INDIKASI PROGRAM PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "INDIKASI PROGRAM PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL"

Transkripsi

1 LAMPIRAN IV PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN INDIKASI PROGRAM PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL Bagian A : INDIKASI PROGRAM PEMBANGUNAN DESTINASI PARIWISATA Bagian B : INDIKASI PROGRAM PEMBANGUNAN PEMASARAN PARIWISATA Bagian C : INDIKASI PROGRAM PEMBANGUNAN INDUSTRI PARIWISATA Bagian D : INDIKASI PROGRAM PEMBANGUNAN KELEMBAGAAN PARIWISATA

2 - 2 - Bagian A INDIKASI PROGRAM PEMBANGUNAN DESTINASI PARIWISATA LINGKUP PEMBANGUNAN DESTINASI PARIWISATA: 1. PERWILAYAHAN PEMBANGUNAN DESTINASI PARIWISATA NASIONAL; 2. PEMBANGUNAN DAYA TARIK WISATA; 3. PEMBANGUNAN AKSESIBILITAS PARIWISATA; 4. PEMBANGUNAN PRASARANA UMUM, FASILITAS UMUM DAN FASILITAS PARIWISATA; 5. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI KEPARIWISATAAN; DAN 6. PENGEMBANGAN INVESTASI DI BIDANG PARIWISATA

3 PERWILAYAHAN PEMBANGUNAN DESTINASI PARIWISATA NASIONAL LINGKUP ARAH KEBIJAKAN : ARAH KEBIJAKAN 1. : PERENCANAAN PEMBANGUNAN DPN DAN KSPN; ARAH KEBIJAKAN 2. : PENEGAKAN REGULASI PEMBANGUNAN DPN DAN KSPN; DAN ARAH KEBIJAKAN 3. : PENGENDALIAN IMPLEMENTASI PEMBANGUNAN DPN DAN KSPN

4 - 4 - INDIKASI PROGRAM Perwilayahan Pembangunan Destinasi Pariwisata Nasional meliputi : NO INDIKASI PROGRAM PENANGGUNGJAWAB 1. Indikasi program Pasal 13 ayat (1) huruf a 1.1. Pengembangan Rencana Induk Pembangunan Destinasi Pariwisata Nasional yang mencakup : Kementerian yang membidangi urusan 1. DPN. Bali Nusa Lembongan dan 12. DPN. Toraja Lorelindu dan 23. DPN. Ambon Bandaneira dan 2. DPN. Komodo Ruteng dan 13. DPN. Kelimutu Meumere dan 24. DPN. Banda Aceh Weh dan 3. DPN. Borobudur Yogyakarta 14. DPN. Jakarta Kep Seribu dan 25. DPN. Krakatau Ujungkulon dan dan 4. DPN. Lombok Gili Tramena dan 15. DPN. Palembang Babel dan 26. DPN. Togean Gorontalo dan 5. DPN. Batam Bintan dan 16. DPN. Palangkaraya Tanjung 27. DPN. Semarang Karimunjawa dan Puting dan 6. DPN. Medan Toba dan 17. DPN. Makassar Takabonerate 28. DPN. Alor Lembata dan dan 29. DPN. Kupang Rotendao dan 7. DPN. Padang Bukittinggi dan 18. DPN. Mentawai Siberut dan 30. DPN. Sumba Waikabubak dan 8. DPN. Bromo Malang dan 19. DPN. Nias Simeulue dan 31. DPN. Moyo Tambora dan 9. DPN. Manado Bunaken dan 20. DPN. Kendari Wakatobi dan 10. DPN. Sorong Raja Ampat dan 21. DPN. Derawan Kayan Mentarang dan 11. DPN. Pangandaran 22. DPN. Sentarum Betung Nusakambangan dan Kerihun dan

5 - 5 - NO INDIKASI PROGRAM PENANGGUNGJAWAB 32. DPN. Bandung Ciwidey dan 33. DPN. Solo Sangiran dan 34. DPN. Halmahera Morotai dan 35. DPN. Sentani Wamena dan 36. DPN. Jambi Kerinci Seblat dan 37. DPN. Bogor Halimun dan 38. DPN. Surabaya Madura dan 39. DPN. Pekanbaru Rupat dan 40. DPN. Timika Lorenzt dan 41. DPN. Bengkulu Enggano dan 42. DPN. Natuna Anambas dan 43. DPN. Banjarmasin Martapura dan 44. DPN. Tenggarong Balikpapan dan 45. DPN. Biak Numfor dan 46. DPN. Ijen Alaspurwo dan 47. DPN. Pontianak Singkawang dan 48. DPN. Long Bagun Melak dan 49. DPN. Manokwari Fak fak dan 50. DPN. Merauke Wazur dan 1.2. Pengembangan Rencana Detail Pembangunan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, yang mencakup: 1. KSPN. Kintamani Danau 9. KSPN. Bunaken dan 17. KSPN. Dieng dan Batur dan 10. KSPN. Raja Ampat dan 18. KSPN. Wakatobi dan 2. KSPN. Komodo dan 11. KSPN. Pangandaran dan 19. KSPN. Pantai Selatan Lombok dan 3. KSPN. Borobudur dan 12. KSPN. Toraja dan 20. KSPN. Siberut dan 4. KSPN. Rinjani dan 13. KSPN. Ende Kelimutu dan 21. KSPN. Derawan Sangalaki dan 5. KSPN. Nongsa - Pulau Abang dan 14. KSPN. Kota Tua Sunda Kelapa 22. KSPN. Bitung Lembeh dan 6. KSPN. Toba dan dan 7. KSPN. Bukittinggi dan 15. KSPN. Tanjung Puting dan 23. KSPN. Singkarak dan 24. KSPN. Sentarum dan 8. KSPN. Bromo Tengger Semeru 16. KSPN. Teluk Dalam-Nias dan 25. KSPN. Bandaneira dan dan Kementerian membidangi yang urusan

6 - 6 - NO INDIKASI PROGRAM PENANGGUNGJAWAB 26. KSPN. Weh dan 27. KSPN. Kep Seribu dan 28. KSPN. Ujung Kulon- Tanjung Lesung dan 29. KSPN. Togean Tomini dan 30. KSPN. Merapi Merbabu dan 31. KSPN. Karimunjawa dan 32. KSPN. Tambora dan 33. KSPN. Tangkahan dan 34. KSPN. Palembang Kota dan (Sungai Musi) 35. KSPN. Tanjung Kelayang dan 36. KSPN. Muaro Jambi dan 37. KSPN. Kerinci Seblat dan 38. KSPN. Trowulan dan 39. KSPN. Way Kambas dan 40. KSPN. Prambanan Kalasan dan 41. KSPN. Kuta Sanur Nusa Dua dan 42. KSPN. Morotai dan 43. KSPN. Sentani dan 44. KSPN. Sangiran dan 45. KSPN. Takabonerate dan 46. KSPN. Rupat dan 47. KSPN. Agats Asmat dan 48. KSPN. Pagaralam dan 49. KSPN. Krakatau dan 50. KSPN. Natuna dan 51. KSPN. Alor Kalabahi dan 52. KSPN. Yogyakartakarta Kota dan 53. KSPN. Lhoksado dan 54. KSPN. Karst Pacitan dan 55. KSPN. Bali Utara / Singaraja dan 56. KSPN. Gili Tramena dan 57. KSPN. Moyo dan 58. KSPN. Kota Bangun Tanjung Isuy dan 59. KSPN. Kayan Mentarang dan 60. KSPN. Ciwidey dan 61. KSPN. Tomohon Tondano dan 62. KSPN. Danau Ranau dan 63. KSPN. Biak dan 64. KSPN. Tangkuban Perahu dan 65. KSPN. Maninjau dan 66. KSPN. Nemberala Rotendao dan 67. KSPN. Pantai Selatan Yogyakarta 68. KSPN. Karst Gunung Kidul dan 69. KSPN. Halimun dan 70. KSPN. Ijen Baluran dan 71. KSPN. Waikabubak Manupeh Tanah Daru dan 72. KSPN. Karangasem Amuk dan 73. KSPN. Lagoi dan 74. KSPN. Enggano dan 75. KSPN. Bandung Kota dan 76. KSPN. Puncak Gede Pangrango dan 77. KSPN. Teluk Cenderawasih dan 78. KSPN. Menjangan Pemuteran dan

