JURNAL Smart PAUD. Vol. 1, No.2, Juli 2018, p-issn , e-issn

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "JURNAL Smart PAUD. Vol. 1, No.2, Juli 2018, p-issn , e-issn"

Transkripsi

1 JURNAL Smart PAUD Vol. 1, No.2, Juli 2018, p-issn , e-issn EFEKTIVITAS POLA PENGASUHAN ORANG TUA TERHADAP KETERAMPILAN SOSIAL NOSARARA NOSABATUTU ANAK Andi Agusniatih 1) *, Sitti Supiati 1) 1 Jurusan PG-PAUD, Universitas Tadulako, Jln. Soekarno Hatta, Palu, Sulawesi Tengah, Indonesia * Korespondensi Penulis. Telp: Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pola asuh orang tua terhadap keterampilan sosial Nosarara Nosabatutu di Kota Palu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian Expost Facto. Populasi penelitian ini adalah seluruh Taman Kanak-Kanak (TK) yang ada diwilayah kota Palu dengan teknik cluster random sampling. Teknik pengumpulan data pengujian hipotesis menggunakan analisis varians satu jalur. Tekhnik analisis data menggunakan analisis statisik deskriptif dan analisis inferensial dengan observasi dan angket. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil bahwa diantara ketiga pola pengasuhan yakni pola pengasuhan orang tua demokratis rata-rata perolehan keterampilan sosialnya mencapai 69,0370, rata-rata perolehan pola pengasuhan otoriter mencapai 54,3061, pola pengasuhan permisif rata-rata 64,3404. Dari ketiga pola asuh yang paling efektif mendukung keterampilan sosial Nosarara Nosabatutu adalah pola pengasuhan demokratis Kata kunci: Keterampilan sosial, pola asuh orang tua, anak THE EFFECTIVENESS OF THE PARENTING PATTERNS PARENTS TOWARDS THE CHILD'S SOCIAL SKILLS NOSARARA NOSABATUTU Abstract This research aims to know the effectiveness of parenting parents against social skills Nosarara Nosabatutu in the town of Palu. This research uses a quantitative approach to the type of research the Expost Facto. The population of this research is the entire kindergarten (TK) that there is a relic in the town of Palu with cluster random sampling techniques. Data collection techniques of hypothesis testing using analysis of variance of one line. Engineering data analysis using descriptive analysis ' and inferensial analysis with observation and question form. Based on the analysis of data obtained results that among these three patterns of caregiving caregiving patterns i.e. Democratic parents average social skills acquisition reached , the average earnings of authoritarian parenting pattern reaches , patterns permissive parenting average The three most effective parenting support social skills Nosarara Nosabatutu is a pattern of democratic parenting Keywords: Social skills, parenting parents, children PENDAHULUAN Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial karena manusia membutuhkan satu sama lain. Manusia hidup adalah untuk berinteraksi dengan orang lain. Dalam berinteraksi antar manusia memerlukan keterampilan, salah satunya adalah keterampilan sosial. Keterampilan sosial menurut Rogers (1995: 64) adalah kemampuan anak untuk mengelolah lingkungannya di dalam bekerjasama, tolong-menolong, berbagi dan sukses memecahkan masalah sosial. Hampir sama dengan Morrison (2012) bahwa keterampilan sosial adalah perilaku yang diperlihatkan anak dalam kehidupan sehari-hari yakni mencakup bergaul dan bekerjasama dengan orang lain, mempelajari dan menggunakan tata krama. Johnson and Johnson (1999: 82-84) juga mendefinisikan bahwa keterampilan sosial merupakan pengetahuan keterampilan antar pribadi, kemampuan untuk membangun hubungan dan menjaga hubungan yang positif 169

