FORMULASI TABLET KUNYAH EKSTRAK ETANOL KAYU SECANG

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "FORMULASI TABLET KUNYAH EKSTRAK ETANOL KAYU SECANG"

Transkripsi

1 FORMULASI TABLET KUNYAH EKSTRAK ETANOL KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L.) DENGAN VARIASI KONSENTRASI BAHAN PENGIKAT POLIVINILPIROLIDON SECARA GRANULASI BASAH TUGAS AKHIR Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Ahli Madya D3 Farmasi Oleh : FITRI RAHAYU M DIPLOMA 3 FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA commit 2012 to user

2 HALAMAN PENGESAHAN TUGAS AKHIR FORMULASI TABLET KUNYAH EKSTRAK ETANOL KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L.) DENGAN VARIASI KONSENTRASI BAHAN PENGIKAT POLIVINILPIROLIDON SECARA GRANULASI BASAH Oleh: FITRI RAHAYU M Telah dipertahankan di depan Tim Penguji pada tanggal 30 Juli 2012 Dan dinyatakan telah memenuhi syarat Pembimbing Surakarta, 30 Juli 2012 Penguji I Nestri Handayani, M.Si., Apt NIP Ahmad Ainurofiq, M.Si., Apt NIP Penguji II Mengesahkan Yeni Farida, S.Farm., Apt. NIP Dekan FMIPA UNS Ketua Program D3 Farmasi Prof. Ir. Ari Handono Ramelan, M.Sc.(Hons), Ph.D NIP Ahmad Ainurofiq, M.Si., Apt NIP

3 PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa tugas akhir saya yang berjudul FORMULASI TABLET KUNYAH EKSTRAK ETANOL KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L.) DENGAN VARIASI KONSENTRASI BAHAN PENGIKAT POLIVINILPIROLIDON SECARA GRANULASI BASAH adalah hasil penelitian saya sendiri dan tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar apapun di suatu perguruan tinggi, serta tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Apabila di kemudian hari dapat ditemukan adanya unsur penjiplakan maka gelar yang telah diperoleh dapat ditinjau dan/atau dicabut. Surakarta, Juli 2012 Fitri Rahayu M

4 FORMULASI TABLET KUNYAH EKSTRAK ETANOL KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L.) DENGAN VARIASI KONSENTRASI BAHAN PENGIKAT POLIVINILPIROLIDON SECARA GRANULASI BASAH FITRI RAHAYU Jurusan D3 Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret INTISARI Tablet kunyah merupakan suatu bentuk pengobatan yang dapat diberikan kepada orang yang sulit menelan obat utuh. Orang yang menderita hiperurisemia mengalami peningkatan kadar asam urat diatas normal. Berdasarkan penelitian terdahulu secang (Caesalpinia sappan L.) diketahui memiliki aktivitas sebagai penurun asam urat pada dosis 40mg/kg bb melalui pengujian pada tikus putih. Penelitian ini menggunakan PVP sebagai bahan pengikat tablet dengan 3 variasi konsentrasi yaitu 1%, 3% dan 5% yang dibuat dengan metode granulasi basah. Setiap formula dilakukan uji sifat fisik granul dan tablet kunyah. Data yang diperoleh dibandingkan dengan acuan standar dan dianalisa menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Data yang terdistribusi normal dianalisa menggunakan Anova dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi konsentrasi PVP berpengaruh terhadap kekerasan dan kerapuhan tablet kunyah. Berdasarkan hasil yang diperoleh, Formula I (1%) dan Formula II (3%) memenuhi syarat kekerasan namun tidak memenuhi syarat uji kerapuhan. Sedangkan Formula III memenuhi syarat tablet kunyah dengan kekerasan 4,33 kg dan kerapuhan 2,99% sehingga disimpulkan Formula III dengan konsentrasi PVP 5% menghasilkan tablet kunyah dengan sifat fisik terbaik dan memenuhi syarat menurut pustaka. Kata kunci: Caesalpinia sappan L., PVP, tablet kunyah, granulasi basah.

5 CHEWABLE TABLET FORMULATION OF SECANG WOOD (Caesalpinia sappan L.) ETHANOL EXTRACT WITH THE VARIATIONS OF POLIVINILPIROLIDON CONCENTRATION AS THE BINDER BY WET GRANULATION FITRI RAHAYU Department of Pharmacy, Faculty of Mathematic and Science Sebelas Maret University ABSTRACT Chewable tablet is a kind of medicine that can be given to the person who has difficulty in swallowing the whole tablet. The hyperuricemia-diagnosed person has the increasing level of uric acid concentration higher than the normal limit. Based on previous research, secang wood (Caesalpinia sappan L.) is known to reduce uric acid at a dose of 40mg/kg of weight tested in rats. This study uses PVP as the tablet binder in the variations; 1%, 3%, and 5% concentration made by wet granulation. Each formula has been tested physical properties of granules and chewable tablets. The data collected was compared to the reference and analyzed by using the Kolmogorov-Smirnov. The normally distributed data was analyzed with Anova in 95% reliability standard. The research show that the variations of concentration of PVP affect the hardness and friability of chewable tablets. Based on the result, Formula I (1%) and Formula II (3%) were eligible for the hardness test but they were not approved by friability test. Formula III is eligible for chewable tablet with 4.33 kg hardness and 2.99% friability. It can be concluded that Formula III with 5% concentration of PVP produces the chewable tablet with the best physical properties and meets the qualification of the reference. Key words: Caesalpinia sappan L., PVP, chewable tablet, wet granulation.

6 MOTTO Percaya adalah awal dari segalanya dan pengalaman mengajarkan segalanya (Penulis) Ketika seorang hamba merasa putus asa dan tidak ada lagi jalan keluar dari kesulitan yang dialaminya, maka saat itulah jalan keluar akan datang (QS. Yusuf 110) Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan dalam setiap sesuatu pasti ada baiknya (HR. Muslim)

7 PERSEMBAHAN Tugas Akhir ini Kupersembahkan untuk: Ibu dan Bapak tercinta, dan kakak-kakak tersayang

8 KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan segala rahmat dan karunia- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dengan judul Formulasi Tablet Kunyah Ekstrak Etanol Kayu Secang dengan Variasi Konsentrasi Bahan Pengikat Polivinilpirolidon secara Granulasi Basah dengan lancar. Penyusunan tugas akhir ini dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar Ahli Madya Farmasi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulisan tugas akhir ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Prof. Ir. Ari Handono Ramelan, M.Sc.,(Hons).,Ph.D. selaku Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2. Ahmad Ainurofiq, M.Si., Apt. selaku Ketua Progam Studi D3 Farmasi FMIPA UNS. 3. Nestri Handayani, M.Si., Apt. selaku pembimbing tugas akhir yang telah memberikan banyak petunjuk, masukan serta dukungan selama pembuatan tugas akhir dan selaku pembimbing akademik yang telah memberikan pengarahan selama menjadi mahasiswa D3 Farmasi. 4. Segenap dosen dan staff jurusan D3 Farmasi yang telah banyak memberikan ilmu dan pelajaran berharga.

