MEKANISME SURVIVAL BURUH OUTSOURCING. (Studi Deskriptif tentang Strategi Bertahan Hidup Buruh Outsourcing di. Sidoarjo)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MEKANISME SURVIVAL BURUH OUTSOURCING. (Studi Deskriptif tentang Strategi Bertahan Hidup Buruh Outsourcing di. Sidoarjo)"

Transkripsi

1 MEKANISME SURVIVAL BURUH OUTSOURCING (Studi Deskriptif tentang Strategi Bertahan Hidup Buruh Outsourcing di Sidoarjo) ABSTRAK Sistem kerja outsourcing merupakan sistem kerja yang sudah diterapkan cukup lama namun hingga saat ini menjadi fenomena tersendiri dalam masyarakat. Hal tersebut menjadi perhatian dikarenakan, buruh outsourcing mengalami berbagai diskriminasi, dimana dengan beban serta jam kerja yang sama tidak membuat buruh outsourcing memperoleh gaji yang sama. Dalam penelitian ini memfokuskan pada mekanisme yang digunakan oleh buruh outsourcing agar tetap survive (bertahan). Purposive adalah teknik yang digunakan untuk menentukan informan yang terdiri dari 5 Informan, Berdasarkan hasil penelitian, dipaparkan mengenai mekanisme survival buruh outsourcing, dimana terdapat perbedaan mekanisme atau cara bertahan hidup antara buruh outsourcing laki-laki dan perempuan. Ditemukan jawaban, buruh outsourcing perempuan yang sudah berkeluarga berusaha untuk membantu perekonomian keluarga dengan cara membantu suami bekerja, sedangkan buruh outsourcing laki-laki yang sudah berkeluarga memiliki pekerjaan sampingan yang dikerjakan di luar pekerjaan utamanya yaitu sebagai buruh outsourcing. Bagi buruh outsourcing yang belum berkeluarga, mekanisme survival yang digunakan adalah kembali ke tempat tinggalnya (desa) ketika diliburkan oleh perusahaan penyedia jasa, dan kembali setelah memperoleh panggilan kerja. Cara lain dari mekanisme survival buruh outsourcing adalah meminjam uang kepada teman, saudara, namun jika terpaksa mereka juga menggadaikan barang-barang yang dimilikinya. Kata Kunci : Sistem Kerja Outsourcing, Buruh Outsourcing, Mekanisme survival 1

2 ABSTRACT The outsourcing system is a working system that has been applied for a long time but it is becoming a separately phenomenon in society until now. This is becoming a concern because the outsourcing workers had experienced various discriminations, where with the same loads and working hours it does not make the outsourcing workers obtain the same salaries. This research has focused on the mechanisms that used by the outsourcing workers in order to still survived. Purposive is a technique that used to determine informants that consisting of 5 informants. Based on the results of the study, it was presented about the survival mechanism of outsourcing workers, where there are any differences in the mechanisms or ways of survival between men and women outsourcing labor. It was found the answer, the women outsourcing workers who had married are trying to help the family economy by helping her husband to work, while the men outsourcing workers who had married are have a second job that is done outside the main job as the outsourcing workers. For the outsourcing workers who had not married, a survival mechanism that has used are returned to their residence (village) when they are not employed by the service provider company, and they returned after obtaining a job calling. Another way of outsourcing workers survival mechanism are to borrow money from friends, relatives, however, if it is forced they will pawn the goods they have. Keywords: outsourcing working systems, outsourcing workers, survival mechanism 2

3 1.1.Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah industri cukup banyak yang terdiri dari berbagai bidang, mulai dari batu bara, makanan, minuman, tembakau, tekstil dan masih banyak bidang lain yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Di era globalisasi seperti saat ini persaingan dan pasar global menjadi hal yang utama sehingga untuk tetap dapat bertahan menuntut para pengusaha untuk melakukan berbagai cara untuk mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin. Salah satu cara yang dilakukan oleh para pengusaha di bidang industri yaitu menerapkan sistem kerja outsourcing. Outsourcing merupakan suatu pengalihan pekerjaan, tanggung jawab dan keputusan kepada orang lain. Dalam dunia bisnis, outsourcing adalah alih daya yang diartikan sebagai penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan yang sifatnya non-core atau penunjang oleh suatu perusahaan kepada perusahaan lain atau penyedia jasa tenaga kerja. Pengalihan pekerjaan yang bersifat non core dilakukan karena perusahaan lain dapat mengerjakannya dengan lebih murah, lebih cepat, lebih baik dan yang lebih utama lagi adalah karena perusahaan memiliki pekerjaan lain yang sifatnya core dan lebih penting. Core bisnis merupakan inti dari produksi yang dihasilkan oleh perusahaan, sedangkan non core merupakan penunjang dari core bisnis yaitu kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi adalah kegiatan yang berhubungan di luar usaha pokok suatu perusahaan. Kegiatan tersebut antara lain: Usaha pelayanan kebersihan, usaha penyediaan makanan bagi pekerja/buruh catering, usaha tenaga pengaman (security/satuan pengamanan), usaha jasa 3

4 penunjang di pertambangan dan perminyakan, serta usaha penyediaan angkutan pekerja/buruh(rina Herawati,2010:06) Dengan melakukan outsourcing, perusahaan mampu mempekerjakan lebih sedikit pekerja dan hanya dipilih yang intinya saja. Hal ini menjadi salah satu upaya perusahaan untuk mengurangi resiko terhadap ketidakpastian bisnis di masa mendatang. Jika situasi bisnis sedang bagus dan dibutuhkan lebih banyak karyawan, maka kebutuhan ini tetap dapat dipenuhi melalui outsourcing. Sedangkan jika situasi bisnis sedang memburuk dan harus mengurangi jumlah karyawan, perusahaan tinggal mengurangi jumlah buruh outsourcing saja, sehingga beban bulanan dan biaya pemutusan karyawan dapat dikurangi. Resiko perselisihan dengan karyawan bila terjadi PHK pun dapat dihindari karena secara hukum hal ini menjadi tanggung jawab dari penyedia jasa tenaga kerja tersebut. Penelitian ini melihat kendala yang dihadapi oleh para pekerja tidak tetap termasuk di dalamnya adalah buruh outsourching yang tidak dapat membentuk atau tergabung dalam serikat pekerja. Hal ini sangat merugikan bagi buruh outsourching, karena mereka tidak memiliki akses untuk menuntut dan mempertahankan kesejahteraannya. Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa buruh outsourcing tidak memiliki akses serta keberanian untuk menuntut kesejahteraannya. Dari keterbatasan itulah buruh outsourcing menerima dan patuh kepada perusahaan. Sehingga sangat menarik untuk diletili bagaimana buruh outsourcing mampu bertahan hidup dengan statusnya yang masih sebagai buruh outsourcing. 4

5 1.2 Fokus penelitian Berdasarkan latar belakang serta masalah yang dihadapi oleh buruh outsourcing diatas, maka terdapat dua fokus utama yang ingin dijawab dalam penelitian ini, yaitu : 1. Bagaimana pengetahuan buruh outsoucing tentang sistem outsourcing? 2. Bagaimana mekanisme survival yang dikembangkan oleh buruh outsourcing? 1.3 Tujuan Penelitian Penelitian mengenai buruh mekanisme survival buruh outsourcing ini memiliki tujuan umum dan tujuan khusus, yaitu: A. Tujuan Umum Untuk memahami dan mengetahui mekanisme survival atau cara bertahan hidup buruh outsourcing B. Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui mekanisme yang dikembangkan oleh buruh outsourcing untuk bisa melangsungkan hidupnya. 2. Untuk mengetahui seberapa besar pengetahuan buruh outsourcing tentang penerapan sistem outsourcing 5

6 1.4 Manfaat Penelitian Manfaat Akademis : Diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan terutama mata kuliah sosiologi industri, masalah ketenagakerjaan dan pengangguran, khususnya yang berkaitan dengan sistem kerja yang diberlakukan di Indonesia termasuk di dalamnya adalah sistem outsourcing Manfaat Praktis : Memberi gambaran pada masyarakat tentang mekanisme survival atau cara bertahan hidup yang dilakukan oleh buruh outsourcing. Memberikan sumbangan pemikiran bagi perusahaan untuk meningkatkan sistem kerja yang saling menguntungkan. 1.5 Kerangka Teoritik 1.5.I Teori Mekanisme Jmes Scott Teori mekanisme survival yang dipopulerkan oleh James C.Scott. Teori tersebut memandang bahwa dua tiga cara yang dilakukan masyarakat miskin untuk bertahan hidup, yaitu: 1. Mengurangi pengeluaran untuk pangan dengan jalan makan hanya sekali sehari dan beralih ke makanan yang mutunya lebih rendah 2. Menggunakan alternatif subsistem yaitu swadaya yang mencakup kegiatan seperti berjualan kecil-kecilan, bekerja sebagai tukang, sebagai buruh lepas, atau melakukan migrasi untuk mencari pekerjaan. Cara ini dapat 6

