a 2 1. Undang-Undang Nomor l Tahun 1962 tenbng K rantina Lauq 2. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1962 tentang Karantina Udara;

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "a 2 1. Undang-Undang Nomor l Tahun 1962 tenbng K rantina Lauq 2. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1962 tentang Karantina Udara;"

Transkripsi

1 a 2 5 KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA DIREICORAT JENDERAL PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN PENYAKTT KANTOR KESEHATAN PELABUHAN KELAS 1 SURABAYA PORT HEALTH OFFICE SURABAYA Jalan Raya Juanda Blok Sedati Agung Sidoarjo Telpon :(031) , Fakimile (031) Website : Emall : I XEPAIA I(AI{TOR TESEHATAT{ PEI.ABUHAI{ KEIAS t SURABAYA r{omor I P1R.ot.0tl t.zl 4397 I 2O1S TENTAT{G PERUBAHAN SURAT XEPUruSAN KEPAU KAI{TOR KESEHATAN PETABUHAN XEI.AS I SURABAYA I{OMOR : Ht(.03.0slv[.s/ 6332 l2ots RENCANA A (si KEGIATAT{ (RAK) TAHUN IGNTOR XESEHATAN PEIABUHAN KEI.AS l SURABAYA Menimbang Mengingat Bahwa sebagai penjabaran dari Rencana Aksi program Pengendalian penyakit dan penyehatan Ungkungan Tahun Direktorat Jenderal pencegahan dan pengendalian Penyakit, perlu disusun Rencana Aksi Kegiatan Tahun Kantor Kesehatan pelabuhan Kelas I Surabaya yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya; 1. Undang-Undang Nomor l Tahun 1962 tenbng K rantina Lauq 2. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1962 tentang Karantina Udara; 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun tentang Sistem Perencanaan pembangunan Nasional; 4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka panjang Nasional Tahun 2ctr/S:zOZS, 5. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2OOg tentang KesehaEn; 6. Peraturan pemerintah Rl No.39 Tahun 2fi)6 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi pelaksanaan Rencana Pembangunan; 7. Peraturan Presiden Republik lndonesia Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana pembangunan Jangka Menentah Nasional ;

2 8. lnstruki Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang pedoman Penyusunan Sistem Akuntabilitas Kinerja lnstansi pemerintah; 9. lnternational Health Regulation (lhr) Tahun 2005; 10. Peraturan Menteri Kesehatan Rl Nomor 35G/ Menkes/ perl lyl 2008 jo Nomor 2348/ Menkes/ per/ Xtl 2011 tentang Organisasi dan Tatakerja Kantor Kesehatan pelabuhan; 11. Peraturan Menteri Keuangan Rt No.249/pMK. O2IZOIL tentang Pengukuran dan Evaluasi Kinerja Atas pelakanaan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga; 12. Permenkes Rt Nomor 2416/MENKES/PER/Xfi/ZOLL tentang Petunjuk pelaksanaan penetapan Kinerja dan pelaporan Akuntabilitas Kiner.ia Kementerian Kesehatan; 13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2014 tentang Klasifikasi Kantor Kesehatan pelabuhan; 14. Peraturan Menteri Negara pendayagunaan Aparatur Negara dan dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis perjanjian Kerja, pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja lnstansi pemerintah; 15 Keputusan Menteri Kesehatan Rl Nomor 375/Menkes/SK/V/ 2009 tentang Rencana pembangunan Jangka panjang Bidang Kesehatan 2$S-20ZS: 16. Keputusan Menteri Kesehatan MENKES/52I2015 tentang Rencana Kesehatan 20I5-2Ot9; Rl Nomor HK.02.02/ Strategis Kementerian 17. Keputusan Menteri Kesehatan Rt Nomor 1314/MENKES/SK/IXI 2010 tentang pedoman standarisasi sumber daya manusia, sarana, dan prasarana di lingkungan Kantor Kesehatan Pelabuhan; 18. Keputusan Direktur Jenderal pengendalian penyakit dan Penyehatan Lingkungan Nomor HK. O2.O3/Otlt.y2OB8/2OLs tentang Rencana Aksi program pengendalian penyakit dan Penyehatan Lingkungan Tahun Direktorat Jenderal Pengendalian penyakit dan penyehatan Lingkungan; Menetapkan MEMUTUSKAN KEPUTUSAN KEPALA KANTOR KESEHATAN SURABAYA TENTANG PERUBAHAN SURAT PELABUHAN KETAS I KEPUTUSAN KEPALA

3 KANTOR KESEHATAN PELABUHAN KELAS I SURABAYA NOMOR : HK.O3.O5/YII.5/ 6332 I2OL5 RENCANA AKSI KEGIATAN TAHUN KANTOR KESEHATAN PELABUHAN KELAS ISURABAYA; Kesatu Rencana Aksi Kegiatan (RAK) Tahun Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya merupakan dokumen perencanaan Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit selama lima tahun yang berisikan upaya yang akan dilakukan Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya untuk mencapai indikator program dan kegiatan yang telah ditetapkan dalam kurun waktu lima tahun (201s-2019); Kedua Ketiga Rencana Aksi Kegiatan (RAK) Tahun Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya digunakan sebagai salah satu pedoman dalam penyusunan Perjanjian Kinerja; Rencana Aksi Kegiatan (RAK) Tahun Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya digunakan sebagai salah satu pedoman dalam penyusunan Rencana Kerja Anggaran Kementerian Lembaga (RKAKL); Keempat Kelima Rencana Aki Kegiatan (RAK) Tahun Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya digunakan sebagai salah satu pedoman penilaian Akuntabilitas Kinerja; Surat Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan, dan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan diadakan pembetulan sebagaimana mestinya. Ditetapkan di Pada tanggal : Surabaya : 20 Desember 2018 Kepala Kantor dr, H. M u ammad Budi Hidayat, M,Kes NrP Tembusan: 1. Direktur Jenderal p2p Kementerian Kesehatan Rl 2. Sekretaris Direktorat Jenderal p2p Kementerian Kesehatan Rl 3. Kepala Bagian Pt Ditjen p2p Kementerian Kesehatan Rt 4. Kepala Bagian Hukormas Ditjen p2p Kementerian Kesehatan Rt 5. Kepala Bagian Keuangan Ditjen p2p Kementerian Kesehatan Rl 6. Kepala Bagian Kepegawaian dan Umum Ditjen p2p (ementerian Kesehatan Rl

