Notulensi Penyusunan Kajian Potensi dan Peluang Investasi Sektor Pangan di Jawa Tengah Pelaksanaan: Hari/Tanggal : Rabu, 29 Agustus 2018 Waktu :

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Notulensi Penyusunan Kajian Potensi dan Peluang Investasi Sektor Pangan di Jawa Tengah Pelaksanaan: Hari/Tanggal : Rabu, 29 Agustus 2018 Waktu :"

Transkripsi

1 Notulensi Penyusunan Kajian Potensi dan Peluang Investasi Sektor Pangan di Jawa Tengah Pelaksanaan: Hari/Tanggal : Rabu, 29 Agustus 2018 Waktu : WIB- selesai Tempat : Candi Resto,Jl.Patimura No. 75 Sidorejo, Kota Salatiga Acara : Rapat Koordinasi Penyusunan Kajian Potensi dan Peluang Investasi Sektor Pangan Perserta: 1. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Tengah; 2. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah; 3. Kepala Biro Perekonomian SETDA Provinsi Jawa Tengah; 4. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah; 5. Kepala Biro Infrastruktur dan Sumber Daya Alam SETDA Provinsi Jawa Tengah; 6. Kepala Dinas PSDA TARU Provinsi Jawa Tengah; 7. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah; 8. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo; 9. Kepala DPMPTSP Kabupaten Sukoharjo; 10. Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Sukoharjo; 11. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Wonogiri; 12. Kepala DPMPTSP Kabupaten Wonogiri; 13. Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Wonogiri; 14. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Karanganyar; 15. Kepala DPMPTSP Kabupaten Karanganyar; 16. Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Karanganyar; 17. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten purbalingga; 18. Kepala DPMPTSP Kabupaten Purbalingga; 19. Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Purbalingga; 20. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan; 21. Kepala DPMPTSP Kabupaten Grobogan;

2 22. Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Grobogan; 23. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten semarang; 24. Kepala DPMPTSP Kabupaten Semarang; 25. Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Semarang; 26. Kepala Dinas Pertanian Kota Salatiga; 27. Kepala DPMPTSP Kota Salatiga; 28. Kepala Dinas Perdagangan Kota Salatiga; 29. Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang; 30. Kepala DPMPTSP Kota Semarang; 31. Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang; 32. Perusda Puspahastama Kota Purbalingga; 33. Tim Peneliti Pusat Studi Business and Social Enterpreneurship UKSM Salatiga; A. Pengantar Pak Yusuf Jawa Tengah adalah salah satu wilayah yang banyak menghasilkan banyak produk unggulan. Salah satunya adalah sektor pertanian yang menjadi potensi bisnis dari hulu hingga hilir. Akantetapi permasalahan yang terjadi bahwa industri ini masih sangat lemah karena faktor distribusi panjang hingga di tangan konsumen. Di dalam terdapat banyak pihak yang berkepentingan. B. Materi Pak Soni Dalam kajian ini, diharapkan adanya peningkatan investasi dari para petani, mulai dari memperbesar bisnisnya hingga perluasan pasar yang masih sangat terbuka lebar. Di sisi lain, dalam sektor permintaan (demand) masih sangat terjaga. Hal ini dapat dilihat dari tabel permintaan besar tiap tahunnya pasti meningkat walaupun tidak signifikan. Akantetapi trennya menunjukan nilai yang positif dan terjadinya fix market. Di Provinsi Jawa Tengah sendiri, Kabupaten yang menghasilkan produksi beras tertinggi ada di Cilacap. Namun euforia tingginya produksi beras tidak berbanding lurus dengan kondisi kemakmuran suatu daerah tersebut. Contohnya saja Demak dan berbagai wilayah di Jawa Tengah lainnya, yang menunjukan produksi beras yang berlebih tapi memiliki tingkat kemakmuran yang rendah pula dan bahkan masuk daftar daerah miskin.