7 melibatkan seluruh sumber daya yang ada di dalam rumah tangga miskin, terutama istri sebagai pencari nafkah tambahan bagi suami 3. Meminta bantuan dari jaringan sosial seperti sanak saudara, kawan-kawan sedesa, atau memanfaatkan hubungan dengan pelindungnya (patron), dimana ikatan patron dan kliennya (buruh) merupakan bentuk asuransi dikalangan petani. Patron menurut definisinya adalah orang yang berada dalam posisi untuk membantu klien-kliennya. Patron dalam kehidupan petani adalah pemilik modal yang dapat membantu kesulitan keuangan yang dihadapi petani. (Scott, 1989:40) Teori Tindakan Rasional Max Weber Dalam menjelaskan teorinya, Weber memulai dari pernyataan bahwa setiap tindakan sosial yang dilakukan oleh individu selalu ada alasan atau motifnya. Weber memisahkan empat tindakan sosial di dalam sisiologi, yaitu : 1. Zweck rational, yaitu tindakan sosial yang melandaskan diri kepada pertimbangan-pertimbangan manusia yang rasional ketika menanggapi lingkungan eksternalnya (juga ketika menanggapi orang-orang lain di luar dirinya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup). Dengan perkataan lain, zwert rational adalah suatu tindakan sosial yang ditujukan untuk mencapai tujuan semaksimal mungkin dengan menggunakan dana serta daya seminimal mungkin. 2. Wert rational, yaitu tindakan yang rasional, namun yang menyandarkan diri kepada suatu nilai-nilai absolute tertentu. Nilai-nilai yang dijadikan sandaran ini bisa nilai etis, estetis, keagamaan atau pula nilai-nilai lain. Jadi di dalam tindakan wert rational ini manusia menyandarkan pada suatu keyakinan terhadap suatu nilai tertentu. 3. Affectual, yaitu suatu tindakan sosial yang timbul karena dorongan atau motivasi yang sifatnya emosional. Ledakan kemarahan seseorang misalnya, atau ungkapan rasa cinta, kasihan, adalah contoh dari tindakanaffectual ini. 4. Traditional, yaitu tindakan sosial yang didorong dan berorientasi kepada tradisi masa lampau. Tradisi di dalam pengertian ini adalah suatu kebiasaan bertindak yang berkembang di masa lampau. Mekanisme tindakan semacam ini selalu berlandaskan hukum-hukum normatif yang telah ditetapkan secara tegas oleh masyarakat. (Siahaan, 1986: ) 7

8 I.6 Metode dan Prosedur Penelitian I.6.1 Tipe Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dikarenakan agar dapat meminimalkan jarak antara peneliti dan informan. Dan penelitian ini tidak hanya terbatas pada pengumpulan dan penyusunan data tetapi meliputi analisis dan interpretasi data yang telah dikumpulkan dan segala sesuatu dalam penelitian ini ditentukan dari hasil pengumpulan data yang mencerminkan keadaan yang sesungguhnya di lapangan. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yang mampu memberikan suatu gambaran dan penjelasan yang terperinci tentang suatu fenomena Penentuan Subyek Penelitian Pemilihan informan merupakan elemen yang sangat penting dalam suatu penelitian karena informan inilah yang akan memberi data data yang dapat merepresentasikan apa yang akan peneliti cari dalam permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini. Penelitian ini dilakukan di wilayah Sidoarjo. Dengan pertimbangan bahwa Sidoarjo tempat perusahaan-perusahaan atau PT-PT dengan jumlah yang besar dan mempunyai tenaga kerja yang jumlahnya banyak. Selain itu, industri di Sidoarjo mengalami juga pertumbuhan yang pesat, hal ini dapat dilihat dari jumlah unit usaha pada tahun 2010 sebanyak unit usaha baik yang tergolong dalam usaha indutri makro atau pun mikro. Dengan jumlah tersebut memungkinkan perusahaan-perusahaan di Sidoarjo menggunakan sistem 8

9 outsourcing. Tidak semua pabrik menggunakan sistem kerja outsourcing, untuk itu peneliti memilih tiga pabrik di Sidoarjo yang masih menggunakan sistem kerja outsourcing, yaitu : 1. Pabrik Megasurya Mas berada di JL. Tambak Sawah 32, Waru, Sidoarjo 2. Pabrik Siantar Top, Tbk berada di Jl. Tambak Sawah Waru- Sidoarjo 3. Pabrik Maspion Unit II Desa Banjar Kemantren, Buduran-Sidoarjo Teknik Pengambilan Data 1) Wawancara mendalam (indepth interview) Di dalam metode pengumpulan data kualitatif, maka diperlukan teknik wawancara mendalam. Biasanya di dalam metode ini, digunakan instrumen penelitian berupa guide of interview. Di dalamnya berisi pedoman atau daftar pertanyaan yang sifatnya terbuka, sehingga dapat diperoleh jawaban yang lebih luas serta mendalam. Dalam proses wawancara peneliti tidak terpaku pada pedoman wawancara yang baku tetapi juga mengikuti alur pembicaraan subyek penelitian dan memungkinkan peneliti untuk mengembangkan pertanyaan. Pada saat melakukan percakapan, peneliti berusaha untuk memberi kebebasan kepada informan apapun pendapatnya dan tidak untuk memotong atau menyela perkataan informan. Selain wawancara mendalam, peneliti juga menggunakan Studi pustaka yang berisi data-data sekunder yang dapat berupa penelitian sebelumnya atau buku-buku panduan, serta informasi yang didapatkan dari sumber internet tertentu yang berkaitan dengan topik permasalahan.studi pustaka atau literatur, 9

10 menggunakan buku-buku dalam kaitannya dengan kajian teoritik yang dapat menjelaskan tentang mekanisme survival buruh outsourcing Teknik Analisis Data Dalam melakukan analisis data menggunakan metode ini, pertama kali yang dilakukan adalah men-transkrip-kan data yang telah terkumpul. Pengumpulan data tersebut merupakan hasil dari, wawancara mendalam dan penyesuaian dokumentasi atau potret yang didapat dengan data yang ada. Setelah dikumpulkan data menjadi satu, data yang diperoleh kemudian dianalisis. Kemudian barulah semua data-data yang sudah terkumpul tadi direduksi, yaitu pemilihan data-data dan dokumentasi berdasarkan tema dan fokus penelitian. Data-data kualitatif yang telah direduksi, memudahkan peneliti untuk menganalisis dan akan memberikan hasil yang lebih dipertajam dibandingkan sebelum data tersebut direduksi. Data yang diperoleh akan bersifat akurat dan dapat lebih memudahkan untuk dibaca oleh peneliti maupun orang lain. Pembahasan V.I Tindakan Sosial Max Weber Berdasarkan temuan data yang telah dijelaskan oleh peneliti pada bab IV, peneliti memperoleh jawaban yang cukup beragam dari lima informan yang telah ditentukan sebelumnya. Sebagian dari mereka mengaku tidak pernah mengenal atau mengetahui informasi terkait sistem kerja outsourcing yang sedang diperankannya.. 10

11 Bedasarkan penjelasan teori dari Weber, buruh outsourcing memiliki motif tertentu dalam tindakannya mempertahankan pekerjaannya sebagai buruh outsourcing. Meski masa kerjanya tidak menentu, tidak sedikit orang yang mau bekerja sebagai buruh outsourcing. Rendahnya tingkat pendidikan serta tidak memiliki keahlian khusus merupakan alasan atau motif dari tindakan sosial yang dilakukan oleh buruh outsourcing. Bagi buruh migran yang berasal dari desa pekerjaan sebagai buruh outsourcing akan lebih baik jika dibandingkan dengan pekerjaan di desanya yang dominan adalah sebagai petani, sehingga banyak buruh outsourcing yang berasal dari desa. Tindakan untuk tetap mempertahankan pekerjaan sebagai buruh outsourcing merupakan suatu tindakan yang rasional, dimana buruh outsourcing memiliki tujuan tertentu yang ingin dicapai dalam tindakannya yaitu meningkatkan perekonomian keluarga mereka. Menjadi buruh outsourcing menjadi lebih baik bagi para buruh yang sudah berkeluarga dibandingkan mereka harus menganggur. V.2 Mekanisme Survival (James Scott) Berdasarkan dari teori Scott, hal yang sama juga dilakukan oleh buruh outsourcing agar tetap survive. Ketika petani melalukan strategi survive dengan cara mengurangi pengeluaran untuk pangan dengan jalan makan hanya sekali sehari dan beralih ke makanan yang mutunya lebih rendah. Buruh outsourcing memilih survive dengan cara menjalankan pola hidup hemat. buruh outsourcing tidak mengurangi jatah makan, namun buruh outsourcing berupaya mengatur pola makan mereka sehingga jatah pengeluaran untuk makan tidak membengkak. Hal ini dibenarkan oleh kelima informan, dimana dengan penghasilan yang tidak lebih 11

