PENGARUH TRANSFER ISI RUMEN TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN SEL BAKTERI DAN PROTOZOA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENGARUH TRANSFER ISI RUMEN TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN SEL BAKTERI DAN PROTOZOA"

Transkripsi

1 _ Penelitian dan Pengembangan Aplikasi Isotop dan Radiasi, 1998 PENGARUH TRANSFER ISI RUMEN TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN SEL BAKTERI DAN PROTOZOA Suharyono*, Winugroho, M.**, Widiawati, Y.**, dan Marijati, S.** * Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi, BATAN ** Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor ABSTRAK ID PENGARUH TRANSFER ISI RUMEN TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN SEL BAKTERI DAN PROTOZOA. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peran laju pertumbuhan sel mikroba dan melengkapi informasi isolat sebagai pakan suplemen ternak ruminansia. Metode penentuan laju pertumbuhan sel mikroba dengan menggunakan traser 32 P. Hasil isi rumen kerbau NTT telah diseleksi sebagai donor untuk transfer rumen dan petnbuatan isolat. Transfer rutnen kerbau NTT dengan sapi peranakan ongole ternyata Iaju pertumbuhan sel bakteri lebih baik dari pada laju pertumbuhan sel protozoa pada inkubasi 48 jam bila dibanding dengan cairan rumen dari ternak lainnya. Hasil menunjukkan berturut-turut 30,99 mg/jam/100 ml dan 24,92 mg/jam/100 ml. Hasil seleksi isolat menunjukkan pada perlakuan dengan campuran cairan rumen sapi peranakan ongole + isolat protozoa + isolat bakteri + isolat fungi pada inkubasi 48 jam adalah yang terbaik, karena laju pertumbuhan sel bakteri 26,96 mg/jam/ml, sedangkan laju pertumbuhan sel protozoa 2,53 mg/jam/100. Hasil penelitian in vitro menunjukkan bahwa ph dan konsentrasi amonia mendukung peningkatan laju pertumbuhan sel bakteri tanpa menimbulkan keracunan mikroba dan induk semang. Laju pertumbuhan sel bakteri pada perlakuan pakan D berbeda nyata dengan perlakuan A, B, dan C. Hasil 21,44 mg/ jam/100 ml untuk perlakuan D, sedang untuk A, B, dan C berturut-turut menunjukkan 7,99; 13,13; dan 13,38 mg/jam/ 100 ml. Pertumbuhan sel protozoa cenderung lebih rendah bila dibandingkan dengan laju pertumbuhan sel bakteri. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa laju pertumbuhan sel bakteri bila dalam kondisi lingkungan yang baik, hasilnya lebih tinggi dari pada laju pertumbuhan sel protozoa. ABSTRACT THE EFFECT OF RUMEN CONTENT TRANSFER ON RATE OF BACTERIA AND PROTOZOA GROWTH. The aims the experiment wants to know the benefite of rate of microbial protein in rumen content and to complete the information that isolates is useful for ruminant animals feed. The result indicated that buffaloes from East Nusa Tenggara is the best when they are used as donor rumen transfer for tnaking isolate. When rumen content of ongole cattle generation was mixed in rumen content of buffaloes from East Nusa Tenggara and incubated 48 h, the rate of bacteria cell growth is better than rate of protozoa cell frowth comparing to the other animals. The values are mg/h/100 ml and mg/h/100 ml respeetively. The results of isolate selection in 48 h incubation indicated that treatment F is the best. The results rates of bacteria cell growth and rate of protozoa's cell growth are mg/h/100 ml and 2.53 mg/h/100 ml respectively. The result of w vitro study indicated that ph and ammonia concentrations support the rate of bacteria cell growth and do not cause the toxicity of microbes and animals. The rate of bacteria cell growth on D treatment is a significant to A, B, and C treatments. The values are mg/h/100 ml, 7.99; 13.13; and mg/h/100 ml respectively. The result rates of protozoa's cel! growth tends to be lower than rates of bacteria cell. The overall conclusion is a lower or a higher rate of miroorganism cell growth depends on the envoirement condition. PENDAHULUAN Rumen merupakan baiik pada ternak ruminansia sebagai sumber keliidupan, karenabila temak tersebut Iianya mendapatkan rumput saja masih mampu mempertahankan kehidupannya. Hal ini berhubungan erat dengan adanya mikroorganisme yang tumbuh dalam rumen untuk membentuk protein mikroba. Mikroorganisme yang ada ialah bakteri, protozoa dan fiingi. Ketiga jenis mikroorganisme tersebut mempunyai peran yang penting dalam mencerna pakan yang masuk dalam rumen, baik protein dan sumber karbohidrat mudah dicerna dan berserat tinggi, selain mikroba tersebut mampu menyediakan protein yang bermanfaat bagi induk semang. Peneliti sebelumnya telah melaporkan, bahwa dalam mencerna pakan kerbau, mempunyai kemampuan yang lebih tinggi dalam tnencerna serat kasar bila dibandingkan dengan sapi. Sebagai contoh misalnya Fibrobacter succinogenes pencerna serat kasar yang hanya terdapat dalam rumen kerbau, dan bakteri tersebut juga dinamakan Bacteroides succinogenes (1). Peneliti lain melaporkan adanya jenis bakteri Synergistikjonesii yang mampu menghilangkan pengaruh racun memosin yang terkandung dalam lamtoro (2). Kawasan Indonesia Bagian Timur merupakan kantong ternak nasional, namun kondisi curah hujan yang sangat terbatas, yang mengakibatkan ketersediaan pakan hijauan juga sangat rendah, hal ini berakibat terhadap 203

2 Penelilian dan Pengcmbangan Aplilcasi Isotop dan Radiasi, 1998 _ lambatnya pertumbuhan bobot badan, dan keterlambatan masa reproduksi ternak betina sehingga mengakibatkan rendahnya populasi temak khususnya sapi. Berdasarkan informasi tersebut Balai Penelitian Ternak telah mencoba mengadakan penelitian dengan transfer rumen yang dikenal metode Balitnak (3) dan telah menghasilkan suatu kombinasi yang bersifat synergistik terutama isi ruinen yangberasal dari kerbau NusaTenggara Timur (NTT) dengan sapi Bali, dan sapi Peranakan Ongole (PO). Hasil yang telah dilakukan tersebut baru pada tingkat in vitro dengan pengukuran produksi gas, daya cerna bahan kering dan bahan organik, sedangkan dengan in vivo menggunakan bioplus kerbau NTT untuk sapi PO diperoleh hasil padapeningkatan bobotbadan 1 kg/hari/ekor (4). Hasil peneliltianbioplus pada sapi PO yang berhubungan dengan reproduksi yaitu dapat memperpendek jarak kelahiran dari 15 bulan menjadi 13 bulan (5), dan meningkatkanpersentase kebuntingan dari 25% menjadi 90% (6). Parameter yang diamati hanya performen, belum melakukan penelitian secara lengkap tentang fermentasi rumen, khususnya laju pertuinbuhan sel mikroba yang membantu sejauh mana peranan protein mikroba, dan untuk melengkapi infonnasi mengapa bioplus dalam kondisi anaerobik masih mampu memberi respon yang baik terhadap pertumbuhan dan penampilan reproduksi. Atas dasar tersebut maka pengamatan ini akan dilakukan pengukuran terhadap laju pertumbuhan sel mikroba. Tujuan penelitian ialah untuk mengetahui sampai sejauh mana peran bakteri, protozoa dan fiingi. Pelaksanaan penelitian hanya pada pengamatan terhadap laju pertumbuhan mikroba, dan penghitungan jumlah protozoa. BAHAN DAN METODE Untuk melengkapi informasi tentang pengaruh positif bioplus telah dilakukan beberapa tahapan pengamatan antara lain pengamatan 6 cairan rumen yang berasal dari sapi PO Sumba, sapi Bali, kerbau Sulawesi, kerbau NTT, sapi Bali><kerbau Sulawesi, dan sapi PO><kerbau NTT, seleksi isolat dan pengaruh isolat terhadap sapi potong PO. Tahap 1. Pengukuran laju pertumbuhan mikroba terhadap ke 6 cairan rumen dilakukan 3 ulangan, sampel diinkubasi selama 0, 24, dan 48 jam. Pelaksanaan pengukuran dilakukan beberapa tahap antara lain penyaringan, fermentasi, sentrifugasi, destruksi, pengenceran dan deteksi isotop. Penyaringan dilakukan agar cairan rumen tidak sulit dalam proses pemipetan, menghindari material pakan yang masuk dalam tabung sentrifius dan memperoleh mikrobayang diperlukan. Proses ini harus dilakukan secepat mungkin, bila terlalu lama akan berpengaruh terhadap kehidupan mikroba. Untuk menghindari tersebut, tabung sentriflis ditempatkan dalam inkubator dengan temperatur 39 C dan diberi gas CO 2 selama 1 menit. Fermentasi dilakukan selama 2 jam, dalam proses ini setiap sampel disediakan 3 tabung sentrifiis yang diberi 10 mg tepung jerami. Tabung pertama diisi cairan rumen saja, tabung ke 2 diisi cairan rumen + isotop 32 P dan tabung ke 3 diisi H 2 SO 4 10 N sebanyak 0,625 ml + 25 ml cairan rumen + isotop "P. Setelah pemberian gas CO 2, dilakukan pengocokan sampel dengan menekan tombol pada inkubator. Aktivitas isotop yang diberikan sekitar ni/cpm, sehingga tidak membahayakan bagi peneliti dan lingkungan. Sentrifiigasi dilakukan pada 3000 rpm selama 10 menit, kemudian dicuci sampai 3 kali dengan aquades sehingga diperoleh endapan dan supernatan. Supernatan yang dihasilkan disentrifiis kembali pada kecepatan rpm selama 10 menit sampai 3 kali dan dicuci aquades, sehingga diperoleh endapan dan filtrat. Endapan didestruksi, dengan cara endapan diencerkan dengan aquades kemudian dituangkan ke labu Kjeldhal dan ditambah 5 ml HC1O 4, ketnudian didestruksi sampai jernih dalam ruang asam dan ditunggu sampai dingin. Sampel endapan dan filtrat ketnudian diencerkan dalam labu ukur 25 ml dan 100 ml kemudian diambil 2 atau 5 ml dimasukan ke dalam vial dan ditambah 8 atau 5 ml aquades, sehingga siap untuk dideteksi aktivitas radioisotopnya, dengan alat pencacah sintilasi cair. Metode untuk pengukuran laju pertumbuhan mikroba sesuai dengan metode Demeyer (1976) yang telah dimodifikasi oleh (7). Untuk pengukuran ini, selain deteksi isotop phospor, juga dilaksanakan dengan pengukuran phosphor yang ada di intraseluler dan ekstraseluler dengan metode spektrofotometer. Selain penentuan laju pertumbuhan sel mikroba juga dilakukan penghitungan jumlah protozoa dengan metode Ogimoto dan Imai (8). Tahan 2. Isolat protozoa, dan fungi diambil dari cairan rumen kerbau NTT. Enam (6) perlakuan antara lain cairan rumen segar PO (A), isolat protozoa (B), isblat campuran A dan B (C), isolat A dan B + isolat bakteri (D), kombinasi A + B + isolat fiingi (E), dan F adalali kombinasi A + B + isolat bakteri + isolat fungi. Parameter yang diambil adalah jumlah protozoa dan laju pertumbuhan mikroba. Metode yang digunakan seperti pada tahap 1. Tahap 3. Percobaan dilakukan di kandang Balitnak Bogor dengan menggunakan 16 ekor sapi PO muda dengan bobot badan sekitar kg. Percobaan dibagi dalam 4 kelompok perlakuan. Perlakuan A = kontrol (rumput + 0,5 kg KPS), B = Campuran 3 isolat masing-masing 100 ml bakteri, protozoa dan fungi, C = 0,5 kg bioplus/ekor/hari, dan D = B + C. Parameter fermentasi ruinen yang diamati ialah ph, konsentrasi amonia, dan laju pertumbuhan sel mikroba. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil sel percobaan tahap 1 menunjukkan bahwa laju pertumbuhan bakteri dan protozoa cairan rumen sapi PO, Bali, kerba Sulawesi, kerbau NTT dan kombinasi sapi Bali dengan kerbau Sulawesi lebih rendah bila dibandingkan kombinasi cairan rumen antara S-PO dengan kerbau NTT. Namun pada campuran yang sama laju pertumbuhan sel bakteri lebih tinggi dari pada protozoa. Pertumbuhan bakteri yang banyak akan lebih menguntungkan induk semang (9, 10). Beberapa peneliti 204