3 Hal ini menunjukan bahwa adanya paradok pembangunan atau yang dinamakan dengan ironi pembangunan, dimana hasil yang ada berbanding terbalik. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti resiko dan biaya produksi yang tinggi tapi harga jual berada di bawah nilai. Dalam sebuah bisnis yang baik pastinya memerlukan model bisnis yang baik pula. Contohnya dalam hal efisiensi yang dihasilkan dalam pelaksanaannya, kita dapat mencontoh perusahaan transportasi Go-Jek. Dimana efisiensi terjadi dengan sangat baik, orang yang mengantar dan menjemput konsumen adalah orang yang terdekat. Sehingga biaya yang dibutuhkan untuk sekali proses produksi lebih baik dibanding ojek konvensional. Begitupun proses distribusi beras di pasaran, agar mampu memberikan harga yang bagus bagi petani perlu dilakukan efisiensi proses dalam sebuah e-business. Pemikiran adanya Bulog swasta yang akan bertanggungjawab atas proses ini akan lebih memudahkan pemerintah dalam hal pengkoordinasian. Bulog swasta dapat melakukan beberapa proses yang dibutuhkan, seperti sorting, grading, packaging dan labeling. Sehingga akan ada nilai jual tambahan pada beras yang akan mensejahterakan petani. C. Penyampaian Potensi dan Permasalahan Daerah 1. PT. SPJT a. Perusahaan daerah yang siap mendukung program-program Pemerintah Jawa Tengah di bidang infrastruktur dan ketahanan pangan. b. Adanya profit yang normal dan pendistribusian marging akan bisa menimbulkan efek positif dalam pembangunan pertanian dan ekonomi Jawa Tengah. c. Adanya pembahasan tentang outsourching. d. Perlu adanya identifikasi kondisi masing-masing daerah dalam hal kebutuhan RMU atau sistem distribusi. e. Ekosistem yang sudah ada dalam bisnis beras perlu dijaga. f. Adanya pertimbangan dan perhitungan matang dalam pembentukan brand beras baru.

4 2. PD. Puspayoga Purbalingga a. Petani adalah sektor yang perlu didukung oleh pemerintah saat ini. b. Pendapatan petani yang masih rendah, dengan perkiraan satu juta per bulan (estimasi tiga kali musim panen). c. Adanya kesulitan pemakaian alat besar karena lahan yang kecil. d. Potensi desa yang ada, seperti bengkok satu hamparan, air bersih, dana desa satu milliar dapat dikembangkan menjadi desa pariwisata pertanian. e. Potensi pembangunan desa mandiri. f. Adanya potensi tumpang sari lahan sawah dengan komoditas lain. g. Adanya kebutuhan peralatan evaporator untuk mengurangi kadar air dalam gula kelapa, yangmana produk ini memiliki potensi untuk ekspor. h. Perlu perubahan perilaku petani. i. Kebutuhan serbuk katul untuk pelet. j. Kabupaten Cilacap ingin memiliki peruda pangan. k. Kabupaten Demak memiliki potensi besar akan beras, akantetapi disana juga menjadi incaran para pedagang beras besar. 3. Perpadi Jawa Tengah a. Secara nasional Jawa Tengah surplus produksi beras sekitar ton dan anggota Perpadi sejumlah kurang lebih jiwa. b. Tataniaga yang masih caruta marut, dimana ketika panen ada gerilya yang dilakukan para pedagang di daerah penghasil. c. Kondisi harga gabah kering yang naik tapi harga beras hanya naik sedikit. d. Adanya kebutuhan untuk merevitalisasi penggilingan padi di desadesa dengan teknologi yang lebih tinggi, strategi yang bisa digunakan dengan memberikan kredit lunak atau KUR. e. Beberapa petani sudah mulai menerapkan strategi tunda jual. f. RMU kecil yang berjumlah sekitar 60% perlu dijaga agar tetapi hidup. g. Adanya komitmen antara PT. Sakti dengan para RMU kecil.

