LAMPIRAN : KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN 2014 TANGGAL...

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "LAMPIRAN : KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN 2014 TANGGAL..."

Transkripsi

1 LAMPIRAN : KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN 2014 TANGGAL... TENTANG RANCANGAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA (RSKKNI) KATEGORI PERTAMBANGAN MINYAK DAN GAS BUMI SERTA PANAS BUMI GOLONGAN POKOK KEGIATAN OPERASI INSTRUMEN ALAT UKUR MINYAK DAN GAS BUMI SERTA PANAS BUMI GOLONGAN KEGIATAN OPERASI INSTRUMEN ALAT UKUR, SUB GOLONGAN (PENGADAAN/PERAKIT PEREKAYASA, PENGOPERASIAN DAN PERAWATAN) INSTRUMEN ALAT UKUR DAN PERLENGKAPANNYA SISTEM METER ALAT UKUR KELOMPOK USAHA PENGUKURAN MINYAK DAN GAS BUMI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Latar belakang kategori/golongan terkait dengan isi Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (RSKKNI) mencakup proses perumusan dan penyusunan atas hasil pemetaan unit kompetensi, berdasarkan kategori untuk Pertambangan Minyak dan Gas Bumi serta Panas Bumi, golongan kegiatan operasi instrumen alat ukur, sub golongan pengadaan / perakit perekayasa, pengoperasian dan perawatan instrumen alat ukur dan perlengkapannya sistem meter alat ukur pada kelompok usaha minyak dan gas bumi mencakup kegiatannya antara lain : Mengadakan/merakit, merekayasa, memverifikasi, memeriksa, menginspeksi, mengkalibrasi, menguji, memvalidasi, mengoperasikan serta merawat instrumen alat ukur dan perlengkapannya sistem meter alat ukur dalam aspek legal pengukuran measurement custody transfer dan/atau aspek keselamatan safety device pada kelompok kegiatan usaha minyak dan gas bumi. 1

2 Prosedur perumusan dan penyusunan RSKKNI ini mengacu Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 08 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang bersifat legal formal dalam penataan kualifikasi nasional dalam bidang ketenagakerjaan. Perpres ini juga menjadi rujukan bagi dunia pendidikan dan lembaga pelatihan dalam merumuskan kurikulum serta program pelatihan, bagi Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dalam melaksanaan uji kompetensi untuk proses sertifikasi kompetensi dan merumuskan lingkup (skema sertifikasi), dan bagi dunia industri dalam proses rekruitmen terutama terkait dengan pengakuan tingkat kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan. Kebutuhan personal pemegang jabatan Tenaga Teknik Khusus (TTK) yang mempunyai kualifikasi dan kompetensi kerja standar di bidang kegiatan usaha minyak dan gas bumi (migas), makin dirasakan karena sifat kegiatan usaha yang mempunyai ciri khusus yaitu padat teknologi, padat modal dan beresiko tinggi. Kompetensi kerja personal merupakan persyaratan minimal yang harus dipenuhi oleh pemegang jabatan Tenaga Teknik Khusus (TTK) pada golongan kegiatan operasi instrumen alat ukur, sub golongan pengadaan/perakit perekayasa, pengoperasian, perawatan instrumen alat ukur dan perlengkapannya sistem meter alat ukur pada kegiatan usaha migas. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan juga mengatur bahwa pelatihan kerja diselenggarakan sesuai program pelatihan pada standar kompetensi kerja (Pasal 10), disebutkan bahwa kompetensi tenaga kerja terbentuk dari tiga -ranah (domain) yaitu ranah pengetahuan (kognitif), ranah ketrampilan (psikomotor), dan ranah sikap (afektif). Tiga ranah tersebut di atas masing-masing berkaitan dengan kemampuan daya pikir, kemampuan menggerakkan anggota badan dengan metode atau teknik tertentu dan kemampuan mengekspresikan kemauan diri. 2

3 Secara ringkas kompetensi tersebut didefinisikan sebagai penguasaan disiplin keilmuan dan pengetahuan serta ketrampilan menerapkan metode atau teknik tertentu yang didukung sikap perilaku yang tepat guna mencapai dan/atau mewujudkan hasil tertentu dalam penyelenggaraan tugas pekerjaan. Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (RSKKNI) disusun dengan menggunakan RMCS (Regional Model Of Competency Standard) berdasarkan permintaan pasar (stakeholder) dalam sektor industri kegiatan usaha migas dan panas bumi. Proses perumusan dan penyusunan RSKKNI ini mengacu pada pedoman dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Nomor 101 dan Nomor 102 tahun Prosedur ini disusun dengan melibatkan stakeholder yang berkaitan dengan substansi standar dan dilaksanakan oleh Panitia Perumusan RSKKNI untuk TTK golongan kegiatan operasi instrumen alat ukur, sub golongan pengadaan/perakit perekayasan instrumen alat ukur dan perlengkapannya sistem meter alat Ukur, khususnya yang melayani kelompok usaha kegiatan usaha minyak dan gas bumi. Masukan pendapat dari Narasumber Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Stakeholder, Para Cendekiawan/Pakar instrumentasi alat ukur, pelaku kegiatan usaha migas yang terkait sangat berharga serta dapat digunakan sebagai penyempurnaan acuan dasar pada perumusan RSKKNI ini. RSKKNI ini dirumuskan dan disusun dengan menggunakan referensi : A.1 Peraturan perundang-undangan; 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. 2. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. 3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. 3

4 5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal. 6. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.21 /MEN/X/2007 tentang Tata Cara Penetapan SKKNI. 7. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 tentang Tata Cara Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia. 8. Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 01/P/M/ Pertamb./1980 tentang Pemeriksaan Keselamatan Kerja dan Teknik yang dipergunakan dalam Pertambangan Minyak dan Gas Bumi. 9. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2004 tentang Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). 10. Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2006 tentang Sistem Pelatihan Kerja Nasional. 11. Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 01/P/M/ Pertamb./1980 tentang Pemeriksaan Keselamatan Kerja dan Teknik yang dipergunakan dalam Pertambangan Minyak dan Gas Bumi. 12. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1973 tentang Pengaturan dan Pengawasan Keselamatan Kerja di Bidang Pertambangan. 13. Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 06P/0746/MPE /1997 tentang Pemeriksaan Keselamatan Kerja Atas Instalasi, Peralatan dan Teknik yang dipergunakan dalam Pertambangan Minyak dan Gas Bumi dan Pengusahaan Sumber Daya Panas Bumi. 14. Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 03.P/123/ M.PE/1986 dan/atau Nomor 07.P/075/M.PE/1991 tentang Sertifikasi Tenaga Teknik Khusus Pertambangan Minyak dan Gas Bumi dan Pengusahaan Sumber Daya Panas Bumi beserta aturan pelaksanaannya. 15. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 8 Tahun 2012 tentang Tata Cara Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia. 16. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor KEP.211/MEN/2004 tentang Pedoman Penerbitan Sertifikat Kompetensi. 4

5 17. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor KEP.231A/MEN/X/2005 tentang Pelaksanaan Sertifikasi Kompetensi dan Pembinaan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). 18. Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Nomor 01.K/60.05/DJM/2003, tentang Lembaga Sertifikasi Personil Tenaga Teknik Khusus Minyak dan Gas Bumi. 19. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor KEP.119/MEN/IV/2009 Tanggal 23 April 2009 tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi serta Panas Bumi Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi Hulu Hilir (Supporting) Bidang Instrumentasi Sub Bidang Perawatan Peralatan Instrumentasi dan Sub Bidang Kalibrasi. 20. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 111.K/70/MEM/2003 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 20 Tahun 2008 tentang Pemberlakuan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia di Bidang Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi. 21. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi dan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor : 0233/Kpb/II/1998 tanggal 29 Februari 1998 tentang 096/II/M.PE/1998 Pelaksanaan Tera dan Tera Ulang Alat Ukur, Takar, Timbang dan Perlengkaapannya di Sektor Pertambangan Minyak dan Gas Bumi. A.2 Norma dan standar 2.1 Norma Surat Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Departemen Energi dan Sumber daya Mineral Republik Indonesia Nomor 1009/10/DJM.T/2009 tanggal 19 Januari 2009 perihal usulan penetapan RSKKNI pada kegiatana usaha Minyak dan Gas Bumi sebagai 5