12 besar dari UMR daerah dan sebenarnya masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, kelima informan memiliki jawaban yang sama yaitu berupaya melakukan hidup hemat dengan cara mengurangi beban pengeluarannya. Keempat informan yang masih tinggal di kos-kosan dan kontrakan berupaya memaksimalkan penghasilannya dengan cara membagi pengeluaran setiap bulannya, sehingga untuk makan keempat informan tersebut menjawab tidak neko-neko atau makan seadanya meskipun mungkin sesekali mereka menginginkan makanan yang lebih enak. Mekanisme yang sama yang dilakukan oleh petani sebagaimana yang dijelaskan oleh Scott juga dilakukan oleh buruh outsourcing dalam menggunakan alternatif subsistem yaitu swadaya yang mencakup kegiatan seperti berjualan kecil-kecilan, bekerja sebagai tukang, sebagai buruh lepas, atau melakukan migrasi untuk mencari pekerjaan. Cara ini dapat melibatkan seluruh sumber daya yang ada di dalam rumah tangga miskin, terutama istri sebagai pencari nafkah tambahan bagi suami. Kedua dari lima informan mengaku memiliki pekerjaan sampingan yang dilakukan di luar aktifitas kerjanya sehari-hari yaitu sebagai buruh outsourcing dan sebagian dari istri buruh outsourcing ikut bekerja membantu suaminya dalam mencukupi perekonomian keluarganya. Upaya lain yang dilakukan oleh buruh outsourcing agar tetap servive adalah berhutang atau meminjam uang. Ketika upaya buruh outsourcing memaksimalkan penghasilannya untuk kebutuhan sehari-hari masih kurang, maka dengan terpaksa buruh tersebut berhutang baik kepada teman kerja ataupun saudaranya. Tiga dari lima informan mengaku terpaksa berhutang jika memang 12

13 penghasilan yang diterima melebihi pengeluarannya. Bahkan salah satu informan mengaku jika tidak mendapat hutangan dari teman atau saudaranya, informan merelakan barang-barang yang dimilkinya untuk digadaikan dalam kurun waktu tertentu dan diambil kembali ketika informan memiliki uang tebusan. Hubungan patron-klien dalam industri tidak dapat dilaksanakan, karena sebagai buruh outsourcing tidak dikenal istilah cash-bon atau berhutang seperti yang dilakukan oleh buruh tani kepada pemilik modal. 13

14 BAB VI PENUTUP VI.1 Kesimpulan Berdasarkan temuan data yang ada, dapat diketahui pengetahuan buruh outsourcing mengenai sistem kerja outsourcing seperti berikut ini: 1. Pengetahuan buruh outsourcing terhadap sistem kerja outsourcing tergolong rendah. Hal ini dibuktikan dengan minimnya pengetahuan mengenai Undang-Undang serta pasal yang berkaitan dengan sistem kerja outsourcing. Buruh outsourcing yang masih baru relative belum banyak mengetahui tentang sistem kerja outsourcing, dimana buruh outsourcing yang baru enggan untuk bertanya mengenai sistem kerja outsourcing. Bagi buruh outsourcing yang tergolong sudah lama, dan memiliki pengalaman kerja yang sudah cukup secara berkala mengetahahui aturan tentang sistem kerja outsourcing meskipun tidak sepenuhnya. Buruh outsourcing yang sudah lama mengetahui berbagai perbedaan (upah,tunjangan, dll) antara buruh outsourcing dan buruh tetap, selain itu buruh outsourcing yang sudah lama juga mengetahui bahwa statusnya merupakan pekerja dari perusahaan penyedia jasa tenaga kerja, dan bukan pekerja dari perusahaan pengguna (pabrik). 2. Perusahaan penyedia jasa tenaga kerja tidak terbuka dan menginformasikan secara penuh bagaimana seharusnya sistem outsourcing tersebut dijalankan. Hal ini dibuktikan dengan adanya 14

15 pemotongan upah yang mana buruh outsourcing tidak mengetahui kegunaan dari setiap potongan yang dikenakan kepadanya. 3. Pendidikan serta kemampuan yang terbatas membuat buruh outsourcing bersikap apatis dan menerima semua bentuk aturan kerja yang dijalankan oleh perusahaan penyedia jasa tenaga kerja. Bagi buruh outsourcing yang masih baru, lebih banyak menunjukkan sikap apatisnya karena memang tidak mengetahui informasi apapun terkait dengan sitem kerja outsourcing yang sedang dijalankan. Bagi buruh outsourcing yang sudah lama bekerja dan memiliki pengalaman kerja yang cukup membuat buruh outsourcing sedikit lebih tanggap, namun karena mereka tidak memiliki akses untuk menuntut kesejahteraannya dan juga untuk mempertahankan pekerjaannya, buruh outsourcing tersebut memilih untuk melaksanakan aturan yang diterapkan oleh perusaaan penyedia jasa tenaga kerja.. Sedangkan mekanisme survival yang dikembangkan oleh buruh outsourcing di Sidoarjo cukup beragam. Latar belakang serta kondisi keluarga yang berbeda membuat buruh outsourcing di Sidoarjo melakukan mekanisme atau cara-cara tertentu untuk dapat terus melangsungkan hidupnya. Secara singkat keberagaman dalam mengembangkan mekanisme survival yang dilakukan oleh buruh outsourcing di Sidoarjo adalah : 1. Buruh outsourcing laki-laki dan perempuan yang sudah berkeluarga memiliki beban ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan buruh outsourcing laki-laki dan perempuan yang belum berkeluarga. Buruh 15

16 outsourcing yang belum berkeluarga memanfaatkan waktu ketika tidak bekerja untuk pulang ke tempat asalnya (desa), kemudian kembali ke Sidoarjo setelah mendapat panggilan kerja. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan pengeluarannya di Sidoarjo. Di desanya buruh outsourcing tidak mengeluarkan biaya untuk makan, sehingga dapat meminimalisir pengeluarannya untuk kemudian dimanfaatkan kembali ketika buruh outsourcing tersebut kembali bekerja di Sidoarjo. Mekanisme lain yang dikembangkan adalah mencari pekerjaan lain ketika diliburkan dan mendatangi kantor perusahaan penyedia jasa tenaga kerja untuk meminta pekerjaan di bagian lain. 2. Buruh outsourcing laki-laki yang sudah berkeluarga sebagai kepala rumah tangga dituntut untuk dapat menafkahi keluarganya. Untuk memaksimalkan hal tersebut, buruh outsourcing melakukan berbagai macam tindakan seperti mencari pekerjaan sampingan ketika diliburkan untuk sementara, atau memiliki pekerjaan lain yang dilakukan di luar pekerjaan utamanya (berjualan setelah pulang kerja, bekerja di proyek bangunan pada hari libur, dll) selain itu juga memaksimalkan tenaga kerja yang ada dirumah untut turut membantu perekonomian keluarga (melibatkan istri dan anak untuk ikut bekerja). Hal ini terbukti dari salah satu istri buruh outsourcing yang juga bekerja di pabrik makanan, serta anak-anaknya yang diikutkan bekerja di pabrik yang sama 16

17 3. Buruh outsourcing perempuan yang sudah berkeluarga meskipun bebannya tidak seberat buruh outsourcing laki-laki namun tetap ikut membantu perekonomian keluarga. Hal ini terbukti dengan buruh outsourcing yang memiliki pekerjaan sampingan di luar pekerjaan utamanya. Artinya selain sebagai ibu rumah tangga, buruh outsourcing dan masih memiliki pekerjaan lain di luar pekerjaan tersebut. sebagi contoh yang dilakukan adalah, buruh outsourcing merupakan pekerjaan utamanya, setelah pulang bekerja buruh outsourcing tersebut memasak makanan (pentol) yang biasa di jual setelah pulang bekerja, dan juga bekerja merawat anak tetangganya. 4. Baik buruh outsourcing yang sudah atau dan belum berkeluarga, memanfaatkan hubungan dengan saudara dan dan teman untuk meminjam uang pendapatan yang diterima melebihi pengeluarannya. Jika terpaksa tidak memperoleh pinjaman uang, buruh outsourcing akan menggadaikan barang-barang yang dimilikinya untuk kemudian hari diambil ketika sudah memiliki uang. Mekanisme lainnya adalah ikut arisan yang diselenggrakan di pabrik, sehingga secara tidak langsung memiliki tabungan yang bisa digunakan ketika dibutuhkan. VI.2 Saran Berdasarkan dari hasil penelitian yang berjudul Mekanisme Survival Buruh Outsourcing ini, tidak mungkin lepas dari kekurangan dan masih sangat jauh dari kesempurnaan karena terdapat banyak unsur-unsur yang belum terkandung dalam studi ini. Oleh karena itu, dapat diberikan beberapa saran 17

