prioritas pembangunan secara proporsional yaitu: 1) Pemberdayaan ekonomi masyarakat, perluasan kesempatan kerja dan penanggulangan kemiskinan, 2) Pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur dan sumber daya energi pendukung investasi, 3). Peningkatan mutu pendidikan dan pemerataan kesempatan belajar, 4). Peningkatan mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan, 5). Pembangunan syariat islam sosial dan budaya, 6). Penciptaan pemerintah yang baik dan bersih serta penyehatan birokrasi pemerintaan, 7). Penanganan dan pengurangan resiko bencana. 1. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat, Perluasan Kesempatan Kerja dan Penanggulangan Kemiskinan Pembangunan perekonomian Aceh tidak terlepas sebagai upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat, perluasan kesempatan kerja dan penanggulangan 29

33 kemiskinan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ketiga prioritas tersebut sangat ditentukan oleh tiga aspek ekonomi makro yaitu pertumbuhan ekonomi, tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran terbuka. Pertumbuhan ekonomi Aceh saat ini telah menunjukkan perkembangan yang positif, namun kondisi tersebut masih dibawah rata-rata nasional. Demikian pula halnya dengan tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran yang semakin menurun, hal tersebut masih berada diatas rata-rata nasional. Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menurunkan tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran hingga mencapai kondisi yang lebih baik, maka strategi yang ditempuh adalah: a. Peningkatan serta percepatan upaya revitalisasi pertanian dan perikanan sehingga menjadi sektor ekonomi andalan yang berkelanjutan. b. Meningkatkan produksi sektor ril baik secara kuantitas maupun kualitas, terutama fokus pada komoditi-komoditi unggulan yang berorientasi pasar. c. Mengembangkan dan meningkatkan kapasitas sarana dan prasarana pendukung produksi serta pemasaran secara terintegrasi. d. Membangun serta mendorong pengembangan unit-unit penyedia sarana produksi. e. Melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap pendistribusian sarana produksi bagi masyarakat. f. Mendorong tumbuhnya industri-industri pengolahan terutama yang berbasis bahan baku local. g. Pemberdayaan UMKM, koperasi, serta memfasilitasi terjalinnya kemitraan dengan kelompok usaha besar. h. Mendorong terjadinya peningkatan realisasi investasi swasta baik nasional maupun asing. i. Mendorong terjadinya peningkatan aktivitas perdagangan dalam dan luar negeri. j. Mendorong peningkatan kapasitas sektor finansial serta peningkatan fungsi intermediasi perbankan. k. Peningkatkan kualitas sumber daya petani, nelayan, dan kompetensi tenaga kerja. l. Pengembangan kawasan-kawasan potensial dan cepat tumbuh melalui pembangunan pemukiman baru. m. Peningkatan ketahanan dan keamanan pangan serta perbaikan gizi masyarakat. n. Pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan di kawasan sekitar hutan, serta pengembangan hutan tanaman rakyat. o. Pelestarian sumber daya hutan dan pengendalian Daerah Aliran Sungai (DAS). p. Mengupayakan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam rangka kemandirian dan kesinambungan pembiayaan pembangunan. 30

34 q. Meningkatkan kerjasama pembanguanan ekonomi baik secara kelembagaan maupun kawasan. 2. Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur dan Sumber Daya Energi Pendukung Investasi Dalam rangka penyediaan infrastruktur dan sumber daya energy pendukung investasi diperlukan strategi yang diselaraskan dengan prioritas pembangunan Pemerintah Aceh sesuai dengan kondisi dan potensi daerah. Sarana dan prasarana pendukung investasi yang belum memadai menyebabkan masih adanya daerah terpencil dan terisolir. Pembangunan Bidang Sarana dan Prasarana memegang peranan penting untuk menghilangkan disparitas antar wilayah, maka diperlukan langkah-langkah atau strategi sebagai berikut : a. Sumber Daya Air Strategi Pembangunan Bidang Sumber Daya Air Tahun adalah: 1) Menyusun pola terpadu pengembangan pengelolaan sumber daya air sebagai kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air. 2) Menyusun pola pengelolaan aset irigasi untuk mengetahui kondisi kinerja masing-masing jaringan irigasi dengan membentuk Dewan Sumber Daya Air Aceh dan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) di masing-masing Wilayah Sungai. 3) Membangun waduk dan embung beserta sarana dan prasarana yang berfungsi sebagai pengawaten air, sumber daya air, dan pengendali daya rusak air, yang dibarengi dengan kegiatan konservasi DAS. 4) Membuat perangkat hukum yang berhubungan dengan sumber daya air di Aceh. 5) Memelihara dan meningkatkan fungsi sarana dan prasarana konservasi sumber daya air dan jaringan irigasi yang telah ada, melalui kegiatan operasi dan pemeliharaan (OP) irigasi dan membangun laboratorium konservasi pada DAS. 6) Mengoptimalkan fungsi dan peran Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A)/Kejruen Blang, dengan membentuk Komisi Irigasi (Komir) Aceh. 7) Membangun dan meningkatkan irigasi teknis pada lahan-lahan potensial serta membangun sarana dan prasarana pemanfaatan air tanah secara terkendali. 8) Memelihara dan meningkatkan fungsi konstruksi sungai, muara, dan pantai yang berfungsi sebagai pengendali daya rusak air. 9) Membangun konstruksi pengendali daya rusak air di sungai, muara, dan pantai serta fasilitas sarana peringatan dini banjir kiriman sungai. 31

35 b. Bina Marga dan Cipta Karya Strategi pembangunan bidang kebinamargaan dan keciptakaryaan adalah: 1) Pembangunan, peningkatan dan pemeliharaan jalan nasional lintas Timur, lintas Barat, lintas tengah, pembangunan, peningkatan dan pemeliharaan jalan provinsi, jalan kabupaten/kota, jalan menuju sentra produksi dan jalan strategis lainnya. 2) Mendukung pembangunan kawasan yang berpotensi dan cepat tumbuh dengan menyediakan jaringan jalan dan jembatan yang memenuhi kebutuhan pergerakan barang dan jasa di seluruh wilayah kawasan. 3) Membuka dan meningkatkan aksesibilitas daerah terpencil/terisolir, perbatasan dan kepulauan untuk mengurangai kesenjangan antar daerah. 4) Meningkatkan penguasaan teknologi tepat guna di bidang prasarana jalan. 5) Meningkatkan daya dukung, kapasitas, dan geometrik jalan. 6) Meningkatkan kesadaran hukum masyarakat dalam pemanfaatan prasarana jalan. 7) Pembangunan jalan highway lintas Timur dari Banda Aceh ke perbatasan Sumatra Utara dimulai dengan penentuan alignment jalan highway, studi Amdal, dan pembebasan tanah. 8) Menyediakan sarana dan prasarana dasar pemukiman, air bersih, sanitasi, fasilitas umum bagi masyarakat, dengan berpedoman kepada tata ruang serta tata bangunan yang mempertimbangkan resiko bencana sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan termasuk pembangunan kawasan perbatasan dan terisolir. 9) Menyediakan rumah sederhana bagi kaum dhuafa/korban kerusuhan/ bencana alam. 10) Menyiapkan/memberikan informasi pembangunan infrastruktur/ permukiman kepada pihak swasta dan masyarakat. 11) Mendorong peningkatan kemampuan SDM jasa konstruksi. 12) Meningkatkan dukungan terhadap pengembangan teknologi permukiman yang berorientasi terhadap faktor alam. c. Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telematika Strategi Pembangunan Bidang Perhubungan, Komunikasi, Informasi, dan Telematika Tahun adalah: 1) Melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi prasarana dan sarana transportasi darat dan penyeberangan, pelabuhan laut, pelabuhan rakyat, bandar udara yang hancur akibat gempa tektonik dan gelombang tsunami sehingga pelayanan terhadap masyarakat dapat pulih kembali. 32

36 2) Mengembangkan prasarana dan sarana transportasi darat dan penyeberangan, pelabuhan laut, pelabuhan rakyat, bandar udara sehingga memberikan akses transportasi yang lebih baik bagi masyarakat. 3) Melakukan penambahan armada ferry dan lintasan baru sebagai upaya penyediaan sarana transportasi bagi masyarakat kepulauan. 4) Meningkatkan pelayanan dan menekan angka kecelakaan lalu lintas bagi pengguna kendaraan di jalan raya. 5) Mempertahankan subsidi angkutan perintis penyeberangan sebagai upaya membuka isolasi daerah dan memacu perkembangan perekonomian wilayah. 6) Mengembangkan angkutan kereta api sebagai angkutan massal yang cepat, murah, hemat energi, berwawasan lingkungan untuk meningkatkan mobilitas barang dan penumpang. 7) Membangun pelabuhan baru dengan kapasitas > DWT di wilayah pantai Barat-Selatan dan pantai Utara-Timur sehingga dapat menjadi pusat penyebaran (hub) dan pintu masuk bagi kegiatan ekspor-impor bagi masing-masing wilayah tersebut sekaligus menghilangkan ketergantungan terhadap pelabuhan Belawan (SUMUT). 8) Mengembangkan pelabuhan Sabang sebagai International Hub dan pintu masuk Indonesia wilayah barat di masa depan. 9) Mengembangkan Pelabuhan Malahayati untuk mendukung Kawasan Ekonomi Terpadu (KAPET) Bandar Aceh Darussalam. 10) Membangun bandara baru dalam rangka menyediakan alternatif moda transportasi yang cepat dan dapat membuka isolasi daerah serta mengantisipasi terputusnya hubungan darat dan laut sebagai akibat bencana seperti yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 dan gempa tanggal 28 Maret ) Mengembangkan Bandara Sultan Iskandar Muda (Banda Aceh) sebagai Bandara Internasional Hub dan Embarkasi Haji agar dapat didarati oleh pesawat sejenis B747 serta pengembangan fasilitas pendukung lainnya. 12) Mengembangkan Bandara Maimun Saleh Sabang, Cut Nyak Dhien Meulaboh, Lasikin Sinabang dan Rembele Takengon sebagai bandara utama di Provinsi Aceh yang dapat didarati oleh pesawat sejenis F ) Meningkatkan kuantitas dan kualitas infrastruktur telematika daerah dalam rangka integrasi data dan pelayanan informasi kepada publik. 14) Menyediakan koneksi dengan menggunakan teknologi Wireless 5,8 Ghz dari dishubkomintel dengan seluruh SKPA. 15) Menyediakan sarana dan prasarana jaringan di 23 kabupaten/kota masingmasing berupa VSAT, 1 Noc dan 2 remote client, 3 BTS yang memiliki 33

37 Wireless Akses Point yang bisa di gunakan oleh masyarakat secara gratis, 8 unit personal komputer untuk telecenter bagi masyarakat, 8 unit telpon analog berbasis Voip. 16) Penyediaan pusat informasi dan komunikasi Aceh dalam mewujudkan Aceh Cyber Province melalui membangun Gedung Seuramo Aceh yang berfungsi sebagai Media Center Aceh. 17) Penyediaan sistem telekomunikasi dengan dasar BWA (Broadband Wireless Access) yang bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan sistem tekhnologi informasi/ komunikasi oleh seluruh kalangan masyarakat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. d. Lingkungan Hidup Strategi pembangunan bidang lingkungan hidup tahun adalah: 1) Meningkatkan kualitas lingkungan hidup secara merata dengan melibatkan partisipasi semua stake holders dan penegakan hukum dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. 2) Melakukan penelitian dampak lingkungan penggunaan mercury, khususnya di kawasan pertambangan emas Gunong Ujeun Kabupaten Aceh Jaya; Sawang Kabupaten Aceh Selatan dan Geumpang Kabupaten Pidie, serta Valuasi Ekonomi Danau Laut Tawar Kabupaten Aceh Tengah dan Aneuk Laot di Kota Sabang. 3) Pengelolaan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang meliputi antara lain pengendalian konflik satwa, penetapan tapal batas antara Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dan diluar KEL. 4) Pengelolaan dan Rehabilitasi Terumbu Karang dan Mangrove 35 ha di Kabupaten Aceh Besar dan Pidie Jaya. 5) Pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) seluas 5-10 ha masing-masing di Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Kota Lhokseumawe, Kota Langsa, Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Barat. 6) Pengembangan desa model yang ramah lingkungan merupakan prioritas untuk dijadikan pilot project pada masing-masing Kabupaten/Kota. 7) Konservasi sumberdaya air dan pengendalian kerusakan sungai Alas Kabupaten Aceh Singkil. e. Pertanahan Strategi Pembangunan Bidang Lingkungan Hidup Tahun adalah: 1) Menginventarisasi penguasaan, pemilikan, pemanfaatan dan penggunaan tanah (P4T) serta menyediakan sertifikat tanah bagi masyarakat ekonomi lemah dan wilayah perbatasan. 34

38 2) Pecepatan pelimpahan Badan pertanahan menjadi Badan Otonomi di Daerah. f. Energi dan Sumber Daya Mineral Strategi Pembangunan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Tahun adalah: 1) Mengupayakan percepatan pembangunan pusat-pusat pembangkit yang akan diinterkoneksikan ke sistem 150 kv Sumut-Aceh, dimana saat ini sedang dalam pelaksanaan (committed) yaitu: PLTU Batubara di Kabupaten Nagan Raya dengan total kapasitas 2 x 100 MW yang direncanakan beroperasi pada akhir tahun 2011 (tahap konstruksi). PLTP Seulawah di Kabupaten Aceh Besar dengan total kapasitas 2 x 20 MW yang akan beroperasi pada akhir tahun PLTA Peusangan I dan II di Kabupaten Aceh Tengah dengan total kapasitas 2 x 43 MW dibiayai dari Loan JBIC (Japan Bank International Company) dan direncanakan beroperasi pada tahun 2011 dan PLTA Lawe Mamas di Kabupaten Aceh Tenggara dengan total kapasitas 3 x 30 MW yang direncanakan beroperasi pada tahun ) Meningkatkan pengembangan pembangkit di system isolated yang memiliki kapasitas terpasang sebesar 146,5 MW, dimana saat ini dengan daya mampu sebesar 96 MW. 3) Pengembangan system transmisi 150 kv Tahun 2011 adalah Brastagi- Kutacane, Bireun-Takengon, Sidikalang-Subulussalam. Pada Tahun 2012 adalah Sigli-Meulaboh, Meulaboh-Blangpidie, Blangpidie-Tapaktuan, Incomer GI Jantho, Incomer GI Panton Labu, Incomer GI Cot Trueng. Pada tahun 2013 dilakukan pembangunan Incomer GI Samalanga dan pada tahun 2014 pengembangan transmisi Jantho-Krueng Raya dan Kutacane- Blangkejeren. 4) Penambahan kapasitas trafo gardu induk (GI) dilakukan sejak tahun 2010 sampai dengan 2019 sebesar 420 MVA dan GI uprating adalah sebesar 350 MVA. 5) Menyediakan dan mendayagunakan sumberdaya alam tambang yang berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup serta menyediakan informasi geologi dan sumber daya mineral. 3. Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pemerataan Kesempatan Belajar Permasalahan pendidikan tidak hanya menyangkut penyediaan layanan pendidikan formal bagi peserta didik, tetapi juga pembekalan ilmu pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (life skills) bagi setiap anggota masyarakat melalui program Pendidikan Non Formal (PNF). Pemberantasan buta aksara (illiteracy) 35

39 perlu dilakukan secara serius sebagai upaya untuk mencerdaskan seluruh rakyat dan mendukung pembelajaran sepanjang hidup (life long learning). Strategi pembangunan Pendidikan dan pemerataan kesempatan belajar di Aceh akan dilakukan melalui: a. Pemerataan dan Perluasan Akses Strategi utama untuk meningkatkan pemerataan dan perluasan akses adalah: 1) Mengurangi hambatan biaya pada tingkat pendidikan usia dini, pendidikan dasar, menengah, dayah dan luar sekolah. 2) Meningkatkan efektivitas internal dan tingkat kelangsungan sekolah di setiap jenjang pendidikan. 3) Meningkatkan partisipasi yang lebih besar dari masyarakat dan dunia usaha. 4) Mengembangkan fasilitas pendidikan yang fokus dalam rangka menghapus hambatan kesempatan belajar dan perluasan akses penyediaan pendidikan dasar dan menengah di daerah-daerah terpencil, pemukiman terpencar dan daerah kepulauan. 5) Meningkatkan pengembangan Perguruan Tinggi sesuai dengan prioritas dan arah pengembangan daerah. 6) Pengembangan fasilitas dayah dalam menunjang pelayanan pendidikan yang bermutu. b. Mutu, Relevansi dan Daya Saing Strategi utama untuk meningkatkan mutu, relevansi, dan daya saing adalah: 1) Meningkatkan kinerja pelayanan pendidikan pada semua jenjang pendidikan. 2) Mengupayakan desentralisasi sekolah/manajemen kelembagaan, dan manajemen perencanaan pengembangan guru. 3) Meningkatkan reformasi kurikulum dan bahan ajar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. 4) Meningkatkan monitoring kinerja sekolah/kelembagaan dan prestasi siswa. 5) Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana penunjang pembelajaran yang bermutu. 6) Mengembangkan pendidikan unggulan pada jenjang pendidikan dasar, menengah dan dayah. 7) Mengoptimalkan pembinaan dan pengembangan kelembagaan, kurikulum, manajemen, serta akreditasi dayah. 8) Mengoptimalkan penelitian dan pengembangan pendidikan. 36

40 c. Tata Kelola, Akuntabilitas dan Pencitraan Publik Strategi utama untuk meningkatkan tata kelola, akuntabilitas, dan pencitraan publik adalah : 1) Memperkuat sistem perencanaan, pengawasan, monitoring dan evaluasi. 2) Meningkatkan sistem manajemen kelembagaan dan sekolah. 3) Meningkatkan tata kelola yang akuntabel dan transparan. 4) Meningkatkan koordinasi antar PT/PTS dan Akreditasi pendidikan. d. Penerapan Sistem Pendidikan Bernuansa Islami Strategi utama untuk mempercepat penerapan sistem pendidikan yang bernuansa Islami adalah: 1) Meningkatkan koordinasi dengan berbagai pihak terkait dalam rangka penerapan syari at Islam. 2) Meningkatkan sarana peribadatan, media pembelajaran dan penerapan budaya yang menunjang pendidikan bernuansa Islami. 3) Meningkatkan kualitas guru dalam metode internalisasi nilai-nilai Islami. 4) Meningkatkan monitoring dan evaluasi pelaksanaan sistem pendidikan yang bernuansa Islami secara berkala. 5) Mengupayakan penambahan jam pelajaran agama di sekolah dan pelatihan tentang pemahaman Al-Qur an. 4. Peningkatan Mutu dan Pemerataan Pelayanan Kesehatan Dalam rangka peningkatan mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan Aceh yang pada saat ini masih perlu ditingkatkan meliputi aspek status kesehatan (umur harapan hidup, angka kematian ibu dan angka kematian bayi, angka kesakitan, status gizi), pelayanan kesehatan, kondisi kesehatan lingkungan, pembiayaan kesehatan, fasilitas kesehatan dan sumber daya kesehatan maka perlu ditempuh Strategi sebagai berikut: 1) Meningkatkan pelayanan kesehatan minimal bagi masyarakat. 2) Meningkatkan kuantitas dan kualitas tenaga kesehatan melalui perencanaan yang tepat, penempatan tenaga kesehatan dan peningkatan kapasitas yang sesuai untuk mendukung pembangunan sistem kesehatan daerah. 3) Meningkatkan jangkauan, pemerataan, efisiensi dan mutu pelayanan kesehatan. 4) Meningkatkan pencegahan dan pengendalian penyakit serta kesehatan lingkungan termasuk penanggulangan bencana. 5) Memperkuat mekanisme rujukan dengan memanfaatkan rumah sakit dengan pelayanan unggulan. 6) Meningkatkan pendidikan kesehatan masyarakat melalui promosi kesehatan dan mengembangkan sistem informasi kesehatan berbasis data teknologi. 37

41 7) Melakukan penelitian terhadap kebijakan dan masalah kesehatan. 8) Mengembangkan pola Badan Layanan Umum (BLU) di rumah sakit provinsi dan kabupaten/kota. 9) Meningkatkan koordinasi dan kerjasama lintas sektor, masyarakat, termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat Lokal, Nasional dan Internasional di setiap upaya pembangunan kesehatan melalui advokasi. 10) Meningkatkan fasilitas pendidikan kesehatan dan kedokteran. 11) Meningkatkan fasilitas pelayanan kesehatan dasar. 12) Meningkatkan Jaminan Kesehatan kepada Masyarakat Miskin diseluruh Aceh (JKA) dalam bentuk pengobatan gratis. 13) Meningkatkan sarana dan prasarana pendukung lainnya. 5. Pembangunan Syariat Islam, Sosial dan Budaya a. Syari at Islam Syari`at Islam di Aceh secara resmi telah menjadi sumber nilai dan sumber penuntun perilaku dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tataran kehidupan pribadi, kehidupan bermasyarakat, maupun dalam penyelenggaraan pemerintahan. Strategi pembangunan syari at Islam adalah sebagai berikut: 1) Meningkatkan peran ulama dalam semua sektor kehidupan pemerintah dan masyarakat. 2) Meningkatkan kerjasama dan koordinasi keagamaan baik dengan instansi terkait maupun lembaga keagamaan tingkat Nasional dan Internasional. 3) Meningkatkan kualitas pendidikan agama di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. 4) Meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang pelaksanaan Syari at Islam. 5) Meningkatkan pengawasan tentang pelaksanaan Syari at Islam. 6) Meningkatkan pemberdayaan lembaga keagamaan dalam melakukan sertifikasi, penatausahaan, pengelolaan dan pemberdayaan harta agama. b. Sosial Budaya Budaya masyarakat Aceh memiliki karakteristik yang berbeda dengan budaya daerah lain, masyarakat Aceh selalu mempertahankan jati diri dan kepribadian yang mendasari nilai-nilai islami. Begitu juga kehidupan sosial erat kaitannya dengan budaya dan adat istiadat yang bersendikan syari at sebagaimana ditamsilkan dalam syair hukom ngoen adat lage zat ngoen sifeut. Untuk itu strategi yang ditempuh sebagai berikut: 1) Meningkatkan kualitas dan pelayanan kesejahteraan sosial di seluruh Aceh. 2) Meningkatkan dan mengembangkan potensi sumber daya sosial. 38

42 3) Mengembangkan dan membangun ekonomi masyarakat pedesaan dan pengentasan kemiskinan. 4) Meningkatkan dan penguatan kelembagaan pengarusutamaan gender dan anak dalam pengambilan keputusan dan kebijakan pembangunan. 5) Meningkatkan kualitas hidup dan perlindungan hukum terhadap perempuan dan anak. 6) Meningkatkan peran dan hubungan antar lembaga pemuda serta pengembangan sistem kaderisasi organisasi kepemudaan. 7) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pemuda dalam rangka Menanggulangi dampak demoralitas pemuda. 8) Membudayakan olahraga di kalangan masyarakat. 9) Memotivasi penguatan institusi keolahragaan di daerah melalui bantuan/subsidi. 10) Meningkatkan penguatan peran kelembagaan adat. 11) Memaksimalkan peran dan koordinasi antar lembaga adat dengan pihakpihak yang terkait. 12) Mengembangkan apresiasi budaya, kesenian, bahasa dan adat istiadat. 13) Melestarikan dan memelihara situs dan cagar budaya. 14) Meningkatkan jumlah wisatawan dalam dan luar negeri dengan mengikutsertakan peran serta masyarakat, berlandaskan pada sosial budaya ke-acehan dan bernuansa Islami. 15) Menumbuhkan kultur demokrasi yang sehat, kompetitif dialogis dan rasional. 16) Melestarikan dan menghargai nilai-nilai kepahlawanan para pejuang. 17) Menggali dan membina kekayaan adat istiadat, seni, budaya dan bahasa. 18) Meningkatkan penguatan fungsi meunasah sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. 19) Meningkatkan penegakan hukum adat di tingkat gampong dan kemukiman. 6. Penciptaan Pemerintah Yang Baik dan Bersih Serta Penyehatan Birokrasi Pemerintahan Dalam rangka menciptakan pemerintahan yang baik dan bersih sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat dalam menjalankan roda pemerintahan mulai dari pemerintah gampong, mukim, kecamatan, kabupaten dan provinsi perlu dilakukan strategi sebagai berikut: a. Mewujudkan pemerintahan yang transparan, partisipatif dan akuntabel. b. Membangun kelembagaan pemerintah daerah yang sesuai dengan kebutuhan. c. Meningkatkan sarana dan prasarana pendukung kinerja. 39

43 d. Memperjelas kewenangan antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan gampong. e. Memfasilitasi penyelesaian masalah tata ruang dan batas wilayah administrasi bagi kabupaten/kota. f. Menyelesaikan pemetaan, pemberian nama-nama, toponomi pulau kecil dan terluar. g. Menetapkan batas wilayah administrasi, titik kordinat, dan penguasaan wilayah secara ekonomi dan sosial budaya. h. Meningkatkan kapasitas Sumber Daya aparatur. i. Melakukan revitalisasi baperjakat dalam penempatan dan penjenjangan karir aparatur. j. Memberikan penghargaan dan sanksi kepada aparatur secara adil. k. Menerapkan sistem birokrasi pemerintahan yang baik dan bersih. l. Meningkatkan pemahaman berbangsa dan bernegara dalam rangka memeliharan keutuhan NKRI. m. Meningkatkan pengetahuan kader politik yang bebas, adil dan islami serta memihak kepentingan masyarakat. n. Menjamin perbedaan berpendapat dan berpolitik. o. Meningkatkan etika dan pendidikan politik yang sehat melalui rasa saling percaya dan menghargai (sportifitas) di dalam kelompok masyarakat. p. Meningkatkan pemahaman terhadap hukum di Aceh dan Pengkajian materi hukum sesuai dengan amanah UUPA. q. Meningkatkan kapasitas dan sumber daya aparat penegak hukum serta dukungan sarana dan prasarana. r. Mengupayakan bantuan hukum dalam kasus prodeo dan Peningkatan penyuluhan hukum kepada masyarakat. s. Melakukan Inventarisasi kebijakan kabupaten/kota yang bertentangan dengan kepentingan umum dan ketentuan perundang-undangan lebih tinggi. t. Meningkatkan kapasitas aparatur dan penyediaan fasilitas sarana, prasarana Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). 7. Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana Secara substansial, penanggulangan bencana dilakukan sejak awal yaitu dengan mengurangi ancaman, meningkatkan kapasitas dan mengurangi kerentanan individu dan masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan pemetaan ancaman bencana, kerentanan dan kapasitas masyarakat dengan menganalisa risiko secara komprehensif. Strategi penanggulangan bencana secara umum dilakukan dengan mengurangi resiko ancaman yang meliputi: 40

44 1) Meningkatkan perlindungan daerah atau kawasan lindung dari eksploitasi ekonomi yang bersifat destruktif, melalui regulasi dan penegakan hukum serta perkuatan fungsi masyarakat sekitar kawasan untuk mengelolanya. 2) Meningkatkan pembangunan ekonomi masyarakat bagi pelaku usaha skala mikro, kecil dan menengah sebagai bagian peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat. 3) Meningkatkan pembangunan, pemeliharaan dan pendayagunaan infrastruktur secara optimal sebagai salah satu bagian dari pengurangan ancaman bencana. 4) Mengupayakan penyediaan sarana dan prasarana dasar yang bersifat antisipatif dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana termasuk prosedur standar pelayanan. 5) Meningkatkan pemberdayaan masyarakat melalui penyebarluasan informasi, pelatihan ketrampilan dalam rangka penanganan pengurangan resiko bencana. 6) Meningkatkan peran aktif semua komponen masyarakat (termasuk dunia usaha dan instansi vertikal di daerah) sebagai satu kesatuan sistem masyarakat Aceh sebagai subyek dan atau obyek dalam pengurangan risiko bencana. 7) Meningkatkan pemahaman dan peran SKPA/SKPK dalam penyelenggaraan pengurangan risiko bencana. 8) Memberikan perhatian khusus kepada wanita, anak dan lansia dalam hal mewujudkan kesejajaran dan menumbuhkan kemitraan. 41

45 BAB III KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Keuangan daerah didefinisikan sebagai bagian dari administrasi negara yang mempelajari aktivitas keuangan (financial) pemerintah. Pemerintah adalah pemerintah pusat dan daerah yang meliputi seluruh satuan kerja dan unit kerja pemerintah sebagai pemegang otoritas publik yang dikendalikan dan didanai oleh pemerintah. Di samping itu keuangan daerah juga mempelajari proses pengambilan keputusan oleh pemerintah daerah. Hal ini disebabkan setiap keputusan mempunyai pengaruh yang signifikan pada ekonomi dan keuangan rumah tangga dan swasta di daerah. Berdasarkan hal tersebut, arah kebijakan keuangan Aceh telah ditentukan yaitu mengelola pendapatan dan belanja daerah sehingga mendukung berbagai kebijakan Pemerintah Daerah dalam penyusunan program dan kegiatan secara efektif dan efisien sehingga tercapai sasaran sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Pengelolaan keuangan Aceh dilaksanakan dalam suatu sistem yang terintegrasi yang diwujudkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) mengacu kepada penyusunan anggaran berbasis kinerja yang setiap tahun ditetapkan dengan Qanun. Adapun ruang lingkup pengelolaan keuangan Aceh meliputi: Hak Aceh untuk memungut pajak Aceh dan retribusi Aceh serta melakukan pinjaman; Kewajiban Aceh untuk menyelenggarakan urusan Pemerintah Aceh, melaksanakan pembangunan Aceh dan membayar tagihan pihak ketiga; Pengelolaan pendapatan Aceh; Pengelolaan belanja Aceh; Pengelolaan pembiayaan Aceh yang meliputi aspek kekayaan Aceh yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hakhak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada 42

46 perusahaan daerah, kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah dan/atau kepentingan umum. Dalam rangka penyelenggaraan urusan Pemerintahan Aceh berdasarkan Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, diikuti dengan pemberian sumber pendanaan kepada Pemerintah Aceh berupa dana otonomi khusus. Oleh karena itu, keuangan daerah harus diarahkan pengelolaannya secara tertib, taat azas sesuai peraturan perundang-undangan, efisien, efektif, transparan, dan akuntabel dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan memberi manfaat yang besar bagi masyarakat. Dengan demikian, fokus keuangan daerah adalah pendapatan dan belanja dalam kerangka Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang dicerminkan pada pengalokasian sumber daya, distribusi pendapatan, dan stabilitas ekonomi dan menganalisis implikasinya terhadap pembangunan daerah. Definisi APBD dalam Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara Pasal 13 diuraikan menjadi hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih; kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih; penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya atau yang lebih kita kenal APBD sebagai anggaran pendapatan, belanja, dan pembiayaan. Selama Tahun Anggaran 2010, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan pendapatan dengan berbagai kebijakan prosedur operasi standar dalam memperoleh penerimaan Aceh melalui lampiran pertama Instruksi Gubernur Nomor 09 Tahun 2007 mengenai Penatausahaan Penerimaan Aceh serta melakukan efisiensi belanja Aceh dengan diterbitkan Surat Edaran Gubernur Nomor 903/56944 tentang Pedoman Penyusunan RKA-SKPA Tahun Anggaran 2010 yang memuat analisa standar biaya serta mengacu pada standar harga satuan Tahun Anggaran 2010 untuk mengukur kewajaran pengalokasian dana dalam menghasilkan output tertentu untuk mengalokasikan dana belanja Aceh secara wajar. Pada tahun ini juga dilakukan perubahan APBA 2010 pada saat mendekati pergantian tahun serta dilakukan pengumuman pelelangan diawal tahun 2010 untuk memacu percepatan pertumbuhan ekonomi dan realisasi keuangan Aceh. Hampir setiap daerah di Indonesia mempunyai arah kebijakan yang sama, yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Arah kebijakan pembangunan Aceh sesuai dengan amanah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2006 adalah mewujudkan kesejahteraan rakyat Aceh, keadilan serta pemajuan, pemenuhan dan perlindungan hak asasi manusia. Untuk mewujudkan hal tersebut Pemerintah Aceh menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Aceh , dimana terdapat beberapa sasaran ekonomi makro Aceh dalam perencanaan strategis tersebut antara lain : 1. Pertumbuhan ekonomi Aceh diperkirakan berkisar antara 5% 6% selama periode Selama periode proyeksi, tingkat inflasi diperkirakan akan mencapai sekitar 8% untuk setiap tahunnya, dan; 43

47 3. Incremental Capital Output Ratio (ICOR) tahunan selama periode proyeksi adalah sekitar antara 3,9 kemudian menurun menjadi 3,5 dalam tahun A. PENGELOLAAN PENDAPATAN DAERAH Pada periode Tahun Anggaran 2010, asumsi yang mendasari lahirnya kebijakan umum pengelolaan pendapatan berdasarkan pada kondisi internal dan eksternal wilayah. Kondisi eksternal yang paling banyak mempengaruhi perubahan asumsi-asumsi perekonomian Aceh saat ini dan kedepan, diantaranya tidak stabilnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di pasar global, distribusi yang tidak lancar, kebijakan pemerintah dalam penyesuaian harga BBM dan kebijakan konversi minyak tanah menjadi gas bagi konsumsi keluarga. Selama tahun 2010 terjadi beberapa perubahan asumsi pendapatan yang disebabkan oleh terjadinya perubahan target perolehan penerimaan pada sumber pendapatan dana perimbangan khususnya pada obyek dana bagi hasil hidrokarbon dan Sumber Daya Alam (SDA) lainnya, serta tambahan dana bagi hasil migas sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 121/PMK.07/2010 tanggal 6 Juli Penambahan tersebut berasal dari pengalokasian kurang bayar SDA pertambangan minyak dan gas bumi tahun 2008 serta obyek tambahan dana bagi hasil migas akibat tambahan alokasi kurang bayar tahun Perubahan asumsi lainnya terjadi pada lain-lain pendapatan yang sah yang berubah disebabkan tidak adanya hibah dari pemerintah berdasarkan surat Menteri Keuangan Nomor S-06/MK.7/2010 tanggal 29 Januari 2010 tentang tidak adanya alokasi dana hibah pemerintah kepada Pemerintah Aceh untuk tahun Sedangkan dari obyek Pendapatan Dana Penyesuaian yang semula tidak ada alokasi namun berdasarkan PMK Nomor 118/PMK.07/2010 tanggal 14 Juni 2010 telah ditetapkan alokasi sementara dana tambahan penghasilan guru Tahun Anggaran Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut diatas maka kebijakan umum dalam pengelolaan pendapatan daerah tahun anggaran 2010 dapat digambarkan sebagai berikut: 1. Intensifikasi Pendapatan Daerah Kebijakan umum pengelolaan anggaran pendapatan Aceh tahun anggaran 2010 diarahkan pada peningkatan penerimaan daerah, melalui: a. Pengembangan objek retribusi: 1) Retribusi pemakaian kekayaan daerah, terdiri dari: - Pengolahan aset daerah berupa tanah dan bangunan menjadi objek retribusi yang menghasilkan pendapatan; dan - Pengkajian potensi alat ukur listrik dan air menjadi objek retribusi; 2) Retribusi pengujian kendaraan bermotor dengan mengkaji semua jenis kendaraan bermotor sebagai objek retribusi pengujian: - Mengintensifkan pengelolaan semua jenis retribusi lainnya; b. Penyesuaian tarif retribusi Menyesuaikan tarif semua jenis retribusi secara wajar dengan memperhitungkan daya bayar masyarakat wajib retribusi; 44

48 c. Ekstensifikasi objek pajak sebagai sumber pendapatan lain-lain PAD yang sah; Potensi pendapatan yang tidak dapat dijangkau oleh pajak daerah dan retribusi daerah dikelola melalui sumber pendapatan lain dalam struktur APBD. Sumber pendapatan potensial ini diatur dengan menerbitkan peraturan daerah tentang sumber pendapatan sedemikian; d. Pengembanganan subjek pajak. Kegiatan yang perlu dilakukan adalah: 1) Mengintensifkan penjaringan penunggak pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor; 2) Menunjang kegiatan pendataan subjek PBB di Aceh; 3) Mengingatkan bendahara pengeluaran SKPA untuk memungut Pajak Penghasilan Orang Pribadi Dalam Negeri (PPhOPDN). e. Regulasi khusus tentang pengelolaan zakat Aceh Dengan mengatur pengelolaan zakat agar dapat mengoptimalkannya selaku Pendapatan Asli Aceh (PAA) dalam lingkup pengelolaan keuangan Aceh tetapi juga mengakomodasi zakat sebagai harta agama yang tata cara pengelolaannya memiliki kekhususan sesuai dengan daerah yang memiliki kekhususan dalam Syariat Islam dengan lahirnya Peraturan Gubernur Nomor 55 Tahun f. Disamping itu beberapa kebijakan umum dan strategi untuk meningkatkan penerimaan Migas 2010 sebagai berikut : 1) Optimalisasi pelaksanaan tugas-tugas Tim advokasi Migas yang harus bertindak proaktif terhadap perhitungan bagi hasil pajak dan bukan pajak termasuk ketepatan dalam penyalurannya. Salah satu langkah pertama yang perlu segera ditempuh untuk merealisasikan kebijakan ini adalah mempercepat terbentuknya Badan Pelaksana Pengelolaan Sumber Daya Alam Minyak dan Gas Aceh serta melaksanakan ketentuan-ketentuan seperti yang diatur dalam Pasal 160 ayat (1) sampai dengan ayat (5) Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. 2) Mempercepat proses pencairan dana Migas dari pemerintah untuk provinsi dan kabupaten/kota, dengan menetapkan sistem pencairan keuangan yang lebih efisien dan efektif melalui kesepakatan dan rencana aksi bersama antara pemerintah dan Pemerintah Aceh. 3) Mengatur prosedur dan mekanisme yang adil dan merata terhadap penerimaan dana otonomi khusus antara Pemerintah Aceh dengan Pemerintah Kabupaten/Kota. Hal ini dapat ditempuh dengan berpedoman pada Qanun Aceh tentang tata cara pengalokasian dana tambahan Migas dan penggunaan dana Otsus yang rancangannya sedang dibahas bersama dengan DPRA. 2. Target dan Realisasi Pendapatan Pendapatan adalah semua penerimaan kas daerah dalam periode tahun anggaran tertentu yang menjadi hak daerah. Pendapatan ini dapat terlihat pada pos pendapatan. Konsep pendapatan berbeda dengan konsep penerimaan. 45

49 Penerimaan adalah semua penerimaan kas daerah dalam periode tahun anggaran tertentu. Pendapatan yang terealisasikan dan masuk kas daerah menjadi penerimaan, tetapi tidak semua penerimaan merupakan pendapatan, karena ada penerimaan yang berasal dari pembiayaan yang harus dibayar kembali karena bukan merupakan hak daerah. Pendapatan Aceh menurut UU No 11 Tahun 2006 Pasal 179 dibagi menjadi 4 (empat) kelompok, yaitu kelompok yang bersumber dari Pendapatan Asli Aceh (PAA), dana perimbangan, dana otonomi khusus dan Lain-lain pendapatan yang sah. PAA adalah pendapatan yang dipungut oleh daerah yang bersangkutan sesuai dengan Perda yang telah ditetapkan. Jenis-jenis PAA antara lain Pajak Aceh, Retribusi Aceh, Zakat, bagian laba hasil usaha daerah/laba BUMA, dan lain-lain PAA. Besar kecilnya PAA akan mempengaruhi kemandirian daerah dalam melaksanakan otonomi daerah, semakin besar PAA maka kemampuan daerah akan lebih besar dan ketergantungan kepada pemerintah pusat semakin berkurang. Obyek PAA provinsi antara lain adalah pajak kendaraan bermotor, bea balik nama kendaraan bermotor, pajak bahan bakar kendaraan bermotor, retribusi pelayanan kesehatan dan lain-lain. Dalam beberapa tahun ini, Pemerintah Aceh telah menempuh langkahlangkah yang dapat menjamin peningkatan kinerja Pendapatan Daerah tanpa memberikan beban yang lebih berat kepada masyarakat. Untuk Tahun Anggaran 2010 prestasi kerja Pendapatan Aceh diperkirakan sebesar Rp ,00 dengan hasil yang dapat direalisasikan hingga berakhirnya tahun 2010 adalah sebesar Rp ,66 Atau sebesar 102,4% rincian target dan realisasi pendapatan tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.1 Rincian Target dan Realisasi Pendapatan Aceh Tahun Anggaran 2010 No Uraian Rencana (Rp) Realisasi (Rp) % Pendapatan Asli Daerah , ,59 100,17% Aceh 2 Dana Perimbangan , ,00 108,97% 3 Dana Otonomi Khusus , ,00 100,00% 4 Lain-lain pendapatan , ,07 97,61% yang sah Jumlah , ,66 102,40% Sumber : LKPA 2010 (Unaudited) a. Pendapatan Asli Aceh (PAA) Pendapatan Asli Aceh sebagai sumber pendanaan dalam APBA merupakan salah satu kebijakan fiskal daerah dalam menentukan perkembangan dan pertumbuhan ekonomi di Aceh hal ini disebabkan adanya 46

50 siklus keuangan daerah bahwa sebagian besar sektor riil daerah masih bergantung pada anggaran Pemerintah Aceh melalui penganggaran program/kegiatan dalam belanja langsung yang berkaitan dengan pembangunan Aceh secara keseluruhan melalui APBA merupakan belanja investasi Pemerintah Aceh yang diharapkan memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Aceh, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi Aceh sebagaimana yang diharapkan akan berdampak meningkatnya penerimaan Aceh melalui sektor pajak & retribusi daerah sebagai sumber pendanaan kembali Pemerintah Aceh yang dituangkan dalam APBA, dan untuk selanjutnya siklus ini kembali berulang. Disamping itu Pemerintah Aceh diharapkan menerapkan program/kegiatan untuk memacu pertumbuhan serta minat berinvestasi sektor swasta untuk berinvestasi di Aceh sehingga investasi tidak hanya ditentukan oleh investasi sektor pemerintah saja tetapi diharapkan dapat dipengaruhi lebih banyak oleh belanja sektor swasta pada semua lapangan usaha produksi. Oleh karena itu investasi pemerintah diarahkan pada belanja program/ kegiatan pembangunan yang dapat memberikan efek penggandaan yang lebih besar dan merangsang pihak swasta untuk lebih meningkatkan investasinya di daerah, terutama para pemilik modal dari dalam maupun luar daerah sehingga dapat menggerakkan ekonomi di daerah secara produktif yang akan berdampak positif bagi peningkatan pendapatan daerah. Langkahlangkah yang ditempuh pemerintah Aceh guna mengoptimalisasi penerimaan dari Pendapatan Asli Aceh yaitu : 1. Meningkatkan kapasitas infrastruktur pada unit-unit pelayanan pajak Aceh (SAMSAT) yang modern dan handal melalui aplikasi sistem SAMSAT on-line. 2. Membuka unit-unit pelayanan pajak Aceh (SAMSAT) di beberapa kabupaten/kota guna meningkatkan efektifitas pelayanan kepada masyarakat dari semula 4 buah SAMSAT menjadi 8 buah SAMSAT untuk lebih mendekatkan pelayanan kepada masyarakat berdasarkan PERGUB Nomor 50/2009 tentang Susunan Organisasi dan Tatakerja UPTD pada DPKKA. 3. Memaksimalkan pelaksanaan intensifikasi dan ekstensifikasi pemungutan pendapatan Aceh 4. Melakukan upaya intensifikasi penyaluran dan perimbangan dari pemerintah 5. Meningkatkan kerjasama dengan instansi dan institusi yang menghasilkan pendapatan Aceh 6. Sosialisasi dan peningkatan operasional pemeriksaan lapangan terhadap wajib pajak. Realisasi Pendapatan Asli Aceh untuk tahun 2010 tergambar dalam tabel berikut : 47

51 Tabel 2.2 Target dan Realisasi Pendapatan Asli Aceh Tahun Anggaran 2010 No Uraian Rencana (Rp) Realisasi (Rp) % Pajak Aceh , ,00 109,30% 2 Retribusi Aceh , ,21 57,64% 3 Hasil Pengelolaan Kekayaan Aceh yg Dipisahkan dan Hasil Penyertaan Modal Aceh , ,36 132,66% 4 Zakat , ,00 781,79% 5 Lain-lain Pendapatan Asli Aceh yang Sah , ,02 63,91% Jumlah , ,59 100,17% Sumber : Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Aceh, 2010 (Unaudited) Dari tabel pendapatan asli Aceh diatas dapat diuraikan berdasarkan objek pendapatannya sebagai berikut ; Pajak Aceh Berbagai kebijakan yang ditempuh untuk mewujudkan penerimaan daerah yang optimal dari sektor pajak Aceh Tahun Anggaran 2010 diantaranya adalah dengan melakukan pendelegasian wewenang untuk memberikan keringanan/ pengurangan denda Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) kepada UPTD DPKKA sesuai dengan Surat Keputusan Kepala DPKKA Nomor 973/016/2010. Atas kebijakan tersebut maka perlu dilakukan langkah berkesinambungan dalam bentuk program/kegiatan dalam menyediakan sarana dan prasarana guna peningkatan pelayanan masyarakat dengan memperhatikan aspek kepentingan umum tetap menjadi landasan utama dalam merealisir target pendapatan dari sektor Pajak Aceh melalui program/kegitan sbb: 1) Intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber pendapatan daerah; 2) Rapat Koordinasi Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Aceh dengan instansi terkait. Dari kegiatan diatas dalam APBA tahun 2010 pajak Aceh memberikan sumbangan sebesar Rp ,00 dari yang direncanakan sebesar Rp ,00 atau 109,3 %. Rincian rencana dan realisasi dapat dilihat pada tabel berikut : 48

52 Tabel 2.3 Rencana dan Realisasi Pendapatan Pajak Aceh Tahun 2010 No Uraian Rencana (Rp) Realisasi (Rp) % Pajak kendaraan bermotor , ,00 116,71% 2 bermotor , ,00 103,64% 3 Pajak bahan bakar kendaraan bermotor , ,00 114,27% 4 Pajak pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah , ,00 19,15% 5 Pajak pengambilan dan pemanfaatan air permukaan ,00 0,00 0,00% Jumlah , ,00 109,30% Sumber : LKPA 2010 (Unaudited) Rincian penjelasan untuk masing-masing pendapatan pajak tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) Pajak kendaraan bermotor telah dapat direalisasikan penerimaan sebesar Rp ,00 atau 116,71% dari yang direncanakan. Pendapatan pajak ini umumnya disebabkan karena : 1. Adanya penerapan Pergub No. 15 Tahun 2010 tentang Pemberlakuan Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB) sebagai pedoman penyesuaian nilai jual sebagai dasar bagi penetapan PKB dan BBNKB untuk disesuaikan dengan pasaran umum kendaraan bermotor yang berlaku, dalam usaha meningkatkan penerimaan pajak Aceh. 2. Sosialisasi pendapatan daerah, terutama pajak daerah melalui siaran surat kabar lokal, baliho, dan spanduk. b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) Realisasi pendapatan BBNKB mencapai 103,64% atau sebesar Rp ,00, terjadinya pencapaian target BBNKB dikarenakan : 1. Melaksanakan operasi lapangan (razia) kendaraan bermotor yang menunggak pembayaran pajak dalam usaha meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mendaftarkan kendaraan bermotor kedalam wilayah Provinsi Aceh 2. Melakukan koordinasi dengan instansi terkait dalam menginventarisasi jumlah kendaraan baru dan bekas sekaligus melakukan mutasi kendaraan bermotor bagi plat kendaraan non-bl. c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) Realisasi pendapatan BBNKB mencapai 114,27% atau sebesar Rp ,00, Besarnya angka realisasi ini disebabkan oleh : 1. Meningkatnya konsumsi bahan bakar minyak seiring dengan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor 49

53 2. Tingginya mobilitas barang dan orang yang keluar dan masuk ke Aceh telah mendorong tingginya frekuensi pegangkutan barang dan jasa d. Pajak pemanfaatan air bawah tanah Pendapatan pajak pemanfaatan air bawah tanah tahun 2010 sebesar Rp ,00 atau 19,20% dari yang ditargetkan, rendahnya penerimaan ini disebabkan beberapa perusahaan mengalami kesulitan keuangan akibat krisis keuangan global. e. Pajak pengambilan dan pemanfaatan air permukaan Pendapatan pajak pemanfaatan air bawah tanah tahun 2010 ditargetkan sebesar Rp ,00 tetapi dapat direalisasikan atau hanya 0 % dari yang ditargetkan, hal ini disebabkan akibat adanya ketentuan perundangundangan yang baru bahwa pajak air permukaan dialihkan ke kabupaten/kota melalui UU Nomor 28 Tahun RETRIBUSI DAERAH Untuk tahun 2010 retribusi daerah direncanakan pendapatannya sebesar Rp ,00 dan telah dapat direalisasikan sebesar Rp ,00 atau 41,03% rincian komponen retribusi daerah adalah sebagai berikut: Tabel 2.4 Rencana dan Realisasi Pendapatan Retribusi Daerah Aceh Tahun Anggaran 2010 No Uraian Rencana (Rp) Realisasi (Rp) % Retribusi Jasa Umum , ,21 42,63% 2 Retribusi Jasa Usaha , ,00 118,89% 3 Retribusi Perizinan Tertentu , ,00 611,53% JUMLAH , ,21 57,64% Sumber : Laporan Keuangan Pemerintah Aceh 2010 (Unaudited) Rincian untuk masing-masing retribusi pada tabel diatas dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Retribusi Jasa Umum Penerimaan retribusi jasa umum sebagai akumulasi dari beberapa sumber penerimaan, yaitu retribusi pelayanan kesehatan, pelayanan Tera/Tera Ulang dan penyediaan sarana kantor telah direalisasikan sebesar Rp ,21 atau 41,02% dari target, hal ini disebabkan penurunan penerimaan retribusi kesehatan akibat telah dibentuknya Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin sebagai Badan Layanan Umum Daerah berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 04 Tahun 2010 tanggal 17 Februari 2010 dan mulai berjalan efektif sejak bulan April 2010 sehingga penerimaan retribusinya sesuai ketentuan tentang BLUD tidak lagi disetor ke Rekening Kas Umum Daerah akan tetapi menjadi pendapatan 50

54 Rumah Sakit Umum Daerah tersebut yang dapat digunakan langsung membiayai operasionalnya. 2. Retribusi Jasa Usaha Retribusi jasa usaha bersumber dari retribusi pemakaian kekayaan daerah, retribusi Izin Usaha Hotel Bintang, retribusi Izin Kapal Penangkapan Ikan, retribusi Izin Usaha Jasa Pengurusan Transportasi (SIUJPT) dan retribusi persetujuan Izin Prinsip Penambahan Armada, retribusi penjualan produksi usaha daerah dan Perluasan Izin Trayek AKDP. Adapun realisasi untuk reribusi ini meningkat menjadi Rp ,00 atau 88,05% dari target. 3. Retribusi Ijin Tertentu Penerimaan dari retribusi ini merupakan akumulasi dari retribusi ijin trayek, izin dari P2TSP berupa ijin penimbunan dan penyimpanan Bahan Bakar Minyak (BBM), ijin bidan, ijin Operasional Perusahaan Penyedia Jasa Tenaga Kerja/Buruh, ijin Komunikasi Radio Antar Penduduk (IKRAP) dan Izin Penguasaan Perangkat Komunikasi Radio Antar Penduduk (IPPKRAP), retribusi ijin Kartu Pengawasan (KPS), dan ijin pekerjaan umum, telah mendapatkan penghasilan sebesar Rp ,00 atau 611,5%. Peningkatan yang tinggi ini akibat dipusatkannya pemungutan retribusi ke dalam Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BP2T) sehingga terjadi peningkatan signifikan terutama dari penerimaan Izin Pemakaian Aset Milik Pemerintah Aceh pada Balee Tgk Chik Di Tiro dan Gedung Taman Budaya serta ijin Penimbunan dan Penyimpanan Bahan Bakar Minyak (BBM) bagi Pom Bensin seluruh Aceh, yang meningkat secara cukup signifikan. Dari ketiga jenis retribusi diatas terdapat lebih dari 142 jenis retribusi yang tersebar dalam beberapa SKPA dimana proses pengelolaannya terpusatkan di BP2T, jumlah retribusi per bidang dapat diuraikan sebagai berikut : a. Sumber Daya Alam 1. Dinas Kehutanan dan Perkebunan terdiri dari : - Sub bidang kehutanan 18 jenis ijin retribusi - Sub bidang perkebunan 6 jenis ijin retribusi 2. Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan terdapat 8 jenis ijin retribusi 3. Dinas kelautan dan perikanan 3 jenis ijin retribusi 4. Dinas pertambangan dan energi sebanyak 23 jenis ijin retribusi b. Non Sumber Daya Alam 1. Dinas Kebudayaan dan Parawisata, sebanyak 3 jenis retribusi yaitu : - Sub Bidang Kebudayaan 1 jenis ijin pemakaian aset pemerintah untuk balee chik ditiro, gedung taman budaya, taman ratu sultanah safiatuddin, dan gedung BKOW Cut Nyak Dien. - Sub Bidang Parawisata hanya 2 jenis ijin beretribusi. 51

55 2. Dinas Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telekomunikasi sejumlah 37 jenis retribusi, terdiri dari : - Ijin trayek 5 jenis ijin retribusi - Ijin perhubungan 32 jenis ijin retribusi 3. Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk sebanyak 7 jenis ijin 4. Badan Investasi dan Promosi hanya 1 jenis ijin 5. Dinas Bina marga dan Cipta karya memiliki 1 jenis ijin 6. Dinas Kesehatan terdapat 18 jenis ijin berretribusi 7. Dinas Sosial sebanyak 5 jenis ijin retribusi 8. Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi UKM terdiri dari : - Sub bidang Perindustrian sebanyak 4 jenis - Sub bidang Perdagangan sebanyak 4 jenis dan - Sub bidang Koperasi sebanyak 3 jenis 9. Umum terdiri dari beberapa jenis rekomendasi. HASIL PENGELOLAAN KEKAYAAN ACEH YANG DIPISAHKAN DAN HASIL PENYERTAAN MODAL ACEH. Dalam rangka mencapai target perolehan Pendapatan Asli Aceh (PAA) dari hasil pengelolaan kekayaan Aceh yang dipisahkan dan hasil penyertaan modal Aceh khususnya sektor BUMA maka hal yang patut untuk dipertimbangkan adalah sebagai berikut : a) Untuk membangun perekonomian daerah, tolok ukurnya adalah seberapa jauh kuantitas dan kualitas aliran investasi yang masuk di wilayah Aceh ini, sehingga langkah awal yang paling tepat adalah membangun Badan Usaha Milik Aceh (BUMA) untuk menjadi motor penggerak (prime mover) bagi masuknya investasi ke daerah ini. Hal ini dimungkinkan dengan penyertaan modal daerah setiap tahunnya, yang akan dikembangkan sebagai milik publik masyarakat Aceh. b) Setiap unit kerja/skpa yang terkait dengan upaya perolehan bagi hasil investasi Aceh yang harus dipertanggungjawabkan setiap tahunnya harus bertindak menjalankan fungsi sesuai tupoksinya adalah bagaikan suatu unit usaha yang mampu merealisasikan target yang ditetapkan sesuai APBA, sehingga setiap SKPA yang melakukan pengawasan dan pengelolaan atas investasi Aceh harus merubah paradigma birokrasi ambtenaar kepada paradigma entrepreneur, sehingga Gubernur sebagai pengendali Sistem Pelaksanaan Pemerintah Daerah juga bertindak sebagai Presiden Direktur dari suatu Mega Holding Company dari Pemerintah Aceh dengan seluruh stakeholders. Dari beberapa hal diatas maka dapat kita simpulkan, kinerja Komponen PAA yang bersumber dari perusahaan milik Aceh dan hasil pengelolaan keuangan daerah yang dipisahkan tahun anggaran 2010 telah melebihi target penerimaan hingga mencapai 132% atau sebesar Rp ,00 52

56 sebagaimana yang direncanakan sebelumnya dan realisasinya sebagaimana ditampilan pada tabel berikut : Tabel 2.5 Rencana dan Realisasi Laba Perusahaan Milik Aceh Tahun Anggaran 2010 No Uraian Rencana (Rp) Realisasi (Rp) % Bagian Laba atas Penyertaan Modal pada Perusahaan Milik Aceh BPR Mustaqim , , ,68% 2 Bagian Laba atas Penyertaan Modal pada Perusahaan Milik Pemerintah/ BUMN/ PT.Bank Aceh , ,36 130,93% 3 Pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan 0,00% Jumlah , ,36 132,66% Sumber : LKPA 2010 (Unaudited). Dari tabel diatas dapat dijelaskan sebagai berikut : a) PT. Bank Pembangunan Daerah Aceh Bank ini telah dapat merealisasikan penerimaan PAD sebesar Rp ,00 atau 130,93% dari target sebesar Rp ,00 dan ini merupakan kontribusi Bank ini atas suntikan dana segar yang berasal dari APBA senilai lebih dari Rp 500 milyar. b) BPR Mustaqim Sebagai lembaga keuangan bank perkreditan rakyat yang menyalurkan kredit, BPR Mustaqim Sukamakmur kini telah dapat menyetorkan bagian laba sebesar Rp ,00 atau ,6% dari target anggaran. Tingginya persentase realisasi bagi hasil laba perusahaan akibat rendahnya prediksi target penerimaan laba perusahaan tersebut diawal tahun, dengan menggunakan asumsi rendahnya pendapatan dari bagi hasil keuntungan (deviden) Lembaga Keuangan Bank tersebut berdasarkan pendapatan selama periode dari ke 12 BPR tersebut dimana rata-rata dapat diterima bagi hasil laba perusahaan hanya Rp ,00,- sehingga perencanaan Tahun Anggaran 2010 masih menggunakan asumsi tersebut walaupun hal ini kontraindikatif dengan meningkatnya keuntungan perusahaan selama tahun berjalan, akibat meningkatnya efisiensi perusahaan sejak penggabungan (merger) diikuti dengan efektifitas pencapaian laba usaha yang baik, hingga realisasi keuntungan Pemerintah Aceh dari deviden perusahaan mencapai ,68 % dari target. 53

57 Semula Bank Perkreditan Rakyat (BPR) ini terbagi dalam 12 BPR yang mengelola dana segar Pemerintah Aceh senilai lebih dari Rp.13 milyar, tetapi sejak tanggal 15 April 2008 digabung menjadi sebuah BPR berdasarkan keputusan Deputi Gubernur Bank Indonesia Nomor 10/4/KEP.DpG/2008 tentang Pemberian Izin Penggabungan Usaha (merger) PD Bank Perkreditan Rakyat Meuraxa, PD BPR Lhoong, PD BPR Seulimeum, PD BPR Kaway XVI, PD BPR Seunagan, PD BPR Kuala, PD BPR Kuala Batee, PD BPR Kluet Utara, PD BPR Tangan-tangan, PD BPR Lawe Atas, PD BPR Blang Kejeren ke dalam PD. BPR Mustaqim SukaMakmur. Akibat hal tersebut, pengelolaan BPR Mustakim Sukamakmur telah dibawah kendali satu manajemen perusahaan yang menjadikannya lebih efisien dibanding sebelumnya, sehingga perolehan laba pada tahun buku 2009 meningkat sangat tajam mencapai 2,6 milyar lebih dibanding tahun-tahun sebelumnya. Porsi bagi hasil atau deviden tahun buku 2009 diberikan kepada Pemerintah Aceh di Tahun Anggaran 2010 meningkat hingga senilai Rp ,00 atau 50% dari keuntungan perusahaan. Tapi dari beberapa data tersebut kita tidak berpuas diri tetapi tetap berpacu untuk memperoleh penerimaan dari sektor ini guna membiayai belanja Aceh yang semakin lama semakin bertambah besar kebutuhannya. LAIN-LAIN PENDAPATAN ASLI ACEH YANG SAH Penerimaan dari lain-lain PAA yang sah Tahun Anggaran 2010 dapat direalisasikan sebesar Rp ,02 atau 59,76% dari target yang ditetapkan sebesar Rp ,00 adapun rinciannya sebagai berikut: Tabel 2.6 Rencana dan Realisasi Lain-lain PAA yang sah Tahun Anggaran 2010 No Uraian Rencana (Rp) Realisasi (Rp) % Hasil penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan , ,00 81,11% 2 Jasa giro , ,02 25,68% 3 Pendapatan Bunga , ,00 69,75% 5 Pendapatan Denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan 0, ,00 #DIV/0! 6 Pendapatan denda pajak , ,00 333,82% 7 Lain-lain pendapatan asli Aceh , ,00 31,52% Jumlah , ,02 63,91% Sumber : LKPA 2010 (Unaudited) 54

58 1. Hasil penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan Penerimaan ini merupakan hasil akumulasi dari beberapa sumber penerimaan, yaitu penjualan rumah jabatan/dinas, kendaraan roda dua dan empat, penjualan bahan bekas bangunan, penjualan hasil pertanian. Penerimaan senilai Rp ,00 berasal dari hasil penjualan aset daerah tahun ini kurang target, hal ini disebabkan kurangnya penjualan aset Aceh. 2. Jasa giro Dari hasil jasa giro menghasilkan penerimaan sebesar Rp ,02 atau 25,73% dari target Rp ,00 hal ini sangat tergantung dari besarnya dana yang dikelola Pemerintah Aceh. 3. Pendapatan Jasa Bunga Dari pendapatan jasa bunga dana deposito Aceh direalisasikan sebesar Rp ,00 atau 69,75% 4. Pendapatan Denda atas Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan Dari pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan menghasilkan penerimaan sebesar Rp ,- yang memang tidak ditargetkan akan menerima denda keterlambatan, hal ini sangat tergantung dari ketepatan waktu para rekanan dalam pelaksanaan kontrak kerja. 5. Pendapatan denda pajak Hasil pendapatan denda pajak dihasilkan sebesar Rp ,00 atau 333,82% akibat dilakukan razia sehingga dapat dijaring pemasukan dari denda pajak ini. 6. Lain-lain Pendapatan Asli Aceh Lain-lain berasal dari sumbangan pihak ketiga direalisasikan sebesar Rp ,00 atau 31,52% dari target Rp ,00. Hal ini disebabkan sejak tanggal 2 Juli 2009 dihentikan pungutan sumbangan dari Pihak Ketiga atas kontrak kerja pengadaan barang dan jasa dari para rekanan baik yang bersumber dari APBA maupun APBN melalui surat Gubernur Aceh Nomor 970/ Realisasi Pendapatan Dana Lain-lain Pendapatan Asli Aceh yang ada saat ini salah satunya bersumber dari setoran uang operasional untuk petugas SAMSAT DPKKA yang diberikan oleh PT.Asuransi Kerugian Jasa Raharja berdasarkan jumlah per unit Rp 3.000,00 yang disetorkan ke Rekening Kas Daerah sejak tahun 2006 hingga kini dan dimasukkan sebagai bagian dari Pendapatan Asli Aceh. ZAKAT Periode TA.2010 telah dikeluarkan Pergub No 55 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penerimaan dan Pencairan Dana Zakat pada Kas Umum Aceh yang mengatur secara lebih khusus tentang pengelolaan Penerimaan zakat untuk tahun Pada tahun ini Zakat telah direalisir sebesar Rp ,00 atau 781,79% dari target sebesar Rp ,00 55

59 merupakan dampak dari mekanisme pengelolaan zakat, yaitu setelah dipotong oleh Bendahara Pengeluaran SKPA dari wajib zakat, disetor ke Baitul Mal Aceh untuk selanjutnya ditransfer ke Rekening Kas Umum Daerah guna disahkan sebagai Pendapatan Asli Aceh. Realisasi zakat pada tahun ini demikian besar disebabkan adanya penerimaan Zakat dan Infaq tahun ini berikut sisa penyaluran Zakat serta Infaq yang tidak habis di tahuntahun sebelumnya melalui Baitul Mal Aceh maupun BUA ditransfer ke Rekening Kas Umum Daerah pada tahun berjalan, sehingga meningkatkan penerimaan pada Rekening Zakat secara drastis, disamping merupakan dampak dari sosialisasi zakat oleh Baitul Mal Aceh. b. Pendapatan Dana Perimbangan Kelompok Pendapatan yang kedua adalah Dana Perimbangan. Dana Perimbangan pada prinsipnya merupakan pendapatan yang berasal dari Pemerintah Pusat yang kemudian didaerahkan. Dana Perimbangan ini antara lain Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus. 1. Bagi Hasil Pajak adalah pendapatan Pemerintah Pusat yang kemudian dibagihasilkan dengan Pemerintah Daerah, misalnya Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Pajak Penghasilan Orang Pribadi Dalam Negeri(PPh). Serta Dana Bukan Pajak atau Dana Bagi Hasil yang bersumber dari hidrokarbon dan SDA lain. 2. Dana Alokasi Umum (DAU) adalah pendapatan yang merupakan transfer langsung dari Pemerintah Pusat dengan menggunakan formula tertentu, seperti luas wilayah, jumlah penduduk miskin, PAD dan lain-lain. 3. Dana Alokasi Khusus (DAK) diberikan kepada daerah tanpa formula tertentu dan tetapi khusus untuk kebutuhan tertentu, misalnya DAK untuk reboisasi, DAK infrastruktur, kesehatan, pendidikan dan lain-lain. 4. Selain yang telah diterima saat ini pemerintah Aceh menerima Tambahan dana bagi Hasil minyak dan gas bumi berdasarkan UU No 11 Tahun Untuk tahun 2010 komponen Dana Alokasi Khusus diarahkan pada peningkatan kualitas kesehatan dan infrastruktur wilayah baik jalan maupun irigasi. Rincian rencana dan realisasi pendapatan dari dana perimbangan tergambarkan dalam tabel berikut ini. 56

60 Tabel 2.7 Rincian Rencana dan Realisasi Pendapatan Dari Dana Perimbangan Tahun Anggaran 2010 No Uraian Rencana (Rp) Realisasi (Rp) % Dana Bagi Hasil Pajak , ,00 85,02% 2 Dana Bagi Hasil Hidrokarbon & , ,00 224,87% SDA lain 3 Dana Alokasi Umum , ,00 99,94% 4 Dana Alokasi Khusus , ,00 100,00% 5 Dana Tambahan Bagi Hasil Migas , ,00 111,43% Jumlah , ,00 108,97% Sumber : LKPA 2010 (Unaudited) c. Dana Otonomi Khusus Kelompok pendapatan yang ketiga adalah Dana Otonomi Khusus (Otsus) yaitu penerimaan Pemerintah Aceh yang ditujukan untuk membiayai pembangunan terutama pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pengentasan kemiskinan, serta pendanaan pendidikan, sosial dan kesehatan. Dana otonomi khusus ditransfer setiap tahunnya dimulai sejak tahun 2008 hingga 20 tahun kedepan sebagai bagian yang diterima Aceh beserta kabupaten kota dengan pengadministrasiannya pada Pemerintah Aceh serta menurut Qanun no 2 tahun 2008 dilaksanakan oleh Pemerintah Aceh melalui SKPA terkait berdasarkan realisasinya sebesar Rp ,- Sekitar 100% dari yang dianggarkan Rp ,-. Untuk lebih rinci rencana dan realisasi Dana Otonomi Khusus tahun 2010 terlihat pada tabel berikut ini: Tabel 2.8 Rinci Rencana dan Realisasi Dana Otonomi Khusus Tahun 2010 No Uraian Rencana (Rp) Realisasi (Rp) % Dana Otonomi Khusus , ,00 100,00% Jumlah , ,00 100,00% Sumber : LKPA 2010 (Unaudited) d. Lain-lain Pendapatan Aceh yang Sah Kelompok pendapatan yang keempat yaitu Lain-lain pendapatan yang sah dimana dalam struktur APBD merupakan jenis penerimaan yang bersumber dari dana Hibah, Dana Darurat, Dana Penyesuaian, dan Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Lainnya. Untuk tahun 2010 direncanakan sebesar Rp ,00 dengan realisasi masih Rp ,28 atau %. Untuk lebih rinci terlihat pada tabel berikut ini: 57

61 Tabel 2.9 Lain-Lain Pendapatan Aceh yang Sah No Uraian Rencana (Rp) Realisasi (Rp) % pemerintah lainnya 0,00 0,00 0% 2 Dana Darurat dari pemerintah 0,00 0,00 0% 3 Dana Penyesuaian yang ditetapkan oleh pemerintah , ,00 45% 4 bantuan keuangan dari pemerintah daerah lainnya 0,00 0,00 0,00% 5 Dana Alokasi Khusus kurang bayar , ,00 100% 6 Pendapatan lainnya 0, ,07 #DIV/0! Jumlah , ,07 97,61% Sumber : LKPA 2010 (Unaudited) Keberhasilan-keberhasilan dalam merealisasikan pendapatan Aceh tersebut diatas tidak terlepas dari berbagai faktor berikut, antara lain: a) Kebijakan pemerintah, b) Pendapatan masyarakat, c) Fluktuasi harga komoditas andalan, dan kondisi daerah yang relatif aman. Penyelenggaran pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat ditinjau dari sisi pendapatan terhadap kebutuhan belanja daerah masih tertata dengan baik. Kontribusi Pendapatan Asli Aceh (PAA) dan dana perimbangan terhadap Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA) masih sedikit mencukupi dalam membiayai program/kegiatan pembangunan Aceh pada umumnya. 3. Permasalahan dan solusi Dalam penyelenggaraan tata kelola keuangan daerah khususnya pengelolaan pendapatan terdapat permasalahan, yaitu: 1. Potensi Pajak Aceh belum optimal di eksploitasi akibat terbatasnya prasarana dan sarana pelayanan pajak daerah berupa belum jalannya sistem perpajakan secara on-line seluruh Aceh, dasar pemungutan dan tarif retribusi Aceh belum disesuaikan/diubah. Selain itu fokus dalam membahas penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) belum banyak menyentuh/memfokuskan bagaimana mengoptimalkan kemampuan pendapatan yang dapat diperoleh dari seluruh SKPA yang ada untuk dapat lebih mandiri dikemudian hari akan tetapi lebih banyak memprioritaskan pada membahas alokasi belanja. 2. Zakat sebagai sumber PAA masih belum memberikan kontribusi yang signifikan bagi pendapatan dibandingkan potensi yang dimilikinya. 58

62 3. Pelimpahan penyelenggaraan pemerintahan (distribution of power) tidak diikuti dengan pemberian sumber pendanaan (distribution of funding resource) berupa kewenangan dalam perpajakan (tax assignment) yang memadai untuk membiayai pengeluaran pembangunan Aceh. Hal ini direfleksikan dari sumber penerimaan Aceh sebanyak 90% masih berdasarkan transfer pemerintah sedangkan PAD hanya menyumbang sebesar 10%, dimana PAD sebagian besar 64% disumbangkan dari pajak khususnya kendaraan bermotor, yang berarti masih tinggi ketergantungan pada pemerintah untuk membangun daerahnya apalagi dengan terbitnya aturan perundang-undangan terbaru yaitu Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah yang tidak memberikan peluang atau daftar tertutup (closed list) untuk pajak baru. Solusi yang dapat diterapkan : 1. Optimalisasi sumber-sumber pendapatan daerah sesuai potensi dan kewenangan yang didukung sumber daya aparat pengelola pendapatan daerah serta kemampuan masyarakat dengan pendekatan kemitraan, koordinasi, pengawasan, dan penegakan hukum. Serta meregulasikan pengelolaan Zakat Aceh sebagai harta agama yang mengakomodasi tuntutan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 sebagai bagian dari pengelolaan keuangan daerah atau sebagai PAD. 2. Meningkatkan kualitas Sumber Daya Aparatur yang sesuai dengan kebutuhan daerah sehingga harapan akan aparatur yang profesional dapat terwujud. Dan secara bertahap memperbaiki, menyempurnakan dan menjalankan Sistem Aplikasi Samsat Aceh on-line untuk lebih memaksimal keakuratan serta ketepatan ketersediaan data pendapatan Aceh. 3. Meningkatkan dan menggali potensi daerah seperti aset pemerintah serta ijin yang memiliki kemungkinan mendatang pendapatan untuk dapat ditetapkan menjadi retribusi Aceh sehingga dimanfaatkan secara optimal. B. PENGELOLAAN BELANJA DAERAH Menurut Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dokumen yang diperlukan dalam proses penyusunan RAPBA yaitu dokumen Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (RENJA- SKPD), adalah dokumen perencanaan satuan kerja perangkat daerah untuk periode 1 (satu) tahun, untuk kemudian Bappeda mengkoordinasikan penyusunan rancangan RKPD dengan menggunakan Renja-SKPD untuk ditetapkan menjadi Pergub sebagai dasar penyusunan APBA. Dari RKPD disusun KUA dan PPAS yang diuraikan dalam APBA, kemudian SKPA menyusun Rencana Kerja Anggaran (RKA-SKPA) berdasarkan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Aceh (RENJA SKPA) yang menjadi acuan SKPA dalam 59

63 melahirkan Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Aceh (DPA- SKPA) dimana diuraikan program/kegiatan yang terangkum dalam belanja daerah. Belanja daerah sebagaimana disebut diatas dibedakan menjadi Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung. Alokasi ini diarahkan untuk dapat memberikan dukungan yang optimal terhadap kelancaran jalannya pemerintahan dan pelayanan administrasi pada setiap Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) baik pelayanan yang langsung terhadap Masyarakat daerah maupun pelayanan tidak secara langsung yang berdampak kepada publik yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah Untuk menilai prestasi kerja kebijakan pengelolaan belanja daerah dicerminkan dengan meningkatkannya Indeks Perkembangan Manusia (IPM) di Aceh menjadi lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya, untuk tahun 2008 posisi Aceh menduduki peringkat 29 dari 33 provinsi di Indonesia berdasarkan Laporan UNDP tentang Pembangunan Manusia Aceh 2010, sedangkan untuk tahun 2009 posisi IPM Aceh telah naik ke peringkat 17 walaupun masih dibawah IPM nasional berdasarkan laporan Indikator Sosial Ekonomi Provinsi Aceh dan Nasional posisi Desember 2010 yang dikeluarkan oleh BPS Provinsi Aceh. Dalam usaha meningkatkan kualitas Pembangunan Manusia Aceh ini diterapkan pola belanja daerah yang difokuskan pada program pemberdayaan masyarakat yaitu pemenuhan kebutuhan riil masyarakat dan dimaksudkan bukan sekedar berupa partisipasi dalam perencanaan tetapi juga keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan pembangunan lokal, yang salah satu program andalannya adalah penguatan institusi gampong melalui Bantuan Keuangan Pemakmue Gampong (BKPG) dimana pada tahun ini memasuki tahun kedua. Cara ini merupakan salah satu usaha untuk memastikan bahwa kebutuhan kelompok yang kurang beruntung dan terpinggirkan akan tertangani dengan baik dan diharapkan juga akan efektif untuk menjaga keberlangsungan perdamaian Aceh melalui semangat MOU Helsinki. Selain hal tersebut diatas usaha Peningkatan kualitas pembangunan manusia Aceh juga terjadi pada bidang kesehatan melalui program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) sudah berjalan 6 bulan sejak bulan Juni hingga berakhirnya tahun 2010, yang berdampak siginifikan terlihat pada peningkatan jumlah pasien dan akupasi Rumah Sakit Umum Daerah yang tinggi selama akhir Tahun 2010 sehingga hal ini merupakan salah satu cerminan komitmen Pemerintah Aceh untk terus melayani serta berusaha meningkatkan kesehatan masyarakat Aceh. Untuk kebijakan umum pengelolaan belanja dan prioritas program/kegiatan pembangunan Aceh yang tertuang dalam Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Tahun Anggaran 2010 adalah : a. Fokus Pembangunan diarahkan terpusat (fokus) kepada pemenuhan kebutuhan riil masyarakat, dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan terarah dengan memegang kuat komitmen yang telah disepakati. Fokus pembangunan di bidang ekonomi dilakukan berdasarkan prinsip sebagai berikut: 60

64 - Berbasis pada sumber daya ekonomi lokal dengan mempertimbangkan lingkungan setempat (resources and enviromental base) - Berbasis pada karakter, sistem nilai, dan karakter masyarakat (community base) - Berbasis pada peningkatan nilai tambah dan pasar yang berkesinambungan (value added and sustainable market base) b. Berkelanjutan dan tuntas Pembangunan Aceh dilaksanakan berkesinambungan pada jalan dan arah yang benar (on the right track), tidak tambal sulam dalam rangka menyelesaikan persoalan masyarakat secara menyeluruh dan tuntas. c. Sinergis Adanya keterkaitan antar sektor yang saling melengkapi (sinergis), tidak tumpang tindih melalui pendekatan lintas fungsi (cross functional approach). d. Partisipasi Masyarakat Pembangunan dilakukan dengan mengedepankan peran masyarakat secara nyata. Masyarakat harus menjadi pelaku utama pembangunan dan Pemerintah berperan sebagai fasilitator, akselerator dan regulator pembangunan. e. Mensejahterakan Rakyat Hasil pembangunan yang akan dicapai membawa kesejahteraan secara nyata bagi kehidupan masyarakat. Berdasarkan kelima kebijakan pembangunan Aceh tersebut maka disusunlah prioritas pembangunan dalam pengalokasian belanja Aceh untuk tahun 2010, sebagai berikut: 1. Pemberdayaan ekonomi masyarakat, perluasan kesempatan kerja dan penanggulangan kemiskinan 2. Pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur pendukung investasi dan sumber daya energi pendukung investasi 3. Peningkatan mutu pendidikan dan pemerataan kesempatan belajar 4. Peningkatan mutu dan pemerataan pelayanan kesehatan 5. Pembangunan Syariat Islam, sosial dan budaya 6. Penciptaan pemerintahan yang baik dan bersih serta penyehatan birokrasi pemerintahan 7. Penanganan dan pengurangan resiko bencana Dari beberapa fakta diatas, kinerja Belanja Aceh untuk tahun 2010 dapat ditampilkan pada tabel berikut : 61

65 Tabel 1 Rincian Rencana dan Realisasi Anggaran Belanja Tahun Anggaran 2010 No Uraian Rencana (Rp) Realisasi (Rp) % Belanja Tidak Langsung , ,00 89,55% 2 Belanja Langsung , ,00 92,21% Jumlah , ,00 91,34% Sumber : LKPA 2010 (Unaudited) Selama tahun anggaran 2010 terjadi perubahan APBA 2010 yang disebabkan perubahan asumsi belanja sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, dan adanya penambahan penerimaan migas sesuai dengan PMK Nomor 121/PMK.07/2010 tanggal 6 Juli 2010 sehingga tambahan dana ini dialokasikan ke dalam belanja program kegiatan yang belum tertampung sebelumnya serta pada kegiatan yang bersifat mendesak dilaksanakan di akhir tahun, seperti tambahan alokasi dana program Bantuan Keuangan Pemakmue Gampong sebanyak gampong. a. Kebijakan Pengelolaan Belanja Tidak Langsung Belanja tidak langsung adalah belanja utama dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah yang didalamnya meliputi gaji pegawai dan tunjangan pegawai, sehingga belanja tidak langsung merupakan belanja prioritas utama yang dibiayai dari dana yang bersumber dari dana DAU. Berdasarkan pasal 36 ayat (2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah menyatakan bahwa kelompok Belanja Tidak Langsung merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Belanja tidak langsung terdiri dari Belanja Pegawai, Belanja Hibah, Belanja Bantuan Sosial, Belanja Tidak Terduga. Untuk lebih rinci mengenai data rencana dan realisasi belanja tidak langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2 Rincian Rencana dan Realisasi Belanja Tidak Langsung Tahun 2010 No Uraian Rencana (Rp) Realisasi (Rp) % BELANJA TIDAK LANGSUNG 1 Belanja Pegawai , ,00 90,84% 2 Belanja Bunga 0,00 0,00 0,00% 3 Belanja Subsidi , ,00 59,89% 4 Belanja Hibah , ,00 98,73% 5 Belanja Bantuan Sosial , ,00 98,30% 6 Belanja bagi hasil kepada Prov/kab/kota dan desa , ,00 54,16% 7 Belanja Bantuan Keuangan Kepada Prov/ kab/kota dan Desa , ,00 100,00% 8 Belanja Tidak Terduga , ,00 12,76% Jumlah , ,00 89,55% Sumber : LKPA 2010 (Unaudited) 62

66 Pada tahun ini belanja tidak langsung cukup besar porsinya dibanding tahun sebelumnya khususnya pada bantuan hibah dan sosial untuk sosial kemasyarakatan berupa bantuan untuk pembangunan sarana dan prasarana rumah ibadah, bantuan pendidikan kepada anak yatim piatu dan program lainnya yang memberikan bantuan langsung ke masyarakat bersifat kuratif. b. Kebijakan Pengelolaan Belanja Langsung Posisi keuangan untuk Belanja Langsung Pemerintah Aceh selama Tahun Aanggran 2010 sebagai berikut: Tabel 3 Rincian Rencana dan Realisasi Belanja Langsung Tahun 2010 No Uraian Rencana (Rp) Realisasi (Rp) % BELANJA LANGSUNG 1 Belanja Pegawai , ,00 90,48% 2 Belanja Barang dan Jasa , ,00 91,45% 3 Belanja Modal , ,00 92,73% JUMLAH , ,00 92,21% Sumber : LKPA 2010 (Unaudited) Serta untuk mendukung visi RPJM Aceh yaitu Terwujudnya perubahan yang fundamental di Aceh dalam segala sektor kehidupan masyarakat Aceh dan pemerintahan, yang menjunjung tinggi asas transparansi dan akuntabilitas bagi terbentuknya suatu pemerintahan Aceh yang bebas dari praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, sehingga pada tahun 2012 Aceh akan tumbuh menjadi negeri makmur yang berkeadilan dan adil dalam kemakmuran, Pemerintahan Aceh mengimplementasikannya dalam program dan kegiatan dengan ditunjang oleh Anggaran Belanja Aceh, sebesar Rp ,00 dengan tingkat realisasi berdasarkan strukturnya terbagi ke dalam urusan wajib dan pilihan sebesar Rp ,- dalam bentuk belanja langsung. Untuk menunjang pencapaian sasaran yang telah ditetapkan dalam misi pemerintah Aceh, dalam tahun anggaran 2010 telah dialokasikan belanja program dan kegiatan dalam belanja langsung untuk misi berikut : 1. Untuk mendukung pelaksanaan misi pertama: Kepemimpinan yang aspiratif, inovatif, dan intuitif; 2. Untuk mendukung pelaksanaan misi kedua: Aparatur pemerintah yang bersih, kompeten dan berwibawa, bebas dari korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan; 3. Untuk mendukung pelaksanaan misi ketiga : Penegakan hukum; 4. Untuk mendukung pelaksanaan misi keempat : Pengembangan sumberdaya manusia; 5. Untuk mendukung pelaksanaan misi kelima : Perekonomian; 6. Untuk mendukung pelaksanaan misi keenam: Politik 7. Untuk mendukung pelaksanaan misi ketujuh : Sumber daya alam 63

67 8. Untuk mendukung pelaksanaan misi kedelapan : Adat istiadat, kebudayaan, dan olahraga Dari beberapa misi di atas tercermin anggaran Belanja Langsung tahun 2010 dipergunakan untuk membiayai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Aceh yang terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan dengan programnya yang menonjol yaitu Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), pemberian bantuan pembangunan maupun operasional dayah, serta Bantuan Keuangan Peumakmu Gampong (BKPG). Alokasi belanja langsung pada APBA 2010 menurut Urusan Pemerintahan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4 Rencana dan Realisasi Belanja Langsung menurut Urusan Pemerintahan Tahun Anggaran 2010 No Uraian Rencana (Rp) Realisasi (Rp) % URUSAN WAJIB , ,00 92,44% Pendidikan , ,00 92,25% Kesehatan , ,00 93,31% Pekerjaan Umum , ,00 94,52% Perencanaan Pembangunan , ,00 89,39% Perhubungan , ,00 94,95% Lingkungan Hidup , ,00 98,53% Pemberdayaan Perempuan , ,00 83,29% Sosial , ,00 94,07% Ketenagakerjaan , ,00 87,91% Penanaman Modal , ,00 90,68% Kebudayaan , ,00 95,99% Pemuda dan Olah raga , ,00 92,76% Kesatuan Bangsa dan Politik dalam negeri , ,00 98,55% Otonomi daerah, Pemerintahan Umum , ,00 86,01% Ketahanan Pangan , ,00 90,37% Pemberdayaan masyarakat dan desa , ,00 96,52% Kearsipan , ,00 94,17% URUSAN PILIHAN , ,00 90,65% Pertanian , ,00 92,47% Kehutanan , ,00 88,96% Energi dan SD mineral , ,00 88,52% Kelautan dan Perikanan , ,00 89,94% Perindustrian , ,00 92,11% Jumlah , ,00 92,21% Sumber : LKPA 2010 (Unaudited) Berdasarkan tabel urusan Pemerintah Aceh diatas dapat dijelaskan secara singkat alokasi per Satuan Kerja Perangkat Aceh dalam Belanja Langsung yaitu: 64

68 a) Urusan Wajib 1. Dinas Pendidikan dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 91,42%, terdiri dari 11 Program dan 132 kegiatan. 2. Badan Pembinaan Pendidikan Dayah dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 98,58%, terdiri dari 7 Program dan 33 kegiatan. 3. Sekretariat Majelis Pendidikan Daerah dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 95,38%, terdiri dari 8 Program dan 26 kegiatan. 4. Dinas Kesehatan dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 94,89%, terdiri dari 17 Program dan 57 kegiatan. 5. Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 85,85%, terdiri dari 10 Program dan 37 Kegiatan. 6. Rumah Sakit Jiwa dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 92,75%, terdiri dari 6 Program dan 25 Kegiatan. 7. Rumah Sakit Ibu dan Anak dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 89,38%, terdiri dari 6 Program dan 28 Kegiatan. 8. Dinas Bina Marga dan Cipta Karya dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 96,98% terdiri dari 16 Program dan 45 Kegiatan. 9. Dinas Pengairan dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 93,44% terdiri dari 6 Program dan 34 Kegiatan. 10. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 89,39%, yang terdiri dari 14 Program dan 49 Kegiatan. 11. Dinas Dinas Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telematika dengan realisasi sebesar Rp dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 94,84%, terdiri dari 13 Program dan 64 Kegiatan. 12. Badan Pengedalian Dampak Lingkungan dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 98,53% terdiri dari 8 Program dan 31 Kegiatan. 13. Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 83,29% terdiri dari 5 Program dan 23 Kegiatan. 65

69 14. Dinas Sosial dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 94,07%, terdiri dari 9 Program dan 33 Kegiatan. 15. Dinas Tenaga Kerja, dan Mobilitas Penduduk dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 87,91.%, terdiri dari 8 Program dan 48 Kegiatan. 16. Badan Investasi dan Promosi dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 90,68% terdiri dari 6 Program dan 25 Kegiatan. 17. Dinas Kebudayaan dan Parawisata dengan Realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 96,47%, terdiri dari 11 Program dan 49 Kegiatan. 18. Sekretariat Majelis Adat Aceh (MAA) dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 98,96% terdiri dari 5 Program dan 21 Kegiatan. 19. Dinas Pemuda dan Olahraga dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 91,78% terdiri dari 6 Program dan 27 Kegiatan. 20. Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 96,60%, terdiri dari 7 Program dan 28 Kegiatan. 21. Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 99,07%, terdiri dari 3 Program dan 15 Kegiatan. 22. Sekretariat Daerah dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 87,08%, terdiri dari 31 Program dan 119 Kegiatan. 23. Sekretariat DPRA dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 84,25%, terdiri dari 6 Program dan 29 Kegiatan. 24. Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Aceh dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 84,69%, terdiri dari 6 Program dan 42 Kegiatan. 25. Inspektorat Aceh dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 92,67%, terdiri dari 4 Program dan 22 Kegiatan. 26. Kantor Penghubung Pemerintah Aceh dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 95,20%, terdiri dari 6 Program dan 25 Kegiatan. 27. Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 93,03%, terdiri dari 6 Program dan 33 Kegiatan. 66

70 28. Dinas Syariat Islam dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 90,44% terdiri dari 8 Program dan 26 Kegiatan. 29. Sekretariat Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 80,64%, terdiri dari masing-masing 3 Program dan 17 Kegiatan. 30. Sekretariat Baitul Mal dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 94,30%, terdiri dari 5 Program dan 16 Kegiatan. 31. Komisi Independen Pemilihan/ Komisi Pemilihan Umum Daerah/ Panitia Pengawas Pemilihan (KIP/KPUD/Panwas) dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 94,07% terdiri dari 3 Program dan 16 Kegiatan. 32. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 97,49% terdiri dari 4 Program dan 21 Kegiatan. 33. Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 90,37% terdiri dari 7 Program dan 33 Kegiatan. 34. Badan Pemberdayaan Masyarakat dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 96,52% terdiri dari 6 Program dan 28 Kegiatan. 35. Badan Arsip dan Perpustakaan dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 94,16% terdiri dari 8 Program dan 36 Kegiatan. b) Urusan Pilihan 1. Dinas Pertanian Tanaman Pangan, dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 91,80%, terdiri dari 8 Program dan 29 Kegiatan. 2. Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan, dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 93,50%, terdiri dari 7 Program dan 28 Kegiatan. 3. Dinas Kehutanan dan Perkebunan dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 89,03%, terdiri dari 12 Program dan 37 Kegiatan. 4. Dinas Pertambangan dan Energi dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 88,49%, terdiri dari 7 Program dan 36 Kegiatan. 5. Dinas Kelautan dan Perikanan dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp ,00 atau mencapai 90,45%, terdiri dari 10 Program dan 33 Kegiatan. 67

71 6. Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah dengan realisasi sebesar Rp ,00 dari target sebesar Rp atau mencapai 92,16%, terdiri dari 15 Program dan 39 Kegiatan. Untuk penjelasan rinci tentang 344 program serta 1495 kegiatan yang tersebar pada seluruh SKPA di atas berikut permasalahan yang dihadapi dan solusi yang ditempuh dapat dilihat pada Bab IV dalam buku ini. 3. Permasalahan dan Solusi Permasalahan yang sering dialami selama tahun 2010 dalam pengelolaan belanja daerah, secara lengkap diuraikan sebagai berikut : Permasalahan : Proses Pembahasan Anggaran APBA pertengahan dan pengesahannya akhir triwulan 1 dan Pelaksanaan Aktifasi SKPA pada Triwulan 2. Serta rendahnya kualitas pelayanan publik disebabkan sumber daya aparatur yang masih belum memahami arti selaku pelayan publik (public servant) selain itu pola pikir (mindset) realisasi APBA disusun bukan berdasarkan prestasi kerja tetapi realisasi keuangan. Evaluasi kinerja pengelolaan keuangan atas dasar prestasi kerja yaitu dengan dana sedikit dapat dicapai tujuan yang telah direncanakan atau dapat dipahami bahwa pengelolaan keuangan berdasarkan realisasi manfaatnya sehingga tercipta efisiensi, sedangkan pemahaman selama ini hanya berdasarkan jumlah realisasi keuangannya tertinggi maka dinilai kinerjanya telah cukup baik. Masih sedikitnya ketentuan lokal/daerah yang mengatur keseluruhan pengelolaan keuangan Aceh yang terdiri penganggaran, penatausahaan, akuntansi, aset, audit pengelolaan investasi dan seterusnya, yang secara khusus mengakomodasi kebutuhan lokal/ daerah sehingga akan mengurangi tumpang tindih pemahaman dalam melakukan pertanggungjawaban sesuai dengan aturan yang berlaku, terutama dalam pengelolaan dana otonomi khusus dimana kuasa pengguna anggarannya berasal dari kabupaten/kota yang belum memahami tata kelola keuangan yang berlaku di Pemerintah Aceh. Tuntutan kebutuhan anggaran belanja yang relatif besar, tetapi belum dapat diikuti dengan peningkatan pendapatan Aceh secara signifikan khususnya dari sektor bagi hasil migas sehingga berdampak pada belanja Aceh yang semakin terbatas sumbernya sehingga menimbulkan celah fiskal (fiscal gap) yang cukup besar bila dibandingkan antara kebutuhan fiskal (fiscal need) yang cukup besar dibandingkan kapasitas fiskal (fiscal capacity) kecil yang dimiliki oleh Aceh atas tax assignment yang ada. Sejak berlakunya otonomi daerah porsi dana yang menjadi tanggung jawab daerah melalui APBA meningkat tajam tetapi perubahan peta pengelolaan fiskal ini tidak disertai fleksibilitas yang cukup tinggi, atau bahkan diskresi penuh dalam pemanfaatan sumber-sumber utama pembiayaan tersebut yang terjadi khususnya pada Dana Alokasi Khusus (DAK) dengan keluarnya 68

72 Permenkeu No 126/PMK.07/2010 yang mengharuskan sisa realisasi per bidangbidang TA.2010 harus digunakan pada bidang yang sama ditahun berikutnya, serta banyak dana diplotkan dibawah control pemerintah terutama pada dana Dekonsentrasi (Dekon) dan Tugas Pembantuan (TP). Besarnya alokasi provinsi untuk belanja modal dengan data kurang lengkap, akurat dan hilang akibat gempa & tsunami, serta strategi pengadaan aset dan pemeliharaannya belum jelas terutama dari dana otonomi khusus baik provinsi maupun kabupaten/kota sehingga dikhawatirkan aset tersebut akan menjadi tidak efisien. Disamping itu masih adanya porsi belanja bantuan yang cukup besar pada belanja tidak langsung yang tentunya menguras kemampuan Aceh untuk membiayai program/kegiatan belanja langsung, hal ini disebabkan oleh masyarakat kita yang masih terlalu mengharapkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari Pemerintah Aceh yang seharusnya dapat kita salurkan melalui program/kegiatan yang menyentuh peningkatan pertumbuhan ekonomi Aceh secara langsung. Solusi : Meningkatkan sistem koordinasi dan informasi pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah dengan instansi terkait agar tercipta sinergi positif sesuai ketentuan serta saling memberikan dukungan data yang cepat, tepat dan akurat dalam pengelolaan penganggaran, penatausahaan dan pelaporan agar dapat disajikan tepat waktu. Untuk terus melakukan sosialisasi pada seluruh pemangku kepentingan (Stakeholder) yang berkepentingan agar masing-masing memahami peran dan fungsi masing-masing serta secara terus menerus mengikuti dan menyelenggarakan Diklat Keuangan Daerah guna peningkatan kinerja pengelolaan yang lebih baik. Dengan terus melakukan koordinasi dengan pemerintah terkait dengan lifting migas. Serta untuk mengatasi terbatasnya anggaran belanja yang tersedia maka Pemerintah Aceh perlu untuk mengalokasikan belanja pada pelayanan kebutuhan yang minimal dan mendesak sesuai dengan MTEF. Akibat hal tersebut perlu dilakukan pelabelan belanja (earmarking) berdasarkan sumber dananya sehingga untuk mengatasi kesulitan dalam penelusuran (tracking) realisasi belanja berdasarkan asal sumberdana penerimaan Aceh sehingga perlu untuk disusun ketentuan yang mengatur sisem earmarking dalam pengelolaan belanja dan pendapatan Aceh. Perlu dikoordinasikan serta disusun suatu prosedur operasi standar pengelolaan aset secara jelas termasuk sistem yang digunakan untuk mengklarifikasi, menetapkan nilai aset serta prosedur penghapusannya. Melakukan revitalisasi dan evaluasi atas belanja bantuan yang dalam ketentuannya tidak dapat diberikan berulang setiap tahunnya untuk dapat di sesuaikan sesuai prioritas kebutuhan Aceh. 69

73 C. KEBIJAKAN UMUM PEMBIAYAAN ACEH Pembiayaan hakekatnya merupakan pengeluaran yang diharapkan dapat dikembalikan di lain waktu, begitu pula halnya dengan penerimaan yang diterima sekarang maka harus dikembalikan lagi diwaktu yang akan datang. Untuk kebijakan umum pembiayaan Aceh tahun 2010 diarahkan untuk menutupi defisit dan memanfaatkan surplus, yaitu selisih antara anggaran pendapatan dan belanja. Pembiayaan dibagi atas penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan, pengaturan tentang kebijakan pembiayaan dalam APBA adalah: 1. Alokasi Anggaran Pembiayaan ditetapkan melalui suatu proses perencanaan, monitoring, evaluasi dan analisa terkait dengan kepastian jaminan tentang sumber dan besarnya pendapatan dan belanja daerah. 2. Sisa lebih perhitungan Tahun Anggaran 2009 diarahkan untuk membiayai program/kegiatan yang dilanjutkan pada Tahun Anggaran Pembiayaan penyertaan modal harus diimbangi dengan penerimaan pembiayaan dari pos penyertaan modal tersebut. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan Pasal 174 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 apabila APBD diperkirakan surplus maka penggunaannya dapat diarahkan untuk pengeluaran pembiayaan yang mencakup : Pembayaran cicilan pokok hutang yang jatuh tempo; Penyertaan modal (investasi daerah); dan Transfer ke rekening dana cadangan. Namun bila APBD diperkirakan defisit akibat adanya kebutuhan pembangunan Aceh yang semakin meningkat. penggunaannya dapat didanai dari penerimaan pembiayaan yang terdiri dari : Sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya; Transfer dari dana cadangan; Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan ;dan Pinjaman daerah. Realisasi penerimaan pembiayaan Tahun Anggaran 2010 berasal dari sisa lebih perhitungan tahun anggaran sebelumnya (Silpa) tahun 2009 sebesar Rp ,67,-. Untuk rinciannya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 1 Rencana dan Realisasi Pembiayaan Aceh Tahun 2010 No Uraian Rencana (Rp) Realisasi (Rp) % PENERIMAAN PEMBIAYAAN ACEH Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya (silpa) , ,67 100% 2 PENGELUARAN PEMBIAYAAN ACEH Penyertaan Modal (investasi) Pemerintah Aceh Pembayaran Kegiatan Lanjutan Jumlah , ,67 Sumber : LKPA 2010 (Unaudited) 70

74 Permasalahan dan solusi Permasalahan : Sampai saat ini kapasitas sumber pembiayaan Aceh sangat terbatas hanya bersumber dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya (SiLPA), sedangkan sumber lain belum dapat dilaksanakan seperti pinjaman daerah, pencairan dana cadangan, penjualan kekayaan daerah oleh kendala persyaratan dalam peraturan perundang-undangan dari objek-objek tersebut yang masih ketat (rigid) khususnya dalam mencari sumber pembiayaan Aceh khususnya pada pinjaman dalam dan luar negeri. Solusi : Menciptakan sumber-sumber pembiayaan yang telah ditentukan dalam ketentuan perundang-undangan dengan mengakomodasi seluruh persyaratan yang ditentukan serta adanya komitmen bersama antara eksekutif dan legislatif sebagai partner dalam membangun Aceh sehingga lebih sejahtera dimasa yang akan datang. 71

75 BAB IV PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH A. URUSAN WAJIB YANG DILAKSANAKAN Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 3 tahun 2007, bahwa ruang lingkup LKPJ mencakup penyelenggaraan urusan desentralisasi, tugas pembantuan dan tugas umum pemerintahan. Penyelenggaraan urusan desentralisasi memuat penyelenggaraan urusan wajib dan urusan pilihan, namun sesuai Undang-Undang Nomor 11 tahun 2006 ada urusan wajib lainnya yang menjadi kewenangan Pemerintah Aceh yaitu pelaksanaan keistimewaan Aceh. Berdasarkan kedua ketentuan tersebut, urusan wajib yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Aceh pada tahun 2010 meliputi 26 bidang urusan yaitu: Pendidikan, Kesehatan, Lingkungan Hidup, Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perencanaan Pembangunan, Perumahan, Kepemudaan dan Olahraga, Penanaman Modal, Koperasi dan UKM, Kependudukan dan Catatan Sipil, Ketenagakerjaan, Ketahanan Pangan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera, Perhubungan, Komunikasi dan Informatika, Pertanahan, Kesatuan Bangsa dan Politik dalam Negeri, Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian, dan Persandian, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Sosial, Kebudayaan, Statistik, Kearsipan, Perpustakaan. 1. URUSAN PENDIDIKAN Urusan pendidikan dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan, Badan Pembinaan Pendidikan Dayah dan Majelis Pendidikan Daerah (MPD). Dinas Pendidikan Urusan pendidikan yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan adalah: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumberdaya air dan listrik; c. Penyediaan jasa kebersihan kantor; d. Penyediaan alat tulis kantor; e. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; f. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan gedung kantor; g. Penyediaan peralatan dan perlengkapan gedung kantor; h. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah; i. Penyediaan jasa hari-hari besar. 72

76 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Kantor Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan gedung kantor; b. Pengadaan meubeleur; c. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor; d. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas; e. Rehab sedang/ringan rumah, gedung kantor. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pendidikan dan pelatihan formal; b. Pembinaan mental dan fisik aparatur; c. Peningkatan kualitas pelayanan publik. 4. Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan gedung sekolah; b. Penambahan ruang kelas sekolah; c. Pembangunan ruang serba guna/aula; d. Pembangunan taman, lapangan upacara dan fasilitas parkir; e. Pembangunan instalasi listrik sekolah dan perlengkapannya; f. Pembangunan sarana air bersih dan sanitasi; g. Pengadaan alat praktik seragam siswa; h. Pengadaan mebeluer sekolah; i. Pengadaan perlengkapan sekolah; j. Rehabilitasi sedang/berat bangunan sekolah; k. Pelatihan kompetensi tenaga pendidik; l. Pengembangan pendidikan anak usia dini; m. Penyeleggaraan pendidikan anak usia dini; n. Publikasi dan sosialisasi pendidikan anak usia dini; o. Pembangunan pagar sekolah. 5. Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun (Wajar 9 Tahun) Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan gedung sekolah; b. Pembangunan rumah dinas kepala sekolah, guru, penjaga sekolah; c. Penambahan ruang kelas sekolah; d. Penambahan ruang guru sekolah; e. Pembangunan laboratorium dan ruang praktikum sekolah; f. Pembangunan ruang serba guna/aula; g. Pembangunan taman, lapangan upacara dan fasilitas parkir; h. Pembangunan ruang unit kesehatan sekolah; i. Pembangunan ruang ibadah; j. Pembangunan perpustakaan sekolah; k. Pembangunan sarana air bersih dan sanitary; 73

77 l. Pengadaan buku-buku dan alat tulis siswa; m. Pengadaan pakaian seragam sekolah; n. Pengadaan alat praktik dan peraga siswa; o. Pengadaan mobeluer sekolah; p. Pengadaan perlengkapan sekolah; q. Rehabilitasi sedang/berat bangunan sekolah; r. Rehabilitasi sedang/berat asrama siswa; s. Rehabilitasi sedang/berat ruang kelas sekolah; t. Rehabilitasi sedang/berat ruang guru sekolah; u. Rehabilitasi sedang/berat ruang laboratorium dan ruang praktikum sekolah; v. Pelatihan kompetensi tenaga pendidik; w. Pelatihan kompetensi siswa berprestasi; x. Penyediaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) jenjang SD/MI/SDLB dan SMP/MTs serta pesantren; y. Penyediaan biaya operasional madrasah; z. Penyediaan buku pelajaran untuk SD/MI/SDLB dan SMP/MTS; aa. Penyelenggaraan paket A setara SD; bb. Penyelenggaraan paket B setara SMP; cc. Pembinaan kelembagaan sekolah dan manajemen sekolah dengan penerapan manajemen berbasis sekolah; dd. Pembinaan minat, bakat dan kreativitas siswa; ee. Penyediaan beasiswa transisi; ff. Penyelenggaraan akreditasi sekolah dasar; gg. Pengembangan kurikulum dan pembinaan kesiswaan SD/MI; hh. Pembinaan pendidikan berwawasan keunggulan SD/MI; ii. Pelatihan guru Bahasa Inggris bagi calon guru SD/MI se propinsi; jj. Pembangunan pagar sekolah. 6. Program Pendidikan Menengah Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan gedung sekolah; b. Pembangunan rumah dinas kepala sekolah, guru, penjaga sekolah; c. Penambahan ruang kelas sekolah; d. Penambahan ruang guru sekolah; e. Pembangunan laboratorium dan ruang praktikum sekolah (laboratorium bahasa, komputer, IPA, IPS dan lain-lain); f. Pembangunan sarana dan prasarana olahraga; g. Pembangunan ruang serba guna/aula; h. Pembangunan taman, lapangan upacara dan fasilitas parkir; i. Pembangunan ruang ibadah; j. Pembangunan perpustakaan sekolah; k. Pembangunan sarana air bersih dan sanitary; l. Pengadaan buku-buku dan alat tulis siswa; m. Pengadaan meubeluer sekolah; 74

78 n. Pengadaan perlengkapan sekolah; o. Pengadaan alat rumah tangga sekolah; p. Pemeliharaan rutin/berkala alak praktik dan peraga siswa; q. Rehabilitasi sedang/berat bangunan sekolah; r. Rehabilitasi sedang/berat ruang kelas sekolah; s. Rehabilitasi sedang/berat laboratorium dan praktikum sekolah; t. Rehabilitasi sedang/berat ruang serba guna/aula; u. Rehabilitasi sedang/berat taman, lapangan upacara dan fasilitas parkir; v. Rehabilitasi sedang/berat perpustakaan sekolah; w. Pelatihan kompetensi tenaga pendidik; x. Pelatihan penyusunan kurikulum; y. Pembinaan forum masyarakat peduli pendidikan; z. Penyediaan Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM) aa. Penyelenggaraan paket C setara SMU; bb. Pembinaan kelembagaan sekolah dan manajemen sekolah dengan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) cc. Pengembangan materi belajar mengajar dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi; dd. Peningkatan kerjasama dengan dunia usaha dan dunia industri; ee. Penyebarluasan dan sosialisasi berbagai informasi pendidikan menengah; ff. Penyelenggaraan akreditasi sekolah menengah; gg. Lomba Kompetensi Siswa (LKS) dan OSN siswa SMA Provinsi NAD; hh. Pembinaan dan peningkatan kapasitas siswa SMA/MA berwawasan keunggulan; ii. Pembangunan pagar sekolah. 7. Program Pendidikan Non Formal Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pemberdayaan tenaga pendidik non formal; b. Pemberian bantuan operasional pendidikan non formal; c. Pembinaan pendidikan kursus dan kelembagaan; d. Pengembangan pendidikan keaksaraan; e. Pengembangan pendidikan kecakapan hidup; f. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan non formal; g. Pengembangan kurikulum, bahan ajar dan model pembelajaran pendidikan non formal; h. Publikasi dan sosialisasi pendidikan non formal. 8. Program Pendidikan Luar Biasa Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan gedung sekolah; b. Pengadaan alat praktek dan peraga siswa; c. Pengembangan kreativitas guru TK/SLB; d. Penyediaan biaya operasional SDLB/SMPLB/SMALB dan sekolah 75

79 penyelenggara pendidikan inklusi. 9. Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pelaksanaan uji kompetensi bagi pendidik dan tenaga kependidikan; b. Pelatihan bagi pendidik untuk memenuhi standar kompetensi; c. Pembinaan Kelompok Kerja Guru (KKG); d. Pendidikan lanjutan bagi pendidik untuk memenuhi standar kualifikasi; e. Pengembangan mutu dan kualitas program pendidikan dan pelatihan bagi pendidik dan tenaga kependidikan; f. Pengembangan sistem pendataan dan pemetaan pendidik dan tenaga kependidikan; g. Pengembangan sistem penghargaan dan perlindungan terhadap profesi pendidik; h. Penyediaan jasa pendidik dan tenaga kependidikan non PNS. 10. Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan Kegiatan berupa pembangunan gedung perpustakaan. 11. Program Manajemen Pelayanan Pendidikan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Sosialisasi dan advokasi berbagai Peraturan Pemerintah di bidang pendidikan; b. Penerapan sistem dan informasi manajemen pendidikan; c. Penyelenggaraan pelatihan, seminar dan lokakarya serta diskusi ilmiah tentang berbagai isu pendidikan; d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan; e. Pembinaan UKS SD/MI, SMP/MTs dan SMA/SMK/MA; f. Bimbingan profesional guru dan siswa kelas III SLTP/SLTA khusus mata pelajaran UNAS; g. Supervisi pengawas satuan pendidikan dan operasional APSI. B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan gedung kantor, penyediaan peralatan dan perlengkapan gedung kantor, rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah, penyediaan jasa hari-hari besar. Program ini telah dilaksanakan dan merupakan program rutin kantor. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (91,01%). 76

