DEPRESI BERKORELASI DENGAN RENDAHNYA KUALITAS HIDUP PENDERITA PARKINSON

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DEPRESI BERKORELASI DENGAN RENDAHNYA KUALITAS HIDUP PENDERITA PARKINSON"

Transkripsi

1 TESIS DEPRESI BERKORELASI DENGAN RENDAHNYA KUALITAS HIDUP PENDERITA PARKINSON LUSSY NATALIA HENDRIK PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2013

2 TESIS DEPRESI BERKORELASI DENGAN RENDAHNYA KUALITAS HIDUP PENDERITA PARKINSON LUSSY NATALIA HENDRIK NIM PROGRAM MAGISTER PROGRAM STUDY BIOLOGI MOLEKULER PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2013

3 DEPRESI BERKORELASI DENGAN RENDAHNYA KUALITAS HIDUP PENDERITA PARKINSON Tesis untuk memperoleh Gelar Magister pada Program Magister, Program Study Biologi Molekuler Program Pascasarjana Universitas Udayana LUSSY NATALIA HENDRIK NIM PROGRAM MAGISTER PROGRAM STUDY BIOLOGI MOLEKULER PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2013 ii

4 Lembar Persetujuan TESIS INI TELAH DISETUJUI TANGGAL 17 September 2013 Pembimbing I, Pembimbing II, Dr. dr. DPG.Purwa Samatra, SpS(K) Dr. dr. Thomas Eko P. SpS (K) NIP NIP Mengetahui Ketua Program Studi Ilmu Biomedik Program Pascasarjana Universitas Udayana Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi Sp.S (K) NIP NIP iii

5 Tesis Ini Telah Diuji Pada Tanggal, 17 September 2013 Panitia Penguji Tesis Berdasarkan SK Rektor Universitas Udayana, No. : 1717/UN 14.4 /HK/2013 Tanggal, 16 Sept 2013 Ketua Sekretaris : Dr. dr. DPG.Purwa Samatra, Sp.S(K) : Dr. dr. Thomas Eko P. Sp.S (K) Anggota : 1. Prof. dr. N. Tigeh Suryadhi, MPH,Ph.D 2. dr. AAB Ngurah Nuartha, Sp.S (K) 3. dr. IGN. Purna Putra, Sp.S (K) iv

6 UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan hidayahnya, sehingga penulis mendapatkan hikmah pengetahuan dalam menyelesaikan karya akhir dengan judul Depresi berkorelasi dengan rendahnya kualitas hidup penderita Parkinson, yang merupakan salah satu persyaratan dalam menyelesaikan Program Studi Magister Ilmu Biomedik - Program Pendidikan Dokter Spesialis-I di Bagian Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Udayana / RSUP Sanglah Denpasar. Pada kesempatan ini saya mengucapkan rasa hormat, terima kasih dan penghargaan yang setulus-tulusnya kepada guru-guru saya atas segala bantuan dan bimbingannya, selama menempuh pendidikan ini. Pertama-tama ucapan terimakasih saya haturkan kepada yang terhormat Prof. Dr. dr. I Made Bakta, Sp.PD (KHOM) selaku Rektor Universitas Udayana Bali saat dilakukan penelitian ini beserta jajarannya yang telah memberi ijin bagi penulis untuk menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis-I di Bagian Ilmu Penyakit Saraf dan Magister Ilmu Biomedik Program Pascasarjana Universitas Udayana. Yang saya hormati Bapak Dekan Fakultas Kedokteran Udayana Bali Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp.PD-KEMD v

7 Kepada Bapak Direktur RSUP Sanglah Dr. I Wayan Sutarga, MPHM serta Bapak Prof. Dr. dr. Wempie Pangkahila, Sp.And. FAACS selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Biomedik Program Pascasarjana Universitas Udayana dan juga Ibu Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi Sp.S (K) selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana yang telah memberikan kesempatan kepada saya dalam menempuh pendidikan ini. Yang terhormat Dr. dr. DPG. Purwa Samatra, Sp.S (K) saat penelitian ini selaku Ketua Bagian / SMF Ilmu Penyakit Saraf FK UNUD / RSUP Sanglah Denpasar dan dr. Made Oka Adnyana, Sp.S (K) selaku Ketua Bagian / SMF Ilmu Penyakit Saraf FK UNUD/ RSUP Sanglah Denpasar yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk dapat mengikuti pendidikan spesialisasi dan senantiasa memberikan nasehat, bimbingan dan dukungan moril selama ini. Kepada yang terhormat Bapak Dr. dr. DPG. Purwa Samatra, Sp.S (K) selaku Dosen Pembimbing I dan kepada Bapak Dr. dr. Thomas Eko Purwata. Sp.S (K) selaku dosen Pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktu dan perhatiannya untuk memberikan bimbingan dan pengarahan selama proses penyusunan Tesis ini. Kepada yang terhormat dr. I.B. Kusuma Putra, Sp.S selaku sekretaris Program Studi Ilmu Penyakit Saraf yang telah memberikan bimbingan dan dukungan moril selama saya menempuh pendidikan ini. vi

8 Kepada yang terhormat Bapak dan Ibu guru saya, dr. I Wayan Kondra, Sp.S(K), dr. AABN. Nuartha, Sp.S(K), dr. IGN. Purna Putra, Sp.S(K), dr. IGN. Budiarsa, Sp.S, dr. Anna Maritha Gelgel, Sp.S(K), dr. AAA. Laksmidewi, Sp.S(K), dr. AA. Mediari SpS, dr. I Komang Arimbawa, Sp.S, dr. Desak Kt. Indrasari Utami, Sp.S, dr. I Putu Eka Widyadharma, Sp.S, dr. Kumara Tini Sp.S, dr. Ketut Widyastuti, Sp.S, dr. Ni Made Susilawati, Sp.S, dr. Ni Ketut Candrawati Wiratmi, Sp.S, dan dr. Ketut Sumada, Sp.S yang telah memberikan bimbingan, motivasi dan ilmu selama saya mengikuti program pendidikan spesialisasi ini. Ucapan terima kasih kepada dr. Deddy Andaka dan dr. Roy Gerald atas bantuan dalam pengumpulan sampel sebagai bahan dalam penelitian ini. Ucapan terima kasih dan penghargaan juga saya sampaikan kepada semua rekan residen Neurologi yang telah memberi bantuan dan petunjuk dalam pelaksanaan penelitian kami serta seluruh paramedis di poliklinik Saraf RSUP Sanglah maupun RSUD Wangaya kota Denpasar. Pasien-pasien yang selama ini menjadi subyek dalam penelitian kami, atas ketulusan dan kerjasama yang diberikan, saya ucapkan banyak terima kasih dan penghargaan yang sedalam-dalamnya. Kepada Ayahanda Hermanus Hendrik (Alm) dan Ibunda Agnes, serta Bapak Mertua M. Sihombing dan ibu mertua H. br. Panggabean beserta seluruh kakakkakak dan adik adik, saya mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya atas vii

9 doa, dorongan dan segala bantuan baik moril maupun material serta pengertiannya dalam meraih cita cita dan pengharapan saya. Ucapan yang tulus terutama juga penulis sampaikan kepada suami tercinta Mayor Laut Ridho Sihombing, SH, MH dan anak kami tersayang Asinandar Meilan Sihombing dan Grace Christalia Sihombing atas cinta kasih, pengorbanan, semangat, dorongan, serta motivasi dalam menyelesaikan karya akhir ini. Saya menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih sangat banyak kekurangannya, oleh karena itu kritik dan saran kami harapkan untuk perbaikannya. Akhirnya dari lubuk hati yang paling dalam saya menyampaikan permintaan maaf sebesar-besarnya kepada semua pihak, bila dalam proses pendidikan maupun dalam pergaulan sehari-hari ada tutur kata dan sikap yang kurang berkenan dihati. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa melimpahkan rahmat dan petunjuk- Nya kepada kita semua. Amin. Denpasar, Agustus 2013 Penulis Dr. Lussy Natalia Hendrik viii

10 DEPRESI BERKORELASI DENGAN RENDAHNYA KUALITAS HIDUP PENDERITA PARKINSON ABSTRAK Lussy Natalia Hendrik Latar Belakang: Depresi memiliki hubungan yang erat dengan penyakit Parkinson, kondisi yang kronis dan pengobatan jangka panjang dapat mempengaruhi morbiditas dan kepatuhan dalam pengobatan. Pengobatan penyakit Parkinson saat ini bertujuan untuk mengurangi gejala motorik dan memperlambat progresivitas penyakit. disamping terdapat efek terapi obat jangka panjang. Hal tersebut tentu saja mempengaruhi kualitas hidup penderita penyakit Parkinson. Peningkatan kualitas hidup adalah penting sebagai tujuan pengobatan pada penyakit kronis. Pada penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran depresi dan kualitas hidup serta hubungan antara keduanya. Metode penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian observasional secara cross sectional. Pengambilan data dari semua pasien Parkinson yang dirawat di Instalasi Rawat Jalan RSUP Sanglah dan RSUD Wangaya kota Denpasar yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel bebas adalah, depresi, jenis kelamin, Jenis pengobatan, lamanya sakit, umur saat onset dan stadium penyakit Parkinson sedangkan variabel tergantung skor PDQ-39. Hasil:. 60 pasien yang mengikuti penelitian, terdapat hubungan antara depresi dengan kualitas hidup penderita Parkinson dengan nilai koefisien korelasi (r) = 0,455 dan nilai p = 0,027. Simpulan: Depresi berkorelasi dengan rendahnya kualitas hidup penderita penyakit Parkinson. Kata kunci: Penyakit Parkinson Depresi-PDQ-39 Kualitas Hidup. ix