18 sebagai berikut : 1. Untuk penelitian selanjutnya yang serupa, yakni mengenai mekanisme survival buruh outsourcing di masyarakat diharapkan dapat menggunakan berbagai teori yang relevan, dan dari sudut pandang yang berbeda. Serta dapat menggali secara lebih dalam mengenai realitas tersebut sehingga dapat memunculkan pemahaman yang sesungguhnya. 2. Bagi perusahaan penyedia jasa tenaga kerja yang menggunakan sistem kerja outsourcing, semoga dapat menjalankan aturan serta prosedur yang sesuai dengan undang-undang ketenagakerjaan yang mengatur sistem kerja outsourcing. 3. Bagi buruh outsourcing, diharapkan tidak bersifat apatis terhadap sistem kerja outsourcing. Artinya buruh outsourcing dapat sedikit aktif bertanya tentang sistem kerja outsourcing yang sedang dijalankan. Selama tidak bekerja dapat mengikuti pelatihan-pelatihan yang dapat menambah keterampilannya 18

19 DAFTAR PUSTAKA Literatur Buku: Herawati, Rina Kontrak dan Outsourcing Harus Makin Diwaspadai. Bandung : AKATIGA Pusat Analisis Sosial Mather, Celia Menjinakkan Sang Kuda Troya (Perjuangan Serikat Buruh Menghadang Sistem Kontrak atau outsourcing). Jakarta : TURC dan FSP KEP Scott, James C Moral Ekonomi Petani Scott. Jakarta : LP3ES Siahaan, Hotman M Pengantar Ke Arah Sejarah dan Teori Sosiologi. Jakarta : Erlangga Sutedi, Adrian Hukum Perburuan. Jakarta : Sinar Grafika Yasar, Iftida Menjadi Karyawan Outsourcing. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Yuwono, Dwi, Ismantoro. Pedoman Terbaru Outsourcing & Kontrak Kerja : Peraturan 2012 Tentang Outsourcing dan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT). Yogyakarta : Pustaka Yustisia Skripsi : Aziza, Annisa Nurya Mekanisme Surival Lansia Terlantar (Studi Deskriptif Tentang Strategi Bertahan Hidup Lansia Terlantar di Surabaya). Surabaya: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Primaristina, Meita Tri Sales Promotion Girl (Studi Deskriptif Tentang Eksploitasi Terhadap Sales Promotion Girl di Surabaya). Surabaya: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Hariyanto, Sugeng, Pemogokan Buruh sebagai Bentuk Ekspresi Perlawanan Terhadap Perusahaan. Surabaya: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga 19

20 Web : pada hari Minggu. tgl 10 Maret Pkl WIB Diakses masyarakathubunganindustrial.wordpress.com/.../outsourcing-teori-aturan-danpraktiknya-di-indonesia/ Diakses pada hari Kamis. tgl 29 Agustus Pkl WIB Diakses pada hari Selasa. tgl 1 Oktober Pkl WIB id.wikipedia.org/wiki/kabupaten_sidoarjo Diakses pada hari Jumat. 7 Desember Pkl WIB jurnalanekaindustri.blogspot.com/.../pembebasan-budakmenyebar-benih-benih.html Diakses pada hari jumat. Tgl 14 September Pkl WIB 20

DAMPAK PERTUMBUHAN INDUSTRI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI KABUPATEN SIDOARJO

DAMPAK PERTUMBUHAN INDUSTRI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI KABUPATEN SIDOARJO Judul : Dampak Pertumbuhan Industri Terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Sidoarjo SKPD : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sidoarjo Kerjasama Dengan : - Latar Belakang Pembangunan

Lebih terperinci

JURNAL ILMIAH. Oleh : NI WAYAN MEGA JAYANTARI D1A 007 204 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM MATARAM 2013

JURNAL ILMIAH. Oleh : NI WAYAN MEGA JAYANTARI D1A 007 204 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM MATARAM 2013 1 JURNAL ILMIAH PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEKERJA PEREMPUAN PADA MALAM HARI DI MINIMARKET ALFAMART MATARAM (Studi Berdasarkan Undang-Undang No.13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan) Oleh : NI WAYAN MEGA

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG SYARAT-SYARAT PENYERAHAN SEBAGIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN

Lebih terperinci

KODE ETIK PEMASOK 1. UPAH YANG DI BAYARKAN CUKUP UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN HIDUP

KODE ETIK PEMASOK 1. UPAH YANG DI BAYARKAN CUKUP UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN HIDUP KODE ETIK PEMASOK Peraturan ini memberikan standard minimum yang bilamana mungkin, harus di lampaui oleh pemasok. Dalam penerapannya, para pemasok harus mengikuti hukum nasional dan hukum lainnya yang

Lebih terperinci

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA 1 K 29 - Kerja Paksa atau Wajib Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki

Lebih terperinci

OLEH: IRINA KUSUMA DEWI 3203010217

OLEH: IRINA KUSUMA DEWI 3203010217 PERANCANGAN STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP) SISTEM PENJUALAN DALAM RANGKA MENINGKATKAN AKTIVIAS PENGENDALIAN INTERNAL (Studi Kasus Distributor Besi Beton di Sidoarjo) OLEH: IRINA KUSUMA DEWI 3203010217

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. data yang ada dalam ini adalah upaya guru PAI dalam pengembangan. data untuk memberi gambaran penyajian laporan.

BAB III METODE PENELITIAN. data yang ada dalam ini adalah upaya guru PAI dalam pengembangan. data untuk memberi gambaran penyajian laporan. 52 BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Sesuai dengan judul yang peneliti angkat, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, fenomenologis dan berbentuk diskriptif.

Lebih terperinci

BAB III PENUTUP. Upaya hukum yang dilakukan pekerja outsourcing dalam. negosiasi terhadap atasan atau pengusaha PT. Vidya Rejeki Tama.

BAB III PENUTUP. Upaya hukum yang dilakukan pekerja outsourcing dalam. negosiasi terhadap atasan atau pengusaha PT. Vidya Rejeki Tama. 72 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Upaya hukum yang dilakukan pekerja outsourcing dalam meningkatkan upah di PT. Vidya Rejeki Tama yang ditempatkan di Universitas Atma Jaya Yogyakarta adalah melakukan pembicaraan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian

BAB III METODE PENELITIAN. yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian BAB III METODE PENELITIAN III.1 Pendekatan Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian yang diteliti sehingga

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan metode yang tepat maka akan mendapatkan hasil yang tepat pula.

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan metode yang tepat maka akan mendapatkan hasil yang tepat pula. 40 BAB III METODE PENELITIAN Metodologi penelitian dalam suatu penelitian sangat penting, sebab dengan menggunakan metode yang tepat maka akan mendapatkan hasil yang tepat pula. Artinya apabila seseorang

Lebih terperinci

KELENGKAPAN DOKUMEN STANDAR OPERASIONAL MANAJEMEN (SOM) DAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PADA 9 KOPERASI SIMPAN PINJAM DI KOTA SEMARANG

KELENGKAPAN DOKUMEN STANDAR OPERASIONAL MANAJEMEN (SOM) DAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PADA 9 KOPERASI SIMPAN PINJAM DI KOTA SEMARANG KELENGKAPAN DOKUMEN STANDAR OPERASIONAL MANAJEMEN (SOM) DAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PADA 9 KOPERASI SIMPAN PINJAM DI KOTA SEMARANG Oleh: ADHYARANI PRISSILIA ADIWASONO NIM : 232007002 KERTAS

Lebih terperinci

PERAN KOPERASI UNIT DESA DALAM MEMBERIKAN KREDIT DI KALANGAN MASYARAKAT KLATEN (Studi Di KUD JUJUR Karangnongko)

PERAN KOPERASI UNIT DESA DALAM MEMBERIKAN KREDIT DI KALANGAN MASYARAKAT KLATEN (Studi Di KUD JUJUR Karangnongko) PERAN KOPERASI UNIT DESA DALAM MEMBERIKAN KREDIT DI KALANGAN MASYARAKAT KLATEN (Studi Di KUD JUJUR Karangnongko) SKRIPSI Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN PROTOTIPE BUKA TUTUP ATAP OTOMATIS UNTUK PENGERINGAN PROSES PRODUKSI BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 TUGAS AKHIR

RANCANG BANGUN PROTOTIPE BUKA TUTUP ATAP OTOMATIS UNTUK PENGERINGAN PROSES PRODUKSI BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 TUGAS AKHIR RANCANG BANGUN PROTOTIPE BUKA TUTUP ATAP OTOMATIS UNTUK PENGERINGAN PROSES PRODUKSI BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51 TUGAS AKHIR Disusun Oleh : Ridwan Anas J0D007063 PROGRAM STUDI DIII INSTRUMENTASI DAN

Lebih terperinci

TINJAUAN ATAS PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK PRODUK CACAT DAN PRODUK RUSAK PADA PT INDO PACIFIC

TINJAUAN ATAS PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK PRODUK CACAT DAN PRODUK RUSAK PADA PT INDO PACIFIC PROCEEDINGS Perkembangan Peran Akuntansi Dalam Bisnis Yang Profesional TINJAUAN ATAS PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK PRODUK CACAT DAN PRODUK RUSAK PADA PT INDO PACIFIC Abstract 570 066. Shinta Dewi Herawati

