PENTINGKAH KETERAMPILAN POLITIK ORGANISASI, SAAT TIDAK ADA PERBEDAAN PADA KUALITAS HUBUNGAN PEMIMPIN-BAWAHAN?

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENTINGKAH KETERAMPILAN POLITIK ORGANISASI, SAAT TIDAK ADA PERBEDAAN PADA KUALITAS HUBUNGAN PEMIMPIN-BAWAHAN?"

Transkripsi

1 Jurnal Manajemen dan Pemasaran Jasa Vol. 10 No. 1 Maret 2017: Doi: ISSN : (Online) ISSN : (Print) PENTINGKAH KETERAMPILAN POLITIK ORGANISASI, SAAT TIDAK ADA PERBEDAAN PADA KUALITAS HUBUNGAN PEMIMPIN-BAWAHAN? Kabul Wahyu Utomo Universitas Trilogi Abstract This study tries to focus on testing about political skills as moderating variable to the relationship between demographic similarity especially ethnic and the quality of leader-member exchange. This study used the survey method and using by questionnaires. From the questionnaire spread as many as 500, the number of questionnaire can be processed are 364 (the respond rate 72,8 % ). The research is done in four institutions in two cities in Jakarta and Yogyakarta. Variables in this study were variable independent used of similarity ethnic between leaders and subordinate. Their dependent variable is the quality of leader-member exchange. Next, the relationship between the two the variable is moderated by political skill as moderating variable. The analysis was conducted using regression analysis and the hierarchical regression. The outcome of this study suggests that there is a positive correlation between the demographic similarity of superior-subordinate specialty ethnicity and the quality of leader-member exchange. Then, the interesting thing about the research is correlation between the demographic similarity of superior-subordinate specialty ethnicity and the leader-member exchange moderated by political skills. But there is an interesting one, that is the connection between a demographic similarity (ethic) and the leader-member exchange moderated by the political skills has negative effect. Furthermore, discussion, the implications and many recommendation of this study are discussed in this study. Keywords: demographic similarity of superior-subordinate (ethnicity); leader member exchange (LMX); and political organizational skill. PENDAHULUAN Menghadapi era globalisasi yang menuntut sebuah organisasi untuk mampu bersaing maka organisasi perlu meningkatkan kinerjanya diberbagai bidang. Peningkatan kinerja merupakan dampak dari pengelolaan organisasi yang baik. Sebuah organisasi dapat meningkat kinerjanya pada saat interaksi antar anggota organisasi berjalan dengan baik dan memiliki kualitas hubungan yang tinggi. Organisasi terdiri dari banyak individu, maka interaksi antar individu menjadi bagian yang penting untuk diperhatikan, begitu juga interaksi antara 61

2 62 Jurnal Manajemen dan Pemasaran Jasa Vol. 10 No. 1 Maret 2017 pemimpin dan bawahan sebagai individu. Dalam banyak penelitian diperoleh hasil yang signifikan antara kualitas hubungan antara pemimpin dan bawahan berhubungan dengan beberapa luaran organisasi, seperti penelitian tentang kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung dan efektifitas pemimpin (Douglas, 2012), hubungan kualitas hubungan pemimpinbawahan langsung dan komitmen organisasional (Cogliser et al., 2009), hubungan kualitas LMX dan kepuasan kerja (Golden & Veiga, 2008; Hooper & Martin, 2008; Harris, Wheeler, & Kacmar, 2009). Studi kepemimpinan banyak dilakukan karena studi kepemimpinan merupakan hal yang penting dalam organisasi. Hal tersebut karena kepemimpinan berhubungan dengan kinerja organisasi (Ilies, Nahrgang, & Morgeson, 2007). Terdapat tiga ranah dalam studi kepemimpinan menurut Graen & Uhl-Bien (1995), yaitu: 1) pemimpin, 2) bawahan, dan 3) hubungan antara pemimpin-bawahan. Penelitian ini lebih fokus pada penelitian tentang kepemimpinan pada ranah kualitas hubungan antara pemimpin-bawahan. Penelitian Zanger & Lawrence (1989), mendukung