80 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah Pembangunan gedung kantor, Pengadaan meubeleur, Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor, Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas, Rehab sedang/ringan rumah, gedung kantor. Program ini telah dilaksanakan dan merupakan program rutin kantor. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,26%). 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Aparatur Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah Pendidikan dan pelatihan formal, Pembinaan mental dan fisik aparatur, Peningkatan kualitas pelayanan publik. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (87,12%). 4. Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Program ini bertujuan untuk memperluas jangkauan dan kesamaan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi anak usia 0-6 tahun sebagai wahana awal dalam mengembangkan kesiapan anak memasuki jenjang pendidikan dasar melalui rangkaian kegiatan yang menyentuh bidang kesehatan, gizi, dan perkembangan psikososial yang diwarnai penanaman nilai-nilai dasar ajaran Islam. Secara lebih spesifik program ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan pendidikan melalui jalur pendidikan formal seperti TK/RA dan bentuk lain yang sederajat, serta jalur pendidikan nonformal seperti Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA) atau bentuk lain yang sederajat, atau jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan. Hasil yang dicapai melalui program ini adalah terbangunnya (termasuk paket lanjutan 2009) 139 gedung TK/PAUD, 57 ruang kelas pada 33 TK, 1 buah ruang serbaguna/aula, 9 paket pembangunan taman/lapangan upacara/fasilitas parkir, 1 paket jaringan listrik pada 1 TK, sarana air bersih/sanitasi pada 5 TK, dan pagar sekolah sebanyak 36 TK. Untuk meningkatkan mutu telah dilakukan pengadaan alat praktek pada 40 TK, meubeleur TK sebanyak 100 paket, perlengkapan sekolah lainnya berupa komputer/pc dan wireless sebanyak 8 paket (untuk 4 TK), rehabilitasi gedung sebanyak 3 TK, penyaluran biaya operasional pengembangan PAUD sebanyak 225 lembaga, penyelenggaraan PAUD berupa perlombaan PAUD di Aceh Tenggara, publikasi/sosialisasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Aceh Timur, dan pelatihan pendidik PAUD diikuti 75 orang di Bireuen. Pencapaian APK/GER Pendidikan Anak Usia Dini bagi anak usia 0-6 tahun yang berada di bawah binaan lembaga PAUD, POSPAUD, TPQ, kelompok bermain, TK/RA atau sederajat pada tahun 2009 telah 77

81 mencapai 83,02% (peringkat ke-3 secara nasional), sedangkan capaian APK/GER Pendidikan Anak Usia Dini bagi anak usia 4-6 tahun yang berada di TK/RA mencapai 23,34%. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya PAUD terus meningkat yang ditandai dengan semakin tingginya permintaan masyarakat terhadap pembukaan TK baru dan pengajuan proposal pembukaan lembaga PAUD non formal. Salah satu indikator peningkatan partisipasi masyarakat untuk mendukung program ini tergambar dari kesediaan mereka menyediakan lahan untuk pembangunan TK baru di berbagai tempat. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (88,91%). 5. Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun (Wajar Dikdas 9 Tahun) Program ini bertujuan untuk memperluas jangkauan dan kesamaan kesempatan memperoleh layanan pendidikan yang bermutu bagi anak usia 7-15 tahun pada jenjang pendidikan dasar baik jalur formal maupun non formal sebagai landasan bagi peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan menengah. Program ini meliputi SD, MI, paket A setara SD atau bentuk lain yang sederajat dan SMP, MTs, paket B setara SMP, atau bentuk yang sederajat dalam rangka memenuhi hak setiap warga negara untuk menyelesaikan pendidikan dasar sembilan tahun, terutama bagi kelompok kurang beruntung termasuk pemukim di daerah terpencil dan terpencar, masyarakat miskin, dan anak berkebutuhan khusus. Hasil yang dicapai melalui program ini adalah terbangunnya sarana dan prasarana SD terdiri dari pembangunan baru dan paket lanjutan 2009 sebanyak 11 unit gedung sekolah, 30 unit rumah dinas/mess, 242 ruang kelas baru pada 81 SD/MI, pagar lingkungan pada 95 SD, 12 unit kantor/ruang guru SD/MI, 1 paket taman/lapangan upacara/fasilitas parkir, 1 unit kantin sekolah, 1 unit ruang UKS, 1 unit ruang ibadah/mushalla, 1 unit perpustakaan, sarana air bersih/sanitary pada 10 SD/MI, dan rehabilitasi 10 sekolah. Untuk mendukung peningkatan mutu telah disalurkan buku pelajaran sebanyak eksemplar dan 50 paket untuk buku perpustakaan SD, seragam sekolah bagi anak yatim di Pidie Jaya bagi siswa, alat praktek dan peraga siswa berupa 86 unit komputer dan 5 paket alat praktek sains, meubeleur untuk 322 sekolah, dan perlengkapan sekolah berupa komputer pendukung administrasi kantor sebanyak 6 unit, biaya operasional gugus SD/MI di Singkil dan Aceh Tenggara serta biaya operasional untuk 26 kelompok paket A setara SD. Selain itu telah dilaksanakan pelatihan manajemen SD sebanyak 10 Kepala Sekolah dan berbagai lomba kesiswaan tingkat SD. 78

82 Hasil yang dicapai untuk jenjang SMP adalah terbangunnya sarana dan prasarana terdiri dari pembangunan baru dan lanjutan sebanyak 12 unit gedung sekolah, 7 unit rumah dinas/mess, 2 unit asrama, 132 ruang kelas baru pada 44 SMP/MTs, pagar lingkungan pada 54 sekolah, 60 unit laboratorium, 4 unit aula/serbaguna, 9 unit kantor/ruang guru, 1 buah taman/lapangan upacara/fasilitas parkir, 8 unit ruang ibadah/mushalla, 8 unit perpustakaan, sarana air bersih/sanitary pada 15 SMP dan rehabilitasi sebanyak 19 gedung sekolah. Untuk mendukung peningkatan mutu telah disalurkan buku pelajaran sebanyak eksemplar dan 4 paket buku perpustakaan SMP, 60 unit komputer, 38 paket alat peraga sains/alat laboratorium IPA, 1 unit alat drumband, 225 paket meubeleur untuk 225 sekolah, dan 82 unit komputer pendukung administrasi kantor sekolah. Selain itu telah dilaksanakan akreditasi 42 TK/RA, 370 SD/MI dan 183 SMP/MTs, pelatihan TIK untuk 138 Kasek/Guru SMP, penyaluran biaya operasional Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di Singkil dan SMP Unggul di Sigli, biaya operasional 120 kelompok paket B, biaya operasional Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di Gayo Lues dan Aceh Tenggara, pelatihan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk para guru di Pidie Jaya, pelatihan guru berwawasan keunggulan dan guru Bahasa Inggris SD/MI, serta berbagai lomba kesiswaan. Untuk mempertahankan akses jenjang pendidikan dasar dan menengah, Pemerintah Aceh telah mendistribusikan beasiswa bagi anak yatim/piatu/yatim piatu meliputi anak rata-rata Rp ,- per anak/tahun. Pemerintah Aceh berupaya mempertahankan kebijakan ini karena cukup efektif menekan angka putus sekolah akibat tingginya angka kemiskinan. Pada tahun pelajaran 2009/2010 peserta UASBN SD/MI mencapai kelulusan 99,92%. sedangkan peserta ujian nasional SMP/MTS mencapai 98,93%. Dari sisi peringkat, kelulusan SD/MI berada pada urutan 5 nasional sedangkan SMP/MTS pada urutan 7 nasional. Di tingkat nasional tercatat beberapa prestasi yang dicapai siswa dalam Olympiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) yaitu Juara III Kejuaran Karate atas nama Teo Paskah Aprianta (SMPN 1 Sabang) dan Juara III Lomba Menyanyi Solo atas nama Farly Andareshi (SMP YAPENA Lhokseumawe). Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,81%). 6. Program Pendidikan Menengah Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemerataan dan perluasan pelayanan pendidikan menengah yang bermutu dan terjangkau, baik melalui jalur pendidikan formal mencakup SMA, MA, SMK atau bentuk lain yang sederajat, maupun jalur pendidikan non formal seperti paket C 79

83 setara SMA. Program ini didorong untuk mengantisipasi meningkatnya lulusan SMP/MTs dan sederajat sebagai dampak keberhasilan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun, serta penguatan pendidikan vokasional baik melalui pendidikan menengah umum maupun kejuruan dan non formal, guna menyiapkan lulusan yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi memasuki dunia kerja. Hasil yang dicapai melalui program ini adalah terbangunnya sarana dan prasarana SMA/MA/SMK yang terdiri pembangunan baru dan lanjutan 22 gedung sekolah, lanjutan 4 unit gedung PPMG, ruang kelas baru pada 85 sekolah, pagar lingkungan pada 60 sekolah, 19 ruang guru/kantor, 15 unit rumah dinas, 83 unit laboratorium/ruang praktikum, taman/lapangan upacara/fasilitas parkir 21 paket/sekolah, 5 unit ruang serbaguna/aula, 19 unit ruang ibadah/mushalla, 14 unit perpustakaan, 3 unit asrama, dan sarana air bersih/sanitary pada 14 sekolah. Untuk mendukung peningkatan mutu telah disalurkan eksemplar buku-buku pelajaran, 205 paket alat praktek, 198 paket meubeleur sekolah, 42 paket perlengkapan sekolah, 2 paket alat rumah tangga sekolah, 2 paket/45 unit pemeliharaan rutin (alat bengkel) SMK di Aceh Besar, serta rehabilitasi bangunan 35 gedung sekolah. Di samping itu juga telah dilaksanakan kegiatan pelatihan kompetensi tenaga pendidik bidang TIK bagi 138 kepala sekolah/guru SMA se Aceh serta peningkatan mutu guru di Bireuen sebanyak 160 guru, pelatihan penyusunan kurikulum KTSP bagi 100 orang guru, pengembangan materi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di provinsi dan pelatihan Information Communication Technology (ICT) bagi 120 guru di Gayo Lues, pengadaan alat bantu Lembar Jawaban Ujian Nasional (LJUN) bagi siswa SD/MI, siswa SMP/MTs/SMA/MA dan SMK, penyediaan Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM) SMK Penerbangan Aceh, SMA Modal Bangsa, SMA Mandiri di Pidie dan sejumlah SMA Unggul lainnya di Aceh, biaya operasional paket C sebanyak 128 kelompok, operasional Mobile Training Unit sebanyak 3 unit, debat Bahasa Inggris di kalangan siswa, Rakor Kepala SMA/SMK, Lomba Kompetensi Siswa (LKS) dan OSN diikuti siswa, serta pembinaan kapasitas siswa berwawasan keunggulan melalui kelas akselerasi sebanyak 10 kelas. Dalam rangka penguatan manajemen dilakukan pembinaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Rakor Kepala SMA/SMK se Aceh dan untuk standarisasi pendidikan telah dilakukan akreditasi sekolah dengan capaian terakreditasinya 48 SMA/MA dan 26 SMK, terlatihnya 46 orang tenaga pengolah data hasil akreditasi menggunakan sistem aplikasi SIA-SM dan 120 orang tenaga asesor akreditasi sekolah dari 23 kabupaten/kota. Hasil-hasil yang dicapai siswa pendidikan menengah dalam lomba tingkat nasional O2SN adalah medali emas untuk karate (Kumite) diraih Danil 80

84 Fitriama (SMAN 9 Banda Aceh) dan medali perak untuk karate (Kata) diraih Siti Fakhrunisah (SMAN 3 Banda Aceh), sedangkan untuk Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) memperoleh medali perunggu untuk baca puisi atas nama Ristia Janita Putri (SMA Modal Bangsa) dan medali perunggu untuk mata pelajaran ekonomi atas nama Salahuddin Al Ayubi (SMA Fatih School Banda Aceh). Untuk Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK di tingkat nasional, tercatat Mahfud Anas dari SMKN 2 Banda Aceh meraih juara III bidang Listrik Instalasi, Dian Permana Syahputra dari SMKN 2 Langsa meraih juara harapan I bidang plumbing, dan tursina meraih juara harapan II bidang cooking. Khusus lomba debat Bahasa Inggris, tercatat Nudzran Yusra sebagai peraih juara II nasional. Untuk lomba tingkat Internasional, medali emas International Environmental Project Olimpiade-Euroasia ke IV di Azerbaijan diraih bersama oleh Amalul Auni dan T.M. Farhan Dermawan dari SMA Fatih Billingual School, Banda Aceh. Adapun Medali Perak ISPO (International Science Project Olimpiade) bidang kimia di Belanda diraih bersama oleh Cut Nya Savira dan Aisyah Minzikrina dari SMA Fatih Billingual School, Banda Aceh dan medali emas ISPO (International Science Project Olimpiade) bidang matematika di Georgia diraih bersama oleh pasangan Ulfa Mazaya dan Meutia Rizki Innayah juga dari SMA Fatih Billingual School, Banda Aceh. Khusus untuk lomba kreativitas siswa SMA Salam Nusantara yang diwakili tim Aceh dari sejumlah SMA di Banda Aceh dan Aceh Besar, tim Aceh meraih medali emas di tingkat nasional. Pada tahun pelajaran 2009/2010, kelulusan peserta Ujian Nasional SMA/MA jurusan IPA mencapai 99,49%, SMA/MA jurusan IPS mencapai 97,97%, SMA/MA jurusan bahasa mencapai 96,67% dan SMK mencapai 96,56 %. Secara nasional, peringkat kelulusan SMA/MA IPA pada urutan 12, SMA/MA IPS pada urutan 16, SMA/MA jurusan bahasa pada urutan 24, MA keagamaan pada urutan 12 dan SMK pada urutan 20 nasional. Meskipun secara umum mutu pendidikan Aceh telah menunjukkan peningkatan yang ditandai dengan perbaikan nilai Ujian Nasional dan dalam berbagai lomba di tingkat nasional dan internasional sebagian anak-anak Aceh telah meraih prestasi menggembirakan, namun hal ini belum merupakan gambaran menyeluruh dari prestasi anak didik di Aceh. Kesenjangan mutu antar sekolah dan antar daerah masih tinggi, baik disebabkan oleh faktor kurangnya guru mata pelajaran tertentu, distribusi guru yang tidak merata, rendahnya kualifikasi guru, keterbatasan sarana dan prasarana, maupun kemampuan manajerial kepala sekolah yang relatif lemah. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,14%). 81

85 7. Program Pendidikan Non Formal Program ini bertujuan untuk memperluas, memeratakan serta meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan bagi seluruh masyarakat yang tidak/belum pernah bersekolah, buta aksara, putus sekolah, atau warga masyarakat lainnya yang kebutuhan pendidikannya tidak terpenuhi melalui jalur pendidikan formal. Melalui program ini juga diharapkan warga masyarakat memiliki kemampuan mengembangkan potensi diri dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan vokasional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. pendidikan non formal berfungsi sebagai pengganti, penambah dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat (longlife education), sehingga menjadi pendidikan alternatif yang dapat memenuhi standar nasional maupun internasional. Hasil yang dicapai melalui program ini adalah terbangunnya tambahan ruang SKB Sabang, pagar, WC, dan rumah dinas SKB Aceh Besar, pagar dan saluran pembuangan SKB Aceh Timur, pagar SKB Tangan Tangan, lanjutan pembangunan gedung SKB Aceh Utara, Aceh Jaya, dan Nagan Raya, serta gedung Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) masingmasing di Kota Subulussalam sebanyak 1 unit, Kecamatan Samatiga sebanyak 1 unit dan Kabupaten Bireuen sebanyak 2 unit. Hasil yang dicapai dalam rangka peningkatan mutu adalah terlatihnya 315 orang peserta dan 4 paket pendidikan keterampilan hidup, magang 7 orang tutor dan 1 orang Pamong Belajar di Jakarta, tutor paket A, B dan C di Aceh Timur sebanyak 60 orang, anak putus sekolah di Aceh Barat sebanyak 23 orang di bidang teknik elektro, 20 orang di bidang otomotif, 20 orang di bidang sulaman benang mas, dan 20 orang di bidang teknisi komputer, tersalurnya biaya operasional Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Taman Kanak-kanak Al Qur an (LPP-TKA) Aceh Besar, biaya operasional 16 PKBM di Aceh Timur, 199 set meubeleur SKB Aceh Timur, dan modul belajar paket C sebanyak set. Selain itu telah terlaksana kegiatan Jambore PTK PNF tingkat provinsi yang diikuti 23 kabupaten/kota dan keikutsertaan dalam Jambore Nasional TKPNF di Surabaya dan lomba lifskills (kursus) di Bandung, sosialisasi Pendidikan Untuk Semua (PUS) di tingkat provinsi, serta pemantauan dan evaluasi kegiatan. 82

86 Dalam Jambore TK-PNF Nasional di Surabaya, Aceh mencatat prestasi berupa perolehan juara III bidang IT atas nama Fauzi Helmi, juara IV untuk pemilik PNF atas nama Supriadi, juara V bidang pendidik PAUD atas nama Elida dan juara VI untuk tutor Bahasa Inggris atas nama Indri Naryani. Dalam lomba kursus tingkat nasional tahun 2010 di Bandung, Aceh memenangi juara I nasional bidang Desain Grafis atas nama A. Karamullah dan juara II untuk keterampilan menjahit atas nama Imran. Ujian Nasional program kesetaraan pada tahun 2010 dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap Pertama bulan Agustus 2010 diikuti 407 peserta didik paket A dan lulus sebanyak 390 orang (95,82%), peserta didik paket B dan lulus sebanyak orang (84,93%), 42 peserta didik paket C jurusan IPA dan lulus sebanyak 27 orang (64,28%), peserta didik paket C jurusan IPS dan lulus sebanyak orang (79,87%). Sedangkan tahap kedua diikuti 403 peserta didik paket A dan lulus sebanyak 358 orang (88,83%), peserta didik paket B dan lulus sebanyak orang (76,22%), 21 peserta didik paket C jurusan IPA dan lulus sebanyak 19 orang (90,47%), peserta didik paket C jurusan IPS dan lulus sebanyak orang (70,47%). Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,47%). 8. Program Pendidikan Luar Biasa Program ini bertujuan untuk memperluas jangkauan dan kesamaan kesempatan memperoleh layanan pendidikan yang bermutu bagi anak berkebutuhan khusus sejak usia dini sampai dengan pendidikan menengah dalam rangka memenuhi hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan. Selain melalui lembaga pendidikan luar biasa, juga dikembangkan layanan pendidikan khusus melalui layanan terpadu bagi anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah biasa. Hasil yang dicapai melalui program ini adalah penyelesaian 1 (satu) paket 83

87 pekerjaan pembangunan lanjutan Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Nagan Raya, pengadaan 8 paket alat kesenian Pendidikan Luar Biasa (PLB), tersalurnya Biaya Operasional Sekolah PLB sebanyak 42 sekolah dan biaya makan anak PLB di asrama sebanyak 500 anak selama 10 bulan, keikutsertaan dalam gebyar ajang prestasi siswa tingkat nasional di Jakarta, serta pemantauan dan evaluasi kegiatan. Melalui kerjasama dengan pihak organisasi internasional non pemerintah Hellen Keller International telah dilakukan sosialisasi dan workshop serta pelatihan tentang pengelolaan pendidikan khusus yang diikuti para guru/kepala sekolah penyelenggara pendidikan inklusi, serta aparat Dinas Pendidikan Aceh dan dinas/badan terkait lainnya di tingkat provinsi. Prestasi yang dicapai peserta didik berkebutuhan khusus dari Aceh di dalam forum OSN tingkat nasional cukup membanggakan, yaitu juara I nasional atas nama Nurul Huda siswa SDLB Negeri Pembina Aceh Tamiang. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,60%). 9. Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Program ini bertujuan untuk meningkatkan kecukupan jumlah pendidik dan tenaga kependidikan, meningkatkan kemampuannya, serta dukungan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan dan pelayanan tehnis dalam rangka menunjang proses pendidikan dan pembelajaran pada setiap satuan pendidikan. Hasil yang dicapai melalui program ini adalah terlatihnya 275 orang calon guru/kepala sekolah di Aceh Jaya, tersalurnya beasiswa guru ke jenjang S1 di Aceh Singkil sebanyak 200 orang, terlatihnya 440 guru di Aceh Besar, 90 guru di Bireuen, 220 guru di Aceh Utara, 40 guru di Gayo Lues, 40 guru di Aceh Jaya, dan orang Guru/Pengawas Fahmul Quran di tingkat provinsi. Selain dari pada itu telah disalurkan biaya operasional KKG untuk 69 kelompok se Aceh, subsidi guru ke S1/D4 di Aceh Barat Daya sebanyak 308 guru dan 20 guru SMK dari D3 ke S1 di tingkat provinsi. Dalam rangka meningkatkan keterampilan khusus para pendidik dan tenaga kependidikan, telah dilaksanakan pelatihan karya ilmiah bagi 40 guru dan pelatihan 60 orang pengawas di Aceh Barat, workshop TIK bagi 46 guru di tingkat provinsi, layanan angka kredit guru, serta pembekalan guru, kepala sekolah dan pengawas berprestasi. Dalam rangka menunjang proses pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah telah disalurkan insentif guru terpencil di Aceh Besar sebanyak 222 orang dan guru/pegawai kontrak/guru mengaji di provinsi sebanyak orang. Pemerintah Aceh juga memberikan tambahan insentif kepada 386 orang guru bantu pusat berupa tambahan honorarium serta honorarium khusus bulan ke-13, sehingga besar honorarium yang diterima guru bantu pusat menjadi sama dengan yang 84

88 diterima guru bantu yang diangkat Pemerintah Aceh. Dalam keikutsertaan lomba di tingkat nasional, tercatat Dra. Kasumi Sulaiman, MM (Kepala SMPN 6 Banda Aceh) sebagai juara II nasional kepala sekolah berprestasi, Inja Ariani, S.Pd (Guru SDN Bukit Tempurung, Aceh Tamiang) sebagai juara III nasional guru berprestasi, dan Nurhayani Damanik, S.Pd (Guru SDN Lawe Pakam, Aceh Tenggara) sebagai juara I nasional Guru SD berdedikasi di daerah terpencil. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (75,79%). 10. Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan Program ini bertujuan untuk mendorong berkembangnya minat baca bagi anggota masyarakat melalui perluasan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan pembinaan perpustakaan, serta penyediaan bahan bacaan bermutu dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Program ini juga diarahkan untuk pengembangan budaya baca, bahasa, Sastra Indonesia dan daerah pada masyarakat termasuk pendidik dan peserta didik guna membangun masyarakat berpengetahuan, berbudaya, maju dan mandiri. Hasil yang dicapai adalah terbangunnya satu unit perpustakaan Kodam Iskandar Muda Banda Aceh. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,71%). 11. Program Manajemen Pelayanan Pendidikan Program ini mempunyai tiga tujuan pokok, yaitu: 1) meningkatkan kapasitas lembaga di daerah, mengembangkan mekanisme tata kelola, koordinasi, antar perangkat pemerintahan, mengembangkan kebijakan, melakukan advokasi dan sosialisasi kebijakan pembangunan pendidikan, serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan pendidikan; 2) pengembangan dan penerapan sistem pengawasan pembangunan pendidikan termasuk sistem tindak lanjut temuan hasil pengawasan terhadap kegiatan pembangunan pendidikan termasuk pelaksanaan desentralisasi dan otonomi pendidikan; dan 3) penyempurnaan manajemen pendidikan dengan meningkatkan desentralisasi dan otonomi pengelolaan kepada satuan pendidikan mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan. Hasil yang dicapai melalui program ini adalah: - terselenggaranya rapat koordinasi dengan kabupaten/kota sebanyak dua kali yaitu di Banda Aceh dan Takengon yang melahirkan kesepakatan tentang langkah-langkah yang ditempuh dan alternatif solusi permasalahan yang diantisipasi akan terjadi di lapangan selama pelaksanaan APBA 2010 dan laporan kemajuan kegiatan; - tersedianya laporan secara menyeluruh tentang pelaksanaan kegiatan tahun 2010 melalui kegiatan monitoring ke 23 kabupaten/kota dan 85

89 terpenuhinya laporan progress fisik sesuai instrument yang ditetapkan tim P2K Provinsi Aceh; - tersusunnya rencana kerja anggaran melalui pemantapan sasaran kegiatan 2011; - tersedianya indikator akses, mutu dan relevansi, serta manajemen pendidikan sebagai basis perumusan kebijakan dan penyusunan rencana program; - tersusunnya buku data profil pendidikan aceh dan buku statistik penduduk usia sekolah tahun 2009 (melalui kerjasama dengan BPS Aceh); - tersedianya laporan hasil supervisi pengawas sekolah secara tematik dari 23 kabupaten/kota; - terlaksananya pemantauan program UKS kabupaten/kota dan keikutsertaan dalam rapat koordinasi di tingkat nasional; - tersosialisasinya kegiatan anti narkoba di kalangan guru, peserta didik, mahasiswa dan generasi muda (160 peserta) agar memiliki kewaspadaan dan perilaku penolakan terhadap narkoba; - tersosialisasinya berbagai peraturan penyelenggaraan pendidikan di kalangan pemangku kepentingan pendidikan; - terlaksananya remedial teaching bagi siswa SMP dan SMA (masingmasing 12 kali pertemuan) untuk semua calon peserta UN di Kabupaten Aceh Barat Daya; - tersusunnya laporan kemajuan pendidikan Aceh Tahun 2009 bekerjasama dengan Sedia-AUSAID yang kemudian diterbitkan sebagai laporan TKPPA Provinsi Aceh. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (70,84%). Realisasi Anggaran Dinas Pendidikan Aceh dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp ,- (91,32%). Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) ,32 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,33 2 Belanja langsung ,42 TOTAL ,32 86

90 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - sejumlah paket pekerjaan mengalami gagal tender pada umumnya disebabkan faktor non tehnis seperti penggabungan panitia lelang semua unit kerja yang terkonsentrasi pada satu tempat, beberapa pekerjaan baru dapat dilelangkan setelah selesainya dokumen revisi DPA, sedangkan waktu yang tersisa tak mencukupi untuk melakukan tender ulang; - di beberapa kabupaten terjadi keterlambatan pengumuman lelang untuk dana Otsus kabupaten yang bersangkutan; - untuk paket pekerjaan lanjutan di beberapa lokasi pihak kontraktor sebelumnya tidak menyelesaikan kewajiban membayar upah kerja dan harga material sehingga terjadi pemblokiran untuk menghalangi pekerjaan lanjutan oleh kontraktor baru. Penyelesaian kasus ini membutuhkan waktu yang memperlambat penyelesaian paket pekerjaan; - tanah untuk akses jalan masuk ke lokasi masih dalam perselisihan (SKB Aceh Utara dan SMA Unggul Aceh Besar): - masih ditemukan adanya rekanan yang tidak profesional dalam melaksanakan pekerjaan; - rendahnya mutu sumber daya manusia dalam mendukung pengelolaan program-program pendidikan, khususnya dalam menyusun dokumen pelelangan dan kontrak; - masih diperlukan peningkatan SDM, agar berkompeten terhadap penelaah yang menyangkut dalam penyiapan pelelangan dan dokumen kontrak serta pendukung lainnya yang merupakan program infrastruktur dan sarana pendidikan; - lambatnya penyampaian data dari kabupaten/kota untuk mendukung perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Solusi: - meningkatkan koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota; - menyelesaikan persoalan di lapangan dengan jalan musyawarah yang melibatkan kontraktor lama, para tukang dan kontraktor baru yang akan melanjutkan pekerjaan; - menegur pihak rekanan yang lambat menyelesaikan pekerjaan; - melakukan pelatihan staf yang difokuskan pada pendataan, perencanaan dan penganggaran; - mengirim tim asistensi pendataan ke kabupaten/kota; - Melakukan kerjasama dengan lembaga donor untuk kegiatan capacity building. 87

91 Badan Pembinaan Pendidikan Dayah Urusan pendidikan yang dilaksanakan Badan Pembinaan Pendidikan Dayah adalah: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa administrasi keuangan; d. Penyediaan jasa kebersihan kantor; e. Penyediaan alat tulis kantor; f. Barang cetakan dan penggandaan; g. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; h. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan; i. Penyediaan makanan dan minuman; j. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi keluar daerah; k. Penyediaan jasa keamanan kantor; l. Peningkatan pelayanan administrasi perkantoran; m. Penyediaan jasa pegawai non PNS. 2. Peningkatan Sarana dan Prasarana Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan gedung kantor; b. Pengadaan perlengkapan gedung kantor; c. Pengadaan peralatan gedung kantor; d. Pengadaan meubeleur; e. Pengadaan komputer; f. Pemeliharaan rutin/berkala kenderaan dinas/operasional; g. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor. 3. Program Pendidikan Dayah Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pelatihan pembinaan bidang kaligrafi; b. Pelatihan komputer untuk santri dayah; c. Pembinaan pimpinan, tengku dayah dan perekrutan tenaga pendidik; d. Pembangunan dan pengembangan dayah-dayah dalam Kabupaten Pidie; e. Pengembangan/rehab BP/dayah dalam wilayah Kabupaten Pidie yang diperuntukkan bagi rehabilitasi sarana balai pengajian/dayah; f. Pembangunan dan pengembangan dayah-dayah dalam Kabupaten Pidie Jaya; g. Pengembangan/rehab BP/dayah dalam wilayah Kabupaten Pidie Jaya yang diperuntukkan bagi rehabilitasi sarana balai pengajian/dayah; h. Pembangunan dan pengembangan dayah-dayah dalam Kabupaten Bireuen; 88

92 i. Pengembangan/rehab BP/dayah dalam wilayah Kabupaten Bireuen yang diperuntukkan bagi rehabilitasi sarana balai pengajian/dayah; j. Pembangunan dan pengembangan dayah-dayah dalam Kabupaten Bener Meriah; k. Pengembangan/rehab BP/dayah dalam wilayah Kabupaten Bener Meriah yang diperuntukkan bagi rehabilitasi sarana balai pengajian/dayah; l. Pelatihan manajemen dan manajemen asset dayah; m. Pelatihan usaha kesehatan dayah; 4. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Dayah Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan dan pengembangan dayah-dayah dalam Kabupaten Aceh Tengah; b. Pengembangan/rehab BP/dayah dalam wilayah Kabupaten Aceh Tengah yang diperuntukkan bagi rehabilitasi sarana balai pengajian/dayah; c. Pembangunan dan pengembangan dayah-dayah dalam Kabupaten Gayo Lues; d. Pengembangan/rehab BP/dayah dalam wilayah Kabupaten Gayo Lues yang diperuntukkan bagi rehabilitasi sarana balai pengajian/dayah; e. Pembangunan & pengembangan dayah-dayah dalam wilayah Kabupaten Aceh Tamiang; f. Pengembangan/rehab BP/dayah dalam wilayah Kabupaten Aceh Tamiang yang diperuntukan bagi rehabilitasi sarana balai dan fasilitas pengajian/tpa; g. Pembangunan & pengembangan dayah-dayah dalam wilayah Kabupaten Aceh Tenggara; h. Pengembangan/rehab BP/dayah dalam wilayah Kabupaten Aceh Tenggara yang diperuntukan bagi rehabilitasi sarana dan fasilitas balai pengajian/tpa; i. Bantuan terhadap dayah perbatasan di 4 (empat) wilayah kabupaten/kota; j. Bantuan fisik, rehabilitasi dan operasional untuk dayah-dayah tertentu di beberapa lokasi di Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Kota Subulussalam, Aceh Singkil dan Simeulue; k. Penyaluran bea siswa santri di Kabupaten Aceh Barat Daya; l. Pembangunan sarana dan prasarana dayah di Kabupaten Aceh Timur; m. Pembangunan sarana dan prasarana dayah di Kabupaten Aceh Tenggara; n. Pembangunan sarana dan prasarana dayah di Kabupaten Aceh Besar; o. Pembangunan sarana dan prasarana dayah di Kabupaten Pidie; p. Pembangunan sarana dan prasarana dayah di Kabupaten Bireuen; 89

93 q. Pembangunan sarana dan prasarana dayah di Kota Lhokseumawe; r. Pembangunan sarana dan prasarana dayah di Kabupaten Bener Meriah; s. Pembangunan sarana dan prasarana dayah di Kabupaten Aceh Barat Daya; t. Pembangunan/rehab BP/dayah dalam wilayah Kota Sabang; u. Pembangunan dan Pengembangan dayah-dayah dalam wilayah Kota Banda Aceh; v. Pembangunan dan pengembangan dayah-dayah dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar; w. Pembangunan /rehab BP/dayah dalam wilayah Kota Banda Aceh yang diperuntukan bagi rehabilitasi sarana balai dan fasilitas pengajian/tpa; x. Pembangunan/rehab BP/dayah dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar yang diperuntukan bagi rehabilitasi sarana balai dan fasilitas pengajian/tpa. B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah Penyediaan jasa surat menyurat, Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, Penyediaan jasa administrasi keuangan, Penyediaan jasa kebersihan kantor, Penyediaan alat tulis kantor, Barang cetakan dan penggandaan, Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundangundangan, Penyediaan makanan dan minuman, Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi keluar daerah, Penyediaan jasa keamanan kantor, Peningkatan pelayanan administrasi perkantoran, Penyediaan jasa pegawai non-pns. Program ini merupakan program rutin yang setiap tahun dianggarkan. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi Rp ,- (99,93%). 2. Peningkatan Sarana dan Prasarana Kegiatan pembangunan gedung kantor Pembangunan gedung kantor dengan jumlah dana yang tersedia Rp ,- dengan realisasi Rp ,- (99,8%) telah dilaksanakan dalam dua tahap dan realisasi fisik telah mencapai 100% terhadap rencana fisik. Sedangkan sisa lebih dana sebesar Rp ,- atau 0,2% merupakan sisa lebih tender/kontrak. Kegiatan pengadaan perlengkapan gedung kantor Pengadaan perlengkapan gedung kantor telah dilaksanakan dalam bentuk pengadaan lemari arsip 4 pintu, filling cabinet 4 laci. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (92,09%) dan fisik 100 %. 90

94 Kegiatan pengadaan peralatan gedung kantor Pengadaan peralatan gedung kantor telah dilakukan pembelian alat pendingin (AC) dengan jumlah dana yang tersedia Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,8%). Kegiatan pengadaan meubeleur Pengadaan meubeleur telah dilakukan dengan pembelian kursi kerja dengan jumlah dana yang tersedia Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,5%). Kegiatan pengadaan komputer Pengadaan komputer telah dilaksanakan dalam bentuk pembelian perangkat komputer untuk kelancaran administrasi perkantoran terdiri dari pengadaan komputer/pc, komputer notebook, printer dan scanner. Dana yang tersedia Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,22%). Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala kenderaan dinas/operasional Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional telah di laksanakan dalam bentuk penyediaan untuk dana pemeliharaan dan perawatan kendaraan dinas kantor bagi kelancaran operasional kantor, dialokasikan bagi keperluan belanja jasa service Rp ,- dengan realisasi penggunaan dana Rp ,- (99,4%). Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor Pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor telah dilaksanakan dalam bentuk penyediaan untuk dana pemeliharaan dan perawatan gedung kantor bagi kelancaran operasional kantor, dana yang dialokasikan bagi keperluan belanja jasa service peralatan dan perlengkapan kantor Rp ,- dengan realisasi penggunaan dana Rp ,- (98,9%) 3. Program Pendidikan Dayah Kegiatan pelatihan pembinaan bidang kaligrafi Telah dilaksanakan dalam bentuk pelatihan untuk meningkatkan keterampilan santri dalam memahami penulisan kaligrafi yang benar. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%). Kegiatan pelatihan komputer untuk santri dayah Pelatihan komputer untuk santri dayah telah dilaksanakan dalam bentuk pelatihan untuk meningkatkan keterampilan santri agar mampu menggunakan komputer, sehingga dapat menghasilkan santri-santri yang berkualitas. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%). Kegiatan pembinaan pimpinan, Teungku dayah dan perekrutan tenaga pendidik. Telah dilaksanakan dalam bentuk penyedian bantuan insentif bagi guru/ 91

95 tengku dayah, perekrutan tenaga pendidik dayah dan rapat koordinasi ulama dayah. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi anggaran Rp ,- ( 99,67%). Kegiatan pembangunan dan pengembangan dayah-dayah dalam Kabupaten Pidie. Kegiatan ini telah dibangun rumah guru, asrama santri, bilik santri, RKB, balai pengajian, mushalla, pagar, dapur pada pesantren/dayah yang tersebar di Kabupaten Pidie. Pada tahun 2010 pesantren/dayah yang mendapat bantuan prasarana dan sarana tersebut berjumlah 29 dayah. Besaran bantuan diberikan berdasarkan urutan tipe atau kondisi kebutuhan pesantren/dayah berdasarkan hasil verifikasi lapangan. Dengan adanya bantuan ini meningkatkan kegiatan belajar mengajar di dayah/pesantren. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp (100%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan Pengembangan/rehab BP/dayah dalam wilayah kabupaten Kegiatan dana bantuan dayah ini telah disalurkan dengan penerima bantuan sebanyak 70 dayah/pesantren dalam wilayah Kabupaten Pidie. Bantuan ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dayah. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp (99,74%). Kegiatan pembangunan dan pengembangan dayah-dayah dalam Kabupaten Pidie Jaya. Kegiatan ini telah dibangun rumah guru, asrama santri, bilik santri, RKB, balai pengajian, mushalla, pagar, dapur pada pesantren/dayah yang tersebar di Kabupaten Pidie Jaya. Pada tahun 2010 pesantren/dayah yang mendapat bantuan prasarana dan sarana tersebut berjumlah 12 dayah. 92

96 Besaran bantuan diberikan berdasarkan urutan tipe atau kondisi kebutuhan pesantren/dayah berdasarkan hasil verifikasi lapangan. Dengan adanya bantuan ini meningkatkan kegiatan belajar mengajar di dayah/pesantren. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pengembangan/rehab BP/dayah dalam wilayah Kabupaten Pidie Jaya yang diperuntukkan bagi rehabilitasi sarana balai pengajian/dayah. Kegiatan dana bantuan dayah ini telah telah disalurkan dengan jumlah penerima bantuan sebanyak 26 dayah/pesantren dalam wilayah Kabupaten Pidie Jaya. Bantuan ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dayah. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp (100%). Kegiatan pembangunan dan pengembangan dayah-dayah dalam Kabupaten Bireuen Kegiatan ini telah dibangun rumah guru, asrama santri, bilik santri, RKB, balai pengajian, tempat wudhu, paving block, mushalla, pagar pada pesantren/dayah yang tersebar di Kabupaten Bireuen. Pada tahun 2010 pesantren/dayah yang mendapat bantuan prasarana dan sarana tersebut berjumlah 17 dayah. Besaran bantuan diberikan berdasarkan urutan tipe atau kondisi kebutuhan pesantren/dayah berdasarkan hasil verifikasi lapangan. Dengan adanya bantuan ini meningkatkan kegiatan belajar mengajar di dayah/pesantren. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pengembangan/rehab BP/dayah dalam wilayah Kabupaten Bireuen yang diperuntukkan bagi rehabilitasi sarana balai pengajian/dayah Kegiatan dana bantuan dayah ini telah disalurkan dengan jumlah penerima bantuan sebanyak 70 dayah/pesantren dalam wilayah Kabupaten Bireuen. Bantuan ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dayah. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp (100%). Kegiatan pembangunan dan pengembangan dayah-dayah dalam Kabupaten Bener Meriah Kegiatan ini telah dibangun asrama santri dan RKB pada pesantren/dayah yang tersebar di Kabupaten Bener Meriah. Pada tahun 2010 pesantren/dayah yang mendapat bantuan prasarana dan sarana tersebut berjumlah 2 dayah. Besaran bantuan diberikan berdasarkan urutan tipe atau kondisi kebutuhan pesantren/dayah berdasarkan hasil verifikasi lapangan. Dengan adanya bantuan ini meningkatkan kegiatan belajar mengajar di dayah/pesantren. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. 93

97 Kegiatan pengembangan/rehab BP/dayah dalam wilayah Kabupaten Bener Meriah yang diperuntukkan bagi rehabilitasi sarana balai pengajian/dayah Kegiatan dana bantuan dayah ini telah disalurkan dengan jumlah penerima bantuan sebanyak 5 dayah/pesantren dalam wilayah Kabupaten Bener Meriah. Bantuan ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dayah. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%). Kegiatan Pelatihan Manajemen dan Manajemen Asset Dayah Kegiatan pelatihan manajemen dan manajemen asset dayah telah dilaksanakan pada tahun 2010 bagi 100 orang dari unsur pimpinan dayah dari 23 kabupaten/kota. Tujuan dari pelatihan ini adalah: - untuk terkoordinasinya kegiatan-kegiatan dalam lembaga dayah dengan manajemen yang baik; - tumbuhnya kesadaran pengurus dayah/pimpinan dayah yang diikat dengan kelembagaan yang kuat dan manajemen yang profesional; - meningkatnya kemampuan dalam hal pengelolaan aset dengan manajemen yang baik; - meningkatnya kemampuan dalam hal administrasi dokumen aset. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (90,41%). Kegiatan pelatihan usaha kesehatan dayah Kegiatan pelatihan usaha kesehatan dayah telah dilaksanakan pada tahun 2010 bagi 100 orang dari unsur pimpinan dayah dari 23 kabupaten/kota. Tujuan dari pelatihan ini adalah : - untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan santri dayah serta menciptakan lingkungan dayah yang sehat sehingga memungkinkan pertumbuhan santri yang harmonis dan optimal dalam rangka membentuk santri yang berkualitas; - untuk memupuk kebiasaan hidup sehat dan mempertinggi derajat kesehatan peserta pelatihan yang mencakup memiliki pengetahuan, sikap dan ketrampilan untuk melaksanakan prinsip hidup sehat, serta berpartisipasi aktif didalam usaha peningkatan kesehatan fisik, mental, sosial maupun lingkungan serta memiliki daya tangkal terhadap pengaruh buruk. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,34%). 4. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Dayah Kegiatan pembangunan dan pengembangan dayah-dayah dalam Kabupaten Aceh Tengah Kegiatan ini telah dibangun asrama santri, bilik santri dan mushalla pada pesantren/dayah yang tersebar di Kabupaten Aceh Tengah. Pada tahun 2010 pesantren/dayah yang mendapat bantuan prasarana dan sarana 94

98 tersebut berjumlah 4 dayah. Besaran bantuan diberikan berdasarkan urutan tipe atau kondisi kebutuhan pesantren/dayah berdasarkan hasil verifikasi lapangan. Dengan adanya bantuan ini meningkatkan kegiatan belajar mengajar di dayah/pesantren. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pengembangan/rehab BP/dayah dalam wilayah Kabupaten Aceh Tengah yang diperuntukkan bagi rehabilitasi sarana balai pengajian/dayah Kegiatan dana bantuan dayah ini telah disalurkan dengan jumlah penerima bantuan sebanyak 3 dayah/pesantren dalam wilayah Kabupaten Aceh Tengah. Bantuan ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dayah. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp (100%). Kegiatan pembangunan dan pengembangan dayah-dayah dalam Kabupaten Gayo Lues Kegiatan ini telah dibangun pagar, pintu gerbang, RKB, MCK, tower air dan jalan setapak pada pesantren/dayah yang tersebar di Kabupaten Gayo Lues. Pada tahun 2010 pesantren/dayah yang mendapat bantuan prasarana dan sarana tersebut berjumlah 3 dayah. Besaran bantuan diberikan berdasarkan urutan tipe atau kondisi kebutuhan pesantren/dayah berdasarkan hasil verifikasi lapangan. Dengan adanya bantuan ini meningkatkan kegiatan belajar mengajar di dayah/pesantren. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pengembangan/rehab BP/dayah dalam wilayah Kabupaten Gayo Lues yang diperuntukkan bagi rehabilitasi sarana balai pengajian/dayah Kegiatan dana bantuan dayah ini telah disalurkan dengan jumlah penerima bantuan sebanyak 2 dayah/pesantren dalam wilayah Kabupaten Gayo Lues. Bantuan ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dayah. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%). Kegiatan pembangunan & pengembangan dayah-dayah dalam wilayah Kabupaten Aceh Tamiang Kegiatan ini telah dibangun asrama dan RKB pada pesantren/dayah yang tersebar di Kabupaten Aceh Tamiang. Pada tahun 2010 pesantren/dayah yang mendapat bantuan prasarana dan sarana tersebut berjumlah 2 dayah. Besaran bantuan diberikan berdasarkan urutan tipe atau kondisi kebutuhan pesantren/dayah berdasarkan hasil verifikasi lapangan. Dengan adanya bantuan ini meningkatkan kegiatan belajar mengajar di dayah/pesantren. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. 95

99 Kegiatan pengembangan/rehab BP/dayah dalam wilayah Kabupaten Aceh Tamiang yang diperuntukan bagi rehabilitasi sarana balai dan fasilitas pengajian/tpa Kegiatan dana bantuan dayah ini telah disalurkan dengan jumlah penerima bantuan sebanyak 18 dayah/pesantren dalam wilayah Kabupaten Aceh Tamiang. Bantuan ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dayah. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp (100%). Kegiatan pembangunan & pengembangan dayah-dayah dalam wilayah Kabupaten Aceh Tenggara Kegiatan ini telah dibangun RKB, asrama, dapur umum, tempat wudhu, MCK, ruang makan santri, penimbunan lahan, kantor dan ruang guru, rumah penjaga, pos keamanan, sumur gali dan instalasi distribusi, pagar, pintu gerbang dan mushalla pada dayah/tpa yang tersebar di Kabupaten Aceh Tenggara. Pada tahun 2010 pesantren/dayah yang mendapat bantuan prasarana dan sarana tersebut berjumlah 10 dayah/tpa. Besaran bantuan diberikan berdasarkan urutan tipe atau kondisi kebutuhan dayah/tpa berdasarkan hasil verifikasi lapangan. Dengan adanya bantuan ini meningkatkan kegiatan belajar mengajar di dayah/tpa. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pengembangan/rehab BP/dayah dalam wilayah Kabupaten Aceh Tenggara yang diperuntukan bagi rehabilitasi sarana dan fasilitas balai pengajian/tpa. Kegiatan dana bantuan dayah/tpa ini telah disalurkan dengan jumlah penerima bantuan sebanyak 4 dayah/tpa dalam wilayah Kabupaten Aceh Tenggara. Bantuan ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dayah. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%). Kegiatan bantuan terhadap dayah perbatasan di 4 (empat) wilayah kabupaten/kota Kegiatan dana bantuan dayah ini telah dilakukan dalam bentuk pembangunan sarana dan prasarana bagi kelancaran proses belajar mengajar di dayah perbatasan, bantuan insentif bagi guru dayah, dan bantuan operasional dayah, dengan jumlah bantuan sebanyak 4 dayah perbatasan di 4 (empat) wilayah kabupaten/kota. Bantuan ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dayah. Bantuan fisik, rehabilitasi dan operasional untuk dayah-dayah tertentu di beberapa lokasi di Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Aceh Selatan, Kota Subulussalam, Kabupaten Aceh Singkil dan Kabupaten Simeulue. Kegiatan dana bantuan dayah ini diantaranya mencakup bantuan fisik, rehabilitasi dan operasional untuk dayah-dayah tertentu di beberapa lokasi di Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Aceh Selatan, Kota 96

100 Subulussalam, Kabupaten Aceh Singkil dan Kabupaten Simeulue. Dana bantuan fisik untuk tiap dayah dibagi kepada biaya perencanaan, biaya pengawasan dan biaya pengelola teknis. Tujuan penganggaran ini adalah untuk meningkatnya sarana dan prasarana dayah sehingga terwujudnya kenyamanan belajar-mengajar di dayah. Anggaran yang disediakan dari APBA berjumlah Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%). Kegiatan penyaluran bea siswa santri di Kabupaten Aceh Barat Daya Kegiatan penyaluran bea siswa santri di Kabupaten Aceh Barat Daya sebesar Rp yang diberikan kepada 410 santri sesuai usulan dari Kabupaten Aceh Barat Daya dengan rincian Rp /santri. Realisasi kegiatan sudah terlaksana 100%. Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana dayah di Kabupaten Aceh Timur Kegiatan pembangunan sarana prasarana dayah di Kabupaten Aceh Timur telah disalurkan kepada 22 dayah/bp/tpa sesuai usulan dari Kabupaten Aceh Timur. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%). Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana dayah di Kabupaten Aceh Tenggara Kegiatan pembangunan sarana prasarana dayah di Kabupaten Aceh Tenggara telah disalurkan kepada 15 dayah/tpa sesuai usulan dari Kabupaten Aceh Tenggara. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%). Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana dayah di Kabupaten Aceh Besar Kegiatan pembangunan sarana prasarana dayah di Kabupaten Aceh Besar telah disalurkan kepada 4 dayah sesuai usulan dari Kabupaten Aceh Besar. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%). Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana dayah di Kabupaten Pidie Kegiatan pembangunan sarana prasarana dayah di Kabupaten Pidie telah disalurkan kepada 26 dayah/bp sesuai usulan dari Kab. Pidie. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%). Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana dayah di Kabupaten Bireuen Kegiatan pembangunan sarana prasarana dayah di Kabupaten Bireuen telah disalurkan kepada 15 dayah/bp sesuai usulan dari Kabupaten Bireuen. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%). Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana dayah di Kota 97

101 Lhokseumawe Kegiatan pembangunan sarana prasarana dayah di Kota Lhokseumawe telah disalurkan kepada 15 dayah/bp sesuai usulan dari Kota Lhokseumawe. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%). Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana dayah di Kabupaten Bener Meriah Kegiatan pembangunan sarana prasarana dayah di Kabupaten Bener Meriah telah disalurkan kepada 1 dayah sesuai usulan dari Kabupaten Bener Meriah, dengan realisasi kegiatan 100%. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%). Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana dayah di Kabupaten Aceh Barat Daya Kegiatan pembangunan sarana prasarana dayah di Kabupaten Aceh Barat Daya telah disalurkan kepada 8 dayah/bp sesuai usulan dari Kabupaten Aceh Barat Daya. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%). Kegiatan pembangunan/rehab BP/dayah dalam wilayah Kota Sabang Kegiatan bantuan pembangunan/rehab BP/dayah dalam wilayah Kota Sabang yang diperuntukkan bagi rehabilitasi sarana balai dan fasilitas pengajian/tpa. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%). Kegiatan pembangunan dan pengembangan dayah-dayah dalam wilayah Kota Banda Aceh Kegiatan ini telah dibangun bangunan dayah, asrama, MCK, pemasangan internet dan mushalla pada dayah yang tersebar di Kota Banda Aceh. Pada tahun 2010 pesantren/dayah yang mendapat bantuan prasarana dan sarana tersebut berjumlah 5 dayah. Besaran bantuan diberikan berdasarkan urutan tipe atau kondisi kebutuhan dayah berdasarkan hasil verifikasi lapangan. Dengan adanya bantuan ini diperuntukkan guna meningkatkan kegiatan belajar mengajar di dayah. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pembangunan dan pengembangan dayah-dayah dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar. Kegiatan ini telah dibangun bangunan dayah, asrama, balai pengajian, bilik santri, penutup atap halaman, pagar beton, RKB, kantor pimpinan dan mushalla pada dayah yang tersebar di Kabupaten Aceh Besar. Pada tahun 2010 pesantren/dayah yang mendapat bantuan prasarana dan sarana tersebut berjumlah 17 dayah. Besaran bantuan diberikan berdasarkan urutan tipe atau kondisi kebutuhan dayah berdasarkan hasil verifikasi lapangan. Dengan adanya bantuan ini meningkatkan kegiatan 98

102 belajar mengajar di dayah. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pengembangan/rehab BP/dayah dalam wilayah Kota Banda Aceh yang diperuntukkan bagi rehabilitasi sarana balai dan fasilitas pengajian/tpa Kegiatan dana bantuan dayah/tpa ini telah dilakukan dengan jumlah bantuan sebanyak 35 dayah/tpa dalam wilayah Kota Banda Aceh. Bantuan ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dayah. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%). Kegiatan pembangunan/rehab BP/dayah dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar yang diperuntukkan bagi rehabilitasi sarana balai dan fasilitas pengajian/tpa Kegiatan dana bantuan dayah/tpa ini telah dilakukan dengan jumlah bantuan sebanyak 112 dayah/tpa dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar. Bantuan ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dayah. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%). Realisasi Anggaran Badan Pembinaan Pendidikan Dayah dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp ,- (98,01%) dan realisasi fisik 99,36%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,01 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,76 2 Belanja langsung ,58 TOTAL , ,01 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - terdapat 2 dayah/bp di wilayah Kabupaten Pidie tidak terserap anggaran akibat tidak dilengkapinya persyaratan administrasi oleh Pimpinan Dayah/BP yang bersangkutan; - belum adanya pemahaman yang cukup memadai pada pimpinan/panitia pembangunan terhadap pengelolaan kegiatan; 99

103 - kondisi dayah-dayah masih memprihatinkan dengan statusnya yang masih belum jelas; - di Kabupaten Bireuen ada 1 dayah yang diusulkan mendapat bantuan pembangunan tapi tidak melakukan proses administrasi untuk pengamprahan dana sehingga dana menjadi mati/sia-sia. Solusi: - akan dilakukan pembinaan dan dipertimbangkan bantuan tahun berikutnya; - perlu dilakukan sosialisasi mekanisme pengelolaan kegiatan; - perlu pendataan dan legalisasi status hukum; - ke depan perlu dilakukan pendataan yang lebih teliti agar alokasi dana dapat tersalurkan sepenuhnya dan tidak sia-sia. Sekretariat Majelis Pendidikan Daerah Urusan pendidikan yang dilaksanakan Sekretariat Majelis Pendidikan Daerah adalah: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa administrasi keuangan; d. Penyediaan jasa kebersihan kantor; e. Penyediaan alat tulis kantor; f. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; g. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; h. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor; i. Penyediaan peralatan rumah tangga; j. Penyediaan makanan dan minuman; k. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengadaan perlengkapan gedung kantor; b. Pengadaan peralatan gedung kantor; c. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional. 3. Program Pendidikan Anak Usia Dini Kegiatan ini berupa perencanaan perencanaan dan penyusunan program anak usia dini (penyusunan buku panduan penyelenggaraan PAUD oleh masyarakat). 4. Program Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun Kegiatan ini berupa penyebarluasan dan sosialisasi berbagai informasi 100

104 pendidikan dasar (penelitian tentang hambatan penuntasan wajib belajar sembilan tahun di perdesaan). 5. Program Pendidikan Non Formal Kegiatan ini berupa publikasi dan sosialisasi pendidikan non formal (sosialisasi kebijakan pendidikan non formal melalui media massa). 6. Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Pepustakaan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penerbitan jurnal pendidikan (pencerahan) b. Pengembangan minat dan budaya baca (menyusun dan menerbitkan buku refleksi setengah abad pendidikan Aceh). c. Penyelenggaraan koordinasi pengembangan budaya baca (penyusunan bahan muatan lokal MOU Helsinki dan UUPA No.11 tahun 2006) 7. Program Manajemen Pelayanan Pendidikan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pelaksanaan evaluasi kinerja bidang pendidikan (kajian programprogram strategis bidang pendidikan melalui pemanfaatan dana Migas dan dana Otsus); b. Pelaksanaan kerjasama secara kelembagaan dibidang pendidikan (penyusunan kriteria pemilihan/pengangkatan kepala dinas pendidikan, kepala sekolah dan komite sekolah); c. Penyelenggaraan pelatihan, seminar dan lokakarya serta diskusi ilmiah tentang berbagai isu pendidikan (lokakarya sinkronisasi LPTK dengan kebijakan mutu guru); d. Dialog interaktif masyarakat tentang pendidikan (Seminar partisipasi masyarakat dalam peningkatan mutu pendidikan). 8. Program Pendidikan Dayah Kegiatan ini berupa pembinaan kelembagaan dayah dan pengembangan dayah (muzakarah pimpinan dayah salafi dan terpadu). B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa administrasi keuangan, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor, penyediaan peralatan rumah tangga, penyediaan makanan dan minuman dan rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah. Kegiatan di atas merupakan kegiatan rutin kantor dan telah dilaksanakan. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (88,89%) dan fisik 95,00%. 101

105 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah Pengadaan perlengkapan gedung kantor, pengadaan peralatan gedung kantor, pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,97%) dan fisik 100%. 3. Program Pendidikan Anak Usia Dini Perencanaan dan penyusunan program anak usia dini (penyusunan buku panduan penyelenggaraan PAUD oleh masyarakat) Dalam Renstra Pendidikan Aceh salah satu sasaran dalam bidang pendidikan anak usia dini adalah meningkatkan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan PAUD, sehingga partisipasi sekolah anak usia 4-6 tahun meningkat dari 15% sekarang menjadi 85% pada akhir tahun Untuk itu diperlukan suatu pedoman bagi anggota masyarakat atau lembaga sosial masyarakat yang berminat menyelenggarakan PAUD agar sasaran yang diharapkan dapat terlaksana. Anggaran yang disediakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah Rp ,- dengan realisasi keuangan Rp ,- (98,06%) dan realisasi fisik 100%. 4. Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun Penyebarluasan dan sosialisasi berbagai informasi pendidikan dasar (penelitian tentang hambatan penuntasan wajib belajar sembilan tahun di perdesaan) Meskipun wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun telah berlangsung hampir 20 tahun, namun dalam kenyataan masih ada anak usia sekolah (SD/SMP) yang tidak mendapatkan kesempatan belajar (putus sekolah) baik di perdesaan maupun di perkotaan. Untuk mendukung pelaksanaan wajib pendidikan dasar 9 tahun dirasa perlu untuk mengadakan penelitian terhadap hambatan apa saja yang mungkin terjadi, sehingga Wajar 9 tahun masih mengevaluasi permasalahan di lapangan. Penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan bagi lembaga terkini dalam merancang kebijakan teknis dan dapat menjadi bahan rekomendasi kepada gubernur untuk kebijakan daerah di masa mendatang. Anggaran yang disediakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah Rp ,- dengan realisasi keuangan Rp ,- (98,43%) dan realisasi fisik 100%. 5. Program Pendidikan Non Formal Publikasi dan sosialisasi pendidikan non formal (sosialisasi kebijakan pendidikan non formal melalui media massa) Pendidikan non formal di Aceh menduduki prosesi yang sangat strategis dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia. Akan tetapi dalam keberadaan lembaga masih belum menggembirakan. Hal ini tidak hanya dari penampilan fisik semata, akan tetapi dari segi manajemen dan 102

106 kurikulum perlu penanganan yang terprogram. Dalam sistem pengelolaan diperlukan adanya suatu pemahaman yang relatif sama di antara pengelola lembaga. Bahkan dikalangan masyarakat masih menganggap lembaga pendidikan non formal merupakan lembaga penyelenggaran pendidikan yang tidak ada ketentuan baku dan terprogram. Oleh karena perlu memasyarakatkan lembaga non formal melalui sosialisasi kepada masyarakat. Anggaran yang disediakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah Rp ,- dengan realisasi keuangan Rp ,- (93,04%) dan realisasi fisik 100%. 6. Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Pepustakaan Penerbitan jurnal pendidikan (pencerahan) Jurnal pendidikan pencerahan yang sebelumnya bernama media MPD telah dibina oleh MPD sejak tahun Jurnal tersebut berisi tulisan ilmiah dan popular mengenai pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan di kalangan pendidik dan masyarakat mengenai pendidikan, khususnya dalam rangka peningkatan minat dan budaya baca. Jurnal pencerahan dicetak 3 nomor dalam setahun masingmasing sebanyak 250 buah yang akan dikirimkan ke perpustakaan sekolah dan madrasah. Jurnal dipersiapkan oleh tim redaksi. Anggaran yang disediakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah Rp ,- dengan realisasi keuangan Rp ,- (91,05%) dan realisasi fisik 100%. Pengembangan minat dan budaya baca (menyusun dan menerbitkan buku refleksi setengah abad pendidikan Aceh) Suatu hal yang unik adalah Pemerintah Aceh memperingati hari pendidikan daerah pada setiap tanggal 2 September, dimana tidak ada satu daerah pun di tanah air yang mempunyai hari pendidikan daerah. Hari pendidikan daerah pertama sekali ditetapkan pada tanggal 2 September 1959 mempunyai makna yang sangat berarti bagi pembangunan pendidikan di Provinsi Aceh karena menjadi tonggak dan pendorong berkembangnya pendidikan di Aceh. Penetapan tanggal 2 September sebagai hari pendidikan daerah dicetuskan oleh Alm. Bapak Prof. Ali Hasyimi sebagai Gubernur Aceh saat itu didasarkan pada dimulainya pembangunan Kampus Darussalam pada tanggal 2 September Pembangunan Kampus Darussalam yang saat ini menjadi kebanggaan masyarakat Aceh dilakukan setelah Aceh diberikan sebutan Daerah Istimewa dengan keputusan Missi Hardi No. Kep. 01/1959. Peringatan Hari Pendidikan Daerah. Sebagai upaya mengenang kembali sejarah lahirnya pendidikan di Aceh, maka MPD Aceh menulis buku tentang Refleksi Setengah Abad Pendidikan Aceh. Anggaran yang disediakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah Rp ,- dengan realisasi keuangan Rp ,- (98,56%) dan realisasi fisik 100%. 103

107 Penyelenggaraan koordinasi pengembangan budaya baca (penyusunan bahan muatan lokal dibuat dalam bentuk buku ajar yang didalamnya memasukan unsur-unsur yang terkandung dalam UUPA dan proses MOU Helsinki, agar dapat dipergunakan untuk tingkat dan jenjang SD/SMP/SMA dan Perguruan Tinggi. Anggaran yang disediakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah Rp ,- dengan realisasi keuangan Rp ,- (95,85%) dan realisasi fisik 100%. 7. Program Manajemen Pelayanan Pendidikan Pelaksanaan evaluasi kinerja bidang pendidikan (kajian program-program strategis bidang pendidikan melalui pemanfaatan dana migas dan dana otsus) Tujuan kegiatan untuk mengetahui apakah dana yang dialokasikan untuk pendidikan relevan atau tidak dengan 4 pokok kebijakan pembangunan pendidikan, yaitu: akses, peningkatan mutu, perbaikan manajemen pendidikan dan pelaksanaan pendidikan islami. Ruang lingkup analisis meliputi (1) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), (2) pendidikan dasar, (3) pendidikan menengah, (4) guru dan tenaga kependidikan dan (5) pendidikan luar sekolah dan luar biasa. Kegiatan meliputi : (a) kegiatan pengumpulan data kegiatan analisis dan (b) diskusi terbatas. Kegiatan pengumpulan dilakukan pada Dinas Pendidikan Aceh dan pada 8 dinas pendidikan kabupaten/kota (termasuk pada Kanwil Kemenag dan Kandep Kemenag kabupaten/kota menyangkut penggunaan dana pendidikan untuk madrasah). Anggaran yang disediakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah Rp ,- dengan realisasi keuangan Rp ,- (97,90%) dan realisasi fisik 100%. Pelaksanaan kerjasama secara kelembagaan dibidang pendidikan (Penyusunan kriteria pemilihan/pengangkatan kepala dinas pendidikan, Kepala sekolah dan komite sekolah) Dengan diberlakukan undang-undang otonomi daerah dimana kewenangan sangat besar diberikan kepada kepala daerah dalam menentukan berbagai kebijakan didaerahnya masing-masing, termasuk kebijakan dalam sektor pendidikan. Jabatan Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Sekolah yang masih ada yang dijabat oleh personil yang bukan bidangnya termasuk tidak memiliki latar belakang pendidikan baik kualifikasi akademis maupun pengalaman kerja. Malah terdapat didaerah yang melakukan rotasi jabatan kepala sekolah diluar ketentuan yaitu secepat-cepatnya empat tahun, paling lama delapan tahun dan boleh dilanjutkan bila memilki prestasi yang baik. Anggaran yang disediakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah Rp ,- dengan realisasi keuangan Rp ,- (98,85%) dan realisasi fisik 100%. Penyelenggaraan pelatihan, seminar dan lokakarya serta diskusi ilmiah tentang berbagai isu pendidikan (Lokakarya sinkronisasi LPTK dengan kebijakan mutu guru) 104

108 Salah satu hambatan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan adalah tidak adanya sinkronisasi antara program peningkatan mutu pendidikan dengan lembaga-lembaga yang berfungsi menghasilkan tenaga kependidikan. Dalam kenyataannya sungguh memprihatinkan berbagai pihak manakala LPTK sebagai pencetak tenaga kependidikan yang tersebar dimana-mana seakan-akan tidak memikirkan kualitas lulusan, maka oleh karena itu dirasa perlu untuk diadakan lokakarya sinkronisasi antara LPTK dengan kebijakan pemerintah dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Anggaran yang disediakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah Rp ,- dengan realisasi keuangan Rp ,- (94,37%) dan realisasi fisik 100%. Dialog interaktif masyarakat tentang pendidikan (Seminar partisipasi masyarakat dalam peningkatan mutu pendidikan) Peran masyarakat dalam memajukan pendidikan sangat strategis akan tetapi banyak kalangan masyarakat yang tidak menyadari hal ini. Maka untuk itu perlu dilaksanakan seminar sekaligus dapat berfungsi sebagai sosialisasi peran masyarakat dalam sektor pendidikan. Anggaran yang disediakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah Rp ,- dengan realisasi keuangan Rp ,- (96,88%) dan realisasi fisik 100%. 8. Program Pendidikan Dayah Pembinaan kelembagaan dayah dan pengembangan dayah (Muzakarah Pimpinan dayah salafi dan terpadu) Pendidikan Dayah di Aceh memiliki karakteristik yang berbeda dengan pesantren-pesantren yang ada di daerah lain di Indonesia. Kelulusan santri ditentukan oleh pimpinan pasantren, kekuatan Dayah Salafi terletak pada mengorbitkan ulama-ulama karismatik, sementara kekuatan dayah terpadu terletak pada memadukan ilmu-ilmu Naqliyal dan Aqliyal. Dalam rangka pemberdayaan dayah, perlu dilakukan upaya-upaya sinergisasi di masa-masa mendatang. Untuk itu perlu diadakan Muzakarah Pimpinan Dayah Salafi dan Dayah Terpadu. Dalam hal ini MPd Aceh telah melakukan Muzakarah tersebut. Anggaran yang disediakan dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah Rp ,- dengan realisasi keuangan Rp ,- (96,12%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi Anggaran Sekretariat Majelis Pendidikan Daerah (MPD), dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp ,- (91,36%) dan realisasi fisik 95,00%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: 105

109 No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,36 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,45 2 Belanja langsung ,38 TOTAL , ,36 C. Permasalahan dan Solusi Sesuai dengan fungsi MPD selaku badan pemikir, pemberi pertimbangan, penggerak partisipasi masyarakat, pengontrol dan mediator, maka dapat dikatakan tidak ada permasalahan yang sangat berarti dalam pelaksanaan kegiatan yang telah disetujui melalui APBA. Permasalahan tidak terserapnya anggaran tidak langsung disebabkan karena TPK eselon III dan IV selama 2 bulan (Januari s/d Februari 2010), tunjangan struktural eselon III dan IV selama 2 bln (Januari s/d Februari 2010), honor pengguna anggaran selama 1 tahun (Januari s/d Desember 2010) dan TPK Gol II dan Gol III selama 1 thn (Januari s/d Desember 2010), dengan demikian maka dana untuk gaji beserta tunjangan tidak terserap. 2. URUSAN KESEHATAN Urusan kesehatan dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan, Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin, Rumah Sakit Jiwa dan Rumah Sakit Ibu dan Anak. Dinas Kesehatan Urusan kesehatan yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan adalah sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air listrik; c. Penyediaan jasa administrasi keuangan; d. Penyediaan jasa kebersihan kantor; e. Penyediaan alat tulis kantor; f. Penyediaan barang cetakan dan pengadaan; g. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; h. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor; 106

110 i. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan; j. Penyediaan logistik kantor; k. Penyediaan makanan dan minuman; l. Rapat- rapat koordinasi dan konsultasi keluar daerah; m. Penyediaan jasa keamanan kantor; n. Penyediaan jasa dokumentasi kantor. 2. Program Peningkatan sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan rumah dinas; b. Pembangunan gedung kantor; c. Pengadaan perlengkapan gedung kantor; d. Pengadaan meubeleur; e. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor; f. Pemeliharaan rutin/berkala kenderaan dinas/operasional; g. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor. 3. Program Peningkatan Disiplin Aparatur Kegiatan ini berupa pengadaan pakaian dinas beserta perlengkapannya. 4. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pendidikan dan pelatihan formal; b. Bimbingan teknis implementasi peraturan perundang-undangan. 5. Program Obat dan Pembekalan Kesehatan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengadaan obat dan pembekalan; b. Monitoring, evaluasi dan pelaporan. 6. Program Upaya Kesehatan Masyarakat Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pemeliharaan dan pemulihan kesehatan; b. Revitalisasi sistem kesehatan; c. Peningkatan kesehatan masyarakat; d. Peningkatan pelayanan kesehatan bagi pengungsi korban bencana; e. Peningkatan pelayanan dan penanggulangan masalah kesehatan; f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan. 7. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengembangan media promosi dan informasi sadar hidup sehat bagi masyarakat; b. Penyuluhan masyarakat pola hidup sehat; c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan. 8. Program Perbaikan Gizi Masyarakat Kegiatan ini berupa pemberdayaan masyarakat untuk pencapaian keluarga 107

111 sadar gizi. 9. Program Pengembangan Lingkungan Sehat Kegiatan ini berupa penyuluhan menciptakan lingkungan sehat. 10. Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyemprotan/fogging sarang nyamuk; b. Pelayanan pencegahan dan penanggulangan penyakit menular; c. Peningkatan imunisasi; d. Peningkatan surveillance epidemiologi dan penanggulangan wabah; e. Peningkatan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit. 11. Program Standarisasi Pelayanan Kesehatan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Evaluasi dan pengembangan standar pelayanan kesehatan; b. Penyusunan naskah akademis standar pelayanan kesehatan; c. Monitoring, evaluasi dan pelaporan. 12. Program Pengadaan, Peningkatan dan Perbaikan Sarana dan Prasarana Puskesmas/puskesmas Pembantu dan Jaringannya Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan puskesmas; b. Pembangunan puskesmas pembantu; c. Pembangunan posyandu; d. Pengadaan sarana dan prasarana puskesmas; e. Pengadaan sarana dan prasarana puskesmas pembantu; f. Pengadaan sarana dan prasarana posyandu. 13. Program Pengadaan, Peningkatan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru/Rumah Sakit Mata Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan rumah sakit; b. Pengadaan alat-alat kesehatan rumah sakit; 14. Program Kemitraan Peningkatan Pelayanan Kesehatan Kemitraan asuransi kesehatan masyarakat. 15. Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Anak Balita Kegiatan ini berupa pelatihan dan pendidikan perawatan anak balita 16. Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Lansia Kegiatan ini berupa pendidikan dan pelatihan perawatan kesehatan. 17. Program Peningkatan Kesehatan Ibu Melahirkan dan Anak Kegiatan ini berupa penyuluhan kesehatan bagi ibu hamil dan keluarga kurang mampu. 108

112 B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah Penyediaan jasa surat menyurat, Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air listrik, Penyediaan jasa administrasi keuangan, Penyediaan jasa kebersihan kantor, Penyediaan alat tulis kantor; Penyediaan barang cetakan dan pengadaan, Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor, Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundangundangan, Penyediaan logistik kantor, Penyediaan makanan dan minuman, Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi keluar daerah, Penyediaan jasa keamanan kantor; Penyediaan jasa dokumentasi kantor. Program dan kegiatan di atas merupakan program rutin kantor. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (77,39%) dan realisasi fisik 100%. 2. Program Peningkatan sarana dan Prasarana Aparatur Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah Pembangunan rumah dinas; Pembangunan gedung kantor, Pengadaan perlengkapan gedung kantor, Pengadaan meubeleur, Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor, Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional, Pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (92,55%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Disiplin Aparatur Pengadaan pakaian dinas beserta perlengkapannya Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,79%) dan realisasi fisik 100%. 4. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan terdiri dari pendidikan dan pelatihan formal, bimbingan teknis implementasi peraturan perundang-undangan. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (91,15%) dan realisasi fisik 100%. 5. Program Obat dan Pembekalan Kesehatan Kegiatan pengadaan obat dan pembekalan kesehatan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penyediaan obat untuk gudang farmasi kabupaten/kota/puskesmas untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan di gudang farmasi di kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp 991,146,689,- realisasi keuangan Rp ,- (76,01%) dan realisasi fisik 95% 109

113 Kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan melalui monitoring dan pelaporan program kesehatan untuk tersedianya data dan informasi kefarmasian untuk meningkatkan kualitas data dan informasi kefarmasian di kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (81,03%) dan realisasi fisik 100% 6. Program Upaya Kesehatan Masyarakat Kegiatan pemeliharaan dan pemulihan kesehatan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan melalui peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat untuk terlaksananya pelaksanaan pelayanan masyarakat di kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (79,74%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan revitalisasi sistem kesehatan Kegiatan ini meliputi pelatihan petugas pengelola alat kalibrasi kesehatan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan masyarakat di kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,-. realisasi keuangan Rp ,- (92,16%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan peningkatan kesehatan masyarakat Kegiatan ini meningkatkan aksesibilitas dan mutu pelayanan kesehatan masyarakat agar meningkatnya kompetensi masyarakat yang diharapkan dapat meningkat derajat kesehatan masyarakat. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (77,67%) dan realisasi fisik 90%. Kegiatan peningkatan pelayanan kesehatan bagi pengungsi korban bencana Kegiatan ini meliputi pelayanan kesehatan dan kesiapsiagaan bencana agar tertanggulanginya masalah kesehatan saat kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana sehingga diharapkan dapat meningkatnya derajat kesehatan masyarakat pra, saat dan pasca bencana. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,17%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan peningkatan pelayanan dan penanggulangan masalah kesehatan Kegiatan ini meliputi peningkatan pelayanan kesehatan jiwa masyarakat. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,93%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan monitoring evaluasi dan pelaporan Kegiatan ini meliputi penilaian tenaga kesehatan teladan puskesmas sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan pada masyarakat dan dapat 110

114 menjadi tenaga kesehatan yang profesional di puskesmas. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (80,13%) dan realisasi fisik 100%. 7. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kegiatan pengembangan media promosi dan informasi sadar hidup sehat bagi masyarakat Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penyebaran informasi ke seluruh kabupaten/kota dalam bentuk media cetak dan meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan penyuluhan masyarakat pola hidup sehat Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pengembangan promosi kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan di seluruh kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (72,31%) dan realisasi fisik 92%. Kegiatan monitoring evaluasi dan pelaporan Kegiatan ini terlaksananya program PHBS di sekolah dan rumah tangga sehingga masyarakat dapat hidup bersih dan sehat di kabupaten/kota dan 91 sekolah. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,09%) dan realisasi fisik 100%. 8. Program Perbaikan Gizi Masyarakat Kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk pencapaian keluarga sadar gizi Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan status gizi masyarakat terutama pada ibu hamil, bayi dan anak balita, melalui peningkatan kesadaran gizi ditengah keluarga, melalui Program Kadarzi. Telah dilaksanakan dalam bentuk Kegiatan peningkatan dan perbaikan gizi masyarakat untuk peningkatan status gizi masyarakat dan peningkatan kapasitas petugas gizi di puskesmas. kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (71,19%) dan realisasi fisik 95%. 9. Program Pengembangan Lingkungan Sehat Kegiatan penyuluhan menciptakan lingkungan sehat Kegiatan tersebut bertujuan untuk mewujudkan mutu lingkungan hidup yang lebih sehat melalui pengembangan sistem kesehatan kewilayahan untuk menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan. Telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan terciptanya lingkungan sehat untuk meningkatnya sanitasi dasar yang memenuhi syarat kesehatan di kabupaten tertinggal. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp 111

115 ,- (96,68%) dan realisasi fisik 100%. 10. Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular Kegiatan penyemprotan/fogging sarang nyamuk Kegiatan pemberantasan sarang nyamuk sehingga bebas dari DBD, malaria dan penyakit sejenisnya di kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (92,8%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pelayanan pencegahan dan penanggulangan penyakit menular Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penanggulangan pemberantasan penyakit menular untuk menurunkan angka penularan penyakit di kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (90,09%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan peningkatan imunisasi Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pelaksanaan immunisasi sehingga terlaksananya immunisasi bagi anak bayi dan balita di kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (78,56%) dan realisasi fisik 95%. Kegiatan peningkatan surveilance epidemiologi dan penanggulangan wabah Kegiatan peningkatan kesehatan masyarakat sehingga teridentifikasi kesehatan masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (65,54%) dan realisasi fisik 90%. 112

116 Kegiatan peningkatan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penanggulangan pemberantasan penyakit menular untuk menurunkan angka penyakit menular sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (84,36%) dan realisasi fisik 100%. 11. Program Standarisasi Pelayanan Kesehatan Kegiatan evaluasi dan pengembangan standar pelayanan kesehatan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan meliputi penilaian lomba rumah sakit sayang ibu dan bayi untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan masyarakat di kabupaten/kota yang terpilihnya pelaksana rumah sakit sayang ibu dan anak. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,57%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan penyusunan naskah akademis standar pelayanan kesehatan Kegiatan terakreditasinya laboratorium kesehatan di UPTD laboratorium kesehatan terakreditasi untuk meningkatkan mutu laboratorium kesehatan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (76,68%) dan realisasi fisik 95%. Kegiatan monitoring evaluasi dan pelaporan Kegiatan penilaian tenaga kesehatan teladan puskesmas untuk meningkatan pelayanan kesehatan masyarakat di kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97%) dan realisasi fisik 100%. 12. Program Pengadaan, Peningkatan dan Perbaikan Sarana dan Prasarana Puskesmas/puskesmas Pembantu dan Jaringannya Kegiatan pembangunan puskesmas Kegiatan peningkatan sarana dan prasarana kesehatan di puskesmas agar tersedianya fasilitas pelayanan masyarakat yang memadai di 10 kabupaten/kota meliputi: Kabupaten Aceh Utara, pembangunan puskesmas di Aceh Besar peningkatan puskesmas Kuta Baro menjadi puskesmas rawat inap, Kabupaten Aceh Tengah pembuatan sarana air bersih di puskesmas, Kabupaten Aceh Timur pembangunan lanjutan puskesmas Darul Fallah tahun 2009, pembangunan lanjutan rumah dokter puskesmas Darul Fallah, pembangunan lanjutan rumah paramedis puskesmas Darul Fallah, pembangunan lanjutan rumah dokter Idi Timur, pembangunan tempat parkir Puskesmas Julok, Kabupaten Aceh Tenggara pembangunan peningkatan puskesmas pembantu Naga Timbul menjadi puskesmas, Aceh Selatan pembangunan puskesmas Labuhan Haji, 113

117 pembangunan rumah paramedis puskesmas Drien Jalo, pembangunan gedung gizi P2P, Kota Subulussalam pembangunan ruang operasi puskesmas Poned, Kota Langsa pembangunan tower air puskesmas Langsa Timur, pembangunan gedung loundry dan dapur puskesmas Langsa Timur, Kabupaten Bener Meriah pembangunan pagar puskesmas Blang Rakal, Kabupaten Aceh Barat pembangunan pagar puskesmas Woyla dan Kabupaten Nagan Raya pembangunan pagar puskesmas Alue Rahmat. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,63%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pembangunan puskesmas pembantu Kegiatan peningkatan sarana dan prasarana pada puskesmas pembantu sehingga puskesmas pembantu yang memadai untuk peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat yang meliputi: Kabupaten Aceh Timur, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Utara, Pidie, Aceh Barat Daya, Bener Meriah, Bireuen, Aceh Barat, Aceh Jaya, Nagan Raya dan Kota Langsa. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,23%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pembangunan posyandu Kegiatan tersedianya sarana pelayanaan kesehatan di tingkat desa sehingga tersedianya pelayanan poskesdes di desa untuk meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat di 8 kabupaten/kota yang meliputi Kabupaten Bireuen, Kota Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Selatan, lanjutan Poskesdes Aceh Barat Daya dan Aceh Timur, pembangunan posyandu Kota Subulussalam, Pidie Jaya, Kota Langsa. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,21%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pengadaan sarana dan prasarana puskesmas Kegiatan peningkatan pelayanan kesehatan di puskesmas sehingga tersedianya peralatan medis dan non medis di puskesmas untuk peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat di 8 kabupaten/kota meliputi: puskesmas Aceh Besar, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tenggara, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, Pidie Jaya, Aceh Jaya dan Kota Subulussalam. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (92,81%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pengadaan sarana dan prasarana puskesmas pembantu Kegiatan peningkatan sarana dan prasarana di puskesmas pembantu sehingga tersedianya peralatan medis dan non medis di semua puskesmas pembantu untuk peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat di 4 kabupaten/kota yang meliputi pengadaan genset pustu di Aceh Timur, 114

118 melaksanakan sarana dan prasarana puskesmas pembantu di Aceh Besar, Aceh Timur, Aceh Jaya dan Aceh Tenggara. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,-. Realisasi keuangan Rp ,- (93,61%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pengadaan sarana dan prasarana posyandu Kegiatan peningkatan sarana dan prasarana di poskesdes dengan tersedianya peralatan medis dan non medis di semua poskesdes untuk peningkatan pelayanan kesehatan di desa/gampong. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,42%) dan realisasi fisik 100%. 13. Program Pengadaan, Peningkatan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit/ Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru/Rumah Sakit Mata Program ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan perorangan, terselenggaranya pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin di rumah sakit kelas III, yang dijamin pemerintah melalui program JKA dan Jamkesmas, peningkatan mutu dan pemerataan upaya kesehatan perorangan tingkat lanjutan di Rumah Sakit yang terakreditasi, peningkatan pelayanan rujukan, pembangunan sarana dan prasarana rumah sakit di kabupaten/kota dalam Provinsi Aceh khusus untuk pengembangan pelayanan kesehatan Ibu dan Anak di RSUD dilakukan dengan pendekatan penyiapan RUD PONEK di kabupaten/kota, sementara untuk penanggulangan kesehatan jiwa dilakukan dengan menyediakan poli pelayanan jiwa di RSUD dengan pengadaan tempat tidur. Hasil dari program ini adalah terbentuknya Rumah Sakit Umum di 23 kabupaten/kota, Rumah Sakit Jiwa 1 unit. Kegiatan pembangunan rumah sakit Kegiatan peningkatan sarana dan prasarana rumah sakit sehingga tersedianya peralatan medis dan non medis di semua rumah sakit untuk peningkatan pelayanan kesehatan rujukan di rumah sakit di kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (88,88%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pengadaan alat-alat kesehatan rumah sakit Kegiatan peningkatan kebutuhan sarana dan prasarana di rumah sakit sehingga tersedia peralatan medis dan non medis di semua rumah sakit untuk peningkatan pelayanan kesehatan rujukan di rumah sakit umum di 12 kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (80,4%) dan realisasi fisik 100%. 14. Program Kemitraan Peningkatan Pelayanan Kesehatan Kegiatan kemitraan asuransi kesehatan masyarakat Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan cakupan pelayanan 115

119 kesehatan masyarakat di Aceh melalui program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) disamping pelaksanaan pelayanan kesehatan keluarga miskin melalui program Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS). Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) yang mulai berlaku sejak 1 Juni 2010 untuk mewujudkan jaminan kesehatan bagi seluruh penduduk Aceh yang berkeadilan, tanpa membedakan status sosial, ekonomi, agama, jenis kelamin dan usia, dalam rangka meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Sasarannya adalah seluruh penduduk yang memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Aceh dan atau yang namanya tercantum dalam Kartu Keluarga (KK) Aceh (universal health coverage). Universal health coverage yang dikembangkan JKA merupakan yang pertama di Indonesia dan diharapkan menjadi model bagi pengembangan sistem jaminan sosial nasional. JKA yang menganut konsep holistik ini juga berlaku bagi penduduk Aceh yang mendapat gangguan kesehatan dalam perjalanan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk akselerasi pencapaian target Millennium Development Goals (MDGs), JKA memberikan perhatian khusus kepada ibu hamil dan ibu bersalin. JKA menjamin sepenuhnya pelayanan Antenatal Care (ANC) dan Post Antenatal Care (PNC) oleh bidan desa atau Puskesmas. Hal ini tentu membutuhkan effort yang cukup besar. Secara probabilistik semua fasilitas kesehatan di Indonesia berpeluang memberikan pelayanan kesehatan kepada peserta JKA baik di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) maupun Rumah Sakit Umum (RSU) milik pemerintah maupun RSU swasta. Untuk standarisasi pelayanan di pelbagai fasilitas pelayanan kesehatan tersebut, Gubernur Aceh menetapkan Surat Keputusan Nomor 420/483/2010 tanggal 3 Agustus 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan JKA sebagai guidebook bagi seluruh stakeholder yang terkait di Aceh dan di seluruh tanah air. Konstitusi negara mewajibkan penyelenggara pemerintahan di Indonesia untuk menjamin hak-hak penduduk di bidang kesehatan. Kesehatan tidak hanya dipandang sebagai hak dasar (azazi) warga yang wajib dipenuhi pemerintah melainkan juga suatu bentuk investasi dini di bidang Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai penentu masa depan suatu bangsa. Tugas pemerintah yang sangat esensial itu mulai dilimpahkan sebagai tugas wajib pemerintah daerah dan kabupaten/kota, sejak otonomi daerah efektif diberlakukan di Indonesia. Kemudian, Pemerintah Daerah menempuh berbagai pendekatan dalam mengembankan tugas wajib ini. Perbedaan sosio-ekonomi antar daerah melahirkan beragam upaya pemenuhan hak rakyat tersebut. Di beberapa daerah, selain melakukan upaya standard preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif, juga mengembang sistem penjaminan kesehatan masyarakat, seperti Sumatera Selatan dan Makasar. Program asuransi Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) baru dilaksanakan pada 1 Juni Meski JKA usianya baru seumur jagung, telah mendorong 116

120 beberapa pemerintah daerah datang ke Aceh untuk mempelajarinya, seperti rombongan Pemda Manado dan Pemda Sulawesi Selatan. JKA masih satu-satunya sistem asuransi kesehatan yang menganut konsep cakupan universal (universal coverage) dan tidak ada iuran bayar untuk segala jenis pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan medis pesertanya. Cakupan universal (disebut juga cakupan semesta atau universal coverage) merupakan sistem kesehatan di mana setiap warga di dalam populasi memiliki akses yang adil terhadap pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif, yang bermutu dan dibutuhkan, dengan biaya yang terjangkau. Cakupan universal mengandung dua elemen inti: (1) akses pelayanan kesehatan yang adil dan bermutu bagi setiap warga; dan (2) perlindungan risiko finansial ketika warga menggunakan pelayanan kesehatan (WHO, 2005). Dana program Jaminan Kesehatan Aceh dianggarkan dalam APBA sebesar Rp ,- dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Aceh (DPA- SKPA) Dinas Kesehatan Nomor Tahun Anggaran 2010, untuk jangka waktu 7 (tujuh) bulan terhitung sejak 1 Juni 2010 hingga tanggal 31 Desember Dana JKA dimanfaatkan untuk pembiayaan pelayanan kesehatan langsung sebesar 85% (Rp ), pembiayaan tidak langsung sebesar 10% (Rp ), dan biaya operasional Badan Penyelenggaran JKA tahun 2010 (PT ASKES (Persero) sebesar 5% (Rp ). Mekanisme pembiayaan dan pembayaran dana JKA kepada fasilitas kesehatan dengan sistem kapitasi puskesmas dan pengajuan klaim pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang telah melakukan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Badan Penyelenggaran JKA. Kapitasi puskesmas dibayar berdasarkan jumlah penduduk sebesar Rp 4000/kapita/bulan untuk peserta JKA non Jamkesmas dan Rp 3000/kapita/bulan bagi peserta integrasi JKA Jamkesmas. Sementara untuk RSUD dibayarkan berdasarkan jumlah klaim yang diajukan setiap bulan dan dibayarkan setelah melalui proses verifikasi oleh Badan Penyelenggaran JKA. Pemanfaatan dana JKA di Puskesamas dan RSUD merujuk pada Surat Keputusan Gubernur Nomor 420/483/2010, tanggal 3 Agustus 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Aceh. Kepesertaan Peserta JKA adalah penduduk berdomisili di Aceh yang memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Aceh dan Kartu Keluarga (KK) Aceh, atau Kartu Keluarga bagi yang belum berhak mendapatkan KTP, dengan ketentuan tidak termasuk Peserta Askes Sosial, Pejabat Negara yang iurannya dibayar pemerintah dan peserta Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) Jamsostek. Peserta Askes Sosial adalah Pegawai Negeri Sipil, Pensiunan Pegawai Negeri Sipil, Pensiunan TNI/Polri, Veteran, Perintis 117

121 Kemerdekaan, dan anggota keluarga, dokter PTT dan bidan PTT. Peserta JPK Jamsostek adalah peserta yang mendapat jaminan kesehatan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan. Berdasarkan kriteria tersebut, maka ada dua jenis kepesertaan JKA yakni: peserta JKA Jamkesmas dan peserta JKA non Jamkesmas. peserta JKA Jamkesmas adalah peserta yang bersumber dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) diperuntukkan bagi penduduk miskin sesuai kriteria yang ditetapkan oleh Jamkesmas. Sedangkan Peserta JKA non Jamkesmas adalah peserta yang jaminan kesehatan bersumber dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) diperuntukkan bagi penduduk yang tidak terjamin melalui asuransi kesehatan sosial PT.Askes dan JPK Jamsostek. Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polisi Republik Indonesia (Polri) yang memiliki KTP Aceh termasuk peserta JKA. Peserta JKA Jamkesmas berhak mendapatkan jaminan kesehatan Aceh melalui integrasi pembiayaan kesehatan antara APBN dan APBA. Pemisahan secara valid antara penduduk Aceh yang memiliki jaminan kesehatan Askesos ( jiwa), Jamkesmas ( jiwa), Jamsostek ( jiwa), dengan penduduk yang belum memiliki jaminan sama sekali sebagai calon pemegang kartu JKA ( jiwa), dilakukan melalui proses validasi kepesertaan oleh pemerintah kabupaten/kota berdasarkan form isian yang diberikan oleh PT Askes (Persero) melalui camat setempat. Validasi dilakukan terhadap semua penduduk Aceh sekitar jiwa (BPS,2008). Hingga tutup tahun anggaran 2010, jumlah penduduk yang telah mengembalikan form validasi mencapai 1 (satu) juta orang dan sekitar 50% dari jumlah tersebut sudah dilakukan validasi untuk diterbitkan kartu JKA pada akhir Februari Jenis Pelayanan dan Fasilitas Kesehatan Jenis pelayanan JKA memberikan manfaat optimum kepada peserta sesuai kebutuhan medisnya mulai dari pemeriksaan kesehatan dan pelayanan kesehatan dasar dan penunjang sederhana di Puskesmas, Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP), Rawat Inap Tingkat Pertama (RITP), Rawat Jalan Tingkat Lanjut (RJTL), pelayanan gawat darurat, pelayanan rujukan, pelayanan Ante Natal Care, persalinan, Post Ante Natal Care, pelayanan darah, pelayanan pemeriksaan penunjang khusus, alat-alat kesehatan, kecuali pelayanan kosmetika (perawatan kecantikan). Pelayanan paripurna dan konfrehensif itu dapat diperoleh di Puskesmas, Rumah Sakit Umum, Rumah Sakit Khusus, Balai Pengobatan Penyakit Paru (BP4), Balai Laboratorium Kesehatan, Laboratorium Kesehatan Daerah, Apotek, Optikal, Unit Transfusi Darah (UTD) atau PMI, Dan fasilitas pelayanan lainnya yang ditunjuk oleh PT. Askes (Persero), transportasi rujukan gawat darurat bagi peserta JKA dari kepesertaan. Fasilitas kesehatan penyedia layanan di Aceh maupun yang luar Aceh diwajibkan melakukan ikatan kerja sama dengan Badan Pelaksana JKA. Pelayanan kesehatan oleh fasilitas kesehatan yang belum ada ikatan kerja 118

122 sama dengan Badan Pelaksana JKA dapat dibenarkan sesuai mekanisme yang diatur dalam Manlak JKA, atau pengaturan teknis oleh Kepala Dinas Kesehatan Aceh. Mekanisme Pelayanan Mekanisme pelayanan kesehatan bagi peserta JKA mengikuti mekanisme pelayanan kesehatan rujukan, yakni dimulai dari pelayanan kesehatan dasar di puskesmas. Apabila hasil diagnosis dokter di puskesmas menunjukkan diperlukan tindakan pelayanan rujukan ke tingkat pertama (di RSUD kabupaten/kota), maka akan dirujuk dengan surat rujukan. Kemudian, apabila hasil pertimbangan medis RSUD kabupaten/kota harus dirujuk lebih lanjut, peserta akan dirujuk ke RSUD dr. Zainoel Abidin atau rumah sakit lainnya di Banda Aceh, Medan dan Jakarta. Realisasi Anggaran Realisasi dana JKA Tahun Anggaran 2010 yang dialokasikan pada program kemitraan peningkatan pelayanan kesehatan dengan kegiatan kemitraan asuransi kesehatan masyarakat: Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,63%) dan realisasi fisik 100%. Dari total dana yang dialokasikan tersebut sebesar Rp ,- merupakan belanja Premi Asuransi yang dikelola oleh PT. ASKES sebagai Badan Pelaksana JKA. Menurut laporan PT ASKES (Persero) per 10 Januari 2011, sebesar Rp (81,52%), dengan perincian sebagai tampak pada table di bawah ini. Realisasi pelayanan kesehatan langsung 93,17%, Pelayanan kesehatan Tidak Langsung sebesar 93,17%, dan Managemen Fee PT Askes sebesar Rp ,-. Sisa dana JKA Tahun 2010 sebesar Rp ,- telah disetor kembali kepada kas daerah sesuai Perjanjian Kerja Sama Pemerintah Aceh dengan PT Askes Persero. Cakupan Pelayanan Peserta JKA Peserta JKA yang telah mendapat pelayanan kesehatan di 25 RSUD di Aceh dan 9 RSU rujukan ke luar Aceh berjumlah orang sejak 1 Juni 2010 sampai dengan 31 Desember Ini meliputi pelayanan kesehatan Rawat Jalan Tingkat Lanjut (RJTL) mapun Rawat Inap Tingkat Lanjut (RITL). Pelayanan kesehatan dasar di puskesmas berdasarkan dana kapitasi meliputi pelayanan preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif sesuai dengan kondisi masing-masing lingkungan kerja puskesmas. Ada 307 Puskesmas di Aceh (Profil Kesehatan 2009) yang memberikan pelayanan kesehatan dasar kepada jiwa masyarakat di berbagai kecamatan (surat usulan kapitasi kepala dinas kesehatan kabupaten/kota). Tantangan Pelayanan JKA Aceh merupakan program pioner yang mulai digulirkan sejak 1 Juni 2010, maka suatu kewajaran belaka bila dalam pelaksanaannya diwarnai pelbagai dinamika. Tantangan dalam pelaksanaan JKA antara lain sebagai 119

123 berikut: - pada awal pelaksanaannya sosialisasi kepada masyarakat belum optimal. Para Kepala Dinas Kesehatan kabupaten/kota dikumpulkan di Hermes Palace Hotel tiga hari sebelum JKA diberlakukan tidak meneruskan sosialisasi secara efektif kepada petugas kesehatan di kabupaten/kota. Kepala Dinas Kesehatan Bireuen, misalnya, meneruskan sosialisasi JKA kepada para kepala puskesmas di wilayahnya, namun sosialisasi serupa tidak dilakukan secara efektif di tingkat kecamatan dan pedesaan; - sistem pelayanan kesehatan rujukan tidak efektif di tingkat puskesmas sehingga terjadi ledakan pasien rawat jalan di RSUD kabupaten/kota dan di RSUD dr Zainoel Abidin Banda Aceh sebagai Top Referal di Aceh. Akibatnya, antrian panjang terjadi di loket-loket pelayanan RSUD, sehingga mengesankan kualitas pelayanan rumah sakit menurun; - rumah sakit swasta belum memenuhi standard minimal untuk dilakukan ikatan kerja sama untuk pelayanan kesehatan kepada peserta JKA karena umumnya tidak memiliki dokter full time. Rumah-rumah sakit yang ada di Banda Aceh pada umumnya memanfaatkan dokter-dokter dari RS Pemerintah. Sementara para dokter tersebut telah bekerja optimal di tempat tugasnya karena terjadi boming pasien JKA dalam enam bulan terakhir. - alokasi jasa pelayanan kesehatan dari sumber dana JKA dimaksudkan sebagai suplement penambahan penghasilan bagi petugas kesehatan di puskesmas dan RSUD, dengan harapan memberikan efek domino pada peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Akan tetapi pada kenyataannya menimbulkan kontroversi dalam pembagian jasa pelayanan tersebut dan sempat muncul ke hadapan publik melalui media massa; - prinsip holistik dan tanpa iur bayar dalam pelayanan kesehatan bagi peserta JKA membuat unit cost pelayanan yang telah ditetapkan dalam Manlak JKA harus disesuaikan setiap terjadi kenaikan harga obat atau bahan habis pakai. Apresiasi dan Prestasi Walaupun JKA masih berusia muda dan membutuhkan penyempurnaan di sana sini dalam pelaksanaannya di lapangan, namun tidak mengurangi daya pikat JKA bagi beberapa kepala daerah untuk mengirimkan utusannya ke Aceh. Tim JKA telah menerima kedatangan utusan dari Manado, di undang ke Samarinda, dan melayani pejabat dan anggota dewan dari Sulawesi Selatan Para wisatawan kebijakan publik itu umumnya mengaku tertarik mempelajari Universal Coverage JKA, sementara anggaran yang tersedia hanya Rp 241,9 miliyar untuk pelayanan unlimited selama 6 (enam) bulan. Bahkan Presiden Soesilo 120

124 Bambang Yudhoyono sendiri memberikan perhatian khusus terhadap kebijakan JKA di Aceh. Presiden SBY memberikan apresiasi dengan bersedia me-launcing JKA pada 29 Nopember 2010 di Banda Aceh. Tak lama kemudian Menteri Kesehatan RI menganugerahkan Penghargaan Kesatria Bhakti Husada kepada Gubenur Aceh Bapak Irwandi Yusuf atas komitmennya meningkatkan kualitas pelayanan publik di bidang kesehatan, dengan mengembangkan JKA dan Eliminasi Malaria di Aceh. Untuk kesinambungan JKA, DPRA telah menetapkan Qanun Kesehatan Aceh akhir tahun 2010, yang didalamnya mengatur tentang asuransi kesehatan Aceh. 15. Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Anak Balita Kegiatan Pelatihan dan pendidikan perawatan anak balita Kegiatan meningkatkan manajemen dan akses terhadap pelayanan kesehatan anak sehingga tercapainya akses pelayanan anak yang optimal untuk meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan anak. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,46%) dan realisasi fisik 100%. 16. Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan Lansia Bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang bersifat khusus dan rehabilitasi bagi kelompok masyarakat usia lanjut meningkatkan umur harapan hidup dari 68 menjadi 70,6 tahun dan sasaran yang ingin dicapai adalah terlaksananya pelayanan kesehatan keluarga miskin di Rumah Sakit Kelas III, yang dijamin pemerintah melalui program askeskin, peningkatan mutu dan pemerataan upaya kesehatan perorangan tingkat lanjutan di Rumah Sakit yang terakreditasi, peningkatan pelayanan rujukan, pembangunan sarana dan prasarana Rumah Sakit di kabupaten/kota se Aceh. Kegiatan pendidikan dan pelatihan perawatan kesehatan Kegiatan meningkatnya pelayanan kesehatan usia harapan hidup sehingga dapat meningkatnya pelayanan dan status lansia untuk meningkatnya usia harapan hidup dan status kesehatan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,99%) dan realisasi fisik 100%. 17. Program Peningkatan Kesehatan Ibu Melahirkan dan anak Kegiatan penyuluhan kesehatan bagi ibu hamil dan keluarga kurang mampu Kegiatan menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir sehingga peningkatan cakupan dan kualitas kesehatan ibu dan anak untuk peningkatan jangkauan dan mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak di kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,91%) dan realisasi fisik 100%. 121

125 Realisasi Anggaran Untuk Dinas Kesehatan dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp ,- (94,94%) dan realisasi fisik 100%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) ,94 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,65 2 Belanja langsung ,89 TOTAL ,94 C. Permasalahan dan Solusi Untuk tahun 2010 tidak ada permasalahan yang dihadapi oleh Dinas Kesehatan Aceh. Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin Urusan kesehatan yang dilaksanakan Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa administrasi keuangan; b. Rapat-rapat koordinasi & konsultasi ke luar daerah; c. Peningkatan pelayanan administrasi perkantoran. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor; b. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan berupa Rapat koordinasi teknis (Rakornis). 4. Program Upaya Kesehatan Masyarakat Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pemeliharaan dan pemulihan kesehatan; b. Penyediaan biaya operasional & pemeliharaan. 5. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: 122

126 a. Penyuluhan masyarakat pola hidup sehat; b. Pengembangan sistem informasi rumah sakit; c. Peningkatan pelayanan informasi, komunikasi dan kerjasama. 6. Program Pengadaan, Peningkatan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/ Rumah Sakit Paru-Paru/ Rumah Sakit Mata Kegiatan berupa pengembangan tipe rumah sakit 7. Program Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/ Rumah Sakit Paru-Paru/ Rumah Sakit Mata Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pemeliharaan rutin/berkala mobil ambulance/jenazah; b. Pemeliharaan rutin/berkala sarana rumah sakit; c. Pemeliharaan rutin/berkala sanitasi dan lingkungan rumah sakit. 8. Program Pelayanan Medis Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Peningkatan pelayanan asuhan keperawatan; b. Peningkatan pelayanan rehabilitasi medis; c. Peningkatan pelayanan gigi & mulut; d. Peningkatan pelayanan haemodialisa; e. Peningkatan pelayanan gawat darurat; f. Peningkatan pelayanan perawatan intensif anak; g. Peningkatan pelayanan perawatan intensif dewasa; h. Peningkatan pelayanan rawat jantung; i. Peningkatan pelayanan anestesi dan reanimasi; j. Peningkatan pelayanan rawat jalan; k. Peningkatan pelayanan rawat inap. 9. Program pelayanan penunjang medis/non medis Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Peningkatan pelayanan radiologi; b. Peningkatan pelayanan farmasi; c. Peningkatan pelayanan gizi; d. Peningkatan pelayanan pemulasaran jenazah; e. Peningkatan pelayanan patologi anatomi; f. Peningkatan pelayanan patologi klinik; g. Peningkatan pelayanan laundry; h. Peningkatan pelayanan sentral sterilisasi; i. Peningkatan pelayanan rekam medis. 10. Program Peningkatan Sumber daya Kesehatan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Peningkatan pelayanan diklat medis/non medis; b. Penelitian & pengembangan medis dan non medis. 123

127 B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah penyediaan jasa administrasi keuangan, rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah, peningkatan pelayanan administrasi perkantoran. Kegiatan ini telah dilaksanakan dan merupakan kegiatan rutin kantor. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,10%) dan realisasi fisik 93,25%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor Pelaksanaan kegiatan ini untuk pemeliharaan dan pengelolaan masjid. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,93%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor Pelaksanaan kegiatan ini untuk pemeliharaan service peralatan kantor, computer dan AC. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,46%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan berupa Rapat koordinasi teknis (Rakornis) Pelaksanaan kegiatan ini untuk penyelesaian kasus-kasus medis. Rendahnya realisasi disebabkan tidak adanya kasus yang menyalahi aturan dan kode etik kedokteran. kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (5,17%) dan realisasi fisik 83,33%. 4. Program Upaya Kesehatan Masyarakat Kegiatan pemeliharaan dan pemulihan kesehatan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penyediaan obatobatan bahan medis habis pakai serta biaya rawatan untuk pasien kurang mampu (miskin). Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (79,39%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan penyediaan biaya operasional dan pemeliharaan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penyediaan operasional rumah sakit yaitu penyediaan bahan bakar (solar) untuk genset serta penyediaan biaya transportasi ambulan untuk pasien kurang mampu (miskin). Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (75,12%) dan realisasi fisik 100%. 124

128 5. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kegiatan penyuluhan masyarakat pola hidup sehat Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pemberian penyuluhan serta informasi kesehatan kepada masyarakat yang berobat dan berkunjung di RS. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,92%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pengembangan sistem informasi rumah sakit Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penyediaan jasa dan pengadaan alat/bahan untuk menunjang kelancaran Hospital Management Information System. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,59%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan peningkatan pelayanan informasi, komunikasi dan kerjasama Kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan informasi seluas-luasnya kepada masyarakat mengenai rumah sakit seperti informasi dokter jaga, pengadaan leaflet serta pembuatan buku sejarah rumah sakit. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,69%) dan realisasi fisik 100%. 6. Program Pengadaan, Peningkatan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/ Rumah Sakit Mata Kegiatan berupa pengembangan tipe rumah sakit Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penyediaan jasa untuk penyusunan dokumen akreditasi, unit cost, tarif, tata kelola dan remunerasi rumah sakit untuk peningkatan type RS dan penerapan BLU secara penuh. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (84,88%) dan realisasi fisik 97,07%. 125

129 7. Program Pemeliharaan Sarana & Prasarana Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata Pemeliharaan rutin/berkala mobil ambulance/jenazah Pelaksanaan kegiatan ini yaitu penyediaan suku cadang dan BBM untuk operasional mobil ambulance/jenazah. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,93%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala sarana rumah sakit Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pengadaan bahan untuk perawatan genset, penyediaan jasa untuk pemeliharaan alat kesehatan. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,84%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala sanitasi dan lingkungan rumah sakit Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penyediaan jasa cleaning service serta pengelolaan lingkungan rumah sakit yang bertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,62%) dan realisasi fisik 100%. 8. Program Pelayanan Medis Kegiatan peningkatan pelayanan asuhan keperawatan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pembahasan permasalahan yang berhubungan dengan keperawatan dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (92,24%) dan realisasi fisik 91,88%. 126

130 Kegiatan peningkatan pelayanan rehabilitasi medis Pelaksanaan kegiatan tersebut dalam bentuk pengadaan bahan/alat untuk meningkatkan pelayanan pasien di rehabilitasi medis. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,80%) dan realisasi fisik 86,25%. Kegiatan peningkatan pelayanan gigi dan mulut Pelaksanaan kegiatan tersebut dalam bentuk pengadaan bahan/alat untuk meningkatkan pelayanan pasien gigi dan mulut. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,93%) dan realisasi fisik 87,78%. Peningkatan pelayanan haemodialisa Pelaksanaan kegiatan tersebut dalam bentuk pengadaan bahan/alat untuk meningkatkan pelayanan pasien haemodialisa. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,87%) dan realisasi fisik 100%. Peningkatan pelayanan gawat darurat Pelaksanaan kegiatan tersebut dalam bentuk pengadaan bahan/alat untuk meningkatkan pelayanan pasien gawat darurat. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,84%) dan realisasi fisik 100%. Peningkatan pelayanan perawatan intensif anak Pelaksanaan kegiatan tersebut dalam bentuk pengadaan bahan/alat untuk meningkatkan pelayanan pasien intensif anak. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp 0,- (0%) dan realisasi fisik 45,00%. Rendahnya realisasi di akibatkan tidak terlaksananya kegiatan belanja cetak sudah mengcukupi pada pelayanan rawat inap sehingga belanja cetak dan penggadaan tidak digunakan. Peningkatan pelayanan perawatan intensif dewasa Pelaksanaan kegiatan tersebut dalam bentuk pengadaan bahan/alat untuk meningkatkan pelayanan pasien intensif dewasa. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (4,31%) dan realisasi fisik 91,13%. Rendahnya realisasi di akibatkan alokasi anggaran yang tersedia tidak mengcukupi dan tidak adanya perubahan APBA sehingga dapat ditanggulangi melalui dana Jamkesmas dan JKA. Peningkatan pelayanan rawat jantung Pelaksanaan kegiatan tersebut dalam bentuk pengadaan bahan/alat untuk meningkatkan pelayanan pasien rawat jantung. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (71,74%) dan realisasi fisik 95%. Rendahnya realisasi di akibatkan tidak dilaksanakan kegiatan alat 127

