PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ENTREUPRENEURSHIP 01 PROGRAM STUDI AKUNTANSI Oleh: Sendi Gusnandar Arnan

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ENTREUPRENEURSHIP 01 PROGRAM 2352-2358 STUDI AKUNTANSI Oleh: Sendi Gusnandar Arnan"

Transkripsi

1 Vol. 9 No. 10, Agustus SSN: DAFTARS Pengantar Redaksi Oaftar lsi ii ANALSS PENGARUH KUALTAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN {Pada PT. m Logistics ndonesia) Oleh : Achmad H Sutawidjaya dan Andani Yulianti PENGARUH KOMTMEN ORGANSAS PEMERKSA PAJAK DALAM MENNGKATKAN KNERJA PEMERKSA PAJAK (Survey Di Wilayah Direktorat Pajak Jawa Barat) Oleh : Dini Arwaty dan Hanifah PENGEMBANGAN PENDDKAN ENTREUPRENEURSHP 01 PROGRAM STUD AKUNTANS Oleh: Sendi Gusnandar Arnan ASPEK SOFT SKLLS DALAM PENG EM BANG AN JWA ENTREUPRENEURSH/P Dl PERGURUAN TNGG Oleh : Shinta Dewi Herawati ANALSS KUAUTAS PEMBAYAAN DAN PENGARUH TERHADAP EFEKTVTAS PENDAPATAN PADA PT. BPR SYARAH PNM ALMA'SOEM BAN DUNG Oleh :Sri Dewi Anggadini dan Wati Aris Astuti MODEL PEMBAYAAN USAHA MKRO KECL MENENGAH PRODUK NOVATF Oleh: Tita Ojuitaningsih dan Tri Susanto ANALSS NLA TAMBAH LAYANAN (VALUE ADDED SERVCES) -RNG TERHADAP KEPUASAN PELANGGAN Dl EMPAT KOMUNTAS PENGGUNA OPERATOR SELULER m Dl JAKARTA SELATAN Oleh : Tri Susanto S.T., M.T dan Firman Herlambang

2 --, MODEl PEMBAYAAN USAHA MKRO KECL MENENGAH PRODUK NOVATF Oleh: Tita Djuitaningsih dan Tri Susanto*) Abstrak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan produk teknologi inovatif merupakan UMKM yang dapat memberikan nilai tambah baik kepada produk maupun kepaga pelanggannya. UMKM produk inovatif ini berbasis pada kreativitas manusia dengan bantuan teknologi. Tumbuh-kembangnya perlu didorong kmena secara makro dapat mendorong peningkatan perekonomian nasional. Di sisi lain, UMKM produk inovatif membutuhkan modal yang relatif banyak, tetapi deng<::n risiko pasar yang relatif tinggi. Oleh karena itu, lembaga keuangan baik bank maupun bukan bank, cenderung menghindari untuk memberikan kredit atau pembiayaan kepada UMKM produk inovatif. Dengan demikian dibutuhkan campur tangan pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut. Ditawarkannya beberapa model pembiayaan untuk UMKM produk inovatif kepada pemerintah diharapkan memberikan pilihan terbaik untuk menjadi solusi bag1 masalah permodalan pada UMKM produk inovatif tersebut. Kata kunci: produk inovatif, kreativitas, nilai tambah, model pembiayaan JBME -Vol. 9 - No. 10 Tlta Ojuitaningsih, Trl Susanto Page 2382

3 Pendahuluan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) produk teknologi inovatif merupakan UMKM yang mempunyai produk baik barang, jasa maupun barang yang bersifat inovatif atau mengandung teknologi inovatif. Lebih jauh. produk inovatif ini dapat dipahami sebagai produk teknologi inovatif, yaitu industri dengan mengandalkan kreativitas manusia serta berbasis pengetahuan. Produk teknologi inovatif dikembangkan untuk mendukung peningkatan nilai tambah produk karena dapat menyediakan inovasi produk langsung kepada pelanggan dan mendukung penciptaan nilai inovasi pada sektor lain yang secara tidak langsung berhubungan dengan pelanggan. Jenis-jenis atau sektor usaha dalam produk teknologi inovatif ini adalah dalam bidang manufaktur, agribisn1s dan industri kreatif. Sektor manufaktur merupakan usaha yang menghasilkan suatu produk melalw proses transformasi dari suatu input menjadi output tertentu. Dalam sektor manufaktur yang menjadi acuan adalah produktivitas dan efisiensi untuk mengukur kinerja, karena itu diperlukan inovasi teknologi untuk meningkatkan produktivitas. Sektor Agribisnis.yang sampai saat ini dianggap sebagai penghasil komoditas primer yang rnemiliki nilai tambah rendah, dengan pengembangan teknologi inovatif akan dapat menghasilkan komoditas yang memiliki nilai tambah lebih besar. Sektor industri kreatif yang dikembangkan Departemen Perdagangan meliputi bidang-bidang (1) periklanan {2) arsitektur, (3) pasar barang seni, {4} kerajinan, (5) desain, (6} fesyen, {7) video, {8) permainan interaktif, (9) musik, (10) seni pertunjukan, (11) penerbitan dan percetakan. (12) layanan komputer dan piranti lunak (13) televisi dan radio, dan (1 4) riset dan pengembangan. Satu lagi sektor yang sekarang sudah berkembang sebagai produk teknologi inovatif adalah makanan olahan. lndustri kreatif perlu diperhatikan karena terbukti sektor-sektor usaha yang termasuk dalam produk teknologi inovatif ini justru berkembang dan bahkan mampu menyumbang dalam jumlah yang semakin signifikan ke Produk Domestik Brute (PDB) nasional. Kecenderungan global juga menunjukkan bahwa produk teknologi inovatlf juga semakin berkembang. Bank Dunia mencatat bahwa sekitar 50% konsumsi masyarakat dunia saat ini dipasok dari produk teknologi inovatif. Bahkan pada tahun 2005, industri yang terkait kreativitas telah memberikan 33% dari pendapatan dunia, jauh lebih besar dibandingkan dengan kontribusi minyak dan gas. Dengan mengambil contoh Jawa Barat produk teknologi inovatif juga berkembang secara signifikan. Menurut laporan Biro Pusat Statistik (BPS-2007), di Jawa Barat pada tahun 2005 produk teknologi inovatif telah menyerap tenaga kerja sekitar 2,54% dan jumlah total tenaga kerja atau sekitar orang dan menyumbang pendapatan sekitar 7,82% dari Produk Domestik Regional Brute (PDRB). Nilai rata-rata penyerapan tenaga kerja dan tahun 2001 sampai 2005 adalah 3,2%. Berdasarkan data-data tersebut dapat disimpulkan bahwa produk teknologi inovatif di Jawa Barat cukup potensial untuk dapat berkembang dan mempunyai kontribusi yang signifikan dalam perekonomian di Jawa Barat Secara nasional produk teknologi inovatif selama mampu menyumbang pendapatan sebesar 6,3% dari total PDB dengan nilai Rp 104,6 triliun. Sedangkan serapan tenaga kerjanya mencapai 5,4 juta jiwa atau setara dengan 5,8% dari totallapangan kerja. Dari berbagai pemberitaan yang mengemuka, tampaknya pelaku usaha produk teknologi inovatif ini cukup besar proporsinya yang merupakan usaha mikro, kecil dan menengah {UMKM). Menyadari bahwa sebagian pelaku usaha dalam produkl teknologt inovatif adalah UMKM, maka sesuai dengan tugasnya, Kementerian Koperasi dan UMKM berinisiatif dengan bersinergi dengan stakeholder lainnya untuk ikut mengembangkan produkl teknologi inovatif. Pengembangan yang dilakukan oleh JBME - Vol. 9- No. 10 r.ta Djuitaningsih, Tri Susanto Page 2383

4 Kementerian Koperasi dan UMKM ini difokuskan pada upaya pemberdayaan bagi UMKM dan koperasi produk teknologi inovatif melalui aspek pembiayaan terutama membuka dan memperluas akses pembiyaan bagi mereka. Pada masa awal perkembangan usaha (start-up) untuk UMKM dengan produkl teknologi inovatif cenderung memiliki risiko kegagalan usaha yang tinggi di samping ketiadaan jaminan yang bisa diberikan untuk menutup risiko tersebut. Persoalan klasik seperti ini perlu diberikan solusi agar pelaku usaha produk inovatif dapat tumbuh berkembang dengan pesat yang pada akhirnya diharapkan dapat menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Salah satu persoalan utama yang dihadapi para pelaku UMKM dengan produkl teknologi inovatif yaitu kesulitan dalam mengakses pembiayaan untui< pengembangan usaha mereka. Kondisi usaha yang baru lahir (infant industry) tersebut perlu didukung oleh skema pembiayaan yang tepat agar dapat melewati masa kritis di awal usahanya._dengan baik. Berbagai skema pembiayaan yang diluncurkan oleh beberapa lembaga keuangan seperti bank dan non bank telah tersedia di masyarakat. Namun demikian, belum ada informasi pembiayaan untuk UMKM dengan produkl teknoiohi inovatif yang lebih akurat dan terintegrasi berupa sebuah dokumen skema pemb1ayaan yang utuh. Beberapa prakarsa pemerintah dengan berbagai kendala dalam pembiayaan UMKM berbasis teknologi inovatif sudah pernah dilakukan, antara lain 1alam bentuk pembiayaan asuransi, teknologi dan lain-lain. Namun program-program terse but dengan berbagai kendala tidak dapat berjalan dengan baikllancar. Permasalahan mendasar adalah belum adanya landasan hukum yang kuat seperti halnya Undang-undang perbankan yang menjadi sandaran pelaksanaan aktivitas pembiayaan berisiko di ndonesia. Undang-undang dan peraturan pemerintah mengenai skema pembiayaan berisiko (tinggi), misalnya modal ventura merupakan salah satu instrumen yang sangat mendesak untuk dibuat, apabila kegiatan pembiayaan untuk UMKM berbasis teknologi tumbuh berkembang dengan baik. Untuk membuat suatu peraturan perundangan yang tidak bisa dipisahkan dari unsur politis, diper!ukan landasan akademis dan empiris yang sangat kuat, sehingga dapat memberikan dasar alasan dan argumentasi yang masuk akal dan mendesak bagi pengambil keputusan politik. Menyadari besarnya kontribusi UMKM dalam mengembangkan produkl teknologi inovatif, maka sesuai dengan tugasnya, Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah dengan bersinergi dengan stakeholder lainnya berinisiatif untuk mengembangkan produkl teknologi inovatif. Pengembangan yang dilakukan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah difokuskan pada upaya pemberdayaan bagi UMKM dengan produkl teknologi inovatif melalui aspek pembiayaan terutama membuka dan memperluas akses pembiayaan bagi mereka. Pada kurun tahun nilai ekspor produk teknologi inovatif mencapai Rp 81,4 triliun atau setara dengan 9,13% dari total ekspor nasional. Ketika disadari bahwa produk teknologi inovatif nasional telah mampu menembus pasar global, maka salah satu tujuan pemberdayan UMKM produk teknologi inovatif ini adalah memastikan agar para pelaku usaha skala menengah dan koperasi di sektor produk teknologi inovatif dapat melaksanakan dan meningkatkan ekspornya secara berkelanjutan. Persoalan yang kemudian dihadapi adalah hambatan akses UMKM deng~n produkl teknologi inovatif ke sumber-sumber pembiayan. Persoalan tersebut antara lam adalah: 1. Terbatasnya fasilitasi kredit perbankan pengembangan produk teknologi inovatif. 2. Prosedur dan persyaratan kredit perbankan relatif rumit dan birokratis. JBME- VoL 9- No 10 Tita Ojuitaningsih, Tri Susanto Page 2384 t l

