DEPRESI BERKORELASI DENGAN RENDAHNYA KUALITAS HIDUP PENDERITA PARKINSON

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DEPRESI BERKORELASI DENGAN RENDAHNYA KUALITAS HIDUP PENDERITA PARKINSON"

Transkripsi

1 TESIS DEPRESI BERKORELASI DENGAN RENDAHNYA KUALITAS HIDUP PENDERITA PARKINSON LUSSY NATALIA HENDRIK PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2013

2 TESIS DEPRESI BERKORELASI DENGAN RENDAHNYA KUALITAS HIDUP PENDERITA PARKINSON LUSSY NATALIA HENDRIK NIM PROGRAM MAGISTER PROGRAM STUDY BIOLOGI MOLEKULER PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2013

3 DEPRESI BERKORELASI DENGAN RENDAHNYA KUALITAS HIDUP PENDERITA PARKINSON Tesis untuk memperoleh Gelar Magister pada Program Magister, Program Study Biologi Molekuler Program Pascasarjana Universitas Udayana LUSSY NATALIA HENDRIK NIM PROGRAM MAGISTER PROGRAM STUDY BIOLOGI MOLEKULER PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2013 ii

4 Lembar Persetujuan TESIS INI TELAH DISETUJUI TANGGAL 17 September 2013 Pembimbing I, Pembimbing II, Dr. dr. DPG.Purwa Samatra, SpS(K) Dr. dr. Thomas Eko P. SpS (K) NIP NIP Mengetahui Ketua Program Studi Ilmu Biomedik Program Pascasarjana Universitas Udayana Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi Sp.S (K) NIP NIP iii

5 Tesis Ini Telah Diuji Pada Tanggal, 17 September 2013 Panitia Penguji Tesis Berdasarkan SK Rektor Universitas Udayana, No. : 1717/UN 14.4 /HK/2013 Tanggal, 16 Sept 2013 Ketua Sekretaris : Dr. dr. DPG.Purwa Samatra, Sp.S(K) : Dr. dr. Thomas Eko P. Sp.S (K) Anggota : 1. Prof. dr. N. Tigeh Suryadhi, MPH,Ph.D 2. dr. AAB Ngurah Nuartha, Sp.S (K) 3. dr. IGN. Purna Putra, Sp.S (K) iv

6 UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan hidayahnya, sehingga penulis mendapatkan hikmah pengetahuan dalam menyelesaikan karya akhir dengan judul Depresi berkorelasi dengan rendahnya kualitas hidup penderita Parkinson, yang merupakan salah satu persyaratan dalam menyelesaikan Program Studi Magister Ilmu Biomedik - Program Pendidikan Dokter Spesialis-I di Bagian Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Udayana / RSUP Sanglah Denpasar. Pada kesempatan ini saya mengucapkan rasa hormat, terima kasih dan penghargaan yang setulus-tulusnya kepada guru-guru saya atas segala bantuan dan bimbingannya, selama menempuh pendidikan ini. Pertama-tama ucapan terimakasih saya haturkan kepada yang terhormat Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD (KHOM) selaku Rektor Universitas Udayana Bali saat dilakukan penelitian ini beserta jajarannya yang telah memberi ijin bagi penulis untuk menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis-I di Bagian Ilmu Penyakit Saraf dan Magister Ilmu Biomedik Program Pascasarjana Universitas Udayana. Yang saya hormati Bapak Dekan Fakultas Kedokteran Udayana Bali Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp.PD-KEMD v

7 Kepada Bapak Direktur RSUP Sanglah Dr. I Wayan Sutarga, MPHM serta Bapak Prof. Dr. dr. Wempie Pangkahila, Sp.And. FAACS selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Biomedik Program Pascasarjana Universitas Udayana dan juga Ibu Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi Sp.S (K) selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana yang telah memberikan kesempatan kepada saya dalam menempuh pendidikan ini. Yang terhormat Dr. dr. DPG. Purwa Samatra, Sp.S (K) saat penelitian ini selaku Ketua Bagian / SMF Ilmu Penyakit Saraf FK UNUD / RSUP Sanglah Denpasar dan dr. Made Oka Adnyana, Sp.S (K) selaku Ketua Bagian / SMF Ilmu Penyakit Saraf FK UNUD/ RSUP Sanglah Denpasar yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk dapat mengikuti pendidikan spesialisasi dan senantiasa memberikan nasehat, bimbingan dan dukungan moril selama ini. Kepada yang terhormat Bapak Dr. dr. DPG. Purwa Samatra, Sp.S (K) selaku Dosen Pembimbing I dan kepada Bapak Dr. dr. Thomas Eko Purwata. Sp.S (K) selaku dosen Pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktu dan perhatiannya untuk memberikan bimbingan dan pengarahan selama proses penyusunan Tesis ini. Kepada yang terhormat dr. I.B. Kusuma Putra, Sp.S selaku sekretaris Program Studi Ilmu Penyakit Saraf yang telah memberikan bimbingan dan dukungan moril selama saya menempuh pendidikan ini. vi

8 Kepada yang terhormat Bapak dan Ibu guru saya, dr. I Wayan Kondra, Sp.S(K), dr. AABN. Nuartha, Sp.S(K), dr. IGN. Purna Putra, Sp.S(K), dr. IGN. Budiarsa, Sp.S, dr. Anna Maritha Gelgel, Sp.S(K), dr. AAA. Laksmidewi, Sp.S(K), dr. AA. Mediari SpS, dr. I Komang Arimbawa, Sp.S, dr. Desak Kt. Indrasari Utami, Sp.S, dr. I Putu Eka Widyadharma, Sp.S, dr. Kumara Tini Sp.S, dr. Ketut Widyastuti, Sp.S, dr. Ni Made Susilawati, Sp.S, dr. Ni Ketut Candrawati Wiratmi, Sp.S, dan dr. Ketut Sumada, Sp.S yang telah memberikan bimbingan, motivasi dan ilmu selama saya mengikuti program pendidikan spesialisasi ini. Ucapan terima kasih kepada dr. Deddy Andaka dan dr. Roy Gerald atas bantuan dalam pengumpulan sampel sebagai bahan dalam penelitian ini. Ucapan terima kasih dan penghargaan juga saya sampaikan kepada semua rekan residen Neurologi yang telah memberi bantuan dan petunjuk dalam pelaksanaan penelitian kami serta seluruh paramedis di poliklinik Saraf RSUP Sanglah maupun RSUD Wangaya kota Denpasar. Pasien-pasien yang selama ini menjadi subyek dalam penelitian kami, atas ketulusan dan kerjasama yang diberikan, saya ucapkan banyak terima kasih dan penghargaan yang sedalam-dalamnya. Kepada Ayahanda Hermanus Hendrik (Alm) dan Ibunda Agnes, serta Bapak Mertua M. Sihombing dan ibu mertua H. br. Panggabean beserta seluruh kakakkakak dan adik adik, saya mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya atas vii

9 doa, dorongan dan segala bantuan baik moril maupun material serta pengertiannya dalam meraih cita cita dan pengharapan saya. Ucapan yang tulus terutama juga penulis sampaikan kepada suami tercinta Mayor Laut Ridho Sihombing, SH, MH dan anak kami tersayang Asinandar Meilan Sihombing dan Grace Christalia Sihombing atas cinta kasih, pengorbanan, semangat, dorongan, serta motivasi dalam menyelesaikan karya akhir ini. Saya menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih sangat banyak kekurangannya, oleh karena itu kritik dan saran kami harapkan untuk perbaikannya. Akhirnya dari lubuk hati yang paling dalam saya menyampaikan permintaan maaf sebesar-besarnya kepada semua pihak, bila dalam proses pendidikan maupun dalam pergaulan sehari-hari ada tutur kata dan sikap yang kurang berkenan dihati. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa melimpahkan rahmat dan petunjuk- Nya kepada kita semua. Amin. Denpasar, Agustus 2013 Penulis Dr. Lussy Natalia Hendrik viii

10 DEPRESI BERKORELASI DENGAN RENDAHNYA KUALITAS HIDUP PENDERITA PARKINSON ABSTRAK Lussy Natalia Hendrik Latar Belakang: Depresi memiliki hubungan yang erat dengan penyakit Parkinson, kondisi yang kronis dan pengobatan jangka panjang dapat mempengaruhi morbiditas dan kepatuhan dalam pengobatan. Pengobatan penyakit Parkinson saat ini bertujuan untuk mengurangi gejala motorik dan memperlambat progresivitas penyakit. disamping terdapat efek terapi obat jangka panjang. Hal tersebut tentu saja mempengaruhi kualitas hidup penderita penyakit Parkinson. Peningkatan kualitas hidup adalah penting sebagai tujuan pengobatan pada penyakit kronis. Pada penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran depresi dan kualitas hidup serta hubungan antara keduanya. Metode penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian observasional secara cross sectional. Pengambilan data dari semua pasien Parkinson yang dirawat di Instalasi Rawat Jalan RSUP Sanglah dan RSUD Wangaya kota Denpasar yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel bebas adalah, depresi, jenis kelamin, Jenis pengobatan, lamanya sakit, umur saat onset dan stadium penyakit Parkinson sedangkan variabel tergantung skor PDQ-39. Hasil:. 60 pasien yang mengikuti penelitian, terdapat hubungan antara depresi dengan kualitas hidup penderita Parkinson dengan nilai koefisien korelasi (r) = 0,455 dan nilai p = 0,027. Simpulan: Depresi berkorelasi dengan rendahnya kualitas hidup penderita penyakit Parkinson. Kata kunci: Penyakit Parkinson Depresi-PDQ-39 Kualitas Hidup. ix