hipotesis usia pekerja yang relatif sama akan lebih komunikatif dibandingkan pekerja dengan usia yang relatif berbeda. Selanjutnya, Tsui, Porter, & Egan (2002) mengatakan bahwa kesamaan demografis pemimpin dan bawahan langsung berhubungan dengan perilaku extra-role. Dari dua penelitian tersebut menunjukkan bahwa penelitian mengenai kesamaan demografis antara pemimpin-bawahan langsung merupakan hal yang penting. Kesamaan demografis banyak bentuknya, yaitu kesamaan jenis kelamin, kesamaan pendidikan, kesamaan usia, kesamaan etnis, kesamaan rasial, dan lain-lain. Namun, untuk membatasinya, fokus penelitian ini adalah melihat hubungan antara kesamaan demografis khususnya etnis. Pengujian demografis etnis menjadi menarik karena Indonesia adalah negara dengan banyak suku bangsa sehingga menghadirkan perbedaan etnis dalam lingkungan organisasi. Selanjutnya penelitian ini menggunakan variabel pemoderasi berupa keterampilan politik organisasi. Variabel pemoderasi tersebut memoderasi hubungan-hubungan antara kesamaan demografis etnis pemimpin-bawahan langsung dan kualitas hubungan pemimpinbawahan langsung. Seperti yang telah disampaikan diatas bahwa penelitian ini memiliki fokus pada penelitian kepemimpinan pada ranah hubungan antara pemimpin-bawahan, sehingga variabel dependen pada penelitian ini adalah variabel kualitas hubungan pemimpin-bawahan. TINJAUAN PUSTAKA Dalam social identity theory/ teori identitas sosial (Ashforth & Mael, 1989; Vecchio & Brazil, 2007), seseorang merasa menjadi bagian dari kelompok tertentu apabila mereka merasa memiliki identitas sosial yang sama dengan kelompok tersebut. Kesamaan identitas berupa kesamaan demografis etnis, berdasarkan teori ini selanjutnya kesamaan tersebut membuat mereka merasa memiliki kesamaan identitas pada suatu kelompok tersebut. Kesamaan identitas dalam hal ini kesamaan demografis etnis antara pemimpin dan bawahan, menjadikan mereka saling merasa ada pada satu kelompok. Sehingga kesamaan tersebut akan meningkatkan kualitas hubungan diantara mereka.

3 Pentingkah Keterampilan Politik Organisasi, Saat Tidak Ada Perbedaan Pada Kualitas Hubungan Pemimpin-Bawahan? 63 Dalam teori Leader-Member Exchange/ LMX (Graen & Uhl-Bien, 1995) kualitas hubungan terbagi menjadi kualitas hubungan tinggi dan kualitas hubungan rendah. Pemimpin dan bawahan langsung pada dasarnya terlahir dengan karakteristik tertentu. Karakteristik tersebut selanjutnya berdasarkan teori identitas sosial membuat mereka merasa memiliki sesuatu karakteristik tertentu. Karakteristik tertentu tersebut selanjutnya mengarahkan mereka untuk bergabung dengan kelompok yang memiliki karakteristik yang sama. Ketika bawahan memiliki karakteristik yang sama dengan pemimpin, hubungan diantara keduanya kemudian mengelompok menjadi satu. Kedekatan keduanya dalam satu kelompok menyebabkan mereka memiliki kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung yang tinggi. Kesamaan etnis antara pemimpin-bawahan langsung menyebabkan hubungan positif dengan kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung. Selanjutnya berdasarkan self-categorization theory/ teori kategorisasi diri (Vecchio & Brazil, 2007), seseorang akan melakukan pengkategorisasian terhadap diri mereka dan menganggap mereka sebagai seseorang yang memiliki keunikan dibandingkan dengan lainnya. Keunikan yang dirasakan seseorang tersebut selanjutnya mengelompokkan mereka dengan kelompok yang memiliki keunikan yang sama. Pengelompokan mereka kemudian menjadikan kedekatan diantara para anggota kelompok. Berdasarkan teori kategorisasi diri tersebut, seorang bawahan yang merasa memiliki keunikan tertentu yang sama dengan pemimpinnya selanjutnya memiliki hubungan pemimpin-bawahan dengan kualitas tinggi. Penelitian kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung dengan variabel anteseden berupa kesamaan demografis telah dilakukan oleh