air di seki tar permukaan bi ji masih cukup

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "air di seki tar permukaan bi ji masih cukup"

Transkripsi

1 V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. KARAKTERI ST1 K PENGERI NGAN LAP1 SAN TI PIS 1 - La j u Pengeri ngan Terhadap W a k t u Karakter i sti k la ju penger i ngan dapat di 1 i hat dari sudut pengeringan dan kadar air gabah atau laju pengeringan dapat digambarkan sebagai fungsi waktu dan kadar air. Penger i ngan 1 api san ti pis di l ak ukan sampai mendekati kadar ai r k esei m bangannya. Pada awal pe- ngeri ngan. 1 aju pengeri ngan sangat ti nggi. karena air di seki tar permukaan bi ji masih cukup tersedia CGambar 5-1 dan 5-2>. W a l aupun mu1 a-mu1 a 1 a j u penger i ngannya ti nggi. tetapi menurun secara tajam. Air yang diuapkan per- mukaan gabah tidak dapat segera diganti oleh di f u si air atau uap dari bagian dal am gabah. La ju di f usi uap semakin kecil karena semakin sukar dan semakin besar jarak yang harus ditempuh oleh uap untuk sampai kepermukaan gabah. La J u penger i ngan i ni ter- j adi seki tar 1-2 jam per L ama penger i ngan. Laju penguapan adalah sama dengan 1 aju di f usi yang sampai k e permukaan gabah. Karena laju difusi ini semakin kecil maka laju pengeringan juga semakin menurun. Pada Gambar 5-1 dan 5-2 terlihat seluruh proses pengeri ngan ter jadi dal am 1 a j u pengeri ngan yang semaki n keci 1. Fase pengeri ngan i ni dl sebut

2

3 Juga dengan f ase 1 a J u pengeri ngan rnenur un. Dengan demi kian dapat di si mpul kan 1 aj u pengeri ngan konstan tidak terjadi pada pengeringan gabah dengan suhu 30O sarnpai 55O~. Pada f asel a j u penger i ngan menur un rnekani sme di f usi mernegang peranan dal am proses mi grasi uap atau air. Menurut Brooker etal, laju pengeri ngan konstan atau penguapan ai r bebas ter jadi pada benda biologis yang kadar ai rnya diatas 70% bb. Selai n kadar air awal, f a ktor 1 uar yang dapat mempengar uhi 1 a j u pengeri ngan adal ah a1 i ran udar a. suhu penger i ngan dan kel embaban udara. Pada Gambar 5-1 dan 5-2 juga terlihat sernakin tinggi suhu pengeringan atau makin rendah kel embabannya, 1 a j u penger i ngan semak i n ti nggi. Hal i ni J uga se J a1 an dengan penemuan penel i ti 1 ai nnya. seper ti Kameoka Penurunan laju pengeri ngan semakin keci l terha- waktu yang akhirnya menjadi no1, dapat dianggap se- bagai penger i ngan yang ter J adi secara l api s per1 api s yang setiap lapisan mempunyai daya dif usi yang ber- beda Makin tinggi suhu pengeringan makin besar penur unan daya di f usi. Pada suhu pengeringan tinggi. perbedaan tekanan uap di luar dan di dalarn sangat besar, sehingga tenaga paksa penguapan C dr i vi ng force> j uga sangat besar. Lapi san per Lama segera di uapk an kemudi an di 1 an J utk an dengan penguapan l api san k edua. Lapi san

4

5 kedua tidak mempunyai waktu yang cukup untuk mengisi kekosongan 1 api san pertama. Pada suhu yang lebih rendah, misalnya dibawah 45O~. lapisan kedua, ketiga dan seterusnya mempunyai kesempatan yang relati f 1 ebi h besar untuk mengi si 1 api san sebul umnya. Dengan demi k i an per ubahan 1 a j u pengeri ngan semaki n keci 1 atau semaki n ti dak tegas. Perbedaan kadar air yang lebi h besar antara lapi san dapat mengaki batkan keretakan buti r berasnya. karena kesei mbangannya terganggu. 2. La J u Pengeringan Ter hadap Kadar Air Karakteristik iaju pengeringan terhadap kadar air dapat dilihat pada Gambar 3-3 dan 5-4. berturut- turut untuk varietas IR-36 dan Bogowonto. Keduava- rietas ini mernpunyai pola yang sama. Pada kadar air awal sekitar 25% bk, tidak terlihat laju pengeringsn konstan. Maki n ti nggi suhu pengeri ngan maki n ti nggi 1 a j u pengeri ngannya. Seper ti ha1 nya pada per ubahan 1 a J u penger 1 ngan ter hadap wak tu. maka penur unan' 1 a j u penger i ngan ter - hadap kadar air dapat juga dibagi paling sedi ki t dalam tiga fase. Fase pertama adalah penurunsn laju pengeri ngan tinggi yang ter jadi pada kadar ai r di - atas 20% bk. Fase kedua penurunan laju pengeringan sedang yang terjadi antara kadar air 8-20% b k. se- dangkan f ase terakhi r penur unan 1 a j u penger i ngan

6

7

8 nuj u no1. Sel a i n alasan-alasan yang tel ah di jel as- kan terdahulu. pada kadar air rendah laju pengering- an sangat keci 1. sehi ngga perubahannya ti dak terl i hat dengan jel as. Selai n faktor kadar air. suhu juga berperanan dal am menentukan f ase l a ju pengeri ngan. Mak i n ti nggi suhu pengeringan makin jelas peralihan fase laju pe- nger l ngan tersebut. 3. Karakteristik Perubahan Kadar Air Seperti yang tel ah di jel askan terdahul u. penge- ringan lapisan tipis dilakukan sarnpai kadar air kesei mbangannya. Pol a perubahan kadar air ter hadap waktu pengeringannya dapat dilihat pada Gambar 5-55 dan 5-6. berturut-turut untuk varietas IR-36 dan Bogowonto. Pada awal pengeringan dimana kadar air dan laju pengeringannya masih tinggi, kadar air turun dengan cepat kemudi an me1 andai menuj u kadar air kesei mbang- annya. Pol a kurvanya berbentuk eksponensi a1 yang me- nurut Hall dapat di bagi atas 4 priode, yai tu priode pemamasan. laju pengeringan konstan, iaju penger i ngan menur un per Lama dan l aj u pengeri ngan menurun kedua. Hasil percobaan menunjukkan bahawa hanya tiga priode 1 aju pengeringan yang terukur yai tu laju pe- neger i ngan menur un per Lama C A-B3 dan k edua C B-C3.

9

10

11 Priode ketiga menunjukkan keadaan dimana pengeringan menu J u kadar air kessi mbangan. Karakteristi k lain yang dapat di 1 i hat adal ah maki n tinggi- suhu pengeri ngan rnaki n rendah kadar air keseimbangannya. Antara suhu 35- sampai 50 c perbedaan kadar air tersebut sangat besar. tetapi suhu 50 dengan 55O~ perbedaannya kecil. Hal ini menggarnbar kan bahwa pengeringan di atas ~ O C ti dak ter 1 a1 u mempengaruhi 1 agi 1 aj u penger i ngannya, bagi gabah berkadar air awal 2 25% bk dengan aliran udara 0.1 rn/detik. B. PERBANDINGAN ANTARA MODEL PENDUGA DAN PENGERINGAN LAPISAN TIPIS 1. MODEL-STB Pemecahan eksak Model-STS pada persamaan /3-5/. kemudl an dl sederhanakan dalam bentuk model penduga- nya pada persamaan /3-12/ dan /3-13/, mas1 h tersusun atas deret yang tak berhlngga. Penggunaan model dal am bentuk deret untuk perhl tungan rnenyukarkan. karena mernbutuhkan waktu dan memorl komputer yang besar. 91 la harga X pada persamaan 3 - kan. akan dldapatkan pula harga MR tertentu. di tentu- Dengan demlklan dapat disusun suatu hubungan X dsn MR dalam bent uk r egresi yang 1 ebi h seder hana. Ni 1 a1 -ni 1 a1 MR dengan menggunakan deret 40 buah akar posltlp fungsl

12 Bessel ordo 0 jenis pertama dan nilai X dar1 0 sampai 10 dapat dili hat pada Lampi ran 9 dan 10. Hubungan antara X dengan MR di buat regreslnya dan dr sebut dengan Model -Penduga-Si 1 i ndr i s -Tak -Ber - hi ngga C Model -Penduga--SX33. Regr es+ i ni di susun da- 1 am bentuk eksponensi a1 sebagai beri kut : Ni lai -rill ai koef i si en dal am persamaan 1 / di - dapatkan sebagai berikut : Berdasarkan koef i si en-koef i sl en di atas. pada Gambar 5-7 dapat di 1 i hat penyi mpangan Model -Penduga- SIT3 dari model eksaknya dengan deviasx sebesar Seperti yang telah di sebutkan terdahul u. Model - ST dipecahkan berdasarkan Model-Lempeng-Tak-Berhingga dengan Model--. menghasilkan persamaan 1 I. Ni l ai -ni 1 ai MR untuk Model -Lempeng-Tak -Ber - hi ngga dengan J urn1 ah deret sebanyak 700 dapat dl 11 - hat pada Lampiran 11 dan hasil kalinya dengan Model-

13 S B terlihat pada Lampiran 12. a Dengsn nretoda yang sama. Model -Penduga-Si 1 i ndrl S-Ter batas dl Lemukan sts- bagai ber i k ut : MR = expc x3 +O e xpc X> e xpc -B S2... /5-2 / Model penduga 1 n1 menyl rnpang ctenysr~ 0.OUEtld dari pemecahan eksaknya CGantbar 5-8>. Model penciu- uga ini selanjutnya dlsebut sebagai Model -ST saj a dan di pakal dal am per hi Lungan penger rtgsn Waktu non dimensi Gambar 5-7. Kur va Model berdasar kan model pendugan;*a