4 KATA PENGANTAR Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mengamanatkan bahwa setiap Satuan Kerja harus menyusun Rencana Aksi Kegiatan (RAK) untuk periode lima tahun. Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya sebagai satuan kerja setingkat eselon II dalam menyusun Rencana Aksi Kegiatan mengacu pada Visi, Misi, dan Nawacita Presiden yang ditetapkan pada Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun Pelaksanaan Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan Tahun , perlu dijabarkan lebih lanjut ke dalam suatu Rencana Aksi Program (RAP) pada unit organisasi Eselon I dan Rencana Aksi Kegiatan (RAK) pada unit organisasi setingkat eselon II sesuai dengan tugas Pokok dan fungsinya. Penyusunan Rencana Aksi Kegiatan (RAK) Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.02.02/MENKES/52/2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan dan Rencana Aksi Program (RAP) Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Rencana Aksi Kegiatan Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya merupakan dokumen negara yang berisi upaya-upaya mendukung Program Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan di Pintu Masuk Negara yang dijabarkan dalam bentuk kegiatan, sasaran, indikator, target, sampai dengan kerangka pendanaan. Rencana Aksi Kegiatan Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya Tahun ini digunakan sebagai acuan dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan dalam kurun waktu Rencana Aksi Kegiatan ini menjadi dasar dalam penyelenggaraan tugas melaksanakan pencegahan masuk dan keluarnya penyakit, penyakit potensial wabah, surveilance epidemiologi, kekarantinaan, pengendalian dampak kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan, pengawasan OMKABA serta pengamanan terhadap penyakit baru dan Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya i

5 penyakit yang muncul kembali, bioterorisme, unsur biologi, kimia dan pengamanan radiasi di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara. Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada semua pihak yang telah berkonstribusi dalam penyusunan Rencana Aksi Kegiatan (RAK) Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya Tahun Pada kesempatan ini pula saya mengajak kepada semua pihak untuk saling bersinergi dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan guna tercapainya sasaran pembangunan kesehatan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa meridhai Rencana Aksi Kegiatan Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas lsurabaya Tahun ini, Aamiin. Surabaya, 20 Desember 2018 Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya dr. H. uhammad Budi Hidayat, M.Kes NrP s Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya

6 DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1 B. Kondisi Umum... 4 C. Isu Strategis D. Lingkungan Startegis II VISI, MISI,TUJUAN DAN SASARAN STRATEGIS A. Visi B. Misi C. Tujuan D. Sasaran Startegis III ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI A. Arah Kebijakan B. Strategi IV TARGET KINERJA DAN PENDANAAN KEGIATAN A. Target Kinerja B. Pendanaan Kegiatan V PEMANTAUAN, PENILAIAN DAN PELAPORAN A. Pemantauan B. Penilaian C. Pelaporan VI PENUTUP LAMPIRAN 1. Matriks Target Kinerja 2. Matriks Pendanaan Kegiatan Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya iii

7 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berdasarkan pada perikemanusiaan, pemberdayaan dan kemandirian, adil dan merata, serta pengutamaan dan manfaat. Sesuai dengan UU Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) , telah ditetapkan arah RPJMN Tahap III ialah perlunya memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas serta kemampuan IPTEK yang terus meningkat. Dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJPK) dalam tahapan ke 3 ( ), kondisi pembangunan kesehatan diharapkan telah mampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang ditunjukkan dengan membaiknya berbagai sasaran pembangunan Sumber Daya Manusia, seperti (1) meningkatnya status kesehatan dan gizi ibu dan anak; (2) meningkatnya pengendalian penyakit; (3) meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar dan rujukan terutama di daerah terpencil, tertinggal dan perbatasan; (4) meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan universal melalui Kartu Indonesia Sehat dan kualitas pengelolaan SJSN Kesehatan, (5) terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan, obat dan vaksin; serta (6) meningkatkan responsivitas sistem kesehatan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun , telah ditetapkan dengan Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun

8 Pembangunan kesehatan sebagai bagian integral dari Pembangunan Nasional tercantum dalam Bab II RPJMN, dalam Bidang Pembangunan Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama. Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, maka sebagai salah satu pelaku pembangunan kesehatan, Kementerian Kesehatan telah menyusun Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan Tahun yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/MENKES/52/2015. Renstra Kementerian Kesehatan merupakan dokumen perencanaan yang bersifat indikatif yang memuat programprogram pembangunan kesehatan yang akan dilaksanakan langsung oleh Kementerian Kesehatan maupun dengan mendorong peran aktif masyarakat untuk kurun waktu tahun Lima pendekatan perencanaan yang dipergunakan dalam penyusunan Renstra Kementerian Kesehatan adalah: (1) pendekatan politik, (2) pendekatan teknokratik, (3) pendekatan partisipatif, (4) pendekatan atas-bawah (top-down), dan (5) pendekatan bawah-atas (bottom-up). Program Indonesia Sehat dilaksanakan dengan 3 pilar utama yaitu paradigma sehat, penguatan pelayanan kesehatan dan jaminan kesehatan nasional: 1) pilar paradigma sehat di lakukan dengan strategi pengarusutamaan kesehatan dalam pembangunan, penguatan promotif preventif dan pemberdayaan masyarakat; 2) penguatan pelayanan kesehatan dilakukan dengan strategi peningkatan akses pelayanan kesehatan, optimalisasi sistem rujukan dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan, menggunakan pendekatan continuum of care dan intervensi berbasis risiko kesehatan; 3) sementara itu jaminan kesehatan nasional dilakukan dengan strategi perluasan sasaran dan benefit serta kendali mutu dan kendali biaya. Dalam pelaksanaan Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan Tahun , perlu dijabarkan lebih lanjut ke dalam suatu Rencana Aksi 2

9 Program (RAP) pada unit organisasi Eselon I dan Rancana Aksi Kegiatan (RAK) pada unit organisasi setingkat eselon II sesuai dengan tugas Pokok dan fungsinya. Salah satu Eselon I di Kementerian Kesehatan yaitu Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan. Dalam melaksanakan tugas, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan menyelenggarakan fungsi: penyiapan perumusan kebijakan di bidang imunisasi dan karantina, pengendalian penyakit menular langsung, pengendalian penyakit bersumber binatang, pengendalian penyakit tidak menular, dan penyehatan lingkungan; pelaksanaan kebijakan di bidang imunisasi dan karantina, pengendalian penyakit menular langsung, pengendalian penyakit bersumber binatang, pengendalian penyakit tidak menular, dan penyehatan lingkungan penyusunan standar, norma, pedoman, kriteria, dan prosedur di bidang imunisasi dan karantina, pengendalian penyakit menular langsung, pengendalian penyakit bersumber binatang, pengendalian penyakit tidak menular, dan penyehatan lingkungan; pemberian bimbingan teknis dan evaluasi; pelaksanaan administrasi Direktorat Jenderal. Rencana Aksi Program (RAP) Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan, ditindak lanjuti dengan Rencana Aksi Kegiatan (RAK) Program Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan di Pintu Gerbang Negara Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya 2015 s/d 2019, sebagaimana Permenkes RI Nomor 356 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan dan Permenkes Nomor 2348 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas 356 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan, bahwa Kantor Kesehatan Pelabuhan yang selanjutnya disebut KKP adalah unit pelaksana teknis di lingkungan 3