3 _ Penetitian dan Pengembangan Aplikasi Jsotop dan Radiasi, 1998 telah mencoba untuk menghilangkan protozoa dalam ramen, karena selain protozoa mengkonsumsi bakteri juga lebih lama tinggal dalam rumen (11), hal ini cenderung merugikan pertumbuhan induk semang. Salah satu spesies protozoa dengan nama Eudiplodinium maggii mampu mencerna selulosa mikrokristal (12). Hasil rerata yang diperoleh menunjukkan bahwa jumlah protozoa dalam cairan rumen imtuk inkiibasi 24 jam pada S-PO dan K-NTT berturut-turut 1,7 dan 3,5 x lovinl, sedangkan inkubasi 48 jam menunjukkan 3,6 dan 3,2 x 107 ml, namun setelah dikombinasi antara sapi PO dengan K- NTT, hasil rerata jumlah protozoa 4 x lovml, sedangkan inkubasi 48 jain 2,8 x lovml. Hasil tersebut cenderung lebih rendah dari jumlah protozoa cairan rumen hewan lainnya (Gambar 1). Hasil yang rendah tersebut cenderung mendukung laju pertumbuhan sel bakteri tinggi, dan rendahnya laju pertumbuhan sel protozoa. Hasil percobaan tahap 2 dari 6 perlakuan isolat pada laju pertumbuhan sel bakteri, sel protozoa dan jumlah protozoa disajikan pada Gambar 2, 3 dan 4. Gambar 2 menunjukkan bahwa pada isolat yang diinkubasi 24 jam, laju pertumbuhan sel bakteri cenderung seperti distribusi normal, dan isolat yang dikombinasi dengan isolat cairan rumen S-PO, isolat protozoa dan isolat bakteri K-NTT ialah yang Iebih tinggi dari pada campuran isolat lainnya. Nilai yang diperoleh ialah 21,58 mg/jam/ 100 ml (Gambar 1). Saat inkubasi 48 jam menunjukkan laju pertumbuhan sel bakteri yang paling tinggi pada campuran isolat S-PO + isolat bakteri + isolat fungi + isolat protozoa yaitu 22,64 mg/jam/100 ml (Gambar 2). Hal ini cenderung menunjukkan perbedaan hasil yang sangat menyolok, karena pada campuran ke 4 isolat pada inkubasi 24 jam diperoleh hasil yang sangat rendah yaitu 8,57 mg/ jam/100 ml. Gambar 3 disajikan hasil laju pertumbuhan sel protozoa berbeda dengan laju pertuinbuhan sel bakteri, khususnya pada inkubasi 48 jam sangat rendah yaitu 2,53 mg/jain/100 ml, sedangkan pada inkubasi 24 jam hasil lebih tinggi yaitu 19,68 mg/jam/100 ml. Atas dasar campuran ke 4 isolat cairan rumen tersebut menunjukkan bahwa laju pertumbuhan sel bakteri paling tinggi pada inkubasi 48 jain, sedangkan pada inkubasi 24 jam terlihat pada campuran ke 3 isolat, yaitu isolat S-PO + isolat protozoa dan isolat bakteri. Pembuatan isolat yang terbaik adalah iiikubasi pada 48 jam, karena pada saat tersebut adanya faktor sinergistik untuk pembentukan protein mikroba. Hasil laju pertumbuhan sel protozoa pada inkubasi 48 jam yang sangat rendah mendapatkan dukungan peneliti sebelumnya bahwa protozoa cenderung tidak berperan penting untuk induk semang (10,11, dan 13). Di lain pihak peneliti lain berpendapat bahwa protozoa jenis tertentu inampu mencerna serat kasar (12). Hal ini didukung oleh (14) yang menyatakan baliwa Polyplastron multivesiculatum dan Eudiplodinium maggi dapat mencerna serat kasar selulose dari lucerne dalam cairan rumen. Coleinan (15) juga melaporkan bahwa 70 % aktivitas celulotik berasal dari Eudiplodinium bukan murni dari bakteri. Pada Gambar 4 disajikan jumlah protozoa pada inkubasi 24 jani diperoleh hasil tertinggi, yaitu 2,2 x 10V ml pada campuran isolat S-PO + isolat protozoa + isolat bakteri, sedangkanpada inkubasi 48 jam yang tertinggi pada campuran S-PO + isolat bakteri + isolat protozoa + isolat fungi yaitu 1,7 x lovml. Menurut beberapa peneliti melaporkan bahwa tinggi rendahnya jumlah protozoa yang berasal dari cairan rumen yang disaring bergantung dari pola peinberian pakan pada ternak (16 dan 17). Orpin (18) melakukan penelitian secara in vitro melaporkan bahwa jumlah protozoa dapat dipengaruhi oleh unsur kimia dan anatomi pakan yang digunakan. Coleman (15) melaporkan bahwa bila jumlah protozoa tinggi dalam rumen, populasi bakteri akan rendah (19), demikian pula dilaporkan bahwa dengan menghilangkan protozoa dalam rumen, populasi fiingi akan meningkat secara nyata (20). Hasil pada percobaan tahap 3, yaitu ph, konsenstrasi amonia, dan laju pertumbuhan sel bakteri dan protozoa disajikan pada Tabel 2. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ph dari ke 4 perlakuan dalam kondisi normal tidak menunjukkan nyata dengan kisaran 6,93-6,96. Konsentrasi amonia terendah pada perlakuan A (kontrol) yaitu 32,19/100 ml dan tertinggi pada perlakuan D, yaitu 40,80 mg/100 ml. Secara statistik menunjukkan perbedaan yang nyata, namun antara perlakuan A, B dan C tidak berbeda nyata, demikian juga pada perlakuan B, C dan D. Hasil konsentrasi amonia tersebut cenderung tidak menimbulkan keracunan pada sapi tersebut. Ternak ruminansia akan mengalami keracunan bila dalam rumen mengandung mg/1 (9). Satter dan Slyter (21) melaporkan bahwa kebutuhan minimal ainonia untuk pertumbuhan protein mikroba 50 mg N-NH/1 dalam rumen. Pengamatan daya cerna pakan konsentrat dengan teknik kantong nilon dapat meningkat, karena konsentrasi amonia dalam rumen 230 mg N-NHj/I (22). Laju pertumbuhan sel bakteri pada perlakuan D menunjukkan perbedaan yaiig sangat nyata dan memperoleh hasil tertinggi yaitu 21,44 mg/jam/100 ml bila dibanding dengan perlakuan A, B, dan C, yaitu 7,99; 13,13; dan 13,38 ing/jam/100 ml (Tabel 2). Perlakuan D masih ditambah dengan bioplus berarti mungkin hasil tidak mutlak dipengaruhi oleh campuran ke tiga isolat tersebut. Laju pertumbuhan sel protozoa pada percobaan in vivo terlihat hasil yang rendah yang diperoleh dari ke 3 campuran isolat yaitu 5,69 mg/jam/100 ml, namun laju pertumbuhan sel bakteri lebih tinggi, yaitu 13,13 mg/jain/ 100 ml. Hal ini sesuai dengan pendapat Leng (10) yang melaporkan bahwa semakin rendah jumlah protozoa, aktivitas bakteri meningkat. Demikian pula hasil laju pertumbuhan sel protozoa untuk perlakuan pakan C dan D. KESIMPULAN Tahapan penelitian ini mampu membuktikan bahwa bioplus sebagai pakan tambahan hasil transfer rumen, dalam bentuk keritig dan kondisi aerobik ternyata mampu meningkatkan produksi ternak sapi, hal ini terlihat dari liasil seleksi donor ternak terjadi efek synergestik mikroba pada isi rumen sapi PO yang ditransfer ke isi ruinen kerbau NTT, laju pertumbuhan sel bakteri labih tinggi saat diinkubasi pada48jam. 205