5 4. ;:..... Ketidakmampuan dalam menyediakan jaminan tambahan. Tingginya suku bunga kredit perbankan, terutama untuk modal investasi. T erbatasnya jangkauan pelayanan kredit perbankan. Sementara itu di sisi lain, dukungan bagi pembiayaan UMKM sendiri sudah merupakan komitmen negara, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nt 'Tlor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dalam Pasal 8 yang menyebutkan bahwa "Aspek pendanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal7 ayat (1) out uf a ditujukan untuk : 1. Memperfuas sumber pendanaan dan memfasilitasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah untuk dapat mengakseskan kredit perbankan dan lembaga keuangan selain bank; 2. Memperbanyak lembaga pembiayaan dan memperluas jaringanr.ya sehingga dapat diakses cieh Usaha Mikrc, Kecll dan Menengah;. 3. Memberikan kemudahan dalam memperoleh pendanaan secara cepat, tepat, murah, dan tidak diskriminatif dalam pelayanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan 4. Membantu para pelaku Usaha Mikro, Kecd untuk mendapatl<an pembiayaan dari jasa/produk keuangan lainnya yang disediakan oleh perbankan dan lembaga Keuangan bukan bank, baik yang rnenggunakan sistem konvensional mapun sistem syariah dengan jaminan yang disediakan oleh Perusahaan. Sagi bank umum, jenis kredit korporasi, atau yang lazjm pt..la disebut sebagai ''r~dit komersial, adalah jenis kredit yang diberikan keriada debitur yang berbadan ~wk um. Kredit komersial, juga merupakan kredit yang sanga_t pe11ting peranannya dalam ~ t. :..-uta ran dana bank Uil1um. Para debiturnya terdiri dari badan :.Jsaha yang bergerak di tc. bagai sektor usaha dan berbagai skala usaha. Mereka mempergunakan kredtt t.:-rsebut untuk membiayai kebutuhan akan dana modal kerja, dan dana modal investas1 (HM skandar Soesilo, 2007). Secara garis besar prosedur untuk memperoleh kredit pada bank umum adalah ::ebagai berikut (HM skandar Soesilo, 2007): 1. Mengisi formulir aplil<asi (permohonan kredit, data dan iniormasi perusahaan). 2. Melengkapi persyaratan formulir permohonan kredit dengan dokumendokumen (data historis perusahaan. data proyeksi dan data jaminan). 3. Analisis Kelayakan Kredit yang sekurang-kurangnya akan mencakup 5 (lima) hal utama yaitl : Watak calon debitur (Character); Kemampuan cajon debitur (Capacity); Modal calon debitur (Capital); Agunan/jaminan (Collateral); Kondisi perekonomian/keuangan (Condition). 4. Analisis keuangan Liquidity ratio; Leverage ratio; Activity ratio. JBME-Vol. 9- No. 10 Tita Djuitaningsih, Tri Susanto Page 2385

6 Setidaknya terdapat 3 (tiga) hal yang menjadi kendala UMKM dalam menghadapi sistem dan prosedur permohonan kredit komersial kepada bank (HM skandar Soesilo, 2007), yaitu 1. Masalah prinsip atau sangat substansial, yaitu antara lain yang berkaitan dengan penyediaan agunan. 2. Masalah administratif, yaitu antara lain yang berkaitan dengan penyiapan data kualitatif dan kuantitatif. 3. Masalah operasional, yaitu antara lain yang berkaitan dengan proses pengerjaan penyelesaian dan pengajuan berkas permohonan kredit. Dalam kaitan ini, banyak sekali alasan yang dikemukakan perbankan, mulai dari.:;.::,dl prinsip kehati-hatian sampai pada kenyataan bahwa suku bunga kredit bagi UMKM. ~nyata tidak lebih kecil dibandingkan suku bunga kredit konsumtif. Rendahnya akses ':::r'1adap kredit komersial ini tentunya akan menjadi hambatan besar bagi UMKM frcduk teknologi inovatif untuk mengembangkan usahanya dan kemampuan ekspomya..,,anajemen lnovasi dalam Konteks Oesain Manajemen tanpa inovasi akan kehilangan rohnya. lnovasi adalah perangkat ~ tuk mencari solusi-solusi baru yang berbeda (creative problem solving). Jnovasi nemi!ik1 kekuatan untuk meningkatkan nilai tambah desain (design va/u{j added).,,,mikian pula inovasi tanpa manajemen akan menjadi tidak terkendali, liar, ngawur, ~ ~c1kan akan tampak tidak serius. Oleh sebab itu, tidak diragukao Jagi bcjhwa ifl9vasi dcalah sumber daya manusia yang terpenting. Tanpa inovasi, tidak~ ada kernajuan, c.1 kita akan mengulangi pola yang sama selamanya. Manajemen dan inovasi telah melahirkan konsep-konsep' deqin:.sebab. ~k. da satu bend a buatan manusia yang tidak disentuh seni dan cjesain~. Desain ctetah ~ -::,J=di ujung tombak bisnis industri. Dengan demikian, desaiti. dan inovasi mesti ~1\do ia dengan menggunakan fungsi-fungsi manajemen agar tufuan kreativitas (lapat c!1~:2pai secara maksimal. Strategi manajernen kreatif merupakan strategi kompetitif. O!Bh karena itu, nilai bauran keunikan (unique mix of value) yang berbeda menjadi a'<tivitas utamanya. Konsep inovasi mempunyai sejarah yang panjang dan pengertian yang :.::-:::rbeda-beda, ten.tama didasarkan pada persaingan antara perusahaan-perusahaan dan strategi yang berbeda yang bisa dimanfaatkan untuk bersaing. Josef Schumpeter,;1949) sering dianggap sebagai ahli ekonomi pertama yang memberikan perhatian pada pentingnya suatu inovasi. Schumpeter (1949) menyebutkan bahwa inovasi terdiri dari lima unsur yaitu: (1) memper1<enalkan produk baru atau peru bah an kualitatif pad a produk yang sudah ada. (2) memperkenalkan proses baru ke industri, (3) membuka pasar baru. (4) Mengembzngkan sumber pasokan baru pada bahan baku atau masukan lainnya, dan (5) perubahan pada organisasi industri. UMKM dengan Produk Jnovatif UMKM yang menghasilkan produk teknoiogi inovatif merupakan usaha dalam proses pengaturan organisasi menghasilkan sesuatu yang baru. Langkah pertama adalah menghasilkan ide perubahan mengenat produk atau proses. Dalam beberapa kasus ide muncul dari observasi masalah sekarang atau masa depan. Untuk menghasilkan ide bisa melalui pengamatan masalah atau membaca buku, internet, majalah, dan diskusi dengan ternan sejawat secara informal. Proses me~ghas i.lkan ide berupa memoles ide yang asli, atau menggabungkan ide, kemud1an d1lakukan pengujian untuk mengetahui mana yang sesuai dengan tujuan, bahan baku, kebutuhan pengguna, dan tentunya biaya produksi. JBME- Vol. 9- No. 10 Trta Ojuitaningsih. Tri Susanto Page 2386

7 Produk teknologi inovatif dikembangkan untuk mendukung peningkatan nilai tambah produk. karena dapat menyediakan inovasi produkl jasa langsung kepada pelanggan dan mendukung penciptaan nilai inovasi pada sektor iain yang secara tidak langsung berhubungan dengan pelanggan. Sektor manufaktur merupakan usaha yang menghasilkan suatu produk melalui proses transformasi dari suatu input menjadi output tertentu. Dalam manufaktur yang menjadi acuan adalah produktivitas dan efisiensi untuk mengukur kinerja, karena itu diperlukan inovasi teknologi untuk meningkatkan produktivitas. Sektor Agribisnis.yang sampai saat ini dianggap sebagai penghasil komoditas primer yang memiliki nilai tambah rendah, dengan pengernbangan teknologi inovatif akan dapat menghasilkan l<omoditas yang memiliki n!lai tambah lebih besar. Sektor industri kreatif masih dikonotasikan sebagai industri rakyat, industri kecil. UMKM, kerajinan tangan, dan semua usaha berskala mikro. Mindset tentang industri kecil sama dengan industri kreatif perlu dieliminasi, agar langkah untuk mend0ngkrak industri kreatif dapat menjangkau semua sektor industri. terutama indusrri yang m?sih melibatkan faktor manusia. Dalam konteks industri, selayaknya, rnanusia mesti ditempatkan sebagai modal kreatif, bukan mesin produks1. Karakteristik UMKM dengan Produk lnovatif lnovasi sering dikaitkan dengan produk baru, model baru, atau hanya sekedar kemasan baru. Apakah hal-hal serba baru memberikan nilai guna bagi kcnsumen atau meningkatkan nilai tambah bagi produsen. Hal tersebut dapat diketahui melalui studi literatur -yang ' mendalam dan riset pada sejumlah perusahaan, dan dengan memformulasi berbagai konsep dan praktik manajemen inovasi serta penciptaan nilai dalam realitas individu, organisasi dan masyarakat. Selain memtikberatkan pada sudut pandang ekonomi terhadap organisasi industri, praktik inovasi juga menyoroti berbagai dimensi lain yang saling terkait dalam proses inovasi di tingkat individu dan masyarakat. Di dalamnya termasuk manajemen pengetahuan kewin3usahaan dan paradigme1 pembangunan ekonomi kreattf di ndonesia. Pemicu berikutnya untuk pengembangan industri kreatif adalah kreativitas yang memungkinkan Jahirnya ide baru, pengembangan baru, hingga cara baru diseminasi barang atau jasa yang dihasilkan. Yang tidak kalah penting adalah paradigma kolaborasi. Jenis paradigma ini memadukan antara bisnis dan sosial yang menggeser paradigma kompetisi. Selanjutnya paradigma kolaborasi ini membangun jejaring komunikasi lintas batas serta merancang dunia baru pasca modernis dan post-bubble economy. Fenoinena perubahan dan pergeseran dewasa ini menandai suatu era inovasi dan penciptaan nilai dalam beragam dimensi kehidupan. Aktivitas ekonomi dan bisnis mengikuti tuntutan individu dan personal. Produk dibuat lebih individualis, minimalis atau diciptakan sedemikian rupa sehinga membangkitkan selera dan emosi tertentu. Bisnis masa kini dan masa depan sangatfah memerhatikan feminitas, emosi, personal, sederhana dan simbol. Pergeseran juga terjadi dari orientasi pada hasil ke orientasi pada proses. Dengan demikian inovasi teknologi bagi UMKM tidak hanya berarti kebaruan atau sesuatu yang bersifat baru. Bukan hanya barang, jasa, sistem produksi atau cara pemasaran baru_ Kebaruan itu perlu disertai dampak positif bagi konsumen dan produsen_ Kebaruan harus menciptakan nilai guna bagi konsumen dan nilai tambah bagi produsen. Kebaruan juga harus menghasilkan sukses ekonomi dan sosial sebagai konsekuensi legis dalam konteks inovasi dan penciptaan nilai di tingkat individu, organisasi dan masyarakat. Demikian juga mengenai inovasi teknologi bagi UMKM, digambarkan kedalam 3 kategori usaha yang sangat dekat yaitu UMKM berusaha pada bidang agribisnis, UMKM JBME ~Vol. 9- No. 10 rrta Ojuitaningsih, Tri Susanto Page 2387