9 5. Ibu dan bapak serta kakak-kakak yang selalu mendampingi serta tidak hentihentinya memberikan dukungan, semangat dan kasih sayang. 6. Sahabat-sahabat yang selalu memberikan senyuman dan semangat di saat suka maupun duka. 7. Teman-teman seperjuangan, semua mahasiswa Diploma 3 Farmasi 2009 yang selalu siap memberikan dukungan dan bantuan. 8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah membantu penulis dalam penyusunan tugas akhir. Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran dalam rangka perbaikan tugas akhir ini. Semoga tugas akhir ini bermanfaat bagi semua pihak. Surakarta, Juli 2012 Penulis

10 DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN. PERNYATAAN.. INTISARI... ABSTRACT.... MOTTO..... PERSEMBAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... DAFTAR SINGKATAN... BAB I PENDAHULUAN.. A. Latar Belakang Masalah... B. Perumusan Masalah... C. Tujuan Penelitian... D. Manfaat Penelitian.. i ii iii iv vii vi vii viii x xii xiii xiv xv BAB II TINJAUAN PUSTAKA.. A. Tanaman Secang. B. Tinjauan Ekstrak. C. Tinjauan Tablet... D. Kerangka Pemikiran... E. Hipotesis BAB III METODE PENELITIAN... A. Alat dan Bahan

11 B. Waktu dan Tempat. C. Metode Penelitian dan Cara Kerja.. D. Analisa Data BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... A. Hasil Determinasi... B. Hasil Pengolahan Simplisia.... C. Hasil Pembuatan Ekstrak..... D. Pemeriksaan Organoleptis Ekstrak..... E. Pembuatan Granul.. F. Hasil Sifat Fisik Granul.. G. Hasil Sifat Fisik Tablet... H. Hasil Uji Tanggap Rasa BAB V PENUTUP..... A. Kesimpulan... B. Saran.. DAFTAR PUSTAKA. LAMPIRAN

12 DAFTAR TABEL Halaman Tabel I. Persyaratan Penyimpangan Bobot Tablet... Tabel II. Formula Tablet Kunyah Ekstrak Kayu Secang... Tabel III. Hasil Pemeriksaan Organoleptis Ekstrak... Tabel IV. Hasil Pemeriksaan Sifat Fisik Granul... Tabel V. Hasil Uji LSD Waktu Alir Tanpa Pelicin... Tabel VI. Hasil Uji LSD Waktu Alir Dengan Pelicin... Tabel VII. Hasil Uji LSD Pengetapan... Tabel VIII. Hasil Pemeriksaan Sifat Fisik Tablet... Tabel IX. Hasil Perhitungan Rentang Keseragaman Bobot... Tabel X. Hasil Uji LSD Kekerasan Tablet... Tabel XI. Hasil Uji LSD Kerapuhan Tablet

13 DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Kayu secang (Caesalpinia sappan L.)... Gambar 2. Pengikatan Pada Pembentukan Granul... Gambar 3. Diagram Perbandingan Waktu Alir Granul Tanpa dan Dengan Pelicin... Gambar 4. Diagram Perbandingan Sudut Diam Granul Tanpa dan Dengan Pelicin... Gambar 5. Diagram Indeks Pengetapan Granul... Gambar 6. Diagram CV Keseragaman Bobot... Gambar 7. Diagram Hasil Kekerasan Tablet... Gambar 8. Diagram Hasil Kerapuan Tablet... Gambar 9. Diagram Uji Rasa Formula I, II dan III... Gambar 10. Diagram Kekerasan Menurut Responden... Gambar 11. Diagram Uji Kesukaan

14 DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Diagram Alir Cara Kerja... Lampiran 2. Perhitungan Randemen Ekstrak... Lampiran 3. Perhitungan Penggunaan Bahan Pengikat... Lampiran 4. Foto Hasil Tablet Kunyah... Lampiran 5. Hasil Pemeriksaan Sifat Fisik Granul... Lampiran 6. Hasil Pemeriksaan Sifat Fisik Tablet... Lampiran 7. Analisa Statistik Waktu Alir Granul Tanpa Pelicin... Lampiran 8. Analisa Statistik Waktu Alir Granul Dengan Pelicin... Lampiran 9. Analisa Statistik Sudut Diam Granul Tanpa Pelicin... Lampiran 10. Analisa Statistik Sudut Diam Granul Dengan Pelicin... Lampiran 11. Analisa Statistik Pengetapan Granul... Lampiran 12. Analisa Statistik Keseragaman Bobot Tablet... Lampiran 13. Analisa Statistik Kekerasan Tablet... Lampiran 14. Analisa Statistik Kerapuhan Tablet

15 DAFTAR SINGKATAN SD PVP F I F II F III mg Mg Stearat ml mm cm = Sprague Dawley = Polivinilpirolidon = Formula I = Formula II = Formula III = miligram = Magnesium stearat = mililiter = milimeter = centimeter

16 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Hiperurisemia merupakan suatu keadaan dimana terjadi peningkatan kadar asam urat darah di atas normal yaitu >7 mg/dl pada laki-laki dan >6 mg/dl pada perempuan. Hiperurisemia dapat terjadi akibat dari peningkatan metabolisme asam urat (overproduction), penurunan ekskresi asam urat urin (underexcretion), atau gabungan keduanya (Hidayat, 2009). Pengobatan hiperurisemia dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti dengan pengaturan pola makan dan pemberian obat-obat sintetis yang banyak tersedia di pasaran. Namun obat sintetis tersebut dapat menimbulkan berbagai macam efek samping seperti mual, muntah, ruam kulit, reaksi hipersensitif, dan lain-lain. Perkembangan yang terjadi saat ini, masyarakat mulai tertarik menggunakan pengobatan alami yang berasal dari tanaman obat karena dinilai tidak menimbulkan efek samping (Misnadiarly, 2007). Tumbuhan obat asli Indonesia mempunyai kandungan senyawa flavonoida yang tinggi, aman digunakan serta mudah diperoleh untuk pencegahan pembentukan asam urat dalam tubuh. Senyawa flavonoid yang bersifat antioksidan dapat menghambat kerja enzim xantin oksidase dan reaksi superoksida, sehingga pembentukan asam urat terhambat atau berkurang (Kosman dan Herman, 2009). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Triyono (2005),

17 tanaman secang memiliki aktivitas sebagai penurun asam urat dengan dosis 40mg/kg bb yang diujikan pada tikus putih jantan galur Sprague Dawley (SD). Kayu secang adalah potongan-potongan atau serutan-serutan kayu Caesalpinia sappan L. (Anonim, 1977). Hasil isolasi yang dilakukan terhadap ekstrak kayu secang menunjukkan bahwa komponen utama yang terkandung di dalamnya adalah brazilin, dimana brazilin termasuk ke dalam golongan flavonoid sebagai isoflavonoid (Holinesti, 2009). Sebagian orang mengalami kesulitan dalam menelan tablet dan kapsul karena alasan fisiologi dan psikologi, dan sering masalah ini berlanjut sampai usia dewasa (Agoes, 2008). Tablet kunyah dimaksudkan untuk di kunyah di mulut sebelum ditelan, bertujuan untuk memberikan suatu bentuk pengobatan yang dapat diberikan dengan mudah kepada anak-anak atau orang tua yang mungkin sukar menelan obat utuh (Banker and Anderson, 1986). Dalam pembuatan tablet dibutuhkan berbagai macam bahan tambahan. Salah satu bahan tambahan yang penting dalam pembuatan tablet adalah bahan pengikat. Bahan pengikat berfungsi untuk memberikan kekompakkan dan daya tahan tablet, sehingga menjamin penyatuan beberapa partikel serbuk dalam sebutir granul. Salah satu bahan pengikat yang sering digunakan adalah polivinilpirolidon. Polivinilpirolidon (PVP/ Povidon) diperoleh melalui polimerisasi dari N- vinilpirolidon. Massa molekul rata-ratanya tergantung tingkat polimerisasinya berjumlah sampai (Voight, 1994). Bobot molekul tinggi menunjukkan sifat pengikat yang lebih baik pada konsentrasi rendah. PVP larut dalam air dan alkohol dan untuk penggranulasi biasa digunakan dalam bentuk