11 DEPRESSION CORRELATES WITH THE LOW QUALITY OF LIFE OF THE PARKINSON PATIENTS ABSTRACT Lussy Natalia Hendrik Background : Depression has a close relationship with Parkinson s disease, a chronic condition and long-term treatment may affect morbidity and the patients adherence to treatment. The current treatment of Parkinson s disease aims to reduce motor symptoms and to slow the progression of the disease; in addition there are the effects of long-term drug therapy. This of course affects the quality of life of patients with Parkinson s disease. The study aims to find the description of depression and quality of life as well as the relationship between the two. The Research Methods : This research is a cross-sectional observational study. The data collection was taken from all patients who were treated at Parkinson outpatient installation of Sanglah Public Hospital and Wangaya Hospital of Denpasar city who met the inclusion criteria. The independent variables are depression, gender, type of treatment, duration of illness, age at onset and the stage of Parkinson s disease while the variables depend on the score of the PDQ- 39. Result : 60 patients entering the study, there is a relationship between depression and quality of life of patients of Parkinson with the correlation coefficient (r)= 0,455 and p value = Conclusions : Depression is correlated with the poor quality of life of patients with Parkinson s disease. Keyword : Parkinson s Disease-Depression-PDQ-39-Quality of Life x

12 RINGKASAN Penyakit Parkinson (PP) merupakan penyakit neurodegeneratif progresif dan merupakan penyakit neurodegeneratif yang paling lazim setelah penyakit Alzheimer. Salah satu penyakit degeneratif yang sering disertai depresi adalah PP. Insiden depresi pada PP berkisar antara 20% sampai 70%, Patofisiologi depresi pada PP belum diketahui secara pasti, tetapi diduga berhubungan dengan perubahan metabolisme serotonin. kondisi yang kronis dan pengobatan jangka panjang dapat mempengaruhi morbiditas dan kepatuhan dalam pengobatan. Yang akan mempengaruhi kualitas hidup.pdq-39 (Parkinson s disease questionnaire- 39) merupakan instrumen pengukur kualitas hidup pada penderita PP. Mengukur perspektif penderita terhadap PP, berisi domain fisik, sosial dan berkarya. aspek hubungan keluarga, hubungan dengan teman.penelitian ini dgn menggunakan, hasil penelitian ini menunjukan bahwa depresi mempunyai korelasi dengan kualitas hidup yang rendah pada PP, didapatkan juga bahwa faktor jenis kelamin, stadium penyakit, usia saat diagnosis, lama sakit, dan jenis pengobatan tidak mempengaruhi kualitas hidup. Peningkatan kualitas hidup adalah penting sebagai tujuan pengobatan. Pencapaian keberhasilan dalam bidang kesehatan terutama kesehatan masyarakat, tidak hanya pada penurunan jumlah penderita tetapi lebih ditekankan pada kualitas penanganannya, baik secara preventif maupun kuratif. Kualitas hidup sebagai manifestasi dari kesejahteraan merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan pembangunan dalam bidang kesehatan. xi

13 DAFTAR ISI SAMPUL DALAM. PRASYARAT GELAR.. LEMBAR PERSETUJUAN... PENETAPAN PANITIA PENGUJI... UCAPAN TERIMA KASIH.. ABSTRAK.. ABSTRACT RINGKASAN. DAFTAR ISI. DAFTAR TABEL.. DAFTAR GAMBAR. DAFTAR SINGKATAN... DAFTAR LAMPIRAN. BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Tujuan Umum Tujuan Khusus Manfaat Penelitian Manfaat Akademis Manfaat Praktis. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Penyakit Parkinson Definisi Jenis-jenis Parkinsonism Diagnosis Patofisiologi Patogenesis 2.1 Gambaran Klinis Pengobatan Penyakit Parkinson 2.2 Depresi Definisi Gejala-gejala Depresi Gejala Fisik Gejala Psikis Gejala Sosial Faktor Risiko Jenis Kelamin Usia Status Perkawinan... i ii iii iv vi ix x xi xii xvii xviii xix xxi xii

14 Geografis Riwayat Keluarga Kepribadian Stresor Sosial Dukungan Sosial Tidak Bekerja Etiologi Faktor Biologi Faktor Genetik Faktor Psikososial Diagnosis Depresi Dan Kualitas Hidup Pada Penyakit Parkinson Frekuensi Korelasi Klinis Depresi Dan Kualitas Hidup Pada Penyakit Parkinson Usia Dan Lamanya Sakit Jenis Kelamin Gejala Depresi Derajat Depresi Pengaruh Depresi Terhadap Gangguan Motorik Pengaruh Depresi Terhadap Kognitif Patofisiologi Depresi Pada Penyakit Parkinson. 2.4 Kualitas Hidup BAB III KERANGKA PIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN. 3.1 Kerangka Pikir Kerangka Teori Kerangka Konsep. 3.4 Hipotesis Penelitian.. BAB IV METODE PENELITIAN Jenis Penelitian. 4.2 Subjek Penelitian Jumlah Sampel Identifikasi Variabel. 4.5 Alur Penelitian Tempat Dan Waktu Penelitian Peralatan. 4.8 Analisis Data Etika Penelitian.. BAB V HASIL PENELITIAN. 5.1 Karakteristik Subjek. 5.2 Nilai sensitifitas dan spesifisitas PDQ xiii

15 5.3 Korelasi depresi dengan kualitas hidup penderita Parkinson Korelasi faktor jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, stadium penyakit, umur saat diagnosis, lama sakit dan lama pengobatan dengan kualitas hidup penderita penyakit Parkinson... BAB VI PEMBAHASAN 6.1 Karakteristik subjek Korelasi Depresi dengan kualitas hidup penderita Parkinson. 6.3 Faktor Jenis Kelamin, Stadium Penyakit, Umur saat Diagnosis, Lama Sakit dan Jenis Pengobatan dengan Kualitas Hidup Penderita Penyakit Parkinson. 6.4 Keterbatasan Penelitian.. BAB VII SIMPULAN DAN SARAN.. DAFTAR PUSTAKA.. LAMPIRAN xiv

16 DAFTAR TABEL 5.1 Karakteristik Subjek berdasarkan jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan, stadium penyakit, umur saat diagnosis, lama diagnosis dan lama pengobatan 5.2 Korelasi depresi dengan kualitas hidup penderita penyakit Parkinson Korelasi faktor jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan, stadium penyakit, umur saat diagnosis, lama diagnosis dan lama pengobatan dengan kualitas hidup xv

17 DAFTAR GAMBAR 2.1 Skema teori ketidakseimbangan jalur langsung dan tidak langsung Patogenesis penyakit Parkinson 3.2 Kerangka Teori. 3.3 Kerangka Konsep Rancangan Penelitian 4.2 Alur Penelitian Kurva ROC xvi

18 DAFTAR SINGKATAN ADL ATP BDI COP COMT CRH DA DM DNA DSM-IV D1 D2 GABA GPe GPi HDRS HIAA HPA HRQL HVA MAO-B MMSE MPGH MPTP OHDA PDQ-39 PGK PINK 1 PP PVN QOL ROS SNc SNr STN : Activity of Daily Living : Adenosine Triphosphate : Beck s Depression Inventory : Cut of Point : Catechol-0-Methyltransfarase : Corticotropin Releasing Hormonal : Dopamin Agonist : Diabetes Militus : Deoxyribonucleid Acid : Diagnostik Manual Statistik IV : Reseptor dopamin 1 bersifat eksitatorik : Reseptor dopamin 2 bersifat inhibitorik : Gaba-Aminobutryc Acid : Globus palidus pars eksterna : Globus palidus pars interna : Hamilton Depression Rating Scale : Hydroxyindoleacetic Acid : Hypothalamic-Pituitary-Adrenal : Health Related Quality of Life : Homovanilic Acid : Mono Amine Oxidase : Mini Mental State Examination : Methoxy Hydroksi Phenil Glikol : Methyl Phenyl Tetrahydroprydine : Oxidopamine Hydroxydopamine : The Parkinson s Disease Questionnaire : Penyakit Ginjal Kronis : Parkin Expression Arrest the Movement of Neuronal Mitochondria : Penyakit Parkinson : Paraventriculer nucleus : Quality of Life : Reactive Oxigen Species : Substansia nigra pars compacta : Substansia nigra pars retikulata : Subthalamic nucleus xvii

19 UCH-L1 UPDRS UPS VL WHO : Ubiquitin Carboxyl-terminal Hydrolase Isozym L1 Precusor : Unified Parkinson s Disease Rating Scale : Ubiquitia Proteansome System : Ventrolateral thalamus : World Health Organization xviii

20 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Informasi Pasien Lampiran 2 : Formulir Persetujuan tertulis Lampiran 3 : Lembaran Pengumpulan Data Lampiran 4 : Skala Depresi Hamilton Lampiran 5 : Mini Mental State Exam (MMSE) Lampiran 6 : PDQ-39 Lampiran 7 : Analisi data Lampiran 8 : Sampel Penelitian xix

