NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM AL-QUR AN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM AL-QUR AN"

Transkripsi

1 I TIBAR Vol. 06, No. 11, Nopember NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM AL-QUR AN Bambang Samsul Arifin Fakutas Psikologi UIN Bandung ABSTRACT This article, aims to describe the values of character education in the Qur'an, studied through a library approach (library research). The results of this study, show, that in the Qur'an there are many points of discussion about this character or character. Like the command to do good (ihsan), and virtue (al-birr), keep promises (al-wafa), be patient, honest, fear God, give charity in the way of God, do justice, forgive in many verses in the newspaper. All of them are the principles and values of noble characters that must be possessed by every Muslim person. Social principles are found, namely: The principle of brotherhood (ukhuwah), in (QS. Al-Hjurat [49]: 13); The principle of knowing each other (ta'aruf) in (Surah Al-Hjurat [49]: 13); Principles help each other (ta'awun). in (Surah Al-Maidah [5]: 2): Principle of tolerance (tasamuh) in (QS. Al- Hjurat [49]: 12). Islamic education from the outset emphasizes that the values of character education are: providing exemplary, familiarizing students to be consistent in worship and charity, providing education about awareness of principles and moral principles, instilling attitudes, behavior, and noble words to students. Keywords: exemplary, ukhuwah, consistent, rational, and tolerant PENDAHULUAN P endidikan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari hidup dan kehidupan manusia. Pendidikan tidak hanya mendidik peserta didiknya menjadi manusia yang cerdas, tetapi juga membangun kepribadiannya agar berakhlak mulia. Saat ini, pendidikan di Indonesia dinilai kurang berhasil dalam membangun kepribadian peserta didiknya agar berakhlak mulia. Oleh karena itu pendidikan karakter dipandang sebagai kebutuhan yang mendesak. 1 1 Ahmad Muhaimin Azzet, Urgensi Pendidikan Karakterd iindonesia, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, hlm. 15. Berbagai persoalan karakter manusia Indonesia hingga saat ini masih menjadi sorotan tajam dari berbagai kalangan. Beragam fakta karakter negatif telah nyata dipertontonkan oleh masyarakat Indonesia dengan dalih tertentu yang seolah-olah benar untuk dilakukan. Banyak sekali persoalan mutakhir yang kita lihat dan seakan-akan tidak akan pernah berhenti seperti, narkoba yang semakin marak meski pelakunya banyak yang dihukum mati, korupsi semakin merajalela dikalangan pejabat, membegal disertai kekerasan, bullying di sekolah, kejahatan seksual terhadap peserta didik, transaksi seks pelajar secara online, KDRT, dll.

2 20 I TIBAR Vol. 06. No. 11, Mei 2018 Dari berbagai karakter negatif tersebut, betapa pendidikan karakter menjadi sangat penting untuk benarbenar dapat dilaksanakan dengan baik dan benar. Bukan saja penting, tetapi pendidikan karakter mutlak untuk dilaksanakan dan tidak bisa diabaikan. Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi, tujuan pendidikan tidak cukup hanya menjadikan bangsa ini pintar dan cerdas, namun perlu juga menjadikan bangsa ini masyarakat yang baik dan bermoral. Namun demikian, bukan berarti mudah untuk mewujudkan keduanya. Mungkin mudah menjadikan bangsa ini pintar dan cerdas, tetapi kita juga merasakan betapa sulitnya menjadikan bangsa ini masyarakat yang baik dan bermoral yang berlandaskan agama. Oleh karena itu, persoalan moral bisa dikategorikan sebagai persoalan kronis bagi masyarakat bangsa Indonesia yang mengiringi manusia dimana pun meraka berada. Jadi benar kata orang bijak, ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu lumpuh. Selain itu, pendidikan mempunyai tugas ganda, yakni di samping mengembangkan kepribadian manusia secara individual, juga mempersiapkan manusia sebagai anggota penuh dari kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, negara, dan lingkungan dunianya. Lahirnya Undang-undang Sistem pendidikan nasional (Sisdiknas) tahun 2003 mengamanatkan agar pendidikan membentuk insan Indonesia yang cerdas dan berkepribadian atau berkarakter, sehingga diharapkan akan lahir generasi bangsa Indonesia yang cerdas dan berkarakter. Tujuan pendidikan karakter yang diharapkan dapat dicapai bangsa Indonedia hingga saat ini masih dipertanyakan oleh banyak kalangan. Ketua Tim Ahli Pusat Studi Pancasila, Sutaryo menyatakan bahwa kondisi pendidikan karakter bangsa Indonesia cukup memprihatinkan akibat ditinggal kannya pendidikan dan pengajaran bidang agama, Pancasila, dan kewarganegaraan. Pendidikan cenderung mengedepankan penguasaan aspek keilmuan dan kecerdasan, belum sampai pada aspek internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. 2 Ajaran Islam tidak membiarkan perbuatan tercela. Nabi Muhammad sendiri diutus dalam upaya menyempurnakan akhlak manusia. Mukmin adalah yang mempunyai akhlak paling baik. Dalam kamus bahasa yang mendekati makna akhlak adalah budi pekerti. Senyatanya di Indonesia budi pekerti bangsa masih menjadi persoalan, hingga dimunculkan karakter. UU Sisdiknas no 20 tahun 2003 telah menaruh perhatian dengan mencantumkan akhlak mulia sebagai suatu tujuan penting dari sistem pendidikan nasional. Tetapi maraknya perilaku karakter negatif yang 2 Desmon Simanjuntak, Pendidikan Karakater: Membentuk Karakter Unggul, Jurnal Pendidikan Penabur, No. 19, Tahun 2012., hlm. 98.