14 1.0 0 Data pengamatan 1% = exp( x) exp( %) ( X) er* m Walctu non dinensi Gambar 5-8. Kurva Model -ST berdasar kan model penduga C. KONSTANTA PENGERI NGAN DAN KADAR A1 R KESEX MBANGAN 1. Konstanta Pongeringan, K Konstanta penger 1 ngan rnrrupakan psduan unaur - unsur di f usi vi tas dsn bentuk benda. Pad3 rnodel penger i ngan l api san ti pl s. ko!>stanta penger i ngan darr kadar ar r kesei mbangan met-upaksn koef 1 sl en-koef 1 sl en yang har us dl h~ t ung dar i d ~ t a pengainatan per ubahan kadar air. Pada per cohasn penger i ngan 1 apl =an t 1 pl s

15 91 dil akukan dengan 5 tingkat suhu, sehi ngga di dapat kan j uga 5 ti ngkat konstanta pengeri ngan. Ni 1 ai konstanta pengeri ngan hanya berl ak u bagi model penger i ngan 1 api san ti pis yang di pakai. Ti aptiap model pengeringan menghasilkan konstanta penger i ngan ter sendi r i. Sebagi an penel i ti menganggap konstanta pengr i ngan merupakan f ungsi suhu. kadar air dan kelembaban, tetapi banyak pula yang menyatakan hanya sebagai fungsi suhu. Untuk tujuan perhi - tungan perubahan kadar air dan pengeringan tumpukkan tebal tebal, pengaruh kelembaban terhadap K di abai - kan. Dengan mengembangkan pola persamaan Arrhenius. maka dari Tabel 5-1 dan 5-2 didapatkan persamaan konstanta pengeringan sebagai fungsi kebalikan suhu mutlak sebagai berikut : a. Varietas IR-36 Model -STB : Ksre = expc /t A-3/ Model -!5X : Ksr = expc /T /5-4/ Model -Bola :

16 b. Vari etas Bogowonto M o d e l -SB : Ksre = exp C /Ei-6/ M o d e l -ST : M o d e l -Bol a : = exp C / Kso~a. Kurva dari konstanta K. dapat dilihat pada Gambar 5-9 dan Dari hasil yang diperoleh terlihat bahwa konstanta pengeringan Model -ST 1 ebih kecil dari Model - STB. Dalam percobaan ini. k edua model diarnati pada laju pengeringan yang sama atau jumlah air yang di- uapkan juga sama. Tabel 5-1. Konstanta pengeri ngan gabah IR-36 ber - dasar k a n Model -SIB. Model -ST dan Model - Bola pada 5 ti ngkat suhu pengeringan No Suhu udara 0 C Konstanta pengeringan Cl/menit Model SIX3 Model ST Model Bola E-4 E.5789E-4 E. 4183E E E E E E E E E E E E E

17 I I I I Varictas IR-36 1chla = exp( /b/t) -. - A McdcL-ST Icbdel-i3ola Data pengmxtan: m Model-STB KaT = exp( /t > f I I I I SU~U, 10-~::-l Gambar 5-9. Kul- va I. 01,- tzr L a pengerl ngal t ter hadap SLI~U.,/i,-~ etas I K- 36

18 0.007 Varietas Ebgaronto Lhla = exp( /t).--.. U 2 0:005- i TI - c ri 2!4 EL LI gj J - Data penganatan: Model-STB Model-ST r Model-Bola I I I I 3.'X L I 3.24 Gambar Kur va konstant a pengcri ngan terhadap suhu, vsr 1 etas Bogowonto

19 Pada model -STB di f usi dianggap terjadi pada arah radial. sedangkan pada Model -ST arah dif usi GEi terbagi dua. Sila daya difusi dari kedua arah sama. rnaka pall ng sedi k i t daya di f usi pada masi ng-mask ng arah dari Model-= setengah dari Model -STB. Karena konstanta pengeringan menggambarkan unsur difusi. maka konstanta dari Model-= mendekati setengah dari Model -SXB. Tabel 5-2. Konstanta pengeringan gabah Bogowcnto berdasar kan Model -STB. Model -ST dan Model Bola pada 5 tingkat suhu pengeringan... Suhu Konstanta pengeri ngan C 1 /mni t> Na gdara... C Model STB Model ST Model Bola E E-4 2.8WQE SE E E E E-4 4.0B31E E E-4 3. Sg98E E E-4 S. 6s-E Kadar Air Kerei~nbangan Kadar air kesei mbangan adal ah kadar ai r di mana tidak terjadi perpindahan uap dari dan kedalam biji. Untuk pengeri ngan, kadar ai r kesei mbangan penti ng arti nya karena menentukan kadar ai r terendah yang dapat di capai ol eh penger i ngan. f ada penyi mpanan. kadar air keseimbangan menentukan kadar ai r teren- dah yang dapat dipertahankan, sesuai dengan kondisi Kadar air keseimbangan berhubungan errat dengan tekanan uap di dalam biji. Pada kadar air tertentu.

20 tiap biji-bijian, mempunyai karakteristik tekanan uapnya. Bila tekanan uap di dalam bi ji lebih besar dari udara lingkungan akan terjadi desorpsi uap ke udar a. Bila tekanan uap di dalam bi ji lebih kecil akan terjadi sebaliknya. Kadar ai r kesei mbangan terjadi bila tekanan uap di dalam dan di luar bi ji sama besar. Ada dua metoda untuk menentukan kadar air keseimbangan. yai t u metoda stati s dan di namis. Me- toda statis telah banyak di kembangkan dengan cara meletakkan bi ji di dal a m udar a yang tekanan uapnya di k endal i k an dengan menggunakan l ar utan gar a m ber - konsentrasi tertentu. Kesukaran utama dari metoda ini adalah membutuhkan waktu lama dan gangguan jamur. terutama pada kel embaban yang ti nggi. Untuk keperl uan perhi tungan tel ah banyak dl kembangkan model kadar air kesei mbangan stati s. bai k berdasarkan teor i ti s, semi -teori ti s maupun empl r is seper ti per - samaan Kel vin. Langmul r, BET. Henderson dan Chung- Pf ost. Dal am per hi turtgan penger i ngan tumpukan tebal, digunakan kadar air kesei rnbangan yang di dapat secara di nami s berdasar k an k edua Model -Si 1 i ndr i s. has1 1 per hi tungan darl Lampiran 13 dan 14 rnernperl~hatkan kadar air ke- seimbangan gabah IR-36 dan Bogowonto yang di hi Lung dari tiga buah model. Dari beberapa data pada kedua 1 a mpi ran tersebut. dapat dl k e mbangkan persamaan

21 kadar air kesei rnbangan sebagai f ungsl dari sel i si h suhu bola kering dan bola basah. Bentuk persamaan i ni memudahkan pemakaian dal am per hi tungan pengeri ngan tumpukan tebal. Bentuk persamaannya adalah : a. Varietas IR-36 Model -5XB : Model -ST : M ST = expc AT>.... /5-lo/ 0 b. Varietas Bogowor~to : Model -ST3 : M s-re = expc AT3.... /5-12/ 8 Model -ST M ST = expc AT3... /5-13/ e RZ = 0.990

22 Model -Bola : M Bola = e xpc AT>... r5-141 e Pol a penyebaran kadar air kesei rnbangan terhadap sslisih suhu bola kering dan bola basah dapat dl11 - m hat pada Gambar 5-11 dan Kadar ai r kesei mbangan tersebut di dapat dal am waktu sekitar 28 jam. Menurut Allen dalarn waktu yang lama, dapat ter jadi beberapa tl ngkat kadar azr keseimbangan dinarms. Hal I ni ter jadl karena uap air yang berada pada bagi an pl nggz r bz J z menguap dengan cepat sedangkan difusi uap dari bagi an dal am 1 ebi h 1 ambat. Dal a m keadaan demi k i an. penguapan terhenti sesaat, seolah-01 ah tel ah ter - capai kadar air keseimbangan. Kal au kadar air kesei rnbangan di naml s di bandi ngkan terhadap perhitungan kadar alr keseirnbangan statis berdasarkan model Henderson-Thompson : dan model Chung-ffost :

23 16, Varietas IR " 12 Fn 5 C.A % 2 10 $4.r4 m s4 m TJ d Data pcng.lm;lt ~n : Mr>cic.l-SII3 0 dvod~ I -57 A M<,<!. 1 -EL, 1, - = xl,(-0.06 Ar) R~ = 0.9,IU 6 - M = 18.2 exp(-0.06 Al) U Bola Ft2 = I I I I I I Selisih suhu bola basah dan kering (AT) O C 2 6 Gambar Kadar ar r ke-el n?hsr:yar> dl naml s gabah varl etas I P- 3S

24 Gambar Kadar air kesel mbangarl gabah var 1 eta5 Bogowonto

25 terl i hat tidak terdapat perbedaan yarsg besar di - antara kedua jeni s kadar air kesei mbangan tersebut CTabel 5-33 Tabel 5-3. Kadar air kesei mbangan stati s berdasarkan Model-Henderson Thompson dan Chung-Pfost... Suhu ' Kadar air keseimbangan C % bk 3... OC RH Henderson Chung Model Model Thompson Pf ost SfB ST Kurva kadar air keseimbangan yang diperoleh dari Model -STS dan Model -ST, bi 1 a di bandi ngkan ter hadap kl asi f i k asi BET dapat digolongkan sebagai potongan tipe I1 atau tipe I V untuk selang RH 19-52%. 3. Pengujian Model Pengeringan tapisan Tipis Untuk me1 i hat se j auh mana ketepatan Model -STB dan Model -ST di 1 ak ukan pengu ji an per hi tungan per - ubahan kadar ai r ter hadap penger i ngan 1 apl san ti pi s dar i vari etas Cl sadane. Dal am penguj i an i ni di pakai konstanta penger i ngan dan kadar air kesei mbangan r ata-r ata dar i varietas IR-36 dan Bogowonto berdasarkan kedua model di atas. Sebagal pembandl ng di per I I hatkan pula untuk Model -Bola. Data konstanta penger I ngan dan kadar air keseimbangan rata-rata dapat dilihat pada

