PERAN UNIT PEMBERANTASAN PUNGLI (UPP) KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA UNTUK MENDORONG AKUNTABILITAS DAN INTEGRITAS PEGAWAI DALAM PELAKSANAAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PERAN UNIT PEMBERANTASAN PUNGLI (UPP) KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA UNTUK MENDORONG AKUNTABILITAS DAN INTEGRITAS PEGAWAI DALAM PELAKSANAAN"

Transkripsi

1

2 PERAN UNIT PEMBERANTASAN PUNGLI (UPP) KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA UNTUK MENDORONG AKUNTABILITAS DAN INTEGRITAS PEGAWAI DALAM PELAKSANAAN TUGAS DAN FUNGSI

3 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA Pasal 1 (1) Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 113 (1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp (seratus juta rupiah). (2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp ,00 (lima ratus juta rupiah). (3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp ,00 (satu miliar rupiah). (4) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp ,00 (empat miliar rupiah).

4 PERAN UNIT PEMBERANTASAN PUNGLI (UPP) KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA UNTUK MENDORONG AKUNTABILITAS DAN INTEGRITAS PEGAWAI DALAM PELAKSANAAN TUGAS DAN FUNGSI Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM Kementerian Hukum dan HAM RI 2017

5 PERAN UNIT PEMBERANTASAN PUNGLI (UPP) KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA UNTUK MENDORONG AKUNTABILITAS DAN INTEGRITAS PEGAWAI DALAM PELAKSANAAN TUGAS DAN FUNGSI copyright BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA RI Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 4-5 Kuningan, Jakarta Selatan Website: Pengarah Penanggung Jawab Ketua/Anggota Sekretaris/Anggota Anggota Sekretariat Tim Penyusun: : Ma mun, Bc.IP., S.H., M.H. : Drs. Yasmon, M.L.S. : Nizar Apriansyah, S.E., M.H : Maryati, S.Pd., M.Si. : 1. Edward James Sinaga, S.Si., M.H. 2. Insan Firdaus, S.H., M.H. 3. Antonio Rajoli Ginting, S.H. 4. Rr. Susana A.M., S.Sos., M.A.P 5. Haryono, S.Sos., M.H. 6. Trisapto Wahyu Agung Nugroho, S.S., M.Si. : 1. Drs. Halasan Pardede 2. Benyamin Ginting, S.H. Cetakan Pertama - November 2017 Penata Letak: Kusprihantoro Desain Sampul: Indra Sumber Image Cover: ISBN: Hak Cipta dilindungi oleh Undang-Undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Pemegang Hak Cipta Pracetak oleh: Tim Pohon Cahaya Dicetak oleh: Percetakan Pohon Cahaya

6 ABSTRAK Unit Pemberantasan Pungutan Liar (UPP) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) mempunyai peran strategis dalam upaya meningkatkan pencegahan, percepatan, keakuratan penanganan, dan penyelesaian pungli serta untuk mendorong akuntabilitas dan integritas pegawai. Berdasarkan hasil pengumpulan data diketahui bahwa peran UPP dalam pemberantasan pungli di lingkungan Kemenkumham sudah berjalan cukup baik, hal ini berdasarkan tanggapan responden sebanyak 93% yang menilai komposisi keanggotaan UPP sudah tepat, kemudian sebanyak 86% responden menilai bahwa UPP sudah efektif dalam menanggulangi pungli dan 88% responden menyatakan bahwa keberadaan UPP telah memberi dampak timbulnya rasa takut dalam diri pegawai untuk melakukan pungli. Sedangkan tanggapan responden terkait peningkatan integritas dan akuntabilitas di kalangan pegawai menunjukan peningkatan rata-rata pada kisaran 60%. Disamping itu, terdapat beberapa faktor penghambat dalam pelaksanaan peran UPP dalam pemberantasan pungli di lingkungan Kemenkumham diantaranya: belum tersedianya anggaran, belum ada Standar Operasional Prosedur (SOP) dan uraian tugas setiap anggota, masih kurangnya pemahaman personil UPP, target kerja yang belum terukur, program kerja yang belum konkret serta kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pungli. Berdasarkan hasil kajian, Tim UPP Kemenkumham telah melaksanakan fungsi pencegahan, penindakan dan yustisi pada Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi v

7 setiap Kanwil dan UPT serta memberikan dampak positif terhadap perilaku, integritas dan akuntabilitas pegawai dalam pelaksanaan tugas dan fungsi di lingkungan Kemenkumham. Untuk meningkatan efektifitas peran tim UPP perlu dilakukan evaluasi terhadap struktur organisasi, mekanisme kerja, peningkatan kapasitas dan kompetensi personil UPP serta diperlukan anggaran untuk menjalankan tugas dan fungsi UPP vi Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

8 KATA SAMBUTAN Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT karena hanya atas berkat rahmat dan hidayah-nya kajian tentang Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan HAM Untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai Dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Kajian ini relevan dan perlu dilakukan seiring dengan upaya serius dari pemerintah dalam memberantas pungli yaitu dengan diterbitkannya Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2016 Tentang Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar. Praktik pungutan liar (pungli) saat ini bagaikan penyakit yang dikategorikan dalam tingkatan stadium lanjut karena telah merusak sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pungli tidak hanya berdampak pada buruknya kualitas pelayanan masyarakat, tetapi bila hal tersebut dibiarkan maka pungli juga akan melemahkan daya saing ekonomi nasional, sehingga perlu upaya pemberantasan secara tegas, terpadu, efektif, efisien, dan mampu menimbulkan efek jera. Dalam upaya pemberantasan pungli di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) telah dibentuk Unit Pemberantasan Pungli (UPP) di tingkat pusat, kantor wilayah, dan satuan kerja. Tugas dan fungsi UPP adalah untuk melakukan upaya pencegahan, penindakan dan yustisi terhadap indikasi terjadinya pungutan liar pada pelayanan publik. Pemberantasan Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi vii

9 pungli merupakan salah satu upaya strategis bagi Kemenkumham dalam rangka meningkatkan percepatan, keakuratan penanganan, dan penyelesaian pungli. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat (public trust) terhadap Kemenkumham. Pemberantasan pungli sangat berkaitan erat dengan program reformasi birokrasi sebagai upaya membangun tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih (good governance and clean government). Salah satu upaya itu dilakukan dengan membangun zona integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM). Hal ini bertujuan untuk membangun unit layanan yang baik serta aparatur sipil negara yang akuntabel dan berintegritas tinggi. Oleh karena itu peran UPP dalam memberantas pungli juga diharapkan dapat menjaga kesadaran pegawai dengan terus menjaga nilai-nilai integritas dan akuntabilitas. Hasil kajian menunjukan bahwa, meskipun UPP belum lama dibentuk, tetapi kinerja UPP Pusat dan Kanwil telah memberi dampak signifikan terhadap perubahan mindset pegawai, misalnya berkurangnya indikasi terjadinya pungli, timbulnya rasa takut dalam diri pegawai untuk melakukan pungli, meningkatnya transparansi dan akuntabilitas serta integritas pegawai dalam memberi pelayanan kepada masyarakat. Dalam pelaksanaan peran UPP tersebut terdapat beberapa faktor penghambat, yaitu antara lain: 1) belum ada pedoman mekanisme kerja atau Standar Operasional Prosedur (SOP); 2) uraian tugas setiap anggota UPP sampai saat ini belum diatur; 3) pemahaman tentang pemberantasan pungli dari personil UPP masih kurang; 4) UPP belum memiliki program dan target kerja yang terukur; 5) belum tersedianya anggaran khusus untuk UPP; serta 6) tingkat kesadaran masyarakat yang rendah untuk tidak memberi suap. viii Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

10 Berdasarkan hasil kajian ini dapat disimpulkan bahwa peran UPP baik pusat maupun wilayah dalam memberantas pungutan liar di lingkungan Kemenkumham belum berjalan maksimal, sehingga perlu dilakukan penguatan pada aspek-aspek, antara lain kelembagaan, mekanisme kerja, personil, dan anggaran. Oleh sebab itu, kajian ini menghasilkan beberapa rekomendasi yang ditujukan kepada Menteri Hukum dan HAM serta UPP dalam rangka meningkatkan peran UPP Pusat dan wilayah untuk memberantas pungutan liar sekaligus mendorong akuntabilitas dan integritas pegawai. Apresiasi dan ucapan terima kasih kami sampaikan kepada tim yang telah bekerja dengan baik dan semua pihak yang telah membantu pelaksanaan kajian ini, semoga hasil kajian ini bisa bermanfaat bagi peningkatan peran UPP dalam memberantas pungli di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM. Jakarta, Oktober 2017 Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Hak Asasi Manusia, Ma mun, Bc.IP, S.H., M.H. NIP Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi ix

11

12 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas diselesaikannya Laporan Kajian tentang Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi. Laporan ini merupakan hasil kegiatan kajian oleh tim yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM Nomor PPH- 28.UM Tahun 2017 tentang Tim Pelaksana Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi. Tim Kajian telah melakukan kegiatan pengumpulan data lapangan sejak bulan April sampai dengan Mei Rangkaian kajian diawali dengan penyusunan riset desain, presentasi awal, penyusunan instrumen, pengumpulan data awal, penyusunan instrumen, pengumpulan data awal, tabulasi data, dan penyusunan laporan akhir. Kegiatan pengambilan data dilakukan di Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM DKI Jakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Utara, dan Jawa Barat. Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi xi

13 Akhirnya, kami sangat berharap Laporan Hasil Kajian ini dapat bermanfaat dan menjadi referensi semua pihak yang membutuhkannya, terutama bagi jajaran pimpinan di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, dalam hal ini Sekretaris Jenderal, Inspektur Jenderal dan UPP Pusat maupun Kanwil dalam mengambil langkah-langkah kebijakan strategis terkait dengan Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi. Jakarta, Oktober 2017 Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Drs. Yasmon, M.L.S. NIP xii Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

14 DAFTAR ISI KATA SAMBUTAN... vii KATA PENGANTAR... xi ABSTRAK... v DAFTAR ISI... xiii DAFTAR TABEL... xvi DAFTAR GAMBAR... xvii BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Rumusan Masalah... 9 C. Maksud dan Tujuan D. Ruang lingkup E. Definisi Oprerasional F. Metodologi G. Kerangka Pikir H. Biaya Pelaksanaan I. Keanggotaan Tim J. Jadwal Pelaksanaan BAB II UPAYA PENANGGULANGAN KEJAHATAN PUNGLI A. Upaya Pencegahan Kejahatan (Preventif) B. Upaya Penanggulangan Kejahatan (Represif) Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi xiii

15 C. Pungutan Liar Sejarah Pungli Pungli di Indonesia Pengertian Pungli Pungli dalam KUHP Pungli dalam Undang-Undang Nomor.31 tahun 1999 Jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi BAB III PERAN UNIT PEMBERANTASAN PUNGLI KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA UNTUK MENDORONG AKUNTABILITAS DAN INTEGRITAS PEGAWAI DALAM PELAKSANAAN TUGAS DAN FUNGSI A. Peran Unit Pemberantasan Pungli dalam Pelaksanaan Program Sapu Bersih Pungutan Liar di Kementerian Hukum dan HAM Struktur Organisasi UPP Kanwil Pelaksanaan Tugas dan Fungsi UPP Kantor Wilayah a. Pelaksanaan fungsi Pencegahan b. Pelaksanaan fungsi Penindakan c. Pelaksanaan fungsi Yustisi Efektifitas UPP Kantor Wilayah xiv Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

16 B. Faktor Penghambat UPP dalam pelaksanaan pemberantasan pungli di lingkungan Kemenkumham Komposisi Personil dalam Struktur Organisasi Mekanisme Kerja Program Kerja Anggaran Kesadaran Masyarakat C. Peran UPP Dalam Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai Dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan B. Rekomendasi DAFTAR PUSTAKA Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi xv

17 DAFTAR TABEL Tabel 1. Pelaksanaan Tugas dan Fungsi yang Rawan Terjadi Pungutan Liar di Kementerian Hukum dan HAM... 7 Tabel 2. Hubungan Antar Variabel Tabel 3. Rentang Skala Likert Tabel 4. Pedoman untuk Memberikan Interprestasi Koefisien Korelasi Tabel 5. Pembentukan UPP Pusat dan Kanwil Tabel 6. Peran UPP dengan Kedisiplinan Tabel 7. Peran UPP dengan Kejujuran Tabel 8. Peran UPP dengan Kemandirian Tabel 9. Peran UPP dengan Tanggung Jawab Keuangan Tabel 10. Peran UPP dengan Tanggung Jawab Administrasi xvi Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

18 DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Alur Hubungan antara Peran UPP dan Akuntabilitas dan Integritas Gambar 2. Struktur Organisasi Unit Pemberantasan Pungutan Liar di Lingkungan Kementerian Hukum dan HAM Gambar 3. Struktur Organisasi Unit Pemberantasan Pungutan Liar Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Gambar 4. Komposisi Keanggotaan Tim UPP di Kanwil Kemenkumham Gambar 5. Efektifitas UPP Menanggulangi Pungli Gambar 6. Takut Melakukan Pungli setelah ada UPP di Kemenkumham Gambar 7. Tanggapan Responden Pengguna Unit Layanan Terhadap Petugas Unit Layanan Gambar 8. Integritas Pegawai Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi xvii

19

20 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tingginya tingkat ketidakpastian pelayanan sebagai akibat adanya prosedur pelayanan yang panjang dan melelahkan menjadi penyebab dari semakin banyaknya masyarakat yang menyerah ketika berhadapan dengan pelayanan publik. Hal ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan masyarakat cenderung semakin toleran terhadap praktik pungutan liar dalam penyelenggaraan pelayanan publik. 1 Pungutan liar (Pungli) juga termasuk dalam kategori kejahatan jabatan, Dalam rumusan korupsi pada Pasal 12 huruf e Undang-undang Nomor. 20 Tahun 2001 berasal dari Pasal 423 KUHP yang dirujuk dalam Pasal 12 UU Nomor.31 Tahun 1999 sebagai tindak pidana korupsi, yang kemudian dirumuskan ulang pada Undangundang Nomor 20 Tahun 2001 (Tindak Pidana Korupsi), menjelaskan definisi pungutan liar adalah suatu perbuatan yang dilakukan pegawai negeri atau penyelenggara yang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, atau dengan menyalahgunakan kekuasaannya memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar, atau menerima pembayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri. 1 BPKP. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Korupsi pada Pengelolaan Pelayanan Masyarakat. Jakarta: Tim Pengkajian SPKN RI Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 1