131 kedokteran jantung dan gagalnya penggadaan alat jantung disebabkan tidak selesainya pertanggungjawaban sehingga pihak perusahaan telah dikenakan pinalti seseuai ketentuan yang berlaku. Peningkatan pelayanan anestesi dan reanimasi Pelaksanaan kegiatan tersebut dalam bentuk pengadaan bahan/alat untuk meningkatkan pelayanan pasien anestesi. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (81,04%) dan realisasi fisik 100%. Peningkatan pelayanan rawat jalan Pelaksanaan kegiatan tersebut dalam bentuk pengadaan bahan/alat untuk meningkatkan pelayanan rawat jalan. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (91,88%) dan realisasi fisik 100%. Peningkatan pelayanan rawat inap Pelaksanaan kegiatan tersebut dalam bentuk pengadaan bahan/alat untuk meningkatkan pelayanan rawat inap. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,04%) dan realisasi fisik 87,50%. 9. Program Pelayanan Penunjang Medis/Non Medis Kegiatan peningkatan pelayanan radiologi Pelaksanaan kegiatan tersebut dalam bentuk pengadaan bahan/alat untuk menunjang pelayanan radiologi. Pelaksanaan Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (86,73%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan peningkatan pelayanan farmasi Pelaksanaan kegiatan tersebut dalam bentuk pengadaan obat-obatan dan bahan habis pakai untuk keperluan pasien. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (82,44%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan peningkatan pelayanan gizi Pelaksanaan kegiatan tersebut dalam bentuk penyediaan makanan/minuman untuk petugas jaga dan pegawai resiko tinggi. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (88,12%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan peningkatan pelayanan pemulasaran jenazah Pelaksanaan kegiatan tersebut dalam bentuk penyediaan jasa otopsi, visum dam pengurusan jenazah. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (53,43%) dan realisasi fisik 93,13%. Kegiatan peningkatan pelayanan patologi anatomi 128

132 Pelaksanaan kegiatan tersebut dalam bentuk pengadaan bahan/alat untuk menunjang pelayanan patologi anatomi. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,74%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan peningkatan pelayanan patologi klinik Pelaksanaan kegiatan tersebut dalam bentuk pengadaan bahan/alat untuk menunjang pelayanan patologi klinik. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (86,09%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan peningkatan pelayanan loundry Pelaksanaan kegiatan tersebut dalam bentuk pengadaan bahan/alat untuk menunjang pelayanan laundry. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,56%) dan keuangan fisik 100%. Kegiatan peningkatan pelayanan sentral sterilisasi Pelaksanaan kegiatan tersebut dalam bentuk pengadaan alat medis dan bahan medis habis pakai dan juga sebagai upaya peningkatan pelayanan sentral sterilisasi. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (92,26%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan peningkatan pelayanan rekam medis Pelaksanaan kegiatan tersebut dalam bentuk peningkatan pelayanan rekam medis yang memuaskan Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (80,05%) dan realisasi fisik 100%. 10. Program Peningkatan Sumberdaya Kesehatan Kegiatan peningkatan pelayanan diklat medis/non medis Pelaksanaan kegiatan tersebut dalam bentuk pelatihan bimtek/pelatihan keperawatan dasar, penyegaran medis, pasien safety serta pelatihan lainnya untuk meningkatkan kompetensi SDM rumah sakit. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (86,92%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan penelitian & pengembangan medis dan non medis Pelaksanaan kegiatan tersebut dalam bentuk penelitian kepuasan pelanggan (pasien) dan penelitian kasus-kasus yang sering dijumpai di rumah sakit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana tinggkat pelayanan di RS. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,55%) dan realisasi fisik 92,86%. 129

133 Realisasi Anggaran Untuk Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp ,- (87,57%) dan realisasi fisik 97,97%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,57 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,87 2 Belanja langsung , ,85 TOTAL , ,57 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - pelayanan kesehatan bagi masyarakat telah diupayakan secara optimal, namun demikian sepanjang 2010 keluhan masyarakat terhadap kinerja pelayanan rumah sakit masih sering terjadi; - dengan adanya dana otonomi daerah, dana APBN dialokasikan semakin kecil; - SDM yang profesional sesuai dengan bidangnya masih terbatas baik dalam mutu maupun kualitas; - upaya peningkatan SDM masih terbatas dikarenakan tidak ada alokasi dana untuk pengembangan SDM pada tahun 2010 karena seharusnya setiap pegawai sesuai profesi di rumah sakit dapat menikmati pendidikan, pelatihan lanjutan untuk pengembangan kualitas dirinya; - sistem rekruitmen pegawai masih mengacu pada pengangkatan dari Pemerintah Daerah Aceh dan Pemerintah Pusat; - sistem informasi manajemen masih secara konvensional; - sistem struktur organisasi kaya struktur miskin fungsi. Solusi: Dalam menghadapi berbagai masalah pelaksanaan program kegiatan untuk pencapaian tujuan RSUD dr. Zainoel Abidin berupaya memenuhi kebutuhan sarana, prasarana baik berupa pengadaan alat medis maupun non medis melalui: - dengan tidak adanya APBA-P maka sulit untuk dicapainya realisasi anggaran dan pendapatan yang maksimal sehingga perlu ditinjau kembali adanya perubahan anggaran setiap tahun; - khususnya untuk RSUDZA perlu ditetapkan BLUD penuh dalam rangka memberi fleksibilitas keuangan dalam pencapaian dan target serta kegiatan 130

134 yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategi Bisnis (RSB) dan Rencana Bisnis Anggaran (RBA); - mengusulkan program unggulan secara bertahap; - mengupayakan rumah sakit menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD); - mengupayakan peningkatan anggaran melalui APBA, APBN, NGO dan lain-lain; - meningkatkan mutu pelayanan dengan menyusun standar pelayanan sesuai kemampuan rumah sakit; - mengupayakan penyusunan tarif baru berdasarkan unit cost pelayanan sebagai dasar untuk penyusunan tarif baru pelayanan rumah sakit. Rumah Sakit Jiwa Urusan kesehatan yang dilaksanakan oleh Rumah Sakit Jiwa sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa administrasi keuangan; d. Penyediaan jasa kebersihan kantor; e. Penyediaan alat tulis kantor; f. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; g. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundangan-undangan; h. Penyediaan makanan dan minuman; i. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi keluar daerah. 131

135 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengadaan perlengkapan gedung kantor; b. Pengadaan peralatan rumah jabatan/dinas; c. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor; d. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional; e. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan kantor; f. Pemeliharaan rutin/berkala alat studio dan komunikasi. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan ini berupa pendidikan dan pelatihan teknis. 4. Program Upaya Kesehatan Masyarakat Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pemeliharaan dan pemulihan kesehatan; b. Peningkatan kesehatan masyarakat; c. Penyediaan biaya operasional dan pemeliharaan. 5. Program Pengadaan, Peningkatan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-paru/Rumah Sakit Mata Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan rumah sakit; b. Pembangunan instalasi pengolahan limbah rumah sakit; c. Pengadaan obat-obatan rumah sakit; d. Pengadaan perlengkapan rumah tangga rumah sakit; e. Pengadaan bahan-bahan logistik rumah sakit. 6. Program Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-paru/Rumah Sakit Mata Kegiatan ini berupa pemeliharaan rutin/berkala ruang rawat inap rumah sakit (VVIP/VIP/Kelas I, II dan III). B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa administrasi keuangan, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundangan-undangan, penyediaan makanan dan minuman, rapat-rapat koordinasi dan konsultasi keluar daerah. Kegiatan-kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang selalu dilaksanakan dan dibutuhkan suatu instansi pemerintah, begitu juga dengan Rumah Sakit Jiwa Aceh yang melaksanakan proses administrasi. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (79,96%) dan realisasi fisik 100%. 132

136 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Pengadaan perlengkapan gedung kantor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan antara lain belanja ambal, LAN antar gedung, AC, meubeleur, komputer, alat-alat studio dan instalasi listrik. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,11%) dan realisasi fisik 100%. Pengadaan peralatan rumah jabatan/dinas Kegiatan tersebut telah dilaksanakan antara lain belanja rice cooker. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,17%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan yaitu pemeliharaan WC, sumur, leding, instalasi listrik, telepon dan air. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (80,62%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional Kegiatan tersebut telah dilaksanakan antara lain jasa service, suku cadang, BBM dan STNK. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (85,55%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan kantor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan antara lain OM komputer, mesin tik dan air conditioner. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (71,59%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala alat studio dan komunikasi Kegiatan tersebut telah dilaksanakan antara lain telepon, PABX, faximile wireless TOA, tape recorder dan LCD proyektor untuk 12 bulan. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (11,50%) dan realisasi fisik 100%. Rendahnya realisasi karena peralatan studio dan komunikasi merupakan pengadaan baru yaitu 2009 dan 2010 dimana tingkat kerusakan tidak terlalu signifikan. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Pendidikan dan pelatihan teknis Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pelatihan dan kursus singkat, sosialisasi dan bimbingan teknis. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (74,28%) dan realisasi fisik 100%. 4. Program Upaya Kesehatan Masyarakat Pemeliharaan dan pemulihan kesehatan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan antara lain bahan habis pakai dan bahan bacaan (Al-quran, kitab dan hadist) untuk rehabilitasi dan persiapan pasien eks pengguna Narkotika Alkohol Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA) kembali hidup normal dalam masyarakat. Anggaran yang 133

137 disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (84,37%) dan realisasi fisik 100%. Peningkatan kesehatan masyarakat Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penjemputan pasien pasung di kabupaten/kota di Aceh. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,03%) dan fisik 100%. Penyediaan biaya operasional dan pemeliharaan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk biaya transportasi pasien droping dan pengurusan mayat terlantar. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (73,29%) dan realisasi fisik 100%. 5. Program Pengadaan, Peningkatan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata Pembangunan Rumah Sakit Kegiatan ini telah dilaksanakan antara lain tanah timbun, tembok penyangga pagar setinggi 4 meter, pos satpam, pintu gerbang, kantin pasien dan pagar utama. Anggaran yang disediakan sebesar Rp 1,382,969,450,- realisasi keuangan Rp 1,379,586,592,- (99,78%) dan realisasi fisik 100%. Pembangunan instalasi pengolahan limbah rumah sakit Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,91%) dan realisasi fisik 100%. Pengadaan obat-obatan rumah sakit Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,81%) dan realisasi fisik 100%. Pengadaan perlengkapan rumah tangga rumah sakit Kegiatan ini telah dilaksanakan antara lain belanja pengisian tabung gas, bahan habis pakai untuk pasien, linen pasien, rehabilitasi pasien, mesin potong rumput, mesin pengolah air bersih, mesin pompa air, mesin hydropur, gorden dan alat-alat kedokteran umum. Pengadaan meubeleur Rumah Sakit Jiwa sangat dibutuhkan untuk membantu pelayanan kesehatan jiwa. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,79%) dan realisasi fisik 100%. Pengadaan bahan-bahan logistik rumah sakit Kegiatan ini telah dilaksanakan yaitu kebutuhan makanan dan minuman untuk pasien rawat inap dan makanan minuman petugas khusus (jaga malam, bulan puasa dan hari-hari besar). Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,74%) dan realisasi fisik 100%. 134

138 6. Program Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit/Rumah Sakit Jiwa/Rumah Sakit Paru-Paru/Rumah Sakit Mata Pemeliharaan rutin berkala ruang rawat inap rumah sakit (VVIP/VIP/Kelas I, II dan III) Kegiatan ini telah dilaksanakan yaitu belanja alat listrik dan elektronik, bahan baku bangunan, jasa service dan konstruksi jaringan air. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (82,10%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi Anggaran Rumah Sakit Jiwa dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp (94,48%) dan realisasi fisik 99%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,48 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,55 2 Belanja langsung , ,75 TOTAL , ,48 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: Pengadaan obat yaitu reagensia untuk bahan habis pakai laboratorium tidak dapat terealisasi karena distributor resmi tidak lagi mendistribusikan obat tersebut. Solusi: Laboratorium Rumah Sakit Jiwa telah mengambil inisiatif untuk menggunakan sisa stok obat tahun 2009 tanpa mengurangi pelayanan di laboratorium tersebut. Rumah Sakit Ibu dan Anak Urusan kesehatan yang dilaksanakan oleh Rumah Sakit Ibu dan Anak sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: 135

139 a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa administrasi keuangan; d. Penyediaan jasa kebersihan kantor; e. Penyediaan alat tulis kantor; f. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; g. Penyediaan komponen instalasi/penerangan bangunan kantor; h. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor; i. Penyediaan peralatan dan perlengkapan rumah tangga; j. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan; k. Penyediaan makanan dan minuman; l. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah; m. Penyediaan jasa hari-hari besar; n. Penyediaan jasa pegawai non-pns. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengadaan meubiler; b. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor; c. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional; d. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan kantor. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pendidikan dan pelatihan formal; b. Peningkatan kualitas pelayanan publik. 4. Program Perbaikan Gizi Masyarakat Kegiatan ini berupa pemberian tambahan makanan dan vitamin. 5. Program Pengadaan, Peningkatan Sarana/Prasarana Rumah Sakit Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan rumah sakit; b. Pembangunan instalasi pengolahan limbah rumah sakit; c. Pengadaan alat-alat kesehatan rumah sakit; d. Pengadaan obat-obatan rumah sakit; e. Pengadaan perlengkapan rumah tangga rumah sakit; f. Pengembangan tipe rumah sakit. 6. Program Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kegiatan ini berupa pemeliharaan rutin/berkala alat-alat kesehatan rumah sakit. B. Realiasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa administrasi keuangan, penyediaan jasa 136

140 kebersihan kantor, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi/penerangan bangunan kantor, penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor, penyediaan peralatan dan perlengkapan rumah tangga, penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan, penyediaan makanan dan minuman, rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah, penyediaan jasa hari-hari besar, penyediaan jasa pegawai non-pns. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (92,52%) dan realisasi fisik 92,52%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kegiatan pengadaan meubeleur Kegiatan tersebut telah dilaksanakan untuk perlengkapan kantor seperti almari multifile, meja kabag, meja ½ biro, kursi tunggu pasien, kursi manajer dan kursi staf. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,77%) dan realisasi fisik 99,77%. Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan untuk terselenggaranya jasa pemeliharaan (service) gedung kantor sehingga dapat memberikan rasa aman dan nyaman saat bekerja dalam kantor. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,98%) dan realisasi fisik 99,98%. Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional Kegiatan tersebut telah dilaksanakan untuk terselenggaranya service kenderaan roda 4 serta ketersediaan bahan bakar minyak/gas dan pelumas kenderaan dinas. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp (99,80%) dan realisasi fisik 99,80%. Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala peralatan kantor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan untuk terselengaranya jasa service peralatan kantor seperti service komputer, note book, AC dan lain-lain untuk 12 bulan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,84%) dan realisasi fisik 99,84%. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan pendidikan dan pelatihan formal Kegiatan tersebut telah dilaksanakan untuk terlaksanannya kursus-kursus singkat/pelatihan bagi pegawai sebagai usaha untuk meningkatkan mutu pekerjaannya. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,38%) dan realisasi fisik 99,38%. 137

141 Kegiatan peningkatan kualitas pelayanan publik Kegiatan tersebut telah dilaksanakan untuk perjalanan dinas luar daerah keperluan peningkatan kualitas pelayanan publik, sosialisasi dan bimbingan tehnis PNS untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp (99,60%) dan realisasi fisik 99,60%. 4. Program Perbaikan Gizi Masyarakat Kegiatan pemberian tambahan makanan dan vitamin Kegiatan tersebut telah dilaksanakan untuk tersedianya bahan pangan susu untuk dibagikan kepada pasien rawat jalan dan pasien rawat inap. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,50%) dan realisasi fisik 99,50%. 5. Program Peningkatan Sarana/Prasarana Rumah Sakit Kegiatan pembangunan rumah sakit Kegiatan tersebut telah dilaksanakan untuk tersedianya belanja penggandaan,jasa konsultasi perencanaan, pengadaan kontruksi/pembelian bangunan yang berupa pembuatan pembatas apotik, ruang rekam medik dan toserba, penyusunan dokumen BLU-RSIA, pengurusan izin gangguan (HO), biaya restribusi IMB, DED skyway, pengawasan pembangunan skyway, DED Mushalla RSIA, pengawasan pembangunan Mushalla RSIA, biaya pengelola tehnis pembangunan mushalla RSIA, pembuatan rak/lemari obat apotik, pemasangan paving blok, besi teralis, pembangunan skyway, pembangunan Post Satpam, pembangunan Mushalla RSIA. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (87,49%) dan realisasi fisik 88,62%. Kegiatan penambahan ruang rawat inap Kegiatan tersebut telah dilaksanakan untuk tersediaanya belanja modal pengadaan kontainer sampah. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp (99,32%) dan realisasi fisik 99,32%. Kegiatan pengadaan alat-alat kesehatan rumah sakit Kegiatan tersebut telah dilaksanakan untuk tersedianya belanja modal pengadaan tempat tidur, alat-alat kedokteran umum, alat-alat kedokteran gigi, alat-alat kedokteran bedah, alat-alat kedokteran anak, alat-alat kedokteran kebidanan dan penyakit kandungan, alat-alat kamar operasi, alat-alat radiologi dan alat-alat laboratorium. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (79,98%) dan realisasi fisik 89,98%. 138

142 Kegiatan pengadaan obat-obatan rumah sakit Kegiatan tersebut telah dilaksanakan untuk tersedianya obat-obatan untuk memenuhi kebutuhan obat pasien rawat inap dan rawat jalan rumah sakit ibu dan anak, keluarannya adalah tersedianya bahan obat-obatan dan bahan kimia. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp , realisasi keuangan Rp ,- (95,39%) dan realisasi fisik 95,39%. Kegiatan pengadaan perlengkapan rumah tangga rumah sakit Kegiatan tersebut telah dilaksanakan untuk tersedianya belanja modal pengadaan penghias ruangan rumah tangga rumah sakit. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,87%) dan realisasi fisik 96,87%. Kegiatan pengembangan tipe rumah sakit Kegiatan tersebut telah dilaksanakan untuk tersedianya honorarium panitia pelaksanaan kegiatan akreditasi rumah sakit dan tim tarif rumah sakit, belanja bahan habis pakai tim akreditasi dan tim tarif, belanja sertifikasi, jasa publikasi dan belanja jasa kantor lainnya. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (57,13%) dan realisasi fisik 57,13%. Hal ini disebabkan karena terbatasnya waktu pencairan dana. 6. Program Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala alat-alat kesehatan rumah sakit Kegiatan tersebut telah dilaksanakan untuk belanja jasa service peralatan dan perlengkapan kantor rumah sakit. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,72%) dan realisasi fisik 99,72%. Realisasi Anggaran Untuk Rumah Sakit Ibu dan Anak dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi anggaran sebesar Rp (93,30%) dan realisasi fisik 98,33%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,30 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung , ,72 2 Belanja langsung , ,38 TOTAL , ,30 139

143 C. Permasalahan dan Solusi Dalam pelaksanaan program dan kegiatan pada Rumah Sakit Ibu dan Anak tidak terdapat kendala dan permasalahan berarti. 3. URUSAN LINGKUNGAN HIDUP Urusan lingkungan hidup dilaksanakan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan sebagai berikut: A. Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa kebersihan kantor; d. Penyediaan alat tulis kantor; e. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; f. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; g. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan; h. Penyediaan makanan dan minuman; i. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah; j. Penyediaan jasa keamanan kantor; k. Penyediaan jasa hari-hari besar; l. Penyediaan jasa non PNS. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengadaan peralatan gedung kantor; b. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional c. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan kantor d. Pemeliharaan rutin/berkala alat studio dan komunikasi e. Rehabilitasi sedang/berat gedung kantor 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pendidikan dan pelatihan formal; b. Penataan dan penegakan hukum lingkungan. 4. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan Kegiatan ini berupa pengembangan desa model. 5. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Koordinasi penilaian kota sehat/adipura; b. Pengelolaan B3 dan limbah B3; c. Pengkajian dampak lingkungan; 140

144 d. Pengembangan produksi ramah lingkungan; e. Evaluasi lingkungan melalui implementasi RKL/RPL, UKL/UPL. 6. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengelolaan keanekaragaman hayati dan ekosistem; b. Peningkatan peran serta masyarakat dalam perlindungan dan konservasi Sumber Daya Alam. 7. Program Rehabilitasi dan Pemulihan Cadangan Sumber Daya Alam Kegiatan ini berupa monitoring, evaluasi dan pelaporan. 8. Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengembangan data dan informasi lingkungan; b. Pekan lingkungan hidup indonesia dalam rangka hari lingkungan hidup; c. Pengembangan Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) laboratorium lingkungan hidup daerah. B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan dan program pelayanan administrasi perkantoran telah dilaksanakan dalam bentuk penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundangundangan, penyediaan makanan dan minuman, rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah, penyediaan jasa keamanan kantor, penyediaan jasa hari-hari besar, penyediaan jasa non PNS. Program dan kegiatan ini merupakan program dan kegiatan rutin kantor dan telah dilaksanakan dalam bentuk pembelian prangko, materai dan benda pos lainnya serta belanja/pengiriman, pembayaran honor petugas AQMS (Air Quality Monitoring System), tenaga advensor (tenaga ahli) Bapedal, honor tenaga kontrak sebanyak 6 orang, biaya pembuatan dan pemasangan spanduk baliho di Blang Padang, biaya pembuatan spanduk dan pemasangan spanduk baliho di Aceh Tamiang, belanja telepon, air dan listrik Kantor Bapedal dan laboratorium lingkungan serta belanja kawat/faksimili/internet, pembelian peralatan kebersihan dan bahan pembersih serta pembayaran upah cleaning service Kantor Bapedal Aceh (5 org ) dan cleaning service UPTB (Unit Pengelola Teknis Badan) laboratorium (2 org) sehingga terciptanya lingkungan kantor yang bersih dan nyaman, pembelian alat tulis kantor, untuk lancarnya pelaksanaan tugas kantor, cetak lembar disposisi dengan logo, jaket surat dan amplop kop linen serta belanja penggandaan dokumen lelang, 141

145 pembelian alat listrik dan elektronik (lampu pijar, battery kering), sehingga lancarnya penerangan kantor, pembayaran untuk belanja surat kabar/majalah keperluan operasional kantor, pembayaran makan minum harian pegawai serta makanan dan minuman rapat pimpinan, pembayaran belanja perjalanan dinas dalam daerah dan luar daerah untuk eselon II, III dan gol III, untuk kelancaran operasional dan koordinasi lintas sektor kab/kota dan pusat, pembayaran honorarium pegawai honorer/tidak tetap (satpam kontrak 7 orang dan satpam BPKEL Aceh 1 orang), sehingga terwujudnya stabilitas keamanan dan kenyamanan kantor, pembayaran belanja untuk kegiatan PHBI, Hut RI, spanduk, umbul-umbul dan Dharma Wanita, sehingga terselenggaranya peringatan hari-hari besar dan tersedianya informasi kepada masyarakat, serta pembayaran honorarium non PNS (tenaga ahli/instruktur/narasumber) dan tenaga pemantau hutan Kawasan Leuser sejumlah 30 orang. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,07%) dan realisasi fisik 94,53%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kegiatan pengadaan peralatan gedung kantor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pembayaran honorarium tim pengadaan barang dan jasa serta pengadaan peralatan kantor berupa peralatan audio visual (TV LCD 32 ), pengadaan komputer note book untuk AQMS dan keuangan, pengadaan printer, UPS/stabilizer, pengadaan kelengkapan komputer dan pengadaan meubeleur yaitu pembuatan rak bahan kimia dan lemari box kunci. Tujuan dari kegiatan ini tersedianya barang kebutuhan dan lancarnya administrasi Kantor Bapedal. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,35%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pembayaran honorarium Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Kantor Bapedal sebanyak 2 orang, tenaga operator komputer ada NIH (Nomor Induk Honorer) 1 orang dan belanja perawatan kendaraan bermotor terdiri dari pemeliharaan sepeda motor roda dua (5 unit), kendaraan roda empat (7 unit), pemeliharaan mobil operasional laboratorium kendaraan roda 6 (2 unit), pengantian suku cadang ban mobil dinas 12 unit serta pemasangan box penutup bagasi (fiber glass) mobil doble cabin 1 unit. Tujuan dari kegiatan ini adalah terpeliharanya kendaraan dinas/operasional dan kelancaran tugas Kantor Bapedal. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,20%) dan realisasi fisik 100%. 142

146 Pemeliharaan rutin/berkala paralatan kantor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pembayaran honorarium panitia pelaksana kegiatan (pengurus barang) 1 orang dan belanja jasa service peralatan dan perlengkapan kantor berupa service/perbaikan AC split (27 unit), isi tambah dan ganti freon AC (27 unit), pemeliharaan mesin genset 1 unit (pengadaan minyak dan oli), service/perbaikan suku cadang komputer (10 unit), pemeliharaan kunci pintu (5 unit) dan keran air (10 unit). Tujuan dari kegiatan ini terpeliharaannya peralatan kantor dan mempelancar operasional Kantor Bapedal. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (92,96%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala alat studio dan komunikasi Dalam hubungan dengan kegiatan dan program ini telah dilaksanakan dalam bentuk pemeliharaan/perawatan dan perbaikan perlengkapan kantor berupa sound system, mic (2 paket), wireless (2 set), service telephon paralel (15 unit) sehingga lancarnya operasional kantor Bapedal. Tujuan dari kegiatan ini terpeliharanya alat studio dan komunikasi kantor dan lancarnya operasional Kantor Bapedal. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97.83%) dan realisasi fisik 100%. Rehabilitasi sedang/berat gedung kantor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pembayaran honorarium Tim Pemeriksa Barang dan Jasa (5 orang) selama 7 bulan, honorarium tenaga kontrak (supir) sejumlah 2 orang, rehabilitasi kantor Bapedal, rehabilitasi bak tampungan air Kantor Bapedal, pembayaran jasa konsultan perencanaan dan konsultan pengawas masing-masing 1 paket dan pengadaan kontruksi bangunan gedung kantor, tempat tinggal dan fasilitas umum lainnya berupa pembuatan pintu pagar samping Kantor Bapedal Aceh. Tujuan dari kegiatan ini terpeliharanya gedung Kantor Bapedal. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99.69%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Pendidikan dan pelatihan formal Pendidikan dan pelatihan formal pada program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan: Pemberian bantuan kepada 1 orang pegawai untuk mengikuti Rapat Koordinasi Pengelolaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Lingkungan Hidup di Palembang, penyelenggaraan diklat laboratorium lingkungan yang diikuti oleh 30 orang peserta dari dinas/kantor/badan lingkungan hidup se-aceh, 143

147 pemberian bantuan kepada 2 orang pegawai mengikuti Bimtek dan Ujian Sertifikasi Barang dan Jasa di Banda Aceh, pemberian bantuan kepada 2 orang staf laboratorium lingkungan untuk mengikuti Pelatihan Pemahaman dan Penerapan ISO/IEC 17025:2005 atau SNI ISO/IEC 1725:2008 di Banda Aceh, pemberian bantuan kepada 6 orang pegawai untuk mengikuti sosialisasi Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang pengadaan barang/jasa pemerintah dan ujian sertifikasi pengadaan barang/jasa sebagai persyaratan panitia dan PPTK dalam beberapa kegiatan. Pemberian bantuan kepada 1 orang pegawai untuk mengikuti Bimtek dan Ujian Keahlian Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah di Medan, mengikuti Pelatihan Tim Pemantauan ADIPURA di Medan, mengikuti kegiatan peningkatan kinerja PPLH dan PPLHD di Medan, dan mengikuti kegiatan asistensi penerapan sistem manajemen lingkungan SNI dan diseminasi program Eco- Office dan program ekolabel swa-deklarasi di Riau. Tujuan dari dilaksanakan Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan adalah untuk meningkatkan kemampuan sumber daya aparat pengelola lingkungan hidup. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,63%) dan realisasi fisik 100%. Penaatan dan penegakan hukum lingkungan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pembayaran honorarium tenaga kontrak pemantau lingkungan sebanyak 19 orang yang bertugas memantau lingkungan di seluruh kecamatan di dalam wilayah Kota Banda Aceh, bantuan hadiah untuk para juara lomba sekolah/dayah hijau (ramah lingkungan) tingkat SD, SMP, SMU, tingkat dayah/pasantren se Aceh, Terlaksananya pengawasan dan penegakan hukum lingkungan yaitu pengawasan terhadap kebocoran gas di sumur bor PT. Medco, pengawasan terhadap pelepasan Amoniak di PT. PIM, pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pembangunan Intek Tampungan Air Bur Mapendi di Aceh Tenggara, pengawasan terhadap tercecernya mercurry di bekas lahan PT. Exxon Mobil, pengawasan tambak terlantar di Kabupaten Bireuen serta pengawasan kasus pencemaran udara di PTPN I Tanjung Seumentoh Kabupaten Aceh Tamiang. Terlaksananya penilaian properda di PT. Arun dan PT. Exxon Mobil, melaksanakan properda di PT. PLN dan PT. Koja Kota Sabang serta properda di PT. SAI Aceh Besar. Terlaksananya Penilaian Sekolah Sehat dan Ramah Lingkungan (Adiwiyata) di 12 kab/kota. Untuk kegiatan perjalanan dinas luar daerah dalam rangka pendampingan konsultasi Qanun Lingkungan Hidup di Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup Jakarta. Tujuan dari semua kegiatan ini adalah tersosialisasinya dan tersedianya peraturan hukum lingkungan dan tegaknya hukum lingkungan sehingga terpeliharanya lingkungan dari pencemaran dan kerusakan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,77%) dan 144

148 realisasi fisik 100%. 4. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan Pengembangan desa model Pengembangan Desa Model merupakan lanjutan pelaksanaan kegiatan tahun 2009, berupa pilot project pembinaan desa yang didasarkan atas prinsip-prinsip ekologis dan berwawasan lingkungan. Tujuan kegiatan ini adalah terwujudnya desa bersih, sehat, indah dan nyaman sehingga diharapkan tercapainya visi Bapedal Aceh yaitu meningkatnya kebersihan dalam masyarakat menuju clean dan green. Kegiatan ini berlokasi di Desa Lhong Raya Kota Banda Aceh. Adapun kegiatannya berwujud dalam bentuk belanja publikasi yaitu: cetak spanduk 2 buah, belanja karung kemasan kompos sebanyak buah untuk kelengkapan lapangan, pembayaran honor pengelola bengkel kerja di desa model dan upah pengumpul sampah dan pemotong rumput masing-masing 1 orang, belanja bahan bakar, minyak/gas dan pelumas untuk mesin-mesin, cetak dan penggandaan laporan hasil pelaksanaan kegiatan, pengadaan mesin potong rumput, mesin menjahit kemasan kompos, pembuatan bengkel kerja 1 unit, bak pencuci 3 unit dan rumah kompos 1 unit. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,03%) dan realisasi fisik 100%. 5. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup Koordinasi penilaian kota sehat/adipura Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan penilaian kota peserta adipura dan kebersihan untuk 15 kab/kota di seluruh Aceh, dan 2 kota mendapatkan piala adipura yaitu Kota Banda Aceh dan Kota Lhokseumawe. Tujuan dari kegiatan ini adalah adanya kota penerima adipura di Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,99%) dan realisasi fisik 100%. Pengelolaan B3 dan limbah B3 Pengelolaan B3 dan limbah B3 telah dilaksanakannya dalam bentuk kegiatan pengawasan pengelolaan B3 dan limbah B3 yaitu: - Rumah Sakit Umum yaitu: RSU Sabang di Kota Sabang, RSUD Nagan Raya di Kabupaten Nagan Raya, RSUD Sigli di Kabupaten Pidie, RSU Fakinah, RSU Malahayati dan RSU Bulan Sabit Merah di Kota Banda Aceh, RSUD Cut Nyak Dhien di Kabupaten Aceh Barat, RSUD Cut Meutia di Kota Lhokseumawe, RSUD Dr. Fauziah di Kabupaten Bireuen, RSU Kota Langsa di Kota Langsa, RS Kesrem di Kota Lhokseumawe, RSUD Dr. Yulidin Away di Kabupaten Aceh Selatan dan RSUD Singkil di Kabupaten Aceh Singkil. - Pabrik Kelapa Sawit PKS) yaitu: PKS Kalista Alam di Kabupaten 145

149 Nagan Raya, PKS PT. Sisirau di Kabupaten Aceh Tamiang, PKS Fajar Selatan di Kabupaten Aceh Selatan dan PKS Lembah Bakti di Kabupaten Aceh Singkil. - Depot Bahan Bakar Minyak (BBM) yaitu: Depot BBM Krueng Raya di Kabupaten Aceh Besar, Depot BBM Kota Lhokseumawe. - Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yaitu: PLTD Aneuk Laot di Kota Sabang, PLTD Pulo Pisang di Kabupaten Pidie dan PLTD Seuneubok di Kabupaten Aceh Barat. - PT. Pupuk Iskandar Muda di Kota Lhokseumawe, PT. Semen Andalas Indonesia di Kabupaten Aceh Besar dan Pabrik Es CV. Muda Perkasa Lamlagang di Kota Banda Aceh, PLN Gitring di Kota Langsa. Tujuan dari kegiatan ini adalah terkendalinya tingkat pencemaran lingkungan melalui pemantauan dan penertiban perusahaan/instansi/jasa yang menggunakan bahan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dalam menjalankan aktivitasnya. Dari hasil pengawasan tersebut telah diambil kebijakan-kebijakan untuk memperbaiki kualitas lingkungan hidup. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,74%) dan realisasi fisik 97,74%. Pengkajian dampak lingkungan Adapun kegiatan programnya yang telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pembinaan terhadap komisi AMDAL kabupaten/kota dan pengkajian terhadap usaha/kegiatan yang belum dan sudah mempunyai dokumen lingkungan yaitu: pembinaan pelaksanaan pembentukan komisi penilai AMDAL sesuai Permen-LH No. 6 Tahun 2008 di Kabupaten Pidie, Aceh Timur dan Kabupaten Aceh Besar. Pembinaan dalam rangka persiapan pembentukan komisi AMDAL dan persiapan Lisensi komisi penilai AMDAL kab/kota sesuai dengan Permen-LH No. 15 Tahun 2010 di Kabupaten Nagan Raya. Pembinaan dan pengarahan Tata Kerja Sekretariat Komisi Penilai AMDAL di Kabupaten Aceh Barat dan menghadiri seminar penilaian kerangka acuan ANDAL (KA- ANDAL) pembangunan kebun kelapa sawit oleh PT. Potensi Bumi Sakti di Kabupaten Aceh Barat. Pembinaan dan pengawasan lisensi komisi AMDAL Kabupaten Aceh Tengah sesuai dengan Permen-LH No. 25 Tahun 2009 tentang pembinaan dan pengawasan terhadap komisi penilai AMDAL di Kabupaten Aceh Tengah. Melaksanakan Pengkajian terhadap kegiatan penambangan PT. Lhoong Setia Mining yang di monitoring oleh BLHKP Kabupaten Aceh Besar. Adanya laporan pembinaan dan pengawasan komisi penilai AMDAL kab/kota sesuai dengan Permen-LH No. 6 Tahun 2008 dan Permen LH No. 25 Tahun Diterbitkannya rekomendasi lisensi komisi penilai AMDAL dari 146

150 Bapedal Aceh untuk 5 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Aceh Tengah, Aceh Singkil, Simeulue dan Kota Sabang. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,32%) dan realisasi fisik 100%. Pengembangan produksi ramah lingkungan Kegiatan ini merupakan lanjutan program kegiatan tahun 2009 dalam wujud pilot projek alternatif ramah lingkungan. Tujuan kegiatan ini adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus pelestarian lingkungan dengan membudidayakan tanaman-tanaman yang prosesnya menggunakan bahan-bahan organik sehingga terjaganya lingkungan dari kerusakan. Kegiatan ini berupa penanaman sorgum manis dan strobery serta peternakan lebah madu dengan lokasi kegiatan di Desa Lam Ara Tunong Kecamatan Kuta Malaka Kabupaten Aceh Besar. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,55%) dan realisasi fisik 100%. Evaluasi lingkungan melalui implementasi RKL/RPL, UKL/UPL Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pemantauan dan evaluasi lingkungan terhadap Implementasi RKL/RPL, UKL/UPL dan DPPL. Paling kurang kegiatan ini dilakukan pada kegiatan penambangan bijih besi PT. Lhoong Setia Mining di Kabupaten Aceh Besar dan Penambangan Bijih Besi PT. Pinang Sejati Utama KSO KSU Tiega Manggis di Kabupaten Aceh Selatan. Di samping itu, juga dilakukan pengawasan aktif terhadap pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan kegiatan pembangunan pengaman pantai Kuala Raja dan rencana kegiatan peningkatan produksi ternak dan peningkatan akses pasar ternak di Kabupaten Bireuen. Evaluasi lingkungan pada PKS PTPN-I Cot Girek di Kabupaten Aceh Utara dan PKS PT. Ensem Sawita di Kabupaten Aceh Timur tak luput juga dari pengawasan dan evaluasi dari Pemerintah Aceh. Verifikasi lapangan terhadap lokasi rencana pembangunan jalan Highway Lintas Timur Seksi-II dan pemantauan terhadap implementasi Dokumen RKL/RPL pembangunan reservoir Teluk Pusong dan perbaikan sistem drainase di Kota Lhokseumawe juga hal yang mendapatkan evaluasi dan penilaian. Evaluasi RKL/RPL kegiatan pembangunan Pelabuhan Meulaboh dan pembangunan jalan Banda Aceh-Meulaboh, di samping Pemantauan terhadap laporan pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh PT. Lhoong Setia Mining dan data-data pendukung di BLHPKP Kabupaten Aceh Besar adalah hal yang signifikan dilakukan Pemerintah Aceh untuk terpeliharanya lingkungan hidup. Adanya laporan dan tindak lanjut terhadap implementasi pengelolaan lingkungan sesuai arahan pada dokumen RKL/RPL, UKL/UPL dan DPPL. Dari hasil pemantauan dan evaluasi tersebut telah diambil kebijakan-kebijakan untuk memperbaiki kualitas lingkungan hidup. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- 147

151 (99,87%) dan realisasi fisik 100%. 6. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam Pengelolaan keanekaragaman hayati dan ekosistem Merupakan kegiatan lanjutan tahun 2009 dalam wujud kegiatan pembangunan taman keanekaragaman hayati (penanaman bibit tanaman khas Singkil) yang berlokasi di Pangkalan Sulampi Kecamatan Suro Kabupaten Aceh Singkil. Tujuan kegiatan ini adalah terbangunnya pusat penelitian, pendidikan, wisata dan sebagai penghasil PAD bagi Kabupaten Aceh Singkil. Kegiatan ini telah dilaksanakan dalam bentuk pembayaran upah petugas pertamanan keanekaragaman hayati sebanyak 1 orang serta biaya pemupukan dan penyiangan. Belanja cetak dan penggandaan laporan hasil pelaksanaan kegiatan serta biaya desain balai pertemuan sederhana motif Aceh (Balee Aceh) untuk Kabupaten Singkil 1 unit dan biaya desain rancangan taman keanekaragaman hayati untuk Kabupaten Bireuen. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98.05%) dan realisasi fisik 100%. Peningkatan peran serta masyarakat dalam perlindungan dan konservasi Sumber Daya Alam sebagai kegiatan lanjutan tahun 2009 kiranya juga kegiatan yang perlu mendapatkan perhatian. Wujud dari kegiatan ini dilakukan dalam bentuk kegiatan pilot project kawasan konservasi berbasis ekowisata dan jasa lingkungan yang berlokasi di Desa Dayah Reubee Kecamatan Delima Kabupaten Pidie. Adapun tujuannya adalah terbangun satu kawasan konservasi SDA, di sisi lain, melalui peningkatan kemampuan pengelolaan suatu kawasan konservasi secara berkelanjutan juga kegiatan ini dilakukan untuk upaya pengembangan usaha ekonomi masyarakat. Pada tahun 2010, sebagai amanah lanjutan kegiatan tahun 2009, kegiatan lanjutan telah dilaksanakan dalam bentuk bantuan bibit ikan gurami dan ikan lele tambak desa, pembersihan/piringan sekitar pohon yang telah ditanam tahun lalu, pembayaran upah petugas pengawas kegiatan sebanyak 1 orang dan pengadaan sumur bor Bukit Kurma Desa Mesjid Beuah di Kecamatan Delima. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,29%) dan realisasi fisik 100%. 7. Program Rehabilitasi dan Pemulihan Cadangan Sumber Daya Alam Monitoring, evaluasi dan pelaporan telah dilaksanakan kegiatan dalam bentuk - Perencanaan program pengelolaan lingkungan hidup dengan tujuan mengkoordinasikan, menginventarisir dan mengevaluasi serta melaksanakan monitoring program-program/kegiatan lintas sektor kab/kota dalam pengelolaaan lingkungan hidup. Kegiatan ini telah 148

152 dilaksanakan di 13 kabupaten/kota meliputi: Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Kota Lhokseumawe, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Kota Subulussalam, Aceh Singkil, Aceh Besar, Bener Meriah, Aceh Tengah, Kota Sabang, Aceh Tamiang dan Kota Langsa. - Monitoring koordinasi pengelolaaan lingkungan hidup lintas sektor yang merupakan kegiatan terpadu dengan melibatkan lintas sektor terkait dalam pelaksanaannya. Melakukan koordinasi dengan institusi terkait, kab/kota dan masyarakat dalam menangani kasuskasus pencemaran dan kerusakan lingkungan yang menjadi keluhan dan telah menggangu masyarakat dalam suatu wilayah. Tujuan dari kegiatan ini adalah terkoordinasi dan adanya kesamaan persepsi serta komitmen dalam pengelolaan lingkungan hidup. Kegiatan ini meliputi monitoring terpadu penambangan emas oleh rakyat di Geumpang Kabupaten Pidie, monitoring koordinasi pengelolaan tata ruang lingkungan di Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Tenggara, pemantauan terpadu penanganan tambak terlantar seluas 800 Ha di Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen. Dari hasil monitoring tersebut telah diambil kebijakan-kebijakan untuk memperbaiki kualitas lingkungan hidup. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,85%) dan realisasi fisik 100%. 8. Program Peningkatan Kualitas dan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Pengembangan data dan informasi lingkungan telah dilaksanakan kegiatan dalam bentuk akses informasi lingkungan hidup kepada masyarakat. Pelaksanaan kegiatan berwujud dalam bentuk sosialisasi melalui media TV (dialog interaktif), feture, siaran wahana lingkungan melalui media, pemasangan baliho benner, sosialisasi melalui radio, penyusunan buku status lingkungan hidup, buletin lingkungan clean dan green, jurnal rona lingkungan hidup, brosur/leaflet dan stiker tentang kampanye lingkungan serta pengadaan printer A3 warna dan kamera digital+zoom (12 MF). Tujuan dari kegiatan ini adalah tersedianya media informasi dan meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang lingkungan hidup. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,74%) dan realisasi fisik 100%. 149

153 Bagaimanapun untuk menumbuhkan kesadaran sosial masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan maka Pekan Lingkungan Hidup Indonesia dalam rangka hari lingkungan hidup pun telah dilaksanakannya dalam bentuk kegiatan peringatan hari-hari besar lingkungan hidup, di antaranya adalah: - Upacara Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tanggal 5 Juni 2010 yang halaman Kantor Gubernur Aceh dan penyerahan penghargaan Adiwiyata kepada sekolah-sekolah/dayah hijau se Aceh. - Peringatan Hari Bumi pada tanggal 22 April 2010 yang dilaksanakan di Laboratorium Lingkungan Hidup Bapedal Aceh dengan melakukan penanaman jenis pohon penghijauan dan buahbuahan. - Peringatan Hari Ozon tanggal 16 September 2010 beriringan dengan kegiatan Aceh Exspo Pramuka Wirakarya Nasional di Seulawah Scout Camp pada tanggal 29 November s/d 6 Desember 2010, d). Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional tanggal 5 November 2010 di Kabupaten Bireuen dengan melaksanakan penghijauan. - Pelaksanaan Kegiatan Governor Technical Meeting (GCF) for Climate Change di Banda Aceh pada tanggal 17 s/d 22 Mei 2010 yang diikuti oleh berbagai negara terkait dengan perubahan iklim /REDD. Tujuan dari terlaksananya kegiatan ini adalah suksesnya kegiatan hari-hari besar lingkungan hidup sehingga tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan hidup. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,16%) dan 150

154 realisasi fisik 98,20%. Pengembangan Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) laboratorium lingkungan hidup daerah. Kegiatan ini telah dilaksanakan antara lain monitoring dan pengujian air sumur penduduk di daerah tsunami di 10 kabupaten/kota yang meliputi Kabupaten Aceh Besar, Kota Sabang, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Nagan Raya, Kabupaten Pidie, Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten Bireuen, Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe. Adapun tujuan dilakukan kegiatan ini adalah untuk mengetahui kualitas air sumur penduduk yang mengacu kepada PerMenKes No. 416 Tahun 1990 dan diperolehnya data hasil pengujian. Pengadaan multi gas dan kelengkapannya untuk Laboratorium Lingkungan Aceh Tamiang. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,65%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi Anggaran Untuk Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp (98,58%) dan realisasi fisik 98,41%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,58 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,63 2 Belanja langsung ,53 TOTAL , ,58 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - Kurang dan bahkan dapat dikatakan lemahnya political will dan komitmen dari pemerintah kabupaten/kota dalam mengembangkan kapasitas institusi lingkungan hidup telah mengantarkan perhatian akan pentingnya pemeliharaan kondisi ligkungan hidup menjadi terabaikan. - Rendahnya alokasi anggaran untuk sektor lingkungan hidup baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. - Kurangnya SDM di bidang lingkungan hidup 151

155 Solusi: - Untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan secara bertahap membangun komitmen dan political will yang kuat dari Pemerintah Aceh dan kabupaten/kota. - Menjadikan pengawasan/pemantauan terhadap kasus-kasus pencemaran dan kerusakan lingkungan baik yang selama ini terjadi maupun untuk mencegah terjadinya pelanggaran lingkungan. - Perlu ditingkatkannya kerjasama yang baik antar stekeholder baik antar sektor maupun kabupaten/kota. - Ke depan, suatu hal yang harus menjadi perhatian Pemerintah Aceh adalah keberpihakan anggaran untuk sektor lingkungan hidup baik di provinsi maupun kab/kota. - Perlu adanya perekrutan pegawai dari latar belakang pendidikan lingkungan untuk ditempatkan di bidang lingkungan hidup. 4. URUSAN PEKERJAAN UMUM Urusan pekerjaan umum dilaksanakan oleh Dinas Bina Marga dan Cipta dan Dinas Pengairan. Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Urusan pekerjaan umum yang dilaksanakan oleh Dinas Bina Marga dan Cipta Karya sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kenderaan dinas/operasional; d. Penyediaan jasa kebersihan kantor; e. Penyediaan jasa perbaikan peralatan kerja; f. Penyediaan alat tulis kantor; g. Penyediaan barang cetakan dan pengadaan; h. Penyediaan komponen intalasi listrik/penerangan bangunan kantor; i. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor; j. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan; k. Penyediaan makanan dan minuman; l. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi keluar daerah; m. Penyediaan jasa hari-hari besar; n. Peningkatan pelayanan administrasi perkantoran. 152

156 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengadaan meubeleur; b. Pengadaan UPS/stabilizer komputer; c. Pemeliharaan rutin/berkala taman, tempat parkir dan halaman kantor; d. Rehabilitasi sedang/berat rumah gedung kantor. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah Pengembangan indikator kinerja instensi pemerintah. 4. Program Pembangunan Jalan dan Jembatan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Perencanaan pembangunan jalan; b. Pembangunan jalan; c. Perencanaan pembangunan jembatan; d. Pembangunan jembatan; e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan; f. Pengawasan teknis pembangunan jalan. 5. Program Pembangunan Saluran Drainase/Gorong-Gorong Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah pembangunan saluran drainase/gorong-gorong. 6. Program Rehabilitasi/ Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah Rehabilitasi/pemeliharaan jalan 7. Program Tanggap Darurat Jalan dan Jembatan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah rehabilitasi jalan dalam kondisi tanggap darurat. 8. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Kebinamargaan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengadaan peralatan dan perlengkapan bengkel alat-alat berat; b. Rehabilitasi/pemeliharaan peralatan dan perlengkapan bengkel alatalat berat. 9. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Air Limbah Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Fasilitasi pembinaan teknik pengolahan air minum; b. Pengembangan sistem distribusi air minum; c. peningkatan operasi dan pemeliharaan prasarana dan sarana persampahan. 10. Program Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah perencanaan pengembangan infrastruktur. 11. Program Pemabangunan Infrastruktur Perdesaan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: 153

157 a. Penataan lingkungan permukiman penduduk perdesaan; b. Pembangunan jalan dan jembatan perdesaan; c. Pembangunan sarana dan prasarana gedung; d. Sosialisasi bidang perkotaan dan permukiman. 12. Program Pengaturan Jasa Konstruksi Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sosialisasi dan diseminasi peraturan perundang-undangan jasa konstruksi dan peralatan lainnya yang terkait. 13. Program Pemberdayaan Jasa Konstruksi Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pemberdayaan penyedia jasa konstruksi (orang perseorangan, badan usaha); b. Pemberdayaan pengguna jasa konstruksi (instansi pemerintah, orang perseorangan, badan usaha); c. Pembinaan jasa konstruksi daerah. 14. Program Pengawasan Jasa Konstruksi Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah pengawasan terhadap ketentuan keteknikan. 15. Program Pengembangan Perumahan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah pengembangan rumah sehat sederhana. 16. Program Perencanaan Tata Ruang Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah Penyusunan rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota. B. Realiasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatannya berupa penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kenderaan dinas/operasional, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyediaan jasa perbaikan peralatan kerja, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan pengadaan, penyediaan komponen intalasi listrik/penerangan bangunan kantor, penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor, penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan, penyediaan makanan dan minuman, rapat-rapat koordinasi dan konsultasi keluar daerah, penyediaan jasa harihari besar, peningkatan pelayanan administrasi perkantoran. program dan kegiatan ini merupakan kegiatan rutin kantor. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keungan Rp ,- (52,64%). 154

158 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah pengadaan meubeleur, pengadaan UPS/stabilizer komputer, pemeliharaan rutin/berkala taman; tempat parkir dan halaman kantor dan rehabilitasi sedang/berat rumah gedung kantor. Kegiatan di atas merupakan kegiatan rutin kantor dan telah dilaksanakan. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (87,41%). 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Pengembangan indikator kinerja instensi pemerintah Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (46,63%) dan realisasi fisik 79%. 4. Program Pembangunan Jalan dan Jembatan Kegiatan perencanaan pembangunan jalan Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan bentuk pelaksanaaan perencanaan dan amdal pada 23 kabupaten kota: Kabupaten Sabang : 2 Paket Kabupaten Pidie : 1 Paket Kabupaten Aceh utara : 1 Paket Kota Langsa : 1 Paket Kabupaten Aceh timur : 2 Paket Kabupaten Aceh tamiang : 3 Paket Kabupaten Siemelue : 2 Paket Kabupaten Aceh selatan : 2 Paket Kabupaten Subulussalam : 1 Paket Kabupaten Aceh singkil : 1 Paket Kabupaten Bener meria : 5 Paket Kabupaten Aceh tengah : 2 Paket Provinsi : 15 Paket Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (85,24%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pembangunan jalan Dengan target penanganan sepanjang 769,01 km yang dapat dicapai penanganan efektif sepanjang 629,971 km. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan lokasi kegiatannya sebagai berikut: Kota Banda Aceh : 2 Paket, 8,2 Km Kabupaten Sabang : 2 Paket, 6,33 Km Kabupaten Aceh besar : 12 Paket, 28,76 Km Kabupaten Pidie : 13 Paket, 39,98 Km Kabupaten Pidie Jaya : 8 Paket, 18,27 Km Kabupaten Bireun : 6 Paket, 24,48 Km 155

159 Kabupaten Aceh Utara : 4 Paket, 22,78 Km Kota Lhokseumawe : 5 Paket, 15 Km Kabupaten Aceh Timur : 13 Paket, 39,4 Km Kota langsa : 5 Paket, 5,18 Km Kabupaten Aceh tamiang : 6 Paket, 19,075 Km Kabupaten Bener Meriah : 13 Paket, 52,505 Km Kabupaten Aceh jaya : 9 Paket, 26,07 Km Kabupaten Aceh barat : 10 Paket, 22,13 Km Kabupaten Nagan Raya : 4 Paket, 7,02 Km Kabupaten Siemelue : 4 Paket, 39,071 Km Kabupaten Aceh Barat Daya : 11 Paket, 30,62 Km Kabupaten Aceh Selatan : 10 Paket, 22,865 Km Kabupaten Subulussalam : 3 Paket, 8,70 Km Kabupaten Aceh singkil : 12 Paket, 54,185 Km Kabupaten Aceh Tengah : 3 Paket, 5,325 Km Kabupaten Gayo Lues : 13 Paket, 67,775 Km Kabupaten Aceh Tenggara : 15 Paket, 65,8 Km Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95.60%) dan realisasi fisik 93.29%. Kegiatan perencanaan pembangunan jembatan Telah dilaksanakan dengan bentuk pelaksanaan perencanaan pembangunan jembatan: Kabupaten Aceh Selatan : 1 Paket Kabupaten Aceh Tengah : 1 Paket Provinsi : 8 Paket Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (47,42%) dan realisasi fisik 56,50%. Kegiatan pembangunan jembatan Target penanganan 1559,40 M dan tercapai penanganan efektif sepanjang 1.089,40.M kegiatan ini telah dilaksanakan dengan lokasi dan pelaksanaan pembangunan: Kabupaten Aceh Besar : 1 Paket, 76 M Kabupaten Pidie : 5 Paket, 283 M Kabupaten Pidie Jaya : 2 Paket, 55 M Kabupaten Bireun : 3 Paket, 231 M Kabuapaten Aceh Utara : 1 Paket, 40 M Kabupaten Aceh Barat : 6 Paket, 740 M Kabupaten Aceh jaya : 2 Paket, 180 M Kabupaten Abdiya : 1 Paket, 60 M Kabupaten Nagan Raya : 4 Paket, 580 M Kabupaaten Aceh Selatan : 4 Paket, 98,8 M 156

160 Kabupaten Gayo Lues : 7 Paket, 215 M Kota Langsa : 2 Paket, 16 M Kabupaten Aceh Timur : 6 Paket, 230,8 M Kabupaten Aceh Tamiang : 3 Paket, 243 M Kabupaten Aceh Tengah : 2 Paket, 30 M Kabupaten Aceh Singkil : 1 Paket, 160 M Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,10%) dan realisasi fisik 86,60%. Monitoring, evaluasi dan pelaporan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk monitoring, evaluasi dan melaporkan setiap kemajuan kerja per bulan dan per tahun dalam kegiatan pembangunan jalan dan jembatan juga pekerjaan keciptakaryaan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (51,68%) dan realisasi fisik 0%. Hal ini disebabkan adanya kegiatan yang tidak terlaksana, karena tidak ada konsultan yang memenuhi syarat dan waktu sangat terbatas, untuk itu kegiatan tersebut perlu di usulkan kembali pada tahun berikutnya. Kegiatan Pengawasan teknis pembangunan jalan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan sebanyak 36 paket dan 5 paket kegiatan amdal dengan lokasi dan pelaksanaan pembangunan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (87,19%) dan realisasi fisik 100%. 5. Program Pembangunan Saluran Drainase/Gorong-Gorong Kegiatan pembangunan saluran drainase/gorong-gorong Pembangunan saluran drainase/gorong gorong dengan target sepanjang M dan tercapai penangan pelaksanaan sepanjang 20,266 M terdiri dari kegiatan : Kota Banda Aceh : 5 Paket, 581 M Kabupaten Aceh Besar : 33 Paket, 5124 M Kabupaten Pidie : 8 Paket, 2464 M Kabupaten Aceh Utara : 5 Paket, 701 M Kabupaten Aceh Timur : 13 Paket, 2886 M Kota Langsa : 1 Paket, 115 M Kabupaten Aceh Jaya : 1 Paket, 500 M Kabupaten Aceh Barat : 2 Paket, 720 M Kabupaten Nagan Raya : 2 Paket, 420 M Kabupaten Aceh Selatan : 1 Paket, 270 M Kabupaten Subulussalam : 1 Paket, 2485 M Kabupaten Aceh Tamiang : 4 Paket, 4000 M 157

161 Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (92,85%) dan realisasi fisik 100%. 6. Program Rehabilitasi/Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Kegiatan rehabilitasi/pemeliharaan jalan Panjang penanganan fungsional 200 km, Panjang penanganan efektif, 165,916 km dan saluran m serta jembatan 70,4 m Kegiatan rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan terdiri dari kegiatan yang dilaksanakan di: Kota Banda Aceh : 1 Paket : Jalan 0,554 Km Kabupaten Aceh Besar : 11 Paket : Jalan 13,963 Km Saluran 1,312 M Kabupaten Pidie : 5 Paket : Jalan 3,034 Km Jembatan 6,4 M Kabupaten Pidie Jaya : 3 Paket : Jalan 2.57 Km Jembatan 32 M Kabupaten Bireun : 10 Paket : Jalan 6,33 Km Jembatan 32 M Kabupaten Aceh Utara : 12 Paket : Jalan 18,39 Km Kota Lhokseumawe : 2 Paket : Jalan 2,2 Km Kota Langsa : 13 Paket : Jalan 4,192 Km Kabupaten Aceh Timur : 5 Paket : Jalan 9,013 Km Kabupaten Aceh Tamiang: 5 Paket : Jalan 31 Km Kabupaten Aceh Tengah : 22 Paket : Jalan 31,275 Km Kabupaten Aceh Selatan : 7 Paket : Jalan 11,428 Km Kota Subussalam : 6 Paket : Jalan 5,9 Km Kabupaten Gayo Lues : 2 Paket : Jalan 2,087 Km Kabupaten Tenggara : 3 Paket : Jalan 23,98 Km 158

162 Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,34%) dan realisasi fisik 100%. 7. Program Tanggap Darurat Jalan dan Jembatan Kegiatan rehabilitasi jalan dalam kondisi tanggap darurat Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pekerjaan sebanyak 2 paket yang berlokasi di Kabupaten Aceh Jaya (pekerjaan perbaikan badan jalan sepanjang 300 m berupa timbunan) serta Kabupaten Bireuen sepanjang 650 m berupa timbunan dan perbaikan badan jalan. Kelebihan dana ini karena kebutuhan dana untuk tahun anggaran 2010 hanya terjadi pengeluaran sebesar tersebut di atas (dana cadangan). Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (40,47%) dan realisasi fisik 100%. Dana tanggap darurat di sumbang untuk penanganan bencana pada jalan jembatan dan realisasinya tergantung dari bencana yang terjadi pada tahun berjalan. 8. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Kebinamargaan Kegiatan pengadaan alat-alat berat Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pengadaan peralatan dan perlengkapan bengkel, alat-alat berat: Kabupaten Aceh Timur : 3 unit, pengadaan mobil tenaga PJU dan mobil laboratorium serta alat Kabupaten Aceh Tamiang : 1 unit, pengadaan alat exevator Kabupaten Subulussalam : 2 unit, pengadaan baby roller dan mobil kebakaran. Provinsi : 1 unit, pengadaan mobil operasional Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94.95%) dan realisasi fisik 100%. Rehabilitasi/pemeliharaan peralatan dan perlengkapan bengkel alat-alat berat. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk biaya operasional, pemeliharaan/perbaikan pengangkutan dan pengadaan spare part alat-alat berat sebanyak 3 unit (Crane, exevator OW dan back hoe, loader dan juga pengadaan material rangka baja balley sepanjang 181,8 M). Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98%) dan realisasi fisik 100%. 9. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Air Limbah Kegiatan fasilitasi pembinaan teknik pengolahan air minum Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pembinaan teknik pengelolaan air minum bagi kabupaten kota dan telah dilaksanakan di 159

163 Banda Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (41,38%) dan realisasi fisik 0%. Hal ini disebabkan kegiatan hanya berupa penyuluhan. Pengembangan sistem distribusi air minum telah dilaksanakan di kabupaten/kota sebagai berikut: Kota Banda Aceh : 7 Paket, pemb. jaringan pipa 430 M. dll Kabupaten Pidie : 1 Paket, pemb. 40 unit MCK Kabupaten Aceh Utara : 1 Paket, waduk Kota Lhoksemawe : 1 Paket, pemb. jaringan pipa 2379 M Kota Langsa : 2 Paket, pemb. sumur bor. Kabupaten Aceh Timur : 8 Paket, pemb. SPAM, OPA, SR dan Jaringan Kabupaten Aceh Selatan : 6 Paket, pemb. jaringan pipa M pipa Kabupaten Subulussalam : 1 Paket, pemb. jaringan pipa M Kabupaten Aceh Tengah : 1 Paket, pemb. jaringan pipa M Kabupaten Aceh Tenggara : 4 Paket Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,30%) dan realisasi fisik 98,91%. Kegiatan peningkatan operasi dan pemeliharaan prasarana dan sarana persampahan telah dilaksanakan di kabupaten/kota sebagai berikut: Kota Banda Aceh : 1 Paket, pengadaan WE mobil 2 unit Kabupaten Aceh Besar : 1 Paket, pengadaan becak sampah Kabupaten Bener Meriah : 1 Paket, pengadaan countainer sampah Kabupaten Subulussalam : 1 Paket, pengadaan mobil tinja Kota Langsa : 1 Paket Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (92,58%) dan realisasi fisik 100%. 10. Program Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh Kegiatan perencanaan pengembangan infrastruktur telah dilaksanakan di kabupaten/kota sebagai berikut: Kota Banda Aceh : 1 Paket Kabupaten Aceh Besar : 5 Paket Kota Sabang : 1 Paket Kabupaten pidie : 1 Paket Kabupaten Pidie Jaya : 1 Paket Kabupaten Bireuen : 1 Paket Kota Lhokseumawe : 1 Paket Kabupaten Aceh Utara : 2 Paket Kota langsa : 1 Paket Kabupaten Timur : 1 Paket 160

164 Kabupaten Aceh Tamiang : 1 Paket Kabupaten Aceh Jaya : 1 Paket Kabupaten Aceh Barat : 2 Paket Kabupaten Seumelue : 1 Paket Kabupaten Nagan Raya : 1 Paket Kabupaten Abdya : 1 Paket Kabupaten Aceh Selatan : 1 Paket Kabupaten Singkil : 1 Paket Kota Subusalam : 2 Paket Kabupaten Bener Meriah : 1 Paket Kabupaten Aceh Tengah : 2 Paket Kabupaten Gayo Lues : 2 Paket Kabupaten Aceh Tengara : 2 Paket Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (91,25%) dan realisasi fisik 95,35%. 11. Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Kegiatan penataan lingkungan permukiman penduduk perdesaan telah dilaksanakan di kabupaten/kota sebagai berikut: Kota Banda Aceh : 2 Paket, penataan desa geuceu komplek Kota langsa : 1 Paket, pemasangan paving block 1582 M 2 Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,67%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pembangunan jalan dan jembatan perdesaan telah dilaksanakan di kabupaten/kota sebagai berikut: Kota Banda Aceh : 12 Paket Kabupaten Aceh Besar : 54 Paket Kabupaten pidie : 6 Paket Kabupaten Bireuen : 31 Paket Kabupaten Aceh Utara : 9 Paket Kota Lhoksemawe : 2 Paket Kota Langsa : 2 Paket Kabupaten Aceh Timur : 1 Paket Kabupaten Aceh Tamiang : 2 Paket Kabupaten Aceh Jaya : 1 Paket Kabupaten Aceh Barat : 8 Paket Kabupaten Nagan Raya : 5 Paket Kabupaten Abdya : 10 Paket Kabupaten Singkil : 1 Paket Kabupaten Aceh Selatan : 1 Paket Kabupaten Aceh Tengara : 7 Paket 161

165 Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (92%) dan realisasi fisik 98,41%. Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana gedung telah dilaksanakan di kabupaten/kota sebagai berikut: Kota Banda Aceh : 70 Paket : Mesjid 24 Unit Menasah 2 Unit Gedung 44 Unit Kota Sabang : 5 Paket : Mesjid 2 Unit Menasah 2 Unit Gedung 3 Unit Kabupaten Aceh Besar :165 Paket : Mesjid 34 Unit Menasah121 Unit Gedung 10 Unit Kabupaten pidie :121 Paket : Mesjid 37 Unit Menasah 60 Unit Gedung 24 Unit Kabupaten Pidi Jaya : 12 Paket : Mesjid 6 Unit Menasah 4 Unit Gedung 2 Unit Kabupaten Bireuen :155 Paket : Mesjid 19 Unit Menasah18 Unit Gedung 118 Unit Kabupaten Aceh Utara :120 Paket : Mesjid 40 Unit Menasah 52 Unit Gedung 118 Unit Kota lhoksemawe : 7 Paket : Mesjid 1 Unit Menasah1 Unit Gedung 28 Unit Kota Langsa : 1 Paket : Mesjid 2 Unit Menasah 2 Unit Gedung 1 Unit Kabupaten Aceh Timur : 27 Paket : Mesjid 8 Unit Menasah12 Unit Gedung 7 Unit Kabupaten Aceh Tamiang : 17 Paket : Mesjid 8 Unit Menasah 0 Unit Gedung 9 Unit Kabupaten Aceh Jaya : 13 Paket : Mesjid 9 Unit Menasah0 Unit Gedung 3 Unit Kabupaten Aceh Barat : 76 Paket : Mesjid 70 Unit Menasah 7 Unit Gedung 1 Unit 162

166 Kabupaten Nagan Raya : 49 Paket : Mesjid 24 Unit Menasah 5 Unit Gedung 20 Unit Kabupaten Singkil : 5 Paket : Mesjid 2 Unit Menasah1 Unit Gedung 3 Unit Kabupaten Gayo Lues : 11 Paket : Mesjid 7 Unit Menasah2 Unit Gedung 2 Unit Kabupaten Aceh Tengara : 43 Paket : Mesjid 34 Unit Menasah 3 Unit Gedung 6 Unit Kabupaten Abdya : 60 Paket : Mesjid 34 Unit Menasah15 Unit Gedung 11 Unit Kabupaten Simeulu : 31 Paket : Mesjid 21 Unit Menasah9 Unit Gedung 1 Unit Kabupaten Bener Meriah : 6 Paket : Mesjid 2 Unit Menasah2 Unit Gedung 2 Unit Kabupaten Aceh Tengah : 18 Paket : Mesjid 5 Unit Menasah1 Unit Gedung 12 Unit Provinsi : 64 Paket : Mesjid 30 Unit Menasah 30 Unit Gedung 4 Unit Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (91,38%) dan realisasi fisik 99,48%. Kegiatan sosialisasi bidang perkotaan dan permukiman Kegiatan tersebut tidak dapat dilaksanakan sedangkan anggarannya sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp 0,- (0%) dan realisasi fisik 0%. Hal ini disebabkan tidak tersedianya fasilitator. 12. Program Pengaturan Jasa Konstruksi Kegiatan sosialisasi dan diseminasi peraturan perundang-undangan jasa konstruksi dan peralatan lainnya yang terkait. Kegiatan tersebut tidak dilaksanakan sedangkan anggaran sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp 0,- (0%) dan realisasi fisik 0%. Hal ini disebabkan tidak tersedianya fasilitator. 13. Program Pemberdayaan Jasa Konstruksi Pemberdayaan penyedia jasa konstruksi (orang perseorangan, badan 163

167 usaha) Kegiatan tersebut tidak dilaksanakan sedangkan anggaran sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp 0,- (0%) dan realisasi fisik 0%. Hal ini disebabkan tidak tersedianya fasilitator. Pemberdayaan pengguna jasa konstruksi (instansi pemerintah, orang perseorangan, badan usaha) Kegiatan tersebut tidak dilaksanakan sedangkan anggaran sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp 0,- (0%) dan realisasi fisik 0%. Hal ini disebabkan tidak tersedianya fasilitator. Pembinaan jasa konstruksi daerah Kegiatan tersebut tidak dilaksanakan sedangkan anggaran sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp 0,- (0%) dan realisasi fisik 0%. Hal ini disebabkan tidak tersedianya fasilitator. 14. Program Pengawasan Jasa Konstruksi Kegiatan pengawasan terhadap ketentuan keteknikan telah dilaksanakan di kabupaten/kota sebagai berikut: Kabupaten Aceh Besar : 1 Paket Kabupaten Pidie : 2 Paket Kabupaten Bireun : 3 Paket Kabupaten Aceh utara : 4 Paket Kota Lhoksemawe : 1 Paket Kota Langsa : 1 Paket Kabupaten Aceh Timur : 1 Paket Kabupaten Aceh Tamiang : 3 Paket Kabupaten Nagan Raya : 1 Paket Kabupaten Aceh Selatan : 1 Paket Kabupaten Subulusalam : 1 Paket Kabupaten Aceh Singkil : 1 Paket Kabupaten Aceh Tengah : 1 Paket Provinsi : 3 Paket Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (77,16%) dan realisasi fisik 100%. 15. Program Pengembangan Perumahan Kegiatan pengembangan rumah sehat sederhana telah dilaksanakan di kabupaten/kota sebagai berikut: Kabupaten Aceh Besar : 33 Unit Rumah Kabupaten Pidie : 146 Unit Rumah Kabupaten Pidie Jaya : 34 Unit Rumah Kabupaten Bireun : 62 Unit Rumah Kabupaten Aceh Utara : 163 Unit Rumah Kota Lhokseumawe : 5 Unit Rumah Kota Langsa : 38 Unit Rumah 164

168 Kabupaten Aceh Timur Kabupaten Aceh Tamiang Kabupaten Aceh Jaya Kabupaten Aceh Barat Kabupaten Nagan Raya Kabupaten Abdya Kabupaten Aceh Selatan Kabupaten Simeulue Kabupaten Bener Meriah Kabupaten Gayoe Lues Kabupaten Aceh Tengah Kabupaten Aceh Singkil Kabupaten Tenggara Kabupaten Subulussalam : 117 Unit Rumah : 55 Unit Rumah : 50 Unit Rumah : 116 Unit Rumah : 100 Unit Rumah : 66 Unit Rumah : 75 Unit Rumah : 48 Unit Rumah : 72 Unit Rumah : 80 Unit Rumah : 38 Unit Rumah : 47 Unit Rumah : 37 Unit Rumah : 41 Unit Rumah Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,16%) dan realisasi fisik 98,25%. 16. Program Perencanaan Tata Ruang Kegiatan penyusunan rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,98%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi Anggaran Untuk Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp (93,90%) dan realisasi fisik 92,60%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,90 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,84 2 Belanja langsung ,98 TOTAL , ,90 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - adanya perubahan desain untuk beberapa kegiatan dari kabupaten/kota; 165

169 - adanya perubahan lingkup pekerjaan atas permintaan masyarakat dan pemerintah/kabupaten/kota; - terjadinya bencana alam dan banjir pada beberapa kabupaten sehingga menghambat pekerjaan di lapangan; - dibidang penataan ruang belum adanya kesamaan pemahaman di tingkat kabupaten/kota. Solusi: - perlu adanya kesamaan pemahaman di tingkat kabupaten/kota; - koordinasi antara kabupaten/kota dengan provinsi harus ditingkatkan lagi melalui upaya-upaya koordinasi teknis secara berkala dan berkeseimbangan; - meningkatkan pengawasan dan upaya-upaya percepatan kerja secara lebih intensif dengan melaksanakan monitoring dan evaluasi secara maksimal. Dinas Pengairan Urusan pekerjaan umum yang dilaksanakan oleh Dinas Pengairan sebagai berikut: A. Program dan kegiatan 1. Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sember daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa peralatan dan perlengkapan kantor; d. Penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kendaraan dinas/operasional; e. Penyediaan jasa administrasi keuangan; f. Penyediaan jasa kebersihan kantor; g. Penyediaan alat tulis kantor; h. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; i. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; j. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor; k. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan; l. Penyediaan makanan dan minuman; m. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah; n. Penyediaan jasa keamanan kantor. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor; b. Rahabilitasi sedang/berat gedung kantor. 166

170 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pendidikan dan pelatihan formal; b. Bimbingan teknis implementasi peraturan perundang-undangan; c. Penyusunan dan penyempurnaan rancangan qanun kelembagaan perangkat daerah dan lembaga khusus. 4. Program Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi Rawa dan Jaringan Pengairan lainnya Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Perencanaan pembangunan jaringan irigasi; b. Perencanaan pembangunan reservoir; c. Perencanaan normalisasi saluran sungai; d. Rehabilitasi/pemeliharaan jaringan irigasi; e. Optimalisasi fungsi jaringan irigasi yang telah dibangun; f. Pemberdayaan petani pemakai air; g. Monitoring, evaluasi dan pelaporan; h. Pembangunan jaringan irigasi; i. Pengelolaan sumber daya air untuk irigasi (WISMP); j. Peningkatan pengelolaan sumber daya air wilayah provinsi (WISMP); k. Peningkatan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai (WISMP). 5. Program Pengembangan, Pengelolaan dan Konservasi Sungai, Danau dan Sumber Daya Air lainnya Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan embung dan bangunan penampung air lainnya; b. Pemeliharaan dan rehabilitasi bangunan pengukuran data hidrologi. 6. Program Pengendalian Banjir Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Mengendalikan banjir pada daerah tangkapan air dan badan-badan sungai; b. Pembangunan prasarana pengaman pantai. B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi, sember daya air dan listrik, penyediaan jasa peralatan dan perlengkapan kantor, penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kendaraan dinas/operasional, penyediaan jasa administrasi keuangan, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor, penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan, penyediaan makanan dan minuman, rapat-rapat koordinasi dan konsultasi 167

171 ke luar daerah, penyediaan jasa keamanan kantor. Hasil yang diharapkan dari program kegiatan ini adalah pemenuhan kebutuhan sarana pelayanan administrasi demi lancarnya kegiatan administrasi untuk menunjang seluruh kegiatan pembangunan yang telah direncanakan. Pada kegiatan ini direncanakan pengadaan: alat penjilid besar Max HD 12 L (1 buah), flashdisk (3 buah), memori camera digital (1 buah), alat pendingin/ac (10 unit), komputer (4 unit), laptop (16 unit), printer (3 unit), penyimpan arus/ups (1 unit), rak besi (25 meter), camera digital (4 unit), handycam (1 unit), infocus (1 unit), wireless TOA (1 unit), alat ukur theodolit (1 unit), alat ukur waterpass (1 unit), rolling meter (2 unit). Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (84,26%) dan realisasi fisik 95,18%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor dan rahabilitasi sedang/berat gedung kantor. hasil yang diharapkan dari program kegiatan ini adalah memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana aparatur sebagai penunjang terlaksananya kegiatan di bidang pengairan. Pada kegiatan ini direncanakan perbaikan dan perawatan pekarangan dan taman (810 m 2 ), perawatan gedung kantor UPTD-III (565 m2), perawatan gedung Kantor UPTD-IV (585 m2), rehab Kantor Sungai Danau dan Waduk, rehab mushalla, refil taman dan rehab paving block, rehab gedung kantor program dan pelaporan. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,58%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Pendidikan dan pelatihan formal Direncanakan peningkatan jumlah tenaga lulusan kursus/pelatihan adalah 12 orang dan kegiatan ini tidak diselenggarakan oleh dinas, tetapi dinas hanya mengirim peserta baik di dalam daerah maupun di luar daerah. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,81%) dan realisasi fisik 100%. Bimbingan teknis implementasi perundang-undangan Hasil yang diharapkan adalah peningkatan kapasitas sumber daya aparatur sebanyak 190 orang dan kegiatan ini dilakukan oleh dinas sendiri tetapi narasumber/instruktur tidak hanya berasal dari dinas tetapi juga dari lembaga lain. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (77,12%) dan realisasi fisik 99,73%. Penyusunan dan penyempurnaan rancangan qanun kelembagaan perangkat daerah dan lembaga khusus 168

172 Direncanakan tersedianya Rancangan Qanun Irigasi yang nantinya menjadi pedoman dan memudahkan dalam pelaksanaan tugas. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,08%) dan realisasi fisik 95,52%. 4. Program Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi Rawa dan Jaringan Pengairan lainnya Kegiatan perencanaan pembangunan jaringan irigasi Hasil yang ingin dicapai adalah tersedianya pedoman pelaksanaan konstruksi bangunan irigasi sebanyak 9 laporan, yang terdiri dari laporan DED dan review desain (3 laporan), ketersediaan data hasil studi (1 laporan), laporan penyusunan revitalisasi pengairan Aceh (1 laporan), laporan pengembangan sistem manajemen proyek dan keuangan terintegerasi (1 laporan) dan data hasil survey dan pengukuran jaringan irigasi (3 laporan). Jumlah paket dan lokasi kegiatan Perencanaan Pembangunan Jaringan Irigasi adalah tersebar 1 paket, Banda Aceh 1 paket, Aceh Besar 1 paket, Pidie 1 paket, Bener Meriah 4 paket dan Aceh Selatan 1 paket. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,73%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan perencanaan pembangunan reservoir Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah tersedianya pedoman pelaksanaan konstruksi bangunan embung/bendung (11 laporan DED), laporan perencanaan dan perancangan (1 laporan) dan laporan supervisi (3 laporan). Jumlah paket dan lokasi kegiatan Perencanaan Pembangunan Reservoir adalah Aceh Besar 9 paket, Pidie 2 paket, Bireuen 2 paket, Aceh Timur 1 paket dan Aceh Utara 1 paket. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (88,69%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan perencanaan normalisasi saluran sungai Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah tersedianya pedoman pelaksanaan konstruksi bangunan pengendali banjir dan penanganan muara sungai (9 laporan) dan laporan pengawasan normalisasi sungai (1 laporan), Ketersediaan data hasil perencanaan. Jumlah paket dan lokasi kegiatan Perencanaan Normalisasi Saluran Sungai adalah Aceh Besar 3 paket, Pidie 1 paket, Aceh Utara 2 paket, Aceh Tengah 2 paket, Aceh Barat 1 paket dan Aceh Selatan 1 paket. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,17%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan rehabilitasi/pemeliharaan jaringan irigasi Kegiatan yang akan dilakukan adalah operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi di 13 kabupaten/kota (34 paket kegiatan). Kegiatan ini merupakan 169

173 pekerjaan rutinitas dalam upaya memperpanjang umur fungsi prasarana dan sarana pengairan sesuai yang direncanakan. Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah kelancaran aliran air sungai Krueng Aceh dan Krueng Daroy dan lancarnya aliran air irigasi di 33 daerah irigasi seluas Ha. Jumlah paket dan lokasi kegiatan rehabilitasi/pemeliharaan jaringan irigasi adalah Banda Aceh 1 paket, Pidie Jaya 3 paket, Bireuen 5 paket, Aceh Utara 4 paket, Aceh Timur 2 paket, Langsa 1 paket, Aceh Tamiang 2 paket, Aceh Jaya 1 paket, Aceh Tenggara 2 paket, Gayo Lues 2 paket, Aceh Barat 5 paket, Aceh Barat Daya 3 paket, Aceh Selatan 3 paket. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,92%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan optimalisasi fungsi jaringan irigasi yang telah dibangun Untuk mengoptimalkan fungsi jaringan Irigasi yang telah dibangun, maka akan dilakukan usaha perbaikan dan peningkatan jaringan irigasi di 17 kabupaten/kota (171 paket kegiatan). Hasil yang ingin dicapai adalah peningkatan fungsi jaringan irigasi sehingga diharapkan dapat menjamin pasokan air irigasi untuk sawah di lokasi pelaksanaan kegiatan. Jumlah paket dan lokasi kegiatan Optimalisasi Fungsi Jaringan Irigasi yang telah dibangun adalah Aceh Besar 33 paket, Pidie 35 paket, Pidie Jaya 13 paket, Bireuen 23 paket, Aceh Utara 21 paket, Bener Meriah 1 paket, Aceh Timur 9 paket, Aceh Barat 1 paket, Aceh Barat Daya 5 paket, Aceh Jaya 1 paket, Nagan Raya 10 paket, Aceh Selatan 4 paket, Gayo Lues 7 paket, Aceh Singkil 1 paket, Aceh Tengah 1 paket, Simeulue 1 paket, Kota Langsa 5 paket. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (86,09%) dan realisasi fisik 99,99%. Kegiatan pemberdayaan petani pemakai air Hasil yang ingin dicapai adalah kemampuan kelompok P3A dalam melakukan pengelolaan jaringan irigasi, termasuk menerapkan aturan yang berlaku. Hasil nyata yang diharapkan adalah peningkatan jaringan tersier yang dilakukan sendiri oleh kelompok P3A (28 paket pekerjaan) di 7 daerah irigasi. Jumlah paket dan lokasi kegiatan pemberdayaan petani pemakai air adalah Pidie Jaya 4 paket, Bireuen 6 paket, Aceh Utara 4 paket, Aceh Timur 2 paket, Aceh Tenggara 4 paket, Aceh Barat Daya 4 paket, Aceh Selatan 4 paket. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (91,55%) dan realisasi fisik 99,55%. Kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan Hasil yang diharapkan dari kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan adalah tersedianya informasi mengenai pelaksanaan seluruh kegiatan pengelolaan pengairan. Informasi yang dihasilkan berupa laporan kegiatan 170

174 setiap bulan selama satu tahun anggaran dan laporan monitoring langsung ke lapangan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (88%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pembangunan jaringan irigasi Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah pembangunan jaringan irigasi di 14 kabupaten/kota (60 paket). Pada kegiatan ini juga akan dibangun 8 unit bendung yang dilakukan secara bertahap. Pembangunan bendung ada yang telah dimulai pada tahun anggaran sebelumnya (2 unit bendung) dan 6 unit bendung dibangun baru. Untuk bendung-bendung yang sudah menurun fungsinya dilakukan rehabilitasi bendung baik berat maupun ringan. Jumlah paket dan lokasi kegiatan pembangunan jaringan irigasi adalah Aceh Besar 1 paket, Pidie 3 paket, Pidie Jaya 2 paket, Bireuen 6 paket, Lhokseumawe 1 paket, Aceh Utara 3 paket, Aceh Timur 1 paket, Bener Meriah 12 paket, Gayo Lues 9 paket, Aceh Jaya 1 paket, Aceh Barat 1 paket, Aceh Tamiang 1 paket, Aceh Selatan 5 paket dan Aceh Tenggara 14 paket. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,14%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pengelolaan sumber daya air untuk irigasi (WISMP) Kegiatan tersebut telah dilaksanakan, anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,100,- (91,22%) dan realisasi fisik 98,24%. Kegiatan peningkatan pengelolaan sumber daya air wilayah Provinsi (WISMP) Kegiatan tersebut telah dilaksanakan, anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (83,98%) dan realisasi fisik 92,56%. Kegiatan peningkatan pengelolaan sumber daya air wilayah sungai (WISMP) Kegiatan tersebut telah dilaksanakan, anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (45,47%) dan realisasi fisik 70,32%. Rendahnya realisasi keuangan disebabkan adanya kegiatan Tim Koordinasi Pengelolaaan Sumber Daya Air (TKPSDA) yang tidak dilaksanakan seperti kegiatan rapat dan pembayaran honor tim. Kegiatan tersebut tidak terlaksana karena TKPSDA Wilayah Krueng Aceh-Teunom dan TKPSDA Wilayah Krueng Peusangan baru terbentuk tanggal 17 Desember Program Pengembangan, Pengelolaan dan Konservasi Sungai, Danau dan Sumder Daya Air lainnya Kegiatan Pembangunan embung dan bangunan penampungan air lainya Hasil yang diinginkan adalah tersedianya prasarana penampungan air 171

175 untuk kebutuhan irigasi dan kebutuhan lain, terutama di daerah yang kesulitan air. Pada tahun 2010 kegiatan dilaksanakan di 8 kabupaten (17 paket), dan pada tahun ini diharapkan terlaksananya pembangunan Embung Maheng, Waduk Lampanah, Waduk Batee, Waduk Paya Peunyet, Situ Alue Ie Mata Praden, keberlanjutan pembangunan Embung Twi Geulumpang, Embung Paya Raoh, Embung Paya Kareung dan Embung Seufulu. Dalam kegiatan ini juga akan dilakukan normalisasi Waduk Blang Karang, normalisasi Danau Aneuk Laot dan land clearing Embung Paya Seunara. Pada tahun 2010 ini juga dilakukan penataan lingkungan waduk keuliling, land scape waduk keuliling, pemasangan guest house dan pembangunan jalan kawasan guest house waduk keuliling. Jumlah paket dan lokasi kegiatan pembangunan embung dan bangunan penampung air lainnya adalah Aceh Besar 9 paket, Sabang 2 paket, Pidie 1 paket, Pidie Jaya 1 paket, Aceh Tengah 1 paket, Bireuen 1 paket, Aceh Utara 1 paket dan Simeulue 1 paket. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,80%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pemeliharaan dan rehabilitasi bangunan pengukuran data hidrologi Hasil yang ingin dicapai pada kegiatan ini adalah pengeboran air tanah di Aceh Besar (2 Lokasi), pengadaan mikcrohidro (2 unit), pemasangan pipa Blang Ura Lamtamot, pembangunan pompan dan instalasi di Kabupaten Bireuen (1 unit), pengadaan sumur bor di Kabupaten Pidie Jaya (1 paket) dan di Kabupaten Aceh Barat (1 paket). Pada kegiatan ini juga akan dilakukan pembangunan sumber air bersih di Kabupaten Gayo Lues (1 lokasi). Dengan adanya kegiatan tersebut diharapkan akan tersedianya debit air di lokasi tersebut dan tersedianya alat ukur dan tersedianya data hidrologi sehingga nantinya dapat digunakan sebagai data untuk perencanaan konstruksi bangunan irigasi selanjutnya dan untuk kegunaan lainnya. Jumlah paket dan lokasi kegiatan pemeliharaan dan rehabilitasi bangunan pengukuran data Hidrologi adalah Aceh Besar 3 paket, Bireuen 1 paket, Pidie Jaya 1 paket, Aceh Barat 1 paket dan Gayo Lues 1 paket. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,98%) dan realisasi fisik 99,01%. 6. Program Pengendalian Banjir Kegiatan mengendalikan banjir pada daerah tangkapan air dan badanbadan sungai Kegiatan ini diharapkan dapat melindungi areal pemukiman dan pertanian dari ancaman bahaya banjir, sehingga masyarakat merasa aman dan terhindar dari bencana. Target yang diinginkan adalah terlaksananya pembangunan tanggul/bangunan perkuatan tebing sungai, pelurusan dan normalisasi sungai di 20 (dua puluh) kabupaten yang terdiri dari 126 paket 172

176 kegiatan. Jumlah paket dan lokasi kegiatan mengendalikan banjir pada daerah tangkapan air dan badan-badan sungai adalah Banda Aceh 1 paket, Aceh Besar 7 paket, Pidie 19 paket, Pidie Jaya 2 paket, Bireuen 8 paket, Lhokseumawe 8 paket, Aceh Utara 7 paket, Gayo Lues 9 paket, Aceh Timur 3 paket, Kota Langsa 5 paket, Aceh Tengah 1 paket, Aceh Tamiang 1 paket, Aceh Jaya 3 paket, Aceh Barat 5 paket, Aceh Barat Daya 5 paket, Nagan Raya 5 paket, Aceh Selatan 9 paket, Aceh Tenggara 23 paket, Subulussalam 4 paket, Simeulue 1 paket. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,64%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pembangunan prasarana pengaman pantai Kegiatan ini diharapkan dapat melindungi areal pemukiman dan pertanian dari ancaman bahaya abrasi dan gelombang pasang, sehingga masyarakat merasa aman dan terhindar dari bencana. Target yang diinginkan adalah terlaksananya pembangunan tanggul pengaman pantai, pengerukan dan pembangunan jetty di 11 (sebelas) kabupaten/kota yang terdiri dari 29 paket kegiatan. Jumlah paket dan lokasi kegiatan pembangunan prasarana pengamanan pantai adalah Sabang 1 paket, Aceh Besar 1 paket, Banda Aceh 1 paket, Pidie 5 paket, Pidie Jaya 2 paket, Bireuen 5 paket, Aceh Timur 4 paket, Kota Lhokseumawe 3 paket, Kota Langsa 1 paket, Aceh Jaya 1 paket, Aceh Selatan 1 paket. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,56%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi Anggaran Untuk Dinas Pengairan dialokasikan dana sebesar Rp ,- yang realisasi keuangan sebesar Rp (93,00%) dan realisasi fisik 99,12%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) ,00 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung , ,53 2 Belanja langsung , ,44 TOTAL ,00 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - lemahnya koordinasi antar sektor terkait; 173

177 - kesulitan dalam pembagian alokasi dana antar daerah dan antar program kegiatan; - tidak semua pegawai mempunyai tingkat profesionalitas yang sesuai dengan bidang serta masih rendahnya motivasi kerja sebagian pegawai. Solusi: - memprogramkan kegiatan sesuai prioritas menurut tingkat kebutuhan dan kepentingan masyarakat serta merencanakan pembangunan secara bertahap; - menyusun rumusan pembagian alokasi dana dengan rumusan yang adil dan masuk akal serta sesuai dengan Renstra dan RPJM yang telah ditetapkan; - melakukan koordinasi yang lebih intensif dengan kabupaten/kota dan instansi terkait dalam rangka penyamaan persepsi dan disertai penjelasan oleh nara sumber yang ahli; - mendorong instansi terkait melalui Bappeda untuk menyelaraskan program terkait; - melakukan kampanye penyadaran publik yang berkelanjutan disertai dorongan penerbitan aturan-aturan yang mengikat; - melakukan kampanye penyadaran publik dan penjelasan kepada instansi terkait tingkat kabupaten/kota tentang konsep yang benar dalam pengelolaan sumber daya air; - melakukan kampanye penyadaran publik yang berkelanjutan disertai penjelasan tentang tujuan pembangunan untuk kesejahteraan bersama disertai dorongan penerbitan aturan-aturan yang mengikat; dan - meningkatkan disiplin dan kualitas sumber daya aparatur. 5. URUSAN PENATAAN RUANG Urusan Penataan Ruang telah dilaksanakan Pemerintah Aceh melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Urusan Perencanaan Pembanguan), Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (Urusan Pekerjaan Umum) dan Sekretariat Daerah (Urusan Otonomi Daerah). Hal ini dikarenakan anggaran belanja non program dan belanja program tidak dapat dipisahkan maka disesuaikan dengan urusan yang melekat pada lembaga daerah tersebut. Begitu juga dengan permasalahan dan solusi telah tersirat dalam keterangan pelaksanaan program dan kegiatan pada lembaga daerah tersebut. 174

178 6. URUSAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN Urusan Perencanaan Pembangunan yang dilaksanakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah sebagai berikut: A. Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa peralatan dan perlengkapan kantor; d. Penyediaan jasa administrasi keuangan; e. Penyediaan jasa kebersihan kantor; f. Penyediaan alat tulis kantor; g. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; h. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; i. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor; j. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan; k. Penyediaan makanan dan minuman; l. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah; m. Penyediaan jasa keamanan kantor; n. Penyediaan jasa dokumentasi kantor. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengadaan mobeuler; b. Pemeliharaan rutin/berkala kenderaan dinas/operasional; c. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan kantor; d. Rehabilitasi sedang/berat gedung kantor. 3. Program Peningkatan Disiplin Aparatur Kegiatan ini berupa pengadaan pakaian dinas beserta perlengkapannya 4. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan ini berupa bimbingan teknis implementasi peraturan perundang-undangan. 5. Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan Kegiatan ini berupa penyusunan laporan capaian kinerja dan ikhtisar realisasi kinerja SKPA. 6. Program Pengembangan Data Informasi Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Koordinasi penelitian dan pengembangan di provinsi serta kerjasama dengan pihak lain; b. Pengembangan pusat data dan informasi perencanaan pembangunan daerah; 175

179 c. Penelitian dan pengembangan perencanaan pembangunan; d. Penyusunan Profile Bappeda; e. Penyempurnaan geodata spasial base dan penerapan standarisasi data spasial. 7. Program Kerjasama Pembangunan Kegiatan ini berupa koordinasi kerjasama pembangunan antar daerah. 8. Program Pengembangan Wilayah Perbatasan Kegiatan ini berupa koordinasi Program Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus (P2DTK) dan KP2DT. 9. Program Perencanaan Pembangunan Daerah Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyusunan Rancangan RPJPA; b. Penyelenggaraan Musrenbang RPJPA; c. Penetapan RPJMA; d. Penyusunan Rancangan RKPA; e. Penyelenggaraan Musrenbang RKPA; f. Monitoring evaluasi, pengendalian dan pelaporan pelaksanaan rencana pembangunan daerah; g. Penyusunan Kebijakan Umum APBA (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS); h. Koordinasi dan sinkronisasi perencanaan program dan kegiatan pembangunan; i. Koordinasi penyusunan program dan kegiatan pembangunan yang di danai melalui sumber dana tambahan dana bagi hasil migas dan dana Otsus; j. Koordinasi penyusunan jawaban/penjelasan gubernur. 10. Program Perencanaan Pembangunan Ekonomi Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Koordinasi perencanaan pembangunan bidang ekonomi; b. Koordinasi Pengembangan Sektor Ekonomi Rakyat (EDFF). 11. Program Perencanaan Sosial dan Budaya Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Koordinasi perencanaan pembangunan bidang sosial dan budaya; b. Koordinasi perencanaan peningkatan sumber daya manusia. 12. Program Perencanaan Prasarana Wilayah dan SDA Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Koordinasi dan Konsultasi penyusunan rencana program pembangunan fisik dan prasarana; b. Monitoring dan evaluasi RTRWP Provinsi NAD; c. Koordinasi pengembangan Kuala Idi; d. Pembinaan perkuatan kelembagaan SDA (Pendukung WISMP). 176

180 13. Program Perencanaan Pengembangan dan Pembinaan Syari at Islam Kegiatan ini berupa koordinasi dan evaluasi perencanaan programprogram Syari at Islam. 14. Program Pengembangan Kerjasama dengan Lembaga Internasional Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Koordinasi program kerjasama antara pemerintah RI dan UNFPA; b. Koordinasi program kerjasama antara pemerintah RI dan UNICEF (KHPPIA). B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa peralatan dan perlengkapan kantor, penyediaan jasa administrasi keuangan, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor, penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan, penyediaan makanan dan minuman, rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah, penyediaan jasa keamanan kantor, penyediaan jasa dokumentasi kantor. Program dan kegiatan tersebut merupakan program rutin kantor yang telah dilaksanakan. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (87,05%) dan realisasi fisik 88,58%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Pengadaan mobeuler Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pengadaan alat-alat meubeuler Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,82%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala kenderaan dinas/operasional Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam rangka pelaksanaan operasional sarana dan prasarana Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,07%) dan realisasi fisik 98,07% Pemeliharaan rutin/berkala peralatan kantor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam rangka pemeliharaan sarana dan prasarana Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi 177

181 keuangan Rp ,- (97,94%) dan realisasi fisik 100%. Rehabilitasi sedang/berat gedung kantor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk rehabilitasi gedung Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99.38%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Disiplin Aparatur Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pengadaan pakaian dinas beserta perlengkapannya dan telah dilaksanakan dalam bentuk penyediaan pakaian dinas harian dan linmas bagi seluruh pegawai di lingkungan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96.88%) dan realisasi fisik 100%. 15. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk bimbingan teknis implementasi peraturan perundang-undangan dan telah dilaksanakan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98.98%) dan realisasi fisik 100%. 16. Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penyusunan laporan capaian kinerja dan ikhtisar realisasi kinerja SKPA dan telah dilaksanakan. Terjadi sisa anggaran pada kegiatan ini disebabkan anggaran untuk gaji pegawai P2K, namun dalam perjalanan tahun anggaran ada pegawai mengundurkan diri sehingga uang tersebut tidak dicairkan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93.95%) dan realisasi fisik 95%. 17. Program Pengembangan Data Informasi Koordinasi penelitian dan pengembangan di provinsi serta kerjasama dengan pihak lain Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,26%) dan realisasi fisik 97,49%. Pengembangan pusat data dan informasi perencanaan pembangunan daerah Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,56%) dan realisasi fisik 98,65%. 178

182 Penelitian dan pengembangan perencanaan pembangunan Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,86%) dan realisasi fisik 98,66%. Penyusunan Profile BAPPEDA Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Penyempurnaan geodata spasial base dan penerapan standarisasi data spasial Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,19%) dan realisasi fisik 99,19%. 18. Program Kerjasama Pembangunan Kegiatan ini berupa koordinasi kerjasama pembangunan antar daerah dan telah dilaksanakan. Hasil yang dicapai adalah Persiapan Rakor Forum Gubernur se-sumatera dan Pembentukan Tim Penanggungjawab Program Pembangunan Provinsi se Wilayah Sumatera serta terpilihnya Bappeda Aceh sebagai Koordinator Komite Infrastuktur. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,48%) dan realisasi fisik 98,50%. 19. Program Pengembangan Wilayah Perbatasan Koordinasi Program Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus (P2DTK) dan KP2DT Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk rapat koordinasi dan monitoring ke 17 kabupaten. Pada Kegiatan ini telah diperbanyak buku pentunjuk teknis P2DTK dan buku pedoman umum pelaksanaan program P2DTK dan menghasilkan buku laporan kegiatan P2DTK. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,88%) dan realisasi fisik 98,70%. 20. Program Perencanaan Pembangunan Daerah Penyusunan rancangan RPJPA Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,12%) dan realisasi fisik 90,69%. Penyelenggaraan Musrenbang RPJPA Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (90,21%) dan realisasi fisik 92,29%. 179

183 Penetapan RPJMA Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,49%) dan realisasi fisik 96,63%. Penyusunan Rancangan RKPA Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,24%) dan realisasi fisik 96,88%. Penyelenggaraan Musrenbang RKPA Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,27%) dan realisasi fisik 97,73%. Monitoring evaluasi, pengendalian dan pelaporan pelaksanaan rencana pembangunan daerah Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,33%) dan realisasi fisik 98,50%. Penyusunan kebijakan umum APBA (KUA) dan prioritas dan plafon anggaran sementara (PPAS) Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (80,07%) dan realisasi fisik 82,07%. Koordinasi dan sinkronisasi perencanaan program dan kegiatan 180

184 pembangunan Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (82,83%) dan realisasi fisik 84,31%. Koordinasi penyusunan program dan kegiatan pembangunan yang di danai melalui sumber dana tambahan dana bagi hasil migas dan dana otsus Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (90,30%) dan realisasi fisik 91,58%. Koordinasi penyusunan jawaban/penjelasan gubernur Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,83%) dan realisasi fisik 100%. 21. Program Perencanaan Pembangunan Ekonomi Koordinasi perencanaan pembangunan bidang ekonomi Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,54%) dan realisasi fisik 100%. Koordinasi pengembangan sektor ekonomi rakyat (EDFF) Kegiatan ini merupakan kegiatan pendampingan pelaksanaan proyek Aceh EDFF yang didanai oleh MDF sesuai dengan komitmen yang tertuang dalam Grant Agreement Trust Fund (MDF) tanggal 30 Desember Pendampingan tersebut dimaksudkan agar terlaksananya singkronisasi pembangunan ekonomi daerah antara tujuan proyek dengan tujuan program pembangunan ekonomi daerah (provinsi dan kabupaten/kota). Adapun anggaran yang dialokasikan adalah untuk pembayaran honorarium PMU, tim koordinasi, dan operasional lainnya dalam rangka koordinasi lintas sektor dan Kabupaten/Kota. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan melakukan rapat-rapat tim koordinasi baik dengan SKPA maupun SKPD dan melaksanakan monitoring dan evaluasi dilapangan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,78%) dan realisasi fisik 95,29%. 22. Program Perencanaan Sosial dan Budaya Koordinasi perencanaan pembangunan bidang sosial dan budaya Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk koordinasi dengan semua SKPA, 23 kabupaten/kota dan dengan pemerintah pusat. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,82%) dan realisasi fisik 95,68%. 181

185 Koordinasi perencanaan peningkatan sumber daya manusia Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk rapat perencanaan pendidikan dengan 23 kabupaten/kota dan telah menghasilkan buku analisis data pendidikan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,72%) dan realisasi fisik 100%. 23. Program Perencanaan Prasarana Wilayah dan SDA Koordinasi dan konsultasi penyusunan rencana program pembangunan fisik dan prasarana Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,73%) dan realisasi fisik 96,53%. Monitoring dan evaluasi RTRWP Provinsi NAD Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (61,70%) dan realisasi fisik 70,86%. Koordinasi pengembangan Kuala Idi Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,86%) dan realisasi fisik 100%. Pembinaan perkuatan kelembagaan SDA (pendukung WISMP) Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (80,68%) dan realisasi fisik 88,56%. 24. Program Perencanaan Pengembangan dan Pembinaan Syari at Islam Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk acara-acara islami seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, halal bi halal, marhaban ya ramadhan dll. Selain itu kegiatan ini juga telah menyelenggarakan siraman rohani di bulan ramadhan dengan adanya ceramah di bulan puasa. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,54%) dan realisasi fisik 100%. 25. Program Pengembangan Kerjasama dengan Lembaga Internasional Koordinasi program kerjasama antara pemerintah RI dan UNFPA Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk rapat awal tahun, pertengahan tahun dan akhir tahun, serta melakukan monitoring. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (92,00%) dan realisasi fisik 94,94%. 182

186 Koordinasi program kerjasama antara pemerintah RI dan UNICEF (KHPPIA) Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk rapat koordinasi dengan pihak terkait dan melakukan monitoring ke kabupaten. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,08%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi Anggaran Untuk Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp (92,15%) dan realisasi fisik 94,30%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,15 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,46 2 Belanja langsung ,39 TOTAL , ,15 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: Permasalahan di bidang Pelayanan Administrasi Perkantoran yang sisanya Rp ,- terdiri: - Sisa uang sebesar Rp pada kegiatan penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik disebabkan karena adanya penghematan dalam pengunaan jasa tersebut sehingga uang tersebut tidak dicairkan. - Sisa uang sebesar Rp ,- pada kegiatan penyediaan jasa administrasi keuangan disebabkan karena alokasi honor Pengguna Anggaran dan Kuasa Pengguna Anggaran sudah teralokasikan sesuai dengan Pergub untuk eselon II dan eselon III tidak boleh dibayar honor sehingga uang tersebut tidak dicairkan. - Sisa uang sebesar Rp ,- pada kegiatan rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah, alokasi anggaran tersebut merupakan pergeseran dari kegiatan lainnya pada saat APBA - Perubahan 2010, karena terbatasnya waktu sehingga kegiatan tersebut tidak dapat direalisasi seluruhnya. - Sisa uang sebesar Rp ,- pada kegiatan penyediaan jasa 183

187 keamanan kantor, alokasi anggaran tersebut tidak terealisasi dikarenakan sebagian anggota satuan pengamanan kantor sudah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. - Sisa uang sebesar Rp ,- pada kegiatan penyusunan laporan capaian kinerja dan ikhtisar realisasi kinerja SKPA, anggaran sudah dialokasikan untuk gaji pegawai P2K karena sebahagian pegawai mengundurkan diri sehingga uang tersebut tidak dicairkan - Sisa uang sebesar Rp ,- pada kegiatan koordinasi dan sinkronisasi Perencanaan Program dan kegiatan Pembangunan, untuk belanja makanan, minuman dan perjalanan dinas sebagian kegiatan sudah dibiayai dengan Dana Hibah - Sisa uang sebesar Rp ,- pada kegiatan monitoring dan evaluasi RTRWP Provinsi NAD Terlambatnya penerbitan SK Tim terpadu dari Menteri Kehutanan dalam rangka evaluasi usulan perubahan kawasan hutan Aceh Nomor SK. 602/Menhut/VII/2010 tanggal 28 Oktober 2010 Belanja Publikasi melalui media cetak belum dapat dilakukan karena pembahasan draft Qanun RTRW belum selesai. Solusi: Sisa-sisa Anggaran yang tidak dicairkan menjadi SILPA 7. URUSAN PERUMAHAN Urusan Perumahan telah dilaksanakan Pemerintah Aceh melalui Dinas Bina Marga dan Cipta Karya, Dinas Sosial. Penjelasan lebih rinci mengenai urusan perumahan dapat dilihat dalam urusan pekerjaan umum dan urusan sosial. Hal ini dikarenakan anggaran belanja non program dan belanja program tidak dapat dipisahkan maka disesuaikan dengan urusan yang melekat pada lembaga daerah tersebut. Begitu juga dengan permasalahan dan solusi telah tersirat dalam keterangan dalam pelaksanaan program dan kegiatan pada lembaga daerah tersebut. 8. URUSAN KEPEMUDAAN DAN OLAHRAGA Urusan kepemudaan dan olahraga dilaksanakan oleh Dinas Kepemudaan dan Olahraga sebagai berikut: A. Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa administrasi keuangan; 184

188 c. Penyediaan alat tulis kantor; d. Penyediaan barang cetakan dan pengadaan; e. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; f. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan; g. Penyediaan makanan dan minuman; h. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor; b. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional; c. Pemeliharaan rutin/berkala alat rumah tangga. 3. Program Peningkatan Peran Serta Kepemudaan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembinaan organisasi kepemudaan; b. Seleksi dan pemberangkatan pertukaran pemuda antar negara; c. Peringatan hari sumpah pemuda tingkat provinsi; d. Pemilihan dan pelatihan provinsi PASKIBRAKA tingkat nasional dan provinsi. 4. Program Pengembangan Kebijakan dan Manajemen Olahraga Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengembangan perencanaan olahraga terpadu; b. Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pengembangan olahraga; c. Pembinaan manajemen organisasi olahraga. 5. Program Pembinaan dan Permasyarakatan Olahraga Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembinaan cabang olahraga prestasi di tingkat daerah; b. Pembinaan olahraga yang berkembang di masyarakat; c. Pembinaan dan pembibitan atlet diklat olahraga SMA Tunas Bangsa; d. Pengelolaan dapur umum SMU plus diklat olahraga; e. pelaksanaan Perlombaan Lari 10 Km; f. Pembinaan dan pelatihan olahraga ke luar negeri; g. Persiapan Atlet (TC) dan Pekan Olahraga Pelajar Wilayah (POPWIL). 6. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Olahraga Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Peningkatan pembangunan sarana dan prasarana olahraga; b. Pemeliharaan rutin/berkala sarana dan prasarana olahraga. 185

189 B. Realisasi Pelaksanaan Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah kegiatan penyediaan jasa surat menyurat, kegiatan penyediaan jasa administrasi keuangan, kegiatan penyediaan alat tulis kantor, kegiatan penyediaan barang cetakan dan pengadaan, kegiatan penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, kegiatan penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan, kegiatan penyediaan makanan dan minuman, dan kegiatan rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah. program dan kegiatan tersebut telah dilaksanakan. Anggaran yang disediakan untuk program tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (82,67%). 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan yang bertujuan untuk pemeliharaan gedung kantor. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,70%). Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional Kegiatan tersebut telah dilaksanakan yang bertujuan untuk terciptanya kelancaran dan operasional bagi kendaraan dinas perkantoran. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,80%). 186

190 Pemeliharaan rutin/berkala alat rumah tangga Kegiatan tersebut telah dilaksanakan yang bertujuan untuk pemeliharaan rutin/berkala alat rumah tangga. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (91,50%). 3. Program Peningkatan Peran Serta Kepemudaan Pembinaan organisasi kepemudaan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan yang bertujuan untuk pembinaan organisasi kepemudaan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (79,90%). Seleksi dan pemberangkatan pertukaran pemuda antar negara Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pertukaran pemuda antar negara guna mendukung program nasional dalam rangka menjalin persahabatan dan saling pengertian antar pemuda, memperluas wawasan dan cakrawala berfikir generasi muda Indonesia baik nasional maupun internasional, serta meningkatkan patriotisme dan disiplin nasional para pemuda sebagai generasi penerus bangsa. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,20%). Peringatan hari sumpah pemuda tingkat provinsi Kegiatan tersebut telah dilaksanakan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan wawasan pemuda terhadap sejarah perjuangan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%). 187