18 larutan, atau dapat pula dicampur kering dengan bahan aktif, baru kemudian digranulasi basah dengan air atau alkohol (Agoes, 2008). Sebagai bahan pengikat dalam pembuatan tablet, PVP biasa digunakan dalam konsentrasi 0,5 5% (Rowe dkk, 2009). Penelitian yang dilakukan oleh Wuridha (2007) menunjukkan bahwa tablet ekstrak rimpang temu putih menggunakan bahan pengikat PVP dengan konsentrasi 2 5 % menghasilkan tablet yang memenuhi persyaratan standar tablet yang berlaku. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Purwani (2006) menunjukkan PVP dengan konsentrasi 0,5 2 % sudah mampu untuk menghasilkan tablet ekstrak daun dewa yang memenuhi persyaratan keseragaman bobot, kekerasan, dan waktu hancur tablet Berdasarkan uraian tersebut, maka dilakukan penelitian tentang variasi konsentrasi polivinilpirolidon sebagai bahan pengikat dalam formulasi tablet kunyah untuk meningkatkan sifat fisis dari tablet ekstrak etanol kayu secang yang dibuat secara granulasi basah yang berguna bagi perkembangan obat herbal. B. PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan suatu permasalahan yaitu: 1. Apakah ekstrak etanol kayu secang (Caesalpinia sappan L.) dapat dibuat tablet kunyah yang memenuhi persyaratan? 2. Bagaimana sifat fisis tablet kunyah yang dibuat dari ekstrak etanol kayu secang (Caesalpinia sappan L.) dengan bahan pengikat polivinilpirolidon?

19 3. Pada konsentrasi berapakah polivinilpirolidon sebagai bahan pengikat yang dapat menghasilkan formula tablet kunyah terbaik ditinjau dari sifat fisisnya? C. TUJUAN PENELITIAN 1. Mendapatkan formulasi tablet kunyah ekstrak etanol kayu secang (Caesalpinia sappan L.) yang memenuhi persyaratan. 2. Mengetahui sifat fisis tablet kunyah yang dibuat dari ekstrak etanol kayu secang (Caesalpinia sappan L.) dengan bahan pengikat polivinilpirolidon. 3. Mengetahui konsentrasi polivinilpirolidon sebagai bahan pengikat yang dapat menghasilkan formula tablet kunyah terbaik. D. MANFAAT PENELITIAN Manfaat dari penelitian ini antara lain : 1. Diperoleh formulasi tablet kunyah ekstrak etanol kayu secang (Caesalpinia sappan L.) yang menghasilkan sifat fisis terbaik sebagai obat asam urat sehingga mempermudah penderita yang sulit menelan tablet. 2. Memperluas penggunaan kayu secang (Caesalpinia sappan L.) sebagai alternatif dalam pengobatan asam urat tanpa menimbulkan efek samping atau dengan efek samping relatif kecil bila dibandingkan dengan obat sintetis. 3. Meningkatkan kepatuhan penderita asam urat dalam mengkonsumsi obat karena dikemas dalam bentuk tablet kunyah dengan rasa yang tidak pahit dan penggunaannya yang praktis.

20 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman Secang Gambar 1. Kayu secang (Caesalpinia sappan L.) 1. Klasifikasi tanaman secang (Caesalpinia sappan L.) Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Class Ordo Famili Genus Spesies : Dicotyledone : Rosales : Leguminoceae : Caesalpinia : Caesalpinia sappan Linn 2. Deskripsi tanaman Semak atau pohon kecil, tinggi sampai 10 m. Ranting-ranting berlentisel dan berduri, bentuk duri bengkok, tersebar. Daun majemuk, panjang 25 cm sampai 40 cm, bersirip, panjang sirip 9 cm sampai 15 cm; setiap sirip mempunyai 10 sampai 20 pasang anak daun yang berhadapan. Anak daun tidak bertangkai,

21 bentuk lonjong, pangkal hampir romping, ujung bundar serta sisinya agak sejajar, panjang anak daun 10 mm sampai 25 mm, lebar 3 mm sampai 11 mm. Perbungaan berupa malai, terdapat di ujung, panjang malai 10 cm sampai 40 cm, panjang gagang bunga 15 cm sampai 20 cm; pinggir kelopak berambut, panjang daun kelopak yang terbawah lebih kurang 10 mm, lebar lebih kurang 4 mm, empat daun kelopak lainnya panjang lebih kurang 7 mm, lebar lebih kuranng 4 mm; tajuk memencar berwarna kuning, helaian bendera membundar bergaris tengah 4 mm sampai 6 mm, empat helai daun tajuk lainnya juga membundar dan bergaris tengah lebih kurang 10 mm; panjang benangsari lebih kurang 15 mm. Panjang putik lebih kurang 18 mm. Polong berwarna hitam, panjang 8 cm sampai 10 cm, lebar 3 cm sampai 4 cm, berisi 3 sampai 4 biji, panjang biji 15 mm sampai 18 mm, lebar 8 mm sampai 11 mm, tebal 5 mm sampai 7mm (Anonim, 1977). 3. Kandungan kimia Minyak atsiri, benzopiran sapanin, brazilin, kaesalpin J, kaesalpin P, sapanon A, sapanon B, protosapanin A, protosapanin B, 1,4 dihidrospiro[benzopiran-3(2h),3 - [3H-2]benzopiran]-1,6,6 7 -tetrol dan 3- [(3,4-dihidroksifenil)metal]- 3,4-dihidro-4-metoksi-2H-1-benzopiran-3,7-diol (Anonim, 2004). Selain itu kayu secang juga mengandung tannin dan asam galat (Anonim, 1977) 4. Manfaat Hasil isolasi yang dilakukan terhadap ekstrak kayu secang menunjukkan bahwa komponen utama yang terkandung di dalamnya adalah brazilin. Brazilin

22 (C 16 H 14 O 5 ) termasuk ke dalam golongan flavonoid sebagai isoflavonoid. Merupakan kristal berwarna kuning, akan tetapi jika teroksidasi akan menghasilkan senyawa brazilein yang berwarna merah kecoklatan dan dapat larut dalam air. Brazilin akan cepat membentuk warna merah jika terkena sinar matahari. Terjadinya warna merah ini disebabkan oleh terbentuknya brazilein (C 16 H ). Pigmen brazilein dapat berfungsi sebagai analgesik, antiinflamasi, antioksidan, antidiabetes, antimikroba, antiaterogenik, pengatur haid, obat diare dan disentri (Holinesti, 2009). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Triyono (2005), ekstrak etanol kayu secang memiliki aktivitas sebagai penurun asam urat dengan dosis 40mg/kg bb dengan pengujian pada tikus putih jantan galur SD. B. Tinjauan Tentang Ekstrak 1. Ekstrak Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Anonim, 1995). Menurut sifatnya, ekstrak dikelompokan menjadi: a. Ekstrak encer (extractum tenue). Sediaan ini memiliki konsistensi seperti madu dan dapat dituang.