21 Istilah lain yang dipergunakan oleh masyarakat mengenai pungutan liar atau pungli adalah uang sogokan, uang pelicin, salam tempel dan lain-lain. Pungli pada hakekatnya adalah interaksi antara petugas dengan masyarakat yang didorong oleh berbagai kepentingan pribadi. 2 Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang melakukan pungli, yaitu: 1. Penyalahgunaan wewenang. Jabatan atau kewenangan seseorang dapat melakukan pelanggaran disiplin oleh oknum yang melakukan pungutan liar. 2. Faktor mental. Karakter atau kelakuan dari pada seseorang dalam bertindak dan mengontrol dirinya sendiri. 3. Faktor ekonomi. Penghasilan yang bisa dikatakan tidak mencukupi kebutuhan hidup tidak sebanding dengan tugas/jabatan yang diemban membuat seseorang terdorong untuk melakukan pungli. 4. Faktor kultural & Prilaku Organisasi. Prilaku pungli yang ter - bentuk di suatu lembaga yang berjalan terus menerus menyebabkan pungli dan penyuapan menjadi hal biasa. 5. Terbatasnya sumber daya manusia. 6. Lemahnya sistem kontrol dan pengawasan oleh atasan, membiarkan karena menjadi salah satu mata rantainya. Banyaknya alasan yang menyebabkan terjadinya pungli, seperti yang dijelaskan diatas tapi hanya satu alasan mengapa dibentuk Satgas Saber Pungli, semua karena institusi pengawasan yang sudah ada saat ini belum berfungsi sebagaimana mestinya. 2 Soedjono, Dirdjosisworo. Pungli: Analisa Hukum & Kriminologi, cetakan ke-2. Bandung: Sinar Baru hal 15 2 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

22 Untuk mengatasi permasalahan pungli tersebut dengan menimbang bahwa praktik pungutan liar telah merusak sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga perlu upaya pemberantasan secara tegas, terpadu, efektif, efisien, dan mampu menimbulkan efek jera. Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2016 Tentang Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar. Dengan Peraturan Presiden ini dibentuk Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar yang selanjutnya disebut Satgas Saber Pungli. Satgas Saber Pungli sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Pasal 2 Satgas Saber Pungli mempunyai tugas melaksanakan pemberantasan pungutan liar secara efektif dan efisien dengan mengoptimalkan pemanfaatan personil, satuan kerja, dan sarana prasarana, baik yang berada di kementerian/lembaga maupun pemerintah daerah. Kementerian/lembaga dan pemerintah daerah melaksanakan pemberantasan pungutan liar di lingkungan kerja masing-masing. Dalam melaksanakan pemberantasan pungutan liar, kementerian/ lembaga dan pemerintah daerah membentuk unit pemberantasan pungutan liar. Unit pemberantasan pungutan liar berada pada satuan pengawas internal atau unit kerja lain di lingkungan kerja masing-masing. Unit pemberantasan pungutan liar yang berada pada masing-masing kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, dalam melaksanakan tugasnya berkoordinasi dengan Satgas Saber Pungli. Hingga saat ini Tim Satgas UPP Nasional sejak terbentuk sembilan bulan lalu telah menerima laporan masyarakat. Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 3

23 Rinciannya, melalui pesan singkat (SMS), via sebanyak laporan, via website ada laporan, melalui call centre 193 ada laporan, surat 518 laporan dan terakhir melalui pengaduan langsung sebanyak 94. Pengaduan terbanyak berasal dari sektor pelayanan masyarakat yang mencapai 36 persen. Selanjutnya laporan pungli di bidang hukum (26 %), pendidikan (18 %), perizinan (12 persen) dan kepegawaian (8 persen). Satgas dan UPP saber pungli telah berhasil melakukan operasi tangkap tangan (OTT) sebanyak 917 kegiatan dengan jumlah tersangka mencapai orang dari berbagai instansi dan lembaga. Sedangkan barang bukti uang yang disita mencapai Rp Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) 4 untuk menindak lanjuti peraturan presiden tersebut melalui Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia pada tanggal 13 Oktober 2016 mengeluarkan keputusan Nomor M.HH- 04.PW Tahun 2016 Tentang Tim Pemantau Pemberantasan Pungutan Liar Di Lingkungan Kementerian Hukum dan HAM. Kemudian dalam pelaksanaan pemberantasan Pungli di Lingkungan Kemenkumham, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia pada tanggal 2 November 2016 mengeluarkan keputusan Nomor M.HH-06.PW Tahun 2016 Tentang Unit Pemberantasan Pungutan Liar di Lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Dalam melaksanakan tugas Unit Pemberantasan Pungutan liar di lingkungan Kemenkumham menyelenggarakan fungsi : Pencegahan, Penindakan 3 Berdasar data yang disampaikan Sesmenkopolhukam Letjen Yoedhi Swastono pada Workshop Nasional Saber Pungli yang diikuti oleh semua tim UPP kementerian dan lembaga (K/L) Rabu (2/8) di Hotel Mercure Convention Ancol, 4 Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, selanjutnya dalam kajian ini di sebut dengan Kemenkumham. 4 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

24 dan Yustisi. Dalam melaksanakan tugas UPP Kemenkumham mempunyai wewenang sebagai berikut 5 : a. Membangun sistem pencegahan dan pemberantasan pungli b. Melakukan pengumpulan data dan informasi dari kementerian/ lembaga dan pihak lainnya yang terkait dengan pengunaan teknologi informasi; c. Mengkoordinasikan, merencanakan, dan melaksanakan operasi pemberantasan pungli; d. Melaksanakan operasi tangkap tangan; e. Memberikan rekomendasi kepada Menteri Hukum dan HAM serta Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM, untuk memberikan sanksi kepada pelaku pungli sesuai ketentuan peraturan perundangan undangan f. Memberikan rekomendasi pembentukan dan pelaksanaan tugas unit pemberantasan pungutan liar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan g. Melaksanakan evaluasi kegiatan pemberantasan pungli Pemberantasan pungli merupakan salah satu upaya strategis bagi Kemenkumham dalam rangka meningkatkan percepatan, keakuratan penanganan, dan penyelesaian pungli. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat (public trust) terhadap Kemenkumham. Pemberantasan, pengawasan, dan penanganan pungli di lingkungan Kemenkumham dirasakan sangat sulit, karena Kemenkumham adalah salah satu kementerian yang memiliki Kantor Wilayah (Kanwil) di ibu kota Propinsi dan memiliki Unit Pelaksanan Teknis (UPT) di tingkat kabupaten/kota 5 Keputusan Nomor M.HH-06.PW Tahun 2016 Tentang Unit Pemberantasan Pungutan Liar di Lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Butir ke Empat Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 5

25 yang keseluruhannya memiliki tugas dan fungsi pelayanan publik. Sampai saat ini Kemenkumham memiliki : 1081 satuan kerja terdiri dari 11 Unit Esselon 1, 34 Kantor Wilayah (Kanwil), 269 Lembaga Pemasyarakatan (lapas), 162 Rumah Tahanan Negara (Rutan), 59 Cabang Rutan (Cabrut), 33 Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), 4 Lembaga Penempatan Anak Sementara (LPAS), 63 Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan), 71 Balai Pemasyarakatan (Bapas), 5 Kantor Kurator Negara dan Balai Harta Peninggalan, 1 Rumah Sakit Pengayoman. 125 Kantor Imigrasi 13 Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim), 19 Perwakilan RI di Luar Negeri, 79 Pos Lintas Batas, 130 Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI), 1 Pusdatin, 1 Poltekip, dan 1 Poltekim, dengan Pegawai Pusat dan Pegawai Kanwil dan UPT Dari 1081 satuan kerja di Kemenkumham, Unit Pemasyarakatan dan unit layanan Keimigrasian yang sering menjadi pemberitaan hangat media televisi maupun media cetak, menurut data dari UPP Kemenkumham, layanan Administrasi dan layanan fasilitatif maupun layanan publik patut diduga dapat juga terjadi pungli, walaupun sebagian layanan yang ada di lingkungan Kemenkumham sebagian sudah melalui sistem online. Berikut adalah peta titik rawan pungli yang sudah di petakan oleh UPP Kemenkumham. 6 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

26 Tabel 1. Pelaksanaan Tugas dan Fungsi yang Rawan terjadi Pungutan Liar di Lingkungan Kementerian Hukum dan HAM 67 BIDANG ADMINISTRATIF DAN FASILITATIF BIDANG PELAYANAN PUBLIK Peneriman CPNS Layanan Pembebasan bersyarat bagi warga Binaan Pemasyarakatan Pengadaan Barang dan Jasa Layanan Pemberian remisi bagi Warga Binaan Pemasyarakatan Kenaikan Pangkat Layanan Cuti Bersyarat bagi Warga Binaan pemasyarakatan Kenaikan Jabatan Promosi dan Mutasi Layanan Cuti Mengunjungi keluarga Diklat Layanan Kunjungan bagi warga Binaan Pelaksanan Tugas Pengawasan oleh APIP (Audit, Evaluasi, Reviu, Loket layanan Kekayaan Intelektual Pendamping dan pengawas lainnya) Penyalagunaan wewenang yang berujung pungli di lingkungan Peroses permohonan, pemeriksaan, sertifikasi: Merek, Paten dan Inspektorat Jenderal di luar tugas pengawasan. Hak Cipta Pengharmonisasian Peraturan Perundang-Undangan Pelayanan Badan Hukum Pengundangan Peraturan Kementerian/Lembaga Pelayanan Kenoktariatan Pembinaan Kepegawaian Pelayanan Kewarganegaraan Pembinaan Perancang Pelayanan Pewarganegaraan Pemberian Bantuan Hukum oleh Pemberi Bantuan Hukum (OBH) Pelayanan Harta Peninggalan Wasiat dan Pailit kepada penerima Bantuan Hukum (orang miskin) Pelayanan Jaminan Fidusia Pelayanan Badan Hukum Partai Politik Pelayanan Legislasi Pelayanan Penerjemah Bersumpah Pelayanan penyidik Pegawai Negeri Sipil Pembayaran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) untuk layanan Jasa Hukum Pelayanan pada loket pelayanan terpadu Ditjen AHU Pengurusan dan Perpanjangan Paspor 7 (Data Berdasarkan: Peta Titik Rawan Pungli UPP Kemenkumham Tahun 2017 ) 6 Pemetaan Titik Rawan Pungli UPP Kemenkumham: Fuska Sani Evani/PCN: diakses 27 Maret Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 7

27 Dalam pelaksanaannya, UPP terdiri dari: UUP Pusat dan Satgas Saber Pungli Kanwil dan UPT. Satgas Saber Pungli Kanwil adalah perpanjangan dari UPP Pusat yang telah dibentuk di Kemenkumham, dan berfungsi untuk melakukan pengawasan dan inspeksi mendadak terhadap seluruh pelayanan yang ada di lingkungan Kemenkumham, dan selanjutnya melaporkan hasil pengawasan dan sidak tersebut ke Menteri Hukum dan HAM. Tim UPP beranggota sebanyak 33 orang dan Kakanwil selaku penanggung jawab ditingkat wilayah yang terdiri dari tiga Pokja, yaitu Pokja unit pencegahan, Pokja unit Penindakan, dan Pokja unit Yustisi. Dalam pelaksanaanya UPP di pantau oleh tim Pemantau Pungli yang terdiri dari para pejabat esslon 1 di lingkungan Kemenkumham. Pemberantasan pungli sebenarnya bukan suatu hal baru melalui reformasi birokrasi yang secara sistematis terus melakukan berbagai upaya membangun tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih (good governance and clean government). Salah satu upaya itu dilakukan dengan membangun zona integritas (ZI) menuju wilayah bebas dari korupsi (WBK) dan wilayah birokrasi bersih melayani (WBBM). Hal ini tentu saja bertujuan untuk membangun unit layanan yang baik serta Aparatur Sipil yang akuntabel dan berintegritas tinggi. Secanggih apapun sistem pemerintahan, namun jika sumber daya manusia (SDM) tidak memiliki integritas, maka praktek pungli akan tetap ada. Dibentuknya UPP dan Satgas Saber Pungli di Kemenkumham bertujuan untuk menjaga kesadaran pegawai dengan terus menjaga nilai-nilai integritas dan akuntabilitas. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya pungli adalah Akuntabilitas dan Integritas pegawai. Nilai akuntabilitas atau accountable merupakan konsep yang berkenaan dengan standar eksternal yang menentukan kebenaran suatu tindakan oleh 8 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

28 birokrasi publik. Karenanya akuntabilitas ini disebut tanggungjawab yang bersifat objektif, sebab birokrasi dikatakan accountable bilamana dinilai baik oleh pengguna layanan/ masyarakat dan dapat mempertanggungjawabkan segala macam perbuatan, kepada pihak kekuasaan dimana kewenangan yang dimiliki itu berasal 8. Sedangkan nilai Integritas adalah kunci utama untuk memberantas pungli. Karakter integritas pada dasarnya meliputi kejujuran, kemandirian, dan kedisiplinan. Karakter-karakter inilah yang harus dimiliki agar seseorang dapat bebas dari pungli dan korupsi. Tanpa adanya integritas dalam diri seseorang, hampir mustahil pungli dapat diberantas. Sesempurna apapun sebuah sistem akan menjadi sistem yang korup apabila dijalankan oleh orang-orang yang tidak berintegritas. Oleh karena itu, aspek integritas dalam organisasi sektor publik harus menjadi perhatian utama sehingga dapat menghasilkan organisasi publik yang bebas dari praktek korups1. 9 Melalui kajian ini maka penting untuk mengetahui apakah peran UPP mampu untuk mendorong integritas dan akuntabilitas dalam pelaksanaan tugas dan fungsi pegawai di lingkungan Kemenkumham. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka yang menjadi pertanyaan mendasar dalam kajian ini adalah: 8 I wayan sudana: Mewujudkan Birokrasi yang Mengedepankan Etika Pelayanan Publik : Ardeno Kurniawan, S.E., M.Acc, Ak.: Fraud di Sektor Publik dan Integritas Nasional: paraikatte/26_paraikatte_edisi_26_1_web.pdf diakses 1 Maret 2017 Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 9

29 1. Bagaimana peran UPP dalam melaksanakan program pemerintah untuk melaksanakan sapu bersih pungutan liar di lingkungan Kemenkumham? 2. Apa saja yang menjadi penghambat yang dialami UPP dalam pelaksanaan pemberantasan pungli di lingkungan Kemenkumham? 3. Apakah peran UPP dapat mendorong akuntabilitas dan integritas pegawai dalam pelaksanaan tugas dan fungsi? C. Maksud dan Tujuan Berdasarkan pertanyaan kajian di atas, maka maksud dari kajian ini adalah untuk melihat sejauhmana UPP dapat berperan memberantas pungli dalam rangka untuk mendorong akuntabilitas dan integritas pelaksanaan tugas dan fungsi pegawai di lingkungan Kemenkumham. Dengan tujuan: 1. Untuk menganalisis peran UPP dalam melaksanakan program pemerintah tentang sapu bersih pungutan liar di lingkungan Kemenkumham. 2. Untuk menganalisis faktor penghambat yang di alami oleh UPP dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan pungli di lingkungan Kemenkumham. 3. Untuk menganalisis apakah dengan terbentuknya UPP dapat memberikan motivasi untuk mendorong peningkatan akuntabilitas dan integritas Pegawai dalam pelaksanaan tugas dan fungsi. 10 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