4 Penelitian dan Pengembangan Aplikasi Isotop dan Radiasi, Hasil tersebut dilanjutkan dengan seleksi isolat dengan berbagai campuran isolat, ternyata isolat yang berasal dari cairan rumen PO dengan isolat bakteri, fungi dan protozoa dari kerbau NTT dapat meningkatkan laju pertumbuhan sel bakteri yang diikuti rendahnya laju pertuinbuhan sel protozoa, sehingga diperoleh isolatbekteri, fungi dan protozoa yang terpilih. Hasil penelitian terhadap sapi potong PO terlihat bahwa campuran ke tiga isolat tersebut ditambah dengan bioplus dapat meningkatkan laju pertumbuhan sel bakteri kurang lebih 168% bila dibanding dengan kontrol, namun hal ini belum sepenuhnya dipengaruhi oleh isolat tersebut, karena perlakuan D masih ditambah dengan bioplus. UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terimakasih ditujukan pada pimpinan Dewan Riset Nasional, dan Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi, BATAN yang telah memberi dana, dankesempatan melaksanakan penelitian ini. Ucapan terimakasih kami tujukan pula pada Saudara Ir. Achmad Syamsi, Hj. Titin Maryati dan Nuniek Lelananingtyas yang telah membantu dalam analisis data percobaan sehingga penelitian dapat selesai pada waktu yang telah ditentukan. DAFTAR PUSTAKA 1. STEWART, C.S., AND BRYANT, M.P., The rumen bacteria. In The Rumen Microbial Ecosystem. Eds. P.N. Hobson. Elsevier Applied Science London and NewYork (1988) JONES, R.J., Does ruminal metabolism of memosine explain the absence of Leucaena Toxicity in Hawai. Austral. Vet. J. 57 (1981) WINUGROHO, M, SABRANI, M, PUNARBOWO, P., WIDIAWATI, Y., AND THALIB, A., Non genetic indentification in selecting specific microorganism rumen fluid (Balitnak Method). Ilmu dan Peternakan 6 (2) (1993) SANTOSO, SABRANI, ML, DAN WINUGROHO, M., Penggemukan sapi potong di Lampung. Laporan internal APBN 1994/1995, Balai Penelitian Ternak, Botor(1994). 5. WINUGROHO, M., SABRANI, M., SANTOSO, PANJAITAN, M., DAN ERWAN. Strategi manejemen pakan untuk Indonesia Bagian Timur: Implementasi strategi pakan musim kemarau. Laporan Internal Proyek ARMP 1994/1995, Balai Penelitian Ternak, Bogor (1994a). 6. WINUGROHO, M, WIBISONO, Y., SABRANI, M, Teknologi pemeliharaan sapi PO : Perbaikan manejemen pakan untuk meningkatkan status reproduksi sapi PO. Laporan Internal Proyek ARMP 1994/1995, Balai Penelitian Ternak, Bogor (1994b). 7. HENDRATNO, C, Penggunaan 32P dan 35S sebagai penanda pada pengukuran pembentukan masa mikroba rumen kerbau. Risalah Pertemuan Iliniah, Aplikasi Teknik Nuklir di Bidang Pertanian dan Peternakan (1985) ). 8. OGIMOTO, K., AND SOICHIIMAI. Atlas of Rumen Microbiology. Japan Scientifi Societies Press, Tokyo (1981). 9. PRESTON, T.R., AND LENG, R.A., Matching Ruminant Production Systems with Available Resources in the Tropics and sub-tropics. Penambul Books, Armidale, New South Wales (1987). 10. LENG, R. A., Application of Bioteclinology to Nutrition of Animals in Developing Countries. FAO Anim. Prod. and Health 90 (1991) NOLAN, J.V., LENG, R.A., AND DEMEYER, D.I. The Roles of Protozoa and Fungi in Rumen Digestion. Penambul Books, Annidale, Australia (1989). 12. ANONIMOUS. Rumen Microbiology. Satelite Symposium IV 1 International Symposium on The Nutrition of Herbivores. France(1995) JOUANY, J.P. Rumen Microbial Metabolism and Ruminant digestion. Intitute National Dela Recheche Agronomic, INRA (1991). 14. BOHATIER, J., SENAUD, J., AND BENYAHYA. In situ degradation of sellulose fibres by the entodiniomorp rumen ciliate Polypastron multivesiculatum. Protoplasma 154(1990) COLEMAN, G.S. The metabolism ofcellulose, glucose and strach by the rumen ciliate protozoa Eudiplodinium maggi. J. Gen. Microbiol. 107 (1978) BAUCHOP, T. The ruinen ciliate Epidinium in primary degradation of plant tissues. Appl. Environ. Bicrobiol. 37(1979) AKIN, D.E., AND AMOS, H.E. Mode of attack on orchardgrass leaf bladesby rumen protozoa. Appl. Environ. Microbiol. 37 (1979) ORPIN, C. G. Association of ramen ciliate populations with plant particles in vitro. J. Gen. Microbiol. KLL (1985) COLEMAN, G. S. Protozoal-bacterial interaction in the rumen. In The Roles of Protozoa and Fungi in 206

5 _ Pemlitian dan Pengembangan Aplikasi lsotop dan Radiasi, Ruinen Digestion. Eds. J.V. Nolan, R.A. Leng, and D.I. Demeyer. Penambul Books, Armidale, Australia(1989) ORPIN, C.G. Studies on the defaunation of the ovine tlie rumen using dioctyl sodium sulphosuccinate. Journal of Applied Bacterial 43 (1977b) SATTER, L.G., AND SLYTER, L.L., Effect of aminoniaconcentration on rumen microbial protein production in vitro. British J. Nut. 32 (1974) MEHREZ, A.Z., AND ORSHOV, E.R. Rates of rumen fermentation in relation to ammonia concentration. Proceedings of the Nutrition Society 35 (1976) 45. Tabel 1. Laju pertumbuhan sel bakteri dan protozoa cairan rumen beberapa jenis hewan Laju pertumbuhan sel (mg/jam/100 ml) Jesia hewan Bakteri Inkubasi (jam) Protozoa Inkubasi (jam) S-PO S-Bali K-Sul K-NTT S-PO >< K-NTT S-Bali >< K-Sul 29,77 29,80 36,80 39,93 38,02 32,14 15,56 19,65. 20,83 10,48 16,88 9,26 10,70 7,05 14,96 9,27 30,99 33,82 20,37 16,20 16,75 16,19 27,09 20,59 11,26 15,78 30,12 32,23 29,82 16,25 17,70 18,20 25,11 18,73 24,92 21,25 Tabel 2. Pengaruli isolat bakteri, gungi dan protozoa yang terpilih terhadap hasil fermentasi rumen Perlakuan ph NH 3 (ing/100 ml) Laju pertumbuhan sel (mg/jam/100 ml) Bakteri Protozoa A B C D 6,94= 6,96= 6,93= 6,93= 32,19 a 35,02 ab 38,5 l ab 40,80 a 7,99 a 13,13" 13,63" 21,44 C 14,79" 5,69 a 14,75" 12,70 b Catatan : A = kontrol (ruinput + 0,5 kg KPS), B = Campuran 3 isolat bakteri, protozoa dan fungi dengan volume masing-masing 100 ml/ekor, C = 0,5 kg bioplus/ekor/hari dan D = B + C. 207

6 Penelitian dan Pengembangan Aplikasi Isotop dan Radiasi (...x 10 /ml) 8 PO Bali K.Sul K.NTT Bali><K.SuPO><K.NTT Garabar 1. Jumlali protozoa dalam cairan temak ruminansia. 208

7 -Penehtian dan Pengembangan Aplikasi Jsotop dan Radiasi, 1998 (mg/jam/100 ml) A : PO B : Protoro» C : PO Protozoa D : PO«Protozo«-»B«kt«ri E : PO*Protoio«*FunQi F i PO PR B F 10 A B C Gambar 2. Laju pertumbuhan bakteri isolat. YZ7 209

8 Penelitian datt Pengembangcm Aplikasi Isotop dan Radiasi, i 998 _ (mg/jam/100 ml) 50 A : PO B : Protozoa C : PO Protozoa Inkubati D : PO * Protoioa * Bdkteri E. PO Protozo»» Fungi F : PO PR» B * F A B C Gambar 3. Laju pertumbuhan protozoa isolat. 210

9 _ Penelitian dan Pengembangan Aplikasi Isolop dan Radiasi, 1998 (..x 10/ ml) 2-t A : PO B : Protozoa C : PO Protozoa D : PO Protozoa * Bakterl E : PO Protozoa «Fungi F «PO * PR B F Inkubasi i 24 jam jam A B C D Gambar 4. Jumlah protozoa dalam cairan rumen dan isolat. 211

10 Penelitian dan ['engembangan Aplikasi lsotop Jan Radiasi, 199S _ DISKUSl MARIA LINA Laju pertumbuhan bakteri ditentukan dengan menggunakan 32 P, apakah alasannya? Dapatkah digunakan radioisotop lain misalnya M C sehubungan dengan metabolisme bakteri? SUHARYONO 1. Didalam protein mikroba selain mengandung C,H,O, juga mengandung unsur N, P dan S, jadi dalam penggunaan 32 P, a. Disesuaikan dengan unsur yang ada b. Halflife berumur pendek (± 14). c. Lebih mudah didapat. d. Lebih mudah analisisnya C, dalam penelitian laju pertumbuhan inikroba yang sering digunakan adalah 32 P, "S, I5 N dan I4 C glukose umumya untuk menentukan ratio bakteri dan protozoa. 14 C halflife-nya. berumur panjang. SUHARNI SADI Untuk perlakuan D laju pertumbuhan sel bakteri berbeda nyata dibanding perlakuan lainnya? SUHARYONO Dari hasil penelitian inemang beda nyata, hal ini mungkin disebabkan karena penambahan ke-3 isolat dan bioplus. Perlu diketahui, dalam 3 isolat tersebut menunjukkan mikroba yang terpilih seperti halnya pada seleksi trasfer rumen, sedangkan bioplus merupakan produk transfer isi rumen yang sudah dikeringkan, tentu saja perlakuan ini cenderung lebih baik kualitasnya. 212