3 I TIBAR Vol. 06, No. 11, Nopember dilakukan oleh kaum terdidik membuat kita miris dan prihatin. Parahnya, perbuatan itu banyak dilakukan oleh orang yang mengaku beragama. Mencermati keadaan bangsa Indonesia yang sedang di ambang kerusakan moral dan cukup mengancam kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara ini, mendorong pemerintah mengambil inisitif untuk memprioritaskan pembangunan karakter. Pembangunan karakter bangsa melalui pendidikan karakter dijadikan sebagai arus utama pembangunan nasional. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) telah merumuskan visinya pada kemendiknas 2015 yaitu "menghasilkan Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif atau menjadi Insan kamil/insan Paripurna". 3 Hal tersebut di atas mengandung arti bahwa setiap upaya pembangunan harus selalu diarahkan untuk memberi dampak positif terhadap pengembangan karakter anak bangsa. Sebagai orang yang beriman, pada hakikatnya pengembangan karakter ini tidak bisa dilepaskan begitu saja dari iman yang telah tertancap di dada anak bangsa. Sehingga perlu digali karakter apa saja yang bisa dikembangkan dari iman tersebut dengan mengacu pada penjelasan alqur~an terhadap term iman. Pendidikan karakter merupakan upaya yang dilakukan guru untuk membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini tercakup dalam keteladanan perilaku guru pada saat berbicara atau menyampaikan materi,bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal yang terkait lainnya. 4 Selain istilah karakter, kita juga mengenal kata adab dan akhlak. Dilihat dari sudut pengertian kata karakter, adab, akhlak tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Ketiganya didefinisikan sebagai suatu tindakan yang terjadi tanpa pemikiran lagi karena sudah tertanam dalam pikiran, dandengan kata lain, ketiganya dapat disebut dengan kebiasaan. 5 Pendidikan agama yang disampaikan pada jenjang sekolah dalam rangka menanamkan dasar-dasar keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Allah SWT yang bertujuan untuk mewujudkan manusia yang takwa dan berakhlak mulia, serta menghasilkan manusia yang jujur,adil,berbudi pekerti,etis,saling menghargai,disiplin,harmonis dan produktif,baik personal maupun sosial. Pendidikan karakter sebenarnya sudah tercermin dalam tujuan materi Pendidikan Agama Islam menurut lampiran peraturan menteri pendidikan 3 Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional, Ringkasan Eksekutif Seminar Nasional Pendidikan:Pendidikan Karakter Bangsa, Jakarta: Puslitbang Kemdiknas, hlm. 7 4 Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasiny adalam Lembaga Pendidikan, Jakarta:Kencana, hlm.19 5 Abdul Majid, Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, Cet.Ke-2, Bandung: Remaja Rosdakarya, hlm.10.