21 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Penyakit Parkinson (PP) merupakan penyakit neurodegeneratif progresif yang disebabkan karena proses degeneratif spesifik neuron-neuron dopaminergik ganglia basalis terutama di substansia nigra pars kompakta yang disertai inklusi sitoplasmik eosinofilik (Badan Lewy). PP adalah tipe tersering dari suatu keadaan Parkinsonism, lebih kurang 80% dari seluruh kasus (Rowland, 2005). PP adalah penyakit neurodegeneratif yang paling lazim setelah penyakit Alzheimer, dengan insiden di Inggris kira-kira 20/ dan prevalensinya / Prevalensinya kira-kira 1 % pada umur 65 tahun dan meningkat 4-5% pada usia 85 tahun (Thomson, 2001; Stephen, 2003). Pada umumnya PP muncul pada usia tahun, rata-rata diatas usia 55 tahun, lebih sering ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan dengan rasio 3:2. Suatu kepustakaan menyebutkan prevalensi tertinggi PP terjadi pada ras Kaukasian di Amerika Utara dan ras Eropa 0,98% hingga 1,94%, menengah terdapat pada ras Asia 0,018% dan prevalensi terendah terdapat pada ras kulit hitam di Afrika 0,01% (Tan, 2004; Rowland, 2005). PP diperkirakan menyerang sekitar orang Indonesia dari total jumlah penduduk saat itu sebesar (Noviani dkk, 2010), untuk angka dan karakteristik penderita PP di propinsi Bali hingga saat ini belum ditemukan data secara pasti. 1

22 2 PP terdapat 4 manifestasi gejala utama motorik : tremor saat istirahat, rigiditas, bradikinesia (berkurang atau lambatnya suatu gerakan), dan instabilitas postural (Fahn, 2003). Selain itu pada PP juga terdapat gejala non motorik yang termasuk didalamnya adalah gangguan sensoris dan otonom serta gangguan neurobehavioral (neuropsikiatri) seperti depresi, ansietas, dan psikosis (Fahn, 2003). Depresi adalah penyakit atau gangguan mental yang sering dijumpai. Penyakit ini menyerang siapa saja tanpa memandang usia, ras atau golongan, maupun jenis kelamin (Kaplan, 2010). Salah satu penyakit degeneratif yang sering disertai depresi adalah PP (Schrag, 2001; Pasquale dkk, 2008; Kleiner-Fisman, 2010). Insiden depresi pada PP berkisar antara 20% sampai 70% (Quelhas, 2009), dengan berbagai studi. Para ahli memandang depresi merupakan suatu reaksi terhadap disabilitas fisik yang berhubungan dengan penyakitnya (Kleiner-Fisman, 2010), namun kenyataannya sedikit sekali hubungan antara beratnya disabilitas motorik dengan depresi (Scalzo, 2009). Bahkan peneliti lain mengatakan tidak ada hubungan antara beratnya gangguan motorik dengan depresi (Quelhas, 2009). Depresi pada PP cenderung mengenai usia yang lebih muda (Schrag, 2001; Scalzo, 2009) dan lebih sering pada perempuan (Schrag, 2001). Patofisiologi depresi pada PP belum diketahui secara pasti (Schrag, 2001), tetapi diduga berhubungan dengan perubahan metabolisme serotonin ( Marsh Laura, 2005; Pasquale, 2008) dan norefinefrin (Marsh Laura, 2005). Penurunan 50% kadar serotonin telah diamati di ganglia basalis dan bagian korteks serebri

23 3 lain pada pasien PP, hal ini menyokong pendapat bahwa sistem serotonergik ascending rusak sebagian pada PP (Marsh Laura, 2005). Depresi memiliki hubungan yang erat dengan PP, kondisi yang kronis dan pengobatan jangka panjang dapat mempengaruhi morbiditas dan kepatuhan dalam pengobatan (Schrag, 2001). Meskipun depresi merupakan penderitaan tambahan pada PP, namun usaha untuk mengatasinya terutama intervensi psikososial, hanya sedikit mendapat perhatian tenaga medis. Sampai saat ini masih sedikit penelitian di Indonesia yang mengkaji kualitas hidup penderita PP khususnya yang mengalami depresi, kewaspadaan dan minat praktisi kesehatan untuk melihat aspek psikis/kejiwaan masih kurang terutama dalam keterkaitannya terhadap kualitas hidup pasien (Wijaya, 2005). Pengobatan PP saat ini bertujuan untuk mengurangi gejala motorik dan memperlambat progresivitas penyakit disamping terdapat efek terapi obat jangka panjang. Hal tersebut tentu saja mempengaruhi kualitas hidup penderita PP. Peningkatan kualitas hidup adalah penting sebagai tujuan pengobatan. Pencapaian keberhasilan dalam bidang kesehatan terutama kesehatan masyarakat, tidak hanya pada penurunan jumlah penderita tetapi lebih ditekankan pada kualitas penanganannya, baik secara preventif maupun kuratif. Kualitas hidup sebagai manifestasi dari kesejahteraan merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan pembangunan dalam bidang kesehatan. PDQ-39 (Parkinson s disease questionnaire-39) merupakan instrumen pengukur kualitas hidup pada penderita PP. PDQ-39 mengukur perspektif penderita terhadap PP, berisi domain fisik, sosial dan berkarya. PDQ-39 memiliki

24 4 aspek hubungan keluarga, hubungan dengan teman dan dalam hal berkarya (Marinus dkk, 2002 ; Silitonga 2007). Oleh karena uraian di atas, peneliti merasa perlu melakukan penelitian untuk mengetahui gambaran depresi dan kualitas hidup serta hubungan antara ke duanya pada penderita PP. 1.2 Rumusan masalah Berdasarkan uraian tersebut, apakah terdapat korelasi antara depresi dengan rendahnya kualitas hidup penderita PP?. 1.3 Tujuan Tujuan umum Mengetahui korelasi antara depresi dengan rendahnya kualitas hidup penderita PP Tujuan khusus a. Mengetahui proporsi depresi pada penderita PP b. Mengetahui derajat kualitas hidup penderita PP c. Mengetahui apakah terdapat korelasi antara depresi dengan rendahnya kualitas hidup penderita PP.

25 5 1.4 Manfaat Penelitian Manfaat akademis Dengan mengetahui hubungan antara depresi dengan kualitas hidup pada penderita PP maka akan dapat menambahkan khasanah keilmuan dalam menentukan prognosis penderita PP Manfaat praktis Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi sebagai sumber rujukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dalam usaha memperbaiki kualitas hidup penderita PP.

26 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penyakit Parkinson Definisi Penyakit Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif sistem ekstrapiramidal yang merupakan bagian dari Parkinsonism yang secara patologis ditandai oleh adanya degenerasi ganglia basalis terutama di substansia nigra pars kompakta (SNC) yang disertai adanya inklusi sitoplasmik eosinofilik (Lewy bodies) (Kelompok Studi Movement Disorder PERDOSSI, 2013). Parkinsonism adalah suatu sindrom yang gejala utamanya adalah tremor waktu istirahat, kekakuan (rigidity), melambatnya gerakan (akinesia) dan instabilitas postural (postural instability) (Kelompok Studi Movement Disorder PERDOSSI, 2013) Jenis-Jenis Parkinsonism Berdasarkan penyebabnya Parkinsonism dibagi atas 4 jenis: a. Idiopatik (primer) Penyakit Parkinson, genetic Parkinson's disease b. Simptomatik (Sekunder) Akibat dari: Infeksi, obat, toksin, vaskular, trauma, hipotiroidea, tumor, hidrosefalus tekanan normal, hidrosefalus obstruktif. c. Parkinsonism plus (Multiple system degeneration) Parkinsonism plus sindrom adalah Parkinsonism primer dangan gejalagejala tambahan. Termasuk demensia Lewy bodies, progresif supranuklear 6

27 7 palsi, atrofi multi sistem, degenerasi striatonigral, degenerasi olivopontoserebelar, sindrom Shy-Drager, degenerasi kortikobasal, kompleks Parkinsonism demensia ALS (Guam), neuroakantositosis. d. Parkinsonism herediter Penyakit Wilson, penyakit Huntington's disease, penyakit Lewy bodies (Kelompok Studi Movement Disorder PERDOSSI, 2013) Diagnosis Diagnosis PP berdasarkan klinis dengan ditemukannya gejala motorik utama antara lain tremor pada waktu istirahat, rigiditas, bradikinesia dan hilangnya refleks postural. Kriteria diagnosis yang dipakai di Indonesia adalah kriteria Hughes (PERDOSSI, 2013) : Possible : didapatkan 1 dari gejala-gejala utama 1.Tremor istirahat 2. Rigiditas 3. Bradikinesia 4. Kegagalan refleks postural Probable : Bila terdapat kombinasi dua gejala utama (termasuk kegagalan refleks postural) alternatif lain: tremor istirahat asimetris, rigiditas asimetris atau bradikinesia asimetris sudah cukup. Definite : Bila terdapat kombinasi tiga dari empat gejala atau dua gejala dengan satu gejala lain yang tidak asimetris (tiga tanda kardinal), atau dua dari tiga tanda tersebut, dengan satu dari ketiga tanda pertama, asimetris.