2 dengan orang lain, sikap, motivasi orang lain tentang apa yang dikatakan dan dilakukannya, dan kemampuan untuk berkomunikasi dengan jelas dan efektif, serta kemampuan membangun hubungan yang efektif dan kooperatif. Hargie (2006: 1-12) mengutip beberapa definisi dari para ahli mengenai pengertian keterampilan sosial antara lain: 1) Combs adalah kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain, dalam konteks sosial dengan cara-cara khusus yang dapat diterima oleh lingkungan dan pada saat bersamaan dapat bermanfaat secara pribadi, bermanfaat secara bersama atau dapat bermanfaat bagi orang lain, 2) Rinn dan Markl mengatakan keterampilan sosial sebagai daftar yang bermuatan perilaku lisan dan non lisan, 3) Senada dengan Wilkinson keterampilan sosial adalah perilaku lisan dan non lisan, yakni sarana dimana orang berkomunikasi dengan orang lain, dan mereka membuat unsur dasar dari keterampilan sosial, 4) Sergin dan Dillard bahwa keterampilan sosial adalah kemampuan individu untuk mencapai sasaran dalam berhubungan dengan orang lain, yang efisien dan tepat. Keterampilan sosial tersebut didefinisikan terkait dengan unit perilaku yang dapat diidentifikasikan/diperlihatkan oleh individu. Keterampilan sosial Nosarara Nosabatutu yang merupakan konsep filosofis masyarakat Kota Palu (masyarakat suku Kaili), yang memiliki arti Bersama-sama bersatu dalam persaudaraan menuju keberhasilan, telah lama mewarnai kehidupan masyarakat Kota Palu. Itulah gambaran kebersamaan untuk mencapai tujuan keberhasilan, yang sebaiknya ditanamkan sejak anak usia dini dimana tujuan utama adalah memperbaiki kehidupan masyarakat dengan menghilangkan penderitaan mereka sehingga mencapai kemakmuran. Namun seiring dinamika waktu dan perkembangan zaman, filosofis ini juga mulai tergerus, sehingga kurang dipahami dan dihayati oleh masyarakat khususnya generasi muda. Nosarara Nosabatutu adalah semboyan dalam dialek Kaili (bahasa suku kaili), salah satu suku yang ada di wilayah Palu yang merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semboyan ini merupakan petuah bagi seluruh masyarakat Kota Palu, yang diikrarkan bersama dengan pemerintah Kota Palu pada tanggal 7 Juni 2007 dengan melibatkan berbagai Stakeholders dan organisasi kemasyarakatan. Semboyan ini diikrarkan bagi keberlangsungan pengembangan nilai-nilai budaya dan sosial masyarakat Kota Palu. Keterampilan sosial yang mengacu pada kearifan lokal Nosarara Nosabatutu merupakan perilaku yang diperlihatkan anak dalam kehidupan sehari-hari yakni mencakup bergaul dan bekerjasama dengan orang lain, mempelajari dan menggunakan tata krama merupakan keterampilan sosial yang sangat penting dimana selain bermanfaat bagi diri sendiri, bermanfaat secara bersama-sama juga bermanfaat bagi orang lain. Fakta membuktikan berbagai bentuk krisis sosial khususnya di Kota Palu masih kerap terjadi, seperti: kemiskinan, kurang disiplin, kurang empati terhadap masalah sosial, kurang efektif dalam berkomunikasi, bentuk perilaku kekerasan, pemaksaan kehendak, konflik antar kelompok, dan konflik antar keluarga. Hal ini menjadi cerminan masih buruknya keterampilan sosial Nosarara Nosabatutu yang dimiliki oleh masyarakat Kota Palu. Karakteristik sosial anak yang akan diteliti adalah anak usia 4-6 tahun. Usia ini merupakan masa golden age, masa ini adalah masa yang penting dalam membentuk intelegensi, kepribadian dan perilaku sosial anak. Menurut Jamaris (2005: 40) usia 4-6 tahun sudah dapat membedakan yang benar dan yang tidak benar, dan