6 persyaratan minimal yag harus dipenuhi oleh pemegang jabatan Tenaga Teknik Khusus (TTK) bidang industri antara lain untuk perawatan peralatan instrumentasi dan sub bidang kalibrasi Pedoman dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Nomor 101 dan Nomor 102 tahun Standar Standard Internasional ISO Standard Internasional ANSI Standard Internasional ASME Standard Internasional ASTM Standard Internasional API Standard Internasional AGA Standard Internasional OIML Standard Internasional IEC Standard Internasional B. Pengertian Pengertian yang terkait dalam RSKKNI ini bersifat teknis subtantif dengan unit-unit kompetensi dijelaskan sebagai berikut : 1. Instrumen alat ukur Adalah perangkat instrumen alat ukur dan perlengkapannya yang digunakan untuk pengukuran, penunjuk indikasi, data aquisisi dan pengontrolan pada suatu variabel proses pengukuran minyak dan gas bumi serta panas bumi. 2. Sistem meter alat akur Adalah satu kesatuan unit kerja dari alat ukur dan perlengkapannya untuk mengukur variable proses keperluan transaksi legal atau keselamatan operasi pada kegiatan usaha minyak dan gas bumi untuk pengukuran statis maupun dinamis. Sistem meter alat ukur yang handal harus didesain, dirancang, dikonstruksi, dirakit, direkayasa, diverifikasi, diperiksa, dikalibrasi, diuji dan divalidasi. 6

7 3. Variabel proses Adalah besaran aliran, tekanan,suhu dan sejenis lainnya pada proses pengukuran menggunakan instrumen alat ukur. 4. Kalibrasi Adalah membandingkan nilai baca pada alat ukur dengan alat ukur standar yang memiliki tingkat ketelusuran ke hirarki yang lebih tinggi dan selisih perbedaan pembacaan hasil pengukuran masih dalam batas tolerasi yang diizinkan. 5. Pengujian Adalah proses uji kinerja untuk mengetahui unjuk kerja, kehandalan instrumen alat ukur dan perlengkapannya terhadap standar uji yang valid. 6. Validasi; Adalah kegiatan melakukan perbandingan hasil pengukuran dan perhitungan terhadap faktor koreksi variabel proses pada peralatan penghitung (Flow Computer) dalam sistem meter alat ukur dengan perhitungan standar dan memenuhi syaratan teknis serta legal. 7. Flow Computer Adalah peralatan komputer yang digunakan untuk melakukan perhitungan aliran dalam kondisi standar sesuai dengan standar yang setujui bersama, dimana peralatan menerima masukan dari sinyal variabel proses secara terus menerus dan dapat menghasilkan laporan hasil kalkulasi sebagai dasar transaksi. 8. Operator Instrumen Sistem Meter Alat Ukur Adalah perseorangan yang mempunyai kemampuan teknis, kualifikasi dan kompetensi untuk melaksanakan tugas operasional instrumen alat ukur dan perlengkapannya dengan mengacu regulasi keselamatan kesehatan kerja, standar operasional prosedur (SOP) untuk sistem meter alat ukur minyak dan/atau gas bumi di lapangan 9. Teknisi Kalibrasi Instrumen Sistem Meter Alat Ukur Adalah perseorangan yang mempunyai kemampuan teknis, kualifikasi dan kompetensi untuk melaksanakan tugas verifikasi, pemeriksaan kelayakan instrumen alat ukur dan perlengkapannya 7

8 dengan mengacu regulasi keselamatan kesehatan kerja, standar operasional prosedur (SOP) untuk sistem meter alat ukur minyak dan/atau gas bumi serta mampu meverifikasi, memeriksa kesesuaian instrumen alat ukur. 10. Pengawas Instrumen Sistem Meter Alat Ukur Adalah perseorangan yang mempunyai kemampuan teknis untuk melaksanakan tugas pengawasan proses operasional instrumen alat ukur dan perlengkapannya dengan mengacu regulasi keselamatan kesehatan kerja, standar operasional prosedur (SOP) untuk sistem meter alat ukur minyak dan/atau gas bumi serta mampu meverifikasi, memeriksa kesesuaian instrumen alat ukur. 11. Enjiner Instrumen Sistem Meter Alat Ukur Adalah perseorangan yang mempunyai kemampuan teknis, kualifikasi teknis, kompetensi khusus bidang instrumen alat ukur dan perlengkapannya (sistem meter alat ukur) untuk melaksanakan verifikasi kesesuaian dokumen, sesuai rancangan, perakit, perekayasa, hasil kalkulasi, serta bertanggungjawab atas kesesuaian dokumen dengan mengacu regulasi keselamatan kesehatan kerja, standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. 12. Enjiner Spesialis Sistem Meter Alat Ukur Metering Specialist Adalah perseorangan yang mempunyai kemampuan manajerial, kualifikasi teknis, kompetensi khusus/spesial di bidang instrumen alat ukur dan perlengkapannya (sistem meter alat ukur) dan bertanggungjawab atas rancang bangun, desain, rakitan, rekayasa, kalkulasi, verifikasi dokumen, dan evaluasi, memeriksa, memvalidasi, kinerja Enjiner Instrumen Meter Alat Ukur, mengevaluasi Pengawas Instrumen, menguji unjuk kerja dengan mengacu regulasi keselamatan dan kesehatan kerja, standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. 13. Inspektur Instrumen Sistem Meter Alat Ukur Adalah perseorangan yang mempunyai kemampuan teknis, manajerial, kualifikasi dan kompetensi untuk melaksanakan tugas inspeksi, verifikasi kelayakan instrumen alat ukur dan 8

9 perlengkapannya sesuai rancang bangun, verifikasi rakitan, rekayasa, dan mampu menilai kinerja Enjiner Instrumen Sistem Meter Alat Ukur, menilai kinerja Enjiner Spesialis Instrumen Sistem Alat Ukur, menilai kinerja Pengawas Instrumen serta mampu memverifikasi kesesuaian instrumen alat ukur dengan mengacu regulasi keselamatan dan kesehatan kerja, standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. C. Penggunaan SKKNI SKKNI yang telah disusun untuk mendapatkan pengakuan oleh para pemangku kepentingan dan penetapan pemberlakuan sesuai regulasi serta diberlakukan wajib, maka akan bermanfaat apabila dilaksanakan secara konsisten. Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia ini digunakan sebagai acuan bagi : 1. Institusi dan Instansi Pendidikan dan Pelatihan a. Memberikan informasi untuk pengembangan program kurikulum b. Sebagai acuan dalam penyelenggaraan pelatihan, penilaian dan sertifikasi 2. Dunia usaha/industri dan pengguna tenaga teknik khusus a. Membantu dalam rekruitmen tenaga kerja sesuai kompetensi b. Membantu penilaian unjuk kerja tenaga kerja c. Mengembangkan program pelatihan bagi karyawan berdasarkan kebutuhan sesuai jenjang karier d. Sebagai dasar untuk membuat uraian jabatan. 3. Institusi penyelenggara pengujian dan lembaga sertifikasi a. Sebagai acuan dalam merumuskan paket-paket program sertifikasi sesuai dengan kualifikasi dan level-nya b. Sebagai acuan dalam penyelenggaraan pelatihan, penilaian dan sertifikasi. 4. Pihak yang bemaksud untuk mendapatkan pengakuan secara nasional dan internasional. 9

10 D. Komite Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia 1. Komite Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (RSKKNI) pada kegiatan Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi. Komite Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia dibentuk berdasarkan surat keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Nomor...K/73/DJM.S/2014 tentang Komite Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Industri Minyak dan Gas Bumi, selaku pengarah Komite Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia pada Sektor Industri Migas. Susunan Tim Keanggotaan Komite Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (RSKKNI) pada kegiatan usaha minyak dan gas bumi adalah sebagai berikut : No. NAMA INSTANSI/INSTITUSI JABATAN DALAM TIM 1 Direktur Jenderal Ditjen Migas Pengarah 2 Direktur Teknik dan Lingkungan Migas 3 Kepala Subdirektorat Standardisasi 4 Kepala Seksi Penyiapan dan Penerapan Standar Hilir Migas Ditjen Migas Ditjen Migas Ditjen Migas Ketua Wakil Ketua Sekretaris 5 Bintara P. Ditjen Migas Anggota 6 Marhaban Ditjen Migas Anggota 7 Hermawan Ditjen Migas Anggota 8 Hufron Asrori Ditjen Migas Anggota 9 Alfansyah Ditjen Migas Anggota 10 Ahmat Wahyu Wardono Ditjen Migas Anggota 11 One Aswin Alamsyah Ditjen Migas Anggota 12 Ditjen Migas Anggota 13 KEMENAKERTRANS Anggota 14 KEMENDUSTRIAN Anggota 15 SKK Migas Anggota 16 BPH Migas Anggota 17 BNSP Anggota 10