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian Minyak daun cengkeh merupakan hasil penyulingan daun cengkeh dengan menggunakan metode penyulingan (uap /steam). Minyak daun cengkeh berbentuk cair (oil) dan

Lebih terperinci

Pengembangan Suplemen Pakan Urea Molases Multi-nutrien Blok (UMMB) Menggunakan Sumber Protein Tepung Kedelai dan Gliricidia sepium

Pengembangan Suplemen Pakan Urea Molases Multi-nutrien Blok (UMMB) Menggunakan Sumber Protein Tepung Kedelai dan Gliricidia sepium Pengembangan Suplemen Pakan Urea Molases Multi-nutrien (Suharyono) Pengembangan Suplemen Pakan Urea Molases Multi-nutrien Development of Feed Supplement Urea Molasses Multinutrient Block (UMMB) Using Protein

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Peternakan di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan, sehingga

I. PENDAHULUAN. Peternakan di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan, sehingga 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peternakan di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan, sehingga membutuhkan ketersediaan pakan yang cukup untuk ternak. Pakan merupakan hal utama dalam tata laksana

Lebih terperinci

TEKNOLOGI PAKAN PROTEIN RENDAH UNTUK SAPI POTONG

TEKNOLOGI PAKAN PROTEIN RENDAH UNTUK SAPI POTONG TEKNOLOGI PAKAN PROTEIN RENDAH UNTUK SAPI POTONG Pakan merupakan komponen biaya tertinggi dalam suatu usaha peternakan, yaitu dapat mencapai 70-80%. Pengalaman telah menunjukkan kepada kita, bahwa usaha

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pengembangan ternak ruminansia di Indonesia akan sulit dilakukan jika hanya

I. PENDAHULUAN. Pengembangan ternak ruminansia di Indonesia akan sulit dilakukan jika hanya I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengembangan ternak ruminansia di Indonesia akan sulit dilakukan jika hanya mengandalkan hijauan. Karena disebabkan peningkatan bahan pakan yang terus menerus, dan juga

Lebih terperinci

INOVASI PAKAN KOMPLIT TERHADAP PERTAMBAHAN BERAT BADAN HARIAN TERNAK SAPI PERANAKAN ONGOLE JANTAN

INOVASI PAKAN KOMPLIT TERHADAP PERTAMBAHAN BERAT BADAN HARIAN TERNAK SAPI PERANAKAN ONGOLE JANTAN INOVASI PAKAN KOMPLIT TERHADAP PERTAMBAHAN BERAT BADAN HARIAN TERNAK SAPI PERANAKAN ONGOLE JANTAN Teguh Wahyono, Suharyono dan Irawan Sugoro Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi why.tguh@gmail.com

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Sapi Bali termasuk familia Bovidae, Genus Bos dan Sub-Genus Bovine,

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Sapi Bali termasuk familia Bovidae, Genus Bos dan Sub-Genus Bovine, 5 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Karakteristik Sapi Bali Sapi Bali termasuk familia Bovidae, Genus Bos dan Sub-Genus Bovine, yang termasuk dalam sub-genus tersebut adalah; Bibos gaurus, Bibos frontalis dan

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Waktu dan Tempat

MATERI DAN METODE. Waktu dan Tempat MATERI DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan dari bulan November 2008 sampai dengan Maret 2010 di Laboratorium Biokimia, Fisiologi dan Mikrobiologi Nutrisi, Laboratorium Terpadu dan Laboratorium

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kasar yang tinggi. Ternak ruminansia dalam masa pertumbuhannya, menyusui,

BAB I PENDAHULUAN. kasar yang tinggi. Ternak ruminansia dalam masa pertumbuhannya, menyusui, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pakan merupakan komponen utama dalam usaha peternakan hewan ruminansia. Pemberian pakan dimaksudkan agar ternak ruminansia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya untuk pertumbuhan

Lebih terperinci

Pengaruh Imbuhan Faktor Pertumbuhan Mikroba Dengan dan Tanpa Sediaan Mikroba Terhadap Performans Kambing Peranakan Etawah (PE)

Pengaruh Imbuhan Faktor Pertumbuhan Mikroba Dengan dan Tanpa Sediaan Mikroba Terhadap Performans Kambing Peranakan Etawah (PE) Pengaruh Imbuhan Faktor Pertumbuhan Mikroba Dengan dan Tanpa Sediaan Mikroba Terhadap Performans Kambing Peranakan Etawah (PE) AMLIUS THALIB Balai Penelitian Ternak, PO BOX 221, Bogor 16002, Indonesia

Lebih terperinci

NILAI NUTRISI PAKAN KOMPLIT BERBASIS JERAMI FERMENTASI UNTUK RUMINANSIA SECARA IN VITRO

NILAI NUTRISI PAKAN KOMPLIT BERBASIS JERAMI FERMENTASI UNTUK RUMINANSIA SECARA IN VITRO NILAI NUTRISI PAKAN KOMPLIT BERBASIS JERAMI FERMENTASI UNTUK RUMINANSIA SECARA IN VITRO (In Vitro Nutrition Value of Complete Feed Based on Fermented Straw for Ruminant) LYDIA ANDINI, FIRSONI dan C. ELLEN

Lebih terperinci

Pengaruh Pemberian Probiotik dalam Pakan terhadap Pertambahan Bobot Badan Kambing Kacang

Pengaruh Pemberian Probiotik dalam Pakan terhadap Pertambahan Bobot Badan Kambing Kacang Pengaruh Pemberian Probiotik dalam Pakan terhadap Pertambahan Bobot Badan Kambing Kacang Adriani 1 Intisari Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian probiotik dalam pakan terhadap pertambahan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. padat (feses) dan limbah cair (urine). Feses sebagian besar terdiri atas bahan organik

PENDAHULUAN. padat (feses) dan limbah cair (urine). Feses sebagian besar terdiri atas bahan organik I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peternakan sapi perah selain menghasilkan air susu juga menghasilkan limbah. Limbah tersebut sebagian besar terdiri atas limbah ternak berupa limbah padat (feses) dan limbah

Lebih terperinci

Shirley Fredriksz Dosen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura - Ambon. Keywords: Gamal Leaf, Steam Cassava, Digestion, In-Vitro

Shirley Fredriksz Dosen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura - Ambon. Keywords: Gamal Leaf, Steam Cassava, Digestion, In-Vitro TINGKAT PENGGUNAAN HIJAUAN GAMAL SEBAGAI SUMBER NITROGEN DENGAN SUMBER ENERGI UBI KAYU KUKUS TERHADAP PARAMETER METABOLISME RUMEN Dosen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura - Ambon ABSTRACT

Lebih terperinci

NILAI PH, KANDUNGAN NITROGEN (N), PHOSFOR (P 2 O 5 ) DAN KALIUM (K 2 O) PUPUK ORGANIK CAIR DARI FESES DOMBA DENGAN EM4 DAN PENAMBAHAN CAIRAN RUMEN

NILAI PH, KANDUNGAN NITROGEN (N), PHOSFOR (P 2 O 5 ) DAN KALIUM (K 2 O) PUPUK ORGANIK CAIR DARI FESES DOMBA DENGAN EM4 DAN PENAMBAHAN CAIRAN RUMEN NILAI PH, KANDUNGAN NITROGEN (N), PHOSFOR (P 2 O 5 ) DAN KALIUM (K 2 O) PUPUK ORGANIK CAIR DARI FESES DOMBA DENGAN EM4 DAN PENAMBAHAN CAIRAN RUMEN Skripsi untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh

Lebih terperinci

Lokakarya Fungsional Non Peneli BAHAN DAN METODE Percobaan ini dilaksanakan di laboratorium nutrisi Balai Penelitian Ternak di Bogor dengan meng

Lokakarya Fungsional Non Peneli BAHAN DAN METODE Percobaan ini dilaksanakan di laboratorium nutrisi Balai Penelitian Ternak di Bogor dengan meng PENGGUNAAN HCL SEBAGAI PENGGANTI HCLO 4 DALAM PEREAKSI MOLIBDOVANADAT PADA ANALISIS FOSFOR Nina Marlina dan Surayah Askar Balai Penelitian Ternak Ciawi, P.O. Box 221, Bogor 16002 PENDAHULUAN Bagi semua

Lebih terperinci

Lokakarya Fungsional Non Peneliti TINJAUAN PUSTAKA Daun singkong merupakan limbah pertanian yang, dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak karena kandung

Lokakarya Fungsional Non Peneliti TINJAUAN PUSTAKA Daun singkong merupakan limbah pertanian yang, dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak karena kandung ANALISIS SIANIDA DALAM SINGKONG DENGAN METODE LIAN DAN HAMIR YANG DIMODIFIKASI Nina Marlina Balai Penelitian Temak, Ciawi-Bogor PEN DAHULUAN Sudah umum diketahui bahwa daun singkong di Indonesia, disamping

Lebih terperinci

SEMINAR HASIL PENELITIAN KKP3T 2009

SEMINAR HASIL PENELITIAN KKP3T 2009 SEMINAR HASIL PENELITIAN KKP3T 2009 Institut Pertanian Bogor 2009 Performa Sapi Peranakan Ongole Yang Diberi Daun Murbei Sebagai Pengganti Konsentrat Dalam Ransum Berbasis Jerami Padi Peneliti Utama Prof.

Lebih terperinci

Produk Metabolisme Rumen pada Sapi Peranakan Ongole Fase Tumbuh

Produk Metabolisme Rumen pada Sapi Peranakan Ongole Fase Tumbuh Produk Metabolisme Rumen pada Sapi Peranakan Ongole Fase Tumbuh (Rumen metabolism product on growing cattle ongole grade) S.N.O. Suwandyastuti 1 1 Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman ABSTRACT

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. DAFTAR TABEL... xvi. DAFTAR GAMBAR... xviii. DAFTAR LAMPIRAN... xx I. PENDAHULUAN... 1 II. TINJAUAN PUSTAKA... 14

DAFTAR ISI. DAFTAR TABEL... xvi. DAFTAR GAMBAR... xviii. DAFTAR LAMPIRAN... xx I. PENDAHULUAN... 1 II. TINJAUAN PUSTAKA... 14 DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... xvi DAFTAR GAMBAR... xviii DAFTAR LAMPIRAN... xx I. PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Tujuan Penelitian... 7 1.3. Kerangka Pemikiran..... 7 1.4. Perumusan Masalah.....