23 b. Ekstrak kental (extractum spissum). Sediaan ini liat dalam keadaan dingin dan tidak dapat dituang. Kandungan airnya berjumlah sampai 30%. c. Ekstrak kering (extractum siccum). Memiliki konsistensi kering dan mudah digosokkan. Kandungan lembab tidak lebih dari 5% d. Ekstrak cair (extractum fluidum). Diartikan sebagai suatu ekstrak cair, yang dibuat sedemikian sehingga 1 bagian jamu sesuai dengan 2 bagian (kadangkadang juga 1 bagian) ekstrak cair (Voight, 1994). 2. Metode ekstraksi Metode ekstraksi dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti sifat dari bahan mentah obat dan daya penyesuaian dengan tiap macam metode ekstraksi dan kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang sempurna atau mendekati sempurna dari obat (Ansel, 1989). a. Maserasi Maseration yang berasal dari bahasa Latin macerare yang artinya merendam, merupakan proses paling tepat dimana obat yang sudah halus memungkinkan untuk direndam dalam pelarut sampai meresap dan melunakkan susunan sel, sehingga zat-zat yang mudah larut akan melarut. Obat yang akan diekstraksi biasanya ditempatkan pada wadah atau bejana yang bermulut lebar, bersama pelarut yang telah ditetapkan lalu bejana ditutup rapat isinya dikocok berulang-ulang kemudian disaring (Ansel, 1989). b. Perkolasi Perkolasi merupakan proses dimana obat yang sudah halus diekstraksi dalam pelarut yang cocok dengan cara melewatkan perlahan-lahan melalui obat dalam

24 suatu kolom. Obat dimampatkan dalam alat ekstraksi khusus disebut perkolator. Dalam proses perkolasi, mengalirnya menstruum melalui kolom obat umumnya dari atas ke bawah menuju celah untuk keluar ditarik oleh gaya berat seberat cairan dalam kolom (Ansel, 1989). Sebelum pengisian perkolator terlebih dahulu serbuk dilembabkan dengan menstruum dan dibiarkan mengembang, untuk memudahkan masuknya bahan ekstraksi ke dalam kumpulan sel selama perkolasi (Voight, 1994). c. Sokletasi Bahan yang akan diekstraksi berada dalam sebuah kantung ekstraksi (kertas, karton, dan sebagainya) di dalam sebuah alat ekstraksi dari gelas yang bekerja kontinyu. Wadah gelas yang mengandung kantung diletakkan diantara labu suling dan suatu pendingin aliran balik dan dihubungkan dengan melalui pipa pipet. Labu tersebut berisi bahan pelarut, yang menguap dan mencapai ke dalam pendingin aliran balik melalui pipa pipet, pelarut berkondensasi di dalamnya, menetes ke atas bahan yang diekstraksi dan membawa keluar bahan yang diekstraksi. Larutan berkumpul di dalam wadah gelas. Setelah mencapai tinggi maksimal secara otomatis ditarik ke dalam labu, dengan demikian zat yang terekstraksi tertimbun melalui penguapan kontinyu dari bahan pelarut murni. Selanjutnya bahan obat dipanaskan dalam bagian tengah dari alat, yang langsung berhubungan dengan labu, darinya bahan pelarut diuapkan (Voight, 1994).

25 C. Tinjauan Tablet 1. Pengertian Tablet Tablet merupakan bahan obat dalam bentuk sediaan padat yang biasanya dibuat dengan penambahan bahan tambahan farmasetika yang sesuai. Tablet dapat berbeda-beda dalam ukuran, bentuk, berat, kekerasan, ketebalan, daya hancurnya dan dalam aspek lainnya tergantung cara pemakaian tablet dan metode pembuatannya (Ansel, 1989). Tablet dapat mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah, atau zat lain yang cocok (Anonim, 1979). 2. Bahan Tambahan Tablet Bahan tambahan dalam pembuatan tablet antara lain: a. Bahan pengisi (diluent) Bahan pengisi ditambahkan jika jumlah zat aktif sedikit atau sulit dikempa. Jika kandungan zat aktif kecil, sifat tablet secara keseluruhan ditentukan oleh bahan pengisi yang besar jumlahnya. Bahan pengisi tablet yang umum adalah laktosa, pati, kalsium fosfat dibasa, dan selulosa mikrokristal (Anonim, 1995). b. Bahan pelicin (lubricant) Lubrikan mengurangi gesekan selama proses pengempaan tablet dan juga berguna untuk mencegah massa tablet melekat pada cetakan. Senyawa asam stearat dengan logam, asam stearat, minyak nabati terhidrogenasi dan talk digunakan sebagai lubrikan (Anonim, 1995).

26 c. Bahan pengikat (binder) Bahan pengikat membantu pelekatan partikel dalam formulasi, memungkinkan granul dibuat dan dijaga keterpaduan hasil akhir tabletnya (Ansel, 1989). Bahan pengikat memberikan daya adhesi pada massa serbuk sewaktu granulasi dan pada tablet kempa serta menambah daya kohesi yang telah ada pada bahan pengisi. Zat pengikat dapat ditambahkan dalam bentuk kering, tetapi lebih efektif jika ditambahkan dalam larutan. Bahan pengikat yang umum meliputi gom akasia, gelatin, sukrosa, povidon, metilselulosa, karboksimetilselulosa, dan pasta pati terhidrolisis (Anonim, 1995). Mekanisme pengikatan yang terjadi pada partikel-partikel pembentuk granul adalah: 1). Timbulnya gaya antar permukaan atau gaya kapiler selama pemisahan. Terdapat empat keadaan dalam pembentukan granul, yaitu : a.pendular Pada keadaan ini, ruangan antar partikel diisi sebagian oleh zat pengikat dan membentuk jembatan cair antara partikel. b.funikular Pada keadaan ini, terjadi kenaikan tegangan permukaan kurang lebih tiga kali tahap pendular. c.kapiler Pada keadaan ini semua ruangan antar partikel diisi oleh zat pengikat. Karena adanya gaya kapiler pada permukaan konkaf antara cairan-cairan di permukaan granul, maka akan terjadi pembentukan granul.

27 d. Droplet Pada tahap ini terjadi penutupan partikel oleh tetesan cairan. Kekuatan ikatan dipengaruhi oleh gaya permukaan cairan yang digunakan. Gambar 2. Pengikatan pada pembentukan granul 2). Pembentukan Jembatan Padat Selama pengeringan terbentuk jembatan padat antara partikel-partikel. Jembatan padat terjadi karena salah satu dari dua mekanisme yaitu jembatan padat merupakan zat pengikat yang mengeras atau terdiri dari hablur yang terlarut dalam larutan pengikat. 3). Adanya Gaya Adhesi dan Kohesi Antar Partikel (Newitt and Conway, 1958). 3. Metode Pembuatan Tablet Terdapat 3 metode pembuatan tablet, yaitu metode granulasi basah, metode granulasi kering dan kempa langsung (Ansel, 1989). a. Granulasi basah Granulasi basah atau aglomerasi serbuk dilakukan dengan cara pengadukan/aglitasi serbuk atau campuran serbuk dengan keberadaan cairan yang biasanya berupa larutan pengikat yang sudah dicampurkan dengan serbuk kering. Pembentukan granul berlangsung karena efek ikatan mobil-liquid yang terbentuk antara partikel primer. Prosesnya meliputi tahap-tahap berikut: 1) Deaglomerasi bahan awal dengan penggilingan atau pengayakan