11 18 BADIKLAT ESDM Anggota 19 PUSDIKLAT MIGAS Anggota 20 Djoko LSP PPT MIGAS Anggota 21 Naila Mubarok LSP MIGAS Anggota 22 M. Yudi Masduki UNIVERSITAS INDONESIA Anggota 23 AKAMIGAS / STEM Anggota 24 Kamaludin Hasyim GUSPEN MIGAS Anggota 25 ASMETI Anggota 26 APITINDO Anggota 27 PT PERTAMINA HULU ENERGY (PHE) Anggota 28 PT PERTAMINA EP Anggota 29 PT PERTAMINA REFINERY UNIT (RU) Anggota 30 PT PERTAMINA GAS Anggota 31 PT ARUN NGL Anggota 32 PT BADAK NGL Anggota 33 PT PGN (PERSERO) Anggota 34 PT MEDCO INDONESIA 35 EXXONMOBIL INDONESIA Anggota Anggota 36 TOTAL INDONESIE Anggota 37 PT PERUSAHAAN DAERAH PERTAMBANGAN DAN ENERGI (PT PDPDE) BP INDONESIA 38 EXXONMOBIL Anggota Anggota Anggota INDONESIA 39 TOTAL INDONESIE Anggota 11

12 40 PT PERUSAHAAN DAERAH PERTAMBANGAN DAN ENERGI (PT PDPDE) 41 EXXONMOBIL INDONESIA 42 CHEVRON INDONESIA Anggota Anggota Anggota 43 CNOOC Anggota 44 CHEVRON INDONESIA 45 Langgeng Subagyo PT GLOBAL HADITECK Anggota Anggota 46 AKAMIGAS / STEM Anggota 47 UNIVERSITAS INDONESIA 48 LEMBAGA PENGEMBANGAN JASA KONSTRUKSI (LPJK) 49 LEMBAGA KALIBRASI INSTRUMENTASI METROLOGI (LKIM) 50 LEMBAGA PENGEMBANGAN JASA KONSTRUKSI (LPJK) Anggota Anggota Anggota Anggota 2. Tim Perumus RSKKNI Susunan tim perumus Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia sektor industri minyak dan gas bumi dibentuk berdasarkan surat keputusan Direktur Teknik dan Lingkungan Migas Nomor :...SK/10.12/DMT/2014 tanggal.. Oktober 2014 selaku Ketua Komite Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia. 12

13 Susunan tim perumus RSKKNI Kategori (B) Pertambangan Minyak dan Gas Bumi serta Panas golongan kegiatan operasi instrumen alat ukur minyak dan gas bumi (migas) adalah sebagai berikut: NO. TIM PERUMUS DRAF RSKKNI INSTANSI/INSTITUSI 1 Sudarmono N. ASMETI / PT ISTANA KARANG LAUT 2 P. Bhudyarso ASMETI / PT ANSI MEGA INSTRUMENINDO 3 M.Najib ASMETI / PT YUAN SEJATI 4 Aan Sulistyawan ASMETI / PT YUAN SEJATI 5 Alex C. Pohan ASMETI / PT BINAGUNA ADI SEJAHTERA 6 Haryono A. ASMETI / PT GRAMA BAZITA TENAGA 7 Sutarno ASMETI / PT PRATIWI PUTRI SULUNG 8 Holidin Ruslan ASMETI / PT CONTROL SYSTEM 9 Agus Riyadi ASMETI / PT DUTA INSTRUMEN ALFA SAKTI 10 Rizka Savitri ASMETI / PT GLOBL HADITECH 11 Said Eko Rahmansyah ASMETI / PT ONE CONECT 12 Jusuf Adji ASMETI / PT LASINDO JAYA BERSAMA 13 Gunawan ASMETI / PT ATS Tim Verifikasi RSKKNI Susunan tim verifikasi Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia kategori pertambangan minyak dan gas bumi serta panas bumi, golongan kegiatan operasi instrumen alat ukur minyak dan gas bumi, kelompok usaha minyak dan gas bumi dibentuk berdasarkan 13

14 surat keputusan Direktur Teknik dan Lingkungan Minyak dan Gas Bumi Nomor...SK/10.12/DMT/2014 tanggal.. Oktober 2014 selaku Ketua Komite Rancangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia. Susunan tim verifikasi RSKKNI kategori pertambangan minyak dan gas bumi serta panas bumi, golongan kegiatan operasi instrumen alat ukur minyak dan gas bumi, kelompok usaha minyak dan gas bumi adalah sebagai berikut : NO. TIM VERIFIKASI DRAF RSKKNI INSTANSI/INSTITUSI 1 Darmawansyah KEMENAKERTRANS 2 KEMENDUSTRIAN 3 Bambang Sihono KEMENDAG / DITJEN. STANDARDISASI DAN PERLINDUNGAN KONSUMEN / DIT. METROLOGI 4 Rusdiana Bardian KEMEN ESDM / DITJEN MIGAS 5 Anthoni DITJEN MIGAS 6 Ahmat Wahyu Wardono DITJEN MIGAS 7 DITJEN MIGAS 8 BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI (BNSP) 9 SKK MIGAS 10 Bagus Prihatono BPH MIGAS 11 PT PERTAMINA (PERSERO) 14

15 BAB II STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA A. Pemetaan dan Kemasan Standar Kompetensi A.1 Pemetaan kompetensi TUJUAN UTAMA FUNGSI KUNCI FUNGSI UTAMA FUNGSI DASAR 15

16 TUJUAN UTAMA FUNGSI KUNCI FUNGSI UTAMA FUNGSI DASAR Memastikan proses penerimaan pengadaan instrumen sistem meter alat ukur yang dapat berfungsi baik, akurat, handal dan layak operasi dengan aman Menjamin proses penerimaan pengadaan instrumen sistem meter alat ukur minyak dan gas bumi, agar tepat guna, tepat mutu, tepat jumlah, tepat waktu untuk kontrol dan serah terima dalam operasi pengukuran dengan layak dan aman Mengoperasikan instrumen sistem meter alat ukur yang dapat berfungsi baik, akurat, handal, layak dan aman 1. Mengawasi keselamatan dan kesehatan kerja di lingkup pekerjaan 2. Mengelola proses enjinering untuk pengadaan, pabrikasi, rekayasa, rakitan instrumen sistem meter alat ukur yang ber-fungsi baik, handal, akurat, layak, aman 3. Mengawasi mutu instalasi, unjuk kerja, kehandalan, akurasi sistem meter alat ukur yang dapat berfungsi baik, akurat, layak dan aman 4. Mengoperasikan dan merawat instrumen sistem meter alat ukur measurement custody transfer / safety device 5. Melakukan proses rekalibrasi dan pengujian ulang untuk resertifikasi Menerapkan Keselamatan Kesehatan Kerja Lindungan Lingkungan (K3LL) di Lingkup Pekerjaan Melakukan Komunikasi dan menerapkan K3LL di lingkup kerja Melakukan analisis sesuai kebutuhan material dan pemilihan instrumen peralatan Melakukan Memverifikasi gambar teknis (meknikal, elektrikal, instrumen) sesuai PFD, GA & P&ID Melaksanakan verifikasi dokumen, pemeriksaan, pabrikasi, instalasi instrumen sistem meter alat ukur, sesuai ITP Melaksanakan inspeksi untuk pengawasan kelayakan, kehandalan, mutu sistem meter alat ukur, kalibrasi, pengujian, commissioning&validation Membuat laporan dan rekomendasi hasil pemeriksaan, inspeksi, kalibrasi, pengujian dan commissioning sebagai dasar penerbitan sertifikat Mengoperasikan secara benar, tepat, akurat dan aman sesuai SOP, regulasi untuk menekan losses Merawat sarana, prasarana dan fasilitas operasi serta kecukupan suku cadang instrumen Menyiapkan, memperbaiki /mengganti instrumen suku cadang yang rusak untuk menjadi baik/layak Menyiapkan, melaksanakan kalibrasi, pengujian alat ukur dan perlengkapnya, membuat berita acara dan laporan hasilnya 16