28 8 Bila semua tanda-tanda tidak jelas sebaiknya dilakukan pemeriksaan ulangan beberapa bulan kemudian. Untuk kepentingan klinis diperlukan adanya penetapan berat ringannya penyakit dalam hal ini digunakan stadium klinis berdasarkan Hoehn and Yahr (PERDOSSI, 2013) yaitu: a. Stadium 1: Gejala dan tanda pada satu sisi, terdapat gejala yang ringan, terdapat gejala yang mengganggu tetapi menimbulkan kecacatan, biasanya terdapat tremor pada satu anggota gerak, gejala yang timbul dapat dikenali orang terdekat (teman). b. Stadium 2: Terdapat gejala bilateral, terdapat kecacatan minimal, sikap/cara berjalan terganggu. c. Stadium 3: Gerak tubuh nyata melambat, keseimbangan mulai terganggu saat berjalan/berdiri, disfungsi umum sedang. d. Stadium 4: Terdapat gejala yang berat, masih dapat berjalan hanya untuk jarak tertentu, rigiditas dan bradikinesia, tidak mampu berdiri sendiri, tremor dapat berkurang dibandingkan stadium sebelumnya. e. Stadium 5: Stadium kakhetik (cachcactic stage), kecacatan total, tidak mampu berdiri dan berjalan walaupun dibantu. (Joesoef, 2001; Kelompok Studi Movement Disorder PERDOSSI, 2013)

29 Patofisiologi Secara umum dapat dikatakan bahwa PP terjadi karena penurunan kadar dopamin akibat kematian neuron di SNC sebesar 40 50% yang disertai adanya inklusi sitoplasmik eosinofilik (Lewy bodies). Lesi primer pada PP adalah degenerasi sel saraf yang mengandung neuro melanin di dalam batang otak, khususnya di SNc, yang menjadi terlihat pucat dengan mata telanjang. Dalam kondisi normal (fisiologik), pelepasan dopamin dari ujung saraf nigrostriatum akan merangsang reseptor D1 (eksitatorik) dan reseptor D2 (inhibitorik) yang berada di dendrit output neuron striatum. Output striatum disalurkan ke globus palidus segmen interna atau substansia nigra pars retikularis lewat 2 jalur yaitu jalur langsung (direk) reseptor D1 dan jalur tidak langsung (indirek) berkaitan dengan reseptor D2. Selama masukan jalur langsung dan jalur tidak langsung seimbang, maka tidak ada kelainan gerakan. Pada penderita PP, terjadi degenerasi kerusakan SNc dan saraf dopaminergik nigrostriatum sehingga tidak ada rangsangan terhadap reseptor D1 maupun D2. Gejala PP belum muncul sampai lebih dari 50% sel saraf dopaminergik rusak dan dopamin berkurang 80%. Reseptor D1 yang eksitatorik tidak terangsang sehingga jalur langsung dengan neurotransmitter GABA (Gaba-Aminobutryc Acid) (inhibitorik) tidak teraktivasi. Reseptor D2 yang inhibitorik tidak terangsang, sehingga jalur tidak langsung dari putamen ke globus palidus segmen eksterna yang GABA ergik tidak ada yang menghambat sehingga fungsi inhibitorik terhadap globus palidus

30 10 segmen eksterna berlebihan. Fungsi inhibisi dari saraf GABA ergik dari globus palidus segmen ekstena ke nukleus subtalamikus melemah dan kegiatan neuron nukleus subtalamikus meningkat akibat inhibisi. Terjadi peningkatan output nukleus subtalamikus ke globus palidus segmen interna / substansia nigra pars retikularis melalui saraf glutaminergik yang eksitatorik akibatnya terjadi peningkatan kegiatan neuron globus palidus /substansia nigra. Keadaan ini diperhebat oleh lemahnya fungsi inhibitorik dari jalur langsung, sehingga output ganglia basalis menjadi berlebihan kearah talamus. Saraf eferen dari globus palidus segmen interna ke talamus adalah GABA ergik sehingga kegiatan talamus akan tertekan dan selanjutnya rangsangan dari thalamus ke korteks lewat saraf glutamatergik akan menurun dan output korteks motorik ke neuron motorik medulla spinalis melemah terjadi hipokinesia. Gambar 2.1 Skema teori ketidakseimbangan jalur langsung dan tidak langsung (Joesoef, 2001;Husni, 2002)

31 Patogenesis Studi postmortem secara konsisten menyoroti adanya kerusakan oksidatif dalam patogenesis PP, kerusakan oksidatif pada lipid, protein, dan Deoxyribonucleid Acid (DNA) dapat diamati pada SNc otak pasien PP sporadik. Peningkatan metabolisme dopamin yang menghasilkan hidrogen peroksida dan Reactive Oxygen Species (ROS), peningkatan besi reaktif, dan gangguan jalur pertahanan anti oksidan (Moore dkk, 2005). Penurunan sebesar 30-40% aktivitas komplex-i rantai respirasi mitokondria (Olanow, 2005; Zorniak, 2007). Defek komplex-i menyebabkan degenerasi neuron pada PP melalui penurunan sintesis Adenosine Triphosphate (ATP) (Moore dkk, 2005; olanow, 2005; Zorniak, 2007). Beberapa studi epidemiologi memperlihatkan pestisida dan toksin dapat menghambat komplex-i (Sherer dkk, 2002). MPTP menghambat komplex-i dan menimbulkan gejala Parkinson pada manusia dan model binatang (Dauer & Przedborski, 2003: Moore dkk, 2005; Olanow, 2005). Bukti terbaru menunjukkan cacat pada ubiquitin proteasome system (UPS) dan protein yang salah peran juga mendasari patogenesis molekuler PP. Agregasi α-synuclein secara jelas menurun dari inhibisi komplex-i dan agregasi semacam itu bisa juga menghambat fungsi proteasomal (Moore dkk, 2005) Rangkaian kejadian yang dipicu oleh agregasi α-synuclein, peningkatan stress oksidatif, dan defisit sintesis Adenosine Triphosphate (ATP), semuanya itu bisa mengganggu fungsi normal UPS. Inhibisi terhadap UPS akan menghasilkan

32 12 akumulasi protein dan beberapa diantaranya bersifat sitotoksik. Parkin, Ubiquitin Carboxyl-terminal Hydrolase Isozym L1 Precusor (UCH-L1). (UCH-L1), dan DJ1 terlibat dalam pemeliharaan fungsi UPS, sementara PINK1, bersama dengan parkin dan DJ1, akan meregulasi fungsi normal mitokondria, penyakit terkait mutasi dalam gen ini akan mengarah pada sekelompok kejadian yang mengawali kematian neuron Dopamin Agonis (DA). Jalur kejadian ini selain mengakibatkan inhibisi proteasomal tetapi dapat juga bolak-balik mengganggu fungsi mitokondria (Moore dkk, 2005; Zorniak, 2007). Gambar 2.2. Patogenesis PP (Moore dkk, 2005) : garis merah menandakan efek inhibisi : panah hijau menandakan sebab : garis putus-putus biru potensial mempunyai pengaruh

TESIS KADAR ASAM URAT SERUM RENDAH MENINGKATKANRISIKO PENYAKIT PARKINSON KADEK TRISNADEWI

TESIS KADAR ASAM URAT SERUM RENDAH MENINGKATKANRISIKO PENYAKIT PARKINSON KADEK TRISNADEWI TESIS KADAR ASAM URAT SERUM RENDAH MENINGKATKANRISIKO PENYAKIT PARKINSON KADEK TRISNADEWI PROGRAM MAGISTER PROGRAM STUDIILMUBIOMEDIK PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2014 TESIS KADAR ASAM

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap keterbatasannya akan dialami oleh seseorang bila berumur panjang. Di Indonesia istilah untuk

Lebih terperinci

Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya anxiety berasal dari Bahasa Latin. angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik.

Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya anxiety berasal dari Bahasa Latin. angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik. Pengertian Kecemasan Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya anxiety berasal dari Bahasa Latin angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik. Menurut Freud (dalam Alwisol, 2005:28) mengatakan

Lebih terperinci

BAB. 3. METODE PENELITIAN. : Cross sectional (belah lintang)

BAB. 3. METODE PENELITIAN. : Cross sectional (belah lintang) BAB. 3. METODE PENELITIAN 3.1 Rancang Bangun Penelitian Jenis Penelitian Desain Penelitian : Observational : Cross sectional (belah lintang) Rancang Bangun Penelitian N K+ K- R+ R- R+ R- N : Penderita

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. orang tua yang sudah memiliki anak. Enuresis telah menjadi salah satu

BAB I PENDAHULUAN. orang tua yang sudah memiliki anak. Enuresis telah menjadi salah satu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Enuresis atau yang lebih kita kenal sehari-hari dengan istilah mengompol, sudah tidak terdengar asing bagi kita khususnya di kalangan orang tua yang sudah memiliki

Lebih terperinci

MENGATASI STRES AKIBAT KERJA

MENGATASI STRES AKIBAT KERJA MENGATASI STRES AKIBAT KERJA oleh : dr. Waryono, M.Or Widyaiswara LPMP D.I. Yogyakarta email : wardokteryono@gmail.com ABSTRAK Kepenatan, kejenuhan atau kelelahan akibat kerja dapat dirasakan setiap orang.