Lebih terperinci

METODE. Materi. Metode

METODE. Materi. Metode METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan di Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Sapi Perah Desa Cibungbulang, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat selama 62 hari dari bulan September

Lebih terperinci

PENGARUH PENGGUNAAN KONSENTRAT DALAM PAKAN RUMPUT BENGGALA ( Panicum Maximum ) TERHADAP KECERNAAN NDF DAN ADF PADA KAMBING LOKAL

PENGARUH PENGGUNAAN KONSENTRAT DALAM PAKAN RUMPUT BENGGALA ( Panicum Maximum ) TERHADAP KECERNAAN NDF DAN ADF PADA KAMBING LOKAL PENGARUH PENGGUNAAN KONSENTRAT DALAM PAKAN RUMPUT BENGGALA ( Panicum Maximum ) TERHADAP KECERNAAN NDF DAN ADF PADA KAMBING LOKAL Rizal Rahalus*, B. Tulung**, K. Maaruf** F. R. Wolayan** Fakultas Peternakan,

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Tanjung Bintang Kabupaten Lampung

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Tanjung Bintang Kabupaten Lampung 33 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Tanjung Bintang Kabupaten Lampung Selatan. Kegiatan penelitian berlangsung pada Februari -- April 2015.

Lebih terperinci

EVALUASI PAKAN SECARA IN SACCO

EVALUASI PAKAN SECARA IN SACCO EVALUASI PAKAN SECARA IN SACCO SUPARJO 2010 Laboratorium Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Jambi 2010 1 PENDAHULUAN Tipe evaluasi pakan in sacco dengan kantong nylon merupakan kombinasi pengukuran

Lebih terperinci

PENGUASAAN DAN PEMANFAATAN INOVASI TEKNOLOGI PENGKAYAAN PAKAN SAPI POTONG/SAPI PERAH

PENGUASAAN DAN PEMANFAATAN INOVASI TEKNOLOGI PENGKAYAAN PAKAN SAPI POTONG/SAPI PERAH PENGUASAAN DAN PEMANFAATAN INOVASI TEKNOLOGI PENGKAYAAN PAKAN SAPI POTONG/SAPI PERAH M. WINUGROHO dan Y. WIDIAWATI Balai Penelitian Ternak, PO BOX 221 Bogor 162 ABSTRAK Inovasi teknologi yang disajikan

Lebih terperinci

BAB I IDENTIFIKASI KEBUTUHAN

BAB I IDENTIFIKASI KEBUTUHAN BAB I IDENTIFIKASI KEBUTUHAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia telah berhasil dalam swasembada daging ayam dan telur, namun data statistika peternakan mengungkapkan bahwa Indonesia belum dapat memenuhi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. masyarakat meningkat pula. Namun, perlu dipikirkan efek samping yang

I. PENDAHULUAN. masyarakat meningkat pula. Namun, perlu dipikirkan efek samping yang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah limbah tidak dapat lepas dari adanya aktifitas industri, termasuk industri ternak ayam pedaging. Semakin meningkat sektor industri maka taraf hidup masyarakat meningkat

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Materi

MATERI DAN METODE. Materi MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan di Kawasan Usaha Peternakan (KUNAK) Sapi Perah Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat selama 6 bulan. Analisa kualitas susu

Lebih terperinci

JURNAL ILMU TERNAK, DESEMBER 2005, VOLUME 5 NOMOR 2, (53-57)

JURNAL ILMU TERNAK, DESEMBER 2005, VOLUME 5 NOMOR 2, (53-57) JURNAL ILMU TERNAK, DESEMBER 2005, VOLUME 5 NOMOR 2, (53-57) Pengujian in Vitro Gelatin Sagu, Sumber NPN, Mineral Kobalt dan Seng pada Cairan Rumen Domba (Evaluation in Vitro Gelatinized Sago, Sources

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Materi

MATERI DAN METODE. Materi MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Agustus 2011. Pelaksanaan penelitian di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi

Lebih terperinci

1. Jenis-jenis Sapi Potong. Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah :

1. Jenis-jenis Sapi Potong. Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah : BUDIDAYA SAPI POTONG I. Pendahuluan. Usaha peternakan sapi potong mayoritas masih dengan pola tradisional dan skala usaha sambilan. Hal ini disebabkan oleh besarnya investasi jika dilakukan secara besar

Lebih terperinci

PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS

PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS EFFECT OF EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DOSAGE ADDED IN DRINKING WATER ON BODY WEIGHT OF LOCAL CHICKEN

Lebih terperinci

KOMPARASI SIFAT REPRODUKSI, FISIOLOGI PERTUMBUHAN, DAN STRUKTUR PENCERNAAN TERNAK POTONG. By. Suhardi, S.Pt.,MP

KOMPARASI SIFAT REPRODUKSI, FISIOLOGI PERTUMBUHAN, DAN STRUKTUR PENCERNAAN TERNAK POTONG. By. Suhardi, S.Pt.,MP KOMPARASI SIFAT REPRODUKSI, FISIOLOGI PERTUMBUHAN, DAN STRUKTUR PENCERNAAN TERNAK POTONG By. Suhardi, S.Pt.,MP Mengukur Produksi Ternak Pertumbuhan : pertumbuhan adalah perubahan bentuk atau ukuran seekor

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. memadai, ditambah dengan diberlakukannya pasar bebas. Membanjirnya susu

PENDAHULUAN. memadai, ditambah dengan diberlakukannya pasar bebas. Membanjirnya susu I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sapi perah mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan di Indonesia, dikarenakan kebutuhan akan susu domestik dari tahun ke tahun terus meningkat seiring dengan

Lebih terperinci

SUPLEMENTASI PADA PAKAN SUMBER ENERGI YANG BERBEDA DALAM RANSUM SAPI PERANAKAN ONGOLE TERHADAP KECERNAAN FRAKSI SERAT

SUPLEMENTASI PADA PAKAN SUMBER ENERGI YANG BERBEDA DALAM RANSUM SAPI PERANAKAN ONGOLE TERHADAP KECERNAAN FRAKSI SERAT SUPLEMENTASI PADA PAKAN SUMBER ENERGI YANG BERBEDA DALAM RANSUM SAPI PERANAKAN ONGOLE TERHADAP KECERNAAN FRAKSI SERAT Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna memperoleh derajat Sarjana Peternakan

Lebih terperinci

TOTAL PRODUKSI GAS, NILAI ph DAN POPULASI PROTOZOA LIMBAH SAWIT SECARA IN VITRO

TOTAL PRODUKSI GAS, NILAI ph DAN POPULASI PROTOZOA LIMBAH SAWIT SECARA IN VITRO TOTAL PRODUKSI GAS, NILAI ph DAN POPULASI PROTOZOA LIMBAH SAWIT SECARA IN VITRO SKRIPSI OLEH SABILIR RASYAD 0910611048 FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2014 TOTAL PRODUKSI GAS, NILAI ph dan

Lebih terperinci

PENGKAJIAN USAHA TERNAK SAPI MELALUI PERBAIKAN MANAJEMEN PEMELIHARAAN DI KABUPATEN TTU

PENGKAJIAN USAHA TERNAK SAPI MELALUI PERBAIKAN MANAJEMEN PEMELIHARAAN DI KABUPATEN TTU PENGKAJIAN USAHA TERNAK SAPI MELALUI PERBAIKAN MANAJEMEN PEMELIHARAAN DI KABUPATEN TTU Amirudin Pohan dan Sophia Ratnawati Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT ABSTRAK Suatu pengkajian Perbaikan

Lebih terperinci

SUPLEMENTASI DAN PROBIOTIK

SUPLEMENTASI DAN PROBIOTIK 7 SUPLEMENTASI DAN PROBIOTIK Karakteristik umum beberapa jenis pakan asal limbah ditandai oleh kandungan protein yang rendah, fraksi serat yang tinggi dan memiliki kecernaan yang berkisar dari rendah hingga

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. pedesaan salah satunya usaha ternak sapi potong. Sebagian besar sapi potong

I PENDAHULUAN. pedesaan salah satunya usaha ternak sapi potong. Sebagian besar sapi potong I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masyarakat pedesaan pada umumnya bermatapencaharian sebagai petani, selain usaha pertaniannya, usaha peternakan pun banyak dikelola oleh masyarakat pedesaan salah satunya

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. utama MOL terdiri dari beberapa komponen yaitu karbohidrat, glukosa, dan sumber

II. TINJAUAN PUSTAKA. utama MOL terdiri dari beberapa komponen yaitu karbohidrat, glukosa, dan sumber 5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mikroorganisme Lokal (MOL) Mikroorganisme lokal (MOL) adalah mikroorganisme yang dimanfaatkan sebagai starter dalam pembuatan pupuk organik padat maupun pupuk cair. Bahan utama

Lebih terperinci

PERUBAHAN MASSA PROTEN, LEMAK, SERAT DAN BETN SILASE PAKAN LENGKAP BERBAHAN DASAR JERAMI PADI DAN BIOMASSA MURBEI

PERUBAHAN MASSA PROTEN, LEMAK, SERAT DAN BETN SILASE PAKAN LENGKAP BERBAHAN DASAR JERAMI PADI DAN BIOMASSA MURBEI PERUBAHAN MASSA PROTEN, LEMAK, SERAT DAN BETN SILASE PAKAN LENGKAP BERBAHAN DASAR JERAMI PADI DAN BIOMASSA MURBEI Syahriani Syahrir, Sjamsuddin Rasjid, Muhammad Zain Mide dan Harfiah Jurusan Nutrisi dan

Lebih terperinci

RESPONS KOMPOSISI TUBUH DOMBA LOKALTERHADAP TATA WAKTU PEMBERIAN HIJAUAN DAN PAKAN TAMBAHAN YANG BERBEDA

RESPONS KOMPOSISI TUBUH DOMBA LOKALTERHADAP TATA WAKTU PEMBERIAN HIJAUAN DAN PAKAN TAMBAHAN YANG BERBEDA RESPONS KOMPOSISI TUBUH DOMBA LOKALTERHADAP TATA WAKTU PEMBERIAN HIJAUAN DAN PAKAN TAMBAHAN YANG BERBEDA (Effect of Different Timing Periods of Roughage and Feed Supplement on Body Composition of Local

Lebih terperinci

PRODUKTIVITAS KARKAS DAN KUALITAS DAGING SAPI SUMBA ONGOLE DENGAN PAKAN YANG MENGANDUNG PROBIOTIK, KUNYIT DAN TEMULAWAK

PRODUKTIVITAS KARKAS DAN KUALITAS DAGING SAPI SUMBA ONGOLE DENGAN PAKAN YANG MENGANDUNG PROBIOTIK, KUNYIT DAN TEMULAWAK PRODUKTIVITAS KARKAS DAN KUALITAS DAGING SAPI SUMBA ONGOLE DENGAN PAKAN YANG MENGANDUNG PROBIOTIK, KUNYIT DAN TEMULAWAK SKRIPSI ARIE WIBOWO NUGROHO PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. mengujikan L. plantarum dan L. fermentum terhadap silase rumput Kalanjana.

