MUHAMMAD JURAID WATTIHELUW

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MUHAMMAD JURAID WATTIHELUW"

Transkripsi

1 PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN SAGA, SAMBILOTO DAN PARE TERHADAP DIFERENSIASI SEL-SEL LEUKOSIT, KANDUNGAN Fe, Zn dan HORMON TESTOSTERON DALAM PLASMA BURUNG PERKUTUT (Geopelia striata L.) MUHAMMAD JURAID WATTIHELUW SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2007

2 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan menyatakan bahwa tesis Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Saga, Sambiloto dan Pare Terhadap Diferensiasi Sel-Sel Leukosit, Kandungan Fe, Zn dan Hormon Testosteron dalam Plasma Perkutut (Geopelia striata) adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam tesis dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini Bogor, Januari 2007 Muhammad Juraid Wattiheluw NIM D

3 ABSTRACT MUHAMMAD JURAID WATTIHELUW. Effects of saga (Abrus precatorius L.), sambiloto (Andrographis paniculata Ness) and pare (Momordica charantia L.) leaves extracts on differential leucocyte cell, Fe, Zn, and testosterone levels in turtledove (Geopelia striata L.) plasma. Under supervisions of Wiranda G. Piliang and Lulu Lusianti Fitri. Turtledove is a seed eater bird species and most of male bird emit song. In order to produce song quality, many breeders supply good diet added with herbal supplements such as leaves of saga, sambiloto, and pare. The aim of this research was to study the influence of saga, sambiloto and pare leaves extracts on differential leucocyte cell, Fe and Zn content in blood plasma, and testosterone levels that influenced the song quality of turtledove (Geopelia Striata). Twenty five birds (aged 4-6 months old) were reared in individual cages for 10 weeks. The birds were divided into 5 treatment groups. Each treatment group was divided into 5 replications with one bird in each replicate. Five diet treatments were : diets A (a control diet), B (a control diet gram extract of saga leaf), C (a control diet gram extract of sambiloto leaf), D (a control diet gram extract of pare leaf), E (a control diet + Combination of (0.006 gram extract of saga leaf gram extract of sambiloto leaf gram extract of pare leaf)). The parameters observed were feed consumption and nutrient consumption, differential leucocyte cell counts, iron (Fe), zinc (Zn) level in the blood plasma, testosterone levels and song duration (syllable duration and duration between syllable). The results showed that the treatments had no effect on diet consumption, though birds in treatment D consumed more diet than other diets. Birds in treatment C showed the highest consumption among other treatments. There were no significant differences on differential leucocyte cell counts, the levels of zinc and testosteron in blood plasma. Moreover, both parameters on song durations (syllable duration and duration between syllable ) did not differ significantly. However, the results showed there were similar indications that extracts of pare leaf enhanced the levels of zinc and testosterone as well as the birds song duration. It was also showed that Fe content in the blood plasma on treatment B (the addition of gram extract of saga leaf) increased significantly (P<0.05) than the other treatment groups.

4 ABSTRAK MUHAMMAD JURAID WATTIHELUW. Pengaruh pemberian ekstrak daun saga (Abrus precatorius L.), sambiloto (Andrographis paniculata Ness) dan pare (Momordica charantia L.) terhadap diferensiasi sel-sel leukosit kandungan Fe, Zn dan hormon testosteron dalam plasma burung perkutut (Geopelia striata L.). Dibimbing oleh Wiranda G. Piliang dan Lulu Lusianti Fitri. Perkutut merupakan burung pemakan biji yang memiliki kelebihan mampu mengemisikan suara yang terdengar merdu. Suara merdu tersebut umumnya dihasilkan oleh individu perkutut jantan. Untuk memproduksi suara yang berkualitas perlu diperhatikan suplai pakan yang dapat menunjang faktor kesehatan sehingga penampilan suara burung menjadi prima. Selain penambahan pakan pokok/dasar, peternak juga melakukan penambahan suplemen antara lain melalui pemberian dedaunan seperti daun saga, daun sambiloto, dan daun pare pada diet yang dipercaya dapat meningkatkan kesehatan burung agar burung dapat memiliki penampilan suara ya ng berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun saga, ekstrak daun sambiloto dan ekstrak daun pare terhadap diferensiasi sel-sel leukosit, kandungan mineral (Fe dan Zn) dan hormon testosteron sebagai faktor yang bertanggung jawab pada kualitas produksi suara. Perkutut yang digunakan sebanyak 25 ekor berumur 4-6 bulan dan dipelihara selama 10 (sepuluh) minggu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan dan setiap kelompok perkutut dibagi dalam 5 ulangan, masing-masing 1 ekor. Adapun desain perlakuan pakan adalah sebagai berikut : A = 10 gram pakan utama sebagai kontrol; B = pakan kontrol gram ekstrak daun saga; C = pakan kontrol gram ekstrak daun sambiloto; D = pakan kontrol gram ekstrak daun pare hutan; E = pakan kontrol + Kombinasi (0.006 gram ekstrak daun saga gram ekstrak daun sambiloto gram ekstrak daun pare. Peubah yang diamati meliputi konsumsi ransum dan konsumsi nutrien perlakuan, diferensiasi sel-sel leukosit, zat besi (Fe), seng (Zn), hormon testosteron dan durasi suara (durasi silabel dan durasi antar silabel). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh perlakuan suplementasi dedaunan terhadap rataan konsumsi ransum, namun secara besaran individu yang mendapat perlakuan D lebih banyak mengkonsumsi ransum. Tingkat konsumsi nutrien terbanyak dan tertinggi terdapat pada perlakuan C. Lebih lanjut diketahui bahwa tidak ada pengaruh perlakuan terhadap diferensiasi sel-sel leukosit, kandungan seng dan hormon testosteron dalam plasma serta durasi suara (silabel dan antar silabel) yang diamati. Walaupun hasil penelitian tersebut tidak menunjukkan perbedaan nyata, namun ada indikasi bahwa ekstrak daun pare dapat meningkatkan daya tahan tubuh burung perkutut sehingga memberikan respon terhadap tingkat konsumsi pakan yang implikasinya terlihat pada peningkatan kandungan Zn (seng) dan hormon testosteron dalam plasma darah yang berpengaruh pada durasi suara burung perkutut. Kandungan zat besi (Fe) dalam plasma pada perlakuan B (penambahan gram ekstrak daun saga ) meningkat secara nyata (P<0.05) dibandingkan dengan perlakuan yang lain.

5 PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN SAGA, SAMBILOTO DAN PARE TERHADAP DIFERENSIASI SEL-SEL LEUKOSIT, KANDUNGAN Fe, Zn dan HORMON TESTOSTERON DALAM PLASMA BURUNG PERKUTUT (Geopelia striata) MUHAMMAD JURAID WATTIHELUW Tesis sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister sains pada Program Studi Ilmu Ternak SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2007

6 Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2007 Hak cipta dilindungi Dilarang mengutip dan m emperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun, baik cetak, fotokopi, mikrofilm, dan sebagainya.

7 Judul Tesis Nama NIM : Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Saga, Sambiloto dan Pare Terhadap Diferensiasi Sel-Sel Leukosit, Kandungan Fe, Zn dan Hormon Testosteron dalam Plasma Perkutut (Geopelia striata) : Muhammad Juraid Wattiheluw : D Disetujui Komisi Pembimbing Prof.Dr.Ir.Wiranda G. Piliang, M.Sc Ketua Dr.Lulu Lusianti Fitri, M.Sc Anggota Diketahui Ketua Program Studi Ilmu Ternak Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc Dr. Ir. Khairil Anwar Notodiputro, MS Tanggal Ujian : 1 Desember 2006 Tanggal Lulus :

8 PRAKATA Syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT atas Rahmat-Nya sehingga penulisan Tesis ini dapat berjalan dengan lancar, Tesis ini berjudul Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Saga, Sambiloto dan Pare Terhadap Diferensiasi Sel-Sel Leukosit Kandungan Fe, Zn dan Hormon Testosteron dalam Plasma Perkutut (Geopelia striata). Penulisan Tesis ini untuk memenuhi tugas akhir dan sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Magister Sains (MSi) pada Program Studi Ilmu Ternak di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Penyusunan Tesis ini tidak terlepas dari dukungan dan bantuan berbagai pihak, sehingga dalam kesempatan ini penulis ucapkan terimakasih kepada komisi pembimbing Ibu Prof.Dr.Ir.Wiranda G. Piliang, M.Sc dan Ibu Dr.Lulu Lusianti Fitri, M.Sc yang telah banyak mencurahkan waktu untuk membimbing, memberikan masukan dan wawasan yang berarti bagi penulis, sehingga mampu menyelesaikan tesis ini. Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr.Ir.Nahrowi, M.Sc selaku penguji, yang telah banyak memberikan masukkan dan saran kepada penulis. Kepada Ketua dan Staf pengajar program studi Ilmu Ternak Sekolah Pascasarjana IPB trima kasih atas pengetahuan bermanfaat yang diberikan selama penulis menjadi mahasiswa IPB, juga kepada teman-teman dekat yang telah banyak membantu penulis terutama dalam dorongan moril yang tidak dapat penulis lupakan. Terima kasih penulis ucapkan kepaka Rektor UNPATTI, Dekan Fakultas Pertanian UNPATTI, Direktorat Pendidikan Tinggi DEPDIKNAS yang telah memberikan beasiswa BPPS, Pemerintah Daerah Tingkat I MALUKU yang telah memberikan bantuan penelitian, Ibu Ketua Yayasan Van De Venter Maas, Ketua Yayasan Dana Sejahtera Mandiri dan Pimpinan Bird Farm Perkutut Prima Bogor yang telah memberikan bantuan tempat penelitian. Ungkapkan terima kasih juga penulis sampaikan kepada orang tua yang tercinta Ayahanda H. Syarifuddin Wattiheluw dan Ibunda Hj. Djohra Tuhepaly/Wattiheluw serta Bapak H. Djufri Palallo dan Almarhumah Nurul Huda

9 serta Ibu Hj. Hasmawati yang telah memberikan kasih sayangnya selama ini. Istri tercinta Ida Frieda Djufri dan Ananda tersayang Athaurrahman Dzaky Wattiheluw serta saudara-saudaraku yang tercinta Rosna Wattiheluw, M. Subhan Wattiheluw, M. Rusli Wattiheluw, M. Isbaid Wattiheluw, dan M. Munawir Wattiheluw serta seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Semoga Allah swt. membalas segala amal ibadahnya, amin. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan bagi masyarakat umum terutama bagi diri penulis pribadi. Bogor, Maret 2007 Muhammad Juraid Wattiheluw

10 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Ambon pada tanggal 06 Agustus 1975 dari ayah H. Syarifuddin Wattiheluw dan Hj. Djohra Tuhepaly/Wattiheluw. Penulis merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Tahun 1987 penulis lulus SD Negeri 1 Ambon, tahun 1990 lulus SMP Negeri 11 Ambon, tahun 1993 lulus SMA Negeri 4 Ambon, tahun 1994 lulus seleksi dan masuk ke Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung kemudian lulus tahun Tahun 2003 penulis memperoleh kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke program magister sains di program studi ilmu ternak sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor yang disponsor dari Beasiswa program Pascasarjana (BPPS) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. Penulis bekerja sebagai staf pengajar di Program Studi Produksi Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Pattimura (UNPATTI) Ambon sejak Tahun 2001 sampai sekarang.

11 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... PENDAHULUAN... Latar Belakang... Tujuan... Manfaat... TINJAUAN PUSTAKA... Ciri-ciri dan Taksonomi Perkutut... Tanaman Saga (Abrus precatorius Linn)... Klasifikasi dan Deskripsi Tanaman Saga... Kandungan Kimia dan Pemanfaatannya... Tanaman Sambiloto (Andrographis paniculata Ness)... Sejarah dan Deskripsi Tanaman Sambiloto... Kandungan Kimia dan Pemanfaatannya... Tanaman Pare (Momordica charantia L.)... Sejarah dan Deskripsi Tanaman Pare... Kandungan Kimia dan Pemanfaatannya... Diferensiasi Leukosit... Ukuran dan Sistem Pertahanan Heterofil... Ukuran dan Peranan Monosit... Karakter dan Peranan Limfosit... Sejarah Singkat Zat besi (Fe)... Mekanisme Penyerapan dan Metabolisme Zat Besi... Deskripsi dan Mekanisme Penyerapan Seng (Zn)... Senyawa Seng (Zn) di Dalam Tubuh... Hormon Reproduksi Jantan... Klasifikasi Hormon... Peranan Hormon Kelenjar Kelamin... Biosintesis Hormon Testosteron... Testosteron dalam Plasma Darah... Karakteristik Sex Sekunder... Suara Burung... Pengertian dan Peranan Suara... Organ Penghasil Suara... Kriteria Suara Perkutut... Durasi Suara... vii viii ix

12 MATERI DAN METODE... Waktu dan Tempat Penelitian... Materi Penelitian... Metode Penelitian... HASIL DAN PEMBAHASAN... Kandungan Nutrisi Pakan Burung Perkutut... Hasil Ekstraksi Daun Saga, Sambiloto dan Pare... Hasil Analisa Kandungan Nutrien Ekstrak Daun Saga, Sambiloto dan Pare... Konsumsi Ransum dan Konsumsi Nutrien Perlakuan... Diferensiasi Sel-Sel Leukosit... Kandungan Mikro Mineral dan Hormon Testosteron dalam Plasma... Durasi Suara Perkutut KESIMPULAN... DAFTAR PUSTAKA... LAMPIRAN

13 DAFTAR TABEL 1. Persentase diferensiasi sel darah putih pada unggas (Sturkie 1976) Konsentrasi hormon testosteron di dalam plasma darah unggas jantan Kandungan nutrien pakan utama Persentase rendemen yang dihasilkan dari proses ekstraksi Kandungan nutrien ekstrak daun (as fed) Rataan diferensiasi sel-sel leukosit pada perkutut (%) Rataan konsumsi ransum dan konsumsi nutrien perlakuan burung selama 39 hari pengamatan... Rataan dan simpangan baku kandungan mikro mineral dan hormon testosteron dalam plasma perkutut Rataan durasi suara burung perkutut (detik)... Halaman

14 DAFTAR GAMBAR 1. Perkutut (Geopelia striata L.) jantan dewasa.. 2. Tanaman saga (Abrus precatorius L.) Tanaman sambiloto (Andrographis paniculat, Ness) Tanaman pare (Momordica charantia L.) Metabolisme zat besi (Sumber : Leeson dan Summers 2001) Lintasan biosintesis hormon testosteron pada unggas (Sturkie 1976) Syrinx burung (King and Mc Lelland 1989) Diagram sistem kontrol suara pada burung (Brenowitz and Lent 2002) Oscilogram durasi suara perkutut (Raimund 1999)... Halaman 10. Tampilan bagian dalam kandang penelitian

15 DAFTAR LAMPIRAN Prosedur analisa laboratorium... Penetapan mineral Fe dan Zn dari plasma perkutut... Kandungan nutrien daun segar tanaman saga, sambiloto, dan pare hutan (As fed)... Hasil anova heterofil perkutut Hasil anova monosit perkutut Hasil anova limfosit perkutut Hasil anova zat besi (Fe) perkutut Hasil anova seng (Zn) perkutut Hasil anova testosteron perkutut Hasil anova durasi silabel Hasil anova durasi antar silabel Oscillogram durasi suara (silabel dan antar silabel) perkutut... Halaman

16 PENDAHULUAN Latar Belakang Perkutut merupakan salah satu burung pemakan biji-bijian dan termasuk dalam keluarga merpati (Columbidae) yang mempunyai kemampuan dan kelebihan dibandingkan dengan burung lainnya. Kemampuan tersebut diantaranya mampu hidup dan berkembang biak pada kandang yang relatif kecil, baik berlantai tanah maupun berlantai kayu yang dapat dengan mudah dipindahkan. Adapun kelebihannya adalah perkutut mampu mengemisikan suara yang terdengar merdu. Saat ini, penggemar perkutut di Indonesia terus berkembang dan banyaknya pemunculan peternakan perkutut memotivasi peternak, selain sebagai hobi, juga mendatangkan keuntungan karena perkutut memiliki nilai komersial yang relatif tinggi bila mampu bersuara dengan alunan merdu. Maraknya kegiatan kontes perkutut pada tingkat lokal maupun nasional menunjukkan respon dari masyarakat untuk mendapatkan dan mengupayakan penangkaran melalui proses pemeliharaan serta penerapan manejemen yang baik hingga dapat menghasilkan perkutut berkualitas prima, yakni perkutut yang mampu bersuara merdu yang umumnya dihasilkan oleh perkutut berjenis kelamin jantan. Manejemen pemeliharaan yang dilakukan salah satunya adalah melalui cara pemberian pakan yang disukai oleh perkutut dan mengandung nilai gizi yang cukup. Selain itu, faktor kesehatan dari ternak tersebut perlu diperhatikan sehingga ternak dapat mengkonsumsi pakan dengan baik dan menghasilkan penampilan (performan) yang menarik. Pakan yang kurang menarik dan bernilai gizi rendah secara tidak langsung berdampak terhadap defisiensi nilai gizi pakan perkutut dan mengakibatkan menurunnya konsumsi. Jika terjadi defisiensi nilai gizi pakan dalam tubuh perkutut maka akan mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh sehingga mudah terserang penyakit dan individu perkutut jantan tidak dapat memperlihatkan kemampuan dan kelebihan memproduksi suara yang berkualitas. Pada umumnya, peternak seringkali melakukan penambahan daun-daunan misalnya daun saga (Abrus precatorius Linn), daun sambiloto (Andrographis paniculata Ness) dan daun pare (Momordica charantia L.) pada perkutut yang masih muda atau dikategorikan baru belajar bersuara dengan maksud untuk 1