4 22 I TIBAR Vol. 06. No. 11, Mei 2018 nasional RI No.22 tahun 2006 tentang standar isi disebutkan bahwa Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk: 6 pertama; Menumbuh kembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT. pendidikan Islam khususnya menjadi perhatian dalam kehidupan individu, masyarakat dan berbangsa. Kedua; Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan social serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah. Sebagai umat Islam, dapat memahami bahwa penggagas pendidikan karakter yang paling kita kenal adalah Rasulullah SAW. Hal ini bias dikaitkan dengan tujuan akhlak, yaitu menciptakan manusia sebagai makhluk yang tertinggi dan sempurna, juga membedakannya dengan makhluk-makhluk yang lainnya. Akhlak menjadikan orang berakhlak baik, bertindak tanduk yang baik terhadap manusia, terhadap sesama makhluk dan terhadap Tuhan. 6 Anwar Masy ari, Akhlakal-Qur an, Surabaya: Bina Ilmu, hlm. 4 Untuk menanamkan dasar-dasar keimanan dan ketakwaan tersebut maka pendidik diharapkan dapat mengembangkan metode pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Pencapaian seluruh kompetensi dasar perilaku terpuji dapat dilakukan dengan tidak beraturan.peran semua unsur sekolah,orang tua siswa,dan masyarakat sangatpenting dalam mendukung keberhasilan pencapaian tujuan Pendidikan Agama Islam. Begitu pentingnya pendidikan karakter dalam kehidupan bermasyarakat saat ini maka penulis tergugah untuk meneliti lebih lanjut bagaimana AlQur an sebagai referensi utama ajaran Islam mengkaji konsep pendidikan karakter. Oleh karena itu, dalam penulisan ini penulis mengambil judul Konsep Pendidikan Karakter dalam PersektifAl- Qur an (Kajian Tafsir Tarbawi tentang SurahAl-HujuratAyat1 1-13). Berangkat dari konteks di atas, penulis bermaksud mengkaji pendidikan karakter yang bersumber dari agama. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mendeskripsikan bagaimana pendidikan karakter yang terkandung dalam tafsir surat Al-Hujurat ayat 11-13? Bagaimana kontekstualisasi pendidikan karakter yang terkandung dalam tafsir surat Al- Hujurat ayat dalam pembelajaran PAI disekolah? Untuk mengetahui lebih dalam tentang itu, akan dikaji melalui

5 I TIBAR Vol. 06, No. 11, Nopember pendekatan pustaka (libraryresearch). Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan data dan informasi dengan bantuan bermacam-macam material yang terdapat di ruangan perpustakaan, seperti: buku-buku, majalah, dokumen, catatan dan kisah kisah sejarah dan lainnya. Pada hakikatnya data yang diperoleh dengan penelitian perpustakaan ini dapat dijadikan landasan dasar dan alat utama bagi pelaksanaan penelitian lapangan. Penelitian ini dikatakan juga sebagai penelitian yang membahas data-data sekunder. 7 PEMBAHASAN Konsep Dasar Pendidikan Karakter Memahami Makna Karater Secara umum, istilah karakter sering diasosiasikan dengan apa yang disebut dengan temperamen yang memberinya, seolah definisi yang menekankan unsur psikososial yang dikaitkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan. 8 Dari segi etimologi, karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti "to mark" atau menandai dan memfokus kan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang ber karakter jelek. Sebaliknya, orang yang berprilaku sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia. Sedangkan dari segi istilah, karakter sering dipandang sebagai cara berfikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggung jawabkan setiap akibat dari keputusan yang ia buat. Menurut Hornby dan Parnwell yang dikutip Aziz, secara harfiah, karakter artinya "kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi". 96 Aziz menyimpulkan bahwa karakter adalah kualitas atau kekuatan mental dan moral, akhlak atau budi pekerti individu lain. Kata "karakter" berasal dari bahasa latin, yaitu kharakter", "kharasein", dan "kharak", yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, bermakna "tools for marking", "to engrave, dan "pointed stake". Kata ini banyak digunakan dalam bahasa Prancis sebagai "caractere" sekitar abad ke-14 M. Dalam bahasa Inggris, tertulis dengan kata "character", dalam bahasa 7 Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Jakarta, Bumi Aksara, hlm Doni Koesoema A., Pendidikan Karakter, Jakarta: Grasindo, hlm Aziz, H Pendidikan Karakter Berpusat Pada Hati, Jakarta: PT AlMAwardi Prima, hlm. 120.