11 DEPRESSION CORRELATES WITH THE LOW QUALITY OF LIFE OF THE PARKINSON PATIENTS ABSTRACT Lussy Natalia Hendrik Background : Depression has a close relationship with Parkinson s disease, a chronic condition and long-term treatment may affect morbidity and the patients adherence to treatment. The current treatment of Parkinson s disease aims to reduce motor symptoms and to slow the progression of the disease; in addition there are the effects of long-term drug therapy. This of course affects the quality of life of patients with Parkinson s disease. The study aims to find the description of depression and quality of life as well as the relationship between the two. The Research Methods : This research is a cross-sectional observational study. The data collection was taken from all patients who were treated at Parkinson outpatient installation of Sanglah Public Hospital and Wangaya Hospital of Denpasar city who met the inclusion criteria. The independent variables are depression, gender, type of treatment, duration of illness, age at onset and the stage of Parkinson s disease while the variables depend on the score of the PDQ- 39. Result : 60 patients entering the study, there is a relationship between depression and quality of life of patients of Parkinson with the correlation coefficient (r)= 0,455 and p value = Conclusions : Depression is correlated with the poor quality of life of patients with Parkinson s disease. Keyword : Parkinson s Disease-Depression-PDQ-39-Quality of Life x

12 RINGKASAN Penyakit Parkinson (PP) merupakan penyakit neurodegeneratif progresif dan merupakan penyakit neurodegeneratif yang paling lazim setelah penyakit Alzheimer. Salah satu penyakit degeneratif yang sering disertai depresi adalah PP. Insiden depresi pada PP berkisar antara 20% sampai 70%, Patofisiologi depresi pada PP belum diketahui secara pasti, tetapi diduga berhubungan dengan perubahan metabolisme serotonin. kondisi yang kronis dan pengobatan jangka panjang dapat mempengaruhi morbiditas dan kepatuhan dalam pengobatan. Yang akan mempengaruhi kualitas hidup.pdq-39 (Parkinson s disease questionnaire- 39) merupakan instrumen pengukur kualitas hidup pada penderita PP. Mengukur perspektif penderita terhadap PP, berisi domain fisik, sosial dan berkarya. aspek hubungan keluarga, hubungan dengan teman.penelitian ini dgn menggunakan, hasil penelitian ini menunjukan bahwa depresi mempunyai korelasi dengan kualitas hidup yang rendah pada PP, didapatkan juga bahwa faktor jenis kelamin, stadium penyakit, usia saat diagnosis, lama sakit, dan jenis pengobatan tidak mempengaruhi kualitas hidup. Peningkatan kualitas hidup adalah penting sebagai tujuan pengobatan. Pencapaian keberhasilan dalam bidang kesehatan terutama kesehatan masyarakat, tidak hanya pada penurunan jumlah penderita tetapi lebih ditekankan pada kualitas penanganannya, baik secara preventif maupun kuratif. Kualitas hidup sebagai manifestasi dari kesejahteraan merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan pembangunan dalam bidang kesehatan. xi

13 DAFTAR ISI SAMPUL DALAM. PRASYARAT GELAR.. LEMBAR PERSETUJUAN... PENETAPAN PANITIA PENGUJI... UCAPAN TERIMA KASIH.. ABSTRAK.. ABSTRACT RINGKASAN. DAFTAR ISI. DAFTAR TABEL.. DAFTAR GAMBAR. DAFTAR SINGKATAN... DAFTAR LAMPIRAN. BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Tujuan Umum Tujuan Khusus Manfaat Penelitian Manfaat Akademis Manfaat Praktis. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Penyakit Parkinson Definisi Jenis-jenis Parkinsonism Diagnosis Patofisiologi Patogenesis 2.1 Gambaran Klinis Pengobatan Penyakit Parkinson 2.2 Depresi Definisi Gejala-gejala Depresi Gejala Fisik Gejala Psikis Gejala Sosial Faktor Risiko Jenis Kelamin Usia Status Perkawinan... i ii iii iv vi ix x xi xii xvii xviii xix xxi xii

14 Geografis Riwayat Keluarga Kepribadian Stresor Sosial Dukungan Sosial Tidak Bekerja Etiologi Faktor Biologi Faktor Genetik Faktor Psikososial Diagnosis Depresi Dan Kualitas Hidup Pada Penyakit Parkinson Frekuensi Korelasi Klinis Depresi Dan Kualitas Hidup Pada Penyakit Parkinson Usia Dan Lamanya Sakit Jenis Kelamin Gejala Depresi Derajat Depresi Pengaruh Depresi Terhadap Gangguan Motorik Pengaruh Depresi Terhadap Kognitif Patofisiologi Depresi Pada Penyakit Parkinson. 2.4 Kualitas Hidup BAB III KERANGKA PIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN. 3.1 Kerangka Pikir Kerangka Teori Kerangka Konsep. 3.4 Hipotesis Penelitian.. BAB IV METODE PENELITIAN Jenis Penelitian. 4.2 Subjek Penelitian Jumlah Sampel Identifikasi Variabel. 4.5 Alur Penelitian Tempat Dan Waktu Penelitian Peralatan. 4.8 Analisis Data Etika Penelitian.. BAB V HASIL PENELITIAN. 5.1 Karakteristik Subjek. 5.2 Nilai sensitifitas dan spesifisitas PDQ xiii

15 5.3 Korelasi depresi dengan kualitas hidup penderita Parkinson Korelasi faktor jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, stadium penyakit, umur saat diagnosis, lama sakit dan lama pengobatan dengan kualitas hidup penderita penyakit Parkinson... BAB VI PEMBAHASAN 6.1 Karakteristik subjek Korelasi Depresi dengan kualitas hidup penderita Parkinson. 6.3 Faktor Jenis Kelamin, Stadium Penyakit, Umur saat Diagnosis, Lama Sakit dan Jenis Pengobatan dengan Kualitas Hidup Penderita Penyakit Parkinson. 6.4 Keterbatasan Penelitian.. BAB VII SIMPULAN DAN SARAN.. DAFTAR PUSTAKA.. LAMPIRAN xiv

16 DAFTAR TABEL 5.1 Karakteristik Subjek berdasarkan jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan, stadium penyakit, umur saat diagnosis, lama diagnosis dan lama pengobatan 5.2 Korelasi depresi dengan kualitas hidup penderita penyakit Parkinson Korelasi faktor jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan, stadium penyakit, umur saat diagnosis, lama diagnosis dan lama pengobatan dengan kualitas hidup xv

17 DAFTAR GAMBAR 2.1 Skema teori ketidakseimbangan jalur langsung dan tidak langsung Patogenesis penyakit Parkinson 3.2 Kerangka Teori. 3.3 Kerangka Konsep Rancangan Penelitian 4.2 Alur Penelitian Kurva ROC xvi

18 DAFTAR SINGKATAN ADL ATP BDI COP COMT CRH DA DM DNA DSM-IV D1 D2 GABA GPe GPi HDRS HIAA HPA HRQL HVA MAO-B MMSE MPGH MPTP OHDA PDQ-39 PGK PINK 1 PP PVN QOL ROS SNc SNr STN : Activity of Daily Living : Adenosine Triphosphate : Beck s Depression Inventory : Cut of Point : Catechol-0-Methyltransfarase : Corticotropin Releasing Hormonal : Dopamin Agonist : Diabetes Militus : Deoxyribonucleid Acid : Diagnostik Manual Statistik IV : Reseptor dopamin 1 bersifat eksitatorik : Reseptor dopamin 2 bersifat inhibitorik : Gaba-Aminobutryc Acid : Globus palidus pars eksterna : Globus palidus pars interna : Hamilton Depression Rating Scale : Hydroxyindoleacetic Acid : Hypothalamic-Pituitary-Adrenal : Health Related Quality of Life : Homovanilic Acid : Mono Amine Oxidase : Mini Mental State Examination : Methoxy Hydroksi Phenil Glikol : Methyl Phenyl Tetrahydroprydine : Oxidopamine Hydroxydopamine : The Parkinson s Disease Questionnaire : Penyakit Ginjal Kronis : Parkin Expression Arrest the Movement of Neuronal Mitochondria : Penyakit Parkinson : Paraventriculer nucleus : Quality of Life : Reactive Oxigen Species : Substansia nigra pars compacta : Substansia nigra pars retikulata : Subthalamic nucleus xvii