Liden, Wayne, & Stilwell (1993); Bauer & Green (1996); Pelled & Xin (2000); Bhal, Ansari, & Aafaqi (2007); Vecchio & Brazil (2007); Matkin & Barbuto (2012); Abu Bakar & McCann (2014). Berbagai penelitian tersebut sebagian besar menggunakan variabel kesamaan demografis antara pemimpin bawahan langsung berupa kesamaan jenis kelamin, tingkat pendidikan, rasial, dan usia. Penelitian yang menarik dilakukan oleh Abu Bakar & McCann (2014). Penelitian tersebut menggunakan variabel kesamaan etnis dan agama. Dengan mempertimbangkan bahwa Indonesia memiliki banyak etnis, maka pada penelitian ini variabel demografis yang digunakan adalah kesamaan demografis etnis. Pengertian etnis didasarkan pada kelompok budaya dan kepercayaan adat (Gunaratnam, 2003). Penelitian ini fokus pada variabel demografis etnis terutama kesamaan etnis antara pemimpin-bawahan langsung. Menurut Minsky (2002), kesamaan demografis antar-individu berdasarkan teori identitas sosial merupakan kesamaan antar karakteristik, kesamaan tersebut juga berhubungan dengan kesamaan sikap, kepercayaan dan persepsi (Utomo, 2016). Berdasarkan teori similarity-attraction (Byrne, 1961; Byrne, 1965; Byrne, London, & Reeves, 1967; Chen & Kenrick, 2002) kesamaan demografis akan menyebabkan ketertarikan seseorang terhadap orang lain. Kesamaan demografis antara pemimpin-bawahan langsung berakibat pada makin terikatnya interaksi di antara kedua belah pihak (pemimpin-bawahan langsung). Semakin tinggi tingkat interaksi diantara mereka, dapat diartikan sebagai sebuah kualitas hubungan yang tinggi. Selanjutnya, dalam sebuah hubungan antar-individu (pemimpin-bawahan langsung), interaksi bisa terjadi apabila masing-masing dari mereka memiliki kepentingan terhadap pihak lain. Kepentingan terhadap pihak lain tersebut menyebabkan diantara mereka mencoba saling

4 64 Jurnal Manajemen dan Pemasaran Jasa Vol. 10 No. 1 Maret 2017 memengaruhi. Pengaruh dapat diberikan apabila mereka memiliki kemampuan berupa kecerdasan sosial untuk mampu membaca situasi. Kecerdasan sosial ditandai dengan kemampuan individu untuk memiliki sensitifitas terhadap orang lain (Ferris et al., 2005). Seseorang yang memiliki kemampuan memberikan pengaruh adalah mereka yang memiliki kapabilitas, memiliki kemampuan beradaptasi, serta seseorang yang mampu menyesuaikan diri dengan situasi yang ada dan mampu memanfaatkannya (Ferris et al., 2005). Berdasarkan hal tersebut, keterampilan politik, atau bila menggunakan terminologi dari Robbins & Judge (2015) keterampilan keorganisasian (organizational skill) dapat memoderasi hubungan antara kesamaan demografis dan kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung. Berbagai dasar teori tersebut selanjutnya digunakan untuk menggambarkan rerangka konseptual (Gambar 1). Pada rerangka tersebut hubungan antara perbedaan demografis berupa etnis dengan kualitas hubungan pemimpin-bawahan (LMX) dimoderasi oleh variabel keterampilan politik organisasi. Hal tersebut berarti hubungan antara perbedaan demografis (etnis) dan kualitas hubungan pemimpin-bawahan bisa jadi diperkuat atau diperlemah oleh keterampilan politik bawahan. Berdasarkan teori similarity-attraction (Byrne, 1961; Byrne, 1965; Byrne, London, & Reeves, 1967; Chen & Kenrick, 2002) hubungan antara kesamaan demografis (etnis) akan berhubungan positif terhadap kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung. Selanjutnya berdasarkan definisi keterampilan politik, maka hubungan antara kesamaan demografis (etnis) dan kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung dipengaruhi oleh keterampilan politik bawahan. Keterampilan politik tersebut bisa melemahkan hubungan ataupun bisa menguatkan hubungan antara variabel kesamaan demografis (etnis) dan variabel kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung. Pada riset kali ini terdapat dua hipotesis yang diuji, yaitu 1) terdapat hubungan positif antara kesamaan demografis (etnis) pemimpin-bawahan langsung dan kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung (leader-member exchange/ LMX) dan 2) keterampilan politik memoderasi hubungan antara kesamaan demografis (etnis) pemimpin-bawahan langsung dan kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung (LMX). Keterampilan Politik Organisasi Kesamaan Demografis (Etnis) Leader- Member Exchange Gambar 1 Rerangka Konseptual

