UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA"

Transkripsi

1 SKRINING AKTIVITAS ANTIHIPERTENSI DARI EKSTRAK ETANOL 70% RIMPANG: JAHE MERAH (Zingiber officinale Roscoe), BANGLE (Zingiber purpureum Roscoe), TEMU KUNCI (Boesenbergia rotunda (L.) Mansf.) dan TEMU PUTIH (Kaempfria rotunda L.) PADA TIKUS YANG DIINDUKSI ADRENALIN SKRIPSI NIDA AULIYA RAHMAH NIM: PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS ILMU KESEHATAN SEPTEMBER / 2018

2 SKRINING AKTIVITAS ANTIHIPERTENSI DARI EKSTRAK ETANOL 70% RIMPANG: JAHE MERAH (Zingiber officinale Roscoe), BANGLE (Zingiber purpureum Roscoe), TEMU KUNCI (Boesenbergia rotunda (L.) Mansf.) dan TEMU PUTIH (Kaempfria rotunda L.) PADA TIKUS YANG DIINDUKSI ADRENALIN SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi NIDA AULIYA RAHMAH NIM: PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS ILMU KESEHATAN SEPTEMBER / 2018 i

3 IJ.I\I-AMAN PERNYATAAN ORTSINALITAS Skripsi ini actalah hasitr karya sendirt, Sernua sumber baik yang dikutip lrraupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar. Nama NIM Tanda Tangan Nida Auliya Rahmah I TanggaJ 21 Septer"nber 2018 UIN SYARIF FIIDAYATULLAH JAKARTA

4 HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING Nama NIM Program Studi Judul : Nida Auliya Rahmah : l) : Farmasi : Skrining Aktivitas Antihipertensi dari Ekstrak Etanol 70% Rimpang:.Iahe merah (Zingiber ofjicinole Roscoe), Bangle (Zingiber purpureum Roscoe), Temu kunci (-Boesenbergicr rotundo (L.) Mansf) dan Temu pfith (Kaempfria ronmda L.) pada tikus yang diinduksi Adrenalin Disetujui oleh: Pembimbing I gii Dr. Nurmeilis. M.Si.. Apt NrP s0 l 2003 Ismiarni Komala. Ph.D.. Apt NIP t Mengetahui, Ketua Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan LIIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dr. Nurmeilis. NI.Si.. Apt NIP, til

5 HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI Skripsi ini diajukan oleh: Nama NIM Program Studi Judul Nida Auliya Rahmah tt Fannasi Skrining Aktivitas Antihiperlensi clari Ekstrak Etanol 70% Rirnpang: Jahe Merah (Zingiber officinale Roscoe), Bangle (Zingibar purpureum Roscoe). Tetnu Kunci (Bocsenbet'gia rotunda (L.) Manst./ clan Tetnlt Putih (Kaemp.f ict rotwtdo L.) pada tikus yang diinduksi,\drenalin. Telah berhasil dipertahankan dihadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKes) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. DEWAN PEMBIMBING DAN PENGUJI Pembimbing I Pembimbing II Dr. Nurmeilis M.Si., Apt. Ismiarni Kotnala Ph.D., Apt. Penguji I Penguji II Hendri Aldrat Ph.D., Apt" Marvel M.Farm., Apt. Ditetapkan di Tanggal Jakarta Jt SepWher zo,b iv

6 ABSTRAK Nama : Nida Auliya Rahmah NIM : Program Studi : Farmasi Judul : Skrining Aktivitas Antihipertensi dari Ekstrak Etanol 70% Rimpang: Jahe merah (Zingiber officinale Roscoe), Bangle (Zingiber purpureum Roscoe), Temu kunci (Boesenbergia rotunda (L.) Mansf.) dan Temu putih (Kaempfria rotunda L.) pada tikus yang diinduksi Adrenalin Hipertensi merupakan the silent killer disease dimana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmhg dan atau tekanan darah diastolik 90 mmhg. Penyakit yang memiliki komplikasi kardiovaskular ini yang sudah menyerang 25,8% penduduk Indonesia. Famili Zingiberaceae termasuk didalamnya Jahe merah (Zingiber officinale Roscoe), Bangle (Zingiber purpureum Roscoe), Temu kunci (Boesenbergia rotunda (L.) Mansf.) dan Temu putih (Kaempfria rotunda L.) mengandung banyak senyawa yang dapat mengobati hipertensi diantaranya flavonoid dan polifenol. Penelitian ini dilakukan untuk menguji aktivitas antihipertensi dari ekstrak etanol 70% Z.officinale, Z. purpureum, K. rotunda dan B. rotunda. 35 ekor tikus jantan Sprague Dawley ( g) dibagi dalam 1 kelompok normal dan 6 kelompok hipertensi (induksi adrenalin 1 mg/kgbb) yang diberi perlakuan selama 7 hari. Kelompok hipertensi terdiri dari kontrol positif (propanolol 8.2 mg/kgbb), kontrol negatif (tanpa perlakuan) dan 4 kelompok ekstrak yang masing masing diberikan dosis yang sama yakni 500 mg/kgbb. Pengukuran nilai tekanan darah sistolik, diastolik dan heart rate dilakukan selama 14 hari (H0, H7 dan H14) menggunakan instrumen CODA noninvasive blood pressure system. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dosis 500 mg/kg BB ekstrak etanol 70% semua ekstrak uji mampu menurunkan nilai tekanan darah sistolik secara bermakna (p 0.05) dengan presentase penurunan tertinggi ditunjukkan pada ekstrak Z. officinale (27.35%). Sedangkan ekstrak etanol 70% Z. officinale dan B. rotunda mampu menurunkan tekanan darah diastolik secara bermakna dengan presentase penurunan tertinggi ditunjukkan pada ekstrak B. rotunda (28.87%). Ekstrak etanol 70% Z. officinale, Z. purpureum dan K. rotunda juga diketahui mampu menurunkan nilai heart rate secara bermakna dengan presentase penurunan tertinggi ditunjukkan pada ekstrak K. rotunda (36.80%). Kata Kunci : Z. officinale, Z. purpureum, K. rotunda, B. rotunda, Antihipertensi, Induksi Adrenalin v

7 ABSTRACT Name Departement Title : Nida Auliya Rahmah : Pharmacy : Screening of Antihypertensive Activity of Jahe merah (Zingiber officinale Roscoe), Bangle (Zingiber purpureum Roscoe), Temu kunci (Boesenbergia rotunda (L.) Mansf.) and Temu putih (Kaempfria rotunda L.) ethanolic extract in adrenaline induced rat. Hypertension or well known as a silent killer disease is defined as having a systolic blood pressure of 140 mmhg and diastolic blood pressure 90 mmhg. Hypertension plays a major player in the onset of cardiovascular disease and affected more than 25,8% of indonesian people. Famili Zingiberaceae, including Zingiber officinale Roscoe, Zingiber purpureum Roscoe, Boesenbergia rotunda (L.) Mansf. and Kaempfria rotunda L. contains interesting coumpound that can treating hypertension such as flavonoid and polifenol. This research was undertaken to examine antihypertensive activity of Z. officinale, Z. purpureum, K. rotunda and B. rotunda 70% ethanolic extract. Thirty five Sprague Dawleyalbino male rats ( g) were divided into normotensive group (n=5) and 6 hypertensive group induce by 1 mg/kgbw adrenaline i.p for 7 days. Thus, six hypertensive group were given treatment for 7 consecutive days, i.e untreated group ( 1 ml aquadest) as a negative control, treated by propanolol 8.2 mg/kg bw as a positive control, and 4 groups treated by each extract at similar dose 500 mg/kg bw. The evaluation of systolic, diastolic blood pressure and heart rate were followed during 14 days (D0, D7, D14) using CODA noninvasive blood pressure system. The result exhibited that at dose 500 mg/kg bw all the extracts reduce sistolic blood pressure significantly (p 0.05) with Z. officinale was the prior (27,35%); Z. officinale and B. rotunda also reduced diastolic blood pressure significantly (p 0.05) with B. rotunda was the prior (28.87%); Z. officinale, Z. purpureum and K. rotunda can also reduce heart rate significantly (p 0.05) with K. rotunda was the prior (36,80%) Keyword: Z. officinale, Z. purpureum, K. Rotunda, B. rotunda, antihypertensive, adrenaline induced rat vi

8 KATA PENGANTAR Alhamdulillahirabbil alamin, segala puji bagi Allah SWT. atas segala nikmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi. Shalawat serta salam kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. yang membawa petunjuk bagi umat manusia, semoga kelak kita mendapatkan syafa at beliau. Skripsi dengan Judul Skrining Aktivitas Antihipertensi dari Ekstrak Etanol 70% Rimpang: Jahe merah (Zingiber officinale Roscoe), Bangle (Zingiber purpureum Roscoe), Temu kunci (Boesenbergia rotunda (L.) Mansf.) dan Temu putih (Kaempfria rotunda L.) pada tikus yang diinduksi Adrenalin ini disusun untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Farmasi di Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis menyadari bahwa dalam penelitian hingga penyusunan skripsi ini akan terasa sangat sulit tanpa adanya bantuan, dukungan, bimbingan dan doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada: 1. Prof. Dr. H. Arif Sumantri, S.KM., M.Kes. selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Dr. Nurmeilis M.Si., Apt. selaku pembimbing pertama sekaligus Ketua Program Studi Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Ismiarni Komala Ph.D., Apt. selaku pembimbing kedua yang memiliki andil besar dalam proses penelitian dan penyelesaian skripsi ini, semoga segala bantuan dan bimbingan dari ibu mendapatkan imbalan yang lebih baik darinya. 3. Seluruh dosen Program Studi Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu pengetahuan selama penulis menempuh pendidikan. 4. Kedua orang tua tercinta Ayah Nahari Muslih dan Ibu Siti Nurmila yang senantiasa memberikan kasih sayang, dukungan baik moril maupun materil serta doa yang tiada henti yang selalu menyertai langkah penulis. vii

9 5. Adikku Nahla Fathiyya Mumtaz yang senyumnya selalu memberikan semangat agar penulis segera menyelesaikan tugas akhirnya. 6. Sahabat Diana Mustika Ratu yang senantiasa menyemangati penulis dan berjuang bersama dalam penelitian ini. 7. Maulana Ja far Islami yang telah mendukung dan mendengarkan cerita penulis selama penelitian. 8. Keluarga Animal House: Inez Latanza, Khoirunnisa, Fauziah dan Ridho Faiqyl Layaly yang telah banyak membantu, tertawa bersama dan memotivasi selama penelitian berlangsung. 9. Sahabat Trio Al Muna tercinta : Ferani Nadyn Fatma dan Septa Rahmadini yang selalu ada sebagai support system dimanapun dan kapanpun. 10. Sahabat yang selalu memiliki solusi andal, Nurjihan Fahira dan Ririn Yuliana. 11. Teman teman Farmasi 2014 terutama kelas AC atas persaudaraan, kebersamaan suka dan duka selama masa perkuliahan. 12. Para staf administrasi, karyawan dan laboran FIKes UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membantu selama kelancaran studi. 13. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutka satu persatu yang telah banyak membantu penulis dalam penelitian dan penulisan skripsi baik secara langsung maupun tidak langsung. Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran pembaca yang embangun diharapkan dapat menjadi penyempurna skripsi ini. Penulis juga berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan sumbangan pengetahuan khususnya di Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan pembaca pada umumnya. Ciputat, September 2018 Penulis Nida Auliya Rahmah viii

10 IIALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AICIIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK Sebagai Jakarta, civitas akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah saya yang bertanda targan dibawah ini, Nama NIM Program Studi Fakultas Jenis Karya Nida Auliya Rahmah Farmasi Ilmu Kesehatan Skripsi demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya menyetujui skripsilkarya ilmiah saya yang berjudul,..skriiiing AKTT\,IITAS ANTIHIPERTENSI DARI EKSTRAK ETANOL 70% RIMPANG: JAIIE MERAH (Zingiber officinale Roscoe), BANGLE (Zingiber purpureum Roscoe), TEMU KUNCI (Boesenbergia rotunda (L.) Mansf.) dan TEMU PUTIH (Kaempfria rotunda L.) PADA TIKUS YANG DIINDUKSI ADRENALIN" dipublikasikan ata.u ditampilkan di internet atau media lain, yaitu digital library perpustakaan akademik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta untuk kepentingan akademik sesuai dengan Undang-Undang Hak Cipta. Demikian pernyataan persetujuan publikasi karya ilmiah ini saya buat dengan sebenar-benatrya Jakarta, 21 September 20 I 8 Yang menyatakan, (Nida Auliya Rahmah) ix

11 DAFTAR ISI Halaman Judul... i Halaman Pernyataan Orisinalitas... ii Halaman Persetujuan Pembimbing... iii Halaman Pengesahan Skripsi... iv Abstrak... v Kata Pengantar...vii Halaman Pernyataan Persetujuan Publikasi... ix Daftar Isi... x Daftar Gambar...xii Daftar Tabel...xii Daftar Lampiran... xiv BAB I Pendahuluan Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan penelitian Hipotesis Manfaat penelitian... 4 BAB II Tinjauan pustaka Famili Zingiberaceae Jahe merah(zingiber officinale Roscoe) Bangle (Zingiber purpureum) Temu kunci (Boesenbergia rotunda) Temu putih (Kaempfria rotunda) Hipertensi Definisi Hipertensi Etiologi Hipertensi Patofisiologi Hipertensi Pengobatan Hipertensi Propanolol x

12 2.3. Peran Herbal pada Pengobatan Hipertensi Ekstraksi Model Hewan Hipertensi Adrenalin Metode Pengukuran Tekanan Darah pada Tikus Tikus Putih Jantan (Rattus novergicus) galur Sprague Dawley BAB III Metode Penelitian Tempat dan Waktu Penelitian Alat dan Bahan Rancangan Penelitian Variabel Penelitian Besar Sampel Langkah Kerja Penyiapan Simplisia dan Ekstrak Skrining Fitokimia Ekstrak Aklimatisasi Hewan Uji Penyiapan Bahan Uji invivo Antihipertensi Pemberian Perlakuan pada Hewan Uji Analisis Data BAB IV Hasil dan Pembahasan Hasil Determinasi Tanaman Persen Rendemen Ekstrak Skrining Fitokimia Uji Aktivitas Antihipertensi secara invivo Pembahasan Penyiapan Ekstrak Uji Uji Aktivitas Antihipertensi Pengaruh Pemberian Ekstrak Terhadap Parameter Uji BAB V Kesimpulan dan Saran Daftar Pustaka Lampiran xi

13 DAFTAR GAMBAR 2.1 Zingiber officinale Roscoe Zingiber purpureum Roscoe Boesenbergia rotunda (L.) Mansf Kaempfria rotunda L Struktur Kimia Propanolol Sel Endotel Manusia Skema Peran Tumbuhan dalam penyembuhan patogenesis dari Hipertensi Aktivitas Molekuler Adrenalin pada Sistem Saraf Simpatik Struktur Kimia Adrenalin Kurva Tekanan Darah Sistolik hari ke-0,7 dan Kurva Tekanan Darah Diastolik hari ke-0,7 dan Kurva Denyut Jantung/ Heart Rate hari ke-0,7 dan Diagram Batang Presentase Penurunan Parameter Uji Antihipertensi xii

14 DAFTAR TABEL 2.1 Klasifikasi Tekanan Darah Manusia Data Biologis Tikus Putih Pembagian Kelompok dan Pemberian Dosis Jadwal Pengukuran Parameter Uji Persen Rendemen Ekstrak Hasil Skrining Fitokimia Rerata Nilai Tekanan Darah Sistolik hari ke-0, 7 dan Rerata Nilai Tekanan Darah Diastolik hari ke-0, 7 dan Rerata Nilai Denyut Jantung (Heart Rate) hari ke-0, 7 dan Presentase Penurunan Parameter Uji Antihipertensi xiii

15 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Alur Pembuatan Ekstrak Lampiran 2. Surat Keputusan Lolos Kaji Etik Hewan Penelitian Lampiran 3. Hasil Determinasi Sampel Tumbuhan Uji Lampiran 4. Surat Keterangan Hewan Uji Lampiran 5. Surat Keterangan Lolos Kaji Etik Hewan Penelitian Lampiran 6. Hasil Skrining Fitokimia Ekstrak Lampiran 7. Konversi Dosis Hewan Lampiran 8. Perhitungan Dosis Ekstrak Lampiran 9. Dokumentasi Penelitian Lampiran 10. Data Tekanan Darah Sistolik, Diastolik dan Heart Rate Lampiran 11. Hasil Analisa Data Tekanan Darah Sistolik Lampiran 12. Hasil Analisa Data Tekanan Darah Diastolik Lampiran 13. Hasil Analisa Data Denyut Jantung xiv

16 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi merupakan suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmhg dan atau tekanan darah diastolik 90 mmhg (Ismail, 2003). Hipertensi dikategorikan sebagai the silent killer disease karena penderita tidak mengetahui dirinya mengidap hipertensi sebelum memeriksakan tekanan darahnya (Wahdah, 2011). Menurut data WHO, di seluruh dunia sekitar 972 juta orang atau 26,4% penduduk dunia mengidap hipertensi, angka ini kemungkinan akan terus meningkat menjadi 29,2% di tahun Dari 972 juta pengidap hipertensi, 333 juta berada di negara maju dan 639 juta sisanya berada di negara berkembang, termasuk Indonesia (Yonata & Pratama, 2016). Data Riskesdas di tahun 2013 menunjukkan bahwa secara nasional 25,8% penduduk Indonesia mengidap hipertensi. Hal ini menunjukkan bila di tahun 2014 penduduk Indonesia adalah sebesar jiwa, maka terdapat jiwa yang menderita hipertensi dan kemungkinan akan terus bertambah setiap tahunnya (Pusdatin Kemenkes RI, 2014) Apabila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan yang memadai, peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka panjang dapat menimbulkan komplikasi pada sistem kardiovaskular. Hipertensi mencetuskan timbulnya plak aterosklerotik di arteri serebral dan arteriol, yang dapat menyebabkan oklusi arteri, cedera iskemik dan stroke sebagai komplikasi jangka panjang (Yonata & Pratama, 2016). Pengobatan hipertensi dapat mengurangi resiko penyakit kardiovaskular. Sejumlah pedoman Internasional menunjukkan bahwa tekanan darah harus dikurangi setidaknya dibawah 160/90 mmhg untuk meminimalisir resiko kardiovaskular pada pasien hipertensi (Elsik dan Krum 2007). Namun akhir akhir ini, obat obat yang biasa dipakai untuk menurunkan tekanan darah memiliki sejumlah kekurangan. Propanolol merupakan obat golongan beta blocker yang biasa dipakai oleh penderita hipertensi diketahui 1

17 2 memiliki sejumlah efek samping seperti bradikardia, bronkospasme, kelelahan, gangguan saluran cerna dan psoriasis (Aberg et al., 2009). Oleh karena itu, perlu dicari obat yang berasal dari alam yang lebih poten namun memiliki efek samping yang lebih sedikit. Indonesia sangat kaya akan sumber daya nabati dan merupakan salah satu negara megabiodiversity terbesar di dunia. Didalamnya terdapat gudang tumbuhan obat, sehingga dunia menjuluki Indonesia sebagai live laboratory yang diharapkan mampu menjawab tantangan pencarian obat baru (Wijayakusuma, 2007). Dalam Islam pun, kitab suci kita yakni Al Qur an memiliki ayat yang dapat menjadi inspirasi dalam penelitian. Diantaranya tertera dalam surat Al-Insaan ayat 17 yang berbunyi: و ي س ق و ن ف يه ا ك ان ك أ س ا م ز اج ه ا ز ن ج ب يل Di dalam surga itu mereka diberi segelas minuman yang campurannya adalah jahe (Q.S Al Insaan :17). ` Telah diketahui bahwa tanaman jahe jahean merupakan sekelompok tanaman yang masuk ke dalam famili zingiberaceae. Tanaman Z. officinale, Z. purpureum, K. rotunda dan B. rotunda merupakan bagian dari famili zingiberaceae yang banyak tumbuh di Indonesia ini perlu diteliti lebih lanjut manfaatnya, termasuk didalamnya manfaat dalam pengobatan hipertensi. Pada penelitian sebelumnya, hipertensi kerap kali dikaitkan dengan stress oksidatif karena lemahnya efek protektif dari antioksidan tubuh (James et al., 2014) (Sulastri & Liputo, 2011). Peningkatan stres oksidatif dapat menyebabkan penurunan bioavailabilitas nitric oxide (NO) sehingga hipertensi dapat terjadi (Touyz, 2004). Tumbuhan dari famili zingiberaceae seperti Z. officinale, Z. purpureum, K. rotunda dan B. rotunda diketahui memiliki banyak aktivitas sebagai antioksidan. Z. officinale diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi diantaranya dalam uji 1,1- diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) radical scavenging actity dan aktivitas inhibisi oksidasi metil linoleat dengan metode oil stability index (OSI) (Masuda, et al., 2004). Z. purpureum juga diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi (Chirangini et al, 2004 dan Habsah et al., 2000).

18 3 Ekstrak kloroform K. rotunda juga ditemukan memiliki aktivitas antioksidan berdasarkan metode Folin Cholceau (Sundari, 2013). Aktivitas anti oksidan juga ditunjukkan oleh rimpang B. rotunda (Kim et al, 2013 dan Cahyadi et al, 2014). Rimpang-rimpang tersebut juga diketahui memiliki kandungan flavonoid yang mampu mengobati hipertensi. Flavonoid mampu berdifusi secara langsung dan mensintesa NO dalam endotel dan otot polos selanjutnya merangsang guanylate cyclase untuk membentuk cgmp sehingga terjadi vasodilatasi (McNeill et al, 2006). Penelitian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi potensi tumbuhan herbal dari famili Zingiberaceae yang belum banyak diteliti seperti Z. officinale, Z. purpureum, K. rotunda dan B. rotunda dengan tujuan menguji aktivitas antihipertensinya. Disebabkan keberadaan rimpang temu temuan di Indonesia melimpah, memiliki harga yang murah dan bukti-bukti ilmiah tentang ekstrak etanol temu-temu ini sebagai antihipertensi secara invivo dengan metode non invasive menggunakan tikus galur Sprague Dawley dengan induksi adrenalin belum pernah ditemukan, maka penulis ingin mengetahui aktivitas antihipertensi tanaman-tanaman tersebut secara in vivo dengan metode non invasive. Pengujian hipertensi pada hewan dapat diinduksi dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan pemberian adrenalin (Hoffman, 2012). Hal ini dikarenakan adrenalin dapat mengaktivasi reseptor adrenergik, mengaktivasi kanal ion Ca 2+, mengaktivasi sistem renin-angiotensinaldosteron dan memiliki efek konotropik positif yang berhubungan dengan peningkatan curah jantung dan tahanan tepiyang dapat menyebabkan hipertensi pada hewan uji dengan waktu yang relatif singkat (Gerich, 1976). 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang, dapat diperoleh rumusan masalah apakah ekstrak etanol 70% Z. officinale, Z.purpureum, B. rotunda dan K. rotunda dapat menurunkan tekanan darah pada tikus hipertensi yang diinduksi adrenalin?

