INVENTARISASI DAERAH PROSPEK URANIUM SEKTOR SIGLI ACEH TAHAPAN PROSPEKS: PENDAHULUAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "INVENTARISASI DAERAH PROSPEK URANIUM SEKTOR SIGLI ACEH TAHAPAN PROSPEKS: PENDAHULUAN"

Transkripsi

1 INVENTARISASI DAERAH PROSPEK URANIUM SEKTOR SIGLI ACEH TAHAPAN PROSPEKS: PENDAHULUAN Bambang Soetopo, Agus Sutriyono, Sajiyo Pusat Pengembangan Bahan Galian dan Geologi Nukiir-BATAN ABSTRAK INVENTARISASI DAERAH PROSPEK URANIUM SEKTOR SIGLI ACEH TAHAPAN PROSPEK~;I PENDAHULUAN. Penelitian ini dilakukan berdasar1<an kedapatan batuan sedimen yang diendapkan pada lingkungan reduktif yang potensial sebagai tempat akumulasi U dan batuan beku asam sampai menengah sebagai sumber.. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan awal tentan geologi, radiometri dan geokimia, serta untulk membatasi daerah prospek yang diangga potensial untuk pengembangan eksplorasi uranium. Penelitian dilakukan dengan pengamatan geoiogi, pengukuran radiometri, percontohan geokimia lumpur dan mineral berat dan analisis mineralogi dan geokimia. Oaerah penelitian seluas :!:2600 km2 tersusun oleh satuan sabak (Jura Awal), satuan sekis (Trias), satuan filit (Trias), satuan metanapal gampingan (Kapur), satuan granodiorit biotit (Kapur), satuan batulanau hitam (Eosen), satuan batupasir (Eosen), satuan granodiorit porpiri (Eosen), Batupasir konglomeratan (Oligosen Akhilr- Miosen awal), Batulanau (Miosen Tengah), Olivin basal (Miosen Tengah-Miosen Akhir) dan aluvial (Holosen). Batuan tersebut tersesar1<an oieh sesar mendatar sinistral timur laut-barat daya, sesar mendatar dekstral barat laut-tenggara, sesar naik barat laut-tenggara dan sesar normal barat baratlaut-timur tenggara. Radiometri batuan ber1<isar antara 4(1-100 cis, dan kawr U total batuan antara 0,36-150,84 ppm. Hasil analisis geokimia menunjukkan daerah anomali tadah seluas 93,186 km2. ABSTRACT URANIUM PROSPECT INVENTORY ON GENERAL PROSPECTION STAGE AT SIGU SECTOR ACEH. This study based on the considering of the existerk:e of reductive sedimentary rock and acid igneous rocks. The rocks could be favook>ie for uranium accumulation and source rocks respectively. The aim of this study is to understand the uranium geology, radiometric and geochemical anomalies distribution and it to delineate the prospective area to uranium accumulation. Method of this study field geological observations, radiometric measurements, stream sedimerrt and heavy mineral concentrate sampling, minerelogical and geochemicalaboratory analysis. litho logically, the area composed of slate (Early Yurassic), schist and phyllite (Triassic) and meta calcareous marl (Cretaceous). Those rocks un conformably overly by black siltstone and sandstone (Eocene) conglomerate sandstone (Late Oligocene-Early Miocene) siltstone (Middle Miocene). Some intrusions have been identified as biotite granodiorite (Cretaceou~~) porphyritic granodiorite (Eocene) and Olivine basalt ( Middle Miocene-late Miocene). The rock have been faulted by dextral strike slip fault NW-SE, thrust fault NW-SE, sinistral; strike slip fault NE-SW, and normal faults WNW-ESE:. Radioactivity value of rocks range between cps SPP2NF and it contains is range about ppm U. The geocl"igmical pro~t area has been defined at the area Of km2. PENDAHUlUAN Latar Belakang Oi daerah Sigli ditemukan kelompok batuan granitoid berumur Kapur yang potensial Sebagai sl:mber uranium dan batuan Sedimen Teffiier seperti F. Tangla, F. Agam dan F. Meucampli diendapkan pada lingkungan paralic-fluviatil berumur lebih muda dari pada kelorropok granitoid, yang potensial sebagai perangkap uranium i1j. Batuan sedimen T ersier tersebut merupakan hasi! rombakan dari batuan yang lebih tua ~ 8d batuan granitoid dan batuan malihan(2). Granitoid di daerah pe/lelitian identik dengan granit yang ditemukan (ji Tangse menunjukkan adanya indikasi peminelalen U, berupa temuan anomali radiometri sebesar 225 cis, contoh geokimia lumpur 40 ppm U (3). Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan pengetahuan ten tang geologi, radiometri dan geokimia yang berkaitan dengan mineraiisasi uranium dengan sasaran membatasi daerah yang prospek untuk ekspiorasi uranium janjutan. Secara Geografis daerah penelitian tel1etak diantara 40 r- PROSIDING -ISBN II -2

2 4300" " LU dan " " BT dan ser.ara adminitratif tennasuk Kecamatan T eunom, Kruengsabe, Setia Bakti Kabupaten Aceh Barat dan Kecamatan Glumpang Tiga, Mutiara, Tiro, Kemala Tangse, Gumpang, Delima, Padang Tiji Kabupaten Pidie. METODE KERJA.pengamatan geologi pada singkapan batuan yang meliputi aspek litologi, struktur dan mineralisasi tenggara. Geologi Daerah Penelitian Geologi daerah penelitian adalah sebagai berikut (Gambar 1) : 1. Satuan batu Sabak Penyebaran satuan tersebut berarah baratlauttenggara, terdiri dati sabak dan rijang yang keduanya tak terpisahkan..pengukuran radiometri singkapan dan bongkah batuan serta pengambilan contoh batuan yang mewakili setiap batuan untuk analisis mineralogi dan geokimia.pengambilan contoh lumpur sungai dan mineral berat pada cabang sljngai dan lintasan sungai seti2p 1-2,5 km serta dilakukan pengukuran radiometri.. preparasi contoh lumpur dan mineral beret untuk analisis laboratorium. arlalisis laboratorium Geokimia (kadar U mobil dan U total) dan Mineralogi (petrografi) HASIL DAN PEMBAHASAN Geoloyi Regional Geologi Galang dan Banda Aceh tersusun oleh intrusi batolit Sikuleh. Garis timur Geumpang tersusun oleh batuan sedimen Mesozoikum dan Paleozoiukum (Mum, Mug, Muw, Mutl) super group Tersier I, super grup Tersier II, super grup torsier III dan batuan volkanik muda, dan garis baret Gumpang tersusun oleh batuan meta sedimen Mesozoikum, volkanik Tersier, super grup tersier II, sedimen Pleistosen dan Alluvium. Struktur geologi yang bel1<embang adalah sesar Banda Aceh- ANI) dan sesar Baro 1] dijumpai pada bagian bawah Sungai Agam, Sungai Inong, Sungai Baro, Sungai Makup, Sur.gai Lutung, dengan penyebaran baret laut- 3. Satuan Sekis Penyebaran Satuan sakis berarah baratlauttenggara terdili dali sakis dan filit yang tak terpisahkan satu sarna lain dengan oominasi filit..filit, Sekis, tekstur lepidoblastik, sekistositi, ukuran sedang, komposisi felspar, kuarsa, klorit, serisit, biotit. lapuk kecoklatan, tekstur lepidoblastik, struktur seki stositi, ukuran O,006-O,12mm, komposisi kalsit, kua~, klorit, gipsum, minera! lempung, mineral opak. Satuan ini di terobos oleh diorit dan berdasarkan ciri litologi serta kedudukannya dilapangan dapat disebandingkan dengan Formasi Geumpang berumur Jura Atas. 2. Satuan Filit Poia penyebaran Satuan filii berarah timur lautbaret daya, terdiri dari :