5 h. Adanya peraturan labeling dari Menteri Perdagangan yang menjadi masalah adalah karena belum banyaknya laboratorium yang berdiri. i. Adanya permintaan sayur segar dari masyarakat, bisa disiasati dengan teknologi. j. Anggaran milliaran rupiah Bulog belum banyak dimanfaatkan. k. HPP harus dinaikan. 4. Dinas Perdagangan Jawa Tengah a. Dalam pengembangan usaha baru di sektor beras untuk tidak menghilangkan pengusaha lama. b. Perpadi bisa menjadi salah satu investor untuk membelu RMU baru yang lebih efektif dan efisien. c. Gudang sudah ada dan bisa dimanfaatkan oleh petani ketika panen raya tiba. d. Kinerja bahan baku lokal masih kalah dengan impor. 5. Dinas Pertanian Jawa Tengah a. Program yang akan dikembangkan dalam bisnis beras ini untuk tidak mematikan bisnis yang sudah ada. b. Perlunya standarisasi alat pengolahan padi. c. Perlu adanya upgrade anggota Perpadi Jawa Tengah. 6. Pusdataru Jawa Tengah a. Adanya tambahan infrastruktur yang dibangun oleh Pemerintah pusat bisa menjadi sumber kemiskinan baru jika tidak direncanakan secara matang. b. Perlunya review kembali HPP yang ada saat ini. c. Perlunya review kembali HET yang ada saat ini. Notulis : Zaky Mubarok

6 Notulensi Rapat Persiapan Penyusunan Kajian Potensi dan Peluang Investasi Sektor Pangan di Jawa Tengah Pelaksanaan: Hari/Tanggal : Jumat 23 Pebruari 2018 Waktu : WIB- selesai Tempat : Ruang Rapat Lt.II (eks Arsip) DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah Acara : Rapat Persiapan Penyusunan Kajian Potensi dan Peluang Investasi Sektor Pangan Perserta: 1. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Tengah; 2. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsu Jawa Tengah; 3. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah; 4. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah; 5. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah; 6. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah; 7. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah; 8. Kepala Biro Infrastruktur dan Sumber Daya Alam SETDA Provinsi Jawa Tengah; 9. Kepala Biro Perekonomian SETDA Provinsi Jawa Tengah; 10. Kepala DPMPTSP Kabupaten Klaten; 11. Kepala DPMPTSP Kabupaten Kudus; 12. Kepala DPMPTSP Kabupaten Grobogan; 13. Kepala DPMPTSP Kabupaten Kendal; 14. Kepala DPMPTSP Kabupaten Purbalingga; 15. Tim Peneliti Pusat Studi Business and Social Enterpreneurship UKSW Salatiga; 16. Kepala Bidang Promosi DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah; 17. Kepala Bidang Pengawasan dan PengendalianDPMPTSP Provinsi Jawa Tengah;

7 18. Kepala Bidang Pengolah Data dan Informasi DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah; A. Pengantar Pak Yusuf o Perlunya tindaklanjut hasil Kajian Potensi dan Peluang Investasi Sektor Pertanian (Pangan) pada Tahun 2018 o Sektor pertanian bisa dijadikan sektor utama untuk dibangun dan dikembangkan di desa yang memiliki sumberdaya yang sangat memadai untuk itu. Sektor pertanian primer bisa dikembangkan untuk mendukung sektor lain seperti sektor pengolahan (industri) maupun sektor jasa (perdagangan) bahkan sektor pariwisata. o Sektor pertanian sangat menjanjikan untuk dijadikan usaha atau bisnis. Potensi sumberdaya alam yang luar biasa, jumlah permintaan yang sangat banyak dan terus meningkat baik digunakan untuk pangan, pakan, energi maupun untuk industri lainnya, merupakan peluang usaha yang sangat menggiurkan, mulai dari produk pertanian pangan, peternakan, perikanan, kehutanan dan perkebunan. o Sampai saat inipun masih banyak persoalan yang masih muncul dan banyak potensi yang belum dimanfaatkan. B. Materi Pak Soni o Ada beberapa cara untuk mengetahui peluang usaha. Minimal ada lima hal yang bisa dijadikan instrumen untuk mengetahui peluang usaha pertanian, yaitu aspek permintaan (demand), penawaran (supply), distribusi, harga dan teknologi. Masing-masing aspek tadi bisa digunakan acuan untuk menilai prospek tidaknya sektor pertanian. o Naik turunnya permintaan bisa disebabkan oleh beberapa hal seperti harga produk itu sendiri, harga barang lain (subtitusi, komplemen, suplemen), dan pendapatan masyarakat. Untuk barang normal (normal goods), jika harga naik maka permintaan akan produk tersebut turun dan sebaliknya jika harga barang tersebut turun, permintaan akan barang tersebut