28 2) Pencampuran kering bahan awal 3) Penambahan cairan dan pembentukan masa basah/lembab 4) Pengayakan masa basah untuk menghilangkan bongkahan besar 5) Pengeringan 6) Penggilingan/pengayakan granulasi kering untuk mencapai ukuran granul yang sesuai (Agoes, 2008). b. Granulasi kering Pada metode granulasi kering, granul dibentuk oleh kelembaban atau penambahan bahan pengikat ke dalam campuran serbuk obat tetapi dengan cara memadatkan massa yang jumlahnya besar dari campuran serbuk dan setelah itu memecahkannya dan menjadikan pecahan-pecahan ke dalam granul yang lebih kecil. Metode ini khususnya untuk bahan-bahan yang tidak dapat diolah dengan metode granulasi basah, karena kepekaannya terhadap uap air atau karena untuk mengeringkannya diperlukan temperatur yang dinaikkan (Ansel, 1989). c. Kempa langsung Beberapa granul memiliki sifat mudah mengalir sebagaimana juga sifat-sifat kohesifnya yang memungkinkan untuk langsung dikompresi dalam mesin tablet tanpa memerlukan granulasi basah atau kering (Ansel, 1989). 4. Tablet Kunyah Tablet kunyah adalah tablet yang dimaksudkan untuk hancur perlahanlahan dalam mulut dengan kecepatan yang wajar dengan atau tanpa mengunyah dengan sesungguhnya. Karakteristik tablet kunyah memiliki bentuk yang halus setelah hancur, mempunyai rasa yang enak dan tidak meninggalkan rasa pahit

29 atau tidak enak (Ansel, 1989). Tablet kunyah dikatakan sebagai tablet spesial, yang digigit hingga hancur dan ditelan. Memiliki rasa aromatis yang menyenangkan, mengandung tanpa bahan penghancur (Voight, 1994). Tujuan dari tablet kunyah adalah untuk memberikan suatu bentuk pengobatan yang dapat diberikan dengan mudah kepada anak-anak atau orang tua, yang mungkin sukar menelan obat utuh (Banker and Anderson, 1986). Tablet kunyah pada umumnya menggunakan manitol, sorbitol, atau sukrosa sebagai bahan pengikat dan bahan pengisi (Anonim, 1995). Keuntungan tablet kunyah antara lain: a. Ketersediaan hayati yang lebih baik karena tidak melewati waktu hancur. b. Lebih menyenangkan pasien karena tidak memerlukan air untuk menelan. c. Kemungkinan dapat mengganti sediaan cair dimana dibutuhkan kerja permulaan yang cepat. d. Meningkatkan penerimaan pasien karena rasa yang menyenangkan. e. Tampilan produk yang berbeda dari aspek pemasaran (Agoes, 2008). Tablet kunyah tidak hanya bergantung pada sifat-sifatnya, tetapi juga pada kemampuan kunyah dan raba mulut sediaan. Kemampuan kunyah dan raba mulut merupakan keadaan sediaan yang mudah dikunyah tanpa tenaga dan tanpa ada rasa lengket, rasa kapur atau berpasir yang tidak diinginkan dalam mulut. Sifat-sifat ini diberikan dengan penggunaan eksipien yang memiliki karakteristik yang baik, misalnya manitol, campuran manitol dengan sorbitol, fruktosa, dan sukrosa (Swarbrick and Boylon, 1990).

30 5. Pemeriksaan Sifat Fisik Granul a. Waktu alir Waktu alir adalah waktu yang diperlukan serbuk atau granul untuk mengalir melalui corong. Sifat aliran dipengaruhi oleh bentuk partikel serta ukuran partikel melalui gaya kohesi diantara partikel. Sifat aliran ini dapat diperbaiki melalui bahan pelicin yang menurunkan gesekan antar partikel (Banker dan Anderson, 1986). Kecepatan alir granul yang baik adalah tidak kurang dari 10 gram perdetik untuk 100 gram granul (Parrot, 1971). b. Sudut diam Sudut diam adalah sudut maksimum yang dibentuk permukaan serbuk dengan permukaan horizontal pada waktu berputar. Bila sudut diam lebih kecil atau sama dengan 30 biasanya menunjukkan bahwa bahan dapat mengalir bebas. Bila sudutnya lebih besar atau sama dengan 40 biasanya daya mengalirnya kurang baik (Banker and Anderson,1986). c. Pengetapan Pengetapan menunjukkan penurunan volume sejumlah granul atau serbuk akibat hentakan (tapped) dan getaran (vibrating). Makin kecil indeks pengetapan maka semakin kecil sifat alirnya. Granul dengan indek pengetapan kurang dari 20% menunjukkan sifat alir yang baik (Fassihi dan Kanfer, 1986). 6. Pemeriksaan Kualitas Tablet a. Keseragaman bobot Keseragaman bobot ditetapkan dengan ditimbang 20 tablet satu per satu, dihitung bobot rata-rata tiap tablet. Tidak boleh lebih dari 2 tablet yang

31 menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari harga yang ditetapkan dalam kolom A dan tidak boleh satu tablet pun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih dari harga kolom B (Anonim, 1979). b. Kekerasan Tabel I. Persyaratan Penyimpangan Bobot Tablet Penyimpangan Bobot Rata-rata dalam % Bobot Rata-rata A B 25 mg atau kurang 15% 30% 26 mg mg 10% 20% 151 mg mg 7,5% 15% Lebih dari 300 mg 5% 10% (Anonim, 1979) Kekerasan adalah batasan yang dipakai untuk manggambarkan ketahanan tablet melawan tekanan-tekanan mekanik seperti goncangan, kikisan, dan terjadinya keretakan tablet selama pengemasan, pengangkutan, dan pendistribusiannya kepada konsumen. Kekerasan tablet yang baik adalah 4-8 kg, tablet kunyah mempunyai nilai kekerasan kira-kira 3 kg (Parrott, 1971). c. Kerapuhan Kerapuhan dinyatakan sebagai massa seluruh partikel yang dilepaskan dari tablet akibat adanya beban penguji mekanik (Voigt, 1994). Sifat tablet yang berhubungan dengan kerapuhan diukur dengan menggunakan friability tester. Nilai kerapuhan >1% dianggap kurang baik (Banker and Anderson, 1986). Untuk tablet kunyah, kerapuhan yang berkisar antara 3-4% dapat diterima (Agoes, 2008). d. Uji Rasa Uji rasa dilakukan dengan teknik sampling accidental sampling, dengan populasi heterogen sejumlah 20 commit responden. to user Setiap responden mendapatkan

32 kesempatan yang sama untuk merasakan sampel dari sejumlah formulasi tablet kunyah tersebut (Nugroho, 1995). 7. Pemerian Bahan a. Manitol Manitol mengandung tidak kurang dari 96,0% dan tidak lebih dari 101,5% C 6 H 14 O 6, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian serbuk hablur atau granul mengalir bebas; putih; tidak berbau; rasa manis. Kelarutan mudah larut dalam air; larut dalam larutan basa; sukar larut dalam piridina; sangat sukar larut dalam etanol; praktis tidak larut dalam eter (Anonim, 1995). Poliol kristalin berwarna putih dengan rasa manis lebih kurang 50% dari kemanisan gula. Mudah larut dalam air, apabila dimasukkan atau dilarutkan dalam mulut menimbulkan rasa dingin karena bersifat endotermik. Karakteristik ini digabungkan dengan konsistensi yang sangat licin, menyebabkan manitol menjadi eksipien pilihan untuk formulasi tablet kunyah. Kadar air manitol rendah, nonhigroskopis, relatif inert (Agoes, 2008). b. Talk (Talcum) Merupakan magnesium silikat hidrat alam, kadang-kadang mengandung sedikit aluminium silikat. Pemerian serbuk hablur, sangat halus, licin, mudah melekat pada kulit, bebas butiran, warna putih atau putih kelabu. Kelarutan tidak larut dalam hampir semua pelarut. Khasiat dan penggunaan sebagai zat tambahan (Anonim, 1979).