30 D. Ruang lingkup Kajian ini akan membatasi pada peran UPP dalam pencegahan, penindakan dan yustisi terhadap tindakan pungli yang dilakukan oleh pegawai Kemenkumham, serta mencari hubungan apakah dengan terbentuknya UPP Kemenkumham mempunyai korelasi terhadap Akuntabilitas dan Integritas pegawai dalam pelaksanaan tugas dan fungsi layanan di lingkungan Kemenkumham. E. Definisi Operasional 1. Peran adalah aspek dinamis dari kedudukan atau status. Menurut Kozier Barbara peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem. Peran dalam kajian ini lebih diartikan sebagai kedudukan/posisi dari Unit Pemberantasan Pungli (UPP) dalam fungsi pencegahan, penindakan dan yustisi terhadap pungutan liar yang ada di Kemenkumham. 10 yang pada akhirnya diharapkan dapat menciptakan pegawai yang angkuntabel dan berintegritas tinggi. 2. Unit Pemberantasan Pungli (UPP) adalah salah satu unit yang di bentuk dengan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor M.HH-06.PW Tahun Unit Pemberantasan Pungli atau disingkat dengan UPP yang berkedudukan di Kementerian Hukum dan HAM mempunyai tugas melaksanakan pemberantasan pungutan liar secara efektif dan efisien dengan mengoptimalkan pemanfaatan personil, 10 Dewi; di akses Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 11

31 satuan kerja, dan sarana prasarana di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM. 3. Kementerian Hukum dan HAM adalah Kementerian dalam Pemerintahan Indonesia yang membidangi urusan hukum dan HAM yang bertanggung jawab kepada Presiden. Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang hukum dan hak asasi manusia dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara 4. Pegawai adalah pegawai dalam kajian ini adalah orang yang bekerja pada institusi pemerintah mendapatkan hak-hak sebagai pegawai negeri sipil, dan mempunyai kewajiban yang harus dijalankan sesuai tugas serta fungsi dalam jabatan yang di emban. Pegawai dalam kajian ini adalah PNS yang ada dilingkungan Kemenkumham. 5. Pungli adalah berasal dari frasa pungutan liar yang secara etimologis dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang memungut bayaran/meminta uang secara paksa. Pengertian pungutan dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah bea, iuran, kutipan, pajak, saweran, tarif yang wajib dibayarkan yang dilakukan oleh yang berwenang, dan pengertian liar dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah tidak teratur, tidak tertata. Secara umum pengertian pungutan liar adalah kegiatan meminta sejumlah uang atau barang yang dilakukan dengan tidak tertata, tidak berijin resmi dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi. 11 Maka yang membedakan sebuah pungutan masuk kategori liar dan tidak liar. Kalau merujuk pada aturan hukum yang Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

32 berlaku, maka setiap pungutan yang ada dasar hukumnya (resmi ditetapkan pemerintah) bukanlah masuk pungutan liar. Sebaliknya, pungutan yang tidak berdasar aturan yang jelas dan diindikasikan hanya menguntungkan oknum-oknum tertentu, barulah dikategorikan pungutan liar. Jadi pungutan yang melebihi ketentuan yang berlaku juga masuk kategori pungutan liar tersebut 12. Pada kajian ini Pungli diartikan sebagai perbuatan yang dilakukan oleh pegawai negeri, pejabat negara atau petugas layanan dengan cara meminta/memungut pembayaran sejumlah uang, yang tidak sesuai atau tidak berdasarkan peraturan yang berkaitan dengan pelayanan yang diberikan. 6. Integritas adalah suatu konsep yang menunjuk konsistensi antara tindakan dengan nilai dan prinsip. Dalam etika, integritas diartikan sebagai kejujuran, kemandirian, kedisiplinan dari tindakan seseorang. Lawan dari integritas adalah hipocrisy (hipokrit atau munafik). Seorang dikatakan mempunyai integritas apabila tindakannya sesuai dengan nilai, keyakinan, dan prinsip yang kebenaran. 13 Akuntabilitas adalah suatu wujud tanggung jawab sebagai pelayanan publik kepada masyarakat dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat itu sendiri 14. Akuntabilitas merupakan konsep yang komplek yang lebih sulit diwujudkan dari pada memberantas korupsi. 15. Akuntabilitas adalah pertanggungjawaban dari seseorang 12 Anhar Ada Widodo: Harian joglo Semar 18 juni Menghilangkan budaya pungli diakses 14 Agustus Wikipedia 14 Rasul, Syahrudin. Pengintegrasian Sistem Akuntabilitas Kinerja dan Anggaran dalam Perspektif UU NO. 17/2003 Tentang Keuangan Negara. Jakarta: PNRI Turner, Mark and Hulme, David, Governance, Administrasi, and Development: Making The State Work. London: MacMillan Press Ltd Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 13

33 atau sekelompok orang yang diberi amanat untuk menjalankan tugas tertentu kepada pihak pemberi amanat baik secara vertikal maupun secara horizontal. Dalam kajian ini akuntabilitas diartikan sebagai tanggung jawab pegawai kepada Unit kerja dalam penyelesaian pekerjaan, dan dapat juga diartikan sebagai pertanggungjawaban pegawai terhadap dana/biaya yang telah dikeluarkan oleh organisasi terhadap pekerjaan yang diberikan. F. Metodologi Bentuk Sesuai dengan tujuan, bentuk kajian ini dikategorikan sebagai kajian evaluasi. Karena kajian ini akan menyajikan data dan informasi secara akurat dan objektif yang terkait pembentukan UPP di Kemenkumham, berdasarkan kriteria yang ditetapkan. Keakurasian dan objektivitas informasi yang diperoleh selanjutnya diharapkan akan dapat menggambarkan nilai atau tingkat keberhasilan suatu program (UPP) yang sudah berjalan, sehingga berguna untuk mengurai kendala-kendala yang di hadapi pada tataran pelaksanaan dilapangan. Pemberantasan, Pencegahan dan Yustisi kemudian pembentukan UPP ini apakah mempunyai korelasi dengan akuntabilitas dan integritas pegawai terutama di unit-unit layanan di lingkungan Kemenkumham. Sifat Kajian ini bersifat deskriptif korelasional yang bertujuan untuk menggambarkan peran serta mekanisme kerja UPP Pusat, satgas saber pungli Kanwil dan satgas saber pungli UPT Dalam melakukan pemberantasan Pungli di lingkungan Kemenkumham dan capaian keberhasilannya. Dari peran unit tersebut kajian ini akan 14 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

34 mendeskrifsikan hubungan peran UPP, satgas saber pungli Kanwil dan UPT untuk mendorong akuntabilitas dan Integritas pegawai dalam pelaksanaan tugas dan fungsi sebagai pelayan publik. Pendekatan Pendekatan yang digunakan dalam kajian ini adalah pendekatan kuantitatif dan di dukung dengan pendekatan kualitatif (mix method). Pendekatan kuantitatif digunakan untuk menangani datadata (angka) yang berguna untuk mengukur tingkat kecenderungan dari jawaban responden yang terkait dengan pokok permasalahan. Sedangkan pendekatan kualitatif berguna untuk memaksimalkan semua informasi yang terkait dengan pokok permasalahan guna mendapatkan data yang lebih mendalam dan komprehensif. Jenis dan Sumber Data Data yang akan dikumpulkan terdiri dari data primer (field research) yang didapat dari data empiris berupa data kualitatif dan data kuantitatif yang dikumpulkan dari setiap subjek data, dalam hal ini responden/unit studi terdiri dari anggota satgas saber pungli, petugas layanan dan masyarakat pengguna layanan. Lokasi kajian Lokasi yang dipilih berdasarkan keterwakilan wilayah Barat, Tengah dan Timur Indonesia ditetapkan secara purposive sampling terdiri dari DKI. Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Utara, Bali, dan Nusa Tengara Barat. Sebagai sampel kajian di pilih Kantor Wilayah Kemenkumham, Kantor Imigrasi dan Lembaga Pemasyarakatan. Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 15

35 Populasi dan jenis responden Populasi kajian terdiri dari 34 Kanwil Kemenkumham dengan pemilihan mengunakan purposive sampling (pemilihan sampel secara sengaja) dengan memperhatikan keterwakilan wilayah Barat, Tengah dan Timur Indonesia. Responden 190 orang yang terdiri dari: 79 Orang dari Pengguna Unit layanan yang terdiri dari pemohon paspor di kantor imigrasi, warga binaan pemasyarakatan dan pengunjung warga binaan pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan. 54 orang Petugas Unit layanan imigrasi dan Lembaga Pemasyarakatan. 57 orang tim UPP kanwil dan satgas saber pungli UPT. Metode Pengumpulan data Teknik pengumpulan data merupakan suatu hal yang penting dalam suatu kajian, yang bertujuan untuk mendapatkan data yang diperlukan. Pengumpulan data dalam kajian ini terdiri dari dua jenis data yaitu : data peran UPP dan data hubungan korelasional antara peran UPP dan unit kerja turunannya yang terdiri dari Satgas saber pungli kanwil dan satgas saber pungli UPT dalam mendorong akuntabilitas dan integritas pegawai dalam pelaksanaan tugas dan fungsi. 1. Peran UPP, satgas saber Pungli/UPT Peran tersebut terdiri dari peran pencegahan, penindakan dan yustisi. Yustisi lebih kami artikan sebagai tindakan hukuman yang diberikan oleh pimpinan yang diberi kewenangan memberi hukuman sesuai aturan, kepada petugas yang terbukti melakukan tindakan pungli di lingkungan Kemenkumham. Dalam melaksanakan peran tersebut satgas saber pungli kanwil/upt melaksanakan fungsi tersebut di wilayah kerja masing masing. UPP pusat melakukan pemantauan yang 16 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

36 kami persamakan dengan pengawasan pungli yang ada di lingkungan Kemenkumham. 2. Hubungan antara peran UPP dan unit turunannya dalam mendorong akuntabilitas dan integritas pegawai dalam pelaksanaan tugas dan fungsi. Peran UPP dan satgas saber Pungli kanwil/upt akan dilihat dalam perspektif sebab dari meningkatnya/tidak ada perubahan/menurunnya akuntabilitas dan Integritas pegawai dalam melaksanakan pelayanan di lingkungan Kemenkumham. Unit layanan akan di lihat dari layanan publik dan layanan administratif. Metode pengumpulan data dengan mengunakan kuesioner berisi daftar pertanyaan secara tertulis yang ditujukan kepada subjek/responden baik yang tertutup (berstruktur) maupun yang terbuka (tidak berstruktur). Responden yang kami pilih terdiri atas responden unit kanwil dan UPT. Unit kanwil dan UPT tersebut kami bagi berdasarkan tugas sebagai satgas saber pungli dan petugas unit layanan. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada kuesioner kami bagi berdasarkan jenis pekerjaan antara satgas saber pungli dan Petugas layanan di UPT dan Kanwil. Variabel Kajian Kajian ini akan membahas dua varibel yang terdiri dari, variabel bebas (independen) dan variabel terikat (dependen). Variabel indevenden adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi penyebab perubahan atau timbulnya variabel terikat. Sedangkan variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau variabel yang menjadi akibat, karena adanya variabel independen. Dalam kajian ini yang menjadi varibel independen (X) adalah UPP Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 17

37 dan satgas saber pungli kanwil/upt, sedangkan variabel dependen adalah akuntabilitas dan integritas pegawai (Y) Y X Peran UPP (X) Kejujuran (Y1) Tabel 2. Hubungan Antar Variabel 16 Kemandirian (Y2) Integritas dan akuntabilitas (Y) Kedisiplinan (Y3) Tanggung Jawab Keuangan (Y4) Tanggung Jawab Adm (Y5) (XY)1 (XY)2 (XY)3 (XY)4 (XY)5 Keterangan: Peran UPP : Pencegahan, Penindakan, Yustisi, Pemantauan/Pengawasan Akuntabilitas : Tanggung Jawab Keuangan, tanggung jawab Administrasi; Integritas : Kejujuran, Kemandirian, Kedisiplinan Metode Analisa Data Keberhasilan dari penelitian/kajian ditentukan dari instrumen yang digunakan, sebab data yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitian diperoleh melalui instrumen penelitian. Adapun instrumen yang dipergunakan dalam kajian ini berfungsi sebagai alat pengumpul data berupa questioner yang berisikan pertanyaan-pertanyan tertutup yang didukung dengan pertanyaan terbuka. Data yang terkumpul sebelumnya dilakukan pengkodingan terlebih dahulu kemudian dipilah menjadi dua jenis data, yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif didapat dari pertanyaan tertutup terstruktur, data ini berguna untuk mengukur tingkat kecenderungan dari jawaban-jawaban responden. 16 Sugiyono. Metode Penelitian Kunatitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

38 1. Untuk mengukur peran UPP pada pertanyaan 1 (satu) dan kendala- kendala yang di hadapi pada pertanyaan 2 (dua), dengan pentabulasian melalui sistem tally, dari sistem ini akan terkumpul data kuantitatif yang diperoleh dari data tertutup untuk melihat kecenderungan dari jawaban responden, kemudian data kualitatif untuk melihat alasan responden dan kendala-kendala pelaksanaan pemberantasan pungli di lingkungan Kemenkumham, di dapat dari pertanyaan terbuka. 2. Menjawab pertanyaan ketiga, hubungan UPP untuk meningkatkan akuntabilitas dan Integritas dengan menggunakan skala likert. Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi pegawai terhadap peran UPP/Satgas saber pungli yang ada di lingkungan Kemenkumham. Dengan skala likert maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator. Kemudian indikator tersebut dijadikan titik tolak untuk menyusun item-item yang dapat berupa pertanyaanpertanyaan. Untuk menguji derajat hubungan/korelasi antara variabel (X) peran UPP dengan variabel (Y) Akuntabilitas dan Integritas pada kajian ini dengan menggunakan teknik pearson product moment correlation. Alasan peneliti menggunakan teknik ini karena data yang diperoleh merupakan data interval yang diperoleh dari instrumen dengan mengunakan skala likert. Untuk menghitung tingkat hubungan korelasi menggunakan IMB SPSS Statistics verson 24 dengan analyze correlate bivariate. Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 19

39 Mengidentifikasi tinggi rendahnya hubungan antar variabel atau memberikan interpretasi tingkat hubungan digunakan tabel kriteria pedoman koefisien korelasi 17 Tabel 3. Rentang Skala Likert Peryataan Sikap Sangat Setuju Setuju Raguragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Positif Negatif Sumber : Saodih : 2007 : 240z Tabel 4. Pedoman untuk memberikan Interprestasi Koefisien Korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan 0,00 0,199 Sangat Rendah 0,20-0,399 Rendah 0,40-0,599 Sedang 0,60 0,799 Kuat 0,80 1,000 Sangat Kuat Sumber : Sugiono : 2008 : 257 Untuk melakukan interpretasi kekuatan hubungan kedua variabel tersebut, dilakukan dengan melihat angka koefisien korelasi hasil perhitungan dengan menggunakan kriteria sebagai berikut: 17 Ibid. hal Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