5 Pentingkah Keterampilan Politik Organisasi, Saat Tidak Ada Perbedaan Pada Kualitas Hubungan Pemimpin-Bawahan? 65 METODE PENELITIAN Data didapatkan dengan menggunakan desain riset survei dengan instrument kuesioner. Berdasarkan Neuman (2014) survei dilakukan untuk mendapatkan generalisasi terhadap hasil penelitian. Selanjutnya, pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode cross sectional yaitu pengambilan data yang dilakukan dengan satu jangka waktu tertentu (Leary, 2012). Dalam penelitian ini variabel bebas yang digunakan adalah variabel kesamaan etnis. Variabel terikat adalah variabel kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung, sedangkan variabel pemoderasi dalam penelitian ini adalah keterampilan politik. Data kesamaan etnis didapatkan dengan berpasangan, sedangkan data kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung dan variabel pemoderasi berupa keterampilan politik diambil dari persepsi bawahan. Responden yang menjadi sampel penelitian adalah merupakan responden yang sudah berhubungan antara pemimpin-bawahan langsung selama minimal sembilan bulan. Penggunaan batasan bahwa pemimpin-bawahan langsung minimal sudah berinteraksi selama sembilan bulan didasari pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Dansereau, Graen, & Haga (1975) yang menggunakan interaksi sembilan bulan untuk menilai keleluasaan bernegosiasi. Penelitian Dansereau, Graen, & Haga (1975) dijadikan dasar, karena penelitian tersebut bisa dikatakan merupakan awal dari penelitian mengenai hubungan antara pemimpin-bawahan. Populasi penelitian adalah karyawan manajerial dan non manajerial dilingkungan industri jasa pendidikan (Universitas) dan jasa layanan kesehatan (Rumah Sakit). Penelitian dilakukan di dua kota yaitu Jakarta dan Yogyakarta. Responden dalam penelitian ini adalah pemimpin dan bawahan langsung secara berpasangan (diad). Sampel diambil menggunakan metode purposive sampling yaitu pengambilan sampel untuk situasi tertentu. Neuman (2014) menyatakan bahwa pengambilan sampel dengan purposive sampling karena peneliti menghendaki sampel yang diambil adalah mereka yang telah berinteraksi minimal sembilan bulan. Kesamaan demografis berupa etnis dinilai dengan 1 (satu) yang mengindikasikan bawahan langsung memilki kesamaan etnis dengan pemimpin, sedangkan nilai 0 (nol) mengindikasikan bawahan langsung berbeda etnis dengan pemimpin. Kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung diukur dengan menggunakan tujuh item dari Graen & Uhl-Bien (1995). Selanjutnya untuk variabel pemoderasi digunakan keterampilan politik yang diukur dengan menggunakan 18 item political skill inventory (PSI), yang dikembangkan oleh Ferris et al., (2005). Target responden adalah sebanyak 500 diad, jumlah kuesioner yang kembali dan dapat diolah adalah sebesar 364 diad dengan response rate sebesar 72,8%. Dari hasil validitas didapatkan bahwa dari 7 item kuesioner kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung yang dinyatakan valid sebanyak 6 item (1 item dihilangkan). Item pertanyaan untuk kualitas hubungan antara pemimpin-bawahan langsung contohnya adalah: biasanya, saya tahu bagaimana cara menempatkan diri saya dihadapan atasan langsung, atasan langsung saya memahami permasalahan dan kebutuhan saya, atasan langsung mengetahui potensi saya, dan lain-lain. Sedangkan untuk item kuesioner keterampilan politik dari 18 item PSI seluruhnya valid dan bisa digunakan dalam penelitian ini.