17 menghasilkan suara yang merdu. Selain itu, peternak pada Bird Farm Perkutut Prima juga memberikan penambahan daun saga sebanyak 30 lembar dengan tujuan memperbaiki dan menghasilkan suara perkutut sehingga terdengar lebih jelas (bening), bersih, dan merdu. Untuk pemberian daun saga, daun sambiloto, dan daun pare sebagai pakan tambahan pada perkutut masih sangat terbatas informasinya yang terpenting lagi efek pemberiannya pada diferensiasi sel-sel leukosit, kandungan mineral Fe dan Zn, hormon testosteron, dan suara. Oleh karena itu, tesis ini menjelasakan mengenai pengaruh pemberian ekstrak daun saga, daun sambiloto, dan daun pare terhadap diferensiasi sel-sel leukosit, kandungan mineral Fe dan Zn dan hormon testosteron yang selanjutnya mempengaruhi produksi suara. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun saga, sambiloto dan pare terhadap diferensiasi sel-sel leukosit, kandungan mineral (Fe dan Zn) dan hormon testosteron sebagai faktor yang bertanggung jawab pada kualitas produksi suara. Manfaat Kualitas suara perkutut diharapkan dapat meningkat melalui pemberian daun-daunan berdasarkan pengukuraan terhadap diferensiasi sel-sel leukosit, kandungan mineral (Fe dan Zn) dan hormon testosteron yang terjadi akibat perlakuan pakan yang menghasilkan perubahan suara perkutut ke arah yang lebih baik sehingga memberikan manfaat yang besar bagi pengembangan peternakan perkutut. 2

18 TINJAUAN PUSTAKA Ciri-ciri dan Taksonomi Perkutut Perkutut (Geopelia striata) merupakan salah satu burung pemakan biji. Perkutut termasuk bangsa merpati-merpatian (Columbidae). Di alam bebas, perkutut umumnya hidup secara berkelompok dengan lingkungan yang mempunyai rerumputan, daerah bukit berbatu dan dataran rendah maupun tinggi yang banyak ditumbuhi rerumputan. Hal ini disebabkan karena makanan perkutut berupa biji-bijian yang berasal dari rerumputan seperti millet, jewawut, gabah lampung, ketan hitam dan lain-lain. Perkutut tersebar dari semenanjung Malaya sampai Australia, sedangkan penyebaran perkutut di Indonesia bermula dari Irian yang terus menyebar ke arah barat, yaitu Lombok, Bali, Jawa, Madura, hingga ke Sumatera (MacKinnon 1988). Perkutut memiliki kelebihan dibanding satwa unggas lainnya. Kelebihan tersebut terutama karena menghasilkan bunyi suara yang indah. Keindahan suara tersebut lebih dominan pada burung jantan bila dibandingkan dengan burung betina dan pada umumnya pejantan dipilih untuk diperlombakan sehingga memiliki nilai jual yang relatif tinggi. Menurut Sutejo (2002) awal dewasa kelamin individu perkutut jantan dan betina pada umumnya sama, sedangkan akhir dewasa kelaminnya berbeda. Bagi individu jantan, awal dewasa kelamin dicapai pada umur 6 bulan dan akhir dewasa kelamin pada umur 20 tahun. Pada individu betina, awal dewasa kelamin tercapai pada umur 6 bulan dan akhir dewasa kelamin tercapai pada umur 15 tahun. Ciri-ciri perkutut jantan yang telah dewasa yaitu memiliki raut muka yang berkesan garang dengan kulit yang mengelilingi mata terlihat tebal dan bulat sehingga sorot matanya menjadi terlihat tajam, pupur (bulu putih keabu-abuan di kepala) lebih dari separuh kepala, kepala tipis, berekor panjang, warna bulu pada bagian kepala perkutut jantan terlihat lebih terang dibandingkan kepala perkutut betina, paruhnya panjang, tebal dan melengkung serta tubuh secara keseluruhan terlihat lebih besar daripada perkutut betina (Gambar 1). Ciri-ciri perkutut betina yang telah dewasa yaitu memiliki raut wajah sayu, kulit yang mengelilingi mata terlihat tipis sehingga sorot matanya terkesan sayu, tubuhnya lebih kecil dari 3

19 pejantan, pupur tidak lebih dari separuh bagian kepala (sehingga warna bulu kepala terkesan gelap), kepala kecil dan bundar, paruh lurus, serta ekor pendek. Selain itu, secara keseluruhan ukuran tubuhnya tampak lebih kecil daripada perkutut jantan (Sutejo 2002) Gambar 1. Perkutut (Geopelia striata) jantan dewasa Peterson (2003) melaporkan bahwa taksonomi perkutut dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Animalia Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Kelas : Aves Bangsa : Columbiformes Suku : Columbidae Marga : Geopelia Jenis : Geopelia striata L. (1766) Tanaman Saga (Abrus precatorius L.) Klasifikasi dan Deskripsi Tanaman Saga Tanaman saga tergolong famili Papilonaceae (Leguminosae) yang termasuk jenis tumbuhan perdu dengan pokok batang berukuran merambat pada inang membelit-belit ke arah kiri (Sudibyo 1998; Subahar 2004). 4

20 Daun dari tanaman saga majemuk, berbentuk bulat telur serta berukuran kecil-kecil. Daun saga menyerupai daun tamarindus indica dengan bersirip ganjil dan memiliki rasa agak manis (Gambar 2). Tumbuhan ini banyak tumbuh secara liar di hutan-hutan, ladang-ladang atau sengaja dipelihara di pekarangan. Saga dapat tumbuh dengan baik pada daerah dataran rendah sampai ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut (BPPT 2002). Gambar 2. Tanaman saga (Abrus precatorius L.) Kandungan Kimia dan Pemanfaatannya Tanaman saga sedikit berbeda dengan tanaman lain, memiliki sifat khas antara lain sifat yang mengandung rasa manis yang terdapat dalam bagian akar dan daun. Kandungan kimia yang terkandung dalam daun tanaman saga berdasarkan Sudibyo (1998) dan Subahar (2004) sebagai berikut : glisirhizin, abrin, trigonelina, prekatorina dan kholina. Komposisi kimia tanaman saga yang lain menurut laporan BPPT (2002) antara lain protein, vitamin A, B1, B6, C; kalsium oksalat, glisirizin, flisirizinat, polygalacturomic acid dan pentosan. Khasiat yang dimiliki daun tanaman saga berguna sebagai antitusif. Selain itu, daun tanaman ini digunakan untuk penyembuhan penyakit batuk, bronchitis, nifas, perut kembung, radang amandel, suara purau, sariawan, sakit kuning, wasir dan rematik (obat luar) (Sudibyo 1998; Subahar 2004). Penjelasan tersebut sesuai dengan pendapat Sutejo (2002) bahwa daun saga dapat dimanfaatkan sebagai jamu, berkhasiat untuk menjernihkan suara yang serak pada tenggorokan. 5

21 Tanaman Sambiloto (Andrographis paniculata Ness) Sejarah dan Deskripsi Tanaman Sambiloto Tanaman sambiloto merupakan salah satu bahan obat tradisional yang mempunyai sifat khas seperti rasa pahit, mendinginkan tubuh dan membersihkan darah. Obat tradisional itu sudah dikenal sejak zaman dulu, baik oleh orang Indonesia maupun bangsa-bangsa di dunia. Popularitas sambiloto dalam dunia pengobatan tradisional tidak disangsikan lagi karena terbukti mujarab dan mampu menyembuhkan berbagai penyakit, dari yang ringan seperti influenza hingga yang parah seperti kanker (Prapanza dan Marianto 2003). Tanaman sambiloto sudah dikenal di beberapa negara, seperti Inggris, Arab, Persia, Cina, India, Vietnam, Malaysia, Filipina dan Sri Lanka. Di Indonesia, sambiloto dikenal di wilayah Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Diduga sambiloto berasal dari kawasan Asia Tropik. Di Pulau Jawa, sambiloto ditemukan pertama kali sekitar pertengahan dasawarsa kedua abad ke-19. Tanaman sambiloto tumbuh liar di tempat terbuka, seperti di kebun, tepi sungai, tanah kosong yang agak lembab atau di pekarangan. Tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 700 m dpl. Tinggi tanaman bervariasi antara cm. Daunnya kecil-kecil, berbentuk lanset (pedang), ujung runcing, tepi rata, tangkai pendek dan letaknya saling berhadapan. Panjang daun 2-8 cm dan lebar 1-3 cm. Permukaan atas daun hijau tua dan permukaan bawahnya hijau muda (Gambar 3) (Prapanza dan Marianto 2003). Gambar 3. Tanaman sambiloto (Andrographis paniculata Ness) 6

22 Menurut Prapanza dan Marianto (2003) secara taksonomi (klasifikasi berdasarkan ciri-ciri dan sifat fisik tumbuhan), sambiloto dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Divisi (divisio) : Angiospermae Kelas (class) : Dicotyledoneae Bangsa (ordo) : Personales Suku (family) : Acanthaceae Marga (genus) : Andrographis Jenis (spesies) : Andrographis paniculata Ness Kandungan Kimia dan Pemanfaatannya Tanaman sambiloto sama dengan tanaman obat yang lain, yakni memiliki rasa pahit pada semua bagian tanaman seperti buah, daun, biji dan akar, terasa pahit jika dimakan atau direbus untuk diminum. Rasa pahit itu disebabkan adanya senyawa andrographolid yang banyak terdapat di dalam tanaman, terutama bagian daun dan batangnya. Daun sambiloto mengandung komposisi kimia, yaitu daun dan percabangannya mengandung laktone yang terdiri dari deoksiandrografolid, andrografolid (zat pahit), neoandrografolid, 14-doksi didehidrografolid, dan homoandrografolid. Juga terdapat flavonoid, alkane, keton, aldehid, mineral (kalsium, kalium, natrium), asam kersik dan damar (BPPT 2002). Flavonoid adalah pigmen yang tersebar luas dalam bentuk senyawa glikon dan aglikon yang larut dalam air. Flavonoid merupakan senyawa dengan inti C 6 - C 3 -C 6 artinya kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C 6 disambungkan oleh rantai alifatik tiga karbon (C 3 ). Flavonoid memiliki gugus hidroksil yang merupakan senyawa polar seperti air, metanol, etanol, dan aseton. Flavonoid berfungsi sebagai antiradang, hormon pertumbuhan (in vitro), dan inhibitor enzim dengan mengkompleks protein (Robinson 1991, Barnes et al. 1994, Sudibyo 1998). Berdasarkan pendapat Prapanza dan Marianto (2003) diketahui bahwa di dalam daun sambiloto mengandung kadar senyawa andrographolid sebesar % dari berat keringnya. Andrographolid adalah komponen utama dalam sambiloto yang memiliki multiefek farmakologis. Zat aktif ini mampu menghambat pertumbuhan sel kanker hati, payudara dan prostat. Selain itu, zat 7

23 yang terasa pahit ini juga meningkatkan produksi antibodi (immunostimulant). Efek farmakologisnya yang diketahui adalah mampu merangsang daya tahan seluler (fagositosis), memproduksi anti bodi (immunostimulant), antiradang dan fungsi lainnya adalah : - Antiinfeksi sehingga biasa digunakan sebagai antibiotik untuk melawan virus - Mempunyai efek antihistamin (antibatuk) - Antiracun (detoksikasi) - Mampu mencegah penggumpalan darah (antitrombosis) dan menghancurkan penggumpalan darah (trombolisis) Tanaman Pare (Momordica charantia L.) Sejarah dan Deskripsi Tanaman Pare Tanaman pare adalah tanaman yang memiliki sifat khas yaitu rasa pahit, mendinginkan, dan membersihkan darah (Sudibyo 1998). Di balik rasa pahit tersebut terkandung khasiat sebagai obat berbagai jenis penyakit dan bahan olahan untuk aneka masakan. Pare diperkirakan berasal dari Asia tropis, terutama Myanmar dan India bagian barat, tepatnya di Assam. Tanaman ini juga ditemukan di Nepal, Sri Lanka, Cina dan beberapa Negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Umumnya pare banyak tumbuh di daerah tropis, termasuk di wilayah Amazon, Afrika, Asia, dan Karibia. Di wilayah Indonesia tanaman pare ditemukan di beberapa daerah yaitu daerah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Nias, Sulawesi dan Maluku (Subahar 2004). Tanaman pare merupakan jenis tanaman semak semusim yang tumbuh menjalar atau merambat dengan menggunakan sulur yang panjang. Sulur tumbuh di samping daun yang berbentuk spiral. Tanaman ini memiliki aroma atau bau langu yang khas. Akarnya berupa akar tunggang berwarna putih. Struktur batang yang tidak berkayu. Batang tegaknya berusuk lima dan berwarna hijau. Batang muda berbulu dan setelah tua gundul, berwarna hijau. Daun tunggal, bertangkai yang panjangnya cm, letak berseling, berbulu, berlekuk, dan berwarna hijau. bentuknya bulat panjang, dengan panjang cm, lebar 4 cm, berbagi 8

24 menjari 5-7, pangkal berbentuk jantung, warnanya hijau tua. Taju bergigi kasar sampai berlekuk menyirip seperti yang tertera pada Gambar 4 (Sudibyo 1998). Gambar 4. Tanaman pare (Momordica charantia L.) Menurut Subahar (2004) bahwa pare dapat diklasifikasikan berdasarkan ciri-ciri dan sifat fisik tumbuhan sebagai berikut : Divisi (divisio) : Spermatophyta Kelas (class) : Dicotyledoneae Bangsa (ordo) : Cucurbitales Suku (family) : Cucurbitaceae Marga (genus) : Momardica Jenis (spesies) : Momardica charantia L. Kandungan Kimia dan Pemanfaatannya Semua bagian tanaman pare, seperti buah, daun, biji, dan akar, terasa pahit jika dimakan atau direbus untuk diminum. Sifat khas itu disebabkan oleh adanya senyawa kimia yang terkandung di dalam tanaman, sehingga sifat tersebut sering dimanfaatkan sebagai bahan ramuan jamu. Senyawa kimia yang terkandung dalam daun tanaman pare dan kegunaannya sebagai berikut : Vitamin A, vitamin B, vitamin C, saponin, flavonoid, steroid/triterpenoid, asam fenolat, alkaloid dan karotonoid. Pemanfaatannya adalah sebagai penurun demam, obat cacing, diabetes mellitus, obat batuk, radang tenggorokan, rasa haus karena panas 9

25 demam, malaria, menambah nafsu makan, pelancar ASI, sakit saat haid, sariawan, serta menyuburkan rambut pada anak balita (Sudibyo 1998; Subahar 2004). Alkaloid merupakan senyawa basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen yang merupakan bagian dari sistem siklik. Alkaloid diklasifikasikan berdasarkan strukturnya masih sulit dilakukan karena memiliki struktur yang banyak jenisnya. Namun berdasarkan cincin nitrogen dan biosintesisnya, alkaloid dapat dibagi menjadi 3 golongan yaitu alkaloid sejati, protoalkaloid, dan pseudoalkaloid (Pelletier 1983, Bruneton 1993). Menurut Solomon dan Graham (1980), kegunaan alkaloid dalam bidang kesehatan adalah untuk memacu sistem saraf, menaikkan tekanan darah, mengurangi rasa sakit, dan dapat melawan infeksi mikroba. Saponin merupakan bahan baku untuk sintesis steroid yang digunakan dalam bidang kesehatan. Saponin steroid mempunyai aktivitas sebagai hormon, sedangkan derivat triterpenoid yaitu triterpene yang berfungsi sebagai ekspektoran untuk mengangkat lendir esofagus. Selain itu, saponin berfungsi pada sebagai anti inflamasi dan analgesik (Robinson 1991, Sudibyo 1998). Diferensiasi Leukosit Sel darah putih atau leukosit (bahasa yunani leuko = putih) pada unggas sangat berbeda dari eritrosit, karena adanya nukleus dan memiliki kemampuan gerak yang independen. Sel darah putih dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu : Granulosit dan Agranulosit. Granulosit mempunyai bentuk inti tidak teratur, dan dalam sitoplasma terdapat granula spesifik yang dinamakan heterofil, eosinofil, dan basofil. Granula-granula sitoplasma ini mempunyai afinitas terhadap zat warna spesifik yang mampu berikatan pada granula. Agranulosit mempunyai inti dengan bentuk teratur, namun sitoplasmanya tidak mempunyai granula spesifik. Agranulosit dapat digolongkan sebagai monosit dan limfosit (Frandson 1992). Menurut Sturkie (1976) persentase diferensiasi leukosit biasanya meliputi heterofil, monosit, dan limfosit. Adapun persentase diferensiasi leukosit pada berbagai unggas menurut Sturkie (1976) tertera pada Tabel 1 di bawah ini. 10

26 Spesies Tabel 1. Persentase diferensiasi sel darah putih pada unggas (Sturkie 1976) Ayam Itik Pekin Merpati Puyuh Jenis Kelamin Jantan Jantan - Jantan Umur Dewasa Dewasa - Dewasa Diferensiasi Leukosit (%) Heterofil Monosit Limfosit Ukuran dan Sistem Pertahanan Heterofil Penggunaan istilah sel darah putih polimorfonuklir lazimnya terbatas pada heterofil. Pada hewan dewasa normal, granulosit dibentuk di sumsum tulang belakang. Heterofil dapat bertahan hidup dalam jangka waktu beberapa jam. Diameter heterofil pada ayam kira-kira 10-15µm, memiliki inti yang khas, terdiri atas sitoplasma pucat di antara 2 dan 5 lobus dengan tidak teratur dan mengandung banyak granula merah jambu (azuropilik) atau merah lembayung (Hoffbrand 1987). Frandson (1992) menyatakan bahwa heterofil mengandung granula yang memberikan warna indiferen dan tidak merah atau pun biru. Heterofil merupakan jajaran pertama untuk sistem pertahanan melawan infeksi dengan cara bermigrasi ke daerah-daerah yang sedang mengalami serangan oleh bakteri, menembus dinding pembuluh darah, dan menyerang bakteri untuk dihancurkan. Dalam proses tersebut banyak heterofil yang mendegradasi jaringan yang mati (nekrotik) di daerah itu, dan menghasilkan suatu zat semicair yang disebut nanah (pus), sedangkan akumulasi nanah lokal disebut abses. Jumlah heterofil di dalam darah meningkat cepat tatkala terjadi infeksi yang akut. Hitungan atas sel-sel darah putih yang menunjukkan peningkatan, merupakan diagnosis adanya infeksi (Frandson 1992). Pada beberapa spesies heterofil merupakan komponen terbanyak urutan kedua setelah limfosit dari total sel darah putih. Heterofil berkembang dalam sumsum tulang dan dikeluarkan ke dalam sirkulasi. Letaknya terbanyak di pinggiran dalam dari kapiler dan pembuluh darah kecil, dan hal ini disebut marginasi. Apabila terjadi pelukaan pada jaringan, heterofil dimobilisasi dari posisi marginal ke daerah yang terluka, dan menembus dinding kapiler diantara 11