BAB III METODE PENELITIAN. mengujikan L. plantarum dan L. fermentum terhadap silase rumput Kalanjana. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Percobaan Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yaitu dengan cara mengujikan L. plantarum dan L. fermentum terhadap silase rumput Kalanjana. Rancangan

Lebih terperinci

SILASE DAN GROWTH PROMOTOR

SILASE DAN GROWTH PROMOTOR MODUL SILASE DAN GROWTH PROMOTOR Penyusun: Edy Susanto, S.Pt, M.P FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS ISLAM LAMONGAN 2014 ii KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah S.W.T atas rakhmat dan hidayahnya, sehingga

Lebih terperinci

Petunjuk Praktis Manajemen Pengelolaan Limbah Pertanian untuk Pakan Ternak sapi

Petunjuk Praktis Manajemen Pengelolaan Limbah Pertanian untuk Pakan Ternak sapi Manajemen Pengelolaan Limbah Pertanian untuk Pakan Ternak sapi i PETUNJUK PRAKTIS MANAJEMEN PENGELOLAAN LIMBAH PERTANIAN UNTUK PAKAN TERNAK SAPI Penyusun: Nurul Agustini Penyunting: Tanda Sahat Panjaitan

Lebih terperinci

PEMANFAATAN PROBIOTIK DALAM BIO-PROSES UNTUK MENINGKATKAN NILAI NUTRISI JERAMI PADI UNTUK PAKAN DOMBA

PEMANFAATAN PROBIOTIK DALAM BIO-PROSES UNTUK MENINGKATKAN NILAI NUTRISI JERAMI PADI UNTUK PAKAN DOMBA PEMANFAATAN PROBIOTIK DALAM BIO-PROSES UNTUK MENINGKATKAN NILAI NUTRISI JERAMI PADI UNTUK PAKAN DOMBA (The Use of Probiotics in the Bio-Process to Increase the Nutritive Value of Rice Straws for Sheep)

Lebih terperinci

PEMANFAATAN MEDIUM TAPIOKA IRADIASI UNTUK OPTIMALISASI KONDISI FERMENTASI ISOLAT KHAMIR R210

PEMANFAATAN MEDIUM TAPIOKA IRADIASI UNTUK OPTIMALISASI KONDISI FERMENTASI ISOLAT KHAMIR R210 PEMANFAATAN MEDIUM TAPIOKA IRADIASI UNTUK OPTIMALISASI KONDISI FERMENTASI ISOLAT KHAMIR R210 T. Wahyono dan I. Sugoro Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional Jl. Cinere

Lebih terperinci

Alat Neraca analitik, gelas piala 600 ml, gelas ukur 100 ml, "hot plate", alat refluks (untuk pendingin), cawan masir, tanur, alat penyaring dengan po

Alat Neraca analitik, gelas piala 600 ml, gelas ukur 100 ml, hot plate, alat refluks (untuk pendingin), cawan masir, tanur, alat penyaring dengan po MODIFIKASI ANALISIS SERAT DETERGEN ASAM Martini Balai Penelitian Ternak Ciawi, P.O. Box 221, Bogor 16002 PENDAHULUAN Kebutuhan serat pada hewan, terutama ternak ruminansia sangat penting, karena sebagian

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 20 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Percobaan yang dilakukan pada penelitian ini yaitu membuat nata dari kulit pisang dengan menggunakan sumber nitrogen alami dari ekstrak kacang hijau. Nata yang dihasilkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dan Analisis kandungan nutrient bahan pakan dilaksanakan di

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dan Analisis kandungan nutrient bahan pakan dilaksanakan di BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian dan Analisis kandungan nutrient bahan pakan dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Hewan Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan protein hewani di Indonesia semakin meningkat seiring dengan

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan protein hewani di Indonesia semakin meningkat seiring dengan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Kebutuhan protein hewani di Indonesia semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya protein hewani bagi tubuh. Hal ini

Lebih terperinci

PENETAPAN KADAR LEMAK KASAR DALAM MAKANAN TERNAK NON RUMINANSIA DENGAN METODE KERING

PENETAPAN KADAR LEMAK KASAR DALAM MAKANAN TERNAK NON RUMINANSIA DENGAN METODE KERING PENETAPAN KADAR LEMAK KASAR DALAM MAKANAN TERNAK NON RUMINANSIA DENGAN METODE KERING Darmasih Balai Penelitian Ternak Ciawi, P.O. Box 221, Bogor 162 PENDAHULUAN Lemak terdiri dari unsur C, H dan yang mempunyai

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN KONSENTRAT... PERIODE LAKTASI TERHADAP BERAT JENIS, KADAR LEMAK DAN KADAR BAHAN KERING SUSU SAPI

PENGARUH PEMBERIAN KONSENTRAT... PERIODE LAKTASI TERHADAP BERAT JENIS, KADAR LEMAK DAN KADAR BAHAN KERING SUSU SAPI SKRIPSI PENGARUH PEMBERIAN KONSENTRAT PADA PERIODE LAKTASI TERHADAP BERAT JENIS, KADAR LEMAK DAN KADAR BAHAN KERING SUSU SAPI Oleh : 060810228 FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2012

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

BAHAN DAN METODE PENELITIAN 23 III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Bahan Penelitian 3.1.1 Bahan Pembuatan Media Agar 1. Lactobacillus plantarum a. 7 g nutrien agar sebagai media tumbuhnya mikroba b. 2,5 g KH2PO4 c. Aquades sampai

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK RUMEN DOMBA YANG DIBERI PAKAN JERAMI PADI FERMENTASI DENGAN SUPLEMENTASI VITAMIN A INTRAMUSKULER PADA WAKTU YANG BERBEDA

KARAKTERISTIK RUMEN DOMBA YANG DIBERI PAKAN JERAMI PADI FERMENTASI DENGAN SUPLEMENTASI VITAMIN A INTRAMUSKULER PADA WAKTU YANG BERBEDA KARAKTERISTIK RUMEN DOMBA YANG DIBERI PAKAN JERAMI PADI FERMENTASI DENGAN SUPLEMENTASI VITAMIN A INTRAMUSKULER PADA WAKTU YANG BERBEDA (Rumen Characteristics of Sheep Fed Fermented Rice Straw Supplemented

Lebih terperinci

Isolasi dan Perbaikan. Kultur. Rancang Media. Rancang Media 3/3/2016. Nur Hidayat Materi Kuliah Mikrobiologi Industri

Isolasi dan Perbaikan. Kultur. Rancang Media. Rancang Media 3/3/2016. Nur Hidayat Materi Kuliah Mikrobiologi Industri Isolasi dan Perbaikan Kultur 3/3/2016 Nur Hidayat Materi Kuliah Mikrobiologi Industri Rancang Media 1. Buat kisaran medium dengan nutrien pembatas berbeda (misal C, N, P atau O). 2. Untuk tiap tipe nutrien

Lebih terperinci

PELEPAH DAN DAUN SAWIT SEBAGAI PAKAN SUBSTITUSI HIJAUAN PADA PAKAN TERNAK SAPI POTONG DI KABUPATEN LUWU TIMUR SULAWESI SELATAN

PELEPAH DAN DAUN SAWIT SEBAGAI PAKAN SUBSTITUSI HIJAUAN PADA PAKAN TERNAK SAPI POTONG DI KABUPATEN LUWU TIMUR SULAWESI SELATAN PELEPAH DAN DAUN SAWIT SEBAGAI PAKAN SUBSTITUSI HIJAUAN PADA PAKAN TERNAK SAPI POTONG DI KABUPATEN LUWU TIMUR SULAWESI SELATAN (Midrib and leaf palm as substituting forages for feed cattle at East Luwu

Lebih terperinci

Animal Agricultural Journal, Vol. 1. No. 1, 2012, p Online at :

Animal Agricultural Journal, Vol. 1. No. 1, 2012, p Online at : Animal Agricultural Journal, Vol. 1. No. 1, 2012, p 159 166 Online at : http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/aaj PENGARUH PROTEKSI PROTEIN TEPUNG KEDELAI DENGAN TANIN DAUN BAKAU TERHADAP KONSENTRASI

Lebih terperinci

Pengembangan ternak ruminansia di negara-negara tropis seperti di. kemarau untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak ruminansia yang memiliki

Pengembangan ternak ruminansia di negara-negara tropis seperti di. kemarau untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak ruminansia yang memiliki BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengembangan ternak ruminansia di negara-negara tropis seperti di Indonesia, dihadapkan pada kendala pemberian pakan yang belum memenuhi kebutuhan ternak. Ketersediaan