17 KUALIFIKASI KKNI JENIS (SEBUTAN) KUALIFIKASI KOMPETENSI Kualifikasi IX - Kualifikasi VIII Kualifikasi VII Inspektur Instrumen Sistem Meter Alat Ukur Enjiner Spesialis Instrumen Sistem Alat Ukur Kualifikasi VI Enjiner Instrumen Sistem Meter Alat Ukur Kualifikasi V Pengawas Instrumen Sistem Meter Alat Ukur Kualifikasi IV Teknisi Kalibrasi Instrumen Alat Ukur Kualifikasi III Operator Sistem Meter Alat Ukur Kualifikasi II - Kualifikasi I - Paket Jabatan : Kualifikasi III : Operator Instrumen Sistem Alat Ukur Sifat Pekerjaan Mampu melaksanakan satu tugas spesifik, dengan menggunakan alat, dan informasi dan prosedur kerja yang lazim dilakukan, serta menunjukkan kinerja dengan mutu terukur, di bawah pengawasan langsung atasannya. Memiliki pengetahuan operasional dasar dan pengetahuan faktual bidang kerja yang spesifik, sehingga mampu memilih penyelesaian yang tersedia terhadap masalah yang lazim timbul Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab Lingkup Aktivitas Mampu menjadi operator yang profesional dan mampu melakukan pekerjaan di bidang instrumen alat ukur yang sesuai dengan prinsip teknis berlaku umum dan relevan di kegiatan usaha, melalui proses pengidentifikasian data dan pemilihan metode yang sesuai, didukung dengan kemampuan teknis yang kompeten, teknologi informasi, keterampilan/ keahlian interpersonal dan komunikasi, sehingga dapat mengukur, mencatat dengan baik, aman dan lancer Menguasai prinsip dasar yang relevan serta untuk menyelesaikan masalah operasional dan/atau pekerjaan di bidang instrumen alat ukur pada kegiatan usaha minyak dan gas bumi serta panas bumi Mampu melakukan evaluasi terhadap pencapaian hasil pekerjaan di bidang instrumen alat ukur yang menjadi 17

18 Sifat Pekerjaan membimbing orang lain yang terkait Lingkup Aktivitas tanggung jawabnya dan dapat mengarahkan orang lain kegiatan usaha minyak dan gas bumi serta panas bumi Paket Jabatan : Kualifikasi IV : Teknisi Kalibrasi Instrumen Alat Ukur Sifat Pekerjaan Bekerja melaksanakan serangkaian tugas spesifik teknisi kalibrasi instrumen alat ukur dengan menterjemahkan informasi dan menggunakan alat, berdasarkan sejumlah pilihan prosedur kerja serta mampu menunjukkan kinerja dengan mutu dan kuantitas yang terukur, sebagian merupakan hasil kerja sendiri dengan pengawasan tidak langsung Lingkup Aktivitas Melakukan pekerjaan di bidang kalibrasi instrumen alat ukur dengan prinsip yang berlaku umum melalui proses penganalisaan data dan pemilihan metode yang sesuai dan didukung kemampuan di bidang manajemen, teknologi informasi, keterampilan / keahlian interpersonal dan komunikasi keteknikan Memiliki pengetahuan keteknikan kalibrasi yang lengkap dengan prinsip-prinsip dasar serta konsep umum yang terkait dengan fakta keterampilan/keahlian kalibrasi tertentu, sehingga mampu dan berhasil menyelesaikan berbagai masalah yang lazim sesuai dengan metode Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri, dapat diberi tanggung jawab atas kuantitas dan mutu hasil kerja teknis kalibrasi Bekerja berdasar pada prinsip dasar yang relevan dan mampu menerapkannya untuk menyelesaikan pekerjaan teknisi kalibrasi tertentu di bidang instrumen alat ukur migas dan panas bumi Bekerja melakukan evaluasi terhadap hasil pekerjaan di bidang instrumen alat ukur baik yang menjadi tanggung jawabnya maupun tanggung jawab orang lain 18

19 Paket Jabatan : Kualifikasi V : Pengawas Instrumen Sistem Meter Alat Ukur Sifat Pekerjaan Mampu melaksanakan satu tugas spesifik pengawasan instrumen alat ukur dengan menggunakan metoda, alat dan informasi dan prosedur kerja yang lazim dilakukan, serta menunjukkan kinerja dengan mutu terukur, di bawah pengawasan dan bimbingan langsung atasannya. Memiliki Pengetahuan teknik dasar kalibrasi instrumen alat ukur dan pengetahuan faktual yang spesifik teknis kalibrasi, sehingga mampu memilih cara pengawasan terhadap masalah yang lazim timbul Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab dalam pengawasan serta dapat membimbing orang lain yang terkait Lingkup Aktivitas Mampu menjadi pengawas instrumen alat ukur yang profesional dan mampu melakukan pengawasan di bidang instrumen alat ukur yang sesuai dengan prinsip yang berlaku umum dan khusus serta relevan di kegiatan usaha migas, melalui proses pengidentifikasian data dan pemilihan metode yang sesuai, didukung dengan kemampuan teknis yang kompeten, teknologi informasi, keterampilan/keahlian interpersonal dan komunikasi, sehingga dapat mengawasi, mencatat dengan baik, aman dan lancar Menguasai prinsip dasar teknis kalibrasi yang relevan dan untuk mengawasi masalah di bidang instrumen alat ukur pada kegiatan usaha minyak dan gas bumi serta panas bumi Mampu melakukan evaluasi terhadap pencapaian hasil kerja pengawasan di bidang instrumen alat ukur yang menjadi tanggung jawabnya dan dapat mengarahkan orang lain pada kegiatan usaha minyak dan gas bumi serta panas bumi 19

20 Paket Jabatan : Kualifikasi VI : Enjiner Instrumen Sistem Meter Alat Ukur Sifat Pekerjaan Bekerja melaksanakan serangkaian tugas spesifik enjinering instrumen alat ukur dan perlengkapannya dengan menterjemahkan informasi manual books dan menggunakan metoda enjinering, peralatan software, berdasarkan sejumlah pilihan prosedur kerja serta mampu menunjukkan kinerja dengan mutu dan kuantitas yang terukur, yang merupakan hasil kerja sendiri dengan pengawasan tidak langsung Memiliki pengetahuan teknik enjinering yang lengkap dengan prinsip-prinsip dasar serta konsep umum yang terkait dengan fakta keahlian rancang bangun instrumen alat ukur tertentu, sehingga mampu dan berhasil menyelesaikan berbagai masalah yang lazim sesuai dengan metode tertentu Bertanggung jawab pada pekerjaan enjinering sendiri, dapat diberi tanggung jawab atas kuantitas dan mutu hasil kerja teknis enjinering Lingkup Aktivitas Melakukan pekerjaan di bidang enjinering perakit perekayasa, konstruksi, instalasi instrumen alat ukur dengan prinsip dasar yang berlaku spesifik melalui proses penganalisaan data dan pemilihan metode yang sesuai serta didukung kemampuan di bidang manajemen, teknologi informasi, keahlian interpersonal dan komunikasi keteknikan Bekerja berdasar pada prinsip dasar teknik enjinering instrumen alat ukur yang relevan dan mampu menerapkannya untuk menyelesaikan pekerjaan rancang bangun / perakitan rekayasa sistem meter instrumen alat ukur tertentu pada bidang instrumen alat ukur migas dan panas bumi Bekerja melakukan evaluasi rancangan terhadap hasil pekerjaan enjinering bidang instrumen alat ukur baik yang menjadi tanggung jawabnya maupun tanggung jawab team woks 20