27 sel-sel (diapedesis), kemudian dengan gerakan amuboid masuk ke jaringan untuk memfagositosiskan partikel-partikel asing (Sturkie 1976). Ukuran dan Peranan Monosit Monosit merupakan bagian dari kelompok agranulosit yang berasal dari sumsum tulang dan mempunyai garis tengah berkisar dari 9-12 µm. Inti berbentuk oval, berbentuk kaki kuda, atau berbentuk ginjal dan umumnya terletak konsentris. Kromatin kurang padat dan menunjukkan susunan yang lebih fibriler daripada limfosit. Inti monosit biasanya mengandung 2 atau 3 anak inti yang dapat dilihat dalam sediaan hapus darah (Junqueira dan Carneiro 1982). Monosit, sel-sel darah putih yang menyerupai heterofil, bersifat fagositik yaitu kemampuan untuk menyerang material asing, seperti bakteri. Akan tetapi, jika heterofil fungsi utamanya untuk mengatasi infeksi yang akut, monosit akan mulai bekerja pada keadaan infeksi yang tidak terlalu akut, seperti tuberculosis. Ketika monosit darah masuk ke dalam jaringan maka monosit tersebut akan berkembang menjadi fagosit yang lebih besar yang disebut makrofag. Masa hidup monosit dapat bertahan sampai bulanan (Frandson 1992). Monosit beredar melalui aliran darah dan mampu menembus dinding kapiler, masuk ke dalam jaringan penyambung, dan berdiferensiasi menjadi sel-sel fagositik sistem makrofag (Junqueira dan Carneiro 1982). Karakter dan Peranan Limfosit Umumnya limfosit terdapat dalam darah tepi dan merupakan sel kecil dengan diameter kurang dari 10 µm. Ukuran dan penampilannya bervariasi, dan mempunyai nukleus relatif besar yang dikelilingi oleh sejumlah sitoplasma. Masa hidup limfosit dapat mencapai tahunan (Frandson 1992). Hoffbrand (1987) menyatakan bahwa limfosit memiliki inti yang berwarna gelap dan berbentuk bundar atau agak berlekuk dengan kelompok kromatin kasar dan berbatas tidak tegas. Nukleoli normal terlihat, sitoplasma berwarna biru langit dan dalam kebanyakan sel terlihat sebagai bingkai halus sekitar inti. Kira-kira 10% limfosit yang beredar merupakan sel lebih besar dengan diameter µm dengan sitoplasma lebih banyak dan dapat mengandung sedikit granula azuropilik. 12

28 Bentuk yang lebih besar dipercaya telah dirangsang oleh antigen, misalnya virus atau protein asing. Fungsi utama limfosit pada hewan (unggas) adalah responsnya terhadap antigen (benda-benda asing) dengan membentuk antibodi yang bersirkulasi di dalam darah atau dalam pengembangan imunitas (kekebalan) seluler. Sistem kekebalan sekunder (limfositik) terbentuk apabila suatu antigen menyentuh dan merangsang T-limfosit (timus limfosit). T-limfosit adalah dari limfosit yang berasal dari sel-sel batang sumsum tulang dan diproses di dalam timus sebelum bergerak ke jaringan limfosit tubuh hewan. Apabila T-limfosit mengalami pendedahan terhadap antigen, T-limfosit akan dirangsang untuk bereplikasi secara cepat dan menghasilkan lebih banyak lagi, yang juga dapat bekerja langsung melawan antigen yang spesifik. Antigen ini meliputi agen-agen seperti jamur, organisme Brucella, baksil turberkel, sel-sel kanker, dan organ-organ yang ditransplantasi. Selain T-limfosit ada juga B-limfosit yang berasal dari antibodi yang dihasilkan sebagai respons terhadap interaksi suatu antigen spesifik dengan limfosit yang mengalami pemrosesan awal. Pada bangsa burung limfosit ini diproses di dalam bursa Fabricius, suatu organ limfoid yang terletak di dekat kloaka unggas muda. Pada mamalia, B-limfosit diproses di dalam jaringan yang disebut ekuivalen bursa, kemungkinan di dalam hati atau limpa (Frandson 1992). Oleh karena itu, sel-sel darah putih sangat penting peranannya sebagai antibodi terhadap setiap benda asing yang masuk ke dalam tubuh sehingga dapat memberikan perlindungan terhadap tubuh, supaya tubuh tetap sehat dan bisa berproduktivitas secara baik. Salah satu produktivitas yang dapat ditampilkan dari burung perkutut yaitu kemampuan dalam menghasilkan suara. Sejarah Singkat Zat besi (Fe) Menurut Pilliang (2004), diketahui bahwa Lemmery dan Geoffroy pada tahun 1713 menemukan adanya zat besi dalam jaringan-jaringan tubuh. Hoppe Seyler pada tahun 1867 merupakan orang yang pertama mengkristalisasi hemoglobin dalam darah, tetapi zat besi yang bukan heme baru ditemukan pada tahun 1925 oleh Fontes dan Thivolle yang membuktikan bahwa zat besi dalam plasma ternyata berbeda dengan zat besi dalam hemoglobin. Zat besi di dalam makanan terdapat dalam dua macam bentuk yaitu heme dan nonheme. Zat besi 13

29 heme ditemukan dalam hemoglobin dan dalam otot yang disebut myoglobin yang terdapat dalam daging. Mekanisme Penyerapan dan Metabolisme Zat Besi Kandungan zat besi di dalam tubuh sebesar 0.005% dari bobot badan. Total zat besi di dalam hemoglobin darah sekitar 57% dan 7% di dalam myoglobin (Leeson dan Summers 2001). Mekanisme penyerapan zat besi merupakan mekanisme pengatur (gatekeeper) metabolisme zat besi. Penyerapan zat besi berkisar 2-40% dari zat masukan (intake) zat besi dengan rataan sekitar 5-15%. Penyerapan zat besi non heme ditemukan pada bahan makanan asal hewan maupun tanaman yang merupakan penyerapan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan penyerapan zat besi heme. Zat besi yang terdapat dalam bentuk inorganik terdapat dalam makanan terutama dalam bentuk oksidasi seperti ion ferri (Fe +++ ). Zat besi dalam bentuk tereduksi, ion fero (Fe ++ ) lebih mudah diserap karena mudah larut dalam cairan pencernaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi reduksi zat besi sehingga berpengaruh dalam penyerapan, yaitu kadar keasaman, ph atau keasaman dalam lambung dan bagian atas usus halus. Tersedianya asam askorbat dan fruktosa akan meningkatkan penyerapan dengan cara mengubah bentuk zat besi dalam bentuk ion feri menjadi ion fero (Pilliang 2004). Proses penyerapan zat besi dari makanan berlangsung melalui sel-sel epitel mukosa usus duodenum setelah makanan meninggalkan lambung. Dari lokasi tersebut zat besi masuk ke kapiler darah di dalam mukosa, di mana zat besi ditranspor oleh suatu protein yang disebut transferin yang terdapat dalam sirkulasi darah. Transferin merupakan protein dengan berat molekul dan mampu mengikat 2 atom besi ferri. Transferin diperkirakan hanya sekitar 0.1% dari besi tubuh total. Peranan utamanya adalah mentranspor besi dari sistem retikuloendotelial dan usus ke sumsum tulang untuk sintesis hemoglobin pada pembentukan sel darah merah selanjutnya, dan sebagian kecil akan digunakan untuk membentuk myoglobin di dalam otot. Sekitar 25% bergabung dengan apoferitin di dalam sel-sel jaringan sehingga membentuk feritin, yang merupakan bentuk cadangan sementara dari zat besi di dalam hati dan limfa. Feritin akan hilang jika sel-sel mukosa terlepas dan masuk kedalam lumen usus halus. Zat besi 14

30 hilang dari tubuh melalui feses, urine, dan keringat. Pada hewan betina induk mensuplai zat besi pada fetus terutama saat perioda kebuntingan, pada anak-anak ketika sedang menyusui, dan pada manusia ketika wanita sedang menstruasi (Dallman 1986; Frandson 1992; Pilliang 2004). Metabolisme zat besi dibagi dalam dua siklus (Gambar 5), yaitu satu siklus internal dengan pemanfaatan kembali besi secara terus menerus dari katabolisme sel dalam tubuh dan satu siklus eksternal yang digambarkan oleh hilangnya besi dari tubuh dan penyerapan dari makanan (Leeson dan Summers 2001). Komponen utama metabolisme besi internal adalah pemanfaatan kembali besi dari katabolisme sel darah merah. Besi yang dibebaskan dari hemoglobin dalam sistem retikuloendotelial kemudian diambil oleh transferin dan diangkut ke sumsum tulang untuk pembentukan hemoglobin dalam sel darah merah baru. Sebagian besi digunakan dalam pembentukan sel-sel lainnya, tetapi bagian utama metabolisme besi internal adalah suatu daur ulang besi dalam massa sel darah merah (Leeson dan Summers 2001). Gambar 5. Metabolisme zat besi (Sumber : Leeson dan Summers 2001) 15

31 Deskripsi dan Mekanisme Penyerapan Seng (Zn) Wasito et al. (2003) melaporkan bahwa mineral seng merupakan salah satu elemen penting yang dibutuhkan tubuh yang berfungsi sebagai pelindung dasar untuk sistem kekebalan tubuh. Seng juga berperan sangat penting dalam pertumbuhan dan perbaikan jaringan. Selain itu, seng merupakan bahan dasar hormon disamping mangan atau vitamin yang melengkapi. Piliang (2006) melaporkan bahwa tikus yang diberi perlakuan vitamin D dalam ransumnya, dapat mengabsorpsi mineral seng dari ransum secara lebih baik. Mineral seng diabsorpsi dengan bantuan proses difusi dalam duodenum dan jejunum bagian atas. Absorpsi mineral seng dipengaruhi oleh ukuran tubuh, kadar mineral seng dalam ransum serta terdapatnya zat-zat yang dapat mengganggu absorpsi mineral seng antara lain mineral kalsium, fitat dan vitamin D. Mineral seng sangat tersedia bagi tubuh dalam bentuk seng sulfat. Prasad (1991) menjelaskan bahwa jika kandungan seng dalam makanan cukup tinggi, maka kadar seng dalam plasma dan sintesis de novo metallotionin secara bersamaan juga meningkat. Mengingat adanya berbagai interaksi yang terjadi selama pengangkutan melalui sel usus, maka ada kemungkinan bahwa status seng mengatur laju dan besarnya penyerapan, sebagian melalui perubahanperubahan pada kadar metallotionin. Cousins (1979) menyatakan bahwa albumin dapat membantu mengatur laju penyerapan seng karena hampir 67% seng dalam plasma berkaitan dengan albumin. Senyawa Seng (Zn) dalam Tubuh Senyawa seng tersebar di seluruh tubuh dan tempat yang terbanyak mengandung senyawa seng yaitu sumsum tulang dan ginjal, karena tempat-tempat tersebut merupakan tempat yang pertama mengalami depresi mineral seng dalam kondisi defisiensi seng. Selain itu, kelenjar prostat juga mengandung mineral seng dengan konsentrasi tertinggi meskipun pada kenyataannya tidak terdapat keseimbangan dengan konsentrasi mineral seng dalam darah dan juga tidak disebarkan pada jaringan-jaringan lain pada saat diperlukan. Umumnya, jaringan pada organ mengandung mineral seng dengan konsentrasi lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan mineral dalam jaringan otot. Hal tersebut terbukti dengan adanya aktifitas metabolik dalam organ lebih tinggi dibandingkan 16

32 dengan aktifitas metabolik dalam jaringan-jaringan lain dalam tubuh. Tanda-tanda klasik defisiensi mineral seng antara lain hilangnya nafsu makan, pertumbuhan yang terhambat, serta testes yang mengecil (testicular atrophy) sehingga sekresi testosteron menurun (Pilliang 2004). Hormon Reproduksi Jantan Klasifikasi Hormon Hormon dapat diklasifikasikan menurut komposisi kimiawi, sifat kelarutan, lokasi reseptor dan sifat sinyal yang digunakan sebagai perantara bagi kerja hormon di dalam sel. Secara kimiawi, hormon dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu steroid dan protein (polypeptide) serta turunannya. Hormon testosteron tergolong sebagai hormon steroid yang memiliki sifat kelarutan lipofilik (larut dalam lemak) dan berasal dari kolesterol. Setelah disekresi, hormon steroid akan terikat dengan protein pengangkut dan mempunyai usia paruh plasma yang panjang (berjam-jam sampai berhari-hari) serta lokasi reseptor yang terdapat pada intraseluler (Murray et al. 1999). Peranan Hormon Kelenjar Kelamin Hormon-hormon yang digolongkan sebagai hormon kelamin salah satunya adalah androgen yang merupakan hormon steroid. Androgen (hormon jantan) yang utama adalah testosteron (Sturkie 1976). Fungsi endokrin dari testis terutama adalah menghasilkan testosteron yang disintesis di dalam sel Leydig (sel interstitial) yang tersebar dalam jaringan ikat antara tubulus seminiferus yang bergelung akibat rangsangan LH (Luteinizing Hormone, ICSH atau Interstitial Cell Stimulating Hormone) (Murray et al.1999). Frandson (1992) menjelaskan bahwa testosteron meningkatkan anabolisme protein yang dapat mempengaruhi pertambahan berat tubuh pada hewan jantan bila dibandingkan dengan betina. Selain itu, testosteron memacu perkembangan dan fungsi kelenjar-kelenjar kelamin aksesori yang menyebabkan berkembangnya karakteristik kelamin sekunder dan mengontrol sekresi LH (Luteinizing Hormone, ICSH atau Interstitial Cell Stimulating Hormone) pada hewan jantan. William (1983) menambahkan bahwa testosteron dan androgen berpengaruh terhadap perkembangan karakteristik sex sekunder jantan antara lain suara yaitu dengan 17

33 memperbesar larynx, vocal cords meningkat sehingga menjadi panjang dan tebal serta suara lebih dalam. Biosintesis Hormon Testosteron Hormon testosteron mempunyai rumus kimia C 19 H 27 O 2 dengan struktur dasar yang sama dengan hormon steroid lainnya. Atom karbon ke-3 berikatan dengan keton, dan pada atom karbon ke-17 berikatan dengan gugus hidroksil. Testis merupakan sumber hormon testosteron yang potensial dan sel yang mensintesis hormon testosteron adalah sel Leydig. Sel Leydig menggunakan asam asetat, dalam bentuk asetil-coa yang merupakan prekursor kolesterol dan hormon testosteron. Reaksi tersebut dapat dilihat pada biosintesis hormon testosteron hewan unggas melalui dua lintasan menurut Sturkie (1976) yang ditampilkan pada Gambar 6. Gambar 6. Lintasan biosintesis hormon testosteron pada unggas (Sturkie 1976). 18

34 Testosteron dalam Plasma Darah Testosteron terikat dalam ß-globulin plasma dengan spesifisitas, afinitas yang relativ tinggi dan kapasitas terbatas. Protein ini, biasanya dinamakan globulin pengikat hormon seks (SHBG; sex hormon-binding globulin) yang diproduksi di dalam hati. SHBG dan albumin mengikat 97-99% dari hormon testosteron yang beredar, hanya sebagian kecil dari hormon testosteron yang berada dalam bentuk bebas (biologis aktif) di dalam sirkulasi darah (Murray et al. 1999). Sama halnya dengan pendapat William (1983) bahwa 97% hormon testosteron berada di dalam plasma yang terikat oleh protein: 40% terikat oleh β-globulin atau disebut gonadal steroid-binding globulin (GBG), 40% albumin, dan 17% terdiri dari protein yang lain. Kecepatan sekresi testosteron rata-rata sebesar 4-9 mg/d ( nmol/d) dalam kondisi normal pada jantan dewasa. Sama halnya dengan pendapat William (1983) bahwa 97% hormon testosteron berada di dalam plasma yang terikat oleh protein: 40% terikat oleh β-globulin atau disebut gonadal steroid-binding globulin (GBG), 40% albumin, dan 17% terdiri dari protein yang lain. Kecepatan sekresi testosteron rata-rata sebesar 4-9 mg/d ( nmol/d) dalam kondisi normal pada jantan dewasa. Sturkie (1976) mengungkapkan bahwa kadar testosteron yang terdapat di dalam darah bervariasi pada hewan unggas jantan. Konsentrasi testosteron di dalam plasma darah hewan unggas jantan dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Konsentrasi hormon testosteron di dalam plasma darah unggas jantan Jenis Unggas Status Reproduksi Konsentrasi Testosteron (ng/100ml) Ayam Puyuh Merpati Dewasa Photostimulated Dewasa Karakteristik Sex Sekunder Peranan hormon testosteron adalah mengembangkan dan mempertahankan sifat seks sekunder pada hewan unggas jantan, meliputi ukuran jengger, warna bulu, struktur bulu, agresivitas, tingkah laku dan produksi suara (Sturkie 1976). William (1983) menjelaskan bahwa pengaruh terhadap perkembangan karakteristik seks sekunder pada jantan antara lain suara, meliputi pembesaran 19