Lebih terperinci

KAJIAN MENGURANGI ANGKA KEMATIAN ANAK DAN MEMPERPENDEK JARAK KELAHIRAN SAPI BALI DI PULAU TIMOR. Ati Rubianti, Amirudin Pohan dan Medo Kote

KAJIAN MENGURANGI ANGKA KEMATIAN ANAK DAN MEMPERPENDEK JARAK KELAHIRAN SAPI BALI DI PULAU TIMOR. Ati Rubianti, Amirudin Pohan dan Medo Kote KAJIAN MENGURANGI ANGKA KEMATIAN ANAK DAN MEMPERPENDEK JARAK KELAHIRAN SAPI BALI DI PULAU TIMOR Ati Rubianti, Amirudin Pohan dan Medo Kote Latar Belakang Angka kematian anak sapi yg masih cukup tinggi

Lebih terperinci

APPENDIKS A PROSEDUR KERJA DAN ANALISA

APPENDIKS A PROSEDUR KERJA DAN ANALISA APPENDIKS A PROSEDUR KERJA DAN ANALISA 1. Pembuatan sodium Sitrat (C 6 H 5 Na 3 O 7 2H 2 O) 0,1 M 1. Mengambil dan menimbang sodium sitrat seberat 29.4 gr. 2. Melarutkan dengan aquades hingga volume 1000

Lebih terperinci

Kompos Cacing Tanah (CASTING)

Kompos Cacing Tanah (CASTING) Kompos Cacing Tanah (CASTING) Oleh : Warsana, SP.M.Si Ada kecenderungan, selama ini petani hanya bergantung pada pupuk anorganik atau pupuk kimia untuk mendukung usahataninya. Ketergantungan ini disebabkan

Lebih terperinci

Pemberian Pakan Serat Sisa Tanaman Pertanian (Jerami Kacang Tanah, Jerami Jagung, Pucuk Tebu) Terhadap Evolusi ph, N-NH 3 dan VFA Di dalam Rumen Sapi

Pemberian Pakan Serat Sisa Tanaman Pertanian (Jerami Kacang Tanah, Jerami Jagung, Pucuk Tebu) Terhadap Evolusi ph, N-NH 3 dan VFA Di dalam Rumen Sapi Pemberian Pakan Serat Sisa Tanaman Pertanian (Jerami Kacang Tanah, Jerami Jagung, Pucuk Tebu) Terhadap Evolusi ph, N-NH 3 dan VFA Di dalam Rumen Sapi (Feeding agricultural crop residues (groundnut straw,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Bahan Kering Konsumsi adalah jumlah pakan yang dimakan oleh ternak yang akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok dan produksi. Rataan konsumsi rumput, konsentrat

Lebih terperinci

Profile Total Protein dan Glukosa Darah Domba yang Diberi Starter Bakteri Asam Laktat dan Yeast pada Rumput Gajah dan Jerami Padi

Profile Total Protein dan Glukosa Darah Domba yang Diberi Starter Bakteri Asam Laktat dan Yeast pada Rumput Gajah dan Jerami Padi Jurnal Ilmiah Kedokteran Hewan Vol. 4, No. 1, Februari 2011 Profile Total Protein dan Glukosa Darah Domba yang Diberi Starter Bakteri Asam Laktat dan Yeast pada Rumput Gajah dan Jerami Padi Blood Glucose

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Mei 2014 di Laboratorium

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Mei 2014 di Laboratorium BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Mei 2014 di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana

Lebih terperinci

PEMANFAATAN LIMBAH PERKEBUNAN DALAM SISTEM INTEGRASI TERNAK UNTUK MEMACU KETAHANAN PAKAN DI PROVINSI ACEH PENDAHULUAN

PEMANFAATAN LIMBAH PERKEBUNAN DALAM SISTEM INTEGRASI TERNAK UNTUK MEMACU KETAHANAN PAKAN DI PROVINSI ACEH PENDAHULUAN PEMANFAATAN LIMBAH PERKEBUNAN DALAM SISTEM INTEGRASI TERNAK UNTUK MEMACU KETAHANAN PAKAN DI PROVINSI ACEH Nani Yunizar 1), Elviwirda 1), Yenni Yusriani 1) dan Linda Harta 2) 2) 1) Balai Pengkajian Teknologi

Lebih terperinci

Pengaruh Penggunaan Zeolit dalam Ransum terhadap Konsumsi Ransum, Pertumbuhan, dan Persentase Karkas Kelinci Lokal Jantan

Pengaruh Penggunaan Zeolit dalam Ransum terhadap Konsumsi Ransum, Pertumbuhan, dan Persentase Karkas Kelinci Lokal Jantan Pengaruh Penggunaan Zeolit dalam Ransum terhadap Konsumsi Ransum, Pertumbuhan, dan Persentase Karkas Kelinci Lokal Jantan Sulastri Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung Jl. Prof.

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian dan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian dan 28 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian dan Biomassa serta Laboratorium Analisis Kimia Hasil Pertanian Jurusan Teknologi

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai bulan Agustus 2013 di

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai bulan Agustus 2013 di 25 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai bulan Agustus 2013 di Laboratorium Instrumentasi dan Laboratorium Biokimia Jurusan Kimia

Lebih terperinci

Skripsi. Oleh : AHMAD BONJOVI NPM

Skripsi. Oleh : AHMAD BONJOVI NPM SUBTITUSI RUMPUT LAPANGAN DENGAN DAUN DAN KULIT BUAH COKLAT FERMENTASI DALAM RANSUM TERNAK DOMBA TERHADAP KONSUMSI BAHAN KERING PROTEIN KASAR DAN SERAT KASAR Skripsi Oleh : AHMAD BONJOVI NPM. 1010005311005

Lebih terperinci

PENGARUH PENGGUNAAN KACANG CENOS DALAM RANSUM DOMBA TERHADAP JUMLAH TOTAL BAKTERI DAN PROTOZOA (IN VITRO)

PENGARUH PENGGUNAAN KACANG CENOS DALAM RANSUM DOMBA TERHADAP JUMLAH TOTAL BAKTERI DAN PROTOZOA (IN VITRO) PENGARUH PENGGUNAAN KACANG CENOS DALAM RANSUM DOMBA TERHADAP JUMLAH TOTAL BAKTERI DAN PROTOZOA (IN VITRO) Farhan Adli Hikall*, Rahmat Hidayat**, dan Tidi Dhalika** Universitas Padjadjaran *Alumni Fakultas

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Oktober sampai Februari 2014, dengan

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Oktober sampai Februari 2014, dengan III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Oktober sampai Februari 2014, dengan tahapan kegiatan, yaitu : bahan baku berupa singkong yang dijadikan bubur singkong,

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini sudah dilaksanakan dari bulan Februari sampai bulan Juli 2013 di

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini sudah dilaksanakan dari bulan Februari sampai bulan Juli 2013 di 24 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini sudah dilaksanakan dari bulan Februari sampai bulan Juli 2013 di Laboratorium Instrumentasi dan Biokimia Jurusan Kimia FMIPA

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Materi

MATERI DAN METODE. Materi MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Pelaksanaan penelitian mulai bulan Februari 2012 sampai dengan bulan April 2012. Pembuatan pakan dilaksanakan di CV. Indofeed. Analisis Laboratorium dilakukan di Laboratorium

Lebih terperinci

ISOLAT MIKROBA PENURUN KANDUNGAN SIANIDA DAUN SINGKONG SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINANSIA

ISOLAT MIKROBA PENURUN KANDUNGAN SIANIDA DAUN SINGKONG SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINANSIA Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner ISOLAT MIKROBA PENURUN KANDUNGAN SIANIDA DAUN SINGKONG SEBAGAI PAKAN TERNAK RUMINANSIA M. WINUGROHO 1, Y. WIDIAWATI 1 dan A. ABRAR 2 1 Balai Penelitian

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2013 - Februari 2014.

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2013 - Februari 2014. III. MATERI DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2013 - Februari 2014. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN SUSKA Riau.

Lebih terperinci

POTENSI KONSORSIUM MIKROBA DALAM MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PROSES PENGOLAHAN LIMBAH CAIR BIR

POTENSI KONSORSIUM MIKROBA DALAM MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PROSES PENGOLAHAN LIMBAH CAIR BIR TESIS POTENSI KONSORSIUM MIKROBA DALAM MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PROSES PENGOLAHAN LIMBAH CAIR BIR PUTU NIA ANGGRAENI PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 14 TESIS POTENSI KONSORSIUM MIKROBA

Lebih terperinci

K. A. P. Hartaja, T. H. Suprayogi, dan Sudjatmogo Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang ABSTRAK

K. A. P. Hartaja, T. H. Suprayogi, dan Sudjatmogo Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang ABSTRAK Animal Agricultural Journal, Vol. 2. No. 1, 2013, p 458 465 Online at : http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/aaj TAMPILAN PERTAMBAHAN BOBOT BADAN HARIAN DAN KADAR UREA DARAH PADA KAMBING PERAH DARA

Lebih terperinci

PEMANFAATAN PUCUK TEBU SEBAGAI PAKAN SAPI POTONG

PEMANFAATAN PUCUK TEBU SEBAGAI PAKAN SAPI POTONG PEMANFAATAN PUCUK TEBU SEBAGAI PAKAN SAPI POTONG (The Use of Sugar Cane Tops as Feed for Beef Cattle) A. NURHAYU, MATHEUS SARIUBANG dan ANDI ELLA Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian,

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Peternakan Rakyat di Ciater Peternakan rakyat di Ciater Kabupaten Subang merupakan peternakan yang

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Peternakan Rakyat di Ciater Peternakan rakyat di Ciater Kabupaten Subang merupakan peternakan yang IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Peternakan Rakyat di Ciater Peternakan rakyat di Ciater Kabupaten Subang merupakan peternakan yang tergabung dalam Koperasi Peternak Sapi Perah Bandung Utara (KPSBU)