10 Departemen Kesehatan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dengan tugas melaksanakan pencegahan masuk dan keluarnya penyakit, penyakit potensial wabah, surveilans epidemiologi, kekarantinaan, pengendalian dampak kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan, pengawasan OMKABA serta pengamanan terhadap penyakit baru dan penyakit yang muncul kembali, bioterorisme, unsur biologi, kimia dan pengamanan radiasi di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara. B. Kondisi Umum 1. Dasar Hukum a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1962 tentang Karantina Laut. b. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1962 tentang Karantina Udara. c. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional d. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun e. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan f. Peraturan Pemerintah RI No.39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan g. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional h. Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyusunan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah i. International Health Regulation (IHR) Tahun 2005 j. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 356/ Menkes/ Per/ IV/ 2008 jo Nomor 2348/ Menkes/ Per/ XI/ 2011 tentang Organisasi dan Tatakerja Kantor Kesehatan Pelabuhan. 4

11 k. Peraturan Menteri Keuangan RI No.249/PMK.02/2011 tentang Pengukuran dan Evaluasi Kinerja Atas Pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga l. Permenkes RI Nomor 2416/MENKES/PER/XII/2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Kesehatan m. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2014 tentang Klasifikasi Kantor Kesehatan Pelabuhan. n. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah o. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 375/Menkes/SK/V/2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan p. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.02.02/MENKES/52/2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan q. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1314/MENKES/SK/IX/2010 tentang pedoman standarisasi sumber daya manusia, sarana, dan prasarana di lingkungan Kantor Kesehatan Pelabuhan r. Keputusan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Nomor HK /D1/I.1/2088/2015 tentang Rencana Aksi Program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Tahun Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan 2. Tupoksi dan Struktur Organisasi Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 356/ Menkes/ Per/ IV/ 2008 jo Nomor 2348/ Menkes/ Per/ XI/ 2011 tentang Organisasi dan Tatakerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas 5

12 I Surabaya dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggungjawab kepada Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan a. Tugas Pokok dan Fungsi 1) Tugas Pokok KKP mempunyai tugas melaksanakan pencegahan masuk dan keluarnya penyakit, penyakit potensial wabah, surveilance epidemiologi, kekarantinaan, pengendalian dampak kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan, pengawasan OMKABA serta pengamanan terhadap penyakit baru dan penyakit yang muncul kembali, bioterorisme, unsur biologi, kimia dan pengamanan radiasi di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara. 2) Fungsi a) Pelaksanaan kekarantinaan; b) Pelaksanaan pelayanan kesehatan; c) Pelaksanaan pengendalian risiko lingkungan di bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara; d) Pelaksanaan pengamatan penyakit, penyakit potensial wabah penyakit baru, dan penyakit yang muncul kembali; e) Pelaksanaan pengamanan radiasi pengion dan non pengion, biologi, dan kimia; f) Pelaksanaan sentra/simpul jejaring surveilans epidemiologi sesuai penyakit yang berkaitan dengan lalu lintas nasional, regional, dan internasional; g) Pelaksanaan, fasilitasi dan advokasi kesiapsiagaan dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan bencana bidang kesehatan, serta kesehatan matra termasuk penyelenggaraan kesehatan haji dan perpindahan penduduk; 6

13 h) Pelaksanaan, fasilitasi, dan advokasi kesehatan kerja di lingkungan bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara; i) Pelaksanaan pengawasan kesehatan alat angkut dan muatannya; j) Pelaksanaan pemberian pelayanan kesehatan diwilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara; k) Pelaksanaan jejaring informasi dan teknologi bidang kesehatan bandara, pelabuhan, dan lintas batras darat negara; l) Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan bidang kesehatan di bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara; m) Pelaksanaan kajian kekarantinaan, pengendalian risiko lingkungan, dan surveilans kesehatan pelabuhan; n) Pelaksanaan pelatihan teknis bidang kesehatan bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara; o) Pelaksanaan ketatausahaan dan kerumahtanggaan KKP. 7

14 b. Struktur Organisasi : KEPALA KANTOR BAGIAN TATA USAHA SUBBAGIAN PROGRAM & LAPORAN SUBBAGIAN KEUANGAN & UMUM BIDANG PENGENDALIAN KARANTINA DAN SURVEILANS EPIDEMIOLOGI BIDANG PENGENDALIAN RISIKO LINGKUNGAN BIDANG UPAYA KESEHATAN DAN LINTAS WILAYAH SEKSI PENGENDALIAN KARANTINA SEKSI PENGENDALIAN VEKTOR DAN BINATANG PENULAR PENYAKIT SEKSI PENCEGAHAN DANPELAYANAN KESEHATAN SEKSI SURVEILANS EPIDEMIOLOGI SEKSI SANITASI DAN DAMPAK RISIKO LINGKUNGAN SEKSI KESEHATAN MATRA DAN LINTAS WILAYAH INSTALASI 1. Klinik Rawat Jalan Kesja & Isolasi 2. OMKABA 3. Lab Air & Limbah 4. Makanan Minuman 5. Lab Rodent 6. Klinik VCT 7. Lab Diagnostik KELOMPOK JABFUNG 1.Epidemiologi 2.Entomologi 3.Sanitarian 4.Dokter WILKER 1. Juanda 2. Gresik 3. Tuban 4. Kalianget 3. Hasil Kegiatan Gambaran kondisi umum dipaparkan berdasarkan dari hasil pencapaian program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Kinerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya dalam Melaksanakan Tugas Pokok dan Fungsinya diukur berdasarkan tingkat penggunaan anggaran (Input), tingkat pencapaian kegiatan keluaran (output), serta pencapaian kinerja hasil (outcome). 8

15 a. Capaian Kinerja anggaran (Input) Capaian indikator input adalah realisasi penggunaan dana dibandingkan dengan pagunya. Berikut adalah pagu dan realisasi anggaran Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya TA s/d Tabel 1.1 Pagu dan Realisasi Anggaran TA.2010 s/d 2014 TAHUN PAGU REALISASI % ,18% 73,63% 87,54% 64,85% 90,77% Gambar 1.1 Pagu dan Realisasi Anggaran TA.2010 s/d