19 4 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk menskrining pemberian ekstrak etanol 70% rimpang Z. officinale, Z. purpureum, B. rotunda dan K. rotunda terhadap penurunan tekanan darah pada tikus hipertensi yang diinduksi adrenalin. 1.4 Hipotesis Hipotesis dari penelitian ini menyatakan bahwa ekstrak etanol 70% rimpang Z. officinale, Z.purpureum, B. rotunda dan K. rotunda dapat menurunkan tekanan darah pada tikus putih galur Sprague Dawley yang diinduksi adrenalin. 1.5 Manfaat Penelitian Memberikan informasi pada masyarakat luas mengenai khasiat rimpang Z. officinale, Z.purpureum, B. rotunda dan K. rotunda dapat berpotensi sebagai terapi komplementer antihipertensi serta dapat menjadi acuan bagi penelitian selanjutnya.

20 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Famili Zingiberaceae Nama Zingiber kemungkinan berasal dari bahasa Arab zanjabil yang dalam bahasa sansekerta singabera dalam bahasa Yunani menjadi zingiberi dan ini dilatinkan menjadi zingiber. Secara botani, Zingiber menjadi penunjuk nama untuk semua famili jahe-jahean (Zingiberaceae) (Larsen et al., 1999). Taksonomi tumbuhan dari famili zingiberaceae adalah sebagai berikut (Joy,1998) : Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Ordo : Stamicinales Famili : Zingiberaceae Famili Zingiberaceae terdiri dari kelompok besar tanaman obat rhizomatous yang ditandai dengan adanya minyak atsiri, oleoresin dan terpenoid. Berbagai tanaman milik keluarga Zingiberaceae dimanfaatkan sebagai tanaman hias, obat-obatan atau makanan (sayuran atau rempahrempah), Rimpang famili Zingiberaceae banyak digunakan dalam asupan makanan dan juga dalam sistem pengobatan tradisional. Banyak ditemukan komponen komponen dengan aktivitas fisiologis yang beragam seperti antimikrobial, antiarthritis, antioksidan, antikanker, antiinflamasi, kardioprotektif, anti diabetes, anti-hiv dan neuroprotektif telah berada di minyak esensial tanaman Zingiberaceous (Joy, 1998). Genus yang diketahui memiliki banyak aktifitas kardioprotektif diantaranya adalah Alpini, Amomum, Curcuma, Hedycium, Kaempferia dan Zingiber (Konickal, et al., 2013). 5

21 Jahe merah (Zingiber officinale Roscoe) (a) (b) Gambar 2.1 Zingiber officinale Roscoe (a) Rimpang segar (b) Rajangan (sumber: dokumentasi pribadi) Determinasi Tumbuhan Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Bangsa : Zingiberales Suku : Zingiberaceae Marga : Zingiber Jenis :Zingiber officinale Roscoe (Tjitrosoepomo, 1994) Nama Daerah Tanaman jahe memiliki beberapa sebutan,antara lain gember (Aceh), halia (Gayo), goraka (Manado), halia, sipadas (Minangkabau), lai (Sunda), jahe (Jawa) jae (Madura), lia (Gorontalo),gisoro (Ternate). (Heyne, 1987) Morfologi Tanaman Z. officinale adalah tumbuhan tahunan dengan tinggi cm, Tumbuhan ini memiliki rimpang tebal berwarna coklat kemerahan. Daunnya sempit berbentuk lanset dengan panjang 5-25 cm dan lebar 8-20 mm. Ujung daunnya runcing, pangkal tumpul dan bertepi rata. Bunga majemuk dengan bentuk bulat telu, muncul dari rimpang, dengan

22 7 panjang tangkai cm dan terdapat daun kecil pada dasar bunga. Mahkota bunga bentuk corong, panjang 2-2,5 cm, berwarna ungu tua dengan bercak krem-kuning. Kelopak bunga kecil, berbentuk tabung dan begerigi tiga (Ross,1999) Aktivitas Farmakologi dan Kandungan kimia Z. officinale memiliki kandungan minyak atsiri yang terdiri atas senyawa-senyawa sesquiterpen, gingerol, zingiberen, zingeron, oleoresin, kamfena, limonen, borneol, sineol, sitral, zingiberal, felandren, vitamin A, B, dan C serta senyawa flavonoid dan polifenol. Substansi-substansi fenolitik berperan pada pembentukan rasa yang pedas, tajam dan sensasi menyengat. (Duke, 2000). Z. officinale juga diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi diantaranya dalam uji 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) radical scavenging actity dan aktivitas inhibisi oksidasi metil linoleat dengan metode oil stability index (OSI) (Masuda, et al., 2004). Rimpang Z. officinale kepada tikus secara intraperitonial memberikan nilai LD ±75 mg/kg (Ojewole, 2006). Penelitian Jagetia et al di tahun 2004 juga menyebutkan bahwa ekstrak air dari Z. officinale tidak menunjukan adanya gejala tokisisitas hingga dosis 1500 mg/kgbb tikus. Pada pengujian antihipertensi, Penelitian Mohan 2007 menyatakan bahwa ekstrak petroleum eter Z. officinale memiliki aktivitas antihipertensi secara in vivo pada tikus hipertensi yang diinduksi garam DOCA selama 5 minggu (Mohan, 2007). [6]-gingerol and [6]-shogaol diketahui menurunkan tekanan darah sistemik pada tikus yang telah dianastesi dengan dosis ug/kg dan dapat menimbulkan bradikardia ketika diberikan secara intravena (Suekawa et al., 1984; Suekawa et al., 1986). Ekstrak metanol 70% dari Z. officinale menginduksi penurunan dose dependent tekanan darah arteri pada tikus yang telah dianastesi. Efek ini kemungkinan di mediasi sistem kanal ion kalsium (Ghayur & Gilani, 2005).

23 Bangle (Zingiber purpureum Roscoe) (a) (b) Gambar 2.2 Zingiber purpureum Roscoe (a) Rimpang segar (b) Rajangan (sumber: dokumentasi pribadi) Determinasi Tumbuhan Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Ordo : Zingiberales Suku : Zingiberaceae Genus : Zingiber Spesies : Zingiber montanum Syn. Zingiber purpureum Roscoe (Tjitrosoepomo, 1994) Nama Daerah Panglai (Sunda), bengle (Jawa), pandiyang (Madura), manglai (Sulawesi), bale (Makasar), bangalai (Kalimantan), mungle (Aceh), banglai (Palembang), bunglai, bangle, kunit bolai (Melayu), benggele (Bali), unin pakei (Ambon) (Syukur et al., 2001) Morfologi Tanaman Tanaman bangle (Z. purpureum) mempunyai bentuk batang yang tegak, berwarna hijau setinggi 1,5 hingga 2 meter. Daun Z. purpureum.tunggal dengan pangkal tumpul, ujung runcing, berbentuk lonjong, berbulu panjang, panjang dain cm dan lebar cm. Bangle

24 9 memiliki bentuk bunga telur yang majemuk, keluar dari ujung batang dan bentuknya seperti tanda (Herman & Syukur, 2002). Z. purpureum mempunyai rimpang yang menjalar dan berdaging, bentuknya hampir bundar sampai lonjong atau tidak beraturan dengan tebal 2-5 mm. Permukaan luar tidak rata, berkerut, kadang-kadang dengan parut daun dan berwarna coklat mudah kekuningan Aktivitas Farmakologi dan Kandungan kimia Rimpang Z. purpureum sering digunakan sebagai bahan obatobatan oleh masyarakat antara lain obat cacing (Gunarti dan Mayangsari, 2000), sakit kuning (Suparto et al., 2000), juga obat demam, sakit kepala, batuk berdahak, nyeri perut/masuk angin, sembelit, reumatik, ramuan jamu untuk wanita setelah melahirkan, jamu susut perut (Wijayakusuma et al., 1996). Pada penelitian Pudjiastuti di tahun 2004, Uji LD50 infus rimpang Z. purpureum diketahui memiliki nilai dosis 31,56 (24,96-39,87) mg/10gbb terhadap mencit. Berdasarkan hasil penelitian ekstrak rimpang Z. purpureum memiliki aktivitas farmakologi sebagai antibakteri, laksatif, inhibitor lipase pankreas dan melindungi sel dari kerusakan akibat stress oksidatif oleh H2O2 (Nuratmi et al., 2005; Iswantini et al, 2011; Marliani, 2012). Aktivitas antioksidan Rimpang Z. purpureum dengan metode DPPH juga menunjukkan hasil yang positif (Buain, 2009). Rimpang Z. purpureum diketahui mengandung saponin, flavonoid, minyak atsiri, tanin, steroid, triterpenoid, antioksidan dan senyawa fenolik (Depkes RI, 2001; Chanwitheesuk et al., 2005; Iswantini dkk., 2011).

25 Temu kunci (Boesenbergia rotunda L. Mansf) (a) (b) Gambar 2.3 Boesenbergia Rotunda (a) Rimpang segar (b) Rajangan (sumber: dokumentasi pribadi) Determinasi Tumbuhan Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Ordo : Zingiberales Suku : Zingiberaceae Genus : Boesenbergia Spesies : Boesenbergia rotunda (L.) Mansf (Tjitrosoepomo,1988) Nama Daerah temu kunci (Melayu, Sunda), tamu kunci (Minangkabau), koncih (Sumatera), konce (Madura), dumu kunci (Bima), konsih atau kangean (Ambon), tamputi (Ternate) dan temu kondi (Bugis) (Rukmana, 2008) Morfologi Tanaman B. rotunda termasuk tanaman terna dengan ketinggian mencapai 13,5 cm. Daun tanaman berwarna hijau, helaian daun tegak, berbentuk lanset dengan ujung daun lancip dan berukuran panjang 21,4 cm dan lebar 10,1 cm. Pelepah daun berwarna merah. Jumlah daun sekitar lima helai setiap pohon. Kelopak bunga berwarna ungu dengan ujung bagian atas berwarna merah. Bunga muncul dari ketiak daun, pada bagian atas berwarna ungu sedangkan pada bagian bawah berwarna putih. Rimpang berbentuk bulat

26 11 dikelilingi oleh anak-anak rimpang yang berbentuk agak memanjang dengan ujung gemuk. Kulit rimpang berwarna putih kotor, sedangkan daging berwarna kuning muda, berasa enak dan berbau harum. Kedalaman rimpang mencapai 4,5 cm dan panjang akar 19,8 cm. Ketebalan rimpang muda 0,76 cm dan ketebalan rimpang tua 1,73 cm. Jumlah rimpang muda 0,76 cm dan ketebalan rimpang tua 1,73 cm. Jumlah rimpang muda setiap rumpun sekitar dua belas sedangkan rimpang tau sekitar sembilan (Rukmana, 2008) Aktivitas Farmakologi dan Kandungan Kimia Bagi berbagai kelompok masyarakat B. rotunda dimanfaatkan sebagai obat tradisional antara lain obat afrodisiak, mengatasi ganguan kolik (Taweechaisupapong et al., 2010), juga dipakai sebagai campuran minuman tonik bagi ibu pasca melahirkan (Silalahi, 2017). Dari berbagai laporan ilmiah ternyata B. rotunda dapat digunakan sebagai antitumor (Murakami et al., 1993), anti-inflammatori (Pathong et al., 1989; Yun et al., 2003: Kato et al. 2013; Kim et al. 2013), anti oksidatif (Kim et al. 2013; Yun et al., 2003; Cahyadi et al., 2014), analgesik, antipiretik (Pathong et al., 1989) dan anti obesitas (Kim et al., 2013; Kim et al., 2011). Selain terbukti digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit pemberian ekstrak dari B. rotunda ternyata mengahambat pertumbuhan fungi, khamir (Jantan et al, 2003 dan Chahyadi et al., 2014). Pada pemberian ekstrak B. rotunda, semua hewan hidup dan tidak menunjukkan tanda-tanda toksisitas bahkan pada dosis tertinggi yang digunakan 5 g/kg (Mahmood et al, 2010). Senyawa bioaktif yang terdapat dalam B. rotunda adalah flavonoid (chalcones, flavanones, dan flavones) dan minyak atsiri (terpinene, geraniol, camphor, αocimene, 1,8-cineole, myrcene, borneol, camphene, methyl cinnamate, terpineol, geranial, and neral) (Silalahi et al, 2017). Flavonoid lain juga terdapat pada B. rotunda diantaranya adalah boesenbergin, cardamonin, pinostrobin (Jaipetch et al., 1982).

27 Temu putih (Kaempfria rotunda L.) Gambar 2.4 Kaempfria rotunda (a) Rimpang segar (b) Rajangan (sumber: dokumentasi pribadi) Determinasi Tumbuhan Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledonae Ordo : Zingiberales Suku : Zingiberaceae Genus : Kaempfria Spesies : Kaempfria rotunda L. (Tjitrosoepomo, 1994) Nama Daerah Kunyit putih memiliki nama daerah kunci pepet, temu rapet, ardong (Jawa), kunir putih (Sunda), konce pet (Madura), temu putri, temu rapet (Melayu) Morfologi Tanaman K. rotunda merupakan tanaman semak yang tumbuh semusim dan memiliki tinggi cm. Batangnya berpelepah, lunak, membentuk rimpang, dan berwarna hitam keabu-abuan. Daunnya tunggal, lanset, ujung runcing, pangkal berpelepah, tepi rata, ibu tulang daun menonjol, panjang 70 cm, berwarna hijau muda. Bunganya majemuk, berbentuk tabung, kelopak lanset, memiliki panjang 4-8 cm, lebar 2-3,5 cm, mahkota panjang cm, benang sari dan putik kecil, berwarna putih.

28 13 Ciri-ciri spesifik K. rotunda adalah helaian daunnya berwarna hijau muda sampai hijau tua. Kulit rimpang berwarna putih saat masih segar dan menjadi kuning kecoklatan setelah kering. Daging rimpang berwarna kuning muda dengan aroma harum seperti buah Mangga (Karyasari, 2011) Aktivitas Farmakologi dan Kandungan kimia Rimpang K. rotunda diketahui memiliki sifat hemostatis (menghentikan pendarahan), menambah nafsu makan, analgesik, antitoksik, dan mempercepat penyembuhan luka (Yellian, 2011). K. rotunda juga diketahui memiliki aktivitas antioksidan dan antielastase (Desmiaty et al, 2018). Ekstrak kloroform K. rotunda juga ditemukan memiliki aktivitas antioksidan berdasarkan metode Folin Cholceau (Sundari, 2013). Pengujian secara invitro menunjukkan K. rotunda dapat meningkatkan jumlah limfosit, antibodi spesifik dan dapat membunuh sel kanker (Dalimarta, 2003). Uji Toksisitas akut oral dari ekstrak K. Rotunda serta fraksinya dilakukan pada dosis uji tunggal 2000 mg/kg p.o dan tidak menunjukkan adanya tanda tanda toksisitas selama penelitian (Sini et al, 2014). Kandungan kimia yang terdapat di dalam temu putih antara lain saponin, polifenol, curcumin, flavonoid, crotepoksida, kalkon, quersetin, flavonol, B-sitosterol, stigmosterol asam protoprotekuat 2-norbornane, 3-methylene, caryophylene oxide, cyclopentane acetaldehyde, caryophylene dan cinnamyltiglate (Pai, 1970). 2.2 Hipertensi Definisi Hipertensi Hipertensi adalah kenaikan tekanan arterial di atas nilai relatif normal. Tekanan darah diatas nilai 140/90 mmhg dikatakan tekanan darah tinggi (hipertensi), pengukuran tekanan darah didasarkan pada pengukuran tekanan darah sistolik dan diastolik. Klasifikasi tekanan darah manusia dewasa, menurut The Seventh Joint Committee of

29 14 Prevention and Treatment of High Blood Pressure dapat dilihat pada tabel 2.1 Tabel 2.1 Klasifikasi Tekanan Darah Manusia Dewasa Pada JNC 7 Klasifikasi Tekanan Darah TDS (mmhg) TDD (mmhg) Normal <120 <80 Pre Hipertensi Hipertensi Stadium Hipertensi Stadium 2 >160 > Etiologi Hipertensi Berdasarkan etiologinya, hipertensi dibagi atas hipertensi esensial dan hipertensi sekunder (Hadiyanto, 2009). a. Hipertensi esensial, juga disebut hipertensi primer atau idiopatik, adalah hipertensi yang tidak jelas penyebabnya. Lebih dari 90% kasus hipertensi termasuk dalam kelompok ini. Penyebab hipertensi esensial adalah multifaktor yang terdiri dari faktor lingkungan dan genetik. Faktor genetik ini dapat berupa sensitivitas terhadap garam natrium, kepekaan terhadap stress, peningkatan terhadap vasokonstriktor dan resistensi insulin. Paling sedikit ada tiga faktor lingkungan pemicu hipertensi, yaitu makan garam (natrium) berlebih, stres dan obesitas. b. Hipertensi sekunder, prevalensinya hanya 5-8% dari seluruh penderita hipertensi. Hipertensi sekunder dapat disebabkan karena penyakit ginjal (hipertensi endokrin), obat dan penyakit lain Patofisiologi Hipertensi Hipertensi ditandai dengan adanya gangguan arteri di jaringan vaskular, seperti arteri saluran besar (seperti aorta), arteri kecil ( μm), dan mikrosirkulasi (arteriol dan kapiler). Hipertensi juga terjadi dikarenakan adanya peningkatan sensitivitas terhadap radikal bebas karena disregulasi pada sintase nitrit oksida endotel (enos) dan pro-oksidan enzim, peningkatan kadar kalsium basal dan permeabilitas kalsium

30 15 transmembran yang terlalu aktif melalui saluran kalsium, dan atau adanya proliferasi otot polos vaskular sel (VSMC) menyebabkan peningkatan vasokonstriksi sehingga terjadi hipertensi. a. Proliferasi sel otot polos vaskular (VSMC) Proliferasi otot polos vaskular berkontribusi dalam peningkatan tahanan tepi dengan cara menurunkan diameter arteri (Oparil et al, 2013). Proses proliferasi ini terjadi karena adanya faktor faktor pendorong yang membuat sel terus menerus berada pada fase G1 dalam jangka waktu yang lama sehingga terjadi pembelahan sel abnormal pada pembuluh darah dan mempersempit diameter pembuluh darah tersebut. Faktor pendukung tersebut antara lain thrombin, IL-6, endotelin-1, platelet derived growth factor, fibroblast growth factor dan termasuk juga Angiotensin II. Sedangkan substansi yang dapat menginhibisi proliferasi ini adalah nitrit oksida dan vasodilator lainnya seperti guanosine monophospate (cgmp) dan adenosine monophospate yang teraktivasi protein kinase (Song dan Zou, 2012) b. Sel Endotelial Endotelial berfungsi mengatur regulasi dan memelihara berbagai macam reseptor permukaan sel yang menginduksi pelepasan substansi vasoaktif untuk meregulasi vascular tone dan proliferasi sel otot polos. Ketidakseimbangan antara substansi vasodilator dan vasokonstriktor disebabkan oleh peningkatan kadar radikal bebas atau reactive oxygen species (ROS) dalam tubuh yang akhirnya memicu kerusakan endotelial dan terjadi hipertensi (Silva et al, 2012). c. Mekanisme Persinyalan Molekuler Hipertensi kerap dikaitkan dengan ketidakseimbangan persinyalan molekuler. Untungnya, beragam tanaman dan ekstrak herbal dengan metabolit sekundernya dapat memodulasi signalling cascades terlibat dalam fisiologi sistem kardiovaskular. Persinyalan molekuler tersebut antara lain:

31 16 Reactive Oxygen Species (ROS) ROS atau yang dikenal sebagai radikal bebas seperti anion superoksida dan ion hidroksil memainkan peran utama dalam meningkatan stres oksidatif yang menjadi penyebab primer terjadinya hipertensi dan stres patologis lainnya seperti aterosklerosis dan komplikasi vaskular lainnya. ROS diproduksi oleh NADPH oksidase dan reaksi enzimatik laindidalam mitokondria sel dimana proses ini dapat diinhibisi oleh senyawa senyawa antioksida (Anwar et al, 2016). Nitrogen Oksida (NO) Nitrogen oksida diproduksi dari L-arginin oleh nitric oxide synthase yang salah satunya terdapat pada sel endotelial di pembuluh darah. Oleh karena itu, keberadaan nitrogen oksida ini menjadi indikatoor pengenal kesehatan fungsi sel endotelial dikarenakan NO memiliki potensi vasodilator dengan cara menginhibisi proliferasi sel otot vaskular ataupun mencegah agregasi platelet oleh tromboksan (Francis et al, 2010). Angiotensin II Angiotensin II memediasi hipertensi dengan cara meningkatkan retensi air dan natrium serta meningatkan vasokonstriksi dengan cara mengikat reseptor AT1 yang akan memicu proliferasi sel otot polos vaskular (Savoia et al, 2011). Penghambatan terhadap AT1 ini dapat meningkatkan fungsi endotelial dan menurunkan tekanan darah. Nuclear Factor Kappa B NF Kappa B merupakan faktor transkripsi yang menginduksi disfungsi el endotelial, stres oksidatif dan inflamasi melalui pelepasan sitokin pro inflamasi seperti TNF-alfa dan IL-6 sehingga sangat berimplikasi pula pada hipertensi (Kang et al, 2009).