191 Pemilihan dan pelatihan PASKIBRAKA tingkat nasional dan provinsi Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk Pemilihan dan pelatihan Paskibraka Nasional ditujukan untuk meningkatkan serta mengembangkan rasa kesadaran nasional, memupuk semangat kebangsaan, kecintaan tanah air, diharapkan mampu mewujudkan kader-kader patriot pembela bangsa dan negara yang beriman dan bertaqwa, kesadaran ketahanan nasional, penerus nilai serta cita-cita Proklamasi 17 Agustus Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,80%). 4. Program Pengembangan Kebijakan dan Manajemen Olahraga Pengembangan perencanaan olahraga terpadu Kegiatan tersebut bertujuan untuk terwujudnya koordinasi perencanaan terpadu se Aceh dalam bidang kepemudaan dan keolahragaan demi terciptanya sinkronisasi program dan kegiatan pembinaan pemuda dan olahraga antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,10%). Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pengembangan olahraga Kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan pelayanan yang bersifat lintas bidang dengan tujuan melakukan monitoring dan evaluasi program dan kegiatan yang sedang dilakukan, dari monitoring dan evaluasi tersebut diharapkan dapat dipahami permasalahan dan data keolahragaan dalam rangka pembinaan dan peningkatan SDM pemuda dan olah raga. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,90%). Pembinaan manajemen organisasi olahraga Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan manajerial para pengelola organisasi olahraga khususnya KONI dan induk-induk organisasi olahraga yang ada di Provinsi Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%). 5. Program Pembinaan dan Permasyarakatan Olahraga Pembinaan cabang olahraga prestasi di tingkat daerah Kegiatan tersebut bertujuan untuk melahirkan bibit-bibit olahragawan di usia dini tingkat daerah demi tumbuh dan kembangnya olahraga daerah. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,20%). Pembinaan olahraga yang berkembang di masyarakat Anggaran yang disediakan untuk kegiatan ini sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (88,00%). Pembinaan dan pembibitan atlet diklat olahraga SMA Tunas Bangsa 188

192 Dalam upaya percepatan peningkatan prestasi olahraga Aceh perlu dilakukan pembinaan olahraga secara berjenjang melalui sekolah unggul olahraga atau lebih dikenal dengan SMA Tunas Bangsa. Pembinaan ini diarahkan untuk menciptakan kader-kader atlet yang handal pada masa yang akan dating, program ini akan mampu melahirkan atlet-atlet yang berprestasi mengharumkan nama daerah di pentas nasional maupun internasional. Adapun jumlah atlet yang dibina adalah sebanyak 120 orang dari 7 cabang olahraga binaan meliputi atletik, pencak silat, kempo, sepak bola, karate, teakwando, bola volley dan tenis lapangan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,40%). Pengelolaan dapur umum SMU plus diklat olahraga Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penyediaan makanan bagi Atlet SMU Plus Diklat Olahraga. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (91,60%). Pelaksanaan perlombaan lari 10 Km Kegiatan olahraga lari maraton dilaksanakan di Bireuen dalam rangka peringatan 6 tahun tsunami. Kegiatan ini melibatkan masyarakat, pelajar, mahasiswa serta karyawan/ti pemerintah dan BUMN. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,30%). Pembinaan dan pelatihan olahraga ke luar negeri Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan prestasi olahraga sepak bola dikalangan pelajar (usia dini) tim U-15 ke Paraguay sebanyak 30 orang. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (84,40%). Persiapan Atlet (TC) dan Pekan Olahraga Pelajar Wilayah (POPWIL) Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk persiapan atlet (TC) dan Pekan Olahraga Pelajar Wilayah (POPWIL) di Provinsi Bangka Belitung. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,20%). 6. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Olahraga Peningkatan pembangunan sarana dan prasarana olahraga Pada tahun 2010 dalam rangka peningkatan pembinaan olahraga di kabupaten/kota dalam Provinsi Aceh, telah dialokasikan dana untuk pembangunan sarana dan prasarana olahraga sebesar Rp ,- yang terdiri dari dana reguler Rp ,- dana migas Rp ,- dan dana otonomi khusus sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,40%). Pelaksanaan pembangunan sarana dan prasarana olahraga dari dana 189

193 otonomi khusus tersebar di 7 kabupaten/kota yaitu Aceh Besar, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Singkil, Aceh Selatan, Simeulue dan Aceh Tamiang. Pemeliharaan rutin/berkala sarana dan prasarana olahraga Dalam rangka mendukung pembinaan olahraga dan pelaksanaan berbagai even olahraga maka Stadion Harapan Bangsa perlu dilakukan pemeliharaan, sehingga dapat berfungsi secara optimal baik even skala daerah maupun nasional. Untuk tahun 2010 anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (69,40%). Realisasi Anggaran Untuk Dinas kepemudaan dan Olahraga Aceh dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp (92,29%) dan realisasi fisik 100%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,29 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung , ,36 2 Belanja langsung , ,78 TOTAL , ,29 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - masih banyaknya fasilitas pembinaan kepemudaan dan keolahragaan yang belum tertangani akibat keterbatasn dana untuk program pelayanan kepemudaan dn keolahragaan; - rendahnya kualitas SDM Pelatih; - terbatasnya sarana dan prasarana pemuda dan olahraga; - rendahnya frekuensi kompetisi di tingkat daerah; - rendahnya kesejahteraan atlit dan pelatih; - terbatasnya pelatihan keterampilan pemuda; - alokasi dana pusat masih terbatas untuk menunjang program kegiatan kepemudaan dan keolahragaan di daerah. Solusi: - singkronisasi program kegiatan pembinaan kepemudaan dan keolahragaan antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota; 190

194 - program-program khusus terhadap peningkatan kemandirian pemuda; - untuk meningkatkan prestasi olahraga di Aceh perlu adanya pengembangan kelembagaan keolahragaan diseluruh daerah kabupaten/kota yaitu dengan cara di tiap kabupaten/kota perlu dibentuk Dinas Pemuda dan Olahraga selaku institusi yang akan menangani pembinaan kepemudaan dan keolahragaan; - peningkatan aktifitas pembinaan olahraga melalui jalur pendidikan (pelajar/santri/mahasiswa), pembinaan olahraga rekreasi melalui pemassalan olaraga masyarakat, olahraga radisional dan pembinaan olahraga prestasi; - melaksanakan kompetisi olahraga secara teratur. 9. URUSAN PENANAMAN MODAL Urusan penanaman modal dilaksanakan oleh Badan Investasi dan Promosi sebagai berikut: A. Program dan kegiatan 1. Program pelayanan administrasi perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa kebersihan kantor; d. Penyediaan alat tulis kantor; e. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; f. Penyediaan komponen installasi listrik/penerangan bangunan kantor; g. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor; h. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan; i. Penyediaan makanan dan minuman; j. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah; k. Penyediaan jasa keamanan kantor; l. Kegiatan penyediaan jasa pegawai non PNS. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional; b. Pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor; c. Pemeliharaan rutin/berkala taman, tempat parkir dan halaman kantor. 3. Program Peningkatan Disiplin Aparatur Kegiatan ini berupa pengadaan pakaian dinas beserta perlengkapannya 4. Program Peningkatan Promosi dan Kerjasama Investasi Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengembangan potensi unggul daerah; b. Koordinasi antar lembaga dalam pengendalian pelaksanaan investasi 191

195 PMDN/PMA; c. Peningkatan koordinasi dan kerjasama di bidang penanaman modal dengan instansi pemerintah dan dunia usaha; d. Pengawasan dan evaluasi kinerja aparatur Badan Penanaman Modal Daerah; e. Peningkatan kwalitas SDM guna peningkatan pelayanan investasi; f. Penyelenggaraan pameran investasi. 5. Program Peningkatan Iklim Investasi dan Realisasi Investasi Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyederhanaan prosedur perizinan dan peningkatan pelayanan penanaman modal; b. Kajian kebijakan penanaman modal. 6. Program Penyiapan Potensi Sumber Daya, Sarana dan Prasarana Daerah Kegiatannya berupa kajian potensi sumberdaya yang terkait dengan investasi. B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program pelayanan administrasi perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah penyediaan jasa surat menyurat, jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, jasa kebersihan kantor, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor, penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan, penyediaan makan dan minum untuk rapat serta tamu, rapat-rapat koodinasi dan konsultasi di luar daerah serta kursuskursus singkat/pelatihan, penyediaan jasa keamanan kantor dan jasa pegawai non PNS. Program ini merupakan program dan kegiatan rutin kantor. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,84%) dan realisasi fisik 97,32%. 2. Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pembelian suku cadang mobil dinas, pembelian suku cadang kendaraan roda-2, pembelian bahan bakar dan pelumas mobil dan kenderaan roda-2, belanja Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNK) mobil dan kendaraan roda-2. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,13%) dan realisasi fisik 100%. 192

196 Pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pengisian tabung pemadam kebakaran, serta jasa service peralatan dan perlengkapan kantor. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (97,01%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala taman, tempat parkir dan halaman kantor Telah dilaksanakan dalam bentuk pemeliharan taman, tempat parkir dan halaman kantor. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program peningkatan disiplin aparatur Pengadaan pakaian dinas beserta perlengkapannya Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pengadaan pakaian dinas PDH, linmas dan pakaian satpam. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp 0,- (0%) dan realisasi fisik 0%. Kegiatan ini tidak dapat direalisasikan karena tidak dibenarkan pengadaan pakaian dinas pada tahun 2010 (dibintang) 4. Program Peningkatan Promosi dan Kerjasama Investasi Pengembangan potensi unggul daerah Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk belanja bahan piblikasi seperti baliho/billboard potensi daerah, poster potensi daerah, iklan di media cetak/elektronik/dialog interaktif, pengadaan CD promosi dan belanja perjalanan dinas dalam dan luar daerah. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi Rp ,- (98,67%) dan realisasi fisik 100%. Koordinasi antar lembaga dalam pengendalian pelaksanaan investasi PMDN/PMA Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk rencana kerja perencanaan penanaman modal tahun 2010, cetak buku perkembangan investasi, cetak buku mitra usaha potensial, cetak laporan akhir kegiatan, melaksanakan perjalanan dinas dalam dan luar daerah. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,80%) dan realisasi fisik 100%. 193

197 Peningkatan koordinasi dan kerjasama di bidang penanaman modal dengan instansi pemerintah dan dunia usaha Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk honorarium pegawai tidak tetap operator sekretariat IMT-GT, cetak laporan kegiatan kerjasama ekonomi sub regional IMT-GT, perjalanan dinas dalam rangka IMT-GT Expo, SOM, dan IMT-GT working group meeting. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,37%) dan realisasi fisik 100%. Pengawasan dan evaluasi kinerja aparatur badan penanaman modal daerah Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pengawasan dan evaluasi kinerja aparatur Badan Investasi dan Promosi, cetak LAKIP, LKPJ, laporan keuangan dan buku analisis jabatan serta pengawasan dan evaluasi kinerja IPMK kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,74%) dan realisasi fisik 100%. Peningkatan kualitas SDM guna peningkatan pelayanan investasi Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk bimbingan/sosialisasi SPIPISE, bimbingan penyuluhan ketentuan penanaman modal, dan perjalanan dinas dalam dan luar daerah. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (86,48%) dan realisassi fisik 100%. Penyelenggaraan pameran investasi Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk keikutsertaan pada kegiatan Aceh Summit for Business Forum, Pameran Jakarta Fair (PRJ), Penang Fair dan expo dalam dan luar negeri serta penggandaan leaflet, baliho potensi daerah, perjalanan dinas dalam rangka misi investasi ke 194

198 luar negeri. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,10%) dan realisasi fisik 100%. 5. Program Peningkatan Iklim Investasi dan Realisasi Investasi Penyederhanaan prosedur perizinan dan peningkatan pelayanan penanaman modal Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi tentang tata cara permohonan dan persetujuan penanaman modal bagi aparatur instansi penanaman modal kabupaten/kota, instansi terkait dan perusahaan. Cetak buku pedoman dan tata cara penanaman modal, cetak buku qanun penanaman modal, cetak brosur tata cara penanaman modal, alur proses pendaftaran dan permohonan penanaman modal, cetak buku Peraturan Presiden No. 27 tahun 2009 tentang pelayanan terpadu satu pintu. Cetak laporan akhir, perjalanan dinas dalam dan luar daerah. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,06%) dan realisasi fisik 100%. 6. Program Penyiapan Potensi Sumber Daya, Sarana dan Prasarana Daerah Kajian potensi sumberdaya yang terkait dengan investasi Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pengumuman tentang kewajiban untuk menyampaikan LKPM, cetak laporan akhir kegiatan, kegiatan kajian potensi sumberdaya yang terkait dengan investasi Belanja jasa kantor lainnya sebesar Rp diberi tanda bintang, sehingga studi untuk kelayakan kawasan industri di 5 kabupaten/kota tidak dapat dilaksanakan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (51,23%) dan realisasi fisik 55,00%. Realisasi Anggaran Untuk Badan Investasi dan Promosi Aceh dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp ,- (88,77%) dan realisasi fisik 95,07%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,77 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,59 2 Belanja langsung ,68 TOTAL , ,77 195

199 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - penyelenggaraan pelayanan perizinan di bidang penanaman modal masih menjadi kewenangan pemerintah pusat sehingga menimbulkan birokrasi yang panjang dan membutuhkan waktu; - koordinasi dengan Instansi Penanaman Modal Kabupaten/Kota (IPMK) belum lancar sebagaimana yang diharapkan sehingga beberapa program dalam rangka untuk pengembangan investasi tidak terintegrasi secara terpadu; - masih perlu ditingkatkan Sumber Daya Manusia yang menangani urusan penanaman modal baik di Provinsi maupun kabupaten/kota; - masih banyak perusahaan dalam penyampaian LKPM belum sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan baik pengisiannya maupun periode penyampaiannya. Solusi: - agar pemerintah pusat segera melimpahkan kewenangan perizinan bidang penanaman modal kepada Pemerintah Aceh sesuai amanat UUPA No. 11 tahun 2006; - pemerintah Aceh terus berupaya untuk melobi pemerintah pusat agar segera dapat menyelesaikan/mengesahkan Peraturan Pemerintah tentang kewenangan pemerintah yang bersifat nasional di Aceh; - membuat/melaksanakan rencana rapat kerja dengan Instansi Penanaman Modal kabupaten/kota (IPMK) pada tahun 2010 yang dihadiri oleh BKPM, bupati/walikota se Provinsi Aceh; - memberikan informasi terkini tentang peluang investasi di Aceh melalui pameran, misi investasi baik dalam maupun luar negeri serta melalui website Badan Investasi dan Promosi Aceh; - melaksanakan diklat-diklat teknis kepada aparatur terutama dari Instansi Penanaman Modal Kabupaten/Kota (IPMK) untuk kelancaran pelayanan investasi; - mensosialisasikan peraturan penyelenggaraan penanaman modal bagi instansi terkait yang membidangi urusan penanaman modal provinsi maupun kabupaten/kota - perlu diberikan bimbingan dan pemantauan kepada perusahaan untuk penyampaian realisasi pelaksanaan Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN); - perusahaan yang tidak menyampaikan LKPM diberi sanksi administrasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 196

200 10. URUSAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH Urusan Koperasi dan Usahan Kecil dan Menengah telah dilaksanakan Pemerintah Aceh melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM. Penjelasan lebih rinci mengenai urusan koperasi dan usahan kecil dan menengah dapat dilihat dalam urusan industri. Hal ini dikarenakan anggaran belanja non program dan belanja program tidak dapat dipisahkan maka disesuaikan dengan urusan yang melekat pada lembaga daerah tersebut. Begitu juga dengan permasalahan dan solusi telah tersirat dalam keterangan dalam pelaksanaan program dan kegiatan pada lembaga daerah tersebut. 11. URUSAN KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil telah dilaksanakan Pemerintah Aceh melalui Biro Tata Pemerintahan Sekretariat Daerah Aceh. Penjelasan lebih rinci mengenai urusan kependudukan dan catatan sipil dapat dilihat dalam urusan otonomi daerah. Hal ini dikarenakan anggaran belanja non program dan belanja program tidak dapat dipisahkan maka disesuaikan dengan urusan yang melekat pada lembaga daerah tersebut. Begitu juga dengan permasalahan dan solusi telah tersirat keterangan dalam pelaksanaan program dan kegiatan pada lembaga daerah tersebut. 12. URUSAN KETENAGAKERJAAN Urusan Ketenagakerjaan yang dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Aceh sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan pembangunan balai latihan kerja; b. Kegiatan pengadaan peralatan bagi pencari kerja; c. Kegiatan pendidikan dan pelatihan ketarampilan. 2. Program Peningkatan Kesempatan Kerja Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan Padat Karya Produktif (PKP); b. Kegiatan pelatihan dan bantuan bahan baku serta mesin; c. Kegiatan penyebarluasan informasi bursa tenaga kerja. 3. Program Perlindungan dan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan penyelesaian kasus perselisihan hubungan industrial; b. Kegiatan penyelesaiaan prosedur pemberian perlindungan hukum bagi tenaga kerja; c. Kegiatan peningkatan pengawasan, perlindungan dan penegakan hukum terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. 197

201 4. Program Pengembangan Wilayah Transmigrasi Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan peningkatan kerjasama antar wilayah, antar pelaku dan antar sektor dalam rangka pengembangan wilayah pemukiman; b. Kegiatan pengelolaan prasarana dan sarana sosial dan ekonomi dikawasan transmigrasi; c. Kegiatan pengerahan dan fasilitasi perpindahan serta penempatan transmigran lokal untuk memenuhi kebutuhan daerah; d. Kegiatan pemantapan rancangan program dan informasi pembangunan serta pemantauan dan pengendalian program. 5. Program Transmigrasi Lokal Kegiatan ini berupa pelatihan INPOSMA. B. Realisasi Pelaksanaan Program dan kegiatan 1. Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja Kegiatan Pembangunan Balai Latihan Kerja (BLK) Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pembangunan balai latihan kerja di 6 kabupaten/kota yaitu, Kabupaten Bireuen, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Singkil, Kota Sabang dan Kota Subulussalam. Kegiatan pengadaan peralatan bagi pencari kerja Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pengadaan peralatan di 3 balai latihan kerja kabupaten/kota yang terdiri dari Aceh Besar, Aceh Selatan dan Aceh Tamiang. Kegiatan pendidikan dan pelatihan keterampilan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pelaksanaan pendidikan dan pelatihan keterampilan bagi 260 orang masyarakat pencari kerja di 4 (empat) Lembaga Pelatihan Kerja Swasta yaitu LPKS Banda Aceh, LPKS Sigli, LPKS Lhokseumawe dan LPKS Aceh Besar dan juga bagi 60 orang masyarakat pencari kerja di 3 (tiga) LLK-UKM/BLK kabupaten/kota yaitu BLK Banda Aceh, BLK Bener Meriah dan LLK- UKM Aceh Barat, serta bagi 40 orang masyarakat pencari kerja melalui program Pemagangan Kerja Ke Jepang. Anggaran yang disediakan untuk program dan kegiatan ini adalah Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89.68%) dan realisasi fisik 100%. 2. Program Peningkatan Kesempatan Kerja Kegiatan Padat Karya Produktif (PKP) Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pembuatan badan jalan desa sepanjang M telah direalisasikan di 4 kabupaten (desa Cot Barok Kabupaten Pidie (1.700 M), Desa Akinengoh Kabupaten Pidie Jaya (2.100 M), Mns. Kumbang dan Cot Rheu Kabupaten Aceh Utara 198

202 (2.100 M) dan Desa Kubang Gajah Kabupaten Nagan Raya (2.100 M) serta pembuatan jembatan dan gorong-gorong di Desa Kubang Gajah Kabupaten Nagan Raya. Kegiatan pelatihan dan bantuan bahan baku serta mesin Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pelatihan dan bantuan bahan baku serta mesin bagi 5 kelompok (100 orang) masyarakat pencari kerja di 5 (lima) kabupaten/kota (pengolahan pakan ternak di desa Jogya Kabupaten Nagan Raya, pengolahan pakan ternak di desa Saleleh Kabupaten Aceh Tamiang, pengolahan pakan ikan dan ayam di Desa Maheng Kabupaten Aceh Besar, pakan ikan dan ayam di desa layan Kabupaten Pidie, pakan ikan dan ayam di Desa Damar Sipeut Kabupaten Aceh Timur. Kegiatan penyebarluasan informasi bursa tenaga kerja Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penyusunan Buku Laporan Bulanan Informasi Pasar Kerja sebanyak 360 buah buku yang dibagikan untuk 23 dinas terkait kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk program dan kegiatan ini adalah Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,30%) dan realisasi fisik 96,74%. 3. Program Perlindungan dan Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan Kegiatan penyelesaian kasus perselisihan hubungan industrial Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penyelesaian kasus perselisihan hubungan industrial sejumlah 288 kasus. Kegiatan peningkatan pengawasan, perlindungan dan penegakan hukum terhadap keselamatan dan kesehatan kerja Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penyelesaian prosedur pemberian perlindungan hukum bagi tenaga kerja yang menjadi dasar dalam penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2011 yang telah ditetapkan oleh Gubernur Aceh sebesar Rp ,-/bulan. Kegiatan peningkatan pengawasan, perlindungan dan penegakan hukum terhadap keselamatan dan kesehatan kerja Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pengawasan upah minimum telah dilaksanakan di 20 kabupaten/kota dengan jumlah perusahaan sebanyak 100 perusahaan, pelaksanaan bimtek pengawasan ketenagakerjaan untuk pegawai pengawas se Aceh dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang, pengawasan norma ketenagakerjaan pada 300 perusahaan di 20 kabupaten/kota, pelaksanaan bimtek dan penyuluhan keselamatan dan kesehatan kerja dilaksanakan pada 20 perusahaan di 10 kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk program dan kegiatan ini adalah Rp 199

203 ,- realisasi keuangan Rp ,- (90,26%) dan realisasi fisik 96,05%. 4. Program Pengembangan Wilayah Transmigrasi Kegiatan peningkatan kerjasama antar wilayah, antar pelaku dan antar sektor dalam rangka pengembangan wilayah pemukiman Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pembangunan rumah, fasilitas umum pemukiman serta sarana dan prasarana lain berupa pembangunan jalan, jembatan, drainase dan gorong-gorong dalam rangka menunjang penempatan warga transmigran lokal, agar nantinya lokasi yang ditempati warga tersebut berorientasi pada layak huni, layak usaha, dan layak berkembang. Realisasi pembangunan rumah sebanyak 145 KK (25 KK Mampree Kabupaten Pidie, 65 KK Gaharu Kabupaten Pidie Jaya, 30 KK Paya Seumantok Kabupaten Aceh Jaya dan 25 KK Keude Trumon Kabupaten Aceh Selatan) dari target 145 KK. Kegiatan pengelolaan prasarana dan sarana sosial dan ekonomi di kawasan transmigrasi Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pemberian bantuan sarana produksi pertanian sesuai potensi lahan yang dikembangkan sebanyak 145 KK (T+1), 405 KK (T+2) dan (T+3) dst sebanyak 650 KK untuk menunjang pengolahan hasil pertanian. Disamping itu juga telah dilaksanakan peningkatan kesejahteraan warga yang dimukimkan antara lain: pembinaan sosial budaya berupa pelayanan kesehatan, pendidikan, pembinaan mental spiritual, kelembagaan desa serta pemberian bantuan jaminan hidup beras sebanyak ,5 Kg untuk KK dan bantuan jadup non beras (Natura) paket untuk KK terdiri dari (T+1) sebanyak ,5 kg jadup beras dan 945 paket jadup non beras untuk 230 KK, (T+2) sebanyak ,5 Kg Jadup beras dan paket jadup non beras untuk 409 KK serta (T+3) dst ,5 Kg jadup beras dan paket untuk 715 KK, dimana nantinya warga yang telah dimukimkan dapat hidup sejahtera dan mandiri. Kegiatan pengerahan dan fasilitasi perpindahan serta penempatan transmigran lokal untuk memenuhi kebutuhan daerah Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan hasil yang dicapai dari kegiatan ini adalah terlaksananya pengerahan dan perpindahan penduduk dalam suatu kawasan potensial sesuai tata ruang dan kebutuhan daerah. Realiasi kegiatan ini yaitu telah melakukan penyuluhan, pendaftaran dan seleksi bagi warga yang akan dimukimkan serta penempatan warga transmigran sebanyak 280 KK. Kegiatan pemantapan rancangan program dan informasi pembangunan serta pemantauan dan pengendalian program Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pembuatan Re-Design 200

204 RTUPT-RTJ sebanyak 1 lokasi, design RTUPT-RTJ pada 2 lokasi dan design penataan desa sebanyak 6 lokasi, serta penyediaan buku dan laporan sebagai potret pelaksanaan pembangunan transmigrasi kedepan. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,65%) dan realisasi fisik 100%. 5. Program Transmigrasi Lokal Kegiatan ini berupa pelatihan INPOSMA Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pelatihan INPOSMA sebanyak 1 angkatan di lokasi Bukit Ceurana Kabupaten Bireuen yang di ikuti oleh 60 peserta (inti 30 orang dan imbas 30 orang), pelaksanaan pelatihan tersebut dilaksanakan selama 13 hari, dari tanggal 23 Nopember 2010 s.d 04 Desember Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,-. (99,00%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi Anggaran Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp ,- (87,10%) dan realisasi fisik 97,78%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,10 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung , ,61 2 Belanja langsung ,91 TOTAL , ,10 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: Tidak dapat dilaksanakan program peningkatan kesempatan kerja untuk kegiatan pengembangan kelembagaan produktivitas dan pelatihan kewirausahaan akibat terjadi tolak tarik antara Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Aceh Tenggara dengan Balai Latihan Kerja Aceh Tenggara serta tidak sesuainya jumlah alokasi dana transport dan uang saku peserta dengan permintaan kabupaten. Solusinya: Dinas kabupaten/kota harus lebih meningkatan koordinasi baik dengan dinas 201

205 terkait di kabupaten maupun dengan dinas provinsi dalam menyusun dan pelaksanaan program. 13. URUSAN KETAHANAN PANGAN Urusan Ketahanan Pangan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Aceh melalui Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Aceh guna mengkoordinasikan peningkatan ketahanan pangan di daerah. A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Kantor Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa kebersihan kantor; d. Penyediaan alat tulis kantor; e. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; f. Penyediaan komponen instalaisi listrik dan penerangan kantor; g. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundangan-undangan; h. Penyediaan makan dan minum; i. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah; j. Penyediaan jasa pegawai non PNS. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan gedung kantor; b. Pengadaan peralatan gedung kantor; c. Pengadaan meubeuler; d. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor; e. Pemeliharaan rutin/berkala kenderaan dinas operasional. 3. Program Peningkatan Kesejahteraan Petani Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pelatihan petani dan pelaku agribisnis; b. Penyuluhan dan bimbingan pemanfaatan dan produktivitas lahan tidur. 4. Program Peningkatan Ketahanan Pangan. Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penanganan daerah rawan pangan; b. Pemanfaatan pekarangan untuk pengembangan pangan; c. Pengembangan desa mandiri pangan; d. Pengembangan model distribusi pangan yang efisien; e. Penelitian dan pengembangan sumberdaya pertanian; f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan; g. Pemberdayaan Lembaga Mandiri dan Mengakar di Masyarakat 202

206 (LM3); h. Pameran ketahanan pangan dan lomba cipta menu tingkat provinsi dan nasional; i. Penyusuanan rancangan implementasi program pembangunan ketahanan pangan; j. Koordinasi kebijakan ketahanan pangan; k. Revitalisasi database ketahanan pangan dan penyuluhan; l. Diversifikasi pangan melalui moderenisasi aneka ragam pengolahan pangan lokal di tingkat rumah tangga; m. Sosialisasi mutu dan keamanan pangan. 5. Program Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian/Perkebunan Kegiatan berupa peningkatan penerapan teknologi pertanian/perkebunan tepat guna. 6. Program Pemberdayaan Penyuluh Pertanian/Perkebunan Lapangan Kegiatan berupa pendidikan dan pelatihan bagi penyuluh. 7. Program Pengembangan dan Peningkatan Penyuluhan Kegiatan berupa rapat-rapat koordinasi penyuluhan. B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Kantor Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah kegiatan penyediaan jasa surat menyurat, kegiatan penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, kegiatan penyediaan jasa kebersihan kantor, kegiatan penyediaan alat tulis kantor, kegiatan penyediaan barang cetakan dan penggandaan, kegiatan penyediaan komponen instalaisi listrik dan penerangan kantor, kegiatan penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundangan-undangan, kegiatan penyediaan makan dan minum, kegiatan rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah dan kegiatan penyediaan jasa pegawai non PNS. program ini merupakan program dan kegiatan rutin kantor. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (84,72%) dan realisasi fisik 98%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah pembangunan gedung kantor, pengadaan peralatan gedung kantor, pengadaan mebeluer, pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor dan pemeliharaan rutin/berkala kenderaan dinas operasional. Program ini merupakan program dan kegiatan rutin kantor. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,11%) dan realisasi fisik 99,60%. 203

207 3. Program Peningkatan Kesejahteraan Petani Kegiatan pelatihan petani dan pelaku agribisnis Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pelatihan petani sebanyak orang pada 5 kabupaten dan magang ke luar Aceh sebanyak 125 orang untuk meningkatkan kemampuan petani dalam memproduksi pangan dan hasil pertanian lainnya. Dana untuk kegiatan ini dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (83,99%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan penyuluhan dan bimbingan pemanfaatan dan produktivitas lahan tidur Kegiatan tersebut telah dilaksanakan di Aceh Tengah untuk 50 kelompok tani dalam bentuk pelatihan dan penguatan modal kelompok yang bertujuan untuk memanfaat lahan tidur dengan berbagai komoditas pangan dalam rangka meningkatkan ketersediaan pangan dan pendapatan petani. Anggaran dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,40%) dan realisasi fisik 100%. 4. Program Peningkatan Ketahanan Pangan (Pertanian/Perkebunan) Kegiatan penanganan daerah rawan pangan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penyaluran kebutuhan pangan kepada daerah yang mengalami rawan pangan akibat bencana alam banjir di 8 kabupaten untuk 75 desa. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (90,48%) dan realisasi fisik 97,00%. Kegiatan pemanfaatan pekarangan untuk pengembangan pangan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan dan pembinaan kepada masyarakat dalam rangka memanfaatkan pekarangan untuk pemenuhan pangan dan gizi keluarga. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,88%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pengembangan desa mandiri pangan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pemberian fasilitas sarana peningkatan produksi pangan dan ekonomi kepada petani miskin di 6 Desa pada Kabupaten Aceh Selatan dan Aceh Singkil. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (88,76%) dan realisasi fisik 95,00%. Kegiatan pengembangan model distribusi pangan yang efisien Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pembinaan/penagihan Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) yang masih tertunggak pada LUEP dan telah dapat ditagih dana sebesar Rp ,-. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (60,21%) dan realisasi fisik 90,00%. 204

208 Kegiatan penelitian dan pengembangan sumber daya pertanian Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk kajian potensi umbiumbian sebagai pangan olahan pengganti beras. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (72,56%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk peninjauan lapangan, penilaian kinerja, penyusunan laporan program dan kegiatan. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (88,28%) dan realisasi fisik 95,00%. Kegiatan pemberdayaan Lembaga Mandiri dan Mengakar di Masyarakat (LM3) Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penyaluran modal kerja untuk 4 pesantren di 3 kabupaten guna mengembangkan pangan pada lahan milik pesantren. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,85%) dan realisasi fisik I00%. Kegiatan pameran ketahanan pangan dan lomba cipta menu tingkat provinsi dan nasional Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penilaian cipta menu yang diikuti kabupaten/kota dan pemenang dikirim ketingkat nasional. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (86,02%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan penyusuanan rancangan implementasi program pembangunan ketahanan pangan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pertemuan, koordinasi pelaksanaan program dan kegiatan tahun 2010 serta penyusunan program dan kegiatan pembangunan ketahanan pangan tahun Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,49 %) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan koordinasi kebijakan ketahanan pangan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk rapat-rapat dengan instansi terkait yang menangani ketahanan pangan baik di provinsi maupun kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (58,68%) dan realisasi fisik 80,00%. Kegiatan revitalisasi database ketahanan pangan dan penyuluhan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pengumpulan database ketahanan pangan dan penyuluhan sebagai bahan kebijakan dan perencanaan. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (91,97%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan diversifikasi pangan melalui modernisasi aneka ragam 205

209 pengolahan pangan lokal di tingkat rumah tangga Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penyediaan alat olahan pangan lokal dan pelatihan serta pembinaan. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,49%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan sosialisasi mutu dan keamanan pangan Kegiatan ini dialokasikan anggaran sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp 0,- (0%) dan realisasi fisik 0%. Tidak terealisasinya kegiatan disebabkan adanya kegiatan lain yang dananya dari APBN secara substansi berkaitan dengan kegiatan tersebut, oleh karena itu untuk efisiensi anggaran maka kegiatan tersebut tidak dilaksanakan. 5. Program Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian/Perkebunan Kegiatan penyuluhan penerapan teknologi pertanian tepat guna Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk demontrasi percontohan berbagai tehnologi tepat guna dalam rangka alih tehnologi kepada petani untuk meningkatkan produksi bahan pangan dan hasil pertanian lainnya. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (94,66%) dan realisasi fisik 100%. 6. Program Pemberdayaan Penyuluh Pertanian/Perkebunan Lapangan Kegiatan pendidikan dan pelatihan bagi penyuluh Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pelatihan dasar dan latihan teknis guna meningkatkan kompetensi tenaga penyuluh lapangan. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (91,29%) dan realisasi fisik 100%. 7. Program Pengembangan dan Peningkatan Penyuluhan Kegiatan Rapat-rapat Koordinasi Penyuluhan, Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pertemuan untuk menyusun programa penyuluhan provinsi dan kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,60%) dan realisasi frsik 100%. Realisasi Anggaran Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Aceh dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp (90,75% dengan realisasi fisik sebesar 98,77%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: 206

210 No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,75 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung , ,60 2 Belanja langsung , ,37 TOTAL , ,75 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - kegiatan Otsus dan Dana TBH-MIGAS yang diusulkan oleh kabupaten/kota sering tidak didukung data yang lengkap sehingga dalam pelaksanaan menjadi salah satu faktor penghambat; - pengawasan dan pengendalian oleh pihak kabupaten/kota terhadap kegiatan Otsus dan Dana TBH-MIGAS sangat kurang; - intensitas dan wilayah bencana banjir/kekeringan melanda petani terus meningkat setiap tahun, menyebabkan kerugian bagi petani; - sarana dan prasarana penyuluhan masih relatif belum memadai, sementara teknologi berkembang sangat cepat, hal ini menyebabkan lambannya gerakan penyuluhan itu sendiri; - sebagian kegiatan yang membutuhkan dukungan operasional pembinaan dari pemerintah kabupaten/kota baik dalam masa pelaksanaan maupun lanjutan tahun berikutnya kurang dan cenderung tidak ada. Solusi: - akan meningkatkan koordinasi dan data dukung yang kuat pada saat kabupaten/kota mengajukan usulan Otsus dan Dana TBH-MIGAS; - harus ada komitmen pemerintah kabupaten/kota terhadap kelanjutan suatu kegiatan yang belum fungsional menjadi fungsional; - pengembangan dan pemberdayaan lumbung pangan masyarakat akan terus ditingkatkan sebagai upaya penguatan kelembagaan pangan desa dalam mengantisipasi kerawanan pangan; - akan menetapkan fokus-fokus prioritas untuk pembenahan sarana dan prasarana penyuluhan. 14. URUSAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK Urusan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dilaksanakan oleh Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebagai berikut: 207

211 A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa peralatan dan perlengkapan kantor; d. Penyediaan jasa administrasi keuangan; e. Penyediaan jasa kebersihan kantor; f. Penyediaan jasa perbaikan peralatan kerja; g. Penyediaan alat tulis kantor; h. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; i. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; j. Penyediaan makanan dan minuman; k. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah; l. Penyadiaan jasa hari-hari besar. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor; b. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas. 3. Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender dan Anak Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Fasilitasi pengembangan Pusat Terpadu Pemberdayaan Perempuan (P2TP2); b. Penguatan kelembagaan pengarusutamaan gender dan anak; c. Pengembangan sistem informasi gender dan anak; d. Rapat koordinasi kesejahtaraan dan perlindungan anak (KPA); e. Peningkatan kapasitas penguatan gugus tugas anti traficking. 4. Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Fasilitasi upaya perlindungan perempuan terhadap tindakan kekerasan; b. Pelatihan muballighah; c. Pelatihan pemberdayaan ekonomi perempuan janda miskin. 5. Program Peningkatan Peran Serta dan Kesejahteraan Gender dalam Pembangunan Kegiatan ini berupa bimbingan manajemen usaha bagi perempuan dalam mengelola usaha. 208

212 B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah kegiatan penyediaan jasa surat menyurat, jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, jasa peralatan dan perlengkapan kantor, jasa administrasi keuangan, jasa kebersihan kantor, jasa perbaikan peralatan kerja, alat tulis kantor, barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, makanan dan minuman, rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah dan jasa hari-hari besar. program dan kegiatan ini merupakan kegiatan rutin kantor. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (92,47%) dan realisasi fisik 100%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor dan Pemeliharaan kendaraan dinas, untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna sarana dan prasarana aparatur, dengan tujuan terpenuhi kebutuhan penunjang dalam peningkatan kinerja aparatur. Program ini dialokasikan anggaran sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- ( 92,36%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender dan Anak Kegiatan memfasilitasi Pengembangan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan (P2TP2), melalui pelatihan perbaikan gizi dan kesehatan keluarga bagi 100 (seratus) orang peserta di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya. 209

213 Kegiatan pelatihan keterampilan divisi pendidikan dan ekonomi dalam 2 tahap, bagi 40 (empat puluh) orang peserta dan pemberian bantuan makanan bergizi untuk ibu dan anak di Kabupaten Aceh Besar. Kegiatan penyuluhan dilaksanakan dalam Kabupaten Aceh Besar meliputi; penyuluhan divisi kesehatan dan psikologi, bagi 100 (seratus) orang peserta dan penyuluhan divisi hukum dan data bagi 100 (seratus) orang peserta dilaksanakan dalam Kecamatan Darul Imarah serta penyuluhan divisi Syari at Islam, bagi 100 (seratus) orang peserta di Kecamatan Mesjid Raya, untuk peningkatan pengetahuan masyarakat dibidang Kesehatan dan hukum dalam sistem perlindungan dan peningkatan kesejahteraan perempuan. Kegiatan operasional Pembantu Pembina KB Gampong (PPKGB), dan Operasional Pembantu Pembina KB keliling dengan dana Otsus di Kabupaten Bireuen, agar pro aktif mengambil peran dalam pembangunan keluarga sejahtera. Anggaran yang dialokasikan untuk 3 kegiatan ini Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (83,23%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan penguatan kelembagaan pengarusutamaan gender dan anak, dalam bentuk pelaksanaan dan pembinaan Gampong P2WKSS dan GSI, pemberian modal usaha bagi kelompok perempuan keluarga miskin, TOT peningkatan peran perempuan dalam pembangunan. Anggaran yang dialokasikan Rp ,- realisasi keuangan Rp (37,63%). Kegiatan pengembangan sistem informasi gender dan anak, dilaksanakan dalam bentuk Rakorda Pemberdayaan Perempuan se Provinsi Aceh Tahun 2010, di Kabupaten Aceh Selatan tentang kegiatan advokasi dan fasilitasi PUG bagi perempuan serta sosialisasi perlindungan anak dengan dana Otsus. Anggaran yang dialokasikan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (83,30% ) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan rapat koordinasi Kesejahteraan dan Perlindungan Anak (KPA), dilaksanakan dalam bentuk diskusi kelompok/panel diskusi, presentasi kelompok dan perumusan hasil diskusi, diikuti 80 orang peserta terdiri dari dinas/badan terkait tingkat provinsi serta kabag/kabid yang menangani masalah anak di kabupaten/kota dan LSM peduli anak se Aceh. Kegiatan untuk mensinergiskan antara kebijakan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota tentang perlindungan anak. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (64,45%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan peningkatan kapasitas penguatan gugus tugas anti traficking dalam bentuk rapat rutin bulanan anggota Tim Gugus Traficking dan pembuatan AD/ART dan SOP Gugus Tugas Anti Traficking sebagai panduan bagi anggota Gugus Tugas Traficking, Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp 210

214 ,- (46,48%) dan realisasi fisik 100%. Rendahnya realisasi disebabkan karena yang direalisasikan hanya biaya transportasi tim penyusun saja sedangkan biaya lainnya sesuai dengan ketentuan sedang selebihnya tidak dapat direalisir. 4. Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan Kegiatan fasilitasi perlindungan perempuan terhadap tindak kekerasan, dilaksanakan dalam bentuk dukungan terhadap penanganan kasus-kasus tindak kekerasan, utamanya tindakan medis oleh Rumah Sakit Bhayangkari yang ditunjuk untuk penanganan korban KDRT; seperti pengadaan obat-obatan, tes DNA dan lain-lain. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (79,61%) dan realisasi fisik 79.61%. Rendahnya realisasi disebabkan karena dana untuk 2 kali tes DNA tidak digunakan dan dana untuk pengadaan obat-obatan direalisasi sesuai dengan kebutuhan pasien KDRT. Kegiatan pelatihan bagi 25 orang Muballighah di Kabupaten Bireuen yang pesertanya berasal dari Kabupaten Aceh Besar, Bireuen, Bener Meriah, Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Timur. Tujuan dari pelatihan untuk menyamakan pemahaman tentang eksistensi perempuan dan metodelogi dakwah yang tepat, efektif dan relevan sehingga dapat memberikan pemahaman serta solusi terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi oleh perempuan. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (71,73%) dan realisasi fisik 100%. Sisa anggaran merupakan hasil efisiensi dalam pelaksanaan kegiatan. Kegiatan Pelatihan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan (janda Miskin), dilaksanakan pelatihan Sistem Bertanam Padi SRI Organik dan Pelatihan Budidaya Sayur Organik dalam 2 (dua) angkatan, masing-masing angkatan 20 orang peserta, berasal dari Kabupaten Aceh Besar bertempat di Desa Banda Safa dan Desa Lambeugak, dengan tujuan agar janda janda miskin terdidik/terlatih keterampilan dalam memberdayakan ekonomi dan dapat meningkatkan pendapatannya. Anggaran yang dialokasikan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (69,47%) dan realisasi fisik 100%. Sisa anggaran merupakan hasil efisiensi dalam pelaksanaan kegiatan. 5. Program Peningkatan Peran Serta dan Kesetaraan Gender dalam Pembangunan Kegiatan bimbingan manajemen pengelola usaha bagi perempuan, untuk meningkatkan pengetahuan tentang manajemen/mengelola usaha sekaligus Peningkatan pendapatan bagi perempuan korban konflik. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (86,53%) dan realisasi fisik 90%. 211

215 Realisasi Anggaran Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp ,- (93,90%). Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung Tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,61 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung , ,12 2 Belanja langsung , ,29 TOTAL , ,61 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: Belum sepenuhnya sinergi antara program provinsi dengan sebagian kabupaten/kota. Solusinya: Perlunya koordinasi intensif antara provinsi dan kabupaten/kota dalam Program Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh. 15. URUSAN KELUARGA BERENCANA DAN KELUARGA SEJAHTERA Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera yang dilaksanakan Pemerintah Aceh, tidak ada SKPA yang melaksanakan secara khusus akan tetapi program dan kegiatan tersebut ada melekat pada kegiatan SKPA yang menangani urusan kesehatan. 16. URUSAN PERHUBUNGAN Urusan komunikasi dan informatika telah dilaksanakan Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telematika dengan program dan kegiatan sebagai berikut: A. Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa administrasi keuangan; d. Penyediaan jasa kebersihan kantor; 212

216 e. Penyediaan alat tulis kantor; f. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; g. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; h. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor; i. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan; j. Penyediaan makanan dan minuman; k. Rapat -rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah; l. Penyediaan jasa hari-hari besar. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan gedung kantor; b. Pengadaan perlengkapan gedung kantor; c. Pengadaan peralatan gedung kantor; d. Pengadaan computer; e. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor; f. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional; g. Pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor; h. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatannya berupa pendidikan dan pelatihan formal. 4. Program Pembangunan Prasarana dan Fasilitas Perhubungan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan perencanaan pembangunan prasarana dan fasilitas perhubungan; b. Kegiatan sosialisasi kebijakan di bidang perhubungan; c. Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana jembatan timbang; d. Peningkatan pengelolaan angkutan sungai, danau dan penyeberangan; e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan. 5. Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas LLAJ Kegiatan ini berupa rehabilitasi/pemeliharaan terminal/pelabuhan 6. Program Peningkatan Pelayanan Angkutan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan penciptaan pelayanan cepat, tepat, murah dan mudah; b. Sosialisasi /penyuluhan ketertiban lalu lintas dan angkutan; c. Kegiatan pemilihan dan pemberian penghargaan sopir/juru Mudi/awak kendaraan angkutan umum teladan; d. Koordinasi dalam peningkatan pelayanan angkutan ; e. Monitoring, evaluasi dan pelaporan. 7. Program Pembangunan Sarana dan Prasarana Perhubungan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: 213

217 a. Pembangunan gedung terminal; b. Pembangunan halte bus, taxi dan gedung terminal; c. Pembangunan prasarana perhubungan laut; d. Pembangunan sarana perhubungan laut; e. Pembangunan prasarana perhubungan udara; f. Pembangunan prasarana pos dan telekomunikasi. 8. Program Pengendalian dan Pengamanan Lalu Lintas Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengadaan dan pemasangan rambu-rambu lalu lintas; b. Pengadaan marka jalan; c. Pengadaan pagar pengaman jalan; d. Pengadaan delineator; e. Pengadaan traffic light; f. Monitoring, evaluasi dan pelaporan. 9. Program Peningkatan Kelaikan Pengoperasian Kenderaan Bermotor Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan balai pengujian kendaraan bermotor; b. Pelaksanaan penelitian kelaikan kendaraan bermotor. 10. Program Pengembangan Komunikasi, Informasi dan Media Massa Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Perencanaan dan pengembangan Kebijakan Komunikasi dan informasi; b. Monitoring dan evaluasi jaringan komunikasi dan informasi; c. Pengadaan alat jaringan komunikasi; d. Pengadaan perangkat keras SIMDA; e. Pengembangan Aplikasi E-Goverment Pemda; f. Operasional perpustakaan; g. Optimalisasi peran media center pemerintah daerah; h. Pengembangan dan pembinaan penyiaran daerah. 11. Program Fasilitasi Peningkatan SDM Bidang Komunikasi dan Informasi Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penerapan sistem informasi dan teknologi informasi di lingkungan Pemda b. Bimbingan teknis, workshop dan sosialisasi sistem informasi dan teknologi informasi c. Workshop Sistem Informasi dan teknologi Informasi d. Sosialisasi Sistem Informasi dan teknologi Informasi e. Penyebaran Informasi Melalui Media Penyiaran 12. Program Kerjasama Informasi dengan Mass Media Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Konsultasi komunitas infokom 214

218 b. Penyebarluasan informasi pembangunan daerah melalui media tradisional, luar ruang dan penerbitan 13. Program Pengembangan Data dan Statistik Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Verifikasi, perekam, backup data e-goverment dan penyajian informasi e-goverment b. Pengelolaan website c. Pengelolaan SMS center gubernur B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah Penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa administrasi keuangan, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor, penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan, penyediaan makanan dan minuman, rapat rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah, penyediaan jasa hari-hari besar. program dan kegiatan ini merupakan kegiatan rutinitas kantor yang disiapkan untuk ada setiap tahun. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (81,15%) dan realisasi fisik 81,15%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah Pembangunan gedung kantor, pengadaan perlengkapan gedung kantor, pengadaan peralatan gedung kantor, pengadaan computer, pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor, pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional, pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,43%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Pendidikan dan pelatihan formal Terhadap kegiatan ini, usulan anggaran kegiatan pendidikan dan pelatihan di susun berdasarkan katalog pelaksanaan diklat dari Kementerian Perhubungan dan Kementerian Komunikasi dan Informasi, oleh sebab itu pada tahun 2010 ada diklat yang telah diusulkan dalam APBA namun tidak diselenggarakan oleh kementerian sehingga anggaran pelaksanaan diklat tersebut tidak dapat terserap seluruhnya. Adapun 215

219 kegiatan diklat yang tidak dapat dilaksanakan yaitu: - diklat operator jembatan timbang di Palembang; - diklat penyidik PPNS Pola 400 jam di Jakarta; - diklat terpadu perhubungan laut di Jakarta; - diklat pengadaan barang dan jasa di Medan; - diklat PPNS bidang telekomunikasi di Jakarta; - diklat manajemen mutu konstruksi di Jakarta. Anggaran yang disediakan untuk program dan kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (58,29%) dan realisasi fisik 100%. 4. Program Pembangunan Prasarana dan Fasilitas Perhubungan Kegiatan perencanaan pembangunan prasarana dan fasilitas perhubungan Penyusunan dokumen perencanaan yang meliputi dokumen kajian dan DED. Di samping itu juga pelaksanaan pengadaan konstruksi bangunan gedung kantor tempat tinggal dan fasilitas umum lainnya di bidang Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telematika se- Aceh. Adapun dokumen-dokumen yang dimaksud adalah sebagai beriku: - DED pembangunan terminal type B Kota Subulussalam (Otsus); - analisis dampak lingkungan Kolam Pelabuhan Lamteng; - review design gedung seuramo; - DED gedung media center Kota Banda Aceh; - DED green data center Kota Banda Aceh; - review design pembangunan fasilitas radio link; - terkoneksi sektor perhubungan Provinsi Aceh; - Review Design Pembangunan Fasilitas Bantuan Komunikasi Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI Aceh); - review design pembangunan fasilitas komunikasi Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI Aceh); - perencanaan inter koneksi Jaringan Komunikasi pusat/daerah (JARKOMPUSDA) di kabupaten/kota; - DED pembangunan radio rimba raya di Kabupaten Bener Meriah; - DED pembangunan dermaga di Desa Pasi Jamen Pulo Aceh Kabupaten Aceh Besar (Otsus); - DED pembangunan Dynamic Message Sign (DMS) di Kota Banda Aceh; - DED pembangunan infrastrukstur angkutan massal di Kota Banda Aceh; - DED pembangunan fasilitas terminal Geudong Kabupaten Aceh Utara (Migas); - perencanaan pembangunan Helipad di Kabupaten Pidie; - kajian penilaian aset sekolah penerbangan; - kajian kodefikasi single identity number; - rancangan sistem kontrol acces berbasis Radio Frekuensi 216

220 Indentification (RFID); - penyusunan buku profil perhubungan; - pengembangan operasional CIO (Chief Information Officer) Dishubkomintel Aceh; - DED pembangunan dermaga pendaratan di Kabupaten Aceh Tamiang; - studi penelitian penurunan badan runway Bandara Blangkejeren Kabupaten Gayo Lues. Rapat koordinasi teknis bidang perhubungan, komunikasi, informasi dan telematika Aceh yang dilaksanakan selama 3 (tiga) hari di Hotel Grand Nanggroe Banda Aceh, dihadiri oleh 46 (empat puluh enam) orang yang terdiri dari kepala dinas dan pejabat yang membidangi perencanaan seluruh kabupaten/kota, Kepala Adpel, Kepala Kanpel, Kepala Jembatan Timbang, Kepala Cabang PT. ASDP Indonesia Ferry dan Kepala Bandara yang ada di seluruh wilayah Aceh. Kegiatan sosialisasi kebijakan di bidang perhubungan Kegiatan ini terselenggara 4 (empat) sub kegiatan yaitu: - Monitoring dan pendataan pelayanan pos dan telekomunikasi - Monitorng pendataan dan pembinmaan perijinan - Monitoring pendataan dan pembinaan pengguna frekuensi - Penyelenggaraan ujian amatir radio Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana jembatan timbang Kegiatan ini terdapat kegiatan pembangunan gudang Jembatan Timbang Jontor Subulussalam Kegiatan peningkatan pengelolaan angkutan sungai, danau dan penyeberangan Kegiatan ini meliputi pembangunan prasarana angkutan sungai, danau dan penyeberangan yang terdiri dari: - Pembangunan dermaga Tetunyu Kabupaten Aceh Tengah (Tahap III) - Peningkatan Fasilitas Pelabuhan Penyeberangan Pulau Sarok Kab. Aceh Singkil (Otsus) Monitoring, Evaluasi dan pelaporan Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan identifikasi terhadap kelayakan usulan kegiatan dari kabupaten/kota terutama terhadap kesediaan lahan dan dokumen perencanaan. Disamping itu juga melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan pembangunan di kab/kota. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,35%) dan 217

221 realisasi fisik 100%. 5. Program Rehabilitasi dan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas LLAJ Kegiatan rehabilitasi/pemeliharaan terminal/pelabuhan Bertujuan untuk pemeliharaan prasarana dan fasilitas lalu lintas angkutan jalan yang pada tahun 2010 kegiatan yang dilaksanakan yaitu rehabilitasi/ pemeliharaam terminal/pelabuhan, meliputi: Rehabilitasi terminal Tipe B Kota Lhokseumawe Rehabilitasi berat terminal Bis Tapak Tuan di Kabupaten Aceh Selatan tahap I (Otsus) Rehabiliasi berat bangunan dan pengaspalan area terminal Kota Fajar di Kabupaten Aceh Selatan (Otsus) Rehabiliasi terminal terpadu Kota Sigli (Otsus) Rehabiliatsi terminal lawe bulan Kabupaten Aceh Tenggara Rehabilitasi terminal terpadu di Kabupaten Aceh tenggara - Rehabiliasi Mussalla/MCK - Pembuatan Saluran Terbuka Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,03%) dan realisasi fisik 100%. 6. Program Peningkatan Pelayanan Angkutan Kegiatan penciptaan pelayanan cepat, tepat, murah dan mudah. Kegiatan ini bertujuan untuk pelaksanaan operasional transportasi bagi jamaah haji di Provinsi Aceh baik Debarkasi dan Embarkasi. Sosialisasi/penyuluhan ketertiban lalu lintas dan angkutan. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam rangka penertiban angkutan umum (razia) di jalan dan di terminal serta sosialisasi peraturan lalu lintas angkutan jalan kepada operator angkutan umum dan masyarakat pengguna angkutan umum. Kegiatan pemilihan dan pemberian penghargaan sopir/juru mudi/awak kendaraan angkutan umum teladan. Kegiatan ini bertujuan untuk memilih awak angkutan umum teladan dari seluruh Aceh yang kemudian diikutkan dalam pemilihan awak angkutan umum teladan tingkat nasional di Kementerian Perhubungan Jakarta. Koordinasi dalam peningkatan pelayanan angkutan Kegiatan ini bertujuan untuk mengadakan rapat-rapat koordinasi dengan operator angkutan di Aceh dan mengikuti rapat rapat koordinasi tingkat nasional yang dilaksanakan oleh Kementerian Perhubungan. Monitoring, evaluasi dan pelaporan Kegiatan ini meliputi pelaksanaan kegiatan pemantauan, evaluasi dan 218

222 pelaporan terhadap pelaksanaan pelaksanaan program peningkatan pelayanan angkutan. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (80,50%) dan realisasi fisik 100%. 7. Program Pembangunan Sarana dan Prasarana Perhubungan Pelaksanaan program ini bertujuan agar terciptanya kelancaran dan ketertiban distribusi barang dan penumpang, tersedianya pelabuhan regional dan pelabuhan rakyat serta memperlancar komunikasi pemerintah daerah dan masyarakat di Provinsi Aceh. Program ini terdiri dari beberapa kegiatan pembangunan subsektor perhubungan: Kegiatan pembangunan gedung terminal, meliputi: - pembangunan terminal type C Samalanga Kabupaten Bireuen (Tahap III); - pembangunan terminal type C di Saree Kabupaten Aceh besar (Tahap II) Otsus; - pembangunan terminal type C di Labuhan Haji Kabupaten Aceh selatan (Tahap I) Otsus; - pembangunan fasilitas Terminal Panton Labu Kabupaten Aceh Utara (Migas); - pembangunan terminal bus type B di Kabupaten Bireuen Tahap I (Otsus); - pembangunan Terminal Kabupaten Pidie Tahap I (Otsus); - pembangunan fasilitas di Terminal Beureunuen Kabupaten Pidie (Otsus); - pembangunan terminal type B di Kabupaten Nagan raya Tahap I (Otsus); - pembangunan terminal barang di Kabupaten Bener Meriah (Otsus); - pembangunan terminal terpadu Kabupaten Gayo Lues (Otsus); - pembangunan terminal type B Kabupaten Pidie Jaya; - pembangunan terminal type C di Trumon Kabupaten Aceh Selatan Tahap III. Kegiatan pembangunan halte bus, taxi dan gedung terminal, meliputi: - pembangunan halte 3 (tiga) unit (Otsus) Kabupaten Aceh Timur; - pembangunan halte bus di Kabupaten Bener Meriah; - pembangunan halte bus di Kabupaten Aceh Tengah; - pembangunan halte bus sigala-gala; - pembangunan halte bus seumadam; - pembangunan halte bus kota depan Telkom Kuta Cane; - pembangunan halte bus depan Rumah Sakit Umum Kuta Cane; - pembangunan halte bus kuning (Kec. Bambel Kuta Cane); - pembangunan halte bus di lawe deski (Kec. Lawe- Sigala-gala- Kutacane); 219

223 - pembangunan halte bus di Kabupaten Pidie; - pembangunan halte bus di Kabupaten Pidie Jaya. Kegiatan pembangunan prasarana perhubungan laut, meliputi: - lanjutan pembangunan pelabuhan regional kuala langsa (rehabilitasi fasilitas pelabuhan); - lanjutan pembangunan pelabuhan rakyat kuala raja tahap III. Kegiatan pembangunan sarana perhubungan laut, meliputi: - pengadaan dan pemasangan rambu suar di Kuala Krueng Aceh; - pengadaan dan pemasangan rambu suar di Ulee Lhue; - pengadaan rambu suar di Simeulue. Kegiatan pembangunan prasarana perhubungan udara meliputi: - Bandar Udara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh; - pembangunan gedung VIP Bandara SIM Tahap III; - Bandar Udara Alas Lauser Kuta Cane (Migas); - pembangunan pagar parkir dan pagar rumah dinas 2 (unit); - pembangunan instalasi air pada Bandara Alas Lauser; - pembangunan saluran pembuangan air limbah pada Bandara Alas Lauser; - penimbunan lahan parkir pada bandara Alas Lauser; - pengecatan pagar lama; - marka Jalan Mbarung-Lawe Alas Bandara; - penimbunan halaman kantor bandara; - pemasangan instalasi air bersih rumah dinas; - pengecetan gedung terminal; - meubeuler terminal bandara; - marking landasan; - penimbunan halaman rumah dinas; - rehabilitasi kantor/gedung PKP-PK; - pengadaan Meubeleur kantor bandara; - pembuatan pagar wiremesh 565 meter; - lanjutan pelebaran runway (Tahap III) M2. Pengadaan fasilitas Bandar Udara Malikus Saleh Kabupaten Aceh Utara (Otsus Kabupaten Aceh Utara) - pembuatan marking runway; - pelapisan AC halaman parker; - pengadaan dan pemasangan VHF; - rehab pagar landasan; - pembangunan gedung terminal dan tower. Bandara Udara Syech Hamzah Fansuri Singkil - penimbunan halaman rumah dinas; - pembersihan kawasan bandara. 220

224 Bandara Rembele Bener Meriah - pembangunan gedung NDB (50 M2); - pembangunan access road ke gedung NDB (1.000 M2). Pembangunan helipad di Kabupaten Pidie - pembangunan helipad. Bandara Lasikin Sinabang - pemotongan Bukit Abstacle di ujung Runway Bandara Lasikin. Kegiatan pembangunan prasarana pos dan telekomunikasi Kegiatan ini meliputi pengadaan peralatan komunikasi dan pendukungnya Satgas lapangan Dishubkomintel Aceh serta pembayaran tunggakan sewa transponder dengan PT. Telkom dari tahun dan sewa transponder tahun Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,35%) dan realisasi fisik 100%. 8. Program Pengendalian dan Pengamanan Lalu Lintas Tujuan program ini adalah terpenuhinya kebutuhan fasilitas keselamatan lalu lintas pada jalan provinsi dan meningkatkan keselamatan lalu lintas di jalan raya. Kegiatan dimaksud adalah: - pengadaan dan pemasangan rambu-rambu lalu lintas, yang tersebar di Kota Banda Aceh, Kebupaten Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya,Bireuen, Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Jaya, Aceh Barat dan Nagan Raya; - pengadaan Marka Jalan, yang tersebar di Kota Banda Aceh, 221

225 Kebupaten Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Jaya, Aceh Barat dan Nagan Raya; - pengadaan pagar pengaman jalan di Kabupaten Aceh Besar; - pengadaan deliniator di ruas jalan provinsi di Kabupaten Aceh Besar; - pengadaan trafffic light di Kabupaten Aceh Besar, Bireuen dan Aceh Selatan; - monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program pengendalian dan pengamanan lalu lintas. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,81%) dan realisasi fisik 100%. 9. Program Peningkatan Kelaikan Pengoperasian Kendaraan Bermotor Pada program ini terdapat 2 (dua) kegiatan, dengan tujuan adalah untuk menurunkan tingkat kefatalan kecelakaan lalu lintas di jalan raya, terbangunnya balai kendaraan bermotor serta menurunnya angka kecelakaan lalu lintas di jalan raya. Kegiatan dimaksud adalah sebagai berikut: Pembangunan balai pengujian kendaraan bermotor - pembangunan balai pengujian kendaraan bermotor di Kabupaten Aceh Tengah; - pembangunan balai pengujian kendaraan bermotor di Kabupaten Aceh Utara; - pembangunan balai pengujian kendaraan bermotor di Kabupaten Bireuen; - pembangunan balai pengujian kendaraan bermotor di Kabupaten Aceh Tamiang; - pembangunan balai pengujian kendaraan bermotor di Kabupaten Pidie Jaya. Pelaksanaan penelitian kelaikan kendaraan bermotor Kegiatan ini meliputi penyediaan anggaran untuk operasional tim unit penelitian kecelakaan yang bertujuan melakukan identifikasi dan rekomendasi penyebab kecelakaan lalu lintas untuk mencegah agar kecelakaan yang sama tidak terulang lagi. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (83,54%) dan realisasi fisik 100% 10. Program Pengembangan Komunikasi, Informasi dan Media Massa Dalam upaya menyelenggarakan program pengembangan komunikasi, informasi dan media massa yang bertujuan untuk tersedianya jaringan komunikasi yang berkualitas di seluruh wilayah Aceh, telah dilakukan 222

226 kegiatan antara lain: - perencanaan dan pengembangan kebijakan komunikasi dan informasi; - monitoring dan evaluasi jaringan komunikasi dan informasi; - pengadaan alat jaringan komunikasi, meliputi: pengadaan biaya sewa Bandwith untuk pelayanan internet di dinas/badan Pemerintah Provinsi Aceh, pengadaan biaya sewa bandwith untuk pelayanan internet di kabupaten/kota, pengadaan biaya sewa VPN-IP, dan pengadaan Server Bank Data Dishubkomintel Aceh; - pengadaan perangkat keras SIMDA meliputi: pengadaan perangkat radio link 5.8 Ghz Client dan instalansi, pengadaan perangkat distribusi 2.4 Ghz dan instalansi, pengadaan perangkat accessories radio 5.8 GHZ, pengadaan accesories server dan pengadaan accessories jaringan; - pengembangan aplikasi e-goverment pemda meliputi: pengadaan aplikasi network manajemen system dan pengadaan mobilier untuk UPTD Telematika Aceh; - operasional perpustakaan, kegiatan ini bertujuan untuk biaya dokumentasi perpustakaan dan cetak repro perundangundangan/qanun; - optimalisasi peran media center pemerintah daerah, meliputi biaya operasional media center dan pengadaan mobilier UPTD Seuramo Aceh; - pengembangan dan pembinaan penyiaran daerah, kegiatan ini bertujuan untuk pengadaan biaya operasional KPID Aceh. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,23%) dan realisasi fisik 100% 11. Program Fasilitasi Peningkatan SDM Bidang Komunikasi dan Informasi Dalam upaya menyelenggarakan program fasilitasi peningkatan sumber daya manusia bidang komunikasi dan informasi yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan SDM bidang komunikasi dan Informasi serta terbangunnya sarana dan prasarana penyebaran informasi publik, telah dilakukan kegiatan sebagai berikut: - penerapan sistem informasi dan teknologi informasi di lingkungan pemda, kegiatan ini bertujuan untuk sosialisasi penerapan sistem dan teknologi informasi lingkungan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota; - bimbingan teknis, workshop dan sosialisasi sistem informasi dan teknologi informasi, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis SDM di bidang sistem informasi dan tekhnologi informasi; - workshop sistem informasi dan teknologi informasi, kegiatan ini bertujuan untuk pelaksanaan workshop bagi SDM di kabupaten/kota; 223

227 - sosialisasi sistem informasi dan teknologi informasi, kegiatan ini bertujuan untuk pelaksanaan sosialisasi open source demi terwujudnya penerapan software legal; - penyebaran informasi melalui media penyiaran, kegiatan ini bertujuan untuk pelaksanaan penyebarluasan informasi pembangunan di Provinsi Aceh melalui media televisi dan radio, serta penyempurnaan peralatan studio Geunta Naga FM Tapak Tuan di Kabupaten Aceh Selatan. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (92,13%) dan realisasi fisik 100% 12. Program Kerjasama Informasi dengan Mass Media Dalam upaya menyelenggarakan program kerja sama informasi dengan mass media yang bertujuan untuk memberikan informasi yang benar dan akurat kepada masyarakat melalui mass media, telah dilakukan kegiatan sebagai berikut: - konsultasi komunitas infokom, kegiatan ini bertujuan untuk penyelenggaraan pertemuan dan konsultasi komunitas informasi dan komunikasi di Provinsi Aceh; - penyebarluasan informasi pembangunan daerah melalui media tradisional, luar ruang dan penerbitan, kegiatan ini bertujuan untuk pelaksanaan cetak spanduk dan cetak baliho finil flexy untuk publikasi informasi pembangunan Pemerintah Aceh. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (47,59%) dan realisasi fisik 100% 13. Program Pengembangan Data dan Statistik Dalam upaya menyelenggarakan program pengembangan data dan statistik yang bertujuan untuk menyediakan akses informasi dan komunikasi masyarakat dengan Pemerintah Aceh dan pengelolaan data anak yatim Aceh, telah dilakukan pada 3 (tiga) kegiatan yaitu: - verifikasi, perekam, back-up data e-goverment dan penyajian informasi e-goverment, kegiatan ini bertujuan untuk menyediakan biaya operasional dan honorarium petugas entri data dan verifikasi data anak yatim/piatu/fakir miskin; - pengelolaan website, kegiatan ini bertujuan untuk menyediakan biaya operasional dan honorarium pengelolaan website - pengelolaan sms center gubernur, kegiatan ini bertujuan untuk menyediakan biaya operasional dan honorarium tim pengelola sms center Gubernur Aceh. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (51,55%) dan realisasi 224

228 fisik 100% Realisasi Anggaran Untuk Dinas Perhubungan, Komunikasi, Informasi, dan Telematika dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp ,- (93,77%) dan realisasi fisik 97,36%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat di lihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,77 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,66 2 Belanja langsung ,84 TOTAL , ,77 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - adanya beberapa paket proses tender yang harus dilakukan tender ulang, sehingga mengurangi waktu pelaksanaan kegiatan. (Kiranya perlu diungkapkan alasan dan argumentasi pengulangan tender secara menyeluruh); - kurangnya SDM pengadaan barang dan jasa di kabupaten/kota, serta tenaga teknis prasarana perhubungan, komunikasi, informasi dan telematika, sehingga proses pelelangan di kabupaten/kota (khusus kegiatan Otsus) harus menunggu kedatangan tenaga teknis dari Pemerintah Provinsi; - faktor cuaca (hujan, banjir dan longsor). Solusi: - meningkatkan kinerja pemantauan dan evaluasi di lapangan dengan bekerjasama dengan Tim P2K APBA Pemerintah Aceh; - meningkatkan koordinasi rutin dengan pelaksana kegiatan untuk menentukan langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam rangka percepatan pelaksanaan; - meningkatkan koordinasi dengan aparat terkait di kabupaten/kota serta pihak terkait di lokasi pembangunan untuk mengantisipasi terjadinya konflik sosial yang dapat menghambat proses pembangunan; - melaksanakan percepatan pekerjaan dengan menerapkan penggunaan peralatan yang cukup, menerapkan metode pembangunan yang cepat, peningkatan shift kerja siang dan malam, peningkatan jumlah tenaga 225

229 kerja dan meningkatkan kinerja konsultan pengawas di lokasi proyek; - menyesuaikan jadwal pekerjaan fisik outdoor dengan perkiraan masa tingginya curah hujan sehingga proses pembangunan dapat berjalan dengan lancar dan terhindar dari hambatan hujan, banjir dan longsor. 17. URUSAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA Urusan Komunikasi dan Informatika telah dilaksanakan Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telematika. Penjelasan lebih rinci mengenai dapat dilihat dalam urusan perhubungan. Hal ini dikarenakan anggaran belanja non program dan belanja program tidak dapat dipisahkan maka disesuaikan dengan urusan yang melekat pada lembaga daerah tersebut. Begitu juga dengan permasalahan dan solusi telah tersirat dalam keterangan dalam pelaksanaan program dan kegiatan pada lembaga daerah tersebut. 18. URUSAN PERTANAHAN Urusan Pertanahan telah dilaksanakan Pemerintah Aceh melalui Biro Tata Pemerintahan Sekretariat Daerah Aceh. Penjelasan lebih rinci mengenai urusan pertanahan dapat dilihat dalam urusan otonomi daerah. Hal ini dikarenakan anggaran belanja non program dan belanja program tidak dapat dipisahkan maka disesuaikan dengan urusan yang melekat pada lembaga daerah tersebut. Begitu juga dengan permasalahan dan solusi telah tersirat dalam keterangan dalam pelaksanaan program dan kegiatan pada lembaga daerah tersebut. 19. URUSAN KESATUAN BANGSA DAN POLITIK DALAM NEGERI Urusan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri yang dilaksanakan oleh Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat sebagai berikut: Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat A. Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa peralatan dan perlengkapan kantor; d. Penyediaan jasa administrasi keuangan; e. Penyediaan jasa kebersihan kantor; f. Penyediaan alat tulis kantor; g. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; h. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; i. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan; j. Penyediaan makanan dan minuman; k. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi keluar daerah. 226

230 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan gedung kantor (perubahan); b. Pengadaan peralatan gedung kantor; c. Pengadaan mebeleur; d. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional; e. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor; f. Penunjang dan pembinaan kelembagaan. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatannya berupa pendidikan dan pelatihan formal. 4. Program Peningkatan Kantrantibmas dan Pencegahan Tindak Kriminal Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Peningkatan kerjasama dengan aparat keamanan dalam teknik pencegahan kejahatan; b. Peningkatan kapasitas aparat dalam rangka pelaksanaan siskamswakarsa di daerah; c. Pengkajian/analisis perkembangan situasi dan kondisi daerah. 5. Program Pengembangan Wawasan Kebangsaan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Peningkatan toleransi dan kerukunan dalam kehidupan beragama; b. Peningkatan kesadaran masyarakat akan nilai-nilai luhur budaya bangsa. 6. Program Kemitraan Pengembangan Wawasan Kebangsaan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Seminar, talkshow, diskusi peningkatan wawasan kebangsaan; b. Pemantapan ideologi dan bela negara. 7. Program Pendidikan Politik Masyarakat Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Fasilitasi penyelesaian perselisihan partai politik; b. Monitoring, evaluasi dan pelaporan; c. Sosialisasi kebijakan politik Pemerintah Aceh. B. Realisasi Pelaksanaan Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa peralatan dan perlengkapan kantor, penyediaan jasa administrasi keuangan, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundangundangan, penyediaan makanan dan minuman dan rapat-rapat 227

231 koordinasi dan konsultasi keluar daerah. Telah dilaksanakan dan merupakan program dan kegiatan rutin kantor yang dianggarkan setiap tahun. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,77%) dan realisasi fisik 100%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Pembangunan gedung kantor (Perubahan) Pembangunan gedung kantor (DPA Perubahan 2010), anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,45%) dan realisasi fisik 100%. Merupakan perencanaan pelaksanaan pembangunan tempat parkir, taman, faving blok, pos satpam, mushalla dan gudang, anggaran ini pengalihan dari kegiatan belanja tidak langsung sejumlah Rp ,- dan dari belanja langsung pada kegiatan peningkatan kesadaran masyarakat akan nilai-nilai luhur budaya bangsa sejumlah Rp ,-. Pengadaan peralatan gedung kantor Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,66%) dan realisasi fisik 100%. Pengadaan mebeleur Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,57%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,60%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,84%) dan realisasi fisik 100%. Penunjang dan pembinaan kelembagaan Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,54%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Pendidikan dan pelatihan formal Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,50%) dan realisasi fisik 100%. 4. Program Peningkatan Kantrantibmas dan Pencegahan Tindak Kriminal 228

232 Peningkatan kerjasama dengan aparat keamanan dalam teknik pencegahan kejahatan, kegiatan ini terdiri dari: - Kominda Dilaksanakan dalam bentuk rapat rutin dan rapat koordinasi dengan tujuan menjalin hubungan yang sinergis antar unsur Kominda provinsi dan kabupaten/kota dan mensinergiskan kegiatan masing-masing unsur inteligen di daerah dalam rangka menciptkan stabilitas nasional di daerah - Kegiatan Pengamanan Dilaksanakan dalam rangka kerja sama dengan pihak keamanan TNI/Polri pada kegiatan pengamanan tamu-tamu VIP dan VVIP dengan tujuan menciptakan keamanan dan ketertiban dalam masyarakat. Hasil yang dicapai adalah menurunnya tingkat kejahatan - Kegiatan Monitoring Dilaksanakan untuk memonitoring perkembangan situasi dan kondisi daerah menyangkut pembentukan dan kegiatan pelaksanaan Kominda dan FKDM di daerah Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,53%) dan realisasi fisik 100%. Peningkatan kapasitas aparat dalam rangka pelaksanaan siskamswakarsa di daerah, yang memiliki kekuatan sebagai pengontrol dan mengawasi masyarakat untuk memelihara nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat secara harmonis aman dan damai. Kegiatan kapasitas aparat dalam rangka Siskamswakarsa target 4 kabupaten seluruhnya telah dilaksanakan pada 4 kabupaten yaitu: Aceh 229

233 Utara, Pidie Jaya Bener Meriah dan Aceh Jaya. Hasil yang dicapai pelaksanaan siskamswakarsa di 4 kabupaten telah memberikan manfaat terciptanya keamanan dan ketertiban masyarakat secara harmonis. Sementara dampak dari kegiatan ini memberikan perlindungan kepada masyarakat secara mandiri dan terkendali. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,69%) dan realisasi fisik 100%. Pengkajian/analisis perkembangan situasi dan kondisi daerah Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk laporan kajian situasi dan kondisi daerah menyangkut politik, pemerintahan, ekonomi dan sosial budaya serta melakukan perumusan kebijakan bagi pimpinan. Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini yaitu tersedianya bahan perumusan kebijakan bagi pimpinan dalam membentuk laporan situasi daerah, laporan informasi, laporan khusus, telaahan staf dan kajian strategis. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,93%) dan realisasi fisik 100%. 5. Program Pengembangan Wawasan Kebangsaan Peningkatan toleransi dan kerukunan dalam kehidupan beragama Kegiatan ini dilaksanakan dalam 2 angkatan, dengan jumlah peserta seluruhnya 100 orang, per angkatan 50 orang, yang berasal dari tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, tokoh perempuan dan aparatur Pemda. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Tenggara. Dengan hasil yang dicapai adalah: - menyatupadukan visi dari segenap unsur umat beragama, sehingga dapat mewujudkan kerukunan dalam kehidupan beragama dan memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa; - terciptanya peningkatan pemahamam kerukunan antar umat beragama dan pembauran bangsa dan terbentuknya Forum Kerukanan Untuk Beragama (FKUB). Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,01%) dan realisasi fisik 100%. Peningkatan kesadaran masyarakat akan nilai-nilai luhur budaya bangsa Hasil yang dicapai dari kegiatan tersebut adalah: Menyatupadukan visi dari segenap unsur masyarakat baik tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda maupun aparatur pemda guna meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,12%) dan realisasi fisik 100% (semula anggaran ini berjumlah Rp ,- kemudian 230

234 terdapat perubahan sejumlah Rp ,- yang dialihkan untuk kegiatan pembangunan gedung kantor). 6. Program Pengembangan Wawasan Kebangsaan Seminar, talkshow, diskusi peningkatan wawasan kebangsaan Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan hasil yang dicapai: - menumbuhkan motivasi di kalangan masyarakat untuk meningkatkan pemahaman wawasan kebangsaan demi memantapkan persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia; - memperkokoh rasa nasionalisme dan cinta tanah air bagi siswa/i guna meredam timbulnya provokasi-provokasi dari orang yang tidak bertanggungjawab. Dalam pelaksanaan kegiatan seminar, talk show, diskusi peningkatan wawasan kebangsaan tahun anggaran 2010 dapat dilaksanakan khususnya pengadaan Buku Saku Wasbang dan dialog interaktif melalui TV Aceh pada bulan Agustus 2010 dengan tema Pemantapan Wasbang dalam rangka HUT RI Tahun 2010 dan pada bulan Oktober 2010 dengan tema Pemantapan Wasbang dalam rangka Hari Sumpah Pemuda Tahun Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,89%) dan realisasi fisik 100%. Pemantapan ideologi dan bela negara Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan jumlah peserta 100 orang yang berasal dari tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh perempuan dan aparatur pemda, dengan lokasi pelaksanaan diadakan di Wisma Kuta Karang Baru Lhokseumawe - Terciptanya rasa nasionalisme kehidupan berbangsa dan bernegara serta peningkatan pemahaman ideologi kebangsaan demi menyatupadukan visi dan misi dari segenap unsur masyarakat baik tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh perempuan maupun aparatur pemda guna meningkatkan pemahaman pemantapan ideologi kebangsaan di kalangan masyarakat dan aparatur pemda. Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut tidak ada kendala karena mendapat dukungan dari pemda Kabupaten Aceh Utara. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,97%) dan realisasi fisik 100%. 7. Program Pendidikan Politik Masyarakat Fasilitasi penyelesaian perselisihan partai politik Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam I angkatan dengan jumlah peserta 70 orang yang dilaksanakan di Kabupaten Aceh Barat Daya. Hasil yang di capai dengan adanya kegiatan tersebut adalah menurunnya konflik 231

235 internal partai politik. Dampak dari kegiatan ini yaitu meningkatnya pemahaman tentang tata cara fasilitasi penyelesaian perselisihan Partai politik dan meningkatnya pelayanan dalam rangka verifikasi usulan calon PAW. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,61%) dan realisasi fisik 100%. Monitoring, evaluasi dan pelaporan Kegiatan ini dilaksanakan di 23 kabupaten/kota dalam Provinsi Aceh Dampak dari kegiatan tersebut adalah penyusunan data base partai politik, ormas dan LSM belum maksimal karena terbatasnya waktu pelaksanaan. Hasil yang dicapai tersedianya data partai politik, ormas dan LSM belum mencakup seluruhnya. Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan ini antara lain belum lengkapnya data ormas, LSM dan partai politik akibat terbatasnya waktu pelaksanaan pendataan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,-. Realisasi keuangan Rp ,- (99,98%) dan realisasi fisik 100%. Sosialisasi kebijakan politik Pemerintah Aceh Kegiatan ini dilaksanakan di Kota Lhokseumawe pada tanggal 15 Juni 2010 dengan jumlah peserta 50 orang sebagai angkatan pertama. Angkatan kedua dilaksanakan di Kota Langsa pada tanggal 30 Juni 2010 dengan jumlah peserta 50 orang. Hasil yang diperoleh yaitu terjalinnya sinergisitas kebijakan politik Pemerintahan Aceh dengan pemerintahan kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,12%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi Anggaran Untuk Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp (98,59%) dan realisasi fisik 98,59%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,58 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,66 2 Belanja langsung ,60 TOTAL , ,58 232

236 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: a. permasalahan yang dihadapi dalam melaksanakan kegiatan ini yaitu adanya perbedaan persepsi dalam rangka penanganan Pergantian Antar Waktu (PAW) Anggota DPRK kabupaten/kota; b. kurangnya koordinasi antar instansi terkait dalam hal penanganan gejolak-gejolak yang timbul di daerah; c. kurang memahaminya peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan, politik dan kemasyarakat di daerah. Solusi: a. solusi yang ditempuh untuk pemecahan masalah yang dihadapi meningkatkan koordinasi dan menyamakan persepsi dalam rangka penanganan pergantian antar waktu Anggota DPRK kabupaten/kota; b. meningkatkan koordinasi antar instansi terkait; c. melakukan sosialisasi tentang peraturan perundang-undangan terkait sistem penyelenggaraan pemerintahan, politik dan kemasyarakat. Satuan Polissi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Aceh Urusan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri yang dilaksanakan oleh Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Aceh sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; b. Penyediaan jasa administrasi perkantoran; c. Penyediaan alat tulis kantor; d. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; e. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor; f. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah; g. Peningkatan pelayanan administrasi perkantoran. 2. Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan gedung kantor; b. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor; c. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional; d. Pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor. 3. Program Pemeliharaan Kantrantibmas dan Pencegahan Tindak Kriminal Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: 233

237 a. Monitoring kegiatan polisi pamong praja se-kabupaten/kota; b. Pelaksanaan hari jadi ulang tahun kelembagaan/organisasi; c. Monitoring kegiatan kinerja PPNS se-kabupaten/kota; d. Pembinaan dan koordinasi Wilayatul Hisbah (WH); e. Sosialisasi keberadaan Satuan Polisi pamong Praja dan Wilayatul Hisbah serta Ulama se-kabupaten/kota dalam Provinsi Aceh. B. Ralisasi Pelaksanaan Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa administrasi keuangan, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor, rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah dan peningkatan pelayanan administrasi perkantoran. Kegiatan di atas merupakan kegiatan rutin kantor dan telah dilaksanakan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,24%) dan realisasi fisik 100%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor Kegiatan ini dilaksanakan di Banda Aceh bertujuan untuk terpelihara gedung kantor. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,80%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional Kegiatan dilaksanakan di Banda Aceh yang bertujuan untuk terpelihara kendaraan dinas/operasional. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (77,19%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor Kegiatan dilaksanakan di Banda Aceh bertujuan untuk terpelihara perlengkapan gedung kantor. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,42%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Pemeliharaan Kantrantibmas dan Pencegahan Tindak Kriminal Monitoring kegiatan Polisi Pamong Praja se-kabupaten/kota Kegiatan ini dilaksanaan di Banda Aceh yang bertujuan untuk terkoordinasinya kegiatan Satpol PP di kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,99%) dan realisasi fisik 100%. Pelaksanaan hari jadi ulang tahun kelembagaan/organisasi Kegiatan dilaksanaan di Banda Aceh bertujuan terciptanya hubungan 234

238 koordinasi dengan Satpol PP kabupaten/kota dan persamaan persepsi dengan instansi terkait. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,68%) dan realisasi fisik 100%. Pembinaan dan Koordinasi Wilayatul Hisbah (WH) Kegiatan ini bertujuan untuk pelaksanaan pembinaan dan koordinasi Wilayatul Hisbah di kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,25%) dan realisasi fisik 100%. Sosialisasi Keberadaan Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah serta ulama se-kabupaten/kota dalam Provinsi Aceh Kegiatan ini bertujuan untuk terlaksananya sosialisasi keberadaan Satpol PP dan WH dengan ulama se-kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,41%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi Anggaran Untuk Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Aceh dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan keseluruhan anggaran sebesar Rp (98,40%) dan realisasi fisik 98,45%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,40 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,64 2 Belanja langsung ,07 TOTAL , ,40 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - peningkatan sarana dan prasarana aparatur pada dasarnya telah memadai namun untuk peralatan kerja serta sarana transportasi operasional dinas belum memadai; - masih terbatasnya dukungan dari pihak terkait dalam pelaksanaan Program Pemeliharaan Ketenteraman Ketertiban dan Pencegahan Tindak Kriminal sehingga kegiatan yang dilaksanakan masih terkendala pada tingkat operasional; 235

239 - masih lemahnya aturan Qanun yang mengatur tentang penegakan syariat Islam di Aceh, sehingga tindakan yang diambil oleh penegak Qanun/penyidik tidak tuntas; - belum adanya aturan Qanun Satpol PP-WH secara khusus dalam pelaksanaan tugas di lapangan, sehingga program dan kegiatan yang dilaksanakan mengalami kendala secara teknis; - masih lemahnya dukungan dan pemahaman masyarakat baik dari tingkat atas maupun tingkat bawah tentang tugas-tugas Satpol PP dan Wilayatul Hisbah; - sumber daya aparatur masih terbatas sehingga pelaksanaan tugas tidak terlaksana sebagaimana mestinya; - program dan kegiatan yang mendukung baik dalam hal ketertiban dan ketentraman umum maupun penegakan Syariat Islam belum terakomodir secara maksimal; - belum ada prosedur tetap Satpol PP-WH dan PPNS untuk pedoman pelaksanaan tugas di lapangan. Solusi: - perlu peningkatan sarana dan prasarana transportasi operasional yang memadai untuk kelancaran pelaksanaan tugas; - perlunya dukungan dari pimpinan instansi terkait dalam pelaksanaan tugas di lapangan; - revisi Qanun syariat Islam sangat mendesak dan pengesahan Hukum Acara Jinayah harus segera dilaksanakan; - penyusunan draf Qanun Satpol PP-WH sangat mendesak guna kelancaran tugas di lapangan; - perlunya peningkatan dukungan dan pemahaman dari berbagai lapisan masyarakat terhadap tugas-tugas Satpol PP dan WH; - pendidikan dan pelatihan Satpol PP-WH dalam rangka peningkatan profesionalisme kerja; - peningkatan alokasi anggaran untuk mendukung penambahan program dan kegiatan ketertiban dan ketentraman umum serta penegakan Syariat Islam; - penyusunan rancangan protap (prosedur tetap) Satpol PP-WH dan PPNS. 236

240 20. URUSAN OTONOMI DAERAH, PEMERINTAHAN UMUM, ADMINISTRASI KEUANGAN DAERAH, PERANGKAT DAERAH, KEPEGAWAIAN DAN PERSANDIAN. Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian yang dilakukan Pemerintah Aceh dilaksanakan oleh DPRA, Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, Sekretariat Daerah Aceh, Sekretariat DPRA, Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Aceh, Inspektorat Aceh, Kantor Penghubung Pemerintah Aceh, Badan Kepegawaian, Pelatihan dan Pendidikan Aceh, Dinas Syariat Islam, Sekretariat Majelis Permusyawaratan Ulama, Badan Baitul Maal, KIP Aceh. Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Anggaran belanja non program dan belanja program Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) sudah melekat pada Sekretariat DPRA dikarenakan tidak dapat dipisahkan maka disesuaikan dengan yang melekat pada SKPA tersebut. Begitu juga dengan permasalahan dan solusi telah tersirat dalam keterangan dalam pelaksanaan program dan kegiatan pada SKPA tersebut. Kepala daerah dan Wakil Kepala Daerah Anggaran belanja non program dan belanja program Kepala daerah dan Wakil Kepala Daerah sudah melekat pada Biro Umum dan Protokoler Sekretariat Daerah Aceh dikarenakan belanja tidak dapat dipisahkan maka disesuaikan dengan yang melekat pada biro tersebut. Begitu juga dengan permasalahan dan solusi telah tersirat dalam keterangan dalam pelaksanaan program dan kegiatan pada Biro tersebut. 237

241 Sekretariat Daerah Aceh Sekretariat Daerah Aceh terdiri dari beberapa biro, yaitu Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat, Biro Perekonomian, Biro Organisasi, Biro Administrasi Pembangunan, Biro Tata Pemerintahan, Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat, serta Biro Umum dan Protokoler. Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Aceh Urusan otonomi daerah yang dilaksanakan oleh Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan Setda Aceh sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa hari-hari besar; b. Peningkatan pelayanan administrasi perkantoran; c. Peningkatan operasional pelayanan kesehatan aparatur. 2. Program Pergelaran Seni Budaya Daerah Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut; a. Koordinasi dan monitoring program kegiatan kelembagaan adat pada instansi kabupaten/kota; b. Pembinaan menasah kabupaten/kota dalam provinsi; c. Pemberangkatan kontingen qasidah gambus provinsi ke tingkat nasional. 3. Program Peneletian dan Pengembangan Iptek Kegiatan ini berupa koordinasi dan sinkronisasi pembangunan pendidikan dan olahraga. 4. Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembinaan lembaga penunjang kegiatan pendidikan; b. Pembinaan lembaga asrama mahasiswa. 5. Program Peningkatan Pelayanan Kehidupan Beragama Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Koordinasi dan pembinaan lembaga sarana keagamaan; b. Pembinaan dan peningkatan sarana mesjid; c. Pembinaan Remaja Mesjid Agung kabupaten/kota dalam provinsi; d. Pembinaan imam hafid pada Mesjid Agung kabupaten/kota dalam provinsi; e. Koordinasi peningkatan pelayanan haji. 6. Program Peningkatan Kualitas Pemahaman dan Pengamalan Agama dan Pembinaan Kerukunan Beragama Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Koordinasi dan sinkronisasi peningkatan kepasitas ulama; b. Kajian tinggi keislaman tentang peribadatan; 238

242 c. Palatihan TC MTQ tingkat nasional; d. Pemberangkatan Kafilah MTQ tingkat Nasional/Internasional. 7. Program Peningkatan Kualitas Pendidikan Agama Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembinaan program biaya siswa khusus (S1,S2 dan S3) dalam dan luar nageri; b. Peningkatan kualitas pendidikan masyarakat Aceh dan dosen PTS; c. Pembinaan institusi PTS dan penunjang belajar mengajar/beasiswa S-1 PTS. 8. Program Pelayanan Kesehatan Masyarakat Kegiatan ini berupa monitoring pelayanan dan penanggulangan masalah kesehatan. 9. Program Pencegahan Dini dan Penanggulangan Korban Bencana Alam Kegiatan ini berupa koordinasi penyelesaian pasca bencana alam. 10. Program Pembinaan Anak Telantar Kegiatan ini berupa koordinasi, monitoring, dan evaluasi anak yatim, piatu, yatim piatu dan anak telantar/asuh di Aceh. 11. Program Pembinaan, Pengembangan dan Kesejahteraan Non Aparatur Kegiatan ini berupa peningkatan kualitas kesejahteraan sosial. 12. Program Pemberdayaan Fakir Miskin Kegiatan ini berupa Koordinasi dan Monitoring pengentasan kemiskinan dan mitigasi bencana. B. Realisasi Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah kegiatan penyediaan jasa hari-hari besar, kegiatan peningkatan pelayanan administrasi perkantoran dan kegiatan peningkatan operasional pelayanan kesehatan aparatur. Kegiatan di atas merupakan kegiatan rutin kantor dan telah dilaksanakan. Anggaran yang dialokasikan untuk program sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (83,82%) dan realisasi fisik 100%. 2. Program Pergelaran Seni Budaya Daerah Koordinasi dan monitoring program kegiatan kelembagaan adat pada instansi kabupaten/kota. Kegiatan kelembagaan adat pada instansi kabupaten/kota dilaksanakan untuk meningkatnya koordinasi kelembagaan adat pada instansi kabupaten/kota dengan hasil yang diharapkan ketersediaan acuan penyaluran bantuan program/kegiatan kelembagaan adat yang dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp 239

243 ,- (99,27%), capaian realisasi fisik adalah 100% dan sisa anggaran adalah sisa efisiensi dalam pelaksanaan kegiatan. Pembinaan meunasah kabupaten/kota dalam provinsi Kegiatan pembinaan meunasah kabupaten/kota dalam provinsi aceh, dilakukan penyaluran bantuan dana operasional untuk meunasahmeunasah, musalla, yayasan dan organisasi masyarakat bidang pendidikan dan kebudayaan, dalam rangka meningkatkan fungsi dan peran meunasah/musalla sebagai pusat kegiatan masyarakat di gampong, meningkatkan fungsi dan peran yayasan, organisasi lainnya dalam membina masyarakat dibidang adat/budaya, pendidikan, agama dan kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya, dana yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,75%), capaian realisasi fisik adalah 100%,-. Pemberangkatan kontingen qasidah gambus provinsi ke tingkat nasional Kegiatan pemberangkatan kontingen qasidah gambus Provinsi Aceh ke perlombaan tingkat Nasional di Nusa Tenggara Barat (NTB), untuk berlomba meraih prestasi di bidang seni Islami dipentas nasional, disamping termotivasi putra/putri Aceh dalam peningkatan aktifitas sanggar sanggar seni qasidah gambus di Aceh. Dana yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (84,90%) dan realisasi fisik adalah 100%. 3. Program Penelitian dan Pengembangan Iptek Program ini direalisasikan dengan kegiatan koordinasi dan sinkronisasi pembangunan pendidikan dan olahraga dalam rangka pembinaan pendidikan dan kerjasama pendidikan tinggi, sehingga adanya keselarasan program pembangunan pendidikan antara provinsi dan kab/kota. Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (83,17%) dan realisasi fisik 100%. 4. Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Pembinaan lembaga penunjang kegiatan pendidikan Kegiatan pembinaan lembaga penunjang kegiatan pendidikan dengan tujuan terlaksananya rapat koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dalam rangka peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi di Aceh, dana yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,37%) dan capaian realisasi fisik adalah 100%. Pembinaan lembaga asrama mahasiswa Kegiatan ini bertujuan untuk ketersediaan asrama yang kualitas dan berdaya daya guna serta memadai sebagai sarana/prasarana kemahasiswaan yang layak dan nyaman serta mampu memberikan konstribusi peningkatan semangat dan kegairah mahasiswa dalam belajar untuk meraih prestasi baik di Aceh maupun di luar Aceh, dana yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- 240

244 (98,53%), dan capaian realisasi fisik adalah 100%. 5. Program Peningkatan Pelayanan Kehidupan Beragama Koordinasi dan pembinaan lembaga sarana keagamaan Kegiatan ini bertujuan untuk peningkatan aktifitas dan operasional lembaga sarana keagamaan dalam kegiatan ibadah dan peningkatan kualitas pengamalan ajaran agama bagi masyarakat, dana yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (43,73%) dan capaian realisasi fisik adalah 100%. Pembinaan dan peningkatan sarana mesjid Kegiatan ini dilaksanakan melalui penyaluran bantuan dana operasional masjid, taman pendidikan Qur-an (TPQ), balai pengajian, yayasan dan ormas bidang keagamaan, diharapkan meningkatnya aktifitas lembaga keagamaan umat islam, dana yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (81,79%) dan capaian realisasi fisik adalah 100%. Pembinaan remaja Mesjid Agung kabupaten/kota dalam provinsi Kegiatan pembinaan remaja Mesjid Agung kabupaten/kota dilaksanakan, melalui penyaluran bantuan dana operasional, untuk meningkatkan kompetensi dn aktifitas Remaja Masjid Agung Kabupaten/Kota. Dana yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (63,07%) dan capaian realisasi fisik adalah 100% sisa anggaran adalah efisiensi anggaran dalam pelaksanaan kegiatan. Pembinaan imam hafid pada Mesjid Agung kabupaten/kota dalam provinsi Kegiatan pembinaan imam hafidh pada Masjid Agung kabupaten/kota, dengan penyaluran insentif kepada imam hafidh Masjid Agung kabupaten/kota se Aceh, untuk meningkatkan kesejahteraannya dengan tujuan Peningkatan aktivitas dalam membimbing jama ah, dana yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (53,23%) dan capaian realisasi fisik adalah 100% sisa anggaran adalah efisiensi anggaran dalam pelaksanaan kegiatan. 241

245 Koordinasi peningkatan pelayanan haji Kegiatan koordinasi peningkatan pelayanan haji, untuk mendapat pelayanan yang makin berkualitas serta mendapat perlakuan yang sama dan adil bagi seluruh calon jama ah haji Aceh, serta tersedianya tenaga petugas pendamping (TPHD) sehingga calon jama ah haji dapat melaksanakan ibadah dengan nyaman dan sempurna, dana yang dialokasikan Sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,36%) dan capaian realisasi fisik adalah 100%. 6. Program Peningkatan Kualitas Pemahaman dan Pengamalan Agama dan Pembinaan Kerukunan Beragama Koordinasi dan sinkronisasi peningkatan kepasitas ulama Kegiatan tersebut membangun hubungan yang serasi, harmonis antara ulama dan umara, dalam membina masyarakat Aceh. Kegiatan ini bersifat insidentil dan untuk kegiatan ini disediakan insentif, dana yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (78,74%) dan capaian realisasi fisik adalah 100% sisa anggaran adalah efisiensi anggaran dalam pelaksanaan kegiatan. Kajian tinggi keislaman tentang peribadatan Kegiatan tersebut untuk mengkaji isu-isu keagamaan terkini dan mencari solusi pemecahannya, sehingga adanya kesamaan persepsi dan interpretasi dalam menanggapi berbagai isu antara sesama ulama dan umara, sehingga semua pihak dapat memberikan pemahaman yang sama kepada masyarakat, dalam rangka mewujudkan kerukan intern umat beragama, antar umat beragama dan antara umat beragama dengan pemerintah yang dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp 0,- (0%) dan capaian realisasi fisik adalah 100%. Realisasi keuangan 0% karena kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang bersumber dari dana hibah di DPKKA, sehingga dana yang tidak digunakan menjadi 242

246 SILPA. Palatihan TC MTQ tingkat nasional Kegiatan palatihan (TC) bagi calon peserta MTQ tingkat nasional untuk meningkatkan kompetensi para qari/qariah, hafidh/hafidhah, mufassirin dan mufassirah dalam meraih prestasi, dana yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (62,78%) dan capaian realisasi fisik adalah 100%. Sisa anggaran adalah efisiensi anggaran dalam pelaksanaan kegiatan. Pemberangkatan kafilah MTQ tingkat Nasional/Internasional Kegiatan pemberangkatan kafilah MTQ ke tingkat nasional di Provinsi Bengkulu, bertujuan terpilihnya para qari/qariah, hafidh/hafidhah, mufassirin dan mufassirah yang berprestasi di MTQ tingkat nasional dengan harapan memberikan dorongan kepada anak-anak Aceh untuk belajar membaca Al-Qur an dengan baik/benar dan memahami kandungannya isinya serta mengamalkan, dalam kehidupan sehari-hari, dana yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (77,39%) dan capaian realisasi fisik adalah 100%. Sisa anggaran adalah efisiensi anggaran dalam pelaksanaan kegiatan. 7. Program Peningkatan Kualitas Pendidikan Agama Pembinaan program biaya siswa khusus (S1,S2 dan S3) dalam dan luar nageri Kegiatan pembinaan program beasiswa khusus (S1, S2, dan S3) dalam dan luar negeri, untuk penigkatan kapasitas dan mutu SDM, dan Ketersediaan Acuan Beasiswa Mahasiswa Aceh Program Khusus S1, S2 dan S3. Dana yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (75,49%) dan capaian realisasi fisik adalah 100%. Sisa anggaran merupakan efisiensi anggaran dalam pelaksanaan kegiatan. 243

247 Peningkatan kualitas pendidikan masyarakat Aceh dan dosen PTS Kegiatan peningkatan kualitas pendidikan masyarakat Aceh dan dosen PTS, untuk peningkatan kapasitas dan mutu SDM mahasiswa dan dosen PTS dan peningkatan kualitas penyelenggaraan perguruan tinggi swasta di Aceh, dana yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,42%) dan capaian realisasi fisik adalah 100%. Pembinaan institusi PTS dan penunjang belajar mengajar/beasiswa S-1 PTS Kegiatan pembinaan institusi PTS untuk peningkatan kualitas penyelenggaraan perguruan tinggi swasta di Aceh dalam proses belajar mengajar dan bea siswa S1 dalam rangka Penigkatan Kapasitas dan Mutu SDM. Dana yang dialokasikan sebesar Rp ,-realisasi keuangan Rp ,- (25,76%) dan capaian realisasi fisik adalah 100%. Realisasi keuangan rendah karena kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang bersumber dari dana hibah di DPKKA, sehingga dana yang tidak digunakan menjadi SILPA. 8. Program Pelayanan Kesehatan Masyarakat Program ini dilaksanakan dengan kegiatan monitoring pelayanan dan penanggulangan masalah kesehatan masyarakat dalam rangka meningkatkan kualitas dan derajat pelayanan kesehatan kepada masyarakat, terutama masyarakat miskin/dhu afa. Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,17%) dan capaian realisasi fisik adalah 100%. 9. Program Pencegahan Dini dan Penanggulangan Korban Bencana Alam Program ini dilaksanakan dengan kegiatan koordinasi penyelesaian pasca bencana alam dilaksanakan, untuk percepatan penanggulangan para korban bencana alam di Provinsi Aceh dan dukungan/partisipasi terhadap korban di provinsi lain terhadap dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam Anggaran yang dialokasikan untuk program ini sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (32,02%) realisasi fisik adalah 100%, realisasi rendah karena sisa anggaran merupakan sisa dari perjalanan dinas pelaksanaan kegiatan. 10. Program Pembinaan Anak Telantar Program ini direalisasikan dalam bentuk kegiatan koordinasi, monitoring dan evaluasi anak yatim, piatu, anak terlantar dan anak asuh di Aceh, untuk proses penanganannya, dengan penyusunan kerangka acuan program pemberdayaan anak yatim, anak piatu, anak yatim piatu, anak terlantar dan anak asuh. Anggaran untuk program ini dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (81,29%,) realisasi fisik adalah 100% sisa anggaran karena efisiensi anggaran dalam pelaksanaan kegiatan. 244

248 11. Program Pemberdayaan Fakir Miskin Program ini dilaksaanakan dengan kegiatan koordinasi dan monitoring pengentasan kemiskinan dan mitigasi bencana dilaksanakan dengan pihak terkait, untuk meningkatkan keterampilan usaha masyarakat miskin dan ketersediaan acuan dalam penyempurnaan program dan kegiatan pengentasan dan pemberdayaan fakir miskin. Anggaran untuk program ini dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (89,45%) realisasi fisik adalah 100%, sisa anggaran karena efisiensi anggaran dalam pelaksanaan kegiatan. Realisasi Anggaran Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Aceh dialokasikan dana sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (72,25%). Kondisi realisasi keuangan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) ,25 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung Belanja langsung ,25 TOTAL ,25 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - dengan ditetapkannya struktur organisasi Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat dengan Perda yang tersebut diatas maka pelaksanaan tugas selanjutnya ke depan sangat tergantung kepada aparatur yang diserahi tanggung jawab, sehingga terciptanya etos kerja serta tercapainya tingkat efektivitas dan efisiensi dalam rangka menumbuh kembangkan kinerja Biro sebagaimana yang diharapkan; - guna meningkatkan pelayanan publik diperlukan sumber daya manusia dan sarana yang memadai; - untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat perlu ditingkatkan koordinasi dan evaluasi dengan intansi pemeritahan terkait serta pemerintahan di kabupaten/kota; - dalam rangka memberikan bantuan perlu di tambah dana keberangkatan mahasiswa ke luar negeri; - penyediaan dana taktis diperlukan untuk mendukung kelancaran biro yang setiap saat berhubungan dengan organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, 245

249 baik wartawan, LSM, fakir miskin, penyandang cacat, serta yang memohon bantuan kepada gubernur, sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara masyarakat dengan pemerintah daerah disamping menjaga kewibawaan pemerintah daerah. Biro Perekonomian Setda Aceh Urusan otonomi daerah yang dilaksanakan oleh Biro Perekonomian Setda Aceh sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kegiatan ini berupa kegiatan peningkatan pengembangan administrasi dan sarana perekonomian. 2. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan peningkatan pengembangan sumber daya dan potensi daerah; b. Kegiatan peningkatan efektifitas kerjasama luar negeri bidang ekonomi. 3. Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan. Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan pembinaan perangkat kinerja BUMD; b. Kegiatan koordinasi penggunaan dana pemerintah bagi usaha mikro, kecil dan menengah. 4. Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan. Kegiatan ini berupa kegiatan pembinaan kawasan ekonomi terpadu; 5. Program Pencegahan Dini dan Penanggulangan Korban Bencana Alam. Kegiatan ini berupa kegiatan koordinasi pengawasan pengelolaan DAS dan kebijakan lingkungan hidup. 6. Program Pembinaan dan Pengembangan Aparatur. Kegiatan ini berupa kegiatan rapat koordinasi pengembangan perekonomian daerah. B. Realisasi Pelaksanaan Program Dan Kegiatan 1. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kegiatan peningkatan pengembangan administrasi dan sarana perekonomian Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pemenuhan sarana dan prasarana kerja Biro Perekonomian, pembayaran jasa Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) Aceh selama 3 (tiga) bulan, 246

250 pelaksanaan rapat koordinasi dan evaluasi kinerja KKMB, monitoring dan evaluasi perkembangan RASKIN, serta tersedianya bantuan sarana kerja untuk BP. KAPET. Anggaran yang disediakan untuk pelaksanaan kegiatan tersebut sebesar Rp ,- dengan realisasi keuangan sebesar Rp ,- (88,45%) kurang realisasi sebesar 11,55% atau Rp ,- 2. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan peningkatan pengembangan sumber daya dan potensi daerah. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk: Pengawasan pelaksanaan pupuk bersubsidi Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama dengan instansi terkait lainnya antara lain: Badan ketahanan pangan dan penyuluhan Aceh; Dinas Pertanian Tanaman Pangan Aceh; Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh; Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh dan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Aceh. Tujuan pelaksanaan kegiatan tersebut untuk menjaga ketersediaan pupuk yang cukup dengan harga terjangkau di kabupaten/kota untuk kebutuhan petani dalam upaya peningkatan produktivitas hasil pertanian masyarakat dan mencegah mengalirnya pupuk bersubsidi kepada pengusaha besar yang menyebabkan berkurangnya jatah kebutuhan pupuk petani. Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan melakukan monitoring dan evaluasi di tingkat distributor dan kios pengecer bahkan sampai kepada kelompok tani. Ketersediaan pupuk bagi petani akan terlihat dengan tersedianya pupuk yang cukup pada kios pengecer serta laporan penjualan penyaluran kepada kelompok tani, sedangkan menyangkut evaluasi harga dilakukan langsung kepada kelompok tani. Hasil evaluasi lapangan secara umum tidak terjadi permasalahan kesediaan pupuk bagi pertani dilapangan kecuali terjadi kekosongan beberapa saat di kios pengecer. Hal ini terjadi karena beberapa kios tidak memiliki gudang penyimpanan pupuk. Hal yang sama juga terhadap harga penjualan pupuk tidak berbeda jauh dengan HET (Harga Eceran Tertinggi) yang ditetapkan pemerintah. Penyusunan database potensi daerah kabupaten/kota. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk kerjasama dengan Perguruan Tinggi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Dalam pelaksanaannya Unsyiah mempercayakan kepada Lembaga Penelitian yang ada di Unsyiah sebagai lembaga yang telah berpengalaman dalam meneliti dan menyusun perkembangan potensi daerah termasuk potensi ekonomi. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk menjadi salah satu referensi bagi lembaga dan instansi atau calon investor mitra pembangunan Aceh dalam melakukan kajian awal potensi dan prospek investasi di Aceh serta informasi bagi pemegang kebijakan pemeritah baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota dalam 247