26 Lampi ran 15 dan berdasarkan data tersebut di hasi 1 k an persarnaan empirisnya sebagai berikut : a. Konstanta pengeri ngan rata-rata Ksrs = expc /S-17/... b. Kadar air kesei mbangan rata-rata M-STB = expc A13... /S-20.' RZ = M-ST = expc A 'E-21/ RZ = M eok= e xpc AT3... / R= = Konstanta pengeringan dan kadar air kesei rnbangan rata-rata pada persamaan /Fj-17/ sampal dengan - dianggap merupakan konstanta pengerlngan dan kadar alr keseimbangan dari gabah dalam bentuk umum. Has11 pengujian untuk perhitungan pengerlngan laplsan tipis dari ketiga model tersebut terhadap vari etas Ci sadane dapat di 1 i hat pada Garnbar 5-13

27 103 sampai dengan pada umumnya hasi l per hi tungan ketiga model tersebut dapat mengikuti data per- cobaan yang sebenarnya. Penyimpangan banyak ter- j adi pada awal pengeri ngan. Pada awal penger i ngan. suhu butir gabah belum homogen sehingga laju dif usi di dalam butir gabah berbeda-beda. sedangkan pada model pengeri ngan yang di pakai, masalah perbedaan suhu dalam butir gabah diabaikan. Untuk membandi ngkan penyi mpangan per hi tungan dari data pengamatannya dapat dilihat deviasi ketiga model tersebut pada Tabel 5-4. Deviasi Model -ST lebih kecil dari Model-STB. Hal ini menunjukkan Model -ST 1 ebi h sesuai dengan karakteri sti k penge- ringan lapisan tipis dari pada kedua model lainnya. Tabel 5-4. Deviasi pengujian Model -Si1 indri s-tak - Berhi ngga, Terbatas dan Bola terhadap penger i ngan 1 api san ti pis gabah Ci sa - dane C% bk> Suhu Deviasi Model Penger 1 ngan... 0 C Model Model Model Sre Sf 901 a I SSS S i Jumf ah Dibawah selang suhu pengeringan C deviasi Model -Si 1 i ndr i s 1 ebi h k eci 1 dar i pada Model -Bol a.

28 Hal Inl menggambarkan bahwa terjadl dlfusi yang me- ngl kutl dl f us1 benda si l I ndr s. Bentuk ramp1 ng me- nyebabkan konduksi panas ber jal an 1 eb~ h cepat pada arah radlal darl pada arah longitudinal. Dengan demi ki an perubahan tekanan uap ar ah r adi a1 1 ebi h cepat ter jadi dari pada arah longitudinal sehi ngga ter j adi dua ar ah di f usi yang ber beda. 01 eh kar end i tu Model -ST 1 ebi h sesuai menggambarkan proses pengeringan pada gabah ramping dari pada Model-STB ma- upun Bola. Selain i t u pada selang suhu c me- rupakan suhu pengeri ngan ter bai k untuk bi j i -bi j i an sehi ngga penggunaan Model -ST untuk rnempelajar i ka- rak ter i sti k pengeri ngan adal ah yang pal i ng tepat. D. PERHI TUNGAN PENGERI NGAN TUHPUKAN TEBAL 1. Perhi tungan Pertgeri ngan Tumpukan Tebal Secara taboratori urn Percobaan pengerlngan tumpukan tebal secara 1 aborator i urn di l akukan terhadap gabah vari etas I R-36 Beban pengeringan sebanyak gram gabah basah dengan kadar air awal % bb. Suhu udara pe.nge- ringan dalarn plenum 45O~. kalembaban 34% dengan de- b~ t udara pengerl ngan rn/deti k. Per hi tungan per ubahan kadar a1 r dl 1 akukan dengan menggunakan Mo- del -ST B Unt uk menghl tung 1 aju pengerlngan. persamaan K dan Me dlekstrapol as1 sampal kelembaban rnaksl mum 80% atau pada selzsih suhu bola ker~ng dan basah 3 PBOC

29

30

31

32

33

34

35

36

37

38 114 Bila kelembaban telah Lebih besar dari 80% tetapi be1 um mencapai kejenuhan, maka 1 a J u pengeri ngan DM dihitung berdasarkan difusi uap air dari udara ke dalam bi ji, yang rumusnya bi la di tulis dal am bahasa BASIC adalah sebagai berl kut : DM = DIF * CXMBK/100 - HINI XMBK tidak lain adalah konsentrasi air di dalarn butir gabah sedangkan HIN adalah konsentrasi uap di udar a. DI F adal ah koei'i si en di f usi yang besar nya menurut Steffe darl Singh. 1979, untuk gabah medium adal ah : DI F = EXPC /C TU /5-24,' Bila udara pengering telah jenuh atau HIN telah lebih besar pada kelembaban rnutlak jenuh CHJ3 pada suhu TU. maka selisi h HIN-HJ dianggap kelebihan uap air yang terkondensasi pad3 permukaan gabah, sehi ngga menai kkan kadar ai rnya. Per hi tungan di 1 alc ukan sebagai berikut : COND = HC2. J> - HJ... fi-~~/... DM = COND r XMUD/~ADL 4-36, Has1 1 perhi tungan karakterl st1 k pengerl ngan tumpukan tebal dapat dillhat pada Gambar 5-22 sampal dengan Gambar 5-22 menun2 ukan has1 1 per hl - tungan kadar alr selarna pengerlngan dengan suhu 4 5 O ~

39 115 yang telah mengi kuti pol a perubahan kadar air yang sebenarnya. Khususnya pada 1 apisan atas terdapat penyi m- pangan akibat adanya kelembaban atau pengembunan. Pada kelembaban yang tinggi C>60%> metoda penggunaan koef isien dif usi sebagai tahanan untuk laju absorpsi seperti pada persamaan /5-23/ dan /5-24/ telah sesuai. hanya per1 u di tel aah lagi ni lai koef i si en di f usi yang i ebi h tepat. Pada 1 api san bawah proses penger i ngan ter J adi secara normal yai tu kondi si udar a penger i ngan tetap di bawah 60% sehi ngga penguapan dapat ber 1 angsung ter us. Pol a hasi l per hi tungan sesuai dengan data per cobaan yang sebenar nya. Perubahan suhu pada lapisan atas dan tengah tidak dapat di hitung dengan tepat karena udara pengeri ng rnenjadi Jenuh dan ter jadi kondensasi, se- dangkan pada 1 api san bawah hasi 1 per hi tungan mende- kati data pengamatan karena kelembaban udara penge- ring tetap rendah C Gambar 5-23>. Pada kel embaban yang ti nggi, ental pi ai r yang terdapat pada udara pengering harus di perhitungkan dengan seksama. Perubahan suhu udara basah sdalah perubahan suhu udara kering dan air. Bila terjadi absorpsi uap dari Wdara ke butir gabah secara adia- batis, maka harus diperhi tungkan penurunan ental pl total udara aki bat entalpi yang diser ap 01 eh gahah.

40 116 Hasil perhitungan suhu gabah pada Gambar 5-24 tel ah sesuai j uga dengan si f at-si f a t pengeri ngan tumpukan tebal. Suhu gabah pada 1 api san atas lebi h rendah dari pada lapisan tengah dan bawah dan segera mendekati suhu udara. Hasi 1 per hi tungan per ubahan kel embaban pada Gambar 5-25 juga telah sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kel embaban pada awal pengeri ngan mendekati j enuh, kemudi an ber angsur -angsur tur un sei mbang de- ngan kel ernbaban udar a dal am pl enum. 2. Perhitungan Percobaan Pengeringan Tumpukan Tebal di Lapangan Percobaan i ni di 1 akukan untuk me1 i hat penyi m- pangan per hi tungan ter hadap kondi si 1 apangan yang ti dak dapat di k uasai. Sebagai dasar per hi t ungan penurunan kadar air dipergunakan Model-STB. Mesi n penger i ngan yang di pergunak an adal ah "flat bed" dengan muatan kg gabah basah. A- liran udara rata-rata 27.2 m3/meni t dengan suhu pengeri ng 48. SOC. Hasi l per hi tungar) penur unan kadsr ai rnya dapat di 1 i hat pada Gambar Wal aupun kondisi udara pengeri ng ti dak ter kendall. tetapl has1 1 per hi tungan dapat mengi k ut.1 pol a perlur urlan kadar air percobaan. Data pengamatan t ersebar secara tidak beraturan. karena posisi pengambi 1 an sampel untuk pengukuran kadar air tidak dapat dikuasai dengan tepat.