Lebih terperinci

ABSTRAK PENILAIAN KUALITAS HIDUP PASIEN PPOK RAWAT JALAN DENGAN METODE SAINT GEORGE S RESPIRATORY QUESTIONNAIRE (SGRQ)

ABSTRAK PENILAIAN KUALITAS HIDUP PASIEN PPOK RAWAT JALAN DENGAN METODE SAINT GEORGE S RESPIRATORY QUESTIONNAIRE (SGRQ) ABSTRAK PENILAIAN KUALITAS HIDUP PASIEN PPOK RAWAT JALAN DENGAN METODE SAINT GEORGE S RESPIRATORY QUESTIONNAIRE (SGRQ) Felicia S., 2010, Pembimbing I : J. Teguh Widjaja, dr., SpP., FCCP. Pembimbing II

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk. negara-negara dunia diprediksikan akan mengalami peningkatan.

BAB I PENDAHULUAN. dengan menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk. negara-negara dunia diprediksikan akan mengalami peningkatan. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lanjut usia (lansia) merupakan tahap akhir dari kehidupan dan merupakan proses alami yang tidak dapat dihindari oleh setiap individu. Proses alami ditandai

Lebih terperinci

IPAP PTSD Tambahan. Pilihan penatalaksanaan: dengan obat, psikososial atau kedua-duanya.

IPAP PTSD Tambahan. Pilihan penatalaksanaan: dengan obat, psikososial atau kedua-duanya. IPAP PTSD Tambahan Prinsip Umum I. Evaluasi Awal dan berkala A. PTSD merupakan gejala umum dan sering kali tidak terdiagnosis. Bukti adanya prevalensi paparan trauma yang tinggi, (termasuk kekerasan dalam

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pola Asuh Orang Tua 2.1.1 Pengertian Pola Asuh Orang Tua Menurut Hurlock (1999) orang tua adalah orang dewasa yang membawa anak ke dewasa, terutama dalam masa perkembangan. Tugas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Stres muncul sejalan dengan peristiwa dan perjalanan kehidupan yang dilalui

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Stres muncul sejalan dengan peristiwa dan perjalanan kehidupan yang dilalui BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stres muncul sejalan dengan peristiwa dan perjalanan kehidupan yang dilalui oleh individu dan terjadinya tidak dapat dihindari sepenuhnya. Pada umumnya, individu yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan sehat fisik, mental, dan sosial, bukan semata-mata keadaan tanpa penyakit atau kelemahan. Definisi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/ mengganti diri dan. mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat

BAB I PENDAHULUAN. kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/ mengganti diri dan. mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lanjut usia adalah suatu proses menghilangnya secara perlahanlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/ mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi

Lebih terperinci

CEGAH KANTOR MENJADI LADANG PENYAKIT, KENALI KONDISI PEKERJAAN ANDA

CEGAH KANTOR MENJADI LADANG PENYAKIT, KENALI KONDISI PEKERJAAN ANDA Pernahkan anda merasa kurang sehat ketika pulang dari kantor, padahal sewaktu berangkat ke kantor anda merasa sehat? Jika pernah, bisa jadi anda terkena PAK atau penyakit akibat kerja, yang disebabkan

Lebih terperinci

SKRIPSI TINDAKAN OPERASI OLEH DOKTER TERHADAP PASIEN YANG TIDAK MAMPU MELAKUKAN PERBUATAN HUKUM

SKRIPSI TINDAKAN OPERASI OLEH DOKTER TERHADAP PASIEN YANG TIDAK MAMPU MELAKUKAN PERBUATAN HUKUM SKRIPSI TINDAKAN OPERASI OLEH DOKTER TERHADAP PASIEN YANG TIDAK MAMPU MELAKUKAN PERBUATAN HUKUM ( SURGERY BY DOCTORS TO PATIENTS WHO ARE UNABLE TO PERFORM ANY LEGAL ACT ) EVALIA FIRMANITASARI NIM. 070710191104

Lebih terperinci

BAB 4 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya

BAB 4 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya Perinatologi dan Neurologi. 4.. Waktu dan tempat penelitian Penelitian ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keadaan gizi kurang dapat ditemukan pada setiap kelompok masyarakat. Pada hakekatnya keadaan gizi kurang dapat dilihat sebagai suatu proses kurang asupan makanan ketika

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mencapai 1,2 milyar. Pada tahun 2000 diperkirakan jumlah lanjut usia

BAB I PENDAHULUAN. mencapai 1,2 milyar. Pada tahun 2000 diperkirakan jumlah lanjut usia 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini, di seluruh dunia jumlah orang lanjut usia diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar.

Lebih terperinci

LEBIH DEKAT & SEHAT DENGAN HYPNOTHERAPY *Oleh : Suci Riadi Prihantanto, CHt (Indigo Hypnosis & Hypnotherapy)

LEBIH DEKAT & SEHAT DENGAN HYPNOTHERAPY *Oleh : Suci Riadi Prihantanto, CHt (Indigo Hypnosis & Hypnotherapy) LEBIH DEKAT & SEHAT DENGAN HYPNOTHERAPY *Oleh : Suci Riadi Prihantanto, CHt (Indigo Hypnosis & Hypnotherapy) Apakah hipnoterapi Itu? Hipnoterapi adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang mempelajari

Lebih terperinci

SKRIPSI KAJIAN YURIDIS TENTANG KEDUDUKAN ANAK ANGKAT MENURUT HUKUM WARIS ADAT JAWA TENGAH

SKRIPSI KAJIAN YURIDIS TENTANG KEDUDUKAN ANAK ANGKAT MENURUT HUKUM WARIS ADAT JAWA TENGAH SKRIPSI KAJIAN YURIDIS TENTANG KEDUDUKAN ANAK ANGKAT MENURUT HUKUM WARIS ADAT JAWA TENGAH THE LEGAL STUDY ON THE ADOPTED CHILDREN STATUTES IN ADATLAW OF INHERITANCE OF CENTRAL JAVA Oleh: AISIYAH AYU SETYOWATI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pegal yang terjadi di daerah pinggang bawah. Nyeri pinggang bawah bukanlah

BAB I PENDAHULUAN. pegal yang terjadi di daerah pinggang bawah. Nyeri pinggang bawah bukanlah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nyeri pinggang bawah atau low back pain merupakan rasa nyeri, ngilu, pegal yang terjadi di daerah pinggang bawah. Nyeri pinggang bawah bukanlah diagnosis tapi hanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kehidupan manusia, termasuk kesulitan ekonomi, lapangan pekerjaan, pendidikan,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kehidupan manusia, termasuk kesulitan ekonomi, lapangan pekerjaan, pendidikan, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Era globalisasi ditandai semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, namun perkembangan itu diringi oleh peningkatan berbagai persoalan kehidupan manusia,

Lebih terperinci

ASUHAN KEPERAWATAN TENTANG DIABETES MELLITUS ( DM ) YAYASAN PENDIDIKAN SETIH SETIO AKADEMI KEPERAWATAN SETIH SETIO MUARA BUNGO

ASUHAN KEPERAWATAN TENTANG DIABETES MELLITUS ( DM ) YAYASAN PENDIDIKAN SETIH SETIO AKADEMI KEPERAWATAN SETIH SETIO MUARA BUNGO ASUHAN KEPERAWATAN TENTANG DIABETES MELLITUS ( DM ) YAYASAN PENDIDIKAN SETIH SETIO AKADEMI KEPERAWATAN SETIH SETIO MUARA BUNGO Kata Pengantar Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat

Lebih terperinci

Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin. By. Ulfatul Latifah, SKM

Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin. By. Ulfatul Latifah, SKM Kebutuhan Dasar Ibu Bersalin By. Ulfatul Latifah, SKM Kebutuhan Dasar pada Ibu Bersalin 1. Dukungan fisik dan psikologis 2. Kebutuhan makanan dan cairan 3. Kebutuhan eliminasi 4. Posisioning dan aktifitas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Keluhan low back pain (LBP) dapat terjadi pada setiap orang, dalam kehidupan

I. PENDAHULUAN. Keluhan low back pain (LBP) dapat terjadi pada setiap orang, dalam kehidupan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Keluhan low back pain (LBP) dapat terjadi pada setiap orang, dalam kehidupan sehari-hari keluhan LBP dapat menyerang semua orang, baik jenis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Aktivitas fisik yang teratur mempunyai banyak manfaat kesehatan dan merupakan salah satu bagian penting dari gaya hidup sehat. Karakteristik individu, lingkungan sosial,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Persalinan adalah proses alamiah dimana terjadi dilatasi serviks, persalinan

BAB I PENDAHULUAN. Persalinan adalah proses alamiah dimana terjadi dilatasi serviks, persalinan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persalinan adalah proses alamiah dimana terjadi dilatasi serviks, persalinan lahirnya bayi, placenta dan membran dari rahim ibu (Depkes, 2004). Persalinan dan kelahiran

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat sarjana strata-1 kedokteran umum

LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat sarjana strata-1 kedokteran umum PERBEDAAN KUALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SEBELUM DAN SESUDAH PELATIHAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SECARA BIJAK Penelitian di Instalasi Rawat Jalan Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr. Kariadi LAPORAN AKHIR HASIL

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. fungsinya ditandai dengan adanya mutu pelayanan prima rumah. factor.adapun factor yang apling dominan adalah sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. fungsinya ditandai dengan adanya mutu pelayanan prima rumah. factor.adapun factor yang apling dominan adalah sumber daya 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah sakit merupakan salah satu bentuk sarana kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah berfungsi untuk melakukan upaya kesehatan, rujukan dan atau upaya penunjang,

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh. Anak Agung Ngurah Jelantik Andy Jaya NIM. 041610101069