16 Dari tabel 1.1 dan gambar 1.1 di atas dapat diketahui bahwa pagu dan realisasi anggaran selama lima tahun cenderung turun naik. Akan tetapi persentase realisasi yang paling tinggi ada pada tahun 2014 (90,77%). Jika dibandingkan dengan tahun 2013 realisasi anggaran mengalami kenaikan sebesar Rp ,00 (51,58%). b. Capaian kegiatan keluaran (output) Output merupakan prestasi kerja berupa barang atau jasa yang dihasilkan oleh suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. Pencapaian kinerja output pelaksanaan kegiatan pada Program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan pada Tahun telah mencapai hasil yang memuaskan, rata-rata pertahun sebagai berikut: 1) Tahun 2010 sebesar 94,98% (22 output) 2) Tahun 2011 sebesar 89,92% (37 output) 3) Tahun 2012 sebesar 97,76% (33 output) 4) Tahun 2013 sebesar 104,49% (36 output) 5) Tahun 2014 sebesar 106,13% (40 ouput) c. Capain kinerja hasil (outcome) Kinerja kegiatan merupakan integrasi hasil/pencapaian berbagai pelaksana kegiatan, baik pelaksana program maupun berbagai lintas program dan lintas sektor yang terlibat serta saling berhubungan. Kinerja yang akan diukur merupakan indikator sasaran di bidang pencegahan dan pemberantasan penyakit serta bidang kesehatan lingkungan. Data indikator sasaran didapatkan dari hasil survei yang dilakukan dalam interval waktu tertentu (1 tahunan, 3 tahunan, atau 5 tahunan) tergantung jenis indikator keberhasilan yang akan diukur.outcome (hasil) merupakan prestasi kerja yang berupa sesuatu yang mencerminkan berfungsinya output dari kegiatan dalam suatu program. 10

17 1) Indikator Persentase faktor resiko potensial PHEIC yang terdeteksi dipintu negara Faktor resiko petensial PHEIC yang terdeteksi di pintu negara melalui pemeriksaan kapal dan pesawat. Dokumen kekarantinaan yang diberikan kepada kapal yang datang dari luar negeri dan atau dari dalam negeri terjangkit (under surveilans). Kapal tersebut berlabuh/angker di luar dermaga dan atau sandar di dermaga. Dinyatakan dalam satuan dokumen Certificate of pratique (COP). General Declaration (GENDEC) adalah dokumen yang diterbitkan oleh pilot pesawat tentang kondisi pesawat. Salah satu bagian GENDEC adalah Health Part of General Declaration (HPoGD) berisi tentang keterangan penumpang sakit dan tindakan penyehatan pesawat. Capaian indikator selama 5 tahun terakhir dapat disajikan pada gambar berikut ini. Gambar 1.2 Perbandingan Indikator Persentase faktor resiko potensial PHEIC yang terdeteksi dipintu negara Tahun Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa selama tahun Persentase faktor resiko potensial PHEIC yang terdeteksi dipintu negara selalu tercapai 100%, bahkan di tahun 2014 dapat tercapai 121,84%. Indikator ini dapat dicapai dengan upaya : 1) Pemeriksaan kapal dan pesawat dari dalam dan luar negeri 2) Analisis 11

18 3) Penerbitan Sertifikat Free Pratique dan GENDEC Kendala yang dihadapi dalam kegiatan ini adalah belum ada sanksi untuk kapal yang tidak melakukan in/ out clearance akibat revisi undang-undang kekarantinaan yang sampai sekarang belum disahkan. Sementara undang-undang yang lama yaitu Undang- Undang No.1 tahun 1962 tentang Karantina Laut Undang-Undang No.2 tahun 1962 tentang Karantina Udara sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi sekarang. 2) Indikator Persentase terlaksananya penanggulangan faktor resiko dan pelayanan kesehatan pada wilayah kondisi matra Penanggulangan faktor resiko dan pelayanan kesehatan pada wilayah kondisi matra, antara lain: kesehatan haji, arus mudik lebaran,natal dan tahun baru. Capaian indikator selama 5 tahun terakhir dapat disajikan pada gambar berikut ini. Gambar 1.3 Perbandingan Indikator Persentase terlaksananya penanggulangan factor resiko dan pelayanan kesehatan pada wilayah kondisi matra Tahun Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa selama tahun Persentase faktor resiko potensial PHEIC yang terdeteksi dipintu negara selalu tercapai 100%, bahkan di tahun 2014 dapat tercapai 125%. Upaya yang dilaksanakan dalam mencapai indikator ini: 12

19 1) Penyusunan rencana kegiatan kesehatan haji, matra idul fitri, natal dan tahun baru. 2) Melaksanakan koordinasi/ jejaring lintas sektor melalui pertemuan/ rapat. 3) Melaksanakan kegiatan kesehatan embarkasi debarkasi haji, posko matra idul fitri, posko natal dan tahun baru. 4) Melaksanakan evaluasi kegiatan kesehatan embarkasi debarkasi haji, matra idul fitri, natal dan tahun baru 3) Indikator Persentase Penanggulangan KLB < 24 jam Investigasi dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) <24 jam. KLB yang diantisipasi adalah Mers Cov. Capaian indikator selama 5 tahun terakhir dapat disajikan pada gambar berikut ini. Gambar 1.4 Perbandingan Indikator Persentase Penanggulangan KLB < 24 jam Tahun Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa selama tahun Indikator Persentase Penanggulangan KLB < 24 jam selalu tercapai 100%. Indikator ini dapat dicapai dengan upaya: 1) Dibentuk Tim Gerak Cepat (TGC) 2) Disusun SOP penanggulangan KLB 3) Dilakukan simulasi penanganan KLB dengan lintas sektor terkait 4) Mengikuti pelatihan Tim Gerak Cepat (TGC) Kendala yang dihadapi: 13

20 1) Tidak tersedianya ruang isolasi/ karantina di pelabuhan/bandara yang memenuhi standart/kriteria. 2) Tidak semua rumah sakit memiliki ruang isolasi/ karantina yang sesuai standart. Jikapun ada jumlah ruang, fasilitas, dan logistik tidak memadai. 4) Persentase kasus zoonosa yang ditemukan, ditangani sesuai standar Tindakan yang dilakukan dalam rangka mengendalikan kasus zoonosa yang terjadi di area pelabuhan/bandara. Capaian indikator selama 5 tahun terakhir dapat disajikan pada gambar berikut ini. Gambar 1.5 Perbandingan Indikator kasus zoonosa yang ditemukan, ditangani sesuai standar Tahun Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa selama tahun Indikator Persentase kasus zoonosa yang ditemukan, ditangani sesuai standar selalu tercapai 100%. Bahkan di tahun 2014 tercapai 111,11%. Indikator ini dapat dicapai dengan upaya: 1) Melaksanakan kegiatan pengendalian lalat dan kecoa mulai dari survei kepadatan sampai dengan pemberantasan/spraying 2) Melaksanakan kegiatan pengendalian lalat dan kecoa di lingkungan pelabuhan/bandara baik daerah perimeter 14