41

42

43

44

45 121 Hasi 1 perhi tungan yang di per01 eh, bai k untuk pengujian percobaan pengeringan secara laboratorium maupun 1 apangan menun J u k kan model si 1 i ndr i s dapat di pakai sebagai dasar per hi tungan penger i ngan tum- pukan tebal. Sel ai n masal ah kondensasi. penentuan 1 uas permukaan gabah yang ef e k t i f meneri ma panas juga merupakan sumber kesal ahan perhi tungan. Untuk mendapat jumlah energi panas yang tepat yang dipin- dahkan udara pengering k e permukaan gabah. maka dalam perhi tungan di pergunakan f a k tor koreksi. Dal am for mu1 a BAS1 C per hi tungannya di t ul i s sebagai beri k ut : Faktor koreksi XKOR pada persamaan /5-27/ tidak 1 ain adal ah koreksi ter hadap J uml ah energi panas yang dipindahkan ke permukaan gabah dan didapatkan secara uji coba sebesar E. SIMULASI PENGRI NGAN TUMPUKAN TEBAL Si mu1 asi pengeri ngan tumpukan tebal di batasi hanya untuk me1 i hat pengaruh suhu penger i ngan dan keseragaman kadar air akhir. Perhitungan si mulasi di l akukan ter - hadap pengeringan 650 kg gabah, kadar air awal 80% dan ketebalan 24 crn. Pengeri ngan dianggap sel esai bila kadar air rata-ratanya mencapai 14%. Suhu pengeri ngan yang diterapkan 40, 45O dan 50 c, sedangkan aliran udaranya dan 50 m3/menit.

46

47 Tabel 5-5 adal ah hasi 1 si mu1 asi i arna pengeri ngan untuk mencapai kadar air rata-r ata 14%. Berdasarkan data pada Tabel 5-5 dapat dili hat bahwa perubahan lama penger i ngan tidak 1 i ni er bai k ter hadap per ubahan suhu. maupun debit aliran udara. Dengan demikian dalam batas simulasi suhu dan debit aliran udara di atas dapat di susun persamaan f aktori a1 lama pengeri ngan C tp3 ter hadap suhu C t> dan debit udara C Q3 sebagai beri k ut : Tabel 5-5. Si mulasi waktu pengeringan yang di butuhkan untuk mencapai kadar air rata-rata 14% pada berbagai suhu dan aliran udara Cmeni t> ---_ _ Debi t udara 'Suhu pengeri ngan penger i ng... C rn3/meni t 3 40 c 45-c 50 c ' El Walaupun pada Tabel 5-5 dapat dllihat suhu penger 1 ngan i ebl h sensl ti f untuk rnempercepat pengeri ngan. tetapl mempunyai dampak yang kurang balk bag1 mutu pengerlngan. terutama keseragarnan kadar arr. Hal In1 jelas terlihat pada Tabel 5-6. Kendl kan suhu yang t nggl rnengakl batkan per bedaan kadar air pada l apl san atas clan bawah yang leblh besar. Seball knya blla deb1 t udara penger i ng dl tambah akan memper k ecl 1 per bedaan

48 Tabel 5-6. Simulasl selisi h kadar air lapisan atas dan bawah pada sa t kadar air rata-rata telah mencapai 14% Deb1 t. udara SU~U pengeri ngan penger i ng t o I C ms/rnenl t> 40 c I 45 C 50 c * * 6.50 * Ci3.893 I C C13. 99> * 4.80 * 5.55 * C C C _ l C >* Kadar air akhir rata-rata Cbb>. kadar air antara lapisan at' s dan bawah. Dengan demi - I" kian untuk penyeragaman kbdar air, peningkatan suhu penger i ngan harus di ser tai penambahan debit udara! penger i ng. Si mu1 asi penger i ngan tkmpukan tebal mempunyai ke- I gunaan 1 angsung dal am merankang dan mengoper asi kan a1 at penger 1 ng. Sebagai contoh. I bi 1 a ak an di r ancang a1 at b t pengerlng yang mempunyai k a asitas tertentu maka dapat dihitung ukuran bak dan kip s yang tepat, sehingga di - dapatkan ef i si ensi energi pan mutu pengeri ngan yang maksi mum. Sebal i k nya pada ( pengoperasi an a1 at penge- I ring dapat pula dipasang si +tern kontrol bai k secara o- tornati s rnaupun manual berdhsarkan per hi tungan si m ulasi tersebut, agar pengapian han pengaturan aliran udara I tetap terkendal i untuk metghasi 1 ka? pengeri ngan Yang optimal dari segi mutu, biaya dan bahan bakar.

DAFTAR ISI 2 DAFTAR TABEL 3 1. Per ke mbangan Dat a Pel apor 4 2. Per ke mbangan Dat a Debi tur 5 3. Per ke mbangan Dat a Fasilitas 6 4.

DAFTAR ISI 2 DAFTAR TABEL 3 1. Per ke mbangan Dat a Pel apor 4 2. Per ke mbangan Dat a Debi tur 5 3. Per ke mbangan Dat a Fasilitas 6 4. DAFTAR ISI 2 DAFTAR TABEL 3 1. Per ke mbangan Dat a Pel apor 4 2. Per ke mbangan Dat a Debi tur 5 3. Per ke mbangan Dat a Fasilitas 6 4. Per ke mbangan Dat a Per mi nt aan I nf or masi Debi t ur I ndi

Lebih terperinci

PENGARUH SUBSTiTUSI BUNGKIL KACAHG KEDELAI DEHIGAN BUIU6KlL BlJI KARET DALAM RANSUM TERHRDAP PENAMPlLAN TERNAK BABl LEPAS SAPlH

PENGARUH SUBSTiTUSI BUNGKIL KACAHG KEDELAI DEHIGAN BUIU6KlL BlJI KARET DALAM RANSUM TERHRDAP PENAMPlLAN TERNAK BABl LEPAS SAPlH PENGARUH SUBSTiTUSI BUNGKIL KACAHG KEDELAI DEHIGAN BUIU6KlL BlJI KARET DALAM RANSUM TERHRDAP PENAMPlLAN TERNAK BABl LEPAS SAPlH SKRIPSI - CUK NUGROHO FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 1993 IU

Lebih terperinci

PENGARUH SUBSTiTUSI BUNGKIL KACAHG KEDELAI DEHIGAN BUIU6KlL BlJI KARET DALAM RANSUM TERHRDAP PENAMPlLAN TERNAK BABl LEPAS SAPlH

PENGARUH SUBSTiTUSI BUNGKIL KACAHG KEDELAI DEHIGAN BUIU6KlL BlJI KARET DALAM RANSUM TERHRDAP PENAMPlLAN TERNAK BABl LEPAS SAPlH PENGARUH SUBSTiTUSI BUNGKIL KACAHG KEDELAI DEHIGAN BUIU6KlL BlJI KARET DALAM RANSUM TERHRDAP PENAMPlLAN TERNAK BABl LEPAS SAPlH SKRIPSI - CUK NUGROHO FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 1993 IU

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Karakteristik Pengeringan Lapisan Tipis Buah Mahkota Dewa

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Karakteristik Pengeringan Lapisan Tipis Buah Mahkota Dewa IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Pengeringan Lapisan Tipis Buah Mahkota Dewa 1. Perubahan Kadar Air terhadap Waktu Pengeringan buah mahkota dewa dimulai dari kadar air awal bahan sampai mendekati

Lebih terperinci

q* PERENCANAAN TATARUANG PERTANIAN

q* PERENCANAAN TATARUANG PERTANIAN A3 YPy 4-63/* i i 9- q* PERENCANAAN TATARUANG PERTANIAN DAERAH TRANSMIGRASI SKP H SINUNUKAN WPP XI INATAI, SUMATERA UTARA r L..d,* i t ~$~c; i 0 A.6,',,I Oleh JURUSAM TAMAH FAKULTAS PERTANIAM, INSTiTUT

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. KARAKTERISTIK PENGERINGAN LAPISAN TIPIS SINGKONG 4.1.1. Perubahan Kadar Air Terhadap Waktu Proses pengeringan lapisan tipis irisan singkong dilakukan mulai dari kisaran kadar

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. KARAKTERISTIK PENGERINGAN LAPISAN TIPIS Menurut Brooker et al. (1974) terdapat beberapa kombinasi waktu dan suhu udara pengering dimana komoditas hasil pertanian dengan kadar

Lebih terperinci

1, 1 PENANGKAPAN IKAN DENGAN PURSE SEINE

1, 1 PENANGKAPAN IKAN DENGAN PURSE SEINE P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) P E N A N G K A P A N I K A N D E N G A N P U R S E S E I N E P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) P E N A N G K A P A

Lebih terperinci

MODEL SIMULASI PENGERI NGAN GENGKEH Y lpe " GROSS - FLOW "

MODEL SIMULASI PENGERI NGAN GENGKEH Y lpe  GROSS - FLOW ,, F -," /*a J / ;.:!,~? \ /o(,(/o, /., MODEL SIMULASI PENGERI NGAN GENGKEH Y lpe " GROSS - FLOW " Oleh NANlK SRI HARTANI F 23. 0705 1 9 9 1 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN; INSTITUT PERTANIAN BOGOR B O G

Lebih terperinci

USAHA PENANGKAPAN IKAN PELAGIS DENGAN ALAT TANGKAP GILLNET

USAHA PENANGKAPAN IKAN PELAGIS DENGAN ALAT TANGKAP GILLNET P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) P E N A N G K A P A N I K A N P E L A G I S D E N G A N A L A T T A N G K A P G I L L N E T P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L (

Lebih terperinci

Kupersembahkan kepada. ayah bunda tercinta

Kupersembahkan kepada. ayah bunda tercinta Kupersembahkan kepada ayah bunda tercinta WAMCANGRN DAN UJi TEMNIS RUANG PENGEWlMG GABAH TBPf 5Alb VERTigAL PADA MAT PENGEWlMG GABAH BENGAN S PAWAS SEKAM DAN KIPAS PENGH oleh EDDY KUSIFdlAbViJAYA F. 15

Lebih terperinci

Kupersembahkan kepada. ayah bunda tercinta

Kupersembahkan kepada. ayah bunda tercinta Kupersembahkan kepada ayah bunda tercinta WAMCANGRN DAN UJi TEMNIS RUANG PENGEWlMG GABAH TBPf 5Alb VERTigAL PADA MAT PENGEWlMG GABAH BENGAN S PAWAS SEKAM DAN KIPAS PENGH oleh EDDY KUSIFdlAbViJAYA F. 15