3 JAKARTA, I 2 HE12002 I Filit, tekstur lepidoblastik struktur slat'j cleavage, ukuran sedang-halus, komposisi ortoklas, plagioklas, kiorit, biotii, serisit..kuarsit, tekstur granoblastik, ukuran pasir, kuarsa, felspar, n-luskovit, biotit, serisit. Berdasarkan!itologi dan kedudukan di lapangan satuan ini dapat disebandingkan dengan Kelompok Wyola berumur Trias. 4. Satuan Meta Napal gampingan Meta Napal gampingan, tekstur klastik, ukuran O,OO5-Q,OO8 mm, komposisi kalsit, mineral lempung, mineral ~k dan fosil, semen karbonat Batuan tersebut terdapat urat kalsit ukuran milirnetlik yang rnerupakan hasil rekristalisasi. Berdasarkan Giri litologi dan kedudukannya dilapangan satuan batuan tersebut dapat disebandingkan oongan Formasi Batugamping Teunom berumur Kapur 5. saw an granodiorit biotit terdiri dari : Satuan batuan tersebut berarah timur -barat, yang.granodlorit biotit, tekstur hotokristalin,.diorit, hipidiomolfik, bentuk anhedral-subhedral, ukuran O,O~,5 mm, komposisi plagioklas, ortoklas, kuarsa, klori~ biotit, monasit, apati~ horr.b!ende, mineral ~k. Batuan lersebut mengalami alterasi biotit terubah menjadi klorit, sedangkan ortoklas, plagioklas terubah menjadi serisit. Batuan tersebut mener(t)()s satuan meta napa! gampingan. tekstur holokristalin, hipidiomorfik, bentuk euhedral-subhedral, ukuran sedang-kasar, komposisi plagioklas, ortoklas, biotit, klorit, turmalin, hornblende. Fenokris felspar memper1ihatkan terorentasi. Granit pegmc:titik, tekstur holoklistalin, hipidiomorfik, bentuk euhedral, ukuran 0,08-6 mm, komposisi kuarsa, ortoklas, plagioklas, biotit, klorit, allanit, mikroklin, mineral opak. Batuan tersebut mengalami alterasi biotit terubah menjadi klorit..andesit,.basalt, tekstur holokristalin, porpiritik, ukllran halus, komposisi felspar, turmalin, biotit, hornblende, pirit, batuan tersebut tersingkap sebagai korok dalam granodiorit biotit. tekstur holokristalin, porpiritik, bentuk subhedral, ukuran 0,01-7 mm, komposisi mineral plagioklas, hornblende, augit, olivin, biotit, muskovit dan mineral opak. Batuan tersebut telah mengalami alterasi, pjagioklas dan ortoklas terubah menjadi serisit sedang biotit terubah menjadi kl.:>rlt. Kedapatan batuan tersebut sebagai korok da1am granodiorit biotit. Berdasarkan ciri litologi dan kedudukan dilapangan satuan tersebut dapat disebandingkan dengan granodiorit Sikuleh yang berumur Kapur. Satuan batuan tersebut menerobos satuan di atasnya (satuan batusabak, filit, sekis, metaru!pal gampingan). 6. SatuRn batulanau hitam Penyebaran Satuan batulanau hitam berarah baiat laut-tenggara, diendapkan tidak selaras di ~tas metarnlpal gampingaro terdiri dari :.Konglomerat, bentuk frngmen membulat tanggung, ukuran 1-10 cm, terdiri dari fragmen kuarsa andesit, sekis, diorit, dengan semen berupa silika, pemilahan jelek, kemas terbuka, porositas baik, kompak..batupasir, bentuk butir membl:lat tanggung, fragrnen dan matrik kuarna, kalsit, fosil, rijang, mikroklin, muskovit, plagioklas, biotit, gloukonit, semen silika dan karbonat, pemilahan baik, kemas tertutup, porositas baik, campuran pirit, kompak..batulanau hitam, ukuran lanau, bentuk membulat, campurnn serisit, muskovit Berdasarkan ciri litologi dan kedudukan di lapangan satuan batuan tersebut dapat disebandingkan dengan 90

4 Formasi Meucampli berumur Eosen, diendapkan pada lingkungan paralik-fluviatil. 7. Satuan batupasir Penyebaran Satuan tersebut berarah timur -barat, diendapkan tidak selaras di atas metanapal gampingan terdiri dari :.Batupasir, bentuk membulat, ukuran halus-sedang, pemilahan baik, kemas terbuka, fragmen/matrik kuarsa, muskovit, kalsit, biotit, plagioklas, mineral opak, gloukonit, semen silika dan karbonat, porositas baik, kompak..batupasir konglomeratan, bentuk membulat tanggung, ukuran pasir, pemilahan baik, kemas terbuka, fragmen/matrik kuarsa, muskovit, felspar, biotit, hornblende, semen silika, porositas baik, kompak..batupasir lanauan, bentuk membulat, ukuran pasir halus, komposisi mineral sedikit, muskovit, felspar, kuarsa, klorit. Pada satuan batuan ini memper1ihatkan struktur "paralel laminas! dan "cross laminas! dan didukung dengan ditemukannya mineral gloukonit. Berdasarkan ciri litologi dan kedudukan di lapangan satuan tersebut dapat disebandingkan dengan Formasi Agam berumur Eosen Awa:, diendapkan pada lingkungan sublitoral-paralik. 8. Sawan granodiorit porfiri Penyebaran satuan batuan tersebut berarah barat :aut-tenggara terdiri dati :.Granodiorit portiri, tekstur holokristalin, portiritik, ukuran 0,006-2,5 mm, bentuk anhedral, komposisi plagioklas, hornblende, kuarsa, ortoklas, hipersten, pirit, biotit, muskovit, augit. Sebagian ortoklas dan plagioklas terubah menjadi serisit dan mineral lempung, sedang biotit terubah menjadi klorit..andesit. tekstur holokristalin, portiro afanitik,.dasit, ukuran halus, komposisi plagioklas, turmalin, biotit, hornblende, batuan tersebut terdapat sebagai korok dalam diorit berarah N 3000 E. tekstur holokristalin, porfiritik, bentuk mineral anhedral-euhedral, ukuran 0,009-5 mm, komposisi kuarsa, plagioklas, hornblende, biotit, muskovit, apatit, alanit, mineral opak. Sebagian plagioklas terubah menjadi serisit, sedang biotit terubah menjadi klorit serta apatit terubah menjadi kalsit, diduga sebagai proses hidrotermal magmatik. Batuan tersebut tak terpisahkan dengan granodiorit porfi ri. Berdasarkan ciri litologi dan kedudukan di lapangan satuan tersebut dapat disebandingkan dengan Komplek Gle Seukeun berumur Eosen. Satuan tersebut menerobos satuan di atasnya (batu pasir, batulanau pasiran) 9. Satuan batupasir konglomeratan Penyebaran satuan batuan tersebut berarah baratlaut-tenggara, satuan ini diendapkan selaras di atas satuan batupasir dan batulanau hitam yang terditi dati:.batupasir konglomeratan, bentuk membulat tanggung, ukuran pasir kasar-kerakal, fragmen kuarsa, felspar, matrik kuarsa, felspar, klorit, glukonit, hornblende, semen silika, pemilahan jelek, kemas terbuka, kompak..batupasir, bentuk membulat, ukuran O,OO1.{),3 mm, komposisi kuarsa, ortoklas, plagioklas, kalsit, fosil, mineral opak, pemilahan baik, kemas tertutup, porositas baik, kompak. Berdasarkan ciri litologi dan kedudukan di lapangan satuan batuan tersebut dapat disebandingkan dengan Formasi Tangla berumur Oligosen Akhir-Miosen Awal, diendapkan pada lingkungan paralik-fluviatil. PkOS\OING -ISBN II.2 91

5 10. Satuan batulanau Penyebaran satuan batuan tersebut berarah baratlaut-tenggara, diendapkan Udak selaras di alas satuan batupasir konglomerntan yang terdiri dari :.Konglomerat, bentuk fragmen membulat, ukuran kerakal, pemilahan jelek, kemas terbuka, fragmen andesit, diorit, rijang, kuarsa, filit, matrik pasir, semen silika, kompak dan terdapat struktur "graded bedding" terbentuk pada arus normal.batupasir, bentuk buur membulatanggung, ukuran pasir, pemifahan baik, kemas tertutup, matrik kuarsa, felspar, klorit, biotit, semen silika, kompak..batulanau, bentuk membulat, ukuran lanau, komposisi felspar, serisit, kuarsa..batugamping, putih kekuningan, bentuk butir merrbulat tanggung, ukuran pasir halus, rnatrik, felspar, kalsit, kuarsa, semen karbonat, kompak. Berdasarkan ciri litologi dan kedudukan di lapangan satuan batuan tersebut dapat disebandingkan dengarl Forrnasi Kota Bakti berumur Miosen Tengah, diendapkan pada fingkungan sub litoral. 11. Satuan Olivin basal Satuan oiivin basat, tekstur lepidoblastik, ukuran sedaflg-halus, komposisi klorit, antigorit, krisotil, olivin, mineral ~k. Batuan tersebut teralterasi menjadi kaolin. Berdasarkan ciri litologi dan kedudukan di lapangan satuan batuan tersebut sebanding dengan serpentinit Tangse berumur Miosen Tengah-Miosen Akhir. 12. Aluvial Penyebaran endapan aluvial berarah barat lauttenggara, endapan aluvial ini merupakan rombakan batuan yang lebih tua, berumur Holosen. Struktur geologi yang berkembang berupa :.Stratifikasi dan Foliasi, Stratifikasi di batuan sedimen sebagai struktur primer terdapat di batupasir, batulanau berupa struktur laminasi, struktur silang siur dan struktur.graded bedding". Secara umum berarah N E/ E dan ~J E/ E. Sedang foliasi terdapat dalam batuan malihan yang teidiri dari filit, sekis, batusabak, secara umum berarah N 12~;o E/ E. Dari hasil pengukuran jurus dan kemiringan perlapisan batuan pada daeriah penelitian di dapatkan struktur antiklin deng.an sumbu berarah barat laut-tenggara. Sesar yang dijumpai berupa Sesar normal berarah N 112 E/ 700, sesar mendatar dektral berarah N E/ dan sesar mendatar sinistral berarah N 100 E serta sesar naik N 2600 E, kemiringan sub vertikal Radiometri Pengukuran radiometri dilakukan pada singkapan batuan, contoh lumpur dan mineral beret, radiometri batuan dievaluasi berdasarkan jenis batuan. Clari beberapa pengukuran radiometri contoh lumpur clan mineral berat dihitung secara statistik, anomali radiometri dinyatakan sarna dengan atau lebih besar dari M + 2 S. 1. Radiometri Singkapan batuan Pengukurnn rndiometri batuan dilakukan pada setiap singkapan, menunjukkan harga yang bervariasi antarn cis dengan harga latar 40 cis. (Tabel 1) 2. Radiometri contoh lumpur $ungai Hasil pengukuran radiometri dati 220 contoh lumpur sungai menunjukkan kisaran antara rjs. Dari hasil perhitungan statistik diperoleh harga rata-rata (M) = 50,25 rjs, nilai simpangan baku (8) = 14,25 rjs dan nilai anomali (M+2 S) = 79,25 rjs. Berdasal'kan perhitungan statistik terdapat 12 contoh yang menunjukkan anomali, yaitu di S. Sikuleh dan S. Tangse