21 maupun buffer di seluruh wilayah induk maupun wilayah kerja KKP Kelas I Surabaya 3) Melaksanakan kegiatan tikus dan pinjal secara rutin di wilayah pelabuhan/bandara 4) Mengawasi indeks pinjal khusus < 1 dan indeks pinjal umum < 2 di wilayah pelabuhan Kepadatan lalat dan kecoa sangat tergantung dari perilaku hidup bersih dan sehat komunitas pelabuhan terkait dengan penanganan pembuangan sampah yang baik. 5) Jumlah kasus Diare per penduduk Tindakan yang dilakukan dalam rangka mengendalikan jumlah kasus diare di area pelabuhan. Tempat pengelolaan makanan adalah suatu tempat dimana makanan diolah, sedangkan penjamah makanan adalah orang yang secara langsung berhubungan dengan makanan dan peralatan mulai dari tahap persiapan, pembersihan, pengolahan pengangkutan sampai penyajian. Tempat pengelolaan makanan, tempat tempat umum dan penjamah makanan memiliki peran penting dalam hal kualitas makanan/minuman. Capaian indikator selama 5 tahun terakhir dapat disajikan pada gambar berikut ini. Gambar 1.6 Jumlah kasus Diare per penduduk Tahun

22 Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa selama tahun Indikator Jumlah kasus Diare per penduduk tidak ada. sedangkan di tahun 2014 tercapai 114,74%. Upaya yang dilaksanakan dalam mencapai indikator ini: 1) Melaksanakan kegiatan pengawasan tempat pengelolaan makanan di wilayah induk dan wilayah kerja secara rutin 2) Melaksanakan kegiatan pengawasan kualitas makanan/minuman dengan parameter organoleptik dan bakteriologis 3) Melaksanakan persiapan dengan koordinasi dengan pihak pemilik restoran/ rumah makan 4) Melaksanakan pemeriksaan kesehatan pada penjamah makanan 5) Melaksanakan penerbitan dokumen/ sertifikat laik sehat 6) Melaksanakan kegiatan pengawasan tempat-tempat umum baik di wilayah pelabuhan/bandara yang meliputi gedung/bangunan dan alat angkut 7) Melaksanakan tindakan sanitasi alat angkut apabila ditemukan adanya vektor atau faktor risiko penyakit yang lain Pemeriksaan kualitas makanan/minuman secara bakteriologis dilakukan di laboratorium kesehatan lingkungan seperti BBTKL & PP Surabaya, BLK Surabaya atau laboratorium kesehatan lingkungan di kabupaten/kota terdekat, sehingga beberapa wilayah kerja yang di Kabupaten/Kota tidak mempunyai laboratorium kesehatan lingkungan tidak bisa melaksanakan pemeriksaan kualitas makanan/minuman. 6) Indikator Persentase (%) Provinsi Yang Melakukan Pembinaan Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Tidak Menular (SE, deteksi dini, KIE dan penanganan kasus) Provinsi yang melakukan pembinaan pencegahan dan penanggulangan PTM adalah Provinsi yang melakukan pembinaan 16

23 pencegahan provinsi tersebut. penanggulangan PTM kepada kab/kota di wilayah Ruang lingkup pencegahan dan penanggulangan PTM adalah deteksi dini penanganan kasus, KIE, dan Surveilans. Pembinaan pencegahan dan penanggulangan PTM yang dimaksud ada memberikan dukungan dalam melaksanakan program PPTM, sehinngga kab/kota di wilayah provinsi tersebut dapat melaksanakan program PPTM. Persentase Provinsi yang melakukan pembinaan pencegahan dan penanggulangan PTM adalah jumlah Provinsi yang melakukan pembinaan pencegahan dan penanggulangan PTM terhadap jumlah provinsi di Indonesia. Namun karena kantor kesehatan pelabuhan tidak berbasis wilayah maka yang dijadikan perhitungan indikator adalah kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan PTM, yaitu pelatihan BHD dan AED bagi masyarakat pelabuhan/bandara, tatalaksana PTM masyarakat pelabuhan/bandara, pengendalian PTM pada jamaah haji dan umroh ke Kab/Kota. Capaian indikator selama 5 tahun terakhir dapat disajikan pada gambar berikut ini. Gambar 1.7 Perbandingan Indikator Indikator Persentase (%) Provinsi Yang Melakukan Pembinaan Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Tidak Menular (SE, deteksi dini, KIE dan penanganan kasus)tahun

24 Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa selama tahun tidak ada Indikator Persentase (%) Provinsi Yang Melakukan Pembinaan Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Tidak Menular (SE, deteksi dini, KIE dan penanganan kasus). Dan di tahun 2014 telah tercapai 100%. Upaya yang dilaksanakan dalam mencapai indikator ini: 1) Pelatihan BHD dan AED bagi masyarakat pelabuhan/bandara, 2) Pelatihan tatalaksana PTM masyarakat pelabuhan/bandara, 3) Sosialisasi pengendalian PTM pada jamaah haji dan umroh ke Kab/Kota. 7) Indikator Persentase (%) Kualitas Air Minum yang Memenuhi Syarat Pemantauan kualitas air bersih secara rutin di area pelabuhan. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat-syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Pengawasan kualitas air dilakukan untuk mecegah penurunan kualitas dan penggunaan air yang dapat mengganggu dan mebahayakan kesehatan, serta meningkatkan kualitas air. Capaian indikator selama 5 tahun terakhir dapat disajikan pada gambar berikut ini. Gambar 1.8 Persentase (%) Kualitas Air Minum yang Memenuhi Syarat Tahun