40 Jika angka koefisien korelasi menunjukkan 0, maka kedua variabel tidak mempunyai hubungan Jika angka koefisien korelasi mendekati 1, maka kedua variabel mempunyai hubungan semakin kuat Jika angka koefisien korelasi mendekati 0, maka kedua variabel mempunyai hubungan semakin lemah Jika angka koefisien korelasi sama dengan 1, maka kedua variabel mempunyai hubungan linier sempurna positif. Jika angka koefisien korelasi sama dengan -1, maka kedua variabel mempunyai hubungan linier sempurna negatif. G. Kerangka Pikir Penjelasan mengenai Peran Unit Pemberantasan Pungutan liar Kemenkumham untuk mendorong akuntabilitas dan integritas pegawai dalam pelaksanaan tugas dan fungsi dapat dilihat secara singkat melalui kerangka pemikiran. Kerangka pemikiran yang dibuat berupa gambar skema untuk lebih menjelaskan mengenai hubungan antara variabel independen, variabel dependen. Pada gambar 1 terllihat bahwa peran UPP sebagai unit pencegahan, penindakan, yustisi dan pemantauan/pengawasan di Kemenkumham diharapkan dapat berefek pada meningkatnya akuntabilitas dan integritas pegawai untuk mendorong tugas dan fungsi pegawai yang berakhir pada layanan prima. Hubungan antara Peran UPP dengan akuntabilitas dan Integritas untuk menjalankan tugas dan fungsi pegawai untuk mencapai pelayanan prima dapat terlihat pada alur di bawah ini: Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 21

41 Gambar 1. Alur Hubungan antara Peran UPP dengan Akuntabilitas dan Integritas Peran UPP Akuntabilitas - Tanggungjawab TUGAS - Pencegahan - Penindakan - Yustisi - Pemantauan Integritas - Kejujuran - Kemandirian - Kedisiplinan LAYANAN PRIMA FUNGSI X H1 Y Keterangan: H1: X berpengaruh terhadap Y Hipotesa: H1 : H0 : Ada hubungan Peran UPP Kemenkumham dengan peningkatan Akuntabilitas dan Integritas pegawai dalam pelaksanaan tugas dan fungsi. Tidak ada Peran UPP Kemenkumham dengan peningkatan Akuntabilitas dan Integritas pegawai dalam pelaksanaan tugas dan fungsi. 22 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

42 H. Biaya Pelaksanaan Biaya dalam kegiatan pengkajian ini dibebankan pada Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM Tahun Anggaran I. Keanggotaan Tim Kajian Ini dilaksanakan dengan susunan keanggotaan ber dasarkan Surat Keputusan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM Nomor PHH 253. UM tahun 2017 tentang Tim Pelaksanaan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Peran Unit Pemberantasan Pungutan Liar Kementerian Hukum dan HAM untuk mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas Pokok dan Fungsi, dengan keanggotaan sebagai berikut: Pengarah : Ma mun, Bc.IP., S.H., M.H. Penangung Jawab : Drs. Yasmon, M.L.S. Ketua Tim : Nizar Apriansyah, S.E.,M.H. Sekretaris : Maryati, S.Pd.,M.Si. Anggota : 1. Edward James Sinaga, S.Si.,M.H. 2. Insan Firdaus, S.H.,M.H. 3. Antonio Rajoli Ginting, S.H. 4. Rr. Susana A.M, S.Sos.,M.AP. 5. Haryono, S.Sos.,M.H. 6. Trisapto Wahyu A. Nugroho,S.S.,M.Si. Sekretariat : 1. Drs. Halasan Pardede 2. Benyamin Ginting, S.H Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 23

43 J. Jadwal Pelaksanaan Pengkajian ini dilaksanakan selama enam bulan terhitung sejak tanggal ditetapkan yakni 7 Februari sampai dengan Juli Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

44 BAB II UPAYA PENANGGULANGAN KEJAHATAN PUNGLI A. Upaya Pencegahan Kejahatan (Preventif) Adapun alasan untuk mengutamakan pencegahan kriminalitas menurut Gosita antara lain adalah sebagai berikut: Tindakan pencegahan adalah lebih baik daripada tindakan represif dan koreksi. Usaha pencegahan tidak selalu memerlukan suatu organisasi yang rumit dan birokrasi, yang dapat menjurus ke arah birokratisme yang merugikan penyalahgunaan kekuasaan/wewenang. Usaha pencegahan adalah lebih ekonomis bila dibandingkan dengan usaha represif dan rehabilitasi. Untuk melayani jumlah orang yang lebih besar jumlahnya tidak diperlukan banyak dan tenaga seperti pada usaha represif, dan rehabilitasi menurut perbandingan. Usaha pencegahan juga dapat dilakukan secara perorangan sendiri-sendiri dan tidak selalu memerlukan keahlian seperti pada usaha represif dan rehabilitasi. Misalnya menjaga diri jangan sampai menjadi korban kriminalitas, tidak lalai mengunci rumah/kendaraan, memasang lampu di tempat gelap dan lain-lain 18 Usaha pencegahan tidak perlu menimbulkan akibat yang negatif seperti antara lain; stigmatisasi (pemberian cap pada yang dihukum atau dibina), pengasingan, penderitaan-penderitaan dalam berbagai 18 Arif Gosita Masalah Korban Kejahatan. Buana Ilmu, Jakarta. Hal.100 Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 25

45 bentuk, pelanggaran hak asasi, permusuhan/kebencian terhadap satu sama lain yang dapat menjurus ke arah residivisme. Viktimisasi struktural yaitu penimbulan korban struktur tertentu dapat dikurangi dengan adanya usaha pencegahan tersebut, misalnya korban suatu sistem penghukuman, peraturan tertentu sehingga dapat mengalami penderitaan mental, fisik dan sosial. Usaha pencegahan dapat pula mempererat persatuan, kerukunan dan meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap sesama anggota masyarakat. Dengan demikian, usaha pencegahan dapat membantu orang mengembangkan orang bernegara dan bermasyarakat lebih baik lagi, oleh karena mengamankan dan mengusahakan stabilitas dalam masyarakat, yang diperlukan demi pelaksanaan pembangunan nasional untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur. Usaha pencegahan kriminalitas dan penyimpangan lain merupakan suatu usaha menciptakan kesejahteraan mental, fisik dan sosial seseorang. Usaha pencegahan kriminalitas, kata pencegahan dapat berarti antara lain mengadakan usaha perubahan yang positif. Sehubungan dengan pemikiran ini, maka dalam rangka merubah perilaku kriminil, kita harus merubah lingkungan (abstrak dan konkrit) dengan mengurangi hal yang mendukung perbuatan kriminil yang ada dan menambah risiko yang dikandung pada suatu perbuatan kriminal (tidak merehabilitasi si pelaku kriminal). Usaha pencegahan kriminalitas bergantung pada dua aspek perbaikan lingkungan tersebut di atas, terutama yang pertama ilmu pengetahuan dan teknologi sehubungan dengan perilaku akan dikembangkan sampai suatu titik dimana perilaku menyimpang yang utama dapat diawasi. Nilai yang sesungguhnya dari ilmu pengetahuan tadi adalah apabila ia dapat mendesain suatu lingkungan di mana orang dapat berkembang sedemikian rupa, sehingga tidak terjadi perilaku 26 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

46 menyimpang (dikuatkan) 19. B. Upaya Penanggulangan Kejahatan (Represif) Romli Atmasasmita mengemukakan bahwa: Tidaklah dapat disangkal kiranya, bahwa pembahasan perihal segi kriminologi terhadap usaha penanggulangan masalah kejahatan (dengan berlandaskan kepada pendapat para Kriminolog terdahulu), tiada lain adalah membahas masalah reaksi masyarakat terhadap masalah kejahatan. 20 Pada hakekatnya persoalannya bertitik tolak dari pada perkembangan kesadaran hukum masyarakat atau pandangan masyarakat terhadap masalah kejahatan yang tumbuh dalam masyarakat. Kesimpulannya, apa yang dimaksud dengan Konsepsi Kriminologi tentang penanggulangan kejahatan pada umumnya secara konkrit dapat disebutkan adalah usaha penanggulangan masalah kejahatan melalui penggunaan metode perlakuan (treatment-method) sebagai bentuk reaksi masyarakat yang bersifat non-punitip terhadap perbuatan kenakalan dan para pelakunya. Munculnya metode perlakuan (treatmentmethod) sebagai bentuk baru dalam usaha penanggulangan kejahatan dan pelaku kejahatan (termasuk pula kenakalan remaja) dan para pelakunya, hal ini tidaklah berarti fungsi dan peranan metode hukuman (punishmentmethod) harus ditinggalkan Nabila ZR: Tinjauan Kriminologis terhadap Pungutan Liar oleh Penyelenggara Pendididkan di sekolah yang berada di wilayah hukum Makassar (skripsi) Romli Atmasasmita.1992.Teori dan Kapita Selekta Kriminologi. Erecsa.Bandung Hal Dirjosisworo, Soejono, Kriminologo (Pencegahan tentang Sebab-sebab Kejahatan). Politea, Bogor. Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 27

47 Suatu asas umum dalam penanggulangan kejahatan (crime prevention) yang banyak dipergunakan dewasa ini di negara-negara yang telah maju adalah merupakan gabungan dua sistem yakni melalui: 1) Cara moralistik yaitu, dilaksanakan dengan penyebarluasan ajaran-ajaran agama dan moral, perundang-undangan yang baik dan sarana-sarana lain yang dapat mengekang nafsu untuk berbuat jahat. 2) Cara abolionisti yaitu, berusaha memberantas, menanggulangi kejahatan dengan memberantas sebab musababnya. Masalah crime and crime causation ini, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa pada hakekatnya, yang menjadi obyek crime prevention itu adalah kejahatan dan para pelaku kejahatan (the crime and the criminal) agar tidak melakukan kejahatan (mengulangi kejahatan dan agar orang lain tidak menjadi korban dari kejahatan yang dilakukan oleh the crime22 C. Pungutan Liar 1. Sejarah Pungli Berbasis pendekatan sejarah hubungan kekuasaan dengan rakyatnya, di bawah ini dipaparkan mengapa pemberantasan korupsi bisa menjadi sesuatu yang tidak mudah dilakukan di negara kita. Dalam perspektif sejarah hubungan kekuasaan dengan rakyatnya, praktik pungli adalah produk cara berpikir bahwa rakyat harus berterima kasih kepada penguasa di era masa lalu. 22 Ibid. hal Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

48 Secara kultur, praktik pungli bersumber dari pemberian upeti kepada penguasa, yang sudah muncul sejak Era Imperium Romawi menguasai hampir seluruh daratan Eropa bahkan sebagian Asia sejak tahun 75 Sebelum Masehi hingga 1648 Masehi. Tradisi itu menjalar hampir di semua kerajaan-kerajaan di dunia, baik kerajaan kecil maupun besar. Pemberian upeti kepada penguasa dilandaskan pada konsepsi bahwa rakyat harus berterima kasih kepada raja (penguasa) karena atas jasa mereka rakyat itu ada. Rakyat bukanlah apa-apa tanpa campur tangan penguasa. Keberlanjutan hidup rakyat sangat tergantung pada raja. Dengan demikian fenomena upeti dilandaskan pada konsep kedudukan raja (penguasa) sebagai pihak superior dan rakyat pada posisi inferior. Terlebih ketika raja dipandang sebagai wakil Tuhan yang bisa berkuasa absolut (memegang tiga kekuasaan sekaligus: legislatif, eksekutif dan judikatif), dan rakyat harus dalam posisi yang harus direndahkan 23. Perkembangan dialektika pasca-revolusi Perancis 1789 melahirkan paham demokrasi. Berlawanan dengan paham sebelumnya, paham demokrasi berangkat dari pemikiran bahwa bukan pemimpin yang berkuasa, melainkan rakyatlah yang berkuasa. Implikasinya pemimpin atau penguasa dikonsepsikan sebagai abdi masyarakat. Kewenangan atas kepentingan publik yang diberikan kepada penguasa seharusnya digunakan untuk meningkatkan pelayanan publik. Akan tetapi sejalan dengan teori yang diajarkan Lord Acton power tend absolute and absolute tend to corrupt, (dan bersinergi dengan belum lunturnya tradisi pemikiran feodalisme), maka sang pemegang kewenangan 23 diakses 19 juli Pukul wib Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 29

49 publik dengan mudah memposisikan dirinya sebagai penentu kepentingan publik. Dari sinilah kemudian potensi praktikpraktik pungli dimulai. Rakyat pun menjadi tidak berdaya melawan praktik pungli itu karena secara psikologis berada dalam posisi membutuhkan. Jadi di sini mulai muncul ketidakseimbangan hubungan unequal relationship. Pemegang kewenangan atas kepentingan publik berada pada pihak superior (kuat) dan masyarakat berada pada pihak inferior (lemah). Sesuai dengan hukum dalam fisika, ketika terjadi hubungan (relationship) antara arus kuat dan arus lemah, maka justru arus lemah akan semakin memberi energi kepada arus kuat. 2. Pungli di Indonesia Pungutan liar merupakan perbuatan-perbuatan yang disebut sebagai perbuatan pungli sebenarnya merupakan suatu gejala sosial yang telah ada di Indonesia, sejak Indonesia masih dalam masa penjajahan dan bahkan jauh sebelum itu. Namun penamaan perbuatan itu sebagai perbuatan pungli, secara nasional baru diperkenalkan pada bulan September 1977, yaitu saat Kaskopkamtib yang bertindak selaku Kepala Operasi Tertib bersama Menpan-RB dengan gencar melancarkan Operasi Tertib (OPSTIB), yang sasaran utamanya adalah pungli. Pada masa Undang-Undang No. 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dikeluarkan Instruksi Presiden Nomor. 9 tahun 1977 tentang Operasi Penertiban ( ), dengan tugas membersihkan pungutan liar, penertiban uang siluman, penertiban aparat pemda dan departemen. Untuk memperlancar dan mengefektifkan pelaksanaan penertiban ini ditugaskan kepada Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara 30 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

50 dan Reformasi Birokrasi, untuk mengkoordinir pelaksanaannya dan Pangkopkamtib untuk membantu Departemen/Lembaga pelaksanaanya secara operasional (Wijayanto, 2010:672). Pungutan liar juga termasuk dalam kategori kejahatan jabatan, di mana dalam konsep kejahatan jabatan di jabarkan bahwa pejabat demi menguntungkan diri sendiri atau orang lain, menyalahgunakan kekuasaannya untuk memaksa seseorang untuk memberikan sesuatu, untuk membayar atau menerima pembayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri. Dalam rumusan korupsi pada Pasal 12 huruf e UU No. 20 Tahun 2001 berasal dari Pasal 423 KUHP yang dirujuk dalam Pasal 12 UU No.31 Tahun 1999 sebagai tindak pidana korupsi, yang kemudian dirumuskan ulang pada UU No.20 Tahun 2001 (Tindak Pidana Korupsi), menjelaskan definisi pungutan liar adalah suatu perbuatan yang dilakukan pegawai negeri atau penyelenggara yang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, atau dengan menyalahgunakan kekuasaannya memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar, atau menerima pembayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri. 3. Pengertian Pungli Pungutan liar atau pungli adalah pengenaan biaya di tempat yang tidak seharusnya biaya dikenakan atau dipungut 24. Kegiatan pungutan liar (selanjutnya disebut pungli) bukanlah hal baru. Pungli berasal dari frasa pungutan liar yang secara etimologis dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang 24 terakhir diakses pada tanggal 28 Juli 2017 Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 31