sudah dapat menerima peraturan dan disiplin. Sedangkan Bandura dalam Salkind (2007: 304-6), periode ini juga dikenal sebagai usia meniru, seperti meniru pembicaraan atau tindakan yang dilihatnya, baik yang sesuai norma ataupun terkadang meniru sesuatu tingkah laku buruk yang tidak pantas dilakukan. Lingkungan sangat mempengaruhi keterampilan sosial anak. Berdasarkan pandangan Behaviorisme dalam Salkind (2007: 284), anak belajar karena ada penguatan (reonforcement) sebagai efek imbalan (reward) dan hukuman (punishment), sebagai bentuk penekanan agar perilaku buruk tidak dilakukan lagi. Perilaku yang disetujui akan cenderung membuat anak mengulangi lagi. Pengulangan yang dilakukan secara konsisten atau pembiasaan dapat terinternalisasi dalam diri anak hingga dewasa. Sepakat dengan ide Behaviorisme, Bandura dalam Jamaris (2010: 153) menekankan peran model dalam berperilaku. Anak-anak belajar menolong karena melihat contoh atau model yang diperlihatkan oleh orang-orang yang berada dilingkungannya. 170

3 Vygotsky dalam Jamaris (2010: 212) seseorang psikolog Rusia menggulirkan teori sosio kultural yang terkenal sampai saat ini. Ia mengatakan bahwa pembelajaran terjadi ketika anak bekerja dalam zona perkembangan proksimal (zone of proximal development). Anak tidak bisa mengerjakan tugasnya seorang diri tetapi membutuhkan bantuan teman atau orang dewasa yang kompeten. Vygotsky menggunakan perancah (scaffolding) untuk memberikan dukungan kepada anak agar mampu menyelesaikan tugasnya. Dukungan itu kemudian dihilangkan jika anak sudah bisa dilepas sendiri dalam menyelesaikan tugas tersebut. Konsep yang disampaikan Vygotsky ini mengedepankan kerjasama antar sesama anak dan orang dewasa yang ada disekelilingnya. Aspek bekerjasama dan saling membantu membuat anak-anak bisa meningkatkan kemampuan semaksimal mungkin yang bisa ia capai. Oleh karena itu, pada usia berapapun, anak bisa berinteraksi dengan teman sebaya atau orang dewasa yang berada di dekatnya. Interaksi, kerjasama dan saling membantu ini memungkinkan keterampilan sosial semakin berkembang pada usia dini khususnya usia 4-6 tahun. Berbeda dengan Vygotsky, Piaget dalam Salkind (2007: 190) justru memandang bahwa anak berusia empat sampai tujuh tahun belum terlalu mengerti tentang perilaku prososial. Kecenderungan berpikir egosentrisme di masa ini membuat mereka tidak biasa membedakan perspektif orang lain. Apapun yang ada disekitarnya menjadi miliknya sendiri. Ketika bermainpun mereka akan bermain secara sendiri-sendiri meski berada dilingkungan yang sama dengan teman-temannya. Anak-anak yang berada dalam tahap praoprasional ini seringkali menafsirkan sesuatu dengan merujuk pada dirinya sendiri. Pandangan Piaget ini dimaklumi karena memang fokus utama pengkajian teorinya bertitik tekan pada aspek kognitif, bukan pada aspek sosial. Meskipun demikian, Piaget beranggapan bahwa semua anak mengalami urutan perkembangan yang sama, tetapi mengalami kecepatan yang berbeda. Perbedaan tersebut memungkinkan orang tua dan guru membuat strategi pendekatan pembelajaran dan penilaian berdasarkan sudut perjalanan perkembangan anak itu sendiri. Piaget percaya bahwa perkembangan kognitif berkembang lebih dahulu. Kemampuan kognitif ini kemudian menentukan kemampuan anak-anak bernalar dalam situasi sosial. Anakanak berada dalam tahap praoprasional belum mampu berprilaku sosial, seperti berinteraksi dengan bekerjasama dan saling menolong karena memang kemampuan penalaran moral dan sosialnya belum mencapai ke arah itu. Pada usia enam