32 Pengobatan Hipertensi Pengobatan antihipertensi bertujuan untuk menurunkan tekanan darah dibawah 140/90 mmhg. Pada pengobatan awal dapat digunakan monoterapi dengan satu obat, jika perlu dosis dapat ditingkatkan secara gradual sampai pada tingkat efektivitas atau timbul efek samping terbatas. Walaupun monoterapi dapat meningkatkan kepatuhan pasien, dua per tiga pasien memerlukan lebih dari satu jenis obat. Jika digunakan dua atau lebih jenis obat, harus dipilih obat dengan mekanisme fisiologik yang berbeda, misalnya lebih menguntungkan mengkombinasikan fisiologik yang berbeda. Pemilihan obat hipertensi esensial selain perlu diperhatikan umur, ras, riwayat penyakit kardiovaskuler, merokok, obesitas dan juga pengurangan aktivitas juga perlu diperhatikan adanya penyakit lain seperti penyakit ginjal, penyakit jantung iskemik, gagal jantung, stroke terdahulu atau diabetes, masing masing faktor tersebut harus dipertimbangkan. Berikut adalah beberapa terapi yang disarankan bagi para penderita hipertensi: 1. Terapi Farmakologi Ukuran tekanan darah dijadikan pedoman dalam memberikan obat. Obat yang diberikan digolongkan menjadi: 1) Diuretik Diuretik mempunyai efek antihipertensi dengan cara menurunkan volume ekstraseluler dan plasma sehingga terjadi penurunan curah jantung. Obat diuretik mempengaruhi ginjal, kadar garam di dalam tubuh dikeluarkan bersamaan dengan zat cair yang ditahan oleh garam (A.P Bangun, 2002). Efek samping diuretik adalah berkurangnya kalium dan magnesium yang berakibat kemungkinan meningkatnya kadar kolesterol, encok, gangguan fungsi (disfungsi) seksual pria, dan yang paling fatal adalah terjadinya payah jantung (Lanny Sustrani, 2006). Contoh dari obat ini adalah diuretik tiazid (hidroklorotiazid, metolazon);

33 18 diuretik loop (furosemid, bumetanid) dan diuretik hemat kalium (amilorid). 2) Penghambat beta / Beta Blocker Beta bloker akan mengantagonis beta-adrenoreseptor sehingga terjadi penurunan curah jantung, penurunan tekanan perifer dan penurunan absorbsi natrium yang diperentarai aldosteron. Beta blocker yang selektif (dikenal juga sebagai cardioselective beta blockers), misalnya bisoprolol, bekerja pada reseptor β1, tetapi tidak spesifik untuk reseptor β1. Beta blocker yang non selektif (misalnya propanolol) memblok reseptor β1 dan β2. Beta blocker yang mempunyai aktivitas agonis parsial (dikenal sebagai aktivitas simpatomimetik intrinsic), misalnya acebutolol, bekerja sebagai stimulan beta pada saat aktivitas adrenergik minimal (misalnya saat tidur) tetapi akan memblok aktivitas beta pada saat aktivitas adrenergik meningkat (misalnya saat berolah raga). Hal ini menguntungkan karena mengurangi bradikardi pada siang hari. Beberapa beta blocker, misalnya labetolol, dan carvedilol, juga memblok efek adrenoseptor alfa perifer. Beta blocker tidak boleh dihentikan mendadak melainkan harus secara bertahap, terutama pada pasien dengan angina, karena dapat terjadi fenomena rebound. 3) Vasodilator/ Inhibitor ACE (Angiotensin Converting Enzyme) Inhibitor ACE membantu mengendurkan pembuluh darah dengan menghalangi pembentukan bahan kimia alamiah dalam tubuh yang disebut angiotensin II (A.P Bangun, 2002). Termasuk dalam kelompok ini adalah kaptopril, rampiril, lisinopen dihidrat, enalapril maleat (Lanny Sustrani, 2006). 4) Inhibitor Ion Kalsium/ Calcium Channel Blocker Mencegah pengerutan atau penyempitan pembuluh darah dengan menghambat kalsium memasuki sel otot pembuluh darah. Aliran darah meunjadi terbuka dan darah dapat mengalir lebih lancar untuk menurunkan tekanan darah kembali normal (Lanny

34 19 Sustrani, 2006). Calcium Channel Blocker (CCB) membantu mengendurkan pembuluh-pembuluh darah dan mengurangi aliran darah (A.P. Bangun, 2002). Contoh dari CCB golongan dihidropiridin adalah amlodipin, felodipin, nifedipin. Sedangkan contoh dari CCB golongan nondhidropiridin adalah diltiazem dan verapamil. 5) Alpha Blocker Menghambat produksi adrenalin (penyebab naiknya tekanan darah), sehingga dapat menurunkan kembali tekanan darah. Untuk pengobatan awal hipertensi, alpha blocker bukanlah obat yang tepat sehingga jarang digunakan. Termasuk dalam kelompok ini adalah doksazosin dan prazosin HCl (Lanny Sustrani, 2002). 2. Mengubah Gaya Hidup Menurut A.P. Bangun (2002), selain mengkonsumsi obat-obatan terdapat hal hal yang dapat menunjang pengobatan hipertensi. Yakni dengan perubahan gaya hidup. Beberapa hal yang menjadi kunci utama dalam mengubah gaya hidup untuk pengobatan hipertensi sebagai berikut: 1) Mengurangi kelebihan bobot badan 2) Membatasi asupan alkohol 3) Olahraga aerobik secara teratur 4) Membatasi asupan natrium 5) Berhenti merokok 6) Mengurangi lemak 7) Peranan kalium 3. Back to Nature/ Non Farmakologis Hipertensi yang tidak dirawat dapat membawa dampak buruk. Selain menggunakan pengobatan medis dan mengubah gaya hidup, masih ada cara lain yaitu dengan terapi jus dan ramuan tradisional. Terapi jus dan ramuan tradisional merupakan obatobatan yang hanya terdiri dari bahan tumbuh-tumbuhan dan buahbuahan yang dapat membantu tubuh untuk menyembuhkan diri

35 20 sendiri. Usaha mengatasi penyakit seperti ini bersifat back to nature atau kembali ke alam (A.P. Bangun, 2002) Propanolol Gambar 2.5 Struktur Kimia Propanolol (sumber : Propanolol merupakan golongan beta blocker non selektif, sehingga mempunyai afinitas yang sama terhadap kedua reseptor, baik β1 maupun β2. Propanolol bekerja dengan cara menghambat stimulus adrenergik dengan memblokade secara kompetitif reseptor beta adrenergik pada otot jantung, dalam bronkus dan otot polos pembuluh darah. Pengobatan menggunakan propanolol banyak digunakan untuk pengobatan angina pektoris, aritmia jantung dan hipertensi. Propanolol mengalami metabolisme lintas pertama di hati oleh CYP2C19 dan 2D6 pada pemakaian oral, sehingga bioavailabilitasnya rendah antara 15-23%. Ekskresi propanolol dalam bentuk utuh dalam urin <1%, dengan waktu paruh yang relatif pendek, berkisar antara 3-4 jam. Efek samping yang mungkin timbul diantaranya bradikardia, bronkospasme, kelelahan, gangguan saluran cerna dan psoriasis. Dosis awal propanolol untuk manusia adalah 40 mg 2 kali sehari sedangkan dosis pemeliharaan adalah mg 2-3 kali sehari dengan dosis maksimal 640 mg/hari. (Rao, 2003 dan Aberg et al., 2009). 2.3 Peran Herbal pada Pengobatan Hipertensi Pengendalian tekanan darah yang ideal adalah dengan cara menurunkan Systemic Vascular Resistance (SVR) dan mempertahankan Cardiac Output (CO) dan perlu diimbangi dengan regulasi tonus pembuluh

36 21 darah. Salah satu organ target pada pengobatan hipertensi yaitu pada pembuluh darah (sistem vaskular). Sistem vaskular yang berperan adalah otot polos dan endotel yang menyebabkan vasodilatasi dan vasokonstriksi. Pada dasarnya vasodilatasi ditentukan oleh relaksasi otot polos yang melibatkan fungsi endotel (Athiroh, 2012). Sel endotelium yang sehat mengontrol keseimbangan antara vasokonstriksi dan vasodilatasi, promosi dan inhibisi pertumbuhan sel, prokoagulasi dan antikoagulasi, proinflamasi dan antiinflamasi, serta oksidasi dan antioksidasi. Endotelium melakukan respon baik terhadap rangsangan fisik (misalnya shear stress) maupun terhadap senyawa kimia yang beredar dalam darah dengan mensintesis dan melepaskan banyak senyawa biologi aktif. Zat-zat ini berdifusi ke arah dinding pembuluh darah untuk mempengaruhi otot polos vaskuler dan sel-sel mononuklear atau juga dapat berdifusi ke arah lumen yang dapat mempengaruhi permukaan lumen pembuluh darah (Parmley, 1998). Senyawa-senyawa tersebut selanjutnya terlibat dalam pengaturan tonus vaskular dan mempertahankan fluiditas dari darah. Disfungsi endotel diartikan sebagai ketidakseimbangan antara faktor-faktor relaksasi dan kontraksi, antara faktor-faktor antikoagulan dan prokoagulan, antara faktorfaktor yang menghambat pertumbuhan dan proliferasi dengan yang memacu pertumbuhan dan proliferasi sel (De Meyer, 1997 dan Rubanyi, 1993). Endotel mensintesa Nitrit Oksida (NO) sebagai pemicu terjadinya relaksasi otot polos pada pembuluh darah.hipertensi memiliki keterkaitan erat dengan gangguan vasodilatasi yang terjadi karena menurunnya kadar nitrit oksida sehingga terjadi disfungsi endotel. Hal ini terjadi karena ketidakseimbangan antara radikal bebas dengan kemampuan eliminasinya oleh antioksidan dalam tubuh akan menyebabkan stress oksidatif. Senyawa radikal bebas yang terlalu berlebihan dapat menyebabkan kerusakan sel-sel jaringan tubuh (Athiroh, 2012)

37 22 Gambar 2.6 Sel Endotel Manusia (Sumber : Antioksidan merupakan molekul yang dapat menghambat proses oksidasi senyawa radikal bebas. Antioksidan mampu bekerja langsung pada otot polos pembuluh arteri dengan menstimulir atau mengaktivasi NO sehingga menyebabkan vasodilatasi. Antioksidan salah satunya flavonoid dapat meningkatkan aktivitas dari nitrit oksida di sel endotel dan mampu mampu mensintesa NO dalam endotel dan berdifusi secara langsung ke otot polos selanjutnya merangsang guanylate cyclase untuk membentuk cgmp sehingga terjadi vasodilatasi.( Ge et al., 1995). Gambar 2.7 Skema peran tumbuhan dalam penyembuhan patogenesis dari Hipertensi (Anwar et al., 2016)

38 23 Penggunaan herbal telah banyak digunakan sebagai pengobatan dikarenakan efek samping yang lebih sedikit. Mekanisme utama penggunaan herbal sebagai antihipertensi ditunjukkan pada Gambar 2.7. Herbal diantaranya mampu meningkatkan antioksidan seluler, sebagai ROS scavanger, menurunkan angiotensin II, menurunkan faktor faktor inflamasi, menginhibisi ACE dan meningkatkan bioavailabilitas NO dapat menurunkan stres oksidatif, menginhibisi fenotip sel otot polos vaskular. Tanaman juga dapat meningkatkan kadar prostaglandin yang berfungsi sebagai vasodilator beserta reseptornya serta menormalkan rute adrenalin dan jalur endotelin yang dimana muara akhirnya adalah meningkatkan vasodilatasi/ menurunkan vasokonstriksi sehingga menormalisasi hipertensi (Anwar et al, 2016). 2.4 Ekstraksi Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua tau hampir semua perlarut diuapkan dan massa serbuk atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Depkes RI, 1995). Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Ekstraksi terdiri dari dua cara yaitu dengan cara dingin dan panas. a. Cara dingin - Maserasi, yaitu proses ekstraksi simplisia menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur kamar. - Perkolasi, yaitu ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru hingga sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan. b. Cara panas - Refluks, yaitu proses ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik. Umumnya

39 24 dilakukan pengulangan proses pada residu pertama 3-5 kali sehingga didapat proses ekstraksi sempurna. - Soxhlet, yaitu ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik. - Digesti, yaitu maserasi kinetik dengan pengadukan kontinu pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur kamar yaitu, C. - Infus,yaitu ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur penangas air, yaitu C selama menit. - Dekok, yaitu infus pada waktu yang lebih lama ( >30 menit) dan temperatur sampai titik didih air. 2.5 Model Hewan Hipertensi Hewan model hipertensi dapat menggambarkan sebagian gambaran hipertensi pada manusia. Hewan yang dijadikan model hipertensi harus memenuhi kriteria sebagai berikut: termasuk kelompok hewan kecil, mudah diperlakukan dan diperbanyak, dapat digunakan untuk menduga potensi obatobat antihipertensi, dapat bertahan dengan mengkomsumsi makanan yang dibatasi, dan dapat dibandingkan dengan hipertensi pada manusia. Hewan yang banyak digunakan sebagai model hewan hipertensi yaitu anjing, tikus, kelinci, monyet, babi, dan mencit. Tikus merupakan hewan uji yang paling sering digunakan dibandingkan model hewan hipertensi lain (Badyal et al. 2003). Tekanan darah sistol normal untuk tikus putih jantan adalah 122,25±7,63 mmhg dan diastol 78±9,44 mmhg. Apabila tekanan darah diatas normal maka dapat dikatakan hipertensi (Lailani et al., 2012) Model tikus hipertensi karena stress Pemberian tikus yang diberi stress dengan kejutan listrik pada kaki dan bunyi bunyian dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung. Hal ini disebabkan karena adanya peningkatan adrenalin dan noradrenalin secara bermakna. Perubahan fungsional tekanan darah pada beberapa

40 25 tempat dapat disebabkan oleh stress akut, bila berulang secara intermitten beberapa kali dapat menyebabkan suatu adaptasi structural hipertrofi kardiovaskular. Bila ini terjadi pada tingkat vaskular maka akan ada resistensi yang menyebabkan peningkatan rasio dinding pembuluh dengan lumennya. Hal ini kemudian mempertinggi pengaruh hemodinamik tekanan. Kemudian besar bahwa faktor-faktor tropik neurohormonal adalah penting dalam perkembangan hipertensi jangka panjang yang mengikuti perpanjangan stress penginduksi hipertensi (Badyal et al, 2003) Model spontaneous hypertension rat (SHR) SHR telah banyak digunakan untuk mengevaluasi faktor faktor genetik dalam hipertensi. Pada model SHR terjadi kerusakan organ akhir seperti hipertrofi jantung, gagal jantung, dan disfungsi ginjal. Namun, tidak menunjukkan masalah pada pembuluh darah, aterosklerosis atau terombosis vaskular makroskopik, tidak memiliki kecenderungan yang kuat untuk mati (Pinto, et al., 1998; Badyal, et al., 2003) Model tikus hipertensi karena pemberian mineralkortikoida Deoksikortikosteron adalah hormon steroid yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal yang memiliki aktifitas sebagai mineralkortikoid dan bertindak sebagai prekusor aldosteron. Deoksikortikosteron asetat (DOCA)-gaaram merupakan salah satu model hipertensi sekunder karena pengaruh endokrin (hormon). Deoksikortikosteron merupakan salah satu hormon yang dihasilkan di korteks adrenal, selain aldosteron. Hormon ini mengatur keseimbangan elektrolit dengan meningkatkan retensi natrium dan ekskresi kalium. Aktivitas fisiologi selanjutnya membantu dalam mempertahankan tekanan darah normal dan curah jantung. Kelebihan mineralkortikoid menyebabkan hipertensi dan hipokalemia (Sjakoer, N.A.A., 2011) Model DOCA-garam lebih visibel untuk dijadikan model hipertensi hewan coba. Hal hal yang mendukung yaitu: pemaparan DOCA-garam lebih cepat meningkatkan tekanan darah yaitu 1 bulan pemaparan atau pada minggu ke 8 terjadi kenaikan tekanan darah. Wang, et al. (1995) melaporkan bahwa pemberian 100 mg DOCA-garam secara

41 26 subkutan pada tikus yang telah di uninefrektomi (dibedah salah satu ginjalnya) kemudian tikus diberi larutan garam 1% sebagai air minumnya, setelah tiga minggu terjadi hipertensi (Sjakoer, N.A.A., 2011) Model tikus hipertensi karena inaktivasi NO (Nitrit Oksida) enos (endothelial nitrit oksida sintase) adalah enzim yang mengaktivasi NO yang merupakan pengatur tegangan vaskular dan kontraktilitas miokardial dan menghambat agregasi platelet serta bertanggung jawab terhadap perkembangan hipertensi dan aterosklerosis. enos dapat dihambat oleh L-NAME (N-nitro-L arginin metil ester) dan nitro-l-arginin. Pemberian kronis L-NAME meningkatkan tekanan darah sistolik dan denyut jantung dan menurunkan fungsi renal. Model ini secara teknis lebih mudah dan mortalitas rendah (Doggrell, S.A dan Brown, L., 1998). Aktivasi NO juga bisa dihambat oleh penghilangan gluthathione (GSH). GSH merupakan tripeptida yang tersusun atas asam amino glutamat, sistein dan glisin dan dapat berperan sebagai antioksidan (Winarsi, H., 2007) Model tikus hipertensi karena induksi fruktosa Penelitian Dai, S. dan McNeill, J.H. (1995) melaporkan induksi 10% fruktosa dalam minuman tikus sehat Wistar (ekuivalen dengan diet yang mengandung 48-57% selama satu minggu atau lebih menyebabkan hipertensi yang diikuti peningkatan kadar insulin (hiperinsulinemia), glukosa dan trigliserida dalam darah. Semua kondisi abnormal ini akan hilang setelah pengurangan konsumsi fruktosa Model tikus hipertensi karena PTU, Adrenalin dan NaCl Propiltiourasil (PTU) adalah derivat primidin yangmerupakan analog dari metiltiourasil, yaitu zatantitiroid pertama (1945). PTU berkhasiat sebagai antitiroid yang menekan produksi hormon tiroid. Pemberian obat ini kadang disertai keluhan takikardi dan kegelisahan. Adrenalin merupakan zat adrenergik, salah satu khasiatnya dalah bronkodilator terkuat dengan kerja cepat tetapi singkat dan digunakan untuk serangan asma yang hebat. Adrenalin akan menimbulkan aritmia pada dosis yang lebih tinggi. Adrenalin secara oral tidak aktif (Tan Hoan

42 27 Tjay dan Rahardja, K., 2007). Sedangkan Natrium Klorida (NaCl) yang diasup lebih dari 6 gram perhari akan meningkatkan tekanan darah dan semakin meningkat usianya maka semakin meningkat pula tekanan darahnya. Uji preklinis juga membuktikan fenomena tersebut akan menyebabkan hipertensi pada hewan coba tikus, kelinci dan anak ayam dengan mengganti air minum dengan NaCl 1-2% selama 9 minggu-12 bulan (Badyal et al., 2003). 2.6 Adrenalin Adrenalin atau epinephrine merupakan suatu hormon yang merangsang sistem saraf simpatis (adrenergik). Adrenalin disintesis di medulla ginjal dengan bantuan enzim phenyletholamine-n-methyltrasferase (PNMT) (Klabunde, 2012). Peningkatan hormon adrenalin distimulasi oleh keadaan stres yang dipicu oleh perasaan takut atau kekhawatiran yang berlebihan. Dimana kondisi ini dapat memodulasi pelepasan noradrenalin sehingga mengaktivasi sistem saraf simpatik yang erat kaitannya dengan regulasi terjadinya peningkatan tekanan darah atau hipertensi (Anwar et al., 2016). Noradrenalin merupakan suatu neurotransmitter (NT) yang prekusornya adalah asam amino tirosin. Regulasi pelepasan dari noradrenalin adalah sebagai berikut (Klabunde, 2012) : 1. Asam amino tirosin bergerak menuju akson sistem saraf simpatik kemudian dikonversi menjadi DOPA oleh enzim tyrosine hydroxylase. 2. Dopamin merupakan NT yang penting bagi otak selanjutnya bergerak menuju vesikel saraf, kemudian diubah menjadi norepinefrin (noradrenalin) oleh enzim dopamin beta hydroxylase. 3. Pembentukan norepinefrin dalam vesikel menstimulasi potensial aksi yang menyebabkan ion Ca 2+ masuk ke dalam sel. 4. Peningkatan ion Ca 2+ akan menstimulasi pergerakan vesikel yang kemudian akan melepaskan NT norepinefrin (noradrenalin)

43 28 menuju daerah post junction untuk selanjutnya berikatan dengan reseptor. Gambar 2.8 Aktivitas Molekuler Adrenalin pada Sistem Saraf Simpatik (sumber : Adrenalin bekerja pada tempat reseptor adrenergik non selektif, yakni pada reseptor α1, β1, dan β2. Adrenalin mempengaruhi sistem saraf simpatis dengan merangsang pembuluh darah sehingga kelenjar adrenal ikut terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi (Rohaendi, 2008) Mekanisme kerja lain dari adrenalin adalah pada kardiovaskular pada sistem kardiovaskular. Pada kardiovaskular adrenalin dapat meningkatkan daya konotropik positif (mempercepat daya kontraksi otot) jantung yang akan menyebabkan curah jantung meningkat sehingga mempengaruhi kebutuhan efek oksigen dari otot jantung. Adrenalin juga mengkontriksi arteri di kulit

44 29 (vasokontriksi), membran mukosa, dan viseral sehingga dapat terjadi hipertensi (Hoffman, 2012). Gambar 2.9 Struktur Kimia Adrenalin (sumber: Adrenalin seringkali digunakan dalam keadaan gawat darurat untuk mengatasi anafilaksis yang merupakan respon alergik yang mengancam nyawa. Obat ini merupakan inotropik (daya konstriksi otot) kuat. Dosis tinggi dapat menyebabkan aritmia jantung sehingga perlu dipantau dengan elektrokardiogram (Kee, 1996). Efek samping yang dapat ditimbulkan oleh epinephrine adalah beberapa gejala negatif pada aktivitas metabolisme organ tubuh berupa palpitasi, tremor, takikardia, aritmia, hipertensi, pendarahan otak, dan edema akut paru (Kinnear, 2011). 2.7 Metode Pengukuran Tekanan Darah pada Tikus Pengukuran Darah Secara Langsung Cara pengukuran darah secara langsung dilakukan dengan cara mencari arteri karotis kanan atau kiri dikateterisasi dengan kateter plastik yang diletakkan di dalam arkus aorta. Kateter harus melewati area subkutan dan eksterior dorsales pada leher sekitar 2 cm. Kateter terlebih dahulu diisi dengan larutan salin-heparin (10-25 iu heparin/ml) dan dijepit dengan suatu penjepit khusus. Tikus kemudan dipulihkan kembali dari proses katerisasi dan dipakai kembali sebagai hewan coba setelah tiga hari atau lebih. (Kateter karotis sebaiknya dibersihkan setiap hari untuk menjaga kualitas dan hanya digunakan untuk pengukuran tekanan darah). Denyut darah pada arteri karotis karotis menyebabkan perubahan tekanan

45 30 pada larutan salin-heparin yang ditransmisikan ke transduser dan terekam sebagai grafik yang rapat. Alternatif lain dari katerisasi arteri karotis, yaitu dengan katerisasi pada ekor tikus (Waynforth, H.B., 1980). Juga terdapat cara lain yakni mengisolasi arteri karotis di bagian bawah trakea. Salah satu arteri karotis diisolasi dan diangkat dan diregangkan dengan menggunakan pinset tumpul. Arteri karotis dipisahkan dari saraf vagus yang menempel padanya. Arteri karotis ke arah distal diikat dengan menggunakan benang. Pada bagian bebasnya dimasukkan kanula yang telah dihubungkan dengan manometer air raksa. Kemudian diikat dengan benang agar posisinya tidak berubah kemudian regangan dilepaskan.untuk mencegah darah membeku, kanula terlebih dahulu dengan larutan salin-heparin encer. Secara perlahan-lahan darah dari dalam arteri karotis akan mendesak cairan salin-heparin di dalam kanula dan akhirnya menekan air raksa di tabung sebelah kiri baah dan mendorong air raksa di tabung sebelah kanan ke atas. Perbedaan tinggi air raksa pada tabung sebelah kiri dan kanan manometer air raksa menunjukkan tekanan darah arteri rata-rata (Andrajati et al., 2012) Pengukuran Darah Secara Tidak Langsung Teknik ini menggunakan tempat khusus (cuff) dan detektor denyut, keduanya diletakkan pada ekor tikus dan dihubungkan dengan perekam tekanan darah.adapun prinsip kerja dari pengukuran darah tersebut adalah cuff digelembungkan sampai mencapai tekanan darah di atas tekanan darah sistolik, sehingga nadi menghilang kemudian tekanan cuff akan berkurang perlahan-lahan. Pada saat tekanan darah mencapai dibawah tekanan sistolik nadi akan muncul kembali dan cara pengukuran ini sesuai dengan cara pengukuran tekanan darah menggunakan sphigmomanometer pada manusia (Fitriany et al., 2017). Pada permulaan, tikus harus dihangatkan dengan suhu 37 0 C pada papan yang hangat sekitar 15 menit (jika tida hangat denyut tidak terdeteksi pada detektor). Pada cuff dipasang karet disposibel, yang dipasang pada ekor tikus, kemudan diikuti dengan cuff sebagai detektor denyut. Pada permulaan denyut tikus dicoba dahulu dan apabila hasilnya