Lebih terperinci

PENGARUH CAIRAN RUMEN KERBAU DAN DI AMINO BUTYRIC ACID (DABA) PADA NILAI NUTRISI DAUN Acacia vilosa SECARA IN VITRO

PENGARUH CAIRAN RUMEN KERBAU DAN DI AMINO BUTYRIC ACID (DABA) PADA NILAI NUTRISI DAUN Acacia vilosa SECARA IN VITRO PENGARUH CAIRAN RUMEN KERBAU DAN DI AMINO BUTYRIC ACID (DABA) PADA NILAI NUTRISI DAUN Acacia vilosa SECARA IN VITRO (The effects of Buffalo Rumen Liquid and Daba on Nutrition Values of Acacia vilosa in

Lebih terperinci

KEMENTERIAN PERTANIAN BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN SEKOLAH TINGGI PENYULUHAN PERTANIAN MAGELANG JURUSAN PENYULUHAN PETERNAKAN 2013

KEMENTERIAN PERTANIAN BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN SEKOLAH TINGGI PENYULUHAN PERTANIAN MAGELANG JURUSAN PENYULUHAN PETERNAKAN 2013 KEMENTERIAN PERTANIAN BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN SEKOLAH TINGGI PENYULUHAN PERTANIAN MAGELANG JURUSAN PENYULUHAN PETERNAKAN 2013 Dari bermacam-macam limbah pertanian yang mempunyai

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif yang

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif yang 256 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif yang digunakan dalam penelitian adalah dengan menggunakan metode survei. Umumnya,

Lebih terperinci

SUPLEMENTASI GAMAL SEBAGAI RUMEN DEGRADABLE PROTEIN (RDP) UNTUK MENINGKATKAN KECERNAAN (In Vitro) RANSUM TERNAK RUMINANSIA YANG MENGANDUNG JERAMI PADI

SUPLEMENTASI GAMAL SEBAGAI RUMEN DEGRADABLE PROTEIN (RDP) UNTUK MENINGKATKAN KECERNAAN (In Vitro) RANSUM TERNAK RUMINANSIA YANG MENGANDUNG JERAMI PADI SUPLEMENTASI GAMAL SEBAGAI RUMEN DEGRADABLE PROTEIN (RDP) UNTUK MENINGKATKAN KECERNAAN (In Vitro) RANSUM TERNAK RUMINANSIA YANG MENGANDUNG JERAMI PADI NI NYOMAN SURYANI, I KETUT MANGKU BUDIASA DAN I PUTU

Lebih terperinci

SISTEM PEMELIHARAAN TERNAK KERBAU DI PROPINSI JAMBI

SISTEM PEMELIHARAAN TERNAK KERBAU DI PROPINSI JAMBI SISTEM PEMELIHARAAN TERNAK KERBAU DI PROPINSI JAMBI BUSTAMI dan ENDANG SUSILAWATI Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi ABSTRAK Ternak kerbau mempunyai nilai sejarah kebudayaan masyarakat Jambi. Pada

Lebih terperinci

EVALUASI KARAKTERISTIK LIMBAH SAWIT HASIL FERMENTASI DENGAN MIKROORGANISME LOKAL LIMBAH TERNAK SEBAGAI BAHAN PAKAN TERNAK RUMINANSIA

EVALUASI KARAKTERISTIK LIMBAH SAWIT HASIL FERMENTASI DENGAN MIKROORGANISME LOKAL LIMBAH TERNAK SEBAGAI BAHAN PAKAN TERNAK RUMINANSIA EVALUASI KARAKTERISTIK LIMBAH SAWIT HASIL FERMENTASI DENGAN MIKROORGANISME LOKAL LIMBAH TERNAK SEBAGAI BAHAN PAKAN TERNAK RUMINANSIA (Evaluation of Palm Oil Frond Characteristics Fermented with Local Microorganism

Lebih terperinci

EFEK TRANSFER CAIRAN RUMEN KAMBING KE RUMEN DOMBA TERHADAP KUALITAS HASIL KARKAS DOMBA LOKAL

EFEK TRANSFER CAIRAN RUMEN KAMBING KE RUMEN DOMBA TERHADAP KUALITAS HASIL KARKAS DOMBA LOKAL J. Agrisains 6 (3) : 171-176, Desember 2005 ISSN : 1412-3657 EFEK TRANSFER CAIRAN RUMEN KAMBING KE RUMEN DOMBA TERHADAP KUALITAS HASIL KARKAS DOMBA LOKAL Oleh : Padang *) ABSTRACT This study was carried

Lebih terperinci

III MATERI DAN METODE PENELITIAN. Jerami Jagung yang dipergunakan, sebanyak 80 kg yang berasal dari limbah

III MATERI DAN METODE PENELITIAN. Jerami Jagung yang dipergunakan, sebanyak 80 kg yang berasal dari limbah 21 III MATERI DAN METODE PENELITIAN 3.1 Bahan dan Peralatan Penelitian 3.1.1 Bahan Penelitian untuk Ensilase a. Jerami jagung Jerami Jagung yang dipergunakan, sebanyak 80 kg yang berasal dari limbah pemanenan

Lebih terperinci

MEMPELAJARI PEMANFAATAN LIMBAH KELAPA SAWIT DENGAN PENANAMAN JAMUR COPRINUS CINEREUS DAN PENGGUNAANNYA UNTUK PAKAN TERNAK

MEMPELAJARI PEMANFAATAN LIMBAH KELAPA SAWIT DENGAN PENANAMAN JAMUR COPRINUS CINEREUS DAN PENGGUNAANNYA UNTUK PAKAN TERNAK MEMPELAJARI PEMANFAATAN LIMBAH KELAPA SAWIT DENGAN PENANAMAN JAMUR COPRINUS CINEREUS DAN PENGGUNAANNYA UNTUK PAKAN TERNAK (The Utilization of Palm Oil Waste for Cattle Feed Using Coprinus cinereus) E.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kecernaan Bahan Kering

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kecernaan Bahan Kering 33 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Kecernaan Bahan Kering Hasil penelitian mengenai pengaruh biokonversi biomassa jagung oleh mikroba Lactobacillus plantarum, Saccharomyces cereviseae,

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei 2013 sampai dengan Juni 2013. Lokasi pengambilan sampel rumput laut merah (Eucheuma cottonii) bertempat di Perairan Simpenan,

Lebih terperinci

ABSTRACT. Keywords: Azotobachter, milk production, feed efficiency, fermented, dairy cattle PFH

ABSTRACT. Keywords: Azotobachter, milk production, feed efficiency, fermented, dairy cattle PFH THE EFFECT OF ADDITION FEED FERMENTATION WITH THE CULTURE OF BACTERIA Azotobachter TO MILK PRODUCTION AND FEED EFFICIENCY DAIRY CATTLE PFH Yanwar Rizki 1), Nur Cholis 2) dan Endang Setyowati 2) 1) Student

Lebih terperinci

ANALISIS PROTEIN. Free Powerpoint Templates. Analisis Zat Gizi Teti Estiasih Page 1

ANALISIS PROTEIN. Free Powerpoint Templates. Analisis Zat Gizi Teti Estiasih Page 1 ANALISIS PROTEIN Page 1 PENDAHULUAN Merupakan polimer yang tersusun atas asam amino Ikatan antar asam amino adalah ikatan peptida Protein tersusun atas atom C, H, O, N, dan pada protein tertentu mengandung

Lebih terperinci

Artikel PENGGUNAAN KULIT SINGKONG FERMENTSI UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KAMBING KACANG DI JORONG KANDANG LAMO

Artikel PENGGUNAAN KULIT SINGKONG FERMENTSI UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KAMBING KACANG DI JORONG KANDANG LAMO Artikel PENGGUNAAN KULIT SINGKONG FERMENTSI UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS KAMBING KACANG DI JORONG KANDANG LAMO POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PAYAKUMBUH 2014 PENGGUNAAN KULIT SINGKONG FERMENTSI UNTUK PENINGKATAN

Lebih terperinci

Riswandi, Sofia Sandi, Meisji Liana Sari, Muhakka, Asep Indra M. Ali Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya ABSTRAK

Riswandi, Sofia Sandi, Meisji Liana Sari, Muhakka, Asep Indra M. Ali Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya ABSTRAK PENINGKATAN PRODUKSI TERNAK SAPI DENGAN TEKNOLOGI AMONIA FERMENTASI (AMOFER) JERAMI PADI DI DESA TANJUNG PERING KECAMATAN INDRALAYA UTARA KABUPATEN OGAN ILIR SUMATERA SELATAN Riswandi, Sofia Sandi, Meisji

Lebih terperinci

Liza Novitha Sari 1), Muhtarudin 2), Rudy Sutrisna 2) ABSTRACT

Liza Novitha Sari 1), Muhtarudin 2), Rudy Sutrisna 2) ABSTRACT OPTIMALISASI PEMANFAATAN LIMBAH AGROINDUSTRI SEBAGAI PAKAN TERNAK MELALUI SUPLEMENTASI KALSIUM DAN MAGNESIUM ORGANIK : PENGARUHNYA TERHADAP VFA DAN AMONIA CAIRAN RUMEN Optimising the Utilization of Agro-Industri

Lebih terperinci

TINGKAH LAKU MAKAN KAMBING KACANG YANG DIBERI PAKAN DENGAN LEVEL PROTEIN-ENERGI BERBEDA

TINGKAH LAKU MAKAN KAMBING KACANG YANG DIBERI PAKAN DENGAN LEVEL PROTEIN-ENERGI BERBEDA On Line at : http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/aaj TINGKAH LAKU MAKAN KAMBING KACANG YANG DIBERI PAKAN DENGAN LEVEL PROTEIN-ENERGI BERBEDA (Eating Behaviour of Kacang Goat Fed Diets with Different

Lebih terperinci

PENINGKATAN DEGRADASI SERAT JERAMI PADI MELALUI PROSES FERMENTASI DAN SUPLEMENTASI ZINC-METHIONIN

PENINGKATAN DEGRADASI SERAT JERAMI PADI MELALUI PROSES FERMENTASI DAN SUPLEMENTASI ZINC-METHIONIN PENINGKATAN DEGRADASI SERAT JERAMI PADI MELALUI PROSES FERMENTASI DAN SUPLEMENTASI ZINC-METHIONIN (Improving Neutral Detergent Fiber Degradation of Rice Straw through Fermentative Process and Supplementation

Lebih terperinci