tahun anak-anak sudah bisa mengetahui aturan yang disebut dengan moralitas heteronom. Meskipun sampai usia 10 tahun anak tidak bersungguh-sungguh dalam mentaatinya. Mereka sekedar tahu, bahwa ada aturan yang harus ditaati dan siapa yang melanggar akan dikenai sanksi. Aturan tersebut dibuat secara absolut oleh orang lain yang memiliki otoritas, seperti orang tua atau guru di sekolah. Pengkajian utama pada aspek sosial dilakukan oleh Erikson dalam Salkind (2007: 190) dengan teorinya yang terkenal dengan teori psikososial. Menurutnya anak usia 3-6 tahun berada dalam krisis psikososial inisiatif vs rasa bersalah. Kemampuannya ini menyebabkan munculnya inisiatif-inisiatif yang semakin besar. Jika perilaku ini dikecam dan dilarang, maka anak akan merasa bersalah dan cenderung untuk tidak mau melakukan perbuatan yang mengarah pada perilaku sosial tersebut. Dorongandorongan alami anak untuk berinsiatif ini akan menghilang bahkan sampai mereka berusia dewasa. Berdasarkan pandangan Behaviorisme dalam Jamaris (2010: 153) bahwa anak usia dini tidak bisa dengan sendirinya mengembangkan kemampuan sosialnya, melainkan membutuhkan keteladan orang dewasa dan pembiasaan seharihari dalam pembentukan perilaku sosialnya. Anak dapat dibentuk, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orang yang membentuknya. Oleh sebab itu, apakah anak akan menjadi pelukis, atau menjadi dokter,dll, sangat ditentukan oleh lingkungannya, yaitu orangorang yang mendidik dan mengarahkan perkembangan anak, sesuai dengan tujuan yang diinginkannya. Senada dengan Santrock (2008: 56) bahwa perkembangan anak khususnya anak usia dini dipengaruhi oleh lingkungan di mana anak tinggal dan pengalaman yang didapatkan dari hubungan dengan lingkungannya. Faktor keluarga adalah lingkungan pertama yang bertanggung jawab mengarahkan dan 171

4 membimbing terhadap pendidikan dan pengetahuan anaknya. Pelaksanaannya terjadi secara informal, karena secara langsung anak memperoleh, baik secara sadar maupun tidak, sikap dan kebiasaan orang tua dilihat, dinilai dan ditiru oleh anak yang kemudian menjadi kebiasaan pada diri anak. Hal ini terjadi disebabkan anak mengidentifikasi orang tua sebelum mengidentifikasi orang lain. Keluarga merupakan primary group bagi anak dan merupakan lingkungan sosial pertama, tempat anak berkembang sebagai mahluk sosial. Kebiasaan-kebiasaan dan keterampilan yang dipelajari dan dikembangkan pertama dalam lingkungan keluarga dengan bimbingan dan arahan dari orang tua, menjadi landasan bagi anak untuk melakukan penyusaian, dengan orang lain diluar lingkungan keluarga, baik dengan teman sebaya, maupun orang dewasa lainnya. Pada interaksi sosial dengan orang tua, anak memperoleh bekal yang memungkinkan menjadi anggota masyarakat yang baik. Sesuai yang dikatakan oleh Dewantara (1977: 28) bahwa masa kanak-kanak pendidikan yang diberikan adalah memberi contoh dan pembiasaan. Freud dalam Crain (2007: ) sejak masa kanak-kanak awal, orang tua melatih anak bertindak dengan cara benar secara sosial. Orang tua melatih anak menggunakan toilet, melatih anak untuk makan, minum, mandi sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan sosial sangat dibutuhkan oleh anak, khususnya anak usia dini, di mana anak usia ini mudah menyerap segala pelajaran dengan baik. Apabila dilihat dari segi sosial, keluarga merupakan suatu kesatuan hidup. Sebagai sistem sosial, keluarga terdiri ayah, ibu, dan anak. Ikatan kekeluargaan membantu anak mengembangkan sifat persahabatan, cinta kasih dan hubungan antar