7 - 7 - NO INDIKASI PROGRAM PENANGGUNGJAWAB 79. KSPN. Taman Nasional Bali Barat dan 80. KSPN. Tulamben Amed dan 81. KSPN. Bedugul dan 82. KSPN. Nusa Penida dan 83. KSPN. Ubud dan 84. KSPN. Besakih Gunung Agung dan 2. Indikasi program Pasal 13 ayat (1) huruf b 85. KSPN. Long Bagun dan 86. KSPN. Sambas dan 87. KSPN. Gorontalo Kota Limboto dan 88. KSPN. Wazur Merauke dan 2.1. Pengembangan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan pada daya tarik wisata prioritas di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, yang mencakup: 1. KSPN. Kintamani Danau 9. KSPN. Bunaken dan 17. KSPN. Dieng dan Batur dan 10. KSPN. Raja Ampat dan 18. KSPN. Wakatobi dan 2. KSPN. Komodo dan 19. KSPN. Pantai Selatan Lombok dan 11. KSPN. Pangandaran dan 3. KSPN. Borobudur dan 20. KSPN. Siberut dan 12. KSPN. Toraja dan 21. KSPN. Derawan Sangalaki dan 4. KSPN. Rinjani dan 13. KSPN. Ende Kelimutu dan 5. KSPN. Nongsa - Pulau Abang 22. KSPN. Bitung Lembeh dan dan 14. KSPN. Kota Tua Sunda Kelapa 6. KSPN. Toba dan dan 23. KSPN. Singkarak dan 7. KSPN. Bukittinggi dan 15. KSPN. Tanjung Puting dan 24. KSPN. Sentarum dan 25. KSPN. Bandaneira dan 8. KSPN. Bromo Tengger 16. KSPN. Teluk Dalam-Nias dan 26. KSPN. Weh dan Semeru dan 27. KSPN. Kep Seribu dan Kementerian membidangi pekerjaan umum yang urusan

8 - 8 - NO INDIKASI PROGRAM PENANGGUNGJAWAB 28. KSPN. Ujung Kulon- Tanjung Lesung dan 29. KSPN. Togean Tomini dan 30. KSPN. Merapi Merbabu dan 31. KSPN. Karimunjawa dan 32. KSPN. Tambora dan 33. KSPN. Tangkahan dan 34. KSPN. Palembang Kota dan (Sungai Musi) 35. KSPN. Tanjung Kelayang dan 36. KSPN. Muaro Jambi dan 37. KSPN. Kerinci Seblat dan 38. KSPN. Trowulan dan 39. KSPN. Way Kambas dan 40. KSPN. Prambanan Kalasan dan 41. KSPN. Kuta Sanur Nusa Dua dan 42. KSPN. Morotai dan 43. KSPN. Sentani dan 44. KSPN. Sangiran dan 45. KSPN. Takabonerate dan 46. KSPN. Rupat dan 47. KSPN. Agats Asmat dan 48. KSPN. Pagaralam dan 49. KSPN. Krakatau dan 50. KSPN. Natuna dan 51. KSPN. Alor Kalabahi dan 52. KSPN. Yogyakartakarta Kota dan 53. KSPN. Lhoksado dan 54. KSPN. Karst Pacitan dan 55. KSPN. Bali Utara / Singaraja dan 56. KSPN. Gili Tramena dan 57. KSPN. Moyo dan 58. KSPN. Kota Bangun Tanjung Isuy dan 59. KSPN. Kayan Mentarang dan 60. KSPN. Ciwidey dan 61. KSPN. Tomohon Tondano dan 62. KSPN. Danau Ranau dan 63. KSPN. Biak dan 64. KSPN. Tangkuban Perahu dan 65. KSPN. Maninjau dan 66. KSPN. Nemberala Rotendao dan 67. KSPN. Pantai Selatan Yogyakarta 68. KSPN. Karst Gunung Kidul dan 69. KSPN. Halimun dan 70. KSPN. Ijen Baluran dan 71. KSPN. Waikabubak Manupeh Tanah Daru dan 72. KSPN. Karangasem Amuk dan 73. KSPN. Lagoi dan 74. KSPN. Enggano dan 75. KSPN. Bandung Kota dan 76. KSPN. Puncak Gede Pangrango dan 77. KSPN. Teluk Cenderawasih dan 78. KSPN. Menjangan Pemuteran dan

9 - 9 - NO INDIKASI PROGRAM PENANGGUNGJAWAB 79. KSPN. Taman Nasional Bali Barat dan 80. KSPN. Tulamben Amed dan 81. KSPN. Bedugul dan 82. KSPN. Nusa Penida dan 83. KSPN. Ubud dan 3. Indikasi program Pasal 13 ayat (2) 84. KSPN. Besakih Gunung Agung dan 85. KSPN. Long Bagun dan 86. KSPN. Sambas dan 87. KSPN. Gorontalo Kota Limboto dan 88. KSPN. Wazur Merauke dan 3.1. Penyiapan rancangan peraturan tentang rencana induk Pembangunan Destinasi Pariwisata Nasional, yang mencakup: Kementerian yang membidangi urusan 1. DPN. Bali Nusa Lembongan dan 10. DPN. Sorong Raja Ampat dan 18. DPN. Mentawai Siberut dan 2. DPN. Komodo Ruteng dan 11. DPN. Pangandaran 19. DPN. Nias Simeulue dan Nusakambangan dan 3. DPN. Borobudur Yogyakarta Dan 12. DPN. Toraja Lorelindu dan 20. DPN. Kendari Wakatobi dan 4. DPN. Lombok Gili Tramena dan 13. DPN. Kelimutu Meumere dan 21. DPN. Derawan Kayan Mentarang dan 5. DPN. Batam Bintan dan 14. DPN. Jakarta Kepulauan Seribu 22. DPN. Sentarum Betung 6. DPN. Medan Toba dan dan Kerihun dan 7. DPN. Padang Bukittinggi dan 15. DPN. Palembang Babel dan 23. DPN. Ambon Bandaneira dan 8. DPN. Bromo Malang dan 16. DPN. Palangkaraya Tanjung 24. DPN. Banda Aceh Weh dan Puting dan 9. DPN. Manado Bunaken dan 17. DPN. Makassar Takabonerate dan 25. DPN. Krakatau Ujungkulon dan

10 NO INDIKASI PROGRAM PENANGGUNGJAWAB 26. DPN. Togean Gorontalo dan 27. DPN. Semarang Karimunjawa dan 28. DPN. Alor Lembata dan 29. DPN. Kupang Rotendao dan 30. DPN. Sumba Waikabubak dan 31. DPN. Moyo Tambora dan 32. DPN. Bandung Ciwidey dan 33. DPN. Solo Sangiran dan 34. DPN. Halmahera Morotai dan 35. DPN. Sentani Wamena dan 36. DPN. Jambi Kerinci Seblat dan 37. DPN. Bogor Halimun dan 38. DPN. Surabaya Madura dan 39. DPN. Pekanbaru Rupat dan 40. DPN. Timika Lorenzt dan 41. DPN. Bengkulu Enggano dan 42. DPN. Natuna Anambas dan 43. DPN. Banjarmasin Martapura dan 44. DPN. Tenggarong Balikpapan dan 45. DPN. Biak Numfor dan 46. DPN. Ijen Alaspurwo dan 47. DPN. Pontianak Singkawang dan 48. DPN. Long Bagun Melak dan 49. DPN. Manokwari Fak fak dan 50. DPN. Merauke Wazur dan 3.2. Penyiapan rancangan peraturan tentang rencana detail Pembangunan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, yang mencakup: 1. KSPN. Kintamani Danau 7. KSPN. Bukittinggi dan 14. KSPN. Kota Tua Sunda Kelapa dan Batur dan 2. KSPN. Komodo dan 8. KSPN. Bromo Tengger Semeru dan 15. KSPN. Tanjung Puting dan 3. KSPN. Borobudur dan 9. KSPN. Bunaken dan 16. KSPN. Teluk Dalam-Nias dan 4. KSPN. Rinjani dan 10. KSPN. Raja Ampat dan 11. KSPN. Pangandaran dan 17. KSPN. Dieng dan 5. KSPN. Nongsa - Pulau Abang 12. KSPN. Toraja dan 18. KSPN. Wakatobi dan dan 13. KSPN. Ende Kelimutu dan 19. KSPN. Pantai Selatan Lombok dan 6. KSPN. Toba dan Kementerian membidangi yang urusan

11 NO INDIKASI PROGRAM PENANGGUNGJAWAB 20. KSPN. Siberut dan 21. KSPN. Derawan Sangalaki dan 22. KSPN. Bitung Lembeh dan 23. KSPN. Singkarak dan 24. KSPN. Sentarum dan 25. KSPN. Bandaneira dan 26. KSPN. Weh dan 27. KSPN. Kep Seribu dan 28. KSPN. Ujung Kulon- Tanjung Lesung dan 29. KSPN. Togean Tomini dan 30. KSPN. Merapi Merbabu dan 31. KSPN. Karimunjawa dan 32. KSPN. Tambora dan 33. KSPN. Tangkahan dan 34. KSPN. Palembang Kota dan (Sungai Musi) 35. KSPN. Tanjung Kelayang dan 36. KSPN. Muaro Jambi dan 37. KSPN. Kerinci Seblat dan 38. KSPN. Trowulan dan 39. KSPN. Way Kambas dan 40. KSPN. Prambanan Kalasan dan 41. KSPN. Kuta Sanur Nusa Dua dan 42. KSPN. Morotai dan 43. KSPN. Sentani dan 44. KSPN. Sangiran dan 45. KSPN. Takabonerate dan 46. KSPN. Rupat dan 47. KSPN. Agats Asmat dan 48. KSPN. Pagaralam dan 49. KSPN. Krakatau dan 50. KSPN. Natuna dan 51. KSPN. Alor Kalabahi dan 52. KSPN. Yogyakartakarta Kota dan 53. KSPN. Lhoksado dan 54. KSPN. Karst Pacitan dan 55. KSPN. Bali Utara / Singaraja dan 56. KSPN. Gili Tramena dan 57. KSPN. Moyo dan 58. KSPN. Kota Bangun Tanjung Isuy dan 59. KSPN. Kayan Mentarang dan 60. KSPN. Ciwidey dan 61. KSPN. Tomohon Tondano dan 62. KSPN. Danau Ranau dan 63. KSPN. Biak dan 64. KSPN. Tangkuban Perahu dan 65. KSPN. Maninjau dan 66. KSPN. Nemberala Rotendao dan 67. KSPN. Pantai Selatan Yogyakarta 68. KSPN. Karst Gunung Kidul dan 69. KSPN. Halimun dan 70. KSPN. Ijen Baluran dan 71. KSPN. Waikabubak Manupeh Tanah Daru dan 72. KSPN. Karangasem Amuk dan 73. KSPN. Lagoi dan 74. KSPN. Enggano dan