35 larynx, vocal cord meningkat menjadi panjang dan tebal, dan suara menjadi lebih dalam. Hasil penelitian Nalbandov (1990) tentang pengaruh sifat seks sekunder suara pada anak laki-laki yang dikastrasi setelah pubertas menghasilkan adanya suara tinggi yang tetap dipertahankan. Perubahan-perubahan kualitatif dan kuantitatif disebabkan oleh defisiensi androgen pada umumnya lebih nyata bila terjadi sebelum pubertas. Suara Burung Pengertian dan Peranan Suara Cromer (1994) berpendapat bahwa suara merupakan gelombang longitudinal yang merambat melalui udara, air, dan zat padat. Suara mempunyai peranan penting dalam kehidupan terutama bagi burung bernyanyi seperti halnya perkutut. Burung bernyanyi menggunakan suara untuk berkomunikasi antara satu dengan lainnya dan memperoleh informasi tentang sekelilingnya. Berdasarkan tipenya ada dua jenis suara pada burung perkutut, yaitu suara call (suara isyarat) dan song (suara nyanyian) (Sutejo 2002). Suara isyarat digunakan dalam berkomunikasi antar sesama yang biasanya pendek-pendek, misalnya suara memanggil dan menyongsong kawin. Jenis suara nyanyian biasanya panjang, berirama dalam waktu lama, dan diulang-ulang secara teratur dengan irama khusus. Suara nyanyian ini biasanya terdengar kalau burung dalam keadaan sehat. Organ Penghasil Suara Pada burung, suara diproduksi oleh organ pengatur suara (syrinx) yang terdapat di persimpangan antara trachea dengan bronkus (Gambar 7). Menurut McCasland (1987), suara burung diproduksi melalui hasil kerjasama antara otot pernafasan pada trakea dengan organ pengatur suara (syrinx) yang diatur oleh sistem saraf. Pada syrinx terdapat sepasang membran tymphani medial (MTM), yaitu selaput getar dan menghasilkan bunyi jika dilewati udara pada saat ekspirasi. Pada burung organ ini merupakan selaput yang kompleks (Gill 1995). 20

36 Arnold et al. (1976) mengungkapkan bahwa perkembangan syrinx diatur oleh hormon-hormon gonad. Brenowitz dan Lent (2002) menjelaskan bahwa produksi suara (song) dan proses belajar bersuara (song learning) dikontrol oleh sebuah daerah di otak yang disebut vocal control region (VCR). Kerja VCR sangat dipengaruhi hormon testosteron dan fotoperioda. Gambar 7. Syrinx burung (King and Mc Lelland 1989) Terdapat dua jalur di otak yang mengatur vokalisasi (Gambar 8), yaitu jalur posterior (posterior pathway) dan jalur anterior (anterior pathway). Jalur posterior mengontrol produksi suara (song) dan jalur anterior bertanggung jawab mengontrol proses belajar bersuara. Produksi suara dikendalikan oleh jalur yang dimulai dari otak hingga ke syrinx. Pusat saraf suara dimulai dari HVC (High Vocal Center in the neostriatum) melewati RA (Robust nucleus of the Archistriatum) kemudian ke tracheosyringeal motor (hypoglossal) nucleus 21

37 (nxiits) yang ada dalam batang otak, dan akhirnya sepanjang neuron motorik menuju ke otot syrinx. Jalur proses belajar (learning) menghubungkan HVC ke RA melalui wilayah X, DLM (Dorsolateral Nucleus of the Medial Anterior Thalamus) dan LMAN (Lateral Nucleus of the Anterior Neostratum). Kondisi ini berulang karena pada LMAN juga memproyeksikan ke wilayah X. Gangguan pada jalur ini mempengaruhi perkembangan suara (song). Gambar 8. Diagram sistem control surara pada burung (Brenowitz and Lent 2002). Keterangan : Jalur posterior/produksi suara Jalur anterior/proses belajar bersuara Kriteria Suara Perkutut Kriteria dasar suara perkutut meliputi kualitas suara dan irama (Sutejo 2002). Kualitas suara yang baik tidak membedakan suara burung kecil atau besar. Adapun irama yang baik adalah keseluruhan anggungan yang dikumandangkan dalam tempo panjang, tidak tergesa-gesa dan teratur. Suara perkutut jantan dewasa dapat ditebak saat umur 6 bulan karena sudah menunjukkan sifat-sifat kejantanannya dengan cara memamerkan suara anggungnnya. 22

38 Menurut (Sutejo 2002) anggungan perkutut didasarkan atas lima kriteria yang juga merupakan dasar penilaian. Kelima kriteria tersebut terdiri dari suara depan, suara tengah, suara ujung, dasar suara dan irama. Kriteria pertama adalah suara depan (angkatan). Suara depan ini merupakan suara bagian awal atau silabel (syllable) pertama pada tahap perkutut manggung. Burung yang mempunyai suara depan panjang (klauu, kleoo, klaoo, weoo), mengalun dan menjerit seperti melempar tergolong katagori baik sehingga nilainya tinggi. Kriteria kedua adalah suara tengah merupakan bagian tahap manggung antara suara depan dengan suara ujung. Suara depan ini dapat terdiri dari beberapa silabel sampai sebelum silabel akhir. Suara tengah dianggap baik bila artikulasi jelas, renggang, tebal dan jernih. Contoh suara tengah yang baik ke-tek. Kriteria ketiga adalah suara ujung merupakan suara akhir pada waktu perkutut manggung atau silabel akhir. Suara ujung dianggap baik bila muncul suara kuuung yang menggaung, berat, panjang dan dengan nada menurun. Makin panjang kung-nya, semakin baik nilainya. Kriteria keempat adalah dasar suara. Dasar suara perkutut yang baik harus lantang (bisa keras, nyaring, tebal), jelas terdengar dan nadanya tidak naik turun. Kriteria kelima adalah irama atau lagu merupakan keserasian antara suara depan, tengah dan belakang. Semakin serasi dan pembagian ritmenya seimbang, semakin tinggi nilainya. Perkutut yang bagus pada saat manggung, memiliki pause (masa selang) antara hurketekuk satu dengan hurketekuk berikutnya sehingga terdengar selaras atau serasi. Keserasian ini disebut wilet. Pause sangat menentukan dalam memberikan kenyamanan irama bagi pendengarnya dengan demikian pause disebut juga durasi antar silabel. Durasi Suara Durasi suara adalah waktu tempuh suara pada saat perkutut manggung atau menghasilkan suara. Durasi suara terbagi atas enam bagian (Gambar 9), yaitu (1) durasi total adalah durasi dari seluruh silabel mulai dari suara depan sampai suara akhir; (2) durasi depan merupakan durasi pada silabel awal; (3) durasi tengah yang merupakan durasi suara tengah yang terdiri dari beberapa silabel; (4) durasi ujung yang merupakan durasi dari silabel akhir; (5) durasi silabel yang 23

39 merupakan durasi dalam satu silabel; (6) durasi antar silabel yang merupakan durasi antara silabel pertama dan silabel kedua. Gambar 9. Oscilogram durasi suara perkutut (Raimund 1999) Keterangan Gambar : D Total : Durasi Total; DA : Durasi Depan; DT : Durasi Tengah; DU : Durasi Ujung; DS : Durasi Silabel; DAS : Durasi Antar Silabel 24

40 MATERI DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan awal bulan Maret 2005 sampai akhir bulan Mei 2005 di Bird Farm Perkutut Prima, Desa Sukakarya Mega Mendung Bogor selama 10 (sepuluh) minggu. Analisis Proksimat pada pakan (gabah lampung, milet, jawawut dan ketan hitam) dan pada ekstrak daun (Saga, Sambiloto dan Pare) dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Nutrisi Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Mataram. Analisis mineral (Fe, Mg dan Zn), vitamin A dan vitamin C pada pakan (gabah lampung, milet, jawawut dan ketan hitam) dan pada ekstrak daun (Saga, Sambiloto dan Pare) dilaksanakan di Laboratorium Kimia Analitik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mataram, sedangkan analisis mineral (Fe dan Zn) pada plasma darah dilaksanakan di Laboratorium Mineral BBIA Bogor, Perhitungan profil darah (diferensiasi sel darah putih) dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Adapun analisis hormon testosteron pada plasma darah dilaksanakan di Laboratorium Radioimmunoassay (RIA) BATAN Jakarta Selatan. Prosedur analisa proksimat, mineral (Fe, Mg dan Zn), vitamin A dan vitamin C pada ransum penelitian (pakan utama dan ekstrak daun) dapat dilihat pada Lampiran 1. Materi Penelitian Hewan Percobaan Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah burung perkutut hasil persilangan Induk Jantan Bangkok dengan Induk Betina Lokal, berumur 4-6 bulan dengan bobot badan g/ekor yang didapatkan dari Bird Farm Perkutut Prima di Bogor. Jumlah perkutut yang digunakan 25 ekor yang dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan. Setiap kelompok perkutut dibagi dalam 5 ulangan, masing-masing 1 ekor. 25

41 Kandang dan Perlengkapan Penelitian Pemeliharaan perkutut selama penelitian dilakukan pada kandang berlantai beton, berdinding kawat dan beratap asbes yang dapat dilihat pada Gambar 10. Gambar 10. Tampilan bagian dalam kandang penelitian Petak kandang penelitian pada Gambar diatas berukuran 120 cm x 60 cm x 180 cm sebanyak 25 petak kandang yang terbagi atas 2 kandang induk yang tiap kandang induk berisi 12 dan 13 petak kandang. Tiap petak ditempatkan 1 ekor perkutut yang dilengkapi dengan tempat pakan sebanyak 4 buah, terdiri dari tempat pakan (millet, jawawut, ketan hitam dan gabah lampung) dan tempat minum yang terbuat dari plastik. Sebagai alat penerangan digunakan lampu pijar 40 watt yang dipasang di bagian tengah pada tiap petak. Selain itu, tiap petak dilengkapi dengan nomor kandang untuk mempermudah dalam pencatatan data selama penelitian serta timbangan. Ransum Penelitian Bahan dan Susunan Ransum Bahan ransum penelitian yang digunakan terdiri dari pakan utama dan ekstrak daun. Pakan utama terdiri dari milet, jawawut, ketam hitam dan gabah lampung yang diproduksi oleh Sari Alam Solo dan dibeli dari Bird Farm Perkutut Prima di Bogor. Daun yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari daun saga, sambiloto dan pare yang diperoleh dari wilayah Bogor, Propinsi Jawa Barat, 26

42 dimana daun-daun tersebut diberikan pada hewan percobaan dalam bentuk ekstrak daun saga, sambiloto dan pare. Metode Penelitian Persiapan Ekstrak Daun Ekstrak daun dihasilkan melalui ekstraksi yang dilakukan dengan menggunakan metode maserasi daun. dimana bahan (daun segar) ditimbang, kemudian dihaluskan dengan menggunakan blender. Selanjutnya akuades disiapkan untuk perendaman dengan perbandingan (1 : 5 g/g) selama 24 jam, setelah itu disaring menggunakan kertas saring Whatman no.40 dan ditampung dalam sebuah wadah kosong yang telah diketahui beratnya. Hasilnya di uapkan menggunakan Rotary Evaporator dengan suhu 40 0 C sehingga yang tersisa adalah ekstrak daun berupa gel. Selanjutnya ekstrak dan wadah ditimbang beratnya sehingga dapat diketahui berat ekstrak daun yaitu (berat ekstrak + berat wadah) berat wadah. Sebagai catatan, ekstrak daun (Saga, Sambiloto dan Pare) yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dari Laboratorium Kimia Analitik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor. Dasar perhitungan konsentrasi ekstraksi perlakuan dedaunan berdasarkan pemberian berat daun saga segar sebanyak 30 lembar daun/ekor/minggu (Farm Prima Perkutut). Nilai konversi rataan berat segar 30 lembar daun saga sebesar 0.27 g (X), sehingga dapat dihitung konsentrasi ekstrak daun saga/ekor/minggu Berat ekstrak dengan rumus yaitu % rendemen daun saga ( x100% ) x rataan Berat segar berat segar 30 lbr daun saga (X) atau 6.78% x 0.27 g = g/ekor/minggu. Hasil perhitungan tersebut merupakan nilai konsentrasi ekstrak yang berlaku juga pada ekstrak daun sambiloto dan pare, sedangkan kombinasi ekstrak dedaunan konsentrasi ekstraknya sama yaitu g/ekor/minggu sehingga setiap konsentrasi ekstrak dedaunan sebesar g/ekor/ minggu. Perlakuan ekstrak daun (Saga, Sambiloto dan Pare) diberikan secara oral (force feeding) melalui syringe dengan jangka waktu pemberian setiap minggu. 27

43 Adapun ransum perlakuan yang digunakan adalah sebagai berikut : Perlakuan A = Pakan utama (kontrol) B = Pakan kontrol gram ekstrak daun saga C = Pakan kontrol gram ekstrak daun sambiloto D = Pakan kontrol gram ekstrak daun pare hutan E = Pakan kontrol + Kombinasi (0.006 gram ekstrak daun saga gram ekstrak daun sambiloto gram ekstrak daun pare). Pelaksanaan Penelitian Sebelum penelitian dilaksanakan kandang dan perlengkapannya terlebih dahulu dibersihkan. Hal ini dilakukan untuk mencegah kemungkinan adanya gangguan penyakit sehingga mengakibatkan penyimpangan hasil penelitian. Pembersihan kandang dan peralatan dilakukan satu minggu sebelum anak perkutut datang. Anak perkutut yang baru datang ditimbang dengan menggunakan timbangan digital untuk mengetahui keragaman berat hingga ketelitian 0.1 g. Selanjutnya ditempatkan pada kandang perlakuan dan ulangan sesuai dengan unit kandang pengacakan. Kandang penelitian ini berada di atas bukit dengan ketinggian 700 m dari atas permukaan laut dengan suhu lingkungan berada dalam kisaran C. Tahap ini juga merupakan awal adaptasi perkutut selama 2 minggu. Pakan yang diberikan terdiri dari 2 bagian yaitu pakan perlakuan dan pakan utama. Pakan perlakuan diberikan setelah tahap adaptasi yaitu minggu ke-3 hingga minggu ke-9 saat burung perkutut berumur 4-6 bulan sedangkan pakan utama diberikan saat tahap adaptasi hingga minggu ke-10. pakan utama diberikan berdasarkan 10% dari berat badan perkutut. Namun dalam penelitian ini jumlah pemberian pakan utama dilebihkan untuk masing-masing jenis pakan utama sebesar 10 gram/4 hari, yang bertujuan untuk mengetahui kebutuhan nutrisi perkutut sedangkan untuk air minum diberikan ad libitum. Pakan utama yang terdiri dari milet, jawawut, ketan hitam, dan gabah lampung diberikan terpisah setiap ekor perkutut. Selama penelitian berlangsung dilakukan pembersihan kandang dan peralatan tiap 4 hari sekali untuk menjaga kebersihan kandang dan kesehatan perkutut. 28

44 Pemberian ekstrak daun saga, sambiloto, dan pare diberikan seminggu sekali setiap ekor pada pagi hari dengan cara ekstrak daun dilarutkan terlebih dahulu kemudian diberikan dengan menggunakan syringe secara oral. Pengambilan sampel darah untuk pengukuran (diferensiasi leukosit, mineral (Fe dan Zn) dan hormon testosteron) dan perekaman suara dilakukan pada minggu ke-10 hingga minggu ke-11 saat burung perkutut berumur 6-8 bulan. Pengambilan sampel darah dilakukan mulai jam pada minggu ke-10. Sampel darah diambil dengan menggunakkan syringe steril kapasitas 1 cc di vena bawah sayap dan sampel darah yang diambil sebanyak 0.21 cc. Kemudian 0.2 cc sampel darah dimasukkan ke dalam tabung evendov kapasitas 1.5 cc yang mengandung antikoagulan heparin untuk diambil plasmanya dengan cara disentrifuga pada rpm, suhu 10 0 C, selama 5 menit, sehingga dapat digunakan untuk mengukur mineral Fe, Zn dan hormon Testosteron, sedangkan sisa sampel darah 0.01 cc yang ada dalam syringe diteteskan pada salah satu ujung gelas objek lalu dibuat apusan dengan bantuan gelas objek yang lain. Apusan pada gelas objek tersebut digunakan untuk menghitung Diferensiasi Sel-Sel Leukosit. Untuk perekaman dilakukan selama 6 jam mulai jam setiap hari selama 6 hari, yang mana 3 jam I untuk kandang I (12 unit) dan 3 jam berikutnya untuk kandang II (13 unit) dan dilakukan pergantian waktu setiap hari selama perekaman. Parameter burung perkutut yang diamati yaitu konsumsi ransum, konsumsi nutrien, diferensiasi sel-sel leukosit, mineral (Fe dan Zn), hormon testosteron, dan durasi (silabel dan antar silabel). Untuk data konsumsi ransum dan konsumsi nutrien ditabulasi dan dibahas secara deskriptif untuk mendapatkan gambaran jumlah nutrisi yang dikonsumsi perkutut. Untuk perhitungan setiap parameter sebagai berikut: 1. Konsumsi ransum (g/ekor/hari) Konsumsi ransum setiap kelompok ulangan dihitung setiap 4 hari berdasarkan selisih ransum yang diberikan dengan sisa ransum. 2. Konsumsi nutrien - Konsumsi nutrien kelompok kontrol (A) diperoleh dari :? (ANR x KR A ) 29

45 - Konsumsi nutrien kelompok B diperoleh dari : [?(ANR x KR B )] + (AEks B x gram) - Konsumsi nutrien kelompok C diperoleh dari : [?(ANR x KR C )] + (AEks C x gram) - Konsumsi nutrien kelompok D diperoleh dari : [?(ANR x KR D )] + (AEks D x gram) - Konsumsi nutrien kelompok E diperoleh dari : [?(ANR x KR E )] + (AEks B x gram) + (AEks C x gram) + (AEks D x gram) Keterangan : ANR AEks B AEks C AEks D KR A KR B KR C KR D KR E : Analisa nutrien ransum (pakan pokok) : Analisa ekstrak saga (perlakuan B) : Analisa ekstrak sambiloto (perlakuan C) : Analisa ekstrak pare (perlakuan D) : Konsumsi ransum (pakan pokok) pada perlakuan A : Konsumsi ransum (pakan pokok) pada perlakuan B : Konsumsi ransum (pakan pokok) pada perlakuan C : Konsumsi ransum (pakan pokok) pada perlakuan D : Konsumsi ransum (pakan pokok) pada perlakuan E 3. Diferensiasi Sel-Sel Leukosit Uji pada darah perkutut yang dilakukan pada penelitian ini adalah : Diferensiasi Leukosit preparat ulas darah dengan pewarnaan Giemsa, perhitungan dan klasifikasi per 100 leukosit. Metoda perhitungan jumlah eritrosit dan diferensiasi leukosit mengikuti metode Djojosoebagio (1989) sebagai berikut : Apusan darah dikeringkan dalam suhu kamar lalu difiksasi menggunakan methanol dengan cara dicelupkan selama 5 menit. Selanjutnya apusan darah diangkat, dikeringkan kembali lalu dimasukkan ke dalam larutan zat warna Giemsa selama 30 menit. Gelas objek diangkat dan dicuci kelebihan zat warna dengan menggunakan air kran yang mengalir. Apusan darah dikeringkan di udara dan selanjutnya apusan darah yang telah diwarnai diamati melalui mikroskop cahaya perbesaran dengan lensa objective. : 100 x; okuler : 10 x dan diteteskan minyak imersi pada preparat Diferensiasi leukosit dilakukan pada beberapa lapang pandang dan dihitung per 100 leukosit. 30