pribadi, kerjasama, disiplin dan perilaku baik. Sebagai figur yang paling banyak dekat dengan anak, orang tua tidak hanya berperan dalam mengajarkan keterampilan sosial secara langsung pada anak, tetapi juga berperan dalam pembentukan hubungan dengan lingkungan, terutama dengan teman sebaya. Anak tidak mungkin bisa belajar bergaul, bila lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri. Semakin banyak dan bervariasi lingkungan bergaulnya, semakin banyak hal-hal yang bisa di pelajari anak sebagai bekal keterampilan sosialnya. Dengan demikian, keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap penerapan keterampilan sosial Nosarara Nosabatutu anak. Erikson (2008: 29) bahwa perlakuan termasuk dalam hal ini bentuk pengasuhan orang tua yang diberikan kepada anak memiliki efek jangka panjang pada perkembangan sosial anak hingga dewasa. Apa yang diperoleh dari orang tua akan menjadi pengalaman awal anak yang akan mempengaruhi kepribadian anak selanjutnya. Peran orang tua dalam mengasuh, membimbing, mendidik, mengawasi, memberi perhatian, dan contoh yang baik kepada anak akan berdampak pada perkembangan kepribadian sosial anak. Masih rendahnya pemahaman keterampilan sosial Nosarara Nosabatutu yang dimiliki anak tidak terlepas dari pengaruh berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Salah satu faktor yang diperkirakan turut mempengaruhi, diantaranya pola pengasuhan yang diterapkan oleh orangtua kepada anaknya. Beberapa model pola asuh orang tua juga dapat meningkatkan keterampilan sosial pada peserta didik. Pola asuh orang tua secara harfiah mempunyai maksud pola interaksi antara orang tua dan anak. Pola interaksi ini meliputi, bagaimana sikap atau perilaku orang tua saat berhubungan dengan anak. Tipe atau bentuk pola asuh orang tua untuk mendidik anakanaknya sangat bermacam-macam dan bervariasi. Dewantara (1977: 374) pola pengasuhan orang tua ditinjau dalam konteks pendidikan, yakni momong, among, dan ngemong yang dapat dilakukan pemberian contoh dan pembiasaan sesuai dengan perkembangan umur anak. Pengasuhan yang benar, harus didasari oleh kasih sayang dan kemesraan, serta penerimaan anak sesuai dengan kemampuannya. Menurutnya, di dalam pendidikan atau pengasuhan anak harus dijauhkan dari unsurunsur pemaksaan. Pengasuhan orang tua sering dikonseptualisasikan sebagai suatu interaksi antara dua dimensi perilaku orang tua. Pertama, berkenaan dengan hubungan emosionalnya antara orang tua dengan anak. Mulai dari sikap penerimaan hingga sikap penolakan terhadap anak. Kedua, cara orang tua dalam mengontrol perilaku anaknya, meliputi kontrol orang tua yang bersifat membatasi atau sama sekali tidak ada pembatasan perilaku anak. 172

5 Tiga pola pengasuhan menurut Santrock (2008: 91-92) yakni: 1) pengasuhan autoritatif adalah pola pengasuhan yang mendorong anaknya untuk menjadi independen tetapi masih membatasi dan mengontrol tindakan anaknya. Anak yang orang tuanya autoritatif seringkali berperilaku kompeten secara sosial. Mereka cenderung mandiri, tidak cepat puas, gaul, dan memperlihatkan harga diri yang tinggi. 