251 merumuskan prioritas pembangunan khususnya disektor pertanian, perkebunan, peternakan dan kelautan/perikanan serta infrastruktur pendukung pembangunan dalam berbagai sektor. Output dari kegiatan ini adalah tersedianya 100 buku yang berisikan data potensi ekonomi masing-masing kabupaten/kota secara terperinci. Koordinasi kebijakan pelaksanaan pembangunan sektor ekonomi. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk rapat dan diskusi dengan stakeholder yang terlibat dalam pelaksanaan dan penyusunan rencana pelaksanaan pembangunan ekonomi di Aceh. Beberapa pertemuan dan kegiatan yang dilakukan antara lain: Pembahasan kebijakan penggunaan sarana pra dan pasca panen; Kebijakan pengembangan usaha subsektor peternakan dengan melibatkan pegusaha swasta; Kebijakan pengelolaan lahan perkebunan dan kehutanan; Kebijakan Pengembangan sektor usaha perkebunan rakyat dan kebijakan penanganan binatang buas dan binatang pengganggu lahan pertanian. Tujuan kegiatan ini adalah agar dinas teknis dan lembaga terkait pro aktif dalam menangani permasalahan yang terjadi terkait tugas yang menjadi tanggungjawabnya serta mencari solusi secara bersama-sama untuk memperlancar pelaksanaan tugas kedinasan. Anggaran yang disediakan untuk pelaksanaan kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,74%). Kegiatan peningkatan efektifitas kerjasama luar negeri Bidang Ekonomi Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan penyebarluasan informasi bidang ekonomi melalui penerbitan Buletin 248

252 Aceh Economic Review, menyediakan sampel produk untuk dipromosikan pada permanent display Pemerintah Aceh di Batam, pembayaran tunggakan biaya operasional permanent display Pemerintah Aceh pada PT. SPC tahun 2009 dan 2010, mengikuti beberapa pameran di dalam dan luar negeri. Dalam rangka promosi dan menarik minat investor guna menanamkan modalnya di Provinsi Aceh, pemerintah melakukan pembinaan dan pengawasan Baitul Qiradh yang menerima penyertaan modal dari Pemerintah Aceh, serta mengiventarisir kinerja dan kegiatan beberapa BUMD Kabupaten/Kota untuk dilakukan pembinaan. Anggaran yang disediakan untuk pelaksanaan kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,60%). 3. Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan. Kegiatan pembinaan perangkat kinerja BUMD. Pemerintah telah melaksanakan kegiatan pemberian penghargaan bagi PD. BPR Mustaqim Sukamakmur yang berprestasi. Tujuan diberikannya penghargaan ini adalah untuk meningkatkan kinerja PD. BPR Mustaqim Sukamakmur baik di tingkat kantor pusat maupun kantor cabang, serta telah dilaksanakannya monitoring dan evaluasi laporan keuangan dan manajemen PD. BPR Mustaqim Sukamakmur yang bertujuan memantau perkembangan laporan keuangan dan kinerja bank tersebut. Anggaran yang disediakan untuk pelaksanaan kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,37%). Kegiatan koordinasi penggunaan dana pemerintah bagi usaha mikro, kecil dan menengah. Program dan kegiatan yang telah dilaksanakan adalah: - Sosialisasi tentang dana bergulir bagi para pembina koperasi dan UKM kabupaten/kota. Tujuan dari Sosialisasi ini adalah untuk mensinergikan serta meningkatkan wawasan peserta terkait fungsi dana bergulir dalam rangka pengembangan sektor usaha kecil dan menengah (UKM) khususnya di bidang permodalan/pembiayaan yang diberikan Pemerintah Aceh sebagai pendukung utama kegiatan tersebut. - Terlaksananya monitoring dan evaluasi dana bergulir komoditi unggulan tahun 2007 dan Terlaksananya koordinasi, pembinaan, pemantauan pelaksanaan Kredit Pemberdayaan Pengusaha (KPP) Aceh - Terlaksananya monitoring dan evaluasi penyaluran KPP Aceh. Anggaran yang disediakan untuk pelaksanaan kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (80,31%). 4. Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan. Kegiatan pembinaan kawasan ekonomi terpadu. 249

253 Program dan kegiatan yang telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan: pemenuhan prasarana kerja Kantor BP. KAPET Bandar Aceh Darussalam, penyebarluasan informasi tentang KAPET melalui penerbitan Buletin dan booklet BP. KAPET Bandar Aceh Darussalam. Terlaksananya koordinasi program pengembangan kegiatan KAPET di dalam dan luar daerah serta mengikuti beberapa event-event di luar negeri dalam rangka pengembangan kegiatan KAPET. Anggaran yang disediakan untuk pelaksanaan kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,73%). 5. Program Pencegahan Dini dan Penanggulangan Korban Bencana Alam. Kegiatan Koordinasi pengawasan pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan kebijakan lingkungan hidup. Untuk mencapai sasaran yang ditetapkan telah dilaksanakan kegiatan: - Sosialisasi konversi minyak tanah ke LPG 3 Kg bagi 150 orang aparatur kecamatan dan unsur instansi terkait. Tujuan dari sosialisasi ini adalah untuk peningkatan wawasan aparatur pemerintah kecamatan dan unsur instansi terkait terhadap program konversi minyak tanah ke LPG 3 Kg yang dicanangkan oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan PT. Pertamina (Persero) serta untuk menghimpun permasalahan yang telah terjadi di lapangan guna mendapatkan solusi pemecahannya oleh pihak yang berwenang, dalam hal ini pihak PT. Pertamina (Persero), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Perindustrian yang juga bertindak sebagai narasumber/pemateri pada acara sosialisasi dimaksud. - Koordinasi dan pengawasan izin penimbunan dan penyimpanan BBM pada kegiatan penimbunan dan penyimpanan BBM di Provinsi Aceh. Koordinasi dilakukan melalui Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) Aceh selaku instansi yang berwenang menerbitkan izin penimbunan dan penyimpanan BBM di atas (tiga ribu) liter dan melalui bagian ekonomi pada masing-masing Pemerintah Kabupaten/Kota. Tujuan dari koordinasi dan pengawasan izin penimbunan dan penyimpanan BBM ini adalah untuk memantau dan membina kegiatan penimbunan dan penyimpanan BBM (SPBU/APMS/SPBI) agar senantiasa memiliki izin penimbunan dan penyimpanan BBM. Dari kegiatan tersebut terdata 107 (seratus tujuh) unit SPBU/SPBI/APMS di Provinsi Aceh. Dari jumlah tersebut 92 (sembilan puluh dua) unit atau 85,98% memiliki izin yang masih aktif, 8 (delapan) unit atau 7,48% dalam proses perpanjangan/izin baru dan 7 (tujuh) unit atau 6,54% yang izinnya telah habis masa berlaku. - Koordinasi pengawasan, pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan lingkungan hidup antara kabupaten/kota di Aceh. - Operasional sekretariat pengelolaan sampah terpadu, yaitu untuk mendukung operasional kegiatan organisasi yang mengelola Tempat 250

254 Pembuangan Akhir (TPA) secara bersama antara Pemerintah Aceh, Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Anggaran yang disediakan untuk pelaksanaan kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,86%). 6. Program Pembinaan dan Pengembanga Aparatur. Kegiatan rapat koordinasi pengembangan perekonomian daerah. Kegiatan tersebut sudah dilaksanakan rapat koordinasi daerah bidang perekonomian yang diikuti oleh para Asisten II, Kepala Bagian Ekonomi dan kepala Bappeda seluruh kabupaten/kota serta instansi terkait di lingkungan Pemerintah Aceh. Tujuan dari rapat koordinasi ini adalah untuk koordinasi dan mensinergikan pembangunan daerah dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Anggaran yang disediakan untuk pelaksanaan kegiatan tersebut sebesar Rp ,- dengan realisasi keuangan Rp ,- (54,97%) dan realisasi fisik 100% Rendahnya realisasi diakibatkan oleh tidak digunakannya biaya perjalanan dinas dalam daerah sebesar Rp ,- (36,31%). Hal ini terjadi karena perubahan lokasi pelaksanaan rapat koordinasi yang awalnya direncanakan di Takengon Kabupaten Aceh Tengah, namun karena pihak Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah tidak tersedia dana sebagai salah satu bentuk sharing biaya pelaksanaan rapat koordinasi, maka lokasi dipindahkan ke Kota Banda Aceh, sehingga biaya perjalanan dinas dalam daerah yang diperuntukkan bagi narasumber, tim perumus dan panitia rapat koordinasi tidak dapat direalisasikan. Realisasi Anggaran Biro Perekonomian Setda Aceh dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- atau 90,17%. Kondisi realisasi keuangan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini. No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) ,17 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung Belanja langsung ,17 TOTAL ,17 C. Permasalahan dan solusi Permasalahan: - perjalanan dinas dalam rangka pelaksanaan rapat koordinasi bidang 251

255 perekonomian yang semula direncanakan di Kabupaten Aceh Tengah tidak dapat digunakan karena Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah tidak ada kesiapan dukungan anggaran, sehingga pelaksanaan kegiatan Rapat tersebut dilaksanakan di Banda Aceh. Anggaran perjalanan dinas tidak direalisasikan dan anggaran ini sebagai penghematan, dimana efisiensi kegiatan ini terlaksana 100%; - rapat penggunaan dana pemerintah pada bantuan ekonomi masyarakat (termasuk penyaluran kredit pemberdayaan pengusaha Aceh) tidak dilaksanakan lagi karena kegiatan tersebut sudah dilaksanakan pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Aceh yang juga melibatkan instansi terkait, termasuk Biro Perekonomian Setda Aceh; - sebagian gaji beberapa tenaga honorer tidak dapat di bayar, karena sudah diangkat menjadi PNS; - efisiensi pelaksanaan kegiatan pada belanja makan minum; - masih terdapat resistensi dari masyarakat terhadap pelaksanaan program konversi minyak tanah ke LPG 3 Kg. Hal ini dapat dipahami karena masih terjadinya kecelakaan penggunaan LPG 3 Kg sehingga menimbulkan keraguan dalam penggunaan LPG 3 Kg tersebut; - peraturan daerah (Qanun) Aceh yang mengatur tentang izin penimbunan dan penyimpanan BBM sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini; - pemerintah kabupaten/kota masih belum sepenuhnya memanfaatkan hasil rumusan rapat koordinasi daerah bidang perekonomian sebagai acuan dalam pembangunan ekonomi di daerah masing-masing. Solusi: - perlu diadakan sosialisasi penggunaan LPG 3 Kg yang baik dan benar secara lebih tepat sasaran, terutama oleh konsultan sosialisasi yang telah ditunjuk oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta konsultan pendistribusian paket perdana LPG 3 Kg yang telah ditunjuk oleh PT. Pertamina (Persero); - dipandang perlu merevisi Peraturan Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh Nomor 2 Tahun 1983 tentang izin penimbunan dan penyimpanan bahan bakar minyak, agar sesuai dengan kondisi saat ini; - format rapat koordinasi daerah bidang perekonomian disusun seefektif mungkin dengan arah rumusan yang lebih aplikatif baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Biro Organisasi Setda Aceh Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian yang dilakukan Pemerintah Aceh dilaksanakan oleh Biro Organisasi Setda Aceh sebagai berikut: 252

256 A. Program dan Kegiatan 1. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembinaan penataan kelembagaan perangkat daerah kabupaten/kota; b. Peningkatan kualitas pelayanan publik; c. Peningkatan kapasitas pengelolaan ketatalaksanaan; d. Pengelolaan perpustakaan satuan kerja; e. Penataan kelembagaan Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA); f. Pembinaan dan sinkronisasi analisa jabatan SKPA dan perangkat daerah kabupaten/kota. 2. Program Pengembangan dan Kesejahteraan Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengembangan indikator dan tolok ukur kinerja kegiatan perangkat daerah; b. Fasilitasi penyusunan dan penyiapan dokumen AKIP; c. Pembinaan teknis penyusunan rencana strategis dan rencana kinerja; d. Pembinaan dan pengembangan pola karir dan kediklatan; e. Fasilitasi pelayanan kesejahteraan PNS; f. Peningkatan pengelolaan arsip dan informasi kepegawaian; B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Pembinaan penataan kelembagaan perangkat daerah kabupaten/kota Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan hasil yang diharapkan adanya kesesuaian susunan organisasi dan tata kerja perangkat daerah kabupaten/kota dengan kebijakan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. Indikator keluaran yang diharapkan terlaksananya fasilitasi kelembagaan perangkat daerah di 23 kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,97%) dan realisasi fisik 100%. Peningkatan kualitas pelayanan publik Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan hasil yang diharapkan adanya peningkatan kepuasan masyarakat terhadap pelayanan publik, indikator keluaran yang diharapkan terlaksananya penilaian di 10 unit pelayanan publik provinsi dan kabupaten/kota. Tersusunnya data IKM UPP Pemerintah Aceh dan tersedianya data instansi Pemerintah Aceh dan kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Peningkatan kapasitas pengelolaan ketatalaksanaan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk peningkatan pemahaman tata naskah dinas di lingkungan Pemerintah Aceh dan acuan 253

257 pelaksanaan pengelolaan ketatalaksanaan. Indikator keluaran berupa tersedianya pedoman tata hubungan kerja perangkat daerah dengan Pemerintah Aceh. Tersusunnya jadwal kegiatan/agenda kerja gubernur/wakil gubernur Tahun 2010, dan terlaksananya evaluasi pengembangan budaya kerja dan tersedianya pedoman tata naskah dinas. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,55%) dan realisasi fisik 100%. Pengelolaan perpustakaan satuan kerja Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan hasil yang diharapkan adanya peningkatan jumlah kunjungan pada perpustakaan Sekretariat Daerah Aceh, dan referensi akademik untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas-tugas di lingkungan Sekretariat Daerah Aceh. Tersedianya katalog perpustakaan serta terpenuhinya kebutuhan koleksi perpustakaan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,21%) dan realisasi fisik 100%. Penataan kelembagaan Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan hasil yang diharapkan adanya struktur organisasi dan tata kerja satuan kerja perangkat Pemerintah Aceh. Peningkatan pemahaman dan kompetensi aparatur dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan dan penataan perangkat daerah. Keluaran dari kegiatan ini berupa tersusunnya rancangan Qanun Aceh tentang SOTK perangkat daerah provinsi. Penetapan Pergub Aceh tentang SOTK unit pelaksana teknis badan/dinas. Keikutsertaan dalam rapat koordinasi di bidang kelembagaan perangkat daerah di tingkat nasional dan terlaksananya penugasan pegawai mengikuti diklat/kursus penataan kelembagaan perangkat daerah. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,79%) dan realisasi fisik 100%. Pembinaan dan sinkronisasi analisa jabatan SKPA dan perangkat daerah kabupaten/kota Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan hasil yang diharapkan adalah ketersediaan acuan penataan kelembagaan/ketatalaksanaan serta acuan pengelolaan kepegawaian dan kediklatan. Hasil tersebut merupakan cerminan dari berfungsinya keluaran tentang pelaksanaan analisis jabatan dan analisis beban kerja perangkat daerah kabupaten/kota sebanyak 23 wilayah dan terlaksananya analisis jabatan perangkat daerah provinsi, UPTD dan Badan Pelayanan Perizinan Terpadu. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,87%) dan realisasi fisik 100%. 254

258 2. Program Pengembangan dan Kesejahteraan Aparatur Pengembangan indikator dan tolok ukur kinerja kegiatan perangkat daerah Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan hasil yang diharapkan adanya rumusan indikator kinerja Pemerintah Aceh, ketersediaan acuan pembinaan dan pengembangan indikator kinerja pemerintah kabupaten/kota dan peningkatan kualitas dokumen perencanaan. Hasil ini merupakan keluaran yang berupa: - terasistensinya perumusan indikator kinerja di lingkngan Sekretariat Daerah Aceh sebanyak 7 unit kerja; - terlaksananya verifikasi indikator kinerja SKPA; - terfasilitasinya pelaksanaan bimtek/asistensi pengembangan indikator kinerja perangkat daerah kabupaten/kota; - adanya data indikator kinerja pemerintah kabupaten/kota; - terlaksananya penugasan pegawai mengikuti bimtek AKIP. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Fasilitasi penyusunan dan penyiapan dokumen AKIP Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan hasil yang dicapai adanya modul teknis penyusunan Renja dan modul teknis penyusunan LAKIP. Harapan dari kegiatan ini adalah peningkatan kelembagaan pelaksana sistem AKIP. Hasil ini merupakan wujud dari berfungsinya keluaran yang berupa: - terlaksananya asistensi penyusunan LAKIP Biro di lingkungan Setda Aceh; - tersusunnya LAKIP Setda Aceh Tahun 2009; - tersusunnya LAKIP Pemerintah Aceh Tahun 2009; - terkodifikasinya LAKIP Biro di lingkungan Setda Aceh tahun 2009; - terkodifikasinya LAKIP SKPA tahun 2009; - tersedianya informasi kualitas LAKIP SKPA; - terfasilitasinya pelaksanaan bimtek/asistensi pelaksanaan AKIP kabupaten/kota; - tersedianya data kinerja pemerintah kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (90,72%) dan realisasi fisik 100%. Pembinaan teknis penyusunan rencana strategis dan rencana kinerja Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah ketersediaan acuan pelaksanaan kegiatan Sekretariat Daerah Aceh tahun 2010, peningkatan kualitas dokumen Renstra dan Renja sebesar 50% dan peningkatan kelembagaan pelaksana sistem AKIP 255

259 sebesar 20%, Hasil ini merupakan keluaran berupa: - terlaksananya asistensi revisi Renstra Biro-Biro dan revisi Renja Biro-Biro tahun 2010; - tersedianya data revisi Renstra Setda dan data revisi renja setda tahun 2010; - terselesaikannya penilaian relevansi Renstra dan Renja Setda Aceh; - terkodifikasinya Rencana Kinerja biro-biro tahun 2010; - tersusunnya Rencana Kinerja Setda Aceh tahun 2010; - terselesaikannya penetapan kinerja Setda Aceh; - terkodifikasinya Rencana Kinerja SKPA tahun 2010; - tersusunnya Rencana Kinerja Pemerintah Aceh tahun 2010; - terselesaikannya penetapan kinerja Pemerintah Aceh; - terlaksananya asistensi penyusunan Renstra dan Renja kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,50%) dan realisasi fisik 100%. Pembinaan dan pengembangan pola karir dan kediklatan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan hasil yang diharapkan adalah peningkatan kapasitas PNS sebesar 25%. Hasil ini merupakan cerminan dari berfungsinya keluaran berupa: - terlaksananya penugasan PNS mengikuti diklat struktural dan diklat fungsional; - terlaksananya pelaksanaan servis dan perawatan mesin absensi elektronik pegawai Setda Aceh; - terfasilitasinya pelaksanaan tugas Baperjakat Pemerintah Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,76%) dan realisasi fisik 100%. Fasilitasi pelayanan kesejahteraan PNS Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan hasil yang diharapkan adalah peningkatan motivasi kerja pegawai sebesar 20%. Keluaran ini merupakan wujud terselesaikannya penetapan dan penyaluran bantuan penghargaan satya lencana karya satya bagi PNS masa kerja 30 tahun, masa kerja 20 tahun dan masa kerja 10 tahun. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,70%) dan realisasi fisik 100%. Peningkatan pengelolaan arsip dan informasi kepegawaian Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan hasil yang diharapkan adalah ketersediaan acuan pembinaan dan pengembangan pegawai sebesar 80%. Hasil ini merupakan cerminan dari berfungsinya keluaran yang berupa tersedianya database kepegawaian (DUK) Setda Aceh sebanyak 1 buku/20 eksamplar. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar 256

260 Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,67%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi Anggaran Untuk Biro Organisasi Setda Aceh dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp (96,99%) dan realisasi fisik 100%. Kondisi realisasi keuangan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,99 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung 0-0 0,00 2 Belanja langsung , ,99 TOTAL , ,99 C. Permasalahan dan Solusi Untuk mengimplementasikan program dan kegiatan yang direncanakan dalam tahun anggaran 2010, masih terdapat beberapa permasalahan yang menjadi hambatan dalam pencapaian sasaran antara lain sebagai berikut : - belum ditetapkannya peraturan perundang-undangan mengenai pedoman pembentukan beberapa lembaga perangkat daerah, sehingga penyelesaian beberapa rancangan qanun tidak dapat dilaksanakan pada tahun 2010; - peningkatan kemampuan aparatur melalui pelaksanaan kursus, pelatihan dan bimbingan teknis yang diselenggarakan oleh lembaga pemerintah pada tahun 2010 sangat terbatas, sehingga dana kontribusi yang telah dialokasikan tidak dapat digunakan sesuai rencana. Solusi Dari permasalahan dan hambatan sebagaimana tersebut di atas, maka solusi yang dapat diambil untuk meminimalisir hambatan dan tantangan adalah diharapkan pemerintah pusat secepatnya mengeluarkan regulasi mengenai pembentukan lembaga perangkat daerah lainnya dan pedoman tata naskah dinas. Biro Administrasi Pembangunan Setda Aceh Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian yang dilakukan Pemerintah 257

261 Aceh dilaksanakan oleh Biro Administrasi Pembangunan Setda Aceh sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan penyediaan surat menyurat; b. Kegiatan penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Kegiatan penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kendaraan dinas/operasional; d. Kegiatan penyediaan jasa kebersihan kantor; e. Kegiatan penyediaan jasa perbaikan peralatan kantor; f. Kegiatan penyediaan alat tulis kantor; g. Kegiatan penyediaan barang cetakan dan penggandaan; h. Kegiatan penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; i. Kegiatan penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor; j. Kegiatan penyediaan makanan dan minuman; k. Kegiatan rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah; 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan pengadaan mebeleur; b. Kegiatan pengadaan UPS/stabilizier komputer; c. Kegiatan pengadaan komputer; d. Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala taman, tempat parkir dan halaman kantor; e. Kegiatan rehabilitasi sedang/berat rumah gedung kantor. 3. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana. Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan koordinasi program rasionalisasi PDAM antar kabupaten/kota; b. Kegiatan pemantauan permasalahan realisasi pelaksanaan pembangunan infrastruktur; c. Kegiatan pemantauan permasalahan realisasi sarana dan prasarana permukiman. 4. Program Pencegahan Dini dan Penanggulangan Korban Bencana Alam. Kegiatan berupa koordinasi penyelesaian pasca bencana alam. 5. Program Koordinasi dan Pembinaan, Perencanaan, Pemanfaatan serta Pengendalian Ruang, dengan Kegiatan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan pengendalian tertib pemanfaatan ruang; b. Kegiatan koordinasi tata ruang dan pemanfaatan ruang kabupaten/kota; 258

262 c. Kegiatan pendataan dan inventarisasi kawasan-kawasan strategis. 6. Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah. Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan koordinasi dan sinkronisasi dana berbantuan; b. Kegiatan peningkatan pengendalian dokumen anggaran daerah. 7. Program Pembinaan dan Fasilitasi Pengelolaan Keuangan Kabupaten/Kota. Kegiatan berupa sinkronisasi dan sinergi program pembangunan provinsi dengan kabupaten/kota. 8. Program Penelitian dan Pengembangan IPTEK. Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan pengembangan sistem informasi manajemen data; b. Kegiatan pelaporan dan evaluasi data dana pembangunan kabupaten/kota; c. Kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan SKPD; d. Kegiatan penunjang kegiatan biro. 9. Program Peningkatan Sistem Pengawasan Internal dan Pengendalian Pelaksanaan Kebijakan KDH. Kegiatan berupa monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan APBN. 10. Program Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Perencanaan Pembangunan Daerah Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan koordinasi pembinaan pembangunan kabupaten/kota; b. Kegiatan pembinaan kelembagaan jasa konstruksi. 11. Program Pembinaan dan Pengembangan Aparatur Kegiatan berupa kegiatan kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan. B. Realisasi Pelaksanaan Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah Kegiatan penyediaan surat menyurat, Kegiatan penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, Kegiatan penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kendaraan dinas/operasional, Kegiatan penyediaan jasa kebersihan kantor, Kegiatan penyediaan jasa perbaikan peralatan kantor, Kegiatan penyediaan alat tulis kantor, Kegiatan penyediaan barang cetakan dan penggandaan, Kegiatan penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, Kegiatan penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor, Kegiatan penyediaan makanan dan minuman dan Kegiatan rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah. Kegiatan di atas merupakan kegiatan rutin 259

263 kantor dan telah dilaksanakan. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (88,89%) dan realisasi fisik 85,13%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kegiatan pengadaan meubeleur Hasil yang dicapai dengan kegiatan ini adalah tersedianya meubeleur demi lancarnya pelaksanaan tugas dan kenyamanan bekerja instansi BPBA. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,09%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pengadaan UPS/stabilizier komputer Hasil yang dicapai dengan kegiatan ini adalah pengadaan UPS/stabilizer komputer sehingga lancarnya pelaksanaan tugas BPBA. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (76,67%) dan realisasi fisik 100%. Pencapaian realisasi keuangan hanya sebesar 76,67% karena adanya perubahan harga pasar. Kegiatan pengadaan komputer Hasil yang dicapai dengan kegiatan ini adalah pengadaan komputer sehingga lancarnya pelaksanaan tugas-tugas harian kantor BPBA. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,98%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala taman, tempat parkir dan halaman kantor Hasil yang dicapai dengan kegiatan ini adalah terciptanya keindahan dan tertatanya taman, tempat parkir dan halaman kantor BPBA. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,91%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan rehabilitasi sedang/berat rumah gedung kantor Hasil yang dicapai dengan kegiatan ini adalah terlaksananya rehabilitasi gedung kantor BPBA. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,76%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana. Kegiatan koordinasi program rasionalisasi PDAM antar kabupaten/kota Hasil yang telah dicapai dari kegiatan tersebut adalah tersedianya data permasalahan yang terjadi dan profil PDAM di seluruh kabupaten/kota. Dana yang dialokasikan untuk kegiatan ini sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (60,77%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi keuangannya hanya mencapai 60,77%, hal ini disebabkan belanja pegawai dan belanja perjalanan dinas tidak terserap seluruhnya 260

264 sebagaimana yang ditargetkan karena keterbatasan waktu pelaksanaan kegiatan, tetapi target output yang diharapkan sudah terpenuhi yaitu terindentifikasinya permasalahan-permasalahan PDAM di seluruh kabupaten/kota. Kegiatan pemantauan permasalahan realisasi pelaksanaan pembangunan infrastruktur. Hasil yang telah dicapai dari kegiatan tersebut adalah tersedianya data permasalahan realisasi sarana dan prasarana kebinamargaan, dan pengairan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (75,92%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi keuangannya hanya mencapai 75,92 %, hal ini disebabkan terdapat sisa belanja perjalanan dinas karena keterbatasan waktu pelaksanaan kegiatan dalam tahun anggaran berjalan, tetapi output yang diharapkan dari kegiatan yaitu realisasi pelaksanaan pembangunan infrastruktur sudah terpenuhi. Kegiatan pemantauan permasalahan realisasi sarana dan prasarana permukiman. Hasil yang telah dicapai dari kegiatan tersebut adalah tersedianya data realisasi sarana dan prasarana pemukiman. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (82,19%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi keuangannya hanya mencapai 82,19%, hal ini disebabkan terdapat sisa belanja perjalanan dinas karena keterbatasan waktu pelaksanaan kegiatan perjalanan dinas dalam tahun anggaran berjalan, tetapi output yang diharapkan dari kegiatan yaitu realisasi pelaksanaan pembangunan pemukiman sudah terpenuhi. 4. Program Pencegahan Dini dan Penanggulangan Korban Bencana Alam. Kegiatan koordinasi penyelesaian pasca bencana alam. Hasil yang dicapai dari kegiatan tersebut adalah tersedianya skala penanganan penyelenggaraan aksi wilayah bencana dan tersedianya acuan dalam penyelenggaraan rencana pelaksanaan penanganan pasca bencana alam. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (50,19%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi keuangan kegiatan ini hanya 50,19, hal ini disebabkan belanja pegawai dan belanja perjalanan dinas yang tidak habis dipergunakan disebabkan dilakukan penghematan dan waktu pelaksanaan kegiatan yang relatif singkat, namun demikian output yang menjadi target terhadap penanganan pasca bencana alam sudah terpenuhi. 5. Program Koordinasi dan Pembinaan, Perencanaan, Pemanfaatan serta Pengendalian Ruang Kegiatan pengendalian tertib pemanfaatan ruang. Hasil yang telah dicapai dari kegiatan tersebut adalah terselenggaranya 261

265 rapat forum kerjasama indentifikasi tertib pemanfaatan ruang yang diikuti oleh unsur sekretariat kabupaten/kota dan bappeda kabupaten/kota dalam rangka terarahnya tertib pemanfaatan ruang kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,77%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan koordinasi tata ruang dan pemanfaatan ruang kabupaten/kota. Hasil yang telah dicapai dari kegiatan tersebut adalah terhimpunnya informasi pemanfaatan ruang di kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,51%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pendataan dan inventarisasi kawasan-kawasan strategis. Hasil yang dicapai melalui kegiatan ini teridentifikasi dan terinventarisasinya data kawasan strategis di Provinsi Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,63%) dan realisasi fisik 100%. 6. Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah. Kegiatan koordinasi dan sinkronisasi dana berbantuan Hasil yang dicapai dari kegiatan tersebut tersedianya data laporan kegiatan berbantuan dan tersedianya buku data laporan kegiatan dana berbantuan tahun Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,60%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan peningkatan pengendalian dokumen anggaran daerah. Hasil yang dicapai dari kegiatan tersebut terdatanya kegiatan SKPA dan penyelesaian kegiatan bermasalah antara lain tersedianya buku program kegiatan, buku petunjuk teknis OTSUS dan MIGAS, buku program/kegiatan per kabupaten/kota dan buku program/kegiatan birobiro di lingkungan Setda Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,05%) dan realisasi fisik 100%. 7. Program Pembinaan dan Fasilitasi Pengelolaan Keuangan Kab/Kota. Kegiatan sinkronisasi dan sinergi program pembangunan provinsi dengan kabupaten/kota. Hasil yang dicapai dari kegiatan tersebut telah terselenggaranya rapat koordinasi dengan jajaran Bagian administrasi pembangunan dan Bappeda Kabupaten/Kota dalam rangka mensinkronkan program pembangunan provinsi dengan kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (87,30%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi keuangan sebesar 87,30% hal ini disebabkan terdapat sisa belanja 262

266 pegawai, belanja perjalanan dinas dan belanja dokumentasi serta belanja publikasi. 8. Program Penelitian dan Pengembangan IPTEK. Kegiatan pengembangan sistem informasi manajemen data. Hasil yang dicapai melalui kegiatan ini adalah tersedianya data dana OTSUS provinsi dan kabupaten/kota tahun anggaran 2010 dan buku laporan realisasi fisik dan keuangan dana OTSUS tahun anggaran Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (86,00%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi keuangan hanya mencapai 86,00% hal ini disebabkan terdapat sisa belanja pegawai, belanja konstribusi, belanja perjalanan dinas karena waktu pelaksanaan yang relatif singkat. Kegiatan pelaporan dan evaluasi data dana pembangunan kabupaten/kota. Hasil yang dicapai terdatanya laporan dana pembangunan kabupaten/kota dalam bentuk buku laporan bulanan realisasi fisik dan keuangan per triwulan dan tersusunnya buku evaluasi realisasi data dana pembangunan kabupaten/kota tahun Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,92%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan SKPD. Hasil yang dicapai dari kegiatan tersebut tersedianya data laporan realisasi fisik dan keuangan APBA provinsi dan tersusunnya buku evaluasi APBA provinsi tahun Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (78,85%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi keuangan hanya sebesar 78,85%, hal ini disebabkan terdapat sisa belanja pegawai dan sisa belanja perjalanan dinas karena keterbatasan waktu pelaksanaan kegiatan. Kegiatan penunjang kegiatan biro. Hasil yang dicapai dari kegiatan tersebut tertibnya pelayanan administrasi pelaksanaan dan penyelesaian permasalahan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (65,93%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi keuangan kegiatan ini hanya mencapai 65,93 %, disebabkan terdapat sisa belanja pegawai dan belanja perjalanan dinas serta belanja modal karena waktu pelaksanaan kegiatan yang relatif singkat. 9. Program Peningkatan Sistem Pengawasan Internal dan Pengendalian Pelaksanaan Kebijakan KDH. Kegiatan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan APBN. Hasil yang dicapai dari kegiatan tersebut adalah tersedianya data RFK APBN tahun 2010 dan tersedianya buku data evaluasi pembangunan 263

267 yang bersumber dari APBN tahun Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,02%) dan realisasi fisik 100%. 10. Program Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Perencanaan Pembangunan Daerah Kegiatan koordinasi pembinaan pembangunan kabupaten/kota. Hasil yang dicapai dengan kegiatan ini adalah tersedianya buku petunjuk pelaksanaan pembangunan kabupaten/kota dan data program/kegiatan dana pembangunan kabupaten/kota tahun anggaran Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,37%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pembinaan kelembagaan jasa konstruksi. Hasil yang dicapai dari kegiatan tersebut terselenggaranya pembinaan kelembagaan melalui sosialisasi bagi aparat dan masyarakat jasa konstruksi di kabupaten/kota dan tersedianya buku jumlah BUJK di Provinsi Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,59%) dan realisasi fisik 100%. 11. Program Pembinaan dan Pengembangan Aparatur Kegiatan kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan Hasil yang dicapai dari kegiatan tersebut lancarnya komunikasi bantuan bencana alam dan terdatanya korban bencana alam. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (45,26%) dan realisasi fisik 100%. Rendahnya realisasi kegiatan ini disebabkan penggunaan belanja pegawai, belanja makan minum, belanja perjalanan dinas yang tidak habis dipergunakan mengingat waktu pelaksanaan kegiatan yang relatif singkat. 12. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur : Kegiatan Pengadaan Meubeleur Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,09%). Hasil yang dicapai dengan kegiatan ini adalah tersedianya meubeleur demi lancarnya pelaksanaan tugas dan kenyamanan bekerja instansi BPBA. Kegiatan pengadaan UPS/stabilizier komputer Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (76,67%). Hasil yang dicapai dengan kegiatan ini adalah pengadaan UPS/stabilizer komputer sehingga lancarnya pelaksanaan tugas dan kenyamanan bekerja instansi BPBA. Kegiatan pengadaan komputer Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,98%). Hasil yang 264

268 dicapai dengan kegiatan ini adalah pengadaan komputer sehingga lncarnya pelaksanaan tugas dan kenyamanan bekerja instansi BPBA. Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala taman, tempat parkir dan halaman kantor Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,91%). Hasil yang dicapai dengan kegiatan ini adalah terciptanya keindahan dan tertatanya taman, tempat parkir dan halaman kantor BPBA. Kegiatan rehabilitasi sedang/berat rumah gedung kantor Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,76%). Hasil yang dicapai dengan kegiatan ini adalah terciptanya kenyamanan ruangan kantor instansi BPBA. Realisasi Anggaran Untuk Biro Administrasi Pembangunan Setda Aceh dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp (82,54%) dan realisasi fisik 92,69%. Kondisi realisasi keuangan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,29 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung Belanja langsung , ,54 TOTAL , ,29 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan yang ada pada Biro Administrasi Pembangunan antara lain : - tidak seluruhnya belanja pegawai dapat terserap sehingga terjadi sisa anggaran; - tidak seluruhnya belanja barang/jasa dapat terserap sehingga terjadi sisa anggaran, terutama belanja perjalanan dinas, hal ini disebabkan waktu pelaksanaan kegiatan yang relatif singkat dan dilakukan setelah perubahan anggaran tahun 2010; - pelaksanaan kegiatan pada BPBA hanya berkisar 6 bulan, maka terdapat sisa anggaran; - tidak seluruhnya belanja modal dapat dipergunakan karena ada sisa tender dan rasionalisasi harga OE sehingga menjadi sisa anggaran mati. 265

269 Solusi - untuk tahun anggaran 2011 diupayakan perencanaan yang lebih matang sehingga dapat menghindari terjadinya sisa anggaran terhadap pelaksanaan kegiatan; - sisa anggaran menjadi SILPA. Biro Tata Pemerintahan Setda Aceh Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian yang dilakukan Pemerintah Aceh dilaksanakan oleh Biro Tata Pemerintahan Setda Aceh sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Peningkatan Pelayanan Kedinasan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Kegiatan ini adalah rapat koordinasi unsur Muspida 2. Program Penataan Perundang-Undangan Kegiatan ini adalah rancangan Peraturan Pemerintah tentang kewenangan pemerintah yang bersifat nasional di Aceh. 3. Program Penataan Daerah Otonomi Daerah Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Fasilitasi percepatan penyerahan P3D dari daerah induk ke daerah pemekaran; b. Fasilitasi percepatan penyelesaian tapal batas wilayah administrasi antar daerah; c. Pelacakan dan pengukuran batas daerah antar kabupaten/kota; d. Koordinasi dan pemantapan pemerintahan daerah dan kecamatan; e. Evaluasi penyelenggaraan otonomi daerah pada pemerintahan kabupaten/kota; f. Evaluasi dan monitoring LPPD kabupaten/kota. 4. Program Penataan Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah Kegiatan ini adalah penyelesaian konflik dan sengketa pertanahan. 5. Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyusunan LPPD Gubernur; b. Penyusunan LKPJ Gubernur; c. Penataan kelembagaan dan aparatur pemerintahan mukim. 6. Program Pemilihan Kepala Daerah dan Pemilu Kegiatan ini adalah persiapan pelaksanaan Pemilu. 7. Program Koordinasi peningkatan Kapasitas Kependudukan dan Catatan Sipil Kegiatan ini berupa peningkatan kapasitas kependudukan dan catatan sipil. 266

270 8. Program Peningkatan Kelembagaan dan Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembinaan penyelenggaraan pemerintahan umum; b. Pembinaan penyelenggaan pemerintahan gampong dan kelurahan. B. Realisasi Pelaksanaan Program dan kegiatan 1. Program Peningkatan Pelayanan Kedinasan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Rapat koordinasi unsur pimpinan daerah Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk rapat koordinasi unsur Muspida Se Aceh. Rapat tersebut dihadiri seluruh unsur Muspida provinsi dan kabupaten/kota serta seluruh SKPA dan instansi vertikal provinsi. Tujuan Rakorpimda adalah untuk memantapkan koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplikasi dalam penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan. Adapun hasil kesimpulan dari Rakorpimda adalah kondisi keamanan, ketentraman dan ketertiban masyarakat serta suasana damai perlu terus dipelihara dan dipertahankan dalam rangka meningkatkan pembangunan menuju kesejahteraan masyarakat, penurunan angka kemiskinan di Aceh sesuai dengan semangat MoU Helsinki dan Undang-Undang nomor 11 tahun 2006, menciptakan good governance dan clean goverment menuju tata kelola pemerintahan yang baik dan pemerintahan yang bersih, bebas dari praktek korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan harus menjadi perhatian dari seluruh jajaran pemerintahan. Penguatan penyelenggaraan pemerintahan mukim dan pemerintahan gampong harus menjadi perhatian Pemerintah 267

271 Aceh dan pemerintah kabupaten/kota. pemerintah mukim dan pemerintah gampong diharapkan mampu menggerakkan dan mengarahkan masyarakatnya untuk lebih kreatif, produktif dan mandiri dalam mengelola potensi sumber daya alam yang ada disekitarnya. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,40%) dan realisasi fisik 100%. 2. Program Penataan Perundang-Undangan Konsultasi pembahasan rancangan peraturan pemerintah tentang kewenangan pemerintah yang bersifat nasional di Aceh. Kegiatan ini telah dilaksanakan dalam bentuk pembahasan pengharmonisasian, pembulatan dan pemantapan konsepsi Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Kewenangan Pemerintah yang Bersifat Nasional di Aceh sebanyak 32 bidang urusan. Dari 32 bidang urusan hanya bidang pertanahan dan sub bidang kehutanan yang masih belum tuntas. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,11%) dan realisasi fisik 99,23%. 3. Program Penataan Daerah Otonomi Daerah Fasilitasi percepatan penyerahan P3D dari daerah induk ke daerah pemekaran. Melalui kegiatan ini telah dilakukan fasilitasi pertemuan antara tim fasilitasi P3D Pemerintah Aceh Timur dan Kota Langsa. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,41%) dan realisasi fisik 99,63%. Fasilitasi percepatan penyelesaian tapal batas wilayah administrasi antar daerah Melalui kegiatan ini telah dihasilkan beberapa kesepakatan antara Pemerintah Aceh dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang difasilitasi oleh Dirjen Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, pada tanggal 8 Juni 2010 di Medan-Sumatera Utara dengan menyepakati pemasangan 53 Pilar Batas Antara (PBA) dan 10 Pilar Batas Utama (PBU) di perbatasan Aceh-Sumatera Utara. Tindak lanjut dari kesepakatan tersebut, Pemerinah Aceh telah memasang 10 PBU tepatnya di wilayah pesisir yaitu Sungai Sikudor sebagai batas Aceh antara Kecamatan Seruway Kabupaten Aceh Tamiang dengan Kecamatan Pematang Jaya Kabupaten Langkat. Dan juga Pemerintah Aceh telah memasang 53 pilar batas antara yaitu di wilayah perbatasan Kabupaten Aceh Tamiang dengan Kabupaten Langkat tepatnya di perbatasan Kecamatan Tenggulun dengan Kecamatan Besitang Kabupaten Langkat. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,97%) dan realisasi fisik 99,00%. 268

272 Pelacakan dan pengukuran batas daerah antar kabupaten/kota Pemerintah Aceh juga telah memfasilitasi penyelesaian tapal batas di kabupaten dalam wilayah Aceh, antara lain melalui rapat tanggal 10 Juli 2010 di Kantor Gubernur Aceh, tindak lanjut dari kesepakatan antara pemerintah kabupaten dengan Pemerintah Aceh telah melakukan pemasangan PBU di beberapa daerah antara lain: Kabupaten Bireuen dengan Kabupaten Bener Meriah telah dipasang sebanyak 7 (tujuh) Pilar Batas Utama (PBU) dan 1 (satu) Pilar Batas Utama (PBU) belum ada kesepakatan; Kabupaten Aceh Utara dengan Kabupaten Bener Meriah telah dipasang sebanyak 2 (dua) Pilar Batas Utama (PBU) dan 6 (enam) Pilar Batas Utama (PBU) tidak dapat dipasang karena curah hujan yang cukup tinggi dan kondisi lapangan sangat terjal dan tidak mungkin melakukan pemasangan Pilar Batas Utama (PBU); Kabupaten Aceh Barat Daya dengan Kabupaten Gayo Lues juga telah dilakukan pemasangan sebanyak 2 (dua) Pilar Batas Utama (PBU) dan 6 (enam) Pilar Batas Utama (PBU) tidak dapat dilakukan pemasangan mengingat curah hujan yang cukup tinggi dan kondisi lapangan sangat terjal dan tidak mungkin melakukan pemasangan Pilar Batas Utama (PBU). Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (79,62%) dan realisasi fisik 80%. Koordinasi dan pemantapan pemerintahan daerah dan kecamatan Tolak ukur dari kegiatan ini yang ingin dicapai adalah persentase pembinaan pemerintahan kecamatan dan terlaksananya Raker Camat se Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- dengan realisasi keuangan Rp ,- (97,30%) dan realisasi fisik 98%. Evaluasi penyelenggaraan otonomi daerah pada pemerintahan kabupaten/kota Kegiatan ini telah dilaksanakan dalam bentuk pembinaan dan monitoring serta melakukan evaluasi pelaksanaan otonomi daerah. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- atau 99,41% dan realisasi fisik 100%. Evaluasi dan monitoring LPPD kabupaten/kota Kegiatan evaluasi dan monitoring LPPD kabupaten/kota dilaksanakan sesuai amanat Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, hasil evaluasi dan monitoring LPPD kabupaten/kota tersebut menjadi tolak ukur keberhasilan daerah dan menjadi bahan evaluasi secara nasional. Anggaran yang 269

273 disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- atau 98,78% dan realisasi fisik 100%. 4. Program Penataan Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah Penyelesaian konflik dan sengketa pertanahan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk fasilitasi pada kabupaten/kota rapat penyelesaian sengketa antara lain adanya laporan/pengaduan mengenai sengketa pertanahan yang diterima oleh tim baik dari masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pemerintah daerah kabupaten/kota se-aceh tahun Adapun sengketa pertanahan yang telah dilakukan upaya penyelesaian oleh tim fasilitasi penyelesaian sengketa pertanahan Aceh sejak awal tahun 2010 secara proporsional dan profesional adalah sebagai berikut: - fasilitasi penyelesaian sengketa tanah antara masyarakat Aceh Tengah dengan Pemda Kabupaten Aceh Tengah terhadap tanah Hak Pakai No. 1 a.n. Pemda Tk. I D. I. Aceh; - fasilitasi penyelesaian sengketa pertanahan antara masyarakat Aceh Singkil dengan pemilik lahan HGU PT. Ubertraco/Nafasindo; - kegiatan penyelesaian status penguasaan tanah Blang Padang dengan pihak TNI-AD (Kodam Iskandar Muda); - fasilitasi penyelesaian sengketa tanah antara masyarakat Gampong Mane Kabupaten Pidie dengan pihak Pemerintah Kabupaten Pidie; - fasilitasi penyelesaian sengketa tanah antara masyarakat Kabupaten Aceh Timur dengan badan hukum PT. Bumi Flora; - fasilitasi penyelesaian sengketa tanah antara masyarakat Kabupaten Aceh Singkil dengan badan hukum PT. Sumber Utama Makmur; - fasilitasi penyelesaian sengketa tanah antara masyarakat Kabupaten Aceh Timur dengan badan hukum PT. Jaya Bani Utama; - fasilitasi penyelesaian sengketa tanah antara masyarakat Kabupaten Aceh Singkil dengan badan hukum PT. Rundeng Putra Persada; - fasilitasi penyelesaian sengketa tanah antara masyarakat Kabupaten Aceh Barat dengan badan hukum PT. Sari Inti Rakyat; - fasilitasi penyelesaian sengketa tanah antara masyarakat Suak Indrapuri Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat dengan pihak TNI- AD; - fasilitasi penyelesaian sengketa tanah antara masyarakat Ie Jeurneh Kecamatan Trumon Timur Kabupaten Aceh Barat dengan pihak Polri (Kompi Brimob). 270

274 Untuk penyelesaian sengketa tanah Blang Padang, tim telah mengumpulkan data fisik, data yuridis fakta sejarah, hukum, peta-peta, dokumen-dokumen serta keterangan dari orang-orang yang mengetahui riwayat tanah Blang Padang kesaksian para pelaku sejarah sebagai dasar penguasaan. tim juga melakukan beberapa kali rapat sehingga semua bahan yang diperoleh dirangkum menjadi sebuah buku Dasar Permohonan Sertifikat Hak Pakai Tanah Blang Padang an. Pemerintah Aceh. Keberhasilan yang telah dicapai adalah terbangunnya semangat rakyat untuk mendukung agar tanah Blang Padang disertifikatkan atas nama Pemerintah Aceh, dan tanah tersebut telah terdaftar sebagai Asset Pemerintah Aceh pada Kartu Inventaris Barang (KIB) dengan nomor registrasi 0001 dan Nomor Kode barang dan Pihak Kanwil BPN Aceh telah mengakui bahwa secara yuridis formal permohonan pensertipikatan tanah Blang Padang telah memenuhi syarat berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selanjutnya terhadap fasilitasi penyelesaian sengketa pertanahan antara masyarakat Aceh Singkil dengan pemilik lahan HGU PT. Ubertraco/Nafasindo telah dilakukan pengukuran ulang batas HGU PT. Nafasindo dan telah disusun laporan dan alternatif penyelesaian sengketa PT. Nafasindo. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,10%) dan realisasi fisik 100%. 5. Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Penyusunan LPPD Gubernur Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk penyusunan LPPD Gubernur tahun 2009 sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang 271

275 Pemerintahan Aceh, Peraturan Pemerintah No. 3 Tahun 2007 dan PP Nomor 6 Tahun Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,88%) dan realisasi fisik 100%. Penyusunan LKPJ Gubernur Dilaksanakan sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh, Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 dan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun Kegiatan ini berupa buku narasi dan summary Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,92%) dan realisasi fisik 100%. Penataan kelembagaan dan aparatur pemerintahan mukim Kegiatan tersebut telah dilaksanakan antara lain fasilitasi penyusunan Qanun kabupaten/kota tentang pemerintahan mukim sesuai maksud pasal 114 Undang-Undang Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Adapun kabupaten/kota yang telah menetapkan Qanun Pemerintahan Mukim adalah: Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Pidie, Kota Langsa, Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Simeulu. Selanjutnya telah dilakukan pembekalan tugas mukim di beberapa Kabupaten yaitu: Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Nagan Raya, Kabupaten Aceh Singkil, Kabupaten Bireuen dan Kabupaten Aceh Tengah. Kegiatan lain yang dilakukan adalah memfasilitasi Proses pemilihan imuem mukim sesuai dengan Qanun Aceh Nomor 3 tahun 2009 tentang tata cara pemilihan dan pemberhentian imuem mukim. Dalam tahun 2010 pemilihan imuem mukim telah dilaksanakan kabupaten yang antara lain Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Bireuen, Kabupaten Aceh Barat Daya dan Kabupaten Pidie Jaya. Disamping itu kegiatan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan mukim yang meliputi monitoring pemberian honorarium dan operasional mukim oleh pemerintah kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,21%) dan realisasi fisik 100%. 6. Program Pemilihan Kepala Daerah dan Pemilu Persiapan pelaksanaan Pemilu Tolak ukur dari kegiatan ini yang ingin dicapai adalah peningkatan kemampuan aparatur kependudukan dan catatan sipil. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,00%) dan realisasi fisik 99,10%. 7. Program Peningkatan Kapasitas Kependudukan dan Catatan Sipil Peningkatan kapasitas kependudukan dan catatan sipil Saat ini Pemerintah Aceh memiliki server data penduduk se Aceh, yang datanya bersumber dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil 272

276 Kabupaten/Kota se Aceh. Data-data tersebut diupdate setiap bulannya guna mendapatkan jumlah penduduk yang akurat. Bahwa jumlah penduduk merupakan dasar di dalam semua aspek pembangunan sehingga dengan adanya data-data penduduk yang akurat, diharapkan setiap pembangunan yang dilaksanakan di Provinsi Aceh menjadi tepat sasaran. Di bidang Pencatatan Sipil melalui Peraturan Gubernur Aceh Nomor 39 Tahun 2009 tentang Rencana Strategis 2011, semua anak aceh tercatat kelahirannya, maka Pemerintah Aceh telah melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya pencatatan kelahiran dengan cara menyebarkan poster akte catatan sipil ke seluruh gampong yang ada di Aceh. Diharapkan dengan adanya poster tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya dokumen kependudukan, termasuk Akte Kelahiran karena selama ini masih banyak anak-anak yang belum memiliki Akte Kelahiran. Di bidang kependudukan, pada tahun 2011 akan diterapkan e-ktp sebagai Kartu Tanda Penduduk Elektronik pengganti KTP Standar Nasional di Provinsi Aceh. Berkenaan dengan hal tersebut, Biro Tata Pemerintah Setda Aceh secara rutin telah melaksanakan rapat koordinasi dan konsultasi dengan para Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten/Kota se Aceh guna melaksanakan pemutakhiran data penduduk. Pemutakhiran data penduduk tersebut dipandang sangat penting dilaksanakan mengingat selama ini masih terdapat data ganda penduduk yang pada akhirnya juga berimbas pada pelaksanaan Pemilukada. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,09%) dan realisasi fisik 97,30%. 8. Program Peningkatan Kelembagaan dan Aparatur Pembinaan Penyelenggaraan Pemerintahan Umum Tolak ukur dari kegiatan ini yang ingin dicapai adalah jumlah pembinaan penyelenggaraan pemerintahan umum pada kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,38%) dan realisasi fisik 98,50%. Pembinaan Penyelenggaraan Pemerintahan Gampong dan Kelurahan Kegiatan ini dilaksanakan dengan sasaran pokok yaitu percepatan penyusunan regulasi yang berkaitan dengan gampong sebagaimana amanah Undang-Undang No.11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh baik tingkat Pemerintah Aceh maupun kabupaten/kota. Proses penyelesaian pengangkatan sekretaris gampong menjadi Pegawai Negeri Sipil sesuai dengan ketentuan yang Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2007 tentang tata cara pengangkatan sekretaris desa menjadi PNS, memfasilitasi proses pemilihan keuchik yang defenitif dan pendataan kelembagaan gampong yang meliputi Sumber Daya Manusia (SDM), sarana dan prasarana pemerintahan gampong. Hasil yang telah diperoleh adalah: telah dibangun 1(satu) unit kantor mukim di Kemukiman Kandang Kecamatan Sakti Kabupaten Pidie, Telah di bangun 1(satu) unit kantor Keuchik Gampong 273

277 Riweuek Kecamatan Sakti Kabupaten Pidie, tersusunnya Draft Qanun Kabupaten/Kota tentang Pemerintahan Mukim sesuai dengan ketentuan Pasal 114 Undang-Undang No. 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh, dan telah ditetapkan Qanun Kabupaten/Kota tentang Pemerintahan Mukim pada Kabupaten/Kota yaitu: Aceh Besar, Aceh Tamiang, Aceh Barat, Pidie, Pidie Jaya, melakukan pembinaan mukim pada kabupaten/kota dalam bentuk pembekalan tugas imuem mukim di Kabupaten Bireuen, Aceh Tamiang, Aceh Selatan, memfasilitasi pemilihan imuem mukim dan Qanun Aceh No. 3 Tahun 2009 tentang Tata Cara Pemilihan Dan Pemberhentian Imuem Mukim, selanjutnya update kode administrasi pemerintahan desa, fasilitasi masalah Alokasi Dana Gampong (ADG), Draft Qanun, Qanun Kabupaten/Kota, pembinaan dalam bentuk pembekalan tugas keuchik pada kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp realisasi keuangan Rp (98,56%) dan realisasi fisik 98,70%. Realisasi Anggaran Untuk Biro Tata Pemerintahan Setda Aceh dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,01%) dan realisasi fisik 98,09%. Kondisi realisasi keuangan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,01 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung Belanja langsung , ,01 TOTAL , ,01 C. Permasalahan dan Solusi Permasalah: - dalam rangka Pembahasan Rancangan Peraturan Pemerintah tersebut masih ada dari pihak kementerian terkait kurang menghayati makna kekhususan dari Undang-Undang Nomor 11 tahun 2006 tentang Pememrintahan Aceh, buktinya yang hadir dalam rapat tersebut pejabat yang tidak berkewenangan mengambil keputusan; - dalam hal penyusunan LPPD kabupaten/kota masih belum tepat waktu menyampaikan laporannya dan berdampak kepada terlambat Pemerintah Aceh dalam melaksanakan evaluasi; - penyerahan aset dari kabupaten induk ke kabupaten pemekaran terlambat 274

278 penyelesaiannya dikarenakan ada kabupaten induk yang harus pindah ke wilayah baru, sehingga membutuhkan waktu yang lama dan anggaran yang besar untuk pembangunan sarana dan prasarana perkantoran. Solusi: - semua kementerian dan staf supaya dapat memahami makna Undang- Undang No 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh; - melakukan sosialisasi dan pembinaan kepada kabupaten/kota tata cara penyusunan LKPJ dan LPPD; - sesuai kewenangan yang dimiliki Pemerintah Aceh, perlu memfasilitasi kabupaten/kota dalam upaya percepatan penyerahan aset dari kabpaten induk kepada kabupaten/kota pemekaran berdasarkan aturan P3D. Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Setda Aceh Urusan otonomi yang dilaksanakan oleh Hukum dan Hubungan Masyarakat Setda Aceh sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan tersebut adalah penyediaan jasa administrasi keuangan. 2. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Sosialisasi peraturan perundang-undangan; b. Pembinaan mental dan fisik aparatur. 3. Program Penataan Peraturan Perundang-Undangan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyusunan dan penyempurnaan rancangan qanun kelembagaan perangkat daerah dan lembaga khusus; b. Penyusunan rencana kerja rancangan peraturan perundang-undangan; c. Peningkatan pelayanan bantuan hukum; d. Pemantapan jaringan dokumentasi dan informasi hukum; e. Evaluasi dan pengkajian produk hukum kabupaten/kota. 4. Program Pengembangan Kerjasama Informasi Media Massa Kegiatan tersebut adalah pembinaan dan pengembangan hubungan dengan pers dan masyarakat. B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Penyediaa jasa administrasi keuangan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam rangka tertibnya administrasi keuangan Biro Hukum dan Humas, dengan output terselesaikannya administrasi keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- 275

279 undangan. Untuk pelaksanaan kegiatan tersebut mendapat dukungan dana sebesar Rp ,- dengan realisasi fisik dan keuangan sebesar Rp ,- (99,99%). 2. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan sosialisasi peraturan perundang-undangan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi qanunqanun provinsi kepada aparatur pemerintah. Melalui kegiatan ini telah terpenuhi output berupa terpahaminya qanun yang telah disosialisasikan kepada aparatur pemerintah daerah. Dana yang tersedia sebesar Rp ,- dengan realisasi fisik dan keuangan sebesar Rp ,- (90,63%). Kekurangan realisasi dana disebabkan pemateri dari luar daerah yang direncanakan empat orang untuk empat kegiatan hanya dapat dihadiri oleh satu orang, sehingga anggaran untuk pemateri tidak dapat dicairkan seluruhnya. Kegiatan pembinaan mental dan fisik aparatur Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk inventarisasi peyidik pegawai negeri sipil di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Melalui kegiatan ini telah mempermudah koordinasi antar PPNS di seluruh provinsi dalam rangka penyelesaian pelanggaran qanun. Dana yang tersedia sebesar Rp ,- realisasi fisik dan keuangan sebesar Rp ,- (92,64%). Kekurangan realisasi disebabkan karena tidak adanya panggilan dari instansi pemerintah untuk mengikuti pelatihan dengan menggunakan biaya kontribusi. 3. Program Penataan Peraturan Perundang-Undangan Penyusunan dan penyempurnaan Rancangan Qanun kelembagaan perangkat daerah dan lembaga khusus Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penyusunan qanunqanun prioritas sebagai tindak lanjut dari Prolega tahun Melalui kegiatan tersebut telah terpilih qanun-qanun prioritas sebagai tidak lanjut UUPA. Pada kegiatan tersebut dialokasikan dana sebesar Rp ,- dengan realisasi fisik dan keuangan sebesar Rp ,- (99,90%). Kegiatan penyusunan rencana kerja rancangan peraturan perundangundangan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pendampingan pembahasan Rancangan Peraturan Pemerintah dan Rancangan Peraturan Presiden, penyusunan qanun, MoU dan peraturan perundang-undangan lainnya sebagai tindak lanjut dari Undang-Undang Pemerintahan Aceh. Melalui kegiatan tersebut telah disahkan 1 Peraturan Pemerintah, 1 Peraturan Presiden, 8 Qanun Aceh dan 16 MoU. Pada kegiatan ini dialokasikan dana sebesar Rp ,-dengan realisasi fisik dan keuangan sebesar Rp ,- (98,17%). 276

280 Kegiatan peningkatan pelayanan bantuan hukum Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penyelesaian kasuskasus gugatan masyarakat terhadap pemerintah. Untuk mendukung kegiatan ini telah dialokasikan dana sebesar Rp ,- dengan realisasi fisik dan keuangan yang dapat dicapai sebesar Rp ,- (88,98%). Kekurangan realisasi disebabkan karena untuk beberapa persidangan belum sampai pada tahap menghadirkan saksi fakta dan saksi ahli, sehingga anggaran tersebut tidak dapat dicairkan. Kegiatan pemantapan jaringan dokumentasi dan informasi hukum Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penyebaran informasi peraturan perundang-undangan kepada masyarakat dan dokumentasi berbagai peraturan perundang-undangan. Pada kegiatan tersebut dialokasikan dana sebesar Rp ,- dengan realisasi fisik dan keuangan sebesar Rp ,- (98,07%). Kegiatan evaluasi dan pengkajian produk hukum kabupaten/kota Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pengkajian dan evaluasi produk-produk hukum kabupaten/kota terutama Qanun-Qanun. Melalui kegiatan ini telah tersusun Qanun-Qanun kabupaten/kota sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pada kegiatan tersebut dialokasikan dana sebesar Rp ,-realisasi fisik dan keuangan sampai dengan akhir tahun anggaran sebesar Rp ,- (99,16%). 4. Program Pengembangan Kerjasama Informasi Media Massa Kegiatan pembinaan dan pengembangan hubungan dengan pers dan masyarakat Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk hubungan kerjasama Pemerintah Aceh dengan pers dalam rangka penyebarluasan informasi pemerintahan dan pembangunan. Melalui kegiatan tersebut telah terpenuhi output meningkatnya hubungan kerjasama dengan pers dalam rangka penyebarluasan informasi pembangunan kepada masyarakat. Untuk kegiatan ini dialokasikan anggaran sebesar Rp ,- dengan realisasi fisik dan keuangan sampai akhir tahun anggaran sebesar Rp ,- (98,49%). Realisasi Anggaran Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Setda Aceh dialokasikan anggaran sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp ,- (97,10%). Kondisi realisasi keuangan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: 277

281 No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) SKPA sebesar ,10 1 Belanja tidak langsung Belanja langsung ,10 TOTAL ,10 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - dari 21 prioritas Rancangan Qanun Aceh tahun 2010 (12 usulan eksekutif dan 9 inisiatif DPRA), sampai dengan tanggal 31 Desember 2010, eksekutif telah menyampaikan 9 Ranqanun, ditambah 5 Rancangan Qanun di luar prioritas (asas kumulatif terbuka). Selanjutnya sampai dengan 31 Desember 2010 dari 12 Rancangan Qanun usul eksekutif dan 2 inisiatif DPRA yang telah dan sedang dibahas, baru 5 Rancangan Qanun Aceh (usul eksekutif) yang berhasil mendapatkan kesepakatan bersama untuk disahkan menjadi Qanun Aceh; - proses persidangan kasus-kasus gugatan terhadap pemerintah daerah sampai akhir tahun 2010 masih pada tahap mediasi antar pihak penggugat dan tergugat, sehingga proses di tingkat pengadilan belum sampai pada substansi pengambilan putusan; - keterlambatan dalam pengesahan DPA, sehingga kegiatan yang telah direncanakan di awal tahun bergeser ke pertengahan atau akhir tahun; - keterbatasan anggaran pada kegiatan kehumasan terutama pada pemasangan iklan advertorial dan biaya perjalanan untuk wartawan dalam rangka meliput kegiatan pimpinan daerah yang setiap saat harus dipenuhi apabila ada perintah dari pimpinan. Solusi: Dari permasalahan-permasalahan tersebut di atas, maka solusi yang dapat diambil untuk mengantisipasi tidak terulangnya permasalahan pada tahun 2010 adalah mengupayakan pihak legislatif untuk dapat memprioritaskan pembahasan Qanun-Qanun yang telah ditetapkan dalam prolega. Agar proses penyelesaian DPA supaya dipercepat. Diharapkan pada tahun anggaran 2011 untuk kegiatan kehumasan, perlu adanya rasionalisasi anggaran sesuai kebutuhan pelaksanaan kegiatan. 278

282 Biro Umum dan Protokol Setda Aceh Urusan otonomi daerah yang dilaksanakan oleh Biro Umum dan Protokol Setda Aceh sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan makanan dan minuman; b. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar negeri; c. Penyediaan jasa keamanan kantor; d. Penyediaan jasa hari-hari besar; e. Peningkatan pelayanan administrasi perkantoran; f. Penyediaan bahan operasional perkantoran. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengadaan perlengkapan rumah jabatan/dinas; b. Pengadaan perlengkapan gedung kantor; c. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan berupa pendidikan dan pelatihan formal. 4. Program Peningkatan Pelayanan Kedinasan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Kegiatan berupa kunjungan kerja/inspeksi kepala daerah dan wakil kepala daerah. B. Realisasi Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen installasi listrik/penerangan bangunan kantor, penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor, dan kegiatan penyediaan jasa pegawai non PNS. Program dan kegiatan ini merupakan program dan kegiatan rutin kantor atau keperluan sehari-hari perkantoran. Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah terselenggaranya pelayanan administrasi perkantoran. Anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan ini sebesar Rp realisasi keuangan Rp (82,23%) dan realisasi fisik 100 %. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Pengadaan perlengkapan rumah jabatan/dinas Hasil yang diharapkan dari kegiatan tersebut adalah terpenuhi kebutuhan sarana dan prasarana dalam menunjang pelaksanaan 279

283 kedinasan bagi pimpinan. Anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan ini sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (95,63%) dan realisasi fisik 100%. Pengadaan perlengkapan gedung kantor Hasil yang diharapkan dari kegiatan tersebut adalah memperlancar tugastugas dalam meningkatkan kinerja aparatur pemerintahan, khususnya dibidang administrasi perkantoran. Anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan ini sebesar sebesar Rp realisasi keuangan Rp (93,58%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor Hasil yang diharapkan dari kegiatan tersebut terpeliharanya inventaris dan asset negara dengan baik, lebih berdaya guna, sehingga terpenuhi alat keja dalam meningkat kegairahan kerja yang berdampak kepada peningkatan kinerja aparatur. Anggaran yang dialokasikan untuk program ini sebesar Rp realisasi keuangan Rp (98,10%). 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Pendidikan dan pelatihan formal Program tersebut berupa dukungan anggaran untuk pendidikan dan pelatihan formal, bimbingan teknis dan penataran-penataran bagi aparatur yang berpotensi dalam upaya peningkatan kualitas dan profesinalitas sumber daya aparatur, yang diselenggarakan baik tingkat daerah maupun tingkat nasional dengan tujuan untuk peningkatan kinerja instansi pemerintah (KIP). Anggaran yang dialokasikan untuk program ini sebesar Rp realisasi keuangan Rp (95,91%) realisasi fisik 100%. 4. Program Peningkatan Pelayanan Kedinasan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Kunjungan kerja/inspeksi kepala daerah dan wakil kepala daerah, ke daerahdaerah dalam fungsinya sebagai administratur pemerintahan dan administratur pembangunan untuk melakukan pengedalian, bimbingan, pembinaan dan pengawasan. Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini terlaksananya fungsi pengawasan dalam rangka menindaklanjuti pelaksanaan pembangunan pada kabupaten/kota secara menyeluruh dan berkelanjutan. Anggaran yang dialokasikan untuk program ini sebesar Rp realisasi keuangan Rp (82,99%) dan realisasi fisik 100 %. 280

284 Realisasi Anggaran Biro Umum dan Protokol Setda Aceh dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi sebesar Rp ,- atau 86,43% dan fisik 88,12%. Kondisi realisasi keuangan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) ,43 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung Belanja langsung ,43 TOTAL ,43 C. Permasalahan dan Solusi Dengan telah berakhirnya tahun anggaran 2010, permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan yang telah diprogramkan pada umumnya tidak mengalami kendala. Hal tersebut disebabkan adanya semangat kebersamaan yang sinergi dengan bidang tugas yang diemban Biro Umum dan Protokol Sekretariat Daerah Aceh. Dari uraian tersebut di atas, maka solusi yang dapat diambil adalah pengupayaan pengesahan APBA yang tepat waktu agar kegiatan-kegiatan yang direncanakan pada tahun 2011 dapat diselesaikan/direalisasikan secara efisien dan efektif dengan tetap menganut prinsip efisiensi keuangan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian yang dilakukan Pemerintah Aceh dilaksanakan oleh Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Setda Aceh sebagai berikut: A. Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Jasa Administrasi Kantor Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa administrasi keuangan; d. Penyediaan alat tulis kantor; e. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; 281

285 f. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan; g. Penyediaan makanan dan minuman; h. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar negeri; i. Penyediaan jasa hari-hari besar. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengadaan peralatan gedung kantor; b. Pengadaan pengadaan mobeleur; c. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional; d. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan kantor. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan ini berupa pendidikan dan pelatihan formal. 4. Program Peningkatan Pelayanan Publik Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Monitoring tim instansi terkait perizinan dan non perizinan ke kabupaten/kota; b. Sosialisasi dan pembinaan P2TSP kabupaten/kota; c. Penyusunan indeks kepuasan masyarakat bidang pelayanan perizinan dan non perizinan; d. Bimtek perizinan dan non perizinan bidang sumber daya alam; e. Tata cara pelayanan perizinan penanaman modal; f. Rakerda PPTSP kabupaten/kota; g. Bimtek perizinan dan non perizinan bidang non sumber daya alam. B. Realisasi Pelaksanaan Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Jasa Administrasi Kantor Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah Kegiatan penyediaan jasa surat menyurat, kegiatan penyediaan jasa kominikasi, sumber daya air dan listrik, kegiatan penyediaan jasa administrasi keuangan, kegiatan penyediaan alat tulis kantor, kegiatan barang cetakan dan penggandaan, kegiatan penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan, kegiatan penyediaan makanan dan minuman, kegiatan rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah dan kegiatan penyediaan jasa hari-hari besar. Kegiatan di atas merupakan kegiatan rutin kantor dan telah dilaksanakan. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,34%) dan realisasi fisik 100%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kegiatan pengadaan peralatan gedung kantor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pengadaan komputer, printer dan UPS. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,01%) dan realisasi fisik 100%. 282

286 Kegiatan pengadaan mobeleur Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pengadaan lemari, meja, kursi kerja dan kursi rapat. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,20%) dan realisasi fisik 100 %. Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pembayaran biaya O & M kendaraan dinas. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala peralatan kantor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pembayaran biaya O & M peralatan kantor. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangn Rp ,- (97,91%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan pendidikan dan pelatihan formal Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk keikutsertaan pada pelatihan-pelatihan singkat/diklat. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (99,13%) dan realisasi fisik 100%. 4. Program Peningkatan Pelayanan Publik Kegiatan monitoring tim instansi terkait perizinan dan non perizinan ke kabupaten/kota Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk perjalanan dinas ke kabupaten/kota untuk pengecekan lapangan terhadap izin dan non izin yang akan diterbitkan, baik di bidang sumber daya alam maupun di bidang non sumber daya alam. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,95%). Kegiatan sosialisasi dan pembinaan P2TSP kabupaten/kota Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk bimtek sosialisasi dan pembinaan P2TSP kabupaten/kota bagi 50 orang aparatur penyelenggara PTSP se-kabupaten/kota. Tujuan dari bimtek ini adalah untuk memberikan pemahaman bidang perizinan dan non perizinan bagi aparatur PTSP dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sehingga pelaksanaan pelayanan perizinan terpadu satu pintu dapat berjalan dengan baik sesuai harapan masyarakat. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,91%). Kegiatan penyusunan indeks kepuasan masyarakat bidang pelayanan perizinan dan non perizinan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penyebaran kuesioner kepada masyarakat pemohon izin dan non izin guna 283

287 melakukan penilaian terhadap pelayanan yang diberikan pada Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Aceh. Tujuan dari kegiatan ini untuk mengetahui tingkat kepuasan masyarakat dalam mendapatkan pelayanan khususnya di bidang perizinan dan non perizinan pada Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Aceh. Data hasil penilaian dari masyarakat diolah tim penyusun dan tim pengolah yang dituangkan dalam bentuk tulisan dan disusun dalam suatu buku yaitu buku Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) pada Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,18%). Kegiatan Bimtek Perizinan dan Non Perizinan Bidang Sumber Daya Alam Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk Bimtek Perizinan dan Non Perizinan Bidang Sumber Daya Alam yang diikuti oleh 75 orang peserta. Tujuan dari bimtek ini untuk meningkatkan pemahaman dan persamaan persepsi antara aparatur PTSP, Instansi Teknis dan Lembaga terkait lainnya terhadap pelayanan perizinan dan non perizinan di bidang perikanan dan kelautan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (86,58%). Kegiatan tata cara pelayanan perizinan penanaman modal Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk Bimtek Perizinan dan Non Perizinan Bidang Penanaman Modal yang diikuti oleh 80 orang peserta. Tujuan dari bimtek ini untuk meningkatkan pemahaman dan persamaan persepsi antara aparatur PTSP, Instansi Teknis dan Lembaga terkait lainnya terhadap pelayanan perizinan dan non perizinan di bidang Penanaman Modal. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,42%). Kegiatan Rakerda PPTSP kabupaten/kota Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk Rapat Koordinasi seluruh Kepala PTSP se-kabupaten/kota. Tujuan dari Rapat Koordinasi ini untuk mencari solusi terhadap berbagai permasalahan dibidang perizinan dan non perizinan yang dihadapi dalam penyelenggaraan pelayanan terpadu satu pintu di Kabupaten/Kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,22%). Kegiatan bimtek perizinan dan non perizinan bidang non sumber daya alam Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk bimtek perizinan dan non perizinan bidang non sumber daya alam yang diikuti oleh 50 orang peserta. Tujuan dari bimtek ini untuk meningkatkan pemahaman dan persamaan persepsi antara aparatur PTSP, instansi teknis dan lembaga 284

288 terkait lainnya terhadap pelayanan perizinan dan non perizinan di bidang kesehatan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (92,91%). Realisasi Anggaran Untuk Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) Setda Aceh dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp (96,17%) dan realisasi fisik 100%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,17 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung , ,27 2 Belanja langsung , ,49 TOTAL , ,17 C. Permasalahan dan Solusi Untuk tahun 2010 tidak ada permasalahan yang dihadapi oleh Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) Setda Aceh. Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Aceh Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian yang dilakukan Pemerintah Aceh dilaksanakan oleh Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Aceh sebagai berikut: A. Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan alat tulis kantor; d. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; e. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; f. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor; g. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan; 285

289 h. Penyediaan makanan dan minuman; i. Penyediaan jasa keamanan kantor; j. Penyediaan jasa dokumentasi kantor; k. Peningkatan pelayanan administrasi perkantoran; l. Peningkatan operasional pelayanan kesehatan aparatur. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan rumah dinas; b. Pembangunan gedung kantor; c. Pengadaan perlengkapan rumah jabatan/dinas; d. Pengadaan perlengkapan gedung kantor; e. Pemeliharaan rutin/berkala rumah jabatan; f. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor; g. Pemeliharaan rutin/berkala mobil jabatan; h. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional; i. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan kantor. 3. Program Peningkatan Disiplin Aparatur Kegiatan ini berupa pengadaan pakaian dinas beserta perlengkapannya 4. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan ini berupa pendidikan dan pelatihan formal. 5. Program Peningkatan Kapasitas Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembahasan rancangan peraturan daerah; b. Rapat-rapat paripurna; c. Kegiatan reses; d. kunjungan kerja pimpinan dan anggota DPRD dalam daerah; e. Peningkatan kapasitas pimpinan dan anggota DPRD; f. Sosialisasi peraturan perundang-undangan. 6. Program Peningkatan Pembinaan, pengembangan dan kesejahteraan sekretariat DPRA. Kegiatan ini berupa penyediaan jasa jaminan pemeliharaan kesehatan anggota. B. Realisasi Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor, penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan, 286

290 penyediaan makanan dan minuman, penyediaan jasa keamanan kantor, penyediaan jasa dokumentasi kantor, peningkatan pelayanan administrasi perkantoran dan peningkatan operasional pelayanan kesehatan aparatur. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,39%) dan realisasi fisik 94,39%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah pembangunan rumah dinas, pembangunan gedung kantor, pengadaan perlengkapan rumah jabatan/dinas, pengadaan perlengkapan gedung kantor, pemeliharaan rutin/berkala rumah jabatan, pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor, pemeliharaan rutin/berkala mobil jabatan, pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional dan pemeliharaan rutin/berkala peralatan kantor. Kegiatan di atas merupakan kegiatan rutin kantor dan telah dilaksanakan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (91,85%) dan realisasi fisik 91,85%. 3. Program Peningkatan Disiplin Aparatur Pengadaan pakaian dinas beserta perlengkapannya Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (83,11%) dan realisasi fisik 83,11%. 4. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Pendidikan dan pelatihan formal Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,52%) dan realisasi fisik 99,52%. 5. Program Peningkatan Kapasitas Lembaga Perwakilan Rakyat Daerah Pembahasan rancangan peraturan daerah Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,98%) dan realisasi fisik 99,98%. Rapat-rapat paripurna Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (52,88%) dan realisasi fisik 52,88%. Kegiatan reses Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (32,21%) dan realisasi fisik 32,21%. Kunjungan kerja pimpinan dan anggota DPRD dalam daerah Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp 287

291 ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Peningkatan kapasitas pimpinan dan anggota DPRD Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (85,96%) dan realisasi fisik 85,96%. Sosialisasi peraturan perundang-undangan Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (1,50%) dan realisasi fisik 1,50%. 6. Program Peningkatan Pembinaan, Pengembangan dan Kesejahteraan Sekretariat DPRA Penyediaan jasa jaminan pemeliharaan kesehatan anggota Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,19%) dan realisasi fisik 99,19%. Realisasi Anggaran Untuk Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp (85,83%) dan realisasi fisik 98,78%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,83 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,50 2 Belanja langsung ,25 TOTAL , ,83 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahannya adalah: - Jumlah tenaga kontrak terus bertambah tiap tahunnya. - Terbatasnya SDM yang berkualitas. - Kurangnya sarana dan prasarana yang belum memadai. Solusi yang ditempuh adalah: - Perlu penyesuaian tenaga kontrak sesuai standar kebutuhan berdasarkan PP 48 tahun 2005 jo PP 43 tahun 2007 dan memanfaatkan tenaga profesional yang ada. 288

292 - Perlu kegiatan pelatihan untuk pejabat struktural dan fungsional. - Perlu penyediaan tambahan sarana yang memadai. Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Urusan otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian dan persandian yang dilakukan Pemerintah Aceh dilaksanakan oleh Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa kebersihan kantor; d. Penyediaan alat tulis kantor; e. Penyediaan barang cetakan dan pengadaan; f. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; g. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor; h. Penyediaan makanan dan minuman; i. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah; j. Penyediaan jasa administrasi dan sewa kantor. 2. Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan rumah dinas; b. Pembangunan gedung kantor; c. Pengadaan kendaraan dinas/operasional; d. Pengadaan perlengkapan gedung kantor; e. Pemeliharaan rutin/berkala peralattan gedung kantor; f. Rehabilitasi sedang/berat rumah gedung kantor; g. Rehabilitasi sedang/berat kenderaan dinas/operasional; 3. Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyusunan laporan capaian kinerja dan ikhtisar realisasi kinerja SKPA; b. Penyusunan pelaporan keuangan akhir tahun. 4. Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyusunan satuan standar harga; b. Penyusunan sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah; c. Penyusunan rancangan peraturan daerah tentang APBD; d. Penyusunan rancangan peraturan KDH tentang pejabaran APBD; e. Penyusunan rancangan peratuaran daerah tentang perubahan APBD; 289

293 f. Penyusunan rancangan peraturan KDH tentang penjabaran perubahan APBD; g. Penyusunan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaanapbd; h. Penyusunan rancangan peraturan KDH tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD; i. Sosialisasi paket regulasi tentang pengelolaan keuangan daerah; j. Peningkatan manajemen aset/barang daerah; k. Peningkatan manajemen Investasi daerah; l. Intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber pendapatan daerah; m. Rapat koordinasi dinas pengelolaan keuangan dan kekayaan aceh Provinsi NAD dengan insatansi terkait; n. Peningkatan Pelayanan tata usaha keuangan daerah; o. pengurusan administrasi belanja daerah dan pelaporan; p. Peningkatan penataan arsip keuangan daerah; q. Sosialisasi/pelatihan sistem informasi tentang penyusunan dan regulasi anggaran daerah. 5. Program Pembinaan dan Fasilitas Pengelolaan Keuangan Kabupaten/Kota Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Evaluasi rancangan peraturan daerah tentang APBA kabupaten/kota; b. Evaluasi rancangan peraturan KDH tentang penjabaran APBA kabupaten/kota; c. Asistensi penyusunan rancangan regulasi pengelolaan keuangan daerah kab/kota; d. Rakor pembinaan dan evaluasi anggaran kabupaten/kota. 6. Program Penataan Penguasaan, Pemilikian Pengunaan dan Pemanfaatan Tanah Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Inventarisasi penggunaan lahan; b. Pengadaan tanah/lahan kawasan. B. Realisasi Pelaksanaan Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan rutin yang dilaksanakan adalah penyediaan jasa surat menyurat; penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; penyediaan jasa kebersihan kantor; penyediaan alat tulis kantor; penyediaan barang cetakan dan pengadaan; penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor; penyediaan makanan dan minuman; rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah; penyediaan jasa administrasi dan sewa kantor. program dan kegiatan di atas merupakan program rutin kantor. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (68,54%). 290

294 2. Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur Sesuai dengan urusan pemerintahan khususnya pada bidang otonomi daerah, pemerintahan umum dan administrasi keuangan daerah guna menjabarkan dan mengimplementasikan kebijakan Pemerintah Aceh tentang peningkatan sumberdaya sarana dan prasarana aparatur pemerintah Aceh telah ditetapkan dan dirumuskan dalam program kerja program peningkatan sarana dan prasarana aparatur Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Aceh, dalam program tersebut mempunyai beberapa kegiatan, yaitu: Pembangunan rumah dinas Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pembangunan pagar komplek rumah dinas Ulee Fata dan pagar komplek rumah dinas Lampoh Daya. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (67,97%) dan realisasi fisik 100%. Pembangunan gedung kantor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pembangunan perluasan gedung kantor DPKKA, pembangunan samsat Singkil, pos arsip, mushala arsip dan gapura. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (80,2%) dan realisasi fisik 100%. Pengadaan kendaraan dinas/operasional Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan pengadaan 206 unit kendaraan dinas operasional. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (85,31%) dan realisasi fisik 100%. Pengadaan perlengkapan gedung kantor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pangadaan perlengkapan gedung kantor. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (83,01%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan berupa service computer, service AC, service mesin TIK, service cash register, service dan pemeliharaan mesin genset, pemeliharaan OM jaringan listrik dan pemeliharaan OM telepon/cctv. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (72,40%) dan realisasi fisik 100%. Rehabilitasi sedang/berat rumah gedung kantor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan berupa pengecatan gedung, rehab gudang arsip, rehab rumah dinas-dinas, rehab pos satpam, pemasangan 291

295 paving blok samsat lambaro, pemasangan kanopy sayap kanan DPKKA, perluasan jalan depan lingkungan DPKKA, skat ruang bendahara, rehab tempat parkir dan sewa dan sekat ruang samsat Nagan Raya. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (72,03%) dan realisasi fisik 100%. Rehabilitasi sedang/berat kendaraan dinas/operasional Kegiatan tersebut telah dilaksanakan berupa service dan pemeliharaan kendaraan-kendaraan dinas. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,76%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan Penyusunan laporan capaian kinerja dan ikhtisar realisasi kinerja SKPA Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (59,32%). Dana tidak direalisasikan sepenuhnya karena adanya efisiensi anggaran pada biaya kontribusi (keikutsertaan) pegawai, sedangkan realisasi fisiknya berupa laporan capaian kinerja SKPA. Penyusunan pelaporan keuangan akhir tahun Kegiatan tersebut telah dilaksanakan berupa tersedia laporan keuangan secara berkala. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (54,93%). Pada kegiatan penyusunan laporan capaian kinerja dan ikhtisar realisasi kinerja SKPD tidak direalisasikan sepenuhnya karena adanya efisiensi anggaran pada biaya kontribusi (keikutsertaan) pegawai. 4. Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah Penyusunan satuan standar harga Kegiatan tersebut telah dilaksanakan berupa buku HSPK Tahun 2011 sebanyak 300 buku. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (62,11%). Penyusunan sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi peraturan Gubernur Nomor 140 Tahun 2009 tentang kebijakan dan sistim akuntansi pemerintah Aceh, selama 2 hari (Tanggal 15 dan 16 Desember 2010), yang diadakan di Aula Kantor Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (26,82%). Penyusunan rancangan peraturan daerah tentang APBD Kegiatan tersebut telah dilaksanakan berupa belanja atk, foto copy dan belanja cetak: pidato, buku, draft RQ. APBA, buku qanun APBA, RKA dan DPA, blanko SPD, kartu penjagaan kredit, blanko laporan realissasi SPD dan blanko register SPD. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan 292

296 dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (77,81%) dan realisasi fisik 100%. Penyusunan rancangan peraturan KDH tentang pejabaran APBD Kegiatan tersebut telah dilaksanakan berupa belanja ATK, fotocopy dan belanja cetak draft rancangan penjabaran APBA dan cetak buku rancangan penjabaran APBA. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (63,44%) dan realisasi fisik 100%. Penyusunan rancangan peratuaran daerah tentang perubahan APBD Kegiatan tersebut telah dilaksanakan berupa pengadaan ATK, fotocopy dan belanja cetak pidato, buku nota keuangan, draft rancangan Qanun, buku rancangan Qanun dan buku Qanun perubahan APBA. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (91,95%) dan realisasi fisik 100%. Penyusunan rancangan peraturan KDH tentang penjabaran perubahan APBD Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (9,14%) dan realisasi fisik 100%. Penyusunan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan hasil yang dicapai tersedianya laporan keuangan pemerintah Aceh yang terdiri dari: Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, Laporan Arus Kas dan Catatan atas Laporan Keuangan Tahun 2010 sebagai dokumen pertanggungjawaban pelaksanaan APBA Tahun 2010 yang telah ditetapkan dengan Qanun nomor 2 Tahun Rendahnya realisasi keuangan disebabkan karena efisiensi anggaran pada biaya kontribusi dan perjalanan dinas pegawai dalam mengikuti kursus-kursus singkat, pelatihan, sosialisasi dan bimbingan teknis yang dilaksanakan oleh pemerintah. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (65,50%) dan realisasi fisik 100%. Penyusunan rancangan peraturan KDH tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD Kegiatan tersebut telah dilaksanakan yang berupa laporan penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBA Tahun 2010 yang telah ditetapkan dengan Peraturan Gubernur Nomor 71 Tahun Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (44,11%). Sosialisasi paket regulasi tentang pengelolaan keuangan daerah Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp 293

297 0,- (0%). hal ini dikarenakan tidak dilaksanakannya kegiatan sosialisasi pada tahun Peningkatan manajemen aset/barang daerah Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (42,57%) dan realisasi fisik 100%. hal ini terjadi ada penghematan atau efesiensi pada belanja perjalanan dinas dan penghematan pada biaya honor panitia sensus dan penghematan kegiatan bimtek Sensus (tidak dilaksanakannya Bimtek Sensus Tahun 2010). Peningkatan manajemen investasi daerah Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (49,73%) dan realisasi fisik 100%. hal ini terjadi penghematan yaitu pada pelaksanaan bimtek-bimtek di luar daerah tidak diikutsertakan karena pelaksanaan bimtek-bimtek tidak relevan dengan manajemen investasi dan pemanfaatan keluar daerah. Penghematan terjadi pada biaya perjalanan dinas, dan pada kegiatan pengawasan belanja modal komputer. Intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber pendapatan daerah Kegiatan tersebut telah dilaksanakan berupa pengadaan ATK, perawatan aplikasi data base samsat, sedangkan untuk belanja modal tidak dapat direalisasikan karena pengadaan software samsat online tidak sesuai dengan standar minimal kebutuhan seluruh UPTD. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (27,92%). Rapat koordinasi dinas pengelolaan keuangan dan kekayaan Aceh provinsi NAD dengan insatansi terkait Kegiatan tersebut telah dilaksanakan berupa pengadaan ATK, pembuatan spanduk dan penayangan iklan di surat kabar. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (46,32%). Peningkatan pelayanan tata usaha keuangan daerah Kegiatan tersebut telah dilaksanakan berbentuk pengadaan ATK, pengadaan komputer, printer dan software kasda, fotocopy dan belanja cetak. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (51,44%). Pengurusan administrasi belanja daerah dan pelaporan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan berbentuk pengadaan ATK, fotocopy dan belanja cetak. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (83,16%) dan realisasi fisik 100%. Peningkatan penataan arsip keuangan daerah 294

298 Kegiatan tersebut telah dilaksanakan berbentuk pengadaan rak arsip, box arsip dan Komputer/software sistem manajemen pengarsipan elektronik. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (70,31%) dan realisasi fisik 100%. Sosialisasi/pelatihan sistem informasi tentang penyusunan dan regulasi anggaran daerah Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi perpajakan. anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (12,36%). Rendahnya realisasi anggaran diakibatkan oleh keterbatasan waktu sehingga pelaksanaan sosialisasi hanya untuk satu angkatan. 5. Program Pembinaan dan Fasilitas Pengelolaan Keuangan Kabupaten/Kota Evaluasi rancangan peraturan daerah tentang APBA kabupaten/kota Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan hasil yang dicapai adalah telah ditetapkannya Keputusan Gubernur Aceh tentang hasil evaluasi terhadap rancangan Qanun APBK kabupaten/kota dalam tahun anggaran Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (84,31%). Evaluasi rancangan peraturan KDH tentang penjabaran APBA kabupaten/kota Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan hasil yang dicapai ditetapkannya Keputusan Gubernur Aceh tentang hasil evaluasi terhadap rancangan Peraturan Bupati/Walikota tentang penjabaran APBK kab/kota dalam tahun anggaran Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (28,65%). Asistensi penyusunan rancangan regulasi pengelolaan keuangan daerah kab/kota Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk fasilitasi dan pendampingan penyusunan dan pembahasan terhadap rancangan Qanun dan Peraturan Bupati/walikota yang berkaitan dengan Pengelolaan Keuangan Daerah. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (80,11%). Rakor pembinaan dan evaluasi anggaran kab/kota Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan Rp realisasi Rp 0,- atau 0%. Khusus pada kegiatan rakor pembinaan dan evaluasi anggaran kabupaten/kota tidak adanya realisasi hal ini disebabkan: rapat koordinasi dengan semua DPKKD kab/kota direncanakan untuk menyamakan persepsi terhadap kebijakan keuangan terkait dengan regulasi bidang keuangan, namun sampai berakhirnya tahun anggaran 2010 materi Rakor 295

299 tersebut belum ditetapkan oleh Kementrian Dalam Negeri, sehingga pelaksanaan Rakor tersebut tidak dapat dilaksanakan. Materi yang direncanakan masing-masing terhadap: - Rancangan permendagri tentang tambahan penghasilan PNSD; - Revisi kedua atau revisi terbatas terhadap Permendagri No.13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah; - Rancangan permendagri tentang pedoman penganggaran, pelaksanaan dan pertanggungjawaban dana bantuan hibah dan bantuan sosial; - Rancangan Permendagri tentang Revisi Permendagri No.16 tahun 2007 tentang tata cara evaluasi rancangan peraturan daerah tentang anggaran pendapatan dan belanja daerah dan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran anggaran pendapatan dan belanja daerah. 6. Program Penataan Penguasaan, Pemilikan Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah Inventarisasi penggunaan lahan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (1,18%). Dalam kegiatan inventarisasi penggunaan lahan dimana kegiatan tersebut tidak ada fisiknya, melainkan kegiatan ini dana yang disediakan untuk belanja barang dan jasa dalam rangka menunjang pembebasan tanah untuk kepentingan umum serta pemerintah provinsi. Pengadaan tanah/lahan kawasan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (87,52%). Capaian proyek diantaranya adalah pembebasan tanah untuk di kabupaten/kota di Aceh, rendahnya persentase atas dana yang tidak terealisir khususnya kegiatan Inventarisasi Penggunaan Lahan dikarenakan tidak adanya kesepakatan harga ganti rugi tanah yang ditawarkan oleh masyarakat dibanding nilai jual objek pajak kepada pemda sehingga proses negosiasinya membutuhkan waktu yang lama. Kemudian tidak adanya kepastian atas hak kepemilikan tanah dikarenakan tidak diketahuinya ahli waris untuk klaim atas tanah tersebut sehingga dana pembebasan tersimpan dan tidak tercairkan oleh Pemda hingga Tahun 2010 berakhir serta di Aceh Selatan terjadi kurang siapnya panitia pengadaan tanah sarana jalan di sebabkan tidak ada koordinasi antara Instansi terkait setempat dalam menetapkan ruas jalan yang akan dibebaskan. Realisasi Anggaran Untuk Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Aceh dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp (82,20%). 296

300 Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) ,20 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,84 2 Belanja langsung ,69 TOTAL ,20 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - masih terbatasnya pegawai yang telah memiliki sertifikat keahlian pengadaan barang/jasa pemerintah sebagai salah satu syarat untuk ditunjuk sebagai unit layanan pengadaan (procurement unit) yang bertugas khusus untuk melaksanakan pemilihan penyedia barang/jasa dilingkungan Pemerintah Aceh (panitia pengadaan) sesuai yang diatur dalam Keppres No.80 tahun 2003 hingga perubahan yang ke 4 (empat); - terbatasnya waktu yang tersedia untuk pelaksanaan tata cara yang harus ditempuh dalam rangka pelaksanaan pengadaan barang/jasa sebagai mana yang diatur dalam ketentuan peraturan yang berlaku; - untuk pelaksanaan kegiatan rakor pembinaan dan evaluasi anggaran kab/kota tidak jadi dilaksanakan, hal ini disebabkan belum ditetapkannya materi rakor oleh Kementerian Dalam Negeri, Materi dimaksud yang akan ditetapkan yaitu terhadap 3 (tiga) Rancangan Permendagri dan 1 (satu) Revisi Permendagri tentang pelaksanaan anggaran dan pengelolaan keuangan daerah, sehingga sampai tahun anggaran berakhir Rakor yang direncanakan tersebut gagal dilaksanakan terkait materi yang akan disajikan tidak ada. Solusi: - merekrut lebih banyak lagi tenaga pengelolaan aset serta dilakukan pengiriman aparatur pengadaan barang untuk mengikuti bimbingan teknis baik di pusat maupun di daerah serta mendorong untuk dilakukan sertifikasi bagi para pejabat pelelangan di Aceh; - sangat diharapkan pula kepada semua pihak supaya dapat proaktif terhadap pemikiran agar tersedianya waktu yang cukup, sehingga apa yang direncanakan berjalan secara maksimal serta dapat tercapainya hasil yang optimal; 297

301 - Perlu adanya kebijakan dan langkah-langkah antisipatif yang dilakukan, mengingat pentingnya kegiatan rakor tersebut dalam rangka menyamakan persepsi terhadap kebijakan keuangan terkait dengan regulasi bidang keuangan pada semua DPKKD kabupaten/kota. Inspektorat Aceh Urusan otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian dan persandian yang dilakukan Pemerintah Aceh dilaksanakan oleh Inspektorat Aceh sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa peralatan dan perlengkapan kantor; d. Penyediaan jasa administrasi keuangan; e. Penyediaan alat tulis kantor; f. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; g. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan; h. Penyediaan makanan dan minuman kantor; i. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengadaan peralatan gedung kantor; b. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor; c. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas operasional; d. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor; e. Pemeliharaan rutin/berkala mebeluer; f. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan kantor; g. Rehabilitasin sedang/berat rumah gedung kantor. 3. Program Pengembangan Kapasitas Kelembagaan dan Aparatur Kegiatan ini berupa bimbingan teknis implementasi peraturan perundangundangan. 4. Program peningkatan sistem pengawasan internal dan pengendalian pelaksanaan kebijakan KDH Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pelaksanaan pengawasan internal secara berkala; b. Penanganan kasus pada wilayah pemerintahan dibawahnya; c. Iventarisasi temuan pengawas; d. Tindak lanjut hasil temuan pengawasan; 298

302 e. koordinasi pengawasan yang lebih komprehensif. B. Realisasi Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor, penyediaan jasa administrasi keuangan, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan, penyediaan makanan dan minuman kantor, rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah. Anggaran yang disediakan untuk program tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (90,31%) dan realisasi fisik 98,82%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Pengadaan peralatan gedung kantor Kegiatan tersebut dipergunakan untuk pembayaran belanja modal pengadaan mesin penghancur kertas sebanyak 2 unit, papan tulis elektronik 1 unit, alat pendingin (AC) sebanyak 6 unit, lemari tempahan 6 pintu 2 unit, lemari tempahan 8 pintu 2 unit, white board 5 unit, note book 6 unit, printer 8 unit, meja tempahan, kursi rapat 14 unit, lcd proyektor dan layar 2 unit, mic link dan perangkat 1 paket, meteran laser 12 unit serta meteran sorong 1 unit untuk kelancaran pelaksanaan tugas administrasi perkantoran dan operasional pemeriksaan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,92%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor Kegiatan tersebut dipergunakan untuk pembayaran pembelian tabung pemadam kebakaran, pemeliharaan gedung kantor (cleaning services), pemeliharaan halaman dan pemeliharaan bangunan gedung selama tahun Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,30%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional Kegiatan tersebut dipergunakan untuk pembayaran Bahan Bakar Minyak (BBM) dan servis kendaraan roda 4 sebanyak 16 unit dan roda 2 sebanyak 6 unit selama tahun Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (68,04%) dan realisasi fisik 68,04%. Realisasi fisik yang rendah disebabkan adanya penghematan penggunaan kendaraan dinas sehingga menghemat BBM, Oli, Suku Cadang dan Service. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor 299

303 Kegiatan tersebut dipergunakan untuk pemeliharaan instalasi air, listrik dan telepon selama tahun Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,24%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala mebeluer Kegiatan tersebut dipergunakan untuk perbaikan lemari, meja, kursi, pintu dan jendela selama tahun Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,76%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan kantor Kegiatan tersebut dipergunakan untuk pembayaran BBM mesin genset, O & M Komputer, AC, Mesin Ketik, LCD Proyektor, Note Book dan Arsip selama tahun Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,19%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan rehabilitasi sedang/berat rumah gedung kantor. Kegiatan tersebut dipergunakan untuk pembayaran rehabilitasi garasi mobil, aula, atap gedung lama, kamar mandi (WC), Gedung Pustaka, Pemasangan Kunci Eleketronik dan Pengecatan Gedung Kantor berikut Perencanaan dan Pengawasannya selama tahun Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,54%) dan realisasi fisik 89,54%. Realisasi tidak mencapai 100% disebabkan salah satu kegiatan yaitu rehabilitasi atap gedung kantor tidak dapat dilaksanakan karena setelah dilakukan pemilihan langsung dan negosiasi dengan rekanan, anggaran yang tersedia tidak mencukupi untuk pelaksanaan pekerjaan tersebut. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur. Kegiatan bimbingan teknis implementasi peraturan perundang-undangan. Kegiatan tersebut dipergunakan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan (Bimbingan Teknis) berdasarkan panggilan dan workshop pengawasan bidang pekerjaan umum di Kuala Lumpur Malaysia untuk 2 (dua) angkatan dengan jumlah peserta sebanyak 30 (tiga puluh) orang. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,58%) dan realisasi fisik 99,92%. 4. Program peningkatan sistem pengawasan internal dan pengendalian pelaksanaan kebijakan KDH Pelaksanaan pengawasan internal secara berkala Kegiatan tersebut dipergunakan untuk membiayai: a. Pemeriksaan reguler pada seluruh Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) berikut pemeriksaan lapangan. b. Pemeriksaan reguler pada 23 kabupaten/kota. 300

304 c. Pemeriksaan dana otonomi khusus pada SKPA. d. Pemeriksaan terhadap Bantuan Keuangan Peumakmue Gampong (BKPG) di kabupaten/kota. e. Pemeriksaan dalam rangka menindaklanjuti temuan pansus DPRA. f. Pemeriksaan penyaluran beasiswa dari Pemerintah Aceh. g. Pembinaan laporan pajak-pajak pribadi (LP2P). Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,71%) dan realisasi fisik 98,34%. Penanganan kasus pada wilayah pemerintahan dibawahnya Kegiatan ini dipergunakan untuk membiayai pemeriksaan terhadap kasuskasus pengaduan masyarakat dan kasus-kasus yang dilimpahkan dari pemerintah pusat baik di provinsi maupun di kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (52,71%) dan realisasi fisik 69,05%. Inventarisasi temuan pengawas Kegiatan ini dipergunakan untuk membiayai: a. Pemutakhiran data tindak lanjut hasil pemeriksaan tingkat daerah. b. Pra Pemutakhiran data tingkat regional dan pemutakhiran data tingkat regional. c. Rapat koordinasi pengawasan daerah tingkat nasional. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (86,57%) dan realisasi fisik 100%. 301

305 Tindaklanjut hasil temuan pengawasan Kegiatan ini dipergunakan untuk membiayai: a. Pelaksanaan tindak lanjut hasil pemeriksaan perwakilan BPK-RI. b. Pelaksanaan tindak lanjut hasil pemeriksaan inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri dan kementerian teknis lainnya. c. Pelaksanaan tindak lanjut hasil pemeriksaan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). d. Pelaksanaan tindak lanjut hasil pemeriksaan Inspektorat Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (85,25%) dan realisasi fisik 92,84%. Koordinasi pengawasan yang lebih konprehensif Kegiatan ini dipergunakan untuk membiayai rapat koordinasi penyusunan program kerja pengawasan tahunan tingkat daerah dan tingkat Nasional. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (68,78%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi Anggaran Untuk Inspektorat Aceh dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp (92,49%) dan realisasi fisik 95,54%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,49 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,22 2 Belanja langsung ,67 TOTAL , ,49 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: Dalam melaksanakan tugas dan fungsi pengawasan pada Pemerintah Aceh, Inspektorat Aceh mengalami kekurangan personel (pegawai) untuk melaksanakan pengawasan. Solusinya: Untuk dapat mencakup semua sasaran pemeriksaan, hendaknya dapat dilakukan penambahan pegawai pada Inspektorat Aceh. 302

306 Kantor Penghubung Pemerintah Aceh Urusan otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian dan persandian yang dilakukan Pemerintah Aceh dilaksanakan oleh Kantor Penghubung Pemerintah Aceh sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kendaraan dinas/operasional; d. Penyediaan jasa kebersihan kantor; e. Penyediaan jasa perbaikan peralatan kerja; f. Penyediaan alat tulis kantor; g. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; h. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan; i. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor; j. Penyediaan peralatan rumah tangga; k. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan; l. Penyediaan makanan dan minuman; m. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke daerah; n. Penyediaan jasa pegawai Non PNS. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan gedung Mess; b. Pemeliharaan rutin/berkala rumah dinas; c. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor; d. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional; e. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor; f. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan kantor. 3. Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan ini berupa pendidikan dan pelatihan formal. 4. Program Peningkatan Pelayanan Kedinasan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Kegiatan ini berupa peningkatan pelayanan/penunjang operasioanal kepala daerah dan wakil kepala daerah. 5. Program Peningkatan Pelayanan Masyarakat di Luar Daerah Kegiatan ini berupa fasilitasi pelayanan masyarakat Aceh di Jakarta dan sekitarnya. 6. Program Pagelaran Seni Budaya Daerah Kegiatan ini berupa pagelaran seni budaya Aceh 303

307 B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kendaraan dinas/operasional, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyediaan jasa perbaikan peralatan kerja, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan, penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor, penyediaan peralatan rumah tangga, penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan, penyediaan makanan dan minuman, rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke daerah dan penyediaan jasa pegawai non PNS. Program tersebut telah dilaksanakan dan merupakan program rutin kantor yang dianggarkan setiap tahun. Anggaran yang disediakan untuk program tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,24%) dan realisasi fisik 100%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Pembangunan gedung mess Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,02%) dan realisasi fisik 99,92%. Pemeliharaan rutin/berkala rumah dinas Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,78%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,91%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,94%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,48%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan kantor Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,31%) dan realisasi fisik 98,00%. 3. Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Pendidikan dan pelatihan formal Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam rangka peningkatan kualitas 304

308 Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan dan pelatihan formal. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,55%) dan realisasi fisik 100%. 4. Program Peningkatan Pelayanan Kedinasan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah Peningkatan pelayanan operasional kepala daerah/wakil kepala daerah Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam rangka meningkatkan pelayanan operasional kepala dan wakil kepala daerah. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,31%) dan realisasi fisik 100%. 5. Program Peningkatan Pelayanan Masyarakat di Luar Daerah Fasilitasi pelayanan masyarakat NAD di Jakarta Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengfasilitasi masyarakat Aceh yang berada di Jakarta. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,55%) dan realisasi fisik 100%. 6. Program Pageralan Seni Budaya Daerah Pagelaran seni budaya daerah Kegiatan tersebut bertujuan untuk mempromosikan seni dan budaya Aceh baik di tingkat nasional maupun internasional. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan tersebut sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,26%) dan realisasi fisik 98,00%. Realisasi Anggaran Kantor Penghubung Pemerintah Aceh dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp (95,21%) dan realisasi fisik 99,89%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,21 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,52 2 Belanja langsung ,20 TOTAL , ,21 305

309 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - Perkiraan biaya yang merupakan keperluan rutin. Biaya-biaya listrik, telepon dan air merupakan biaya rutin yang besarnya tergantung pemakaian sehingga semestinya bisa diperkirakan dengan lebih akurat berdasarkan pemakaian bulan-bulan sebelumnya sehingga biaya yang dianggarkan tidak jauh melampaui kebutuhan sesungguhnya. Namun karena selama ini belum pernah diupayakan untuk membuat tabulasi biaya-biaya tersebut, akibatnya pada tahun anggaran 2010, meskipun sudah dikurangi pada saat penyusunan DPPA, anggarannya masih lebih besar daripada biaya yang diperlukan. Untuk selanjutnya kepada pegawai yang mengurusi rumah tangga Kantor Penghubung akan diminta untuk mentabulasi biaya-biaya tersebut, agar lebih mudah memperkirakan biaya pada bulan-bulan berikutnya. - Kegiatan Asistensi Gubernur Lebih memaksimalkan kegiatan Asistensi Kepala Daerah oleh Tim yang sudah dibentuk, seperti mendampingi kegiatan Kepala Daerah atau Wakil baik itu di dalam daerah maupun ke luar daerah. Dan melakukan rapat-rapat koordinasi tim di Kantor Penghubung Pemerintah Aceh. Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian yang dilakukan Pemerintah Aceh dilaksanakan oleh Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Fasilitas Pindah/Purna Tugas PNS Kegiatan ini berupa pemindahan tugas PNS 2. Program Pembinaan, Pengembangan dan Kesejahteraan PNS Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembinaan disiplin PNS; b. Pemberian penghargaan dan kesejateraan PNS; c. Pelaksanaan DP-3, KGB, cuti, Askes dan Taspen; d. Pelaksanaan BAPERTARUM bagi PNS; e. Rapat koordinasi bidang kepegawaian; f. Pelaksanaan rekruitment dan seleksi calon Praja IPDN; g. Pelaksanaan rekruitment, seleksi dan pengangkatan CPNSD; h. Pelaksanaan ujian dinas; i. Pembinaan KORPRI Pemerintah Aceh; j. Pengelolaan, penataan dosir kepegawaian; k. Pembuatan kartu elektronik PNS. 306

310 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Aparatur Kegiatan ini berupa pendidikan dan pelatihan prajabatan bagi CPNS daerah; 4. Program Pembinaan dan Pengembangan Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penataan sistem administrasi kenaikan pangkat otomatis PNS; b. Proses penanganan kasus-kasus pelanggaran disiplin PNS; c. Pemberian bantuan tugas belajar dan ikatan dinas; d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan; e. Pelaksanaan pendataan pejabat fungsional. B. Realisasi Pelaksanaan Program Dan Kegiatan 1. Program Fasilitas Pindah/Purna Tugas PNS Pemindahan tugas PNS Sasaran yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah tertatanya penempatan pegawai. Proses pemindahan tugas PNS dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan baik mutasi antar kabupaten/kota, antar kabupaten/kota ke provinsi maupun antar provinsi. Rata-rata jumlah berkas mutasi yang masuk sebanyak 220 berkas per bulannya, baik dari tenaga kesehatan, guru dan tenaga administrasi. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,28%) dan realisasi fisik 100%. 2. Program Pembinaan, Pengembangan dan Kesejahteraan PNS Pembinaan disiplin PNS Sasaran dari kegiatan ini adalah meningkatnya pemahaman disiplin PNS di Provinsi Aceh, Kegiatan ini meliputi: (a) sosialisasi dalam rangka pembinaan disiplin dan netralitas PNS sesuai dengan ketentuan PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS beserta JUKNIS; (b) memproses dan mengeluarkan SK Pemberhentian PNS; (c) rekapitulasi absen dari dinas/badan; (d) menghimpun Peraturan Gubernur bidang kepegawaian. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (71,80%) dan realisasi fisik 97%. 307