6 66 Jurnal Manajemen dan Pemasaran Jasa Vol. 10 No. 1 Maret 2017 Contoh dari item PSI untuk meneliti keterampilan politik adalah: saya menghabiskan banyak waktu dan usaha di jejaring kerja dengan yang lainnya, saya mampu untuk membuat sebagian besar orang merasa nyaman dan mudah didekat saya, saya mampu untuk berkomunikasi dengan mudah dan efektif dengan yang lainnya, dan lain-lain. Selanjutnya dari hasil analisis reliabilitas (dengan menghilangkan 1 item karena tidak reliabel) didapatkan hasil cronbach s Alpha sebesar 0,81 (sejumlah 5 item). Selanjutnyadari 18 item kuesioner PSI didapatkan nilai cronbach s Alpha sebesar 0,94. Selanjutnya Pengujian hipotesis dilakukan dengan hierarchical regression analyses (Tse, Ashkanasy, & Dasborough, 2012). Pertama yang dilakukan adalah menguji hipotesis pertama hubungan positif antara perbedaan demografis (etnis) pemimpin-bawahan langsung dan kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung. Selanjutnya menguji hipotesis dua yaitu keterampilan politik memoderasi hubungan antara kesamaan demografis (etnis) pemimpinbawahan langsung dan kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung (LMX). Keterangan: Y = Variabel Dependent (LMX) X = Variabel Independent (Kesamaan Demografis/ etnis) Z = Variabel Moderasi (Keterampilan Politik) β = Konstanta HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengolahan data dapat terlihat pada tabel 1, tabel 2 dan tabel 3 serta analisisnya. Pada tabel 1 menampilkan ringkasan statistik deskriptif. Variabel kesamaan demografis etnis memiliki korelasi positif dengan kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung (r= 0,14; p<0,01). Hal tersebut berarti semakin tinggi kesamaan demografis (etnis) maka semakin tinggi kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung. Selanjutnya variabel keterampilan politik memiliki korelasi positif dengan variabel kualitas hubungan pemimpinbawahan langsung (r= 0,54; p<0,01). Hal tersebut menunjukan bahwa semakin tinggi keterampilan politik semakin tinggi kualitas hubungan pemimpin bawahan langsung. Tabel 1 Statistik Deskriptif dan Korelasi No Variabel N Ratarata Dev. Std 1. Etnis 364 0,55 0,49-2. Keterampilan Politik 364 3,47 0,60 0, LMX 364 3,38 0,59 0,14** 0,54** - Sumber: Hasil olah data (SPSS) ** Keterangan: = korelasi signifikan pada level 0,01 * = korelasi signifikan pada level 0,05

7 Pentingkah Keterampilan Politik Organisasi, Saat Tidak Ada Perbedaan Pada Kualitas Hubungan Pemimpin-Bawahan? 67 Selanjutnya tabel 2 menunjukan bahwa dalam penelitian ini terdapat hubungan positif antara kesamaan demografis etnis dan kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung. Tabel 2 Hasil Regresi Kesamaan Demografis Etnis dan Kualitas Hubungan Pemimpin-Bawahan Langsung Keterangan β (Standardized) Sig R Square Sig. F Etnis -0,12* 0,02 0,02 0,02* Sumber: Hasil olah data (SPSS) Keterangan : N = 364 * = signifikan pada 0,05 Nilai hasil perhitungan di atas adalah pengolahan yang dilakukan secara regresi linier pada variabel kesamaan demografis etnis sebagai variabel bebas dan kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung sebagai variabel terikat. Selanjutnya pengujian variabel pemoderasi dilakukan dengan menggunakan analisis regresi berganda (Muller, Judd, & Yzerbyt, 2005; Bucy & Tao, 2007; Fairchild & MacKinnon, 2009). Hasil analisis data hubungan antara kesamaan demografis usia pemimpin-bawahan langsung dan kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung yang dimoderasi oleh keterampilan politik didukung. Analisis regresi sederhana hubungan antara kesamaan demografis etnis dan kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung tanpa memasukan interaksi kesamaan demografis etnis dan keterampilan politik menghasilkan nilai R 2 = 0,14. Selanjutnya, analisis regresi hirarki hubungan antara kesamaan demografis etnis dan kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung dengan memasukan interaksi antara kesamaan demografis dan keterampilan politik menghasilkan nilai R 2 = 0,60. Hasil tersebut menunjukkan bahwa interaksi antara kesamaan demografis etnis dan keterampilan politik mengubah nilai R 2 menjadi lebih tinggi. Jadi, keterampilan politik memoderasi hubungan antara kesamaan demografis etnis pemimpinbawahan langsung dan kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung didukung. Tabel 3 Hasil Analisis Regresi Hierarkis Kesamaan Demografis Etnis Pemimpin- Bawahan Langsung dan Kualitas Hubungan Pemimpin-Bawahan Langsung yang Dimoderasi oleh Keterampilan Politik Organisasi Variabel Langkah 1 Pengaruh Independen Pengaruh Independen Langkah 2 Pengaruh Independen Etnis 0,14** 0,11* 1,39** Keterampilan Politik Organisasi Interaksi 0,54** 0,74** Etnis X Keterampilan Politik -1.32** R 2 0,14 0,55 0,60 Langkah 3 Pengaruh Interaksi