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Pengeringan Lapisan Tipis Prinsip pengeringan lapisan tipis pada dasarnya adalah mengeringkan bahan sampai kadar air bahan mencapai kadar air keseimbangannya. Sesuai

Lebih terperinci

1 0 0 m 2 BUDIDAYA PEMBESARAN IKAN NILA

1 0 0 m 2 BUDIDAYA PEMBESARAN IKAN NILA P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) B U D I D A Y A P E M B E S A R A N I K A N N I L A P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) B U D I D A Y A P E M B E S A

Lebih terperinci

USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI

USAHA KONVEKSI PAKAIAN JADI P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L S Y A R I A H ( P P U K -S Y A R I A H ) U S A H A K O N V E K S I P A K A I A N J A D I P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L S Y A R I A H (

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA JAMBI NOMOR 37 TAHUN 2014 TENTANG LAGU MARS DAN HYMNE KOTA JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA JAMBI,

PERATURAN WALIKOTA JAMBI NOMOR 37 TAHUN 2014 TENTANG LAGU MARS DAN HYMNE KOTA JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA JAMBI, PERATURAN WALIKOTA JAMBI NOMOR 37 TAHUN 2014 TENTANG LAGU MARS DAN HYMNE KOTA JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : a. bahwa dalam rangka membangkitkan semangat kebersamaan persatuan dan

Lebih terperinci

Campuran udara uap air

Campuran udara uap air Campuran udara uap air dan hubungannya Tujuan Instruksional Khusus (TIK) Setelah mengikuti kuliah ini mahasiswa akan dapat menjelaskan tentang campuran udara-uap air dan hubungannya membaca grafik psikrometrik

Lebih terperinci

PAOSPEK EKSPOR TEH INDONESIA DALAM MUBUNGANNYA DEbUGAN PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN INTERNASIONAL

PAOSPEK EKSPOR TEH INDONESIA DALAM MUBUNGANNYA DEbUGAN PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN INTERNASIONAL PAOSPEK EKSPOR TEH INDONESIA DALAM MUBUNGANNYA DEbUGAN PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN INTERNASIONAL Oleh MURAD SULAEMAN EPN 81009 FAKULTAS PASCA SARJANA INSTITUT PERTANIAN BDGOR RINGKASAN MURAD SULAEMAN. Prospek

Lebih terperinci

kep&~zdaian akan melljaga engkau - KUPERSEMBAHKAN KARYA KECILKL' IN1 UNTUh' YANG KLICII\'TAI BAPAK, IBU, MBAK HENY, MAS EDWIN DAN DIK LULUD

kep&~zdaian akan melljaga engkau - KUPERSEMBAHKAN KARYA KECILKL' IN1 UNTUh' YANG KLICII\'TAI BAPAK, IBU, MBAK HENY, MAS EDWIN DAN DIK LULUD TZTHANIah yang ~rtemberikan hikmat, dari mulutnya datang pengeta/zunn dan kepandaian. De~zgarz Iziknlat TUHAN telah n~eletakkan dasar burni. de~tgan pengertian ditetapkannya lmz it, dengan pertgetahuannya

Lebih terperinci

ANALBSIS FUNGSI PRODUICSI DAN BE[A"r'A PRODUKSI PERUSAHAAN PETERNAKAN SAP1 POTON(; Dl KECAMATADJ CHCURUG KABUPATEN SUKABUhll

ANALBSIS FUNGSI PRODUICSI DAN BE[Ar'A PRODUKSI PERUSAHAAN PETERNAKAN SAP1 POTON(; Dl KECAMATADJ CHCURUG KABUPATEN SUKABUhll ANALBSIS FUNGSI PRODUICSI DAN BE[A"r'A PRODUKSI PERUSAHAAN PETERNAKAN SAP1 POTON(; Dl KECAMATADJ CHCURUG KABUPATEN SUKABUhll RlNGK AS AN ARFA'I. 1 QQ2. Analisis Fungsi Produksi dan Biaya Produksi Perusahaan

Lebih terperinci

ANALBSIS FUNGSI PRODUICSI DAN BE[A"r'A PRODUKSI PERUSAHAAN PETERNAKAN SAP1 POTON(; Dl KECAMATADJ CHCURUG KABUPATEN SUKABUhll

ANALBSIS FUNGSI PRODUICSI DAN BE[Ar'A PRODUKSI PERUSAHAAN PETERNAKAN SAP1 POTON(; Dl KECAMATADJ CHCURUG KABUPATEN SUKABUhll ANALBSIS FUNGSI PRODUICSI DAN BE[A"r'A PRODUKSI PERUSAHAAN PETERNAKAN SAP1 POTON(; Dl KECAMATADJ CHCURUG KABUPATEN SUKABUhll RlNGK AS AN ARFA'I. 1 QQ2. Analisis Fungsi Produksi dan Biaya Produksi Perusahaan

Lebih terperinci

BAB II STUDI PUSTAKA

BAB II STUDI PUSTAKA BAB II STUDI PUSTAKA II. STUDI PUSTAKA.1. Prinsip Dasar Proses Penguapan Air Pada proses penguapan air (pengeringan) bahan produk pertanian merupakan suatu upaya memindahkan kandungan air dengan penerapan

Lebih terperinci

Manual Prosedur PELAKSANAAN SEMESTER PENDEK (SP)

Manual Prosedur PELAKSANAAN SEMESTER PENDEK (SP) Manual Prosedur PELAKSANAAN SEMESTER PENDEK (SP) FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011 Manual Prosedur Pelaksanaan Semester Pendek (SP) Fakultas Pertani an Universi tas Brawijay a Kode Dokumen

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengeringan Pengeringan merupakan proses pengurangan kadar air bahan sampai mencapai kadar air tertentu sehingga menghambat laju kerusakan bahan akibat aktivitas biologis

Lebih terperinci

5 S u k u B u n g a 1 5 %

5 S u k u B u n g a 1 5 % P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) U S A H A A B O N I K A N P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) U S A H A A B O N I K A N B A N K I N D O N E S I A K A

Lebih terperinci

ABSTRAK SKRIPSI. dalam. Masalah perbankan di Indonesia diatur. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan

ABSTRAK SKRIPSI. dalam. Masalah perbankan di Indonesia diatur. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan ABSTRAK SKRIPSI Masalah perbankan di Indonesia diatur dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (selanjutnya disingkat UU No' 7 Tahun 1992) ' Dalam pel aksanaannya bank umum dalam memberi

Lebih terperinci

BlOLOGl TlGA PARASIT PENTING HAMA GANJUR. SEBAGAl DASAR PENGELOLAAN HAMA TERSEBUT. Oleh : ED1 SOENARJO REKSOSOESILO

BlOLOGl TlGA PARASIT PENTING HAMA GANJUR. SEBAGAl DASAR PENGELOLAAN HAMA TERSEBUT. Oleh : ED1 SOENARJO REKSOSOESILO BlOLOGl TlGA PARASIT PENTING HAMA GANJUR. OflSEOLIA ORYZAE ( WOOD-MASON ) ( DLPTERA : CECIDOMYIIDAE ). SEBAGAl DASAR PENGELOLAAN HAMA TERSEBUT Oleh : ED1 SOENARJO REKSOSOESILO FAKULTAS PASCA SARJANA INSTITUT

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Dalam bebe r a pa dekade terakhir i ni, baik kualitatif maupun kuantitatif obat belum

PENDAHULUAN. Dalam bebe r a pa dekade terakhir i ni, baik kualitatif maupun kuantitatif obat belum PENDAHULUAN Dalam tahapan preformulasi, penentuan bentuk kristal dari bahan obat aktif merupakan satu hal penting yang harus dilakukan. Sampai saat ini masih terdapat anggapan, bila suatu bahan obat aktif

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Termal Kayu Meranti (Shorea Leprosula Miq.) Karakteristik termal menunjukkan pengaruh perlakuan suhu pada bahan (Welty,1950). Dengan mengetahui karakteristik termal

Lebih terperinci

PENGARUH LAMA FERMENTASI DAlAM larutan GARAM DAN PENAMBAHAN GUlA SEMUT TERHADAP SIFAT KIMIAWI DAN SENSORIS KECAP TEMPE SKRIPSI OLEH: HINDRAWATJ

PENGARUH LAMA FERMENTASI DAlAM larutan GARAM DAN PENAMBAHAN GUlA SEMUT TERHADAP SIFAT KIMIAWI DAN SENSORIS KECAP TEMPE SKRIPSI OLEH: HINDRAWATJ PENGARUH LAMA FERMENTASI DAlAM larutan GARAM DAN PENAMBAHAN GUlA SEMUT TERHADAP SIFAT KIMIAWI DAN SENSORIS KECAP TEMPE SKRIPSI OLEH: HINDRAWATJ ( 1103089063, I ~o-~,o~~ I!~!_~_:_(J--'-r-~ j:g~ _l

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengeringan Pengeringan merupakan salah satu metode pengawetan makanan yang sudah lama dikenal. Prinsip dari pengeringan adalah mengurangi kadar air bahan sehingga bakteri,

Lebih terperinci

136 Kerajaan yang Telah Berdiri Datanglah!

136 Kerajaan yang Telah Berdiri Datanglah! 136 Kerajaan yang Telah Berdiri Datanglah! (Penyingkapan 11:15; 12:10) Capo fret 2 G C G A D A Ye - hu - wa, Kau s la - lu a - da Hing - I - blis se - ge - ra bi - na - sa; Di - Ma - lai - kat di sur -