46 31 baik maka perekaman dapat dimulai dan denyut akan tercatat. Cuff otomatis akan mengembang menekan ekor tikus yang dialiri darah dan denyut aliran darah akan terdeteksi. Denyut yang terkukur ini merupakan tekanan darah sistolik tikus. Biasanya dibutuhkan empat kali atau lebih pengukuran untuk masing-masing hewan coba, yang kemudian diambil rata-ratanya. Rata-rata denyut jantung juga terukur setelah perekaman tekanan darah dan tikus tampak tenang (Waynforth, H.B.,1980). 2.8 Tikus Putih Jantan (Rattus novergicus) galur Sprague Dawley Tikus merupakan nama umum untuk sejumlah anggota dari famili rodentia (Krinke, 2000). Menurut Krinke, klasifikasi tikus putih (Rattus novergicus) adalah: Filum : Chordata Kelas : Mammalia Ordo : Rodentia Suborder : Myomorpha Famili : Muridae Genus : Rattus Spesies : R. novergicus Tikus putih memiliki sifat yang menguntungkan sebagai hewan uji diantaranya perkembangbiakannya cepat, mempunyai ukuran yang lebih besar dari mencit, mudah dipelihara dalam jumlah banyak, tikus putih juga memiliki ciri-ciri morfologis seperti albino, kepala kecil, dan ekor yang lebih panjang dibandingkan badannya, tempramennya baik, kemampuan laktasi tinggi dan tahan terhadap arsenik tiroksid (Budhi Akbar, 2010). Tikus putih (Rattus novergicus) banyak digunakan sebagai hewan percobaan pada berbagai penelitian. Terdapat tiga galur tikus putih yang memiliki kekhususan untuk digunakan sebagai hewan percobaan antara lain Wistar, long evan dan Sprague Dawley (Malole dan Pramono 1989). Tikus Sprague Dawley merupakan jenis outbreed tikus albino serbaguna secara ekstensif dalam riset medis. Keuntungan utamanya adalah ketenangan dan kemudahan penangannnya. Adapun data biologis tikus sebagai berikut:

47 32 Tabel 2.2 Data biologis tikus putih (Smith dan Mangkoewidjojo, 1988) Lama hidup Lama bunting Umur dewasa Berat dewasa Denyut jantung Tekanan darah Aktivitas Konsumsi makanan 2-3 tahun, dapat sampai 4 tahun hari 2-3 bulan g jantan; g betina /menit, turun menjadi 250 dengan anastesi, naik sampai 550 dalam stress 122,25±7,63 mmhg dan diastol 78±9,44 mmhg. Nokturnal (malam) g/ hari (dewasa)

48 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Tempat Dan Waktu Penelitian Tempat Penelitian ekstrak etanol Z. officinale, Z. purpureum, B. rotunda dan K. rotunda serta uji aktivitas antihipertensi secara invivo dilaksanakan Laboraturium Fitokimia dan Animal House, Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Waktu Penelitian ini dimulai pada bulan Maret 2018 sampai dengan Juli Alat dan Bahan Alat A. Ekstraksi dan Skrining Fitokimia Vacuum rotary evaporator (SB-1000 Eyela), digital water bath (SB-100 Eyela), timbangan analitik (AND), shaking bath, oven, cawan penguap, piknometer, kertas saring bebas abu, vortex, termometer, alumunium foil, kertas saring, kapas, beker gelas (Schott Duran), gelas ukur 100 ml (YZ), corong (Schott Duran), erlenmeyer 1000 ml (Schott Duran), pipet tetes, tabung reaksi (IWAKI PYREX), rak tabung reaksi, batang pengaduk, kaca arloji, spatula, plat tetes, botol kaca gelap B. Studi invivo CODA non invasive blood pressure (Kent Scientific), timbangan hewan uji, kandang tikus polystirene, syringe 1cc (Terumo), needle 30 (BD) dan sonde lambung Bahan A. Tanaman Uji Bahan uji yang digunakan adalah rimpang tanaman Z. officinale, Z. purpureum, B. rotunda dan K. rotunda. Rimpang tanaman ini diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BALITRO) Bogor. 33

49 34 B. Hewan Uji Hewan uji yang digunakan adalah tikus putih (Rattus novergicus) dewasa jantan galur Sprague Dawley, bobot gram, berumur 14 minggu yang diperoleh dari Institut Pertanian Bogor. C. Pereaksi Skrining Fitokimia Pereaksi Dragendrof, pereaksi Mayer, asam sulfat pekat, natrium hidroksida, asam asetat glasial, klorofom, ferri klorida, asam klorida, asam asetat anhidrat pekat, HNO3 pekat, HClO4, bubuk Mg. D. Studi invivo Aquades, epinefrin injeksi (Ethica) dan propanolol (Indofarma). 3.3 Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang dilakukan untuk mengetahui adanya aktivitas antihipertensi dari ekstrak etanol 70% rimpang Z. officinale, Z. purpureum, B. rotunda dan K. rotunda pada tikus putih jantan galur Sprague Dawley yang diinduksi adrenalin selama 7 hari ini merupakan eksperimental sungguhan dengan pendekatan randomized controlled group pretest-posttest design dimana pengelompokkan kelompok kontrol (normal, positif dan normal) dan kelompok perlakuan (ekstrak Z. officinale, Z. purpureum, K. rotunda dan B. rotunda) dilakukan secara acak. Pretest dilakukan kepada kelompok kontrol maupun pada kelompok perlakuan, kemudian intervensi dilakukan hanya pada kelompok perlakuan berupa penginduksian hipertensi dengan mengggunakan adrenalin 1 mg/kgbb secara intraperitonial dan pemberian ekstrak uji masing masing 500 mg/kgbb selama 7 hari berikutnya. Terakhir dilakukan posttest pada kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan. Pengukuran parameter uji meliputi tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik dan heart rate dilakukan pada hari ke-0, 7 dan 14. Penggunaan kelompok kontrol normal pada penelitian kali ini bertujuan untuk menjamin bahwa perubahan yang terjadi pada variabel dependen merupakan hasil dari intervensi pemberian ekstrak tanaman yang diujikan. Pengelompokkan hewan uji pada penelitian kali ini tertera pada tabel 3.1.

50 35 Tabel 3.1 Pembagian kelompok dan pemberian dosis Kelompok Kontrol (+) Kontrol (-) Jumlah Tikus (ekor) 7 7 Normal 7 Z. officinale Z. purpureum B. rotunda K. rotunda Periode Induksi (Hari 0-7) adrenalin 1 mg/kgbb dan pengukuran parameter uji di hari ke-0 dan hari ke-7 adrenalin 1 mg/kgbb dan pengukuran parameter uji di hari ke-0 dan hari ke-7 pengukuran parameter Uji di hari ke-0 dan hari ke-7 adrenalin 1 mg/kgbb dan pengukuran parameter uji di hari ke-0 dan hari ke-7 adrenalin 1 mg/kgbb dan pengukuran parameter uji di hari ke-0 dan hari ke-7 adrenalin 1 mg/kgbb dan pengukuran parameter uji di hari ke-0 dan hari ke-7 adrenalin 1 mg/kgbb dan pengukuran parameter uji di hari ke-0 dan hari ke-7 Perlakuan Periode Percobaan (Hari 8-14) larutan propanolol 8.2 mg/kgbb dalam aquadest, pengukuran parameter uji di hari ke-14 larutan aquadest, pengukuran parameter uji di hari ke-14 larutan aquadest, pengukuran parameter uji di hari ke-14 larutan ekstrak 500 mg/kgbb aquadest pengukuran parameter uji di hari ke-14 larutan ekstrak 500 mg/kgbb dalam aquadest, pengukuran Parameter Uji di hari ke-14 larutan ekstrak 500 mg/kgbb dalam aquadest, pengukuran parameter uji di hari ke-14 larutan ekstrak 500 mg/kgbb dalam aquadest. pengukuran parameter uji di hari ke Variabel Penelitian A. Variabel Bebas Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pengaruh pemberian masing masing ekstrak etanol 70% dosis 500 mg/kgbb dari Z. officinale, Z. purpureum, K. rotunda dan B. rotunda serta pemberian propanolol sebagai kontrol positif pada tikus putih jantan galur Sprague Dawley yang diinduksi adrenalin. B. Variabel Terikat Variabel terikat atau parameter uji dalam penelitian ini adalah nilai tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik dan nilai heart rate yang

51 36 dihasilkan melalui pengukuran dengan alat CODA non invasive tail cuff blood pressure system. 3.5 Besar Sampel Besar sampel tikus mengacu pada General Guidelines for Methodologies on Research and Evaluation of Traditional Medicine (WHO, 2000) yang menyatakan bahwa untuk pengujian hewan pengerat masing masing kelompok terdiri dari setidaknya 5 ekor. Untuk menantisipasi adanya kematian hewan uji selama masa penelitian, maka peneliti menggunakan beberapa tambahan ekor hewan uji cadangan yang hanya akan digunakan apabila 5 ekor hewan utama dalam kelompok uji mati selama masa penelitian. 3.6 Langkah Kerja Penyiapan Simplisia dan Ekstrak Rimpang Z. officinale, Z. purpureum, B. rotunda dan K. rotunda dilakukan sortasi basah untuk memisahkan kotoran atau bahan-bahan asing lainnya yang menempel pada rimpang. Kemudian dilakukan pencucian untuk menghilangkan tanah dan pengotor lainnya yang masih menempel pada bahan yang sudah disortasi basah. Setelah itu, rimpang dipotong kecil menggunakan parutan dan pisau. Selanjutnya sampel dikering anginkan. Sampel yang telah kering, disortasi kering kemudian dihaluskan dengan menggunakan blender. Serbuk simplisia disimpan dalam wadah tertutup rapat dan terhindar dari cahaya matahari. Pembuatan ekstrak rimpang Z. officinale, Z. purpureum, B. rotunda dan K. rotunda dibuat dengan memaserasi 1,7 kg; 1,9 kg; 1,85 kg dan 1,7 kg masing masing simplisia kering yang sudah dibuat serbuk dengan menggunakan pelarut etanol 70%. Proses maserasi dilakukan sampai hasil maserat mendekati tidak berwarna dan setiap 24 jam dilakukan penyaringan. Maserat dikumpulkan lalu dikentalkan dengan menggunakan vacuum rotary evaporator. Kemudian dihitung rendemen dari ekstrak kental tersebut. % rendemen = Bobot ekstrak yang diperoleh (g) Bobot simplisia awal yang ditimbang (g) x 100 %

52 Skrining Fitokimia Ekstrak a. Flavonoid Alkaline reagen test: cuplikan ekstrak ditempatkan pada plat tetes kemudian tambahkan beberapa tetes NaOH akan membentuk warna kuning intens. Apabila warna kuning memudar setelah ditambahkan beberapa tetes cairan asam, maka diindikasi ekstrak mengandung senyawa flavonoid (Prashant et al, 2011) b. Terpenoid/Steroid Lieberman-Burchard: 2 ml larutan ekstrak diuapkan dalam cawan poreselen kemudian akan membentuk residu. Residu kemudian dilarutkan dalam 0,5 ml kloroform dan tambahkan 0,5 ml asam asetat anhidrat. Setelah itu tambahkan 2 ml H2SO4 pekat melalui dinding tabung. Apabila membentuk cincin kecoklatan atau violet pada perbatasan larutan, maka positif triterpenoid. Namun apabila terbentuk cincin biru kehijauan, maka positif mengandung steroid (Padmasari et al, 2013) c. Alkaloid Beberapa miligram ekstrak kental dilarutkan dalam 10 ml campuran aquadest: HCl 2N (9:1), panaskan diatas penangas air selama 2 menit. Kemudian dinginkan dan saring. Filtrat yang diperoleh dilakukan uji alkaloid dengan (Prashant et al, 2011 dan Padmasari, 2013) : - Meyer test : 1 ml filtrat + 2 tetes pereaksi Meyer. Apabila membentuk endapan putih, maka positif mengandung alkaloid. - Dragendorff test : 1 ml filtrat + 2 tetes pereaksi Meyer. Apabila membentuk endapan jingga kemerahan, maka positif mengandung alkaloid. d. Senyawa Fenol Ferric chloride test: cuplikan ekstrak dikocok terlebih dahulu dengan eter pada tabung reaksi kemudian pindahkan kedalam plat tetes, lalu tambahkan 3-4 tetes larutan FeCl3. Apabila terbentuk warna biru kehitaman mengindikasikan ekstrak mengandung senyawa fenol (Prashant et al, 2011).

53 38 e. Saponin Foam test: 0,5 mg ekstrak ditambahkan 2 ml aquadest hingga merendam ekstrak kemudian di kocok kuat hingga berbusa, diamkan selama 10 menit. Apabila tinggi busa tetap stabil menandakan positif mengandung saponin (Prashant et al, 2011). f. Tanin Ferric chloride test: ekstrak dalam 10 ml aquades dipanaskan dalam tabung reaksi kemudian disaring. Filtrat ditambahkan FeCl3 0,1%. Apabila terbentuk warna biru, hijau, atau biru kehijauan maka menandakan adanya senyawa tanin (Prashant et al, 2011). g. Fitosterol Swakowski test: Cuplikan ekstrak dilarutkan dalam 5 ml kloroform kemudian ditambahkan beberapa tetes H2SO4. Apabila terbentuk warna coklat menunjukkan adanya fitosterol (Prashant et al, 2011) Aklimatisasi Hewan Uji Sebelum digunakan, tikus diaklimatisasi selama satu minggu dalam Animal House agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Tikus diberi makan dan minum yang secara ad libitum dan dilakukan pengamatan rutin terhadap keadaan umum dan penimbangan berat badan tikus. Tikus yang sehat memiliki ciri-ciri bulu bersih, mata bersinar, berat badan bertambah setiap hari, tidak menunjukkan perilaku yang aneh dan tampak lincah. Tikus yang dinyatakan sehat dikelompokkan secara random sederhana dengan jumlah 7 ekor untuk tiap kelompoknya. Penggunaan 7 ekor untuk memperkecil nilai simpangan deviasi akibat adanya variasi biologis dan kemungkinan kematian dari masing-masing tikus meskipun data akhir yang dipakai tetap berjumlah 5 tikus Penyiapan Bahan Uji invivo Antihipertensi A. Penyiapan Injeksi Adrenalin Dosis adrenalin i.p untuk tikus adalah 1 mg/kg. Kekuatan sediaan adrenalin yang dipakai adalah 1 mg/ml,maka bila bobot tikus 200 gram maka dosis yang diberikan adalah 0,2 ml menggunakan disposable syringe 1 ml dengan needle 30 selama 7 hari di periode induksi. Untuk

54 39 mengkonfirmasi induksi dari hipertensi,tekanan darah tikus diukur dan dibandingkan dengan H-0 nya (Yves et al., 2017) B. Penyiapan Larutan Propanolol Dosis lazim propanolol adalah 80 mg/70 kg (Aberg et al., 2009). Maka dosis hewan yang didapat adalah sebesar 3,964 mg/kg bobot tikus. Pemberian dilakukan dengan melarutkan propanolol dalam aquadest secara p.o (peroral) dengan bantuan sonde. Larutan propanolol diberikan selama 1 kali sehari selama 7 hari selama periode percobaan (Lampiran 7). C. Penyiapan Larutan Ekstrak Kelompok ekstrak Z. officinale, Z. purpureum, K. rotunda dan B. rotunda dengan dosis masing-masing 500 mg/kgbb tiap ekstrak diberikan secara p.o (peroral) dengan bantuan sonde dalam larutan aquadest. Apabila bobot tikus 200 gram, maka dengan VAO 2 ml konsentrasi ekstrak yang adalah 50 mg/ml. Larutan ekstrak diberikan selama 1 kali sehari selama 7 hari selama periode percobaan Pemberian Perlakuan Kepada Hewan Uji Metode uji antihipertensi invivo dilakukan berdasarkan penelitian Yves et al pada tahun 2017 dengan sedikit modifikasi. Sebanyak 35 ekor tikus putih jantan galur Sprague Dawley berusia 14 minggu dengan berat antara gram dibagi menjadi 7 kelompok perlakuan yang diinduksi hipertensi dengan adrenalin i.p 1 mg/kgbb selama 7 hari. Kemudian diukur parameter uji antara lain tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik dan heart rate menggunakan alat CODA non invasive blood pressure system. Pengukuran sebelum diinduksi adrenalin (H0), sebelum diberikan perlakuan (H7) dan setelah perlakuan (H14) seperti yang tertera pada tabel 3.2 Tabel 3.2 Jadwal Pengukuran Parameter Uji Intervensi Induksi adrenalin Perlakuan Pengukuran Parameter Uji Hari ke

55 Analisis Data Data yang diperoleh seperti tekanan darah sistolik, diastolik dan heart rate dianalisis dengan uji Kolmogrof-Smirnov untuk melihat normalitas data dan analisis dengan uji Levene untuk melihat homogenitas data. Jika data normal dan homogenitas maka dilanjutkan dengan uji Analisa Varians (ANOVA) one way dengan taraf kepercayaan 95% sehingga dapat diketahui apakah perbedaan yang diperoleh bermakna atau tidak. Apabila data berbeda bermakna (p 0.05), maka diteruskan ke Uji LSD. Namun, Jika data normal atau tidak homogen dilanjutkan dengan uji Kruskal Wallis dan diteruskan ke Uji Mann Whitney bila datanya berbeda bermakna (p 0.05) (Santoso, 2007).

56 4.1 Hasil Determinasi Tanaman BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Rimpang Jahe merah, Bangle, Temu putih dan Temu kunci yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari BALITTRO Bogor. Determinasi dilakukan di Pusat Penelitian Herbarium Bogoriense, Pusat Penelitian Biologi-LIPI, Cibinong. Tujuan dari determinasi adalah untuk memastikan bahwa tanaman uji yang digunakan sesuai dengan yang dimaksud, yaitu Jahe merah, Bangle, Temu putih dan Temu kunci. Hasil determinasi tumbuhan uji menyatakan benar bahwa tumbuhan yang dimaksud adalah Jahe merah (Zingiber officinale Roscoe), Bangle (Zingiber purpureum), Temu kunci (Boesenbergia rotunda) dan Temu putih (Kaempfria rotunda). Surat pernyataan hasil determinasi tumbuhan dapat dilihat pada Lampiran Persen Rendemen Ekstrak Tabel 4.1 Persen Rendemen Ekstrak Tumbuhan Rimpang Ekstrak Simplisia Segar Kental Rendemen Z. officinale 10 kg 1,7 kg 83,19 g 4,93% Z. purpureum 10 kg 1,9 kg 70,76 g 3,72% K. rotunda 10 kg 1,85 kg 91 g 5% B. rotunda 10 kg 1,7 kg 23,9 g 1.4% Skrining Fitokimia Ekstrak Tabel 4.2 Hasil Skrining Fitokimia No Uji Hasil Uji Fitokimia Z. officinale Z. purpureum K. rotunda B.rotunda 1 Saponin Flavonoid Steroid Triterpenoid Alkaloid Tanin Fenolik Fitosterol

57 Uji Aktivitas Antihipertensi secara invivo Penelitian ini telah dinyatakan lulus kaji etik oleh Komite Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (No.800/UN2.F1/ETIK/2018). Pengukuran 3 parameter uji yakni tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik dan denyut jantung (heart rate) dilakukan menggunakan CODA noninvasive blood pressure system. Hasil kemudian di analisa secara statistik menggunakan software IBM SPSS versi 20.0 Analisa statistik digunakan untuk menganalisa dan membandingkan tekanan darah hewan uji pada kelompok kontrol dan kelompok ekstrak. Uji yang pertama harus dilakukan yaitu uji normalitas dan homogenitas. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data disetiap kelompok uji memiliki sebaran yang normal atau tidak. Uji normalitas dilakukan menggunakan metode Kolmogrov-Smirnof. Sedangkan uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah antar kelompok uji memiliki variasi data yang sama atau tidak. Uji homogenitas dilakukan dengan metode Levene. Data dikatakan memilih sebaran normal dan homogen jika memiliki nilai signifikansi 0.05 (Dahlan, 2012). Secara statistika penelitian ini termasuk kedalam analitik komparatif numerik berpasangan. Analisis yang dilakukan adalah metode One-Way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji LSD bila data terdistribusi normal dan memiliki varian homogen. Apabila data tidak terdistribusi normal atau varian tidak homogen, dilakukan analisis dengan uji Kruskal- Wallis yang dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney (Dahlan, 2010) Tekanan Darah Sistolik Kelompok Perlakuan Tabel 4.3 Rerata Nilai Tekanan Darah Sistolik Rerata Nilai Tekanan Darah Sistolik (mmhg) H-0 (Normotensif) H-7 (Adrenalin) H-14 (Perlakuan) Kontrol (+) ±13.54 *172.95±17.81 *120.28±20.53 Kontrol (-) ±27.09 *147.98± ±18.84 Kontrol Normal 106± ± ±6.17 Z. officinale 92.33±16.34 * ±29.47 *119.23±15.43 Z. purpureum 82.18±24.19 *141.14±23.30 *115.14±20.58 K. rotunda ±28.59 *155.46±18.91 *117.56±18.86 B. rotunda 94.64±13.64 *135.53±16.93 *100.19±18.83

58 43 Data disajikan dalam bentuk rerata±standar deviasi (n=5) *H-14 p 0.05 = berbeda bermakna dengan kontrol negatif (hipertensi) *H-7 p 0.05 = berbeda bermakna dengan kelompok kontrol normal Positif Negatif Normal Z. officinale Z. purpureum K. rotunda B. rotunda Gambar 4.1 Kurva Tekanan Darah Sistolik hari ke-0,7 dan 14 Berdasarkan analisis data tekanan darah sistolik, diketahui bahwa data yang diperoleh terdisribusi normal pada hari ke-0, 7 dan 14 (Sig 0.05). Data juga memiliki varian yang homogen pada hari ke-7 dan ke- 14 (Sig 0.05), namun tidak homogen di hari ke-0 (Sig 0.05). Karena hari ke-7 dan hari 14 data bervarian homogen dan terdistribusi normal maka dapat diteruskan ke uji Analisis Varians (ANOVA). Sedangkan data tekanan darah sistolik pada hari ke-0 yang datanya data tidak bervarian homogen dan terdistribusi normal maka pengolahan data tidak bisa dilakukan dengan metode One-Way ANOVA. Pengolahan data selanjutnya dilakukan dengan metode Kruskal Wallis (uji non parametrik) untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan tekanan darah sistolik. Apabila terdapat perbedaan tekanan darah sistolik secara bermakna (Sig 0.05) maka dilanjutkan dengan melakukan Analisa Post Hoc dengan uji Mann Whitney untuk menentukan kelompok manakah yang memberikan nilai berbeda secara bermakna dengan kelompok lainnya. Berdasarkan hasil analisa tekanan darah sistolik hari ke-0 dengan metode Kruskal Wallis, diketahui bahwa semua kelompok tidak memiliki

59 44 perbedaan secara bermakna pada waktu sebelum induksi. Sedangkan hasil analisa tekanan darah sistolik pada hari ke-7 dan ke 14 dengan metode One Way ANOVA memiliki perbedaan secara bermakna. Sehingga selanjutnya dilakukan analisis uji Beda Nyata Terkecil (LSD) untuk data hari ke 7 dan 14 untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan secara bermakna antar kelompok (Lampiran 10). Hasil uji LSD menunjukkan Ekstrak etanol 70% Z. officinale, Z. purpureum, K. rotunda dan B. rotunda memiliki perbedaan yang bermakna dengan kontrol negatif (Sig 0.05), sedangkan tidak berbeda bermakna pada hari ke-0 sebelum perlakuan Tekanan Darah Diastolik Tabel 4.4 Rerata Nilai Tekanan Darah Diastolik Rerata Nilai Tekanan Darah Diastolik (mmhg) Kelompok H-0 H-7 H-14 Perlakuan (Normotensif) (Adrenalin) (Perlakuan) Kontrol (+) 76.13±31.44 *124.4± ±23.68 Kontrol (-) 90.19±25.54 *111.06± ±19.53 Kontrol Normal 57.53± ± ±9.51 Z. officinale 68.93±17.98 *98.53±24.31 *74±7.87 Z. purpureum 58.52±22.47 *99.03± ±23.24 K. rotunda 85.53±26.11 *118.86± ±17.81 B. rotunda 74±18.72 *100.34±9.44 *71.31±10.73 Data disajikan dalam bentuk rerata±standar deviasi (n=5) *H-14 p 0.05 = berbeda bermakna dengan kontrol negatif (hipertensi) *H-7 p 0.05 = berbeda bermakna dengan kelompok kontrol normal Positif Negatif Normal Z. officinale Z. purpureum K. rotunda B. rotunda Gambar 4.2 Kurva Tekanan Darah Diastolik

60 45 Berdasarkan analisis data tekanan darah diastolik, diketahui bahwa data yang diperoleh terdisribusi normal pada hari ke-0, 7 dan 14 (Sig 0.05). Data juga memiliki varian yang homogen pada hari ke 0, 7 dan ke 14 (Sig 0.05). Karena keseluruhan data tekanan darah diastolik pada hari ke-0, 7 dan hari 14 bervarian homogen dan terdistribusi normal maka dapat diteruskan ke uji Analisis Varians (ANOVA). Pengolahan data selanjutnya dilakukan dengan metode One Way ANOVA untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan pada data tekanan darah diastolik. Apabila terdapat perbedaan tekanan darah diastolik secara bermakna (Sig 0.05) maka dilanjutkan dengan melakukan Analisa Post Hoc dengan uji Beda Nyata Terkecil (LSD) untuk menentukan kelompok manakah yang memberikan nilai berbeda secara bermakna dengan kelompok lainnya. Berdasarkan hasil analisa tekanan darah diastolik hari ke-0 dan ke 14 dengan metode One Way ANOVA, diketahui bahwa semua kelompok tidak memiliki perbedaan secara bermakna pada waktu sebelum induksi. Sedangkan hasil analisa tekanan darah diastolik pada hari ke-7 dan dengan metode One Way ANOVA memiliki perbedaan secara bermakna. Sehingga selanjutnya dilakukan analisis uji Beda Nyata Terkecil (LSD) untuk data hari ke 7 dan 14 untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan secara bermakna antar kelompok (Lampiran 11). Sehingga dapat diperoleh kesimpulan dari data LSD bahwa ekstrak etanol 70% rimpang Z. officinale dan B. rotunda memiliki aktivitas menurunkan tekanan darah diastolik dikarenakan terdapat perbedaan yang bermakna dengan kontrol negatif (Sig 0.05).