8 68 Jurnal Manajemen dan Pemasaran Jasa Vol. 10 No. 1 Maret 2017 Variabel Langkah 1 Pengaruh Independen Langkah 2 Pengaruh Independen R 2-0,41 0,04 Adj. R 2 0,02 0,30 0,35 Adj. R 2-0,29 0,05 F Change 7,26** ** 26,59** Sig F Change 0,01 0,00 0,00 Sumber : Hasil olah data (SPSS) Ket : *) p < 0,05 **) p <0,01 Langkah 3 Pengaruh Interaksi Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap dua hal. Pertama, didukungnya variabel kesamaan demografis etnis berhubungan dengan kualitas hubungan pemimpinbawahan langsung. Kedua, didukungnya variabel pemoderasi berupa keterampilan politik pada hubungan antara kesamaan demografis etnis dan kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung. Dengan didukungnya variabel kesamaan demografis etnis berhubungan dengan kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung, maka hal tersebut mendukung pendapat Hofstade, Hofstede, & Minkov (2010) bahwa masyarakat Indonesia cenderung hidup secara berkelompok dan memiliki loyalitas terhadap kelompoknya. Sehingga apabila seseorang memiliki kesamaan etnis antara pemimpin-bawahan langsung, hubungan diantara keduanya memiliki kualitas hubungan yang tinggi. Kesamaan demografis mengaktifkan proses kategorisasi sosial. Proses kategorisasi sosial tersebut termasuk didalamnya adalah penggunaan stereotypes (Lankau, Riordan, & Thomas, 2005). Dalam penelitian ini keterampilan politik memoderasi hubungan antara kesamaan demografis etnis pemimpin-bawahan langsung dan kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung. Hasil tersebut mengkonfirmasi bahwa keterampilan politik tersebut bisa menjadi variabel pemoderasi. Hal yang menarik dari temuan dalam penelitian ini adalah keterampilan politik memoderasi hubungan antara kesamaan demografis etnis pemimpin-bawahan langsung. Namun demikian, interaksi kesamaan demografis etnis dan keterampilan politik berpengaruh negatif terhadap kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung. Sehingga apabila diantara pemimpin-bawahan langsung sudah memiliki kesamaan demografis berupa etnis, maka bawahan tidak perlu lagi menggunakan keterampilan politiknya untuk memengaruhi hubungannya dengan pemimpin. Penggunaan keterampilan politik pada kondisi tersebut menyebabkan menurunnya kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung. SIMPULAN Hasil penelitian ini mendukung hubungan antara kesamaan demografis (etnis) pemimpin-bawahan dengan kualitas hubungan pemimpin-bawahan. Selain itu penelitian ini juga menunjukan bahwa hubungan antara kesamaan demografis (etnis) pemimpin-bawahan dengan kualitas hubungan pemimpin-bawahan dimoderasi oleh keterampilan politik bawahan. Hal yang menarik dari penelitian ini adalah efek moderasi dari keterampilan politik terhadap hubungan antara kesamaan demografis etnis dan kualitas hubungan pemimpin-

9 Pentingkah Keterampilan Politik Organisasi, Saat Tidak Ada Perbedaan Pada Kualitas Hubungan Pemimpin-Bawahan? 69 bawahan memiliki efek negatif. Sehingga bisa dikatakan bahwa penggunaan keterampilan politik oleh bawahan pada saat terdapat kesamaan demografis (etnis) antara pemimpinbawahan, malah akan mengakibatkan menurunnya kualitas hubungan pemimpin-bawahan. IMPLIKASI Secara teoritis penelitian ini memiliki implikasi yaitu mengkonfirmasi social identity theory/ teori identitas sosial (Ashforth & Mael, 1989; Vecchio & Brazil, 2007). Ketika bawahan memiliki karakteristik yang sama dengan pemimpin, hubungan diantara keduanya berada pada kelompok yang sama. Hal tersebut hubungan diantara pemimpin-bawahan langsung memiliki kualitas hubungan yang tinggi. Selain itu juga penelitian ini juga mengkonfirmasi selfcategorization theory/ teori kategorisasi diri (Vecchio & Brazil, 2007). Keunikan seseorang mengelompokkan mereka dengan kelompok yang memiliki keunikan yang sama. Seorang bawahan yang memiliki karakteristik keunikan yang sama dengan pemimpinnya memiliki hubungan