8 ~'ang_ t.~ru saha b1dang manufaktur dan UMKMM y::mg ber _saha di b1jarg JrtdJc;:r~ \ S3t 1 f P dapu"' garnb3rar, L'MKM keti~f3 bidang 'S3ha tcrsebut di:lca: dijei<e'<~n b.:rdas8rk3n d3ta y;;;rag j1pero!eh d! lol\331 per.gall'atan yollll Sumate:ra t_;!ara. DK! Jakarta. Jawa Bar at. Jaw a : enga 1,_ 01 Yogyakc.rta. Jaw a Timur dan K<::l -nantan Se'a ar Tahun 2009 sebaga1 benk.ut a. UMKM Agribisnis dengan Teknologi lnovatif Berdasar!<an data UMKM yang berusaha di bidang agnbisn i:) dengan tel<nolog1 movat1f. yang terkurnpu! d1 lapangan tergambar bahwa termasuk kdompok mi adalah prorluk olah<ln has1l pertanian, peternakan. perikanan. perkebur.an ':Jan keh'.itanan -.- abel_l _Tern pat_ Usah~JJ~KM!'9.!..~~~ , 1 1 u:~;~a ~ -- T. TAN~_ti~ --,---~----~SAi:iGLN~N : Obat - -t Sta~u~---~ U~ura~- i'~81\rpj -t~l?~u~ Ukur~-!- Ntl<:~. trpl._j ~.-r~- - 1 i '"' ~ i l c.. _ :i~~~ t~~~~ T..:L. _ r~~- --+:... ~rd;n _; - : ~~() "!'2_ t--t3j OCCt q_oi.. i 1 t3tn30t'ty. : - 2 ~a 0"0 "00 c-.. ~ ) ',... r "0. ~ ~~~.:.!~--+--.:.~};..:!2.._.._ :J '-' '' ~ _ 1.:;>e:ldlr.,:.,~... -:;:.. i. 1u ~ :_.. ~ J~ p,.,.1kanan 1! ; i ' l 1 1 -:-: Se~dE! l _?OrJ.JCO.uOO ~;;en9~- --- ~ 90C.OQ0 OvO; i j i r ~,. ;. fi~ K! l Le;,;.-;.~.t_i)endiri 289 m2 1 CO ! Sen9in 32 m2 95._ J Sumuer O~:a UMKM (diolah).:.'ar lao:' ~ d at2s nampa~> bahwa tempat usaha da1i llt\km agnb1snis in1 sererti t<:m.-,h d:-,n rangunannya dimi!iki oleh pengusaha itu send1ri. hanya b"''un~ :.ersert!f..?l ("?.'l 8a~dr: r ~rta:lahan dan tidcik dapat dipergunaj..an seba~ a i Jamir.an 1!c.u agunc.1 : J.::!EJ le-,..oc,g.:.o l<euesng~n untuk memperoleh kredit. St::da: ~~ c.n!j~n:::; r:;;"l t( rr,c. t '<:. m;.:; ro?k~t;! '-=idatas 1 'f1itu c!i b::j>.. :ch 100 r1z karena Jisesua ~c.r' :.!.~P~an "op:l.5jta ;!=rcdliks::-~y? yang teruatas t. UJH"':M Manufaktui ~fmgz;"l Tel<noloqi lnovatif._;mit r,_n ~'81,r_: ~?"gprg~ ~i b:dang m a n:. f;:~ l<tur d<:?ngan l-3knologi 1r:OVd~1i d3!1ot d artikan ~ebag~t U~ 1i<'l\, en~r..n suatu prcs~s yc:ng meny~unakan t~r,nol0g1, l<e~:,nl1an, pe;;ga'aman dar. fas!litas 2gar bisa dik.embang~ an ieb1i lanjut -'tau oe(rov<ls secara i<.orne:rs:al SPt i:~gga dapat b~rm a nfaat sec:~ra ekonorni, sos,~l rnaurun keouday.;.an n f"1,.>1pdu'1yal v=-ngertiail bahw;j te~;oiogt yang ter3~al jan suat.j sel<.tor bi~a bf.-rarl:;;ptasi aan d:ap!ikasika ke be-rbaga1 sektor yar.g 1 a1r!<ebc-radaan tel-.nolog1 pada usa~ a kac1l dan menengah pada b1dang manufaktur ;-,.,!eh dib lai'c' barl rnen.:oak?.n -;etengah dan proses transfer tekroologl iersebut i-lal r d<f<are:nar;an bch... rn mampun}a m er~ka untuk sampai pada tahao inov;:;::;i atau.-e,ghas,li-.sn S.Ja<J tekno,og yang sudah me'ah.!l proses L1ld1sasi nan adaptasl Us;:;ha Kectl uan menengah rna'1ufaxtur yang memakai inovasi teknologj Jni lcbth mengan J3P bahwa 1novasi tehnc.-logt tidak lebir1 daripada sekedar mes;n-rnesin yar;~ ~1bu<.it ot:::h usaha besar atau peralatan-peralatc:n yang mampu rnenc1pt3kan peluang.;;.fioporr.j F.Jrdapat ~erert1 1n1 lahir karera pengusah:: tidal-, dillbcltl.an datam hal kno~;: how, ::;kiil. d e sa~n. movas1 atau pengembangon leoih lanjut tenlar.g teknolog1 _.;rsebut u~.:=th~ kecil dan menengah di lndor..:;sia 'etih di<1nggap seoagai endcon~ume, <>tau end-user saja dan 1novas1 teknolog1 terset-ut. -Memang harus dtakli, '!~'! e::a;;::;;. L!&A'!S! ;:;_ JBME -1/ol 9 Nc 10 Tt!a Djuitanings h. Tn Page :388 Susanto

9 inovasi teknologi telah berkontribusi banyak dalam kegiatan perekonomian di ndonesia, tetapi yang menjadi masalah di sini adalah tidak terciptanya industrialisasi yang hebat dari transfer teknologi ini. Banyak yang beranggapan bahwa pengembangan teknologi lebih cenderung menghasilkan operator yang tergantung pada teknologi tersebut daripada menghasilkan inovator yang mampu menciptakan teknologi setelah melewati proses transfer teknologi yang benar. Dari pengamatan di beberapa lokasi bahwa kebanyakan usaha l<ecil dan menengah ndonesia tidak mampu membuat barang yang benar-benar kompetitif -..i3n..seknn mampu menciptakan teknologi aiternatif. Karena kemauan untuk r1c:.akukan proses transfer teknologi yang benar tersebut untuk pengembangan UMKM belum menjadi kebutuhan dari UMKM. Usaha kecil dan menengah di i :~donesta harus melakukan suatu terobosan agar mampu menggunakan informasi..!an know how yang didapat dari teknologi tersebut sehingga akan mampu JUga memiiih, melakukan adaptasi, utilisa5i, inovasi, dan pada akhirnya akan menciptakan dan mengembangkan teknologi itu tersendiri. Gambaran informasi UMKM manufaktur di daerah lokasi pengamatan dapat dijelaskan sebagai berikut : Tabel2 Tempat Usaha UMKM Manufaktur Tipe Usaha TANAH BANGUNAN Status Ukuran Nilai CRo) Status Ukuran Nilai (Rp) 5000 Pakaian iadi Sendiri m2 Sendlri 350m ,000 Seraoam Sendiri 252m ,000 Lamber & TSG Sendiri 235m2 250,000,000 Sendiri 178m2 125,000,000 Tas Sewa 76m ,000 Sumber: Data UMKM (d1ofah) Dari Tabel 2 di atas nampak bahwa untuk tempat usaha dari UMKM manufaktur ini sebagian besar bangunannya dimiliki oleh pengusaha itu sendiri, dan hanya 1 UMKM yang memiliki tanah yang luas (sekitar 5000 m2) dan lainnya memiliki sesuai dengan luas bangunannya dan belum bersertifikat dari Badan Pertanahan semuanya, serta belum memiliki ljin Mendirikan Bangunan, sehingga tidak dapat dipergunakan sebagai jaminan atau agunan pada lembaga keuangan untuk memperoleh kredit. Sedangkan bangunan tempat usaha relatif lebih luas yaitu rata-rata 200 m2 dan sesuai dengan kebutuhan untuk kegiatan usahanya dan bangunan dimiliki sendiri, kecuali untuk UMKM yang menghasilkan produksi tas, yang menyewa tempat usaha. Hal ini mencerminkan UMKM manufaktur memiliki tingkat kesulitan (proses teknologi inovatif) yang menengah, karena banyak memanfaatkan mesin dan peralatan yang membutuhkan pekerja yang dapat mengoperasikan mesin dan peralatan dengan tingkat ketrampilan menengah dan untuk pekerja lulusan SO dimanfaatkan sebagai pekerja pendukung. JBME-Vol. 9- No. 10 Tita Ojuitanings1h, Tri Susanto Page 2389

10 ~- _, Tipe Usaha SUMBER DANA T a b e 13 K.. p OmOOSS embiavaan UMKM Manufaktur LEMBAGA KEUANGAN Sendiri Hutano Nama Nilai (Rp) Lama (Th) Bunaa Pakaian jadi 50% 50% B Bukooin 150 ()()() %,.. L Seraoam 100% Lamber& TSG 50% 50% BPD 1,000,000, % L Tas 80% 20% BN 30,000, % Sumber. Data UMKM (d1olah) UMKM manufaktur dengan teknologi inovatif pada daerah pengamatan, sedikit yang menggunakan sumber pembiayaaan lembaga keuangan karena ~egi atan usaha, proses pengeioiaan usaha, dan penataan keuangan yang relatif l)aru serta rencana pemasaran kurang sehingga dinilai tldak bankable dilihat dari kaca mata lembaga keuangan. Sedangkan -pacta UMKM yang. masulckatagori \(ecjl - menengah yang telah memiliki ijin usaha. laporan tceuangan yang memadai serta prospek usaha yang layak lebih mudah mendapatrcan sumber pembiayaan.dari lembaga keuangan bank maupun non-bank. c. UMKM lndustri Kreatif dengan Teknologi lnovatif Tabel4 Tempat Usaha UMKM lndustri Kreatif TANAH BANGUNAN Tioe Usaha Status Ukuran Nilai (Rp) Status Ukuran Nilai (Rp) 1 Bahan sutra sendiri 200 ha 30,000,000 Sendiri 400m2 700,000,000 ' Permata. Cincin Sewa 12m ,000,- Kusen & Vemtilasi Sewa 600m2 Sewa 500m2 Kain Sasiranoan Sewa 168m2 200,000,000 Asesories Sendili 2000 m2 200,000,000 Sendiri 150m2 200,000,000 f Keraiian Kavu sendiri 400m2 Sendiri 200m2. Dinner set Sew a 6000 m2 750,000 Hiasan Oindino sendiri 4000 m2 100,000,000 Sendiri 400m2 100,000,000 Hiasan Rumah Tangga Sewa m2 5,000,000 Sewa 300m2 5,000,000 Furniture sendiri 2000 m2 9,000,000 Sendiri 100m2 90,000,000 ; '~""; JBME- Vol. 9- No. 10 Tita Djuitaningsih, Tri Susanto Page 2390

11 Tipe Usaha SUMBER DANA Tbl3 a e K OmDOSS.. p embiavaan UMKM Manufaktur LEMBAGA KEUANGAN Sendiri Hutano Nama Nilai (Rp) lama (Th) Bunaa Pakaian jadi 50% 50% 8 Bukooin 150, %. i! 1 Seraaam 100% Lamber & TSG 50% 50% BPD 1,000,000, % l_ Tas 80% 20% BN 30,000, % $umber: Data UMKM (d1olah) UMKM manufaktur dengan teknologi inovatif pada daerah pengamatan, sedikit yang menggunakan sumber pembiayaaan lembaga keuangan karena ~egiatan usaha, proses pengeloiaan usaha, dan penataan keuangan yang relatif 1aru serta rencana pemasaran kurang sehingga dinitai tidak bankable dilihat dari kaca mata lembaga keuangan. Sedangkan pada UMKM yang masu~ katagori kech - menengah yang telah memiliki ijin usaha, laporan keuangan yang memadai -9ena prospek usaha yang layak lebih mudah mendapatkan sumber pemti1e1faan dart lembaga keuangan bank maupun non-bank. c. UMKM lndustri Kreatif dengan Teknologi lnovatif Tabel4 Tempat Usaha UMKM lndustri Kreatif TANAH BANGUNAN Tioe Usaha Status Ukuran Nilai (Rp) Status Ukuran Nilai (Rp) Bahan sutra sendiri 200 ha 30,000,000 Sendiri 400m2 700,000,000 Permata. Cincin Sew a 12m2 10,000,000,- Kusen & Vemtilasi Sewa 600 rn2 Sew a 500m2 i Kain Sasiranaan Sew a 168m2 200,000,000 Asesories Senditi 2000 m2 200,000,000 Sendiri 150m2 200,000,000 Keraiian Kavu sendiri 400m2 Sendiri 200m2 Dinner set Sewa 6000m2 750,000 Hiasan Dindino sendiri 4000 m2 100,000,000 Sendiri 400 m<! 100,000,000 Hiasan Rumah ' Tangga Sewa m2 5, Sewa 300m2 5,000,000 Furniture sendiri 2000 m2 9,000,000 Sendiri 100m2 90,000,000 - JBME -Vol. 9 - No. 10 Tita Djuitaningsih, Tri Susanto Page 2390