61 Denyut Jantung (Heart Rate) Tabel 4.5 Rerata Nilai Denyut Jantung (Heart Rate) Rerata Nilai Heart Rate (mmhg) Kelompok H-0 H-7 H-14 Perlakuan (Normotensif) (Adrenalin) (Perlakuan) Kontrol (+) ± ±49.60 *161.32±53.90 Kontrol (-) ± ± ±99.27 Kontrol Normal ± ± ±96.52 Z. officinale ± ±94.11 *236.2±64.16 Z. purpureum ± ±65.45 * ±74.82 K. rotunda ± ± *199.53±98.24 B. rotunda ± ± ±108.9 Data disajikan dalam bentuk rerata±standar deviasi (n=5) *H-14 p 0.05 = berbeda bermakna dengan kontrol negatif (hipertensi) *H-7 p 0.05 = berbeda bermakna dengan kelompok kontrol normal Positif Negatif Normal Z. officinale Z. purpureum K. rotunda B. rotunda Gambar 4.3 Kurva Denyut Jantung hari ke-0,7 dan 14 Berdasarkan analisis data denyut jantung, diketahui bahwa data yang diperoleh terdisribusi normal pada hari ke-0, 7 dan 14 (Sig 0.05). Data juga memiliki varian yang homogen pada hari ke-0 dan 14 (Sig 0.05), namun tidak homogen di hari ke-7 (Sig 0.05). Karena hari ke-0 dan hari 14 data bervarian homogen dan terdistribusi normal maka dapat diteruskan ke uji Analisis Varians (ANOVA). Sedangkan data denyut jantung pada hari ke-7 yang datanya data tidak bervarian homogen dan terdistribusi normal maka pengolahan data tidak bisa dilakukan dengan metode One

62 47 Way ANOVA. Pengolahan data hari ke-0 selanjutnya dilakukan dengan metode Kruskal Wallis (uji non parametrik) untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan data denyut jantung. Apabila terdapat perbedaan data denyut jantung secara bermakna (Sig 0.05) maka dilanjutkan dengan melakukan Analisa Post Hoc dengan uji Mann Whitney untuk menentukan kelompok manakah yang memberikan nilai berbeda secara bermakna dengan kelompok lainnya. Berdasarkan hasil analisa tekanan darah denyut jantung hari ke-7 dengan metode Kruskal Wallis menghasilkan data tidak tidak berbeda bermakna (Sig 0.05) sehingga data ini tidak dapat dilanjutkan uji Post Hoc Mann Whitney. Sedangkan hasil analisa denyut jantung pada hari ke-0 dan ke 14 dengan metode One Way ANOVA memiliki perbedaan secara bermakna sehingga bisa dilanjutkan ke uji Beda Nyata Terkecil (LSD). Hasil LSD menunjukkan bahwa yang kelompok Z. officinale, Z. purpureum dan K. rotunda berbeda bermakna dengan kelompok kontrol negatif (Sig 0.05). Sehingga dari analisis data diperoleh kesimpulan bahwa ekstrak etanol 70% rimpang Z. officinale, Z. purpureum dan K. rotunda memiliki aktivitas menurunkan denyut jantung atau heart rate Presentase Penurunan Parameter Uji Antihipertensi Tabel 4.6 Presentase Penurunan Parameter Uji Antihipertensi Kelompok Perlakuan Dosis (mg/kgbb) Ket: %Penurunan= [(H14-H7)/H7]x100% Sistolik Parameter Uji Hipertensi Diastolik Denyut Jantung Kontrol (+) % 38.24% 54.9% Kontrol (-) Aquadest 3.36% 0.26% 3.82% Normal Aquadest 0.09% -0.19% 16.4% Z. officinale % 17.32% 11.76% Z. purpureum % 13.88% 37.24% K. rotunda % 28% 36.80% B.rotunda % 28.87% 22.36%

63 Positif Negatif Normal Z. officinale Z. purpureum K. rotunda B. rotunda Sistolik Diastolik Heart Rate Gambar 4.4 Diagram Batang Presentase (%) Penurunan Parameter Uji Antihipertensi (hari ke 7 terhadap hari ke 14) Perbedaan bermakna yang berbanding lurus dengan presentase penurunan ini dilihat dari hasil uji paired t-test di hari ke-7 (setelah induksi adrenalin) terhadap hari ke-14 (setelah pemberian perlakuan) pada data tekanan darah sistolik. Hasil analisa statistik tekanan darah sistolik dapat dilihat lampiran 11. Presentase penurunan tekanan darah sistolik pada kelompok kontrol positif (propranolol) dan 4 kelompok perlakuan ekstrak lainnya bermakna secara statistik (p 0.05) terhadap kontrol negatif dimana penurunan terbesar ditunjukkan oleh kelompok ekstrak etanol 70% rimpang Z. officinale (27.35%). Namun perbedaan bermakna pada data presentase penurunan tekanan darah diastolik tidak berbanding lurus dengan dengan hasil uji paired t-test di hari ke-7 (setelah induksi adrenalin) terhadap hari ke-14 (setelah pemberian perlakuan). Hasil analisa statistik tekanan darah diastolik dapat dilihat lampiran 12. Dimana pada uji LSD penurunan bermakna ditunjukkan pada ekstrak Z. officinale dan B. rotunda sedangkan pada uji paired t-test penurunan bermakna ditunjukkan pada ekstrak K. rotunda dan B. rotunda. Dalam hal ini memang K. rotunda memiliki persen penurunan tekanan darah diastolik yang lebih besar (28%) terhadap dirinya sendiri dibandingkan dengan Z. officinale (17.32%), namun hasil LSD menunjukkan bahwa

64 49 kelompok tersebut tidak bermakna dibandingkan kelompok kontrol negatif. Sehingga kesimpulan yang dapat ditarik adalah kelompok yang memiliki penurunan nilai tekanan darah diastolik yang bermakna adalah kelompok kontrol positif, Z. officinale dan B. rotunda (p 0.05) terhadap kontrol negatif dimana penurunan terbesar ditunjukkan oleh kelompok ekstrak etanol 70% rimpang B. rotunda (28.87%) Sama halnya dengan data tekanan darah diastolik, perbedaan bermakna pada data presentase penurunan denyut jantung (heart rate) juga tidak berbanding lurus dengan dengan hasil uji paired t-test di hari ke-7 (setelah induksi adrenalin) terhadap hari ke-14 (setelah pemberian perlakuan). Hasil analisa statistik heart rate dapat dilihat lampiran 13. Dimana pada uji LSD penurunan bermakna ditunjukkan pada kelompok kontrol positif (propranolol), ekstrak Z. officinale, Z. purpureum dan K. rotunda, sedangkan pada uji paired t-test penurunan bermakna ditunjukkan pada ekstrak B. rotunda saja. Dalam hal ini memang B. rotunda memiliki persen penurunan heart rate yang hampir setara (22.36%) dengan Z. officinale (11.76%), Z. purpureum (37.24%) dan K. rotunda (36.80%). Namun hasil LSD menunjukkan bahwa data kelompok B. rotunda tidak bermakna dibandingkan kelompok kontrol negatif (p 0.05) atau hanya berbeda bermakna dengan dirinya sendiri. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kelompok yang memiliki penurunan nilai heart rate yang bermakna adalah kelompok kontrol positif, Z. officinale, Z. purpureum dan K. rotunda terhadap kontrol negatif dimana penurunan terbesar ditunjukkan oleh kelompok ekstrak etanol 70% rimpang Z. purpureum (37.24%). 4.2 Pembahasan Penyiapan Ekstrak Uji Sebanyak 10 kg dari masing- masing rimpang Z. officinale, Z. purpureum, K. rotunda dan B. rotunda yang sudah dikering anginkan diserbukkan menggunakan blender. Pembuatan sampel menjadi serbuk menyebabkan kerusakan sel yang menyebabkan pelarut lebih mudah

65 50 menarik senyawa yang terkandung di dalam sel tersebut sehingga jumlah ekstrak yang diperoleh optimal (Helfi Gustia, 2016). Selanjutnya simplisia diekstraksi cara dingin, yakni dengan cara maserasi. Metode maserasi dipilih karena prosedur dan peralatan yang digunakan sederhana, tidak terdapat proses pemanasan sehingga lebih aman untuk senyawa yang bersifat termolabil dan tidak menyebabkan terurainya senyawa akibat pemanasan (Heinrich, 2004). Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk dalam wadah terlindung cahaya. Etanol 70% digunakan sebagai pelarut dikarenakan ia merupakan pelarut pilihan utama untuk mengekstraksi metabolit sekunder yang belum diketahui strukturnya. Pelarut ini juga memiliki extracting power (daya ekstraksi) yang luas. Sampel uji yang digunakan merupakan simplisia kering sehingga adanya kandungan air pada etanol 70% dapat mempermudah penarikan senyawa pada saat ekstraksi (Saifudin, 2014). Pergantian pelarut dilakukan selama beberapa kali sampai maserat nampak terlihat pucat. Ketika maserat mulai pucat maka proses dihentikan, hal ini menandakan bahwa proses ekstraksi telah sempurna dan semua senyawa terlarut telah tertarik oleh pelarut. Agar rendemen yang diperoleh maksimal maka dilakukan remaserasi atau proses pengulangan ekstraksi dengan pelarut yang sama. Untuk memperoleh ekstrak yang kental, hasil maserasi kemudian disaring dan diuapkan pelarutnya menggunakan rotary evaporator pada suhu yang tidak terlalu tinggi yaitu C agar senyawa tidak rusak. Setelah didapat ekstrak kental, selanjutnya dilakukan skrining fitokimia untuk memberikan gambaran tentang golongan senyawa yang terkandung dalam ekstrak (Kristanti et al, 2008). Hasil skrining fitokimia ekstrak etanol rimpang Z. officinale, Z. purpureum, K. rotunda dan B. rotunda yang diperoleh dapal penelitian ini menunjukkan bahwa senyawa flavonoid, polifenol, terpenoid, saponin, fitosterol dapat tertarik dalam pelarut etanol. Hal ini disebabkan karena etanol merupakan pelarut universal yang memiliki gugus polar (-OH) dan gugus nonpolar (-CH3)

66 51 sehingga dapat menarik analit-analit yang bersifat polar hingga nonpolar dan memiliki indeks polaritas sebesar 5,2 ( Synder,1997) Uji Aktivitas Antihipertensi Uji aktivitas antihipertensi dilakukan terhadap 56 ekor tikus putih jantan galur Sprague Dawley berusia 2-3 bulan dengan bobot gram. Pemilihan tikus sebagai hewan uji dikarenakan tikus memiliki fisiologi yang menyerupai manusia (National Association for Biomedical Research (NABR), 2005). Tikus dikelompokkan menjadi 7 kelompok yang terdiri dari 4 kelompok ekstrak dan 3 kelompok kontrol. Kelompok kontrol meliputi kelompok kontrol normal, kontrol negatif dan kontrol positif. Kelompok kontrol pada penelitian ini digunakan untuk memastikan bahwa perubahan tekanan darah hanya disebabkan oleh ekstrak uji yang diberikan. Kelompok kontrol positif merupakan kelompok hewan uji yang telah diinduksi adrenalin dan diberi obat hipertensi yang beredar di pasaran yaitu propanolol dari golongan beta bloker. Propanolol bekerja dengan secara non selektif menghambat stimulus adrenergik dengan memblokade secara kompetitif reseptor beta adrenergik pada otot jantung, dalam bronkus dan otot polos pembuluh darah (Aberg, 2009). Hal ini dimaksudkan untuk melihat dan membandingkan seberapa besar aktivitas antihipertensi yang dicapai oleh sediaan uji, selain itu diharapkan sediaan uji dapat menghasilkan aktivitas antihipertensi dari obat yang beredar di pasaran. Sedangkan kelompok negatif merupakan kelompok hewan uji yang diberi perlakuan induksi adrenalin tanpa diberi ekstrak ataupun obat dan hanya diberi aquadest untuk memastikan tekanan darah yang tetap pada kondisi hipertensi. Untuk kelompok ekstrak terdiri dari 4 kelompok meliputi larutan ekstrak Z. officinale, Z. purpureum, K. rotunda dan B. rotunda dengan dosis 500 mg/kgbb. Dosis tersebut dipakai berdasarkan uji toksisitas masing masing ekstrak yang dinilai masih aman. Dosis 500 mg/kgbb digunakan sebagai langkah skrining untuk melihat adanya aktivitas antihipertensi di dosis tersebut. Pemberian ekstrak etanol rimpang Z. officinale kepada tikus secara intraperitonial

67 52 memberikan nilai LD ±75 mg/kg (Ojewole, 2006). Penelitian Abdulrazaq et al, di tahun 2012 juga menyebutkan bahwa ekstrak air dari Z. officinale tidak menunjukan adanya gejala tokisisitas hingga dosis 3200 mg/kgbb tikus. Pada penelitian Pudjiatuti di tahun 2004, Uji LD50 infus rimpang Z. purpureum diketahui memiliki nilai dosis 31,56 (24,96-39,87) mg/10 gbb terhadap mencit. Uji Toksisitas akut oral dari ekstrak K. rotunda serta fraksinya dilakukan pada dosis uji tunggal 2000 mg/kg p.o dan tidak menunjukkan adanya tanda tanda toksisitas selama penelitian (Sini et al., 2014). Pada pemberian ekstrak B. rotunda, semua hewan hidup dan tidak menunjukkan tanda-tanda toksisitas bahkan pada dosis tertinggi yang digunakan 5 g/kg (Mahmood et al, 2010). Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa dosis 500 mg/kgbb tikus masih aman untuk digunakan untuk perlakuan terhadap hewan uji dan tidak menutupi kemungkinan untuk dilakukan variasi dosis pada penelitian selanjutnya. Sebelum dilakukan induksi, tikus diaklimatisasi terlebih dahulu selama 14 hari untuk menyesuaikan dengan lingkungan barunya. Selama proses aklimatisasi ini, tikus diberi makan dan minum secara ad libitum serta ditimbang berat badannya setiap 2 kali sehari. Tikus yang digunakan adalah tikus yang sehat, yaitu selama periode pengamatan tidak menunjukkan penurunan deviasi berat badan (>10%) serta tidak ada kelainan dalam tingkah lakunya (Foltz, 1999). Pengelompokan tikus mengacu pada General Guidelines for Methodologies on Research and Evaluation of Traditional Medicine (World Health Organization, 2000) yang menyatakan bahwa untuk pengujian hewan pengerat masing masing kelompok terdiri dari setidaknya 5 ekor lalu diukur parameter ujinya meliputi tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik dan nilai heart rate pada hari ke-0,7 dan 14 menggunakan CODA non invasive tail cuff blood pressure. CODA non invasive tail cuff blood pressure merupakan suatu instrumen pengukur tekanan darah hewan uji yang mempunyai keuntungan karena hewan uji tidak perlu dibunuh untuk mengetahui tekanan darahnya, sehingga dapat menghemat waktu percobaan dan juga

68 53 hewan uji yang digunakan. Metode non invasif ini menggunakan tail cuff yang ditempatkan di ekor tikus untuk memonitor tekanan darah. Sensor VPR yang terdapat pada alat ini juga memungkinkan adanya pengukuran non invasif dari volume darah pada ekor tikus (Malkoff, 2011). Pengkondisian hewan uji pada holder dilakukan sekitar menit sampai suhunya mencapai C. Hewan uji yang telah dimasukkan ke dalam holder kemudian dipasangkan manset ekor, dan diletakkan pada papan penghangat selama menit agar tekanan darah dapat terukur dengan tepat dan konsisten oleh sistem VPR tail-cuff. Suhu tubuh hewan uji harus terus dipantau agar tetap stabil, hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan kain lap pada bagian luar holder. Kecuali untuk suhu lingkungan, diatur agar paling tidak mencapai 26 C. Kondisi hewan uji juga harus dijaga agar tidak stres, karena hal ini akan mempengaruhi aliran darah ke ekor. Penginduksi yang digunakan pada penelitian kali ini adalah adrenalin. Adrenalin atau epinephrine merupakan suatu hormon yang merangsang sistem saraf simpatis (adrenergik). Adrenalin bekerja pada tempat reseptor adrenergik non selektif, yakni pada reseptor α1, β1, dan β2. Karena sifat non selektifnya, maka adrenalin memiliki fungsi dengan akibat yang bervariasi pada sistem faal tubuh. Sekresi adrenalin akan menyebar ke seluruh tubuh dan akan mempengaruhi kerja berbagai jaringan atau sistem yang memiliki reseptor untuh hormon tersebut diantaranya adalah: 1) di sepanjang pembuluh darah dan jantung neurotransmitter noradrenalin akan mengaktivasi peptida nariuretik vasopresin yang selanjutnya akan mengaktivasi kanal ion Ca 2+ pada sel endotelial sehingga menyebabkan vasokonstriksi; 2) adrenalin akan memicu pelepasan noradrenalin yang mengikat reseptor beta adrenergik terutama disepanjang sel jukstaglomerular ginjal sehingga mengaktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron yang menyebabkan retensi air dan garam natrium yang berimplikasi hipertensi; 3) meningkatkan efek konotropik positif (meningkatkan denyut jantung) pada otot jantung yang memicu peningkatan tahanan tepi dan curah jantung sehingga terjadi

69 54 hipertensi (Verkrijging et al., 1991). Mengacu pada penelitian Yves et al di tahun 2017, adrenalin diberikan secara intraperitonial selama 7 hari dengan dosis 1 mg/ml. Dengan waktu induksi yang relatif cepat dan metode penginduksian yang tidak terlalu sulit maka adrenalin dipilih oleh penulis sebagai penginduksi hipertensi pada hewan uji. Induksi hipertensi dilakukan pada kelompok tikus Z. officinale, Z. purpureum, K. rotunda, B. rotunda, kontrol positif dan kontrol negatif selama 7 hari secara intraperitonial. Masing-masing kelompok terdiri dari 7 ekor tikus dengan bobot sekitar gram. Hewan yang telah diinduksi adrenalin dinyatakan memenuhi kriteria inklusi apabila mengalami kenaikan tekanan darah lebih dari 20 mmhg pada hari ke-7 pasca induksi adrenalin. Setelah dinyatakan tekanan darahnya naik, tikus mulai diberi perlakuan selama 7 hari (hari ke-7 hingga hari ke-14) dan diperiksa tekanan darahnya kembali di hari ke-14 menggunakan CODA non invasive tail cuff blood pressure. Selanjutnya data tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik dan heart rate dianalisa secara statistik. Hasil uji Paired T Test tekanan darah sistolik (Lampiran 11), tekanan darah diastolik (Lampiran 12) dan heart rate ( Lampiran 13) pada kelompok normal tidak berbeda bermakna (p 0.05) yang artinya pada kelompok hewan uji yang tidak diberi perlakuan apapun parameter uji ini tetap sama dan berada pada rentang normal. Sedangkan pada kelompok uji yang diinduksi adrenalin mengalami peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik yang bermakna (p 0.05) setelah diberikan induksi adrenalin (H-7) dibadingkan dengan kelompok normal, sehingga dapat dipastikan semua kelompok yang terinduksi adrenalin telah mengalami hipertensi. Sedangkan pada kelompok kontrol negatif, nilai tekanan darah sistolik, diastolik tidak berbeda bermakna (p 0.05) yang artinya hewan uji kelompok ini tetap dalam kondisi hipertensi hingga hari ke 14 setelah diberikan aquadest saja. Sedangkan pada kelompok kontrol positif yang diberikan propanolol 8,2 mg/kgbb memiliki penurunan tekanan darah dan heart rate yang bermakna (p 0.05) pada hari ke 14 dibandingkan hari ke 7. Oleh karena itu baik kelompok kontrol normal, kontrol negatif dan