19 UCH-L1 UPDRS UPS VL WHO : Ubiquitin Carboxyl-terminal Hydrolase Isozym L1 Precusor : Unified Parkinson s Disease Rating Scale : Ubiquitia Proteansome System : Ventrolateral thalamus : World Health Organization xviii

20 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Informasi Pasien Lampiran 2 : Formulir Persetujuan tertulis Lampiran 3 : Lembaran Pengumpulan Data Lampiran 4 : Skala Depresi Hamilton Lampiran 5 : Mini Mental State Exam (MMSE) Lampiran 6 : PDQ-39 Lampiran 7 : Analisi data Lampiran 8 : Sampel Penelitian xix

21 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Penyakit Parkinson (PP) merupakan penyakit neurodegeneratif progresif yang disebabkan karena proses degeneratif spesifik neuron-neuron dopaminergik ganglia basalis terutama di substansia nigra pars kompakta yang disertai inklusi sitoplasmik eosinofilik (Badan Lewy). PP adalah tipe tersering dari suatu keadaan Parkinsonism, lebih kurang 80% dari seluruh kasus (Rowland, 2005). PP adalah penyakit neurodegeneratif yang paling lazim setelah penyakit Alzheimer, dengan insiden di Inggris kira-kira 20/ dan prevalensinya / Prevalensinya kira-kira 1 % pada umur 65 tahun dan meningkat 4-5% pada usia 85 tahun (Thomson, 2001; Stephen, 2003). Pada umumnya PP muncul pada usia tahun, rata-rata diatas usia 55 tahun, lebih sering ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan dengan rasio 3:2. Suatu kepustakaan menyebutkan prevalensi tertinggi PP terjadi pada ras Kaukasian di Amerika Utara dan ras Eropa 0,98% hingga 1,94%, menengah terdapat pada ras Asia 0,018% dan prevalensi terendah terdapat pada ras kulit hitam di Afrika 0,01% (Tan, 2004; Rowland, 2005). PP diperkirakan menyerang sekitar orang Indonesia dari total jumlah penduduk saat itu sebesar (Noviani dkk, 2010), untuk angka dan karakteristik penderita PP di propinsi Bali hingga saat ini belum ditemukan data secara pasti. 1

22 2 PP terdapat 4 manifestasi gejala utama motorik : tremor saat istirahat, rigiditas, bradikinesia (berkurang atau lambatnya suatu gerakan), dan instabilitas postural (Fahn, 2003). Selain itu pada PP juga terdapat gejala non motorik yang termasuk didalamnya adalah gangguan sensoris dan otonom serta gangguan neurobehavioral (neuropsikiatri) seperti depresi, ansietas, dan psikosis (Fahn, 2003). Depresi adalah penyakit atau gangguan mental yang sering dijumpai. Penyakit ini menyerang siapa saja tanpa memandang usia, ras atau golongan, maupun jenis kelamin (Kaplan, 2010). Salah satu penyakit degeneratif yang sering disertai depresi adalah PP (Schrag, 2001; Pasquale dkk, 2008; Kleiner-Fisman, 2010). Insiden depresi pada PP berkisar antara 20% sampai 70% (Quelhas, 2009), dengan berbagai studi. Para ahli memandang depresi merupakan suatu reaksi terhadap disabilitas fisik yang berhubungan dengan penyakitnya (Kleiner-Fisman, 2010), namun kenyataannya sedikit sekali hubungan antara beratnya disabilitas motorik dengan depresi (Scalzo, 2009). Bahkan peneliti lain mengatakan tidak ada hubungan antara beratnya gangguan motorik dengan depresi (Quelhas, 2009). Depresi pada PP cenderung mengenai usia yang lebih muda (Schrag, 2001; Scalzo, 2009) dan lebih sering pada perempuan (Schrag, 2001). Patofisiologi depresi pada PP belum diketahui secara pasti (Schrag, 2001), tetapi diduga berhubungan dengan perubahan metabolisme serotonin ( Marsh Laura, 2005; Pasquale, 2008) dan norefinefrin (Marsh Laura, 2005). Penurunan 50% kadar serotonin telah diamati di ganglia basalis dan bagian korteks serebri

23 3 lain pada pasien PP, hal ini menyokong pendapat bahwa sistem serotonergik ascending rusak sebagian pada PP (Marsh Laura, 2005). Depresi memiliki hubungan yang erat dengan PP, kondisi yang kronis dan pengobatan jangka panjang dapat mempengaruhi morbiditas dan kepatuhan dalam pengobatan (Schrag, 2001). Meskipun depresi merupakan penderitaan tambahan pada PP, namun usaha untuk mengatasinya terutama intervensi psikososial, hanya sedikit mendapat perhatian tenaga medis. Sampai saat ini masih sedikit penelitian di Indonesia yang mengkaji kualitas hidup penderita PP khususnya yang mengalami depresi, kewaspadaan dan minat praktisi kesehatan untuk melihat aspek psikis/kejiwaan masih kurang terutama dalam keterkaitannya terhadap kualitas hidup pasien (Wijaya, 2005). Pengobatan PP saat ini bertujuan untuk mengurangi gejala motorik dan memperlambat progresivitas penyakit disamping terdapat efek terapi obat jangka panjang. Hal tersebut tentu saja mempengaruhi kualitas hidup penderita PP. Peningkatan kualitas hidup adalah penting sebagai tujuan pengobatan. Pencapaian keberhasilan dalam bidang kesehatan terutama kesehatan masyarakat, tidak hanya pada penurunan jumlah penderita tetapi lebih ditekankan pada kualitas penanganannya, baik secara preventif maupun kuratif. Kualitas hidup sebagai manifestasi dari kesejahteraan merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan pembangunan dalam bidang kesehatan. PDQ-39 (Parkinson s disease questionnaire-39) merupakan instrumen pengukur kualitas hidup pada penderita PP. PDQ-39 mengukur perspektif penderita terhadap PP, berisi domain fisik, sosial dan berkarya. PDQ-39 memiliki

24 4 aspek hubungan keluarga, hubungan dengan teman dan dalam hal berkarya (Marinus dkk, 2002 ; Silitonga 2007). Oleh karena uraian di atas, peneliti merasa perlu melakukan penelitian untuk mengetahui gambaran depresi dan kualitas hidup serta hubungan antara ke duanya pada penderita PP. 1.2 Rumusan masalah Berdasarkan uraian tersebut, apakah terdapat korelasi antara depresi dengan rendahnya kualitas hidup penderita PP?. 1.3 Tujuan Tujuan umum Mengetahui korelasi antara depresi dengan rendahnya kualitas hidup penderita PP Tujuan khusus a. Mengetahui proporsi depresi pada penderita PP b. Mengetahui derajat kualitas hidup penderita PP c. Mengetahui apakah terdapat korelasi antara depresi dengan rendahnya kualitas hidup penderita PP.

25 5 1.4 Manfaat Penelitian Manfaat akademis Dengan mengetahui hubungan antara depresi dengan kualitas hidup pada penderita PP maka akan dapat menambahkan khasanah keilmuan dalam menentukan prognosis penderita PP Manfaat praktis Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi sebagai sumber rujukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dalam usaha memperbaiki kualitas hidup penderita PP.

26 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penyakit Parkinson Definisi Penyakit Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif sistem ekstrapiramidal yang merupakan bagian dari Parkinsonism yang secara patologis ditandai oleh adanya degenerasi ganglia basalis terutama di substansia nigra pars kompakta (SNC) yang disertai adanya inklusi sitoplasmik eosinofilik (Lewy bodies) (Kelompok Studi Movement Disorder PERDOSSI, 2013). Parkinsonism adalah suatu sindrom yang gejala utamanya adalah tremor waktu istirahat, kekakuan (rigidity), melambatnya gerakan (akinesia) dan instabilitas postural (postural instability) (Kelompok Studi Movement Disorder PERDOSSI, 2013) Jenis-Jenis Parkinsonism Berdasarkan penyebabnya Parkinsonism dibagi atas 4 jenis: a. Idiopatik (primer) Penyakit Parkinson, genetic Parkinson's disease b. Simptomatik (Sekunder) Akibat dari: Infeksi, obat, toksin, vaskular, trauma, hipotiroidea, tumor, hidrosefalus tekanan normal, hidrosefalus obstruktif. c. Parkinsonism plus (Multiple system degeneration) Parkinsonism plus sindrom adalah Parkinsonism primer dangan gejalagejala tambahan. Termasuk demensia Lewy bodies, progresif supranuklear 6