21 Paket Jabatan : Kualifikasi VII : Enjiner Spesialis Instrumen Sistem Meter Alat Ukur Sifat Pekerjaan Bekerja melaksanakan serangkaian tugas spesifik/ spesial keenjineringan instrumen sistem meter alat ukur dengan menterjemahkan informasi manual books, catalog dan menggunakan standard, code, metoda enjinering, peralatan hardware, software, berdasarkan sejumlah pilihan prosedur kerja serta mampu menunjukkan kinerja dengan mutu dan kuantitas yang terukur, yang merupakan hasil kerja sendiri dengan pengawasan tidak langsung Memiliki pengetahuan teknik spefifik enjinering yang lengkap dengan prinsip-prinsip dasar serta konsep umum yang terkait dengan fakta keahlian rancang bangun instrumen sistem meter alat ukur tertentu, sehingga mampu dan berhasil menyelesaikan berbagai masalah yang lazim sesuai dengan metode tertentu Bertanggung jawab pada pekerjaan enjinering sendiri, dapat diberi tanggung jawab atas kuantitas dan mutu hasil kerja teknis enjinering Lingkup Aktivitas Melakukan pekerjaan di bidang enjinering spesifik untuk perakit perekayasa, konstruksi, instalasi instrumen sistem alat ukur dengan prinsip dasar yang berlaku spesifik melalui proses analisis data proses dan pemilihan metode yang sesuai serta didukung kemampuan keahlian di bidang manajemen, teknologi informasi, interpersonal dan komunikasi yang efektif Bekerja berdasar pada prinsip teknik enjinering instrumen sistem meter alat ukur yang relevan dan mampu menerapkannya untuk menyelesaikan pekerjaan rancang bangun, perakitan rekayasa sistem meter instrumen sistem alat ukur tertentu pada bidang instrumen alat ukur migas dan panas bumi Bekerja melakukan evaluasi rancangan terhadap hasil pekerjaan enjinering bidang instrumen sistem meter alat ukur baik yang menjadi tanggung jawabnya maupun tanggung jawab team woks 21

LAMPIRAN NOMOR 268 TAHUN 2015 TENTANG BAB I PENDAHULUAN

LAMPIRAN NOMOR 268 TAHUN 2015 TENTANG BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 268 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA KATEGORI JASA PROFESIONAL, ILMIAH DAN TEKNIS GOLONGAN POKOK

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM STANDARDISASI KOMPETENSI KERJA NASIONAL

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM STANDARDISASI KOMPETENSI KERJA NASIONAL MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM STANDARDISASI KOMPETENSI KERJA NASIONAL DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM STANDARDISASI KOMPETENSI KERJA NASIONAL

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM STANDARDISASI KOMPETENSI KERJA NASIONAL MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM STANDARDISASI KOMPETENSI KERJA NASIONAL DENGAN

Lebih terperinci

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI NOMOR : KEP.218/LATTAS/XII/2012

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI NOMOR : KEP.218/LATTAS/XII/2012 KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav 51 Lt. 6A Telepon (021) 52961311, Faximile (021) 52960456 Jakarta

Lebih terperinci

PERATURAN BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI NOMOR : 4/ BNSP / VII / 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN DAN PEMELIHARAAN SKEMA SERTIFIKASI PROFESI

PERATURAN BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI NOMOR : 4/ BNSP / VII / 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN DAN PEMELIHARAAN SKEMA SERTIFIKASI PROFESI PERATURAN BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI NOMOR : 4/ BNSP / VII / 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN DAN PEMELIHARAAN SKEMA SERTIFIKASI PROFESI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA BADAN NASIONAL

Lebih terperinci

2016, No Peraturan Menteri Ketenagakerjaan tentang Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentan

2016, No Peraturan Menteri Ketenagakerjaan tentang Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentan No.1799, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENAKER. LPK. Akreditasi. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2016 TENTANG AKREDITASI LEMBAGA PELATIHAN KERJA

Lebih terperinci

Draft Kaji Ulang SKKNI Operasi Produksi

Draft Kaji Ulang SKKNI Operasi Produksi LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 TENTANG PENETAPAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA KATEGORI... GOLONGAN POKOK... PADA JABATAN KERJA

Lebih terperinci

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 2012 TENTANG

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 2012 TENTANG LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 2012 TENTANG PENETAPAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA SEKTOR INDUSTRI MINYAK DAN GAS BUMI SERTA PANAS

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 160 TAHUN 2013

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 160 TAHUN 2013 LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 160 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN RANCANGAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA KATEGORI PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN

Lebih terperinci

=================================== Pengembangan Skema Sertifikasi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI)

=================================== Pengembangan Skema Sertifikasi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Badan Nasional Sertifikasi Profesi RANCANGAN 1 PEDOMAN BNSP 219-2012 =================================== Pengembangan Skema Sertifikasi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Badan Nasional Sertifikasi

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 129 TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN

KEPUTUSAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 129 TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 129 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA KATEGORI PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN GOLONGAN POKOK PERTAMBANGAN

Lebih terperinci

PEDOMAN PELAKSANAAN UJI KOMPETENSI OLEH PANITIA TEKNIS BNSP

PEDOMAN PELAKSANAAN UJI KOMPETENSI OLEH PANITIA TEKNIS BNSP Lampiran : Keputusan Badan Nasional Sertifikasi Profesi Nomor : 04/BNSP.305/X/2013 Tanggal : 21 Oktober 2013 PEDOMAN PELAKSANAAN UJI KOMPETENSI OLEH PANITIA TEKNIS BNSP Versi 1 Oktober 2013 DAFTAR ISI

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN SISTEM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI DI

Lebih terperinci

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI NOMOR : KEP.189/LATTAS/XII/2013

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI NOMOR : KEP.189/LATTAS/XII/2013 KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav 51 Lt. 6A Telepon (021) 52961311, Faximile (021) 52960456 Jakarta

Lebih terperinci

- 5 - BAB I PENDAHULUAN

- 5 - BAB I PENDAHULUAN - 5 - LAMPIRAN PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2016 TENTANG PENETAPAN DAN PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI KERJA KHUSUS PENGAWAS OPERASIONAL DI BIDANG

Lebih terperinci

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 87 TAHUN 2012

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 87 TAHUN 2012 LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 87 TAHUN 2012 TENTANG PENETAPAN RANCANGAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA SEKTOR INDUSTRI PEMURNIAN DAN PENGILANGAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36/Permentan/SM.200/6/2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36/Permentan/SM.200/6/2015 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36/Permentan/SM.200/6/2015 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN SERTIFIKASI KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

SERTIFIKASI PROFESI BIDANG FASILITAS PRODUKSI MIGAS

SERTIFIKASI PROFESI BIDANG FASILITAS PRODUKSI MIGAS SERTIFIKASI PROFESI BIDANG FASILITAS PRODUKSI MIGAS Oleh: Ir. Surono MPhil, Ketua Komisi Perencanaan dan Harmonisasi Kelembagaan, Disampaikan pada Expert Sharing IAFMI Jakarta, 13 Februari 2016. Email:

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KULON PROGO c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Izin Usaha Jasa Konstruksi; LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KULON PROGO NOMOR : 2 TAHUN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.65/Menlhk/Setjen/Kum.1/7/2016 TENTANG STANDAR DAN SERTIFIKASI KOMPETENSI PENYUSUN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP DENGAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.65/Menlhk/Setjen/Kum.1/7/2016 TENTANG STANDAR DAN SERTIFIKASI KOMPETENSI PENYUSUN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP DENGAN

Lebih terperinci

Labibah Zain. 12 Januari 2012 di Menara Penninsula Hotel Jakarta dan materi ini adalah. BELUMFINAL karena masih harus masuk Tim Perumus.