6 -- SE~INAR ImK NUKUR DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA TAMBANG JAKARTA, PUSAT PENGEHBANGAN BAHAN GALIAN DAN GEOlOGI NUKLIR -BATAN 2 HE Radiometri contoh mineral berat Hasil pengukuran radiometri mineral berat sebanyak 135 contoh, menunjukkan kisaran cis. Dan hasil perhitungan statistik diperoleh nilai rata-rata (M) = 48,1 cis, nilai simpangan baku (S) = 15,21 cis dan nilai anomali (M+2S) = 78,83 cis. Berdasar1<an statistik di daerah penelitian terdapat 6 contoh yang menunjukkan anomali, yaitu di S. Sikuleh. Geokimia Anomali geokimia dititik beratkan pada analisis kadar U mooil pada contoh lumpur sungai dan mineral berat. Evaluasi kadar lumpur sungai dan mineral berat dihitung secara statistik ares dasar domain litologi batuan beku, metasedimen, dan sedimen. Nilai anomali dinyatakan oleh nilai kadar sarna dengan atau lebih besar dati M+2S. 1. Kadar U mobil contoh lumpur sungai Untuk mendapatkan nilai anomali kadar U dari 220 contoh lumpur dilakukan perhitungan secara statistik yang didasarkan atas domain litoiogi batuan beku dan batuan sedimen serta batuan metasedimen. Dari perhitungan statistik diperoleharga rata-rata (M) = 0,25 ppm, sirnpangan baku (5) = 0,20 ppm dan anomali (M+2S) = 0,65 ppm, harga tersebut untuk batuan metasedimen dan batuan sedimen, sedang untuk batuan beku harga rata-rata (M) = 0,73 wm, simpangan baku (8) = 0,50 ppm dan anomali (M+2S) = 1,81 ppm ( Gambar 2). 2. Kadar U mobil contoh mineral berat Untuk mendapatkan nilai anomali kadar U dati 135 contoh mineral berat dilakukan perhitungan secara statistik yang didasarkan atas domain litologi batuan beku dan batuan sedimen gerta batuan metasedimen. Oari perhitungan statistik diperoleharga rata-rata (M) = 0,58 ppm, simpangan baku (8) = 4,32 ppm dan anomali (M+2S) = 13,22 ppm, harga tersebut untuk batuan metasedimen dan batuan sedimen, sedang untuk batuan beku harga rata-rata (M) = 11,42 ppm, simpangan baku (S) = 7,42 ppm dan anomali (M+2S) = 26,34 ppm (Gambar 3). 3. Kadar U total batuan Dari hasil analisis kadar U total batuan berkisar antara 0,36-150,34 ppm, sedang anomali kadar U berkisar an tara 9,50-150,84 ppm terdapat pads 6 lokasi dalam litologi granodiorit biotit, diorit, kuarsit, batupasir, dan batupasir konglomeratan (TabeI1).. Keberadaan min~ral radioaktif Keberadaan elemen radioaktif bersumber dari batuan granodiorit biotit yang berumur Kapur dan terooosan dasit yang berumur Eosen. Dari hasil analisis petrografi. batuan tersebut mengandung mineral allanit dan monasit dengan menunjukkan jejak partikel alpa pada film CN 85 sebagai indikasi adanya elemen radioaktif. Sedang hasil analisis geokimia menunjukkan kadar U total batuan 2,95-150, 88 serta kadar U mobil contoh lumpur menunjukkan anomali sebesar >1,81 ppm dengan harga later 0,73 ppm, sedang kadar U mobil contoh mineral berat menunjukkan anomali set>esar 26,34 ppm dengan harga later 11,42 ppm. Dali beberapa parameter tersebut ditunjukkan mineral radiokatif berupa allanit den monasit yang berasal dali terd>osan granodiolit biotit dengan indikasi adanya kenaika nilai radiometri pada daerah kontak yaitu dali 40 rjs rnenjadi 125 rjs den kadar U total batuan kuarsit, rnetalanau berkisar antara 9,50-100,51 ppm. Akibat proses pelapukan pada batuan granodiolit biotit den metasedimen rnaka mineral allanit, monasit terlepas, tertranspor dan kemudian terperangkapada batupasir dan batupasir konglomeratan yang berumur Oligosen Akhir-Miosen awe! dengan ditunjukkan anomali kadar U

7 total batuan 37,12-00,44 ppm dan anomali kadar U mineral berat > 13,22 ppm dengan adanya terobo~n dasit yang berumur Eosen mengakibatkan kenaikanilai radiometri dan 50 cis menjadi 150 cis, kadar U total menunjukkan 37,12-00,44 ppm.hasil analisis kadar U mobil pada contoh lumpur menunjukkan anomali 0,65 ppm dengan harga latar 0,25 ppm sedang mineral berat menunjukkan anomali sroesar 13,22 ppm dengan harga latar 5,86 ppm. Dan beberapa kelompok anomali pada peta geokimia baik pada U lumpur maupun mineral berat 00ngan ~rhatikan litologinya, maka akan diketahui pef1<jraan kemungkinan sektor yang paling menank untuk dkembangkan. Untuk itu dilakukan penggabungan penyebaran daerah anomali lumpur, daerah anornali mineral hemt dan kadar U total batuan. Dan hasil penggctjungan atau paduan tersebut ddapatkan 6 kelompok daerah tadah kadar U yang paling menank dengan luas 93,186 km ( 3,58 %) dan daerah penelitian dengan litologi granodiorit biotit, dasit, filit dan batupasir konglomeratan (Gambar 4). Keberadan mineral radioaktif pada batuan beku di daerah tersebut berkaitan dengan proses hidrotermal magrnatik dengan terdapatnya urat-urat kuarsa. KESlft'PULAN 1. GeoIogi daerah penelitian terdiri dari satuan sabak, satuan sekis, satuan filit, satuan meta napa!. t s. a IG ". t" gampingan, satuan granodiorit biotit, satuian batulanau hitam, satuan batupasir, satucan granodiorit pcrpiri, satuan batupasir konglomerataln, satuan batufanau, satuan oiivin basalt dan aluvial 2. Radiometri relatif tinggi terdapat pads kontak batuan granodiorit biotit dengan metasedirnen, pembacaan 125 cis dan kadar U total 100,51 ppm. 3. Mineral yang mengandung unsur radioaktif ~)8 monasit dan a/lanit bersumber dari granodiorit biotit dan dasit yang berkaitan dengan proses hidrotermall. 4. Oaerah tadah anomali U yang paling rnenar;k terdapat pada 6 lokasi dengan luas 93,186 km2 (3,fiS %). DAFTARPUSTAKA 1. JD.BENNETT.D.MCC, DKK, Geologi Lembar Calang, Sumatra, Pusat Penelitian dcln Pengembangan GeoIogi, Direktorat Jendral Pertambangan Umum, Departemen Pertambangan dan Energi, JD. BENNETT D. MCC, DKK, GeoIogi Lembiar Banda Aceh, Sumatra, Pusat Penelitian dcln Pengembangan GeoIogi, Direktorat Jend~al Pertambangan Umum, Departemen Pertambangan dan Energi, T 1KJei1.Pengukuran Radiometri dan Kadar U T olal batua!l 3. RAMADANUS, DKK, PPBGN-BATAN, Prospeksi Pendahuluan Sektor Tangse, Aceh Pidie, 198:2. I ~d$ _u BIO-' ~ 4)-« e-lm O,~ BIO-'- ~ 75 2,55 BIO-'mngm..- BIO-'ko ~-M ~ BIO-'ko...r8I81 «I «I Set;. Sam 4)-50 Fa Sam 4) 0,* Fa Fa 4) 1.16 KU8.a FB FB 50 9,50 0iWI- 0iWI 4)-M 1,~ Rij8Ig ~ 5O_-M 0,76 "'-"'~ ~~ 50-~ 3,25 _boil _..il- 6J-~ 150,84 [);,ffl -~It~.. «I-E Gf8R)dudb;," o,~ Gfri" Gt""'~ffl"'" 00..~ Deli _~d,..1poi ~ _Ii _uli,..1poi ~-Im o~ «I '4 PP'OSIDING -~N '7'-876'~ 11-2

8 SEMINAR IPTEK NUKUR DAN PENGELOLAAN SUMRER DAYA TAMUi4.NG PUSAT PENGEHBANGAN BAHAN GALIAN DAN GEOLOGI NUKLIR -BATAN --JAKARTA. 1 2 ~E!~~ Gambar 1. Pet; Geclogi Daerah Penelitian PROSIDING -ISBN II -2 95