12 Tas mukenah & baju Sew a 19m2 8,500,000 Susana Muslim Sendiri 70m2 75,000,000 Tabel4 : Tempat Usana Sumber : Data UMKM (diolah) Dari Tabel 4 di atas nampak bahwa bahwa setengah dari sejumlah UMKM industri kreatif yang menjadi objek pengamatan dengan kekayaan usaha seperti tanah dan bangunannya dimiliki oleh pengusaha itu sendiri, dan sebagian sudah bersertifikat dari Badan Pertanahan dan dapat dipergunakan sebagai jaminan atau agunan pada lembaga keuangan untuk memperoleh kredit. Sedangkan sebagian sisanya dengan tempat usaha seperti bangunan dengan status sewa, dan ticlak dapat dipergunakan sebagai jaminan atau agunan untuk mengajul\an kredit pada lembaga keuangan bank maupun non-bank, walaupun bila dilihat dari Sisi kelayakan usaha UMKM tersebut memiliki prospek yang bagus Karakteristik Usaha Teknologi lnovatif Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah perlu didukunn oleh skema pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan UM<M tersebut. UMKM merupakan kelompok usaha dengan jumlah usaha dan pelaku usaha paling banyak. Untuk itu perlu pengelolaan spesifik termasuk skema pembiayaan yang tentunya memilki kekhasan juga. Kekhasan pembiayaan UMKM tidak terlepas dari bermacam ragam bidang usaha UMKM. Kompleksitas permasalahan pembiayaan yang dihadapi pelaku UMKM dalam mengembangkan usahanya paling tidak dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu perspektif perbankan dan Jembaga pembiayaan maupun perspektif UMKM itu sendiri (P-UMKM BPPT: 2009). Dari perspektif perbankan sedikitnya ada 3 (tiga) hal yang menonjol dalam pembiayaan UMKM, yaitu: 1. UMKM adalah sektor yang dianggap berisiko tinggi Minimnya permodalan, rendahnya kualitas SDM, teknologi produksi yang belum dikuasa( serta pangsa pasar yang rendah menjadikan sektor UMKM masih dianggap sebagai sektor yang memilki risiko tinggi. 2. Jaminan UMKM yang terbatas atau kurang Tidak dimilikinya agunan (collateraf) oleh UMKM mempersulit para pelaku; usaha di sektor ini untuk melakukan ekspansi usahanya secara cepat 3. UMKM yang potensial dibiayai sulit didapat Akses terhadap kelengkapan data profil UMKM masih sulit, data yang ada hingga sat ini sulit diyakini validitasnya dan tampilanya. Hanya jumlah UMKM saja yang belum tersedia dalam bentuk informasi yang lengkap baik sebarannya, pelaku, bidang usaha, maupun aset dan jumlah pekerjanya. Permasalahan pembiayaan UMKM dilihat dari perspektif UMKM mencakup beberapa hal, yaitu: 1. Persyaratan jaminan ffs.ikltambahan yang diminta bank. Sesuai dengan aturan perkreditan yang lazim berlaku di sektor perbankan, pelaku UMKM diminta untuk memberikan jaminan fisikltambahan berupa aset tetap. Namun demikian hampir seluruh pelaku UMKM akan terbentur pada masalah klasik yang sama dan belum dipecahkan hingga saat ini. 2_ Prosedur pengajuan kredit yang dianggap sulit dan berbelit-belit JBME- Vol. 9- No. 10 Tita Djuitaningsih, Tri Susanto Page 2391

13 ... Para pelaku UMKM seringkali menganggap prosedur pengajuan kredit berbelitbelit walaupun dari sisi perbankan prosedur tersebul dianggap sebagai upaya perbankan dalam melakukan prinsip kehati-hatian (prudential banking). Perseps1 yang bertolak belakang ini perlu dicarikan solusinya agar UMKM dan perbankan dapat membangun kerjasama kemitraan yang sating menguntungkan. 3. Bunga bank relatif tingg1 Karakteristik pembiayaan untuk UMKM adalah mudah, ringan dan cepat, namun demikian t1ngkat suku bunga sangat menyulitkan UMKM untuk mendapatkan kredit dengan tingkat suku bunga yang relatif rendah sesuai dengan kemampuannya. 4 Kredit yang diperlukan UMKM Tepat Jumlah, tepat waktu, tepat sasaran dan prosedur yang st~derhana, paketpaket kred1vpembiayaan perbankan saat ini belum dapat diakomodas1 sepenuhnya oleh UMKM. Para pelaku UMKM cenderung menninginkan paket kredit yang disediakan oleh perbankan memenuhi kriteria seperti tepat JUmlah/waktu/sasaran dan prosedur yang sederhana. Skema pembiayaan yang d1lakukan disesua1kan dengan kondisi pelaku usaha mikro kec1l dan menengah. yaitu : 1. Menyed1akan dan memperluas sumber pembiayaan sesuai dengan segmentasi pelaku usaha a. Belum layak usaha dan belum bankable 1) Pembiayaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri; 2) Pembiayaan Program Kemitraaan dan Bina Lingkungan (PKBL dari penyisman sebagian laba BUMN): 3) Pemb1ayaan Corporate Social Responsibility (CSR): 4) Dana Badan Am1l Zakat lnfaq dan Sadaqah (BAZS); 5) Dana Bergutir melalu1 Badan Layanan Umum Oaerah (BLUD); 6) Pembiayaan melalui LKM, terutama KSP/KJKS/BMT; 7) Pembiayaan melalui program-program pemberdayaan dengan belanja bantuan sosial, hibah dan subsidi; 8) Pembiayaan kerjasama Pemda dengan Lembaga Keuangan Non Bank (Contoh Pegadaian dengan skema KRSTA). b. Layak Usaha tap1 belum bankable 1) Pemb1ayaan dari t.embaga Pengelola Dana Bergulir Kementerian Negara Koperas1 dan UMKM; 2) Pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR)]: 3) Pemb1ayaan Kredit Usaha Mtkro dan Kecil (KUMKM SUP -005) Non Bank (Pegadatan dan PNM): 4) Pemb1ayaan Modal Ventura; 5) Pemb1ayaan melaiu skema kredit LKBB: 5) Pembtayaan Kredit Bersubsid1 untuk ketahanan pangan. c. Layak Usaha dan bankable 1) Pemb1ayaan KUMK SUP-005, 2) Pemb1ayaan Btsnis Plan Perbankan bag1 UMKM, : 3) Pembiayaan Linkage Program Bank dengan BPR/S dan KSP/KJKS: JBME-Vol. 9- No. 10 Tita OJUitaningslh, Tri Susanto Page 2392

14 4) Pembiayaan Kredit Komersial; 5) Pembiayaan Kredit Usaha UMKM Ekspor. 2. Meningkatkan aksesabilitas kepada sumber dan lembaga keuangan: a. Memfasilitasi penyediaan pinjaman Pemda bekerja sama dengan Perum Pegadaian dan PNM. b. Mendorong kerjasama lintas daerah untuk membentuk Lembaga Penjaminan Kredit Daerah (LPKD) untuk pemberdayaan UMKM setempat. seraya meningkatkan peran serta pemerintah daerah. c. Memfasilitasi sertifikasi tanah bagi pengusaha mikro dan kecil yang terkait dengan penjaminan kredit usaha di perbankan, bekerjasama dengan Badan Pertanahan Nasional dan Oepartemen Dalam Negeri. d. Pelatihan KKMB dan penyediaan tenaga pendamping. 3. Mengembangkan dan memberdayakan Lembaga Keuangan Mikro: a. Melaksanakan transformasi dan konversi LKM Non formal menjadi Koperasi, BPRJBUMDes atau Perusahaan Pembiayaan; b. Mengembangkan system monitoring dan evaluasi dari dana-dana perkuatan untuk LKM; c. Meningkatkan permodalan LKM; d. Memanfaatkan kerjasama internasional tentang LKM. Aspek Pembiayaan Sumber-sumber pembiayaan bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah sudah banyak tersedia, mulai dari bank dan lembaga keuangan non bank. Namun demikian permasalahannya adalah minimnya informas1. dan sulitnya mendapatkan akses kepada sumber pembiayaan tersebut. Hal terpenting dalam pembiayaan bagi UMKM adalah kesesuaian sumber dan jenis pembiayaan dengan tahapan bisms UMKM Gambar di bawah ini menunjukan sumber dan jenis pembiayaan sesuai dengan tahapan bisnis. Pada tahapan seed, start up dan growth, sumber pembiayaan yang sesuai adalah teman/kerabat atau private investor, business angel, dan risk capital. Selanjutnya pada tahapan growth hingga maturity sumber pembiayaan adalah investment fund, stock market dan commercial bank. Sumber dan jenis pembiayaan ini sangat ditentukan oleh besarnya risiko kegagalan usaha yang akan dihadapai oleh pelaku UMKM dan besarnya kerugian yang harus ditanggung oleh investor. JBME- VoL 9- No. 10 Tita Djuitaningsih, T ri Susanto Page 2393

15 Gambar 1 : Pembiayaan UMKM berdasarkan pertumbuhan usaha..,. l!..,! LOW..:St es of.enterorises. develeojl!ent,! Hambatan Pembiayaan UMKM dengan Produk lnovatif Pada dasarnya UMKM memiliki hambatan yang bersifat klasik, yakni hambatan yang berkaitan dengan rendahnya kualitas sumberdaya manusia (SDM}, lemahnya manajemen usaha, rendahnya akses terhadap sumber pembiayaan dan pasar, serta rendahnya informasi dan teknologi yang dimilikinya. UMKM yang memiliki hambatan dan kendala usaha berkaitan dengan ekspor diklasifikasikan menjadi dua, yakni internal dan ekstemal. Hambatan internal adalah bambatan yang disebabkan kekurangan atau kelemahan yang melekat pada UMKM itu sendiri. Hambatan ekstemal adalah hambatan yang disebabkan adanya faktor luar yang tidak melekat pada UMKM. Beberapa aspek yang menjadi hambatan internal bagi UMKM dalam kegiatan ekspor adalah : a. Masih rendahnya komitmen UMKM dalam memenuhi pesanan pelanggan, baik lokal maupun mancanegara (on time delivery); b. Mas1h minimnya sistem managemen yang diterapkan UMKM, khususnya dalam aspek produksi, administrasi, dan keuangan; c. Keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki UMKM dalam rangka memenuhi pesanan; d. Rendahnya kualitas SDM, sehingga dalam mengelola usahanya tidak didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang sangat rasional; e. Terbatasnya modal yang dimiliki UMKM, khususnya modal ke~a: f. Lemahnya jaringan komunikasi dan informasi dengan pihak-pihak terka1t, seperti dalam pengadaan bahan baku, terkadang UMKM hanya memiliki sumber terbatas, sehingga barang yang diperoleh harganya tinggi; g. Rendahnya kemampuan UMKM dalam riset dan pengembangan, sehingga belum memenuhi keinginan para buyer. 1 j! JBME-Vol. 9- No. 10 Tita Djuitaningsih, Tri Susanto Page 2394