SKRIPSI. Oleh. Anak Agung Ngurah Jelantik Andy Jaya NIM. 041610101069 PERBEDAAN MULA KERJA DAN MASA KERJA OBAT ANESTESI LOKAL LIDOKAIN HCL 2% DENGAN ADRENALIN 0,0125MG PADA ORANG YANG MENGKONSUMSI KOPI DAN TIDAK MENGKONSUMSI KOPI SKRIPSI Diajukan guna melengkapi tugas akhir

Lebih terperinci

ABSTRAK. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Insidensi Nyeri Pungggung Bawah. Januari-Desember 2009

ABSTRAK. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Insidensi Nyeri Pungggung Bawah. Januari-Desember 2009 ABSTRAK Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Insidensi Nyeri Pungggung Bawah (Low Back Pain) pada Pasien Rumah Sakit Immanuel Bandung Periode Januari-Desember 2009 Santi Mariana Purnama, 2010, Pembimbing I

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lokal di bawah batas kosta dan di atas lipatan glutealis inferior, dengan atau tanpa

BAB I PENDAHULUAN. lokal di bawah batas kosta dan di atas lipatan glutealis inferior, dengan atau tanpa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nyeri punggung bawah adalah perasaan nyeri, ketegangan otot, atau kekakuan lokal di bawah batas kosta dan di atas lipatan glutealis inferior, dengan atau tanpa

Lebih terperinci

HUBUNGAN PANJANG TUNGKAI DAN POWER OTOT TUNGKAI DENGAN KEMAMPUAN LARI JARAK 100 METER PADA SISWA PUTRA KELAS VIII SMP NEGERI 17 PALEMBANG

HUBUNGAN PANJANG TUNGKAI DAN POWER OTOT TUNGKAI DENGAN KEMAMPUAN LARI JARAK 100 METER PADA SISWA PUTRA KELAS VIII SMP NEGERI 17 PALEMBANG HUBUNGAN PANJANG TUNGKAI DAN POWER OTOT TUNGKAI DENGAN KEMAMPUAN LARI JARAK 100 METER PADA SISWA PUTRA KELAS VIII SMP NEGERI 17 PALEMBANG Skripsi Oleh : MUHAMMAD JULKANI Nomor Induk Mahasiswa 06101406005

Lebih terperinci

DI KELAS 2014/2015. SKRIPSI Diajukan Guna Program

DI KELAS 2014/2015. SKRIPSI Diajukan Guna Program PENGARUH PROFESIONALISME GURU DAN PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN DI KELAS TERHADAP MOTIVASI BELAJAR EKONOMI SISWA KELAS XI IPS SMA MTA SURAKARTA TAHUN AJARAN 2014/2015 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian

Lebih terperinci

BAB II KONSEP DASAR. perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana individu melakukan atau. (1998); Carpenito, (2000); Kaplan dan Sadock, (1998)).

BAB II KONSEP DASAR. perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana individu melakukan atau. (1998); Carpenito, (2000); Kaplan dan Sadock, (1998)). BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan. masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan. masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penduduk Lanjut Usia merupakan bagian dari anggota keluarga dan anggota masyarakat yang semakin bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan

Lebih terperinci

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus:

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus: Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II Catatan Fasilitator Rangkuman Kasus: Agus, bayi laki-laki berusia 16 bulan dibawa ke Rumah Sakit Kabupaten dari sebuah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. proliferasi dan diferensiasi keratinosit yang abnormal, dengan gambaran klinis

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. proliferasi dan diferensiasi keratinosit yang abnormal, dengan gambaran klinis 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Psoriasis merupakan penyakit inflamasi kronis dengan karakteristik proliferasi dan diferensiasi keratinosit yang abnormal, dengan gambaran klinis berupa

Lebih terperinci

PENGARUH PERHATIAN ORANG TUA, MOTIVASI BELAJAR, BAKAT, KEMANDIRIAN, INTELEGENSI, DAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA

PENGARUH PERHATIAN ORANG TUA, MOTIVASI BELAJAR, BAKAT, KEMANDIRIAN, INTELEGENSI, DAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PENGARUH PERHATIAN ORANG TUA, MOTIVASI BELAJAR, BAKAT, KEMANDIRIAN, INTELEGENSI, DAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA (Studi pada Siswa Kelas XI Jurusan Akuntansi se Kabupaten Kudus)

Lebih terperinci

PENGARUH LINGKUNGAN KERJA, GAJI, DAN PROMOSI TERHADAP KINERJA PEGAWAI BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH PATI TESIS

PENGARUH LINGKUNGAN KERJA, GAJI, DAN PROMOSI TERHADAP KINERJA PEGAWAI BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH PATI TESIS PENGARUH LINGKUNGAN KERJA, GAJI, DAN PROMOSI TERHADAP KINERJA PEGAWAI BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH PATI TESIS Oleh: Mimpi Arde Aria NIM : 2008-01-020 PROGAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Program Studi Pendidikan Akuntansi

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Program Studi Pendidikan Akuntansi PENGARUH PROMOSI DAN CITRA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI TERHADAP MINAT MASUK PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI PADA MAHASISWA FKIP AKUNTANSI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA ANGKATAN 2012 SKRIPSI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kondisi hiperglikemia pada saat masuk ke rumah. sakit sering dijumpai pada pasien dengan infark miokard

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kondisi hiperglikemia pada saat masuk ke rumah. sakit sering dijumpai pada pasien dengan infark miokard BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kondisi hiperglikemia pada saat masuk ke rumah sakit sering dijumpai pada pasien dengan infark miokard akut (IMA) dan merupakan salah satu faktor risiko kematian dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Aktifitas fisik merupakan kegiatan hidup yang dikembangkan dengan

BAB I PENDAHULUAN. Aktifitas fisik merupakan kegiatan hidup yang dikembangkan dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Aktifitas fisik merupakan kegiatan hidup yang dikembangkan dengan harapan dapat memberikan nilai tambah berupa peningkatan kualitas, kesejahteraan dan martabat manusia.

Lebih terperinci

ROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MURIA KUDUS TAHUN 2013

ROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MURIA KUDUS TAHUN 2013 i ADAPTASI MODEL DELONE DAN MCLEAN YANG DIMODIFIKASI GUNA MENGUJI KEBERHASILAN APLIKASI OPERASIONAL PERBANKAN BAGI INDIVIDU PENGGUNA SISTEM INFORMASI (STUDI KASUS PADA PD.BPR BKK DI KABUPATEN PATI) Skripsi

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN. Delirium didefinisikan dalam American Psychiatric Association's (APA)

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN. Delirium didefinisikan dalam American Psychiatric Association's (APA) BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN 1. ICU Delirium 1.1. Definisi ICU Delirium Delirium didefinisikan dalam American Psychiatric Association's (APA) Diagnostik dan Statistik Manual of Mental Disorders (DSM)-IV

Lebih terperinci

HUBUNGAN PELATIHAN DENGAN PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PADA PERSEROAN TERBATAS (PT) TABUNGAN DAN ASURANSI PEGAWAI NEGERI (PERSERO) CABANG JEMBER

HUBUNGAN PELATIHAN DENGAN PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PADA PERSEROAN TERBATAS (PT) TABUNGAN DAN ASURANSI PEGAWAI NEGERI (PERSERO) CABANG JEMBER HUBUNGAN PELATIHAN DENGAN PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PADA PERSEROAN TERBATAS (PT) TABUNGAN DAN ASURANSI PEGAWAI NEGERI (PERSERO) CABANG JEMBER SKRIPSI Diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi

Lebih terperinci

SKRIPSI Diajukan ke Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sebagai pemenuhan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran.

SKRIPSI Diajukan ke Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sebagai pemenuhan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran. HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DALAM MENGHADAPI OBJECTIVE STRUCTURED CLINICAL EXAMINATION (OSCE) DENGAN NILAI OSCE MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS SKRIPSI Diajukan ke Fakultas Kedokteran

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA

RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID ABSTRAK PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID Ekowati Retnaningsih dan Rini Oktariza Angka kejadian berat badan lebih pada anak usia sekolah di Indonesia mencapai 15,9%. Prevalensi

Lebih terperinci

HUBUNGAN SIKAP KERJA DUDUK DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA RENTAL KOMPUTER DI PABELAN KARTASURA

HUBUNGAN SIKAP KERJA DUDUK DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA RENTAL KOMPUTER DI PABELAN KARTASURA HUBUNGAN SIKAP KERJA DUDUK DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA RENTAL KOMPUTER DI PABELAN KARTASURA SKRIPSI DISUSUN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN DALAM MENDAPATKAN GELAR SARJANA SAINS

Lebih terperinci

PENGARUH FAKTOR-FAKTOR ANTESEDEN PADA MOTIVASI PELAYANAN PUBLIK. (Studi pada Karyawan Puskesmas di Kecamatan Gatak Sukoharjo)

PENGARUH FAKTOR-FAKTOR ANTESEDEN PADA MOTIVASI PELAYANAN PUBLIK. (Studi pada Karyawan Puskesmas di Kecamatan Gatak Sukoharjo) PENGARUH FAKTOR-FAKTOR ANTESEDEN PADA MOTIVASI PELAYANAN PUBLIK (Studi pada Karyawan Puskesmas di Kecamatan Gatak Sukoharjo) SKRIPSI Disusun Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Persyaratan Guna Meraih