46 4. Mineral Fe dan Zn dari Plasma Sampel darah yang diambil plasmanya dengan cara disentrifuga pada rpm, suhu 10 0 C, selama 5 menit. Selanjutnya dilakukan pengukuran Fe dan Zn dari plasma mengikuti metode AAS (Price 1979) seperti pada Lampiran Analisis Kadar Hormon Testosteron Plasma diukur kandungan hormon testosteron dengan menggunakan kit COAT-A Count Testosteron buatan DPC Los Angles, USA. Pengukuran dilakukan secara kuantitatif dan menggunakan radioaktif 125I (Jaffe dan Behrman 1974). 7. Analisis Suara Perkutut Analisis durasi silabel dan durasi antar silabel dari suara perkutut dilakukan pada 238 cuplikan suara dari 22 individu perkutut (Purnamasari 2006). Cuplikan suara direkam dengan audio tape recorder merek Sony TCM Hasil rekaman dikonversikan dalam bentuk digital audio pada format WAVE, kemudian dianalisis melalui program avisoft-saslab Pro versi 3.74 (Raimund 1999). Analisis Data Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 5 ulangan dan 5 perlakuan. Model statistika RAL sebagai berikut : di mana : Y ij µ = t i? ij j i = = = = = Y ij = µ + t i +? ij Respon dari suatu percobaan yang memperoleh perlakuan ke-i dan ulangan ke-j Rataan umum hasil percobaan Pengaruh perlakuan ransom ke-i Pengaruh galat percobaan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j 1,2,3,4,5 (ulangan) 1,2,3,4,5 (ulangan) 31

47 Analisis data menggunakan analisis ragam (Analisis of Variance). Jika hasil analisa menunjukkan perbedaan nyata antara perlakuan, maka dilanjutkan dengan uji Duncan s Multiple Range Test (Steel dan Torrie 1991). Data diolah dengan menggunakan Komputer Program Minitab Statistical Software Release

48 HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan Nutrisi Pakan Burung Perkutut Penelitian ini menggunakan 4 macam pakan utama berupa biji-bijian, yaitu gabah lampung, milet, jawawut dan ketan hitam. Adapun hasil analisa kandungan nutrisi pakan utama dapat dilihat pada Tabel 3. Berdasarkan hasil analisa nutrien pada masing-masing pakan utama maka terlihat kandungan protein kasar untuk jewawut sebesar 11.38%, ketan hitam 11.37%, milet sebesar 10.50%, dan gabah lampung sebesar 8.75%. Kandungan protein pada pakan utama tersebut sebagai zat nutrisi yang menunjang pertumbuhan perkutut sehingga ternak tersebut memiliki performen yang baik dan menghasilkan suara yang merdu. Menurut Soemadi dan Mutholib (2003) jumlah protein yang dikonsumsi burung ocehan dari pakan yang disediakan harus seimbang dengan kebutuhannya, tidak lebih dan tidak kurang. Apabila protein yang dikonsumsi berlebih maka sisanya akan diubah menjadi lemak sehingga menyebabkan burung menjadi gemuk dan terlihat malas. Sebaliknya, bila terjadi defisiensi konsumsi protein maka mengakibatkan burung menjadi kurus, kerdil, pertumbuhan bulu tidak sempurna, bersifat kanibal, tidak bergairah dan enggan bersuara. Untuk bersuara, burung memerlukan protein kurang lebih 35% dari jumlah makanannya (Soemadi dan Mutholib 2003). Kandungan lemak kasar yang tertinggi pada masing-masing pakan utama adalah jawawut (2.53%) kemudian diikuti oleh ketan hitam (2.43%), gabah lampung (1.51%), dan milet (1.44%). Perlu diperhatikan bahwa jawawut sebagai kandungan lemak kasar yang tertinggi tidak diberikan dalam porsi banyak. Apabila jawawut diberikan berlebih sehingga meningkatkan bobot badan burung perkutut secara berlebih yang akhirnya menyebabkan burung tersebut jarang berkicau. Alasan tersebut diperjelas dengan pendapat Soemadi dan Mutholib (2003) bahwa kandungan lemak dalam pakan burung ocehan sebaiknya tidak lebih 8%. Hal ini disebabkan tidak semua lemak dapat dicerna tubuh yang akhirnya terbuang percuma bersama feces (kotoran) atau menumpuk di antara otot-otot tubuh maupun di bawah kulit. Sebagai akibatnya, burung menjadi gemuk sehingga malas bergerak dan jarang berkicau.

49 Tabel 3. Kandungan nutrien pakan utama Komponen Gabah Lampung Milet Jewawut Ketan Hitam Kadar Air (%) Bahan Kering (%) Kadar Abu (%) Protein Kasar (%) Lemak Kasar (%) Serat Kasar (%) Gross energi (kal/g) Ca (mg/100g) P (mg/100g) Mg (mg/100g) Fe (mg/100g) Zn (mg/100g) Vitamin A (mg/100g) Vitamin C (mg/100g) Keterangan : Hasil Analisis Proksimat di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Mataram (2005) Hasil analisis dengan Bomb Calorimetry di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Mataram (2005) Hasil analisis dengan Spectrophotometer di Laboratorium Kimia Analitik Universitas Mataram (2005) Pakan yang baik dipilih berdasarkan dari kemampuannnya untuk menghasilkan energi. Jawawut diketahui memiliki gross energi yang tertinggi sebesar 3860 kal/g dibandingkan dengan ketan hitam (3829 kal/g), gabah lampung (3540 kal/g), dan milet (3487 kal/g). Gross energi yang tinggi pada Tabel 3 sesuai dengan tingginya lemak kasar yang dibutuhkan sebagai sumber energi. Menurut Fitri (2001) bahwa energi yang cukup bagi burung berkicau dibutuhkan untuk memproduksi suara. Kandungan serat kasar yang tertinggi ditemukan pada gabah lampung (6.21%) kemudian jawawut (5.64%), ketan hitam (3.11%), dan milet (2.33%).

50 Meskipun serat kasar tidak mengandung nutrisi penting tetapi fungsinya sebagai pengatur ekskresi sisa makanan sangatlah penting. Menurut Piliang (2006) serat kasar membantu mempercepat ekskresi sisa-sisa makanan melalui saluran pencernaan. Diketahui dalam keadaan tanpa serat, feses dengan kandungan air rendah akan lebih lama tinggal dalam saluran usus yang dapat menyebabkan gangguan pada gerakan peristaltik pada usus besar sehingga ekskresi feses menjadi lebih lamban. Sebaliknya, pakan dengan serat kasar tinggi dapat mengurangi berat badan karena serat makanan akan tinggal dalam saluran pencernaan dalam waktu relatif singkat sehingga absorpsi zat makanan berkurang. Selain itu, serat kasar tinggi akan memberikan rasa kenyang karena komposisi karbohidrat kompleks yang menghentikan nafsu makan sehingga mengakibatkan turunnya konsumsi makanan (Piliang 2006). Diketahui bahwa kandungan Ca dan P dalam pakan perkutut pada Tabel 3 berbeda-beda. Kandungan Ca tertinggi ditemukan berturut-turut pada gabah lampung (35.20 mg/100g), milet (30.00 mg/100g), jawawut (19.80 mg/100g), dan yang terendah ketan hitam (12.20 mg/100g). Adapun kandungan P yang tertinggi ditemukan pada milet ( mg/100g) bila dibandingkan dengan ketan hitam (77.20 mg/100g), gabah lampung (59.60 mg/100g), dan jewawut (50.00 mg/100g). Peranan Ca bagi tubuh organisme terutama berfungsi pada berbagai proses antara lain proses pembentukan tulang, pembekuan darah, kontraksi otot dan proses induksi rangsangan saraf, sedangkan P berfungsi dalam kontraksi otot, pembentukan tulang dan aktivitas sekretoris. Kedua unsur ini sangat menentukan dalam proses pembentukan tulang dan telur, serta berperan dalam metabolisme karbohidrat. Burung yang mengalami kekurangan unsur tersebut akan memperlihatkan gejala nafsu makan menurun, pertumbuhan terganggu, terjadi pelunakan tulang (osteoporosis) dan bentuk tulang tidak normal (rakhitis) (Soemadi dan Mutholib 2003; Piliang 2004, 2006). Berdasarkan hasil analisis, kandungan Mg tertinggi terdapat pada jewawut ( mg/100g) dibandingkan ketan hitam ( mg/100g), milet ( mg/100g), dan yang terendah gabah lampung ( mg/100g). Unsur ini sebagian besar ditemukan pada tulang dan sedikit terdapat dalam cairan dan

51 jaringan tubuh lainnya. Selain berperan dalam pembentukan tulang, Mg berperan dalam metabolisme karbohidrat dan fungsi sel saraf. Kekurangan Mg mengakibatkan pertumbuhan menjadi lambat, lesu dan nafas tidak teratur. Defisiensi yang akut menyebabkan terjadinya vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah), kepucatan dan kematian (Soemadi dan Mutholib 2003, Piliang 2004). Kandungan zat besi (Fe) pakan utama banyak terdapat pada jawawut (7.80 mg/100g) bila dibandingkan dengan ketan hitam (7.00 mg/100g), milet (2.00 mg/100g), dan gabah lampung (0.20 mg/100g). Zat besi memiliki peranan penting dalam proses pembentukan sel darah merah. Selain itu, untuk mentransport oksigen dalam bentuk hemoglobin. Apabila terjadi defisiensi maka dapat menyebabkan burung mengalami kekurangan darah yang ditandai dengan warna kulit burung tampak pucat (Leeson dan Summers 2001). Berdasarkan hasil analisis nutrien pakan utama, Jawawut memiliki kandungan Zn tertinggi sebesar 3.60 mg/100g, selanjutnya diikuti oleh gabah lampung (2.60 mg/100g), ketan hitam (2.50 mg/100g), dan milet (2.30 mg/100g). Zn di dalam tubuh mempunyai peranan dalam perkembangan karakteristik seks sekunder dan pertumbuhan tubuh. Defisiensi Zn mengakibatkan pertumbuhan tubuh burung terganggu, bulu-bulu tumbuh kurang baik sehingga sayap memendek, testis yang mengecil (testicular atrophy), dan dapat menyebabkan kematian (Leeson dan Summers 2001, Piliang 2004).. Kandungan vitamin A dan vitamin C yang terbesar terdapat dalam ketan hitam (0.031 dan mg/100g). Vitamin A berperan dalam proses metabolisme sel, penglihatan, memelihara jaringan epitel yang melapisi saluran pencernaan, reproduksi dan perkembangan tulang. Adapun vitamin C dibutuhkan untuk pembentukan dan pemeliharaan suatu zat dalam tulang dan jaringan lunak serta dapat pula sebagai katalisator jaringan yang membantu dalam proses penyembuhan. Defisiensi vitamin C ditandai gejala askorbat dan pendarahan di seluruh tubuh (Leeson dan Summers 2001, Piliang 2004). Berdasarkan hasil analisis nutrien dari keempat pakan pokok, yaitu gabah lampung, milet, jawawut, dan ketan hitam, ternyata jawawut mempunyai kandungan nutrien yang lebih tinggi dibanding gabah lampung, ketan hitam, dan milet. Nutrien yang tertinggi antara lain protein kasar, lemak kasar, gross energi,

52 Mg, Fe, dan Zn. Adapun gabah lampung memiliki kandungan serat kasar dan Ca yang lebih tinggi, sedangkan ketan hitam memiliki vitamin A dan vitamin C yang terbanyak kemudian milet hanya mempunyai kandungan P yang terbesar dari pakan pokok yang lain. Hasil Ekstraksi Daun Saga, Sambiloto dan Pare Ekstraksi adalah cara untuk memisahkan campuran beberapa zat menjadi komponen-komponen yang terpisah, sedangkan maserasi merupakan proses perendaman sampel dengan pelarut yang digunakan pada suhu ruangan. Pemilihan pelarut untuk proses ekstraksi dan maserasi akan memberikan efektifitas yang tinggi dengan memperhatikan kelarutan senyawa bahan tersebut (Winarno et al. 1973, Darwis 2000). Berdasarkan pertimbangan tersebut maka daun (saga, sambiloto dan pare) diekstrak dengan menggunakan metode maserasi air (H 2 O), yang proses akhirnya menghasilkan rendemen yang dapat dilihat pada Tabel 4. Pada Tabel 4 terlihat bahwa daun sambiloto menghasilkan persentase nilai rendemen yang lebih tinggi (12.92%) dibandingkan dengan daun pare hutan (7.58%) dan daun saga (6.78%). Besaran persentase nilai rendemen yang dihasilkan akan berbanding terbalik dengan kandungan kadar air yang berada pada masing-masing daun segar, oleh karena itu persentase nilai rendemen sangat dipengaruhi oleh kadar air. Tabel 4. Persentase rendemen yang dihasilkan dari proses ekstraksi Jenis Daun Berat segar (gr) Berat ekstrak (gr) Rendemen (%) Saga (Abrus precatorius linn) Sambiloto (Andrographis paniculata Ness) Pare Hutan (Momordica Charantia, L) Keterangan: Hasil proses ekstraksi di Laboratorium Kimia Analitik FMIPA IPB (2005) Kadar air dari masing-masing daun segar berdasarkan urutan kadar terendah hingga tertinggi adalah daun sambiloto sebesar 79.5%, daun pare hutan

53 sebesar 83.25% dan daun saga sebesar 83.39% (Lampiran 3). Persentase nilai rendemen tersebut digunakan untuk perhitungan berapa besar konsentrasi ekstrak daun yang diberikan pada setiap ekor perkutut dalam satu minggu. Dasar perhitungan konsetrasi ekstrak daun (saga, sambiloto dan pare) berdasarkan kebiasaan peternakan perkutut dalam memberikan daun saga sebanyak 30 lembar yang dikonversikan seberat 0.27 g dan nilai rendemen yang dihasilkan sebesar 6.78% sehingga menghasilkan konsentrasi ekstrak daun saga sebesar g/ekor/minggu. Konsentrasi ekstrak daun tersebut diberikan dengan konsentrasi yang sama pada ekstrak daun sambiloto dan pare. Berdasarkan hasil ekstraksi dari daun saga, daun sambiloto, dan daun pare maka ditemukan nilai rendemen yang tertinggi terdapat pada daun sambiloto, selanjutnya daun pare hutan, dan saga. Nilai rendemen dari ketiga daun tersebut dipengaruhi oleh kadar air yang terkandung dalam daun segar. Adapun dasar perhitungan konsentrasi ekstrak daun sambiloto dan ekstrak daun pare menggunakan hasil perhitungan konsentrasi ekstrak daun saga dengan menggunakan 30 lembar daun saga segar. Hasil Analisa Kandungan Nutrien Ekstrak Daun Saga, Sambiloto dan Pare Ekstrak daun (saga, sambiloto dan pare hutan) merupakan bagian dari tanaman herbal yang berperan sebagai pakan tambahan (suplemen) dalam penelitian ini. Hasil analisa kandungan nutrisi ekstrak daun (saga, sambiloto dan pare hutan) dapat dilihat pada Tabel 5. Ekstrak daun-daunan di atas memberikan sumbangan nutrisi terutama pada komponen lemak kasar, mineral mikro (Fe dan Zn) dan vitamin. Berdasarkan hasil analisa kandungan nutrisi ekstrak daun (saga, sambiloto dan pare hutan), maka terlihat kandungan lemak kasar tertinggi terdapat dalam ekstrak daun saga dibandingkan dengan ekstrak daun sambiloto dan ekstrak daun pare hutan. Lemak merupakan salah satu faktor yang bermanfaat di dalam tubuh sebagai bahan baku pembentukan hormon steroid yang mampu menghasilkan hormon testosteron sebagai hormon seks sekunder (Murray et al. 1999). Kandungan zat besi (Fe) yang tertinggi ditemukan dalam ekstrak daun saga (49.86 mg/100g) dibandingkan ekstrak daun sambiloto (25.32 mg/100g) dan

54 ekstrak daun pare (9.93 mg/100g). Fe mempunyai peranan dalam tubuh sebagai pembawa oksigen untuk keperluan pembakaran di dalam sel tubuh. Defisiensi Fe berakibat terhadap timbulnya penyakit anemia dan juga mempengaruhi penurunan sintesis protein di dalam otak yang dapat menghambat munculnya impuls dari neuron ke neuron lain di otak sehingga otak tidak dapat berfungsi dengan normal (Piliang 2004; 2006). Ketidaknormalan fungsi otak tersebut dapat berakibat bukan hanya pada gangguan produksi dan proses belajar bersuara karena kedua hal itu dikontrol oleh sebuah daerah di otak yang disebut Vocal Control Region (VCR), tetapi juga gangguan pada hipotalamus yang mengontrol produksi hormon steroid. Tabel 5. Kandungan nutrien ekstrak daun (as fed) Komponen Ekstrak Daun Ekstrak Daun Ekstrak Daun Saga Sambiloto Pare Hutan Bahan Kering (%) Kadar Abu (%) Protein Kasar (%) Lemak Kasar (%) Serat Kasar (%) Ca (mg/100 g) P (mg/100 g) Mg (mg/100 g) Fe (mg/100 g) Zn (mg/100 g) Vitamin C (mg/100 g) Vitamin A (mg/100 g) Keterangan : Hasil Analisis Proksimat di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Mataram (2005) Hasil Analisis di Laboratorium Kimia Analitik Universitas Mataram (2005) Berdasarkan hasil analisis ekstrak dedaunan ternyata ditemukan kandungan seng (Zn) yang tertinggi terdapat dalam ekstrak daun pare (9.19 mg/100g) kemudian diikuti oleh ekstrak daun sambiloto (6.51 mg/100g) dan ekstrak daun saga (4.56 mg/100g). Menurut Piliang (2004) bahwa salah satu