16 Di sisi lain, terdapat beberapa aspek yang menjadi hambatan ekstemal bagi UMKM dalam kegiatan ekspor, yakni : a. Tidak stabilnya pasokan dan harga bahan baku serta bahan pendukung lainnya; b. Persyaratan dari buyer semakin tinggi, antara lain berkaitan dengan kualitas produk, kualitas lingkungan sosial, kualitas lingkungan kerja, harga yang bersaing, aspek ramah lingkungan; c. Masih adanya regulasi pemerintah yang kurang kondusif sehingga dapat menghambat laju ekspor UMKM; d. Rendahnya akses UMKM terhadap pasar, antara lain meliputi permintaan produk, astandar kualitas produk, ketepatan waktu pengiriman, dan persaingan harga; e. Rendahnya akses UMKM terhadap sumber pembiayaan, antara lain meliputi informasi skim kredit dan tingginya tingkat bunga; f. Masih munculnya biaya-biaya siluman yang berkaitan dengan ransportasi, kepabeanan, dan keamanan; g. Kesulitan memenuhi prosedur dan jangka waktu yang relam lama untuk mematenkan produk bagi UMKM. Permasalahan yang dihadapi UMKM memang sangat kompleks, sehingga dibutuhkan berbagai pendekatan yang dapat mengurangi hambatan yang ada. Keputusan politik pemerintah di semua lini dan tingkatan yang berusaha memberdayakan UMKM sudah tepat, mengingat potensi dan peran UMKM terhadap pembangunan nasional. Hal yang penting dan mendasar adalah memberikan peluang yang lebih besar kepada para pelaku UMKM dengan menekan atau mereduksi hambatan-hambatan yang muncul. Setidaknya. ada tiga komponen sumber daya yang dibutuhkan untuk sampai pada tahapan tersebut Manusia-manusia yang berpotensi melahirkan inovasi, infrastruktur lembaga yang memberikan dukungan bagi lahirnya sebuah inovasi (perguruan tinggi,.lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan), dan modal yang memungkinkan sebuah inovasi diproduksi secara massal untuk dimanfaatkan masyarakat luas. ndonesia, sebenarnya tidak kekurangan sumber daya manusia yang berpotensi untuk melahirkan inovasi. Entah berapa banyak manusia ndonesia yang bergeiar Master, Doktor yang sebagian di antaranya bahkan adalah lulusan universitasuniversitas top manca negara. Dari mereka inilah diharapkan lahir berbagai inovasi;: yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Walaupun belum banyak yang didedikasikan khusus sebagai universitas riset dan pengembangan, tidak Sfldikit universitas kita yang mampu menghasilkan inovasi di bidang PTEK. Kita juga memiliki lembaga penelitian dan pengembangan di tiap departemen teknis, di perusahaanperusahaan, dan lembaga-lembaga lainnya. Yang tidak dimiliki oleh ndonesia adalah mekanisme pembiayaan yang mampu memberikan dukungan bagi proses produksi inovasi tersebut dalam skala ekonomis untuk dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Ketiadaan mekanisme pembiayaan inilah yang, juga, membuat perusahaan-perusahaan pelayaran atau penangkap ikan lebih memilih kapal-kapal produksi luar negeri, PT. KA memilih untuk menggunakan gerbong bekas dari Jepang, atau PT Dirgantara ndonesia gagal.menjual produk-produk canggihnya ke pasar, baik lokal maupun internasional. Mekanisme pembiayaan yang dibutuhkan bagi suatu inovasi untuk sampai kepada tahapan produksi skala ekonomis tersebut tentunya tidak dapat diserahkan kepada mekanisme pembiayaan biasa, melalui mekanisme perbankan misalnya. Jika JBME- Vol. 9- No. 10 nta Djuitaningsih, Tri Susanto Page 2395

17 dianalogikan sebagai sebuah proyek, maka proyek untuk mewujudkan sebuah inovasi menjadi sesuatu yang diproduksi secara massal dan secara ekonomis menguntungkan adalah proyek jangka panjang dan sangat spekulatif. Terlalu banyak ketidakpastian yang terlibat di dalamnya. Tertalu berisiko. Dengan karakter proyek seperti itu dapat dipahami mengapa tidak ada bank {di ndonesia) yang berminat untuk memberikan pembiayaan. Dalam kondisi demikian maka, peran negara sangatlah dibutuhkan. Pemerintah harus mengambil inisiatif untuk menyusun mekanisme khusus yang didedikasikan untuk merespon kebutuhan para inovator untuk mengembangkan inovasi mereka menjadi sebuah produk yang siap dimanfaatkan secara luas. Ada beberapa bentuk model pembiayaan untuk UMKM produk inovatif yang dapat dijadikan alternatif pilihan oleh pemerintah.._ Pertama, pemerintah dapat menjadi pemilik proyek dan menyediakan seluruh biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan sebuah inovasi teknologi. Contoh dari sistem seperti ini dapat dilihat pada program pengembangan peralatan perang baru oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Negara, melalui Departemen Pertahanan, menyiapkan spesifikasi teknologi yang diinginkan dari peralatan perang baru yang dibutuhkan. Tender kemudian dilakukan, diikuti oleh para pemasok yang menawarkan berbagai inovasi teknologi yang dimiliki. Pemenang tender ke!mudian akan melaksanakan program pengembangan berbagai peralatan baru tersebut dengan menggunakan anggaran Departemen Pertahanan. Kedua, pemerintah dapat menciptakan semacam "kredit program" yang khusus didedikasikan untuk membiayai sebuah inovasi menjadi sebuah produk massal yang dimanfaatkan oleh masyarakat. Walaupun istilah yang digunakan adalah kredit namun skema terapannya dapat berbentuk pinjaman lunak jangka panjang dapat pula berbentuk penyertaan modal. Kredit program ini dibiayai oleh APBN dan dilaksanakan melalui sistem perbankan yang ada. Perbankan dalam hal ini hanya akan berfungsi sebagai penyalur dan pengelola administrasi, dan tidak akan mencantumkan fasilitas pembiayaan tersebut sebagai portofolionya. Mekanisme seperti ini telah banyak dilakukan untuk bidang-bidang lain seperti, kredit- ekspor, kredit usaha kecil, kredit investasi kecil, dan lain-lain. Pengalaman pelaksanaan program-program seperti itu dapat menjadi modal bagi penyusunan sistem kredit program khusus untuk membiayai inovasi teknologi. Ketiga, pemerintah dapat membentuk lembaga pembiayaan yang khusus didedikasikan untuk membiayai proyek-proyek pengembangan inovasi teknologi. Lembaga pembiayaan ini mungkin dapat mengambil bentuk seperti Export Credit Agency (ECA) di negara-negara maju yang memang difungsikan untuk membiayai proyek-proyek besar, berjangka panjang dan berisiko tinggi. Lembaga ini harus memiliki expertise untuk menilai kelayakan sebuah inovasi untuk dapat menjadi produk yang dimanfaatkan oleh pasar. Lembaga ini juga harus memiliki sumber dana yang krediturkrediturnya memiliki concern atas pembiayaan inovasi teknologi dan memiliki kemampuan menyerap risiko yang tinggi. Lembaga ini harus memiliki jaringan kerja yang luas, tidak saja mencakup pihak-pihak yang secara tradisional terlibat datam sebuah skema pembiayaan, melainkan juga harus mencakup pihak-pihak yang terkait dengan pengembangan teknologi, otoritas publik, kelompok-kelompok masyarakat, yang pada dasarnya akan dapat memberikan dukungan bagi sosialisasi pemanfaatan sebuah inovasi di tengah-tengah masyarakat.! j JBME - Vol. 9- No. 10 Tita Ojuitaningsih, Tri Susanto Page 2396

18 Kesimpulan Dibutuhkan sokongan pemerintah untuk mendorong UMKM dengan produk inovatif untuk terus berkembang, bukan hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri dalam bentuk ekspor. Hal ini perlu dilakukan karena UMKM, khususnya yang berbasis teknologi inovatif, di satu sisi memberikan kontribusi dalam perekonomian nasional, seperti dalam bentuk penyerapan tenaga kerja misalnya, tetapi di sisi lain sulit berkembang karena lembaga pembiayaan cenderung menghindari pemberian kredit pada UMKM yang berbasis teknologi inovatif tersebut, dengan alasan risiko yang cukup tinggi. Ada 3 (tiga) model pembiayaan untuk UMKM produk inovatif yang dapat dilakukan pemerintah: 1. pemerintah dapat menjadi pemilik proyek dan menyediakan seluruh biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan sebuah inovasi ter.ologi. 2. pemerintah dapat menciptakan semacam "kr!dit program" yang khusus didedikasikan untuk membiayai sebuah inovasi menjadi sebuah produk massal yang dimanfaatkan oleh masyarakat. 3. pemerintah dapat membentuk lembaga pembiayaan yang khusus didedikasikan untuk membiayai proyek-proyek pengembangan inovasi teknologi. JBME-Vol. 9- No. 10 Trta Djuitaningsih, Tri Susanto Page 2397

19 Daftar Pustaka Anonymous Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dalam Pasa/ 8. Anonymous Peraturan Bank ndonesia (PB) tanggal 2 April 2007, Bank ndonesia Oarminto Peranan agroinovasi bidang veteriner dalam mendukung upaya peningkatan ketahanan pangan. Bulletin llmu Veteriner. Balai Penelitian Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.Badan Litbang Pertanian. De Jong, JPJ & Kemp, R Determinants of Co-workers's nnovative Behaviour An nvestigation into Knowledge ntensive Service. nternational Journal of nnovation Management. 7 (2) (Juni 2003) Diakses melalui EBSCO.. Publisher 22 Maret Harjanto, Sri., Dari Sistem tnovasi Nasional ke ABG: Catatan Kebijakan lptek Nasional. Jurnal lnovasi, Vol. 2/XV/November Hesselbein, Francis & Rob Johnston., 2002 On Creativity, nnovation and Renewal (tentang kreativtas, inovasi, dan pembaruan). The Drucker Foundation. PT.Eiex Media Komputindo. Jakarta. HM skandar Soesilo (2007), Strategi UMKM Dalam Mengatasi Sistem dan Prosedur Kredit Komersial, Majalah lnfokop, Vol. 15 No. 2, Desember Josef Schumpeter Konsep inovasi didasarkan pada persaingan antara perusahaan-perusahaan dan strategi yang berbeda. Scott, S. G & Bruce, R. A Determinants of nnovative behavior: A Path Model Of ndividual nnovation in the Workplace. Academy of Management Journal.. 37 (3) Diakses melalui EBSCO Publisher 22 Maret JBME - Vol. 9- No. 10 Tlta Djuitaningsih, Tri Susanto Page 2398

KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN

KEMENTERIAN KUKM DEPUTI PEMBIAYAAN DEPUTI BIDANG PEMBIAYAAN 2014 LATAR BELAKANG 1986 2006 2010 2011 2012 2,765 4,577 4,838 4,952 4,968 n/a 36,763 42,631 44,280 48,997 94,534 472,602 573,601 602,195 629,418 1,416,935 8,101,868 53,207,500

Lebih terperinci

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI PEMBERDAYAAAN KOPERASI & UMKM DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT 1) Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI 2) A. Muhajir, SH., MH Anggota Komisi VI DPR RI Disampaikan

Lebih terperinci

PERAN KELEMBAGAAN PERBANKAN DALAM PENGEMBANGAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH NASIONAL BANK MANDIRI

PERAN KELEMBAGAAN PERBANKAN DALAM PENGEMBANGAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH NASIONAL BANK MANDIRI PERAN KELEMBAGAAN PERBANKAN DALAM PENGEMBANGAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH NASIONAL POKOK BAHASAN I II KONDISI UMKM PERBANKAN KOMITMEN III POLA PEMBIAYAAN UMKM IV KESIMPULAN I KONDISI UMKM PERBANKAN