27 7 palsi, atrofi multi sistem, degenerasi striatonigral, degenerasi olivopontoserebelar, sindrom Shy-Drager, degenerasi kortikobasal, kompleks Parkinsonism demensia ALS (Guam), neuroakantositosis. d. Parkinsonism herediter Penyakit Wilson, penyakit Huntington's disease, penyakit Lewy bodies (Kelompok Studi Movement Disorder PERDOSSI, 2013) Diagnosis Diagnosis PP berdasarkan klinis dengan ditemukannya gejala motorik utama antara lain tremor pada waktu istirahat, rigiditas, bradikinesia dan hilangnya refleks postural. Kriteria diagnosis yang dipakai di Indonesia adalah kriteria Hughes (PERDOSSI, 2013) : Possible : didapatkan 1 dari gejala-gejala utama 1.Tremor istirahat 2. Rigiditas 3. Bradikinesia 4. Kegagalan refleks postural Probable : Bila terdapat kombinasi dua gejala utama (termasuk kegagalan refleks postural) alternatif lain: tremor istirahat asimetris, rigiditas asimetris atau bradikinesia asimetris sudah cukup. Definite : Bila terdapat kombinasi tiga dari empat gejala atau dua gejala dengan satu gejala lain yang tidak asimetris (tiga tanda kardinal), atau dua dari tiga tanda tersebut, dengan satu dari ketiga tanda pertama, asimetris.

28 8 Bila semua tanda-tanda tidak jelas sebaiknya dilakukan pemeriksaan ulangan beberapa bulan kemudian. Untuk kepentingan klinis diperlukan adanya penetapan berat ringannya penyakit dalam hal ini digunakan stadium klinis berdasarkan Hoehn and Yahr (PERDOSSI, 2013) yaitu: a. Stadium 1: Gejala dan tanda pada satu sisi, terdapat gejala yang ringan, terdapat gejala yang mengganggu tetapi menimbulkan kecacatan, biasanya terdapat tremor pada satu anggota gerak, gejala yang timbul dapat dikenali orang terdekat (teman). b. Stadium 2: Terdapat gejala bilateral, terdapat kecacatan minimal, sikap/cara berjalan terganggu. c. Stadium 3: Gerak tubuh nyata melambat, keseimbangan mulai terganggu saat berjalan/berdiri, disfungsi umum sedang. d. Stadium 4: Terdapat gejala yang berat, masih dapat berjalan hanya untuk jarak tertentu, rigiditas dan bradikinesia, tidak mampu berdiri sendiri, tremor dapat berkurang dibandingkan stadium sebelumnya. e. Stadium 5: Stadium kakhetik (cachcactic stage), kecacatan total, tidak mampu berdiri dan berjalan walaupun dibantu. (Joesoef, 2001; Kelompok Studi Movement Disorder PERDOSSI, 2013)

29 Patofisiologi Secara umum dapat dikatakan bahwa PP terjadi karena penurunan kadar dopamin akibat kematian neuron di SNC sebesar 40 50% yang disertai adanya inklusi sitoplasmik eosinofilik (Lewy bodies). Lesi primer pada PP adalah degenerasi sel saraf yang mengandung neuro melanin di dalam batang otak, khususnya di SNc, yang menjadi terlihat pucat dengan mata telanjang. Dalam kondisi normal (fisiologik), pelepasan dopamin dari ujung saraf nigrostriatum akan merangsang reseptor D1 (eksitatorik) dan reseptor D2 (inhibitorik) yang berada di dendrit output neuron striatum. Output striatum disalurkan ke globus palidus segmen interna atau substansia nigra pars retikularis lewat 2 jalur yaitu jalur langsung (direk) reseptor D1 dan jalur tidak langsung (indirek) berkaitan dengan reseptor D2. Selama masukan jalur langsung dan jalur tidak langsung seimbang, maka tidak ada kelainan gerakan. Pada penderita PP, terjadi degenerasi kerusakan SNc dan saraf dopaminergik nigrostriatum sehingga tidak ada rangsangan terhadap reseptor D1 maupun D2. Gejala PP belum muncul sampai lebih dari 50% sel saraf dopaminergik rusak dan dopamin berkurang 80%. Reseptor D1 yang eksitatorik tidak terangsang sehingga jalur langsung dengan neurotransmitter GABA (Gaba-Aminobutryc Acid) (inhibitorik) tidak teraktivasi. Reseptor D2 yang inhibitorik tidak terangsang, sehingga jalur tidak langsung dari putamen ke globus palidus segmen eksterna yang GABA ergik tidak ada yang menghambat sehingga fungsi inhibitorik terhadap globus palidus

30 10 segmen eksterna berlebihan. Fungsi inhibisi dari saraf GABA ergik dari globus palidus segmen ekstena ke nukleus subtalamikus melemah dan kegiatan neuron nukleus subtalamikus meningkat akibat inhibisi. Terjadi peningkatan output nukleus subtalamikus ke globus palidus segmen interna / substansia nigra pars retikularis melalui saraf glutaminergik yang eksitatorik akibatnya terjadi peningkatan kegiatan neuron globus palidus /substansia nigra. Keadaan ini diperhebat oleh lemahnya fungsi inhibitorik dari jalur langsung, sehingga output ganglia basalis menjadi berlebihan kearah talamus. Saraf eferen dari globus palidus segmen interna ke talamus adalah GABA ergik sehingga kegiatan talamus akan tertekan dan selanjutnya rangsangan dari thalamus ke korteks lewat saraf glutamatergik akan menurun dan output korteks motorik ke neuron motorik medulla spinalis melemah terjadi hipokinesia. Gambar 2.1 Skema teori ketidakseimbangan jalur langsung dan tidak langsung (Joesoef, 2001;Husni, 2002)

31 Patogenesis Studi postmortem secara konsisten menyoroti adanya kerusakan oksidatif dalam patogenesis PP, kerusakan oksidatif pada lipid, protein, dan Deoxyribonucleid Acid (DNA) dapat diamati pada SNc otak pasien PP sporadik. Peningkatan metabolisme dopamin yang menghasilkan hidrogen peroksida dan Reactive Oxygen Species (ROS), peningkatan besi reaktif, dan gangguan jalur pertahanan anti oksidan (Moore dkk, 2005). Penurunan sebesar 30-40% aktivitas komplex-i rantai respirasi mitokondria (Olanow, 2005; Zorniak, 2007). Defek komplex-i menyebabkan degenerasi neuron pada PP melalui penurunan sintesis Adenosine Triphosphate (ATP) (Moore dkk, 2005; olanow, 2005; Zorniak, 2007). Beberapa studi epidemiologi memperlihatkan pestisida dan toksin dapat menghambat komplex-i (Sherer dkk, 2002). MPTP menghambat komplex-i dan menimbulkan gejala Parkinson pada manusia dan model binatang (Dauer & Przedborski, 2003: Moore dkk, 2005; Olanow, 2005). Bukti terbaru menunjukkan cacat pada ubiquitin proteasome system (UPS) dan protein yang salah peran juga mendasari patogenesis molekuler PP. Agregasi α-synuclein secara jelas menurun dari inhibisi komplex-i dan agregasi semacam itu bisa juga menghambat fungsi proteasomal (Moore dkk, 2005) Rangkaian kejadian yang dipicu oleh agregasi α-synuclein, peningkatan stress oksidatif, dan defisit sintesis Adenosine Triphosphate (ATP), semuanya itu bisa mengganggu fungsi normal UPS. Inhibisi terhadap UPS akan menghasilkan

32 12 akumulasi protein dan beberapa diantaranya bersifat sitotoksik. Parkin, Ubiquitin Carboxyl-terminal Hydrolase Isozym L1 Precusor (UCH-L1). (UCH-L1), dan DJ1 terlibat dalam pemeliharaan fungsi UPS, sementara PINK1, bersama dengan parkin dan DJ1, akan meregulasi fungsi normal mitokondria, penyakit terkait mutasi dalam gen ini akan mengarah pada sekelompok kejadian yang mengawali kematian neuron Dopamin Agonis (DA). Jalur kejadian ini selain mengakibatkan inhibisi proteasomal tetapi dapat juga bolak-balik mengganggu fungsi mitokondria (Moore dkk, 2005; Zorniak, 2007). Gambar 2.2. Patogenesis PP (Moore dkk, 2005) : garis merah menandakan efek inhibisi : panah hijau menandakan sebab : garis putus-putus biru potensial mempunyai pengaruh

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. neuron dopaminergik ganglia basalis terutama pada substansia nigra pars kompakta

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. neuron dopaminergik ganglia basalis terutama pada substansia nigra pars kompakta BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif yang progresif dengan gejala motorik dan non motorik yang bervariasi (Thenganatt & Jankovic, 2014). Penyakit Parkinson

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. DEPRESI 2.1.1. Definisi Depresi Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan

Lebih terperinci

Maramis (2005) memasukkan depresi sebagai gangguan afek dan emosi.