70 55 kontrol positif dapat dijadikan pembanding atas pengaruh pemberian ekstrak uji terhadap penurunan tekanan darah pada tikus hipertensi namun tidak untuk nilai heart rate nya Pengaruh Pemberian Ekstrak Terhadap Parameter Uji Hasil analisa statistik menunjukkan presentase penurunan tekanan darah sistolik pada kelompok kontrol positif (propanolol) dan 4 kelompok perlakuan ekstrak lainnya bermakna secara statistik (p 0.05) terhadap kontrol negatif dimana penurunan terbesar ditunjukkan oleh kelompok ekstrak etanol 70% rimpang Z. officinale (27.35%). Penurunan nilai tekanan darah diastolik pada kelompok Z. purpureum dan K. rotunda tidak berbeda bermakna (p 0.05) terhadap kelompok kontrol negatif, sedangkan penurunan tekanan darah diastolik pada kelompok kontrol positif, kelompok Z. officinale dan B. rotunda berbeda bermakna secara statistik (p 0.05) terhadap kontrol negatif. Presentase penurunan denyut jantung (heart rate) yang bermakna secara statistik ditunjukkan oleh kelompok kontrol positif, Z. officinale, Z. purpureum dan K. rotunda (p 0.05) terhadap kontrol negatif. Ringkasan pengaruh pemberian ekstrak terhadap parameter uji dapat dilihat pada tabel 4.7. Tabel 4.7 Pengaruh pemberian ekstrak terhadap parameter uji Kelompok Parameter Uji Sistolik Diastolik Heart Rate Z.officinale Z. purpureum K. rotunda B. rotunda Dari hasil analisa data secara statistik, diketahui adrenalin secara signifikan (p 0.05) mampu memberikan pengaruh kenaikan tekanan darah sistolik dan diastolik pada hewan uji setelah 7 hari pemberian adrenalin namun tidak signifikan (p 0.05) memberikan pengaruh kenaikan heart rate pada hewan uji. Hal ini kontradiktif dengan mekanisme kerja dari adrenalin yang meningkatkan efek konotropik positif (meningkatkan

71 56 denyut jantung) pada otot jantung yang memicu peningkatan tahanan tepi dan curah jantung sehingga terjadi hipertensi. Hal ini kemungkinan dipengaruhi variasi biologis dari masing masing individu hewan uji. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Tung et al pada tahun 1981) yang menguji pengaruh adrenalin dalam menginduksi hipertensi pada tikus galur wistar dengan teknik administrasi osmotik mini pump pada dosis 2,9 nmol/jam menunjukan hasil peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik secara signifikan (p 0,001) setelah 7 hari pemberian. Sementara pemberian adrenalin tersebut tidak menyebabkan perubahan bermakna pada nilai heart rate hewan uji. Hal ini juga senada dengan penelitian Majewski di tahun 1986 tentang pengaruh adrenalin dan pengaruhnya terhadap hipertensi. Setelah 10 dan 12 hari imobilisasi dan isolasi tikus, tikus-tikus yang mengalami stress tekanan darah secara signifikan dan tingkat adrenalin jantung yang lebih tinggi, meskipun nilai heart rate tidak berbeda secara signifikan. Hal ini mendukung bahwa adrenalin memang memberikan nilai signifikan pada peningkatan tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik yang bersifat menetap namun tidak memberikan pengaruh yang signifikan kepada peningkatan nilai heart rate yang menetap dalam jangka waktu induksi 7 hari, sehingga mungkin diperlukan periode induksi yang lebih lama. Mekanisme yang mungkin bisa diprediksi pengaruh pemberian ekstrak terhadap parameter uji adalah perbaikan fungsi endotelial. Sel endotelial memiliki peran penting pada homeostasis sistem kardiovaskular. Fungsi endotel diatur dan dipelihara oleh bermacam macam reseptor di permukaan sel, beberapa diantaranya menginduksi pelepasan zat vasoaktif untuk mengatur tonus pembuluh darah dan proliferasi sel otot polos (Drexler dan Hornig, 1999). Terdapat berbagai vasoaktif yang menjadi isyarat lokal dan bersirkulasi menstimulasi endotelium vaskular untuk melepaskan vasodilator diantaranya adalah NO (Nitrit Oksida), prostasiklin, faktor hiperpolarisasi. Sedangkan untuk faktor

72 57 vasokonstriktor terdapat endotelin, tromboksan, dan PDGF (Iglarz dan Clozel, 2007). Nitrat oksida diketahui cepat terdegradasi oleh anion superoksida yang merupakan agen radikal bebas. Hipertensi manusia dikaitkan dengan penurunan bioavailabilitas NO dan peningkatan stres oksidatif (Touyz, 2004). Peran stres oksidatif sebagai pemain kunci dalam patogenesis hipertensi juga didukung penelitian serupa (Rodrigo et al, 2011) (Montezano & Touyz, 2012). Antioksidan adalah senyawa yang mampu menjebak ROS dan mengurangi kerusakan oksidatif sehingga diharapkan juga mampu mengurangi tekanan darah. Antioksidan mengakhiri reaksi rantai ROS dengan menghilangkan intermediet radikal bebas, dan menghambat reaksi oksidasi lainnya (Yoshida et al., 2004). Rimpang Z. officinale, Z. purpureum, B. rotunda dan K. rotunda diketahui banyak memiliki aktivitas antioksidan. Rimpang Z. officinale diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi diantaranya dalam uji 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) radical scavenging actity dan aktivitas inhibisi oksidasi metil linoleat dengan metode Oil Stability Index (OSI)(Masuda et al, 2004). Aktivitas antioksidan rimpang Z. purpureum dengan metode DPPH juga menunjukkan hasil yang positif (Saowaluck & Paisooksantivatana, 2009). Ekstrak kloroform rimpang K. rotunda juga ditemukan memiliki aktivitas antioksidan berdasarkan metode Folin Cholceau (Sundari, 2013). Penelitian aktivitas antioksidan dari B. rotunda juga banyak ditemukan (Kim et al, 2012) (Chahyadi et al, 2014). Salah satu metabolit sekunder yang memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi adalah flavonoid. Senyawa metabolit sekunder ini flavonoid dan polifenol juga diketahui banyak berperan sebagai penyembuhan hipertensi (Kooshki & Hoseini, 2014). Secara invitro, flavonoid telah terbukti mempunyai efek biologis yang kuat, sebagai antioksidan flavonoid dapat menghambat penggumpalan keping-keping darah, merangsang produksi NO yang menyebabkan relaksasi pembuluh darah dan untuk menghambat pertumbuhan kanker (Athiroh, 2000).

73 58 Flavonoid mampu berdifusi secara langsung dan mensintesa NO dalam endotel dan otot polos selanjutnya merangsang guanylate cyclase untuk membentuk cgmp sehingga terjadi vasodilatasi (McNeill & Jurgens, 2006). Peran flavonoid pada ekstrak anggur bebas alkohol secara nyata menurunkan tekanan darah sistol dan diastol jantung pada model tikus hipertensi (de Moura et al., 2002). Penelitian yang telah dilakukan oleh Athiroh et al tentang pemberian ekstrak Scurulla oortiana (benalu teh) dan Macrosolens javanus (benalu jambu mawar) terhadap kontraktilitas pembuluh darah arteri ekor tikus terpisah dengan atau tanpa endotel menunjukkan bahwa kedua benalu tersebut mampu menurunkan kontraksi pembuluh darah arteri secara invitro karena peran endotel (Permatasari et al., 2016). Hal ini didukung dengan uji skrining fitokimia (Lampiran 6) yang memberikan nilai positif pada senyawa flavonoid dan polifenol pada seluruh ekstrak. Terdapat penelitian yang memaparkan mekanisme lain dari tumbuhan uji dalam menurunkan hipertensi diantaranya pengaruh pemberian ekstrak metanol 70% dari Z. officinale dalam menginduksi penurunan dose dependent tekanan darah arteri pada tikus yang telah dianastesi. Efek ini kemungkinan di mediasi sistem kanal ion kalsium (Ghayur & Gilani, 2005). Namun dari mekanisme tumbuhan yang diperkirakan dapat mengobati hipertensi sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya, hendaknya perlu ditinjau kembali dengan melakukan pengujian secara invitro yang dapat dilakukan pada penelitian selanjutnya.

74 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: a) Pemberian ekstrak etanol 70% rimpang Z. officinale, Z. purpureum, K. rotunda dan B. rotunda pada dosis 500 mg/kgbb menunjukkan penurunan tekanan darah sistolik secara bermakna (p 0.05) dibandingkan dengan kontrol negatif. Penurunan tekanan darah sistolik yang paling tinggi ditunjukkan oleh ekstrak Z. officinale dengan persen penurunan sebesar 27,35%. b) Pemberian ekstrak etanol 70% rimpang Z. officinale dan B. rotunda pada dosis 500 mg/kgbb menunjukkan penurunan tekanan darah diastolik secara bermakna (p 0.05) dibandingkan dengan kontrol negatif. Penurunan tekanan darah diastolik yang paling tinggi ditunjukkan oleh ekstrak B. rotunda dengan persen penurunan sebesar 28,87%. c) Pemberian ekstrak etanol 70% rimpang Z. officinale, Z. purpureum dan K. rotunda pada dosis 500 mg/kgbb menunjukkan penurunan heart rate secara bermakna (p 0.05) dengan kontrol negatif. Penurunan tekanan darah diastolik yang paling tinggi ditunjukkan oleh ekstrak K. rotunda dengan persen penurunan sebesar 36,80%. 5.2 Saran Perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai variasi dosis pada masing masing ekstrak dengan metode in vivo yang sama 58

75 59 DAFTAR PUSTAKA Abdulrazaq, N. B., Cho, M. M., Win, N. N., Zaman, R., & Rahman, M. T. (2012). Beneficial effects of ginger (Zingiber officinale) on carbohydrate metabolism in streptozotocin-induced diabetic rats. British Journal of Nutrition, 108(7), Aberg, J.A., Lacy, C.F et al., (2009). Drug Information Handbook 17th edition, Lexi-Comp for the American Pharmacist Association. Andrajati, R., Sari, S.P., Bahtiar A., & Syafhan, N.F. (2012). Penuntun Praktikum Ilmu Biomedik Dasar. Laboraturium Farmakologi dan Farmakokinetika Departemen Farmasi FMIPA Universitas Indonesia. Anwar, M. A., Al Disi, S. S., & Eid, A. H. (2016). Anti-hypertensive herbs and their mechanisms of action: Part II. Frontiers in Pharmacology, 6(MAR), A.P. Bangun. (2002). Ramuan Tradisional Hipertensi, Jakarta: Agromedia Pustaka. Athiroh N. et al., (2000). Tesis: Efek Scurulla oortiana dan Macrosolen javanus terhadap Kontraktilitas Pembulih Darah Arteri Ekor Tikus Terpisah dengan atau tanpa Endotel. Universitas Brawijaya: Malang. Athiroh, Nour. (2012). Mekanisme Kerja Benalu Teh pada Pembuluh Darah. Jurnal Kedokteran Brawijaya, Vol 27 No. 1. Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Islam Malang Badyal, D. K., Lata, H., & Dadhich, A. P. (2003). Animal Models of Hypertension and Effect of Drugs. Indian Journal of Pharmacology, 35, Budhi Akbar. (2010). No Title. Tumbuhan dengan Kandungan Senyawa Aktif yang Berpotensi sebagai Bahan Antifertilitas. Jakarta: Adabia Press. Chahyadi, A., Hartati, R., & Ruslan, K. (2014). Boesenbergia pandurata Roxb., An Indonesian Medicinal Plant : Phytochemistry, Biological Activity, Plant Biotechnology. Procedia Chemistry, 13, Chirangini, P., Sharma, G. J., & Sinha, S. K. (2004). Sulfur Free Radical Reactivity with Curcumin as Reference for Evaluating Antioxidant Properties of Medicinal Zingiberales. Journal of Environmental Pathology, Toxicology and Oncology, 23(3), Dalimarta, S. (2003). Atlas tumbuhan obat Indonesia, jilid 2, Trubus Agriwidya de Moura, R. S., Viana, F. S. C., Souza, M. A. V., Kovary, K., Guedes, D. C., Oliveira, E. P. B., Correia, M. L. G. (2002). Antihypertensive, vasodilator and antioxidant effects of a vinifera grape skin extract. Journal of Pharmacy and Pharmacology, 54(11), Desmiaty, Y., Winarti, W., Nursih, A. M., Nisrina, H., & Finotory, G. (2018). Antioxidant and Antielastase Activity of <i>kaempferia rotunda<i> and <i>curcuma zedoaria<i>. Research Journal of Chemistry and Environment, 22(Special Issue 1),

76 60 Depkes RI. (2001). Inventaris Tanaman Obat Indonesia (I). Jilid 2. Jakarta: Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Republik Indonesia. Hal Depkes RI. (2013). Profil Kesehatan. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Duke J, et al. (2000). Handbook of medicinal Herbs. United State of America: CRC Press. Elsik, M., Krum, H. (2007). Hypertension: How Long To Go? Australian Prescribed.,30 (1), 6. Francis, S.H., Busch, J.L., Corbin, J.D., dan Sibley, D. (2010). cgmp-dependent protein kinase and cgmp phosphor diesterase sinnitric oxide and cgmp action. Pharmacol.Rev. 62, Foltz, C. J., Ulman-Cullere, M. (1999). Guidelines for Assesing the Health and Condition of Mice. Lab Animal Vol. 28 No.4 Ge T, Hughes H, Junquero DC, Wu KK, Vanhoutte PM and Boulanger CM. (1995). Endothelium- Dependent Contractions are Associated with Both Augmented Expression of Prostaglandin H Synthase-1 and Hypersensitivity to Prostaglandin H in the SHR Aorta. Circulation Research. Ghayur, M. N., & Gilani, A. H. (2005). Ginger Lowers Blood Pressure Through Blockade of Voltage-Dependent Calcium Channels, 45(1), Gunardi & E Fachriyah. (2002). Isolasi dan analisis komponen senyawa kimia dalam minyak atsiri rimpang bengle (Zingiber cassumunar Roxb.). Jurnal Media Medika Indonesia. 3(37): Gunarti, SRI dan E Mayangsari. (2000). Uji daya antelmintik perasan rimpang bangle (Zingiber purpureum Roxb) pada cacing Ascaris suum secara in vitro. Proseding Seminar Nasional XVI Tumbuhan Obat Indonesia. Semarang 5 6 Oktober 1999 : Gormer, Beth. (2007). Farmakologi Hipertensi,terj. Diana Lyrawati, 2008 Nugroho Agung Endo Farmakologi, Pustaka Pelajar: Yogyakarta. Grynberg, A., Demaison, L.(1996). Fatty Acid Oxidation in the Heart. JCardiovasc. Pharmacol., 28 (suppl), S 11- S 17. Grzanna, R., L. Lindmark and C.G. Frondoza. (2005). Ginger a herbal medicinal product with broad anti-inflammatory actions. J. Med. Food 8: Habsah, M., Amran, M., Mackeen, M. M., Lajis, N. H., Kikuzaki, H., Nakatani, N., Ali, A. M. (2000). Screening of Zingiberaceae extracts for antimicrobial and antioxidant activities. Journal of Ethnopharmacology, 72(3), Heinrich, M.; J. Barnes; S. Gibbons; and E.M. Williamson. (2004). Fundamentals of Pharmacognocy and Phytotheraphy. Churchill Livingston. Edinburgh. Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia. Terj. Badan Litbang Kehutanan. Cetakan 1. Koperasi Karyawan Departemen Kehutanan Jakarta Pusat. Hoffman, B. B. (2012). Obat-obat pengaktif adrenoseptor dan simpatomimetik lainnya. In B. G. Katzung, Farmakologi Dasar dan Klinik (pp ). Jakarta: EGC. Helfi Gustia. (2016) Jurnal Agrosains Dan Tekhnologi, 1(1), 46.

77 61 Ismail D. (2003). Penyakit Jantung Hipertensi: Patogenesis dan Patofisiologi Terkini, dalam: Simposium Pendekatan Holistik Penyakit kardiovaskular. Jakarta: Pusat Informasi dan Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam. ISWANTINI, D., SILITONGA, R. F., MARTATILOFA, E., & DARUSMAN, L. K. (2011). Zingiber cassumunar, Guazuma ulmifolia, and Murraya paniculata Extracts as Antiobesity: In Vitro Inhibitory Effect on Pancreatic Lipase Activity. HAYATI Journal of Biosciences, 18(1), Jaipetch, T., Reutrakul, V., Tuntiwachwuttikul, P. and Santisuk, T. (1983). Flavonoids in the Black Rhizomes of Boesenbergia pandurata. Phytochemistry 22(2): James, P. A., Oparil, S., Carter, B. L., Cushman, W. C., Dennison-Himmelfarb, C., Handler, J., Ortiz, E. (2014) Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood Pressure in Adults. Jama, 311(5), Jantan, I. bin, Yassin, M. S. M., Chin, C. B., Chen, L. L., & Sim, N. L. (2003). Antifungal Activity of the Essential Oils of Nine Zingiberaceae Species. Pharmaceutical Biology, 41(5), Joy, P.P. (1998). Zingiberaceous Medicinal and Aromatic Plants. India: Kerala Agricultural University Kang, Y. M., Ma, Y., Zheng, J. P., Elks, C., Sriramula, S., Yang, Z. M., et al. (2009). Brain nuclear factor-kappa B activation contributes to neurohumoral excitation in angiotensin II induced hypertension. Cardiovasc.Res. 82, Kanakasabapathi D, Gopalakrishnan VK. (2015). Evaluation of Antidiabetic Potential of Aqueous Extract of Passiflora edulis Sims on Alloxan Induced Diabetes Mellitus in Wistar Albino Rats. Int. J. Pharm. Sci. Rev. Res. 34(1): Karyasari, (2011). Kunir Putih. putih.html diakses tanggal 22 Februari 2018, Jakarta. Kartikasari, Agnesia N. (2012). Faktor Resiko Hipertensi pada Masyarakat Desa Kabongan Kidul, Kabupaten Rembang. Jurnal Media Medika Muda. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Dipenogoro. Kee, Joycee L., Hayes, Evelyn R. (1996). Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta: EGC. Departemen Farmakologi dan Teurapetik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Keng, H. (1978). Orders and Families of Malayan Seed Plants. Singapore University Press. Singapore. Kent Scientific Corporation, (2011), CODA Multi-channel, Computerized, NonInvasive Blood Pressure system for Mice and Rats, Kent Scientific Corporation, Torrington, Connecticut. Kim, D.Y., Lee, M.S., Jo, K., and Lee, K. E. (2011). Therapeutic Potential of Panduratin A, LKB1-Dependent. AMP-Activated Protein Kinase Stimulator, With Activation of Pparα/Δ For The Treatment Of Obesity. Diabetes. Obes. Metab. 13: Kim, D., Kim, M., Sa, B., Kim, M., & Hwang, J. (2012). Boesenbergia pandurata Attenuates Diet - Induced Obesity by Activating AMP - Activated Protein

78 62 Kinase and Regulating Lipid Metabolism, 0067, Kinnear, P. J. (2011). ADRENALINE ( EPINEPHRINE ) ANAESTHESIA TUTORIAL OF THE WEEK TH JUNE 2011 Correspondence to AAGBI Tutorials, (June), 1 8. Klabunde, E. Richard. (2012). Norepinephrine and Acetylcoline-Synthesis, Release and Metabolism. Diakses dari pada 18 Februari 2018 Kooshki, A., & Hoseini, B. B. L. (2014). Phytochemicals and Hypertension. Shiraz E Medical Journal, 15(1), Konickal, et al,. (2013). Significance of Zingiberaceae in Indian Systems of Medicine-Aryuveda: An overview. Anc Sci Life., 2013; 32(4) : Krinke, J. G. (2000). The Laboratory Rat 1st Edition. United States: Academic Press Kristanti, A. N., N. S. Aminah, M. Tanjung, dan B. Kurniadi. (2008). Buku Ajar Fitokimia. Surabaya: Airlangga University Press. Hal. 23, 47. Kriswanto, (2011). Asal usul Kunyit Putih. akses tanggal 22 Februari Jakarta Lanny Sustrani, dkk. (2004). Hipertensi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Lawrence, G, H, M. (1964). Taxonomi of Vascular Plants. New York: The Macmi Company. Larsen, K, Ibrahim, H, Khaw, S.H and Saw, L.G. (1999). Gingers of Peninsula Malaysia and Singapore. Natural History Publications (Borneo). Kinabalu. Mahmood, A. A., Mariod, A. A., Abdelwahab, S. I., Ismail, S., & Al-Bayaty, F. (2010). Potential activity of ethanolic extract of Boesenbergia rotunda (L.) rhizomes extract in accelerating wound healing in rats. Journal of Medicinal Plants Research, 4(15), Majewski, H., Alade, P. I., & Rand, M. J. (1986). Adrenaline and stress-induced increases in blood pressure in rats. Clin.Exp.Pharmacol.Physiol., 13(1 986), Malkoff, J. (2011). Non-Invasive Blood Pressure for Mice and Rats, Marliani, L. (2012). Aktivitas Antibakteri dan Telaah Senyawa Komponen Minyak Atsiri Rimpang Bangle (Zingiber cassumunar Roxb.). Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan PKM: Sains, Teknologi, dan Kesehatan. Bandung. Hal Malole, M. B. M. Dan C.S. Pramono. (1989). Penggunaan Hewan-Hewan Percobaan Laboraturium. Bogor: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor. Masuda, Y., Kikuzaki, H., Hisamoto, M., & Nakatani, N. (2004). Antioxidant properties of gingerol related compounds from ginger. BioFactors, 21(1 4), McNeill, J. R., & Jurgens, T. M. (2006). A systematic review of mechanisms by which natural products of plant origin evoke vasodilatation. Canadian Journal of Physiology and Pharmacology, 84(8 9), Montezano, A. C., & Touyz, R. M. (2012). Oxidative stress, Noxs, and

79 63 hypertension: Experimental evidence and clinical controversies. Annals of Medicine, 44(SUPPL. 1), Mohan, M. Blalaraman, R. Kasture, SB. (2007). Antihypertensive activity Zingiber officinale and Korean gingseng in experimentally induced hypertension in rats. Oriental Pharmacy and Experimental Medicine 7(3), Murakami, A., Kondo, A., Nakamura, Y., Ohigashi, H., & Koshimizu, K. (1993). Possible anti-tumor promoting properties of edible plants from thailand, and identification of an active constituent, cardamonin, of boesenbergia pandurata. Bioscience, Biotechnology and Biochemistry, 57(11), National Association for Biomedical Research (NABR). (2005). Mice & Rats: The Essential Need for Animals in Medical Research, Retrieved from Research-NABR.pdf Ningsih, D R., Zusfahair., Kartika, D. (2016). Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder serta uji Aktivitas Daun Sirsak sebagai Antibakteri. Molekul, Vol. 11 No. 1 Nuratmi, B., D. Sundari, dan L. Widowati Uji Khasiat Seduhan Rimpang Bangle (Zingiber purpureum Roxb.) sebagai Laksansia pada Tikus Putih. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, XV (3): 8-11 Nurrani, L Pemanfaatan Tradisional Tumbuhan Alam Berkhasiat Obat Oleh Masyarakat Di Sekitar Cagar Alam Tangale. Vol 3. No 1. BPK. Lokakarya Nasional Tumbuhan Obat indonesia. Apforgen News Letter Edisi 2 Tahun Ojewole, John A. O Analgesic, Antiinflammatory and Hypoglycemic Effects of Ethanol Extract of Zingiber officinale (Roscoe) Rhizomes Zingiberaceae in Mice and Rats. Phytoter. Res. 20, DOI: /ptr.1952 Oparil, S., Zaman, M.A., dan Calhoun, D.A. (2003). Pathogenesis of hypertension. Ann.Intern.Med. 139, Pai BR., et al. (1970). Occurence of cretopoxida in Kaempfria Rotunda Linn. Indian J Chem;8-468 Padmasari, P. D., Astuti, K. W., & Warditiani, N. K. (2013). Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol 70% Rimpang Bangle (Zingiber purpureum Roxb.). Jurnal Farmasi Udayana, 366(4), Universitas Udayana Parmley WW. (1998). Evolution of Angiotensin-Converting Enzyme Inhibition in Hypertension, Heart Failure and Vascular Protection. America Journal of Medicine: USA Pathong, A., Tassaneeyakul, W., Kanjanapothi, D., Tuntiwachwuttikul, P., Reutrakul, V. (1989). Antiinflammatory Activity Of 5, 7-Dimethoxyflavone. Planta Med. 55(2): Permatasari, N., Farmakologi, L., Kedokteran, F., Brawijaya, U., Derived, E., Factor, R., & Oksida, S. N. (2016). Mekanisme Kerja Benalu Teh pada Pembuluh Darah Mechanism of Tea Mistletoe Action on Blood Vessels, 27(1), 1 7.