8 akan naik; Jika harga barang subtitusinya meningkat, maka permintaan akan barang tersebut akan meningkat dan sebalikmnya; Jika harga barang komplemen atau suplemennya meningkat maka permintaan akan produk tersebut akan menurun o Dalam kajian ini, diharapkan adanya peningkatan investasi dari para petani, mulai dari memperbesar bisnisnya hingga perluasan pasar yang masih sangat terbuka lebar. Di sisi lain, dalam sektor permintaan (demand) masih sangat terjaga. Hal ini dapat dilihat dari tabel permintaan besar tiap tahunnya pasti meningkat walaupun tidak signifikan. o Bulog swasta menjadi alternative pentung sebagai peluang investasi yang berfungsi ganda (multiplier effek). C. Saran/masukan o Perlu pembenahan system distribusi sector pertanian tanaman pangan (terutama padi) mata rantai diperpendek; o Ekosistem yang sudah ada dalam bisnis beras perlu dijaga. o Pemanfaatan asset pemerintah guna pengembangan kecukupan kebutuhan local maupun sebagai lumbung padi nasional o Perusahaan daerah yang siap mendukung program-program Pemerintah Jawa Tengah di bidang infrastruktur dan ketahanan pangan. o Adanya profit yang normal dan pendistribusian marging akan bisa menimbulkan efek positif dalam pembangunan pertanian dan ekonomi Jawa Tengah. o Adanya pembahasan tentang outsourching. o Perlu adanya identifikasi kondisi masing-masing daerah dalam hal kebutuhan RMU atau sistem distribusi. o Adanya pertimbangan dan perhitungan matang dalam pembentukan brand beras baru. o Petani perlu mendapat support pemerintah, seperti peralatan pertanian berteknologi tepat guna, penyediaan bibit, pupuk,

9 pembasmi hama, apabila dimungkinkan diberikan konsesi lahan pertanian yang memadai. o Pengembangan sector pertanian untuk berbagai komoditas, guna mengantisipasi kebutuhan dalam negeri, pengupayaan pengurangan impor (system rekayasa pertanian melalui intensifikasi, tumpangsari dst) o Mengupayakan perubahan sikap hidup untuk berkeinginan maju dan berani bersaing untuk meningkatkan kemampuan menjadi petani profesional. o Perlu mengantisipasi system ijon yang biasa dilakukan tengkulak/ pedagang besar o Secara nasional Jawa Tengah surplus produksi beras sekitar ton dan menjadi salah satu andalan lumbung pangan. o Perlunya standarisasi alat pengolahan padi dan penetapan harga yang menguntungkan para petani Tindak lanjut : o Perlu dilakukan peninjauan lapangan ke beberapa gudang pengolahan padi di beberapa kabupaten potensial penghasil padi di Jawa Tengah o Koordinasi pola kerjasama dengan pedagang besar berskala nasional Notulis : Joko Herwandono

10 Notulensi Rapat Penyusunan Kajian Potensi dan Peluang Investasi Sektor Pangan di Jawa Tengah Pelaksanaan: Hari/Tanggal : Rabu, 25 April 2018 Waktu : WIB- selesai Tempat : Oemah Djari Hotel Syariah, Jl. Merdeka Selatan III No.17 Salatiga Acara : Rapat Penyusunan Kajian Potensi dan Peluang Investasi Sektor Pangan Perserta: 1. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah; 2. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah; 3. Kepala Biro Infrastruktur dan Sumber Daya Alam SETDA Provinsi Jawa Tengah; 4. Kepala DPMPTSP Kabupaten Sukoharjo; 5. Kepala DPMPTSP Kabupaten Wonogiri; 6. Kepala DPMPTSP Kabupaten Karanganyar; 7. Kepala DPMPTSP Kabupaten Purbalingga; 8. Kepala DPMPTSP Kabupaten Grobogan ; 9. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukoharjo; 10. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Wonogiri; 11. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Karanganyar; 12. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Purbalingga; 13. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Purbalingga; 14. Pimpinan Rice Mill Putri Solo Kabupaten Sukoharjo 15. Pimpinan Rice Mill Mugi Lestari Kabupaten Wonogiri 16. Rice Mill Padi Makmur Kabupaten Karanganyar 17. Perusda Puspahastama Kabupaten Purbalingga 18. Kepala Bidang Pengolah Data dan Informasi DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah;