9

10 Gamb~r 3. P,ta K'iamaan Kadar U Mobil Minerai Birat PROSIDING -ISBN

11 98 Gambar~. Peta Paduan Ke amaan Kadar Gtokimia U Mobillumpur O..n Mine~1 Bern

12 Oiskusi 1. P.Widito (P2BGGN) a. Prospeksi ini ditujukan hanya untuk mencari anomali yang didasar1<an pada pertjitungan statistik, bagaimananomali tersebut dihubungkan dengan kadar U batuan pada umumnya, sedimen, beku dan rnetamorf? b. Adakah suatu batasan kadar U yang anomali dalam mineral berat, lumpur dan batuan? BalTbang Soet~ : a. Hli>ungan anomali lulr4>ur, mineral berat dengan kadar U pada batuan sedirnen, rnetamof dan beku adalah mempunyai kesamaan. T erbukti pada kadar U batuan yang tinggi, temyata kadar U dalam lulr4>ur juga tinggi -Kadar U batuan beku tinggi 21,04-150,84 WfTl, sehingga anomali lurnpur dan mineral berat juga tinggi (1,81-26,34) wm -Kadar U batuan sedimen dan metamorf relatif tinggi 9,50-100,55 wftl. sehingga anomali lumpur dan mineral beratjuga tinggi (0,65-13,22) wm b. Batasan kadar U dalam mineral berot, Lumpur dan batuan, ada sebagai anomali yaitu : Rumus M + 2 S -Batasan anomali kadar U daiam mineral berat : beku > 26,34 wm, sedang Metamorf dan sed:men > 13,22 ppm. -Batasan anomali kadar U dalam lurnpur : beku > 1,81 ppm, sedang metamorf dan sedimen sebesar > 0,65 ppm. -Batasan anomali kadar U batuan : batuan beku > 150,84 ppm, batuan metamorf > 100,51 ppm dan batuan sedimen > 90,44 ppm. 2. Sapardi (P2BGGN BATAN) Tidak ada korelasi antara kesimpulan dengan latar belakang prospeksi yang dilakukan, yaitu daerah anomali (radiometri) dalam batuan beku dan rnetamorf. Sernentara yang dikejar misinya adalah batuan seamen reduktif. Saran evaluasi kembali kesimpulan yang ditank. Barrmng Soet~ : Saran ditenma, dalam kesimpulan masih ada kekurangan karena yang dievaluasi berdasarkan paduan kadar U mineral berat dan lumpur, kadar U total batuan belum tercantumkan. Dan hasil analisa kadar U total batuan pada batupasir dan batupasir konglometan menunjukkan anomali dengan kadar 37,12-00,44 ppm dan anomali kadar U mineral berat > 13,22 ppm, sedang hasil analisis petrografi batuan te~ut rnengandungloukonit dan mineral ~k yang diduga diendapkan pada kondisi reduktif. Dan data tersebut diperoleh daerah yang prospek terapat pada batuan beku, batuan metamorf dan batuan sedimen. PROSIDING.ISBN II -2 99

I.1 Latar Belakang I.2 Maksud dan Tujuan

I.1 Latar Belakang I.2 Maksud dan Tujuan BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Formasi Latih tersusun dari perselang-selingan antara batupasir kuarsa, batulempung, batulanau dan batubara dibagian atas, dan bersisipan dengan serpih pasiran dan

Lebih terperinci

Bab II Geologi. Tesis

Bab II Geologi. Tesis Bab II Geologi II.1 Kesampaian Daerah Daerah penelitian merupakan daerah konsesi PKP2B PT. Berau Coal site Lati. Daerah Lati secara administratif terletak di wilayah Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau,

Lebih terperinci

SEBARAN MONASIT PADA GRANIT DAN ALUVIAL DI BANGKA SELATAN

SEBARAN MONASIT PADA GRANIT DAN ALUVIAL DI BANGKA SELATAN SEBARAN MONASIT PADA GRANIT DAN ALUVIAL DI BANGKA SELATAN Ngadenin Pusat Pengembangan Geologi Nuklir (PPGN) BATAN Jl. Lebak Bulus Raya No. 9 Pasar Jumat, Jakarta Tlp. 21-7691775, Fax. 21-7691977, Email:

Lebih terperinci

MENENTUKAN BATAS SATUAN BATUAN. Arie Noor Rakhman

MENENTUKAN BATAS SATUAN BATUAN. Arie Noor Rakhman MENENTUKAN BATAS SATUAN BATUAN Arie Noor Rakhman Pemetaan Geologi Kolom Litologi Kolom Stratigrafi Peta Geologi Pemetaan geologi menghasilkan pembagian satuan batuan batas satuan batuan korelasi antar

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU UTARA DINAS PERTAMBANGAN, ENERGI DAN LINGKUNGAN HIDUP

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU UTARA DINAS PERTAMBANGAN, ENERGI DAN LINGKUNGAN HIDUP PETA POTENSI BAHAN GALIAN KETERANGAN : 1 = PT. SEKO INTI LESTARI; 56.000 Ha 2 = PT. USAHA TIGA GENERASI; 19.000 Ha atan Sabb ang appa atan S 3 4 5 = CV. BONTALI ANUGRAH; 14.170 Ha = PT. ANEKA TAMBANG ;

Lebih terperinci

STUDI IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAN KEBERADAAN HIDROKARBON BERDASARKAN DATA ANOMALI GAYA BERAT PADA DAERAH CEKUNGAN KALIMANTAN TENGAH

STUDI IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAN KEBERADAAN HIDROKARBON BERDASARKAN DATA ANOMALI GAYA BERAT PADA DAERAH CEKUNGAN KALIMANTAN TENGAH STUDI IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAN KEBERADAAN HIDROKARBON BERDASARKAN DATA ANOMALI GAYA BERAT PADA DAERAH CEKUNGAN KALIMANTAN TENGAH Dian Erviantari dan Muh. Sarkowi Program Studi Teknik Geofisika

Lebih terperinci

Cara mempelajari Struktur geologi

Cara mempelajari Struktur geologi Cara mempelajari Struktur geologi Tahapan cara mempelajari : I. Pengenalan struktur: lipatan, rekahan, sesar dalam bentuk 2 demensi untuk dapat dikenali sebagai bentuk 3 demensi II. Rekaman data III. Analisa

Lebih terperinci

TINJAUAN SIFAT-SIFAT AGREGAT UNTUK CAMPURAN ASPAL PANAS

TINJAUAN SIFAT-SIFAT AGREGAT UNTUK CAMPURAN ASPAL PANAS Saintek Vol 5, No 1 Tahun 2010 TINJAUAN SIFAT-SIFAT AGREGAT UNTUK CAMPURAN ASPAL PANAS ABSTRAK (STUDI KASUS BEBERAPA QUARRY DI GORONTALO) Fadly Achmad Dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

PENYEBARAN MERKURI AKIBAT USAHA PERTAMBANGAN EMAS DI DAERAH SANGON, KABUPATEN KULON PROGO, D.I. YOGYAKARTA

PENYEBARAN MERKURI AKIBAT USAHA PERTAMBANGAN EMAS DI DAERAH SANGON, KABUPATEN KULON PROGO, D.I. YOGYAKARTA PENYEBARAN MERKURI AKIBAT USAHA PERTAMBANGAN EMAS DI DAERAH SANGON, KABUPATEN KULON PROGO, D.I. YOGYAKARTA Oleh: Bambang Tjahjono Setiabudi SUBDIT KONSERVASI ABSTRACT Inventory of mercury distribution

Lebih terperinci

REKONSTRUKSI STRUKTUR GEOLOGI DI BINUNGAN BLOK 1-2 DAN PARAPATAN, KECAMATAN TANJUNGREDEB, KABUPATEN BERAU, KALIMANTAN TIMUR

REKONSTRUKSI STRUKTUR GEOLOGI DI BINUNGAN BLOK 1-2 DAN PARAPATAN, KECAMATAN TANJUNGREDEB, KABUPATEN BERAU, KALIMANTAN TIMUR REKONSTRUKSI STRUKTUR GEOLOGI DI BINUNGAN BLOK 1-2 DAN PARAPATAN, KECAMATAN TANJUNGREDEB, KABUPATEN BERAU, KALIMANTAN TIMUR Oleh : Alfeus Yunivan Kartika The research area is administratively located in

Lebih terperinci

BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA

BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA IV.1 TINJAUAN UMUM Pengambilan sampel air dan gas adalah metode survei eksplorasi yang paling banyak dilakukan di lapangan geotermal.

Lebih terperinci

SOAL SELEKSI OSN 2008 BIDANG ILMU KEBUMIAN UNTUK TINGKAT KABUPATEN/KOTA. Soal 1-40 Geologi/Geofisika

SOAL SELEKSI OSN 2008 BIDANG ILMU KEBUMIAN UNTUK TINGKAT KABUPATEN/KOTA. Soal 1-40 Geologi/Geofisika SOAL SELEKSI OSN 2008 BIDANG ILMU KEBUMIAN UNTUK TINGKAT KABUPATEN/KOTA Soal 1-40 Geologi/Geofisika 1. Panjang rata-rata jari-jari bumi adalah A.4371 km B. 5371 km C. 6371 km D. 7371 km E. 8371 km 2. Struktur

Lebih terperinci

GEOLOGI STRUKTUR. PENDAHULUAN Gaya/ tegasan Hasil tegasan Peta geologi. By : Asri Oktaviani

GEOLOGI STRUKTUR. PENDAHULUAN Gaya/ tegasan Hasil tegasan Peta geologi. By : Asri Oktaviani GEOLOGI STRUKTUR PENDAHULUAN Gaya/ tegasan Hasil tegasan Peta geologi By : Asri Oktaviani http://pelatihan-osn.com Lembaga Pelatihan OSN PEDAHULUAN Geologi : Ilmu yang mempelajari bumi yang berhubungan

Lebih terperinci

Identifikasi Struktur. Arie Noor Rakhman, S.T., M.T.