Labibah Zain. 12 Januari 2012 di Menara Penninsula Hotel Jakarta dan materi ini adalah. BELUMFINAL karena masih harus masuk Tim Perumus. STANDAR KERJA KOMPETENSI NASIONAL INDONESIA (SKKNI) DAN SERTIFIKASI PUSTAKAWAN* Labibah Zain *Materi atau Slides diambil dari presentasi Bapak Slamet R Gadas (BNSP), Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi

Lebih terperinci

SKEMA SERTIFIKASI KOMPETENSI GENERAL BANKING TINGKAT II Kualifikasi Jabatan Kepala Cabang Sertifikat V KKNI

SKEMA SERTIFIKASI KOMPETENSI GENERAL BANKING TINGKAT II Kualifikasi Jabatan Kepala Cabang Sertifikat V KKNI 2015 SKEMA SERTIFIKASI KOMPETENSI Kualifikasi Jabatan Kepala Cabang Sertifikat V KKNI Disusun berdasarkan SKKNI bidang General Banking untuk memastikan dan memelihara kompetensi bankir di bidang General

Lebih terperinci

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2014 TENTANG PENETAPAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA KATEGORI INDUSTRI MINYAK DAN GAS BUMI GOLONGAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI REPUBLIK INDONESIA TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMBENTUKAN UNIT SERTIFIKASI DAN PEMBERIAN LISENSI

PERATURAN MENTERI REPUBLIK INDONESIA TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMBENTUKAN UNIT SERTIFIKASI DAN PEMBERIAN LISENSI PERATURAN MENTERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMBENTUKAN UNIT SERTIFIKASI DAN PEMBERIAN LISENSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

STRUKTUR DAN FORMAT PENULISAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA (SKKNI)

STRUKTUR DAN FORMAT PENULISAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA (SKKNI) 15 2012, No.364 LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA STRUKTUR DAN FORMAT

Lebih terperinci

MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTER! KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTER! KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERIKETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTER! KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG SISTEM STANDARDISASI KOM PETENSI KERJA NAS IONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

KEPUTUSAN DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI NOMORKEP.280 / LATTAS/ XI/2014

KEPUTUSAN DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI NOMORKEP.280 / LATTAS/ XI/2014 KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI Rl DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS Jin. Jenderal Gatot Subroto Kavling 51 Telepon (021) 5262643, Faksimilie 5262643 Jakarta Selatan KEPUTUSAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2000 TENTANG USAHA DAN PERAN MASYARAKAT JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2000 TENTANG USAHA DAN PERAN MASYARAKAT JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : Mengingat : PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2000 TENTANG USAHA DAN PERAN MASYARAKAT JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Undang-undang

Lebih terperinci

SKEMA SERTIFIKASI KOMPETENSI TEKNISI PEMBESARAN UDANG

SKEMA SERTIFIKASI KOMPETENSI TEKNISI PEMBESARAN UDANG KOMPETENSI Disusun atas dasar permintaan otoritas kompeten bidang budidaya perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI dan Lembaga Sertifikasi Profesi Akuakultur Indonesia untuk membangun, memelihara

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA DAN THANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA,

MENTERI TENAGA KERJA DAN THANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER.21/MEN/X/2007 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN THANSMIGRASI

Lebih terperinci

SKEMA SERTIFIKASI AHLI TEKNIK TEROWONGAN

SKEMA SERTIFIKASI AHLI TEKNIK TEROWONGAN 1. Justifikasi 1.1 Tuntutan persyaratan kompetensi Tenaga kerja untuk pekerjaan perencana, pengawas dan pelaksana jasa konstruksi harus bersertifikat keahlian kerja dan atau keterampilan kerja (UU No.

Lebih terperinci

NOMOR 53 TAHUN 2014 TENTANG BAB I PENDAHULUAN

NOMOR 53 TAHUN 2014 TENTANG BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2014 TENTANG PENETAPAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA KATEGORI JASA PROFESIONAL, ILMIAH DAN TEKNIS

Lebih terperinci

SUPERVISOR PENGELOLAAN SUMBER DAYA MANUSIA

SUPERVISOR PENGELOLAAN SUMBER DAYA MANUSIA 2015 LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA FR. SKEMA-03 SUPERVISOR PENGELOLAAN SUMBER DAYA MANUSIA Ditetapkan tanggal: Oleh: Mahmud Ketua Komite Skema Dinarwulan Sutoto Ketua

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 1094 K/30/MEM/2003 TENTANG STANDAR LATIH KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN

KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 1094 K/30/MEM/2003 TENTANG STANDAR LATIH KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 1094 K/30/MEM/2003 TENTANG STANDAR LATIH KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGASEM NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARANGASEM,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGASEM NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARANGASEM, 1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARANGASEM NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG \IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARANGASEM, Menimbang : a. bahwa jasa konstruksi merupakan salah

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2000 TENTANG USAHA DAN PERAN MASYARAKAT JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2000 TENTANG USAHA DAN PERAN MASYARAKAT JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2000 TENTANG USAHA DAN PERAN MASYARAKAT JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

LAMPIRAN TENTANG BAB I PENDAHULUAN

LAMPIRAN TENTANG BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 370 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA KATEGORI INDUSTRI PENGOLAHAN GOLONGAN POKOK INDUSTRI TEKSTIL

Lebih terperinci

PEDOMAN PERUMUSAN STANDAR KOMPETENSI TEKNIS PEGAWAI NEGERI SIPIL

PEDOMAN PERUMUSAN STANDAR KOMPETENSI TEKNIS PEGAWAI NEGERI SIPIL 2013, No.298 4 LAMPIRAN PERATURAN KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PERUMUSAN STANDAR KOMPETENSI TEKNIS PEGAWAI NEGERI SIPIL PEDOMAN PERUMUSAN STANDAR KOMPETENSI TEKNIS

Lebih terperinci

KPBK (KURIKULUM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI)

KPBK (KURIKULUM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI) KPBK (KURIKULUM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI) Judul Pelatihan : AHLI DETEKSI KEBOCORAN DAN COMMISSIONING JARINGAN PERPIPAAN SPAM Kode Jabatan Kerja :... Kode Pelatihan :... DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN

Lebih terperinci

MANAJER PENGELOLAAN SUMBER DAYA MANUSIA

MANAJER PENGELOLAAN SUMBER DAYA MANUSIA 2015 LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA FR. SKEMA-03 MANAJER PENGELOLAAN SUMBER DAYA MANUSIA Ditetapkan tanggal: Oleh: Mahmud Ketua Komite Skema Dinarwulan Sutoto Ketua

Lebih terperinci

SKEMA SERTIFIKASI AHLI TEKNIK JALAN

SKEMA SERTIFIKASI AHLI TEKNIK JALAN 1. Justifikasi 1.1 Tuntutan persyaratan kompetensi Tenaga kerja untuk pekerjaan perencana, pengawas dan pelaksana jasa konstruksi harus bersertifikat keahlian kerja dan atau keterampilan kerja (UU No.

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.22/MEN/IX/2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PEMAGANGAN DI DALAM NEGERI

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.22/MEN/IX/2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PEMAGANGAN DI DALAM NEGERI PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.22/MEN/IX/2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PEMAGANGAN DI DALAM NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI TENAGA KERJA DAN

Lebih terperinci

KEPUTUSAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP. 245 / MEN / V /2007 TENTANG

KEPUTUSAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP. 245 / MEN / V /2007 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 245 / MEN / V /2007 TENTANG PENETAPAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL

Lebih terperinci

SKEMA SERTIFIKASI AHLI KESELAMATAN JALAN

SKEMA SERTIFIKASI AHLI KESELAMATAN JALAN 1. Justifikasi 1.1 Tuntutan persyaratan kompetensi Tenaga kerja untuk pekerjaan perencana, pengawas dan pelaksana jasa konstruksi harus bersertifikat keahlian kerja dan atau keterampilan kerja (UU No.