Lebih terperinci

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender 1 Tujuan belajar 1. Memahami arti stereotip dan stereotip gender 2. Mengidentifikasi karakter utama stereotip gender 3. Mengakui stereotip gender dalam media

Lebih terperinci

Analisis Perencanaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pada UPT. Penerbit dan Percetakan Universitas Sriwijaya Palembang

Analisis Perencanaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pada UPT. Penerbit dan Percetakan Universitas Sriwijaya Palembang Analisis Perencanaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pada Universitas Sriwijaya Palembang Saptalian Kurlianta (Saptalian_kurlianta@yahoo.co.id) Rizal Effendi (Rizaleffendi31@yahoo.co.id) Akuntansi

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA MEMPEROLEH INFORMASI KETENAGAKERJAAN DAN PENYUSUNAN SERTA PELAKSANAAN PERENCANAAN TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

ANALISIS PERHITUNGAN UNIT COST PELAYANAN SIRKUMSISI DENGAN PENDEKATAN ABC DI KLINIK SETIA BUDI JAMBI. Tesis

ANALISIS PERHITUNGAN UNIT COST PELAYANAN SIRKUMSISI DENGAN PENDEKATAN ABC DI KLINIK SETIA BUDI JAMBI. Tesis ANALISIS PERHITUNGAN UNIT COST PELAYANAN SIRKUMSISI DENGAN PENDEKATAN ABC DI KLINIK SETIA BUDI JAMBI Tesis Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata 2 Program Studi Manajemen

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN 32 BAB 3 METODE PENELITIAN Dalam bagian ini akan dipaparkan, hal-hal yang berkaitan dengan (1) pendekatan penelitian, (2) sumber data dan data (korpus), (3) teknik penelitian, (4) model kontekstualisasi

Lebih terperinci

SENI DAPAT MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK

SENI DAPAT MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK SENI DAPAT MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK Nur Auliah Hafid Widyaiswara LPMP Sulsel 1 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Apakah Seni dapat meningkatkan Kecerdasan Emosional

Lebih terperinci

Tindakan Korporat dalam Tanggung Jawab Sosial. Yuniawan Heru, M.Si. http://antro.fisip.unair.ac.id

Tindakan Korporat dalam Tanggung Jawab Sosial. Yuniawan Heru, M.Si. http://antro.fisip.unair.ac.id Tindakan Korporat dalam Tanggung Jawab Sosial Yuniawan Heru, M.Si. http://antro.fisip.unair.ac.id Social Responsibility Dimulai sejak era tahun 1970an, ketika muncul gerakan untuk menuntut tanggung jawab

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.102 /MEN/VI/2004 TENTANG WAKTU KERJA LEMBUR DAN UPAH KERJA LEMBUR

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.102 /MEN/VI/2004 TENTANG WAKTU KERJA LEMBUR DAN UPAH KERJA LEMBUR MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.102 /MEN/VI/2004 TENTANG WAKTU KERJA LEMBUR DAN UPAH KERJA LEMBUR MENTERI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyelesaian perkara pidana, keterangan yang diberikan oleh seorang saksi. pidana atau tidak yang dilakukan terdakwa.

BAB I PENDAHULUAN. penyelesaian perkara pidana, keterangan yang diberikan oleh seorang saksi. pidana atau tidak yang dilakukan terdakwa. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Alat bukti berupa keterangan saksi sangatlah lazim digunakan dalam penyelesaian perkara pidana, keterangan yang diberikan oleh seorang saksi dimaksudkan untuk

Lebih terperinci

bbab I PENDAHULUAN arti penting pekerjaan dan keluarga sesuai dengan situasi dan kondisi di

bbab I PENDAHULUAN arti penting pekerjaan dan keluarga sesuai dengan situasi dan kondisi di bbab I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Penelitian tentang arti penting pekerjaan dan keluarga sudah ada beberapa dekade yang lalu, namun menjadi lebih relevan karena permasalahan arti penting pekerjaan

Lebih terperinci

SOFTWARE MONITORING BUKA TUTUP PINTU AIR OTOMATIS BERBASIS BORLAND DELPHI 7.0 TUGAS AKHIR

SOFTWARE MONITORING BUKA TUTUP PINTU AIR OTOMATIS BERBASIS BORLAND DELPHI 7.0 TUGAS AKHIR SOFTWARE MONITORING BUKA TUTUP PINTU AIR OTOMATIS BERBASIS BORLAND DELPHI 7.0 TUGAS AKHIR Untuk memenuhi persyaratan mencapai pendidikan Diploma III (D III) Program Studi Instrumentasi dan Elektronika

Lebih terperinci

Daftar Isi. Motto...III. Kata Pengantar...3

Daftar Isi. Motto...III. Kata Pengantar...3 Daftar Isi Motto...III Kata Pengantar...3 Bagian I Peluang dan Proses untuk bekerja ke luar negeri Bab 1 Pertimbangan Sebelum Menjadi TKI...7 1.1 Siapa saja yang terkait dalam penempatan TKI ke luar negeri?...10

Lebih terperinci

ANALISIS PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA CV INDAH UTAMA 171

ANALISIS PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA CV INDAH UTAMA 171 ANALISIS PAJAK PENGHASILAN PASAL 25 PADA CV INDAH UTAMA 171 Suryanto Kanadi (Suryanto_Kanadi@yahoo.com) Lili Syafitri (Lili.Syafitri@rocketmail.com) Jurusan Akuntansi STIE MDP Abstrak Tujuan dari penelitian

Lebih terperinci

STRATEGI PENGEMBANGAN BISNIS (Studi pada Rumah Makan Minang Setia Jl. Jamin Ginting No. 326, Medan) SKRIPSI

STRATEGI PENGEMBANGAN BISNIS (Studi pada Rumah Makan Minang Setia Jl. Jamin Ginting No. 326, Medan) SKRIPSI STRATEGI PENGEMBANGAN BISNIS (Studi pada Rumah Makan Minang Setia Jl. Jamin Ginting No. 326, Medan) SKRIPSI Disusun dan Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata Satu (S-1) Pada

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Metode Penelitian Metode penelitian adalah cara ilmiah yang dilakukan untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu.(lasa,2009:207). Kata ilmiah dalam Kamus Besar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sesuai dengan tuntutan Kurikulum KTSP yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah mengharapkan agar penguasaan

Lebih terperinci

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA September 2011 1. Pendahuluan Pulau Kalimantan terkenal

Lebih terperinci

Abstrak. Kata kunci:

Abstrak. Kata kunci: Studi Mengenai Stres dan Coping Stres pada Ibu Rumah Tangga yang Tidak Bekerja Karya Ilmiah Dini Maisya (NPM. 190110070038) Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Abstrak. Dalam menjalankan tugas sebagai

Lebih terperinci

TINJAUAN YURIDIS TENTANG IKUT SERTANYA PIHAK KETIGA ATAS INISIATIF SENDIRI DENGAN MEMBELA TERGUGAT (VOEGING) DALAM PEMERIKSAAN SENGKETA PERDATA

TINJAUAN YURIDIS TENTANG IKUT SERTANYA PIHAK KETIGA ATAS INISIATIF SENDIRI DENGAN MEMBELA TERGUGAT (VOEGING) DALAM PEMERIKSAAN SENGKETA PERDATA TINJAUAN YURIDIS TENTANG IKUT SERTANYA PIHAK KETIGA ATAS INISIATIF SENDIRI DENGAN MEMBELA TERGUGAT (VOEGING) DALAM PEMERIKSAAN SENGKETA PERDATA (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Klaten) SKRIPSI Disusun

Lebih terperinci

PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER

PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER Kami meyakini bahwa bisnis hanya dapat berkembang dalam masyarakat yang melindungi dan menghormati hak asasi manusia. Kami sadar bahwa bisnis memiliki tanggung

Lebih terperinci

PENGARUH TERHADAP GKAPAN DI BURSA OLEH FAKULTAS BISNIS

PENGARUH TERHADAP GKAPAN DI BURSA OLEH FAKULTAS BISNIS PENGARUH MEKANISME CORPORATE GOVERNANCEE DAN KONDISI KEUANGAN TERHADAP LUAS PENGUNG GKAPAN SUKARELA PADAA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA OLEH : STEVEN TANSIL TAN 3203009100

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yaitu jenis penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yaitu jenis penelitian 35 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yaitu jenis penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah,

Lebih terperinci

Mengenal dan Menaksir Resiko

Mengenal dan Menaksir Resiko Mengenal dan Menaksir Resiko Reposisi Manajemen Keuangan dalam Menjawab Tuntutan Transparansi-Akuntabilitas Organisasi Nirlaba di Indonesia Lokakarya Keuangan bagi Para Pimpinan Mitra ICCO, Jakarta, 12

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku,

BAB III METODE PENELITIAN. fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Dalam penggalian data dan informasi, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang

Lebih terperinci

VIDEOCONFERENCE SEMINAR BAGAIMANA MENULIS PROPOSAL YANG BAIK?