Maramis (2005) memasukkan depresi sebagai gangguan afek dan emosi. 1 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Depresi 1. Definisi Depresi Depresi adalah satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. bersifat progresif. Penyakit ini merupakan penyakit neurodegeneratif tersering

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. bersifat progresif. Penyakit ini merupakan penyakit neurodegeneratif tersering 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit adalah salah satu penyakit neurodegeneratif yang bersifat progresif. Penyakit ini merupakan penyakit neurodegeneratif tersering kedua setelah demensia Alzheimer.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lanjut usia 1. Pengertian Lansia Usia lanjut adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik, yang di mulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Sebagai mana di ketahui,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masa menopause merupakan suatu transisidimana ditandai. perubahan siklus menstruasi yang sebelumnya regular, siklik, bisa

BAB I PENDAHULUAN. Masa menopause merupakan suatu transisidimana ditandai. perubahan siklus menstruasi yang sebelumnya regular, siklik, bisa BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masa menopause merupakan suatu transisidimana ditandai perubahan siklus menstruasi yang sebelumnya regular, siklik, bisa diprediksi yang cenderung ovulatoar menjadi

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Depresi adalah suatu gangguan suasana perasaan (mood) yang

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Depresi adalah suatu gangguan suasana perasaan (mood) yang BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Depresi Depresi adalah suatu gangguan suasana perasaan (mood) yang mempunyai gejala utama afek depresi, kehilangan minat dan kegembiraan, dan kekurangan energi yang menuju meningkatnya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kecemasan 2.1.1 Definisi Kecemasan adalah sinyal peringatan; memperingatkan akan adanya bahaya yang akan terjadi dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Depresi 2.1.1. Pengertian Depresi adalah gangguan mental umum yang menyajikan dengan mood depresi, kehilangan minat atau kesenangan, perasaan bersalah atau rendah diri, tidur

Lebih terperinci

HUBUNGAN LAMANYA MENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 TERHADAP TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN POLI PENYAKIT DALAM RSD Dr.

HUBUNGAN LAMANYA MENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 TERHADAP TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN POLI PENYAKIT DALAM RSD Dr. HUBUNGAN LAMANYA MENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 TERHADAP TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN POLI PENYAKIT DALAM RSD Dr. SOEBANDI JEMBER SKRIPSI Oleh Amalia Firdaus NIM 102010101014 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUALITAS HIDUP PENDERITA PENYAKIT PARKINSON

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUALITAS HIDUP PENDERITA PENYAKIT PARKINSON FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUALITAS HIDUP PENDERITA PENYAKIT PARKINSON di POLIKLINIK SARAF RS DR KARIADI Factors associate with Quality of Life on Parkinson Disease in Neurology Out Patient

Lebih terperinci

Tabel : Epidemiologi PD (Connlolly & Lang, 2014).

Tabel : Epidemiologi PD (Connlolly & Lang, 2014). A. Epidemiologi Penyakit ini ditemukan pada semua kelompok etnis, tetapi prevalensinya berbeda secara geografis. PD umumnya terjadi pada rentang usia 45 70 tahun, dan puncaknya pada usia 60 tahun. Sekitar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Congestive Heart Failure (CHF) atau gagal jantung merupakan salah

BAB I PENDAHULUAN. Congestive Heart Failure (CHF) atau gagal jantung merupakan salah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Congestive Heart Failure (CHF) atau gagal jantung merupakan salah satu diagnosis kardiovaskular yang paling cepat meningkat jumlahnya (Schilling, 2014). Di dunia,

Lebih terperinci

Gejala dan Diagnosis Penyakit Parkinson. Esdras Ardi Pramudita RS Panti Rapih Yogyakarta 2016

Gejala dan Diagnosis Penyakit Parkinson. Esdras Ardi Pramudita RS Panti Rapih Yogyakarta 2016 Gejala dan Diagnosis Penyakit Parkinson Esdras Ardi Pramudita RS Panti Rapih Yogyakarta 2016 Konten Gejala Motor Gejala Non Motor Diagnosis Diagnosis Banding Gejala Motor Gejala Motor Gejala klasik Penyakit

Lebih terperinci

PERSOALAN DEPRESI PADA REMAJA

PERSOALAN DEPRESI PADA REMAJA Artikel PERSOALAN DEPRESI PADA REMAJA Mardiya Depresi merupakan penyakit yang cukup mengganggu kehidupan. Saat ini diperkirakan ratusan juta jiwa penduduk di dunia menderita depresi. Depresi dapat terjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terdiri dari resting tremor, rigiditas dan akinesia atau bradikinesia, yang disertai

BAB I PENDAHULUAN. terdiri dari resting tremor, rigiditas dan akinesia atau bradikinesia, yang disertai 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit Parkinson merupakan kelainan neurodegeneratif yang bersifat kronis progresif. Secara umum gejala klinis penyakit ini meliputi trias klasik yang terdiri

Lebih terperinci

BAB 5 PEMBAHASAN. Telah dilakukan penelitian observasional belah lintang (cross sectional)

BAB 5 PEMBAHASAN. Telah dilakukan penelitian observasional belah lintang (cross sectional) BAB 5 PEMBAHASAN Telah dilakukan penelitian observasional belah lintang (cross sectional) terhadap 46 orang responden pasca stroke iskemik dengan diabetes mellitus terhadap retinopati diabetika dan gangguan

Lebih terperinci

1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Depresi merupakan salah satu bentuk gangguan kejiwaan

1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Depresi merupakan salah satu bentuk gangguan kejiwaan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Depresi merupakan salah satu bentuk gangguan kejiwaan yang termasuk ke dalam kelompok mood disorder. Pada sebagian besar survey, major depressive disorder memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Penyakit kronik adalah suatu kondisi dimana terjadi keterbatasan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Penyakit kronik adalah suatu kondisi dimana terjadi keterbatasan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyakit kronik adalah suatu kondisi dimana terjadi keterbatasan pada kemampuan fisik, psikologis atau kognitif dalam melakukan fungsi harian atau kondisi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan tahap krusial bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia. Banyak tugas yang harus dicapai seorang remaja pada fase ini yang seringkali menjadi masalah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. fisiologis dan meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit dan 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penuaan 2.1.1 Definisi Proses Penuaan Penuaan adalah suatu proses yang mengubah seorang dewasa sehat menjadi seorang yang frail dengan berkurangnya sebagian besar cadangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan dan kemajuan di berbagai bidang, khususnya bidang perekonomian, kesehatan, dan teknologi menyebabkan peningkatan usia harapan hidup. Meningkatnya usia harapan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tidur merupakan kebutuhan dasar yang diperlukan setiap orang untuk mengembalikan stamina tubuh dalam kondisi yang optimal. Tidur dapat diartikan sebagai suatu keadaan

Lebih terperinci

Skizofrenia. 1. Apa itu Skizofrenia? 2. Siapa yang lebih rentan terhadap Skizofrenia?

Skizofrenia. 1. Apa itu Skizofrenia? 2. Siapa yang lebih rentan terhadap Skizofrenia? Skizofrenia Skizofrenia merupakan salah satu penyakit otak dan tergolong ke dalam jenis gangguan mental yang serius. Sekitar 1% dari populasi dunia menderita penyakit ini. Pasien biasanya menunjukkan gejala

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pada penelitian ini diperoleh 70 subyek penelitian yang dirawat di bangsal

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pada penelitian ini diperoleh 70 subyek penelitian yang dirawat di bangsal BAB HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.1 Hasil Penelitian.1.1. Karakteristik Umum Subyek Penelitian Pada penelitian ini diperoleh 0 subyek penelitian yang dirawat di bangsal B1 Saraf RS Dr. Kariadi Semarang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari 38 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Karakteristik Lokasi Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari yang merupakan salah satu rumah sakit umum milik pemerintah Kabupaten

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Depresi. Teori Interpersonal Depresi

LAMPIRAN. Depresi. Teori Interpersonal Depresi LAMPIRAN Depresi Teori depresi dalam ilmu psikologi, banyak aliran yang menjelaskannya secara berbeda.teori psikologi tentang depresi adalah penjelasan predisposisi depresi ditinjau dari sudut pandang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bertahun-tahun ini oleh ahli-ahli di bidang psikosomatik menunjukkan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. bertahun-tahun ini oleh ahli-ahli di bidang psikosomatik menunjukkan bahwa 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nyeri adalah suatu fenomena yang kompleks, dialami secara primer sebagai suatu pengalaman psikologis. Penelitian yang berlangsung selama bertahun-tahun ini oleh ahli-ahli

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Depresi merupakan salah satu masalah psikologis yang sering terjadi pada masa remaja dan onsetnya meningkat seiring dengan meningkatnya usia (Al- Qaisy, 2011). Depresi

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Skizofrenia merupakan sindroma klinis yang berubah-ubah dan sangat

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Skizofrenia merupakan sindroma klinis yang berubah-ubah dan sangat BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Skizofrenia Skizofrenia merupakan sindroma klinis yang berubah-ubah dan sangat mengganggu. Psikopatologinya melibatkan kognisi, emosi, persepsi dan aspek lain dari perilaku.