12 NO INDIKASI PROGRAM PENANGGUNGJAWAB 75. KSPN. Bandung Kota dan 76. KSPN. Puncak Gede Pangrango dan 77. KSPN. Teluk Cenderawasih dan 78. KSPN. Menjangan Pemuteran dan 79. KSPN. Taman Nasional Bali Barat dan 80. KSPN. Tulamben Amed dan 81. KSPN. Bedugul dan 82. KSPN. Nusa Penida dan 83. KSPN. Ubud dan 84. KSPN. Besakih Gunung Agung dan 85. KSPN. Long Bagun dan 86. KSPN. Sambas dan 87. KSPN. Gorontalo Kota Limboto dan 88. KSPN. Wazur Merauke dan 3.3. Penyiapan rancangan peraturan tentang tata bangunan dan lingkungan pada daya tarik wisata prioritas di Kawasan Kementerian Strategis Pariwisata Nasional, yang mencakup: membidangi 1. KSPN. Kintamani Danau 10. KSPN. Raja Ampat dan 19. KSPN. Pantai Selatan Lombok dan pekerjaan umum Batur dan 2. KSPN. Komodo dan 11. KSPN. Pangandaran dan 20. KSPN. Siberut dan 3. KSPN. Borobudur dan 21. KSPN. Derawan Sangalaki dan 12. KSPN. Toraja dan 4. KSPN. Rinjani dan 13. KSPN. Ende Kelimutu dan 22. KSPN. Bitung Lembeh dan 5. KSPN. Nongsa - Pulau Abang 23. KSPN. Singkarak dan dan 14. KSPN. Kota Tua Sunda Kelapa 24. KSPN. Sentarum dan 6. KSPN. Toba dan dan 25. KSPN. Bandaneira dan 7. KSPN. Bukittinggi dan 15. KSPN. Tanjung Puting dan 26. KSPN. Weh dan 27. KSPN. Kep Seribu dan 8. KSPN. Bromo Tengger Semeru 16. KSPN. Teluk Dalam-Nias dan 28. KSPN. Ujung Kulon- Tanjung Lesung dan dan 9. KSPN. Bunaken dan 17. KSPN. Dieng dan 29. KSPN. Togean Tomini dan 18. KSPN. Wakatobi dan yang urusan

13 NO INDIKASI PROGRAM PENANGGUNGJAWAB 30. KSPN. Merapi Merbabu dan 31. KSPN. Karimunjawa dan 32. KSPN. Tambora dan 33. KSPN. Tangkahan dan 34. KSPN. Palembang Kota dan (Sungai Musi) 35. KSPN. Tanjung Kelayang dan 36. KSPN. Muaro Jambi dan 37. KSPN. Kerinci Seblat dan 38. KSPN. Trowulan dan 39. KSPN. Way Kambas dan 40. KSPN. Prambanan Kalasan dan 41. KSPN. Kuta Sanur Nusa Dua dan 42. KSPN. Morotai dan 43. KSPN. Sentani dan 44. KSPN. Sangiran dan 45. KSPN. Takabonerate dan 46. KSPN. Rupat dan 47. KSPN. Agats Asmat dan 48. KSPN. Pagaralam dan 49. KSPN. Krakatau dan 50. KSPN. Natuna dan 51. KSPN. Alor Kalabahi dan 52. KSPN. Yogyakartakarta Kota dan 53. KSPN. Lhoksado dan 54. KSPN. Karst Pacitan dan 55. KSPN. Bali Utara / Singaraja dan 56. KSPN. Gili Tramena dan 57. KSPN. Moyo dan 58. KSPN. Kota Bangun Tanjung Isuy dan 59. KSPN. Kayan Mentarang dan 60. KSPN. Ciwidey dan 61. KSPN. Tomohon Tondano dan 62. KSPN. Danau Ranau dan 63. KSPN. Biak dan 64. KSPN. Tangkuban Perahu dan 65. KSPN. Maninjau dan 66. KSPN. Nemberala Rotendao dan 67. KSPN. Pantai Selatan Yogyakarta 68. KSPN. Karst Gunung Kidul dan 69. KSPN. Halimun dan 70. KSPN. Ijen Baluran dan 71. KSPN. Waikabubak Manupeh Tanah Daru dan 72. KSPN. Karangasem Amuk dan 73. KSPN. Lagoi dan 74. KSPN. Enggano dan 75. KSPN. Bandung Kota dan 76. KSPN. Puncak Gede Pangrango dan 77. KSPN. Teluk Cenderawasih dan 78. KSPN. Menjangan Pemuteran dan 79. KSPN. Taman Nasional Bali Barat dan

14 NO INDIKASI PROGRAM PENANGGUNGJAWAB 80. KSPN. Tulamben Amed dan 81. KSPN. Bedugul dan 82. KSPN. Nusa Penida dan 83. KSPN. Ubud dan 84. KSPN. Besakih Gunung Agung dan 85. KSPN. Long Bagun dan 86. KSPN. Sambas dan 87. KSPN. Gorontalo Kota Limboto dan 88. KSPN. Wazur Merauke dan 3.4. Penetapan Regulasi rencana induk Pembangunan Destinasi Pariwisata Nasional, yang mencakup: Kementerian yang membidangi urusan 1. DPN. Bali Nusa Lembongan 10. DPN. Sorong Raja Ampat 18. DPN. Mentawai Siberut dan dan dan 2. DPN. Komodo Ruteng dan 11. DPN. Pangandaran 19. DPN. Nias Simeulue dan Nusakambangan dan 3. DPN. Borobudur Yogyakarta 20. DPN. Kendari Wakatobi dan Dan 4. DPN. Lombok Gili Tramena 12. DPN. Toraja Lorelindu dan 21. DPN. Derawan Kayan Mentarang dan 13. DPN. Kelimutu Meumere dan 5. DPN. Batam Bintan dan dan 22. DPN. Sentarum Betung Kerihun 14. DPN. Jakarta Kep Seribu dan 6. DPN. Medan Toba dan dan 23. DPN. Ambon Bandaneira dan 15. DPN. Palembang Babel dan 7. DPN. Padang Bukittinggi dan 24. DPN. Banda Aceh Weh dan 16. DPN. Palangkaraya Tanjung 8. DPN. Bromo Malang dan Puting dan 25. DPN. Krakatau Ujungkulon dan 17. DPN. Makassar 9. DPN. Manado Bunaken dan Takabonerate dan 26. DPN. Togean Gorontalo dan

15 NO INDIKASI PROGRAM PENANGGUNGJAWAB 27. DPN. Semarang Karimunjawa dan 28. DPN. Alor Lembata dan 29. DPN. Kupang Rotendao dan 30. DPN. Sumba Waikabubak dan 31. DPN. Moyo Tambora dan 32. DPN. Bandung Ciwidey dan 33. DPN. Solo Sangiran dan 34. DPN. Halmahera Morotai dan 35. DPN. Sentani Wamena dan 36. DPN. Jambi Kerinci seblat dan 37. DPN. Bogor Halimun dan 38. DPN. Surabaya Madura dan 39. DPN. Pekanbaru Rupat dan 40. DPN. Timika Lorenzt dan 41. DPN. Bengkulu Enggano dan 42. DPN. Natuna Anambas dan 43. DPN. Banjarmasin Martapura dan 44. DPN. Tenggarong Balikpapan dan 45. DPN. Biak Numfor dan 46. DPN. Ijen Alaspurwo dan 47. DPN. Pontianak Singkawang dan 48. DPN. Long Bagun Melak dan 49. DPN. Manokwari Fak fak dan 50. DPN. Merauke Wazur dan 3.5. Penetapan Regulasi Rencana Detail Pembangunan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, yang mencakup: 1. KSPN. Kintamani Danau 8. KSPN. Bromo Tengger Semeru 15. KSPN. Tanjung Puting dan Batur dan dan 2. KSPN. Komodo dan 9. KSPN. Bunaken dan 16. KSPN. Teluk Dalam-Nias dan 3. KSPN. Borobudur dan 10. KSPN. Raja Ampat dan 11. KSPN. Pangandaran dan 17. KSPN. Dieng dan 4. KSPN. Rinjani dan 18. KSPN. Wakatobi dan 5. KSPN. Nongsa - Pulau Abang 12. KSPN. Toraja dan 19. KSPN. Pantai Selatan Lombok dan dan 13. KSPN. Ende Kelimutu dan 6. KSPN. Toba dan 20. KSPN. Siberut dan 7. KSPN. Bukittinggi dan 14. KSPN. Kota Tua Sunda Kelapa 21. KSPN. Derawan Sangalaki dan dan Kementerian membidangi yang urusan