Lebih terperinci

BAB VI SASARAN, INISITIF STRATEJIK DAN PROGRAM PEMBANGUNAN KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM

BAB VI SASARAN, INISITIF STRATEJIK DAN PROGRAM PEMBANGUNAN KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM BAB VI SASARAN, INISITIF STRATEJIK DAN PROGRAM PEMBANGUNAN KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM A. SASARAN STRATEJIK yang ditetapkan Koperasi dan UKM selama periode tahun 2005-2009 disusun berdasarkan berbagai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perekonomian Indonesia berdasarkan data statistik tahun 2004, dapat dilihat dari

I. PENDAHULUAN. perekonomian Indonesia berdasarkan data statistik tahun 2004, dapat dilihat dari I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Usaha mikro kecil dan menengah memiliki peran strategis dalam kegiatan perekonomian masyarakat di Indonesia. Peran strategis usaha kecil bagi perekonomian Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. salah satu di dalamnya adalah usaha memberikan kredit.perkreditan. merupakan usaha utama perbankan (financial depening) yang dalam

BAB I PENDAHULUAN. salah satu di dalamnya adalah usaha memberikan kredit.perkreditan. merupakan usaha utama perbankan (financial depening) yang dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Menurut Pasal 1 angka 1 UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas UU No. 7 Tahun 1992, perbankan adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank, mencakup

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Master Plan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Master Plan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Master Plan Latar belakang Penyusunan Cetak Biru (Master Plan) Pengembangan Penanaman Modal Kabupaten Banyuasin secara garis besar adalah Dalam rangka mewujudkan Visi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terbukti memiliki peran dan

BAB I PENDAHULUAN. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terbukti memiliki peran dan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terbukti memiliki peran dan memberikan kontribusi bagi perekonomian Indonesia. Pada tahun 2009 tercatat kontribusi UMKM

Lebih terperinci

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka keterpaduan pelaksanaan Pengembangan Ekonomi Kreatif,

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka keterpaduan pelaksanaan pengembangan Ekonomi Kreatif, dengan ini

Lebih terperinci

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mempunyai peran yang strategis dalam

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mempunyai peran yang strategis dalam Abstrak UPAYA PENGEMBANGAN USAHA KECIL DAN MENENGAH (UKM) Oleh : Dr. Ir. Mohammad Jafar Hafsah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional, oleh karena

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan suatu isu yang

BAB I PENDAHULUAN. Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan suatu isu yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan suatu isu yang menarik untuk dicermati dan disikapi. Usaha mikro kecil dan menengah memiliki andil dalam perekonomian

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

Strategi Pemberdayaan Lembaga Keuangan Rakyat BPR

Strategi Pemberdayaan Lembaga Keuangan Rakyat BPR Strategi Pemberdayaan Lembaga Keuangan Rakyat BPR Oleh : Marsuki Disampaikan dalam Seminar Serial Kelompok TEMPO Media dan Bank Danamon dengan Tema : Peran Pemberdayaan dalam Pengembangan Ekonomi Daerah.

Lebih terperinci

Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur

Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur XII Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur Globalisasi ekonomi menuntut produk Jawa Timur mampu bersaing dengan produk sejenis dari negara lain, baik di pasar lokal maupun pasar internasional. Kurang

Lebih terperinci

LAPORAN KEGIATAN KINERJA PENYALURAN DAN PEMANFAATAN KREDIT PROGRAM PERTANIAN KKPE DI PROVINSI BALI

LAPORAN KEGIATAN KINERJA PENYALURAN DAN PEMANFAATAN KREDIT PROGRAM PERTANIAN KKPE DI PROVINSI BALI LAPORAN KEGIATAN KINERJA PENYALURAN DAN PEMANFAATAN KREDIT PROGRAM PERTANIAN KKPE DI PROVINSI BALI I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan mendasar bagi pengembangan usaha pertanian adalah lemahnya

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA BAB 19 PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA BAB 19 PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH BAB 19 PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH BAB 19 PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN USAHA MII(RO" KECIL, DAN MENENGAH A. KONDISI UMUM Pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah

Lebih terperinci

IV.B.10. Urusan Wajib Koperasi dan UKM

IV.B.10. Urusan Wajib Koperasi dan UKM 10. URUSAN KOPERASI DAN UKM Pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan langkah yang strategis dalam meningkatkan dan memperkuat dasar kehidupan perekonomian dari sebagian

Lebih terperinci

TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21

TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21 TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21 21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK 1. Q: Apa latar belakang diterbitkannya PBI

Lebih terperinci

Menuju Revolusi Ketiga Sains Teknologi:

Menuju Revolusi Ketiga Sains Teknologi: Menuju Revolusi Ketiga Sains Teknologi: Pengembangan Ekonomi Kreatif Prof. Dr. Bustanul Arifin barifin@uwalumni.com Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian UNILA Dewan Pendiri/Ekonom Senior INDEF Anggota Komite

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN EKONOMI MASYARAKAT PEDESAAN MELALUI PENGENALAN AKUNTANSI DI KABUPATEN KEDIRI

PENGEMBANGAN EKONOMI MASYARAKAT PEDESAAN MELALUI PENGENALAN AKUNTANSI DI KABUPATEN KEDIRI PENGEMBANGAN EKONOMI MASYARAKAT PEDESAAN MELALUI PENGENALAN AKUNTANSI DI KABUPATEN KEDIRI Suhardi Email : suhardi19@gmail.com Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan akuntansi di

Lebih terperinci

BUSINESS PLAN RUMAH PRODUKSI RAJUNGAN

BUSINESS PLAN RUMAH PRODUKSI RAJUNGAN BUSINESS PLAN RUMAH PRODUKSI RAJUNGAN PIU KABUPATEN KUBU RAYA TAHUN 2014 BUSINESS PLAN INFRASTRUKTUR KOMPONEN 2 RUMAH PRODUKSI RAJUNGAN A. LATAR BELAKANG Business Plan akan menjadi dasar atau pijakan bagi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. negaranya, yaitu sebagai pemicu pertumbuhan ekonomi, inovasi, dan progres

I. PENDAHULUAN. negaranya, yaitu sebagai pemicu pertumbuhan ekonomi, inovasi, dan progres 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dunia mengakui bahwa usaha kecil, mikro dan menengah (UMKM) memainkan peran yang sangat vital di dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, tidak hanya di negara-negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Untuk meningkatkan perekonomian masyarakat maka pemerintah telah

BAB I PENDAHULUAN. Untuk meningkatkan perekonomian masyarakat maka pemerintah telah 16 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Untuk meningkatkan perekonomian masyarakat maka pemerintah telah menetapkan beberapa prioritas, antara lain adalah dengan memberikan akses yang luas

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Ekonomi kreatif yang digerakkan oleh industri kreatif, didefinisikan sebagai industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. adalah masalah keterbatasan modal yang dimiliki oleh para petani. Permasalahan

I. PENDAHULUAN. adalah masalah keterbatasan modal yang dimiliki oleh para petani. Permasalahan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada umumnya masalah kemiskinan berhubungan erat dengan permasalahan pertanian di Indonesia. Masalah paling dasar bagi sebagian besar petani Indonesia adalah masalah keterbatasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertama adalah gelombang ekonomi pertanian. Kedua, gelombang ekonomi

BAB I PENDAHULUAN. pertama adalah gelombang ekonomi pertanian. Kedua, gelombang ekonomi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Peradaban ekonomi dunia terbagi dalam tiga gelombang. Gelombang pertama adalah gelombang ekonomi pertanian. Kedua, gelombang ekonomi industri. Ketiga adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Suatu perusahaan memiliki beberapa fungsi penting yang menunjang kegiatan-kegiatan yang ada. Dalam rangka mencapai visi dan misi tertentu, suatu perusahaan memiliki

Lebih terperinci

Kebijakan dan Strategi Nasional untuk Pengembangan Keuangan Mikro

Kebijakan dan Strategi Nasional untuk Pengembangan Keuangan Mikro Kebijakan dan Strategi Nasional untuk Pengembangan Keuangan Mikro I Pendahuluan Keuangan mikro merupakan alat yang cukup penting untuk mewujudkan pembangunan oleh Pemerintah Indonesia dalam tiga hal sekaligus,

Lebih terperinci

PERAN PERGURUAN TINGGI DALAM TRIPLE HELIX SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF. Dewi Eka Murniati Jurusan PTBB FT UNY ABSTRAK

PERAN PERGURUAN TINGGI DALAM TRIPLE HELIX SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF. Dewi Eka Murniati Jurusan PTBB FT UNY ABSTRAK PERAN PERGURUAN TINGGI DALAM TRIPLE HELIX SEBAGAI UPAYA PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF Dewi Eka Murniati Jurusan PTBB FT UNY ABSTRAK Industri kreatif telah membuktikan proporsi kontribusinya yang signifikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Industri perbankan memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. Industri perbankan memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Industri perbankan memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan perekonomian. Begitu penting perannya sehingga ada anggapan bahwa bank merupakan "nyawa

Lebih terperinci

PEMBIAYAAN UMKM DALAM PAKET KEBIJAKAN EKONOMI SEPTEMBER 2015

PEMBIAYAAN UMKM DALAM PAKET KEBIJAKAN EKONOMI SEPTEMBER 2015 Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia PEMBIAYAAN UMKM DALAM PAKET KEBIJAKAN EKONOMI SEPTEMBER 2015 JAKARTA, 15 OKTOBER 2015 OUTLINE PEMBIAYAAN UMKM DALAM PAKET KEBIJAKAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

Policy Brief Outlook Penurunan BI Rate & Ekspektasi Dunia Usaha No. 01/01/2016

Policy Brief Outlook Penurunan BI Rate & Ekspektasi Dunia Usaha No. 01/01/2016 Policy Brief Outlook Penurunan BI Rate & Ekspektasi Dunia Usaha No. 01/01/2016 Overview Beberapa waktu lalu Bank Indonesia (BI) dalam RDG 13-14 Januari 2016 telah memutuskan untuk memangkas suku bunga

Lebih terperinci

UMKM & Prospek Ekonomi 2006

UMKM & Prospek Ekonomi 2006 UMKM & Prospek Ekonomi 2006 Oleh : B.S. Kusmuljono Ketua Komite Nasional Pemberdayaan Keuangan Mikro Indonesia (Komnas PKMI) Komisaris BRI Disampaikan pada : Dialog Ekonomi 2005 & Prospek Ekonomi Indonesia

Lebih terperinci

5. RENCANA PEMASARAN (Marketing plan) 5.1. Pengertian Marketing Plan Pemasaran adalah suatu proses penciptaan dan penyampaian barang dan jasa yang

5. RENCANA PEMASARAN (Marketing plan) 5.1. Pengertian Marketing Plan Pemasaran adalah suatu proses penciptaan dan penyampaian barang dan jasa yang 5. RENCANA PEMASARAN (Marketing plan) 5.1. Pengertian Marketing Plan Pemasaran adalah suatu proses penciptaan dan penyampaian barang dan jasa yang diinginkan pelanggan, yang meliputi kegiatan yang berkaitan

Lebih terperinci

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia =============================================================================== Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia !" #$ %$#&%!!!# &%!! Tujuan nasional yang dinyatakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, pada tahun jumlah pengusaha di Indonesia sebanyak dimana 99,7% atau

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, pada tahun jumlah pengusaha di Indonesia sebanyak dimana 99,7% atau I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, pada tahun 2006 jumlah pengusaha di Indonesia sebanyak 48.936.840 dimana 99,7% atau sebesar 48.822.925 merupakan Usaha Kecil

Lebih terperinci

REKOMENDASI SEMINAR STRATEGI DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN EKONOMI JANGKA MENENGAH PROVINSI JAMBI 22 DESEMBER 2005

REKOMENDASI SEMINAR STRATEGI DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN EKONOMI JANGKA MENENGAH PROVINSI JAMBI 22 DESEMBER 2005 BOKS REKOMENDASI SEMINAR STRATEGI DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN EKONOMI JANGKA MENENGAH PROVINSI JAMBI 22 DESEMBER 2005 I. PENDAHULUAN Dinamika daerah yang semakin kompleks tercermin dari adanya perubahan