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. Desain penelitian : prospektif dengan pembanding internal. U1n. U2n

BAB 3 METODE PENELITIAN. Desain penelitian : prospektif dengan pembanding internal. U1n. U2n BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1. Rancang Bangun Penelitian Jenis penelitian : observasional Desain penelitian : prospektif dengan pembanding internal Sembuh P N M1 U1n mg I mg II mg III mg IV mg V mg VI Tidak

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT DEPRESI DENGAN KEMANDIRIAN DALAM ACTIVITY of DAILY LIVING (ADL) PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT DEPRESI DENGAN KEMANDIRIAN DALAM ACTIVITY of DAILY LIVING (ADL) PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI HUBUNGAN ANTARA TINGKAT DEPRESI DENGAN KEMANDIRIAN DALAM ACTIVITY of DAILY LIVING (ADL) PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Data demografi menunjukkan bahwa populasi remaja mendominasi jumlah

BAB I PENDAHULUAN. Data demografi menunjukkan bahwa populasi remaja mendominasi jumlah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Data demografi menunjukkan bahwa populasi remaja mendominasi jumlah penduduk di dunia. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2007 sekitar seperlima

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Buruh Pabrik 1. Pengertian Buruh Pabrik Menurut Hamzah (2014), tenaga kerja adalah tenaga yang bekerja didalam maupun luar hubungan kerja dengan alat produksi utama dalam proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,

BAB I PENDAHULUAN. Semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, modernisasi dan globalisasi tidak dapat dihindari lagi oleh setiap negara di dunia. Begitu pula halnya

Lebih terperinci

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN DIMENSIA. OLEH: Ns. SATRIA GOBEL, M.Kep, Sp. Kom

ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN DIMENSIA. OLEH: Ns. SATRIA GOBEL, M.Kep, Sp. Kom ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN DIMENSIA OLEH: Ns. SATRIA GOBEL, M.Kep, Sp. Kom PERUBAHAN PADA LANSIA Anatomi Dewasa Perubahan pada lansia Otak Saraf otonom Sistem saraf perifer Otak terletak di dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Epilepsi merupakan salah satu penyakit otak yang sering ditemukan di dunia. Data World Health Organization (WHO) menunjukkan epilepsi menyerang 70 juta dari penduduk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Estimasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan pertumbuhan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Estimasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan pertumbuhan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Estimasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan pertumbuhan jumlah penderita gagal ginjal pada tahun 2013 telah meningkat 50% dari tahun sebelumnya. Di Amerika Serikat,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang penelitian. Menurut perkiraan United States Bureau of Census 1993, populasi lanjut

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang penelitian. Menurut perkiraan United States Bureau of Census 1993, populasi lanjut BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang penelitian Menurut perkiraan United States Bureau of Census 1993, populasi lanjut usia di Indonesia diproyeksikan pada tahun 1990 2023 akan naik 414 %, suatu angka tertinggi

Lebih terperinci

PENELITIAN PENGARUH TERAPI MUSIK RELIGI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI RUANG BEDAH RSUP. DR. M. DJAMIL PADANG TAHUN 2012

PENELITIAN PENGARUH TERAPI MUSIK RELIGI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI RUANG BEDAH RSUP. DR. M. DJAMIL PADANG TAHUN 2012 PENELITIAN PENGARUH TERAPI MUSIK RELIGI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI DI RUANG BEDAH RSUP. DR. M. DJAMIL PADANG TAHUN 2012 Penelitian Keperawatan Jiwa SITI FATIMAH ZUCHRA BP. 1010324031

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. gejala klinik yang manifestasinya bisa berbeda beda pada masing

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. gejala klinik yang manifestasinya bisa berbeda beda pada masing BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gangguan Depresif Mayor Depresi merupakan suatu sindrom yang ditandai dengan sejumlah gejala klinik yang manifestasinya bisa berbeda beda pada masing masing individu. Diagnostic

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Demensia adalah suatu sindroma penurunan kemampuan intelektual progresif yang menyebabkan deteriorasi kognisi dan fungsional, sehingga mengakibatkan gangguan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terlupakan, padahal kasusnya cukup banyak ditemukan, hal ini terjadi karena

BAB I PENDAHULUAN. terlupakan, padahal kasusnya cukup banyak ditemukan, hal ini terjadi karena 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di dalam ruang lingkup ilmu penyakit dalam, depresi masih sering terlupakan, padahal kasusnya cukup banyak ditemukan, hal ini terjadi karena seringkali pasien depresi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Depresi 2.1.1 Definisi Pemahaman tentang depresi telah ada sejak zaman Hippocrates (460-377 SM). Depresi pada saat itu disebut melankoli, yang digambarkan sebagai kemurungan

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Sakit perut berulang menurut kriteria Apley adalah sindroma sakit perut

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Sakit perut berulang menurut kriteria Apley adalah sindroma sakit perut BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Sakit Perut Berulang Sakit perut berulang menurut kriteria Apley adalah sindroma sakit perut berulang pada remaja terjadi paling sedikit tiga kali dengan jarak paling sedikit

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ansietas 2.1.1. Definisi Kecemasan atau ansietas adalah suatu sinyal yang menyadarkan, ia memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. organ, khususnya mata, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah (America

BAB 1 PENDAHULUAN. organ, khususnya mata, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah (America BAB 1 PENDAHULUAN 1.Latar Belakang Penyakit Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah yang terus menerus dan bervariasi, penyakit metabolik yang dicirikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Usia lanjut merupakan tahap akhir kehidupan manusia. Seseorang pada

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Usia lanjut merupakan tahap akhir kehidupan manusia. Seseorang pada BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Usia lanjut merupakan tahap akhir kehidupan manusia. Seseorang pada tahap ini ditandai dengan menurunnya kemampuan kerja tubuh (Nugroho, 2007). Semakin bertambahnya

Lebih terperinci

BUNUH DIRI DAN DEPRESI DALAM PERSPEKTIF PEKERJAAN SOSIAL

BUNUH DIRI DAN DEPRESI DALAM PERSPEKTIF PEKERJAAN SOSIAL BUNUH DIRI DAN DEPRESI DALAM PERSPEKTIF PEKERJAAN SOSIAL Meilanny Budiarti Santoso, Dessy Hasanah Siti Asiah, Chenia Ilma Kirana Meilannybudiarty13@gmail.com, dessyhasanahsitiasiah@yahoo.com, cheniabcd@gmail.com

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah Kanker serviks merupakan penyebab kematian terbanyak akibat penyakit kanker di negara berkembang. Setiap tahun sekitar 500.000 penderita kanker serviks baru di

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan dengan gejala-gejala atau kecacatan yang membutuhkan

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan dengan gejala-gejala atau kecacatan yang membutuhkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit kronis adalah kondisi medis atau masalah kesehatan yang berkaitan dengan gejala-gejala atau kecacatan yang membutuhkan penatalaksanaan medis dan keperawatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. usia tua di Indonesia akan mencapai 23,9 juta atau 9,77% dan usia harapan

BAB I PENDAHULUAN. usia tua di Indonesia akan mencapai 23,9 juta atau 9,77% dan usia harapan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penduduk Lanjut usia di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun, ini disebabkan karena meningkatnya usia harapan hidup. Pada tahun 1980 usia harapan hidup di Indonesia

Lebih terperinci

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2010 GAMBARAN POLA ASUH

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2010 GAMBARAN POLA ASUH GAMBARAN POLA ASUH PENDERITA SKIZOFRENIA Disusun Oleh: Indriani Putri A F 100 040 233 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2010 GAMBARAN POLA ASUH BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. otak (Dipiro et.al, 2005). Epilepsi dapat dialami oleh setiap orang baik laki-laki

I. PENDAHULUAN. otak (Dipiro et.al, 2005). Epilepsi dapat dialami oleh setiap orang baik laki-laki I. PENDAHULUAN Epilepsi adalah terganggunya aktivitas listrik di otak yang disebabkan oleh beberapa etiologi diantaranya cedera otak, keracunan, stroke, infeksi, dan tumor otak (Dipiro et.al, 2005). Epilepsi

Lebih terperinci

Diagnosis & Tatalaksana Gangguan Depresi & Anxietas di Layanan Kesehatan Primer Dr. Suryo Dharmono, SpKJ(K)

Diagnosis & Tatalaksana Gangguan Depresi & Anxietas di Layanan Kesehatan Primer Dr. Suryo Dharmono, SpKJ(K) Diagnosis & Tatalaksana Gangguan Depresi & Anxietas di Layanan Kesehatan Primer Dr. Suryo Dharmono, SpKJ(K) Yogyakarta, 11 Oct 2014 1 Prevalensi Ganguan Psikiatrik yang lazim di Komunitas dan Pelayanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. infeksi Human Papilloma Virus (HPV) grup onkogenik resiko tinggi, terutama HPV 16 dan