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 31 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 31 TAHUN 2013 TENTANG . MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAY A MINERAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 31 TAHUN 2013 TENTANG KETENTUAN DAN TATA CARA PENGGUNAAN TENAGA KERJA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 8 TAHUN 2005 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 8 TAHUN 2005 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 8 TAHUN 2005 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56TAHUN 2014 TENTANG PENETAPAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 126/PMK.05/2016 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN SERTIFIKASI BENDAHARA PADA SATUAN KERJA PENGELOLA ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG

- 1 - PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG - 1 - SALINAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA BIDANG KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 09 / PRT / M / 2013

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 09 / PRT / M / 2013 PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 09 / PRT / M / 2013 TENTANG PERSYARATAN KOMPETENSI UNTUK SUBKUALIFIKASI TENAGA AHLI DAN TENAGA TERAMPIL BIDANG JASA KONSTRUKSI MENTERI PEKERJAAN UMUM, Menimbang

Lebih terperinci

BIDANG MANAJEMEN AIR MINUM MANAJEMEN OPERASI SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

BIDANG MANAJEMEN AIR MINUM MANAJEMEN OPERASI SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI BIDANG MANAJEMEN AIR MINUM MANAJEMEN OPERASI SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM PAM.MM02.007.01 BUKU PENILAIAN DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER

Lebih terperinci

BERITA NEGARA. No.587, 2014 KEMENAKERTRANS. Pelatihan. Berbasis Kompetensi. Penyelenggaraan. Pedoman. PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI

BERITA NEGARA. No.587, 2014 KEMENAKERTRANS. Pelatihan. Berbasis Kompetensi. Penyelenggaraan. Pedoman. PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.587, 2014 KEMENAKERTRANS. Pelatihan. Berbasis Kompetensi. Penyelenggaraan. Pedoman. PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR HK.03.1.23.04.12.2208 TAHUN 2012 TENTANG PEMBERLAKUAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN SUB SEKTOR INDUSTRI MAKANAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2000 TENTANG USAHA DAN PERAN MASYARAKAT JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2000 TENTANG USAHA DAN PERAN MASYARAKAT JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2000 TENTANG USAHA DAN PERAN MASYARAKAT JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 2052 K/40/MEM/2001 TENTANG STANDARDISASI KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN

KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 2052 K/40/MEM/2001 TENTANG STANDARDISASI KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN KEPUTUSAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 2052 K/40/MEM/2001 TENTANG STANDARDISASI KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL, Menimbang. : bahwa sebagai

Lebih terperinci

2016, No Distribusi Gas Bumi untuk Rumah Tangga yang Dibangun oleh Pemerintah, Badan Usaha wajib mengusulkan harga jual Gas Bumi untuk Rumah Ta

2016, No Distribusi Gas Bumi untuk Rumah Tangga yang Dibangun oleh Pemerintah, Badan Usaha wajib mengusulkan harga jual Gas Bumi untuk Rumah Ta No.659, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BPH MIGAS. Gas Bumi. Harga Jual. Kota Jambi. PERATURAN BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG HARGA JUAL GAS BUMI MELALUI PIPA

Lebih terperinci

PERATURAN BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI NOMOR : 3 / BNSP / III / 2014 TENTANG PEDOMAN KETENTUAN UMUM LISENSI LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI

PERATURAN BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI NOMOR : 3 / BNSP / III / 2014 TENTANG PEDOMAN KETENTUAN UMUM LISENSI LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI PERATURAN BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI NOMOR : 3 / BNSP / III / 2014 TENTANG PEDOMAN KETENTUAN UMUM LISENSI LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA BADAN NASIONAL SERTIFIKASI

Lebih terperinci

2 d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, dan huruf c periu ditetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Peru

2 d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, dan huruf c periu ditetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Peru No.46, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENPU-PR. Pelatihan. Berbasis Kompetensi. Jasa Konstruksi. Pedoman. PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 24/PRT/M/2014 TENTANG PEDOMAN

Lebih terperinci

ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2006 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK

Lebih terperinci

bahwa dalam rangka menjaga tingkat produksi minyak dan gas bumi serta memberikan kepastian dalam pelaksanaan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi

bahwa dalam rangka menjaga tingkat produksi minyak dan gas bumi serta memberikan kepastian dalam pelaksanaan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi MENTERI ENERGi DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER

Lebih terperinci

SKEMA SERTIFIKASI KOMPETENSI SERTIFIKAT LEVEL BIDANG BISNIS KONVENSI

SKEMA SERTIFIKASI KOMPETENSI SERTIFIKAT LEVEL BIDANG BISNIS KONVENSI 2016 LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI PIHAK PERTAMA SEKOLAH TINGGI PARIWISATA BANDUNG SKEMA SERTIFIKASI KOMPETENSI SERTIFIKAT LEVEL BIDANG BISNIS KONVENSI Disusun oleh Komite Skema Sertifikasi yang merupakan

Lebih terperinci

PENGANTAR. Jakarta, Maret Pedoman Pelatihan dan Sertifikasi Asessor/ Master Asesor Kompetensi Draft Final 1 / 23

PENGANTAR. Jakarta, Maret Pedoman Pelatihan dan Sertifikasi Asessor/ Master Asesor Kompetensi Draft Final 1 / 23 PENGANTAR Pada konteks pelaksanaan uji kompetensi atau penilaian berbasis kompetensi, seorang Asesor Uji Kompetensi memiliki peran yang sangat penting dan menentukan dalam mencapai kualitas uji kompetensi

Lebih terperinci

PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN/KOTA 1. Mineral, Batu Bara, Panas Bumi, dan Air Tanah PEMERINTAH

PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN/KOTA 1. Mineral, Batu Bara, Panas Bumi, dan Air Tanah PEMERINTAH - 763 - BB. PEMBAGIAN URUSAN AN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL SUB 1. Mineral, Batu Bara, Panas Bumi, dan Air Tanah 1. Penetapan kebijakan pengelolaan mineral, batubara, panas bumi dan air tanah nasional.

Lebih terperinci

SERTIFIKASI KOMPETENSI KONSERVASI ENERGI HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI (HAKE)

SERTIFIKASI KOMPETENSI KONSERVASI ENERGI HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI (HAKE) SERTIFIKASI KOMPETENSI KONSERVASI ENERGI HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI (HAKE) Jakarta, 19 Mei 2015 1. Pendahuluan OUTLINE 2. SKKNI Manajer Energi dan Auditor Energi 3. Sertifikasi Kompetensi Konservasi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2012 TENTANG PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 28 TAHUN 2000 TENTANG USAHA DAN PERAN MASYARAKAT JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

LEGALISASI SERTIFIKASI LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI. Disampaikan Oleh : SULISTYO

LEGALISASI SERTIFIKASI LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI. Disampaikan Oleh : SULISTYO LEGALISASI SERTIFIKASI LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI Disampaikan Oleh : SULISTYO Tanggal 22 April 2013 PENGERTIAN DASAR SERTIFIKASI KOMPETENSI SERTIFIKASI SERTIFIKASI merupakan suatu proses untuk mendapatkan

Lebih terperinci

PEDOMAN UMUM PERUMUSAN STANDAR KOMPETENSI TEKNIS URUSAN PEMERINTAHAN

PEDOMAN UMUM PERUMUSAN STANDAR KOMPETENSI TEKNIS URUSAN PEMERINTAHAN Lampiran-Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor : Tanggal : PEDOMAN UMUM PERUMUSAN STANDAR KOMPETENSI TEKNIS URUSAN PEMERINTAHAN I. PENDAHULUAN A. UMUM Dalam rangka menjamin penyelenggaraan Pemerintahan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1179, 2013 KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM. Kompetensi. Tenaga Ahli. Terampil. Jasa Konstruksi. Persyaratan. PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR 09/PRT/M/2013

Lebih terperinci

SKEMA SERTIFIKASI AHLI TEKNIK LANSEKAP

SKEMA SERTIFIKASI AHLI TEKNIK LANSEKAP 1. Justifikasi 1.1 Tuntutan persyaratan kompetensi Tenaga kerja untuk pekerjaan perencana, pengawas dan pelaksana jasa konstruksi harus bersertifikat keahlian kerja dan atau keterampilan kerja (UU No.

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 02 TAHUN 2007 TENTANG PEDOMAN TEKNIS DAN PERSYARATAN KOMPETENSI PELAKSANAAN RETROFIT DAN RECYCLE PADA SISTEM REFRIGERASI MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

Lebih terperinci

BAB I P E N D A H U L U A N

BAB I P E N D A H U L U A N BAB I P E N D A H U L U A N A. LATAR BELAKANG Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengembangan Sistem Pendidikan dan Pelatihan Berbasis Kompetensi di Lingkungan Kementerian

Lebih terperinci

PERSYARATAN UMUM TEMPAT UJI KOMPETENSI LSP PPT MIGAS

PERSYARATAN UMUM TEMPAT UJI KOMPETENSI LSP PPT MIGAS PERSYARATAN UMUM TEMPAT UJI KOMPETENSI LSP PPT MIGAS 1. RUANG LINGKUP DAN ACUAN Ruang lingkup: Pedoman ini menguraikan kriteria Tempat Uji Kompetensi Tenaga Kerja yang mencakup persyaratan manajemen dan

Lebih terperinci

DPP PERSAGI MEYLINA DJAFAR. Peraturan Pemerintah no 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan

DPP PERSAGI MEYLINA DJAFAR. Peraturan Pemerintah no 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan DPP PERSAGI MEYLINA DJAFAR Dasar hukum Peraturan Pemerintah no 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan UU Kesehatan no 36 tahun 2009 Keputusan mentri Kesehatan no 374 tahun 2007 tentang standar Profesi

Lebih terperinci

PROGRAM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) BEKERJA PADA KETINGGIAN

PROGRAM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) BEKERJA PADA KETINGGIAN : Senggono PROGRAM PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI KESELAMATAN DAN KESEHATAN (K3) BE PADA KETINGGIAN KODE PROGRAM PELATIHAN : KEMENTERIAN TENAGA DAN TRANSMIGRASI SEKRETARIAT JENDERAL PUSAT KESELAMATAN DAN

Lebih terperinci

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS Nomor KEP. 31/LATTAS/II/2014 TENTANG

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS Nomor KEP. 31/LATTAS/II/2014 TENTANG KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav. 51 Lantai VI Blok A Telepon 52901142 Fax. 52900925 Jakarta Selatan

Lebih terperinci

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN KEPUTUSAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN NOMOR : KEP-03/M.