51 memungut bayaran/meminta uang secara paksa. Jadi pungli merupakan praktek kejahatan. Istilah pungli ini juga terdapat dalam kamus bahasa China. Li artinya keuntungan dan Pung artinya persembahan, jadi Pungli diucapkan Pung Li, artinya adalah mempersembahkan keuntungan. Istilah lain yang dipergunakan oleh masyarakat mengenai pungutan liar atau pungli adalah uang sogokan, uang pelicin, salam tempel dan lain lain. Pungutan liar pada hakekatnya adalah interaksi antara petugas dengan masyarakat yang didorong oleh berbagai kepentingan pribadi 25 Pungutan liar merupakan perbuatan yang dilakukan oleh seseorang atau pegawai negeri atau pejabat negara dengan cara meminta pembayaran sejumlah uang yang tidak sesuai atau tidak berdasarkan peraturan yang berkaitan dengan pembayaran tersebut. Hal ini sering disamakan dengan perbuatan pemerasan Pungli dalam KUHP Adapun penjelasan beberapa Pasal di dalam KUHP yang dapat mengakomodir perbuatan pungutan liar adalah sebagai berikut: a. Pasal 368 KUHP Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa orang lain dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, untuk memberikan sesuatu barang, yang seluruhnya atau sebagian adalah milik orang lain, atau supaya memberikan hutang maupun menghapus piutang, diancam, karena pemerasan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. 25 Soedjono, Soedjono, Dirdjosisworo Pungli: Analisa Hukum & Kriminologi, cetakan ke-2. Bandung: Sinar Baru. Hal Lijan Poltak Sinambela.2006.Reformasi Pelayanan Publik: Teori, Kebijakan dan Implermentasi.Sinar Grafika Offset.Jakarta.hal Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

52 b. Pasal 423 KUHP Pegawai negeri yang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan menyalahgunakan kekuasaannya memaksa orang lain untuk menyerahkan sesuatu, melakukan suatu pembayaran, melakukan pemotongan terhadap suatu pembayaran atau melakukan suatu pekerjaan untuk pribadi sendiri, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya enam tahun. Menurut ketentuan yang diatur dalam Pasal 12 Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, kejahatan yang diatur dalam Pasal 423 KUHP merupakan tindak pidana korupsi, sehingga sesuai dengan ketentuan pidana yang diatur dalam Pasal 12 huruf e dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, pelakunya dapat dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau dengan pidana penjara paling singkat empat tahun dan paling lama dua puluh tahun dan pidana denda paling sedikit dua puluh juta rupiah dan paling banyak satu miliar rupiah. Tindak pidana yang diatur dalam Pasal 423 KUHP maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum di dalam rumusan Pasal 423 KUHP itu merupakan suatu bijkomend oogmerk. sehingga oogmerk atau maksud tersebut tidak perlu telah terlaksana pada waktu seorang pelaku selesai melakukan perbuatanperbuatan yang terlarang di dalam pasal ini. 27 Dari rumusan 27 P.A.F. Lamintang Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. Sinar Grafika. Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 33

53 ketentuan pidana yang diatur dalam Pasal 423 KUHP di atas, dapat diketahui bahwa yang dilarang di dalam pasal ini ialah perbuatan-perbuatan dengan menyalahgunakan kekuasaan memaksa orang lain: 1) Untuk menyerahkan sesuatu; 2) Untuk melakukan suatu pembayaran; 3) Untuk menerima pemotongan yang dilakukan terhadap suatu pembayaran; 4) Untuk melakukan suatu pekerjaan untuk pribadi pelaku. Perbuatan-perbuatan dengan menyalahgunakan kekuasaan memaksa orang lain untuk menyerahkan sesuatu, melakukan suatu pembayaran, menerima pemotongan yang dilakukan terhadap suatu pembayaran dan melakukan suatu pekerjaan untuk pribadi pelaku itu merupakan tindak pidana materil, hingga orang baru dapat berbicara tentang selesai dilakukannya tindak pidana tersebut, jika akibat yang tidak dikehendaki oleh undang-undang karena perbuatanperbuatan itu telah timbul atau telah terjadi. Karena tidak diberikannya kualifikasi oleh undang-undang mengenai tindak pidana yang diatur dalam Pasal 423 KUHP, maka timbullah kesulitan di dalam praktik mengenai sebutan apa yang harus diberikan pada tindak pidana tersebut. 28 Sejak diperkenalkannya kata pungutan liar oleh seorang pejabat negara, tindak pidana yang dimaksudkan dalam Jakarta. hal: P.A.F. Lamintang Delik-Delik Khusus Kejahatan Jabatan Tertentu Sebagai Tindak Pidana Korupsi. Sinar Grafika. Jakarta. hal: Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

54 Pasal 423 KUHP sehari-hari disebut sebagai pungutan liar. Pemakaian kata pungutan liar itu ternyata mempunyai akibat yang sifatnya merugikan bagi penegakan hukum di tanah air, karena orang kemudian mempunyai kesan bahwa menurut hukum itu seolah-olah terdapat gradasi mengenai perbuatan- perbuatan memungut uang dari rakyat yang dilarang oleh undang-undang, yakni dari tingkat yang seolah-olah tidak perlu dituntut menurut hukum pidana yang berlaku hingga tingkat yang seolah-olah harus dituntut menurut hukum pidana yang berlaku, sedang yang dewasa ini biasa disebut pungutan liar itu memang jarang membuat para pelakunya diajukan ke pengadilan untuk diadili, melainkan cukup dengan diambilnya tindakan-tindakan disipliner atau administratif terhadap mereka, padahal kita semua mengetahui bahwa yang disebut pungutan liar itu sebenarnya merupakan tindak pidana korupsi seperti yang antara lain diatur dalam Pasal 12 huruf e dan f Undang- Undang Nomor 20 Tahun Kebiasaan tidak mengajukan para pegawai negeri yang melanggar larangan-larangan yang diatur dalam Pasal 423 atau Pasal 425 KUHP Jo. Pasal 12 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 ke pengadilan untuk diadili, dan sematamata hanya mengenakan tindakan-tindakan administratif terhadap mereka itu perlu segera dihentikan, karena kebiasaan tersebut sebenarnya bertentangan dengan beberapa asas tertentu yang dianut oleh Undang-Undang Hukum Acara Pidana kita yang berlaku, masing-masing yakni 29 : 29 P.A.F. Lamintang. KUHAP. Hal: Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 35

55 a. Asas legalitas, yang menghendaki agar semua pelaku sesuatu tindak pidana itu tanpa kecuali harus dituntut menurut undang-undang pidana yang berlaku dan diajukan ke pengadilan untuk diadili; b. Asas verbod van eigen richting atau asas larangan main hakim sendiri, yakni menyelesaikan akibat hukum dari suatu tindak pidana tidak melalui proses peradilan. Maksud untuk tidak mengajukan tersangka ke pengadilan untuk diadili, maka maksud tersebut harus dilaksanakan sesuai dengan peraturan-peraturan perundangan yang berlaku. Menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, suatu perkara itu hanya dapat dikesampingkan untuk kepentingan umum, dan bukan untuk kepentingan tersangka/ korps atau organisasi tersangka. Perbuatan menyampingkan perkara itu tidak dapat dilakukan setiap orang dengan jabatan atau pangkat apa pun, karena menurut ketentuan yang diatur dalam Pasal 35 huruf c Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia, LN Tahun 2004 No. 67, yang berwenang menyampingkan suatu perkara berdasarkan kepentingan umum itu hanyalah Jaksa Agung saja. 30 Mengenai pengertiannya sebagai uang, perbuatan dengan menyalahgunakan kekuasaan memaksa orang menyerahkan sesuatu itu sehari-hari dapat dilihat dalam bentuk pungutan di jalan-jalan raya, di pos-pos pemeriksaan, di instansiinstansi pemerintah, bahkan yang lebih tragis lagi adalah bahwa pungutan-pungutan seperti itu juga dilakukan oleh 30 Op cit. Hal: Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

56 para pendidik baik terhadap sesama pendidik maupun terhadap anak-anak didik mereka. Akan tetapi, tidak setiap pungutan seperti yang dimaksudkan di atas itu merupakan pelanggaran terhadap larangan yang diatur dalam Pasal 423 KUHP jo. Pasal 12 Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2001, karena jika pungutan tersebut ternyata telah dilakukan karena pegawai negeri yang memungut pungutan itu telah melakukan sesuatu atau kekeliruan dalam menjalankan tugas jabatan yang sifatnya bertentangan dengan kewajibannya, maka perbuatan itu merupakan pelanggaran terhadap larangan-larangan yang diatur dalam Pasal 419 angka 2 KUHP jo. Pasal 12 huruf e Undang-Undang Nomor 20 Tahun Perbuatan yang dilarang dalam Pasal 423 KUHP ialah dengan menyalahgunakan kekuasaan memaksa orang lain melakukan suatu pembayaran. Sebenarnya tidak seorang pun dapat dipaksa melakukan suatu pembayaran kecuali jika pemaksaan untuk melakukan pembayaran seperti itu dilakukan berdasarkan suatu peraturan perundangundangan. 31 c. Pasal 425 KUHP Kejahatan-kejahatan yang diatur dalam Pasal 425 KUHP yakni menerima atau melakukan pemotongan terhadap suatu pembayaran seolah-olah merupakan utang kepada dirinya atau kepada pegawai negeri yang lain atau kepada sesuatu kas umum dan lain-lain, yang dilakukan oleh pegawai negeri dalam menjalankan tugas jabatannya. 31 Tano Hatubuan Rangitgit, 2011 Penegakan Hukum terhadap Tindak Pidana Korupsi Kasus Pungutan Liar (studi kasus pungutan liar di Jembatan Timbang Sibolangit Deli Serdang Sumatera Utara). Universitas Sumatera Utara. Hal Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 37

57 Perbuatan-perbuatan yang dilarang dalam pasal ini: 1) Pegawai Negeri yang di dalam menjalankan tugas jabatannya meminta, menerima, atau melakukan pemotongan terhadap suatu pembayaran seolah-olah merupakan utang kepada dirinya atau kepada pegawai negeri yang lain atau kepada sesuatu kas umum, sedang ia mengetahui bahwa utang seperti itu sebenarnya tidak ada; 2) Pegawai Negeri yang di dalam menjalankan tugas jabatannya meminta atau menerima jasa-jasa secara pribadi atau penyerahan-penyerahan seolah-olah orang berutang jasa atau penyerahan seperti itu, sedang ia mengetahui bahwa utang seperti itu sebenarnya tidak ada; 3) Pegawai Negeri yang di dalam menjalankan tugas jabatannya menguasai tanah-tanah negara yang di atasnya terdapat hak pakai bangsa Indonesia dengan merugikan orang yang berhak, seolah-olah yang ia lakukan itu sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku, sedang ia mengetahui bahwa dengan melakukan tindakan seperti itu sebenarnya ia telah bertindak secara bertentangan dengan peraturanperaturan tersebut. 5. Pungli dalam Undang-Undang Nomor.31 tahun 1999 Jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Adapun penjelasan beberapa Pasal di dalam KUHP yang dapat mengakomodir perbuatan pungli adalah sebagai berikut: 38 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

58 a. Pasal 12 huruf e Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum atau dengan menyalahgunakan kekuasaannya, memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar, atau menerima pembayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri. b. Pasal 12 huruf f Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada waktu menjalankan tugas, meminta, menerima, atau memotong pembayaran kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara yang lain atau kepada kas umum, seolah-olah pegawai negeri atau penyelenggara negara yang lain atau kas umum tersebut mempunyai utang kepadanya, padahal diketahui bahwa hal tersebut bukan merupakan utang Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 39

59

60 BAB III PERAN UNIT PEMBERANTASAN PUNGLI KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA UNTUK MENDORONG AKUNTABILITAS DAN INTEGRITAS PEGAWAI DALAM PELAKSANAAN TUGAS DAN FUNGSI A. Peran Unit Pemberantasan Pungli dalam Pelaksanaan Program sapu bersih pungutan liar (saber pungli) di Kementerian Hukum dan HAM Percepatan pembangunan ekonomi dan program reformasi hukum merupakan agenda strategis pemerintah saat ini. Hal tersebut untuk memulihkan rasa kepercayaan publik kepada pemerintah terhadap sistem pelayanan publik dan menciptakan keadilan yang berkepastian. Reformasi Hukum yang telah dicanangkan oleh Presiden RI Joko Widodo meliputi 3 pilar utama, yakni: 1. Penataan regulasi yang berkualitas; 2. Pembenahan lembaga/aparat penegak hukum yang profesional dalam penegakan hukum; dan 3. Pembangunan budaya hukum untuk menciptakan budaya hukum yang kuat. Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 41

61 Pada tahap pertama reformasi hukum, pemerintah menitikberatkan pada upaya-upaya yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan difokuskan pada 5 program prioritas, yaitu : 1. Pemberantasan pungutan liar; 2. Pemberantasan penyelundupan; 3. Percepatan pelayanan SIM, STNK, BPKB dan SKCK; 4. Relokasi penghuni LAPAS yang overkapasitas; dan 5. Perbaikan layanan hak paten, merk, dan design. Terkait dengan pemberantasan pungutan liar Menteri Hukum dan HAM telah menyatakan secara keras dan tegas kepada seluruh pegawai Kemenkumham untuk tidak main - main lagi ter hadap Pungli. Sebagai bentuk keseriusan Kemenkumham dalam pemberantasan Pungli, maka dibentuk tim pemberantasan pungutan liar melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor: M.HH- 06.PW Tahun 2016 tanggal 02 November 2016 tentang Unit Pemberantasan Pungutan Liar di Lingkungan Kementerian Hukum dan HAM. Di bentuknya Tim UPP di Lingkungan Kemenkumham adalah sebagai tindaklanjut dari Peraturan Presiden (Perpres) No 87 tahun 2016 tentang satgas Saber Pungli yang telah menjadi dasar bagi tiap kementerian/lembaga serta pemerintah daerah dalam menanggulangi pungli di lingkungan kerja masing-masing. Pembentukan Tim UPP tersebut diawali dengan pengucapan ikrar atau janji yang dibacakan langsung oleh Inspektur Jenderal Kementerian Hukum dan HAM sebagai ketua pemantau32 dan Ketua Pelaksana Pemberantasan Pungli di Lingkungan Kemenkumham di hadapan Menteri Hukum dan HAM pada saat apel pagi 07 November 2016 di Jakarta. 32 Republik Indonesia, Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI, Nomor M.HH- 04.PW Tahun 2016 tentang Tim Pemantau Pemberantasan Pungutan Liar di Lingkungan Kementerian Hukum dan HAM. 42 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