80 64 Pinto, Y.M., Paul, M., & Ganten, D. (1998). Lessons from rat models of hypertension; from goldbatt tom genetic engineering. Cardiovascular Research. Pusat data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI a. (2014). Infodatin Hipertensi. Kementerian Kesehatan RI. Prashant Tiwari, B., Kumar, M. K., & Gurpreet Kaur, H. K. (2011). Phytochemical screening and extraction - A review. Internationale Pharmaceutica Sciencia, 1(1), Rahajeng, Ekowati; Tuminah, Sulistyowati. Prevalensi Hipertensi dan Determinannya di Indonesia. Pusat Penelitian Biomedis dan Farmasi, Badan Penelitian Kesehatan: Departemen Kesehatan RI, Jakarta. Rao, P. Rama; Reddy, M. Narender; Ramakrishna; Sistla, Ramakrishna; Diwan, Prakash V. (2003) Comparative in vivo evaluation of propranolol hydrochloride after oral and transdermal administration in rabbits. European Journal of Pharmaceutics and Biopharmaceutics 56: Rodrigo, R., González, J., & Paoletto, F. (2011). The role of oxidative stress in the pathophysiology of hypertension. Hypertension Research, 34(4), Rukmana, R. (2000). Usaha Tani Jahe. Yogyakarta: Penerbit Kanisius: Rukmana, R. (2008). Temu-temuan, Apotik Hidup di Pekarangan. Yogyakarta: Kanisius. Rohaendi. (2008). Treatment Of High Blood Pressure. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Pengaruh antihipertensi dan antioksidan. Saowaluck, B. I., & Paisooksantivatana, Y. (2009). Essential oil and antioxidant activity of cassumunar ginger (zingiberaceae: Zingiber montanum (koenig) link ex dietr.) collected from various parts of Thailand. Kasetsart Journal - Natural Science, 43(3), Silalahi, M., Nisyawati, Walujo, E.B., and Supriatna, J. (2015). Local Knowledge of Medicinal Plants In Sub-Ethnic Batak Simalungun of North Sumatra, Indonesia, Biodiversitas 16(1): Silalahi, M. (2017). Boesenbergia rotunda ( L.). Mansfeld : Manfaat dan Metabolit Sekundernya. Jurnal EduMatSains, 1(2), Retrieved from _L_Mansfeld_Manfaat_dan_Metabolit_Sekundernya Silva, B. R., Pernomian, L., & Bendhack, L. M. (2012). Contribution of oxidative stress to endothelial dysfunction in hypertension. Frontiers in Physiology, 3 DEC(December), Sini, S., Latha, P. G., Anilkumar, T. V., Suja, S. R., Raj, G., Rameshkumar, K. B., Rajasekharan, S. (2014). Safety assessment of tuberous rhizome of Kaempferia rotunda L. by acute and 28-days repeated dose toxicity studies. Global Journal of Pharmacology, 8(2), Sirirugsa, P. (1998). Thai Zingiberaceae: Species Diversity And Their Uses. Sjakoer, N.A.A & Permatasari, N. (2011). Mekanisme deoxycortisone acetate (DOCA)-garam terhadap peningkatan tekanan darah pada hewan coba. Elhayah.

81 65 Snyder, C. R., J. J. Kirkland, and J. L. Glajach. (1997). Practical HPLC Method Development, Second Edition. New York: John Wiley and Sons, Lnc. Pp Suekawa, M, Ishige, A, Yuasa, K, Sudo, K, Aburada, M, Hosoya, E. (1984). Pharmacological studies on ginger. I. Pharmacological actions of pungent constitutents, (6)-gingerol and (6)-shogaol. Journal of Pharmacobio- Dynamics 7: Suekawa, M, Aburada, M, Hosoya, E. (1986). Pharmacological studies on ginger. II. Pressor action of (6)-shogaol in anesthetized rats, or hindquarters, tail and mesenteric vascular beds of of rats. Journal of Pharmacobio-Dynamics 9: Suparto, I, E. et al., (2000). Kajian awal potensi bangle (Zingiber purpureum Roxb.) sebagai hepato-protektor. Proseding Seminar Nasional XVI Tumbuhan Obat Indonesia. Semarang 5 6 Oktober 1999 : Stoclet, J.C., Chataigneau, T., Ndiaye, M., Iak, M.H., Bedoui, J.E., Chataigneau, M., & Schini-Kerth, V.B. (2004). Vascular protection by dietary poliphenols. European journal of Pharmacology. Sulastri, D., & Liputo, N. I. (2011). pada Penderita Hipertensi Etnik Minangkabau Antioxidant Consumption and enos3 Gene -786T > C Allel Expression in Hypertension Patients in Minangkabau Ethnicity, 43(1), 1 9. Syukur, Cheppy Hernani. (2001). Budi Daya Tanaman Obat Komersial. Penebar Swadaya Jakarta. Tan Hoan Tjay & Rahardja, K. (2007). Obat-obatan Penting: Khasiat dan Efek Sampingnya. Edisi 6. Jakarta: Gramedia Tjitrosoepomo, G. (1988). Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Tjitrosoepomo, G. (1994). Taksonomi Tumbuhan Obat-Obatan. Cetakan 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Taweechaisupapong, S., Singhara, S., Lertsatitthanakorn, P., & Khunkitti, W. (2010). Antimicrobial effects of Boesenbergia pandurata and Piper sarmentosum leaf extracts on planktonic cells and biofilm of oral pathogens. Pakistan Journal of Pharmaceutical Sciences, 23(2), Tewtrakul, S., Subhadhirasakul, S., Puripattanavong, J., and Panphadung, T. (2003). HIV-1 Activities of Panduratin A, an Active Compound From Temu Kunci (Boesenbergia rotunda). CISAK C4/P38: 1-4 Touyz, R. M. (2004). Reactive oxygen species, vascular oxidative stress, and redox signaling in hypertension: What is the clinical significance? Hypertension, 44(3), Tung, L. H., Rand, M. J., & Majewski, H. (1981). Adrenaline-induced hypertension in rats. Clinical Science, 61, Verkrijging, T. E. R., Doctor, V. A. N. D. E. G. V. A. N., Erasmus, A. A. N. D. E., Rotterdam, U., Gezag, O. P., & Magnificus, V. A. N. D. E. R. (1991). Adrenaline and hypertension. Wahdah N. (2011). Menaklukkan Hipertensi dan Diabetes (Mendeteksi, Mencegah Dan Mengobati Dengan Cara Medis dan Herbal). Yogyakarta: Penerbit Multipress.

82 66 Waynforth, H.B. (1980). Experimental and Surgical Technique in the rat. London: Academic Press Winarsi, H. (2007). Antioksidan alami & radikal bebas potensi dan aplikasinya dalam kesehatan. Yogyakarta: Kanisius Widodo, MA. (1998). Memahami Struktur dan Fungsi Endotel untuk Menjelaskan Patogenesa Penyakit Kardiovaskular. Pidato Pengukuhan jabatan Guru Besar dalam Ilmu Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Malang. Hal Winarsi H. (2004). Efek Minuman Fungsional yang Disuplementasi Isoflavon Kedelai dan Zn terhadap Profil Lipid dan Produk MDA Plasma Wanita Premenopouse. Prosiding Seminal Nasional PBBMI. Peran Biokimia dalam Biologi Molekuler dalam Eksplorasi dan Pemanfaatan Sumber Daya Hayati. Wijayakusumah, et al., (1996). Tanaman berkhasiat obat di Indonesia. Pustaka Kartini. Jilid ke 4 : 166p. Wijayakusuma M. (2007). Penyembuhan dengan temulawak. Jakarta: Sarana Pustaka Prima World Health Organization. (2000). General Guidelines for Methodologies on Research and Evaluation of Traditional Medicine. WHO-Geneva, 1, Yonata, A., & Pratama, A. S. P. (2016). Hipertensi sebagai Faktor Pencetus Terjadinya Stroke. Jurnal Majority, 5(3), Retrieved from Yoshida, J., Yamamoto, K., Mano, T., Sakata, Y., Nishikawa, N., Nishio, M., Masuyama, T. (2004). AT1 Receptor Blocker Added to ACE Inhibitor Provides Benefits at Advanced Stage of Hypertensive Diastolic Heart Failure. Hypertension, 43(3), Yves, K., Timothée, O., & Félix, Y. (2017). Evaluation of Antidiabetic Activity of Aqueous and Etylic alcohol Extracts of Stem Bark of Xylopia villosa Chipp (Annonaceae). Advances in Diabetes and Metabolism, 5(14712),

83 LAMPIRAN LAMPIRAN 1. Alur Pembuatan Ekstrak Determinasi Rimpang segar Z. officinale, Z. purpureum, K. rotunda dan B. rotunda masing masing 10 kg Serbuk simplisia Z. officinale (1,7 kg); Z. purpureum (1,9 kg); K. rotunda (1,85 kg) dan B. rotunda (1,7 kg) Dicuci, dirajang menggunakan pisau, dikering anginkan dan diserbukkan menggunakan blender Penetapan parameter spesifik dan non spesifik Maserasi dengan etanol 70% Maserat Ekstrak Kental Pembuatan Larutan Ekstrak Disaring menggunakan kapas dan kertas saring Dipekatkan dengan vacuum rotary evaporator Ekstrak kental disimpan dalam desikator 67

84 68 LAMPIRAN 2. Alur Kerja Uji Aktivitas Antihipertensi Tikus di aklimatisasi selama 1-2 minggu, diberi pakan dan minum secara adlibitum dan diperiksa tekanan darah sistolik, diastolik dan heart rate pada hari ke-0 Induksi Hipertensi dengan 1 mg/kgbb adrenalin secara i.p selama 7 hari,kecuali kelompok normal Ukur tekanan darah sistolik, diastolik dan heart rate semua kelompok (Hari ke-7) Kelompok Z. officinale 7 ekor tikus, induksi adrenalin + ekstrak 500 mg/kgbb dalam larutan aquades selama 7 hari. Kelompok Z. purpureum 7 ekor tikus, induksi adrenalin + ekstrak 500 mg/kgbb dalam larutan aquades tikus selama 7 hari. Kelompok B. rotunda 7 ekor tikus, induksi adrenalin + ekstrak 500 mg/kgbb larutan aquades selama 7 hari. Kelompok K. rotunda 7 ekor tikus, induksi adrenalin + ekstrak 500 mg/kgbb dalam larutan aquades selama 7 hari. Kelompok Kontrol (+) propanolol Kelompok Kontrol (-) Kelompok Normal 7 ekor tikus, induksi adrenalin + propanolol dalam larutan aquades selama 7 hari 7 ekor tikus, induksi adrenalin + larutan aquades 7 ekor tikus normal + larutan aquades Diukur tekanan darah sistolik, diastolik dan heart rate semua kelompok di periode akhir percobaan (Hari ke-14)

85 69 LAMPIRAN 3. Hasil Determinasi Sampel Tumbuhan Uji

86 70 LAMPIRAN 4. Surat Keterangan Hewan Uji

87 71 LAMPIRAN 5. Surat Keterangan Lolos Kaji Etik Hewan Penelitian

88 72 LAMPIRAN 6. Hasil Skrining Fitokimia Ekstrak No Skrining Metode Ekstrak Ket Z. officinale Positif Z. purpureum Positif 1 Flavonoid Alkaline reagent test: Cuplikan ekstrak pada plat tetes + beberapa tetes NaOH kuning intens + beberapa tetes HCl encer *keterangan: gambar atas (sebelum) dan gambar bawah (sesudah) K. rotunda Positif B. rotunda Positif Z. officinale Positif Terpenoid

89 73 Z. purpureum 2 Terpenoid/ steroid Lieberman-Buchard : 2 ml larutan ekstrak diuapkan dalam cawan porselen residu yang terbentuk + 0,5 ml kloroform + 0,5 ml asam asetat anhidrat + 2 ml H 2SO 4 pekat melalui dinding tabung (+) terpenoid : membentuk cincin kecoklatan atau violet (+) steroid : membentuk cincin biru kehijauan K. rotunda Positif Terpenoid Positif terpenoid B. rotunda Positif terpenoid Z. officinale Negatif Z. purpureum Negatif

90 74 3 Alkaloid K. rotunda Negatif Meyer Test Cuplikan ekstrak dilarutkan kedalam 10 ml campuran aquades : HCl 2 N (9:1) + saring filtrat + teteskan pereaksi meyer (+) terbentuk endapan putih B. rotunda Negatif Z. officinale Positif Z. purpureum Positif 4 Senyawa Fenol Ferric Chloride Test : Kocok cuplikan ekstrak dengan eter pada tabung reaksi kemudian pindahkan kedalam plat tetes tetes larutan FeCl3 (+) apabila terbentuk warna biru kehitaman K. rotunda Positif

91 75 B. rotunda Positif Z. officinale Negatif Z. purpureum Positif 5 Saponin Foam test : 0,5 mg ekstrak kental + 2 ml aquades + kocok kuat hingga berbusa + diamkan selama 10 menit (+) apabila busa tetap stabil K. rotunda Positif B. rotunda Positif

92 76 Z. officinale Negatif Z. purpureum Negatif 6 Tanin Ferric Chloride Test Ekstrak dalam 10 ml aquades dipanaskan dalam tabung reaksi + saring + filtrat ditambahkan FeCl3 (+) apabila terbentuk warna biru, hijau, atau biru kehijauan K. rotunda Negatif B. rotunda Negatif Z. officinale Positif 7 Fitosterol Swakowski Test : Cuplikan ekstrak dilarutkan dalam 5 ml kloroform + beberapa tetes H2SO4 (+) apabila terbentuk cincin warna coklat Z. purpureum Positif

93 77 K. rotunda Positif B. rotunda Positif

94 78 LAMPIRAN 7. Konversi Dosis Hewan Dosis lazim propanolol untuk hipertensi adalah 80 mg/70 kg. Dengan VAO 2 ml dan jumlah tikus sebanyak 7 ekor dengan perkiraan BB tikus 200 gram, maka dosis hewan yang dibutuhkan: Km Tikus Dosis Manusia = Dosis Hewan x Km Manusia 80mg/70kg = Dosis Hewan x 6 37 Dosis Hewan = 7,047 mg/kg Dengan dosis 7,047 mg/kg maka konsentrasi yang dibutuhkan adalah: VAO = 2 ml = BB (kg)x Dosis ( mg kg ) Konsentrasi ( mg ml ) 0,2 kgx 7,047 ( mg kgbb ) Konsentrasi ( mg ml ) Konsentrasi = 0,704 mg/ml 0,704mg/mL x 30 ml = 21,14 mg/hari = 147,98 mg/7 hari LAMPIRAN 8. Perhitungan Dosis Ekstrak Ekstrak Z. officinale VAO = 2 ml = BB (kg)x Dosis ( mg kg ) Konsentrasi ( mg ml ) 0,2 kgx 500( mg kgbb ) Konsentrasi ( mg ml ) Konsentrasi = 50 mg/ml 50 mg x 20 ml = 1000 mg/hari

95 79 Ekstrak Z. purpureum VAO = 2 ml = BB (kg)x Dosis ( mg kg ) Konsentrasi ( mg ml ) 0,2 kgx 500( mg kgbb ) Konsentrasi ( mg ml ) Konsentrasi = 50 mg/ml 50 mg x 20 ml = 1000 mg/hari Ekstrak K. rotunda VAO = 2 ml = BB (kg)x Dosis ( mg kg ) Konsentrasi ( mg ml ) 0,2 kgx 500( mg kgbb ) Konsentrasi ( mg ml ) Konsentrasi = 50 mg/ml 50 mg x 20 ml = 1000 mg/hari Ekstrak B. rotunda VAO = 2 ml = BB (kg)x Dosis ( mg kg ) Konsentrasi ( mg ml ) 0,2 kgx 500( mg kgbb ) Konsentrasi ( mg ml ) Konsentrasi = 50 mg/ml 50 mg x 20 ml = 1000 mg/hari

96 80 LAMPIRAN 9. Dokumentasi Penelitian A. Penyiapan Simplisia dan Pembuatan Ekstrak Simplisia Tanaman Z. officinale Simplisia Tanaman Z. purpureum Simplisia Tanaman K. rotunda Simplisia Tanaman B. rotunda Proses Maserasi Proses Filtrasi Pemekatan dengan Vacuum Rotary Evaporator Ekstrak Z. officinale Ekstrak Z. purpureum

97 81 Ekstrak K. rotunda Ekstrak B. rotunda Penimbangan Ekstrak Pembuatan Larutan Uji Larutan Uji

98 82 B. Perlakuan Hewan Uji Aklimatisasi hewan uji Penimbangan berat badan hewan uji Penyuntikan adrenalin ke hewan uji Penyiapan larutan uji Penyodean zat uji Proses memasukkan tikus ke dalam holder Pengukuran tekanan darah hewan uji Terminasi Hewan Uji

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tekanan darah merupakan faktor yang penting bagi kesehatan seseorang, namun hal ini masih jarang diperhatikan sehingga banyak orang yang mengalami kelainan tekanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi seringkali disebut sebagai silent killer, karena termasuk penyakit yang mematikan tersering tanpa disertai dengan gejala-gejalanya lebih dahulu sebagai peringatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyakit kronis yang paling sering terjadi baik pada negara maju maupun negara berkembang. Menurut klasifikasi JNC VII

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi adalah penyakit yang terjadi akibat peningkatan tekanan darah. Penyakit ini diklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu hipertensi primer atau esensial dan hipertensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Prevalensi hipertensi atau tekanan darah tinggi di Indonesia cukup tinggi. Selain itu, akibat yang ditimbulkannya menjadi masalah kesehatan masyarakat. Hipertensi merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi atau tekanan darah tinggi dikenal luas sebagai penyakit kardiovaskular, merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering ditemukan di masyarakat modern

Lebih terperinci

1 Universitas Kristen Maranatha

1 Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tekanan darah merupakan salah satu tanda vital kehidupan manusia. Tekanan darah dibagi menjadi tekanan sistolik yaitu tekanan dalam arteri saat jantung berdenyut (ketika

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN kematian akibat hipertensi di Indonesia. Hipertensi disebut sebagai. (menimbulkan stroke) (Harmilah dkk., 2014).

BAB I PENDAHULUAN kematian akibat hipertensi di Indonesia. Hipertensi disebut sebagai. (menimbulkan stroke) (Harmilah dkk., 2014). BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menjadi salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas di Indonesia (Soenarta,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas) (Purwanto,

BAB I PENDAHULUAN. angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas) (Purwanto, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hipertensi adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang mengakibatkan peningkatan angka kesakitan (morbiditas)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penyebab kematian, yang dapat menyebabkan gangguan kardiovaskular seperti stroke, gagal jantung dan penyakit jantung koroner.

Lebih terperinci

BAB VI PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. menggunakan uji One Way Anova. Rerata tekanan darah sistolik kelompok

BAB VI PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. menggunakan uji One Way Anova. Rerata tekanan darah sistolik kelompok BAB VI PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN 6.1 Data Hasil Penelitian Uji perbandingan antara keempat kelompok sebelum perlakuan menggunakan uji One Way Anova. Rerata tekanan darah sistolik kelompok kontrol adalah

Lebih terperinci

5/30/2013. dr. Annisa Fitria. Hipertensi. 140 mmhg / 90 mmhg

5/30/2013. dr. Annisa Fitria. Hipertensi. 140 mmhg / 90 mmhg dr. Annisa Fitria Hipertensi 140 mmhg / 90 mmhg 1 Hipertensi Primer sekunder Faktor risiko : genetik obesitas merokok alkoholisme aktivitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tekanan darah adalah gaya yang ditimbulkan oleh darah terhadap dinding pembuluh darah, bergantung pada volume darah dan distensibilitas dinding pembuluh darah (Sherwood,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi menurut kriteria JNC VII (The Seventh Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and treatment of High Blood Pressure), 2003, didefinisikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi adalah pengukuran tekanan darah di atas skala normal (120/80 mmhg). Hipertensi juga dikatakan sebagai suatu keadaan di mana tekanan sistolik lebih dari 140

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmhg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmhg (JNC7, 2003). Peningkatan tekanan darah yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan manusia di seluruh dunia saat ini ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain, demografi penuaan, urbanisasi yang cepat, dan gaya hidup tidak sehat. Salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terhadap penyakit kardiovaskuler. The Third National Health and Nutrition

BAB I PENDAHULUAN. terhadap penyakit kardiovaskuler. The Third National Health and Nutrition BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap penyakit kardiovaskuler. The Third National Health and Nutrition Examination Survey mengungkapkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi merupakan masalah yang sering dijumpai baik pada negara maju maupun negara berkembang dan menjadi salah satu penyebab kematian paling sering di dunia. Hipertensi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1. Berenuk (Crescentia cujete L). a. Sistematika Tumbuhan Kingdom : Plantae Sub kingdom : Tracheobionata Super divisi : Spermatophyta Divisi : Magnoliophyta

Lebih terperinci

Prevalensi hipertensi berdasarkan yang telah terdiagnosis oleh tenaga kesehatan dan pengukuran tekanan darah terlihat meningkat dengan bertambahnya

Prevalensi hipertensi berdasarkan yang telah terdiagnosis oleh tenaga kesehatan dan pengukuran tekanan darah terlihat meningkat dengan bertambahnya BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit hipertensi atau disebut juga tekanan darah tinggi adalah suatu keadaan ketika tekanan darah di pembuluh darah meningkat secara kronis. Tekanan darah pasien

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tekanan darah adalah gaya yang diberikan oleh darah kepada dinding pembuluh darah yang dipengaruhi oleh volume darah, kelenturan dinding, dan diameter pembuluh darah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tekanan darah secara umum dapat diartikan sebagai gaya dorong darah terhadap dinding pembuluh darah arteri. Tekanan darah dicatat dengan dua angka yaitu angka tekanan

Lebih terperinci

TEKANAN DARAH TINGGI (Hipertensi)

TEKANAN DARAH TINGGI (Hipertensi) TEKANAN DARAH TINGGI (Hipertensi) DEFINISI Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri. Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.Gambaran Umum Pasien Hipertensi di Puskesmas Kraton dan Yogyakarta Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan antihipertensi yang dapat mempengaruhi penurunan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan teoritik A.1. Hipertensi a. Definisi : Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah seseorang adalah 140 mmhg (tekanan sistolik) dan atau 90 mmhg (tekanan darah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat dunia karena prevalensinya yang tinggi dan berperan penting dalam meningkatkan risiko berkembangnya penyakit kardiovaskular,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri, mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan sangat serius saat ini. Hipertensi disebut juga sebagai the silent killer. Hipertensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hipertensi adalah salah satu penyakit pembunuh diam-diam (silent killer)