33 c. Magnesium Stearat Magnesium stearat mengandung tidak kurang dari 6,5% dan tidak lebih dari 8,5% MgO, dihitung terhadap zat yang dikeringkan. Pemerian serbuk halus; putih; licin dan mudah melekat pada kulit; bau lemah khas. Kelarutan praktis tidak larut dalam air, dalam etanol (95%) P dan dalam eter P. Khasiat dan penggunaan antasidum, zat tambahan (Anonim, 1979). d. Polivinilpirolidon (Povidon) Povidon adalah hasil polimerasi 1-vinilpirolid-2-on. Dalam berbagai bentuk polimer dengan rumus molekul (C6H9NO)n, bobot molekul berkisar antara hingga Pemerian serbuk putih atau putih kekuningan; berbau lemah atau tidak berbau, higroskopik. Kelarutan mudah larut dalam air, dalam etanol (95%) P dan dalam kloroform P, kelarutan tergantung dari bobot molekul rata-rata; praktis tidak larut dalam eter P. Khasiat dan penggunaan zat tambahan (Anonim, 1979). e. Aerosil Silisium dioksida terdispersi tinggi (Aerosil ) memiliki permukaan spesifik yang tinggi dan terbukti sebagai bahan pengatur aliran sebagai keuntungan utamanya. Aerosil mengurangi lengketnya partikel satu sama lain dan dengan demikian gesekan antarpartikel sangat kurang. Aerosil mengikat lembab melalui gugus silanol (dapat menarik air 40% dari massanya) dan meskipun demikian sebagai serbuk masih mempertahankan daya alirnya (Voight, 1994).

34 f. Aspartam Aspartam berfungsi sebagai bahan pemanis dalam pembuatan tablet. Aspartam berupa tepung kristalin berwarna putih, tidak berbau, sedikit larut dalam air. Aspartam memiliki tingkat kemanisan relatif sebesar kali tingkat kemanisan sukrosa. Pemakaian aspartam yang diperbolehkan menurut WHO adalah sebesar 40mg/kgBB setiap harinya (Rowe, 2009). g. Laktosa Serbuk hablur; putih; tidak berbau; rasa agak manis. Larut dalam 6 bagian air, larut dalam 1 bagian air mendidih, sukar larut dalam etanol (95%) P, praktis tidak larut dalam kloroform P dan dalam eter P. Khasiat zat tambahan (Anonim, 1979). D. Kerangka Pemikiran Hiperurisemia atau yang biasa dikenal dengan penyakit asam urat, merupakan suatu penyakit inflamasi yang menyerang persendian. Hal tersebut disebabkan karena tingginya kadar asam urat dalam darah. Hiperurisemia dapat terjadi karena over produksi asam urat, penurunan ekskresi asam urat, atau gabungan keduanya. Sebagian besar obat asam urat yang tersedia saat ini merupakan obat sintetis. Meskipun sudah terbukti dan digunakan secara luas dalam pengobatan asam urat, tentunya hal tersebut didampingi dengan efek samping yang dapat mengganggu penderita asam urat, mengingat obat tersebut berasal dari bahan kimia. Oleh karena itu, perlu dikembangkan suatu sediaan obat asam urat yang terbuat dari tanaman obat yang memiliki efek samping relatif kecil atau bahkan tanpa disertai dengan efek samping. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kayu secang

35 terbukti dapat menurunkan asam urat dengan dosis 40mg/kg bb melalui pengujian pada tikus putih jantan. Hal tersebut dapat dijadikan peluang untuk membuat sediaan obat asam urat dengan menggunakan tanaman obat. Dalam memformulasikan suatu sediaan, perlu mempertimbangkan berbagai hal. Tablet kunyah dipilih dikarenakan pada sebagian orang mengalami kesulitan dalam menelan tablet. Hal tersebut tentu akan berpengaruh pada kepatuhan pasien dalam minum obat serta tingkat kesembuhan pasien. Dengan adanya sediaan dalam bentuk tablet kunyah, diharapkan hal tersebut dapat menjadi salah satu alternatif bagi penderita asam urat, dikarenakan cara konsumsi yang mudah dan dengan rasa yang enak sehingga dapat meningkatkan kepatuhan dan mempercepat kesembuhan penderita. Bahan pengikat merupakan salah satu bahan tambahan yang penting dalam pembuatan tablet dimana bahan pengikat berfungsi untuk memberikan daya rekat antara partikel serbuk sehingga dapat dibentuk menjadi granul. Penggunaan bahan pengikat dengan variasi konsentrasi yang berbeda akan menghasilkan tablet dengan sifat fisik yang berbeda pula. Semakin tinggi konsentrasi bahan pengikat yang digunakan menyebabkan daya adhesi antara partikel granul juga semakin besar sehingga dapat menghasilkan tablet dengan kompaktibilitas yang baik dan kekerasan tinggi. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah konsentrasi bahan pengikat yang digunakan akan menyebabkan rendahnya daya adhesi yang dihasilkan sehingga tablet menjadi mudah rapuh. Polivinilpirolidon sebagai bahan pengikat dengan keuntungan sebagai perekat yang baik dalam pelarut air atau alkohol, bagus untuk penggranulan, karena

36 menghasilkan granul yang cepat kering, memiliki sifat alir yang baik, sudut diam minimum dan menghasilkan daya kompaktibilitas lebih baik. Agar dapat menghasilkan tablet kunyah dengan sifat fisik terbaik, maka dilakukan formulasi tablet kunyah ekstrak etanol kayu secang dengan menggunakan variasi konsentrasi polivinilpirolidon sebagai bahan pengikat untuk mengetahui konsentrasi polivinilpirolidon yang terbaik untuk tablet kunyah. E. Hipotesis Ekstrak etanol kayu secang diduga dapat dibuat tablet kunyah yang memenuhi persyaratan. Penggunaan variasi konsentrasi bahan pengikat Polivinilpirolidon (PVP) dalam pembuatan tablet kunyah ekstrak etanol kayu secang (Caesalpinia sappan L.) diduga berpengaruh terhadap sifat fisis tablet yang dihasilkan, meliputi kekerasan dan kerapuhan tablet. Semakin tinggi konsentrasi PVP yang digunakan, semakin tinggi kekerasan yang dihasilkan, dan kerapuhan tablet semakin rendah.