VIDEOCONFERENCE SEMINAR BAGAIMANA MENULIS PROPOSAL YANG BAIK? VIDEOCONFERENCE SEMINAR BAGAIMANA MENULIS PROPOSAL YANG BAIK? file:sulit ACCESS axha@oum.edu.my TIGA KEPUTUSAN YANG HARUS DIAMBIL SEBELUM MELAKUKAN PENELITIAN! Keputusan metodologis, yang intinya berkaitandengansubstansipenelitian!

Lebih terperinci

R197 REKOMENDASI MENGENAI KERANGKA PROMOTIONAL UNTUK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

R197 REKOMENDASI MENGENAI KERANGKA PROMOTIONAL UNTUK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA R197 REKOMENDASI MENGENAI KERANGKA PROMOTIONAL UNTUK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA 1 R-197 Rekomendasi Mengenai Kerangka Promotional Untuk Keselamatan dan Kesehatan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan

Lebih terperinci

Analisa Dan Perancangan Sistem Informasi Pemasaran Perumahan pada PT. Anugerah Bangun Cipta

Analisa Dan Perancangan Sistem Informasi Pemasaran Perumahan pada PT. Anugerah Bangun Cipta Analisa Dan Perancangan Sistem Informasi Pemasaran Perumahan pada PT. Anugerah Bangun Cipta Anton 1, Hendra 2 STMIK IBBI Jl. Sei Deli No. 18 Medan, Telp. 061-4567111 Fax. 061-4527548 Email : Anton_hwang@yahoo.com

Lebih terperinci

PENERAPAN METODE ALORITMA FUZZY MAMDANI PADA APLIKASI SPK PENENTUAN JUMLAH PRODUKSI BARANG CV.KURNIA ALAM DI JEPARA

PENERAPAN METODE ALORITMA FUZZY MAMDANI PADA APLIKASI SPK PENENTUAN JUMLAH PRODUKSI BARANG CV.KURNIA ALAM DI JEPARA PENERAPAN METODE ALORITMA FUZZY MAMDANI PADA APLIKASI SPK PENENTUAN JUMLAH PRODUKSI BARANG CV.KURNIA ALAM DI JEPARA Andreas Widiyantoro-NIM : A11.2009.04835 Program Studi Teknik Informatika Fakultas Ilmu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perhatian yang serius sesuai dengan kapasitas dan proporsinya.

BAB I PENDAHULUAN. perhatian yang serius sesuai dengan kapasitas dan proporsinya. BAB I PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG MASALAH Prinsip-prinsip manajemen modern yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan telah diadopsi dan digunakan dalam praktek penyelenggaraan

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KARIER SEBAGAI MOTIVATOR KERJA KARYAWAN

PENGEMBANGAN KARIER SEBAGAI MOTIVATOR KERJA KARYAWAN PENGEMBANGAN KARIER SEBAGAI MOTIVATOR KERJA KARYAWAN Laksmi Sito Dwi Irvianti 1 ABSTRACT Regarding the importance of employee s work motivation and how it affects the productivity and the performance of

Lebih terperinci

PRINSIP ESSILOR. Prinsip-prinsip kita berasal dari beberapa karakteristik Essilor yang khas:

PRINSIP ESSILOR. Prinsip-prinsip kita berasal dari beberapa karakteristik Essilor yang khas: PRINSIP ESSILOR Setiap karyawan Essilor dalam kehidupan professionalnya ikut serta bertanggung jawab untuk menjaga reputasi Essilor. Sehingga kita harus mengetahui dan menghormati seluruh prinsip yang

Lebih terperinci

Tidak mau kalah, seorang warga lain pun menimpali, "Setahu saya, Pak Dahlan Iskan itu justru lebih sering pakai fasilitas pribadi".

Tidak mau kalah, seorang warga lain pun menimpali, Setahu saya, Pak Dahlan Iskan itu justru lebih sering pakai fasilitas pribadi. http://antarajatim.com/lihat/berita/158500/kasus-korupsi-dahlan-iskan-di-mata-rakyat Kasus Korupsi Dahlan Iskan di Mata Rakyat Senin, 8 Juni 2015 16:30 WIB Oleh Edy M Yakub Kasus Korupsi Dahlan Iskan di

Lebih terperinci

PENINGKATAN EFEKTIVITAS PADA PROSES PEMBELAJARAN

PENINGKATAN EFEKTIVITAS PADA PROSES PEMBELAJARAN PENINGKATAN EFEKTIVITAS PADA PROSES PEMBELAJARAN FARID AGUS SUSILO UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA Jl. Ketintang Gedung D1, Surabaya 60231 Telp:+6231-8280009 pes 310 fax :+6231-8296427 Abstrak Sebagaimana

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Pemilihan lokasi usaha oleh suatu organisasi (perusahaan) akan mempengaruhi risiko (risk) dan keuntungan (profit) perusahaan tersebut secara keseluruhan. Kondisi ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyediaan jasa pekerja/buruh yang dibuat secara tertulis.

BAB I PENDAHULUAN. penyediaan jasa pekerja/buruh yang dibuat secara tertulis. BAB I PENDAHULUAN G. Latar Belakang Karyawan kontrak pertama kali muncul dalam peraturan perundangundangan yaitu dalam UU Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Ketentuan ini misalnya dijumpai dalam

Lebih terperinci

KERJASAMA PERPUSTAKAAN 1 Oleh: Ir. Abdul Rahman Saleh, M.Sc. 2

KERJASAMA PERPUSTAKAAN 1 Oleh: Ir. Abdul Rahman Saleh, M.Sc. 2 KERJASAMA PERPUSTAKAAN 1 Oleh: Ir. Abdul Rahman Saleh, M.Sc. 2 1. Pendahuluan Menurut peraturan pemerinath nomor 30 tahun 1990, pendidikan tinggi diselenggarakan dengan dua tujuan yaitu: 1. Menyiapkan

Lebih terperinci

PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN. Merry Marshella Sipahutar

PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN. Merry Marshella Sipahutar PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN Merry Marshella Sipahutar 1087013 Perumahan merupakan kebutuhan utama bagi manusia di dalam kehidupan untuk berlindung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan yang siap untuk berkompetisi harus memiliki manajemen yang efektif dalam meningkatkan kinerja karyawan. Dalam hal ini diperlukan dukungan karyawan yang cakap

Lebih terperinci

Buku Pedoman Praktek Kerja untuk Trainee Praktek Kerja

Buku Pedoman Praktek Kerja untuk Trainee Praktek Kerja Buku Pedoman Praktek Kerja untuk Trainee Praktek Kerja Organisasi Kerjasama Pelatihan Internasional Jepang Kata Pengantar Program Praktek Kerja di Jepang merupakan program penerimaan pekerja-pekerja muda

Lebih terperinci

Perancangan Sistem Penjualan Online pada Mebel Isti

Perancangan Sistem Penjualan Online pada Mebel Isti Perancangan Sistem Penjualan Online pada Mebel Isti Abstrak : Final report entitled " Online Sales System Design at Furniture Isti " was held in February and June aim of this thesis is to design a system

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada zaman dahulu, manusia hanya membutuhkan barang barang sehari-hari (barang umum) untuk kelangsungan hidupnya. Orientasi konsumen pada zaman tersebut hanya kepuasaan

Lebih terperinci

PEDOMAN PENGUKURAN BEBAN KERJA. Bagian Ketatalaksanaan, Biro Hukum dan Organisasi SETJEN DEPDIKNAS 2007

PEDOMAN PENGUKURAN BEBAN KERJA. Bagian Ketatalaksanaan, Biro Hukum dan Organisasi SETJEN DEPDIKNAS 2007 PEDOMAN PENGUKURAN BEBAN KERJA Bagian Ketatalaksanaan, Biro Hukum dan Organisasi SETJEN DEPDIKNAS 2007 PENGUKURAN BEBAN KERJA A. Pengertian Pengukuran beban kerja adalah teknik yang diciptakan untuk menetapkan

Lebih terperinci

BAB II HARGA POKOK PRODUKSI

BAB II HARGA POKOK PRODUKSI BAB II HARGA POKOK PRODUKSI Bab ini berisi teori yang akan digunakan sebagai dasar melakukan analisis data. Mencakup pengertian dan penggolongan biaya serta teori yang berkaitan dengan penentuan harga

Lebih terperinci

SKRIPSI ANALISIS TERHADAP PUTUSAN BEBAS DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI

SKRIPSI ANALISIS TERHADAP PUTUSAN BEBAS DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI SKRIPSI ANALISIS TERHADAP PUTUSAN BEBAS DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI Diajukan oleh : KLANSINA IRENE DUWIRI NPM : 07 05 09701 Program Studi Program Kekhususan : Ilmu Hukum : Peradilan dan Penyelesaian Sengketa