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

Lebih terperinci

PENINGKATAN PEMBELAJARAN PASSING

PENINGKATAN PEMBELAJARAN PASSING PENINGKATAN PEMBELAJARAN PASSING ATAS PERMAINAN BOLAVOLI MELALUI PENDEKATAN BERMAIN SISWA KELAS V SD NEGERI 1 TIRIP KECAMATAN WADASLINTANG KABUPATEN WONOSOBO SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Keolahragaan

Lebih terperinci

CARA YANG TEPAT DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA

CARA YANG TEPAT DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA CARA YANG TEPAT DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA Oleh : Debby dan Arief Dalam tubuh terdapat berjuta-juta sel. Salah satunya, sel abnormal atau sel metaplasia, yaitu sel yang berubah, tetapi masih dalam batas

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh : Mevi Isnaini Rizkiyana NIM 080210201025

SKRIPSI. Oleh : Mevi Isnaini Rizkiyana NIM 080210201025 PENINGKATAN MINAT BACA ANAK MELALUI METODE BERCERITA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA DI KELOMPOK B4 TAMAN KANAK-KANAK (TK) AL-AMIEN KECAMATAN PATRANG KABUPATEN JEMBER TAHUN PELAJARAN 2011/2012 SKRIPSI Oleh :

Lebih terperinci

PERANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS TINGGI SD NEGERI 1 JATISARI SAMBI BOYOLALI SKRIPSI

PERANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS TINGGI SD NEGERI 1 JATISARI SAMBI BOYOLALI SKRIPSI PERANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS TINGGI SD NEGERI 1 JATISARI SAMBI BOYOLALI SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai

Lebih terperinci

MANUAL PROSEDUR TATALAKSANA HIPOGIKEMIA & HIPERGLIKEMIA HIPOGLIKEMI & TATALAKSANANYA

MANUAL PROSEDUR TATALAKSANA HIPOGIKEMIA & HIPERGLIKEMIA HIPOGLIKEMI & TATALAKSANANYA MANUAL PROSEDUR TATALAKSANA HIPOGIKEMIA & HIPERGLIKEMIA Tujuan Umum: Mahasiswa mampu melakukan tindakan kolaboratif untuk mengatasi hipoglikemia dan hiperglikemia dengan tepat. Tujuan Khusus: Setelah mengikuti

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA MINAT BACA DENGAN KEMAMPUAN MEMAHAMI BACAAN SISWA KELAS V SD SE-GUGUS II KECAMATAN GEDONGTENGEN KOTA YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012

HUBUNGAN ANTARA MINAT BACA DENGAN KEMAMPUAN MEMAHAMI BACAAN SISWA KELAS V SD SE-GUGUS II KECAMATAN GEDONGTENGEN KOTA YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012 HUBUNGAN ANTARA MINAT BACA DENGAN KEMAMPUAN MEMAHAMI BACAAN SISWA KELAS V SD SE-GUGUS II KECAMATAN GEDONGTENGEN KOTA YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2011/2012 SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas

Lebih terperinci

ANALISIS PELAKSANAAN MANAJEMEN MUTU PELAYANAN DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM MALAHAYATI MEDAN

ANALISIS PELAKSANAAN MANAJEMEN MUTU PELAYANAN DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM MALAHAYATI MEDAN ANALISIS PELAKSANAAN MANAJEMEN MUTU PELAYANAN DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM MALAHAYATI MEDAN GELADIKARYA Oleh : AMERINA SYAFHARINI, ST 087007074 KONSENTRASI PEMASARAN TEKNOLOGI PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG PENGARUH BAGI HASIL DAN KREDIT MACET TERHADAP PEMBIAYAAN MUDHARABAH DI BMT NU SEJAHTERA SEMARANG TAHUN 2011-2013 SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi SyaratGuna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

TAHAP PERKEMBANGAN ANAK USIA 12-17 TAHUN

TAHAP PERKEMBANGAN ANAK USIA 12-17 TAHUN TAHAP PERKEMBANGAN ANAK USIA 12-17 TAHUN LATAR BELAKANG Lerner dan Hultsch (1983) menyatakan bahwa istilah perkembangan sering diperdebatkan dalam sains. Walaupun demikian, terdapat konsensus bahwa yang

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA POWER OTOT TUNGKAI DENGAN KEMAMPUAN LARI JARAK PENDEK (SPRINT) 100 METER SISWA SMK N 1 KLATEN JURUSAN AKUNTANSI SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA POWER OTOT TUNGKAI DENGAN KEMAMPUAN LARI JARAK PENDEK (SPRINT) 100 METER SISWA SMK N 1 KLATEN JURUSAN AKUNTANSI SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA POWER OTOT TUNGKAI DENGAN KEMAMPUAN LARI JARAK PENDEK (SPRINT) 100 METER SISWA SMK N 1 KLATEN JURUSAN AKUNTANSI SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dimanapun selalu ada risiko terkena penyakit akibat kerja, baik didarat, laut,

BAB I PENDAHULUAN. dimanapun selalu ada risiko terkena penyakit akibat kerja, baik didarat, laut, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah keselamatan dan kesehatan kerja adalah masalah dunia. Bekerja dimanapun selalu ada risiko terkena penyakit akibat kerja, baik didarat, laut, udara, bekerja disektor

Lebih terperinci

PENGARUH DIMENSI KUALITAS JASA TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PT. NUANSA WISATA PRIMA NUSANTARA TOURS & TRAVEL DI KOTA JEMBER

PENGARUH DIMENSI KUALITAS JASA TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PT. NUANSA WISATA PRIMA NUSANTARA TOURS & TRAVEL DI KOTA JEMBER ib unej ib unej ib unej ib unej ib unej PENGARUH DIMENSI KUALITAS JASA TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PT. NUANSA WISATA PRIMA NUSANTARA TOURS & TRAVEL DI KOTA JEMBER SKRIPSI oleh : Erina Angga Kusuma NIM.

Lebih terperinci

SKRIPSI HUBUNGAN POSISI DUDUK DENGAN TIMBULNYA NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PENGEMUDI MOBIL

SKRIPSI HUBUNGAN POSISI DUDUK DENGAN TIMBULNYA NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PENGEMUDI MOBIL SKRIPSI HUBUNGAN POSISI DUDUK DENGAN TIMBULNYA NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PENGEMUDI MOBIL Disusun oleh : HENDRO HARNOTO J110070059 Diajukan untuk memenuhi tugas dan syarat syarat guna memperoleh gelar Sarjana

Lebih terperinci

Jika ciprofloxacin tidak sesuai, Anda akan harus minum antibiotik lain untuk menghapuskan kuman meningokokus.

Jika ciprofloxacin tidak sesuai, Anda akan harus minum antibiotik lain untuk menghapuskan kuman meningokokus. CIPROFLOXACIN: suatu antibiotik bagi kontak dari penderita infeksi meningokokus Ciprofloxacin merupakan suatu antibiotik yang adakalanya diberikan kepada orang yang berada dalam kontak dekat dengan seseorang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Aktivitas fisik adalah kegiatan hidup yang harus dikembangkan dengan harapan dapat memberikan nilai tambah berupa peningkatan kualitas, kesejahteraan, dan

Lebih terperinci

PENGARUH KEDISIPLINAN BELAJAR DAN MINAT BACA TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA KELAS XI IPA SMA NEGERI 2 SUKOHARJO TAHUN AJARAN 2012/2013

PENGARUH KEDISIPLINAN BELAJAR DAN MINAT BACA TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA KELAS XI IPA SMA NEGERI 2 SUKOHARJO TAHUN AJARAN 2012/2013 PENGARUH KEDISIPLINAN BELAJAR DAN MINAT BACA TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA KELAS XI IPA SMA NEGERI 2 SUKOHARJO TAHUN AJARAN 2012/2013 SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk menggambarkan haid. Menopause adalah periode berakhirnya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk menggambarkan haid. Menopause adalah periode berakhirnya BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Menopause 1. Definisi Menopause merupakan sebuah kata yang mempunyai banyak arti, Men dan pauseis adalah kata yunani yang pertama kali digunakan untuk menggambarkan haid. Menopause

Lebih terperinci

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT)

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) LAMPIRAN 1 50 LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) Yang bertanda tangan dibawah ini: N a m a : U s i a : Alamat : Pekerjaan : No. KTP/lainnya: Dengan

Lebih terperinci

KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PEMINATAN KELOMPOK MATEMATIKA DAN ILMU-ILMU ALAM SEKOLAH MENENGAH ATAS BIOLOGI

KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PEMINATAN KELOMPOK MATEMATIKA DAN ILMU-ILMU ALAM SEKOLAH MENENGAH ATAS BIOLOGI DAN PEMINATAN KELOMPOK MATEMATIKA DAN ILMU-ILMU ALAM SEKOLAH MENENGAH ATAS BIOLOGI KELAS X KOMPETENSI INTI 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. 1.1. Mengagumi keteraturan dan kompleksitas

Lebih terperinci

PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS

PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS PERAWATAN PALIATIF PASIEN HIV / AIDS Agung Nugroho Divisi Peny. Tropik & Infeksi Bag. Peny. Dalam FK-UNSRAT Manado PENDAHULUAN Jumlah pasien HIV/AIDS di Sulut semakin meningkat. Sebagian besar pasien diberobat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Aktivitas fisik merupakan pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Aktivitas fisik merupakan pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Aktivitas fisik merupakan pergerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi (WHO, 2011). Menurut Departemen Kesehatan RI (2007),