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN KEPUTUSAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN NOMOR : KEP-03/M. SALINAN KEPUTUSAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN NOMOR : KEP-03/M.EKON/01/2008 TENTANG TIM KOORDINASI PROGRAM AKSI PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN ENERGI ALTERNATIF MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN,

Lebih terperinci

MENINGKATKAN KUALITAS TENAGA KERJA MELALUI PROGRAM SERTIFIKASI KOMPETENSI KERJA. oleh

MENINGKATKAN KUALITAS TENAGA KERJA MELALUI PROGRAM SERTIFIKASI KOMPETENSI KERJA. oleh MENINGKATKAN KUALITAS TENAGA KERJA MELALUI PROGRAM SERTIFIKASI KOMPETENSI KERJA oleh Ir. SUMARNA F. ABDURRAHMAN, MSc KETUA KOMITE TETAP SISTEM KOMPETENSI SDM KADIN - INDONESIA KONDISI DAN MASALAH TANTANGAN

Lebih terperinci

PENGAMBANGAN SKKNI DALAM RANGKA MENINGKATKAN KOMPETENSI TENAGA KERJA INDONESIA MENGHADAPI PERSAINGAN GLOBAL

PENGAMBANGAN SKKNI DALAM RANGKA MENINGKATKAN KOMPETENSI TENAGA KERJA INDONESIA MENGHADAPI PERSAINGAN GLOBAL PENGAMBANGAN SKKNI DALAM RANGKA MENINGKATKAN KOMPETENSI TENAGA KERJA INDONESIA MENGHADAPI PERSAINGAN GLOBAL Disampaikan Pada Kegiatan SOSIALISASI SKKNI DI INDUSTRI KOMINFO 1 APRIL 2015 DI BALIKPAPAN Oleh

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA, : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 98 ayat (7)

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA, : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 98 ayat (7) -1- Bagian Kumortala Digitally signed by Bagian Kumortala Date: 2017.01.05 11:48:43 +0700 PERATURAN KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA NOMOR 16 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR KOMPETENSI TEKNIS PERSANDIAN BAGI JABATAN

Lebih terperinci

KEPUTUSAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP. 242 / MEN / V /2007 TENTANG

KEPUTUSAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP. 242 / MEN / V /2007 TENTANG MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 242 / MEN / V /2007 TENTANG PENETAPAN STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 28 TAHUN 2000 TENTANG USAHA DAN PERAN MASYARAKAT JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Pemerintah Negara

Lebih terperinci

1. Mengembangkan penerapan sistem manajemen mutu LSP-PB sesuai pedoman Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP);

1. Mengembangkan penerapan sistem manajemen mutu LSP-PB sesuai pedoman Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP); Tugas : Membuat rencana kerja Bidang Mutu; Mengembangkan penerapan sistem manajemen mutu LSP-PB sesuai pedoman Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP); Memelihara berlangsungnya sistem manajemen agar

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pemerintah

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEBUMEN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEBUMEN, SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEBUMEN, Menimbang : a. bahwa jasa konstruksi merupakan salah

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2000 TENTANG USAHA DAN PERAN MASYARAKAT JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2000 TENTANG USAHA DAN PERAN MASYARAKAT JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2000 TENTANG USAHA DAN PERAN MASYARAKAT JASA KONSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

PERATURAN LEMBAGA PENGEMBANGAN JASA KONSTRUKSI NOMOR : 9 TAHUN 2012 TENTANG PEMBENTUKAN UNIT SERTIFIKASI TENAGA KERJA KONSTRUKSI 14 NOPEMBER 2012

PERATURAN LEMBAGA PENGEMBANGAN JASA KONSTRUKSI NOMOR : 9 TAHUN 2012 TENTANG PEMBENTUKAN UNIT SERTIFIKASI TENAGA KERJA KONSTRUKSI 14 NOPEMBER 2012 PERATURAN LEMBAGA PENGEMBANGAN JASA KONSTRUKSI NOMOR : 9 TAHUN 2012 TENTANG PEMBENTUKAN UNIT SERTIFIKASI TENAGA KERJA KONSTRUKSI 14 NOPEMBER 2012 LEMBAGA PENGEMBANGAN JASA KONSTRUKSI NASIONAL DAFTAR ISI

Lebih terperinci

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) KURSUS DAN PELATIHAN SULAM LEVEL III berbasis

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) KURSUS DAN PELATIHAN SULAM LEVEL III berbasis STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) KURSUS DAN PELATIHAN SULAM LEVEL III berbasis Direktorat Pembinaan Kursus Dan Pelatihan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal Dan Informal Kementerian

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, S A L I N A N PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 02 TAHUN 2007 TENTANG PEDOMAN TEKNIS DAN PERSYARATAN KOMPETENSI PELAKSANAAN RETROFIT DAN RECYCLE PADA SISTEM REFRIGERASI MENTERI NEGARA LINGKUNGAN

Lebih terperinci

BIDANG PERDAGANGAN PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR DINAS KOPERASI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN

BIDANG PERDAGANGAN PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR DINAS KOPERASI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN LUWU TIMUR PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR DINAS KOPERASI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN BIDANG PERDAGANGAN Nomor SOP 001 Tgl Pembuatan 13 Nopember 014 Tgl Revisi - Tgl Pengesahan 15 Nopember 014 Disahkan

Lebih terperinci

LEMBAGA KEBIJAKAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA BAB I PENDAHULUAN

LEMBAGA KEBIJAKAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Pemerintah, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah termasuk Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah, setiap tahun membelanjakan tidak kurang dari

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2007 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2007 TENTANG PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN NONFORMAL DAN INFORMAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN

Lebih terperinci

PROVINSI BANTEN PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN

PROVINSI BANTEN PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN PROVINSI BANTEN PERATURAN WALIKOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 25 TAHUN 2015 TENTANG PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DALAM KONSTELASI KESELAMATAN MIGAS LINGKUP PENANGANAN KESELAMATAN PADA KEGIATAN USAHA MIGAS

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DALAM KONSTELASI KESELAMATAN MIGAS LINGKUP PENANGANAN KESELAMATAN PADA KEGIATAN USAHA MIGAS PEMBINAAN DAN PENGAWASAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DALAM KONSTELASI KESELAMATAN MIGAS Oleh : Luluk Sumiarso Direktur Jenderal Migas Disampaikan pada : Lokakarya Sehari Tentang Pengembangan Koordinasi

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2016 TENTANG PANGKALAN DATA PENDIDIKAN TINGGI

PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2016 TENTANG PANGKALAN DATA PENDIDIKAN TINGGI SALINAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2016 TENTANG PANGKALAN DATA PENDIDIKAN

Lebih terperinci

Persyaratan Umum Lembaga Sertifikasi Ekolabel

Persyaratan Umum Lembaga Sertifikasi Ekolabel Pedoman KAN 801-2004 Persyaratan Umum Lembaga Sertifikasi Ekolabel Komite Akreditasi Nasional Kata Pengantar Pedoman ini diperuntukkan bagi lembaga yang ingin mendapat akreditasi sebagai Lembaga Sertifikasi

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 5 ayat (3) Peraturan

Lebih terperinci