Identifikasi Struktur. Arie Noor Rakhman, S.T., M.T. Identifikasi Struktur Arie Noor Rakhman, S.T., M.T. Dasar Analisis Macam keterakan berdasarkan gaya pembentuknya: Irrotational Strain (pure shear) disebabkan tegasan tekanan (model Moody & Hill, 1956)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Geomorfologi merupakan ilmu yang mempelajari bentuklahan dan proses proses yang mempengaruhinya serta menyelidiki hubungan timbal balik antara bentuklahan dan proses

Lebih terperinci

METODE GEOLISTRIK UNTUK MENDETEKSI AKUIFER AIRTANAH DI DAERAH SULIT AIR (STUDI KASUS DI KECATAMAN TAKERAN, PONCOL DAN PARANG, KABUPATEN MAGETAN)

METODE GEOLISTRIK UNTUK MENDETEKSI AKUIFER AIRTANAH DI DAERAH SULIT AIR (STUDI KASUS DI KECATAMAN TAKERAN, PONCOL DAN PARANG, KABUPATEN MAGETAN) METODE GEOLISTRIK UNTUK MENDETEKSI AKUIFER AIRTANAH DI DAERAH SULIT AIR (STUDI KASUS DI KECATAMAN TAKERAN, PONCOL DAN PARANG, KABUPATEN MAGETAN) METODE GEOLISTRIK UNTUK MENDETEKSI AKUIFER AIRTANAH DI DAERAH

Lebih terperinci

Adapun tujuan dari mempelajari geologi struktur adalah antara lain:

Adapun tujuan dari mempelajari geologi struktur adalah antara lain: 7 GEOLOGI STRUKTUR 7.1 Pendahuluan Geologi struktur adalah bagian dari ilmu geologi yang mempelajari tentang bentuk (arsitektur) batuan sebagai hasil dari proses deformasi. Adapun deformasi batuan adalah

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan. I.1 Maksud dan Tujuan

Bab I Pendahuluan. I.1 Maksud dan Tujuan Bab I Pendahuluan I.1 Maksud dan Tujuan Pemboran pertama kali di lapangan RantauBais di lakukan pada tahun 1940, akan tetapi tidak ditemukan potensi hidrokarbon pada sumur RantauBais#1 ini. Pada perkembangan

Lebih terperinci

Ngadenin, Lilik Subiantoro, Kurnia Setiawan W, Agus Sutriyono, P. Widito PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN GALIAN DAN GEOLOGI NUKLIR - BATAN

Ngadenin, Lilik Subiantoro, Kurnia Setiawan W, Agus Sutriyono, P. Widito PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN GALIAN DAN GEOLOGI NUKLIR - BATAN PROSIDING SEMINAR GEOLOGI NUKLIR DAN SUMBERDAYA TAMBANG TAHUN 2004 POSAT PENG6MBANSAN BAHAN GALIAN DAN GEOIOGI NUKLIR-BATAN Jakorta. 22 Septembef 2QO«]l PEMETAAN GEOLOGI DAN IDENTIFIKASI SESAR AKTIF DL

Lebih terperinci

Sesar (Pendahuluan, Unsur, Klasifikasi) Arie Noor Rakhman, S.T., M.T.

Sesar (Pendahuluan, Unsur, Klasifikasi) Arie Noor Rakhman, S.T., M.T. Sesar (Pendahuluan, Unsur, Klasifikasi) Arie Noor Rakhman, S.T., M.T. Pendahuluan Permasalahan teknik di tambang pada masa lampau bagaimana cara menemukan sambungan dari bahan cebakan atau lapisan batubara

Lebih terperinci

Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa

Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa Rajiman A. Latar Belakang Pemanfaatan lahan memiliki tujuan utama untuk produksi biomassa. Pemanfaatan lahan yang tidak bijaksana sering menimbulkan kerusakan

Lebih terperinci

POTENSI DAN PEMANFAATAN ZEOLIT DI PROVINSI JAWA BARAT DAN BANTEN

POTENSI DAN PEMANFAATAN ZEOLIT DI PROVINSI JAWA BARAT DAN BANTEN POTENSI DAN PEMANFAATAN ZEOLIT DI PROVINSI JAWA BARAT DAN BANTEN Oleh HERRY RODIANA EDDY Kelompok Kerja Mineral SARI Pemanfaatan zeolit untuk digunakan dalam berbagai industri dan pertanian akhirakhir

Lebih terperinci

Minyak dan gas bumi merupakan sumber energi yang. tidak dapat diperbaharui. Kebutuhan minyak bumi tidak hanya

Minyak dan gas bumi merupakan sumber energi yang. tidak dapat diperbaharui. Kebutuhan minyak bumi tidak hanya BAB PENDAHULUAN Minyak dan gas bumi merupakan sumber energi yang tidak dapat diperbaharui. Kebutuhan minyak bumi tidak hanya sebagai sumber energi saja, tetapi juga sebagai bahan baku plastik, pupuk, pestisida

Lebih terperinci

KAJIAN AWAL BAHAYA GEOTEKNIK PONDASI PLTN: STUDI KASUS PADA CALON TAPAK DI PULAU BANGKA

KAJIAN AWAL BAHAYA GEOTEKNIK PONDASI PLTN: STUDI KASUS PADA CALON TAPAK DI PULAU BANGKA KAJIAN AWAL BAHAYA GEOTEKNIK PONDASI PLTN: STUDI KASUS PADA CALON TAPAK DI PULAU BANGKA Basuki Wibowo, Imam Hamzah, Eko Rudi I, Bansyah Kironi -BATAN Jl. Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta 12710

Lebih terperinci

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA PULAU BALI 1. Letak Geografis, Batas Administrasi, dan Luas Wilayah Secara geografis Provinsi Bali terletak pada 8 3'40" - 8 50'48" Lintang Selatan dan 114 25'53" -

Lebih terperinci

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI GEOLOGI DAN STUDI BATUAN GRANIT DAERAH AMAHUSU DAN SEKITARNYA KECAMATAN NUSANIWE KOTA AMBON PROVINSI MALUKU SKRIPSI Oleh: THOMAS L.N 111 040 132 JURUSAN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS

Lebih terperinci

TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme :

TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme : TANAH Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah Hubungan tanah dan organisme : Bagian atas lapisan kerak bumi yang mengalami penghawaan dan dipengaruhi oleh tumbuhan

Lebih terperinci

RONA AWAL LINGKUNGAN CALON TAPAK PLTN STUDI KASUS MUNTOK, KAB. BANGKA BARAT

RONA AWAL LINGKUNGAN CALON TAPAK PLTN STUDI KASUS MUNTOK, KAB. BANGKA BARAT RONA AWAL LINGKUNGAN CALON TAPAK PLTN STUDI KASUS MUNTOK, KAB. BANGKA BARAT Lilin Indrayani Direktorat Inspeksi Instalasi dan Bahan Nuklir -BAPETEN ABSTRAK RONA AWAL LINGKUNGAN CALON TAPAK PLTN STUDI KASUS

Lebih terperinci

Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut

Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut Pengelolaan Tanah dan Air di Lahan Pasang Surut Penyusun IPG Widjaja-Adhi NP Sri Ratmini I Wayan Swastika Penyunting Sunihardi Setting & Ilustrasi Dadang

Lebih terperinci

PENGARUH PENGGERUSAN MINERAL BERAT PADA ANALISIS U MOBIL. Tatang Suhennan *)

PENGARUH PENGGERUSAN MINERAL BERAT PADA ANALISIS U MOBIL. Tatang Suhennan *) Prosiding Seminar Pranata NukJir dad Teknisi Litkayasa P2BGN -BATAN ISBN, 979-8769 - 10-4 PENGARUH PENGGERUSAN MINERAL BERAT PADA ANALISIS U MOBIL Tatang Suhennan *) ABSTRAK PENGARUH PENGGERUSAN MINERAL

Lebih terperinci

Pengkajian salinitas tanah secara cepat di daerah yang terkena dampak tsunami Pengalaman di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Pengkajian salinitas tanah secara cepat di daerah yang terkena dampak tsunami Pengalaman di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Pengkajian salinitas tanah secara cepat di daerah yang terkena dampak tsunami Pengalaman di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tsunami yang terjadi di Samudra Hindia pada tanggal 26 Desember 2004 mengakibatkan

Lebih terperinci

Bab-3 RONA LINGKUNGAN HIDUP

Bab-3 RONA LINGKUNGAN HIDUP Bab-3 RONA LINGKUNGAN HIDUP Sesuai dengan hasil telaahan kaitan komponen kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak dan jenis-jenis dampak potensial yang ditimbulkannya, maka berikut ini adalah komponen