BAB I PENDAHULUAN. infeksi Human Papilloma Virus (HPV) grup onkogenik resiko tinggi, terutama HPV 16 dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kanker serviks adalah penyakit ganas pada serviks uterus yang disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV) grup onkogenik resiko tinggi, terutama HPV 16 dan 18.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Prevalensi depresi di dunia diperkirakan 5-10% per tahun dan life time prevalence

BAB I PENDAHULUAN. Prevalensi depresi di dunia diperkirakan 5-10% per tahun dan life time prevalence BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Istilah depresi kini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat karena dapat menyerang seluruh usia dan lapisan masyarakat. Depresi merupakan gangguan suasana perasaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dibandingkan populasi anak sehat (Witt et al., 2003). Pasien dengan penyakit

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dibandingkan populasi anak sehat (Witt et al., 2003). Pasien dengan penyakit 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak dengan penyakit kronis lebih rentan mengalami gangguan psikososial dibandingkan populasi anak sehat (Witt et al., 2003). Pasien dengan penyakit neurologi seperti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan 8 16% di dunia. Pada tahun 1999 berdasarkan data Global burden of

BAB I PENDAHULUAN. dan 8 16% di dunia. Pada tahun 1999 berdasarkan data Global burden of BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan salah satu masalah kesehatan utama di dunia. Dengan prevalensi 15% di negara berkembang, dan 8 16% di dunia. Pada tahun 1999

Lebih terperinci

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedaruratan psikiatri adalah sub bagian dari psikiatri yang. mengalami gangguan alam pikiran, perasaan, atau perilaku yang

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedaruratan psikiatri adalah sub bagian dari psikiatri yang. mengalami gangguan alam pikiran, perasaan, atau perilaku yang BAB II. TINJAUAN PUSTAKA II.1. Kedaruratan Psikiatri Kedaruratan psikiatri adalah sub bagian dari psikiatri yang mengalami gangguan alam pikiran, perasaan, atau perilaku yang membutuhkan intervensi terapeutik

Lebih terperinci

FAKTOR PSIKOLOGIS DAN PERILAKU YANG BERHUBUNGAN DENGAN GANGGUAN Pembimbing : dr. Dharmawan Ardi, Sp.KJ

FAKTOR PSIKOLOGIS DAN PERILAKU YANG BERHUBUNGAN DENGAN GANGGUAN Pembimbing : dr. Dharmawan Ardi, Sp.KJ FAKTOR PSIKOLOGIS DAN PERILAKU YANG BERHUBUNGAN DENGAN GANGGUAN Pembimbing : dr. Dharmawan Ardi, Sp.KJ GASTROINTESTINAL Maria Inez Devina Siregar 11.2013.158 Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa RS

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dalam otak yang mengakibatkan kematian sel otak. dan ada riwayat keluarga yang menderita stroke (Lewis, 2009).

BAB 1 PENDAHULUAN. dalam otak yang mengakibatkan kematian sel otak. dan ada riwayat keluarga yang menderita stroke (Lewis, 2009). BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stroke merupakan salah satu masalah kesehatan besar dalam kehidupan modern saat ini. Jumlah penderitanya semakin meningkat setiap tahun, tidak hanya menyerang usia tua

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke merupakan suatu gangguan disfungsi neurologist akut yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah, dan terjadi secara mendadak (dalam beberapa detik) atau setidak-tidaknya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Proporsi penduduk dunia berusia 60 tahun ke atas tumbuh lebih

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Proporsi penduduk dunia berusia 60 tahun ke atas tumbuh lebih BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Proporsi penduduk dunia berusia 60 tahun ke atas tumbuh lebih cepat kelompok usia lainnya. Antara tahun 1970 dan 2025 pertumbuhan penduduk lanjut usia (lansia) di dunia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Menurut data statistik WHO (World Health Organization) penyakit kardiovaskular mengalami pertumbuhan, diprediksi pada tahun 2020 penyakit kronis akan mencapai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berkelanjutan terhadap golongan pelajar ini dapat menyebabkan pola tidur-bangun. berdampak negatif terhadap prestasi belajarnya.

BAB I PENDAHULUAN. berkelanjutan terhadap golongan pelajar ini dapat menyebabkan pola tidur-bangun. berdampak negatif terhadap prestasi belajarnya. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mahasiswa kedokteran merupakan golongan dewasa muda yang unik, yang memiliki komitmen akademik dan gaya hidup yang dapat berimbas pada kebiasaan tidurnya dan mengakibatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyakit tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. 1

BAB I PENDAHULUAN. penyakit tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kemajuan pembangunan nasional memberikan dampak perubahan pada sistem kesehatan Indonesia ke dalam era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Layanan kesehatan tingkat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. darah menuju otak, baik total maupun parsial (sebagian) (Čengić et al., 2011).

BAB I PENDAHULUAN. darah menuju otak, baik total maupun parsial (sebagian) (Čengić et al., 2011). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke adalah suatu keadaan akut yang disebabkan oleh terhentinya aliran darah menuju otak, baik total maupun parsial (sebagian) (Čengić et al., 2011). Lebih ringkas,

Lebih terperinci

3.5. Cara Pengumpulan Data Instrumen Penelitian Tahap Penelitian Rencana Analisis Data BAB IV.

3.5. Cara Pengumpulan Data Instrumen Penelitian Tahap Penelitian Rencana Analisis Data BAB IV. DAFTAR ISI Halaman Judul... i Halaman Pengesahan... ii Daftar Isi... iii Daftar Tabel... v Daftar Gambar... vii Halaman Pernyataan... viii Kata Pengantar... ix Intisari... xi BAB I. Pendahuluan 1.1. Latar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang penelitian. dari 72 tahun di tahun 2000 (Papalia et al., 2005). Menurut data Biro Pusat Statistik

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang penelitian. dari 72 tahun di tahun 2000 (Papalia et al., 2005). Menurut data Biro Pusat Statistik BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang penelitian Perkembangan dan kemajuan di berbagai bidang, khususnya bidang perekonomian, kesehatan, dan teknologi menyebabkan meningkatnya usia harapan hidup. Peningkatan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. tekanan mental atau beban kehidupan. Dalam buku Stress and Health, Rice (1992)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. tekanan mental atau beban kehidupan. Dalam buku Stress and Health, Rice (1992) BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Stres 2.1.1 Definisi Stres dan Jenis Stres Menurut WHO (2003) stres adalah reaksi atau respon tubuh terhadap tekanan mental atau beban kehidupan. Dalam buku Stress and Health,

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Definisi gagap yang disetujui belum ada. Menurut World Health Organization (WHO) definisi gagap adalah gangguan ritme bicara dimana seseorang tahu apa yang mau dibicarakan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Cedera tulang belakang merupakan cedera pada tulang belakang baik

BAB I PENDAHULUAN. Cedera tulang belakang merupakan cedera pada tulang belakang baik BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Cedera tulang belakang merupakan cedera pada tulang belakang baik langsung (kecelakaan ataupun jatuh) maupun tidak langsung (infeksi bakteri atau virus) yang dapat menyebabkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gejala negatif merupakan suatu gambaran defisit dari pikiran, perasaan atau perilaku normal yang berkurang akibat adanya gangguan otak dan gangguan mental (Kring et

Lebih terperinci

Hamilton Depression Rating Scale (HDRS)

Hamilton Depression Rating Scale (HDRS) Hamilton Depression Rating Scale (HDRS) Pilihlah salah satu pilihan yang sesuai dengan keadaan anda, beri tanda silang (X) pada kolom yang tersedia untuk setiap pertanyaan. 1. Keadaan perasaan sedih (sedih,

Lebih terperinci

EATING DISORDERS. Silvia Erfan

EATING DISORDERS. Silvia Erfan EATING DISORDERS Silvia Erfan Tingkat Kemampuan 2: mendiagnosis dan merujuk Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik terhadap penyakit tersebut dan menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Gangguan bipolar menurut Diagnostic and Statistical Manual of

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Gangguan bipolar menurut Diagnostic and Statistical Manual of BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gangguan Bipolar I Gangguan bipolar menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Text Revision edisi yang ke empat (DSM IV-TR) ialah gangguan gangguan mood

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Stroke merupakan suatu penyakit kegawatdaruratan neurologis yang berbahaya

BAB I PENDAHULUAN. Stroke merupakan suatu penyakit kegawatdaruratan neurologis yang berbahaya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke merupakan suatu penyakit kegawatdaruratan neurologis yang berbahaya dan dapat menyebabkan terjadinya disfungsi motorik dan sensorik yang berdampak pada timbulnya

Lebih terperinci

dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas.

dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tingkat Kecemasan Remaja yang Menjalani Perawatan (Hospitalisasi) Remaja 1. Kecemasan Kecemasan merupakan suatu sinyal yang menyadarkan dan mengingatkan adanya bahaya yang mengancam

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Proses pengumpulan data penelitian ini dilaksanakan di RSUD Kota

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Proses pengumpulan data penelitian ini dilaksanakan di RSUD Kota BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Gambaran Umum Penelitian Proses pengumpulan data penelitian ini dilaksanakan di RSUD Kota Yogyakarta pada tanggal 9 Agustus - 1 September 2016. Data dikumpulkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Amerika Serikat prevalensi tahunan sekitar 10,3%, livetime prevalence mencapai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Amerika Serikat prevalensi tahunan sekitar 10,3%, livetime prevalence mencapai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Depresi adalah gangguan alam perasaan (mood) yang ditandai dengan kemurungan dan kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga hilangnya kegairahan hidup. Dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari. kesehatan dan Keadaan Sejahtera Badan, Jiwa dan Sosial yang

BAB I PENDAHULUAN. keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari. kesehatan dan Keadaan Sejahtera Badan, Jiwa dan Sosial yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut World Health Organization (WHO) kesehatan adalah keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat, juga dapat diukur

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI... ii PENETAPAN PANITIA PENGUJI SKRIPSI... iii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI.... iv ABSTRAK v ABSTRACT. vi RINGKASAN.. vii SUMMARY. ix

Lebih terperinci

MAYOR DEPRESSION DISORDER

MAYOR DEPRESSION DISORDER STIKES MW-KENDARI PRODI S1-KEPERAWATAN MAYOR DEPRESSION DISORDER IRMAN DINEJAD By : Group ONE Tuesday, October 2014 GARIS BESAR MATERI 1 2 3 4 5 6 Definisi MDD Etiologi MDD Faktor Risiko MDD Manifestasi

Lebih terperinci

DERAJAT DAN FAKTOR PENYEBAB DEPRESI PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA ANGKATAN 2008 PERIODE SEPTEMBER 2009 DESEMBER

DERAJAT DAN FAKTOR PENYEBAB DEPRESI PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA ANGKATAN 2008 PERIODE SEPTEMBER 2009 DESEMBER ABSTRAK DERAJAT DAN FAKTOR PENYEBAB DEPRESI PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA ANGKATAN 2008 PERIODE SEPTEMBER 2009 DESEMBER 2009 Arga Gabriel Podanatur, 2009; Pembimbing

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Rosenbaum dkk, palsi serebral adalah gangguan permanen gerakan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Rosenbaum dkk, palsi serebral adalah gangguan permanen gerakan BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi palsi serebral Menurut Rosenbaum dkk, palsi serebral adalah gangguan permanen gerakan dan bentuk tubuh, yang menyebabkan keterbatasan aktivitas fisik, gangguan tidak

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. belah lintang (cross sectional) untuk mengetahui korelasi antara faktor-faktor

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. belah lintang (cross sectional) untuk mengetahui korelasi antara faktor-faktor BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional, dengan rancangan belah lintang (cross sectional) untuk mengetahui korelasi antara faktor-faktor yang

Lebih terperinci

Gangguan Psikiatrik Pada Pasien Ginjal ANDRI

Gangguan Psikiatrik Pada Pasien Ginjal ANDRI Gangguan Psikiatrik Pada Pasien Ginjal ANDRI Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) Email : andri@ukrida.ac.id Pendahuluan Pasien gagal ginjal kronis adalah salah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang memiliki gejala utama: afek depresif, hilangnya minat kegembiraan,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang memiliki gejala utama: afek depresif, hilangnya minat kegembiraan, BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Depresi 2.1.1 Definisi Depresi adalah bagian dari kelompok gangguan suasana perasaan (mood) yang memiliki gejala utama: afek depresif, hilangnya minat kegembiraan, berkurangnya

Lebih terperinci

ABSTRAK GAMBARAN KADAR GLUKOSA DARAH DAN FAKTOR RISIKO DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA WANITA MENOPAUSE

ABSTRAK GAMBARAN KADAR GLUKOSA DARAH DAN FAKTOR RISIKO DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA WANITA MENOPAUSE ABSTRAK GAMBARAN KADAR GLUKOSA DARAH DAN FAKTOR RISIKO DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA WANITA MENOPAUSE Paulin Yuliana, 2011 Pembimbing I Pembimbing II : Winny Suwindere, drg., MS. : Adrian Suhendra, dr.,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Stroke yang disebut juga sebagai serangan otak atau brain attack ditandai

BAB 1 PENDAHULUAN. Stroke yang disebut juga sebagai serangan otak atau brain attack ditandai BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke yang disebut juga sebagai serangan otak atau brain attack ditandai dengan hilangnya sirkulasi darah ke otak secara tiba-tiba, sehingga dapat mengakibatkan terganggunya

Lebih terperinci

ABSTRAK GAMBARAN GANGGUAN KECEMASAN PADA SISWA KELAS III SEKOLAH MENENGAH UMUM TARUNA BAKTI BANDUNG TAHUN AJARAN 2008 / 2009 MENJELANG UJIAN NASIONAL

ABSTRAK GAMBARAN GANGGUAN KECEMASAN PADA SISWA KELAS III SEKOLAH MENENGAH UMUM TARUNA BAKTI BANDUNG TAHUN AJARAN 2008 / 2009 MENJELANG UJIAN NASIONAL ABSTRAK GAMBARAN GANGGUAN KECEMASAN PADA SISWA KELAS III SEKOLAH MENENGAH UMUM TARUNA BAKTI BANDUNG TAHUN AJARAN 2008 / 2009 MENJELANG UJIAN NASIONAL 2009 Bayu Indrayana, 2009; Pembimbing : dr. Jan Piter

Lebih terperinci

DEPRESI. Oleh : dr. Moetrarsi, SKF, DTM&H, SpKJ

DEPRESI. Oleh : dr. Moetrarsi, SKF, DTM&H, SpKJ DEPRESI Oleh : dr. Moetrarsi, SKF, DTM&H, SpKJ Definisi Depresi ialah suatu penyakit episodik dimana gejala depresi dapat terjadi sendirian atau disertai oleh mania (penyakit manik-depresif atau bipolar)

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Kecemasan pada Mahasiswa Tingkat Pertama. Bahasa Latin angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Kecemasan pada Mahasiswa Tingkat Pertama. Bahasa Latin angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kecemasan pada Mahasiswa Tingkat Pertama 2.1.1 Pengertian Kecemasan atau dalam Bahasa Inggris adalah anxiety berasal dari Bahasa Latin angustus yang berarti kaku, dan ango,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan fisik yang tidak sehat, dan stress (Widyanto, 2014).

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan fisik yang tidak sehat, dan stress (Widyanto, 2014). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lanjut usia merupakan individu yang berada pada tahapan dewasa akhir yang usianya dimulai dari 60 tahun keatas. Setiap individu mengalami proses penuaan terlihat dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Penderita gagal ginjal kronik menurut estimasi World Health Organization

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Penderita gagal ginjal kronik menurut estimasi World Health Organization 10 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penderita gagal ginjal kronik menurut estimasi World Health Organization (WHO) secara global lebih dari 500 juta orang dan sekitar 1,5 juta orang harus menjalani

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dilakukan di Puskesmas Wonosari pada bulan September-Oktober 2016.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dilakukan di Puskesmas Wonosari pada bulan September-Oktober 2016. 47 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Lokasi Penelitian Penelitian tentang Hubungan Antara Faktor Demografi dengan Pada Penderita Hipertensi di Kabupaten Gunungkidul DIY telah dilakukan di Puskesmas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Artritis reumatoid (AR) merupakan suatu penyakit inflamasi kronik yang ditandai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Artritis reumatoid (AR) merupakan suatu penyakit inflamasi kronik yang ditandai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Artritis reumatoid (AR) merupakan suatu penyakit inflamasi kronik yang ditandai dengan peradangan pada sinovium, terutama sendi sendi kecil dan seringkali

Lebih terperinci

LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH. Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai gelar sarjanastrata-1 pendidikan dokter

LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH. Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai gelar sarjanastrata-1 pendidikan dokter GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN BERBAGAI FAKTOR PADA PASIEN RAWAT JALAN PUSKESMAS (Studi Deskriptif Analitik di Puskesmas Halmahera Semarang) LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. pasien, keluarga, maupun tenaga kesehatan yang merawat, karena tidak menonjol

BAB 1 PENDAHULUAN. pasien, keluarga, maupun tenaga kesehatan yang merawat, karena tidak menonjol 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke merupakan masalah kesehatan utama di dunia karena menjadi penyebab kematian ketiga di dunia dan menjadi penyebab pertama kecacatan. 1-3 Kemajuan teknologi

Lebih terperinci