pemimpin-bawahan dengan kualitas tinggi. Penelitian ini mendukung bahwa kesamaan demografis etnis antara pemimpinbawahan berhubungan positif terhadap kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung, maka apabila sebuah institusi atau organisasi ingin melakukan penempatan orang-orangnya dalam satu hubungan pemimpin-bawahan, maka organisasi dapat menempatkan pemimpindan bawahan yang memiliki etnis sama. Meskipun sebenarnya penelitian ini tidak ingin terjebak pada isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan) namun dari data penelitian ini membuktikan bahwa kualitas hubungan antara pemimpin dan bawahan akan dapat semakin tinggi apabila mereka memiliki kesamaan demografis etnis. KETERBATASAN DAN SARAN Keterbatasan penelitian ini adalah data diambil dengan menggunakan metode crosssection dan bukan longitudinal. Pada dasarnya penelitian kualitas hubungan lebih baik dilakukan dengan menggunakan data longitudinal, karena kualitas hubungan tersebut bisa berubah-ubah sejalan dengan waktu. Saran untuk penelitian kedepan adalah untuk mencoba meneliti dampak keterampilan politik pada hubungan antara kesamaan ataupun ketidaksamaan karakteristik antara pemimpin-bawahan secara bersama-sama. Dengan meneliti secara bersamaan, kemungkinan terlihat perbedaan dampak pemoderasian keterampilan politik. Ada dugaan yang harus dibuktikan dengan penelitian lebih lanjut adalah bahwa apabila keterampilan politik digunakan untuk meminimalisasi dampak perbedaan antara pemimpin-bawahan, maka keterampilan politik tersebut akan berdampak positif. Namun sebaliknya, apabila antara pemimpin-bawahan sudah memiliki kesamaan, maka penggunaan keterampilan politik akan berdampak negatif. Dari hal tersebut maka untuk penelitian kedepan perlu dilihat seberapa jauh efektifitas penggunaan keterampilan politik karena kemungkinan pada titik tertentu penggunaan keterampilan politik menjadi tidak efektif untuk meningkatkan kualitas hubungan pemimpin-bawahan langsung. Saran berikutnya adalah sebaiknya penelitian kedepan dilakukan dengan menggunakan data longitudinal.

10 70 Jurnal Manajemen dan Pemasaran Jasa Vol. 10 No. 1 Maret 2017 DAFTAR PUSTAKA Abu Bakar, H., & McCann, R. M. (2014). Matters of Demographic Similarity and Dissimilarity in Supervisor-Subordinate Relationship and Workplace Attitudes. International Journal of Intercultural Relations, 41, Ashforth, B. E., & Mael, F. (1989). Social Identity Theory and the Organization. The Academy of Management Review, 14(1), Bauer, T. N., & Green, S. G. (1996). Development of Leader-Member Exchange: A Longitudinal Test. The Academy of Management Journal, 39(6), Bhal, K.T., Ansari, M.A., & Aafaqi, R. (2007). The Role of Gender Match, LMX Tenure, and Support in Leader-Member Exchange. International Journal of Business and Society, 8(2), Bucy, E. P., & Tao, C. (2007). The Mediated Moderation Model of Interactivity. Media Psychology, 9, Byrne, D. (1961). Response to Attitude Similarity-Dissimilarity as a Function of Affiliation Need. Paper was read at the meetings of the American Psychological Association, New York City. Byrne, D. (1965). Authoritarianism and Response to Attitude Similarity-Dissimilarity. The Journal of Social Psychology, 66, Byrne, D., London, O., & Reeves, K. (1967). The Effects of Physical Attractiveness, Sex, and Attitude Similarity on Interpersonal Attraction. This research was supported part by Research Grant from the National Institute of Mental Health, United States Public Health Service. Chen, F. F., & Kenrick, D. T. (2002). Repulsion or Attraction? Group Membership and Assumed Attitude Similarity. Journal of Personality and Social Psychology, 83(1), Cogliser, C. C., Schriesheim, C. A., Scandura, T. A., & Gardner, W. L. (2009). Balance in Leader and Follower Perceptions of Leader Member Exchange: Relationships with Performance and Work Attitudes. The Leadership Quarterly, 20, Dansereau, Jr. F., Graen, G., & Haga, W. J. (1975). A Vertical Dyad Linkage Approach to Leadership within Formal Organizations A Longitudinal Investigation of the Role Making Process. Organizational Behavior and Human Performance, 13, Douglas, C. (2012). The Moderating Role of Leader and Follower Sex in Dyads on the Leadership Behavior-Leader Effectiveness Relationship. The Leadership Quarterly, 23, Fairchild, A. J., & MacKinnon, D.P. (2009). A General Model for Testing Mediation and Moderation Effects. Prev Sci, 10, Ferris, G. R., Davidson, S. L., & Perrewe, P. L. (2005). Political Skill at Work. Impact on Work Effectiveness. Davies-Black Publishing: First Edition. Ferris, G. R., Treadway, D. C., Kolodinsky, R. W., Hochwarter, W. A., Kacmar, C. J., Douglas, C., & Frink, D. D. (2005). Development and Validation of the Political Skill Inventory. Journal of Management, 31,