25 Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa selama tahun Indikator Persentase Penanggulangan KLB < 24 jam selalu tercapai 100%. Upaya yang dilaksanakan dalam mencapai indikator ini: 1) Melaksanakan kegiatan pengawasan air bersih secara rutin di wilayah induk dan wilayah kerja 2) Melaksanakan kegiatan pengawasan kualitas air bersih dengan parameter fisika, kimia dan bakteriologis Peralatan pemeriksaan air bersih yang dimiliki KKP Kelas I Surabaya adalah parameter kimia sederhana yaitu ph dan Sisa Chlor sedangkan pemeriksaan kimia lengkap dan bakteriologis dilakukan di laboratorium kesehatan lingkungan seperti BBTKL & PP Surabaya, BLK Surabaya atau laboratorium kesehatan lingkungan di kabupaten/kota terdekat. Laboratorium kesehatan lingkungan tidak selalu ada di wilayah Kabupaten/Kota dimana Wilayah Kerja KKP Kelas I Surabaya berada, sehingga untuk wilayah kerja tersebut pemeriksaan kualitas air bersih hanya mencakup parameter fisik dan kimia sederhana. 8) Indikator Jumlah Upt Vertikal yang Ditingkatkan Sarana dan Prasarananya Jumlah UPT vertikal Ditjen PP dan PL yang ditingkatkan sarana dan prasaranya, dalam hal ini adalah Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya. Peningkatan jumlah sarana dan sarana yang dimiliki baik secara kualitas maupun kuantitas. Capaian indikator selama 5 tahun terakhir dapat disajikan pada gambar berikut ini. 19

26 Gambar 1.9 Perbandingan Indikator Jumlah Upt Vertikal yang Ditingkatkan Sarana dan Prasarananya Tahun Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa selama tahun Indikator Jumlah Upt Vertikal yang Ditingkatkan Sarana dan Prasarananya) selalu mencapai 100%. Dan di tahun 2014 telah tercapai 142,86%. Upaya yang dilaksanakan dalam mencapai indikator ini: 1) Pengembangan sistem informasi pelaporan kegiatan 2) Pembangunan gedung wilker gresik 3) Pemeliharaan gedung kantor Wilker Juanda 4) Pemeliharaan gudang kantor Induk 5) Pengadaan kendaraan/ mobil khusus 6) Pengadaan kendaraan operasional roda 4 dan 2 7) Pengadaan perangkat pengolah data 8) Pengadaan meubeler kantor 9) Pengadaan sarana penunjang perkantoran 10) Pengadaan fasilitas perkantoran Kantor Kesehatan Pelabuhan tidak dapat membangun gedung kantor induk yang sudah tidak lagi memenuhi ketentuan berdasarkan Permenkes 1314/MENKES/SK/IX/2010 standardisasi sarana dan prasarana. Karena gedung yang ditempati sekarang berada di atas lahan milik PT. Pelindo III. 20

27 4. Permasalahan Berdasarkan uraian di atas, kinerja KKP dalam rangka pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan di Pintu Gerbang Negara pada periode masih menghadapi berbagai tantangan akan menjadi input dalam menentukan arah kebijakan dan strategi Kementerian Kesehatan, antara lain: a. Regulasi Undang-Undang No.1 tahun 1962 tentang Karantina Laut Undang- Undang No.2 tahun 1962 tentang Karantina Udara sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi sekarang. Sedangkan revisi undang-undang kekarantinaan sampai sekarang belum disahkan. Sehingga belum ada sanksi yang tegas bagi pelanggarnya, misal belum ada sanksi untuk kapal yang tidak melakukan in/ out clearance. Pengurusan Health Certificate dan surat keterangan impor masih dicari kejelasan pihak yang berwenang menerbitkan. Dalam National Single Window (NSW) portal Bea Cukai hanya disyaratkan surat ekspor dan impor yang diterbitkan BPOM. Sehingga dalam kasus pengembalian barang ekspor, health certificate tidak berlaku. b. Sumber Daya Manusia (SDM) Sumber daya manusia yang dimiliki Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi sejumlah 106 orang. Sedangkan berdasarkan Kepmenkes 1314/MENKES/SK/IX/2010 tahun 2010 standarisasi jumlah pegawai untuk KKP Kelas 1 dengan 4 wilker berjumlah 122 pegawai. Jadi jumlah pegawai di KKP Kelas I Surabaya masih kurang 16 orang. Sedangkan berdasarkan Analisa Beban Kerja (ABK) yang telah disusun jumlah kebutuhan pegawai dengan 5 wilker berjumlah 176 pegawai. Jadi jumlah pegawai di KKP Kelas I Surabaya masih kurang 70 orang. Keterbatasan sumber daya manusia ini menyebabkan: 21

28 1) Ada beberapa pelabuhan yang berada di Wilayah Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya yang belum terawasi secara optimal seperti Brondong, Pacitan, Branta, Paciran. Hal ini karena lokasinya yang jauh dari Kantor Wilayah Kerja, sehingga harus dibuka pos-pos baru. 2) Untuk Pelabuhan Bawean pelayanan kekarantinaan belum dapat diselenggarakan. 3) Tidak semua kapal dapat diperiksa hanya memprioritaskan pemeriksaan sanitasi kapal pada kapal-kapal tertentu sebagai berikut : kapal yang datang dari luar negeri, kapal yang akan melakukan perpanjangan sertifikat sanitasi kapal, kapal yang sedang mengalami kejadian khusus sehingga berpotensi menyebabkan penularan penyakit dan kapal-kapal lain yang dilakukan secara sampling. 4) Masih ada 8% jumlah pesawat datang dari luar negeri yang tidak terawasi dan tidak diketahui kondisi kesehatannya serta faktor risiko di dalamnya. Pesawat tersebut tidak terawasi karena jadwal kedatangannya tidak diketahui oleh petugas KKP Kelas I Surabaya. Pesawat yang tidak terawasi merupakan pesawat carteran atau pesawat militer, dan atau pesawat komersial yang kedatangannya jam sampai dengan WIB. 5) Sebanyak 100% pesawat domestik tidak diawasi secara aktif. c. Sarana dan Prasarana 1) Gedung Kantor Untuk gedung kantor, dari 5 gedung yang dipakai hanya 2 gedung saja yang milik sendiri yaitu: Wilker Kalianget (1984) dan Wilker Gresik (2014). Sedangkan lainnya merupakan sewa: Wilker Juanda (dari Lanudal), Wilker Tuban (dari masyarakat). 22