2) Pola pengasuhan permisif adalah pengasuhan di mana orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anaknya, tapi tidak banyak memberi batasan atau kekangan pada perilaku mereka. Hasilnya adalah anak tidak belajar untuk mengontrol perilakunya sendiri. Orang tua ini tidak memperhatikan seluruh aspek perkembangan si anak. 3) Pola pengasuhan otoriter adalah pengasuhan yang bersifat membatasi dan menghukum. Orang tua yang otoriter memerintahkan anak untuk mengikuti petunjuk mereka dan menghormati mereka. Orang tua membatasi dan mengontrol anak mereka dan tidak mengizinkan anak banyak cakap. Setiap orang tua memiliki cara atau pola pengasuhan tersendiri dalam mengasuh dan membimbing anak. Cara dan pola pengasuhan yang dikemukakan oleh para ahli tersebut tentu berbeda antara satu keluarga dengan keluarga yang lainnya, ada yang menerapkan pola pengasuhan autoritatif, dan ada yang menerapkan pola pengasuhan permisif dan otoriter. Pola pengasuhan orang tua merupakan gambaran tentang sikap dan perilaku orang tua dan anak dalam berinteraksi, berkomunikasi selama mengadakan kegiatan pengasuhan. Kebanyakan dalam kehidupan seharihari orang tua menggunakan kombinasi dari ke semua pola asuh yang ada, akan tetapi ada jenis pola asuh akan terlihat lebih dominan daripada pola asuh lainnya dan sifatnya hampir stabil sepanjang waktu. Mengingat pentingnya keterampilan sosial Nosarara Nosabatutu bagi peserta didik, maka diperlukan pola asuh yang efektif yang mampu mengembangkan nilai-nilai dan keterampilan sosial Nosarara Nosabatutu anak. Mencermati kajian diatas, penulis melakukan penelitian dan mengkaji aspek ini khususnya pada anak usia dini. Oleh karena itu, penulis mengangkat judul penelitian efektivitas pola pengasuhan terhadap keterampilan sosial nosarara nosabatutu anak pada kelompok B Taman Kanak-Kanak di Kota Palu Sulawesi Tengah. METODE Penelitian ini dilaksanakan pada Taman Kanak-Kanak (TK) di Kota Palu Sulawesi Tengah. Waktu pelaksanaan penelitian dilakukan pada tahun Sampel penelitian ditentukan dengan teknik cluster random sampling. Jenis ini yaitu penelitian expost facto atau kausal komparatif yang menguraikan pengaruh antara suatu variabel dengan variabel lain. Variabel bebas adalah pola asuh dan variabel terikat adalah keterampilan sosial. Pengujian hipotesis menggunakan analisis varians satu jalur. Tekhnik analisis data menggunakan analisis statisik deskriptif dan analisis inferensial HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pola pengasuhan orang tua mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keterampilan sosial anak. Hal ini terlihat dari hasil pengujian hipotesis sebagai berikut: 1. Hasil keterampilan sosial anak untuk kelompok anak yang memiliki pola demokratis lebih tinggi dari kelompok gaya pengasuhan orang tua kategori permisif Rata-rata perolehan anak dari pola pengasuhan demokratis mencapai 69,0370 lebih tinggi dari pada anak dari gaya pengasuhan permisif yakni 64,3404. Hal ini didasarkan karena anak dari gaya pengasuhan autoritatif menurut Baumrind lebih kompoten secara sosial, senang bergaul dan berteman, senang bermain bersama,senang mengerjakan tugas bersama-sama, suka menolong orang dan bertanggung jawab. Anak yang dibesarkan oleh orang tua yang demokratis, cenderung menjadi mandiri dan matang dalam interaksi sosial, sedangkan anak dari gaya pengasuhan permisif kurang kompoten secara sosial, senang menjalin kontak dengan teman sebayanya hanya saja sulit menyusaikan diri secara sosial, cenderung kurang kontrol diri, senang menganggu dan merampas permaianan temannya dan bertindak sekehendak hatinya. Hasil penelitian ini menunjukkan, ratarata perolehan keterampilan sosial untuk kelompok anak yang memiliki gaya pengasuhan orang tua dengan kategori demokratis, lebih tinggi dari kelompok gaya pengasuhan orang tua 173