37 BAB III METODE PENELITIAN A. Alat dan Bahan 1. Alat Alat yang digunakan adalah Toples kaca untuk maserasi, Kain flanel, Waterbath, Cawan penguap, Oven (type IL /220V), Neraca analitik (Precisa BJ 410 C), Mortir dan Stamper, Ayakan no. 16 dan 18 mesh, Mesin tablet single punch (seri TDP 1), Tablet hardness tester (type YD-1), Tablet friability tester (Erweka TA), Tablet disintegration tester (type BJ-2), Corong kaca (funnel short stem diameter 100mm), Statif dan Klem, Batang pengaduk, Alat-alat gelas, Jangka sorong, Stopwatch dan alat pendukung lain. 2. Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain kayu secang (Caesalpinia sappan L.), Etanol 70% (teknis), Aerosil, Manitol, Magnesium stearat, Talcum, Polivinilpirolidon, Aspartam, Laktosa, Aquadest. 1. Waktu B. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei Juli 2012.

38 2. Tempat Tempat yang digunakan untuk penelitian diantaranya B2P2TO2T untuk determinasi tanaman secang, Laboratorium Teknologi Farmasi Universitas Setia Budi dan Laboratorium Teknologi Farmasi D3 Farmasi FMIPA UNS untuk pembuatan tablet, uji sifat fisik granul dan uji sifat fisik tablet. C. Metode Penelitian dan Cara Kerja 1. Metode Penelitian Kategori penelitian yang digunakan adalah kategori penelitian eksperimental laboratorium. Variabel bebas : konsentrasi bahan pengikat polivinilpirolidon 1%, 3%, 5% Variabel tergantung : sifat fisik granul meliputi waktu alir, sudut diam, dan pengetapan. Sifat fisik tablet meliputi keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan. Variabel terkendali : lama pencampuran, ukuran granul, volume penambahan bahan pengikat, berat tablet, tekanan kompresi dalam pembuatan tablet, metode pengujian sifat fisik tablet. 2. Cara Kerja a. Pengambilan Bahan Serutan kayu secang yang digunakan sudah dalam bentuk simplisia, dibeli di Pasar Gede, Surakarta.

39 b. Determinasi Tanaman Kayu secang yang digunakan dalam penelitian ini dideterminasi untuk membuktikan kebenaran dari tanaman tersebut. Determinasi dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TO2T) Tawangmangu. c. Preparasi Sampel Proses yang dilakukan pada preparasi sampel yaitu pembuatan serbuk kayu secang. Serutan kayu secang diblender sehingga didapatkan serbuk. d. Pembuatan Ekstrak Ekstrak dibuat dengan cara maserasi menggunakan etanol 70%. Serbuk kering kayu secang dimasukkan ke dalam toples kaca, ditambah dengan etanol 70%, direndam selama 2 hari sambil sesekali diaduk. Setelah itu diperas menggunakan kain flanel untuk memisahkan maserat, kemudian proses diulangi dengan jenis pelarut yang sama. Semua maserat yang didapat dicampur hingga homogen dan diuapkan hingga diperoleh ekstrak kental. e. Pembuatan Ekstrak Kering Pembuatan ekstrak kering kayu secang dilakukan dengan cara ekstrak kental diuapkan di atas waterbath hingga pelarut menguap dan ekstrak mengering. Ektrak kering yang didapat kemudian digerus di dalam mortir menjadi serbuk dan dicampur dengan aerosil 5% dari berat ekstrak untuk menyerap kelembaban dan mencegah terjadinya higroskopisitas.

40 f. Rancangan Formulasi Tablet Tanaman secang memiliki aktivitas sebagai penurun asam urat darah tikus putih jantan galur SD dengan dosis 40 mg/kg bb (Triyono, 2005). Diketahui konversi dosis tikus ke 70 kg/bb manusia adalah 56,0 (Laurence and Bacharach, 1964). Perhitungan konversi dosis manusia sebagai berikut: Dosis tikus Berat tikus Jadi dosis untuk tikus = 40mg/kg bb = 200 g = 200 g / 1000 g x 40 mg = 8mg Konversi dosis manusia = 8 mg x 56,0 = 448 mg / hari Formulasi tablet kunyah ekstrak kayu secang dibuat 2 bagian = 448 mg / 2 = 224 mg ekstrak Jadi tiap tablet membutuhkan 224 mg ekstrak kayu secang, dimana berat 1 tablet adalah 500 mg. Sehingga dalam pemakaiannya 1 kali minum adalah 2 tablet. Tabel II. Formula Tablet Kunyah Ekstrak Kayu Secang Bahan Kandungan per tablet (mg) Formula I Formula II Formula III Ekstrak kayu secang (zat aktif) Aerosil (pengering) 11,20 11,20 11,20 Talk (pelicin) 4,50 4,50 4,50 Mg Stearat (pelicin) 0,50 0,50 0,50 Aspartam (pemanis) Polivinilpirolidon 0,045 ml) (pengikat) 0,45 1,35 2,25 Manitol (pengisi) 178,36 178,36 178,36 Laktosa (pengisi) 76,44 76,44 76,44 Berat total 500,45 501,35 502,25 Keterangan: Formula I: tablet kunyah ekstrak kayu secang dengan bahan pengikat PVP 1% b/v Formula II: tablet kunyah ekstrak kayu secang dengan bahan pengikat PVP 3% b/v Formula III: tablet kunyah ekstrak kayu secang dengan bahan pengikat PVP 5% b/v

41 g. Pembuatan Granul PVP dilarutkan dalam aquadest sesuai konsentrasi masing-masing formula. Ekstrak kayu secang ditambah dengan aerosil, kemudian dicampur dengan manitol, laktosa dan aspartam. Campuran serbuk yang terbentuk kemudian ditambah dengan larutan PVP secukupnya, sedikit demi sedikit hingga diperoleh massa granul. Massa granul yang terbentuk kemudian diayak dengan ayakan no. 16 mesh dan dikeringkan dalam oven pengering pada suhu + 60 C selama 3 jam. Granul yang sudah kering diayak dengan ayakan no. 18 mesh. Dari pembuatan granul yang telah dilakukan, masing-masing formula membutuhkan larutan PVP sebanyak 0,045 ml tiap tablet. h. Uji Sifat Fisik Granul 1) Waktu Alir Ditimbang 100 g granul dimasukkan ke dalam corong yang ujung tangkainya ditutup. Penutup corong dibuka dan granul dibiarkan mengalir sampai habis, dicatat waktu alirnya. Pengujian waktu alir dilakukan sebelum dan sesudah penambahan bahan pelicin. 2) Sudut diam Granul sebanyak 100 g dimasukkan ke dalam alat pengukur sudut diam sampai penuh dan diratakan, tutup dibuka dan granul dibiarkan mengalir sampai habis. Tinggi kerucut dan diameter yang terbentuk diukur, sudut diam dihitung. Pengujian sudut diam dilakukan sebelum dan sesudah penambahan bahan pelicin.