311 Pemberian penghargaan dan kesejahteraan PNS Pada bulan Juli 2010 telah diberikan bantuan penghargaan SLKS (30, 20, dan 10 tahun) sebanyak 30 orang PNS yang berasal dari dinas/badan/lembaga daerah di lingkungan Pemerintah Aceh. Pada Agustus 2010 dan Januari 2011 telah diberikan bantuan pemulangan pensiun sebanyak 333 orang, dan santunan kematian suami/istri, anak dan orang tua/mertua PNS terhadap 10 orang. Sasaran dari kegiatan ini adanya peningkatan kesejahteraan PNS. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,61%) dan realisasi fisik 99%. Pelaksanaan ujian dinas Pada tanggal 18 April 2010 telah dilakukan ujian dinas dan ujian penyesuaian kenaikan pangkat sebanyak orang, dan dilanjutkan dengan tes wawancara. Sasaran dari kegiatan ini untuk memenuhi persyaratan kenaikan pangkat dan penyesuaian ijazah PNS sehingga akan memperoleh PNS yang berkualitas. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,15%) dan realisasi fisik 100% Rapat koordinasi di bidang kepegawaian Telah dilaksanakan dan tujuan dari kegiatan ini adanya sinkronisasi dalam manajemen kepegawaian dan kediklatan antara pejabat pengelola kepegawaian dan kediklatan kabupaten/kota dan Provinsi Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,17%) dan realisasi fisik 100%. Pelaksanaan rekruitmen, seleksi dan pengangkatan CPNSD Pelaksanaan kegiatan ini sesuai dengan Pengumuman Gubernur Nomor 308

312 Peg. 810/294/2010 tanggal 3 Desember 2010 dengan jumlah pelamar orang. Kegiatan ini dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan PNS daerah yang bermutu sesuai kualifikasi pendidikan yang dibutuhkan dalam mempercepat pelayanan kepada masyarakat. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,87%) dan realisasi fisik 98%. Pelaksanaan rekruitmen dan seleksi calon Praja IPDN Telah dilaksanakan pendaftaran Capra IPDN 2010/2011 di kabupaten/kota. Pelaksanaan kegiatan ini sesuai dengan Surat Mendagri Nomor 892.1/1055/SJ tanggal 22 Maret Sasaran yang ingin dicapai adalah untuk memenuhi kebutuhan tenaga kader pemerintahan yang profesional. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (79,79%) dan realisasi fisik 100%. Pelaksanaan DP-3, KGB, cuti, Askes dan Taspen Sasaran dari kegiatan ini adalah untuk terpenuhinya hak-hak PNS sehingga terselenggaranya pembinaan aparatur. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (81,04%) dan realisasi fisik 90%. Pembinaan KORPRI Pemerintah Aceh Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan integritas, kreativitas dan produktivitas KORPRI Pemerintah Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,01%) dan realisasi fisik 100%. Pelaksanaan Bapertarum bagi PNS Sasaran dari kegiatan ini adalah untuk menyelesaikan administrasi tabungan perumahan PNS sehingga PNS yang memasuki masa pensiun mendapatkan pengembalian dana tabungan melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI). Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,94%) dan realisasi fisik 100%. Pengelolaan, penataan dosir kepegawaian Telah dilakukan penataan berkas arsip kepegawaian kabupaten/kota dan Pemerintah Aceh, konsultasi dan koordinasi serta sinkronisasi mengenai penataan, pengelolaan kepegawaian ke BKN Jakarta, dan BKN Medan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,93%) dan realisasi fisik 100%. Pembuatan Kartu Elektronik PNS Kegiatan ini dilakukan agar tersedianya Kartu Pegawai Negeri Sipil Elektronik (KPE) yang multifungsi dan tuntasnya pergantian NIP. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp 309

313 ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,26%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Pendidikan dan pelatihan prajabatan bagi CPNS daerah Kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pemahaman aparatur dan memenuhi persyaratan untuk diangkat sebagai PNS 100%. Pada tahun 2010 telah dilaksanakan diklat prajabatan gol I, II dan III. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,50%) dan realisasi fisik 100%. 4. Program Pembinaan dan Pengembangan Aparatur Penataan sistem admimistrasi kenaikan pangkat otomatis PNS Kegiatan ini dilaksanakan untuk kenaikan pangkat PNS tepat waktu, penyelesaian SK pensiun, Kartu Istri, Kartu Suami, Kartu Pegawai, nota persetujuan penambahan masa kerja, pencatatan gelar dan SK CPNS menjadi PNS (100%) dan pencatatan gelar bagi PNS. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,89%) dan realisasi fisik 100%. Proses penanganan kasus-kasus pelanggaran disiplin PNS Sasaran kegiatan ini untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran disiplin dan sengketa kepegawaian serta kasus rumah tangga. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,90%) dan realisasi fisik 100%. Pemberian bantuan tugas belajar dan ikatan dinas Kegiatan ini telah dilakukan untuk meningkatkan sumber daya manusia aparatur pemerintah dalam bentuk pemberian tugas belajar dan ikatan dinas. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,18%) dan realisasi fisik 100%. Monitoring, evaluasi dan pelaporan Melalui kegiatan ini telah dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan BKPP Aceh untuk menyusun laporan pelaksanaan kegiatan ataupun laporan kinerja tahun Selain itu juga telah dilakukan monitoring dan evaluasi ke beberapa kabupaten/kota untuk mengetahui manajemen pelaksanaan kediklatan dan manajemen kepegawaian kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,30%) dan realisasi fisik 100%. Pelaksanaan pendataan pejabat fungsional Kegiatan ini telah dilakukan dalam bentuk pembuatan buku rekapitulasi, buku DUK, buku bezetting dan buku statistik pejabat struktural dan 310

314 fungsional kabupaten/kota. Pelaksanaan pendataan pejabat struktural ke 23 kabupaten/kota, selain itu juga dilaksanakan penyelesaian sinkronisasi data pejabat struktural, fungsional dan perbaikan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,97%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi Anggaran Untuk Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp (97,30%) dan realisasi fisik 99,88%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,30 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,40 2 Belanja langsung , ,03 TOTAL , ,30 C. Permasalahan dan Solusi - Adanya pemangkasan jumlah pagu anggaran tahun 2010 menyebabkan pelaksanaan beberapa program dan kegiatan tidak optimal seperti : ketersediaan anggaran untuk diklat teknis fungsional belum sesuai untuk peningkatan kapasitas sumberdaya aparatur. sosialisasi dalam rangka pembinaan disiplin dan netralitas PNS sesuai dengan ketentuan PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS belum sepenuhnya dapat dilaksanakan. pemberian bantuan SLKS, bantuan pensiun, dan santunan kematian suami/istri, anak dan orang tua/mertua PNS masih sangat terbatas. pendidikan dan pelatihan prajabatan CPNS daerah hanya bisa dilaksanakan 3 angkatan. Diklat Kepemimpinan Tingkat III, dan IV pada tahun 2010 tidak dilaksanakan karena keterbatasan anggaran. pemberian tugas belajar bagi PNS Pemerintah Aceh pada tahun 2010 untuk peningkatkan sumber daya aparatur tidak dilaksanakan karena keterbatasan anggaran. - Masih banyak kegiatan kediklatan yang diselenggarakan oleh SKPA 311

315 tanpa mengkoordinasikannya dengan BKPP dan pelaksanaannya diberi label yang sangat bervariasi, seperti sosialisasi, orientasi, bimbingan teknis, workshop, dan lain-lain yang pada dasarnya kegiatan tersebut merupakan metode pembelajaran yang menjadi bagian penting dalam pelaksanaan pendidikan dan pelatihan aparatur. - Adanya keterlambatan dalam proses penyelesaian di BKN Pusat sehingga SK pangkat dan golongan IV/c ke atas diterima tidak tepat waktu. Solusi - Diperlukan penambahan anggaran di tahun mendatang agar segala kegiatan yang menjadi tugas pokok Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Aceh dapat berjalan secara optimal. - Perlu segera diselesaikan penyusanan instrumen pedoman, norma dan standar penyelenggaraan kediklatan. - Meningkatkan koordinasi antar intansi yang terkait dengan anggaran sehingga penetapan pagu anggaran untuk tahun selanjutnya dapat diusahakan sesuai dengan kebutuhan dan volume kegiatan. - Meningkatkan kordinasi dengan BKN Pusat sehingga penyelesaian SK pangkat untuk tahun selanjutnya dapat tepat waktu. - Sisa anggaran menjadi silpa. Dinas Syariat Islam Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian yang dilakukan Pemerintah Aceh dilaksanakan oleh Dinas Syariat Islam Aceh sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan alat tulis kantor; d. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; e. Penyediaan komponen instalasi listrik/ penerangan bangunan kantor; f. Penyediaan makanan dan minuman pegawai; g. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi keluar daerah; h. Penyediaan jasa dokumenter kantor; i. Penyediaan jasa hari-hari besar; j. Peningkatan pelayanan administrasi perkantoran; k. Penyediaan jasa pegawai non-pns. 312

316 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Program ini berupa kegiatan penyediaan perlengkapan gedung kantor, pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor, pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional, pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor, serta penunjang dan pembinaan kelembagaan. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Program ini berupa kegiatan pendidikan dan pelatihan formal untuk peningkatan sumberdaya aparatur. 4. Program Penataan Peraturan Perundang-undangan Kegiatan penyusunan rancangan naskah akademik dan draf rancangan peraturan perundang-undangan. 5. Program Pengembangan dan Pemberdayaan Peradilan Syariah Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penunjang sarana dan prasarana operasional Mahkamah Syar iyah. b. Penyuluhan Qanun-Qanun bidang Syariat Islam. 6. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Peribadatan Kegiatan pengadaan sarana prasarana peribadatan. 7. Program Pembinaan Syariat Islam Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan pemasyarakatan dan penyebaran informasi Syariat Islam. b. Pembinaan dan koordinasi Da i wilayah perbatasan dan daerah terpencil. c. Pelatihan peningkatan kapasitas imuem meunasah dalam pelaksanaan Syariat Islam. d. Pelatihan peningkatan kapasitas Imuem mesjid dalam pelaksanaan Syariat Islam. e. Pembinan dan pembekalan petugas tajhiz mayat. 8. Program Pembinaan Sosial Keagamaan : Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan penentuan hisab dan rukyat. b. Bimbingan tehnis tenaga pelatih hakim Tilawatil Qur-an c. Pembinaan LPPTKA dan pelatihan tutor TKA,TPA dan TQA. d. Pengembangan sarana prasarana TPA/bale seumeubeut. B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Pelaksanaan program tersebut terdiri dari kegiatan penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, penyediaan makanan dan minuman, pegawai rapat-rapat koordinasi dan 313

317 konsultasi keluar daerah, penyediaan jasa dokumenter kantor, penyediaan jasa hari-hari besar, peningkatan pelayanan administrasi perkantoran, dan penyediaan jasa pegawai non-pns. Anggaran yang dialokasikan untuk program ini sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (90,97%) dan realisasi fisik 100%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kegiatan penyediaan peralatan/perlengkapan gedung kantor meliputi pengadaan papan visual elektronik (papan running text), meubeleur, komputer dan notebook serta printer A3 dan lain-lain. Kegiatan pembangunan mushalla tahap-ii (lanjutan) di komplek keistimewaan Aceh, pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor, pemeliharaan rutin/berkala kenderaan dinas/operasional, pemeliharan rutin/berkala peralatan gedung kantor, penunjang dan pembinaan kelembagaan, bertujuan tersedianya sarana/prasarana kerja yang memadai, terpeliharanya inventaris dan asset negara dengan baik yang berdaya guna dan terbinanya lembaga penunjang tugas, yang berdampak kepada meningkatnya kinerja aparatur. Anggaran yang dialokasikan untuk program ini sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,25%) dan realisasi fisik 100 % sesuai dengan rencana. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan ini berupa pendidikan dan pelatihan formal untuk peningkatan kualitas sumber daya aparatur yang berpotensi untuk pengembangan karier. Anggaran yang disediakan sejumlah Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (51,36%) dan realisasi fisik 100%. 4. Program Penataan Peraturan Perundang-undangan Program ini berupa kegiatan penyusunan dan penulisan naskah akademik, penyusunan dan penulisan Draf Rancangan Qanun Nikah Liar (Nikah Siri) dan peraturan Perundang-undangan lainnya. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,40%) dan realisasi fisik 100%. 5. Program Pengembangan dan Pemberdayaan Peradilan Syariah Program ini merupakan program penunjang kegiatan Mahkamah Syar iyah sebagai peradilan khusus pelaksanaan Syari at Islam di Aceh, sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006, dapat dialokasikan anggaran melalui APBA/APBK memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana operasional, namun yang dialokasikan sejauh tidak dialokasikan atau tidak cukup dialokasikan oleh Mahkamah Agung. Anggaran yang dialokasikan dari APBA, membiayai kegiatan sosialisasi Qanun-Qanun Syari at Islam, pelaksanaan eksekusi terhadap putusan Mahkamah Syar iyah yang terkait dengan Qanun Syariat Islam dan pemberian tunjangan kepada Panitera Muda bidang Jinayat (Panitera Muda Khusus), rapat koordinasi teknis yudisial Qanun-qanun Syari at Islam. Anggaran yang dialokasikan untuk 314

318 kegiatan ini sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (81,28%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan penyuluhan Qanun bidang Syariat Islam untuk memberikan pemahaman tentang Qanun-Qanun Syariat Islam yang diberlakukan di Aceh bagi PNS, pegawai BUMN/BUMD, pegawai swasta 200 orang peserta, kegiatan sosialisasi bagi perangkat desa 400 orang peserta dan bagi siswa/i 120 orang peserta di Kabupaten Aceh Timur. Anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan ini sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,96%) dan realisasi fisik 100%. 6. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Peribadatan Program ini bertujuan untuk penyediaan sarana dan prasarana peribadatan bagi masyarakat, sehingga diharapkan pelaksanaan ibadah, nyaman dan khusu. Program ini meliputi: Kegiatan pengadaan buku perpustakaan mesjid dalam Kota Banda Aceh. Kegiatan pengadaan wireless dan pengeras suara untuk mesjid dan musalla, pengadaan sajadah gulung untuk Kabupaten Nagan Raya. Kegiatan pengadaan genset, pengadaan sajadah gulung, pengadaan wireless dan pengeras suara untuk mesjid dan mushalla, pengadaan Al-Qur an, dalail khairat dan pengadaan komputer lengkap untuk Kabupaten Aceh Timur. Kegiatan pengadaan sajadah gulung untuk Kabupaten Aceh Jaya. Kegiatan pengadaan lemari perpustakaan mesjid dalam Kabupaten Aceh Tenggara. Kegiatan pengadaan kitab yasin, pengadaan kitab Juz Amma, pengadaan buku pedoman shalat lengkap, pengadaan kitab tanwirul anwar. Pemberangkatan 2 (dua) orang petugas haji dari Pemda Aceh ke Arab Saudi dalam rangka membantu tugas Nadzir Waqaf Baitul Asyi. Anggaran yang dialokasikan untuk program ini Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (88,10%) dan realisasi fisik 100%. 7. Program Pembinaan Syariat Islam Program pembinaan Syari at Islam dilaksanakan bertujuan memberikan pemahaman tentang Syariat Islam secara kaffah kepada masyarakat, membekali pengetahuan tentang pelaksanaan Fardhu kifayah dan penyelenggaraan urusun tajhiz mayat bagi masyarakat di daerah melalui: Kegiatan pemasyarakatan dan penyebaran informasi Syariat Islam melalui pembuatan/pemasangan baliho di Surien Kecamatan Meuraxa Kota Banda Aceh. Kegiatan dialog interaktif melalui Radio Republik Indonesi (RRI), televisi dan iklan layanan masyarakat, cetak kalender dan Imsakiyah Ramadhan1431 H, pameran pembangunan Aceh Expo 2010 di bumi 315

319 perkemahan Seulawah Scout Camp. Kegiatan pelatihan peningkatan kapasitas Imuem Meunasah tentang pelaksanaan Syariat Islam, musabaqah penghayatan, pengamalan syariat Islam (MP2SI) Tingkat SD/MI, SMP/MTs dan pelatihan imam, bilal dan khadam mesjid dalam Kabupaten Aceh Timur. Kegiatan Pelatihan Imam dan Bilal serta khadam masjid dalam Kabupaten Bener Meriah, pembinaan dan pengembangan remaja Mesjid di Kabupaten Aceh Selatan dan Kabupaten Bener Meriah. Kegiatan-kegiatan ini dialokasikan anggaran Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,02%) dan realisasi fisik 100 %. Kegiatan pembinaan dan koordinasi operasional Da i wilayah perbatasan dan daerah terpencil di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Singkil, Simeulu, Aceh Selatan dan Kota Subulussalam, bertujuan untuk memberikan pembinaan dan bimbingan agama dalam rangka ketahanan Aqidah dan meningkatkan pengetahuan agama Islam bagi masyarakat diwilayah perbatasan dan daerah terpencil dengan kegiatan pembayaran honorarium, sewa rumah, biaya kesehatan, biaya operasional, biaya asuransi jiwa, pemeliharaan alat transportasi untuk Da i dan lanjutan pembangunan mesjid di perbatasan Kota Subulussalam dengan Kabupaten Pak-Pak Barat Sumatera Utara. Anggaran yang dialokasi sebesar Rp , realisasi keuangan Rp ,- (94,30%) dan realisasi fisik 100%. 8. Program Pembinaan Sosial Keagamaan Kegiatan Badan Badan Hisab dan Rukyat (BHR) untuk penyelenggaraan sidang Itsbat rukyat dan hisab, untuk menetapkan awal bulan Ramadhan, awal bulan Syawal dan 10 Zulhijjah. Penetapan arah kiblat mesjid dan musalla dalam Provinsi Aceh. Tujuan agar umat Islam dapat melaksanakan ibadah tepat waktu dan tepat arah kiblat dalam pelaksanaan ibadah shalat. 316

320 Kegiatan pelatihan tutor TKA, TPA dan TQA Pelatihan metode Iqra bagi Guru TPA dalam Kabupaten Aceh Jaya, pelatihan guru TPA dalam Kabupaten Bener Meriah, pembinaan lembaga pembinaan dan pengembangan taman kanak-kanak Al-Qur an (LPPTKA) dalam Kabupaten Bener Meriah, pembinaan/pelatihan taman pengajian Al-Quran (TPA) dalam Kabupaten Aceh Tenggara, pengadaan buku TPA untuk Kabupaten Bener Meriah. Kegiatan ini bertujuan penguatan kompetensi lembaga sosial keagamaan dalam perannya memberikan pendidikan dasar-dasar ilmu Al Qur an kepada anak-anak, sebagai modal dasar untuk memahami Syari at Islam. Untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan ini dialokasikan anggaran Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (82,79%) dan realisasi fisik 100 %. Realisasi Anggaran Dinas Syariat Islam, dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (90,88%) dan realisasi fisik 90,89%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,88 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung , ,94 2 Belanja langsung , ,44 TOTAL , ,88 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - penempatan Da i diwilayah perbatasan dan daerah terpencil yang berfungsi sebagai pembina/pembimbing umat Islam dari segi jumlah belum terpenuhi harapan masyarakat; - pemahaman tentang Syari at Islam masih sebatas sanksi terhadap pelanggaran, sedangkan pemahaman tentang tanggung jawab secara berjenjang dalam pelaksanaa pembinaan, bimbingan dan pengawasan Syari at Islam belum memadai dipahami oleh aparatur pemerintahan, terutama di Gampong dan Kecamatan. Solusi: 317

321 - diupayakan untuk penambahan jumlah tenaga Da i di wilayah perbatasan dan daerah terpencil secara bertahap; - sosialisasi pemahaman tentang pelaksanaan Syari at Islam frekuensinya akan ditingkatkan dengan sasaran utama adalah Gampong. Sekretariat Majelis Permusyawaratan Ulama Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian yang dilakukan Pemerintah Aceh dilaksanakan oleh sekretariat Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa peralatan dan perlengkapan kantor; d. Penyediaan jasa kebersihan kantor; e. Penyediaan alat tulis kantor; f. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; g. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan; h. Penyediaan makanan dan minuman; i. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah; j. Penyediaan jasa pegawai non PNS. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pemeliharaan berkala/rutin gedung kantor; b. Pemeliharaan berkala/rutin kenderaan dinas/operasional. 3. Program Peningkatan Sumber Daya dan Peran Ulama Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pelaksanaan rapat-rapat badan otonomi; b. Sidang dewan paripurna ulama; c. Pengkaderan ulama, lokakarya, ulama dan umara serta sarasehan; d. Rapat koordinasi daerah; e. Muzakarah masalah keagamaan; B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Program tersebut dilaksanakan dengan Kegiatan penyediaan jasa surat perlengkapan kantor, jasa kebersihan kantor, alat tulis kantor, barang cetakan dan penggandaan, bahan bacaan dan peraturan perundangundangan, makanan dan minuman, rapat-rapat kordinasi dan konsultasi ke luar daerah dan jasa non Pegawai Negeri Sipil (PNS). 318

322 Anggaran yang dialokasikan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (82,51%) dan realisasi fisik 100%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Pemeliharaan berkala/rutin gedung kantor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pemeliharaan alat listrik dan elektronik, instalasi listrik, service peralatan dan perlengkapan kantor, rehabilitasi dan perbaikan gedung kantor. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,39%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan berkala/rutin kenderaan dinas/operasional Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pemeliharaan rutin kenderaan dinas/operasional kantor. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,95%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Sumber Daya dan Peran Ulama Program ini dilaksanakan dalam bentuk kegiatan rapat kerja membahas permasalahan yang menjadi beban tugas 3 (tiga) badan otonom MPU yaitu LP-POM, badan kajian hukum dan muamalat, maupun rapat Panitia Musyawarah (Panmus) untuk menghasilkan fatwa ulama. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (34,48%) dan realisasi fisik 54,55%. Rendahnya realisasi diakibatkan oleh terbatasnya waktu untuk melaksanakan rapat, sehingga yang direncanakan 22 (dua puluh dua ) kali rapat yang terlaksana hanya 12 (dua belas kali). Kegiatan sidang Dewan Paripurna Ulama (DPU) dilaksanakan dalam bentuk rapat/sidang rutin pengurus MPU setiap 2 (dua) bulan sekali untuk membahas masalah keagamaan yang berkembang dalam masyarakat untuk mendapat kejelasan hukum baik fatwa syar i, taushiyah maupun himbauan/saran kepada masayarakat serta kepada instansi pemerintah sebagai bahan perimbangan dalam menetapkan arah kebijakan daerah dibidang pemerintahan, pembangunan, pembinaan masyarakat dan ekonomi. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (78,29%) dan realisasi fisik 100%. Pengkaderan ulama dilaksanakan melalui kegiatan, lokakarya/sarasehan ulama dan umara, pendidikan dan pelatihan 40 orang tokoh agama kabupaten/kota selama 25 hari. Tujuan diklat ini adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dapat memahami dan mendalami ajaran Islam dari sumber aslinya yaitu Al-Qur an dan As- Sunnah serta sumber-sumber lainnya yang mu tabarah. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (80,82%) dan realisasi fisik 100%. 319

323 Rapat koordinasi daerah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan rapat koordinasi MPU/MUI Provinsi Wilayah I se-sumatera dan MPU kabupaten/kota se-aceh. Tujuan kegiatan rakor ini adalah untuk membahas revitalisasi organisasi MPU/MUI provinsi wilayah I se- Sumatera dan program kerja prioritas serta taushiyah/rekomendasi dan penyelesaian permasalahan keagamaan dan kendala-kendala MPU yang berkembang dalam masyarakat di kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,87) dan realisasi fisik 100%. Muzakarah ulama masalah keagamaan dilaksanakan dalam bentuk kegiatan bimbingan teknis bagi 40 orang peserta tokoh masyarakat dan ulama dari kabupaten/kota. Tujuan bimtek ini adalah untuk membahas dan mengkaji permasalahan keagamaan yang bersifat kontemporer sebagai wahana dalam peningkatan wawasan keilmuan para ulama dalam bidang syari at Islam. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (72,71%) dan realisasi fisik 100 %. Realisasi Anggaran Untuk Sekretariat Majelis Permusyawaratan Ulama dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan keseluruhan anggaran sebesar Rp (78,10%) dan realisasi fisik 96,78%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: 320

324 No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,10 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,70 2 Belanja langsung ,64 TOTAL , ,10 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: Terbatasnya waktu para anggota badan otonom melaksanakan rapat karena para anggota badan otonom tersebut yang berasal dari organisasi teknis lain (dari luar MPU) dan sesuai Qanun Nomor 2 Tahun 2009 badan otonom MPU berada dan bertanggung jawab langsung kepada ketua MPU. Solusi: Diharapkan adanya rekonsiliasi struktur badan otonom MPU untuk dijadikan sebagai unit pelaksana teknis sekretariat MPU sehingga kepengurusan badan otonom tersebut permanen serta berada dan bertanggung jawab kepada sekretaris MPU. Baitul Mal Aceh Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian yang dilakukan Pemerintah Aceh dilaksanakan oleh Baitul Maal Aceh sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kendaraan dinas/operasional; d. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; e. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; f. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor; g. Penyediaan makanan dan minuman; h. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah; i. Peningkatan pelayanan administrasi perkantoran. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kegiatan ini berupa pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor. 321

325 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan ini berupa pendidikan dan pelatihan formal. 4. Program Pembinaan Syariat Islam Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan sarana dan prasarana pendukung Baitul Mal; b. Sosialisasi kesadaran zakat; c. Penyaluran Zakat, Infaq dan Shadaqah (ZIS). 5. Program Pembinaan Lembaga Sosial Keagamaan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Bimtek Baitul Mal; b. Rapat kerja Baitul Mal. B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kendaraan dinas/operasional, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor, penyediaan makanan dan minuman, rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah dan peningkatan pelayanan administrasi perkantoran, program ini merupakan program rutin yang setiap tahun dianggarkan. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,43%) dan realisasi fisik 100%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor, dilaksanakan dalam bentuk belanja jasa kantor, pemeliharaan/perawatan peralatan/perlengkapan kantor dan belanja jasa cleaning service. Melalui kegiatan ini telah terpenuhi pemeliharaan sarana dan prasarana dalam rangka peningkatan daya guna sarana dan prasarana aparatur. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- atau (99,12%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan pendidikan dan pelatihan formal, dilakukan dalam bentuk pengiriman staf untuk mengikuti pelatihan dan seminar tentang pengelolaan zakat dan harta agama lainnya di Aceh maupun luar Aceh. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,12%) dan realisasi fisik 100%. 4. Program Pembinaan Syariat Islam Kegiatan penyediaan sarana dan prasarana pendukung Baitul Mal Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk belanja modal dan jasa akuntan publik. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- 322

326 realisasi keuangan Rp ,- (82,60%). Kegiatan sosialisasi kesadaran zakat Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan penyuluhan dan pameran kepada para wajib zakat baik yang berasal dari kalangan umum maupun dari pengusaha di Provinsi Aceh. Kegiatan ini diharapkan tumbuhnya pemahaman serta kesadaran masyarakat tentang kewajiban dan fungsi zakat dalam mensejahterakan umat dan meningkatnya ekonomi penerima zakat sebagai mustahiq. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (88,50%) dan realisasi fisik 100 %. Kegiatan penyaluran Zakat, Infaq dan Shadaqah (ZIS) Jumlah zakat yang telah disalurkan sampai akhir Desember 2010 sesuai dengan haul, tahun berkenaan sebesar Rp ,- dengan realisasi keuangan Rp ,- (100%). 5. Program Pembinaan Lembaga Sosial Keagamaan Kegiatan Bimtek Baitul Mal Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk bimbingan teknis Baitul Mal sehingga melalui kegiatan ini meningkatkan kinerja karyawan Amil Baitul Mal. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (86, 52%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan rapat kerja Baitul Mal Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk rapat kerja Baitul Maal, sehingga melalui kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja petugas Baitul Maal Provinsi dan kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (80, 92%) dan realisasi fisik 100 %. Realisasi Anggaran Baitul Maal Aceh, dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi sebesar Rp ,- (91,01%) dan realisasi fisik 100%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Realisasi Pagu Anggaran Fisik Keuangan (Rp) % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) SKPA sebesar , ,09 1 Belanja tidak langsung , ,77 2 Belanja langsung , ,30 TOTAL , ,09 323

327 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - Tidak terealisasi anggaran sebagaimana yang diharapkan karena Sekretariat Baitul Mal merupakan SKPA baru, tenaga PNS yang ada merupakan pindahan dari SKPA lain yang sebagian besar hak-hak kepegawaian dan kesejahteraannya masih dibayarkan di SKPA sebelumnya sehingga berakibat terjadinya sisa belanja pegawai yang dialokasikan pada Sekretariat Baitul Mal. Solusi: - Memerintahkan kepada SKPA, asal PNS yang dipindahkan ke Baitul Mal untuk menghentikan segala pembayaran yang menjadi hak PNS yang bersangkutan dan segera mengeluarkan Surat Keputusan Penghentian Pembayaran (SKPP) serta dilakukan pembayaran oleh Sekretariat Baitul Mal Aceh. Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian yang dilakukan Pemerintah Aceh dilaksanakan oleh Komisi Independen Pemilihan berikut: (KIP) Aceh sebagai A. Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air & listrik; c. Penyediaan jasa administrasi keuangan; d. Penyediaan jasa kebersihan kantor; e. Penyediaan alat tulis kantor; f. Penyediaan cetak dan penggandaan; g. Penyediaan komponen instalasi listrik; h. Penyediaan bahan bacaan & peraturan perundangan-undangan; i. Penyediaan makanan dan minuman; j. Rapat-rapat koordinasi & konsultasi keluar daerah. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan gedung kantor; b. Pengadaan peralatan gedung kantor; c. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional; d. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor; e. Penunjang dan pembinaan kelembagaan. 324

328 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan ini berupa pendidikan dan pelatihan formal. B. Realisasi Pelaksanaan Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah Penyediaan jasa surat menyurat; Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air & listrik; Penyediaan jasa administrasi keuangan; Penyediaan jasa kebersihan kantor; Penyediaan Alat Tulis Kantor; Penyediaan cetak dan penggandaan; Penyediaan komponen instalasi listrik; Penyediaan bahan bacaan & peraturan perundangan-undangan; Penyediaan makanan dan minuman; serta Rapat-rapat koordinasi & konsultasi keluar daerah. Program dan kegiatan ini merupakan program dan kegiatan rutin kantor. Anggaran yang disediakan untuk pelaksanaan program dan kegiatan diatas Rp ,- realisasi Rp ,- atau 93,65%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Terdiri dari kegiatan: pembangunan gedung kantor; pengadaan peralatan gedung kantor; pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/ operasional; pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor; penunjang dan pembinaan kelembagaan. Anggaran yang disediakan untuk pelaksanaan program dan kegiatan diatas Rp ,- realisasi Rp ,- atau 95,20%. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan berupa pendidikan dan pelatihan formal, anggaran yang disediakan untuk pelaksanaan program dan kegiatan diatas Rp ,- realisasi Rp ,- atau 97,26%. Realisasi Anggaran Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh, dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi sebesar Rp ,- (95,60%). Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini. No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) ,60 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,81 2 Belanja langsung ,07 TOTAL ,60 325

329 C. Permasalahan dan Solusi Untuk tahun 2010 tidak ada permasalahan yang dihadapi oleh Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh. 21. URUSAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA Urusan pemberdayaan masyarakat desa yang dilaksanakan oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan penyediaan jasa surat menyurat; b. Kegiatan penyediaan jasa komunikasi; sumber daya air dan listrik; c. Kegiatan penyediaan jasa administrasi keuangan; d. Kegiatan penyediaan jasa kebersihan kantor; e. Kegiatan penyediaan jasa perbaikan peralatan kerja; f. Kegiatan penyediaan alat tulis kantor; g. Kegiatan penyediaan barang cetakan dan penggandaan; h. Kegiatan penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; i. Kegiatan penyediaan peralatan rumah tangga; j. Kegiatan penyediaan makanan dan minuman; dan k. Kegiatan rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah. 2. Program Peningkatan Sarana Dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan pembangunan gedung kantor; b. Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala kenderaan dinas/operasional. 3. Program Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Perdesaan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan koordinasi pengembangan dan pemanfaatan Teknologi Tepat Guna (TTG); b. Kegiatan pemberdayaan masyarakat pesisir melalui pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA); c. Kegiatan pembinaan dan perencanaan program pemberdayaan masyarakat; d. Kegiatan pembinaan sosial budaya masyarakat dan pemberdayaan kesejahteraan keluarga; e. Kegiatan operasional dan pelaksanaan teknis penyediaan Alokasi Dana Gampong (ADG); f. Kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program mandiri terpadu. 326

330 4. Program Pengembangan Lembaga Ekonomi Pedesaan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan pembinaan dan pengembangan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP); b. Kegiatan pelatihan manajemen pemerintahan desa; c. Kegiatan pemberdayaan ekonomi keluarga dan masyarakat miskin; d. Kegiatan Pengembangan Ekonomi Masyarakat Kemukiman (PEMK); e. Kegiatan pembinaan unit pengaduan masyarakat dan pemantauan PKBS-BBM. 5. Program Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Membangun Desa Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan peningkatan partisipasi masyarakat, pengembangan kelembagaan dan SDM Gampong/Kelurahan; b. Kegiatan peningkatan kapasitas pemerintah mukim dan gampong/kelurahan. 6. Program Penanggulangan Kemiskinan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan perencanaan dan pemberdayaan khusus pemukiman baru masyarakat tertinggal; b. Kegiatan pemberdayaan usaha ekonomi produktif gampong. B. Realisasi Pelaksanaan Program Dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah kegiatan penyediaan jasa surat menyurat, kegiatan penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, kegiatan penyediaan jasa administrasi keuangan, kegiatan penyediaan jasa kebersihan kantor, kegiatan penyediaan jasa perbaikan peralatan kerja, kegiatan penyediaan alat-alat tulis kantor, kegiatan penyediaan barang cetakan dan penggandaan, kegiatan penyediaan peralatan rumah tangga, kegiatan penyediaan makanan dan minuman dan kegiatan rapat-rapat koordinasi dan konsultansi ke luar daerah. Kegiatan di atas merupakan kegiatan rutin kantor dan telah dilaksanakan. Anggaran yang tersedia sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (91,51%) dan realisasi fisik 100%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kegiatan pembangunan gedung kantor Dalam rangka meningkatkan produktifitas, motivasi dan kenyamanan kerja pegawai dan perangkat kerja yang memadai, sehingga kinerja/hasil kerja dapat maksimal. Hasil kegiatan yang dilaksanakan adalah pembangunan gedung UPTB pelatihan masyarakat dan desa tahap I, serta pembangunan pagar kantor 327

331 BPM Aceh. Anggaran yang tersedia sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,26%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala kenderaan dinas/operasional Untuk kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi serta tugas operasional lainnya bagi pejabat struktural dan non struktural, maka dibutuhkan sarana dan prasarana yang memadai, salah satunya dengan kelancaran kendaraan dinas operasional roda 4 dan roda 2, yaitu O & M untuk 9 unit kendaraan dinas roda 4, dan O & M untuk 9 unit kendaraan dinas roda 2. Anggaran yang tersedia sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (92,98%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Perdesaan Kegiatan koordinasi pengembangan dan pemanfaatan Teknologi Tepat Guna (TTG) Kegiatan ini telah dilaksanakan dalam bentuk: - Gelar TTG tingkat nasional XII Gelar TTG ini bertujuan untuk membangun kesamaan pemahaman di kalangan lintas pelaku tentang pentingnya pemberdayaan masyarakat dalam rangka pemanfaatan TTG, sebagai media pertukaran informasi dan pengalaman antar pelaku dalam penerapan dan pengembangan TTG, menumbuhkembangkan kemitraan antar pelaku dalam penerapan dan pengembangan TTG di masa mendatang, juga untuk menambah pengetahuan dan wawasan masyarakat tentang perkembangan dan kemajuan teknologi serta manfaatnya bagi masyarakat. Telah mengikuti gelar TTG tingkat nasional diselenggarakan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta diikuti 33 provinsi di buka secara resmi oleh Menteri Koordinasi Perekonomian Hatta Rajasa dan hasilnya adalah Provinsi Aceh terpilih sebagai juara I tingkat nasional dengan nilai dan memperoleh piala dari Presiden berikut Piagam dan uang pembinaan Rp 16 juta dari Menteri Dalam Negeri, diikuti perolehan juara II dari Provinsi Jawa Timur dengan nilai 1.476, juara III dari Yogyakarta dengan nilai 1.475, juara harapan I dari Provinsi Jawa Tengah dengan nilai Pelatihan Pengelolaan Pos Pelayanan Teknologi Perdesaan (POSYANTEKDES) se-aceh I Tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas dan motivasi pengurus pos pelayanan teknologi perdesaan, meningkatkan pemahaman peserta tentang kebijakan pemerintah berkaitan dengan pengembangan dan penguatan pos pelayanan teknologi perdesaan, dan terjadinya proses tukar menukar informasi dan pengalaman sesama peserta dengan pemakalah dalam mengembangkan pos pelayanan teknologi perdesaan sesuai dengan ketentuan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun

332 tentang Operasionalisasi Pos Pelayanan Teknologi Desa (Posyantekdes). Hasil kegiatan ini telah dilaksanakan pelatihan kepada 30 orang peserta pengurus pos pelayanan teknologi perdesaan yang terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, dan seksi pengembangan TTG, dengan rincian 6 (enam) orang per kabupaten/kota; 1). Kecamatan Kuta Malaka Kabupaten Aceh Besar, 2). Kecamatan Samadua Kabupaten Aceh Selatan, 3). Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara, 4). Kecamatan Kota Juang Kabupaten Bireun, 5). Kecamatan Langsa Lama Kota langsa. - Lomba inovasi alat teknologi tepat guna (TTG) terbarukan Se-Aceh II Tujuan dilaksanakannya kegiatan ini mempercepat pemulihan ekonomi, meningkatkan dan mengembangkan kegitan usaha ekonomi produktif masyarakat, memperluas lapangan kerja dan usaha serta meningkatkan produktifitas dan mutu produksi, menunjang pengembangan wilayah melalui penemuan TTG berbasis potensi daerah menuju keunggulan kompetitif dalam persaingan lokal, regional dan global, serta memasyarakatkan dan menumbuhkan budaya wirausaha sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2010 tentang pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan Teknologi Tepat Guna. Hasil pelaksanaan lomba inovasi alat TTG terbarukan se-aceh II tahun 2010 juara I s/d harapan III yaitu; 1). Juara I, Kabupaten Bireun nama alat pengolah air laut menjadi garam viscos dan air mineral memperoleh piala tetap + plakat + sertifikat + uang pembinaan Rp 25 juta, 2). Juara II, Kota Banda Aceh nama alat rekayasa peralatan distilasi fraksinasi minyak nilam untuk meningkatkan kadar pachouli alkohol skala IKM di industry penyulingan nilam rakyat memperoleh piala tetap + plakat + sertifikat + uang pembinaan Rp ,-, 3). Juara III, Kabupaten Pidie nama alat mesin potong kerupuk serba guna piala tetap + plakat + sertifikat + uang pembinaan Rp ,-, 4). Juara harapan I, Kabupaten Bireun nama alat, alat tamping darah (ATD) memperoleh piala tetap + plakat + sertifikat + uang pembinaan Rp ,-, 5). Juara harapan II, Kota Banda Aceh nama alat prototype alat ekstraksi minyak kayu manis sistem uap memperoleh piala tetap + plakat + sertifikat + uang pembinaan Rp ,-, dan 5). Juara harapan III, Kabupaten Aceh Singkil nama alat mixer memperoleh piala tetap + plakat + sertifikat + uang pembinaan Rp ,-. - Lomba Pos Pelayanan Teknologi Perdesaan (Posyantekdes) se-aceh I Tujuan dilaksanakannya kegiatan ini untuk meningkatkan motivasi pengurus posyantekdes dalam pengembangan dan pemanfaatan TTG di daerah guna peningkatan kualitas dan kuantitas pengelolaan potensi 329

333 sumber daya alam, mengetahui perkembangan kelembagaan posyantekdes dalam perannya sebagai unit pelayanan teknologi di kecamatan, dan sebagai bahan masukan bagi pengambil kebijakan dan strategi pembinaan dan pengembangan TTG sesuai dengan ketentuan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 1998 tentang operasionalisasi Pos Pelayanan Teknologi Desa (Posyantekdes). Hasil pelaksanaan kegiatan ini yaitu Penetapan pemenang lomba pos pelayanan teknologi perdesaan (posyantekdes) se-aceh I tahun 2010 yaitu: 1). Juara I, Kota Langsa nama ketua Iwan Pratama, SE memperoleh piala tetap + plakat + sertifikat + uang pembinaan Rp 10 juta, 2). Juara II, Kabupaten Aceh Selatan nama ketua Ida Mestika, SP memperoleh piala tetap + plakat + sertifikat + uang pembinaan Rp ,-, 3). Juara III, Kabupaten Aceh Jaya nama ketua Rusli Afriza memperoleh piala tetap + plakat + sertifikat + uang pembinaan Rp ,-, Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,86%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pembinaan dan perencanaan program pemberdayaan masyarakat Kegiatan ini telah dilaksanakan dalam bentuk: - Kajian evaluasi program dan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang telah dilaksanakan pada BPM Aceh. Tujuan dilaksanakan kegiatan ini untuk meningkatkan kualitas dan kinerja program pemberdayaan masyarakat yang diselenggarakan BPM Aceh, memastikan secara spesifik kelemahan program yang bersumber dari pernyataan masyarakat berupa kritik, saran dan rekomendasi demi penyempurnaan program ke depan, meningkatkan program pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan baik dalam skala lokal maupun skala nasional. Hasil kegiatan ini laporan penelitian dan seminar mengenai kajian evaluasi program dan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini dilaksanakan dibeberapa kabupaten/kota di Aceh. Pemilihan lokasi kabupaten/kota sebagai sampel penelitian didasarkan kepada kriteria tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya dengan cara memilah-milah lokasi daerah berdasarkan karakterisitik yang diharapkan (seperti jumlah penduduk miskin, dan terdapatnya program-program yang akan dievaluasi, seperti program BKPG, PEPG, UEG/KSP, dan UEPG kemudian memilih sampelnya secara acak (Cooper, 1998). Populasi dalam penelitian ini adalah semua masyarakat/daerah yang menerima bantuan dari Badan Pemberdayaan Masyarakat Provinsi Aceh dari tahun Pengadaan komputer PC lengkap beserta meja dan kursi untuk 330

334 gampong percontohan. Tujuan dilakukan kegiatan ini untuk penyediaan kantor keuchik dalam rangka meningkatkan kinerja aparatur gampong dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Hasil kegiatan terpenuhinya sarana dan prasarana kantor keuchik pengadaan 100 unit komputer PC lengkap beserta meja dan kursi di kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,29%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pembinaan sosial budaya masyarakat dan pemberdayaan kesejahteraan keluarga Kegiatan ini telah dilaksanakan dalam bentuk: Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) VII dan Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) XVII. - Peringatan BBGRM VII dan HARGANAS XVII tingkat nasional Tujuan kegiatan untuk menambah pengetahuan, wawasan, rasa kebersamaan dalam berbagai bentuk ragam sosial budaya di wilayah Republik Indonesia. Hasil kegiatan terlaksananya pembukaan peringatan BBGRM VII dan HARGANAS XVII tingkat nasional yang diselenggarakan di Palu Provinsi Sulawesi Tengah yang dibuka langsung oleh Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia, dan dihadiri oleh seluruh gubernur, bupati/walikota, ketua tim penggerak PKK dan keluarga berencana 331

335 Aceh (Ibu Darwati A. Gani). Pada kesempatan tersebut wakil presiden menganugerahkan Piagam Manggala Karya Kencana di bidang keluarga berencana kepada Ibu Darwati A. Gani selaku ketua TP-PKK. - Peringatan BBGRM VII dan HARGANAS XVII tingkat Provinsi Aceh Tujuan kegiatan untuk meningkatkan kepedulian dan peran aktif masyarakat berdasarkan semangat kebersamaan, kekeluargaan dan kegotongroyongan menuju pada penguatan integrasi sosial melalui kegiatan-kegiatan gotong-royong dalam pelaksanaan pembangunan serta pemeliharaan hasil-hasil pembangunan. Hasil kegiatan ini terlaksananya peringatan BBGRM VII dan HARGANAS XVII tingkat Provinsi Aceh yang diselenggarakan di Kampung Simpang Kiri, Kecamatan Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang dibuka langsung oleh Gubernur Aceh dihadiri seluruh gubernur, bupati/walikota, ketua tim penggerak PKK provinsi, kepala skpa dan masyarakat Aceh Tamiang. Pada acara tersebut Gubernur Aceh; Meresmikan proyek-proyek PNPM-BKPG tahun 2009 yang telah dikerjakan oleh masyarakat dengan menggunakan dana PNPM- BKPG tahun 2010 Peletakan batu pertama pembangunan kantor datok penghulu Desa Sp. Kiri dan pembangunan perpipaan air bersih yang didanai PNPM-MPd Peninjauan bhakti kesehatan, pelayanan KB, sunnat missal dan pasar murah oleh TP-PKK kabupaten Aceh Tamiang dan kelompok SPP Sedangkan untuk penutupan BBGRM VII dan HARGANAS XVII Tingkat Provinsi Aceh Tahun 2010 dipusatkan di Gampong Pasar Indrapuri, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar dan ditutup oleh Gubernur Aceh, dalam hal ini diwakili oleh Asisten I Setda Aceh. - Pengadaan peralatan gotong-royong untuk mendukung kegiatan BBGRM di tingkat provinsi yang ditempatkan di pos belanja bantuan pada DPKKA. Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS) Tujuan kegiatan memperbaiki asupan gizi peserta didik melalui pemberdayaan masyarakat dalam rangka meningkatkan minat, kemampuan belajar, ketahanan fisik serta prestasi, sehingga menghasilkan Insan cerdas dan kompetitif sesuai dengan Keputusan Gubernur Aceh Nomor 411.2/434/2010 Tanggal 27 Juli 2010 tentang bantuan makanan jajanan program makanan tambahan anak sekolah dan biaya manajemen untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah/Pesantren Se-Aceh Tahun Hasil kegiatan program makanan tambahan anak sekolah (PMT-AS) merupakan salah satu kegiatan dari program penanggulangan kemiskinan telah dilaksanakan dalam bentuk: 332

336 - Rapat kerja PMT-AS tingkat provinsi - Pengadaan peralatan masak - Rakor PMT-AS tingkat nasional. Rapat Koordinasi Daerah Kelompok Kerja Operasional Pos Pelayanan Terpadu (Rakorda Pokjanal Posyandu) Tujuan untuk mengkoordinasikan program-program Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi dalam penguatan Pokjanal Posyandu, mereview pelaksanaan rencana kerja Pokjanal Posyandu di tiap kabupaten/kota dan menjadi ajang untuk saling berbagi pengalaman dalam pelaksanaan peran Pokjanal Posyandu, guna memperbaiki kinerja Pokjanal Posyandu, baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi. Hasil kegiatan ini telah ditetapkan dengan Keputusan Gubernur Aceh Nomor 411.2/433/2010 tanggal 27 Juli 2010 tentang penetapan lokasi dan besaran biaya pengembangan posyandu plus binaan alokasi dana otsus Kabupaten Aceh Tenggara tahun 2010 (untuk 22 gampong di 16 kecamatan). Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Tujuan kegiatan tersebut untuk memberdayakan keluarga dalam meningkatkan kesejahteraannya menuju keluarga yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia dan berbudi luhur, sehat sejahtera, maju dan mandiri, kesetaraan dan keadilan gender serta kesadaran hukum dan lingkungan. Hasil kegiatan ini telah dilaksanakan dalam bentuk bantuan kepada: - Sekretariat Rp ,- - Pokja I pelatihan fasilitator KDRT dan pelatihan fasilitator pola asuh anak dalam keluarga Rp ,- - Pokja II temu kader, manajemen keuangan UP2K dan koperasi serta keaksaraan fungsional Rp ,- - Pokja III lomba masak serba ikan, lomba masak 3 B dan pelatihan pemanfaatan daur ulang untuk handycraf Rp ,- - Pokja IV fasilitator posyandu lansia dan Sistim Informasi Posyandu (SIP) Rp ,- Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,36%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pemberdayaan masyarakat pesisir melalui pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) Kegiatan ini telah dilaksanakan dalam bentuk: - Perencanaan (DED) dan pengawasan pembangunan jambo sira type A, type B, type dan pembangunan bak penampung. Tujuan dilaksanakan perencanaan sesuai dengan kebutuhan dan harapan para petani garam, dan pengawasan sesuai spek/rab yang telah ditentukan oleh perencana dapat dilaksanakan dengan baik dan 333

337 terarah oleh rekanan pelaksana pembangunan jambo sira dan bak penampung. Hasil kegiatan perencanaan dalam pembangunan fisik sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sedangkan pelaksanaan pengawasan pembangunan jambo sira dan bak penampung terhindar dari mark up harga yang dapat mengurangi kualitas bangunan. - Pembangunan jambo sira kepada petani garam Tujuan pembangunan jambo sira ini dimaksudkan sebagai penguatan ekonomi masyarakat miskin di daerah pesisir yang menitikberatkan pada pemanfaatan potensi sumber daya alam, pantai dan pesisir yang berwawasan lingkungan. Hasil kegiatan ini yaitu terbangunnya 110 unit jambo sira type A.B,C dan 165 unit bak penampung, dengan rincian; a). Type A sebanyak jumlah volume 50 unit dengan dana sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- atau 86,66% dan fisik 100%. b). Type B sebanyak jumlah volume 30 unit dengan dana sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- atau 84,93% dan fisik 100%. c). Type C sebanyak jumlah volume 30 unit dengan dana sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- atau 87,25% dan fisik 100%. d). Pembangunan Bak Penampung Air Garam jumlah volume 165 unit dengan dana sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- atau 90,33% dan fisik 100%. - Pelatihan (field training) petani garam Tujuan dilaksanakan pelatihan (field training) petani garam untuk meningkatkan kapasitas dan ketrampilan petani garam di lima kabupaten dalam Provinsi Aceh. Hasil kegiatan ini yaitu terlatihnya 600 orang petani garam dengan rincian peserta pelatihan: a) Kabupaten Pidie Jaya sebanyak 135 orang peserta, b) Kabupaten Pidie sebanyak 65 orang peserta, c) Kabupaten Bireun sebanyak 138 orang peserta, d) Kabupaten Aceh Utara sebanyak 118 orang peserta, e) Kabupaten Aceh Timur sebanyak 80 orang peserta. Kepada masing-masing peserta pelatihan petani garam menerima tambahan modal usaha sebesar Rp ,- yang dititipkan pada DPKKA. - Pelatihan bagi penerima manfaat pengrajin aren Tujuan dilaksanakan pelatihan bagi penerima manfaat pengrajin aren untuk meningkatkan pengatahuan dan ketrampilan pengrajin aren di lima kabupaten dalam Provinsi Aceh. Hasil kegiatan ini yaitu terlatihnya 100 orang pengrajin aren dengan rincian peserta pelatihan: a) Kabupaten Aceh Tamiang sebanyak 20 orang peserta, b) Kabupaten Aceh Tenggara sebanyak 20 orang peserta, c) Kabupaten Gayo Lues sebanyak 20 orang peserta, d) 334

338 Kabupaten Bener Meriah sebanyak 20 orang peserta, e) Kabupaten Aceh Tengah sebanyak 20 orang peserta. Kepada masing-masing peserta pelatihan pengrajin aren menerima tambahan modal usaha sebesar Rp ,- yang dititipkan pada DPKKA. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi Rp atau 89,93% dan fisik 100%. Kegiatan operasional dan pelaksanaan teknis penyediaan Alokasi Dana Gampong (ADG) Kegiatan ini telah dilaksanakan dalam bentuk: - Pelatihan peningkatan kapasitas fasilitator, tujuan kegiatan pelatihan ini untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan Fasilitator Teknik, PJOK dan asisten FK dalam melakukan pendampingan, pelatihan masyarakat, supervise, pelaporan dan penyiapan dalam pencairan dana serta pertanggungjawaban dana BKPG, ADG dan PNPM MPd. Hasil kegiatan ini yaitu terlatihnya Fasilitator Teknik pada tingkat kecamatan 488 orang, dan asisten fasilitator kecamatan dalam Provinsi Aceh orang dan PJOK 276 orang. - Bantuan Keuangan Peumakmue Gampong (BKPG), tujuan BKPG diberikan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat penciptaan lapangan kerja, pemberdayaan ekonomi dan penanggulangan kemiskinan melalui kegiatan pembangunan yang direncanakan, dilaksanakan, diawasi dan dipelihara oleh masyarakat gampong. BKPG ditransfer dari Kas Daerah Aceh langsung kepada 6378 gampong dengan total anggaran sebesar Rp ,- yang terdiri dari APBA murni Rp , 6378 Rp dan APBA-P Rp , 5986 Rp Dana BKPG tahun 2010 telah dimanfaatkan oleh masyarakat secara baik untuk kegiatan pembangunan fisik mencapai Rp non fisik Rp (0,89%) dan modal usaha bagi kelompok perempuan di gampong mencapai Rp (47,14%). Kegiatan sarana dan prasarana dasar dan pemberdayaan ekonomi meliputi: a) air bersih, b) bangunan pelengkap, c) saluran, d) jalan desa, e) jembatan, f) listrik desa, g) MCK, h) pasar desa, i) sarana kesehatan, j) sarana pendidikan, k) tambatan perahu, dan l) simpan pinjam kelompok perempuan (SPP). Dengan adanya BKPG telah tumbuh swadaya dan semangat gotong royong dalam masyarakat untuk membangun gampong secara mandiri sesuai kebutuhan serta berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi di perdesaan. Hasil untuk memberikan motivasi dan semangat kerja para pelaku dan aparatur gampong dalam mengelola BKPG (PNPM-MPd) diberikan penghargaan dan hadiah yaitu terbaik I, II, III, harapan I, II, 335

339 dan III masing-masing Rp ,-, Rp ,-, Rp ,-, Rp ,-, Rp ,-, dan Rp ,-. - Pengadaan perlengkapan lapangan asisten fasilitator (As-FK), Fasilitator Kecamatan (FK) dan Fasilitator Teknik (FT), Tujuan pengadaan perlengkapan untuk meningkatkan kinerja fasilitator dalam melaksanakan tugas dilapangan sehingga program dapat terlaksana secara cepat dan terarah. Hasil tersedianya perlengkapan lapangan meteran 50 m, mantel hujan, sepatu lapangan, topi lapangan, jacket, ransel dan kalkulator sebanyak paket untuk 18 kabupaten - Pengadaan komputer PC lengkap beserta meja dan kursi untuk gampong. sebanyak 14 unit, tujuan dilaksanakan pengadaan adalah untuk terpenuhinya sarana dan prasarana gampong dan meningkatkan motivasi aparatur gampong dalam membangun gampong melalui program BKPG-PNPM MPd. Hasil kegiatan yaitu terpenuhinya 14 unit computer PC lengkap beserta meja dan kursi untuk gampong terbaik dalam mengelola BKPG - Pengadaan rak arsip, Tujuan dilakukan pengadaan rak arsip adalah untuk kebutuhan penyimpan data secara baik dan sistematis. Hasil kegiatan pengadaan tersebut terpenuhinya 1 unit rak arsip. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,73%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program mandiri terpadu Kegiatan ini telah dilaksanakan dalam bentuk: Pelatihan pembangunan ekonomi masyarakat gampong mandiri terpadu, tujuan dilaksanakan kegiatan ini untuk meningkatkan kemampuan kelompok penerima manfaat dibidang usahanya pada aspek perencanaan, pelaksanaan, pengorganisasian, monitoring dan evaluasi serta pengawasan dan pelestarian kegiatan terutama dalam mengembangkan usaha ekonomi secara mandiri, terpadu dan berkelanjutan. Hasil kegiatan ini yaitu terlatihnya fasilitator tingkat kecamatan 39 orang peserta dari 8 kelompok dilokasi gampong yaitu Aceh Utara sebanyak 5 orang, Bireun sebanyak 5 orang, Bener Meriah sebanyak 5 orang, Aceh Timur sebanyak 9 orang, Aceh Tamiang sebanyak 5 orang, Aceh Jaya sebanyak 5 orang, dan Aceh Barat Daya sebanyak 5 orang. Pemberian bantuan modal, tujuannya adalah untuk meningkatkan motivasi penerima manfaat dalam mengembangkan usahanya sehingga dapat membentuk masyarakat gampong yang mandiri dan bermartabat. Hasil kegiatan pemberian bantuan modal yaitu melalui dana APBA sebesar Rp ,- pada 4 lokasi masing-masing menerima bantuan Rp ,- yaitu a) Gampong Kuta Bahagia, Kecamatan Kuala Bate, Kabupaten Abdya, b) Gampong Tuwi Kareung, Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya, c) Gampong Ulee Tanoh, Kecamatan Tanah Pasir, 336

340 Kabupaten Aceh Utara, dan d) Gampong Pulau Harapan, Kecamatan Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen. Melalui dana Otsus dana yang tersedia Rp ,- pada 3 lokasi Gampong Alue Nyamuk, Kecamatan Bireum Bayeun, Kabupaten Aceh Timur, dan Gampong Teupim Mamplam, Kecamatan Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur Rp ; serta alokasi untuk Gampong Tanjong Geulumpang, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang Rp ,-. Melalui dana migas 1 lokasi Gampong Alur Gading, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah sebesar Rp Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (75,32%) dan realisasi fisik 100%. 4. Program Pengembangan Lembaga Ekonomi Pedesaan Kegiatan pembinaan dan pengembangan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP) Tujuan dilaksanakan kegiatan ini untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia dalam melakukan pendampingan masyarakat di lokasi PNPM-MPd. Sehingga dalam pelaksanaan program dilapangan tepat sasaran serta untuk meminimalisir kesalahan mekanisme pelaksanaan program juga untuk pengembangan program selanjutnya. Hasil kegiatan yang telah dilaksanakan: - Sosialisasi dan koordinasi program dan kegiatan dengan Pemda, intansi terkait di kabupaten/kota; - Pelatihan peningkatan kapasitas Fasilitator Teknik (FT) sejumlah 408 orang; - Pelatihan peningkatan kapasitas Fasilitator Kecamatan (FK) sejumlah 337

341 244 orang; - Pembinaan, monitoring, supervisi, evaluasi dan pelaporan. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,16%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pelatihan manajemen pemerintahan desa Tujuan dilakukan kegiatan pelatihan untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) aparatur pemerintahan gampong, sehingga mempunyai kemampuan dan keahlian dibidangnya masing-masing. Hasil Kegiatan pelatihan manajemen pemerintahan desa terhadap 470 orang aparatur pemerintahan gampong di kabupaten/kota dalam Provinsi Aceh. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,46%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pemberdayaan ekonomi keluarga dan masyarakat miskin Tujuan dilaksanakan kegiatan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas pemuda gampong, dan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat miskin di gampong. Hasil kegiatan pelatihan-pelatihan yang dilakukan dalam kegiatan pemberdayaan ekonomi keluarga dan masyarakat miskin adalah: - pelatihan pemberdayaan ekonomi pemuda gampong dan usaha ekonomi gampong simpan pinjam; - pemberian bantuan modal kepada 46 kelompok PEPG dan 23 kelompok UEGS/P. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (80,75%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan Pengembangan Ekonomi Masyarakat Kemukiman (PEMK) Tujuan dilaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi Pengembangan Ekonomi Masyarakat Kemukiman (PEMK) adalah untuk meningkatkan motivasi masyarakat dalam pembangunan di gampong serta untuk mengetahui perkembangan kegiatan dilapangan. Hasil Kegiatan telah dilaksanakan kegiatan pembinaan dan monitoring Program PEMK Tahun Anggaran 2010 untuk 23 kemukiman. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,65%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pembinaan unit pengaduan masyarakat dan pemantauan PKBS- BBM Tujuan kegiatan untuk menampung pengaduan masyarakat terhadap penyalahgunaan penyaluran bahan bakan minyak. Dengan adanya kegiatan ini dapat mengambil langkah-langkah pencegahan dan tindak lanjut terhadap pengaduan masyarakat didalam penyaluran BBM. Hasil kegiatan tidak terlaksana sebagaimana yang dimaksud karena: tidak ada 338

342 penetapan dan/atau petunjuk operasional dari PMD pusat, dengan kegiatan yang sama dialihkan ke kegiatan konversi minyak tanah ke gas 3 kg yang dilaksanakan oleh Biro Perekonomian. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp (0%). 5. Program Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Membangun Desa Kegiatan peningkatan partisipasi masyarakat, pengembangan kelembagaan dan SDM gampong/kelurahan Tujuan dilaksanakan kegiatan ini untuk meningkatkan motivasi dan pengembangan diri para Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM) di Gampong. Hasil Kegiatan telah dilaksanakan dalam bentuk pelatihan kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM) dengan jumlah peserta sebanyak 300 orang (10 angkatan) terdiri dari : - pejabat kabupaten/kota sebanyak 24 orang, yaitu sekretaris atau kepala bidang BPM kabupaten/kota; - pejabat kecamatan sebanyak 276 orang, yaitu sekcam atau kasi pemerintahan atau kasi PMD pada kantor camat dalam Provinsi Aceh. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,12%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan peningkatan kapasitas pemerintah mukim dan gampong/ kelurahan Tujuan dilaksanakan kegaitan ini untuk meningkatkan motivasi dan pengembangan diri para Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM) di gampong. Hasil Kegiatan peningkatan kapasitas pemerintah mukim dan gampong/kelurahan telah dilaksanakan dalam bentuk: Pemberian insentif bagi imum mukim sejumlah 767 orang pada 23 kabupaten/kota, setiap Imum Mukim diberikan sebesar Rp ,- per bulan selama 12 bulan, dengan jumlah dana keseluruhannya sebesar Rp ,-. perlombaan gampong tingkat Provinsi Aceh. Tujuan kegiatan ini untuk mengukur, mengevaluasi dan melihat pelaksanaan pembangunan, penyelenggraan pemerintahan dan sosial kemasyarakatan yang telah dilaksanakan atas usaha pemerintah bersama dengan masyarakat gampong. Terhadap hasil yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan perlombaan gampong tingkat provinsi, pemerintah provinsi mengalokasikan bantuan dana pembinaan bagi juara Perlombaan Gampong Tingkat Provinsi Aceh sebesar Rp ,- Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,30%) dan realisasi fisik 100%. 6. Program Penanggulangan Kemiskinan Kegiatan perencanaan dan pemberdayaan khusus pemukiman baru masyarakat tertinggal 339

343 Tujuan dilaksanakan kegiatan perencanaan dan pemberdayaan khusus pemukiman baru masyarakat tertinggal: - Meningkatkan dan mengembangkan sarana dan prasarana Mukim/Gampong sebagai pusat pemerintahan; - Meningkatkan peran serta pemerintahan Mukim dan Gampong dalam pembangunan; - Meningkatkan kemampuan manajemen dan kelembagaan Mukim/Gampong untuk berpartisipasi dalam pembangunan serta dapat membangun dirinya sendiri; - Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat Gampong; - Menumbuh kembangkan swadaya gotong royong masyarakat Gampong; - Meningkatkan pendapatan masyarakat Gampong (value income added). Kegiatan ini juga diarahkan untuk pembangunan sarana dan prasarana bagi Mukim/Gampong tertinggal yang dilaksanakan melalui pola swakelola oleh masyarakat dalam rangka membangun dirinya sendiri dan mendukung pelaksanaan pembangunan, penyelenggaraan pemerintahan dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat mukim/gampong tertinggal berupa pemberian bantuan modal kepada masyarakat Mukim/Gampong tertinggal melalui sistem kerjasama langsung (Specific Grant), pelaksanaan dilakukan dengan pola swakelola oleh masyarakat Gampong dalam membangun dirinya sendiri. Hasil Kegiatan ini telah dilaksanakan dalam bentuk pembangunan kantor keuchik, yaitu: - Dana APBA sebanyak 7 unit masing-masing diberikan kepada Kabupaten Aceh Besar, Aceh Utara, Bireuen, Pidie Jaya, Aceh Tamiang dan Nagan Raya. - Dana Otsus Kabupaten Aceh Tengah sebanyak 71 unit. - Dana Otsus Kabupaten Aceh Timur sebanyak 23 unit. - Dana Otsus Kabupaten Aceh Selatan sebanyak 5 unit. pembangunan gedung UDKP, yaitu: Kecamatan Lembah Seulawah, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kecamatan Selimuem, Kecamatan Kuta Malaka, Kecamatan Kuta Makmur. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,91%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pemberdayaan usaha ekonomi produktif gampong Tujuan kegiatan mempercepat penanggulangan kemiskinan yang diarahkan untuk kepala keluarga miskin rumah tangga miskin. Hasil Kegiatan ini telah dilaksanakan dalam bentuk pemberian modal usaha kepada kepala keluarga miskin rumah tangga miskin yang produktif di 13 Kabupaten dengan jumlah 60 gampong dalam 20 Kecamatan. Setiap Gampong/kelompok akan memperoleh dana bantuan sebesar Rp 340

344 ,- kepada masing-masing kelompok yang telah diberikan pelatihan teknis penerima manfaat untuk 20 angkatan, dengan rincian 10 orang/gampong yang terdiri dari perangkat desa, pengurus unit dan penerima manfaat yang diselenggarakan di Banda Aceh. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (90,85%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi Anggaran Badan Pemberdayaan Masyarakat, dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,25%) dan realisasi fisik 100%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini. No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) SKPA sebesar ,25 1 Belanja tidak langsung ,07 2 Belanja langsung ,52 TOTAL , ,25 C. Permasalahan Dan Solusi permasalahan: - belum maksimalnya koordinasi program dan kegiatan pada BPM kabupaten/kota dengan BPM Aceh (Provinsi); - belum maksimalnya BPM Aceh dalam memberikan pelatihan keahlian/ketrampilan kepada aparatur gampong dan masyarakat sebagai salah satu komitmen BPM Aceh dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat desa; - struktur organisasi BPM belum menampung tugas dan fungsi perencanaan, Monev, data dan pelaporan. Solusi: - setelah dilaksanakan rakor tingkat provinsi yang bertujuan untuk menyelaraskan program dan kegiatan antara BPM Aceh dengan BPM kabupaten/kota maka diharapkan kepada seluruh pihak terkait untuk bersama-sama melaksanakan rekomendasi program dan kegiatan yang sudah dikeluarkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku; - dengan terbentuknya unit pelaksana teknis badan (UPTB) pelatihan dan pemberdayaan masyarakat gampong maka diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan kualitas pelaksana kegiatan, aparatur gampong dan masyarakat gampong dalam melaksanakan program dan 341

345 kegiatan pemberdayaan masyarakat; - untuk mengoptimalkan tugas pokok dan fungsi perencanaan dan pelaporan perlu adanya bidang program dan pelaporan. Untuk itu diperlukan Revisi Qanun No.5 Tahun 2007 terhadap nomenklatur atau susunan organisasi dan tata kerja BPM dengan membentuk kembali Bidang Program dan Pelaporan. 22. URUSAN SOSIAL Urusan Sosial yang dilaksanakan oleh Dinas Sosial sebagai berikut: A. Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kendaraan dinas/operasional; d. Penyediaan alat tulis kantor; e. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; f. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; g. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan; h. Penyediaan bahan logistik kantor; i. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah; j. Penyediaan jasa pegawai non PNS. 2. Program Peningkatan Sarana Dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor; b. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung Kantor. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan ini berupa sosialisasi peraturan perundang-undangan; 4. Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil Dan Pemberdayaan Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pelatihan keterampilan bagi lanjut usia; b. Pemberdayaan keterampilan bagi keluarga rentan; c. Pembinaan dan pelestarian nilai-nilai kepahlawanan keperintisan dan kesetiakawanan sosial. 5. Program Pelayanan Dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Peningkatan kualitas pelayanan sarana dan prasarana rehabilitasi kesejahteraan sosial bagi PMKS; b. Penyusunan kebijakan pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial; 342

346 c. Penanganan masalah-masalah strategis yang menyangkut tanggap cepat darurat dan kejadian luar biasa; d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan; e. Peningkatan kualitas pelayanan sarana dan prasarana rehabilitasi kesejahteraan sosial bagi panti; f. Pemulangan orang terlantar; g. Pemberdayaan korban bencana sosial daerah konflik (reintegrasi) 6. Program Pembinaan Anak Terlantar Kegiatan ini berupa pelayanan dan perlindungan sosial anak. 7. Program Pembinaan Para Penyandang Cacat Trauma Kegiatan ini berupa pendayagunaan para penyandang cacat dan eks. Trauma. 8. Program Pembinaan Panti Asuhan/Panti Jompo Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Operasi dan pemeliharaan sarana dan perasarana panti asuhan/panti jompo; b. Pendidikan dan pelatihan cacat netra; c. Peningkatan sarana dan prasarana panti asuhan/panti jompo; d. Pendidikan dan pelatihan bagi remaja putus sekolah; e. Seleksi orsos penerima bantuan sosial; f. Operasi dan pemeliharaan sarana panti bina remaja; g. Operasional dan pemeliharaan sarana dan prasarana panti anak jalanan. 9. Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial Kegiatan ini berupa pelatihan petugas penyuluh sosial dan penyuluhan sosial keliling. B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kendaraan dinas/operasional, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik/ penerangan bangunan kantor, penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundangundangan, penyediaan bahan logistik kantor, rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah, dan penyediaan jasa pegawai non PNS. Program ini merupakan program rutin yang setiap tahun dianggarkan. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,27%) dan realisasi fisik 99,00%. 2. Program Peningkatan Sarana Dan Prasarana Aparatur Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor merupakan belanja jasa 343

347 cleaning service dan penataan dan rehab ruang arsip. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,85%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor merupakan belanja jasa service peralatan dan perlengkapan kantor yaitu service komputer dan pemeliharaan AC. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (91,24%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Sosialisasi peraturan perundang-undangan Kegiatan sosialisasi peraturan perundang-undangan, yaitu : honorarium PNS (honorarium panitia pelaksana kegiatan), honorarium non PNS (honorarium tenaga ahli/instruktur/narasumber) belanja alat tulis kantor, belanja dokumentasi, belanja jasa publikasi, belanja jasa administrasi peserta, belanja jasa kantor lainnya, belanja penggandaan, belanja sewa rumah/gedung/gudang/parkir dan belanja makanan dan minuman. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (90,74%) dan realisasi fisik 100%. sisa anggaran merupakan sisa dana sewa gedung pertemuan yang tidak perlu dibayarkan karena sudah termasuk kedalam biaya paket meeting pada kegiatan Semiloka Kesejahteraan Sosial. 4. Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil dan Pemberdayaan Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Pelatihan keterampilan bagi lanjut usia Kegiatan ini merupakan aktivitas perjalanan dinas dalam daerah dalam rangka pembinaan lanjut bagi Lansia yang telah mendapatkan keterampilan dan modal usaha ekonomi produktif pada tahun 2009 yang lalu pada lima kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,19%) dan realisasi fisik 100%. Pemberdayaan keterampilan bagi keluarga rentan Kegiatan pemberdayaan ketrampilan bagi keluarga rentan merupakan belanja bahan kelengkapan sarana peribadatan (pengadaan kain sarung, mukena, dan sajadah) yang diberikan kepada keluarga rentan di Provinsi Aceh, dan belanja perjalanan dinas dalam daerah (monitoring pemberian bantuan). Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,33%) dan realisasi fisik (100%). 344

348 Pembinaan dan pelestarian nilai-nilai kepahlawanan keperintisan dan kesetiakawanan sosial Kegiatan pembinaan dan pelestarian nilai-nilai kepahlawanan keperintisan dan kesetiakawanan sosial merupakan belanja honorarium PNS (honorarium panitia pelaksana kegiatan), honorarium non PNS (honorarium tenaga ahli/instruktur/narasumber), belanja alat tulis kantor, belanja dokumentasi, belanja bahan publikasi, belanja paket/pengiriman, belanja jasa administrasi peserta, belanja jasa cleaning service, belanja jasa kantor lainnya, belanja cetak dan penggandaan, belanja sewa rumah/gedung/gudang/parkir, belanja makanan dan minuman, dan belanja perjalanan dinas. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,97%) dan realisasi fisik (100%). 5. Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Peningkatan kualitas pelayanan sarana dan prasarana rehabilitasi kesejahteraan sosial bagi PMKS. Kegiatan peningkatan kualitas pelayanan sarana dan prasarana rehabilitasi kesejahteraan sosial bagi PMKS merupakan belanja jasa kantor lainnya, belanja modal pengadaan alat-alat angkutan diatas air tidak bermotor, belanja modal pengadaan perlengkapan kantor, belanja modal pengadaan peralatan dapur, belanja modal pengadaan alat-alat komunikasi, belanja modal pengadaan konstruksi jalan, dan belanja modal pengadaan konstruksi bangunan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,58%) dan realisasi fisik 100%. Sisa anggaran merupakan sisa dana kontrak-kontrak dana kegiatan Otsus Migas yang dilaksanakan di 8 kabupaten/kota yaitu Banda Aceh, Bireun, Langsa, Aceh Timur, Aceh Singkil, Aceh Jaya, Bener 345

349 Meriah dan Aceh Tenggara. Penyusunan kebijakan pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan social. Kegiatan penyusunan kebijakan pelayanan dan rehabilitasi sosial Bagi PMKS merupakan belanja alat tulis kantor, belanja jasa service peralatan dan perlengkapan kantor, belanja penggandaan, belanja perjalanan dinas, dan belanja pengadaan komputer. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- 95,40% dan realisasi fisik 100%. Sisa anggaran merupakan sisa dana dari kegiatan yang laksanakan sesuai kebutuhan. Penanganan masalah-masalah strategis yang menyangkut tanggap cepat darurat dan kejadian luar biasa Kegiatan tersebut merupakan kegiatan antisipasi dan penanggulangan bencana alam dan bencana sosial. kegiatan yang dilaksanakan antara lain bagi pelatihan pemantapan sdm taruna siaga bencana (tagana), bantuan Bahan Bangunan Rumah (BBR) bagi keluarga yang rumahnya terkena musibah, pengadaan lauk pauk tanggap darurat bencana untuk masyarakat yang terkena bencana, pengadaan bahan-bahan dapur umum lapangan, pengadaan bahan sandang dan sarana peribadatan untuk korban bencana alam dan bencana sosial, peningkatan kapasitas sarana dan prasarana penanggulangan bencana, pembangunan gudang penyimpanan stock peralatan pangan penanggulangan bantuan bencana pada 7 kabupaten/kota, dan belanja perjalanan dinas dalam rangka monitoring dan pembinaan kegiatan penanggulangan kebencanaan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,36%) dan realisasi fisik 100%. Sisa anggaran merupakan sisa dana dari kegiatan penanggulangan bencana termasuk biaya pengerahan TAGANA yang di gunakan sesuai dengan kejadian bencana dalam tahun Monitoring, evaluasi dan pelaporan Kegiatan monitoring, evaluasi, dan pelaporan merupakan merupakan perjalanan dinas petugas provinsi ke kabupaten/kota dalam rangka memonitong pelaksanaan kegiatan pembangunan kesejahteraan sosial yang dilaksanakan di daerah, termasuk monitoring pelaksanaan dana otonomi khusus dan TDBH Migas Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Peningkatan kualitas pelayanan sarana dan prasarana rehabilitasi kesejahteraan sosial bagi panti Kegiatan peningkatan kualitas pelayanan sarana dan prasarana rehabilitasi kesejahteraan sosial bagi panti merupakan kegiatan operasional panti bina karya yang merehabilitasi para eks. gelandangan dan pengemis di Aceh. Honorarium non PNS, belanja alat tulis kantor, belanja peralatan kebersihan 346

350 dan bahan pembersih, belanja bahan obat-obatan, belanja bahan kelengkapan lapangan, belanja jasa kantor, belanja makanan dan minuman, dan belanja perjalanan dinas. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,96%) dan realisasi fisik 100%. Sisa anggaran merupakan sisa dana kontrak. Pemulangan orang terlantar Kegiatan pemulangan orang terlantar merupakan kegiatan memulangkan para orang terlantar yang ada di Aceh, termasuk pemulangan bagi tenaga kerja Indonesia asal Aceh yang di pulangkan dari luar negeri. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Pemberdayaan korban bencana sosial daerah konflik (Reintegrasi) Kegiatan pemberdayaan korban bencana sosial daerah konflik (Reintegrasi) merupakan kegiatan yang dilaksanakan dan dikoordinasikan oleh Badan Reintegrasi Aceh (BRA). selain digunakan dalam rangka operasional dan administrasi kantor, kegiatan lainnya adalah: bantuan perumahan bagi masyarakat korban konflik, public hearing, Workshop penyelesaian komplain, TOT penguatan perempuan untuk perdamaian, seminar issue, diskusi ilmiah, resolusi konflik, pelatihan ketrampilan, desiminasi peace education, seminar internasional, pelatihan tentang media perdamaian, penguatan kelembagaan BRA, kegiatan Komisi Klaim Resolusi (KKR). Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (90,35%) dan realisasi fisik 100%. Sisa anggaran merupakan sisa dana reintegrasi yang dilaksanakan oleh BRA yang tidak dilaksanakan. 6. Program Pembinaan Anak Terlantar Pelayanan dan perlindungan sosial anak. Program pembinaan anak terlantar merupakan program yang menyangkut kegiatan pelayanan dan perlindungan sosial anak melalui bantuan operasional bagi lembaga sosial perlindungan anak, Tempat Penitipan Anak (TPA) dan operasional perlindungan anak terlantar di Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (83,09%) dan realisasi fisik 100%. Sisa anggaran merupakan sisa dana bantuan kelembagaan untuk beberapa lembaga perindungan anak yang tidak melengkapi administrasi/proposal. 7. Program Pembinaan Para Penyandang Cacat Trauma Pendayagunaan para penyandang cacat dan eks. trauma. Program pembinaan para penyandang cacat trauma merupakan program yang menyangkut kegiatan pendayagunaan para penyandang cacat dan eks. trauma di Aceh, yaitu pemberian jaminan hidup (Jadub), bantuan sarana peribadatan, bagi mantan penyandang penyakit Kusta di kabupaten Gayo Luas, Aceh Tenggara, Aceh Selatan dan Banda Aceh. Selain itu dana 347

351 kegiatan juga untuk mendukung peringatan hari penyandang cacat, kegiatan bimbingan sosial bagi penyandang cacat, pengadaan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) bagi penyandang cacat, pengadaan becak modifikasi bagi penyandang cacat. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,90%) dan realisasi fisik 90%. Sisa anggaran merupakan sisa dana dari biaya Jaminan Hidup (Jadub) klien yang mengalami penurunan jumlah. 8. Program Pembinaan Panti Asuhan/Panti Jompo Operasi dan pemeliharaan sarana dan perasarana panti asuhan/panti jompo Kegiatan operasi dan pemeliharaan sarana dan prasarana panti asuhan/panti jompo merupakan kegiatan operasional panti cacat netra "Rumah Seujahtera Beujroh Meukarya" yang menangani sejumlah 60 klien cacat netra untuk dilatih dan diberikan penguatan ilmu dan keterampilan sesuai dengan kebutuhan mereka. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (83,48%) dan realisasi fisik 100%. Sisa anggaran merupakan sisa dana SOSH dan uang saku klien yang mengalami penurunan jumlah klien. Pendidikan dan pelatihan cacat netra Kegiatan pendidikan dan pelatihan cacat netra merupakan kegiatan pembinaan dan peningkatan kapasitas penyandang cacat netra melalui program di Panti Cacat Netra "Rumah Seujahtera Beujroh Meukarya" yang menangani sejumlah 60 klien cacat netra untuk dilatih dan diberikan penguatan ilmu dan keterampilan sesuai dengan kebutuhan mereka. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,26%) dan realisasi 348

352 fisik 100%. Sisa anggaran merupakan sisa dana honorarium instruktur yang tidak aktif. Peningkatan sarana dan prasarana panti asuhan/panti jompo Kegiatan peningkatan sarana dan prasarana panti asuhan/panti jompo merupakan kegiatan operasional panti jompo "Rumah sujahtera geunaseh sayang" Ulee Kareng yang menangani 60 klien lanjut usia terlantar. Kegiatan utamanya adalah pemberian jaminan hidup permakanan, bimbingan mental spiritual, pemberian keterampilan, perawatan kesehatan bagi klien, termasuk belanja bahan/material untuk kelancaran operasional panti (belanja bahan obat-obatan, belanja dokumentasi dan belanja bahan kelengkapan sarana peribadatan), belanja jasa kantor (belanja telpon, belanja air, belanja listrik, belanja surat kabar/majalah, belanja jasa service peralatan dan perlengkapan kantor, belanja jasa administrasi peserta, belanja jasa cleaning service, belanja jasa kantor lainnya). Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,84%) dan realisasi fisik 100%. Sisa anggaran merupakan sisa dana operasional panti jompo yang dipergunakan sesuai kebutuhan, antara lain biaya, telpon, PDAM, biaya kesehatan dan biaya penguburan. Pendidikan dan pelatihan bagi remaja putus sekolah Kegiatan pendidikan dan pelatihan bagi remaja putus sekolah merupakan kegiatan peningkatan kapasitas bagi remaja putus sekolah melalui bimbingan mental dan bimbingan keterampilan menjahit kepada 30 orang remaja putri putus sekolah. kegiatan ini dilaksanakan di Panti bina remaja "Rumoh Seujahtera Jroh Naguna" Banda Aceh. Klien yang sudah dilatih mendapatkan bantuan peralatan usaha berupa seperangkat mesin jahit. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,85%) dan realisasi fisik 100%. Seleksi organisasi sosial penerima bantuan sosial Kegiatan seleksi Orsos penerima bantuan sosial merupakan belanja perjalanan dinas dalam daerah dalam rangka penyaluran bantuan dan monitoring. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,45%) dan realisasi fisik 100%. Sisa anggaran merupakan sisa dana operasional UPTD. Operasi dan pemeliharaan sarana panti bina remaja Kegiatan operasi dan pemeliharaan sarana panti bina remaja merupakan operasional selama satu tahun panti remaja putus sekolah "Rumoh seujahtera Jron Naguna" yang didalamnya berupa honorarium non, belanja alat tulis kantor, belanja alat listrik dan elektronik, belanja perangko, materai, dan benda pos lainnya, belanja peralatan kebersihan dan bahan pembersih, belanja bahan obat-obatan, belanja jasa kantor, belanja perawatan kendaraan bermotor, belanja modal pengadaan peralatan kantor, belanja modal pengadaan peralatan dapur. Anggaran yang disediakan untuk 349

353 kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (87,45%) dan realisasi fisik 100%. Operasional dan pemeliharaan sarana dan prasarana panti anak jalanan Kegiatan operasional dan pemeliharaan sarana dan prasarana panti anak jalanan merupakan kegiatan operasional UPTD "Rumah Seujahtera Aneuk Nanggroe" yang menampung dan mendidik anak-anak eks anak jalanan, anak yang berhadapan dengan hukum, anak korban tindak kekerasan, anak yang bermasalah sosial psykologis dan anak-anak rentan sejumlah 75 orang anak. Selain kegiatan operasional, dana kegiatan ini digunakan untuk belanja alat tulis kantor, belanja alat listrik dan elektronik, belanja peralatan kebersihan, belanja bahan obat-obatan, belanja dokumentasi, belanja bahan kelengkapan sarana peribadatan, belanja jasa kantor dan lain sebagainya. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,56%) dan realisasi fisik 100%. 9. Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial Program pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan sosial merupakan program yang menyangkut kegiatan pelatihan petugas penyuluhan sosial dan penyuluhan sosial keliling, khususnya pemutakhiran data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan Potensi dan Sumber kesejahteraan Sosial (PSKS), pengadaan baliho/spanduk tentang kesejahteraan sosial, serta keikutsertaan instansi sosial dalam mengikuti Kesejahteraan Sosial Nasional (KSN) Expo di Jakarta. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,46%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi Anggaran Untuk Dinas Sosial dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp (94,47%) dan realisasi fisik 98,12%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,47 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung , ,37 2 Belanja langsung , ,07 TOTAL , ,47 C. Permasalahan dan Solusi Untuk tahun 2010 tidak ada permasalahan yang dihadapi oleh Dinas Sosial. 350

354 23. URUSAN KEBUDAYAAN Urusan kebudayaan dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, dan Majelis Adat Aceh (MAA). Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Urusan Kebudayaan yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sebagai berikut: A. Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa jaminan barang milik daerah; d. Penyediaan jasa administrasi keuangan; e. Penyediaan jasa kebersihan kantor; f. Penyediaan alat tulis kantor; g. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; h. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; i. Penyediaan makanan dan minuman; j. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah; k. Penyediaan jasa hari-hari besar. 2. Program Peningkatan Sarana Dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan gedung kantor; b. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional; c. Pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor. 3. Program Peningkatan Disiplin Aparatur Kegiatan ini berupa pengadaan pakaian dinas beserta perlengkapannya 4. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pendidikan dan pelatihan formal; b. Penyusunan dan penyempurnaan rancangan qanun kelembagaan, perangkat daerah dan lembaga khusus. 5. Program Pengembangan Nilai Budaya Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pelestarian dan aktualisasi adat dan budaya daerah; b. Pagelaran, pameran seni se-sumatera (PPSS); c. Pagelaran dan pameran seni temu taman budaya se-indonesia; d. Pelatihan upacara adat; e. Pengumpulan dan ganti rugi koleksi museum; 351

355 f. Peringatan hari kesenian daerah dan anugerah seni; g. Pelatihan pemberdayaan lembaga adat. 6. Program Pengelolaan Kekayaan Budaya Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pelestarian fisik dan kandungan bahan pustaka termasuk naskah kuno; b. Pengelolaan dan pengembangan pelestarian peninggalan sejarah purbakala, mesium dan peninggalan bawah air c. Penyusunan, pengendalian dan evaluasi program; d. Pemeliharaan dan rehabilitasi sarana/prasarana taman ratu safiatuddin; e. Pemugaran benda-benda arkeologi, benda cagar budaya peninggalan sejarah. 7. Program Pengelolaan Keragaman Budaya Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyelenggaraan dialog kebudayaan; b. Pembinaan evaluasi sanggar-sanggar kesenian, pagelaran dan festival tingkat nasional c. Rapat koordinasi kebudayaan; d. Audisi dan panduan suara gita bahana nusantara; e. Festival seni dan pagelaran budaya; f. Pagelaran budaya daerah pada event dalam dan luar negeri; g. Partisipasi museum aceh diluar dan dalam daerah. 8. Program Kerjasama Antar Lembaga Kegiatan ini berupa monitoring, evaluasi dan pelaporan 9. Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Peningkatan pemamfaatan tehnologi informasi dalam pemasaran pariwisata; b. Pelaksanaan promosi pariwisata nusantara dalam dan luar negeri. 10. Program Pengembangan Destinasi Pariwisata Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengembangan obyek pariwisata unggulan; b. Peningkatan pembangunan sarana/prasarana pariwisata; c. Pengembangan jenis dan paket wisata unggulan; d. Pelaksanaan koordinasi pembangunan objek wisata dengan lembaga/dunia usaha; e. Pengembangan sosialisasi dan penerapan serta pengawasan standarisasi; f. Pembuatan masterplan pengembangan kawasan wisata. 11. Program Pengembangan Kemitraan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: 352

356 a. Pengembangan dan penguatan informasi dan database; b. Pengembangan sdm dan profesionalime bidang pariwisata; c. Peningkatan peran serta masyarakat daalam pengembangan kemitraan pariwisata; d. Pelaksanaan gebyar wisata nusantara. B. Realisasi Pelaksanaan Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa jaminan barang milik daerah, penyediaan jasa administrasi keuangan, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyediaan alat tulis kantor; penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, penyediaan makanan dan minuman, rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah, serta penyediaan jasa hari-hari besar. Program dan kegiatan ini merupakan kegiatan rutin kantor yang ada setiap tahun. tujuan untuk kelancaran tugas-tugas rutin kantor yang berkenaan dengan tata persuratan dan belanja langganan surat kabar/majalah serta biaya pengiriman/paket, penyediaan sarana komunikasi, pembayaran rekening air dan listrik, pelayanan keamanan kantor, barang milik daerah, adminitrasi keuangan, jasa layanan kebersihan dalam rangka kenyamanan dan kelancaranan kerja pegawai, kebutuhan alat tulis kantor, penyediaan kebutuhan makan dan minum harian pegawai, kegiatan rapat-rapat dan memberikan pelayanan kepada tamu, koordinasi dan konsultasi, serta perayaan hari-hari besar kenegaraan maupun hari besar Islam. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (91,71%) dan realisasi fisik 100%. 2. Program Peningkatan Sarana Dan Prasarana Aparatur Kegiatan pembangunan gedung kantor Kegiatan tersebut bertujuan untuk kelancaran tugas-tugas administrasi perkantoran, hasilnya adalah tugas pelayanan tugas administrasi pada masyarakat berjalan lancar, dengan alokasi dana sebesar Rp ,- diakhir tahun anggaran dana yang terserap sebesar Rp ,- (94,63%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional Kegiatan tersebut tujuan untuk memenuhi kebutuhan biaya kenderaan dinas/operasional dalam rangka mendukung kelancaran tugas-tugas pelayanan kepada masyarakat dibidang kebudayaan dan pariwisata. kegiatan ini dialokasikan anggaran sebesar Rp ,- sampai tahun anggaran terserap dana sebesar Rp ,- (93,49%) dan realisasi fisik 100%. 353

357 Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor Kegiatan tersebut tujuan untuk belanja bahan pemeliharaan dan servies perlengkapan kerja untuk kelancaran pelaksanaan tugas, serta kenyamanan dalam bertugas. Kegiatan ini mengalokasikan dana Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (80,37%). dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Disiplin Aparatur Kegiatan pengadaan pakaian dinas beserta perlengkapannya Kegiatan tersebut merupakan pembayaran tunggakan pakaian dinas karyawan/i UTPD Taman Budaya dan Meseum Aceh tahun 2007, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan perlengkapan seragam dinas pegawai, dengan hasil yang dicapai adanya keseragaman yang serasi dalam dengan dana Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,06%) dan realisasi fisik 100% 4. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan pendidikan dan pelatihan formal Tujuan memberikan kesempatan para pegawai meningkatkan kapasitas dan menambah wawasan serta meningkatkan kompetensi. anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (41,68%) dan realisasi fisik 100%. Rendahnya realisasi karena beberapa undangan untuk mengikuti diklat, sosialisasi dan lain-lain seringkali berbenturan dengan pelaksanaan kegiatan kedinasan akibat dari bertumpuknya kegiatan pada waktu yang bersamaan, dan kurangnya diklat tehnis bidang kebudayaan dan pariwisata. Penyusunan dan penyempurnaan rancangan qanun kelembagaan, perangkat daerah dan lembaga khusus Kegiatan tersebut bertujuan untuk menginformasikan draf rancangan Qanun pariwisata di Aceh melalui media cetak (koran). Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98%) dan realisasi fisik 100% 5. Program Pengembangan Nilai Budaya Kegiatan pelestarian dan aktualisasi adat dan budaya daerah Telah dilaksanakan dalam bentuk: - Pengkajian adat perkawinan Etnis Aceh dan Kluet serta pengkajian kearipan lokal di Kabupaten Simelue yang dilaksanakan pada bulan Mei s/d Juni Tujuan kegiatan ini adalah adanya inventaris data adat perkawinan Aceh dan kearipan lokal di Kabupaten Aceh Utara, Aceh Selatan dan Simelue. Hasilnya yang dicapai terbitnya buku adat perkawinan etnis Kluet, buku adat perkawinan etnis Aceh, buku kearipan lokal pada masyarakat Simeuleu. - Jelajah budaya, kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 6 s/d 14 Mei 2010 di Kota Sabang dengan peserta 25 orang mahasiswa. Adapun tujuannya adalah untuk memperkenalkan kepada generasi muda 354

358 keanekaragaman serta meningkatkan apresiasi nilai-nilai budaya lokal yang hidup dan berkembang dimasyarakat Aceh, hasil dari kegiatan ini adalah meningkatnya pemahaman dan apresiasi generasi muda terhadap nilai-nilai budaya lokal. - Pelatihan pakar adat istiadat (otsus kabupaten/kota) yang dilaksanakan pada tanggal 28 Mei s/d 02 Juni 2010 di Kabupaten Aceh Tamiang dengan peserta 1358 orang. Hasilnya yang dicapai telah meningkatnya pemahaman tentang adat istiadat dalam masyarakat. - Festival peragaan adat istiadat (otsus kabupaten/kota) yang dilaksanakan pada tanggal 28 Juni s/d 1 Juli 2010 di Kabupaten Aceh Tamiang dengan jumlah peserta 176 orang peserta guru dan pelaku adat. Hasilnya memperlihatkan adat istiadat Aceh kepada masyarakat. - Tinjauan keragaman adat (otsus kabupaten/kota) yang dilaksanakan pada tanggal 28 Juni s/d 8 Juli 2010 di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Tengah, dan Kabupaten Aceh Selatan. hasilnya beraneka ragam adat istiadat yang terdapat pada masyarakat Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,50%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan Pagelaran Pameran Seni se-sumatera (PPSS) Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 8 s/d 11 Nopember 2010, di Provinsi Lampung dengan 14 orang artis dan 4 orang official pendukung dari sanggar Kabupaten Bener Meriah dengan materi pagelaran seni musik teganing. Tujuan dari kegiatan ini adalah ajang tukar menukar informasi seni budaya di masing-masing Provinsi se-sumatera. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,63%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pagelaran dan pameran seni temu taman budaya se-indonesia Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 20 s/d 24 Juli 2010 di Taman Budaya Pekan Baru Provinsi Riau, dengan melibatkan 14 orang artis pendukung dari sanggar suluh bangsa Kota Banda Aceh dan 5 orang official dengan materi kegiatan adalah drama tari peh kaye kegiatan ini untuk dapat berpartisipasi pegelaran bersama Taman Budaya se-indonesia (tingkat Nasional). Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pelatihan upacara adat Pelatihan adat troun u blang dilaksanakan pada tanggal 13 s/d 14 Juli 2010 di Banda Aceh, diikuti sebanyak 50 orang peserta terdiri dari pemangku adat, budayawan, pelaku troun u blang dari Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar, yang bertujuan untuk membina dan meningkatkan pemahaman dalam melestarikan adat istiadat Aceh 355

359 kedepan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp , (99,74%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pengumpulan dan ganti rugi koleksi museum Kegiatan tersebut merupakan pengadaan koleksi meseum Aceh berupa pengadaan kopiah mas meukuetop 737 gram, rencong mas Aceh lengkap dengan sarung, dan Kain ikat topi teukuetop. Kegiatan tersebut bertujuan untuk melakukan pembenahan kembali terhadap koleksi museum yang dimiliki serta melakukan pengumpulan kembali beberapa benda kuno yang masih berada di berbagai tempat. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan peringatan hari kesenian daerah dan anugerah seni Kegiatan tersebut telah dilaksanakan pada tanggal 30 s/d 31 Juli 2010 di Banda Aceh, dengan peserta para Seniman sebanyak 163 orang. Materi Kegiatan adalah lomba karya seni pertunjukan/exsibisi musik tradicional, yang bertujuan untuk menumbuh kembangkan bakat dan minat dibidang seni bagi generasi muda agar dapat menjaga dan melestarikan seni budaya daerah Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,35%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pelatihan pemberdayaan lembaga adat Kegiatan tersebut telah dilaksanakan di Banda Aceh pada tanggal 3 s/d 4 Agustus 2010 di Banda Aceh, dengan jumlah peserta 40 orang dari unsur tokoh adat dan pelaku hari Peukan, yang bertujuan Memfasilitasi 356

360 Pemangku Adat (Hari Peukan) dalam memperoleh Informasi, pengetahuan atau ketrampilan yang dibutuhkan, dan melakukan penguatan terhadap lembaga-lembaga adat yang ada ditingkat Mukim dan Gampong. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (88,34%) dan realisasi fisik 100%. 6. Program Pengelolaan Kekayaan Budaya Kegiatan Pelestarian fisik dan kandungan bahan pustaka termasuk naskah kuno Kegiatan tersebut bertujuan untuk memelihara/konsevasi/pengawetan/ Penyimpanan koleksi benda budaya, buku-buku perpustakaan dan naskah kuno. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp (99,79%) dan realisasi fisik 100%. Hasilnya adalah terpeliharanya/terawatnya koleksi benda-benda kuno budaya Aceh, buku perpustakaan dan naskah-naskah kuno. Kegiatan pengelolaan dan pengembangan pelestarian peninggalan sejarah purbakala, mesium dan peninggalan bawah air Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk, yaitu: - Seminar sejarah yang dilaksanakan pada tanggal 6 s/d 7 Oktober di Banda Aceh dengan jumlah peserta 120 orang dari unsur instansi terkait di 23 kabupaten/kota, guru sejarah, budayawan. - Penyuluhan UU RI No 5 Tahun 1992 dan PP No 10 Tahun 1993 yang dilaksanakan pada tanggal 9 s/d 10 Nopember 2010 di Banda Aceh dengan jumlah peserta 120 orang dari unsur instansi terkait di 23 kabupaten/kota, juru pelihara, guru sejarah di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar, dengan tujuan untuk memberikan pemahaman tentang pentingnya memeliharan benda cagar budaya yang berada di pemukiman masyarakat. Hasilnya adalah meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap sejarah dan pelestarian BCB untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai sejarah dan purbakala. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp (98,14%) dan reaisasi fisik 100%. Penyusunan, pengendalian dan evaluasi program Kegiatan tersebut bertujuan untuk penyamaan persepsi dan sinkronisasi pada penyusunan program serta melakukan evaluasi program dan kegiatan yang dilakukan di berbagai tempat dan waktu. Hasilnya adalah tersedianya acuan kerja dan pelaksanaan monitoring dan evaluasi program, penyempurnaan dan pengelolaan draf museum dan Monumen Tsunami dan Situs. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,12%) dan realisasi fisik 100%. 357

361 Kegiatan pemeliharaan dan rehabilitasi sarana/prasarana taman ratu safiatuddin Tujuan untuk melakukan pemeliharaan seluruh lokasi Taman Ratu Safiatuddin dengan hasilnya adalah terlaksananya pemeliharaan dan perawatan sarana dan prasarana Taman Ratu Safiattuddin. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,94%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pemugaran benda-benda arkeologi, benda cagar budaya peninggalan sejarah Kegiatan tersebut bertujuan untuk rehabilitasi dan penataan kembali benda-benda cagar budaya Peninggalan sejarah. Hasil yang dicapai terpugar/terpeliharanya/terawat BCB peninggalan sejarah dan kepurbakalaan diantaranya adalah: - pembangunan meseum di Kabupaten Aceh Jaya (Migas); - pembangunan meseum kota di Kabupaten Aceh Tamiang (Otsus); - pembangunan pagar situs/makam (Otsus Aceh) di Kabupaten Aceh Tamiang; - pemeliharaan/pelestarian fisik peninggalan sejarah (lokasi Monisa Paya Meuligoe Pereulak di Kabupaten Aceh Timur (Otsus); - penataan/pelestarian dan rehabilitasi tempat-tempat bersejarah di Kabupaten Bireuen (Otsus); - pemugaran dan Penataan Lingkungan Tower PDAM ex Belanda Kota Banda Aceh (Otsus); - pembangunan pagar kuburan massal di Meunasah Mon Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar; - pembangunan pagar komplek kuburan syuhada Makam Malem Dewadi desa Meunasah Sagoe Kecamatan Seunuddom Kabupaten Aceh Utara; - pemugaran/penataan lingkungan kuburan syuhada Makan Malem Dewa di Kabupaten Aceh Utara. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,53%) dan realisasi fisik 100% 7. Program Pengelolaan Keragaman Budaya Penyelenggaraan dialog kebudayaan Tujuan kegiatan ini adalah menyahuti hasil rekomendasi dialog kebudayaan Kabupaten Aceh Selatan, serta menggali nilai budaya Aceh serta meningkatkan apresiasi serta motivasi guna memperkokoh/ memperkuat keperibadian masyarakat. Dilaksanakan pada tanggal 24 s/d 27 Mei 2010 di Kabupaten Aceh Tamiang, pesertanya adalah tokoh adat, imum mukim, MAA, tokoh pemuda, PKK dan instansi terkait (50 orang). Hasilnya adalah adanya rekomendasi budaya sebagai bahan atau pedoman pemantapan budaya dan mengembalikan citra fungsi Aceh sebagai sentral 358

362 pengembangan kebudayaan Islam dan terciptanya budaya sopan santun, bersih dan gotong royong serta adanya inventarisasi budaya Tamiang. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,96%) dan realisasi fisik 100% Pembinaan evaluasi sanggar-sanggar kesenian, pagelaran dan festival tingkat nasional Kegiatannya adalah festival nasional teater remaja di jakarta dan kampanye sadar wisata di Padang pada tanggal 1 s/d 5 Nopember 2010, dengan jumlah peserta 30 orang remaja Aceh (Aceh Besar dan Kota Banda Aceh) bertujuan untuk merangsang para tunas bangsa untuk mengembangkan diri dalam aspek estetika dan sekaligus berlomba mengekpresikan kreasi dalam seni teater. Hasilnya adalah meningkatnya kualitas materi pagelaran/pertunjukan sanggar seni dan seniman. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,67%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan rapat koordinasi kebudayaan Rapat teknis bidang destinasi dilaksanakan pada tanggal 4 s/d Oktober 2010 di Banda Aceh dengan peserta 23 kabupaten/kota yang menangani bidang pariwisata 2 kegiatan koordinasi kebudayaan dilaksanakan pada tanggal 29 Nopember 2010 di Banda Aceh dengan peserta 23 kabupaten/kota dari unsur Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Instansi terkait kegiatan ini bertujuan untuk sinkronisasi dan memadukan program/kegiatan serta kebijakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh dengan kabupaten/kota dalam penyusunan program kerja kebudayaan dan pariwisata. Hasilnya adalah ketersedianya acuan pelaksanaan tugas tehnis bidang kebudayaan dan pariwisata Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (86%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan audisi dan panduan suara gita bahana nusantara Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15 s/d 16 Juli 2010 di Banda Aceh, dengan jumlah peserta 79 orang pelajar dan mahasiswa kabupaten/kota se- Aceh, yang bertujuan menyeleksi tim panduan suara gita bahana nusantara yang mewakili Aceh tampil di Istana Negara. Hasilnya adalah kualitas panduan suara teruji/pemahaman notasi angka/balok lagu-lagu perjuangan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,31%) dan realisasi fisik 100% Kegiatan festival seni dan pagelaran budaya Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 2 s/d 6 Juli 2010, dengan menampilkan 3 sanggar dalam Kota Banda Aceh (200 orang Artis), dengan 359

363 materi yang ditampilkan adalah seni tari, teater/sastra, dan musik. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memupuk kembali minat dan apresiasi masyarakat terhadap seni budaya sendiri terutama para pegiat seni budaya agar dapat lebih terpacu untuk melahirkan karya-karya terbaik yang pada akhirnya dapat meningkatkan harkat Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,48%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pagelaran budaya daerah pada event dalam dan luar negeri Telah dilaksanakan dalam bentuk: - Lomba foto dilaksanakan pada tanggal 18 s/d 19 Agustus 2010 di Jakarta. - Pameran pariwisata dan pagelaran budaya daerah pada tanggal 4 Juni 2010 di Jogyakarta. - Festival nusa dua bali pada tanggal 15 s/d 19 Oktober 2010 di Bali. Tujuan kegiatan ini adalah untuk dapat berpartispasi pada setiap event budaya baik dalam maupun luar negeri ketiga. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,10%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan partisipasi Museum Aceh diluar dan dalam daerah Telah dilaksanakan dalam bentuk: - Pameran senjata tradisional Aceh pada tanggal 6 s/d 12 Mei 2010 di Banda Aceh. - Pameran Islam dalam budaya nusantara pada tanggal 4 oktober s/d 4 nopember 2010 di Medan. - Pemeran keragaman alat musik tradisional nusantara pada tanggal 12 Oktober s/d 12 Nopember 2010 di Jakarta. - Pameran perang belanda di Aceh pada tanggal 25 s/d 30 Oktober 2010 di Kabupaten Bireuen. Tujuan kegiatan ini adalah untuk dapat melakukan pertisipasi dan menyediakan informasi mengenai museum Aceh, baik didalam maupun diluar daerah. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (88,11%) dan realisasi fisik 100%. 8. Program Kerjasama Antar Lembaga Kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan Tujuan kegiatan tersebut adalah untuk melihat sampai sejauh mana pelaksanaan program kegiatan yang telah dilaksanakan, apakah sesuai dengan petunjuk dan ketentuan yang ada. Kegiatan ini dilaksanakan pada kabupaten/kota se-aceh dengan hasil yang dicapai terlaksananya Monev pada kegiatan yang dibiayai oleh dana Otsus Aceh, Otsus kabupaten/kota dan TBH. Migas. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,55%) dan realisasi fisik 100%. 360

364 9. Program Pengembangan Pemasaran Pariwisata Kegiatan peningkatan pemamfaatan tehnologi informasi dalam pemasaran pariwisata Kegiatan ini bertujuan untuk memberilan pelayanan informasi melalui media cetak dan elektronik tentang pariwisata yang cepat, tepat pada masyarakat. Hasilnya adalah tersedianya data informasi pariwisata pada Kantor Walikota Banda Aceh dan di Lapangan Terbang Sultan Iskandar Muda (SIM). Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Pelaksanaan promosi pariwisata nusantara dalam dan luar negeri Telah dilaksanakan dalam bentuk: - pameran trafel fair dilaksanakan pada tanggal 1 s/d 4 Oktober 2010 di Jakarta; - pameran kemilau nusantara pada tangggal 24 s/d 27 Juli 2010 di Sumatera; - pameran matta fair pada tanggal 1 s/d 5 September 2010 di Kuala Lumpur bertujuan untuk terselenggaranya event-event pariwisata dalam dan luar negeri dan pengembangan target pasar wisata Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,08%) dan realiasi fisik 100% 10. Program Pengembangan Destinasi Pariwisata Kegiatan pengembangan obyek pariwisata unggulan Kegiatan tersebut bertujuan untuk menginformasikan objek-objek wisata yang berada di Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Aceh Tengah, Kota Sabang, Kabupaten Aceh Tenggara dan Kabupaten Aceh Utara melalui media gambar (foto). Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100% Kegiatan Peningkatan Pembangunan Sarana/Prasarana Pariwisata Telah dilaksanakan dalam bentuk: - pengadaan perahu wisata mancing Kota Banda Aceh; - pengadaan kapal wisata Kota Sabang (Otsus); - pengadaan Speed Boat Kabupaten Aceh Singki (Otsus); - pengadaan Perahu Naga; - lajutan pembangunan MCK, drainase dan penimbunan dikomplek Makam Ratu Nahrasyiah (Otsus); - lanjutan pembangunan mushala, tempat wudhuk, MCK dan penataan taman objek wisata Kuta Glee Batee Iliek; - lanjutan penataan dan pembangunan sarana pemandian air panas Keneukai Jaboi Sabang; 361

365 - pembangunan dermaga wisata Kota Banda Aceh (Migas); - lanjutan pembangunan objek wisata Ie Seum Kabupaten Aceh Besar (Otsus); - pembangunan wisata Pantai Nipah Pulo Aceh Kabupaten Aceh Besar (Otsus); - lanjutan pembangunan gedung seni budaya Kabupaten Aceh Besar (Otsus); - lanjutan pembangunan pagar objek wisata Ujung Batee (Misas); - pembangunan gedung pertemuan di Kabupaten Aceh Jaya (Migas); - pembangunan objek wisata Sabang (Gapang) Otsus; - pembangunan MCK, di Rest Area Cot Batee Geulungku Bireuen (Otsus); - pengembangan objek wisata lawe ger ger Kabupaten Aceh Tenggara (Otsus); - pengembangan objek wisata air terjun lawe dua Kabupaten Aceh Tenggara (Otsus); - rehabilitasi gedung kesenian Kabupaten Aceh Tenggara (Otsus); - pengembangan objek wisata naga kesiangan Kabupaten Aceh Tenggara (Otsus); - pengembangan ODTW Grting Buaya Kab. Aceh Selatan (Otsus); - pembangunan ODTW Air Dingin Kabupaten Aceh Selatan (Otsus); - pembangunan ODTW Ie Sejuk Penjupian Kabupaten Aceh Selatan (Otsus); - pembangunan kawasan wisata air tejun Lae Petak Kabupaten Aceh Singkil (Otsus); - pembangunan kawasan wisata Cemara Indah Kabupaten Aceh Singkil (Otsus); - pembangunan gedung seni Kabupaten Aceh Tamiang (Otsus); - pembangunan balai nelayan di Kota Lhokseumawe; - pembangunan jalan setapak di kawasan wisata Trienggadeng Kabupaten Pidie Jaya; - PEMBANGUNAN sarana dan prasarana Pantai Lhoknga Kabupaten Aceh Besar. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,67%) dan realisasi fisik 100 % Kegiatan pengembangan jenis dan paket wisata unggulan Kegiatan ini bertujuan untuk mengenang 6 tahun tragedi gempa dan tsunami di Aceh, dilaksanakan pada tanggal 26 Desember 2010 di Banda Aceh dengan peserta 3000 orang dari masyarakat Aceh dan aparatur pemerintahan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,99%) dan realisasi fisik 100%. 362