6 kategori permisif.dengan demikian, dapat dikatakan bahwa anak dari pola pengasuhan orang tua demokratis lebih efektif dalam mendukung keterampilan sosial Nosarara Nosabatutu, dibanding anak dari pola pengasuhan permisif 2. Hasil keterampilan sosial anak untuk kelompok anak yang memiliki pola demokratis lebih tinggi dari kelompok pola pengasuhan orang tua kategori otoriter Hal ini terlihat dari rata-rata perolehan keterampilan sosial anak dari gaya pengasuhan demokratis mencapai 69,0370 lebih tinggi dari pada pola pengasuhan otoriter yakni 54,3061. Hal ini didasarkan karena pola pengasuhan yang demokratis, memiliki karakteristik yang lebih efektif mendukung keterampilan sosial Nosarara Nosabatutu. Anak dengan gaya pengasuhan demokratis memiliki ciri-ciri, mudah menyusaikan diri, mandiri, bertanggung jawab, empati, simpati pada temannya, dan sopan dalam berkomunikasi. Karakteristik yang demikian, maka akan lebih efektif dalam mendukung keterampilan sosial seperti berempati, simpati, mengontrol diri, kerjasama dan bertanggung jawab, yang akan membentuk anak menjadi anak yang berkepribadian sosial yang lebih baik. Anak dengan gaya pengasuhan otoriter cenderung kurang efektif dalam meningkatkan keterampilan sosial anak. Anak yang memiliki gaya pengasuhan otoriter dimungkinkan akan meningkat keterampilan sosialnya, apabila anak mendapat kesempatan dari orangtuanya untuk bermain bersama dengan teman sebayanya. Melalui bermain anak dapat belajar dan mendapatkan pengalaman dari temannya, bagaimana bekerjasama, berkomunikasi, berempati, saling tolong menolong dan mengontrol diri. 3. Hasil keterampilan sosial anak untuk kelompok anak yang memiliki pola permisiflebih tinggi dari kelompok pola pengasuhan orang tua kategori otoriter Hal ini terlihat dari rata-rata perolehan keterampilan sosial anak dari gaya pengasuhan permisifmencapai 64,3404 lebih tinggi dari pada pola pengasuhan otoriter yakni 54,3061. Hal ini didasarkan pola pengasuhan permisif dimana orang tua memberi kebebasan sepenuhnya kepada anak untuk bersosialisasi atau bermain bersama dengan teman sebayanya tanpa batas, walaupun kurang diterima keberadaannya oleh temannya karena sering mengganggu, berteriak dalam kelas dan egois atau merampas barang milik temannya. Akan tetapi seiring berjalannya waktu melalui kegiatan pembelajaran dikelas yang diberikan oleh gurunya,lama kelamaan karakteristik yang dimiliki oleh anak tersebut semaking hari semaking berkurang. Berbeda dengan anak dari pola pengasuhan otoriter, dengan karakteristik yang dimiliki kurang berani, pemalu karena kekangan orang tua yang tidak memberi izin bermain, sehingga anak dari kelompok pengasuhan otoriter kurang senang bermain, bekerjasama dengan anak yang lain. Anak dengan pola pengasuhan otoriter cenderung kurang efektif dalam meningkatkan keterampilan sosial nosarara nosabatutu anak. Anak yang memiliki gaya pengasuhan otoriter dimungkinkan akan meningkat keterampilan sosialnya, apabila anak sering mendapat kesempatan dari orangtuanya untuk bersosialisasi dan bermain bersama dengan teman sebayanya. Anak dapat belajar dan mendapatkan pengalaman dari temannya melalui kegiatan bermain, seperti: bekerjasama, berkomunikasi, berempati, bersimpati dan mengontrol diri SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan: 1. Terdapat perbedaan keterampilan sosial anak untuk kelompok anak pola pengasuhan demokratis dengan pola pengasuhan permisif. Terbukti rata-rata perolehan keterampilan sosial dari pengasuhan demokratis lebih tinggi dari pola pengasuhan permisif, sehingga pola pengasuhan demokratis lebih efektif mendukung keterampilan sosial Nosarara Nosabatutu dari pada pola pengasuhan anak permisif. 2. Terdapat pebedaan keterampilan sosial anak untuk kelompok anak yang memiliki pola demokratis, lebih tinggi dari kelompok gaya pengasuhan orang tua kategori otoriter. Terbukti rata-rata perolehan keterampilan sosial dari pengasuhan demokratis lebih tinggi dari pola pengasuhan otoriter, sehingga pola pengasuhan demokratis lebih 174