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG WAKTU KERJA DAN WAKTU ISTIRAHAT PADA KEGIATAN USAHA

Lebih terperinci

PENGARUH PERHATIAN ORANG TUA, MOTIVASI BELAJAR, BAKAT, KEMANDIRIAN, INTELEGENSI, DAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA

PENGARUH PERHATIAN ORANG TUA, MOTIVASI BELAJAR, BAKAT, KEMANDIRIAN, INTELEGENSI, DAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PENGARUH PERHATIAN ORANG TUA, MOTIVASI BELAJAR, BAKAT, KEMANDIRIAN, INTELEGENSI, DAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA (Studi pada Siswa Kelas XI Jurusan Akuntansi se Kabupaten Kudus)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proses berkembangnya suatu kota baik dalam aspek keruangan, manusia dan aktifitasnya, tidak terlepas dari fenomena urbanisasi dan industrialisasi. Fenomena seperti

Lebih terperinci

BAB 4 SIMPULAN DAN SARAN. nilai-nilai tradisionalnya. Sebelum Perang Dunia II, sistem keluarga Jepang didasarkan

BAB 4 SIMPULAN DAN SARAN. nilai-nilai tradisionalnya. Sebelum Perang Dunia II, sistem keluarga Jepang didasarkan BAB 4 SIMPULAN DAN SARAN 4.1 Simpulan Masyarakat Jepang di kenal sebagai suatu masyarakat yang memegang kuat nilai-nilai tradisionalnya. Sebelum Perang Dunia II, sistem keluarga Jepang didasarkan pada

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI DAN VERIFIKASI TANDA TANGAN STATIK MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION DAN ALIHRAGAM WAVELET

IDENTIFIKASI DAN VERIFIKASI TANDA TANGAN STATIK MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION DAN ALIHRAGAM WAVELET TESIS IDENTIFIKASI DAN VERIFIKASI TANDA TANGAN STATIK MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION DAN ALIHRAGAM WAVELET ROSALIA ARUM KUMALASANTI No. Mhs. : 135302014/PS/MTF PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK INFORMATIKA PROGRAM

Lebih terperinci

EVALUASI SISTEM INFORMASI AKUNTANSI ASET TETAP UNTUK MENINGKATKAN PENGENDALIAN INTERNAL (Studi Kasus Perusahaan Kemasan Plastik di Sidoarjo)

EVALUASI SISTEM INFORMASI AKUNTANSI ASET TETAP UNTUK MENINGKATKAN PENGENDALIAN INTERNAL (Studi Kasus Perusahaan Kemasan Plastik di Sidoarjo) EVALUASI SISTEM INFORMASI AKUNTANSI ASET TETAP UNTUK MENINGKATKAN PENGENDALIAN INTERNAL (Studi Kasus Perusahaan Kemasan Plastik di Sidoarjo) OLEH : SITI MUAROFAH 3203008308 JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS BISNIS

Lebih terperinci

SKRIPSI PENYERTAAN MODAL SEMENTARA OLEH BANK DALAM RESTRUKTURISASI KREDIT PADA PERUSAHAAN DEBITOR YANG BERBENTUK PERSEROAN TERBATAS

SKRIPSI PENYERTAAN MODAL SEMENTARA OLEH BANK DALAM RESTRUKTURISASI KREDIT PADA PERUSAHAAN DEBITOR YANG BERBENTUK PERSEROAN TERBATAS SKRIPSI PENYERTAAN MODAL SEMENTARA OLEH BANK DALAM RESTRUKTURISASI KREDIT PADA PERUSAHAAN DEBITOR YANG BERBENTUK PERSEROAN TERBATAS DEBT TO EQUITY SWAPED BY BANK IN RESTRUCTURIZE CREDIT ON A DEBITOR COMPANY

Lebih terperinci

K102. Konvensi ILO No. 102 Tahun 1952 mengenai (Standar Minimal) Jaminan Sosial

K102. Konvensi ILO No. 102 Tahun 1952 mengenai (Standar Minimal) Jaminan Sosial K102 Konvensi ILO No. 102 Tahun 1952 mengenai (Standar Minimal) Jaminan Sosial 1 Konvensi ILO No. 102 Tahun 1952 mengenai (Standar Minimal) Jaminan Sosial Copyright Organisasi Perburuhan Internasional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan Online Shop atau toko online melalui media internet sudah menjamur di Indonesia, bahkan sudah sangat dikenal baik oleh khalayak ramai. Banyaknya

Lebih terperinci

Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia

Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia MIGRANT WORKERS ACCESS TO JUSTICE SERIES Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia RINGKASAN EKSEKUTIF Bassina Farbenblum l Eleanor Taylor-Nicholson l Sarah Paoletti Akses

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapat data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dalam metodologi penelitian harus didasarkan pada ciri-ciri

Lebih terperinci

ANALISIS DIMENSI E-SERVICE QUALITY TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN TOKO ONLINE OLEH: CELIA FAUSTINE NOVELIA 3103010102

ANALISIS DIMENSI E-SERVICE QUALITY TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN TOKO ONLINE OLEH: CELIA FAUSTINE NOVELIA 3103010102 ANALISIS DIMENSI E-SERVICE QUALITY TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN TOKO ONLINE OLEH: CELIA FAUSTINE NOVELIA 3103010102 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS BISNIS UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA 2014 ANALISIS

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. latar Belakang Masalah. Indonesia di kenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam bahan galian

BAB 1 PENDAHULUAN. A. latar Belakang Masalah. Indonesia di kenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam bahan galian BAB 1 PENDAHULUAN A. latar Belakang Masalah Indonesia di kenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam bahan galian mineral, Seperti bahan galian (C) jika sumber daya alam ini dapat di kelola dengan

Lebih terperinci

PENGARUH FAKTOR-FAKTOR ANTESEDEN PADA MOTIVASI PELAYANAN PUBLIK. (Studi pada Karyawan Puskesmas di Kecamatan Gatak Sukoharjo)

PENGARUH FAKTOR-FAKTOR ANTESEDEN PADA MOTIVASI PELAYANAN PUBLIK. (Studi pada Karyawan Puskesmas di Kecamatan Gatak Sukoharjo) PENGARUH FAKTOR-FAKTOR ANTESEDEN PADA MOTIVASI PELAYANAN PUBLIK (Studi pada Karyawan Puskesmas di Kecamatan Gatak Sukoharjo) SKRIPSI Disusun Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Persyaratan Guna Meraih

Lebih terperinci

PESAN NILAI KESETIAKAWANAN SOSIAL PADA FILM RUMAH TANPA JENDELA NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH. Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai

PESAN NILAI KESETIAKAWANAN SOSIAL PADA FILM RUMAH TANPA JENDELA NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH. Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai PESAN NILAI KESETIAKAWANAN SOSIAL PADA FILM RUMAH TANPA JENDELA (Analisis Semiotik Pada Film Rumah Tanpa Jendela) NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan sistem informasi diseluruh dunia telah membuat hidup manusia semakin lebih mudah. Terutama sejak diciptakannya internet, komunikasi menjadi semakin tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rumah merupakan kebutuhan dasar dan mempunyai fungsi yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. Rumah merupakan kebutuhan dasar dan mempunyai fungsi yang sangat BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Rumah merupakan kebutuhan dasar dan mempunyai fungsi yang sangat penting bagi kehidupan manusia, selain sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia, perumahan dan pemukiman

Lebih terperinci

SOAL ESSAY TENTANG ANIMALIA KELAS X SERTA JAWABAN. Related Soal Essay Tentang Animalia Kelas X Serta Jawaban :

SOAL ESSAY TENTANG ANIMALIA KELAS X SERTA JAWABAN. Related Soal Essay Tentang Animalia Kelas X Serta Jawaban : Reading and Free Access soal essay tentang animalia kelas x serta jawaban Page : 1 SOAL ESSAY TENTANG ANIMALIA KELAS X SERTA JAWABAN [Download] Soal Essay Tentang Animalia Kelas X Serta Jawaban.PDF The

Lebih terperinci

ANALISIS PROFFITABILITAS USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG

ANALISIS PROFFITABILITAS USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG ANALISIS PROFFITABILITAS USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG (Studi Kasus di II Desa Gunungrejo Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan) Ista Yuliati 1, Zaenal Fanani 2 dan Budi Hartono 2 1) Mahasiswa Fakultas

Lebih terperinci

Asosiasi Pengusaha Indonesia. International Labour Organization. Panduan Praktik yang Baik untuk Mempekerjakan Pekerja Rumahan bagi Pengusaha

Asosiasi Pengusaha Indonesia. International Labour Organization. Panduan Praktik yang Baik untuk Mempekerjakan Pekerja Rumahan bagi Pengusaha Asosiasi Pengusaha Indonesia International Labour Organization Panduan Praktik yang Baik untuk Mempekerjakan Pekerja Rumahan bagi Pengusaha Asosiasi Pengusaha Indonesia International Labour Organization

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Penggunaan metode yang tepat dalam penelitian adalah syarat utama dalam mencari data. Mengingat penelitian merupakan suatu proses pengumpulan sistematis dan analisis logis terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini pemerintah sedang giat berupaya meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini dikarenakan

Lebih terperinci

RUMAH SAKIT PEMERINTAH SEBAGAI BADAN LAYANAN UMUM (BLU), APAKAH MENDUKUNG UNIVERSAL COVERAGE??