29 Bahkan gedung Induk masih sewa dari PT.Pelindo III. Gedung tidak memenuhi ketentuan berdasarkan Kepmenkes 1314/MENKES/SK/IX/2010 standardisasi sarana dan prasarana. Salah satunya adalah ruang rapat yang kapasitasnya hanya cukup untuk 20 orang saja, sehingga apabila peserta rapat lebih dari itu harus diadakan di luar kantor. Akan tetapi gedung tersebut tidak dapat dibangun lagi karena sesuai peraturan yang ada apabila ingin membangun di lahan milik pihak ketiga harus ada kepastian bahwa gedung dapat dipergunakan dalam jangka waktu 30 tahun, sedangkan PT. Pelindo III tidak dapat mengeluarkan surat rekomendasi tersebut. Sehingga satu-satunya jalan adalah dengan membeli lahan baru. 2) Peralatan penunjang Tupoksi a) Peralatan pemeriksaan air bersih yang dimiliki KKP Kelas I Surabaya adalah parameter kimia sederhana yaitu ph dan Sisa Chlor sedangkan pemeriksaan kimia lengkap dan bakteriologis dilakukan di laboratorium kesehatan lingkungan seperti BBTKL & PP Surabaya, BLK Surabaya atau laboratorium kesehatan lingkungan di kabupaten/kota terdekat. b) Kegiatan pengendalian vektor terutama pemasangan perangkap tikus belum optimal karena tidak ada kendaraan operasional di wilayah kerja Juanda, Gresik, Tuban dan Kalianget. d. Jejaring Kemitraan 1) Tidak tersedianya ruang isolasi/ karantina di pelabuhan/bandara yang memenuhi standart/kriteria. 2) Tidak semua rumah sakit memiliki ruang isolasi/ karantina yang sesuai standart. Jikapun ada jumlah ruang, fasilitas, dan logistik tidak memadai. 23

30 3) Kepadatan lalat dan kecoa sangat tergantung dari perilaku hidup bersih dan sehat komunitas pelabuhan terkait dengan penanganan pembuangan sampah yang baik 4) Pemeriksaan kualitas makanan/minuman secara bakteriologis dilakukan di laboratorium kesehatan lingkungan seperti BBTKL & PP Surabaya, BLK Surabaya atau laboratorium kesehatan lingkungan di kabupaten/kota terdekat, sehingga beberapa wilayah kerja yang di Kabupaten/Kota tidak mempunyai laboratorium kesehatan lingkungan tidak bisa melaksanakan pemeriksaan kualitas makanan/minuman. 5) Laboratorium kesehatan lingkungan tidak selalu ada di wilayah Kabupaten/Kota dimana Wilayah Kerja KKP Kelas I Surabaya berada, sehingga untuk wilayah kerja tersebut pemeriksaan kualitas air bersih hanya mencakup parameter fisik dan kimia sederhana. 6) Ketersediaan data penyakit di Puskesmas terlambat 7) Luas area pelaksanaan fogging belum memenuhi target yang ditetapkan. Hal ini disebabkan ada wilayah tertentu di lingkungan pelabuhan/bandara yang tidak diperkenankan untuk difogging. 8) Penerbitan buku pelaut dan Medical Check Up (MCU) yang merupakan salah satu tupoksi KKP sampai saat ini masih dilaksanakan di RS PHC (Port Health Center). 9) Masih rendahnya kesadaran pemilik kapal Indonesia khususnya pengusaha kapal menengah kebawah, untuk melengkapi persediaaan Obat/P3K. C. Isu Strategis 1. Transisi epidemiologi Salah satu masalah kesehatan masyarakat yang sedang kita hadapi saat ini dalam pembangunan kesehatan adalah beban ganda penyakit, yaitu disatu pihak masih banyaknya penyakit infeksi yang harus ditangani, 24

31 dilain pihak semakin meningkatnya penyakit tidak menular. Demikian pula re-emerging dan new emerging diseases, yang berpotensi menimbulakan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan dan pandemi. Penyakit yang berpotensi menjadi ancaman internasional (PHEIC) semakin nyata, sehingga diperlukan pula kesiapan semua lini baik jajaran kesehatan dari pusat, provinsi dan kabupaten/kota termasuk pintu-pintu masuk (bandara, pelabuhan, lintas darat) dalam mencegah keluar masuknya penyakit. 2. Transisi demografi Meningkatnya umur harapan hidup menyebabkan proporsi penduduk usila semakin meningkat, sehingga menyebabkan perubahan pola penyakit dan gangguan kesehatan. 3. Transisi lingkungan Ditandai dengan banyaknya terjadi bencana alam, perubahan iklim global, berkurangnya lahan pangan, dan lain-lain. Perubahan iklim di dunia (climate cahange) diyakini akan sangat berpengaruh terhadap pola penyebaran penyakit terutama penyakit bersumber binatang, penyakit tidak menular, kejadian kecelakaan, dan gangguan kesehatan akibat perubahan lingkungan. 4. Perubahan sosial budaya Adanya perubahan gaya hidup (lifestyle) yang cenderung menjadi tidak sehat, laju modernisasi yang cepat, dan berkembangnya nilai-nilai baru. 5. Perubahan keadaan politik Adanya reformasi dan desentralisasi dimana daerah mempunyai wewenang untuk mengelola daerahnya sendiri. 6. Perubahan keadaan ekonomi Adanya globaisasi dan pasar bebas 25

32 7. Perubahan keadaan keamanan Perubahan keadaan keamanan dengan adanya berbagai macam konflik skala global dan regional, terjadinya perang, dan terorisme termasuk bioterorisme. 8. Kondisi kesehatan lingkungan Proporsi masyarakat yang memiliki akses ke sarana sanitasi dasar dan air bersih yang memenuhi syarat masih terbatas dan lingkungan pemukiman dan perumahan yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Kondisi ini diperberat dengan jumlah penduduk yang besar yang menyebabkan daya dukung lingkungan semakin menurun. Salah satu hal yang harus diadaptasi adalah adanya perubahan iklim (climate change). Peningkatan muka air laut menyebabkan semakin luasnya breeding places vektor penular penyakit, ancaman penyediaan sumber air bersih dari sumur gali, dan kenaikan suhu menyebabkan adaptasi vektor penular penyakit ke area yang lebih luas. 9. Perilaku masyarakat Salah satu faktor kunci untuk menekan angka kesakitan penyakit menular dan tidak menular adalah perilaku pola hidup bersih dan sehat yang disertai upaya penyehatan lingkungan. Masih terbatasnya kemampuan masyarakat untuk hidup bersih dan sehat dapat dilihat dari masih tingginya prevalensi merokok di masyarakat, kurangnya aktifitas fisik, konsumsi gizi yang tidak seimbang. Kecenderungan meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA), serta tingginya kecacatan dan kematian akibat kecelakaan. 10. Kinerja pelayanan kesehatan Kinerja pelayanan kesehatan merupakan salah satu faktor penting dalam membuka kesempatan masyarakat memperoleh status kesehatan yang lebih baik. Pelayanan kesehatan yang diberikan ke masyarakat telah 26