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1. Aspek Geografi dan Demografi 2.1.1. Aspek Geografi Kabupaten Musi Rawas merupakan salah satu Kabupaten dalam Provinsi Sumatera Selatan yang secara geografis terletak

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/PL.110/2/2009 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/PL.110/2/2009 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/PL.110/2/2009 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN LAHAN GAMBUT UNTUK BUDIDAYA KELAPA SAWIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

'- I S~ftIMAR IPTEK NUKlI.t DAN PfNGELOIAAN SUMiEft DAY1- TAi4BANG

'- I S~ftIMAR IPTEK NUKlI.t DAN PfNGELOIAAN SUMiEft DAY1- TAi4BANG '- I S~ftIMAR IPTEK NUKlI.t DAN PfNGELOIAAN SUMiEft DAY1- TAi4BANG I PUSAT PENGEMBAHGAN BAHAN GALL4N DAN GEOlOGI NUKLIR -BATAN." -~ jakar:fa, 02 H i 2002 PENYELlDIKAN GEOHIDROLOGI DAERAH PANTAI KABUPATEN

Lebih terperinci

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PEMANFAATAN AIR HUJAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa air hujan merupakan sumber air yang dapat dimanfaatkan

Lebih terperinci

Petunjuk Pengunaan Saringan Air Nazava Nazava Tulip sipon

Petunjuk Pengunaan Saringan Air Nazava Nazava Tulip sipon Nazava saringan air Petunjuk Pengunaan Saringan Air Nazava Nazava Tulip sipon Kami mengucapkan dan terima kasih atas kepercayaan anda membeli Saringan Air Nazava. Dengan Saringan Air Nazava anda bisa dapat

Lebih terperinci

Tabel 2.14. Data Iklim Wilayah Studi

Tabel 2.14. Data Iklim Wilayah Studi 2.2. LINGKUP RONA LINGKUNGAN HIDUP AWAL Sesuai dengan hasil telaahan kaitan komponen kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak dan jenis-jenis dampak potensial yang ditimbulkannya, maka berikut ini adalah

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 07 TAHUN 2012 TENTANG

REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 07 TAHUN 2012 TENTANG MENTERI ENEAGI DAN SUMBER DAY A MINERAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 07 TAHUN 2012 TENTANG PENINGKATAN NILAI TAMBAH MINERAL MELALUI KEGIATAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Komunitas Tumbuhan Bawah Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupannya

Lebih terperinci

Disampaikan pada acara:

Disampaikan pada acara: GOOD MINING PRACTICE Disampaikan pada acara: Rapat Kerja Evaluasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Perhitungan Kontribusi Penurunan Beban Pencemaran Lingkungan Sektor Pertambangan DIREKTORAT TEKNIK

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 18 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PENGANGKUTAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAMBI,

PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 18 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PENGANGKUTAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAMBI, PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 18 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PENGANGKUTAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAMBI, Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan dalam

Lebih terperinci

Karakteristik dan Lingkungan Pengendapan Batubara Formasi Tanjung di daerah Binuang dan sekitarnya, Kalimantan Selatan

Karakteristik dan Lingkungan Pengendapan Batubara Formasi Tanjung di daerah Binuang dan sekitarnya, Kalimantan Selatan Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 4 No. 4 Desember 2009: 239-252 Karakteristik dan Lingkungan Pengendapan Batubara Formasi Tanjung di daerah Binuang dan sekitarnya, Kalimantan Selatan R. Heryanto Pusat Survei

Lebih terperinci

BAB V RENCANA PENANGANAN

BAB V RENCANA PENANGANAN BAB V RENCANA PENANGANAN 5.. UMUM Strategi pengelolaan muara sungai ditentukan berdasarkan beberapa pertimbangan, diantaranya adalah pemanfaatan muara sungai, biaya pekerjaan, dampak bangunan terhadap

Lebih terperinci

QANUN ACEH NOMOR 15 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA

QANUN ACEH NOMOR 15 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA QANUN ACEH NOMOR 15 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG ATAS RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA

Lebih terperinci

BAB III KOMPILASI DATA

BAB III KOMPILASI DATA BAB III KOMPILASI DATA 3.1 TINJAUAN UMUM Tanah memiliki sifat fisik (Soil Properties) dan sifat mekanik (Index Properties). Sifat - sifat fisik tanah meliputi ukuran butiran tanah, warnanya, bentuk butiran,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 10 TAHUN 2000 (10/2000) TENTANG TINGKAT KETELITIAN PETA UNTUK PENATAAN RUANG WILAYAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 10 TAHUN 2000 (10/2000) TENTANG TINGKAT KETELITIAN PETA UNTUK PENATAAN RUANG WILAYAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 10 TAHUN 2000 (10/2000) TENTANG TINGKAT KETELITIAN PETA UNTUK PENATAAN RUANG WILAYAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon)

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) Happy Mulya Balai Wilayah Sungai Maluku dan Maluku Utara Dinas PU Propinsi Maluku Maggi_iwm@yahoo.com Tiny Mananoma

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Botani Tanaman Bayam Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman semusim dan tergolong sebagai tumbuhan C4 yang mampu mengikat gas CO 2 secara efisien sehingga memiliki daya adaptasi

Lebih terperinci

PERBEDAAN SIFAT-SIFAT TANAH VERTISOL DARI BERBAGAI BAHAN INDUK DIFFERENTIATION IN PROPERTIES OF VERTISOL FROM VARIOUS PARENT MATERIALS

PERBEDAAN SIFAT-SIFAT TANAH VERTISOL DARI BERBAGAI BAHAN INDUK DIFFERENTIATION IN PROPERTIES OF VERTISOL FROM VARIOUS PARENT MATERIALS ISSN 1411 0067 Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. Volume 9, No. 1, 2007, Hlm. 20-31 20 PERBEDAAN SIFAT-SIFAT TANAH VERTISOL DARI BERBAGAI BAHAN INDUK DIFFERENTIATION IN PROPERTIES OF VERTISOL FROM VARIOUS

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 01 TAHUN 2013 TENTANG PENGENDALIAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR MINYAK

PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 01 TAHUN 2013 TENTANG PENGENDALIAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR MINYAK MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBL.lK INDONESIA PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 01 TAHUN 2013 TENTANG PENGENDALIAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR MINYAK DENGAN

Lebih terperinci

ANALISIS ANOMALI GRAVITASI SEBAGAI ACUAN DALAM PENENTUAN STRUKTUR GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN DAN POTENSI GEOTHERMAL

ANALISIS ANOMALI GRAVITASI SEBAGAI ACUAN DALAM PENENTUAN STRUKTUR GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN DAN POTENSI GEOTHERMAL ANALISIS ANOMALI GRAVITASI SEBAGAI ACUAN DALAM PENENTUAN STRUKTUR GEOLOGI BAWAH PERMUKAAN DAN POTENSI GEOTHERMAL (Studi Kasus Di Daerah Songgoriti Kota Batu) Oleh: Nurul Hidayat 1, Abdul Basid 2 ABSTRAK:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Jalan raya Cibarusah Cikarang, Kabupaten Bekasi merupakan jalan kolektor

BAB I PENDAHULUAN. Jalan raya Cibarusah Cikarang, Kabupaten Bekasi merupakan jalan kolektor BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jalan raya Cibarusah Cikarang, Kabupaten Bekasi merupakan jalan kolektor primer yang menghubungkan antar Kecamatan di Bekasi sering diberitakan kerusakan yang terjadi

Lebih terperinci

Kulit masohi SNI 7941:2013

Kulit masohi SNI 7941:2013 Standar Nasional Indonesia ICS 65.020.99 Kulit masohi Badan Standardisasi Nasional BSN 2013 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen ini

Lebih terperinci

PELACAKAN AIR BAWAH TANAH DENGAN METODE GEOLISTRIK 01 OAERAH NUSA TENGGARA BARA T

PELACAKAN AIR BAWAH TANAH DENGAN METODE GEOLISTRIK 01 OAERAH NUSA TENGGARA BARA T ABSTRAK PELACAKAN AIR BAWAH TANAH DENGAN METODE GEOLISTRIK 01 OAERAH NUSA TENGGARA BARA T M. Nurdin, Lilik Subiantoro, Subardjo,Sartapa, Setya Darrnono Pusat Pengernbangan Bahan Galian dan Geologi Nuklir-BATAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10, Pasal

Lebih terperinci

BAB 4. HASIL DAN ANALISIS PENYELIDIKAN TANAH

BAB 4. HASIL DAN ANALISIS PENYELIDIKAN TANAH BAB 4. HASIL DAN ANALISIS PENYELIDIKAN TANAH 4.1. Pengambilan Sampel Sampel tanah yang digunakan untuk semua pengujian dalam penelitian ini adalah tanah di sekitar jalan dari Semarang menuju Purwodadi

Lebih terperinci

BAB III ZAMAN PRASEJARAH

BAB III ZAMAN PRASEJARAH 79 BAB III ZAMAN PRASEJARAH Berdasarkan geologi, terjadinya bumi sampai sekarang dibagi ke dalam empat zaman. Zaman-zaman tersebut merupakan periodisasi atau pembabakan prasejarah yang terdiri dari: A.