366 Kegiatan pelaksanaan koordinasi pembangunan objek wisata dengan lembaga/dunia usaha Kegiatan ini bertujuan untuk mengkoordinasikan lembaga/dunia usaha pariwisata di Aceh dilaksanakan pada tanggal 18 Oktober s/d 4 Nopember 2010 di Kota Langsa, Kota Sabang dan Kabupaten Aceh Tengah, jumlah peserta 90 orang. Hasil dari kegiatan ini adalah meningkatnya kinerja lembaga/dunia usaha pariwisata. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi anggaran Rp ,- (85,76%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pengembangan sosialisasi dan penerapan serta pengawasan standarisasi Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas, pengetahuan dan profesionalisme pengelola hotel restoran dan rumah makan didalam pelayanan kepada wisatawan. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 15 s/d 16 Juli 2010, di Banda Aceh dengan pesertanya 40 orang dari 7 kabupaten/kota. Hasilnya adalah meningkatnya pengelola hotel, rumah makan dan restoran dan terpenuhinya standarisasi, hygienis sera pelayanan kepada wisatawan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,57%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pembuatan master plan pengembangan kawasan wisata Kegiatan ini bertujuan sebagai panduan untuk pengembangan kawasan wisata di 23 kabupaten/kota. Hasilnya adalah studi kelayakan dan DED Pembangunan Institut Kesenian Aceh (IKA), Studi pengembangan kawasan wisata Ulee Lheu (Otsus), Master Plan kawasan wisata Waduk Keliling, Lantai Lampuuk, Kata Argo Saree (Otsus), DED Taman Wisata Warter Boom Sabang (otsus), Master Plan Kawasan Wisata Sumur Tiga Sanag (Otsus). Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (92,81%) dan realisasi fisik 100%. 11. Program Pengembangan Kemitraan. Kegiatan pengembangan dan penguatan informasi dan database Tujuan kegiatan tersebut adalah untuk dapat menyediakan informasi dan data kebudayaan dan pariwisata kepada masyarakat luas melalui jaringan internet dan dapat diakses dimanapun. Hasilnya terbitnya buku data tahun Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,45%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pengembangan SDM dan profesionalime bidang pariwisata Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan biro perjalanan wisata di Aceh pekerja, yang dilaksanakan pada tanggal 22 s/d 25 Nopember 2010 di Medan Sumatera Utara, dengan peserta 14 orang 363

367 dari pengelola biro perjalanan wisata di Aceh. Hasilnya adalah BPW profesional didalam mengemas paket wisata dan meningkatnya jumlah wisatawan ke Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (69,45%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan peningkatan peran serta masyarakat daalam pengembangan kemitraan pariwisata Kegiatan ini adalah kegiatan penyuluhan sadar wisata, yang bertujuan terbentuknya kelompok sadar wisata dimasyarakat yang dilaksanakan pada tanggal 24 Juli 2010 di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat dan pada tanggal 21 s/d 25 Desember 2010 di Banda Aceh, Kota Sabang dengan jumlah peserta 60 orang dari unsur pengelola objek wisata, kelompok sadar wisata, tokoh masyarakat, MAA, KNPI dan aparatur pemerintahan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,76%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pelaksanaan gebyar wisata nusantara Kegiatan pameran biro perjalanan wisata, kegiatan aktraksi budaya, pada tanggal 28 Mei s/d 1 Juni 2010 di Jakarta, dengan peserta masyarakat dalam dan luar negeri. Tujuannya adalah untuk mempromosi objek wisata dan aktrasi budaya Aceh, pakaian adat tradisional Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi Anggaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp ,- (95,85%) dan realisasi fisik 99,99%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,85 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung , ,40 2 Belanja langsung , ,47 TOTAL , ,85 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - sumber daya manusia yang memadai, relevan dan kompetitif yang 364

368 diharapkan dapat meningkat kemajuan kebudayaan dan pariwisata; - nomenklatur dinas di kabupaten/kota yang menangani Kebudayaan dan Pariwisata tidak seragam mengakibatkan terkendala dalam koordinasi program; - belum tersosialisasinya UU RI No. 10 Tahun 2009 tentang pariwisata; - terbukanya lapangan kerja bagi masyarakat sekitar lingkungan objek wisata secara temporer, karena banyak objek wisata yang belum ditata dan dikelola dengan baik; - masih kurangnya event-event yang mendorong pertumbuhan kepariwisataan di Aceh, sehingga mempengaruhi jumlah wisatawan (wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara) untuk datang di Aceh. Solusi: - perlu adanya peningkatan sumber daya aparatur dengan memberikan pelatihan-pelatihan teknis bidang kebudayaan dan pariwisata; - mengadakan penyuluhan kepada masyarakat mengenai UU RI No. 5 Tahun 1992 tentang BCB peninggalan sejarah dan kepurbakalaan serta UU RI No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan; - melakukan penelitian-penelitian dan kajian tentang pembangunan/pengembangan kebudayaan dan pariwisata di masa mendatang; - adanya penambahan kegiatan event-event wisata dengan sektor lainnya dengan adanya saling kerja sama misalnya; event kebudayaan/kesenian, event permainan rakyat, event olah raga tradisional dll; - perlu adanya anggaran yang memadai untuk menbangun fasilitas sarana dan prasarana Kebudayaan dan Pariwisata. Sekretariat Majelis Adat Aceh Urusan Kebudayaan yang dilaksanakan oleh Sekretariat Majelis Adat Aceh sebagai berikut: A. Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi; c. Penyediaan jasa administrasi keuangan; d. Penyediaan jasa kebersihan kantor; e. Penyediaan alat tulis kantor; f. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; 365

369 g. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; h. Penyediaan makanan dan minuman; i. Penyediaan jasa dokumentasi kantor; j. Penyediaan jasa hari-hari besar. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengadaan perlengkapan gedung/kantor; b. Pengadaan peralatan gedung/kantor; c. Pengadaan mobeleur; d. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional; e. Pemeliharaan rutin/berkala mebeleur; f. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan kantor; g. Penunjang dan pembinaan kelembagaan. 3. Program Pengembangan Nilai Budaya Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: - Pelatihan peradilan adat; - Penerbitan majalah/buku-buku tentang adat. 4. Program Pengelolaan Kekayaan Budaya Kegiatan ini berupa rapat kerja tahunan. 5. Program Pengelolaan Keragaman Budaya Kegiatan ini berupa monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pengembangan keanekaragaman budaya. B. Realisasi Pelaksanaan Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah kegiatan penyediaan surat menyurat, jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, jasa administrasi keuangan, jasa kebersihan kantor, alat tulis kantor, barang cetakan dan penggandaan, komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, makanan dan minuman, jasa dokumentasi kantor, serta penyediaan jasa hari-hari besar. Kegiatan di atas merupakan kegiatan rutin kantor dan telah dilaksanakan. Anggaran yang dialokasikan untuk program ini sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,95%) dan realisasi fisik 100%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah kegiatan pengadaan perlengkapan gedung/kantor, pengadaan peralatan gedung/kantor, pengadaan mobeleur, pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional, pemeliharaan rutin/berkala mebeleur, pemeliharaan rutin/berkala peralatan kantor, serta penunjang dan pembinaan kelembagaan. Kegiatan di atas merupakan kegiatan rutin kantor dan telah dilaksanakan. Anggaran yang dialokasikan untuk 366

370 program ini sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,18%) dan realisasi fisik 100% 3. Program Pengembangan Nilai Budaya Pelatihan peradilan adat Kegiatan pelatihan peradilan adat dengan melaksanakan training peradilan adat sebanyak 2 (dua) angkatan, bagi 92 orang peserta, mewakili gampong/mukim di Aceh. training ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas tokoh adat dalam menyelenggarakan peradilan adat pada tingkat gampong dan mukim. Materi training meliputi dasardasar hukum adat, fungsionaris dan proses peradilan adat, administrasi peradilan adat dan perpolisian masyarakat. Anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan ini sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Penerbitan majalah/buku-buku tentang adat Kegiatan penerbitan majalah/buku-buku tentang adat, yaitu majalah Jeumala (Edisi 33 dan 34), dengan materi yang meliputi peradilan adat, syair terimong jamee, budaya senyum, salam dan sapa, kearifan lokal dalam percepatan pembangunan, seni religius Aceh yang terancam punah, masakan dan makanan khas Aceh, narit maja, resam dalam tatanan pemerintahan kerajaan Aceh, gelar adat Aceh dan isu-isu actual tentang budaya Aceh. Anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan ini sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp ,- (97,53) dan realisasi fisik 100%. 4. Program Pengelolaan Kekayaan Budaya Kegiatan yang dilaksanakan berupa rapat kerja tahunan MAA yang dihadiri 40 Orang peserta dari 20 kabupaten/kota. Raker tersebut berhasil merumuskan dan mempertegas kembali program-program dan kegiatan utama yang harus dilaksanakan meliputi; bidang hukum adat, bidang adat istiadat, bidang publikasi dan dokumentasi adat dan bidang penelitian, pengkajian, pendidikan, pengembangan adat, pemberdayaan adat, pemeliharaan pusaka/pembinaan khasanah adat serta pengkaderan generasi muda yang memahami adat Aceh. Anggaran yang dialokasikan untuk program ini sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp ,- (98,14 %). 5. Program Pengelolaan Keragaman Budaya Monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pengembangan keanekaragaman budaya Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan anggaran yang dilokasikan untuk program ini sebesar Rp ,- dengan realisasi keuangan Rp ,-(99,71%) dan realisasi fisik 100%. 367

371 Realisasi Anggaran Majelis Adat Aceh (MAA), dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp ,- (99,44%) dan realisasi fisik 94%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,44 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,69 2 Belanja langsung ,96 TOTAL , ,44 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: Tidak adanya dana pembinaan/monitoring khusus untuk memperkuat proses dan adminitrasi peradilan adat di daerah kabupaten/kota. Akibatnya, penerapan administrasi peradilan adat masih belum memenuhi standar. Selain itu, sebagian peserta training yang mewakili gampong dan mukim, ternyata tidak menyampaikan atau menyerahkan hasil-hasil training kepada pimpinan gampong dan mukim. Sehingga pendampingan untuk penerapan sistem administrasi peradilan adat di lapangan terkendala. Solusi: Untuk mengatasi hal tersebut, sekretariat MAA melakukan monitoring secara swadaya (tanpa dukungan dana APBA), khususnya untuk wilayah kota Banda Aceh. Namun, tentu saja jangkauannya sangat terbatas. 24. URUSAN STATISTIK Urusan wajib mengenai Statistik, Pemerintah Aceh telah melaksankannya melalu Lembaga Daerah yaitu: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Urusan Perencanaan pembanguan), Dinas Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telematika (Urusan Perhubungan). Hal ini dikarenakan anggaran belanja Non Program dan belanja Program tidak dapat dipisahkan maka disesuaikan dengan urusan yang melekat pada lembaga daerah tersebut. Begitu juga dengan permasalahan dan solusi telah tersirat dalam keterangan dalam pelaksanaan program dan kegiatan pada lembaga daerah tersebut. 368

372 25. URUSAN KEARSIPAN Urusan Kearsipan yang dilaksanakan oleh Badan Arsip dan Perpustakaan sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa administrasi keuangan; d. Penyediaan jasa kebersihan kantor; e. Penyediaan alat tulis kantor; f. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; g. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan; h. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perudang-undangan; i. Penyediaan makanan dan minuman; j. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah; k. Penyediaan jasa pegawai non PNS. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan gedung kantor; b. Pengadaan peralatan gedung kantor; c. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor; d. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional; e. Pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor; f. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pendidikan dan pelatihan formal; b. Sosialisasi peraturan perundang-undangan; c. Peningkatan kualitas pelayanan publik. 4. Program Penyelamatan dan Pelestarian Dokumen/Arsip Daerah Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pendataan dan penataan dokumen/arsip daerah; b. Survey/pelacakan dan ganti rugi dokumen/wawancara tokoh/pelaku sejarah; c. Pengolahan arsip; d. Reproduksi/alih media. 5. Program Pemeliharaan Rutin/Berkala Sarana dan Prasarana Kearsipan Kegiatan ini berupa pemeliharaan rutin/berkala arsip daerah. 369

373 6. Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Informasi Kegiatan ini berupa bimbingan/penyuluhan kearsipan 7. Program Peningkatan SDM Kearsipan Kegiatan ini berupa penilaian arsiparis 8. Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pemasyarakatan minat dan kebiasaan membaca untuk mendorong terwujudnya masyarakat pembelajar; b. Pengembangan minat dan budaya baca; c. Suvervisi, pembinaan dan stimulasi pada perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan sekolah dan perpustakaan masyarakat; d. Penyediaan bantuan pengembangan perpustakaan dan minat budaya baca di daerah; e. Perencanaan dan penyusunan program budaya baca; f. Publikasi dan sosialisasi minat dan budaya baca; g. Penyediaan bahan pustaka perpustakaan umum daerah; h. Monitoring, evaluasi dan pelaporan; i. Pembangunan gedung perpustakaan. B. Realisasi Pelaksanaan Program/Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan, penyediaan bahan bacaan dan peraturan perudang-undangan, penyediaan makanan dan minuman, rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah, penyediaan jasa pegawai non PNS. program dan kegiatan ini merupakan program dan kegiatan rutin kantor dengan output tersedianya jasa surat menyurat, terlaksananya penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, tersedianya jasa administrasi keuangan, tersedianya jasa kebersihan kantor, terlaksananya pengadaan bahan bacaan dan peraturan perundangundangan. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (89,07%) dan realisasi fisiknya 100%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Pembangunan gedung kantor Hasil yang dicapai terlaksananya pembuatan tempat parkir kendaraan roda 2. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp 370

374 realisasi keuangan Rp ,- (99,58%) dan realisasi fisik 100%. Pengadaan peralatan gedung kantor Hasil yang dicapai terlaksananya pengadaan peralatan gedung kantor. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (99,23%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor Hasil yang dicapai terlaksananya pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (97,92%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional Hasil yang dicapai terlaksananya pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional dinas. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (99,94%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor Hasil yang dicapai terlaksananya pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (99,88%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor Hasil yang dicapai terlaksananya pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (98.53%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Pendidikan dan pelatihan formal Hasil yang dicapai terlaksananya pendidikan dan pelatihan formal. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (99.83%) dan realisasi fisik 100%. Sosialisasi peraturan perundang-undangan Hasil yang dicapai terlaksananya hunting, KCKR, sosialisasi PP dan Undang-undang tentang KCKR. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp (96,83%) dan realisasi fisik 100%. Peningkatan kualitas pelayanan publik Hasil yang dicapai terlaksananya peningkatan pelayanan perpustakaan pada hari libur dan perpustakaan keliling. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,-realisasi keuangan Rp 371

375 ,- (99,98%) dan realisasi fisik 100%. 4. Program Penyelamatan dan Pelestarian Dokumen/Arsip Daerah Pendataan dan penataan dokumen/arsip daerah Hasil yang dicapai terlaksananya penyusutan dan pemusnahan arsip dilembaga Arsip dan Perpustakaan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (40,95%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan penyusunan daftar penyusutan dan pemusnahan arsip yang merupakan keluaran dari kegiatan ini telah selesai dikerjakan sampai tahap pembahasan tingkat propinsi, sementara keterbatasan waktu pembahasan dari pihak tim ahli Arsip Nasional Jakarta (ANRI) sehingga dana honorarium untuk tim ahli tersebut tidak digunakan. Survey/pelacakan dan ganti rugi dokumen/wawancara tokoh/pelaku sejarah Hasil yang dicapai terlaksananya survey arsip pada 10 SKPA. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp (32.31%) dan realisasi fisik 100%. Tahapan kegiatan ganti rugi arsip/dokumen telah dilaksanakan, setelah dilakukan penilaian arsip/dokumen dimaksud kurang bernilai guna tinggi sehingga tidak dilakukanbiaya ganti rugi. Untuk sub kegiatan wawancaratokoh/pelaku sejarah telah dilaksanakan karena ketidaksiapan waktu tokoh yang telah ditentukan sehingga dana untuk kegiatan tersebut tidak dapat digunakan. Pengolahan arsip Hasil yang dicapai terlaksananya pengolahan arsip dan penataan arsip. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (99,76%) dan realisasi fisik 100%. Reproduksi/alih media Hasil yang dicapai terlaksananya reproduksi arsip dan alih media arsip. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (49,20%) dan fisik 100%. Pada awalnya kegiatan ini direncanakan dikerjakan oleh pihak ke 3, namun pada tahap pelaksanaan dapat dikerjakan oleh staf bidang pelestrian dan konservasi sehingga dana untuk pih ak ke 3 tidak digunakan. 5. Program Pemeliharaan Rutin/Berkala Sarana dan Prasarana Kearsipan Pemeliharaan rutin/berkala arsip daerah Hasil yang dicapai terlaksananya fumigasi arsip dan bahan pustaka. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp (79,08%) dan realisasi fisik 100%. 6. Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Informasi Bimbingan/penyuluhan kearsipan Hasil yang dicapai terlaksananya bimbingan tehnis dan penyuluhan kearsipan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp 372

376 realisasi keuangan Rp ,- (89,15%) dan realisasi fisik 100%. 7. Program Peningkatan SDM Kearsipan Penilaian arsiparis Hasil yang dicapai terlaksananya penilaian angka kredit arsiparis berprestasi dan pustakawan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp (89,52%) dan realisasi fisik 100%. 8. Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan Pemasyarakatan minat dan kebiasaan membaca untuk mendorong terwujudnya masyarakat pembelajar, hasil yang dicapai terlaksananya lomba minat baca dan kegiatan Lucky Draw. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (97,17%) dan realisasi fisik 100%. Pengembangan minat dan budaya baca Hasil yang dicapai terlaksananya pengkajian/penyuluhan minat baca dan cetak bahan pustaka. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (98,86%) dan realisasi fisik 100%. Suvervisi, pembinaan dan stimulasi pada perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan sekolah dan perpustakaan masyarakat Hasil yang dicapai terlaksananya pembinaan perpustakaan, pendataan perpustakaan dan penggandaan nomor pokok perpustakaan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (89,14%) dan realisasi fisik 100%. Penyediaan bantuan pengembangan perpustakaan dan minat budaya baca di daerah Hasil yang dicapai terlaksananya pembangunan gedung perpustakaan dan pengadaan bahan pustaka untuk pembangunan gedung perpustakaan yaitu 1 (satu) unit gedung perpustakaan dan arsip daerah Kota Lhokseumawe, 6 (enam) unit gedung perpustakaan desa di Kabupaten Aceh Singkil, 1 (satu) unit gedung perpustakaan desa di Kota Langsa, 2 (dua) unit gedung Perpustakaan Gampong di Kabupaten Bireuen, 3 (tiga) unit gedung Perpustakaan Pesantren di Aceh Besar, 3 (tiga) unit Perpustakaan gampong dikabupaten Nagan Raya, 1 (satu) unit gedung Perpustakaan Gampong di Kabupaten Aceh Barat. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,88%) dan realisasi fisik 100%. Perencanaan dan penyusunan program budaya baca Hasil yang dicapai terlaksananya penyusunan program kegiatan tahunan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,48%) dan realisasi 373

377 fisik 100%. Publikasi dan sosialisasi minat dan budaya baca Hasil yang dicapai terlaksananya kegiatan pameran buku di daerah (story telling dan pemilihan raja dan ratu baca. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (96,94%) dan realisasi fisik 100%. Penyediaan bahan pustaka perpustakaan umum daerah Hasil yang dicapai terlaksananya pengadaan buku perpustakaan sebanyak eksemplar. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (95,42%) dan realisasi fisik 100%. Monitoring, evaluasi dan pelaporan Hasil yang dicapai terlaksananya kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan di 23 kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,33%) dan realisasi fisik 100%. Pembangunan gedung perpustakaan Hasil yang dicapai terlaksananya pembangunan 2 (dua) unit gedung Perpustakaan Gampong di Kabupaten Bireuen, 2 (dua) unit gedung perpustakaan Kecamatan di Kabupaten Aceh Tamiang, 5 (lima) unit gedung perpustakaan Kecamatan di Kabupaten Aceh Selatan, pengadaan kontruksi bangunan gedung kantor dan tempat tinggal dan fasilitas umum lainnya di Kabupaten Aceh Timur serta sarana dan prasarana perpustakaan umum Kabupaten Pidie dan pengadaan bahan pustaka. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp realisasi keuangan Rp ,- (93.86%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi Anggaran Untuk Badan Arsip dan Perpustakaan dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan keseluruhan anggaran sebesar Rp (96,26%) dan realisasi fisik 100%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini. No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) ,26 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,93 2 Belanja langsung ,16 TOTAL ,26 374

378 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - meningkatnya jumlah pengunjung pemustaka dan tingginya minat baca masyarakat, sementara jumlah jam layanan perpustakaan dirasakan masih kurang; - belum tertampungnya beberapa usulan dari kabupaten/kota baik untuk permintaaan buku, sarana prasarana pendukung maupun gedung Perpustakaan dan Arsip; - kurangnya kesadaran masyarakat terhadap masalah kearsipan. Solusi: - untuk menatisipasi peningkatan pemustaka ini, perlu dilakukan penambahan jam layanan disamping layanan pada jam kerja, layanan diluar jam dinas pada hari sabtu dan minggu juga akan dibuka pelayanan pada malam hari; - agar usulan kabupaten/kota dapat tertampung pada anggaran kedepan; - perlunya sosialisasi kearsipan agar tercipta masyarakat sadar arsip. 26. URUSAN PERPUSTAKAAN Urusan wajib mengenai perpustakaan, Pemerintah Aceh telah melaksankannya melalu Lembaga Daerah yaitu: Badan Arsip dan Perpustakaan (Urusan Kearsipan). Hal ini dikarenakan anggaran belanja non program dan belanja Program tidak dapat dipisahkan maka disesuaikan dengan urusan yang melekat pada lembaga daerah tersebut. B. URUSAN PILIHAN YANG DILAKSANAKAN Bertitik tolak dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2007 Tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Pemerintah, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah Kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Masyarakat, maka urusan pilihan yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Aceh pada tahun 2010 meliputi beberapa urusan yaitu: 1. Urusan kelautan dan perikanan; 2. Urusan pertanian; 3. Urusan kehutanan; 4. Urusan energi dan sumber daya mineral; 5. Urusan pariwisata; 6. Urusan industri; 375

379 7. Urusan perdagangan; 8. Urusan ketransmigrasian. Dalam rangka pelaksanaan urusan pilihan tersebut di atas, telah dilaksanakan sejumlah program dan kegiatan dengan realisasi pelaksanaan serta permasalahan dan solusinya sebagai berikut: 1. URUSAN KELAUTAN DAN PERIKANAN Urusan kelautan dan perikanan yang dilaksanakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir Kegiatan ini berupa pembinaan kelompok ekonomi masyarakat pesisir. 2. Program Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Identifikasi dan penangkaran ikan; b. Pengawasan dan penertiban illegal fishing. 3. Program Peningkatan Kesadaran dan Penegakan Hukum dalam Pendayagunaan Sumberdaya Laut Kegiatan ini berupa kegiatan penyuluhan hukum dalam pendayagunaan sumberdaya laut. 4. Program Pengembangan Budidaya Perikanan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengembangan bibit ikan unggul; b. Pembinaan dan pengembangan perikanan; c. Revitalisasi perikanan budidaya di kawasan budidaya air tawar; d. Pengembangan kawasan pendederan ikan unggulan; e. Revitalisasi perikanan budidaya di kawasan budidaya air payau; f. Pengendalian dan pencegahan penyebaran penyakit ikan. 5. Program Pengembangan Perikanan Tangkap Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Motorisasi armada perikanan dalam upaya peningkatan daya jelajah dan produktifitas nelayan; b. Pembangunan pangkalan pendaratan ikan. 6. Program Optimalisasi Pengelolaan dan Pemasaran Produksi perikanan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Temu usaha kelompok usaha bersama dengan pengusaha dan temu Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB); b. Peningkatan kapasitas kelembagaan, operasional Pusat Jaringan Usaha dan Investasi (PUSJUI) serta peningkatan upaya pemasaran hasil perikanan dan kelautan. 376

380 B. Realisasi Pelaksanaan Program/Kegiatan 1. Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir Program ini dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pembinaan masyarakat pesisir, dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui pembinaan, pendampingan usaha dan penciptaan usaha baru di wilayah pesisir. Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,47%) dan realisasi fisik 100%. 2. Program Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengawasan dan Pengedalian Sumberdaya Kelautan Kegiatan identifikasi dan penangkaran ikan Kegiatan ini bertujuan dalam pelestarian ekosistem terumbu karang sebagai tempat hidup ikan yang berbasis masyarakat dengan kegiatan utama yaitu pengadaan terumbu karang buatan, dengan transplantasi terumbu karang. Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (75,59%) dan realisasi fisik 80%. Kegiatan pengawasan dan penertiban illegal fishing Kegiatan tersebut telah dilaksanakan melalui operasional pengawasan dan penertiban illegal fishing di perairan Aceh Singkil dan Aceh Tamiang dan pengadaan alat komunikasi untuk nelayan serta Operasional Post Check Point (PCP) di perbatasan Aceh dengan tujuan menjaga kelestarian kawasan sumberdaya kelautan dan perikanan. Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,55%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Kesadaran dan Penegakan Hukum dalam Pendayagunaan Sumberdaya Laut Program ini dilaksanakan dengan kegiatan penyuluhan hukum pendayagunaan sumberdaya laut, dalam bentuk pertemuan koordinasi lintas sektor, sosialisasi UU No. 45 Tahun 2009 dan penjemputan nelayan terdampar. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran terhadap pengelolaan sumberdaya laut yang berkelanjutan dan pemahaman UU perikanan yang baru serta proses dan mekanisme perizinan kapal perikanan, disamping untuk menyelamatkan dan mengembalikan para nelayan Aceh yang mengalami musibah dan terdampar di luar daerah. Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (90%) dan realisasi fisik 100%. 4. Program Pengembangan Budidaya Perikanan Kegiatan pengembangan bibit ikan unggul 377

381 Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan operasional Balai Benih Ikan (BBI) dengan pembangunan fisik balai benih dan pengadaan sarana produksi yang dapat mendukung pengembangan budidaya air tawar. Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (90,75%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pembinaan dan pengembangan perikanan Kegiatan ini dalam bentuk agro input, pompanisasi tambak, keramba dan sarana pembenihan serta normalisasi saluran tambak, dengan tujuan untuk mengembangkan kawasan budidaya perikanan produktif, berbasis masyarakat. Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (90,62%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan revitalisasi perikanan budidaya di kawasan budidaya air tawar Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan pekerjaan pokok pembangunan dan rehabilitasi kolam rakyat, penyusunan master plan, dempond kawasan budidaya air tawar dan perencanaan pembangunan aquarium alam. Tujuannya adalah untuk mengembangkan usaha rakyat dibidang perikanan budidaya air tawar dan termanfaatkan potensi budidaya ikan air tawar serta tersedianya kebutuhan komuditi ikan air tawar. Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (92,10%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pengembangan kawasan pendederan ikan unggulan Kegiatan ini berupa restocking ikan di perairan umum, seperti danau, waduk dan sungai, dengan tujuan untuk pelestarian sumberdaya ikan di perairan umum yang sebagai bagian dari implementasi program Aceh Green Vision. Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (90,50%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan revitalisasi perikanan budidaya di kawasan budidaya air payau Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk rehabilitasi saluran tambak dan rehabilitasi tambak rakyat dan pengembangan kawasan usaha budidaya air payau, dengan tujuan untuk revitalisasi perikanan budidaya air payau. Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,-(91,41%) dan realisasi fisik 100%. Pengendalian dan pencegahan penyebaran penyakit ikan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pengujian terhadap pemakaian bahan kimia pada produk perikanan dan pelatihan tenaga inspektur hama penyakit ikan bagi 23 orang peserta dari kabupaten /kota, dengan tujuan untuk terkendalinya penyebaran penyakit ikan atau udang, bebas dari bahan kimia dan tersedia SDM untuk melakukan inspeksi sehingga akan meningkatnya kuantitas dan kualitas produk perikanan Aceh, sehingga nilai jual mampu bersaing baik dipasar dalam negeri maupun di luar negeri. Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- 378

382 (90,50%) dan realisasi fisik 100%. 5. Program Pengembangan Perikanan Tangkap Kegiatan motorisasi armada perikanan dalam upaya peningkatan daya jelajah dan produktifitas nelayan Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam bentuk pengadaan perahu jukung, mesin boat, rumpon, alat tangkap bagi nelayan di 17 kabupaten/kota dengan tujuan untuk peningkatan daya jelajah dan produktifitas nelayan dalam meningkatkan hasil tangkapan sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan. Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (91,34%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pembangunan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kegiatan ini telah dilaksanakan berupa study amdal, pembangunan pabrik es, balai nelayan, tempat perbaikan jala, pembangunan dermaga, tebing dermaga, sheet pile, tambat labuh, pengerukan pelabuhan dan kantor administrasi, bertujuan tersedianya sarana dan prasarana perikanan tangkap sebagai pendukung operasional pelabuhan perikanan di Aceh. Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp (88,48%) dan realisasi fisik 100%. 6. Program Optimalisasi Pengelolaan dan Pemasaran Produksi Perikanan Kegiatan temu usaha kelompok usaha bersama dengan pengusaha dan temu KKMB Kegiatan tersebut berbentuk pertemuan para pengusaha perikanan dan temu Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB), dengan tujuan pembinaan pengusaha perikanan menuju mandiri dan membuka akses terhadap sumber-sumber permodalan. Anggaran yang dialokasikan 379

383 sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pusat Jaringan Usaha dan Investasi (PUSJUI) Serta Peningkatan Upaya Pemasaran Hasil Perikanan dan Kelautan Kegiatan ini telah dilaksanakan dalam bentuk pembangunan Unit Pengolahan Ikan (UPI), peningkatan fasilitas UMKM, partisipasi pameran produk perikanan, pelatihan SNI, pengujian formalin di pintu masuk Aceh dan pengadaan tong fiber. Tujuan dari kegiatan ini agar dapat memanfaatkan peluang pasar nasional dan internasional untuk pemasaran komoditi hasil perikanan, tersedianya tenaga teknis laboratorium yang trampil dan adanya lembaga Unit Pengolahan Ikan (UPI) propesional serta berfungsinya lembaga UMKM. Anggaran yang dialokasikan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (90%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi Anggaran Dinas Kelautan dan Perikanan, dialokasikan dana sebesar Rp ,- dengan realisasi keuangan sebesar Rp ,- (90,20%) dan realisasi fisik 98,56%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Realisasi Pagu Anggaran Fisik Keuangan (Rp) % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) SKPA sebesar , ,20 1 Belanja tidak langsung ,65 2 Belanja langsung ,45 TOTAL , ,20 C. Permasalahan Dan Solusi Secara umum pelaksanaan program dan kegiatan serta pelaksanaan anggaran tahun 2010 tidak ditemukan permasalahan yang berarti, namun terdapat kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan yaitu transplantasi terumbu karang di Kota Sabang, karena terumbu karang di wilayah perairan Sabang terjadi pemutihan (bleeching) sehingga tidak tersedia donor untuk transplantasi. 380

384 2. URUSAN PERTANIAN Urusan Pertanian yang dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan. Dinas Pertanian Tanaman Pangan A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa peralatan dan perlengkapan kantor; d. Penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kendaraan dinas; e. Penyediaan jasa kebersihan kantor; f. Penyediaan alat tulis kantor; g. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; h. Penyediaan komponen instalasi listrik; i. Penyediaan peralatan rumah tangga; j. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan; k. Penyediaan makan dan minuman; l. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah m. Penyediaan jasa pegawai non PNS. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan gedung kantor; b. Pengadaan perlengkapan gedung kantor; c. Pengadaan meubeuler; d. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor; e. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional; f. Pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor; g. Pemeliharaan berkala meubeuler; h. Rehabilitasi sedang/berat gedung kantor. 3. Program Peningkatan Disiplin Aparatur Kegiatan ini berupa pengadaan pakaian kerja lapangan (Satpam) 4. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pendidikan dan pelatihan formal; b. Peningkatan pengembangan sumber daya dan potensi daerah. 5. Program Peningkatan Ketahanan Pangan Pertanian Kegiatan ini berupa pengembangan diversifikasi tanaman. 6. Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian Kegiatan ini berupa promosi atas hasil produksi pertanian unggulan daerah. 381

385 7. Program Peningkatan Penerapan Tekhnologi Pertanian Kegiatan ini berupa pengadaan sarana dan prasarana tekhnologi pertanian tepat guna. 8. Program Peningkatan Produksi Pertanian Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan sarana produksi pertanian; b. Pengembangan bibit unggul pertanian. A. Realisasi Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa peralatan dan perlengkapan kantor, penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kendaraan dinas, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyediaan alat tulis kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik, penyediaan peralatan rumah tangga, penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan, penyediaan makan dan minuman, rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah, serta penyediaan jasa pegawai non PNS. Program dan kegiatan di atas merupakan program dan kegiatan rutin kantor yang telah dilaksanakan dengan hasil yang dicapai telah terlaksananya kegiatan surat menyurat, tersedianya fasilitas penunjang kegiatan kedinasan di lingkup Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,42%) dan realisasi fisik 100%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah pembangunan gedung kantor, pengadaan perlengkapan gedung kantor, pengadaan meubeuler, pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor, pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional, pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor, pemeliharaan berkala meubeuler, rehabilitasi sedang/berat gedung kantor. kegiatan di atas telah dilaksanakan dengan hasil yang dicapai terbangunnya sarana perkantoran dan sarana sekolah kedinasan, fasilitas bagi aparatur kedinasan, meubeuler kantor, dan terlaksananya pemeliharan kantor di lingkup Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (88,77%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Disiplin Aparatur Kegiatan pengadaan pakaian kerja lapangan (Satpam) Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan hasil yang dicapai tersedianya seragam khususnya bagi petugas keamanan (Satpam) 382

386 lingkup dinas. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,67%) dan realisasi fisik 100%. 4. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatannya adalah pendidikan dan pelatihan formal serta peningkatan pengembangan sumber daya dan potensi daerah. Kedua kegiatan di atas telah dilaksanakan dengan hasil yang dicapai peningkatan ilmu dan ketrampilan aparatur, tersediannya data base pembangunan dan potensi hasil produksi pertanian TP. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (87,24%) dan realisasi fisik 100%. 5. Program Peningkatan Ketahanan Pangan Pertanian Kegiatan pengembangan diversifikasi tanaman Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan ketersediaan pangan masyarakat melalui peningkatan hasil produksi pertanian dengan pengendalian OPT dan antisipasi bencana alam. Dari kegiatan ini hasil yang diharapkan adalah terjadinya peningkatan hasil produksi pertanian, dengan outcome kegiatan Adanya Peningkatan hasil produksi komoditas pertanian melalui diversifikasi usaha dan berdaya saing untuk menambah income petani. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,52%) dan realisasi fisik 100%. 6. Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian Kegiatan promosi atas hasil produksi pertanian unggulan daerah Telah dilaksanakan yang bertujuan meningkatkan promosi dan pemasaran hasil produksi pertanian masyarakat melalui peningkatan keanekaragaman dan kualitas produk pertanian. hasil dari kegiatan ini diharapkan terlaksananya promosi dan pemasaran hasil produksi pertanian melalui kegiatan event promosi seperti pameran. Outcome yang dihasilkan adalah adanya peningkatan mutu produk pertanian di daerah dan menjalin kerjasama berbagai pihak baik petani produsen, pengusaha dan eksportir dalam pemasaran produk hasil pertanian. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (78,38%) dan realisasi fisik 83,18%. 7. Program Peningkatan Penerapan Tekhnologi Pertanian Kegiatan Pengadaan sarana dan prasarana tekhnologi pertanian tepat guna Telah dilaksanakan yang bertujuan untuk menerapkan teknologi tepat guna yang mampu meningkatkan produktivitas dan nilai tambah usaha olahan pangan serta usaha pertanian. hasil yang diperoleh adalah ketersediaan berbagai alat dan mesin pertanian, ketersediaan bangunan/sarana pendukung kelengkapan alat dan mesin serta fasilitas umum lainnya. Penambahan jumlah alat dan mesin pertanian di 383

387 berbagai kabupaten/kota, Ketersediaan berbagai bangunan pendukung/pelindung bagi alat dan mesin pertanian. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,38%) dan realisasi fisik 97,60%. 8. Program Peningkatan Produksi Pertanian Kegiatannya adalah Penyediaan sarana produksi pertanian dan Pengembangan bibit unggul pertanian. Telah dilaksanakan yang bertujuan untuk mengembangkan usaha tani di kawasan sentra produksi melalui diversifikasi usaha dengan komoditas bernilai tinggi dan berdaya saing untuk peningkatan nilai tambah petani. Hasil yang diperoleh adalah Ketersediaan berbagai sarana produksi padi, palawija dan hortikultura; Ketersediaan bangunan/sarana pendukung; berdirinya berbagai kebun hortikultura dan kawasan sentra pengembangan Padi, Palawija dan Hortikultura di berbagai kabupaten/kota; Penambahan jumlah alat dan mesin pertanian di berbagai kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,08%) dan realisasi fisik 99,66%. Realisasi Anggaran Dinas Pertanian Tanaman Pangan, dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp ,- (92,43%) dan realisasi fisik 98,76%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: 384

388 No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,43 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,02 2 Belanja langsung ,80 TOTAL , ,43 B. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - kegiatan yang sudah di tender namun tidak di kerjakan oleh pemenang tender sampai dengan batas waktu yang ditentukan sehingga diputuskan untuk melaksanakan tender kembali sudah tidak cukup waktu lagi; - spesifikasi yang diinginkan tidak dapat dipenuhi oleh pihak ketiga; - bergesernya waktu tanam sehingga jadwal tanam sudah tidak sesuai lagi. Solusi: - diharapkan untuk tahun 2011 pembahasan anggaran dapat dipercepat sehingga pelaksanaan kegiatan dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan; - perlunya kontrol yang tepat mengenai efisiensi dan efektif dalam pelaksanaan kegiatan azas manfaatnya. Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Urusan Pertanian yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa peralatan dan perlengkapan kantor; d. Penyediaan jasa pemeliharaan dan perizinan kendaraan dinas/operasional; e. Penyediaan jasa kebersihan kantor; f. Penyediaan alat tulis kantor; 385

389 g. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; h. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; i. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor; j. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan; k. Penyediaan makanan dan minuman; l. Rapat-rapat kordinasi dan konsultasi keluar daerah; 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan gedung kantor; b. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan ini berupa pendidikan dan pelatihan formal. 4. Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan Kegiatan ini berupa penyusunan laporan capaian kinerja dan ikhtisar realisasi kinerja SKPA. 5. Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Ternak Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit menular ternak; b. Penanggulangan kasus flu burung; c. Diagnosa penyakit hewan dan peningkatan mutu genetik. 6. Program Peningkatan Produksi Hasil Ternak Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembibitan dan perawatan ternak; b. Pendistribusian bibit ternak kepada masyarakat; c. Pengembangan agribisnis peternakan; d. Monitoring, evaluasi dan pelaporan; e. Pengembangan kawasan ayam ras petelur; f. Perencanaan pembangunan peternakan; 7. Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Peternakan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Promosi atas hasil produksi peternakan unggulan daerah; b. Pengolahan informasi permintaan pasar atas hasil produksi peternakan masyarakat. B. Realisasi Program dan kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Program dan kegiatan ini telah dilaksanakan dan merupakan program dan kegiatan rutin kantor yaitu penyediaan jasa surat menyurat, penyediaan jasa komunikasi sumber daya air dan listrik, penyediaan jasa peralatan dan alat perlengkapan kantor, penyediaan jasa pemeliharaan 386

390 dan perizinan kendaraan dinas/operasional, 57 unit kendaraan roda 2 dan 17 unit kendaraan roda 4, penyediaan jasa kebersihan kantor, penyediaan barang cetakan dan penggandaan, penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan, penyediaan makanan dan minuman untuk rapat diluar jam kantor, serta rapat-rapat koordinasi dan konsultasi keluar daerah. Anggaran yang disediakan untuk program dan kegiatan di atas sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,98%) dan realisasi fisik 100%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Program dan kegiatan ini telah dilaksanakan dan juga merupakan program dan kegiatan rutin kantor yaitu pembangunan gedung kantor, pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional, termasuk biaya untuk pergantian suku cadang, belanja bahan bakar minyak dan pelumas untuk 57 unit roda 2 dan 17 unit roda 4. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi Rp ,- (97,26%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Pendidikan dan pelatihan formal Kegiatan tersebut telah dipergunakan untuk belanja perjalanan dinas luar daerah dan kontribusi peserta dalam rangka mengikuti kursus, pelatihan, Sosialisasi dan bimbingan teknis untuk peningkatan kualitas sumber daya aparatur. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi Rp ,- (99,98%) dan realisasi fisik 100%. 4. Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan Penyusunan laporan capaian kinerja dan ikhtisar realisasi kinerja SKPD Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (56,04%) dan realisasi fisik 100%. 5. Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Ternak Kegiatan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit menular telah dilaksanakan dan dipergunakan untuk pembangunan/pengadaan sarana dan prasarana pendukung kegiatan pengamanan ternak, antara lain: pengadaan obat ternak besar ekor, obat ternak kecil ekor, obat ternak unggas ekor, Strichnine 3 kg, pegadaan peralatan Puskeswan 1 paket, pengadaan peralatan kesmavet 1 paket. Kegiatan penanggulangan kasus flu burung Telah dilaksanakan dalam mendukung kelancaran operasional LDCC dan PDSR dalam penanggulangan Flu Burung di Aceh. Kegiatan diagnosa penyakit hewan dan mutu genetik Telah dilaksanakan dalam bentuk bantuan biaya pemeriksaan specimen, 387

391 pengadaan peralatan laboratorium/bahan kimia/antigen/obat-obataan, untuk keperluan diagnosa penyakit hewan dan peningkatan mutu genetik ternak yang dilaksanakan oleh UPTD Laboratorium Diagnostik, IB/TE Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan di atas sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (92,42%) dan realisasi fisik 100% 6. Program Peningkatan Produksi Hasil Peternakan Pembibitan dan perawatan ternak Kegiatan ini antara lain difokuskan untuk pengadaan bibit ternak dan pengembangan kebun rumput. Hasil yang dicapai dari kegiatan ini adalah Pengadaan bibit ternak sapi ekor, kerbau 142 ekor, kuda 3 ekor, kambing 2003 ekor, semen beku straw, obat 3 paket, N2 Cair liter, KIT IB 21 paket, pakan ternak kg, traktor 4 unit, generator listrik 1 paket, mesin tetas 6 unit, chopper 15 unit, mesin potong rumput 1 paket, mesin pellet 1 unit, mesin pompa air 1 paket, timbangan ternak 1 unit, container 5 unit, talut I unit, batamas 11 unit, rumah jaga kawasan 2 unit, rumah mes karyawan 1 unit, pemagaran lokasi kawasan 24 ha, kandang kambing 2 unit, kandang sapi 3 unit. Pendistribusian bibit ternak kepada masyarakat Telah dilaksanakan dalam bentuk pemberian sapi 328 ekor, kerbau 85 ekor, kuda ekor, itik ekor, bahan kandang 1 paket, obat 1 paket, pakan ternak itik kg. Pengembangan agribisnis peternakan Pada kegiatan pengembangan agribisnis peternakan kegiatan difokuskan pada kegiatan pengadaan bibit ternak dan pembangunan kandang ternak. Realisasi dari kegiatan ini adalah pengadaan ternak sapi 190 ekor, pullet ekor, pakan ternak kg, kandang ternak 3 paket, pagar kawasan 1 paket, alat kandang 11 paket, kebun HMT 3 Ha, obat 1 paket, mixer 1 unit, alat medis 30 paket, alat IB 30 paket, mess anak kandang 2 unit. Monotoring, evaluasi dan pelaporan Melalui kegiatan ini antara lain telah dilaksanakan perjalanan dinas dalam rangka pembinaan, monitoring dan evaluasi pembangunan peternakan di seluruh kabupaten/kota se Aceh. Pengembangan kawasan ayam ras petelur kegiatan ini difokuskan untuk pengembangan kawasan ayam ras petelur di Kabupaten Aceh Besar, Aceh Timur, Kota Subulussalam dan UPTD balai ternak non ruminansia di Saree. Paket pekerjaan yang telah direalisasikan antara lain untuk pembayaran honor petugas kandang, pengadaan bantuan bahan baku kandang itik 1 paket, pengadaan pullet ekor, pengadaan ternak itik ekor, pengadaan obat, vaksin dan 388

392 feed suplemen ternak unggas ekor, pengadaan obat ternak itik 1 paket, pengadaan pakan ayam layer kg, pengadaan pakan ayam kamaras kg, peengadaan pakan ternak itik kg, pakaian kerja lapangan 24 stel, sepatu lard 24 pasang, sosialisasi pekerjaan rutininitas ayam ras petelur untuk anak kandang 1 paket, pengadaan mesin kompressor (penyemprot kandang) 4 unit, pengadaan pompa air 5 s/d 5,5 hp terpasang 4 unit, pengadaan handsprayer 10 unit, pembangunan tower air tangki fiber glass dan instalasi terpasang 4 unit, pembuatan sumur 20 cincin 5 unit, pembangunan gudang pakan dan telur 50 m 2, pembangunan kandang ayam ras petelur 7 unit 5000 ekor/unit M 2. Perencanaan pembangunan peternakan Terselenggarakannya rapat koordinasi perencanaan pembangunan peternakan, otsus dan migas tahun 2010 sebanyak 2 tahap yang dilakukan di Banda Aceh dan workshop pelaksanaan kegiatan pembangunan peternakan sebanyak 1 tahap, yang diselenggarakan di Banda Aceh. Selain itu melalui kegiatan ini juga telah direalisasikan penyusunan dan cetak buku rencana program peternakan tahun 2010, petunjuk teknis, data base peternakan, renstra, renja, laporan tahunan 2010, verifikasi data peternakan dan buku statistik peternakan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan di atas Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,52%) dan realisasi fisik 100%. 7. Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Peternakan Promosi atas hasil produksi peternakan unggulan daerah Telah dilaksanakan dan dipergunakan untuk promosi hasil produksi perternakan dari daerah Aceh untuk di pamerkan pada ajang Indonesia agribisnis expo 2010 yang di adakan di Surabaya, Internasional Expo 2010 di Malaysia, burung berkicau expo 2010 di Boyolali. 389

393 Pengolahan informasi permintaan pasar atas hasil produksi peternakan masyarakat Telah dilaksanakan dan dipergunakan untuk ekspose hari pangan sedunia di adakan di Kabupaten Bireuen, pawai dan pameran pembangunan/hari krida pertanian yang diadakan di Banda Aceh Anggaran yang disediakan untuk kegiatan di atas Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,33%) dan realisasi fisik 97,62%. Realisasi Anggaran Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp ,- (93,60%) dan realisasi fisik 100%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) ,60 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,03 2 Belanja langsung ,50 TOTAL ,60 C. Permasalahan dan Solusi Untuk tahun 2010 tidak ada permasalahan yang dihadapi oleh Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan. 3. URUSAN KEHUTANAN Urusan kehutanan yang dilaksanakan oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yanng dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan penyediaan jasa surat menyurat; b. Kegiatan penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. kegiatan penyediaan alat tulis kantor; d. Kegiatan penyediaan barang cetakan dan penggandaan; e. Kegiatan penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; 390

394 f. Kegiatan penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundangundangan; g. Penyediaan makanan dan minuman; h. Kegiatan rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah; i. Kegiatan penyediaan jasa keamanan kantor. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana aparatur Adapun kegiatan yanng dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pembangunan gedung kantor; b. Pengadaan meubeuleur; c. Pemeliharaan rutin/berkala rumah jabatan; d. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor; e. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional; f. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Adapun kegiatan yanng dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pendidikan dan pelatihan formal; b. Sosialisasi peraturan perundang-undangan. 4. Program Pemanfaatan Potensi Sumberdaya Hutan Adapun kegiatan yanng dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengembangan hutan tanaman; b. Pengembangan hasil hutan non kayu. 5. Program Rehabilitasi Hutan Dan Lahan Adapun kegiatan yanng dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan pembinaan, pengendalian dan pengawasan gerakan rehabilitasi hutan dan lahan; b. Kegiatan pengembangan pemanfaatan wisata alam. 6. Program Perlindungan Dan Konservasi Sumber Daya Hutan Adapun kegiatan yanng dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengembangan taman hutan raya pocut meurah intan; b. Kegiatan pembinaan PAMHUT kontrak (bentara rimba) dan pengamanan hutan/operasi illegal logging. 7. Program Perencanaan Dan Pengembangan Hutan Adapun kegiatan yanng dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan pemantapan dan pengendalian kawasan hutan; b. Kegiatan indentifikasi perambahan kawasan hutan dan potensi pengembangan hutan. 8. Program Kesejahteraan Petani Pemeliharaan tanaman perekebunan rakyat. 391

395 9. Program Peningkatan Ketahanan Pangan Pertanian/Perkebunan Kegiatan ini berupa kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan. 10. Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian/Perkebunan Kegiatan ini berupa promosi atas hasil produksi pertanian/perkebunan unggulan daerah. 11. Program Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian/Perkebunan Adapun kegiatan yanng dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Kegiatan pengendalian dan pemantapan alih tekhnologi Pengendalian Hama Terpadu (PHT); b. Kegiatan peningkatan sumber daya teknologi pengolahan hasil perkebunan. 12. Program Peningkatan Produksi Pertanian/Perkebunan Adapun kegiatan yanng dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengolahan dan Pemutakhiran Data Statistik serta Penyusunan Profil Perkebunan; b. Kegiatan Pembangunan Kebun Kelapa Sawit; c. Kegiatan Rehabilitasi dan Pengembangan Tanaman Perkebunan Rakyat; d. Kegiatan Pengembangan Usaha Perbenihan, Penyediaan Bibit dan Pengawasan Peredaran Benih Perkebunan; e. Kegiatan Pengembangan Kebun Karet Rakyat; f. Kegiatan Kebun Kakao Rakyat. B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah kegiatan penyediaan jasa surat menyurat, kegiatan penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, kegiatan penyediaan alat tulis kantor, kegiatan penyediaan barang cetakan dan penggandaan, kegiatan penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, kegiatan penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan, kegiatan penyediaan makanan dan minuman, kegiatan rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah dan kegiatan penyediaan jasa keamanan kantor. Kegiatan di atas merupakan kegiatan rutin kantor dan telah dilaksanakan. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (85,62%) dan realisasi fisik 97,06%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur. Kegiatan pembangunan gedung kantor Hasil yang dicapai tersedianya Detail Engineering Design (DED) untuk pembangunan/rehabilitasi Gedung UPTD DAS Kabupaten Aceh Besar, Aceh Timur dan Nagan Raya. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- 392

396 (98,87%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pengadaan meubeuleur Hasil yang dicapai tersedianya meubeuleur kantor. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,01%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala rumah jabatan Hasil yang dicapai terpeliharanya pemeliharaan rutin/berkala rumah jabatan selama 1 tahun. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (92,63%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor Hasil yang dicapai terlaksanannya pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor selama 1 tahun, terawatnya sarana dan prasarana kantor serta selesainya rehabilitasi mushalla kantor. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,51%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional Hasil yang dicapai terpeliharanya pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional selama 1 tahun. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp (99,76%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor Hasil yang dicapai terpeliharanya pemeliharaan rutin/berkala peralatan gedung kantor selama 1 tahun (AC, Komputer, Genset, Note Book dll). Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (76,76%) dan realisasi fisik 78,72%. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan pendidikan dan pelatihan formal Hasil yang dicapai terlaksananya pendidikan peningkatan sumberdaya aparatur dalam berbagai bidang. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (91,43%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan sosialisasi peraturan perundang-undangan Hasil yang dicapai terlaksana sosialisasi perundang-undangan yang berlaku dan terbaru. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (58,45%) dan realisasi fisik 74,80%. 4. Program Pemanfaatan Potensi Sumber daya Hutan. Kegiatan pengembangan hutan tanaman Hasil yang dicapai terlaksananya pengembangan hutan tanaman bagi 393

397 masyarakat di Kabupaten Aceh Besar, Aceh Singkil, Aceh Jaya, Aceh Selatan, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Bener Meriah dan Bireuen dengan jenis sentang, durian, jati, sengon, mahoni dan jenis kehutanan lainnya sebanyak batang. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (81,27%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pengembangan hasil hutan non kayu Hasil yang dicapai terlaksananya pengembangan lebah madu, pengembangan tanaman jernang, jeruk nipis dan asam glugur di Aceh Tamiang. Selain itu juga terlaksananya pengembangan tanaman cendana di Kabupaten Pidie, tanaman rumbia, rotan dan bambu di Aceh Singkil serta pengembangan lebah madu untuk kelompok tani hutan di kabupaten Gayo Lues. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (83,48%) dan realisasi fisik 97,23%. 5. Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kegiatan pembinaan, pengendalian dan pengawasan gerakan rehabilitasi hutan dan lahan Hasil yang dicapai terlaksananya pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan pemberantasan hama penyakit tanaman dalam rangka rehabilitasi dan reboisasi lahan-lahan terlantar dan marginal di Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Jaya, Bireuen, Aceh Utara dan Kota Banda dengan jenis-jenis tanaman kehutanan seperti trembesi, soga, sentang,mahoni, jati mas, cemara laut, ketapang dan petai sebanyak hampir batang. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (88,62%) dan realisasi fisik 97,77%. Kegiatan pengembangan pemanfaatan wisata alam Hasil yang dicapai terlaksananya tersedianya fasilitas ekowisata mangrove di kabupaten Aceh Timur berupa turap jalan dan pos jaga. Selain itu juga terlaksananya penanaman tanaman dilokasi wisata dengan jenis mahoni, durian, merbau, meranti dan kruing. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,97%) dan realisasi fisik 100%. 6. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Hutan. Kegiatan pengembangan taman hutan raya pocut meurah intan Hasil yang dicapai tersedianya pagar pengaman kawasan TAHURA pocut meurah intan intan sepanjang 10,500 Km. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (61,86%) dan realisasi fisik 61,95%. Kegiatan pembinaan PAMHUT kontrak (bentara rimba) dan pengamanan hutan/operasi illegal logging 394

398 Hasil yang dicapai tersedianya jasa Polhut kontrak sebanyak orang serta terlaksananya operasi pengamanan/illegal logging dan gangguan terhadap hutan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,01%) dan realisasi fisik 100%. 7. Program Perencanaan dan Pengembangan Hutan. Kegiatan pemantapan dan pengendalian kawasan hutan Hasil yang dicapai terlaksananya pemasangan Pal Batas hutan sebanyak 400 batang di Kabupaten Bener Meriah. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (64,86%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan indentifikasi perambahan kawasan hutan dan potensi pengembangan hutan Hasil yang dicapai terlaksananya pengadaan dan pemasangan plang peringatan batas kawasan hutan sebanyak 85 buah di Kabupaten Aceh Jaya, Sabang, Bireuen, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Bener Meriah dan Pidie Jaya. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95,99%) dan realisasi fisik 100%. 8. Program Kesejahteraan Petani Kegiatan pemeliharaan tanaman perkebunan rakyat Hasil yang dicapai terlaksanannya pemeliharaan tanaman perkebunan rakyat, di Kabupaten Aceh Barat dengan tanaman karet sebanyak 395

399 btg, Kabupaten Pidie Jaya dengan tanaman Kakao sebanyak batang, Kabupaten Aceh Utara dengan tanaman kelapa sawit sebanyak batang, termasuk pengadaan pupuk dan bahan pemeliharaan tanaman perkebunan rakyat. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (87,89%) dan realisasi fisik 99,72%. 9. Program Peningkatan Ketahanan Pangan Pertanian/Perkebunan Kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan Hasil yang dicapai terlaksananya monitoring dan evaluasi kegiatan APBA dilapangan dan selesainya pembuatan laporan tahunan dinas. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (84,84%) dan realisasi fisik 84,84%. 10. Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian/Perkebunan Kegiatan promosi atas hasil produksi pertanian/perkebunan unggulan daerah Hasil yang dicapai terbangunnya stand pameran dan tersedianya informasi pasar perkebunan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp 762, ,- (68,04%) dan realisasi fisik 72,58%. 11. Program Peningkatan Penerapan Teknologi Pertanian/Perkebunan Kegiatan pengendalian dan pemantapan alih tekhnologi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Hasil yang dicapai terlaksananya pelatihan pengendalian dan Pemantapan Alih Teknologi PHT pada tanaman. Selain itu juga terlaksana pengendalian gulma pada tanaman kelapa sawit dan tanaman karet di Kabupaten Aceh Tamiang. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,28%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan peningkatan sumber daya teknologi pengolahan hasil perkebunan Hasil yang dicapai terlaksananya pelatihan dan sosialisasi teknologi pengembangan produksi hasil perkebunan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (91,66%) dan realisasi fisik 100%. 12. Program Peningkatan Produksi Pertanian/Perkebunan Kegiatan pengolahan dan pemutakhiran data statistik serta penyusunan profil perkebunan Hasil yang dicapai terlaksananya pertemuan apresiasi validasi statistik kehutanan dan perkebunan serta tersusunnya angka statistik kehutanan dan perkebunan tahun Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- 396

400 (92,84%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pembangunan kebun kelapa sawit Hasil yang dicapai terlaksananya pengembangan dan penanaman kebun kelapa sawit rakyat seluas Ha dan tersalurnya bibit kelapa sawit untuk kelompok tani yang tersebar di 17 kabupaten. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (87,32%) dan realisasi fisik 94,96%. Kegiatan rehabilitasi dan pengembangan tanaman perkebunan rakyat Hasil yang dicapai terlaksananya rehabilitasi tanaman pala di Kabupaten Aceh Selatan sebanyak batang, tanaman kakao di Kabupaten Pidie dan Nagan Raya sebanyak batang dan tanaman kakao di Kabupaten Aceh Besar, Abdya, Simeulu, Aceh Timur, Aceh Tenggara, Aceh selatan, Kota subulussalam, Bener Meriah dan Nagan Raya sebanyak 875 Ha. Selain itujuga terlaksanannya rehabilitasi tanaman kopi dan cengkeh di Kabupaten Aceh Besar. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,01%) dan realisasi fisik 99,45%. Kegiatan pengembangan usaha perbenihan, penyediaan bibit dan pengawasan peredaran benih perkebunan Hasil yang dicapai terlaksananya pertemuan/pelatihan petugas perbenihan selama 3 hari dan pertemuan petugas penangkar perbenihan selama 3 hari di Kabupaten Aceh Timur. Selain itu terlaksananya pembuatan pre nursery untuk kebun entrees karet di Kabupaten Aceh Timur. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (87,44%) dan realisasi fisik 99,45%. Kegiatan pengembangan kebun karet rakyat Hasil yang dicapai tersedianya bibit karet untuk pengembangan kebun karet rakyat di Kabupaten Aceh Timur sebanyak batang, di Kabupaten Aceh Jaya sebanyak batang dan Aceh barat sebanyak batang. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (87,22%) dan realisasi fisik 100%. Kegiatan pengembangan kebun kakao rakyat Hasil yang dicapai tersedianya bibit kakao untuk pengembangan kebun kakao rakyat di Kabupaten Aceh Besar, Pidie Jaya, Gayo Lues dan Aceh Tenggara sebanyak batang kakao dan ,- kecambah kakao beserta tanaman sela dan pelindung. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (88,62%) dan realisasi fisik 98,10% 397

401 Realisasi Anggaran Untuk Dinas Kehutanan dan Perkebunan dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan keseluruhan anggaran sebesar Rp (89,43%) dan realisasi fisik 98,56%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,43 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung , ,89 2 Belanja langsung , ,03 TOTAL , ,43 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - masih kurangnya koordinasi antara provinsi dan kabupaten/kota dalam pelaksanaan dilapangan; - khusus untuk kegiatan Otsus Abdya berupa pengadaan sarana prasarana pembangunan pabrik kelapa sawit mengalami kendala dalam pelepasan tanah (ganti rugi) sehingga membutuhkan waktu lebih dalam pelaksanaan dilapangan berhubung relokasi PKS ke lokasi yang baru; - untuk dana dekonsentrasi dan pembantuan pada dasarnya sampai akhir kegiatan tidak mengalami kendala, hanya saja ketidak jelasan pemanfaatan dana perjalanan membuat beberapa kegiatan yang harus dibatalkan; - kecilnya realisasi keuangan disebabkan karena kendala yang terdapat khusus pada Otsus Abdya yang memiliki bobot keuangan yang signifikan, sementara realisasi keuangan khusus Otsus Abdya sebesar 71,00%. Solusi: - adanya koordinasi dan fokus penyelesaian yang cepat dan tanggap terhadap permasalahan yang timbul; - untuk kegiatan dan pekerjaan yang membutuhkan waktu yang panjang seyogyanya lebih dahulu ditender (pra tender) untuk mengejar waktu yang singkat; - untuk dana dekonsentrasi yang tidak jelas pemanfaatan dana perjalanan sebaiknya ada percepatan kejelasan terhadap dana-dana yang ditangguhkan pihak pelaksana; 398

402 - diharapkan untuk tahun-tahun yang akan datang pengesahan APBD dapat dilakukan tepat waktu sehingga setiap instansi akan dapat melaksanakan aktivitas pembinaan publik sesuai dengan rencana yang ditetapkan. 4. URUSAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL Urusan Energi dan Sumber Daya Mineral yang dilaksanakan oleh Dinas Pertambangan dan Energi sebagai berikut : A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran. Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa peralatan dan perlengkapan kantor; d. Penyediaan jasa kebersihan kantor; e. Penyediaan alat tulis kantor; f. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; g. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; h. Penyediaan bahan bacaan dan Peraturan Perundang-Undangan; i. Penyediaan makanan dan minuman kantor; j. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah; k. Penyediaan jasa keamanan kantor; l. Penyediaan jasa hari-hari besar. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengadaan peralatan gedung kantor; b. Pengadaan mebeleur; c. Pemeliharaan rutin/berkala rumah dinas; d. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor; e. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional; f. Pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor; g. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan kantor; h. Pemeliharaan rutin/berkala jaringan listrik dan telepon. 3. Program Peningkatan kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan ini berupa pendidikan dan pelatihan formal. 4. Program Pembinaan dan Pengawasan di Bidang Pertambangan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Monitoring, evaluasi dan pelaporan; b. Bimbingan teknis pertambangan umum; c. Pengawasan dan Penertiban Aktivitas Pertambangan Tanpa Izin 399

403 (PETI); d. Inventarisasi usaha pertambangan daerah (SIPD); e. Pengeboran air tanah; f. Pengawasan, pengambilan dan pemanfaatan air tanah dan air permukaan; g. Rapat kerja teknis; h. Pengembangan teknologi sistem informasi. 5. Program Pembinaan dan Pengembangan Bidang Ketenagalistrikan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Koordinasi pengembangan ketenagalistrikan; b. Pembangunan listrik perdesaan; c. Diklat teknis listrik perdesaan; d. Pelelangan geothermal Wilayah Kerja Pertambangan (WKP). 6. Program Pengembangan Migas Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Koordinasi percepatan terbentuknya PP Migas; b. Pemantauan dan pengawasan distribusi BBM. 7. Program Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana Kegiatannya berupa monitoring dan inventarisasi kawasan rawan bencana alam geologi. B. Realisasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah kegiatan penyediaan jasa surat menyurat, kegiatan penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, kegiatan penyediaan jasa peralatan dan perlengkapan kantor, kegiatan penyediaan jasa kebersihan kantor, kegiatan penyediaan alat tulis kantor, kegiatan penyediaan barang cetakan dan penggandaan, kegiatan penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, kegiatan penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan, kegiatan penyediaan makanan dan minuman kantor, kegiatan rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah, kegiatan penyediaan jasa keamanan kantor, serta kegiatan penyediaan jasa hari-hari besar. Anggaran yang disediakan untuk program dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp (94,15%) dan realisasi fisik 100%. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Pengadaan peralatan gedung kantor Hasil dari kegiatan tersebut telah tersedianya sarana perkantoran untuk menunjang tugas-tugas dinas. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (90,84%) dan realisasi fisik 100%. Sisa anggaran terjadi 400

404 dikarenakan tenaga honorer yang honornya dianggarkan dalam DPA telah diangkat menjadi CPNS. Pengadaan mebeleur Hasil dari kegiatan tersebut telah tersedianya mebeleur untuk kebutuhan kearsipan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,-. realisasi keuangan Rp ,- (98,16%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala rumah dinas Hasil dari kegiatan tersebut telah terlaksananya pemeliharaan rumah dinas. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,17%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor Hasil dari kegiatan tersebut telah terpeliharanya gedung kantor, halaman dan tempat parkir. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,99%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional Hasil dari kegiatan tersebut telah terpeliharanya kendaraan dinas untuk kelancaran operasional. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,-. realisasi keuangan Rp ,- (99,42%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor Hasil dari kegiatan tersebut telah terpenuhinya pemeliharaan perlengkapan kantor. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,41%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan kantor Hasil dari kegiatan tersebut telah terlaksana pemeliharaan operasional komputer sehingga terciptanya kelancaran kerja. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. Pemeliharaan rutin/berkala jaringan listrik dan telepon Telah terpenuhi peralatan untuk penambahan daya listrik gedung kantor. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,-. realisasi keuangan Rp ,- (99,13%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Pendidikan dan pelatihan formal Hasil dari kegiatan tersebut telah terlaksananya pendidikan dan pelatihan bagi aparatur untuk peningkatan pengetahuan di bidang 401

405 pertambangan dan energi. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,90%) dan realisasi fisik 100%. 4. Program Pembinaan dan Pengawasan Bidang Pertambangan Monitoring, evaluasi dan pelaporan Hasil dari kegiatan tersebut telah terpenuhinya pelaksanaan kegiatan evaluasi dan monitoring. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,56%) dan realisasi fisik 100%. Bimbingan teknis pertambangan umum Hasil dari kegiatan tersebut telah terlaksananya bimbingan teknis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan lingkungan pertambangan untuk produktifitas pertambangan yang berwawasan lingkungan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,-. realisasi keuangan Rp ,- (99,93%) dan realisasi fisik 100%. Pengawasan dan Penertiban Aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI) Hasil dari kegiatan tersebut telah terlaksananya pemantauan kegiatan penambangan tanpa izin untuk menjadi penambangan yang prosedural. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,28%) dan realisasi fisik 100%. Inventarisasi usaha pertambangan daerah Hasil dari kegiatan tersebut telah tersedianya data inventarisasi bahan galian batuan. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,50%) dan realisasi fisik 100%. Pemboran air bawah tanah Hasil dari kegiatan tersebut telah tersedianya sumur bor sebanyak 3 titik di Kabupaten Aceh Bersar, Pidie Jaya, dan Bireuen, satu unit penurapan mataair di Bireuen, tersedianya DED pembangunan penurapan sebanyak 4 lokasi dan tersedianya peta kerentanan air tanah untuk pengembangan wilayah Banda Aceh dan Meulaboh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (88,88%) dan realisasi fisik 100%. Rincian anggaran adalah sebagai berikut: Dana Reguler Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,19%). Dana Otsus Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (84,68%). Pengawasan, pengambilan dan pemanfaatan air tanah dan air permukaan 402

406 Hasil dari kegiatan tersebut telah terlaksananya pengawasan, pengambilan dan pemanfaatan air tanah dan air pemukaan serta lokasi sumur pantau. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,54%) dan realisasi fisik 100%. Rapat kerja teknis Rapat kerja teknis antara provinsi dan kabupaten/kota sehingga terpadunya kegiatan pertambangan dan energi yang dilaksanakan di Hotel Oasis Banda Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (77,74% dan realisasi fisik 100%. Pengembangan teknologi sistem informasi Hasil dari kegiatan tersebut telah tersedianya data base di bidang pertambangan dan energi. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (82,71%) dan realisasi fisik 100%. 5. Program Pembinaan dan Pengembangan Bidang Ketenagalistrikan Koordinasi pengembangan ketenagalistrikan Persiapan pelelangan pemanfaatan gas turbin arun telah selesai dilaksanakan dengan ditunjukkannya pengelolaan pemanfaatan gas turbin arun sesuai. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- yang merupakan dana TDBH-Migas realisasi keuangan Rp ,- (57,05%) dan realisasi fisik 100%. Rendahnya realisasi anggaran disebabkan proses pelelangan tidak dilaksanakan karena telah dibentuk tim pengelolaan pemanfaatan Gas Turbin Arun melalui SK Gubernur Nomor: 028/173/2010, sehingga panitia pelelangan hanya bersifat koordinasi. Pembangunan listrik perdesaan Hasil dari kegiatan tersebut telah selesainya pembangunan 2 unit PLTMH di Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Gayo Luwes (Otsus), pengadaan dan pemasangan lampu jalan Kota Banda Aceh sebanyak 43 unit (Otsus), pengadaan genset sebanyak 25 unit di Kabupaten Aceh Selatan, dan DED PLTMH di 3 lokasi yaitu di Kabupaten Aceh Timur (TDBH-Migas), Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Bener Meriah. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,68%) dan realisasi fisik 100%. Rincian anggaran adalah sebagai berikut: Dana Reguler Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (62%). Dana Otsus Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%). Dana TDBH-Migas Rp ,- realisasi keuangan Rp 403

407 ,- (88%) Diklat teknis pengembangan listrik perdesaan Hasil dari kegiatan tersebut telah terselenggaranya sosialisasi konservasi energi bagi aparatur pemerintah kabupaten/kota untuk meningkatkan pemahaman mengenai konservasi energi. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,26%) dan realisasi fisik 100%. Pelelangan Geothermal Wilayah Kerja Pertambangan (WKP). Hasil dari kegiatan tersebut telah terselenggarakannya proses lelang WKP panas bumi seulawah agam dan kegiatan pendukung. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (61,28%) dan realisasi fisik 100%. Sisa anggaran disebabkan karena efisiensi penyesuaian honor sesuai dengan Qanun No. 1 Tahun 2008 tentang pengelolaan Keuangan Aceh. 6. Program Pengembangan Migas Koordinasi percepatan terbentuknya PP Migas. Hasil dari kegiatan tersebut telah terlaksananya kegiatan percepatan terbentuknya PP Migas dengan dilakukan koordinasi melalui Tim Advokasi Migas Aceh dengan keluarannya RPP Migas Aceh. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- merupakan dana TDBH-Migas, realisasi keuangan Rp ,- (69,67%) dan realisasi fisik 100%. Sisa anggaran disebabkan karena efisiensi penyesuaian honor sesuai dengan Qanun No. 1 Tahun 2008 tentang pengelolaan Keuangan Aceh. Pemantauan dan pengawasan distribusi BBM. Terpantaunya distribusi BBM di kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,81%) dan realisasi fisik 100%. 7. Program Penanganan dan Pengurangan Resiko Bencana Monitoring dan inventarisasi kawasan rawan bencana alam geologi Hasil dari kegiatan tersebut telah tersedianya laporan dan data lokasi daerah rawan bencana. Anggaran yang disediakan untuk kegiatan dimaksud sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (91,8%) dan realisasi fisik 100%. Realisasi Anggaran Untuk Dinas Pertambangan dan Energi dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi keuangan keseluruhan anggaran sebesar Rp (89,34%) dan realisasi fisik 100%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: 404

408 No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,34 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung , ,07 2 Belanja langsung , ,49 TOTAL , ,34 C. Permasalahan dan Solusi Untuk tahun 2010 tidak ada permasalahan yang dihadapi oleh Dinas Pertambangan dan Energi. 5. URUSAN PARIWISATA Urusan Pariwisata telah dilaksanakan Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Penjelasan lebih rinci mengenai urusan pariwisata dapat lihat dalam urusan kebudayaan. Hal ini dikarenakan anggaran belanja non program dan belanja program tidak dapat dipisahkan maka disesuaikan dengan urusan yang melekat pada lembaga daerah tersebut. Begitu juga dengan permasalahan dan solusi telah tersirat dalam keterangan dalam pelaksanaan program dan kegiatan pada lembaga daerah tersebut. 6. URUSAN INDUSTRI Urusan Industri yang dilaksanakan oleh Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM sebagai berikut: A. Program dan Kegiatan 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyediaan jasa surat menyurat; b. Penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik; c. Penyediaan jasa jaminan barang milik daerah; d. Penyediaan jasa kebersihan kantor; e. Penyediaan alat tulis kantor; f. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan; g. Penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor; h. Penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor; i. Penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan; 405

409 j. Penyediaan makanan dan minuman kantor; k. Rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah; l. Penyediaan jasa-jasa hari besar; m. Peningkatan pelayanan administrasi perkantoran; n. Penyediaan jasa non PNS. 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengadaan peralatan rumah jabaran/dinas; b. Pengadaan peralatan gedung kantor; c. Pengadaan meubeleur; d. Pemeliharaan rutin/berkala rumah dinas; e. Pemeliharaan rutin/berkala gedung kantor; f. Pemeliharaan rutin/berkala kendaraan dinas/operasional; g. Pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor; h. Pemeliharaan rutin/berkala peralatan kantor; i. Pemeliharaan rutin/berkala jaringan listrik dan telepon. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan ini berupa pendidikan dan pelatihan formal. 4. Program Pengembangan Kewirausahaan dan Keunggulan Kompetitif Usaha Kecil Menengah Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Penyelenggaraan pelatihan kewirausahaan; b. Pelatihan manajemen pengelolaan koperasi/kud. 5. Program Pengembangan Pendukung Usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Koordinasi pemanfaatan fasilitas pemerintah untuk usaha kecil menengah dan koperasi; b. Pengembangan kebijakan dan program peningkatan ekonomi lokal. 6. Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi Kegiatan ini berupa koordinasi pelaksanaan kebijakan dan program pembangunan koperasi. 7. Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan Kegiatan ini berupa penyusunan laporan capaian kinerja dan ikhtisar realisasi kinerja SKPD. 8. Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah Kegiatan ini berupa fasilitasi pengembangan usaha industri kecil dan menengah. 406

410 9. Program Penataan Struktur Industri Kegiatan ini berupa rapat koordinasi sinkronisasi program penataan industri. 10. Program Pengembangan Sentra-Sentra Industri Potensial Kegiatan ini berupa fasilitasi pembinaan industri kecil dan menengah. 11. Program Perlindungan Konsumen dan Pengamanan Perdagangan Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Operasionalisasi dan pengembangan UPT kemetrologian daerah; b. Peningkatan pengawasan peredaran barang dan jasa. 12. Program Peningkatan dan Pengembangan Ekspor Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. Pengembangan kluster produk ekspor; b. Peningkatan kapasitas lab penguji mutu barang eskpor dan impor; c. Pembangunan promosi perdagangan Internasional. 13. Program Peningkatan Efisiensi Perdagangan Dalam Negeri Kegiatan ini berupa pengembangan pasar dan distribusi barang/produk. 14. Program Pembinaan Pedagang Kaki Lima dan Asongan Kegiatan ini berupa penataan tempat berusaha bagi pedagang kaki lima dan asongan. 15. Program Penciptaan Iklim Usaha-usaha Kecil Menengah yang Kondusif Kegiatan ini berupa monitoring, evaluasi dan pelaporan. B. Realisasi pelaksanaan program dan kegiatan. 1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran Kegiatan-kegiatan yang telah direalisasikan melalui program ini adalah kegiatan penyediaan jasa surat menyurat, kegiatan penyediaan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik, kegiatan penyediaan jasa jaminan barang milik daerah, kegiatan penyediaan jasa kebersihan kantor, kegiatan penyediaan alat tulis kantor, kegiatan penyediaan barang cetakan dan penggandaan, kegiatan penyediaan komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, kegiatan penyediaan peralatan dan perlengkapan kantor, kegiatan penyediaan bahan bacaan dan peraturan perundang-undangan, kegiatan penyediaan makanan dan minuman kantor, kegiatan rapat-rapat koordinasi dan konsultasi ke luar daerah, kegiatan penyediaan jasa-jasa hari besar, kegiatan peningkatan pelayanan administrasi perkantoran, serta kegiatan penyediaan jasa non PNS. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,74%) dan realisasi fisik 92,69%. 407

411 2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kegiatan pembangunan gedung kantor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk lanjutan pembangunan 1 unit mushalla di kantor Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Aceh. Tujuan pembangunan gedung kantor adalah untuk meningkatkan performace fisik kantor. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,79%) dan realisasi fisik 100% Kegiatan pengadaan perlengkapan gedung kantor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan kegiatan pengadaan perlengkapan gedung kantor dalam bentuk penyediaan 30 lembar umbul-umbul dan 20 lembar bendera merah putih, dan pengadaan 2 buah pelubang kertas (Drill punch), 4 unit tabung pemadam kebakaran, 2 unit mesin faximile serta pemasangan instalasi AC dilantai 2 gedung kantor Disperindagkop dan UKM Jl. Pocut Baren no.11 Banda Aceh. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,72%) dan realisasi fisik 100% Kegiatan pengadaan meubeleur Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pengadaan 1 paket tempat tidur 3 kaki 2 tingkat untuk satpam. Tujuan pengadaan mebeleur adalah untuk meningkatnya performance fisik kantor. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,66%) dan realisasi fisik 100% Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala mobil jabatan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pemeliharaan 1 unit mobil dinas dengan melakukan service dan penyediaan bahan bakar minyak dan pelumas. Tujuan pemeliharaan rutin/berkala mobil jabatan adalah untuk menjamin kelancaran tugas kantor. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,33%) dan realisasi fisik 98,33%. Tidak tercapainya realisasi fisik hingga 100% disebabkan kegiatan perpanjangan STNK untuk kendaraan mobil jabatan tidak dilaksanakan. Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala kenderaan dinas/operasional Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pemeliharaan berupa 8 unit kendaraan roda 4 dan 16 unit roda 2 dengan melakukan service dan penyediaan bahan bakar minyak dan pelumas. Tujuan pemeliharaan rutin/berkala mobil jabatan adalah untuk menjamin kelancaran tugas kantor. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,14%) dan realisasi fisik 96,59%. Tidak tercapainya realisasi fisik hingga 100% disebabkan oleh tidak dilaksanakan perpanjangan STNK untuk 8 unit kendaraan roda 4 dan 16 unit roda 2 pada tahun 2010 serta volume service kendaraan yang lebih sedikit dari jumlah yang direncanakan (kondisi kendaraan 408

412 dinas/operasional baik) Kegiatan pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor Kegiatan tersebut telah dilakansanakan kegiatan pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan kantor dalalm bentuk pemeliharaan/service pada 60 unit komputer sebanyak 2 kali, service 5 unit mesin absensi dan service 40 unit AC sebanyak 2 kali. Tujuan pemeliharaan rutin/berkala perlengkapan gedung kantor adalah untuk meningkatkan pemeliharaan sarana dan prasarana kantor. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,55%) dan realisasi fisik 100% Kegiatan rehabilitasi sedang/berat rumah dinas Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk rehabilitas 1 unit rumah dinas di Seutui, Banda Aceh. Tujuan rehabilitasi sedang/berat rumah dinas adalah untuk meningkatkan kualitas sarana dan prasarana kantor. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,88%) dan realisasi fisik 100%. 3. Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur Kegiatan pendidikan dan pelatihan formal Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan kursuskursus singkat/bimbingan teknis kepada 4 orang aparatur dan kegiatan sosialisasi bagi 8 orang aparatur. Tujuan pendidikan dan pelatihan formal adalah untuk peningkatan kompetensi dan kualitas SDM bagi 12 orang aparatur. Anggaran yang disediakan Rp ,-. realisasi keuangan Rp ,- (92,59%) dan realisasi fisik 94,49%. Tidak tercapainya realisasi fisik hingga 100% disebabkan jumlah paket pelatihan/bimbingan teknis yang sesuai hanya 3 paket dari 4 paket yang direncanakan. 4. Program Pengembangan Kewirausahaan dan Keunggulan Kompetitif Usaha Kecil Menengah Kegiatan penyelenggaraan pelatihan kewirausahaan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan kegiatan penyelenggaraan pelatihan kewirausahaan dalam bentuk kegiatan diklat kewirausahaan bagi 30 orang KUKM. Tujuan penyelenggaraan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas KUKM dalam berwirausaha. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,86%) dan realisasi fisik 100%. 409

413 Kegiatan pelatihan manajemen pengelolaan koperasi/kud Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk diklat manajemen pengelolaan koperasi bagi 60 orang pengurus koperasi. Pelaksanaan diklat dilakukan 2 angkatan. Tujuan pelatihan manajemen pengelolaan koperasi/kud adalah untuk peningkatan kapasitas pengelola koperasi dari 23 kabupaten/kota dalam pembinaan manajemen pengelolaan koperasi secara transparasi, partisipatif dan akuntabel. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,94%) dan realisasi fisik 98,91%. 5. Program Pengembangan Pendukung Usaha bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah Kegiatan koordinasi pemanfaatan fasilitas pemerintah untuk usaha kecil menengah dan koperasi Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan bantuan modal bergulir di 3 kabupaten/kota, diklat pembinaan KJK/UJK 30 orang pengurus, dan teridentifikasi serta verifikasi KUKM calon penerima bantuan perkuatan modal di 23 kabupaten/kota.tujuan kegiatan bantuan dana bergulir adalah untuk meningkatkan koperasi dan UMKM yang berkualitas di Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Aceh Selatan dan Kota Langsa. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,96%) dan realisasi fisik 100%. Anggaran kegiatan koordinasi pemanfaatan fasilitasi pemerintah untuk usaha kecil menengah dan koperasi pada 3 kabupaten/kota tersebut merupakan alokasi dana yang bersumber dari dana otonomi khusus. Kegiatan pengembangan kebijakan dan program peningkatan ekonomi lokal 410

414 Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan magang bagi 8 orang pengurus koperasi, mengikutsertakan UMKM dalam 2 event kegiatan pameran di Jogja dan Batam. Tersedianya 7 paket RMU di 6 kabupaten/kota dan pembangunan 8 paket konstruksi bangunan kantor tempat tinggal dan fasilitas umum lainnya di 6 kabupaten/kota. Tujuan pengembangan kebijakan dan program peningkatan ekonomi lokal adalah untuk meningkatkan koperasi dan UMKM yang berkualitas. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (92,55%) dan realisasi fisik 97,78%. Tidak tercapainya realisasi fisik hingga 100% disebabkan oleh tidak adanya kegiatan pembayaran honorarium untuk panitia pengadaan barang/jasa kegiatan otsus di Kabupaten Aceh Timur, tidak dibayarnya honorarium pengelola teknis kegiatan migas di Kabupaten Aceh Utara. 6. Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi Koordinasi pelaksanaan kebijakan dan program pembangunan koperasi Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan tentang perkoperasian kepada 150 orang pengurus koperasi dari 5 kabupaten/kota dan kegiatan verifikasi colon koperasi berprestasi di 22 kabupaten/kota, monitoring dan evaluasi kinerja koperasi di 23 kabupaten/kota serta peringatan hari koperasi ke 63. Tujuan pelaksanaan peyuluhan adalah untuk meningkatkan pengetahuan anggota koperasi tentang koperasi yang baik dan sehat. Kegiatan verifikasi dan monitoring evaluasi kinerja koperasi dan 22 kabupatn/kota bertujuan untuk memilih koperasi yang unggul sebagai laporan pada acara peringatan hari koperasi ke 63 di Jakarta. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,47%) dan realisasi fisik 98,47%. Tidak tercapainya realisasi fisik hingga 100% disebabkan kegiatan belanja jasa lembaga independent pemeringkatan koperasi sekunder terhadap 10 koperasi tidak dilaksanakan. 7. Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan Kegiatan penyusunan laporan capaian kinerja dan ikhtisar realisasi kinerja SKPD Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan penyusunan laporan kerja dinas berupa LAKIP, LKPJ, LPPD, RKA, RPJM dan RENSTRA. Dalam penyusunan laporan dan pengumpulan data pendukung diperlukan motivasi dan kinerja yang mengharuskan pegawai untuk melakukan tugas-tugas kantor di luar jam kantor (lembur) yang diapresiasikan dengan pemberian uang lembur. Tujuan penyusunan laporan capaian kinerja dan ikhtisar realisasi kinerja SKPD adalah terciptanya laporan kinerja dan realisasi kinerja SKPA. Anggaran 411

415 yang tersedia Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (94,09%) dan realisasi fisik 100%. 8. Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah Kegiatan fasilitasi pengembangan usaha industri kecil dan menengah Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan-kegiatan pelatihan mengenai diversifikasi produk anyaman bagi 20 orang perajin, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual produk anyaman sehingga dapat bersaing dipasar nasional maupun Internasional. Kegiatan diklat kiat sukses pameran dagang dengan mengirimkan 3 orang ke Jakarta. Tujuan diklat ini adalah untuk meningkatkan kualitas aparatur dalam mengatur kegiatan pameran dagang. Kegiatan promosi produk IKM yang bernaung di bawah binaan Dekranas dengan menyewa outlet pada lokasi strategis, yaitu Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) dan mengikutsertakan produk-produk dari Industri Kecil Menengah binaan pada pameran dalam negeri. Kegiatan promosi juga dilakukan dalam bentuk pembuatan brosur 5000 expr dan 320 exp katalog. Tujuan kegiatan promosi ini adalah untuk memperkenalkan produk-produk IKM dan memperluas pasar produk tersebut. Tujuan fasilitai pengembangan usaha industri kecil dan menengah adalah terciptanya pembinaan dan koordinasi terhadap IKM Perajin. Kegiatan pembinaan terhadap produk sabun mandi (opaque) dengan pengadaan peralatan cetak sabun opaque dan memfasilitasi pengurusan sertifikasi HAKI. Kegiatan-kegiatan pendukung lainnya dalam rangka peningkatan kinerja Dekranas di Provinsi Aceh. Anggaran yang disediakan adalah Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (96,95%) dan realisasi fisik 100%. 9. Program Penataan Struktur Industri Kegiatan rapat koordinasi sinkronisasi program penataan industri Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan-kegiatan sosialisasi, pembinaan dan konsultasi teknis ke pusat. Kegiatan sosialisasi kepada 60 orang pengusaha AMDK dan DAM mengenai sistem mutu penggunaan tanda SNI di 3 kabupaten/kota. Kegiatan Sosialisasi Standar Nasional Indonesia (SNI) kepada 25 orang pengusaha di bidang industri. Tujuan kegiatan sosialisasi adalah untuk memberikan informasi sehingga meningkatkan kualitas pengusaha. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (95.85%) dan realisasi fisik 100%. 10. Program Pengembangan Sentra-Sentra Industri Potensial Kegiatan fasilitasi pembinaan industri kecil dan menengah Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pameran dalam negari, dan penyediaan sarana dan prasarana pendukung 412

416 produksi berupa 58 paket peralatan dan mesin industri, 4 paket pengadaan mebeulair, 1 paket pengadaan instalasi listrik, 17 paket pengadaan pembangunan gedung kantor, tempat tinggal dan fasilitas umum lainnya pembinaan dan pengadaan bantuan peralatan alat-alat bengkel, alat-alat pengolahan pertanian dan peternakan, pengadaan mebeulair, pengadaan instasi listrik dan telepon, pembangunan serta memfasilitasi pemasaran melalui promosi pruduk IKM. Kegiatan fasilitasi pembinaan industri kecil dan menengah dilaksanakan di 11 kabupaten/kota dengan alokasi dana yang bersumber dari dana Otonomi Khusus, tambahan dana migas dan dana APBA murni. 11 kabupaten/kota yang ada kegiatan fasilitasi pembinaan industri kecil dan menengah adalah Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Pidie, Kabupaten Pidie Jaya, Kota Langsa, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Bireuen Tujuan pelaksanaan kegiatan adalah untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas SDM perajin IKM di Provinsi Aceh. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (93,83%) dan realisasi fisik 99,71%. 11. Program Perlindungan Konsumen dan Pengamanan Perdagangan Kegiatan operasionalisasi dan pengembangan UPT kemetrologian daerah Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan tera ulang UTTP di 18 kabupaten/kota, pengawasan UTTP di 3 lokasi, penyuluhan UTTP di 3 lokasi, pemeliharaan peralatan kantor dan pengadaan bahan kelengkapan lapangan. Tujuan kegiatan operasionalisasi dan pengembangan UPT kemetrologian daerah adalah untuk meningkatkan perlindungan konsumen dan pengamanan perdagangan. Pelaksanaan kegiatan tera ulang UTTP melibatkan tenaga fungsional tera di didampingi oleh tenaga kemanan dari kepolisian. Tujuan pelaksanaan tera ulang UTTP adalah untuk mengkondisikan alat ukur sesuai dengan standard sehingga konsumen terlindungi dari penipuan alat ukur. Kegiatan pengawasan UTTP selain melibatkan aparatur dari Disperindag kabupaten/kota yang bersangkutan juga melibatkan 2 orang petugas pendamping dari kepolisian. Tujuan pengawasan UTTP adalah untuk menjamin bahwa UTTP menggunakan peralatan ukur yang telah di tera. Kegiatan penyuluhan UTTP dilaksanakan di 3 lokasi dengan frekwensi 3 kali selama tahun Pada kegiatan penyuluhan UTTP selain menghadirkan narasumber 4 orang dari Disperindagkop dan UKM Aceh, juga melibatkan 2 orang petugas pendamping dari kabupaten/kota dan 1 orang petugas dari syariat Islam. Tujuan penyuluhan UTTP adalah untuk meningkatkan kualitas 150 orang 413

417 petugas UTTP dalam memahami kemetrologian dan melaksanakan pengukuran sesuai dengan syariat Islam. Kegiatan pemeliharaan peralatan kantor UPTD metrologi mencakup pemeliharaan perlatan kantor dan alat kerja lapangan antara lain service AT standar 20 kg, sevice bejana ukur, service standar meter air, service timbangan elektronik, service meja tera ulang, service instalasi tangki ukur mobil, dan service perlengkapan kantor berupa service computer, AC dan pompa air. Tujuan kegiatan ini adalah untuk pemeliharaan dan kelancaran tugas kantor. Pengadaan bahan kelengkapan lapangan mencakup pembelian peralatan kerja berupa obeng, tang, palu, gunting seng, timah justir, timah plumber, kawat segel, kertas pasir dan mata bor.tujuan pengadaan bahan kelengkapan lapangan adalah untuk mendukung kinerja petugas tera dalam melakukan tera ulang. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (99,29%) dan realisasi fisik 99.40%. Pelaksanaan kegiatan operasionalisasi dan pengembangan UPT kemetrologian daerah tidak mencapai 100% disebabkan tidak dilaksanakan pembayaran transpor lokal kepada tenaga pendamping dari kepolisian, Disperindag kabupaten/kota dan Dinas Syariat Islam sebagaimana yang telah direncanakan. Kegiatan peningkatan pengawasan peredaran barang dan jasa Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan sosialisasi perlindungan konsumen terhadap 30 orang anak didik dan para guru tingkat Sekolah Menengah Pertama, pembelian dan pengujian bahan pangan dan non pangan yang beredar dipasar di 10 kabupaten/kota dalam lingkup Provinsi Aceh dan Bimtek kepada 1 orang aparatur calon Petugas Pengawas Barang dan Jasa (PPBJ) dan PPNS-PK. Tujuan peningkatan pengawasan peredaran barang dan jasa adalah untuk meningkatkan perlindungan konsumen dan pengamanan perdagangan sesuai dengan yang diamatkan pada Undang-Undang No.8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Pelaksanaan kegiatan sosialisasi perlindungan konsumen terhadap anak didik dan para guru dilaksanakan di aula sekolah SMP Negeri 1 Banda Aceh dengan mendatangkan narasumber dari instansi terkait, yaitu: Direktorat Pemberdayaan Konsumen Ditjen Standarisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan, Direktorat Pengawasan Barang Beredar dan Jasa Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Badan Pengawasan Obat dan Makanan Banda Aceh serta UPTD Metrologi Disperindagkop dan UKM Aceh. Tujuan sosialisasi ini adalah untuk terciptanya jiwa konsumen yang mendiri mulai dari usia dini dan terciptanya konsumen yang cerdas dalam mengkonsumsi suatu produk. 414

418 Kegiatan pembelian barang pangan dan non pangan yang beredar di pasar 10 kabupaten/kota berupa pembelian produk pangan dengan kriteria pengawasan terhadap waktu kadaluarsa pada beberapa produk makanan dan minuman ringan. Pengawasan produk makanan dilakukan pada saat menjelang Hari Raya Idul Fitri 1431 H dengan mengambil sampel makanan dan minuman yang ditata dalam parcel lebaran di beberapa toko/mini market di Kota Banda Aceh. Produk non pangan dilakukan pengawasan terhadap produk-produk yang wajib SNI dengan melakukan pengujian contoh terhadap standar mutu dan memperhatikan tanda SNI pada produk, dan pengawasan pada produk elektronika berupa ketersediaan petunjuk manual berbahasa Indonesia dan ketersediaan kartu garansi. Pengawasan juga dilakukan terhadap berat netto pada produk semen. Tujuan kegiatan ini adalah untuk melindungi masyarakat dari peredaran barang yang tidak sesuai standar jaminan mutu yang telah di tetapkan oleh pemerintah. Kegiatan pelatihan PPBJ kepada 1 orang calon petugas pengawasan barang dan jasa bertujuan untuk menciptakan kader petugas PPBJ yang berkualitas dan siap diterjunkan kelapangan dalam rangka perlindungan konsumen terhadap barang-barang yang tidak sesuai dengan standar yang berlaku. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (97,01%) dan realisasi fisik 100%. 12. Program Peningkatan dan Pengembangan Ekspor Kegiatan pengembangan kluster produk ekspor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pengembangan komunitas ekspor daerah, pelaksanaan forum komunikasi dunia usaha, pembuatan media informasi berupa booklet/leaflet/brosur dan petunjuk praktis prosedur pengurusan dokumen ekspor impor. Kegiatan pengembagan komunitas ekspor daerah meliputi pendataan komoditas potensi ekspor di 23 kabupaten kota dengan pengisian kuesioner. Tujuan kegiatan ini adalah untuk pemetaan komoditi ekspor daerah berdasarkan produk unggulan di daerah dari sektor pertanian (tanaman pangan, perkebunan, perikanan), hasil tambang, dan barang lainnya serta informasi jumlah eksportir dan pedagangan pengumpul yang terlibat langsung maupun tidak dalam kegiatan perdagangan internasional. Kegiatan forum komunikasi dunia usaha bertujuan untuk memfasilitasi pemecahan masalah dan kendala dalam dunia usaha. Pembuatan brosur 2000 exp bertujuan untuk memberikan informasi tentang komoditi unggulan Aceh, produk ekspor. Tujuan pembuatan petunjuk praktis prosedur pengurusan dokumen ekspor impor adalah untuk memberikan informasi kepada eksportir dan calon eksportir dalam melaksanakan kegiatan ekspor-impor yang pada 415

419 akhirnya dapat meningkatkan pendapatan devisa negara melalui kegiatan ekspor komoditi unggulan daerah Aceh. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (88,11%) dan realisasi fisik 88,74%. Tidak tercapainya realisasi fisik hingga 100% disebabkan oleh Pelaksanaan kegiatan forum komunikasi dunia usaha yang direncanakan dilaksanakan 3 kali hanya dilaksanakan 2 kali. Dengan volume pelaksanaan 2 kali sudah cukup efisien dan dapat memenuhi sasaran dan tujuan dari kegiatan forum komunikasi usaha.. Kegiatan peningkatan kapasitas lab penguji mutu barang eskpor dan impor Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pengadaan peralatan laboratorium kimia, pelatihan SDM kepada 4 orang tenaga analis dan monitoring mutu komoditi minyak pala dan biji kakao dengan melakukan pengujian terhadap komoditi tersebut. Tujuan peningkatan kapasitas lab penguji mutu barang ekspor dan impor adalah untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat terhadap barang/komoditi ekspor-impor. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi Rp ,- atau 99,39% dan fisik 99,59%. Kegiatan pembangunan promosi perdagangan Internasional Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan promosi ekspor meliputi keikutsertaan dalam even pameran PPE (Pameran Produk Ekspor). Tujuan kegiatan ini adalah untuk membuka peluang pasar bagi komoditas unggulan daerah Aceh. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. 13. Program Peningkatan Efisiensi Perdagangan Dalam Negeri Kegiatan pengembangan pasar dan distribusi barang/produk 416

420 Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pelaksanaan kegiatan pasar rakyat dan operasi pasar dalam rangka subsidi kebutuhan gula pasir, minyak goreng, telur ayam, dan tepung terigu dalam rangka mengontrol lonjakan harga pada hari-hari besar keagamaan. Tujuan pelaksanaan kegiatan pasar rakyat adalah untuk mewujudkan kestabilan harga barang di masyarakat dan distribusi barang yang merata. Anggaran yang disediakan Rp realisasi keuangan Rp ,- (91,84%) dan realisasi fisik 100%. 14. Program Pembinaan Pedagang Kaki Lima dan Asongan Kegiatan penataan tempat berusaha bagi pedagang kaki lima dan asongan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk pembuatan 11 paket DED/perencanaan pembagunan pasar di 9 kabupaten/kota dan pembangunan 35 paket pasar dan kios di kabupaten/kota dan 1 paket pembangunan gapura di Kabupaten Pidie. Pelaksanaan 11 paket DED/perencanaan pembangunan pasar di 9 kabupaten/kota dimaksudkan agar pembangunan kontruksi fisik pasar tidak terkendala oleh waktu karena rencana gambar dan rab sudah tersedia. Tujuan pelaksanaan penataan tempat berusaha bagi pedagang kaki lima dan asongan adalah untuk tertatanya pedagang kaki lima di pasar- pasar tradional kabupaten/kota. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (89,50%) dan realisasi fisik 99,42%. Pada pembangunan pasar ikan dan sayur di Cunda Kota Lhokseumawe, pelaksanaan pembangunan pasar ikan dan sayur baru mencapai 62,25%, nilai kontrak untuk pekerjaan pengawasan Rp ,- baru terealisasi Rp ,- (53,51%), sedangkan pekerjaan pembangunan fisik bangunan dari nilai kontrak Rp ,- terealisasi Rp ,- (48,96%). Permasalahan tidak selesainya pembangunan pasar ikan dan sayur Cunda adalah ketidak mampuan pihak pelaksana untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Atas kinerja buruk pihak pelaksana telah diambil tindakan tegas berupa mem- blacklist perusahaan pelaksana dan mensita jaminan pelaksanaan untuk negara. 15. Program Penciptaan Iklim Usaha-usaha Kecil Menengah yang Kondusif Kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan Kegiatan tersebut telah dilaksanakan dalam bentuk kegiatan perjalanan dinas ke 23 kabupaten/kota yang bertujuan untuk monitoring kegiatan program yang telah dilaksanakan, pengumpulan data program untuk tahun anggaran Kegiatan rapat koordinasi guna evaluasi kegiatan tahun 2009 dan merangkum rencana program/kegiatan tahun Tujuan kegiatan monitoring, evaluasi dan pelaporan adalah untuk 417

421 mengontrol semua kegiatan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Aceh. Anggaran yang disediakan Rp ,- realisasi keuangan Rp ,- (98,00%) dan realisasi fisik 99,93%. Realisasi Anggaran Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM, dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- atau 93,36% dan fisik 98,78%. Kondisi realisasi keuangan belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut ini: No Belanja/Kegiatan Pagu Anggaran (Rp) Fisik Realisasi Keuangan % (Rp) % Anggaran APBA (DPA) , ,36 SKPA sebesar 1 Belanja tidak langsung ,29 2 Belanja langsung ,16 TOTAL , ,36 C. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: - pelaksanaan kegiatan penyediaan jasa jaminan barang milik daerah tidak terlaksana karena tidak lengkapnya administrasi untuk pembayaran pajak PBB terhadap bangunan kantor dan rumah dinas; - pelaksanaan program penataan tempat berusaha bagi pedagang kaki lima dan asongan pada pembangunan pasar jajan serba ada di Kabupaten Gayo Lues dan pembangunan pasar ikan dan sayur di Cunda Kota Lhokseumawe terhambat karena pihak pelaksana (kontraktor) tidak dapat menyelesaikan pembangunan tepat waktu; - belum tersedianya anggaran yang cukup sehingga pelaksanaan program kegiatan (operasi pasar, pengujian timbangan, pemeriksaan peredaran barang dan jasa, pengawasan industri kecil menengah, perlindungan konsumen dan pengawasan usaha/kelembagaan koperasi dan UKM) belum merata di setiap kabupaten/kota; - terlambatnya persetujuan DPAP tahun 2010 memberi dampak pada percepatan penyerapan anggaran pemerintah. Solusi: - diharapkan mempersiapan dokumen-dokumen pendukung untuk pembayaran PBB atas gedung kantor dan rumah dinas; - diharapkan untuk memperketat seleksi pelaksana kegiatan dengan 418

422 mengacu pada peraturan yang berlaku; - diperlukan penambahan jumlah anggaran agar program-program yang langsung berhubungan dengan masyarakat dapat dilaksanakan merata di 23 kabupaten/kota se Aceh; - bila ada dokumen pelaksanaan anggaran perubahan di masa yang akan datang, pengesahan DPAP dapat dilakukan lebih cepat agar semua program yang terdapat perubahan dapat dilaksanakan dengan baik. 7. URUSAN PERDAGANGAN Urusan wajib mengenai Perdagangan, Pemerintah Aceh telah melaksanakannya melalui lembaga daerah yaitu: Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Urusan Industri). Hal ini dikarenakan anggaran belanja non program dan belanja Program tidak dapat dipisahkan maka disesuaikan dengan urusan yang melekat pada lembaga daerah tersebut. Begitu juga dengan permasalahan dan solusi telah tersirat dalam keterangan dalam pelaksanaan program dan kegiatan pada lembaga daerah tersebut. 8. URUSAN KETRANSMIGRASIAN Urusan wajib mengenai ketransmigrasian, Pemerintah Aceh telah melaksanakannya melalui lembaga daerah yaitu: Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk (Urusan Ketenagakerjaan). Hal ini dikarenakan anggaran belanja non program dan belanja program tidak dapat dipisahkan maka disesuaikan dengan urusan yang melekat pada lembaga daerah tersebut. Begitu juga dengan permasalahan dan solusi telah tersirat dalam keterangan dalam pelaksanaan program dan kegiatan pada lembaga daerah tersebut. 419

423 BAB V PENYELENGGARAAN TUGAS PEMBANTUAN A. TUGAS PEMBANTUAN YANG DITERIMA Tugas pembantuan yang diterima pada tahun 2010 untuk Pemerintah Aceh terdiri atas, Urusan Kesehatan, Urusan Pekerjaan Umum, Urusan Sosial, Urusan Ketenagakerjaan, Urusan Kelautan dan Perikanan, Urusan Pertanian, Urusan Kehutanan. Total anggaran Tugas Pembantuan yang diterima sebesar Rp ,- dengan realisasi sebesar Rp ,- atau 58,67% dan fisik 86,05%. Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) yang menerima tugas pembantuan adalah sebagai berikut: Urusan Kesehatan terdiri dari Dinas Kesehatan, Urusan Pekerjaan Umum yaitu Dinas Bina Marga dan Cipta Karya serta Dinas Pengairan, Urusan Sosial yaitu Dinas Sosial, Urusan ketenagakerjaan yaitu Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk, Urusan Kelautan dan Perikanan yaitu Dinas Kelautan dan Perikanan, Urusan Pertanian yaitu Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan, Urusan Kehutanan yaitu Dinas Kehutanan dan Perkebunan. 420

424 URUSAN KESEHATAN Dinas Kesehatan Aceh 1. Dasar Hukum DIPA Nomor 0542/ /-/2010 DIPA Nomor 0545/ /-/2010 DIPA Nomor 0546/ /-/2010 DIPA Nomor 0544/ /-/2010 DIPA Nomor 0543/ / Instansi Pemberi Tugas Pembantuan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 3. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang Melaksanakan Dinas Kesehatan Aceh. 4. Program dan Kegiatan yang Diterima dan Pelaksanaanya Program Penyediaan Sanitasi Masyarakat Miskin (CWSH) yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Pidie (CWSH), DIPA: 0542/ /-/2010 dengan kegiatan Penyediaan sarana air bersih (pipa, sumur gali, sumur bor) dengan anggaran Rp ,- realisasi keuangan 78,58% Program Penyediaan Sanitasi Masyarakat Miskin (CWSH) yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Aceh Jaya, DIPA: 0545/ /-/2010 dengan kegiatan penyediaan sarana air bersih (pipa, sumur gali, sumur bor) dengan anggaran Rp realisasi keuangan 36,51% Program Penyediaan Sanitasi Masyarakat Miskin (CWSH) yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Nagan Raya, DIPA: 0546/ /-/2010 dengan kegiatan penyediaan sarana air bersih (pipa, sumur gali, sumur bor) dengan anggaran Rp ,- realisasi keuangan 22,13% Program Penyediaan Sanitasi Masyarakat Miskin (CWSH) yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Bireuen, DIPA: 0544/ /-/2010 dengan kegiatan penyediaan sarana air bersih (pipa, sumur gali, sumur bor) dengan anggaran Rp ,- realisasi keuangan 98,66%. Program Penyediaan Sanitasi Masyarakat Miskin (CWSH) yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Aceh Utara, DIPA: 0543/ /-/2010 dengan kegiatan penyediaan sarana air bersih (pipa, sumur gali, sumur bor) dengan anggaran Rp ,- realisasi keuangan 60,00%. 5. Sumber dan Jumlah Anggaran Sumber dana berasal dari APBN dengan jumlah anggaran Rp ,- dengan realisasi sebesar Rp ,- atau 59,18% 6. Permasalahan dan Solusi Permasalahan tidak dijumpai pada pelaksanaan kegiatan di lapangan karena proses perencanaan anggaran dan pelaksanaannya tepat waktu. 421

425 URUSAN PEKERJAAN UMUM Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh 1. Dasar Hukum DIPA Nomor: 0315/ /-/2010 tanggal 31 Desember Instansi Pemberi Tugas Pembantuan Kemeterian Pekerjaan Umum Republik Indonesia 3. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang Melaksanakan Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh 4. Program dan Kegiatan yang Diterima dan Pelaksanaanya Program dan kegiatan rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatan meliputi pemeliharaan rutin dan berkala pada jalan dan provinsi yang dilaksanakan pada - Kota Banda Aceh : 1Paket. (7,48 km rutin). - Kabupaten Aceh Besar : 5 Paket. (2,3 km berkala;24,66 km rutin) - Kabupaten Pidie : 3 Paket. (102,46 km rutin) - Kabupaten Aceh Tengah : 4 Paket (69.,82 km rutin) 5. Sumber dan Jumlah Anggaran Sumber dana berasal dari APBN dengan jumlah anggaran Rp realisasi Rp ,- atau 84,36% dan fisik 88,24%. 6. Permasalahan dan Solusi Secara umum tidak terdapat permasalahan/kendala yang berarti dalam pelaksanaan program dan kegiatan dimaksud. Dinas Pengairan Aceh 1. Dasar Hukum DIPA Nomor 0444/ /-/2010 tanggal 31 Desember Instansi Pemberi Tugas Pembantuan Kemeterian Pekerjaan Umum Republik Indonesia 3. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang Melaksanakan Dinas Pengairan Aceh 4. Program dan Kegiatan yang Diterima dan Pelaksanaanya Program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa, dan jaringan pengairan lainnya dengan kegiatan meliputi operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi. Program dan kegiatan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi ini adalah pekerjaan operasi rutin dan pemeliharaan berkala pada 15 daerah irigasi di 8 kabupaten, meliputi pembersihan dari semak belukar, pembuangan/galian sedimen, pemeliharaan jalan inspeksi, perbaikan jaringan irigasi, perbaikan pintu 422