62 Dalam melaksanakan tugas unit pemberantasan pungutan liar di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM UPP mempunyai 3 fungsi yaitu pencegahan, penindakan dan yustisi. Sedangkan wewenang UPP adalah sebagai berikut: a. Membangun sistem pencegahan dan pemberantasan pungutan liar; b. Melakukan pengumpulan data dan informasi dari kementerian/ lembaga dan pihak lain yang terkait dengan menggunakan teknologi informasi; c. Mengkoordinasikan, merencanakan dan melaksanakan operasi pemberantasan pungutan liar; d. Melaksanakan operasi tangkap tangan; e. Memberikan rekomendasi kepada Menteri Hukum dan HAM serta Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM, untuk memberikan sanksi kepada pelaku pungutan liar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; f. Memberikan rekomendasi pembentukan dan pelaksanaan tugas unit pemberantasan pungutan liar disetiap kantor wilayah kepada Menteri Hukum dan HAM; dan g. Melaksanakan evaluasi kegiatan pemberantasan pungutan liar. Sesuai dengan surat Sekretaris Jenderal Nomor: SEK.UM tentang Pembentukan Unit Pemberantasan Pungutan Liar Tingkat Wilayah. Maka pada tanggal 7 Nopember 2016 di seluruh kantor wilayah secara serentak di bentuk unit pemberantasan pungutan liar. Kemudian diiringi dengan pembentukan unit pemberantasan pungutan liar di tingkat unit pelayanan teknis (UPT). Dengan demikian pelaksanaan pemberantasan pungutan liar di Kementerian Hukum dan HAM dilakukan secara berjenjang dan merupakan tanggung jawab bersama mulai dari tingkat pusat sampai dengan UPT. Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 43

63 Tabel 5. Pembentukan UPP Pusat dan Kanwil Unit Pemberantasan Pungli Pusat Kantor Wilayah Dasar Hukum Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor: M.HH-06.PW Tahun 2016 tanggal 02 November 2016 tentang Unit Pemberantasan Pungutan Liar di Lingkungan Kementerian Hukum dan HAM. Surat Sekretaris Jenderal Nomor: SEK. UM tentang Pembentukan Unit Pemberantasan Pungutan Liar Tingkat Wilayah Sturuktur Organisasi Terdiri dari: - Penanggung Jawab - Ketua Pelaksana - Sekretaris - Anggota - Kelompok Ahli Sekretariat - Kelompok Kerja Unit Pencegahan - Kelompok Kerja Unit Penindakan - Kelompok Kerja Unit Yustisi Keanggotaan Terdiri dari Pejabat setiap unit utama di lingkungan di Kementerian Hukum dan HAM dan Kelompok Ahli (yang terdiri dari Tokoh Masyarakat dan Akademisi) Mekanimse Pelaporan Kinerja Terdiri dari: - Penanggung Jawab - Ketua Pelaksana - Sekertaris - Kelompok Kerja Unit Pencegahan - Kelompok Kerja Unit Penindakan - Kelompok Kerja Unit Yustisi. Berasal dari Pejabat Tinggi Pratama dan Pejabat Administrator dan Pengawas di lingkungan Kantor Wilayah Melaporkan ke Saber Pungli Nasional Melaporkan ke UPP Pusat 44 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

64 Struktur organisasi UPP Pusat dan Kantor Wilayah dapat dilihat pada gambar berikut ini: Gambar 2. STRUKTUR ORGANISASI UNIT PEMBERANTASAN PUNGUTAN LIAR DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM PENANGGUNG JAWAB MENTERI HUKUM DAN HAM KETUA PELAKSANA INSPEKTUR JENDERAL KELOMPOK AHLI SEKRETARIAT POKJA UNIT PENCEGAHAN POKJA UNIT PENINDAKAN KANTOR WILAYAH POKJA UNIT YUSTISI Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 45

65 Gambar 3. STRUKTUR ORGANISASI UNIT PEMBERANTASAN PUNGUTAN LIAR KANTOR WILAYAH KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM PENANGGUNG JAWAB KAKANWIL KETUA PELAKSANA Ketua I: Kadiv Pemasyarakatan Ketua II: Kadiv Imigrasi SEKRETARIAT: Sekretariat I: Kadiv Administrasi Sekretariat II: Kabag PP POKJA UNIT PENCEGAHAN POKJA UNIT PENINDAKAN UPT POKJA UNIT YUSTISI KETUA Kadiv.Pelayanan Hukum dan HAM SEKRETARIS Kabid HAM Anggota: Tim.1. Sosialisasi (3 orang) Tim 2 Publikiasi 53 orang) Tim 3 Rekomendasi (3 orang) KETUA 1. Kabid Keamanan, kesehatan, Perawatan dan Pengelolaan Basan dan Baran 2. Kabid Lalintas dan Izin Tinggal Keimigrasian SEKRETARIS Kabid Hukum Anggota: Esl.IV.Perwakilan masing-masing Divisi sebanyak 5-10 org KETUA 1. Kabid Intelijen Penindakan Informasi dan Sarana Komunikasi Keimigrasian 2. Kasubid Pembinaan Bimbingan PAS, Pengentasan Anak, Informasi & Komunikasi SEKRETARIS Kabag Umum Anggota: Esl.IV.Perwakilan masing-masing Divisi sebanyak 5-7org 46 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

66 1. Struktur Organisasi UPP Kanwil Berdasarkan hasil pengumpulan data di 5 kantor wilayah yang menjadi lokasi pengumpulan data yaitu, DKI. Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Utara, Bali, dan Nusa Tengara Barat. Diketahui bahwa di Kelima kantor wilayah tersebut sudah dibentuk unit pemberantasan pungli dengan struktur organisasi dan personil sesuai dengan surat edaran sekretaris jenderal. Terhadap susunan struktur organisasi dan komposisi keanggotaan tim UPP tingkat kantor wilayah, responden beranggapan bahwa komposisi dari keanggotan tim UPP yang berada di kanwil dan UPT menunjukan sudah tepat (93%) karena, sebagian besar responden beranggapan bahwa dalam perekrutan keanggotaan tim UPP sudah mengikutsertakan semua unsur pada semua Divisi, dengan memperhatikan keahlian setiap individu. Gambar 4. Komposisi Keanggotaan Tim UPP di Kanwil Kemenkumham % SUDAH TEPAT 6.67% BELUM TEPAT Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 47

67 Sedangkan responden yang beranggapan belum tepat sebesar (7%) dikarenakan bahwa dalam komposisi keanggotaan tim UPP perlu melibatkan anggota dari pihak luar, hal ini bertujuan untuk melihat objektifitas pelaksanaan program sapu bersih pungli di Kemenkumham. Menurut responden, jika yang terlibat semua dari unsur Kemenkumham tentu saja objektifitasnya dipertanyakan. 2. Pelaksanaan Tugas dan Fungsi UPP kantor wilayah Dalam pelaksanan peran UPP untuk memberantas pungli di lingkungan Kemenkumham, dapat diuraikan dari fungsi fungsi yang telah dilaksanakan oleh setiap pokja diantaranya adalah sebagai berikut. a. Pelaksanaan Fungsi Pencegahan Fungsi pencegahan oleh UPP Kantor wilayah adalah upaya yang dilakukan untuk mencegah tidak terjadinya pungutan liar pada pelayanan publik baik di kantor wilayah dan UPT. Pencegahan tersebut merupakan tindakan preventif untuk menimbulkan kesadaran dan kepatuhan setiap pegawai dan masyarakat agar tidak melakukan pungutan liar baik secara langsung atau tidak langsung. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara perbaikan sistem, penguatan integritas dan pemahaman pegawai serta kesadaran masyarakat. Ada beberapa upaya yang dilakukan oleh Tim UPP Kanwil khususnya Kelompok Kerja (Pokja) Pencegahan, antara lain sebagian besar tim UPP Kanwil dan Satgas Saber Pungli UPT melakukan sosialisasi di Kanwil dan UPT. Dalam pelaksanaan sosialiasi tersebut, intensitas sosialiasi terbesar kepada pegawai dan petugas unit layanan, tetapi ada juga 48 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

68 Kanwil yang melakukan sosialiasi pungli tersebut kepada para istri PNS. Tujuannya agar para istri PNS tersebut mengetahui akibat yang akan ditimbulkan jika suami mereka melakukan tidakan pungli. Sosialiasi juga dilakukan kepada pengguna pelayanan publik misalnya warga binaan pemasyarakatan (WBP) dengan tujuan agar WBP mengetahui batasan-batasan apa saja yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan selama menjalani pembinaan di Lapas, dan juga agar WBP mengetahui akibat dari perbuatan pungli tersebut dapat berdampak pada hukuman yang dijalani. b. Pelaksanaan Fungsi Penindakan Fungsi penindakan oleh UPP merupakan upaya refresif terhadap pegawai yang melakukan pungutan liar. hal ini dilakukan berdasarkan pengaduan pungli dari masyarakat atau ditemukan pegawai yang terindikasi melakukan pungli, tetapi fungsi ini belum begitu banyak berperan, karena berdasarkan data rata-rata laporan yang masuk ke setiap UPP Kanwil dan UPT berjumlah 1-2 laporan, karena pokja penindakan akan bekerja setelah ada laporan atau indikasi pungli yang dilakukan oleh pegawai. Laporan yang diterima biasanya melalui surat yang ditujukan kepada Kepala Satuan Kerja. Dalam pelaksanaan peran penindakan, UPP Kanwil lebih banyak berkoordinasi dengan Tim UPP Kemenkumham yang berada di Jakarta, terutama dalam melakukan sidak-ke UPT-UPT tertentu yang terindikasi terdapat pungli. Pengaduan pungli oleh masyarakat yang disampaikan melalui Media sosial seperti televisi, koran, majalah Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 49

69 maupun facebook, WA, instagram, twiters yang menjadi perhatian publik (viral), tim pokja penindakan akan segera mengklarifikasi dan melakukan pemeriksaan kepada pegawai/petugas yang teridentifikasi melakukan tindakan pungli tersebut. Kegiatan penindakan pungli yang dilakukan oleh pokja penindakan sejauh ini telah dilakukan terhadap pegawai/ petugas yang terindikasi melakukan pungli, dengan melakukan verifikasi laporan, pemeriksaan terhadap terlapor dan di buat Berita Acara Pemeriksan (BAP). Kepada pegawai dan petugas unit layanan yang terindikasi melakukan pungli, tetap dilakukan tindakan hukum sesuai dengan tingkat kesalahan. Pembinaan kepada pegawai tetap terus dilakukan melalui atasan langsung dan inspeksi mendadak secara berkala ke sentra-sentra pelayanan yang terindikasi terdapat pungli. Berdasarkan hasil pengumpulan data di 5 lokasi kajian Pokja Penindakan UPP kantor wilayah belum semuanya melakukan fungsi penindakan, karena belum adanya aduan atau temuan pungutan liar yang perlu dilakukan penindakan. Hal ini didukung dengan jawaban responden yang hanya 4% responden yang menjawab pernah merekomendasikan, ke Menteri Hukum dan HAM atau Kepala Kantor Wilayah Kemenkumham untuk pemberian saksi kepada pelaku pungli di lingkungan Kemenkumham. c. Pelaksanaan Fungsi Yustisi Dalam pengertiannya, arti Yustisi secara bahasa adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan peradilan atau 50 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

70 kehakiman. Di Indonesia, yustisi juga bermakna sebagai penegakan hukum. 33 jadi pengertian Yustisi adalah suatu upaya penegakan hukum yang dilakukan oleh penegak hukum dengan mengunakan sistem peradilan di tempat. Sedangkan pengertian non yustisi adalah upaya penegakan hukum oleh penegak hukum melalui pendekatan yang sifatnya lebih ke preventif (pencegahan) terhadap segala sesuatu yang berpotensi atau mempunyai kecenderungan untuk menciptakan suatu pelanggaran hukum. 34 Tim kelompok kerja yustisi mempunyai fungsi untuk memantau proses penegakkan hukum atau penindakan terhadap pelaku pungutan liar, untuk memastikan proses penindakan secara administrasi dan atau proses pidana telah dilakukan sesuai dengan ketentuan berlaku. Tim pokja Yustisi bekerja setelah ada tindakan yang dilakukan oleh Pokja penindakan. Berdasarkan hasil temuan di lokasi penelitian tindakan terhadap pungutan liar cenderung belum ada, sehingga fungsi yustisi belum pernah dilakukan. Untuk mengetahui proses tindakan administrasi kepegawaian terhadap pegawai yang melakukan pungutan liar Pokja Yustisi UPP kantor wilayah harus berkoordinasi dengan pokja yustisi UPP pusat maupun dengan Inspektorat Jenderal dan Sekretariat Jendral, karena proses sanksi adminstrasi kepegawaian dilakukan secara terpusat. Sedangkan proses penegakkan hukum pidana, harus berkoordinasi dengan aparat penegak hukum (kepolisian dan Kejaksaan) selain 33 diakses Rabu, ; pukul Wib 34 Ibid Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 51

71 dengan unsur internal Kementerian Hukum dan HAM. Hal ini selaras dengan pendapat responden yang sebanyak 64% menyatakan bahwa, UPP Kanwil dalam melakukan tindakan yustisi harus terus berkoordinasi dengan pihak terkait lainnya maupun dalam menentukan langkah langkah hukum ke pada pelaku yang teridentifikasi melakukan pungli sesuai dengan tingkat kesalahan yang dilakukan. 3. Efektifitas UPP kantor wilayah Unit pemberantasan pungutan liar merupakan suatu organisasi yang memiliki tujuan, struktur dan mekanisme kerja. Hal ini sesuai dengan pengertian organisasi adalah perkumpulan atau wadah bagi sekelompok orang untuk bekerjasama, terkendali dan terpimpin untuk tujuan tertentu 35, dimana dalam melakukan tindakan itu ada pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab bagi tiap-tiap personal yang terlibat didalamnya untuk mencapai tujuan organisasi. Untuk menilai suatu organisasi itu efektif atau tidak, secara keseluruhan ditentukan oleh apakah tujuan organisasi itu tercapai dengan baik atau sebaliknya. Teori yang paling sederhana ialah teori yang berpendapat bahwa efektivitas organisasi sama dengan prestasi organisasi secara keseluruhan, pandangan yang juga penting adalah teori yang menghubungkan tingkat kepuasan para anggotanya.36 berdasarkan uraian tersebut diatas, jelas efektifitas organisasi UPP Kemenkumham dalam pelaksanaanya 35 Alijah blog ; berdasarkan sumber: 36 Adam I. Indrawijaya. (2000). Perilaku organiasi. Jakarta Sinar baru Algesindo. hal Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

72 pemberantasan pungli dilingkungan Kemenkumham dapat dilihat dari capaian UPP itu sendiri. Gambar 5. Efektifitas UPP Menangulangi Pungli % Sudah 14% Belum Berdasarkan pendapat responden sebanyak 86% menjawab UPP telah efektif menanggulangi pungli di Kemenkumham, hal ini dapat dilihat dengan adanya perubahan pelayanan yang lebih baik dan profesional serta berbasis online. Walaupun demikian tim kajian menilai hal ini tidak bisa disimpulkan sebagai efek langsung dari pelaksanaan peran UPP Kemenkumham, tetapi keberadaan UPP berpengaruh dalam menstimulus perilaku pegawai untuk memberikan pelayanan yang baik, transparan dan profesional. Sementara itu 14 % responden menilai peran UPP belum efektif menangani Pungli. Karena menurut pendapat responden penanganan pungli akan lebih efektif jika diiringi dengan peningkatan kesejahteraan pegawai. Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 53