33 mengalami perbaikan dari waktu ke waktu, namun masih dirasakan belum memadai. Hal ini terlihat dari beberapa indikator diantaranya proporsi bayi yang mendapatkan imunisasi campak, dan proporsi penemuan kasus (case detection rate) TB paru, penemuan kasus baru kusta, cakupan pengobatan massal filariasis dan lainnya. 11. Keterbatasan, kesenjangan dan distribusi SDM kesehatan Sumber daya manusia dalam upaya pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan adalah tenaga fungsional seperti sanitarian, epidemiolog kesehatan, entomolog kesehatan pada sarana kesehatan maupun tenaga masyarakat, kader desa, juru malaria desa, jumantik, juru imunisasi. Sampai saat ini kebutuhan dan distribusi tenaga fungsional tersebut diatas masih belum terpenuhi secara merata, demikian pula tenaga masyarakat banyak yang kurang aktif. D. Lingkungan Strategis Seiring dengan Revisi International Health Regulation (IHR) tahun 2005 yang diberlakukan 15 Juni Tahun 2007 dengan perhatian kepada Public Health Emergency Of International Concern /PHEIC (masalah kedaruratan kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian global) memberikan perhatian khusus untuk wilayah pelabuhan dengan menetapkan persyaratan kapasitas inti bagi bandara, pelabuhan dan perlintasan darat agar setiap saat (a) menyediakan akses pada (i) pelayanan kesehatan yang memadai termasuk fasilitas diagnostic dilokasi yang dekat sehingga memungkinkan penilaian cepat dan perawatan bagi pelaku perjalanan yang sakit dan (ii) staf, peralatan dan lingkungan kerja yang memadai; (b) menyediakan akses terhadap peralatan dan personel untuk pengiriman pelaku perjalanan yang sakit ke fasilitas kesehatan yang memadai; (c) menyediakan SDMl yang terlatih dan kompeten di bidangnya untuk pemeriksaan alat angkut; (d) menjamin lingkungan yang aman bagi para pelaku perjalanan yang menggunakan fasilitas yang ada di pintu masuk, termasuk pengadaan air 27

34 minum, tempat makanan, fasilitas catering pesawat udara, Toilet umum, fasilitas pembuangan sampah cair dan padat yang memadai, dan area yang berpotensi risiko lainnya, dengan melaksanakan pemeriksaan secara berkala; dan (e) sejauh dapat dilakukan menyediakan SDM terlatih pada program pengendalian vektor dan penyakit bersumber binatang didalam dan disekitar pintu masuk. Selanjutnya IHR juga mempersyaratkan agar pelabuhan, bandara dan perlintasan darat dapat merespons kejadian yang dapat menimbulkan PHEIC dengan kapasitasnya: (a) menyediakan respon emergensi kesehatan masyarakat yang memadai dengan menetapkan dan memantapkan rencana kontingensi emergensi kesehatan masyarakat, termasuk penunjukan koordinator dan contact-point yang berhubungan dengan pintu masuk, layanan kesehatan masyarakat dan layanan agen lainnya; (b) melakukan penilaian dan perawatan bagi pelaku perjalanan atau hewan yang terjangkit oleh pengaturan yang tepat pada fasilitas medis dan kesehatan hewan setempat dalam pengisolasian, pengobatan dan layanan pendukung lainnya yang diperlukan; (c) menyediakan ruangan yang memadai, dan dipisahkan dari pelaku perjalanan lain, untuk mewawancarai orang yang terjangkit atau tersangka; (d) menyediakan sarana diagnosis dan, bila perlu, karantina terhadap pelaku perjalanan yang diduga, lebih baik bila di sarana kesehatan yang jauh dari pintu masuk; (e) menerapkan tindakan yang direkomendasikan bila perlu untuk hapus serangga (desinseksi), hapus tikus (deratisasi), hapus kuman (desinfeksi), dekontaminasi atau penanganan bagasi, kargo, peti kemas, alat angkut, barang dan paket pos, di lokasi khusus yang ditunjuk dan dilengkapi untuk keperluan ini. (f) menerapkan pengawasan masuk dan keluarnya pelaku perjalanan; dan (g) menyediakan akses berupa peralatan yang dirancang khusus dan personel terlatih dengan alat pelindung diri yang memadai, dalam merujuk pelaku perjalanan yang membawa atau terkontaminasi penyakit menular. 28

35 Keberhasilan pencapaian sasaran kinerja KKP semata-mata tidak ditentukan oleh kemampuan dan hasil kerja yang dilaksanakan, namun juga dipengaruhi oleh mitra kerja dengan segala kontribusinya yang bersinergi secara dinamis dalam mempercepat pencapaian tujuan dan sasaran. Dalam pelaksanaan pengedalian penyakit dan penyehatan lingkungan di pintu gerbang negara tidak seluruh program atau kegiatan menjadi tanggung jawab dan berada di bawah kendali sektor kesehatan, namun juga dukungan dari berbagai sektor terkait, termasuk kondisi sosial ekonomi dan budaya maupun partisipasi masyarakat dan swasta. Pemberdayaan terhadap masyarakat sebagai basis dalam pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan juga sangat penting, mengingat masyarakat bukan saja sebagai obyek tetapi juga sekaligus sebagai subyek, sementara pemerintah dalam hal ini sektor kesehatan bertindak sebagai fasilitator, regulator, dan dinamisator. Pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan di pintu gerbang negara sebagai salah satu pilar pembangunan bidang kesehatan, perlu mencermati isu-isu strategis, dinamika wilayah, pola dan penyebaran penyakit, serta kecenderungan menurunnya kualitas kesehatan lingkungan sebagai dampak pembangunan dan fenomena alam. 29

36 BAB II VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN STRATEGIS A. Visi Visi Presiden Republik Indonesia untuk pembangunan nasional tahun yang adalah Terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong-royong. Visi Presiden ini menjadi visi seluruh kementerian yang ada di kabinet Indonesia bersatu. Untuk mendukung terwujudkan visi di atas maka Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya menyusun visi yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya yaitu Terwujudnya Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya yang Tangguh, Profesional Serta Amanah Dalam Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Pintu Masuk Negara Indonesia (Revisi ke-3/ 2017) Adapun Motto yang di usung adalah Handal dalam Pencegahan, Unggul dan Prima dalam Pelayanan. (Revisi ke-3/ 2017) Nilai nilai dari Visi Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Surabaya yang disusun tersebut, di tekankan dalam beberapa aspek berikut : 1) K (Kerja Keras) Bekerja dengan usaha yang lebih gigih dan disiplin untuk memberikan hasil yang terbaik bagi diri sendiri dan organisasi. 2) A (Akuntabel) Harus tunduk dan berkewajiban untuk melaporkan, menjelaskan dan bertanggungjawab atas pekerjaannya. 3) R (Responsif) Cepat dan tanggap dalam pencegahan dan pengendalian penyakit serta faktor risiko di wilayah pelabuhan dan bandara. 4) I (Inovatif) Memberikan hal baru bagi peningkatan mutu pelayanan agar organisasi tumbuh, berubah, berkembang, dan berhasil. 30