11 19. Tim Peneliti Pusat Studi Business and Social Enterpreneurship UKSW Salatiga; D. Pengantar Kabid Renbang o Sektor pertanian bisa dikembangkan dari sisi hulu, tengah sampai hilir. Biasanya yang sering dibicarakan adalah sektor tengah, sektor hulu dan hilirnya kurang diperhatikan, padahal permintaan produk pertanian mulai dari sisi hulu, tengah, sampai hilir dan merupakan satu kesatuan yang bisa menjadi peluang untuk dijadikan kegiatan bisnis. Dari sisi hulu, permintaan benih/bibit terus meningkat, pupuk organik dan an organik yang juga terus meningkat permintaannya, merupakan peluang usaha yang sangat menjanjikan. o Kebutuhan benih di Indonesia masih dipenuhi dari pasar impor. Kalaupun sudah disediakan, kualitasnya masih kalah dari benih impor terutama benih sayuran. o Penekanan kajian adalah pada pemanfaatan asset pemerintah atau lahan yang dapat dikerjasamakan untuk pengembangan Buloh Swasta o Perlu penghitungan ekonomi yang cermat agar diperoleh win win solution antara petani dan pengusaha/investor E. Penyampaian Materi Tim UKSW o Bisnis pertanian terus berkembang karena permintaannya terus meningkat khususnya karena aspek geografis. Sektor jasa perdagangan disektor pertanian terus meningkat sehingga bisa dilirik untuk usaha disektor ini. Disamping itu, jasa wisata agro terus berkembang karena peminatnya terus meningkat. o Komoditas pertanian bisa dijadikan peluang usaha wisata agro. Beberapa perusahaan sekarang banyak yang menggarap sektor ini baik sebagai yang bisa disaksikan, diperankan untuk dilakukan seperti penanaman dan pemanenan, dan pengemasan o Aspek penawaran juga penting untuk diperhatikan sebagai pengukur peluang usaha. Aspek penawaran terkait dengan

12 aspek produksi yang dihasilkan atau ditawarkan oleh para produsen disektor pertanian. Aspek penawaran terkait dengan jumlah produsen, berapa banyak yang diproduksi, bagaimana karakteristik atau kualitas dari produknya, bagaimana kontinuitasnya, bagaimana konformitasanya/ keseragamannya dan dimana barang tersebut diproduksi. Berkebalikan dengan permintaan, jika penawaran semakin meningkat maka peluang usaha semakin kecil karena jumlah barang di pasar banyak, harga menjadi semakin bersaing ketat, bahkan seringkalu pada saat panen raya harga akan turun karena permintaan tetap sementara barang yang ditawarkan meningkat pesat. Terjadi persaingan harga yang ketat. Sebaliknya jika semakin sedikit produksen, semakin banyak peluang usahnya. Semua produsen memiliki hasrat untuk memonopoli produknya atau membuat produknya berbeda dengan pesaing atau produsen lain. o Bulog swasta menjadi alternative pentung sebagai peluang investasi yang berfungsi ganda (multiplier effek). o Dilakukan perhitungan ekonomi bersama dengan para pemangku kepentingan antara lain OPD Provinsi, OPD Kabupaten/Kota, Pengusaha Rice Mill F. Saran/masukan o Selama ini petani kurang dapat menikmati hasil panen, karena lahan yang sempit, biaya produksi besar dan seringkali sudah dikuasai para tengkulak, pengijon, serta harga dasar gabah yang dipermainkan. o Perlu pembenahan system distribusi sector pertanian tanaman pangan (terutama padi) mata rantai diperpendek; o Aset Bangunan Pengolahan Padi yang pernah dihibahkan pemerintah melalui Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah kurang dimanfaatkan, banyak yang terbengkelai sehingga perlu dioptimalkan

13 o Pengembangan sector pertanian untuk berbagai komoditas, guna mengantisipasi kebutuhan dalam negeri, pengupayaan pengurangan impor (system rekayasa pertanian melalui intensifikasi, tumpangsari dst) o Petani perlu mendapat support pemerintah, seperti peralatan pertanian berteknologi tepat guna, penyediaan bibit, pupuk, pembasmi hama, apabila dimungkinkan diberikan konsesi lahan pertanian yang memadai. o Hasil kajian dapat dijadikan model bagi pengembangan usaha sector pertanian tanaman pangan yang lain Notulis : Soni Harsanto