55 peranan mineral seng adalah perkembangan karakteristik seks sekunder, yang pada burung dapat meliputi perkembangan suara. Kandungan vitamin C dari masing-masing ekstrak daun secara berurutan sebagai berikut ekstrak daun sambiloto, ekstrak daun pare dan ekstrak daun saga. Menurut Prawirokusumo (1991) vitamin C digunakan sebagai antiinfeksi dan antistress oleh karena itu, vitamin C penting bagi kesehatan tubuh. Kandungan vitamin A masing-masing ekstrak daun secara berurutan sebagai berikut ekstrak daun saga (1.14 mg/100g), ekstrak daun pare (1.02 mg/100g) dan ekstrak daun sambiloto (0.84 mg/100g). Menurut Leeson dan Summers (2001) vitamin A sangat berguna untuk organ mata dan fungsi indra penglihatan; proses metabolisme sel; memelihara jaringan epitel yang melapisi saluran pernafasan dan pencernaan. Berdasarkan hasil analisis nutrien dari ekstrak daun saga, ekstrak daun sambiloto, dan ekstrak daun pare maka diperoleh kandungan nutrien yang terbanyak dan tertinggi terdapat pada ekstrak daun sambiloto selanjutnya pada ekstrak daun pare, dan ekstrak daun saga. Ekstrak daun sambiloto mengandung nutrien yang tertinggi karena mengandung protein kasar, P, Mg, dan vitamin C. Adapun ekstrak daun pare mengandung serat kasar, Ca, dan Zn yang tertinggi, sedangkan ekstrak daun saga mengandung lemak kasar, Fe, dan vitamin A yang tertinggi. Konsumsi Ransum dan Konsumsi Nutrien Perlakuan Rataan konsumsi ransum dan konsumsi nutrien perlakuan dapat dilihat pada Tabel 6. Berdasarkan Tabel 6 terlihat tingkat konsumsi ransum utama (gabah lampung, millet, jawawut dan ketan hitam) pada masing-masing perlakuan tidak berbeda nyata secara statistik, sedangkan bila dilihat menurut besaran maka konsumsi ransum yang terbanyak terdapat pada perlakuan D (penambahan ekstrak daun pare) dibandingkan dengan perlakuan C, A, B dan E. Tingkat konsumsi tersebut masih dalam taraf normal, karena menurut informasi dari Farm Prima Perkutut Bogor bahwa tingkat konsumsi ransum perkutut antara 5-6 g/ekor/hari. Berdasarkan hasil penelitian konsumsi nutrien pada Tabel 6 terlihat bahwa lemak kasar yang tertinggi terdapat pada perlakuan B dan C (0.16 g/ekor/hari),

56 kemudian diikuti oleh perlakuan D (0.15 g/ekor/hari), perlakuan E (0.14 g/ekor/hari), dan terendah pada perlakuan A (0.12 g/ekor/hari). Hal ini disebabkan kandungan lemak kasar ekstrak daun saga (B) lebih tinggi (2.66%) seperti yang terlihat pada Tabel 5. Burung perkutut yang mendapatkan pemberian ekstrak daun sambiloto (C) (1.58%) seperti yang terlihat pada Tebel 5 banyak mengkonsumsi jawawut (2.65%) dibandingkan dengan perlakuan lainnya (Purnamasari 2006). Tabel 6. Rataan konsumsi ransum dan konsumsi nutrien perlakuan selama 39 hari pengamatan Parameter Perlakuan Pakan A B C D E Konsumsi Ransum (g/ekor/hari) ± 0.47 ± 0.55 ± 0.50 ± 0.91 ± 0.42 Konsumsi Nutrien (ekor/hari) - Protein Kasar (g) Lemak Kasar (g) Serat Kasar (g) Gross Energi (Kal) Ca (mg) P (mg) Mg (mg) Fe (mg) Zn (mg) Vitamin C (mg) Vitamin A (mg) Keterangan : Analisis keragaman pada konsumsi pakan menunjukkan tidak berbeda nyata A = Pakan Utama (Kontrol), B = Pakan Utama + Ekstrak Daun Saga, C = Pakan Utama + Ekstrak Daun Sambiloto, D = Pakan Utama + Ekstrak Daun Pare Hutan, E = Pakan Utama + Ekstrak Kombinasi Daun Konsumsi zat besi (Fe) yang terbanyak (1.17 mg) terdapat pada perlakuan B (penambahan ekstrak daun saga) dibandingkan dengan perlakuan C, E, D, dan A. Tingginya konsumsi zat tersebut dapat disebabkan oleh besarnya nilai zat besi

57 yang terkandung pada ekstrak daun saga (B) sebesar mg/100g dibandingkan dengan ekstrak daun sambiloto (C) sebesar mg/100g dan ekstrak daun pare (D) sebesar 9.93 mg/100g yang dapat dilihat pada Tabel 5. Fe memiliki peranan penting dalam proses pembentukan sel darah merah, sehingga bila terjadi defisiensi maka dapat mengakibatkan burung mengalami anemia yang ditandai dengan warna kulit burung tampak pucat (Piliang 2004, Soemadi dan Mutholib 2003). Konsumsi seng (Zn) yang terbanyak terdapat pada perlakuan D (penambahan ekstrak daun pare) dibandingkan dengan perlakuan C, E, B dan A. Kandungan Zn yang tertinggi pada perlakuan D dikarenakan tingkat konsumsi ransum yang lebih tinggi pada perlakuan tersebut (Tabel 6) dan nilai Zn yang terkandung dalam ekstrak daun pare lebih tinggi (9.19 mg/100g) dari pada dalam ekstrak daun sambiloto (6.51 mg/100g) maupun ekstrak daun saga (4.56 mg/100g) yang dapat dilihat pada Tabel 5. Konsumsi nutrien Zn tersebut berperan pada beberapa kegiatan metabolisme dalam tubuh, diantaranya mengatur aktifitas enzim dan diduga mempunyai hubungan dengan hormon LH sebagai hormon perangsang untuk menghasilkan testosteron (Murray et al. 1999, Piliang 2006). Konsumsi vitamin C yang terbanyak terdapat pada perlakuan C (penambahan ekstrak daun sambiloto) dibandingkan dengan perlakuan D, E, B dan A. Hal ini disebabkan oleh kandungan vitamin C yang terdapat dalam ekstrak daun sambiloto lebih tinggi (1 105 mg/100g)) dibandingkan dengan ekstrak daun pare (808 mg/100g) maupun ekstrak daun saga (407 mg/100g) yang terlihat pada Tabel 5. Menurut Piliang (2004) bahwa hampir semua spesies hewan dapat mensintesis vitamin C dalam tubuhnya, kecuali hewan primata, kelelawar pemakan buah-buahan dan burung yang tidak dapat mensintesis vitamin C dalam tubuhnya. Oleh karena itu, vitamin C perlu diberikan dalam ransum. Hal tersebut diperjelas oleh pendapat Prawirokusumo (1991) bahwa vitamin C sangat diperlukan oleh unggas dalam kondisi lingkungan yang panas, adanya stress manajemen dan penanganan hewan ternak. Vitamin C berperan dalam melawan stressor, sehingga akibat adanya stressor dari luar seperti terhadap penanganan ternak.

58 Berdasarkan hasil analisis rataan konsumsi ransum dan konsumsi nutrien pada masing-masing perlakuan maka disimpulkan bahwa burung perkutut yang diberikan perlakuan D (penambahan ekstrak daun pare) lebih banyak mengkonsumsi ransum (pakan utama) dibandingkan perlakuan C (penambahan ekstrak daun sambiloto), perlakuan A (kontrol), perlakuan B (penambahan ekstrak daun saga), dan perlakuan E (kombinasi ekstrak daun saga, sambiloto, dan pare). Adapun tingkat konsumsi nutrien yang terbanyak terdapat pada kelompok burung perkutut yang diberikan perlakuan C kemudian diikuti oleh perlakuan D, B, E, dan A. Burung perkutut yang menerima perlakuan C lebih banyak mengandung protein kasar, lemak kasar, serat kasar, P, vitamin C, dan vitamin A, sedangkan burung perkutut yang mendapatkan pemberian perlakuan D lebih tinggi kandungan gross energi, Ca, Mg, Zn, dan vitamin A. Selanjutnya kelompok perlakuan B lebih banyak mengandung lemak kasar, Fe, dan vitamin A kemudian kelompok perlakuan E hanya lebih banyak mengandung vitamin A akan tetapi untuk kelompok burung perkutut yang mengkonsumsi perlakuan A (kontrol) tidak memperoleh nutrien yang lebih tinggi artinya hanya memperoleh nutrien yang lebih rendah dari perlakuan lainnya. Diferensiasi Sel-Sel Leukosit Sel-sel darah putih (leukosit) terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu granulosit dan agranulosit. Granulosit mempunyai bentuk inti tidak teratur dan dalam sitoplasma terdapat granula spesifik yang dinamakan heterofil. Agranulosit mempunyai inti dengan bentuk teratur, sitoplasma tidak mempunyai granula spesifik. Agranulosit dapat digolongkan sebagai monosit dan limfosit (Frandson 1992). Rataan diferensiasi sel-sel leukosit yang meliputi heterofil, monosit dan limfosit disajikan pada Tabel 7. Perlakuan dengan pemberian penambahan ekstrak daun saga, sambiloto dan pare tidak mempengaruhi persentase heterofil, monosit dan limfosit secara nyata. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan pemberian dedaunan tidak menyebabkan perubahan profil hematologi yang diindikasikan dari gambaran selsel leukosit. Bila dilihat dari besaran nilai maka terlihat adanya nilai heterofil yang tertinggi pada perlakuan D (penambahan ekstrak daun pare) sebesar 57.00% dibandingkan dengan perlakuan yang lain.

59 Tabel 7. Rataan diferensiasi sel-sel leukosit pada perkutut (%) Jenis Sel Heterofil Perlakuan A B C D E ± ± ± ± ± Monosit 1.50 ± ± ± ± ± 1.73 Limfosit Keterangan : ± ± ± ± ± Analisis keragaman menunjukkan tidak berbeda nyata A (Ransum Kontrol) B (0.018 gr ekstrak daun saga) C (0.018 gr ekstrak daun sambiloto) D (0.018 gr ekstrak daun pare) E (0.006 gr ekstrak daun saga gr ekstrak daun sambiloto gr ekstrak daun pare) Peningkatan tersebut diduga berkaitan erat dengan kandungan seng yang terdapat pada ekstrak daun pare maupun dalam konsumsi ekstrak daun pare pada perlakuan D. Khomsan (2006) melaporkan bahwa seng mempunyai efek terhadap fungsi imun yang ditandai dengan pengaruh aktivitas timulin, fungsi makrofag dan heterofil. Heterofil memiliki fungsi sebagai jajaran pertama untuk sistem pertahanan tubuh yang langsung bereaksi apabila terdapat partikel-partikel asing yang masuk kedalam tubuh. Aksi heterofil ini diwujudkan dengan cara migrasi ke daerah-daerah yang sedang mengalami serangan oleh bakteri, menembus dinding pembuluh darah dan menyerang bakteri untuk dihancurkan (Frandson 1992). Persentase heterofil yang tinggi pada perkutut penelitian ditemukan pada pemberian penambahan ekstrak daun pare bila dibandingkan dengan burung merpati (Sturkie 1976), mengindikasikan adanya rangsangan penambahan jumlah heterofil untuk peningkatan sistem kekebalan dalam melawan partikel-partikel asing atau serangan penyakit sehingga perkutut tersebut tetap dalam kondisi sehat dan diharapkan mampu untuk menampilkan atau menghasilkan produksi suara yang lebih baik. Greenman et al. (2005) menyatakan sistem kekebalan

60 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pemberian ekstrak daun saga, daun sambiloto, dan daun pare tidak mempengaruhi konsumsi ransum utama (milet, jawawut, ketan hitam, gabah lampung), diferensiasi sel-sel leukosit, Zn, hormon testosteron, dan durasi (silabel dan antar silabel), kecuali untuk mineral Fe terjadi perbedaan yang nyata pada perlakuan B (penambahan gr ekstrak daun saga). Walaupun hasil penelitian tidak menunjukkan perbedaan nyata dari pemberian ekstrak daun pare, namun ada indikasi bahwa ekstrak daun pare dapat meningkatkan daya tahan tubuh burung perkutut sehingga memberikan respon terhadap tingkat konsumsi pakan yang berimplikasi terhadap peningkatan kandungan Zn (seng) dan hormon testosteron dalam plasma darah yang akhirnya dapat mempengaruhi penampilan durasi suara burung perkutut. Saran Perlu dilakukan penelitian lebih mendalam terutama dalam taraf penggunaan ekstrak daun (saga, sambiloto dan pare) dan jumlah sampel yang lebih banyak serta menggali potensi bio-aktif obat herbal ini secara lebih mendalam.

61 DAFTAR PUSTAKA Arnold AP, Nottebohm F, Pfaff DW Hormone concentrating cells in vocal control and other brain regions of the Zebra Finch (Poephila guttata). J Comp Neurol 165: Barnes S, Kirk M, Coward L Isoflavons and their conjugates in soy foods: Ecstractin, condition and analysis by HPLC-Mass Spectrofotometry. J Agric Food Chem 42 (11): BPPT Tanaman Obat Indonesia. [20 Jan 2005]. Bruneton J Pharmacognosy, Phytochemistry, Medicinal Plants. Lavoisier Publishing, Paris. Brenowitz EA, Lent K Act locally and think globally: Intracerebral testosterone implants induce seasonal-like growth of adult avian song control circuits. Proc Natl Acad Sci 99: Cromer AH Fisika untuk ilmu hayati. Edisi kedua. Penerjemah Prawirosusanto S. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Cousins RJ Regulation of zinc absorption : role of intracellular ligands. Am J Clin Nutr 32: Dallman PR Biochemical basis for the manifestation of iron deficiency. Ann Rev Nutr 6: Darwis D Teknik Dasar Laboratorium Dalam Penelitian Senyawa Bahan Alam Hayati, Workshop Pengembangan Sumber Daya Manusia Dalam Bidang Kimia Organik Bahan Alam Hayati, FMIPA Universitas Andalas Padang. De Kretser DM Local regulation of testicular function. Int Rev Cytol 109: Djojosoebagio S Fisiologi Veteriner. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat Institut Pertanian Bogor. Emerson SB Vetebrate secondary sexual characteristics: physiological mechanisms and evolutionary patterns. Am Nat 158: Fitri LL Les chants des canaris domestiques : leurs relations avec des caracteristiques physiologiques et le statut social des males emetteurs [disertasi]. France: Universite Paris X Nanterre. 54

62 Frandson RD Anatomi Dan Fisiologi Ternak. Yogyakarta: Copyright by Gajah Mada University Press. Ganong WF Review of medical physiology. Departement of Physiology, University of California San Fransisco. Edisi ke-11. California: LANGE Medical Publications. hlm Gill FB Ornithology. Edisi kedua. New York: W.H. Freeman and Co. Greenman CG, Martin LB, Hau M Reproductive state, but not testosterone, reduces immune function in male house sparrows (Passer domesticus). Physiol Biochem Zool 78(1): Gross WB Blood culture, blood counts and temperature record in an experimentally produced air sac disease an uncomplicated Escherichia coli infection of chicken. Poult Sci 41: Hoffbrand AV Kapita selekta Haematology. Jakarta: Penerbit CV.EGC. Jaffe BM, Behrman NR Methods of Hormone Radioimmunoassay. Academic Press. Junqueira LC, Carneiro Histologi Dasar. Jakarta: Penerbit CV.EGC. Kanniapan N, Mathuram LN, Natayama R A study an antipiretik effect of chiretta (Andrograpis paniculata). Ind Vet J 68: Khomsan A Gizi untuk tingkatkan kekebalan tubuh. karya-online.com. King AS, Mclelland J Form and Function in Birds. Vol.4. Academic Press Harcourt Brace Javanovich, Publishers. Leeson S, Summers JD Nutrition of the Chicken. Edisi ke-4. Canada: University Books. Mackinnon J Field Guide to the Birds of Java and Bali. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. McCasland JS Neuronal control of bird song production. J Neurosci 7: Murray RK, Granner DK, Mayes PA, Rodwell VW Biokimia Harper. Edisi ke-24. Jakarta: Penerbit CV.EGC. Nalbandov AV Fisiologi Reproduksi pada Mamalia dan Unggas. Cetakan Pertama. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press). 55

63 Nuratmi B, Adjirni, Paramita DJ Beberapa penelitian farmakologi sambiloto. Warta Tumbuhan Obat Indonesia. 3: Okumoto S Detection of glutamate release from neurons by genetically encoded surface-displayed FRET nanosensors. Proc Natl Acad Sci 102 (24): Pelletier SW The Nature and Definition of an Alkaloid. In: Pelletier SW (Ed) Alkaloids, Chemical and Biological Perspectives. John Wiley and Sons, New York. Peterson AP Geopelia striata (Linnaeus, 1766). ITIS Report. [20 Jan 2005]. Piliang Nutrisi Mineral. Bogor: Penerbit IPB Press. Piliang Fisiologi Nutrisi. Vol. ke-2. Bogor: Penerbit IPB Press. Prapanza I, Marianto LA Khasiat dan Manfaat Sambilot: Raja Pahit Penakluk Penyakit. Cetakan Pertama, Jakarta: AgroMedia Pustaka. Prasad AS Discovery of human zinc deficiency and studies in an experimental human model. Am J Clin Nutr 53: Prawirokusumo S Biokimia Nutrisi (Vitamin). Edisi ke-1. Yogyakarta. BPFE-Yogyakarta. Price WJ Spectrochemical Analysis by Atomic Absorption. London: Heyden and Son Ltd. Puri A, Saxsena R, Saxena RKC, Srivasta V, Tandon JS Immunostimulant agent from Andrograpis paniculata. J Nat Prod Jul 56 (7): Purnamasari DK Pemberian ekstrak daun saga, sambiloto, pare hutan dan efeknya terhadap suara burung perkutut (Geopelia striata) [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Raimund Avisoft. [15 Nov 1999]. Robinson T Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Bandung. Institut Teknologi Bandung. Schlinger BA Sexual differentiation of avian brain and behavior: current views on gonadal hormone-dependent and independent mechanisms. Annu Rev Physiol 60: Setchell BP, Waites GMH, Lindner HR Effect of under nutrition on testicular blood flow and metabolism and the output of testosterone in the ram. J Reprod 58:

64 Siegel HS Physiological stress in birds. Bioscience 30 (8): Soemadi W, Mutholib A Pakan Burung. Edisi ke-4. Jakarta: Penebar Swadaya. Solomon TW, Graham Organic Chemistry. Edisi ke-2. John Wiley and Sons, New York. Steel RGD, Torrie JH Prinsip dan Prosedur Statistika. Jakarta: PT.Gramedia. Sturkie PD Avian Physiology. Edisi ke-3. New York: Springer-Verlag. Subahar T Khasiat dan Manfaat Pare: si pahit pembasmi penyakit. Cetakan Pertama. Jakarta: AgroMedia Pustaka. Sudibyo M Alam Sumber Kesehatan. Cetakan Pertama, Jakarta : Balai Pustaka. Sutejo, Mengatasi Permasalahan Beternak Perkutut. Edisi ke-4. Jakarta: Penebar Swadaya. Turner CD, Bagnara JT Endokrinologi Umum. Edisi ke-6. Surabaya: Airlangga University Press. Wasito B, Suprapto H, Suhardono Hubungan antara budaya dengan disfungsi seksual. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan dan Teknologi Kesehatan, Surabaya William FG Review Of Medical Physiology. Departement of Physiology, University of California San Fransisco. California: LANGE Medical Publications. Winarno FG, Fardiaz D, Fardiaz S Extraksi Khromatografi Elektrophoresis. Departemen Teknologi Hasil Pertanian FATEMETA IPB Bogor. 57

65

66 Lampiran 1. Prosedur analisa laboratorium 1. Kadar air Botol timbang dikeringkan terlebih dahulu selama 1 jam dalam oven pada suhu 105 C, lalu didinginkan dalam eksikator dan kemudian beratnya ditimbang (x). Sampel ditimbang seberat 5 gram (y), dimasukkan ke dalam botol timbang, kemudian dimasukkan ke dalam oven selama 4 6 jam pada suhu 105 C, lalu didinginkan dalam eksikator dan ditimbang kembali. Pekerjaan ini diulang sampai 3 kali, hingga dicapai berat konstan (z). Adapun rumus penentuan kadar air sebagai berikut: 2. Kadar abu (x + y z) Kadar Air = x 100% y Kadar bahan kering sampel dapat diketahui dengan rumus : Bahan kering (BK) = (100 Kadar Air) % Cawan porselin dikeringkan dalam oven 105 C selama beberapa jam, kemudian didinginkan dalam eksikator dan berat awal ditimbang (x). Sampel bahan ditimbang dengan berat kira-kira 5 gram (y) dan dimasukkan ke dalam cawan porselin. Sampel tersebut dipijarkan di atas nyala api pembakar bunsen sampai titik berasap lagi, kemudian dimasukkan ke dalam tanur listrik dengan suhu C. Sesudah sampel abu berwarna putih, seluruh sampel diangkat dan didinginkan dalam eksikator. Setelah kira-kira 1 jam sampel ditimbang kembali (z). Adapun rumus penentuan kadar abu menggunakan rumus sebagai berikut: 3. Kadar protein kasar ( z x ) Kadar Abu = x 100% y Kadar bahan organik dapat diketahui dengan rumus sebagai berikut : Bahan Organik (BO) = ( Bahan Kering (BK) Abu ) % Prinsip analisa adalah pengukuran kadar nitrogen (N) dari sampel dengan menggunakan Metode makro Kjeldahl. Ada 3 tahap analisa protein yaitu : 1. Tahap Destruksi 2. Tahap Destilasi 58

67 3. Tahap Titrasi Cara Kerja : 1. Kira-kira sebanyak 0.3 g sampel (X) ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik, setelah itu sampel dimasukkan ke dalam labu destruksi. Kedalam labu ditambahkan kira-kira 3 sendok kecil katalis campuran ( selenium 4 gr + CuSO 4.5H 2 O 3 g + Na 2 SO g ) serta 20 ml H 2 SO 4 pekat teknis secara homogen. Campuran tersebut dipanaskan dengan alat destruksi mula-mula pada posisi low selama 10 menit, kemudian pada posisi medium selama 5 menit dan high sampai larutan menjadi jernih dan berwarna hijau kekuningan; proses ini berlangsung di dalam ruang asam. 2. Setelah itu labu destruksi didinginkan dan larutan tersebut di masukkan ke dalam labu penyuling dan diencerkan dengan 300 ml aquadest yang tidak mengandung N. Tambahkan beberapa butir batu didih dan larutan dijadikan basa dengan menambahkan kira-kira 100 ml NaOH 33%. Kemudian labu penyuling dipasang dengan cepat di atas alat penyuling. Proses penyulingan ini diteruskan hingga semua N telah tertangkap oleh H 2 SO 4 yang ada di dalam erlenmeyer atau bila 2/3 dari cairan dalam labu penyuling telah menguap (Tahap Destilasi). 3. Labu erlenmeyer yang berisi hasil sulingan tersebut diambil dan kelebihan H 2 SO 4 dititer kembali dengan menggunakan larutan NaOH 0.3 N. Proses titrasi berhenti setelah terjadi perubahan warna dari biru kehijauan yang menandakan titik akhir titrasi. Volume NaOH dicatat ( z ml ), kemudian dibandingkan dengan titar blanko ( y ml). (Tahap Titrasi). Adapun rumus penentuan kadar protein kasar sebagai berikut: ( y z ) x titar NaOH x 0,014 x 6,25 Protein Kasar = x 100% Berat Sampel ( x ) g 4. Kadar lemak kasar (Metode Sochlet) Cara Kerja : Prinsip : Ekstraksi lemak dengan menggunakan pelarut organik. 59

68 1. Sebuah labu lemak dengan menggunakan beberapa butir batu didih di dalamnya, dikeringkan di dalam oven dengan suhu C selama 1 jam. Labu didinginkan dalam eksikator selama 1 jam dan ditimbang ( a gram). 2. Sampel ditimbang kira-kira 1 g ( x gram) dengan catatan jumlah sampel juga tergantung dengan kadar lemak bahan. Sampel tersebut dimasukkan ke dalam selongsong yang terbuat dari kertas saring dan ditutup dengan kapas yang bebas lemak. 3. Selongsong dimasukkan ke dalam alat FATEX-S dan ditambahkan larutan petroleum Ether sebagai larutan pengekstrak. 4. Alat FATEX-S diatur suhunya pada 60 C dan waktu selama 25 menit. Proses ekstraksi dilakukan sampai alat berbunyi, kemudian larutan petroleum ether diturunkan bersama lemak yang telah larut. Lakukan proses evaporasi dengan merubah suhu pada 105 C sampai alat FATEX-S berbunyi. Proses ekstraksi dan evaporasi dilakukan sebanyak 2 kali. 5. Selanjutnya labu lemak dikeringkan dalam alat pengering oven dengan suhu 105 C selama kira-kira 1 jam. Setelah itu didinginkan di dalam eksikator selama 1 jam dan ditimbang kembali ( b gram ). Adapun rumus penentuan kadar lemak kasar sebagai berikut: ( b a ) Kadar Lemak Kasar = x 100% x 5. Kadar serat kasar Prinsip : Serat kasar adalah semua zat-zat organik yang tidak dapat larut dalam H 2 SO N dan dalam NaOH 1.5 N yang berturut-turut dipanaskan selama 30 menit. Serat kasar terdiri dari sellulosa, hemisellulosa, lignin dan silika serta sebagian pentosan-pentosan. Cara Kerja : 1. Sampel ditimbang seberat 1 gram (x) dan dimasukkan ke dalam gelas piala 500 ml. Sampel ditambahkan 50 ml H 2 SO N dan dipanaskan hingga mendidih selama 30 menit. 2. Setelah itu ke dalam gelas piala ditambahkan pula 25 ml NaOH 1.5 N dan terus dididihkan kembali selama 30 menit kedua. Waktu pendidihan diperhatikan agar api tidak terlalu besar dan cairan tidak meluap dan tumpah. 60

69 3. Sebuah kertas saring ditimbang seberat ( a ) gram. 4. Cairan tersebut disaring dengan menggunakan kertas saring yang sudah ditimbang sebelumnya dan dilakukan penyaringan dengan menggunakan corong Buchner. Proses penyaringan berturut-turut dicuci dengan : - 50 ml air panas - 50 ml H 2 SO N - 50 ml air panas - 25 ml Aceton 5. Kertas saring dan isinya dimasukkan ke dalam cawan porselin dan dikeringkan di dalam oven dengan suhu 105 C. 6. Kertas saring dan isisnya yang telah dikerngkan didinginkan dalam eksikator selama 1 jam dan timbang ( y ) gram. 7. Setelah itu kertas saring dan isinya dipijarkan di dalam tanur sampai menjadi putih dan dinginkan kembali serta timbang ( z ) gram. Adapun rumus penentuan kadar serat kasar sebagai berikut: ( y z a ) Kadar Serat Kasar = x 100% x Penetapan Ca dengan Metode Titrasi KMnO 4 (Apriyantono et al. 1989) Prinsip : Kalsium diendapkan sebagai kalsium oksalat. Endapan dilarutkan dalam H 2 SO 4 encer panas dan dititrasi dengan KMnO 4. Cara Kerja: 1. Sebanyak ml larutan abu hasil pengabuan kering dimasukkan ke dalam gelas piala 250 ml. Jika perlu ditambahkan ml akuades. 2. Selanjutnya 10 ml larutan amonium oksalat jenuh dan 2 tetes indikator metil merah ditambahkan ke dalam larutan abu tersebut 3. Amonia encer ditambahkan untuk membuat larutan menjadi sedikit basa, kemudian larutan ditambahkan beberapa tetes asam asetat sampai warna larutan merah muda (ph 5.0) dan bersifat sedikit asam. 4. Larutan dipanaskan sampai mendidih, kemudian didiamkan selama minimum 4 jam atau semalam pada suhu kamar. 61

70 5. Penyaringan dilakukan menggunakan kertas saring Whatman No. 42 dan dilakukan pembilasan dengan akuades sampai filtrat bebas oksalat (jika digunakan HCl dalam pembuatan larutan abu, filtrat hasil saringan terakhir harus bebas Cl dengan mengujinya menggunakan AgNO 3 ). 6. Ujung kertas saring dilubangi dengan menggunakan batang gelas, kemudian dilakukan pembilasan dan endapan dipindahkan dengan H 2 SO 4 encer (1 + 4) panas ke dalam gelas piala bekas tempat mengendapkan kalsium. Kemudian dilakukan pembilasan satu kali lagi dengan air panas. 7. Selagi panas (70-80 C) dilakukan titrasi dengan larutan KMnO 4 0,01N sampai larutan berwarna merah jambu permanen yang pertama. 8. Kertas saring dimasukkan dan titrasi dilakukan sampai terjadi warna merah jambu permanen yang kedua. 9. Adapun rumus perhitungan kadar Ca dalam sampel sebagai berikut: ml titrasi x 0,2 x total volume larutan abu mgca/100g sampel = x 100 vol larutan abu x berat sampel Jika normalitas KMnO 4 tidak sama dengan 0,01 N, maka: ml titrasi x N.KMnO 4 x 20 x vol. total lar. abu mgca/100g sampel = x 100 vol larutan abu x berat sampel Penetapan Fosfor Metode Molibdat-Vanadat (Apriyantono et al. 1989) Prinsip : Sampel diperlakukan dengan asam nitrat untuk mengubah semua metafosfat dan pirofosfat menjadi ortofosfat, kemudian sampel diperlakukan dengan asam molibdat dan asam vanadat sehingga ortofosfat yang ada di dalam sampel akan bereaksi dengan pereaksi-pereaksi tersebut dan membentuk kompleks asam vanadimolibdifosfat yang berwarna kuning orange. Intensitas warna dari senyawa kompleks tersebut dapat diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 400 nm dan dibandingkan dengan standar fosfor yang telah diketahui konsentrasinya. Persiapan Pereaksi : 1. Persiapan Vanadat-Molibdat + Sebanyak 20 g amonium molibdat dilarutkan ke dalam 400 ml akuades hangat (50 C), lalu didinginkan. 62

71 + Selanjutnya 1 g amonium vanadat (amonium meta vanadat) dilarutkan ke dalam 300 ml akuades mendidih, kemudian didinginkan. Perlahan-lahan 140 ml asam nitrat pekat ditambahkan sambil diaduk. + Larutan molibdat dimasukkan ke dalam larutan vanadat dan di aduk. Kemudian diencerkan sampai volume 1 liter dengan akuades. 2. Larutan fosfat standar : + Potasium dihidrogen fosfat kering ditimbang sebanyak g + Kemudian dilarutkan ke dalam akuades dan diencerkan sampai volume 1 liter. + Selanjutnya larutan diambil sebanyak 25 ml, dimasukkan ke dalam labu takar 250 ml dan diencerkan sampai tanda tera (1 ml = 0,2 mg P 2 O 5 ). Cara Kerja : Pembuatan Kurva Standar : 1. Larutan fosfat standar masing-masing sebanyak: 0;2.5;5;10;20;30;40 dan 50 ml dimasukkan ke dalam satu seri labu takar 100 ml. 2. Kemudian diencerkan masing-masing alikuot sampai volume ml dengan akuades. 3. Sebanyak 25 ml pereaksi vanadat- molibdat ditambahkan ke dalam masingmasing labu takar dan diencerkan sampai volume 100 ml dengan akuades. 4. Larutan didiamkan selama 10 menit, kemudian diukur absorbansi masingmasing larutan di dalam kuvet gelas dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 400 nm. 5. Masing-masing larutan tersebut mengandung : 0, 0.5, 1.0, 2.0, 4.0, 6.0, 8.0 dan 10 mg P 2 O 5 /100 ml, selanjutnya dibuat kurva absorbansi vs mg P 2 O 5 /100 ml. Tahapan Sampel Tahapan sampel terdiri dari tahapan a atau b. Tahapan b dilakukan apabila tidak tersedia sampel bentuk abu. Tahapan a: 1. Sebanyak 10 ml HCl 5 M ditambahkan pada sejumlah abu dari hasil pengabuan kering, lalu didinginkan. 2. Larutan disaring dengan kertas saring No. 1 dan filtrat dimasukkan ke dalam labu takar 250 ml. 63

72 3. Cawan dibilas dengan akuades, kemudian dicampurkan air pembilas yang telah disaring dengan filtrat di dalam labu takar. 4. Endapan dicuci di dalam kertas saring sebanyak 2 kali masing-masing dengan 20 ml akuades. 5. Selanjutnya filtrat diencerkan sampai tanda tera. Tahapan b: 1. Sampel sebanyak 5 g ditimbang dan dimasukkan ke dalam gelas piala 150 ml. 2. Lalu ditambahkan 20 ml asam nitrat pekat, kemudian dididihkan selama 5 menit. 3. Larutan didinginkan dan ditambahkan 5 ml asam sulfat pekat. 4. Selanjutnya dipanaskan dan disempurnakan digestion dengan penambahan HNO 3 setetes demi setetes sampai larutan tidak berwarna. 5. Larutan dipanaskan sampai timbul asap putih, kemudian didinginkan. 6. Akuades ditambahkan sebanyak 15 ml dan dididihkan lagi selama 10 menit. 7. Larutan didinginkan dan dipindahkan ke dalam labu takar 250 ml. 8. Gelas piala dibilas sampai bersih, bilasan dimasukkan ke dalam labu takar. 9. Larutan diencerkan di dalam labu takar sampai tanda tera dengan akuades. Penetapan Sampel: 1. Larutan yang dihasilkan dengan cara a atau b diambil sebanyak 10 ml, kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml. 2. Lalu ditambahkan 40 ml akuades dan 25 ml pereaksi vanadat molibdat. 3. Diencerkan dengan akuades sampai tanda tera. 4. Larutan didiamkan selama 10 menit, kemudian diukur absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 400 nm. 5. Konsentrasi fosfor dicatat dari kurva standar berdasarkan absorban yang terbaca. Perhitungan: C x 2.5 % Fosfor dalam sampel (P 2 O 5 ) = x 100% W C = Konsentrasi fosfor dalam sampel (mg/100 ml) yang terbaca W = Berat sampel yang digunakan 64

73 Penetapan Magnesium (Apriyantono et al. 1989) Prinsip : Di dalam larutan alkali yang telah dihilangkan kalsium dan besinya, magnesium diendapkan sebagai magnesium amonium fosfat. Endapan dilarutkan di dalam larutan asam dan jumlah fosfor dapat ditentukan secara kolorimetrik, dengan demikian jumlah magnesium juga dapat ditentukan. Cara Kerja: 1. Sebanyak 10 ml larutan abu dimasukkan ke dalam tabung sentrifuse 15 ml berskala dan ditambahkan 1 tetes indikator metil merah. 2. Larutan dinetralkan dengan NH 4 OH. 3. Selanjutnya larutan ditambahkan 1 ml amonium oksalat dan larutan diencerkan menjadi 13 ml dengan menggunakan akuades. 4. Kemudian diaduk dan didiamkan semalam. 5. Larutan disentrifuse selama 10 menit dan endapannya dibuang. 6. Selanjutnya 1 ml larutan supernatan tersebut diambil dan dimasukkan ke dalam tabung sentrifuse 15 ml. 7. Sebanyak 3 ml air, 1 ml amonium fosfat dan 2 ml NH 4 OH ditambahkan ke dalam larutan supernatan, kemudian diaduk dan didiamkan semalam. 8. Selanjutnya larutan disentrifuse selama 7 menit, kemudian larutan supernatan dibuang dan ditambahkan 5 ml NH 4 OH encer. 9. Kemudian larutan disentrifuse lagi selama 7 menit dan larutan supernatan dibuang. 10. Endapan dikeringkan dengan meletakkan tabung ke dalam wadah berisi air panas. 11. Sebanyak 1 ml HCl encer dan 5 ml air ditambahkan untuk melarutkan endapan. 12. Sebanyak 1 ml asam molibdat, 0,5 ml hidrokuinon dan 0,5 ml Na-sulfit ditambahkan, diaduk dan didiamkan selama 30 menit. 13. Larutan dipindahkan ke dalam kuvet dan dibaca absorbansinya pada kolorimeter dengan menggunakan filter merah No Skala pada alat diatur pada angka 0 dengan menggunakan air. Kurva Standar 1. Sebanyak 0,4389 g potasium dihidrogen fosfat dilarutkan di dalam air dan diencerkan sampai volume 1 liter (1 ml = 0,1 mg, P = 0,0784 mg Mg). 65