42 Tg α = h r. (1) Keterangan: h = tinggi kerucut α = sudut diam r = jari jari kerucut 3) Pengetapan Sejumlah serbuk dimasukkan ke dalam alat, kemudian dilakukan pengetapan dengan mengamati perubahan volume sebelum pengetapan (Vo) dan volume setelah pengetapan konstan (Vt). Nilai indeks pengetapan dihitung dengan rumus: T % = Vo - Vt Vo x 100% (2) i. Pembuatan Tablet Kunyah Granul yang telah diuji sifat fisiknya, ditambahkan Talk dan Magnesium Stearat sebagai bahan pelicin dan dicampur hingga homogen, kemudian diuji lagi sifat fisiknya. Granul dengan bahan pelicin tersebut kemudian dicetak dengan mesin pencetak tablet single punch dengan bobot per tablet mg. j. Uji Sifat Fisik Tablet 1) Keseragaman bobot Ditimbang 20 tablet, dihitung bobot rata-rata tiap tablet. Jika ditimbang satu persatu tidak boleh lebih dari dua tablet yang bobotnya menyimpang lebih dari 5% bobot rata-rata dan tidak satu pun tablet yang menyimpang

43 lebih dari 10% dari rata-ratanya untuk tablet dengan bobot lebih dari 300 mg (Anonim 1979). Dihitung harga koevisien variasinya. CV = Keterangan : SD X.... (3) CV = koefisien variasi X = rata-rata bobot tablet SD = Standar Deviasi 2) Kekerasan tablet Pemeriksaan kekerasan tablet menggunakan alat digital hardness tester. Sebuah tablet diletakkan pada alat dengan posisi horizontal, alat dikalibrasi hingga posisi 0,00. Alat diputar hingga tablet patah. Skala yang tertera pada alat dibaca (Voigt, 1994). 3) Kerapuhan tablet Dua puluh tablet dibersihkan dari partikel halus yang menempel, lalu ditimbang. Tablet dimasukkan ke dalam friability tester diputar selama 4 menit dengan kecepatan 25 putaran permenit, lalu tablet diambil, dibersihkan dan ditimbang kembali. Kerapuhan tablet dihitung dengan rumus: Keterangan : Kerapuhan = ( M1 M2) M1 x 100% (4) M1 = bobot tablet sebelum diuji M2 = bobot tablet setelah uji

44 4) Uji Tanggap Rasa Dua puluh responden ditemui dan diminta untuk merasakan dan memberi tanggapan tentang rasa ketiga formula tablet kunyah yang dibuat, dengan mengisi angket yang disediakan (Nugroho, 1995). D. Analisis Data 1. Pendekatan Teoritis Data yang diperoleh dari hasil penelitian dibandingkan dengan persyaratan granul dan tablet yang terdapat dalam Farmakope Indonesia dan pustaka lain. 2. Analisis Statistik Data Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Kolmogorov-Smirnov untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak. Data yang terdistribusi normal dianalisis menggunakan uji Anova dengan taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan uji LSD jika pada hasil analisa Anova terdapat perbedaan yang bermakna.

45 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Determinasi Tanaman Secang Tanaman secang yang digunakan telah dilakukan determinasi di B2P2TO2T Tawangmangu. Determinasi bertujuan untuk memastikan kebenaran dari tanaman secang yang digunakan dalam penelitian. B. Hasil Pengolahan Simplisia Kayu Secang Kayu secang yang digunakan dalam penelitian berupa serutan-serutan kayu dalam keadaan kering, sehingga tidak memerlukan proses pengeringan dan dapat langsung digunakan sebagai simplisia. Simplisia tersebut kemudian dilakukan sortasi kering untuk memisahkan benda-benda asing dan pengotor yang terdapat dalam simplisia. Simplisia yang sudah disortir kemudian diblender sehingga menjadi serbuk. C. Hasil Pembuatan Ekstrak Kayu Secang Ekstrak kayu secang dibuat dengan cara maserasi menggunakan etanol 70% sebagai pelarut. Proses maserasi dilakukan selama 2 hari sambil sesekali diaduk, kemudian dilakukan remaserasi dengan jenis pelarut yang sama. Sari yang diperoleh kemudian diuapkan sehingga didapat ekstrak kental. Pembuatan ekstrak kental kayu secang dari serbuk kayu secang sebanyak 2100 gram diperoleh ekstrak kental sebanyak 142,64 gram. Dengan demikian didapat randemen sebesar 6,79%.

46 D. Pemeriksaan Organoleptis Ekstrak Kayu Secang Pemeriksaan organoleptis bertujuan untuk mengetahui karakteristik dari ekstrak yang dihasilkan. Pemeriksaan organoleptis meliputi bentuk, warna, rasa dan bau. Tabel III. Hasil Pemeriksaan Organoleptis Ekstrak Pemeriksaan Organoleptis Hasil Bentuk Ekstrak kental Warna Merah tua Rasa Pahit Bau Khas secang E. Pembuatan Granul dengan Metode Granulasi Basah Granulasi pada pembuatan tablet antara lain bertujuan untuk memperbaiki sifat alir, mencegah tablet melekat pada cetakan, serta memperkecil ruang udara sehingga tablet tidak mudah pecah. Alasan dipilihnya granulasi basah yaitu pada granulasi basah dapat menghasilkan tablet yang lebih baik dan lebih tahan lama dalam penyimpanan dibandingkan dengan granulasi kering. Prinsip dari granulasi basah yaitu mencampurkan zat berkhasiat dan zat tambahan lain hingga homogen dan dibasahi dengan larutan bahan pengikat, kemudian dilakukan proses pengeringan. Pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air yang terdapat dalam granul. Granul yang sudah kering kemudian diayak untuk mendapat granul dengan bentuk dan ukuran yang seragam sehingga didapat granul dengan sifat alir yang baik. Pada formula tablet kunyah ekstrak kayu secang, manitol dan laktosa berfungsi sebagai bahan pengisi, aspartam sebagai pemanis, dan larutan PVP sebagai bahan pengikat.

47 F. Hasil Pemeriksaan Sifat Fisik Granul Pemeriksaan sifat fisik granul dilakukan pada granul yang sudah dikeringkan dan diayak. Pemeriksaan sifat fisik granul dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah granul yang dihasilkan dapat memenuhi persyaratan setelah dikempa menjadi tablet, karena sifat fisik granul berpengaruh terhadap sifat fisik tablet yang dihasilkan. Pemeriksaan sifat fisik granul meliputi waktu alir, sudut diam dan pengetapan. Hasil pemeriksaan sifat fisik granul dapat dilihat pada tabel IV. Data hasil pemeriksaan sifat fisik granul selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5. Tabel IV. Hasil Pemeriksaan Sifat Fisik Granul Pemeriksaan F I F II F III Waktu Alir (detik) 7,42 + 0,059 7,69 + 0,092 8,54 + 0,017 tanpa pelicin Waktu Alir (detik) dengan pelicin 6,06 + 0,081 6,95 + 0,155 7,65 + 0,040 Sudut Diam ( ) 30,28 + 0,065 31,40 + 0,926 30,95 + 0,303 tanpa pelicin Sudut Diam ( ) 29,17 + 0,346 29,11 + 0,626 29,87 + 0,461 dengan pelicin Indeks pengetapan 5,67 + 0,577 6,67 + 1,155 10,67 + 1,155 (%) Keterangan: F I : Formula tablet dengan konsentrasi bahan pengikat PVP 1% F II : Formula tablet dengan konsentrasi bahan pengikat PVP 3% F III : Formula tablet dengan konsentrasi bahan pengikat PVP 5% 1. Waktu Alir Granul Waktu alir adalah waktu yang diperlukan granul untuk mengalir melalui suatu corong. Sifat alir granul dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran partikel serta gaya gesek yang terjadi antar granul. Pengujian waktu alir granul dilakukan pada granul sebelum dan sesudah ditambah bahan pelicin, bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bahan pelicin terhadap granul. Pengujian dilakukan