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU 189 Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian Urgensi dan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bengkulu 7 Juli 2011 ISBN 978-602-19247-0-9 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN

Lebih terperinci

4xE. Ir. Bntin Hidayah, M.Um LAPOR.AN PENELITIAN DOSEN MUDA. 0leh: PENGEMBANGAN MODEL PENGATURAN SISTEM JARINGAN DRAINASE SEBAGAI PENCEGAFI BANJIR

4xE. Ir. Bntin Hidayah, M.Um LAPOR.AN PENELITIAN DOSEN MUDA. 0leh: PENGEMBANGAN MODEL PENGATURAN SISTEM JARINGAN DRAINASE SEBAGAI PENCEGAFI BANJIR 4xE LAPOR.AN PENELITIAN DOSEN MUDA PENGEMBANGAN MODEL PENGATURAN SISTEM JARINGAN DRAINASE SEBAGAI PENCEGAFI BANJIR 0leh: Januar Fery lrawan, ST Ir. Bntin Hidayah, M.Um DIBIAYAI OLEH DIREKTORAT PEMRII.{AAN

Lebih terperinci

NEPAL MASIH PUNYA POTENSI GEMPA BESAR

NEPAL MASIH PUNYA POTENSI GEMPA BESAR NEPAL MASIH PUNYA POTENSI GEMPA BESAR Rasmid, Telly Kurniawan, Wiko setyonegoro, Fachrizal Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG Jalan Angkasa I No.2 Kemayoran Jakarta Pusat e-mail: rasmid@bmkg.go.id.

Lebih terperinci

SPMB/Fisika/UMPTN Tahun 1992

SPMB/Fisika/UMPTN Tahun 1992 1. Akibat rotasi bumi, keadaan Ida yang bermassa a dan ada di Bandung, dan David yang bermassa a dan ada di London, akan sama dalam hal... A. laju linearnya B. kecepatan linearnya C. gaya gravitasi buminya

Lebih terperinci

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1 ISSN 1858-4330

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1 ISSN 1858-4330 STUDI PENGARUH PERIODE TERANG DAN GELAP BULAN TERHADAP RENDEMEN DAN KADAR AIR DAGING RAJUNGAN (Portunus pelagicus L) YANG DI PROSES PADA MINI PLANT PANAIKANG KABUPATEN MAROS STUDY OF LIGHT AND DARK MOON

Lebih terperinci

ILMU UKUR TANAH. Oleh: IDI SUTARDI

ILMU UKUR TANAH. Oleh: IDI SUTARDI ILMU UKUR TANAH Oleh: IDI SUTARDI BANDUNG 2007 1 KATA PENGANTAR Ilmu Ukur Tanah ini disajikan untuk Para Mahasiswa Program Pendidikan Diploma DIII, Jurusan Geologi, Jurusan Tambang mengingat tugas-tugasnya

Lebih terperinci

Tabel 1.1. Letak geografi dan administratif Kota Balikpapan. LS BT Utara Timur Selatan Barat. Selat Makasar

Tabel 1.1. Letak geografi dan administratif Kota Balikpapan. LS BT Utara Timur Selatan Barat. Selat Makasar KOTA BALIKPAPAN I. KEADAAN UMUM KOTA BALIKPAPAN 1.1. LETAK GEOGRAFI DAN ADMINISTRASI Kota Balikpapan mempunyai luas wilayah daratan 503,3 km 2 dan luas pengelolaan laut mencapai 160,1 km 2. Kota Balikpapan

Lebih terperinci

3.4 Bentang Alam Kota Surabaya Kondisi Geofisik Kawasan Jenis Tanah

3.4 Bentang Alam Kota Surabaya Kondisi Geofisik Kawasan Jenis Tanah 3.4 Bentang Alam Kota Surabaya Kondisi geofisik kawasan Kota Surabaya terletak di dataran rendah dan sebagian besar memiliki jenis tanah alluvial. Jenis alluvial ini endapan dari lumpur sungai yang menjadikan

Lebih terperinci

RINGKASAN DISERTASI. Oleh : Sayid Syarief Fathillah NIM 06/240605/SPN/00217

RINGKASAN DISERTASI. Oleh : Sayid Syarief Fathillah NIM 06/240605/SPN/00217 PENILAIAN TINGKAT BAHAYA EROSI, SEDIMENTASI, DAN KEMAMPUAN SERTA KESESUAIAN LAHAN KELAPA SAWIT UNTUK PENATAGUNAAN LAHAN DAS TENGGARONG, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA RINGKASAN DISERTASI Oleh : Sayid Syarief

Lebih terperinci

1.1. Latar Belakang. Penyusunan Master Plan Pengelolaan Persampahan Kabupaten Maros

1.1. Latar Belakang. Penyusunan Master Plan Pengelolaan Persampahan Kabupaten Maros 1.1. Latar Belakang Sampah pada dasarnya merupakan suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari suatu sumber hasil aktivitas manusia maupun proses-proses alam yang tidak mempunyai nilai ekonomi, bahkan

Lebih terperinci

Volume 1, Nomor 1, Agustus 2011 ISSN. 2089-2950

Volume 1, Nomor 1, Agustus 2011 ISSN. 2089-2950 Volume 1, Nomor 1, Agustus 2011 ISSN. 2089-2950 DAFTAR ISI : Pengaruh Penambahan Kapur dan Abu Layang Terhadap 1-15 Mortar Dengan Uji Kuat Tekan Serta Serapan Air Pada Bata Beton Berlobang (Asri Mulyadi)

Lebih terperinci

PENENTUAN MASA SIMPAN WAFER STICK DALAM KEMASAN PLASTIK LAMINASI MAKALAH KOMPREHENSIF OLEH: TANIA MULIAWATI 6103007121

PENENTUAN MASA SIMPAN WAFER STICK DALAM KEMASAN PLASTIK LAMINASI MAKALAH KOMPREHENSIF OLEH: TANIA MULIAWATI 6103007121 PENENTUAN MASA SIMPAN WAFER STICK DALAM KEMASAN PLASTIK LAMINASI MAKALAH KOMPREHENSIF OLEH: TANIA MULIAWATI 6103007121 PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA

Lebih terperinci

Prakata. PDF created with pdffactory trial version www.pdffactory.com. Pd.T-09-2005-B

Prakata. PDF created with pdffactory trial version www.pdffactory.com. Pd.T-09-2005-B Prakata Pedoman rekayasa lereng untuk jalan dipersiapkan oleh Panitia Teknik Standardisasi Bidang Konstruksi dan Bangunan melalui Gugus Kerja Bidang Geoteknik Jalan pada Sub Panitia Teknik Standardisasi

Lebih terperinci

INDEKS PLASTISITAS PADA TANAH LEMPUNG DENGAN PENAMBAHAN ADDITIVE ROAD BOND EN-1 DI BUKIT SEMARANG BARU (BSB) Garup Lambang Goro

INDEKS PLASTISITAS PADA TANAH LEMPUNG DENGAN PENAMBAHAN ADDITIVE ROAD BOND EN-1 DI BUKIT SEMARANG BARU (BSB) Garup Lambang Goro INDEKS PLASTISITAS PADA TANAH LEMPUNG DENGAN PENAMBAHAN ADDITIVE ROAD BOND EN-1 DI BUKIT SEMARANG BARU (BSB) Garup Lambang Goro Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang Abstract One of thrifty effort

Lebih terperinci

Buku Putih Sanitasi 2013

Buku Putih Sanitasi 2013 BAB IV PROGRAM PENGEMBANGAN SANITASI SAAT INI DAN YANG DIRENCANAKAN 4.1 Promosi Higiene dan Sanitasi (Prohisan) Tabel 4.1 Rencana Program dan Promosi Higiene dan Sanitasi (tahun n + 1) Rencanan Program

Lebih terperinci

EFISIENSI PENYALURAN AIR IRIGASI DI KAWASAN SUNGAI ULAR DAERAH TIMBANG DELI KABUPATEN DELI SERDANG

EFISIENSI PENYALURAN AIR IRIGASI DI KAWASAN SUNGAI ULAR DAERAH TIMBANG DELI KABUPATEN DELI SERDANG EFISIENSI PENYALURAN AIR IRIGASI DI KAWASAN SUNGAI ULAR DAERAH TIMBANG DELI KABUPATEN DELI SERDANG SKRIPSI AZIZ ANHAR DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2009 EFISIENSI

Lebih terperinci

PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON ABSTRACT

PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON ABSTRACT Pengaruh Kadar Air.. Kuat Tekan Beton Arusmalem Ginting PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON Arusmalem Ginting 1, Wawan Gunawan 2, Ismirrozi 3 1 Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik,

Lebih terperinci

BAB V KERAMIK (CERAMIC)

BAB V KERAMIK (CERAMIC) BAB V KERAMIK (CERAMIC) Keramik adalah material non organik dan non logam. Mereka adalah campuran antara elemen logam dan non logam yang tersusun oleh ikatan ikatan ion. Istilah keramik berasal dari bahasa

Lebih terperinci

Interpretasi Peta Tentang Bentuk dan Pola Muka Bumi. Bab

Interpretasi Peta Tentang Bentuk dan Pola Muka Bumi. Bab Bab IX Interpretasi Peta Tentang Bentuk dan Pola Muka Bumi Sumber: hiemsafiles.wordpress.com Gb.9.1 Lembah dan pegunungan merupakan contoh bentuk muka bumi Perlu kita ketahui bahwa bentuk permukaan bumi