16 NO INDIKASI PROGRAM PENANGGUNGJAWAB 22. KSPN. Bitung Lembeh dan 23. KSPN. Singkarak dan 24. KSPN. Sentarum dan 25. KSPN. Bandaneira dan 26. KSPN. Weh dan 27. KSPN. Kep Seribu dan 28. KSPN. Ujung Kulon- Tanjung Lesung dan 29. KSPN. Togean Tomini dan 30. KSPN. Merapi Merbabu dan 31. KSPN. Karimunjawa dan 32. KSPN. Tambora dan 33. KSPN. Tangkahan dan 34. KSPN. Palembang Kota dan (Sungai Musi) 35. KSPN. Tanjung Kelayang dan 36. KSPN. Muaro Jambi dan 37. KSPN. Kerinci Seblat dan 38. KSPN. Trowulan dan 39. KSPN. Way Kambas dan 40. KSPN. Prambanan Kalasan dan 41. KSPN. Kuta Sanur Nusa Dua dan 42. KSPN. Morotai dan 43. KSPN. Sentani dan 44. KSPN. Sangiran dan 45. KSPN. Takabonerate dan 46. KSPN. Rupat dan 47. KSPN. Agats Asmat dan 48. KSPN. Pagaralam dan 49. KSPN. Krakatau dan 50. KSPN. Natuna dan 51. KSPN. Alor Kalabahi dan 52. KSPN. Yogyakartakarta Kota dan 53. KSPN. Lhoksado dan 54. KSPN. Karst Pacitan dan 55. KSPN. Bali Utara / Singaraja dan 56. KSPN. Gili Tramena dan 57. KSPN. Moyo dan 58. KSPN. Kota Bangun Tanjung Isuy dan 59. KSPN. Kayan Mentarang dan 60. KSPN. Ciwidey dan 61. KSPN. Tomohon Tondano dan 62. KSPN. Danau Ranau dan 63. KSPN. Biak dan 64. KSPN. Tangkuban Perahu dan 65. KSPN. Maninjau dan 66. KSPN. Nemberala Rotendao dan 67. KSPN. Pantai Selatan Yogyakarta 68. KSPN. Karst Gunung Kidul dan 69. KSPN. Halimun dan 70. KSPN. Ijen Baluran dan 71. KSPN. Waikabubak Manupeh Tanah Daru dan 72. KSPN. Karangasem Amuk dan 73. KSPN. Lagoi dan 74. KSPN. Enggano dan

17 NO INDIKASI PROGRAM PENANGGUNGJAWAB 75. KSPN. Bandung Kota dan 76. KSPN. Puncak Gede Pangrango dan 77. KSPN. Teluk Cenderawasih dan 78. KSPN. Menjangan Pemuteran dan 79. KSPN. Taman Nasional Bali Barat dan 80. KSPN. Tulamben Amed dan 81. KSPN. Bedugul dan 82. KSPN. Nusa Penida dan 83. KSPN. Ubud dan 84. KSPN. Besakih Gunung Agung dan 85. KSPN. Long Bagun dan 86. KSPN. Sambas dan 87. KSPN. Gorontalo Kota Limboto dan 88. KSPN. Wazur Merauke dan 3.6. Penetapan Regulasi tentang tata bangunan dan lingkungan pada daya tarik wisata prioritas di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, yang mencakup: 1. KSPN. Kintamani Danau Batur dan 2. KSPN. Komodo dan 3. KSPN. Borobudur dan 4. KSPN. Rinjani dan 5. KSPN. Nongsa - Pulau Abang dan 6. KSPN. Toba dan 7. KSPN. Bukittinggi dan 8. KSPN. Bromo Tengger Semeru dan 9. KSPN. Bunaken dan 10. KSPN. Raja Ampat dan 11. KSPN. Pangandaran dan 12. KSPN. Toraja dan 13. KSPN. Ende Kelimutu dan 14. KSPN. Kota Tua Sunda Kelapa dan 15. KSPN. Tanjung Puting dan 16. KSPN. Teluk Dalam-Nias dan 17. KSPN. Dieng dan 18. KSPN. Wakatobi dan 19. KSPN. Pantai Selatan Lombok dan 20. KSPN. Siberut dan 21. KSPN. Derawan Sangalaki dan 22. KSPN. Bitung Lembeh dan 23. KSPN. Singkarak dan 24. KSPN. Sentarum dan 25. KSPN. Bandaneira dan 26. KSPN. Weh dan 27. KSPN. Kep Seribu dan 28. KSPN. Ujung Kulon- Tanjung. Lesung dan 29. KSPN. Togean Tomini dan Kementerian membidangi yang urusan

18 NO INDIKASI PROGRAM PENANGGUNGJAWAB 30. KSPN. Merapi Merbabu dan 31. KSPN. Karimunjawa dan 32. KSPN. Tambora dan 33. KSPN. Tangkahan dan 34. KSPN. Palembang Kota dan (Sungai Musi) 35. KSPN. Tanjung Kelayang dan 36. KSPN. Muaro Jambi dan 37. KSPN. Kerinci Seblat dan 38. KSPN. Trowulan dan 39. KSPN. Way Kambas dan 40. KSPN. Prambanan Kalasan dan 41. KSPN. Kuta Sanur Nusa Dua dan 42. KSPN. Morotai dan 43. KSPN. Sentani dan 44. KSPN. Sangiran dan 45. KSPN. Takabonerate dan 46. KSPN. Rupat dan 47. KSPN. Agats Asmat dan 48. KSPN. Pagaralam dan 49. KSPN. Krakatau dan 50. KSPN. Natuna dan 51. KSPN. Alor Kalabahi dan 52. KSPN. Yogyakartakarta Kota dan 53. KSPN. Lhoksado dan 54. KSPN. Karst Pacitan dan 55. KSPN. Bali Utara / Singaraja dan 56. KSPN. Gili Tramena dan 57. KSPN. Moyo dan 58. KSPN. Kota Bangun Tanjung Isuy dan 59. KSPN. Kayan Mentarang dan 60. KSPN. Ciwidey dan 61. KSPN. Tomohon Tondano dan 62. KSPN. Danau Ranau dan 63. KSPN. Biak dan 64. KSPN. Tangkuban Perahu dan 65. KSPN. Maninjau dan 66. KSPN. Nemberala Rotendao dan 67. KSPN. Pantai Selatan Yogyakarta 68. KSPN. Karst Gunung Kidul dan 69. KSPN. Halimun dan 70. KSPN. Ijen Baluran dan 71. KSPN. Waikabubak Manupeh Tanah Daru dan 72. KSPN. Karangasem Amuk dan 73. KSPN. Lagoi dan 74. KSPN. Enggano dan 75. KSPN. Bandung Kota dan 76. KSPN. Puncak Gede Pangrango dan 77. KSPN. Teluk Cenderawasih dan 78. KSPN. Menjangan Pemuteran dan 79. KSPN. Taman Nasional Bali Barat dan

19 NO INDIKASI PROGRAM PENANGGUNGJAWAB 80. KSPN. Tulamben Amed dan 81. KSPN. Bedugul dan 82. KSPN. Nusa Penida dan 83. KSPN. Ubud dan 84. KSPN. Besakih Gunung Agung dan 4. Indikasi program Pasal 13 ayat (3) 85. KSPN. Long Bagun dan 86. KSPN. Sambas dan 87. KSPN. Gorontalo Kota Limboto dan 88. KSPN. Wazur Merauke dan 4.1. Penyebarlusan informasi dan publikasi Peraturan tentang Pembangunan Destinasi Pariwisata Nasional, dan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, yang mencakup: 1. DPN. Bali Nusa Lembongan dan 2. DPN. Komodo Ruteng dan 3. DPN. Borobudur Yogyakarta Dan 4. DPN. Lombok Gili Tramena dan 5. DPN. Batam Bintan dan 6. DPN. Medan Toba dan 7. DPN. Padang Bukittinggi dan 8. DPN. Bromo Malang dan 9. DPN. Manado Bunaken dan 10. DPN. Sorong Raja Ampat dan 11. DPN. Pangandaran Nusakambangan dan 12. DPN. Toraja Lorelindu dan 13. DPN. Kelimutu Meumere dan 14. DPN. Jakarta Kep Seribu dan 15. DPN. Palembang Babel dan 16. DPN. Palangkaraya Tanjung Puting dan 17. DPN. Makassar Takabonerate dan 18. DPN. Mentawai Siberut dan 19. DPN. Nias Simeulue dan 20. DPN. Kendari Wakatobi dan 21. DPN. Derawan Kayan Mentarang dan Kementerian yang membidangi urusan