6 24 I TIBAR Vol. 06. No. 11, Mei 2018 Indonsia, dikenal dengan kata "Karakter". 10 Menurut Heri Gunawan, karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. 11 Mulyasa mengutip pendapat Wynne bahwa karakter dapat diartikan dengan menandai dan memfokuskan pada bagaimana menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam perilaku sehari-hari. 12 Nilainilai kebaikan dikategorikan sebagai karakter baik/mulia, sedang nilainilai kejelekan dikategorikan sebagai karakter jelek. Termauk karakter baik seperti: berkelakuan baik, jujur, dan suka menolong dikatakan sebagai orang yang memiliki karakter baik atau mulia. Sedang karakter jelek seperti: berperilaku tidak jujur, curang, kejam, dan rakus. Dari beberapa pengertian karakter di atas dapatlah dipahami bahwa karakter merupakan sifat alami 10 Agus Wibowo dan Hamrin, Menjadi Guru Berkarakter Strategi Mambangun Kompetensi dan Karakter Guru, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hlm Heri Gunawan, 2012, Pendidikan Karakter Konsep dan Impementasi, Bandung: Alfabeta, hlm.2 12 Mulyasa, E. 2011, Manajemen Pendidikan Karakter, Jakarta: Bumi Aksara. hlm. 3. seseorang dalam menerapkan nilai-nilai kebaikan seperti: berkelakuan baik, jujur, suka menolong, dan lain-lain dalam kehidupan nyata sehari-hari. Konsep Pendidikan Karakter Sebelum mengkaji lebih lanjut tentang pendidikan karakter penulis mencoba untuk mendefinisikan kata pendidikan terlebih dahulu dan dilanjut dengan pengertian pendidikan karakter. Dalam dunia pendidikan, terdapat dua istilah yang hampir sama yaitu paedagogie dan paedagogiek. Paedagogie artinya pendidikan, sedangkan paedagogiek berarti ilmu pendidikan. Pedagogik ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki, merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik. 13 Lebih jelasnya, dipaparkan mengenai pengertian pendidikan menurut para ahli, diantaranya: Soegarda Poerbakawatja dalam "Ensiklopedi Pendidikan" menguraikan pengertian pendidikan sebagai "semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamanya, kecakapannya serta keterampilannya kepada generasi muda, sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya, baik jasmaniah maupun rohaniah". Menurut Sully, sebagaimana dikutip oleh Zuhairini, 14 bahwa 13 M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: Remaja Rosdakarya Offset, hlm Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, hlm.120

7 I TIBAR Vol. 06, No. 11, Nopember "pendidikan ialah menyucikan tenaga tabi"at anak-anak, supaya dapat hidup berbudi luhur, berbadan sehat serta berbahagia". Juga Herbert Spencer mengungkapkan bahawa, "pendidikan ialah menyiapkan manusia, supaya hidup dengan kehidupan yang sempurna". Scerenko jelaskan bahwa, pendidikan karakter dimaknai sebagai upaya yang sungguh-sungguh dengan cara mana ciri kepribadian positif dikembangkan, didorong, dan diberdayakan melalui keteladanan, kajian (sejarah, dan biografi para bijak dan pemikir besar), serta praktik emulsi (usaha maksimal untuk mewujudkan hikmah dari apa-apa yang diamati dan yang dipelajari. 15 Menurut Thomas Lickona dkk. yang dikutip oleh Muchlas Samani dan Hariyanto, mendefinisikan pendidikan karakter sebagai upaya yang sungguhsungguh untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan inti nilai-nilai etis. 16 Selanjutnya ditegaskan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputus baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. 17 Menurut Megawangi, pendidikan karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya. 18 Dari beberapa definisi di atas, pendidikan dapat difahami sebagai bentuk aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, baik pribadi rohani (pikir, rasa, karsa, cipta dan budi nurani) maupun jasmaninya (panca indera dan keterampilanketerampilan). Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter pada hakekatnya ingin membentuk individu menjadi seorang pribadi bermoral yang dapat menghayati kebebasan dan tanggung jawabnya, dalam relasinya dengan orang lain dan 15 Mahmud Yunus, Pokok-pokok Pendidikan & Pengajaran. Jakarta: PT Hidakarya Agung, hlm Muchlas Samani dan Hariyanto, Konsep dan Model Pendidikan Karakter, Jakarta: Remaja Rosda Karya, hlm Muchlas Samani dkk, Konsep dan..., hlm Megawangi, R Pendidikan Karakter Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa, Jakarta: BPMIGAS dan Star Energi, hlm. 94.