Lebih terperinci

OPTIMALISASI PRODUKSI PERALATAN MEKANIS SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN SASARAN PRODUKSI PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP DI PT

OPTIMALISASI PRODUKSI PERALATAN MEKANIS SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN SASARAN PRODUKSI PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP DI PT OPTIMALISASI PRODUKSI PERALATAN MEKANIS SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN SASARAN PRODUKSI PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP DI PT. PUTERA BARAMITRA BATULICIN KALIMANTAN SELATAN Oleh Riezki Andaru Munthoha (112070049)

Lebih terperinci

JURNAL APLIKASI FISIKA VOLUME 8 NOMOR 1 FEBRUARI 2012. Analisis Kualitas Briket Hybrid sebagai Bahan Bakar Alternatif

JURNAL APLIKASI FISIKA VOLUME 8 NOMOR 1 FEBRUARI 2012. Analisis Kualitas Briket Hybrid sebagai Bahan Bakar Alternatif JURNAL APLIKASI FISIKA VOLUME 8 NOMOR 1 FEBRUARI 212 Analisis Kualitas Briket Hybrid sebagai Bahan Bakar Alternatif M. Jahiding 1), L.O. Ngkoimani 2), E. S. Hasan 3), S. Muliani 4) 1,3,4) Laboratirum Fisika

Lebih terperinci

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,

Lebih terperinci

MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR)

MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR) MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR) Benteng, Selayar 22-24 Agustus 2006 TRANSPLANTASI KARANG Terumbu

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG, PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG, Menimbang : a. bahwa pengaturan pengelolaan air tanah dimaksudkan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI Lembar Judul. Lembar Pengesahan.... Daftar Isi... Daftar Tabel..... Daftar Gambar..... i ii iv vi BAB I PENDAHULUAN Hal 1.1 Latar Belakang.......... 7 1.2 Dasar Hukum......... 8 1.3 Hubungan

Lebih terperinci

KONSEP PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG KONSERVASI BAHAN GALIAN

KONSEP PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG KONSERVASI BAHAN GALIAN KONSEP PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG KONSERVASI BAHAN GALIAN Oleh Teuku Ishlah dan Mangara P.Pohan Subdit Konservasi Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral Pendahuluan

Lebih terperinci

Klasifikasi sumber daya mineral dan cadangan

Klasifikasi sumber daya mineral dan cadangan SNI 134726-1 9981 Amd 1 : 1999 Standar Nasional Indonesia Klasifikasi sumber daya mineral dan cadangan ICS 73.020 Badan Standardisari Naoional Latar Belakang Endapan mineral (bahan tambang) merupakan salah

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI BIDANG GELINCIR ZONA RAWAN LONGSOR MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS KONFIGURASI DIPOLE-DIPOLE DI PAYUNG KOTA BATU

IDENTIFIKASI BIDANG GELINCIR ZONA RAWAN LONGSOR MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS KONFIGURASI DIPOLE-DIPOLE DI PAYUNG KOTA BATU IDENTIFIKASI BIDANG GELINCIR ZONA RAWAN LONGSOR MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS KONFIGURASI DIPOLE-DIPOLE DI PAYUNG KOTA BATU Efa Agustina, Sujito, Daeng Achmad Suaidi Jurusan Fisika, FMIPA,

Lebih terperinci

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 No. 39/08/THXVIII.3 Agustus 2015 PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 PRODUKSI CABAI BESAR SEBESAR 501.893 KUINTAL, CABAI RAWIT SEBESAR 528.704 KUINTAL, DAN BAWANG MERAH SEBESAR

Lebih terperinci

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan 2007 Kerja sama Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan, Departemen Kehutanan dengan Direktorat Statistik Pertanian, Badan Pusat Statistik Jakarta, 2007 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

ANALISIS ARAH DAN KEKUATAN ANGIN PEMBENTUK BARCHAN DUNE DAN TRANSVERSAL DUNE DI PANTAI PARANGTRITIS, PROPINSI DIY BERDASARKAN DATA GEOLOGI

ANALISIS ARAH DAN KEKUATAN ANGIN PEMBENTUK BARCHAN DUNE DAN TRANSVERSAL DUNE DI PANTAI PARANGTRITIS, PROPINSI DIY BERDASARKAN DATA GEOLOGI ANALISIS ARAH DAN KEKUATAN ANGIN PEMBENTUK BARCHAN DUNE DAN TRANSVERSAL DUNE DI PANTAI PARANGTRITIS, PROPINSI DIY BERDASARKAN DATA GEOLOGI Dwi Indah Purnamawati 1, Ferdinandus Wunda 2 1,2 Jurusan Teknik

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA AMBON MALUKU KOTA AMBON ADMINISTRASI Profil Wilayah Kota Ambon merupakan ibukota propinsi kepulauan Maluku. Dengan sejarah sebagai wilayah perdagangan rempah terkenal, membentuk

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TANAH BUMBU PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 10 TAHUN 2007 TENTANG USAHA PERTAMBANGAN UMUM DAERAH

PEMERINTAH KABUPATEN TANAH BUMBU PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 10 TAHUN 2007 TENTANG USAHA PERTAMBANGAN UMUM DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN TANAH BUMBU PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH BUMBU NOMOR 10 TAHUN 2007 TENTANG USAHA PERTAMBANGAN UMUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANAH BUMBU, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

ID0200110 PENGOLAHAN BIJIH URANIUM ASAL RIRANG PEMISAHAN LTJ DARI HASIL DIGESTI BASA

ID0200110 PENGOLAHAN BIJIH URANIUM ASAL RIRANG PEMISAHAN LTJ DARI HASIL DIGESTI BASA Prosiding Presentasi llmiah Bahan BakarNuklir V P2TBD dan P2BGN - BA TAN Jakarta, 22 Pebruari 2000 ISSN 1410-1998 ID0200110 PENGOLAHAN BIJIH RANIM ASAL RIRANG PEMISAHAN DARI HASIL DIGESTI BASA Erni R.A,

Lebih terperinci

Daftar isi... i. Pendahuluan... 1. Kali Porong... 2. Karakteristik Lumpur... 4. Debit Air Di Kali Porong... 6

Daftar isi... i. Pendahuluan... 1. Kali Porong... 2. Karakteristik Lumpur... 4. Debit Air Di Kali Porong... 6 DAFTAR ISI Daftar isi... i Pendahuluan... 1 Kali Porong... 2 Karakteristik Lumpur... 4 Debit Air Di Kali Porong... 6 Perubahan Hidraulis Sungai Kali Porong... 8 Penanganan Endapan Lumpur di Muara... 14

Lebih terperinci

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1 TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1 Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta I Jl. Surabaya 2 A, Malang Indonesia 65115 Telp. 62-341-551976, Fax. 62-341-551976 http://www.jasatirta1.go.id

Lebih terperinci

KENDALA TANGAN TANGGA ALIH LATEKS PEMBUATAN KE INDUSTRI SA RUNG RUMAH ABSTRAK ABSTRACT PENDAHULUAN

KENDALA TANGAN TANGGA ALIH LATEKS PEMBUATAN KE INDUSTRI SA RUNG RUMAH ABSTRAK ABSTRACT PENDAHULUAN KENDALA TANGAN TANGGA ALIH LATEKS PEMBUATAN KE INDUSTRI SA RUNG RUMAH Wiwik Sofiarti, Made Sumarti, K. dad Marsongko Puslitbang Teknologi lsotop dan Radiasi Batan, Jakarta ABSTRAK KENDALA AUH TEKNOLOGI

Lebih terperinci

Manusia Purba Di Indonesia pada Masa Prasejarah

Manusia Purba Di Indonesia pada Masa Prasejarah Manusia Purba Di Indonesia pada Masa Prasejarah Masa Prasejarah Indonesia dimulai dengan adanya kehidupan manusia purba yang pada saat itu belum mengenal baca dan tulis. Masa yang juga dikenal dengan nama

Lebih terperinci

Rencana Program dan Kegiatan Prioritas Daerah Tahun 2014

Rencana Program dan Kegiatan Prioritas Daerah Tahun 2014 DINAS ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL No 1 1.1 Urusan Wajib Program Pelayanan Administrasi Penyediaan Jasa Administrasi Keuangan Administrasi Keuangan Rencana Program dan Kegiatan Prioritas Daerah Tahun

Lebih terperinci

Pengalaman Membuat dan Memasang Tanda Batas Di Taman Nasional Kepulauan Seribu

Pengalaman Membuat dan Memasang Tanda Batas Di Taman Nasional Kepulauan Seribu Pengalaman Membuat dan Memasang Tanda Batas Di Taman Nasional Kepulauan Seribu A. Pemilihan pelampung Ada beberapa bahan pelampung yang bisa dipilih, tapi alasan kami memilih drum plastik ukuran 200 liter

Lebih terperinci

V. Medan Magnet. Ditemukan sebuah kota di Asia Kecil (bernama Magnesia) lebih dahulu dari listrik

V. Medan Magnet. Ditemukan sebuah kota di Asia Kecil (bernama Magnesia) lebih dahulu dari listrik V. Medan Magnet Ditemukan sebuah kota di Asia Kecil (bernama Magnesia) lebih dahulu dari listrik Di tempat tersebut ada batu-batu yang saling tarik menarik. Magnet besar Bumi [sudah dari dahulu dimanfaatkan

Lebih terperinci