11 Pentingkah Keterampilan Politik Organisasi, Saat Tidak Ada Perbedaan Pada Kualitas Hubungan Pemimpin-Bawahan? 71 Golden, T.D., & Veiga, J.F. (2008). The impact of superior-subordinate relationships on the commitment, job satisfaction, and performance of virtual workers. The Leadership Quarterly, 19, Graen, G. B., & Uhl-Bien, M. (1995). Relationship-Based Approach To Leadership: Development Of Leader-Member Exchange (LMX) Theory of Leadership Over 25 Years: Applying A Multi-Level Multi-Domain Perspective. The Leadership Quarterly, 6(2): Gunaratnam, Y., (2003). Reasearching Race and Ethnicity Methods, Knowledge and Power. SAGE Publications. Harris, K. J., Wheeler, A. R. & Kacmar, K. M. (2009). Leader-member exchange and empowerment: Direct and interactive effects on job satisfaction, turnover intentions, and performance. The Leadership Quarterly, 20, Hofstade, G., Hofstede, G. J., & Minkov, M. (2010). Cultures and Organizations, Software of The Mind, Intercultural Cooperation and Its Importance for Survival. Mc Graw Hill. Hooper, D. T., & Martin, R. (2008). Beyond personal Leader Member Exchange (LMX) quality: The effects of perceived LMX variability on employee reactions. The Leadership Quarterly, 19, Ilies, R., Nahrgang, J. D.,& Morgeson, F. P. (2007). Leader-Member Exchange and Citizenship Behaviors: A Meta-Analysis. Journal of Applied Psychology, 92(1), Lankau, M. J., Riordan, C. M., & Thomas, C. H. (2005). The Effects of Similarity and Liking in Formal Relationship between Mentors and Proteges. Journal of Vocational Behavior, 67, Leary, M. R. (2012). Introduction to Behavioral Research Methods. Sixth Edition. Pearson Education, Inc. Liden, R. C., Wayne, S. J., & Stilwell, D. (1993). A Longitudinal Study on the Early Development of Leader-Member Exchange. Journal of Applied Psychology, 78(4), Matkin, G. S., & Barbuto, Jr. J. E. (2012). Demographic Similarity/ Difference, Intercultural Sensitivity, and Leader-Member Exchange: A Multilevel Analysis. Journal of Leadership& Organizational Studies, 19(3), Minsky, B. D. (2002). LMX Dyad Agreement: Construct Definition and The Role of Supervisor/ Subordinate Similarity and Communication in Understanding LMX. Dissertation The Louisiana State University. (Source: /etd /unrestricted/Minsky _dis.pdf). Muller, D., Judd, C. M., & Yzerbyt, V. Y. (2005). When Moderation Is Mediated and Mediation Is Moderated. Journal of Personality and Social Psychology, 89(6), Neuman, W. L. (2014). Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approach. Seventh Edition. Pearson Education Limited. Pelled, L. H., & Xin, K. R. (2000). Relational Demography and Relationship Quality in Two Cultures. Organization Studies, 21(6), Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2015). Organizational Behavior. Pearson. Tse, H. H. M., Ashkanasy, N.M., & Dasborough, M.T. (2012). Relative leader-member exchngae, negative effectivity and social identification: A moderated-mediation examination. The Leadership Quarterly, 23,

12 72 Jurnal Manajemen dan Pemasaran Jasa Vol. 10 No. 1 Maret 2017 Tsui, A. S., Porter, L. W., & Egan, T. D. (2002). When both Similarities and Dissimilarities Metter: Extending The Concept of Relational Demography. Human Relation, 55(8), Utomo, K. W. (2016). Pengaruh Keterampilan Politik Pada Hubungan Perbedaan Demografis Dan Kualitas Hubungan Pemimpin-Bawahan Langsung (Di Dalam Organisasi Dengan Persepsi Politik Organisasional Tinggi Dan Rendah). Disertasi, Program doktor Fakultas Ekonomika dan Bisnis Program Studi Manajemen, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Vecchio, R. P. & Brazil, D. M. (2007). Leadership and Sex-Similarity: A Comparison In A Military Setting. Personnel Psychology, 60, 2: Zanger, T. R., & Lawrence, B. S. (1989). Organizational Demography: The Differential Effect of Age and Tenure Distributions on Technical Communication. The Academy of Management Journal, 32(2),