20 NO INDIKASI PROGRAM PENANGGUNGJAWAB 22. DPN. Sentarum Betung Kerihun dan 23. DPN. Ambon Bandaneira dan 24. DPN. Banda Aceh Weh dan 25. DPN. Krakatau Ujungkulon dan 26. DPN. Togean Gorontalo dan 27. DPN. Semarang Karimunjawa dan 28. DPN. Alor Lembata dan 29. DPN. Kupang Rotendao dan 30. DPN. Sumba Waikabubak dan 31. DPN. Moyo Tambora dan 32. DPN. Bandung Ciwidey dan 33. DPN. Solo Sangiran dan 34. DPN. Halmahera Morotai dan 35. DPN. Sentani Wamena dan 36. DPN. Jambi Kerinci Seblat dan 37. DPN. Bogor Halimun dan 38. DPN. Surabaya Madura dan 39. DPN. Pekanbaru Rupat dan 40. DPN. Timika Lorenzt dan 41. DPN. Bengkulu Enggano dan 42. DPN. Natuna Anambas dan 43. DPN. Banjarmasin Martapura dan 44. DPN. Tenggarong Balikpapan dan 45. DPN. Biak Numfor dan 46. DPN. Ijen Alaspurwo dan 47. DPN. Pontianak Singkawang dan 48. DPN. Long Bagun Melak dan 49. DPN. Manokwari Fak fak dan 50. DPN. Merauke Wazur dan

21 PEMBANGUNAN DAYA TARIK WISATA LINGKUP ARAH KEBIJAKAN : ARAH KEBIJAKAN 1. : PERINTISAN PENGEMBANGAN DAYA TARIK WISATA DALAM RANGKA MENDORONG PERTUMBUHAN DPN DAN PENGEMBANGAN DAERAH; ARAH KEBIJAKAN 2. ARAH KEBIJAKAN 3. : PEMBANGUNAN DAYA TARIK WISATA UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS DAN DAYA SAING PRODUK DALAM MENARIK MINAT DAN LOYALITAS SEGMEN PASAR YANG ADA; : PEMANTAPAN DAYA TARIK WISATA UNTUK MENINGKATKAN DAYA SAING PRODUK DALAM MENARIK KUNJUNGAN ULANG WISATAWAN DAN SEGMEN PASAR YANG LEBIH LUAS; DAN ARAH KEBIJAKAN 4. : REVITALISASI DAYA TARIK WISATA DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS, KEBERLANJUTAN DAN DAYA SAING PRODUK DAN DPN.

22 NO INDIKASI PROGRAM PENANGGUNGJAWAB 1. Indikasi program Pasal 16 ayat (1) huruf a Fasilitasi perintisan pengembangan daya tarik wisata alam, budaya dan khusus/ buatan bagi segmen wisata massal (mass market) maupun bagi segmen ceruk pasar (niche market) di destinasi pariwisata nasional yang belum berkembang Fasilitasi perencanaan dan perintisan pengembangan sarana prasarana dasar di destinasi pariwisata nasional yang belum berkembang Fasilitasi pengembangan jejaring manajemen kunjungan terpadu dengan daya tarik wisata yang telah berkembang di sekitar lokasi baik dalam konteks regional maupun nasional. 2. Indikasi program Pasal 16 ayat (1) huruf b Penguatan upaya pelestarian terhadap sumber daya dan lingkungan spesifik (bentang alam hutan dan pegunungan) di sekitar lokasi daya tarik wisata Penguatan upaya pelestarian terhadap sumber daya dan lingkungan spesifik (bentang laut/perairan) di sekitar lokasi daya tarik wisata Penguatan upaya pelestarian terhadap sumber daya dan lingkungan spesifik (bentang budaya) di sekitar lokasi daya tarik wisata. 3. Indikasi program Pasal 16 ayat (2) huruf a Penguatan interpretasi dan inovasi produk dalam upaya meningkatkan kualitas daya tarik, keunggulan kompetitif dan komparatif serta daya saing daya tarik wisata alam, budaya dan khusus/buatan yang sedang berkembang Pengembangan jejaring manajemen kunjungan terpadu dengan dengan daya tarik wisata terkait di sekitar lokasi dalam konteks regional, maupun nasional dan internasional Peningkatan kualitas dan kapasitas sarana prasarana dasar untuk meningkatkan kualitas kegiatan di sekitar lokasi daya tarik wisata. urusan urusan pekerjaan umum urusan urusan kehutanan urusan kelautan dan perikanan urusan urusan urusan urusan pekerjaan umum

23 NO INDIKASI PROGRAM PENANGGUNGJAWAB 4. Indikasi program Pasal 16 ayat (2) huruf b Penguatan upaya pelestarian terhadap sumber daya dan lingkungan spesifik (bentang alam hutan dan pegunungan) di sekitar lokasi daya tarik wisata Penguatan upaya pelestarian terhadap sumber daya dan lingkungan spesifik (bentang laut/perairan) di sekitar lokasi daya tarik wisata Penguatan upaya pelestarian terhadap sumber daya dan lingkungan spesifik (bentang budaya) di sekitar lokasi daya tarik wisata. urusan kehutanan urusan kelautan dan perikanan urusan 4.4. Pengawasan pembangunan sumber daya dan lingkungan spesifik di lokasi daya tarik wisata. urusan pekerjaan umum 5. Indikasi program Pasal 16 ayat (3) huruf a Pengembangan daya tarik khusus dan rentang aktifitas wisata dalam berbagai skala (hard - soft attraction) pada manajemen atraksi daya tarik wisata alam, budaya dan buatan/ khusus untuk menarik segmen wisatawan massal (mass market) dan segmen ceruk pasar (niche market), secara khusus mencakup: a. pengembangan kawasan geopark Kintamani Danau Batur dalam meningkatkan kualitas dan diversifikasi daya tarik destinasi pariwisata; b. pengembangan kawasan geopark Danau Toba dalam meningkatkan kualitas dan diversifikasi daya tarik destinasi pariwisata; c. pengembangan kawasan eco-karst Pacitan (geopark) dalam meningkatkan kualitas dan diversifikasi daya tarik destinasi pariwisata; d. pengembangan kawasan geopark Kepulauan Wayag Raja Ampat dalam meningkatkan kualitas dan diversifikasi daya tarik destinasi pariwisata; dan e. destinasi pariwisata lain sesuai kebutuhan dan perkembangan pasar Pengembangan jenis-jenis atraksi lain dengan berbagai tema di sekitar lokasi daya tarik wisata utamanya serta jejaringnya dalam manajemen kunjungan terpadu yang saling melengkapi. urusan urusan

24 NO INDIKASI PROGRAM PENANGGUNGJAWAB 5.3. Peningkatan kualitas dan kapasitas sarana prasarana dasar untuk meningkatkan kualitas kegiatan di sekitar lokasi daya tarik wisata. 6. Indikasi program Pasal 16 ayat (3) huruf b Penguatan upaya pelestarian terhadap sumber daya dan lingkungan spesifik (bentang alam hutan dan pegunungan) di sekitar lokasi daya tarik wisata Penguatan upaya pelestarian terhadap sumber daya dan lingkungan spesifik (bentang laut/perairan) di sekitar lokasi daya tarik wisata Penguatan upaya pelestarian terhadap sumber daya dan lingkungan spesifik (bentang budaya) di sekitar lokasi daya tarik wisata Peningkatan pengawasan pembangunan dan pengendalian pemanfaatan sumber daya untuk mendukung keberlanjutan sumber daya dan kegiatan di lokasi daya tarik wisata. 7. Indikasi program Pasal 16 ayat (4) huruf a Inovasi manajemen atraksi dengan pengembangan tema dan even khusus (soft atraction) yang menjadi kekuatan utama penggerak kunjungan. urusan pekerjaan umum urusan kehutanan urusan kelautan dan perikanan urusan urusan pekerjaan umum urusan 7.2. Pengembangan program-program interpretasi termasuk yang berbasis teknologi. urusan 7.3. Pengembangan jejaring manajemen kunjungan terpadu dengan daya tarik wisata pendukung di sekitar lokasi dalam konteks regional, nasional dan internasional Peningkatan kualitas dan kapasitas sarana prasarana dasar untuk meningkatkan kualitas kegiatan di sekitar lokasi daya tarik wisata. 8. Indikasi program Pasal 16 ayat (4) huruf b. urusan urusan pekerjaan umum 8.1. Penguatan upaya pelestarian terhadap sumber daya dan lingkungan spesifik (bentang alam hutan

PETA PERWILAYAHAN PEMBANGUNAN 50 (LIMA PULUH) DESTINASI PARIWISATA NASIONAL

PETA PERWILAYAHAN PEMBANGUNAN 50 (LIMA PULUH) DESTINASI PARIWISATA NASIONAL LAMPIRAN II PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 PETA PERWILAYAHAN PEMBANGUNAN 50 (LIMA PULUH) DESTINASI