73 Salah satu tujuan dibentuknya UPP di kantor wilayah adalah untuk melakukan pengawasan, penanganan dan penindakan terhadap pegawai yang melakukan Pungli. Hal ini memberikan dampak adanya rasa takut pegawai yang berniat untuk melakukan pungli. Berdasarkan data yang kami peroleh dari 88% responden menunjukan bahwa setelah terbentuknya UPP, pegawai khususnya petugas unit layanan merasa takut untuk melakukan perbuatan pungli. Sebagaimana terlihat dari gambar dibawah ini: Gambar 6. Takut melakukan pungli setelah ada UPP di Kemenkumham % YA 12% TIDAK Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa sebagian besar pegawai merasa takut apabila melakukan pungli, karena akan adanya pengaduan masyarakat secara langsung maupun melalui media sosial yang akan menjadi berita di media masa dan akhirnya terkena operasi tangkap tangan oleh tim saber pungli. 54 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

74 B. Faktor penghambat UPP dalam pelaksanaan pemberantasan pungli di lingkungan Kemenkumham Dalam praktiknya pungli dapat dilakukan oleh mereka yang memiliki kewenangan atau kekuasaan atas kepentingan publik. Masyarakat ada dalam posisi membutuhkan dan merasa dirinya ada dalam posisi memohon yang harus tunduk pada syaratsyarat yang ditentukan oleh pemegang kewenangan tersebut. Maka langkah pemberantasan pungli sebagai bagian reformasi hukum harus segera dilakukan. Masyarakat harus mulai berani melaporkan praktik- praktik pungli dan tidak merasa dirinya sebagai objek yang dapat diperlakukan sewenang-wenang. Secara yuridis masyarakat berhak mendapatkan pelayanan yang baik dari negara sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku. Namun upaya pemerintah untuk memberantas Pungli bukan hal yang mudah dilaksanakan, masih terdapat permasalahan yang menjadi hambatan bagi UPP dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Berikut ini adalah beberapa hambatan yang ditinjau dari 4 faktor: 1. Komposisi Personil Dalam Struktur Organisasi Sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) No 87 tahun 2016 tentang Satgas Sapu Bersih Pungutan liar, bahwa pelaksanaan pemberantasan pungli oleh UPP di kementerian atau lembaga mengoptimalkan pemanfaatan personil, satuan kerja, dan sarana prasarana di lingkungan Kementerian atau lembaga. Berdasarkan hal tersebut, secara organisasi UPP Kemenkumham Pusat beranggotakan para pejabat esselon I, II dan III. Sedangkan UPP kantor wilayah terdiri dari para esselon II, esselon III dan IV. Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 55

75 Komposisi personil UPP yang terdiri pegawai Kemenkumham dari berbagai unit esselon 1 di tingkat pusat dan beberapa divisi di kantor wilayah akan menjadi hambatan apabila tidak di dijalankan secara baik. Karena anggota UPP yang mempunyai tugas pokok tersendiri sesuai dengan jabatan masing-masing di setiap unit kerja, mengakibatkan pelaksanaan tugas sebagai anggota tim UPP sering terlewatkan/terabaikan dan kesulitan dalam berkoordinasi untuk melaksanakan tugas dan fungsinya. Selain itu, terkadang ada rasa takut dan sungkan dari jajaran UPT untuk melaporkan dugan pungli yang ada di unit kerjanya masing-masing. 2. Mekanisme Kerja Berdasarkan hasil pengumpulan data diketahui bahwa dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya, tim UPP belum memiliki mekanisme kerja atau standar baku yang diatur dengan jelas dan detail. Sebanyak 67% responden menyatakan bahwa sebagian besar tim UPP di beberapa Kanwil dan UPT belum membuat/ memiliki SOP terkait dengan pelaksanaan peran UPP. Sedangkan 33% responden menyatakan bahwa tim UPP di sebagian kecil Kanwil dan UPT telah memiliki SOP yang di buat sendiri oleh masing - masing tim UPP. Sementara untuk SOP yang berlaku resmi untuk setiap UPP Kemenkumham, pada saat tim pengambilan data lapangan 37 belum tersedia. Dalam Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM nomor M.HH-06.PW Tahun 2016 tentang UPP di lingkungan Kemenkumham hanya memuat susunan keanggotan yang melibatkan setiap unit kerja di lingkungan Kemenkumham. 37 Lata lapangan diambil pada bulan Mei- Juni Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

76 Sementara mekanisme kerja tim ini belum diatur secara detail (apa, siapa, dan melakukan apa). Tahapan pekerjaan masingmasing tim Pokja UPP menurut responden sebaiknya dituangkan dalam Standar Operasional Prosedur (SOP)38, karena SOP akan menjadi acuan dan standar bagi pegawai yang terlibat dalam tim UPP Kanwil dan Satgas Saber pungli di UPT untuk dapat melaksanakan pekerjaanya dengan efektif sesuai uraian tugas masing masing. 3. Program Kerja Program kerja atau rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh sebuah organisasi seyogyanya sudah terprogram dengan baik. Berdasarkan data yang kami peroleh dari beberapa UPP ditemui rata rata belum memiliki program kerja yang terukur dan target hasil baik secara kualitas maupun kuantitas. Padahal sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM dan Surat Sekretaris Jenderal tentang UPP rencana kerja tersebut harus dibuat oleh tim UPP baik pusat dan wilayah setiap tahunnya. 4. Anggaran Dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya UPP Pusat dan kantor wilayah belum di dukung dengan ketersediaan anggaran. Karena ketiadaan anggaran tersebut kegiatan yang dilakukan oleh tim UPP dilaksanakan secara bersamaan dengan kegiatan lainnya yang telah dialokasikan anggarannya pada DIPA Kanwil, 38 Moekijat Adminitrasi Perkantoran. Bandung: Mandar Maju. : Standar Opresional Prosedur atau yang lebih sering kita sebut dengan SOP adalah Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah urutan langkah-langkah (atau pelaksanaan-pelaksanaan pekerjaan), di mana pekerjaan tersebut dilakukan, berhubungan dengan apa yang dilakukan, bagaimana melakukannya, bilamana melakukannya, di mana melakukannya, dan siapa yang melakukannya Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 57

77 demikian juga pada UPP Pusat untuk kegiatan setiap POKJA digabungkan dengan kegiatan yang bersifat rutin dan yang sudah tersedia anggarannya, seperti kegiatan sosialiasasi dan inspeksi mendadak. Organisasi yang baik adalah organiasi yang memiliki anggaran untuk melaksanakan kegiatan, sebaik apapun organisasi tersebut bila tidak didukung dengan ketersediaan dana sulit dapat berjalan. Anggaran sebagai salah satu alat bantu manajemen dalam pelaksanaan peranan, karena dengan anggaran manajemen dapat merencanakan, mengatur dan mengevaluasi jalannya suatu kegiatan. Menurut M. Nafarin mengemukakan bahwa: Anggaran adalah rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan secara kuantitatif untuk jangka waktu tertentu dan umumnya dinyatakan dalam satuan uang Kesadaran Masyarakat Dalam pemberantasan tindakan pungli yang perlu disadarkan bukan hanya pegawai/petugas tetapi yang terpenting justru kesadaran hukum masyarakat. Kesadaran hukum pada hakekatnya bukanlah kesadaran akan hukum, melainkan kesadaran dari masyarakat akan adanya atau akan terjadinya tindakan hukum. Memang kenyataannya bahwa kesadaran hukum itu baru dipersoalkan jika sudah ramai dibicarakan dan dihebohkan di surat kabar atau media lainnya, justru kesadaran hukum itu merosot atau tidak ada, disaat ada terjadinya pelanggaran-pelanggaran hukum tersebut M Nafarin, 2012, Penganggaran Perusahaan, Salemba empat, Jakarta. Hal Sudikno Mertokusumo : meningkatkan kesadaran Hukum Masyarakat. sudiknoartikel.blogspot.co.id/2008/03/meningkatkan-kesadaran-hukummasyarakat.html diakses pada pada : : pukul Wib. 58 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

78 Mengharapkan kesadaran dari masyarakat bukanlah perkara gampang, apalagi untuk urusan pungli. Pada sisi lain, masyarakat pun kerap menyumbang kontribusi terhadap tumbuh suburnya praktek pungutan liar dengan cara membiasakan memberi uang tanpa mampu bersikap kritis melakukan penolakan pembayaran diluar dari biaya resmi. Perilaku memberi oleh masyarakat untuk memperlancar urusan dengan birokrat susah untuk dihilangkan karena telah berlangsung lama. Disamping itu ada faktor lain yang mempengaruhi diantaranya adanya sifat tamak manusia, moral yang kurang kuat, penghasilan yang tidak mencukupi, kebutuhan hidup yang mendesak, gaya hidup yang konsumtif, malas atau tidak mau kerja, ajaran agama yang kurang diterapkan, kebiasaan masyarakat yang suka memberi suap, kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pungli dan kurangnya pengawasan 41. Masyarakat pada umumnya sudah mengetahui pungli yang ada di institusi Kemenkumham, tetapi berdasarkan data yang kami peroleh ada sebagian masyarakat yang diuntungkan dengan adanya pegawai yang masih bisa di suap dan jika melapor, ada ketakutan bila nanti berurusan lagi akan di persulit serta, takut bila laporan tersebut ditindaklajuti akan merepotkan pelapor nantinya pada proses hukum yang panjang. Pungli seperti halnya korupsi telah menjadi perilaku yang sulit diberantas hanya mengandalkan peraturan dan sanksi hukum yang berat. Lebih dari itu, sikap mental, perilaku korup dan paradigma birokrasi kita yang harus diubah Sudikno Mertokusumo: meningkatkan-kesadaran-hukum-masyarakat.html diakses 26 juli Pukul Wib 42 Anhar Ada Widodo : Harian joglo Semar 18 juni Menghilangkan budaya Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 59

79 Terjadinya tindakan pungli sebenarnya juga melibatkan pihak lain (masyarakat) sebagai korban. Dengan demikian edukasi pada masyarakat untuk tidak gampang mencari jalan pintas pelayanan birokrasi juga menjadi hal yang tidak kalah pentingnya. Masyarakat secara luas perlu mendapatkan informasi yang jelas dan lengkap seputar hak dan kewajibannya dalam proses pelayanan publik. Pembenahan pada sektor internal yang tidak berhenti pada penegakan sanksi dan aturan, juga pembenahan mental dan prilaku birokrasi sebagai sistem, serta sosialisasi yang berkesinambungan dan berkelanjutan pada masyarakat, dengan harapan praktik pungli dapat diminimalisir. Media sebagai alat kontrol sosial yang masih dianggap efektif diharapkan dapat mampu lebih berperan dalam menanggulangi pungli. C. Peran UPP Untuk Mendorong Akuntabilitas Dan Integritas Pegawai Dalam Pelaksanaan Tugas Dan Fungsi. Peranan UUP Kemenkumham adalah melaksanakan pemberantasan pungutan liar secara efektif dan efisien dengan mengoptimalkan pemanfaatan personil. 43 Dalam pelaksanaan peran tersebut terdapat harapan-harapan masyarakat akan terciptanya pelayanan yang baik transparan dan tentu saja tanpa pungli. Dalam pandangan David Berry, peranan dapat dilihat sebagai bagian dari struktur masyarakat sehingga struktur masyarakat dapat dilihat pungli diakses 14 Agustus Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor M.HH.06.PW Tahun 2016 tentang Unit Pemberantasan Pungli di Lingkungan Kementerian Hukum dan HAM. 60 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

80 sebagai pola-pola peranan yang saling berhubungan. 44 Berdasarkan data hasil survey yang kami kumpulkan dari 79 responden pengguna unit layanan, yang terdiri dari pemohon paspor di kantor Imigrasi, warga binaan pemasyarakatan (WBP), dan Pengunjung WBP di Lapas, menunjukkan bahwa penilaian masyarakat pengguna layanan terhadap unit layanan yang ada di lingkungan Kemenkumham menunjukan rata-rata masyarakat penguna layanan di lingkungan kemenkumham sudah puas atas pelayanan yang diberikan. Sebagaimana terlihat dalam gambar dibawah ini: Gambar 7. Tanggapan Responden Pengguna Unit Layanan terhadap Petugas Unit Layanan Pengunaan Bahasa Penampilan Tangung Jawab Kemandirian Kejujuran Kedisiplinan Keramahan Kesopanan Kemampuan ADM Kemampuan Teknis Sikap Sangat Tidak Memuaskan Tidak Memuaskan Sangat Memuaskan Memuaskan 44 Eka Dimas Puspita. pengertian-dan-jenis-jenis-teori-adm.html Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 61

81 Masyarakat menilai pelayanan di Kemenkumham sudah banyak dilakukan secara online dan telah dilakukan beberapa inovasi. hal ini mengurangi intensitas pertemuan antara pemohon dengan petugas sehingga dapat meminimalisir terjadinya pungli dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat. Sebagai contoh di beberapa lapas yang sudah menerapkan layanan kunjungan secara elektronik, Kantor Imigrasi yang menerapkan layanan pengambilan nomor antrian secara elektronik. Untuk mengetahui peran UPP dalam mendorong Akuntabilitas dan Integritas pegawai, pada kajian ini kami mensurvey 53 Petugas Unit layanan. Yang selama ini merasakan langsung dampak dari terbentuknya UUP Kemenkumham. Untuk melihat hubungan antara UPP Kemenkumham dengan meningkat/tidaknya akuntabilitas pegawai di lingkungan Kemenkumham, Dalam kajian ini yang menjadi varibel indevenden (X) adalah UPP dan Satgas Saber Pungli Kanwil/UPT, sedangkan variabel devenden adalah akuntabilitas dan integritas pegawai (Y). dalam pelaksanaan pengukuran tingkat corelasional kami menggunakan SPSS sebagai alat bantu hitungan. Tabel 6. Peran UPP dengan Kedisiplinan Correlations PERAN UPP KEDISIPLINAN PERAN UPP Pearson Correlation ** Sig. (2-tailed).000 N KEDIPLINAN Pearson Correlation.639 ** 1 Sig. (2-tailed).000 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). N Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

82 Dari tabel diatas diperoleh korelasi pearson 0,639 artinya terdapat hubungan yang signifikan antara peran UPP Kemenkumham dengan kedisiplinan Pegawai dilingkungan Kemenkumham. Tingkat hubungan korelasi antara peran UPP Kemenkumham dengan kedisiplinan terindentifikasi kuat, hal ini yang ditunjukkan dengan nilai korelasi mendekati +1 dengan P- value/sig sama dengan 0.00 < 0,05 dapat disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan antara ke dua variabel. Tabel 7. Peran UPP dengan Kejujuran Correlations PERAN UPP KEJUJURAN PERAN UPP Pearson Correlation ** Sig. (2-tailed).000 N KEJUJURAN Pearson Correlation.781 ** 1 Sig. (2-tailed).000 **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). N Korelasi hubungan antara peran UPP dengan kejujuran pegawai pada tabel. 7 menunjukan 0,781 artinya terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel tersebut. Jadi peran UPP mendorong kejujuran pegawai dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi. Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 63