8 26 I TIBAR Vol. 06. No. 11, Mei 2018 dunianya dalam komunitas pendidikan. Dengan demikian pendidikan karakter senantiasa mengarahkan diri pada pembentukan individu bermoral, cakap mengambil keputusan yang tampil dalam perilakunya, sekaligus mampu berperan aktif dalam membangun kehidupan bersama. 19 Adapun nilainilai pendidikan karakter bersumber dari agama, pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional. 20 Tujuan Pendidikan Karakter Menurut Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan, yang tertuang dalam pedoman pelaksanaan pendidikan karakter, pendidikan karakter bertujuan mengembangkan nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa yaitu Pancasila, meliputi: 21 (1) mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik; (2) membangun bangsa yang berkarakter Pancasila; dan (3) mengembangkan potensi warga negara agar memiliki sikap percaya diri, bangga pada bangsa dan negaranya, serta mencintai umat manusia. 19 Abd haris, Etika Hamka,. Cet. I, Yogyakarta: Elkis,, hlm Pusat kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional, Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter, Jakarta: Puskurbuk, hlm Puskur,... hlm. 5 Sedangkan menurut Agus Zaenul Fitri menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan karakter adalah mem bentuk, menanamkan, memfasilitasi, dan mengembangkan nilai-nilai positif pada anak sehingga menjadi pribadi yang unggul dan bermatabat. 22 Pentingnya Pendidikan Karakter Menurut Lickona ada tujuh alasan penting mengapa pendidikan karakter itu harus disampaikan, yaitu: 23 (1) Untuk menjamin anak-anak (siswa) memiliki kepribadian yang baik dalam kehidupannya; (2) untuk meningkat kan prestasi akademik; (3) sebagian siswa tidak dapat membentuk karakter yang kuat bagi dirinya di tempat lain; (4) mempersiapkan siswa untuk menghormati pihak atau orang lain dan dapat hidup dalam masyarakat yang beragam; (5) berangkat dari akar masalah yang berkaitan dengan problem moral-sosial, seperti ketidak sopanan, ketidakjujuran, ke-kerasan, pelanggaran kegiatan seksual, dan etos kerja (belajar) yang rendah; (6) merupakan persiapan terbaik untuk menyongsong perilaku di tempat kerja; dan (7) mengajarkan nilai-nilai budaya merupakan bagian dari kerja peradaban. 22 Agus Zeanul Fitri, Pendidikan Karakter Berbasis Nilai dan Etika di Sekolah, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, hlm Lickona, Thomas Educating for Character: How Our School Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books. hlm. 50.