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

DAFTAR DAERAH TERTINGGAL, TERLUAR DAN TERDEPAN (3T)

DAFTAR DAERAH TERTINGGAL, TERLUAR DAN TERDEPAN (3T) DAFTAR DAERAH TERTINGGAL, TERLUAR DAN TERDEPAN (3T) Daftar Daerah Terdepan dan Terluar (Perbatasan) No Provinsi No Kabupaten / Kota Status 1 Sambas Perbatasan 2 Bengkayang Perbatasan 1 Kalimantan Barat

Lebih terperinci

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA PULAU BALI 1. Letak Geografis, Batas Administrasi, dan Luas Wilayah Secara geografis Provinsi Bali terletak pada 8 3'40" - 8 50'48" Lintang Selatan dan 114 25'53" -

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

PENINGKATAN DAYA SAING PARIWISATA

PENINGKATAN DAYA SAING PARIWISATA KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL PENINGKATAN DAYA SAING PARIWISATA Kedeputian Ekonomi BAPPENAS Disampaikan dalam Multilateral Meeting Rakorbangpus Jakarta,

Lebih terperinci

Jakarta, 27 April 2015

Jakarta, 27 April 2015 Jakarta, 27 April 2015 SELASA, 28 APRIL 2015 GELOMBANG DAPAT TERJADI 2,0 M S/D 3,0 M DI : SAMUDERA HINDIA SELATAN PULAU JAWA, PERAIRAN KEP. TALAUD, PERAIRAN KEP. WAKATOBI, SAMUDERA HINDIA SELATAN BALI

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Bengkulu Utara selama lima tahun, yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun

Lebih terperinci

LAPORAN REKAPITULASI PENERIMAAN PNBP Imigrasi TANGGAL : 01-08-2012 S/D 31-08-2012 NO. NAMA BIAYA BIAYA JUMLAH SUB TOTAL

LAPORAN REKAPITULASI PENERIMAAN PNBP Imigrasi TANGGAL : 01-08-2012 S/D 31-08-2012 NO. NAMA BIAYA BIAYA JUMLAH SUB TOTAL DEPARTEMEN HUKUM DAN HAM RI SEKRETARIS DIREKTORAT JL. H.R. RASUNA SAID KAV 8-9 KUNINGAN 021-5225034 021-5208531 LAPORAN REKAPITULASI PENERIMAAN PNBP Imigrasi TANGGAL : 01-08-2012 S/D 31-08-2012 NO. NAMA

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN A. Strategi Pembangunan Daerah Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Strategi pembangunan Kabupaten Semarang

Lebih terperinci

LAPORAN REKAPITULASI PENERIMAAN PNBP Imigrasi TANGGAL : 01-09-2012 S/D 30-09-2012 NO. NAMA BIAYA BIAYA JUMLAH SUB TOTAL

LAPORAN REKAPITULASI PENERIMAAN PNBP Imigrasi TANGGAL : 01-09-2012 S/D 30-09-2012 NO. NAMA BIAYA BIAYA JUMLAH SUB TOTAL DEPARTEMEN HUKUM DAN HAM RI SEKRETARIS DIREKTORAT JL. H.R. RASUNA SAID KAV 8-9 KUNINGAN 021-5225034 021-5208531 LAPORAN REKAPITULASI PENERIMAAN PNBP Imigrasi TANGGAL : 01-09-2012 S/D 30-09-2012 NO. NAMA

Lebih terperinci

Luas Kawasan Mangrove Per Kabupaten

Luas Kawasan Mangrove Per Kabupaten Luas Kawasan Mangrove Per Kabupaten NAD (Nangroe Aceh Darussalam) Aceh Barat 246.087 Aceh Besar 15.652 Aceh Jaya 110.251 Aceh Singkil 3162.965 Aceh Tamiang 9919.959 Aceh Timur 5466.242 Kota Banda Aceh

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN - 115 - BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Visi dan Misi, Tujuan dan Sasaran perlu dipertegas dengan upaya atau cara untuk mencapainya melalui strategi pembangunan daerah dan arah kebijakan yang diambil

Lebih terperinci

KAWASAN STRATEGIS NASIONAL (KSN)

KAWASAN STRATEGIS NASIONAL (KSN) KAWASAN STRATEGIS NASIONAL (KSN) ialah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan. Hal ini karena secara nasional KSN berpengaruh sangat penting terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara,

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI REJANG LEBONG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI KABUPATEN REJANG LEBONG BUPATI REJANG LEBONG,

PERATURAN BUPATI REJANG LEBONG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI KABUPATEN REJANG LEBONG BUPATI REJANG LEBONG, PERATURAN BUPATI REJANG LEBONG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI KABUPATEN REJANG LEBONG BUPATI REJANG LEBONG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendorong percepatan

Lebih terperinci

INFORMASI HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM SELASA, 16 DAN RABU, 17 JUNI 2015 M PENENTU AWAL BULAN RAMADLAN 1436 H

INFORMASI HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM SELASA, 16 DAN RABU, 17 JUNI 2015 M PENENTU AWAL BULAN RAMADLAN 1436 H INFORMASI HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM SELASA, 16 DAN RABU, 17 JUNI 2015 M PENENTU AWAL BULAN RAMADLAN 1436 H Keteraturan peredaran Bulan dalam mengelilingi Bumi juga Bumi dan Bulan dalam mengelilingi

Lebih terperinci

Muatan Rencana Tata Ruang Wilayah. Profil Singkat Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar

Muatan Rencana Tata Ruang Wilayah. Profil Singkat Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar Muatan Rencana Tata Ruang Wilayah 7 Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Tujuan Penataan Ruang Berdasarkan visi dan misi pembangunan Kota Makassar, maka tujuan penataan ruang wilayah kota Makassar adalah untuk

Lebih terperinci

Laporan Rencana Umum Pengadaan (RUP) Barang/Jasa

Laporan Rencana Umum Pengadaan (RUP) Barang/Jasa Laporan Rencana Umum Pengadaan (RUP) Barang/Jasa T.A. 2014 Biro Keuangan dan BMN Sekretariat Jenderal, Kementerian Kesehatan Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

INFORMASI HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM AHAD, 19 APRIL 2015 M PENENTU AWAL BULAN RAJAB 1436 H

INFORMASI HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM AHAD, 19 APRIL 2015 M PENENTU AWAL BULAN RAJAB 1436 H INFORMASI HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM AHAD, 19 APRIL 2015 M PENENTU AWAL BULAN RAJAB 1436 H Keteraturan peredaran Bulan dalam mengelilingi Bumi juga Bumi dan Bulan dalam mengelilingi Matahari memungkinkan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah

Lebih terperinci

5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) pembangunan di urusan lingkungan hidup, urusan pertanian,

5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) pembangunan di urusan lingkungan hidup, urusan pertanian, urusan perumahan rakyat, urusan komunikasi dan informatika, dan urusan kebudayaan. 5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) Pembangunan di tahun kelima diarahkan pada fokus pembangunan di urusan lingkungan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT NOMOR : SK.1361/AJ.106/DRJD/2003

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT NOMOR : SK.1361/AJ.106/DRJD/2003 KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT NOMOR : SK.1361/AJ.106/DRJD/2003 TENTANG PENETAPAN SIMPUL JARINGAN TRANSPORTASI JALAN UNTUK TERMINAL PENUMPANG TIPE A DI SELURUH INDONESIA DIREKTUR JENDERAL

Lebih terperinci

VI.7-1. Bab 6 Penataan Ruang dan Pembangunan Perkotaan Pembangunan Kota Baru. Oleh Suyono

VI.7-1. Bab 6 Penataan Ruang dan Pembangunan Perkotaan Pembangunan Kota Baru. Oleh Suyono 6.7 PEMBANGUNAN KOTA BARU Oleh Suyono BEBERAPA PENGERTIAN Di dalam Undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Undang-undang Otonomi Daerah) 1999 digunakan istilah daerah kota untuk

Lebih terperinci

BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA

BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA PEMBENTUKAN KANTOR REGIONAT XIII DAN KANTOR REGIONAL XIV NOMOR 20 TAHUN 2014 TANGGAL.. 21 JULI 2OT4 NOMOR 20 TAHUN 20 14 TBNTANG PEMBENTUKAN KANTOR REGIONAL XIII DAN KANTOR REGIONAL XIV DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN WISATA PANTAI TRIANGGULASI DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI (Penekanan Desain Arsitektur Organik Bertema Ekoturisme)

PENGEMBANGAN WISATA PANTAI TRIANGGULASI DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI (Penekanan Desain Arsitektur Organik Bertema Ekoturisme) LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PENGEMBANGAN WISATA PANTAI TRIANGGULASI DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI (Penekanan Desain Arsitektur Organik Bertema Ekoturisme) Diajukan

Lebih terperinci

DEKLARASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI

DEKLARASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI DEKLARASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI Bahwa kemiskinan adalah ancaman terhadap persatuan, kesatuan, dan martabat bangsa, karena itu harus dihapuskan dari bumi Indonesia. Menghapuskan kemiskinan merupakan