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengujian Tanpa Beban Untuk mengetahui profil sebaran suhu dalam mesin pengering ERK hibrid tipe bak yang diuji dilakukan dua kali percobaan tanpa beban yang dilakukan pada

Lebih terperinci

INSTXTIST PERTANRAN BOGOR

INSTXTIST PERTANRAN BOGOR INSTXTIST PERTANRAN BOGOR B O G O W Zrvan Adi Nugroho. F Ilq.021~2. Simulasi Pengeringan Gabah. Dibawah bimbingan At jeng M. Syarief. RINGKASAN Karakteristik pengeringan dari alat pengering dapat dipelajari

Lebih terperinci

SISTEM PENGELOLAAAN PRODUKSI DAN PERENCANAAN LABA DI PERKEBUNAN KAKAO. PT Perkebunan XI11 Jawa Barat) Oleh A

SISTEM PENGELOLAAAN PRODUKSI DAN PERENCANAAN LABA DI PERKEBUNAN KAKAO. PT Perkebunan XI11 Jawa Barat) Oleh A SISTEM PENGELOLAAAN PRODUKSI DAN PERENCANAAN LABA DI PERKEBUNAN KAKAO (Studi Kasus di Perkebunan Bunisari Lendra PT Perkebunan XI11 Jawa Barat) Oleh AZANIL WILLIS A 24.1015 Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat

Lebih terperinci

SISTEM PENGELOLAAAN PRODUKSI DAN PERENCANAAN LABA DI PERKEBUNAN KAKAO. PT Perkebunan XI11 Jawa Barat) Oleh A

SISTEM PENGELOLAAAN PRODUKSI DAN PERENCANAAN LABA DI PERKEBUNAN KAKAO. PT Perkebunan XI11 Jawa Barat) Oleh A SISTEM PENGELOLAAAN PRODUKSI DAN PERENCANAAN LABA DI PERKEBUNAN KAKAO (Studi Kasus di Perkebunan Bunisari Lendra PT Perkebunan XI11 Jawa Barat) Oleh AZANIL WILLIS A 24.1015 Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengeringan Pengeringan merupakan salah satu metode pengawetan makanan yang sudah lama dikenal. Prinsip dari pengeringan adalah mengurangi kadar air bahan sehingga bakteri,

Lebih terperinci

BALII( IIAMA HAK SETTA IAIIAH KtlTAMAlIYA SURABAYA TERHADAP STAIUS IGPEMITIIMil ATAS BA]IGUIIAII

BALII( IIAMA HAK SETTA IAIIAH KtlTAMAlIYA SURABAYA TERHADAP STAIUS IGPEMITIIMil ATAS BA]IGUIIAII BALII( IIAMA HAK SETTA IAIIAH KtlTAMAlIYA SURABAYA TERHADAP STAIUS IGPEMITIIMil ATAS BA]IGUIIAII ABSTRAK SKRIPSI OIEH THOMAS BUNAWAN NRP 2890078 Nf RM 89. 7. OA4.12921. 47953 FAKUTTAS HUKUM UNIVERSITAS

Lebih terperinci

PENYIMPANAN DAN PENGGUDANGAN PENDAHULUAN

PENYIMPANAN DAN PENGGUDANGAN PENDAHULUAN PENYIMPANAN DAN PENGGUDANGAN PENDAHULUAN Kegunaan Penyimpangan Persediaan Gangguan Masa kritis / peceklik Panen melimpah Daya tahan Benih Pengendali Masalah Teknologi Susut Kerusakan Kondisi Tindakan Fasilitas

Lebih terperinci

SlMULASl PENGERINGAN GABAH PADA RUANG PEWEISUNG SEMI SILINDER MENDATAR

SlMULASl PENGERINGAN GABAH PADA RUANG PEWEISUNG SEMI SILINDER MENDATAR SlMULASl PENGERINGAN GABAH PADA RUANG PEWEISUNG SEMI SILINDER MENDATAR Drying Simulation of Rough-Rice in a HorizontaI-Semi Cylindricaf fyenwn (DrynsBed) Atjeng M. syariefl -*. Abstract Simulation technique

Lebih terperinci

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN DAN SARAN 8 A 8 V KESIMPULAN DAN SARAN V.l. KESIMPULAN Dengan membandingkan berbagai variabel-variabel per cobaan dar i hasi 1 percobaan yang ber up a X recovery mi nyak lerhadap waklu ~ermenlasi pada berbagai lama

Lebih terperinci

tefapi dari segi ekologi mempunyai arti psnting dalam

tefapi dari segi ekologi mempunyai arti psnting dalam Latar B elakang Tumbuhan ti nggi. ter utama dar i daer ah tr opi s sudah dfkenal sebagai penghasil bahan baku obat-obatan, bumbu- bumbu penyedap makanan, wangi-wangian. kosmotik dan pr o duk -produk i

Lebih terperinci

KESIMPULAN B A B 5. di. susun oleh: rachm.ad 1-vahyuadi TUGAS AKHIR

KESIMPULAN B A B 5. di. susun oleh: rachm.ad 1-vahyuadi TUGAS AKHIR B A B 5 KESIMPULAN TUGAS AKHIR ANAL/SA POLA HUBUNGAN ANTARA DEBIT ALIRAN AIR DENGAN PARAMETER KUAL IT AS AIR Dl SUNG AI K ALl SURABAYA di. susun oleh: rachm.ad 1-vahyuadi 1841300036 JURUSAN STAT/STIKA

Lebih terperinci

Lampiran 1 Data jarak antar kelurahan (km) Kelurahan A

Lampiran 1 Data jarak antar kelurahan (km) Kelurahan A 18 Lampiran 1 Data jarak antar kelurahan (km) T 34.4 17.8 56.6 38.3 61.6 51.2 47.9 17.5 21.4 18.4 12.3 93.9 88.5 89.9 S 34.8 18.6 33.0 57.0 60.9 48.3 17.9 18.8 94.3 90.3 R 45.5 56.8 54.2 47.7 31.1 33.8

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Percobaan I Tanaman Leguminose Tingsi tanaman. Pada pemotongan awal, yang merupakan pemotongan penyeragaman pertumbuhan kembali tanaman, t ingbi tinaman diukur iehari sebelum

Lebih terperinci

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN DAN SARAN B A B V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan a. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari hasil analisis data unt.uk sembilan pola hubungan yang saling berint.eraksi adalah sebagai berikul 1. Ada hubungan ant.ara

Lebih terperinci

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hardware Sistem Kendali Pada ISD Pada penelitian ini dibuat sistem pengendalian berbasis PC seperti skema yang terdapat pada Gambar 7 di atas. Pada sistem pengendalian ini

Lebih terperinci

0,8 9 0,9 4 1,2 4 7,1 6 %

0,8 9 0,9 4 1,2 4 7,1 6 % P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) E M P I N G M E L I N J O P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) E M P I N G M E L I N J O B A N K I N D O N E S I A K A

Lebih terperinci

m 2 BUDIDAYA PEMBESARAN IKAN LELE

m 2 BUDIDAYA PEMBESARAN IKAN LELE P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) B U D I D A Y A P E M B E S A R A N I K A N L E L E P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L ( P P U K ) B U D I D A Y A P E M B E S A

Lebih terperinci

Ca ran rumen yang d gunakan d amb l dar RPH (Rumah Potong Hewan) Kodya Bogor, dengan cara memeras l mbah dar s perut besar sap yang baru d potong deng

Ca ran rumen yang d gunakan d amb l dar RPH (Rumah Potong Hewan) Kodya Bogor, dengan cara memeras l mbah dar s perut besar sap yang baru d potong deng ANALISA DAYA CERNA BEBERAPA JENIS HIJAUAN PAKAN TERNAK DENGAN TEKNIK IN-VITRO Abdurachman Bala Penel t an Ternak C aw, P.O. Box 221, Bogor 16002 PENDAHULUAN Kecernaan zat-zat makanan merupakan salah satu

Lebih terperinci

PENDEKATAN TEORITIS A. MODEL PEUGERINGAN LADA HITAH. 1. Teoritis

PENDEKATAN TEORITIS A. MODEL PEUGERINGAN LADA HITAH. 1. Teoritis PENDEKATAN TEORITIS A. MODEL PEUGERINGAN LADA HITAH. 1. Teoritis Penampilan pengering biji-bijian dipengaruhi oleh kondisi udara disekitarnya. Bila kondisi udara berubah maka penampilan pengeringan juga

Lebih terperinci

T A N A M AN Stevia rebaudiana B E R T 0

T A N A M AN Stevia rebaudiana B E R T 0 ANALISIS PERTUMBUHAN T A N A M AN Stevia rebaudiana B E R T 0 PADA TlGA TlNGGl TEMPAT Oleh BAMBANG ODANG MUBIYANTO FAKULTAS PASCASAR JANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 1990 YANTO. Analisis Pertumbuhan Tanaman

Lebih terperinci

P r o f i l U s a h. a A s p e k P a s a r P e r m i n t a a n H a r g a...