426 bendung, perbaikan pintu bangunan, perbaikan pagar dan bangunan kantor ranting, perbaikan saluran,, pemeliharaan jaringan sekunder dan primer, rehab jalan inspeksi, perbaikan bangunan pelimpah dan rehab rumah PPB/PPA. Selain untuk kegiatan fisik operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi, juga disediakan dana untuk pengadaan peralatan bantu kerja habis pakai untuk pemeliharaan seperti topi, senter, cangkul dan lain-lain. Pada tahun anggaran 2010 kegiatan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi dilaksanakan pada Daerah Irigasi Jambo Aye, Daerah Irigasi Krueng Tiro, Daerah Irigasi Krueng Jrue/Keuliling, Daerah Irigasi Baro Raya, Daerah Irigasi Alue Ubay, Daerah Irigasi Kuta Cane Lama, Daerah Irigasi Pante Lhoong, Daerah Irigasi Paya Nie, Daerah Irigasi Manggeng, Daerah Irigasi Krueng Susoh, Daerah Irigasi Babah Rote, Daerah Irigasi Jeuram dan Daerah Irigasi Datar Diana. Rincian kegiatan menurut lokasi adalah Provinsi Ha, Aceh Besar Ha, Pidie Ha, Aceh Utara Ha, Aceh Tenggara Ha, Bireuen Ha, Aceh Barat Daya Ha, Nagan Raya Ha, Bener Meraiah Ha. Luas total daerah irigasi yang ditangani dengan kegiatan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi tersebut di atas adalah Ha. 5. Sumber dan Jumlah Anggaran Sumber dana berasal dari APBN dengan jumlah anggaran Rp dengan realisasi sebesar Rp atau 89,88% dan realisasi fisik 96,37%. 6. Permasalahan dan Solusi Dana yang dialokasikan masih kurang dibandingkan dengan banyaknya jumlah daerah irigasi serta jaringan irigasi yang perlu dilakukan kegiatan operasi dan pemeliharaan. Solusinya adalah diperlukan penambahan jumlah dana untuk melaksanakan pemeliharaan dan perbaikan di tahun mendatang. URUSAN SOSIAL Dinas Sosial 1. Dasar Hukum DIPA nomor : 0088/ /I/ Instansi Pemberi Tugas Pembantuan Kementerian Sosial Republik Indonesia 3. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang Melaksanakan Dinas Sosial Aceh. 4. Program dan Kegiatan yang Diterima dan Pelaksanaanya Program Bantuan dan Jaminan Kesejahteraan Sosial Kegiatannya terdiri dari: - Penyusunan program dan rencana kerja pembangunan 423

427 Merupakan kegiatan penyusunan, koordinasi pelaksanaan serta monitoring dan evaluasi seluruh kegiatan pembangunan kesejahteraan sosial yang dilaksanakan oleh Bidang Perencanaan dan Pelaporan Dinas Sosial Aceh yang berfungsi menyusun, pendataan serta mengevaluasi semua hasil kegiatan untuk menjadi dasar penyusunan kegiatan di tahun berikutnya, Kegiatan yang dilaksanakan adalah koordinasi antar bidang program propinsi dengan program kabupaten/kota, finalisasi penyusunan anggaran, sosialisasi perencanaan program, penjajagan usulan program dan daerah, pengolahan hasil penjajagan, kesejahteraan sosial nasional (KSN) expo, rapat-rapat koordinasi, musrembang renja, RKA-KL, RKP, dan evaluasi perencanaan program dan monitoring dan evaluasi. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- Realisasi Rp ,- (96,81%). - Penyelenggaraan pengarustamaan gender Kegiatan ini bertujuan mensosialisasikan kepada dinas/instansi sosial kabupaten/kota tentang kebijakan "pengarusatamaan gender" agar tersusunnya kebijakan dan program kesejahteraan sosial di provinsi dan 23 kabupaten/kota yang berwawasan gender. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- Realisasi Rp ,- (91,00%). - Pemberdayaan sosial keluarga, fakir miskin, komunitas adat terpencil dan PMKS lainnya Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (99,19%) - Pemberdayaan sosial keluarga fakir miskin Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan keluarga, terutama kemampuan dalam mengatasi masalah keluarga maupun dalam memenuhi kebutuhan dasar sosial dan psikologis bagi anggotanya. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain adalah pendidikan dan pelatihan teknis yaitu kegiatan yang diarahkan untuk melatih/membina orang-orang yang telah ditunjuk untuk menjadi penanggung jawab Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) di kabupaten/kota yang akan menerima bantuan operasional LK3. Pendaftaran dan seleksi yaitu seleksi dimaksudkan untuk mengidentifikasikan calon penerima bantuan AKSK dan pemberdayaan perempuan melalui peningkatan kesejahteraan sosial keluarga. Bantuan usaha ekonomi produktif yaitu pemberian bantuan usaha ekonomi produktif diarahkan kepada masyarakat yang miskin atau rentan dengan pemberian paket modal usaha, bantuan untuk Orsos/Yayasan/LSM. Bimbingan teknis usaha ekonomi produktif yaitu kegiatan yang dilaksanakan untuk memberikan bimbingan, penyuluhan dan informasi tentang pelaksanaan kegiatan pemberdayaan keluarga miskin tahun 2010 kepada calon penerima bantuan/manfaat sehingga klien mendapatkan pengetahuan dan pemahaman tentang pelaksanaan kegiatan tersebut dan mampu mempergunakan bantuan untuk peningkatan kesejahteraan sosial dan 424

428 memperingati hari keluarga nasional (HARGANAS). Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (99,61%). - Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) Kegiatan ini bertujuan untuk dapat merubah pola fikir serta sikap mental warga Komunitas Adat Terpencil dari pola tradisional ke pola yang lebih maju. Diantaranya memberi dorongan dan semangat hidup kepada warga KAT, membekali keterampilan disamping bertani dan bercocok tanam untuk dapat mengolah hasil pertanian, mendorong perbaikan taraf hidup masyarakat KAT melalui pengetahuan dan modal usaha dengan menggalakkan potensi dan sumber ekonomi warga KAT, kegiatan ini dilakukan melalui study kelayakan yang meliputi persiapan pemberdayaan KAT, Pelaksanaan penjajakan awal, pelaksanaan study kelayakan, semiloka hasil study kelayakan pemberdayaan KAT, penyusunan program dan rencana kerja/teknis/program, pembudayaan dan pemasyarakatan yang terdiri dari penyiapan kondisi masyarakat dan calon warga binaan, bimbingan sosial motivasi berkala secara terpadu pemberdayaan KAT tahun I dan III, Pendampingan sosial kepada warga binaan KAT tahun I dan III, rapat-rapat koordinasi kerja/dinas/pimpinan kelompok kerja/konsultasi dan monitoring dan pengawasan pelaksanaan program dan kegiatan. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- Realisasi Rp ,- (52,86%) dan sisa anggaran sebesar Rp ,- (47,14%) yang merupakan sisa dana dari kegiatan pembangunan KAT kegiatan yang dipergunakan sesuai kebutuhan. Rencana Pembinaan Masyarakat Komunitas Adat Terpencil yang direncanakan pada 2 lokasi hanya difokuskan pada 1 lokasi saja dikarenakan standar biaya DIPA APBN sangat terbatas, sehingga untuk pemberdayaan tahun 2011 difokuskan pada 1 (satu) lokasi saja. - Pemberdayaan kelembagaan sosial masyarakat Kegiatan ini bertujuan menanggulangi permasalahan kesejahteraan sosial bersama-sama dengan pemerintah, agar masyarakat Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dapat hidup layak secara mandiri dan bermanfaat, meningkatkan peran serta dan kinerja 241 Tenaga Kesejahteraan Sosial (TKSK) sebagai pelaku pembangunan kesejahteraan sosial, memberikan pemahaman tentang permasalahan-permasalahan sosial atau PMKS dan peran, tugas dan fungsi TKSK sebagai PSKS. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (99,49%). - Pemberdayaan organisasi sosial Kegiatan ini bertujuan meningkatnya peran serta dan kinerja Orsos/LSM sebagai pelaku pembangunan kesejahteraan sosial, memberikan pembinaan dan bimbingan sosial kepada pimpinan panti tentang manajemen organisasi sosial, melaksanakan penguatan jaringan kerja antar organisasi sosial, meningkatkan partisipasi dan motivasi para pengurus orsos dalam meningkatkan mutu standar pelayanan sosial kepada penerima pelayanan, adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah pemberian bantuan berprestasi I, II dan III, bantuan 425

429 pengelolaan UEP untuk 15 orsos. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (100%) dan realisasi fisik 100%. - Pemberdayaan pekerja sosial masyarakat Kegiatan ini bertujuan memberikan pembinaan dan bimbingan sosial, meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) agar dapat hidup layak secara mandiri dan bermartabat, kegiatan yang dilaksanakan adalah penyuluhan penyebaran informasi, penyelenggaraan ceramah/diskusi/seminar/sarasehan, seleksi calon pekerja sosial masyarakat berprestasi tingkat kabupaten/kota, seleksi organisasi sosial berprestasi tingkat provinsi dan pemberian bantuan stimulan kepada pekerja sosial masyarakat. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (98,54%). - Pelestarian dan pendayagunaan nilai kepahlawanan, keperintisan dan kesetiakawanan sosial Kegiatan ini bertujuan agar terjadinya transformasi nilai kepahlawanan dari pelaku perjuangan/sejarah kepada generasi muda sehingga nilai tersebut dipahami, dihayati dan diamalkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan tuntutan zaman yang semakin dikenal, dihayati dan dihormati keberadaan serta fungsi TMP dan MPN, serta mengembalikan semangat kegotong-royongan melalui kegiatan bhakti sosial oleh seluruh warga negara RI dan masyarakat, kegiatan yang dilaksanakan antara lain pembuatan leaflet/poster, bantuan kepada Orsos/Yayasan/LSM, pengawasan/supervisi konstruksi, pelestarian bangunan bersejarah, bimbingan pelestarian nilai K3 kepada guru dan melaksanakan fasilitasi dan sosialisasi pembangunan karakter bangsa (nation and character building). Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- Realisasi Rp ,- (99,73%). - Pemberdayaan karang taruna Kegiatan ini bertujuan meningkatnya peran serta dan kinerja karang taruna sebagai pelaku pembangunan kesejahteraan sosial, memberikan pembinaan dan bimbingan sosial kepada pimpinan panti tentang manajemen organisasi sosial, melaksanakan penguatan jaringan kerja antar pengurus karang taruna provinsi dengan pengurus karang taruna di kabupaten/kota, bantuan yang diberikan antara lain Modal Usaha (MU), Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Usaha Kesejahteraan Sosial (UKS) Karang Taruna. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (98,70%). - Pengembangan wahana kessos berbasis masyarakat Kegiatan ini bertujuan terselenggaranya kegiatan wahana kesejahteraan sosial berbasis masyarakat (WKSBM) di tingkat lokal/desa, meningkatnya peran serta lembaga sosial yang ada dalam masyarakat pada akar rumput sebagai pelaku pembangunan kesejahteraan sosial, memberikan pembinaan dan bimbingan sosial kepada pengurus WKSBM untuk melaksanakan perintisan puskesos dan 426

430 melaksanakan penguatan jaringan kerja lembaga WKSBM dengan lembaga sosial lainnya yang ada di desa maupun kecamatan. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (99,96%). - Peningkatan kerjasama kelembagaan dan dunia usaha Kegiatan ini bertujuan semakin melembaganya dan meningkatnya pelaksanaan kerjasama antar dunia usaha, masyarakat dan pemerintah dalam melaksanakan usaha kesejahteraan sosial, makin menguatnya integritas sosial (kepercayaan dan penerimaan sosial) melalui dukungan masyarakat dan pemerintah terhadap dunia usaha agar dunia usaha tetap sustainable. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (100%). - Rehabilitasi tuna sosial Kegiatan ini bertujuan memulihkan kembali harga diri dan kepercayaan diri penyandang masalah kesejahteraan sosial, memberikan bimbingan mental sosial dan agama bagi tuna sosial, kegiatan yang dilaksanakan antara lain penyuluhan penyebaran informasi melalui kampanye sosial tuna sosial di radio dan televisi agar masyarakat mengetahui permasalahan tuna social. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (97,70%). - Rehabilitasi sosial korban NAPZA Kegiatan ini bertujuan memberikan sosialisasi kepada masyarakat melalui kampanye sosial dalam rangka Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) yang berupa ceramah kepada masyarakat tentang narkoba, bahayanya dan upaya pencegahan narkoba dan memberikan Unit Pelayanan Sosial Keliling (UPSK) NAPZA yang berupa test laboraturium oleh dokter dan perawat, serta kegiatan konseling oleh pekerja sosial kepada masyarakat tentang NAPZA. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (99,36%). - Rehabilitasi sosial penyandang cacat Kegiatan ini antara lain pendidikan dan pelatihan teknis kepada para penyandang cacat, penyuluhan dan penyebaran informasi yaitu publikasi kegiatan Pelayanan dan Rehabilitasi Sosisal Penyandang Cacat (PRSPC) dan Kegiatan Peringatan Hari Penyandang Cacat (HIPENCA) 2010, Pemberian Jaminan Hidup (JADUP). Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (99,44%). - Rehabilitasi dan perlindungan kesejahteraan sosial lanjut usia Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pelayanan dan pemberdayaan lanjut usia, memperbaiki kualitas dan kesejahteraan sosial lanjut usia luar panti dan dalam panti, bantuan yang diberikan adalah bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (83.13%). - Pelayanan dan perlindungan kesejahteraan anak 427

431 Kegiatan ini bertujuan terjaminnya kelangsungan hidup, tumbuh kembang dan perlindungan anak, khususnya anak terlantar, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara wajar baik jasmani, rohani maupun sosial serta meningkatkan kesadaran, kemampuan tanggung jawab dan partisipasi aktif masyarakat dalam menangani masalah kesejahteraan sosial anak. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain pembinaan dan perlindungan kessos anak balita, pelayanan dan rehabilitasi anak cacat, penyelenggaraan sosialisasi/workshop/ diseminasi/seminar/publikasi sosial anak dan pelayanan dan perlindungan kesejahteraan sosial anak. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (98,89%). - Penyelenggaraan pencarian pemberian penyelamatan musibah bencana alam dan bencana lainnya Kegiatan ini bertujuan memberikan motivasi kepada masyarakat untuk peduli dan aktif dalam penanggulangan bencana dan membangun kesiapsiagaan masyarakat untuk menghadapi bencana yang akan datang. Kegiatan yang dilaksanakan adalah pelatihan/pemantapan Taruna Siaga Bencana (TAGANA) yang dilakukan sebanyak 1 (satu) angkatan yang diikuti oleh 70 orang peserta, pelatihan/pemantapan kemampuan pengelolaan logistik korban bencana yang dilakukan sebanyak 1 (satu) angkatan yang diikuti oleh 40 orang peserta yang merupakan TAGANA dan petugas gudang yang berasal dari 23 masing-masing kabupaten/kota, pelatihan/pemantapan kemampuan evakuasi korban bencana yang dilakukan sebanyak 1 (satu) angkatan yang diikuti oleh 40 orang peserta yaitu merupakan TAGANA yang berasal dari 23 masing-masing kabupaten/kota, dan pemberian bantuan penanggulangan bencana alam dan kerusuhan. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (97,24%). - Penyempurnaan pelaksanaan pemberian bantuan sosial (pemberdayaan sosial korban bencana sosial) Kegiatan ini bertujuan memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana, dengan hasil yang dicapai antara lain sosialisasi kebijakan dan program penanggulangan bencana sosial bagi 40 orang peserta pertemuan yang datang dari berbagai daerah, meningkatnya pemahaman peserta mengenai kebijakan dan program penanggulangan bencana sosial. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (97,50%). - Perlindungan sosial tindak kekerasan dan pekerja migran Merupakan kegiatan yang bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan kembali kemampuan dan keterampilan korban tindak kekerasan untuk meningkatkan penghidupan dan penghasilannya, menumbuhkan kembali harkat dan martabat para korban tindak kekerasan untuk dapat menjalankan fungsi sosial dalam masyarakat, menghilangkan perasaan traumatic (tekanan psikologis) akibat perlakuan kekerasan yang pernah dialami, kegiatan ini antara lain Bantuan Usaha Ekonomi Produktif yang meliputi seleksi KTK-PM, bimbingan ketrampilan KTK-PM, dan bantuan stimulan KTK-PM, bantuan 428

432 untuk Orsos/Yayasan/LSM dan rehabilitasi sosial. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (99,76%). - Pendayagunaan sumber dana sosial Kegiatan ini bertujuan pendayagunaan sumber dana sosial adalah adanya perhatian dan pengawasan dari pemerintah terhadap undian-undian penipuan mengingat terutama jaminan supaya pengusaha undian menepati janji-janjinya terhadap para peserta/masyarakat, jaminan agar uang yang didapat dengan mengadakan undian itu dipakai guna maksud yang telah ditetapkan lebih dahulu. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (84,11%). - Akses jaminan sosial Kegiatan ini bertujuan memberi perlindungan dan bantuan bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial (UKS) yang memberi perlindungan dan bantuan bagi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) non potensial agar dapat hidup secara wajar, kegiatan ini adalah memberikan modal kerja askesos melalui Orsos/Yayasan kepada sektor informal sebagai modal usaha sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (98,48%). - Penyempurnaan pelaksanaan bantuan tunai bagi rumah tangga sangat miskin yang memenuhi syarat Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kondisi sosial ekonomi rumah tangga sangat miskin, meningkatkan taraf pendidikan anak-anak rumah tangga sangat miskin, meningkatkan status kesehatan dan gizi ibu hamil, ibu nifas, dan anak dibawah 6 tahun dari rumah tangga sangat miskin dan meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan, khususnya bagi rumah tangga sangat miskin yang berada di 3 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Pidie, Aceh Jaya dan Kota Lhoksemawe. Anggaran yang disediakan sebesar Rp ,- realisasi Rp ,- (99,87%). 5. Sumber dan Jumlah Anggaran Sumber dana berasal dari APBN dengan jumlah anggaran Rp ,386,000 dengan realisasi sebesar Rp atau 95,37 % dan realisasi fisik 98,26%. 6. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: Secara umum tidak ada permasalahan dalam pelaksanaan kegiatan dan sebahagian besar kegiatan dapat berjalan 100%, hanya kegiatan Pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) yaitu kegiatan semiloka hasil studi kelayakan calon lokasi KAT tidak bisa dilaksanakan karena tumpang tindih dengan jadwal rapat Pemda Aceh Timur. Studi kelayakan UTK 2 lokasi yaitu Aceh Barat dan Aceh Selatan juga tidak dilaksanakan karena anggaran pada tahun 2011 DIPA Dekon & TP sangat terbatas, sehingga untuk pemberdayaan tahun 2011 difokuskan pada 1 (satu) lokasi saja. 429

433 Solusi: Perlunya peningkatan kegiatan pengawasan, pemantauan dan evaluasi dan studi kelayakan ke daerah-daerah atau lokasi kegiatan, agar setiap kegiatan dapat berjalan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. URUSAN KETENAGAKERJAAN Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk 1. Dasar Hukum DIPA Nomor: / /-/2010 tanggal 31 Desember DIPA Nomor: / /-/2010 tanggal 31 Desember Instansi Pemberi Tugas Pembantuan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia. 3. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang Melaksanakan Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk 4. Program dan Kegiatan yang Diterima dan Pelaksanaannya a. Program Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepet Tumbuh P4-Trans, telah dilaksanakan melalui: - Pengembangan sistem informasi manajemen di bidang ketransmigrasian, yaitu tersusunya program melalui pembuatan buku data, penyusunan data perancanganp ermukiman trans serta pengelolaan data dan informasi ketransmigrasian yang tepat dan cepat dimasa mendatang sebanyak 3 paket. - Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan antara lain, melakukan monitoring dan evaluasi sebagai upaya pengendalian program sebanyak 12 paket dan tersedia bahan laporan sebagai potret pelaksanaan pembangunan pemukiman transmigrasi dimasa mendatang. - Penyusunan program dan rencana kerja guna menjamin pelaksanaan kegiatan sesuai rencana yang ditetapkan sebanyak 4 paket. - Penyusunan laporan keuangan sistim aplikasi SAI sebanyak 12 paket. - Penyusunan Tatalaksana Pengelolaan Barang Milik Negara, kegiatan yang telah dilaksanakan yaitu, penyusunan laporan pengelolaan BMN dengan mengunakan sistim aplikasi SIMAK-BMN sebanyak 12 paket. - Penyusunan rencana teknis yang telah dilaksanakan berupa, penyusunan design RTSP dan RTJ sebanyak 1 paket dilokasi Desa Pantan Kriko Kab. Bener Meriah, identifikasi potensi kawasan calon permukiman sebanyak 1 paket dilokasi Pante Cermin Kab. Aceh Jaya. - Penyuluhan dan penyebaran informasi yang telah dilaksanakan yaitu KIE publikasi melalui pameran dan pembuatan bahan promosi program ketransmigrasi dimana nantinya tersedia data dan potensi lokasi transmigrasi 430

434 sebanyak 2 paket, serta melakukan kerjasama antar daerah (DKI Jakarta dan D.I. Yogyakarta) sebanyak 2 paket. - Pengelolaan dokumentasi pertanahan 1 paket, inventarisasi pemanfaatan HPL sebanyak 3 paket dan pengurusan penerbitan Sertifikat Hak Milik 1 paket. Sedangkan kegiatan pengukuran batas UPT sebanyak 1 lokasi dan pokja pertanahan 4 paket, tidak dapat dilaksanakan. - Monitoring pelaksanaan kegiatan merupakan pengawasan terhadap pelaksanaan penyiapan sarana dan prasarana permukiman sebanyak 100 KK lokasi Samar Kilang Kab. Bener Meriah yang dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Bener Meriah. Dalam hal ini Dinas Provinsi hanya melakukan kegiatan monitoring pelaksanaan fisik pembangunan permukiman transmigrasi sebanyak 6 paket. - Pelatihan Dasar Umum (PDU) tentang ketransmigrasian sebanyak 1 angkatan dengan peserta sebanyak 30 orang selama 7 hari di Kabupaten Bener Meriah. - Bantuan usaha ekonomi produktif yang telah dilaksanakan yaitu, pengadaan perbekalan transmigran berupa, sandang, alat dapur, alat tidur, alat penerangan, alat pertanian dan alat pertukangan untuk 50 KK di lokasi Samar Kilang Kab. Bener Meriah. - Perpindahan dan penempatan, kegiatan ini tidak dapat dilaksanakan tahun 2010, hal ini disebabkan karena pekerjaan fisik penyiapan sarana dan prasarana permukiman di lokasi Samar Kilang (100 KK) yang dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Bener Meriah hingga posisi 31 Desember 2010 belum selesai, maka kegiatan perpindahan dan penempatan warga transmigran dari daerah asal (pulau jawa) sebanyak 50 KK yang dananya tertampung pada DIPA Tugas Pembantuan Provinsi tidak dapat dilaksanakan. b. Program Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat Tumbuh P2MKT telah dilaksanakan melalui: - Pengembangan sistem informasi manajemen di bidang ketransmigrasian, yaitu tersusunya program melalui pembuatan buku data dan informasi ketransmigrasian yang tepat dan cepat dimasa mendatang sebanyak 3 paket. - Penyusunan program dan rencana kerja guna menjamin pelaksanaan kegiatan sesuai rencana yang ditetapkan sebanyak 3 (tiga) paket. - Monitoring dan evaluasi sebagai upaya pengendalian program pembinaan sebanyak 2 paket dan tersedia bahan laporan sebagai potret pelaksanaan pembangunan pemukiman transmigrasi dimasa mendatang. - Kegiatan rapat-rapat koordinasi/kerja/dinas/pimpinan kelompok kerja yang dilaksanakan bertujuan untuk singkronisasi program pembinaan antar dinas, kab/kota dan lokasi UPT. Adapun kegiatan rapat yang telah dilaksanakan antara lain rapat pengendalian persiapan dan pelaksanaan program P2MKT dan rapat kerja teknis bidang P2MKT di pusat sebanyak 2 paket. 431

435 - Kegiatan pelayanan sosial budaya di daerah pemukiman transmigrasi yang telah dilaksanakan berupa, pembinaan pendidikan, kesehatan dan mental spiritual pada 1 lokasi/upt, dimana nantinya mutu pendidikan, tingkat kesehatan dilokasi pemukiman transmigrasi meningkat serta seleksi transmigran dan pembina UPT teladan. - Pelayanan jaminan hidup transmigran, kegiatan ini tidak dapat dilaksanakan pada tahun 2010, karena lokasi yang akan disalurkan bantuan jaminan hidup berupa, beras dan non beras (lauk pauk) sebanyak 100 KK belum ditempatkan warga transmigran, disebabkan kegiatan pekerjaan fisik berupa pembangunan rumah, fasilitas umum serta sarana dan prasarana lainnya dilokasi Samar Kilang Kab. Bener Meriah belum selesai, sehingga penempatan warga transmigran belum dapat dilaksanakan yang menyebabkan kegiatan bantuan jaminan hidup bagi warga transmigran tidak dapat disalurkan. - Pengembangan sarana produksi berupa pengadaan bibit/benih tanaman, pupuk dan pestisida dalam rangka mendukung sarana produksi pertanian. Dalam tahun 2010 kegiatan pengadaan sarana produksi pertanian untuk 100 KK warga transmigran dilokasi Samar Kilang Kab. Bener Meriah tidak dapat dilaksanakan, hal ini disebabkan belum selesainya pekerjaan fisik pemukiman yaitu pembangunan rumah, fasilitas umum, sarana dan prasarana lainnya, sehingga belum dapat dilakukan penempatan warga trans. Oleh karena itu kegiatan pengadaan sarana produksi pertanian tidak dapat dilaksanakan. - Operasional Pokja Kota Terpadu Mandiri (KTM) berupa sosialisasi pengembangan dan pembangunan Kota Terpadu Mandiri (KTM) ke Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Timur, Abdya, Gayo Lues dan Kota Subulussalam serta Rapat Pokja Provinsi sebanyak 1 paket. - Kegiatan pengakhiran status bina lokasi permukiman transmigrasi yang telah dilaksanakan, yaitu penilaian/evaluasi terhadap UPT yang akan dilakukan penyerahan sebanyak 1 paket dan pengurusan Berita Acara Serah UPT sebanyak 4 UPT. - Kegiatan pembangunan/rehab fasilitas umum yang telah dilaksanakan berupa, rehab rumah ibadah sebanyak 1 unit, pembangunan MCK 1 unit dan rehab balai desa sebanyak 1 unit dilokasi Alue Penyering Sp. 6 Kab. Aceh Barat, kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mendukung persiapan serah terima UPT kepada Pemda setempat. 5. Sumber dan Jumlah Anggaran Sumber dana berasal dari APBN dengan jumlah Anggaran Rp ,- realisasi Rp ,- atau 69,63% dan fisiknya 71,62%. 6. Permasalahan dan Solusi Permasalahan: 432

436 - Program kegiatan penilaian dan pemberian penghargaan LKS bipartit award tidak dapat dilaksanakan karena pihak Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I belum siap melaksanakannya pada tahun ini. - Terlambatnya pelantikan UPTD produktivitas Provinsi serta terlambatnya Surat persetujuan pencairan dana PNBP tahap ke III (pertengahan Desember 2010) sehingga waktu untuk melaksanakan kegiatan tidak mencukupi. - Penyerapan anggaran untuk kedua satker baik P4T maupun P2MKT pada akhir tahun anggaran tidak dapat terserap semuanya, hal ini disebabkan ada beberapa kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan akibat adanya kegiatan fisik penyiapan sarana dan prasarana permukiman sebanyak 100 KK di lokasi Samar Kilang Kab. Bener Meriah yang dilaksanakan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Bener Meriah, dalam hal ini dana yang tertampung pada DIPA Tugas Pembantuan Provinsi yaitu kegiatan pengerahan dan penempatan dari daerah asal (pulau Jawa) 50 KK, pengadaan jaminan hidup (bantuan beras dan lauk pauk) dan pengadaan sarana produksi pertanian untuk 100 KK. - Adapun kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan pada tahun 2010 adalah pengukuran batas UPT sebanyak 1 lokasi dan pokja pertanahan 1 paket, pengerahan dan penempatan untuk 50 KK dari daerah asal (pulau Jawa), pengadaan jaminan hidup transmigran (bantuan jadup beras dan non beras), pengadaan sarana produksi pertanian (saprotan) untuk 100 KK. - Penyerapan anggaran untuk kedua satker baik P4T maupun P2MKT pada akhir tahun anggaran tidak dapat terserap semuanya, hal ini disebabkan ada beberapa kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan akibat adanya kegiatan kerjasama dengan dinas terkait. - Adapun kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan pada tahun 2009 adalah pengukuran tata batas kawasan hutan (kerjasama dengan Dinas Kehutanan) lokasi Kuala Pango Sp.1,2 dan Alue Itam Sp.1 Kab. Aceh Timur sebanyak 3 lokasi dan penerbitan sertifikat HPL lokasi transmigrasi sebanyak 7 paket. Solusi: - Program pemberian penghargaan LKS bipartit award akan diajukan kembali di tahun Kegiatan UPTD produktivitas tersebut akan diajukan kembali pada tahun 2011 atau jika memang memungkinkan anggaran dekonsentrasi yang bersumber dari PNBP dapat dijadikan rupiah murni sehingga dapat mempercepat proses kegiatan. - Bedasarkan rumusan hasil rapat regional pertanahan yang dilaksanakan di Bogor tanggal 18 s.d 19 Februari 2010, bahwa pagu anggaran untuk kegiatan pengukuran batas UPT tidak mencukupi sesuai dengan norma standar yang berlaku di seluruh Indonesia, yaitu dana yang tersedia dalam pagu sebesar Rp ,- sedangkan norma standar untuk melaksanakan kegiatan ini 433

437 sebesar Rp ,- dalam hal ini telah dilakukan revisi melalui optimalisasi dari beberapa kegiatan pertanahan yang tersedia, namun mengingat terbatasnya waktu untuk melakukan revisi, maka kedua kegiatan tersebut tidak dapat dilaksanakan dalam tahun Telah dilakukan koordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Bener Meriah untuk dapat memacu pekerjaan fisik pembangunan dilokasi sehinga dapat dilakukan penempatan warga transmigran, namun hingga posisi 31 Desember 2010 kegiatan fisik pembangunan permukiman dilokasi Samar Kilang Kab. Bener Meriah belum juga selesai, dari target 100 unit rumah hanya 25 unit yang siap, sehingga kegiatan penempatan tidak dapat dilakukan yang menyebabkan kegiatan pengadaan saprodi dan pengadaan bantuan jadup beras/non beras juga tidak dapat dilaksanakan. URUSAN KELAUTAN DAN PERIKANAN Dinas Kelautan dan Perikanan 1. Dasar Hukum DIPA Nomor: (04) 0363/ /I/2010 tanggal 31 Desember 2009 DIPA Nomor: (06) 0363/ /I/2010 tanggal 31 Desember Instansi Pemberi Tugas Pembantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI 3. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang Melaksanakan Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh 4. Program dan Kegiatan yang Diterima dan Pelaksanaannya Program Pengembangan Sumber Daya Perikanan Kegiatan peningkatan mutu dan pembangunan hasil perikanan Kegiatan ini telah dilaksanakan dalam bentuk pengadaan peralatan laboratorium dalam rangka penguatan kompetensi UPTD Laboratorium Pembinaan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Lam Pulo Banda Aceh. Kegiatan peningkatan dan pengembangan sarana dan prasarana perikanan serta input produksi lainnya Pelaksanaan kegiatan ini dalam bentuk pengembangan kawasan budidaya laut dan pengembangan kawasan budidaya air tawar, yaitu pengadaan sarana operasional di Balai Benih Ikan Pantai (BBIP) Simeulue, pemantauan pelaksanaan bantuan selisih harga benih ikan (BSHBI), pembinaan pelaksanaan sertifikasi BBI, pertemuan forum koordinasi prasarana dan sarana. Selain itu juga dilakukan kegiatan fisik dan pengadaan yang menunjang kelancaran operasional di tiga (3) Balai Benih Ikan (BBI) yaitu BBI Sentral Toweran, BBI Batee Iliek dan BBI Lawe Bekung. 5. Sumber dan Jumlah Anggaran Sumber anggaran berasal dari APBN sebesar Rp ,- dengan realisasi Rp ,- atau 95,71% dan fisik 100%. 434

438 6. Permasalahan dan Solusi Pelaksanaan dari Tugas Perbantuan tidak ditemukan permasalahan yang berarti sehingga dapat direalisasikan seluruhnya. URUSAN PERTANIAN Dinas Pertanian Tanaman Pangan 1. Dasar Hukum DIPA Nomor: 0810/ /I/2010, Tanggal 31 Desember 2009 DIPA Nomor: 0810/ /I/2010, Tanggal 31 Desember 2009 DIPA Nomor: 0810/ /I/2010, Tanggal 31 Desember 2009 DIPA Nomor: 0810/ /I/2010, Tanggal 31 Desember Instansi Pemberi Tugas Pembantuan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Hortikultura, Sarana dan Prasarana, Pengolahan/Pemasaran Hasil dan Direktorat Jenderal Pengembangan Lahan. 3. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang Melaksanakan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Aceh 4. Program dan Kegiatan yang Diterima dan Pelaksanaanya Program Peningkatan Ketahanan Pangan Melalui program ini dijalankan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan usaha peningkatan produksi dan produktivitas beragam komoditi serta penanggulangan berbagai kendala yang dihadapi. Kegiatan ini antara lain berupa pemberian bantuan sarana produksi, usaha menciptakan benih yang lebih baik dan berlabel, peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani dalam usaha peningkatan hasil produksi serta berbagai pengembangan/pembukaan kawasan menjadi lahan baru, unggulan maupun percontohan. Program Pengembangan Agribisnis Kegiatan yang terangkum adalah kegiatan yang bertujuan pertanian ke arah bisnis dan modern. Kegiatan yang dijalankan antaranya pengembangan kawasan sentra/unggulan (menjadi ke arah agroindustri dan agropolitan), sehingga peningkatan investasi, daya saing dapat tercapai dengan usaha peningkatan sumber daya manusia dan peningkatan mutu hasil. Program Peningaktan Kesejahteraan Petani Program dengan berbagai kegiatan yang bertujuan meningkatkan taraf hidup petani. Kegiatan yang dijalankan dapat berupa pelatihan ketrampilan petani atau induksi terhadap sistem pertanian modern atau terbaru, pembinaan dengan berbagai bantuan sarana produksi yang telah diberikan. Direktur Jendral Tanaman Pangan (03) Dana Kegiatan Dinas Pertanian Tanaman Pangan sebesar Rp terealisasi sebesar Rp ,- atau 95.44% dengan persentase fisik 100%, 435

439 yang mencakup 3 (tiga) program kegiatan diantaranya, pengembangan agribisnis, peningkatan ketahanan pangan, dan kesejahteraan petani. Untuk kegiatan pengembangan agribisnis yang menitik beratkan koordinasi dan pengembangan pupuk dengan sistem koordinasi dan pengawalan serta bantuan rumah kompos di kabupaten, dimana diharapkan dengan kegiatan tersebut diketahui jenis dan kandungan pupuk dan pestisida yang beredar serta keamanan akan ketersediaannya pupuk ditingkat petani. Program peningkatan ketahanan pangan kegiatan meliputi bantuan benih/bibit sarana produksi pertanian dan penguatan kelembagaan perbenihan, diadakannya forum perbenihan. Pendidikan dan pelatihan teknis dengan diadakannya Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) tanaman padi, jagung, kedele dan kacang tanah yang dilaksanakan di kabupaten/kota sentra produksi. Dengan outcomes terlatihnya dan meningkatnya pengetahuan petani mengenai pembagian tugas yang jelas sesuai dengan Petunjuk Teknis (Juknis) dan Petunjuk Pelaksanaan yang telah ditetapkan. Program peningkatan kesejahteraan petani dengan kegiatan penerapan dan pemantapan prinsip good govermance, penyelesaian daerah konflik, bencana alam, dimana diharapkan dengan kegiatan ini persamaan persepsi dalam penyusunan data base kegiatan pertanian, pelaksanaan kegiatan, dan ketersediaannya laporan bulanan akuntasi dan simonev satker. Direktur Jendral Hortikultura (04) Untuk kegiatan hortikultura tahun 2010, Dinas Pertanian Tanaman Pangan mengelola dana sebesar Rp dengan realisasi Rp atau 92,62% dengan capaian fisik 96,20%. Kegiatan Dirjen Hortikultura dengan 3 (tiga) program yaitu program pengembangan agribisnis dengan kegiatan fasilitasi pengembangan hortikultura organik dengan mensosialisasikan Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunakan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN), dengan tujuan agar para peserta mampu memobilitasi masyarakat untuk pencegahan dan menanggulangi permasalahan narkoba secara terpadu di masing-masing daerah. Kegiatan Pengembangan Fasilitas Terpadu Investasi Hortikultura (FATIH), dengan outcomes tersediannya petugas yang mempunyai motivasi, wawasan dan pengetahuan dalam membangun dan mengembangkan sistem dan usaha agribisnis hortikultura yang berdaya saing, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, serta tersediannya informasi berupa data potensi pengembangan, penerapan tekhnologi dan informasi pendukung lainnya sehingga Aceh akan menjadi lebih mudah dalam melaksanakan pengembangannya. Program peningkatan ketahanan pangan, kegiatan bantuan benih/bibit, sarana produksi pertanian, dan penguatan kelembagaan benih dengan tujuan terlaksananya kegiatan perbenihan dalam mendukung pengembangan hortikultura, terlaksananya kegiatan gerakan penanggulangan OPT durian, pisang, jeruk dan cabe di Kabupaten, serta terlaksananya kegiatan penyediaan/pembenahan data statistik hortikultur, serta kegiatan penerapan Good Agriculture Practices (GAP)/Standard Operating Procedure (SOP) yang bertujuan untuk sebagai bahan acuan bagi pemerintah 436

440 daerah (provinsi, kabupaten/kota) dalam rangka meningkatkan produksi dan produktifitas, mutu hasil, efisiensi produk dan daya saing, aman konsumsi, dengan mempertahankan kesuburan tanah, kelestarian lingkungan dan sistem produk yang berkelanjutan serta dapat mendorong petani dan kelompok tani untuk memiliki sikap mental yang bertanggungjawab terhadap kesehatan keamanan diri dan lingkungan. Direktur Jendral Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (07) Kegiatan Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Tahun 2010, dana yang dikelola Dinas Pertanian Tanaman Pangan mengelola dana Rp atau 27,14% dengan capaian hasil fisik 30,59%. Direktur Jendral Pengelolaan Lahan dan Air (08) Kegiatan Dirjen Pengelolaan Lahan dan Air (PLA) Pertanian Tahun 2010, dana yang dikelola Dinas Pertanian Tanaman Pangan sebesar Rp dengan realisasi Rp atau 2,10% dengan capaian hasil fisik 2,34%. Kecilnya realisasi kegiatan dikarenakan adanya dana bantuan Loan IDB sebesar Rp ,- tidak dapat direalisasikan karena baru dalam tahab tender, menunggu petunjuk dari Dirjen Pengelolaan Lahan dan Air di Jakarta lebih lanjut. 5. Sumber dan Jumlah Anggaran Sumber dana berasal dari APBN dengan jumlah anggaran Rp ,- telah terealisasi sebesar Rp ,- atau 21,03% dan Fisik 21,94%. 6. Permasalahan dan Solusi Permasalahan Dana yang bersumber dari IDB sebesar Rp ,- tidak dapat direalisasikan karena baru dalam tahab tender, menunggu petunjuk dari pusat. Solusi Perlunya koordinasi dan konsultasi dengan pihak donatur melalui Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air (PLA) Departemen Pertanian Republik Indonesia. Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan 1. Dasar Hukum DIPA Nomor : 1335/ /-/2010 tanggal 31 Desember DIPA Nomor : 1335/ /I/2010 tanggal 31 Desember DIPA Nomor : 1335/ /-/2010 tanggal 31 Desember Instansi Pemberi Tugas Pembantuan Departemen Pertanian Republik Indonesia. 3. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang Melaksanakan Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh. 437

441 4. Program dan Kegiatan yang Diterima dan Pelaksanaannya Program dan kegiatan ini adalah program peningkatan ketahanan pangan dan pengembangan agribisnis berkala di 11 (sebelas) kabupaten, meliputi integrasi tanaman ternak, kompos dan biogas, pengembangan agro industri terpadu, pengembangan pembibitan sapi, penanganan dan pengendalian wabah virus flu Burung pada hewan dan restrukturisasi perunggasan, peningkatan produksi, produktifitas, dan mutu produk pertanian, serta pengembangan kawasan. Selain untuk kegiatan fisik, juga disediakan dana untuk pengadaan peralatan dan prasarana alat tulis kantor. Anggaran yang di alokasikan Rp ,- realisasi Rp atau 96,27% dan fisik 96,53%. Program dan kegiatan pengembangan agribisnis adalah pekerjaan pengadaan alat dan mesin pengolah daging, penguatan modal usaha kelompok di Kabupaten Aceh Besar. Juga disediakan dana untuk pengadaan peralatan dan prasarana alat tulis kantor dan komputer suplayer. Anggaran yang di alokasikan Rp ,- realisasi Rp ,- atau 91,00% dan fisik 100%. Program dan kegiatan peningkatan ketahanan pangan, penyediaan dan perbaikan infrastruktur pertanian ini adalah pekerjaan berkala di 7 (tujuh) kabupaten meliputi pengembangan rumah kompos peternakan (pengolahan lahan), pembangunan rumah kompos sedarhana, alat pengolahan pupuk organik, alat angkutan roda 3, pengembangan irigasi air permukaan, perluasan areal kebun hijauan MT, pengembangan areal padang pengembalaan, kontruksi dan sapronak perluasan areal padang pengembalaan, pengembangan irigasi tanah dangkal peternakan, pembuatan irigasi tanah dangkal, rehabilitasi/pengembangan jalan produksi peternakan, pengembangan Jalan Usaha Tani (JUT) mendukung peternakan, reklamasi lahan peternakan, juga disediakan dana untuk pengadaan peralatan dan prasarana operasional dan pemeliharaan seperti komputer dan ATK, dan kendaraan roda tiga. Anggaran yang dialokasikan Rp ,- realisasi Rp ,- atau 99,96% dan realisasi fisik 100%. 5. Sumber dan Jumlah Anggaran Sumber dan berasal dari APBN dengan jumlah anggaran Rp ,- realisasi Rp atau 97,04% dan fisik 98,84%. 6. Permasalahan dan Solusi Permasalahan - Sesuai DIPA Nomor: 1335/ /2010 tanggal 31 Desember 2009 terdapat kegiatan pengadaan kendaraan roda dua 11 unit yang mendapatkan tanda bintang. 438

442 - Pada waktu kegiatan APBN Tahun 2010 berjalan adanya revisi anggaran Direktorat Jendral Peternakan sehingga pengadaan kendaraan roda dua 11 unit ditunda untuk tahun Solusi Pada DIPA Nomor: 0835/ /01/2011 tanggal 20 Desember 2010 telah diadakan kembali kendaraan roda dua sebanyak 14 unit untuk Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh. URUSAN KEHUTANAN Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh 1. Dasar Hukum DIPA Nomor: 1056/ /2010, tanggal 31 Desember Instansi Pemberi Tugas Pembantuan Sekretariat Jenderal Kementrian Pertanian Republik Indonesia 3. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang Melaksanakan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh 4. Program dan Kegiatan yang Diterima dan Pelaksanaannya DIPA Direktorat Jenderal Perkebunan Program Pengembangan Agribisnis Realisasi fisik pelaksanaan kegiatan peningkatan produksi dan produktivitas mutu produk perkebunan dari pagu anggaran sebesar Rp ,- mencapai 100% dengan realisasi keuangan sebesar Rp ,- (98,01%) dan output yang dihasilkan adalah terlaksananya pengawasan revitbun. Program Peningkatan Ketahanan Pangan Realisasi fisik pelaksanaan kegiatan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), penyakit hewan, karantina dan peningkatan keamanan pangan dari pagu anggaran sebesar Rp ,- mencapai 100% dengan realisasi keuangan sebesar Rp ,- (85,88%) dan output yang dihasilkan adalah terlaksananya kegiatan pengendalian hama. Program Peningkatan Kesejahteraan Petani Realisasi fisik pelaksanaan kegiatan pengembangan magang sekolah lapang dari pagu anggaran sebesar Rp ,- mencapai 100% dengan realisasi keuangan sebesar Rp ,- (98,30%) dan output yang dihasilkan adalah terlaksananya pengembangan magang sekolah lapang. Pemantapan prinsip good governance, penyelesaian daerah konflik, bencana alam, daerah tertinggal, pulau terluar dan perbatasan dari pagu anggaran sebesar Rp ,- mencapai 100% dengan realisasi keuangan sebesar Rp ,- 439

443 (99,98 %) dan output yang dihasilkan adalah terlaksananya kegiatan pembinaan dan pengembangan kelapa terpadu dan peremajaan kelapa rakyat. DIPA Direktorat Jenderal PPHP Program Pengembangan Agribisnis Realisasi fisik pelaksanaan kegiatan administrasi kegiatan dan pengembangan pasca panen, pengolahan dan pemasaran dari pagu anggaran sebesar Rp ,- mencapai 100% dengan realisasi keuangan sebesar Rp ,- 98,12% dan output yang dihasilkan adalah terbangunnya pabrik pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan. Program Peningkatan Ketahanan Pangan Realisasi fisik pelaksanaan kegiatan mekanisasi pertanian pra dan pasca panen dari pagu anggaran sebesar Rp ,- mencapai 100% dengan realisasi keuangan sebesar Rp ,- (99,13%) dan output yang dihasilkan adalah terciptanya kegiatan mekanisasi pertanian pra dan pasca panen. 5. Sumber dan Jumlah Anggaran Sumber dana berasal dari APBN dengan jumlah anggaran Rp realisasi keuangan Rp ,- atau 96,53% dan fisik 100% 6. Permasalahan dan Solusi Permasalahan tidak dijumpai pada pelaksanaan kegiatan di lapangan karena proses perencanaan anggaran dan pelaksanaannya tepat waktu. B. TUGAS PEMBANTUAN YANG DIBERIKAN Pada tahun anggaran 2010 Pemerintah Aceh tidak memberikan tugas pembantuan kepada pemerintah kabupaten/kota. 440

444 BAB VI PENYELENGGARAAN TUGAS UMUM PEMERINTAHAN Pemerintah Aceh menyelenggarakan tugas umum pemerintahan yang mencakup kerjasama antar daerah, kerja sama daerah dengan pihak ketiga, koordinasi dengan instansi vertikal di daerah, pembinaan batas wilayah, pencegahan dan penanggulangan bencana, pengelolaan kawasan khusus, dan penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum. A. KERJASAMA ANTAR DAERAH Tujuan utama dilaksanakan kerjasama antar daerah adalah untuk mengatasi keterbatasan sumberdaya yang dimiliki yang pada akhirnya dapat menghambat penyelenggaraan pemerintahaan di daerah. Oleh karena itu daerah dituntut lebih proaktif melakukan kerjasama dengan daerah lain guna menutupi keterbatasanketerbatasan tersebut dengan mengembangkan serta mengoptimalkan semua potensi yang ada di daerahnya. 1. Kebijakan dan Kegiatan a. Kebijakan pemerintah Aceh melakukan penandatanganan nota kerjasama (MoU) sekaligus meresmikan kerjasama Aceh-Penang dan melakukan dialog kerjasama Aceh-Penang Business Investment Dialogue. Kerjasama bidang investasi ini merupakan yang pertama kali ditandatangani langsung oleh dua 441

445 pimpinan daerah, yakni Gubernur Aceh dan Ketua Menteri Besar (setingkat gubernur) Kerajaan Negeri Pulau Pinang Datok Lim Guan Eng. b. Pemerintah Aceh melakukan kerjasama pembangunan antar daerah se-wilayah Sumatera melalui Forum Gubernur se-sumatera. c. Pemerintah Aceh melakukan kerjasama dengan Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar dalam bidang sosialisasi dan diskusi adat/istiadat. 2. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan a. Melalui kerjasama investasi Pemerintah Aceh dengan Penang telah disepakati bahwa Pemerintah Aceh tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menyewa gedung untuk kantor, karena telah disediakan oleh pihak Kerajaan Negeri Pulau Pinang dengan menempati salah satu ruangan di Gedung Penang Development Centre. Selanjutnya pemerintah negara bagian Penang akan menawarkan model pengembangan baru untuk sumberdaya minyak dan gas alam kepada Aceh guna mendorong kerjasama bilateral dalam menunjang pertumbuhan ekonomi. Pemerintah Penang juga akan menawarkan sektor pariwisata, pendidikan internasional, real estate, industri halal dan sektor pariwisata medis untuk Aceh yang sangat menguntungkan bagi Aceh dan Penang. Dalam kaitan ini pula Pemerintah Aceh akan mempromosikan perdagangan Penang dan sektor jasa kepada pengusaha Aceh. 442

446 b. Kerjasama Gubernur Se-Sumatera telah menghasilkan kesepakatan pembentukan tim penanggungjawab program pembangunan provinsi se-wilayah Sumatera dalam forum tersebut telah terpilih Bappeda Aceh sebagai Koordinator Komite Infrastuktur. Pemerintah Aceh pada tahun 2010 telah mengalokasikan dana untuk kegiatan koordinasi kerjasama pembangunan antar daerah sebesar Rp ,- realisasi keuangan sebesar Rp ,- (96,48%). c. Kerjasama Pemerintah Aceh dengan MAA Kota Banda Aceh dan Kabuapten Aceh Besar. Kegiatan ini telah dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi dan diskusi adat/adat istiadat ke gampong-gampong di Banda Aceh dan Aceh Besar, meliputi: Gampong Lambunot, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Aceh Besar pada tanggal 4 Juni 2010 Gampong Lambeutong, Mukim Reukieh, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar pada tanggal 25 Oktober 2010 Gampong Lhong Cut, Kecamatan Banda Raya Kota Banda Aceh pada tanggal 24 September 2010 Gampong Mon Ikeun, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar pada tanggal 14 November 2010 Gampong Kuta Karang Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar pada tanggal 21 April 2010 Gampong Lham Lhom Kecamatan Lhok Nga Kabupaten Aceh Besar pada tanggal 5 Agustus Pemasalahan dan Solusi Dalam pelaksanaan kerjasama Aceh-Penang dan kerjasama pembangunan antar daerah se-wilayah Sumatera melalui Forum Gubernur se-sumatera tidak terdapat kendala yang dapat mengganggu proses kerjasama dimaksud. B. KERJASAMA DAERAH DENGAN PIHAK KETIGA 1. Kebijakan dan Kegiatan Dalam rangka peningkatan kualitas pembangunan daerah, Pemerintah Aceh telah melakukan kerjasama dengan lembaga non pemerintahn baik nasional maupun internasional, di antaranya: a. Dalam bidang pendidikan meliputi kebijakan perluasan dan pemerataan akses, peningkatan mutu, dan peningkatan tata kelola pendidikan. Pemerintah Aceh telah bekerjasama dengan berbagai lembaga donor, antara lain : 1. Helen Keller International (HKI) untuk mengembangkan Pendidikan Inklusif pada jenjang pendidikan dasar, khususnya SD/MI. 443

447 2. AUSAID-SEDIA (Support for Education Development in Aceh) untuk penguatan tata kelola pendidikan di jajaran Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota. 3. USAID-DBE1 (Decentralized Basic Education 1) untuk penguatan tata kelola pendidikan di jajaran Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam perencanaan pendidikan. 4. USAID-DBE2 (Decentralized Basic Education 2) untuk peningkatan mutu pendidikan melalui pengembangan Gugus SD/MI dengan partisipasi masyarakat dalam perencanaan daan pengawasan pendidikan di tingkat sekolah. 5. UNICEF untuk kegiatan penguatan Gugus SD/MI, penerapan Kurikulum Pendidikan Damai (Peace Education), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan capacity building di tiga Kabupaten (Aceh Jaya, Aceh Timur dan Aceh Besar). 6. UNDP untuk pengembangan dan penerapan Kurikulum Pendidikan Kebencanaan di SD/MI melalui pendekatan integratif. 7. AUSAID-LOGICA2 khusus untuk penguatan tata kelola pendidikan di jajaran Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan sekolah berkaitan dengan Perhitungan Biaya Pemenuhan Standar Pelayanan Minimum (SPM) Dikdas. 8. kerjasama dengan UNICEF (KHPPIA) dan UNFPA. b. Dalam bidang ekonomi, Pemerintah Aceh melakukan kerjasama dengan Economic Development Financing Facility (EDFF). c. Dalam bidang promosi dan investasi, Pemerintah Aceh melakukan kerjasama dengan Panitia Pameran Pekan Raya, Pameran Penang Fair 2010, Discover Indonesia Expo, Intrade Kuala Lumpur Expo dan Pameran China Expo. d. Dalam bidang Pengendalian Dampak Lingkungan, Pemerintah Aceh melakukan kerjasama dengan AGTP-UNDP. e. Dalam bidang olah raga, Pemerintah Aceh melakukan kerjasama dengan Pemerintah Paraguay (La Scuola Di Football Italiana Sa), Federasi Industri Taekwondo Korea dan Sekolah Sukan Bandar Penawar, Johor-Malaysia. f. Dalam bidang sosial dan perlindungan anak, Pemerintah Aceh melakukan kerjasama dengan UNICEF. g. Dalam bidang budaya dan adat, Pemerintah Aceh melakukan kerjasama dengan UNDP. h. Dalam bidang pertambangan dan energi khususnya dalam penyediaan air minum, Pemerintah Aceh melakukan kerjasama dengan UNICEF. 444

448 2. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan a. Hasil kerjasama bidang peningkatan pendidikan yang dilakukan Pemerintah Aceh dengan lembaga donor adalah sebagai berikut: 1. Melalui kerjasama dengan Helen Keller International (HKI) telah dilaksanakan pelatihan Kepala Sekolah/Guru SD/MI yang menyelenggarakan Pendidikan Inklusif pada SD/MI di Kabupaten/Kota se Aceh. Di samping itu telah dilaksanakan sejumlah workshop/lokakarya yang menghasilkan Rencana Kerja Pengembangan Pendidikan Inklusif di Aceh, dan Draft Awal Peraturan Gubernur Aceh tentang Pendidikan Inklusif. Pada awal Desember 2010 Pemerintah Aceh telah menandatangani MOU dengan pihak HKI guna mengembangkan Pendidikan Inklusif di Aceh sampai dengan tahun Melalui kerjasama dengan AUSAID-SEDIA telah dibentuk Tim Koordinasi Pembangunan Pendidikan Aceh (TKPPA) yang menghasilkan Laporan Kemajuan Pendidikan Aceh Tahun 2010 dan telah disosialisasikan ke 23 Kabupaten/Kota se Aceh, tersusunnya Draft Awal Strategi Pemerataan Pendidikan Aceh melalui Dana Otsus/Migas, Bahan Masukan untuk Penyusunan RPJP dan RPJM Bidang Pendidikan Aceh, dan berbagai lokakarya Penguatan Sistem Informasi Pendidikan di Aceh dan kegiatanlainnya lainnya. Khusus dalam rangka Persiapan Ujicoba Perhitungan Biaya Pemenuhan Standar Pelayanan Minimum (SPM) Dikdas, telah dilaksanakan sejumlah workshop dan try-out pendataan di Aceh Besar. 445

449 3. Melalui kerjasama dengan USAID-DBE1 telah dihasilkan Dokumen Perhitungan Biaya Operasional Satuan Pendidikan (BOSP), Dokumen Analisis Keuangan Pendidikan di Kabupaten/Kota (AKPK), Renstra Pendidikan Kabupaten/Kota, Ujicoba Pengisian Instrumen Manajemen Aset Tingkat Kabupaten/Kota di Aceh Tengah, dan Penguatan Sistem Pendataan Sekolah di Kabupaten/Kota. 4. Melalui kerjasama dengan USAID-DBE2 telah dilaksanakan pengembangan kapasitas Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas dalam pengembangan Gugus SD/MI, serta berbagai kegiatan perencanaan dan pengawasan sekolah melalui partisipasi masyarakat (Komite Sekolah). 5. Melalui kerjasama dengan UNICEF telah dilaksanakan pengembangan kapasitas Guru, Kepala Sekolah, Pengawas dan Komite Sekolah dalam pengembangan Gugus SD/MI berkaitan dengan PAKEM/CLCC, Implementasi Pendidikan Damai, dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) secara terintegrasi di Kabupaten Aceh Jaya, Aceh Timur dan Aceh Besar. 6. Melalui kerjasama dengan UNDP telah diselesaikan Silabus Integrasi Pendidikan Resiko Bencana ke dalam Kurikulum Pendidikan Tingkat SD/MI, Buku Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Bahan Ajar untuk 8 jenis bencana yang teridentifikasi sangat potensial di Aceh, yaitu Gempa bumi, Tsunami, Banjir, Tanah Longsor, Angin Topan, Wabah Penyakit Menular dan Konflik Sosial. Selain itu telah dilaksanakan TOT di 4 (empat Kabupaten/Kota yaitu Banda Aceh, Aceh Barat, Aceh Utara dan Aceh Tengah. 7. Dengan AUSAID-LOGICA2 telah dimulai pemantapan kerjasama dalam rangka mensinkronisasikan kegiatan Perhitungan Biaya Pemenuhan Standar Pelayanan Minimum (SPM) Dikdas. Pihak LOGICA2 telah menyelesaikan sosialisasi Perhitungan Biaya Pemenuhan SPM Dikdas di 6 Kabupaten, yaitu Pidie Jaya, Aceh Timur, Bireun, Aceh Tamiang, Aceh Tengah dan Aceh Barat Daya. 8. Melalui kerjasama dengan UNICEF (KHPPIA) Pemerintah Aceh telah mengalokasikan dana sebesar Rp ,- realisasinya sebesar Rp ,-. Sedangkan untuk kegiatan program kerjasama antara Pemerintah Aceh dan UNFPA dialokasikan dana sebesar Rp ,- realisasi sebesar Rp ,-. b. Kerjasama Pemerintah Aceh dengan Economic Development Financing Facility (EDFF) merupakan salah satu proyek bantuan hibah dari Multi Donor Trust Funds (MDF) dengan anggaran sebesar US$ 50 juta yang implementasinya direncanakan tiga tahun sejak 2009 sampai dengan Tahun 2010 Program ini merupakan salah satu proyek kesinambungan rehabilitasi dan rekonstruksi NAD Nias telah memasuki tahun ke dua dengan alokasi anggaran dari APBN sebesar Rp ,- realisasi sebesar Rp ,- atau 90%. Kegiatan utama tahun 2010 adalah melakukan 446

450 proses seleksi lembaga NGO yang memenuhi syarat untuk mendapat bantuan dari EDFF, penandatanganan surat perjanjian penerusan hibah (sub grant agreement), penyempurnaan petunjuk teknis (keuangan, pengadaan dan monitoring), dan monitoring implentasi awal di lapangan serta rapat-rapat koordinasi. Tahap persiapan awal di lapangan yang dilaksanakan oleh NGO meliputi sosialisasi, seleksi penerima manfaat, pelatihan, penyelesaian dokumen UKL/UPL dan proses pengadaan barang dan jasa. Tahun 2010 telah terpilih 8 (delapan) NGO yang berhak menerima dana EDFF yaitu Canadian Cooperative Association, Swiss Contact, Islamic Relief, Australia Action Aid, Aceh Development Funds, Muslim Aid, Charitas, dan IOM. c. Dalam Rangka mempromosikan adat, budaya dan pariwisata Aceh, Pemerintah Aceh telah melakukan kerjasama dengan Panitia Pameran Dalam Negeri dan Pameran Luar Negeri, di antaranya: Pameran Dalam Negeri yaitu Pameran Pekan Raya Jakarta 2010 dan Pameran Batam Expo. Pameran Luar Negeri yaitu Pameran Penang Fair 2010, Discover Indonesia Expo/Intrade Kuala Lumpur Expo, Pameran China Expo, Pameran/Expo ke Timur Tengah. d. Melalui kerjasama dengan AGTP-UNDP, Pemerintah Aceh telah melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap kegiatan 26 Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang berlokasi di 8 (delapan) yaitu Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Nagan Raya, Aceh Barat, Aceh Selatan, Aceh Singkil dan Kota Subulussalam dengan berkoordinasi dengan instansi lingkungan hidup kabupaten/kota setempat. Tujuan monev dilakukan untuk menilai PKS yang terbaik dalam pengelolaan lingkungan versi Bapedal Aceh dan hasilnya telah dipublikasikan baik melalui media elektronik (TVRI Aceh, Aceh TV) maupun media cetak. e. Dalam bidang olahraga (sepak bola) Pemerintah Aceh melakukan kerjasama dengan La Scuola Di Football Italiana Sa dan Pemerintah Paraguay dengan MOU Nomor: 24/PKS/2009 tanggal 29 Desember 2009, tentang Pendidikan dan Pelatihan Atlet Sepak Bola Aceh U-15. Kerjasama ini dilanjutkan lagi dengan Internasional Trade Developers dengan MOU Nomor: 24/PKS/2010 tanggal 01 Oktober Kerjasama Pembinaan dan Pengembangan Olahraga Taekwondo antara Pemerintah Aceh dengan Federasi Industri Taekwondo Korea tanggal 30 Januari Sedangkan dalam rangka pembinaan cabang olah raga balap sepeda, Pemerintah Aceh telah melakukan kerjasama dengan Sekolah Sukan Bandar Penawar, Johor-Malaysia, melalui Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh pada tanggal 30 September 2010 telah dikirim 3 (tiga) atlet lakilaki usia di bawah 13 tahun ke Johor Malaysia, dan merupakan hasil rekrutmen Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh bekerjasama dengan Perprov ISSI. f. Melalui kerjasama dengan UNICEF, Pemerintah Aceh telah menyelenggarakan beberapa kegiatan di antaranya: 447

451 1. Workshop pembangunan sistem kesejahteraan anak dan keluarga berdasarkan instrumen internasional, hukum nasional, kebijakan Pemerintah Aceh dan sistem adat setempat sebagai masukan bagi pengembangan perencanaan strategis perlindungan anak. Kegiatan ini dilaksanakan di IT Center Banda Aceh pada tanggal 06 sampai dengan 08 April 2010 yang dihadiri oleh 50 orang peserta dengan jumlah dana sebesar Rp ,-. 2. Lokakarya pembahasan hasil workshop pembangunan sistem kesejahteraan sosial anak dan keluarga berdasarkan instrumen internasional, hukum nasional, kebijakan Pemerintah Aceh dan sistem adat setempat, ke dalam technical regulations for CP Qanun Implementation by Core Team. Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Grand Nanggroe pada tanggal 16, 17 dan 28 April 2010 yang dihadiri oleh 15 core team dan 2 orang facilitator dengan jumlah dana sebesar Rp ,-. Hasil kegiatan ini adalah pembahasan tentang kebutuhan layanan dan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam Pengembangan Layanan Kesejahteraan Anak Berdasar Qanun Aceh Nomor: 11 Tahun 2008 tentang Perlindungan Anak. 3. Focus Group Discusion dengan berbagai lapisan masyarakat/profesi dalam rangka mempertajam pemahaman dan masukan tentang issue kesejahteraan sosial anak dan keluarga, sebagai masukan bagi pengembangan perencanaan strategis anak aceh. Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung IT Center Banda Aceh pada tanggal 20 April 2010 yang dihadiri oleh 30 orang peserta dengan total dana Rp ,-. Hasil yang dicapai dari kegiatan Focus Group Discusion dengan berbagai lapisan masyarakat/profesi dalam rangka mempertajam pemahaman dan masukan tentang issue kesejahteraan sosial anak dan keluarga, sebagai masukan bagi Pengembangan Perencanaan Strategis Anak Aceh melalui Peraturan-Peraturan Gubernur sebagai turunan dari Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2008 tentang Perlindungan Anak. 4. Lokakarya pembahasan hasil workshop pembangunan sistem kesejahteraan sosial anak dan keluarga berdasarkan instrumen internasional dan hukum nasional. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 01, 03, 07, 17 dan 18 Juni 2010 bertempat di OASIS Atjeh Hotel dengan jumlah dana sebesar Rp ,-. 5. Revising Module of Training of TKSK & Training on Holistic Child Protection for new TKSK in Banda Aceh yang dilaksanakan pada tanggal 10 s.d 12 April 2010 di hotel Oasis Banda Aceh yang dihadiri oleh 48 orang TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan) dari beberapa kab/kota yaitu Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, Langsa, Aceh Timur, Bener Meriah, Aceh Jaya, Abdya, Simeulue, Aceh Barat, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tenggara dan Gayo Lues dengan total dana kegiatan Rp ,-. Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah teraplikasi 448

452 semua kegiatan perlindungan anak terbagi atas dua hal yaitu perencanaan jangka panjang di mana di Aceh mempunyai dokumen penting tentang perlindungan terhadap anak, Dinas Sosial Aceh berkerja sama dengan UNICEF dan membina dan memberikan peningkatan kapasitas TKSK dalam membantu pemerintah aceh terhadap kegiatan perlindungan anak, khususnya kasus kasus kekerasan dan penelantaran anak di seluruh Aceh. 6. Workshop in 3 District on Social Work at District Level dilaksanakan di (1) Banda Aceh pada tanggal 18 s.d 20 April 2010 di Hotel Rasamala, (2) Aceh Jaya pada tanggal 26 s.d 28 April 2010 di Hotel Pantai Barat Kabupaten Aceh Jaya dan (3) Aceh Timur Hotel Kalifah pada tanggal 29 April s.d 01 Mei 2010 dengan total dana Rp ,-. Hasil kegiatan Workshop in 3 Districts on Social Work at District Level adalah peserta dapat memahami secara utuh tentang perlindungan anak dengan membangun sistem perlindungan anak di daerah masing-masing sesuai dengan undang-undang dan qanun yang berlaku. Selain itu diharapkan adanya program kerjasama multipihak antara lembaga pemerintah (Dinsos Aceh), lembaga donor (Unicef) dan lembaga profesi (IPSPI) yang melibatkan jaringan perguruan tinggi adalah langkah maju yang diharapkan akan memperkaya strategi dan pendekatan program-program perlindungan dan kesejahteraan anak yang dilaksanakan di Aceh. 7. Advocasi of TKSK with Legislative, Description of TKSK, Monitoring Sistem and Collection Date dilaksanakan pada tanggal 26 s.d 30 Mei 2010 di hotel Oasis Banda Aceh dengan total dana Rp ,-. Kegiatan ini dihadiri oleh TKSK (Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan) di 23 Kabupaten/Kota. Hasil dari kegiatan ini adalah dukungan DPRA terhadap keberadaan TKSK dan mengharapkan tugas TKSK bukan hanya dalam mendistribusian bantuan akan tetapi diharapkan dalam membuat jaringan dengan membantu menangani permasalahan sosial yang terjadi dengan melakukan kerja sama dengan pihak terkait lainnya. 8. Sosialisasi tentang Festival Film Anak Aceh Tahun Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 18 Juli 2010, bertempat di Grand Nanggroe Hotel, yang diikuti oleh 35 anak yang terdiri dari 20 anak dari Kota Banda Aceh, 10 Anak dari Kabupaten Aceh Besar dan 5 Anak dari Kabupaten Aceh Timur. Dengan total dana ,-. Hasil yang dicapai dari kegiatan ini adalah tersosialisasinya memahami tentang hak-hak anak untuk berpartisipasi dan didengar pendapatnya. Peserta memahami tentang latar belakang dan esensi dari Festival Film Anak Aceh tahun 2010, Kategori Film Fiksi dan Film Dokumenter Peserta Sosialisasi menemukan ide terbaik tentang judul Film Fiksi dan Film Dokumenter yang akan mereka lombakan di Festival Film Anak Aceh tahun Workshop Bersama Kidsfest tentang Festifal Film Anak Aceh tahun 2010 yang dilaksanakan di Banda Aceh dan Aceh Besar Pada tanggal tanggal

453 Juli s.d 03 Agustus Kegiatan ini diikuti oleh 50 peserta dari SMP 11 Ule Lheu dan 50 Peserta SMPN 1 Gampong Pulot dengan total dana ,-. Kegiatan KidsFfest yang diselenggarakan oleh Kalyana Shira Foundation mengadakan Workshop pembuatan film pendek dan pemutaran film oleh KidsFfest untuk anak-anak dalam rangka Festival Film Aceh Workshop tentang Festival Film Anak Aceh Tahun 2010 dilaksanakan di Banda Aceh pada tanggal 24 dan 25 Juli 2010, bertempat di OASIS Atjeh Hotel, yang diikuti oleh 30 peserta/anak dari Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Pada tanggal 27 dan 28 Juli 2010, bertempat di Hotel Khalifah Idi Rayeuk, diikuti oleh 25 peserta/anak dari Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Aceh Utara. Dengan total dana sebesar Rp ,- Hasil yang dicapai dari kegiatan workshop ini antara lain adalah peserta dapat memahami tentang film secara keseluruhan dengan bahasa yang mudah dimengerti baik dari segi alur (opening, isi dan ending) maupun dari segi isi (frame, section, segment, shoot, scene hingga menjadi film yang utuh). 11. Proses Pembuatan Film Anak Aceh Tahun 2010 dilaksanakan pada tanggal 07 Agustus s.d 29 September 2010 di Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Aceh Timur dengan total dana Rp ,-. Rangkaian kegiatan proses pembuatan film anak Aceh tahun 2010 terdiri dari kegiatan meeting Persiapan Kegiatan Proses Pembuatan Film, bertempat di Sekretariat Festival Film Anak Aceh tahun Proses pembuatan film terdiri dari Penerimaan Naskah, Penilaian Naskah dan Perbaikan Naskah, Pembuatan Story Board, Evaluasi dan Finishing, Pengambilan Gambar, yang melibatkan sekitar 150 anak dan 12 Pendamping Anak. 12. Road Show (Screening) Festival Film Anak Aceh Tahun 2010 dilaksanakan di Kota Banda Aceh, Aceh Besar dan Aceh Timur dengan total dana Rp ,-. Kegiatan roadshow di Aceh Timur dilaksanakan pada tanggal 06 November Kegiatan roadshow di Aceh Besar dilaksanakan pada tanggal 27 November 2010, dan kegiatan roadshow di Banda Aceh dilaksanakan pada tanggal 28 November Rangkaian kegiatan nya berupa pemutaran film dan selanjutnya bedah film yang di fasilitasi panitia dan narasumber FFAA Publikasi dan Kampanye Festival Film Anak Aceh Tahun 2010 dilaksanakan di Banda Aceh dengan total dana sebesar Rp ,-. Rangkaian kegiatan publikasi dan kampanye festival film anak aceh tahun 2010 terdiri dari cetak dan penyebaran brosur dan leaflet mengenai festival film anak aceh tahun 2010, talkshow di Aceh TV, talkshow di Radio Djati FM, konfrensi pers tentang pelaksanaan festival film anak aceh tahun 2010, yang dilaksanakan pada tanggal 03 Oktober 2010, bertepatan dengan Acara Penganugerahan Hadiah Pemenang Festival Film Anak Aceh Tahun 2010 di 450

454 Aula Rumoh PMI Aceh, yang dihadiri oleh 20 orang Wartawan media cetak dan televisi, yang terdiri dari unsur : Aceh TV, Radio Djati FM, TVRI Aceh, Tabloid Bungong, Radio Antero, Tabloid Gema Baiturrahman, Tabloid Investigasi, Kompas, Indonesia Bersatu, Serambi Indonesia, Indonesia News, Metro Nasional. 14. Workshop Buku Panduan Pusat Pelayanan Kesejahteraan Sosial Tingkat Kecamatan (Puspelkessos). Kegiatan ini dilaksanakan selama 1 hari di hotel Hermes Palace tanggal 21 oktober 2010 yang di hadiri oleh 60 peserta dari berbagai instansi yang terkait, dengan dana kegiatan sebesar Rp ,-. Hasil yang diharapkan adalah adanya pedoman dan panduan yang dapat menjadi pegangan oleh para pekerja sosial di tingkat kecamatan dalam menyelesaikan segala bentuk persoalan sosial yang terjadi serta dapat ditangani dengan baik. 15. Penerapan Pedoman Operasional Puspelkessos dan Pelatihan Managemen Kasus di 3 district yaitu Kabupaten Aceh Besar (Permata Hati 24 s.d 25 Okotober 2010, Kecamatan Mesjid Raya-Neuhen tanggal 27 Oktober s.d 02 November 2010) Kabupaten Aceh Timur (Kecamatan Idie Rayeuk 07 s.d 15 November 2010) serta Kabupaten Aceh Jaya (Kecamatan Krueng Sabee) dengan jumlah dana kegiatan Rp ,- 16. Monitoring and Supervision Pelaksanaan Panduan Operasional PUSPELKESSOS ke 3 lokasi yaitu Aceh Besar, Aceh Jaya dan Aceh Timur yang dilakukan oleh team fasilitator dari Dinas Sosial Aceh, CC Muhammadiyah Aceh, Yayasan Pembaharuan Aceh, dan Ikatan Pekerja Sosial Indonesia dengan total dana kegiatan Rp , Case Management Training Social Welfare Service. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 4 s.d 10 Oktober 2010 di Grand Nanggroe Hotel Banda Aceh dengan jumlah dana sebesar ,- Dari kegiatan ini, hasil yang diharapkan adalah terpenuhinya kebutuhan dan pelayanan kesejahteraan sosial menjadi lebih dekat dan merata di kalangan masyarakat Aceh, dengan terbangunnya pelayan yang lebih professional dan komprehensif dari para pekerja sosial dan tim pekerja puspelkessos, khususnya dalam hal kemampuan mengenai penanganan kasus anak. 18. Workshop on Quality of Care, adalah kegiatan menggali kearifan lokal pengasuhan anak yang dilaksanakan di Hotel Hermes Palace pada tanggal 20 s.d 21 Desember 2010 dengan total dana sebesar Rp ,-. Dalam kegiatan ini dijelaskan mengenai kearifan lokal yang ada di masyarakat yang dapat diambil guna memperkuat pengasuhan yang sesuai dengan ajaran Islam. g. Melalui kerjasama bidang adat dengan UNDP, Pemerintah Aceh telah menghasilkan beberapa kegiatan, di antaranya: 1. Training Peradilan Adat 451

455 Training ini dilaksanakan di enam kabupaten/kota, yaitu: Langsa, Aceh Barat Daya, Subulussalam, Sabang, Pidie Jaya. Pengelolaan training dilakukan bersama oleh Tim ACE dan pengurus MAA setempat. Jumlah peserta/gampong/mukim yang telah di training selama tahun 2010 mencapai 570 peserta/gampong/mukim. 2. Training Capacity Building untuk pengurus MAA kabupaten/kota Training ini diikuti oleh pengurus MAA kabupaten/kota, pengurus dan staf Sekretariat MAA Provinsi. 3. Diseminasi Modul Training Peradilan Adat 4. Kegiatan Swadaya Pengurus, Pemangku Adat dan Sekretariat MAA Pemerintah Aceh bekerjasama dengan UNDP mengembangkan berbagai kegiatan pembinaan adat/adat istiadat secara swadaya, dengan dukungan pengurus, pemangku adat dan staf sekretariat. Sosialisasi adat dan adat istiadat ke gampong-gampong, dalam wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar (Putroe Phang) Pembinaan syair (ca e), hikayat, nazam, melalui Aceh TV Pembinaan acara seumapa dalam kegiatan walimah atau khanduri pernikahan. Kajian dan penulisan naskah adat Fasilitasi konsolidasi Tuha Peut Mukim Siem Dokumentasi prosesi adat Asistensi prosesi adat Menyediakan nara sumber/ fasilitator untuk MAA Kabupaten/Kota, lembaga pemerintah dan organisasi masyarakat Promosi dan komunikasi keberadaan adat ke pihak luar (NGO, peneliti, lembaga negara) Melakukan monitoring perkembangan training peradilan adat Melayani konsultasi untuk masyarakat luas, ormas, LSM, mahasiswa, peneliti. Menjadi narasumber dalam acara dialog adat di televisi dan radio. Menjadi narasumber dalam bidang adat bagi kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi terkait, ormas dan LSM. h. Dalam bidang pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan, Pemerintah Aceh melakukan kerjasama dengan UNICEF melalui Program Kelansungan Hidup dan Perkembangan Anak (child survival and develompnent) melalui proyek penyediaan air bersih, sanitasi dan kesehatan lingkungan (water sanitation and hygiene) senilai Rp 486, ,-. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain peningkatan kapasitas sumberdaya manusia untuk manajemen air tanah, pelatihan metode geofisika untuk pemetaan air tanah, pelatihan pengeboran air tanah dan survey kualitas air tanah pada 452

456 posyandu-posyandu plus yang telah dibangun oleh UNICEF di Kabupaten Aceh Timur, Aceh Besar dan Aceh Jaya. 3. Permasalahan dan Solusi a. Seringnya terjadi pergantian personil di tingkat kabupaten/kota sehingga kegiatan yang difasilitasi di daerah tidak berjalan lancar. b. Belum tersedianya dana pendamping dari sejumlah kabupaten/kota sehingga diragukan adanya keberlanjutan kegiatan setelah berakhirnya kerjasama dengan donor. c. Anggaran Program Kerjasama Pemerintah Aceh dengan UNICEF dan UNFPA tidak semuanya terserap dikarenakan adanya peserta dari daerah dan instansi terkait yang tidak hadir dalam beberapa pelatihan. Sedangkan dana kerjasama dengan UNFPA tersisa karena beberapa mitra kerja tidak dapat melaksanakan kegiatan karena berbenturan dengan pelaksanaan kegiatan APBA & APBN. d. Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan kerjasama Pemerintah Aceh dengan pihak ketiga adalah kurangnya proposal proyek pada sektor ekonomi real yang ditawarkan pada forum IMT-GT, sehingga dunia usaha dari Malaysia dan Thailand tidak mengetahui peluang investasi di Aceh. e. Kendala yang dihadapi adalah terlambatnya terbitnya SK Satker, agak rumitnya sistem dan prosedur World Bank dan belum familiarnya para NGO dengan sistem dan mekanisme APBN. Untuk memacu pelaksanaan proyek dan supervisi yang efektif akan ditingkatkan untuk membantu NGO dalam pelaksanan kegiatan. Solusi: a. Menugaskan tim khusus dari provinsi untuk membantu kabupaten/kota yang menghadapi kendala akibat pergantian staf yang tidak terkoordinasi. b. Mendorong pemerintah kabupaten/kota untuk mengalokasikan dana pendamping secara bertahap untuk mengantisipasi keberlanjutan kegiatan setelah berakhirnya kerjasama dengan donor. c. Solusi untuk menyelesaikan permasalahan ini adalah memberikan sosialisasi kepada dunia usaha Aceh untuk mempersiapkan diri dengan proposalproposal nyata pada sektor ekonomi real. C. KOORDINASI DENGAN INSTANSI VERTIKAL DI DAERAH 1. Kebijakan dan Kegiatan a. Dalam rangka peningkatan tata kelola pendidikan, Pemerintah Aceh telah mengambil kebijakan bekerjasama dengan Kantor Perwakilan Biro Pusat Statistik (BPS) Aceh dalam penyediaan data penduduk usia sekolah menurut kecamatan di semua kabupaten/kota se Aceh. Tujuannya adalah untuk 453

457 mendukung perhitungan capaian indikator pendidikan di Aceh, seperti Gross Enrollment Ratio (Angka Partisipasi Kasar), Nett Enrollment Ratio (Angka Partisipasi Murni), Literacy Rate (Angka Melek Huruf), Angka Partisipasi Sekolah SD, SMP, Pendidikan Menengah dan Pendidikan Tinggi, serta Partisipasi Perempuan dalam semua jenjang pendidikan. b. Program pengembangan data/informasi bertujuan menyediakan data dan informasi tentang pembangunan daerah yang lengkap dan akurat agar perencanaan dapat terkoordinasi dengan baik. Sasaran yang ingin dicapai dengan tersedianya data informasi pembangunan tersebut dalam bentuk dokumen yang dihasilkan melalui kerjasama dengan instansi vertikal,yaitu Badan Pusat statistik Aceh berupa Buku Aceh dalam Angka, Buku Product Domestic Regional Bruto (PDRB), Buku Indikator Ekonomi dan Perspektif Ekonomi Makro dan Sosial, dan Buku Indikator Kesejahteraan Masyarakat. c. Dalam meningkatkan kerjasama dan korrdinasi dalam penguatan kapasitas tokoh adat pada tingkat gampong dan mukim dalam pelaksanaan peradilan adat. MAA telah mengembangkan koordinasi dengan pihak Kepolisian RI di Aceh, baik pada tingkat provinsi, kabupaten, maupun kecamatan. 2. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan a. Melalui koordinasi ini telah dihasilkan buku Statistik Penduduk Usia Sekolah Tahun 2009 di Provinsi Aceh. Buku ini telah dijadikan acuan oleh Dinas Pendidikan Aceh dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dalam menghitung indikator pendidikan masing-masing tingkatan. b. Realisasi anggaran tahun 2010 untuk kegiatan Pengembangan Pusat Data dan Informasi Pembangunan Daerah Kerjasama antara Bappeda Aceh dan BPS Aceh dengan alokasi dana Rp ,- dengan perincian, Buku Aceh Dalam Angka Rp ,-. Penerbitan PDRB triwulan/tahunan, Indikator Ekonomi dan Persefektif Ekonomi Makro dan Sosial Rp ,-. dan Indikator Kesejahteraan Masyarakat Rp c. Reallisasi Kerjasama/Kemitraan dengan Kepolisian antara lain: Rapat/pertemuan koordinasi Pengisian materi dalam training peradilan adat dan POLMAS Penanda tanganan MOU tahun 2010 Menghadiri berbagai forum dialog/pertemuan tentang POLMAS yang dilaksanakan oleh Polda Aceh Memberi ruang kepada kepolisian untuk mengisi materi Polmas dalam training peradilan adat, sejak akhir 2009 Dampak Pengembangan Kemitraan MAA dan Kepolisian dalam Perpolisian Masyarakat (POLMAS) antara lain: Kasus-kasus sengketa ringan yang telah dilaporkan, oleh pihak kepolisian dikembalikan kepada gampong untuk diselesaikan terlebih dahulu (sudah diterapkan di seluruh Aceh oleh Polsek-polsek) 454

458 Masyarakat dapat menikmati layanan penyelesaian kasus yang murah dan cepat. 3. Permasalahan dan Solusi a. Mengingat bahwa perhitungan yang dilakukan bersifat proyeksi, maka beberapa kabupaten/kota menyampaikan bahwa data yang dihasilkan tidak realistik (jumlah penduduk usia sekolah di daerahnya lebih besar dari hasil proyeksi). Untuk memperjelas hal ini telah dilakukan klarifikasi dan penjelasan tambahan oleh pihak BPS Aceh bahwa simpangan (deviasi) terjadi karena tingginya jumlah penduduk berasal dari luar daerah yang masuk ke kabupaten/kota tersebut. b. Kerjasama Pemerintah Aceh dan BPS Aceh yang seharusnya buku Aceh Dalam Angka Tahun 2010 dapat diterbitkan tahun 2010 dan bukan tahun Terjadi keterlambatan ini karena SPKA terlambat mengirin data ke BPS. D. PEMBINAAN BATAS WILAYAH 1. Kebijakan dan Kegiatan Pemerintah Aceh telah melakukan kerjasama dengan Provinsi Sumatera Utara dalam upaya menuntaskan penyelesaian batas antara Aceh dengan Sumatera Utara dan fasilitasi penegasan batas daerah antar kabupaten/kota dalam wilayah Aceh. 2. Realisasi Pelaksanaan Kegiatan a. Fasilitasi Percepatan Penyelesaian Tapal Batas Wilayah Administrasi Antar Daerah Melalui kegiatan ini telah dihasilkan beberapa kesepakatan antara Pemerintah Aceh dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia pada tanggal 8 Juni 2010 bertempat di Kantor Gubernur Sumatera Utara - Medan dengan menyepakati pemasangan 53 (lima puluh tiga) Pilar Batas Antara (PBA) dan 10 (sepuluh) Pilar batas Utama (PBU) di perbatasan antara Aceh - Sumatera Utara. Tindaklanjut dari kesepakatan tersebut, Pemerintah Aceh dengan menggunakan sumber dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) Tahun Anggaran 2010 telah memasang 10 (sepuluh) Pilar batas Utama (PBU) tepatnya di wilayah pesisir yaitu Sungai Sikudor sebagai batas Aceh - Sumatera Utara tepatnya antara Kecamatan Seruway Kabupaten Aceh Tamiang dengan Kecamatan Pematang Jaya Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara. Dan juga Pemerintah Aceh dari sumber dana dan tahun anggaran yang sama telah memasang 53 (lima puluh tiga) Pilar Batas Antara (PBA) yaitu di wilayah perbatasan Kabupaten Aceh Tamiang dengan Kabupaten Langkat 455

459 tepatnya di perbatasan Kecamatan Tenggulun Kabupaten Aceh Tamiang dengan Kecamatan Besitang Kabupaten Langkat. b. Pelacakan dan Pengukuran Batas Daerah Antar Kabupaten/Kota Pemerintah Aceh juga telah memfasilitasi penyelesaian tapal batas antar kabupaten/kota di wilayah Aceh, antara lain melalui rapat tanggal 10 Juli 2010 di Kantor Gubernur Aceh. Tindaklanjut dari kesepakatan antara pemerintah kabupaten/kota, Pemerintah Aceh telah melakukan pemasangan Pilar Batas Utama (PBU) dengan menggunakan sumber dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) Tahun Anggaran 2010 di beberapa daerah, antara lain : Kabupaten Bireuen dengan Kabupaten Bener Meriah telah dipasang sebanyak 7 (tujuh) Pilar Batas Utama (PBU) dan 1 (satu) Pilar Batas Utama (PBU) belum ada kesepakatan; Kabupaten Aceh Utara dengan Kabupaten Bener Meriah telah dipasang sebanyak 2 (dua) Pilar Batas Utama (PBU) dan 6 (enam) Pilar Batas Utama (PBU) tidak dapat dipasang karena curah hujan yang cukup tinggi dan kondisi lapangan sangat terjal dan tidak mungkin melakukan pemasangan Pilar Batas Utama (PBU); Kabupaten Aceh Barat Daya dengan Kabupaten Gayo Lues juga telah dilakukan pemasangan sebanyak 2 (dua) Pilar Batas Utama (PBU) dan 6 (enam) Pilar Batas Utama (PBU) tidak dapat dilakukan pemasangan mengingat curah hujan yang cukup tinggi dan kondisi lapangan sangat terjal dan tidak mungkin melakukan pemasangan Pilar Batas Utama (PBU). Pada Tahun Anggaran 2011 Pemerintah Aceh telah memprioritaskan pemasangan Pilar Batas Utama (PBU) lanjutan untuk kabupaten/kota yang belum selesai pemasangan Pilar Batas Utama (PBU) di tahun Permasalahan dan Solusi Penyelesain batas Aceh dengan Sumatera Utara sampai saat ini masih menyisakan permasalahan yaitu kesepakatan yang dicapai dalam rangka penetapan batas belum pada semua titik, masih titik tertentu yang masih perlu dicari titik temu. Beberapa solusi yang bisa ditempuh dalam rangka penyelesaian batas ini, antara lain meningkatkan koordinasi antar daerah yang bersengketa/berkonflik. E. PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BENCANA 1. Bencana yang Terjadi dan Penanggulangannya Pada tahun 2010 telah terjadi bencana alam di Aceh sebagai berikut: Banjir Kabupaten Aceh Selatan (tidak ada pengungsi), Kabupaten Aceh Singkil (tempat pengungsian Lipat Kajang Kecamatan Sp. Kanan dengan jumlah KK terancam 3792 dan jiwa ), Kota Subulussalam dengan jumlah KK terancam 456

460 911 dan jiwa 4.250, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Nagan Raya Lokasi 11 Desa (Posko dirumah-rumah penduduk) jumlah KK terancam dan jiwa 3.697, Kabupaten Aceh Utara Jumlah Jiwa terancam , Kabupaten Aceh Tamiang Jumlah Jiwa terancam Kebakaran di Kabupaten Aceh Tamiang dengan pengungsi 94 Jiwa 17 rumah penduduk rusak, Kabupaten Aceh Tengah Kec Sirih Narah dengan pengungsi 174 orang Kecamatan Laut Tawar 13 KK dan 75 jiwa, 8 orang luka ringan dan jumlah pengungsi 75 jiwa, Kabupaten Simeulue dengan pengungsi 94 jiwa 17 rumah penduduk rusak, Kabupaten Aceh Selatan jumlah yang terancam 59 jiwa, 1 orang luka ringan. Tanah Longsor Kabupaten Aceh Tengah Desa Kp. Genting Gerbang Kecamatan Sirih Nara dengan korban 1 meninggal dunia, umur 14 tahun, Desa Lae Ikan Kecamatan Sirih Nara dengan pengungsi 28 orang, korban meninggal dunia 1 orang. Jatuhnya Jembatan Gantung Kabupaten Gayo Lues Lokasi Meleok Putri Bitung Dengan 7 orang luka berat dan 48 luka ringan. Hilang 3 orang dan meninggal 9 orang Puting Beliung di Kabupaten Aceh Tengah Lokasi Dusun Malik Desa Jeet Ayu Kec. Jagong Dengan kerusakan 2 rumah penduduk dan 1 unit puskesmas. Upaya yang dilakukan tetap menyiagakan jajaran kesehatan dan pendirian posko darurat dengan 7 orang luka berat dan 48 luka ringan. Gempa bumi di Kabupaten Aceh Tengah, Kota Banda Aceh, Simeulue, Kabupaten Aceh Singkil, Kota Subulussalam, Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Nagan Raya, Kota Meulaboh dan Kota Sabang. Namun tidak ada kerusakan dan korban jiwa. Pasca tejadinya bencana alam tersebut, Pemerintah Aceh melalui Dinas Kesehatan telah memberikan bantuan dan penanganan dalam bentuk bantuan logistik dan obat-obatan. 2. Status Bencana (Nasional, Regional/Provinsi atau Lokal/Kabupaten/Kota) Bencana alam di Aceh sepanjang tahun 2010 masih berstatus bencana lokal, dampak bencana masih sanggup ditanggulangi oleh pemerintah daerah. 3. Sumber dan Jumlah Anggaran Dalam rangka penanggulangan bencana, Pemerintah Aceh telah mengalokasikan dana Dinas Sosial, Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat dan Biro Administrasi Pembangunan sebesar Rp ,- realisasi Rp atau 87,27 % 4. Antisipasi Daerah dalam Menghadapi Kemungkinan Bencana Mengingat tanggung jawab utama penanggulangan bencana berada di pundak pemerintah daerah, maka Pemerintah Aceh telah menanggapi tanggung jawab tersebut dengan membentuk Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) yang 457

461 berada di level provinsi dengan tujuan untuk untuk memudahkan kegiatan koordinasi, komando, dan pengendalian antar lembaga yang terlibat dalam penanggulangan bencana. Di samping itu dengan terbentuknya bebarapa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat kabupaten/kota juga telah ikut membantu mempercepat kegiatan penanggulangan bencana di daerah. Dari 23 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Aceh, 22 kabupaten/kota (minus Kotamadya Sabang) telah memiliki landasan hukum tersendiri untuk pembentukan BPBD. Total dari 22 kabupaten/kota yang telah memiliki landasan hukum untuk pembentukan BPBD, 11 kabupaten/kota telah menindaklanjutinya dengan membentuk BPBD. Selain sudah memiliki lembaga khusus yang menangani masalah kebencanaan, hal lain yang tak kalah penting adalah adanya penguatan fungsi kelembagaan yang sudah dibentuk tersebut. Penguatan fungsi dan kapasitas BPBA/BPBD ini dilakakukan dengan pemantapan personil dan sarana-prasarana pendukung kegiatan BPBA/BPBD. Di tahun 2010, Pemerintah Aceh telah mengeluarkan beberapa Qanun dan Peraturan Gubernur (Pergub) terkait masalah penanggulangan bencana di Aceh. Sedangkan untuk peningkatan kapasitas aparatur yang terlibat dalam penanggulangan bencana, Pemerintah Aceh bekerja sama dengan beberapa lembaga mitra telah melakukan sejumlah kegiatan baik dalam bentuk seminar-seminar maupun dalam bentuk latihan bersama seperti yang telah dilakukan dalam bulan Oktober dengan melakukan Gladi Posko dan Gladi Lapang Sanggamara-01 di Meulaboh. 458

462 Sebagaimana diketahui dalam 2010 masyarakat Aceh Besar sempat dipanikkan dengan adanya peninggkatan aktivitas gunung api Seulawah Agam di daerah Aceh Besar, Pemerintah Aceh melalui Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) telah mengantisipasinya dengan melakukan beberapa kali sosialisasi kepada penduduk yang mendiami sekitar wilayah gunung Seulawah Agam. 5. Potensi Bencana yang Diperkirakan Terjadi Bencana Alam a. Bencana Geologis Bencana geologis yang berpotensi terjadi di Aceh adalah tanah longsor, gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi. Prioritas penanganan bencana geologi di Aceh sebagai berikut: Gempa Bumi Gempa Bumi sangat berpotensi karena Aceh berada di atas tumbukan lempeng dan patahan. Tanah Longsor Longsor biasa terjadi di sekitar kawasan pegunungan atau bukit di mana dipengaruhi oleh kemiringan lereng yang curam pada tanah yang basah dan bebatuan yang lapuk, dan curah hujan yang tinggi. Gempa bumi atau letusan gunung berapi juga dapat menyebabkan terjadinya longsor dikarenakan lapisan bumi paling atas dan bebatuan berlapis terlepas dari bagian utama gunung atau bukit. Tanda tanda terjadinya longsor dapat ditandai dengan beberapa parameter antara lain keretakan pada tanah, runtuhnya bagian bagian tanah dalam jumlah besar, perubahan cuaca secara ekstrim dan adanya penurunan kualitas landskap dan ekosistem. Tsunami Mengingat keberadaan wilayah Aceh di atas tumbukan lempeng dan patahan sumatera. Gunung Berapi Di Aceh terdapat 3 Gunung Berapi Tipe A dan 1 Gunung Berapi Type C. Potensi kejadian masih akan ada namun dalam derajat kecil dan diperkirakan tidak menimbulkan dampak yang berarti. b. Bencana Hidro-Meteorologis Ancaman bencana Hidrometeorologis di Aceh, meliputi: banjir, abrasi/erosi, puting beliung, kekeringan, badai dan kebakaran lahan gambut. Prioritas penanganan bencana hidro-meteorologis di Aceh sebagai berikut : Banjir Elemen berisiko yang rentan ketika terjadi banjir adalah permukiman penduduk, lahan pertanian, peternakan, perdagangan dan jasa. Sumber 459

463 kerentanan bencana banjir ini berasal dari pembalakan liar (illegal logging) di kawasan daerah aliran sungai (DAS), pendangkalan sungai, rusak atau tersumbatnya saluran drainase, dan terjadinya perubahan fungsi lahan tanpa sistem tatakelola yang baik yang memperhatikan kapasitas DAS dalam menampung air. Abrasi dan Erosi Abrasi dan erosi berasal dari pengangkutan sedimen akibat gerakan hidrodinamis air. Gelombang laut atau aliran sungai merupakan tenaga perusak utama dalam proses ini. Abrasi dan erosi ini dapat dengan mudah ditandai dengan terkikisnya daratan atau dasar bidang aliran akibat proses tersebut. Di beberapa tempat, proses abrasi memperlebar luas wilayah perairan. Sedangkan abrasi di pinggir pantai ditandai dengan mundurnya garis pantai secara signifikan dalam waktu yang relatif cepat. Akibat dari abrasi dan erosi ini, rumah dan fasilitas infrastruktur menjadi rusak atau berkurang fungsi pemakaiannya. Puting Beliung Puting beliung terjadi karena adanya tekanan udara negatif tiba-tiba disuatu kawasan yang tidak begitu besar. Puting beliung ini ditandai dengan berhembusnya angin kencang secara tiba-tiba dalam waktu sekitar 10 menit. Bentuk fisik puting beliung ini adalah berbentuk seperti pusaran angin yang mirip belalai gajah yang bergerak cepat. Puting beliung dapat mengangkat benda-benda di dekatnya dan membentuk lintasan kerusakan di wilayah yang dilaluinya. Dari sudut ilmu cuaca, adanya puting beliung ditandai dengan hadirnya awan Cumulunimbus di suatu wilayah. Awan tersebut awalnya berwarna putih kemudian secara tiba-tiba berubah warna menjadi hitam. Wilayah Aceh sering mengalami bencana puting beliung yang merusak puluhan unit rumah masyarakat setiap tahun. Bencana ini juga berpotensi merusak bangunan-bangunan pemerintah sehingga kerugian total akibat bencana ini harus dipertimbangkan untuk ditalangi. Kekeringan Bencana kekeringan merupakan bencana yang sering dialami penduduk di wilayah Aceh. Bencana kekeringan disebabkan oleh naiknya suhu permukaan bumi yang menyebabkan rendahnya kelembaban udara. Dalam mata rantai meteorologis, terjadi jeda hujan yang cukup panjang di suatu kawasan yang luas. Ini menyebabkan pasokan air untuk menjaga keseimbangan ekosistem menjadi terganggu. Bencana kekeringan dapat ditandai dengan keringnya tanah, tanaman dan susutnya muka air di badan air hingga ke paras yang sangat rendah. 460

464 Badai Badai merupakan kondisi meteorologis yang ditandai dengan bertiupnya angin dengan kecepatan yang kencang, disertai curah hujan yang tinggi, dan tingginya gelombang di wilayah pantai. Bencana ini terjadi akibat turunnya tekanan udara di wilayah perairan dalam cakupan wilayah yang luas. Kekuatan angin pada saat badai yang dapat mencapai kecepatan 128 km/jam mampu merusak bangunan rumah penduduk dan fasilitas pemerintah lainnya. Mengingat struktur atap merupakan struktur lemah dalam suatu bangunan, maka paling sering ditemukan kerusakan bagian atap bangunan saat terjadinya badai. Di sisi lain, badai juga mampu merusak lahan pertanian dan menimbulkan korban jiwa. Elemen yang dianggap berisiko terhadap ancaman badai adalah sarana dan prasarana umum, pertanian dan pemukiman. Kebakaran Lahan Gambut Ada beberapa faktor penyebab kebakaran lahan gambut, di antaranya adalah; 1. Sambaran petir pada hutan yang kering karena musim kemarau yang panjang. 2. Kecerobohan manusia antara lain membuang puntung rokok secara sembarangan dan lupa mematikan api di perkemahan. 3. Tindakan yang disengaja seperti untuk membersihkan lahan pertanian atau membuka lahan pertanian baru. 4. Kebakaran di bawah tanah/ground fire pada daerah tanah gambut yang dapat menyulut kebakaran di atas tanah pada saat musim kemarau. c. Gangguan Hewan Liar Konflik antara satwa dan manusia terjadi secara masif di pinggiran hutan Aceh, perebutan ruang adalah substansi latar belakang lahirnya konflik. Manusia perlu melihat kembali tata kelola dan ruangnya dengan rasional, jika tidak, catatan konflik akan terus bertambah. Konflik satwa-manusia, laksana mengurai benang kusut, dari persoalan habitat satwa yang mulai sempit hingga dana penanggulangan yang minim, semuanya terjalin kelindan dengan urusan kewenangan pengelolaan konservasi antara pusat dan daerah. F. PENGELOLAAN KAWASAN KHUSUS 1. Jenis Kawasan Khusus yang Menjadi Kewenangan Daerah a. Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) adalah kawasan strategis cepat tumbuh yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan yang diprioritaskan pengembangan ekonomi wilayah dalam rangka mengurangi kesenjangan pembangunanan di daerah. 461

465 Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Bandar Aceh Darussalam, merupakan reposisi dari KAPET Sabang, yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 171 Tahun 1998, dan di sempurnakan kembali dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 150 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu. Reposisi KAPET Sabang menjadi KAPET Bandar Aceh Darussalam didasari oleh Surat Menteri Koordinator Perekonomian Republik Indonesia Nomor: S-271/M.Ekon/10/2002 tanggal 21 Oktober 2002 dan Keputusan Gubernur Aceh Nomor 193/388/2002 tanggal 25 Oktober Hal ini disebabkan karena sesuai dengan UU Nomor 36 Tahun 2000, dan UU Nomor 37 Tahun 2000, pemerintah menetapkan Sabang sebagai Pelabuhan Bebas dan Kawasan Perdagangan Bebas. Menurut Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Pasal 2 ayat (1), Penetapan kebijakan dan pelaksanaan koordinasi kegiatan pembangunan di KAPET dilakukan oleh Badan Pengembangan KAPET, di tingkat pusat yang berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum selaku Tim Teknis Badan Pengembangan KAPET, di mana Menteri Pekerjaan Umum selaku Ketua dan Direktur Jenderal Penataan Ruang selaku Sekrtaris Tim Teknis. Sesuai dengan Pasal 5 Keputusan Presiden Nomor 150 Tahun 2000 menyebutkan kegiatan pengelolaan KAPET dilakukan oleh Badan Pengelola KAPET di daerah yang diketuai oleh Gubernur dari wilayah tempat KAPET yang bersangkutan, di mana untuk tugas sehari-hari Ketua Badan Pengelola KAPET dibantu oleh Wakil Ketua Badan Pengelola KAPET sebagai Pelaksana Harian, yang bertugas mengelola KAPET secara profesional. Wakil Ketua dan 462

466 Anggota Badan Pengelola KAPET diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur dari wilayah tempat KAPET yang bersangkutan Sesuai Keputusan Gubernur Aceh nomor 193/297/2010 tanggal 29 Juni 2010, tentang Penyesuaian Wilayah Kerja BP KAPET Bandar Aceh Darussalam menetapkan wilayah KAPET Bandar Aceh Darussalam meliputi kota Banda Aceh mencakup seluruh kecamatan; kabupaten Aceh Besar mencakup seluruh kecamatan kecuali kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Pidie mencakup seluruh kecamatan. Selanjutnya sesuai dengan UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Nasional dan PP Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Nasional di tetapkan bahwa wilayah KAPET adalah Sebagai Kawasan Strategis Nasional Bidang Ekonomi. Dilihat dari luas wilayah Provinsi Aceh seluruhnya lebih kurang ,63 Km² maka luas perencanaan KAPET Bandar Aceh Darussalam lebih kurang 6.592,52 Km² atau 11,29 % dari luas Provinsi Aceh. Badan Pengelola KAPET Bandar Aceh Darussalam dalam menyusun dan merencanakan program-program pembangunan baik program jangka pendek, menengah dan jangka panjang dengan melakukan koordinasi dengan sektoral, sehingga program KAPET akan terigrentasi dalam program sektoral. Programprogram yang direncanakan meliputi wilayah yang terdiri dari : Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Pidie. Keberadaan Kawasan Ekonomi Terpadu (KAPET) Bandar Aceh Darussalam untuk membantu pemerintah daerah dalam merancang pengembangan ekonomi daerah melalui pendekatan wilayah guna mendorong tumbuhnya investasi yang berbasis kepada sumberdaya yang dimiliki. Program prioritas KAPET Bandar Aceh Darussalam adalah mempersiapkan pembangunan sebuah kawasan industri yang representatif, perdagangan dan jasa serta pengembangan sektor-sektor unggulan lainya, seperti perikanan, pertanian, perkebunan, parawisata, peternakan serta pertambangan dan energi, termasuk di dalamnya pembangunan sarana dan prasarana. Pemerintah sesuai dengan SK Menteri Keuangan Republik IndonesiaI Nomor: 11/KMKI.04/2001 memberikan kemudahan-kemudahan berupa insentif dalam bentuk keriganan pajak dan fiskal, untuk menstimulasi investor agar menanam modalnya di KAPET Bandar Aceh Darussalam. Saat ini sebuah Kawasan Industri di Desa Ladong Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar sedang dipersiapkan oleh BP KAPET Bandar Aceh Darusalam. Hal-hal yang telah selesai dipersiapkann untuk pembangunan Kawasn Industri antara lain, telah dibebaskan lahan seluas 55 Ha, telah ada izin prinsip dan izin lokasi dari Bupati Aceh Besar, sudah dilaksanakan pekerjaan DED Kawasan Industri, sudah dilaksanakan penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) KAPET. Sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Aceh Nomor: 593/162/2010 tanggal 30 April 2010 tentang Pengelolaan Kawasan Industri diberikan kepada BP KAPET Bandar Aceh Darussalam. 463

467 Badan Penggelola KAPET Bandar Aceh Darussalam dalam menunjang kegiatan operasionalnya menggunakan Sumber Anggaran APBN dan APBD. Hal ini sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 150 Tahun b. Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang adalah sebuah Badan yang dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 37 Tahun 2000 tentang Penetapan Perpu No. 2 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang menjadi Undang- Undang dan untuk pedoman dalam pelaksanaan fungsinya diatur dengan Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2010 tentang Pelimpahan Kewenangan Pemerintah Kepada Dewan Kawasan Sabang. Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang bertugas melaksanakan pengelolaan, pengembangan dan pembangunan kawasan Sabang sesuai dengan fungsi kawasan. Dalam melaksanakan pengelolaan, pengembangan, dan pembangunan kawasan Sabang, BPKS mempunyai kewenangan: Membuat ketentuan-ketentuan sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan; Mengeluarkan izin usaha, izin investasi, dan izin lainnya yang diperlukan bagi para pengusaha yang mendirikan dan menjalankan usaha di kawasan Sabang; Bekerja sama dengan pejabat instansi yang berwenang untuk melancarkan pemeriksaan dan kerja sama lainnya; Dengan persetujuan Dewan Kawasan Sabang mengadakan peraturan di bidang tata tertib pelayaran dan penerbangan, lalu lintas barang di pelabuhan dan penyediaan fasilitas pelabuhan, dan lain sebagainya, serta penetapan tarif untuk segala macam jasa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; Tugas dan wewenang lainnya yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan atas persetujuan Dewan Kawasan Sabang. Dalam melaksanakan tugas dan tujuan, Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang mempunyai visi dan misi. Pada dasarnya Visi dari Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang yaitu Mengembangkan Kawasan Sabang sebagai Pusat Utama Pelayanan Perdagangan Dunia Terkemuka. Pengembangan dan Pembangunan Kawasan Sabang dilaksanakan secara bertahap dan terencana sesuai prinsip-prinsip perencanaan yang berlaku umum. Perencanaan pengembangan dan pembangunan Kawasan Sabang diarahkan pada pencapaian tujuan pembentukan kawasan Sabang itu sendiri, yaitu mewujudkan Kawasan Sabang sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi untuk mengejar pembangunan dan pengembangan Aceh, 464

468 sehingga mampu menjadi pendorong dan model bagi pembangunan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Harapan ini akan terwujud manakala fungsi-fungsi Kawasan Sabang sebagai tempat untuk mengembangkan usaha-usaha di bidang perdagangan, jasa, industri pertambangan dan energi, transportasi, maritim dan perikanan (termasuk di dalamnya HUB PORT Impor-Ekspor Internasional dan pelabuhan alih kapal), pos dan telekomunikasi, perbankan, asuransi, pariwisata, pengolahan, pengepakan dan gudang hasil pertanian, perkebunan, perikanan dan industri dari kawasan sekitarnya dapat direalisasikan dengan baik. Sedangkan untuk Misi dari Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang merupakan pernyataan garis besar kiprah utama BPKS dalam mewujudkan visi yang telah ditetapkan, sehingga rumusan misi yang diemban oleh BPKS yang pelaksanaan pengembangannya dilaksanakan oleh Satuan Kerja Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang adalah sebagai berikut: Mengembangkan pelayanan pelabuhan untuk kapal-kapal generasi yang akan datang; Mengembangkan pelayanan untuk perdagangan dunia melalui Kawasan Perdagangan Bebas; Mengembangkan pelayanan bagi basis operasi kapal cruise dunia untuk Wisata Asean dan Nusantara; Mengembangkan industri perikanan modern yang bersinergi dengan pengembangan sumber daya perikanan nasional; 465