74 2. Untuk menyiapkan kurva standar, digunakan alikuot dari larutan standar dari 0,1 sampai 0,5 ml. 3. Setiap standar dikerjakan seperti langkah 1 14 di atas. Penetapan Fe dan Zn menggunakan AAS (Apriyantono et al. 1989) Prinsip : Sesudah menghilangkan bahan-bahan organik dengan pengabuan kering atau basah, residu dilarutkan dalam asam encer. Larutan disebarkan dalam nyala api yang ada di dalam alat AAS sehingga absorpsi atau emisi logam dapat dianalisis dan diukur pada panjang gelombang tertentu. Zat pereaksi yang dibutuhkan antara lain: 1. HCl 6N, 3N, dan 0.3N 2. Lantanum klorida 10% 3. Akuades mutu tinggi atau air bebas ion 4. Kertas saring Whatman No. 541 atau Schleicher and Schull No Cuci kertas saring sebelum digunakan dengan HCl 3N untuk menghilangkan tracemetal. 5. Larutan stock standar 1000 mg/l. Timbang sejumlah pereaksi, seperti pada tabel 1 di bawah. Larutkan garam tersebut dalam 25 ml HCl 3N kemudian encerkan menjadi 250 ml dengan air. Tabel Berat garam yang diperlukan untuk membuat larutan standar logam Logam Pereaksi Berat pereaksi (g) per 250 ml larutan Besi (Fe) Fe 2 (SO 4 ) 3 (NH 4 ) 2 SO 4.24H 2 O Seng (Zn) ZnSO 4.7H 2 O Larutan standar Larutan stock standar diencerkan dengan air (jika persiapan sampel dilakukan dengan pengabuan basah) atau HCl 0.3N (pengabuan kering) sampai konsentrasinya berada dalam kisaran kerja, masing-masing logam. 66

75 Tabel Kondisi yang direkomendasikan untuk analisis logam dengan sistem nyala asetilen-udara Logam Besi (Fe) Seng (Zn) Keterangan : Panjang Gelombang ( A ) Absorpsi (A) Atau Emisi (E) A A Limit Deteksi (µ logam/ml) Kisaran Kerja (µ logam/ml) (1) Nilai di dalam kurung menyatakan bahwa kurva kalibrasi linier sampai nilai ini. Cara Kerja : 1. Larutan abu berasal dari pengabuan basah a. Larutan abu dipindahkan ke dalam labu takar, dipilih labu takar yang sesuai sehingga diperoleh konsentrasi logam yang sesuai dengan kisaran kerjanya. b. Larutan ditepatkan sampai tanda tera dengan air, kemudian dicampur secara merata. 2. Abu berasal dari pengabuan kering a. Sebanyak 5 6 ml HCl 6Nditambahkan ke dalam cawan/pinggan berisi abu, kemudian dengan hati-hati dipanaskan di atas hot plate (pemanas) dengan pemanasan rendah sampai kering. b. Lalu ditambahkan 15 ml HCl 3N, cawan dipanaskan di atas pemanas sampai mulai mendidih. c. Setelah itu didinginkan dan disaring melalui kertas saring, dimasukkan filtrat ke dalam labu takar yang sesuai. Diusahakan padatan tertinggi sebanyak mungkin dalam cawan. d. Kemudian ditambahkan 10 ml HCl 3N ke dalam cawan, dipanaskan sampai larutan mulai mendidih. e. Lalu didinginkan, disaring, dan dimasukkan filtrat ke dalam labu takar. f. Cawan dicuci dengan air sedikitnya tiga kali, kemudian disaring dan air cucian lalu dimasukkan ke dalam labu takar. g. Kertas saring dicuci dan air cucian dimasukkan ke dalam labu takar. h. Jika akan menentukan kadar kalsium, ditambahkan 5 ml larutan lantanum klorida untuk setiap 100 ml larutan. i. Lalu didinginkan dan isi labu diencerkan sampai tanda tera dengan air. 67

76 j. Blanko disiapkan dengan menggunakan sejumlah pereaksi yang sama, kemudian tahap 1 sampai dengan 9 dilakukan. 3. Kalibrasi Alat dan Penetapan Sampel a. Alat AAS diatur sesuai dengan instruksi dalam manual alat tersebut. b. Larutan standar logam dan blanko diukur. c. Larutan sampel diukur. Selama penetapan sampel, diperiksa secara periodik apakah nilai standar tetap konstan. d. Kurva standar dibuat untuk masing-masing logam (nilai absorpsi/emisi vs konsentrasi logam dalam µ g/ml). 4. Perhitungan: Penentuan konsentrasi logam dalam sampel dari kurva standar yang diperoleh adalah: Berat sampel (g) = W Volume ekstrak = V Konsentrasi larutan sampel (µ g/ml) = a Konsentrasi larutan blanko µ g/ml) = b ( a b ) x V Kadar logam (mg/100 g) = 10 W ( a b ) x V Kadar logam (mg/1000 g) = W Penentuan ß-Karoten: Metode II (Apriyantono, et al. 1989) Prinsip : Pigmen diekstrak dari bahan dengan menggunakan pelarut asetonheksana. Pigmen dipisahkan dari pigmen lainnya dengan menggunakan kolom adsorpsi Magnesium oksida-supercel, kemudian diukur adsorbansinya pada 436 nm. Pereaksi: 1. Aseton dengan sejumlah Na 2 SO 4 anhydrous, disaring dan ditambahkan beberapa potong seng berbentuk granular (10 mesh) kemudian didestilasi sehingga didapat aseton murni. 2. Heksana, titik didih C 3. Adsorben : campuran Magnesium oksida + supercel 1 : 1 68

77 Peralatan: 1. Kolom adsorpsi : tinggi 17 cm, diameter 2 cm. 2. Penyodok : panjang 25 cm, terbuat dari gelas, salah satu ujungnya rata. 3. Pompa vakum Cara Kerja: a. Ekstraksi buah dan sayuran kering: 1. Sampel digiling sampai lolos ayakan 40 mesh 2. Kemudian ditimbang tepat 1 4 g sampel, ditempatkan dalam timbel dan dimasukkan ke dalam Soxhlet extractor. 3. Lalu ditambahkan 30 ml campuran aseton komersil dan heksana (3 + 7) ke dalam labu soxhlet, refluks selama 1 jam atau lebih dengan kecepatan 1 3 tetes per detik sampai tidak ada lagi warna yang terekstrak, didinginkan pada suhu ruang dan ditepatkan volume hasil ekstraksi menjadi 100 ml dengan heksana. 4. Alternatif lain, ditambahkan pelarut ke dalam sampel yang sudah digiling halus dan dibiarkan di dalam tempat gelap semalam pada suhu ruang. Kemudian ekstrak didekantasi atau disaring, dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml, residu dicuci, kemudian ditepatkan sampai tanda tera dengan heksana. Larutan ini sekarang mengandung aseton 9%. b. Ekstraksi buah dan sayuran segar atau olahan: 1. Sejumlah sampel dihancurkan di dalam blender (untuk bahan segar, jika analisa tidak segera dilakukan, bahan diblansir dalam air mendidih selama 5 10 menit, disimpan dalam keadaan beku). 2. Sampel sebanyak 5 10 g diekstrak dengan campuran 40 ml aseton dan 60 ml heksana dan 0.1 g MgCO 3 di dalam blender selama 5 menit. 3. Residu dibiarkan mengendap, kemudian didekantasi dalam labu pemisah (ekstrak dikeluarkan). 4. Residu dicuci dua kali masing-masing dengan 25 ml aseton, kemudian dicuci lagi dengan 25 ml heksana. 5. Seluruh ekstraksi yang diperoleh digabungkan. 6. Kemudian dipisahkan dan aseton diambil/dibuang dari ekstrak dengan pencucian menggunakan air berkali-kali. 69

78 7. Lapisan atas dipindahkan ke dalam labu takar 100 ml yang telah berisi 9 ml aseton dan diencerkan sampai tanda tera dengan heksana (jika didinginkan alkohol dapat digunakan untuk menggantikan aseton dalam tahap ekstraksi). Pemisahan pigmen secara kromatografi 1. Kolom kromatografi disiapkan dengan adsorben campuran magnesia aktif dan supercel ( ) seperti pada Metode I. 2. Lapisan Na 2 SO 4 anhydrous ditempatkan setinggi 1 cm di atas lapisan adsorben. 3. Dengan menggunakan vakum secara kontinyu pada kolom, dimasukkan 50 ml ekstrak pigmen ke dalam kolom. 4. Elusi dilakukan dengan menggunakan pelarut aseton heksana. Lapisan atas dijaga agar selalu terisi dengan pelarut selama operasi. 5. Karoten akan melewati kolom secara cepat. Band (pita) xantofil, produk oksidasi karoten dan klorofil akan teradsorpsi dalam kolom. 6. Hasil elusi dikumpulkan, jika warna larutan terang, dipekatkan dengan tekanan rendah (vakum), ditepatkan sampai volume tertentu dengan menggunakan aseton 9% dalam heksana. 7. Warna diukur pada 436 nm. Alat diatur pada 100% T dengan menggunakan aseton 9% dalam heksana. 8. Konsentrasi karoten ditentukan dalam sampel berdasarkan kurva standar yang dibuat. Pembuatan Kurva Standar 1. Sebanyak 25 mg ß-karoten murni ditimbang dengan teliti. Kemudian dilarutkan dalam 2.5 ml kloroform dan dibuat menjadi 250 ml dengan petroleum eter (1 ml = 0.1 mg atau 100 µg). 2. Larutan sebanyak 10 ml diencerkan menjadi 100 ml dengan petroleum eter (1 ml = 0.01 mg atau 10 µg). 3. Sebanyak 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 ml larutan ini dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml yang terpisah. Masing-masing labu ukur diisi dengan 3 ml aseton. 4. Kemudian diencerkan sampai tanda tera dengan petroleum eter, sehingga konsentrasinya akan menjadi 0.5, 1.0, 2.0, 2.5, dan 3.0 µg per ml. 5. Optikal density (OD) larutan ini diukur pada 452 nm dengan menggunakan aseton 3% dalam petroleum eter sebagai blanko. 70

79 6. Setelah itu dibuat grafik hubungan antara optical density dengan konsentrasi ß- karoten. Perhitungan: µg karoten per ml x pengenceran x 100 yang terbaca dari kurva standar Mg ß-karoten = per 100 g Berat sampel x 1000 Penetapan Vitamin C Metode Titrasi Iodium (Jacobs) (Sudarmadji et al. 1984) 1. Sebanyak g bahan ditimbang dan dihancurkan dalam waring blender sampai diperoleh slurry. Kemudian g slurry ditimbang dan dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml dan ditambahkan akuades sampai tanda, lalu disaring dengan Krus Gooch atau dengan sentrifuse untuk memisahkan filtratnya. 2. Sebanyak 5 25 filtrat diambil dengan pipet dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 125 ml, kemudian ditambahkan 2 ml larutan amilum 1 % (soluble starch) dan ditambahkan 20 ml akuades bila perlu. 3. Kemudian dititrasi dengan 0,01 N standard iodium 4. Perhitungan : 1 ml 0,01N Iodium = 0,88 mg asam askorbat Lampiran 2. Penetapan mineral Fe dan Zn dari plasma perkutut Metoda pengukuran Fe adalah sebagai berikut : Peralatan 1. Atome Absorbtion Spektrophatometer merek GBC Type 906-AA dengan kondisi Wavelength : 248,3 nm Skit : 0,2 nm Lamp current : 5,0 ma Flame type : Air Acetylene (oxidizing) 2. Labu ukur 1000 ml terkalibrasi 3. Labu ukur 100 ml terkalibrasi 4. Pipet 1 ml terkalibrasi 5. Pipet 2 ml terkalibrasi 6. Syringe 100 µl 71

80 Pereaksi yang digunakan 1. Standar Fe 1000 µg/ml, masukkan standar Fe yang mengandung 1,0 µg/ml (tritisal) kedalam labu ukur 1000 ml, kemudian encerkan dengan larutan HCl 0,1 M hingga tanda tera, kocok hingga homogen. 2. Standar Fe 100 µg/ml, pipet 10 ml larutan standar Standar Fe 1000 µg/ml masukkan kedalam labu ukur 100 ml dan tera hingga tanda garis dengan aquades, kocok hingga homogen. 3. Standar Fe 2 µg/ml - 10 µg/ml, pipet larutan Standar Fe 100 µg/ml sebanyak 2 ml, 4 ml, 6 ml, 8 ml. masing-masing masukkan kedalam labu ukur 100 ml kemudian encerkan hingga tanda tera dengan aquades, kocok hingga homogen. Metoda pengukuran Zn adalah sebagai berikut : 1. Atome Absorbtion Spektrophatometer merek GBC Type 906-AA dengan kondisi Wavelength : 213,9 nm Skit : 0,5 nm Lamp current : 5,0 ma Flame type : Air Acetylene (oxidizing) 2. Labu ukur 1000 ml terkalibrasi 3. Labu ukur 100 ml terkalibrasi 4. Pipet 1 ml terkalibrasi 5. Pipet 2 ml terkalibrasi 6. Syringe 100 µl Pereaksi yang digunakan 1. Standar Zn 1000 µg/ml, masukkan standar zn yang mengandung 1,0 µg/ml (tritisal) kedalam labu ukur 1000 ml, kemudian encerkan dengan larutan HCl 0,1 M hingga tanda tera, kocok hingga homogen. 2. Standar Zn 10 µg/ml, pipet 1 ml larutan standar Zn 1000 µg/ml, masukkan kedalam labu ukur 100 ml, encerkan hingga tanda tera dengan aquades. 3. buat larutan deret standar Zn 0,4 µg/ml 1,6 µg/ml, pipet Standar 0,4 ml, 0,8 ml, 1,2 ml dan 1,6 ml masukkan masing-masing kedalam labu ukur 100 ml, kemudian encerkan hingga tanda tera dengan aquades. 4. HCl 0,1 M 5 Aquabides 72

81 Cara Kerja Pipet 100 µl plasma darah dengan menggunakan syringe masukkan dalam vial 1 ml, kemudian encerkan hingga tanda tera dengan aquades kocok hingga homogen, larutan siap untuk dibaca dengan kondisi AAS seperti diatas. Lampiran 3. Kandungan nutrien daun segar tanaman saga, sambiloto, dan pare hutan (As fed) Komponen Daun Saga Daun Sambiloto Daun Pare Hutan Kadar Air (%) Bahan Kering (%) Kadar Abu (%) Protein Kasar (%) Lemak Kasar (%) Serat Kasar (%) Ca (mg/100 g) P (mg/100 g) Vit. A (mg/100 g) Lampiran 4. Hasil anova heterofil perkutut Analysis of Variance for Heterofil Source DF SS MS F P Perlakua Error Total Individual 95% CIs For Mean Based on Pooled StDev Level N Mean StDev ( * ) ( * ) ( * ) ( * ) ( * ) Pooled StDev =

82 Lampiran 5. Hasil anova monosit perkutut Analysis of Variance for Monosit Source DF SS MS F P Perlakua Error Total Individual 95% CIs For Mean Based on Pooled StDev Level N Mean StDev ( * ) ( * ) ( * ) ( * ) ( * ) Pooled StDev = Lampiran 6. Hasil anova limfosit perkutut Analysis of Variance for Limfosit Source DF SS MS F P Perlakua Error Total Individual 95% CIs For Mean Based on Pooled StDev Level N Mean StDev ( * ) ( * ) ( * ) ( * ) ( * ) Pooled StDev = Lampiran 7. Hasil anova zat besi (Fe) perkutut Analysis of Variance for Zat Besi (Fe) Source DF SS MS F P Perlakua Error Total Individual 95% CIs For Mean Based on Pooled StDev Level N Mean StDev (-----*----) (----*---) (----*-----) (----*---) (----*---) Pooled StDev =

83 Lampiran 8. Hasil anova seng (Zn) perkutut Analysis of Variance for Seng (Zn) Source DF SS MS F P Perlakua Error Total Individual 95% CIs For Mean Based on Pooled StDev Level N Mean StDev ( * ) ( * ) ( * ) ( * ) ( * ) Pooled StDev = Lampiran 9. Hasil anova testosteron perkutut Analysis of Variance for Testosteron Source DF SS MS F P Perlakua Error Total Individual 95% CIs For Mean Based on Pooled StDev Level N Mean StDev ( * ) ( * ) ( * ) ( * ) ( * ) Pooled StDev = Lampiran 10. Hasil anova durasi silabel Analysis of Variance for Durasi Syllable Source DF SS MS F P perlakua Error Total Individual 95% CIs For Mean Based on Pooled StDev Level N Mean StDev ( * ) ( * ) ( * ) ( * ) ( * )

84 Pooled StDev = Lampiran 11. Hasil anova durasi antar silabel Analysis of Variance for Durasi Antar Syllable Source DF SS MS F P perlakua Error Total Individual 95% CIs For Mean Based on Pooled StDev Level N Mean StDev ( * ) ( * ) ( * ) ( * ) ( * ) Pooled StDev = Lampiran 12. Oscillogram durasi suara (silabel dan antar silabel) perkutut Oscillogram Perlakuan D (penambahan ekstrak daun pare) 76