P r o f i l U s a h. a A s p e k P a s a r P e r m i n t a a n H a r g a... P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L S Y A R I A H ( P P U K -S Y A R I A H ) I N D U S T R I S O H U N P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L S Y A R I A H ( P P U K -S Y A R I A H

Lebih terperinci

Pengeringan Untuk Pengawetan

Pengeringan Untuk Pengawetan TBM ke-6 Pengeringan Untuk Pengawetan Pengeringan adalah suatu cara untuk mengeluarkan atau mengilangkan sebagian air dari suatu bahan dengan menguapkan sebagian besar air yang di kandung melalui penggunaan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2018 TENTANG PENANGANAN DAMPAK SOSIAL KEMASYARAKATAN DALAM RANGKA PENYEDIAAN TANAH UNTUK PEMBANGUNAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

ID1 KABUPATEN SIMALUNGUN, SUMATERA UTARA

ID1 KABUPATEN SIMALUNGUN, SUMATERA UTARA SUSUT PENANGANAN PASGA PANEN UBl RAVU ID1 KABUPATEN SIMALUNGUN, SUMATERA UTARA OIeh FRlDZ PARDAMEAN F 22.0961 Fridz Pardamean. t22.0961. Susut Penanganan Pasca Panen Ubi kayu dl Kabupaten Simalungun, Sumatera

Lebih terperinci

ID1 KABUPATEN SIMALUNGUN, SUMATERA UTARA

ID1 KABUPATEN SIMALUNGUN, SUMATERA UTARA SUSUT PENANGANAN PASGA PANEN UBl RAVU ID1 KABUPATEN SIMALUNGUN, SUMATERA UTARA OIeh FRlDZ PARDAMEAN F 22.0961 Fridz Pardamean. t22.0961. Susut Penanganan Pasca Panen Ubi kayu dl Kabupaten Simalungun, Sumatera

Lebih terperinci

(Syzygium pholyanthum W).

(Syzygium pholyanthum W). (Syzygium pholyanthum W). At an au ah ht 1 r a tut ah un nh 1. Pr III ar a P lte e ha t ul a. Pr III ar a P lte e ha t ul a at an au ahu ht 54a l. r. a tutah. P h n ala tana untu al aunn a an una an untu

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu permasalahan utama dalam pascapanen komoditi biji-bijian adalah susut panen dan turunnya kualitas, sehingga perlu diupayakan metode pengeringan dan penyimpanan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. sesuai dengan SNI no. 03 tahun 2002 untuk masing-masing pengujian. Kayu tersebut diambil

BAB III METODE PENELITIAN. sesuai dengan SNI no. 03 tahun 2002 untuk masing-masing pengujian. Kayu tersebut diambil BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Persiapan Penelitian Jenis kayu yang dipakai dalam penelitian ini adalah kayu rambung dengan ukuran sesuai dengan SNI no. 03 tahun 2002 untuk masing-masing pengujian. Kayu

Lebih terperinci

USAHA BUDIDAYA CABAI MERAH

USAHA BUDIDAYA CABAI MERAH P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L S Y A R I A H ( P P U K -S Y A R I A H ) U S A H A B U D I D A Y A C A B A I M E R A H P O L A P E M B I A Y A A N U S A H A K E C I L S Y A R I A H ( P

Lebih terperinci

ABSTRAK PENDAHULUAN. Latar Belakang

ABSTRAK PENDAHULUAN. Latar Belakang ISSN: 19797362 Evaluasi Model Pengeringan Lapisan Tipis Jagung (Zea Mays L) Varietas Bima 17 dan Varietas Sukmaraga Fitri Andriani 1, Junaedi Muhidong 1, dan Abdul Waris 1 Program Studi Teknik Pertanian,

Lebih terperinci

Indonesia yang merupakan negara agraris, rang masih bergantung pada hasil-hasil pertaniannya, baik. untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan dan

Indonesia yang merupakan negara agraris, rang masih bergantung pada hasil-hasil pertaniannya, baik. untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan dan I, PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia yang merupakan negara agraris, sampai seka- rang masih bergantung pada hasil-hasil pertaniannya, baik untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan dan negeri, maupun

Lebih terperinci

TINGKAT PERGURUAN TINGGI 2017 (ONMIPA-PT) SUB KIMIA FISIK. 16 Mei Waktu : 120menit

TINGKAT PERGURUAN TINGGI 2017 (ONMIPA-PT) SUB KIMIA FISIK. 16 Mei Waktu : 120menit OLIMPIADE NASIONAL MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM TINGKAT PERGURUAN TINGGI 2017 (ONMIPA-PT) BIDANG KIMIA SUB KIMIA FISIK 16 Mei 2017 Waktu : 120menit Petunjuk Pengerjaan H 1. Tes ini terdiri atas

Lebih terperinci

SEKSI MANAJEMEN DAN INFORMASI SUBDIN PERENCANAAN KESEHATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA TENGAH JL. PIERRE TENDEAN NO. 24 SEMARANG

SEKSI MANAJEMEN DAN INFORMASI SUBDIN PERENCANAAN KESEHATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA TENGAH JL. PIERRE TENDEAN NO. 24 SEMARANG SEKSI MANAJEMEN DAN INFORMASI SUBDIN PERENCANAAN KESEHATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA TENGAH JL. PIERRE TENDEAN NO. 24 SEMARANG BAB I PENDAHULUAN 1.1.LAT AR BELAKANG Penyusunan Data Khusus merupakan

Lebih terperinci

(1) Kebun Percobaan (KP) Muara, untuk pengadaan benih. (persilangan-persilangan) dan menanam tanaman makanan

(1) Kebun Percobaan (KP) Muara, untuk pengadaan benih. (persilangan-persilangan) dan menanam tanaman makanan 3. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Percobaan dilakukan di dua tempat pada Balai Penelitian Tanaman Pangan Bogor, yaitu : (1) Kebun Percobaan (KP) Muara, untuk pengadaan benih (persilangan-persilangan)

Lebih terperinci

LAMPIRAN KUESIONER PENDAHULUAN 1.2 KUESIONER PENELITIAN. Universitas Kristen Maranatha

LAMPIRAN KUESIONER PENDAHULUAN 1.2 KUESIONER PENELITIAN. Universitas Kristen Maranatha LAMPIRAN 1 1.1 KUESIONER PENDAHULUAN 1.2 KUESIONER PENELITIAN Universitas Kristen Maranatha L1-2 KUESIONER PENDAHULUAN yang tehormat, saya mahasiswi Teknik Indusrti Universitas Maranatha sedang melakukan

Lebih terperinci

PEMBAHASAN L? Respons tanaman padi terhadap pemupukan nitrogen yang. sebagai persawahan dianggap masih belum memuaskan.

PEMBAHASAN L? Respons tanaman padi terhadap pemupukan nitrogen yang. sebagai persawahan dianggap masih belum memuaskan. PEMBAHASAN L? Respons tanaman padi terhadap pemupukan nitrogen yang dilakukan setelah beberapa tahun daerah pasang surut dibuka sebagai persawahan dianggap masih belum memuaskan. Salah satu penyebabnya

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat. B. Alat dan Bahan. C. Parameter Pengeringan dan Mutu Irisan Mangga

METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat. B. Alat dan Bahan. C. Parameter Pengeringan dan Mutu Irisan Mangga III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Kegiatan penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Mei 2011 sampai dengan Agustus 2011 di Laboratorium Pindah Panas serta Laboratorium Energi dan Elektrifikasi

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Batch Dryer, timbangan, stopwatch, moisturemeter,dan thermometer.

METODE PENELITIAN. Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Batch Dryer, timbangan, stopwatch, moisturemeter,dan thermometer. III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2013, di Laboratorium Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung B. Alat dan Bahan Alat yang

Lebih terperinci

HIDROMETEOROLOGI Tatap Muka Ke 6 (KELEMBABAN UDARA)

HIDROMETEOROLOGI Tatap Muka Ke 6 (KELEMBABAN UDARA) HIDROMETEOROLOGI Tatap Muka Ke 6 (KELEMBABAN UDARA) Dosen : DR. ERY SUHARTANTO, ST. MT. JADFAN SIDQI FIDARI, ST. MT. js1 1. Kelembaban Mutlak dan Relatif Kelembaban udara menggambarkan kandungan uap air

Lebih terperinci

Dl PERAIRAN SELATAN JAWA - SUMBAWA

Dl PERAIRAN SELATAN JAWA - SUMBAWA SUATU STUD1 TENTAWG TOPOGRAFI DINAMIK Dl PERAIRAN SELATAN JAWA - SUMBAWA PADA BULAN MARET - APRIL 1990 SKRIPSI Oleh AGUS SALEH ATMADIPOERA C 23.0448 PROGRAM STUD1 ILMU DAN TEI(NOL0GI KELAUTAN FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bergesernya selera masyarakat pada jajanan yang enak dan tahan lama

BAB I PENDAHULUAN. Bergesernya selera masyarakat pada jajanan yang enak dan tahan lama BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bergesernya selera masyarakat pada jajanan yang enak dan tahan lama dalam penyimpanannya membuat salah satu produk seperti keripik buah digemari oleh masyarat. Mereka

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK PEMBEKUAN VAKUM PULP MARKISA. Vacuum Freezing Characteristics of Passion Fruit. Abstract

KARAKTERISTIK PEMBEKUAN VAKUM PULP MARKISA. Vacuum Freezing Characteristics of Passion Fruit. Abstract KARAKTERISTIK PEMBEKUAN VAKUM PULP MARKISA Vacuum Freezing Characteristics of Passion Fruit Armansyah H. am bun an', Ainun oh an ah*, dan Y. Aris ~urwanto' Abstract Pemilihan metode pembekuan merupakan

Lebih terperinci

IGDUDUKAII IIIAI( IIIGI(IT DALAiI PEIYARISAI{ ME]IURUI HUI(UiI ADAT IATUA

IGDUDUKAII IIIAI( IIIGI(IT DALAiI PEIYARISAI{ ME]IURUI HUI(UiI ADAT IATUA IGDUDUKAII IIIAI( IIIGI(IT DALAiI PEIYARISAI{ ME]IURUI HUI(UiI ADAT IATUA ABSTRAK SKRIPSI OtEH NINIES SUJANTI NRP 28AO244 N RM 88. 7. 001. 12921. 96159 FAI(ULTAS HUI(UM UIIIYERSIIAS SURABAYA SURAEAYA t994