Lebih terperinci

Menuju UKM Mandiri. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk

Menuju UKM Mandiri. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Menuju UKM Mandiri PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Definisi UMKM menurut UU No. 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Kriteria Usaha Mikro Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp.50.000.000,00

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah menggambarkan kondisi dan analisis statistik Perekonomian Daerah, sebagai gambaran umum untuk situasi perekonomian Kota

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Laju 2008 % 2009 % 2010* % (%) Pertanian, Peternakan,

I PENDAHULUAN. Laju 2008 % 2009 % 2010* % (%) Pertanian, Peternakan, I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kemiskinan merupakan permasalahan yang banyak dihadapi oleh setiap negara di dunia. Sektor pertanian salah satu sektor lapangan usaha yang selalu diindentikan dengan kemiskinan

Lebih terperinci

Program Mahasiswa Wirausaha Bagi Kopertis dan Perguruan Tinggi Swasta

Program Mahasiswa Wirausaha Bagi Kopertis dan Perguruan Tinggi Swasta Sumber : Kementerian Pendidikan Nasional/Dirjen Dikti/Direktorat Kelembagaan 15 November 2008 Program Mahasiswa Wirausaha Bagi Kopertis dan Perguruan Tinggi Swasta LATAR BELAKANG Hasil Survei Sosial Ekonomi

Lebih terperinci

BAB 20 PEMBERDAYAAN KOPERASI, DAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH

BAB 20 PEMBERDAYAAN KOPERASI, DAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH BAB 20 PEMBERDAYAAN KOPERASI, DAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH Perkembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan koperasi memiliki potensi yang besar dalam meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Lebih terperinci

STUDI PELAKSANAAN KREDIT PERBAIKAN RUMAH SWADAYA MIKRO SYARIAH BERSUBSIDI DI KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR

STUDI PELAKSANAAN KREDIT PERBAIKAN RUMAH SWADAYA MIKRO SYARIAH BERSUBSIDI DI KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR STUDI PELAKSANAAN KREDIT PERBAIKAN RUMAH SWADAYA MIKRO SYARIAH BERSUBSIDI DI KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR Oleh: LATIFAH HANUM A. M. L2D 005 372 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB VII PRODUK Apa itu produk? Barang dan Jasa

BAB VII PRODUK Apa itu produk? Barang dan Jasa BAB VII PRODUK Apa itu produk? Produk adalah sesuatu yang diciptakan untuk tujuan transaksi. Produk memuaskan kebutuhan dan keinginan tertentu dari pelanggan dan memberikan pendapatan pada penjual atau

Lebih terperinci

DENI HAMDANI, 2015 PENGARUH PERILAKU KEWIRAUSAHAAN, PERSAINGAN, DAN MODAL KERJA TERHADAP TINGKAT PENDAPATAN PEDAGANG

DENI HAMDANI, 2015 PENGARUH PERILAKU KEWIRAUSAHAAN, PERSAINGAN, DAN MODAL KERJA TERHADAP TINGKAT PENDAPATAN PEDAGANG 1.1. Latar belakang BAB I PENDAHULUAN Manusia merupakan mahluk sempurna, sehingga untuk mendapatkan sesuatu manusia harus berusaha. Semua mahluk hidup memiliki kebutuhan tak terkecuali manusia, bahkan

Lebih terperinci

Strategi Pemasaran Produk Industri Kreatif Oleh Popy Rufaidah, SE., MBA., Ph.D 1

Strategi Pemasaran Produk Industri Kreatif Oleh Popy Rufaidah, SE., MBA., Ph.D 1 Strategi Produk Industri Kreatif Oleh Popy Rufaidah, SE., MBA., Ph.D 1 Hasil kajian Tim Inisiasi ( taskforce) Ekonomi Kreatif Propinsi Jawa Barat 2011, bersama Bappeda Jawa Barat, dimana penulis terlibat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan salah satu penyumbang terbesar perekonomian Indonesia. UMKM di negara berkembang seperti di Indonesia, sering dikaitkan

Lebih terperinci

ASPEK TEKNOLOGI INFORMASI DALAM LINGKUNGAN BISNIS. Disusun untuk memenuhi syarat kelulusan Matakuliah Lingkungan Bisnis

ASPEK TEKNOLOGI INFORMASI DALAM LINGKUNGAN BISNIS. Disusun untuk memenuhi syarat kelulusan Matakuliah Lingkungan Bisnis ASPEK TEKNOLOGI INFORMASI DALAM LINGKUNGAN BISNIS Disusun untuk memenuhi syarat kelulusan Matakuliah Lingkungan Bisnis Disusun Oleh : NOVIE WIRAWAN ARIEF W 10.21.0540 S1 TI TRANSFER SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pekerjaan dengan cara menghasilkan dan memberdayakan kemampuan berkreasi

BAB I PENDAHULUAN. pekerjaan dengan cara menghasilkan dan memberdayakan kemampuan berkreasi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Industri Kreatif adalah industri yang memanfaatkan kreatifitas, keterampilan dan bakat individu demi menciptakan kesejahteraan dan lapangan pekerjaan dengan

Lebih terperinci

PENGUATAN UMKM MELALUI KEKAYAAN INTELEKTUAL DI ERA PERSAINGAN BEBAS

PENGUATAN UMKM MELALUI KEKAYAAN INTELEKTUAL DI ERA PERSAINGAN BEBAS PENGUATAN UMKM MELALUI KEKAYAAN INTELEKTUAL DI ERA PERSAINGAN BEBAS Dewi Sulistianingsih Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang Kampus Sekaran Gedung K, Gunungpati, Semarang Jawa Tengah, Indonesia,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perbankan merupakan lembaga yang bergerak pada jasa keuangan. Lembaga ini selain mengumpulkan uang masyarakat, juga memberikan kredit kepada masyarakat baik untuk kepentingan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Pengertian Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Pengertian Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Badan Pusat Statistik (BPS) mengelompokkan UMKM berdasarkan jumlah tenaga kerja. Usaha yang memiliki 1-4 orang tenaga kerja dikelompokkan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Pembiayaan dalam dunia usaha sangat dibutuhkan dalam mendukung keberlangsungan suatu usaha yang dijalankan. Dari suatu usaha yang memerlukan pembiayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi di suatu negara termasuk Indonesia sangat bergantung

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi di suatu negara termasuk Indonesia sangat bergantung 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi di suatu negara termasuk Indonesia sangat bergantung pada perkembangan dinamis dan kontribusi nyata dari sektor perbankan. Pasca krisis ekonomi

Lebih terperinci

Aspek Keuangan dan. Tim Kewirausahaan-SEDS Universitas Hasanuddin

Aspek Keuangan dan. Tim Kewirausahaan-SEDS Universitas Hasanuddin Aspek Keuangan dan Pembiayaan Bisnis Tim Kewirausahaan-SEDS Universitas Hasanuddin Manajemen Kas Lingkup Kas adalah aset yang paling penting namun yang paling tidak produktif yang dimiliki suatu bisnis.

Lebih terperinci

Dukungan OJK dalam Membangun Perekonomian Indonesia. Deputi Komisioner Pengawasan IKNB 2 Otoritas Jasa Keuangan Jakarta 3 Mei 2016

Dukungan OJK dalam Membangun Perekonomian Indonesia. Deputi Komisioner Pengawasan IKNB 2 Otoritas Jasa Keuangan Jakarta 3 Mei 2016 Dukungan OJK dalam Membangun Perekonomian Indonesia Deputi Komisioner Pengawasan IKNB 2 Otoritas Jasa Keuangan Jakarta 3 Mei 2016 Topik Bahasan PERKEMBANGAN SEKTOR JASA KEUANGAN PERBANKAN PASAR MODAL DAN

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Kondisi perekonomian Kota Ambon sepanjang Tahun 2012, turut dipengaruhi oleh kondisi perekenomian

Lebih terperinci

Pertumbuhan Ekonomi Berbasis Inovasi dan Desain. Oleh: Evo S. Hariandja (*)

Pertumbuhan Ekonomi Berbasis Inovasi dan Desain. Oleh: Evo S. Hariandja (*) Pertumbuhan Ekonomi Berbasis Inovasi dan Desain Oleh: Evo S. Hariandja (*) Introduksi Menjelang tutup tahun 2009 dan menyongsong tahun 2010, ada baiknya kita mencermati laporan terbaru UNIDO 2009 yang

Lebih terperinci

VII. ANALISIS KEBIJAKAN

VII. ANALISIS KEBIJAKAN VII. ANALISIS KEBIJAKAN 179 Secara teoritis tujuan dari suatu simulasi kebijakan adalah untuk menganalisis dampak dari berbagai alternatif kebijakan dengan jalan mengubah dari salah satu atau beberapa

Lebih terperinci

BAB 2 PROSES BISNIS PT DANAREKSA (PERSERO)

BAB 2 PROSES BISNIS PT DANAREKSA (PERSERO) BAB 2 PROSES BISNIS PT DANAREKSA (PERSERO) 2.1. Proses Bisnis 2.1.1. Deskrisi Bisnis PT Danareksa (Persero) mempunyai dua deskripsi bisnis utama yang merupakan bisnis inti dari perusahaan. Yang pertama

Lebih terperinci

BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) pada hakekatnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka membangun

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS IIV.1 Permasalahan Pembangunan Permasalahan yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Ngawi saat ini dan permasalahan yang diperkirakan terjadi lima tahun ke depan perlu mendapat

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA SISTEM

BAB IV ANALISA SISTEM 71 BAB IV ANALISA SISTEM 4.1. Analisa Situasional Agroindustri Sutera Agroindustri sutera merupakan industri pengolahan yang menghasilkan sutera dengan menggunakan bahan baku kokon yaitu kepompong dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian baik untuk negara ataupun daerah. Peran penting UKM tersebut telah

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian baik untuk negara ataupun daerah. Peran penting UKM tersebut telah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usaha Kecil dan Menengah (UKM) merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian baik untuk negara ataupun daerah. Peran penting UKM tersebut telah mendorong banyak

Lebih terperinci

KUMPULAN PERATURAN KREDIT USAHA RAKYAT 2015

KUMPULAN PERATURAN KREDIT USAHA RAKYAT 2015 KUMPULAN PERATURAN KREDIT USAHA RAKYAT 2015 I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki peran dan kontribusi yang penting dalam perekonomian Indonesia, yaitu menyediakan

Lebih terperinci

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia PEMBIAYAAN UMKM DALAM PAKET KEBIJAKAN EKONOMI SEPTEMBER 2015

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia PEMBIAYAAN UMKM DALAM PAKET KEBIJAKAN EKONOMI SEPTEMBER 2015 Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia PEMBIAYAAN UMKM DALAM PAKET KEBIJAKAN EKONOMI SEPTEMBER 2015 SURABAYA, 8 OKTOBER 2015 OUTLINE PEMBIAYAAN UMKM DALAM PAKET KEBIJAKAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

PROGRAM STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM 2015

PROGRAM STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM 2015 1 PROGRAM STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM 2015 DEPUTI BIDANG KELEMBAGAAN KOPERASI DAN UKM 1. Revitalisasi dan Modernisasi Koperasi; 2. Penyuluhan Dalam Rangka Gerakan Masyarakat Sadar Koperasi;

Lebih terperinci

BAGAIMANA MENAKAR PEMBANGUNAN EKONOMI LOKAL DI ERA OTONOMI DAERAH*)

BAGAIMANA MENAKAR PEMBANGUNAN EKONOMI LOKAL DI ERA OTONOMI DAERAH*) BAGAIMANA MENAKAR PEMBANGUNAN EKONOMI LOKAL DI ERA OTONOMI DAERAH*) Oleh M. RUSMIN NURYADIN, SE.M.Si I. PENDAHULUAN Kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi sudah berjalan selama 11 tahun. Seperti kita

Lebih terperinci

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh dan salam sejahtera untuk. kita semua