RUMAH SAKIT PEMERINTAH SEBAGAI BADAN LAYANAN UMUM (BLU), APAKAH MENDUKUNG UNIVERSAL COVERAGE?? RUMAH SAKIT PEMERINTAH SEBAGAI BADAN LAYANAN UMUM (BLU), APAKAH MENDUKUNG UNIVERSAL COVERAGE?? Djazuly Chalidyanto Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. investasi jangka panjang bagi perusahaan. Mengingat bahwa tujuan dari pengadaan

BAB I PENDAHULUAN. investasi jangka panjang bagi perusahaan. Mengingat bahwa tujuan dari pengadaan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Aktiva tetap merupakan sesuatu yang penting bagi perusahaan, selain digunakan sebagai modal kerja, aktiva tetap biasanya juga digunakan sebagai alat investasi

Lebih terperinci

LAPORAN TUGAS AKHIR SISTEM INFORMASI SIMPAN PINJAM PADA KOPERASI SURYA MITRA MANDIRI SEMARANG

LAPORAN TUGAS AKHIR SISTEM INFORMASI SIMPAN PINJAM PADA KOPERASI SURYA MITRA MANDIRI SEMARANG LAPORAN TUGAS AKHIR SISTEM INFORMASI SIMPAN PINJAM PADA KOPERASI SURYA MITRA MANDIRI SEMARANG Adelia Cipta Sari Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Dian Nuswantoro Jl. Nakula

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI SURAT PERNYATAAN KARYA ASLI SKRIPSI

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI SURAT PERNYATAAN KARYA ASLI SKRIPSI ABSTRACT National Program for Community Empowerment in Rural Areas (PNPM MP) is one of the mechanisms used community development program PNPM in an effort to accelerate poverty reduction and expansion

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan perekonomian dewasa ini. Sejalan dengan perekonomian di

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan perekonomian dewasa ini. Sejalan dengan perekonomian di 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peranan pemasaran sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan perekonomian dewasa ini. Sejalan dengan perekonomian di negara Indonesia ini menyebabkan munculnya

Lebih terperinci

SISTEM INFORMASI EKSEKUTIF UNTUK APLIKASI PENGANGKATAN DAN PENGEMBANGAN KARIR PEGAWAI PADA BADAN USAHA X

SISTEM INFORMASI EKSEKUTIF UNTUK APLIKASI PENGANGKATAN DAN PENGEMBANGAN KARIR PEGAWAI PADA BADAN USAHA X SISTEM INFORMASI EKSEKUTIF UNTUK APLIKASI PENGANGKATAN DAN PENGEMBANGAN KARIR PEGAWAI PADA BADAN USAHA X Silvia Rostianingsih 1, Moh. Isa Irawan, Sri Finalyah 1 Jurusan Teknik Informatika Universitas Kristen

Lebih terperinci

LeIP. Peraturan Lembaga Manajemen Kepegawaian. Peraturan LeIP Tentang Manajemen Kepegawaian. 1. Kategorisasi Pegawai

LeIP. Peraturan Lembaga Manajemen Kepegawaian. Peraturan LeIP Tentang Manajemen Kepegawaian. 1. Kategorisasi Pegawai Peraturan Tentang 1. Kategorisasi Pegawai 1.1. Pegawai dibagi dalam kategori sebagai berikut : a. Pegawai Tetap b. Pegawai Tidak Tetap 1.2. Pegawai Tetap adalah pegawai yang diangkat Lembaga untuk bekerja

Lebih terperinci

Berhenti Bekerja dan Uang Pisah Dihabiskan atau diinvestasikan?

Berhenti Bekerja dan Uang Pisah Dihabiskan atau diinvestasikan? Berhenti Bekerja dan Uang Pisah Dihabiskan atau diinvestasikan? Dalam artikel terdahulu (Tingkat Penghasilan Pensiun dan Pendanaan Pesangon, Suara Pembaruan, 10/7/2012), Joko (bukan nama sebenarnya) memiliki

Lebih terperinci

LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DALAM KERANGKA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MISKIN 1 Nani Zulminarni 2

LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DALAM KERANGKA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MISKIN 1 Nani Zulminarni 2 LEMBAGA KEUANGAN MIKRO DALAM KERANGKA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MISKIN 1 Nani Zulminarni 2 Sebagian besar penduduk miskin di Indonesia adalah perempuan, dan tidak kurang dari 6 juta mereka adalah kepala rumah

Lebih terperinci

PERSPEKTIF KEJIWAAN DALAM KELUARGA: GAMBARAN KERENTANAN SOSIAL KELUARGA BURUH MIGRAN INTERNASIONAL

PERSPEKTIF KEJIWAAN DALAM KELUARGA: GAMBARAN KERENTANAN SOSIAL KELUARGA BURUH MIGRAN INTERNASIONAL PERSPEKTIF KEJIWAAN DALAM KELUARGA: GAMBARAN KERENTANAN SOSIAL KELUARGA BURUH MIGRAN INTERNASIONAL Desi Ariyana Rahayu 1, M. Fatkhul Mubin 2, Tri Nurhidayati 3 1. Departemen keperawatan jiwa, Fikkes, Unimus,

Lebih terperinci

Bab1 PENDAHULUAN. Di dalam suatu perusahaan tentu tidak akan lepas dari faktor akuntansi

Bab1 PENDAHULUAN. Di dalam suatu perusahaan tentu tidak akan lepas dari faktor akuntansi Bab1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Di dalam suatu perusahaan tentu tidak akan lepas dari faktor akuntansi manajemen, menghadapi persaingan usaha yang semakin ketat menuntut perusahaan untuk

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. umum yang meliputi segi-segi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan

I. PENDAHULUAN. umum yang meliputi segi-segi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manajemen sumber daya manusia merupakan salah satu bidang dari manajemen umum yang meliputi segi-segi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian. Proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pada tahun 1962 adalah TVRI ( Televisi Republik Indonesia). Selama 27

BAB I PENDAHULUAN. pada tahun 1962 adalah TVRI ( Televisi Republik Indonesia). Selama 27 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stasiun televisi yang pertama kali muncul di Indonesia yaitu pada tahun 1962 adalah TVRI ( Televisi Republik Indonesia). Selama 27 tahun, sejak berdirinya TVRI penduduk

Lebih terperinci

PIAGAM UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BAGI PARA SUPPLIER DAN KONTRAKTOR ALSTOM

PIAGAM UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BAGI PARA SUPPLIER DAN KONTRAKTOR ALSTOM 01/01/2014 PIAGAM UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BAGI PARA SUPPLIER DAN KONTRAKTOR ALSTOM PENDAHULUAN Pembangunan berkelanjutan adalah bagian penggerak bagi strategi Alstom. Ini berarti bahwa Alstom sungguhsungguh

Lebih terperinci

MANAJEMEN PEMBELAJARAN PAI DI TK ALAM AULIYA KENDAL

MANAJEMEN PEMBELAJARAN PAI DI TK ALAM AULIYA KENDAL MANAJEMEN PEMBELAJARAN PAI DI TK ALAM AULIYA KENDAL SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1) dalam Ilmu Tarbiyah Program Studi

Lebih terperinci

KAJIAN MIGRAN ULANG-ALIK DI DESA ABAR-ABIR KECAMATAN BUNGAH KABUPATEN GRESIK

KAJIAN MIGRAN ULANG-ALIK DI DESA ABAR-ABIR KECAMATAN BUNGAH KABUPATEN GRESIK KAJIAN MIGRAN ULANG-ALIK DI DESA ABAR-ABIR KECAMATAN BUNGAH KABUPATEN GRESIK Iyul Agustin Fauziyah Mahasiswa S1 Pendidikan Geografi, Iyulagustinf@ymail.com Ketut Prasetyo Dosen Pembimbing Mahasiswa Abstrak

Lebih terperinci

STIKOM SURABAYA BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perpustakaan merupakan salah satu pusat informasi, sumber ilmu

STIKOM SURABAYA BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perpustakaan merupakan salah satu pusat informasi, sumber ilmu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perpustakaan merupakan salah satu pusat informasi, sumber ilmu pengetahuan, penelitian dan rekreasi. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan perpustakaan dalam

Lebih terperinci

K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA

K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA K100 UPAH YANG SETARA BAGI PEKERJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN UNTUK PEKERJAAN YANG SAMA NILAINYA 1 K 100 - Upah yang Setara bagi Pekerja Laki-laki dan Perempuan untuk Pekerjaan yang Sama Nilainya 2 Pengantar

Lebih terperinci