Lebih terperinci

was conducted for rotating the supervising at The Health Servi ces Research and Development Centre. ta get an opt i ma1

was conducted for rotating the supervising at The Health Servi ces Research and Development Centre. ta get an opt i ma1 DE-N PENENTUAN "KEPALA URUSANn PROGRAM LINLER (ASSIGNMENT.METHOD) C.Handono, Mas Machriono, Haryadi Suparto Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan di Surabaya 1 ABSTRACT An Operational Research

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENYIMPANAN KOPI Penyimpanan kopi dilakukan selama 36 hari. Penyimpanan ini digunakan sebagai verifikasi dari model program simulasi pendugaan kadar air biji kopi selama penyimpanan

Lebih terperinci

PENOAHULUAN. Umum. Proses produksi pertanian dapat dipandang sebagai tindak manipula-

PENOAHULUAN. Umum. Proses produksi pertanian dapat dipandang sebagai tindak manipula- PENOAHULUAN Umum Proses produksi pertanian dapat dipandang sebagai tindak manipula- si agronomi, di mana energi matahari bersama-sama dengan input energi dari saranaproduksi diubah menjadi energi hayati

Lebih terperinci

BAB V ANALISA HASIL PERHITUNGAN DAN PENGUJIAN

BAB V ANALISA HASIL PERHITUNGAN DAN PENGUJIAN 64 BAB V ANALISA HASIL PERHITUNGAN DAN PENGUJIAN a. Beban Pengeringan Dari hasil perhitungan rancangan alat pengering ikan dengan pengurangan kadar air dari 7% menjadi 1% dari 6 kg bahan berupa jahe dengan

Lebih terperinci

Pembuka. JAMINAN HIDUP KEKAL do = g 3/4 1/4 =

Pembuka. JAMINAN HIDUP KEKAL do = g 3/4 1/4 = Pembuka JAMINAN HIDUP KEKAL do = g 3/4 1/4 = 5. 6. 6. 1 2. 1 3.. 1. Ya Tu-han yang ma - ha ra - - him Ya Tu-han yang ma - ha ba - - ik Ya Tu-han yang ma - ha mu - - rah 5. 6.. 1. 4. 3 2... 0 de- ngar -

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Pohon mahkota dewa.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Pohon mahkota dewa. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Buah Mahkota Dewa Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa [Scheff.] Boerl.) bisa ditemukan di pekarangan sebagai tanaman hias atau di kebun-kebun sebagai tanaman peneduh. Asal tanaman

Lebih terperinci

For my parents, my brother and sisters, and Jovi ta Sutrisna

For my parents, my brother and sisters, and Jovi ta Sutrisna For my parents, my brother and sisters, and Jovi ta Sutrisna RBHGANGAH DAM UBI TEKNIS RUAWG PEHGERING eabkb YlPE BAK VERTIKAL BERKISI -KI%I GARDA "193 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAM BOGOR

Lebih terperinci

For my parents, my brother and sisters, and Jovi ta Sutrisna

For my parents, my brother and sisters, and Jovi ta Sutrisna For my parents, my brother and sisters, and Jovi ta Sutrisna RBHGANGAH DAM UBI TEKNIS RUAWG PEHGERING eabkb YlPE BAK VERTIKAL BERKISI -KI%I GARDA "193 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAM BOGOR

Lebih terperinci

MODEL SISTEM DAN ANALISA PENGERING PRODUK MAKANAN

MODEL SISTEM DAN ANALISA PENGERING PRODUK MAKANAN MODEL SISTEM DAN ANALISA PENGERING PRODUK MAKANAN Abstrak Pengeringan adalah sebuah prses dimana kelembaban dari sebuah prduk makanan dikurangi agar rasa, dan bentuk tetap terjaga dengan meningkatnya kemampuan

Lebih terperinci

segala kerajaan, dan Dia Haha atas segala sesuatu ".(QS A1 Hulk :1) Kupersemhahkan sebagai baktiku kepada Ayahanda tercinta telah jauh di alam sana,

segala kerajaan, dan Dia Haha atas segala sesuatu .(QS A1 Hulk :1) Kupersemhahkan sebagai baktiku kepada Ayahanda tercinta telah jauh di alam sana, '' Haha Suei Allah Yang di tangan-nyalah segala kerajaan, dan Dia Haha Kuasa atas segala sesuatu ".(QS A1 Hulk :1) Kupersemhahkan sebagai baktiku - kepada Ayahanda tercinta yang telah jauh di alam sana,

Lebih terperinci

segala kerajaan, dan Dia Haha atas segala sesuatu ".(QS A1 Hulk :1) Kupersemhahkan sebagai baktiku kepada Ayahanda tercinta telah jauh di alam sana,

segala kerajaan, dan Dia Haha atas segala sesuatu .(QS A1 Hulk :1) Kupersemhahkan sebagai baktiku kepada Ayahanda tercinta telah jauh di alam sana, '' Haha Suei Allah Yang di tangan-nyalah segala kerajaan, dan Dia Haha Kuasa atas segala sesuatu ".(QS A1 Hulk :1) Kupersemhahkan sebagai baktiku - kepada Ayahanda tercinta yang telah jauh di alam sana,

Lebih terperinci

MODEL MW'BEMBTIK PEN CENGREM (

MODEL MW'BEMBTIK PEN CENGREM ( MODEL MW'BEMBTIK PEN CENGREM ( Oleh 1 9 8 7 F6pKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN lnstltut PERTANIAN BOGOR B O G O R Choirul Anwar. F 20.1742. Model matematik pengeringan la- pisan tipis cengkeh (Eugenia cargophyllus

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 KENTANG (SOLANUM TUBEROSUM L.) Tumbuhan kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan komoditas sayuran yang dapat dikembangkan dan bahkan dipasarkan di dalam negeri maupun di luar

Lebih terperinci

BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 5. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian kali ini, difokuskan pada pengrajin gerabah yang ada di desa Kesilir Kcamatan wuluhan Kabupaten Jember. K egiatan yang telah dilakukan tim pelaksana dimulai

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2013 sampai Maret 2013 di

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2013 sampai Maret 2013 di III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2013 sampai Maret 2013 di Laboratorium Daya dan Alat Mesin Pertanian Jurusan Teknik Pertanian,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Komoditas hasil pertanian, terutama gabah masih memegang peranan

I. PENDAHULUAN. Komoditas hasil pertanian, terutama gabah masih memegang peranan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Komoditas hasil pertanian, terutama gabah masih memegang peranan penting sebagai bahan pangan pokok. Revitalisasi di bidang pertanian yang telah dicanangkan Presiden

Lebih terperinci

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN DESAIN. Secara keseluruhan desain yang diterapkan dalam perancangan ulang kemasan produk

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN DESAIN. Secara keseluruhan desain yang diterapkan dalam perancangan ulang kemasan produk BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN DESAIN Secara keseluruhan desain yang diterapkan dalam perancangan ulang kemasan produk enye-enye Ny. Ing ini menggunakan elemen-elemen desain yang dapat mendukung tone and manner

Lebih terperinci

DAFTAR PENILAIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN PEGAWAI NON AKADEMIK UKSW

DAFTAR PENILAIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN PEGAWAI NON AKADEMIK UKSW Lampiran 1 : Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Non Akademik - UKSW DAFTAR PENILAIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN PEGAWAI NON AKADEMIK UKSW Waktu Penilaian : YANG DINILAI a. Nama b. NIP c. Pangkat,

Lebih terperinci

Suplemen Ibadat Pagi

Suplemen Ibadat Pagi Suplemen Ibadat Pagi PESTA ST. AGUSTINUS DARI HIPPO Kamis, 28 Agustus 2017 KUNJUNGAN KE MAKAM Setelah Doa Penutup, para pastor, frater, serta umat yang hadir berarak menuju makam di belakang kapel diiringi

Lebih terperinci

PENANGANAN PANEN DAN PASCA PANEN

PENANGANAN PANEN DAN PASCA PANEN PENANGANAN PANEN DAN PASCA PANEN Perbaikan mutu benih (fisik, fisiologis, dan mutu genetik) untuk menghasilkan benih bermutu tinggi tetap dilakukan selama penanganan pasca panen. Menjaga mutu fisik dan

Lebih terperinci

UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PKN MELALUI METODE QUANTUM TEACHING DI MADRASAH IBTIDAIYAH

UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PKN MELALUI METODE QUANTUM TEACHING DI MADRASAH IBTIDAIYAH Available online at website : http://e-journal.adpgmiindonesia.com/index.php/jmie JMIE: Journal of Madrasah Ibtidaiyah Education, 1(2), 2017, 207-216 UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PKN MELALUI METODE

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam usahanya untuk mencapai tujuan, perusahaan melaksanakan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam usahanya untuk mencapai tujuan, perusahaan melaksanakan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam usahanya untuk mencapai tujuan, perusahaan melaksanakan aktivitas-aktivitas finansial, produksi, maupun marketi ng, dengan berdasar pada perencanaan-perencanaan

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN OVEN BERKAPASITAS 0,5 KG BAHAN BASAH DENGAN PENAMBAHAN BUFFLE UNTUK MENGARAHKAN SIRKULASI UDARA PANAS DI DALAM OVEN

RANCANG BANGUN OVEN BERKAPASITAS 0,5 KG BAHAN BASAH DENGAN PENAMBAHAN BUFFLE UNTUK MENGARAHKAN SIRKULASI UDARA PANAS DI DALAM OVEN RANCANG BANGUN OVEN BERKAPASITAS 0,5 KG BAHAN BASAH DENGAN PENAMBAHAN BUFFLE UNTUK MENGARAHKAN SIRKULASI UDARA PANAS DI DALAM OVEN Oleh : FARIZ HIDAYAT 2107 030 011 Pembimbing : Ir. Joko Sarsetyanto, MT.

Lebih terperinci