Lebih terperinci

TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN KEPULAUAN SERIBU SELATAN

TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN KEPULAUAN SERIBU SELATAN LAMPIRAN V : PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG DAN PERATURAN ZONASI TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN

Lebih terperinci

KAJIAN PEMBENTUKAN DAN PENYELENGGARAAN UNIT PELAKSANA TEKNIS

KAJIAN PEMBENTUKAN DAN PENYELENGGARAAN UNIT PELAKSANA TEKNIS PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG KAJIAN PEMBENTUKAN DAN PENYELENGGARAAN UNIT PELAKSANA TEKNIS BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA (BNPB) - i - DAFTAR

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 78,

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN Untuk mewujudkan visi dan misi pembangunan daerah Kabupaten Sumbawa di era desentralisasi, demokrasi dan globalisasi ini, strategi dan arah kebijakan pembangunan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pembangunan untuk mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan, perlu perubahan secara mendasar, terencana dan terukur. Upaya

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 20 ayat (6) Undang-Undang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG PENAMBAHAN PENYERTAAN MODAL NEGARA REPUBLIK INDONESIA KE DALAM MODAL SAHAM PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT ASDP INDONESIA FERRY DENGAN

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN 6.1 Strategi dan Arah Kebijakan Pembangunan Strategi pembangunan daerah adalah kebijakan dalam mengimplementasikan program Kepala Daerah, sebagai payung pada perumusan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PENENTUAN PUSAT PUSAT PENGEMBANGAN DI WILAYAH PESISIR PANTAI DAN LAUT Oleh : Ir Kartika Listriana

PENENTUAN PUSAT PUSAT PENGEMBANGAN DI WILAYAH PESISIR PANTAI DAN LAUT Oleh : Ir Kartika Listriana PENENTUAN PUSAT PUSAT PENGEMBANGAN DI WILAYAH PESISIR PANTAI DAN LAUT Oleh : Ir Kartika Listriana Wilayah pesisir dan laut memiliki karakteristik yang berbeda dengan wilayah daratan. Karakteristik khusus

Lebih terperinci

BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN

BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN 5.1 Umum Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan, merupakan penjabaran dari Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Kota/Kabupaten ke dalam rencana pemanfaatan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI BAB 1 UMUM... 01-1 INDONESIA YANG AMAN DAN DAMAI

DAFTAR ISI BAB 1 UMUM... 01-1 INDONESIA YANG AMAN DAN DAMAI DAFTAR ISI DAFTAR ISI... i BAGIAN PERTAMA UMUM BAB 1 UMUM... 01-1 BAGIAN KEDUA AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG AMAN DAN DAMAI BAB 2 BAB 3 BAB 4 PENINGKATAN RASA PERCAYA DAN HARMONISASI ANTARKELOMPOK MASYARAKAT...

Lebih terperinci

PENATAAN RUANG UNTUK PEMANTAPAN KAWASAN HUTAN. Oleh

PENATAAN RUANG UNTUK PEMANTAPAN KAWASAN HUTAN. Oleh PENATAAN RUANG UNTUK PEMANTAPAN KAWASAN HUTAN Oleh Dr Ir Setia Hadi, MS 2006 penataan ruang Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan dan ruang udara sebagai suatu kesatuan wilayah,

Lebih terperinci

PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS NASIONAL

PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS NASIONAL LAMPIRAN X PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 26 TAHUN 2008 TANGGAL : 10 MARET 2008 PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS NASIONAL 1. Kawasan Industri Lhokseumawe (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam)

Lebih terperinci

UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) KEMENTERIAN PU PERA

UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) KEMENTERIAN PU PERA UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) KEMENTERIAN PU PERA Disampaikan oleh: Kepala Badan Pembinaan Konstruksi 23 Desember 2014 PELAKSANA PROGRAM/KEGIATAN UU/PP SEKTORAL ORGANISASI PENGADAAN BARANG DAN JASA KEMENTERIAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN JEPARA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN JEPARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN JEPARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA, Menimbang : a bahwa dalam rangka mengoptimalkan

Lebih terperinci

Interpretasi Peta Tentang Bentuk dan Pola Muka Bumi. Bab

Interpretasi Peta Tentang Bentuk dan Pola Muka Bumi. Bab Bab IX Interpretasi Peta Tentang Bentuk dan Pola Muka Bumi Sumber: hiemsafiles.wordpress.com Gb.9.1 Lembah dan pegunungan merupakan contoh bentuk muka bumi Perlu kita ketahui bahwa bentuk permukaan bumi

Lebih terperinci

Apa itu Tsunami? Tsu = pelabuhan Nami = gelombang (bahasa Jepang)

Apa itu Tsunami? Tsu = pelabuhan Nami = gelombang (bahasa Jepang) Bahaya Tsunami Apa itu Tsunami? Tsu = pelabuhan Nami = gelombang (bahasa Jepang) Tsunami adalah serangkaian gelombang yang umumnya diakibatkan oleh perubahan vertikal dasar laut karena gempa di bawah atau

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN DAERAH KABUPATEN BERAU NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG TANDA DAFTAR USAHA KEPARIWISATAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BERAU,

- 1 - PERATURAN DAERAH KABUPATEN BERAU NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG TANDA DAFTAR USAHA KEPARIWISATAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BERAU, - 1 - SALINAN Desaign V. Santoso PERATURAN DAERAH KABUPATEN BERAU NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG TANDA DAFTAR USAHA KEPARIWISATAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BERAU, Menimbang : a. bahwa untuk

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA NOMOR : KM.18/HM.001/MKP/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA NOMOR : KM.18/HM.001/MKP/2011 TENTANG PERATURAN MENTERI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA NOMOR : KM.18/HM.001/MKP/2011 TENTANG PEDOMAN PROGRAM NASIONAL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (PNPM) MANDIRI PARIWISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEBUDAYAAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

Institute for Criminal Justice Reform

Institute for Criminal Justice Reform Menimbang : MENTER KEHAKMAN REPUBLK NDONESA KEPUTUSAN MENTER KEHAKMAN REPUBLK NDONESA NOMOR : M.01.PR.07.03 TAHUN 1985 T E N T A N G ORGANSAS DAN TATA KERJA LEMBAGA PEMASYRAKATAN MENTER KEHAKMAN REPUBLK

Lebih terperinci

Kebijakan pengembangan kawasan strategis nasional antara lain: peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara

Kebijakan pengembangan kawasan strategis nasional antara lain: peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara DIREKTUR PENATAAN RUANG WILAYAH NASIONAL 06 FEBRUARI 2014 Pasal 1 nomor 17 Kawasan Strategis Nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA)

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Menimbang : PP 47/1997, RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 47 TAHUN 1997 (47/1997) Tanggal: 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber:

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH 5.1. Sasaran Pokok dan Arah Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tujuan akhir pelaksanaan pembangunan jangka panjang daerah di Kabupaten Lombok Tengah

Lebih terperinci

Kebutuhan Terhadap Pedoman Pejalan Kaki

Kebutuhan Terhadap Pedoman Pejalan Kaki Kebutuhan Terhadap Pedoman Pejalan Kaki disampaikan oleh: DR. Dadang Rukmana Direktur Perkotaan 26 Oktober 2013 KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL PENATAAN RUANG Outline Pentingnya Jalur Pejalan

Lebih terperinci

INDIKASI KAWASAN HUTAN DAN LAHAN YANG PERLU DILAKUKAN REHABILITASI

INDIKASI KAWASAN HUTAN DAN LAHAN YANG PERLU DILAKUKAN REHABILITASI INDIKASI DAN LAHAN YANG PERLU DILAKUKAN REHABILITASI PUSAT PERPETAAN KEHUTANAN BADAN PLANOLOGI KEHUTANAN DEPARTEMEN KEHUTANAN MEI 2002 TABEL 1. REKAPITULASI LUAS INDIKASI RHL PER PULAU/KELOMPOK PULAU (JUTA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Maksud dan Tujuan

I. PENDAHULUAN. A. Maksud dan Tujuan I. PENDAHULUAN A. Maksud dan Tujuan Rencana Kerja (Renja) Dinas Peternakan Kabupaten Bima disusun dengan maksud dan tujuan sebagai berikut : 1) Untuk merencanakan berbagai kebijaksanaan dan strategi percepatan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Mengingat bahwa RPJMD merupakan pedoman dan arahan bagi penyusunan dokumen perencanaan pembangunan daerah lainnya, maka penentuan strategi dan arah kebijakan pembangunan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2012 TENTANG PEMBIAYAAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2012 TENTANG PEMBIAYAAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2012 TENTANG PEMBIAYAAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH

STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH Rumusan Visi dan Misi yang telah ditetapkan perlu dijelaskan tujuan dan sasarannya serta perlu dipertegas dengan bagaimana upaya atau cara untuk mencapai

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10.TAHUN 2009... TENTANG KEPARIWISATAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10.TAHUN 2009... TENTANG KEPARIWISATAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10.TAHUN 2009... TENTANG KEPARIWISATAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa keadaan alam, flora, dan fauna, sebagai