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh dan salam sejahtera untuk. kita semua SAMBUTAN DEPUTI GUBERNUR BIDANG KREDIT BANK INDONESIA PADA ACARA PENANDATANGANAN MOU ANTARA BANK INDONESIA DAN KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM TENTANG PENINGKATAN KETERAMPILAN LEMBAGA PENYEDIA JASA (BUSINESS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan lingkungan yang tercermin dalam globalisasi pasar,

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan lingkungan yang tercermin dalam globalisasi pasar, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perubahan lingkungan yang tercermin dalam globalisasi pasar, perkembangan teknologi yang sangat pesat, perubahan demografi dan perubahan sosial budaya telah

Lebih terperinci

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI 3.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Pelayanan Kondisi lingkungan kerja yang diharapkan tentunya dapat memberikan dukungan optimal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di Indonesia. Hai ini mengingat wilayah Indonesia merupakan negara kepulauan

BAB I PENDAHULUAN. di Indonesia. Hai ini mengingat wilayah Indonesia merupakan negara kepulauan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sub sektor perikanan air laut di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar di Indonesia. Hai ini mengingat wilayah Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar

Lebih terperinci

BUKU KUMPULAN PERATURAN TAHUN 2016 KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) K R E D I T U S A H A R A K Y A T KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN

BUKU KUMPULAN PERATURAN TAHUN 2016 KREDIT USAHA RAKYAT (KUR) K R E D I T U S A H A R A K Y A T KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN Buku ini berisi kumpulan Peraturan yang dikeluarkan oleh Komite Kebijakan dalam rangka relaksasi kebijakan terkait Program Kredit Usaha Rakyat Tahun 2016. Peraturan-peraturan dalam buku ini menjadi landasan

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 77 /POJK.01/2016 TENTANG LAYANAN PINJAM MEMINJAM UANG BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI

PENJELASAN ATAS PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 77 /POJK.01/2016 TENTANG LAYANAN PINJAM MEMINJAM UANG BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI PENJELASAN ATAS PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 77 /POJK.01/2016 TENTANG LAYANAN PINJAM MEMINJAM UANG BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI I. UMUM Kegiatan pinjam meminjam uang secara langsung berdasarkan

Lebih terperinci

TAHAP 1: MERUMUSKAN MASALAH

TAHAP 1: MERUMUSKAN MASALAH Contoh Studi Tahapan Monitoring dan Evaluasi Kebijakan TAHAP 1: MERUMUSKAN MASALAH Dalam studi kasus tersebut, langkah-langkah yang diambil dalam merumuskan masalah meliputi: 1. Memikirkan masalah yang

Lebih terperinci

Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Pemberdayaan Pemuda Indonesia Ahmad Buchori Kepala Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan

Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Pemberdayaan Pemuda Indonesia Ahmad Buchori Kepala Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Pemberdayaan Pemuda Indonesia Ahmad Buchori Kepala Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan Bogor, 29 Desember 2015 1 Agenda 1. Potensi dan Tantangan Kondisi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Industri Pengolahan

I. PENDAHULUAN Industri Pengolahan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor utama perekonomian di Indonesia. Konsekuensinya adalah bahwa kebijakan pembangunan pertanian di negaranegara tersebut sangat berpengaruh terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting dalam pembangunan nasional. Dalam kerangka perbankan nasional,

BAB I PENDAHULUAN. penting dalam pembangunan nasional. Dalam kerangka perbankan nasional, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bank Perkreditan Rakyat (BPR) merupakan salah satu tulang punggung penting dalam pembangunan nasional. Dalam kerangka perbankan nasional, seperti tertuang di dalam

Lebih terperinci

I. DASAR PEMIKIRAN 11. TELAAH STRATEGI

I. DASAR PEMIKIRAN 11. TELAAH STRATEGI I. DASAR PEMIKIRAN Dalam sistem pengembangan bisnis terdapat lima sumberdaya yang harus dikelola secara integratif dati komplementer, bukan upaya meningkatkan produktifitas maupun efisiensi bisnis itu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pesat sesuai dengan kemajuan teknologi. Dalam era globalisasi peran transportasi

BAB I PENDAHULUAN. pesat sesuai dengan kemajuan teknologi. Dalam era globalisasi peran transportasi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Globalisasi dari sisi ekonomi adalah suatu perubahan dunia yang bersifat mendasar atau struktural dan akan berlangsung terus dalam Iaju yang semakin pesat

Lebih terperinci

ADHI PUTRA ALFIAN DIREKTUR PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UKM BATAM, 18 JUNI 2014

ADHI PUTRA ALFIAN DIREKTUR PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UKM BATAM, 18 JUNI 2014 ADHI PUTRA ALFIAN DIREKTUR PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN UKM BATAM, 18 JUNI 2014 OUTLINE 1. LINGKUNGAN STRATEGIS 2. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI 2 1. LINGKUNGAN STRATEGIS 3 PELUANG BONUS DEMOGRAFI Bonus Demografi

Lebih terperinci

Kata kunci: Penyertaan, modal, ventura. usaha kecil, usaha menegah.

Kata kunci: Penyertaan, modal, ventura. usaha kecil, usaha menegah. PERAN LEMBAGA PEMBIAYAAN MODAL VENTURA DALAM PEMBERDAYAAN USAHA KECIL Nitaria Angkasa E-mail: nitaria10angkasa@gmail.com ABSTRAK Perkembangan lembaga pembiayaan yang baru-baru ini yang berkembang seperti

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan bisnis perbankan di Indonesia terus mengalami kemajuan yang sangat pesat. Bank-bank dituntut untuk menjadi lebih dinamis terhadap perubahan agar siap bersaing

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. mengarahkan pembangunan ekonominya dengan berbasiskan pada kehandalan UMKM

I. PENDAHULUAN. mengarahkan pembangunan ekonominya dengan berbasiskan pada kehandalan UMKM I. PENDAHULUAN 1.1 Lantar Belakang Sejak terjadinya krisis moneter pada tahun 1997, pemerintah Indonesia lebih mengarahkan pembangunan ekonominya dengan berbasiskan pada kehandalan UMKM (Usaha Mikro, Kecil

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH Kondisi perekonomian Kabupaten Sleman Tahun 2014 berikut karakteristiknya serta proyeksi perekonomian tahun 2015-2016 dapat digambarkan

Lebih terperinci

Pengembangan Usaha kecil dan

Pengembangan Usaha kecil dan Kunjungan studi PENGEMBANGAN UMKMK DALAM RANGKA PERCEPATAN PERTUMBUHAN PEREKONOMIAN BALI Oleh : I Ketut Indra Satya Dharma Putra, SE (Direktur PT. Jamkrida Bali Mandara) Abstrak I Ketut Indra Satya Dharma

Lebih terperinci

BAB 20 PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH

BAB 20 PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH BAB 20 PEMBERDAYAAN KOPERASI DAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH Pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan koperasi merupakan langkah yang strategis dalam meningkatkan dan memperkuat dasar

Lebih terperinci

No. 15/35/DPAU Jakarta, 29 Agustus SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA

No. 15/35/DPAU Jakarta, 29 Agustus SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA No. 15/35/DPAU Jakarta, 29 Agustus 2013 SURAT EDARAN Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA Perihal: Pemberian Kredit atau Pembiayaan oleh Bank Umum dan Bantuan Teknis dalam rangka Pengembangan Usaha Mikro,

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif: Mengatasi tantangan saat ini dan ke depan

Ringkasan Eksekutif: Mengatasi tantangan saat ini dan ke depan Ringkasan Eksekutif: Mengatasi tantangan saat ini dan ke depan Prospek pertumbuhan global masih tetap lemah dan pasar keuangan tetap bergejolak Akan tetapi, kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pengembangan sumberdaya manusia merupakan proses untuk. ini juga merupakan proses investasi sumberdaya manusia secara efektif dalam

I. PENDAHULUAN. Pengembangan sumberdaya manusia merupakan proses untuk. ini juga merupakan proses investasi sumberdaya manusia secara efektif dalam I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengembangan sumberdaya manusia merupakan proses untuk meningkatkan pengetahuan manusia, kreativitas dan keterampilan serta kemampuan orang-orang dalam masyarakat. Pengembangan

Lebih terperinci

CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN

CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN Kelompok Kerja Edukasi Masyarakat Di Bidang Perbankan 2007 1. Pendahuluan Bank sebagai lembaga intermediasi dan pelaksana sistem pembayaran memiliki peranan

Lebih terperinci

Lembaga Keuangan Syariah. Muhamad Said Fathurrohman

Lembaga Keuangan Syariah. Muhamad Said Fathurrohman Lembaga Keuangan Syariah Muhamad Said Fathurrohman Fungsi Mikro Lembaga Keuangan Lembaga keuangan adalah produsen jasa keuangan yang memenuhi kebutuhan keuangan konsumen Setiap jenis lembaga keuangan memenuhi

Lebih terperinci

SUMMARY RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) PROVINSI JAWA BARAT (PROVINCIAL GOVERNMENT ACTION PLAN) TAHUN 2011

SUMMARY RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) PROVINSI JAWA BARAT (PROVINCIAL GOVERNMENT ACTION PLAN) TAHUN 2011 SUMMARY RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) PROVINSI JAWA BARAT (PROVINCIAL GOVERNMENT ACTION PLAN) TAHUN 2011 Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat Tahun 2011 merupakan pelaksanaan

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH BESERTA KERANGKA PENDANAAN 3.1. Arah Dan Kebijakan Ekonomi Daerah 3.1.1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan Pertumbuhan Ekonomi Kondisi ekonomi makro Kabupaten

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Implementasi Production Based Education Sebagai Upaya Meningkatkan Mutu Lulusan Pendidikan Vokasi Di Akademi Teknik Soroako

BAB I PENDAHULUAN. Implementasi Production Based Education Sebagai Upaya Meningkatkan Mutu Lulusan Pendidikan Vokasi Di Akademi Teknik Soroako BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan perekonomian Indonesia pada tahun ini diperkirakan akan mencapai 6,4% dan terus meningkat menjadi 6,6% pada tahun 2014, hal ini berdasarkan publikasi Asia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manfaat ekonomi yang menjadi tujuan dibentuknya dunia usaha.

BAB I PENDAHULUAN. manfaat ekonomi yang menjadi tujuan dibentuknya dunia usaha. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Penelitian Salah satu isu penting yang masih terus menjadi perhatian dalam dunia usaha hingga saat ini yaitu terkait tentang tanggung jawab sosial perusahaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sendi penting dalam perekonomian nasional. Dengan kondisi perbankan yang. dalam menjaga kelangsungan pembangunan ekonomi.

BAB I PENDAHULUAN. sendi penting dalam perekonomian nasional. Dengan kondisi perbankan yang. dalam menjaga kelangsungan pembangunan ekonomi. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Pembangunan ekonomi memerlukan peran serta lembaga keuangan untuk membiayainya, karena pembangunan sangat memerlukan tersedianya dana. Oleh karena itu perusahaan

Lebih terperinci

menyebabkan meningkatnya risiko gagal bayar (default risk). Hal ini berpotensi mengganggu kestabilan sistem keuangan dan ekonomi makro seperti yang

menyebabkan meningkatnya risiko gagal bayar (default risk). Hal ini berpotensi mengganggu kestabilan sistem keuangan dan ekonomi makro seperti yang TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/20/PBI/2014 TANGGAL 28 OKTOBER 2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK 1. Q: Apa latar belakang diterbitkannya

Lebih terperinci

ANALISIS POSISI STRATEGIS USAHA KECIL MENENGAH (UKM) PERLOGAMAN DI KOTA TEGAL

ANALISIS POSISI STRATEGIS USAHA KECIL MENENGAH (UKM) PERLOGAMAN DI KOTA TEGAL ANALISIS POSISI STRATEGIS USAHA KECIL MENENGAH (UKM) PERLOGAMAN DI KOTA TEGAL Oleh: Ary Yunanto 1 Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto E-mail: aryyunanto_gk@yahoo.co.id Abstract

Lebih terperinci