9 I TIBAR Vol. 06, No. 11, Nopember Mengingat betapa pentingnya pendidikan karakter ini, Megawangi memerinci kepada sembilan pilar karakter mulia yang penting untuk ditanamkan dalam pendidikan karakter yaitu: 24 (1) Cinta kepada Allah dan kebenaran; (2) Tanggung jawab, disiplin, dan mandiri; (3) Amanah; (4) Hormat dan santun; (5) Kasih sayang, peduli, kerja sama; (6) Percaya diri, kreatif, dan pantang menyerah; (7) Adil dan berjiwa kepemimpinan; (8) Baik dan rendah hati; dan (9) Toleran dan cinta damai. Nilai-nilai dalam Pendidikan Karakter Karakter merupakan pondasi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karakter hendaknya mendapat perhatian oleh semua pihak, baik dari segi jalurnya maupun tempatnya. Jika dilihat dari segi jalurnya, penerapan karakter dapat mengambil tempat melalui jalur pendidikan. Penerapan karakter melalui pendidikan sudah menjadi keniscayaan bagi pendidik agar sumber daya manusia yang berkualitas dapat tercapai. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai positif pendidikan karakter dalam proses pembelajaran di sekolah, lingkungan keluarga dan masyarakat menjadi tak terpisahkan. Diknas menyisipkan delapanbelas nilai-nilai pendidikan berkarakter 24 Megawangi, R Pendidikan..., hlm. 95. dalam proses pendidikannya sejak tahun 2011 di seluruh jenjang pendidikan di Indonesia, yaitu: 25 (1) Religius; (2) Jujur; (3) Toleransi; (4) Disiplin; (5) Kerja Keras; (6) Kreatif; (7) Mandiri; (8) Demokratis; (9) Rasa Ingin Tahu; (10) Semangat Kebangsaan; (11) Cinta Tanah Air; (12) Menghargai Prestasi; (13) Bersahabat/Komunikatif; (14) Cinta Damai; (15) Gemar Membaca; (16) Peduli Lingkungan; (17) Peduli Sosial; (18) Tanggung Jawab. Nilai Nilai Pendidikan Karakter Yang Terkandung Dalam Al-Qur an Secara istilah, karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya di mana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri. 26 Karakter dapat juga diartikan sama dengan akhlak dan budi pekerti, sehingga karakter bangsa identik dengan akhlak bangsa atau budi pekerti bangsa. Dengan demikian, pendidikan karakter adalah usaha yang sungguhsungguh untuk memahami, membentuk, memupuk nilai-nilai etika, baik untuk diri sendiri maupun untuk semua warga masyarakat atau warga negara secara keseluruhan. 27 Di dalam al-quran akan ditemukan banyak sekali pokok- 25 Abd. Mukhid, Konsep Pendidikan Karakter dalam Al-Qur'an Nuansa, Vol. 13 No. 2 Juli Desember 2016, hlm Abd. Mukhid, Konsep..., hlm Zubaedi, Desain Pendidikan..., hlm. 19

10 28 I TIBAR Vol. 06. No. 11, Mei 2018 pokok pembicaraan tentang akhlak atau karakter ini. Seperti perintah untuk berbuat baik (ihsan), dan kebajikan (al-birr), menepati janji (alwafa), sabar, jujur, takut kepada Allah SWT, bersedekah di jalan Allah, berbuat adil, pemaaf dalam banyak ayat didalam al-quran. Kesemuanya itu merupakan prinsip-prinsip dan nilai karakter mulia yang harus dimiliki oleh setiap pribadi muslim. Implementasi pendidikan karakter dalam Islam, tersimpul dalam karakter pribadi Rasulullah SAW. Dalam pribadi Rasul, tersemai nilai-nilai akhlak yang mulia dan agung. Dalam (QS. al-qalam [68]: 4), dijelaskan: Artinya:...Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung 28 Selanjutnya fiman Allah, SWT, dalam (QS. al-ahzab [33]:21), dijelaskan: Artinya: "...Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah" Dep. Agama RI, Al-Qur an dan Terjemahnya. Surabaya: Al-Hidayah, hlm Dep. Agama RI, Al-Qur an dan, hlm. 670 Di antara ayat Al-qur an yang menjadi dasar pendidikan karakter adalah firman Allah Swt di dalam (QS. al-isra [17]: 23-24) yang berbunyi:... Artinya:...Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekalikali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. 30 Perintah Allah di dalam ayat ini mencakup bidang pendidikan karakter (akhlak) berupa Aqidah, ibadah dan akhlak yang harus terbina bagi seorang anak. Demikian juga peran serta orang tua dalam memberikan bimbingan moral dan keluhuran dalam upaya membentuk insan muslim yang berkualitas. Dari sini jelaslah bahwa yang menjadi fundamen utama yang harus terbina dalam lingkungan keluarga adalah prinsip tauhid. Hal ini dianggap sebagai prasyarat utama dalam pendidikan karakter bagi anak 30 Dep. Agama RI, Al-Qur an dan, hlm. 427.