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025 PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2014 TENTANG ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2014 TENTANG ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2014 TENTANG ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 137

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2012-2032

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2012-2032 PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2012-2032 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA BARAT, Menimbang

Lebih terperinci

BAB 6 STRATEGI PENYEBARAN PUSAT PERTUMBUHAN. 6.1. Pengertian Kawasan Pengembangan dan Pusat Pertumbuhan

BAB 6 STRATEGI PENYEBARAN PUSAT PERTUMBUHAN. 6.1. Pengertian Kawasan Pengembangan dan Pusat Pertumbuhan 6-1 BAB 6 STRATEGI PENYEBARAN PUSAT PERTUMBUHAN Rencana Pengembangan Wilayah dan Investasi (RPWI) Provinsi Papua Barat memberikan penekanan pada Kawasan Pengembangan (KP) Provinsi Papua Barat yang dikelompokkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH Visi dan Misi yang telah dirumuskan dan dijelaskan tujuan serta sasarannya perlu dipertegas dengan bagaimana upaya atau cara untuk mencapai tujuan

Lebih terperinci

GUBERNUR BALI PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG USAHA JASA PERJALANAN WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BALI,

GUBERNUR BALI PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG USAHA JASA PERJALANAN WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BALI, GUBERNUR BALI PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG USAHA JASA PERJALANAN WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BALI, Menimbang : a. bahwa Pembangunan Kepariwisataan di

Lebih terperinci

PENGELOLAAN DAYA DUKUNG DAN PEMASARAN PARIWISATA BERKELANJUTAN. Oleh : M. Liga Suryadana

PENGELOLAAN DAYA DUKUNG DAN PEMASARAN PARIWISATA BERKELANJUTAN. Oleh : M. Liga Suryadana PENGELOLAAN DAYA DUKUNG DAN PEMASARAN PARIWISATA BERKELANJUTAN Oleh : M. Liga Suryadana KLASIFIKASI WISATA Wisata alam (nature tourism), merupakan aktifitas wisata yang ditujukan pada pemanfaatan terhadap

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR... TAHUN TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH 2030 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA, Menimbang

Lebih terperinci

BAB 4 POLA PEMANFAATAN RUANG

BAB 4 POLA PEMANFAATAN RUANG BAB 4 POLA PEMANFAATAN RUANG Pola pemanfaatan ruang berisikan materi rencana mengenai: a. Arahan pengelolaan kawasan lindung b. Arahan pengelolaan kawasan budidaya kehutanan c. Arahan pengelolaan kawasan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komperhensif tentang bagaimana Pemerintah Daerah mencapai tujuan dan sasaran RPJMD dengan efektif dan efisien.

Lebih terperinci

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang No. 5, Agustus 2002 Warta Kebijakan C I F O R - C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan

Lebih terperinci

Kerangka landasan pendekatan DAS: Merupakan ekologi bentang lahan (Landscape ecology), suatu subdisiplin ekologi yang mengamati sebab dan akibat

Kerangka landasan pendekatan DAS: Merupakan ekologi bentang lahan (Landscape ecology), suatu subdisiplin ekologi yang mengamati sebab dan akibat Kerangka landasan pendekatan DAS: Merupakan ekologi bentang lahan (Landscape ecology), suatu subdisiplin ekologi yang mengamati sebab dan akibat ekologi dari pola ruang, proses dan perubahan dalam suatu

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH 2030 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH 2030 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH 2030 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA, Menimbang

Lebih terperinci

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: / / Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementrian Pekerjaan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR PER.12/MEN/2010 TENTANG MINAPOLITAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR PER.12/MEN/2010 TENTANG MINAPOLITAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.12/MEN/2010 TENTANG MINAPOLITAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendorong percepatan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Keimigrasian. Visa. Saat Kedatangan.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Keimigrasian. Visa. Saat Kedatangan. No.12, 2010 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Keimigrasian. Visa. Saat Kedatangan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR M.HH-01-GR.01.06

Lebih terperinci

ANALISIS DAN EVALUASI PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG KB DAN KS TAHUN 2013

ANALISIS DAN EVALUASI PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG KB DAN KS TAHUN 2013 ANALISIS DAN EVALUASI PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG KB DAN KS TAHUN 2013 BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL DIREKTORAT PELAPORAN DAN STATISTIK Standar Pelayanan Minimal

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2009 TENTANG KAWASAN EKONOMI KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2009 TENTANG KAWASAN EKONOMI KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2009 TENTANG KAWASAN EKONOMI KHUSUS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa masyarakat adil dan makmur berdasarkan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2014 TENTANG RINCIAN TUGAS LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN PROVINSI ACEH, PROVINSI SUMATERA UTARA, PROVINSI RIAU,

Lebih terperinci

BAB III Tahapan Pendampingan KTH

BAB III Tahapan Pendampingan KTH BAB III Tahapan Pendampingan KTH Teknik Pendampingan KTH 15 Pelaksanaan kegiatan pendampingan KTH sangat tergantung pada kondisi KTH, kebutuhan dan permasalahan riil yang dihadapi oleh KTH dalam melaksanakan

Lebih terperinci

FOKUS PROGRAM DAN KEGIATAN KETAHANAN PANGAN TA.2015

FOKUS PROGRAM DAN KEGIATAN KETAHANAN PANGAN TA.2015 FOKUS PROGRAM DAN KEGIATAN KETAHANAN PANGAN TA.2015 1 ARAHAN UU NO. 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN A. KERANGKA KEBIJAKAN KETAHANAN PANGAN Kedaulatan Pangan Kemandirian Pangan Ketahanan Pangan OUTCOME Masyarakat

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PENCAPAIAN

PERKEMBANGAN PENCAPAIAN BAGIAN 2. PERKEMBANGAN PENCAPAIAN 25 TUJUAN 1: TUJUAN 2: TUJUAN 3: TUJUAN 4: TUJUAN 5: TUJUAN 6: TUJUAN 7: Menanggulagi Kemiskinan dan Kelaparan Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua Mendorong Kesetaraan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG KEMARITIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG KEMARITIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG KEMARITIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013 PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013 TENTANG PERIZINAN REKLAMASI DI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL Menimbang DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

BIDANG USAHA, JENIS USAHA DAN SUB-JENIS USAHA BIDANG USAHA JENIS USAHA SUB-JENIS USAHA

BIDANG USAHA, JENIS USAHA DAN SUB-JENIS USAHA BIDANG USAHA JENIS USAHA SUB-JENIS USAHA BIDANG USAHA, JENIS USAHA DAN SUBJENIS USAHA BIDANG USAHA JENIS USAHA SUBJENIS USAHA 1. Daya Tarik Wisata No. PM. 90/ HK. 2. Kawasan Pariwisata No. PM. 88/HK. 501/MKP/ 2010) 3. Jasa Transportasi Wisata

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN GUBERNUR BENGKULU NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS DAERAH PROVINSI BENGKULU

- 1 - PERATURAN GUBERNUR BENGKULU NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS DAERAH PROVINSI BENGKULU - 1 - PERATURAN GUBERNUR BENGKULU NOMOR 19 TAHUN 2008 TENTANG URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI DINAS DAERAH PROVINSI BENGKULU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BENGKULU, Menimbang Mengingat : bahwa

Lebih terperinci

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia =============================================================================== Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia !" #$ %$#&%!!!# &%!! Tujuan nasional yang dinyatakan

Lebih terperinci

STRUK UK UR O R O GANISA GANISA DIN DI AS AS DAE RAH KABUP UP TEN N A B NGKA T HUN UN 0 2 0 0 8

STRUK UK UR O R O GANISA GANISA DIN DI AS AS DAE RAH KABUP UP TEN N A B NGKA T HUN UN 0 2 0 0 8 DINAS DAERAH TAHUN 2008 DINAS PENDIDIKAN LAMPIRAN I : PERATURAN DAERAH PERNCANAN DAN TAMAN KANAK-KANAK DAN SEKOLAH DASAR SEKOLAH MENENGAH PENDIDIKAN NON FORMAL PERENCANAAN KURIKULUM KURIKULUM PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG PEDOMAN PERSETUJUAN SUBSTANSI DALAM PENETAPAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TATA RUANG

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN Strategi merupakan langkah-langkah yang berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Strategi harus dijadikan salah satu rujukan penting

Lebih terperinci

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI PEMBERDAYAAAN KOPERASI & UMKM DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT 1) Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI 2) A. Muhajir, SH., MH Anggota Komisi VI DPR RI Disampaikan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG PROGRAM PENYUSUNAN PERATURAN PRESIDEN PRIORITAS TAHUN 2014

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG PROGRAM PENYUSUNAN PERATURAN PRESIDEN PRIORITAS TAHUN 2014 KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG PROGRAM PENYUSUNAN PERATURAN PRESIDEN PRIORITAS TAHUN 2014 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA TENTANG RUANG BAWAH TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA TENTANG RUANG BAWAH TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 167 TAHUN 2012 TENTANG RUANG BAWAH TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA, Menimbang Mangingat

Lebih terperinci