BAB I PENDAHULUAN. Hipertensi adalah salah satu penyakit pembunuh diam-diam (silent killer) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi adalah salah satu penyakit pembunuh diam-diam (silent killer) yang dikenal sebagai penyakit kardiovaskular. Meningkatnya tekanan darah dan gaya hidup yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi atau tekanan darah tinggi menurut JNC 7 adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmhg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmhg. Hipertensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jantung merupakan sistem kardiovaskular yang bekerja untuk mensuplai oksigen dan nutrisi ke jaringan dan organ tubuh lainnya. Jantung terbagi menjadi empat ruang, yaitu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut WHO dan the International Society of Hypertension (ISH), saat ini terdapat

BAB I PENDAHULUAN. Menurut WHO dan the International Society of Hypertension (ISH), saat ini terdapat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hipertensi saat ini telah menjadi masalah kesehatan yang serius di dunia. Menurut WHO dan the International Society of Hypertension (ISH), saat ini terdapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hipertensi adalah penyakit kardiovaskuler degeneratif kronis. Hipertensi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hipertensi adalah penyakit kardiovaskuler degeneratif kronis. Hipertensi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hipertensi adalah penyakit kardiovaskuler degeneratif kronis. Hipertensi diperkirakan telah menyebabkan 4,5% dari beban penyakit secara global. Prevalensi penyakit

Lebih terperinci

Ditulis oleh Administrator Kamis, 07 Agustus :39 - Terakhir Diperbaharui Kamis, 02 April :21 EFEK VASKULER OBAT ANTIHIPERTENSI

Ditulis oleh Administrator Kamis, 07 Agustus :39 - Terakhir Diperbaharui Kamis, 02 April :21 EFEK VASKULER OBAT ANTIHIPERTENSI EFEK VASKULER OBAT ANTIHIPERTENSI ABSTRAK Secara hemodinamik tekanan darah ditentukan oleh cardic out put (CO) dan systemic vascular resistance (SVR). Cardiac out put ditentukan oleh stroke volume dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan peningkatan angka morbiditas secara global sebesar 4,5 %, dan

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan peningkatan angka morbiditas secara global sebesar 4,5 %, dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi dikenal secara luas sebagai penyakit kardiovaskular dimana penderita memiliki tekanan darah diatas normal. Penyakit ini diperkirakan telah menyebabkan peningkatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Secara global, prevalensi penderita diabetes melitus di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Secara global, prevalensi penderita diabetes melitus di Indonesia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara global, prevalensi penderita diabetes melitus di Indonesia menduduki peringkat keempat di dunia dan prevalensinya akan terus bertambah hingga mencapai 21,3 juta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi merupakan kondisi meningkatnya tekanan darah melebihi tekanan darah normal, yaitu sistolik lebih dari 140 atau lebih dan diastolik lebih dari 90 atau lebih

Lebih terperinci

Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)

Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi) Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi) Data menunjukkan bahwa ratusan juta orang di seluruh dunia menderita penyakit hipertensi, sementara hampir 50% dari para manula dan 20-30% dari penduduk paruh baya di

Lebih terperinci

Penyakit diabetes mellitus digolongkan menjadi dua yaitu diabetes tipe I dan diabetes tipe II, yang mana pada dasarnya diabetes tipe I disebabkan

Penyakit diabetes mellitus digolongkan menjadi dua yaitu diabetes tipe I dan diabetes tipe II, yang mana pada dasarnya diabetes tipe I disebabkan BAB 1 PENDAHULUAN Diabetes mellitus (DM) merupakan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang ditandai dengan kondisi hiperglikemia (Sukandar et al., 2009). Diabetes menurut WHO (1999) adalah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Menurut JNC 7 Hipertensi adalah tekanan darah sistolik 140 mmhg dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Menurut JNC 7 Hipertensi adalah tekanan darah sistolik 140 mmhg dan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi merupakan kondisi yang sangat sering ditemukan di layanan primer dan masih menjadi salah satu keadaan yang paling dapat dicegah dalam konstribusinya menyebabkan

Lebih terperinci

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Pemberian sediaan poliherbal menurunkan tekanan darah tikus model

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Pemberian sediaan poliherbal menurunkan tekanan darah tikus model 50 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN V.1. Kesimpulan 1. Pemberian sediaan poliherbal menurunkan tekanan darah tikus model hipertensi pada dosis 126 mg/kgbb dan 252 mg/kgbb dibandingkan kontrol negatif. 2. Pemberian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I 1.1 Latar Belakang PENDAHULUAN Masyarakat terutama yang tinggal di kota-kota besar cenderung mempunyai pola makan yang tidak sehat karena sering mengkonsumsi makanan siap saji, hal ini meningkatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi adalah salah satu penyakit yang paling umum melanda dunia. Hipertensi merupakan tantangan kesehatan masyarakat, karena dapat mempengaruhi resiko penyakit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penyakit dari penyakit infeksi ke penyakit non infeksi, yaitu penyakit tidak

BAB I PENDAHULUAN. penyakit dari penyakit infeksi ke penyakit non infeksi, yaitu penyakit tidak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terjadinya transisi epidemiologi secara paralel, transisi demografi dan transisi teknologi di Indonesia dewasa ini telah mengubah pola penyebaran penyakit dari penyakit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah suatu proses patofisiologi dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif dan pada umumnya berakhir

Lebih terperinci

POLA PERESEPAN OBAT PADA PENDERITA HIPERTENSI DI APOTEK SEHAT FARMA KLATEN TAHUN 2010

POLA PERESEPAN OBAT PADA PENDERITA HIPERTENSI DI APOTEK SEHAT FARMA KLATEN TAHUN 2010 POLA PERESEPAN OBAT PADA PENDERITA HIPERTENSI DI APOTEK SEHAT FARMA KLATEN TAHUN 2010 Farida Rahmawati, Anita Agustina INTISARI Hipertensi adalah kenaikan tekanan darah arteri melebihi normal dan kenaikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masyarakat yang terutama tinggal di kota-kota besar cenderung mempunyai pola makan yang tidak sehat, karena sering mengonsumsi makanan siap saji, hal ini meningkatkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada tahun 200 SM sindrom metabolik yang berkaitan dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein, diberi nama diabetes oleh Aretaeus, yang kemudian dikenal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hipertensi telah menjadi penyebab kematian yang utama dari 57,356 penduduk Amerika, atau lebih dari 300,000 dari 2.4 milyar total penduduk dunia pada tahun 2005. Selebihnya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. disebut the silence disease. Penyakit ini juga dikenal sebagai heterogenous

BAB I PENDAHULUAN UKDW. disebut the silence disease. Penyakit ini juga dikenal sebagai heterogenous BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Salah satu penyakit yang sering dijumpai di masyarakat adalah tekanan darah tinggi atau hipertensi. Hipertensi adalah kondisi medis dimana terjadi peningkatan tekanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan manusia sangat padat dan beraneka ragam. Manusia menjalani

BAB I PENDAHULUAN. dilakukan manusia sangat padat dan beraneka ragam. Manusia menjalani BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di era perubahan zaman yang modern, berbagai macam aktivitas yang dilakukan manusia sangat padat dan beraneka ragam. Manusia menjalani kehidupan dengan persaingan tingkat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perubahan jaman dan perkembangan teknologi dapat mempengaruhi pola hidup masyarakat. Banyak masyarakat saat ini sering melakukan pola hidup yang kurang baik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem kardiovaskular terdiri dari jantung, jaringan arteri, vena, dan kapiler yang mengangkut darah ke seluruh tubuh. Darah membawa oksigen dan nutrisi penting untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan jumlah penderita seiring dengan adanya peningkatan

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan jumlah penderita seiring dengan adanya peningkatan 1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Diabetes mellitus (DM) merupakan masalah kesehatan utama di seluruh dunia dengan jumlah penderita yang semakin meningkat (IDF, 2007). Peningkatan jumlah penderita

Lebih terperinci

statistik menunjukkan bahwa 58% penyakit diabetes dan 21% penyakit jantung yang kronik terjadi pada individu dengan BMI di atas 21 (World Heart

statistik menunjukkan bahwa 58% penyakit diabetes dan 21% penyakit jantung yang kronik terjadi pada individu dengan BMI di atas 21 (World Heart BAB 1 PENDAHULUAN Obesitas berasal dari bahasa Latin yaitu obesus yang berarti gemuk. Obesitas atau yang lebih dikenal dengan kegemukan adalah kondisi dimana terjadi peningkatan berat badan melebihi batas

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada hewan uji yang diinduksi

BAB V PEMBAHASAN. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada hewan uji yang diinduksi BAB V PEMBAHASAN A. Uji Tekanan Darah Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada hewan uji yang diinduksi larutan NaCl 8%, didapatkan hasil berupa penurunan rerata tekanan darah sebelum dan sesudah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengidap penyakit ini, baik kaya, miskin, muda, ataupun tua (Hembing, 2004).

BAB I PENDAHULUAN. mengidap penyakit ini, baik kaya, miskin, muda, ataupun tua (Hembing, 2004). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Banyak orang yang masih menganggap penyakit diabetes merupakan penyakit orang tua atau penyakit yang timbul karena faktor keturunan. Padahal diabetes merupakan penyakit

Lebih terperinci

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH Indonesia terletak di daerah tropis dan sangat kaya dengan berbagai spesies flora. Dari 40 ribu jenis flora yang tumbuh di dunia, 30 ribu diantaranya tumbuh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jenis kanker yang mempunyai tingkat insidensi yang tinggi di dunia, dan kanker kolorektal) (Ancuceanu and Victoria, 2004).

BAB I PENDAHULUAN. jenis kanker yang mempunyai tingkat insidensi yang tinggi di dunia, dan kanker kolorektal) (Ancuceanu and Victoria, 2004). 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Insiden penyakit kanker di dunia mencapai 12 juta penduduk dengan PMR 13%. Diperkirakan angka kematian akibat kanker adalah sekitar 7,6 juta pada tahun 2008. Di negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengukuran tekanan darah sistolik 140 mmhg atau tekanan darah. diastolik 90 mmhg. Seseorang mengalami peningkatan tekanan darah

BAB I PENDAHULUAN. pengukuran tekanan darah sistolik 140 mmhg atau tekanan darah. diastolik 90 mmhg. Seseorang mengalami peningkatan tekanan darah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut JNC VII (2003), Hipertensi adalah keadaan pengukuran tekanan darah sistolik 140 mmhg atau tekanan darah diastolik 90 mmhg. Seseorang mengalami peningkatan tekanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyakit kronis paling sering terjadi di negara industri dan berkembang. Klasifikasi menurut JNC VII (the Seventh US

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keluar dari mulut (UMMC, 2013). Penyebab mual dan muntah ini ada

BAB I PENDAHULUAN. keluar dari mulut (UMMC, 2013). Penyebab mual dan muntah ini ada BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mual adalah perasaan dorongan kuat untuk muntah. Muntah atau memuntahkan adalah memaksa isi perut naik melalui kerongkongan dan keluar dari mulut (UMMC, 2013). Penyebab

Lebih terperinci

PENGANTAR KESEHATAN. DR.dr.BM.Wara K,MS Klinik Terapi Fisik FIK UNY. Ilmu Kesehatan pada dasarnya mempelajari cara memelihara dan

PENGANTAR KESEHATAN. DR.dr.BM.Wara K,MS Klinik Terapi Fisik FIK UNY. Ilmu Kesehatan pada dasarnya mempelajari cara memelihara dan PENGANTAR KESEHATAN DR.dr.BM.Wara K,MS Klinik Terapi Fisik FIK UNY PENGANTAR Ilmu Kesehatan pada dasarnya mempelajari cara memelihara dan meningkatkan kesehatan, cara mencegah penyakit, cara menyembuhkan

Lebih terperinci

ANALISIS KADAR FLAVONOID TOTAL PADA RIMPANG, BATANG, DAN DAUN BANGLE (Zingiber purpureum Roscoe)

ANALISIS KADAR FLAVONOID TOTAL PADA RIMPANG, BATANG, DAN DAUN BANGLE (Zingiber purpureum Roscoe) ANALISIS KADAR FLAVONOID TOTAL PADA RIMPANG, BATANG, DAN DAUN BANGLE (Zingiber purpureum Roscoe) Irma Erika Herawati 1*, Nyi Mekar Saptarini 2, Nurussofiatur Rohmah Urip 1 1 Jurusan Farmasi Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. darah sistolik dan diastolik (Darmawan & Zulfa, 2015). Tekanan darah

BAB I PENDAHULUAN. darah sistolik dan diastolik (Darmawan & Zulfa, 2015). Tekanan darah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik (Darmawan & Zulfa, 2015). Tekanan darah disebut normal jika tekanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tingkat stress yang dialami. Tekanan darah sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor

BAB I PENDAHULUAN. tingkat stress yang dialami. Tekanan darah sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah arterial abnormal yang berlangsung terus-menerus (Brashers, 2007). Hipertensi adalah peningkatan tekanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Trombosit merupakan sel darah yang berperan penting dalam proses

BAB I PENDAHULUAN. Trombosit merupakan sel darah yang berperan penting dalam proses BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Trombosit merupakan sel darah yang berperan penting dalam proses hemostasis. Jumlah trombosit normal adalah 150.000-450.000/mm 3. Fungsi utama trombosit adalah membentuk

Lebih terperinci

RIZKI SITI NURFITRIA

RIZKI SITI NURFITRIA RIZKI SITI NURFITRIA 10703058 EFEK ANTIOKSIDAN IN VITRO EKSTRAK BAWANG PUTIH, KUNYIT, JAHE MERAH, MENGKUDU, SERTA BEBERAPA KOMBINASINYA DAN EX VIVO EKSTRAK BAWANG PUTIH, KUNYIT, DAN KOMBINASINYA PROGRAM

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dikenal juga sebagai heterogeneous group of disease karena dapat menyerang

BAB 1 PENDAHULUAN. dikenal juga sebagai heterogeneous group of disease karena dapat menyerang 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hipertensi merupakan gangguan kesehatan yang mematikan. Hipertensi dijuluki sebagai silent killer, karena klien sering tidak merasakan adanya gejala dan baru

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Allah SWT berfirman dalam Al-qur an yang berbunyi:

BAB I PENDAHULUAN. Allah SWT berfirman dalam Al-qur an yang berbunyi: BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Allah SWT berfirman dalam Al-qur an yang berbunyi: Artinya: Dan dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Hipertensi dikenal secara umum sebagai penyakit kardiovaskular. Penyakit

I. PENDAHULUAN. Hipertensi dikenal secara umum sebagai penyakit kardiovaskular. Penyakit 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hipertensi dikenal secara umum sebagai penyakit kardiovaskular. Penyakit ini diperkirakan menyebabkan 4,5% dari beban penyakit secara global dan prevalensinya hampir

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Lebih dari 36 juta orang meninggal karena Penyakit Tidak Menular (PTM) setiap tahun. Lebih dari 9 juta terjadi sebelum usia 60 tahun, dan 90% terjadi di negara

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. semakin meningkat. Prevalensi DM global pada tahun 2012 adalah 371 juta dan

I. PENDAHULUAN. semakin meningkat. Prevalensi DM global pada tahun 2012 adalah 371 juta dan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu kelainan endokrin yang sekarang banyak dijumpai (Adeghate, et al., 2006). Setiap tahun jumlah penderita DM semakin meningkat.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Laporan World Health Organization (WHO) bahwa diabetes mellitus

BAB I PENDAHULUAN. Laporan World Health Organization (WHO) bahwa diabetes mellitus BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Laporan World Health Organization (WHO) bahwa diabetes mellitus (DM) termasuk salah satu pembunuh terbesar di Asia tenggara dan Pasifik berat. Menurut data WHO pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hal dasar dalam kehidupan untuk menunjang semua aktivitas mahkluk hidup. Kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. hal dasar dalam kehidupan untuk menunjang semua aktivitas mahkluk hidup. Kesehatan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan salah satu hal dasar dalam kehidupan manusia. Dengan kondisi yang sehat dan tubuh yang prima, manusia dapat melaksanakan proses kehidupan dengan

Lebih terperinci

Pengetahuan tentang overweight dan obesitas, baik yang menyangkut penyebab, maupun akibatnya perlu diketahui orang banyak khususnya bagi remaja, guna

Pengetahuan tentang overweight dan obesitas, baik yang menyangkut penyebab, maupun akibatnya perlu diketahui orang banyak khususnya bagi remaja, guna BAB 1 PENDAHULUAN Kesehatan sangat penting bagi manusia dan harus dijaga. Apabila kesehatannya tidak diperhatikan, maka menimbulkan masalah yang merugikan. Salah satu masalah kesehatan yang sering dialami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. konsumsi minuman ini. Secara nasional, prevalensi penduduk laki-laki yang

BAB I PENDAHULUAN. konsumsi minuman ini. Secara nasional, prevalensi penduduk laki-laki yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Minuman beralkohol telah banyak dikenal oleh masyarakat di dunia, salah satunya Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara yang cukup tinggi angka konsumsi minuman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan kematian yang cukup tinggi terutama di negara-negara maju dan di daerah

BAB I PENDAHULUAN. dan kematian yang cukup tinggi terutama di negara-negara maju dan di daerah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tekanan darah tinggi, atau yang sering disebut dengan hipertensi, merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskuler dengan prevalensi dan kematian yang cukup

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Minuman herbal merupakan minuman yang berasal dari bahan alami yang bermanfaat bagi tubuh. Minuman herbal biasanya dibuat dari rempah-rempah atau bagian dari tanaman,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di negara-negara yang sedang berkembang, penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, kanker dan depresi akan menjadi penyebab utama kematian dan disabilitas. Hasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskuler yang merupakan penyebab utama kematian di seluruh dunia. Penyakit ini berkaitan dengan pola makan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah peningkatan tekanan darah arteri secara persisten, yang merupakan faktor risiko Penyakit Jantung Koroner (PJK). Penyakit

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

BAB 1 PENDAHULUAN. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hiperkolesterolemia adalah salah satu gangguan kadar lemak dalam darah (dislipidemia) dimana kadar kolesterol dalam darah lebih dari 240 mg/dl, kadar Low Density Lipoprotein

Lebih terperinci

OBAT ANTI HIPERTENSI

OBAT ANTI HIPERTENSI OBAT ANTI HIPERTENSI Obat antihipertensi Hipertensi adalah penyakit kardiovaskuler yang terbanyak 24% penduduk AS memiliki hipertensi Hipertensi yang berlanjut akan merusak pembuluh darah di ginjal, jantung

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Salah satu ciri budaya masyarakat di negara berkembang adalah masih dominannya unsur-unsur tradisional dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan ini didukung

Lebih terperinci

PENGATURAN JANGKA PENDEK. perannya sebagian besar dilakukan oleh pembuluh darah itu sendiri dan hanya berpengaruh di daerah sekitarnya

PENGATURAN JANGKA PENDEK. perannya sebagian besar dilakukan oleh pembuluh darah itu sendiri dan hanya berpengaruh di daerah sekitarnya MAPPING CONCEPT PENGATURAN SIRKULASI Salah satu prinsip paling mendasar dari sirkulasi adalah kemampuan setiap jaringan untuk mengatur alirannya sesuai dengan kebutuhan metaboliknya. Terbagi ke dalam pengaturan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seperti kurang berolahraga dan pola makan yang tidak sehat dan berlebihan serta

BAB I PENDAHULUAN. seperti kurang berolahraga dan pola makan yang tidak sehat dan berlebihan serta BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang berkembang, sehingga banyak menimbulkan perubahan baik dari pola hidup maupun pola makan. Pola hidup seperti kurang berolahraga dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, berbagai macam penyakit degeneratif semakin berkembang pesat dikalangan masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, berbagai macam penyakit degeneratif semakin berkembang pesat dikalangan masyarakat. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, berbagai macam penyakit degeneratif semakin berkembang pesat dikalangan masyarakat. Penyakit tersebut terkadang sulit disembuhkan dan mempunyai angka kematian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi adalah salah satu penyakit kardiovaskular yang menjadi masalah utama dalam kesehatan dimana tekanan darah melebihi normal yang jika tidak mendapat pengobatan

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN JUS BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhezeus) DAN AKTIFITAS FISIK TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL DAN KADAR MDA (Malondialdehid)

PENGARUH PEMBERIAN JUS BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhezeus) DAN AKTIFITAS FISIK TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL DAN KADAR MDA (Malondialdehid) PENGARUH PEMBERIAN JUS BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhezeus) DAN AKTIFITAS FISIK TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL DAN KADAR MDA (Malondialdehid) Studi pada Rattus novergicus Galur Wistar Hiperkolesterolemik

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. A. Karakteristik Responden yang Memengaruhi Tekanan Darah

BAB V PEMBAHASAN. A. Karakteristik Responden yang Memengaruhi Tekanan Darah BAB V PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden yang Memengaruhi Tekanan Darah Beberapa faktor yang memengaruhi tekanan darah antara lain usia, riwayat hipertensi, dan aktivitas atau pekerjaan. Menurut tabel

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. (Depkes R.I, 2006). American Society of Hypertension (ASH) mendefinisikan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. (Depkes R.I, 2006). American Society of Hypertension (ASH) mendefinisikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor satu secara global (Depkes R.I, 2006). American Society of Hypertension (ASH) mendefinisikan hipertensi sebagai sindrom

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pilihan bagi masyarakat moderen karena lebih praktis dan bergengsi.

BAB I PENDAHULUAN. pilihan bagi masyarakat moderen karena lebih praktis dan bergengsi. BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Perubahan gaya hidup dengan memilih makan yang siap saji menjadi pilihan bagi masyarakat moderen karena lebih praktis dan bergengsi. Masyarakat kita, umumnya diperkotaan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Hipertensi merupakan salah satu masalah global yang sedang dihadapi oleh masyarakat dunia. Klasifikasi hipertensi menurut JNC 7 yaitu tekanan darah sistol diatas sama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kardiovaskular merupakan penyakit yang menyerang sistem pembuluh darah dan organ jantung. Penyakit kardiovaskular merupakan penyakit yang paling tinggi angka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah secara kronik. Joint National Committee VII (the Seventh US National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hiperlipidemia atau penyakit hiperkolesterol adalah kondisi kadar lemak dalam darah meningkat. Penyakit kolesterol makin meningkat dengan makin tingginya konsumsi masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dibuktikan manfaatnya (Sudewo, 2004; Tjokronegoro, 1992). zingiberaceae, yaitu Curcuma mangga (Temu Mangga). Senyawa fenolik pada

BAB I PENDAHULUAN. dibuktikan manfaatnya (Sudewo, 2004; Tjokronegoro, 1992). zingiberaceae, yaitu Curcuma mangga (Temu Mangga). Senyawa fenolik pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki keanekaragaman hayati berupa ratusan jenis tanaman obat dan telah banyak dimanfaatkan dalam proses penyembuhan berbagai penyakit. Namun sampai sekarang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan gaya hidup dan sosial ekonomi akibat urbanisasi dan

BAB I PENDAHULUAN. Perubahan gaya hidup dan sosial ekonomi akibat urbanisasi dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perubahan gaya hidup dan sosial ekonomi akibat urbanisasi dan modernisasi terutama masyarakat pada kota-kota besar di Indonesia menjadi salah satu penyebab meningkatnya

Lebih terperinci