11 I TIBAR Vol. 06, No. 11, Nopember oleh orang tuanya sebagai identitas keimanan yang harus ditanamkan sejak dini, yaitu: Memberikan Keteladanan Allah SWT dalam (QS. al- Isra [17]: 23), ayat ini menjadikan Rasullullah SAW sebagai lawan bicara- Nya sebagaimana firman Allah: Artinya:...Dan Tuhanmu telah memerintahkan 31 Hal tersebut mengindikasikan bahwa dialah (Rasulullah SAW) yang telah mencapai level tertinggi sebagai teladan utama dalam pendidikan dan etika. Karena sesungguhnya Allah SWT sendiri yang secara langsung mendidiknya. Lebih lanjut, Firman Allah dalam (QS. al-ahzab [33]: 21): terdapat dalam kepribadian beliau halhal yang patut dilteladani. 33 Konsisten dalam beribadah dan beramal sholeh Firman Allah, SWT., dalam (QS. Lukman [31]: 17 ), yaitu:... Artinya:...Hai Anakku, dirikanlah shalat dan serulah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). 34 Kesadaran berakhlakulkarimah Allah SWT berfirman dalam (QS. al-isra [17]: 23): Artinya:... Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik. 32 Dalam menafsirkan ayat ini, al- Zamakhsyari dalam Quraish Shihab mengemukakan maksud keteladanan pada diri Rasulullah. Pertama dalam arti kepribadian beliau secara totalitas adalah keteladanan. Kedua dalam arti Artinya:... Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaikbaiknya 35 Menanamkan Perilaku dan Tutur Kata yang Mulia Dalam hal ini, Allah SWT berfirman dalam (QS. al-isra [17]: 23):... Artinya:...Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya 33 Shihab, M. Quraish, Tafsir al-misbah, Vol. I, Cet. II, Jakarta: Lentera Hati, hlm Dep. Agama RI, Al-Qur an dan, hlm Dep. Agama RI, Al-Qur an dan, hlm Dep. Agama RI, Al-Qur an dan, hlm Dep. Agama RI, Al-Qur an dan, hlm. 427.

12 30 I TIBAR Vol. 06. No. 11, Mei 2018 sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. 36 Dengan demikian orang tua dalam usaha mendidik dan mengarahkan anak berusaha untuk memposisikan diri pada sudut pandang anak yang masih kecil tersebut kalau tidak akan selalu terjadi ketegangan. Dan sebagai konsekuensinya perkataan tidak baik akan ditangkap oleh anak. Pendidikan Karakter dan Kesadaran Sosial Disamping itu, Islam juga mengajarkan tentang penataan hubungan berdasarkan prinsip keadilan sosial sehingga tidak terdapat kesenjangan yang tidak terlalu jauh yang dapat menimbulkan konflik diantara sesama muslim. Diantara prinsip-prinsip sosial tersebut antara lain: 37 Prinsip saling mengenal (ta aruf). Saling mengenal dan saling memahami akan melahirkan sifat empati, yaitu merasakan apa yang sedang dirasakan oleh orang lain. Firman Allah dalam (QS. Al-Hjurat [49]:13); Artinya:...Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal Prinsip persaudaraan (ukhuwah) Persaudaraan pada dasarnya lahir dari kedekatan keturunan atau pertalian darah. Akan tetapi pada perkembangannya persaudaraan tidak selalu berkaitan dengan kesamaan keturunan. Esensi dari persaudaraan adalahadanya keakraban dan kasih sayang yang membentuk sikap dan perilaku yang khas dalam bentuk kepedulian dan perhatian. Firman Allah dalam (QS. Al- Hjurat [49]:10); Artinya:...Sesungguhnya orangorang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. 39 Prinsip saling menolong (ta awun) Prinsip ini lahir dari kesadaran keterbatasan manusia serta kebutuhan hidup terhadap orang lain, karena manusia termasuk makhluk yang tidak 36 Dep. Agama RI, Al-Qur an dan, hlm Ali Anwar Yusuf, 2003, WawasanIslam, Bandung: pustaka Setia, hlm Dep. Agama RI, Al-Qur an dan, hlm Dep. Agama RI, Al-Qur an dan, hlm. 846.