7 efektif mendukung keterampilan sosial Nosarara Nosabatutu dari pada pola pengasuhan otoriter. 3. Terdapat pebedaan keterampilan sosial anak untuk kelompok anak yang memiliki pola permisif, lebih tinggi dari kelompok gaya pengasuhan orang tua kategori otoriter. Terbukti rata-rata perolehan keterampilan sosial dari pengasuhan permisif lebih tinggi dari pola pengasuhan otoriter, sehingga anak dari pola pengasuhan demokratis lebih efektif mendukung keterampilan sosial NosararaNosabatutu dari pada pola pengasuhan otoriter. Saran Terdapat beberapa saran yang perlu disampaikan adalah: 1. Kepada orang tua anak diharapkan : a) Dapat meningkatkan kualitas pengasuhannya dengan menerapkan tipe pengasuhan autoritaif, pengasuhan tipe demokratis terbukti dapat membentuk anak lebih kompoten secara sosial di dalam berempati, bersimpati, bekerjasama, berkomunikasi yang sopan; b). Dapat bekerjasama dengan semua anggota keluarga, agar menjadi contoh dan tauladan yang baik, sehingga anak memperoleh bekal yang memungkinkan menjadi anggota masyarakat yang baik. 2. Kepada kepala sekolah diharapkan, dapat memfasilitasi kerjasama semua elemen yang terkait dengan anak yakni guru, staf administrasi, pembantu sekolah serta orang tua murid, agar semua elemen ini dapat menjadi role model yang baik, dan dapat melakukan intensitas komunikasi dan kerjasama yang baik dalam menangani perkembangan keterampilan sosial nosarara nosabatutu anak. 3. Kepada para peneliti, diharapkan: a). Melakukan kajian yang mendalam apabila berminat melakukan penelitian dibidang ini, penelitian ini memiliki keterbatasan, masih banyak kemampuan keterampilan sosial yang belum digali dan dilaksanakan, hanya terfokus pada kemampuan anak dalam berempati, bersimpati, bekerjasama, berkomunikasi; b). Kepada para peneliti yang berminat melakukan penelitian lanjutan dengan melakukan penelitian tindakan, agar dapat diketahui model mana yang paling efektif dalam meningkatkan keterampilan sosial. DAFTAR PUSTAKA Crain,William Teori Perkembangan Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Dewantara, K. H Karya Kihajar Dewantara. Yogyakarta: Majelis Luhur Taman Siswa. Erikson, Erik Psikologi Komunikasi. Bandung: Rosdakarya. Hargie, Owen Social Skills In Interpersonal Communication Third Edition. British: British Library In Publication Data. Jamaris, Martini Orentasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Penamas Murni. Johnson, W. David, Johnson, T. Roger Learning Together and Alone, Cooperative, Competitive, and Indivudualistic Learning. Third Edition. Massachusets: Allyn and Bacon Publisher. Morrison, S George Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta, Indeks. Lwin, May et, al How to Multiply your Child,s Intelligence, alih Bahasa Cristine Sujana. Yogyakarta, Indeks. Rogers, S Cosby. and Janet K. Sawyers Play In The Lives Of Children. Washington, DC: Printed The United States of America. Salkind, J Neil Teori-Teori Perkembangan Manusia: Sejarah Kemunculan, Konsepsi Dasar, Analisis Komparatif, dan Aflikasi. Bandung: Nusamedia. Santrock, W. John Masa Perkembangan Anak, Edisi ke 11. Jakarta: Salemba Humanika Psikologi Pendidikan, Edisi kedua. Jakarta: Kencana. 175