83 Tabel 8. Peran UPP dengan Kemandirian Correlations PERAN UPP MANDIRI PERAN UPP Pearson Correlation ** Sig. (2-tailed).000 N MANDIRI Pearson Correlation.908 ** 1 Sig. (2-tailed).000 N **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Kemandirian adalah salah satu komponen penilaian integritas pegawai, nilai korelasi hubungan antara Peran UPP Kemenkumham dengan Kemandirian Pegawai menunjukan nilai hitung pada SPSS sebesar 0,908 dengan sig 0,00 < 0,05 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan sangat kuat. Hal ini berarti bahwa pada tabel 8. Menunjukan peran UPP mempengaruhi secara positif terhadap kemandirian pegawai dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi. Tabel 9. Peran UPP dengan Tangung Jawab Keuangan Correlations PERAN UPP TJWBKEU PERAN UPP Pearson Correlation ** Sig. (2-tailed).000 N TJWBKEU Pearson Correlation.920 ** 1 Sig. (2-tailed).000 N **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). 64 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

84 Pada tabel 9. Menunjukan bahwa nilai akuntabilitas Keuangan Pegawai terkorelasi sangat kuat (0,920) terhadap peran UPP Kemenkumham. Ini berarti dengan terbentuknya UPP dan peran UPP Kemenkumham diantaranya Pencegahan, Penindakan dan Yustisi berdampak sangat signifikan terhadap pertanggung jawaban keuangan pegawai di lingkungan Kemenkumham. Tabel 10. Peran UPP dengan Tangung Jawab Administrasi Correlations PERAN UPP TJWBADM PERAN UPP Pearson Correlation ** Sig. (2-tailed).000 N TJWBADM Pearson Correlation.909 ** 1 Sig. (2-tailed).000 N **. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Tabel. 10, menunjukkan bahwa antara peran UPP dengan tanggung jawab administrasi pegawai di lingkungan Kemenkumham dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi terkorelasi sangat kuat (0.909). dalam artian peran UPP Kemenkumham yang di bentuk untuk menanggulangi pungli di lingkungan kemenkumham berdampak juga terhadap akuntabilitas administrasi pegawai Dari aspek integritas. Kehadiran UPP berpengaruh pada meningkatnya rasa takut terhadap perbuatan pungli oleh pegawai/ petugas unit layanan, hal ini berkorelasi dengan meningkatnya, kejujuran, kedisiplinan tanggung jawab dan kemandirian pegawai di lingkungan Kemenkumham sejak tahun , dari 54 Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 65

85 responden unit layanan yang menjawab survey pada kajian ini dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 8. Integritas Pegawai % 85% 71% 18% 15% 70% 29% 26% Tetap Meningkat Tanggung Jawab Kejujuran Kedisiplinan Kemandirian Catatan : Kemandirian, sebesar 4% menjawab tidak tahu Berdasarkan gambar. 4 terlihat bahwa, tanggapan pegawai yang kami survey menunjukan adanya peningkatan Integritas45 pegawai. Peningkatan ini patut di duga ada kaitannya dengan terbentuknya UPP di setiap satker di lingkungan Kemenkumham meskipun tidak 100%, karena ada hal hal lain yang juga dapat mempengaruhi peningkatan integritas tersebut. Beberapa hal yang disarankan oleh responden supaya UPP dapat lebih meningkatkan integritas pegawai di lingkungan Kemenkumham, yaitu antara lain rutin melakukan sidak, melakukan operasi intelegent, menempatkan informan, memasang 45 kejujuran, kemandirian, kedisiplinan dan tangungjawab 66 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

86 CCTV di setiap UPT dan menindak secara tegas tanpa diskriminasi terhadap pelaku pungli. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan di UPP Pusat maupun UPP Kanwil. Hal ini bertujuan untuk menimbulkan rasa takut, karena dari rasa takut tersebut lambat laun diharapkan akan timbul kebiasaan dan kesadaran dari semua pegawai, tentang apa yang seyogyanya dilakukan dan tidak seyogyanya dilakukan46. Kemudian perlu disosialisasikan budaya kerja yang baik kepada pegawai di samping terus meningkatkan kesejahteran pegawai terutama petugas unit layanan yang rawan terjadinya pungli. Hasil SPSS secara keseluruhan menunjukan bahwa peran UPP Kemenkumham (Pencegahan, Penindakan dan Yustisi) memiliki hubungan rata-rata korelasi positif dapat mendorong integritas dan akuntabilitas pegawai dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi pegawai dilingkungan Kemenkuham. Hal ini berarti Keberadaan UPP Kemenkumham juga telah memberikan pengaruh positif terhadap perilaku pegawai di lingkungan Kemenkumham. 46 Scholten, Mr. Paul-, 1954, Algemeen /Deel,, NV Uitgeversmaatschappij W.E.J. Tjeenk Willink Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 67

87

88 BAB. IV PENUTUP A. Kesimpulan Peran UPP Pusat dan Kanwil dalam memberantas pungutan liar di lingkungan Kemenkumham sudah berjalan, walaupun belum maksimal. Terkait hal itu tanggapan 93% responden menilai dari sisi komposisi keanggotaan tim UPP sudah tepat, 86% responden menilai efektivitas UPP dalam menanggulangi pungli sudah efektif dan 88% responden berpendapat keberadaan UPP menimbulkan rasa takut dari pegawai untuk melakukan pungli. Indikator tersebut mengindikasikan bahwa program pemberantasan pungli di lingkungan Kemenkumham sudah berjalan. Dalam pelaksanaan peran UPP tersebut terdapat beberapa faktor penghambat diantaranya: 1) belum ada pedoman mekanisme kerja atau Standar Operasional Prosedur (SOP); 2) uraian tugas setiap anggota tim UPP sampai saat ini belum diatur; 3) pemahaman tentang pemberantasan pungli dari personil UPP masih kurang; 4) UPP belum memiliki program dan target kerja yang terukur; 5) belum tersedianya anggaran khusus untuk UPP; serta 6) tingkat kesadaran masyarakat yang rendah untuk tidak memberi suap. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan SPSS version 24, menunjukkan tingkat korelasional peran UPP Kemenkumham dengan Akuntabilitas dan Integritas Pegawai terlihat rata rata corelasi Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 69

89 diatas 0,05 atau interval corelasi 0, Hal ini menunjukan tingkat hubungan kuat sampai dengan sangat kuat antara peran UPP Kemenkumham dengan Akuntabilitas dan Integritas pegawai. Walaupun peran UPP belum maksimal dalam pelaksanaannya tapi jelas bahwa keberadaan UPP Kemenkumham telah menstimulus akuntabilitas dan integritas pegawai dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi. Gambaran keseluruhan hasil survey menunjukan terdapat peningkatan integritas dan akuntabilitas di kalangan pegawai ratarata pada kisaran 60%. Hasil perhitungan tersebut menunjukan bahwa, akuntabilitas dan Integritas pegawai dalam pelaksanan tugas dan fungsi pelayanan di lingkungan Kemenkumham dapat di dorong dengan memaksimalkan pelaksanaan peran pencegahan, peran penindakan dan peran yustisi pada UPP Kemenkumham. B. Rekomendasi 1. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia: a) Menginstruksikan kepada Sekretaris Jenderal dan Unit Utama Eselon 1 lainnya untuk menyediakan anggaran khusus bagi kegiatan UPP Pusat dan Kanwil. b) Menginstruksikan kepada Sekretaris Jenderal untuk melakukan evaluasi struktur dan susunan keanggotaan UPP Kemenkumham. c) Memberikan reward kepada satuan kerja yang bebas dari pungli, Menyusun mekanisme pemberian reward dan Menetapkan jenis/bentuk reward yang akan diberikan. 2. Unit pemberantasan pungli kemenkumham perlu me lakukan: a) Membuat standar operasional prosedur (SOP) terkait dengan peran tugas dan fungsi UPP di lingkungan Kemenkumham; 70 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

90 b) Membuat uraian tugas/job description pada setiap anggota tim UPP Kanwil dan satgas Saber Pungli UPT; c) Meningkatkan kemampuan dan keterampilan anggota UPP Kemenkumham, dengan melakukan pelatihan bersama penanganan kejahatan pungli. d) Membangun kerjasama dengan Pemerintah Daerah (PEMDA) dan Saber Pungli lainnya di daerah dalam penanggulangan pungli. e) Membuat sistem pelaporan elektronik, yang bertujuan agar dapat memantau kegiatan yang dilaksanakan oleh tiap tiap UPP Pusat dan Kanwil, yang dilaporkan secara priodik. f) Membangun atau mendirikan sistem komunikasi bersama antar UPP Pusat dan UPP Kantor Wilayah untuk memudahkan koordinasi. g) Pembuatan mekanisme penanganan pengaduan yang berjenjang dari sekretariat ke setiap pokja h) Setiap UPP pusat maupun Kantor Wilayah menyediakan layanan pengaduan. i) Penguatan tugas pencegahan dengan cara membangun sistem pencegahan sedini mungkin dengan cara melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah dan sosialisasi pungli ke para istri pegawai. melakukan sosialisasi melalui banner, pamflet media sosial, media cetak dan media elektronik. j) Mengoptimalkan upaya pencegahan pungli melalui kegiatan penyuluhan hukum oleh Divisi Pelayanan Hukum dan HAM Kantor Wilayah. k) Penguatan tugas penindakan dengan menambahkan fungsi intelegen serta membangun kerjasama intelegen dengan Saber Pungli Nasional dalam menjalankan fungsi penindakan. Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 71

91 l) Penguatan tugas yustisi, dengan cara meningkatkan kemampuan/pemahaman anggota pokja yustisi tentang tindakan administratif dan penegakan hukum. m) Menyediakan sekretariat UPP Kemenkumham baik pusat maupun kantor wilayah, hal ini berguna untuk memudahkan berkoordinasi dan memudahkan menerima laporan pengaduan masyarakat. 72 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

92 DAFTAR PUSTAKA Buku Adam I. Indrawijaya Perilaku organiasi. Jakarta Sinar baru Algesindo. Arif Gosita Masalah Korban Kejahatan. Buana Ilmu, Jakarta. Dirjosisworo, Soejono, Kriminologo (Pencegahan tentang Sebab-sebab Kejahatan). Politea, Bogor. Lijan Poltak Sinambela Reformasi Pelayanan Publik: Teori, Kebijakan dan Implermentasi. Jakarta: Sinar Grafika Offset. M Nafarin, 2012, Penganggaran Perusahaan, Salemba empat, Jakarta. P.A.F. Lamintang Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia. Sinar Grafika. Jakarta. P.A.F. Lamintang Delik-Delik Khusus Kejahatan Jabatan Tertentu Sebagai Tindak Pidana Korupsi. Sinar Grafika. Jakarta. Rasul, Syahrudin Pengintegrasian Sistem Akuntabilitas Kinerja dan Anggaran dalam Perspektif UU NO. 17/2003 Tentang Keuangan Negara. Jakarta: PNRI. Romli Atmasasmita.1992.Teori dan Kapita Selekta Kriminologi. Erecsa.Bandung Scholten, Mr. Paul-, 1954, Algemeen /Deel,, NV Uitgeversmaatschappij W.E.J. Tjeenk Willink Soedjono, Dirdjosisworo Pungli: Analisa Hukum & Kriminologi, cetakan ke-2. Bandung: Sinar Baru. Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 73

93 Sugiyono Metode Penelitian Kunatitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta. Soedjono, Soedjono, Dirdjosisworo Pungli: Analisa Hukum & Kriminologi, cetakan ke-2. Bandung: Sinar Baru. Turner, Mark and Hulme, David Governance, Administrasi, and Development: Making The State Work. London: MacMillan Press Ltd. Tano Hatubuan Rangitgit, 2011 Penegakan Hukum terhadap Tindak Pidana Korupsi Kasus Pungutan Liar (studi kasus pungutan liar di Jembatan Timbang Sibolangit Deli Serdang Sumatera Utara). Universitas Sumatera Utara. Moekijat Adminitrasi Perkantoran. Bandung: Mandar Maju Hartatik, Indah Puji Buku Praktis Mengembangkan SDM. Jogjakarta. Laksana. Hasil Penelitian/Tesis, Skripsi/ Majalah BPKP. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Korupsi pada Pengelolaan Pelayanan Masyarakat. Jakarta: Tim Pengkajian SPKN RI I wayan sudana: Mewujudkan Birokrasi yang Mengedepankan Etika Pelayanan Publik: 2006 Internet Sesmenkopolhkam Letjen Yoedhi Swastono: Workshop Nasional Saber Pungli nusantara/45838/tim-saber-pungli-kemenkumham-fokussentuh-lapas-dan-imigrasi.html 74 Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

94 Fuska Sani Evani/PCN: petugas-imigrasi-yogya-terkena-ott-satgas-pungli.html diakses 27 Maret mewujudkan-birokrasi-yang-mengedepankan-etikapelayanan-publik/ Ardeno Kurniawan, S.E., M.Acc, Ak.: Fraud di Sektor Publik dan Integritas Nasional unit/sulsel/files/paraikatte/26_paraikatte_edisi_26_1_web. pdf diakses 1 Maret 2017 Dewi ; Nabila ZR: Tinjauan Kriminologis terhadap Pungutan Liar oleh Penyelenggara Pendididkan di sekolah yang berada di wilayah hukum Makassar (skripsi) diakses 19 juli Pukul wib wiki/pungutan_liar, terakhir Eka Dimas Puspita. pengertian-dan-jenis-jenis-teori-adm.html Sudikno Mertokusumo: meningkatkan kesadaran Hukum Masyarakat. meningkatkan-kesadaran-hukum-masyarakat.html diakses diakses 26 juli Peraturan Perundang- Undangan Peran Unit Pemberantasan Pungli (UPP) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk Mendorong Akuntabilitas dan Integritas Pegawai dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi 75

95 Republik Indonesia, Kitap Undang-undang Hukum Pidana, KUHP Nomor 1 tahun 1947 Republik Indonesia, Undang-Undang Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. UU Nomor 20 Tahun 2001 Republik Indonesia, Peraturan Presiden Tentang Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar. Perpres Nomor 87 Tahun 2016 Republik Indonesia, Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI, tentang Tim Pemantau Pemberantasan Pungutan Liar di Lingkungan Kementerian Hukum dan HAM. Kepmen Nomor M.HH-04.PW Tahun 2016 Republik Indonesia, Keputusan Menteri Hukum dan HAM tentang Unit Pemberantasan Pungli di Lingkungan Kementerian Hukum dan HAM. Kepmen Nomor M.HH.06.PW Tahun Badan Penelitian Dan Pengembangan Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia

96