Lebih terperinci

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep II. LANDASAN TEORI 2.1 Arti dan Pentingnya Pemasaran Pemasaran merupakan faktor penting untuk mencapai sukses bagi perusahaan akan mengetahui adanya cara dan falsafah yang terlibat didalamnya. Cara dan

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI DENGAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK PADA SISWA KELAS V SD 7 HADIPOLO TAHUN PELAJARAN 2011/2012 SKRIPSI

UPAYA MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI DENGAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK PADA SISWA KELAS V SD 7 HADIPOLO TAHUN PELAJARAN 2011/2012 SKRIPSI UPAYA MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI DENGAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK PADA SISWA KELAS V SD 7 HADIPOLO TAHUN PELAJARAN 2011/2012 SKRIPSI Oleh Selly Asna Wijayanti NIM. 2008 31 067 PROGRAM STUDI BIMBINGAN

Lebih terperinci

ANALISIS PERHITUNGAN UNIT COST PELAYANAN SIRKUMSISI DENGAN PENDEKATAN ABC DI KLINIK SETIA BUDI JAMBI. Tesis

ANALISIS PERHITUNGAN UNIT COST PELAYANAN SIRKUMSISI DENGAN PENDEKATAN ABC DI KLINIK SETIA BUDI JAMBI. Tesis ANALISIS PERHITUNGAN UNIT COST PELAYANAN SIRKUMSISI DENGAN PENDEKATAN ABC DI KLINIK SETIA BUDI JAMBI Tesis Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata 2 Program Studi Manajemen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskuler secara cepat di negara maju dan negara berkembang.

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskuler secara cepat di negara maju dan negara berkembang. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini perubahan pola hidup yang terjadi meningkatkan prevalensi penyakit jantung dan berperan besar pada mortalitas serta morbiditas. Penyakit jantung diperkirakan

Lebih terperinci

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI DEPARTEMEN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 ABSTRAK LIRA BUDHIARTI. Karakterisasi

Lebih terperinci

BAB VI PEMBAHASAN. RSPAD Gatot Soebroto. Cara pengambilan data menggunakan metode Cross

BAB VI PEMBAHASAN. RSPAD Gatot Soebroto. Cara pengambilan data menggunakan metode Cross BAB VI PEMBAHASAN Pembahasan adalah kesenjangan yang muncul setelah peneliti melakukan penelitian kemudian membandingkan antara teori dengan hasil penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian tentang

Lebih terperinci

ASKEP KELUARGA TAHAP LANSIA. RETNO INDARWATI TIM KEPERAWATAN GERONTIK PSIK FKp UNAIR

ASKEP KELUARGA TAHAP LANSIA. RETNO INDARWATI TIM KEPERAWATAN GERONTIK PSIK FKp UNAIR ASKEP KELUARGA TAHAP LANSIA RETNO INDARWATI TIM KEPERAWATAN GERONTIK PSIK FKp UNAIR Lanjut Usia Lansia bukan suatu penyakit tapi tahap lanjut dari proses kehidupan yang ditandai dg penurunan kemampuan

Lebih terperinci

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dan Merck peduli kesehatan saraf

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dan Merck peduli kesehatan saraf Siaran Pers Kontak Anda: Niken Suryo Sofyan Telepon +62 21 2856 5600 29 Mei 2012 Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dan Merck peduli kesehatan saraf Neuropati mengancam 1 dari 4 orang

Lebih terperinci

Kurang atau Kelamaan Tidur Bisa menimbulkan kematian!

Kurang atau Kelamaan Tidur Bisa menimbulkan kematian! Kurang atau Kelamaan Tidur Bisa menimbulkan kematian! Penelitian tentang masalah tidur dilakukan American Cancer Society pada tahun 1982-1988. Penelitian yang dikenakan pada orang Amerika dengan interval

Lebih terperinci

Organ Reproduksi Perempuan. Organ Reproduksi Bagian Dalam. Organ Reproduksi Bagian Luar. 2. Saluran telur (tuba falopi) 3.

Organ Reproduksi Perempuan. Organ Reproduksi Bagian Dalam. Organ Reproduksi Bagian Luar. 2. Saluran telur (tuba falopi) 3. Organ Reproduksi Perempuan Organ Reproduksi Bagian Dalam 2. Saluran telur (tuba falopi) 1. Indung telur (ovarium) 3. Rahim (uterus) 4. Leher Rahim (cervix) 5. Liang Kemaluan (vagina) Organ Reproduksi Bagian

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh: Sinta Ambar Husada NIM. 100210204169

SKRIPSI. Oleh: Sinta Ambar Husada NIM. 100210204169 PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV-A SDN PATRANG 01 JEMBER PADA MATA PELAJARAN IPA POKOK BAHASAN GAYA MELALUI METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR AND SHARE (TPS) SKRIPSI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki era globalisasi di dunia ini, banyak sekali perubahan dari

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki era globalisasi di dunia ini, banyak sekali perubahan dari 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Memasuki era globalisasi di dunia ini, banyak sekali perubahan dari lingkungan serta perilaku manusia yang ada di dunia ini, bisa dilihat semakin banyak sekali tuntutan

Lebih terperinci

LAPORAN OBSERVASI LAPANGAN PERKEMBANGAN DAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

LAPORAN OBSERVASI LAPANGAN PERKEMBANGAN DAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS LAPORAN OBSERVASI LAPANGAN PERKEMBANGAN DAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (Suatu Observasi Lapangan di SDLB Desa Labui, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh) Oleh: Qathrinnida, S.Pd Suatu

Lebih terperinci

AGAR MENDAPAT LEBIH DARI YANG ENGKAU INGINKAN

AGAR MENDAPAT LEBIH DARI YANG ENGKAU INGINKAN AGAR MENDAPAT LEBIH DARI YANG ENGKAU INGINKAN 11 Februari 2009 Mari kita ubah SKK (Sikap, Konsentrasi dan Komitmen) Pertama : SIKAP Sikap merupakan kependekan dari SI = EMOSI; KA = TINDAKAN; P = PENDAPAT,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN JIWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN JIWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG KESEHATAN JIWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara menjamin setiap orang hidup

Lebih terperinci

Mulyadi *, Mudatsir ** *** ABSTRACT

Mulyadi *, Mudatsir ** *** ABSTRACT Hubungan Tingkat Kepositivan Pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA) dengan Gambaran Luas Lesi Radiologi Toraks pada Penderita Tuberkulosis Paru yang Dirawat Di SMF Pulmonologi RSUDZA Banda Aceh Mulyadi *,

Lebih terperinci

LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT

LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT Tulang yang kuat benar-benar tidak terpisahkan dalam keberhasilan Anda sebagai seorang atlet. Struktur kerangka Anda memberikan kekuatan dan kekakuan yang memungkinkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh gangguan hormonal, yang

BAB I PENDAHULUAN. Dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh gangguan hormonal, yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh gangguan hormonal, yang paling sering terjadi adalah diabetes militus (DM). Masyarakat sering menyebut penyakit

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh : Mardi Utomo 10604227402

SKRIPSI. Oleh : Mardi Utomo 10604227402 HUBUNGAN KECEPATAN DAN KOORDINASI MATA-TANGAN-KAKI DENGAN KETERAMPILAN MENGGIRING BOLA SISWA SDN 1 CANGKREPLOR PURWOREJO YANG MENGIKUTI EKSTRAKURIKULER SEPAKBOLA SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Keolahragaan

Lebih terperinci

FORMULASI STRATEGI RANTAI PASOK TEPUNG TERIGU UNTUK INDUSTRI KECIL MENENGAH DI KABUPATEN JEMBER

FORMULASI STRATEGI RANTAI PASOK TEPUNG TERIGU UNTUK INDUSTRI KECIL MENENGAH DI KABUPATEN JEMBER FORMULASI STRATEGI RANTAI PASOK TEPUNG TERIGU UNTUK INDUSTRI KECIL MENENGAH DI KABUPATEN JEMBER SKRIPSI Oleh Yurika Widya Devi NIM 081710101050 JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh : Mahbubil Iqbal NIM. 100210101054

SKRIPSI. Oleh : Mahbubil Iqbal NIM. 100210101054 PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS KARAKTER KONSISTEN DAN TELITI DENGAN PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION PADA SUB POKOK BAHASAN PERSEGI PANJANG DAN PERSEGI KELAS VII SMP

Lebih terperinci

HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYAR NASKAH PUBLIKASI

HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYAR NASKAH PUBLIKASI HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYAR NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana

Lebih terperinci

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA (Studi Eksperimen Di kelas XI IPA SMA Negeri 4 Tasikmalaya)

Lebih terperinci

Jumlah Penderita Baru Di Asean Tahun 2012

Jumlah Penderita Baru Di Asean Tahun 2012 PERINGATAN HARI KUSTA SEDUNIA TAHUN 214 Tema : Galang kekuatan, hapus stigma dan diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta 1. Penyakit kusta merupakan penyakit kronis disebabkan oleh Micobacterium

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Cokelat bagi sebagian orang adalah sebuah gaya hidup dan kegemaran, namun masih banyak orang yang mempercayai mitos tentang cokelat dan takut mengonsumsi cokelat walaupun

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN KOMITMEN ORGANISASI

HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN KOMITMEN ORGANISASI HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA DENGAN KOMITMEN ORGANISASI SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana S-1 Psikologi Oleh: GALUH TRI DAMAYANTI F. 100 030 007 FAKULTAS

Lebih terperinci