13 I TIBAR Vol. 06, No. 11, Nopember bias hidup sendiri (homosocius). Islam memiliki konsep yang bernama ta awun (Tolong menolong) sebagaima na firman Allah SWT dalam (QS Al- Maidah [5]: 2): Artinya:...dan tolongmenolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksanya 40 Prinsip toleransi (tasamuh) Dalam hal agama tasamuh telah disampaikan jelas dalam (QS. Al- Hjurat [49]:12); Artinya:...Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu, memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang." 41 Sikap lapang dada terhadap prinsip yang dipegang atau dianut 40 Dep. Agama RI, Al-Qur an dan, hlm Dep. Agama RI, Al-Qur an dan, hlm oleh orang lain, tanpa mengorbankan prinsip sendiri. Islam mendorong umatnya untuk bekerja sama dalam berbagai segi kehidupan dengan siapa saja, termasuk dengan umat beragama lain sepanjang kerja sama dilakukan untuk kebaikan. Dalam kehidupan seharihari semua orang mempunyai hak yang sama dengan yang lainnya tanpa ada perbedaan baik pria maupun wanita, kaya dan miskin dan beragam suku bangsa, ras maupun bahasa. Dengan demikian akan tercipta kehidupan damai, sejahtera, adil, makmur dan sentosa. KESIMPULAN Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulan bahwa: pertama di dalam al- Qur'an, konsep pendidikan karakter telah banyak sekali di bahas, dalam al- Quran ditemukan banyak sekali pokokpokok pembicaraan tentang akhlak atau karakter ini. Seperti perintah untuk berbuat baik (ihsan), dan kebajikan (albirr), menepati janji (al-wafa), sabar, jujur, takut kepada Allah SWT, bersedekah di jalan Allah, berbuat adil, pemaaf dalam banyak ayat didalam al-quran, diantaranya seperti di dalam surah al- Isra' ayat Kesemuanya itu merupakan prinsip-prinsip dan nilai karakter mulia yang harus dimiliki oleh setiap pribadi muslim. Dalam (QS. al- Qalam [68]: 4), dalam (QS. al-ahzab

14 32 I TIBAR Vol. 06. No. 11, Mei 2018 [33]:21), dalam (QS. al-isra [17]: 23-24) dalam (QS. Lukman [31]: 17 ). Konsep pendidikan karakter di dalam pendidikan Islam telah tersimpul dalam karakter pribadi Rasulullah SAW. Dalam pribadi Rasul, tersemai nilainilai akhlak yang mulia dan agung, diantaranya seperti dalam surah al-qalam ayat 4, dan surat al- Ahzab ayat 21. Prinsip-prinsip sosial ditemukan yaitu: Prinsip ukhuwah, dalam (QS. Al- Hjurat [49]:13); Prinsip saling mengenal (ta aruf) dalam (QS. Al- Hjurat [49]:13); Prinsip saling menolong (ta awun). dalam (QS Al- Maidah [5]: 2): Prinsip toleransi (tasamuh) dalam (QS. Al-Hjurat [49]:12). Pendidikan Islam sejak awal menekankan agar nilai-nilai pendidikan karakter ditanamkan kepada anak sejak dini, yaitu: (a) memberikan Keteladanan, (b) membiasakan peserta didik untuk konsisten dalam beribadah dan beramal sholeh, DAFTAR PUSTAKA Abd haris, Etika Hamka,. Cet. I, Yogyakarta: Elkis. (c) memberikan pendidikan tentang kesadaran tentang prinsipprinsip dan dasar-dasar akhlak, (d) menanamkan sikap, perilaku, dan tutur kata yang mulia kepada peserta didik. Abd. Mukhid, Konsep Pendidikan Karakter dalam Al-Qur'an Nuansa, Vol. 13 No. 2 Juli Desember 2016, Abdul Majid, Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, Cet.Ke-2, Bandung: Remaja Rosdakarya. Agus Wibowo dan Hamrin, Menjadi Guru Berkarakter Strategi Mambangun Kompetensi dan Karakter Guru, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Agus Zeanul Fitri, Pendidikan Karakter Berbasis Nilai dan Etika di Sekolah, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. Ahmad Muhaimin Azzet, Urgensi Pendidikan Karakterd iindonesia, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. Ali Anwar Yusuf, 2003, WawasanIslam, Bandung: pustaka Setia. Anwar Masy ari, Akhlakal-Qur an, Surabaya:Bina Ilmu. Aziz, H Pendidikan Karakter Berpusat Pada Hati, Jakarta: Al Mawardi Prima. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional, 2010 Ringkasan Eksekutif Seminar Nasional Pendidikan:Pendidikan Karakter Bangsa, Jakarta: Puslitbang Kemdiknas.